Pencarian

Bara Maharani 1

Bara Maharani Karya Khu Lung Bagian 1


Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID KE 1 Membalas budi tuan penolong ayah bunda
Malam telah kelam, suasana diseluruh jagad sunyi tak
kedengaran sedikit suarapun, cahaya rembulan lapat2
muncul dari balik awan yang gelap . . . angin malam
berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan daun dan
ranting pepohonan disekeliling sana.
Jauh memandang kedepan yang nampak hanya hutan
belantara, gonggongan srigala me nimbulkan suasana
yang ngeri dimalam itu.....
Sebidang tanah kecil muncul ditengah hutan
belantara, sebuah gubuk reyot berdiri disisi sebuah
kuburan yang usang .
Dibawah sinar purnama tampak seorang pemuda
berusia enam tujuh belas tahunan berlutut didepan
kuburan itu, sebuah kuburan tak bernisan, wajahnya
hitam pekat dengan alis yang tebal dan badan yang
kekar. Disisi pusara terletak sebuah kursi peyot, seorang
perempuan cantik berwajah agung duduk dengan penuh
kewibawaan disitu.
Angin berhembus makin kencang, kerlipan kunang2
seakan2 api setan yang muncul dari neraka...kecuali isak
tangis yang lirih hanya bintang nun jauh disana
menemani jagad yang sunyi dan sepi. Tiba2 perempuan
cantik itu menyeka air mata yang membasahi wajahnya,
kemudian berkata :
"Anak Seng, waktu sudah tidak pagi lagi,
tenangkanlah hatimnu dan dengarkanlah pesan ibumu
baik-baik !".
"Ibu, katakanlah ! ananda akan memperhatikannya
dengan seksama!" buru2 pemuda itu putar badan seraya
berlutut dihadapan ibunya.
"Aaai...!" helaan napas panjang membelah kesunyian
yang mencekam seluruh jagad, "Situasi dalam dunia
persilatan dewasa ini tidak aman, kejahatan merajalela.
suasana diliputi kegelapan bagaikan hutan belantara, kau
harus ingat baik2 pesanku, setiap orang yang memiliki
ilmu silat jauh lebih kuat darimu, sembilan bagian
pastilah kaum durjana yang mengacau masyarakat...".
Sepasang alis pemuda itu menjungkit, diatas wajahnya
yang hitam itu tiba2 terlintas cahaya yang tajam, sorot
mata mengerikan memancar dari-balik kelopak matanya
yang basah oleh air mata.
,,Anakku kau tak boleh bekerja menuruti angkara
murka" ujar perempuan cantik itu sambil membelai
rambut puteranya. "Dalam pertempuran berdarah yang
berlangsung dalam pertempuran Pak Beng-Hwie sepuluh
tahun berselang, seluruh kekuatan inti kaum lurus dan
sesat telah bertemu satu sama lainnya sayang kaum
lurus berhasil ditumpas hingga ludas dan kaum sesat
malah merebut kemenangan! aaai.... dunia telah
berubah, badai darah melanda di-mana2".
la mendongak dan menghela napas panjang.
.,Anakku, kau harus ingat ! dalam perjalananmu
didunia persilatan janganlah terlalu menuruti suara hati,
jangan mendatangkan bencana bagi dirimu sehingga
menyia2kan pendidikan serta pelajaranku selama sepuluh
tahun". "Ananda akan ingat selalu pesan ibu'' sahut pemuda
itu sambil menyeka air mata. "Kehormatan serta
martabat pribadi adalah urusan kecil, melenyapkan kaum
durjana serta menolong umat manusia dalam dunia
persilatan barulah pekerjaan yang maha besarl".
Perernpuan cantik itu mengangguk
.,Sebelum kau berhasil menumpas kaum durjana
lenyap dari permukaan bumi, janganlah sekali menikah
dan punya istri, dari pada persoalan keluarga
mengacauksn pikiran serta konsentrasimu dalam usaha
untuk menumpas kaum iblis dari muka bumi dan
menyelamatkan umat manusia dari lembah kehancuran."
Pemuda tersebut baru berusia enam tujuh belas
tahun, tentu saja ia belum sampai memikirkan soal
pacar, isteri apalagi menikah dan punya anak, sekalipun
begitu ia tahu pesan ibunya pasti ada maksud tertentu
maka ia mengangguk berulang sebagai pernyataan
bahwa dia akan mengingatnya selalu didalam hati.
Perempuan cantik tadi merandek sejenak, kemudian
seraya berpaling kearah kuburan disisi tubuhnya, ia
berkata lagi dengan nada sesenggukan.
"Demi keadilan dan kebenaran, kau tak boleh bersipat
pengecut dan mencari keselamatan diri sendiri..." .
Teringat akan situasi yang mencekam dalam dunia
persilatan dewasa ini, perempuan itu tak dapat menahan
lagi dan menangis terisak!
"Ibu legakanlah hatimu" buru2 sianak muda itu
menghibur ibunya dengan suara halus. "Ananda pasti
akan menjunjung tinggi semangat serta kebesaran jiwa
ayahku almarhum, aku pasti akan berjuang mati2an demi
kebenaran dalam dunia persilatan".
Perempuan cantik itu mengangguk, demikianlah ibu
dan anakpun saling berpandangan dengan air mata
bercucuran, membuat hutan belantara itu seakan2
diliputi kabut hitam, menyirnakan cahaya rembulan dan
menutupi seluruh jagad.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya perempuan
cantik itu berhasil menguasai diri, sambil menyeka noda
air mata dipipinya ia berkata lagi.
"Anakku, dengarlah baik2 ! didalam kota Keng-Chin
terdapat seorang lelaki she-Chin bernama Pek-Cuan, ia
mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan
dengan seorang gembong iblis yang bergelar Boe Liang
sinkoen dari gunung Boe-Liang-san dalam bilangan
Propinsi In-Lam, dendam ini sudah terikat banyak tahun
lamanya dan Boe Liang Sinkoen pernah bersumpah akan
mencabut jiwa seluruh keluarga Chin !".
Ia merandek sejenak untut tukar napas, kemudian
terusnya : "Dalam pertemuan Pak Beng Hwie yang telah
berlangsung tempo dulu, ayahmu telah menantang Boe
Liang Sinkoen untuk turun tangan terlebih dahulu dalam
babak pertama, maksudnya ia hendak gebah pergi lebih
dahulu musuh paling tangguh yang berkepandaian lihay,
agar kaum pendekar bisa mendapatkan sedikit harapan
untuk hidup. Aaaai ! meskipun pada akhirnya Boe Liang
Sinkoen berhasil dikalahkan dan mengundurkan diri dari
pertemuan tersebut namun tenaga murni ayahmu pun
mengalami banyak kerusakan dalam suatu pertempuran
berdarah yang kemudian berlangsung akhirnya ia
menemui ajalnya dan gagal menolong kaum pendekar
lolos dari bencana!"
Sembari berbicara sinar mata kedua orang itu tanpa
terasa sama2 memandang kearah pekuburan disisi
mereka, empat pasang mata menyorotkan cahaya redup
yang diliputi kesedihan.
Terdengar perempuan cantik itu berkata lebih jauh :
,.Sebelum pertarungan antara ayahmu dengan Boe
Liang Sinkoen dilangsungkan, mereka telah mengadakan
pertaruhan yang diliputi jangka waktu sepuluh tahun,
seandainya salah satu diantara mereka menderita kalah
maka sang pecundang harus mengurung diri selama
sepuluh tahun. Ahirnya sebagaimana kau ketahui Boe
Liang Sinkoen lah yang menderita kekalahan maka dia
harus mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Sesaat
sebelum meninggalkan pertemuan tadi ia telah sesumbar
dan mengatakan bahwa siapapun yang ada didunia
kangouw dilarang mencabut jiwa Chin Pek Cuan kecuali
dia seorang. Kaum sesat yang merajai Bu-lim sebagian
besar punya hubungan erat dengan dirinya, ada pula
yang jeri terhadap dirinya, maka dalam pertemuan tadi
kendati ilmu silat yang dimiliki Chin Pek Cuan amat
rendah tetapi dia berhasil mengundurkan diri datum
keadaan selamat. Sekalipun begitu dengan kekuatan
yang dimilikinya sudah tentu ia masih bukan tandingan
dari Boe Liang Sinkoen, sekembalinya kerumah terpaksa
ia harus lawatkan sisa hidup sepuluh tahun yang terakhir
ini dengan tenang sambil setiap saat menantikan
kedatangan musuhnya untuk mencabut jiwanya".
Sang pemuda yang selama ini membungkam, kini
segera menimbrung dari samping :
"Ibu, waktu sepuluh tahun cukup panjang dan lama,
apakah Chin Pek Cuan tak bisa menyingkir atau
menyembunyikan diri disuatu tempat yang terpencil
misalnya ?"
"Chin Pek Cuan adalah seorang lelaki berhati keras
bagaikan baja, dia tak sudi bertekuk lutut terhadap
siapapun, kalau suruh dia menyembunyikan diri sebagai
kura2 hanya disebabkan untuk hidup lebih lanjut, sudah
tentu tak sudi ia lakukan!".
"Oooh, kiranya begitu!" pemuda itu manggut
mendengarkan perkataan ibunya lebih lanjut.
"Pertarungan sengit didalam pertemuan Pak Bang
Hwie akhirnya selesai juga, ayahmu menemui ajalnya
disaat itu juga sedang ibumu menderita luka parah,
sebenarnya pada waktu itu aku ada niat untuk menyusul
ayahmu, apa daya ada beban kau yang hidup didunia,
maka atas bantuan serta perlindungan para Too yu, aku
berhasil menerjang keluar dari kepungan dalam keadaan
selamat ".
Ia mengbela napas sedih, matanya sayu dan jauh
memndang kedepan....
"Ibumu dapat hidup hingga kini sebagian besar adalah
berkat bantuan dari Chin Pek Cuan, dia pula yang
membopong janasah ayahmu turun dari pertemuan
tersebut".
"Budi pertolongan yang demikian besar sudah
sewajarnya kalau kita balas, ananda berjanji pasti akan
menemukan orang itu dan membalas budinya",
"Aaai...! dewasa ini jiwa Chin Pek Cuan sekeluarga
terancam bahaya maut, sedang luka parah dari ibumu
belum sembuh, keadaanku bagaikan orang cacad yang
kehilangan segenap kekuatan tubuhnya, tidak mungkin
aku bisa menandingi Boe-Liang Sinkoen dalam keadaan
begini, darimana kita dapat membalas budi yang amat
besar itu."
"Bagaimana kalau ananda yang berangkat ke kota
Keng-Chiu untuk menyelamatkan jiwa keluarga Chin dari
ancaman maut ?"?" seru si anak muda itu setelah
termenung dan berpikir sejenak. "Mungkin dengan
kecerdikan kita masih sanggup menggebah pergi Boe-
Liang Sin Koen !".
.,Hmm ! dengan kecerdikan apakah kau hendak
mengakali Boe Liang Sin-Koen, dengan kekuatan apa kau
hendak mengalahkan gembong iblis itu ?" seru sang ibu
sambil tertawa dingin. ,.Bukankah baru saja kukatakan
kepadamu, melakukan segala persoalan janganlah
mengikuti napsu serta angkara murka, kenapa kau sudah
melupakan pesan ibumu ?".
Manyaksikan wajah ibunya yang keren dan penuh
berwibawa, pemuda itu segera tundukkan kepalanya
rendah2 dan segera mohon maaf.
Tiba2 terdengar perempuan itu menghela napas.
"Anakku! ibu selalu berharap agar kau bisa
meneruskan cita-cita ayahmu almarhum yang mulia dan
luhur itu ! aku harap kau bisa berjuang guna
menyelamatkan seluruh umat manusia dari cengkeraman
iblis dan durjana, disamping itu akupun berharap kau
tidak menjumpai bencana dan bahaya maut hingga bisa
hidup seratus tahun lamanya dan tidak memutuskan
keturunan ayahrnu. Bagaimana kau hendak mengatur
diri . ... hal ini terpaksa harus kuserahkan pada
keputusanmu sendiri ".
"Ananda mengerti, ananda pasti tak akan menyiakan
harapan ibu dan ayah !"
Dalam hati perempuan cantik itu menghela napas,
setelah termenung beberapa saat lamanya daridalam
saku dia keluarkan sepucuk surat, katanya sambil
serahkan surat tadi ketangan sianak muda itu :
"Sudah banyak tahun aku memutar otak mencari akal
yang baik untuk menyelamatkan keluarga Chin dari
bencana maut, namun apa daya tak sebuah carapun
yang berhasil aku dapatkan maka apa boleh buat
terpaksa kugunakan siasat penangguhan serangan untuk
rnengundurkan persoalan ini beberapa waktu lagi".
Menyaksikan surat tersebut disegel dengan lak merah
buru2 pemuda itu memasukkan ke dalam sakunya
mendadak ia teringat bahwasanya udara malam sangat
dingin, segera serunya sambil tertawa paksa:
"Ibu, marilah kita kembali kedalam rumah dan
Ianjutkan pembicaraan disitu saja, mau bukan?"".
Setelah membiarkan puteranya berlutut semalaman
suntuk, perempuan cantik itu merasa tidak tega
membiarkan dia tersiksa lebih jauh maka dia segera
mengangguk. Begitulah setelah berlutut dan memberi hormat
dihadapan nisan ayahnya, sianak muda itu segera
mengganderg tangan ibunya berjalan masuk kedalam
rumah. Sakembalinya kedalam rumah, perempuan cantik tadi
berkata kembali:
"Boe Liang Sinkoen adalab seorang jagoan yang
berotak cerdas, setelah batas waktu sepuluh tahun telan
lewat pertama dia pasti akan mendatangi kota Keng-Chiu
terlebih dahulu untuk mencabut nyawa Chin Pek Cuan
sekeluarga karena itu setelah fajar menyingsing nanti
kau harus segera turun gunung sebelum bulan dua belas
tanggal delapan belas kau harus sudah berjaga2 diluar
rumah keluarga Chin Pek Cuan, nantikanlah kedatangan


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Boe Liang Sinkoen disini, sebab menurut dugaanku
sebelum tengah malam pembunuh itu pasti sudah datang
". "Kalau memang kita kenal dengan Chin Pek Cuan apa
lagi sahabat karib, kenapa aku tak diperkenankan
mendatangi mereka ?"
"Aaaai . . ! semasa ayahmu masih hidup, dia adalah
pujaan kaum pendekar dan orang gagah. S:andainya
Chin Pek Cuan tahu akan asal usulmu maka ia tak nanti
mengijinkan kita ibu dan anak ikut menempuh bahaya
bersama dirinya, lagipula meskipun aku punya rencana,
berhasil atau tidak pada detik ini masih sulit bagiku untuk
meramalkannya ".
Bibir pemuda itu bergetar seperti mau mengucapkan
sesuatu, tapi perempuan cantik ini sudah keburu ulapkan
tangannya seraya berkata :
"Tak usah kau tanyakan apa sebabnya, kau hanya
perlu ingat, seandainya Boe Liang Sinkoen telah
munculkan diri maka kau harus berusaha memancingnya
berlalu dari situ, kemudian setelah tiba ditempat yang tak
ada manusianya serahkan surat dariku itu. Kalau ia
bertanya apapun juga kepadamu jangan kau jawab
barang sekecappun !"
Kendati didalam hati pemuda itu merasa sangsi dan
tidak habis mengerti, namun ia tidak berani bertanya.
Setelah berpikir sejenak tanyanya:
"Apa yang harus kulakukan setelah serahkan surat ini
kepadanya-"
"Sepuluh tahun berselang ayahmu berhasil
mendapatkan sebatang "Tan Hwee-Tok Lian atau Teratai
beracun empedu api yang mana kemudian dipelihara
dalam perkampungan Liok-Soat-San Cung kita, kau tentu
masih ingat akan persoalan ini bukan?"
"Apakah teratai berbonggol hitam berdaun merah
bagaikan batu bata itu?"
Perempuan cantik tersebut mengangguk, meIihat
rambut putranya awut2an ia belai kepala sianak muda itu
dan menyahut. "Teratai tersebut mengandung racun yang keji, dalam
kolong langit tak ada seorang manusiapun yang sanggup
memunahkan daya kerja racun itu, menyusuplah
kedalam perkampungan Liok-Soat-San Cung dan
usahakanlah untuk mendapatkan teratai beracun itu,
kemudian cepat2lah kembali kemari.`'
Bicara sampai disini ia termenung setengah harian
lamanya, tiba2 ia menghela napas panjang.
"Seandainya teratai beracun itu telah hi?lang, maka
kau harus selidiki benda itu dan berusaha untuk
memperolehnya kembali,"
.,Ibu, andaikata Boe Liang Sin Koen tak mau sudahi
persoalan itu begitu saja, apa yang harus ananda
lakukan?" Sepasang alis perempuan cantik itu berkerut kencang,
beberapa saat lamanya ia berdiri termangu2
"Aku rasa dengan nama besar ayahmu serta diriku
dalam dunia persilatan beberapa tahun berselang,
suratku itu masih mempunyai daya pengaruh yang besar
ia merandek seje?nak dan tertawa getir. Orang bu-lim
sebagian besar tahu kalau ibumu belum mati, tapi tak
seorangpun yang tahu kalau ilmu silatku telah musnah,
kendati Boe Liang Sin Kun jumawa dan angkuh rasanya
dia masih belum berani banyak bertingkah dihadapanku."
Pemuda itu .mengangguk, teringat akan penderitaan
ibunya selama ini wajahnya segera berubah jadi amat
sedih. "Setelah ananda berlalu, paling cepat tahun depan
baru bisa pulang kegunung, ibu seorang diri.."
"Aaaii...bocah! apa kau anggap kehidupan kita berdua
digunung yang terpencil ini adalah suatu kehidupan yang
menggembirakan hati ?"... " tukas perempuan itu sambil
tersenyum, wajahnya tiba2 berobah jadi
serius,"Perkumpulan milik kita kemungk!nan besar sudah
terbengkalai tidak karuan, delapan bagian Teratai Racun
Empedu Api itu sudah dicuri orang, maka dari itu kau
harus bertindak menurut keadaan, bagaimanapun juga
kau harus dapatkan teratai racun itu dan hantar kemari
tahun depan",
"Ibu. apa gunanya Teratai Racun Empedu Api itu
bagimu?" apakah penting artinya terhadap masalah yang
bersangkutan dengan keluarga Chin?".
"Ooouw...! teratai racun itu mempunyat kegunaan
lain". Sebenarnya ia tak mau terangkan lebih jauh, tapi
setelah dilihatnya air muka putra kesayangannya
berubah jadi murung akhirnya ia tertawa. "Bila Teratai
Racun itu berhbasil kau dapatkan maka luka dalam yang
kuderita akan jadi sembuh dan ilmu silatku akan pulih
kembali seperti sedia kala".
"Aaah. kiranya begitu, kenapa tidak kau terangkan
sejak tadi?" jerit pemuda itu sambil berjingkrak2
kegirangan. Benda mustika yang demikian berharga
merupakan benda impian setiap umat setelah lewat
sepuluh tahun, mana mungkin masih berada ditempat
semula?" Perempuan cantik itu mengerti akan kebingungan
putranva, untuk mencegah pikiran yang bukan2, dengan
cepat ia berseru sambil tertawa:
"Duduknya perkara dibalik persoalan ini sukar
kuterangkan dalam waktu singkat nanti saja setelah kau
berhasil mendapatkan teratai racun itu barulah
kuceritakan kepadamu. Fajar telah menyingsing, kau
boleh segera melakukan perjalanan!".
Mendengar luka dalam ibunya bakal bisa sembuh
pemuda itu tidak berpikir lebih jauh lagi, semangatnya
berkobar dan segera mempersiapkan diri untuk
berangkat. Tapi sesaat kemudian ia merandek dan balik kesisi
ibunya sambil berkata dengan hati berat:
"lbu, fajar baru saja menyingsing, biarkanlah ananda
menemani ibu sarapan pagi lebih dahulu kemudian baru
melakukan perjalanan!"
Perempuan cantik itu mengangguk, maka mereka
berduapun masuk kedapur mempersiapkan sarapan pagi.
,Anakku, ilmu silat yang kau miliki amat rendah" ujar
perernpuan cantik itu memecahkan kesunyian. "Aku rasa
dalam perjalananmu berkelana dalam dunia persitatan,
alangkah baiknya kalau ganti nama dan merahasiakan
asal usulmu yang sebenarnya, dari pada memancing
kaum iblis serta kaum durjana untuk menimpakan
bencana kematian bagimu".
.,Ananda mengerti semakin kita simpan baik2 kerlipan
cahaya pedang, makin sedikit kesulitan yang bakal
ditemui" jawab pemuda ini, setelah termenung sejenak
bisiknya lirih. "Ibu, siapa sih sebenarnya pembunuh dari
ayahku" dan siapa pula yang melancarkan serangan
berat terhadap ibu sehingga kau orang tua menderita
luka dalam yang amat parah ?"
Mendengar pertanyaan itu air muka perempuan cantik
itu seketika berubah jadi adem, dengan perasaan tidak
senang ia menegur :
"Bukankah sudah sering kukatakan kepadamu, bahwa
kau harus lebih mengutamakan keadilan serta kebenaran
umat manusia daripada dendam kesumat peribadi"
mengapa kau selalu saja mengingat2 dendam pribadi ?"
"Hmmm.. ! sungguh membuat hatiku jadi ke cewa..!"
Melihat ibunya marah, buru2 pemuda ini tundukkan
kepalanya dan tidak berkata lagi, sementara daiam hati
ia berpikir : "Jelas orang yang telah membinasakan ayahku serta
melukai ibuku adalah beberapa orang gembong iblis yang
merajai dunia persilatan, aku harus berlatih ilmu silatku
lebih tekun asal kaum durjana dan manusia2 sesat ini
berhasil kulenyapkan dari permukaan bumi, berarti pula
dendam kesumat ayahku telah berhasil kutuntut balas ".
Tiba2 terdengar perempuan cantik itu berseru kembali
: "Seng-jie, setelah turun gunung kau tidak
diperkenankan menyelidiki maupun mencari tahu
persoalan yang menyangkut pertemuan Pak Beng Hwie..
" ia merandek sejenak., lalu ujarnya lagi. "Kecuali
keenam belas jurus ilmu pedang itu, andaikata kau
pernah mencuri belajar ilmu silatku, maka ilmu silat
tersebut tak boleh kau latih apalagi mempergunakannya
dihadapan orang lain !"
Tiada hentinya pemuda ini mengangguk tanda
mengerti. Beberapa saat kemudian fajar telah menyingsing,
sarapan pagipun telah disiapkan, maka selesai bersantap
dia pun mendengarkan kembali nasehat serta
penerangan2 dari ibunya mengenai perguruan silat yang
ada di Bulim, peraturan Bu-lim serta pantangan2nya.
Dengan seksama pemuda itu mencatatnya didalam
hati. Menanti sang surya telah memancarkan cahayanya
menyinari seluruh jagad, ia baru berpamitan kepada
ibunya, bersembahyang didepan batu nisan ayahnya
kemudian berangkat turun gunung.
Kota Keng-Chiu terletak disebelah selatan jalan raya
King Ouw, jaraknya dengan bukit dimana ibunya berdiam
kurang lebih ada ribuan li jauhnya, untung ia masih
muda, pakaian yang dikenakan sederhana terbuat dari
bahan kasar, berwajah hitam pekat dan tidak terlalu
menarik perhatian orang.
Sepanjang perjalanan tiada gangguan apapun yang
dijumpai, dan suatu hari sampai juga sianak muda itu
ditempat tujuannya.
Musim dingin telah tiba, angin utara yang kencang dan
berhawa dingin berhembus kencang dikota Keng-Chtu,
salju turun dengan derasnya mengubah seluruh
permukaan bumi bagaikan lapisan kapas.
Setibanya didalam kota, tanpa mengalami kesulitan
apapun ia berhasil mendapat tahu letak gedung
bangunan milik Chin Pek Cuan, diam2 ia berjaga selama
beberapa hari disitu.
Selama ini diapun berhasil mengetahui bahwa
keluarga Chin beserta pelayan serta pembantunya semua
berjumlah tiga empat belas orang. Tahun baru telah
menjelang tiba, kecuali perayaan yang agak sederhana
dan sunyi rupanya pihak keluarga Chin sama sekali tidak
menggubris atas bencana besar yang menimpa diri
mereka. Sebagai seorang bocah yang patuh terhadap perintah
orang tuanya, sianak muda itu berjaga terus siang
maupun malam disekitar gedung keluarga Chin kendati
angin dan salju turun dengan derasnya.
Beberapa hari dengan cepatnya telah berlalu malam
ini adalah Bulan Cia-Gwee tanggal satu, malam telah
menjelang tiba, ia sambil mengenakan seperangkap baju
kasar telah berdiri didepan pintu keluarga Chin,
memandang dua belah pintu yang tertutup rapat
perlahan2 ia naik keatas undakan dan duduk bersila di
depan pintu sambil setiap saat memperhatikan gerakgerik
dalam gedung itu.
Angin berhembus semakin kencang hujan salju turun
makin deras, pakaian kasar yang tipis kini sudah ternoda
oleh salju, keadaan pemuda tersebut tidak lebih bagaikan
pengemis yang tiada bertempat tinggal.
Mendadak... suara rentetan ledakan mercon
berkumandang dari dalam gedung.
Diikuti pintu terpentang, lebar2, dari balik gedung
berjalan keluar tiga orang, seorang kakek berjanggut
panjang dan memakai jubah lebar berdiri ditengah
sedangkan dikedua belah sisinya masing2 berdiri seorang
pemuda dan seorang dara ayu.
Perlahan2 pemuda itu mendongak, dalam hati ia
menduga sikakek tua itu pastilah tuan penolongnya Chin
Pek Cuan, ia tak mau kehilangan adat maka buru2
bangkit berdiri seraya menjura.
"Cayhe adalah seorang gelandangan yang tak
bertempat tinggal" katanya, "Bilamana cayhe harus
berteduh dari serangan angin dan salju didepan gedung
anda, mohon maaf yang sebesar2nya."
Untuk menghindar pelbagai pertanyaan yang mungktn
bakal diajukan secara bertubi2, selesai berkata ia segera
putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.
"Siauw-ko, tunggu sebentar !" mendadak kakek itu
menghardik. Mendengar teriakan itu terpaksa sianak muda tadi
berhenti dan balik kembali.
"Loo Wangwee, kau ada urusan apa memanggil diriku
?" Dengan gusar kakek itu mendengus, matanya melotot
wajahnya membesi. sambil melirik sekejap kearah
gulungan kain dibawah ketiak pemuda itu, dia tertawa
dingin. "Hmm ! rupanya kau adalah kaki tangan anjing dari
perkumpulau Sin-Kie-Pang ?".
"Perkumpulan panji sakti ?"?" seru pemuda itu
melengak. "Hamba bernama Hong-Po Seng dan sama
sekali tiada sangkut pautnya dengan perkumpulan Sin
Kie-Pang ".
"Hong-po Seng ?"" Dengan pandangan yang tajam
kakek itu menatap wajah pemuda tersebut tak berkedip.
"Suatu nama yang asing sekali, diantara jago2 yang ada
dalam Bu-lim tiada seorangpun yang memakai she
Hong?po !"
Hong-po Seng mengerti bahwasanya sikakek tua itu
telah mencurigai asal usulnya yang kurang genah,
merasa sulit untuk menerangkan persoalan ini terpaksa
ia menjura seraya berseru :
"Hamba masih muda dan tak tahu urusan, bila sudah


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengganggu ketenteraman Loo wangwee harap suka
dimaafkan!".
"Nanti dulu, diluar dingin sedang berhembus kencang
dan salju turun dengan besarnya, silahkan saudara cilik
masuk kedalam ruangan untuk minum air teh dahulu".
Seraya berkata kakek itu mendadak melancarkan satu
cengkeraman kilat kearah pergelangan lawan.
Menyaksikan datangnya serangan yang demikian
cepat, diam2 Hong po Seng merasa terperanjat,
sebetulnya ia masih sanggup untuk berkelit kebelakang
namun secara tiba2 satu ingatan berkelebat dalam
benaknya, ia segera urungkan niat untuk berkelit dan
biarkan tangannya dicekal .
Ia pasti sudah menaruh curiga terhadap diriku "
batinnya dalam hati." Andai kata aku melawan niscaya
kesalah pahaman ini akan berlangsung makin dalam,
bahkan ada kemungkinan malahan mendatangkan
pelbagai kesulitan bagiku.
Dalam pada itu kelima jari tangan kekar itu
berbagaikan jepitan telah mencengkeram pergelangan
Hong po Seng kemudian menariknya masuk kedalam
ruangan. "Blaaam!" pintu besar kembali tertutup rapat.
Melangkah keatas undak2kan tampaklah lampu lilin
menerangi seluruh ruangan, meja perjamuan telah
dipersiapkan ditengah pendopo.
Kakek itu baru rnelepaskan cengkeramannya setelah
tiba disisi meja perjamuan, ia ambil tempat duduk dikursi
utama sedang pemuda dan gadis itu duduk dikedua
belah sisinya. Hong-po Seng lantas putar otaknya, ia merasa setelah
tiba disini sepantasnya kalau ia hadapi dengan keadaan
yang wajar, maka sehabis memberi hormat diapun
mengambil tempat duduk dikursi bagian tamu.
Menunggu setelah pemuda itu duduk, kakek tadi baru
tertawa hambar dan berkata :
"Saudara cilik, dengan menempuh hembusan angin
kencang dan badai salju yang deras semalam suntuk kau
berjaga didepan rumah kami aku rasa dibalik tindak
tandukmu ini pasti tersembunyi suatu alasan yang besar
bukan " malam ini adalah malam Tahun Baru, perduli
kau musuh atau sahabat, harap kau suka memberi
keterangan yang jelas kepada kami "
,.Aaah. ternyata tingkah lakuku sudah diperhatikan
mereka sejak permulaan" pikir Hong po Seng. "Aaai . . . !
bagaimanapun juga orang kangouw kawakan memang
jauh lebih lihay !"
Karena pihak lawan sudah mengajukan pertanyaan
secara blak2an maka untuk sesaat ia jadi bingung tidak
keruan, tak tahu apa yang harus dilakukan dalam
keadaan begini, akhirnya terpaksa ia menjura dan
bertanya dengan suara lirih:
"Tolong tanya siapakah nama besar loo Wangwee ?"".
"Siauwko, apa gunanya sudah tahu masih pura2
bertanya " loohu adalah Chin Pek Cuan" ia tuding
pemuda serta gadis disisinya lalu menambahkan. "Dia
adalah puteraku Giok Long, serta puteriku Wan Hong,
ilmu silat keluarga kami biasa2 saja dan tiada yang perlu
dibanggakan."
Mengikuti arah yang ditunjuk.Hong-po Seng berpaling,
tampaklah Chin Giok Long adalah seorang pemuda
ganteng yang berusia dua puluh tiga empat tahunan,
sedang Chin Wan Hong adalah seorang gadis ayu dan
alim yang berusia tujuh delapan belas tahunan, saat itu
mereka berduapun sedang memandang kearahnya
dengan pandangan sangsi.
Disaat yang amat singkat ituiah Hong-po Seng berhasil
mendapatkan jawaban yang dirasakan tepat, ujaraya:
"Boanpwee salama berkelana dalam dunia persilatan
tidak lain hanya berharap bisa memperoleh seorang guru
yang pandai dan belajar sedikit ilmu silat untuk menjaga
diri, dari mulut orang hamba dengar bahwa dikota Keng
Chiu terdapat seorang jago she- Chin bernama Cuan,
katanya ilmu telapak Kim-sah-ciang nya telah mencapai
puncak kesempurnaan,..".
"Haah.. haah..saudara cilik, kau terlalu memuji, sedikit
kepandaian silat yang loohu miliki tidak pantas untuk
dihargai orang".
Semenrara itu Chin Giok Liong sedang mengambil poci
arak untuk memenuhi cawannya, tiba2 Chin Pek Cuan
merampas poci ini kemudian didorongnya kedepan.
Hong-po Seng yang menyaksikan datangnya poci arak
tadi mencurigakan, buru2 meletakkan kembali cawannya
kemeja, lalu dengan sepasang tangan menekan disisi
cawan ia unjukkan sikap seolah2 sedang memberi
hormat. Rupanya Chin Pek Cuan hendak meminjam
penghormatan arak itu untuk menjajal tenaga lweekang
dari Hong-po Seng, namun setelah menyaksikan sikap
pemuda itu dalam hati segera pikirnya:
"Sunggub cerdik dan cekatan keparat cilik ini, pandai
sekali dia merahasiakan diri hingga sedikit titik
kelemahanpun tak nampak."
Mendadak Chin Wan Hong berpaling ujarnya kepada
ayahnya. "Tia, aku lihat saudara ini sama sekali tiada maksud
jahat, cepat atau lambat Boe Liang Sin-Koen bakal
datang kemari, apa gunanya kau seret orang lain turun
kelaut hingga membuat dia ikut merasakan penderitaan
ini?" "Haa...,haaa.,..Wan jie, kau sudah kebelinger
meskipun ia berdandan bagaikan orang rudin tetapi
gerak geriknya gagah dan mantap, tidak nanti seorang
jagoan biasa dapat mendidik seorang murid yang begitu
pandai dan luar biasa macam dia!"
Ucapan ini mendelongkan wajah Chin Giok Liong
berdua, tanpa sadar mereka sama2 berpaling kearah
Hong-po Seng. Menyaksikan pemuda ini baru berusia enam tujuh
belas tahunan, berbadan kekar dan berwajah hitam,
wajah persegi dengan telinga lebar, hidung mancung,
alis tebal, meski wajahnya gagah namun tiada
keistimewaan apapun matanya bening sedikitpun tidak
menyerupai seorang jagoan bertenaga dalam tinggi,
tanpa sadar mereka berseru aneh dan merasa amat
tercengang, masa manusia macam beginipun merupakan
seorang jagoan libay yang maha hebat "
Melihat sorot mata ketiga orang itu sama2 dialihkan
kearahnya, Hong Po Seng jadi jengah dibuatnya, buru2
ia menjura. "Loo Wan-gwee tadi kau mengungkap soal
perkumpulan Sin Kie Pang, sebetulnya perkumpulan
macam apakah panji sakti itu?".
"Ehm! perkumpulan Sin Kie Pang?" tidak boleh suatu
perkumpulan yang sering kali melakukan perbuatan2
jahat dan diluar peri kemanusiaan, kaum durjana dan
iblis yang ada disekitar Ouw-Khong delapan puluh persen
adalah bajingan2 dari perkumpulan Sin Kie Pang !".
"Ehmm. sedikitpun tidak salah, orang ini sangat
membenci segala bentuk kejahatan" pikir Hong Po Seng,
untuk menghindari perhatian orang terhadap dirinya,
buru2 ia bertanya kembali:
-"Cici ini barusan mengatakan bahwa cepat atau
lambat Boe-Liang Sinkoen bakal datang kemari, apakah
dia juga seorang pentolan dari per:aumpulan Sin-Kie-
Pang?"?".
Chin Pek Cuan adalab seorang jago kawakan yang
mempunyai pengetahuan serta pengalaman yang amat
luas, ia tahu Hong-po Seng sengaja bertanya ini itu tidak
lebih hanya untuk mengulur waktu belaka, sebagai orang
yang berwatak aseran mendengar orang lain
mengungkap soal orang yang paling dibenci nya selama
ini, hawa gusarnya segera berkobar dengan mata
melotot dan wajah merah padam segera serunya:
,,Kau tanyakan soal Boe-Liang Sinkoen, bangsat tua
itu?" dia adalah ".
.,Dia adalah seorang Sinkoen yang disegani orang dan
seorang manusia gagah yang akan datang menuntut
balas bagi sakit hatinya....'. serentetan suara yang amat
dingin berkumandang datang dari luar pintu.
Sambil berseru pintu besar terpentang lebar dibawah
sorot cahaya lilin yang bergoyang terhembus angin
perlahan2 muncullah seorang pemuda berbaju putih
yang berwajah ganteng bermata tajam dan penuh
dengan napsu membunuh dimukanya, ia berdiri bertolak
pinggang ditengah ruangan kurang lebih beberapa depa
disisi Hong-po Seng.
Menyaksikan kehadirannya yang mendadak tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun diam2 Hong-po Seng
terkesiap juga atas kelihayan orang, tapi ia mengetahui
bahwa orang itu pasti bukanlah Boe-Liang Sinkoen
pribadi, tanpa terasa ia mendengas dan diperhatikannya
orang itu beberapa saat lamanya.
Usia pemuda berbaju putih itupun belum mencapai
dua puluh tahunan, berdiri ditengah kalangan matanya
dengan tajam mengerling kesana kemari dengan
senyuman dingin menghiasi bibirnya, bukan saja
sombong dan jumawa bahkan lagaknya tengik membikin
hati jadi panas.
Sekilas memandang sebagai jago yang berpengalaman
Chin Pek Cuan mengerti bahwa pihak lawan tidak
bermaksud baik, perlahan2 ia bangkit berdiri dan
menegur: "Siapakah saudara ?" slapa namamu ?" apakah
kedatanganmu kemari adalah sebagai utusan dari Boe-
Liang Sinkoen ?"?".
"Hmm! aku bernarna Kok See Piauw" Sinkoen adalah
suhuku! Eeh.. eeeh...bila kalian tahu diri cepatlah siapkan
senjata dan turun tangan bersama, barang siapa dapat
melarikan diri dari pintu ruangan ini, kongcu-ya anggap
nasibnya baik dan mujur, mulai detik itu juga aku tak
akan mencari satroni dengan dirinya lagi".
,.Sombong amat orang ini !" batin Hong Po Seng, dia
segera berseru dengan suara lantang :
"Sudah lama cayhe mendengar akan nama besar dan
Boe Liang Sin Koen, diluar sedang turun hujan sangat
lebat, karena sahabat tidak undang gurumu untuk masuk
kedalam ruang?" agar dengan begitu cayhepun bisa ikut
mengagumi kehebatan dari gurumu !".
Sepasang alis Kok See Piauw terkejut kencang,
sepasang matanya dengan tajam menatap pemuda itu
tanpa berkedip, kemudian jengeknya;
"Hmm..sungguh tak nyana kaupun seorang manusia
yang lihay" ia tertawa dingin ." Sin koen jauh berada
ribuan li dari sini, tak usah kuatir, kalian boleh turun
tangan dengan hati lega."
Hong-po Seng tertegun. pikirnya :
"Aaah. ternyata kejadian jauh berada diluar dugaan
ibuku, apa yang harus kulakukan sekarang ?"".
Untuk beberapa saat lamanya ia tiada akal untuk
mengatasi persoalan ini, sinar matanya lantas berputar
dan sengaja dialihkan kearah Chin Pek Cuan, sedikitpun
tidak salah sinar mata semua orangpun lantas beralih
kearah si orang tua itu.
Sambil mengelus jenggot Chin Pek Cuan mendongak
dan tertawa ter-bahak2, suaranya nyaring bagaikan
genta dipalu bertalu-talu membuat seluruh ruangan
bargetar dan cahaya api Jilin bergoyang kencang.
"Tua bangka sialan" maki Kok See Piauw penuh
kegusaran. "Kematian sudah berada di ambang pintu,
kau masih juga berani berlagak ?"" kurang ajar !"
Sementara itu baik Chin Giok Liong maupun Chin Wan
Hoag tidak mengucapkan sepatah-katapun, dengan
wajah penuh kegusaran mereka berdiri disisi ayahnya
sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
beberapa orang pelayan yang semula melayani dalam
ruangan itu diam2 pada ngeloyor pergi sesudah
dilihatnya situasi berubah makin buruk.
Selesai tertawa dengan wajah menampilkan suatu
sikap yang aneh Chin Pek Cuan menolek kearah Kok See
Piauw, lalu berkata:
"Bagaimanapun juga Thian memang mempunyai
mata, akhirnya dia memberi juga kesempatan bagi loohu
untuk melampiaskan rasa mangkel dan mendongkol yang
kupendam selama ini. Hmmm ! kalau kau yakin
mempunyai kekuatan untuk menandingi diriku, silahkan
menanti sebentar !"
Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban
orang, ia lantas berpaling kearah Hong-po Seng seraya
menegur : ,.Engkoh cilik, Lku harap kau mengutarakan maksud
tujuanmu yang sebenarnya kepada loo hu, sebenarnya
ada urusan apa kau datang kemari ?"
Dalam waktu yang amat singkat, pelbagai pikiran
sudah berkelebat dalam benak Hong-po Seng,
menyaksikan situasi yang terbentang di depan mata saat
ini, ia merasa cara yang sudah diatur ibunya tak mungkin
bisa dilaksanakan lagi sebab meski usia Kok See Piauw
masih muda nanun ditinjau dari gerak-geriknya ia sadar
meski dirinya bergabung dengan Chin Pek Cuan sekalian
bertiga belum tentu bisa menandingi kehebatannya, ia
merasa bahwa dirinya harus mencari satu akal bagus
untuk menghadapi keadaan ini, kalau tidak bukan saja
keluarga Chin bakal musnah bahkan dia sendiripun bakal
mati diujung tangan orang she Kok tersebut.
Walaupun usianya masih muda baik kecerdasan
maupun keberanian Hong-po Sang tiada taranya, kalau
tidak tak nanti ibunya serahkan tugas yang sangat berat
ini kepada dirinya.
Oleh sebab itu ia lantas bangkit berdiri meninggalkan


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tempat duduknya, ambil keluar surat titipan dari ibunya
dan membuka sampul surat itu kemudian dibaca isinya.
Tampaklah surat itu berbunyi demikian:
Surat ini berasal dari Hoa, perkampungan Liok-Soatsan
cung dan dipersembahkan untuk Boe-Liang Sin-
Koen Lie kong: "Sejak berpisah dipuncak Pak Beng, dalam sekejap
mata sepuluh tahun sudah lewat.,.... sengketa kita waktu
ada dikota Co-Chiu tempo dulu menyangkut soal Lie
kong dengan kaum pendekar tapi dalam kenyataan
suamiku almarhumlah yang jadi pokok utama peristiwa
tersebut, aku rasa semua orang sudah tahu akan
persoalan ini.....".
Membaca sampai disini sianak muda itu merasa rada
tercengang bercampur curiga, pikirnya:
"Entah dendam sakit hati apa yang dimaksudkan?"
mengapa menyangkut pula diri ayahku?"
Tampak surat itu berbunyi demikian:
"Dendam berlarut2 hingga kini, dan sekarang kau
hendak melampiaskan hati itu terhadap orang lain,
benarkah tindakan itu?" meski aku Boen-si tidak becus,
tak nanti aku berpeluk tangan belaka menyaksikan orang
lain yang harus memikul akibat dari persoalan itu.
Maka andaikata kau percaya dengan perkataan aku
tunggulah satu tahun lagi, sampai waktunya aku pasti
akan melayaninya Lie kong untuk beradu kepandaian
guna menyelesaikan masalah lampau....",
Hong Po Seug terkesiap, diam2 serunya didalam hati.
"Aaah. kiranya ibu sengaja menulis surat tantangan
kepada Boe Liang Sin Koen dan ada maksud untuk
menyelesaikan sendiri masalah sakit hati ini !".
Sudah tentu ia tahu dibalik persoalan ini tentu masih
terkandung hal lain yang lebih mendalam, namun musuh
tangguh berada didepan mata tak mungkin baginya
untuk berpikir lebih jauh, sepasang tangannya segera
diremas dan hancurlah surat tadi jadi ber keping2.
Tatkala Hong Po Seng mengambil keluar sepucuk
surat tadi semua orang memandangnya dengan
pandangan penuh curiga, tetapi setelah dilihatnya
pemuda itu dengan cepat membaca isi surat tadi
kemudian menghancurkan lumatkan jadi berkeping2, dari
curiga mereka jadi tercengang.
Dalam pada itu Kok See Piauw tetap membungkam
dalam seribu bahasa, sepatah kata pun tidak diucapkan
keluar. "Dengan susah payah ibu mendidik aku selama
seputuh tahun, apakah tujuan yang sebenarnya?" pikir
Hong-po Seng didalam hati. ,,Kok See Piauw tidak lebih
hanya anak murid dari manusia she Lie itu, kalau aku tak
sanggup menghadapi dirinya, apa gunanya aku bercita2
membalaskan dendam ayahku serta menolong umat bulim
dari bencana?".
0000O0000 Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tanpa
menjawab pertanyaan dari Chin Pek Cuan lagi ia
berpaling kearah Kok See Piauw dan menegur dengan
suara hambar: "Sahabat Kok, seorang diri kau melakukan perjalanan
sejauh ribuan lie tidak lain hanya datang kemari untuk
mancari balas, aku rasa ilmu silat yang dimiliki gurumu
pasti sudah berhasil kau pelajari semua bukan " "
Sebagai murid kesayangan dari gurunya sejak kecil
Kok See Piauw sudah terbiata di manja, hingga tanpa
terasa terdidiklah satu watak tidak pandang sebelah
matapun terhadap orang lain sekarang rnendengar
ejekan tersebut kontan hawa amarahnya berkobar.
Dengan mata melotot alis menjungkit dan wajah merah
padam bentaknya:
"Manusia rendah yang tak tahu diri ! ayoh cepat cabut
keluar senjatamu, kalau kau sanggup menahan lima
puluh jurus serangan Kok sauwya-mu, detik itu juga
sauw-ya mu akan angkat kaki dan berlalu dari sini '"
"Bagus sekali !" sambut Hong-po Seng dengan suatu
teriakan keras, ia segera menyambar bungkusan kain
meja dan ambil keluar selatang pedang baja yang kasar
dan berat. Lebar pedang ini cuma dua coen dengan tebal delapan
millimeter, warnanya hitam pekat dan sukar untuk
dibedakan sebenarnya senjata itu terbuat dari besi atau
baja. Dengan sepasang alis berkerut Kok See Piauw segera
mendengus dingin, dadanya dibusungkan kedepan, sang
telapak diputar setengah lingkaran lalu meluncur kemuka
kirim satu pukulan dahsyat.
"Kurang ajar, manusia liar yang tak tahu aturan !"
maki Hong-po Seng dengan hati mendongkol.
Kakinya segera melangkah kesamping untuk
menghindari ancaman lawan, pedang bajanya dIsapu
keluar mengirim satu babatan kilat.
Sreeet...! sepintas lalu babatan ini kelihatan sangat
lambat padahal dalam kenyataan cepatnya luar biasa,
tampak cahaya hitam berkelebat lewat serentetan hawa
pedang yang tajam dan menggidikkan hati langsung
menerjang dada Kok See Piauw.
Sungguh lihay anak muda dari Boe Liang Sin-Koen,
dengan cepat badannya miring ke samping
menghindarkan diri dari babatan musuh, tangan kirinya
menjangkau keluar merampas gagang pedang lawan,
sementara telapak kanannya laksana kilat meluncur
kemuka melancarkan satu babatan dahsyat.
Bukan begitu saja, bersamaan waktunya pula ia
lancarkan tendangan kilat dengan kaki kanannya
menghajar pusar sianak muda itu.
Dalam satu jurus dengan tiga gerakan yang berbeda,
benar2 suatu ancaman yang keji, telengas dan dahsyat.
Chin Pek Cuan ayah beranak tiga orang yang
menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan diam2
merasa bergidik juga setelah melihat kelihayan orang.
Ilmu silat yang dipelajari Hong po Seng istimewa
sekali, ia jarang mengadakan latihan namun apa yang
dipelajari amat banyak, dalam satu jurusan serangan ia
sudah dapat menyaksikan kelihayan lawan, ia tahu akan
kehebatan, serta kelemahan pihak musuh dan menyadari
pula dalam lima puluh jurus mendatang masih sulit bagi
dirinya untuk menyelesaikan pertarungan ini.
Tampak pedang bajanya menegang, badannya tiba2
berputar kencang satu lingkaran busur pedangnya
dengan mengikuti gerakan tersebut bergeser pula
kebelakang, gerakan yang mirip suatu serangan tapi
bukan serangan, mirip namun bukan pertahanan ini
seketika dengan gampangnya berhasil memunahkan
ancarnan dari serangan kilat Kok See Piauw.
"Hmm ! gerakan yang manis jitu." seru Kok See Piauw
tanpa sadar. "Keparat cilik rupanya kau masih memiliki
sedikit ilmu hitam yang ampuh !".
Dalam pembicaraan pedangnya laksana kilat
merangsek kemuka dalam sekejap mata ia telah
melancarkan delapan buah serangan kilat yang
kesemuanya merupakan jurus2 mematikan dan jurus2
keji. Dengan cepat Hong po Seng putar pedangnya
sedemikian rupa sehingga membentuk satu lapisan
benteng tak berwujud yang sangat kuat, dengan
gampang pula ia berhasil membendung kedelapan buah
serangan lawan.
Sreeeet ! . . Sreeeeet..! desiran tajam melanda
permukaan bumi, angin puyuh menggulung kesana
kemari menggidikkan hati siapa yang manyaksikan
jalannya pertempuran itu.
Chin Pek Cuan yang menonton dari samping kalangan,
diam2 merasa tercengang, pikirnya :
"Ilmu pedang apakah ini " tampaknya biasa sederhana
dan sama sekali tiada keajaiban atau keanehannya . . . "
Sebagai salah seorang jago tua yang pernah
menghadiri pertemuan Pak Bang Hwie, boleh dikata
kepandaian silat dari pelbagai partai, perguruan serta
aliran yang ada dikolong langit sudah pernah dilihatnya
semua, tetapi rangkaian ilmu pedang yang digunakan
Hong-po Seng barusan sama sekali belum pernah dilihat
ataupun didengarnya, terasa betapa dahsyatnya
pengaruh serangan itu menguasai seluruh kalangan.
Pertarungan antara jago2 lihay hanya berlangsung
sekejap mata, tahu2 Kok See Piauw telah melancarkan
delapan buah serangan berantai lagi, dengan gampang
Hong-po Seng berhasil memunahkan seluruh ancaman
tersebut, namun secara lapat2 ia mulai terdesak pada
posisi dibawah angin dan tak sanggup untuk
melancarkan serangan balasan kembali.
"Kok See Piauw, tahan!" mendadak terdengar Chin
Pek Cuan membentak keras.
"Bentakan ini amat nyaring dan keras mem?buat
seluruh bangunan gedung itu bergetar keras, begitu
hebat suaranya seolah2 guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong.
Dengan cepat Kok See Piauw melayang mundur
kebelakang, lalu dengan nada penuh kegusaran
teriaknya: "Tua bangka sialan, bukankah sejak tadi aku sudah
suruh kalian untuk turun tangan bersama2, siapa suruh
kamu tolak tawaranku itu ?"" Hmmm! kalau masih ada
pesan terak?hir yang hendak kau sampaikan cepat
utarakan keluar, kalau tidak Kongcu ya mu tidak akan
berlagak sungkan2 lagi".
Chin Pek Cuan tertawia dingin.
"Bajingan cilik, kau tak usah gelisah! malam ini loohu
akan suruh kau mati disini tanpa tempat kubur !".
Kemudian ia berpaling kearah Hong Po Seng dan
bentaknya: ,,Sahabat kecil, perduli darimanakah asal usulmu kalau
kau hendak mencari satroni dengan bajingan ciiik she
Kok ini, aku harap kau suka menunggu dahulu di luar
pintu, kami keluarga Chin tidak sudi memberi
kesempatan kepadamu untuk berkelahi disini !".
Begitu keras dan keren suaranya sehingga
menggetarkan hati sianak muda kita. mula2 Hong Po
Seng tertegun kemudian pikirnya.
"Secara terang2an aku membantu dirinya," kenapa
sebaliknya dia malah memaki aku dengan kata yang
begitu keras" bukankah hal ini jauh melanggar kebiasaan
?". Berpikir demikian ia lantas mengundurkan diri
kesamping kalangan dan berkata sambil tertawa:
"Loo Wan-gwee, bukankah kau hendak bunuh sauw ya
itu sahingga tiada tempat kubur baginya?" kalau cahye
diharuskan menunggu diluar pintu. Bukankah aku bakal
menunggu dengan sia2 belaka ?"".
,,Keparat cilik, tutup bacotmu yang busuk" dengan
penuh kegusaran Kok See Piauw tertawa seram "Kongcuya
akan suruh kau merasakan kelihayanku !".
Dia maju kedepan kemudian dengan gemasnya
melancarkan satu babatan kearah tubuh lawan.
Chin Pek Cuan mengirim satu tendangan kilat
menghancurkan meja perjamuan dihadapannya,
Braaak... ! kepingan kayu bagaikan anak panah
berbareng meluncur kearah tubuh Kok See Piauw.
Anak murid dari Boe-Liang Sin koen ini jadi semakin
gusar, telapaknya dibabat kebawah menghantam rontok
kepingan2 kayu meja yang mengancam-dirinya, angin
puyuh menyapu permukaan bumi, kepingan kayu yang
termakan sabetannya ini segera mencelat ke angkasa
dan menyebar keempat penjuru.
Diam2 bergidik juga hati semua orang yang
menyaksikan kedahsyatan serangannya itu, belum
sampai pikiran kedua berkelebat dalam benak mereka,
Kok See Piauw sudah rentangkan sepasang lengannya
menyerang berbarengan kearah Hong po Seng serta Chin
Pek Cuan. "Akan kusaksikan dahulu kelihayan dari loo enghiong
ini, biarlah untuk sementara waktu aku menyingkir
dahulu kesamping kalangan" pikir Hong-po Seng.
Sepasang kakinya segera menjejak tanah, sebelum
serangan musuh mengancam tiba badannya sudah
melayang mundur beberapa depa kebelakang dan lolos
dari ancaman tersebut.
Tampaklah Chin Pek Cuan memiringkan tubuhnya
kesamping, sepasang telapak laksana kilat didorong
kemuka secara berbareng.
"Criiing...!" bentrokan nyaring menggema diangkasa
seolah2 dua batang medali emas saling membentur satu
sama lainnya. Kok See Piauw mendengus gusar, jari telunjuk tangan
kirinya bagaikan batang tombak meluncur kemuka
mengancam sepasang mata Chin Pek Cuan, telapak
kanan menjangkau ke bawah secara tiba2 menyerobot
dadanya. Ilmu telapak Kim Sah Ciang yang dilatih Chin Pek Cuan
telah mencapai pada puncaknya, dalam pertarungan itu
sepasang telapaknya berubah jadi kuning keemas2an,
menyaksikan datangnya ancaman jari tangan lawan yang
ampuh dan sukar diduga arah tujuannya, dengan cepat
ia kaluankan jurus serangan "Long-Po-Kang-Ciauw" atau
Gulungan Ombak Menghantam Karang dan secara tiba2
mem-bentur kedepan.
Jurus" Long Po Kang Ciauw " atau gulungan ombak
menghantam karang ini meski hanya suatu jurus
serangan yang amat sederhana, namun setelah
dipergunakan Chin Pek Cuan yang disertai dengan
segenap tenaga murni yang dimilikinya berubah jadi
amat dahsyat. Sudah tentu Kok See Piauw tidak sudi membiarkan


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tubuhnya termakan oleh pukulan maut itu, buru2 ia
enjotkan badannya melayarg mundur beberapa depa
kebelakang: "Ehmm...! Ilmu telapak Kim Sah Ciang nya bisa dilatih
mencapai taraf sedemikian hebatnya, benar2 luar biasa
!" pikirnya Hong Po Seng didalam hati.
Mendadak terdengar Chin Pek Cuan membentak
keras: "Chin Tiong Pasang api ! Long jie, wan jie siapkan
senjata tajam"
Mendengar teriakan itu baik Hong Po Seng maupun
Kok See piauw yang sedang bertempur jadi amat
terperanjat, sebelum mereka sempat mengartikan
maksud dari teriakan tersebut, Chin Giok Liong serta Chin
wan Hong telah mencabut keluar senjata tajamnya dan
bersama2 menubruk kearah Kok See Piauw,
"Bluumm ! Bluumm ...!" suara ledakan keras segera
menggema dari sisi kiri kanan, depan serta belakang
ruang tengah itu, seketika itu juga bau belirang yang
tajam dan amat menusuk penciuman menyebar
keseluruhan angkasa.
"Tua bangka sialan! kau pingin modar" maki Kok See
Piauw dengan hati terkejut bercampur gusar.
Sepasang telapaknya laksana kilat melancarkan
serangan berantai yang hebat dan mematikan.
Menghadapi serangan2 yang gencar dan luar biasa ini
Chin Giok Liong berdua keteter hebat, tidak selang
beberapa jurus mereka sudah terdesak kedalam posisi
yang amat kritis dan bahaya, setiap saat maut bakal
mengancam keselamatan mereka.
Hong Po Seng yang menjumpai kejadian jadi
terperanjat, tanpa memperdulikan situasi disekelilingnya
yang keritis dan berbahaya itu, ia ayunkan pedangnya
dan menerjang kedepan. Bersama dengan Chin Pek
Cuan, satu dikiri yang lain dikanan berbareng
membendung jalan pergi Kok See Piauw.
Blumm. . . ! Blumm . . . ! ledakan dahsyat tiada
hentinya berdentuman diangkasa, jilatan api mulai
membakar ruang depan dan kian lama kian membesar
sehingga akhirnya terjadilah kebakaran besar dalam
seluruh ruangan.
Ternyata Chin Pek Cuan yang tahu bahwa bencana
besar setiap saat bakal menimpa keluarganya, ia
bersumpah tak mau menyerah dan takluk dengan begitu
saja, maka secara diam2 disekeliling ruang tengah telah
ditanami obat2 peledak, ia akan menantikan kedatangan
Boe Liang Sin-koen dalam ruangan itu kemudian baru
turunkan perintah memerintahkan pembantu2nya yang
telah dipersiapkan diluar ruangan menyulut api sumbu
dan meledakkan obat2 peledak tersebut.
Sudah lama ia mengetahui akan kelihayan Boe Liang
Sin-koen, tahu pula bahwa api sembarangan tidak nanti
bisa mengurung dirinya untuk menghindari kecurigaan
orang maka ia perintahkan Chin Giok Liong putranya
serta Chin Wan Hong putrinya untuk ikut serta dalam
usaha tersebut, mereka mengambil keputusan untuk adu
jiwa bersama2 Boe Liang Sin koen.
Siapa tahu Boe Liang Sin Koen yang ditunggu2 tidak
datang, sebaliknya malah dibebani dengan nyawa Hongpo
Seng. Siasat adu jiwa yang dipersiapkan ini sudah tentu lihay
sekali, dalam sekejap mata seluruh ruang tengah teIah
terkepung oleh jilatan api yang berkobar2 dengan
hebatnya, ditambah pula hembusan angin yang kencang
membuat kobaran api tadi menyebar makin cepat. Tidak
selang beberapa saat kemudian seluruh gedung rumah
keluarga Chin telah tertelan didalam lautan api.
Cahaya api membumbung tinggi keangkasa, asap
yang tebal menutupi awan, berita kebakaran ini dengan
cepat menjalar keseluruh kota, penduduk disekitar sana
berbondong2 datang mengerubung sambil menolong api,
sementara dalam ruang tengah masih berlangsung suatu
pertempuran berdarah yang seru dan ramai.
Ditengah pertarungan sengit itu secara beruntun Kok
See Piauw melancarkan serangan mematikan, ia
bermaksud cepat2 menyelesaikan pertarungen itu dan
segera meloloskan diri dari kepungan.
Dalam tiga lima jurus kemudian, Chin Pek Cuan
bertiga segera terjebur dalam situasi yang kritis dan
berbahaya, maut setiap saat mengancam keselamatan
mereka. Menjumpai situasi yang kritis dan tidak
menguntungkan itu, secara mendadak Hong- po Seng
membentak keras, sekuat tenaga ia lancarkan satu
babatan kedepan.
Babatan ini bukan saja cepat bahkan kuat dan penuh
bertenaga, laksana samberan kilat hawa pedang
menyebar keempat penjuru mengiringi desiran tajam
yang memekikkan anak telinga.
Kok See Piauw terperanjat, segera pikirnya :
"Sungguh hebat keparat cilik ini, tenaga lweekang
yang dimilikinya tidak berada dibawah tenaga murniku !".
Walaupun ia jumawa namun bukanlah manusia yang
bodoh, ia tahu Hong- po Seng pun anak murid seorang
jago lihay kenamaan, dengan hadirnya pemuda itu dalam
pertempuran tersebut tak mungkin baginya untuk
melancarkan pembasmian terhadap keluarga Chin,
apalagi kobaran api sudah kian mendesak kalangan itu,
ia segera ambil keputusan untuk mengundurkan diri
terlebih dahulu dari sana.
Sepasang telapaknya segera melancarkan serangan
memaksa keempat orang itu buru2 mengundurkan diri
kebelakang. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah
mendadak ia enjotkan badannya meluncur naik keatas
tiang penglari.
Siapa sangka posisi Chin Pek Cuan sekarang dari
tetamu jadi tuan rumah, sudah tentu ia tak sudi
membiarkan musuhnya melarikan diri dengan begitu
saja, dengan cepat ia loncat keatas sambil mengirim satu
babatan yang dahsyat ketubuh musuhnya
Kok See Piauw teramat gusar, ditengah udara ia tarik
napas panjang2 dan disimpannya didalam dada,
mendadak tubuhnya berjungkir balik mengarah kebawah,
tangan kanannya dengan menggurat setengah lingkaran
bagaikan gunung Tay san menekan kepala ia hajar batok
kepala Chin Pek Cuan.
"Sudah ! sudahlah !" diam2 Hong po Seng berseru
didalam hati bagaikan anak panah yang terlepas dari
busurnya dia segera meluncur kearah Kok See Piauw,
dan..sreeet...! sebuah babatan dahsyat segera
dilepaskan. Sementara itu hawa panas dalam ruangan semakin
meningkat, asap tebal menutupi seluruh jagad, bukan
saja panas dan sumpek suara gemerutukan kayu yang
dimakan api lebih2 menggetarkan hati orang yang
mendengar. Berada dalam situasi yang serba sulit dan
membingungkan ini Kok See Piauw tak sanggup
melayang lebih jauh, akhirnya ia berhasil dipaksa turun
kembali kedalam ruangan.
Dalam sekejap mata ketiga orang itu terlibat kembali
dalam suatu pertarungan yang maha sengit, dua
bersaudara Chin segera maju membantu. siapa sangka
pertarungan antara ketiga orang itu semakin seru,
gagallah kedua orang bersaudara itu ikut bagian dalam
pertarungan tadi.
Ilmu pedang yang dimiliki Hong-po Seng semuanya
berjumlah enam belas jurus, bukan saja semuanya jurus
sederhana yang umum dan biasa bahkan tiada
keistimewaan apapun jua, namun kesempurnaan tenaga
lweekang yang dipancarkan dalam pedang itu benar2
luar biasa sehingga membuat Kok See Piauw sama sekali
tak berkutik. Mendadak satu serangan kilat lawan memaksa Chin
Pek Cuan tak sanggup mempertahankan diri, ia segera
terjerumus dalam keadaan yang kritis dan berbahaya.
Serangan Kok See Piauw yang telah menggunakan
ilmu "Kioe Pit Sin Ciang" ajaran perguruannya melanda
datang bagaikan gulungan ombak ditengah samudra
luas, begitu hebat dan dahsyat membuat permukaan
bumi seakan2 bergetar.
Chin Pek Cuan jadi nekad, ia kerahkan segenap
kemampuan yang dimilikinya untuk menerjang musuh
dan mengajak lawan adu jiwa . .
Ditengah suasana yang panas dan tegang inilah, satu
ingatan berkelebat dalam benak Hongpo Seng, secara
tiba2 ia teringat kembali akan ibunya yang mengasingkan
diri ditengah pegunungan sunyi.
"Tugas pertama belum kuselesaikan, bila demikian
saja jiwaku lantas melayang, bagaimana malu dan
menyesalnya ibu yang sudah mendidik diriku secara
susah payah" jeritnya didalam hati.
Berpikir demikian, semangatnya lantas berkobar
kembali, ditengah bentakan nyaring pedangnya laksana
sambaran kilat berkelebat ke depan melancarkan satu
serangan mematikan, cahaya hitam berkilauan menusuk
pandangan, dengan dahsyat dan hebatnya langsung
menerobos pertahanan musuh dan mengancam tubuh
lawan. Kok See Piauw benar2 dibikin naik pitam, hawa
amarahnya sudah tak dapat dikendalikan lagi,
menyaksikan api telah membakar seluruh isi ruang
dalam, ia sadar bila dirinya tidak segera angkat kaki dari
situ mumpung sekelilingnya belum terbakar, niscaya
badan?nya bakal terbakar dan jiwanya akan melayang
ditempat itu. Secara beruntun ia segera melancarkan serangan
berantai memancing pergi pedang Hong-po Seng,
sementara telapak kanannya lak sana kilat memancarkan
satu tabokan maut kearah Chin Pek Cuan.
Menyaksikan tindakan lawan, Hong-po Seng
terperanjat, ditinjau dari datangnya serangan itu ia tahu
bahwa sulit bagi Chin Pek Cuan untuk melepaskan diri
dari ancaman tersebut, segera pikirnya :
"Aku datang kemari adalah bermaksud untuk
membalas budi kebaikan yang pernah ia lepaskan
terhadap keluarga kami, mana boleh kubiarkan dia
menemui ajalnya ditangan keparat tersebut ?"
lngatan itu laksana kilat berkelebat dalam benaknya,
cepat2 pedangnya diputar balik dengan maksud untuk
membendung serangan lawan, siapa sangka tindakannya
itu sudah tak sempat lagi.
Dalam situasi yang amat kritis dan berbahaya itulah
bahu kirinya segera dimiringkan ke samping kemudian
bagaikan banteng terluka ia tumbuk lengan Kok See
Piauw yang sedang mengirim ancaman maut itu.
Tindakan Hong-po Seng yang berani nekad beradu
jiwa ini jauh diluar dugaan Kok See Piauw, dalam
gugupnya ia lepaskan ancamannya terhadap Chin Pek
Cuan dan putar badan sambil kirim satu babatan
kebelakang. "Bluum...!" serangan tadi dengan telak bersararg
dibahu Hong-po Seng membuat sianak muda itu
mendengus berat, badannya terpental delapan depa dari
tempat semula dan jatuh bergelindingan diatas tanah.
Menyaksikan peristiwa itu, sepasang mata Chin Pek
Cuan berubah jadi merah berapi2 dengan gusarnya ia
berteriak : "Loohu akan adu jiwa dengan dirimu !".
Sepasang lengan direntangkan kemudian menubruk
kedepan dengan suatu gerakan yang amat ganas.
Melihat pibak lawan bagaikan orang gila sedang
melancarkan tubrukan kearahnya, Kok See Piauw
terkesiap, bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Karena takut pinggangnya sampai ketubruk lawan
sehingga sulit baginya untuk melepas?kan terburu2 ia
enjotkan badannya berkelit satu langkah kesamping,
kemudian bersuit nyaring dan meloncat naik ketengah
udara. Dalam pada itu seluruh dinding ruangan tengah sudah
berubah jadi merah membara karena termakan api,
jilatan api berkobar di mana2, karena tubrukunnya
mengenai sasaran yang kosong, tak tahan lagi tubuh
Chin Pek Cuan terjengkang kedepan sejauh beberapa
langkah. menanti ia berhasil berdiri tegak, Kok See Piauw
sudah berada empat tombak dari tempat semula dan
sedang melayang keatas atap rumah.
Semua kejadian ini hanya berlangsung dalam waktu
yang amat singkat, baru saja Hong po Seng bangkit
berdiri, ujung bajunya sudah terjilat api dan mulai
terbakar, buru2 ia jatuhkan diri kembali keatas tanah dan
berguling2 untuk memadamkan jilatan api tersebut,
menanti ia meloncat bangun untuk kedua kalinya, suitan
nyaring Kok See Piauw sudah berada ratusan tombak
jauhnya. Kecerdikan Hong po Seng melebihi orang lain,
menyaksikan empat penjuru sudah terkepung oleh
kobaran api yang amat dahsyat sehingga tiada jalan lain
mereka untuk lolos dari ruangan itu tanpa berpikir
panjang lagi ia buang pedang bajanya keatas tanah
kemudian menyambar sapasang kaki Chin Giok Liong
sekali diputar dengan kerahkan segenap kemampuan
yang dimilikinya ia lemparkan tubuh sianak muda itu
keatas lobang atap rumah.
Mimpipun Chin Giok Liong tidak menyangka kalau ia
bakal ditangkap Hong po Seng dan dilemparkan keatap
rumah, menanti ia mendusin dari kagetnya dan tubuhnya
telah melayang ketengah udara buruk teriaknya:
"Hong po Siauwhiap.."


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sepasang tangannya diayun kesamping, ia segera
menyambar tiang penglari rumahnya dan dipegang eraterat.
Dalam sangkaan Hong po Seng ruang tengah itu
sangat tinggi, ia duga dua bersaudara keluarga Chin
tidak nanti sanggup melompatnya, maka sesudah
melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas tiang ia
segera putar badan mencengkeram sepasang kaki Chin
Wan Hang "Gadis muda itu jadi ketakutan, buru2 ia
kebelakang tubuh ayahnya sambl menjerit:
"Ayah !!"
Mula2 Chin Pek Cuan pada tertegun melihat tingkah
laku sianak muda itu, tapi dengan cepat ia mengarti ada
maksud yang sebenarnya, dengan cepat ia tarik lengan
Hong po Seng lalu diajaknya lari maju kesudut ruangan
itu. "Saudara cilik, ikutilah diri loohu !"serunya.
"Tapi..tunggu dulu sebentar Loocianpwee..pedang
boanpwee . ".
Chin Wan Hong yang mendengar perkataan itu buru2
memungut pedang baja milik pemuda tersebut dari atas
tanah, sementara Chin Giok Liongpun sudah loncat turun
keatas tanah, maka mereka berduapun dengan cepat
menyusul dibelakang ayah mereka.
Sebelah barat ruang besar tadi merupakan dinding
tembok yang terbuat dari batu bata, kobaran api belum
sampai membakar habis tempat itu. Setibanya ditepi
dinding sepasang telapak Chin Pek Cuan segera
mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Gruuuduk...! dinding tersebut terhantam roboh
sepuluh bagian, sambil menarik pergelangan tangan
Hong po Seng, jago tua she Chin ini segera menerobos
masuk kedalam sebuah mulut lorong yang sempit.
Sadarlah hati Hong po Seng sesudah menyaksikan
bahwasanya dinding tembok yang dibangun disitu
ternyata beriapis dua, pikirnya:
"Tidak aneh kalau mereka tetap bersikap tenang
kendati empat penjuru sekeliling mereka sudah
terkepung oleh jilatan api, ternyata jauh sebelumnya
mereka sudah siapkan jalan keluar yang sangat rapi,
Huuu",_ hitung2 aku sudah menguatirkan keselamatan
mereka dengan percuma..!"
Lorong sempit dibalik lapisan dinding ini amat panas
bagaikan sebuah tungku yang di bawah onggokan api,
secara beruntun keempat orang itu menerobos masuk
beberapa lang kah jauhnya, keringat sebesar kacang
kedelai telah membasahi seluruh tubuh mereka,
udaranya sumpek dan sesak ditambah pula hawa yang
panas menyengat badan mereka semua walaupun
terhitung jagoan lihay, tak urung napasnya tersengkal2
juga bahkan hampir saja jatuh tak sadarkan diri,
Pertama2 Chin Wan Hong lah yang tidak tahan,
tangan dan kakinya jadi lemas, senjata tajam yang
dicekalnya segera terjatuh keatas tanah.
Buru2 Hong po Seng menyambar tangannya dan
menyeret gadis itu meneruskan perjalanan sedang Chin
Giok Liong memutar pedang baja dari atas tanah
kemudian menyusulnya dari belakang.
Demikianlah dengan susah payah mereka merangkak
lagi sejauh beberapa tombak dalam lorong sempit itu,
tiha2 Chin Pek Cuan menghentikan langkahnya dan
meraba sebuah papan batu, dengan sekuat tenaga
dibukanya batu tadi.
Dibawah batu besar tersebut merupakan sebuah gua
yang dalam, pertama2 Chin Pek Cuan yang meloncat
turun terlebih dahulu, disana ia bikin api dan memasang
obor. Ketiga orang lainnya dengan cepat menyusul dari
belakang, begitu menginjakkan kakinya didalam gua itu
terasalah badan jadi nyaman dan segar kembali, dengan
seksama Hong Po Seng segera mengamati daerah
sekeliling tempat itu.
Kiranya dimana mereka berada saat ini merupakan
sebuah ruang bawah tanah yang besar dan lebar,
dihadapan ruang itu terdapat sebuah pintu dan entah
menghubungkan ruangan tersebut dengan mana "
Chin Pek Cuan dengan mulut membungkam membuka
pinto tadi dan kemudian memimpinnya berjalan lebih
dahulu dipaling depan, sementara ketiga orang lainnya
mengintil dibelakangnya.
Diluar pintu ruang bawah tanah merupakan sebuah
lorong yang sempit, tidak jauh mereka melewati lorong
tadi sampailah disebuah pintu lagi, pintu itu sebenarnya
terkunci tapi sekarang kuncinya telah dibuka dan dibuang
ke samping. Entah berapa lama mereka sudah berjalan, mendadak
terdengar Chin Pek Cuan berseru dengan nada gemas :
"Aaai...! sayang ! sayang...".
Jilid 2: Jadi tawanan Sin Kee Pang
"Ayah, apa yang perlu kau sayangkan?" tanya Chin
Wan Hong sambil menyeka keringat yang membasahi
wajahnya. "Sayang bajingan cilik itu tidak berhasil kita bakar
sampai mampus jadi arang !"
.,Oooh . . , aku kira ayah sedang menyayangkan
gedung rumah kita", gadis itu merandek sejenak, lalu
terusnya. "Entah dirumah nenek apakah akan terjadi pula
sesuatu atau tidak ?"
"Aku rasa tidak mungkin. Hemmm . . . ilmu silat yang
dimiliki bajingan cilik ini amat lihay, aku rasa kepandaian
dari bajingan tua itu jauh akan lebih Iihay dari pada
sepuluh tahun berselang !"
Sementara pembicaraan itu masih berlangsung,
permukaan lorong sempit itu makin lama semakin
meninggi dan tiba2 sampailah pada ujungnya.
Hong-po Seng segera mendongak memandang keatas,
tampaklah diatas kepala terdapat sebuah jendela dan
disekitar jendela itu penuh dengan debu dan sarang
laba2, jelas sudah banyak tahun tak pernah dibukanya
barang sekalipun.
Chin Pek Cuan tancapkan obornya keatas tanah lebih
dahulu kemudian pasang telinga memperhatikan
keadaan disekelilingnya beberapa saat setelah itu baru
membuka santekan jendela dan mendorong jendela tadi
kebawah hingga terbuka lebar, diatas jendela masih
terdapat sebuah papan batu yang besar dan berat
kembali ia geserkan batu tadi kesamping, selapis cahaya
merah seketika memancar masuk kedalam lorong.
Setelah mematikan obor, pertama2 Chin Pek Cuan
yang loncat keluar lebih dahulu dari bawah lorong diikuti
Hong-po Seng dari belakangnya, mendadak pemuda itu
merasakan bahu kirinya teramat sakit, kepalanya secara
tiba2 jadi berat dan pusing tujuh keliling, matanya
berkunang2, dan hampir saja ia roboh terjengkang
keatas tanah. Chin Giok Liong serta Chin Wan Hong yang melihat
keadaan sianak muda itu buru2 maju memayang,
sementara Chin Pek Cuan segera berpaling dan menegur
dengan nada kuatir:
"Loo te bagaimana keadaan lukamu?"".
Setelah bahu kirinya terhajar oleh sebuah pukulan Kok
See Piauw hingga jatuh terjengkang kebelakang, Hong
Po Seng tanpa beristirahat kerahkan segera tangannya
untuk melemparkan tubuh Chin Giok Liong keatas atap
rumah, waktu itu api sedang berkobar dengan ganasnya,
dalam keadaan seperti itu Chin Pek Cuan sudah lupa
untuk memeriksa keadaan pemuda tersebut rada payah,
mereka bertiga baru merasa kuatir dan hatinya tidak
tenteram. Dengan cepat Hong Po Seng menenangkan hatinya
lalu menarik napas panjang2 dan salurkan hawa
murninya keseluruh tubuh, menanti rasa sakit ia derita
sudah banyak berkurang barulah ujarnya sambil tertawa:
"Karena terburu2 hendak melarikan diri, lagi pula
serangan dilancarkan dalam keadaan gugup, Kok See
Piauw hanya menggunakan tenaga tidak sampai dua
bagian, sayang waktu itu aku sudah lupa untuk mengatur
pernapasan.....".
"Entah ada racunnya tidak serangan telapak dari
bangsat itu !" tanya Chin wan Hong dengan wajah
gelisah. "Belum pernah aku dengar ilmu pukulan Kioe Pit Sinciangnya
mengandung hawa racun !" jawab Hong po
Seng sambil tertawa, sekali enjot ia meloncat keluar dari
dalam lorong. Kiranya jalan keluar dari lorong rahasia itu terletak
dibawah tembok pekarangan halaman belakang rumah
keluarga Chin, baru saja Hong-po Seng meloncat keluar
dari dalam lorong, ia segera merasakan hawa panas yang
amat menyengat badan memenuhi angkasa, ia lantas
berpaling, terlihatlah gedung rumah keluarga Chin yang
megah dan besar kini sudah tinggal puing2 yang
berserakan, api besar sebagian besar sudah padam
kecuali di sana sini masih terjadi kebakaran kecil.
Chin Pek Cuan adalah seorang pendekar gagah yang
tidak terlalu memikirkan soal harta kekayaan, begitu
keluar dari tempat persembunyiannya ia lantas menutup
kembali batu cadas tadi kemudian menggape kearah
Hong-po Seng dan meloncat keluar dari pekarangan.
Terhadap sianak muda ini diam2 jago tua tersebut
menaruh rasa kagum bercampur terima kasih, walaupun
perasaannya itu tidak sampai diutarakan keluar namun
sikap serta tindak-tanduknya cukup membuat pemuda
kita merasakan kemesraan serta kehangatan yang luar
biasa. Diluar dinding pekarangan merupakan sebuah jalan
lorong yang sempit. lebarnya tidak mencapai empat depa
dan dikedua belah sisinya merupakan halaman belakang
rumah orang demikianlah keempat orang itu sementara
suara hiruk-pikuk penduduk menolong api masih
kedengaran dari depan gedung.
Angin dan hujan salju sudah berhenti....cahaya merah
memantul keudara membiaskan selapis pemandangan
yang menyeramkan.,...tiba2 dari mulut lorong berkelebat
keluar tiga sosok bayangan manusia tanpa mengucapkan
sepatah katapun mereka segera menghadang jalan pergi
Chin Pek Cuan sekalian.
Jago tua dari keluarga Chin ini sudah lama melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan banyak pengetahuan
serta pengalaman yang diperolehnya selama ini,
menyaksikan kemunculan ketiga orang itu ia lantas
mengerti bahwa kedatangan orang2 itu tidak bermaksud
baik Dengan cepat ia hentikan langkah kakinya dan
memandang wajah orang2 itu dengan sinar mata tajam.
Tampaklah orang berdiri ditengah memakai topi kulit
di kepalanya, jubahnya lebar dan terbuat dari kulit,
wajahnya penuh bercambang, sorot matanya dingin
menyeramkan, senyuman dingin menghiasi bibirnya yang
lebar. Rupanya orang itu adalah pemimpin diantara
rombongan tersebut.
Chin Pek Cuan mendeugus dingin, ia segera maju
menyongsong kedatangan mereka sambil menegur :
"Siapa kalian " apa maksud kamu sekalian
menghalangi jalan pergi kami?"
Orang itu tertawa seram.
"Cayhe she Kwa bernama Thay dengan gelar 'Hiat-Sat-
Tui-Hoan' atau Malaekat darah pengejar Sukma. Chin loo
Wan-gwee! kau adalah seorang hartawan kaya raya,
sudah tentu tidak akan kenali diriku!"
Diam2 Chin Pek Cuan terkesiap juga mendengar nama
itu, tetapi diluar ia tetap berlagak tenang.
"Oooh, kiranya Kwa Toa Thong-cu!" serunya sambil
tertawa. "Kalau begitu loohu benar2 punya mata tak
kenali gunung Thay-san. waah......besar sekali dosaku ini
! " sepasang alisnya berkerut, dengan nada menyindir
serunya kembali:
"Kwa Thongcu. apakah kau sedang menjalankan
perintah dari Kok kongcu untuk menangkap diri loohu?"
Malaikat Darah Pengejar Sukma tertawa seram.
"Hemmm.... Hemmm... Loo wan gwee tajam banar
mulut tuamu itu. Aku orang she Kwa adalah anak buah
parkumpulan Sin Kie Pang, seorang Thongcu dari cabang
kota Keng Chiu tidak akan sudi manjalankan perintah
orang lain!".
Ia merandek sebentar senyuman licik terlintas diatas
wajahnya dan menambahkan:
"Cuma saja ....Heeh.... heeh Boe Liang Sin Koen
adalah sahabat karib Pek loo kami, sedang kota Keng
Chiu adalah daerah kekuasaan dari aku orang she Kwa,
maka mau tak mau urusan yang menyangkut tugas diriku
tak akan kubiarkan barlalu dengan begitu saja! ".
"Aneh benar tingkah laku orang yang bernama Kwa
Thay ini. Diam2 Hong PoSeng mambatin." Didalam
percakapannya sorot mata orang ini berkeliaran tidak
menentu, jangan2 dia sedang menjalankan satu siasat
busuk dan bermaksud hendak menjebak kami sekalian"
Karena berpikir begitu tanpa sadar kewaspadannya
pun segera ditingkatkan.
Dalam pada itu Chin Pek Cuan telah mendengus
dingin: "Hemm! bajingan busuk dari perkampungan Sin Kie
Pang ternyata benar2 bukan manusia baik !"
"Tua bangka she Chin!" mendadak lelaki berjubah
hijau yang ada disisi kiri menghardik dengan penuh
kegusaran "Kau harus tahu, meskipun kolong langit
sangat luas, tapi bila kau berani menyalahi atau
menyinggung nama baik perkumpalan Sin Kie Pang, tidak
nanti kami akan biarkan kau hidup dengan aman
tenteram diatas jagad !".


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Cuuh...!" Chin Pek Cuan meludah keatas tanah. "Para
enghiong hoohan serta orang gagah sudah mati semua,
yang tinggal saat ini hanya kalian bajingan2 tengik yang
berani mengaku sebagai enghiong..Hmmm! sungguh
menyebalkan !".
Lama kelamaan Malaikat darah Pengejar sukma pun
jadi naik pitam juga mendengar ejekan2 tersebut, dalam
waktu singkat sepasang telapaknya telah berubah jadi
merah darah, rupanya orang itu sudah mempersiapkan
diri untuk melancarkan serangan.
Suasana berubah semakin tegang, nampaknya
sebentar lagi satu pertempuran sengit segera akan
berlangsung tiba, Hong-po Seng meloncat maju kedepan
sambil menarik lengan Chin Pek Cuan serunya:
"Loocianpwee, tunggu sebentar !"
"Loote, silahkan kau menyingkir, bajingan2 tengik
sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, aku orang
she Chin sudah tak tahan menyaksikan tingkah laku
mereka...".
Tiba2 bayangan manusia berkelebat lewat, Hiat-Sat-
Tui-Hoan atau Malaikat darah pengejar sukma Kwa Thay
telah menyusup datang sambil melancarkan sabuah
serangan. Chin Pek Cuan segera bertindak cepat, telapaknya
diayun menyambut datangnya serangan itu dengan keras
lawan keras. Blaaam..! ditengah bentrokan keras yang memekikkan
anak telinga tubuh Chin Pek Cuan tetap tak bergelimang
dari tempat samula, sebaliknya malaikat darah pengejar
sukma terpukul satu langkah kearah belakang.
Chin Pek Cuan bukanlah seorang prajurit kecil yang
tak bernama meskipun baru saja bergebrak mati2an
melawan Kok See Piauw, namun untuk menghadapi
seorang Tongcu ia masih memiliki sisa tenaga.
Setelah berhasil merebut posisi diatas angin dalam
segebrakan saja, tubuhnya merangsek semakin kedepan.
jurus2 maut dilancarkan bertubi2 memaksa Kwa Thay si
Malaikat darah pengejar sukma terpaksa harus mundur
berulang kali kebelakang.
Tanpa terasa mereka telah keluar dari gang sempit itu.
Dalam pada itu Hong Po Seng telah sembunyikan
pedang bajanya dibelakang punggung, punya rencana
untuk menaklukkan lebih dahulu kedua orang pria
lainnya, siapa tahu kedua orang itu tiba2 putar badan
dan melarikan diri, salah seorang diantaranya dangan
cepat merogoh kedalam saku mengambll suatu benda
yang akan dilemparkan keatas tanah.
Matanya cukup tajam dan awas, sekalipun
memandang ia dapat lihat bahwa benda itu adalah
sebuah bom udara, otaknya dengan cepat bekerja,
serunya mendadak sambil tertawa keras :
"Eeeei.... eeei.... harap kalian berdua jangan
bergebrak dulu, cayhe ada beberapa patah kata hendak
diutarakan lebih dulu!".
Ditengah bergetarnya sang bahu, tahu2 ia sudah
menyelinap diantara Kwe Thay serta Chin Pek Cuan.
Pada dasarnya Malaikat darah pengejar sukma
memang mempunyai rencana lain, ditambah pula ia
sadar bahwa harapan baginya untuk rebut kemenangan
amat tipis maka sambil mendorong sampan mengikuti
aliran sungai katanya:
"Saudara cilik, apa yang hendak kau katakan?"?".
Diam2 Hong-Po Seng melirik sekejap kearah lelaki
berjubah hijau tadi, melihat orang itu sudah menyimpan
kembali bom udaranya kedalam saku ia lantas berpikir
dalam hati: "Pengaruh dari perkumpulan Sin-Kee Pang terlalu
besar, komplotan merekapun terlalu banyak, andaikata
pekerjaan kita pada malam ini kurang bersih sudah pasti
keluarga Chin tak mungkin bisa hidup dalam keadaan ten
tram dan aku sendiripun jangan harap bisa berkelana lagi
didalam dunia persilatan!".
Pikiran tersebut dengan cepatnya berkelebat dalam
benak sianak muda itu. setelab sangsi akhirnya ia
berkata sambil tertawa:
"Ilmu Kiem Sah ciang dari Chin Loocian pwee dapat
menghancur lumatkan batu bong pay, sedangkan ilmu
pukulan Coe Sah ciang dari Kwa Tongcu dapat
membinasakan orang seketika, kepandaian semacam ini
boleh dibilang setali tiga uang dan sama kuatnya lebih
jauh ....jauh. Pastilah kedua belah pihak sama2
menderita luka, siapapan tak akan memperoleh kebaikan
apapun jua!".
"Haaah...haah...perkataanmu tepat sekali saudara
cilik" dengan cepat Kwa Thay si Malaikat darah pengejar
nyawa menanggapi sambil tertawa tergelak." Tak
kusangka usiamu meski masih muda namun ketajaman
matamu benar2 luar biasa!".
Sebaliknya Chin Pek Cuan mendengus dingin, sepatah
katapun tidak berbicara.
Hong Po Seng pura2berlagak pilon, katanya lagi
sambil tertawa:
"Kota Keng Chia adalah daerah kekuasaan Kwa
Tongcu sedang Chin Loo enghiong adalah hartawan kaya
dari kota Keng chiu pula pepatah kuno mengatakan
daripada perselisihan lebih baik jangan berselisih,
bukankah kalian adalah tetangga baik " kenapa harus
saling bermusuhan dan mengikat tali persengketaan ini
?" "Tepat sekali ! semula aku orang she Kwa pun
mempunyai pikiran begini tapi sayang Chin Loo enghiong
tak tahu diri, maka apa boleh buat aku orang she Kwa
terpaksa tak dapat membantu !"
Mendengar pembicaraan itu Chin Pek Cuan segera
sadar bahwa Kwa Thay jelas mengandung rencana lain,
diam2 lantas ia berpikir :
.,Anjing keparat rupanya dengan menggunakan
kesempatan dikala rumahku sedang kebakaran kau
hendak merampok harta milik aku orang she Chin " . . .
Hmmm ! kurang ajar dia tak mau berpikir dahulu
manusia macam apakah aku orang she Chin ini "
sekalipun ada emas atau perak tidak nanti kuserahkan
begitu saja kepada kalian kawanan anjing-anjing geladak
!" Berpikir sampai disini, bukannya marah ia malah
tertawa. "Ooooh .. kiranya Kwa Tongcu mempunyai maksud
baik . waah, kalau begitu aku Chin Pek Cuan telah
bertindak terlalu sembrono !"
Setelah menjura tambahnya lagi:
"Kalau memang kau bermaksud mengikat tali
persahabatan dengan diriku, nah! sampai jumpa lain
kesempatan."
Dengan langkah gagah ia segera berlalu.
Mula-mula Kwa Thay Si Malaekat darah pengejar
nyawa tertegun, kemudian ia tertawa seram.
"Chin wangwel" serunya "Seandainya Thay hujienmu
berada didalam kota, aku harap kau suka bertindak
sedikit hati2, jangan sampai diketahui oleh Kok kongcu."
Ucapan ini mengejutkan hati Chin Pek Cuan dengan
cepat ia putar badan, dengan sorot mata penuh dengan
napsu membunuh selangkah demi selangkah ia dekati
kembali manusia she Kwa itu.
Malaikat darah pengejar nyawa sadar bahwa pihak
musuhnya telah dibikin naik pitam dan segera akan turun
tangan, meski hatinya kebat kebit namun sepasang
telapaknya dipersiapkan juga, hawa murni disalurkan
keseluruh tubuh dan slap menghadapi segala
kemungkinan. "Barusan cayhe mendapat laporan dari anak buahku,
katanya Thay hujien dari keluarga Chin rupanya sudah
hidup dalam dunia persilatan yang penuh dengan dosa,
kini ia sudah cukur rambut jadi pendeta dikuil Pek-Im
Koan..," Bicara sampai disitu mendadak ia merandek
sementara senyuman yang menyeramkan menghiasi
bibirnya. Bisa dibayangkan betapa gusarnya Chin Pek Cuan
setelah mendengar perkataan itu, saking marahnya
seluruh rambutnya pada berdiri kaku bagaikan landak,
tangan dan kaki gemetar keras, sambil menggigit bibir
teriaknya keras.
"Bajingan....bajingan....sungguh bagus perbuatanmu!"
Untuk sesaat ia jadi bim.bang dan tiada pemecahan,
dengan sendirinya tak berani bergerak sembarangan.
Chin Giok Liong dengan wajah pucat pias bagaikan
mayat segera maju selangkah kedepan serunya :
"Kwa Tongcu, kaupun terhitung seorang enghiong
yang punya nama didunia persilatan masa terhadap
nenekku yang telah berusia tujuh puluh tahun lebih dan
tak mengerti ilmu silat kalian bertindak kasar" hai
...dimana peri kemanusiaanmu?" kau telah mengapakan
dirinya?" Malaikat darah pengejar nyawa Kwa Thay mendongak
dan segera tertawa terbahak-bahak.
,,Heee....heee.... aku tidak meng-apa2kan dirinya,
berhubung aku lihat ayahmu juga terhitung seorang
cakal bakal dunia persilatan, karena takut ada orang
sampai melukai nenekmu, maka sengaja kuboyong
dirinya untuk pindah kesuatu tempat, disamping itu
mengutus pula beberapa orang saudara untuk merawat
serta melayaninya setiap saat!"
"Hei..anjing busuk she Kwa!" tiba2 terdengar Chin Pek
Cuan membentak keras. ,,Katakan terus terang berapa
yang kau minta" Satu laksa, dua laksa" Aku orang she
Chin segera penuhi permintaanmu itu, kalau lebih dari itu
...maap aku tak bisa melayani."
"0ooh, sungguh sosial Loo wangwee!" puji Kwa Thay
sambil acungkan jempolnya, kepada lelaki berjubah hijau
itu pesannya: "Chin loo wangwee akan memerseni kau dan kita
semua dua laksa tahil perak untuk kalian bertahun baru
besok datanglah kemari untuk menerima sumbangan itu,
sedang aku tak akan mengambil sepeserpun!".
"Terima kasih atas pemberian dari Loo wang Gwe"
buru2 lelaki berjubah hijau itu menjura kepada Chin Pek
Cuan. Hong Po Seng yang mengikuti jalannya peristiwa itu
diam2 merasa kheki bercampur mendongkol, namun
berhubung persoalan itu menyangkut keselamatan dari
ibu Chin Pek Cuan, sudah tentu ia tak berani
menimbrung seenaknya.
Terdengar pria berjubah hijau itu berkata lagi:
,,Thay hujien amat rindu kepada cucu perempuannya
ia suruh cayhe datang kemari untuk mengajak nona Wan
Hong berkunjung kesitu salama beberapa hari, cayhe
harap Loo wangwe suka mengabulkan perintahnya ini!
sedang loo wan-gwee sendiri kali saja pergi memapak
Thay hujien!"
Hong Po Seng kendati seorang pemuda yang cerdas
tetapi ia belum begitu paham akan hubungan antara
lelaki dan wanita, anggapannya berhubung uang belum
mereka terima maka Chin wan Hong hendak dijadikan
sandera. Sebaliknya Chin Pek Cuan sendiri dapat menangkap
arti lain dari ucapan tersebut, ia tahu bahwa Kwa Thay
suka tertarik olah kecantikan wajah putrinya dan jelas
mempunyai niat jahat terhadap putrinya, seketika itu
juga seluruh badannya jadi gemetar keras saking
gusarnya, gigi saling beradu gemeretakan.
"Haaah.... haaah.. haaah.. Loo wangwee, kau tak usah
kuatir"seru Kwa Tay sambil tertawa tergelak. "Nona Wan
Hong adalah seorang gadis perawan yang cantik dan
masih suci, kami pasti akan menjaga keselamatannya
baik dan tak akan melukai seujung rambutnya pun
juga!". Sembari berkata dengan lagak tengik dan senyum
cengar cengir ia menoleh kearah Chin Wan Hong.
Chin Pek Cuan adalah seorang jago tua yang berwatak
berangasan, walaupun ia sadar bahwa keselamatan
ibunya terancam namun hawa gusar yang bergelora
dalam dadanya tentu sukar dikendalikan lagi, ia lantas
punya pikiran untuk melenyapkan ketiga orang itu
terlebih dulu kemudian baru berusaha menolong ibunya.
Hong po Seng cukup waspada, dari tingkah laku sijago
tua itu iapun lantas dapat menebak apa yang sedang
dipikirkan buru2 teriaknya:
"Loo cianpwee, bukankah didalam ruang bawah tanah
sana terdapat tumpukan emas perak serta berlian yang
tak bernilai jumlahnya" bagi kita orang2 yang belajar
silat, harta toh bukan terhitung benda yang sangat
berharga. Mengapa kau tidak serahkan dahulu harta itu
kepada Kwa Tongcu sedang sisa persoalan lainnya kita
rundingkan lagi secara perlahan-lahan ?"
Mendengar perkataan itu Chin Pek Cuan tertegun,
segara pikirnya:
"Dalam ruang bawah tanah mana terdapat emas perak
dan berlian " ngawur benar omongan bocah ini . "
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
dengan cepat ia dapat menangkap mak sud hati sianak
muda itu, maka seraya ulapkan tangannya ia berseru:
,.Kwa Tongcu, marl ikuailah aku orang she Chin !"
Habis berkata ia melangkah terlebih dahulu ke dalam
gang sempit tadi.
Kwa Thay si Malaikat darah pengejar nyawa merasa
sangsi untuk beberapa saat lamanya ia ikut Chin Pek
Cuan sedang menggunakan akal bulus untuk menjebak
dirinya, tapi pikiran lain segara berkelebat dalam
benaknya: ,.Meskipun tua bangka she Chin ini adalah seorang


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

manusia yang sukar dilayani, ketiga orang bocah cilik itu
bukanlah manusia2 kosen yang sulit dirobohkan,
sekalipun kami harus hadapi mereka berempat dengan
hanya bertiga saja, kendati kemenangan belum tentu di
pihak kami rasanya untuk meloloskan diri masih bukan
satu masalah yang terlalu sulit . . . kenapa aku barus
ragu2" Karena dorongan napsu kemaruknya terhadap
kekayaan ia sudah terlalu pandang rendah diri Hong po
Seng, begitu menjumpai Chin Pek Cuan telah melangkah
masuk kedalam lorong sempit, buru2 ia ulapkan
tangannya, bersama dua orang lainnya dengan cepat
menyusul kedalam.
Sementara itu kentongan keempat sudah lewat,
seluruh gedung bangunan keluarga Chin telah hancur
berantakan oleh api berkobar dengan hebatnya itu,
udara ditutup oleh awan gelap sedang suasana dijalan
raya sabelah depan pun telah sunyi.
Dengan hati panas, mendongkol dan penuh kegusaran
Chin Pek Cuan berjalan terus kedalam lorong sempit
yang suasananya paling gelap, mendadak ia tak sanggup
menahan golakan hawa amarahnya lagi, sambil putar
badan sebuah serangan dahsyat segera dilancarkan
menghantam tubuh Kwa Thay si malaikat darah pengejar
nyawa. Melihat pihak lawan tiba2 berobah pikiran, orang she
Kwa itu kontan naik pitam cepat ia mengegos kesamping
kemudian balas melancarkan sebuah serangan dahsyat
hardiknya, "Tua bangka she Chin! rupanya kau sudah tidak
memikirkan lagi nyawa nenek tua itu?"
Dalam pada itu Hong-go Seng begitu melihat Chin Pek
Cuan telah turun tangan, tubuhnya segera berkelebat
lewat menghadang jalan mundur dari musuh2nya,
pedang baja dikebaskan kemuka kemudian mengirim
satu sapuan kilat.
llmu pedang yang digunakan betul2 luar biasa
hebatnya, ditengah kesunyian yang mencekam seluruh
jagad terdengar satu desiran tajam yang amat
memekikkan telinga bergeletar membelah angkasa.
Baru saja kedua orang pria itu putar badannya dalam
keadaan gugup mereka jadi terkesiap dan menjerit
kaget, buru-buru mereka loncat mundur kebelakang
dengan sekuat tenaga.
Saking tegang dan kagetnya hampir saja tubuh
mereka menumbuk diatas punggung Kwa Thay.
Hong-po Seng mengayunkan pedangnya kedepan,
tiba2 bahu kirinya terasa amat sakit hingga merasuk
ketulang sumsum, gerakan pedangnya kontan jadi rada
lambat, menggunakan kesempatan itulah kedua orang
lelaki tadi segera loncat keluar dari kepungan hawa
pedang lawan. Sianak muda itu jadi amat gusar, apalagi setelah
dilihatnya mereka berdua telah menyingkap jubah
meloloskan senjata tajamnya, sambil gertak gigi kembali
ia lancarkan sebuah babatan kilat.
Kedua orang itu adalah anak buah dari kantor cabang
perkumpulan Sin Kie Pang di kota Keng-Chiu, pada hari2
biasa belum pernah menjumpai kepandaian ilmu pedang
yang begini dahsyatnya, seketika itu juga pecahlah nyali
mereka, sambil menjerit kaget kembali mereka berdua
mengegos kesamping.
Sebaliknya malaikat darah Pengejar nyawa sendiri,
bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin suatu
daerah, dalam keadaan yang terkepung dan berhadapan
dengan serangan2 gencar dari Chin Pek Cuan, sudah
tentu tiada kesempatan lagi untuk mengurusi anak
buahnya, tapi ia tahu bahwa keadaan anak buahnya
amat kritis dan berbahaya.
Dalam keadaan gugup dan kagetnya, cepat ia
meraung gusar. "Lepaskan tanda bahaya!!".
Sejak semula Hong-po Seng telah berjaga2 atas
tindakan tersebut, ketika melihat babatan pedangnya
mengenai sasaran kosong dan menjumpai pula pria
berjubah hijau itu telah meluncur kearah tembok,
pergelangannya segera ditekan kebawah, dengan
gagang pedang bajanya ia sodok jalan darah "Tiong-Lie"
di atas tubuhnya.
Pedang baja itu berwarna hitam pekat, ditambah pula
sodokan itu dilancarkan dengan kecepatan yang tak
terkirakan, seketika itu juga pinggang pria berjubah hijau
itu termakan oleh sodokan berat tersebut, ia menjerit
kesakitan dan tubuhnya segera roboh terjengkang keatas
tanah. Melihat serangannya berhasil mengenai sasaran,
pedangnya dengan cepat dibabat kesebelah kiri
menyerang pria lainnya.
Orang itu baru saja meloloskan ruyung baja dari
pinggangnya, merasakan datangnya ancaman, dalam
keadaan gugup dan tergopoh2 dengan cepat ia tangkis
serangan pedang Hong po Seng dengan senjatanya.
Traaaang.....! terdengar suara bentrokan nyaring
bergeletar diangkasa diiringi percikan bunga2 api.
Hong-po Seng belum lama terjun kedalam dunia
persilatan, watak serta hatinya masih lembut dan penuh
welas kasih, ketika pergelangannya diputar sampai
ditengah jalan tiba2 ia tabok senjatanya sejajar dengan
dada, meski begitu ruyung baja pria itu terbabat putus
juga jadi beberapa bagian, tabokan tersebut bersarang
diatas punggungnya membuat ia roboh terjengkang
diatas tanah dan tak sanggup bangun kembali.
Tiga jurus dua gerakan serangan itu dilancarkan hanya
dalam waktu yang amat singkat, Kwa Thay yang berlasil
mengetahui keadaan itu dari suara jeritan rekan2nya jadi
terkesiap dan mengucurkan keringat dingin.
Dalam posisi yang terkepung rapat oleh musuh2
tangguh ia tak berani bergebrak lebih jauh, dalam suatu
kesempatan mendadak ia membentak keras, sepasang
kakinya menjejak tanah dan segera meloncat keatas
dinding tembok sebelah kiri.
Pada saat itulah...dari tempat kejauhan terdengar
seseorang sedang berseru:
"Kwa-loo-te,...."
Suaranya serak, berat dan datar....dan ru?panya
suara tadi dipancarkan dari tempat ke jauhan. Hong Po
Seng jadi terkesiap, segera ia melayang kedepan,
gagang pedangnya bergerak cepat menghajar jalan
darah 'Kwan-Go an' ditubuh Kwa Thay, sementara
mulutnya berseru dengan nada berat :
,.Orang yang bakal datang memiliki ilmu silat yang
amat lihay, biar boanpwee pancing pergi orang2 itu
sedang loo wan-gwee cepatlah berusaha menolong
orang!?" Sang tangan bekerja cepat, ia tangkap tubuh Kwa
Thay yang sedang roboh terjengkang ke atas tanah dan
melemparkannya kebelakang dinding tembok tinggi.
Otaknya cerdas dan tindak tanduknya cekatan, meski
usia Chin Pek Cuan telah melewati setengah abad namun
tanpa sadar ia telah mendengarkan petunjuk dari sianak
muda itu. Sambil mencengkeram dua orang lainnya
dengan sebat ia loncat masuk kebelakang tembok tinggi.
Tatkala dilihatnya dua bersaudara Chin masih berdiri
tak berkutik ditempat setnula, dengan hati gelisah Hongpo
Seng kembali berseru:
"Kenapa kalian berdua belum berlalu " ayoh cepat
melarikan diri dari sini !"
Tangannya dengan cepat berkelebat mencengkeram
pergelangan tangan Chin Wan Hong, gadis itu jadi gugup
buru2 ia meloncat kebelakang tembok pekarangan.
Belum lama dua bersaudara Chin rnenyembunyikan
diri, dari mulut lorong telah berkumandang datang suara
teguran yang serak dan berat :
"Siapa disitu ?"
"0ooh... sungguh cepat gerakan tubuh mereka" pikir
Hong po Seng, ketika ia berpaling tampaklah dua sosok
bayangan hitam bagaikan sambaran kilat sedang
meluncur datang, raut wajah mereka sukar dilihat
dengan jelas. Buru2 sianak muda itu enjotkan badannya dan lari
keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah
lebar. Tatkala kedua orang itu baru saja melangkah masuk
kedalam lorong sempit itu, mereka telah menyaksikan
gerakan tubuh Hong- po Seng yang sedang lari dari sana
dengan gerakan cepat bagaikan sambaran kilat, diamdiam
mereka memuji atas kehebatan ilmu silatnya.
Terdengar bentakan keras bergeletar diangkasa,
diiringi seruan ,Kejar ' dua sosok bayangan manusia
meluncur kedepan dengan amat cepatnya mengejar diri
Hong-po Seng yang sudah lari terlebih dahulu.
Tiga sosok bayangan manusia berlarian diatas
permukaan salju yang putih, dalam waktu singkat
mereka telah keluar dari tembok kota.
Hong-po Seng yang Iari dipaling depan, sambil
berkelebat tiada hentinya ia awasi gerak gerik dibelakang
tubuhnya, mendadak ia temukan kurang lebih sepuluh
tombak dibelakang mereka telah menguntit pula sesosok
bayangan marusia, orang itu mempunyai gerakan
tubuh yang enteng dan cekatan sedikit pun tidak
kedengaran suara berisik, sedang sepaluh tombak lagi
dibelakang orang tadi berkumandang suara gemerisik
yang nyaring, diam2 ia lantas berpikir:
"Jelas kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu
sangat lihay, kalau aku harus melawan mereka berdua
sekaligus jelas kekuatanku masih belum memadahi, lebih
baik kubereskan dahulu salah satu diantaranya kemudian
baru mencari kesempatan untuk membereskan yang lain,
kalau tidak begitu, lama kelamaan aku bisa kehabisan
tenaga!" Setelah mengambil keputusan demikan, hawa
murninya segera disalurkan keseluruh badan dan berlari
semakin cepat lagi kedepan.
000O000 Sedikitpun tidak salah, setelah saling berkejaran
beberapa lamanya dua orang pengejar yang menyusul
dari belakang mulai berpisah, yang satu didepan dan
yang lain ada dibelakang.
Ketika waktu berlalu semakin lama, orang yang berada
dipaling belakang ketinggaIan semakin jauh lagi,
akhirnya napas orang itu tersengkal2 dan larinya makin
perlahan. Beberapa waktu kemudian bayangan tubuh Hong-po
Seng sudab lenyap tak berbekas hanya meninggalkan
percikan salju yang berhamburan di-mana2.
Waktu itu fajar baru saja menyingsing, suasana
disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun, Hong- po Seng sambil membawa sang
pengejar yang kini tinggal seorang telah meninggalkan
kota Keng Chiu sejauh lima puluh lie.
Orang itu mengejar terus tiada hentinya, apa daya
kekuatan mereka seimbang hingga walaupun ia tidak
sampai ketinggalan namun untuk menyusul lebih cepat
jelas tak mungkin, disamping itu orang tersebut pun tak
sudi melepaskan mangsanya begitu saja.
Dalam keadaan pikiran yang kalut dan bingung ia
mendengus gusar, segenap tenaganya segera
dilenyapkan keluar.
Seketika itu juga terdengar ujung baju tertiup angin,
Sreeet... sreeet.... tubuhnya bergerak lebih dekat lima
enam tombak lagi dari sianak muda itu.
Diam-diam Hong Po Seng merasa terperanjat,
meninjau dari keadaan tersebut ia sadar bahwa sulit bagi
dirinya untuk melepaskan diri dari kejaran orang itu.
Terpaksa ia bulatkan tekad dan segera berhenti berlari,
pedangnya dilintangkan sejajar dengan dada siap
menghadapi sagala kemungkinan.
Dalam waktu singkat orang itu sudah berdiri
dihadapan musuhnya, ketika menemukan bahwasanya
Hong Po Seng hanya seorang bocah yang baru barusia
enam tujuh belas tahun, ia merasa tercengang dan tidak
habis mengerti, lama sekali ia melengak dan ragu-ragu.
Hong-po Seng sendiripun dengan menggunakan
kesempatan itu memperhatikan raut wajah lawannya, dia
adalah seorang kakek berjubah biru yang mempunyai
potongan wajah menyeramkan, sepasang mata elangnya
yang tajam menatap tubuhnya dari atas kepala hingga
keujung kaki, dari ujung pedang sampai ujung baju,
wajahnya berubah berulang kali, entah apa yang sedang
dipikirkan. "Sahabat !" akhirnya pemuda kita menegur sambil
tertawa. "Dimalam tahun baru yang seharusnya
dirayakan dengan suka ria, kenapa kau kejar terus aku
sibocah rudin ?".
"Tingkah lakumu mencurigakan, melihat orang lantas
melarikan diri jelas membuktikan bahwa kau telah
melakukan perbuatan terkutuk yang malu dilihat orang,
setelah Loo-ya mu menjumpai kejadian semacam ini
tentu saja harus kuurus sampai jelas duduk perkaranya
!", "Oooh, tadinya aku mengira saudara adalah
komplotan penyamun dari perkumpulan Sin Kie-Pang, tak
tahunya adalah seorang Loo-ya. maaf... maaf...".
"Keparat cilik, rupanya matamu sudah buta!"
terdengar kakek berjubah biru itu membentak gusar.
"Loo-ya mu she-Tio dan justru adalah orang Hoe Hoat
Pelindung hukum dari perkumpulan Sin Kie Pang!".
"Oooo!!. ternyata kau adalah Tio Loo Hoe- hoat! "seru
Hong-po Seng dengan alis berkerut. "Lalu siapa yang ada
dibelakangmu tadi?" mengapa sampai sekarang belum


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

juga sampai disini?"
"Bocah keparat, kau benar2 seorang manusia yang
berhati licik. Hmmm....! tiada halangan kuberitahukan
kepadarnu, orang yang ada dibelakang itu she-Liem dan
rnerupakan seorang Hiang-su dari perkumpulan Sin Kie-
Pang, sebentar lagi aku Tio loo-ya akan kembali ke
markas untuk melewati masa Tahun Baru ini ".
Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya:
"Bocah keparat, siapa namamu dan berasal dari
mana" cepat katakan yang jelas, loo-ya segera akan
membawa kau pergi menjumpai pangcu kami, tanggung
kau bakal jadi kaya dan hidup dalam kemakmuran!".
Sim-hoat tenaga dalam yang dilatih Hong po Seng
jauh berbeda dengan simhoat tenaga lwekang partai2
lain, kini sembari mengatur pernapasan ia tersenyum dan
berkata kembali:
"Aaah. jadi saudara mengejar diriku dengan susah
payah tujuannya tidak lain adalah hendak mengajak aku
masuk komplotan " tapi sebelum itu aku ingin tahu lebih
dulu, sebetulnya kedudukan Hiangcu serta Hoe-Hoat
mana yang lebih besar " bagaimana pula kalau
dibandingkan dengan Kwa Tongcu ?".
Kakek berjubah biru itu tertawa congkak.
"Dibawah Pangcu terdapat para Tongcu yang
memimpin cabang2 perkumpulan Hiang-cu adalah
seorang pembantu yang ditempatkan dibawah Tongcu,
kedudakannya rendh dan amat kecil, ia tidak lebih
seorang pelayan yang harus mondar mandir menjalankan
tugas. Sebaliknya Hoe Hoat Loo ya langsung dibawah
pimpinan pangcu, kedudukannya tinggi dan tidak
menjalankan perintah dari siapapun. Eeei ..bocah cilik,
siapa gurumu ?" aneh benar pedang baja milikmu itu !".
Hong po Seng tersenyum, bukan menjawab ia malah
bertanya kembali :
"Berapa banyak sih para Hoe-hoat yang ada didalam
perkumpulan Sin Kie Pang ?".
"Haah....haah....haah... tidak banyak pun tidak
termasuk sedikit, semuanya berjumlah tiga puluh orang,
aku orang she- Tio adalah pahlawan yang ikut
memperjuangkan berdirinya perkumpulan, sudah lama
mengikuti pangcu dan termasuk salah seorang
kepercayaan !"
Suara orang ini serak berat dan lantang, gelak tertawa
maupun pembicaraannya amat menusuk pendengaran.
Hong-po Seng yang mendengar penjelasan itu diam2
merasa terperanjat, pikirnya :
"Pengaruh serta kekuatan perkumpulan Sin Kie Pang
benar2 amat luas dan besar, cukup ditinjau dari para
Hoe-hoat nya saja mencapai jumlah tiga puluhan.
Ehmmm. . . orang she Tio ini mengaku sebagai salah
seorang kepercayaan pangcunya, mungkin ilmu silat
yang dimiliki termasuk dalam kelas utama !"
Berpikir demikian ia sengaja tersenyum dan berkata.
"Tio loo-ya ! wah . . . maaf seribu kali maaf,
berhubung aku masih ada urusan lain yang harus segera
diselesaikan terpaksa kita berpisah sampai disini saja,
bila ada jodoh kita berjumpa lagi dilain waktu ".
Kakek berjubah biru itu mendongak dan segera
tertawa tergelak.
,.Heeeh .. heeh . . heeeh . . bocah cilik kita bisa saling
berjumpa itu namanya jodoh kau jangan harap bisa
melarikan diri lagi!"
Badannya bergerak cepat kedepan, jari tangannya
segera mengirim satu totokan kilat.
Totokan itu nampaknya dilancarkan dengan gerakan
yang enteng dan sederhana, padahal tempat yang
diancam adalah jalan darah kematian ditubuh Hong-po
Seng, sekali kena nyawa sianak muda itu pasti melayang.
Hal ini bisa menunjukan betapa keji dan telengasnya
sikakek itu. Hong po Seng merasa terkejut bercampur gusar,
pedang bajanya segera diputar kencang dan mengirim
serangan. Terdengar kakek berjubah biru itu tertawa keras,
badannya berkelebat mendadak dalam genggamannya
telah bertambah dengan sebilah pedang pendek, sambil
melangkah kedepan memutar tubuhnya, cahaya tajam
berkilauan memenuhi angkasa, serbuan babatan kilat
dilepaskan membabat pergelangan tangan Hong-po
Seng. Dalam waktu singkat cahaya tajam berkilauan
diangkasa, desiran tajam menggeletar memekakan
telinga, ditengah remang2nya cuaca dua sosok bayangan
manusia saling menyambar kesana kemari, sebuah
pertempuran sengitpun telah berlangsung.
Dilengah pertarungan itu luka diatas bahu kiri Hong-po
Seng terasa sakit hingga merasuk ketulang sumsum,
namun dengan wataknya yang keras hati, meski luka
bahunya terasa amat sakit namun tidak sampai
mengganggu jalannya pertarungan, maka sambil
menahan sakit ia layani terus serangan2 gencar dari
kakek berjubah biru itu.
Tapi setelah pertarungan berjalan semakin lama
dilihatnya totokan jari kiri berputaran, pedang kanan
dimainkan dengan begitu keji dan telengas, seolah2
antara dia dengan dirinya sudah terikat dendam sedalam
lautan dan bagaimanapun juga jiwanya akan dihabiskan
hari itu juga, pemuda she Hong-po ini jadi naik pitam,
bentaknya penuh kegusaran.
"Hey, orang she Tio, antara kita berdua toh tak pernah
terikat dendam kesumat apapun juga, kenapa kau selalu
mendesak diriku sedemikian rupa?"
Diam2 kakek berjubah biru itu sendiripun merasa
terperanjat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau
pemuda yang berusia enam tujuh belas tahunan ini
bukan saja ilmu meringankan tubuhnya sempurna, dalam
hal tenaga lweekang serta permainan pedangpun
demikian lihayna, tapi ketika ia teringat kembali akan
hasil latihannya selama sepuluh tahun, kendati dalam
hati terkesiap ia masih yakin bahwa kemenangan pasti
berada dipihaknya.
Oleh karena itu setelah mendengar seruan tersebut,
sambil tertawa lantang katanya:
,.Siapa yang tunduk kepadaku ia hidup, siapa yang
membangkang dia harus modar bocah keparat !
mengingat usiamu masih amat muda lebih baik cepat2lah
buang senjatamu dan menyerah kalah, mungkin saja
selembar jiwamu masih bisa kuampuni !".
"Kurang ajar...!" pikir Hong-po Seng dalam hati.
"Rupanya kawanan manusia laknat ini sudah terbiasa
menganiaya kaum lemah dengan sewenang2nya, Hmm !
membicarakan soal cengli dengan mereka sama artinya
memetik gitar didepan kerbau !".
la sadar andaikata kemenangan tidak cepat2 diraih
maka sulit baginya untuk meloloskan diri, maka ia mulai
bersikap tenang dan makin mengendorkan serangan2nya
sementara dengan tajam ia menantikan kesempatan baik
untuk menghancurkan kakek tua itu dalam sebuah
serangan mendadak.
Beberapa saat kemudian gelap berubah semakin gelap
oleh awan hitam, salju pun turun dengan derasnya.
Tiba-tiba terdergar kakek berjubah biru itu
membentak keras.
"Hey bocah keparat, kenapa dengan lengan kirimu?""
Setelah lama bartarung belum berhasil juga merebut
kamenangan kakek tua ini mulai gelisah dan tidak
tenteram, apa daya pertahanan dari Hong Po Seng
benar2 sangat kuat, kendati serangannya ber tubi2 dan
teramat gencar namun belum juga berhasil merobohkan
pertahanan lawan. Karena mendapat getaran2 keras luka
dibahu kiri Hong Po Seng sudah terasa amat sakit sejak
tadi, karena itu selama bertarung tangan kirinya
mencengkeram ikat pinggang kencang2, kini setelah
mendengar suara teguran itu ia tertawa keras.
"Tangan kiriku terkenal karena ampuhnya, aku takut
kalau sampai kugunakan tangan ini jiwamu lantas
melayang. maka aku berusaha menahan sebisanya
.......... bukankah diantara kita tiada ikatan dendam
apapun juga " Nah, itulah dia aku jadi tak tega untuk
turun tangan jahat, tapi kalau kau memang tak tahu diri,
apa boleh buat !"
Kakek tua berjubah biru itu tahu kalau sianak muda
she Hong-po ini sedang mengacau belo, ia mendengus
dingin, serangan pedangnya diperketat dan mengurung
tubuh lawannya rapat2.
Mendadak Hong- po Seng merasakan daya tekanan
disekeliling tubuhnya makin berlipat ganda, diam2 ia jadi
gelisah, ia takut Hiangcu she Liem itu keburu datang,
andaikata sampai terjadi begitu dengan satu lawan dua
jelas posisinya akan semakin terjepit dan berbahaya.
Otaknya segera berputar cepat, akhirnya ia ambil
keputusan untuk menempuh bahaya, sebuah serangan
gencar segera dilepaskan.
Sementara itu kakek berjubah biru itu secara beruntun
telah melepaskan sembilan buah serangan berantai,
kesembilan buah serangan itu dilancarkan dalam
rangkaian satu gerakan, cepatnya lua biasa dan sukar
diikuti oleh pandangan mata.
Pada dasarnya Hong-po Seng memang ada maksud
memancing musuhnya masuk jebakan, ia segera
membuka tubuh dan sengaja memperlihatkan sebuah
titik kelemahan.
Padang bajanya mengunci kiri menangkis kekanan
seolah2 sudah kehabisan tenaga untuk bertahan,
sementata kakinya dengan mengikuti aliran sungai
mendorong sampan, secara beruntun mundur pula
sembilan langkah ke belakang,
Menyaksikan keadaan lawannya kakek berjubah biru
itu jadi amat girang, pedang pendeknya mencukil keatas
memancing pergi pedang baja sianak muda itu, sedang
jari tangan kirinya bagaikan tombak segera disodok
kedalam. Sodokan jari ini dilancarkan dengan kecepatan
bagaikan kilat, arah yang dituju bukan lain adalah jalan
darah lie-keng-hiat didada Hong-po Seng, andaikata
serangan itu mengena sasarannya meski tubuhnya
terbuat dari bajapun pasti akan roboh terjengkang.
Siapa tahu tubuh Hong-po Seng hanya bergetar
sebentar saja setelah teamakan oleh sodokan jari itu,
diikuti ia membentak keras, pedangnya segera
membabat kemuka.
Pertarungan yang berlangsung aatara kedua orang itu
telah mencapai ratusan jurus, salju berderai dengan
derasnya.... angin dingin berhembus menusuk tulang....
pertarungan antara mereka berdua berjalan makin sengit
dan ngeri. Kakek berjubah biru itu ada maksud cepat2
menyelesaikan pertarungan ini, maka dalam totokannya
tadi ia telah mengerahkan segenap tenaga yang
dimilikinya siapa sangka bukan saja Hong-po Seng tidak
roboh malahan melancarkan satu batatan kilat
kearahnya, dalam keadaan gugup dan terkesiap buru2
badannya miring kesamping untuk meloloskan diri.
Serangan babatan dari Hong-po Seng barusan telah
menggunakan kekuatan yang maha besar bagaikan
tindihan gunung Thay-san terdengar suara bentrokan
nyaring menggema diangkasa, pedang pendek sikakek
berjubah biru itu segera mencelat keangkasa.
Diikuti cahaya pedang berkelebat lewat, bahu
kanannya dari atas hingga kebawah seketika terbabat
putus jadi dua bagian, darah segar muncrat keempat
penjuru membasahi permukaan bumi yang putih oleh
salju, keadaan kakek ini, benar2 mengerikan sekali.
Untuk pertama kalinya ia membunuh orang membuat
Hong Po Seng tak kuat menahan emosinya, lama sekali
ia berdiri termangu2 sebelum mundur bebarapa langkah
kebelakang dan duduk bersila diatas tanah untuk
mangatur pernapasan.
Haruslah diketahui, ayahnya adalah seorang tokoh
dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat lihay dan
merupakan pula tulang punggung dari kalangan lurus,
sebelum partemuan Pak Bang diadakan dan menyaksikan
kaum iblis telah meraja lela di mana-mana, maka secara
diam2 ia telah meleburkan segenap kepandaian silat
yang dimilikinya kedalam sebuah rangkaian ilmu pedang
yang terdiri dari enam belas jurus dan ditulis dalam sejilid
kitab, kemudian bersama2 dengan pedang baja itu
diserahkan ketangannya, ia berbuat demikian sebagai
persiapan andaikata akhirnya ia mati, putranya masih
dapat mewarisi sedikit kepandaiannya.
Oleh karena itulah baik tenga dalam maupun ilmu
pedangnya ia mendapat warisan langsung dari ayahnya.
Ibunya dahulu juga termasuk seorang tokoh Bu-lim
yang sangat ihay, kemudian meski tenaga lweekangnya
punah namun ilmu silatnya masih tetap dimiliki, sayang
kepandaian silat ibunya tidak sesuai bagi kaum pria maka
tak sepotongpun ilmu silat itu diwariskan kepada
putranya, ia hanya khusus memerintahkan puteranya
mempeIajari keenam belas jurus ilmu pedang itu.
Walau begitu semua kepandaian melatih badan jadi
kuat, ilmu menyembuhkan luka dalam maupun luka
racun., ilmu menggeserkan jalan darah serta ilmu2 lain
untuk melindungi keselamatan putranya telah diwariskan
semua kepada Hong po Seng,
Kendati begitu totokan berat dari kakek berjubah biru
tadi hampir saja membuyarkan hawa murni didalam
tubuhnya ditambah pula ia harus berlari jauh dan
bertarung lama, luka diatas bahu kirinya menyerang pula
tiada hentinya, begitu pertempuran usai cepat2 ia
mengatur pernapasan diatas permukaan salju.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hawa murni baru saja mengelilingi tubuhnya satu kali,
napasnya belum sampai teratur, mendadak dari tempat
kejauhan terdengar berkumandang datang suara derap
kaki kuda yang nyaring.
Cepat si anak muda itu membuka matanya, tampaklah
sebuah kereta kuda yang mentereng dan megah dengan
empat ekor kuda penarik yang tinggi dan besar sedang
berlari mendekat dengan cepatnya.
Sang kusir adalah seorang lelaki berusia empat puluh
tahunan, memakai mantel terbuat dari kulit binatang,
memakai topi bulu dan membawa cambuk kuda
sepanjang satu tombak yang terbuat dari kulit kijang.
Dandanannya mewah, mentereng dan agung, seolah2
kereta dari pangeran atau bangsawan kaya.
Setelah memandang sekejap kearah kereta itu, dalam
hati ia berpikir :
,,Kereta ini dari arah selatan menuju ke?utara
mungkin tempat yang dituju adalah kota Keng-chiu,
entah..." Sungguh cepat lari kuda itu, dalam sekejap mata telah
berada kurang lebih puluhan tombak dihadapan sianak
muda itu. Mendadak terdengar sang kusir berseru :
"Lapor nona, ada orang disana...eei" mayat dari Tin
hoe-boat menggeletak disana!"
Taaar ! kereta kuda itu bergeser tiga tombak jauhnya
diatas permukaan salju dan berhenti tepat didepan
Hong- po Seng. Sianak muda itu perlahan2 mendongak memandang
Pedang Sinar Emas 5 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Giok Bun Kiam Lu Karya Chin Yung Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 17
^