Pencarian

Bara Maharani 2

Bara Maharani Karya Khu Lung Bagian 2


kearah kereta mentereng itu, mendadak ia merasa
terperanjat, kiranya sepasang mata dari kusir itu amat
tajam bercahaya, sepasang keningnya menonjol tinggi2
sekilas memandang siapapun tahu kalau tenaga
lwekangnya amat sempurna.
"Waah....celaka...rupanya aku telah bertemu dengan
jago lihay" pikir pemuda she Hong-po ini. "Kusirnya saja
sudah begitu ithay, apa lagi majikannya....".
Tanpa sadar matanya dialihkan keatas kereta.
Horden tersingkap kesamping, terdengar suara
teguran yang merdu berkumandang keluar:
"Tio Hot-hoat mana yang kau maksudkan "Tio Cien !".
Seraut wajah gadis yang cantik dengan sanggul yang
tinggi muncul dari balik horden jendela, disusul
munculnya pula seorang dayang kecil berbaju merah
berdiri dibelakang dara ayu tadi.
Pandangan mata Hong po Seng jadi cerah, pikirnya :
,,Oooh, ternyatahanya seorang dara ayu, ditinjau dari
dandanannya yang agung dan mentereng jelas
kepandaian silataya belum tentu lihay !"
Dalam pada itu gadis ayu tadi sudah melongok keluar
jendela memandang sekejap kearah mayat yang terbelah
jadi dua diatas permukaan salju, biji matanya berputar
memandang pula sekejap kearah Hong-po Seng yang
duduk bersila diatas tanah, dari perubahan wajahnya
nampak jelas betapa terkejut dan kagetnya gadis itu.
"Hey, apakah kau yang bacok Hoe hoat kami jadi dua
bagian ?" mendadak terdengar dayang dalam kereta
menegur. Melihat dayang itu baru berusia belasan dan sifat
kekanak2annya belum hilang, timbul rasa senang dan
simpatik dalam hati Hong- po Seng ia segera tersenyum
dan mengangguk.
"Mengapa kau bunuh dirinya ?" kembali dayang cilik
itu bertanya. "Aku sendiripun tak tahu. ia hendak main bunuh diriku
terpaksa aku dahului dirinya ?"
"Oh Sam!" mendaduk terdengar gadis ayu itu berseru.
"Coba ambillah pedang antiknya itu dan perlihatkan
kepadaku !"
Mendengar perintah itu sang kusir kereta tadi segera
loncat turun dari tempat duduknya, sungguh hebat
gerakan tubuh orang ini bukan saja enteng bahkan sama
sekali tak bersuara.
Hong po Seng sudah menyadari akan kelihayan
lawannya, melihat orang itu meloncat kearahnya, dengan
cepat ia !oncat bangun dan bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan.
"Hey, lebih baik kau jangan melawan.." terdengar
dayang cilik itu berseru lagi. "Kalau tidak maka kau bakal
rugi dan menderita sakit !"
Sementara seruan itu baru saja berkumandang, kusir
tadi telah meluncur kehadapan Hong? po Seng,
tangannya segera berkelebat marampas pedang baja itu.
Tentu saja sianak muda itu tak sudi menyerah dengan
begitu saja, pedang bajanya diputar lalu membabat
kebawah, dalam waktu singkat partarungan seru telah
berkobar. Sungguh lihay kepandaian silat yang dimiliki kusir itu,
tangan kanannya menyerang kesana sebentar membabat
kemari, semua sarangan tak pernah berpisah dari urat2
ini ditubuh Hong Po Seng, sementara telapak kakinya
menjulur menarik tiada hentinya coba merampas pedang
baja itu. Serangannya cepat, aneh dan tidak berada
dibawah Kok See Piauw.
Diam-diam Hong Po Seng marasa cemas bercampur
gelisah, dari gerakan tubuh musuhnya yang gesit dan
cepat dia tahu kepandaian orang berlipat ganda lebih
tinggi dari kepandaian sendiri, ditambah pula ia baru saja
menyelesaikan pertarungan sengit dan bahu kirinya telah
terluka tak mungkin baginya untuk merebut
kemenangan. Mau lari" kemana dia harus pergi" mau mandah
dibekuk" tentu saja ia tak sudi., . satu2nya jalan yang ia
miliki hanyalah bertempur sampai titik darah
penghabisan. Meskipun kecerdasan otaknya luar biasa, apa daya
kekuatan tidak memadahi, sebelum ia memperoleh satu
akal bagus untuk menghindarkan dari maut, sebuah
totokan kilat dari kusir itu telah menghajar diatas
pinggangnya. Totokan itu datangnya mendadak dan diluar dugaan,
baik dipunahkan maupun dihindari sudah tak sempat
lagi, dalam gugup kegelisahnya hawa murni diatas
pusarnya ditekan kebawah jalan darah diatas
pinggangpun segera bergeser setengah coen dari tempat
semula. Tatkala serangan totokan dari kusir itu mengenai
tubuh Iawannya, tiba2 ia merasa ujung jarinya tergelincir
kesamping lalu mental baIik tanpa terasa tegurnya
sambil tertawa.
,,Bocah cilik, hebat benar kepandaianmu, rupanya ilmu
tersebut bernama Hoei Si-Kang wan terbang melayang
bukan:". Hong- po Seng menjerit kesakitan setelah terkena
sodokan tersebut, pedang bajanya segera diperkencang
dan mengirim tiga buah serangan berantai yang sangat
gencar. Menghadapi serangan2 maut semacam itu, kusir tadi
tak berani gegabah, buru-buru ia mundur kebelakang
berulang kali. Haruslah diketahui ilmu pedang yang digunakan
sianak muda itu paling banyak mennggunakan tenaga,
setelah hawa murninya makin menipis permainan ilmu
pedangnya jadi kacau, senjata berat lima puluh dua kati
itupun bukan membantu malahan menjadi beban yang
berat, setiap saat ada kemungkinan terlepas dari
cekalannya. Dalam hal ilmu silat segala yang dipaksakan
merupakan pantangan paling besar, meski dalam hati
ada niat apa daya tenaga tidak memadahi, setelah saling
bergebrak dua puluhan jurus tiba2 pergelangan
kanannya kena dicengkeram oleh kusir kereta itu,
sekujur badannya jadi gemetar keras, hawa murni jadi
buyar, ketiaknya jadi kaku dan badannya roboh
terjengkang diatas permukaan salju.
Melihat musuhnya telah roboh kusir kereta itu
memungut pedang baja tadi dari tangan Hong-po Seng
kemudian diangsurkan kedalam kereta.
Gadis cantik itu menerima senjata tersebut kemudian
dibolak balik melihatnya beberapa saat, tiba2 jarinya
mengentil diatas tubuh pedang baja itu hingga berbunyi
gemerencingan yang nyaring.
"Pedang itu terbuat dari baja murni yang sukar
didapatkan dalam kolong langit." ujar kusir itu dari
samping kereta. "Golok mustika maupun pedang mustika
sukar uniuk menebas kutung senjata tersebut, benda ini
terhitung salah satu benda mustika dalam dunia
persilatan."
Gadis cantik itu melirik sekejap kearah Hong-po Seng
yang mengeletak diatas tanah, lalu tanyanya kepada
kusir itu : ,,Pernahkah kau dengar dahulu ada orang yang
pernah menggunakan senjata tajam seperti ini?"
Kusir itu berpikir sebantar lalu menggeleng
"Enghiong kenamaan yang ada dalam Bu-lim tak
seorangpun yang pernah menggunakan pedang baja
seperti ini."
Maksud dari ucapan itu jelas sekali, manusia
kenamaan yang tersohor dalam dunia kangouw tak
seorangpun yang tak dikenal olehnya apa lagi senjata
andalan yang yang mereka gunakan.
Gadis cantik itu mengangguk perlahan, sorot matanya
dialihkan kembali kearah Hong?po Seng, lalu tegurnya.
"Kau adalah anak murid dari partai mana"
Hong-po Seng yang menggeletak diatas tanah
merasakan sesuatu siksaan yang sukar di lukiskan
dengan kata2, mellhat gadis itu bertanya dengan wajah
tawar, iapun menjawab dengan suara hambar :
"Ilmu silat berasal dari keluarga sendiri, aku tak
pernah angkat guru!"
.,Ehmm! ilmu silatmu tidak lemah, semestinya
keturunan dari keluarga kenamaan, apa she mu" dan
siapa pula nama besar dari ayahmu?""
Sudah tentu tak mungkin bagi Hong-po-Seng untuk
menjawab sejujurnya, tapi diapun tidak ingin
memalsukan nama ayahnya, segera sahutnya dengan
suara melantur.
"Aku she Hong-po, ayahku telah banyak tahun tutup
usia, kini setelah aku jatuh ketanganmu, rasanya lebih
baik tak usah kusebut kan lagi nama ayahku almarhum!"
Sepasang alis gadis cantik itu berkerut kencang, rasa
tidak senang terlintas diatas wajahnya, sesudah
termenung sebentar katanya kepada Oh Sam si kusir
kereta itu. "Coba geladah sakunya, andaikata tiada hal yang
mencurigakan lenyapkan saja jiwanya."
Raut wajah gadis itu cantik jelita bagaikan bidadari,
sungguh tak nyana hatinya keras dan telengas,
memandang jiwa manusia bagaikan rerumputan,
sungguh tidak sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita
itu. Setelah mendapat perintah kusir itu segera mendekati
tubuh Hong po Seng tanpa mengucapkan sepatah
katapun, dengan cepat seluruh sianak muda itu diperiksa
dengan seksama.
"Aaaai.. tak usah kau geledah lagi! "tukas Hong-po
Seng sambil menghela napas panjang.
"Tiada tanda2 yang mencurigakan dalam sakuku,
silahksn kau turun tangan secepatnya!".
"Hmmm, tutup mulutmu, kau tidak berhak untuk
melarang diriku melakukan pemeriksaan."
Diam2 Hong-po Seng menghela napas dan pejamkan
matanya rapat2.
"Aaaai .. ibu mengharapkan putranya jadi seekor
naga, siapa sangka harapannya hanya sia2 belaka" ia
berpikir didalam hati "Meskipun mati hidup manusia
berada ditangan Thian, tapi aku mati dalam keadaan
penasaran!".
Bila seseorang telah mendekati ajalnya seringkali
otaknya jadi makin cerdas dari keadaan biasa, ia teringat
kembali akan teratai racun "Tan-Hwee-Tok-Lian,",
teringat puIa surat dari ibunya. Ia tahu ibunya hendak
menggunakan kemustajaban dari teratai beracun itu
untuk menyembuhkan luka dalam yarg dideritanya serta
pulihkan kembali tenaga dalam yang dimilikinya, setelah
itu munculi kembali didalam dunia persilatan untuk
membereskan rekening lama.
Berpikir sampai kesitu ia merasa amat menyesal dan
kecewa, ia merasa tidak seharusnya ia beradu jiwa
dengan Hoe hoat she-Tio itu, bukan saja sama sekali tak
ada hasilnya malahan hawa murni yang ia miliki jadi
lemah, selembar jiwanya dikorbankan dengan percuma
dan yang paling penting lagi ia bakal menyia-nyiakan
harapan ibunya yang mengasingkan diri diatas gunung
terpencil. Samentara pelbagai ingatan berkelebat dalam
benaknya dan diam2 ia merasa amat menyesal, Oh Sam
sikusir kereta itu telah selesai menggeledah seluruh
pakaiannya, kecuali sebuah kepingan perak tiada benda
lain yang ada disitu.
Maka hawa murninya segera dikumpulkan di atas
telapak kanan siap dihantamkan kebawah, mendadak
satu ingatan berkelebat dalam benaknya, cepat ia tarik
pakaian si anak muda itu kemudian memeriksa bahu
kirinya. "Aah !" jeritan kaget bergema diangkasa. "Lapor siocia,
orang ini telah merubah wajahnya dengan obat
merubah muka !"
Sebenarnya gadis cantik itu telah menarik kembali
tubuhnya kedalam kereta, ketika mendengar seruan
tersebut, ia segera melongok kembali keluar jendela,
sekilas memandang segera temukan meski raut wajah
Hong- po Seng hitam pekat bagaikan pantat kuali,
namun dari batas leher hingga kebawah berwarna putih
bersih, nampak suatu perbedaan yang menyolok sekali
antata warna putih dan hitam itu.
Hong-po Seng sebenarnya telah pejamkan mata
menantikan kematian, ketika secara tiba2 rahasianya
ketahuan orang ia segera buka mata menyapu sekejap
sekeliling tempat itu.
Betapa gusarnya sewaktu melihat Oh Sam sedang
melepaskan pakaian yang ia kenakan, dengan rasa
jengah bercampur marah bentaknya :
,,Sejak dilahirkan aku memang bertubuh belang apa
salahnya kalau keadaanku begini" Hemmm buat apa
kalian kaget dan menjerit-jerit seperti orang edan ?"
,,Coba singkap ujung baju orang itu!" mendadak
terdengar gadis cantik itu berkata kembali.
Oh Sam segera menyingkap ujung baju Hong po Seng,
tampaklah meskipun sepasang tangan pemuda itu hitam
pekat tapi dari batas sikut keatas ternyata berkulit putih
bersih juga, seolah2 belum pernah tetkena sorot sinar
matahari. "Bekas telapak yang membekas diatas lengannya
berbentuk sembilan ruas, apakah ia sudah termakan oleh
pukulan sakti Kioe Pit Sin orang?" kembali gadis itu
menegur. Kiranya diatas bahu kiri sianak pemuda itu tertampak


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jelas telapak berwarna hijau yang terpatah patah persis
berjumlah sembilan ruas.
Oh Sam segera mengangguk.
"Bagaimana menurut pendapat siocia"' tanyanya.
Biji matanya yang jeli berputar kesana kemari,
sebentar memandang tubuh Hong-po Seng yang putih,
sebentar memandang pula wajahnya yang hitam pekat,
akhirnya timbul rasa ingin tahu dalam hati gadis itu
serunya: "Bawa kembali kedalam markas dan periksa yang
seksama". Selesai berkata tubuhnya lenyap dibalik kereta.
Oh Sam segera mengangkat tubuh Hong-po Seng dan
loncat naik keatas tempat duduknya, ia letakkan tubuh
sianak muda itu disisinya setelah itu cambuk kulit
kijangnya diayunkan ketengah udara, diantara ledakan
pecut yang nyaring kereta itu bergerak kembali kearah
utara dengan cepat.
Kereta megah itu buatannya sangat kuat dan indah,
ilmu mengendalikan kereta dari Oh Sam pun sangat
tinggi ditambah pula keempat ekor kuda kuning itu telah
mendapat pendidikan yang cukup lama, meski berlarian
diatas permukaan salju namun larinya tetap tenang dan
mantap. Angin dingin berhembus kencang seoIah2 golok tajam
mengiris iris badan, amat tersiksa rasanya ditubuh. Jalan
darah Hong po Seng tertotok membuat ia tak sanggup
mengerahkan hawa murninya untuk melawan rasa
dingin, beberapa saat kemudian wajahnya telah berubah
jadi pucat pias begaikan mayat, ke empat anggota
badannya jadi kaku dan sukar bergerak lagi.
Tapi ia tidak bicara maupun buka suara, sambil
pejamkan matanya ia pura-pura mengantuk. Padahal
yang benar hawa murninya per?Iahan2 dihimpun
kembali untuk membebaskan jalan darah yang tertotok.
Dibawah salju, mendadak muncul seorang pria
berbaju hitam tampak dari kejauhan, ketika orang itu
berjumpa dengan kereta berwarna kuning emas tersebut,
dengan cepat segera menyingkir ketepi jalan seraya
buru2 menjura. "Saudara Oh Sam ! kiong hie.... kiong hie selamat
tahun baru...!".
Oh Sam diatas kereta tetap duduk dengan angkuhnya,
sampai biji matapun tidak melirik barang sekejap kearah
orang itu, sahutnya hambar:
"Liem Hiang cu, bagus.... bagus....itu! Tio hoe hoat
menantikan dirimu disebelah depan sana".
Sementara berbicara, kereta kuda telah melewati dari
sisi tubuhnya dengan cepat.
Sebelum tengah hari tiba2 kereta telah masuk
kedalam kota Keng Chiu, jalan darah Hong Po Seng yang
tertotok pun hampir berhasil ditembusi, tiba2 terdergar
Oh Sam membentak rendah, kereta kuda itu telah
berhenti didepan sebuah bangunan besar, suara ucapan
tahun baru segera bermunculan dari sekeliling tempat
itu. Tatkala Hong-po Seng membuka matanya, ternyata
kereta telah berhenti dipintu depan markas besar
perkumpulan Sin Kie Pang cabang kota Keng-chiu,
didepan pintu telah penuh dengan orang yang
menyambut kedatangan mereka, semua orang sama2
memberi hormat kepada kusir tersebut sambil menyebut
dirinya Oh Sam-ya.
Dengar sinar mata tajam Oh Sam menyapu sekejap
wajah orang2 itu, tiba2 ia bertanya.
,,Kwa Hoa Tongcu kenapa tidak kelihatan"
"Lapor Sam-ya!" seorang kakek berjubah hijau segera
menjawab. "Kemarin malam telah terjadi keonaran, Hoen
tongcu serta dua orang pembantu telah lenyap tak
berbekas, tadi sebenarnya ada seorang Tio loo hoe-hoat
serta seorang Liem thangcu menjadi tamu kami, tapi
entah bagaimana jejak merekapun tiba-tiba lenyap tak
berbekas!"
Oh Sam dengan wajah keren mendengus dingin, ia
tidak menanggapi perbuatan itu.
Kakek berjubah hijau itu segera berkata lebih jauh.
"Sebenarnya dalam markas kami telah menawan
orang-orang tawanan perempuan, mereka adalah berasal
dari keluarga Chin Pek Cuan, tapi setelah bentrokan
kemarin malam mereka telah terlepas semua, peristiwa
ini telah kami laporkan kemarkas besar harap Sam-ya
suka memberi pertimbangan "
Hong-po Seng yang kebetulan mendengar pula
pembicaraan itu dalam hati merasa amat girang,
sekalipun ia sendiri terjatuh ditangan orang tetapi
bagaimanapun juga kesulitan yang dihadapi keluarga
Chin berhasil ia selesaikan dengan balk, atas perintah
dari ibunya sedikit banyak diapun bisa mempertanggung
jawabkan diri. Tampak Oh Sam ulapkan tangannya melarang kakek
berjubah hijau itu bicara jauh, ia berpaling dan tanyanya:
"Siocia, apakah kau hendak turun dari kereta untuk
bersantap lebih dahulu?"
"Tak usah!" gadis cantik dalam kereta itu menyahut.
"Kau makanlah cepat sedikit, kemudian kita lanjutkan
kembali perjalanan kita."
Oh Sam mengiakan, sebelum meninggalkan kereta
tersebut, mendadak ia putar tangannya melancarkan
totokan kembali keatas jalan darah 'Tiong Khek' ditubuh
Hong-po Seng, setelah itu baru masuk kedalam ruangan.
Tindakan tersebut kontan membuat Hong-po Seng jadi
meringis, pikirnya dalam hati.
,,Aai ... sudah, sudahlah," rupanya kusir kereta itu
adalah seorang jago kawakan yang sangat lihay, untuk
meloloskan diri dari tangannya mungkin jauh lebih sukar
daripada naik keatas langit !"
Rupanya sebelum jalan darah 'Thian Ci" yang tertotok
lebih dulu tadi sempat ditembusi. Oh Sam telah
menambahi dengan sebuah totokan lagi diatas jalan
darah "Tiong Khek" jelas kusir itu takut kalau pemuda itu
berhasil membebaskan diri dari pengaruh totokan dan
melarikan diri.
Sesaat kemudian muncul tiga orang dari dalam
ruangan, diatas tangan mereka masing-masing
membawa sebuah nampan yang penuh berisi makanan
lezat, dayang cilik tadi segera membuka pintu kereta dan
menerima hidangan tersebut.
Hong- po Seng yang sudah sehari semalam tidak
bersantap dengan cepat perutnya jadi keroncongan
setelah mencium bau harum air liur tak tertahan
mengucur keluar.
Kereta kuda itu diparkir dipinggir jalan, Hong po Seng
segera alihkan sinar matanya menengok kesana
menengok kemari, ia berharap bisa melihat wajah
keluarga Chin sekali lagi.
Tetapi sayang sekali meski letak markas besar cabang
perkumpulan Sin Kie Pang terletak ditepi jalan raya, tapi
bagi orang2 yang tiada perlu kebanyakan suka berputar
lewat jalan lain ditambah pula hari itu adalah hari Tahun
Baru, banyak toko tutup dan banyak orang lebih suka
berada dirumah, sekalipun Hong-po Seng sudah
setengah harian lamanya menengok kesana menengok
kemari, tak sesosok bayangan manusiapun berhasil dia
jumpai. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Oh Sam telah
muncul kembali diambang pintu, ia langsung
menghampiri jendela kereta dan membisikkan sesuatu
kedalam. JILID KE 3 Wajah Hitam yang sulit dibersihkan
TERDENGAR gadis cantik yang berada di dalam kereta
itu segera berkata: "Biarlah kupikirkan lebih dahulu baru
kita bicarakan lagi!"
Kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki Oh Sam sukar
dicarikan tandingannya dalam kalangan dunia persilatan,
tetapi sikapnya terhadap gadis cantik itu ternyata
menghormat dan tunduk seratus persen. Mendengar
sahutan tadi ia lantas mengiakan dan kembali ke tempat
duduknya di depan kereta, sekali sentak tali les, kereta
itu kabur kembali ke depan dengan gerakan cepat.
Beberapa saat kembali sudah lewat, kereta kudapun
telah keluar dari pintu utara kota Keng-Chiu, mendadak
dari balik ruang kereta menggema keluar suara sentilan
jari. Diikuti suara dari gadis cantik tadi berkumandang
datang: ,,Bawa orang itu ke dalam kereta, aku ada persoalan
yang hendak kutanyakan kepadanya".
Oh Sam segera menghentikan keretanya dan
mencengkeram tubuh Hong Po Seng masuk ke dalam
ruang kereta, dayang cilik tadi telah membuka pintu
kereta, Oh Sam pun segera melangkah masuk ke dalam
keretanya: ,,Pemuda ini memiliki berbagai macam ragam
kepandaian aneh, siocia barus berjaga-jaga atas
kelihayannya!".
Gadis cantik itu mengangguk ketus, dayang cilik
itupun menutup kembali pintu kereta menurunkan
korden dan kereta berangkat kembali menuju keutara.
Hong Po Seng duduk dengan punggung bersandar di
atas dinding kereta, sepasang matanya berputar ke sana
ke mari mencari pedang baja miliknya.
Tampaklah dalam ruang kereta sebelah kanan terletak
sebuah kursi empuk yang dapat digunakan untuk duduk
ataupun tidur, di sudut kiri terdapat sebuah meja kecil,
empat belah dinding tertutup oleb korden yang halus dan
indah, selembar kulit harimau terbentang di atas lantai,
sebuah lantai keraton tergantung di atas kereta dan di
atas dinding kereta terdapat sebuah lemari kecil, dalam
lemari itu terdapat beberapa macam barang antik serta
beberapa jilid buku.
Sambil bertopang dagu gadis cantik itu duduk di atas
kursi empuk sementara dayang cilik tadi duduk di atas
kasur sutera di bawah kaki majikannya. Tiga buah
nampan berisi makanan terletak di atas meja kecil dan
sama sekali belum disentuh. Sedangkan pedang baja
milik Hong Po Seng tidak nampak bayangannya.
Tiba-tiba terdengar dayang cilik itu menegur dengan
suara merdu: "Hay, siapa namamu?"
"Aku she Hong Po bernama Seng!" sahut si anak muda
itu tanpa ragu-ragu, sorot matanya menyapu sekejap ke
atas wajah gadis itu kemudian balik tanyanya:
,,Dan siapa pula nama nona berdua?"
Sebagai seorang pemuda yang sejak kecil telah di
didik keras oleh ibunya, kesopanan selalu diutamakan
olehnya dalam setiap pergaulan.
,.Aku bernama Siauw Ling!" terdengar dayang cilik itu
menyahut sambil tertawa. ,.Sedang siocia kami she Pek,
siapa namanya ....... Rahasia! Kau tak boleh tanya dan
tak boleh tahu".
Hong Po Seng tertawa hambar.
,,Nona Pek, kau memanggil cayhe datang kemari
entah ada persoalan apa?"?".
Gadis cantik itu termenung beberapa saat lamanya,
kemudian ia baru bertanya dengan suara hambar.
,,Orang yang mewariskan ilrau silat kepadamu apakah
pernah membicarakan soal kelihayan dari ilmu pukulan
Kioe-Pit-Sin-ciang?"
Hong po Seng mengerti dibalik ucapan tersebut pasti
ada sebab-sebabnya, ia jadi terkesiap.
,,Cayhe belum lama terjunkan diri ke dalam dunia
persilatan, pengetahuanku sangat cetek dan
pengalamanku boleh dibilang belum ada, entah sampai di
manakah kelihayan dari ilmu pukulan Kioe-Pit-Sin-ciang
itu?" Ketika didengarnya si anak muda itu sama sekali tidak
menyebutkan nama dari yang orang telah mewariskan
ilmu silat kepadanya, di atas wajah sang gadis yang
cantik jelita itu terlintas senyuman mengejek.
"Hmmm, tidak sampai tiga hari, lengan kirimu bakal
jadi cacad! Dapatkah jiwamu tertolong hal ini harus
dilihat dari nasibmu, apakah kau punya rejeki atau tidak".
Hong-po Seng semakin terkesiap mendengar
perkataan itu, pikirnya dalam hati:
"Serangan yang dilancarkan Kok See Piauw dalam
keadaan tergopoh-gopoh dan gelisah paling banter cuma
menggunakan tenaga dua bagian belaka, dan jelas ilmu
pukulan "Kioe Pit Sin Ciang" itu tak beracun, kenapa
hanya luka yang demikian kecilnya bisa mengakibatkan
lenganku jadi cacad" Bahkan menurut gadis ini jiwaku
bisa terancam" Aneh ..... sungguh tak habis
mengerti..............".
Terdengar gadis cantik itu telah berkata lagi dengan
nada dingin: "Kau anggap, aku sedang menakut-nakuti dirimu atau
membohongi dirimu"... Hmm!"
"Aaaai akupun tahu tiada berguna menakut-nakuti,
cuma saja ...... setelah aku terluka, mau sedih atau
menyesal apa gunanya, toh nasi telah berubah jadi
bubur!'. "Hmmm .... belum tentu begitu, asal kau punya
keinginan untuk tetap melanjutkan bidup, aku punya
kepandaian untuk menyelamatkan selembar jiwamu!".
"Kalau didengar nada pembicaraannya ...... rupa nya
aku harus memohon sendiri ........." pikir Hong Po Seng.
oooOooo Dari sikap lawannya yang termenung tak bicara, gadis
cantik itu mengerti bahwa hatinya sudah digerakkan oleb
perkataannya barusan, ia lantas tertawa hambar.
"Semua orang yang di kolong langit banya tahu bahwa
ilmu pukulan "Kioe Pit Sin Ciang" adalah suatu ilmu
pukulan yang sangat lihay, namun tak seorangpun yang


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tahu di manakah letak kelihayannya, yang dimaksudkan
"Kioe Pit Sin" di sini sama sekali bukan berarti akibat
pukulan yang berpatah-patah jadi sembilan bagian".
"Aaah! benar, semestinya orang-orang baru bisa
berpikir sampai kesitu" batin Hong Po Seng ketika
mendengar gadis itu menghentikan pembicaraannya,
terpaksa ia buka suara;
,,Pengetahuan maupun pengalaman nona sangat luas,
hal ini membuat cayhe merasa amat kagum, tapi aneh
apa yang dimaksudkan sebagai "Kioe Pit" dalam ilmu
pukulan ini?".
"Ilmu pukulan ini aneh dan istimewa sekali, bagi
korban yang terkena oleh pukulannva, dilarang makan
sekenyang-kenyangnya dilarang minum sepuas-puasnya,
dilarang bergembira berlelebihan, dilarang sedih
kelewatan batas, tak boleh kedinginan dan tak boleh
kepanasan ..... ".
Berbicara sampai di sini, sinar matanya dialihkan
keatas ujung baju Hong Po Seng yang terbakar hangus
oleh api, serentetan sikap mengejek terlintas di atas
wajahnya. Hong Po Seng tertegun dan melongo, pikirnya:
,,Aaah, benar. Setelah aku terluka mula-mula tubuhku
kepanasan oleh kobaran api kebakaran, setelah itu aku
kedinginan oleh tiupan angin dan salju, setelah itu harus
berlarian dan bertempur semalam suntuk, tenta saja
keadaan bertempur runyam ...".
Tiba-tiba ia teringat kembali sewaktu kemarin malam
masih berada di dalam lorong rahasia milik keluarga
Chin, waktu itu ia pernah jatuh pingsan satu kali dan
hampir saja jatuh terjengkang, hanya saja ketika itu
peristiwa tersebut sama sekah tidak diperhatikan, kini ia
sadar dan menjadi paham, jelas itulah akibatnya dari
kambuhnya luka bekas terkena pukulan.
"Siauw-Ling! bebaskan jalan darahnya yang tertotok"
merdadak terdengar gadis cantik itu berseru.
Dayang cilik itu manis, ia rnendekati sisi tubuh Horg
Po Seng kemudian menggerakan telapaknya menabok di
atas jalan darah "Thin-Ci" di tubuh pemuda tersebut.
" Sudah cukup?" tanyanya kemudian sambil tertawa
,,Bebaskan pula jalan darah Tiong-Kheknya!".
Buru-buru dayaitg cilik itu menepuk pula di atas jalan
darah "Tiong-Khekhiat" sehingga jalan darah yang
tertotok itu segera tergetar bebas.
Diam-diam Hang Po Seng mengatur pernapasannya
dan mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, ia
bermaksud hendak melancarkan peredaran darah dalam
badannya. Siapa sangka tiba-tiba kepalanya pusing tujuh keliling,
seluruh tubunya bergetar keras kemudian roboh
terjengkang ke atas lantai, seketika itu juga ia jatuh tak
sadarkan diri. Ucapan dan gadis itu sedikitpun tidak salah, ilmu
pukulan Kioe Pit Sin Ciang yang muncul pada saat ini
jauh berbeda dengan sepuluh tahun berselang,
kekejaman kesedihan, serta kehebatan racunnya boleh
dibilang mematikan setiap korban yang terkera oleh
pukulan tersebut, hanya saja selama sepuluh tabun Boe
Liang Sin Koen tak pernah tinggalkan goa pertapaannya
sedangkan Kok See Piauw pun belum lama terjun ke
dalam dunia persilatan, sampai di manakah kehebatan
dari ilmu pukulan tersebut hanya beberapa orang saja
yang tabu. Ketika menjumpai Hong Po Seng jatuh tak sadarkan
diri di atas lantai, dayang cilik itu segera berjongkok dan
memeriksa tubuh pemuda tersebut, katanya kemudian:
"Siocia, apakah kau hendak menerima orang ini
sebagai pembantu kita" ....".
Dengan ujung jarinya yang dibasahi oleh air ludah ia
gosok-gosok wajah Hong Po Seng yang tajam pekat itu
keras, ujungnya lebih jauh:
,,Andaikata wajah orang ini tidak dipoles dengan obat
penyaruan, aku pikir ia pasti tampan dan menarik!".
"Coba kau totok jalan darah "Jien Tiong"nya!"
terdengar gadis cantik itu menitahkan.
Mendengar perintah dari majikannya dayang cilik itu
segera melancarkan sebuah rotokan di bawah lekukan
hidung pemuda tersebut, seluruh tubuh dan kulit badan
Hong Po Seng tergetar keras, dalam waktu singkat ia
siuman kembali dari pingsannya.
,,Heng po Seng, dengarkan baik-baik!" kata gadis
cantik itu dengan wajah adem. Aku bernama Pek Koen
Gie Pek Loo Pangcu ketua dari perkumpulan Sin Kee
Pang adalah ayahku!"
Sejak semula Hong po Seng telah menduga sampai di
situ maka ia tidak sampai kaget setelah mendengar
pengakuan dari dara ayu tersebut, sepasang telapaknya
segera menekan ke atas lantai coba merangkak bangun.
Siapa sangka karena sedikit mengerahkan tenaga
itulah luka di atas bahu kakinya terasa amat sakit hingga
merasuk ke dalam isi perutnya, tubuh jadi lemas dan
sekali lagi ia roboh terjengkang di atas lantai.
Dayang cilik yang ada di sisinya segera memayang ia
bangun, katanya:
,,Eeeea kau harus sedikit tahu diri, jangan sampai
menjengkelkan atau menggusarkan siocia kami!".
,,Terima kasih atas perhatian diri nona cilik" sabut
Hong po Seng tertawa hambar. ,,Entah nona Pek masih
ada petunjuk apa lagi" Cayhe siap mendengarkan
dengan seksama!".
Setelah jatuh pingsan dan siuman kembali, wajah
pemuda itu dari hitam pekat kini berubah jadi kuning
pucat, sepasang matanya suram tak bersinar, suaranya
untuk berbicara pun lemah tak bertenaga, seakan-akan
seseorang yang sedang menderita sakit parah.
Pek Koen Gie sema sekali tidak terharu oleh keadaan
orang, katanya perlahan-lahan:
,,Kemarin malam di rumah keluarga Chin Pek Cuan
telah terjadi peristiwa, kebetulan kaupun berada di kota
Keng-chiu, bahumu terluka oleh pukulan, pakaianmu
terbakar sebagian oleh api, jelas tak bisa dipungkiri lagi
kau pasti sudah turut campur dalam peristiwa itu bukan
begitu?". Semangat Hong Po Seng segera berkobar setelah
mendengar dara itu mengungkap kembali peristiwa di
keluarga Chin. "Nama besar Boe Liang Sin Koen telah menggetarkan
seluruh Liok lim, ia mempunyai seorang murid yang
bernama Kok See Piauw, meski ilmu silat yang dimilikinya
jauh lebih kuat dari aku orang she Hong Po, menurut
pendapat caybe, alangkah baiknya kalau pihak
perkumpulan Sin Kee Pang jangan ikut campur dalam
persoalan keluarga Chin ini".
Pek Koen Gie dapat menangkap arti lain dalam
perkataan tersebut, jelas pemuda itu sedang menyindir
perkumpulan Sin Kee Pang yang sedang membaiki Kok
See Piauw dengan harapan bisa menggaet Boe Liang Sin
Koen berpihak kepada mereka, diam-diam dia jadi naik
pitam: "Pihak perkumpulan Sin Kee Pang kami telah
kehilangan tiga orang dan kematian seorang Hoe Hoat"
serunya sambil tenawa dingin. ,,Apakah hutang darah ini
harus kami catat atas namamu!".
,,Hmmm. ketiga orang itu telah kubacok mati semua,
mayat mereka telah kulempar ke dalam kobaran api, saat
ini mungkin abunya pun sudah musnah terhembus angin.
Kalau memang kalian mau mencari balas, catat saja
keempat lembar jiwa itu atas namakul"
Pek Koen Gie mendengus dingin, dalam waktu singkat
di atas wajahnya yang cantik jelita terlintas hawa dingin
yang menggidikkan hati.
,,Hmmm kau tak usah menanggung dosanya Chin Pek
Cuan, selama mereka ayah dan anak masih hidup di
kolong langit, cepat atau lambat pasti akan terjatuh ke
dalam jaring perkumpulan Sin-Kie-Pang!".
Hong-po Seng jadi sangat gelisah.
,,Nona kau sengaja mengucapkan kata-kata seperti ini
bukankah kasarnya ada maksud memaksa diri cayhe"
Entah kau ada perintah apa yang hendak diutarakan
kepada cayhe, katakanlah asal aku Hong-po Seng dapat
kerjakan pasti akan kulakukan".
Pek Koen Gie tertwa dingin.
,,Rupanya kaupun terhitung seorang manusia cerdik!"
ia merandek sejenak. ,,Anak buah perkumpulan Sin-Kee-
Pang bukanlah manusia yang boleh dibunuh oleh orang
luar, andaikata kau ingin melepaskan diri dari persoalan
ini satu-satunya jalan hanya menyumbang tenaga bagi
perkumpulan kami. Mengingat usiamu masih muda,
kepandaian silatmu tidak lemah dan merupakan seorang
manusia berbakat yang punya kemungkinan besar untuk
maju, persoalan yang telah lewat tak akan kubicarakan
lagi, aku tanggung jika keluarga Chin tidak akan
mengalami ancauan bahaya apapun!".
Mula-mula Hong-po Seng tertegun, kemudian ia jadi
paham dengan duduknya perkara.
,,Oooh, ternyata huhungan antara nona dengan Boe-
Liang san bukan hanya hubungan biasa, kalau tidak tak
nanti kau berani mengucapkan kata-kata sesumbar itu!"
,,Hanya mendengar nada ucapanku saja ia bisa
menebak maksudnya, kecerdikan orang ini benar-benar
sukar dicarikan tandingannya di kolong langit ....." diamdiam
Pek Koen Gie berpikir.
Melihat ia sedang pejamkan mata seolah-olah lagi
berpikir, iapun segera menanti dengan tenang tanpa
mengganggu. Hong po Seng diam-diam memikirkan kembali situasi
yang dihadapi sekarang, dimulai dari keselamatan
keluarga Chin ibunya yang meagasingkan diri di atas
bukit, serta nama ayahnya almarhum yang cemerlang
dalam Bu-lim ..... akhirnya ia tertawa getir.
"Nona!" katanya kemudian. "Tidak sulit bagiku untuk
menggabungkan diri menjadi anggota perkumpulan Sin-
Kie Pang, tapi kesulitan justru terletak pada ketidak
tulusan hatiku, aku tak dapat bersikap setia dengan
sepenuh hati kepada kalian. Nona, bagaimana
pandanganmu mengenai hal ini ?"
,,Persoalan itu tidak sulit untuk diatasi" jengek Pek
Koen Gie sambil tertawa dingin. ,,Kalau kau berani
mengkhianati perkumpulan, maka kau akan kuhukum
menuruti peraturan, aku rasa hal ini bukan merupakan
satu kesulitan".
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya :
,,Menurut penglihatanku, kesulitan justru terlerak pada
upacara untuk masuk jadi anggota, aku takut kau sulit
untuk menuruti!".
,,Upacara masuk jadi anggota bagaimana maksudmu
?" tolong nona suka menjelaskan!".
"Hmm, kalau dibicarakan semestinya sederhana dan
gampang sekali, cukup asal kau suka berlutut
dibadapanku, mendengarkan nasehat serta teguranku
kemudian mengijinkan aku menancapkan tiga batang
jarum beracun penempel tulang di atas tubuhmu maka
secara resmi kau telah kuterima sebagai anggota
perkumpulan Sin Kie Pang. Bagaimana" apakah kau perlu
mempertimbangkan lagi?"
Merah padam selembar wajah Hong-po Seng begitu
selesai mendengar perkataan itu, hawa amarah yaog
bergelora dalam rongga dadanya sukar dikendalikan lagi.
Saking gusarnya luka di atas bahunya seketika
kambuh kembali, pandangan jadi gelap dan sekali lagi ia
jatuh tak sadarkan diri . . .
,,Siocia, kenapa kau ajukan peraturan seperti itu?"
terdengar dayang cilik itu menegur dengan wajah
tertegun bercampur tercengang. Dahulu belum pernah
kudengar ada peraturan semacam ini!"
Pek Koen Gie tertawa dingin.
"Watak serta tabiat orang ini kukoay sekali, kalau
dikatakan ia tidak takut mati ternyata ia sangat takut
menghadapi kematian, kalau dikatakan takut mati
ternyata ia mempunyai sikap memandang suatu
kematian bagaikan pulang ke rumah, terhadap manusia
semacam ini siapapun bisa dibikin apa boleh buat, oleh
karena itu aku perlu menghina dirinya habis-habisan, bila
ia berani menghianati diriku maka sekali hantam akan
kubereskan selembar jiwanya".
Dayang cilik itu seperti mengerti seperti pula tidak
mengerti atas pembicaraan majikannya, terdengar ia
berkata: "Orang ini sangat cerdik, ilmu silatnya tentu bagus
juga bukankah lebih baik kalau siocia menerima menjadi
pembantu yang setia?"".
Sambil berkata ia totok kembali jalan darah "Jien
Tiong" di lekukan hidung Hong-po Seng, pemuda itupun
siuman kembali.
Perlahan-lahan si anak muda itu membuka matanya,
mententeramkan hatinya dan berpikir:
"Sebelum persoalan-persoalan yang dibebankan
kepundakku kuselesaikan secara baik, aku tidak boleh
mati. sebab kalau tidak aku bakal menyia-nyiakan jerih
payah ibuku sela na ini. Tetapi kalau disuruh aku
menerima penghinaan yang demikian besarnya, mungkin
sukrna ayah yang berada di alam baka pun akan ikut
merasa malu sebinpga sepanjang masa beliau tak bisa
pejamkan mata. Aaaa ..... sungguh bikin aku jadi serba
salab, nana yang harus kulakukan?".
Semakin dipikir kepalanya makin pusing, hatinya
makin putus asa....... mendadak ia mendongak, sinar
matanya terbentur dengan sorot mata gadis itu empat
mata terbentur jadi satu mengakibatkan sekujur tubuh
Hong Po Seng bergetar keras saking kagetnya.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sepasang alis Pek Koen Gie kontan berkerut, ujarnya
dengan nada dingin:
,,Apakah kau telah mengambil keputusan?"".
Hong Po Seng mententeramkan kembali hatinya dan
memandang lagi ke atas wajah gadis itu, ia temukan di
balik biji matanya yang jeli terkardung sifat kejam yang
amat sangat, tanpa terasa pikirnya dalam hati:
,,,Gadis ini tentu mempunyai dendam sakit hati lain
terhadap diriku, kalau tidak mengapa ia begitu benci dan
sakit hati terhadap diriku?"...."
Mana ia tahu Pek Koen Gie sejak kecil sudah terbiasa
dimanjakan. belum pernah ia mengalami penghinaan
ataupun pandangan rendah dari orang lain, sebagai
orang yang halus di luar keras di dalam sudah tentu
hatinya tersinggung terlebih dahulu tatkala gadis itu
mengetahui bahwa Hong Po Seng sama sekali tidak
memandang sebelah matapun terhadap perkumpulan Sin
Kee Pang yang besar itu.
Ditambah pula kecantikan wajah Pek Koen Gie
bagaikan bidadari, setiap berjumpa dengan dirinya tentu
tertarik dan terpesona oleh kecantikan wajahnya, siapa
tahu Hong-po Seng bukan saja tidak tertarik kepadanya,
bahkan seakan-akan menganggap kecantikan wajahnya
hanya suatu kejadian yang lumrah dan tak usah
dikejutkan, tentu saja gadis itu merasa amat
tersinggung, gengsinya terasa diturunkan oleh sikap
pemuda itu. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya rasa sakit hati
dan benci dalam hati gadis she Pek itu, ia bersumpah
hendak membalas dendam, ia berjanji hendak menghina
pemuda itu habis-habisan.
Lama sekali Hong po Seng termenung dan
mempertimbangkan persoalan itu, tapi ia belum berhasil
juga melepaskan dari simpul mati tersebut, akhirnya
sambil menghela napas pikirnya :
,,Meskipun ini hari aku menyerah, belum tentu ia mau
melepaskan diriku dengan begini saja, penghinaan yang
lebih besar tentu akan kualami dikemudian hari. Daripada
menanggung derita dan siksaan lebih baik kusudahi saja
hidupku sampai di sini.
Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas
mendongak dan berkata: ,,Nona, cayhe sudah
mengambil keputusan."
Badannya lemah tentu saja hal ini mempengaruhi
suaranya hingga kedengaran amat lirih, mendadak Pek
Koen Gie naik pitam, tanpa menantikan selesainya
ucapan itu katanya:
,,Manusia konyol, apa yang hendak kau katakan"
kalau bicara jangan lemah lembut seperti cacing
kepanasan, utarakanlahdengan sedikit bersemangat "
"Bagus! bagi cayhe urusan mati hidup adalah suatu
peisoalan kecil, sebaliknya kehormatan dan gengsi
adalah masalah besar, aku telah mengambil keputusan
untuk menempuh jalan mati saja!"
Pek Koen Gie semakin naik pitam setelah mendengar
perkataan itu, dengan tangan kaki gemetar serunya.
,,Kalau sekarang juga kubereskan jiwamu. Hmm,
terlalu enakan bagimu" ..... Berbicara sampai di situ ia
lantas ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng.
Melihat kode majikannya dayang cilik itu buru-buru
mengetuk dinding kereta. Kereta kuda itu segera
berhenti, pintu di buka dan Oh Sam melongok ke dalam.
Siauw Leng segera memberi tanda, tanpa
mengucapkan sepatah katapun Oh Sam mencengkeram
tubuh Hong-po Seng dan dibawa keluar dari ruang
kereta. Sejak semula Hong-po Seng sudah tiada tenaga untuk
memberikan perlawanan, iapun menyadari bila hawa
amarahnya berkobar niscaya ia bakal jatuh tak sadarkan
diri, oleh sebab itu sambil menahan rasa mangkel dan
sedih yang berkecambuk dalam hatinya, ia biarkan
dirinya dibawa keluar kereta , dan meneruskan
perjalanan menuju ke Utara.
Ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang benar-benar sangat
lihay, hasil latihan Hong po Serg yang susah payah
selama banyak tahun ternyata tidak sanggup menahan
sebuah gebukan ringan ilmu pukulan tersebut. Kini
terhembus oleh angin dingin dan badai salju, ditambah
pula rasa lapar yang tak terhingga dalam waktu singkat
ia jatuh pingsan kembali.
Oh Sam cuma melirik sekejap ke arahnya, sedikitpun
orang ini tidak menunjukkan rasa kasihan, simpatik
ataupun maksud untuk menolong, sikapnya acuh tak
acuh. Di musim salju yang dingin siang jauh lebib rendek
dan malam, ketika sore hari baru menjelang tiba diudara
sudah gelap gulita, sejak jatuh tak sadarkan diri tadi
Hong-po Seng belum sadar kembali, sementara Oh Sam
pun melarikan kereta kudanya cepat-cepat menuju ke
luar kota Seng-Chiu.
Mendadak suara derap kaki kuda yang amat santar
berkumandang datang dari arah depan belasan ekor
kuda jempolan dengan gagah dan cepatnya menerjang
keluar dari balik pintu kota menyongsong kedatangan
mereka. Dari jauh memandang rombongan tersebut. Oh
Sam segera menghardik keras: "Siapa di situ?"?".
,,Yang baru datang benarkah Oh San ya?"" sahutan
nyaring menggema tiba.
Sementara pembicaraan masih berlangsung ke dua
belah pihak telah saling berdekatan, terdengar suara
ringkikan kuda menjulang keangkasa, dua belas orang
mendatang bersama-sama loncat turun dari atas kuda
dan berdiri penuh rasa bormat di depan pintu kereta.
Korden kereta tersingkap, Pek Koen Gie menengok
sekejap keluar sambil bertanya:
,,Loe Hoen Tongcu, kalian datang kemari dengan
menggembol senjata tajam apakah telah terjadi suatu
peristiwa diluar dugaan?"".
Pria kekar yang menggembol golok besar bergagang
emas pada punggungnya itu segera maju menjura, lalu
menjawab: "Barusan hamba sekalian memperoleh laporan kilat
yang mengatakan di dusun sebelah timur telah
kedatangan serombongan manusia yang sangat
mencurigakan, keadaan mereka seperti orang yang
sedang meugungsi . . ".
,,Aku akan menantikan laporanmu di ruang kantor
cabang" tukas Pek Koen Gie tanpa menantikan orang itu
menyelesaikan kata-katanya. ,,Andaikata rombongan itu
adalah keluarga dari Chin Pek Cuan, segera tangkap
semua dan gusur kedalam kantor, jangan lepaskan
barang seorangpun diantara mereka dan jangan kalian
celakai pula jiwa mereka!"
Habis berkata ia ulapkan tangannya.
Orang she Loei itu mengiakan dengan penuh rasa
hormat, diikuti oleh anak buahnya masing-masing
meloncat naik ke atas kudanya.
Mendadak Oh Sam meloncat ke depan jendela katanya
: ,,Chin Loo jie adalah seorang manusia pemberani
sudah tersohor akan kekerasan hatinya ia tak sudi
menyerah kepada musuhnya dan tidak takut mati untuk
menangkap beberapa orang itu hidup-hidup, hamba rasa
beberapa orang ini masih belum mampu untuk
melakukannya".
"Ehmm, kalau begitu kaupun ikut pergi!".
Seketika ada seseorang yang menyerahkan kuda
tunggangannya untuk Oh Sam sedang ia sendiri
menggantikan kedudukan sebagai kusir kereta.
Dalam waktu singkat Oh Sam beserta orang-orang itu
telah berlalu dari Kereta kuda masuk ke dalam kota dan
langsung menuju ke markas perkumpulan Sin Kee Pang
cabang kota Seng Chiu, Pek Koen Gie turun dari kereta
mengangguk terhadap orang-orang yang menyambut
kedatangannya kemudian langsung menuju ke ruang
dalam. Siauw Leng dengan menjinjing sebuah kotak terbuat
dari emas menyusul di belakangnya diikuti orang yang
bertindak sebagai kusir tadi membopong lubuh Hong po
Seng. Orang itu membawa tubuh pemuda she Hong po ini
menuju ke sebuah ruang besar dan menyandarkan
dirinya di atas sebuah kursi besar, sementara meja
perjamuan telah dipersiapkan di tengah ruangan.
Selesai cuci muka dan ganti pakaian Pek Koen Gie
muncul dalam ruangan itu diiringi serombongan wanita.
Pek Koen Gie duduk di kursi utama, dua orang wanita
mengiringi dikedua belah sampingnya sedang sisanya
mengitari di depan meja, terdengar suara pembicaraan
yang nyaring dan ramai berkumandang memenuhi
seluruh ruangan, semua orang bergembira ria kecuali
Pek Koen Gie seorang, wajahnya selalu murung dan
kesal jarang sekali ia buka suara untuk bercakap-cakap
apalagi tertawa.
Di tengah perjamuan, seorang dayang muncul sambil
membawa sebuah nampan, di atas nampan terletak
secawan air jahe serta sembilan buah mangkok kecil,
dalam mangkok masing-masing diisi dengan cuka,
minyak kayu putih, arak kuning, air jeruk serta pelbagai
macam obat-obatan lainnya dan segumpal kapas Siauw
Leng tertawa cekikikan, dengan wajah berseri-seri ia
mendekati tubuh Hong po Seng, mula-mula ia cekoki
pemuda itu semangkok air jahe, kemudian dengan
menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam minyak
kayu putih ia mulai menggosok wajah Hong po Seng
yang berwama hitam pekat itu.
Sepertanak nasi telah lewat namun warna hitam di
atas wajah Hong po Seng sama sekali tak luntur ataupun
berubah, maka Siauw Leng mengambil lagi segumpal
kapas yang direndam dengan air cuka, namun obat
perubah warna itu benar-benar sangat hebat, meski
sudah digosok berulang kali hasilnya tetap nihil, wajah
Hong po Seng tetap hitam pekat seperti sedia kala.
Siauw Leng jadi amat kecewa, melibat si anak muda
itu mulai mendusin kembali ia segera goyang-goyangkan
tubuhnya sambil berteriak keras ,,Hey Hong po Seng,
sebenarnya wajahmu sudah kau polesi dengan obat
apa?" Pek Koen Gie sendiripun merasa ingin tahu bagaimana
gerangan wajah sebenarnya dari pemuda itu, ia berhenti
minum dan alihkan sinar matanya ke arah sana, demikian
pula dengan puluhan pasang mata lainnya berbareng
dialihkan ke atas wajah Hong po Seng.
Pemuda she Hong po yang baru saja mendusin dan
pingsannya hanya memandang sekejap ke arah
sekelilingnya dengan wajah mendelong lama sekali ia
baru bertanya ;
"Nona apa yang kau tanyakan?"
"Eeei", wajahmu telah kau polesi dengan obat apa?"
teriak Siauw Leng.
Hong po Seng tahu kematian tak akan terbindar dari
dirinya, ia jadi malas buka suara. tapi iapun takut dayang
cilik itu ribut tiada bentinya maka ia menyahut:
,,Sejak aku berusia tujuh tahun, setiap hari wajahku
kugosok dengan air obat, tiga tahun kemudian wajahku
telah berubah jadi begini dan mungkin selama hidup
wajahku tak akan pulih kembali seperti sedia kala, nona
cilik aku lihat lebih baik kau tak usah buang tenaga
dengan percuma"
,,Hey. sampai di mana sih kelihayan dari rnusuhmusuh
besarmu?"" hingga kau pandang persoalan yang
kecil jadi masalah besar?"" mendadak terdengar Pek
Koen Gie mendengar dengan suara dingin.
Sorot mata Hong-po Seng berkilat, ia melriik sekejap
ke arahnya seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu
namun akhirnya ia batalkan maksud tersebut dan
pejamkan kembali matanya.
Siauw-Leng si dayang cilik jadi kheki, sambil
mencibirkan bibirnya ia menyingkir dari situ.
Perempuan yang duduk di sebelah sisi Pek Koen Gie
mendadak menimbrung dengan suara lantang :
,,Hey bocah muda, perduli siapakah musuh besarmu
asal kau mohonkan bantuan serta perlindungan dari
siocia kami, meski Thian Ong Loo-cu ataupun Giok-Hong-
Thay Tie tak nanti mereka berani mengganggu selembar
jiwamu!". Hong-po Seng tetap pejamkan matanya dengan mulut
membungkam, terhadap ocehan perempuan tersebut ia
sama sekali tidak ambi gubris.
Diam-diam Pek Koen Gie jadi mendongkol, ia angkat
cawan araknya dan sekali teguk menghabiskan isinya,
mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia
berpikir : ,,Senang hidup takut mati adalah kebiasaan dari
manusia, sekarang ia berlagak angkuh dan sombong
tidak lebih karena terdorong oleh emosi belaka, asal aku
dapat memancing rahasia hatinya dan berhasil
mengetahui kelemahannya maka ia akan takut
menghadapi kematian, asal dalam hatinya sudah timbul
rasa takut menghadapi kematian, tidak terlalu sulit
bagiku untuk menaklukan dirinya".
Berpikir demikian ia lantas tertawa dingin katanya:
,,Hong Po Seng, kematianmu telah berada di ambang
pintu, bila kau masih terdapat pekerjaan atau tugas yang
belum sempat diselesaikan utarakan saja kepadaku,
mengingat kau mempunyai beberapa bagian semangat
seorang ksatria, setelah kau mati aku dapat perintakan
orang-orang untuk menyelesaikannya!".
"Antara kau dengan aku terpisah oleh paham yang
berbeda, aku rasa tidak baik kalau kita beterjasama"


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tampik Hong Po Seng dengan suara hambar, matanya
melotot besar. "Maksud baik dirimu lebih baik kuterima di
dalam hati saja, aku tak berani merepotkan diri nona".
Meski ia diluar bicara demikian, dalam hati terbayang
kembali wajah ibunya yang penuh kasih sayang, teringat
kembali ucapan ibunya bahwa hanya teratai racun
empedu api saja yang dapat menyembuhkan sakitnya
serta memulihkam kembali kepandaian silatnya, tanpa
sadar titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Haruslah diketahui bagi orang ksatria lebih baik mati
terbunuh daripada menerima penghinaan, meskipun
Hong Po Seng mempunyai keinginan untuk melanjutkan
hidup namun andaikata ia disuruh berlutut di hadapan
Pek Koen Gie sambil mendengarkan nasehat serta
tegurannya, hai itu boleh dibilang merupakan suatu
penghinaan yang maha besar bagi seorang manusia,
juga merupakan penghinaan terhadap keluarga kakek
moyangnya. Oleh karena itu setelah dipikirkan pulang
pergi, ia merasa kematian adalah jalan yang terbaik
baginya untuk ditempuh.
Kini terpancing oleh Pek Koen Gie, tanpa sadar air
mata telah membasahi wajahnya.
Pek Koen Gie pribadi sebagai seorang putra pangcu
yang paling berkuasa di kolong langit pada hari-hari
biasa selalu andalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat
sewenang-wenang, mengikuti adatnya setelah Hong Po
Seng menyinggung perasaan halusnya sebagai seorang
wanita, ia bersumpah untuk membalas dendarn sakit hati
ini. Sekarang melihat si anak muda itu telah
mengucurkan air matanya, ia jadi girang, biji matanya
mengerling sekejap kearah Siauw Leng memberi tanda.
Siauw Leng adalah seorang dayang yang masih muda,
watak kekanak-kanakkannya belum hilang, ia takut
sebelum sempat melihat wajah sebenarnya dari Hong-po
Seng dia keburu mati, maka menjumpai keringanan mata
majikannya, ia segera mengambil semangkok nasi dan
diberikan kepada seorang dayang disisinya sambil
berpesan : "Lengan toaya itu tidak leluasa uatuk bergerak, cepat
kau suapin dirinya hingga kenyang!".
Hong-po Seng sudah seharian penuh tidak bersantap,
perutnya sejak semula sudah terasa amat lapar, dalam
keadaan seperti ini diapun ogah untuk memperhatikan
adat istiadat lagi, di bawah suapan dayang tadi dalam
waktu singkat ia telah menghabiskan dua mangkok nasi.
Suasana di dalam ruaagan ini nyaman dan hangat,
selesai bersantap merasa semangatnya pulih kembali,
keempat anggota badannyapun sudah mulai terasa
segar, maka ia lantas pejamkan matanya diam-diam
mengatur napas.
Setelah menderita siksaan seharian penuh, semangat
dan kekuatan Hong-po Seng mengalami kerusakan yang
sangat hebat, dalam semedinya ia temukan seluruh uraturat
penting di atas bahu kirinya telah tersumbat, meski
lengan kirinya mungkin jadi cacad nanun jiwanya masih
dapat diselamatkan, maka dari itu ia tidak terlalu merasa
kuatir. Selesai berlatih beberapa saat lamanya ia merasa
badannya jadi lelah, pandangannya berkunang dan ia
tertidur nyenyak.
Pek Koen Gie sendiri selesai bersantap berbicara
sejenak dengan perempuan-perempuan itu, karena
hatinya murung ia segera berpamitan dan kembali
kekamarnya. Siauw Leng mengikuti majikannya duduk tepekur di
atas meja ..... lama kelamaan ia sendiri terlelap dalam
tidurnya. Kentongan ketiga . . . kentongan keempat.,.
kentongan kelima ayam mulai berkokok suara ketukan
Bok Hie dari kaum paderi berkumandang di tengah
kesunyian. Mendadak terdergar suara derap kaki kuda secara
lapat-lapat berkumandang datarg. Pek Koen Gie
tersentak bangun dari tidurnya, sepasang biji mata yang
bening memancarkan cahaya tajam, tanpa sadar ia
melirik sekejap kearah Hong Po Seng.
Siauw Leng pun tersentak bangun dari tidurnya,
dengan mata masih mengantuk ia beiseru:
,,Siocia. apakah air tehnya sudah dingin?"
Hong po Seng pun baru saja mendusin dari tidurnya,
mendengar suara hiruk pikuk di luar ruangan yang
bercampur dengan isak tangis kaum wanita dan bocah
cilik mula-mula ia tertegun, sementara suara gaduh tadi
sudah semakin dekat dengan ruangan mereka.
Mendadak korden tersingkap. Oh Sam masuk ke
dalam lebih dabulu diikuti anak buah kantor cabang kota
Keng Chiu yang menggusur sembilan orang tawanan,
dalam waktu singkat mereka sudah berada dalam
ruangan semua. Diam-diam Hong po Seng melirik sekejap ke arah
orang-orang itu, ia temukan salah seorang dara berbaju
hijau yang ada di situ bukan lain adalah Chin Wan Hong
puteri kesayangan dari Chin Pek Cuan, dengan hati
terperanjat ia loncat bangun, teriaknya ;
,,Nona Chin, dimanakah ayahmu?"
Waktu itu Chin Wan Hong sedang memayang seorang
nenek tua yang rambutnya telah beruban semua, melihat
kemunculan Hong-po Seng di tempat itu ia berdiri
tertegun, lama sekali baru sahutnya ;
,,Ayah serta engkohku menguatirkan keselamatanmu
maka kemarin malam mereka memisahkan diri untuk
mencari dirimu, sekarang entah mereka berada
dimana?"?".
Dengan tajam ia perhatikan sekejap wajah pemuda itu
lalu tanyarya berubah:
,,Kau terluka parah ?"?".
Hong-po Seng menggeleng.
,,Tidak terlalu menguaitrkan !".
Sinar matanya rnerayap sekejap kesekeliling ruangan,
ia temukan diantara sembilan orang lainnya ada enam
orang adalah perempuan dan seorang adalah bayi yang
masih kecil, di samping itu terdapat seorang kakek
berjubah hijau serta seorang pria berusia tiga puluh
tahunan, tubuh mereka berdua telah basah oleh lepotan
darah segar, sepasang tangannya dibelenggu di atas
panggung. Oh Sarn berjalan mendekati majikannya lalu
membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Pek Koen Gie
segera mengangguk tiada hentinya.
,,Chin Wan Hong!" mendadak ia menegur dengan
nada dingin. "Tiga orang manusia dari kantor cabang
kota Keng-Chiu apakah mati di tangan kalian ayah dan
anak?"?".
Hong-po seng cepat berpaling, dengan wajah gusar
timbrungnya dari samping:
"Bukankah cayhe sudah berkata berulang kali, ketiga
orang itu modar diujurg pedang bajaku. mengapa nona
menuduh orang lain yang bukan-bukan?"".
Pek Koen Gie tertawa seram.
"Baiklah. siapa duluan siapa belakangan sama saja!" ia
menoleh dan menambahkan "Loe Tongcu perintahkan
orang untuk siapkan alat siksaan! ...."
Untuk menyiksa seseorang caranya berbeda jauh
dengan cara membunuh orang, ketika dilihatnya Hong-po
Seng sama sekali tidak dibelenggu dan takut si anak
muda itu mcmberikan perlawanannya hingga anak
buahuya tak sanggup melayani, mendengar perintah
tersebut buru-buru Loe Hoen Tongcu menjura.
,Biarlah hamba turun tangan sendiri!".
Tangannya berkelebat mencabut keluar golok besar
gagang emas dari atas punggungnya kemudian dengan
langkah lebar maju ke depan.
Hong-po Seng putar otaknya dengan cepat ia tahu
percuma baginya untuk melawan, maka sambil bulatkan
tekad ia berdiri tak berkutik di tempat semula.
Selangkah demi selangkah Loe Hoen Tong berjalan
semakin dekat, kaki-kakinya mendadak ditekuk, tiga jari
tangan kirinya menusuk kehadapan matanya sementara
lengan menggapai membacok-bacok kepala lawan.
Cahaya emas tampak berkelebat lewat, sebentar lagi
batok kepala Hong Pe Seng bakal berpisah dengan
badannya".
Mendadak Chin Wan Hong menjerit, keras dan
membentak sambil menahan isak tangis;
,,Turggu sebentar!".
Loe Hoen Tongcu terperanjat dia ingin menarik
kembali serangannya namun tak sempat, disaat yang
kritis itulah mendadak pergelangan tangannya terasa
bergetar keras, tahu-tahu golok emasnya sudah lerjepit
oleh dua jari tangan Oh Sam.
Kendati begitu tak urung leher kiri Hong po Seng
termakan juga oleh bacokan tersebut hingga muncul
sebuah bekas luka yang panjangnya mencapai dua coen,
darah segar-segar mengalir keluar dengan derasnya.
Bagaimanapun juga Oh Sam adalah pelayan lama
keluarga Pek, dengan mata kepala sendiri ia saksikan Pek
Koen Gie menginjak dewasa, terhadap tabiat serta
tingkah laku majikan mudanya ini ia mengetahui sangat
jelas, ia tahu andaikata majikannya ada niat
membinasakan Hong po Seng, sejak semula pemuda itu
telah dibunuhnya! jiwa si anak muda itu dapat selamat
hingga kini jelas menunjukkan kalau ia mempunyai
tujuan lain karena itulah disaat yang kritis ia telah
menjepit gagang golok orang.
"Loe Hoen tongcu tunggu sebentar!" serunya. "Siocia
sedang menyelidiki siapakah pembunuh yang sebenarnya
dari ketiga orang kita, coba kita dengar dulu apa yang
hendak diucapkan perempuan itu!"
Lolos dari lubang kematian Hong po Seng merasakan
hatinya jadi kosong. setelah termangu-mangu beberapa
saat lamanya ia baru berpaling ke arah Chin Wan Hong.
Tampaklah sepasang mata gadis itu telah basah oleh
air mata, timbul rasa iba dan kasihan dalam hati kecilnya
segera ia berkata:
"Nona Chin, sebetulnya aku tidak ingin
memberitahukan kepadamu, tapi setelah kejadian
berubah jadi begini akupun terpaksa harus berbicara
sesungguhnya. Chin Wan Hong mengangguk.
,,Apa yang hendak kau katakan, utarakanlah keluar,
bila tidak ingin dikatakan janganlah kau ucapkan!".
Hong-po Seng tertawa ramah,
"Ayahmu telah melepaskan budi yang tak terhingga
besarnya kepada keluarga Hong-po kami, aku Hong po
Seng sengaja datang ke kota Keng Chiu bukan lain
adalah untuk membalas budi kebaikan tersebut. Setelah
terjadinya penstiwa seperti ini kendati aku Hong-po Seng
harus mengorbankan selembar jiwaku keselamatan
seluruh keluarga Chin harus kupertahankan terlebih
dahulu, kalau tidak aku bakal malu pulang ke rumah,
daripada tugasku tak terselesaikan lebih baik aku mati di
sini saja".
Chin Wan Hong tertegun beberapa saat lamanya,
mendadak ia berpaling ke arah Pek Koen Gie seraya
berkata : "Keluarga paman Yap kami sama sekali tidak
tersangkut dalam peristiwa ini, nenekku dan ibuku juga
bukan orang-orang dunia persilatan, andaikata kau suka
melepaskan mereka pergi, segera akan kuberitahukan
siapakah pembunuh yang sebenarnya"
,,Heee. .heee. "pandai amat kau berbicara" jengek Pek
Koen Gie sambil tertawa dingin. "Baiklah, coba kau
katakan lebih dahulu siapakah pembunuh yang
sebenarnya?"
,,Ketiga orang itu semuanya mati di ujung senjataku,"
sahut Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran"
,,Mayat mereka telah kami buang ke dalam lorong
rahasia keluarga kami, aku rela mengorbankan jiwaku
untuk menebus dosa tersebut."
Meski perkataan itu diutarakan halus, luwes tanpa
emosi namun sikapnya kukuh dan teguh rupanya dia
hendak korbankan selembar jiwanya demi
menyelamatkan seluruh jiwa keluarganya:
"Hemm, polos amat jalan pikiranmu!" jengek Pek Koen
Gie sambil mendengus dingin
,,Orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang bukan
manusia sebangsa gentong nasi yang bisa dipermainkan
seenaknya, dengan andalkan kepandaian silat yang kau
miliki masa mampu untuk mencabut selembar jiwanya
Kwa-Thay"''
"Heng-jie!" tiba-tiba nenek tua berambut putih itu
buka suara, "Nenekmu telah berusia tujuh puluh lima
tahun, sudah masanya bagiku untuk mati kau mohonkan
saja kepada nona itu untuk melepaskan paman Yapmu
sekeluarga, kita orang-orang dari keluarga Chin akan
tetap tinggal di sini."
,,Loo Thay Koen'" mendadak kakek berbaju hijau itu
menyela sambil tertawa tergelak!' Dewasa ini seluruh
penjuru kolong langit telah dijajah oleh kaum iblis serta
manusia-manusia laknat yang terkutuk, bagaimanapun
juga aku Yap See Ciat pernah mempunyai nama besar
dalam dunia persilatan, kini keadaanku terdesak hingga
harus bersembunyi di desa menjadi petani, bila aku tidak
korbankan selembar jiwaku demi keadilan, akan ditaruh
kemanakah selembar wajahku ini?"
Hong po Seng yang mendengar perkataan itu diamdiam
menghela napas panjang pikirnya :
,,Aaai",.jaman apakah ini" kenapa kaum kesatria dan
patriot-patriot gagah hanya bisa main bersembunyi
belaka" sekali unjukkan diri, kematian segera


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengancam jiwa raganya"
Tiba-tiba Pek Koen Gie betseru keras: ,,Bagus! Kalau
memang kalian pingin mati semua, akan kupenuhi
harapanmu semual", ia menoleh dan hardiknya :
,,Gusur mereka semua keluar dari sini dan babiskan
nyawa mereka !"
Dari perubahan wajah dara cantik itu Loe Hoen
Tongcu mengerti babwa majikan mudanya ini benarbenar
sudah naik pitam, keputusan yang diambilpun
bukan gertak sambal lagi, dengan golok tersoren ia
segera melangkah ke depan siap memenggal batok
kepala kakek berambut hijau itu.
Hong po Seng terperanjat menghadapi situasi
semacam itu, cepat-cepat dia mendongak dan tertawa
keras. Suaranya keras, tinggi dan melengking amat menusuk
pendengaran, suaranya jauh lebih tak enak didengar dari
pada isak tangis yang menyedihkan, begitu panjang dan
keras gelak tertawanya sampai air muka semua orang
berubah hebat, darah segar mulai mengucur dan ujung
bibirnya membasahi wajah dan dadanya.
Pek Koen Gie segera meloncat bangun, sambil
mendepak meja hardiknya keras-keras : .,Hong-po
Seng..." apa yang kau tertawakan ?"?"
"Hm . . Hm . , betapa gagahnya perkumpulan Sin Kee
Pang ha .. ha ". . betapa jantannya jago-jago
perkumpulan panji sakti".......
Dengan langkah lebar ia maju kemuka, kernudian
bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut dihadapan dara
ayu itu. Tindakan ini benar-benar luar biasa sekali, kecuali
Siauw Leng si dayang cilik yang mengetahui duduk
perkara sebenarnya, baik para jago dari perkumpulan Sin
Kee Pang maupun para ang-gota keluarga dari Chin Wan
Hong sama2, tertegun dan berdiri melongo, mata mereka
terbelalak lebar-lebar, tak seorangpun mengerti apa yang
sebenarnya terjadi.
Pek Koen Oie sendiri walaupun dalam hatinya memang
ada niat untuk menghina dan mempermalukan si anak
muda itu, namun setelah Hong Po Seng jatuhkan diri
berlutut dihadapannya tak urung ia dibikin terkesiap juga
sehingga untuk beberapa saat lawannya berdiri ter
mangu-mangu. Lama sekali ...... akhirnya ia tertawa seram.
,,Hmm ..... Hmm.. Hong Po Seng, apa maksudmu
berlutut di hadapanku?"
"Apalagi?"" sahut Hong Po Seng sambil angkat
kepalanya." Tentu saja masuk menjadi anggota
perkumpulan Sin Kee Pang! Kesusahan dan kesulitan
hanya bisa dibebaskan dengan kematian, ternyata
kematianpun tidak mudah diperoleh"
Pek Koen Gie betul-betul naik pitam, telapak
tangannya langsung diayun menggaplok pipi sianak
muda itu keras-keras.
Hong po Seng mendengus berat, setelah isi perutnya
terluka ia tak sanggup mengerahkan tenaga dalamnya
untuk melawan, termakan gaplokan tersebut dalam
mulutnya segera terasa ada sesuatu yang mengganjal,
ketika disemburkan ke atas telapak, tampaklah benda itu
bukan lain adalah tiga biji gigi yang berlumurkan darah
segar. OoOoO 5 Pada dasarnya Chin Wan Hong adalah seorang nona
yang balus lembut dan berhati penuh welas kasih,
setelah menyaksikan penderitaan serta penghinaan yang
diterima Hong po Seng, hatinya jadi amat sedih seperti
diiris-iris dengan pisau, ia meraung keras:
,Manusia she Pek! nonamu akan beradu jiwa dengan
dirimu!" Bagaikan macan betina yang terluka ia menubruk ke
arah lawannya dengan suatu tubrukan ganas.
Tempo dulu semasa Yap Soe Cat masih berkelana di
dalam dunia persilatan, dengan andalkan ilmu telapak
dan ilmu pedangnya ia berhasil memperoleh julukan
sebagai "Ceng Lian Kiam Khek" atau si Jago Pedang
rambut hijau, andaikata pada malam ini tiada Oh Sam
yang turun tangan membantu, orang-orang dari
perkumpulan Sin Kee Pang belum tentu bisa menangkap
pertarungan tersebut.
Sekarang. kendati sepasang telapaknya telah
terbelunggu namun setelah menyaksikan Chin Wan Hong
turun tangan, iapun segera genjotkan badannya
mengirim satu tendangan kilat kearah OhSam.
Sayang seribu kali sayang, walaupun kedua orang itu
turun tangan hampir pada saat yang bersamaan, apa
daya kekuatan mereka masih belum sanrgup menandingi
kepandaian lawannya.
Melihat datangnya serangan, Ob Sam segera
mengigos ke samping diikuti secara beruntun ia
melancarkan tiga buah serangan sekaligus ... dalam satu
kesempatan punggung Yap Soe Ciat berhasil dihajar
hingga membuat tubuhnya mencelat keluar dari ruangan,
sedangkan Pek Koen Gie dalam sekali ayunan tangan
saja telah berhasil menotok jalan darah dari Chin Wan
Hong. Pria berusia tiga puluh tahunan yang ikut tertawan
bukan lain adalah putra dari Yap Soe Ciat, melihat.
ayahnya sudah turun tangan diapun segera melancarkan
satu tendangan dahsyat menghajar lambung Loe Hoen
Tong?cu Situasi serba kacau ini mengejutkan bayi dalam
pondongan salah satu keluarga Yap, tangisan keras
dengan cepat bergema memenuhi ruangan, suasana jadi
kacau dan suara hiruk pikuk melanda di mana-mana.
Hong po Seng jadi gelisah bercampur cemas dalam
keadaan yang tertekan batinnya ia tak sanggup
mempertahankan diri, tidak ampun agi si anak muda itu
jatuh tak sadarkan diri. Mendadak terdengar Pek Koen
Gie membentak gusar:
,,Gusur keluar mereka semua siapkan kereta dan
segera lanjutkan perjalanan".
Begitu perintah tersebut diucapkan para anggota
perkumpulan Sin-Kee-Pang segera menggusur para
tawanan keluar dari ruangan salah satu diantaranya
mencengkeram tubuh Chin Wan Hong yang menggeletak
di atas tanah, sedang yang lain mencengkeram tubuh
Hong po Seng. Siapa sangka mendadak Pek Koen Gie me lancarkan
satu tendangan kilat menghajar tubuh orang itu,
membuat tubuhnya mencelat keluar dan ruangan dan
untuk sesaat tak sanggup bangun.
Kemarahan gadis she Pek itu tidak sampai di sana
saja, ia depakkan kakinya ke atas lantai hingga beberapa
ubin retak berserakan setelah itu baru berlalu dari sana.
Suasana dalam ruangan pulih kembali dalam kesunyian
hanya Hong-po Seng seorang masih menggeletak
terlentang di atas tanah, suasana di luar ruangan hening
dan sepi ....... jelas anggota keluarga Chin serta Yap
telah digusur keluar semua dari tempat itu.
Kurang lebih sepenanak nasi kemudian Pek Koen Gie
muncul kembali dari ruang dalam ia melirik sekejap ke
arah tubuh Hong po Seng yang mengeletak di atas tanah
kemudian meneruskan langkahnya menuju ke ruang
depan, Siauw Leng si dayang cilik itu mengikuti di
belakangnya, ia perintahkan dua orang dayang lainrya
menggotong tubuh si anak muda itu berjalan keluar
mengikuti di belakangnya.
Kereta kuda telah siap menanti di beranda luar, para
anggota perkumpulan Sin-Kee Pang cabang kota Seng
Chiu telah menanti semua di bawah undak-undakan
untuk menghantar keberangkatan majikan mudanya.
Setelah turun dari undak-undakan batu, mendadak
dari sakunya Pek Koen Gie ambil keluar sebuah panji
kecil terbuat dari kain kuning sambil menyerahkan benda
itu ketangan Loe Hoen Tongcu pesannya:
"Perintah kepada para kantor cabang di tujuh propinsi,
persengketaan antara perkumpulan Sin Kee Pang dergan
Chin Pek Cuan untuk sementara waktu ditangguhkan
hingga waktu yang tak terbatas, seandaianya orang she
Chin itu yang sengaja mencari gara-gara, diperkenankan
melawan dirinya dan bawa kemarkas besar, tetapi
dilarang mengganggu keselamatan jiwanya, selesai
menyampaikan perintah, Tanda perintah" Hong Loei
Leng ini segera dikirim balik kepadaku!".
Loe Hoen Tongcu mengatakan berulang kali, dengan
tangan gemetar segera menerima angsuran Tanda
perintah tersebut.
Kiranya "Hong Loei Leng"' adalah tanda perintah kelas
utama di dalam perkumpulan Sin Kee Pang, di dalam
perkumpulan hanya Pek Koen Gie serta ayahnya saja
yang masing-masing memegang sebuah.
Organisasi perkumpulan Sin Kee Pang amat luas,
peraturan amat ketat, berjumpa dengan tanda peraturan
itu sama halnya dengan bertemu dengan orangnya
sendiri, dengan panji kecil itu di tangan kemanapun kita
pergi dan apapun yang kita minta segera akan terpenuhi,
sampaipun ingin mencabut jiwa seseorang nanti tak ada
seorang manusiapun yang berani membangkang, saking
besarnya kekuasaan panji tersebut hingga boleh dibilang
hampir sebanding dengan kekuasaan seorang pangcu.
Meski Loe Hoen Toagcu sudah banyak tahun berbakti
kepada perkumpulan Sin Kee-Pang, baru kali ini ia
melihat dan menerima panji kekuasaan tersebut.
Siauw-Leng perintahkan kedua orang dayang itu untuk
menggotong tubuh Hong-po Seng naik ke atas kereta,
sementara Pek Koen Gie setelah memeriksa cuaca
katanya: "Oh Sam kau boleh istirahat sebentar, pilih orang lain
untuk menggantikan sejenak kedudukanmu!".
Selesai berkata ia ulapkan tangannya dan masuk ke
dalam ruang kereta diiringi salam perpisahan dari anak
buahnya. Dalam pada itu udara gelap dan mendung, seorang
lelaki berjubah hitam meloncat naik ke atas kereta
menggantikan Oh Sam sebagai kusir, di tengah ayunan
cambuknya kerata bergerak menuju ke utara.
Dalam ruangan Hong-po Seng berbaring di atas kulit
harimau, Siauw Leng mengganjalkan selimutnya sebagai
bantal pemuda itu. Di bawah sorot cahaya lampu tampak
air mukanya pucat pias bagaikan mayat, noda darah
masih mengotori ujung bibirnya, keadaan pemuda itu
kelihatan mengerikan sekali.
Rupanya dayang cilik ini merasa radaan takut,
terdengar ia berseru :
,,Siocia, orang ini tak bisa diganggu terus-terusan, aku
lihat lebih baik kita lepaskan saja"
"Hmmm! andaikata mau mengganggu dirinya terus
kenapa?" jengek Pek Koen Gie sambil mendengus dingin,
ia merandek sejenak setelah memandang sekejap kearah
dada pemuda itu katanya lagi :
,,Lepaskan jubah luarnya dan buang keluar. Hmmm
sudah ternoda darah ditambah bekas hangus terbakar . .
. Huh . . . sungguh membuat hati orang jadi jemu!"
Siauw Leng melepaskan lebih dahulu ikat pinggang
Horg-po Seng lalu melepaskan jubah luarnya, dari dalam
gentong air ia mengambil sedikit air bersih dan
membersihkan noda darah di atas wajahnya.
Melihat noda darah sudah bersih namun dayangnya
masih saja menggosok wajah pemuda ini tiada hentinya,
kontan Pek Koen Gie mengerutkan alisnya.
,,Eeei .... kenapa sih kau menggosok terus
wajahnya?"" ia menegur. Siauw-Leng tertawa cekikikan.
,,Aku ingin sekali melihat bagaimana sih wajahnya
yang sebenarnya" tampan atau jelek ?"".
,.Cisss", apanya yang menarik. Hmm" coba
rentangkan telapak kanannya", Siauw-Leng mengiakan,
dilihatnya tangan kanan pemuda itu mengepal kencangkencang
dari celah-celah jarinya nampak noda darah,
tapi sekalipun sudah dicoba berulang kali genggaman
tersebut belum berhasil juga direntangkan.
Melihat itu sambil tertawa dayang tadi lantas berseru :
"Kencang amat genggamannya, mustika apa sih yang
sedang dia pegang?"
Sekuat tenaga ditariknya genggaman tangan pemuda
itu, dalam sekali sentakan telapak Hong-po Seng berhasil
juga direntangkan. Ternyata benda yang dipegangnya itu
bukan lain adalah tiga biji gigi, saking kencangnya ia
menggenggam sampai telapaknya terluka dan
mengucurkan darah.
Dayang itu jadi takut, jantungnya berdebar keras dan
untuk beberapa saat lamanya ia tak berani berkutik.
Mendadak terdengar Hong-po Seng merintih lirih,
giginya yang tergerak membuat wajahnya menunjukkan
rasa sakit yang tak terhingga, diikuti badannya tak
berkutik lagi. Air muka Pek Koen Gie berubah hebat, tapi hanya
sebentar saja ia telah berhasil menenangkan kembali
hatinya. ,.Hey, ayoh cepatan dikit, kenapa sih kau duduk
termangu-mangu belaka . .?" tegurnya.
Siauw Leng menjulurkan lidahnya, buru-buru ia
membersihkan telapak tangan si anak muda itu dari noda
darah dan membungkus ketiga biji gigi tersebut dengan
secarik kain. Dari dalam sakunya Pek Koea Gie ambil ke luar sebuah
bungkusan kain, dari dalam bungkusan tadi mengambil
keluar empat buah botol yang berisitan empat macam
obat yang berbeda, ia memilih dua biji di antaranya dan
diserahkan ketangan Siauw Leng.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Menerima dua biji obat itu dayang tersebut
memandangnya sekejap, lalu sambil tertawa ia bertanya:
"Siocia! bukankah obat ini adalah Jien Ci Wan obat
untuk menyembuhkan luka dalam?" lalu obat apa yang
satunya lagi ini?"
,,Obat pemunah untuk luka bekas pukulan Kioe Pit Sin
Ciaog", Hm! cerewet amat kau si budak cilik!"
Habis berkata ia jatuhkan diri berbaring di atas kursi
malesnya. Siauw Leng menghancurkan lilin pembungkus pil
tersebut lalu menjejalkan obat tadi ke dalam mulut
Hong-po Seng, setelah itu dicekokkan pula beberapa
teguk air bersih.
Pek Koen Gie yang sedang berbaring, mendadak
melemparkan selembar kain tersebut. Siauw Leng segera
menyelimuti tubuh Hong Po Seng.
Setelah minum obat si anak muda itu hanya mendusin
sebentar untuk kemudian tertidur kembali dengan
nyenyaknya. Suasana untuk beberapa saat lamanya diliputi
keheningan yang mencengkam, mendadak terdengar
Siauw Leng bertanya sambil tertawa.
,,Siocia, menurut dugaanmu benarkah dia she Hong
po?" "Hmm! perduli amat dia mau she apa?"
,,Dia bilang pernah berhutang budi kebaikan yang
tiada taranya atas diri Chin Pek Cuan, kenapa Chin Wan
Hong tidak mengetahui akan persoalan ini"
.,Kepandaian silat yang dimiliki Chin Pek Cuan meski
tidak terlalu lihay, namun hubungan persahabatannya
amat luas, para jago-jago lihay pada masa yang silam
kebanyakan mempunyai hubungan yang erat dengan
dirinya. Mengenai persoalan ini setibanya di atas gunung
rasanya tidak sulit untuk mengetahuinya"
Siauw Leng mengangguk.
"Dalam gelisah dan cemasnya Chin Wan Hong siap
mengadu jiwa dengan diri Siocia, aku lihat hubungan
mereka berdua belum tentu hubungan biasa saja"
katanya lagi sambil tertawa.
Pek Koen Gie tertawa dingin,
,,Hmm, ngaco belo tidak keruan..., kau anggap segala
persoalan hanya kau saja yang tahu?"
Siauw Leng terbungkam untuk beberapa saat lamanya
ia membisu dalam seribu bahasa.
Sesaat kemudian ia berpaling memandang sekejap
kearah Hong po Seng, lalu ujarnya lagi sambil tertawa:
"Bagaimanapun juga aku tetap merasa bahwa Hong
po Seng mempunyai sedikit keistimewaan yang berbeda
jauh dengan orang lain, hanya saja aku tidak tahu
dimanakah letak keistimewaannya itu!"
Pek Koen Gie mendongak dan memandang sekejap
kearah dayangnya dengan sorot mata tajam, kemudian
melirik kembali ke arah Hong-po Seng katanya ketus:
"Kalau kau berani membicarakan soal Hong-po Seng
sekali lagi, lidahmu segera akan kupotong jadi dua
bagian!" Siauw-Leng tertawa cekikikan, setelah di ancam ia
benar-benar tidak berani berbicara lagi.
Angin masih berhembus kencang dan salju masih
turun dengan derasnya, di tengah getaran bunyi roda
kereta sehari telah berlalu dengan cepatnya"
Daerah sekitar King-Ouw hingga mencapai Propinsi
Su-Cuan sebagian besar terdapat kantor Cabang
perkumpulan Sin Kee Pang, malam itu mereka menginap
di kota Tay Yong.
Ketika kereta berhenti berlari, mendadak Hong-po
Seng tersentak bangun dari tidurnya, lubang hidung
segera mencium bau barum semerbak yang
menyegarkan badan ketika ia membuka matanya
tampaknya ia sedang berbaring di dalam kereta,
sementara ujung gaun Pek Koen Gie persis sedang
menggeser di sisi pipinya ketika dara itu sedang
melangkah keluar dari dalam kereta.
Siauw Leng segera berjongkok di sisi tubuhnya,
terdengar ia menegur sambil tertawa:
,,Bagaimana keadaan lukamu" apakah sudah rada
baikan?" Hong po Seng tidak langsung menjawab, ia bayangkan
kembali semua peristiwa yang barusan dialami setelah itu
balik tanyanya :
,,Semua anggota keluarga Chin dan Yap kini berada
dimana?" Siauw Leng tertegun, ia merasa ucapan dari pemuda
tersebut meski lama sekali tak berubah namun nadanya
kosoag melompong seolah-olah datang dari tempat
kejauhan dan bukan muncul dari mulutnya sendiri, ia
terbelalak dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
"Bagaimana" apakah telah dibunuh semuanya?"
terdengar Hong-po Seng menegur lagi dengan cepasang
alis berkerut. Siauw Leng terperanjat buru-buru sahutnya.
"Aaah! tidak, mereka telah dilepaskan semua!"
Diikuti iapun menceritakan secara bagaimana Pek
Koen Gie telah turunkan perintahnya yang ditujukan ke
seluruh kantor cabang di tujuh propinsi untuk sementara
waktu menunda persengketaan mereka dengan Chin Pek
Cuan. Di samping itu menceritakan pula secara
bagaimana majikannya telah menghadiahkan obat
pemunah baginya.
"Bagaimana keadaan lukamu sekarang?"
Diam-diam Hong po Seng tarik napas panjang dan
mengatur hawa murninya, ia merasa seluruh sumbatan
jalan darahnya telah lancar kembali, jelas luka yang
dideritanya telah sembuh seratus persen, maka ia lantas
menyahut: "Luka yang kuderita sudah hampir sembuh
seperti sedia kala, terima kasih atas pemberian obat
mujarah dari siocia kalian"
Sekali lagi Siauw-Leng dibikin melengak oleh nada
ucapannya yang kosong dan hambar.
,,Eeei, gimanasih kau ini?" serunya sambil tertawa
,,Siociaku berarti pula siociamu, jangan membangkitkan
hawa amarahnya lagi!"."
Hong-po Seng mengiakan, ia singkap selimut yang
menutupi tubuhnya lalu bangkit berdiri dan keluar dari
kereta, Siauw-Leng segera memimpin jalan ke depannya.
Kedua orang itu berjalan menerobosi beberapa buah
halaman lebar dan akhirnya menuju ke sebuah beranda
sempit, dari situ mereka menuju ke sebuah bangunan
loteng yang amat luas.
Dalam ruangan telah disiapkan beberapa buah meja
perjamuan Oh Sam duduk di meja utama sedang
sebagian besar orang yang hadir di sana adalah anggotaanggota
perkumpulan Sin Kee Pang.
Hong-po Seng merandek sejenak di depan pintu,
kemudian ia meneruskan langkahnya menuju ke arah
meja perjamuan.
Siauw-Leng yang menyaksikan keadaan itu buru-buru
meugejar masuk ke dalam ruangan, tapi ia sendiripun tak
tahu bagaimana barus mengatur diri si anak muda ini,
untuk sesaat dayang itu hanya bisa berdiri di depan pintu
sambil memandang bodoh ke arah pemuda tadi.
Ketika Hong po Seng melangkah masuk ke dalam
ruangan, semua anggota perkumpulan Sin Kee Pang
tampak tertegun, tidak terkecuali pula diri Oh Sam
sendiri, namun sebagai seorang jago yang sudah
berpengalaman dalam dunia persilatan dengan cepat ia
dapat mengatasi kericuhan itu, sambil menuding kursi di
sisinya, orang she Oh itu lantas berseru :
,,Hong-po Seng mari duduk di sini!"
Hong-po Seng menurut dan duduk di sisinya ketika
semua orang mendengar bahwasanya Oh Sam
membahasai si anak muda itu sebagai saudara, dengan
cepat pula pandangan mereka jadi berubah, tak
seorangpun di antara mereka berani memandang rendah
dirinya. Menanti semua orang telah ambil tempat duduknya
masing-masing Oh Sam baru berkata sambil menuding
ke arah si anak muda ini:
"Saudara ini she Hong-po bernama Seng, berhubung
suatu kesalahpahaman ia telah membinasakan Tio Cien
Loo Hoe-hoat kita, dan kini kesalahpahaman tersebut
telah diselesaikan, mulai kini la telah berbakti untuk
perkumpulan kita".
Dengan wajah adem dan tiada emosi, dengan sorot
mata seram perlahan-lahan Hong-po Seng bangkit
berdiri, setelah menjura kesekelilingnya ia duduk kembali
di tempat semula, tak sepatah katapun yang diucapkan
keluar. Tampak orang yang berada di hadapannya segera
menjura dan berkata:
,,Siauw-te Tu Cu Siang, atas kebijaksanaan serta cinta
kasih Lo pangcu telah dianugerahi kedudukan sebagai
Tongcu cabang kota Tay-Yong" saudara Hong po mohon
banyak petunjuk darimu!".
Hong-po Seng memperhatikan sekejap wajah Tu Cu
Siang, lalu sahutnya tawar:
"Aku tak berani menerima penghargaanmu!".
Meski ia telah masuk jago anggota perkumpulan dan
belum diserahi jabatan, namun Tu Cu Siang sebagai
pemimpin satu daerah ternyata memandang hormat
terhadap pemuda tersebut, sudah tentu orang yang lain
semakin tak perani bersikap kurangajar.
Tampak orang yang berada di sisi Tu Cu Siang segera
memperkenalkan diri:
"Cayhe bernama Tong Keng, menjabat sebagai Piauw
tauw perusahaan ekspedisi Tay Yong Piauw kiok!".
"Caybe Kho Tian Wie, menjabat ketua dari
persekutuan dagang kota Tay-Yong!" sambung yang lain.
Kata-kata "Cayhe menyambung" menyambung terus
tiada hentinya satu demi satu orang-orang itu
memperkenalkan diri membuat Hong Po Seng makin
mendengar merasa semakin mendongkol.
Rupanva para pedagang kaum hartawan di kota
tersebut seratus persen boleh di bilang sudah tunduk di
bawah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, mereka
khusus mengundang anggota perkumpulan itu untuk
menjabat pucuk pimpinan dengan jaminan perdagangan
mereka bisa berjalan dengan lancar, bukan begitu saja
perjudian, pelacuran serta pajak-pajak lainnya boleh
dibilang merupakan sumber pemasukan yang subur bagi
perkumpulan tersebut, orang lain tidak membicarakan
tentu saja Hong po Seng tak tahu sampai sedalamdalamnya.
Setelah mengalami penghinaan dan rasa malu yang
tak terhingga, dalam sedihnya perangai Hong-po Seng
telah berobah hebat, kini ia jarang bicara tersenyum
ataupun tertawa, girang atau marah tak pernah
ditampilkan di atas wajahnya, wajah yang murung,
dingin dan kaku menimbulkan rasa bergidik dalam
pandangan orang, seakan- akan setiap saat napsu
membunuhnya bisa berkobar.
Selesai memperkenalkan diri arakpun diteguk berulang
kali, sikap Hong po Seng tetap dingin kaku dan jarang
berbicara, untung Oh Sam pandai melihat gelagatTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
banyolan serta pembicaraannya berhasil menyemarakan
suasana perjamuan tersebut.
Jilid 4: Kakek aneh Telaga Dingin
Selesai bersantap, dengan alasan keesokan harinya
masih akan melanjutkan perjalanan Oh Sam dibawah
antaran Tu Cu Siang kembali kekamarnya untuk
beristirahat. Hong-po Seng sendiri setelah menutup pintu, dan
mengatur pernapasannya sejenak, segera meniup padam
lampu lilin dan naik keatas pembaringan untuk
beristirahat. Diam diam pikirnya dalam hati,
,,Setelah kematian gagal kuperoleh sedang
penghinaan serta rasa malu teiah kualami satu-satunya
jalan yang terbaik bagiku adalah meneruskan hidupku
sambil mencari kesempatan untuk membalas dendam
sakit hati ini."
Berpikir sampai disitu matanya jadi pedat dan tanpa
sadar air mata telah mengucur keluar membasahi
wajahnya dengan penuh kebencian ia berbisik:
,,Aku harus membasmi perkumpulan Sin Kee Pang
sampai keakar akarnya, manusia manusia durjana,
manusia laknat dan kaum iblis harus dibasmi habis dari
permukaan bumi, terutama sekali Pek Koen Gie, ia terlalu
mengandalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat
sewenang wenangnya sendiri, orang pertama yang harus
kubasmi adalah perempuan keparat itu !.
Mendadak ia teringat kembali akan ibunya, maka
gumamnya jauh: "Ibu hidup sebatang kara diatas puncak gunung, aku
harus mendapatkan teratai racun empedu api itu agar
cepat cepat bisa kuantar keatas gunung....".
Berpikir sampai disitu ia menghela napas dan
pejamkan matanya untuk tidur.
Ketika fajar baru menyingsing, Siauw Leng sambil
membopong setumpuk pakaian telah berjalalan masuk
kedalam kamar, ia segera memasang lampu lentera
diatas meja hingga suasana dalam ruangan itu jadi
terang benderang.
Selama beberapa hari belakangan ini Hong Po Seng
boleh dibilang lain hidup dalam penderitaan dan siksaan"
ditambah pula luka dalamnya baru saja sembuh: kendati
sekarang ada orang yang berjalan dalam kamarnya
ternyata ia sama sekali tidak merasa, pemuda itu tetap
tertidur dengan pulasnya.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Siauw-Leng langsung mendekati kesisi
pembaringannya, lampu lentera diangkat tinggi tinggi.
diam diam ia memperhatikan raut wajah sianak muda itu
dengan kesemsem.
Tiba tiba ia temukan disamping pembaringan basah
oleh air mata, dayang ini segera tertawa cekikikan:
serunya: .,Hey Hong-po Seng! ayoh cepat baagun, pakai baju
baru, kenakan topi baru dan ayoh merayakan Tahun
Baru. haaah... haaah...."
Teriakan itu mengejutkan Hong-po Seng, ia segera
tersentak bangun dari tidurnya. tampaklah disisi
pembaringan telah tertumpuk satu tumpukan pakaian
baru, pedang baja miliknya terdapat pula diantaranya
bahkan telah diberi sarung kulit ular, disamping itu
terdapat pula seutas tali pinggang berwarna kuning.
Siauw-Leng meletakan lampu lentera itu ke atas meja,
lalu sambil tertawa cekikikan katanya lagi.
.,Ayoh cepatan dikit bersantap, sebentar lagi kita bakal
melanjutkan perjalanan lagi. Aku harus melayani siocia
lebih dahulu !".
Selesai berkata dayang itu segera ngeloyor pergi.
Mernandang turnpukan pakaian baru dihadapannya
Hong po Seng duduk termangu-mangu pikirnya:
" Andaikata aku tidak mencuri makanan maka aku
bakal mati kelaparan, rupanya apa yang diinginkan
manusla belum tentu bisa terpenuhi dengan memuaskan
hati. Aaii..terpaksa aku harus bersikap menuruti kaadaan
yang kuhadapi".
Berpikir demikian maksud hatinya untuk menjadi
anggota perkumpuian Sin-Kee-Pang dan bekerja sambil
menanti kesempatan baik pun semakin teguh.
Sesaat kemudian dua orang dayang masuk kedalam
kamar sambil membawa alat untuk mencuci muka,
selesai berpakaian dan membersihkan muka buru-buru
Hong po Seng sarapan pagi, kemudian setelah
menggantungkan pedang bajanya dipinggang ia keluar
dari kamar. Kereta kuda telah disiapkan diluar, Tu Cu Siang sambil
memimpin anak buahnya menanti disisi kereta, ketika
mellhat Hong-po Seng munculkan diri sambil menjura
san muka penuh senyuman sapanya:
"Hong Po Seng selamat pagi!".
"Selamat pagi Tu heng, terima kasih atas perhatianmu
yang berharga!".
Tu Cu Siang nampak melengak kemudian sambil
tertawa buru burut sahutnya:
"Aaaah, cuma barang yang tak berharga harap
saudara tak usah sungkan-sungkan".
Sementara pembicaraan masih berlangsung. terdengar
suara dentingan nyaring berkumandang datang, Pek
Koen Gie diiringi oleh Siauw Leng telah turun dari atas
undak undakan, Hong Po Seng segera naik keatas kereta
dan duduk disamping Oh Sam.
Ketika tiba duduk didepan kereta biji mata Pek Koen
Gie yang bening melirik sekejap bayangan Hong Po Seng
kemudian masuk kedalam kereta dan menurunkan
horden. Keretapun segera bergerak melanjutkan kembali
perjalanannya menuju kearah utara.
Demikianlah selama beberapa hari mereka
melanjutkan perjalanan disiang hari dan beristirahat
dimalarn hari, suatu saat sampailah kereta mereka
disebelah.utara Keng Ouw, dan memasukt daerah
pegunungan Tay Pa san pusat perkumpulan Sin Kee
Pang. Malam itu kereta mereka berhenti ditengah
pegunungan dan beristirahat sebentar diudara terbuka,
Hong po Seng pun duduk bersemedi diatas kereta
menanti fajar telah menyingsing mereka melanjutkan
perjalanan meenuju kemarkas besar perkumpulan Sin
Kee Pang. Duduk diatas kereta Hong po Seng menyaksikan jalan
raya disebelah depan bercabang jadi tiga baglan,
masing-masing cabang berhubungan dengan bukit ditiga
penjuru, diatas bukit berdiri sebuah benteng dan
sekeliling benteng merupakan bangunan rumah yang
rapat, diatas tiang bendera masing- masing berkibar
sebuah bendera berwarna hitam, terhembus oleh angin
utara panji-panji besar itu berkibar dengan megahnya.
Mendadak terdengar suara terompet berbunyi panjang
diikuti anak panah bersuara berdesingan diangkasa bunyi
mercon bergeletar membelah bumi, dalam waktu yang
singkat suara sorak sorai yang gegap gempita bergema
dari atas markas.
Pek Koen Gie melongok keluar dari jendela dan
menggoyang-goyangkan tangannya ke arah orang-orang
diatas bukit, kurang lebih sepertanak nasi kemudian
kereta mereka sudah menembus dua bukit dan menuju
katebing gunung.
Tengah hari kereta mereka sudah melewati"Sam-
Tong" tiga pos penjagaan terdepan dan beristirahat
sejenak, Tongcu dari "Sam Tong" diiringi para pelindung
hukum, Hiang-cu serta anak buahnya yang berjumlah
hampir melebihi seratus orang banyaknya menyambut
kedatangan putri pangcu mereka dengan upacara yang
megah. Pek Koen Gie setelah berbicara singkat dengan anak
buahnya dan kotak berisi makanan telah diangkut naik
keatas kereta, perjalanan pun dilanjutkan kembali.
Ditengah jalan terdengar suara Siauw-Leng
berkumandang keluar dari balik ruangan yang
mengundang Oh Sam untuk bersantap. Hong po seng
menerima tali les menggantikan kedudukan sebagai
kusir, menanti Oh Sam selesai bersantap sianak muda
itupun disuruh masuk kedalam untuk menangsal perut.
Ketika Hong-po Seng melangkah masuk ke dalam
kereta tampaklah Pek Koen Gte sedang duduk sambil
bertopang dagu, rupanya dara itu sedang memikirkan
satu persoalan, diapun tidak ambil perduli, duduk
didepan meja kecil pemuda itu mulai bersantap setelah
selesai buru-baru ia buka pintu slap meloncat keluar.
"Hong Po Seng..."mendadak Pek Koen Gie menegur.
Sianak muda itu berhenti dan menoleh, "Siocia kau
ada perintah apa?""tanyanya,
"Duduklah lebih dahulu, aku hendak berbicara
denganmu!".
Hong Po Seng balik kedalam ruang kereta lalu duduk
bersila diatas lantai, sikapnya kaku dan tanpa
mengucapkan sepatah katapun ia menantikan gadis itu
buka suara. Dengan sorot mata tajam Pek Koen Gie menatap
wajah pemuda itu tajam tajam, kemudian tanyanya:
.,Bagaimana perasaaanmu setelah rnemasuki daerah
penting dari perkumpulan Sin Kee pang kami?"
Hong Po Seng tertegun untuk sesaat, rupanya ia tak
menyangka kalau pertanyaan itulah yang bakal diajukan
kepadanya, setelah termenung dan berpikir sejenak
jawabnya: "Jago lihay dari perkumpulan Sin Kee Pang banyak
bagaikan mega, dengan kepandaian yang cayhe miliki
boleh dibilang bagaikan kunang-kunang ditengah sorotan
cahaya rembulan".
Pek Koen Gie tertawa dingin.
.,Hmmm.... hmmm.... dalam ruang tengah dan bawah
dari Sam Tong "Belum tentu terdapat jago jago yang
benar benar memiliki ilmu silat lihay, tapi setelah kita
melangkah lebih kedalam maka kepandaian mereka
semua betul betul jauh lebih kosen dari pada dirimu coba
kau berpikir yang cermat lagi apa maksud dan tujuanku
yang sebenarnya menahan dirimu masuk kedalam
perkumpulan Sin Kee Pang ?"
"Cayhe telah menyinggung perasaan siocia sedang
Siocia merasa terlalu keenakan langsung membinasakan
diriku, oleh sebab itu aku sengaja diberi kesempatan
untuk hidup lebih jauh agar kau dapat mempermalukan
dan sehingga dan sehingga diriku sepuas puasnya, cayhe
bodoh tolol, benarkah dugaanku ini?" kata Hong Po Seng
dengan sepasang alis berkerut.
Pek Koen Gie tertawa hambar.
`,Meskipun ucapanmu tidak salah namun belum tentu
semuanya benar, aku bukanlah manusia yang suka
memelihara bibit penyakit dalam tubuh sendiri, andaikata
aku tiada kegunaan lain untuk menahan dirimu." Hmmm,
setelah kuhina dan kupermainkan sepuas puasnya sejak
semula jiwamu telah kubereskan."
Perkataan yang begitu sadis diucapkan dengan nada
tenang hal ini menunjukkan betapa kejamnya hati dara
ayu ini. Hong-Po Seng balas tertawa dingin jengeknya.
"Cayhe bodoh dan tiada berpengetahuan, kepandaian
silat yang kumilikipun sangat cetek, entah apa gunanya
siocia tetap mempertahankan diriku ?"
Mendadak Pek Koen Gie mendongak dan tertawa
terbahak-bahak.
.,Haaaaah."haaaaah...haaaah,... tak nanti kau berhasil
menebaknya . . . !"
Ia merandek sejenak lalu dengan air muka yang jauh
lebih luwes katanya lagi sambil tertawa.
"Berbicara sedikit dengan nada kurang enak manusia
semacam kau adalah sisa sisa dari keturunan kaum
ksatria gagah, manusia semacam dirimu sudah amat sulit
didapatkan pada saat seperti ini, apa lagi orang yang
memiliki kepandaian silat semacam dirimu"
"Pujian dari siocia membuat cayhe merasa bangga dan
kepala besar !"
"Hmmm !" Pek Koen Gie mandengus dingin, wajahnya
berubah menjadi adem kaku.
"Aku harap kau suka berpikir sekali lagi dengan serius,
sebenarnya kau ingin mati atau ingin hidup ?".
,,Tidak gampang ayah dan ibuku mamelihara aku
hingga demikian besarnya, kenapa aku harus mencari
kematian buat diriku sendiri?".
"Siocia, bukankah dia pingin hidup" biarlah dia hidup
lebih jauh! " tiba-tiba Siauw Leng menyela sambil
tertawa. Aaaai.. sebelum obat keparat yang mempolesi
wajahnya hilang dari situ, sunggguh membuat aku jadi
tak tenteram, makan tak enak tidurpan tak nyenyak !".
Kembali Pek Kun Gie mendengus berat.
"Hong-Po Seng! terus terang kukatakan kepadamu,
ayahku mempunyai seorang musuh kebuyutan yang kini
berhasil dikurung dalam perkumpulan Sin-Kee-Pang
kami, dia mempunyai sebilah pedang pendek berwarna
emas yang panjangnya hanya lima coen, namun
tajamnya luar biasa. Pedang pendek itu mempengaruhi
sekali kehidupan kami ayah dan anak bagaimana juga
kami harus mendapatkan pedang tersebut dari
tangannya ".
"Siocia, apakah manusia aneh dibawah jeram yang
kau maksudkan?" tiba-tiba Siauw-Leng menyela dari
samping. "Tutup mulut! siapa suruh kau banyak cerewet".
Siauw-Leng jadi ketakutan buru buru ia tutup
mulutnya rapat rapat dan tundukan kepalanya.
Terhadap dayang cilik ini Hong-Po Seng mempunyai
pandangan yang tidak jelek, melihat ia ditegur segera
timbrungnya: "Setelah orang itu berhasil dikurung, rasanya untuk
mempertahankan selembar jiwanya saja sudah tak
mampu. apa susahnya mendapatkan pedang pendek
yang ia miliki?"".
"Hmmm, pedang emas tidak berada disakunya,
tempat penyimpanan senjata tersebutpun hanya dia
seorang tahu. andaikata tak mau mengaku terus terang
sekalipun selembar jiwanya terancam bahaya, bila kau
jadi aku apa yang harus kau lakukan?"
,,Andaikata cayhe yang menghadapi persoalan itu,
segera kulepaskan orang tadi dari dalam kurungan
"jawab sianak muda itu tanpa berpikir panjang lagi.
Mendengar jawaban tersebut Siauw-Leng kontan
tertawa cekikikan, buru buru ia menutupi mulutnya
dengan tangan. "Bagi kami lebih baik salah membunuh daripada salah
membebaskan dirinya: Dan kini kau sudah tetjatuh
ditanganku. bila kau tak akan berbakti dengan sepenuh
hati, akhirnya hanya jalan kematian yang bakal kau
dapatkan. "Tentang soal ini cayhe bisa memahami".
Sinar mata Pek Koen Gie berkilat, dengan tajam ia
menatap wajahnya sianak muda itu lalu katanya lagi:
"Meskipun perkataan diutarakan demikian. kau masih
mempunyai satu jalan hidup yang bisa kau tempuh".
"Maksud siocia. apakah kau hendak memerintahkan
cayhe untuk pergi mencari pedang emas itu?"''.
Pek Koen Gie mengangguk.
"Seandainya kau beruntung memperoteh pedang
emas itu, perkumpulan Sin Kee Pang kami bisa membuka
sangkar melepaskan burung gereja, kemudian hari tak
akan mencari gara gara dengan dirimu lagi, seandainya
kau masih belum dapat melupakan dendam sakit hati ini,
setiap saat kau boleh datang mencari aku untuk
membalas dendam".
"Maksud siocia bagus sekali, bila kau memang ada
maksud mendapatkan pedang emas itu maka pertama
tama sang pemillk pedang emas itu harus dilepaskan
lebih dahulu, biarlah cayhe membuntuti dibelakangaya.
Perduli tiga atau lima tahun aku pasti akan menguntilnya
terus hingga berhasil mendapatkan pedang pendek itu".
Siauw Leng tertawa cekikikan, seraya menu ding
kearah pemuda itu serunya:


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Waaah....pinter amat kau putar akal menyusun
rencana...andaikata kami melepaskan orang itu,
bukankah kaupun mendapatkan kesempatan untuk kabur
dari tangan kami" hebat benar otakmu...".
"Hmm! idemu ini bukannya tidak termasuk suatu
tindakan yang amat sempurna..."terdengar Pek Koen Gie
berkata dengan suara dingin."cuma sayang sekali ilmu
silat yang dimiliki orang itu tidak berada dibawah
kepandaian silat ayahku sendiri, melepaskan harimau
dari kandang merupakan suatu mara bahaya yang tak
boleh dianggap main main, takutnya justru ia malah balik
menggigit orang".
"Kalau kau tidak percaya dengan jalan pikiranku,
pekerjaan ini jadi lebih sulit untuk dikerjakan, membunuh
orang itu berarti gagal mendapatkan pedang emas ttu,
sebaliknya kalau menyerahkan pedang emas tadi berarti
jiwa sendiri terancam bahaya. andaikata aku jadi dia
maka lebih balk aku mencari jalan kematian saja".
"Kalau dia adalah kau, sejak dulu dulu kau telah
mengaku"teriak Pek Koen Gie gusar.
"Hmmm! kau anggap cara kami orang orang dari
perkumpulan Sin Kee Pang untuk menyiksa orang bisa
dianggap sebagai permainan biasa?"".
"Waaah. kalau soal itu cayhe jadi semakin tidak
mengerti!".
"Kalau dibicarakan sederhana sekali, ilmu silat yang
dimiliki orang itu sangat lihay. tetapi membiarkan dirinya
hidup malah mendatangkan keunggulan bagi ayahku
maka beliau tak sudi melukai dirinya dengan jalan
menyiksa".
"Oooh, Kiranya begitu. waah....sangguh hebat juga
cara orang orang dari perkumpulan Sin Kee Pang
menggunakan orang!".
Pek Koen Gie dapat menangkap nada sindiran dibalik
ucapan tersebut, air mukanya segera berubah jadi dingin
kaku, sorot mata penuh napsu membunuh berkilat diatas
wajahnya, namun Hong Po Seng tetap berlagak pilon, dia
pura pura tidak merasakan akan hal itu.
Setelah suasana hening; untuk beberapa saat
lamanya, air muka Pek Koen Gie berubah jadi lebih
tenang dan ramah katanya.
"Orang itu licik dan banyak akal, sulit bagi kita orang
orang dari perkumpulan Sin Kee Pang untuk mendekati
dirinya, aku akan memberi kesempatan bagimu untuk
menjumpal dirinya dan kau boleh berusaha sendiri
dengan akal cerdikmu andaikata kau berhasil
menemukan kabar berita mengenai pedang emas
tersebut, maka akan kubuka sebuah jalan hidup bagi
dirimu". "Eeei,..bukankah cayhe pun merupakan anggota dari
perkumpulan Sin Kee Pang?" apa sebabnya aku dapat
mendekati dirinya?".
Pek Koen Gie mengerti dibalik ucapan itu pemuda
tersebut menyatakan pula nada sindiran yang tajam,
terapi ia tetap tersenyum ewa, ujarnya lebih jauh:
"Bukankah sudah kukatakan sejak semula, kau adalah
sisa sisa dari keturunan kaum ksatria, dengan
terpancangnya merek emas tersebut kendati sipemilik
pedang emas itu membenci kita orang orang dari
perkumpulan Sin Kee Pang, tetapi belum tentu ia
membenci hatimu, aku rasa otakmu tidak terlalu bebal,
asal kau bisa bermain setan beberapa saat hingga
akhirnya memperoleh kepercayaan dari dirinya, aku rasa
harapan mu untuk sukses tidaklah terlalu sukar".
"Siocia memiliki otak yang tajam. akal yang banyak
dan pikiran yang cerdik, apa salahnya kalau kau
terangkan lebih jauh agar kebingungan cayhe bisa sedikit
terbuka!",
Pek Koen Gie tertawa dingin.
"Setelah terkurung selama banyak tahun dalam
perkumpulan kami, tak urung akan timbul rasa kesepian
dalam hatinya, harapannya untuk melanjutkan hidup
akan semakin menipis, mungkin saja dalam keadaan
seperti ini dia ada pesan pesan atau pekerjaan yang
hendak dititipkan kepadamu, melihat pula usiamu masih
mida, pikiran dan hatimu tidak terlalu jahat, siapa tahu
kalau karena dorongan emosi maka dia lantas buka
beberapa rahasia hatinya kepadamu?"
"Aaah, tidak aneh kalau orang orang dari perkumpulan
Sin Kee Pang pada jeri terhadap dirinya " batin Hong Po
Seng didalam hati. "Rupanya ia bisa menilai sikap serta
perasaan hati seseorang ehmm. kepandaian semacam ini
memang benar benar sangat lihay !".
Berpikir sampai disitu tak tahan lagi hatinya jadi
bergidik, sehingga bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Terdengar Pek Koen Gie berkata lebih jauh:
"Sifat untung untungan tidak akan terlepas dari hati
manusia. seandainya orang itu sudah tertarik kepadamu
siapa tahu kalau dia lantas menerima dirimu sebagai
muridnya atau memandang sebagai sahabat karib, dalam
keadaan begini lingkungan gerakmu bakal semakin
leluasa!".
"Maksudmu aku lantas menggunakan akal melawan
akal dan menanyakan tempat penyimpanan pedang
emas tersebut?"
"Eeeeei ...,mana boleh bertindak secara begitu
gegabah ?" seru Siauw Leng cepat. "KaIau kau bertanya
secara terus terang, orang itu akan segera menyadari
akan maksud tujuanmu"
Sebaliknya Pek Koen Gie berkata sambil mendengus
dingin : "Bencana atau rejeki tiada menentu, hanya manusia
yang mencari jalan menurut caranya sendiri sendiri, kau
boleh bertindak menuruti kehendak hatimu!"
Bicara sampai disini dia lantas ulapkan tangannya.
Hong Po Seng segera bangkit berdiri, membuka pintu
kereta dan siap meloncat keluar.
"Hey Hong Po Seng !" tiba tiba Siauw Leag berseru. "
Tubuhmu berada dimarkas kerajaan Cho hatimu berpikir
kearah kerajaan Han apakah kau sedang berpuri-pura
takluk kepada perkumpulan Sin Kee Pang?"
Rasa mendongkol sianak muda itu dasarnya memang
tiada tempat untuk disalurkun, mendanger seruan itu
dengan nada penuh kebencian segera sahutnya.
"Benar, ucapanmu tepat sekali aku masih mengira
lagakku tiada kelemahannya siapa sangka manusia
rendah dan tak tahu malu masih melihatnya juga, ".
Pek Koen Gie naik pitam, dengan amat gusar ia
ayunkan telapaknya siap mengirim satu pukulan dahsyat,
tetapi ketika dilihatnya Hong Po Seng telah loncat keluar
dari kereta niat tersebut akhirnya diurungkan.
Seraya menutup pintu Siauw Leng berkata kembali
sambil tertawa:
"Bocah keparat itu benar benar kurang ajar ia berani
memaki kita sebagai manusia rendah!"
Dengan pandangan gusar Pek Koen Gie melirik
sekejap kearah dayangnya, kemudian jatuhkan diri
keatas kursi malas dan berbaring.
Ketika malam telah tiba kereta kuda tiba di Sam Tong,
memandang, keempat penjuru tampaklah lampu lentera
memenuhi hampir seluruh bukit dihadapannya, kereta
mereka menerjang masuk kedalam benteng dan berhenti
di ruang dalam.
Ditengah dentuman mercon dari empat penjuru
berkerumun lautan manusia, sebagian besar mereka
terdiri dari kaum wanita dan bocah, ketika Pek Koen Gie
melangkah keluar dari dalam kereta itu segera
dikerumuni banyak orang.
Terdengar salah seorang diantara gerombolan
perempuan perempuan itu berkata:
"Koen Gie cepat pergi keruang Siang-Liong Tim,
sebenarnya para Hoe-hoat dan para Hiangcu akan keluar
menyambut kedatanganmu, Loo pangcu lah yang
menghalangi kepergian mereka".
Pek Koen Gie mengangguk lirih, keluar dari
kerumunan banyak orang ia melangkah kedepan.
Tiba tiba terdengar seorang gadis berseru dari
samping: "Para enghiong hoohan dari pelbagai daerah sedang
memberi ucapan selamat tahun baru kepada loo pangcu,
salah satu diantaranya adalah tamu dari gunung Boe-
Liang san, dia adalah seorang pemuda tampan"
"Sudah kutemui, bukankah dia she-KoK?"" tukas dara
ayu itu dengan nada ketus.
Hong-po Seng mengikuti dibelakang Siauw Leng,
tampak cahaya lampu menyoroti seluruh permukaan,
setelah berjalan beberapa saat lamanya sampailah
mereka didepan sebuah ruangan besar yang megah dan
mentereng beratus-ratus buah meja perjamuan telah di
atur disitu, sekilas memandang ruangan tersebut telah
dipenuhi dengan manusia, suara pembicaraan dan gelak
tertawa berkumandang hingga ketempat kejauhan.
Ketika tiba diluar ruangan besar itu mendadak Pek
Koen Gie menoleh kebelakang dan memberi tanda
kepada Siauw Leng, dayang itu mengiakan dan segera
berkata kepada Hong-po Seng yang menguntil
dibelakangnya: "Ikutilah diriku, akan kuhidangkan makanan yang lezat
untukmu ".
Dasar Hong-po Seng memang tidak irgin memasuki
ruangan besar itu, mendengar seruan dari Siauw-Leng ia
segera mengangguk dan berbelok kesamping kiri.
Setelah berjalan beberapa saat lamanya mereka
membelok kesebuah jalan sempit yang di kelilingi pohon
bambu, cahaya lampu semakin suram dan suara manusia
semakin jauh. Setelah keluar dari jalan sempit ditengah pohon
bambu kembali mereka berjalan lagi beberapa saat
lamanya. Diam-diam Hong Po Seng memperhatikan keadaan
disekeilingnya. ketika ia dilihatnya sekeliling tempat itu
tiada orang lain dalam hati segera pikirnya:
"Saat ini andaikata aku berhasil rnerobohkan Siauw-
Leng maka detik int juga aku bakal bebas dari
pengawasan mereka, tapi kantor cabang perkumpulan
mereka tersebar hampir di tujuh propinsi, jarak dart Sam
tong bagian atas dan bawah pun terpaut hampir seharian
perjalanan kereta kuda, andaikata mereka bisa mengirim
kabar dengan cepat, belum jauh aku berlalu dari sini
diriku pasti akan tertangkap kembali, aaaai.,...apa yang
harus kulakukan?"
Belum habis ia berpikir, Siauw Leng telah berhenti
berjalan, sambil menuding diatas tanah ia letakan
telunjuknya diatas bibir sabagai tanda jangan berisik.
Hong Po Seng mendongak keatas dan memandang
kedepan, dari tampak kejauhan terlihatlah sebuah kolam
yang amat dalam dengan luas puluhan tombak
terbentang didepan mata, suasana gelap gulita tak
nampak gerakan air pada permukaan kolam tersebut.
Kurang lebih lima tombak disekeliling kolam tadi
merupakan gundukan tanah yang menon?jol berjejerlah
bendera bendera warna kuning yang mengitari kolam
tadi, sepintas lalu terlihat amat sepi dan sedap
dipandang, Mendadak Siauw Leng enjotkan kakinya melayang
kesisi tubuh Hong Po Seng, lalu bisiknya lirih:
"Panji-panji berwarna kuning itu pangcu kami sendiri
yang mcnancapkan disitu, barang siapa yang berani
melewat batas wilayah yang sudah ditetapkan itu hanya
bisa masuk dalam keadaan hidup dan keluar dalam
keadaan sudah mati."
"Kau tidak usah kuatir, toh aku datang kemari alas
perintah dari siocia kalian"sahut si anak muda itu
hambar, selesai berkata ia segera meIangkah maju
kedepan. Siauw Leng segera menarik kembaii tubuh pemuda itu
seraya bisiknya lirih:
"Meskipun kekuasaan perkumpulan kami sangat besar
dan meluas, tapi nona kami sendiri pun tidak berani
melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Pangcu
kami itu, tak berani pergi sendiri kesitu sebaliknya malah
menyuruh kau. jelas nona kami bermaksud sengaja
suruh kau menghantarkan kematian!".
Biji matanya berputar dan memperharikan beberapa
saat lamanya sekeliling tempat kemudian bisiknya
kembali: "Dahulu ada seseorang mendapat tugas dari Pangcu
untuk pergi kesitu melakukan suatu pekerjaan, akhirnya
orang itupun tidak dibiarkan keluar meninggalkan tempat
itu dalam keadaan hidup".
Mendengar sampai disini, Hong Po Seng sudah
mengerti akan maksud hati Pek Koen Gie yang
sebetulnya. diam diam pikirnya:
"Sungguh keji dan telengas hati perempuan itu".
Tapi pikirannya segera berputar, ia merasa situasi
yang mencekam dirinya dewasa ini sudah amat
mendesak, jalan hidup atau jalan mati adalah sama saja
baginya. Maka ia membelai rambut Siauw Leng yang halus dan
tersenyum manis kepadanya kemudian dengan langkah
lebar meneruskan perjalanannya menuju kedepan.
Kali ini Siauw Leng tidak turun tangan menghalangi
perjalanannya, memandang baya ngan punggungnya
yang mulai menjauh ia menjulurkan lidahnya dengan
mata terbelalak sikapnya bimbang, ragu dan gelagapan.
Selangkah demi selangkah akhirnya Hong po Seng tiba
juga ditepi kolam, ia melihat dasar kolam itu amat dalam
sekali hingga sukar di tembusi dengan pandangan mata,
iapun tak dapat melihat jelas apakah didasar telaga
tersebut ada airnya atau tidak.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat
lamanya, akhirnya ia berteriak keras:
"Hey.. apakah dalam telaga ada manusia?"?".
"Eeei..! 'seruan tertahan berkumandang keluar dari
dasar telaga, diikuti suara yang halus, ramah dan penuh
nada kasih sayang menggema datang.
"Disini ada munusianya siapakah kau nak?"'
Mendengar jawaban yang muncul begitu halus, ramah
dan lunak, seketika sianak muda itu merasa sedikit lega
hati sahutnya: .,Boanpwee adalah Hong-po Seng, bolehkah aku
terjun kebawah?"".
"Bolehl Boleh! tentu saja boleh.. anak baik pergilah
kearah sebelah barat daya dan loncatlah tiga tombak
kedepan, Loohu akan menyambut tubuhmu dari dasar
telaga!". "Pepatah kuno mengatakan: Siapa yang mempunyai
rasa permusuhan yang sama akan berpandangan dengan
sinar persahabatan "pikir Hong po Seng dalam hati.
"Kalau memang orang tua itu adalah musuh bebuyutan
dari perkumpulan Sin-Kee-Pang, baik atau jelek ada
baiknya kujumpai dahulu dirinya!"
0000oo0000000 6 KARENA mempunyai ingatan demikian maka ia lantas
mengambil keputusan didalam hati. Teriaknya:
"Loocianpwee, boanpwee segera meloncat turun
kebawah!".
ia mengepos hawa murninya dari pusar dan melayang
kearah barat-daya seperti yang diucapkan kakek didasar
telaga itu. "Slapa sangka baru tubuhnya melayang turun
beberapa tombak kebawah, terdengarlah gelak tertawa
seram menggema memecahkan kesunyian. disusul orang
tadi menjengek dengan nada mengerikan:
"Bocah kecil yang tak tau diri, kematianmu sudah
berada diambang pintu.... Hmmm heeeh...heeeh.... kau
bakal modar didasar telaga ini....".
Hong Po Seng merasa terkejut bercampur gusar
setelah mendengar seruan tadi, belum sempat ingatan
kedua berkelebat dalam benaknya, mendadak hawa
murni dalam tubuhnya buyar tak ada ujung pangkalnya
disusul sang badan meluncur kebawah dengan kecepatan
tinggi. Tiba tiba....segulung tenaga tekanan yang maha
dahsyat dan luar biasa menerjang keluar dari dasar
telaga, begitu hebat gulungan tenaga tadi sehingga
seketika menahan tubuh Hong Po Seng yang nampaknya
Si Rajawali Sakti 8 Pendekar Budiman Hwa I Eng-hiong Karya Kho Ping Hoo Pedang Pelangi 30
^