Pencarian

Bila Pedang Berbunga Dendam 1

Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong Bagian 1


Bila Pedang Berbunga Dendam
Diceritakan oleh SD Liong
JILID I. Musim salju di telaga Se-ou memang indah
mempesona. Bagaikan bidadari sedang bersolek.
Tetapi bagaimanapun juga, dalam hawa yang
sedingin itu, jarang sekali orang berkeliaran di jalan
besar. Salju turun bertebaran, jalan tetutup warna
putih. Hening sepi.
Hanya dibawah pohon Hu tua, masih terdapat
beberapa anak yang tengah bergembira ria bermainmain.
Membentuk boneka dan orang-orangan dari
salju. Ada yang saling timpuk-menimpuk seperti orang
berperang. Gelak tawa membahana riuh rendah.
Diantara delapan anak. yang tengah bermain
membuat orang-orangan salju itu tiba-tiba mereka
berhenti dan memandang ke muka. Dan diujung jalan
yang jauh, tampak sebuah tandu yang dipikul empat
orang lelaki berjalan seperti terbang cepatnya.
2 Tandu Itu bagus sekali buatannya. Keempat
dindingnya terbuat dari kaca jendela sehingga yang
duduk dalam tandu itu dapat melihat pemandangan
diluar. Tetapi ternyata yang duduk dalam tandu itu bukan
seorang hartawan atau orang berpangkat yang pada
umumnya memang mempunyai tandu yang mewah.
Melainkan hanya seorang anak perempuan berumur
14 an tahun. Seorang dara remaja.
Dara itu sebaya dengan anak-anak perempuan yang
sedang bermain-main salju. Hanya bedanya kalau
anak-anak yang bermain salju itu wajahnya
berlumuran salju dan pakaiannya hanya dari kain
kasar. Adalah dara dalam tandu itu berwajah putih
seperti batu pualam, mengenakan pakaian tebal dan
topi dari bulu rase yang mahal harganya.
Berada dalam tandu, dara itu tak henti-hentinya
memandang keluar. Dibelakang tandu, diiring oleh
seekor kuda tegar. Penunggangnya seorang lelaki
setengah tua yang mengenakan mantel warna hijau
gelap. Penunggang kuda itu memiliki alis lebat, sepasang
biji mata besar dan wajah yang gagah. Dia
mencongklangkan kudanya pelahan-lahan mengiring
dibelakang tandu.
Waktu tandu tiba ditempat anak-anak ber main,
beberapa anak yang bermain itu mengunjukkan sikap
macam-macam. Ada yang menyengir, ada yang
sengaja melototkan mata, merentang mulut lebar-
1ebar seperti setan. Sudah tentu dara yang berada
dalam tandu itu tertawa geli.
3 Sekonyong-konyong ada seorang anak perempuan
berteriak keras dan maju selangkah. Dengan
mengangkat segumpal salju yang besar, dia lalu
melontarkan kearah tandu.
Peristiwa itu terjadi secara tak terduga-duga dan
cepat sekali sehingga keempat pemikul tandu yang
tangkas juga tak dapat berbuat apa-apa karena
terlongong-longong.
Bum ......! Gumpalan salju sebesar bola Itu dengan cepat
menghantam tandu. Sebenarnya dara yang di dalam
tandu tidak kena apa-apa, tetapi entah bagaimana
tiba-tiba ia menangis keras.
Melibat itu sekalian anak-anak yang sedang
bermain-main itu tertawa dan bertepuk tangan
kegirangan. Terutama anak perempuan yang melontar
salju tadi, bukan kepalang senangnya.
Keempat lelaki pemikul tandu berhenti me1etakkan
tandu dan salah seorang segera melesat maju
kebelakang anak perempuan tadi, mengulurkan
tangan terus mencengkeram bahu anak perempuan
dan diangkatnya.
"Budak setan, barang kali engkau sudah bosan
hidup, ya?" bentaknya bengis.
Wajah anak perempuan itu pucat seketika. Tetapi
dia tak menangis, malah dengan mata melotot
memandang lelaki Itu.
4 Sudah tentu lelaki itu marah dan mengangkat
tangan hendak menampar anak perempuan Itu. Tetapi
tiba-tiba siku lengannya terasa mengencang keras
sekali. Dia tertegun dan memandang kearah siku
lengannya, hahhhhh....... seketika semangatnya seperti
terbang. Ternyata sikunya telah dililit oleh seekor ular
yang sebesar Jari tangan.
Umumnya pada musim salju, bangsa ular tentu
bersembunyi dalam lubang. Tetapi ternyata ular yang
melilit sikunya itu tampak tangkas dan gesit sekali
gerakannya. Pemikul tandu pucat seketika dan membuka mulut
hendak berteriak tetapi ah, ah..... tidak dapat
bersuara. Dan tepat pada saat itu, dari sebatang pohon yang
penuh berlumuran salju, melayang turun seorang
wanita. Rambutnya terurai kacau dan wajahnya
menyeramkan. "Ma!" serentak anak perempuan Itu pun berteriak.
Keempat pemikul tandu terkejut sekali. lebih-lebih
yang siku lengannya dililit ular itu makin menggigil
keras. Selekas tegak di tanah. wanita itupun bersuit keras
dan ular itupun dengan cepat melepaskan lilitannya
dan meluncur pergi. Keempat pemikul tandu yang
sudah pecah nyalinya itu gopoh mengangkat tandu
dan terus lari ngiprit.
5 Anak perempuan tadi tertawa gelak-gelak dan
mengejek kepada dara yang berada didalam tandu
dengan menyeringaikan muka.
Tepat pada saat itu tiba-tiba muncul seorang lelaki
tua yang berhenti di depan wanita berambut kacau
tadi. Tetapi dia tak bilang apa-apa melainkan hanya
menuding wanita itu dengan jari yang gemetar.
disebabkan bibirnya juga ikut gemetar hendak
mengatakan sesuatu tetapi entah bagaimana rasanya
kerongkongannya seperti tersumbat sehingga tak
dapat mengeluarkan sepatah katapun juga.
Anak perempuan tadi mengangkat muka dan
memandang orang tua itu dengan gembira.
"Jangan bicara dengan mamaku, dia tak mau bicara
dengan manusia!" serunya.
Orang tua itu menghela napas longgar katanya,
"Budak perempuan, in....... ini mamamu" Anak
perempuan itu tak senang, serunya, "Kalau bukan
mamaku mengapa aku memanggilnya mama!'
Tiba-tiba orang tua itu berjongkok untuk
memandang anak perempuan itu. Beberapa saat
kemudian lalu berdiri dan memandang kepada wanita
aneh yang terurai rambutnya. Daging-daging pada
wajahnya tampak berkerunyutan, hatinya kacau tak
keruan. Beberapa jenak kemudian, entah kenapa, dari
pelapuk mata orang tua Itu mulai bercucuran air
mata. 6 Sebenarnya anak perempuan tadi masih
mendongkol. Tetapi ketika melihat orang tua itu
mengucurkan air mata, tiba-tiba dia tertawa, "Lotiang,
kenapa engkau menangis?"
Tampaknya orang tua itu memang berusaha untuk
menahan air matanya agar Jangan sampai mengucur
keluar. Tetapi sesaat si anak perempuan bertanya, air
mata orang tua itu malah tak dapat dibendung lagi,
bercucuran makin deras.
Dengan jari yang gemetar, dia menunjuk pada
wanita yang lehernya berkalung ular, yalah ular yang
telah melilit siku lengan pemikul tandu tadi, kemudian
dengan suara yang dipaksakan dia berseru, "Moaycu......!"
Tetapi wanita itu tak menanggapi dan tetap
menatap pada orang tua itu. Wajahnya sayu,
setitikpun tidak menunjukkan reaksi apa-apa atas
seruan Si orang tua yang penuh keharuan itu.
Dari sikap dan penampilannya itu, jelas
menunjukkan bahwa wanita itu tentu sedang
menderita gempa bumi dalam hati sehingga
perasaannya hancur dan pikirannya tak waras lagi.
Seruan 'moay-cu' atau adikku dari orang tua itu
penuh dengan nada yang haru dan mesra. Setiap
orang yang mendengarnya tentu akan tersentuh
perasaannya. Tetapi ternyata yang dihadapi orang tua
Itu hanyalah seorang wanita yang sudah kehilangan
kesadaran pikirannya dan seorang anak perempuan
yang tak tahu apa-apa. Yang masih polos hatinya
sehingga malah menertawakan orang tua itu.
7 "Hai, pak tua, mengapa engkau ini" Engkau
bertanya sendiri lalu menangis. Dan kemudian engkau
memanggil mamaku dengan sebutan moay-cu. Mesra
sih mesra tetapi apa tidak salah kenal?"
Sambil masih bercucuran airmata, orang tua itu
gelengkan kepala, "Engkau tak tahu. Dia memang
adikku. Bwe-nio, Bwe-nio kecil. Apakah engkau tak
kenal aku" Aku adalah toakomu (engkoh yang paling
besar)' Nada orang tua itu makin rawan sehingga anak
perempuan itu lak mau menertawakan lagi. Dia hanya
terlongong-longong memandang orang tua itu.
Setelah mengusap airmata, orang tua itu menunduk
dan bertanya kepada si anak perempuan, "Anak
perempuan kecil mama orang she Co bukan?"
Wajah si anak perempuan yang semula berseri,
tampak terkejut seketika, serunya, "Ya, benar
mamaku she Co, dan akupun juga she Co."
Anak perempuan itu bicara dengan polos. Bukankah
tak salah kalau ia mengatakan bahwa kalau mamanya
she Co maka diapun juga she Co.
Mendengar kata-kata itu si orang tua makin resah.
Kata-kata anak perempuan itu menunjukkan sampai
dimana pendidikan yang diterima dari mamanya.
Karena mamanya tidak normal pikirannya maka
anaknya juga tak genah bicaranya. Masa dia tak tahu
siapa she dari papanya dan ikut-ikutan pakai she
mamanya. 8 Daging pipi lelaki tua Itu kembali berkerenyutan
dan berkata pula, "Dia.... bernama Bwe nio, bukankah
begitu?" Anak perempuan itu gelengkan kepala, "Entahlah,
aku tak tahu. Selama ini belum pernah aku
mendengar orang mengatakan begitu. Biasanya
orang-orang menyebutnya...... perempuan gendeng,
wanita gila..."
Orang tua itu menghela napas, "Benar, memang dia
adalah adik perempuanku. Dan engkau adalah anak
keponakanku. Siapa namamu?"
"Aku bernama Hen Hong tetapi adakalanya mama
memanggil aku Siau Bwe."
Kembali orang tua itu mengucurkan air mata, "Siau
Bwe, Siau Bwe, benar, tepat sekali. Tetapi mengapa
engkau dinamakan Hen Hong" Aneh sekali nama itu!"
Walaupun masih kecil tetapi Hen Hong itu berwatak
kurang baik. Mendengar kata-kata si orang tua dia
terus deliki mata, "Aneh atau tidak aneh, peduli apa
engkau" Mama telah memberikan nama begitu,
akupun harus memakai nama itu"
Orang tua itu menghela napas, "Bagaimana
keadaan mamamu itu" Apakah dia tak dapat
mendengarkan pembicaraan orang?"
Hen Hong gelengkan kepala, "Tidak begitu. Memang
kalau orang lain yang bicara, dia sedikitpun tak
mendengar. Tetapi, kalau aku yang bicara, dia tentu
menjawab dan bertanya Dia hanya mendengar
bicaraku saja."
9 'Siau Bwe," lelaki tua itu gopoh berseru, "kalau
begitu lekaslah engkau kasih tahu kepadanya bahwa
aku ini adalah engkohnya. Dulu ketika kita berpisah di
gunung Tay-liang-san, dia hanya sebesar engkau.
Tetapi kuyakin.... dia tentu masih ingat kepadaku."
Berkata sampai disitu kembali suaranya menjadi
sember. Hen Hong memandang beberapa jenak
kepada lelaki tua itu lain berteriak, "Ma!"
Wanita aneh itu berdiri seperti patung. Tetapi begitu
mendengar suara Hen Hong, wajahnya segera
berobah berseri ramah dan lalu menundukkan tubuh,
"Ada apa?"
Hen Hong menunjuk pada lelaki tua dan berseru,
"Ma, lotiang yang berada didepan kita ini, engkau
sudah melihatnya belum?"
Rupanya wanita itu baru saat itu tahu kalau di
mukanya terdapat orang. Dia mengangkat muka dan
memandang kepada lelaki tua, serunya menyahut,
"Ya, melihat."
"Bwe Nio, apakah engkau tak kenal aku?" seru
orang tua itu. Cukup keras lelaki itu berseru tetapi rupanya wanita


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aneh tak mendengar.
"Ma, lotiang itu mengatakan kalau dia adalah toakomu,"
kata Hen Hong pula.
Wanita itu menegakkan kepala dan mendengarkan
perkataan Hen Hong dengan wajah yang ramah.
10 Tetapi setelah selesai mendengar, seketika berobahlah
wajahnya. Hen Hong terkejut melihat perobahan air muka
mamanya. dan tiba-tiba pula wanita itu berteriak
keras, "Toako, toako, engkau dimana?"
Sambil berteriak, dia memandang ke sekelingnya.
Orang tua Itu makin deras air matanya, "Bwe Nio, aku
berada di hadapanmu. Engkau tentu tidak menduga,
demikianpun aku. Kalau engkau tak berkalung ular,
tentu aku takkan dapat mengenalimu. Dalam
beberapa tahun ini, engkau apakah...."
Sebenarnya dia hendak bertanya kabar keadaan
adiknya. Tetapi melihat keadaan wanita itu, dia sudah
dapat menarik kesimpulan tak mungkin adik
perempuannya itu dalam keadaan yang enak. Maka
dia tak melanjutkan kata-katanya lagi.
Sambil menangis wanita itu terus lari ke muka dan
menubruk bahu si lelaki tua lalu menangis tersedu
sedan. Sesaat kedua engkoh adik itu saling berdekapan
dalam suasana yang mengharukan sekali. Salju masih
bertebaran turun dari langit sehingga kepala dan
tubuh kedua saudara itu penuh dengan tebaran salju.
Hen Hong, si anak perempuan, hanya memandang
dengan lekat kepada mama dan lelaki tua itu. Dia tak
mengerti bagaimana kisah keduanya tetapi
bagaimanapun dia juga Ikut terharu. Airmatanya pun
berlinang-linang.
11 Seekor kuda tegar lari dengan pesat. Gumpal salju
yang memenuhi jalan diterjangnya sehingga
berhamburan ke empat penjuru. Setelah menyusur
jalan yang cukup panjang akhirnya kuda itu berhenti
di muka pintu sebuah bangunan gedung yang besar.
Pada kedua sisi rumah itu terdapat dua buah
patung batu. Pada umumnya di tempat-tempat
kediaman pembesar atau orang kaya, di muka
rumahnya tentu berhias patung berbentuk singa.
Untuk menambah hawa atau perbawa yang empunya
rumah. Tetapi patung yang berada di depan pintu gedung
itu bukanlah patung singa melainkan patung sepasang
rajawali raksasa. Paruhnya runcing kokoh seperti kait,
bulunya mengkilap seperti besi. Walaupun terbuat
daripada batu, namun ahli yang memahatnya benarbenar
jempol sekali sehingga sepasang burung
rajawali itu benar-benar seperti hidup yang sewaktuwaktu
siap untuk terbang mengangkasa.
Sepasang rajawali itu memang dimaksud Untuk
menunjukkan identitas atau ciri pribadi dari pemilik
rumah. memang sepasang rajawali raksasa itu dalam dunia
persilatan juga mempunyai nama besar. Setiap orang
persilatan apabila hanya mengingat tali persahabatan
dengan pemilik rumah yaitu Thian eng tayhiap atau
Pendekar rajawali langit Kwan Pek Hong, tentu sering
datang berkunjung untuk menghaturkan selamat.
Tetapi apabila orang persilatan itu merasa dirinya
telah banyak melakukan kejahatan dalam dunia
12 persilatan, tentulah mereka tak berani berkunjung dan
lebih baik menyingkir Jauh.
Nama Thian-eng-tayhiap Kwan Pek Hong dalam
dunia persilatan wilayah Kangpak-Kanglam tak
seorangpun yang tak kenal kepadanya sebagai
seorang pendekar besar, pendekar keadilan dan
kebenaran. Dan bukan saja dia dikenal orang sebagal seorang
tokoh yang berbudi dan dikagumi orang, pun setiap
tokoh persilatan tahu bahwa Ilmu silat Kwan Pek Hong
Itu merupakan sebuah aliran tersendiri. Baik ilmu
tenaga luar (gwa-kang) maupun lwekang (tenagadalam)
telah mencapai tingkat yang tinggi. Hal Itu
telah diakui oleh dunia persilatan.
Kembali pada kuda tegar tadi begitu tiba di muka
pintu, penunggangnya yang berumur pertengahan
umur dengan memondong seorang anak perempuan
yang berwajah pucat terus loncat turun dari kuda. Dari
pintu samping segera keluar dua orang pelayan
menyambut kedatangannya dengan hormat, "Siya,
ada peristiwa apa?"
"Apa suhu ada?" tanya penunggang kuda agak
gugup. "Ada," sahut kedua pelayan, "sedang berada di
kebun, menghadapi perapian sambil menikmati bunga
bwe. Socia kan hendak keluar melihat-lihat keindahan
salju, mengapa cepat-cepat sudah pulang.
Pelayan atau budak Itu masih berkata ini-itu tetapi
penunggang kuda itu tak menghiraukan. Dia tak mau
mengetuk pintu besar tetapi berputar masuk ke pintu
13 samping. Dibelakang pintu samping Itu terbentang
sebuah lapangan yang di tengahnya dibelah oleh
sebuah jalan batu marmar.
Pada ujung tanah lapang itu terdapat sebuah
bangunan gedung besar. Orang itu terus masuk ke
dalamnya dan menuju ke kebun belakang. Di kebun
belakang terdapat sebuah empang besar, airnya sudah
membeku jadi es. Beberapa batang sisa pohon teratai,
menyembul keluar dari permukaan es. Kelopak bunga
tertutup salju.
Di tengah-tengah empang besar itu terdapat
sebuah bangunan yang menyerupai sebuah pagoda.
Saat itu dari dalam pagoda terdengar suara orang
tertawa. Perempuan itu segera melintas permukaan
empang, menuju ke pagoda.
"Suhu!" serunya sebelum tiba.
Jendela pagoda itu tersiak dan terdengarlah suara
penyahutan yang bernada serius, "Ada apa, Si Ciau,
mengapa engkau kembali?" Orang itu memang
bernama Si Ciau. Dia gopoh menyahut, "Suhu telah
terjadi peristiwa!"
Baru saja dia berkata begitu dari pagoda telah
terdengar lengking suara seorang wanita berteriak,
"Apa" Terjadi peristiwa" Lalu bagaimana dengan Siau
Ling?" Dan menyusul sesosok tubuh telah melesat keluar
dari pagoda itu. Cepatnya bukan main. Sepintas
seperti seekor burung raksasa yang terbang melayang
dan tahu-tahu sudah muncul di muka Si Ciau.
14 Ternyata dia seorang wanita berumur 40-an tahun,
berpakaian indah. Tetapi sayang wajahnya
menimbulkan rasa muak pada yang melihatnya.
Wajahnya berbentuk muka kuda. Alis sebelah kiri
tebal tetapi yang sebelah kanan tipis. Sepasang
bibirnya cupet tidak dapat merapat sehingga giginya
kelihatan. Hidungnya menjungkat ke atas sehingga
kelihatan lubangnya. Sepasang matanya menonjol
keluar, menampilkan kebengisan.
Melihat wanita itu Si Ciau gopoh mundur selangkah
dan berkata, "Siau Ling sumoay tak kurang suatu
apa." Anak perempuan yang ngamplok di dada Si Ciau
yang semula pucat ketakutan, saat itu tiba-tiba
menangis keras, meronta dan terus lari menubruk si
wanita. Wanita itu dengan serta-merta
menyambutnya. Sebenarnya anak perempuan itu berumur 8 atau 9
tahun. Tidak seharusnya masih minta di gendong.
Tetapi ternyata wanita itu masih membopongnya
seperti anak kecil saja.
"Jangan takut, Sia Ling, jangan takut. Ada mamah
tak usah takut," kata si wanita seraya mengusap-usap
kepala anak perempuan tetapi matanya memandang
dengan melotot kepada Si Ciau.
Si Ciau sebenarnya seorang lelaki yang gagah.
Tetapi dih adapan wanita Itu, dia seperti anjing
mengepit ekor, ketakutan setengah mati.
15 Pada saat itu sesosok tubuh lain juga menyusul
melesat keluar dari dalam pagoda. Dia seorang pria
berumur 50 an tahun. Dengan mengenakan jubah
panjang warna ungu, mukanya tampak merah segar,
gagah perkasa. Dia bukan lain adalah Thian-eng-tayhiap
Kwan Pek Hong. "Ada apa" Siapa yang berani cari perkara itu, lekas
katakan!" serunya.
"Suhu, subo," kata Si Ciau gugup, "apa yang
menimbulkan perkara itu, aku sendiri juga tak tahu."
"Engkau kerja apa" Mengapa tak tahu apa-apa?"
bentak wanita itu.
Ia mengelus-elus kepala dan punggung anak
perempuan yang berada dalam bopongannya. Anak
perempuan itupun mulai berhenti menangis.
Kwan Pek Hong kerutkan alisnya, "Hujin, sudahlah,
jangan ribut dulu. Biarkan Si Ciau memberi
keterangan dengan jelas."
Hujin adalah sebutan dari seorang suami terhadap
isterinya. Dengan begitu wanita itu adalah isteri Kwan
Pek Hong. Dan Kwan Pek Hong begitu sabar dan
sungkan meminta. Dan memang kata-katanya itu
memang nalar. Tetapi sebagal isteri, bukannya saja menerima
permintaan sang suami yang nalar, kebalikannya
wanita itu malah marah, "Kentut! Aku ribut apa"
Anakku dihina orang sampai menangis, apa aku
disuruh diam saja?"
16 Hanya wajah Kwan Pek Hong yang menampilkan
cahaya kemarahan tetapi mulut tak berani
membantah. Dan Si Ciau pun tidak terkejut
mendengar pertengkaran mulut suhu dengan isterinya
itu. Rupanya dia sudah terbiasa mendengar hal
semacam itu terjadi di antara suhu dan isterinya.
Setelah wanita itu selesai menumpahkan
kemarahan, barulah Kwan Pek Hong berkata lagi,
"Baiklah, karena ternyata Siau Leng tak kena apaapa....."
Maksud Kwan Pek Hong, dia hendak menyuruh
muridnya, Si Ciau, untuk memberi keterangan. Tetapi
di luar dugaan, lagi-lagi wanita itu mengamuk dan
memaki-maki. Terpaksa Kwan Pek Hong tidak melanjutkan
katanya. Setelah mengatakan ya, ya, agar isterinya
tidak marah-marah terus, dia lalu mengajak Si Ciau
supaya ikut dia.
Sekali melesat, dia meluncur di atas permukaan
empang yang sudah membeku jadi es. Waktu
melintas, salju yang dilalui itu sedikitpun tidak ada
bekas telapak kakinya. Dengan begitu jeIas, betapa
tinggi ilmu gin-kang atau Meringankan tubuh yang
dimilikinya. Memang bukan tiada alasannya mengapa dunia
persilatan mengagungkan nama Kwan Pek Hong
sebagai seorang pendekar besar. Tentu itu
dikarenakan Kwan Pek Hong memang memiliki
kepandaian hebat yang layak mendapat penghargaan
dan rasa kagum dari orang persilatan.
17 Tetapi Si Ciau yang saat itu mengikuti dibelakang
suhunya, diam-diam tertawa getir. Dia merasa kecewa
tetapi kasihan terhadap suhunya. Di luar orang
menyanjungnya sebagai pendekar besar tetapi
ternyata didalam rumah dia tak lebih hanya seorang
suami yang takut Di hadapan isterinya, Kwan Pek
Hong bukanlah seorang pendekar Rajawali langit yang
disegani melainkan hanya seekor anak ayam yang
berada dalam cengkeraman burung elang.
Mengapa Kwan Pek Hong begitu takut setengah
mati kepada isterinya"
Rahasia itu seisi rumah tak ada yang tahu bahkan
Si Ciau sebagai murid pertama, juga tak tahu. Tak ada
seorangpun yang tahu bagaimana asal usul Kwan
hujin, namanya yang asli dan dari keluarga mana.
Orang hanya tahu bahwa Kwan hujin itu seorang
wanita yang mengerti ilmu Silat, pun ilmu
kepandaiannya bukan kepalang saktinya.
Tetapi orang tak mengaitkan antara kesaktian Kwan
hujin dengan sikap Kwan Pek Hong yang begitu takut
kepada isterinya. karena Kwan Pek Hong sendiri juga
mempunyai nama besar. Kalau Kwan hujin itu
memang hebat, mengapa dunia persilatan tak pernah
mengenal namanya"
Sudah tentu para penghuni seisi rumah tangga
Kwan Pek Hong, kecuali mereka yang sudah bosan
hidup, tentu tak berani untuk menyiarkan tentang hal
Kwan Pek Hong takut pada isterinya itu. Sekalipun
dalam kesempatan dimana salah seorang penghuni
rumah tangga Kwan Pek Hong keluar merekapun tak
berani mengatakan hal itu kepada siapapun juga.
18 Mereka lebih sayang kepalanya supaya jangan
moncrot otaknya dan pada usil mulut.
itulah sebabnya dunia persilatan hanya tahu bahwa


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kwan Pek Hong itu seorang pendekar besar yang
berwibawa dan harum namanya. Tak seorangpun
pernah membayangkan bahwa kalau didalam rumah,
Kwan Pek Hong itu tak lebih dari seekor kutuk alias
anak ayam. Maka walaupun Si Ciau menyayangkan dan kasihan
terhadap suhunya tetapi seperti seluruh penghuni
rumah tangga Kwan Pek Hong, diapun tak berani
menyatakan suatu apa.
Setelah meninggalkan paseban belakang, kedua
suhu dan murid itu keluar dari rumah dan telah tiba di
sebuah pagoda kecil di taman bunga barulah Kwan
Pek Hong berhenti disitu.
Lebih dulu Kwan Pck Hong memandang ke
sekeliling. Setelah melihat tak ada orang lain kecuali
mereka berdua, dia baru berkata dengan pelahan
kepada muridnya, "Si Ciau, bagaimana keadaan
wanita yang berkalung ular itu?"
Waktu bertanya tentang wanita itu wajahnya
tampak tegang. Si Ciau yang sempat memperhatikan
perobahan wajah suhunya, menduga kalau disitu tentu
terselip sesuatu. Tetapi dia tak berani bertanya.
"Dia seorang perempuan gila, mukanya kotor,
rambutnya panjang terurai sehingga sukar dibedakan
dia itu perempuan atau lelaki," katanya.
"Dimana engkau bertemu dengan mereka?"
19 "Di ujung jalan dekat gili-gili sungai."
Kwan Pek Hong mengangguk, "Baik, aku akan
melihat kesana. Engkau tinggal saja disini, kalau
subomu nanti bertanya, katakan kalau aku hendak
mencari orang yang telah mengganggu Siau Leng,
mengerti?"
"Suhu...."
"Kenapa?"
Si Ciau menghela napas, "Suhu, engkau seorang
enghiong (pendekar gagah), mengapa......"
Belum selesai Si Ciau berkata, wajah Kwan Pek
Hong merah padam dan tangannya gemetar. Tampak
sikapnya seperti orang yang sedang menghadapi
musuh besar. "Si Ciau," serunya dengan suara yang menahan
kemarahan, "apakah engkau sudah bosan hidup?"
Jelas kalau Kwan Pek Hong sudah dapat menangkap
apa yang hendak dikatakan muridnya.
Si Ciau menghela napas dan tak berani melanjutkan
kata-katanya. Kwan Pek Hong berputar tubuh lalu
melangkah keluar dan terus menuju ke pintu gedung.
Dua orang tukang kebun membukakan Pintu.
Kwan Pek Hong tidak suruh mereka menyediakan
kuda. Dia terus melesat lari ke jalan. 0rang-orang di
jalan yang bertemu dengan dia serentak berhenti dan
memberi salam dengan hormat.
20 Kwan Pek Hong menuju ke tepi telaga Se ou Saat
itu salju sudah berhenti. Tanah salju yang habis
dilintasinya selalu meninggalkan telapak kaki yang
dalam. Hal itu menunjukkan kalau dia sedang kacau
pikirannya. Waktu dia tiba di gili-gili tanggul tiba-tiba dari arah
belakang terdengar suara derap langkah orang. Kwan
Pek Hong tertegun.
Sret, seret! dua sosok tubuh melesat dari samping
dan mendahuluinya.
Setombak jauhnya tiba-tiba kedua orang itu
berhenti dan berpaling, "Ai, apakah bukan Kwan
tayhiap?" Kwan Pek Hong memandang ke muka. Kedua orang
yang berada disebelah muka itu yang satu pendek
yang satu tinggi kurus seperti batang tonggak. Sedang
yang pendek, pendek dan gemuk sekali seperti buah
semangka. Dan gerakannya yang begitu cepat dan
lincah tentulah kedua orang Itu memiliki ilmu ginkang
yang hebat. Rasanya Kwan Pek Hong seperti pernah tahu
mereka tetapi entah dimana, dia lupa. Dia seorang
pendekar yang termasyhur. Orang kenal kepadanya
tetapi belum tentu dia kenal setiap orang.
"0, apakah anda berdua ini ........"
Serta merta kedua orang itu memberi hormat, "Ah,
Kwan tayhiap, kami adalah Ong Tiang Cu dan Cu Kiu
sianseng dari puncak Peh Hoa nia di Hunlam.
21 Beberapa tahun yang lalu di Hunlam kami pernah
bertemu dengan Kwan tayhiap."
mendengar itu teringatlah Kwan Pek Hong.
Tetapi waktu mendengar nama puncak Peh hoa nia
di Hunlam mau tak mau hati Kwan Pek Hong
berdebar-debar juga.
Propinsi Hunlam (Yun-nam) merupakan wilayah
sebelah barat-daya yang masih belantara. Puncak
gunung Peh hoa-nia (puncak Seratus bunga) itu
terletak di tengah-tengah wilayah itu. Sebuah gunung
yang boleh dikata tak pernah di jelajahi Orang.
Tetapi di Peh-hoa-nia-tang (Peh-hoa nia timur) dan
Peh-hoa-nia-se (barat), masih dihuni oleh dua orang
tokoh aneh. Yang tinga1 di Peh hoa nia timur adalah
Ci Sui Sianseng, suhu dari kedua orang itu.
Ci Sui sianseng jarang sekali atau hampir tak
pernah datang ke Tiong goan (Tiongkok tengah).
Sampai dimana ilmu kepandaiannya, bagi orang-orang
yang pernah mengunjungi daerah itu termasuk Kwan
Pek Hong, juga sukar mengatakan.
Tetapi ketujuh anak murid Ci Sui Sianseng sering
datang ke Tiong goan. Ketujuh anak muridnya itu
masing-masing mempunyai wajab dan perawakan
yang aneh, ilmu kepandaiannyapun tinggi. Kaum
persilatan menjuluki mereka Tian lam-jit-sian atau
Tujuh dewa tian lam (tian lam sama artinya dengan
hunlam). 22 Selama bertahun-tahun, belum pernah terdengar
berita kalau mereka pernah kalah dengan seorang
tokoh persilatan.
Kalau anak muridnya saja begitu lihay, suhunya
tentu lebih hebat lagi. Itulah sebabnya maka nama Ci
Siu sianseng itu sangat berkumandang di dunia
persilatan. Sedang yang tinggal di Peh-hoa-nia barat, ialah
seorang tokoh hitam yang terkenal sangat
sadis. Dia sering malang melintang dalam dunia
persilatan. Dia mendirikan suatu perkumpulan aliran
agama yang diberi nama Peh-hoa-kau. Dia sendiri
terkenal dengan nama Peh Hoa lokoay atau si tua
aneh dari Peh hoa nia.
Peh Hoa lokoay dapat dianggap sebagai tokoh
paling terkemuka dalam dunia hitam. Ilmu
kepandaiannya Juga tinggi sekali.
Setiap tiga tahun sekali dia selalu
menyelenggarakan pertemuan besar di Peh hoa nia
barat Dia mengundang semua tokoh hitam dari segala
aliran. Dalam pertemuan itu diadakan pesta pora
secara besar-besaran. Tak kalah dengan pesta raja.
Dan setiap tokoh dunia hitam tentu merasa mendapat
kehormatan besar apabila menerima undangan Peh
Hoa lokoay. Maka walaupun tinggal terasing di wilayah Hunlam,
namun dunia persilatan kenal siapa Peh Hoa lokoay
dan menganggapnya sebagai pemimpin dunia
persilatan aliran hitam.
23 Teringat akan Peh Hoa Iokoay, jantung Kwan Pek
Hong berdetak keras. Hal itu memang ada sebabnya
dan dalam cerita ini pada bagian belakang akan
diberitakan tentang hal itu.
Mendengar kedua orang itu memperkenalkan diri
dengan tak acuh Kwan Pek Hong mendesah lalu
berkata, "Harap jiwi berdua jangan banyak peradatan.
Bagaimana kabarnya Ci Sui sianseng?"
"Suhu baik-baik saja," sahut Ong Tiang Cu Si tinggi
kurus, "sejak Kwan tayhiap berkunjung ke Hunlam,
suhu sangat berkesan sekali. Dia ingin sekali
berkunjung ke Tiong-goan untuk mengadakan
kunjungan balasan kepada Kwan tayhiap. Setiap tahun
banyak sekali tokoh-tokoh dunia persilatan yang
datang kepada suhu tetapi yang menjadi angan-angan
suhu untuk mengadakan kunjungan balas itu hanya
kepada Kwan tayhiap saja!'
Kwan Pek Hong memang sudah tahu bahwa seluruh
dunia persilatan sama mengindahkan namanya. Tetapi
waktu mendengar keterangan Ong Tiang Cu, entah
mengapa dia merasa gembira.
Ci Sui sianseng merupakan tokoh dunia persilatan
yang sangat dipuja. Kalau dia begitu mengindahkan
terhadap dirinya (Kwan Pek Hong) sudah tentu makin
menandakan betapa agung namanya dalam dunia
persilatan. "Ah, setiap saat Ci Sui sianseng akan meluangkan
waktu untuk berkunjung ke rumahku tentu akan
kuundang segenap tokoh-tokoh dunia persilatan dalam
sebuah perjamuan kehormatan untuk menyambut
kedatangan beliau," kata Kwan Pek Hong.
24 "Ah, tentu akan wanpwe sampaikan pesan Kwan
tayhiap kepada suhu," kata Ong Tiang Cu. Sebenarnya
dia terus mundur dan siap hendak pamitan tetapi tiba
tiba sutenya yakni si pendek gemuk Cu Kiu berbisik,
"Suko, tidakkah suko menanyakan tentang peristiwa
yang terjadi pada Peh Hoa lokoay?"
Walaupun diucapkan dengan bisik-bisik tetapi Kwan
Pek Hong dapat menangkap. Kembali hatinya tergetar
keras. Ong Tiang Cu mengiakan lalu tanyanya, "Ya, Kwan
tayhiap, apakah Kwan tayhiap tahu peristiwa apa saja
yang akhir-akhir ini telah terjadi pada Peh Hoa
lokoay?" Kwan Pek Hong berusaha untuk menekan perasaan
dan menjawab hambar, "Aku belum sedikitpun pernah
mendengar kabar Itu."
"Sebagian dari kitab pusaka pelajaran ilmu silat
milik Peh Hoa lokoay telah dicuri orang," kata Ong
Tiang Cu, "pencurinya bukan murid Peh Hoa Lokoay
melainkan seorang bujang yang sejak kecil telah
dipeliharanya. Peh Hoa lokoay menaruh kepercayaan
penuh kepadanya, tak tahunya dia malah mencuri dan
membawa kabur kitab pusaka itu!"
Diam-diam Kwan Pek Hong terkejut dalam hati,
tanyanya, "Yang dicuri itu apakah bukan kitab Ik- sukeng
peninggalan Ang Bau locu yang paling
termasyhur di kalangan orang Shia-pay?"
"Benar," sahut Ong Tiang Cu. Kwan Pek Hong
tertegun sejenak lalu menghambur napas, "Kitab
25 pusaka Ik su-keng itu setelah muncul beberapa puluh
tahun yang lalu entah mengalami berapa banyak
pertempuran berdarah baru jatuh ke tangan Peh Hoa
lokoay. Sejak itu tak ada orang yang berani merebut
dari Peh Hoa lokay lagi. Kini kalau kitab itu sampai
muncul dalam dunia persilatan lagi, bukankah berarti
akan menimbulkan malapetaka?"
Ong Tiang Cu mengangguk, "Benar. Baru Sedikit
saja orang persilatan yang tahu akan peristiwa itu.
Meskipun marah tetapi Peh Hoa lokoay terpaksa harus
merahasiakan hal itu. namun bagaimana, lama lama
berita itupun bocor dan tersiar Orang lain berbondong
bondong hendak mengejar. Pencurinya saat ini berada
di sekeliling daerah sini?"
Kwan Pek Hong terkejut, "Datang ke Hang ciu sini?"
dia menegas. "Ya," jawab Ong Tiang Cu, "kedatangan kami ini
juga karena hal itu. Kitab pusaka Ik su keng itu, siapa
saja yang akan mendapatkan, pasti akan menjadi
seorang tokoh sakti. Memang luar biasa sekali kitab
itu!" Kwan Pek Hong mengangguk tetapi tak bilang apaapa
lagi. Dan Ong Tiang Cu serta Cu Kiupun lalu
memberi hormat dan melanjutkan perjalanan lagi.
entah Kwan Pek Hong masih tegak termangu mangu.
Benaknya mulai bergolak. Kitab pusaka Ik-su keng
milik Peh Hoa lokoay dicuri orang, memang
merupakan berita besar di dunia persilatan. Tetapi
sebenarnya pikiran Kwan Pek Hong kacau bukan
karena memikirkan peristiwa itu. Yang menjadi
pangkal kegelisahannya tak lain adalah si wanita aneh
berkalung ular itu.
26 Masih membekas dalam-dalam pada benaknya,
betapa indahnya selama dia hidup di samping wanita
itu untuk beberapa bulan lamanya. Bulan-bulan itu
dirasakan saat yang paling bahagia dalam hidupnya.
Tetapi sekarang, kemanakah dia harus mencari
kebahagiaan itu"
Pelahan-lahan Kwan Pek Hong ayunkan langkah.
Saat itu kecuali hanya dia, di jalanan tak ada lagi
orang yang berjalan. Sambil berjalan dia dapat
mengenangkan pula kenangan yang telah lalu itu......
Waktu Itu pada bulan delapan dan musim dinginpun
sudah menjelang tiba. Tetapi di wilayah Hunlam tak
ada musim dingin. Malah pada musim dingin, di
wilayah Hunlam itu beriklim sejuk seperti dalam


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

musim semi. Sepuluh tahun yang lampau. Pada waktu itu Kwan
Pek Hong juga sudah mengangkat nama sebagai
seorang pendekar yang termasyhur. Pada waktu itu
dia akan menuju ke Su-jwan untuk menemui ketua
partai Go bi pay dan Ceng shia pay Kemudian dia
mengambil jalan melintasi puncak congsan dan tiba di
hunlam, karena mengagumi nama Ci Sui sianseng
maka dia memerlukan berkunjung ke Peh hoa nia.
Sesuai dengan namanya alam di gunung Peh hoa
nia itu memang indah sekali. Pada saat wilayah
Kanglam sedang didekap salju dingin maka di puncak
Peh hoa nia kebalikannya malah sedang bertabur
dengan ratusan bunga yang sedang mekar serempak,
seolah - olah bunga-bunga itu saling berebut untuk
memamerkan kecantikannya kepada dunia.
27 Walaupun seorang pendekar yang tak biasa
bergelut dengan ilmu sastera dan syair tetapi dalam
lingkung alam yang seindah itu, mau tak mau
hatinyapun tersengsam sekali. Dia membiarkan
dirinya dibawa jalan perlahan-lahan oleh sang kaki
agar sang mata dapat memandang sepuas puasnya
keadaan alam sekeliling.
Karena terlena dengan keindahan alam, dia sampai
tak memperhatikan arah. Dan terus berjalan ke arah
muka saja dan tahu-tahu pada waktu petang hari, dia
baru terkejut. Surya silam seperti berada di sebelah depan itu
menandakan kalau dia sedang berjalan ke arah barat.
Kedatanganya ke Peh-hoa-nia itu adalah untuk
mengunjungi Ci Sui sianseng. Tetapi kalau dia tiba di
Peh-hoa nia barat, bukan saja tidak akan bertemu
dengan Ci Sui sianseng, dia malah akan berhadapan
dengan murid-murid jahat dari Peh-hoa-kau.
Dia terkejut. Dia segan sampai bentrok dengan Peh
Hoa lokoay dan anak muridnya. Cepat dia hentikan
langkah. Dalam rimba belantara di pedalaman
Hunlam, banyak sekali kabut beracun. Pada saat
matahari terbenam, mulailah kabut beracun itu
berhamburan keluar, memancarkan lima warna. Kwan
Pek Hong tak berani melanjutkan perjalanan pada
malam hari. Dia mencari lereng bukit yang tinggi dan
kebetulan menemukan sebuah gua yang cukup bersih.
Dia menyalakan korek. Setelah menyuluhi keadaan
gua, barulah dia rebahkan diri. Suasana gua yang
bersih dan tenang menyebabkan tak berapa lama
kemudian dia terlena tidur. Entah berapa lama, dia
28 terkejut karena telinganya didebur bumi yang
menggetarkan derap kaki orang. Cepat dia duduk,
Sekeliling gua gelap gulita sehingga ia tak dapat
melihat apa-apa. Tetapi dia dapat menangkap suara
napas terengah engah dan sepasang lelaki perempuan
yang tengah mendatangi dengan gopoh. Jelas
keduanya sedang ke gua situ.
"Bagus, sepasang laki perempuan itu tentu murid
jahat dari Peh-hoa-kau. Mereka akan mengadakan
pat-pat gulipat di sini. Takkan kulepaskan mereka
berbuat tak senonoh," pikir Kwan Pek Hong sembari
diam-diam kerahkan tenaga dalam. Selekas mereka
muncul, tentu akan dihantamnya.
Kedua pendatang itu tiba-tiba hentikan langkah.
Dan berkatalah yang lelaki dengan suara cemas,
Moay-cu, baik engkau sembunyi di sini, jangan keluar.
Pintu gua akan kututup dengan gundukan batu besar
sehingga orang tak mungkin dapat menemukan
engkau!" Yang perempuan kedengaran menangis,
"Toako,engkau sendiri bagaimana?"
Aku tak takut, kata si lelaki, "lo-koay itu tentu
takkan menduga kalau aku yang membawamu lari.
Moay-cu, aku sih tak mengapa, tetapi engkau tidak
boleh tidak harus lolos. Apakah engkau tak
memperhatikan, beberapa hari yang lalu betapa
menyala sinar matanya ketika melihat engkau. Jika
nafsunya berkobar, dikuatirkan engkau akan menjadi
gundiknya yang nornor 27. Maka jangan bimbang
lekaslah engkau meloloskan diri dari tempat neraka
ini. 29 "Toako, kuharap engkau baik-baik menjaga dirimu,"
kata si perernpuan dengan terisak.
"Ya, kutahu" jawab si lelaki, "kalau ada
kesempatan, aku tentu akan melarikan diri dan
mencarimu di dunia persilatan. Paling tidak
bersembunyilah dalam gua ini selama tiga hari.
Lokoay tentu takkan menduga kalau engkau
bersembunyi di tempat yang dekat. Lewat beberapa
hari lagi kalau orang yang disuruh mengejarmu itu
kembali dengan kosong, tentulah mereka segera akan
melupakan engkau."
Si perempuan hanya mengiakan dengan suara
terisak lalu terdengar suara langkah kaki. Tentulah
yang lelaki ke luar dari gua dan pada lain saat
terdengar suara orang mendorong batu dari pintu
guapun gelap. Sudah tentu Kwan Pek Hong dapat mendengar jelas
pembicaraan kedua orang tadi. Diam-diam Ia malu
dan menyesal karena salah menduga kepada kedua
orang itu. Dikiranya kalau mereka itu anak murid Peh
Hoa lokoay yang tidak genah mau mencari tempat
untuk berzinah. Tetapi ternyata mereka adalah
sepasang saudara kakak beradik yang sedang
berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Peh
Hoa lokoay. Setelah pintu gua ditutup, wanita itu masih terus
menangis sedih. Sebenarnya setelah tahu keadaan
wanita itu, Kwan Pek Hong menaruh kasihan dan
bersimpati. Beberapa kali dia hendak berseru menegur
perempuan itu tetap tak jadi.
30 Dia kuatir, jangan2 perempuan itu karena kaget
terus menjerit sekeras kerasnya sehingga membuat
kaget lelaki yang berada di luar gua. Dan kedua
kalinya, Kwan Pek Hong sendiri juga merasa kikuk dan
takut. Bahwa Kwan Pek Hong telah digunakan sebagai
pendekar besar di dunia persilatan, setiap orang
persilatan pasti sudah tahu. Tetapi dan aliran mana
ilmu kepandaiannya dan siapakah gurunya, tak ada
seorang persilatanpun yang tahu.
Memang pernah ada orang yang memberanikan diri
untuk bertanya kepada Kwan Pek Hong, tetapi Kwan
Pek Hong hanya tertawa dan tak menyahut, Oleh
karena menyelidiki rahasia perguruan orang itu
termasuk pantangan besar bagi orang persilatan, oleh
karena Kwan Pek Hong tak mau mengatakan maka
orangpun tak berani mendesak lagi.
Sebenarnya ilmu kepandaian Kwan Pek Hong itu
diperoleh dari isterinya. Memang Kwan hujin
mempunyai sejarah kehidupan yang hebat. Nanti pada
bagian terakhir dari cerita ini pembaca akan
mengetahui. Oleh karena ilmu kepandaiannya berasal dari
isterinya maka Kwan Pek Hong pun jeri dan patuh
kepada isterinya.
Dia tak berani main-main di luaran, terutama
terhadap wanita, dia menyingkir jauh-jauh. Karena
kalau sampai isterinya mendengar ada berita-berita
tentang tingkah lakunya diluaran suka main-main
dengan wanita, wah, celaka nanti.
31 Bahwa pada saat itu ketika berada dalam goa dia
hanya terlongong-longong tak berani buka suara
ketika melihat gadis cantik itu, adalah karena sebab
itu. Beberapa waktu kemudian barulah tangis gadis itu
mulai reda. Dan Kwan Pek Hong mulai tegang. Dia
berpikir, gua itu termasuk dalam wilayah Hunlam yang
jauh sekali dari tempat tinggalnya. Apa salahnya kalau
dia mengajak bicara dengan gadis itu" masa ada
orang yang tahu!
Padahal orang yang mengembara dalam dunia
persilatan, bertemu dan bicara dengan wanita yang
belum dikenal, bukanlah suatu hal yang
mengherankan. Tetapi karena begitu mendalam rasa
takut Kwan Pek Hong terhadap isterinya maka
sebelum terlaksana keinginannya untuk bicara dengan
gadis itu. Hatinya sudah berdebar debar keras.
Beberapa saat kemudian setelah perasaannya
tenang barulah dia mulai membuka mulut dan berseru
dengan suara berbisik, "nona .......... Jangan takut......"
Walaupun Kwan Pek Hong sudah berusaha menegur
dengan pelahan dan ramah tetapi karena datangnya
begitu tiba-tiba, mau tak mau gadis itu menjerit kaget
juga. "Nona harap jangan berteriak. Kalau engkau
berteriak, anak murid Pek Hoa lokay tentu akan
mendengar. Nanti sukar bagimu untuk melarikan diri!"
Kwan Pek Hong cepat-cepat menyusuli keterangan.
Setelah berdiam sejenak dengan masih ragu-ragu
gadis itu berseru, "Engkau.... Apakah bukan orang dari
Peh Hoa lokoay?"
32 "Bukan, aku pejalan yang kebetulan berada di
tempat ini."
"Jangan coba menipu aku," kata gadis itu, "disini
daerah gunung Peh-hoa-nia sebelah barat, siapa
berani datang kemari" Kalau engkau tak mau bicara
dengan jujur, jangan salahkan kalau akan kulepaskan
ular berbisa untuk mengggigitmu!"
Kwan Pek Hong hendak menerangkan dengan
isyarat tangan tetapi ditempat gelap tentu tak terlihat
oleh si gadis maka segera dia berseru, "Jangan,
jangan lepaskan ular berbisa. Keteranganku tadi
memang sungguh-sungguh"
Gadis itu diam beberapa saat baru berkata lagi,
"Engkau datang dan luar daerah" Perlu apa engkau
datang kemari" Apakah hendak masuk menjadi anak
buah Peh-hoa-kau?"
"Tidak nona," buru-buru Kwan Pek Hong
menerangkan, "aku sebenarnya hendak mengunjungi
Bok Thiat sianseng tetapi karena kesengsam dengan
keindahan alam aku sampai tersesat tiba di Peh-hoania
barat. Dan karena kemalaman, terpaksa aku
berteduh disini."
Gadis itu menghela napas, "Memang sebaiknya
jangan ikut Peh-hoa-kau. Kalau engkau mau
mendengar nasehatku, kukatakan Peh - hoa - kau itu
bukan tempat yang layak untuk berteduh."
Setelah mendengar suara gadis itu lemah lembut
dan merdu, nyali Kwan Pek Hong bertambah besar.
Dia membayangkan betapakah wajah gadis itu. Dan
ketika gadis itu memberi anjuran yang begitu baik,
33 makin besarlah keinginan Kwan Pek Hong untuk
melihat bagaimana wajah gadis itu.
Menurutkan arah suara si gadis, Kwan Pek Hong
maju setengah langkah dan tiba-tiba dia menyalakan
korek api. "Hai, mau apa engkau" Lekas padamkan korekmu!"
begitu api menyala, si gadis kaget dan berteriak.
Oleb karena hanya ingin melihat wajah Si gadis,
maka Kwan Pek Hong pun lalu meniup koreknya. Dia
pun menyadari, walaupun pintu gua telah ditutup
dengan batu besar tetapi toh masih ada celah-celah
kecil. Kalau didalam gua memancar penerangan tentu
dapat diketabui orang.
Tetapi sehabis meniup padam korek, Kwan Pek
Hong masih terlongong-longong seperti patung.
Mengapa" Seumur hidup dia belum pernah melihat seorang
wanita yang sedemikian cantiknya seperti gadis yang
berada di hadapannya itu.
Gadis itu baru berusia sekitar 20 an tahun.
Walaupun wajahnya agak pucat, tetapi malah makin
memancarkan kulitannya yang putih bersih sehingga
sepasang biji matanya yang hitam makin tampak
menonjol. Mengenakan pakaian warna kelabu, rambut
terurai sampai ke bahu.
Waktu Kwan Pek Hong terpesona memandangnya
dengan heran. 34 Kwan Pek Hong seorang pria yang cakap dan gagah
memiliki wibawa. Walaupun dalam ke adaan
terlongong-longong seperti orang tolol, tetapi tetap
menampilkan profil seorang pria yang membuat hati
gadis-gadis berdebar-debar.
Gadis Itu juga diam dan Kwan Pek Hong pun masih
tegak terlongong. Hanya satu yang mengejutkan Kwan
Pek Hong yaitu bahwa gadis yang secantik itu
mengapa pinggangnya berlilit seekor ular kecil tetapi
panjang. Menilik bentuk badan si ular yang gepeng,
jelas tentu sejenis. ular yang amat beracun sekali.
Separuh tubuh ular itu melilit pada leher si gadis
dan yang separoh melilit pinggang, sepintas mirip
orang bersabuk dan berkalung.
Ular apalagi ular berbisa, sebenarnya merupakan
binatang yang ganas dan mengerikan. Tetapi berada
pada tubuh si gadis, ular itu tidak buas malah


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

merupakan semacam perhiasan yang menimbulkan
kesan bahwa gadis itu bukan manusia biasa melainkan
seorang dewi yang turun ke bumi.
Ihhh.... tiba-tiba mulut Kwan Pek Hong mendesis
kaget karena batang korek sudah menyala sampai
pangkal dan menyengat jarinya. Dia lepaskan korek
itu dan seketika tempat itu gelap lagi. Namun dia
masih tegak termangu-mangu saja.
Entah berselang berapa saat, baru kedengaran dia
berseru dengan lembut, "Engkau sungguh cantik
sekali bagaikan seorang dewi."
35 Walaupun dengan berbisik tetapi karena keadaan
gua itu sunyi sekali maka gadis itu dapat
mendengarnya juga.
"Ah, jangan terlalu berlebih.-lebihan memuji orang,"
bisik gadis itu.
Selama ini belum pernah Kwan Pek Hong memuji
wanita. Isterinya jelek dan ganas. Tak pernah dia
mengeluarkan sepatah kata memujinya.
Karena itu walaupun sudah berusaha untuk
menekan perasaan dan ditempat yang gelap. Tak
urung setelah mengeluarkan kata-kata itu, hati Kwan
Pek Hong berdebut keras, dia kuatir gadis itu tidak
mendengar tetapipun kuatir kalau gadis itu akan
mendengar. Malau rasanya.
Baru setelah gadis itu menjawab dengan kata-kata
yang tidak mencelanya bahkan bernada gembira,
barulah hatinya lega, "Tetapi memang sungguh, ya,
sungguh ......" gopoh dia berseru.
Gadis itu tertawa pelahan, "Engkau.... gagah dan
berwibawa, tentu juga seorang persilatan Siapa
namamu?" Sudah tentu Kwan Pek Hong makin meriah
perasaannya, "Aku orang she Kwan nama Pek Hong.
Ya, memang orang persilatan tetapi dengan nama
kecil, orang menyebut...."
Sebelum Kwan Pek Hong seleai berkata, gadis itu
sudah menukas, "Kutahu. engkau Thian eng tayhiap
Kwan Pek Hong!"
36 Bukan main girang Kwan Pek Hong. Ternyata
namanya berkumandang jauh ke sudut penjuru
sehingga setiap orang tahu. Hal itu sebenarnya dia
sudah tahu dan tak heran. Tetapi entah bagaimana,
bahwa gadis itu juga tahu namanya, dia mendadak
gembira luar biasa.
'Ya, benar," sahutnya, "kiranya nona juga sudah
tahu namaku yang rendah itu."
Gadirs itu berkata riang, "Kalau engkohku tahu
bahwa begitu melarikan diri aku terus bertemu dengan
Kwan tayhiap, dia pasti gembira sekali. Kwan tayhiap,
orang-orang yang datang dari daerah Tiong-goan,
sering mengatakan tentang namamu. Sungguh tak
kira katau engkau..... masih muda dan..... dan begitu....
ramah...... Kwan Pek Hong rasakan sukmanya seperti
melayang-layang di alam nan indah.
"Nona, siapakah namamu yang mulia?"
"Aku orang she Cu, nama Bwe Nio."
Diam-diam Kwan Pek Hong sudah mengukir nama
Bwe Nio itu dalam lubuk hatinya. Dan tak terasa
mulutnya berulang-ulang menyebut nama Itu, seolah
seperti orang yang menghafalkannya agar jangan
terlupa. Dan entah bagaimana gadis itu menyahut
pelahan, setiap kali namanya disebut.
Pada saat itu Kwan Pek Hong seperti terbenam
dalam lamunan yang indah. Keduanya telah terlibat
dalam pembicaraan yang asyik sekali. Kemudian
mereka merasa bahwa mereka hanya membuangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
37 buang waktu saja dalam pembicaraan. Mereka merasa
kata-kata tak dapat mewakili hati mereka. Kata-kata
bukanlah hati. Dan hati itu menuntut lebih dari katakata.
Merekapun diam karena tak ada kata-kata yang
tepat untuk menyuarakan hati mereka.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba Co Bwe Nio
menangis Tetapi tangis kebahagiaan. Kebahagiaan
yang baru pertama kali itu seorang gadis menikmati
sepanjang hidupnya.
Empat hari telah lewat mereka menikmati
keindahan hidup yang amat berbahagia. Mereka lalu
keluar dari gua dan menuju ke sebuah lembah yang
sunyi. Mereka seperti dimabuk kebahagiaan dan
merasa bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Mereka lupa bahwa masih ada orang ketiga yang akan
marah. Sebulan telah berlalu, dua bulanpun lewat. Pada
saat itu barulah Kwan kek Hong tersadar dari
impiannya yang indah. Dia teringat bahwa di
rumahnya masih ada isteri yang menunggu
kedatangannya. Isteri yang jelek dan galak.
Sebulan kemudian dengan penuh kemesraan dia
memberi ciuman kepada Co Bwe Nio yang masih
tergolek dalam impian. Lalu dia menuju ke sebelah
timur gunung untuk mengunjungi Thi Swi sianseng.
Tetapi setelah meninggalkan tempat kediaman Thi
Swi sianseng, timbullah kegelisahan Kwan Pek Hong.
Sebenarnya dia ingin kembali kepada Co Bwe Nio.
Tetapi bagaimana dengan isterinya yang menunggu
dirumah itu" Kalau terlalu lama isterinya pasti akan
menyusul dan kalau sampai ketahuan dia bersama
38 dengan seorang gadis cantik, wah, celaka. Bukan saja
dia akan dibunuh, pun gadis yang tak tahu apa-apa itu
pasti akan dibunuhnya juga.
Alkhirnya rasa takut kepada sang isteri lebih besar
dari cintanya kepada Co Bwe Nio. Dia lalu pulang ke
Hang-ciu. Untung isterinya tak curiga dan tak
menanyakan apa-apa.
Hari2 bahagia bersama si cantik Bwe Nio,
merupakan kenangan yang paling indah, seindah
impian, bagi Kwan Pek Hong.
Dia bagaikan bermimpi bertemu dengan seorang
bidadari. Tetapi dia merasa, itu bukan impian
melainkan peristiwa yang benar-benar terjadi. Dia
hanya mengharap, mudah-mudahan dia mempunyai
kesempatan untuk bertemu dengan Bwe Nio lagi.
Hari demi hari, tahun berganti tahun, tak terasa 10
tabun sudah lewat. Dan selama Itu Kwan Pek Hong
tak pernah mendengar lagi tentang diri gadis yang
dicintainya itu.-
Hari lewat hari, tahun berganti tahun, tak terasa 10
tahun telah berlalu. Baru pada hari itu ketika
mendengar laporan muridnya, Si Ciau, barulah Kwan
Pek Hong terkejut sekali. Seorang wanita yang
bermain-main dengan ular, demikian laporan Si Ciau.
Apakah wanita itu bukan Co Bwe Nio" Ya, apakah
tidak mungkin kalau jelita yang pernah
bercengkerama dengan dia dalam taman seribu
kenyataan dan impian dulu itu"
Setelah tegak termenung-menung sampai beberapa
waktu barulah Kwan Pek Hong tersadar dari lamunan.
39 Pelahan-lahan dia berputar tubuh dan ketika
mengangkat muka memandang kedepan, dia melonjak
kaget. Tadi karena sedang terbenam dalam lamunan dia
tak sempat memperhatikan apa yang terjadi di
belakangnya. Dan kini setelah dia berputar ke
belakang, ternyata dia telah dikepung oleh lima orang.
Kwan Pek Hong seorang jago yang banyak makan
asam garam dunia persilatan. Menilai wajah mereka,
tabulah dia kalau kelima orang itu tentu mengandung
maksud tak baik.
Kwan Pek Hong agak mengangkat tangan kiri
keatas untuk melindungi dada. Dia tak bicara apa-apa.
Salah seorang dari kelima orang, seorang laki tua
beralis putih, mengangkat tangan memberi hormat
seraya berkata, "Kwan tayhiap" . .
Kwan Pek Hong tak tahu siapa kelima orang itu.
Walaupun mempunyai kesan kalau mereka
mengandung maksud buruk tetapi menilik tadi waktu
dia berdiri membelakangi, mereka tidak menyerang
maka Kwan Pek Hong pun balas memberi hormat,
"Terima kasih, anda berlima ini ....."
"Aku Li It Beng, kepala bagian ruang Thian siu-tong
dari perkumpulan Peh-hoa-kau. Dan ke empat orang
ini adalah anak buah dari ruang Thian-siu-tong kami"
kata lelaki tua itu.
Mendengar nama Peh-hoa-kau, wajah Kwan Pek
Hong mengerut gelap dan mendengus. Dia adalah
seorang kojiu aliran Ceng-pay yang termasyhur.
40 Sudah tentu dia merasa segan berbicara dengan
kawanan anak buah Peh-hoa-kau yang termasuk
golonsan Shia-pay (sesat).
Li It Beng berlima tidak mau menanggapi sikap
acuh dari Kwan Pek Hong itu. Dengan masih bernada
sungkan berkatalah dia, "Kedatangan kami ke Hangciu
ini, memang hendak mencari Kwan tayhiap. Ada
suatu hal yang kami hendak minta keterangan kepada
Kwan tayhiap. Maka sungguh kebetulan sekali kita
dapat bertemu disini!"
"Aku tak mempunyai hubungan dengan Peh hoakau
perlu apa kalian hendak mencari aku"' kata Kwan
Pek Hong dengan nada dingin.
Sejenak Li It Beng memandang ke sekeliling.
Setelah turun salju lebat, empat penjuru sunyi sekali
tak ada barang seorangpun yang kelihatan. Setelah
Itu baru dia berkata, "Kwan tayhiap, ada suatu kata
yang terkandung dalam hatiku, tetapi aku tak tahu.
apakah kata-kata itu layak kukatakan atau tidak!"
Li It Beng berusaha untuk bersikap merendah tetapi
kebalikannya malah menimbulkan kemuakan Kwan
Pek Hong, "Kalian kan sudah dari ribuan li jauhnya,
mengapa tak mau mengatakan secara terus terang
apa maksud kalian ini, agar jangan mengganggu
waktuku!" serunya.
Dengan kata-kata itu jelas menyatakan kalau Kwan
Pek Hong tak suka menyambut kedatangan mereka.
Li It Beng tidak menghiraukan dan sembari tertawa
keras, berseru, "Kwan tayhiap ternyata seorang yang
cekatan dan tangkas bicara. Kami semua tak ada yang
41 tidak mengagumi ilmu kepandaian Kwan tayhiap.
Tetapi kurasa Kwan tayhiap juga takkan memandang
rendah pada ilmu silat dari lain golongan, bukan?"
Alis Kwan Pek Hong yang tebal tampak menjungkat,
"Engkau ingin apa, lekas katakan, perlu apa harus
berputar-putar begitu?"
Dengan nada berat Li It Beng berkata, "Kwan
tayhiap, paling akhir ini ada orang datang dan puncak
Peh-hoa-nia lalu datang Ke tempat kediaman Kwan
tayhiap, benar tidak?"
Mendengar itu Kwan Pek Hong terkesiap, pikirnya,
"Apa maksudnya itu?"
Tetapi sebagai seorang persilatan yang
berpengalaman, sejenak setelah tertegun, dia segera
teringat akan laporan dari Ong Tiang Cu dan Cu Kiu
tadi. Mereka melaporkan tentang hal seorang
anakbuah Pek hoa-kau. Tidakkah pertanyaan Li It
Beng yang melingkar-lingkar itu bukan anak murid
Peh hoa-kau itu yang. dimaksudkan"
Kwan Pek Hong terkejut dan marah sekali. Karena
apabila peristiwa itu sampai tersiar keluar entah
bagaimana nanti jadinya. Bukankah tentu
menimbulkan reaksi besar yang akan membawa
kesulitan bagi dirinya"
"Tidak ada peristiwa itu terjadi di rumahku, engkau
salah alamat," katanya pura-pura tak tahu.
Li It Beng terkesiap, katanya pula, "Kwan tayhiap
seorang tokoh yang menonjol. Apa yang Kwan tayhiap
ucapkan kami tentu percaya. Tetapi banyak kaum
42 persilatan yang mengatakan memang ada peristiwa itu
dan lagi .........".
Li It Beng licin dan licik. Dia tertawa, katanya,
"Waktu kami mengejarnya, dia memang berada di
kota Hang-ciu sini."
Kwan Pek Hong paksakan tertawa, "Sungguh lucu
juga. Orang itu kalau memang datang ke Hang-ciu
tentu akan membawa akibat bagiku"'
Memang kata-kata yang diucapkan Li It Beng masih
bernada menghormat tapi isi kata-katanya memang
sudah tak menurut rel lagi.
"Kwan tayhiap," katanya pula, "nama besar Kwan
tayhiap berkumandang jauh ke seluruh dunia
persilatan Kanglam. Orang itu tidak mengambil jalan
di jalan-jalan yang sepi malah menuju ke Kanglam sini
Tentulah dia mempunyai dendam dengan
perkumpulan kami. Tentulah hanya Kwan tayhiap
seorang yang tahu apa sebab setibanya di Hang-ciu
sini, dia tak mau mengadakan kunjungan kepada
Kwan tayhiap?"
Dengan pengalaman berkecimpung selama hampir
separoh dari usianya maka Kwan Pek Hong pun tahu
bahwa ada kalanya orang persilatan itu fanatik
sehingga sukar menerima penjelasan lain orang. Kalau


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bukan orang itu memiliki latar keluarga yang hebat,
kami yang sudah terlanjur marah, tentu akan
melenyapkan orang itu.
Walaupun marah tetapi Kwan Pek Hong berusaha
untuk menekan perasaannya, ujarnya, "Aku sungguh
tak melihat orang itu. Dan lagi walaupun aku
43 menikmati kemasyhuran nama yang terkemuka, maka
kamipun tak menginginkan kitab itu.
Waktu ketemu dengan dua orang anak murid Thiat
Swi sianseng, tahu kalau satu set kitab pelajaran ilmu
silat aneh itu, telah dibawa lari orang.
Kwan Pek hong mulai meluap lagi hawa
kemarahannya. Dia terus hendak membuka mulut
tetapi tiba-tiba dia melihat wajah Li It Beng berobah
cahayanya. Sudah tentu Kwan Pek Hong terkesiap lagi Namun
dia menyadari bahwa sekali saja sampai kelepasan
omong dengan rombongan murid peh hoa kau apabila
tersiar keluar, resikonya besar sekali.
tentu dia akan didatangi kaum persilatan yang akan
bertanya dan meminta pertanggungan jawab.
Dia duga Li It Beng tentu sudah tahu seluruh
persoalannya. Sebelum dia mengatakan ternyata Li It
Beng sudah mendahului mengatakan kitab pusaka Ihsu-
keng telah dilarikan orang sebagian. Dengan begitu
kedatangan Li It Beng ke kota Hangciu sini, tentu
sudah direncanakan. Dia mendapat kesan bahwa
sebaiknya dia membatasi diri dalam pembicaraan.
Pokoknya, dia menarik kesimpulan bahwa
kedatangan Li It Beng berlima ke kota Hang-ciu
memang sudah direncanakan Jauh hari dulu. Dengan
begitu pula, Li It Beng berlima itu tentu menaruh
kecurigaan terhadap dirinya (Kwan Pek Hong). Wah,
kalau begitu halnya maka sukarlah baginya untuk
menyangkal. 44 Tetapi sebagai seorang tokoh berpengalaman
walaupun dipojokkan Dia menghadapinya dengan cara
tak mau bicara saja. Karena fihak Li It Beng juga diam
maka beberapa jenak lamanya suasana ditempat itu
diam dan sepi. Kalau toh nanti dia harus menjawab,
juga dia tak mau buru-buru memberi jawaban agar
tak menunjukkan kelemahan
Lebih kurang sepeminuman teh lamanya baru
kedengaran Li It Beng berkata dengan nada dingin,
"Kwan tayhiap, dihadapan orang yang tahu tentu tak
berani bicara bohong. Orang ini, jelas Kwan tayhiap
yang telah menerimanya. Dengan memandang muka
Kwan tayhiap, kami, takkan menarik panjang urusan
itu. Tetapi kitab Ih su keng itu harap Kwan tayhiap
berikan kepada kami agar nanti kami dapat memberi
pertanggungan jawab kepada kau-cu kami."
Mendengar kata-kata orang yang menuduh kalau
kitab Ih-su-keng tentu sudah berada di tangannya,
Kwan Pek Hong tak dapat menahan diri lagi, serunya,
"Apa arti kata-katamu itu" Ku katakan, aku tak pernah
bertemu dengan orang itu, apakah engkau tak
percaya?" "Sudah tentu tak percaya!' tiba-tiba diluar dugaan
Li It Beng menyahut dengan nada keras.
Kwan Pek Hong tertawa dingin, "Baik, lalu dengan
cara bagaimana engkau baru mau percaya?"
Li It Beng menggapai dan keempat orang yang
berada dibelakangnya, serentak memencar dalam
bentuk lingkaran kipas. Setelah itu Li It Beng tertawa
dingin, "Jika begitu terpaksa aku ha
45 Cepat sekali Kwan Pek Hong merangkai penilaian.
Dia tak tahu bagaimana asal usul Li It Beng. Tetapi
dari sinar matanya yang tajam, dia tahu kalau orang
itu tentu memiliki tenaga dalam yang tinggi.
Menurut keterangan tadi, Li It Beng itu kepala
Ruang Thian-siu-tong dari Peh hoa-kau. Dan setelah
kehilangan kitab pusaka ih-su-keng, ketua Peh-hoakau
lalu menugaskan Li It Beng untuk mengejar jejak
si pencuri. Jelas bahwa kepercayaan ketua Peh-hoakau
itu tentu bukan tidak ada dasarnya, tentulah
karena Li It Beng itu dianggap sebagai anak buah
yang paling lihai sendiri. Diam-diam Kwan Pek Hong
mendapat kesan bahwa dia tak boleh merendahkan
orang itu. Sambil menimang-nimang Kwan Pek Hong tetap
tegak dengan tenang lalu berkata hambar, "O, apakah
mau mengajak berkelahi" Silahkan!"
Li It Beng tidak menjawab melainkan maju
selangkah. Karena dia paling dekat jaraknya dengan
Kwan Pek Hong maka setelah maju selangkah itu, dia
sudah langsung berhadapan rapat dengan Kwan Pek
Hong. Kwan Pek Hong terkejut melihat tingkah laku orang.
Pada umumnya orang yang bertempur tentu tak mau
secara merapat Apalagi Li It Beng tentu tahu dengan
siapa dia berhadapan. Tetapi nyatanya Li It Beng
sengaja berbuat demikian. Hal itu bagi seorang tokoh
seperti Kwan Pek Hong tentu tak luput dan perhatian.
Dan serentak diapun teringat akan seorang tokoh
dalam dunia persilatan. Cepat-cepat dia loncat
menyingkir. 46 Tetapi berbareng itu, Li It Beng pun sudah turun
tangan. Kedua lengan bajunya bergetar dan entah
bagaimana tahu-tahu tangannya sudah mencekal dua
buah senjata yang aneh bentuknya. Tangan kiri
memegang sebatang tombak pendek, tangan kanan
mencekal sebuah pukul besi.
Tring!, begitu dikeluarkan, kedua senjata itu saling
berbentur dan mengeluarkan bunyi yang tajam sekali.
Dan secepat kilat terus disongsongkan ke muka.
Jika tadi Kwan Pek Hong tidak cepat-cepat
menyingkir, tentu sukarlah baginya untuk menghindar
Untung dalam waktu yang amat singkat dia teringat
bahwa di daerah Kwi say ada sebuah perguruan Lui
kong bun yang memiliki ajaran ilmu silat yang aneh
ialah selalu berkelahi secara merapat. Senjata yang
mereka gunakan, seperti yang digunakan Li It Beng,
yang satu panjang yang satu pendek.
Memang Li It Beng cepat sekali tetapi wan Pek Hong
yang menyingkir tadi lebih cepat lagi oleh karena itu
serangan Li It Beng hanya menemui tempat kosong.
Dan dalam loncat menyingkir tadi dengan cepat Kwan
Pek Hong sudah berputar-putar kebelakang lawan
seraya mengibaskan lengan bajunya untuk menolak
keempat anak buah Li It Beng. Sedang tangan
kanannya segera menerkam tengkuk Li It Beng.
Gerakan Kwan Pek Hong itu memang hebat sekali
tetapi dia tak menduga kalau Li It Beng juga tak kalah
tangkasnya. Setelah serangannya gagal dan
mendengar angin melanda dari belakang, dia terkejut
sekali. Dia tahu lawan tentu sudah berada di
belakangnya. Tanpa berputar ke belakang dia terus
sabatkan kedua senjatanya ke belakang.
47 Ujung tombak menusuk kearah siku lengan kanan
Kwan Pek Hong sedang pukul besi menghantam perut
lawan. Sungguh suatu jurus serangan yang luar biasa
aneh dan dahsyatnya.
Serangan itu, baik Li Ik Beng maupun keempat
anak buahnya tentu mengira kalau Kwan Pek Hong
terpaksa harus mundur. Tetapi ternyata dia tak mau
mundur. Melihat serangan kedua senjata Li It Beng
Kwan Pek Hong cepat enjot tubuhnya ke udara Dia
membubung lurus keatas dan turunnyapun juga lurus
ke bawah. Tetapi dalam saat naik dan turun Itu dia
sudah melakukan gerakan berputar-putar tubuh. Dan
ketika melayang turun, dia melampaui kepala Li It
Beng dan turun dibelakangnya.
Seharusnya Li It Beng tahu kalau lawan tentu akan
melayang turun dihadapannya. Tetapi karena dia salah
hitung, mengira Kwan Pek Hong tentu menghindar
mundur dan diapun sudah mempersiapkan rencana,
apabila Kwan Pek Hong mundur, dia akan berputar
tubuh menyerang lagi.
Tetapi karena ternyata Kwan Pek Hong tidak
menyurut mundur melainkan membubung ke udara,
maka waktu Li It Beng berputar itu, kebetulan Kwan
Pek Hong pun sudah turun. Karena keduanya samasama
berputar tubuh maka Kwan Pek Hong tepat
dapat berada dibelakangnya.
Waktu berhenti berputar, Li It Beng terkejut karena
tak melihat Kwan Pek Hong berada di muka. Dia
terkejut sekali dan menyadari kalau terjadi sesuatu.
48 Cepat-cepat dia hendak berputar kebelakang namun
sudah terlambat.
Diantara sinar kemilau dirasakan kepalanya seperti
tertindih oleh suatu tenaga yang amat kuat dan
berbareng itu terasa suatu arus tenaga dalam yang
lunak mengalir kedalam jalan darah peh-hwe-hiat
diubun-ubun kepalanya sehingga tenaganya menjadi
lemas lunglai. Ternyata pada saat Kwan Pek Hong turun
dibelakang, dengan sebat dia sudah meletakkan
tangannya keatas kepala lawan.
Jalan darah peh-hwe-hiat termasuk salah satu jalan
darah fatal. Letaknya diatas ubun-ubun kepala
Karena jalan darah itu dikuasai Kwan Pek Hong Li It
Beng pun tak berdaya sama sekali.
Melihat pemimpinnya sudah dikuasai lawan
keempat anakbuah Li It Beng berdiri terkesima tak
berani berkutik.
Kwan Pek Hong tertawa dingin, "Li tongcu, kalau
anda hendak bertempur, rasanya masih belum
waktunya. Wajah Li It Beng merah padam, keningnya
berkerenyutan, menandakan getaran rasa malu dan
marah. Tapi apa daya. Dia sudah dikuasai lawan.
"Tetapi," kata Kwan Pek Hong pula, "aku takkan
membunuhmu. Karena kutahu kalau engkau hanya
49 salah faham saja. Sama sekali aku tak punya kaitan
dengan urusan perkumpulanmu!"
Dalam berkata-kata itu tangan kiri Kwan Pek Hong
pelahan-lahan mendorong bahu Li It Beng dan tangan
kanannyapun diangkat. Tahu-tahu Li it Beng terdorong
kemuka sampai 7 - 8 langkah.
Li It Beng cepat berbalik tubuh. Wajahnya tampak
lesi, pucat dan merah tak sedap di pandang. "Tadi
akupun bertemu dengan dua sahabat persilatan.
Mereka juga mengatakan tentang peristiwa yang
terjadi di Peh-hoa-kau. Kabarnya orang itu telah
menuju ke Hang-ciu sini. Tetapi kalau anda terus
mencari ke rumahku, kurasa ini Suatu kekhilafan!"
kata Kwan Pek Hong.
Diam-diam Li It Beng menghela napas lalu
menyahut, "Terima kasih atas kemurahan Kwan
tayhiap yang tidak membunuh aku."
aku tak punya dendam permusuhan apa-apa
dengan anda, perlu apa harus membunuh?" sabut
Kwan Pek Hong. Walaupun cahaya muka Li It Beng masih tak keruan
warnanya tapi dia tak mau berbicara apa-apa lagi. ia
berputar tubuh memberi isyarat kepada keempat anak
buahnya untuk mengikutinya. Tak berapa lama kelirna
orang itupun sudah lenyap.
Sejenak Kwan Pek Hong masih tegak di tempatnya.
Dia gelisah sekali. Mencari wanita ular itu tentu
memakan waktu. Lebih baik dia pulang saja dan suruh
Si Ciau untuk mencari ke segenap pelosok kota.
50 Setelah menetapkan keputusan dia terus lari
pulang. Tetapi ketika tiba di muka pintu rumah, ia
terkesiap kaget.
JILID 2 Memang sudah sepantasnya kalau Kwan Pek Hong
terkesiap kaget ketika memandang ke muka. Di muka
pintu besar, berhenti sebuah kereta yang mewah
sekali. Kemewahan kereta itu terbukti pada gerbong
kereta yang dihias dengan berbagai macam zamrud
ratna mutu manikam yang mahal harganya.
Kereta itu ditarik empat ekor kuda tegar. Keempat
kuda itu berbulu hitam mengkilap tetapi keempat
kakinya berbulu putih. Merupakan jenis kuda yang
jarang terdapat. Seekor kuda semacam itu sudah
sukar didapat, apalagi empat ekor.
Apabila kereta dan kudanya sudah sedemikian
istimewa jelas pemiliknya tentu bukan orang
sembarangan. Kwan Pek Hong segera menghampiri dilihatnya sais
atau kusir kereta itu sedang beristirahat. Dia
menyurutkan tubuh. Dalam bulan delapan yang
hawanya dingin itu, dia hanya mengenakan pakaian
tunggal. Kwan Pek Hong tidak memperhatikan wajah
sais itu melainkan melihat kedua tangan orang itu
berkuku panjang sekali.
Kwan Pek Hong memandang sais dan kereta itu
beberapa jenak. Diam-diam dia merasa heran. Tepat
51 pada saat itu dua orang bujang datang kepadanya dan
berkata dengan pelahan, "Loya, ada seorang tetamu


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

datang. Siya tengah menemaninya."
"Ooo," desah Kwan Pek Hong, "apakah yang datang
dengan kereta ini?" bujang mengiakan.
Dengan rasa heran, Kwan Pek Hong segera
melangkah masuk. Begitu masuk, dia segera melihat
muridnya, Si Ciau, tengah menemani seorang tetamu.
Begitu Kwan Pek Hong masuk, tetamu itu segera
berbalik tubuh.
Waktu melihat tetamu itu, Kwan Pek Hong tertegun.
Ternyata tetamu itu seorang muda yang berbibir
merah dan gigi putih. Wajahnya cakap sekali,
Pemuda itu paling banyak berumur 17- an tahun
tetapi tubuhnya tinggi besar. Mengenakan pakaian
dari kulit rase putih. Pinggangnya menyelip pedang,
membawa penampilan yang mengundang pujian
orang. Sebelumnya Kwan Pek Hong mengira kalau
kedatangan tetamu itu ingin mencari permusuhan
dengannya. Kini setelah mengetahui tetamunya itu
hanya seorang pemuda cakap, diapun tenang kembali.
Melihat Kwan Pek Hong, pemuda itu lalu berdiri.
Waktu Kwan Pek Hong hampir tiba di mukanya,
pemuda itu lalu memberi hormat.
"Kwan tayhiap, wanpwe lancang datang menghadap
kemari, harap tayhiap suka memberi maaf," katanya.
52 Kwan Pek Hong tak kenal siapa pemuda itu dan
bagaimana asal usulnya. Tetapi dengan ketajaman
matanya dia tahu kalau pemuda itu bukan pemuda
sembarangan. Walaupun umurnya masih begitu muda
tetapi memiliki ilmu kepandaian yang berisi.
Hal ini dapat dibuktikan waktu pemuda itu
mengucapkan kata-kata. nadanya bening dan mantap
maka memberi kesan kepada Kwan Pek Hong bahwa
pemuda itu tentu murid dari seorang tokoh ternama.
Kwan Pek Hong membalas hormat dan memberi
isyarat tangan mempersilahkan, "silahkan duduk,
anda ini....?" Sambil berkata Kwan Pek Hong juga
mengambil tempat duduk.
Pemuda itupun duduk, katanya, "Wanpwe orang she
Pui nama Tiok. Atas perintah ayah wanpwe
menghadap Kwan tayhiap."
Diam-diam Kwan Pek Hong menimang dalam hati,
"Orang she Pui" Siapa-apa saja tokoh sakti yang
mempunyai she (marga) Pui dalam dunia persilatan?"
Namun untuk sesaat dia tak teringat. Hanya samarsamar
dia seperti ingat bahwa ketua dari partai
persilatan Tiam jong pay itu orang bermarga Pui,
Tetapi apakah ada anak murid Tiam jong pay yang
mempunyai kepandaian seperti pemuda ini"
"Nama ayahmu bagaimana menyebutnya" Maaf aku
tak ingat lagi," kata Kwan Pek Hong.
Pui Tiok tertawa, "Memang sedikit sekali orang
persilatan yang tahu akan nama ayahku. Tetapi
53 sebutan gelarannya, begitu dikatakan, rasanya tentu
ada orang yang kenal."
Mendengar pemuda Itu, diam-diam merindinglah
hati Kwan Pek Hong Dia tahu bahwa tokoh yang
jarang dikenal dan selalu menyembunyikan nama
aselinya, kebanyakan adalah tokoh-tokoh sakti yang
berwatak aneh. Atau mungkin durjana-durjana besar
dalam dunia Shia-pay.
Dikuatirkan ayah dari pemuda ini juga termasuk
golongan tokoh-tokoh seperti itu. Tetapi karena saat
itu batin Kwan Pek Hong sedang resah, mana dia
sempat untuk menaruh perhatian kepada pemuda itu.
Dia merasa sebal dan wajahnyapun segera
menampakkan rasa kesalnya. Dia tertawa gersang
"Kalau begitu, siapakah nama gelaran dari ayah mu
itu." Apakah aku boleh mengetahui?"
Pemuda itu masih mengulum tawa, tampaknya
ramah sekali sikapnya sehingga orang sukar untuk
marah kepadanya. Sambil tertawa, dia berkata,
"Sepanjang hidupnya, ayah paling gemar dengan
bunga, wataknya nyentrik oleh karena itu mendapat
gelar....."
Belum lagi pemuda itu menyelesaikan kata katanya,
Kwan Pek Hong serentak berbangkit. Karena tenaga
dalamnya tinggi maka sewaktu mendadak berdiri itu,
bajunya telah menghamburkan getaran angin yang
keras. Melihat sikap itu begitu beringas seperti
menghadapi musuh tangguh Si Ciau yang berada
disampingnya, ikut tegang.
54 Tetapi pemuda itu tenang-tenang saja seperti tak
merasa terjadi sesuatu. Sejenak dia berhenti, lalu
melanjutkan keterangannya yang belum selesai tadi
"Dia mendapat gelar Peh Hoa lo-koay!"
Mendengar itu wajah Si Ciau berubah pucat sekali.
Tetapi Kwan Pek Hong yang sudah dapat menduga
sebelumnya silapa gelar ayah dari pemuda itu, tetap
tegak tak kaget.
Wajah Kwan Pek Hong membesi dan berkata
dengan dingin, "Memang benar, sekali gelar ayahmu
disebut memang merupakan sebuah nama besar!"
"Betapapun kumandang nama ayahku bergema,
tetapi dia adalah Lo-kay si tua nyentrik. Kalau
dibanding dengan kebesaran nama anda, jelas tentu
jauh ketinggalan."
Mendengar itu, Kwan Pek Hong dapat menangkap
artinya. Wajahnya agak tenang "Aku dengan ayahmu,
selama ini tiada hubungan. Untuk apa dia menitahkan
engkau datang kemari?"
Dari kata-katanya tadi pemuda Pui Tiok itu seperti
memberi perlambang bahwa kedatangannya itu tak
ada lain maksud kecuali hendak memohon sesuatu
kepada Kwan Pek Hong.
Tetapi bagaimanakah penilaian Kwan Pek Hong"
Setelah tahu bahwa pemuda itu putera Peh Hoa lokay,
diapun menyadari bahwa soal yang akan dihadapinya
tentulah tidak sederhana. Dan serentak diapun lalu
mengaitkannya dengan kedatangan Li It Beng dalam
peristiwa hilangnya kitab Ih-su-keng. Pasti urusan
55 yang akan dihadapinya nanti mempunyai liku-liku
yang sulit. Setelah menetapkan pendirian maka Kwan Pek
Hong pun duduk kembali, katanya, "Entah mengenai
soal apa saja, harap engkau katakan. Dalam kalangan
persilatan, asal mengenai masalah yang layak, aku
pasti akan Setuju."
Pui Tiok tersenyum, "Pernyataan Kwan tayhiap
memang bagus sekali. Ayah mempunyai sebuah kitab
Ih-su-keng yang merupakan catatan-catatan dari ilmu
silat yang sakti. Kabarnya kitab itu sudah jatuh
ditangan Kwan tayhiap maka mohon sukalah Kwan
tayhiap bermurah hati untuk mengembalikannya!"
Karena sebelumnya sudah dapat menduga apa
maksud kedatangan pemuda itu, Kwan Pek Hong tidak
kaget. ia menghela napas.
"Entah siapakah yang menyiarkan kabar itu" Kabar
itu bohong sama sekali dan hanya merupakan isu
saja. Kalau aku sampai tahu dan melihat kitab Ih-sukeng,
biarlah Thian mengutuk aku, kelak akan
menerima kematian yang mengerikan!"
Dia dapat memaklumi setelah kitab pusaka itu
hilang, tentulah Peh Hoa lokoay bingung tak keruan
dan berusaha keras untuk mendapatkannya kembali.
Dan celakanya, orang persilatan menyiarkan kabar
bahwa kitab pusaka itu jatuh ke tangannya. Dengan
begitu tak dapat disesalkan kalau Peh hoa lokoay akan
meminta kepadanya supaya mengembalikan.
Diapun menyadari sia-sia saja dia berbanyak kata
menerangkan kalau dia tak tahu menahu tentang kitab
56 itu maka untuk menyingkat pembicaraan, dia lalu
bersumpah berat dihadapan putera Peh Hoa lokoay.
Dan memang sebenarnya Kwan Pek Hong tak tahu
menahu dan tak pernah melihat apa yang disebut
kitab Ih-su-keng ini. Oleh karena itu dia tak takut
untuk mengangkat sumpah yang sedemikian serius.
"Ah," desah Pui Tiok kiranya Itu hanya isyu dunia
persilatan saja" -
"Benar" kata Kwan Pek Hong, tadi waktu berada di
telaga Se-ou, aku juga bertemu dengan Li tong-cu
orang bawahan ayahmu. Aku juga mengatakan
kepadanya apa yang terjadi sebenarnya. Percaya atau
tidak terserah saja kepada kalian. Tetapi sungguhsungguh
aku tak pernah melihat kitab pusaka Ih-sukeng
itu!" Pui Tiok berdiri dan memberi hormat. Diam-diam
Kwan Pek Hong membatin. Siapakah orang persilatan
yang tak tahu kalau Peh Hoa lokoay itu tokoh yang
nyentrik dan aneh tabiatnya. Tak kira kalau anaknya
ternyata seorang pemuda yang sopan dan bijaksana.
Pemuda itu dapat menerima keterangannya.
Kwan Pek Hong mengira setelah memberi hormat,
tentulah Pui Tiok akan pamitan Tetapi diluar dugaan,
ternyata pemuda itu tidak mengucapkan kata-kata
mohon diri, malah berkata pula "Kalau begitu, aku
hendak mengajukan sebuah permohonan lagi kepada
Kwan tayhiap. Sebenarnya hal ini juga atas kehendak
ayah, bukan maksudku sendiri."
Mendengar orang masih mau mengajukan
permintaan lagi, Kwan Pek Hong tampak kurang
senang. 57 "Soal apa lagi?" tanyanya.
Dengan tenang Pui Tiok berkata, "Waktu wanpwe
hendak berangkat ayah memberi pesan, apabila Kwan
tayhiap bersedia untuk mengembalikan kitab Ih-sukeng
beliau akan merasa berterima kasih sekali. Dan
atas budi tayhiap, ayah akan membalas di kemudian
hari. Tetapi kalau Kwan tayhiap menolak dengan
memberi alasan-alasan, mengatakan kalau belum
pernah melihat kitab pusaka itu, maka...."
"Maka bagaimana?" tukas Kwan Pek Hong dengan
keras. Pui Tiok tertawa kikuk, "Sebenarnya sukar bagi
wanpwe untuk mengatakannya. Tetapi demi memberi
pertanggungan jawab kepada ayah, terpaksa wanpwe
akan mengatakan juga."
Kwan Pek Hong tertawa dingin, "Katakan saja,
masa aku hendak mempersulit engkau?"
"Ya memang Kwan tayhiap takkan berbuat
demikian," kata Pui Tiok,, "ayah mengatakan bahwa
Kwan tayhiap mempunyai seorang puteri kesayangan.
ayah pesan kepada wanpwe agar Kwan siocia itu
kubawa ke Peh-hoa-nia. Kemudian apabila kelak Kwan
tayhiap rindu dan ingin mengambil kembali siocia,
agar Kwan tayhiap suka membawa kitab Ih-su-keng
Itu." Dalam mendengar kata-kata anak muda itu
sebenarnya kemarahan Kwan Pek Hong sudah mau
meledak tetapi karena peristiwa itu terlalu mendadak
sekali datangnya, dia sampai tertegun. Tiba-tiba dia
58 tertawa, bukan tertawa marah melainkan benar benar
tertawa geli. Setelah tertawa beberapa jenak, barulah Pui Tiok
bertanya Lagi, "Entah bagaimana pendapat Kwan
tayhiap dalam soal tadi?"
Diam-diam Kwan Pek Hong menimang.. Kalau
watak penampilan anak muda itu, tak mungkin dia itu
seorang tolol. Tetapi diapun menyadari kalau Peh Hoa
lokoay itu bukan tokoh sembarangan, tak mungkin dia
akan mengutus puteranya yang tolol.
Tetapi jelas anak muda Itu telah mengucapkan
kata-kata yang gila maka Kwan Pek Hong menarik
kesimpulan, kalau anak muda itu bukan manusia tolol
tentulah seorang tunas muda yang amat berbakat.
Kwan Pek Hong hentikan tawanya dan berkata
dengan serius, "Aku sih tak keberatan. Tetapi selama
ini siauli (anak perempuanku) sudah terlanjur manja
dirumah. Kalau dia bisa ikut engkau pesiar ke Pehhoa-
nia untuk menambah pengalaman, itu memang
baik juga. Tetapi aku tak tahu dengan cara bagaimana
engkau dapat membawanya pergi?"
Pui Tiok kerutkan alis, serunya, "Karena Kwan
tayhiap sudah memberi ijin, walaupun sukar tetapi
wanpwe tetap akan melaksanakan juga agar jangan
sampai mengecewakan pesan ayah. Terima kasih
Kwan tayhiap, wanpwe mohon diri sambil berkata dia
terus berputar tubuh.
Tepat pada saat anak muda itu berputar tubuh,
Kwan Pek Hong cepat memberi isyarat mata kepada Si
Ciau. 59 Sejak mendengar pembicaraan Pui Tiok tadi,
memang Si Cian sudah marah tetapi karena suhunya
belum memberi perintah, diapun tak berani bertindak.
Sekarang setelah mendapat isyarat mata darl
SuHunya, bangkitlah semangat Si Ciau. Segera dia
melintang jalan, menghadang Pui Tiok.
"Tunggu dulu!" serunya. "aku hendak bicara
padamu." Pui Tiok hentikan langkah dan bertanya, 'Silakan Siheng
mengatakan."
'Engkau hendak membawa pergi sumoayku yang


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kecil. entah dengan kepandaian apa engkau hendak
melakukan hal itu. Sekarang aku hendak minta
pelajaran dari engkau!"
Kata-kata Si Ciau Itu jelas merupakan sebuah
tantangan. Siapapun kalau mendengar kata-kata
semacam itu tentu marah dan akan bertindak, kalau
tidak mendamprat tentu akan turun tangan.
Tetapi ternyata Pui Tiok tidak demikian. Dia malah
bertanya, "Ya, benar sekari ucapan Si heng itu. Siaute
memang tak becus apa-apa dan bingung mencari akal
bagaimana agar dapat membawa sumoay Si-heng.
Dalam hal ini, apakah Si-heng dapat memberi
petunjuk kepadaku?"
Mendengar jawaban itu mau tak mau Si Ciau
terlongong-longong. Gila, pikirnya, masa aku dimintai
nasehat bagaimana caranya agar dia dapat membawa
60 lari sumoayku" Tolol sekali pemuda itu tetapi ah,
mungkin hanya berpura-pura tolol saja.
Si Ciau juga sudah banyak pengalaman didalam
dunia persilatan maka dia tidak marah melainkan
tertawa, "0, memang aku punya pendapat yang baik.
Cobalah dengarkan"
Sambil berkata dia membawa sikap yang ramah
dan bersahabat yaitu lantas menepuk bahu pemuda
itu. Memang sudah umum kalau orang bersahabat itu
waktu bicara ada kalanya menepuk bahu kawannya.
Tetapi tepukan tangan Si Ciau itu bukan sembarang
tepukan melainkan tepuk yang dilambari dengan tujuh
bagian tenaganya.
Si Ciau mengira tentulah Pui Tiok akan menghindar
oleh karena itu Si Ciau pun sudah siapkan tangan
kirinya. Begitu orang menghindar ke samping, dia
terus hendak menerkam pinggangnya.
Tetapi kenyataannya benar-benar diluar dugaan Si
Ciau. Tepukannya mendarat pada bahu Puil Tiok yang
masih tetap berdiri di tempatnya. Plakk.............
terdengar bunyi tamparan yang keras pada bahu Pui
Tiok. Sudah bertahun-tahun Si Ciau berguru pada Kwan
Pek Hong. ilmu kepandaiannya cukup tinggi.
Tepukannya itu paling tidak ada 200-an kati beratnya.
Tetapi anehnya, waktu menerima tepukan keras Itu
Pui Tiok tak merasa apa-apa bahkan malah tertawa,
"Si toako, tepukanmu itu berat benar, lho! Untung
tulangku cukup kuat, kalau tidak, tentu sudah remuk!"
61 Tampak seperti tak terjadi apa-apa dan malah
tertawa cerah, menunjukkan bahwa tenaga dalam dari
Pui Tiok lebih tinggi dan Si Ciau. Sudah tentu Si Ciau
menyadari hal itu. Dengan wajah sebentar gelap
sebentar pucat dia terus menyurut mundur.
Pui Tiok tidak mau mengurusi melainkan lanjutkan
langkah keluar pintu dan sesaat berputar tubuh
memberi hormat kepada Kwan Pek Hong, "Wanpwe
mohon pamit dulu. Setelah nanti wanpwe menemukan
caranya, barulah wanpwe akan datang lagi untuk
membawa Kwan siocia ke Peh-hoa -nia."
Dengan tenang diayunkan langkah keluar. Kwan
Pek Hong hanya mengantar dengan pandang
matanya. Diam-diam jago tua itu kagum atas
ketenangan sikap anak muda itu.
Ia tak percaya kalau anak yang masih begitu muda
belia akan lebih tinggi kepandaiannya dari dirinya.
Tetapi menilik sikapnya yang begitu tenang dan yakin,
memang mengesankan sekali. Kelak tentu dia akan
menjadi seorang tokoh yang cemerlang.
Kwan Pek Hong hanya mempunyai seorang puteri
tunggal dan tidak punya putera, Diam-diam dia
menghela napas dalam hati. "Kalau saja dia
mempunyai seorang putera seperti Pui Tiok,
betapakah bahagianya....."
Soal puterinya hendak dibawa Pui Tiok ke Peh-hoania,
sudah tentu dengan cara menculik, Kwan Pek
Hong malah tidak menghiraukan karena puterinya itu
siang malam berada dengan mamanya. Betapa sakti
ilmu kepandaian isterinya, mungkin orang luar tidak
62 tahu, tetapi dia tahu dengan pasti. Dalam hal menjaga
keselamatan puterinya, dia percaya penuh isterinya
tentu dapat menjaganya.
Setelah Pui Tiok pergi, dia mondar mandir sembari
memanggul kedua tangan. Tengah dia masih
mengenangkan atas peristiwa yang baru saja terjadi
tadi, tiba-tiba terdengar suara isterinya berseru, "Pek
Hong, apakah wanita itu sudah dapat engkau
ketemukan?"
Waktu mengangkat muka, Kwan Pek Horg melihat
istrinya muncul dengan menggendong puterinya.
Puterinya Itu sebenarnya sudah berumur 10 tahun
tetapi isterinya telah memperlakukannya sebagai anak
kecil saja. Kwan Pek Hong tertawa, "Belum ketemu. Kalau
anak kita tak apa-apa, lebih. baik tak perlu soal itu
diperpanjang lagi!"
Kwan hujin marah sekali, "Anaknya dihina orang
tetapi engkau mandah saja. Percuma saja engkau
disanjung orang sebagai pendekar besar!"
Kwan Pek Hong tertawa getir. Dia tak tahu katakata
apa yang menimbulkan kemarahan isterinya
Kemudian teringat akan ucapan Pui Tiok tadi, dia
tertawa, "Niocu, ada sebuah hal yang lucu, tentu
engkau belum tahu."
Kwan hujin deliki mata, "Soal apa yang Lucu itu?"
"Peh Hoa Lokoay kehitangan kitab lh-su-keng, dunia
persilatan mengabarkan kalau kitab itu jatuh ke
63 tanganku..... Tadi anak laki dari Peh Hoa lokoay datang
kemari untuk menanyakan hal itu"
"Apa?" Kwan hujin menegas "Kukatakan kepadanya
kalau kitab itu tidak ada padaku tetapi apa katanya,
coba kau terka"
"Kalau mau menceritakan, Lekas katakan saja.
Siapa sih yang tahu dia bicara apa kepadamu," tukas
Kwan hujin. Kembali Kwan Pek Hong terbentur batu sejenak
tertegun, dia tertawa pula. Dia mengatakan kalau mau
membawa Beng Cu ke Pek-hoa-nia dan minta aku
supaya mengambilnya ke Peh hoa-nia asal membawa
kitab itu. Ha, ha, bukankah hal itu lucu sekali. Ha......."
Dia hendak tertawa lepas tetapi melihat wajah
isterinya mengerut gelap, dia tak jadi melanjutkan
tawanya. Bermula Kwan Pek Hong menduga, setelah dia
menceritakan peristiwa itu dan kemudian dia tertawa
mengejek, tentulah isterinya juga ikut menertawakan.
Sungguh tak diduganya bahwa bukannya ikut
menyambut tertawa kebalikannya isterinya malah
mengerut serius. Sudah tentu Kwan Pek Hong
meringis. "Hm....." desah Kwan hujin, "apanya yang lucu pada
persoalan itu?"
Kwan Pek hong masih berusaha untuk membantah.
"Budak laki itu... sungguh tak tahu diri mau membawa
puteri kita...... ke Peh hoa-nia. Tidakkah lucu hal itu"'
64 Wajah Kwan Hujin makin tak sedap dipandang dan
kontan tanpa sungkan lagi dia mendamprat suaminya,
"Engkau itu makin tua makin tolol! Bukankah hal itu
menyangkut keselamatan puteri kita" Mengapa
engkau malah tertawa gembira" Dan apakah engkau
tak pernah berpikir, tokoh bagaimanakah Pek Hoa
lokoay itu" Dibawah pimpinan jendral pandai", tak ada
anak buah yang lemah. Kalau dia sudah sengaja
menyuruh puteranya, masakan dia tidak
memperhitungkan bagaimana kemampuan puteranya
itu. Masa dia akan membiarkan saja puteranya itu
akan menjadi buah tertawaan orang?"
Kwan Pek Hong terlonggong. Diam-diam dia
mengakui kata-kata isterinya itu benar. Tetapi
puterinya kan selalu berada dengan mamanya. Mana
Pui Tiok mampu mengganggu anak itu"
Kembali dia tertawa paksa, "Hujin, jangan kuatir.
Aku akan menjaga diluar dan engkau jangan berpisah
dengan Beng Cu. Taruh kata lokoay Itu datang sendiri
kemari, belum tentu dia mampu merampas putri kita."
Dalam gendongan mamanya, Beng Cu memang
tampak kurus kecil Tetapi sebenarnya dia itu seorang
anak perempuan yang sudah berumur 10 tahun.
Sudah tentu dia mendengar apa yang dibicarakan
kedua ayah bundanya.
Tiba-tiba dia menangis, "Hu, hu, hu, aku tak mau
dibawa ke Pek-Hoa-nia"
Anak itu menangis keras sehingga Kwan hujin
menjadi bingung, "Sayang, jangan menangis," kata
nya menghibur," kan ada mama. Siapapun tak dapat
menculik engkau."
65 Kemudian ia mendamprat suaminya, "Engkau ini
memang seorang setan gantung yang makin tua
makin tak karuan. Mengapa urusan begitu engkau
ceritakan didepan anak perempuan" Kalau nanti
malam anak itu mengigau dalam tidurnya, awas
engkau!" Kwan Pek Hong kucurkan keringat dingin tetapi dia
tak berani berkata sepatahpun juga.
Setelah puas memaki-maki barulah Kwan hujin
berhenti dan membentak, "Mengapa masih tegak
seperti patung disini dan tak lekas mengatur
penjagaan?"
Seperti pesakitan yang menerima vonis bebas,
seketika Kwan Pek Hong terus mengiakan, berputar
tubuh dia terus melesat keluar. Setelah melalui
beberapa lorong barulah dia dapat bernapas longgar.
Tadi dia memang menderita siksa sekali, Tertawa
tidak tertawa dan tegak seperti patung menerima
dampratan pedas dari isterinya. Kini setelah bernapas
longgar dan batuk-batuk sejenak, dia Membusungkan
dada dan melangkah lebar.
Dia memang seorang pria yang ganteng dan gagah
perkasa. Setiap orang persilatan yang membicarakan
namanya tentu akan menaruh rasa mengindahkan.
Dan memang ilmu silatnya lihay sekali.
Selama beberapa tahun ini dia termasuk pendekar
yang berkelana di dunia persilatan yang umur nya
paling muda. Dalam perjalanan dharma kebaikan, dia
tak mau pandang bulu. Siapa salah, tentu akan
66 dihajarnya. Tetapi siapa tahu, kalau berhadapan
dengan isterinya, dia benar-benar kehilangan
segalanya seperti tikus berhadapan dengan kucing.
Waktu belum berapa lama keluar dari rumah tibatiba
dia melihat tukang kebun sedang memanggul
sebuah pilar besar dan berdiri tegak dihdapannya.
Rupanya orang itu seperti ditutuk jalan darahnya oleh
orang. Tadi waktu mendengar ucapan Pui Tiok, sebenarnya
Kwan Pek Hong tak menaruh perhatian. Tetapi setelah
didamprat isterinya, barulah dia menyadari kalau
persoalan memang gawat.
Maka begitu melihat tukang kebunnya berdiri tak
berkutik, diam-diam dia terkejut sekali. Tukang kebun
itu membelalakkan mata dan tak dapat bicara apa
apa.. Sekali melesat dia sudah berada didepan tukang
kebun itu dan ketika memandang dengan seksama
dilihatnya tukang kebun itu tengah membelalakkan
mata tanpa berkedip dan mulut ternganga terus
menerus tak dapat ditutup. Kwan Pek Hong cepat
mengetahui kalau keadaan tukang kebun itu tetapi
karena melihat orang itu telah ditutuk jalan darahnya
oleh orang. Sebenarnya Kwan Pek Hong tak begitu faham akan
tukang kebun itu tetapi karena melihat orang itu telah
ditutuk jalan darahnya, diapun segera menepuk bahu
si tukang kebun seraya menghardiknya, "Ada apa
engkau ini, lekas bilang!"
Terdengar tukang kebun itu menghela napas
longgar tetapi entah bagaimana sekonyong-konyong
67 dia gunakan dua buah jari tangan kanan, menutuk
jalan darah Kian-keng-hiat di bahu Kwan Pek Hong.
Sudah tentu Kwan Pek Hong terkejut bukan
kepalang. Caranya menutuk dan angin yang timbul
dari gerak tutukan jari orang itu menimbulkan desus
tenaga yang kuat, jelas tukang kebun itu memiliki
tenaga dalam yang hebat.
Kwan Pek Hong berdiri dekat sekali dengan tukang
kebun itu dan tukang kebun itu bergerak luar biasa
cepatnya. Walaupun Kwan Pek Hong terkejut tetapi
dia sudah tak keburu menghindar lagi, cret......!
bahunya terkena tutukan dan seketika dia tak dapat
bergerak lagi. "Kwan tayhiap," tukang kebun itu tertawa,
"maafkan sekali atas kekurang ajaranku ini!"
"Kwan tayhiap," kata tukang kebun itu pula,
"bagaimana dengan penyaruanku ini" Walaupun Ilmu
kepandaian itu tak layak dibanggakan, tetapi nanti
tunggu sebentar lagi kalau aku sudah menyaru
menjadi engkau dan mengenakan pakaian anda,


Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tentulah engkau sendiri takkan mengenali siapa
sebenarnya diriku ini........"
Sambil berkata dia terus menyambar tangan Kwan
Pek Hong, pikirnya hendak dibawa ke tempat yang
sepi dan dilucuti pakaiannya.
Tetapi sungguh diluar dugaan, baru dia menyentuh
tangan Kwan Pek Hong, tiba-tiba telunjuk jari Kwan
Pek Hong menebar dan mencengkeram pergelangan
tangan anak muda itu. walaupun hanya dengan
sebuah jari tetapi karena dapat melilit pergelangan
68 tangan dan mengalirkan tenaga dalam maka pada
saat itu juga Pui Tok rasakan separoh tubuhnya mati
kesemutan tak dapat digerakkan lagi.
Pui Tiok masih berusaha untuk mengerahkan napas
hendak meronta tetapi pada saat itu ke lima Jari Kwan
Pek Hong pun sudah serempak mencengkram
pergelangan tangannya. Pui Tiok mati kutu tak dapat
bergerak lagi. Perubahan-perubahan itu terjadi dalam waktu
hanya sekejab mata dan tak terduga-duga sama sekali
Pui Tiok hanya mendelik dan melongo, beberapa Saat
kemudian baru dia berkata, "engkau.... engkau,
bukankah telah kena kututuk" Mengapa engkau....
seperti tak kena apa?"
Kwan Pek Hong tertawa dingin, "Pui siauheng,
memang engkau menutuk tepat dan bergerak cepat
sekali, pun siasatmu juga hebat. Tetapi engkau masih
belum mengenal suatu ilmu tenaga dalam yang sakti,
namanya Ing-hoan-wi (mengisar jalan darah merobah
kedudukannya). Setiap saat dapat dilakukan menurut
sekehendak hati, bahkan dapat memindahkan letak
jalan darah itu kemana saja."
Mendengar itu Pui Tiok terlonggong, katanya,
"Kalau begitu..... jalan darahmu tadi tidak kena
kututuk?" "Benar," jawab Kwan Pek Hong, "itulah yang
dinamakan, siasat dilawan dengan siasat. Sekarang
engkau sudah jatuh ke tanganku, apakah engkau
masih akan bicara apa lagi?"
69 Semula wajah Pui Tiok sudah tak karuan warnanya,
tak sedap di pandang sekali...... Tetapi tiba-tiba saat
itu sudah tenang kembali, bahkan malah mengulum
senyum. "Kwan tayhiap, ilmu kepandaiannya benar-benar
hebat sekali, sungguh tak mengecewakan dengan ke
besaran namamu. Hari ini aku baru benar-benar
membuktikan sendiri"
Melihat anak semuda itu memiliki sikap yang begitu
tenang, mau tak mau dalam hati Kwan Pek Hong
kagum juga. "Pui siau-heng, tadi kukira kalau engkau hanya
bergurau, tak tahunya kalau engkau benar-benar
hendak menculik anak perempuanku Rumah kediaman
orang she Kwan, walaupun bukan tergolong kubangan
naga sarang harimau tetapi engkau ternyata memang
tak tau diri!"
Menerima dampratan itu wajah Pui Tiok tetap tak
berobah, serunya tertawa, "Ya, kata-kata Kwan
tayhiap memang tepat. Lain kali wanpwe akan
berhati-hati untuk bertindak."
"Apakah engkau mengira masih mempunyai
kesempatan lain kali lagi!" bentak Kwan Pek Hong.
"Selama gunung masih menghijau, mana takut
kalau kehabisan kayu bakar" Mengapa bakal tak
punya kesempatan lain kali lagi?" bantah Pui Tiok
Tangan Kwan Fek Hong yang masih mencengkeram
pergelangan anak muda itu agak diperkeras lagi.
70 Wajah Pui Tiok seketika pucat lesi, dahinya bercucuran
keringat dingin.
Satu hal yang mau tak mau menyebabkan Kwan
Pek Hong kagum ialah sekalipun telah menderita
hebat, namun wajah anak muda itu masih tetap
mengulum senyum.
"Apakah masih ada kesempatan lain kali bagimu?"
bentak Kwan Pek Hong.
"Kwan tayhiap," Pui Tiok tertawa, "engkau sedang
memuji wanpwe, mana wanpwe tak tahu"
"Engkau kira aku tak berani mengambil jiwamu,"
Kwan Pek Hong makin marah.
Kembali Pui Tiok tertawa, "Kwan tayhiap kalau
memang begitu, engkau harus mempertimbangkan
masak-masak dulu"
Debgan dicengkeram pergelangan tangannya itu,
Pui Tiok sudah tak berdaya sama sekali. Kalau
memang Kwan Pek Hong mau membunuhnya adalah
ibarat semudah orang membalikkan telapak
tangannya. Tetapi dalam keadaan seperti ini, bukan
saja Pui Tiok tidak minta belas kasihan kebalikannya
malah menghina Kwan Pek Hong dengan mengatakan
kalau Kwan Pek Hong tentu tak berani membunuhnya.
Sungguh berbahaya sekali.
Serentak bangkitlah kemarahan Kwan Pek Hong.
Dia segera menambah tekanan tenaga dalamnya lagi.
Tetapi memang dalam hati dia tak berani membunuh
anak muda itu. Apa yang dikatakan Pui Tiok memang
71 tak salah. Kalau hendak membunuhnya, Kwan Pek
Hong harus berpikir duabelas kali dulu.
Pui Tiok itu putera dari Peh Hoa lo-koay. Kalau
Kwan Pek Hong membunuhnya, sudah jelas Peh Hoa
lokoay tentu akan membuat perhitungan.
Ilmu kepandaian lokoay itu sakti sekali dan
perkumpulan Peh hoa kau mempunyai banyak jagojago
sakti. Dan lagi Peh hoa lokoay itu juga
mempunyai sahabat-sahabat baik dari kalangan
tokoh-tokoh Shia pay. Kalau sampai Kwan Pek Hong
membunuh Pui Tiok, tentulah Peh Hoa lokoay dan
gerombolannya akan melakukan pembalasan yang
hebat. Setelah melipat gandakan tekanan tenaga dalam,
Kwan Pek Hong melihat keringat pada dahi anak muda
itu bercucuran makin deras,
"Jangan mengira aku takut kepada ayahmu.
Mengapa saat ini tak membunuhmu karena mengingat
usiamu masih muda, kepandaian dan keberanianmu
sangat menonjol. Sukar mencari anak muda seperti
engkau. Tetapi kalau engkau masih berani
mengganggu keluargaku, apabila jatuh ke tanganku
lagi, jangan harap engkau kuampuni!"
Sambil berkata tangan kirinya mencengkeram bahu
Pui Tiok dan dijinjing keatas lalu dibawa keluar melalui
pintu besar. Dua kereta indah, masih tetap menunggu di jalan.
Kwan Pek Hong tertawa dingin. Kusir yang duduk
diataa kereta serentak loncat turun. Gerakannya
tangkas dan layangnya seringan daun kering
72 berhamburan ke tanah. Jelas kalau kusir itu memiliki
kepandaian yang tinggi sekali.
Selekas tiba di tanah. kusir itu sudah berseru,
"Kwan tayhiap . ........."
"Tutup mulutmu!" cepat Kwan Pek Hong
membentak, "putera dari kaucu kalian, dua kali
datang ke rumahku secara tak tahu diri. Tak tahu
kekuatan dirinya dan bertindak semaunya sendiri.
Sekarang dapat kuringkusnya tetapi aku takkan
mengganggu selembar jiwanya. Sekalipun begitu
diapun harus menderita sedikit kesakitan. Telah
kugunakan ilmu tutuk ciong-jiu-Hwat untuk melukai
jantungnya. Lekas larikan keretamu secepat mungkin
untuk mencapai Peh-hoa-nia. Kaucu kalian tentu dapat
menolongnya. Kalau tetap berayal disini, dalam waktu
satu bulan, sekalipun dia mendapat obat dewa, juga
tak mungkin dapat menolong jiwanya!"
"Tunggu, harap berlaku...." baru kusir itu hendak
berkata 'berlaku murah', Kwan Pek Hong sudah
lepaskan cengkeramannya. Begitu merasa
cengkeraman orang longgar, cepat Pui Tiok meronta
dan terus loncat kemuka.
Melihat putera kaucu sudah bebas, kusir itu pun
segera ayunkan cambuknya ke arah Kwan Pek Hong.
Tetapi walau pun Pui Tiok dan kusir itu bertindak
cepat, tetap masih kalah cepat dengan tindakan Kwan
Pek Hong. Pada saat melepaskan Pui Tiok, dia sudah
menyertai dengan sebuah hantaman tangan kanan,
bluk....! punggung anak muda itu terkena tepat dan
sekali mengerang tertahan, diapun terus rubuh ke
tanah. 73 Tepat pada saat itu Pui Tiok rubuh, Kwan Pek Hong
menarik pulang tangan kanan dan membalikkannya.
untuk menangkap ujung cambuk dan terus ditarik
Tetapi bukan kepalang kejutnya ketika kusir Itu tetap
tegak seperti terpaku. Memang Kwan Pek Hong hanya
menggunakan setengah bagian tenaganya untuk
menarik. sekalipun, karena kusir itu dapat bertahan
mau tak mau Kwan Pek Hong kaget juga karena salah
menafsir kepandaian orang.
Dalam menimang itu Kwan Pek Hong menambah
tenaga dalamnya lagi. Kali ini kusir itu tak dapat
bertahan lagi, tubuhnya ikut ketarik ke muka. Dia
berputar-putar dan rubuh. Kwan Pek Hong ulurkan
tangan kiri, dua kali mengelus-elus kepala kusir itu.
Ternyata kusir itu juga bukan jago sembarangan.
Dia adalah salah satu tangan kanan dari Peh Hoa
lokoay dan mempunyai nama besar dalam dunia
persilatan. Tetapi waktu Kwan Pek Hong mengeluselus
kepalanya sampai dua kali, ternyata dia diam saja
seperti patung. Dan kalau menilik mukanya begitu
pucat lesi, jelas dia merasa kalau dirinya tentu
menderita bencana besar dari Kwan Pek Hong.
Tetapi bagaimana nyatanya"
Memang untuk mengambil jiwa kusir itu, mudah
sekali bagi Kwan Pek Hong. Tetapi ternyata Kwan Pek
Hong tak mau turunkan tangan ganas. Dia hanya
mengelus elus biasa, sedikitpun tidak menyalurkan
tenaga dalam. "Mengapa engkau tak lekas-lekas membawa pulang
saucu?" tiba-tiba Kwan Pek Hong membentak.
74 Kusir itu gelagapan seperti orang mati yang hidup
kembali Saat itu dia baru menyadari kalau Kwan Pek
Hong tidak berbuat apa-apa kepadanya.
Tersipu-sipu dia memberi hormat, "Terima kasih
atas kemurahan hati Kwan tayhiap."
"Lekas berangkat!" dengus Kwan Pek Hong.
Kusir Itu gopoh mengangkat tubuh Pui Tiok. Anak
muda itu pucat seperti mayat, sinar matanya suram,
menandakan kalau menderita luka dalam yang parah.
Memang Kwan Pek Hong sendiri tahu bagaimana
luka yang diderita Pui Tiok maka dia memaksa kusir
segera membawa pulang anak itu. Kalau terlambat,
jiwanya pasti takkan tertolong lagi.
Peh Hoa lokoay tentu terkejut tetapi juga tentu tahu
kalau dia (Kwan Pek Hong) berlaku murah tidak
sampai membunuh puteranya. Dengan demikian
lokoay tentu takkan menuntut balas.
Sejenak Kwan Pek Hong menghela napas longgar,
membersihkan pakaiannya dan terus melangkah
masuk. Dan pada saat itu dia mendengar derak roda
kereta bergerak cepat. Dia tahu tentulah kusir itu
melarikan keretanya kencang-kencang.
Tetapi dia tak mengira, setelah pintu besar ditutup,
kereta itupun berhenti disebuah tempat. Kusir loncat
turun, membuka jendela kereta dan berseru, "Kongcu
Kongcu!" 75 Tiba-tiba Pul Tiok nongol keluar. Wajahnya
mengulum tawa, sikapnya seperti orang yang tak
menderita suatu apa.
"Kongcu, sungguh berbahaya sekali. Benar-benar
seperti orang masuk kedalam pintu neraka!"
Pui Tiok tertawa. "Benar, karena terkejut aku
sampai pucat lesi. Kukira dia akan membunuhmu.
Tetapi biarlah berlangsung seperti ini, Kwan Pek Hong
tentu mengira kalau aku benar-benar terluka parah
dan kembali ke Peh-hoa-nia!"
"Baju jwan-thiat-kah (baju baja lemas) milik kaucu,
memang benar-benar merupakan pusaka hebat dalam
dunia persilatan. kalau tak memakai baju baja itu,
kongcu tentu celaka dan aku terpaksa harus matimatian
melarikan kereta pulang ke Peh-hoa-nia!" kata
kusir. "Jangan ngaco tak keruan," tukas Pui Tiok "baju
Jwan- thiat-kah memang hebat, tetapi sekalipun tidak
mempunyai baju baja itu, apa engkau kira aku benarbenar
begitu lemah berhadapan dengan Kwan Pek
Hong" Jangan memandang rendah aku" Engkau tahu
apa hukumanmu?"
Kusir itu tertawa, "Kongcu, bicara secara serius,
kurasa lebih baik kita pulang melapor pa da kaucu
saja dan menerangkan bagaimana kelihayan Kwan Pek
Hong!" Memang kusir Itu tahu kalau sau-kongcu (putera
pemimpin) mereka, beradat tinggi tak mau kalah
dengan orang. 76

Bila Pedang Berbunga Dendam Karya S D Liong di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dalam bercakap-cakap itu mereka sudah memasuki
halaman gedung keluarga Kwan. Pui Tiok hentikan
langkah. "Co-poan-koan," katanya kepada kusir itu. Ternyata
kusir itu menjabat sebagal Co-poan-koan atau dewan
hakim dalam perkumpulan Peh- hoa-kau, "tentunya
engkau sudah banyak pengalaman bercampur-baur
dengan orang, mengapa engkau masih mengeluarkan
kata-kata yang membikin panas hati orang?"
Peh-hoa-kau mempunyai Dewan hakim yang terdiri
dan dua orang. Kedua hakim Itu lebih tinggi dari sutongcu
atau empat kepala bagian.
Orang yang menyaru sebagai kusir itu bernama Siu
Peng. Bermula dia itu menjadi tianglo (penasehat) dari
perkumpulan Pai-kau didaerah telaga Ouse. Tetapi
karena melanggar peraturan perkumpulan dia hendak
dijatuhi hukuman gantung sampai mati. Tetapi karena
dia berkepandaian tinggi maka dia berhasil berontak
dan lolos dari kepungan beratus-ratus anak buah
perkumpulannya. Kemudian dia melarikan diri dan
malang melintang di dunia persilatan selama beberapa
tahun. Pada akhirnya dia lalu masuk kedalam
perkumpulan Peh-hoa-kau.
Mendengar Pui Tiok masih menyesali dirinya, Siu
Peng menghela napas lalu meraba batok kepalanya
sendiri dia berkata, "Kongcu, tadi tangan Kwan Pek
Hong yang berada diatas batok kepalaku ini hampir
membuat semangatku serasa terbang. Terus terang,
aku tak berani berhadapan lagi dengan dia. Aku
berpendapat, untuk dapat menculik anak perempuan
77 Kwan Pek Hong, harus kaucu sendiri yang turun
tangan." Pui Tiok gelengkan kepala, "Sudahlah, jangan
berkata begitu lagi. Sebelum berhasil, aku tak mau
pulang. Perintah untuk membuat galian liang pada dua
bulan yang lalu, apakah sudah selesai?"
Siu Peng maju dua Langkah kemuka dan berseru
"Sudah datang!"
Memang saat itu muncul dua orang lelaki
berpakaian hitam. Siu Peng segera bertanya kepada
mereka, "Galian liang yang tembus ke rumah Kwan
Pek Hong apa sudah dikerjakan?"
"Sudah dan dapat mendengar derap langkah orang
yang berjalan diatas liang itu," kata kedua lelaki baju
hitam itu. "Apakah arahnya tepat" Apakah tepat dapat tembus
kedalam ruang gedung?" tanya Pui Tiok..
"Ya, memang kebetulan dapat menembus ke dalam
ruang gedung." kata mereka.
"Bagus," kata Pui Tiok, "Co-Poan-koan, Kwan Pek
Hong tentu mengira kalau aku benar-benar terluka
berat dan sedang bergegas pulang ke Peh- hoa-nia.
Tentulah dia takkan mengira kalau kita membuat
galian liang yang tembus ke ruang gedung
kediamannya."
Siu Peng gelengkan kepala, "Kongcu, bukan aku
hendak menghapus kegembiraan tetapi taruh kata
engkau dapat menyusup masuk kesana, tetapi begitu
78 kepergok Kwan Pek Hong, apakah itu tidak.......
tidak....... " rupanya Siu Peng tak berani melanjutkan
kata-katanya. "Tak apa, silahkan bicara lanjut, aku takkan
marah," kata Pui Tiok.
Siu Peng tertawa, "Apakah tidak akan dilempar
Kwan Pek Hong seperti orang melempar anak ayam?"
"Bah," dengus Pui Tiok, "mengapa engkau masih
tetap bicara begitu melemahkan semangat orang.
Sudahg tentu aku sudah mempersiapkan rencana.
Lihat, apakah ini?" dia terus mengeluarkan batang hio
(dupa) warna kuning.
Siu Peng terkejut, "Kongcu, apakah itu bukan dupa
wangi buatan kita?"
"Benar, aku hendak menggunakannya."
Mendengar itu berkatalah Siu Peng dengan rada
serius, "Kongcu, mana dapat begitu" Itu benda yang
sering digunakan tingkat anak buah saja. Kebesaran
nama kaucu sudah termasyhur ke seluruh penjuru.
Dan engkau sendiri juga masih seorang muda. Kalau
menggunakan benda itu, nama Peh-boa akan ditaruh
dimana?" "Ai, engkau ini memang macam-macam saja Setiap
ada pemecahan engkau tentu tak setuju. Kata
peribahasa tentara tak dibenarkan mengganggu
rakyat. Kalau engkau tetap menggunakan benda itu
bagaimana pandangan orang terhadap Peh hoa kau
kita nanti?"
79 "Ah, engkau berlebih-lebihan," kata Pui Tiok. Orang
mengatakan, menjalankan perang tak boleh menolak
akal licik. Aku menggunakan dupa bius, diapun boleh
menggunakan cara apa untuk menolak. Tetapi kalau
dia tak mengadakan penjagaan, jelas dia tentu akan
menderita kerugian."
"Orang menganggap engkau ini seorang lelaki
perwira," kata Siu Peng, "mana orang akan
mengadakan penjagaan tentang perbuatanmu yang
tergolong licik itu?"
Pui Tiok tertawa, "Orang mengatakan: hati manusia
sukar diduga. Kalau sama sekali dia tak
memperhitungkan hal ini, apalagi yang akan dikatakan
kecuali dia harus menderita besar karena kehilangan
puterinya!"
Siu Peng tertegun sejenak lalu menghela napas,
"Biar bagaimanapun, kunasehati lebih baik jangan
engkau menggunakan permainan kotor."
"Baik, kutahu," kata Pui Tiok, "mari kita memasuki
liang rahasia yang tembus kebawah gedungnya dan
mendengarkan apa yang terjadi disitu, baru nanti kita
bicara lagi!"
Siu Peng mengangguk. Keduanya segera mengikuti
kedua lelaki baju hitam itu. Tak lama mereka tiba
disebuah lorong. Ditengah-tengah lorong telah digali
sebuah liang. Salah seorang lelaki baju hitam
memberikan lentera dan berseru, "Silahkan turun dari
sini." Pui Tiok berjalan dimuka, Siu Peng dibelakang.
Rupanya penggalian Itu dilakukan dengan cepat-cepat
80 sehingga sempit sekali tetapi cukup untuk dimasuki
seorang. Lebih kurang lima enam tombak jauhnya
barulah liang itu mulai lebar. Selanjutnya setelah tiba
diujung liang, diatasnya merupakan langit-langit dari
ubin. Dengan begitu diatas tentulah merupakan ruang
gedung. Sambil tertawa Pui Tiok menunjuk keatas, bisiknya,
"Co-poan-koan, yang diatas kita ini entah ruang apa"
Kalau kebetulan kamar tidur Kwan Pek Hong sungguh
menggembirakan sekali."
Siu Peng hendak menjawab tetapi saat itu diatas
terdengar derap langkah orang. Dan pada lain saat
terdengar suara seorang wanita yang seperti
gembreng ditabuh, tak sedap didengar.
"Mengapa engkau pulang" Bagaimana dengan
keadaan diluar?" seru wanita itu.
"Pui Tiok tertawa gembira dan berbisik, "Co poankoan,
kemungkinan kita keliru arah. Ruang diatas ini
kalau bukan dapur tentu kamar bujang. Kalau tidak
masa terdengar suara perempuan yang bernada
begitu tak sedap?"
"Jangan bicara!" Sui Peng gopoh mencegah.
Pada saat itu terdengar suara seorang pria
menjawab pertanyaan wanita tadi, "Harap hujin
jangan kuatir, tentu takkan terjadi apa-apa!"
Nada suara lelaki itu jelas adalah suara Kwan Pek
Hong. Serentak Pui Tiok leletkan lidah. Menyusul lagi
terdengar suara seorang anak perempuan yang
merengek-rengek ketakutan, "Yah aku masih ingin
81 naik tandu, bermain-main ke telaga. Si suko tak dapat
menjaga aku, sukalah ayah mengantarkan aku ke
sana!" Jelas Itulah suara anak perempuan Kwan Pek Hong
yang tengah merengek kepada ayahnya. Kwan Beng
Cu, demikian nama anak perempuan itu, adalah anak
yang diinginkan Pui Tiok dan Siu Peng untuk dibawa
ke Peh-hoa-nia.
Setelah mendengar pembicaraan diatas, barulah Pui
Tiok dapat menghela napas longgar. Penggalian yang
dilakukan anak buahnya ternyata tepat tembus
dibawah ruang tempat tinggal Kwan Pek Hong dan
anak isterinya. Asal langit-langit ubin itu di dorong
keatas, tentulah Pui Tiok dapat memasuki ruang itu.
Sudah tentu Pui Tiok dan Siu Peng tak dapat pada saat
itu juga terus masuk karena Kwan Pek Hong masih
ada diatas. keduanya hanya saling tukar pandang dengan
wajah berseri tawa. Mereka mendengarkan lebih lanjut
pembicaraan Kwan Pek Hong dengan puteranya.
"Beng Cu," kata Kwan Pek Hong, "hari ini ayah
sedang resah, tak ingin keluar, jangan ributlah!"
"Huaaaa...." serentak pecahlah tangis anak
perempuan itu, "aku mau pergi, aku mau pergi, aku
ingin ayah membawa aku ke telaga!"
"Bing Cu, besok pagi tentu kubawamu kesana. Tadi
engkau kan sudah kesana dan engkau malah
ketakutan pulang. Mengapa sekarang mau pergi lagi?"
82 Tetapi anak perempuan yang sudah terlanjur
dimanja mamanya itu tak menghiraukan kata-kata
ayahnya, melainkan terus merengek-rengek, "Aku
mau pergi, aku mau pergi. engkau harus membawaku
kesana, yah..... Ma ayah tak mau mengantarkan aku
ke sanal" "Beng Cu, diam," kata Kwan hujin lalu menegur
suaminya, "Pek Hong, apakah engkau benar-benar tak
mau menuruti permintaan anakmu?"
"Aku ...... aku tak ingin pergi, aku.........."
"Coba bilang saja kalau engkau tak mau membawa
kesana" "Ya, aku. . aku mengantarkan kesana Hujin,
mengapa begitu saja engkau terus mau marah?" tegur
Kwan Pek Hong. Mendengar percakapan suami isteri itu, Pui Tiok dan
Sin Peng segera menutup mulut dengan tangan
masing-masing lalu berkisar meninggalkan tempat itu.
Setelah keluar mereka baru tertawa gelak-gelak
sampai perut terkial-kial.
"Co-poan-koan," seru Pui Tiok, "sungguh celaka
sekali! Pendekar besar yang namanya begitu
cemertang seperti Kwan Pek Hong, ternyata seorang
lelaki yang takut isteri."
Siu Peng juga tertawa terpingkal-pingkal, serunya,
"Uh, uh, ternyata Kwan hujin itu begitu berwibawa
sekali. Kongcu, sebaiknya berhati-hatilah kalau
bertindak.. Siapa tahu ilmu kepandaian Kwan hujin itu
lebih tinggi dari Kwan Pek hong sendiri. Jika engkau
83 sembarangan masuk saja, bukankah akan terbentur
dengan seorang singa betina, Sebenarnya ucapan Siu
Peng itu hanya untuk bersendau-gurau. Tetapi siapa
tahu, ternyata keadaan Kwan hujin memang demikian.
Pui Tiok tertawa. beberapa saat kemudian dua
orang anak buahnya membawa menghadap seorang
lelaki tua. Paman ini adalah arsitek yang memborong
pembangunan gedung-gedung di kedua jalan besar
ini. Oleh karena itu dia tahu jelas tentang keadaan
gedung Kwan Pek Hong, "kata anak buah itu.
"Bagus, bagus, nih sekeping perak, mungkin
beratnya 7-3 kati, boleh engkau pakai untuk
pembelian peti mati kelak," kata Pui Tiok.
Sejak mendirikan bangunan gedung, kehidupan pak
tua itu makin merosot dan susah. Melihat uang perak
sebanyak itu dia gopoh menyambuti dengan tangan
gemetar. Karena gembiranya, pak tua itu tak menyadari
waktu keping emas itu membentur tangannya,
tubuhnya tergetar keras.
"Lo-tiang," seru Pui Tiok, "soal penggalian liang
disini, jangan sampai engkau beritahu kepada siapa
saja," "Baik, tuan, aku si tua ini tahu," kata pak tua.
Dengan membawa keping emas dia terus
melangkah keluar dengan masih, tertawa-tawa. Tetapi
sebelum tiba di rumah, sekonyong-konyong kedua
84 lututnya melentuk lunglai dan pandang matanya
gelap, bluk... dia terus rubuh dan jiwanyapun
melayang.. keping emas yang berada ditangannya,
menggelinding sampai jauh dan tepat berhenti
dibawah kaki seorang pengemis buta. Pengemis buta
itu membungkukkan tubuh, menjemputnya dan
berkata seorang diri, "Benda yang bagus sekali,
Eng Djiauw Ong 1 Joko Sableng Sekutu Iblis Suling Emas Dan Naga Siluman 13
^