Pencarian

Cula Naga Pendekar Sakti 13

Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe Bagian 13


waktunya. Kini kau perlu mencurahkan seluruh
perhatian untuk penyembuhan lukamu itu."
In Bwee sangat bsrsyukur dan berterima kasih
atas sikap demikian baik dari Giok Han, yang
memperhatikan dan menguatirkan kesehatannya.
Dia menggeleng. "Dengan memberitahukan padamu
rahasia Siangkoan Giok Lin tidak berarti aku harus
mempergunakan caranya! Guruku pernah
memberitahukan kepadaku bahwa kematian
1032 Siangkoan Giok Lin terletak pada... pada
selangkangannya ! Dia memiliki ilmu kebal, sulit
untuk menotoknya ataupun juga melumpuhkannya
dengan menyerang anggota tubuhnya yang tain.
Kau harus menyerang pada bagian yang mematikan,
yaitu pada selangkangannya, tiga dim dari tepi kiri
selangkangannya. Di jalan darah *Uh bian-hiat"nya."
Girang Giok Han mengetahui kelemahan orang
she Siangkoan itu. Dia mengingatnya baik- baik.
Kemudian dia minta agar In Bwee duduk bersila
untuk mencurahkan sinkangnya dan coba
menyembuhkan lagi luka di dalam tubuhnya.
Si gadis menggeleng. Biarpun aku memerlukan waktu satu bulan untuk
menyembuhkan lukaku ini agar menjadi sehat
seperti semula, tapi bukan berarti keadaanku
sekarang ini sangat menguatirkan. Sekarang aku
sudah pulin sebagian besar, kau jangan terlalu
kuatir." Giok Han menggeleng. "Tidak nona Gang, kau tak boleh terlalu memakai
tenagamu pada saat-saat sekarang ini dan harus
benar-benar beristirahat sambil memusatkan tenaga
dalammu, agar kesehatanmu pulih benar.
Peliharalah kesehatanmu baik-baik, urusan penting
apapun bisa ditunda, sampai nanti setelah kau
sembuh kita melakukannya bersama sama !
1033 Sedangkan orang she Siangkoan iru biar aku sendiri
yang menghadapinya. kukira tak ada kesulitan apaapa,
terlebih lagi jika kaki tangan kaisar lalim yang
sebetulnya berada di gedung orang she Siangkoan
itu sudah meninggalkan rumahnya dan pulang ke
kota raja, tentu tak ada kesulitan apa-apa lagi buat
membunuh Siangkoan Giok Lin !"
Si gadis sangat bersyukur, dia menatap si
pemuda dangan sorot mata berterima kasih. Tanpa
disadari tangannya masih memegangi tangan Giok
Han, dan pemuda itupun balas menggenggam
tangan si gadis. Mata mereka saling menatap, dan
sinar mata mereka bicara lebih banyak dibandingkan
kalau memakai mulut... seluruh isi hati mereka
terpancar jelas-jelas dari sorot mata masingmasing...
keduanya sudah maklumi apa yang
mereka rasakan dan pikirkan.
Tiba-tiba Giok Han tersadar, dia segera menarik
tangan si gadis diajak meninggalkan tempat itu,
"Kita harus mencari tempat bersembunyi yang
benar-benar aman, karena di saat kau sedang
berobat menyembuhkan luka di dalam tubuhmu, tak
boleh terganggu perhatianmu. Sedapat mungkin kita
mencari tempat yang jarang didatangi manusia...!"
In Bwee menatap Gtok Han dengan pipi berobah
merah, namun dia bertanya: "Kemana kita mencari
tempat yang aman dari incaran orang-orang kaisar
lima itu" Sekarang saja kaki tangan raja laim itu
mungkin sedang melacak menyelidiki jejak kita !"
1034 "Mari kita pergi melihat dulu keadaan didepan
sana, mungkin bisa dipakai untuk berdiam
sementara," "Tapi kita jangan menumpang di rumah
penduduk, hal itu akan membahayakan. Kita tak
bisa mengatakan pemilik rumah yang kita tumpangi
akan berkhianat, tapi yang banyak terjadi memang
begitu, ia melapor kepada yang berwajib."
Giok Han cuma mengangguk. Begitulah mereka
melakukan perjalanan tanpa tahu harus pergi
kemana. Tapi setelah berjalan setengah harian,
mereka tiba di sebuah bukit yang agak terjal.
Keadaan di situ sepi sekali tampak juga sebuah
bongkahan batu besar. "Aku akan menggeser batu besar itu. kau boleh
bersemedi di belakang bongkahan batu itu, sehingga
tak ada seorangpun yang bisa melihatmu !"
In Bwee masih tak mengerti apa yang
dimaksudkan Giok Han, tapi pemuda itu sudah mulai
bekerja Dia memusatkan sinkang pada kedua
lengannya, kemudian mengangket bungkah batu
yang berukuran besar, yang digeser hampir
menempel pada bukit. Kemudian dia mengumpulkan ranting dan cabang
pohon yang telah kering, yang diletakkan di atas
batu itu, ditimbuni oleh daun daun, sehingga
tampaknya di atas bungkahan batu itu bertumbuhan
1035 pohon-pohon liar. Padahal di bawahnya terdapat
ruang terpisah yang cukup lebar. Dengan cara
demikian tentu orang tak akan mencurigakan bahwa
di balik bongkahan batu itu ada orang.
In Bwee memuji kecerdikan Gtok Han, dia tak
rewel ketika Giok Han minta dia duduk di balik
bongkahan batu itu, bersemedi untuk memusatkan
sinkangnya, agar luka di dalam tubuhnya bisa
disembuhkan. "Nah, di sini kau aman, biarlah aku akan kembali
ke dalam kota, untuk mencari orang she Siangkoan
itu ! Percayalah, aku akan mengurus orang she
Siangkoan itu sebaik-baiknya, kau jangan kuatirkan
apa-apa tentang diriku, karena kau perlu
memusatkan seluruh perhatian pada pemusatan
tenaga sinkangmu." In Bwee mengangguk dan memejamkan
matanya. Sedangkan Giok Han mempergunakan
ginkangnya untuk kembali ke dalam kota,
mendatangi rumah Siangkoan Giok Lin.
Dia bertekad walaupun bagaimana dia harus
berhasil memperoleh daftar orang-orang kangouw
yang ada di tangan Siangkoan Giok Lin. Jika tidak,
tentu Thio Hong Gan banyak mendapat kesulitan.
Sulit mengetahui orang-orang kangouw mana yang
sudah menjadi anjingnya kaisar lalim itu, bisa jadi
musuh dalam selimut buat Thio Hong Gan, berarti
juga mengancam perjuangan suci Thio Hong Gan.
1036 Karena mengetahui di kota banyak sekali
berkumpul pahlawan kaisar, Giok Han bertindak
hati-hati sekali. Dia sudah merencanakan, yang
pertama-tama dilakukannya ialah menyelidiki dulu
keadaan rumah Siangkoan Giok Lin, apakah orangorang
kaisar dari kota-raja masih berada di rumah
orang she Siangkoan itu -------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
------- PENGEMIS itu berjalan terpincang-pincang,
dengan tongkat cukup panjang ditangan kiri,
mengetuk-ngetuk jalanan, sambil- melangkah
perlahan-lahan, rupanya dia buta tak bisa melihat.
Di tangan kanannya memegang sebuah mangkok
untuk tempat menerima derma yang diberikan orang
padanya. Kaki kanannya pincang, dia jalan terseok-seok,
mukanya kotor, kumis jenggotnya tak keruan,
topinya juga kotor sekali dibeleseki sampai menutup
sebagian wajahnya. Usianya mungkin empat puluh
tahun. Pengemis ini berjalan terus perlahan-lahan,
akhirnya berhenti di sebuah rumah makan, minta
sedekah. Tak ada seorangpun yang memperhatikannya,
termasuk pelayan-pelayan rumah makan itu tak
mengacuhkannya. Tapi, biarpun buta, biji mata
pengemis itu sering menatap bersinar ke dalam
1037 ruang rumah makan itu, kemudian dipejamkan lagi,
sambil mulutnya komat-kamit minta belas kasihan
kepada orang-orang yang lewat di dekatnya, agar
memberi sedekah padanya. Lama juga si pengemis berdiam di depan rumah
makan, dia berjalan lagi terseok-seok menyusuri
jalan tersebut, akhirnya masuk ke sebuah lorong
yang cukup panjang. Dia berjalan terus dengan
kepala tertunduk, sampai akhirnya berhenti di depan
rumah yang megah dan mewah. Pengemis ini
menggumam perlahan: "Tampaknya" sepi, apakah
anjing-anjing kaisar lalim itu sudah tak berdiam di
rumah ini ?" Lama pengemis itu memperhatikan rumah
tersebut, sedangkan gedung itu tetap sunyi, sepi,
tak terlihat seorang manusiapun juga. Daun
pintunya yang tebal lebar itu tertutup rapat-rapat.
Perlahan-lahan si pengemis melangkah menghampiri
pintu. Dia berdiri di situ memperhatikan keadaan di
sekitarnya, rupanya dia cuma pura-pura buta sebab
matanya bersinar tajam dan bisa melihat apapun
juga di sekelilingnya. Diangkat tongkat pada tangan kirinya, ujung
tongkat diketukan cukup keras pada daun pintu.
Setelah itu tongkatnya diturunkan lagi, menanti
dengan kepala ditundukkan. Daun pintu terbuka,
seorang berpakaian sebagai pelayan di rumah
tersebut keluar dengan muka masam setelah
1038 melihat yang melihat yang mengetuk pintu seorang
pengemis kotor dan buta. "Sial ! Mengapa kau mengganggu ketenanganku
?" bentak si pelayan! "Hayo pergi! Menggelinding
dari sini !" bentakan itu disusul dengan tangan
kanannya diulurkan buat mendorong pundak si
pengemis, sampai tubuh si pengemis terhuyunghuyung
mundur ke belakang beberapa langkah,
rupanya si pelayan mendorong dengan tenaga yang
kuat. "Toaya... bermurah hatilah memberi sedekah
kepadaku si pengemis melarat... Kasihanilah, aku
pengemis buta yang tak bisa melihat keindahan
alam, tak bisa menikmati keindahan apapun lagi...!"
"Jangan rewel, ayo pergi ! Atau kau mau
kulemparkan baru mau menggelinding pergi dari sini
?" si pelayan yang rupanya tadi sedang tertidur dan
terbangun kaget karena ketukan tongkat si
pengemis pada daun pintu. Semula dia menyangka
yang mengetuk pintu sahabat majikannya, tak
tahunya hanya seorang pengemis. Dia jadi uringuringan
dan galak. "Apakah Toaya tak berkasihan padaku ?" tanya si
pengemis. "Baiklah, kalau Toaya tak mau memberi
derma dan sedekah kepadaku, jelas akupun tak bisa
memaksa...!" 1039 Si pelayan rupanya sebal melihat pengemis kotor
ini, dia cuma "hemmm! "beberapakali dan menutup
daun pintu. Cuma saja, si pelayan jadi kaget campur
heran. Daun pintu tidak bisa ditutup rapat, biarpun
dia mendorong kuat-kuat. Dia membuka lagi. Si
pengemis sedang menurunkan tongkatnya. Tidak
ada orang lain disekitar tempat itu. Si pelayan
mendeliki si pengemis buta, dia membentak: "Kau
masih belum menggelinding pergi, pengemis
menyebalkan ?" "Aku akan segera pergi Toaya, jangan galakgalak...!
"kata si pengemis. Pelayan itu kembali mau
menutup daun pintu, sama saja hasilnya dengan
tadi, yaitu daun pintu tidak bisa ditutup rapat-rapat.
Tentu saja dia semakin penasaran dan heran, tapi
tidak segera membuka lebar daun pintu, cuma
mengintai dari sela daun pintu. Rupanya semua ini
akibat ulah si pengemis. Tongkatnya dilintangkan
dan ujung tongkat menunjang daun pintu, sehingga
pintu tak bisa ditutup. Karena penasaran, si pelayan mendorong kuatkuat
agar daun pintu rapat. Dia pikir, berapa
kuatnya sih tenaga seorang pengemis buta yang
tampaknya kurang makan itu "Tapi dia kecele,
karena tetap saja daun pintu iiu tidak bisa didorong
rapat biarpun sudah dikerahkan seluruh tenaganya.
Dengan murka dia membuka lebar-lebar daun
pintu, sedangkan si pengemis buta sudah
1040 menurunkan tongkatnya dan bersiap-siap hendak
berangkat meninggalkan tempat itu.
"Gembel busuk, kau harus dihajar.!" teriak si
pelayan meloncat ke belakang si pengemis, tangan
kanannya diulurkan menjambak punggung pengemis
itu, maksudnya dia hendak menarik tubuh si
pengemis untuk dibantingnya.
Tapi dia menyambar tempat kosong, jari-jari
tangannya yang semula tampak sudah hampir
berhasil menjambak baju di punggung si pengemis,


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cuma terpisah beberapa dim saja, telah menyambar
tempat kosong karena tubuh si pengemis mendadak
seperti bisa maju ke depan lebih cepat dari
sebelumnya, seperti punggung si pengemis ada
matanya bisa melihat sambaran tangan si pelayan.
Tidak kepalang marah dan penasaran si pelayan,
dia membentak bengis sambil mengulangi
jambakannya. Sekali ini dia menjambak dengan
mempergunakan tenaga sepenuhnya.
Si pengemis mendadak menjerit : "Aduhhh !
Aduhhh . . . kakiku !" Dan dia memutar tubuhnya ke
samping, membungkuk buat melihat kakinya,
mungkin dia sudah kesandung batu dan sepatunya
yang sudah tak keruan bentuknya itu menyebabkan
ibu jari kakinya muncul tercuat keluar tak bisa
melindungi lagi jari kakinya dari bongkahan batu
yang terantuk itu, sehingga dia menderita kesakitan.
1041 Karena si pengemis membungkuk menyingkir ke
samping buat melihat kakinya, akibatnya jelek sekali
buat si pelayan yang sedang mengerahkan seluruh
tenaganya buat menjambak sambil setengah
menghantam dengan tangannya ke punggung si
pengemis. Karena begitu tangannya diulurkan, mendadak
lenyap sasarannya, bahkan waktu itu keseimbangan
tubuhnya lenyap, tubuhnya terjerunuk mencium
tanah sampai mukanya kotor oleh tanah dan abu !
Si pelayan menjerit marah sambil meloncat
berdiri, mukanya kotor sekali, hidungnya juga sudah
bocor mengeluarkan darah, karena tadi mencium
jalanan. Dia loncat ke dekat si pengemis untuk
memukul kuat-kuat pada si pengemis. Karena tadi
dia sudah mendapat pengalaman pahit, sekali ini
biarpun memukul sangat kuat si pelayan tak
membabi buta, dia tidak ceroboh dan berhati-hati.
Si pengemis seperti tidak tahu beberapa kali
hendak dipukul oleh si pelayan, dia mengayunkan
tongkatnya ke belakang, untuk di kempit pada
ketiaknya, karena tangannya hendak mengurut-urut
ibu jari kakinya. Ujung tongkatnya muncul di samping ketiak
belakang, dan mungkin secara kebetulan saja ujung
tongkat itu menyodok perut si pelayan. Sodokan
ujung tongkat itu ternyata kuat sekali, sebab si
pelayan merasakan perutnya seperti dihantam
1042 sesuatu yang beratnya ratusan kaki, membuat isi
perutnya jungkir balik, tak bisa dipertahankan lagi
badannya kejengkang ke belakang, bergulingan
beberapakali sambil teraduh-aduh memegangi
perutnya yang sakit sekali.
Si pengemis sudah menggerakkan tongkatnya
untuk mulai melangkah pergi, jalannya terseok-seok
karena kakinya memang pincang. Dia tetap
membawa sikap seperti tidak tahu berulangkali
dirinya telah gagal diserang oleh si pelayan.
Pelayan itu biarpun perutnya masih sakit,
mukanya masih meringis, dengan kemarahan
meluap sudah melompat bangun, meraung
penasaran dan berlari mengejar si pengemis. "Akan
kuhajar mampus kau! Akan kuhajar mampus kau !"
Teriaknya mengancam. Dan memang dia bermaksud
untuk menyiksa pegemis itu, yang dikiranya sudah
mempermainkan dirinya. Pengemis itu tetap berlenggang-Ienggok terseokseok
dengan langkah pincang, seperti tak
mendengar teriakan si pelayan. Biarpun si pelayan
berlari-lari buat menyusulnya, tetap saja jarak
mereka terpisah satu depa lebih, pelayan itu tak
berhasil mendekati si pengemis. Memang ini luar
biasa. Tampaknya si pengemis jalan terseokseok,
namun tubuhnya itu meluncur ke depan ringan
sekali, seperti melayang tak menginjak tanah
1043 sehingga biarpun si pelayan mengejarnya
menggunakan seluruh tenaganya berlari di belakang
pengemis itu, tetap saja dia tak berhasil mendekati
pengemis yang luar biasa ini tanpa berapa si pelayan
sudah mengejar si pengemis cukup jauh, tapi tetap
saja dia tak berhasil mengejar pengemis itu, jarak
mereka terpisah cukup jauh. Bukan main penasaran
hatinya, dia mengejar mati-matian mengerahkan
seluruh sisa tenaganya, tetap saja dia tak berhasil
mencapai si pengemis. Sampai akhirnya, napasnya seperti tersendat
habis, memburu keras, kerongkongannya kering.
Kalau semula dia memaki-maki sambil mengejar,
sekarang cuma mengejar dengan mulut tertutup
rapat-rapat ! Ketika mereka berada dilorong jalan yang sepi,
mendadak pengemis itu berhenti melangkah. Dia
berdiri tegak menghadapi pelayan yang sudah
mengejarnya kehabisan tenaga.
"Akan kumampusi kau!" Serak suara si pelayan,
tangannya diangkat untuk memukul. Disangkanya si
pengemis sudah tak kuat berlari menghindar lagi
darinya, biarpun dia sudah kehabisan tenaga, tapi
dengan sisa-tenaganya dia ingin memukul pengemis
itu. Si pengemis tak berusaha mengelak, berdiri diam
ditempatnya dengan bibir tersenyum. Waktu tangan
si pelayan hampir mengenai mukanya, tahu-tahu
1044 tubuhnya sudah menyingkir ke samping, sehingga
kepalan tangan pelayan itu lewat di samping
mukanya. Pada waktu itulah tongkat si pengemis menotok
punggung pelayan tersebut, hebat kesudahannya.
Tubuh pelayan itu seperti didorong oleh suatu
kekuatan yang dahsyat, sehingga tubuhnya
terjerunuk ke depan, mukanya kemudian
menghantam tanah, hidungnya patah, darah
mengucur keluar, giginyi juga rontok tiga, matanya
berkunang-kunjug, gelap penglihatannya.
Si pengemis menggunakan ujung tongkatnya
menyontek baju di punggung pelayan tersebut, dia
menghentak perlahan, seperti tak memakai tenaga.
Tapi kesudahannya benar benar mengejutkan,
karena badan pelayan itu seperti sehelai daun kering
yang ringan terlempar ke samping, punggungnya
membentur keras pada dinding tembok rumah
penduduk, sampai terdengar suara benturan yang
nyaring, tubuh si pelayan meloso jatuh di bawah
tembok dengan mata terbuka lebar-lebar dan mulut
ternganga ketakutan, matanya itu biarpun terbuka
lebar namun gelap tak ada yang bisa dilihat,
berkunang-kunang. Tenang sekali si pengemis menghampiri pelayan
dan ujung tongkatnya mengetuk perlahan dagu si
pelayan, segera kepala pelayan itu menengadah..
Dagunya seperti dipukul martil saja, sakitnya bukan
main, suara rintihannya terdengar perlahan.
1045 Pelayan yang semula, begitu garang dan bengis,
sekarang jadi kuncup nyalinya, segera sadar bahwa
dia keliru melihat lawan. Pengemis ini rupanya
bukan pengemis sembarangan, dia ternyata memiliki
tenaga yang kuat, tadi rupanya pengemis ini purapura
saja tak melayaninya, namun sengaja
memancingnya ke-lorong yang sepi dan tak ada
orang lain di situ. Diam-diam pelayan ini mengeluh, bila ia tidak
terpancing dan ribut di depan rumah majikannya,
pasti kawan-kawannya akan mengetahui keributan
itu dan membantuinya, tidak seperti sekarang dia
jadi mati kutu. "Dengarlah baik baik," suara si pengemis tawar.
"Aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu, kau
harus menjawabnya jujur, jangan sekali-sekali
berpikir untuk berbohong, karena aku tak jamin lagi
keselamatan jiwamu."
"Apa... apa yang ingin kau tanyakan?"
Si pelayan lemas tak bertenaga didukdi bawah
tembok menderita kesakitan karena luka terbanting
beberapakali, sikapnya sudah tak bengis dan galak
seperti semula, suaranya juga serak gemetar
ketakutan. Yang dikuatirkannya dirinya disiksa lagi
oleh pengemis ini. "Pertanyaanku yang pertama," kata si pengemis,
perlahan-lahan dan suaranya tetap tawar. " Apa
1046 yang sedang dilakukan Siang koan-Giok Lin
sekarang ini?" Kaget dan heran sipelayan. Mau apa pengemis ini
bertanya tentang majikannya. Segera dia menduga
pasti pengemis ini musuh majikannya.
"Loya... loya sedang dikamar perpustakaannya
menghitung... menghitung penghasilan kemarin
yang baru disetor oleh perusahaan-perusahaannya,"
jawab si pelayan terpaksa.
"Pertanyaanku yang kedua: Apakah orangorangnya
dari kotaraja masih berada dirumahnya?"
tanya sipengemis tak mengacuhkan sikap ketakutan
sipelayan. "Ooo, kawan-kawan loya?" tanya si pengemis.
"Mereka... mereka masih berdiam dirumah loya,
mungkin sore ini... mereka akan mengadakan
pemeriksaan dikota ini." Si pelayan menyangka
sipengemis ini jeri pada utusan kaisar dari kotaraja
maka dia sengaja bilang begitu untuk menggertak.
Tapi, hasilnya malah, membuat dia tambah pecah
nyalinya, karena tahu-tahu tongkat si pengemis
menyabet pipinya. Perlahan tampak pukulan gagang
tongkat si pengemis, tapi pipi si pelayan segera
bengkak besar dan dia kesakitan sampai rasanya
menusuk-nusuk otak dan uluhatinya.
"Bicara yang jujur," suara si pengemis tambah
tawar, "Aku tahu kau bicara tidak jujur, sekali lagi
1047 melakukan hal itu maka kepalamu akan ku hantam
dengan tongkatku ini dan akibatnya kau tentu bisa
membayangkan sendiri ....!"
"Ampun... ampun... aku tak berani berdusta lagi,
Loya sekarang sedang mempersiapkan ....
keberangkatannya kekota raja."
"Maksudmu majikanmu itu akan berangkat ke
kotaraja?" menegasi pengemis ini tawar. "Bersama
siapa dia berangkat ke kotaraja" Kapan
berangkatnya?" "Loya... berangkat malam ini, jam tiga.
Kepergiannya dikawal oleh empat orang mereka
semua dari kotaraja." pelayan itu kini patuh
menjawab sebenarnya. "Apakah keempat orang yang akan mengawal
majikanmu ke kotaraja berada di rumah majikanmu
?" "Dua orang berdiam di rumah loya, dua orang lagi
berada di rumah Tihu, jam satu nanti mereka akan
datang menggabungkan diri."
"Siapa dua orang yang sekarang berada di rumah
loyamu itu ?" tanya pengemis itu lagi.
"Thio-taijin dan Cu kongcu," menyahusi si
pelayan. 1048 Yang kau maksudkan Thio-taijin itu apakah bukan
Thio Yu Liang " Dan yang kau sebut Cu-kongcu ita
apakah bukan Cu Lie Seng ?" tanya si pengemis lagi.
"Be... benar," si pelayan tambah yakin bahwa
pengemis ini bukan pengemis sembarangan, dia
menyesal mengejar-ngejar pengemis ini tadi seperti
mencari penggebuk saja. "Lalu dua orang lainnya yang akan menjemput
loyamu nanti, yang sekarang berdiam di rumah Tihu,
siapa mereka?" tanya si pengemis lagi.
"Aku mendengarnya mereka adalah... Ban-taijin
dan.... dan yang seorang lagi tak begitu jelas...
entah siapa dia, aku tak. mengetahuinya..."
"Plakkkkk!" tahu-tahu tongkat si pengemis
menepuk perlahan pipi si pelayan yang sebelah kiri,
perlahan sampokan tongkat itu, tapi gigi si pelayan
copot dua. "Bicara yang benar dan jujur. Siapa yang seorang
lagi?" bentak si pengemis. "Atau kau hendak
kepalamu itu kuhajar pecah?"
Rasa sakit yang ditanggung pelayan itu bukan
main menyiksanya, akibat terjerunuk. mukanya
menubruk jalanan, terbanting membentur tembok
rumah dan pipinya duakali dipukul oleh tongkat si
1049 pengemis benar-benar merupakan luka yang
mendatangkan rasa sakit yang menyiksa benar,
kepalanya pusing, matanya gelap, rasa sakit di
sekujur punggungnya karena tulang punggungnya
seperti patah atau sedikitnya retak akibat benturan
kuat pada tembok, membuat dia hampir tak
sanggup bicara lebih jauh.
Namun rasa takut yang hebat karena kuatir
disiksa lebih jauh oleh pengemis ini, terpaksa dia


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyariuii: "Sungguh... aku tak mengetahui siapa
orang yang keempat itu... sungguh Toaya... aku
tidak bicara bohong." Saking ketakutan dia
memanggil si pengemis dengan sebutan Toaya, tuan
besar. "Bohong! Kau rupanya minta dihajar lagi, heh?"
mengancam si pengemis. Pelayan itu merintih dengan muka meringis
ketakutan, dia hampir pingsan, menangis ketakutan
setengah mati. "Jangan... jangan mempersakiti aku
lagi, Toaya, aku sudah bicara yang jujur.... aku tak
tahu siapa orang orang keempat itu yang akan
mengawal Loya .... Sumpah mati apapun aku
mau.... ampuni aku, Toaya.... jangan
mempersakitiku lagi.... aku mempunyai lima orang
anak dan isteriku juga tak bisa apa-apa, kalau aku
mati siapa yang memberi makan pada mereka?"
"Hemmm. kau menyebut-nyebut tentaag isteri
dan anak anakmu untuk minta dikasihani, bukan ?"
1050 tanya si pengemis dingin. "Tapi, kalau kau tak bicara
jujur, sulit aku mengampuni jiwa anjingmu."
Tongkatnya diangkat mengancam akan memukul
pelayan itu lagi. Keruan saja si pelayan menjerit-jerit
ketakutan sambil menutupi kepalanya dengan kedua
tangannya, menghiba-hiba minta ampun, air
matanya mengucur banyak sekali, tidak malu-malu
dan lupa rasa sakit di tubuhnya, dia coba bergerak
untuk berlutut. Tapi, waktu itu tongkat si pengemis sudah turun,
menotok jalan darah Yu-ci-hiat nya di tengkuk,
seketika si pengemis pingsan tidak sadarkan diri.
"Kau beristirahatlah di situ," kata si pengemis
tawar, sambil ngeloyor pergi meninggalkannya, tapi
sekarang langkah kakinya tidak terseok-seok seperti
tadi, melainkan ringan sekali berlari dengan ginkang
yang sangat tinggi"!
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
---- "KITA harus membagi diri menjadi dua
rombongan, dan kukira yang paling baik daftar itu
dibawa oleh Cu kongcu!"
Orang yang berkata itu adalah seorang bertubuh
tinggi besar. memiliki uiat-urat tangan yang kasar
bertonjolan pada tangannya, mukanya bengis, dia
bicara sambil mengangkat cawan araknya,
1051 meneguknya kemudian seakan menantikan jawaban
yang lain-nya yang berkumpul di ruangan tersebut.
Orang ini tak lain Ban It Say, dan dia berkumpul
di ruangan itu bersama Siangkoan Giok Lin, Thio Yu
Liang, Cu Li Seng dan seorang berpakaian penuh
tambalan, dilihat dari keadaannya yang kotor dan
mesum, dialah seorang pengemis.
Usianya mungkin empat puluh tahun lebih, kumis
jenggotnya di biarkan tumbuh kasar di mukanya,
waktu Ban It Say bicara, dia cuma memutar-mutar
cawan araknya di atas meja dengan tangan
kanannya, seperti sedang berpikir keras.
"Apa yang dibilang Ban Toako memang tak
salah," kata Siangkoan Giok Lin. "Kita harus
membagi diri menjadi dua rombongan, untuk
mengalihkan perhatian orang-orang yang mengincar
daftar ini. Entah bagaimana pendapat Cu-kongcu ?"
Cu Lie Seng sejak tadi berdiam diri dengan muka
yang dingin kaku, waktu Siang-koan Giok Lin minta
pendapatnya dia tetap diam tak segera menyahuti,
hanya matanya memandang kepada orang-orang
yang berkumpul di situ satu persatu.
Kemudian dia baru menghela napas, katanya:
"Siapa sih yang memiliki nyali begitu besar untuk
menghadang kita dan merampas daftar itu " Biarpun
sudah makan sepuluh nyali macan rasanya sulit buat
mereka mengambil daftar itu dari tangan kita !
1052 Rasanya Ban taijin bicara terlalu berlebih-lebihan,
kita tak usah kuatir terhadap siapapun juga."
Muka Ban It Say merah merasa malu, dia adalah
congkoan Gi-lim-kun berkepandaian tinggi, berkata
seperti itu Cu Lie Seng jelas ingin mengatakan
bahwa dia seorang pengecut, yang kuatir berlebihlebihan.
Sebetulnya dia bermaksud mempermudah
pengiriman daftar-daftar orang kangouw yang
sekarang jadi rebutan dan banyak yang mengincar.
Tapi, ia tak berani bicara lagi, biarpun hatinya
mendongkol terhadap pemuda yang angkuh ini.
Cu Lie Seng tidak peduli sikap congkoan Gi-limkun
tersebut, dia menoleh pada Thio Yu Liang,
tanyanya: "Bagaimana pendapat Thio tai-jin ?"
Thio Yu Liang batuk-batuk, kemudian menyahuti
hati-hati : "Kukira memang ada baiknya daftar itu
bawa oleh Cu-kongcu. Dengan kepandaian Cu
kongcu dan beberapa orang pengawalmu, niscaya
daftar itu bisa sampai ditangan Cu-kong-kong
dengan selamat. Tentang cara pengiriman itu lebih
baik diatur oleh kongcu, kami cuma mematuhi
perintah saja." Senang tampaknya Cu Lie Seng, dia
mengangguk-angguk tersenyum, walaupun
senyumnya itu tetap tawar dan dingin. "Baiklah,
kukira sudah dapat dipastikan sekarang bahwa aku
yang akan membawa daftar itu. kalian ikut dalam
rombonganku, untuk memperkuat kedudukan kita
1053 selama dalam perjalanan ! Kuakui orang-orang Thio
Hong Gan dan pihak-pihak lain mengincar daftar ini,
tapi kukira kita bisa menghadapi mereka tanpa perlu
gentar." Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk, dia tak
berusaha menentang keputusan putera Cu
kongkong, yang diketahuinya sangat berkuasa itu.
Semua orang yang lainnya berdiam juga. Sedangkan
Cu Lie Seng telab berkata lagi: "Yang ingin
kujelaskan kepada kalian, baru beberapa hari ini
guruku, Tang San Siansu, sudah tiba di sini, beliau
yang akan mendamping aku pulang kekota raja."
Semua orang terkejut campur girang. Adanya
Tang San Sianau jelas merupakan jaminan bahwa
dalam perjalanan mereka tak akan menemui
kesulitan berapa banyakpun orang tangguh
berusaha menghadang mereka. Karenanya mereka
segera tertawa riang. "Sungguh beruntung kami jika bisa melakukan
perjalanan dengan guru kongcu, ini merupakan
kehormatan terbesar buat kami. Sekarang kami tak
perlu bimbang dan kuatir lagi, rintangan apapun
yang terjadi tentu bisa kita atasi!" kata Ban It Say
untuk memulihkan suasana, ikut memuji Cu Lie
Seng. Pemuda itu mengangguk, kemudian menjelaskan
rencana perjalanan mereka dengan suara perlahan.
Semua orang itu menggeser duduk masmg-masing,
1054 untuk lebih dekat mendengarkan rencana perjalanan
yang diuraikan Cu Lie Seng.
"Di manakah guru kongcu " Mengapa tak
mengajaknya kemari?" tanya Siangkoan Giok Lin.
"Aku menyesal sekali tak bisa melayani guru Kongcu
yang terkenal sebagai satu-satunya jago tanpa
tanding jaman ini!" Sebal Cu Lie Seng mendengar perkataan
Siangkoan Giok Lin, dia tahu orang she Siangkoan
ini cuma menjilat-jilat memuji untuk menyenangkan
hatinya, sebab Siangkoan Giok Lin memang seorang
yang pandai menepuk pantat untuk meraih
keuntungan pribadi. Cuma saja mengingat bahwa
orang ini diperlukan Hongsiang untuk menundukkan
jago-jago kangouw, dia tersenyum.
"Guruku tak mau merepotkan Lopeh, karenanya
sekarang dia berdiam di rumah Tihu."
Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk
katanya: "Kongcu sendiri memiliki kepandaian
demikian tangguh, entah bagaimana hebatnya
kepandaian guru kongcu" pujinya lagi. Dia
melambaikan tangan memanggil pelayan-pelayan
wanitanya untuk menambahi arak dan mengganti
makanan yang sudah dingin dengan makanan yang
baru. Ban It Say meremas pantat seorang pelayan
dengan sikap ceriwis, dia memang paling tidak boleh
1055 melihat muka cantik. Pelayan-pelayan Siangkoan
Giok Lin semuanya cantik-cantik dan montok,
karenanya tangan Ban It Say jadi gatal. Dia
meremas begitu sambil tertawa-tawa senang. Si
pelayan tak berani mengelak, cuma senyum-senyum
malu saja. Siangkoan Giok Lin juga tersenyum-senyum, dia
memang ingin menyenangkan tamu-tamunya,
sengaja telah menampilkan pelayan-pelayan wanita
ynng cantik cantik. Thio Yu Liang, juga rupanya jadi gatal pula
tangannya, dia menarik lengan seorang pelayan agar
lebih dekat, harum semerbak pelayan itu, gadis
berusia 19 atau 20 tahun, berwajah cantik dan
montok. Dia melirik pada Siangkoan Giok Lin,
katanya: "Kukira Siangkoan Kisu tak keberatan
menghadiahkan dia untukku."
"Silahkan... silahkan...!" Tertawa Siangkoan Giok
Lin. "jangankan hanya seorang, jika Taijin mau tiga
atau empat orang menemanimu, itupun dapat saja
Taijin ambil..." Thio Yu Liang sudah berdiri, dia tertawa-tawa
menyeret pelayan yang masih berusia muda dan
cantik itu, "Maafkan, perutku sangat sakit dan ingin
minta nona manis ini untuk memijitkannya dulu."
Pelayan itu masih gadis. Dia bekerja di gedung
Siangkoan Giok Lin sejak berusia delapan rahun,
1056 Selama itu tak pernah disentuh laki laki, sekarang
ada orang yang menyeretnya seperti itu dan bisa
menduga apa yang acan dilakukan Thio Yu Liang, dia
jadi ketakutan, mukanya pucat pias.
"Loya..." ratapnya sambil mengawasi Siangkoan
Giok Lin. Siangkoan Giok Lin mendelik, "Ayo temani Thiotaijin,
awas jangan membuat Thio thaijin jadi gusar."
Thio Yu Liang tampaknya sudah tak sabar dia
menyeret gadis pelayan tersebut menuju
kekamarnya. Tentu saja pelayan ini, tambah
ketakutan dan bingung, dia hendak meronta dari
cekalan Thio Yu Liang, tapi tenaganya mana cukup
untuk menghadapi kekuatan Thio Yu Liang" Seperti
semut dengan gajah saja. Bahkan terlalu takut dia menangis "Jangan aku,
taijin .... aku . . . aku . . . tak bisa menemani taijin
..." Thio Yu Liang tertawa-tawa, tak peduli dengan
sikap si pelayan, ditariknya terus dan hatinya
semakin senang saja. Justeru menjadi
kegemarannya adalah gadis-gadis yang memberikan
perlawanan seperti ini, untuk lebih menghangati
darah dan tubuhnya. Justeru wanita yang menerima
dan berdiam saja membuatnya sebal dan muak,
membuatnya jadi tak terangsang.
1057 "Thio-taijin, jam tiga kau sudah harus bersiapsiap
kita berangkat jam empat!" Bilang Cu Lie Seng.
Dia tawar saja menyaksikan ini sama sekali tak coba
mencegah kelakuan dan perbuatan Thio Yu Liang,
cuma dia mengingatkan agar Thio Yu Liang tidak
lupa daratan sehingga lupa bahwa pagi ini mereka
akan berangkat jam empat. Perbuatan-perbuatan
seperti itu memang sudah jadi biasa di-kalangan
mereka. Thio Yu Liang tertawa. "Kongcu jangan kuatir,
jam dua aku sudah siap dan selesai," Teriaknya dan
masuk dalam kamarnya menyeret pelayan yang
masih gadis itu. Semua orang diruang itu tertawa, mereka asyik
makan minum dan beberapa menit kemudian
terdengar jerit yang cukup keras di kamar Thio Yu
Liang, Siangkoan Giok Lin geleng-geleng kepala
sambil tersenyum, katanya : "Akh. anak itu benarbenar
tidak tahu diri, mengapa harus menjerit-jerit
segala " Bukankah Thio-taijin memberikan
kesenangan kepadanya " Oya, apakah Kongcu tak
bermaksud istirahat dulu ?"
Cu Lie Seng mengangguk perlahan, dja berdiri
untuk kembali ke kamarnya. Siangkoan Giok Lin
segera sibuk mengirim beberapa orang pelayannya,
yang semuanya masih muda dan cantik-cantik,
untuk melayani putera Cu-kongkong ini. Tapi empat
orang pelayan yang diutus Siangkoan Giok Lin di usir
1058 keluar oleh Cu Lie Seng, karena dia tak mau mensiasiakan
latihan lwekangnya dengan main perempuan.
Ban It Say membawa dua orang pelayan yang
dianggapnya paling cantik untuk menemaninya di


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kamar melewati waktu selama belum jam
keberangkatan mereka. Si pengemis tua yang sejak tadi berdiam diri saja,
tanpa ikut bicara, cuma memandang semua yang
terjadi dengan sorot mata mengiri. Setelah Cu Lie
Seng, Ban It Say dan Thio Yu Liang menghilang di
kamar masing-masing, si pengemis menoleh pada
Siangkoan Giok Lin, yang duduk di sampingnya.
"Toako, semuanya berjalan lancar, mereka
tampaknya menyukai aku dan ini sangat penting
sekali, agar laporan pada Cu-kong-kong semua
bernada baik." Ujar Siangkoan Giok Lin.
"Tentu saja, jasa-jasamu juga akan kulaporkan
kepada Cu-kongkong kelak, untuk mendapat tempat
yang layak untukmu."
Si pengemis tersenyum. "Ya. kuharap saja kau tak melupakan aku,
Siangkoan-ya," bilang si pengemis. Dia maklum,
sebagai seorang yang senang bermuka-muka,
seorang penjilat, niscaya Siangkoan Giok Lin selalu
harus berusaha mencari jalan untuk menyenangkan
1059 orang-orang yang akan jadi "jembatan" nya untuk
mencapai cita-citanya. Siangkoan Giok Lin telah dihubungi Kaisar,
diperintahkan untuk merangkul orang-orang
kangouw, tentu saja Kai-sarpun sudah tahu dari
laporan orang-orangnya bahwa Siangkoan Giok Lin
paling pandai mengambil hati siapapun juga, ltulah
sebabnya tugas ini diberikan kepada Siangkoan Giok
Lin. Namun, sebagai orang yang cerdik dan licik,
Siangkoan Giok Lin tahu bahwa ia harus mendapat
muka dari Cu kongkong, orang ke-biri yang paling
berkuasa saat itu. Jika Cu-kongkong tak
menyukainya, biarpun dia diperintahkan langsung
oleh Kaisar, niscaya dirinya terancam bahaya tidak
ringan, itulah sebabnya orang-orang Cu-kongkong
dijamunya sebaik mungkin, berusaha
menyenangkan hati mereka.
Apa lagi pada saat itu hadir Cu Lie Seng, anak
Cu-kongkong, maka dia melayani, sedapat mungkin
menyenangkan pemuda yang berkepandaian tinggi
tersebut, agar kelak menyampaikan kata-kata yang
baik tentang dirinya di hadapan Cu-kongkong.
Karena itu, walaupun di rumahnya kini merupakan
arena perbuatan maksiat, ia tak berusaha
menghalangi, juga menyembunyikan perasaan tak
senangnya. Jika bisa, dia malah ingin menganjurkan
Cu Lie Seng melakukan apa saja disukainya.
1060 Memang begitulah sifat manusia. Jika
memerlukan sesuatu tentu akan berusaha
menyenangkan orang yang bisa memungkinkan ia
berhasil dalam mencapai cita-cita dan keperluannya.
Apa pun akan dilakukan untuk menyenangkan orang
yang, dianggap bisa menjadi "jembatan" untuk
mencapai cita citanya. apa lagi seorang manusia hcik
dan cerdik seperti Siangkoan Giok Lin, untuk
mencapai cita-citanya ia tak segan-segan
mengorbankan harga dirinya.
Sudah lupa apa yang disebut dosa. Sudah lupa
apa yang disebut harga diri. Sudah lupa apa itu
penderitaan dari korban-korban perbuatannya.
Sudah lupa juga pada ancaman hukuman neraka
kelak. Yang terpenting bisa mencapai cita citanya,
apapun akan dilakukannya. Dan dia bercita-cita
menjadi satu-satunya orang kepercayaan Kaisar.
Sedangkan si pengemis bermuka kasar dan
mesum itu tak lain dari Kiu cie Sinkay (pengemis
sakti berjari sembilan) Ho Beng Su, di kaipang ia
memiliki kedudukan tinggi, sebagai salah seorang
Hiocu (pimpinan daerah), namun sifat tamak masih
tetap bersemayam di hatinya, ia terbujuk oleh
rayuan Siangkoan Giok Lin.
Karenanya juga, ia bersedia bekerjasama dengan
Siangkoan Giok Lin, buat Kaisar dan kerajaan, sebab
Siangkoan Giok Lin sudah membujuknya bahwa Ho
1061 Beng Su akan mendapat kedudukan sangat baik,
harta dan pangkat yang akan dihadiahkan oleh
Kaisar. Manusia yang masih mengejar keduniawian, tak
akan puas dengan kedudukan yang bagaimana
tinggi sekalipun. Biarpun dalam kaipang Ho Beng Su
memiliki kedudukan yang sudah tinggi, tapi sifat
tamaknya menghendaki untuk mendapat yang lebih
lagi. la sebetulnya mempunyai cita-cita untuk merebut
kedudukan Pangcu Kaipang, tapi sejauh itu
usahanya tak pernah berhasil. Sebab itu dia
akhirnya memutuskan untuk tunduk pada kerajaan
dan nanti memanfaatkan kekuatan kerajaan untuk
menggempur kaipang dan merampas kedudukan
pangcu (ketua) kaipang. Siangkoan Giok Liu yaag mengetahui cita-cita Ho
Beng Su, mempergunakan kesempatan itu untuk
membujuknya, menjanjikan kalau Ho Beng Su sudah
memperlihatkan beberapa perbuatan yang berjasa
kepada kerajaan, maka dijaminnya pihak kerajaan
akan membantu dan mendukung Ho Beng Su
sebagai pangcu kaipang. Memang yang dijanjikan Siangkoan Giok Lin
bukan janji kosong, kaisarpun lebih senang yang
menjadi ketua berbagai perkumpulan dan pintu
perguruan silat adalah orang-orang yang telah
tunduk dan bekerja untuk kerajaan, sehingga tak
1062 ada kesulitan di waktu-waktu mendatang, seluruh
perkembangan dalam kalangan kangouw dapat
dikuasai dan dikendalikan dengan baik. Ho Beng Su
memang akan didukung untuk menjadi pangcu
Kaipang. Ho Beng Su sendiri biarpun sudah mengkhianati
pintu perguruannya sendiri, merasa bahwa ia tak
keliru jalan, karena dia memang memiliki ambisi
yang besar. Sekarang dia mengandalkan Siangkoan
Giok Lin, agar dirinya bisa dekat dengan Kaisar,
karena di ketahuinya Siangkoan Giok Lin belakangan
ini menjadi orang kepercayaan raja untuk membujuk
orang orang Kangouw. Nanti, setelah dia bisa dekat Kaisar, Ho Beng Su
akan merebut kedudukan itu, ia yang akan berusaha
menjadi orang kepercayaan Kaisar. Selama itu, Ho
Beng Su menyimpan saja cita cita dan rencananya,
yaitu rencana untuk menjadi pangcu kaipang
merangkap menjadi ketua orang-orang kangouw !
Memang demikianlah sifat-sifat orang yang
memiliki jiwa dan hati kotor, selalu tak kenal puas
dan jika memperoleh kesempatan pasti akan cakarcakaran,
untuk memperebutkan kedudukan, tanpa
perduli lagi apakah harus mengorbankan kawan atau
memang harus memusnahkan rekan-rekannya, pasti
akan dilakukan apa yang dianggapnya bisa
membuatnya lebih dekat dengan cita-citanya.
1063 Kepandaian Kiu ci sin-kai sebetulnya tidak
rendah, tapi sejauh itu dia tak mau memperlihatkan
kepandaiannya di depan Cu Lie Seng, dia pikir
pemuda angkuh itu pasti tak senang jika dia ikutikutan
mengatur, dia membiarkan saja Cu Lie Seng
mengatur dia dan reman-temannya.
Dia hanya mendengar dan memperhatikan saja,
untuk ikut arus angin ke arah mana yang sekiranya
bisa lebih menguntungkan kedudukannya.
Dia sebetulnya senang sekali main perempuan
cantik, walaupun dalam kaipang memang terdapat
peraturan keras sekali, setiap anggota kaipang
dilarang mempermainkan wanita baik-baik, tapi Ho
Beng Su sejak menjabat kedudukan Hio-cu kaipang,
secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi seringkali
mempermainkan anak isteri orang.
Pada dasarnya memang dia memiliki sifat-sifat
yang tak baik dan buruk, namun orang kangouw
sejauh itu belum melihat isi hati sebenarnya dari
Hio-cu kaipang tersebut. Cuma malam ini, dia mempunyai rencana lain.
Yang lainnya menghabiskan waktu dengan pelayanpelayan
wanita Siangkoan Giok Lin yang cantik
cantik, Ho Beng Su tidak mau mengikuti apa yang
dilakukan rckan-rekannya, sebab dia ingin
menyimpan tenaga. 1064 Dia cuma berunding dengan Siangkoan Giok Lin,
perihal rencana keberangkatan rombongan mereka.
"Kita boleh tenang dan gembira, karena Tang San
Siansu akan bersama rombongan kita!" Siangkoan
Giok Lin tertawa bilang begitu pada kawannya.
"Biarpun ada iblis dan jin dari neraka turun, tak
mungkin ada yang sanggup mengambil daftar itu
dari tangan kita, Tang San Siansu pasti tak akan
meinbiarkan hal itu terjadi !"
"Ya, akupun sudah dengar kehebatan Tang San
Siansu, dan sejauh ini aku belum pernah bertemu
dengannya." Menyahuti Ho Beng Su dengan tawar.
Dia tidak percaya apa yang diceritakan oleh
teman-temannya dalam kalangan kangouw bahwa
Tang San Siansu merupakan jago nomor satu di
jaman itu, biar bagaimana dia merasa itu cuma
hanya cerita yang terlalu dilebih-lebihkan.
Karenanya hatinya mendongkol melihat Siangkoan
Giok Lin begitu kegirangan dan yakin dengan adanya
Tang San-Siansu rombongan mereka tak akan
menghadapi kesulitan apa-apa.
Sampai jauh malam kedua sahabat itu, bercakapcakap,
membicarakan rencana-rencana mereka
selanjutnya setelah tiba dikota raja.
Tapi, tanpa mereka ketahui sepasang mata
bersinar tajam tengah mengawasi mereka dari luar
jendela, mengintai dengan sikap hati-hati. Sebagian
dari percakapan mereka telah didengarnya, tapi
1065 sebagian lagi tak terdengar olehnya, karena tadi
waktu Cu Lie Seng memberitahukan rencana
perjalanan mereka kepada kawan-kawannya.
suaranya perlahan sekali.
Setelah melihat Ho-Beng Su dan Siangkoan Giok
Lin berdua yang tertinggal diruang tersebut, orang
yang mengintai itu, yang berpakaian penuh
tambalan, dengan langkah sangat ringan
meninggalkan jendela, berindap-indap mencari
kamar Cu Lie Seng! Waktu melewati jendela, Ban It Say, di
dengarnya suara isak tangis wanita diseling oleh
suara tertawa senang Ban It Say dan juga bujuk
rayunya, Orang itu yang tak lain pengemis tua yang
tadi telah mempermainkan pelayan Siangkoan Giok
Lin, merasa sebel dan tubuhnya ringan sekali
menjauhi jendela itu, menghampiri jendela kamar
yang lainnya. Kembali didengar suara lenawa cekikikan dari
Thio Yu Liang dan wanita yang tadi diseret masuk ke
dalam kamar. Rupanya Thio Yu Liang pandai sekali
membujuk gadis pelayan yang tadi begitu ketakutan
dan menjerit ketika berada didalam kamar berdua
Thio Yu Liang kini sudah jinak dan tertawa cekikikan
berdua dengannya. Pengemis tua itu tidak berhenti di jendela kamar
Thio Yu Liang, ringan sekali langkah kakinya,
tubuhnya meloncat ke dekat jendela kamar lainnya,
1066 dia mendekati jendela itu hati-hati, karena dia yakin
inilah jendala dari kamar yang ditempati oleh Cu Lie
Seng. Tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia
merapatkan diri di dekat jendela mengintai ke
dalam. Dugaaannya tidak salah, itulah kamar Cu Lie
Seng. Pemuda bangsawan itu tengah duduk
bersemedhi di pembaringan, untuk mengatur
pernapasannya. Matanya terpejamkan. Si pengemis
mengerutkan alisnya, diam-diam dia kagum bahwa
dalam usia semuda itu Cu Lie Seng dapat mengatasi
diri tak terlibat dalam urusan wanita.
Hal ini memang memungkinkan Cu Lie Seng
mencapai kemajuan yang lebih cepat dalam latihan
tenaga dalamnya. Mendadak terdengar suara tertawa dari arah
sebelah kanan, cepat-cepat si pengemis tua
melompat ke langkah wuwungan, bersembunyi di
situ, Dua orang pelayan Siankoan Giok Lin muncul
dari arah dapur sambil bercakap-cakap dan tertawatawa.
Mereka tampaknya senang sekali,
membicarakan perihal kelakuan tamu-tamu
terhormat dari majikannya, yang ternyata hampir
semuanya doyan wanita cantik.
Setelah kedua pelayan itu menjauh, si pengemis
tua meloncat turun kembali ke tanah. Dia
1067

Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bermaksud hendak, mengintai lagi, Waktu itulah
terdengar: "Sahabat, mengapa tidak masuk saja?"
Kaget pengemis tua ini, tak disangkanya Cu Lie
Seng memiliki pendengaran begitu tajam dan sudah
mengetahui kehadirannya. Dia cepat-cepat meloncat
hendak menjauhi, tapi daun jendela sudah terbuka,
disusul melesat keluar sesosok tubuh gesit sekali.
ltulah Cu Lie Seng. Jilid ke 24 Kepandaian Cu Lie Seng cukup tinggi, dia murid
tokoh tangguh seperti Tang San Siansu dan
beberapa tokoh persilatan lainnya, karenanya
pemuda ini tak kenal takut. Begitu dia mengetahui
ada tamu tak diundang yang berkunjung di depan
jendelanya, dia tak segera berteriak memanggil
orang-orangnya ataupun Siangkoan Giok Lin,
melainkan membuka daun jendela dan melompat
keluar dari jendela kamarnya itu untuk menangkap
sendiri tamu tak diundang tersebut.
Waktu Cu Lie Seng sudah berada di luar jendela
kamarnya, dia melihat sesosok tubuh sedang
melesat hendak pergi, maka dia meloncat lagi tinggi
sekali sambil bentaknya: "Mau lari kemana kau ?"
Tubuhnya seperti juga kilat cepatnya menubruk
kearah bayangan itu. Namun orang yang
ditubruknya juga memiliki kepandaian tinggi, karena
tubrukan Cu Lie Seng mengenai tempat kosong.
1068 "Kalau kau mempunyai nyali, ayo ikut denganku
!" mengejek si pengemis tua itu untuk membakar
hati dan perasaan Cu Lie Seng, dia juga sudah
melesat pergi. Cu Lie Seng cerdik bukan main, jika saja
pengemis itu berlari terus tanpa menantangnya,
niscaya ia akan mengejarnya untuk membekuk, tapi
sekarang mendengar pengemis itu menantangnya,
dia malah menahan kakinya berdiri di tempatnya.
Hmmm, bukankah dia sedang melaksanakan tipudaya
"memancing harimau meninggalkan kandang"
untuk memancingku !" pikirnya.
Maka dia tidak mengejar, berdiri di tempatnya
mengawasi kepergian si pengemis.
Pengemis yang tadi mengintai sudah berdiri di
atas genteng. Dia menoleh dan kecewa melihat Cu
Lie Seng tak mengejarnya, bahkan berdiri di situ
mengawasinya saja dengan sorot mata tajam.
Pengemis ini segera menyadari bahwa dia sudah
gagal memancing Cu Lie Seng untuk mengejarnya,
namun dia tidak kehabisan akal maka tantangnya:
"Kau ternyata manusia pengecut tak bernyali,
jangan kuatir, tak mungkin kau dikeroyok oleh
teman-temanku !" Ejeknya.
Cu Lie Seng panas hatinya, tapi dia tetap tidak
bergerak dari tempatnya berada. "Siapa kau sahabat
?" tegurnya bengis dan dingin. "Turunlah, kalau kau
punya urusan denganku, mari kita bicara di sini! "
1069 "Hu, aku tak menyangka putera tunggal si kebiri
yang sudah mau mampus itu adalah manusia paling
pengecut di dunia ini, sama seperti bapakmoyangnya
yang selalu bersembunyi ekor tapi
mencelakai rakyat memakai tangan anak buahnya"
mengejek pengemis itu lagi.
Merah mula Cu Lie Seng. Tapi dia sudah yakin
pengemis ini hendak memancing-nya, maka dia
tetap berdiri di tempatnya. Dengar suara dingin dia
bilang: "Kalau kan ingin mengetahui lebih jelas
tentang diriku, turunlah, aku akan perlihatkan
kepadamu apakah aku ini manusia pengecut atau
manusia yang tidak tahu malu seperti yang kau
sebutkan ! Turunlah ! "
"Hemmm, sudah jelas kau manusia paling
pengecut di dunia ini. Bukankah dengan berdiam
terus di situ kau menghendaki nanti temantemanmu,
Ban It say si manusia yang punya tawa
yang menyebalkan itu ! Atau kau mengharapkan
juga bantuan orang she-Thio untuk bersama-sama
mengeroyokku?" "Aku jamin kau tidak akan dikeroyok! Itu
jaminanku, siapa saja yang berani mengeroyokmu,
akan kuhukum seberat-beratnya !" Menyahuti Cu Lie
Seng tambah gusar. "Kau tak usah banyak-banyak alasan, pulang saja
ke pangkuan ibumu. menyusulah sepuas-puasmu!"
mengejek pengemis itu lagi.
1070 Habis kesabaran Cu Lie Seng. Walaupun menduga
pengemis ini hendak memancingnya, tapi sekarang
dia sulit mengendalikan diri. Dia jadi kalap diejek
seperti itu. Walaupun bagaimana Cu Lie Seng masih
berusia muda, perasaan yang lebih diutamakan. Dia
juga yakin dirinya memiliki kepandaian tinggi, jarang
orang bisa melukai dirinya, karenanya biarpun nanti
ada teman-teman si pengemis yang tengah menanti
di suatu tempat, dia tidak takut.
Tanpa bicara lagi badannya seperti anak panah
terlepas dari busur, telah melesat menyambar ke
pengemis. Tapi pengemis itu yang tahu sudah berhasil
memanas-manasi hati Cu Lie Seng, tak membuang
waktu, sama cepat dan gesitnya dengan ginkangnya
melesat pergi meninggalkan rumah Siangkoan Giok
Lin. Kedua orang itu jadi saling mengejar. Karena
terlalu cepat mereka berlari mempergunakan
ginkang tinggi. badan mereka sudah tak bisa dilihat
jelas, cuma tampak seperti kedua sosok bayangan
yang berkelebat samar; kaki mereka seperti sudah
tak menginjak bumi lagi. Untung saja waktu itu tengah malam dan sepi,
kalau saja ada penduduk kota yang melihat kedua
sosok bayangan yang saling kejar seperti itu, jelas
akan menyangka telah melihat dua setan yang
sedang gentayangan di tengah kota !
1071 Si pengemis memang memiliki ginkang tinggi,
karena sejauh itu Cu Lie Seng tetap tak berhasil
mengejarnya. Biarpun Cu Lie Seng penasaran dan
mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih
dekat pada pengemis itu, tetap saja usahanya gagal.
Bahkan ketika tiba di sebuah tikungan, ia kehilangan
jejak si pengemis. Bukan main mendongkol dan penasaran Cu Lie
Seng, dia berpura-pura di tempat itu mencari si
pengemis, yang diduga bersembunyi di sekitar
tempat itu. Tapi usahanya tetap saja tak berhasil.
Waktu itulah mendadal dia teringat sesuatu, dia
cepat-cepat berhenti mencari jejak si pengemis,
malah secepat kilat tubuhnya sudah berlari lari
kembali ke rumah Siangkoan Giok Lin. Keadaan di
rumah Siangkoan Giok-Lin sepi-sepi saja, tak terjadi
sesuatu. Cu Lie-Seng langsung kekamarnya dan
melihat barang-barang di dalam kamarnya sudah tak
teratur seperti semula, bahkan buntalannya dalam
keadaan terbuka. Segera Cu Lie Seng memeriksa
buntalannya, tak ada yang lenyap.
"Hemm, tentu dia mencari ini!" menggumam Cu
Lie Seng sambil merogoh saku bajunya
mengeluarkan segulung kertas." Daftar orang-orang
kangouw inilah yang diincarnya !"
Dan dia tertawa dingin, memasukkan lagi
gulungan kertas itu ke daiam sakunya. Menutup
jendelanya dan pergi tidur!
1072 -------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
----- Si pengemis tua yang semula jalan terseok-seok
dan tampak lerrah yang pernah mempermainkan
pelayan Siangkoan Gion Lin, ternyata tak ada apaapa
pada kakinya, dia cuma-pura pura terseok-seok,
karena waktu dikejar oleh Cu Lie Seng dia bisa
bergerak sangat gesit. Dia berhasil memancing Cu Lie Seng sampai jauh
dan kemudian menyelinap kembali ke-rumah
Siangkoan Giok Lin. Segera dia memeriksa kamar Cu
Lie Seng, sebab tadi didengarnya banwa daftar
orang-orang kangouw yang bersedia tunduk dan
bekerja pada kerajaan berada ditangan Cu Lie Seng.
Tetapi pengemis ini tak berhasil menemukannya.
Rupanya Cu Lie Seng selalu membawa bawa daftar
orang-orang kangouw itu didalam sakunya.
Si pengemis membanting-banting kaki, dia
menyesal tadi tak ngadu kepandaian saja dengan Cu
Lie Seng, dengan kemungkinan bisa mengambil
daftar orang-orang kangkouw disaku pemuda she Cu
tersebut. Dia bersusah payah memancing Cu Lie Seng
dengan harapan bisa memeriksa kamar si pemuda
she Cu, tapi harapannya ternyata nihil. Barang yang
dicarinya tak berhasil ditemukan.
1073 Karena tahu tak lama lagi Cu Lie Seng akan
pulang kekamarnya ini tak membuang waktu lagi
pengemis meninggalkan kamar itu, cepat luar biasa
dia keluar dari rumah Siang koan Giok Lin. Dan
memang tak lama kemudian Cu lie Seng kembali
kekamarnya, namun tak menemukan si pengemis.
Pengemis itu berlari cepat sekali keluar kota. Dan
dia tiba disebuah tempat yang banyak terdapat
batu-batu gunung berukuran besar, tubuhnya
menyelinap kebelakang batu-batu gunung itu.
"Nona Cang !" panggil si pengemis. perlahan
suaranya. "Kau sudah kembali" "jawaban dari balik batu.
"Ya sudah kuselidiki keadaan dirumah Siangkoan
Giok Lin, Dia bersama orang-orang raja lalim itu
akan berangkat meninggalkan kota ini pada jam
empat malam ini, menuju kekotaraja!" si pengemis
duduk sambil meletakkan tongkatnya.
Oraug dibalik bongkahan batu itu, nona Cang
berseru kaget. "Kau...kau..." karena dia melihat
yang muncul seorang pengemis tua. bukan Giok
Han, seperti yang disangkanya.
Si pengemis tertawa dia menarik kumis
jenggotnya yang segera terlepas dan membuka baju
luarnya, baju penuh tambalan. "A-ku telah
menyamar sebagai pengemis, ternyata
1074 penyamaranku sangat baik, sampai kau ju ga tak
mengenaliku." Cang In Bwee tertawa geli, "Nakal kau!" katanya.
"Aku jadi kaget, kukira pengemis mana yang mau
cari urusan denganku ! Aku pernah menyamar
sebagai pengemis, sekarang kau menyamar sebagai
pengemis jelas kita orang segolongan, dari kalangan
pengemis!" Giok Han tertawa. Dia menceritakan
"tadi waktu pergi hendak hendak menyelidiki gedung
Siangkoan Giok Lin, dia bertemu dengan seorang
pengemis. Maka timbul pikiran untuk menyamar
sebagai pengemis. Dia membujuk si pengemis agar
menjual sepotong pakaian penuh tambalan
kepadanya, kemudian diapun memakai kumis dan
jenggot palsu, me ngotori mukanya, sehingga tak
ada lagi orang yang mengenalinya.
Karena diberi uang cukup banyak oleh Giok Han,
pengemis itu tak keberatan memberikan pakaiannya
sepotong pada pemuda yang tak dikenalnya ini.
Kemudian Giok Han juga menceritakan
pengalamannya menyelidiki gedung Siangkoan Giok
Lin, Tentang rencana Stankoan Giok Lin serta
rombongannya yang akan berangkat kekotaraja
pada jam empat pagi ini. "Hemmm, tampaknya kita tak mudah merampas
daftar orang orang kangouw dari tangan Cu Lie
Seng, Di sampingnya masih banyak yang lainnya,
yang memiliki kepandaian tak rendah. Yang lebih
1075 berbahaya lagi Tang San Siansu akan bersama sama
mereka. Ini sulitnya!" menggumam si gadis dengan
muka murung. Giok Han mengangguk. "Sebetulnya ini menggembirakan," kata Giok Han.
"Kita telah memperoleh kesempatan."
"Kesempatan apa yang menggembirakan?" tanya
Cang In Bwee tak mengerti.
"Kau bermusuhan dengan Tang San Si-ansu, dia
musuh besarmu juga orang yang harus
dimusnahkan manurut perintah guruku. Maka kita
bisa saja mampergunakan kesempatan ini untuk
berurusan dengannya, memancingnya dan kita
kemudian menghadapinya bersama-sama. Tak
mungkin dia bisa merobohkan kita. Tetapi urusan
daftar orang-orang kangouw mempunyai
kepentingan yang lebih besar.
Walaupun bagaimana kita harus menyingkirkan
dulu urusan pribadi, kita harus berusaha mengambil
daftar orang-orang kangouw. Kalau tidak niscaya
Thio Hong Gan akan mengalami kesulitan dalam
usaha besarnya...!" Cang In Bwee mengiyakan membenarkan


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perkataan Giok Han. Lalu mengangkat kepalanya
mengawasi si pemuda. "Lalu apa rencanamu ?"
tanyanya. 1076 "Kita akan menguntit rombongan mereka, jika
ada kesempatan barulah kita rampas daftar orangorang
kangouw dari tangan muridnya, Cu Lie Seng.
Tetapi kita harus bekerja hati-hati, jika gagal
habislah harapan kita bisa menghadiahkan daftar
orang-orang kangouw itu pada Thio Hong Gan."
"Baik! Kita atur begitu saja "
"Tapi..." Giok Han tampak ragu-ragu, dia
mengawasi bimbang si gadis.
"Kenapa ?" taaya In Bwee heran.
"Kesehatanmu belum pulih... bagaimana kita bisa
menguntit mereka ?" "Jangan kuatir," tertawa si gadis. "bukankah kita
cuma meoguntit mereka, dan belum bermaksud
turun tangan" Selama itu aku bisa mempergunakan
kesempatan untuk menyembuhkan lukaku. Asal kita
hati-hati, bukankah tidak ada kesulitan ?"
Giok Han mengangguk. Mereka bertekad
walaupun bagaimana daftar orang-orang kangouw
yang berada ditangan Cu Lie Seng harus mereka
rampas, untuk diserahkan kepada Thio Hong Gan.
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
1077 Enam orang gadis berpakaian serba putih dan
semuanya cantik-cantik, bertubuh montok dan
masih berusia muda, melangkah ringan memasuki
sebuah pintu rembulan yang terukir indah sekali.
Mereka masing-masing membawa sebuah nampan
makanan. Dengan sikap hormat keenam gadis ini
masuk ke ruang yang diatur sangat mewah, yang di
sekelilingnya terdapat taman bunga yang tumbuh
semerbak dengan warna-warnanya yang meriah.
Tak jauh dari undakan anak tangga yang menuju ke
ruang mewah tersebut, ada kolam yang airnya
bening, diatur langat bagus sekali.
Keenam gadis berpakaian patih ita berlutut
setelah menaiki undakan anak tangga. "SianIi
(Dewi), kami telah menyelesaikan tugas kami,"
bilang keenam orang gadis itu dengan sikap hormat
sekali. "Hemmm, bagus! Masuklah kalian!" terdengar
jawaban dari ruang dalam yang terhalang oleh tirai
sutera yang halus dan indah. Dari dalam ruangan ini
tersiar harum semerbak yang menyebabkan orang
bisa merasakan, dirinya seperti berada di tempat
yang sama indahnya di sorga.
Keenam gadis berpakaian serba putih itu
mengiyakan, mereka bangkit dan membawa nampan
masing-masing masuk ke ruang dalam.
Di dalam ruangan diatur sangat indah, juga luas.
Di sudut kiri dari ruangan itu terdapat sebuah
1078 pembaringan, di atas pembaringan itu rebah seorang
wanita yang cantik luar biasa. Sikapnya angkuh
sekali, dia cuma melirik waktu keenam gadis
berpakaian serba putih itu berlutut di samping
ranjangnya. "Bagaimana hasil tugas kalian?" tanya wanita
cantik yang rebah di ranjang.
"Semuanya berjalan lancar tak ada ha-largan,
sianli," menyahuti salah seorang dari keenam gadis
berpakaian serba putih itu.
"Berkat doa Sianli, maka kami berhasil
mengumpulkan beberapa pemuda yang kami anggap
memenuhi persyaratan."
"Bagus. Tapi, apakah tak terjadi pertempuran
dalam usaha kalian?" tanya Sianii itu dengan suara
tawar. "Tidak, Sianli. Bahkan lihatlah.... kami berhasil
mengambil hadiah-hadiah menarik ini untuk Sianli."
Setelah berkata begitu, wanita berpakaian serba
putih tersebut membuka tutup nampannya, ternyata
di situ terdapat barang-barang permata yang
berkilauan, seperti berlian, mutiara dan giok.
Bermacam-roacam perhiasan.
Kelima orang kawannya juga membuka nampan
masmg-masing, isinya bukan makanan, sama
1079 seperti nampan gadis yang pertama tadi, berisi
permata mutu manikam yang nilainya sangat tinggi.
Sianli di atas pembaringan cuma melirik,
tersenyum hangat. "Bagus, simpanlah semuanya di tempat
penyimpanan itu !" kata si Dewi sambil menunjuk
kepada dinding yang ada di seberangnya.
Keenam gadis cantik berpakaian serba putih itu
telah mengiyakan dan pergi ke dekat tembok. Salah
seorang diantara mereka, yang rupanya jadi
pemimpin dari kelima kawannya, telah menekan
sebuah tombol dan dinding itu bisa terbuka.
Rupanya pada tembok itu dipasangi alat rahasia,
sebagai tempat penyimpanan barang-barang
berharga tersebut. Isi enam nampan itu dipindahkan
ke dalam kotak penyimpanan di tembok.
"Sekarang," kata Sianli itu setelah keenam orang
gadis berpakaian serba putih tersebut berlutut lagi di
samping pembaringan, "kalian bawalah salah satu di
antara calon-calon yang terbaik," dia berdiam
sejenak, kemudian meneruskan, ,.yang termuda dan
yang tergagah !" "Baik, Sianli. Budak-budakmu akan melaksanakan
perintah dengan sebaik-baiknya, agar Sianli tak
kecewa !" 1080 Keenam gadis berpakaian serba putih itu yang
rupanya pelayan Sianii tersebut, segera
mengundurkan diri. Sedangkan Sianli itu duduk di
tepi pembaringan. Dia tersenyum. "Besok aku harus
mendampingi bocah menyebalkan itu kembali ke
kotaraja ! Hu ! Hu ! Kalau saja bukan murid Tang
San si gundul, tidak akan kupedulikan
permintaannya untuk mengawal keselamatannya !"
Tampak-nya dia jadi kesal sekali.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki
mendekat. Sianli itu menoleh ke pintu, dia melihat
seorang pelayannya yang berpakaian serba putih
sudah muncul diikuti oleh seorang pemuda berwajah
putih halus dan bertubuh cukup gagah. Pemuda itu
memandang bingung sekeliling ruangan dan juga
pada Sianli itu, rupanya dia tak tahu mengapa
dirinya dibawa ke situ. "Sianli, tugas sudah dilaksanakan !" melapor
pelayan itu dengan sikap hormat.
"Bagus A-hiang. Sekarang kau boleh
mengundurkan diri, mengasolah ! Nanti kalau
kubutuhkan kau, akan kupanggil !"
"Baik, Sianli." Si pelayan melirik pada si pemuda
dan melangkah pergi, waktu lewat di sisi si pemuda
dia masih sempat berpesan, suaranya perlahan
sekali: "Layani Sianli baik-baik, jangan membuat
Sianli gusar kalau sayang jiwamu !"
1081 Pemuda itu diam saja, dia tengah kebingungan.
Ketika Sianli itu melambaikan tangannya menyuruh
dia maju mendekat ke pembaringan, si pemuda
melangkah ragu-ragu. "Siapa namamu?" tanya Sianli. halus suaranya,
lirikan matanya genit sekali, bergairah.
"Aku Yao Can," menyahuti si pemuda, dia juga
terheran-heran melihat di dunia ada wanita yang
cantik luar biasa seperti yang ada di depannya,
seperti seorang bidadari dari kahyangan. Entah apa
yang diinginkan wanita cantik ini darinya "
"Berapa umurmu ?" tanya Sianli itu lagi.
"Duapuluh tiga tahun."
"Usia yang masih muda sekali," menggumam
Sianli. "Apakah kau sudah menikah ?"
"Belum..." "Sayang ! Tentunya kau belum berpengalaman!"
menggumam Sianli itu lagi, membuat si pemuda
yang mengaku bernama Yao Cun bertambah heran
dan tidak mengerti cuma mengawasi saja.
"Siapakah Sianli . . . " Dan mengapa aku diajak
kemari ?" tanya si pemuda.
1082 "Tentang siapa diriku, tak perlu kau bertanyatanya,
cukup kau panggil aku dengan Sianli saja.
Pertanyaanmu mengapa kau diajak kemari oleh
pelayan-pelayanku, tentu kau bisa ketahui nanti.
Sekarang aku ingin tanya kepadamu, apakah kau
senang berada di sini ?"
Pemuda itu mengawasi keadaan ruangan yang
sangat mewah tersebut, kemudian mengangguk.
"Senang... tetapi ini tempat yang asing sekali
untukku... terlalu mewah..." Sianli turun dari
pembaringan, menghampiri pemuda itu, "Jangan
pedulikan barang-barang yang tak berjiwa itu,
Sekarang lihatlah padaku. Senangkah kau padaku?"
Pemuda itu tambah bingung, tapi melihat sinar
mata yang liar dan memancarkan gairah, si pemuda
tahu apa yang tengah dihadapinya, wanita yang
penuh dengan pengaruh nafsu birahi, yang genit
sekali, yang tampak cantik seperti bidadari.
Laki-laki manakah yang tak senang bercakap
cakap dengan wanita secantik ini" Orang gila saja
masih akan memandang terbengong-bengong pada
kecantikan seorang wanita, apa lagi kecantikan yang
luar biasa seperti wajah wanita ini yang ada
dihadapannya. Maka pemuda itu mengangguk raguragu.
"Tentu saja... aku senang, Tetapi aku tak tahu
siap Sianli sebenarnya..."
1083 Sianli melangkah mendekati pemuda itu, menarik
tangannya sehingga si pemuda melangkah
mendekatinya, diajak duduk di pinggir pembaringan.
Pembaringan itu demikian empuk dan hangat.
"Aku menyukai kau, tapi janganlah kau
membuatku jadi sebal dengan semua pertanyaanmu
yang tetek bengek tak keruan itu. Sekarang aku
menginginkan kau mendampingi ku dengan penuh
kehangatan!" Waktu bicara tangan Sianli merabaraba
tangan pemuda itu yang diusap-usap lembut
sekali. Tubuh pemuda itu menggigil dia tampak
mengalami tekanan batin yang hebat. Darahnya
mendesir lebih cepat dari yang normal. Tubuhnya
semakin lama menggigil semakin keras. Harum
semerbak yang menerpa hidungnya membuat
semangatnya seperti melayang-layang
meninggalkan raganya, apalagi sekarang tangannya
diusap-usap oleh jari-jari tangan lentik berkulit halus
lembut sekali membuat dadanya berdegup keras.
"Apa... apa maksud Sianli?" tanya pemuda itu
seperti orang tolol. Sanli tersenyum, dia menarik tangan si pemuda
sehingga tubuhnya berada dekat dengannya dan dia
merebahkan kepala didada si pemuda.
"Peluklah aku....!" pinta Sianli dengan suara yang
sengau serak perlahan, gemetar.
1084 Pemuda itu tambah kebingungan, tapi tangannya
tanpa disadari telah memeluk badan Sianli, yang
montok padat. Tuburi pemuda ini gemetaran,
giginya sampai bergemerutukan. Tapi dia berusaha
mengembalikan gemetar tubuhnya, biarpun selalu
gagal. Hangatnya tubuh wanita cantik dalam
dekapannya membuat dia seperti terbang ke dunia
lain. "Jari-jari tanganmu dingin sekaii," bisik Sianli
sambil nengusap perlahan-lahan dada pemuda ini.
Dada yang berdegup keras dan cepat.
"Oooo - -" pemuda itu ingin melepaskan
dekapannya, menarik tangannya, kaget sekali
tampaknya. Tapi Sianli sudah memeluknya. "Biarpun
tanganmu dingin, kukira tak apa-apa."
Memang, tangan pemuda itu dingin sekali karena
perasaan yang bergolak di dalam hatinya. Dia tak
kenal siapa wanita cantik yang genit dan hangat
yang berada daiam pelukannya. Tetapi darahnya
bergolak semakin lama semakin keras. Apa lagi
tangan Sianli itu mulai berkeliaran kemana-mana,
sehingga pakaian pemuda itu sudah tak keruan
letaknya. Lupalah pemuda itu terhadap segalanya, dia
sudah tak berpikir apa-apa lagi, hanya satu yang
diingatnya dan diinginkannya, yaitu tubuh yang
montok dan hangat. 1085 Kamar itu tak berpintu, tapi tak ada seorangpun
di sekitar tempat itu. Sianli juga tak canggungcanggung
bersikap mesra sekali pada pemuda
tersebut. Matanya semakin lama semakin redup.
Cuma, akhirnya dia kecewa setelah semuanya
berlangsung, pemuda ini tak memberikan apa yang
diharapkannya.

Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tahu-tahu tangan kanannya menyampok dada
pemuda itu. Perlahan saja kelihatannya, tapi badan
pemuda itu terpental jauh, terbanting di lantai
diiringi jerit kematian. Waktu tubuhnya terbanting di
lantai, dia kelojotan beberapa kali, kemudian
mengejang diam, karena kepalanya telah pecah!
"Hu! Cuma mengotori saja...!" menggerutu Sianli
sambil menyambar bajunya dan mengenakannya
dengan marah-marah. Kemudian dia menepuk
tangan beberapa kali. A-hiang cepat muncul, Dia tak
kaget melihat pemuda yang tadi diajak masuk
olehnya ke ruang itu sudah menggeletak mati
dengan kepala pecah dan tubuh telanjang bulat. Apa
yang disaksikannya seperti juga pemandangan yang
biasa saja. Dengan sikap hormat dia berlutut.
"Ada perintah lagi, Sianli?"
"Bawa yang kedua," perintah Sianli dengan muka
yang masam "manusia apa yang kau bawa ini,
apapun dia tak bisa, cuma mengotori tubuhku saja!"
1086 Muka A-hiang jadi pucat, cepat cepat dia
mengangguk-anggukkan kepalanya dalam keadaan
berlutut. "Ampuni budakmu, Sianli... budakmu akan
berusaha mempersembahkan yang diinginkan
Sianli." "Cepat laksanakan tugasmu!" perintah Sianli,
tanpa berani berayal, A-hiang segera menggotong
Yao Cun yang masih dalam keadaan telanjang bulat
dan kepala yang telah pecah hancur menyebabkan
kematiannya itu, keluar dari ruangan tersebut.
Seorang pelayan lainnya kawan A hiang sudah
datang membersihkan lantai dari noda darah.
Tak lama kemudian A-hiang muncul lagi, dia
bersama seorang pemuda berpakaian sebagai
pelajar, yang waktu masuk ke dalam ruangan
dengan senyum-senyum ceriwis.
"Sianli, semoga dia tak mengecewakanmu"
melapor A hiang. Sianli yang luar biasa ini,
melambaikan tangannya agar si pemuda yang
tampaknya ceriwis datang mendekatinya.
Pemuda itu melirik pada A-hiang, kemudian
sambil tersenyum senyum menghampiri Sianli
mulutnya juga ceriwis sekali. "Aduhhh, cantik luar
biasa, sungguh membuat aku seperti bermimpi dan
seperti sedang berada di sorga! "puji pemuda itu.
1087 Sianli tersenyum senang mendengar pujian.
Lenyap kemendongkolan hatinya. Tanyanya: "Siapa
namamu?" Cepat-cepat pemuda ini merangkapkan kedua
tangannya dan menjura. "Hakseng bermana Thio
Giam Keng. Siapakah nama nona?"
"Nanti akan kuberitahukan siapa diriku. Sekarang
jawablah dulu pertanyaan-pertanyaanku." bilang
Sianli. "Silahkan, silahkan, dengan senang hati Hakseng
akan menjawab dengan jujur dan sebenarnya setiap
pertanyaan nona. Apa yang ingin nona tanyakan."
"Berapa umurmu?" tanya Sianli.
"Duapuluh tujuh tahun."
"Sudab menikah?"
Pemuda pelajar itu tersenyum ceriwis. "Apa
artinya sebuah pernikahan " Bagi seorang laki laki
menikah atau tidak bukan suatu persoaIan ..."
"Maksudmu ?" "Bukankah tanpa menikah seorang laki-laki tak
terikat dan bebas bersenang-senang dengan wanitawanita
yang diinginkannya ?" balik tanya si pemuaa
pelajar she Thio tersebut.
1088 Sianli tersenyum. "Maksudmu kau sudah
berpengalaman dalam urusan wanita?"
Thio Giam Keng tersenyum ceriwis. "Hakseng tak
berani berkata begitu, tapi dari sekian banyak
wanita yang pernah bersenang senang dengan Hakseng
tak ada seorangpun secantik nona. Hari ini
benar-benar Hak seng sangat beruntung."
Sianli tersenyum penuh arti, dia menepuk tepi
pembaringan, katanya: "Duduklah kau di sini."
Thio Giam Keng menghampiri, tapi dia tidak
duduk di tepi pembaringan, melainkan tangannya
ceriwis sekali mencolek pipi Sianli pujinya: "Betapa
cantiknya nona... kalau tadi pelayanmu tak
memberitahukan bahwa kau seorang manusia biasa,
pasti aku akan menyangka bahwa kau seorang
bidadari yang baru turun dari kahyangan."
Sianli menyambar menggenggam tangan Thio
Giam Keng. menggenggam hangat dan tangannya
yang lain mengusap-usap. "Kau pemuda yang sangat menyenangkan!" Dan
dia menarik tangan pemuda itu. Thio Giam Keng
sengaja membiarkan tubuhnya terseret maju ke
dekat Sianli dan malah kedua tangannya tahu-tahu
merangkul tubuh yang padat berisi. Dia juga
mencium pipi Sianli dengan napas yang mendengus
hangat. 1089 "Nona, kau cantik sekali, matipun aku rela jika
bisa bersama kau satu malam saja!" bisik Thio Giam
Keng merayu. Sianli tertawa kegelian karena cuping telinganya
dicium lagi oleh pemuda itu.
"Benarkah ?" rintih Sianli bergelinjang dalam
rangkulan si pemuda, matanya liar dan basah
berminyak. "Benar.. di dunia kukira tak ada wanita yang bisa
menandingi kecantikanmu... benar-benar
mengherankan dan hampir membuatku tak percaya
bahwa di dalam dunia ada wanita secantik kau !"
Sianli memeluk erat, hangat sekali. Kedua orang
ini lupa segalanya. Keadaan di ruang itu menjadi
panas sekali, biarpun hawa udara di luar ruang yang
terbuka itu sangat dingin, tapi kedua orang ini
seperti tak merasakannya.
Thio Giam Keng yang sehari-harinya seorang
pemuda bedodoran pengganggu anak isteri
penduduk, ternyata memang sangat pandai merayu.
Tapi, setelah semuanya menjadi dingin, kembali
Sianli kecewa. Dia mengambil jubah luarnya yang
tipis, tubuhnya yang montok berbayang samar. Dia
cemberut dengan muka masam.
"Mana kepandaianmu yang kau tonjol-tonjolkan
tadi " Bukankah kau mengatakan pandai sekali
1090 dalam urusan wanita ?" mengejek Sianli melirik pada
Thio Giam Keng yang rebah lemas di pembaringan.
Pemuda pelajar ini menyeringai tertawa. "Nanti
kita ulangi, akan kuperlihatkan kepadamu yang lebih
luar biasa.. jangan kau menghinaku dulu, bukankah
kita belum selesai sampai di sini ?"
"Hemmm, bicaramu terlalu besar, aku tak
percaya lagi padamu. Tadi kau bilang rela mati jika
dapat bersenang-senang denganku, walaupun hanya
untuk satu hari saja, bukan?"
Muka Thio Giam Keng berobah pucat, sampai
terlompat duduk memandang Sianli dengan mata
terbuka lebar lebar. "Aku... apakah aku tak berhasil menyenangkan
hati... nona?" tanyanya gugup.
Tahu-tahu tangan Sianli menjambak rambut
pemuda itu, menghentaknya. Dia sama sekali tak
menjawab pertanyaan pemuda itu. Hentakannya itu
menyebabkan tubuh si pemuda she Thio terlempar
ke lantai dengan bantingan sangat keras, sampai dia
menjerit kesakitan. "Jawab pertanyaanku ! Bukankah tadi kau bicara
seperti itu ?" bentak Sianli dengan suara dingin.
Thio Giam Keng meringis kesakitan, dia
mengusap-usap pinggul dan meraba kepalanya,
1091 karena rambutnya tadi ditarik dan di-jambak keras
sekali. "Be... benar... memang aku bicara begitu...
tapi aku akan berusaha untuk menyenangkan kau,
nona... percayalah, aku akan berusaha
menyenangkan kau...!"
Muka Sianli dingin sekali, melangkah mendekati si
pemuda dengan tindakan kaki perlahan-lahan.
Sedikitpun tak tampak perasaan apa-apa di
mukanya. Tiba-tiba dia bilang: "Kau juga pemuda
tidak berguna, menyebalkan !"
Lemaslah tubuh Thio Giam Keng, tahulah dia apa
yang akan menimpa dirinya. Tadi sudah
diberitahukan oleh A hiang bahwa dia tak berhasil
menyenangkan hati majikannya, celakalah dia.
Cepat-cepat dia menggoyang-goyangkan tangannya.
"Dengar dulu, nona... dengar dulu..." Tapi, baru
bicara sampai di situ, dia menjerit sekuat suaranya,
karena kepalanya dirasakan seperti di tancap cakarcakar
besi, kelima jari tangan Sianli sudah menoblos
batok kepalanya, sampai berlobang dalam sekali.
Mata Thio Giam Keng terbuka lebar-lebar seperti tak
percaya apa yang terjadi, mulutnya terbuka, suara
jeritannya berobah menjadi suara mengorok,
tubuhnya berkelojotan dua kali, kemudian kejang,
jiwanya sudah melayang Waktu Sianli mencabut
kelima jari tangannya yang berlumuran darah
campur otak dari kepala Thio-Gian Keng. pemuda
pelajar itu sudah menggeletak tak bernapas lagi !
1092 -------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
-------- "Hemmm!" mendengus Sianli dengan wajah yang
mengejek. "Bwee sim-mo-li hendak dipermainkan
oleh kau " Mana bisa " Dengan sombong kau
memiliki kepandaian yang tinggi dalam rayuan dan
cumbuan pada wanita, nyatanya kau tak lebih dari
seekor anjing keparat ! Sudah pantas dan cukup
layak kau dihukum mati dengan cara demikian!"
Setelah berkata begitu, Sianli berteriak keras
memanggil A hiang. Cepat sekali A-hiang muncul.
Melihat tangan Sianli berlumuran darah cepat-cepat
dia mempergunakan sewaskom air dan sepotong
kain sutera mencucinya hati-hati.
"Kembali kau gagal menyerahkan orang yang
benar-benar kuinginkan, A-hiang," bilang Sianli,
yang ternyata tak lain dari Bwee-sim-mo li, iblis
wanita yang paling ditakuti orang-orang kangouw.
Tawar suaranya. "Ya. Sianli. Budakmu akan berusaha mencari
pemuda yang benar-benar bisa jadi idaman hati
Sianli." Menyahuti A-hiang, sambil membersihkan
hati-hati sekali kelima jari tangan Bwee-sim-mo-li.
"Kukira. sulit mendapatkan pria tambatan hati
seperti yang kuinginkan. Telah lebih dari limapuluh
orang pemuda yang gagal memenuhi keinginanku,
1093 dan mereka semuanya harus membuang jiwa di
ruang ini. Lama-lama aku jadi berpikir, apakah
semua laki-laki memang tak memiliki kemampuan
untuk menyenangkan diriku" Aku mulai kuatir tak
ada pemuda yang bisa menyenangkan hatiku."
"Sianli jangan kuatir," A-hiang bicara hati-hati
sekali. "Nanti suatu saat, jika sudah sampai
waktunya, tentu budak-budakmu berhasil
mencarikan kau pemuda yang benar-benar dapat
menyenangkan hatimu!"
Sianli tertawa tawar. "Ya mudah-mudahan saja
begitu," katanya. "Tapi. biarpun pemuda-pemuda itu
bisa menyenangkan hatiku, sedikitnya mereka sudah
memberikan kemajuan buat latihan lwekangku.
Karena itu aku tak terlalu menyesali kau, A-hiang."
"Terima kasih Sianli" A-hiang selesai
membersihkan jari-jari tangan Sianli. dia membawa
pergi waskom yang berisi air merah bercampur
darah. Kemudian kembali untuk memberikan wangiwangian
pada tangan Bwee-sim-mo li.
Bwee-sim mo-Ii rebah saja di pembaringan,
seperti sedang berpikir sesuatu, sampai akhirnya ia
menghela napas dalam-dalam.
"Apa yang Sianli pikirkan." tanya A-hiang. "Tak
usah Sianli gelisah, budak-budakmu akan sekuat
tenaga mencari pemuda yang Sianli inginkan."
1094 "Aku sedang memikirkan, jika saja lima-puluh
orang pemuda lagi gagal menyenangkan hatiku,
berarti kekecewaan hatiku semakin besar, namun
latihan Iwekangku sudah cukup kuat dengan
diperoleh lebih dari seratus sari-hidup pemudapemuda
itu. Namun aku masih kuatir, apakah sudah
cukup dan sama kuatnya seperti yang dimiliki Tang
San Siansu?" "Tang San Siansu tak berarti apa-apa bagi Sianli,
jika Sianli telah menyelesaikan latihan sinkangmu,
tentu Tang San Siansu bisa Sianli atasi. Dia memang
memiliki kepandaian tinggi, tapi mana bisa
menandingi Sianli ?" A-hiang memuji dengan sikap
sungguh-sungguh. Senang hati Bwee-sim-mo-li. "Aku cuma kuatir,
dari seratus sari-hidup pemuda-pemuda itu tidak


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

semuanya murni. Mereka ada yang sudah pernah
main perempuan-perempuan lain, tidak perjakamurni."
"Kalau begitu, nanti budak-budakmu
mencarikanmu pemuda pemuda yang benar-benar
masih perjaka," berjanji A-hiang.
"Mana bisa?" menggumam Sianli dengan mata
memandang kosong pada langit-langit kamar.
"Apakah kau bisa tahu dan memastikan seorang
pemuda masih perjaka tulen. Laki-laki biasanya
pembohong, juga biarpun mereka belum menikah,
sulit menjamin mereka masih perjaka asli."
1095 Pipi A-hiang berobah merah, mengangguk.
"Benar apa yang Sianli bilang, tapi budak budakmu
nanti akan berusaha menyelidiki sebaik-baiknya
sebelum menyeret pemuda manapun ke hadapan
Sianli. Paling tidak, mereka masih belum
menghambur-hamburkan terlalu banyak sari -
hidupnya, baru satu dua kali saja dia bersenangsenang
dengan wanita lain, itupun kalau benar tidak
ada pemuda-pemuda yang masih perjaka."
Tiba-tiba Bwie-rim-mo-li bangun duduk dan
tersenyum. "A-hiang, kau benar-benar muridku yang setia
dan patuh, yang selalu berusaha menyenangkan
hatiku. Baiklah, jika kau berhasil mempersembahkan
pemuda yang kuidam-idamkan, yaitu masih perjaka
asli, akan kuwariskan kau pukulan maut, Eng-kutkun"
(Pukulan Tulang Elang) A-hiang cepat-cepat berlutut. "Terima kasih atas
budi kebaikan Sianli. Budakmu akan berusaha
sekuat tenaga untuk mendapatkan pemuda-pemuda
yang Sianli inginkan."
"Baiklah, kukira jari-jari tanganku sekarang
sudah bersih," kata Bwee-sim mo-li. "Bereskan
mayat pemuda itu." "Ya, Sianli," cepat-cepat A hiang membawa
mayat Thio Giam Keng, kemudian datang kembali
membersihkan lantai, sedangkan Bwee-sim-mo li
1096 rebah di pembaringan empuk mewah itu dengan
pikian menerawang memikirkan sesuatu.
Mendadak Cun-hiang, salah seorang murid Bweesim
mo-li lainnya muncul dan berlutut dengan sikap
sanpat menghormat. "Melapor pada Sianli, Tang San Siansu datang
berkunjung dan sedang menanti di luar. Apakah
boleh dibiarkan kemari?" bilang Cun- hiang.
Alis Bwee-sim-mo li mengkerut, tapi akhirnya dia
mengangguk. "Suruh dia masuk," suaranya
perlahan. Dia juga sudah merapikan pakaiannya.
Cun hiang mengundurkan diri. Waktu A-hiang
ingin keluar meninggalkan ruangan setelah
membersihkan lantai dari percikan nona darah,
Bwee-sim mo-li memanggilnya: "Kamari kau, A
hiang." Cepat-cepat A-hiang mendekat, Bwe-sim-mo li
mengawasi muridnya, dengan suara perlahan dia
bilang: "Pergi kau selidiki, apa yang tengah
dilakukan Cu Lie Seng dan yang lain lainnya dirumah
Siangkoan Giok Lin, nanti berikan laporan
kepadaku!" "Baik, Sianli ...!" menyahuti A-hiang, dia
mengundurkan diri. 1097 Bwee-sim rao-li duduk terdiam di pinggir
pembaringan. Otaknya tampak bekerja sedang
mennkirkan sesuatu. la ingat, sekarang ini bekerja
buat Cu-kongkong dan selalu diperintah perintah
oleh Cu Lie Seng, putera Cu-kongkong, sebetulnya
membuat hatinya tidak puas. Tapi dia jeri pada Tang
San Siansu, guru Cu Lie Seng, karenanya juga
sementara ini dia tidak memperlihatkan perasaan
tidak puasnya tersebut, cuma saja diam-diam dia
telah melatih dengan giat semacam ilmu tenaga
dalam kelas satu, dengan bantuan dari sari-hidup
pemuda untuk mencapai kesempurnaan, karena
sinkang yang dilatihnya agak sesat.
Dia mempunyai rencana, kalau latihannya sudah
dirasakan cukup, akan dipergunakan menghadapi
Tang San Siansu, berusaha unruk merobonkannya.
Kalau berhasil, dia selanjutnya tak mau di-bawah
perintah Cu Lie Seng. Dengan bantuan 12 orang
murid-muridnya, dia mencari pemuda-pemuda yang
dikehendakinya. Waktu itu Cun hiang telah muncul kembali
mengiringi seorang pendeta bertubuh kekar dan
perkasa. Dialah Tang San Siansu, satu satunya
orang yang berhasil menundukkan Bwee sim-mo-li,
yang kepandaiannya lebih tinggi dari iblis wanita
tersebut. Waktu memasuki ruangan, Tang San
Siansu sudah tertawa dengan suara parau.
1098 "Bie Lan Moay-moay, mengapa kau menjauhi diri
dari rombongan kami?" tegur pendeta ini.
Bwee-sim-mo-li Liok Bie Lan cepat-cepat
menyambut si pendeta dengan muka berseri-seri,
ramai senyumnya. "Siapa sangka aku memperoleh
kesempatan dan kehormatan dikunjungi Taisu.
Sementara ini aku hendak beristirahat, sambil
menunggu perintah Taisu, karena itu aku tak
menggabungkan diri dengan muridmu itu, Cu Lie
Seng." "Kukira kau sudah mau memisahkan diri dari
kami," kata Tang San Siansu, tawar. "Tapi mudahmudahan
saja dugaanku itu keliru."
"Mana berani aku memisahkan diri dari Taisu,
justeru Taisulah satu-satunya orang yang
kuandalkan untuk menghadapi semua orang
kangouw." Tang San Siansu tertawa bergelak-gelak.
"Benarkah itu " Kukira kau sendiri merupakan ibliswanita
yang sangat ditakuti oleh semua orang
kangouw, bagaimana mungkin kau harus
mengandalkan aku lagi sebagai tulang punggungmu
?" "Taisu terlalu memuji," bilang Bwee-sim-mo-li.
"Percayalah Taisu, kau satu satunya orang yang
kukagumi. Jika aku menemui kesulitan tentu hanya
1099 kepadamu saja aku bisa meminta pertolongan.
Bukankah begitu?" Si pendeta tersenyum, mengawasi Bwee-simmoli.
Iblis-wanita ini semakin lama semakin cantik saja.
Biarpun usianya sudah tidak muda lagi, namun Liok
Bie Lan benar-benar merupakan wanita sangat
cantik yang kemontokan tubuhnya tidak kalah
dibandingkan dengan gadis-gadis muda remaja.
Bukan main kagumnya Tang San Siansu, karena
kecantikan wajah Bwee-sim-mo- li memiliki daya
tarik tersendiri yang sungguh menggairahkan,
matanya yang bersinar memancarkan gairah seakan
memiliki kekuatan magnit membetot sukma.
"Bie Lan Moay moay, kau semakin lama kian
cantik saja." puji Tang San Siansu, karena
goncangan hati yang dialaminya melihat kecantikan
Bwee-sim-mo-li yang benar-benar mengagumkan.
"Kukira, banyak sekali pria yang sudah bertekuk
lutut di bawah kakimu, bukan ?"
"Jangan memujiku terus menerus, Taisu, lama
lama aku tak kuat lagi menerima pujianmu dan nanti
bisa jadi berkepala besar," merendah Liok Bie Lan.
"Apakah memang aku masih cantik ?"
"Tentu... aku tak sangka bahwa semakin lama
kau semakin cantik saja. Hari ini baru kulihat bahwa
kau memang benar-benar sangat cantik."
1100 Bwee sim- mo-li tertawa, menghampiri si
pendeta, kemudian merangkul lehernya.
"Taisu, tertarikkah kau padaku ?" bisik Bwee simmo-
li dengan sikap manja, matanya memandang
dengan gairah, tubuhnya begitu hangat memeluk si
pendeta dadanya yang padat membusung rapat
menekan dada Si pendeta. "Sudah berapa banyak pemuda yang kau
korbankan, Bie Lan Moay-moay ?" balas tanya si
pendeta. Bwee-sim-mo li terkejut, dia merenggangkan
pelukannya, menatap si pendeta seperti tidak
mengerti apa yang ditanyakan si pendeta "Apa
maksudmu, Taisu ?" "Kudengar akhir-akhir ini murid-murid-mu rajin
sekali menangkapi pemuda-pemuda muda sama
seperti seorang pemburu menangkap kelinci-kelinci
saja. Tentu semuanya itu atas perintahmu, bukan ?"
"Aku kesepian, Taisu," akhirnya Bwee-sim-mo-li
bisa mengendalikan goncangan hatinya. Semula dia
menyangka si pendeta mengetahui dia
memanfaatkan sari-hidup pe-muda-nemudi itu untuk
kepentingan latihan sinkangnya. Tapi, dia masih tak
yakin bahwa Tang San Siansu mengetahui hal itu,
maka dia beralasan bahwa dia kesepian.
1101 "Tak ada seorangpun yang mau menemaniku.
Pemuda-pemuda itu bodoh-bodoh semua tak ada
yang bisa menyenangkan hatiku, maka aku
mengganti-ganti mereka"
"Mengapa tidak memberitahukan kepada ku sejak
dulu bahwa kau kesepian, Bie Lao Maay-moay ?"
bilang si pendeta sambil tertawa dan memeluk Bwee
sun-mo-li. "Jika saja kau mau berterus terang
padaku, maka aku dapat menggembirakan hatimu.
Benar usiaku tidak muda lagi, tapi kutira bicara soal
pengalaman dalam urusan yang satu itu aku jauh
lebih menang dibandingkan dengan pemuda
manapun juga." "Akh, Taisu mana mau padaku " Aku manusia apa
sehingga bisa menerima kehormatan dari Taisu ?"
Sengaja Bwee-sim-mo li merendah, sedangkan
hatiiya merasa lega, sebab si pendeta sudah tidak
mendesaknya terus masalah pemuda-pemuda yang
ditawan oleh murid-muridnya. Tampaknya si
pendeta mau mempercayai keterangannya bahwa
dia kesepian dan hendak ditemani dan dihangati oleh
pemuda-pemuda itu...Taisu hanya bergurau saja."
Tang San Siansu merangkul Bwee sim-mo-li.
dengar sungguh-sungguh dia bilang: "Siapa yang
mengatakan aku main-main " Apakah aku pernah
bicara main-main dengan kau. Bie Lan Moay moay "
Aku telah bicara yang sejujurnya, bahwa aku hari ini
baru menyadari kau sebenarnya seorang wanita
yang memiliki kecantikan luar biasa, kedatanganku
1102 kemari sebetulnya hendak memberitahukan
kepadamu, bahwa jam 4 pagi hari ini kita akan
berangkat ke kotaraja, tapi siapa sangka justru aku
melihat kau demikian cantik, marilah kita
melewatkan sisa-sisa waktu kita berdua, untuk
bersenang-senang." Bwe sim-mo-li tertawa bergelinjang dalam
pelukan si pendeta, liar sekali. Dan memang
akhirnya dia harus mengakui Tang San Siansu bisa
melebihi dari kemampuan pemuda-pemuda yang
pernah coba menghangatinya dan pada akhirnya di
bunuh-bunuhnya itu. Satu kemenangan Tang San
Siansu dia memiliki sinkang yang sudah terlatih
tinggi maka dia bisa memakai sinkangnya yang
disalurkannya sekehendak hati untuk menyenangkan
Bwee sim-mo li. Ruangan yang semula dingin itu jadi hangat,
Tang San Siansu sendiri seperti lupa, bahwa tak
lama lagi, jam 4 pagi dia harus berangkat bersama
rombongan muridnya untuk kembali ke kotaraja. Dia
sibuk sekali dengan Bwee sim mo-li.
Dua orang manusia yang berbeda kelamin tapi
memiliki tabiat dan watak sama buruk dan bejadnya,
telah bertemu dan merasa sangat cocok satu dengan
yang lainnya menyebabkan mereka berdua lupa
pada segala sesuatu apapun juga.
Dua manusia yang sama kejamnya dan sama
sesatnya ini, menghalalkan apapun yang mereka
1103 senangi. Karenanya juga, mereka sudah tak peduli
lagi sekelilingnya, mereka terlalu sibuk untuk
memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Bwee-si m rno-li sendiri sebetulnya memiliki
rencana yang cuma diketahui olehnya. Dia sengaja
melayani Tang San Siansu dan berusaha
menyenangkan hati si pendeta, jika bisa dia hendak
menguasai pendeta ini dengan memberikan
pelayanan yang sebaik-baiknya. Benar kepandaian
Tang San Siansu lebih tinggi darinya, tapi Tang San
Siansu tetap seorang laki-laki.
Bukankah ada kata-kata yang menyatakan bahwa
laki-laki biasanya bertekuk lutut di bawah kaki
wanita cantik" Dan Bwe sim mo-li ingin
memanfaatkan kecantikan wajah maupun
kemontokan badannya menaklukkan Tang San
Siansu. dan rencana-rencananya itu sudah
memenuhi otaknya, dia menghendaki juga


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepandaian Tang San Siansu.
Bwee sim-mo li yakin, jika berhasil memakai
kecantikannya menundukkan pendeta ini jelas
akhirnya ia berhasil membujuk si pendeta untuk
memberitahukan kouwhoat ( teori ) ilmu silat
andalan sipendeta tersebut.
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
--- 1104 JAM empat pagi rombongan Cu Lie Seng
meninggalkan gedung Siangkoan Giok Lin. Mereka
terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi
sekali. Bahkan diantara mereka tampak Tang San
Siansu. Bwee-sim-mo li, Pak Mo Tang Mo, See Mo
dan Lam Mo, Ban It Say, Thio Yu Liang dan si
pengemis tua yang sudah mengkhianati kaipang
yaitu Kiu ci-sin kai Ho Beng Su.
Siangkoan Giok Lin selalu jalan berendeng
disamping Cu Lie Seng, dia berusaha bermuka-muka
pada putera Cu kongkong ini.
Dengan jumlah mereka yang cukup banyak dan
semuanya terdiri orang-orang berkepandaian tinggi,
siapa yang berani untuk menghadang mereka buat
merebut daftar orang-orang kangouw" Siapa yang
memiliki nyali dan keberanian untuk berurusan
dengan rombongan orang-orang yang semuanya
sangat lihai dan ganas ini "
Tang San Siansu sudah memberitahukan kepada
semua orang dalam rombongannya, bahwa mereka
melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sampai
dikota Ceng shia, dari sana barulah mempergunakan
kuda. Alasannya agar tidak terlalu menarik perhatian
orang. Sedangkan pasukan tentara kerajaan yang
semula dibawa Cu Lie Seng, diperintahkan pulang
lebih dulu kekotaraja, karena Tang San Siansu
bilang mereka tak diperlukan lagi. Dengan adanya
1105 dia dalam rombongan itu, di tambah oleh tokohtokoh
persilatan yang semuanya lihai dan
berkepandaian tinggi, tak ada yang perlu dikuatirkan
lagi. Rombongan Tang San Siansu tiba didepan lembah
yang ada dikaki gunung Cu-san sebelah barat, pada
sore itu, mereka bermaksud beristirahat disitu.
Tapi, waktu Tang San Siansu tengah mengatur
rombongannya untuk mengambil posisi yang
berpencar mendirikan tenda-tenda, mendadak
terdengar suara langkah kaki kuda yang dilarikan
cepat sekali. Mata Tang San Siansu berkilat tajam,
menoleh menatap bengis kepada penunggang kuda
yang tengah mendatangi. Ternyata penunggang kuda itu seorang laki-laki
tua berusia enam pulah tahun lebih, tubuhnya kurus
mukanya pucat seperti orang penyakitan dan lemah.
Penunggang kuda itu melarikan terus
tunggangannya tanpa menoleh. Ban It Say segera
hendak mengejar, tapi ditahan Tang San Siansu.
"Biarkan dia pergi. Tak mungkin dia mata-mata
musuh. Siapa yang memiliki nyali untuk berurusan
dengan kita?" Ban It Say mengiyakan. dia juga melihat
penunggang kuda itu pucat dan lemah seperti orang
penyakitan, karenanya diapun yakin bahwa orang itu
mata-mata musuh. 1106 Mereka mendirikan tenda-tenda yang jaraknya
terpisah cukup jauh, Maksud Tang-San Siansu jika
ada rombongan musuh menyerang, mereka tidak
terkepung disuatu tempat, ini bisa memungkinkan
mereka memberikan perlawanan kepada musuh.
Tempat di mana rombongan Tang San-Siansu
bermalam ternyata sangat sepi, tak terlihat seorang
manusiapun lewat di jalan depan lembah tersebut
sejak orang bermuka pucat dan lemah
berpenyakitan itu, tak ada orang lain yang lewat di
situ. Magrib telah lewat, malam membuat tempat itu
jadi gelap. Rombongan Tang San Siansu beristirahat.
Sedangkan Tang San Siansu didalam tendanya
bukan seorang diri, melainkan berdiam dengan
Bwee-sim-mo-li ! Mereka tengah bermesra-mesraan
untuk melenyapkan dinginnya hawa malam.
Tetapi, di luar dugaan penglihatan Tang-San
Siansu dan rombongannya, justeru diantara semak
belukar dikegelapan malam beberapa sosok tubuh
bergerak hati-hati dan perlahan-lahan mendekati
tenda-tenda tersebut, Jumlah sosok tubuh itu
mungkin lebih dari sepuluh orang, semuanya
berpakaian penuh tambal, tanda bahwa mereka
adalah rombongan pengemis.
Dari sikap pengemis-pengemis yang mendekati
tenda, jelas mereka bersikap hati-hati, agar orangorang
yang tengah beristirahat didalam tenda itu tak
1107 mengetahui kedatangan mereka. Lama juga
rombongan pengemis itu mengintai tenda-tenda
rombongan Tang San Siansu, sampai akhirnya waktu
mendekati tengah malam, terdengar suara pekik
kera, dan para pengemis itu mendekam di tanah.
Ternyata suara pekik kera itu adalah pekik
pemimpin mereka, yang meniru pekik seekor kera.
Rupanya waktu yang mereka nantikan telah tiba.
Pengemis-pengemis itupun bukan hanya belasan
orang saja, sebab di belakang mereka ada
rombongan pengemis lainnya, yang jumlahnya
cukup banyak, mungkin hampir duapuluh orang.
Mereka rupanya memecah diri menjadi dua
rombongan dan perintah-perintah dikeluarkan oleh
pemimpin mereka dengan meniru suara pekik kera.
Perlahan-lahan mereka merangkak mendekati
tenda-tenda rombongan Tang San Siansu.
Waktu terdengar lagi suara pekik kera, mendadak
rombongan penjemis itu menyerbu salah sebuah
tenda yang ada di sebelah kanan, kurang lebih
delapan orang yang menyerbu masuk ke dalam
tenda itu kepandaian mereka rata-rata tinggi,
karena selain gesit,merekapun dapat melakukan
penyerangan ke arah tempat yang mereka duga
penghuni tenda rebah tidur.
Namun mereka kecewa. Tenda itu kosong, tidak
ada seorang manusiapun juga. Cepat-cepat
kedelapan pengemis itu menerobos keluar dari
1108 tenda, tapi sudah terlambat. Di situ tampak Cu Lie
Seng berdua Thio Yu Liang menghadang jalan keluar
pengemis-pengemis itu. Tanpa banyak bicara pengemis-pencemis itu
menerjang Thio Yu Liang dan Cu Lie Seng, tapi
kedua orang tersebut masing-masing memiliki
kepandaian tinggi, dua orang pengemis yang maju
paling depan dibikin terpental oleh pukulan tangan
Cu Lie Seng, sedangkan Thio Yu Liang membikin
terbanting seorang pengemis lainnya.
Lima orang pengemis lainnya nekad menerjang
terus, tapi dengan mudah merekapun dirubuhkan,
Cu Lie Seng mempergunakan pukulan-pukulan
"Liong-beng-kun" merobohkan lawan-lawannya
karenanya para pengemis itu jadi tak berdaya,
sedangkan Thio Yu Liang mempergunakan
pedangnya untuk melukai lawan-lawannya.
Kedelapan pengemis yang terpelanting itu
merangkak bangun. Cu Lie Seng maju hendak
membekuk salah seorang di antara mereka,
mendadak pengemis itu mengayunkan tangannya.
Cu Lie Seng melihat lawannya menyerang
mempergunakan senjata rahasia, mengibaskan
tangannya untuk menghalau senjata-senjata rahasia
lawan. Tapi dia mengibas tempat kosong, karena tak ada
senjata rahasia yang berhasil disampoknya. Rupanya
si pengemis cuma menggertak dengan gerakKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
1109 tangannya tersebut, begitu Cu Lie Seng mengibas,
dia menubruk membenturkan kepala pada perut Cu
Lie Seng. Kaget pemuda che Cu, dia coba berkelit, tapi
terlambat, samping pinggangnya masih kena
diseruduk oleh pengemis itu. Sakit dan gusar Cu Lie
Seng tak pikir dua kali, telapak tangannya
menghantam dahsyat punggung pengemis itu,
sampai terdengar suara "Dessss! Bukkkkkk!", disusul
suara tertahan dari si pengemis. Tapi kemudian
secepat kilat pengemis itu berlari menerobos keluar
tenda, tangannya kembali bergerak.
Cu Lie Seng menubruk karena menyangka
pengemis ini cuma ingin menggertaknya lagi. Tapi
dadanya segera jadi panas, karena sesuatu benda
meledak keras di depan dadanya, asap tebal
mengepul di dalam tenda itu.
Pengemis-pengemis lainnya juga bersama-sama
secara berbareng telah membanting sesuatu benda,
yang meledak dan mengeluarkan gumpalan asap,
sehingga di dalam tenda itu penuh oleh gumpalan
asap. Gumpalan asap itu membuat mata Cu Lie Seng
dan Thio Yu Liang jadi pedih-pedih... mereka
mengibas-ngibaskan lengan baju untuk
membuyarkan gumpalan asap dan menerobos
keluar. Setelah berada di luar tenda, mereka bisa
bernapas lega. 1110 Tapi pengemis-pengemis itu sudah lari cukup
jauh. "Kejar !" teriak Thio Yu Liang, Tapi lengannya
dipegang Cu Lie Seng. "Jangan biarkan mereka lolos, kongcu !"
Thio Yu Liang masih ngotot agar Cu Lie Seng
bersama dia mengejar pengemis-pengemis itu. Tapi
Cu Lie Seng tetap menahannya "Biarkan mereka
pergi !" Pengemis-pengemis yang lainnya, yang tadi
menyerbu ke tenda lain, sudah berhasil melarikan
diri juga setelah membanting cukup banyak bahanbahan
peledak yang menimbulkan gumpalan asap
tebal. Tadi Tang San Siansu berdua Bwee-sim-mo-li
tengah asyik-masyuk hangat mesra, jadi terkejut
ada beberapa pengemis yang menerjang masuk ke
dalam tenda mereka. Tang San Siansu menghantam
dengan telapak tangannya, dua orang pengemis
terjengkang rubuh, tapi waktu Tang San Siansu
hendak bangun, berdiri untuk menghajar pengemis
pengemis yang lain, sudah terdengar suara ledakan
yang ramai dan tenda itu sudah dipenuhi oleh asap
tebal. Rupanya pengemis-pengemis itu membanting
beberapa bahan peledak yang menimbulkan
1111 gumpalan asap tebal di dalam tenda. Bukan main
gusar Tang San Siansu dan Bwee-sim-mo-li, mereka
berusaha mencari jalan keluar dari tenda, karena
napas mereka sesak dan mata mereka pedih sampai
mengeluarkan air mata. Tetapi pengemis pengemis yang lain sudah
melarikan diri. Ban It Say, Pak-mo, Tong-mo, Lam-mo dan Seemo
sudah keluar dari tenda mereka, tapi disambut
oleh pengemis pengemis yang melemparkan bahan
peledak yang mengeluarkan asap tebal, sekitar
tempat itu jadi penuh oleh gumpalan asap yang
tebal. Begitu.juga ketika Ho Beng Su keluar dari
tendanya, disambut oleh ledakan-ledakan yang
menyebabkan keadaan disekitarnya penuh oleh
gumpalan asap. Ho Beng Su memaki kalang kabutan
sambil mengibas-ngibaskan lengan bajunya untuk
menghalau gumpalan asap itu, sambil menyerang
membabi buta dalam gumpalan asap kepada
pengemis-pengemis tersebut.."
Gumpalan-gumpalan asap itu tidak terlalu lama
sudah membuyar dan keadaan di depan lembah bisa
terlihat jelas lagi. Tapi di situ sudah tak ada
pengemis-pengemis yang tadi menyerang, mereka
telah meninggalkan tempat itu.
1112 "Kejar!" teriak Tang San Siansu. "Mereka tak
mungkin bisa pergi jauh!"
Tapi Cu Lie Seng cepat-cepat menghampiri
gurunya. "Suhu, biarkan mereka pergi, kita jangan
memecah kekuatan dengan mengejar mereka ke
berbagai jurusan Jika nanti mereka datang lagi, kita
baru habisi mereka."
Tang San Siansu mendongkol bukan main, tapi
dia anggap alasan yang dikemukakan muridnya
memang benar. Kalau mereka mengejar pengemispengemis
itu, jelas mereka harus membagi diri
keempat penjuru, karena mereka tak mengetahui


Cula Naga Pendekar Sakti Liong Kak Sin Hiap Karya Boe Beng Tjoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kemana perginya pengemis-pengemis itu, apakah ke
jurusan Selatan, Barat, Utara atau Timur. Dia tidak
memaksa lagi untuk mengejar pengemis-pengemis
itu. Cu Lie Seng merogoh sakunya, tiba-tiba mukanya
berobah. Dia juga mengeluarkan seruan tertahan.
"Kenapa?" tanya Tang San Siansu dan yang
lainnya hampir berbareng, hati mereka merasa tidak
enak menduga sesuatu. "Daftar itu dapat dicopet oleh salah seorang
pengemis-pengemis itu yang membentur
pinggangku dengan kepalanya," menyahuti Cu Lie
Seng. 1113 "Hah" Celaka!" Berseru Thio Yu Liang dan
Siangkoan Giok Lin hampir bersamaan. Kita harus
mengejar mereka..." Cu Lie Seng sudah menggeleng, sikapnya sudah
tenang kembali. "Tenang..! Tenang...!" Dia memberi isyarat agar
semua orang mendekat padanya. "Aku sudah
menduga," katanya dengan suara perlahan, "banyak
pihak yang akan menghadang perjalanan kita.
Karenanya siang-siang sudah kusiapkan salinan
daftar nama orang-orang kangouw itu.
Tentu saja yang kukantongi ini adalah daftar
orang-orang kangouw yang keliru, bukan yang
sebenarnya. Dengan cara demikian kita bisa
membuat mereka saling mencurigai, karena mereka
tak mengetahui siapa yang benar-benar telah
bersedia untuk bekerja demi kerajaan! Aku menulis
nama-nama mereka yang tak bersedia bekerja sama
dengan kita!" Muka orang-orang itu jadi berobah tenang, malah
tersenyum-senyum. Siangkoan Giok Lin malah
segera memuji: "Sungguh Cu-kongcu sangat cerdik.
Dengan demikian mereka akan keliru memusuhi
teman-temannya sendiri! Bagus! Selanjutnya kita,
harus hati-hati, karena kukira masih ada rombongan
iainnya yang mengincar daftar nama-nama itu! "
1114 Cu Lie Seng mengangguk. "Ya aku telah
membuat lagi daftar palsu, kalau mereka hendak
mengambil daftar palsu itu, tentu kita tak perlu
mati-matian mempertahankan, karena kita tak akan
menderita kerugian apapun juga, bahkan mendapat
keuntungan mereka jadi saling curiga mencurigai di
antara sesama teman mereka!
Tang San Siansu menarik tangan muridnya.
"Daftar nama-nama orang kangouw yang asli kau
simpan di mana?" Jilid ke 25 "Yang paling utama, kita harus berlaku lebih
waspada. Biarpun yang akan kukantongi adalah
daftar palsu. semuanya harus bersikap seakan-akan
mati-matian melindungi benda ini, untuk
melenyapkan kecurigaan mereka. Kalau kita terlalu
mudah membiarkan mereka merampas daftar palsu,
mereka juga akan berbalik pikir dan curiga."
Semua orang membenarkan perkataan Cu - Lie
Seng. Waktu itu Tang San Siansu menoleh kepada
Ho Beng Su. Katanya: "Ho-kisu, tampaknya mereka
dari partaimu..." Muka Kiu-ci-sin-kai berobah merah.
"Benar, mereka murid-murid kaipang." dia
menyahuti. "Tadi juga kulihat beberapa orang hiocu
yang telah berkumpul menjadi satu Melihat demikian
1115 kukira urusan ini sudah ditangani langsung oleh
pangcu kai-pang..." "Hemmm, jadi maksudmu sekarang ini para
pengemis itu bergerak dibawah pimpinan
pangcunya?" menegasi Tang San Siansu.
"Jika ada urusan penting, biasanya cuma
diselesaikan lewat Tianglo. Tetapi kalau urusan
demikian pentingnya, maka semua hiocu dari
berbagai daerah dipanggil berkumpul dan yang
berhak mengumpulkan hiocu adalah pangcu.
Memang menurut perkiraanku sekarang ini yang
memimpin mereka adalah pangcu..."
"Kalau begitu kita tunggu saja biar pangcu
mereka menunjukkan dirinya sendiri !" kata Tang
San Siansu tawar. Semua orang baru menyadari sekarang mengapa
pengemis-pengemis tadi demikian lihai dan gesit,
sehingga dapat datang dan pergi begitu cepat.
Mereka adalah orang-orang lihai tapi para pengemis
itu bisa membuat mereka jadi kelabakan dan tak
seorang pengemispun yang dapat mereka tawan.
Tak tahunya para pengemis itu merupakan ketuaketua
daerah cabang kaipang yang semuanya jelas
memang memiliki kepandaian tinggi. Lolosnya
semua pengemis itupun disebabkan faktor lain yaitu
semuanya memakai bahan peledak yang
mengeluarkan gumpalan asap menyakiti mata, kalau
1116 tidak. biarpun kepandaian pengemis-pengemis itu
tinggi, tapi lak mungkin mereka bisa pergi
segampang itu. Cu Lie Seng telah menceritakan rencananya
untuk menghadapi para pengemis dan kemungkinan
serangan rombongan lain, Tang San Siansu sendiri
memberikan petunjuk agar mereka bersikap seakanakan
tak terjadi sesuatu. Dengan sombong Tang San
Siansu bilang: "Jika nanti mereka memperlihatkan diri lagi, kita
cuma harus hati-hati pada bahan peledak yang
mengeluarkan asap, seterusnya kita harus
menangkap satu-dua orang dari mereka. Kalau
pangcu mereka sendiri yang memperlihatkan diri,
biar aku yang membekuknya."
Merekapun kembali ke tenda masing-masing. tapi
sekarang mereka berlaku hati-hati dan waspada,
karena mereka kuatir di serang mendadak oleh
musuh. Tampaknya bahwa rombongan mereka
selama ini dibayangi musuh.
Malam semakin larut .... -------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
----- Suara burung kulik terdengar terbang di atas
udara dengan suara kepak sayapnya yang memecah
1117 keheningan malam itu. Di kegelapan malam
berkumpul belasan orang. Tempat itu terlindung oleh
batu-batu gunung, dan juga sulit sekali dilihat oleh
orang yang kebetulan lewat di tempat tersebut,
itulah di sebelah barat dari lembah di kaki gunung
Cu-san, tapi tempatnya yang melesak berada di
balik batu-batu tebing yang tinggi, sehingga
siapapun sulit mengetahui bahwa di situ terdapat
tempat yang cukup luas. Rupanya para pengemis yang tadi menyerang
rombongan Tang San Siansu telah berkumpul di situ.
Di tengah-tengah mereka duduk seorang pengemis
tua dengan muka yang guram. Empat orang
pengemis terluka akibat penyerangan tersebut inilah
yang membuat muka pengemis tua yang jadi
pemimpin mereka murung. "Apakah luka-luka kalian tak membahayakan ?"
tanyanya pada keempat orang pengemis yang duduk
dengan muka pucat karena luka di dalam tubuh.
"Kami kira masih bisa menyembuhkannya,
pangcu," menyahuti salah seorang dari keempat
pengemis yang terluka. Sedangkan pengemispengemis
lainnya cuma berdiam diri memandang
dengan kuatir kepada ke empat kawan mereka.
"Yang terpenting usaha kita berhasil. Tadi aku
berhasil menerjang Cu Lie Seng dan mencopet daftar
nama orang orang kangouw dari sakunya..." Sambil
berkata begitu, dia merogo sakunya, mengeluarkan
1118 sebuah lipatan kertas, menyerahkan kepada
pemimpinnya. Muka para pengemis yang berkumpul di situ
tampak berseri-seri. Memang tujuan mereka adalah
merampas daftar nama orang2 kangouw yang
diketahui tersimpan di saku Cu Lie Seng, yang akan
membawanya kekotaraja. Mereka sebelumnya memang sudah bertekad
hendak mengadu jiwa jika gapal merampas daftar
namun orang-orang kangouw dari tangan Cu Lie
Seng, sebab mereka mengetahui bahwa rombongan
Si Kumbang Merah 7 Pendekar Rajawali Sakti 20 Penyair Maut Kisah Para Naga Di Pusaran Badai 8
^