Pencarian

Legenda Bunga Persik 2

Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long Bagian 2


sekarang baru tahu omongan pria sama sekali tidak boleh didengar!
Jikalau seorang pria bermulut manis dan menjilat-jilat, maka satu
kata pun tidak boleh dipercayai!"
"Kau baru tahu azas kebenaran ini?" kata si kakek.
"Sebab aku sudah hidup 60 tahun lebih, baru pertama kali
ketemu pria semacam kau ini", kata si nenek.
Si kakek berkata seraya mengedipkan mata: "Kau sudah berumur
60 tahun lebih, padahal aku kira kau masih berumur 38 tahun."
Si nenek segera melayangkan sebuah tamparan.
Si kakek berlari sambil menutupi kepalanya, dan berteriak:
"Ketika istri yang tua memukul kamu, haruslah kamu bersembunyi
kian jauh kian baik!"
Mereka yang satu memukul, yang satu berlari untuk menghindar,
dalam waktu sekejap mata, mereka telah lenyap entah ke mana.
Chu Liuxiang masih sedang tersenyum, sama sekali tidak punya
niat mengejar. Kebaikan terbesarnya barangkali ialah: Pada saat-saat yang
paling kritis ia seringkali dapat melepaskan lawan-lawannya.
Ketika dengan ringan badannya baru turun dan pohon, tiba-tiba
mendengar ada semacam bunyi --Semacam bunyi yang amat aneh,
dan berasal dari suatu tempat yang amat aneh!
Bahkan ia tidak pernah menduga bahwa bunyi ini bisa keluar dan
tempat ini! Chu Liuxiang bukanlah seorang yang mudah kaget, tapi pada
saat ini ia betul-betul merasa kaget!
Bunyi tepuk tangan bukanlah semacam bunyi yang aneh,
meskipun Chu Liuxiang bukan artis panggung, namun masih sering
mendengarkan bunyi tepuk tangan orang lain karena kehebatan dia.
Bagian bawah gerobak pun bukanlah semacam tempat yang
aneh, baik gerobak itu besar atau kecil, punya bentuk atau model
apa pun, pasti punya bagian bawahnya.
Tetapi pada saat ini dan di tempat ini, dari bagian bawah gerobak
bagal ini terdengar bunyi tepuk tangan, ini bukan saja amat aneh,
bahkan luar biasa anehnya!
Hanya orang yang bisa bertepuk tangan -- Jika ada bunyi tepuk
tangan dari bagian bawah gerobak, itu pasti ada orangnya, dan
karena gerobak itu di sepanjang jalan tidak pernah berhenti, berarti
orang itu sejak awal sudah bersembunyi di bagian bawah gerobak
itu! Pada mulanya Chu Liuxiang merasa kaget, tapi wajahnya segera
tersenyum lagi. la telah dapat menebak siapa orang itu
03. Seberkas Sinar Fajar Bunyi tepuk tangan belum selesai, sudah terdengar bunyi
tertawa. Bunyi tepuk tangan itu renyah, tapi bunyi tertawa itu lebih
renyah. Bersamaan dengan bunyi tertawa itu, ada seorang yang
merangkak keluar dari bagian bawah gerobak itu, dengan wajah
senyum dan mata yang amat cerah.
Seorang gadis yang cerah, cantik dan menyenangkan!
Walaupun badan dan wajahnya belepotan tanah, tetap saja tidak
menimbulkan kesan bahwa ia berpenampilan jorok!
Ada semacam wanita, baik dipandang dalam keadaan apa pun,
tetap saja mirip dengan buah arbei segar yang baru dipetik!
Zhang Jiejie masuk dalam macam wanita ini.
Ia bertepuk tangan dan berkata seraya tertawa: "Pendekar
Harum Chu memang bukan nama yang kosong, betul-betul memiliki
kemampuan menipu orang yang luar biasa!"
Chu Liuxiang tersenyum dan memberi hormat dengan
membungkukkan badan. Zhang Jiejie melanjutkan sambil tertawa: "Karena itu, setiap
wanita berumur berapa pun, sekali-kali tidak boleh mendengarkan
kata-kata Pendekar Harum Chu, dari umur 8-80 tahun, tidak ada
perkecualian!" "Hanya ada satu orang yang masuk perkecualian."
"Siapa?" "Kau!" "Aku" Kenapa aku masuk perkecualian?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum: "Sebab jika kau tidak
menipuku, aku sudah amat berterima kasih, bagaimana aku berani
menipumu?" Zhang Jiejie berkata seraya membulatkan bentuk bibirnya "Masa'
aku pernah menipumu" Menipu apa" Cepat katakan!"
"Aku tidak bisa mengatakannya"
"Hmm! Aku memang tahu kau tidak bisa mengatakannya."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum: "Setelah menipu si
korban, tapi si korban berkata tidak tertipu Ini baru disebut hebat!"
Zhang Jiejie mendelik pada dia, tiba-tiba matanya menjadi
merah, lalu air matanya menetes dengan perlahan.
Chu Liuxiang merasa sedikit aneh, lalu bertanya "Kau sedang
menangis?" Zhang Jiejie mengertakkan giginya dan berkata dengan geram:
"Aku menangis ketika aku sedih, apakah ini melanggar hukum?"
"Kau sedih" Sedih untuk hal apa?"
Zhang Jiejie menyeka air matanya, lalu berkata dengan suara
keras: "Aku melihat kau masuk perangkap orang lain, lalu segera
bersembunyi di bagian bawah gerobak, demi menunggu kesempatan
menyelamatkanmu, sepanjang jalan aku menahan banyak derita,
dan tidak tahu berapa banyak tanah yang aku telan, lalu pada
akhirnya apa yang aku dapat?"
Air matanya menetes lagi, dan melanjutkan sambil terisak-isak:
"Bukan saja kau sama sekali tidak punya rasa berterima kasih
padaku, sebaliknya bahkan menyindirku dengan kata-kata yang
menyakitkan, bagaimana aku...aku tidak sedih?"
Ia makin ngomong makin sedih, akhirnya menangislah ia dengan
tersedu-sedu. Chu Liuxiang menjadi melongo. Ia hanya tahu gadis ini amat suka
tertawa, tak pernah menduga bahwa dia pun suka menangis.
Di dalam pandangan Chu Liuxiang, air mata dari seorang wanita
cantik, betul-betul lebih mengerikan dari senjata rahasia yang
dilepaskan oleh Tuan Muda Kelelawar!(Tuan Muda Kelelawar adalah
salah satu lawan terberat Chu Liuxiang yang nyaris merenggut
nyawanya!) Senjata rahasia sehebat apa pun, ia masih dapat
menghindarinya, namun ia sama sekali tidak dapat menghindarkan
diri dari air mata seorang wanita cantik!
Senjata rahasia seberapa hebat pun, paling-paling cuma
menciptakan beberapa lubang pada badannya, namun air mata
seorang wanita cantik dapat meremukkan hatinya!
Chu Liuxiang menghela nafas yang panjang, lalu berkata dengan
suara lembut: "Siapa bilang aku tidak berterima kasih padamu"
Sebaliknya aku sangat-sangat berterima kasih padamu."
"Kalau begitu...kenapa kau tidak mengatakannya?"
"Perasaan berterima kasih yang sejati mesti disimpan di dalam
hati, kalau dikatakan sudah tidak ada artinya lagi."
Zhang Jiejie tidak bisa menahan dirinya, dari menangis menjadi
tersenyum, lalu berkata seraya menuding hidung Chu Liuxiang: "Apa
yang dikatakan oleh kakek itu memang tidak salah, kau memang
memiliki mulut manis yang bisa menipu kaum wanita!"
"Jangan lupa kakek itu pun seorang pria, dan omongan pria
semuanya tidak bisa dipegang."
"Ia memang licik bagaikan rubah tua, dan ilmu silatnya pun tidak
lemah." "Tapi tetap saja ia tidak dapat menandingi nenek itu, karena itu
tidak heran ia amat takut kepada istrinya."
"Apakah kau pun merasa bahwa ilmu menotok nenek itu amat
lihai?" "Kelihaian ilmu menotoknya layak menempatkan nenek itu ke
dalam lima besar di dunia persilatan!"
"Jika demikian, seharusnya ia adalah jago silat yang amat
terkenal." "Seharusnya demikian."
"Banyak orang mengatakan bahwa Pendekar Harum memiliki
pengetahuan dan wawasan yang amat luas, apakah kau sudah
mengetahui asal-usulnya?"
"Belum." "Sedikit petunjuk pun belum kau dapat" Coba kau pikirkan
dengan lebih seksama lagi."
"Tidak perlu. Siapa pun suami istri itu sudah tidak penting lagi."
"Mengapa?" "Sebab mereka sudah tidak akan datang lagi untuk cari gara-gara
denganku." "Jadi yang penting itu apa"'
"Yang penting adalah: Siapa yang menyuruh mereka" Di
manakah orang itu?" "Kenapa tadi kau tidak menanyai mereka" Kenapa dengan
sembarangan kau melepaskan mereka?"
"Kalau aku menanyai mereka, apakah dengan sembarangan
mereka akan memberitahukanku"'
"Tidak." Zhang Jiejie berpikir sejenak, lalu menyambung kata-katanmya:
"Seandainya mereka adalah orang yang mudah sekali membocorkan
rahasia, pasti tidak akan disuruh 'orang itu' untuk menghadapimu."
Chu Liuxiang berkata sambil senyum: "Kau betul-betul berbeda
dengan gadis lain, kau memiliki otak yang 'encer'."
Zhang Jiejie berkata seraya membuat ekspresi wajahnya tampak
dingin: "Apakah kau lagi berusaha 'menjilat-jilat ku" Aku tidak
mudah terjebak seperti orang lain lho!"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas: "Masa' kau mesti
menginginkan aku memakimu, baru menganggap apa yang aku
katakan itu benar?" Zhang Jiejie berkata seraya memelototkan mata: "Sekalipun
mereka menutup mulut rapat-rapat, seharusnya kau juga punya cara
agar mereka buka mulut kan?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum kecut: "Suami istri itu
kalau digabungkan usianya paling sedikit ada 130-140 tahun, masa'
aku mesti menggantung dn memukuli mereka supaya mengaku"'
Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum manis: "Sekalipun kau
bukan orang yang baik, tapi kau bukan orang yang macamnya
begini." Ia tiba-tiba berkata seraya menghela nafas: "Dikarenakan mereka
sudah pergi, tampaknya aku terpaksa sekali lagi menemanimu
kembali untuk mencari temanku itu."
"Itu tidak perlu."
Zhang Jiejie berkata dengan makin memelototkan mata: "Tidak
perlu" Masa' kau sudah ada cara untuk menemukan orang itu?"
Chu Liuxiang berkata sambil senyum "Walaupun aku tidak bisa
menemukan dia, tetapi ada yang bisa!"
Mata Zhang Jiejie kian membesar, lalu bertanya: "Siapa?"
Tangan Chu Liuxiang menunjuk ke depan dan berkata: "Dia."
Zhang Jiejie memandang, ternyata itu adalah bagal yang menarik
gerobak itu, yang sekarang sedang menundukkan kepala untuk
makan rumput yang tumbuh di sisi jalan.
Zhang Jiejie berkata seraya tertawa renyah: "Ternyata dia juga
temanmu." "Bagal itu paling sedikit punya satu macam kebaikan, yaitu ia
tidak bisa berkata bohong."
"Tetapi ia juga sama dengan kau, 'tidak bisa berbahasa manusia"
("Tidak bisa berbahasa manusia", suatu istilah dalam bahasa
Tionghoa, yang berarti: Orang yang kata-katanya tajam dan
"menusuk" hati orang yang mendengarnya)
"Ia tidak usah berbicara"
Chu Liuxiang tiba-tiba bertanya: "Kalau aku tiba-tiba pergi dan
meninggalkan kau sendirian di tempat ini, kau akan pergi ke mana?"
Zhang Jiejie menjawab dengan sedikit terkejut: "Aku bisa pergi
ke mana saja! Paling sedikit ada seribu tempat yang bisa aku
datangi!" "Jikalau tidak ada tempat yang bisa kau datangi?"
"Jika begitu aku akan pulang ke rumahku."
"Betul, tentu saja kau akan pulang ke rumahmu, dan kau pasti
mengenal jalan untuk pulang ke rumah."
Chu Liuxiang menyambung seraya tersenyum: "Selain manusia,
ada satu macam binatang yang juga mengenal jalan untuk pulang ke
rumah." "Kuda?" "Betul, apalagi kuda yang tua; Kau bisa meninggalkan kuda di
mana saja, is pasti punya cara untuk menemukan jalan untuk pulang
ke rumah." Zhang Jiejie berkata sambil senyum: "Barangkali masih perlu
dilihat, apakah ia kuda jantan atau kuda betina?"
Chu Liuxiang juga berkata sambil senyum: "Jika begitu kuda
jantan itu terpaksa pulang ke rumah, sebab ia tidak punya tempat
yang bisa didatangi, sebab sampai saat ini di dunia ini masih belum
ada tempat pelacuran dan kedai arak bagi kuda!"
Sinar mata Zhang Jiejie menjadi kian terang, lalu berkata:
Maksudmu...bagal ini pun bisa menemukan jalan pulang ke rumah?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum: "Jangan lupa bahwa
bagal merupakan keturunan separuh' dari kuda, dan bagal lebih
cerdas dari kuda." Zhang Jiejie berkata seraya mengedipkan mata: "Kau mengikuti
bagal(Bagal adalah hasil perkawinan campur antara kuda betina
dengan keledai jantan, atau antara kuda jantan dengan keledai
betina.) itu pulang ke rumah, memangnya mau berkunjung untuk
menemui ayah keledai dan ibu kuda dari bagal itu?"
*** Bagal itu berjalan di depan, Chu Liuxiang dan Zhang Jiejie
berjalan di belakang. Selagi berjalan, mendadak Zhang Jiejie tertawa terus sampai
tidak bisa menegakkan pinggangnya.
Chu Liuxiang tidak tahan untuk tidak bertanya: "Kau lagi
menertawai apa" "Menertawai aku sendiri."
"Aku tidak bisa menemukan ada bagian-bagian di dirimu yang
pantas ditertawai." "Aku menertawai diriku sendiri adalah seorang yang tolol."
Chu Liuxiang berkata seraya tertawa juga "Kenapa kau tiba-tiba
berubah menjadi orang yang rendah hati?"
"Jika aku bukan orangyang tolol, mengapa mau berjalan di
belakang pantat bagal dan mengikutinya?"
"Itu karena aku ingin mencari serta menemukan si pemilik bagal
itu." "Kenapa kau bisa tahu bahwa si pemilik bagal adalah orang yang
mau mencelakaimu?" "Aku tidak tahu, makanya aku mau mencoba keberuntunganku."
Zhang Jiejie menatapnya, lalu berkata seraya menggelengkan
kepala secara perlahan: "Dengarnya kalau seseorang yang lagi
'bernasib bunga persik', pasti akan bernasib sial, lalu kenapa aku
mesti menemani kau pergi untuk mengalami kesialan?"
Ia menyambung seraya mengedip-ngedipkan mata:


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bagaimanapun juga, paling tidak aku kan belum pernah
mencelakaimu?" Chu Liuxiang berkata seraya mengelus-elus hidung: "Memang
belum pernah." "Aku adalah wanita, kau adalah pria, ajaran agama yang berbunyi
'Pria dan wanita yang bukan suami istri, tidak boleh terlalu
berdekatan. Kau pasti pernah mendengar ajaran ini kan?"
"Pernah." "Oleh karena itu, tentu kau tidak boleh menarik dan menahanku
agar selalu menemanimu kan?"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas: "Memang tidak
boleh." Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum manis: "Jika begitu, aku
mau berpamitan, karena aku tidak mau menemani seorang tolol dan
seekor bagal untuk berkeliaran ke mana-mana."
Ia menepuk-nepuk bahu Chu Liuxiang dan berkata sambil
senyum: "Tunggu sampai ketika kau hampir mati karena benarbenar
dicelakai orang, jangan lupa beritahu aku, aku pasti bergegas
datang untuk membakar dupa untuk mengantarmu berpulang."
Begitu kata terakhir diucapkan, orangnya sudah berada di jarak
kirakira 70-80 kaki jauhnya, menoleh dan melambai-lambaikan
tangan pada Chu Liuxiang, lalu sebentar saja telah lenyap dari
pandangan mata! Mendadak Chu Liuxiang menyadari bahwa gadis itu memiliki ilmu
meringankan tubuh yang amat tinggi!
Di dunia ini jika ada sepuluh ribu orang yang memiliki ilmu
meringankan tubuh yang amat tinggi, barangkali ia masih lebih
hebat dari 9.998 orang yang lain!
Hanya 9.998 orang, sebab yang satunya adalah Chu Liuxiang!
Namun Chu Liuxiang sekarang pun juga tidak dapat menyusul dia!
Chu Liuxiang menghela nafas dan bergumam: "Jikalau aku benarbenar
mati dicelakai orang, bagaimana aku bisa pergi
memberitahukanmu?" Ia berasa bahwa hampir semua perkataan yang diucapkan gadis
ini adalah demikian: Separuh benar separuh palsu, tampaknya saja
benar tapi sebenarnya tidak, sehingga orang lain sama sekali tidak
bisa menebak maksud dia yang sebenarnya!
"Sebetulnya ia adalah orang yang bagaimana" Dan apa artinya
bagiku?" Seandainya mengatakan ia punya niat jahat, namun ia betul-betul
belum pernah mencelakai Chu Liuxiang, malahan sedikit banyak
pernah membocorkan rahasia pada Chu Liuxiang.
Ia bersembunyi di bawah gerobak, kelihatannya memang benar
sedang menanti kesempatan untuk menyelamatkan Chu Liuxiang.
Tapi seandainya bukan dia, bagaimana mungkin Chu Liuxiang
mau naik ke gerobak yang penuh dengan selada itu" Jika demikian,
bagaimana mungkin bisa masuk perangkap yang dipasang oleh
suami istri tua tapi licik itu"
Chu Liuxiang menghela nafas panjang lagi, dan berharap ia
jangan betul-betul mengalami kesialan seperti yang dikatakan gadis
itu, dan berharap bagal itu dapat membantu dia, pulang ke
rumahnya dengan patuh dan membawa dia untuk menemui "orang
itu." Ia benar-benar amat ingin bertanya pada "orang itu": "Mengapa
ingin sekali membunuh dia?"
Bagal itu memang pulang ke rumah asalnya "Peternakan Yuanji."
Itu adalah sebuah peternakan yang amat besar, di dalamnya ada:
keledai, bagal dan kuda dari berbagai jenis.
Dengan susah payah Chu Liuxiang mengikuti bagal itu
menempuh perjalanan setengah hari lamanya, hasilnya persis seperti
mau mengunjungi dan menemui ayah keledai dan ibu kuda dari
bagal itu! Masa' Zhang Jiejie sudah bisa menebak hasil ini sejak dini" -
Terlihat bahwa jika seseorang berjalan mengikuti bagal, memang
tidak akan peroleh hasil apa-apa.
Bagal itu mengibas-ngibaskan ekornya, dengan gembira sekali
pergi mencari para "kerabat" nya.
Tinggal Chu Liuxiang seorang diri, berdiri ditempat itu sambil
terbengong-bengong. Lama sekali ia baru bisa tersenyum getir dan berguman "Bagal ini
pasti betina." **** Di seberang depan ada sebuah kedai arak yang bertingkat, kedai
itu bernama "Loteng Lima Rejeki."
Chu Liuxiang duduk di tempat duduk yang dekat jendela di loteng
kedai itu dan minum arak.
Ketika minum arak sampai cawan kelima, mendadak ia menyadari
bahwa dirinya adalah orang yang tolol -- Si Tolol seratus persen.
Memang benar ada orang yang mau membunuh dia, namun pada
saat ini ia toh masih hidup.
akan peroleh hasil apa-apa.
"Jika dia mau membunuhku, kenapa aku tidak menunggu dia
datang membunuhku" Kenapa aku mesti mencari dia dengan susah
payah?" Arak di cawan keenam diminumnya dengan cepat, karena arak di
kedai ini bukanlah arak yang bagus -- Jauh lebih jelek mutunya dari
arak simpanannya. "Bahkan bagal pun mengerti mau pulang ke rumah, mengapa aku
mesti berkeluyuran di luar?"
Ia memutuskan akan berhenti sewaktu minum sampai cawan ke
duabelas. "Pertama cari Hu Tiehua dulu, kemudian pulang ke rumah."
Di rumahnya bukan saja ada arak bagus yang menunggu dia,
juga ada banyak gadis-gadis yang lemah lembut dan menarik yang
sedang menunggu dia! Ia memutuskan bahwa kali ini ia akan tinggal lebih lama di
rumah, beristirahat dengan cukup, dan bernikmat-nikmat!
Ia benar-benar membutuhkan istirahat dan kenikmatan ini!
Dewi Kwan-Im Batu, Tiada bunga, "Ibu air" Yinji, Burung Huabi,
Nangong Yang, Xue Yiren, Xue Baobao, Guru Besar Kumei, Tuan
Muda Kelelawar... Semua nama tersebut di atas merupakan lawan-lawan tangguh
yang pernah dihadapi Chu Liuxiang.
Jikalau tidak dibantu oleh nasib baik, mungkin ia telah mati 7-8
kali! Begitu ia memikirkan peristiwa-peristiwa yang lampau, tidak
tertahan lagi ada satu pikiran yang masuk: "Aku boleh saja tidak
mengurusi hal-hal yang lain, tapi kan tidak bisa melihat saja dia mati
karena aku!" Tiba-tiba di dalam hatinya muncul sebuah bayangan gelap. Masih
bayangan gelap dari tangan itu.
Tiba-tiba, ada sebuah tangan terjulur dari samping badannya,
dan menuju ke depan mukanya.
*** Sebuah tangan yang amat indah, lima jari yang lentik, telapak
tangan yang amat lembut bagai tanpa tulang, dengan pelan-pelan
mengangkat teko arak yang berada di meja Chu Liuxiang.
Dalam cawan telah kosong araknya.
Chu Liuxiangtidak mengangkat kepalanya, hanya memandangi
saja arak yang keluar pelan-pelan dari teko itu dan memenuhi cawan
itu. Cawan itu kosong lagi araknya.
Chu Liuxiang tetap saja tidak mengangkat kepalanya.
Ia telah melihat ada sepotong baju atas dan rok yang berwarna
merah muda, dan mencium bau harum yang tidak asing lagi.
Ini semua sudah cukup membuat dia tahu yang datang itu siapa.
Ai Hong. Chu Liuxiang betul-betul tidak menyangka bahwa ia bisa muncul
kembali, tiba-tiba berkata sambil senyum: "Kau telah ganti sepatu."
Tangan itu turun dan menyingkap ujung rok dengan pelan,
terlihatlah sepasang sepatu berwarna hijau yang buatannya bagus,
sol sepatunya tipis dan halus.
Sol-sepatu setipis ini, di dalamnya tidak bisa menyimpan senjata
rahasia. Chu Liuxiang menganggukkan kepala dan berkata sambil
senyum: "Indah sekali, inilah sepatu yang seharusnya dipakai oleh
anak perempuan." Pelayan kedai yang bermata jeli itu segera membawakan sumpit
dan cawan yang baru. "Kau kan sudah datang, kok tidak duduk untuk minum beberapa
cawan arak?" kata Chu Liuxiang.
Ai Hong duduk. Chu Liuxiang baru melihat bahwa sekarang warna muka gadis itu
jauh lebih pucat dari sebelumnya, ekspresi wajahnya juga amat
muram, senyum manis dan nakal yang berada di ujung mulutnya
juga sudah lenyap, ujung alisnya selalu berkerut, sepertinya
menanggung beban pikiran yang amat berat.
Gadis-gadis muda kebanyakan bersifat sentimentil, dan gadisgadis
manakah yang tidak punya beban pikiran yang berat"
Namun tampaknya Ai Hong bukan gadis yang bersifat sentimentil.
Chu Liuxiang menuangkan arak ke cawan Ai Hong, lalu berkata
seraya tersenyum: "Apakah kau masih memikirkan sepatumu yang
dulu itu" Sepatu itu berada pada temanku yang berbaring di bawah
meja, aku setiap saat dapat memintanya dan mengembalikan
padamu." Ai Hong menundukkan kepala, kelihatannya amat gelisah.
Chu Liuxiang berkata lagi sambil senyum: "Tenang! Walaupun
temanku itu amat menyukai sepatumu, tapi kali ini ia tidak
bersembunyi di bawah meja."
Ai Hong menggigit bibirnya, akhirnya cawan arak yang berada di
depannya diteguk habis. Chu Liuxiang menyumpit sepotong burung dara goreng dengan
sumpit Ai Hong, lalu meletakkan ke piring yang ada di depan Ai
Hong, seraya berkata: "Minum arak dalam keadaan perut yang
kosong itu paling memabukkan, masakan bikinan tempat ini masih
lumayan, coba dulu ya!"
Ai Hong tiba-tiba mengangkat kepala dan memandang dia lekatlekat,
di dalam sepasang mata yang indah itu penuh dengan
kesedihan dan penderitaan.
Gadis secantik dia ini seharusnya tidak menderita seberat ini!
Chu Liuxiang menaruh sumpit ke tangan Ai Hong, sambil berkata
dengan suara lembut: "Kau makanlah sedikit dulu, lalu aku
menemanimu minum arak, bagaimana?"
Ai Hong berkata seraya menghela nafas dengan pelan: "Apakah
kau selalu lemah lembut begini ketika berbicara dengan wanita?"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sejenak: "Itu tergantung
ia adalah wanita yang bagaimana?"
"Aku adalah wanita yang bagaimana?" tanya Ai Hong.
Chu Liuxiang tidak menjawab, namun memandang dia dengan
pandangan yang penuh pengertian.
Pandangan semacam ini sering kali lebih bisa menyenangkan hati
gadis daripada seratus kalimat pujian!
Tetapi mata Ai Hong kian memerah, terlihat ia makin sedih, lalu
berkata seraya menundukkan kepala: "Aku bukan adiknya Ai Qing."
"Aku tahu." "Aku telah berbohong dan mau membunuhmu, aku sebenarnya
adalah gadis yang amat jahat, kau sebenarnya tidak usah berlaku
demikian ramah padaku."
Chu Liuxiang berkata sambil senyum: "Hal yang dulu itu aku
sudah lupa, sebab aku tahu itu pasti bukan kemauanmu sendiri."
Tiba-tiba ia menyadari satu hal yang aneh: Tangan kiri Ai Hong
selalu bersembunyi di dalam lengan baju, dan tidak pernah diangkat.
"Jika itu adalah kemauanku sendiri?" tanya Ai Hong.
Chu Liuxiang menjawab dengan suara lembut: "Sekalipun itu
adalah kemauanmu sendiri, aku tidak akan menyalahkanmu, gadis
cantik dan polos seperti kau ini, baik melakukan apa saja, orang lain
pasti bisa memaafkannya!"
Dengan tiba-tiba ia menarik tangan kiri Ai Hong.
Air muka Ai Hong segera berubah, menjadi tambah pucat. Air
muka Chu Liuxiang pun ikut berubah.
Lengan baju itu kosong ---- Ai Hong telah kehilangan sebelah
tangannya! *** Sekarang Chu Liuxiang sudah tahu bahwa tangan yang berada di
ambang jendela itu milik siapa.
Gadis yang muda seringkali menganggap penampilan dan
wajahnya sendiri jauh lebih berharga dari nyawa, sekalipun ada
sebuah bekas luka di tangannya, ini sudah bisa membuat dia
menderita, apalagi kehilangan satu tangan"
Chu Liuxiang tidak saja merasa kasihan, bahkan merasa sedih
untuk Ai Hong. Ia memang betul-betul telah memaafkan Ai Hong sejak dulu.
Andaikata Ai Hong menyembunyikan diri, tapi akhirnya dia
temukan; Atau ketika gadis itu bertemu dia, masih bersikap "semua
pria adalah si Pandir", maka keadaannya mungkin berbeda.
Namun ini adalah seorang gadis yang menderita dan yang
mendatangkan rasa iba, berinisiatif mencari dia, dan menuangkan
arak bagi dia, maka apa pun yang telah dilakukannya, dia betul-betul
tidak akan memasukkan ke hati!
Sekalipun Ai Hong adalah pria, Chu Liuxiang juga akan berlaku
sama. Chu Liuxiang selalu dengan cepat melupakan kesalahan orang
lain, tetapi tak bisa melupakan kebaikan orang lain, makanya bukan
saja ia pasti hidup lebih bahagia, juga pasti hidup lebih panjang!
Seseorang kalau di dalam hatinya tidak ada dendam, pasti hariharinya
dilewati dengan lebih bahagia!
Waktu berlalu lama sekali, Chu Liuxiang baru berkata dengan
perasaan sedih: "Hanya dikarenakan kau tidak berhasil
membunuhku, maka mereka membuat demikian kepadamu?"
Ai Hong menundukkan kepala, tidak berkata apa-apa, namun air
makanya setetes demi setetes berjatuhan ke dalam cawan arak yang
ada di depannya. "Siapakah yang telah melakukan hal ini?" tanya Chu Liuxiang.
Ai Hong menggigit bibirnya kuat-kuat, kelihatannya ia takut kalau
membocorkan rahasia. Chu Liuxiang bertanya lagi: "Sampai sekarang kau masih tidak
berani mengatakannya" Kenapa kau demikian takut kepada dia?"
Ai Hong memang benar-benar takut.
Ia terlihat tidak saja sangat menderita, bahkan saking takutnya
seluruh badannya bergemetaran terus.
Orang itu bukan saja telah memotong satu tangannya, bahkan
mungkin setiap saat bisa merenggut nyawanya.
Chu Liuxiang betul-betul tidak bisa memikirkan bahwa ternyata
ada orang yang bisa berbuat begitu kejam kepada seorang gadis
cantik! Tapi kalau bukan karena dia, Ai Hong tidak akan mengalami
kemalangan ini. Mendadak ia merasa marah sekali.
Selama ini ia jarang sekali marah, sebab hawa amarah mudah
sekali mempengaruhi kemampuan pertimbangan seseorang, dan
orang yang marah paling mudah berbuat kesalahan!


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi ia toh seorang manusia juga, ada saat-saat di mana ia
tidak bisa mengendalikan diri sendiri, apalagi sekarang pas ketika
suasana hatinya tidak begitu baik, dan emosinya sedang labil.
Ia telah melupakan keputusannya untuk pulang ke rumah dan
bernikmat-nikmat, tiba-tiba berdiri dan berkata: "Kamu duduklah di
sini sebentar, tunggulah aku, segera aku akan kembali."
Ai Hong menganggukkan kepala, dan memandang dia dengan
lemah lembut, kelihatannya sudah menganggap dia sebagai satusatunya
orang yang bisa diandalkan.
Kedatangan dia kali ini, selain ingin minta pengertian dari Chu
Liuxiang, barangkali juga disebabkan ia sudah menyadari kesendirian
dan ketakberdayaannya. Chu Liuxiang bisa memahami maksud Ai Hong ini, maka ada satu
hal yang mesti ia kerjakan.
*** Pelayan yang bekerja di peternakan itu, sepertinya sedikit banyak
"ketularan" sifat-sifat bagal, sehingga tampaknya tidak seramah
orang yang bekerja di usaha yang lain.
Chu Liuxiang baru saja berjalan mendekati peternakan itu, ada
seorang pelayan yang sikapnya tidak begitu ramah menyambut dia
dan berkata "Tuan mau memilih kuda atau membeli bagal" Apa yang
dijual di sini kami jamin semuanya adalah hewan yang bagus
kualitasnya" Kata-katanya diucapkan dengan cukup sopan.
"Kedatanganku cuma ingin menanyakan sedikit informasi", kata
Chu Liuxiang. Begitu didengar kedatangannya bukan urusan dagang, pelayan
itu merasa tidak perlu menjaga sopan santun, lalu berkata dengan
sikap dingin: "Di tempat kami ini hanya ada informasi tentang
hewan, tidak ada informasi tentang manusia."
Chu Liuxiang tersenyum sejenak, lalu berkata: "Aku datang justru
mau menanyakan informasi tentang seekor bagal."
Si pelayan memandang dia dengan dingin, tapi toh bisa menahan
diri untuk tidak mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar.
"Tadi ada seekor bagal yang tak terurus orang berlari masuk
kemari, apakah kau melihatnya?" tanya Chu Liuxiang.
"Kenapa" Apakah bagal itu milik anda?"
"Bukan milikku, tapi milikmu."
Air muka si pelayan menjadi agak enak dipandang, lalu berkata:
"Jika itu milik kami, kenapa anda masih tanya?"
"Tetapi bagal itu tentu saja sudah pernah kalian jual satu kali,
aku hanya mau tanya: Siapa yang membelinya?"
Tangan si pelayan tiba-tiba menunjuk ke depan seraya berkata:
"Apakah anda sudah melihat: Di sini ada berapa banyak bagal?"
Chu Liuxiang sudah melihatnya: Di dalam kandang yang berada
di bagian belakang, jumlahnya bagal memang banyak sekali.
Si pelayan berkata dengan sikap dingin: "Bagal tidak sama
dengan orang, orang ada yang tampan, ada yang jelek, namun
rupanya bagal mirip semuanya. Kami pun tidak tahu tiap harinya
berapa banyak bagal yang terjual, bagaimana bisa tahu bagal itu
dijual kepada siapa!"
Si pelayan menunjukkan sikap bahwa is hampir hilang
kesabarannya, dan bersiap-siap untuk memberhentikan percakapan.
Chu Liuxiang terpaksa mengeluarkan senjata terakhir--Juga
terampuh! Sekalipun anda memakai "senjata" itu untuk memukul kepala
seseorang sampai berlubang kepalanya, barangkali orang itu masih
mengucapkan terima kasih dengan wajah penuh senyum!
Selain uang perak, masih adakah benda lain yang memiliki
"kekuatan magis" demikian besar"
Sikap si pelayan segera berubah menjadi jauh lebih ramah, dan
berkata seraya tersenyum "Aku akan pergi memeriksanya untuk
tuan, seandainya di badan bagal itu ada tanda selar, kemungkinan
besar bisa menelusuri dan menemukan siapa pembelinya."
Tidak terdapat tanda selar di badan bagal itu, bahkan seluruh
badannya bersih dan mulus, sampai tidak terlihat ada sebuah bulu
yang berwarna lain. Chu Liuxiang menghela nafas panjang, dan bersiap-siap untuk
meninggalkan "petunjuk" ini.
Namun ia tidak bisa menahan dirinya dan bertanya: "Benarkah
bagal ina yang tadi berlari dari luar masuk kemari?"
Si pelayan berkata seraya tersenyum: "Walaupun aku tidak bisa
membedakan bagal itu tampan atau jelek" Tapi kalau bagal itu baik
atau buruk kualitasnya, aku bisa mengetahuinya. Kalau seperti bagal
ini, dari jarak beberapa ratus kaki pun aku masih bisa
mengetahuinya!" "Apakah bagal ini bagus?"
"Luar biasa bagusnya. Di antara seribu ekor bagal, belum tentu
bisa menemukan yang sebagus bagal ini, maka...."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, dan matanya melihat ke
tangan Chu Liuxiang. Dan tangan Chu Liuxiang selama ini jarang mengecewakan
orang! Karena itu si pelayan melanjutkan kata-katanya seraya
tersenyurn terus: "Hewan yang bagus kualitasnya, biasanya kami
hanya menjual kepada langganan yang lama."
Mata Chu Liuxiang menjadi terang, segera bertanya: "Apakah
kalian memiliki banyak langganan yang lama?"
Si pelayan menjawab seraya tersenyum: "Tempat peternakan
sebesar ini jika tidak punya belasan pelanggan yang lama, mana bisa
bertahan?" Ia segera melanjutkan: "Beberapa kantor ekspedisi yang besar,
seperti:'Wansheng','Feilong' dan 'Zhenyuan', semua adalah
langganan tetap kami, tetapi kalau langganan terbesar masih
keluarga Jin dari Taman Wanfu Wanshou"
"Apakah keluarga Jin selalu membeli hewan ternak tunggangan
dari tempat ini?" "Setiap tahun ketika kami mendatangkan hewan ternak
tunggangan dari daerah perbatasan negara, selalu meminta tuantuan
muda dan nona-nona dari keluarga Jin datang untuk memilih
yang terbaik." Chu Liuxiang berkata dengan emosi yang mulai bergejolak:
"Benarkah bagal ini dibeli oleh keluarga Jin" Apakah kau yakin
benar?" Si pelayan berkata seraya menganggukkan kepala: "Di badan
hewan yang lain pasti ada tanda selarnya, karena takut hewan itu
hilang, tetapi keluarga Jin punya kekayaan dan kekuasaan yang
amat besar, sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengusik
milik mereka yang terkecil pun, bahkan seandainya betul-betul
kehilangan beberapa ekor hewan pun tak akan masuk dalam
perhitungan mereka."
"Karena itu hanya hewan milik mereka yang tidak ada tanda
selarnya, betul?" "Makanya aku menduga bahwa: Kemungkinan besar bagal ini
adalah milik mereka yang hilang."
Chu Liuxiang menjadi termangu-mangu.
Ada sejumlah hal yang tidak pernah dipikirkan dia sekalipun itu di
dalam mimpi, namun pada saat ini tiba-tiba telah terpikirkan
olehnya! Kali ini ketika ia datang ke tempat ini, bukankah hanya orang dari
keluarga Jin yang tahu"
Bukankah permulaan dari hal ini terjadinya di keluarga Jin"
Apalagi kecuali keluarga Jin, di sekitar daerah ini sama sekali
tidak terdapat orang lain yang sanggup menggunakan kekuatan
yang demikian besar, bisa memimpin dan memerintahkan jago-jago
silat tangguh yang demikian banyak dan memasang jebakan-jebakan
yang demikian banyak! Paling tidak ia belum pernah mendengar ada tokoh yang punya
kekuatan sebesar ini di sekitar daerah ini.
Tetapi mengapa keluarga Jin mau membunuh dia"
Ia tidak saja adalah sahabat Jin Lingzhi, bahkan pernah
membantu serta menyelamatkan nyawa gadis itu.
Namun jumlah orang dalam keluarga Jin memang terlalu banyak
dan ruwet, di antaranya mungkin saja ada musuh bebuyutan dia
yang Jin Lingzhi sendiri pun tidak tahu.
Namun berdasarkan omongan Jin Lingzhi, ia hanya
memberitahukan kepada Nyonya Besar Jin seorang saja tentang
kedatangan Chu Liuxiang, bahkan saudara-saudara dan pamanpamannya
tidak tahu kalau Chu Liuxiang mau datang untuk
pengucapan selamat panjang umur.
Masa' Jin Lingzhi sedang berbohong"
Masa' "otak" dari semua peristiwa ini adalah Nyonya Besar Jin"
Hati Chu Liuxiang menjadi amat kalut, bahkan makin dipikir makin
kalut, lama sekali masih tidak bisa menenangkan dirinya.
Jika menghadapi tipuan dan jebakan dari musuh, selamanya ia
paling bisa menenangkan diri!
Namun kalau ditipu dan dijebak sahabat sendiri, itu lain
persoalan! Si pelayan mendadak menghela nafas dan bergumam: "Tidak
disangka bahwa pada siang hari bolong, ternyata ada orang yang
berani melakukan hal yang melecehkan hukum."
Kata-kata keluhan itu seperti ditujukan pada diri sendiri, juga
seperti ditujukan pada Chu Liuxiang.
Dikarenakan di tempat ini tidak ada orang lain, mau tidak mau
Chu Liuxiang bertanya: "Ada hal apa?"
"Penculikan." Chu Liuxiang bertanya seraya mengerutkan alis: "Penculikan"
Siapa yang menculik" Siapa yang diculik?"
"Ada beberapa laki-laki kekar menculik seorang gadis kecil, pada
siang hari bolong begini gadis itu diikat tali dan dikeluarkan dari
kedai arak yang ada di depan itu, kemudian dinaikkan ke sebuah
kereta kuda. Di jalanan ada banyak orang, tapi tidak satupun yang
berani tampil untuk menanyakan hal itu."
Chu Liuxiang bertanya dengan terkesiap: "Gadis kecil yang
seperti apa?" "Seorang gadis kecil yang rupawan, pakaiannya sepertinya
berwarna merah...." Ia masih mau melanjutkan kata-katanya, namun yang diajak
berbicara itu sayangnya tiba-tiba telah lenyap!
*** Dengan sangat cepat Chu Liuxiang kembali ke kedai arak itu.
Walaupun ia amat cepat, masih terlambat juga, selain tidak
melihat beberapa laki-laki kekar itu, juga tidak melihat kereta kuda
itu, yang terlihat cuma seorang penjual buah-buahan yang
memunguti buah-buah yang jatuh berserakan di jalan sambil
mulutnya terus memaki-maki, dan seorang anak kecil yang menangis
tersedu-sedu sambil memandangi barang dagangannya (botol
minyak dan telur ayam) yang pecah berantakan di tanah.
Di kejauhan terlihat debu yang melayang tinggi, dan terdengar
sayup-sayup bunyi kereta dan dengusan kuda.
Buah-buahan dan telur-telur itu pasti tertabrak kereta kuda itu
sehingga jatuh berserakan di jalan.
Kebetulan pada saat ini ada seorang yang menuntun seekor kuda
keluar dari tempat peternakan itu.
Chu Liuxiang mengeluarkan sekeping uang emas, berjalan cepat
ke depan orang itu, menjejalkan uang emas ke tangan orang itu,
badannya segera melayang ke punggung kuda itu.
Sebelum orang itu mengerti duduk persoalannya, Chu Liuxiang
dan kuda itu telah melesat jauh.
Kalau bekerja ia selalu mengutamakan efektifitas, tak akan
mengucapkan kata-kata yang tak berguna, dan tak akan melakukan
hal-hal yang tak berfaedah.
Sehingga jikalau ia betul-betul menginginkan sesuatu dari
seseorang, selain memberikan pada Chu Liuxiang, orang itu betulbetul
tidak berdaya menolaknya!
*** Orang-orang dari dunia persilatan, hampir semuanya mengerti
cara memilih kuda yang tepat, sebab mereka tahu bahwa seekor
kuda yang bagus, bukan saja pada saat biasa bisa menjadi teman
yang baik, bahkan seringkali pada saat yang berbahaya dapat
menyelamatkan pemiliknya.
Seandainya kuda bisa memilih orang yang jadi penunggangnya,
pasti memilih Chu Liuxiang.
Dalam hal ilmu menunggang kuda, ia bukan orang yang paling
jagoan, selain itu, waktunya untuk menunggang kuda juga tidak
banyak . Tetapi tubuh dia amat ringan, saking ringannya sehingga si kuda
hampir tidak terasa di punggungnya sedang dinaiki.
Bahkan ia amat jarang menggunakan cambuk.
Baik terhadap manusia maupun hewan, ia sama-sama tidak mau
memakai cara-cara kekerasan.
Tiada seorang pun yang bisa menandingi dia dalam-hal
membenci pemakaian cara-cara kekerasan.
Karena itu, meskipun kuda ini bukan yang sangat bagus, namun
larinya cukup kencang juga.
Dengan amat ringan Chu Liuxiang menempel di kuda itu,
badannya seolah-olah telah menjadi sebagian dari kuda itu.
Sehinggaa kuda itu berlari dengan kecepatan yang hampir sama
dengan ketika ia tidak ditunggangi orang.
Mestinya, dengan kecepatan ini, tidak lama kemudian sudah bisa
menyusul kereta kuda yang ada di depan itu.
Sebab kereta itu hanya ditarik seekor kuda, dan di kereta itu ada
beberapa orang, sehingga seberapa cepatnya kuda itu pun, pasti
kecepatannya akan berkurang banyak
Namun sayangnya di dalam dunia ini ada banyak hal yang
tampaknya tidak masuk di akal!
Chu Liuxiang sudah mengejar lama sekali, namun akhirnya bukan
saja tidak dapat menyusul kereta kuda itu, bahkan debu-debu yang
diterbang-layangkan oleh kereta itu pun tidak kelihatan lagi.
Matahari sudah berada di ufuk barat.
Pada saat ini jalan raya itu bercabang, yang satu belok ke kiri,
yang satu belok ke kanan.
Chu Liuxiang berhenti di persimpangan jalan ini.
Di pinggir jalan ada beberapa batang pohon, di bawah sebatang
pohon yang terbesar, ada tempat penjualan arak yang kecil.
Pada saat itu hanya ada satu orang yang beristirahat dan minum
arak di tempat itu. Yang menjual arak adalah suami istri dua orang.
Tangan si suami menggandeng satu anak, dan di punggungnya
memanggul satu anak lagi.
Usia si suami kira-kira 40-50 tahun, tapi usia si istri jauh lebih
muda. Kelihatannya suami itu termasuk tipe "takut makanya yang
memanggul anak adalah si suami, si istri hanya duduk-duduk saja di
samping. Chu Liuxiang baru saja turun dan kuda, si istri sudah berdiri dan
berkata sambil senyum: "Tuan mau minum arak" Ini adalah arak
Ouyeqing yang kualitasnya paling baik!"
Senyumannya cukup manis dan wajahnya juga lumayan.
Barangkali inilah sebab terbesar suaminya takut kepadanya.


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Namun Chu Liuxiang hanya melihat sekilas dan tidak berani
melihat dia lagi! Pertama, ia tidak punya kebiasaan untuk memandangi istri orang
lain. Kedua, dalam waktu dua hari ini, ia hampir kehilangan nyawa
karena sedang "bernasib bunga persik", sehingga saat ini, asal
ketemu dan melihat wanita, ia pasti merasa sedikit takut.
Ia sengaja melihat ke si suami dan berkata: "Baik, satu mangkok
arak" Namun si istri berkata lagi: "Mau daging sapi yang direbus
dengan kecap" Baru dibuat tadi pagi lho."
"Baiklah." "Setengah kati" Atau satu kati?"
"Terserah." Ia punya kebiasaan yang amat baik. Tidak pernah berdebat dan
hitung-hitungan dengan kaum wanita!
Karena itu si istri tersenyum makin manis, lalu sibuk menyiapkan
daging sapi dan arak. Yang disajikan memang arak zhuyeqing, tetapi yang berkualitas
rendah. Daging sapi yang direbus dengan kecap ---- Paling tidak sudah
lewat tiga hari. Chu Liuxiang diam saja dan tidak memprotes.
Memang tujuannya bukan untuk minum arak.
Ia tetap melihat ke si suami dan bertanya "Tadi ada sebuah
kereta kuda yang lewat di tempat ini, apakah kalian melihatnya?"
Si suami tetap tidak menjawab, sebab ia tahu istrinya suka
berbicara, apalagi dengan pelanggan yang muda dan royal.
Sebab ia tahu: Makin banyak bicara, makin banyak uang tip yang
didapat. Si istri yang menjawab: "Setiap hari ada banyak sekali kereta
kuda yang melewati tempat ini, bisa tahu kereta kuda yang tuan cari
itu bagaimana modelnya?"
Pertanyaan ini tidak dapat dijawab Chu Liuxiang, sebab bahkan
bayangan dari kereta itu pun tidak terlihat olehnya.
Si istri mengedip-ngedipkan mata, lalu berkata: "Tadi memang
ada sebuah kereta kuda yang berlari dengan tergesa-gesa, layaknya
seperti ada anggota keluarga mereka yang baru meninggal, saking
tergesa-gesanya sehingga tidak berhenti sebentar untuk minum
arak." Mata Chu Liuxiang menjadi terang dan cepat-cepat berkata:
"Betul, memang itu yang kumaksudkan, kereta itu menuju ke jalan
mana?" Si istri berkata dengan sikap ragu-ragu: "Sepertinya itu adalah
kereta berwarna hitam yang ditarik dua kuda, kalau tidak salah
menuju ke jalan kiri...."
Ia tersenyum manis seraya berkata: "Kenapa tuan tidak duduk
dulu dan minum arak, sementara saya akan berpikir lebih seksama?"
Terlihat bahwa cara dia menarik para pelanggan bukanlah arak
dan daging sapi, tapi senyumannya.
Cara ini biasanya cukup berhasil.
Namun sayang kali ini tidak berhasil, sebab ketika ia tersenyum
paling manis, Chu Liuxiang dan kudanya telah berada di kejauhan,
setelah meninggalkan sekeping uang perak saat ini ia tidak ingin
wanita siapa pun punya kesan terlalu baik padanya!
Si istri menggigit bibirnya, lalu berkata dengan dongkol:
"Ternyata anggota keluarganya ada yang meninggal juga, sehingga
ia mesti buru-buru pergi!"
*** Waktu telah senja. Jalan yang ditempuh makin lama makin sulit, dan sepertinya
telah masuk ke daerah pegunungan.
Warna langit tiba-tiba jadi gelap.
Pohon-pohon makin lama makin lebat, saking lebatnya sampaisampai
tidak bisa melihat cahaya bintang maupun bulan.
Chu Liuxiang tiba-tiba menyadari bahwa ia telah tersesat, selain
tidak tahu ia saat ini berada di mana" Juga tidak tahu jalan ini
menuju ke mana" Yang lebih celaka ialah: Makanan yang dimakan pada pagi hari
itu telah tercerna habis, sehingga sekarang perutnya kosong.
Sekosong kantong bajunya Hu Tiehua!
Ia bukanlah orang yang tidak tahan lapar, sekalipun dalam dua
sampai tiga hari tidak makan apa-apa, juga tak akan ambruk
karenanya. Ia hanyalah amat tidak suka menahan lapar, ia selalu merasa ada
dua hal yang paling menakutkan di dunia iniyaitu kelaparan dan
kesepian! Sekarang sekalipun mau kembali lagi juga sudah tidak keburu lagi
--Satu-satunya tempat yang ada jual makanan pada jalan ini, yaitu
tempat jual arak yang berada di persimpangan jalan itu.
Dari sini berjalan kembali ke sana paling sedikit membutuhkan
waktu tiga jam! Ia menghela nafas panjang, dan mulai merasa "kangen" kepada
daging sapi yang direbus kecap dan kerasnya seperti batu itu.
Melihat bayangan-bayangan pohon yang gelap dan batu-batu
gunung yang bentuknya mengerikan yang berada di sekelilingnya,
serta mendengar bunyi air mengalir yang ada di kejauhan, dan
merasakan hembusan angin yang dingin menusuk....
Ia merasa saat ini nasibnya betul-betul sial.
Tentu saja orang yang paling sial bukanlah dia --- Ai Hong jauh
lebih sial dari dia. Ia telah kehilangan sebelah tangan, sekarang diculik lagi. Tidak
tahu siapa yang menculik dia dan mau dibawa ke mana"
Masih ada Ai Qing. Mungkin nasibnya lebih tragis lagi.
Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu tersenyum getir pada
dirinya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya pun adalah "sumber
malapetaka" Gadis-gadis yang baik kepada dia, jarang ada yang
tidak bernasib sial! Bunyi air yang mengalir di kejauhan itu, jika didengar dalam
bunyi angin, amat mirip dengan bunyi tangisan pilu dari gadis-gadis
itu! Chu Liuxiang mengelus-elus surai kuda itu seraya bergumam:
"Kelihatannya kamu juga sudah lelah, kalau begitu minumlah air
dulu." Ketika ia sampai di tepi air yang mengalir itu, terlihatlah ada
sebuah rumah kecil berada di pinggir jembatan kecil.
"Jembatan kecil, air mengalir dan rumah kecil" merupakan tema
lukisan tiongkok yang sering dipergunakan, yang sering
membuahkan lukisan-lukisan puitis yang amat indah.
Cuma sayang bahwa saat ini ia tidak memiliki sedikit rasa puitis
pun, sebab menurut dia pada saat ini - lukisan yang paling indah di
dunia pun akan kalah daya tariknya dengan semangkok daging babi
angsio! Di pagar bambu yang rendah itu berambatan bunga-bunga
wistaria, dari kertas jendela yang berwarna kuning gelap itu terlihat
ada sinar lampu. Di atas atap rumah terlihat asap membubung dari cerobong
dapur. Yang dibawa datang oleh angin, selain bau bunga yang harum,
juga bau sedap dari telur angsa yang digoreng bersama bawang.
Selain bunyi air yang mengalir, bertambah semacam bunyi lain.
Bunyi perut Chu Liuxiang.
Ia turun dari kuda, dengan amat terpaksa mengetuk pintu rumah
itu. Yang buka pintu adalah seorang tua yang kurus katai, ia tidak
membuka seluruhnya pintu, lalu dari belakang pintu mengamati Chu
Liuxiang dari atas ke bawah, dengan sikap layaknya seekor kelinci
yang ketakutan. Chu Liuxiang membungkukkan badan memberi hormat, lalu
berkata seraya tersenyum: "Aku kelewatan tempat penginapan,
bolehkah menumpang nginap semalam saja di tempat bapak" Besok
begitu pagi aku segera berangkat. Kalau dibolehkan, aku akan
memberi imbalan yang besar."
Kata-kata itu pernah didengar dari mulut seorang guru sekolah
ketika ia masih kecil, namun pada saat ini ia bisa mengucapkannya
dengan lancar sekali Ia merasa daya ingatnya betul-betul lumayan.
Kata-kata itu mendatangkan hasil, dan pintu itu terbuka
seluruhnya. *** Orang yang membukakan pintu itu sebenarnya belum tua,
berumur 40-an, tetapi rambutnya telah rontok semua.
Ia mengaku bernama Bu Danfu, berprofesi sebagai penebang
kayu, namun kadang-kadang berburu ayam hutan dan kelinci, yang
dijual untuk dapat uang buat beli arak.
Hari ini kebetulan berburu dan dapat beberapa kelinci, maka
pada malam itu ia mengajak Chu Liuxiang minum arak bersama.
Ia minum arak dengan pelan, tapi makan masakan dengan cepat,
maka ia minta istrinya memasak lagi.
Ia berkata seraya tersenyum: "Barangkali karena sudah minum
arak, maka aku baru berani buka pintu, jika tidak, bagaimana aku
berani sembarangan memasukkan orang yang tak dikenal pada
tengah malam ini?" Chu Liuxiang mendengar saja dan sekali-kali menganggukkan
kepala. Bu Danfu berkata lagi seraya tersenyum: "Ditempatku ini tidak
ada barang berharga buat dirampok, tetapi aku punya seorang anak
perempuan yang cantik!"
Chu Liuxiang mulai tidak bisa tersenyum lagi.
Sekarang ia masih tidak takut kepada apa pun dan siapa pun,
kecuali takut kepada wanita yang cantik!
Jika ada yang menemani, maka kecepatan minum arak akan
meningkat. Jika arak yang diminum sudah banyak, keberanian juga akan
meningkat. Warna muka Bu Danfu sudah merah sekali, tiba-tiba berkata
dengan suara keras: "Juan'er, cepat bawa kemari setengah ekor
kelinci itu untuk dijadikan lauk minum arak."
Dari dalam rumah terdengar suara yang mengandung nada
protes: "Bukankah ayah mau menunggu sampai makan malam
besok baru memakan setengah ekor kelinci itu?"
Bu Danfu menegur sambil tertawa "Setan pelit! Apakah kamu
tidak takut ditertawai tamu ini" Cepat keluarkan, tidak usah diiris,
kami akan makan sambil mencabik-cabiknya."
Ia berkata lagi seraya menggeleng-gelengkan kepala: "Anak
perempuanku ini bernama Ajuan, anak yang baik, cuma masih
mentah sekali dalam pengalaman hidup, aku betul-betul kuatir kelak
tidak ada orang yang mau menikahinya"
Kepala Chu Liuxiang pun tidak berani dianggukkan lagi.
Begitu mendengar urusan nikah dari anak perempuan orang lain,
ia tidak berani menjawab apa-apa.
Seorang gadis yang berpakaian kasar dan sederhana, wajahnya
tidak berbedak, keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah
mangkok masakan, kepalanya ditundukkan dan bentuk mulutnya
dicibirkan, lalu meletakkan mangkok dengan kasar ke meja,
membalikkan badan dan masuk ke dalam lagi.
Pada mulanya tidak berani, tapi karena tidak bisa menahan
dirinya, akhirnya Chu Liuxiang melirik juga.
Bu Danfu tidak membual -- Anaknya memang benar-benar cantik,
rambutnya panjang, matanya besar, namun warna mukanya
kayaknya pucat sekali. Gadis yang pemalu umumnya demikian.
Dikarenakan mereka jarang keluar rumah untuk menjumpai
orang, tentu saja jarang terjemur sinar matahari.
Ketika Chu Liuxiang menoleh, ia melihat bahwa Bu Danfu sedang
memandangi dia dengan pandangan yang tajam, disertai dengan
semacam senyuman yang mengandung maksud-maksud tertentu,
lalu bertanya seraya tersenyum: "Bagaimana anggapan anda
terhadap anakku ini?"
Disebabkan dia sudah bertanya demikian, mau tidak dijawab pun
sudah tidak bisa, maka Chu Liuxiang mengelus-elus hidung dan
menjawab seraya tersenyum: "Harap tenangkan hati, anak bapak
pasti bisa laku menikah."
"Kalau tak laku menikah, apakah anda mau menikahinya?"
Chu Liuxiang tidak berani menjawab lagi, dan menyesal tadi kok
dirinya banyak bicara. Bu Danfu berkata seraya tertawa nyaring: "Kelihatannya anda
adalah orang jujur, tidak sama seperti pemuda-pemuda yang lain,
yang bermulut manis dan suka menggombal. Mari! Aku bersulang
untuk anda, sebab di jaman ini, pemuda yang sejujur anda ini sudah
tidak banyak!" *** Bu Danfu telah mabuk. Seseorang kalau berani mengajak Chu Liuxiang untuk beradu
minum arak, pasti akan mabuk
"Kelihatannya anda adalah orang jujur...sebab di jaman ini,
pemuda yang sejujur anda ini sudah tidak banyak!"
Mengingat ini, hampir saja Chu Liuxiang tertawa keras.
Kadang-kadang ia dipanggil orang sebagai pendekar besar,
kadang-kadang dipanggil orang sebagai perampok, kadang-kadang
dianggap orang sebagai satria, kadang-kadang dianggap orang
sebagai pemuda preman.... Tetapi dianggap orang sebagai orang
jujur, ini adalah pertama kali sepanjang hidupnya!
"Seandainya ia tahu betapa "jujur" nya aku, pasti akan membuat
dia melompat 30 kaki karena saking terkejutnya!"
Sambil tersenyum ia membaringkan dirinya - Di tumpukan
rumput-rumput padi. Tentu saja keluarga semacam ini tidak punya kamar tamu, maka
dengan memaksakan diri ia tidur di tempat penumpukan kayu bakar.
Bagaimanapun juga, tempat ini kan ada atap rumah -- Ini kan
lebih baik daripada tidur di tempat terbuka yang beratapkan langit.
Tetapi seandainya ia tahu apa yang terjadi di tempat ini, maka ia
akan memilih tidur di selokan daripada tidur di tempat ini!
Malam sudah larut sekali, dan sekelilingnya amat hening.
Suasana hening yang berbaur dengan sedikit suasana hati yang
sedih, yang ada pada daerah pegunungan ini, tak akan bisa
terbayangkan oleh orang kota.
Yang terdengar hanyalah bunyi angin, dan bunyi gemerisik daundaun
pohon yang tertiup angin - Ini pasti mendatangkan sedikit
banyak rasa kesepian dalam keheningan semacam ini.
Siang harinya mengalami begitu banyak hal, lalu pada malam
yang demikian hening dan sepi ini, tidur di tumpukan rumput di
tempat penumpukan kayu bakar dari sebuah keluarga yang tak
dikenalnya. Bagaimana Chu Liuxiang dapat tertidur"
Mendadak ia teringat pada sebuah cerita yang diceritakan oleh
seorang guru sekolah ketika ia masih kecil: "Dahulu kala ada
seorang pelajar yang muda, menempuh perjalanan yang jauh ke
ibukota untuk ikut ujian negara, lalu pada suatu malam, karena
kelewatan tempat penginapan, lalu menumpang nginap semalam


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pada sebuah keluarga yang tinggal di daerah pegunungan.
Kepala keluarga itu adalah seorang tua yang ramah dan senang
menyambut tamu, ia memiliki seorang anak perempuan yang amat
cantik. Karena menganggap pelajar itu kelak memiliki masa depan yang
cerah, makanya si ayah menjodohkan anaknya kepada si pelajar.
Si pelajar tidak menolak, maka pada malam itu juga upacara
pernikahan dilangsungkan.
Baru pada pagi esok harinya ia menemukan dirinya tidur
dikelilingi beberapa kuburan!
Sedangkan mempelai wanita yang tadi malam tidur di sisinya itu,
sekarang telah berubah menjadi setumpukan tulang yang kering!
Namun di pergelangan tangannya masih memakai gelang batu
giok pemberian si pelajar sebagai pengganti emas kawin!
*** Sejak dulu Chu Liuxiang menganggap ini adalah sebuah cerita
yang amat menarik, namun sekarang tiba-tiba merasa cerita itu tidak
menarik lagi. Angin masih menderu-deru, daun-daun pohon masih berbunyi
gemerisik. Di daerah pegunungan nan sepi ini, mengapa ada sebuah
keluarga semacam ini yang tinggal di sini"
"Besok pagi ketika aku bangun, apakah juga menemukan diriku
tidur dikelilingi beberapa kuburan?"
Tentu saja tidak, sebab itu kan hanya sebuah cerita khayalan
yang tidak masuk akal. Berpikir sampai di sini, ia tersenyum sendiri, namun tidak tahu
mengapa, ia tetap merasa punggungnya sedikit dingin.
Untung Bu Danfu tidak memaksa untuk menikahkan anaknya
pada Chu Liuxiang, jika tidak, saat ini ia pasti sudah lari tunggang
langgang. Angin bertambah kencang, sampai membuat pintu berbunyi
terus. Cahaya rembulan yang pucat masuk dari jendela, sepucat
wajahnya nona Ajuan itu. Ia bangun dengan ringan, membuka pintu dengan ringan,
tujuannya mau jalan-jalan di halaman, menghirup udara segar untuk
melapangkan dada. Namun begitu membuka pintu, ia melihat sebuah pemandangan
yang tak akan dilupakan sepanjang hidupnya!
Ia berharap selamanya tidak pernah membuka pintu ini!
*** Cahaya rembulan yang pucat, dan suasana yang remang-remang.
Gadis yang bernama Ajuan itu sedang menyisir rambutnya di
bawah sinar bulan. Ini sebenarnya tidak termasuk aneh, lebih-lebih
tidak bisa dikatakan ini hal yang mengerikan.
Cara Ajuan menyisir rambut itulah yang luar biasa!
Ia melepaskan kepalanya, lalu meletakkan kepala itu ke sebuah
meja yang berada di depannya, baru menyisirnya.
Cahaya bulan menyinari wajahnya yang pucat, tangan yang pucat
dan tubuh yang tidak berkepala!
Seluruh badan Chu Liuxiang dingin bagaikan es, bahkan
dinginnya dari jari-jari tangan sampai ke jari-jari kaki!
Seumur hidupnya belum pernah melihat hal yang selain amat
aneh, juga teramat mengerikan ini!
Hal ini semestinya cuma terdapat di dalam cerita khayal yang
paling tidak masuk akal! Bahkan di dalam mimpi pun ia tidak pernah menduga bahwa ia
akan melihat pemandangan itu dengan mata kepala sendiri!
Kepala Ajuan tiba-tiba berbalik Diputar oleh tangannya dan
menghadap ke Chu Liuxiang, memandang dia dengan sinar mata
yang amat dingin! "Kamu berani mengintip!"
Di sekeliling tidak ada orang lain, suara ini memang di ucapkan
oleh mulut dan kepala yang berada di atas meja itu!
Selama ini Chu Liuxiang memiliki nyali yang amat besar, dan
tidak pernah percaya takhayul, menghadapi hal yang seberapa
ngerinya pun ia tidak pernah merasakan kakinya bisa jadi lemas.
Tapi sekarang kakinya mulai sedikit lemas!
Ia ingin mundur, baru mundur satu langkah, tiba-tiba dari
kegelapan melompat keluar sebuah bayangan!
Ternyata itu adalah seekor anjing hitam.
Anjing itu melompat ke meja, menggigit dan menggondol pergi
kepala yang ditaruh di atas meja itu.
Walaupun kepala itu berada dalam mulut anjing itu, tapi masih
bisa berteriak: "Tolong! Tolong!"
Badan Bu Ajuan yang tidak berkepala itu, ternyata bisa menjerit
dengan sedih: "Kembalikan kepalaku!"
"Kembalikan kepalaku!
04. Mimpi Indah Yang Sulit Jadi Kenyataan
Cahaya bulan yang pucat, suasana yang remang-remang.
Anjing itu telah berlari masuk ke kegelapan, kepala itu masih
berteriak-teriak dengan sedih: "Tolong! Tolong!"
Badan yang tidak berkepala itu pun masih menjerit-jerit dengan
sedih: "Kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku...."
Bunyi jeritan itu, sebentar lenyap sebentar terdengar lagi.
Bunyi angin yang menderu-deru, dibaurkan dengan jeritan-jeritan
itu, kedengarannya persis dengan setan-setan yang sedang
melolong! Siapa pun yang melihat pemandangan ini dan mendengar
suarasuara itu, kalau tidak mati ketakutan, pasti akan pingsan
seketika! Tetapi Chu Liuxiang tidak.
Tiba-tiba badannya melesat bagai anak panah, mengejar anjing
itu. "Baik kau adalah manusia atau anjing, asal kau memberi makan
ketika aku lapar, dan memberi tumpangan tidur ketika aku lelah,
maka aku tidak bisa membiarkan kepalamu dibawa pergi oleh anjing!"
Inilah prinsip dia. Selama ini dia adalah orang yang memegang prinsip dengan
teguh. Anjing itu larinya cepat sekali, dalam waktu sekejap mata sudah
lenyap lagi dalam kegelapan.
"Baik kau adalah manusia atau anjing, asal Chu Liuxiang mau
mengejar, pasti akan tersusul!"
Bahkan ada sejumlah orang percaya bahwa ilmu meringankan
tubuh Pendekar Harum Chu itu, memang belajar dari neraka!
Sewaktu melewati pagar bambu itu, dengan cepat tangannya
telah mencabut keluar sebatang bambu.
Hanya dengan 3-5 kelebatan, maka jarak dia dengan anjing itu
sudah tidak sampai enam meter.
Batang bambu di tangannya itu ditimpuk dan tepat mengenai
badan anjing. Anjing itu terkaing-kaing, dan jatuhlah kepala orang itu dari
mulutnya. Dengan cepat Chu Liuxiang berkelebat dan memungut kepala itu.
Kepala itu dingin bagaikan es, juga basah, tampaknya sedang
mengeluarkan keringat dingin.
Tiba-tiba is merasa ada ketidak-beresan!
Tiba-tiba kepala itu berbunyi "Poooh" lalu meletus,
menyemburlah asap tebal dari kepala itu, dengan bau busuk yang
amat menyengat! Lalu jatuhlah Chu Liuxiang.
Siapa pun yang mencium bau busuk ini, pasti akan jatuh!
**** Malam itu berembun banyak, bumi dingin dan basah.
Chu Liuxiang rebah di tanah.
Dari jauh sayup-sayup terdengar bunyi mengerikan yang terbawa
angin, entah itu lolongan anjing" Atau tangisan hantu"
Tiba-tiba ada sebuah bayangan orang muncul dari kegelapan,
berjalan dengan gerakan yang amat ringan.
Sebuah bayangan orang yang tidak berkepala!
Orang yang tidak berkepala itu ternyata bisa tertawa, dan ia
tertawa ngakak di depan Chu Liuxiang!
Chu Liuxiang yang tadinya terbius dan rebah di tanah itu, tibatiba
melompat bangun, dengan gerakan secepat kilat tangannya
telah mencengkeram kerah bajunya orang yang tak berkepala itu!
Dengan berbunyi "srett", kerah baju itu robek, lalu terlihatlah
sebuah kepala orang. Ternyata dia ialah Bu Danfu.
Ternyata dia punya kepala, namun disembunyikan ke dalam baju.
Ternyata baju itu disangga para-para Jika bukan karena ia kurus dan
kate, maka penampakannya tidak akan begitu persis.
Kalau kepala yang digondol anjing itu"
Ternyata kepala itu terbuat dari malam, di dalamnya tersembunyi
mesiu dan sumbunya; sumbu itu telah dinyalakan.
Asal pengukuran waktunya tepat, panjang sumbu itu bisa
disesuaikan. Ia mengukur waktu dengan tepat sekali.
Maka "kepala" itu meletus tepat waktu di tangan Chu Liuxiang,
obat bius yang tersim pan di dalamnya bertebaran karena letusan
itu! Semuanya telah diukur dan diperhitungkan dengan sangat tepat,
yang belum diperhitungkan hanyalah Chu Liuxiang masih dapat
melompat bangun dari tanah!
Pada saat ini, mata-alis-hidung dan mulut Bu Danfu tampaknya
telah mengerut jadi satu bagian, persis seperti telah diberi bogem
mentah oleh orang lain. Tetapi Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata: "Ternyata
kemampuan minum arakmu lumayan juga, mungkin minum lagi
beberapa cawan pun tidak akan jadi mabuk"
Pada saat dan di tempat seperti ini, ternyata ia mengucapkan
kata-kata ini, menurut anda aneh atau tidak"
Bu Danfu memaksakan dirinya untuk tersenyum, namun tiba-tiba
badannya mengkerut dan keluar dari pakaiannya, kemudian
badannya begelundungan dengan cepat, sekejap saja sudah belasan
meter jauhnya. Lalu badannya melompat bangun dan melesat, sebentar saja
telah berada di jarak 20 meteran.
Tanpa terasa Chu Liuxiang berseru: "Ilmu meringankan tubuh
yang bagus!" Begitu kalimat ini selesai diucapkan, badannya juga telah melesat
20 meteran! Bu Danfu berlari kencang tanpa berani menoleh, ilmu
meringankan tubuhnya memang cukup bagus, jikalau bukan
bertemu Chu Liuxiang, ia tentu bisa lobos.
Tidak beruntungnya ia bertemu Chu Liuxiang.
Hampir saja ia tersusul oleh Chu Liuxiang.
Tetapi tiba-tiba Chu Liuxiang berhenti, sebab ia melihat lagi ada
seorang yang sedang menyisir rambut di halaman rumah.
**** Cahaya bulan yang pucat, cahaya bintang yang remang-remang.
Bu Ajuan sedang menyisir rambut di bawah cahaya bulan, dengan
gerakan yang pelan sekali.
Tentu saja pada kali ini ia tidak melepaskan kepalanya.
Rambutnya hitam berkilat, tangannya halus dan indah, wajahnya
pucat seperti cahaya bulan.
Ia memakai pakaian sutra ungu yang ringan dan tipis, saking
tipisnya sehingga begitu ditiup angin, dapat terlihat dada yang
montok, pinggang yang ramping dan kaki panjang yang lurus dari
dia! Pakaian sutra ungu yang ringan dan berada di dalam angin itu,
persis seperti gumpalan kabut yang amat tipis.
Tubuh mulus dan berkilauan yang berada di balik pakaian sutra
ungu itu lapat-lapat terlihat!
Tidak tahu yang berada di dalam kabut itu: Gadis atau bunga"
Chu Liuxiang bukan orang yang alim, juga bukan orang buta.
Mendadak Bu Ajuan menoleh, bertanya seraya tersenyum manis:
"Kau belum mati?"
Chu Liuxiang menjawab dengan tersenyum juga: "Aku masih
manusia, bukan setan."
"Apakah obat bius itu bermasalah?"
"Obat bius itu tidak bermasalah, yang bermasalah ialah
hidungku." "Aku tahu kehebatan obat bius itu, yang bahkan dapat membius
orang yang tidak punya hidung sekalipun!"
Chu Liuxiang senyum lagi dan berkata: "Sekalipun tidak punya
hidung, kepala itu juga tidak akan begitu ringan."
Bu Ajuan berkata seraya mengedipkan mata: "Apakah begitu
merasakan kepala itu terlalu ringan, kau segera menutup
pernafasanmu?" Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum: "Barangkali aku tidak
merasakan apa-apa, hanyalah nasibku luar biasa baik."
Bu Ajuan berkata dengan tersenyum "Aku tahu baru-baru in
nasibmu tidaklah baik."
"Oh ya?" Bu Ajuan berkata seraya tersenyum manis: "Orang yang 'bernasib
bunga persik', biasanya punya nasib yang tidak begitu baik."
Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu
berkata: "Bagaimana kau bisa tahu aku sedang 'bernasib bunga
persik'?" Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum: "Sebab kau tidak saja
memiliki sepasang 'mata bunga persik', juga memiliki sebuah 'hidung
bunga persik'!" Chu Liuxiang menimpali sambil senyum "Untung tanganku bukan
'tangan bunga persik'(Dalam bahasa Tionghoa, "Mata bunga persik"
berarti: matakeranjang; "Hidung bunga persik" berarti: hidung
belang; "Tangan bunga persik" berarti: tangan yang suka
gerayangan), makanya kau masih bisa duduk dengan baik di sana!"
Bu Ajuan bertanya seraya memutar-mutarkan biji makanya:
"Apakah tanganmu 'alim' sekali?"
"Apakah kau berharap tanganku tidak 'alim?"
Bu Ajuan berkata seraya menggigit bibir: "Jika tanganmu benarbenar
'alim datanglah kemari dan sisirkanlah rambutku."
Chu Liuxiang tidak menjawab, badannya juga tidak bergerak.
Bu Ajuan melirik dia dengan ujung mata, lalu bertanya: "Apakah
kau tidak bisa menyisir rambut?"
"Walaupun tanganku 'alim' tapi tidak bodoh."
"Apakah kau tidak suka menyisirkan rambut orang?"
"Itu tergantung, kadang suka, kadang tidak suka."
"Tergantung apa?"
"Tergantung apakah kepala orang itu bisakah dilepas dari
lehernya!" **** Rambut gadis itu halus, lembut dan indah, dipandang di bawah
sinar bulan persis dengan sutra!
Tiba-tiba Chu Liuxiang merasa bahwa: Membantu menyisirkan
rambut seorang gadis itu adalah semacam kenikmatan!
Barangkali gadis yang rambutnya disisirkan oleh dia pun merasa
adalah semacam kenikmatan!
Chu Liuxiang menyisir dengan gerakan tangan yang amat ringan.


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sinar mata Bu Ajuan redup seperti sinar bintang, lalu berkata
dengan suara lembut: "Sejak dulu aku sudah pernah dengar kata
orang, bahwa Pendekar Harum Chu tidak pernah mengecewakan
wanita! Tapi sejak dulu aku tidak percaya."
"Kalau sekarang?"
Bu Ajuan menjawab sambil senyum: "Sekarang aku percaya"
"Kamu masih dengar orang ngomongin aku tentang apa?"
Bu Ajuan mengedip-ngedipkan mata dan berkata dengan
perlahan: "Mengatakan bahwa kau amat cerdik seperti rubah tua, di
dalam dunia ini tidak ada hal yang kau tidak ngerti, juga tidak ada
seorang pun yang dapat menipumu...Semua ini aku sekarang juga
percaya" Mendadak Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu berkata
seraya tersenyum masam: "Tetapi sekarang aku agak mencurigai
diriku sendiri." "Oh ya?" "Hari ini juga aku telah melihat satu hal yang aku tidak ngerti."
"Apa itu?" "Kenapa kepala itu bisa berbicara?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum lagi: "Yang berbicara
bukan kepala itu, tapi Bu Danfu."
"Namun aku jelas-jelas melihat bahwa yang berbicara adalah
kepala itu." "Sebetulnya kau tidak benar-benar melihat, itu cuma semacam
perasaan saja." "Kok bisa ada perasaan itu?"
"Waktu kecil Bu Danfu pernah pergi ke Tianzhu (Tianzhu adalah
sebutan kuno untuk India.), dan berhasil mempelajari semacam ilmu
aneh dari bhiksu-bhiksu Tianzhu."
"Ilmu apa itu?"
"Orang Tianzhu menyebut ilmu ini 'bahasa perut', artinya dia
dapat berkata-kata dari dalam perutnya, sehingga kau tidak bisa
tahu suara itu dari mana datangnya!"
Chu Liuxiang menghela nafas panjang lagi, lalu berkata: "Wah!
Tampaknya di dalam dunia ini sungguh amat banyak ilmu yang
aneh-aneh! Yang tidak mungkin bisa dipelajari semuanya oleh siapa
pun sepanjang hidupnya!"
Bu Ajuan berkata seraya tersenyum mamis: "Saat ini pun kau
sudah cukup membuat banyak orang sakit kepala, kalau kau bisa
mempelajari semua ilmu, mana ada lagi jalan hidup bagi orang lain?"
Chu Liuxiang juga tersenyum, tiba-tiba bertanya "Kelihatannya Bu
Danfu bukanlah ayahmu?"
"Tentu saja bukan, jika tidak kenapa aku bisa langsung menyebut
namanya?" "Dia itu apamu?"
"Dia itu lakiku."
Tangan Chu Liuxiang yang pegang sisir itu tiba-tiba berhenti, dan
dia menjadi termangu-mangu.
Bu Ajuan menoleh dan melirik dia sejenak, lalu berkata seraya
tersenyum mamis' : "Lakiku artinya suamiku, apa kau tidak ngerti?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum masam: "Aku ngerti."
Bu Ajuan bertanya seraya melirik ke tangan Chu Liuxiang:
"Mengapa begitu mendengar dia adalah suamiku, tanganmu lantas
tidak bergerak lagi?"
"Itu karena aku belum ada kebiasaan membantu menyisirkan
rambut istri orang lain."
Bu Ajuan berkata seraya tersenyum: "Lambat laun kau akan jadi
biasa." Chu Liuxiang berkata sambil tersenyum masam: "Aku kira
sebaiknya jangan punya kebiasaan semacam ini"
Bu Ajuan mulai tertawa cekikikan, lalu bertanya "Apakah kau
takut dia cemburu?" "Ya." 'Dia tidak mampu mengejar serta mengalahkanmu, kau takut
apa?" "Aku tidak senang melihat rupa pria yang cemburu."
Bu Ajuan berkata seraya memutar-mutar biji matanya: "Kalau dia
tidak cemburu?" "Di dalam dunia ini tidak ada pria yang tidak cemburuan ---
Kecuali orang mati."
"Apakah kau ingin dia mati?"
"Perkataan ini Bukan aku tapi kau yang mengatakannya."
"Mulut mengatakannya atau tidak, itu satu hal; namun hati
menginginkannya atau tidak, itu satu hal yang lain."
Ia menatap Chu Liuxiang sambil tersenyum samar-samar, lalu
melanjutkan kata-katanya dengan pelan: "Sebenarnya asal kau mau,
setiap saat ia mungkin bisa jadi orang mati."
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum hambar: "Cuma
sayangnya aku belum punya kebiasaan membunuh suami orang
lain!" "Apakah demi aku pun kau tidak mau melakukannya?"
Chu Liuxiang tidak menjawab.
Ia tak akan pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan
dan mengecewakan kaum wanita!
"Jangan lupa tadi sebenarnya dia mau membunuhmu."
Chu Liuxiang mengedip-ngedipkan mata sambil berkata:
"Benarkah dia adalah orang yang mau membunuhku?"
Tiba-tiba Bu Ajuan menghela nafas panjang, berdiri dengan
perlahan, lalu mengambil sisir yang berada di tangan Chu Liuxiang.
Chu Liuxiang bertanya "Kenapa kau menghela nafas?"
"Seseorang kalau hatinya sedih, ia akan menghela nafas."
"Jadi kau amat sedih?"
"Ya" "Mengapa?" "Karena sebenarnya aku tidak ingin kau mati, namun jika dia
tidak mati, kamulah yang harus mati!"
"Oh ya?" "Kau tidak percaya?"
"Sebab aku selalu merasa, menginginkan kematianku bukanlah
suatu hal yang amat mudah!"
Bu Ajuan berkata dengan perlahan: "Tapi juga tidak sesulit
seperti yang kau pikirkan!"
Tiba-tiba ia mengangkat sisir itu dan bertanya: "Apakah kau tahu
sisir ini terbuat dari apa?"
"Dari kayu." "Jenisnya kayu banyak sekali - Setahuku kira-kira ada 100
jenis." Chu Liuxiang mendengarkan.
"Di antara 100 jenis kayu ini, ada 90 lebih jenis yang termasuk
biasa." Ia tersenyum sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya: "Yang
dimaksud biasa itu artinya tidak berbisa - Jika kau menggunakan
sisir yang terbuat dan kayu biasa itu untuk menyisir rambut orang
lain, kalau menginginkan kematian dia barulah tidak mudah."
"Jadi sisirmu ini?"
"Sisirku ini terbuat dari 'kayu pria cemburu' Sejenis kayu yang
termasuk yang luar biasa!"
"Apanya yang luar biasa?"
Bu Ajuan tidak menjawab, tapi mengelus-elus rambutnya yang
panjang dan halus itu, lalu tiba-tiba bertanya: "Menurut kau
rambutku wangi tidak?"
"Wangi sekali."
"Itu karena rambutku telah diolesi minyak wangi."
Sinar mata Chu Liuxiang "berkelap-kelip", lalu bertanya "Apakah
jenisnya minyak wangi juga amat banyak?"
"Betul. Setahuku kira-kira ada 100 jenis juga"
"Apakah 90 lebih jenis di antaranya juga termasuk yang biasa --
Yang tidak berbisa?"
Bu Ajuan tersenyum manis seraya berkata: "Kamu kok tambah
lama tambah cerdas ya."
Chu Liuxiang tersenyum seraya berkata: "Minyak wangi yang
dioleskan di rambutmu itu, tentu saja yang termasuk jenis yang luar
biasa itu!" "Tepat sekali."
Chu Liuxiang menghela nafas panjang, lalu bertanya: "Kenapa
aku tidak bisa melihat keluar-biasaannya?"
"Minyak wangi jenis ini bernama 'minyak pacar', ketika 'kayu pria
cemburu' bertemu 'minyak pacar', akan mengeluarkan semacam gas
racun yang luar biasa! Ketika kau menyisirkan rambutku, tanpa kau
bisa merasa, gas racun ini telah masuk ke dalam pori-pori
tanganmu, maka...." Ia menghela nafas panjang lagi, lalu meneruskan kata-katanya
dengan pelan: "Paling lama setengah jam lagi, maka sepasang
tanganmu akan mulai membusuk, lalu tulang tanganmu akan ikut
membusuk, bahkan seluruh daging dan tulang tubuhmu akan rusak
dan membusuk!" Chu Liuxiang terkesiap sambil terbengong-bengong!
Bu Ajuan bertanya seraya tersenyum: "Menurutmu cara
membunuhku ini hebat tidak" Barangkali sampai-sampai Pendekar
Harum yang tahu segala hal pun tidak akan pernah menduganya
kan!?" Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum masam: "Tampaknya di
dalam dunia ini, cara pembunuhan yang aneh-aneh memang betulbetul
banyak sekali!" "Hari ini kau telah menyaksikan dua macam di antaranya"
"Dua hari yang lalu aku telah menyaksikan beberapa macam."
"Apakah kau merasakan bahwa semua macam cara itu hebat
sekali?" "Betul-betul hebat sekali!"
Mendadak ia melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum:
"Walaupun semua cara itu hebat sekali, namun sampai saat ini aku
masih hidup sehat wal'afiat kan!?"
"Hanya sampai saat ini kan"
"Selanjutnya?" "Siapa yang bisa tahu hal yang selanjutnya!"
"Aku bisa!" "Oh ya?" "Aku dapat memberi jaminan padamu, bahwa cara yang aku
pergunakan ini bukan saja paling hebat, bahkan paling efektif!"
Ia meneruskan kata-katanya seraya tersenyum: "Sekalipun kau
bisa setiap saat menutup pernafasanmu, tapi masa' kau bisa
menutup seluruh pori-porimu?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepala dan berkata seraya
menghela nafas panjang: "Jika demikian, kelihatannya aku mesti
mati ya!?" "Karena itu hatiku amat sedih."
"Jikalau kau begini sedih, mengapa tidak membiarkan aku hidup
saja?" Bu Ajuan memutar-mutar biji matanya, lalu berkata: "Jika kau
ingin tidak mati, hanya ada satu cara!"
"Cara apa?" "Pergi dan bunuhlah Bu Danfu demi aku."
"Mengapa tidak kau sendiri yang membunuh dia?"
Bu Ajuan berkata seraya menghela nafas dalam-dalam:
"Meskipun aku bukanlah wanita baik-baik, namun membunuh suami
sendiri" Aku masih tidak mampu melakukannya"
"Apakah kau mengira aku mampu melakukannya?"
"Dia kan bukan temanmu, juga bukan suamimu, jika mau
membunuhnya, mudahnya seperti kau membalikkan tanganmu!
Kecuali kau menganggap nyawa dia lebih penting dari nyawamu."
Chu Liuxiang mulai lagi mengelus-elus hidungnya.
Bu Ajuan berkata dengan santai: "Lebih baik kau cepatan ambil
keputusan, sebab jika racun itu mulai bereaksi, menyesal sudah
terlambat lho!" Sikapnya makin santai, malahan menunjukkan situasinya makin
gawat. Tampaknya Chu Liuxiang pun amat mengerti hal ini, maka buruburu
bertanya: "Apakah bila sekarang aku pergi mencari dia, itu
tidak terlambat?" Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum sejenak: "Ilmu
meringankan tubuh Pendekar Harum nomor satu di dunia Aku pun
tahu hal ini." Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum getir: "Cuma sayang
bahwa saat ini tidak tahu dia sudah lari ke mana, bagaimana aku
bisa menemukan dia?"
Bu Ajuan berkata sambil senyum "Apakah kau mengerti
peribahasa 'Yang memahami anak, tiada yang yang bisa menandingi
ayahnya; Yang memahami suami, tiada yang bisa menandingi
istrinya'?" "Apakah kau tahu dia ada di mana?"
"Seorang perempuan kalau tidak tahu di mana suaminya berada,
lebih balk mati saja!"
Dengan cepat ia meneruskan kata-katanya: "Sewaktu tadi
datang, kau pasti telah melihat ada sebuah kaki gunung kan?"
Chu Liuxiang menganggukkan kepalanya.
"Asal kau menyusuri kaki gunung itu dan berjalan ke hulunya,
kau akan melihat sebuah air terjun, di belakang air terjun itu ada
sebuah gua gunung yang tersembunyi. Ia pasti bersembunyi di
sana." Chu Liuxiang bertanya dengan sikap ragu: "Jikalau aku bunuh
dia, apakah benar kau mau memberikan obat penawar racun itu
kepadaku?" "Betul! Dengan kepala dia ditukar dengan obat penawar, dengan
nyawa dia ditukar dengan nyawamu. Ini bisnis pertukaran yang yang
adil, tiada yang dirugikan."
"Tetapi kenapa kau mesti menginginkan kematiannya?"
Bu Ajuan berkata dengan sikap dingin: "Cerita ini tunggu kau
kembali saja, barangkali aku mau memberitahukanmu, sekarang jika
mau masih banyak bertanya, takutnya kau akan terlambat!"
Chu Liuxiang bertanya seraya menghela nafas panjang: "Baiklah,
aku mengajukan pertanyaan yang terakhir: Apakah kau pasti akan
menunggu aku di sini?"
"Tentu." Ternyata Chu Liuxiang memang tidak berkata apa-apa lagi,
memutar badannya lalu pergi.
Terlihat bayangan dia sekali berkelebat, sudah 20-30 meter
jauhnya, sekali berkelebat lagi, bayangannya telah lenyap dalam
kegelapan. Tampaknya Bu Ajuan sedikit terkejut dan tidak menduga bahwa
Chu Liuxiang akan menyanggupi permintaannya dengan begitu
mudah. "Bukankah selama ini Chu Liuxiang tidak mau membunuh orang?"
"Tetapi di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tidak takut
mati, dia kan manusia juga, tentu saja mengerti bahwa nyawa
sendiri jauh lebih berharga dari nyawa orang lain."
Berfikir sampai sini, ia tersenyum amat gembira dan puas.
Selama ini ia selalu menganggap orang-orang pria di bawah
kolong langit ini semuanya orang-orang tolol. Menipu mereka itu
lebih gampang dari mengiris tahu!
Sampai pada hari ini, ia berkesimpulan bahwa ternyata Chu


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Liuxiang pun tidak terkecuali!
Chu Liuxiang bukan saja tertipu, bahkan tertipu secara
berentetan: Pertama Bu Danfu sama sekali bukan suaminya.
Kedua: Bu Danfu saat ini tidak berada di gua gunung yang
berada di belakang air terjun itu, dan sekarang entah berlari ke
mana" Ketiga: sisir itu hanya terbuat dari kayu biasa, yang dioleskan di
kepalanya pun cuma semacam minyak wangi bunga melati yang
biasa-biasa saja! Keempat Di dalam dunia ini sama sekali tidak ada yang namanya
"kayu pria cemburu" dan "minyak pacar"! Kedua macam benda
berbisa yang aneh-aneh ini, barangkali hanya terdapat di dalam
cerita hantu saja! Kelima Ia menyuruh Chu Liuxiang pergi ke gua yang berada di
belakang air terjun itu, tujuannya hanya agar Chu Liuxiang
mengantar nyawa! Sebab siapapun yang masuk sendirian ke sana,
jangan harap bisa keluar lagi dengan bernyawa!
"Tampaknya para pria itu terlahir untuk ditipu oleh orang-orang
wanita! Jika wanita tidak menipu pria, barangkali pria itu malahan
akan merasa sekujur badannya tidak nyaman."
Bu Ajuan sangat gembira, juga sangat puas.
Ia merasa bahwa tidak saja teknik beraktingnya luar biasa,
bahkan amat menjiwai perannya!
Pria mana pun kalau ketemu wanita semacam ini, betul-betul
cuma bisa mengantar nyawa saja!
Bu Ajuan menambah memakai sebuah pakaian yang tidak begitu
"tembus pandang", lalu dan belakang rumah menuntun keluar kuda
yang tadinya di tunggangi oleh Chu Liuxiang itu, naik ke kuda itu,
dan pergi dengan kuda itu.
Mendadak ia merasa bahwa naik kuda di bawah sinar bulan itu
ternyata amat puitis! **** Malam kian larut, bintang kian jarang.
Bagaimanapun juga, seorang perempuan berjalan sendirian di
jalan gunung yang demikian hening dan sepi ini, pasti bukanlah
suatu hal yang menggembirakan, dan juga tidak puitis sama sekali.
Rasa puitis dalam hati Bu Ajuan sudah lenyap entah ke mana,
dan merasa angin yang berhembus ke badannya itu dingin sekali.
"Mengapa angin bulan Maret bisa begini dingin?"
Sambil kedua tangannya mengetatkan baju yang dipakainya,
mulutnya menyanyikan lagu.
Sebenarnya ia memiliki suara nyanyian yang cukup bagus, namun
pada saat ini ia sendiri pun merasa suara nyanyiannya tidak begitu
enak didengar. "Di bulan Maret ratusan bunga mekar dan menebar harum,
bunga azalea bermekaran di lereng gunung...."
Pada kenyataannya, di lereng gunung itu bukan saja tidak ada
bunga azalea, bahkan setangkai bunga trompet pun tidak ada.
Ketika menikung di sebuah celah gunung, karena sinar bulan
terhalang oleh celah gunung itu, maka deretan pohon-pohon yang
gelap itu, bergoyang-goyang karena angin, persis seperti bayangan
hantu-hantu yang sedang menari-nari!
Angin berhembus ke daun-daun pohon, dan bunyi kuku-kuku
kuda berjalan di jalan yang berbatu: Detak-detak-detak...persis
seperti ada seekor kuda lagi yang mengikuti dari belakang.
Hampir saja ia lupa bahwa ini mestinya adalah bunyi derap
kudanya sendiri, namun lama kelamaan ia merasa ada yang
mengikuti dari belakang. Ia ingin menoleh ke belakang, tetapi takut
kalau betul melihat hantu! Tapi kalau tidak menoleh, ia tidak bisa
menenangkan hatinya. Lama sekali baru berhasil memberanikan diri,
lalu menoleh dan melihat.
Angin sedang berhembus, bayangan-bayangan pohon sedang
bergerak-gerak, tapi tidak ada orang.
Namun sepertinya ia melihat sebuah bayangan orang menyelinap
ke belakang pohon - tepat pada saat ia menoleh. Gerakannya amat
cepat seperti gerakan hantu saja!
"Di dunia ini mana ada orang yang gerakannya secepat ini"
Kecuali Chu Liuxiang!"
Kalau dihitung waktunya, saat ini seharusnya Chu Liuxiang telah
masuk ke gua itu, dan kemungkinan besar kepalanya telah dipenggal
oleh orang-orang aneh yang ada di dalam gua itu.
"Sekarang mungkin ia telah menjadi setan yang tidak berkepala,
sekaligus menjadi setan yang pandir karena tidak mengerti dirinya
mati untuk apa!" Bu Ajuan kepingin tertawa lagi, tapi entah apa sebabnya, ia tak
mampu tertawa. Pada waktu Chu Liuxiang masih hidup saja sudah merupakan
lawan yang sulit dihadapi, apalagi jika benar-benar menjadi setan---
Mana tahan! Bu Ajuan mencambuki kuda itu sekuat tenaga, agar kuda itu lari
kian kencang dan segera keluar dari jalan gunung itu.
Ia juga berharap fajar segera menyingsing.
Namun tiba-tiba ia secara lapat-lapat mendengar bunyi jeritan
sedih yang terbawa oleh angin, bunyi itu susul-menyusul!
"Kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku...."
Sehembusan angin bertiup, lalu samar-samar terlihat ada sebuah
bayangan yang berdiri dan bergoyang-goyang di atas sebuah pohon,
ada tangan dan kaki, badannya juga utuh, tapi tidak ada kepalanya!
Seluruh rambut dan bulu di badan Bu Ajuan berdiri semua!
Ia berusaha memberanikan diri dan mementang matanya
lebarlebar agar bisa melihat lebih jelas.
Tetapi begitu matanya berkedip, bayangan yang tidak berkepala
itu segera lenyap! "Kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku...."
Bunyi jeritan sedih itu masih terbawa datang oleh angin:
Sebentar ada sebentar lenyap, sebentar dekat sebentar jauh!
Bunyi jeritan ini tadinya dipakai oleh Bu Danfu untuk
menakutnakuti Chu Liuxiang, tadinya ia merasa bahwa ini amat
menyenangkan. Namun sekarang ia baru tahu bahwa ini sama sekali tidak
menyenangkan! Pakaiannya telah basah kuyup oleh keringat dingin.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan berkelebat dan melewati kepala
kuda. Masih bayangan yang tak berkepala itu!
Mendadak kuda itu meringkik panjang, lalu berdiri dengan
mengangkat kedua kaki depannya!
Sebenarnya Bu Ajuan bisa dengan kedua kakinya menjepit kedua
kuda itu. Keterampilan menunggang kudanya sebenarnya tidak jelek
juga. Tapi sekarang ia merasa kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas,
sehingga ia terjatuh dari punggung kuda, dan terbanting di tanah
dengan keras, sampai matanya berkunang-kunang.
Lalu ia melihat bayangan itu telah melayang ke sebuah pohon
yang lain. Pohon-pohon itu bergoyang-goyang karena ditiup angin,
bayangan au pun ikut bergoyang-goyang.
Kecuali Chu Liuxiang, siapa yang memiliki ilmu meringankan
tubuh yang demikian hebat"
Bu Ajuan mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, lalu berteriak
dengan keras: "Aku tabu kamu adalah Chu Liuxiang, namun kamu
sebenarnya manusia atau setan?"
Bayangan yang berada di atas pohon itu tertawa ngakak, lalu
berkata dengan suara tertawa yang menyeramkan: "Tentu saja aku
adalah setan! Kalau manusia, kenapa bisa tidak berkepala?"
Bu Ajuan berkata seraya menggigit bibirnya: "Kau...kepalamu
disembunyikan di balik bajumu."
Bayangan itu mendadak berkata seraya tertawa nyaring: "Kali ini
omonganmu betul." Beserta dengan suara tertawa itu, kepala Chu Liuxiang muncul
dari balik bajunya. **** Ini membuktikan satu azas kebenaran:
Ada sejumlah hal, jika terjadi pada orang lain, akan merupakan
semacam lelucon atau lawakan; Tapi jika terjadi pada diri sendiri,
akan berobah menjadi semacam tragedi.
Tiba-tiba Bu Ajuan merasa kedua kakinya tidak lemas lagi,
dengan cepat melompat bangun, menepuk dan mengebuti tanah
yang menempel di badannya, lalu berkata seraya tersenyum dingin:
"Kau kira kau bisa menipuku" Sejak tadi aku sudah tahu itu adalah
kau!" "Oh ya" Jika sejak tadi kau sudah tahu, lalu kenapa ketakutan?"
Bu Ajuan menjawab dengan dongkol: "Siapa yang ketakutan"
Baik kau manusia atau setan, aku tidak takut!"
Chu Liuxiang mengedipkan mata, lalu bertanya seraya
tersenyum: "Kalau begitu, tadi yang barusan jatuh dan punggung
kuda itu siapa ya?" Bu Ajuan berkata dengan suara keras: "Itu pun tidak termasuk
yang aneh, sebab pepatah berbunyi: 'sepandai-pandainya tupai
melompat, sekali waktu terjatuh juga' ."
"Hal apakah yang termasuk aneh?"
Bu Ajuan menjawab seraya tersenyum dingin: "Pendekar Harum
Chu yang amat kondang itu ternyata bisa menyamar sebagai setan
untuk menakut-nakuti wanita di jalan, ini baru termasuk yang aneh!
Kelak kalau aku katakan pada orang, yang malu bukan aku, tapi
kau!" "Aku coma melihat ada orang yang menaiki kudaku, sangkaku itu
adalah maling kecil yang mencuri kuda, siapa tahu itu adalah kau."
Tiba-tiba Chu Liuxiang tersenyum, lalu berkata lagi: "Bukankah
seharusnya saat ini kamu menungguku di rumah?"
Bu Ajuan menjawab dengan suara keras: "Lalu kau" Bukankah
saat ini kau seharusnya ada di gua gunung itu" Kenapa kau tidak
pergi?" Chu Liuxiang menjawab seraya menghela nafas: "Kalau
diceritakan maka sebab-sebab ini akan menjadi amat rumit, apakah
kau ingin mendengarnya?"
"Ceritakan." "Yang pertama: Bu Danfu bukanlah suamimu, dia pun tidak
bernama Bu Danfu." "Siapa yang bilang?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum misterius: "Aku yang
bilang, karena tiba-tiba aku teringat dia itu siapa!"
"Dia itu siapa?"
"Ia bermarga Sun dan bernama Bukong, orang-orang menjuluki
dia 'Bisa Berubah 71 Macam' artinya ia luar biasa liciknya! Dulu ia
adalah jago nomor satu dan aliran silat yang sesat, namun dalam
waktu sepuluh tahunan ini - entah apa sebabnya -- ia tiba-tiba lenyap
dan tidak diketahui kabar beritanya lagi. Tahun ini usianya kira-kira
63-64 tahun, tapi karena ia telah berlatih semacam ilmu yang
bernama 'ilmu kanak-kanak', maka kelihatannya masih muda."
Ia bercerita dengan amat lancar, sepertinya ia bercerita tentang
keluarganya. Namun Bu Ajuan mendengar sampai jadi terbengong-bengong.
Chu Liuxiang melanjutkan ceritanya "Dikarenakan berlatih 'Ilmu
anak-kanak' maka seumur hidupnya ia tidak pernah melanggar
larangan bersanggama dengan wanita, barulah ia dapat hidup
sampai sekarang. Seorang yang berlatih 'ilmu kanak-kanak', tentu
saja tidak akan punya istri."
Bu Ajuan mendelik dengan dongkol, lalu berkata sambil tertawa
dingin: "Tak disangka bahwa kisah orang semacam itu kau pun tahu
demikian jelasnya, kemungkinan besar kau dan dia adalah satu
jalan!" Chu Liuxiang berkata sambil senyum: "Jangan lupa bahwa orangorang
menjuluki aku 'Panglima Besar di Antara Maling dan
Perampok', seorang panglima besar, kalau asal-usul anak buah
sendiri saja tidak jelas, becuskah dia" Bukankah lebih baik mati
saja?" Bola mata Bu Ajuan berputar-putar, lalu berkata dengan dingin:
"Hanya sayangnya bahwa panglima besar ini segera akan masuk peti
mati!" Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas: "Hanya
sayangnya bahwa yang baru aku ceritakan itu nomor satu, tentu
saja masih ada yang nomor dua."
"Yang nomor dua?"
"Yang nomor dua Sisirmu itu tidak terbuat dan 'kayu pria
cemburu', yang dioleskan di kepalamu pun bukan 'minyak pacar'."
Sesaat ekspresi wajah Bu Ajuan berubah, lalu berkata seraya
mendelik: "Siapa yang bilang?"
Chu Liuxiang menjawab seraya tersenyum sekilas: "Aku yang
bilang, sebab aku tahu yang dioleskan di rambutmu itu adalah
minyak bunga melati dan Toko 'Yuan Huaqi' di ibukota. Minyak itu
hasil buatan dan ramuan rahasia dari toko yang sudah terkenal lama
sekali itu, punya bau harum yang amat anggun; Harga minyak itu
selain amat mahal, belinya pun hanya di toko itu, di lain tempat tidak
ada!" Mata Bu Ajuan mendelik kian besar, lalu bertanya: "Kenapa kau
bisa tahu?" "Aku bisa menciumnya."
"Bukankah hidungmu tumpul rasa?"
Chu Liuxiang menjawab sambil senyum: "Hidungku memang
kadang-kadang tumpul rasa, tapi kadang-kadang juga tajam rasa,
itu tergantung keadaan."
"Tergantung keadaan apa?"
"Tergantung apa yang aku cium, kalau mencium bau tahi anjing
atau obat bius, tentu saja hidungku tumpul rasa; Tetapi kalau
mencium bau wangi-wangian yang berasal dari tubuh wanita cantik,
hidungku barangkali jauh lebih tajam dari siapa pun!"
Bu Ajuan menggigit gigi keras-keras, lalu berkata dengan amat
mendongkol: "Tidak keliru kalau banyak orang mengatakan bahwa
kau adalah 'setan maksiat', ternyata memang benar sekali!"
"Ah tidak! Kamu terlalu memuji saja!"
"Kamu sudah menceritakan yang nomor dua, apakah masih ada
yang nomor tiga?" "Ya, ada." Chu Liuxiang melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum: "Yang
nomor tiga. Tiba-tiba aku teringat siapa yang tinggal di dalam gua
itu." Bu Ajuan bertanya seraya mengedip-ngedipkan matanya "Siapa
ya?" "Sekeluarga orang yang bermarga Ma. Siapa pun yang cari garagara
dengan mereka, berarti mencari keberabean."
Bu Ajuan berkata seraya tertawa dingin: "Sungguh tidak disangka
ya, bahwa bagi Chu Liuxiang juga ada orang yang ditakuti!"
"Aku semuanya tidak takut, cuma takut berabe saja."
Bu Ajuan berkata dengan sikap dingin: "Hanya sayang bahwa
saat ini sudah ada keberabean yang hinggap di atas dirimu!"
Chu Liuxiang berkata seraya menghela nafas panjang: "Makanya
saat ini aku hanya ingin menemukan keberabean itu berasal dari
mana." "Masa' kau ingin aku memberitahukanmu?"


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Masa' kau masih bisa tidak memberitahukanku?"
"Masa' tidak boleh jika tidak memberitahukanmu!"
"Tidak boleh." Bu Ajuan berkata seraya memutar-mutar bola matanya: "Jika aku
tidak mau memberitahukanmu, lalu kau mau apa?"
Chu Liuxiang tidak menjawab, namun tiba-tiba menyambar
pinggang Bu Ajuan dan memeluknya!
Bu Ajuan berkata dengan suara tertahan: "Kau...kau berani
melakukan pelecehan seksual?"
Chu Liuxiang tersenyum seraya memperlihatkan giginya dan
berkata: "Jangan lupa ya bahwa aku kan 'setan maksiat'!"
Bu Ajuan mendelik sejenak, tiba-tiba menghela nafas, lalu
berkata seraya menutup matanya: "Baiklah! Sekali ini aku biarkan
kau melakukan pelecehan seksual!"
Chu Liuxiang malahan menjadi terkesiap, lalu bertanya "Kau tidak
takut?" Bu Ajuan berkata dengan suara lirih: "Aku kan tidak berdaya"
Mau berkelahi tidak bisa menang darimu, mau berlari tidak bisa lari
darimu!" "Masa' kau tidak bisa berteriak?"
Bu Ajuan berkata seraya menghela nafas: "Seorang wanita teriakteriak
begini, ke mana wajahku mau 'ditaruh'" Apalagi saat ini
tengah malam, tempat ini pun amat sepi, sekalipun aku teriak-teriak,
juga tidak akan ada orang yang mendengarnya"
Ia mendadak merangkul leher Chu Liuxiang, lalu berkata dengan
suara lirih di pinggir telinga Chu Liuxiang: "Jikalau kamu mau
memperkosaku, sekaranglah saat yang baik! Nanti kalau langit
sudah terang, suasana romantisnya akan hilang!"
**** Tengah malam, di tempatyang amat sepi, cahaya bulan yang
lemah-lembut. Seandainya ada seorang perempuan secantik Bu Ajuan, saat ini
berada dalam pelukan anda, dan ia mengucapkan kata-kata tersebut
diatas di pinggir telinga anda, lalu anda akan berbuat apa"
Saat ini Chu Liuxiang sungguh-sungguh tidak tahu mesti berbuat
apa! Melihat ekspresi wajahnya, seolah-olah yang dia peluk itu bukan
perempuan cantik, tapi adalah ubi jalar gunung yang amat panas!
Sepasang tangan Bu Ajuan merangkul kian kencang, sambil terus
menutup matanya, nafasnya yang mulai memburu itu berhembus
pelan ke pinggir telinga Chu Liuxiang!
Ia sedang menunggu! Tampaknya tidak mudah bagi Chu Liuxiang untuk melepaskan diri
dari ubi jalar gunung yang amat panas ini!
Namun ubi panas ini memang amat harum Bahkan harumnya
amat mempesona! Harumnya ini Sekalipun anda baru menikmati makanan yang
paling lezat, dan perut masih terasa penuh sekali tetap membuat
anda tidak bisa menahan diri untuk tidak "menggigitnya"!
Chu Liuxiang mulai berasa jantungnya berdetak kencang sekali!
Mata Bu Ajuan disipitkan, lalu berkata dengan suara lembut:
"Tunggu apa lagi" Apakah kau cuma bisa pakai mulut saja?"
Chu Liuxiang berkata seraya berbatuk kering: "Seperti pepatah
yang berbunyi 'Satria hanya pakai mulut, tidak pakai tangan'."
Bu Ajuan berkata dengan senyuman jangak "Tapi kamu kan
bukan satria!" Chu Liuxiang mengaku seraya menghela nafas: "Memang bukan."
Ketika ia sudah siap-siap melepaskan haknya untuk menjadi
satria, tiba-tiba dari belakang pohon-pohon gelap yang ada di sisi
jalan itu, terdengar suara ketawa yang merdu dan renyah!
Seorang gadis yang berpakaian kuning, bersandar di sebuah
pohon, dan tertawanya tidak berhenti-henti.
Suara tertawanya enak didengar, orangnya sedap dipandang!
Tanpa terasa Chu Liuxiang berseru: "Zhang Jiejie."
Gadis itu betul-betul terlalu misterius, selamanya Chu
Liuxiangtidak akan bisa menebak kapan saatnya ia akan muncul di
hadapannya, dan kapan saatnya ia akan lenyap lagi!
Bu Ajuan bertanya dengan suara keras: "Siapakah kamu?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum: "Aku bukan 'siapa',
hanya seorang yang kebetulan lewat di sini saja."
Bu Ajuan bertanya seraya mendelik: "Kamu mau berbuat apa?"
"Aku tidak mau berbuat apa-apa, baik dia memperkosamu, atau
kamu diperkosa dia, semuanya tidak ada hubungan apa-apa
denganku." "Kalau begitu cepatlah kamu pergi!"
"Aku juga tidak ingin pergi."
Zhang Jiejie meneruskan kata-katanya seraya tertawa "Teruskan
perbuatan kalian, masa' aku tidak boleh menonton dari sini?"
"Dengan hak apa kamu mau menonton?"
"Karena aku suka!"
Argumentasi yang terhebat pun tak akan bisa melawan kata
"Suka" Bu Ajuan sudah termasuk orang yang mau menang sendiri, tidak
tahunya malahan justru ketemu orang yang lebih mau menang
sendiri! Chu Liuxiang sudah hampir mau ketawa.
Bu Ajuan melepaskan pelukannya, badannya tiba-tiba melesat
dari pelukan Chu Liuxiang, lalu bersalto di udara, dengan kecepatan
bagai anak panah ia "menerkam" ke Zhang Jiejie!
Sepuluh jari tangannya yang lentik itu, berkilauan di bawah
cahaya rembulan! Kelihatannya bahwa ia ingin sekali mencabik-cabik wajah Zhang
Jiejie! Baik ia seorang pesilat atau bukan, ketika seorang perempuan
berkelahi, sepertinya suka sekali mencakar-cakar wajah lawannya.
Malahan Chu Liuxiang merasa sedikit khawatir untuk Zhang Jiejie.
Mendadak ia menemukan bahwa tidak saja Bu Ajuan memiliki ilmu
meringankan tubuh yang tinggi, bahkan serangannya amat cepat
dan amat sadis! Sebelumnya ia tidak pernah menduga bahwa wanita yang cantik
seperti Bu Ajuan ini, sanggup melancarkan serangan yang begitu
sadis! "Barangkali ketika perempuan melawan perempuan, mereka akan
berobah jadi lebih kejam dan sadis!?"
Zhang Jiejie masih tertawa cekikikan.
Ketika kuku-kuku jari tangan Bu Ajuan sudah hampir mengenai
wajahnya, barulah dengan tiba-tiba badannya meluncur ke atas
dengan menyusuri batang pohon, persis seperti seekor kucing,
sekejap saja sudah tiba di ujung pohon.
Dengan menjejakkan ujung kakinya, badan Bu Ajuan juga ikut
meluncur ke ujung pohon. Zhang Jiejie berkata seraya tertawa manja: "Galak amat wanita
ini! Kakak Xiang, kenapa tidak bergegas datang untuk
membantuku?" Ia sengaja mengucapkan kata "Kakak Xiang" ini dengan nada
yang mesra dan genit! Chu Liuxiang yang mendengar kata-kata itu, tiba-tiba merasa
badannya merinding semua.
Bu Ajuan yang mendengar kata-kata itu, api amarahnya kian
berkobar-kobar, lalu berkata seraya tersenyum "Wanita ini benarbenar
tidak tahu malu! Ia tidak sadar kalau kata-katanya bisa
membuat orang yang mendengarnya merasa muak dan mau
muntah!" Kata-katanya masih belum selesai diucapkan, ia telah
melancarkan 7 jurus serangan!
Zhang Jiejie sambil menghindar, sambil berkata seraya tertawa
terus: "Yang tidak tahu malu itu aku atau kamu" Kenapa kamu mesti
menginginkan kakak Xiangku untuk memperkosamu?"
Saking marahnya sampai tidak bisa berkata-kata lagi, dengan air
muka yang merah padam, Bu Ajuan melancarkan serangan-serangan
yang makin aneh dan makin sadis!
Zhang Jiejie terus berceloteh: "Sebenarnya kamu mesti meniru
aku, jika kamu memanggil dia kakak Xiang', mungkin ia akan segera
memperkosamu!" "Kentut!" Zhang Jiejie menimpali seraya tertawa: "Bau sekali ya!"
Ia terus berkelit dan menghindar, kelihatannya seperti tidak
punya tenaga untuk menangkis, tiba-tiba berseru dengan terkejut,
lalu memutar badannya dan berlari pergi, sambil mulutnya berseruTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
seru "Cakar wanita ini benar-benar mengerikan! Jikalau wajahku
benar-benar tersobek oleh
cakarnya, bagaimana di kemudian hari aku masih 'laku'
menikah?" Ia berlari di depan, Bu Ajuan mengejar di belakang.
Ilmu meringankan tubuh dua orang ini sama-sama hebat, apalagi
Zhang Jiejie. Chu Liuxiang hampir tidak pernah melihat ada wanita yang ilmu
meringankan tubuhnya lebih tinggi dari Zhang Jiejie - Bahkan yang
pria pun jarang ada yang lebih tinggi dari dia!
Sebenarnya ia ingin menyusul untuk melerai mereka, tapi setelah
dipikir-pikir, ia menghentikan langkahnya.
Ketika dua wanita berkelahi, satu-satunya hal yang bisa
dikerjakan si pria adalah: berdiri saja dan tidak bergerak. Jika dapat
tiba-tiba berubah menjadi tuli dan buta, itu adalah tindakan yang
lebih bijaksana. Angin terns berhembus ke daun-daun pohon, tetapi suara dua
wanita itu sudah tidak terdengar lagi.
Masa' mereka berdua sudah melarikan diri"
Namun, tiba-tiba terdengar ada seorang menyanyi dengan suara
lembut di dalam kegelapan.
"Dua wanita berkelahi, cuma ada satu yang bisa kembali...coba
tebak, yang kembali itu siapa?"
Chu Liuxiang menjawab tanpa berfikir lagi: "Zhang Jiejie."
Memang benar itu adalah Zhang Jiejie Dengan satu kali
kelebatan, ia telah berada di depan Chu Liuxiang, lalu berkata seraya
tersenyum manis: "Adik yang manis! Ada perlu apa kau panggil
kakak lagi?" Chu Liuxiang berkata sambil menghela nafas panjang:
"Omonganmu kok itu-itu saja, apakah kau tidak bosan
mengatakannya?" Zhang Jiejie berkata sambil tersenyum: "Bukan saja tidak bosan
mengatakannya, bahkan aku juga tidak bosan mendengarkannya,
sekalipun dalam sehari kau panggil aku kakak 800 kali, tetap saja
aku merasa senang." Ia mengedip-ngedipkan mata dan bertanya: "Apakah kau merasa
senang?" "Ada hal apa yang perlu aku senang"
"Ada dua wanita yang demikian cantik ini yang berkelahi demi
kau!" "Masa' kau tidak merasa senang?"
Chu Liuxiang bertanya seraya mengedip-ngedipkan mata juga
"Apakah kau telah membunuhnya?"
"Tenangkanlah hatimu! Wanita yang secantik dia itu, aku pun
tidak tega membunuhnya."
"Jika tidak terbunuh, lalu sekarang dia ada di mana?"
Zhang Jiejie mendadak berkata dengan air muka yang tidak
senang: "Untuk apa kau menanyakan hal ini" Apakah kau masih
memikirkan dia" Ingin memperkosanya?"
"Apakah kau kira aku betul-betul adalah orang yang demikian?"
Zhang Jiejie berkata sambil tersenyum dingin: "Masa' sih kau
adalah orang yang alim" Jika bukan aku keburu datang, kalian
berdua, yang satu mau memperkosa, yang satu malahan minta
diperkosa! Maka tempat ini pasti sudah menjadi 'medan tarung' bagi
kalian kan!" Chu Liuxiang menghela nafas lagi, lalu berkata seraya tersenyum
masam: "Aku sungguh kagum padamu, ternyata kau juga sanggup
mengucapkan kata-kata demikian!"
"Ketika seorang wanita merasa cemburu, maka kata-kata yang
lebih tidak sedap pun sanggup diucapkannya!"
"Kau cemburu?" Zhang Jiejie berkata seraya mendelik: "Kalau cemburu terus
bagaimana" Masa' cemburu itu melanggar hukum?"
Tiba-tiba ia tidak bisa menahan dirinya, dan berkata seraya
tertawa: "Sebenarnya, sekalipun kau punya keinginan memperkosa,
juga tidak usah mencari dia."
Chu Liuxiang mengelus-elus hidung dan bertanya "Aku masih bisa
mencari siapa?" Bola mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu berkata dengan suara
halus: "Paling sedikit ada satu orang yang bisa kau cari."
"Orang itu ada di mana?"
Zhang Jiejie menjawab seraya menggigit bibir: "Jauh di mata,
dekat di hati." Chu Liuxiang mendadak berobah menjadi seorang pandir kelas
berat, kedua matanya menatap kosong, lama sekali celingukan, baru
seraya mengerutkan alis: "Aneh ya! Kenapa aku kok tidak
menemukannya...." Zhang Jiejie mendelik penuh kedongkolan, dengan tiba-tiba ia
melayangkan sebuah tamparan!
Tamparan itu cepat sekali, kalau orang lain pasti tidak bisa
menghindarinya! Namun kali ini beda--Tangannya terpegang oleh Chu Liuxiang.
Chu Liuxiang berkata sambil senyum: "Jika kau sungguh ingin
menamparku, maka gerakanmu seharusnya lebih cepat sedikit."
Zhang Jiejie melirik dia dengan ujung mata, lalu berkata dengan
senyum samar-samar: "Apa kau kira aku benar-benar tidak bisa
menamparmu" Apa kau kira benar-benar bisa memegang
tanganku?" "Masa' sih ini bukan tanganmu?"
Zhang Jiejie tiba-tiba menghela nafas dan berkata: "Hai si Pandir!
Masa' kau tidak menyadari bahwa aku sengaja membiarkan kau
menangkap tanganku?"
"Sengaja" Mengapa?"
Zhang Jiejie menundukkan kepala dan berkata dengan lirih:
"Sebab aku suka kau pegang tanganku."
Suaranya lembut dan manis --- Pada malam yang hening ini,
keluar dari mulut seorang gadis secantik dia ini, betul-betul mirip
dengan lagu yang termerdu di dunia ini!
Hati Chu Liuxiang mulai "mencair", bagai es dan salju yang
mencair karena hembusan angin musim semi!
Tepat pada ketika ini, tangan Zhang Jiejie tiba-tiba berbalik dan
mencengkeram pergelangan tangan Chu Liuxiang, sebelah
tangannya bergerak cepat bagaikan kilat, melayangkan sebuah
tamparan keras ke pipi kanan Chu Liuxiang!
Sambil berkata dengan tertawa manis: "Kali ini kau pasti tidak
dapat menghindarkan...."
Namun kalimat ini tidak bisa selesai diucapkannya.
Hati Chu Liuxiang memang sudah "mencair", tetapi Tangannya
belum. Tahu-tahu tangan Zhang Jiejie sudah terpegang lagi, dan tangan


Legenda Bunga Persik Tao Hua Zhuan Qi Seri 6 Pendekar Harum Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Zhang Jiejie yang mencengkeram pergelangan tangan Chu Liuxiang,
malahan sebaliknya tercengkeram oleh Chu Liuxiang!
Yang dirasakan Zhang Jiejie adalah: Seolah-olah bahkan
setengah buah tulang pun tidak ada pada sepasang tangan Chu
Liuxiang! Kata Chu Liuxiang seraya tersenyum: "Kali ini kau tetap saja tidak
berhasil menamparku."
Zhang Jiejie mendeliki dia dengan penuh kedongkolan, lama
sekali baru muncul senyuman dari matanya, kemudian berkata
seraya tersenyum manis: "Sebenarnya aku sama sekali tidak tega
menamparmu, kenapa kau mesti tegang?"
Ini membuktikan suatu hal: Wanita yang jujur belum tentu
menyenangkan, wanita yang menyenangkan belum tentu jujur!
Asal anda merasa dia menyenangkan, maka anda mesti
mempercayai apa yang dia katakan, baik itu benar atau tidak!
Jika tidak, maka anda bukanlah pria yang bijak, juga bukan pria
yang hidup dengan bahagia!
**** Namun saat ini Chu Liuxiang tidak bisa merasa bahagia.
Sebab walaupun ia ingin sekali mempercayainya, tapi betul-betul
sulit sekali mempercayainya.
Zhang Jiejie terus menatapnya, tiba-tiba berkata "Sepertinya kau
tidak terlalu mempercayaiku ya"
Chu Liuxiang berkata seraya tersenyum sekilas: "Bisakah aku
mempercayai mu?" "Pernahkah aku mencelakaimu?"
"Tidak pernah."
"Baikkah perlakuanku kepadamu?"
"Baik sekali." "Aku tidak pernah mencelakaimu, perlakuanku pun baik sekali
kepadamu, lalu kenapa kau tidak mempercayaiku?"
Chu Liuxiang tidak dapat menjawab pertanyaan ini, maka ia cuma
dapat menjawab: "Aku tidak tahu."
Argumentasi yang terhebat pun tidak dapat melawan kalimat ini
"Aku tidak tahu"!
Sekalipun anda dapat mengajukan 10.000 macam argumentasi,
tapi kalau dia masih "tidak tahu", lalu anda bisa berbuat apa"
Zhang Jiejie menghela nafas panjang, lalu berkata seraya
tersenyum kecut: "Ternyata kau juga seorang yang hanya mau
menang sendiri." "Di dalam dunia ini memang banyak sekali orang yang hanya
mau menang sendiri, bukan cuma aku saja", kata Chu Liuxiang
seraya tersenyum. Biji mata Zhang jiejie berputar-putar sejenak dan berkata:
"Apakah kau merasa kedatanganku kebetulan sekali?"
"Memang betul."
"Apakah kau tidak dapat mengira kenapa aku dapat
menemukanmu?" "Memang tidak dapat"
"Baiklah, aku beritahu! Itu dikarenakan aku terus-menerus
menguntitmu secara diam-diam."
"Oh ya?" "Tentu saja aku pun tidak tahu kau memilih jalan mana, untung
ada seorang yang memberitahuku."
"Siapa?" "Yaitu istri pedagang yang putih dan gemuk itu, yang berada di
sisi persimpangan jalan itu lho!"
Ia melirik Chu Liuxiang lagi dengan ujung mata, lalu berkata
seraya tersenyum samar-samar: "Kau pasti merasa heran lagi kan
kenapa dia bisa ingat padamu" Itu disebabkan ia pun amat menaruh
hati padamu! Kata dia: Kau tampan, menyenangkan dan berwibawa,
satu-satunya kekuranganmu hanyalah kau kurang royal, hanya
memberi dia dua ketip uang saja."
Chu Liuxiang pun menghela nafas lagi, lalu berkata seraya
tersenyum kecut: "Sekarang ini saja ia sudah begitu 'menaruh hati',
jika aku memberi dia lebih banyak lagi, mana tahan!"
Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum dingin: "Kenapa mana
tahan" Dia kan putih dan gemuk, punya wajah hoki , pintar
berdagang, pintar melahirkan anak, menurutmu, mana lagi yang
kurang baik dari dia?"
Chu Liuxiang berkata dengan wajah serius: "Sebenarnya ia masih
punya suatu keunggulan yang terbesar, apakah kau tidak tahu?"
"Oh! Apa itu?" "Ia hanya jual arak, tidak jual cuka."
"Masa' ini juga terbilang keunggulannya?"
"Seandainya ia menjual cuka, maka tempayan cukanya pasti
dirobohkan olehmu, dengan demikian modal dia pun akan
Ludes!"(Dalam kesusastraan bahasa Tionghoa: "Makan cuka" adalah
suatu kata kiasan yang berarti: Cemburu (karena urusan cinta).
"Merobohkan tempayan cuka seseorang" berarti: Melabrak
seseorang yang dianggap sebagai lawan/saingannya dalam urusan
cinta.) **** Bintang kian jarang, malam hampir berakhir.
Entah dari mana Zhang Jiejie telah memetik setangkai bunga
kecil, yang sebentar digigit di mulutnya, sebentar dipakai di
telinganya, sebentar dimainkan di tangannya, kelihatannya sibuk
sekali. Gadis ini sepertinya tidak bisa berhenti bergerak, tidak saja
tangan dan mulut, bahkan seluruh tubuhnya bergerak tanpa henti.
Di dalam keadaan nganggur pun ia tetap saja bisa menemukan
satu atau beberapa hal untuk dikerjakan.
Jika menginginkan dia tutup mulut, dan duduk manis hanya
untuk sesaat saja, itu sama dengan menginginkan nyawanya!
Chu Liuxiang makin lama makin tidak bisa memahami dia.
Terkadang ia kelihatannya seperti seorang anak perempuan kecil
yang tidak tahu apa-apa, namun terkadang ia kelihatannya lebih
cerdik dari rubah tua yang paling licik!
Chu Liuxiang bertanya seraya menghela nafas: "Sekarang aku
sudah tahu dengan cara bagaimana kau datang, tapi apa maksud
kedatanganmu mencariku?"
Zhang Jiejie menjawab seraya mendelik: "Orang lain bisa datang
mencarimu, kenapa aku tidak bisa?"
"Orang lain datang mencariku kan untuk mencabut nyawaku, kau
bagaimana?" "Aku tidak ingin mencabut nyawamu, malahan ingin kau hidup
untuk beradu mulut denganku."
Chu Liuxiang bertanya seraya tersenyum masam: "Kau datang
mencariku, apakah cuma untuk beradu mulut denganku?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum manis: "Aku masih
belum punya kelemahan sebesar ini."
Mendadak air mukanya berubah jadi amat serius, lalu berkata:
"Aku datang mencarimu, hanya untuk memberitahumu dua hal yang
teramat penting." "Apa itu?" "Aku sudah menyelidiki dan tahu siapakah sepasang suami istri
yang tua itu." "Oh ya?" "Apakah kau masih ingat tangan nenek itu selalu menenteng
apa?" "Batang timbangan!"
Nenek itu memakai batang timbangan itu untuk memukul
suaminya. Sinar mata Chu Liuxiang menjadi terang, lalu berkata dengan
terkesiap: "Aku teringat! 'Kakek Sial dan Nenek Gendut, timbangan
tak pernah meninggalkan anak timbangan'."
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum "Memang beteu, kakek
itu adalah 'timbangan', nenek itu adalah 'anak timbangan', dua
orang itu memang sesuai sekali dengan julukannya! Kau betul-betul
tak akan bisa menemukan seorang yang lebih mirip anak timbangan
dari nenek itu!" Tetapi Chu Liuxiang tidak ikut tersenyum.
Dikarenakan ia tahu bahwa meskipun kakek dan nenek itu
memiliki nama dan julukan yang lucu, tampang mereka pun amat
menggelikan, tapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang
menakutkan! Zhang Jiejie melanjutkan kata-katanya: "Kata orang mereka
sebenarnya adalah pesilat kelas wahid dari daerah Lingnan, bahkan
mereka memimpin sebuah kekuasaan jahat yang amat besar! Tetapi
pada belasan tahun yang lalu, mereka tiba-tiba mengundurkan diri
dan hilang dari pandangan orang, sejak saat itu tidak ada lagi
orangyang mengetahui berita mereka. Entahlah kenapa kali ini
mereka tiba-tiba muncul lagi?"
"Mungkin ada seseorang yang mengundang mereka secara
khusus untuk membunuhku."
"Kau pikir siapa yang mengundang mereka" Dapat mengundang
pesilat-pesilat tangguh yang telah lama mengundurkan diri ini, orang
itu sungguh-sungguh punya sesuatu yang disegani orang!"
Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu melanjutkan lagi:
"Siapa pemilik bagal itu, aku pun telah mengetahuinya."
"Siapa?" "Tuan Keempat Jin."
"Siapakah dia?"
"Ia adalah paman keempat Jin Lingzhi, sekaligus orang yang
paling berkuasa di Taman Wanfu Wanshou! Karena kau pernah pergi
ke tempat itu untuk pengucapan selamat ulang tahun, pasti pernah
melihat orang itu." Chu Liuxiang mengiakannya.
Bukan saja ia pernah melihat orang itu, bahkan punya kesan
yang amat dalam. Tuan Keempat Jin memang seorang yang mudah meninggalkan
kesan yang amat dalam bagi setiap orang yang pernah berjumpa
dengannya! Perawakannya tidak terlalu tinggi besar, tapi punya badan yang
sehat dan kuat. Jika berdiri kelihatannya seperti sebuah bukit, yang
tidak sanggup direbahkan oleh siapa pun.
Chu Liuxiang bahkan masih ingat akan raut mukanya sepasang
alis yang tebal, sepasang mata yang bersinar, kumis yang rapi....
Sekalipun ia tersenyum, masih tertampak kewibawaannya!
Dilihat dari segi mana pun, tidaklah menimbulkan kesan bahwa ia
adalah seorang yang jahat.
Chu Liuxiang berkata dengan sikap ragu-ragu: "Apakah
maksudmu adalah: Suami istri itu diundang oleh dia" Dan orang
yang mau membunuhku juga adalah dia?"
Zhang Jiejie berkata dengan sikap yang tawar: "Aku tidak berkata
apa-apa, cuma berkata bahwa bagal itu adalah miliknya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Zhang Jiejie menjawab seraya tersenyum: "Tentu saja aku punya
caranya." "Cara apa?" Zhang Jiejie menjawab seraya mengedipkan matz "Hal itu aku
tidak dapat memberitahukanmu."
"Kenapa tidak dapat?"
"Sebab aku tidak suka."
**** Fajar telah menyingsing. Akhirnya mereka telah keluar dari daerah perbukitan itu, dan
kuda itu tetap mengikuti dari belakang.
Ada orang berkata, bahwa anjing dan kuda adalah sahabat
manusia yang paling setia, sebenarnya itu hanyalah karena mereka
telah membentuk suatu sifat ketergantungan pada manusia,
sehingga lebih rela jadi budak manusia, tapi tidak berani berdikari.
Biji mata Zhang Jiejie berputar-putar, lalu bertanya seraya
tersenyum: "Dengan bersusah-payah aku datang kemari untuk
memberitahukanmu hal-hal itu, lalu kau akan berterima-kasih
padaku dengan cara apa?"
"Aku tidak tahu."
Sebab ia menyadari bahwa kalimat ini merupakan cara terbaik
untuk menghadapi Zhang Jiejie.
Zhang Jiejie berkata seraya tersenyum: "Kau tidak tahu, tapi aku
tahu." "Kau tahu apa?"
"Aku tahu kau orang yang kikir, jika benar-benar menginginkan
kau mentraktirku, sekalipun kau dibunuh pun tak akan mau! Tapi
seandainya aku minta kau mentraktirku minum arak, tak akan
menolak kan?" Chu Liuxiang pun berkata seraya tersenyum "Itu pun tergantung
keadaannya, tergantung kau minumnya banyak atau tidak, dan
tergantung arak di tempat itu mahal atau tidak?"
Zhang Jiejie berkata seraya menghela nafas panjang: "Untung
aku tahu ada satu tempat, bukan saja araknya tidak mahal, bahkan
di sana ada seorang istri pedagang yang putih dan gemuk! Ia terus
menerus merindukanmu lho! Tampaknya kau tidak membayar pun
tidak masalah deh!" Tanpa terasa Chu Liuxiang mengelus-elus hidungnya, lalu berkata
seraya tersenyum masam: "Apakah kau benar-benar mau ke tempat
itu?" "Harus dong! Sebab aku telah memutuskannya"
**** Walaupun masih pagi, tapi tempat penjualan arak yang berada di
persimpangan jalan itu telah mulai usahanya.
Sebab orang-orang yang bepergian di waktu pagi memang lebih
banyak. Si pedagang yang senantiasa bermuram durja itu sedang
menyalakan kompornya, mukanya kotor dan berminyak karena
terkena asap. Si istri pedagang yang putih dan gemuk itu sedang mengawasi
suaminya dari samping dengan wajah cemberut, tampaknya ia lagi
kesal, sampai-sampai anak kecil yang sedang ia gendong pun tidak
berani menangis. Tapi begitu melihat Chu Liuxiang, rasa kesalnya segera sirna,
wajah pun penuh senyuman.
Anak kecil yang tadinya baru kena pukul karena merengek mau
makan telur rebus kecap, sekarang ia malahan menjejalkan telur ke
mulut anak itu, untuk menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang
lemah lembut dan ibu yang penuh welas asih.
Zhang Jiejie tertawa cekikikan seraya melirik Chu Liuxiang
dengan ujung matanya. Chu Liuxiang terpaksa pura-pura tidak melihat.
Ketika istri pedagang itu agak menjauh untuk mengiris daging
dan menuangkan arak, Zhang Jiejie tiba-tiba berbisik di sisi telinga
Chu Liuxiang: "Aku telah salah omong ya! Sekalipun ia putih sekali,
tapi sedikit pun tidak gemuk"
Chu Liuxiang masih pura-pura tidak mendengarnya
Heng Thian Siau To 4 Pendekar Rajawali Sakti 90 Rajawali Murka Misteri Bunga Mawar Kematian 2
^