Pencarian

Pena Wasiat 12

Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen Bagian 12


Seng Tiong gak manggut-manggut, ujar-nya kemudian:
Siau-hong, apakah tempat itu berbahaya sekali"
"Sudah barang tentu amat berbahaya, aku harap susiok
dan dua bersaudara pengemis untuk bertindak lebih
berhati-hati lagi" Sambil tertawa lebar Sin Jut berkata:
''Saudara Cu tidak mengundang beberapa cianpwe itu
turut serta sungguh membuat aku si pengemis merasa
bergembira sekali, mereka terlalu ragu-ragu mengambil
keputusan, lagipula terlampau berhati-hati, jika berada
bersama mereka, rasanya kaki tangan kami seolah-olah
bagaikan dibelenggu saja..
"Walaupun begitu saudara Ciu, beberapa orang
Locianpwe itu mempunyai pengalaman yang amat luas"
kata Seng Tiong-gak, "bila seorang saja diantara mereka
turut da-tang, maka kehadirannya itu akan sangat
membantu kita semua, kenapa kau bilang kaki dan tangan
malah seolah-olah bagaikan dibelenggu"
"Seng cianpwe" kata Ciu Heng sambil tertawa, "orang
bilang nama besar membe-lenggu orang, mereka adalah
orang kenamaan selama banyak tahun, cara kerja
merekapun mempunyai garis-garis pedoman yang tetap,
pedoman tersebut biasanya segan mereka langgar, seperti
juga seseorang yang tangannya dibelenggu, sudah barang
tentu semua gerak geriknya menjadi tidak leluasa, sebab
itu merekapun tak berani sembarangan bertindak
didalam menghadapi setiap persoalan'
"Oooh. . . kiranya begitu!"
Ciu Heng tertawa, kembali serunya:
"Seng cianpwe. . . ."
''Eeeh. . . jangan panggil aku dengan sebutan itu'' tukas
Seng Tiong gak dengan gelisah, "selisih usia kita tidak
seberapa ba-nyak, bila kau bersedia memberi muka
kepadaku, lebih baik panggil saja aku dengan sebutan
saudara Seng" "Aku rasa sebutan itu kurang cocok! Sebagaimena
diketahui orang persilatan lebih mementingkan soal tingkat
kedudukan ...... "Kalina tak boleh mengambil perbandingan dari Siau
hong, betul dia adalah keponakan muridku, tapi kita toh
saling berhubungan secara terpisah ."
''Siau Ciu, kalau toh saudara Seng telah memberi
penjelasan, lebih baik kau turuti saja kehendaknya" sela Kui
meh Ong Peng sambil tertawa pula ''terus terang sa-ja, usia
kita memang selisih tak banyak kalau musti menyebut
locianpwe kepadanya waah. . . kasihan dia! Mana dia rikuh,
kita juga rikuh, betul tidak?"
Sin jut Ciu Heng segera manggut-manggut.
"Betul sekali perkataanmu itu, kalau begitu akan kusebut
saudara Seng saja kepada-nya.'
"Nah, begitu baru cocok" seru Seng Tiong gak kemudian,
dengan begitu cara kerja kita lebih leluasa, pergaulan lebih
akrab dan kita sama-sama tak usah merasa rikuh"
"Baik" kata Ciu Heng kemudian sambil tertawa, "saudara
Seng, mari kita mulai penggeledahan dari tempat ini"
"Tidak usah, tempat ini tiada sesuatu yang perlu
dicurigai" ujar Cu Siau-hong, "kalau ingin melakukan
penggeledahan, kita harus menggeledah kuil kecil itu"
"Baik! Aku akan membawa jalan' kata Seng Tiong gak,
dia lantas membalikkan badan dan berjalan ke depan.
Cu Siau hong berpaling dan memandang sekejap ke arah
Ong Peng, lalu berkata: "Saudara Ong, kau toh sudah pernah berkunjung ke
kebun raya Ban hoa wan ini" Apakah biasanya ditempat ini
dipekerjakan banyak tukang dan pembantu?" .
"Yaa. banyak juga jumlah mereka, pokoknya dalam
setiap bagian kebun raya ada orangnya, paling tidak
jumlahnya bisa mencapai beberapa ratus orang"
"Tapi ke mana larinya orang-orang itu"''
"Entahlah" "Jika dugaanku tidak salah, sudah pasti mereka
bersembunyi dibawah tanah"
"Sungguh tak pernah kusangka akan hal ini, Aku tidak
mengira kalau kebun raya Ban hoa wan sesungguhnya
sarang pencoleng" kata 0ng Peng, "Cuma, aku si pengemis
kecil masih juga tidak habis mengerti padahal tempat ini
adalah kebun pribadi seseorang, andaikata mereka
memaklumkan tempat ini sebagai daerah terlarang dan tak
memperkenankan orang luar masuk kemari, bukankah
tempat ini akan berubah menjadi suatu tempat yang lebih
rahasia lagi letaknya?"
Mendengar perkataan itu Cu Siau bong segera tertawa
lebar. ''Disini terletak kepinteran mereka, bayangkan saja
dalam suatu tempat yang demikian besarnya ini, sudah
pasti ada banyak sekali orang-orang mereka yang berlalu
lalang jika tempat ini dinyatakan sebagai daerah terlarang,
padahal terdapat banyak orang yang hilir mudik disini,
apakah kejadian ini tak akan menarik perhatian orang lain"
Sebaliknya jika kebun raya ini dinyatakan terbuka untuk
umum, setiap hari dikunjungi oleh beribu-ri-bu bahkan
puluhan ribu pengunjung yang hilir mudik terus menerus,
bayangkan saja, sekali pun orang mereka yang terdiri dari
ratusan orang itu hilir mudik beberapa puluh kali sehari
siapa yang akan mencurigai mereka" Toh buktinya dengan
ketajaman pendengaran Kay-pang, rahasia ini tak pernah
diketahui kalian selama banyak tahun?" .
"Ehmm... betul juga perkataan ini, jika o-rang
membuang emas kedalam jamban, siapa yang akan
menyangka kalau benda ku-ning dalam jamban tersebut
adalah emas?" "Disinilah letak titik kelemahan manusia tapi titik
kelemahan tersebut justru telah dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya" "Yaa, disini pula terletak kepintaran mereka"
"Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan
terjatuh juga, sekalipun mereka pintar, akhirnya suatu titik
kelemahan mereka perlihatkan juga, nah sekarang, inilah
saatnya bagi kita untuk menemukan titik kelemahan yang
ditinggalkan oleh orang-orang pintar tersebut"
"Kalau memang titik kelemahan ini dibu-at oleh orang
pintar, tempat tersebut pasti akan sulit untuk ditemukan",
kata Seng Ti-ong gak. "Itulah sebabnya kita harus memeras otak untuk
menemukannya!" Sin Jut dan Kui Meh saling berpandangan sambil tertawa,
katanya hampir berbareng "Kami dua bersaudara juga tidak
mempunyai keistimewaan apa-apa, keistimewaan yang
paling besar adalah menemukan titik kelemahan yang
ditinggalkan orang lain. "Kalau begitu, silahkan kalian berdua berangkat lebih
dulu bersamaku.....!" ujar Seng Tiong gak.
Selesai berkata, dia lantas beranjak menuju ke arah
pintu kuil... "Hei, ada apa" Kalian hendak mencari emas ...." seru
Ong Peng dengan lantang. "Kraaak...." tiba tiba pintu samping dekat dinding patung
terbuka sebuah pintu, kemudian pelan-pelan berjalan keluar
seorang rahib perempuan berbaju hijau, rahib itu masih
muda sekali. Dia membawa sebuah senjata Hud tim yang berbulu
sangat panjang, dengan serius katanya:
"Apa yang sedang kalian cari?"
''Kami mencari orang!" jawab Ong Peng.
"Mencari orang macam apa?" tanya rahib muda berbaju
hijau lagi. "Dalam kebun raya Ban hoa wan ini terdapat banyak
orang, tapi sekarang tampak-nya tak seorangpun yang
kelihatan" "Tempat ini memang sebenarnya penuh dengan orang,
tak seharipun mereka bisa beristirahat dengan tenang,
maka hari ini mereka pulang ke rumah untuk beristirahat'
"Li totiang, tentunya kau mempunyai gelar atau julukan
bukan?" Tosu perempuan muda usia itu tertawa.
"Kita tak pernah bersua, juga tidak saling mengenal, aku
rasa namapun tak usah saling disebut!"
"Kau adalah seorang pendeta yang sudah jauh dari
keramaian manusia dan kehidupan keduniawian, tak nyana
saat ini masih juga mencampuri urusan didalam kebun raya
Ban hoa-wan" "Aku tinggal didalam kebun raya Ban-hoa wan, segala
sesuatunya tergantung pada pemilik kebun raya Ban hoawan,
urusan yang terjadi dalam kebun raya Ban hoa wan ini
tentu saja harus kucampuri'
"Oooh, seandainya kami hendak menghadapi orangorang
dari kebun raya Ban- hoa wan, apa yang hendak kau
lakukan?" "Kenapa kalian harus berbuat begitu?" kata si tokoh
berusia muda itu sambil menghela napas, "mereka semua
adalah o-rang baik-baik!"
Benar, mereka memang semuanya meru-pakan pilihan
dari orang-orang baik ....."
Cu Siau hong segera mendehem pelan, ke-mudian
katanya: "Li toheng, aku ingin mengajukan satu pertanyaan
kepadamu" "Katakan saja!"
"Bukankah dibelakang kuil ini terdapat dunia lain?"
"Menurut pendapatmu?" tokoh muda itu balik bertanya.
"Kalau dilihat dari kemunculan Li to-heng dari pintu kecil
disamping patung arca itu, aku yakin dibelakang sana pasti
terdapat suatu dunia lain"
"Tempat itu adalah kamar tidurku, kalau kalian tidak
percaya, mengapa tidak masuk ke dalam untuk memeriksa
sendiri?" "Oooh! Kalau begitu cuma kau seorang yang berdiam
disini?" tanya Ong Peng.
"Betul! Cuma aku seorang yang berdiam disini"
"Oooh,.sungguh suatu kejadian yang sulit untuk
membuat orang percaya" sela Seng Tiong gak.
"Kalian tidak percaya kepadaku, juga tak mau masuk
untuk melakukan pemeriksaan, sungguh membuat orang
tidak habis mengerti apa sebenarnya maksud tujuan kalian"
kata nikoh muda itu dengan suara dingin seperti es.
Seng Tiong gak segera berpaling dan memandang
sekejap ke arah Cu Siau hong, kemudian tanyanya:
"Siau hong, bagaimana cara kita untuk mengatasi
kejadian ini"' "Aku mengerti, bukankah kau takut jika dalam kamar
tidur ku si pendeta terdapat racunnya?" kembali tokoh
muda itu berkata. "Kami adalah orang yang sudah lama melakukan
perjalanan didalam dunia persilatan, tentu saja kami tak
bisa tidak untuk bertindak lebih berhati-hati"
"Bagus sekali" kata nikoh muda itu kemudian sambil
tertawa dingin, "aku akan membuktikannya untukmu"
Setibanya di depan pintu, tiba-tiba ia mendorong pintu
tersebut hingga terpentang lebar.
Ditengah matahari yang terang benderang, suasana
dalam ruangan itu dapat terlihat dengan amat jelas.
Dibalik pintu merupakan sebuah ruang tidur yang kecil
sekali, kecuali sebuah pembaringan kecil, boleh dibilang
hampir tiada tempat lagi yang bisa digunakan untuk
menyembunyikan barang. Oleh sebab itu, selain sebuah pembaringan yang berada
dalam ruangan, disitu cuma ada sebuah bangku.
"Sudah lihat sampai jelas?" kata nikoh muda itu
mengejek, "kalau tidak jelas, mengapa tidak masuk ke
dalam untuk memeriksanya sendiri dengan lebih seksama?"
Ong Peng segera tertawa, katanya:
"Aku si Pengemis cilik paling tidak terikat oleh
pantangan, sekalipun kamar tidurnya kaum rahib juga tak
menjadi soal bagiku, aku tetap berani memasukinya, harap
saudara-saudara suka menunggu sebentar di sini.......
Dengan suatu gerakan cepat dia lantas menyelinap
masuk ke dalam ruangan itu.
Empat penjuru ruangan itu berupa dinding batu yang
tebal, sekilas pandangan saja segala sesuatunya dapat
terlihat jelas, selain pembaringan disitu tidak dijumpai
benda apapun juga yang mencurigakan.
Ong Peng termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian dia menyingkap kain seprei yang
berada diatas pembaringan tersebut.
Ketika dia mencoba untuk mengintip ke bawah, ternyata
dikolong ranjang itu kosong melompong dan tidak nampak
sesuatu apa-pun juga. Terdengar suara dari si Tokoh muda yang dingin
bagaikan es itu kembali berkumandang datang..
"Andaikata kau masih belum percaya, kenapa tidak
menorobos ke kolong ranjang untuk memeriksanya?"
Paras muka Ong Peng agak berubah, kemudian
sahutnya: "Terima kasih atas peringatan dari too heng!"
Dengan mengerahkan tenaganya, dia lantas menggeser
pembaringan kayu itu dengan paksa.
Diam-diam Cu Siau hong memperhatikan gerak gerik
nikoh muda tersebut, dijumpai-nya paras muka nikoh muda
itu masih te-tap tenang seperti sedia kala, sedikitpun ti-dak
kelihatan rasa kaget atau terkesiap barang sedikitpun juga.
Penggeledahan yang dilakukan Ong Peng kali ini
dilaksanakan dengan amat teliti, setiap sudut ruangan
setiap bagian tempat di periksa semua dengan hati-hati.
Menyaksikan perbuatannya itu, nikoh muda itu menghela
napas panjang, tegurnya: "Kalian sebetulnya siapa?"
"Li tootiang, kami berasal dari Bu khek bun!" sahut Seng
Tiong gak. "Aku tikak tahu apa yang di namakan Bu khek bun itu,


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tapi aku tahu penderitaan yang bakal kualami amat
mendalam sekali, andaikata kalian masih menganggap diri
kalian adalah orang-orang dari golongan pendekar,
sepantasnya kalau kamu semua akan merasa malu sendiri
dengan perbuatan yang telah dilakukan"
"Li totiang, kami belum selesai dengan penggeledahan
ditempat ini, apakah kau tidak merasa kalau ucapanmu
diutarakan ter lampau awal "'
"Kalian berani bertindak sewenang-we-nang ditempat ini,
apakah tidak takut ka-lau perbuatan tersebut akan
mendapat balasan dari malaikat?"
Ong Peng segera tertawa dingin, jengek-nya:
"Kalau kudengar dari nada pembicaraan-mu itu,
tampaknya kau juga bukan seorang pendeta!"
"Kau . . . kau. . . "
Kembali Ong Peng tertawa dingin, ujar-nya:
"'Nona dengan pengetahuan serta pengalaman yang
luas, terus terang saja perbuatan dan tingkah laku nona
selama ini masih belum dapat mengelabuhi diriku!"
"Kau betul-betul seorang berandal yang tidak
berpendidikan, setiap patah katamu bagaikan pisau tajam
yang melukai hati orang saja, sungguh membuat hati orang
menderita" "Nona, justru karena pengetahuan serta pengalamanku
yang luas, maka dalam sekilias pandangan saja aku sudah
tahu kalau nona bukan seorang manusia yang mudah dihadapi."
Cu Siau hong selama ini hanya berdiri di samping sambil
tersenyum belaka, tak sepatah katapun yang diucapkan,
sebaliknya Seng Tiong gak diam-diam telah mengerahkan
tenaga dalamnya sambil mengawasi gerak ge-rik nikoh
tersebut, kuatir kalau secara tiba--tiba ia melancarkan
serangan. Dalam pada itu, Sin Jut Ciu Heng lelah menghampiri
kehadapan patung arca Sam-cun dan melakukan
pemeriksaan juga dise-kitar tempat itu dengan seksama.
Kui Meh Ong Peng belum juga merasa puas, tiada
hentinya dia periksa setiap sudut ruangan.
Malah hampir tiap jengkal tanah yang ada disana tak ada
yang dilepaskan olehnya dengan begitu saja.
Paras muka si nikoh muda yang semula tenang sekali itu,
lambat laun mulai berubah menjadi agak tidak tenteram.
Cu Siau hong yang memperhatikan dari samping arena
dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas sekali.
Sementara itu Ong Peng sedang memeriksa disebelah
sudut dinding ruangan itu..
Tiba-tiba ia menemukan ditempat itu terdapat sebuah
ubin hijau yang kecil dan menonjol keluar.
Ubin tersebut penuh dilapisi oleh debu yang tebal,
seakan akan sudah lama sekali tak pernah disentuh orang.
Ong Peng segera meneliti ubin tersebut .... mendadak
berkumandanglah suara gemerin-cing keras yang
memekikkan telinga. Semua jago bersiap siaga menghadapi segala
kemungkinan yang tidak diinginkan.
Nikoh muda itupun cukup pandai menahan diri, sambil
tertawa hambar katanya. 'Tidak kusangka, kalau di tempat ini benar-benar ada
alat rahasianya, padahal sudah banyak tahun pinni tinggal
disini, namun rahasia tersebut belum juga kuketahui,
tampaknya tempat ini bukan suatu tempat yang baik, ada
baiknya kalau jangan berdiam terlalu lama lagi ditempat
seperti ini" Seusai berkata dia lantas berjalan menuju keluar.
Dengan cepat Seng Tiong-gak menghadang jalan
perginya seraya menegur dengan lantang:
"'Li-tootiang, kau tak boleh pergi dari sini!"
"Kenapa?" "Sebab jika dalam ruangan ini terjadi perubahan akibat
dari tergeraknya alat raha-sia tersebut, seandainya Litootiang
telah pergi dari sini bukankah kami akan terje-bak
dan menemui celaka ditempat ini"'.
"Masa dengan kehadiranku ditempat ini, maka tak bakal
terjadi perubahan apa-apa ditempat ini"'.
"Paling tidak, masih ada kau yang tetap tinggal disini
menemani kami!" "Sicu, seandainya aku bersikeras akan pergi juga dari
sini?" "Kalau begitu, terpaksa kau harus me-ngandalkan
kepandaian silatmu untuk mencoba menembusi pertahanan
kami" Nikoh muda usia itu segera tertawa dingin, katanya
dengan nada setengah mengejek:
"Sungguh tak disangka kalian beberapa o-rang lelaki
kekar hendak menganiaya aku seorang perempuan!".
"Yaa, apa boleh buat lagi, siapa suruh kedatanganmu
begitu kebetulan!" Mendadak Nikoh muda itu mengayunkan tangannya,
serentetan cahaya putih segera berkelebat menembusi
angkasa dan langsung meluncur ke arah Seng Tiong gak.
Selisih jarak antara kedua orang itu boleh dibilang dekat
sekali, apalagi serangan tersebut dilancarkan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, sesungguhnya
ancaman semacam ini tidak mudah untuk dihindari...
Untung saja Seng Tiong gak sudah melakukan persiapan
yang cukup matang, dengan cepat dia membalikkan
badannya dan tiba-tiba menghindar sejauh tiga jengkal
lebih dari posisi semula.
Cahaya putih itu berkelebat lewat disam-ping badan dan
langsung menancap di atas dinding seberang
ltulah sebilah pisau belati yang panjangnya mencapai
tujuh inci lebih sedikit.
Sesudah menghembuskan napas panjang, pelan-pelan
Seng Tiong gak berkata lagi.
'Li tootiang, sekarang apa yang hendak kau katakan lagi"
.. Nikoh muda itu tertawa manis, sahutnya..
"Tidak apa-apa lagi, tak kusangka kalau kalian semua
sesungguhnya adalah manusia yang susah untuk dihadapi."
Pelan-pelan dia melepaskan jubah panjangnya sehingga
tampaklah pakaian ringkasnya yang berwarna merah
dengan sulaman sekuntum bunga Bo tan di atas dada.
"Kau adalah Ang Bo tan?" Ong Peng segera menegur.
Gadis berbaju merah itu manggut-manggut.
"Yaa, akar lonio sudah berhasil kalian gali keluar,
terpaksa aku musti melepaskan jubah pendeta berwarna
hitam itu serta mengembalikan dandananku yang
sebenarnya." "Liok hoo, Ui Bwee, Ang Bo-tan, biasa-nya kalian bertiga
tak pernah berpisah sa-tu sama lainnya, kalau toh kau
berada disini, tentunya mereka juga berada disini bukan?"
"Betul, mereka berada dibalik pintu rahasia tersebut,
beranikah kau untuk memasu-kinya?"
Sementara itu disudut dinding ruangan telah muncul
sebuah pintu rahasia. Pintu itu kecil dan cuma muat untuk dilewati satu orang
saja. "Hati hati saudara sekalian!'' seru Ong Peng kemudian
memperingatkan, "Liok Hoo, Ui Bwee, Ang Bo-tan adalah
manusia-manusia ternama yang sukar dihadapi, harap
kalian semua lebih bersikap hati-hati lagi"
Ang Bo-tan tertawa lebar, serunya:
"Kalau berada disini mah, kami terhi-tung manusia yang
sukar untuk dihadapi"
"Nona!" ucap Cu Siau-hong kemudian, "kini rahasia
jejakmu sudah ketahuan, rasanya kaupun tak perlu untuk
merahasiakan sesuatu bukan?"
Ang Bo tan melemparkan sebuah kerli-ngan genit kearah
Cu Siau-hong, lalu bertanya .
"Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?"
"Aku ingin bertanya, apa kedudukanmu di dalam kebun
raya Ban hoa wan ini?"
"Aku tinggal didalam kebun raya Ban hoa-wan, menurut
pendapatmu apakah aku termasuk anggota kebun raya
Ban-hoa-wan atau tidak?"
"Jadi kalau begitu, nona telah mengakui akan hal ini?"
"Anggap saja sudah mengakui, Nah, apa pula yang bisa
kau lakukan atas diriku?"
Cu Siau hong tertawa. "Kelihatannya, meskipun nona cuma seorang wanita
belaka, namun memiliki semangat dan jiwa yang gagah
perkasa" "Wouw, akupun tidak menyangka kalau selembar bibirmu
itu pandai sekali berbica-ra"
"Nona, setelah kau berani mengakui sebagai anggota
kebun raya Ban hoa wan, aku pikir kau tentu berani
mengakui persoalan lain bukan" kata Cu Siau hong lagi
sambil tertawa. "Itu mah tergantung pada persoalan apa yang hendak
kau tanyakan, sebab ada sementara persoalan tidak
kuketahui, ada pula sementara persoalan meski kuketahui
sedikit, tapi tak bisa ku utarakan keluar"
Waktu itu sekalipun paras muka Cu Siau hong sudah
dirubah bentuknya, namun masih belum dapat menutupi
sikapnya yang gagah perkasa serta wibawanya yang besar,
o-leh sebab itu tampaknya Ang Bo tan lebih suka
berbincang-bincang dengannya dari pada dengan orang
lain. "Aku imgin tahu, termasuk dalam golongan yang
manakah orang-orang dalam kebun raya Ban hoa wan ini?"
ucap Cu Siau hong. "Oooh soal itu sebenarnya aku mengetahui sedikit
tentang persoalan ini, cuma sayang termasuk dalam
persoalan yang tak bisa ku utarakan kepadamu"
"Nona, andaikata kau tidak bersedia untuk
membicarakan persoalan ini, besar kemung-kinan jiwamu
akan melayang, entah bersediakah kau untuk
menjawabnya?" 'Aku benar-benar tidak merasakan mara bahaya apakah
yang sedang mengancam diriku sekarang"
Ada sementara mara bahaya yang kedatangannya secara
tiba-tiba, misalnya saja. . . ."
Tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya, cahaya
tajam berkilauan tajam, hawa pedang yang dingin
menggidikkan hati itu tahu-tahu sudah menempel di atas
tenggorokan Ang Bo tan."
Gerakan itu sungguh merupakan suatu gerakan
mencabut pedang yang luar biasa cepatnya.
Ang Bo tan menjadi tertegun, dan berdiri kaku bagaikan
patung, sepasang matanya mengawasi wajah Cu Siau hong
tanpa berkedip, kemudian tegurnya lirih:
"Kau. . . . sebenarnya siapakah kau?"
"Siaute tak lebih Cuma seorang Bu beng siau-cut
(prajurit tak bernama), kau tak usah kuatir. . ."
"Tak sedikit aku berkelana di dalam dunia persilatan,"
kata Ang Bo tan dingin, tidak sedikit pula ilmu pedang yang
pernah kujumpai, tapi belum pernah kutemui ilmu pedang
yang begini cepatnya seperti ilmu pedangmu itu, aku pikir
sudah pasti kau bukan manusia tanpa nama. . . ?"
Cu Siau hong tidak menanggapi perkataan itu, pelanpelan
dia berbicara, ucapnya: "'Nona, aku ingin mengetahui sedikit banyak rahasia
yang menyangkut soal kebun raya Ban Hoa wan, Liok Hoo,
Ui Bwee, Ang Bo-tan semuanya adalah manusia-manusia
termashur didalam dunia persilatan, aku rasa tentunya
kalian enggan mati diujung pedang seorang manusia tanpa
nama semacam aku bukan' Masing-masing pihak membicarakan ka-ta-katanya
sendiri, sehingga antara perta-nyaan dan jawaban boleh
dibilang sama sekali tiada hubungannya satu dengan yang
lain. Sembari mengajukan pertanyaan tadi, pelan-pelan Cu
Siau hong mendorong pedang nya jauh lebih ke depan.
Ujung pedang segera merobek kulit badan, darah segar
pun jatuh bercucuran membasahi tubuhnya.
Ang Bo tan merasa terperanjat sekali, dia tidak mengira
kalau musuhnya benar-benar akan turun tangan.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya dia lantas
berseru: "Kau. kau benar-benar hendak membu-nuhku .... "
"Benar! sahut Cu Siau hong dingin, aku memang benarbenar
akan membunuhmu! Belum lama aku terjun ke dunia
persilatan, aku memang butuh untuk membunuh beberapa
orang ternama dari dunia persilatan agar namaku bisa lebih
termashur pula didunia ini."
"Aku toh sudah bilang, tidak banyak yang kuketahui,
bahkan ada sementara persoalan yang sama sekali tidak
kuketahui." "Kalau begitu, utarakan saja semua yang kau ketahui!'
Ang Bo tan benar-benar tak ingin mati, terutama sekali
mati diujung pedang seseorang yang sama sekali tidak
ternama. Penampilan sikap Cu Siau hong yang tenang dingin dan
santai membuat orang tak bisa menduga suara hatinya
yang sebenarnya, itu menimbulkan kesan seolah-olah setiap
saat dia dapat mendorong pedangnya itu ke muka.
Ang Bo tan betul-betul mati kutunya, semua akal
muslihat dan siasat busuknya seakan-akan melempem dan
tak mungkin bisa dipergunakan lagi.
Cu Siau hong menghembuskan napas panjang, tegurnya
lagi: 'Mau bicara tidak kau" '
"Bicara aku mau bicara, tapi apa yang harus kukatakan?"
"Benarkah kebun raya Ban hoa wan ini a-dalah suatu
tempat yang dipakai untuk me-nyekap orang?"
"Menyekap siapa"'
"Menyekap seorang buronan penting!"
"Yaa, betul!" "Dimana letaknya"'
"Dibawah tanah, semua tempat penting di dalam kebun
raya Ban hoa wan ini letaknya dibawah tanah.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Nona, dapatkah kau membawa kami menuju ke sana"'
"Dapat saja, cuma lorong rahasia ditempat ini jauh
berbeda dengan lorong rahasia ditempat lain .....
'Itulah sebabnya kami meminta kepada nona untuk
membawa kami menuju kesana!"
"Sekalipun ada aku yang menjadi petunjuk jalan, mara
bahaya masih tetap akan mengancam datang dari manamana"
"Seandainya sampai terjadi ancaman mara bahaya, maka
yang bakal mampus duluan sudah pasti adalah nona
sendiri" "Dengan selembar nyawaku bisa ditukar dengan mati
hidup kalian beberapa orang, sekalipun harus mati, aku
juga mati tidak menyesal"
"Nona! keliru besar kalau kau berkata demikian,' kata Cu
Siau hong sambil tertawa. "kau anggap kami semua akan
menemani dirimu bersama-sama memasuki lorong rahasia
tersebut?" Tiba-tiba ia turun tangan menotok tiga buah jalan darah
penting ditubuh Ang Bo tan, kemudian melanjutkan:
'Mari berangkat!" "Ke mana?" tanya Ang Bo tau dengan paras muka
berubah hebat. "Ke lorong bawah tanah!"
'Siapa yang akan menemani diriku?"
"Aku!" Kemudian Cu Siau hong mengalihkan sinar matanya ke
wajah Kui Meh Sin Jut dan Seng Tiong gak seraya berkata:
'Harap kalian sementara menunggu aku sebentar disini!"
Sementara itu, semua orang sudah mena-ruh rasa
percaya yang amat besar terhadap diri Cu Siau-hong.
Dengan cepat Seng Tiong-gak berpesan.
"Siau hong, kau harus berhati-hati!"
"Tecu mengerti!"
Tiba tiba Ang Bo-tan berpaling seraya tertawa, katanya:
"Mari kita berangkat, aku akan menjadi petunjuk jalan
bagimu, cuma kau harus mengikuti aku dengan ketat,
soalnya lorong di-bawah tanah banyak cabang dan
persimpangannya, jalanan di situ sangat kacau balau, sekali
kurang berhati-hati bisa jadi kau akan tersesat, kalau
sampai begitu, jangan salahkan lagi diriku"
Cu Siau-hong tertawa, sahutnya:
"Akupun berharap kau bisa mengingat baik-baik
ucapanku, perubahan apapun yang bakal terjadi, yang
bakal mampus lebih dulu diujung pedangku adalah kau!"
Ang Bo-tan tidak berbicara apa apa lagi, dia lantas
beranjak menuju ke arah lorong bawah tanah itu.
Dengan ketat Siau hong mengikuti dibelakangnya.
Baru berjalan beberapa kaki, didepannya sudah tiada
jalan lewat lagi, sebuah dinding tebal menghadang jalan
pergi mereka selanjutnya.
"Nona, sekarang kita harus masuk dengan cara apa?"
tanya Cu Siau hong kemudian.
"Ditempat ini ada alat rahasianya, asal ku dorong dengan
tanganku, maka pintu rahasia tersebut akan muncul"
Tapi sayang sepasang lenganku sudah kau totok jalan
darahnya. "Kenapa tidak mempergunakan kaki?"
"Tempat itu tinggi sekali letaknya, sedangkan lorong ini
terlampau rendah dan sempit, aku tak mampu untuk
melompat ke atas." Kalau begitu, beritahu saja kepadaku, dimana letak
tombol rahasia tersebut"
Ang Bo tan segera membusungkan dadanya, dengan
payudara yang ada disebelah kiri dia menunjuk ke arah
dinding batu itu. "Disitu!" sahutnya.
Cu Siau hong segera menggerakkan pedangnya dan
menutul dengan ujung senjata tersebut.
Betul juga, diiringi tiga kali suara benturan keras yang
memekikkan telinga, bergemuruh suara gemerincingan
nyaring. Mula-mula dinding tembok itu roboh keta-nah dan
muncul sebuah pintu, menyusul ke-mudian pintu itu
membuka lebar dan terbentanglah sebuah lorong bawah
tanah didepan sana.. "Suatu arsitek yang bagus sekali" puji Cu Siau bong
kemudian sambil manggut--manggut.
Ang Bo-tan segera tertawa lebar katanya.
'Memang bagus sekali arsiteknya apalagi setelah jalan
kembalimu tersumbat oleh sebuah pintu baja, jangan harap
kau bisa kemba-li lagi keatas dengan selamat"
"Oooh ....akhirnya kau bermain curang juga
dihadapanku?" Ang Bo tan tertawa cekikikan.
"Sekalipun kau membunuh diriku, kau sendiri juga
mungkin akan termenung untuk selamanya ditempat ini,
maka lebih baik kau jangan terburu napsu.
"Kalau begitu, kau bersiap-siap untuk mengajukan syarat
kepadaku?" "Tepat sekali'"
"Baik, katakanlah` "Tempat ini adalah sebuah tempat yang terpencil, jika
aku mati, kau pun bakal tersekap selamanya ditempat ini"
"Aah, belum tentu demikian, bila kubunuh dirimu lebih
dahulu mungkin aku masih punya kesempatan"
"Saudaraku, buat apa kau musti bertindak demikian"
Kalau dilihat dari usiamu yang begitu muda, aku rasa kau
pasti belum pernah menikah bukan?"
"Berkobar hawa amarah didalam hati Cu-Siau hong., tapi
ia masih berusaha keras untuk menahan diri, katanya
sambil tertawa: "Apakah kau berniat untuk kawin denganku?"
"Yaa, enci memang bermaksud demikian, cuma kuatirnya
bila saudara cilik tidak pandang sebelah mata kepadaku"
"Perkataanmu itu memang tepat sekali!"
Itulah sebabnya tak ada salahnya kalau kita menjadi
suami istri untuk beb-rapa hari saja''
''Selanjutnya"'' "Aku akan mencarikan akal lagi bagimu untuk keluar dari
tempat ini" "Jadi inilah syaratmu?"
"Benar!" 'Dalam kebun raya Ban hoa wan ini terdapat banyak
sekali jago lihay, aku rasa seharusnya kau mempunyai
beberapa sahabat bukan ditempat ini?"
Sahabat sih ada, cuma kurang mencocoki hati dan
seleraku" "Sayang akupun tidak mempunyai gairah untuk
memenuhi keinginanmu itu ........"
'Kalau hidup tak bisa menjadi suami is-tri, terpaksa kita
harus mati didalam satu liang."
Mendengar ancaman tersebut, diam-diam Cu Siau hong
berpikir didalam hatinya:
''Tampaknya budak ini tidak takut terhadap ancaman
atau gertak sambal, aku musti mempergunakan sedikit akal
untuk mempecundangi dirinya ."
Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa ewa, kemudian
ujarnya dengan lembut. "Ang Bo tan, setelah kita menjadi saha-bat, apakah kau
mengajakku pergi meninggalkan tempat ini?"
"Benar!" "Aaai. . . Aku menjadi sedikit kuatir.'
"Kuatir" Apa yang kau kuatirkan'
"Aku kuatir setelah kau menghinati pi-hak kebun raya
Ban hoa wan, meski dunia ini luas, takutnya sudah tiada
tempat lagi bagimu untuk berpijak kaki."
"Oooh ....terlalu banyak yang kau pikir-kan!'' ujar Ang Bo
tan sambil tertawa. "Setiap persoalan yang kupikirkan selalu kupikirkan
dalam-dalam dan luas, setelah kita menjadi sahabat, tentu
saja aka tak i-ngin mengikutimu melarikan diri sepanjang
tahun" Jilid 20 "Kau bilang apa?" seru Ang Bo tan ti-ba-tiba dengan
wajah tertegun dan kaget.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, andaikata kau
sampai menghianati kebun raya Ban hoa wan, maka
bagaimanakah keadaan yang bakal kau hadapi waktu itu?"
Ang Bo-tan manggut-manggut.
"Tentu saja mereka akan mengirim orang untuk
mengejarku, kemudian membinasakan diriku" sahutnya.
"Nah, itulah dia, kalau sampai begitu, bukankah kita
harus melarikan diri saban hari untuk menghindarkan diri
dari pengejaran mereka?"
"Oooh! Kalau begitu, tampaknya kau benar-benar
menaruh perhatian khusus kepadaku"..
"Nona, masalah ini adalah suatu-simpul mati, apabila kita
gagal untuk melepaskan simpul mati ini, sekalipun kita bisa
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, lebih baik
lagi kalau kita mati saja ditempat ini"..
"Kalau-kita bisa hidup sehari lebih lama, kenapa kita
tidak hidup sehari lebih lama lagi?" .. . . .
"Andaikata saban hari kita dikejar-kejar orang dan harus
melarikan diri kesana kemari, sekalipun hidup juga amat
menderita, toh lebih baik mati saja."
"Saudara cilik, sungguhkah perkataanmu?"
"Seandainya kau tidak berhasil menemu-kan cara yang
terbaik untuk menyelamatkan diri, sekalipun setiap patah
kataku itu jujur apa pula gunanya?"
Ang Bo tan termenung dan berpikir bebe-rapa saat
lamanya, kemudian berkata:
"Kau datang bersama orang Kay-pang, a-ku pikir
hubunganmu dengan pihak Kay--pang pasti akrab sekali
bukan?" "Yaa, akrab . . . . akrab sekali!"
"Bagus sekali, jika Kay pang bersedia membantu kita,
maka kitapun tak usah ta-kut terhadap mereka lagi" .
"Apakah kita akan bersembunyi didalam Kay-pang?" .
"Betul, kita bersembunyi didalam perkum-pulan Kaypang,
walaupun pengaruh dan kekuatan Ban hoa wan amat
besar, aku yakin mereka masih belum berani mengusik
Kay-pang. "Waah, kalau soal itu mah aku rasa kurang begitu
leluasa. Aku berasal dari perguruan Bu khek bun, jika
sampai bergabung dengan Kay pang, bukan saja tindakanku
tadi telah melanggar pantangan besar bagi umat persilatan,
lagipula peraturan perguruanku juga tak akan membiarkan
aku berbuat semaunya sendiri, waktu itu, pihak yang akan
membunuh kita akan bertambah banyak lagi, sebab Bu
khek bun sudah pasti tak akan melepaskan diriku."
"Yang diandalkan Bu khek bun selama ini Cuma Tiong
Ling kang, kini Tiong Leng kang sudah mati, perkampungan
Ing gwat san-ceng juga sudah musnah tertelan api, siapa
lagi yang kau kuatirkan?"
"Nah, masuk perangkap kau!" pikir Cu Siau hong didalam
hati. Namun pemuda itu tidak terlampau tergesa-gesa, sambil
mengalihkan pembica-raan ke soal lain, ujarnya:
"Tapi. . . dalam perguruan Bu khek bun masih ada orang,
sebelum menghembuskan napas terakhir, mendiang guruku
telah menyerahkan kedudukan ciangbunjin kepada toa
suhengku. . ." "Masa kau juga takut dengan suhengku?" sela Ang Bo
tan cepat. "Tentu saja, jelek-jelek dia kan suhengku juga, tentu
saja kepandaian silatnya lebih hebat dari pada
kepandaianku. masa aku tidak takut kepadanya?"
"Masa cara suhengmu mencabut pedang masih jauh lebih
cepat daripada dirimu?"
"Tepat sekali! Dia adalah suhengku, tentu saja
gerakannya mencabut pedang jauh lebih cepat daripada
diriku" "Aku sudah pernah menyaksikan permainan ilmu pedang
Cing peng kiam hoat dari perguruan Bu khek bun kalian,
tapi aku rasa gerak serangan tersebut tak ada yang
sedemikian cepatnya"
'Permainan ilmu pedang Cing peng kiam hoat telah
memperoleh kemajuan yang pesat sekali, itulah sebabnya
kami dianggap sebagai duri dalam mata oleh pemilik kebun
rata Ban hoa wan ini, sebab itu pula perkampungan Ing
gwat san ceng dibakar, Bu khek bun dimusnahkan ....."
Ternyata Ang Bo-tan tidak bermaksnd untuk membelai
Ban Hoa wan sebaliknya dia berkata pula:
"Andaikata setiap orang dalam Bu khek bun bisa
mencabut pedang dengan kecepatan seperti kau. aku rasa
Bu khek bun tak nanti akan musnah di dalam semalam
saja" Mendengar sampai disitu diam-diam Cu Siau hong
berpikir. "Inilah kesempatan yang amat baik, paling tidak hari ini
kuselidiki dahulu kisah penyer-buan mereka terhadap
perkampungan Ing -gwat san ceng kemudian baru berusaha
untuk menyelidiki dimana It ki sute disekap mereka ...."
Tapi diapun mengerti, andaikata pihak lawan mengetahui
kalau dirinya sedang memancing dengan mempergunakan
siasat licik, sampai matipun gadis itu tak nanti akan
berbicara. Jadi boleh dibilang, pertarungan adu ke-cerdikan yang
berlangsung kali ini adalah suatu pertarungan adu
kecerdikan tingkat ting-gi, dan harus berbuat sedemikian
rupa se-hingga pihak lawan sama sekali tidak menyadari
kalau dirinya sedang dipancing.
Sesudah mengambil keputusan didalam ha-ti, dia
menghembuskan napas panjang kemudian duduk kembali,
ujarnya. "Nona. tentunya kau tidak turut serta di-dalam
penyerbuan dan pertarungan malam dalam perkampungan
Ing gwat san ceng." "Sekalipun aku tidak turut serta, namun aku sempat
mendengar mereka membicarakan persoalan ini, konon


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

anak murid Bu khek bun tidak kuat menahan serangan,
maka dengan cepat perkampungan Ing-gwat san ceng
berhasil dimusnahkan"
"Mereka melancarkan serangan secara licik, lagi pula
sudah mempersiapkan musuh dalam selimut, tak heran
kalau perguruan Bu khek bun tak kuat menahan serangan
mereka" "Oooh.... tampaknya tidak sedikit latar belakang
peristiwa ini yang berhasil kalian ketahui?" .
"Sekalipun tidak diselidiki, asal dilihat dari cara mereka
roboh serta pedang yang belum sempat diloloskan,
semuanya sudah tampak amat jelas .........."
"Konon pada waktu itu Tiong Leng-kang tidak hadir
dalam perkampungan ....."
"Suhuku, sunio, susiok, toa suheng semuanya tidak
berada dalam perkam-pungan, asal seorang saja diantara
mereka hadir dalam perkampungan dan memberi perintah,
tidak akan segampang itu mereka berhasil memunahkan
perguruan kami" 'Apa yang sedang dilakukan suhumu waktu itu?"
Cu Siau hong segera berpikir:
"Aku tidak boleh berbohong dalam soal ini!"
Maka dengan terus terang katanya:
'Suhuku sedang bertarung melawan anak murid Khi kang
bun dari Pak hay, akibatnya kedua belah pihak sama-sama
terluka" "Ehmmm, ternyata kau jujur sekali dan tidak berbicara
bohong ..... " bisik Ang Bo--tan.
'Sekarang ini saat apa dan dalam keadaan apa" Mati
hidup saja masih tanda tanya, kenapa aku musti
membohongi dirimu?" Ang Bo tan manggut-manggut.
"Seandainya setiap anak murid Bu khek -bun bisa
melatih ilmu pedangnya hingga mencapai kecepatan seperti
apa yang kau miliki, sekalipun bu tong sam kiat (tiga orang
gagah dari Bu tong pay) juga belum tentu mampu untuk
menandinginya" Cu Siau-hong tak ingin membiarkan masalah
pembicaraan tersebut dibawa semakin jauh dari pokok
persoalannya, sambil menghela napas panjang segera
tukasnya: "Tahukah kau tentang Hek pa kiam su?"
Ang Bo tan ragu-ragu sebentar, tapi akhirnya dia
manggut-manggut juga .....
Cu Siau hong segera berkata lebih jauh:
"Kami telah berhasil membunuh empat o-rang
diantaranya, konon para pendekar pedang macan kumbang
hitam itulah merupakan pokok kekuatan yang menyerbu
perkampungan Ing gwat san ceng tempo hari"
Ang- Bo tan menjadi tertegun beberapa saat lamanya,
kemudian sahutnya: "Jadi kalian benar telah membinasakan empat orang
pendekar pedang Hek pa kiam su?"
'Buat apa aku membohongi dirimu?"
"Kalau begitu tak aneh lagi"
"Apa maksudmu?"
'Tak pernah kalau pihak kebun raya Ban hoa wan telah
menganggap kalian sebagai musuh besar, tak heran pula
penjagaan yang dilakukan di tempat ini amat ketat ......"
Cu Siau hong menggerakkan tangan kanan nya
membebaskan kedua buah jalan darah penting di tubuh Ang
Bo tan, kemudian serunya:
"Nona, lancarkan dulu peredaran darah didalam
tubuhmu! Tampaknya kemungkinan kita terkurung ditempat
ini besar sekali" "Kenapa?" . Seandainys kita meninggalkan tempat ini, maka itu pasti
akan dikejar-kejar oleh ke dua pihak, tidak meninggalkan
tempat ini, terpaksa kita harus mati kelaparan di tempat
ini" Ang Bo tan menjadi termangu-mangu dengan perasaan
bimbang, setelah menggerakkan sebentar sepasang
bahunya, dia berkata: "Saudara cilik, berapa usiamu tahun ini?"
"Aku musti memperbesar usiaku dengan dua tahun lebih
tua" pikir Cu Siau hong.
Berpikir demikian ia lantas menjawab:
"Siaute sudah melewati dua puluh satu kali musim
gugur!'.. "0ooh, kalau begitu aku empat tahun lebih tua darimu,
sudah sepantasnya kalau kau menyebutku sebagai cici."
Cu Siau hong tertawa getir, katanya:
"Mau menyebut enci juga boleh, menyebut nona juga
boleh, yang pasti kita bakal mampus disini."
Pemuda ini memang pandai sekali bersandiwara,
membuat Ang Bo tan yang sudah banyak
berpengalamanpun dibikin agak terpesona olehnya.
Ang Bo tan mengerdipkan matanya berulang kali,
kemudian katanya: "Saudara cilik, kau benar-benar menyukai aku?"
"Sekalipun menyukai dirimu, apa pula gunanya" Sepuluh
hari kemudian toh kita akan berubah juga menjadi
sepasang mayat"."
"Andaikata kita tinggalkan tempat ini, mungkinkah Bu
khek bun akan emnampung kita berdua?" tanya Ang Bo tan.
"Bu khek bun tidak melarang lelaki perempuan berkasihkasihan,
asal muncul dari dasar rasa cinta yang murni,
menikahpun juga tak apa, Cuma saat ini aku tak berani
memastikan apakah mereka akan menerima kita atau
tidak!" Ang Bo tan menghembuskan napas panjang, lalu
katanya. "Saudaraku, nama cici di dalam dunia persilatan kurang
begitu baik, tapi sekarang, tampaknya aku sudah mulai
menaruh rasa cinta kepadamu. . . ."
"Aaah, masa secepat itu?" sela Cu Siau hong.
"Kau tidak mengerti, pengalamanku terlalu banyak, tapi
aku justru menganggap enteng segala-galanya, aku
sungguh tidak tahu akan perasaan diriku sendiri, tapi
setelah bertemu dengan kau, tiba-tiba aku merasa bahwa
diriku. . . ." "Dirinya kenapa" Ang Bo tan tidak berkata lebih jauh,
setelah menghela napas katanya kembali:
"Aku tahu, cici tidak pantas untuk mendampingi dirimu,
aku Cuma berharap bisa menemanimu sepanjang masa, hal
itu sudah cukup memuaskan diriku, mau menjadi gundik
juga boleh, jadi pelayan juga boleh, cici tidak
memperdulikan soal nama dan kedudukan"
Mendengar perkataan itu Cu Siau hong menjadi terkejut,
segera pikirnya dihati: "Tampaknya dia sudah mempergunakan siasat juga
untuk menghadapi diriku, aku harus bertindak hati-hati, aku
tak boleh terjerumus lagi ke dalam jaringan cintanya
sehingga menjadi barang mainannya!"
Sementara dia masih termenung, Ang Bo-tan telah
bertanya lagi. "Sekarang, Bu khek bun dikuasahi oleh siapa?"
"'Tentu saja oleh ciangbun suheng'
"Bagaimanakah watak serta perangainya"''
"Sekalipun tegas namun tidak mengurangi
kebijaksanaannya, dia adalah seorang manu-sia yang
pandai mempertimbangkan keada-an'
`Bagaimana pula dengan suniomu?"
"Sunio berwelas kasih dan berhati bajik, beliau
menganggap kami semua bagaikan terhadap putra putrinya
sendiri" "Kalau begitu, asal kita mau memohon kepadanya, siapa
tahu dia bersedia pula untiuk menampung kita?"
"Berbicara dari perangai serta tabiat dari sunioku,
mungkin ia masih bisa menampung kita, cuma kalau kita
hanya berbicara melulu, belum tentu dia mau
mempercayai-nya." Ang Bo tan termenung beberapa saat lamanya, kemudian
berkata: "Siau hong, bagaimana senadainya kita membuat jasa
yang besar bagi mereka. . . ?"
"Membuat jasa besar ?" perkataan Cu Siau hong agak
tergerak, "jasa besar apakah itu?"
-ooo0ooo- BAGIAN 23 KITA pergi menolong seseorang yang maha penting,
kemudian mempersembahkan kepadanya.
Cu Siau hong merasa gembira bukan kepalang, hampir
saja dia akan memperli-hatkan rasa girangnya itu, tapi
sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan diri, tanyanya:
"Manusia maha penting macam apakah itu?"
"Tentu saja orang yang penting sekali artinya bagi Bu
khek bun kalian." Setelah tertawa, lanjutnya.
"Kalian melakukan pencarian besar-besaran kesana
kemari, masa bukan dia yang sedang kalian cari?"
Diam-diam Cu Siau hong kembali berpikir:
"Kelihatannya aku tak bisa berlagak pilon lagi. . .
Setelah menghela napas, sahutnya:
"Kami sedang mencari seseorang, Cuma tidak kami
ketahui apakah orang itu masih hidup di dunia ini atau
tidak' "Siapakah dia?"
"'Tiong It-ki sute, satu-satunya keturunan dari mendiang
guru kami" "Oooh, dia bernama Tiong lt-ki!"
Benar, kami memang sedang mencarinya."
'Bila berhasil menemukan dirinya, apapula kebaikannya
buat kita berdua ....?"
"Mungkin toa suheng akan memandang di atas
keberhasilanku menemukan kembali It-ki sute, maka ia
bersedia menampung kita' "Kau mengatakan kita, itu berarti termasuk kau dan
aku?" "Tentu saja, tapi kemana kita harus mencari Tiong It ki!''
Ditempat ini memang ada seorang pemuda yang disekap,
cuma aku tidak tahu apakah dia betul yang bernama Tiong
It ki atau bukan" Oooh....." Macam apakah orang itu?"
"Kira-kira berusia tujuh delapan belas tahunan, wataknya
keras dan konon dia berpuasa, tak mau makan apa-apa''
"Berpuasa dan tak mau makan apa-apa?" seru Cu Siauhong
gelisah, "lama kelamaan kan akhirnya bakal mati
kelaparan!" Ang Bo tan segera tertawa.
"Sekalipun dia tidak bersedia makan, tapi kamipun tidak
berharap ia mati kelapa-ran, tentu saja kami selalu
berusaha untuk membiarkan dia makan"
"Aaai.......! Sekalipun dia masih hidup, kita juga tak akan
sanggup untuk menyelamatkan dirinya dari situ!''
"Soal itu sih bisa kuatasi, cuma aku tetap masih
menguatirkan satu hal"
"Soal apa?" "Aku kuatir kau akan membohongi diriku!"
'Membohongi dirimu" Kenapa aku musti membohongi
dirimu?" "Bu khek-bun kalian boleh dibilang ter-masuk salah satu
perguruan lurus dalam dunia persilatan, aku kuatir kalian
tak akan sudi untuk menampung manusia yang berna-ma
busuk seperti aku ini'' "Soal ini. . . soal ini. . . aku rasa tak mungkin! Kau telah
menyelamatkan Tiong It ki, mempertahankan keturunan
dari mendiang guruku, kami semua orang Bu khek bun
pasti akan merasa berterima kasih sekali kepadamu."
"Berterima kasih kepadaku adalah satu persoalan,
bersedia menampung aku atau tidak adalah persoalan lain,
maka sekarang lebih baik kita bicarakan dulu syaratnya"
"Syarat apa" Katakanlah, asal bisa kululuskan, tentu tak
akan kutampik." "Pertama, Bu khek bun harus bersedia untuk
menyelindungi keselamatan jiwaku."
"Masih ada yang kedua?"
"ADA ! Kedua, aku minta untuk tinggal disisimu untuk
selamanya. "Soal itu tak berani kululuskan dengan begitu saja,
sekalipun perguruanku menyetu-jui tapi aku masih
mempunyai orang tua, persoalan ini harus kumintai
persetujuannya dulu dari mereka berdua"
"Tak usah kuatir, permintaanku tak akan terlampau
berlebihan!" "Kau ingin. . . ."
"Aku cuma berharap kau meluluskan permintaanku untuk
tetap berada disamping mu selamanya, entah apapun
kedudukanku nanti" 'Jadi pelayanpun kau juga bersedia?"
'Bersedia, aku telah berkata, nau dijadikan gundik atau
pelayan aku tetap bersedia"
Melihat kebulatan tekad orang, Cu Siau hong segera
menghela napas panjang. "Aaai . . . nona, buat apa kau musti bersikeras untuk
melakukan kesemuanya itu?"
Ang Bo tan tertawa getir.
"Kau anggap aku benar-benar tidak me-ngerti apa-apa"
Cu siangkong, aku cuma..."
Cu Siau hong juga tertawa getir, tukasnya kemudian. .
'Baiklah, kalau memang begitu aku ber-sedia meluluskan
permintaanmu itu, tapi a-kupun berharap kau bisa teringat
selalu denagan ucapanmu itu dan tak boleh mengaju-kan
permintaan yang berlebihan"
Dengan sedih Ang Bo tan tertawa.
"Cu kongcu" katanya, "aku cukup memahami akan diriku
sendiri, akupun tahu bahwa diriku ini adalah seorang
perempuan binal yang tidak disukai banyak orang,
perguruan-perguruan kenamaan juga enggan mengadakan
kontak dengan kami manusia semacam ini...."


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apakah inilah yang menjadi alasan ba-gimu untuk
mengikuti aku?" "Tentu saja soal ini tak bisa dianggap sebagai suatu
alasan tukas Ang Bo tan, "yang paling penting adalah
secara tiba-tiba aku menjadi muak sekali dengan
penghidupanku dimasa lampau"
'Apakah ditempat ini kau merasa terlampau kesepian,
maka membuat dirimu mengalami banyak perubahan?"
"Untung saja selama ini aku bisa mempunyai suatu
penghidupan yang cukup panjang dan kesepian, sehingga
memberi kesempatan bagiku untuk memikirkan banyak
persoalan yang paling penting lagi adalah aku telah merasa
bahwa diriku adalah seorang manusia, tapi merasakan
suatu penghidupan yang bukan penghidupan seorang
manusia" "Oooh .... lantas apa pula yang sebenarnya telah
terjadi?" "Dimasa lalu, kami tiga bersaudara bersama-sama
mengembara dalam dunia persilatan dengan sikap kami
yang binal dan genit, ti-dak sedikit kejadian romantis yang
telah terjadi dalam dunia persilatan selama ini, dalam
masa-masa tersebut kami merasa girang sekali dengan
permainan semacam itu, kami bermain menuruti suara hati
sendiri dan tak pernah memikirkan soal yang lain, juga
tidak merasakan penghidupan macam apakah yang
sebenarnya sedang dilewati, juga tidak memikirkan soal
gengsi, martabat ataupun nama baik, untung saja kami
harus merasakan penghidupan yang cukup lama dalam
kebun raya Ban hoa wan ini dalam keadaan kesepian, hal
mana membuat kamipun teringat akan banyak persoalan,
juga mengalami banyak sekali penderitaan sekalipun tubuh
kami boleh dibilang sudah kotor dan tidak suci lagi, tapi
perasaan hati kecil kami sesungguhnya merasakan suatu
penderitaan dan siksaan yang luar biasa sekali besarnya"
"Nona, apakah kau bisa terangkan sedikit lebih jelas lagi,
sesungguhnya penderitaan macam apakah yang telah kau
rasakan?" "Kau benar-benar tidak mengeri?"
Cu Siau hong orangnya memang cerdik tapi
pengetahuannya masih terlampau cetek, apalagi soal
hubungan antara lelaki dan perempuan serta hubungan
seks, banyak hal yang sesungguhnya tidak ia pahami.
Maka sambil manggut-manggut katanya.
"Nona ada sementara persoalan memang tidak
kupahami" Ang Bo tan termenung dan berpikir se-bentar kemudian
katanya.. "Cu kongcu, kau sudah pernah berteman dengan
perempuan?" "Aku pernah berkenalan dengan dua o-rang gadis, tapi
oleh karena tidak terlalu sering berjumpa, jadi tak bisa
dibilang sahabat kami "Baiklah kalau begitu akan kukatakan dengan terus
terang saja'' "Aku bersedia untuk mendengarkannya dengan
seksama!" "Dikala kami tiga bersaudara sedang berkelana didalam
dunia persilatan dan mengobral cinta disana sini, secara
tiba-tiba kami telah berjumpa dengan seseorang, seorang
lelaki yang tampan dan sangat menarik hati"
'Bukankah kejadian ini merupakan suatu perjumpaan
yang bagus sekali?" "Kejadian yang kami alami hari ini tak lain adalah akibat
dari perjumpaan kami denigan orang itu"
"Oooh . . . . ?"
Mukanya masih tetap diliputi oleh rasa bimbang dan
tidak habis mengerti, jelas kejadian tersebut masih belum
begitu dipaha-mi olehnya .
Ang Bo tan segera menghela napas pan-jang, katanya
lebih jauh. "Sedemikian tampannya orang itu mem-buat kami tiga
bersaudara betul-betul terpikat hatinya kepadanya"
"Oooh ....." Manusia macam apakah diri-nya itu?"
"Dia bernama Ji kongcu, ada juga yang menyebut Ji
sauya, tapi adapula yang memanggil Keng kongcu
kepadanya" "Apakah dia she Keng?"
"Benar!" "Jadi lengkapnya Keng ji kongcu?" Ang Bo tan segera
mengangguk. Cu Siau hong segera berkata lebih jauh.
"Dahulu Go hong Li eng mempunyai seorang suami yang
sama sehingga menimbulkan ceritera yang turun temurun
sampai sekarang, kini kalian tiga bersaudara bersama-sama
mencintai satu orang asal diantara kalian bisa saling
mengalah dan saling menyesuaikan diri, peristiwa semacam
itu sesungguhnya tidak terhitung sesuatu persoalan
yang melanggar hukum!"
Dengan sungguh hati kami mencintai dirinya, tapi dia
dengan cepat menjadi bosan dengan kami, setelah
membawa kami ke kebun raya Ban hoa wan ini, kami
disuruh menyaru sebagai nikoh dan ditugaskan menja-ga
kuil kecil ini" "Perbuatan itu toh tidak termasuk suatu tindakan yang
sangat tercela. . ?"
"Ia sama sekali tidak menganggap seba-gai manusia,
jika lagi senang kamipun diundang kesana untuk
melampiaskan napsu bi-rahinya, setelah itu kami dihantar
kembali ke sini dan menjadi nikoh lagi untuk menjagakan
kuilnya." "Apakah kalian tidak dapat pergi mencarinya"''
"Tidak dapat, kami tak akan bisa mene-mukan dirinya,
sekalipun berhasil menjumpainya, paling tidak juga dicaci
maki habis-habisan, kemudian dikirim balik lagi kemari'
"Mengapa kalian tidak melawan?"
Ang Bo tan segera menghela napas panjang, sahutnya:
"Niat untuk membangkang sebetulnya pernah juga
muncul dalam hati kami, tapi entah apa sebabnya kami tak
pernah mampu untuk mengembangkan rasa beraninya itu"
"Apa pula sebabnya?"
Ang Bo tan termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian sahutnya:
"Pertama, kepandaian ilmu silat yang dimilikinya sangat
lihay, kami bertiga tak akan mampu menahan sepuluh
gebrakan ditangannya, kedua, diapun mempunyai
kewibawaan yang sangat besar, membuat siapa saja tidak
berani membangkang jika berada dihadapannya."
"Oooh. . . ada kejadian seperti ini! Sebetulnya manusia
macam apakah dirinya itu?"
"Usianya belum mencapai tiga puluh tahunan, mukanya
tampan dan bersih, matanya memancarkan sinar tajam dan
tampak berwibawa sekali"'
Mendengar ucapan itu, Cu Siau hong menghela napas
panjang. "Waaah. . . kalau begitu aku jadi kepingin sekali untuk
bisa berjumpa muka dengannya?"
'Cu kongcu, aku berharap kau jangan sampai berjumpa
muka dengan dirinya .... ?"
"Kenapa"' "Dia berhati kejam, busuk dan tak mengenal peri
kemanusiaan, salah berbicara sepatah kata saja dia bisa
turun tangan untuk membunuh orang, sesungguhnya dia
bukan seorang manusia yang mudah untuk dihadapi"
Cu Siau hong manggut-manggut, katanya:
"Jika suatu yang tiada ditumpuk selama bertahun-tahun,
akhirnya mungkin menjadi ada, bila suatu pengaruh
ditanamkan bertahun-tahun, maka akhurnya perasaan
kalian terkendalikan olehnya, sebab itulah meski kalian
merasa dirinya dipermainkan oleh dirinya, akan tetapi
kalian sama sekali tak berani menaruh keinginan untuk
menghianati dirinya"
"Yaa, mungkin demikianlah keadaannya, cuma setelah
aku berjumpa dengan kongcu, tiba-tiba saja dari hati
kecilku muncul semacam semangat dan keberanian untuk
melawan pengaruhnya itu"
"Aaaai. . . . ! Tapi jika kau sampai berjumpa lagi dengan
dirinya, keberanian tersebut mungkin akan lenyap secara
tiba--tiba" Ang Bo tan agak tertegun, kemudian sa-hutnya:
"Aku belum pernah memikirkan persoa-lan tersebut
dalam hati" Cu Siau-hong tertawa, ujarnya:
"Nona sampai sekarang kau cuma pernah menyaksikan
caraku mencabut pedang, kau belum melihat kepandaian
silatku yang se-benarnya, darimana kau bisa merasa begitu
yakin jika aku sanggup untuk melindungi keselamatan
jiwamu?" Ang Bo tan menjadi tertegun, setelah itu selapis rasa
bingung menghiasi wajahnya, dia berkata:
"Soal ini, aku . . . . "
Padahal, Cu Siau hong sendiripun tidak habis mengerti.
Diapun sedang berpikir, baru pertama kali mereka saling
bersua, mengapa Ang Bo--tan bisa menaruh kepercayaan
penuh terha-dap dirinya"
Tapi Cu Siau hong juga dapat melihat bahwa
kepercayaannya itu bukan hanya kepercayaan yang
terbatas hanya dibibir saja, melainkan rasa percaya yang
benar-benar muncul dari kejujuran hatinya.
Terdengar Ang Bo tan menghela napas panjang, lalu
katanya: Aaai, persoalan ini sebenarnya tidak mudah untuk
dijelaskan, andaikata kongcu tidak menyinggungnya,
akupun tak akan berpikir sampai kesitu, tapi sekarang
kongcu telah menyatakan, aku menjadi tidak ta-hu apa
yang musti kujawab" Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Cuma, rasa percayaku terhadap kongcu, benar-benar
muncul dari sanubari yang jujur."
"Soal ini aku mengerti, cuma yang tidak kupahami
adalah manusia berpengalaman macam nona yang sudah
lama melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan,
sudah sering kali menghadapi ancaman badai yang besar,
kenapa pula dengan begitu gampang kau percayai
seseorang yang baru pertama kali dijumpai..."
"Aku tidak memiliki kewibawaan seperti Keng ji-kongcu,
juga tidak memilikiRi kemampuan untuk menaklukkan
orang, tapi sikap nona terhadapku ternyata begini ...."
Tampak secara tiba-tiba ia berhasil menangkap sesuatu"
Teringat akan sesuatu"
Perasaan bingung dan bimbang yang semula menghiasi
wajah Ang Bo tan pun lambat laun menjadi luntur kembali,
dalam detik yang amat singkat itu dia pun seakan-akan
telah teringat akan sesuatu"
Ketika sepasang mata berjumpa mereka saling
berpandangan lama sekali, suasana pun hening tak
kedengaran sedikit suarapun.
Lama, lama sekali, Ang Bo tan baru berkata:
"Cu kongcu, manggut-manggut katanya:
"Baik, harap nona katakan agar akupun bisa turut
mendengarkan ....." Mungkin perjelasanku tak bisa kau pahami, tapi aku telah
berhasil menemukan suatu perumpamaan ...."
Setelah membereskan rambutnya yang kusut, dia
melanjutkan: "Seperti seseorang yang tercebur di tengah samudra luas
dan berpegangan di atas sebuah balok kayu, dia merasa
balok kayu itu merupakan satu-satunya benda yang bisa
melindungi keselamatan jiwanya, maka dia tak berani lepas
tangan, sebab dia masih tetap terendam didalam air laut
yang dingin." Cu Siau hong manggut-manggut.
Maka Ang Bo tan berkata lebih jauh:
"Menanti dia telah melihat daratan baru diketahui
olehnya kalau tempat tersebutlah baru benar-benar
merupakan tempat yang aman, walaupun perjalanan cukup
jauh, tapi dia telah menemukan setitik harapan. dia pun
baru berani melepaskan balok kayu itu dan berenang
menuju ke tepi pantai, mungkin selama hidup ia tak pernah
berhasil mencapai daratan tersebut, tapi toh bagaimanapun
juga ia sudah mempunyai tujuan, harapan yang besar
menimbulkan pula keberanian yang besar, sekalipun
akhirnya dia mati tenggelam ditengah samudra, dia tak
akan mati dengan perasaan penasaran ...."
"Tanpa lampu lentera, selamanya me-mang susah untuk
melepaskan diri dari kegelapan"
"Selama ini kami selalu hidup didalam kegelapan" lanjut
Ang Bo tan, "kami tak pernah melihat cahaya, tak pernah
melihat sinar lentera, oleh sebab itu kami selalu mencari,
menanti dan sekarang, pada akhirnya kita berhasil juga
melihatnya." "Melihat apa ?"
"Melihat cahaya lentera tersebut, melihat sinar terang
itu, mau lentera juga boleh, sinar juga boleh, tapi
kesemuanya itu telah memberi keberanian yang besar
bagiku, memberi semangat juang yang besar dalam hatiku,
membuat niat membangkang dan memberontak yang sudah
lama tertanam di dalam hatiku semakin menggelora dan
berani diutarakan keluar"
"Benarkah aku mempunyai kegunaan sedemikian
besarnya?" "Aku berbicara dengan sejujurnya, ka-lau dibicarakan
sesungguhnya aneh sekali, kau seakan-akan memiliki
semacam kekuatan yang membuat kami berani untuk
meninggalkan Keng ji kongcu"
Cu Siau hong terbungkam dalam seribu bahasa, dia
mengerti dalam hal seperti itu bukan hanya pengaruh
kekuatan ilmu silat saja, diantaranya masih terdapat pula
pengaruh semacam kekuatan perasaan yang sukar
dilukiskan dengan kata-kata dan karena semacam kekuatan
inilah maka mereka baru tak berani menghianati Keng Jikongcu.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ang Bo tan tertawa, kemudian melanjut-kan:
"Cu Kongcu, yang kumaksudkan bukan hanya ilmu
silatmu saja, selain daripada itu masih terdapat pula
semacam kekuatan yang sangat aneh'
"Kekuatan apakah itu" Mengapa aku sama sekali tidak
merasakannya?" "Aku tak bisa mengatakannya, kau dan Keng Ji-kongcu
sama-sama tampannya, sama-sama memiliki semacam
daya tarik untuk kaum wanita, tapi kau kelebihan. . . ."
"Kelebihan apa" Tampaknya dia tak sanggup untuk
mengutarakannya, terpaksa perempuan itu membungkam
dan tidak berbicara lagi.
Cu Siau hong tertawa, katanya:
'Nona, betulkah kau ingin melepaskan jalan yang sesat
untuk kembali ke jalan yang benar ?"
Ang Bo tan manggut-manggut.
"Yaa benar Cu kongcu, apakah kau tidak percaya?"
tanyanya. "Aku memang masih sangsi nona, hal mana bukanlah
suatu pekerjaan yang amat gampang, kebiasaan selama
banyak tahun, perbuatan selama banyak tahun, sudah
cukup untuk membuat seseorang terperosok ke dalam
suatu liang jebakan yang dalam sekali, bila kau ingin
melompat keluar dari dalam liang jebakan tersebut, maka
kau harus mengerahkan suatu kekuatan yang sangat besar"
"Aku tahu, dan kami telah mempersiapkan diri dalam
soal mental selama satu tahun lebih, kami selalu menunggu
dan menunggu, menunggu tibanya kesempatan seperti ini,
menunggu datangnya orang yang sanggup membawa kami
melompat keluar dari liang jebakan ini"
Dengan wajah serius Cu Siau hong lan-tas berkata:
"Nona, jika kau bena-benar mempunyai niat dan tekad
untuk melompat keluar dari liang jebakan tersebut, dengan
sepenuh tenaga aku akan menolong serta membantu
dirimu, sekarang yang penting kita harus menyelamatkan
Tiong It-ki lebih dahulu''
Ang Bo tan tertawa, sambungnya:
"Kekuatan yang kita milikil sekarang masih terlalu minim,
aku membujuk toa ci dan ji ci lebih dahulu, kemudian kami
bertiga baru akan bekerja sama untuk bantu
menyelamatkan diri Tiong It-ki, sebab dengan begitu
kekuatan kita akan bertambah besar"
"Melukis harimau tidak jadi angjing lah yang muncul,
masalah ini sangat penting dan serius, pengaruhnya juga
sangat besar, aku harap kau suka berpikir panjang lebih
dulu sebelum mengambil segala macam tindakan dan
keputusan." "Kami tiga bersaudara mempunyai nasib serta
pengalaman yang sama, kami pun be-rada didalam keadaan
lingkungan, serta kea-daan suasana yang sama, itulah
sebabnya didalam hati kami masing-masing telah muncul
suatu perasaan yang sama pula, sudah banyak kali kami
bersama-sama mem-bahas keadaaa ini, tapi sampai
sekarang belum juga melakukan gerakan apa-apa, maka
setelah ada kesempatan baik sekarang, kenapa aku tak
boleh mengajak pula diri mereka?"
"Jikalau memang begitu, cepatlah kau pergi jumpai
mereka berdua!" Ang Bo tan manggut-manggut.
"Kaupun ada baiknya ikut serta, sebab kau ada semacam
kekuatan dan kekuatan tersebut harus diperlihatkan dahulu
kepada mereka agar mereka percaya dan yakin" katanya.
"Baik, akan kutemani dirimu!"
Ang Bo tan lantas manggut-manggut, kembali katanya:
Kongcu, harap kau suka mengikuti dibelakangku, sebab
pintu rahasia tersebut akan menutup kembali dengan
cepatnya bila sudah terbuka nanti..
"Jangan kuatir nona, aku masih sanggup untuk mengikuti
dibelakangmu ....!" sahut Cu Siau hong seraya
mengangguk. Ang Bo tan tidak banyak berbicara lagi, dia lantas
beranjak dari tempat itu.
Cu Siau hong segera mengikuti dibelakang nya.
Terlihat olehnya Ang Bo tan berjalan menghampiri
dinding batu itu kemudian menekan pelan suatu bagian
batuan disitu, mendadak terbukalah sebuah pintu rahasia.
Ang Bo tan segera menundukkan kepalanya dan secepat
sambaran kilat menerobos masuk lewat pintu rahasia itu.
Bagaikan bayangan tubuh Cu Siau hong segera menyusul
dibelakang perempuan itu.
Ternyata mereka telah tiba disuatu lorong rahasia yang
lain, lorong itu membentang jauh ke dalam sana dan
panjangnya tidak lebih hanya dua kaki lebih, dengan
cepatnya mereka telah tiba diujung lorong tadi.
Cu Siau hong secara ketat mengikuti terus dibelakang
Ang Bo tan, selain itu secara diam-diam diapun selalu
memperhatikan gerak tangan perempuan itu, mengamati
bagaimana caranya membuka pintu-pintu rahasia diatas
dinding tersebut. Tampak Ang Bo tan berpaling sambil tertawa, lalu
katanya. ''Tombol rahasia yang berada di dalam setiap lorong
berbeda satu sama lainnya, cuma asalkan mau
memperhatikan dengan lebih seksama tentu akan kau
ketahui pula rahasia nya dan secara mudah akan
menemukan pula tombol-tombol rahasia lain di tempattempat
yang lain pula" Kembali Cu Siau hong manggut-manggut.
Ang Bo tan lantas meraba sebentar dinding batu itu,
kemudian katanya lagi. ''Ini dia tombolnya berada disini''
Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk
mendorong, betul juga diatas dinding tersebut segera
terbukalah sebuah pintu rahasia.
Begitulah keadaan selanjutnya secara beruntun mereka
telah menembusi lima buah lorong rahasia.
Cu Siau hong yang menaruh perhatian khusus terrhadap
keadaan disekeliling tempat itu segera merasakan bahwa
luas lorong-lorong rahasia itu sama antara yang satu
dengan lainnya, tapi panjangnya justru berbeda, namun
yang terpanjangpun paling banter hanya lima kaki,
sedangkan yang terpendek cuma satu kaki lebih..
Sewaktu mereka memasuki lorong bawah tanah yang ke
enam, tiba-tiba Ang Bo tan merendahkan suaranya sambil
berbisik: "Cu kongcu, sebenarnya kau harus tinggal disini lebih
dulu agar aku bisa berunding dahulu dengan kedua orang
kakak beradikku sebelum kau turut pula masuk kedalam,
tapi aku tahu sudah pasti kau tak akan meluluskan
permintaan itu dan kaupun tidak akan mempercayai diriku
sepenuhnya. . ." Cu Siau hong tertawa, tukasnya:
"Nona, didalam hal ini bukan soal percaya atau tidak
percaya yang menjadi masalah, Cuma aku merasa kurang
baik bila harus bertindak demikian!"
"Itulah sebabnya aku baru mengajakmu untuk
merundingkan persoalan ini!"
"Katakan saja nona!"
"Kita akan masuk bersama untuk berjumpa dengan
mereka, Cuma kau harus bisa menahan diri."
"Maksudmu?" "Senadainya mereka marah-marah, kau jangan gampang
turut marah." "Baik!" "Bagaimana seandainya turun tangan dan melancarkan
serangan kepadamu?" tanya Ang Bo tan.
'Apakah aku tak boleh membalas"'' Cu Siau hong balik
bertanya sambil menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.
"Itu mah tidak, bila sampai terjadi pertarungan, lebih
baik kalau kau gunakan cara yang tercepat untuk
menaklukkan mereka berdua''
'Maksudmu, kau suruh aku menggunakan pedang?"
"Lebih baik kalau jalan darah mereka yang ditotok,
kemudian baru berusaha membujuk mereka agar mau
takluk, jangan lupa ilmu silat yang dimiliki kedua orantg itu
pun tidak lemah, terlepas dari hubungan persaudaraan
antara diriku dengan mereka berdua, jika kita bunuh kedua
orang itu maka yang kita peroleh hanya berkurang-nya dua
orang musuh belaka, tapi jika kita bisa menaklukkan hati
mereka, itu ber-arti kita akan memperoleh dua orang
pembantu yang tangguh"
'Ehmm.. ucapanmu memang sangat masuk diakal!"
Ang Bo tan segera tersenyum kembali u-jarnya:
"'Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang
demikian gampang untuk diajak berbicara"
''Aku hanya menarik soal cenglinya saja, asalkan setiap
perkataan nona beraturan dan bisa diterima dengan akal
sehat, sudah bartang tentu aku menurutinya tanpa
memban-tah ......" "Aah, perkataan kongcu terlampau serius."
Dengan cepat dia menepuk kembali keatas dinding
lorong. Betul juga, sebuah pintu rahasia dengan cepat
terbentang kembali lebar-lebar.
Setelah masuk kebalik pintu, terbentang sebuah undakundakan
batu menuju keatas. Sekali lagi Ang Bo-tan berpaling dan memandang
sekejap kearah Cu Siau-hong, ke-mudian ujarnya:
'Cu kongcu, naik keatas sana maka kita akan tiba
ditempat tujuan, bila mana tidak terlalu mendesak aku
harap kau jangan sembarangan turun tangan"
"Aku mengerti!"
"Aku percaya, setelah mereka berjumpa dengan dirimu
nanti, dengan cepat mereka akan menuruti pula bujukan
ku!" Cu Siau hong hanya manggut-mangut dan tidak
berbicara apa-apa lagi. Ang Bo tan segara melangkah naik ke a-tas.
Kali ini dia berjalan sangat lamban, agaknya ada sesuatu
yang sedang dipikirkan. Tapi tak selang beberapa saat kemudian, sampailah
mereka didepan sebuah pintu besi.
Ang Bo tan segera mendekati pintu tersebut dan
mengetuk pintu tiga kali ketukan cepat dan dua kali
ketukan pelan. Mungkin itulah kode rahasia yang telah mereka janjikan
sebelumnya, maka tanpa berlangsung tanya jawab, pintu
baja besi itu terbuka lebar.
Menyusul terbukanya pintu dari dalam pintu baru
kedengaran suara seorang perempuan yang menegur
dengan nada genit: "Sam moay kah disitu?"
"Selain siau moay yang muncul lewat lorong bawah
tanah, memangnya masih ada orang lain?" sahut Ang Bo
tan. "Kraakk....!" pintu besi itu terpentang semakin lebar.
Ang Bo tan segera melompat kedepan dan
mempergunakan suatu gerakan tubuh yang amat cepat ia
menerobos masuk ke dalam ruangan.
Sedetik sesudah mereka masuk, secara otomatis pintu
baja itu menutup kembali seperti sedia kala.
Tempat itu masih berada dibawah tanah letaknya, tapi
jauh lebih lebar dan luas, jelas merupakan sebuah ruang
rahasia dibawah tanah. Dekorasi maupun perabot yang ada di sana sangat
mewah dan indah, bau harum semerbak terendus dalam
seluruh ruangan. Tak bisa disangkal lagi, ruang rahasia ini adalah kamar
tidurnya kaum wanita. Dalam kenyataannya dalam ruangan itu pun duduk dua
orang perempuan, seorang dayang muda berdiri disisi pintu
baja tersebut. Sedangkan dua orang perempuan yang sedang duduk
itu, yang seorang memakai baju berwarna hijau dengan
sulaman bunga teratai besar diatas dadanya.
Sedangkan yang lain, mengenakan baju berwarna kuning
dengan sekuntum bunga Bwe tersulam diatas dadanya.
Lik hoo, Ui Bwee, Ang Bo tan ketiga orang ini merupakan
tiga bersaudara yang kecabulan serta kejalangannya sudah
amat termashur dalam dunia persilatan.
Ui Bwe memandang sekejap ke arah Ang Bo tan, lalu
memandang pula ke arah Cu Siau hong, setelah itu dengan
dingin tegurnnya: "Sam moay, apa yang telah terjadi" Dari mana
datangnya lelaki liar ini ...."
Sementara itu Liok hoo cuma duduk membungkam
ditempat semula, hanya sepasang matanya yang tajam
mengawasi terus wajah Cu Siau hong tanpa terkedip.
Ang Bo tan tertawa, ujarnya:
'"Toa ci, Ji ci, coba kalian perhatikan dengan seksama,
bagaimanakah tampang lelaki liar ini?"
'Sam moay apakah kau sudah rada gila?" kembali Ui Bwe
menegur dengan kening berkerut.
"Tidak, Siau moay sama sekali tidak gila, cuma akupun
mengerti bahwa perbuatanku membawanya kemari adalah
suatu perbuatan yang tidak benar ......"
"Sam moay, kalau sudah tahu kalau membawanya
kemari adalah suatu perbuatan tak benar, mengapa kau
membawanya kemari" tukas Ui Bwe lebih lanjut.
"Pertama, karena ilmu silatnya terlalu tinggi, jika aku
tidak membawanya kemari maka kemungkinan besar dia
akan membunuh-ku. kedua, orang ini masih bisa dilihat
meskipun secara sambil lalu, maka sengaja ku bawanya
kemari agar diperlihatkan kepada cici berdua.'
Lik Hoo mengiakan lalu melompat bangun setelah itu
tegurnya: Siapa namamu?" "Aku she Cu, bernama, Cu Siau hong!"
"Berasal dari mana?"
"Anak murid Bu khek bun!'


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau sanggup menaklukkan Sam-moay kami, itu berarti
ilmu silatmu tinggi sekali "
"Yaa, lumayanlah!"
Lik Hoo segera tertawa, katanya lagi.
"Kau pandai sekali membawa diri!''
"Apakah nona besar ingin menguji kepandaianku?"
''Itu mah harus melihat keadaan dulu, siapa tahu aku
akan membunuh dirimu?"
"Oya?" Cu Siau hong tertawa.
"Toa ci!" tiba-tiba Ui Hwe berseru, "coba kau lihat
tampangnya itu, dia seakan-akan sama sekali tidak takut"
Cu Siau hong lantas mengalihkan sorot matanya ke
wajah Ang Bo tan, setelah itu katanya sambil tertawa.
"Nona Sam, apakah maksudmu membawaku kemari
adalah untuk mendengarkan nasehat mereka?" .
"Jika persoalan tidak dijelaskan tak akan mengerti, bila
kayu tidak dibor tak akan berlubang, sebelum duduknya
persoalan dijelaskan, suatu kesalahan paham pasti tak akan
terhindar, dari kesalahan paham ini memang wajib
dijelaskan agar semua persoalan menjadi terang"
"Baiklah, kalau begitu tolong nona Sam bersedia
membantuku untuk memberi kete-rangan"
Ui Bwe segera mendengus dingin, tegurnya tiba-tiba:
"Sam moay, kau telah meluluskan permintaan apa
darinya"'. "Aku tidak meluluskan apa-apa!"
"Bagus! Kalau begitu bocah keparat ini sengaja
membicarakan yang bukan-bukan!"
"Itupun tidak!" jawab Ang Bo tan, "dia bilang, minta
kepadaku untuk menjelaskan situasinya saat ini"
'Sam moay, aku harap kau suka menerangkan persoalan
ini secara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling..."
"Toaci, jici, selama banyak waktu kita berdiam dalam
kebun raya Ban hoa wan ini, entah apa saja yang dirasakan
oleh cici berdua?" "Soal ini . . . apa pula perasaaamu" "kata Lik Hoo
kemudian. "Dulu, didalam dunia persilatan kita tiga bersaudara
selalu dianggap orang sebagai tiga bersaudara jalang,
waktu itu mes-ki nama kita kurang sedap didengar namun
penghidupan yang kita lewatkan sangat menyenangkan dan
selalu gembira, tapi bagaimana dengan sekarang" Siau
moay merasa diriku sudah bukan manusia lagi meski
wujudnya saja masih tetap seorang manusia!"
Lanjutkan!" "Sekarang, kita tak lebih hanya barang mainan dari Keng
Ji kongcu, disamping itu kitapun masih harus melakukan
pekerjaan baginya, jangankan sebagai seorang dayang,
bahkan sebagai seekor anjing peliharaannya pun masih
tidak memadahi, bayangkan sa-ja daripada hidup melewati
penghidupan semacam ini, apakah tidak lebih baik mati
saja?" "Sam moay, kenapa kau tidak melarikan diri saja?" tegur
Lik Hoo dengan suara dingin.
"Bisakah kita melarikan diri" Kalian toh sudah pernah
menyaksikan bagaimana keji-nya tindakan mereka terhadap
orang-orang yang berhianat kepada mereka, kalau bukan
dijadikan umpan harimau, tentu kau dibikin mati tak bisa
hidup pun tak dapat"
Lik Hoo menghembuskan napas panjang, katanya
kemudian: "Sam moay, sebenarnya apa maksudmu mengajak orang
itu datang kemari .....?"
"Aku mengajaknya datang kemari adalah agar toaci dan
jici dapat melihatnya"
"Sekarang, aku toh sudah melihatnya!"
"Lantas, bagaimanakah menurut pan-dangan toaci serta
Ji ci" ' tanya Ang Bo tan kemudian.
"Kami masih belum begitu memahami, Sam moay,
dapatkah kau menerangkan dengan lebih jelas lagi"."
"Apa lagi yang harus kukatakan" Aku hanya meminta
agar kalian suka melihat orang ini saja!''
Lik Hoo segera tertawa, katanya lagi: "Sam moay,
bukankah tetap kukatakan aku dan Ji moay telah
melihatnya, tapi apa kah tujuan kedatangannya kemari?"
"Toaci, haruskah kukatakan dengan sejelas-jelasnya?"
"Tentu saja!" jawab Lik Hoo sambil tertawa, "bila kau
tidak memberi keterangan, keputusan apa pula yang bisa
kita ambil"' "Aku telah membicarakan persoalan ini dengannya, dan
pembicaraan tersebut sudah cukup jelas, aku berharap agar
dia bersedia menampung kita bertiga"
"Maksudmu mengawini kita bertiga sebagai istrinya?"
"Soal ini dia belum meluluskan, cuma dia telah bersedia
untuk mengijinkan kita mengikutinya, mau dijadikan
sebagai gundik atau dayang, dialah yang akan
memutuskan" "Oooh .....! Kau suruh kami ikut dia sebagai dayang?"
teriak Ui Bwee tiba-tiba.
"Jici, coba kau perhatikan dirinya secara baik-baik!" pinta
Ang Bo tan segera. "Itu mah tak perlu, aku sudah cukup jelas
memperhatikan dirinya"
"Bagaimana kalau dia dibandingkan dengan Keng Ji
kongcu" "Dia maupun Keng Ji kongcu adalah dua orang manusia
yang berbeda, mana mungkin bisa diperbandingkan?"
"Selama beberapa hari tinggal dalam kuil kecil itu, sudah
banyak persoalan yang telah Siau moay pikirkan
diantaranya yang paling penting adalah kenapa kita tidak
mau meninggalkan kebun raya Ban hoa wan ini"
'Bukankah sudah kau katakan secara jelas tadi, kau takut
ditangkap mereka dan dijatuhi hukuman mati?" kata Lik
Hoo. "Itu hanya salah satu alasannya saja"
"Lantas masih ada alasan apa lagi?" ta-nya Ui Bwe.
"Sesungguhnya kita telah terbelenggu o-leh semacam
kekuatan yang tak berwujud yakni jaring cinta, cuma kita
sendiri saja yang tidak mengetahuinya" .
"Ooooh!" Ui Bwe berseru tertahan.
Lik hoo juga menghembuskan napas panjang, katanya:
"Sam moay, apa yang kau pikirkan itu mungkim saja ada
benarnya cuma . . . . "
"Dengarkan dulu keterarganku" tukas Ang Bo tan,
"Mungkin apa yang kupikirkan memang terlampau banyak,
tapi cici berdua mungkin saja belum pernah berpikir sampai
kesitu" Selama ini, kita bersaudara memili-ki kontak batin
yang cukup kuat dan mungkin karena pandangan kita
dalam persoalan ini berbeda maka kita tak pernah
mengungkap-kannya satu sama lain, sekarang, aku telah
bertekad untuk pergi mengikutinya, mau dijadikan gundik
atau dayang, aku rela. Bila cici berdua enggan menghianati
Keng Ji kongcu, maka hal ini merupakan urusan cici berdua,
siau moay tak ingin terlalu memaksa, siau moay hanya
memohon kepada cici berdua untuk mengingat pada
hubungan persaudaraan kita selama banyak tahun, untuk
melepaskan diriku pergi dari sini!"
"Kau, Sam moay" seru Ui Bwe.
"Jici, jangan turun tangan secara sembarangan:, bujuk
Ang Bo tan lagi, "meski ilmu silat yang kita bertiga miliki
sangat lihay, tapi jika dibandingkan dengan ilmu pedang Cu
kongcu, kita semua masuh bukan tandingannya."
"Ooooh. . . benarkah dia memiliki ilmu silat yang
demikian lihaynya. . . . ?" seru Lik Hoo.
"Siau moay tidak berani membohongi cici berdua!"
Lik Hoo segera tertawa dingin ujarnya:
"Siau moay tetap tidak percaya kalau dia memiliki ilmu
silat yang begitu lihaynya"
"Toaci, kenapa kau begitu tak percaya kepada siau
moay?" Lik Hoo tertawa hambar, katanya:
"Sam moay, persoalan ini tak ada sangkut pautnya
dengan dirimu, tak usah Sam moay risaukan"
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya kembali:
'Ji moay, coba turun tanganlah untuk menjajal
kepandaian silat yang dia miliki"
"Siau moay turut perintah.'
Belum selesai ucapan tersebut di utarakan Ui Bwe telah
turun tangan dengan kecepatan luar biasa, ke lima jari
tangannya direntangkan dan segera mencengkeram
pergelangan tangan kanan Cu Siau hong.
Dengan cepat Cu Siau hong menggerakkan pergelangan
tangan kanannya ke bawah untuk menghindarkan diri dari
ancaman tersebut, setelah itu secepat kilat kelima jari
tangannya membalik keatas dan berbalik mencengkeram
pergelangan tangan kanan Ui Bwe, katanya dengan dingin:
"Nona, serangan yang kau lancarkan itu terlampau
lambat gerakannya .....!"
Ui Bwe menjadi tertegun, serunya kemudian:
"Toa-ci, hebat juga bocah muda ini."
Cu Siau hong tertawa hambarm sambil melepaskan
cengkeramannya pada perge-langan tangan Ui Bwe, sorot
matanya segera dialihkan ke tubuh Lik Hoo, kemudian
katanya: "Nona besar, apakah kau juga kepingin menjajal?"
"Kau bermaksud menghadapi kami bertiga secara
bersama?" "Bila kalian bertiga bersedia untuk bertarung melawanku,
apa salahnya kalau mencoba untuk mengerubutiku?"
"Besar betul kata-katamu itu!" seru Lik Hoo.
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Ang Bo tan,
setelah itu tambahnya: ''Sam moay, bagaimana menurut pendapat-mu?"
"Sekalipun kita turun tangan bersama! tetap bukan
tandingannya, buat apa toaci mesti bersusah payah untuk
mencobanya?" "Maksud Sam moay, kau tidak bersedia untuk bekerja
sama dengan kami untuk me-ngerubutinya?" tanya Lik Hoo
dengan ke-ning berkerut. ''Maafkanlah daku toaci!"
Tiba-tiba Lik Hoo menerjang maju ke depan, kemudian
secara beruntun melancar-kan tiga buah serangan berantai.
Cu Siau hong dengan cekatan menggerak-kan badannya
miring kesamping, meski tanpa bergeser barang setengah
langkahpun, namun ketiga buah serangan tersebut berhasil
dihindari semua. Lik Hoo segera manggut-manggut, seru-nya kemudian:
"Ehmm . . . . ! Memang hebat sckali kepandaian silatnya"
"Toaci, sekarang kau sudah percaya dengan perkataan
Siau moay bukan?" ujar Ang Bo tan kemudian.
''Yaa, aku sudah percaya sekarang, dia memang jauh
lebih hebat daripada kita bertiga!''
"Kalau toaci sudah percaya, hal ini lebih baik lagi"
Sam moay, pernahkah kau pikirkan, sekalipun dia dapat
menangkan kita bertiga, namun sanggupkah dia untuk
menangkan Keng ji kongcu?"
"Sekalipun tak bisa menangkan dirinya, lebih baik kita
mati dalam pertarungan membelai kongcu ini, dari pada
mati sengsaras di dalam kebun raya Ban hoa wan"
"Sam moay aku lihat kau sudah benar-benar terpikat
olehnya" "Toa ci, dia adalah seorang Kuncu, paling tidak ia dapat
menganggap kita sebagai sesama manusia."
"Bagaimanapun juga toh nasib kita akhirnya juga sama,
tak akan lolos dari hukuman keji mereka, dijadikan umpan
buat harimau-harimaunya?"
"Soal ini, nona sekalian tak perlu kuatir" timbrung Cu
Siau hong kemudian. 'kedelapan belas ekor harimau itu
sudah mampus semua" "Yaa, aku telah mendengar suara pekikan ngeri dari
harimau-harimau tersebut" sambung Ang Bo tan.
"Sam moay!" kata Lik Hoo, "sudah kau periksakah kalau
kawanan harimau itu telah mati semua?"
"Soal ini, siau moay hanya mendengar dan belum
melihat!". "Setelah melihat sendiri, hal ini baru bisa dipercaya,
kalau Cuma mendengar melulu, siapa tahu kalau itu palsu?"
Cu Siau hong yang menjumpai keadaan tersebut, segera
gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil
menghela napas panjang: "Nona Sam, setiap orang mempunyai pendapat serta
jalan pikiran yang berbeda-beda, lebih baik jangan terlalu
kau paksakan kehendakmu. Betul mereka adalah saudarasaudara
angkatmu, namun kau tak akan mampu untuk
mengetrapkan pendapatmu dalam hati mereka, apalagi
menyeret mereka terjun ke air, mari kita pergi saja!"
Ang Bo tan segera menghela napas panjang, katanya
kemudian. "Toa-ci, Ji-ci, sudah lama kita mempunyai niat untuk
menghianati kebun raya Ban Hoa wan, hari ini kesempatan
yang kita nanti-nantikan telah tiba, mengapa cici berdua
tidak bersedia untuk pergi bersama siau moay?"
"Sam moay, taoci kuatir sulit buat kita untuk
meninggalkan tempat ini dengan selamat. . ."
"Toaci!" kembali Ang Bo tan menyela, "sekalipun kita
tidak mati bila tetap berada disini, tapi penghidupan kita
jauh akan lebih tersiksa dan sengsara daripada mati!
"Sam moay . . ."
"Toaci, kaupun tak usah banyak berbicara lagi, tekad
siau moay sudah bulat, entah kalian mau ikut atau tidak,
pokoknya siau moay sudah bertekad akan pergi
meninggalkan tempat ini, nah cici berdua, siau moay ingin
mohon diri" "Sam moay, apakah tidak kau pikirkan dengan lebih
matang lagi?" ucap Lik Hoo lagi.
"Siau moay telah bertekad untuk pergi, jika cici berdua
tak mau ikut, terpaksa siau moay akan pergi sendiri` Cu
Kongcu mari pergi. . . . !"
"Tunggu sebentar!" bentak Lik Hoo dengan suara keras,
"Sam moay, kau tidak boleh pergi dengan begitu saja"


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Apakah toaci hendak memaksa siau moay dengan
kekerasan?" ''Sam moay kau tak boleh terlampau menuruti suara hati
sendiri" 'Toa ci bagaimanapun juga kita pernah bersam-sama,
apakah kau betul-betul hendak membawa penyelesaian dari
persoalan ini lewat suatu pertarungan."
Lik Hoo menjadi tertegun lalu, katanya.
"Sampai begini dalamkah rasa cintamu kepadanya?"
"Toa-ci!" kata Ang Bo tan dengan wajah serius,
"keputusan yang siau moay ambil kali ini bukan
dikarenakan cinta yang terlalu mendalam, melainkan karena
aku bear-benaar menaruh rasa kasihan dan hormat
kepadanya'. "Jadi bagaimana sekarang" Apakah kau bersiap-siap
untuk bertarung melawan toaci mu sendiri?"
''Toa ci siau moay tidak punya maksud de-mikian, aku
ha3nya berharap agar toa-ci ber sedia mengingat hubungan
persaudaraan kita dimasa lalu untuk melepaskan siau moay
agar bisa pergi dari sini"
"Adikku yang baik, masa perkataan cicimu tidak sudi kau
turuti sama sekali?"
"Toaci, setiap orang mempunyai cita-cita serta tujuan
yang berbeda, kalau toh diantara kita bersaudara sudah
tiada harapan untuk hidup bersama lagi, lebih baik jika kita
mengambil langkah seribu untuk melakukan perbuatan
serta mewujudkan cita-citanya sendiri."
"Baiklah, kalau memang kau ingin pergi, terserah
kepadamu sendiri" . 'Baik! Toa ci, Ji ci, harap terimalah sebuah salam hormat
dari Siau moay .....' Selesai berkata, dia lantas berlutut dan memberi hormat
kepada Lik Hoo... " Ketika ia membalikkan badan untuk memberi hormat
kepada Ui Bwe, mendadak Ui Bwe menggoyangkan
tangannya berulang kali seraya berkata:
"Sam moay harap tunggu sebentar!"
"Kenapa" sambung Ang Bo tan, apakah Ji ci tidak
bersedia melepaskan siau moay"''
''Bukan, bukannya begitu, aku hendak pergi
bersamamu!" Liok Hoo menjadi tertegun setelah mende-ngar
perkataan adiknya itu, serunya dengan cepat.
"Ji moay, kau. . . ."
"Toaci!" kata Ui Bwe dengan cepat, "kau telah bermurah
hati untuk melepaskan Sam moay, apakah kau tidak
bersedia melepaskan pula diri Siau-moay?"
Lik Hoo segera tertawa, katanya:
"Ji moay, Sam-moay. .. setelah kalian pergi semua. siapa
pula yang akan mengurusi toaci mu ini"''
"Toaci, masa kau masih membutuhkan perawatan dari
kami berdua?" ujar Ui Bwe.
"Tapi aku toh perlu mengawasi serta membimbing
kalian" 'Kalau memang begitu, kenapa toaci tidak ikut kami
untuk pergi bersama dari sini ?"
"Aku masih memikirkan satu persoalan!.."
"Toaci kau harus berpikir beberapa lama baru bisa
mengambil keputusan.....?"
"Sekarang juga aku telah mengambil keputusan" . .
"Mau pergi" Atau tetap tinggal di sini"''
"Pergi! Kita pergi bersama"
''Terima kasih toaci!" seru Ang Bo tan dengan girang.
Lik Hoo segera mengalihkan sinar matanya ke wajah Cu
Siau hong, setelah i-tu ujarnya:
"Cu kongcu, apa yang hendak kau lakukan terhadap
kami tiga bersaudara "''
"Aku tidak menerima syarat apa pun!"
"Sam-moay, apakah kalian belum membicarakan secara
baik-baik?" kata Lik Hoo kemudian sambil berpaling kearah
adiknya. "Belum!" jawab Ang Bo-tan, "toaci, a-ku hanya memohon
kepada Cu kongcu agar bersedia membawa kami keluar dari
sini, sedang apa yang akan kita lakukan selama mengikuti
Cu kongcu, belum siau-moay bicarakan"
'Sam moay, apakah sekarang boleh kita bicarakan?"
tanya Lik Hoo kemudian. "Lebih baik jangan dibicarakan'' kata Cu Siau hong,
"sebab begitu dibicarakan, besar kemungkinan kalau urusan
tak ada pe-nyelesaiannya"
"Sam moay, coba lihat, bukankah dia ja-uh lebih sulit
dihadapi dari pada Keng ji-kongcu?" keluh Lik Hoo.
''Toa ci, kita tidak memohon apa-apa kepadanya, kita
hanya memohon kepadanya agar membawa kita pergi
meninggalkan tempat ini"
'' Oooh ........" "Antara aku dengan Keng ji kongcu mempunyai suatu
perbedaan" kata Cu Siau-hong lagi. "jika Keng Ji kongcu
berbicara lain dimulut lain dihati, tapi apa yang telah
kusanggupi pasti akan kuwujudkan menjadi suatu
kenyataan" "Oooh." "Oleh sebab itu sekarang aku tidak bersedia meluluskan
permintaan apa pun yang kalian ajukan"
"Apakah sepatah dua patah kata manispun tidak bersedia
kau katakan'. "Tidak, sebab selama hidup belum pernah aku berbohong
apalagi mengingkari janji"
"Baiklah, kami akan pergi mengikutimu, agaknya kau
masih ada syarat lain?"
"Yaa, ada!'' "Agaknya seperti kami yang memohon kepadamu?"
"Itu sih tidak, kita hanya bisa bilang bahwa hal ini
merupakan suatu kerja sama"
"Suatu kerja sama?"
'Betul, kalian membantu aku untuk mencari seseorang,
pun aku membawa kali-an meninggalkan tempat ini,
lagipula akupun bersedia untuk melindungi keselamatan
jiwa kalian." "Siapa saja yang akan melindungi kami"
"Bu khek bun......' "Hanya Bu khek bun saja mampu untuk melindungi
kami?" "Sesungguhnya, dalam dunia persilatan dewasa ini hanya
Bu khek bun saja yang sanggup untuk menghadapi para
pendekar pedang macan kumbang hitam."
"Aaah, masa iya?"
"Sudah kukatakan kepada nona tadi, selama hidup aku
tak pernah berbohong!"
"Aaai. . . . ! Menurut apa yang ku ketahui, Bu khek bun
sudah mendekati jurang kehancurannya" kata Lik Hoo.
"Betul, Bu khek bun memang sudah mendekati jurang
kehancuran, tapi kami belum musnah, kalau kami tidak
memiliki kemampuan untuk menghadapi para pendekar
macan kumbang hitam, dapatkah Bu khek bun hidup
sampai detik ini?" "Cuma Bu khek bun?"
"Tidak, masih ada Kay-pang!''
"Apakah pihak Kay-pang juga bersedia untuk melindungi
keselamatan kami"' Asal kaliau dapat menemukan seseorang, aku jamin
pihak Kay-pang pasti akan me-lindungi keselamatan kalian
dengan sepenuh tenaga' "Siapa yang kau cari?"
Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang
bernama Tiong It ki."
Lik Hoo termenung sebentar, kemudian katanya:
"Tiong It-ki'' Kau maksudkan majikan muda dari Bu
khek-bun?" -ooo0ooo- BAGIAN 24 BETUL! Cu Siau hong mengangguk, majikan muda dari
Bu khek-bun...." "Aku tahu ada seorang pemuda memang di sekap
dilorong bawah tanah sana, tapi aku kurang tahu apakah
dia bernama Tiong-lt ki atau bukan"
''Berapa usia orang itu?"
"Usianya tidak terlalu besar, walaupun sudah berapa hari
tidak mau makan dan mukanya pucat pias seperti mayat,
tapi menurut perkiraanku, usianya tak akan melam-paui
dua puluh tahunan"' ''Kalau begitu mungkin saja memang dialah yang kucari,
bagaimana kalau kita te-ngok kesana?"
Lik Hoo segera tertawa, katanya:
"Walaupun perjalanan dari sini sampai ke tempat itu
tidak terlalu jauh, tetapi tidak gampang untuk dilalui"
"Apakah ada kesulitan?"
"Yaa, besar sekali kesulitannya! Kita ha-rus melewati tiga
buah pos penjagaan, bahkan pos penjagaan yang satu lebih
hebat dari pada pos penjagaan yang lain"
"Nona, dapatkah kau menerangkan dengan lebih jelas
lagi?" pinta Cu Siau hong.
"Aku hanya tahu kalau ketiga buah pos penjagaan itu
sukar dilewati, tapi aku tidak jelas siapa saja yang berjaga
disana." "Kalau begitu tentunya nona tahu bukan jalanan yang
manakah yang harus dilalui?"
"Tentu saja tahu"
"Baik! Kalau begitu, tolong nona suka membawa aku ke
situ!" "Cu kongcu" ujar Lik Hoo kemudian, setelah kami tiga
bersaudara bertekad untuk mengianati kebun raya Ban hoa
wan, sudah sepantasnya jika kau memberi pertang-gungan
jawab kepada kami" "Maksudmu?" "Apa yang hendak kau lakukan terhadap kami tiga
bersaudara?" "Aku telah bersedia untuk membawa kalian keluar dari
sini serta melindungi keselamatan kalian dengan sepenuh
tenaga" ''Hanya janji itu saja?"
"Nona masih mengharapkan apa lagi?" .
"Aku ingin bertanya, setelah itu kami bertiga harus ke
mana dan ikut siapa?"
"Bila badai sudah tenang kembali, dan kalian masih
hidup, akan kucarikan orang yang cocok untuk
mendampingi kalian bertiga sampai tua"
' Kau ........." "Kenapa dengan aku" Setiap janji yang telah kuucapkan
kepada kalian pasti akan kulakukan dengan sungguh hati"
"Kongcu, andaikata kami tidak ingin kawin?"
"Maka hal ini terserah pada keputusan nona sendiri!"
Seandainya kami ingin mengikuti kongcu.?"
"Aku. . .' "Yaa, kami tak ingin kawin dengan orang lain, kami
hanya ingin mengikuti kongcu sepanjang masa serta
mendengarkan perintahmu"
"'Bila kalian bertiga memang memiliki keinginan begitu,
sudah pasti aku pun tak akan menolak, cuma perkataan ini
tidak kuahnggap sebagai janji, siapa tahu kalau dikemudian
hari kalian bertiga akan berubah pikiran ........"
"Bagaimanapun juga, pemuda ini sudah banyak
membaca buku, pengetahuannya luas membuat sudut
pandangannya juga lebih luas serta terbuka, dengan begitu
cara pandangannya pun jauh berbeda dengan cara
pandangan umat persilatan lainnya.
"Jadi kongcu telah meluluskan permintaan kami?"
terdengar Lik Hoo bertanya.
'Yaa, aku meluluskan permintaan kalian, jika kamu
bertiga mau mengikuti aku, sesungguhnya hal ini
merupakan suatu kebanggaan buat diriku"
Lik Hoo kembali tertawa, katanya:
"Kongcu, setelah mengalami suatu pelajaran yang cukup
pahit dan getir, mau tak mau kami bertiga harus
meningkatkan kewaspa-daan kami, entah apakah Sam
moay telah memberitahukan soal nama kami bertiga dalam
dunia persilatan kepada kongcu?"
"Yaa, sudah ia katakan!"
'Apakah sudah terperinci"''
'Nona, apakah kau hendak mengulangi keterangan
tersebut sekali lagi.'' tanya Cu Siau-hong.
"Yaa, sudah seharusnya kalau kuterangkan sejelasjelasnya,
cuma singkatnya saja, pertama, nama kami
bertiga dalam dunia persi-latan kurang begitu baik, yakni
perempuan-perempuan cabul atau perempuan-perempuan
jalang menurut istilahnya para jago dari perguruan lurus."
'Soal ini aku sudah tahu!"
'Kedua, dimasa lalu kami bertiga telah banyak
melakukan kejahatan sehingga tak bisa disangkal lagi,
banyak perselisihan dan ikatan dendam yang telah terjalin
antara kami dengan murid-murid perguruan besar itu"
Cu Siau hong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat,
katanya: "Dapatkah kalian terangkan salah satu kejadian yang
menurut kalian paling parah dan berat?"
Lik Hoo mengangguk, katanya:
Baiklah! Kami telah merayu seorang murid Siau lim si
sehingga ia meninggalkan perguruannya dan kembali
menjadi preman, kemudian kamipun pernah merayu
seorang murid Bu Tong-pay sehingga menghianati
perguruannya" Cu Siau hong tertawa getir, katanya ke-mudian:
"Bagaimanakah selanjutnya dengan kedua orang itu?"
"Kemudian murid Siau lim itu kena di-tangkap kembali
oleh gurunya dan dibawa kembali kedalam kuil Siau lim si,
konon lantaran ia melanggar peraturan maka dijebloskan
kedalam ruang Cay ti wan untuk menjalani hukuman"
"Orang ini benar-benar besar sekali kobaran cintanya, Ji
moay tidak kuasa menahan kobaran api cintanya yang
membara sehingga kemudian ditinggalkan dengan begitu


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja, tapi dia masih berusaha untuk mengejar terus,
kemudian aku dengar dia telah tewas ditangan Keng Ji
Kongcu' "Yang seorang adalah murid Buddha, sedangkan yang
lain adalah murid agama To, mereka semua adalah
manusia-manusia yang sudah terlepas dari keduniawian,
andaika-ta mereka melanggar peraturan karena kea-daan
terpaksa, hal ini masih dapat dimaklumi, tapi kalau dibilang
karena tak kuat menahan godaan perempuan, maka itulah
kesa-lahan mereka sendiri, resikopun harus mereka pikul
sendiri pula'' Lik Hoo segera menghela napas panjang setelah
mendengar perkataan itu, katanya:
'Pendapat kongcu memang benar-benar jauh berbeda
dengan pendapat orang biasa, walaupun kami tiga
bersaudara telah mela-kukan perbuatan mesum, namun
belum pernah kami gunakan obat perangsang atau
sejenisnya, sebab kami tahu percuma saja mempergunakan
bantuan obat-obatan sema-cam itu, apalagi jika bertemu
dengan seseorang yang berilmu tinggi, obat-obatan semacam
itu sudah pasti tak akan mungkin bisa
dipergunakan." "Setiap kali merayu orang lelaki, kalian bertiga selalu
turun tangan sendiri ataukah bekerja sama?"
"Kecuali terhadap Keng Ji-kongcu dan Cu kongcu, kami
bertiga selalu menja-ga diri secara ketat dan tidak saling
mengganggu atau mengusik yang lain'
"Setiap perbuatan pasti ada hukumannya walaupun
tingkah laku kalian bertiga me-mang brutal dan tak boleh
diampuni, tapi sedikit banyak tentunya ada batasanbatasannya
bukan?" Nah, aku harap setelah kalian bertobat
nanti, jangan sekali-kali ka-lian lakukan kembali perbuatan
cabul sema-cam itu, mengerti" Sekarang, harap nona su-ka
membawa jalan buat diriku!"
"Cu kongcu" kata Lik Hoo sambil tertawa sedih, "apakah
kau ingin mendengarkan kesan kami bertiga dengan Keng Ji
kongcu?" Cu Siau hong segera tertawa.
"Tak perlu didengar lagi, paling-paling juga sama saja
antara yang satu dengan lainnya."
"Tidak, cinta kami terhadap Keng Ji-kongcu adalah cinta
yang murni dan bersungguh sungguh, itulah sebabnya kami
bertiga baru bersedia untuk memiliki seorang suami yang
sama dan lagi selama dua tahun ini kami selalu menjaga
diri baik-baik, kami selalu menjunjung tinggi prinsip dari
seorang istri yang setia'
"Oooh.... sungguhkah itu?" seru Cu Siau hong.
"Setelah budak bersedia untuk mengung-kap semua
yang telah terjadi tentu saja tak sepatah katapun yang akan
kami sembunyi-kan atau berbicara bohong'
"Kalian sudah terbiasa memainkan cinta kasih orang,
sudah terbiasa mengobral cinta kepada setiap orang,
kenapa akhirnya bisa menaruh cinta yang bersungguh hati
kepada orang lain" "Barang siapa bermain api dia akan terbakar, barang
siapa bermain air dia akan tenggelam di air. Kami telah
terbiasa mengobral cinta, tapi akhirnya kami harus menelan
pil yang pahit dalam soal cinta pula"
"Oooh...." "Sikap Keng Ji kongcu terhadap kami tidak lebih hanya
sikap mempermainkan, pada permulaan perkenalan, kami
memang pernah melewatkan masa-masa yang romantis
dan penuh kesyahduan, tapi itu cuma berlang-sung selama
setengah tahun lamanya, kemudian diapun membawa kami
menuju ke kebun raya Ban hoa wan, sejak itulah kehidupan
kami seakan-akan terisolir, kami dibuang dengan begitu
saja ditempat ini" "Bagaimana sekarang?"
"Sekarang, didalam pandangan matanya, kami tak lebih
dari seekor anjing belaka"
Cu siau hong segera tertawa, ujarnya:
"Nona, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu
seolah-olah merendahkan derajat sendiri?"
"Siapakah yang sudi mencemooh dan mempermalukan
diri sendiri" Aku berbicara dengan sejujurnya, bayangkan
saja, bila dia sedang teringat dengan kami, maka diapun
datang mencari kami, bila tidak teringat, mungkin didalam
satu bulan tak sekalipun kami dapat bersua muka dengan
dirinya..."'. "Cukup, mari kita mencari orang yang di sekap itu lebih
dulu" tukas Cu Siau hong.
"Kongcu, kau mempunyai suatu kegagahan serta daya
tarik yang bakal membuat kaum wanita terbuai, membuat
gadis terpikat, kami bisa menghianati Keng ji kongcu tak
lain karena secara tiba-tiba kami berpendapat bahwa
didunia ini bukan cuma dia seorang yang mampu membuat
kaum wanita terpesona!"
"Hei, apa maksudmu" Aku rada tidak mengerti?" kata Cu
Siau hong dengan kening berkerut.
Lik Hoo segera menghela napas panjang, katanya:
"Inilah suatu perasaan yang timbul karena pengaruh
kejiwaan, belum tentu orang lain akan berperasaan
demikian, apabila mereka belum pernah merasakan
pahitnya cinta seperti apa yang telah kami alami''
"0ooh. . . kalau begitu, coba katakan!"
"Sesungguhnya hal ini merupakan suatu sentuhan yang
muncul dari dasar hati kecil kami, bila ia benar-benar
seorang lelaki yang paling menawan hati, sekalipun kami
disuruh menjadi kerbau atau kuda, akan mun-cul semacam
kepuasan yang aneh dalam perasaan kami, tak akan
muncul sikap memberontak atau kurang puas dihati kami,
akan tetapi sejak kemunculan Cu kongcu disini,
kehadiranmu telah memberikan suatu bukti kepada kami
bertiga" "Bukti apakah itu" "
"Terbukti Kalau dia bukan lelaki paling menarik didalam
dunia ini!" "Aku sudah paham" kata Cu Siau hong sambil tertawa,
"bagaimana kalau bisa be-rangkat sekarang?"
"Kongcu, untuk menuju ke tempat penyekapan tersebut,
kita harus melalui tiga buah pos penjagaan"
"Aku tidak takut!"
"Sekalipun ilmu silat yang kongcu miliki sangat lihay dan
sanggup menghabisi nyawa penjaga disana, namun suara
pertarungan yang sedang berkobar itu sudah pasti akan
menarik perhatian orang lain. . . ."
Hal ini memang suatu persoalan yang serius dan
merisaukan hati! Cu Siau hong segera berpikir sebentar, setelah itu
tanyanya: "Lantas bagaimana menurut pendapat nona ?"
"Setelah kami bertiga menyatakan kesanggupan untuk
berbakti kepada kongcu, belum pernah kami membuat jasa
untukmu, kenapa tidak kongcu beri sekali kesempatan
kepada kami untuk membuat jasa?"
"Cara apa yang hendak kalian pergunakan?"
"Untung saja para penjaga yang berada di ketiga pos
penjagaan itu semuanya lelaki, lagi pula lelaki yang
gampang terpikat oleh rayuan perempuan, paras muka
kami bertiga toh tidak terhitung jelek bukan?"
Cu Siau hong segera mengerti, supaya hendak
menggunakan rayuan mautnya untuk merobohkan penjagapenjaga
disitu. Setelah berpikir sebentar, Cu Siau hong bertanya lagi:
"Dapat dipergunakankah cara ini?"
"Didunia ini tidak banyak terdapat kaum lelaki macam Cu
kongcu, oleh sebab itu kami yakin sembilan puluh persen
pasti berhasil" "Bagaimana dengan aku?"
"'Bila Cu kongcu bersedia untuk mempercayai kami,
serahkan saja tugas ini kepada kami, sebab hal ini
merupakan yang baik diantara cara-cara lainnya"
"Apakah aku harus menunggu kalian disini?"
"Sam moay akan tetap tinggal disini untuk menemani
kau" "Kongcu!" Ang Bo-tan segera menimbrung.
''Selama hidup toaci selalu memegang janji yang telah
diucapkannya, jika kongcu percaya, marilah kita menunggu
di tempat ini saja."
Cu Siau hong segera berpikir:
"Dengan ditinggalkannya satu orang diantara mereka
untuk menemaniku, sudah pasti mereka tak akan berani
bermain curang" Ketika dilihatnya mereka itu membungkam terus, Liok
Hoo segera berkata lebih jauh:
'Barusan kami mendapat laporan yang mengatakan
bahwa ada orang telah menyerbu ke kebun raya Ban hoa
wan, kecuali sekawanan manusia yang diutus untuk
membunuh kalian, lainnya dilarang keluar dari bawah
tanah, apabila kongcu ikut bersama kami bukankah hal ini
justru akan meningkatkan kewaspadaan mereka?"
Cu Siau hong manggut-manggut, katanya kemudian:
"Baiklah, harap nona berdua bisa cepat pergi dan cepat
kembali" "Paling lambat dalam satu jam kemudian kami pasti
sudah kembali kemari"
Selesai berkata gadis Lik Hoo telah menyelinap pergi dari
tempat tersebut. Ui Bwe segera mengikuti di belakangnya, tinggal Cu Siau
hong dan Ang Bo tan dua orang.
Tiba-tiba Cu Siau hong tertawa, katanya:
"Nona Sam, sudah cukup lama kita berada disini, aku
kuatir beberapa orang temanku yang berada di atas sana
sudah tak sabar lagi menunggu. . . ."
"Yaa, mungkin saja demikian, maksud kongcu apa yang
harus kita lakukan sekarang?"
"Adakah suatu cara yang bisa kita lakukan untuk
memberi kabar kepada mereka ?"
"Moga-moga saja beberapa orang temanmu itu sanggup
menahan diri dan tidak berteriak-teriak mencari jejakmu"
"ITU SIH tak mungkin, cuma sudah pasti mereka akan
pergi kemana-mana untuk mencariku, aku pikir dalam
kebun Ban- hoa-wan tentu terdapat orang-orang kalian
yang mengawasi gerak gerik kami, aku ku-atir apabila
diantara mereka sampai terli-bat dalam suatu pertarungan"
"Siapa yang akan bertarung dengan ka-lian"''
"Bukankah, didalam kebun raya Ban-hoa -wan ini sudah
hadir beberapa orang jago li-hay" Apakah nona tidak tahu?"
"Aku tahu akan hal itu, tapi waktu un-tuk turun tangan
belum tiba, tiada pilihan buat mereka selain menunggu"'
"Kapan sih waktu yang telah mereka tetapkan?"
'Agaknya senja nanti, sekarang, selama mereka yang
diutus menuju kekebun raya untuk menghadang dan
menyergap mereka, sebagian besar masih berada didalam
lorong bawah tanah" tak mungkin mereka akan
melangsungkan serangan secara besar-besaran"
'Tak heran kalau tiada sesuatu gerakan apapun meski
aku telah membinasakan kede-lapan belas ekor harimau
buas itu" "Aaai . . . !" Ang Bo-tan menghela napas panjang,
"sesungguhnya ditempat ini terdapat suatu organisasi
rahasia yang memiliki disiplin ketat, hanya untuk menanti
suatu saat yang telah ditentukan saja, mereka harus
memiliki suatu kesabaran yang luar biasa, jangan toh kalian
baru membunuh delapan belas ekor harimau buas sekalipun
delapan belas orang jago yang terbunuhpun, mereka tak
akan melakukan tindakan apa-apa"
"'Ooooh, rupaya begitu!"
"Itulah sebabnya, kalian tak pernah berhasil menemukan
jejak musuh." Kata Ang Bo-tan lebih jauh.
"Nona Sam, kenapa mereka harus menunggu sampai
senja nanti baru mulai turun tangan?"
"Soal ini aku sendiripun kurang jelas, a-gaknya seperti
menunggu kedatangan seseorang"
"Menunggu orang" Siapa yang sedang mereka nantikan?"
"Kongcu, aku benar-benar tidak tahu, dalam kebun raya
Ban hoa wan kami tidak lebih hanya manusia kelas dua,
kelas tiga, rahasia yang penting dan perundingan besar
hanya diketahui oleh mereka dari tingkat atas, kami tak
pernah diperkenankan untuk turut serta'
"Apakah Keng ji kongcu merupakan pemimpin dari kebun
raya Ban hoa wan ini?"
"Sekalipun dia bukan pemimpinnya, pa-ling tidak dia
merupakah salah seorang manusia penting di dalam kebun
raya Ban-hoa wan ini"
"Apakah dia seringkali tinggal di dalam kebun raya Ban
hoa wan ini?" "Bila dia mau datang, maka secara tiba--tiba dia akan
muncul di sini, bila dia mau pergi, diapun tak pernah
mengatakan kepada kami akan pergi ke mana, apakah dia
tinggal, juga di dalam kebun raya Ban hoa wan ini" Kami
sendiri juga kurang tahu"
Cu Siau hong segera termenung dan tidak banyak
berbicara lagi, Ang Bo tan menghela napas panjang,
kembali ujarnya: "Kong cu, apakah kau tidak percaya dengan
perkataanku?" "Percaya, Aku lagi berpikir, sebetulnya manusia yang
bernama Keng ji kongcu itu adalah manusia macam apa dan
datang dari mana?" "Selamanya ia tak pernah membicarakan soal asal
usulnya dengan kami, sekalipun sedang terlibat dalam
permainan cinta dan dalam suasana romantis, dia tetap
membumkam dalam seribu bahasa.
Cu Siau hong manggut-manggut.
Sekali lagi ia terjerumus dalam pemikiran yang dalam
dan tidak menyangka kalau dalam kebun raya Ban-hoa wan
ini bisa terdapat persoatlan yang begitu rumit.
Satu jam sudah hampir lewat, namun Lik Hoo serta Ui
Bwe belum nampak juga muncul disana.


Pena Wasiat Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Walaupun Cu Siau hong merasa gelisah sekali didalam
hatinya, namun kegelisahakan tersebut tak sampai
diperlihatkan di atas wajahnya.
Berbeda dengan Ang Bo tan, ia sudah mulai tak sabar
lagi, sambil bergendong tangan ia berjalan bolak-balik
kesana kemari dengan wajah yang amat gelisah.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, menyusul kemudian
Ui Bwe menyelinap masuk. Dengan cemas Ang Bo tan segera berseru.
"Oooh, sungguh mencemaskan sekali, mana toaci?"
"Orangnya sudah berhasil kita tolong, toa-ci ada
dibelakang" sahut Ui Bwee.
Tiba-tiba pintu rahasia yang lain terbuka dan Lik Hoo
melangkah masuh ke dalam ruangan. .
Didalam bopongannya mendukung sese-orang yang tidak
sadarkan diri.. Rambut orang itu awut-awutan tak karuan sehingga raut
wajahnya hampir tertutup sama sekali.
'Tapi dalam sekilas pandangan saja Cu Siau hong dapat
mengenali orang itu sebagai Tiong It ki.
Sekuat tenaga dia berusaha untuk mengendalikan
pergolakan emosi didalam hatinya, sambil menjura dia
memberi hormat, katanya: "Terima kasih banyak nona!'
"Tak usah berterima kasih, coba kau periksa dulu,
apakah dia adalah orang yang hendak kau tolong?"
"Betul, dialah yang sedang kucari-cari, dialah Siau suteku
Tiong It ki!" sahut sang pemuda.
Dalam perkiraan semua, entah berapa banyak waktu dan
tenaga yang harus dia keluarkan sebelum berhasil
menemukan Tiong It ki, siapa tahu adik seperguruannya ini
berhasil ditemukan dengan begini mudahnya tanpa
bersusah payah." Itulah yang dikatakan, dicari dengan susah payah sampai
sepatu jebolpun tidak ketemu, tahunya berhasil ditemukan
tanpa susah payah. Pelan-pelan Lik Hoo membaringkan tubuhnya ke atas
tanah, kemudian ujarnya: "Entah dia sudah dicekoki sejenis obat atau jalan
darahnya sudah ditotok orang, silahakn Cu Kongcu
memeriksa sendiri!" Cu Siau hong segera membungkukkan badannya untuk
memeriksa, dia menyaksikan sepasang mata Tiong It ki
terpejam rapat-rapat, mukanya pucat, tapi mapasnya
berjalan normal. Untuk sesaat Cu Siau hong sendiripun tak bisa
menentukan apakah dia terpengaruh oleh obat atau
tertotok jalan darahnya, maka diapun menanyakan hal ini
kepada Lik Hoo "Soal ini aku sendiripun kurang tahu" jawab Lik Hoo,
"cuma menurut pendapat kami siau-moay, besar
kemungkinan kalau ja-lan darahnya sudah ditotok orang"
Cu Siau-hung manggut-manggut.
"Nona bertiga" ujarnya kemudian "mumpung mereka
belum melakukan suatu tindakan, bagaimana kalau kita
tinggalkan dulu tempat ini?"
"Kongcu tak perlu sungkan, mulai sekarang kami bertiga
badan berikut nyawa su-dah menjadi milik Cu kongcu, asal
kongcu ada perintah, mau terjun ke api atau mendaki bukit
bergolok, kami tidak akan menampik"
Cu Siau-hong menjadi tertegun, tiba-tiba saja dia
merasakan adanya suatu beban yang sangat berat menindih
diatas bahunya, Bu khek-bun adalah suatu perguruan kaum
lurus dalam dunia persilatan, jika dia sampai membawa Lik
Hoo, Ui Bwe serta Ang- Bo-tan yang bernama jelek dimata
masyara-kat untuk melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, sudah pasti peristiwa ini akan sangat
menggemparkan seluruh dunia dan sedikit banyak nama
baik Bu- khek bun pun tentu akan terpengaruh...
Sekarang, dia baru mengerti pandangan suhunya yang
lebih ke depan, dia baru menyadari apa sebabnya ia telah
dibebas tugaskan dari ikatan perguruan Bu khek bun oleh
gurunya menjelang saatnya menghem-buskan napas
penghabisan. Bagaimana keadaan tersebut sungguh merupakan suatu
bantuan yang amat besar, karena dia dapat bertindak lebih
leluasa lagi tanpa takut terikat oleh peraturan-peraturan Bu
khek bun. Seandainya tidak begini, diapun tak dapat mengambil
keputusan menurut keadaan dan tak dapat meluluskan
permintaan Lik Hoo bertiga untuk mengikuti dirinya dan
berarti diapun akan sulit untuk menemukan jejak siau
sutenya. Memang banyak kejadian didunia ini yang sukar diduga
sebelumnya, tapi cara yang terbaik adalah bisa
memanfaatkan keadaan serta memegang posisi yang
menguntungkan. "Kongcu, apa yang sedang kau pikirkan?"
Tiba-tiba Lik Hoo menegur sambil tertawa.
"Oooh, tidak. . .' "Kongcu, apakah kau menjumpai kesulitan?"
"Aaai . . . . terus terang, aku sedang berpikir bagaimana
caranya untuk memberi ke-terangan kepada suboku nanti"
"Kongcu, kau tak usah bersedih hati, dalam menghadapi
persoalan apapun tak usah murung, bila subo mu bertanya
nanti, katakan saja bahwa kami adalah dayang yang kau
terima untuk melayani dirimu"
"Nona begitu memikirkan tentang diriku, hal ini sungguh
membuat aku merasa malu sendiri"
"Tidak, kami pasti akan mendatangkan sedikit kesulitan
kepadamu, dan kami tahu hal ini tak dapat dihindari, nama
ka-mi dimasa lalu memang terlampau jelek, tapi kami pasti
akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk mengurangi
kesulitan tersebut sampai batas-batas yang mudah"
'Nona bertiga" kata Siau hong kemudian ''apa yang telah
Neraka Lembah Tengkorak 3 Dewi Ular Lorong Tembus Kubur Makam Asmara 4
^