Pencarian

Meraba Matahari 8

Meraba Matahari Karya Sh Mintardja Bagian 8


"Menur. Yang kelak akan menjalani hidup bersama adalah aku
dan kau. Aku memang tidak ingkar, betapa besarnya
pengaruh orang tua terhadap anaknya pada saat-saat anaknya
Ebook by Dewi Kangzusi 544 Kang Zusi http://kangzusi.com/
memilih bakal sisihannya. Tetapi keputusan terakhir tentu.
berada pada anak itu sendiri."
"Jika Raden Madyasta bukan putera seorang Adipati, aku
dapat mengerti, Raderi. Tetapi Raden Madyasta adalah putera
seorang Adipati. Apa yang akan Raden lakukan akan disorot
bukan saja oleh orang tua Raden. Tetapi juga oleh para
priyagung, para pemimpin pemerintahan dan keprajuritan,
bahkan oleh rakyat Paranganom."
"Aku mengerti, Menur. Tetapi kebesaran cinta kita akan
dapat mengalasinya."
"Raden. Aku sangat menghargai sikap Raden. Tetapi jika.
yang aku takutkan itu harus terjadi. Kangjeng Adipati, para
priyagung, para pemimpin dan rakyat Paranganom akan dapat
menolak keberadaanku di kadipaten. Mereka akan dapat
menganggap keberadaanku di kadipaten itu hanya akan
mengotori tempat yang seharusnya dihormati itu."
"Kau sangat merendahkan dirimu sendiri, Menur. Pada.
saatnya aku akan berbicara dengan ayahanda. Aku berharap
ayahanda mengerti." "Itu harapan Raden."
"Menur. Kita jangan merasa kalah sebelum kita melangkah.
Aku tidak membutakan mataku terhadap kemungkinan itu.
Aku bukan anak-anak lagi, sehingga cintaku juga bukan
sekedar cinta anak-anak. Aku sudah dewasa penuh. Aku
menyadari apa yang aku lakukan ini, Menur." .
"Akupun mengerti, Raden. Sekali lagi aku nyatakan kepada
Raden, bahwa bukannya aku tidak percaya kepada Raden.,
Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa disekitar kita
terdapat berbagai macam pengaruh yang akan dapat ikut
Ebook by Dewi Kangzusi 545 Kang Zusi http://kangzusi.com/
serta merientukan arah hidup kita. Pengaruh disekitar kita itu
akan dapat membentangkan jarak diantara kita. Bahkan
mungkin jarak itu tidak dapat kita loncati, sehingga kita akan
duduk sambil berduka disisi yang berseberangan."
"Kita tidak boleh menyerah, Menur. Aku mengakui
pengaruh yang kuat akan dapat melanda biduk yang ingin kita
tumpangi. Kemudian tergantung kepada kita. Apakah kita
akan hanyut atau kita akan mampu mengayuhnya menentang
arus." "Jika kita gagal, Raden. Akulah yang akan paling
menderita. "Kenapa kau, Menur ?"
"Raden akan dapat terhibur dengan kedudukan Raden
kelak. Raden akan menggantikan kedudukan ayahanda.
Kemudian Raden akan bersanding dengan seorang puteri yang
cantik, yang berkedudukan sederajat dengan Raden.
Kemudian Raden akan di elu-elukan oleh rakyat Paranganom
kemanapun Raden pergi. Lalu bagaimana dengan aku " Aku
akan menjadi kesepian dalam kesendirianku. Di kademangan
kecil yang terpencil. Kawan-kawanku akan memperolok-
olokkan aku sebagai seorang pemimpi yang tidak tahu diri."
Raden Madyasta menarik nafas panjang. Katanya "Kau
berkhayal tentang langit yang mendung, gelap dengan seribu
guruh yang menyambar-nyambar. Angin prahara dan cleret
tahun. Kau menempatkan dirimu dalam kemelut alam yang
bengis itu, Manggar."
"Raden. Apakah kau berkhayal " Apakah yang aku
bayangkan itu tidak mungkin terjadi dalam kenyataan" Raden.
Aku ingin mengatakan kepada Raden, mumpung kita belum
terlalu jauh melangkah. Mungkin hati kita kita akan terluka.
Ebook by Dewi Kangzusi 546 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Tetapi luka itu tidak separah jika pertautan hati kita sudah
menjadi semakin lekat. "Menur. Aku mengerti sepenuhnya apa yang kau
maksudkan. Tetapi aku akan dapat memilih. Hidup diatas
gemerlapnya tatanan kewadagan, atau kita akan menunjung
nilai-nilai batin kita yang lebih tinggi."
"Dapatkah Raden memisahkannya ?"
"Aku akan menempatkan cinta kasih di atas segala-
galanya, Menur ?" "Bagaimana cinta dan kasih Raden kepada Paranganom
serta kelangsungan wibawa serta kebesaran nama Kangjeng
Adipati Prangkusuma ?"
"Aku bukan satu-satunya orang yang dapat meneruskan
kelangsungan hidup kadipaten ini. Menur."
"Dalam keadaan tersudut Raden akan memilih aku dari-
pada kesetiaan Raden kepada Paranganom ?"
"Jangan kau nilai sikapku sebagai pengingkaran terhadap
kesetiaanku kepada Paranganom. Menur. Kesetiaan tidak
harus selalu ditunjukkan dengan mengikuti irama yang
mengalir teratur. Apakah jika aku tidak menjadi seorang
Adipati, aku tidak dapat menunjukkan kesetiaanku kepada
Paranganom ?" "Raden memang dapat berbuat banyak. Tetapi takaran
perbuatan Raden tentu tidak sebanding dengan takaran sikap
seorang Adipati." "Kau salah menilai kesetiaan seseorang terhadap kam-
pung halamannya, Menur. Kesetiaan seorang kawula alit,
Ebook by Dewi Kangzusi 547 Kang Zusi http://kangzusi.com/
mungkin akan dapat lebih tinggi dari kesetiaan seorang Adipati
terhadap tugas dan kewajiban yang diembannya. Bahkan
seorang Adipati akan dapat menjerumuskan negerinya
kedalam petaka jika ia tidak dapat mengendalikan dirinya."
Rara Menur menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja di
pelupuknya telah mengembun air matanya. Dengan jari-
jarinya ia mengusapnya. "Aku tidak pernah meragukan sikap Raden " suaranya
menjadi serak "tetapi Raden adalah milik kadipaten
Paranganom yang paling berharga. Aku tahu, bahwa aku
adalah debu yang tidak berharga. Meskipun demikian Raden,
aku akan menggantungkan nasibku ke jari-jari Raden."
"Yakinlah akan sikapku Menur. Beberapa tahun aku hidup
di sebuah perguruan yang terpencil. Aku sudah terbiasa hidup
dalam keprihatinan. Aku bukan putera seorang Adipati yang
manja. Karena itu, aku akan segera dapat menyesuaikan
hidupku dengan lingkunganku yang bagaimanapun juga
ujudnya." Rara Menur masih akan menjawab. Namun mereka melihat
Ki Demang Panjer datang mendekati mereka.
"Raden " sapa Ki Demang Panjer.
Raden Madyastapun bangkit berdiri. Sementara itu Rara
Menurpun justru meninggalkan Raden Madyasta sambil
berkata "Aku akan pergi ke dapur."
Ki Demang memandang wajah anak gadisnya yang basah.
Sebagai seorang ayah, maka Ki Demang sudah dapat meraba,
apa saja yang dibicarakan oleh anaknya dengan Raden
Madyasta. Ebook by Dewi Kangzusi 548 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Dalam pada itu, maka Ki Demangpun kemudian berkata
"Marilah, aku persilahkan Raden duduk di pringgitan."
Raden Madyasta tidak membantah.Tapun kemudian mengikuti Ki Demang pergi ke
pringgitan, sementara Rara Menur menenggelamkan diri di dapur untuk menyiapkan
hidangan bagi Raden Madyasta.
Namun Raden Madyasta tidak dapat berlama-lama berada di Panjer. Ia harus segera
kembali ke kadipaten dan segera pula pergi ke rumah bibinya.
*** Dalam pada itu, ketika matahari turun, sebelum Raden Madyasta kembali, Raden Ayu
Prawirayuda dan Rantamsari, diantar oleh Sasangka pergi menghadap Kangjeng
Adipati Prangkusuma. Mereka telah diterima langsung oleh Kangjeng Adipati di serambi samping.
Dengan irama yang gelisah, Raden Ayu Prawirayuda telah menceriterakan apa yang
baru saja terjadi di dalam taman.
"Anak itu telah membuat kami gelisah, dimas. Rantamsari menjadi ketakutan."
Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Katanya "Sukurlah bahwa Sasangka dapat
mengatasinya." "Ya, dimas. Kami sangat berterima kasih kepada angger Sasangka. Jika saja angger
Sasangka tidak melihat peristiwa itu, aku tidak tahu, apa jadinya dengan
Rantamsari." Ebook by Dewi Kangzusi 549 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Apakah dengan demikian kangmbok menghubungkan sikap Wicitra itu dengan kematian
Rembana?" Raden Ayu Prawirayuda terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis
"Aku belum dapat mengatakannya, dimas. Aku tidak tahu, apakah Wicitra sudah
melangkah sedemikian jauhnya."
"Apakah kangmbok ingin pengamanan di rumah kangmbok diperkokoh. Maksudku,
kangmbok ingin prajurit yang bertugas di rumah kangmbok diperbanyak ?"
"Tidak, dimas. Bukan maksudku, agaknya keberadaan Raden Madyasta dengan kedua
orang Senapati muda itu sudah cukup."
Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda
itu berkata "Sebenarnya aku ingin menyampaikan kegelisahan ini kepada angger
Madyasta. Kemudian biarlah angger Madyasta menyampaikannya kepada dimas Adipati.
Tetapi angger Madyasta telah mendahului sebelum aku sempat mengatakan pesan ini
kepadanya." "Mendahului kemana, kangmbok ?"
"Bukankah angger Madyasta berada di kadipaten sekarang
?" "Tidak, kangmbok. Madyasta tidak pulang. Aku belum melihat sehari ini. Mungkin
pagi tadi ia datang mengambil kudanya. Namun kemudian ia telah pergi. Aku belum
bertemu dengan anak itu."
Ebook by Dewi Kangzusi 550 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya "Jika
demikian, angger Madyasta benar-benar pergi ke Panjer ?"
"Ke Panjer ?" "Mungkin dimas. Hanya satu kemungkinan."
"Kenapa kangmbok menduga, bahwa Madyasta pergi ke Panjer ?"
"Aku kadang-kadang melepas waktu untuk berbincang-bincang dengan angger
Madyasta. Mungkin karena aku bibinya, kadang-kadang terloncat dari bibirnya,
tanggapannya terhadap seorang gadis di Panjer."
"Maksud kangmbok ?"
"Ah. Wajar saja dimas. Anak muda."
"Madyasta tertarik kepada gadis Panjer ?"
"Aku tidak tahu seberapa jauh hubungan mereka. Tetapi angger Madyasta pernah
memuji kecantikan gadis anak Ki Demang di Panjer. Tetapi dimas tidak perlu
menghiraukannya. Bukankah itu wajar-wajar saja bagi seorang anak muda."
Kangjeng Adipati mengangguk-angguk kecil. Namun nam pak kerut di dahinya menjadi
semakin dalam. Raden Ayu Prawirayuda tidak menyinggung Madyasta lagi.
Tetapi Raden Ayu itupun kemudian berkata "Dimas.
Kedatanganku manghadap dimas jangan merisaukan dimas.
Maksudku, tentang keselamatan keluarga kami. Jika aku datang melaporkan
kehadiran adikku itu semata-mata agar
dimas Adipati mengetahui segala peristiwa yang terjadi di
Ebook by Dewi Kangzusi 551 Kang Zusi http://kangzusi.com/
lingkungan keluarga kami. Jika benar terjadi sesuatu, biarlah
dimas Adipati dapat mengurai permasalahannya dengan
bahan yang lengkap. "Terima kasih, kangmbok. Aku akan memperhatikannya.
Akupun harus memperhatikan kepergian "Madyasta ke Panjer,
karena Madyasta tidak minta ijin bahkan tidak memeritahukan
kepergiannya itu." "Aku mohon dimas tidak mempersoalkan angger Madyasta
" "Aku adalah ayahnya, kangmbok."
"Tetapi bukankah yang dilakukannya masih dalam batas
kewajaran, sehingga dimas tidak perlu gelisah."
Kangjeng Adipati mengangguk-angguk sambil berdesis
"Ya, kangmbok."
Raden Ayu Prawirayuda itupun kemudian telah mohon diri.
Sementara kangjeng adipati berkata kepada Sasangka
"Akupun mengucapkan terima kasih kepadamu, Sasangka.
Tetapi selanjutnya kau harus berhati-hati."
"Hamba, kangjeng. Hamba akan berhati-hati."
Ketika Raden, Ayu Prawirayuda keluar dari serambi, langit
telah. menjadi buram. Awan nampak menjadi merah disaat-
saat menjelang senja. Matahari yang disaput mega-mega yang
tipis, nampak seperti bara.
Ketika Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari dan Sasangka
keluar dari gerbang halaman kadipaten, mereka berpapasan
dengan Madyasta yang melarikan kudanya seakan berpacu di
arena. Ketika Madyasta menarik kendali kudanya, maka kuda
Ebook by Dewi Kangzusi 552 Kang Zusi http://kangzusi.com/
itupun berhenti dengan tiba-tiba sehingga kedua kakinya
terangkat keatas. Terdengar kuda itu meringkik panjang.
Raden Madyasta meloncat turun. Dielusnya leher kudanya
perlahan-lahan sehingga kudanya menjadi tenang kembali.
"Darimana ngger ?" bertanya Raden Ayu Prawirayuda.
"Sekedar melihat-lihat keadaan bibi."
"Dari Panjer ?"
Jantung Raden Madyasta berdesir. Dengan gagap iapun
bertanya " Darimana bibi tahu ?"
"Bukankah angger pernah berceritera tentang. gadis
Panjer yang cantik dan luruh itu?"
"Ah. Bukan maksudku untuk mengatakan bahwa aku
tertarik kepadanya, bibi."
Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Katanya "Bukankah hal
itu wajar sekali" Angger adalah seorang anakmuda yang


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah dewasa. Sedangkan anak Ki Demang Panjer itu agaknya
seorang gadis yang sudah meningkat dewasa pula. Bukankah
wajar sekali ?" "Tetapi " Raden Ayu Prawirayuda menepuk bahu Raden Madyasta
sambil berdesis "Jangan risaukan pernyataan bibi. Bibi hanya
ingin bergurau." Raden Madyasta menarik nafas panjang
"Sudahlah ngger. Bibi Pulang."
Ebook by Dewi Kangzusi 553 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Apakah bibi baru saja menghadap ayahanda ?"
"Ya. Ada sesuatu terjadi di rumah.
"Ada apa bibi?"
"Pamanmu Wicitra datang lagi mengganggu Rantamsari.
Bahkan mengancamnya dengan keris. Untunglah bahwa
angger Sasangka mengetahuinya dan berhasil mengusir
Wicitra. Aku melaporkannya kepada dimas Adipati, agar dimas
Adipati mengetahui segala sesuatunya yang terjadi atas
keluarga kami." Raden Madyasta mengangguk-angguk. Katanya "Sukurlah
bahwa Sasangka dapat mengatasinya. Aku mohon maaf bibi,
bahwa aku tidak berada di rumah bibi pada saat itu."
"Tidak apa-apa ngger. Mudah-mudahan Wicitra menjadi
jera." "Ya, bibi." "Sudahlah ngger. Angger tentu letih. Bibi mohon diri."
"Silahkan bibi. Aku juga akan segera menyusul."
Ketika Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari yang
diantar oleh Sasangka meninggalkan Raden Madyasta, maka
Raden Madyastapun segera menuntun kudanya memasuki
regol halaman kadipaten. Setelah menyerahkan kudanya kepada seorang abdi, maka
Raden Madyasta pun.masuk keserambi samping.
Ebook by Dewi Kangzusi 554 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Madyasta terkejut ketika ia melihat ayahandanya, Kangjeng Adipati
Prangkusuma, duduk sendiri di serambi samping itu.
Sebuah lampu minyak sudah dinyalakan. Sinarnya yang kekuning-kuningan nampak
berayun oleh sentuhan angin yang menyusup kedalam.
Madyasta justru berdiri termangu-mangu di pintu.
Jantungnya terasa berdegup semakin cepat.
"Madyasta" suara ayahandanya terasa berat menekan dadanya.
"Hamba ayahanda."
"Kemarilah, duduklah."
Perlahan-lahan Madyasta mendekat. Kemudian duduk dihadapan ayahandanya.
"Kemana kau seharian ini Madyasta ?"
Madyasta tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Bahkan Madyasta
menduga bahwa bibinya telah mengatakan kepada ayahandanya, bahwa ia pergi ke
Panjer. Mungkin benar bahwa bibinya sekedar bergurau atau mengganggunya tanpa maksud
apa-apa. Tetapi persoalannya akan dapat menjadi rumit baginya.
Karena Madyasta tidak segera menjawab, maka ayahandanya itupun berkata
"Madyasta. Bibimu baru saja menghadap. Bibimu melaporkan apa yang baru saja
terjadi di rumahnya. Adiknya laki-laki itu datang mengganggunya.
Untunglah bahwa Sasangka dapat mengatasinya. Sementara itu, kau tidak ada di
rumah bibimu." Ebook by Dewi Kangzusi 555 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Madyasta menjadi semakin menunduk.
"Kau pergi kemana Madyasta " Aku ingin mendengar kau menjawab dengan jujur."
"Hamba pergi ke Panjer, ayahanda."
Tetapi Kangjeng Adipati sudah tidak terkejut lagi. Dengan nada berat Kangjeng
Adipatipun bertanya pula "Untuk apa kau pergi ke Panjer ?"
Madyasta menarik nafas dalam-dalam. Keragu-raguan yang sangat telah mencengkam
jantungnya. Apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya, atau ia akan berbohong
kepada ayahandanya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, agaknya akan terasa
sangat tiba-tiba. Madyasta memang akan menyampaikan kepada ayahandanya. Tetapi
ia memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri lahir dan batinnya. Raden
Madyastapun ingin serba sedikit menyinggungnya sebelum ia menyampaikan seluruh
permasalahannya dengan gadis Panjer itu kepada ayahandanya.
Namun Raden Madyasta tidak terbiasa berbohong. Karena itu, betapapun beratnya,
maka Raden Madyastapun kemudian menjawab "Hamba berkunjung ke rumah KI Demang di
Panjer, ayahanda." "Ada apa di rumah itu " Apakah masih ada persoalan dengan kademangan Panjer ?"
Raden Madyasta tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia harus mengatakan apa yang
sesungguhnya dilakukannya di Panjer.
"Ayahanda. Hamba mohon ampun. Memang maksud hamba pada suatu saat akan
menyampaikan persoalan Iiamba Ebook by Dewi Kangzusi
556 Kang Zusi http://kangzusi.com/
ini kepada ayahanda. Tetapi sebenarnya hamba memerlukan
waktu. Tetapi agaknya hamba harus menyampaikannya
sekarang." Kangjeng Adipatilah yang terdiam. Dipandanginya garis-
garis papan pada dinding serambi itu, seolah-olah Kangjeng
Adipati belum pernah melihat sebelumnya.
"Ayahanda" berkata Raden Madyasta kemudian "di Panjer,
hamba berkenalan dengan seorang gadis, anak Ki Demang
Panjer." Kangjeng Adipati masih berdiam diri. Sementara itu suara
Raden Madyastapun menjadi bergetar oleh gejolak
perasaannya. "Gadis itu menurut pendapat hamba, adalah gadis yang
baik." "Kau tertarik kepadanya?" bertanya Kangjeng Adipati.
"Hamba ayahanda. Hamba tidak akan mengingkarinya "
"Sejauh manakah hubunganmu dengan anak Demang
Panjer i u ?" "Kami saling mencintai ayahanda."
"Madyasta" suara Kangjeng Adipati menjadi semakin berat.
"Hamba ayahanda."
"Apakah kau sadari bahwa kau adalah anakku?"
"Hamba ayahanda."
Ebook by Dewi Kangzusi 557 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Aku ini siapa ?"
Jantung Raden Madyasta berdegup semakin cepat
"Ayahanda adalah Adipati Paranganom."
"Jadi ?" "Hamba adalah putera Adipati Paranganom."
"Nalarmu masih bening, Madyasta. Kau masih sadar sepenuhnya bahwa kau adalah
putera Adipati Paranganom."
"Hamba ayahanda."
"Sedangkan gadis Panjer itu adalah anak gadis Demang Panjer."
"Hamba ayahanda."
"Madyasta. Apakah menurut pendapatmu, kedudukanmu dan kedudukan gadis itu
seimbang ?" Pertanyaan itulah yang sudah diduga akan disampaikan oleh ayahanda. Persoalan
itu pulalah yang telah dikemukakan oleh Rara Menur kepadanya. Perbedaan de-rajad
itu memang akan dapat menjadi penyekat diantara mereka berdua.
Namun Madyasta itu memberanikan diri menjawab
"Ayahanda. Apakah kedudukan seseorang itu demikian pentingnya bagi dua orang
yang ingin. membangun sebuah keluarga ?"
"Pertanyaanmu aneh, Madyasta. Kau adalah putera seorang Adipati. Apalagi kau
adalah puteraku yang tertua, yang pada saatnya akan menggantikan kedudukanku
sebagai Adipati di Paranganom. Jika sisihanmu kelak hanyalah anak Ebook by Dewi
Kangzusi 558 Kang Zusi http://kangzusi.com/
seorang Demang, apa kata orang tentang Adipati
Paranganom", Apa kata para. Adipati tetangga-tetangga kita.
Apapula kata Kangjeng Sultan di Tegal angkap " Madyasta.
Sebagai seorang putera Adipati yang kelak akan menggantikan
kedudukannya, kau harus menjunjung tinggi derajat
keluargamu. Kau harus menjaga wibawa namamu."
"Ayahanda. Apakah unsur keturunan dari seorang isteri
akan dapat ikut menentukan wibawa nama seorang Adipati"
Jika Adipati itu sendiri dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik, menjunjung tinggi kewajibannya, menyatu dengan
rakyatnya membangun keutuhan kehidupan di seluruh
kadipaten sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya."
"Kau tidak dapat menutup mata dan telinga dalam
pergaulan para Adipati. Juga dihadapan Kangjeng Sultan di
Tegal angkap. Jika pada suatu saat, dalam upacara-upacara
kenegaraan atau dalam kesempatan apapun, para Adipati
harus berkumpul di istana Kangjeng Sultan di Tegal angkap
bersama isterinya, bagaimana kau dapat menyembunyikan
anak Demang itu dari tatapan mata para Adipati serta para
priyagung di Tegal angkap. ?"
"Apakah dalam kedudukannya, seorang perempuan dari
pedesaan, anak seorang Demang, tidak akan dapat
menyesuaikan diri ayahanda. Bukankah seroang dapat belajar,
apa yang harus dilakukan sebagai isteri seorang Adipati."
"Sikap dan tingkah laku memang dapat dipelajari,
Madyasta. Tetapi tidak seorangpun yang dapat merubah garis
keturunan seseorang. Jika ia anak seorang Demang, maka
meskipun kau mendatangkan seribu orang guru yang akan
dapat memberinya pelajaran dan petunjuk tetang sikap dan
tingkah laku, namun mereka tidak akan dapat merubah garis
keturunannya. Jika ia anak seorang Demang, maka ia akan
tetap anak seorang Demang. Tetapi jika ia anak seorang
Ebook by Dewi Kangzusi 559 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Adipati atau seorang priyagung di Tegal angkap, maka ia akan
tetap anak seorang Adipati atau seorang priyagung. Kau
mengerti itu Madyasta.?"
"Ayahanda. Bagaimanakah penilaian seseorang tetang
seorang perempuan keturunan orang berderajad tinggi tetapi
sikap dan tingkah lakunya tidak terpuji sementara seseorang
perempuan yang dilahirkan oleh keluarga dari keturunan yang
dianggap berderajad rendah, tetapi menunjukkan sikap dan
tingkah laku yang baik serta berbudi."
"Satu mimpi yang buruk bagimu Madyasta."
"Bukankah dihadapan Yang Maha Pencipta, kita dititahkan
sama." "Madyasta. Kau sudah berani membantah kata-kataku.
Siapa yang mengajarimu Madyasta " Demang Panjer" Demang
Panjer itu agaknya telah meraeunimu dengan pandangan
hidup yang naif itu."
"Ampun ayahanda. Hamba tidak sekali-sekali berani
membantah titah ayahada."
"Ingat Madyasta. Kau adalah putera seorang Adipati yang
kelak akan menggantikan kedudukannya. Kau adalah
seseorang yang akan menjadi pemimpin. Kau akan menjadi
kiblat tatapan mata seluruh rakyat Paranganom dan bahkan
kau akan selalu berada dibawah penilikan Kangjeng Sultan di
Tegal angkap." Madyasta menundukkan wajahnya. Ia masih akan
menjawab. Tetapi Madyasta menyadari, bahwa ayahandanya
mulai tidak berkenan. Jika ia masih saja menyatakan
pendapatnya, maka ayahandanya akan dapat menjadi sangat
marah. Ebook by Dewi Kangzusi 560 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Madyasta" berkata Kangjeng Adipati kemudian "apa kata orang, jika pada suatu
saat kangmasmu Adipati Kateguhan menikah dengan seorang puteri yang sederajat,
bahkan puteri dari Tegal angkap, kemudian kau menikah dengan anak Demang itu"
Kemana aku harus menyembunyikan wajahku"
Sedangkan jika itu terjadi setelah aku meninggal maka kusutlah wibawa kadipaten
Paranganom. Jika kemudian istana Tegal angkap memperbandingkan kau dengan
kangmasmu Yudapati dari Kateguhan, maka kau akan berada dibawah bayang-
bayangnya." Jantung Madyasta terasa bergejolak didalam dadanya.
Tetapi Madyasta harus menahan diri. Madyasta sadar, bahwa dalam keadaan
demikian, ia lebih baik diam. Ia harus mencari kesempatan lain untuk dapat
berbicara lebih panjang. Mungkin ia mempunyai lebih banyak kesempatan untuk
menjelaskan persoalannya.
"Madyasta " berkata Kangjeng Adipati kemudian.
"Hamba ayahanda."
"Sekarang mundurlah. Pergilah ke rumah bibimu. Malam telah turun."
"Hamba ayahanda."
Raden Madyastapun kemudian meninggalkan ayahandanya sendiri di serambi.
Namun sepeninggalkan Madyasta, Wignyana telah masuk ke serambi. Dengan ragu-ragu
iapun berkata "Ayahanda.
Apakah hamba diperkenankan menghadap" "
Ebook by Dewi Kangzusi 561 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Wignyana. Kemarilah. Duduklah. Apakah ada yang penting yang akan kau
sampaikan ?" Wignyanapun kemudian duduk dihadapan ayahandanya.
Dengan ragu-ragu Wignyana itupun berkata "Ayahanda.
Hamba mohon ampun, bahwa hamba mendengar pembicaraan ayahanda dengan kangmas
Madyasta." Dahi Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berkerut. Dengan ragu-ragu iapun berkata
"Kau mendengarkannya ?"
"Semula hamba tidak sengaja ayahanda. Namun kemudian hamba seakan-akan telah
dicengkam oleh pendengaran hamba yang sekilas itu, sehingga hambapun mulai
mendengarkannya." "Jika kau mendengarnya, lalu apa yang akan kau katakan sekarang ?"
"Hamba ingin bertanya, ayahanda. Kenapa ayahanda berkeberatan jika kangmas
Madyasta berhubungan dengan anak Ki Demang di Panjer itu."
"Jika kau mendengarkan percakapan kami, kau tentu mendengar pula, apa alasanku."
"Hamba mendengar ayahanda. Tetapi hamba merasa kasihan kepada kangmas Madyasta."
"Kenapa ?" "Kangmas Madyasta dan gadis Panjer itu sudah terlanjur saling mencintai."
"Wignyana. Bukankah kau tahu kedudukan kangmasmu?"
Ebook by Dewi Kangzusi 562 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Aku tahu, ayahanda. Tetapi apakah unsur keturunan itu demikian pentingnya,
ayahanda." "Tentu, Wignyana. Jika seseorang dalam kedudukan seperti Madyasta, ia harus


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mempertimbangkan, perempuan yang manakah yang pantas menjadi sisihannya.."
"Tetapi cinta itu datang begitu saja ayahanda. cinta mempunyai pertimbangan yang
lain." "Apakah menurut pendapatmu, cinta itu memang buta seperti kata orang". Atau
bahkan cinta itu harus buta sehingga nalar tidak dapat ikut berbicara ?"
"Ayah. Cinta adalah karunia. Cinta yang teguh tidak akan dapat dihambat oleh
lautan api sekalipun. Gunung yang tinggi akan diloncati, lautan yang luas akan
diseberangi." "Kau dendangkan tembang anak-anak remaja Wignyana.
Kau memang-sedang meningkat dewasa. Aku mengerti bagaimana kau menilai cinta
seorang laki-laki terhadap seorang perempuan dan sebaliknya. Tetapi kangmasmu
seharusnya sudah dapat berpikir lebih dewasa Wignyana. Ia sudah harus dapat
mencari keseimbangan antara perasaan dan penalarannya. Tidak usah meloncati
Gunung dan tidak usah menyeberangi lautan."
"Bukankah kita harus menghormati sikap seseorang?"
"Maksudmu agar kau menghormati sikap kangmasmu Madyasta ?"
Wignyana menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
Ebook by Dewi Kangzusi 563 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Aku memang menghormati pendapatnya, Wignyana, seperti aku menghormati
pendapatmu, sepanjang pendapat Madyasta dan pendapatmu itu mapan. Tetapi jika
pendapat Madyasta, pendapatmu dan pendapat siapapun tidak mapan dan tidak sesuai
dengan perasaan dan penalaranku, maka aku tentu akan mempersoalkannya."
"Ayahanda. Apakah hamba boleh bertanya ?"
"Bertanya tentang apa ?"
"Ampun ayahanda. Apakah ayahanda bermaksud menjodohkan kangmas Madyasta dengan
Kangmbok Rantamsari?"
Bab 24 - Persaingan Asmara
"Cukup" tiba-tiba saja Kangjeng Adipati Prangkusuma itu membentak "tinggalkan
aku sendiri." "Ampun ayahanda."
"Tinggalkan aku sendiri."-
Wignyana tidak berani menjawab lagi. Iapun kemudian berdesis " Hamba mohon diri,
ayahanda." Kangjeng Adipati tidak menyahut. Bahkan ia tidak memandang Wignyana saat anak
muda itu keluar dari serambi samping.
Sepeninggal Wignyana, Kangjeng Adipati itu duduk sendiri.
Kangjeng Adipati itu merasa kecewa atas sikap Madyasta.
Tetapi iapun kecewa terhadap sikap Wignyana. "Apakah anak-anakku sekarang sudah
berani menolak kata-kataku" Apakah
Ebook by Dewi Kangzusi 564 Kang Zusi http://kangzusi.com/
mereka sudah tidak menghormati aku lagi sebagai
ayahandanya, dan juga sebagai seorang Adipati ?"
Kangjeng Adipati itu terkejut ketika cahaya kilat memancar
menyilaukan. Kemudian disusul oleh suara guntur yang
bagaikan memecahkan selaput telinga.
Sejenak kemudian, maka hujanpun turun bagaikan
dirurahkan dari langit. Dalam hujan yang lebat itu, Raden Madyasta melangkah
menuju ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Madyasta
sama sekali tidak menghiraukan hujan yang justru menjadi
semakin lebat. Langit yang hitam itu menjadi semakin kelam.
Jalan-jalan menjadi hitam pekat. Hanya sekali-sekali kilat
memancar dengan terangnya. Namun sekejap kemudian,
ketika suara guruh meledak di langit, malampun telah menjadi
gelap kembali. Tetapi Raden Madyasta berjalan terus. Meskipun Raden
Madyasta itu seakan-akan tidak sempat memperhatikan jalan
yang akan dilaluinya, namun Raden Madyasta tidak terperosok
kedalam parit sebelah menyebelah jalan yang menjadi becek
berlumpur. Jantung putera Kangjeng Adipati Paranganom itu menjadi
sangat gelisah. Apa yang dicemaskan oleh Rara Menur itu
sudah membayang. Ayahandanya tidak mau menerima gadis
Panjer itu menjadi menantunya.
"Rara Menur anak seorang yang mempunyai kedudukan.
Ayahanda seorang Demang yang memerintah satu wilayah
yang cukup luas dan mempunyai pengaruh yang memerintah
satu wilayah yang cukup luas dan mempunyai pengaruh yang
mantap di wilayahnya" berkata Madyasta didalam hatinya.
Ebook by Dewi Kangzusi 565 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Tetapi dibanding dengan seorang Adipati, kedudukan seorang Demang.memang terlalu
kecil. "Tetapi menurut pendapalku, keturunan lidak menentukan bobot seseorang. Orang
Itu sendiri yang harus menentukan harga bagi dirinya sendiri."
Raden Madyasta berhenti melangkah ketika kakinya terperosok kedalam aliran air
parit yang mulai meluap ke jalan yang dilewatinya.
Pakaian Raden Madyasta telah menjadi basah kuyup.
Suara air hujan yang tumpah dari langit itu menjadi semakin gemuruh. Anginpun
mulai bertiup semakin keras.
Sejenak kemudian, Madyasta meneruskan langkahnya.
Angan-angannya kembali menerawang memandangi masa depannya yang mulia dibyangi
kegelapan. "Tentu bibi sudah memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pernah berbicara
tentang gadis Panjer itu "berkata Madyasta didalam hatinya.
Madyasta menarik nafas dalam-dalam.
Ketika Raden Madyasta itu memasuki regol padukuhan, maka malam terasa menjadi
semakin gelap. Air hujan yang menerpa pepohonan terdengar bagaikan arus banjir
yang deras. Raden Madyasta itupun kemudian berhenti didepan regol halaman rumah Raden Ayu
Prawirayuda. Madyasta menjadi semakin kecewa terhadap bibinya. Ketika
ayahandanya berceritera tentang sikap bibinya sehingga Kangjeng Adipati Yudapati
marah kepadanya dan mengusirnya dari dalem kedipaten di Kateguhan, Madyasta
sudah merasa kecewa terhadap bibinya. Apalagi bibinya agaknya sudah Ebook by
Dewi Kangzusi 566 Kang Zusi http://kangzusi.com/
menyampaikan hubungannya dengan gadis Panjer itu kepada
ayahandanya. Mungkin tanpa maksud apa-apa. Tetapi
akibatnya telah membuatnya terperosok kedalam kesulilan.
Sebenarnya Madyasta ingin menyampaikan persoalannya
itu sendiri kepada ayahandanya, pada saat-saat yang
dianggapnya tepat. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang
diharapkannya. Namun tiba-tiba saja Madyasta teringat kepada Ki Lurah
Rembana yang telah tidak ada, terbunuh di halaman rumah
bibinya itu, sehingga di dinginnya malam serta hujan yang
lebat itu, jantung Madyasta terasa menjadi panas.
Tetapi Madyastapun segera menyadari, bahwa ia sendiri
harus berhati-hati. Mungkin orang yang telah membunuh
Rembana itu telah membidik dirinya pula.
Raden Madyasta itupun kemudian memasuki halaman
rumah bibinya. Rumah itu nampak diam membeku. Hanya nyala lampu
minyak itu pendapa sajalah yang bergerak-gerak di sentuh
angin. Namun angin yang keraspun kemudian telah
mengguncang dedaunan di halaman.
Madyasta itupun langsung pergi ke serambi gandok. Ketika
ia naik ke pendapa, maka Sasangka yang mendengar langkah
di serambi, membuka pintu biliknya dengan hati-hati.
"Raden" sapa Sasangka yang melihat Raden Madyasta
basah kuyup di serambi. Tergopoh-gopoh ia
menyongsongnya. "Raden berjalan terus dalam hujan yang lebat ini?"
bertanya Sasangka. Ebook by Dewi Kangzusi 567 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya, kakang. Aku harus segera sampai di rumah ini."
"Bukankah disini sudah ada aku dan Wismaya."
"Ya. Tetapi rasa-rasanya aku harus berada di rumah ini.
Siang tadi aku telah melakukan kesalahan besar. Untunglah
bahwa kakang Sasangka dapat mengatasinya. Jika terjadi
sesuatu, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan
ayahanda." "Segala sesuatunya sudah lewat, Raden. Tidak ada per
soalan yang gawat." "Ya. Tetapi bagaimanapun juga, aku masih saja diburu
oleh perasaan bersalah. Apalagi ayahanda telah marah
kepadaku." "Marah ?" "Kakang" desis Raden Madyasta " bukankah bibi ielah
memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pergi ke
Panjer?" "Raden Ayu hanya mengatakan, mungkin Raden pergi ke
Panjer." "Karena aku pernah berbicara dengan bibi tentang gadis
Panjer itu ?" Sasangka tersenyum. Katanya "Raden Ayu tidak
bermaksud apa-apa. Raden Ayu hanya ingin menggoda
Raden." Ebook by Dewi Kangzusi 568 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Tetapi akibatnya, ayahanda marah kepadaku. Nampaknya masa depanku menjadi
muram. Jika bibi sekedar bergurau dan menggodaku, maka akibatnya menjadi sangat
jauh." "Tentu bukan maksudnya, Raden. Tetapi apakah sebaiknya Raden berbicara dengan
Raden Ayu, agar Raden Ayu datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menjernihkan
suasana ?" "Tidak. Tidak usah, kakang."
Tiba-tiba saja Sasangka menyadari, bahwa pakaian Raden Madyasta itu basah kuyup.
Bahkan tentu sampai pakaian dalamnya pula.
Karena itu, maka iapun segera berkata "Tetapi bukankah lebih baik, Raden
berganti pakaian dahulu."
Dimana kakang Wismaya sekarang" " bertanya Raden Madyasta.
"Wismaya berada di serambi belakang, Raden."
Baiklah. Aku akan berganti pakaian dahulu." Raden Madyastapun segera masuk
kedalam biliknya untuk berganti pakaian. Sementara Sasangka duduk di serambi
gandok. Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Namun
Raden Ajeng Rantamsari yang ketakutan karena peristiwa yang membawa kematian
Rembana, serta tingkah laku pamannya, tidak tidur di biliknya sendiri. Tetapi
Raden Ajeng Rantamsari tidur bersama ibunya.
"Senang juga tidur bersama ibu" desis Raden Ajeng Rantamsari "rasa-rasanya
seperti masa kanak-kanak itu kembali lagi."
Ebook by Dewi Kangzusi 569 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Tetapi sekarang kau bukan kanak-kanak lagi, Rantamsari."
"Ya, ibu. Namun masa kanak-kanak itu memang dapat menimbulkan kerinduan.
Alangkah senangnya tinggal di kadipaten Kateguhan saat itu, ibu. Hidup bermanja-
manja dalam taman yang indah dengan beberapa orang dayang yang setia."
"Kau tidak akan dapat kembali ke masa itu, Rantamsari.
Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak akan dapat menikmati kehidupan yang
menyenangkan. Jika kita harus prihatin.
sekarang, adalah sekedar pancadan untuk satu pencapaian.
Yakinkan dirimu, Rantamsari, bahwa ibu akan berusaha untuk menemukan kebahagiaan
di hari depanmu. Tentu saja kesenangan bagimu sekarang akan. jauh berbeda dengan
kesenangan masa kanak-kanakmu."
"Aku mengerti ibu."
"Sekarang tidurlah."
"Kadang-kadang aku merasa sulit untuk tidur."
"Jangan merasa takut Rantamsari. Raden Madyasta serta kedua orang Senapati itu
masih berada disini."
"Ya, ibu. Tetapi ternyata kakang Rembana itu telah terbunuh pula di sini."
"Mungkin angger Rembana itu menjadi lengah, Rantamsari. Ia mengira bahwa tidak
akan ada bahaya apapun yang mengintainya disini."
"Ya, ibu. Agaknya sekarang kakang Sasangka akan menjadi lebih berhati-hati."
Ebook by Dewi Kangzusi 570 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Semuanya akan berhati-hati." Rantamsari menarik nafas
dalam-dalam. Beberapa saat Rantamsari masih belum dapat tidur. Ketika
ibunya kemudian berdiam diri dengan tarikan nafas yang
teratur, maka Rantamsaripun memejamkan matanya pula.
Rasa-rasanya memang hangat tidur bersama ibunya,
sementara hujan masih luiun dengan derasnya.
Ketika malam berlalu, hujanpun telah berhenti. Di saat
fajar menyingsing, langit kelihat eerah. Tidak ada selembar
awanpun yang mengapung di kemerahan cahaya matahari
pagi. Raden Madyasta yang sudah mandi dan berbenah diri,
duduk di serambi gandok. Seorang abdi telah menghidangkan
minuman hangat bagi Raden Madyasta serta kedua orang
Senapati muda yang berada di rumah itu.
Namun abdi itu telah menyampaikan pesan Raden Ayu
Prawirayuda, bahwa Raden Ayu ingin berbicara dengan Raden
Madyasta. "Tentang apa ?" bertanya Raden Madyasta.
"Aku tidak tahu, Raden."
"Baiklah. Aku akan menghadap bibi"
Ketika abdi itu meninggalkan Raden Madyasta, maka
Raden Madyastapun memberitahukan kepada Wismaya dan
Sasangka, bahwa ia akan menemui Raden Ayu Prawirayuda.
"Bibi memanggil aku?" bertanya Raden Madyasta ketika ia
menemui bibinya di serambi belakang.
Ebook by Dewi Kangzusi 571 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya. Raden. marilah, duduk diruang dalam."
"Sudahlah bibi, biarlah disini saja. Bukankah tidak ada
bedanya." "Tetapi ruangan ini masih belum dibersihkan, ngger."
"Tidak apa-apa bibi. Bukankah ruangan ini dan bahkan
semua ruangan di rumah ini selalu nampak bersih dan
terawat." "Ah, hanya sekedar menuruti selera Rantamsari."
"Kangmbok Rantamsari ternyata mempunyai selera yang
tinggi, bibi." Raden Ayu Prawirayuda tertawa.
"Ngger" berkata Raden Ayu Prawirayuda kemudian
"sebenarnyalah aku menyesal kemarin, bahwa meskipun
niatku bergurau dan menggoda angger, aku telah mengatakan


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahwa angger pergi ke Panjer untuk menemui seorang gadis
cantik. Semalam aku mulai merenunginya. Jangan-jangan
guruanku itu membuat adimas Adipati Prangkusuma
merenunginya." Raden Madyasta menarik nafas panjang. Baginya, Raden
Madyasta itu mendapat kesempatan untuk menyampaikan
penvesalannya atas keterangan bibinya itu.
Karena itu, maka Raden Madyasta itupun menjawab "Bibi.
Ayahanda ternyata telah menjadi risau. Demikian aku datang,
ayahanda langsung marah kepadaku."
Ebook by Dewi Kangzusi 572 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Aku minta maaf, ngger. Aku benar-benar tidak memikirkan kemungkinan itu
sebelumnya. Apa kata dimas Adipati?"
"Aku tidak pantas berhubungan dengan gadis desa anak seorang Demang itu."
Raden Ayu Prawirayuda menundukkan wajahnya sambil berdesis "Aku benar-benar
minta maaf. Aku tidak berpikir sejauh itu, ngger. Kapan-kapan jika aku menghadap
dimas Adipati, aku akan meneoba untuk meluruskan persoalannya."
"Tidak usah bibi. Biarlah aku saja yang kapan-kapan berbicara kepada ayah."
"Aku yang telah menyalakan api kerisauan di hati dimas Adipati, ngger. Karena
itu, biarlah aku yang memadamkannya
" "Tidak bibi. Persoalannya ada padaku . Karena itu, hanya akulah yang dapat
mencari pemecahan bersama ayahanda."
Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas dalam-dalam..
Katanya "Tetapi aku benar-benar minta maaf, ngger."
"Sudahlah bibi. Ayah sudah terlanjur mempersoalkannya.
Aku berharap bahwa pada suatu ketika aku mendapat kesempatan yang baik untuk
menjelaskan persoalannya."
"Ya, ngger - Raden Ayu Prawirayuda itu berhenti seje-nak.
Namun kemudian iapun berkata "Tetapi ngger. Lepas dari kesalahan yang telah aku
lakukan, aku ingin menasehatkan kepada angger, agar angger mendengarkan nasehat,
petunjuk dan perintah-perintah ayahanda."
Ebook by Dewi Kangzusi 573 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Madyasta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab "Ya, bibi."
Raden Ayu Prawirayuda menatap wajah Raden Madyasta sejenak. Raden Ayu itu tidak
tahu, apakah Raden Madyasta benar-benar mengiakan nasehatnya atau sekedar
membuatnya puas. Namun Raden Madyasta itupun kemudian minta diri untuk pergi ke gandok, menemui
Wismaya dan Sasangka. "Apakah ada pesan dari Raden Ayu Prawirayuda, Raden?"
bertanya Wismaya. "Persoalan pribadiku, kakang. Agaknya sebagai orang tua, bibi merasa wajib untuk
memberiku nasehat." Wismaya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Sementara itu,
Sasangka sudah menduga, bahwa persoalannya tentu menyangkut gurauan Raden Ayu
Prawirayuda tentang gadis Panjer itu.
Hari-haripun kemudian berlalu. Tidak ada peristiwa yang mengejutkan terjadi di
rumah Raden Ayu Prawirayudaa itu, Raden Madyasta tidak lagi meninggalkan rumah
itu sehari penuh untuk pergi ke Panjer atau keperluan apapun. Wicitra dapat saja
setiap saat datang, dan bahkan mungkin membawa satu dua orang kawan untuk
mengambil Rantamsari. Sementara itu, perhatian Rantamsari ternyata mulai tertambat kepada Sasangka.
Meskipun Sasangka mempunyai sifat dan pembawaan yang berbeda sekali dengan
Rembana, namun setelah Sasangka melepaskan Rantamsari dari tangan Wicitra, maka
Raden Ajeng Rantamsaripun merasa berhutang budi kepadanya.
Ebook by Dewi Kangzusi 574 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Banyak waktu-waktu yang dilewatinya bersama Sasangka yang masih saja melakukan
kerja sehari-hari di rumah Raden Ayu Prawirayuda, sebagaimana Wismaya masih juga
sering menganyam kerajinan tangan dari bambu.
Hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari agaknya telah menarik perhatian
Wismaya. Wismaya masih teringat apa yang dikatakan Sasangka kepada Rembana,
sebelum Rembana terbunuh.
Tetapi Wismaya masih menahan diri untuk mencampurinya.
Dalam pada itu, Raden Madyasta kadang-kadang didera pula oleh keinginan untuk
pergi ke Panjer. Tetapi setiap kali Raden Madyasta menjadi bimbang. Jika saja
pada saat ia pergi, terjadi sesuatu di rumah bibinya, maka persoalannya akan
menjadi semakin rumit. Ayahandanya akan menjadi semakin marah, sehingga jalanpun
akan dapat tertutup sama sekali.
Karena itu, maka Raden Madyastapun berusaha untuk menahan diri. Ia masih
mempunyai satu keyakinan, bahwa masih ada jalan untuk membuka hati ayahandanya.
Namun Raden Madyasta itu terkejut ketika seorang anak muda datang ke rumah Raden
Ayu Prawirayuda untuk menemui Raden Madyasta.
"Kau siapa Ki Sanak?" bertanya Wismaya yang menemui anak muda itu.
"Aku seorang kawannya. Aku akan berbicara dengan Madyasta langsung."
Ebook by Dewi Kangzusi 575 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Wismaya itu termangu-mangu sejenak. Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut,
terdengar suara Madyasta "Biarlah aku menemuinya, kakang."
"Baik, Raden. Silahkan."
Madyastapun kemudian turun ke halaman menemui anak muda itu.
"Siapakah kau, Ki Sanak" - bertanya Raden Madyasta.
"Aku datang dari Panjer, Madyasta.
"Dari Panjer" Kau anak muda dari Panjer."
"Ya" "Aku belum pernah mengenalmu. Ketika aku berada di Panjer, aku tidak pernah
bertemu dengan kau."
"Aku belum lama pulang ke Panjer."
"O" Raden Madyasta mengangguk-angguk.
"Sekarang, apakah keperluanmu?"
"Aku diutus oleh saudara seperguruanku"
"Saudara seperguruanmu" Siapakah saudara seperguruanmu itu."
"Ia juga anak muda dari Panjer. Namanya Saminta."
"Saminta. Kau diutus apa?"
"Saminta ingin menemuimu."
Ebook by Dewi Kangzusi 576 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Dimana ia sekarang" Kenapa ia tidak datang kemari saja
bersamamu." "Tidak. Ia ingin berbicara dengan kau. Tetapi tidak
dirumah ini." "Persoalan apa yang akan dibicarakannya?"
"Sebaiknya kau bertemu dan berbicara dengan Saminta
sendiri sudah siap menemuinya."
Raden Madyasta termangu-mangu sejenak. Namun
Wismayalah yang bertanya "Kenapa orang itu tidak mau
datang kemari ?" "Samita ingin berbicara dengan Madyasta tanpa ada orang
lain. Persoalannya adalah persoalan yang sangat pribadi,
sehingga ia memilih tempat yang terpisah dari orang lain."
"Kau sendiri bagaimana ?"
"Aku tidak akan mengikuti pembicaraan itu."
Madyasta tidak segera dapat mengambil keputusan. Ia
memang merasa bimbang, apakah anak muda itu berkata
sejujurnya atau anak muda itu justru sudah memasang
perangkap. "Biarlah aku pergi bersama Raden " berkata Wismaya.
Raden Madyasta memandang Wismaya dengan kerut di
dahi. Namun iapun kemudian berkata "Kakang tetap tinggal di
sini. Rumah ini.tidak dapat ditinggalkan."
Ebook by Dewi Kangzusi 577 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Wismayapun tanggap. Mungkin anak muda itu sekedar memancing agar Raden Madyasta
dan para Senapati meninggalkan rumah ini. Pada saat yang demikian, akan dapat
timbul bencana atas keluarga Raden Ayu Prawirayuda.
Namun untuk melepas Raden Madyasta sendiri, Wismaya juga merasa berkeberatan.
Wismaya dan Madyasta belum mengenal orang itu, sehingga mereka tidak dapat
langsung mem-percayainya.
"Saudara seperguruanku tidak mempunyai banyak waktu.
Aku minta kau segera datang."
"Siapa menurutmu kau ini, he " Apakah kau kira kau dapat begitu saja memberikan
perintah kepada Raden Madyasta ?"
geram Wismaya. "Kau tidak usah turut campur. Persoalannya adalah antara saudara perguruanku
dengan Raden Madyasta."
Raden Madyasta memang tersinggung pula oleh sikap orang itu. Karena itu, maka
Raden Madyasta itu justru menjawab "Aku tidak ingin datang sekarang. Jika
saudara seperguruanmu itu tidak mempunyai waktu, biarlah ia datang kemari
segera." "Ternyata benar dugaan saudara seperguruanku itu."
"Apa yang diduganya."
"Yang hamanya Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma adalah seorang
pengecut." Dahi Madyasta berkerut. Sementara itu Wismaya bergeser maju. Namun Wismaya itu
justru terkejut mendengar Raden Madyasta tertawa sambil berkata "Cara yang sudah
tidak patut Ebook by Dewi Kangzusi 578 Kang Zusi http://kangzusi.com/
lagi dipergunakan sekarang untuk memaksakan kehendak.
Kau sengaja menyinggung perasaanku agar aku memenuhi
kemauanmu." "Maksudmu ?" "Mungkin caramu itu dapai kau trapkan terhadap
seseorang yang mempunyai harga diri setinggi awan di langit,
namun yang jiwanya masih kekanak-kanakan. Tetapi kau tidak
dapat memancingku dengan cara itu."
"Kau memang seorang pengecut."
"Ya. Aku memang seorang pengecut. Nah, sampaikan
kepada saudara seperguruanmu, bahwa Madyasta, putra
Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom adalah seorang
pengecut." Anak muda itu menggeram "Kau harus pergi menemui
saudara seperguruanku sekarang."
"Sekehendakku. Kapan saja aku mau bertemu dengan
saudara seperguruanmu itu. Tetapi aku malas pergi sekarang.
Jika ia mau datang kemari, biarlah ia datang."
"Kau akan menjebaknya."
"Mungkin." "Iblis kau." "Sebut apa saja sekehendakmu. Tetapi aku tidak mem-
punyai ikatan apa-apa dengan saudara seperguruanmu itu,
sehingga ia tidak berhak memerintah aku, memanggil aku
atau memaksa aku untuk memenuhi keinginannya. Jika ia
Ebook by Dewi Kangzusi 579 Kang Zusi http://kangzusi.com/
ingin menyebut aku pengecut, penakut, iblis atau apa saja,
aku tidak peduli." "Persetan kau Madyasta. Terserahlah kepadamu apakah
kau akan datang atau tidak. Kakak seperguruanku menunggu
di Bukit Sepikul, di sebelah Barat bulak sebelah. Di makam tua
diantara dua buah bukit kecil itu."
"Ya. Terserah kepadaku. Apakah aku akan datang atau
tidak " Anak muda itu menggeretakkan giginya. Namun dalam
puncak kemarahannya anak muda itu berkata "Bagaimanapun
juga saudara seperguruanku menunggumu. Ia tidak dapat
melepaskan Rara Menur ketanganmu, meskipun kau anak
seorang Adipati." "Rara Menur ?" wajah Madyasta menjadi tegang.
Anak muda itu justru melihat sentuhan perasaan
Madyasta. Karena itu, maka ia berusaha untuk
menghembusnya "Kau mengenal Rara Menur" Kau curi gadjs
itu dari sisi saudara seperguruanku pada saat kami berguru.
Sekarang kami sudah pulang. Saudara seperguruanku siap
membuat perhitungan denganmu."
Jantung Madyasta berdegup semakin keras.
Namun Wismayalah yang kemudian menyahut "Saudara
seperguruanmu memang tidak tahu malu. Gadis itu mencintai
Raden Madyasta. Karena itu, ia tidak perlu melakukan kerja
sia-sia. Apa yang akan dilakukannya jika ia sudah bertemu
dengan Raden Madyasta ?"
"Ia harus mengambilnya dengan cara seorang laki-laki."
Ebook by Dewi Kangzusi 580 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Apa yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki ?"
"Seharusnya seorang laki-laki tidak mencuri perempuan yang sudah menjadi milik
orang lain. Jika ia memang menginginkannya, maka ia harus mengambilnya dengan
beradu dada." Wismaya yang sudah dapat menyesuaikan diri dengan cara Raden Madyasta menanggapi
sikap anak muda itu menjawab
"Cara itu memang pernah dilakukan oleh orang-orang yang masih belum beradab.
Perempuan dihargai seperti benda-benda mati yang tidak bernalar budi."
"Kau tidak usah mencampuri persoalan ini. Pergilah."
Sebenarnyalah darah Wismaya terasa bagaikan mendidih.
Tetapi ia masih saja mempergunakan cara yang sudah ditempuh oleh Madyasta,
meskipun jantung Madyasta sendiri hampir saja terbakar.
"Kenapa aku tidak boleh mencampuri persoalan ini, sedang kau juga turut campur?"
"Aku saudara seperguruannya."
"Apa peduliku dengan saudara seperguruan" Pokoknya kau orang lain yang
mencampuri persoalan ini seperti aku."
"Persetan kau. Aku akan membuat perhitungan dengan kau kemudian."
"Terserah saja kepadamu."
"Aku tidak berkepentingan dengan kau" lalu katanya kepada Madyasta "jadi kau
tidak berani datang bersamaku, Madyasta"."
Ebook by Dewi Kangzusi 581 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Sebenarnyalah telah terjadi gejolak di dalam dada Madyasta. Tetapi ia masih
berusaha menguasai dirinya.
Karena itu, maka iapun menjawab "Terserah kau menyebutku.
Aku akan datang jika aku sudah ingin datang."
"Kau dapat datang dengan membawa seorang saksi. Aku akan menjadi saksi dari
saudara seperguruanku."
Madyasta menjawab seenaknya " Terserah kepadaku."
"Tetapi jika kau benar-benar seorang pengecut, kau dapat membawa sepasukan
prajurit. Laporkan kepada ayahmu dan minta perliridungan kepadanya."
Darah Raden Madyasta tersirap. Bahkan Wismaya hampir saja tidak dapat menahan
diri lagi. Namun anak muda itupun kemudian berkata "Sekali lagi dengar kata-kataku. Saudara


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperguruanku menunggumu di bukit Sepikul."
Namun Raden Madyasta dan Wismaya masih saja acuh tak acuh.
Sambil menggeram anak muda itupun segera meninggalkan Madyasta dan Wismaya.
Demikian orang itu beringsut, maka Madyastapun menggeram " Aku akan menemuinya,
kakang." "Aku akan pergi bersama Raden. Bukankah anak muda itu mengatakan bahwa Raden
dapat membawa seorang saksi."
Tetapi aku mencemaskan keluarga ini, kakang. Mungkin yang dilakukan oleh anak
muda itu sekedar memancing agar Ebook by Dewi Kangzusi
582 Kang Zusi http://kangzusi.com/
kita pergi meninggalkan rumah ini. Kemudian paman Wicitra
itu datang untuk mengambil kangmbok Rantamsari. Jika itu
terjadi, alangkah marahnya ayahanda. Apalagi persoalan yang
memancing kita keluar dari rumah itu adalah persoalan
perempuan. Persoalan gadis Panjer yang bagi ayahanda
merapakan ceritera yang kurang menarik."
"Apakah Raden akan pergi sendiri ?"
"Menilik sikap dan kata-katanya, anak muda itu dan
mudah-mudahan juga saudara seperguruannya, adalah
seorang yang sangat menjunjung harga diri, sehingga mereka
tidak akan berbuat curang dan licik."
"Tetapi kadang-kadang apa yang kita lihat pada gelar
lahiriahnya, berbeda dengan apa yang tidak kasat mata."
"Aku mengerti, kakang."
"Karena itu, jangan pergi sendiri."
Madyasta termangu-mangu sejenak. Sementara
Wismayapun berkata "Aku akan berbicara dengan Sasangka.
Ia berada di belakang. Mungkin ia tidak berkeberatan berada
di rumah ini sendiri pada saat kita pergi."
"Kakang Sasangka seorang diri ?"
"Ya." "Aku tetap mencemaskan keluarga ini."
Wismaya menarik nafas panjang. Ia mengerti kecemasan
Raden Madyasta. Memang mungkin saja anak muda itu
sekedar menjadi umpan untuk memancing para pengawal di
rumah itu keluar. Ebook by Dewi Kangzusi 583 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Namun tiba-tiba saja Madyasta berkata " Bagaimana
dengan Wignyana ?" "Maksud Raden ?"
"Aku akan pergi bersama Wignyana ke Bukit Sepikul.
Sedangkan kakang Wismaya dan kakang Sasangka tetap
berjaga-jaga di rumah itu."
"Sebenarnya aku ingin pergi bersama Raden. Sebenarnya
aku tersinggung oleh sikap anak muda yang datang atas nama
saudara seperguruannya itu."
"Biarlah nanti aku berbicara dengan Wignyana. Jika
Wignyana tidak berkeberatan, biarlah ia berada disini selama
kita pergi." "Baik, Raden." "Tetapi dapat saja terjadi Wignyana memilih untuk pergi
bersamaku." "Jika demikian, apa boleh buat."
"Nah, kakang. Aku minta tolong kepadamu. Pergilah ke
kadipaten. Temui Wignyana. Tetapi ayahanda tidak perlu
mengetahuinya. Pesankan itu kepada Wignyana."
"Baik, Raden." "Ajak Wignyana kemari, Nanti kita akan membicarakan,
siapakah yang akan pergi bersamaku."
Wismayapun segera pergi ke kadipaten untuk menemui
wignyana seperti yang dipesankan oleh Raden Madyasta.
Ebook by Dewi Kangzusi 584 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Sementara itu, Raden Madyasta telah menemui Sasangka
untuk memberitahukan persoalan yang sedang dihadapinya.
"Kenapa Raden tidak memanggil aku?" Sasangka justru
menyesal "seharusnya Raden tidak membiarkannya pergi. Kita
akan dapat memaksanya berbicara, apa yang sesungguhnya
sedang dilakukan. Apakah ia benar-benar datang atas nama-
saudara seperguruannya, atau ia memang sedang memancing
kita keluar dari rumah ini."
"Aku akan pergi menemuinya. Menilik sikap anak muda itu,
mereka tentu orang-orang yang sangai menjunjung harga diri.
Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang baru keluar
dari sebuah perguruan, sehingga rasa-rasanya ingin meneoba
kemampuan yang sudah dipelajarinya."
"Belum tentu, Raden. Mungkin justru sebuah jebakan."
"Karena itu, aku akan datang bersama seseorang. Mungkin
dimas Wignyana. Tetapi mungkin juga kakang Wismaya."
"Jika Raden menghendaki, aku bersedia pergi bersama
Raden." "Sebaiknya kakang sasangka berada disini. Agaknya
kakang Wismaya yang sudah tersinggung perasaannya itu,
ingin bertemu lagi dengan anak muda yang tadi datang
kemari." "Aku yang tidak langsung bertemu dengan anak itupun
merasa tersinggung."
"Jika aku pergi bersama kakang Wismaya sampai senja
tidak kembali, kakang tahu apa yang harus kakang lakukan.
Kakang memerlukan sekelompok prajurit. Sebagian untuk
Ebook by Dewi Kangzusi 585 Kang Zusi http://kangzusi.com/
menjaga rumah ini, dan sebagian yang lain akan pergi
bersama kakang Sasangka dan wignyana untuk mencari aku."
"Baik, Raden." Raden Madyasta tidak perlu menunggu terlalu lama.
Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda berhenti di regol
halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda.
Ternyata Wignyana dan Wismaya datang dengan
mengendarai kuda. "Bukankah ayahanda tidak mengetahui, dimas?" bertanya
Madyasta kemudian. "Tidak, kangmas. Kami menyelinap begitu saja. Derap kaki
kuda tidak lagi menarik perhatian ayahanda. Setiap hari aku
bermain-main dengan kuda-kudaku."
Keempat orang anak muda itupun kemudian duduk di
serambi gandok. Kepada adiknya, Raden Madyastapun
mengemukakan persoalan yang dihadapinya.
"Kakang Wismaya sudah mengatakan serba sedikit. Karena
itu, kami membawa dua ekor kuda. Biarlah kita berkuda ke
Bukit Sepikul. Bukankah Bukit Sepikul letaknya agak jauh?"
"Tetapi Raden" berkata Wismaya "bukankah aku mohon,
agar aku sajalah yang pergi bersama Raden Madyasta."
"Kenapa harus kakang Wismaya" Aku akan pergi menjadi
saksi." "Tetapi orang itu sudah menyinggung perasaanku, Raden.
Jika benar apa yang akan dikatakan-nya, ia akan
menantangku." Ebook by Dewi Kangzusi 586 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Wignyana mengerutkah dahinya. Dipandanginya
kakaknya yang juga termangu-mangu. Namun Raden
Wignyana itupun kemudian bertanya
"Jika kakang Wismaya pergi, aku harus tinggal di rumah
ini?" "Keadaan yang khusus" sahut Wismaya. Wignyana
nampaknya menjadi bimbang. Sementara
Wismaya berkata pula "Sekali-sekali Raden menikmati
tugas yang menjemukan ini. Biarlah kami menikmati sedikit
perubahan suasana." "Baiklah" berkata Raden Wignyana "aku akan berada disini
bersama kakang Sasangka."
"Sebenarnya aku menjadi iri " berkata Sasangka
"jika saja aku diperkenankan ikut."
"Aku akan menuntaskan persoalanku dengan anak muda
yang datang tadi " berkata Wismaya.
"Jika demikian, pakai kudaku, kangmas. Kakang Wismaya
sudah membawa seekor kuda dari kadipaten."
"Terima kasih" sahut Raden Madyasta sambil menepuk
bahu adiknya. Katanya "Bibi tidak usah tahu. Semakin banyak
yang bibi ketahui, hanya akan menyusahkan aku saja."
"Baiklah, kangmas."
Sejenak kemudian, maka Madyasta dan Wismaya telah
meninggalkan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Sementara itu
Ebook by Dewi Kangzusi 587 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Wignyana telah menggantikan tugas mereka berada di
rumah itu bersama Sasangka.
Namun Sasangka tidak lama menemani Raden Wignyana.
Sejenak kemudian, maka Sasangka itupun berkata
"Silahkan Raden beristirahat di gandok. Aku akan pergi ke
belakang. Bagian belakang rumah ini juga memerlukan
pengawasan. "Silahkan, kakang. Aku akan duduk disini saja agar bibi
tidak mengetahuinya, bahwa aku berada disini."
Untuk beberapa lama Raden Wignyana duduk di serambi
gandok. Namun ia segera merasa jemu. Karena itu, maka
Raden Wignyana itupun bangkit berdiri dan berjalan hilir
mudik. Bahkan kemudian turun ke halaman dan melangkah
kebelakang gandok melihat-lihat tanaman perdu yang
dipelihara rapi. Beberapa batang pohon melinjo tampak berdiri
berjajar beberapa langkah dari dinding halaman samping.
Namun Raden Wignyana itu melangkah semakin jauh ke
belakang. Bahkan kemudian Radeh Wignyana itu sampai ke
bagian belakang rumah yang terhitung besar itu lewat
halaman samping. Namun tiba-tiba saja Raden Wignyana itu meloncat kebalik
sudut bagian belakang rumah yang besar itu. Di halaman
belakang ia melhat Sasangka duduk di atas lincak bambu yang
dibuat oleh Wismaya dibawah sebatang pohon jambu air yang
rindang. Tetapi Sasangka tidak sendiri. Ia duduk di lineak bambu itu
bersama Raden Ajeng Rantamsari.
Ebook by Dewi Kangzusi 588 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Raden Wignyana menarik nafas panjang. Namun seakan berjingkat itupun bergeser
surut dan kemudian kembali ke serambi gandok.
Ketika Raden Wignyana itu duduk di serambi, rasa-rasanya nafasnya menjadi
terengah-engah, seakan-akan Raden Wignyana itu baru saja berlari menjelajahi
lereng-lereng bukit. Dalam pada itu, Raden Madyasta dan Wismaya melarikan kudanya menuju ke Bukit
Sepikul. Diantara dua buah bukit kecil terdapat sebuah kuburan tua yang
terasing. Menurut anak muda yang datang menemuinya, anak muda Panjer yang
bernama Saminta menunggunya di kuburan tua itu.
Sebenarnyalah Saminta berada di kuburan tua itu. Ketika saudara seperguruannya
datang, maka dengan serta-merta Saminta itu bertanya " Mana anak Adipati itu."
"Anak itu gila, kakang" jawab saudara seperguruannya.
"Kenapa ?" Iapun segera meneeritakan tanggap Raden Madyasta tentang tantangan Saminta.
"Kau juga bodoh" geram Saminta "jika kau katakan dengan baik-baik, ia tidak akan
tersinggung dan bersikap seperti orang gila dengan membiarkan dirinya
direndahkan. Sikap itu adalah sikap untuk sekedar membalas sakit hatinya karena
sikapmu." "Aku memang berniat menyakiti hatinya, agar ia menjadi marah dan segera berlari
kemari." "Tetapi yang terjadi adalah-sebaliknya."
Ebook by Dewi Kangzusi 589 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya." "Meskipun demikian aku yakin bahwa ia akan datang."
"Ia akan datang " Tetapi ia tentu mengulur waktu atau membawa sekelompok
prajurit untuk menangkap kita."
"Tidak. Aku yakin ia datang sendiri atau dengan seorang saksi."
"Ia benar-benar seorang pengecut, Ia sendiri tidak ingkar."
"Kau yang dungu. Sudah aku katakan, sikapnya itu merupakan satu cara untuk
membalas membuat kita marah, jengkel dan barangkali kehilangan gairah untuk
berperang tanding." Saudara seperguruannya itu menarik nafas dalam-dalam.
"Kita tunggu anak itu disini."
"Sampai kapan."
"Sampai senja."
"Dan membiarkan kita ditangkap oleh sapasukan prajurit yang dibawanya."
"Tidak. Tidak. Kau dengar" Ia akan datang tanpa prajurit.
Aku yakin itu." Saudara seperguruannya itu menjadi gelisah. Agaknya ia masih saja curiga, bahwa
Madyasta, anak seorang Adipati itu akan datang membawa pengawal-pengawalnya.
Tetapi Saminta masih saja duduk di tempatnya. Jika Saminta kemudian nampak
gelisah, bukan karena ia menjadi Ebook by Dewi Kangzusi
590 Kang Zusi http://kangzusi.com/
ketakutan, bahwa sekelompok prajurit pengawal akan datang
menangkapnya. Tetapi ia mulai menjadi gelisah, bahwa
Madyasta benar-benar tidak akan datang.
Namun ketika .kegelisahan Saminta menjadi semakin
bergejolak didalam dadanya, tiba-tiba saja terdengar derap
kaki dua ekor kuda mendekati kuburan tua itu.
Dengan serta merta Samintapun bangkit berdiri. Ketika ia
bergeser, ia melihat dua orang anak muda diatas punggung
kuda yang kemudian berhenti di depan regol kuburan tua itu.
Dada Saminta menjadi berdebar-debar.
Diatas Punggung kuda, Raden Madyasta nampak berdebar-
debar. Diatas punggung kuda, perang yang sedang memimpin
pasukan segelar-sepapan. Sedang dibelakangnya, seorang
anak muda yang gagah. Tubuhnya nampak kokoh kuat.
Nampaknya anak muda itu adalah seorang prajurit yang
tangguh. "Itulah orangnya " desis saudara seperguruan Saminta.
"Aku sudah mengira bahwa orang itulah yang bernama
Raden Madyasta. Nah, bukankah perhitunganku benar, bahwa
anak muda itu akan datang" Tidak dengan sekelompok
prajurit pengawal yang akan menangkap kita."


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Yang seorang itu adalah prajurit yang juga berada di
rumah Raden Ayu Prawirayuda."
"Ia datang sebagai saksi. Bukankah kau mengatakan,
bahwa Madyasta dapat membawa seorang saksi ?"
"Ya." Ebook by Dewi Kangzusi 591 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Saminta menarik nafas panjang. Iapun kemudian melangkah keluar dari regol
kuburan tua yang sudah menjadi asing itu. Kuburan yang nampak gelap ditumbuhi
oleh gerumbul-gerumbul liar. Beberapa buah nisan dan cungkup sudah rusak dan
bahkan runtuh. Sedangkan regolnyapun sudah mulai nampak miring.
Agaknya kuburan itu sudah tidak lagi dipergunakan. Tidak ada lagi orang yang
menguburkan mayat keluarganya di kuburan tua itu.
Ketika Saminta sudah berdiri di luar regol kuburan tua itu, Raden Madyastapun
menyapanya "Kaukah yang bernama Saminta?"
"Ya. Dan tentu kau anak Adipati yang sombong itu.
Maksudku kaulah yang sombong, bukan Adipati Prangkusuma."
"Apakah sudah menjadi ciri dari perguruanmu, bahwa pada saat bertemu dengan
seseorang, dikenal atau tidak, kalian harus menyinggung perasaannya dan
menyakiti hatinya ?"
"Tergantung dengan siapa aku berhadapan. Jika aku berhadapan dengan seorang yang
baik, yang rendah hati dan tahu diri, maka akupun bersikap baik. Tetapi aku
tidak akan bersikap baik dihadapan anak muda yang sombong, licik dan tidak tahu
malu." Jantung Raden Madyasta berdegup semakin cepat. tetapi ia masih saja tetap
mengendalikan dirinya. Karena itu, tanpa menunjukkan gejolak perasaannya, Raden
Madyasta itupun berkata "Menurut saudara seperguruanmu, kau merasa kehilangan
seorang perempuan." Ebook by Dewi Kangzusi 592 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya. Kau datang ke Panjer dengan memamerkan kelebihanmu menghancurkan
segerombolan. pencuri ayam itu!
Orang-orang Panjer yang tidak pernah melihat luasnya cakrawala memang akan
terkagum-kagum. Mereka yang setiap hari bergumul dengan kambing untuk
digembalakan atau mereka yang setiap hari merendam kakinya di lumpur, akan
menganggap bahwa anak laki-laki Adipati Paranganom telah datang untuk
menyelamatkan mereka. Tetapi bagi orang yang pernah melintas batas pandangan
mata yang sempit itu, tidak akan menjadi dapat melakukannya. Mengusir dan
menakut-nakuti sekelompok pencuri ayam itu."
"Sekarang kau datang untuk menunjukkan bahwa kau baru turun dari sebuah
perguruan." "Bukan itu. yang penting. Tetapi setelah kau dikagumi oleh rakyat Panjer, maka
kau merasa berhak untuk berbuat apa saja. Apalagi kau anak seorang Adipati. Nah,
dengan payung nama kebesaran ayahmu, kau ambil gadisku."
"Rara Menur maksudmu?"
"Ya" "Tetapi Rara Menur tidak pernah menyebut-nyebut nama Saminta. Iapun tidak pernah
mengatakan bahwa hatinya pernah tertambat kepada seseorang."
"Tentu saja. Kau datang dengan pakaian yang gemerlap diiringi oleh beberapa
orang prajurit yang sangat menghormatimu. Bahkan Ki Demang Panjerpun
menghormatimu pula seperti menghormati Kangjeng Adipati itu sendiri."
"Saminta" berkata Raden Madyasta kemudian "sekarang sudah bukan waktunya lagi
untuk menganggap seorang Ebook by Dewi Kangzusi 593 Kang Zusi http://kangzusi.com/
perempuan seperti barang mati. Rara Menur adalah seorang
yang hidup, yang mempunyai nalar budi. Rara Menurpun
adalah seorang yang dapat mengemukakan perasaannya. Ia
dapat niengatakan, apa yang diinginkannya. Karena itu,
datanglah kepadanya. Bertanyalah, siapakah yang dipilihnya.
Kau atau aku. Aku akan menghormati sikapnya. Jika ia
memilih kau, Saminta, aku akan dengan senang hati
menyingkir. Tetapi jika ia memilih aku, maka kaulah yang
harus menepi." "Omong kosong" geram Saminta aku tidak mau memakai
cara seorang pengecut yang akan berlindung dibalik
pengertian cinta sejati. Aku tidak menge nal cinta sejati.
Sebagai laki-laki aku akan merebut perempuan yang aku
ingini. Sekarang aku ingin Menur. Aku tidak tahu, apakah aku
masih mengingininya tiga empat tahun mendatang. Jika
waktunya aku melemparkan perempuan itu tiba, ambil ah. Aku
tidak akan peduli lagi."
Gejolak yang dahsyat mengguncang dada Raden
Madyasta. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya.
Demikian pula Wismaya. Namun agaknya Wismaya yang
sudah lebih tua dari Madyasta meskipun selisihnya tidak begitu
banyak, juga karena Wismaya tidak langsung tersentuh oleh
persoalannya, maka gejolak di dadanya tidak sedahsyat
gejolak di dada Madyasta.
Karena itu ketika Raden Madyasta dlbakar oleh
kemarahannya, Wismaya masih sempal berkata "Saminta.
Perampok-perampok di Panjer, yang telah dihancurkan oleh
Raden Madyasta, adalah mereka yang sering mengganggu
ketenangan rakyat Panjer. Mereka merampok harta benda
rakyat yang tidak berdaya. Ternyata kaupun seorang diantara
mereka, meskipun sasaran perampokanmu berbeda."
"Kau sebut aku perampok ?"
Ebook by Dewi Kangzusi 594 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya. Kau telah berusaha merampok hati seorang gadis."
Saminta menggeram. Sementara itu, justru jantung Raden
Madyasta menjadi sedikit tenang, sehingga ia sempat
menyambung kata-kata Wismaya "Aku masih menghormati
mereka yang merampok ayam, karena ayam itu tidak dapat
bersikap. Tetapi seorang gadis mampu bersikap. Mampu
memilih mana yang baik baginya dan mana yang tidak baik."
"Itu tidak adil. Jika sekarang seseorang bertanya kepada
Rara Menur, ia tentu akan memilihmu. Kau adalah anak
seorang Adipati, sedangkan aku hanyalah anak orang
kebanyakan." "Nah, kau sadari kekuranganmu " Aku anak Adipati dan
kau anak orang kebanyakan. Karena itu, seharusnya kau
sadari keadaan itu, sehingga kau harus minggir."
"Persetan dengan celotehmu itu Madyasta. Meskipun aku
anak orang kebanyakan, tetapi aku merasa diriku laki-laki
yang akan berhadapan dengan kau sebagai laki-laki juga."
"Baiklah Saminta. Jika cara orang-orang yang masih belum
mengenai peradaban ini yang kau pilih, aku tidak akan
menghindar. Aku akan berusaha untuk masuk kedalam
suasana liar sebagaimana seekor harimau betina diperebutkan
oleh beberapa ekor harimau jantan."
"Jangan berlindung dibalik peradaban. Apapun namanya,
aku tentang kau bertempur untuk menunjukkan siapakah
diantara kita yang terbaik bagi Rara Menur."
Raden Madyasta tidak menjawab lagi. Tetapi iapun
bergeser ketempat yang lebih lapang, diatas rerumputan yang
kering. Ebook by Dewi Kangzusi 595 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Wismaya mengikat kudanya dan kuda Raden Madyasta pada sebatang pohon cangkring
tidak jauh dari regol kuburan itu.
"Bersiaplah" berkata Saminta "adik seperguruanku akan menjadi saksi."
Raden Madyasta tidak menjawab. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Ketika Saminta bergeser selangkah, Raden Madyastapun bergeser pula,
"Kau akan menyesal Madyasta. Aku telah menguasai ilmuku sampai tuntas. Kau tidak
akan mampu menandinginya, siapapun kau."
Raden Madyasta sama sekali tidak menjawab. Tetapi ketika Saminta meloncat
menyerang, dengan tangkasnya Raden Madyasta mengelak.
Dengan demikian, maka pertempuran diantara kedua orang anak muda ia telah
menyala. Dengan garang, Saminta yang merasa dirinya telah tuntas menuntut ilmu
itu, menyerang Raden Madyasta seperti angin Prahara.
Raden Madyasta memang harus berloncat surut. Tetapi itu bukan berarti bahwa ia
mengalami kesulitan dengan lawannya itu.
Dalam loncatan-loncatan pertama, Raden Madyasta masih ingin menjajagi kekuatan
dan kemampuan lawannya. Karena itu, maka Raden Madyasta masih lebih banyak
menyesuaikan dirinya. Ebook by Dewi Kangzusi 596 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Namun serangan-serangan Saminta itupun datang membadai. Ia tidak menyia-nyiakan
waktu sekejappun. Jika Raden Madyasta berloncatan surut, maka Samintapun dengan
cepat memburunya. ***** Jilid 08 Bab 25 - Perkelahian di Kuburan Tua TERASA serangan-serangan Saminta memang
menekan pertahanan Raden Madyasta. Bahkan Raden Madyasta masih saja berloncatan
surut. Dalam pada itu, Saminta yang merasa mampu mendesak Raden Madyasta itupun berkata
lantang"Jika kau mengaku kalah Madyasta, aku tidak akan menyakitimu. Tetapi aku
minta kita pergi menemui Rara Menur. Kau harus mengatakan kepadanya, bahwa kau
tidak akan pernah menemuinya lagi."
Dalam pada itu, Raden Madyasta merasa sudah cukup menjajagi kemampuan dan
kekuatan Saminta. Mungkin Saminta memang belum sampai ke puncak kemampuannya,
namun Raden Madyasta sudah dapat menduga, seberapa tinggi ilmu anak muda yang
merasa sudah tuntas menyadap ilmu dari perguruannya itu.
Karena itu, maka Raden Madyastapun mulai meningkatkan kemampuannya. Ia tidak
lagi ingin didesak terus oleh lawannya serta menjadi sasaran serangan-
serangannya tanpa membalas.
Samintalah yang kemudian terkejut. Raden Madyasta yang ierdesak beberapa langkah
surut itu, tiba-tiba saja tidak lagi berloncatan menghindari serangannya. Ketika
Saminta meloncat sambil mengayunkan kakinya mendatar, Raden Madyasta tidak lagi
meloncat beberapa langkah mundur.
Ebook by Dewi Kangzusi 597 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Tetapi Raden Madyasta hanya bergeser sedikit kesamping
sambil memutar tubuhnya. Sementara itu, dengan tangkasnya
Raden Madyasta menjulurkan tangannya menyerang kcarah
perut Saminta. Saminta terkejut Sejak pertempuran itu mulai, ia mengira
bahwa Raden Madyasta tidak mempunyai kesempatan untuk
menyerangnya kembali. Namun tiba-tiba saja tangannya telah
menghantam perutnya. Diluar sadarnya Saminta mengaduh tertahan. Perutnya
terasa menjadi mual. Bahkan nafasnya terasa menjadi sesak.
Ketika kemudian kaki Madyasta terjulur, mengenai
dadanya, maka Saminta itupun terdorong beberapa langkah
dan bahkan kemudian, ia tidak mampu mempertahankan
keseimbangannya. Dengan kerasnya Saminia kebanting
ditanah. Hampir saja kepalanya membentur sebaiang pohon
yang tumbuh di dekat kuburan tua itu.
"Namun Saminta itu dengan cepat melenting berdiri. la
mencoba mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk mengusir
mual di perutnya serta sakit didadanya. Tetapi nafas Saminta
masih saja terasa sesak. "Iblis kuburan itu telah membantumu, Madyasta" geram
Saminta. Madyasta tidak menjawab. Namun ia bergeser selangkah
demi selangkah mendekati Saminta yang masih berusaha
mengatur pernafasannya. Sejenak Madyasta berdiri mematung dihadapan Saminta
yang mempersiapkan dirinya. Seakan-akan Raden Madyasta
sengaja memberi kesempatan kepada Saminta untuk
memperbaiki keadaannya. Ebook by Dewi Kangzusi 598 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Saminta benar-benar tersinggung ketika Raden Madyasta
bertanya"Apakah kau sudah siap Saminta."
"Persetan dengan kesombonganmu. Kau akan menyesal.
Tubuhmu dan namamu akan aku hancurkan disini."
Raden Madyasta tidak menjawab. Selangkah ia maju
sambil menyilangkan tangannya didadanya.
Samintalah yang kemudian meloncat menyerang. Sambil
berputar ia mengayunkan kakinya mengarah ke kening.
Namun dengan merendah, Madyasta luput dari sentuhan kaki
Saminta. Demikianlah pertempuran semakin lama menjadi semakin
sengit. Saminta dengan cepat meningkatkan ilmunya. Ia ingin
segera menunjukkan kemenangannya dan memaksa Raden
Madyasta untuk menyerah. Tetapi ternyata bahwa Madyastapun meningkatkan
kemampuannya pula. Selapis demi selapis, mengimbangi
kemampuan Saminta yang merasa dirinya telah menuntaskan
ilmunya itu. Saminta yang marah itu tidak segera menyadari
kenyataan. Ketika ia sampai pada puncak kemampuannya,
maka rasa-rasanya ia akan segera menggulung jagad seisinya.
Tetapi dihadapan Madyasta, Saminta merasa membentur
pertahanan yang tidak tertembus. Saminta merasakah seakan-
akan ada sekat yang membatasinya, sehingga serangan-
serangannya tidak pernah mampu menyusup keseberang
sekat itu. Ebook by Dewi Kangzusi 599 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Apakah Madyasta mempergunakan perisai gaib yang dapat melindunginya?" bertanya
Saminta didalam hatinya. Sebenamya bahwa ilmu Raden Madyasta masih berada pada tataran yang lebih tinggi
dari ilmu Saminia. Meskipun Saminta telah memuntaskan laku di perguruannya untuk
menyadap ilmunya, namun Saminta masih belum mampu mengembangkannya. Bahkan
Saminta masih terlalu terikat pada unsur-unsur gerak yang dipelajarinya. Ia
masih belum berpengalaman menghadapi lawan yang sebenarnya.
Itulah sebabnya, maka beberapa saat kemudian, serangan-serangan Madyasta semakin
sering mengenai tubuhnya, sehingga Samintalah yang semakin lama menjadi semakin
terdesak. Adik seperguruan Saminta melihat kesulitan yang dialami oleh saudara
seperguruannya. Karena itu tanpa berpikir panjang, ia pun bergerak mendekati
arena pertempuran. Namun Wismaya pun bergerak pula sambil bertanya"Kau mau apa, he?"
"Akan aku bunuh Madyasta."
"Mereka sedang berperang tanding. Jangan ganggu."
"Tetapi Madyasta licik."
"Apanya yang licik?"


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ia mempergunakan ilmu sihir." Wismaya tiba-tiba saja tertawa. Bahkan Raden
Madyastapun meloncat mengambil jarak dan lawannya yang sudah mulai kelelahan
sambil tertawa pula "Apa yang kau maksud dengan ilmu sihir?"
Ebook by Dewi Kangzusi 600 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Tidak ada orang yang dapat mengalahkan kakang Saminta jika ia tidak
mempergunakan ilmu sihir. Kakang Saminta telah mewarisi ilmu perguruan sampai
tuntas. Tidak ada orang yang dapat menyamai kemampuannya selain guru."
"Ternyata kalian tidak saja sombong, tetapi lebih daripada itu, kalian adalah
orang-orang dungu yang telah dengan mudah tertipu oleh orang yang mengaku guru
dari perguruanmu itu."
"Jangan menyinggung nama guruku. Aku akan membunuhmu" geram Saminta.
Samintapun kemudian telah meloncat menyerang dengan mengerahkan segenap
kemampuannya. Tetapi Madyasta telah bersiap menghadapinya. Karena itu, maka serangan Saminta
tidak menyentuh kulitnya.
Agaknya kemarahan Saminta telah sampai ke ubun-ubunnya. Saminta telah menarik
kerisnya sambil berkata"Kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini. Kau akan
mati dan berkubur di kuburan tua itu. Ayahmu tidak akan sempat menguburmu
dipemakaman keluargamu yang menurut pendengaranku berada di puncak bukit
Wukirsari." Madyasta meloncat surut sambil berkata"Jangan bermain-main dengan senjata. Jika
karena kerismu aku terdesak, maka akupun akan menarik kerisku,pula."
"Kau harus mengetahuinya, jika kerisku ini sudah keluar dari warangkanya, maka
kerisku harus dibasahi dengan darah."
"Apakah sejak kau meninggalkan Panjer, kau sudah bemiat untuk membunuhku."
Ebook by Dewi Kangzusi 601 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Jika kau menyerah dan bersedia menemui Rara Menur dan mengatakan bahwa kau
tidak akan pernah datang lagi kepadanya setelah aku pulang ke Panjer, maka aku
tidak akan membunuhmu."
"Jika aku tidak mau."
"Aku akan membunuhmu."
"Dihadapan saksi?"
"Saksiku tidak akan berbicara apa-apa. Sedangkan saksimu akan mati oleh saudara
seperguruanku." "Begitu mudahnya?"
Saminta itupun kemudian berkata kepada adik seperguruannya"Bunuh orang itu.
Jangan beri kesempatan ia lolos."
Adik seperguruan Saminta itu tiba hba saja telah menarik kerisnya pula. Tanpa
mengatakan apa apa, iapun segera menyerang Wismaya.
Tetapi Wismaya sudah bersiap. Hampir diluar sadarnya, Wismaya telah menarik
pedangnya. Adik seperguruan Saminta itu tertegun ketika tiba-tiba ujung pedang Wismaya itu
teraeu ke dadanya. "Senjataku lebih menguntungkan dari senjatamu, Ki Sanak" berkata Wismaya.
"Persetan" geram adik seperguruan Saminta"pedangmu hanya buatan pande besi di
sudut-sudut pasar itu yang biasanya membuat parang pembelah kayu. Kerisku adalah
Ebook by Dewi Kangzusi 602 Kang Zusi http://kangzusi.com/
keris buatan empu yang namanya dikenal oleh seluruh tanah
ini ratusan tahun yang lalu."
"Keris pusaka?"
"Ya." "Tetapi pedangku jauh lebih panjang dan kerismu." Orang
itu tidak menghiraukatinya. lapun telah menyerang lagi
dengan cepatnya. Kerisnya torjulur menggapai dada.
Wismaya bergeser surut sambil menangkis serangan itu
dengan pedangnya. Ketika terjadi benturan, maka
Wismayapun merasakan. bahwa keris lawannya adalah keris
yang baik. Tetapi Wismaya adalah prajurit yang terlatih baik
mempergunakan pedangnya. Karena itu, maka sejenak
kemudian, adik seperguruan Saminta Itupun telah terdesak
surut. Sementara itu, Samintapun telah mengerahkan
kemampuannya pula. Kerisnya berputar mengerikan. Keris
yang bagaikan membara itu, sekal -sekali terayun menyambar
kcarah lambung. Kemudian rerjulur lurus mematuk dada.
Namun kemudian menebas kcarah leher.
Madyasta memang terdesak. Karena itu, maka ketika
Saminta menyerangnya bagaikan angin pusaran, maka Raden
Madyastapun telah meneabut kerisnya pula.
Ternyata keris Raden Madyasta telah menggetarkan dada
Saminta pula. Namun kemarahan Saminta telah mencengkam jantung sehingga
ia tidak sempat berpikir bening.
Ebook by Dewi Kangzusi 603 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Meskipun kemudian serangan Saminta itu datang beruntun seperti gelombang ombak
lautan yang ditempa prahara, namun ujung kerisnya sama sekali tidak sempat
menyentuh tubuh Raden Madyasta. Bahkan ketika pertempuran menjadi semakin cepat,
ujung keris Madyastalah yang telah menggores di lengan Saminta.
"Sadari kelemahanmu, Saminta" Raden Madyasta mencoba memperingatkan lawannya.
Tetapi Saminta justru berteriak"Aku akan membunuhmu.
Jangan berbangga dengan kemenangan kecilmu."
Betapapun juga usaha Raden Madyasta mengendalikan perasaannya, namun sikap
Saminta benar-benar menyakitkan.
Karena itu, maka akhimya Raden Madyastapun berniat untuk menghentikan perlawanan
Saminta. Pertempuran diantara keduanyapun berlangsung semakin sengit. Saminta tidak lagi
mengekang dirinya. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Saminta berusaha
untuk benar-benar membunuh Raden Madyasta.
Namun kemampuan Raden Madyasta memang lebih tinggi.
Karena itu, maka justru keris Raden Madyastalah yang beberapa kali telah
menyentuh tubuh Saminta. Ketika Saminta meloncat sambil menjulurkan kerisnya mengarah ke jantung Raden
Madyasta, maka Raden Madyasta masih sempat bergeser kesamping sambil memiringkan
tubuhnya. Sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta mendapat kesempatan untuk
menghunjamkan kerisnya di lambung Saminta. Tetapi ketika keris itu menyentuh
pakaian dan tembus menggores kulit. Raden Madyasta masih sempat menahan diri.
Ebook by Dewi Kangzusi 604 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Namun Samintapun kemudian telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil
jarak. Tetapi Saminta masih tidak melihat kenyataan itu. Bahkan ia merasa bahwa ia
masih berhasil menghindar dari ujung keris Raden Madyasta.
"Saminta" berkata Raden Madyasta kemudian"Jangan paksa aku membunuhmu. Pergilah.
Jangan ganggu lagi Rara Menur."
Saminta justru menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang.
Kerisnya terayun mendatar menebas kcarah perut.
"Gila kau Saminta" geram Raden Mayasta.
Raden Madyasta itupun bergeser selangkah surut. Keris itu terayun dengan
derasnya. Ujungnya hanya berjarak setebal daun dari perut Raden Madyasta. Bahkan
baju Raden Madyasta telah terkoyak secengkang.
Namun demikian Raden Madyasta berdiri mapan, tiba-tiba saja ia melenting.
Kakinya bergerak demikian cepatnya mengenai pergelangan langan Saminta.
Demikian kerasnya lendangan itu. sehingga keris di tangan Saminia itupun
terlepas dan terpental beberapa langkah.
Saminta terkejut.tetapi ia tidak sempat meloncat menggapai kerisnya yang
terjatuh, karena tiba-tiba saja ujung keris Raden Madyasta telah melekat di
dadanya, di arah jantung.
Saminta surut selangkah Tetapi keris itu tidak terpisah dari dadanya
Ebook by Dewi Kangzusi 605 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Perintahkan saudara seperguruanmu untuk berhenti bertempur" geram Raden
Madyasta. Tetapi Saminta justru bertanya"Kau takut kehilangan kawanmu?"
"Tidak. Aku tidak takut kehilangan kawanku. Tetapi aku tidak ingin kawanku itu
membunuh. Jika saudara seperguruanmu itu keras kepala seperti kau, maka ia akan
mati." "Kenapa tidak kau perintahkan kepada kawanmu itu saja untuk berhenti?"
"Jika kawanku berhenti bertempur, maka kawanmu akan membunuhnya."
"Kalau saudara seperguruanku yang berhenti?"
"Kawanku bukan seorang pembunuh."
Saminta masih ragu-ragu. Ia bahkan-berharap saudara seperguruannya itu dapat
mengalahkan lawannya. Mati atau tidak mati. Kemudian saudara seperguruannya itu
akan dapat membantunya. Tetapi ternyata yang terjadi berbeda. Yang terdengar adalah keluhan tertahan
saudara seperguruannya itu.
Diluar sadarnya, Saminta berpaling. Dilihatnya saudara seperguruannya itu
terpelanting dan jatuh terlentang. Darah telah mewarnai baju di bagian dadanya.
"Kau bunuh saudaraku" teriak Saminta.
Ebook by Dewi Kangzusi 606 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Namun ketika Saminta itu akan beranjak, ujung keris Raden Madyasta menekannya.
"Kau tidak akan kemana-mana."
"Saudara seperguruanku itu."
"Kau yang bertanggung jawab. Jika ia mati, maka kaulah yang bersalah. Aku sudah
memberimu peringatan agar kau perintahkan saudara seperguruanmu itu berhenti.
Tetapi kau tidak melakukannya."
Wajah Saminta menjadi sangat tegang. Namun kemudian Raden Madyasta itupun
bertanya" Kau akan melihatnya?"
"Ya." "Lihatlah. Apakah ia mati atau tidak."
Tetapi saudara seperguruan Saminta itu masih bergerak.
Bahkan berusaha untuk bangkit.
Samintapun segera berlari mendekatinya. Ketika ia berjongkok di sampingnya, maka
saudara seperguruannya itu masih sesambat" Kakang. Dadaku."
Wajah Saminta menjadi sangat tegang. Ketika ia berpaling kepada Wismaya, maka
Wismayapun berkata" Aku sudah memperingatkannya. Tetapi ia keras kepala."
"Ia tidak akan mati" berkata Raden Madyasta kemudian.
Saminta termangu-mangu sejenak. Darah masih mengalir dari tubuh saudara
seperguruannya itu, sementara tubuhnya sendiri juga telah bernoda darah oleh
goresan keris Raden Ebook by Dewi Kangzusi
607 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Madyasta di beberapa tempat Namun luka di dada adik
seperguruannya itu agak dalam.
Raden Madyasta telah mengambil sebuah bumbung kecil
dari kantung ikat pinggangnya Diberikannya bumbung kecil itu
kepada Saminta sambil berdesis "Obati luka adik
seperguruanmu itu serta lukamu sendiri."
Saminta memandang Raden Madyasta dengan ragu-ragu.
"Aku tidak akan meracuni kalian berdua Jika aku ingin
membunuh, maka aku akan membunuh."
Seakan-akan diluar sadamya, Saminta telah mengulurkan
tangannya untuk menerima bumbung kecil yang berisi serbuk
obat itu. "Saminta" berkata Raden Madyasta kemudian "aku masih
ingin bertanya kepadamu, apakah kita akan melanjutkan
perkelahian ini atau tidak. Jika kau masih ingin melanjutkan
perkelahian ini, maka aku tidak akan berkeberataa Tetapi jika
kita mulai lagi , maka perkelahian ini akan berakhir dengan
buruk sekali. Salah seorang dari kita akan mati.
Saminta menjadi ragu-ragu. bagaimanapun juga, ia tidak
dapat mengingkari kenyataan, tubuhnyalah yung terluka.
Bukan Raden Madyasta Sementara itu adik seperguruannya
telah terluka pula didadanya
"Kau harus menjawab pertanyaanku, jika kau masih ingin
meneruskan, aku akan melayanimui. Jika kau sudah merasa
cukup, maka aku minta kau bernjanji untuk tidak mengganggu
Rara Menur. Saminta termangu-mangu sejenak
Ebook by Dewi Kangzusi 608 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ketahuilah Saminta" berkata Raden Madyasta"kau agaknya memang sudah menyadap
ilmu di perguruanmu sampai tuntas. Tetapi tataran disetiap perguruan memang
berbeda. Aku tidak mengatakan bahwa bobot ilmu di perguruanmu rendah. Tetapi kau
sendiri belum mampu mengembangkannya Kau kira demikian kau keluar dari sebuah
perguruan, kau langsung dapat menghadapi kenyataan kerasnya dunia oleh kanuragan
serta tidak terkalahkan?"
Jantung Saminta berdebaran. Tetapi ilmunya memang masih belum mampu mengimbangi
Raden Madyasta "Pulanglah. Tetapi sekali lagi kau harus berjanji tidak akan mengganggu Rara
Menur. Jika kau mengganggunya, maka aku akan datang kepadamu dengan sepasukan
prajurit Aku akan menangkapmu atas nama ayahanda Adipati Paranganom, karena kau
sudah mengganggu ketenteraman hidup seseorang."
Saminta masih tetap diam, sehingga Raden Madyasta itupun berkata "Bangkitlah.
Marilah kita teruskan perkelahian ini. Kau atau aku yang akan mati. Kita sudah
bersepakat untuk menyelesaikan persoalan kita dengan cara seorang laki-laki.
Bahkan kita sudah mengabaikan perasaan dan penalaran Rara Menur sendiri."
Jantung Saminta berdegup semakin cepat. Sementara itu, Raden Madyastapun berkata
selanjutnya"Tetapi seperti kau katakan, jika aku membunuhmu, maka akupun akan
menghilangkan jejak. Kawanku juga akan membunuh saksimu, agar ia tidak dapat
berceritera bahwa akulah yang telah membunuhmu, meskipun kita sudah sepakat
untuk berperang tanding."
Ebook by Dewi Kangzusi 609 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Ternyata tantangan itu telah membuat hati Saminta menjadi kuncup. Karena itu,
maka iapun berkata"Aku tidak ingin meneruskan perkelahian ini, Madyasta"
"Kenapa?" Saminta terdiam.
"Jika kau merasa bahwa kau kalah, katakan bahwa kau menyerah. Tetapi jika kau
merasa belum kalah, kita teruskan perkelahian ini."
Saminta tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian berkata"Aku mengaku kalah."
"Baik. Jika demikian, pulanglah. Bawa saudara seperguruanmu. Tetapi ingat,
jangan ganggu Rara Menur.
Kalau kau menantangku untuk membuat penyelesaian sebagai laki-laki, maka
persoalannya sekarang tentu sudah selesai."
"Baik, Madyasta."
"Berjanjilah." "Aku berjanji."
"Berjanji apa."
"Berjanji untuk tidak mengganggu Rara Menur."
"Aku percaya kata-kata seorang laki-laki. Sekali lagi aku peringatkan. Jika kau
mengganggu Rara Menur, aku akan mempergunakan kuasaku sebagai seorang putera
Adipati di Paranganom. Persoalan kita sebagai seorang laki-laki sudah selesai
Persoalan yang timbul kemudian adalah tindak kejahatan.
"Aku mengerti Madyasta."
Ebook by Dewi Kangzusi 610

Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kang Zusi http://kangzusi.com/
Madyasta menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja
terngiang kata-kata ayahandanya, Kangjeng Adipati
Prangkusuma di Paranganom, bahwa Madyasta tidak
dibenarkan untuk berhubungan dengan gadis Panjer yang
hanya anak seorang Demang itu.
Terasa jantung Madyasta berdegup lebih cepat. Ia menjadi
lebih tegang dari saat ia menghadapi Saminta yang
menantangnya berkelahi itu.
Tiba-tiba saja Madyasta itupun berkata kepada
Wismaya"Kakang, marilah kita kembali ke rumah bibi."
"Marilah Raden" sahut Wismaya. Ketika Wismaya akan
meninggalkan tempat itu, ia masih berkata kepada
Saminta"obati luka saudara seperguruanmu. Pada saat obat
itu ditaburkan, ia akan disengat rasa pedih di lukanya itu.
Tetapi darahnya akan segera mampat"
Saminta tidak menjawab. Di tangannya masih digenggam
bumbung kecil yang berisi serbuk obat
Sejenak kemudian, maka dua ekor kuda itupun berderap
meninggalkan tempat itu. Semakin lama menjadi semakin
jauh. Saminta masih memandang debu yang mengepul di
belakang kaki kuda yang berlari kencang itu. Ternyata harus
mengalami kenyataan pahit. Meskipun ia merasa sudah tuntas
menyadap ilmu kanuragan dari perguruannya, tetapi ketika ia
benar-benar terjun di kerasnya dunia olah kanuragan, maka ia
merasa bahwa ia masih terlalu kecil dibandingkan dengan
orang-orang yang telah lebih dahulu terjun daripadanya
Ebook by Dewi Kangzusi 611 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Saminta itu seperti terbangun dari mimpinya ketika ia
mendengar saudara seperturuannya mengerang. Iapun segera
mendekatinya "Bagaimana dengan lukamu?"
"Sakitnya kakang."
"Berbaringlah. Aku akan menaburkan obat ini di lukamu.
Mula-mula akan terasa pedih. Tetapi obat ini akan
memampatkan darah yang mengalir dari lukamu itu."
Sementara itu, Raden Madyasta dan Wismaya yang
melarikan kuda mereka seperti anak panah yang terlepas dari
busurnya sudah menjadi semakin dekat dengan regol halaman
rumah bibinya Karena itu, maka Raden Madyastapun
memberikan isyarat kepada Wismaya untuk memperlambatnya
Beberapa saat kemudian, merekapun menghentikan kuda
mereka dan menuntunnya masuk ke regol rumah Raden Ayu
Prawirayuda Namun Madyasta yang sengaja tidak memberi tahukan
kepergiannya kepada bibinya itu menjadi gelisah ketika ia
melihat bibinya berdiri di pendapa Dan bahkan kemudian
melangkah menuruni tangga sambil bertanya "Darimana
ngger?" Madyasta menjadi agak bingung. Namun kemudian iapun
menjawab" Berputar-putar sebentar bibi Mencoba kuda dimas
Wignyana yang baru."
"Apakah angger Wignyana disini?"
"Ya, bibi. Ia baru saja datang memamerkan kudanya
kepadaku. Lalu aku mencobanya bersama kakang Wismaya
Ebook by Dewi Kangzusi 612 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Angger Wignyana membawa dua ekor kuda?"
"Ya, bibi. Wignyana Ingin memamerkan kedua-duanya"
Untunglah, bahwa Wignyana yang sedangg berada di
gandok itu mendengar pembicaraan itu, sehingga ia akan
dapat menyesuaikannya jika bibinya bertanya kepadanya
Dalam pada itu, bibinya itupun bertanya" Dimana angger
Wignyana sekarang?" "Tadi dimas Wignyana ada digandok." Sebenarnyalah
Wignyanapun segera muncul di serambi gandok sambil
bertanya" Bagaimana kangmas. Bukankah kuda itu kuda yang
baik?" "Ya dimas" jawab Madyasta Lalu Madyasta itupun berkata
kepada bibinya"Maaf bibi. Aku akan pergi ke serambi gandok."
Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab. Tetapi ia justru
bertanya kepada Raden Wignyana"Aku tidak tahu angger
Wignyana ada disini"
"Aku belum lama bibi" jawab Wignyana"aku hanya ingin
menunjukkan kuda yang kemarin aku beli kepada kakangmas
Madyasta Aku tidak ingin mengganggu bibi."
"Baiklah, ngger. Silahkan. Aku akan pergi ke belakang."
"Silahkan bibi" sahut Wignyana sambil mengangguk
hormat. Sepeninggal bibinya Wismayapun menambatkan kedua
ekor kuda itu di sebatang pohon perdu di halaman.
Ebook by Dewi Kangzusi 613 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Apa yang sudah terjadi, kangmas" " bertanya Wignyana demikian Madyasta duduk di
serambi "Anak yang baru saja menyelesaikan laku dimasa berguru.
Demikian ia selesai dan tuntas, maka ia merasa bahwa tidak ada orang yang dapat
mengimbangi kemampuannya Agaknya anak itu sengaja mencari lawan untuk
menunjukkan kemampuannya yang menurut pendapamya tidak ada duanya di dunia
selain gurunya" "Apa yang kangmas lakukan terhadap orang itu?"
"Aku memaksanya mengakui, bahwa ia bukan orang terbaik didunia. Bahkan ilmunya
itu tidak lebih dari sebutir pasir di luasnya pantai"
"Anak itu mengakuinya?"
"Ia harus melihat kenyataan itu." Wignyana tersenyum.
Katanya"Waktu kita pulang dari perguruan, rasa-rasanya ingin juga segera
menunjukkan kelebihan kita kepada semua orang.
Tetapi untunglah, bahwa guru telah membekali kita bukan saja kemampuan ilmu
kanuragan, tetapi juga bekal pesan-pesan, bagaimana kita mengetrapkan kemampuan
yang telah kita pelajari selama kita berguru."
"Ya. Agaknya itulah yang dilupakan oleh guru Saminta.
Semakin tinggi ilmu seseorang, tetapi tanpa dibekali pesan, untuk apa ilmu itu
dimilikinya, maka akan dapat terjadi salah kedaden. Ilmu yang seharusnya
bermanfaat bagi banyak orang itu, akan dapat menjadi sebaliknya Ilmu itu akan
dapat menjadi racun bagi banyak orang."
"Tetapi kangmas sudah meredamnya Mudah-mudahan pengalamannya mengetrapkan
ilmunya yang pertama kali itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga
baginya" Ebook by Dewi Kangzusi 614 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Mudah-mudahan, dimas."
Sementara itu, Wismaya yang tidak melihat Sasangka di Serambi itupun
bertanya"Dimana Sasangka Raden."
Tadi aku melihai Sasangka sedang bercengkerama"
"Bercengkerama?"
"Ya. Dengan kangmbok Rantamsari. Tetapi sudah sejak tadi aku melihamya, tidak
lama setelah kangmas dan kakang Wismaya pergi. Entahlah sekarang. Sejak aku
melihatnya, kakang Sasangka belum kembali ke gandok. Mungkin ia tertidur di
lincak di halaman belakang. Agaknya kangmbok Rantamsari sudah melantunkan
tembang yang lembut,"
Wismaya menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak menyahui lagi. Sedangkan Raden
Madyasta nampak mengerutkan dahinya. Nampaknya pernyataan Wignyana itu menyentuh
hatinya, meskipun ia tidak mengatakan apa-apa Namun dalam pada itu, sejenak
kemudian, Wignyanapun berkata"Kangmas. Jika kangmas telah dapat menyelesaikan
persoalan kangmas, ijinkan aku pulang ke kadipaten."
Madyasta mengangguk-angguk Katanya kemudian"Baiklah dimas. Aku mengucapkan
terima kasih. Biarlah kakang Wismaya mengantar dimas pulang."
"Apakah aku harus diantar?"
"Maksudku bukan mengantar dimas yang ketakutan lewat bulak sempit disebelah.
Tetapi mengembalikan kuda yang satu itu, agar dimas tidak usah harus
menuntunnya" Wignyana tertawa Ebook by Dewi Kangzusi 615 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Namun Wismayapun kemudian mengingatkan"Apakah
Raden tidak minta diri kepada Raden Ayu Prawirayuda yang
telah melihat Raden berada disini?"
"Sebaiknya kau minta diri, dimas."
"Baiklah, kangmas. Tetapi besok atau lusa bibi tentu akan
memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku berada disini
tanpa menyatakan kehadiranku kepada bibi."
"Jangan hiraukan itu."
Wignyanapun kemudian mencari bibinya di longkangan.
Tetapi ternyata bibinya berada di gladri belakang. Rantamsari
yang juga berada di gladri, sedang sibuk membatik.
Raden Ayu Prawirayuda yang melihat kehadiran Wignyana
di gladri segera bangkit berdiri sambil mempersilahkannya"
Marilah ngger." "Aku hanya akan mohon diri, bibi."
"Begitu tergesa-gesa. Baru disiapkan minuman bagi
angger. Jika saja aku tahu angger sudah sejak tadi berada di
gandok." "Terima kasih bibi. Seperti aku katakan, aku hanya ingin
memamerkan kudaku yang baru kepada kangmas Madyasta
Aku tidak sabar menunggu kangmas Madyasta datang di
kadipaten." "Baiklah ngger. Salamku kepada dimas Adipati
Prangkusuma" Ebook by Dewi Kangzusi 616 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Dada Raden Wignyana menjadi berdebar-debar. Agaknya bibinya dapat
mempermasalahkan kehadirannya tanpa menyatakan diri kepada bibinya itu jika
bibinya bertemu dengan ayahandanya. Tetapi apaboleh buat la sudah melakukannya
Karena itu, maka Raden Wignyana itupun menjawab"Baik, bibi Aku akan
menyampaikannya kepada ayahanda" lalu katanya kepada Rantamsari yang meletakkan
cantingnya dan bangkit berdiri pula "Aku minta diri kangmbok"
"Aku belum sempat menemuimu dimas."
Hampir saja Wignyana mengatakan, bahwa ia tidak ingin mengganggu Rantamsari yang
sedang bercengkerama dengan Sasangka, seorang Senapati muda yang bertugas di
rumah itu. Tetapi niatnya diurungkan. Ia tidak ingin menimbulkan persoalan di rumah itu.
"Kapan-kapan aku akan berkunjung kemari. Bukan saja saat ayahanda memberikan
perintah kepadaku untuk datang kemari. Tetapi aku akan menyisihkan waktuku untuk
berada di sini sehari penuh. Tentu saja jika tidak mengganggu kangmbok."
"Kenapa menggangguku?" bertanya Rantamsari"aku senang jika dimas berkenan berada
disini sehari penuh."
Wignyana mengangguk hormat. Katanya"Terima kasih.
Pada kesempatan lain aku akan datang. "
Demiklanlah, maka sejenak kemudian, Wignyanapun telah meninggalkaan rumah Raden
Ayu Prawirayuda. Seperti yang dikatakan oleh Madyasta, maka Wismaya telah pergi
bersamanya untuk mengembalikan kuda yang dibawanya Ebook by Dewi Kangzusi
617 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Sementara itu, Madyasta yang letih, duduk di serambi gandok. Sasangka agaknya
masih dibelakang. Tetapi Madyasta tidak mencarinya.
Sebenarnyalah Sasangka masih berada di halaman belakang, Ketika Rantamsari di
panggil oleh ibunya, maka Sasangka rasa-rasanya segan untuk meninggalkan
tempatnya. Karena itu untuk beberapa saat ia masih duduk di tempatnya itu. Bahkan rasa-
rasanya Sasangka masih mengharap agar Raden Ajeng Rantamsari kembali menemuinya
Tetapi Raden Ajeng Rantamsari kemudian tetap berada di gladri karena ibunya
minta ia meneruskan membatik kain yang sudah dimulainya
"Jika tidak kau kerjakan, maka kain itu tidak akan selesai"
berkata ibunya Sebenarnyalah bahwa Raden Ajeng Rantamsari memang ingin kembali ke halaman
belakang. Tetapi ia merasa segan terhadap ibunya. Karena itu, maka akhirnya
Raden Ajeng Rantamsari duduk saja dibelakang gawangan batiknya Baru beberapa
saat kemudian, Sasangka melangkah dengan segan menuju ke gandok. Baru ketika ia
melihat Raden Madyasta sudah duduk di serambi, Sasangka itu dengan tergesa-gesa
mendapatkannya "Aku tidak tahu, bahwa Raden sudah kembali" berkata Sasangka sambil duduk di
sebelah Raden Madyasta "Kakang berada di halaman belakang?" bertanya Madyasta
"Ya, Raden. Aku masih saja cemas, bahwa Raden Wicitra tiba-tiba saja muncul."
Ebook by Dewi Kangzusi 618 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya Kakang harus semakin berhati-hati."
"Tetapi bagaimana dengan persoalan yang Raden hadapi dengan orang yang menantang
Raden itu?" "Aku sudah memaksanya untuk menghentikan kegilaannya itu. Namaknya ia tidak
lebih dari seorang anak yang merasa dirinya tidak terkalahkan setelah
menyelesaikan laku di perguruannya"
"Sukurlah. Tetapi apakah anak itu jujur menurut Raden?"
"Aku kira ia bersungguh-sungguh. Pengalamannya masih terlalu sempit sehingga
agaknya ia masih belum mempunyai banyak akal untuk mengelabui orang lain."
"Mudah-mudahan ia benar-benar jujur."
"Aku berharap begitu, kakang."
"Tetapi dimana Raden Wignyana dan Wismaya?""Wignyana sudah pulang ke kadipaten.
Sedangkan Wismaya pergi bersamanya untuk mengembalikan kuda yang dipakainya"
Sasangka mengangguk-angguk. Sementara Raden Madyastapun berkata pula"Maaf, bahwa
dimas Wignyana agaknya tidak sempat minta diri kepada kakang Sasangka."
"Tidak apa Raden. Mungkin Raden Wismaya agak tergesa-gesa Dan bukankah Raden
Madyasta sendiri dan Wismaya tidak mengalami sesuatu" Maksudku, Raden dan Wis-
maya baik-baik saja" "
Ebook by Dewi Kangzusi 619 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Ya. Kami baik-baik saja Mudah-mudahan anak itu tidak menimbulkan masalah lagi
dibelakang hari. Mudah-mudahan ia tidak mengganggu Rara Menur sebagaimana
dijanjikannya" Sasangka termangu-mangu sejenak. Namum hampir diluar sadarnya iapun
bertanya"Tetapi bagaimana dengan sikap KangjengAdipati?"
Wajah Raden Madyasta menegang sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas
panjang iapun berkata"Entahlah. Aku belum dapat membayangkan, apa yang akan
terjadi kemudian" Sejenak kemudian, maka Raden Madyastapun pergi ke pakiwan. Di serambi gandok,
Sasangka duduk berangan-angan. Tiba-tiba saja ia sampai pada suatu pertanyaan
"Jika Kangjeng Adipati melarang hubungan Raden Madyasta dengan gadis Panjer,
apakah Kangjeng Adipati berniat menjodohkan Raden Madyasta dengan Raden Ajeng
Rantamsari.?" Jantung Sasangka terasa berdentang semakin keras.


Meraba Matahari Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Wajah Raden Ajeng Rantamsari itu justru semakin terbayang di pelupuk malanya
Beberapa saat kemudian, Raden Madyastapun telah selesai mandi dan berbenah diri.
Sementara itu, Wismayapun telah kembali pula dan kadipaten.
Malam Itu, setelah makan malam, maka Raden Madyastalah yang berada di serambi
belakang. Raden Madyasta harus sangat berhati-hati. Jika orang yang membunuh
Rembana itu masih saja berkeliaran di halaman rumah ilu, maka orang itu akan
dapat merunduknya sebagaimana ia rnerunduk Rembana
Ebook by Dewi Kangzusi 620 Kang Zusi http://kangzusi.com/
Dalam pada itu, di serambi gandok, Sasangka duduk bersama Wismaya. Beberapa saat
mereka saling berdiam diri dengan angan-angan mereka masing-masing. Wismaya
masih memikirkan orang yang telah dilukainya di dekat kuburan tua itu. Namun
menurut pendapatnya, anak muda itu tidak akan mati. Apalagi setelah obat yang
diberikan oleh Raden Madyasta itu ditaburkan di lukanya itu.
Sementara itu, Sasangka rasa-rasanya bagaikan berada di dunia mimpi. Angan-
angannya terbang jauh menembus batas langjt lapis ketujuh. Jika saja ia benar-
benar dapat bersanding dengan Raden Ajeng Rantamsari.
Sasangka terkejut ketika tiba-tiba saja Wismaya itu berkata" Sasangka.Sebelumnya
aku minta maaf. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."
Sasangka mengerutkan dahinya. Wismaya telah, merusak angan-angannya. Rasa-
rasanya Sasangka itu telah terlempar menukik dan jatuh dikehidupan nyata yang
dijalaninya "Apa yang ingin kau katakan, Wismaya?"
"Sekali lagi aku minta maaf sebelumnya."
Jantung Sasangka mulai berdebaran.
"Sasangka. Aku ingin mengingatkanmu, apa yang pernah kau katakan kepada Rembana
sebelum ia terbunuh."
Sasangka terkejut Kata-kata Wismaya itu benar-benar telah menghempaskannya dari
dunia angan-angannya. Sebelum Wismaya berkata lebih jauh lagi, maka Sasangkapun menyahut "Sudahlah
Wismaya Kita sudah sama-sama dewasa. Biarlah kita menempuh jalan kita sendiri-
sendiri." Ebook by Dewi Kangzusi 621 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Sasangka. Sebagaimana yang kau katakan kepada
Rembana, bahwa kita bukanlah sekedar kawan yang
kebetulan bersama-sama menjalankan tugas. Tetapi
hubungan kita lebih dari itu. Kita memasuki dunia pengabdian
kita bersama-sama. Kita merangkak dari tataran terbawah di
lingkungan keprajuritan bersama-sama. Sekarang kita
bersama-sama pula berada disini dalam tugas yang khusus.
Bukankah wajar jika aku menganggap bahwa hubungan kita
lebih dari sekedar hubungan kerja"
"Terima kasih Wismaya. Aku juga merasa bahwa
hubungan kita lebih dekat dari sekedar hubungan kerja.
Meskipun demikian bukan berarti bahwa diantara kita tidak
ada lagi batasnya" "Aku mengerti, Sasangka. Tetapi seperti juga kau katakan
kepada Rembana waktu itu, bahwa langkah yang diambilnya
perlu dipertimbangkan lebih jauh lagi. Bukankah waktu itu kau
bertanya kepada Rembana, siapakah Rembana itu dan
siapakah Raden Ajeng Rantamsari itu."
"Sudahlah, Wismaya. Kau tidak usah mengusik
ketenanganku. Biarlah aku berada di jalanku sendiri."
"Pada waktu itu, kau masih sempat berpikir bening. Kau
masih melihat kemungkinan-kemungkinan yang pahit yang
akan dapat terjadi atas Rembana dalam hubungannya dengan
Raden Ajeng Rantamsari. Tetapi patut dipertanyakan, kenapa
kau tidak menasehati dirimu sendiri sebagaimana kau katakan
kepada Rembana." "Wismaya. Aku minta kau hentikan sesorahmu itu."
Ebook by Dewi Kangzusi 622 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Bukan aku yang sesorah Sasangka. Tetapi kau sendiri.
Aku hanya ingin mengingatkanmu isi sesorahmu kepada Rembana beberapa waktu yang
lalu." "Akupun ingin mengingatkan kau Wismaya. Waktu itu kau tidak dengan tegas
membenarkan sikapku. Waktu itu tersirat dari kata-katamu, bahwa Rembana berhak
menentukan jalannya sendiri. Nah, sekarang akupun akan berkata sebagaimana
tersirat dari kata-katamu waktu itu."
Wismaya menarik nafas panjang. Dengan nada berat iapun berkata" Kita tinggal
berdua disini Sasangka. Aku tidak ingin kawanku berkurang satu lagi."
"Kau mengancamku?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Bukan aku bermaksud menakut-nakutimu, apalagj
mengancammu. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa Rembana kemudian terbunuh. Aku
tidak tahu, apakah kematian Rembana itu ada hubungannya dengan ikatan yang
dijalinnya dengan Raden Ajeng Rantamsari atau tidak."
"Sudahlah Wismaya. Sekali lagi aku minta, hentikan pembicaraan ini. Persoalannya
adalah persoalan yang sangat pribadi, sehingga kau memang tidak akan dapat
mencampurinya, sebagaimana aku waktu itu tidak dapat mencampuri persoalan yang
di-hadapi Rembana" "Akupun ingin memperingatkan sekali lagi, bahwa Rembana kemudian terbunuh."
"Apakah kau menuduhku, bahwa aku telah membunuh Rembana karena aku inginkan
Raden Ajeng Rantamsari."
Ebook by Dewi Kangzusi 623 Kang Zusi http://kangzusi.com/
"Tidak. Jangan salah mengartikan peringatanku itu. Yang ingin aku katakan, bahwa
ada pihak lain yang memang menginginkan Raden Ajeng Rantamsari. Ia telah
membunuh Rembana karena Rembana menjadi semakin akrab dengan Raden Ajeng
Rantamsari itu. Jika sekarang kau menjadi akrab, maka bukankah bencana yang
menimpa Rembana itu akan dapat menimpamu juga?"
"Jangan cemaskan aku, Wismaya. Asal tidak terjadi pengkhianatan, aku tidak akan
terbunuh seperti Rembana"Sasangka itu berhenti sejenak. Lalu katanya pula"Ingat
Wismaya, sejak kita belum berada disini. Sejak belum ada seorangpun yang
berhubungan dengan Raden Ajeng Rantamsari, rumah ini sudah menjadi sasaran laku
kejahatan. Justru karena itulah maka kita berada disini."
Wismaya menarik nafas panjang. Dengan nada berat iapun berkata "Aku sudah
mencoba memperingatkanmu Sasangka Seandainya kau tidak akan mengalami nasib
seperti Rembana, mungkin yang kau cemaskan akan terjadi pada Rembana waktu itu
dapat juga terjadi atasmu."
"Apa maksudmu?"
"Jika kau sudah terlalu dalam dicengkam oleh perasaanmu, namun tiba-tiba saja
Raden Ajeng Kantanisari i u direnggut dari hatimu justru karena kedudukannya
Perjalanan Yang Berbahaya 2 Pendekar Rajawali Sakti 110 Sekutu Iblis Laron Pengisap Darah 5
^