Pencarian

Pelarian Runway 2

Fear Street - Pelarian Runway Bagian 2


"Mungkin," jawab Felicia. Tapi mungkin tidak, tambahnya
diam-diam. Felicia bangkit berdiri dan keluar dari balik meja. Ia memeluk
Nick. Nick ragu-ragu sejenak sebelum membalas pelukannya.
Kemudian cowok tersebut melangkah mundur. "Bye," gumamnya. Ia menuju ke pintu.
Felicia menghela napas dalam. Banyak yang harus
dipikirkannya. Tapi paling tidak ia tahu Nick akan membantunya. Dan Zan juga.
Mereka teman-temannya. Satu-satunya teman.
Tidak akan kubiarkan apa pun terjadi pada mereka, sumpahnya.
Dan aku tidak akan pernah menyakiti mereka... seperti terhadap
Andy dan Kristy. Aku tidak akan pernah menggunakan kekuatanku seperti itu
lagi. Kekuatan untuk membunuh.
Chapter 10 RIDGELY "DR. SHANKS terus mendesakku semakin keras," keluh
Felicia kepada temannya, Debbie Wilson. "Terkadang ia membuatku takut - ia begitu
bersemangat." Felicia dan Debbie tengah menyusuri pantai tidak jauh dari
Ridgely College. Pasirnya terasa nyaman di sela-sela jemari kaki
Felicia. Setelah berjam-jam di laboratorium, ia perlu berjalan-jalan di pantai
untuk menjaga kewarasannya.
"Dr. Shanks hampir-hampir tidak memperhatikan diriku," kata Debbie. "Seharusnya
aku mengundurkan diri dari eksperimen ini.
Rasanya ia menganggapku hanya membuang-buang waktunya."
"Kau beruntung," kata Felicia padanya.
Debbie mengelus rambut pirangnya yang pendek, menyebabkan
rambutnya semakin keriting.
"Aku beruntung?" jeritnya. "Kau mendapat berkat yang luar biasa, dan kau takut
untuk menggunakannya. Aku - "
Felicia memungut sebuah kulit kerang dan melemparkannya ke
laut. "Menurutmu kekuatan itu begitu luar biasa dan menyenangkan.
Tapi aku membencinya! Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku
dipelajari oleh segerombolan dokter."
"Kenapa tidak pergi saja?" saran Debbie. "Kau membenci bibimu. Kau membenci
Ridgely." "Aku tidak bisa berbuat begitu pada Bibi Margaret. Ia yang
merawatku sejak Dad meninggal," kata Felicia menjelaskan. "Ia merawatku seakan
aku ini putrinya sendiri."
"Tapi hubunganmu dengannya kurang baik," kata Debbie.
"Memang. Terkadang."
"Kau mengatakan semua pertengkaran itu 'terkadang'?" tanya Debbie.
"Ayolah, Debbie. Semua orang pernah bertengkar. Itulah
hidup." "Aku tidak bersedia menjalaninya sedetik pun," kata Debbie bersikeras.
"Well, kau bukan diriku, oke?" sergah Felicia.
"Oke, oke. Berapa banyak pensil yang kautembakkan ke Dr.
Shanks hari ini?" tanya Debbie, mengubah topik pembicaraan.
Felicia mendesah. "Tidak satu pun. Ia begitu marah! Tapi hari ini aku tidak bisa
membangkitkan kekuatanku."
"Seandainya aku bisa melakukannya," kata Debbie sambil
mendesah. "Sekali saja."
"Kekuatan ini tidak sehebat itu," kata Felicia padanya. "Siapa yang peduli
dengan kekuatan telekinetis bodoh seperti ini" Kau benar-benar pandai. Itu yang
lebih penting." "Aku lebih pandai daripada sebagian besar dokter yang
mengujiku," kata Debbie menyetujui. "Tapi banyak yang lainnya yang juga pandai."
Ia menendang pasir. "Tidak ada yang bisa melakukan apa yang bisa kaulakukan. Kau
istimewa." Mereka melewati sebuah rumah pantai tua yang sudah tak
berpenghuni. Sebagian besar jendelanya telah pecah. Sebagian besar atapnya telah
lenyap. "Aku benci rumah itu," kata Felicia. "Menyebalkan sekali."
"Runtuhkan saja, kalau begitu," saran Debbie.
"Aku tidak bisa meruntuhkan rumah itu!" seru Felicia. "Kau sudah sinting apa?"
"Kalau aku jadi kau, akan kurobohkan rumah itu," kata Debbie.
"Kalau aku punya kekuatan itu, aku pasti akan bersenang-senang dengan kekuatan
itu. Jadi aku tidak akan merengek terus-menerus
sepanjang waktu." Emosi Felicia tergelitik. Debbie selalu mengusik kemarahannya
setiap kali mereka membicarakan kekuatan Felicia. Pada dasarnya,
Debbie merasa iri. Debbie punya segalanya, pikir Felicia. Cowok-cowok menyukai
rambut pirangnya yang keriting, wajahnya yang cantik, bibirnya yang penuh. Ia
lebih pandai daripada murid-murid lainnya di sekolah.
Tapi Debbie menginginkan kekuatan Felicia, satu-satunya hal
yang tidak bisa dimilikinya.
Felicia penasaran mengapa Debbie melibatkan diri dalam
percobaan-percobaan panjang yang menyiksa ini walaupun tidak ada
tanda-tanda kalau ia memiliki kekuatan tersebut. Apa ia berharap
untuk mengembangkannya" Sepertinya tidak. Ayah Felicia
mengatakan kalau ia memiliki kekuatan tersebut sejak dilahirkan.
Sama seperti beliau. "Lupakan saja," kata Debbie pada akhirnya. "Kau mana mungkin merobohkan rumah
itu. Rumah itu jauh lebih besar daripada
sebatang pensil." Aku benci Debbie kalau bersikap begini, pikir Felicia. Benci
sekali! Ia pun berusaha menemukan kekuatan di dalam dirinya,
menggunakan kemarahannya yang membara. Dan ia menemukannya.
Merasakannya. Membelainya. Ia menyeringai kepada Debbie. "Perhatikan baik-baik," katanya.
Felicia berpaling memandang rumah tersebut. Ia memusatkan
perhatiannya, merasakan seluruh kemarahannya menggelegak dalam
dirinya. Ia merasakan kekuatannya bertambah kuat seiring dengan
detak jantungnya. Tidak lama kemudian bayangan tersebut menjadi jelas dalam
benaknya. Atap rumah itu runtuh. Dinding-dinding kayunya hancur
berkeping-keping. Cerobong asapnya roboh dan menimbulkan awan
debu bata merah. Seluruh rumah luluh lantak.
Dan akulah palunya, pikir Felicia. Ia mendorong kekuatannya
keluar. Mengincar rumah tersebut.
Butir-butir keringat muncul di dahinya dan mengalir turun di
wajahnya. Lagi, pikirnya. Lagi. Ia mendengar rumah tersebut seakan mengerang. Adrenalin
menyembur dalam dirinya. Berhasil! Aku bisa melakukannya!
Salah satu jendela pecah. Jendela yang lain meledak,
menghamburkan serpihan kaca ke mana-mana.
Paku-paku mencicit sewaktu tercabut dari papan.
Setiap otot dalam tubuh Felicia bagai bergumam. Seluruh
kekuatan dalam dirinya bebas dan mengguntur ke rumah tersebut.
Rumahnya bergetar hebat. Lalu runtuh sekaligus. Kaca
beterbangan. Kayu-kayu berderak patah. Lapisan semen berubah
menjadi bubuk. Felicia merasa kehabisan tenaga... dan merasa ngeri.
Kekuatannya terlalu besar - terlalu besar!
"Apa itu?" jerit Debbie.
Felicia mendengarkan. Teriakan-teriakan. Teriakan-teriakan
terdengar dari dalam rumah. Dari balik reruntuhan.
Kedua gadis tersebut melesat mendaki bukit pasir secepat
mungkin. Lalu Felicia membeku. "Oh, tidak." Perut Felicia terasa melilit. "Tidak, tidak, tidak." Ia menunjuk ke
arah dua buah mobil yang tadinya tersembunyi di balik
rumah. Wajah Debbie memucat. "Itu mobil Andy dan Kristy!"
bisiknya. Andy Murray dan Kristy List. Pasangan di kelas mereka. Andy
dan Kristy mulai berpacaran sejak SMP.
Semoga mereka tidak berada dalam rumah tersebut.
Kumohon, kumohon! doa Felicia.
Jangan sampai mereka berada di dalam rumah tersebut.
Chapter 11 AYO!" seru Debbie. Ia menyambar Felicia dan menariknya
menuju ke reruntuhan rumah tersebut.
Felicia menyambar sebuah papan dan melontarkannya ke
belakang. Ia menyambar papan yang lain. Serpihan kayu menancap di
telapak tangannya. Paku-paku merobek kulitnya. Tapi Felicia tidak
memedulikannya. Ia harus menemukan teman-temannya.
"Andy! Kristy!" teriak Felicia hingga tenggorokannya terasa sakit.
Ia terus menggali reruntuhan tersebut. Debu semen memenuhi
hidung dan paru-parunya. Ia tercekik dan terbatuk-batuk, matanya
terasa panas. "Tidaaaak!" lolong Debbie.
Felicia berlari mendekatinya. Debbie membalikkan tubuhnya. Ia
jatuh berlutut dan muntah-muntah.
Felicia menatap ke arah yang tadi dilihat Debbie dan melihat
sebuah lengan. Lengan itu ramping dan berbintik-bintik. Sebuah
cincin persahabatan melingkari salah satu jarinya.
"Oh, Kristy!" jerit Felicia. Salah satu balok penopang telah memotong lengan
Kristy. Felicia bisa melihat tulangnya yang putih
dan ujung-ujung otot yang terpotong tidak merata.
Felicia berlutut dan perlahan-lahan membersihkan reruntuhan
dari potongan mayat Kristy. Ia menemukan Andy tergeletak di
samping pacarnya. Aku pasti tidak akan bisa mengenalinya, pikir Felicia. Kalau
tadi aku tidak melihat mobilnya, aku pasti tidak tahu kalau ini mayat Andy.
Batu-batu bata telah menghancurkan wajah Andy. Hidung,
bibir, serta kelopak matanya telah terkelupas. Air mata menyengat
mata Felicia. Aku yang melakukannya, pikirnya. Aku yang
membunuh mereka. SHADYSIDE Felicia menggigil. Ia tidak akan pernah melupakan tatapan mata
Andy dan Kristy yang telah menjadi mayat. Ia tidak akan lupa seumur hidupnya.
Ia memaksa diri untuk berjalan lebih cepat. Ia tidak mampu
mengusir perasaan adanya orang yang selalu mengawasinya sepanjang
waktu - yang mengikutinya dari jarak yang cukup jauh.
Ia ingin tiba di rumah. Aman dan terkunci di dalam bersama
Miss Quiz. Cuaca hampir gelap, pikir Felicia sewaktu berbelok memasuki
Fear Street. Cahaya kuning pudar terpancar dari beberapa jendela.
Tapi sebagian besar jendela di jalan tersebut gelap.
Rumah Dr. Jones mulai terlihat. Felicia menengok ke belakang
sekilas. Jalan masih sunyi. Bagus.
Ia menyeberangi halaman rumput dan menaiki tangga serambi
depan dua anak tangga sekaligus. Aku harus masuk ke dalam.
Sekarang. Felicia mencabut kunci dari sakunya - dan menjatuhkannya.
Tenang, katanya sendiri. Tidak ada yang mengikutimu. Kau sudah tiba di rumah.
Kau baik-baik saja. Ia mengambil kunci dari lantai serambi. Sebatang serpihan kayu
menusuk jarinya. "Aduh!" seru Felicia. Ia mencabut serpihan tersebut dengan giginya.
Miss Quiz berdiri di tempatnya di kusen jendela kamar duduk.
Kucing tersebut meregang kuat-kuat.
Felicia mengetuk kacanya. "Hei, pus," panggilnya. Ia
menyelipkan kunci di lubangnya - dan pintu depan pun terayun
membuka. Felicia menyadari kalau pintu depan tidak dikunci.
Tadi pagi aku sudah menguncinya. Aku yakin.
Jantung Felicia berdetak lebih cepat. Apa ada orang di dalam"
Pencuri" Atau orang yang meninggalkan pesan untukku. Orang yang
membakar fotoku. Setetes kekuatan menyusuri tubuhnya. Tidak, pikirnya. Aku
tidak akan membiarkannya keluar. Terlalu berbahaya.
Felicia melangkah masuk dan berhenti sejenak. Miss Quiz
berlari mendekatinya dan menggosok-gosokkan tubuhnya di kaki
Felicia, sambil mendengkur keras. Felicia menyadari kalau Miss Quiz tidak merasa
gelisah. Mungkin tidak ada orang yang datang kemari.
Kucing tidak seperti anjing, kata Felicia mengingatkan diri.
Miss Quiz tidak akan peduli kalau ada orang asing masuk ke dalam
rumah - sepanjang tidak mengganggu dirinya.
Felicia melangkah ke lorong. Ia mengintip ke kamar duduk.
Kosong. Ia menghela napas dalam dan melesat ke ruang makan. Kosong.
Felicia menyambar tongkat perapian dari tempatnya. Rasanya
mantap dalam genggamannya. Berat.
Pintu ke dapur berada di seberang ruangan.
Temukan sakelar lampu dan nyalakan lampunya, katanya dalam
hati. Itu saja yang harus kaulakukan.
Ia mengambil risiko maju selangkah - dan berhenti.
Apa itu" Krak. Ia kembali mendengar suara tersebut.
Dari mana asalnya" Atas" Bawah" Tepat di belakangnya" Ia
tidak bisa menentukan. Felicia berputar. Tidak ada apa pun di
belakangnya. Terus bergerak, desaknya sendiri. Ia menyelinap masuk ke
dapur dan menyusuri dinding dengan tangannya. Di mana sakelar
lampunya" Dapat. Felicia menyalakan lampunya. Dapur juga kosong.
Berikutnya ruangan kesukaan Felicia. Ruang belajar Dr. Jones,
yang sering digunakannya untuk membaca dan belajar.
Dan setelah itu, masih ada dua ruangan lagi di lantai atas dan
ruang bawah tanah yang harus kuperiksa, pikirnya dengan muram. Kalau tidak
terkena serangan jantung lebih dulu.
Felicia mengeratkan genggamannya pada tongkat perapian dan
merayap ke lorong. Mungkin aku lupa tidak mengunci pintunya tadi
pagi, pikirnya. Tapi ia tahu kalau tidak akan pernah melupakan hal-hal seperti
itu. Lorong menyempit saat Felicia mendekati ruang belajar. Rak-
rak tinggi yang dipenuhi buku menjulang di kedua sisinya. Felicia
sulit untuk mempercayai banyaknya buku yang dimiliki Dr. Jones.
Untuk mengusik sebagian kecil saja rasanya ia memerlukan waktu
seumur hidup. Ia melewati ambang pintu ruang belajar dan mencari-cari
sakelar lampu. Sebuah tangan yang berat menimpa bahunya.
"Pergi!" jerit Felicia. Ia berbalik secepat kilat dan mengangkat tongkat
perapian tinggi-tinggi di atas kepalanya.
Meong. Miss Quiz melompat dari bahu Felicia ke rak teratas.
Felicia mengerang. "Oh, Miss Quiz, aku hampir saja


Fear Street - Pelarian Runway di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memecahkan kepalamu! Apa-apaan kau ini?"
"Meong," jawab Miss Quiz singkat.
"Kau seharusnya menyesal," gumam Felicia. Ia kembali masuk ke ruang belajar dan
menghidupkan lampunya. Apa yang dilihatnya menyebabkan perutnya terasa melilit.
Cairan yang rasanya asam membanjiri tenggorokannya dari perut.
Ada yang datang kemari tadi.
Isi meja Dr. Jones berhamburan di lantai. Bersama lembaran-
lembaran halaman yang dirobek dari buku sekolah Felicia.
Pakaiannya. Kaset-kasetnya. Semua yang dimilikinya.
Siapa yang melakukan ini" Siapa yang begitu membenciku"
Felicia meraih kaus kesayangannya. Tercabik-cabik. Ia bahkan
tidak bisa mengenakannya di dalam rumah.
Aku tidak bisa tinggal di sini. Aku tidak bisa tinggal di ruangan
ini. Ia berbalik - dan menjerit pelan.
Huruf-huruf merah yang masih menetes menutupi dinding.
Darah" pikir Felicia.
Ia memusatkan perhatian ke pesannya, berjuang untuk
membaca tulisan yang dituliskan di sana.
Ia mendengar jantungnya berdentum-dentum seiring kesadaran
akan isi pesan tersebut. PERGI DARI SINI! SEKARANG JUGA!
AKU TAHU SEGALANYA! Chapter 12 SEGALANYA! Itu berarti mereka tahu tentang Andy dan
Kristy. Mereka tahu kalau Felicia ternyata seorang pembunuh.
Felicia maju mendekati dinding. Ia mengulurkan tangan dan
menyentuh cairan merah mengilat tersebut. Kemudian menggosok-
gosoknya dengan dua jarinya.
Bukan darah, pikirnya. Cat. Dan belum cukup kering.
Siapa pun pelakunya belum terlalu lama pergi.
Felicia bergegas memeriksa setiap lantai rumah. Kosong.
Ia sudah menduganya. Tidak masuk akal kalau siapa pun yang
telah meninggalkan pesan tersebut tetap berkeliaran di sini, menunggu dirinya menemukannya.
Ia bergegas ke dapur dan mengisi sebuah ember dengan air
sabun yang hangat. Ia menyambar spons sebanyak-banyaknya dan
bergegas kembali ke ruang belajar.
Felicia meletakkan ember di depan dinding yang ternoda cat
tersebut. Ia mencelupkan sebuah spons ke air hangat dan berusaha
menghapus huruf-huruf merah tersebut sekuat tenaga. Hingga
bahunya terasa sakit. Hingga kedua lengannya gemetar.
Aku tidak akan membiarkan kau menang, pikirnya. Tidak
semudah ini untuk mengalahkan diriku.
Felicia membuang air di ember ke wastafel. Tubuhnya
menggigil saat melihat air kemerahan tersebut di wastafel yang
berwarna putih. Felicia memeras sponsnya dan mengisi embernya kembali. Ia
meletakkan makanan di mangkuk Miss Quiz dan menuangkan air
segar untuk kucing tersebut. Lalu ia menyambar ember dan kembali
ke ruang belajar. Ia menggosok dinding hingga tidak ada cat merah yang tersisa.
Lalu ia mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di lantai dan
menatanya dengan rapi di atas meja.
Felicia meregangkan lengan di atas kepala hingga merasakan
otot-ototnya menegang. Lalu ia membungkuk dan meletakkan telapak
tangannya di lantai. Otot-ototnya terasa tegang. Ia menghela napas dan mancoba
untuk lebih santai. Tapi ia tidak bisa tidak memikirkan adanya orang yang telah
menerobos masuk ke dalam rumah dan menggeledah
barang-barangnya. Felicia menegakkan tubuhnya sambil mendesah. Sekarang aku
harus mulai membereskan barang-barangku.
Pada saat ia selesai menata ruangan jam telah menunjukkan
pukul lima pagi. Masih ada waktu untuk tidur dua jam sebelum
berangkat ke sekolah, pikirnya.
Felicia berharap bisa bolos hari ini. Tapi membolos merupakan
tindakan yang berbahaya. Ia tidak ingin gurunya atau kepala
sekolahnya punya alasan untuk bertanya-tanya tentang orangtuanya.
Itu bisa berbahaya. ?b?k?l?w?s.bl?gsp?t.c?m *************************
"Kau baik-baik saja?" tanya Nick sore harinya.
"Hah?" tanya Felicia, menguap. .
"Apa... kau... baik... baik... saja?" ulang Nick. Cowok tersebut duduk di
hadapannya, sambil mengunyah sebuah Bellybuster -
produk Burger Basket yang paling laris.
Mereka telah memutuskan untuk menghabiskan istirahat makan
malam setengah jam mereka di belakang restoran. Di situ ada sebuah meja piknik
kecil yang disediakan untuk karyawan dekat bak
penampungan sampah besar.
"Aku baik-baik saja," kata Felicia pada akhirnya.
"Kau belum menyentuh makananmu."
Felicia mengerang dan mengesampingkan makanannya. "Kalau
aku makan goreng-gorengan lagi, aku pasti jatuh sakit."
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Nick. "Kau kelihatan lelah."
Felicia berharap malam ini giliran bekerja Zan. Ia sedang tidak
ingin berbicara dari hati ke hati dengan Nick.
"Aku tidak bisa tidur semalam," jawabnya.
"Mimpi buruk?" tanya Nick.
Mata Felicia menyipit. "Kau tahu apa tentang mimpi buruk?"
"Tidak tahu," jawab cowok tersebut. "Tapi itu salah satu alasan orang-orang
tidak bisa tidur. Alasan lainnya stres."
"Kau tidak tahu apa-apa, Nick," gumam Felicia. "Lupakan saja."
"Kau benar," kata Nick, menyetujui dengan nada pahit. "Aku tidak tahu apa-apa.
Tidak satu pun." Felicia melotot kepadanya. Nick tak memedulikannya. Cowok
itu mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Felicia,
meremasnya erat-erat. "Katakan ada apa?" tuntut cowok tersebut.
"Aku seorang pelarian," kata Felicia.
Nick mengangguk. "Aku tahu. Kau sudah mengatakannya."
"Yeah, tapi masalahnya tidak sesederhana itu."
"Aku jadi tambah bingung."
"Orangtuaku sudah meninggal. Ayahku meninggal sekitar
sepuluh tahun yang lalu." Felicia berjuang keras agar suaranya tetap normal.
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Ia meninggal sewaktu melahirkan aku," jawab Felicia.
Nick tidak mengatakan apa-apa.
"Aku tidak suka tinggal dengan Bibi Margaret," lanjut Felicia.
"Kurasa ia bermaksud baik. Dan aku menyayanginya. Ia satu-satunya keluarga yang
kumiliki. Ia adik ayahku. Tapi kami selalu bertengkar."
"Jadi," jawab Nick dengan hati-hati. "Itu sebabnya kau pergi."
Felicia mengangguk. "Ya, aku bisa mengerti, Felicia. Tapi sudahlah - "
"Bukan itu saja, Nick," selanya. "Bukan itu saja."
"Masih ada lagi?"
"Masih... masih ada lagi."
"Ada lagi?" "Lebih banyak lagi." Felicia duduk dengan gelisah di kursinya.
Ia salah tingkah membalas tatapan mata Nick.
"Tidak apa," kata Nick meyakinkannya.
"Aku terlibat sesuatu di tempat asalku," kata Felicia. "Sesuatu yang dilakukan
lembaga pendidikan setempat tanpa sepengetahuan
penduduk sekitarnya."
Nick mencondongkan tubuhnya. "Sesuatu macam apa?"
"Ehm, percobaan di departemen psikologi. Aku yang dijadikan
objek percobaan." "Melakukan percobaan dengan objek dirimu," ulang Nick.
"Untuk apa?" Felicia terdiam sejenak. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak
tersenyum. "Apanya yang lucu?"
"Ini betul-betul gila. Sulit dipercaya kalau aku duduk di sini dan menceritakan
semuanya kepadamu. Kau tidak akan
mempercayainya!" Nick ikut tertawa. "Ayolah, Felicia. Kau membuatku
penasaran! Memangnya ada apa sih?"
Felicia menghela napas panjang. "Mereka mengadakan
percobaan dengan otak manusia, Nick. Tapi bukan percobaan seperti
yang ada dalam buku-buku pelajaran."
"Aku tidak mengerti," jawab Nick.
Felicia menyadari kalau tidak bisa menceritakan hal itu pada
Nick. Ia ingin bercerita, tapi tidak bisa. Nick bisa menganggapnya sinting.
"Para dokter di sana mengira mereka bisa menemukan sesuatu
yang ada hubungannya dengan otak," kata Felicia pada Nick. "Aku tidak begitu
memahami apa yang mereka inginkan. Tapi entah untuk
alasan apa aku menjadi salah satu objek percobaan mereka."
Jangan bertanya, pinta Felicia tanpa suara.
"Itu tidak masuk akal," seru Nick marah. "Mereka kan memerlukan semacam surat
izin untuk berbuat begitu?"
"Memang - dari Bibi Margaret. Bibi mengira percobaan itu
berguna untukku." Felicia mendesah. Sekarang, setelah
kebohongannya tertata dengan rapi dan berjalan lancar, ia merasa
lega. "Pokoknya, aku harus meninggalkan tempat itu. Para dokter
menginginkanku di laboratorium terus-menerus. Aku kehilangan
seluruh teman-temanku. Aku rindu pada ayahku. Aku tidak tahan lagi.
Aku harus lari." "Dan sekarang?"
"Ini," jawab Felicia, memberi isyarat ke sekelilingnya.
"Shadyside. Identitas baru. Kehidupan baru." Ia menarik tangan Nick lebih dekat.
"Teman baru." "Sepenuhnya," kata Nick menyetujui, sambil tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya
dan mengecup bibir Felicia.
Felicia mengerjapkan matanya. "Nick!"
Nick mengangkat bahu. "Sekaranglah saat yang tepat untuk
menciummu." Perasaan hangat menyapu Felicia. Akhirnya ia bisa
berhubungan dekat dengan seseorang. Sekalipun ia masih belum bisa
menceritakan segalanya pada cowok tersebut.
Nick kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya
terarah ke bibir Felicia.
Felicia memiringkan kepalanya, siap menerima ciuman Nick.
Blang! Pintu belakang restoran terayun membuka.
Felicia tersentak menjauhi Nick. Wajahnya terasa memanas.
Kepala Barry terjulur keluar. "Kembali kerja, pemalas!"
Syukur Tuhan bukan Zan, pikir Felicia. Ia membuang sampah
sisa makannya ke bak sampah besar dan bergegas masuk ke dalam
tanpa menunggu Nick. Pada pukul sepuluh, Barry mengunci pintu depan. Beberapa
menit kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu belakang.
"Biar kubuka," teriak Felicia. Ia meletakkan tumpukan baki kotor di dekat bak
cuci besar dan membuka pintu.
Zan berdiri di sana, berpakaian hitam-hitam; dari sepatu boot,
celana panjang, hingga sweter panjangnya. Bola matanya tampak
lebih biru daripada biasanya.
"Hanya kau dan Nick saja yang bekerja malam ini, hah?" tanya Zan.
"Eh, tidak juga. Barry ada." Jangan sampai wajahku memerah, pikir Felicia. Ia
melangkah mundur dan Zan berjalan masuk.
"Hei, Nick! Sopirmu datang," panggil Zan. Ia meringis kepada Felicia.
Nick masuk ke ruang belakang. Zan menyambar lengannya dan
menyeretnya ke pintu. "Ayo pergi dari sini. Aku tidak suka berada di sini kalau
tidak sedang bekerja."
"Sampai ketemu besok," teriak Nick tanpa berpaling. Ia melihat Felicia
menatapnya dan membalasnya cukup lama. Lalu ia
menghilang. Felicia menunggu selama beberapa menit sebelum
mengumpulkan barang-barangnya dan mengambil kartu absennya. Ia
tidak ingin melihat Nick dan Zan pergi bersama-sama.
"Kau butuh tumpangan?" tanya Barry, sewaktu Felicia
melangkah ke pintu keluar di belakang.
"Tidak, trims. Aku jalan kaki saja. Olahraga."
Barry mengangguk dan melambai sebagai ucapan selamat
berpisah. Felicia membuka pintu belakang dan menghirup udara malam
yang dingin menusuk. Ia mendengar suara-suara. Suara orang yang
tengah marah. Nick dan Zan. Mungkin aku bisa pergi tanpa ketahuan mereka, pikir Felicia.
Aku tidak ingin bertemu dengan mereka sewaktu sedang bertengkar.
Ia menyelinap melewati tong sampah, berjalan rapat ke dinding.
Lalu ia mendengar sesuatu yang menghentikan langkahnya.
"Berhati-hatilah, Nick," kata Zan memperingatkan. "Aku tahu yang sebenarnya
tentang Felicia. Aku tahu segalanya!"
Chapter 13 ZAN. Zan tahu. Udara dingin menusuk tubuh Felicia.
Apakah Zan yang ingin menyakitiku" Apa ia yang telah
mencuri SIM-ku dan membuat pesan mengerikan di dinding rumah.
Dr. Jones" Felicia bergegas mengitari sudut Burger Basket. Ia tidak ingin
Zan melihatnya dan menyadari kalau ia telah mendengar pembicaraan
mereka. "Jauhi saja ia, oke?" ia mendengar Zan berteriak, suaranya melengking dan
gemetar. Felicia mulai berlari-lari kecil. Ia merasakan kekuatannya mulai
membesar dalam dirinya. Tidak! perintahnya sendiri. Jangan biarkan ke-kuatanmu
keluar. Felicia memusatkan pikirannya untuk mendengar suara detakan
sepatu sneaker-nya beradu dengan aspal:Tenang. Tenang. Tenang. Ia
mengulangi kata tersebut seiring dengan langkahnya.
Ia merasakan kekuatannya menyusut.
Mungkin aku akhirnya berhasil menguasainya, pikir Felicia.
Ia mengurangi kecepatannya, kembali, berjalan biasa, dengan
pikiran berputar kembali ke Zan. Sekalipun seandainya Zan yang
mengambil SIM-ku, ia cuma tahu nama dan alamat asliku. Itu tidak
berarti banyak baginya. Tapi alamat dalam SIM, alamat Ridgely, pikirnya. Mungkin
Zan ingin mendapat informasi tentang sesuatu yang buruk di masa
laluku - agar Nick tidak terlalu berminat.
Mungkinkah Zan menyusuri jejakku kembali ke Ridgely"
Bisakah ia mengetahui tentang rumah di pantai itu" Tentang
bagaimana aku membunuh Andy dan Kristy"
Felicia meragukannya. Boleh dikatakan tidak ada seorang pun
di Ridgely yang mengetahui tentang kekuatannya. Polisi
mengetahuinya - karena mereka telah berbicara dengan Dr. Shanks
dan yang lainnya. Tapi mereka tidak akan berkeliaran memberitahu
orang-orang kalau ia merobohkan sebuah bangunan dengan
pikirannya. Itu rahasia besar.
Felicia teringat bagaimana dingin dan marahnya nada suara Zan


Fear Street - Pelarian Runway di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sewaktu memerintahkan Nick agar menjauhi dirinya.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sampai aku tahu kalau
Zan telah mengetahui yang sebenarnya, pikir Felicia. Aku harus tahu secepatnya.
******************* Keesokan paginya, Felicia mampir ke loker Nick. "Di mana
Zan?" tanyanya, berusaha terdengar biasa.
"Entah," jawab Nick. "Aku belum bertemu dengannya."
"Eh, Nick?" Bagaimana cara menanyakannya" pikir Felicia. Masalah Nick
dan Zan sama sekali bukan urusannya.
Tapi namaku terlibat dalam pertengkaran mereka, katanya
dalam hati. "Apa?" Nick menutup pintu lokernya.
"Semalam kudengar kau dan Zan bertengkar di luar Burger
Basket." Nick memutar bola matanya dan mengerang.
"Maafkan aku," kata Felicia pada cowok tersebut. "Aku bukannya mau menguping,
tapi kalian berdua berbicara terlalu keras."
"Yeah, aku tahu." Nick mengangkat bahu. "Zan terlalu pencemburu."
"Sungguh?" Felicia berharap bisa bersikap lebih jujur pada Nick. Tapi ia tidak
berani mengambil risiko. "Apa yang kaudengar?" tanya Nick.
"Tidak banyak," jawab Felicia. "Aku langsung pergi. Tapi sempat kudengar Zan
mengatakan 'Aku tahu yang sebenarnya tentang
Felicia.'" "Yeah." Nick mendengus. "Zan tampaknya menganggap kita berdua sudah terlalu
dekat." Felicia terdiam sejenak. "Apa kita memang terlalu dekat?"
"Kurasa tidak," keluh Nick. "Zan kalau marah suka mengatakan hal-hal yang tidak
sebenarnya. Ia menyukaimu, Felicia. Sungguh. Tapi terkadang ia cemburu."
"Jadi, apa yang diketahuinya tentang aku?" tanya Felicia, berhati-hati agar nada
suaranya tidak berubah. "Tidak ada," jawab Nick. "Tapi dalam pikirannya, ia tahu semua tentang
'hubungan' kita. Sudah kukatakan kalau kita cuma
berteman...." Teman yang ingin selalu saling mencium, tambah Felic ia
dengan diam-diam. Tapi ia merasa lega. Zan tidak tahu apa-apa
tentang masa lalunya, sama seperti Nick.
Felicia merasa tidak enak sendiri karena telah berprasangka
buruk pada Zan. Tapi kedengarannya seakan-akan Zan mengetahui
rahasia Felicia yang paling buruk.
"Felicia?" tanya Nick.
"Yeah?" "Mengenai masalahku dengan Zan. Semalam sudah kubereskan.
Ia tidak marah. Tapi apa aku bisa minta tolong?"
"Tentu saja." "Maafkan kalau kejadian semalam membuatmu jengkel. Tapi
tolong jangan salahkan Zan atas apa pun yang sudah kaudengar." Ia menatap
Felicia dengan tajam. "Aku bukannya jengkel," Felicia bergegas berkata.
"Bagus... Zan baru saja melewati masa-masa yang sulit.
Cobalah untuk bersikap lebih ramah padanya, oke" Demi aku?"
"Apa aku boleh menanyakan masa sulit macam apa yang
dialaminya?" Nick menggeleng. "Tidak bisa."
"Hei, ayolah, Nick," desak Felicia. "Aku sangat
mempercayaimu semalam. Apa menurutmu kau tidak bisa
mempercayaiku sekarang?"
"Tentu saja aku mempercayaimu," kata Nick. "Dan kau mempercayaiku, bukan?"
"Baru saja kukatakan."
"Well, begitu pula dengan Zan," balas Nick. "Kalau ia ingin kau mengetahuinya,
ia sendiri yang akan menceritakannya padamu."
"Maafkan aku, Nick. Kau benar," kata Felicia.
"Tidak apa. Kau teman yang baik," kata cowok itu.
Felicia berhasil melontarkan senyum yang kaku. Ia berharap
keadaannya berbeda. Ia berharap dirinya dan Nick bisa menjadi lebih dari sekadar
teman. Tapi Nick telah memiliki pacar. Pacar yang sangat pencemburu.
Dan Felicia punya terlalu banyak rahasia.
****************** Sampai juga hari Jumat, pikir Felicia beberapa hari kemudian.
Dan malam ini ia libur. Ia bisa memanfaatkannya. Minggu ini benar-
benar menguras tenaga. Ia membuka pintu loker dan mengambil buku-buku yang
diperlukannya sebelum makan siang. Setelah sekolah selesai ia telah berjanji
pada diri sendiri untuk langsung pulang dan bersantai.
Mungkin bahkan tidur sejenak. Ia masih kurang tidur karena
membereskan rumah beberapa hari yang lalu. "Felicia?"
Ia menutup loker dan berbalik. Zan berdiri memandanginya.
"Hei, bagaimana kabarmu?" Felicia merasa aneh berbicara kepada Zan sekarang
setelah ia tahu bagaimana perasaan Zan tentang dirinya dan Nick.
"Baik!" jawab Zan. "Sudah seminggu ini aku ingin berbicara denganmu, tapi tidak
ada kesempatan. Kau punya waktu sebentar?"
"Tentu saja," jawab Felicia. "Tapi tidak bisa lebih. Pelajaran pertamaku di sisi
seberang sekolah." "Aku ingin tahu apa rencanamu untuk malam ini." Zan
mencabut ikat kepala merah dari rambut hitamnya yang mengilat,
merapikan ekor kudanya, dan mengikatnya kembali.
"Eh, tidak banyak." Kuharap ia bukannya mau mengajak tukar giliran kerja, pikir
Felicia. Aku kelelahan setengah mati.
"Mau menginap di rumahku" Kita bisa menyewa film atau
apalah." Felicia ingin menolak. Menghabiskan malam hari bersama Zan
kedengarannya tidak begitu santai - sekalipun Zan tampak benar-
benar bersahabat. Tapi ia teringat akan permintaan Nick untuk
bersikap ramah terhadap Zan.
"Kedengarannya bagus," jawab Felicia. "Kita tidak pernah punya kesempatan untuk
bercakap-cakap - kecuali waktu
memanggang burger." Zan menyeringai. "Pasti menyenangkan," katanya meyakinkan Felicia. "Datanglah
sesudah makan malam." Ia melambai dan berjalan pergi.
Mungkin akan menyenangkan, pikir Felicia sambil berjalan
menuju ke kelasnya. Aku sudah lama tidak berkumpul lagi dengan
teman cewek. Tidak sejak Debbie. Felicia menelan gumpalan yang terasa mengganjal di
tenggorokannya. Ia merindukan Debbie. Merindukan untuk menginap
bersamanya, bercakap-cakap sampai hampir separo malam,
menyantap jajanan. Tapi sekarang aku punya Zan, katanya sendiri. Sekarang aku
punya teman-teman baru. ***************************
Felicia tiba di rumah Zan sekitar pukul delapan lebih
seperempat. Rumah Zan luar biasa besar. Bahkan lebih besar
dibandingkan rumah Dr. Jones.
Ia menyukai warna hijau gelap kusen-kusen jendelanya. Dan
balkon-balkonnya yang menghadap ke lanskap sesemakan hijau dan
pepohonan ek tinggi yang terawat rapi.
Gerbang rumah yang tinggi terbuka tanpa mengeluarkan suara
derit waktu Felicia mendorongnya. Tiang pagar masing-masingnya
berujung lancip, tebalnya setidaknya satu inci. Wow, pikir Felicia, tidak ada
yang bisa melewati pagar ini dengan mudah.
Ia bergegas menyusuri jalur masuk dan menekan bel.
"Rumah yang bagus," katanya sewaktu Zan membuka pintu.
"Trims," jawab Zan. "Orangtuaku cinta sekali pada rumah ini.
Mereka merawatnya dengan baik."
Zan memimpin masuk ke dalam dan Felicia menemui
orangtuanya hanya lima belas detik.
Mereka hendak keluar, dan baru pulang larut malam nanti.
Bagus, pikir Felicia. Sekarang ia tidak perlu mencari-cari jawaban kalau ditanya
tentang orangtua maupun tempat tinggalnya sebelum
ini. "Ayo ke kamarku," kata Zan setelah orang-tuanya pergi. Ia menaiki tangga yang
panjang, diikuti Felicia tepat di belakangnya.
Zan membuka pintu pertama di sebelah kiri.
Wow, pikir Felicia. Kamar Zan benar-benar memesona! Sebuah
tempat tidur king-size merapat pada salah satu dinding; sebuah meja dan lemari
pakaian yang semodel berada di seberangnya. Sebuah pintu ganda membuka ke salah
satu balkon yang tadi dilihat Felicia.
"Zan, ini benar-benar kamar paling hebat yang pernah kulihat."
"Trims." Zan memasang CD dan mengeraskan volumenya.
"Kau punya saudara?" tanya Felicia.
"Tidak," jawab Zan. "Cuma aku. Dan aku lebih suka begitu.
Bagaimana dengan dirimu?"
"Sama." Felicia mengambil sebuah VCD dari ranselnya dan
melontarkannya kepada Zan. Sebuah VCD The Birds yang ditemukan
di rumah Dr. Jones. "Karya Hitchcock," katanya pada Zan. "Kau sudah pernah
melihatnya?" "Bagus, tidak?"
"Sangat," kata Felicia berjanji. "Kau akan ketakutan setengah mati."
"Hebat. Aku sudah siap. Aku sudah membuat popcorn dan yang
lainnya. Bahkan sudah kusiapkap kue lapis cokelat." Zan memasukkan VCD dan
mematikan musiknya. Ini jauh lebih baik daripada berdiam di rumah dengan hanya
ditemani Miss Quiz,pikir Felicia.
***************** "Kalau aku makan popcorn lagi, aku pasti meledak," erang Felicia sewaktu film
berakhir. "Sulit dipercaya kau bisa menghabiskan dua mangkuk besar,"
jawab Zan. "Memang aneh. Kalau sedang menyaksikan film, selera
makanku luar biasa. Tidak bisa kutahan."
"Kau mau soda lagi?" tanya Zan. "Aku mau tambah."
"Boleh." "Biar kuambilkan keju dan salsa juga," kata Zan. "Mom berpesan padaku agar kau
harus betul-betul makan."
"Aku akan meledak!"
"Aku segera kembali."
Felicia bangkit berdiri dan mengamati buku-buku di rak Zan.
Ada sejumlah buku terlaris, beberapa buku klasik, beberapa lagi buku anak-anak
kuno. Lalu ia melihat buku tahunan Shadyside High milik
Zan. Ia mengambil buku tahunan sewaktu Zan masih kelas satu dan
berbaring di ranjang. Sekarang aku bisa melihat bagaimana bodohnya tampang
orang-orang pada waktu itu, pikirnya.
Ia membalik-balik halamannya, mengamati foto-foto yang ada.
Ia menemukan foto Nick, dan tidak mampu menahan diri untuk tidak
tertawa geli. Wajah baby-face Nick begitu bulat. Dan jelas potongan rambutnya
sangat payah. Sebaiknya aku cepat melihat foto yang lain sebelum Zan masuk
dan menemukanku memandangi foto pacarnya, pikir Felicia.
Terutama sekarang setelah hubungan kami sudah baik lagi.
Felicia membalik halamannya. Rasanya lebih tebal
dibandingkan halaman-halaman lain. Ia menyadari halaman tersebut
dua lembar yang disatukan. Dengan hati-hati ia mengupasnya.
Foto Zan menatap dirinya dari halaman dalam.
Tapi dengan siapa Zan berpose" Felicia penasaran. Bagian lain
foto telah dilabur spidol cokelat. Ia hanya bisa membaca separo
keterangan foto: PASANGAN PALING... Sesaat Felicia mendengar sesuatu. Apa Zan sedang menaiki
tangga" Tidak. Aku benar-benar keterlaluan, pikirnya. Tapi aku tidak
merugikan siapa pun. Felicia membasahi jari telunjuknya dan dengan hati-hati
menghapus tintanya. Rasanya aneh.
Ia menggosoknya lebih keras. Tintanya mulai terkelupas pada
ujung jarinya, tapi ia masih belum bisa melihat foto di bawahnya. Ia tidak bisa
melihat dengan siapa Zan berpose dalam foto tersebut.
Felicia kembali melirik ke pintu. Seharusnya aku segera
mengembalikan buku ini, pikirnya. Zan jelas tidak ingin ada orang
yang melihat foto ini. Tapi ia merasa penasaran. Ia tidak bisa berhenti sekarang.
Felicia meludah ke halaman tersebut dan meratakan air liurnya.
Lalu ia mencium bau tersebut.
Bau logam, seperti segenggam koin.
Felicia mengenal bau tersebut. Ia mencium bau yang sama pada
saat menemukan mayat Andy Murray dan Kristy List.
Ia mengacungkan jari telunjuknya ke depan mata. Jarinya
terbungkus cairan merah mengilat. Bukan cokelat - tapi merah.
Napas Felicia tertahan di dadanya.
Ini bukan tinta, pikirnya.
Darah. Chapter 14 FELICIA mendengar langkah-langkah kaki dari tangga.
Zan! Ia menutup buku tahunan tersebut dan menjejalkannya kembali
ke rak buku tempat ia tadi menemukannya.
O-oh! Zan akan melihat darah di jemariku. Felicia melesat ke
pintu kamar tidur. Ia harus ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Felicia membuka pintu. Zan berdiri di ambang pintu sambil membawa sepiring besar
nacho dan dua kaleng Diet Coke. "Trims," kata Zan. "Rasanya aku terlalu banyak
membawa barang." Felicia memaksa tersenyum. Ia mengepalkan telapak tangannya
yang bernoda darah di samping tubuhnya.
"Aku harus ke kamar mandi," katanya.
Zan meletakkan nacho-nya dan membuka sekaleng Coke.
"Kamar mandi ada di sebelah."
"Aku akan segera kembali," jawab Felicia.
Ia bergegas masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Fiuu!
Ia mendesah keras. Apa tindakan Zan kalau ia melihatku tengah
menatap foto itu" Felicia penasaran.
Ia membuka keran air panas dan membiarkannya mengalir
sejenak. Lalu ia menuang sedikit sabun cair ke jemarinya dan
menggosok-gosoknya hingga jemarinya terasa bengkak.
Dari mana Zan mendapat darah begitu banyak untuk menutup
separo potret" Apa ia mengiris jarinya dan membiarkan darahnya
menetes atau yang lainnya" Felicia menggigil.
Yang jelas, putusnya hubungan mereka sangat buruk, pikirnya.
Ia mematikan keran air panas dan membuka air dingin. Ia
menyiramkan air dingin ke wajahnya beberapa kali, lalu
mengeringkannya dengan handuk tamu berwarna peach.
Ia menatap sekeliling kamar mandi. Tidak ada darah yang
tersisa di wastafel. Juga di handuk. Bagus.
Ia kembali ke kamar Zan. "Ayo cepat," desak Zan.
"Makananmu hampir dingin."
Felicia meraih keju dan salsa yang tertimbun keripik. Perutnya
terasa bergolak. Ia terus teringat akan bau darah yang tajam seperti bau logam.
Paling tidak kau harus makan sedikit, kata Felicia pada diri


Fear Street - Pelarian Runway di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sendiri. Zan pasti merasa aneh kalau kau tidak makan. Ia melontarkan sebuah
keripik ke dalam mulutnya. Saus hangat mengalir di dagunya.
Yeek! "Jadi," tanya Felicia dengan nada biasa. "Sudah berapa lama kau dan Nick
berpacaran?" "Sejak awal SMU," jawab Zan.
"Wow, sudah lama sekali," kata Felicia mengomentari.
Zan bohong! pikirnya. Aku tahu kalau mereka berpacaran
belum selama itu. Potongan keterangan foto dalam buku tahunan yang sempat
dibacanya berbunyi "pasangan paling...." Jadi kecuali Zan dan Nick bertengkar
hebat - dan lalu berbaikan - wajah Nick tidak
mungkin mengisi separo lain foto tersebut.
"Yeah, aku tahu. Kami bertengkar dan seterusnya, tapi aku
tidak bisa hidup tanpa dirinya."
"Hebat sekali," kata Felicia dengan iri yang tidak ditutup-tutupi.
"Kuharap aku akan bertemu dengan cowok sebaik Nick."
"Ada cowok-cowok lain di Shadyside High," kata Zan
mengomentari. "Kau cuma harus lebih sering keluar, itu saja."
"Sudah pasti," kata Felicia menyetujui. "Yang jelas aku tidak akan menemui
mereka di jendela pesanan Burger Basket."
"Oh, entahlah. Cowok yang mengendarai four-by-four besar
dua malam yang lalu tampaknya boleh juga!" kata Zan dengan sinis.
"Aku hampir, hampir saja mengajaknya pergi, berani sumpah!"
kata Felicia, sambil memutar bola matanya.
"Ia menggemaskan!" kata Zan bersikeras. "Apa kau tidak pernah penasaran
bagaimana rasanya pacaran dengan cowok seperti
itu?" "Gemuk, gelap, dan berkeringat" Lupakan saja," jawab Felicia.
"Kau punya lagu apa?"
Zan memberi isyarat ke rak CD-nya. "Pilih saja."
Felicia merangkak ke sana dan mengamati judul-judulnya. Ia
tidak bisa berhenti memikirkan tentang foto dalam buku tahunan
tersebut. Apa yang telah terjadi sehingga Zan menutupi wajah cowok dalam foto
tersebut dengan darah"
Pasti buruk. Mungkin ada hubungannya dengan masa-masa sulit
yang dilalui Zan. Apa yang telah terjadi padanya" Felicia penasaran. Apa rahasia
besar Zan" ********************* Felicia berjalan menyusuri rak-rak berisi deretan buku di
perpustakaan sekolah hari Senin pagi. Seharusnya tidak kulakukan,
pikirnya. Seharusnya aku mencari buku-buku yang kuperlukan untuk
makalah sejarah. Tapi benaknya dibebani hal lain. Ia ingin menemukan buku
tahunan sekolah yang lama. Ia ingin melihat foto yang ditemukan
dalam buku tahunan Zan minggu yang lalu. Sekadar ingin tahu apakah ia bisa
memperkirakan mengapa Zan memoles bagian wajah cowok
tersebut dengan darah. Itu dia. Felicia menemukan koleksi buku tahunan Shadyside di
sepanjang rak belakang. Ia meneliti judul-judulnya untuk menemukan tahun yang
diinginkannya. Ya! Felicia mencabut buku tahunan dari tahun pertama Zan. Ia
membalik-balik halamannya hingga menemukan halaman yang
dicarinya. Kali ini tidak ada darah di sana. Tidak ada halaman yang direkatkan
menjadi satu. Hanya bau apak kertas yang telah menua.
Dan foto Zan bergandengan tangan dengan seorang cowok
ganteng berambut pirang. Felicia membaca keterangan foto yang
lengkap: ALEXANDRIA McCONNELL DAN DOUG GAYNOR,
PASANGAN PALING MUNGKIN UNTUK ABADI.
Doug Gaynor" pikirnya. Aku benar. Zan dan Nick tidak
berpacaran sejak tahun pertama!
Doug Gaynor. Ia tidak mengenali wajah cowok tersebut... tapi
namanya terasa akrab. Cowok itu tidak sekelas dengannya dalam
pelajaran apa pun. Di mana ia mendengar namanya"
Felicia menggigil tanpa tertahan.
Sekarang ia teringat. Ia teringat dengan tepat di mana ia
mendengar nama tersebut. Felicia menutup buku tahunan tersebut. Lalu lari keluar
perpustakaan tanpa menandatangani buku kehadiran. Ia tidak berhenti berlari
hingga tiba di lantai dua. Sebuah bangku kayu kecil berada di tengah-tengah
lorong. Felicia berjalan mendekatinya, jantungnya
berdebur keras dalam dadanya.
Ia mengarahkan pandangannya ke pelat kuningan di bangku
tersebut. Di sana tertulis: Mengenang Douglas Gaynor. Jantungnya
berdebur lebih kencang. Rasanya seperti akan meledak.
Doug Gaynor sudah mati, pikirnya.
Pacar Zan yang dulu sudah mati!
Chapter 15 "TADI, Zan bilang kalian berdua bersenang-senang bersama
hari Jumat?" kata Nick. Felicia dan Nick tengah berjalan
menyeberangi lapangan parkir sekolah. Mereka harus berada di
Burger Basket lima belas menit lagi. Giliran kerja Zan baru dimulai beberapa jam
lagi. "Yeah," gumam Felicia sambil masuk ke mobil Nick. Ia
berpaling, memeriksa keadaan di belakang, sewaktu Nick masuk dan
menghidupkan mesin mobil. Ia kembali melirik ke belakang sewaktu
Nick melajukan mobil ke jalan.
Ia terus berharap akan melihat seseorang mengikutinya. Paling
tidak, setelah itu ia tahu harus takut terhadap siapa.
Nick memandang ke kaca spion dalam. "Apa yang kaulihat?"
tanyanya. "Aku selalu merasa ada yang sedang mengawasiku," kata
Felicia mengakui. Nick menyentakkan kepalanya ke arahnya. "Kenapa?" tanyanya dengan nada menuntut.
Sebaiknya kuberi jawaban yang panjang atau yang pendek"
Felicia penasaran. Ia memutuskan untuk memulai dengan yang
pendek. "Well, sejak melarikan diri, aku jadi seperti penipu."
Kedengarannya buruk sekali, pikir Felicia. Ia berharap Nick bisa
memahami. "Maksudmu?" "Well... kau tahu rumah di Fear Street yang kutinggali?"
"Yeah?" "Bisa dibilang aku mencurinya."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana caranya kau mencuri sebuah
rumah?" Nick mengerutkan kening ke arahnya.
"Rumah itu milik Dr. Jones. Ia pengajar di sekolahku. Pada hari aku tiba di sini
tidak sengaja aku mendengar cowok yang mengatakan kalau harus menjaga rumah itu
dan merawat kucing Dr. Jones
sementara dokternya cuti."
"Biar kutebak," kata Nick. "Kau rayu cowok itu agar memberikan pekerjaan itu
padamu." Nick tidak terdengar jengkel atau apa. Bagus. "Aku sangat
pandai merayu," kata Felicia memberitahu cowok tersebut. Ia
tersenyum. "Dan kukatakan kalau ayahku mengenal Dr. Jones."
Nick mendengus. "Bisa kutebak sisanya," katanya. "Kau bukan saja merawat
kucingnya, tapi juga lemari es, TV, dan sofanya
sekaligus." "Tepat sekali."
"Lalu kenapa?" Nick mengangkat bahu. "Kau cuma melakukan apa yang harus
kaulakukan. Kau tidak menyakiti siapa pun. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi
kalau Dr. Jones pulang nanti, tapi sebelum itu, kenapa tidak?"
"Trims. Tapi bukan itu alasanku untuk takut kalau-kalau ada
yang mengikutiku," kata Felicia mengakui.
"Lalu?" tanya Nick pada akhirnya. "Apa?"
"Kupikir ada orang dari tempat asalku yang mengikutiku
kemari." "Sungguh?" "Entah, atau ada orang di Shadyside yang mengetahui masa
laluku. Entah yang satu atau lainnya, dan aku mati-matian berusaha mencari tahu
yang mana." "Dari mana kau tahu?" tanya Nick. Ia membelokkan mobil
memasuki halaman parkir Burger Basket dan memarkirnya. "Apa ada yang terjadi?"
Felicia mengangguk. Sekarang atau tidak selamanya, pikirnya.
Lakukanlah. Ia menceritakan surat yang dibakar di lokernya dan tulisan
dengan cat merah di dinding rumah Dr. Jones pada malam yang sama
kepada Nick. "Kalau menurutmu aku mengobral cerita pada siapa pun tentang
apa yang sudah kauceritakan padaku, kau salah besar," kata cowok tersebut dengan
tegas. "Aku tidak berkata begitu, Nick," jawab Felicia. "Tapi ada yang tahu. Dan aku
takut." Nick memegang tangannya dan meremasnya. Felicia bergeser
dari kursinya. Ia memeluk Nick dan membenamkan wajahnya di
kemeja cowok tersebut. Nick memeluk Felicia erat-erat. Kemeja flanelnya terasa hangat
pada pipi Felicia. Aku bisa tetap begini selamanya, pikir Felicia. Sudah terlalu
lama tidak ada yang memeluknya. Terlalu lama tidak ada orang yang
memperhatikan dirinya. "Kau tidak perlu takut," bisik cowok tersebut. Felicia bisa merasakan embusan
napas Nick pada rambutnya. "Aku akan
menemanimu apa pun yang terjadi."
Felicia menengadah dan menatap lurus ke mata Nick. "Janji?"
"Tidak peduli apa pun yang terjadi," ulang cowok itu.
Lalu mereka berciuman. Rasanya begitu tepat. Lalu Nick menyentakkan kepalanya
menjauh. "Tidak," gumam Nick. "Tidak, aku tidak bisa berbuat begini."
Felicia menjauhi cowok tersebut. Ia menurunkan kaca jendela
dan menatap ke lapangan parkir. Udara terasa dingin di wajahnya.
Lalu ia kembali memandang Nick. "Kenapa?"
"Aku mencintai Zan," kata Nick. Ia menatap ke kemudi.
"Aku tidak percaya." Felicia sulit mempercayai kalau dirinya telah mengatakan
hal itu. Tapi itulah yang sebenarnya. Ia tidak
percaya kalau Nick mencintai Zan. "Kurasa kau cuma takut untuk memutuskan
hubungan kalian." "Ia memerlukanku," gumam Nick. "Ia tidak akan mampu mengatasinya."
"Ia lebih kuat daripada perkiraanmu," kata Felicia bersikeras.
"Kau tidak seharusnya berpacaran dengannya karena takut."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang hal itu," balas Nick, suaranya tiba-tiba berubah
kasar dan dingin. "Jadi lupakan saja, oke?"
"Oke. Setelah kutanyakan satu hal lagi." Kuharap ia tidak membenciku karena hal
ini, pikir Felicia. Ia menghela napas panjang.
"Apa ini ada hubungannya dengan Doug Gaynor?"
Nick menelan ludah dengan susah payah. "Ada apa
dengannya?" bisiknya.
"Bagaimana kalau kauceritakan?"
"Kau benar-benar ingin tahu?" tanya Nick dengan nada
menantang. "Kau bisa mengatasinya?"
"Ya!" "Zan membunuhnya."
Chapter 16 "APA?" Felicia tersentak.
"Itu kecelakaan!" kata Nick. "Jangan memandangku seperti itu.
Itu cuma kecelakaan!"
"Apa maksudmu?" tuntut Felicia. "Entah Zan membunuhnya atau tidak, pilih salah
satu." "Ia tidak bermaksud begitu," jawab Nick. "Aku tahu ia tidak bermaksud membunuh
Doug." "Apa yang terjadi?"
"Ceritanya panjang."
"Yang benar saja, Nick," kata Felicia dengan marah. "Mula-mula kaukatakan Zan
membunuhnya. Sekarang kau mengatakan itu
cuma kecelakaan. Kau harus menjelaskannya."
Nick mendesah. "Doug tewas dua tahun yang lalu. Zan tidak
bersekolah untuk waktu yang lama. Ia harus dirawat psikolog dan
menjalani sekolahnya dengan tutor. Orangtuanya kaya, kau tahu"
Pokoknya, kami mulai pacaran sekitar enam bulan yang lalu."
"Tapi apa yang sebenarnya menimpa Doug?" desak Felicia.
"Sebentar lagi kuceritakan," sergah Nick. "Zan dan Doug mulai berpacaran sejak
kelas tujuh. Itu lima tahun yang lalu, Felicia. Hai, kencan pertamaku bahkan
baru di kelas dua SMU! Semua orang
mengira Zan dan Doug benar-benar serius. Tapi lalu Doug bosan atau entah
kenapa." "Ia berselingkuh?" tanya Felicia.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Nick. "Tidak ada yang tahu. Ia keluar dengan gadis
bernama Kathleen Clarke. Keluarga Kathleen
sudah lama pindah dari kota ini. Tapi tidak ada yang tahu pasti apakah waktu itu
Doug sudah memutuskan hubungannya dengan Zan atau
belum." Felicia mengangguk. "Tidak penting bagaimana kejadian yang sebenarnya," lanjut Nick. "Pokoknya, Zan
mengetahui hubungan mereka."
"Dan ia meledak," kata Felicia.
"Yeah. Bisa dikatakan begitu. Doug menemui Zan di rumahnya
keesokan malamnya. Kurasa ia merasa tidak enak dan ingin meminta
maaf kepada Zan. Ia tampaknya cowok yang baik, kau tahu"
Bukannya cowok yang suka berselingkuh. Pokoknya, mereka
bercakap-cakap di balkon rumah Zan. Kau tahu mana yang
kumaksud?" "Yeah, aku sudah melihatnya," jawab Felicia.
"Mereka lalu bertengkar tentang Kathleen, kurasa. Zan marah
besar. Ia memukuli Doug. Doug mencoba mendorongnya agar
menjauh dan tanpa sengaja membenturkan kepala Zan ke pintu. Zan
murka. Ia balas mendorong."
Nick terdiam sejenak. "Lalu Doug kehilangan keseimbangan,"
katanya dengan suara pelan.
"Ia jatuh," kata Felicia menyimpulkan. Ia merasa perutnya melilit.
"Yeah... tapi bukan itu yang menyebabkan ia tewas."
Felicia merasa kebingungan. "Jadi apa yang menyebabkan ia
tewas?" Nick menelan ludah dengan susah payah. "Kau tahu pagar besi
yang mengelilingi rumah Zan?"
Felicia menutup mulutnya. Ia bisa membayangkan pagarnya...
dari besi, dengan ujung-ujung yang tajam.
"Empat batang di antaranya menembus punggung Doug," bisik Nick. "Satu lagi
menembus lengan kirinya." Ia berdeham. "Menurut berita di TV, ia tidak langsung
tewas." Felicia gemetar. Cara yang mengerikan untuk mati.
Dan Zan bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Felicia
hampir bisa membayangkan Zan berdiri di atas tubuh Doug yang
tertembus pagar. Melihat cowok tersebut saat ia sekarat. Saat darah menyembur
dari dadanya. Saat mulutnya berusaha meneriakkan
permintaan tolong - tapi terhalang oleh darah.
Felicia melipat tangan di dadanya. Doug Gaynor mungkin
melihat ujung-ujung pagar besi mencuat dari dadanya. Tahu kalau Zan tengah


Fear Street - Pelarian Runway di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berdiri di dekat situ. Tahu kalau dirinya akan meninggal.
Mengerikan sekali. Mengerikan bagi Zan. Felicia tahu
bagaimana rasanya hidup dengan beban kesalahan atas kematian
orang lain. Tidak ada gunanya meyakinkan diri sendiri kalau itu hanya
kecelakaan. Tidak ada gunanya mengatakan kalau kau tidak
bermaksud begitu. "Sekarang kau mengerti mengapa aku tidak bisa memutuskan
hubungan kami," kata Nick lembut. "Aku tidak bisa membiarkan Zan mengalami
peristiwa itu lagi. Tidak sekarang. Ia belum cukup kuat. Ia bahkan tidak
bersekolah selama setahun penuh."
Foto dalam buku tahunan kembai melintas dalam benak Felicia.
Ia teringat bagaimana setiap inci dari foto Doug ditutup dengan darah.
Ditutup dengan hati-hati. Ditutup dengan rapi. Tidak setetes pun
yang mengenai wajah Zan. Ia menghapus Doug dari hidupnya, pikir Felicia. Ia sudah
membohongiku tentang berapa lama hubungannya dengan Nick.
Apa Zan sedingin itu" Sekejam itu" Mungkinkah Zan memang
berniat untuk membunuh Doug"
Kalau benar, kalau Zan memang membunuh Doug... apa yang
akan dilakukannya terhadapku" pikir Felicia.
Ia menggosok-gosok lengannya. Seluruh tubuhnya terasa
dingin. Kukira pesan-pesan itu dari seseorang yang mengetahui masa
laluku. Seseorang yang ingin membalas perbuatanku terhadap Kristy
dan Andy. Ia menghela napas, tersendat-sendat. Tapi aku keliru. Pasti Zan
yang telah mengirim pesan tersebut. Pasti ia yang telah mengaduk-
aduk ruang belajar Dr. Jones.
Zan tidak peduli dengan masa laluku. Ia cuma peduli dengan
Nick. Ia pasti berusaha menakut-nakuti diriku agar menjauhi Nick.
Tapi aku tidak pergi. Felicia menyambar lengan Nick. "Pasti Zan yang telah
mengirimkan surat-surat ancaman itu. Ia mencemburuiku sejak awal.
Ingat" Ia menodongkan pisau jagal itu kepadaku dan menyuruhku
menjauhi dirimu. Kukira itu cuma lelucon konyol."
Felicia berbicara semakin lama semakin cepat, kuku jemarinya
menusuk daging lengan Nick. "Tapi Zan serius. Sekarang ia akan mengejarku. Ia
akan membunuhku sama seperti ia membunuh Doug!"
"Hentikan! Zan tidak membunuh Doug. Sudah kukatakan kalau
itu cuma kecelakaan," jerit Nick. Mula-mula kau pikir ada ilmuwan yang mencoba
melacakmu. Sekarang kau mengira Zan hendak
membunuhmu. Cobalah untuk melihat kenyataan, oke?"
Felicia melepaskan cengkeramannya. "Baik," katanya. "Tapi ada yang menaruh surat
itu dalam lokerku. Ada yang menuliskan
ancaman di dinding. Kalau bukan Zan yang melakukannya, lalu
siapa?" "Aku tidak pernah melihat satu pun pesan-pesan itu," gumam Nick.
Felicia merasa matanya panas. Ia mengedip-ngedipkannya
untuk menghalangi air mata yang telah siap untuk tumpah. Kalau Nick tidak
mempercayainya, tak apa. Ia sudah biasa sendirian. Ia tidak
memerlukan Nick. "Sudah waktunya untuk bekerja," katanya. "Barry akan kemari dalam tiga puluh
detik sambil berteriak-teriak kepada kita."
"Kau harus berjanji satu hal lebih dulu."
"Apa?" Felicia memegang tangkai pintu. Ia ingin meninggalkan Nick - sekarang juga.
"Jangan sampai Zan tahu kalau aku sudah menceritakan semua
ini padamu." "Aku berjanji," jawab Felicia datar. Ia tidak akan membiarkan Nick mengetahui
seberapa parah cowok itu telah menyakitinya. "Zan tidak akan pernah tahu."
"Tahu apa?" Mereka mendengar suara Zan, sarat dengan
kemarahan. Chapter 17 "ZAN!" kata Nick. "Apa yang kaulakukan di sini?"
Zan membungkuk dan menatap mereka melalui jendela di
samping Felicia. "Barry memintaku datang lebih awal," jawabnya dingin. "Kurasa
aku tiba tepat pada waktunya."
Felicia mencoba untuk tersenyum. "Hei, bagaimana kabarmu?"
tanyanya, berharap Zan tidak mendengar terlalu banyak.
Zan menggeleng. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Zan
tidak akan tahu tentang apa?"
Felicia melirik Nick. Nick tampaknya tidak tahu harus berkata
apa. Cepat berpikir, katanya sendiri.
"Nick meminta nasihatku tentang sesuatu," sembur Felicia.
Kuharap Nick bisa bekerja sama dengan baik, pikirnya.
"Nasihat?" Zan mencibir. "Nasihat macam apa yang bisa kauberikan padanya?"
"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat yang istimewa,"
kata Nick. "Kupikir Felicia mungkin punya gagasan bagus tentang itu."
"Apa?" sergah Zan, seakan itu hal terbodoh yang pernah
didengarnya. "Kita sudah lama tidak bepergian. Kalau tidak bertemu di
sekolah, kita bertemu di tempat kerja," kata Nick menjelaskan. "Aku ingin
merencanakan sesuatu yang menyenangkan."
Zan tidak mengatakan apa-apa.
Apa ia percaya" Felicia penasaran.
"Felicia bahkan setuju untuk menggantikan giliranmu agar kita bisa libur pada
malam yang sama," tambah Nick.
"Kejutan!" jerit Felicia.
Felicia menatap Zan. Apa kau yang selama ini mengancamku"
pikirnya. Apa kau orangnya"
"Itu saja?" kata Zan pada akhirnya. "Itu rahasia besar yang seharusnya tidak
boleh kuketahui?" "Menurutmu apa?" tanya Nick jengkel.
"Maaf." Zan menggigit bibirnya. "Kurasa aku harus berhenti bersikap terlalu
curiga." "Sudah pasti," jawab Felicia. "Kita teman, bukan?"
Felicia turun dari mobil.
Zan bergegas mendekati Nick dan memeluk pinggangnya.
"Bagaimana kalau kita semua merayakannya dengan masuk ke dalam dan melempari
pengunjung dengan lemak?" tanya Nick.
"Kedengarannya bagus," kata Felicia.
Nick dan Zan mendului berjalan ke pintu belakang Burger
Basket. Saat melangkah masuk, Nick memandang ke balik bahunya.
"Terima kasih," katanya tanpa suara kepada Felicia.
Felicia mengangguk. Kurasa kita semua kembali berteman,
pikirnya. Sampai aku tahu yang sebenarnya tentang Zan.
"Apa burger ini sama dengan yang di gambar?" tuntut seorang pembeli. "Kurasa
tidak!" Felicia mendesah. Apa malam ini bulan purnama, atau apa"
pikirnya. Semua orang yang datang kemari malam ini benar-benar
menjengkelkan. Ia memberikan sebuah burger baru kepada orang tersebut. Lalu
menuang segelas besar Diet Coke untuk dirinya sendiri. "Aku mau istirahat,"
gumamnya kepada Zan sambil menuju ke ruang belakang.
"Tolong beritahu Barry, oke?"
"Oh, Felicia, tunggu!" panggil Zan, tanpa berpaling, sambil menuangkan setumpuk
kentang goreng ke alat penghangat. "Sebelum beristirahat, bisa kauganti dulu
bohlam lampu di gudang" Yang itu
sudah terbakar." Felicia berusaha untuk tidak mendesah. "Bukan masalah."
"Trims," jawab Zan.
Felicia mengalihkan langkahnya menuju ke gudang. Ia mencari-
cari bohlam lampu. Lalu mengambil tangga logam dan
mengangkatnya ke tengah ruangan.
Ia mendengar suara seperti siraman air sewaktu berjalan. Lalu
merasakan sepatunya basah. Ada yang menumpahkan ember untuk
mengepel dan - seperti biasa - tidak mengepelnya. "Bagus," gumam Felicia. "Siapa
yang ceroboh kali ini?"
Aku tidak akan mengepelnya, pikirnya. Biar mereka yang
membersihkannya sendiri. Ia membuka tangga lipatnya, memastikan
kalau posisinya telah mantap, dan naik ke atas, membawa bohlam
lampu baru di satu tangan. Felicia berdiri pada ujung jemari kakinya di tangga,
menjulurkan tangan untuk mengambil bohlam lampu lama.
Ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya dalam kegelapan gudang.
Tangannya menyentuh bohlam. Bohlam tersebut terayun-ayun
pada kabelnya yang panjang. Felicia berusaha rneraihnya.
Bunga api meletik dari kabel tersebut. Felicia terlonjak dan
menjatuhkan bohlam lampu yang baru. Bohlam tersebut mengenai
lantai yang basah dan pecah berantakan.
Bau plastik terbakar yang tajam menyengat hidungnya. Ia
mendengar dengungan dari atas kepalanya. Dan mendengar derakan
lembut. Felicia turun selangkah. Pandangannya menangkap sesuatu
yang mengilat: Mirip tembaga.
Ia menyadari kalau kabelnya telah terkelupas. Itu sebabnya
bohlam yang lama padam, ada yang mengiris kabelnya.
Kepanikan menerobos dirinya.
"Aku harus keluar dari sini," bisiknya.
Ia melompat turun dari tangga, sepatunya mencipratkan air ke
mana-mana saat mendarat dan menginjak pecahan kaca. Ia melangkah
mundur, lututnya terasa lemas. Air di lantai... kabel yang terkelupas...
tangga logam. Aku bisa terpanggang! Felicia berbalik dan bergegas menuju ke kotak sekring dekat
pintu keluar. Ia harus memutuskan aliran listrik sebelum ada yang
terluka. Ia membuka pintu kotak sekring dan mempelajari labelnya.
Gerakan di sudut matanya menyebabkan ia tersentak dan berpaling.
Dan melihat Barry melangkah masuk ke dalam gudang.
"Kenapa di sini gelap?" omel Barry.
Hantu Langit Terjungkir 3 Walet Emas Perak Karya Khu Lung Setan Gila Lereng Ungaran 2
^