Pencarian

Ciuman Selamat Malam Ii 1

Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii Bagian 1


Prolog SAAT YANG MENYENANGKAN BULAN pucat melayang tinggi di atas pantai di Sandy Hollow
saat Diana berjalan di samping Eric. Pasir basah terasa dingin di
bawah kakinya. Diana meraih tangan Eric. "Aku senang pantai di
malam hari," gumamnya.
"Hah" Apa katamu?" tanya Eric. Ia tampak melamun.
"Tidak apa-apa. Ayo." Sambil menarik Eric ke arah ombak
yang memecah dengan lembut di pasir, Diana mulai melangkah lebih
cepat. Pantai begitu damai di malam hari, pikir Diana. Begitu
sempurna untuk apa yang harus kulakukan.
Bintang-bintang bekerlap-kerlip, keperakan dengan latar
belakang langit yang hitam dan bersih. Paling tidak subuh baru
merekah satu jam lagi. Diana memiliki banyak waktu.
Dia mengamati wajah Eric dengan teliti. Rambut Eric hitam dan
dipotong model shaggy, matanya juga hitam dan serius. Tatapan
Diana berhenti agak lama di tenggorokan Eric, di daging halus tepat di
bawah rahangnya. Sebentar lagi, pikirnya. Sebentar lagi.
"Sudah larut," kata Eric. "Aku benar-benar harus pulang."
"Kau tidak takut kegelapan, bukan?" tanya Diana menggoda.
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu kenapa tergesa-gesa?"
"Hari ini sangat berat bagiku. Aku ingin tidur sebentar sebelum
matahari terbit." Diana berhenti melangkah dan memicingkan mata memandang
pantai yang gelap. "Lihat!" serunya. "Ada yang meninggalkan payung
pantai. Ayo kita duduk. Sebentar saja?"
"Tapi sekarang sudah larut," protes Eric.
Diana bergegas ke payung itu dan menjatuhkan diri ke pasir di
bawahnya. "Ayolah," katanya. "Kita mendapatkan tempat pribadi."
Eric bergabung dengannya. Diana menarik Eric mendekat dan
menciumnya. Hanya sekali. Cepat. Bibir Eric terasa dingin saat
bersentuhan. Sedingin udara malam.
"Aku benar-benar harus pulang," bisik Eric.
"Kau tidak akan pulang, Eric."
Sejenak, Eric tidak mengatakan apa-apa, wajahnya bagai siluet
beku dengan latar belakang langit yang dipenuhi bintang. "Apa
maksudmu?" kata Eric akhirnya.
"Aku mengajakmu kemari untuk mati."
Eric tertawa. "Ini lelucon?"
"Tidak, Eric. Ini bukan lelucon. Sepupuku dibunuh vampir
musim panas yang lalu. Dia bukan sekadar sepupuku, Eric. Dia juga
teman terbaikku. Aku ingin menghabisi semua vampir."
Taring Eric mencuat keluar. "Kau kalah," sergahnya.
"Tidak. Kau yang kalah," balas Diana.
Mata Eric membara marah dan lapar. Dia berusaha menarik
Diana. Diana berguling menjauh. Dia mencabut payung pantai dari
pasir. Payung khusus yang dibuatnya untuk malam ini.
Eric mengejarnya, cahaya bulan memantul pada matanya.
Bagian atas payung menggelinding ke pasir sewaktu Diana
mencabut gagangnya. "Aku sudah bisa merasakan nektarmu, minuman yang manis!"
seru Eric. "Jangan berharap," jawab Diana.
Eric mengerang sewaktu Diana menghunjamkan ujung tonggak
kayu yang runcing itu hingga menembus jantungnya. Bola matanya
membelalak terkejut. "Tidak!" katanya, tersentak. "Tidak. Tidak
mungkin!" Eric jatuh ke pasir. Sinar di matanya memudar.
Tubuhnya terurai. Mula-mula pelan, lalu semakin cepat, kakikakinya menyusut di dalam celana jins yang dikenakannya. Lenganlengannya hancur luluh. Kulitnya menyerpih, tertiup angin.
Hingga yang tersisa hanyalah tulang-belulang yang
mengenakan pakaian Eric dan telentang di pasir.
Tulang-belulang. Tulang-belulang putih.
Lalu debu. Diana mengaduk-aduk debu itu dengan tangannya hingga
menghilang ke dalam pasir pantai.
"Selamat tinggal, Eric," gumamnya. "Aku mengalami saat yang
sangat menyenangkan."
BAGIAN SATU WAKTUNYA BERPESTA Bab 1 PULAU VAMPIR "ITU Pizza Cove," kata Billy Naughton, sambil menunjuk ke
sebuah restoran kecil di seberang jalan. "Pizza sosis dan jamurnya
sangat lezat." Jay Windley mengangguk. "Pizza terbaik di kota ini," kata Nate Stanton menyetujui sambil
mengusap rambutnya yang berwarna pirang pasir. "Aku
menyantapnya setiap malam musim panas lalu. Sungguh. Maksudku,
setiap malam." Jay mengangguk lagi. Pandangan Billy menjelajahi sekitarnya, mencari-cari kekhasan
Sandy Hollow lainnya yang bisa ditunjukkannya. Dia telah
memutuskan untuk menghabiskan malam pertama dengan mengajak
teman terbaiknya berkeliling kota. Bagaimanapun, dia telah
menghabiskan seluruh musim panasnya sebelum ini di sini.
Teman Jay, Nate, tampaknya agak membosankan. Nate dan
keluarganya menghabiskan musim panas yang lalu di Sandy Hollow.
Tapi Billy tidak begitu mengingat mereka.
Mungkin aku terlalu sibuk dengan Joelle sehingga tidak
memperhatikan orang lain, pikir Billy.
"Aku tidak suka Pizza Cove," kata Lynette, adik perempuan
Nate yang masih kecil. Billy merasa Lynette akan selalu mengekor mereka sepanjang
musim panas ini. Sekarang baru malam pertama, dan Mrs. Stanton
telah memaksa Nate mengajak adiknya.
"Siapa yang peduli apa yang kausukai?" goda Nate. "Kau
menyukai Gummi-Worms di pizza-mu!"
Billy merasakan kelembapan angin laut bergaram yang
mengembus pipinya. Angin mengusutkan rambut hitamnya yang
panjang. Dia menggeleng untuk mengusir lamunannya. "Di sini dingin
di malam hari," katanya mengomentari.
"Memang," gumam Jay sambil menggigil. Angin laut
menempelkan rambutnya yang cokelat muda ke pipinya.
"Tapi tetap menyenangkan sekalipun dingin," kata Nate. "Ini
akan jadi musim panas yang mengagumkan. Kecuali untuk kerjanya."
Billy mcngerang. "Jangan mengingatkanku." Dia berbalik
memandang Jay. "Apa yang akan kaulakukan sementara kami bekerja,
Jay" Menemani orangtuamu?"
Jay tertawa. "Tidak mungkin. Aku akan berkeliaran di pantai
dan menjemur kulitku. Tapi aku pasti memikirkan kalian yang harus
susah payah bekerja sepanjang waktu."
"Yeah, yang benar saja." Nate mendorongnya.
Jay terhuyung menabrak wanita yang sedang lewat.
Billy tertawa. Nate bertubuh besar. Besar dan kuat. Dia hampir
dua kali lipat besarnya dibandingkan Jay.
Selera Jay dalam berteman benar-benar sudah berubah selama
aku tidak menemaninya sepanjang satu tahun ini, pikir Billy. Dia dulu
tidak pernah mau bergaul dengan anak yang kasar.
"Satu-satunya yang ingin kulakukan musim panas ini adalah
bertemu cewek-cewek," kata Jay.
"Ini tempatnya, man," kata Nate kepadanya. "Musim panas
yang lalu aku bahkan memacari tiga cewek!"
Jay meringis. "Kalau ada begitu banyak cewek, kenapa kita
belum bertemu satu pun?"
"Kata Nate ada banyak cewek," jawab Billy. "Dia tidak
mengatakan bahwa mereka akan tertarik padamu, Jay."
Nate tertawa terbahak-bahak dan ber-high five dengan Billy.
"Menurut semua temanku, Nate itu tolol," kata Lynette.
Senyum Nate menghilang. "Kenapa kau tidak bermain-main di
laut, Lynette?" Lynette melompat-lompat gembira di belakangnya. "Semua
temanku menganggapmu benar-benar tolol," ulangnya.
"Siapa yang peduli pendapat teman-temanmu?" kata Nate
menggerutu. "Maksudku cewek yang benar-benar cewek"bukan
bocah kecil sekolah dasar."
Lynette menjulurkan lidahnya.
Billy memutar bola matanya ke arah Nate sebagai ungkapan
simpati. "Wow, lihat!" seru Lynette. "Kedai es krim."
Billy mengikuti arah pandangan Lynette. Gadis kecil itu sudah
menemukan Swanny's, kedai es krim dan tempat permainan video.
"Es krim!" Lynette meminta, sambil menarik-narik lengan baju
kakaknya. "Es krim!"
Nate mendengus. "Mungkin nanti."
Mereka menyusuri Main Street, lalu menyeberang ke sisi lain
dan menuju kembali ke arah kedatangan mereka.
Billy memperhatikan hanya ada beberapa orang yang berbelanja
di Mini Market. Liburan musim panas belum lagi dimulai. Dalam
beberapa hari lagi Mini Market dan setiap toko lainnya di Sandy
Hollow akan dibanjiri orang-orang yang berlibur musim panas siang
atau malam. "Musim panas ini pasti hebat," kata Billy. "Aku layak
mendapatkannya setelah setahun yang kujalani."
"Yeah, aneh rasanya kau dirawat di rumah sakit itu," jawab Jay.
"Aku bahkan tidak bisa mengunjungimu."
"Memangnya kenapa?" sela Nate. "Lihat sisi baiknya, Billy.
Kau tidak perlu sekolah selama setahun penuh!"
"Well, sekarang aku sudah lebih baik," kata Billy. "Dan siap
untuk berpesta"gila-gilaan!"
Nate mengacungkan tangannya tinggi-tinggi dan ber-high five
dengan Billy. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Jay.
Billy dan Nate mengeluh bersama.
"Pekerjaanku tidak terlalu buruk," jawab Billy. "Paling tidak
aku berada di perahu di udara terbuka sepanjang hari. Kata bosku
terkadang ada orang kaya yang menyewanya untuk memancing di
perairan yang dalam. Mungkin aku akan mendapatkan tip yang besar."
"Paling tidak kau memang ingin bekerja," keluh Nate. "Sewaktu
ayahku tahu bahwa lapangan golf memerlukan bantuan, dia
mengatakan aku yang akan mengisinya"tanpa menanyakannya lebih
dulu padaku! Aku ingin berpesta musim panas ini, bukan mencabuti
tanaman liar dan menutupi lubang bekas tanah."
"Kata Dad itu baik untukmu," sela Lynette. "Karena kau
pemalas." Nate memelototinya. "Well, aku tidak akan membiarkan pekerjaan menghalangiku
bersenang-senang," kata Billy. "Aku bisa bekerja sepanjang hari dan
berpesta sepanjang malam. Siapa yang perlu tidur?"
"Aku juga bisa berpesta sepanjang malam," kata Nate
menyetujui. "Mengajak cewek-cewek."
Jay tertawa. "Yang benar saja. Dalam dua hari kalian berdua
sudah akan mampus.' "Aku tidak," kata Nate bersikeras. "Tidak mungkin!"
Billy hanya separo mendengarkan celoteh teman-temannya.
Suara ombak di kejauhan telah menarik perhatiannya. "Hei, ayo kita
lihat pantainya!" katanya.
Dia mendului berjalan meninggalkan Main Street lalu
menemukan jalan papan yang membentang ke pantai. Anak tangga
kayu tua yang menurun dari bukit pasir berderit dan melesak akibat
berat tubuh mereka. Pantai sunyi sepi. Billy tahu keadaan itu tidak akan berlangsung
selamanya. Pada akhir pekan nanti, pantai akan penuh sesak dengan
orang-orang yang mandi matahari dan berenang, serta anak-anak yang
membangun istana pasir. Dan di malam hari akan ada api unggun dan
pesta. Aku tidak sabar lagi, pikir Billy. Aku sudah tidak sabar untuk
mulai. "Kau benar, man, ini mengagumkan," kata Jay menyetujui.
Billy melirik ke sekitarnya. Puncak ombak memancarkan
cahaya putih, tertimpa cahaya bulan yang keperakan. Billy bisa
melihat sebuah dermaga batu di kejauhan, membentang keluar dari
pantai hingga menghilang di laut.
"Apa itu?" jerit Jay.
Billy terlonjak. Dia mendengar Lynette tersentak.
Langit tiba-tiba dipenuhi keributan. Kepakan. Getaran. Di atas
mereka. Di depan mereka. Di belakang mereka.
"Lihat!" teriak Nate, sambil menunjuk ke arah dermaga.
Billy melihatnya. Kelelawar. Lusinan jumlahnya, terbang
rendah di atas dermaga batu.
Ketakutan merayapi Billy. Dia menatap kelelawar-kelelawar
itu. Begitu banyak jumlahnya, pikirnya. Kenapa bisa sebanyak itu"
"Mengagumkan," bisik Jay.
Lynette menerobos melewati Billy dan bersembunyi di
belakang Nate. Kelelawar-kelelawar itu terus membubung, menghalangi cahaya
bulan, menggelapkan pantai. Lalu mereka terbang ke laut dan
menghilang. "Mereka ke mana?" tanya Lynette dengan suara pelan.
"Ke pulau," jawab Billy. "Ada sebuah pulau dekat dengan
pantai. Tidak ada yang tinggal di sana lagi. Kelelawar menggunakan
rumah-rumah yang kosong di sana."
"Pulau kelelawar," kata Jay. "Kedengarannya seperti tempat di
dalam film horor." "Orang-orang sini menyebutnya Pulau Vampir," kata Nate.
"Banyak rumah-rumah hangus di sana. Itu sebabnya tidak ada yang
tinggal di Sana." Jay tertawa. "Pulau Vampir" Yang benar saja!"
"Ada yang mengatakan bahwa tempat itu dihuni vampir"di
rumah-rumah kosongnya," kata Billy menjelaskan. "Pernah ada
beberapa anak SMU yang ke sana untuk merayakan pesta kelulusan.
Mereka saling menantang untuk menemukan vampir dan
menghancurkannya. Dua anak menemukan peti mati dan
membakarnya." Lynette menggigil. Dia semakin merapatkan diri ke Nate.
"Apinya membunuh vampir," lanjut Billy. "Tapi sewaktu anakanak itu berusaha meninggalkan pulau, vampir-vampir lain mengikuti
mereka. Anak-anak itu berusaha membakar mereka juga. Semua
rumah yang ada dibakar, dan tidak satu pun dari anak-anak itu yang
kembali. "Ada orang yang mengatakan mereka tewas terbakar bersama
para vampir. Tapi yang lain percaya bahwa para vampir itu berhasil
menghabisi mereka. Jadi sekarang tidak ada orang yang berani ke
sana." "Berapa banyak yang pergi?" tanya Lynette.
"Enam. Kudengar tiga di antaranya berusaha pergi dengan


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perahu. Tapi para vampir mengubah diri menjadi kelelawar dan
terbang ke perahu lalu membunuh mereka."
Nate tertawa. "Benar-benar kisah bodoh. Apa ada yang
mempercayainya?" "Banyak," jawab Billy pelan.
Mereka berdiri membisu, menatap dermaga batu.
Akhirnya Billy berpaling dari laut hitam yang bergulunggulung. "Ayo kembali ke kota," katanya, sambil menggigil.
Teman-temannya seketika menyetujui. Billy tahu bahwa
mereka telah ketakutan karena kelelawar-kelelawar itu"dan karena
ceritanya. Lynette mencengkeram lengan baju Nate dan tidak bersedia
melepaskannya. "Bagaimana aku bisa bertemu cewek kalau adik perempuanku
terus mengikutiku sepeti ini?" kata Nate menggerutu.
"Kalau kau tidak mau aku di sini, aku pulang," kata Lynette.
"Tidak!" jerit Nate. "Tidak bisa."
"Kenapa tidak?"
"Karena Mom akan membunuhku."
"Belikan aku es krim, atau akan kuberitahu Mom kau mencoba
mengusirku!" "Itu pemerasan!" kata Nate memprotes.
Billy tergelak. "Kau kalah, Nate."
"Kalau aku jadi kau, akan kubelikan es krimnya," kata Jay pada
Nate. Nate menyerah. "Oke. Oke. Es krim."
Billy terpaksa tertawa. Nate cowok bertubuh besar dan
bertampang tangguh. Dan adik perempuannya tahu persis bagaimana
cara mengendalikannya. Mereka menyusuri pantai dalam keheningan. Tapi sewaktu
Billy mulai menapaki tangga ke jalan papan, Lynette menjerit setinggi
langit. "Tidak!" lolongnya. "Lepaskan dia! Lepaskan dia! Tidaaaak!"
Bab 2 ANJING TERBANG BILLY tersentak setelah melihat apa yang menyebabkan
Lynette menjerit. Di pantai, dua ekor kelelawar raksasa tengah menyerang seekor
anjing hitam kecil. Anjing itu berputar-putar ketakutan, sambil
berusaha menggigit mereka.
Tapi kelelawar-kelelawar itu menyerang dengan buas. Sambil
menyambar dari angkasa, menjerit-jerit dan berusaha menggigit.
Salah seekor kelelawar mendarat di punggung anjing itu. Dan
menghunjamkan gigi-giginya ke daging anjing kecil itu.
Anjing itu menyalak kesakitan.
Kelelawar yang lain menyambar turun ke leher anjing itu,
menggigit dalam-dalam. Billy terus mengawasi, tertegun, sementara kelelawar-kelelawar
itu mencengkeram anjing malang dengan rahangnya dan mulai
mengepak-ngepakkan sayapnya mati-matian.
Anjing itu memuntir-muntir tanpa daya, mendengkingdengking.
Ini mustahil, pikir Billy. Kelelawar tidak bisa berbuat begini.
Sayap-sayap mereka memukul-mukul udara dengan panik.
Mereka mengangkat anjing yang terus menyalak itu ke udara.
Hewan kecil itu memberontak, memuntir ke satu arah, lalu ke
arah yang lain. Tapi kelelawar-kelelawar itu bertahan.
Perlahan-lahan mereka berhasil mengangkat anjingnya.
Setengah meter di atas pantai.
Satu meter. Bertambah tinggi. Sambil mengepak-ngepakkan sayapnya dengan susah payah,
keduanya bergerak ke arah laut.
Billy merasa seperti tertancap ke pasir, tidak mampu bergerak.
Tidak mampu mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang
mengerikan itu. Dia mendengar Lynette terisak. Melihatnya berlari mengejar
anjing yang menggeliat-geliat sambil melolong itu.
"Lynette"kembali!" jerit Billy. Dia melesat mengejar gadis
kecil itu. Mengatasi suara napasnya sendiri, Billy mendengar Nate dan
Jay berlari dekat di belakangnya. Langkah-langkah kaki mereka
terdengar hampa di pasir basah.
Dengan cepat Billy berhasil mendului Lynette.Dia berhasil
mendekati kedua ekor kelelawar itu. Mereka tampaknya menemui
kesulitan untuk mengangkat beban seberat itu. Sambil mengepakngepakkan sayap mati-matian, mereka perlahan-lahan melayang di
sepanjang pantai. Anjingnya menendang-nendang dan terus melolong.
Billy berlari lebih cepat. Nate dan Jay sekarang ada di
sampingnya. "Hentikan mereka!" jerit Lynette.
Dari sudut matanya, Billy melihat Jay terjatuh. Jay menghantam
pasir dengan wajah terlebih dulu.
Billy tidak mengurangi kecepatannya. Nate masih terus berlari
menjajarinya. Mereka semakin dekat dengan kelelawar-kelelawar itu.
Anjing itu melolong ketakutan. Darah mengalir dari
tenggorokannya yang dirobek kelelawar-kelelawar itu.
Sayap kelelawar-kelelawar itu memukuli udara.
Billy berlari hingga berada tepat di bawah mereka. Dia
mengulurkan tangan. Mencoba untuk menyambar anjingnya. Luput
hanya satu sentimeter. Nate juga melompat. Dan luput.
Harus melompat lebih tinggi lagi, pikir Billy.
Dia kembali melompat. Kembali luput.
Kelelawar-kelelawar itu mengepak-ngepakkan sayapnya dengan
murka. Sekarang mereka terbang lebih cepat lagi.
Menjauhi Billy. Billy berlari sekuat tenaga. Nate menjajari setiap langkahnya.
Sesuatu yang dingin dan basah mencengkeram kaki Billy. Dia
kehilangan keseimbangan. Billy menunduk, dan menyadari bahwa telah berlari ke laut.
Gelombang yang tinggi menyapunya, mendorongnya mundur,
mengejutkannya dengan dinginnya air.
Billy melihat Nate telah berada di air setinggi lutut dan masih
terus mengejar kelelawar itu. Sesaat kemudian, Nate mulai timbul-
tenggelam di ombak yang bergulung-gulung ke pantai. Billy
menyadari bahwa kaki Nate tidak lagi menyentuh dasar laut.
"Nate!" teriak Billy. "Kembali! Kita tidak bisa berbuat apaapa!"
Nate berenang ke samping Billy. Mereka mengawasi kelelawarkelelawar dan anjing itu berubah menjadi siluet dengan latar belakang
bulan. Semakin lama semakin mengecil. Hingga mereka menghilang.
Mereka membawa anjing itu ke pulau, pikir Hilly.
Membawanya pulang untuk menyantapnya. Dengan perasaan muak,
Billy menatap ke arah pulau itu. Merasa kengerian dan kejijikan
memenuhi dirinya. Tunggu saja, pikirnya pahit. Aku tahu kalian bukan benar-benar
kelelawar. Aku tahu apa kalian yang sebenarnya. Dan akan
kuhancurkan kalian. Aku berjanji, sebelum musim panas ini berakhir,
aku akan menghancurkan kalian semua.
Bab 3 MAKAN MALAM LYNETTE tidak lagi menginginkan es krim. Dia hanya ingin
pulang. Billy, Jay, dan Nate memimpin jalan sepanjang jalan setapak
menuju kondominium musim panas yang disewa keluarga mereka.
Mereka bercakap-cakap pelan di antara mereka sendiri. Mereka tidak
ingin menyebabkan Lynette lebih ketakutan lagi.
"Itu vampir," gumam Billy.
"Kelelawar vampir?" tanya Jay. "Aku tidak lahu bahwa hewan
itu sangat kuat." "Bukan kelelawar vampir," kata Billy membetulkan. "Vampir
yang berubah menjadi kelelawar."
Jay mendengus. "Yeah, benar," gumam Nate. "Dan Frankenstein menyewa
rumah pantai di sebelah tempatku."
"Kalian sudah melihat apa yang mereka lakukan," bisik Billy.
"Apa kalian benar-benar berpendapat kelelawar biasa mampu
melakukannya?" Lynette mulai merajuk lagi. "Apa mereka akan membunuh
anjing itu?" katanya. Sejak tadi dia ikut mendengarkan.
"Bagus sekali, Billy," gumam Nate. Dia mencoba untuk
membujuk adinya. "Dengar, maafkan aku, tapi itu kebenarannya," jawab Billy.
"Kalian harus mempercayaiku. Yang tadi itu bukan kelelawar biasa."
"Aku tidak percaya vampir itu ada," kata Jay. "Karena mereka
menyakitkan leher!" Dia tertawa terbahak-bahak mendengar
leluconnya sendiri. "Tidak lucu," kata Lynette sambil menangis. "Menakutkan!"
"Dia benar," kata Billy. "Dan kalau kalian tidak mau
mendengarkan aku, kalian bisa menghadapi bahaya besar."
"Dari vampir?" Jay memutar bola matanya.
"Dari vampir," ulang Billy. Dia menatap Jay tajam, mencoba
untuk meyakinkan teman terbaiknya ini bahwa dia serius.
Jay mengerutkan kening. "Ehm, Billy, agak sulit untuk percaya
bahwa vampir benar-benar ada."
Dia mengira aku sinting, Billy menyadari hal itu. Billy menatap
ekspresi teman-temannya yang menyatakan perasaan terganggu. Dia
menyadari pertukaran pandang yang mereka lakukan.
Mereka berdua mengira aku sudah sinting, pikir Billy. Tapi aku
tidak bisa menyalahkan mereka. Aku juga akan berpikir begitu...
sebelum musim panas yang lalu.
Kenangan itu menyiksa Billy bahkan sampai sekarang.
Tapi dia berada di sini untuk mengakhiri kejahatan di Sandy
Hollow. Kalau teman-temannya ini akan membantunya, mereka harus
mengetahui kebenarannya mengenai musim panas yang lalu.
Kebenaran tentang Sandy Hollow.
"Aku punya pacar musim panas yang lalu," kata Billy
menjelaskan. "Namanya Joelle. Aku bertemu dengannya minggu
pertama keberadaanku di sini, dan kami menghabiskan seluruh musim
panas bersama." "Apa yang terjadi?" tanya Jay. Matanya memancarkan minat.
Billy menghela napas dalam-dalam. "Para vampir
membunuhnya. Mereka terbang dari pulau vampir sebagai kelelawar.
Lalu mereka kembali ke bentuk manusia dan membunuh loelle.
Mereka mengisap darahnya hingga dia tewas."
Jay dan Nate menatapnya. Billy bisa melihat bahwa mereka
tidak mempercayainya. "Aku tahu kedengarannya sinting," kata Billy mengakui. "Tapi
itulah yang terjadi. Aku melihat bekas gigitannya di leher Joelle."
"Mungkin itu bekas gigitan nyamuk?" tanya Jay.
"Aku tahu bagaimana bentuk gigitan nyamuk," sergah Billy.
"Ini berbeda. Lebih besar dan lebih dalam."
Nate menggosok-gosok dagunya. "Apa Joelle gadis yang
mereka temukan di pantai?"
Billy mengangguk. "Kata mereka dia tenggelam," kata Nate mendebat. "Tidak ada
yang menyinggung tentang vampir."
Billy bisa melihat dari ketiga wajah yang tengah menatapnya
bahwa, tidak peduli apa pun yang dikatakannya, tidak satu pun dari
mereka yang akan mempercayainya. Nate menyeringai seakan-akan
berkata, Kau kira aku akan termakan tipuanmu" Jay sama sekali tidak
menunjukkan emosi. Billy merasakan kemarahannya memuncak. Dia memaksakan
diri untuk tetap tenang. "Jay, aku tidak menceritakan semuanya
tentang alasanku tidak mengikuti sekolah selama setahun," lanjutnya.
"Alasan kau tidak bisa mengunjungiku adalah karena aku bukan di
rumah sakit biasa. Aku di rumah sakit jiwa."
Billy menunduk memandang tanah. Sekarang mereka akan
menganggapku benar-benar gila, pikirnya.
Billy meneruskan. "Aku sangat terguncang dengan kejadian
yang menimpa Joelle. Kata mereka shock akibat trauma. Kurasa
aku?" "Kalau begitu aku tidak mengerti," sela Jay. "Kenapa kau
kembali kemari" Kalau aku yang mengalami kejadian seperti itu, aku
pasti tidak ingin datang ke tempat ini lagi."
Billy menghela napas dalam-dalam. "Aku kembali untuk
menemukan vampir yang membunuh Joelle"untuk memburu dan
menghancurkan mereka."
"Apa vampir benar-benar ada?" tanya Lynette dengan suara
pelan. "Ya," jawab Billy.
"Tidak," kata Nate tegas.
"Bagaimana dengan anjingnya?" tanya Billy.
"Itu aneh," kata Jay mengakui. "Tapi pengetahuan kita tentang
kelelawar terbatas pada pelajaran biologi. Mungkin kelelawar yang
ada di sini berbeda. Mungkin mereka biasa menculik anjing seperti
itu." Nate tergelak. "Tidak lucu!" bentak Billy. "Kalian tidak melihat apa yang
terjadi pada Joelle!"
Dia berputar balik memunggungi mereka dan melangkah pergi.
Yang lain bergegas menyusulnya. "Hei. Tenang," kata Jay.
"Kita datang kemari untuk berpesta ingat?"
?"Yeah, man," kata Nate menyetujui. "Kita ingin berjemur di
bawah matahari dan bertemu cewek-cewek cantik."
"Sekarang terlalu dini untuk pulang," kata Jay memprotes. "Kita
kembali ke Main Street. Lihat apa yang bisa kita lakukan di sana."
Tidak satu pun dari mereka yang mempercayaiku, Billy
menyadarinya. Tapi aku akan memaksa mereka untuk percaya
sekalipun itu tindakanku yang terakhir.
********************** April Blair bersembunyi di bayang-bayang. Menunggu.
Mengawasi. Dua ekor kelelawar mendarat di pasir empuk beberapa
meter dari tempatnya berdiri. Sambil tidak bergerak sama sekali, April
mengamati keduanya dengan teliti.
Keduanya mulai berputar. Semakin lama semakin cepat.
Hingga keduanya menjadi garis-garis yang berputar.
Membentang. Semakin panjang, semakin tinggi.
Perlahan-lahan, mulai membentuk.
Membentuk bahu, lengan, kaki.
Kepala. Wajah. Dalam beberapa detik, dua orang gadis telah berdiri di tempat
kedua ekor kelelawar tadi berputar-putar.
Rambut yang cantik, pikir April, sambil menatap gadis yang
berambut merah. Begitu panjang dan penuh. Dan benar-benar kemilau
tertimpa cahaya bulan. Dia mengalihkan pandangannya ke gadis yang satu lagi.
Rambut keriting keemasan membingkai wajahnya yang halus dan
pucat. Rambut itu bergoyang-goyang lembut sewaktu dia
menggerakkan kepalanya. "Aku memerlukan darah manusia," kata si rambut merah sambil
mengerang. "Darah anjing terlalu sedikit. Tidak memuaskan. Dan
anjing terlalu melawan. Manusia tidak memberontak seperti anjing."


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Well, darah manusia sedang musim," kata temannya. "Orangorang musim panas sudah mulai berdatangan."
"Tepat pada waktunya. Aku lapar sekali!"
Saatnya untuk menunjukkan diri, pikir April. Dia melangkah
keluar dari bayang-bayang dan mendekati kedua vampir itu.
"Hei!" teriak si rambut merah. Kedua vampir itu melangkah
maju. April menunggu mereka. Menatap mata mereka.
"Kita tidak perlu kelaparan lebih lama lagi," kata yang
berambut merah. "Darahnya datang menemui kita. Kiriman langsung
ke rumah." April berhenti. Dia mengawasi taring kedua vampir itu muncul.
Setajam ujung jarum. Siap untuk menusuk lehernya. Kelaparan
menyebabkan mereka terengah-engah, mendesis-desis bergairah.
Vampir yang berambut merah mengulurkan tangan ke arahnya.
"Jangan bodoh," sergah April. "Apa kalian tidak mengenali
sesama kalian sendiri?"
Mereka ragu-ragu. "Aku kemari musim panas yang lalu," kata April kepada
mereka. "Dan menjadi salah satu dari kalian."
"Siapa yang ingat orang-orang musim panas?" tanya yang
berambut merah dengan sikap jijik. "Mereka hanya makanan bagiku."
"Semuanya hanya makanan," ulang yang berambut pirang.
April melihat kelaparan dalam pandangan mereka, keinginan
tak terpuaskan akan darah.
"Tunggu. Kurasa aku ingat kau," kata yang berambut pirang.
"Gabri yang mengubahmu, bukan?"
April mengangguk. "Benar," katanya menyetujui. "Gabri yang
mengubahku." "Siapa namamu?" tanya vampir berambut pirang.
"April Blair." "Aku Irene," kata yang berambut pirang kepadanya. "Dan ini
Kylie." Kylie menyeringai kepada April, memamerkan taringnya.
April menyadari bahwa Irene tengah mengamati dirinya. Tapi
Kyle tampaknya lebih tertarik hanya pada satu hal. Darah. Matanya
berkilau karena kelaparan. Setetes air liur yang mengilat mengalir dari
salah satu sudut mulutnya.
"Kenapa kita hanya berdiri di sini?" tanya Kylie kelaparan.
"Aku memerlukan darah. Aku memerlukannya sekarang."
"Ayo pergi," kata Irene menyetujui.
Mereka mendaki bukit pasir yang menanjak hingga sejajar
dengan jalan. "Aku sangat senang musim panas akhirnya tiba," gumam Irene.
"Aku benci musim dingin," kata Kylie menggerutu. "Hampir
tidak ada orang di sini. Aku jadi kelaparan."
Mereka tiba di jalan. April menunggu sementara Kylie
memeriksa penampilannya, menyesuaikan letak ikat rambut hitam di
kepalanya, menghaluskan rok denim pendeknya.
Irene menyadari pandangan April dan mencibir. "Kylie mengira
dia harus tampil cantik untuk menarik perhatian darah."
April menggeleng. "Kenapa tidak mengaburkan benak mereka
saja?" tanyanya kepada Kylie. "Membuat mereka tidak berdaya dan
mengisap seluruh darah yang kauinginkan."
"Lebih menyenangkan begini," jawab Kylie. "Aku siap. Ayo
berangkat." Dia melangkah ke trotoar di samping bukit pasir.
April menatap sekitarnya sewaktu mereka berjalan menuju
Main Street. Orang-orang melangkah dengan santai di sepanjang
trotoar. Seorang pria dan wanita dengan anak balitanya. Dua cewek
mengenakan T-shirt Hard Rock Cafe. Sepasang suami-istri manula
yang melangkah perlahan-lahan, menatap ke etalase-etalase.
"Darah," bisik Kylie.
Irene mencengkeram lengan April. "Lihat."
Dengan mengikuti tatapan Irene, April melihat tiga orang
cowok di seberang jalan. Seorang gadis kecil membuntuti di belakang
mereka. Cowok itu tampan juga, pikir April.
Cowok itu jangkung, berambut hitam panjang. Dia tengah
menunjuk ke sesuatu. Dia tampaknya tengah menunjukkan kota ini
kepada teman-temannya. Lihat aku, pikir April, sambil menatap tajam ke cowok itu.
Berpalinglah kemari dan lihat diriku.
Cowok jangkung itu mengalihkan pandangannya ke arah April.
Dia berhenti tiba-tiba, menarik teman-temannya agar berhenti juga.
Ketiga cowok itu berpaling.
Kylie mengibaskan rambut merahnya dan tergelak. "Mereka
begitu mudah dikendalikan, bukan?" gumamnya.
"Waktunya makan," kata April kelaparan. "Ayo kita dekati
mereka." Bab 4 PENCUCI MULUT "HEI. Awas!" jerit April sewaktu Kylie menerobosnya.
Tapi cewek berambut merah itu mengabaikannya. Dia
mendekati cowok jangkung berambut hitam itu. "Hai," katanya.
"Kalian kemari untuk liburan musim panas?"
Wow, pikir April. Kurasa kita tahu siapa yang diinginkannya.
"Yeah. Aku akan ada di sini selama dua bulan," jawab cowok
itu. Kylie memiringkan kepalanya dan tersenyum, rambut merahnya
tergerai melewati bahu. "Aku akan ada di sini hingga Hari Buruh,"
katanya pada cowok itu. ebukulawas.blogspot.com
April menyadari bahwa Irene telah mulai bercakap-cakap
dengan cowok yang tampak atletis. Dengan begitu tersisa cowok yang
pendek dan kurus untuk dirinya.
"Hai, namaku April."
"Oh, eh, namaku Jay."
Tampaknya dia gugup, pikir April. "Kau dari mana?" tanyanya.
"Eh... Holcomb. Kami semua dari sana."
"Aku dari Shadyside."
"Aku belum pernah ke sana," jawab cowok itu, lalu tiba-tiba
menyeringai tolol. "Tempatnya bagus?"
"Tidak akan pernah masuk daftar lima ratus kawasan hunian
terbaik!" Jay tertawa. "Holcomb juga tidak."
Bagus, pikir April, Jay mulai santai. Jay memperkenalkannya
kepada teman-teman cowoknya yang lain, Nate dan Billy. Dan gadis
kecil yang bersama mereka, Lynette.
Tawa Kylie yang menggelitik menarik perhatian April. Dia
berpaling dan melihat cewek itu telah menyelipkan lengannya di
lengan Billy. Kylie berusaha menjauhkan Billy dari yang lainnya. Tapi Billy
tampaknya menolak. Dia tampak merasa sangat tidak nyaman.
April tersenyum sendiri. Tidak pernah kuduga akan ada cowok
yang bisa bertahan menghadapi pesona seseorang seperti Kylie,
pikirnya. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Irene dan Nate. Paling
tidak Irene cukup berhasil, pikirnya.
Nate tampaknya lebih tertarik dibandingkan dengan Billy. Nate
terus-menerus tersenyum kepada Irene.
Cowok-cowok ini cukup, pikir April memutuskan. Kami bisa
membiarkan mereka dulu untuk sementara.
"Kalian tertarik bermain drama?" tanya April.
Ketiganya tampak terkejut mendengarnya.
"Uji cobanya berlangsung minggu ini di teater musim panas,"
lanjut April. "Banyak anak yang sudah bergabung dengan kelompok
teater. Mereka sudah membuat dekor dan segalanya."
"Kau main drama apa?" tanya Jay.
"Night of the Vampire," jawab April. Dia melihat Irene dan
Kylie bertukar pandang. Dia tersenyum pada cowok-cowok itu. "Kami
benar-benar kekurangan cowok," tambahnya. "Kami selalu
kekurangan cowok." "Ceritanya tentang apa?" tanya Nate.
"Mungkin tentang vampir," goda Jay.
"Duh. Aku tahu, aku tahu," kata Nate menggerutu. "Maksudku,
bagaimana jalan ceritanya?"
"Ini tentang dua vampir yang jatuh cinta kepada korbannya,"
kata April menjelaskan. "Ini sebuah komedi."
Irene tertawa. "Kedengarannya hebat," kata Nate. "Tapi Billy dan aku harus
bekerja." "Bukan masalah," kata April meyakinkannya. "Latihannya
selalu dilakukan di malam hari"semua pertunjukannya juga. Banyak
di antara kami... yang tidak bisa di siang hari."
"Katamu tadi banyak anak yang turut bermain?" tanya Billy.
April berpaling memandangnya dengan terkejut. Kenapa cowok
ini terdengar begitu curiga" "Yeah," jawabnya. "Banyak sekali."
"Kalau begitu aku ikut," kata Billy. "Aku benar-benar ingin
bertemu dengan orang-orang musim panas ini."
April menyipitkan mata memandang Billy. Ada masalah apa
dengan cowok ini" pikirnya penasaran.
"Ayo, kita jalan-jalan," desak Kylie, sambil menarik-narik
lengan Billy. Mereka melangkah menyusuri Main Street. Irene berhenti di
depan etalase Beach Emporium. "Bikini yang bagus, hah?" katanya
kepada Billy. Billy hanya mengangkat bahu.
Irene menggeleng. "Agak terlalu liar bagiku."
"Untukmu, memang," kata Kylie sambil mencibir. "Kau
begitu... ketinggalan zaman."
"Itu namanya selera yang bagus," balas Irene. "Tapi kurasa kau
tidak tahu tentang hal itu."
Kylie dan Irene hanya memiliki satu persamaan, pikir April
mengambil keputusan. Kebutuhan akan darah. Musim panas ini akan
terasa panjang bergaul dengan mereka.
"Kudengar ada banyak pesta liar sepanjang musim panas," kata
Kylie kepada Billy. "Biasanya memang ada pesta dan api unggun di pantai," jawab
Billy. "Terkadang acaranya cukup liar."
"Aku senang pesta," gumam Kylie, sambil menatap lurus ke
mata Billy. Billy berlalu tanpa menjawab.
Wow, pikir April. Kylie tampaknya tidak bisa membuat Billy
tertarik padanya. Tidak banyak cowok yang melewatkan kesempatan
bersama seorang cewek secantik Kylie. Ada apa dengan cowok ini"
April kembali memperhatikan Jay. "Kau pernah kemari
sebelum ini?" Jay kembali meringis bodoh. "Eh, well... tidak. Ini pertama
kali." "Jangan segugup itu," April menggodanya. "Aku tidak
menggigit!" Wajah Jay berubah merah padam. "Aku tidak gugup," katanya
bersikeras. Dia tersenyum malu-malu kepada April.
Sebenarnya dia menarik juga, pikir April mengambil keputusan.
Kurasa aku akan bertahan dengannya. Lagi pula, Kylie mengincar
Billy. April melirik vampir berambut merah itu. Kylie masih memeluk
lengan Billy. Dan Billy masih tampak terganggu karenanya.
Billy terlalu curiga, pikir April mengambil keputusan. Kylie
akan menemui kesulitan mendekatinya. Sebaiknya aku memilih Jay.
"Aku ingin pulang," suara Lynette yang melengking memutus
lamunan April. "Sekarang?" Nate menggeram.
"Kata Mom kau harus memulangkan aku sebelum pukul
sebelas." Nate melirik arlojinya dan mendesah. "Oke."
"Sebaiknya kami juga pulang," kata Billy. "Nate dan aku harus
bekerja besok." "Kita bisa bertemu lagi?" tanya Nate kepada Irene.
"Aku mau mencoba ikut drama vampir itu," jawab Irene.
"Mungkin kita bisa bertemu di sana."
"Luar biasa!" Nate berubah ceria.
"Kurasa aku juga ingin ikut," kata Kylie. Dia menatap Billy.
"Itu drama kesukaanku."
Billy tidak menjawab. Jay dan Nate mengucapkan selamat
berpisah. Ketiga cowok itu berlalu, diikuti Lynette di samping
kakaknya. Kylie mendesah. "Aku begitu haus. Aku menyukai si Billy itu.
Aku ingin membenamkan taringku padanya."
"Dia tampaknya tidak terlalu menyukaimu," kata April.
Kylie berputar dengan cepat menghadapi April, matanya
berkilau marah. "Itu karena aku begitu lapar! Kucoba untuk
mengaburkan pikirannya, tapi aku terlalu lemah. Tapi malam ini aku
akan mengisap darah seseorang. Siapa saja."
"Tenang," kata Irene memperingatkan. "Kita memiliki waktu
sepanjang musim panas. Kalau kau meminum terlalu banyak dan
membunuh salah satu dari mereka, orang-orang musim panas akan
merasa tidak enak." "Siapa peduli perasaan mereka?" tanya Kylie. "Kau kira aku
peduli bila menyinggung perasaan mereka?"
"Kalau terlalu banyak mayat yang muncul," kata April, "polisi
akan menutup pantai. Orang-orang musim panas akan pergi. Seluruh
makanan akan pergi."
"Aku benci hanya minum seteguk," kata Kylie mengeluh.
"Seteguk tidak pernah cukup."
"Tapi kalau kau meminum terlalu banyak darah dan membunuh
mereka, tidak akan ada darah lagi. Mereka mungkin bahkan berbalik
mengincar kita"dan memburu kita sewaktu kita tidur!" kata Irene
bersikeras. "Kita harus minum seteguk."
Kylie menggerung, mengalihkan pandangannya yang membara
ke April. "Kau jelas mengincar Jay. Kau juga lapar, bukan?"
April mengangguk. "Kelaparan."
"Ingat," kata Irene memperingatkan. "Minum seteguk saja.
Sesudah tiga teguk mereka akan menjadi sama dengan kita. Mereka
akan menjadi Makhluk Abadi. Tapi memang begitu seharusnya.
Jangan membunuh siapa pun."
"Kecuali mereka menyerangmu," tambah Kylie. Dia mengerang
kelaparan. "Kenapa cowok-cowok itu harus pulang sesore ini?"
"Mereka akan kembali besok," kata April berjanji.
"Sangat membosankan, sekadar meminum seteguk dari
mereka." Kylie mendesah.
April mengangguk. "Aku ingin meneguk Jay sampai habis.
Menghirupnya hingga kering!"
"Hei! Bagaimana kalau kita bertaruh?" tanya Kylie. "Dengan
begitu keadaannya menjadi lebih menarik! Yang pertama kali berhasil
mengubah salah satu dari ketiga cowok itu menjadi Makhluk Abadi
yang menang." April tertawa terkekeh. "Baik."
"Oke," kata Irene menyetujui. "Pasti menyenangkan."
"Aku yakin sudah menang," kata April. "Jay begitu matang,
begitu siap..." "Billy tidak akan menolakku lain kali," kata Kylie bersikeras.


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku bisa memenangkan pertaruhan ini dengan mudah."
Ujung taring Kylie menyelinap keluar. Pandangannya membara.
April belum pernah melihat kelaparan sehebat itu sebelumnya.
"Kylie!" sergah Irene. "Hati-hati! Kita di Main Street!"
Taring Kylie menghilang. "Aku lapar sekali," bisiknya. "Sangat
lapar." "Apa hadiahnya untuk yang menang?" tanya April.
"Ya," kata Kylie, "apa yang akan kumenangkan dengan
mengubah Billy menjadi salah satu dari kita?"
Irene tergelak. "Aku tahu. Hadiah yang sempurna. Di akhir
musim panas, pemenangnya bisa mendapatkan kedua cowok yang lain
sebagai pencuci mulut!"
Bab 5 UJI COBA VAMPIR BILLY menyandarkan tubuhnya ke panggung dan menatap para
cowok-cewek yang datang untuk mengikuti uji coba drama. Ada
sekitar tiga puluh orang"semuanya sama-sama berbicara, tertawa,
menceritakan lelucon, dan saling menggoda.
Yang mana" pikirnya.
Dia mengamati wajah mereka. Apa ada di antara mereka yang
vampir" Apa cewek manis di baris depan itu tidur di dalam peti mati
sepanjang hari karena cahaya matahari secara langsung akan
membunuhnya" Bagaimana dengan dua orang cowok yang sedang ber-high
five" Di mana mereka" dia penasaran. Di mana para vampir yang
sudah membunuh Joelle"
Seorang wanita pendek-gemuk, rambut pirangnya diikat ekor
kuda, melangkah ke atas panggung. "Baiklah, semuanya!" teriaknya,
berusaha agar suaranya terdengar mengatasi keributan di sana. "Harap
perhatikan." Perlahan-lahan keriuhannya mereda. "Namaku Ms. Aaronson,"
kata wanita itu. "Aku yang memimpin teater masyarakat di Sandy
Hollow ini. Dan aku sangat gembira melihat banyak anak muda di
sini." Billy memperhatikan wanita itu saat membicarakan dramanya.
Dia menatap tajam ke arah anak-anak lainnya di kursi auditorium itu.
Setiap senyum ramah bisa jadi menyembunyikan taring yang tajam,
dia tahu itu. Setiap wajah yang asing bisa jadi merupakan wajah
monster. Ms. Aaronson berdeham. Billy kembali memperhatikannya.
"Coba lihat," kata Ms. Aaronson. "Ah, ini dia. Jay Windley, kau
yang pertama. Coba baca naskahnya."
Jay melangkah maju, tampak sangat tegang. Billy tidak bisa
menahan senyumnya sewaktu Jay menyunggingkan salah satu senyum
bodohnya kepada Ms. Aaronson.
Jay menghela napas dalam-dalam dan mulai membaca.
Biasanya bicaranya cukup lembut, tapi sekarang suaranya terdengar
dalam dan kuat sewaktu dia membacakan dialognya.
Dia cukup baik, pikir Billy, terkejut. Jay benar-benar
menyelami peran itu. Jay menyelesaikan membaca naskahnya tanpa keliru sepatah
kata pun. "Hei, kau hebat," kata Billy kepadanya.
"Kurasa cukup baik," jawab Jay, sambil merapikan rambut
cokelatnya. "Hanya saja aku berharap bisa melakukannya dengan baik
bersama cewek-cewek."
"Hubunganmu dengan April tampaknya baik-baik saja."
Jay kembali melontarkan senyum tololnya. "Apa dia sudah
datang?" "Aku belum melihatnya," kata Billy.
Jay mengangguk. "Kuharap dia ikut uji coba malam ini."
"Tenang," kata Billy. "Semua ini gagasannya."
"Hai, Billy." Billy berpaling dan memandang Kylie yang telah berdiri di
sebelahnya. Kylie menatapnya sambil tersenyum. "Kurasa aku terlambat
beberapa menit." "Mereka baru saja mulai. Ini bisa berjam-jam baru selesai," kata
Billy kepadanya. "Kau mau ikut peran apa?" tanya Kylie. Dia bergeser mendekat.
Billy bisa mencium wangi parfumnya.
"Hanya peran kecil. Kurir. Dialognya hanya lima baris."
"Aku mengincar peran lady vampire," kata Kylie kepada Billy
dengan bangga. "Kurasa aku akan mendapatkannya. Aku alamiah."
"April sudah datang?" tanya Jay dengan penuh semangat.
Kylie mengerutkan kening. "Aku belum bertemu dengannya
malam ini," jawabnya.
"Apa dia ada di rumahnya?" desak Jay.
"Mencariku?" seru seseorang.
Billy berbalik, terkejut. April dan Irene berdiri tepat di belakang
mereka. Aku bahkan tidak mendengar kedatangan mereka, pikirnya.
Jay tersenyum. "Yeah. Kukira kau berubah pikiran," katanya
kepada April. "Tidak mungkin," jawab April. "Ayo duduk." Dia menyeret Jay
ke salah satu kursi di auditorium.
Irene bergegas duduk di samping Nate.
"Tampaknya kau bersamaku," kata Kylie kepada Billy. Dia
mengibaskan rambutnya yang panjang melewati bahu dan tersenyum.
Billy meliriknya. "Kurasa begitu," katanya. Dia merasa tidak
yakin ingin berdekatan dengan Kylie. Cewek itu tampaknya terlalu
bersemangat. Tapi tidak seburuk dugaannya semula"Kylie benarbenar berminat mengikuti audisi ini. Dia hampir-hampir tidak
berbicara dengan Billy sewaktu mereka menyaksikan yang lainnya
membacakan naskah masing-masing.
"Waktunya untuk peran Natalie," kata Ms. Aaronson
mengumumkan, sambil membaca clipboard-nya. "Coba lihat, siapa
yang lebih dulu" Ah, Kylie. Kau ada, Kylie?"
"Ya," jawab Kylie, sambil melangkah maju.
"Kau memiliki nama keluarga, Sayang?" tanya Ms. Aaronson.
"Ya," jawab Kylie. "Tapi aku tidak pernah menggunakannya."
Ms. Aaronson mengerutkan kening, tampaknya berusaha untuk
memutuskan apakah sebaiknya dia bersikeras menanyakan nama
keluarga Kylie. Dia mendesah. "Oke, Kylie tanpa. nama keluarga,
giliranmu." Kylie meluncur ke tengah panggung, sambil tersenyum dan
tampak gembira dengan dirinya sendiri.
Wow, pikir Billy, dia benar-benar suka menjadi pusat perhatian.
"Sulit sekali menjadi vampir," kata Kylie memulai. "Tidak ada
yang menghargai apa yang harus kami jalani." Dia mengeluh betapa
dirinya sangat membutuhkan darah manusia.
"Cukup bagus," kata seorang cewek di sebelah Billy. "Tapi dia
agak berlebihan." Billy tidak bisa menahan tawanya. "Jangan beritahukan
padanya!" katanya. Dia berpaling dan melihat seorang cewek cantik
berambut hitam yang berdiri di sebelahnya.
Cewek itu tersenyum kepadanya. "Seharusnya aku tidak boleh
sejahat itu. Mungkin aku cuma gugup," katanya mengakui. "Aku juga
menginginkan peran itu!"
"Mae-Linn Walsh! Giliranmu!" seru Ms. Aaronson.
"Doakan aku," bisik cewek berambut hitam itu. Dia berlari-lari
kecil menaiki tangga ke panggung.
Wow, dia benar-benar manis, pikir Billy.
Sewaktu Mae-Linn mulai membaca naskahnya, auditorium
berubah sunyi. Mae-Linn berjalan mondar-mandir, berperan sebagai
orang yang menghadapi keputusan besar. Dia mengerutkan
hidungnya, memiringkan kepalanya, tersenyum, mengerutkan kening.
Setiap orang memperhatikan.
Aku tahu siapa yang akan menjadi bintang drama ini, pikir
Billy. Mae-Linn selesai membaca naskahnya. Wajahnya memerah
sewaktu yang lainnya mulai bertepuk tangan. Lalu dia turun dari
panggung dan melangkah mendekati Billy.
"Kau hebat," kata Billy kepadanya.
"Menurutmu aktingku bagus?" tanya Mae-Linn. "Kuharap aku
mendapatkan peran itu. Pasti menyenangkan."
Billy mengamati mata cokelat cewek itu yang berkilau. Wajah
Mae-Linn lembut dan berjenis klasik.
Billy merasa jantungnya mulai berdebar-debar.
"Kau punya rencana sesudah uji coba ini?" tanya Mae-Linn
padanya. "Tidak juga," jawab Billy.
"Mau minum Coke atau apa?"
"Hei, kedengarannya hebat. Aku mau."
"Aku datang bersama dua cewek lain," kata Mae-Linn padanya.
"Aku harus memberitahu mereka." Dia menghilang ke balik tirai di
belakang panggung. Musim panas ini sudah terasa lebih baik, pikir Billy mengambil
keputusan. Saat mengalihkan perhatiannya ke arah kursi-kursi, dia melihat
April dan Jay pergi bersama-sama.
"Ms. Aaronson seharusnya mengumumkan siapa yang akan
mendapat peran beberapa menit lagi," kata Kylie, muncul di
belakangnya. "Kau pikir akan mendapatkan peran utamanya?" tanya Billy.
"Kenapa" Apa menurutmu ada orang lain yang lebih baik
daripada aku?" Ekspresi Kylie berubah gelap. Mata hijaunya menyipit.
"Eh, tidak," jawab Billy, agak terkejut melihat reaksinya. "Aku
hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu."
"Aku akan mendapatkan peran utama," kata Kylie berusaha
meyakinkannya. "Tidak masalah."
"Well, selamat." Billy penasaran apakah sudah sepantasnya
untuk mengucapkan begitu. "Kau benar-benar hebat," tambahnya.
"Kau mau berjalan-jalan keliling kota, melihat apa yang sedang
terjadi?" tanya Kylie riang.
"Tidak bisa." "Kenapa?" tanya Kylie.
Tatapan mereka bertemu. Kylie seakan-akan menangkapnya,
menariknya ke tempat lain. Tempat yang aneh bagai dalam mimpi.
Billy merasa seakan-akan tengah terjatuh.
Dia memaksakan diri untuk berpaling.
Kylie tampak terkejut. Dan jengkel. "Kenapa kau tidak mau
jalan-jalan denganku?" tanyanya.
"Aku, eh... aku sudah berjanji dengan Mae-Linn untuk
mengajaknya minum Coke."
Kekecewaan menebar di wajah Kylie.
"Ma"maaf," kata Billy tergagap, terkejut melihat kejengkelan
Kylie. Kylie berbalik dan berderap meninggalkan panggung.
"Harap perhatikan sebentar," seru Ms. Aaronson. "Ini nama
orang-orang yang sudah kupilih untuk turut bermain dalam
pertunjukan drama. Sekarang, harap mengerti kalau semua orang
sudah menunjukkan prestasi yang sangat baik. Tapi peran yang
tersedia tidak cukup banyak..."
Nate, jay, dan Billy mendapatkan peran. Begitu pula April,
Kylie, dan Irene. Billy tidak terkejut sewaktu Mae-Linn mendapatkan
peran utama. Tapi dia melihat Kylie tampak tertegun.
"Hei, kita berdua mendapat peran," seru Mae-Linn dengan
gembira sambil berlari mendekati Billy.
"Aku tidak pernah meragukanmu," jawab Billy.
"Kau pikir begitu?" tanya Mae-Linn dengan sikap malu-malu.
"Kau bergurau?" jawab Billy. "Kau benar-benar memesona."
Mae-Linn menyunggingkan senyum yang menawan. "Siap
untuk minum Coke?" tanyanya.
"Ayo pergi," jawab Billy.
Dia membuka pintu teater dan memberi isyarat agar Mae-Linn
berjalan lebih dulu. Sewaktu Billy mengikutinya, dia mendengar suara
aneh. Suara desisan. Di belakangnya. Desisan seekor ular"
"Awas!" jeritnya.
Bab 6 MUSIM PANAS NATE YANG BERUNTUNG
BILLY berputar balik, jantungnya berdebar- debar.
Desisan kemarahan itu terdengar begitu dekat.
Tapi dia tidak melihat ada ular di tanah.
Siapa itu, yang berdiri di ambang pintu teater"
Dia memicingkan mata berusaha memandang cahaya yang
membanjir keluar dari dalam teater. Apa itu Kylie"
Ya, Kylie. Berdiri di sana, tidak bergerak.
Kenapa dia menatapnya seperti itu"
********************** Mae-Linn menengadah memandang Billy.
Dia tampak benar-benar manis di bawah cahaya bulan, pikir
Billy. Mereka berjalan-jalan menyusuri pantai, tanpa memiliki tujuan
yang pasti. Di sebelah kanan mereka, ombak berdebur menghantam
dermaga batu. "Itu temanmu?" tanya Mae-Linn.
Billy melihat sepasang muda-mudi di depan mereka di pantai.
Dia mengenali Jay dan April, berjalan dengan kaki telanjang,
membiarkan ombak menggulung kaki mereka.
Bulan menghilang ke balik awan, April dan Jay pun tertelan
kegelapan. Sewaktu awan berlalu, Jay dan April telah menghilang.
Wow, pikir Billy. Cepat sekali!
Mae-Linn menyelipkan sebelah tangan ke lengannya.
Aku sendiri tidak terlalu buruk, pikir Billy mengambil
keputusan. Mereka berjalan tanpa berbicara selama beberapa menit.
"Kurasa sekarang sudah cukup larut," kata Mae-Linn. "Kau tahu
sekarang pukul berapa?"
Billy mencoba untuk memandang arlojinya, tapi terlalu gelap
untuk bisa melihatnya. "Entahlah," jawab Billy.
"Sebaiknya aku kembali ke kondominium, atau orangtuaku
akan khawatir." "Kau ada acara besok pagi?" tanya Billy. "Ada yang ingin
kaulakukan" Maksudku, bersamaku?"
Mae-Linn tertawa kecil melihat kegugupan Billy. "Oke,"
jawabnya dengan riang. "Akan kuantar kau pulang," kata Billy kepadanya.
"Oh, tidak perlu repot," kata Mae-Linn memprotes. "Aku
tinggal di sebelah sana. Sampai ketemu besok."
Mae-Linn berputar balik, rambut hitam mengilatnya berkibar.
Lalu dia melesat pergi, menghilang dalam kegelapan.
Musim panas ini akan hebat sekali, pikir Billy mengambil
keputusan. Benar-benar musim panas yang hebat.
Kau tidak kemari untuk mendapatkan musim panas yang hebat,
katanya memarahi sendiri. Ingat alasanmu yang sebenarnya datang
kemari. Billy menghela napas dalam-dalam dan teringat pada Joelle.


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dia tidak akan pernah melupakan wajah pucat Joelle di pasir. Tidak
pernah melupakan dua buah tanda merah di leher Joelle yang putih.
Aku tidak akan pernah melupakan vampir yang membunuh
Joelle, sumpahnya. Tidak akan pernah. Dia menatap ke pantai. Dia tidak akan pernah melupakan
alasannya datang kemari. Tapi Mae-Linn jelas merupakan daya tarik tambahan.
******************** "Musim panas ini akan menyenangkan," gumam Irene, di selasela ciuman yang dihujankannya ke Nate.
Bagiku, pikir Irene. Tapi tidak begitu menyenangkan bagimu.
Mereka duduk di ayunan serambi di depan kondominium pantai
milik orangtua Nate. Irene kembali menciumnya. Mereka berayun-ayun lembut.
Maju-mundur. Maju-mundur.
Aku bahkan tidak perlu mengaburkan pikirannya, pikir Irene.
Dia milikku. Sepenuhnya. "Jelas musim panas ini akan menyenangkan," kata Nate
menyetujui dengan penuh semangat. "Ini akan menjadi musim panas
terbaik seumur hidupku."
"Aku juga berpendapat begitu," bisik Irene di telinga Nate. "Ini
akan menjadi musim panas yang istimewa bagi kita berdua."
Nate mengamati Irene di bawah cahaya bulan, senyum lebar
merekah di wajahnya. Benar-benar cowok yang bahagia, pikir Irene. Nate mengira
dirinya beruntung menemukan cewek impiannya.
Irene mencium lehernya dengan lembut.
Lalu mengeluarkan taringnya.
Dia bersiap-siap untuk menancapkannya ke leher Nate.
Kebutuhannya mendesak dari dalam dirinya.
Lapar, pikirnya. Sangat lapar.
Dan sekarang dia bersiap untuk meneguk.
Tapi hanya seteguk. Jangan terlalu serakah, dia
memperingatkan dirinya sendiri. Seteguk. Itu saja.
Taringnya menyentuh leher Nate yang lunak.
Aku bisa merasakan nektarnya, pikir Irene.
Merasakannya. Merasakannya....
Bab 7 HARTA KARUN TERPENDAM TARING Irene menyapu leher Nate.
Jeritan meledak di telinganya.
Irene menyentakkan kepalanya menjauhi Nate, bergegas
menutupi taringnya dengan bibir.
Dia mendengar tawa mengikik dari belakang ayunan. Irene
berputar balik"dan melihat adik perempuan Nate, Lynette.
Apa keparat kecil itu sudah melihat taringku" pikir Irene. Apa
aku cukup cepat menyembunyikannya"
"Lynette, ada apa sih denganmu?" sembur Nate marah.
"Kena kau!" jerit Lynette riang.
Kemarahan menggelegak dalam diri Irene. Dia ingin
menyambar gadis kecil ini dan menghirupnya hingga habis dalam
sekali teguk. Tapi dia harus tetap tenang.
Dia tidak boleh membuka rahasianya. Tidak boleh sampai
menyebabkan Nate merasa jengkel,
Dan kalah bertaruh dengan Kylie dan April.
Tapi aku sudah begitu dekat, pikir Irene. Begitu dekat dengan
nektar itu. Dia menatap Nate dengan pandangan lapar. Kalau tetap
tinggal di sini semenit lebih lama lagi dia akan kehilangan kendali.
Dia akan membunuh Nate dan adiknya.
Sambil mengerang, Irene bangkit berdiri. Dia menggumamkan
selamat malam dengan cepat, dan bergegas menghilang ke dalam
kegelapan. Paling tidak kurasa adik kecilnya tidak melihat taringku, pikir
Irene. Di belakangnya, dia bisa mendengar Nate memarahi Lynette.
"Trims karena sudah mengusir Irene. Mati kau!"
*********************** Bum! Bum! Bum! Billy menjelajahi penjara bawah tanah puri yang besar itu.
Tempat itu kotor. Kosong dan lembap. Kelembapan menyebabkan
dinding-dinding batunya tampak mengilat.
Bum-bum-bum-bum! Suara itu berasal dari atasnya. Ada orang di atas sana!
Takkan ada yang bisa menghentikanku, pikir Billy. Tidak ada
yang bisa menghalangi pembalasanku. Sambil mengambil tonggak
kayu dari tasnya, dia mulai menaiki tangga batu menuju tingkat
selanjutnya. Billy tiba di tikungan tangga pertama"dan berhenti. Sebuah
gerbang besi menghalangi jalannya. Dia menarik-nariknya. Kokoh.
Dia melihat sebuah pintu yang tersembunyi dalam bayangbayang. Kayu bernoda yang telah terserpih dengan engsel besi
karatan. Billy menarik pintunya. Pintu itu berderit membuka.
Ruangan itu gelap dan lembap. Di kejauhan, dia mendengar
suara air menetes. Billy tersenyum muram. Mereka suka tidur di tempat seperti ini.
Dia melangkah melewati ambang pintu. Billy seketika
melihatnya. Empat buah peti mati berjajar di dinding.
Billy menyentuh tutup peti mati terdekat. Bersiaplah, pikirnya.
Bersiaplah menghadapi apa saja.
Perlahan-lahan dia membuka tutup peti mati itu.
Vampirnya berbaring di dalam. Seorang pemuda tampan
berambut hitam. Berwajah persegi.
Billy mengacungkan tonggak kayunya.
Tidak ada palu. Bagaimana caraku memakunya tanpa palu"
Bum! Bum! Bum! Suara itu lagi. Ada orang lain di puri.
Buk-buk-buk-buk! Mata vampir itu terbuka. Dia menggeram.
Dan menerjang ke arah Billy.
Billy tersentak sadar. Blam-blam-blam-blam. Dia menatap ke sekeliling kamar tidur kecilnya, terengahengah.
Ada yang mengetuk pintu. Billy menggeleng, mengusir
potongan-potongan terakhir mimpi buruknya yang menakutkan. Ya.
Ada orang di pintu depan kondominium. Setelah menyambar
mantelnya, dia terhuyung-huyung ke pintu depan.
Dua orang petugas polisi berdiri di tangga di depan pintu.
"Siapa namamu?" tanya salah satunya.
"Billy. "Nama lengkapmu."
"Billy Naughton."
"Apa semalam kau keluar bersama Mae-Linn Walsh?"
"Yeah," jawab Billy, sambil menggosok-gosok mata untuk
mengusir kantuk. "Kenapa" Ada apa?"
"Jam berapa kau terakhir kali bertemu dengannya"'
"Eh... kurasa sekitar setengah dua belas."
"Orangtuamu ada?"
"Ti-tidak," kata Billy tergagap. "Mereka hanya kemari di akhir
pekan." Kedua petugas itu menatapnya. Salah satunya seorang pria yang
tinggi besar. Setumpuk otot berjalan. Satu lagi seorang wanita yang
bertampang tegas. Keduanya memancarkan keseriusan.
"Apa ada sesuatu yang menimpa Mae-Linn?" tanya Billy.
"Dia hilang," kata polisi yang pria.
"Di mana kau terakhir kali bertemu dengannya?" tanya
rekannya. "Eh, di pantai."
"Di pantai di sebelah mana?" tanya petugas itu.
"Di dekat batas kota. Dari arah teater masyarakat."
"Bisa kautunjukkan lokasinya pada kami?" tanya yang pria.
Billy mengangguk. "Ganti pakaianmu dan ikut kami."
Billy mengintip keluar dari kursi belakang mobil patroli,
mengawasi kota yang kosong berlalu. Suara-suara berderak dari radio
komunikasi dua arah, tapi dia tidak mengerti apa yang dikatakan.
Mae-Linn, pikirnya. Apa yang terjadi padanya" Dia
membayangkan rambut hitam Mae-Linn yang mengilat dan senyum
cerahnya. Di mana dia" "Pelan-pelan," katanya kepada para polisi sewaktu mereka tiba
di tepi kota. "Tidak jauh lagi."
Dia menatap pantai yang halus keperakan. "Kurang-lebih di
sebelah sana," katanya. "Berhenti."
Billy turun dari mobil patroli. Dia menuruni bukit pasir kecil,
pasir dingin berhamburan ke sepatunya. Para polisi mengikuti di
belakangnya, berkas lampu senter mereka yang kuat membentuk
lingkaran kuning lebar di pasir.
Billy memandang ke sepanjang garis pantai ke kedua arah.
"Kurasa kami berjalan di sebelah sini."
Angin laut mengembus rambut hitam Billy. Dia bisa mencium
bau laut. Udara asin, rumput laut yang membusuk.
Mae-Linn, pikirnya, kau ke mana"
Kedua petugas polisi itu menyebar di belakangnya,
menyorotkan lampu senter mereka ke segala arah.
Billy mengamati pantai. Pantai berbahaya di malam hari.
Sebuah gundukan gelap menjulang di depannya.
Setumpuk pasir" Billy melangkah mendekatinya. Saat melirik ke belakang dia
melihat berkas-berkas lampu senter polisi itu. Mereka menyusuri
pantai, menjauhinya. "Aku menemukan sesuatu!" serunya kepada para polisi itu. Dia
mendengar langkah-langkah kaki mereka sewaktu mereka bergegas
mendekatinya. Billy meraup pasir dengan tangannya, pasir dingin dan basah
menitik dari sela jemarinya.
Dia menyentuh sesuatu. Sesuatu yang keras dan halus.
Dia menyingkirkan pasirnya.
Sesuatu yang persegi. Kulit. Tas tangan. Tas tangan" "Apa yang kautemukan?" tanya polisi pria sambil menyorotkan
lampu senternya ke arah Billy.
Billy tersentak. "Mae-Linn?"
Billy menggali pasirnya, bekerja mati-matian dengan
menggunakan kedua tangannya.
Dia berhenti sewaktu tangannya menyentuh seseuatu yang
dingin. Dingin dan lembut.
Billy membungkuk lebih dekat. Memandang ke bawah.
"Tidak"!" Dia memalingkan wajahnya. Perutnya terasa bergolak. Dan
langsung muntah-muntah. Bab 8 SERANGAN MENDADAK KULIT yang putih dan lembut itu disinari cahaya bulan.
Billy mengenali lengan itu. Lengan Mae-Linn.
Kedua polisi itu membantu menenangkan Billy. Lalu mereka
berdua bekerja membongkar pasir yang menutupi bagian tubuh
lainnya. Lengan Mae-Linn terpentang ke kedua sisi seakan-akan tengah
berusaha menciptakan malaikat salju di pasir. Untaian rambut hitam
mengilatnya menutupi satu sisi wajahnya.
"Mae-Linn! Mae-Linn!" kata Billy dengan suara tercekat.
Kedua orang polisi itu menariknya, menjauhi mayat Mae-Linn.
"Jangan menyentuh apa-apa," kata yang wanita memperingatkan.
Gemetar, Billy menatap Mae-Linn. Mata Mae-Linn terbuka,
menatap ke langit malam. Begitu kosong. Begitu hampa.
Mulut Mae-Linn terbuka, dan dipenuhi pasir. Cuping hidungnya
juga tertutup pasir. Aku harus tahu, pikir Billy. Aku harus mengetahui bagaimana
dia meninggal. Dia menatap kedua polisi itu. Mereka berdiri di dekat MaeLinn, bercakap-cakap dengan suara pelan. Mereka tidak
memperhatikan Billy. Dengan satu gerakan cepat, Billy melompat ke pasir di samping
Mae-Linn. Billy mendengar para polisi itu menjerit sewaktu dia
meraih rambut hitam mengilat Mae-Linn. Dia mengesampingkan
rambut itu dari wajah Mae-Linn. Dari lehernya.
Billy mengamati leher yang putih itu.
Di bawah sinar bulan dia melihatnya. Dua buah tanda tusukan
kecil. EB?K?L?W?S.BL?GSP?T.C?M
Dan setetes darah kering.
"Tidak!" jerit Billy, sambil menjauhi mayat itu. "Sulit
dipercaya! Sama seperti Joelle!"
Polisi yang pria menarik Billy mundur sementara rekannya
bergegas mendekat untuk mempelajari mayat Mae-Linn. Billy nyaris
tidak menyadari beratnya tangan polisi pria di lengannya. Kedua tanda
tusukan itu terbayang-bayang dalam benaknya.
Vampir! Vampir yang membunuh Mae-Linn, pikirnya. MaeLinn pasti masih hidup sekarang kalau bukan karena mereka!
Pertama Joelle, dan sekarang Mae-Linn. Mereka harus
dihentikan! Aku bersumpah akan menghancurkan mereka, Billy bersumpah
pada dirinya sendiri sekali lagi.
Akan kutemukan mereka. Dan akan kubunuh mereka. Semuanya. **************************
Masih dengan perasaan tertegun, Billy duduk di pasir yang
dingin. Polisi-polisi lainnya pun tiba. Mereka menyisir kawasan pantai
di sekitar mayat Mae-Linn dan membentangkan garis polisi di
sekeliling mayatnya. Akhirnya salah satu dari mereka memanggil
Billy ke mobil patroli. Billy tetap membisu sepanjang perjalanan ke markas besar
kepolisian. Kota yang gelap melaju lewat seakan-akan sebuah mimpi.
Kantor polisi terletak di persimpangan Main Street dan Ocean
Avenue. Sebuah gedung batu tua. Balok-balok menutupi jendela lantai
atasnya. Itu penjaranya, pikir Billy.
Dia gemetar. Aku orang terakhir yang bertemu Mae-Linn dalam keadaan
hidup, Billy menyadari hal itu. Apa dengan begitu aku menjadi
tersangka" Di dalam, seorang detektif bernama Mullins mengajukan
pertanyaan yang sama berulang-ulang padanya. Di mana dia bertemu
Mae-Linn" Kapan terakhir kali dia bertemu dengannya" Akhirnya,
sekitar satu jam sebelum subuh, detektif itu mengizinkannya pulang.
Billy melangkah menyusuri Main Street, melewati toko-toko
yang tutup. Tidak ada seorang pun di luar pada jam seperti ini.
Kecuali dirinya. Dia melangkah lebih cepat lagi, ingin segera menjauhi kantor
polisi, ingin segera pulang. Dia penasaran apakah telah berhasil


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meyakinkan polisi akan ketidakbersalahannya.
Tidak mungkin, pikirnya mengambil kesimpulan. Detektif
Mullins menganggapku sebagai tersangka utama.
Billy teringat akan jendela-jendela berjeruji di lantai dua kantor
polisi itu. Dan tentang Mae-Linn. Dan Joelle.
Dia menggigil. Aku akan menemukan para vampir itu, sumpahnya. Ini bukan
omong kosong. Aku akan menghancurkan mereka.
Dia tahu bagaimana caranya. Dia telah menghabiskan banyak
waktu dengan membaca tentang vampir selama setahun terakhir ini.
Waktu yang cukup banyak untuk persiapan membunuh mereka. Dia
merencanakan pembalasan dendamnya sambil berjalan.
Cahaya matahari menghancurkan vampir. Api juga.
Atau tonggak kayu yang ditancapkan hingga menembus
jantung. Aku hanya perlu menemukan mereka, pikir Billy. Itu yang sulit.
Tapi dia tahu apa yang harus dicarinya. Vampir tidak bisa
keluar di siang hari. Mereka tidak bisa menyantap makanan biasa"
hanya darah. Mereka tidak bisa terlihat dalam foto atau di cermin.
Aku punya waktu sepanjang musim panas, pikir Billy.
Sepanjang musim panas untuk mengetahui mana yang vampir....
************************ April menatap ke langit sore. Dia sedang merasa jengkel.
Di mana mereka" Dia penasaran. Kenapa mereka selalu
terlambat" Aku ingin ke kota dan bertemu dengan cowok-cowok.
Dia menyingkirkan rambut pirang lurusnya dari depan mata dan
mendesah. Kylie dan Irene tidak pernah tampak tergesa-gesa"tidak
peduli seberapa lapar mereka.
April menanggalkan sandalnya. Pasir yang sejuk menyelinap ke
sela-sela jemari kakinya, hingga ke bagian atas telapaknya.
Suara desiran memenuhi udara.
April mengawasi saat dua ekor kelelawar berputar-putar dan
berubah menjadi silinder yang berputar, menarik pasir pantai dan
mengubahnya menjadi tornado mini.
Berputar berdampingan. Rumput di bukit-bukit pasir melecut-lecut udara. Angin bersiul.
April melindungi matanya dari pasir yang beterbangan.
Putaran itu berhenti dengan tiba-tiba. Pasir kembali berjatuhan
ke tanah. Rumput yang bergoyang kembali tenang.
Kylie dan Irene berdiri di pantai, berhadapan.
"Sudah waktunya," sergah April.
Mereka mengabaikannya dan terus bertatapan.
"Mae-Linn baru sekali berjalan-jalan bersama Billy," kata Irene.
"Sulit dipercaya kau begitu ingin memenangkan pertaruhan kita
sampai kau bersedia membunuhnya. Kau tahu apa yang akan terjadi
kalau orang-orang mulai tewas."
"Bukan aku yang membunuhnya," kata Kylie memprotes. "Aku
bahkan tidak ke pantai semalam."
"Pembohong!" jawab Irene. "Kau yang membunuh cewek itu.
Kau pembohong, Kylie."
Mata Kylie membara. "Tarik kembali kata-katamu," katanya.
Oh, wow, pikir April. Kedua cewek ini akan terus bertengkar
sepanjang malam kalau aku tidak bertindak.
"Polisi akan menutup pantai kalau kita tidak berhati-hati!" jerit
Irene. "Makanan akan pergi! Dan kau mengambil risiko itu hanya agar
bisa mendekati Billy dan memenangkan taruhan. Kau ini bodoh atau
apa?" "Sudah kukatakan," kata Kylie. "Aku tidak ke pantai semalam."
April bisa merasakan kemurkaan Kylie. Kemarahannya seakan
memancar dari tubuh cewek itu, panas dan tegang. April mundur
selangkah. Kylie berdesis. Taring-taringnya muncul.
Irene menjerit memekakkan telinga. Taring-taringnya keluar
dari balik bibirnya. Wajahnya berkerut murka.
April menggigil ketakutan. "Hentikan!" jeritnya. "Kalian
berdua! Berhenti!" "Jangan ikut campur!" kata Kylie.
Yang mengejutkan April, mereka berbalik menghadapinya"
dan menyerang, sambil menggeram dan mendesis.
April mencoba untuk mundur. Tapi mereka memeganginya
erat-erat. Dua pasang taring mendekati leher April.
"Apa"apa yang akan kalian lakukan?" jeritnya.
Bab 9 SERANGAN KEJUTAN LAIN LAGI
" AKU tidak memiliki nektar!" jerit April. "Kalian tahu aku
salah satu dari kalian!"
Yang mengejutkannya, Irene dan Kylie sama-sama tertawa
terbahak-bahak hingga kepala mereka tersentak ke belakang.
"Seharusnya kau melihat tampangmu sendiri, April!" seru
Kylie. "April Mop!" seru Irene. "Mengerti" Sekarang ini hari April
Mop di bulan juni!" Mereka berdua kembali tertawa, menikmati leluconnya.
April menggeram dan mengangkat kuku jemarinya yang
panjang. "Akan kucincang kalian berdua!" desisnya marah.
"Hei"tadi cuma bergurau," jawab Kylie. "Singkirkan cakarmu
itu. Kau tidak perlu bersikap begitu!"
"Kita semua sudah kehilangan kendali," kata Irene sambil
mengerang. "Karena kita sangat kelaparan." Dia mendesah. "Semalam
aku begitu putus asa sampai harus membunuh anjing lagi."
Kylie dan April menggeleng muram.
Lalu Kylie berpaling kepada April. "Omong-omong tentang
makhluk yang tidak berdaya," katanya, "bagaimana hubunganmu
dengan Jay semalam?"
April tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Kalian berdua
tidak akan mendapat kesempatan," jawabnya dengan nada menggoda.
"Aku akan memenangkan taruhan bahkan sebelum kalian mulai."
******************* Keesokan malamnya, Billy menyambar telepon begitu tiba di
rumah pulang dari bekerja. Dia tidak bisa menghubungi Jay sepanjang
hari. Ibu Jay yang menerima telepon.
"Dia di kamarnya," katanya kepada Billy. "Dia agak sakit
sepanjang hari. Aku tidak tahu kenapa. Tunggu sebentar. Akan
kupanggilkan." Billy mendengar bunyi telepon diletakkan. Beberapa saat
kemudian, dia mendengar suara Jay dari ujung seberang.
"Hai. Kau dengar tentang kejadian yang menimpa Mae-Linn"'
tanya Jay. "Yeah, aku mendengarnya." Aku bukan hanya mendengar, pikir
Billy, tapi juga melihatnya. "Dia baik-baik saja sewaktu kami berpisah
di pantai. Itu terakhir kali aku bertemu dengannya. Polisi menanyaiku
selama berjam-jam. Seakan-akan aku ini seorang pembunuh. Ini
benar-benar tidak nyata."
"Aneh sekali," kata Jay. "Maksudku, dia masih hidup semalam.
Dan sekarang..." Kata-kata Jay mengambang. Mereka berdua terdiam. Billy
penasaran apakah sebaiknya memberitahu Jay mengenai bekas gigitan
di leher Mae-Linn. Apa Jay akan mempercayainya"
"Eh"kata ibumu kau sakit atau apa," kata Billy.
"Yeah, aku kelelahan sepanjang hari," jawab Jay. "Benar-benar
lelah. Seperti belum tidur selama satu setengah minggu."
"Kau sakit?" "Entahlah. Aku hanya merasa lelah. Dan lemah. Seperti tidak
bisa bergerak." Billy menghela napas. "Kuharap bukan flu. Kau bisa
menghadiri latihan dramanya?"
"Akan kucoba. Aku ingin bertemu dengan April lagi."
"Hubungan kalian berdua berjalan dengan baik?"
"Mungkin," jawab Jay. "Kurasa begitulah. Kuharap."
"Kalau begitu sampai ketemu di teater," kata Billy. Dia
menutup telepon dan menatap ke luar jendela. Aku tidak suka ini,
pikirnya. Tidak mungkin aku menyukai keadaan ini. Kedengarannya
terlalu kukenali. Joelle selalu merasa lelah musim panas yang lalu. Benar-benar
lelah. Kondisinya semakin lama semakin buruk. Dia berkeliaran
seperti zombie. Pucat. Tertegun. Hilang kesadaran.
Hingga vampirnya berubah serakah dan meminum terlalu
banyak. Dan membunuh Joelle. Billy mendesah. Mungkin Joelle beruntung. Kalau tidak tewas,
Joelle pasti menjadi salah satu dari mereka. Kematian jelas lebih baik
daripada itu. Billy tiba-tiba menghantam meja dengan tinjunya. "Aku tidak
akan membiarkan mereka mendapatkan Jay," katanya dengan gigi
terkatup. "Aku tidak akan membiarkan mereka membunuh temanku
yang lain." Billy mondar-mandir di dalam kamar. Kalau dia benar, kalau
ada vampir yang mengisap darah Jay, vampir itu pasti seseorang yang
dekat dengan Jay, cukup dekat untuk menggigit lehernya.
April. Dia mencoba untuk membayangkan April. Rambut pirangnya
yang panjang. Kulitnya yang pucat. Akan kuawasi April, pikirnya.
Akan kucari tanda-tandanya. Dan kalau April itu vampir, akan
kulakukan tujuanku kemari terhadap dirinya.
Akan kuhancurkan cewek itu.
Billy menyambar naskahnya dan keluar. Dia memutuskan untuk
mampir di tempat Nate dalam perjalanan ke teater. Kalau Nate masih
di rumah, mereka bisa bersama-sama menuju tempat latihan drama
itu. Malam ini benar-benar gelap, pikir Billy. Awan memenuhi
langit malam, menghalangi bulan dan bintang-bintang. Bayangbayang bagaikan mengalir keluar dari sela-sela bungalo.
Menakutkan, pikirnya. Malam yang bagus bagi para vampir
untuk berburu. Dia merasa gembira sewaktu tiba di tempat Nate.
Kondominium itu merupakan bangunan bata dua lantai yang
masih baru, yang tampaknya keliru didirikan di Sandy Hollow. Semua
bangunan lainnya di kota didirikan dari kayu atau batu. Kondominium
Nate sama sekali tidak tampak sesuai untuk di pantai!
Kondominium itu memiliki sebuah taman kecil di depannya,
dilengkapi pepohonan, sepasang ayunan, dan sebuah sofa. Cuaca
begitu gelap sehingga Billy sulit untuk menentukan ke mana dia
melangkah. Sebuah suara keras terdengar dari sela pepohonan.
Billy berhenti. Mendengarkan. Yang ada hanya kesunyian.
Tapi dia mendengar sesuatu. Seperti ada yang bersembunyi di
balik pepohonan. Mungkin vampir.
Billy melangkah menuju kondominium, lalu ragu-ragu.
Seseorang... sesuatu ada di sana.
Mengawasi dirinya. Dia merasa yakin akan hal itu. Dia bisa
merasakannya. Vampir. Apa mungkin mereka mengetahui alasan kedatanganku" Apa
mereka menyadari kalau ada yang sedang memburu mereka" Apa
mereka akan mencoba membunuhku sebelum aku membunuh
mereka" Dia kembali mendengar suara itu. Billy berputar balik
menghadapinya. Tidak ada apa pun di pepohonan. Hanya kegelapan.
Bukan apa-apa, katanya sendiri. Hanya imajinasimu, itu saja.
Bayang-bayang hitam menunggu di sepanjang sisi
kondominium. Sewaktu Billy melewati tempat yang kegelapannya
seakan paling pekat, dia mendengar suara menggores. Seperti suara
kaki yang bergerak. Hanya beberapa meter jauhnya.
"Bukan apa-apa," bisik Billy.
Bukan apa-apa. Dia terus berjalan, ingin segera tiba di pintu kondominium
Nate. Suara lain terdengar. Suara mencakar. Seperti cakar. Cakar-cakar mungil. Seperti cakar seekor kelelawar.
Seekor hewan, pikir Billy mengambil keputusan. Hewan biasa.
Anjing atau kucing. Raccoon. Hanya seekor hewan.
Dia menjerit sewaktu hewan itu menerkam-nya dari belakang.
Tangan-tangan menyelinap dari balik ba-hunya.
Menjepit lehernya. Billy berputar balik untuk membela diri.
Dia melihat sesosok hitam.
Dengan perasaan ngeri, Billy kembali menjerit.
Bab 10 LATIHAN KEMATIAN BILLY mengangkat tangannya untuk membela diri. Dia
mundur selangkah. Dan mendengar tawa dari kegelapan.
"Kena kau!" lolong Lynette dengan gembira.
Billy mengembuskan napas panjang. "Wow," gumamnya.
"Kurasa memang." Apa jantungnya akan berhenti berdebar-debar"
"Berani taruhan kau pasti mengira aku salah satu vampir itu!"
Wajah Lynette hampir-hampir tidak terlihat dalam bayangbayang. Tapi Billy tahu bahwa gadis kecil itu sedang menyeringai ke
arahnya. "Seharusnya kau jangan menakut-nakuti orang seperti itu," kata
Billy kepadanya, dengan perasaan masih terguncang.
"Kenapa tidak?"
"Karena tidak lucu," kata Billy kepadanya sambil melangkah
menuju pintu depan kondominium Nate.
"Kurasa lucu," kata Lynette bersikeras. "Kurasa luar biasa
lucunya!" Billy membunyikan bel. Beberapa detik kemudian Nate
membukakan pintu baginya.
"Hei, man. Adik kecilmu ini jahat," kata Billy.
********************* Billy dan Nate membisu sepanjang perjalanan ke teater. Ini
merupakan latihan pertama, pikir Billy. Latihan pertama, dan
bintangnya sudah tewas. Bagaimana dengan Jay"
Billy teringat betapa pucatnya Joelle tahun lalu. Bagaimana
Joelle selalu merasa lemah dan kelelahan sepanjang waktu.
Apa kejadian yang sama menimpa Jay"
Teater berdiri di atas sebuah gundukan berumput di tepi selatan
Sandy Hollow. Sebuah bangunan kayu persegi berwarna putih dengan
jendela dan kusen berwarna hijau.
Billy bisa merasakan ketakutan memancar dari setiap orang
begitu dia dan Nate melangkah masuk. Semuanya telah berkumpul di
panggung. Mereka mempercakapkan Mae-Linn dengan suara pelan.
Apa ada di antara mereka yang vampir" Billy penasaran. Dia
memandang sekitarnya mencari-cari April, tapi tidak melihatnya.
"Itu Irene," kata Nate kepadanya. "Nanti kita bertemu lagi."
Irene berdiri bersama beberapa cewek lainnya di dekat tangga
panggung. Dia tersenyum sewaktu melihat Nate bergegas
mendekatinya.

Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Billy berpaling, mengamati kerumunan mencari Jay. Dia
berkeliaran hingga ke sisi seberang teater.
"Ada orang Sandy Hollow yang membunuhnya," kata seorang
cewek berambut cokelat sewaktu Billy melewatinya. "Mungkin kita
bahkan mengenal orangnya."
"Hei, kau dengar mereka akan membatalkan dramanya?" tanya
seorang cowok berwajah berbintik-bintik kepada Billy.
Billy menggeleng. Dia mengamati cowok itu dengan teliti. Kulit
yang begitu pucat. Vampir tidak memiliki kulit kecokelatan"bahkan
di Sandy Hollow. Anak-anak muda lainnya ke pantai setiap hari, tapi
para vampir tidak. Apa mungkin cowok ini vampir"
Cowok berwajah berbintik-bintik itu menjauhi Billy, sambil
melirik ke belakangnya berulang-ulang dengan gugup.
Aku harus mengingat-ingat dia, pikir Billy.
Pintu teater terbuka. Billy berpaling dan melihat Jay perlahanlahan melangkah memasuki auditorium.
Jantung Billy bagai tenggelam. Oh, tidak, pikirnya. Penampilan
Jay benar-benar buruk. Jay bergerak seperti seseorang yang berjalan dalam tidurnya.
Menatap ke lantai, sambil menyeret kakinya ke panggung.
Billy melangkah hendak mendekati teman terbaiknya itu. Tapi
April muncul sebelum dia sempat tiba di sana. April meraih tangan
Jay dan menariknya duduk di salah satu kursi, bercakap-cakap
dengannya, mendengar apa yang dikatakan cowok itu.
Billy menatap tajam ke arah April. Apa cewek itu vampir" Billy
penasaran. Apa dia sedang mengubah teman terbaikku menjadi
monster" Aku harus memeriksa leher Jay untuk mencari tanda gigitan,
pikir Billy mengambil keputusan. Dengan begitu aku akan tahu pasti.
Ada yang menyambar lengannya. "Hai, Billy."
Kylie telah berdiri di sampingnya. Dia mengenakan celana
denim selutut dan kaus biru. Rambut panjangnya diikat ekor kuda
yang menjuntai di tengah-tengah punggungnya. Billy menatapnya.
Kylie benar-benar cantik, pikirnya. Agak aneh, tapi jelas cantik.
"Kurasa kau sudah mendengar apa yang terjadi," kata Kylie
pelan. Billy mengangguk. "Menyedihkan, bukan" Aku terkejut melihat banyak yang
datang latihan malam ini. Kukira mereka mungkin takut keluar
rumah." "Kau datang," kata Billy.
Kylie tersenyum. "Well, tidak ada yang bisa membuatku takut."
Ms. Aaronson melangkah ke tengah panggung dan
mengacungkan tangan sebagai isyarat meminta yang lainnya diam.
"Harap perhatikan sebentar."
Semuanya berhenti bicara.
Ms. Aaronson mengumumkan bahwa dramanya akan
dilanjutkan"dan pertunjukan itu dilaksanakan sebagai penghormatan
untuk Mae-Linn. "Kylie akan menggantikan peran Natalie,"
tambahnya. Kylie tersenyum cerah. "Sekarang aku harus melakukan adegan
bersamamu," katanya kepada Billy.
Billy tidak menjawab. Dia memandang ke sekeliling teater
sekilas, mencari-cari Jay dan April. Mereka tidak terlihat di mana pun.
Aneh, pikir Billy. Kenapa mereka pergi di awal latihan"
"Ayo mulai. Babak Pertama," seru Ms. Aaronson. "Ambil
posisi!" Kylie memegang tangan Billy. "Itu kita," katanya kepada Billy.
Billy mengikutinya ke pangung, sambil terus memikirkan Jay.
"Baiklah," kata Ms. Aaronson. "Mulai dari awal."
Billy melangkah perlahan-lahan menyeberangi panggung,
menatap gedung-gedung yang dilukis di dekornya. "27 Bracker
Street," katanya. "Kenapa tidak bisa kutemukan" Mr. Corkley akan
memarahiku kalau tidak menemukannya."
Billy membawa sekotak barang kebutuhan sehari-hari. Dia
berperan sebagai kurir yang sedang berusaha mengirimkan pesanan.
Kurir yang tersesat. Kylie melompat keluar dari bayang-bayang. Berakting purapura terkejut, Billy hampir menjatuhkan kotaknya.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Kylie sambil tersenyum jahat.
"Eh... eh..., " Billy tergagap-gagap.
"Bicaralah! Kau tersesat?"
"A"aku mencari 27 Bracker Street. Kau tahu di mana itu?"
tanya Billy. "Tepat di sini. Akan kutunjukkan," kata Kylie.
Billy mengikutinya ke sebelah kanan panggung. Jantungnya
berdebar-debar di dada. Kenapa aku segugup ini" dia penasaran. Ini
hanya drama. Tapi bahayanya terasa nyata. Aku pandai berpura-pura takut
terhadap vampir, pikir Billy. Karena aku memang takut.
Tiba-tiba Kylie berbalik. Billy melompat" dan menjatuhkan
bawaannya. Billy mengangkat tangannya. Kylie menyambarnya dengan
kekuatan yang mengejutkan.
Taring-taring putih yang tajam muncul di mulutnya. Matanya
berkilau tertimpa cahaya lampu panggung.
Dia menarik Billy ke arahnya dan mendekatkan taringnya ke
leher Billy. "Tidak!" jerit Billy. "Hentikan!"
Dia berjuang untuk membebaskan diri dari cengkeraman Kylie.
"Jangan keras-keras!" teriak Billy. "Hei"jangan keras-keras!"
Tapi Kylie membenamkan taring-taringnya ke leher Billy.
Bab 11 KEJUTAN BESAR UNTUK APRIL
"HEI! Lepaskan!" jerit Billy. "Jangan keras-keras!"
Kylie mundur. Dia mencabut taring plastiknya.
Billy menyentuh bagian leher tempat Kylie tadi menggigitnya.
Tidak ada darah. Kulitnya masih utuh.
"Maaf," kata Kylie. "Kurasa aku benar-benar tenggelam dalam
peranku." Billy menggosok-gosok lehernya yang sakit. Yang benar saja,
katanya pada diri sendiri. Bagaimana kau akan menghadapi vampir
asli jika kau tidak bisa tenang dalam drama tolol ini"
"Maaf, aku ketakutan," kata Billy kepada Kylie. "Kau benarbenar mengejutkanku. Kau aktris yang baik."
Mata Kylie bersinar-sinar. "Trims, Billy."
"Oke. Pekerjaan bagus," seru Ms. Aaronson. "Adegan
berikutnya!" Billy mengawasi Jay yang melangkah malas-malasan ke
panggung. Dia ingat betapa lancarnya Jay sewaktu audisi. Hari ini Jay
berbeda sama sekali. Dia berjuang untuk mengucapkan dialognya
tanpa semangat. "Jay benar-benar kehabisan tenaga," bisik Billy kepada Kylie.
"Menurutku juga begitu," jawab Kylie. "Mungkin dia dan April
tidak tidur hingga larut malam," tambahnya sambil mencibir.
Itu yang kutakutkan, pikir Billy.
Sesudah latihan, Nate dan Irene mendekati Billy dan Kylie.
"Mau berjalan-jalan?" tanya Nate.
Sebelum Billy sempat menjawab, Jay dan April telah
menggabungkan diri. "Eh, yeah!" kata Billy cepat-cepat. "Bagaimana
kalau kita semua ke Swanny's?"
"Kau tampaknya seperti sudah berminggu-minggu tidak tidur,"
kata Kylie kepada Jay sewaktu mereka berjalan menuju ke pintu
keluar. "Sebaliknya," kata Jay menjelaskan. "Aku tidur sepanjang hari,
dan sewaktu terjaga, aku masih merasa lelah."
Persis seperti Joelle, pikir Billy.
Dia mengamati leher Jay dengan teliti. Tidak ada bekas gigitan.
Kecuali bekas itu tersembunyi di balik kerah kaus polo yang
dikenakan Jay. Apa aku sudah keliru tentang April" Billy penasaran.
Mungkinkah Jay sekadar sakit biasa"
April tampaknya cukup ramah. Dia dan Jay berpegangan
tangan sewaktu berjalan. Begitu pula dengan Irene dan Nate, Billy
menyadari hal itu. "Hei!" seru seseorang dengan suara keras. Seorang cowok
jangkung yang mengenakan topi baseball merah tua berdiri di depan
mereka, menghalangi pintu ke teater. Karena terkejut, Billy berhenti.
Cowok itu mengacungkan jarinya. Menunjuk.
Ke April, Billy sadar. Dia melihat pipi April memucat. Pandangan cewek itu waspada.
April mundur selangkah. Sejenak Billy mengira April akan
menjerit. Cowok jangkung itu menatap April tajam. "Hei"aku ingat
kau!" katanya. Bab 12 KELELAWAR ADA apa ini" Billy penasaran. Kenapa April begitu ketakutan"
"Kau lupa padaku?" tanya cowok itu kepada April.
"Aku... eh..." April tergagap-gagap.
"Rick Tyler," kata cowok itu. "Dari Shadyside."
"Oh, yeah," jawab April. Sambil menggandeng cowok itu, April
bergegas menariknya menjauhi Billy dan yang lainnya.
"Dia teman lama," seru April ke arah mereka, sambil
mendorong Rick agar bergegas keluar dari pintu. "Aku perlu bicara
dengannya empat mata. Sampai nanti."
Dia dan Rick menghilang di balik pintu.
"Ada apa itu?" tanya Irene.
"Entah," jawab Kylie.
"Apa sebaiknya kita menunggunya?" tanya Jay.
"Aku tidak melihatnya di mana pun," kata Nate, sambil
melangkah keluar. "Tampaknya April menemukan cowok baru.
Masalah besar, man."
Jay mengangguk dengan sikap mengantuk, seakan-akan tidak
mampu menemukan kekuatan untuk menjawabnya.
"Ayo pergi," desak Nate.
Mereka mulai berjalan ke kota. Di tengah perjalanan ke tempat
permainan, Jay berhenti. "Aku tidak bisa ikut," katanya. "Aku harus
tidur. Aku bahkan tidak bisa bergerak."
"Tidak bisa!" protes Billy. "Ayolah, Jay. Jangan tinggalkan
kami." Sampai kutemukan cara untuk melihat lehermu, pikirnya.
"Tidak bisa," gumam Jay. Dia berjalan dengan langkah terseret
ke arah pantai"dan ke kondominiumnya.
Billy bergegas mengejarnya, pasir terasa bagai busa di bawah
sandalnya. Dia berhasil menyusul Jay di balik bukit pasir.
"Tunggu," serunya.
Jay berhenti. "Apa?"
"Coba kulihat lehermu." Billy meraih kerah kaus Jay.
"Hei?" seru Jay memprotes, sambil menangkis tangan Billy.
"Aku perlu melihat lehermu," kata Billy bersikeras.
Jay mengerutkan kening. "Apa kau sinting" Ada masalah apa
denganmu?" "Kurasa kau sudah digigit vampir."
Jay menatapnya dalam waktu yang lama. Lalu dia tertawa
pendek. "Billy, pergilah. Aku terlalu lelah untuk mendengar ini."
Billy kembali meraih kerah kaus Jay.
"Tidak bisa!" teriak Jay, sambil mendorong Billy menjauh.
Billy terhuyung mundur, hampir-hampir kehilangan
keseimbangannya. Tidak kukira Jay masih memiliki sisa kekuatan
untuk melakukan ini, pikirnya.
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong tentang vampir
ini!" jerit Jay. "Aku terlalu lelah."
Apa yang harus kulakukan" Billy penasaran. Apa sebaiknya
kubekuk dia" Merobek kausnya"
"Billy, aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya," kata
Jay. "Tapi kau pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Dan sekarang
sikapmu seperti orang sinting. Maksudku, aku mengkhawatirkanmu.
Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Kau kira aku sinting," gumam Billy.
"Kau bicara tentang vampir!" seru Jay.
"Jay, kau harus mendengarkan aku?" katanya memulai.
Tapi seseorang menyela pembicaraannya. "Hei, Billy! Kau
ikut?" Kylie berdiri di puncak bukit pasir bersama Nate dan Irene,
mengawasi mereka. Billy ragu-ragu. "Pergilah, man," kata Jay kepadanya. "Berhentilah mengingat
kekasih lamamu. Tidak ada yang namanya vampir."
Billy memelototi teman terbaiknya itu. Tapi dia tidak bisa
memaksa Jay menunjukkan lehernya. Apalagi yang lain ikut
mengawasi. Mereka semua akan mengira dirinya sudah sinting.
Dia melangkah kembali ke Kylie.
Jay akan baik-baik saja untuk malam ini, katanya sendiri. Dia
terlalu lelah untuk melakukan apa pun kecuali pulang. Dan April
sedang bersama cowok bernama Rick itu.
Pada saat mereka tiba di pusat kota, Nate dan Irene telah
menghilang. "Hei, mereka ke mana?" tanya Billy kepada Kylie.
"Entah," jawab Kylie. "Mungkin mereka ingin berdua saja."
"Kurasa begitu," jawab Billy.
Pandangan mereka bertemu. Billy hendak mengalihkan
pandangannya, tapi pandangan Kylie menahannya. Mata Kylie
tampak seakan memancarkan cahaya lembut, menarik dirinya. Dengan
lembut. Perlahan-lahan. Billy merasakan tarikan yang aneh di dadanya.
Dia merasa seakan-akan tengah melayang.
Meluncur dalam kabut. Bersama Kylie. Kylie yang cantik.
Melayang melewati Mini Market.
Pizza Cove. Bioskop Harbor Palace. Billy menggeleng, mengusir bayangan itu. Kylie menatap
dirinya, mengerutkan kening, mata hijaunya membara.
Mereka berdiri di depan Old Atlantic Chowder House, orangorang menerobos mereka untuk masuk dan keluar. Bagaimana kami
bisa sampai di sini" Billy penasaran. Pandangan Kylie masih tajam
menusuknya. "Eh... mau sup kental?" tanya Billy kikuk.
Kylie mengangkat bahu. "Boleh. Kenapa tidak?"
Dinding-dinding tempat itu dihiasi jala dan mejanya tertutup
taplak plastik kotak-kotak merah. Para pramusaji bergegas melintas
sambil membawa mangkuk-mangkuk sup kental yang masih
mengepulkan uap, aroma yang menyengat menebar di seluruh
ruangan. "Menunya di sebelah sana," kata Billy kepada Kylie, sambil
menunjuk sebuah papan tulis besar di atas kuda-kuda. Penawaran hari
ini dituliskan di sana dengan menggunakan kapur.
Kylie mempelajari daftar menunya, lalu mengangkat bahu.
"Kurasa aku tidak benar-benar lapar." Dia tertawa. "Aku tidak pernah
makan. Rasanya seperti tidak ada waktu."
"Kita tidak perlu makan kalau kau tidak mau," kata Billy
kepadanya. Mereka meninggalkan restoran.
"Ayo," desak Kylie, sambil mencengkeram tangan Billy. "Kita


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke pantai saja." Billy tidak yakin apakah dia ingin kembali ke pantai secepat itu.
Dia teringat Mae-Linn. Dia kembali membayangkan mayatnya, separo
tertutup pasir. Sulit untuk mengusir kenangan seburuk itu.
Tapi Kylie benar-benar menarik.
Billy memutuskan untuk mengikutinya. Sewaktu mereka
menyeberangi Main Street, dia mencari-cari April dan Rick Tyler,
atau Irene dan Nate. Dia tidak melihat satu pun.
Kylie memilih lokasi di mana mereka harus turun ke pantai dari
bukit pasir berumput. Rerumputan menempel di pergelangan kaki
Billy seakan-akan daunnya berlapis lem yang kuat.
Bulan bersinar cerah di langit yang dipenuhi bintang,
memandikan pantai dengan cahaya keperakan. Billy berhenti dan
mengorek kotoran pantai dari sandalnya.
Kylie tampak teralih perhatiannya, melamun. Billy merasa
wajah Kylie memancarkan ekspresi yang aneh. Membutuhkan"
Merindukan" "Ayo duduk," kata Kylie menyarankan.
"Aku ingin terus berjalan," kata Billy kepadanya.
Kylie memandang marah ke arahnya. Lalu tersenyum, dan
menyelipkan lengannya ke lengan Billy.
Ada apa dengan cewek ini" Billy penasaran.
Mereka berjalan sepanjang pantai sambil bergandengan tangan.
Kylie menatapnya. "Kau agak... well, sulit untuk dipahami," katanya
kepada Billy. "Kau tidak pernah membicarakan dirimu sendiri."
"Aku tidak suka membicarakan diriku sendiri," jawab Billy.
"Well, kita tidak perlu berbicara," gumam Kylie, sambil
mendekati Billy. Dia memiringkan wajahnya sehingga menghadap
Billy. Billy menatap mata Kylie. Dan merasa dirinya jatuh... jatuh ke
dalam pandangan Kylie. Mengambang. Segalanya tampak kabur, pikirnya. Tidak bisa melihat apa pun.
Hanya Kylie. Dia mendengar Kylie membisikkan namanya,
menariknya ke pasir. Suara kepakan yang keras mengguncangkan Billy dari
ketertegunannya. Sesuatu mengepak-ngepak melewati depan
hidungnya, begitu dekat hingga dia bisa merasakan embusan angin
dari sayapnya. Billy menengadah, terkejut. Sesuatu berwarna hitam melintas di
atas kepalanya. Bayang-bayang gelap dengan latar belakang cahaya
bulan. Sesuatu menghantam bahunya.
Dia menunduk menghindar sewaktu cakar-cakar mungil
menggores pipinya. Kelelawar" Ya, dua ekor. Mereka kembali menyerang, satu mencakar bahunya, yang lain
mengincar wajahnya. Billy menunduk menghindar.
Billy mati-matian menjelajahi pantai dengan pandangannya,
berusaha mencari perlindungan. Dermaga yang digunakannya untuk
bersembunyi di bawahnya. Atau payung pantai yang tertinggal.
Sesuatu. Apa pun. Tapi tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Dia melirik ke atas, mencari-cari kelelawarnya. Keduanya
terbang di atas kepalanya.
Berputar-putar. Mendesis-desis. Lalu mereka meluncur turun untuk menyerang.
Bab 13 PULAU VAMPIR BILLY menjatuhkan diri ke pasir. Dengan susah payah dia
merangkak dan berusaha berguling pergi.
Kelelawar-kelelawar itu menjerit-jerit melengking sambil
menyerang. Sewaktu Billy berusaha berguling menjauh, dia melihat Kylie
melompat berdiri. Dia mengayunkan kedua tangannya dengan liar,
menampar-nampar udara. Dia mengenai salah satu kelelawar. Tangannya menghantam
tubuh kelelawar yang lunak dan menimbulkan suara plak yang keras.
Kelelawar-kelelawar itu tidak lagi menjerit-jerit mengerikan.
Salah satunya mulai berputar-putar di atas kepala Kylie. Cewek
itu mengayunkan tangannya, tapi luput.
Dia menjerit penuh kemenangan sewaktu kelelawar-kelelawar
itu membubung, lalu melayang pergi.
Billy duduk tegak di pasir. "Wow," gumamnya. "Wow. Kau
hebat!" "Aku tidak takut kelelawar," kata Kylie membual.
"Aku juga tidak"kecuali mereka menyerangku," kata Billy.
Dia merasa malu karena Kylie harus bertempur sementara dia
bergulingan tanpa daya di pasir.
"Ada banyak kelelawar di pantai ini," kata Billy. "Semuanya
tinggal di pulau di sana itu."
"Kau tahu apa yang ingin kulakukan?" tanya Kylie penuh
semangat. "Mendayung ke pulau itu dan menjelajahinya! Mau?"
Billy menatapnya dengan pandangan terkejut. "Maksudmu
sekarang juga" Apa tidak lebih baik menunggu siang hari?"
"Tidak," jawab Kylie, sambil menarik-narik lengan Billy. "Ayo.
Kita ke sana sekarang. Pasti hebat."
"Well..." Billy ragu-ragu. Dia sebenarnya tidak ingin pergi.
Tapi dia tidak ingin semakin terlihat pengecut.
"Kita memerlukan perahu," kata Kylie.
"Majikanku memiliki beberapa buah perahu dayung," kata Billy
padanya. "Katanya aku bisa meminjamnya kapan saja aku mau.
Kurasa kita bisa meminjam satu dan pergi ke sana sekarang."
"Di mana perahu dayungnya?"
"Dekat dermaga. Ayo. Akan kutunjukkan."
Mereka berlari-lari kecil menyusuri pantai.
"Hei, itu Irene dan Nate!" seru Kylie.
Billy melihat mereka berdua berjalan berdekatan. Kurasa
mereka memang ingin berdua saja, pikirnya.
"Aku harus memberitahu Irene kita akan ke mana," kata Kylie.
"Dia akan sangat iri!"
"Akan kuambil perahunya sementara kau berbicara dengannya,"
kata Billy menawarkan. "Kujemput kau di dermaga panjang"tempat
orang-orang menyelam."
"Sampai ketemu di sana," kata Kylie menyetujui. "Aku tidak
sabar lagi." ******************* Billy membiarkan perahu dayung itu meluncur perlahan
sepanjang dermaga panjang. Tidak terlihat tanda-tanda kehadiran
Kylie. Di mana cewek itu" Dia penasaran. Mungkin Kylie berubah
pikiran. Dia mengikat perahunya ke tonggak dan melompat ke dermaga,
mengamati pantai. Masih tidak terlihat Kylie. Dia juga tidak melihat
Irene dan Nate. Billy kembali ke perahu kecilnya. Menunggu.
"Hei!" sandal Kylie berdentam di papan kayu saat berlari-lari
menyusuri dermaga. "Siap?"
"Kenapa lama sekali?" tanya Billy.
Kylie mengangkat bahu. "Maaf," katanya sambil lalu. "Kau
sudah siap menjelajahi pulau?"
Billy merasakan perahunya bergoyang-goyang di bawahnya,
menimbulkan gelombang kecil yang menghantam dermaga. "Ayo,"
katanya kepada Kylie. Sambil menyelipkan dayung ke penguncinya, Billy mendorong
perahu menjauhi dermaga dan mengarahkannya ke pulau.
Pulau vampir. Di malam hari, pikirnya. Mereka pasti terjaga.
Tapi mereka tidak akan ada di rumah, kata Billy sendiri. Malam
merupakan waktu makan bagi mereka, dan tidak ada makanan di
pulau. Mereka akan ke Sandy Hollow mencari makanan. Mencari
manusia untuk disantap. "Pulaunya tidak jauh," kata Kylie mengomentari. "Seharusnya
tidak lama." Billy mendayung, pengunci dayungnya berderak-derak dan
berdecit. Kylie duduk di haluan, menyeringai penuh semangat ke
arahnya, matanya berkilau. "Aku senang melakukan kegiatan-kegiatan
seperti ini," katanya kepada Billy. "Kegiatan-kegiatan liar, gila-gilaan.
Hanya karena aku suka merasa begitu."
Billy melihat kelelawar-kelelawar beterbangan di atas
permukaan air. Kelelawar-kelelawar itu menyambar rendah ke arah
perahu. Mereka membubung menjadi bayang-bayang hitam di langit
yang dipenuhi bintang. Hewan-hewan itu berputar dan kembali
menukik, melintas hanya beberapa meter di atas kepala Billy.
"Rasanya mereka seakan memperingatkan kita agar menjauh,"
kata Billy. "Yeah. Benar." Kylie memutar bola matanya. "Jangan
khawatir," katanya. "Kelelawar tidak akan menyakitimu. Kelelawar
itu baik. Kau tidak mempelajarinya di sekolah?"
Billy melirik ke belakangnya dan melihat pulaunya. Sosok
panjang dan rendah dengan latar belakang langit yang gelap.
Menunggu. Menungguku, pikir Billy. Pulau itu tampak hitam di atas permukaan air yang biru
kehitaman. Tidak terlihat adanya cahaya di mana pun.
Apa aku sudah benar-benar sinting" Billy penasaran sambil
menatap pulau vampir itu.
Apa aku akan menyesali perjalanan ini"
BAGIAN DUA PENYELIDIKAN BILLY Bab 14 SAMBUTAN MENGEJUTKAN "ITU dia!" seru Kylie, sambil menunjuk sebuah dermaga tua
yang terayun-ayun di permukaan air. "Kita bisa mengikat perahunya
di dermaga itu." Saat mengarahkan perahu ke sana, Billy mengamati pulaunya.
Kegelapan menyembunyikan segala sesuatu yang ada di balik ujung
dermaga. Pepohonan tinggi menjulang di garis pantai, menghalangi
bulan, menyebabkan malam terlihat lebih gelap.
"Tempat ini terlalu aneh," gumam Billy.
Kelelawar-kelelawar mengepak-ngepakkan sayap mereka di
atas kepala. Langit penuh dengan makhluk itu. Mereka terbang dari
pohon ke pohon. Dari dermaga ke dalam kegelapan. Billy mendengar
raungan pelan yang terbawa angin. Apa ada anjing di pulau ini" Kalau
benar, pasti anjing liar. Lolongan yang lain menyebabkannya
menggigil. "Menyenangkan, bukan?" tanya Kylie terengah-engah.
Hanya jika kau ingin mati, pikir Billy.
Billy merapatkan perahunya ke dermaga. Kylie mengikat
perahu itu ke sebuah tangga.
"Ayo," desaknya. "Ini keren sekali. Kita lihat ada apa di sini."
Kylie mulai menaiki tangganya.
"Hati-hati," kata Billy memperingatkan. "Separo anak
tangganya sudah hilang."
Kylie dengan mudah tiba di puncak tangga. "Ayo naik,"
katanya mendesak Billy. "Tangganya mampu menahan berat
tubuhku." Anak tangga yang dipegang Billy terlapis semacam cairan
kental yang licin dan gelap. Dia mengulurkan tangan ke air untuk
mencucinya. Sesuatu seketika berkecipak ke permukaan. Billy terkejut dan
menyentakkan tangannya dari air yang gelap.
"Itu hanya ikan!" seru Kylie, sambil tertawa.
Billy menghela napas panjang, lalu menaiki tangganya.
"Ayo!" desak Kylie.
Perlahan-lahan mereka berjalan memasuki pulau, melangkah
dengan hati-hati dalam kegelapan.
Sebuah jeritan melengking menyebabkan Billy melompat.
"Apa itu?" katanya dengan napas tersentak.
"Mungkin burung atau apa," jawab Kylie. "Berani bertaruh di
sini hidup segala jenis hewan." Dia melirik ke balik bahunya ke arah
Billy. "Mungkin semuanya tidak berbahaya," tambahnya.
Tidak ada yang tidak berbahaya di sini, pikir Billy. Beberapa
makhluk di pulau ini sangat berbahaya.
Mereka telah membunuh Joelle.
Tanaman rambat dan sesemakan menghalangi jalan setapak
yang menuju pedalaman dari dermaga. Tanaman-tanaman itu terasa
licin dan dingin sewaktu Billy menerobosnya.
Billy mencari-cari rumah-rumah yang telah terbakar. Tapi dia
tidak melihat satu rumah pun. Mungkin itu hanya cerita.
Mungkin segala sesuatu yang didengarnya tentang pulau ini
hanyalah kebohongan. Kisah-kisah yang diceritakan berulang-ulang.
Kisah-kisah yang semakin liar setiap kali terulang, hingga tidak ada
lagi kebenaran yang tersisa.
Tidak mungkin, pikir Billy. Dia tahu satu cerita mengenai pulau
ini merupakan kebenaran. Kisah horor. Tentang vampir.
"Ada sesuatu di depan," bisik Kylie. Dia menerobos sesemakan
dan menghilang dari pandangan.
Billy mengikutinya. Kylie berjalan menduluinya hingga tiba di
sebuah reruntuhan yang tinggi dan gelap. Sisa-sisa sebuah rumah yang
terbakar. Sebagian besar telah runtuh, tapi papan-papan bergerigi masih
tetap berdiri. Hitam dan hangus.
"Seharusnya kita membawa senter," kata Billy.
"Lebih menyenangkan begini," kata Kylie bersikeras.
Pandangannya bertemu dengan pandangan Billy. "Apa kau takut?"
godanya. Sebelum Billy sempat menjawab, dia mendengar erangan pelan.
Dari pepohonan di sekitar rumah.
Dia berpaling kembali ke arah hutan. Tapi hanya melihat
bayang-bayang. Abaikan saja, katanya sendiri. Hanya suara hewan.
Kylie telah berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup
tanaman. Billy mengejarnya. Jalan setapak itu menuju rumah lain
yang juga telah terbakar. Yang ini sudah tinggal kerangka, terlalap
api. Billy memeriksa pintunya. Hanya sepotong kecil yang tersisa.
Sepotong kayu hangus tertancap pada sebuah engsel. Kegelapan
meresap keluar dari ambang pintunya.
Kylie menjulurkan kepala ke dalam. "Lihat," katanya.
Billy mengintip ke dalam rumah"dan tersentak.
Kelelawar. Di mana-mana. Bergantungan di langit-langit.
Di ambang-ambang pintu. Beberapa menjuntai pada tempat lampu.
Dua ekor di antaranya melesat dari langit-langit"dan menukik


Fear Street - Ciuman Selamat Malam Ii Goodnight Kiss Ii di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke arah Billy dan Kylie. Billy mengacungkan tangan untuk
melindungi wajahnya. Tapi kelelawar-kelelawar itu melesat
melewatinya dan menghilang.
Billy berpegangan pada ambang pintu, jantungnya berdebar
kencang. Ini pulau vampir, pikirnya. Setiap kelelawar yang ada di sini
bisa jadi merupakan vampir. Salah satu dari mereka bisa menyerang
kami. Membunuh kami. Tatapannya jatuh pada sepotong kayu hangus. Tampaknya dulu
merupakan kaki meja. Billy mengulurkan tangan meraihnya. Kayu itu terasa berat
dalam genggamannya. "Ayo pergi dari sini," kata Kylie. Dia melewati Billy dan terus
melangkah mengikuti jalan setapak.
Billy mengikutinya. Sebuah lolongan yang panjang dan keras menyebabkan Billy
berhenti. Dia mencari-cari di pepohonan dengan panik.
Kylie telah menghilang. Terdengar lolongan yang lain. Kali ini lebih dekat.
"Kylie!" seru Billy. Di mana cewek itu" Kenapa dia tidak
menjawab" "Kylie, kembali kemari!"
Sunyi. Billy menahan napas sambil memicingkan mata menatap ke
arah pepohonan. Tidak terlihat tanda-tanda kehadiran Kylie.
Tidak ada hewan. Tidak ada apa-apa di sana.
Lalu"terdengar suara ranting-ranting patah. Dedaunan kering
hancur. Langkah-langkah kaki. Seekor hewan sedang berderap di sela-sela pepohonan.
Billy berputar untuk menghadapi asal suara itu.
Terlambat. Seekor makhluk hitam yang menggeram telah
menerkamnya. Menjatuhkannya ke tanah.
Matanya yang kuning berkilau sewaktu hewan itu menancapkan
taring-taring setajam pisau cukur ke leher Billy.
Bab 15 BUKAN SERIGALA BIASA BILLY berguling ke samping sewaktu makhluk itu menimpa
dirinya. Gigi-gigi hewan itu menggores lehernya, terbelit rambutnya.
Billy merasakan embusan napas yang panas dan bau di wajahnya.
Billy tercekik. Dia tidak mampu bernapas.
Sepasang mata kuning menunduk menatapnya. Dia mendorong
makhluk itu dengan dua tangan.
Apa itu" Dia penasaran. Apa serigala"
Makhluk itu kembali menyerang.
Billy memegang potongan kaki meja hangus di depan
wajahnya. Taring-taring makhluk itu menancap di kayu.
Makhluk itu mundur sambil menyalak, menggoyang-goyangkan
kayu itu agar terlepas dari mulutnya.
Billy bangkit berdiri dengan susah payah. Ya, itu seekor
serigala! dia tersadar. Billy menerjang ke arah kaki meja kayu itu. Menyambarnya
dari tanah. Dan berputar balik, memeganginya di depan dirinya bagai
sebilah pedang. Serigala itu kembali menerkam.
Dan Billy menghunjamkan kaki meja kayu itu ke dadanya
dalam-dalam. Sepasang mata kuning di hadapannya menyipit kesakitan. Tapi
makhluk itu tidak melolong. Tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Billy menatap lubang yang dalam di dada serigala itu. Tidak
ada darah. Lukanya tidak mengeluarkan darah.
Bukan serigala biasa, Billy menyadarinya dengan perasaan
ngeri. Bukan serigala biasa.
Sekarang sepasang mata kuning itu memancarkan kemarahan.
Serigala itu memuntir tubuhnya, membuka rahangnya lebar-lebar,
mencabut ujung tongkat dari tangan Billy.
Apa hewan itu akan menyerang lagi"
Tidak. Sepasang matanya terbelalak ke atas dan hewan itu jatuh
telentang di tanah. Keempat kakinya menendang-nendang udara
sejenak. Lalu makhluk itu mendesah panjang"dan tidak bergerak
lagi. Billy berdiri di atasnya, berjuang untuk meredakan napasnya.
Dia menyadari bahwa baru saja membunuh vampir. Vampir yang
telah diganggunya. Yang memutuskan untuk menyerang dirinya
dalam bentuk serigala. Dia menyodok bulu-bulu hitam itu dengan kakinya. Sejumput
bulunya tanggal. Dengan jantung masih berdebar-debar, Billy berbalik pergi.
Hutan membentang sunyi di sekitarnya.
Seluruh pulau pasti penuh terisi monster-monster seperti ini,
Billy menyadari akan hal itu.
"Kylie." Dia menggumam keras-keras.
Di mana Kylie" Dia penasaran.
Aku harus menunjukkan makhluk ini padanya. Dia harus
melihat vampir yang asli. Dia akan mempercayaiku. Lalu semua orang
akan mempercayaiku bahwa ada vampir di Sandy Hollow ini.
"Kylie!" teriaknya.
"Kylie!" Kedua tangannya membentuk corong di sekitar
mulutnya dan memanggil cewek itu.
Dengan mengikuti jalan setapak yang telah membawa mereka
ke rumah yang telah terbakar itu, Billy berlari-lari kecil memasuki
hutan. "Kylie"kau di mana" Kylie?"
Dia menemukan cewek itu duduk di atas sebatang pohon di
bukit berpasir rendah yang menghadap ke laut. Kylie berpaling
sewaktu Billy berlari mendekatinya, dan melompat bangkit berdiri.
"Billy"ada apa?"
"Aku"aku tidak bisa menemukanmu," jerit Billy tanpa
menarik napas. "Maaf," kata Kylie. "Kupikir kau ada di belakangku. Tapi
sewaktu berbalik, kau sudah tidak ada." Dia tersenyum. "Aku tahu kau
akan menemukanku. Aku?"
Kylie berhenti bicara, menangkap ekspresi tegang yang
terpancar di wajah Billy. "Ada apa" Kau tergores-gores. Apa yang
terjadi?" Seluruh cerita menghambur keluar dari mulut Billy. "Vampir,
Kylie. Dalam bentuk serigala. Dia menyerangku. Di luar rumah yang
terbakar habis itu. Tapi aku berhasil menusuk dadanya dengan
tonggak kayu hingga tembus. Aku berhasil membunuhnya."
Dia menyambar tangan Kylie dan mulai menariknya ke arah
rumah tadi. "Ayo. Kau harus melihatnya. Aku ingin membuktikan
padamu bahwa di sini ada vampir. Aku ingin kau melihatnya dengan
mata kepalamu sendiri."
"Tapi, Billy?" Kylie balas menarik.
"Cepat, Kylie. Aku akan membuktikannya padamu."
Kylie menyipitkan mata menatapnya. "Apa kepalamu tadi
terbentur" Bicaramu sinting. Semua orang tahu bahwa vampir itu
tidak ada." "Ayo. Cepat." Billy menariknya dengan lebih keras.
Kylie memutar bola matanya dan mengerang. Tapi mengikuti
Billy. Billy mendului jalan melewati pepohonan. Suara kelelawar di
atas kepala terdengar semakin keras saat mereka semakin dekat
dengan rumah itu. Sebuah lolongan di kejauhan mengambang
mengerikan, mengatasi bisikan angin.
Dari balik pepohonan, Billy melihat bayang-bayang gelap
rumah yang telah terbakar itu. "Itu dia!" katanya kepada Kylie. "Tepat
di depan. Kau akan melihatnya, Kylie. Kau akan mengetahui bahwa
aku sudah mengatakan yang sebenarnya."
Billy mendului berjalan keluar dari balik pepohonan. Lalu dia
menarik Kylie menyeberangi rerumputan basah. "Di sana"!"
tunjuknya. Dan mereka berdua tersentak kaget.
Bab 16 ASMARA "TIDAK ada apa-apa di sana!" seru Kylie.
Billy membungkuk dan memeriksa tempat itu. Tidak ada bekasbekas perkelahiannya. Tidak ada tanda-tanda serigala vampir.
Rerumputannya bahkan tidak rebah.
"Pas"pasti di sebelah sini," katanya tergagap. Dia berlari
menyeberangi rerumputan, pertama ke satu arah, lalu ke arah yang
lain. Dia berlari-lari menuju rumah, lalu berbalik, mencoba untuk
mengulangi langkahnya sendiri.
Tidak ada apa-apa di sini. Tanda-tandanya pun tidak.
Kylie kembali mendelik. "Memalukan, Billy. Benar-benar
memalukan," katanya sambil mengerang.
"Kau harus percaya padaku"!" jerit Billy melengking.
"Lelucon ini tidak lucu," kata Kylie. Dia meraih lengan Billy
dan menempelkan pipinya ke bahu Billy. Lalu berbicara dengan suara
sangat pelan. "Apa kau berusaha menakut-nakutiku agar bisa menjadi
pelindungku yang gagah perkasa?"
"Tidak. Sungguh?" kata Billy bersikeras.
Sambil bergayut di lengan Billy, Kylie menggosokkan
hidungnya ke pipi Billy. "Ayo kembali ke balok kayu tadi," bisiknya.
"Pemandangannya sangat indah."
Billy sadar Kylie tidak mempercayainya. Kylie menganggap
kejadian ini hanya sebagai lelucon. Kalau aku terus bersikeras, dia
pasti akan menganggapku semacam orang tolol. Atau sinting.
Dia membiarkan Kylie menariknya kembali ke bukit rendah
yang menghadap ke laut. "Kita"kita harus pulang," katanya tergagap,
sambil menatap ke laut. "Masih terlalu sore. Kita lihat apa lagi yang bisa kita temukan
di sini," kata Kylie.
"Tidak bisa," jawab Billy. "Kita kembali ke perahu. Tidak ada
apa-apa di sini." Tidak ada apa-apa kecuali vampir, pikirnya.
"Duduk sajalah, temani aku sebentar," pinta Kylie. "Sesudah itu
kita pergi, aku berjanji. Di sini pemandangannya indah sekali."
Billy menatapnya. Dia ingin pergi. Ingin berlari ke perahu
secepat mungkin. Tapi Kylie tampak begitu cantik duduk di
tempatnya, dengan cahaya bulan menyinari rambut merahnya.
Kylie menepuk-nepuk batang pohon di sampingnya.
Billy duduk. Kulit kayunya terasa lembap dan rapuh di bawah
dirinya. Udara dingin mengalir di antara mereka.
Sejak kapan kabut turun setebal ini" Billy penasaran. Dia
hampir-hampir tidak bisa melihat apa pun di balik tempat terbuka itu.
Rasanya seperti dia dan Kylie hanya berdua saja di sebuah pulau
kabut. Billy tiba-tiba merasa mengantuk. Agak pusing.
Kylie bergeser mendekatinya di atas balok kayu. "Kau lihat"
Menyenangkan, bukan?" tanyanya lembut.
Billy mencoba untuk memusatkan pandangannya pada Kylie.
Cahaya bulan pucat bermain-main di wajah cewek itu. Dia sadar
bahwa Kylie benar-benar cantik. Wajahnya layak untuk menjadi
seorang peragawati"atau bintang film. Dan melihat rambut merahnya
yang kemilau... Kylie membungkuk dan menciumnya.
Cewek itu menarik kepalanya kembali. Menatap lurus ke mata
Billy, tersenyum, dan kembali menciumnya.
Ciuman yang panjang dan lambat.
Ini benar-benar liar, pikir Billy. Kylie benar-benar luar biasa!
Ciuman itu berlanjut. Billy merasa seakan-akan hanyut... jatuh...
Terdengar suara sayap kelelawar berkepakan di atas kepala.
Billy tidak memperhatikannya. Dia hanyut... hanyut...
Dia merasakan mulut Kylie bergerak dari bibirnya ke lehernya.
Bab 17 "JANGAN JAY!" BILLY bangkit berdiri. "Aku"aku merasa aneh sekali,"
katanya. "Agak pusing. Sebaiknya kita pulang."
"Billy, duduklah," kata Kylie bersikeras. "Billy"please."
Billy menggeleng, berusaha mengusir perasaan pusing yang
aneh itu. Kylie melompat bangkit. Dia mendekati Billy. Dan kembali
menciumnya. Dunia bagai berputar. Pepohonan gelap melaju.
Billy ingin menyerah, membiarkan dunia yang berputar
menelannya, mengisapnya. Dia ingin berdiri di lapangan terbuka di
bawah siraman cahaya bulan dan menciumi Kylie selama-lamanya.
Tidak. Dia menggeleng. Putaran itu berhenti. "Aku benar-benar harus pulang," kata Billy bersikeras, sambil
menarik Kylie ke arah perahu.
Sambil memegangi tangan Kylie, dia menariknya melewati
pepohonan. Billy tahu Kylie merasa jengkel dari cara cewek itu
menyingkirkan ranting-ranting yang menghalangi jalannya, tanpa
mengatakan apa-apa. Mereka melewati rumah-rumah yang terbakar
Misteri Bayi Ular 1 Anak Berandalan Karya Khu Lung Rahasia Sumur Tua 2
^