Pencarian

Boneka Hidup Beraksi Dua 1

Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 Bagian 1


RL Stine Boneka Hidup Beraksi II (Goosebumps # 31) Terjemah: Farid ZE Blog Pecinta Buku - PP Assalam Cepu
Ebook Inggris: Undead Cepu, 10 Februari 2014 1 Namaku Amy Kramer, dan setiap Kamis malam, aku merasa agak bodoh. Itu karena
Kamis adalah "Malam Berbagi Keluarga" di rumahku.
Sara dan Jed pikir itu juga bodoh. Tapi Ibu dan Ayah tak akan mendengarkan
keluhan kami. "Ini malam paling penting dalam seminggu," kata Ayah.
"Ini tradisi keluarga," tambah Ibu. "Ini sesuatu yang akan selalu kalian ingat."
Benar, Bu. Ini akan selalu kuingat sebagai (sesuatu yang) benar-benar
menyakitkan dan memalukan.
Kau mungkin menduga bahwa pada Malam Berbagi Keluarga, setiap anggota keluarga
Kramer - kecuali untuk George, kucing kami - harus membagikan sesuatu dengan seluruh keluarga.
Hal ini tak begitu buruk bagi kakakku, Sara. Sara 14 tahun, dua tahun lebih tua
dariku - dan dia seorang pelukis jenius. Sungguh. Salah satu lukisannya telah dipilih untuk pameran di
museum seni pusat kota. Sara mungkin pergi ke sekolah tinggi khusus seni tahun depan.
Jadi Sara selalu membagikan beberapa sketsa yang dia kerjakan. Atau lukisan
baru. Dan Malam Berbagi Keluarga tidaklah begitu buruk bagi Jed juga. Adikku yang
sepuluh tahun itu benarbenar bodoh sekali. Dia tak peduli apa yang dia bagikan.
Di suatu malam Kamis, dia bersendawa sangat
keras dan menjelaskan bahwa ia berbagi makan malamnya.
Jed tertawa seperti orang gila.
Tapi Ibu dan Ayah tak menganggap hal itu lucu. Mereka memberi Jed kuliah keras
tentang melakukan Malam Berbagi Keluarga lebih serius.
Malam Kamis berikutnya, adikku yang menjengkelkan itu membagikan surat David
Miller, seorang anak di sekolahku, yang ditulisnya untukku. Surat yang sangat pribadi! Jed menemukan
surat itu di kamarku dan memutuskan untuk membagikannya dengan semua orang.
Bagus" Aku ingin mati. Aku sungguhan.
Jed benar-benar berpikir dia sangat lucu dan menggemaskan, dia bisa lolos dari
apa pun. Dia pikir dirinya
benar-benar istimewa. Kupikir itu karena dia satu-satunya si rambut merah dalam keluarga. Sara dan aku
sama-sama berambut hitam lurus, bermata hijau gelap, dan kulit yang sangat coklat. Dengan kulitnya
yang pucat, wajah berbintik-bintik, dan rambut merah keriting, Jed terlihat sepertinya dia datang
dari keluarga lain! Dan kadang-kadang Sara dan aku sama-sama berharap demikian.
Pokoknya, aku yang satu-satunya yang paling bermasalah di Malam Berbagi
Keluarga. Karena aku tak benar-benar berbakat semacam Sara. Dan aku tak benar-benar bodoh seperti Jed.
Jadi aku tak pernah benar-benar tahu apa yang harus dibagikan.
Maksudku, aku punya koleksi kerang, yang kusimpan di toples di meja riasku. Tapi
itu benar-benar agak membosankan untuk mengangkat kerang dan berbicara tentangnya. Dan kami belum
pernah ke laut selama hampir dua tahun. Jadi kerangku agak lama, dan semua orang sudah
melihatnya. Aku juga punya koleksi CD yang benar-benar bagus. Tapi tak ada seorang pun di
keluargaku (penggemar) Bob Marley dan musik reggae. Jika aku mulai berbagi musik dengan mereka, mereka
semua memegang telinganya dan mengeluh sampai aku mematikannya.
Jadi aku biasanya membuat semacam cerita - cerita petualangan tentang seorang
gadis yang bertahan dari berbagai bahaya. Atau dongeng liar tentang putri yang berubah jadi harimau.
Setelah cerita terakhirku, wajah Ayah tersenyum lebar. "Amy akan jadi penulis
terkenal," katanya. "Dia
begitu bagus mengarang cerita."
Ayah menatap ke sekeliling ruangan, masih tersenyum. "Kita punya keluarga yang
benar-benar berbakat!" serunya. Aku tahu ia hanya mengatakan itu untuk menjadi orangtua yang baik. Untuk
"mendukung"ku. Saralah
yang benar-benar berbakat dalam keluarga kami. Semua orang tahu itu.
Malam ini, Jed yang pertama berbagi. Ibu dan Ayah duduk di sofa ruang tamu. Ayah
telah mengambil tisu dan menyipitkan mata saat dia membersihkan kacamatanya. Ayah tak tahan akan
setitik debu kecil di kacamatanya. Ia membersihkannya sekitar dua puluh kali sehari.
Aku duduk di kursi cokelat besar di dinding. Sara duduk bersila di atas karpet
di samping kursiku. "Apa yang kau bagikan malam ini?" Tanya Ibu pada Jed. "Dan kuharap itu bukan
sendawa yang mengerikan lagi." "Itu sangat kotor!" erang Sara.
"Wajahmu yang kotor!" jawab Jed kembali. Dia menjulurkan lidahnya pada Sara.
"Jed, tolong - jangan ganggu kita malam ini ," gumam Ayah, memasang kembali
kacamatanya, menyesuaikannya di hidungnya. "Jangan menimbulkan masalah."
"Dia yang mulai," Jed berkeras, menunjuk Sara.
"Berbagi sesuatu sajalah," kataku pada Jed, mendesah.
"Aku akan berbagi bintik-bintikmu," kata Sara kepadanya. "Aku akan menariknya
satu per satu dan memberinya makan pada George."
Sara dan aku tertawa. George tak melirik. Dia meringkuk, tidur siang di atas
karpet di samping sofa. "Itu tak lucu, gadis-gadis," bentak Ibu. "Berhentilah bersikap buruk pada
saudaramu." "Ini harusnya jadi malam keluarga," ratap Ayah. "Mengapa kita tak bisa menjadi
keluarga?" "Kita keluarga!" Jed bersikeras.
Ayah mengerutkan kening dan menggeleng. Dia terlihat seperti burung hantu ketika
dia melakukan itu. "Jed, apa kau akan berbagi sesuatu?" tanyanya pelan.
Jed mengangguk. "Ya."
Dia berdiri di tengah ruangan dan memasukkan tangannya ke saku celana jeansnya.
Dia memakai jins baggy longgar kira-kira sepuluh ukuran terlalu besar. Celananya selalu terlihat
seakan-akan jatuh. Jed pikir itu keren. "Aku... Eh... Belajar bersiul melalui jari-jariku," katanya.
"Wow," gumam Sara sinis.
Jed mengabaikannya. Dia menarik tangannya dari sakunya. Lalu ia menempelkan dua
jari kecilnya ke sisi-sisi mulut - dan bersiul, melengking panjang.
Dia bersiul melalui jari-jarinya dua kali lagi. Lalu ia membungkuk dalam-dalam.
Seluruh keluarga mendadak bertepuk tangan meriah.
Jed, menyeringai, membungkuk rendah lagi.
"Benar-benar keluarga berbakat!" kata Ayah. Kali ini, ia memaksudkannya sebagai
lelucon. Jed turun ke lantai di samping George, membuat kucing malang itu terkejut
bangun. "Giliranmu berikutnya, Amy," kata Ibu, berpaling kepadaku. "Apa kau akan
memberitahu kami cerita lain?" "Cerita-ceritanya terlalu panjang!" keluh Jed.
George bangkit berdiri dengan goyah dan pindah beberapa kaki dari Jed. Menguap,
kucing itu menurunkan perutnya di sebelah kaki Ibu.
"Aku tak akan menceritakan kisah malam ini," aku mengumumkan. Aku mengambil
Dennis dari balik kursiku. Sara dan Jed keduanya mengerang.
"Hei - yang benar saja!" teriakku. Aku duduk kembali di tepi kursi, membetulkan
boneka di pangkuanku. "Kupikir aku akan berbicara kepada Dennis malam ini," kataku pada pada Ibu dan
Ayah. Wajah mereka sudah setengah tersenyum. Aku tak peduli. Aku sudah berlatih dengan
Dennis seminggu ini. Dan aku ingin mencoba pertunjukan komedi baruku dengannya.
"Amy itu ventriloquist yang buruk," sela Jed "Kalian bisa lihat bibirnya
bergerak." (ventriloquist: pembicara perut)
"Diamlah, Jed. Kupikir Dennis itu lucu," kata Sara. Dia berlari menuju sofa
sehingga dia bisa melihat lebih
baik. Aku seimbangkan Dennis di lutut kiriku dan membungkus jari-jariku di tali di
sekitar punggungnya yang menjalankan mulutnya. Dennis adalah boneka ventriloquist yang sangat tua. Cat di
wajahnya sudah pudar. Satu matanya hampir sepenuhnya putih. Sweater turtlenecknya robek dan
compang-camping. (turtleneck: baju yang bagian lehernya dibuat panjang agar
leher penggunanya hangat)
Tapi aku punya banyak kegembiraan dengannya. Ketika sepupu lamaku yang berumur
lima tahun datang berkunjung, aku ingin menghibur mereka dengan Dennis. Mereka menjerit dan
tertawa. Mereka pikir aku lucu. Kupikir aku sudah jauh lebih baik dengan Dennis. Meskipun Jed mengeluh.
Aku menarik napas dalam-dalam, melirik Ibu dan Ayah, dan mulai aktingku.
"Bagaimana kabarmu malam ini, Dennis?" tanyaku.
"Tak terlalu baik," aku membuat bonekaku bersuara melengking tinggi. Suara
Dennis. "Sungguh, Dennis" Apa yang salah?"
"Kupikir aku menangkap serangga (bug)."
"Maksudmu kau kena flu?" tanyaku padanya.
"Tidak. Rayap!"
Ibu dan Dad tertawa. Sara tersenyum. Jed mengerang keras.
Aku membalik ke Dennis. "Nah, apa kau akan pergi ke dokter?" tanyaku padanya.
"Tidak. Tukang kayu (carpenter)!"
Ibu dan Ayah tersenyum pada yang satu itu, tapi tak tertawa. Jed mengerang lagi.
Sara menempelkan jari-jarinya ke tenggorokan, pura-pura muntah.
"Tak ada yang suka bercanda, Dennis," kataku.
"Siapa yang bercanda?" Aku membuat Dennis menjawab.
"Ini bodoh," kudengar Jed bergumam kepada Sara.
Sara mengangguk setuju. "Ayo kita ganti topik, Dennis," kataku, menggeser boneka itu ke lututku yang
lain. "Apa kau punya
pacar?" Aku mencondongkan Dennis ke depan, berusaha membuatnya menganggukkan kepalanya
ya. Tapi kepalanya berguling tepat dari pundaknya.
Kepala kayu itu menghantam lantai dengan suara gedebuk dan melambung di atas
kepada George. Kucing itu melompat dan kabur.
Sara dan Jed roboh tertawa, saling tos satu sam lainnya.
Aku melompat berdiri dengan marah.
"Ayah!" jeritku. "Ayah janji akan membelikanku boneka baru!"
Jed bergegas ke karpet dan mengangkat kepala Dennis. Dia menarik tali, membuat
mulut boneka kayu itu bergerak. "Amy bau!Amy bau!"
Jed membuat boneka itu terus mengulang-ulang.
"Berikan padaku!" Aku meraih kepala itu dengan marah dari tangan Jed.
"Amy bau! Amy bau!" Jed melanjutkan nyanyiannya.
"Cukup!" Ibu berteriak, melompat dari sofa.
Jed mundur kembali ke dinding.
"Aku sudah memeriksa toko-toko untuk boneka baru," kata Ayah, sambil melepas
kacamatanya lagi dan memeriksanya lebih dekat. "Tapi semuanya begitu mahal."
"Nah, bagaimana aku akan pernah jadi lebih baik dalam hal ini?" tuntutku.
"Kepala Dennis jatuh setiap
kali aku menggunakannya!"
"Lakukan yang terbaik," kata Ibu.
Apa artinya" Aku selalu benci ketika ia mengatakan itu.
"Daripada Malam Berbagi Keluarga, kita harus menyebutnya Perkelahian Malam
Kamis," kata Sara. Jed mengangkat tinjunya. "Mau berkelahi?" tanyanya pada Sara.
"Sekarang giliranmu, Sara," jawab ibunya, menyipitkan matanya pada Jed. "Apa
yang kau bagikan malam ini?" "Aku punya lukisan baru," kata Sara. "Ini lukisan cat air."
"Dari apa?" Tanya Ayah, menempatkan kembali kacamatanya di wajahnya.
"Ingat kabin kita di Maine suatu musim panas yang lalu?" jawab Sara, sambil
mengibaskan rambut lurus hitamnya. "Yang menghadap ke tebing batu yang gelap itu" Aku menemukan sebuah
foto darinya, dan aku mencoba melukisnya."
Aku tiba-tiba merasa sangat marah dan kesal. Aku mengakuinya. Aku cemburu pada
Sara. Di sini dia, akan berbagi lukisan cat air lain yang indah. Dan di sini aku,
menggulingkan kepala boneka
kayu bodoh di pangkuanku.
Itu tak adil! "Kalian harus datang ke kamarku untuk melihatnya," kata Sara. "Ini masih basah."
Kami semua berdiri dan beramai-ramai ke kamar Sara.
Keluargaku tinggal di sebuah rumah panjang satu lantai bergaya peternakan.
Kamarku dan kamar Jed berada di ujung salah satu lorong. Ruang tamu, ruang makan, dan dapur berada di
tengah. Kamar Sara dan kamar orangtuaku di lorong lainnya, jauh di ujung lain rumah.
Aku memimpin jalan menuruni lorong. Di belakangku, Sara terus dan terus
(bercerita) tentang semua
masalahnya dengan lukisan dan bagaimana dia memecahkan masalah-masalah itu.
"Aku ingat kabin itu dengan baik," kata Ayah.
"Aku tak sabar untuk melihat lukisan itu," tambah Ibu.
Aku melangkah ke kamar Sara dan menyalakan lampu.
Lalu aku berpaling pada sandaran kayu di jendela yang menyangga lukisan itu -
dan menjerit ngeri. 2 Mulutku ternganga kaget. Aku menatap lukisan itu, tak mampu berbicara.


Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika Sara melihat hal itu, ia menjerit.
"Aku - aku tak percaya!" jeritnya. "Siapa yang melakukannya?"
Seseorang telah melukis wajah kuning hitam tersenyum di sudut lukisannya. Tepat
di tengah-tengah tebing batu hitam. Ibu dan Ayah melangkah ke sandaran kayu itu ekspresi wajah mereka gelisah.
Mereka mengamati wajah tersenyum itu, lalu berpaling pada Jed.
Jed mendadak tertawa. "Apa kalian suka itu?" tanyanya polos.
"Jed - bagaimana kau bisa!" Sara marah sekali. "Aku akan membunuhmu, aku benar-
benar akan membunuhmu!" "Lukisan itu terlalu gelap," jelas Jed sambil mengangkat bahu. "Aku ingin
mencerahkannya." "Tapi... Tapi... Tapi..." kakakku tergagap. Dia mengepalkan tangannya ke tinju,
mengguncangnya pada Jed, dan menjerit keras marah.
"Jed - apa yang kau lakukan di kamar Sara?" tuntut Ibu.
Sara tak suka siapa pun masuk ke kamarnya yang berharga tanpa undangan tertulis!
"Anak muda, kau tahu kau tak pernah diizinkan untuk menyentuh lukisan kakakmu,"
tegur Ayah. "Aku bisa melukis juga," sahut Jed. "Aku pelukis yang baik."
"Kalau begitu buat lukisanmu sendiri!" bentak Sara. "Jangan menyelinap di sini
dan mengacaukan pekerjaanku!" "Aku tak menyelinap," Jed bersikeras. Dia mencemooh Sara. "Aku hanya berusaha
membantu." "Kau tak membantu!" jerit Sara, dengan marah mengibaskan rambut hitamnya ke atas
bahunya. "Kau menghancurkan lukisanku!"
"Lukisanmu bau!" balas Jed kembali.
"Cukup!" teriak Ibu. Dia meraih kedua bahu Jed. "Jed - lihat aku. Kau tampaknya
tak melihat seberapa serius masalah ini! Ini hal terburuk yang pernah kau lakukan!"
Senyum Jed akhirnya memudar.
Aku melirik lagi di wajah tersenyum jelek yang dia tuangkan ke lukisan cat air
Sara. Sejak dia bayi dalam
keluarga ini, Jed pikir dia bisa lolos dengan apa pun.
Tapi aku tahu bahwa kali ini dia sudah terlalu jauh.
Bagaimanapun juga, Sara adalah bintang keluarga. Dialah yang berbakat. Orang
dengan lukisan yang tergantung di museum. Mengacaukan lukisan berharga Sara itu kelewat batas
membuat Jed dalam kesulitan besar. Sara begitu membela lukisan-lukisannya. Beberapa kali, aku bahkan hampir
berpikir melukis sesuatu yang lucu di salah satu darinya. Tapi tentu saja aku hanya memikirkannya. Aku
tak akan pernah melakukan sesuatu yang mengerikan itu.
"Kau tak seharusnya cemburu pada pekerjaan saudaramu," kata Ayah pada Jed. "Kita
semua berbakat di keluarga ini." "Oh, tentu," gumam Jed. Dia memiliki kebiasaan aneh. Setiap kali dia dalam
kesulitan, ia tak mengatakan
dia menyesal. Sebaliknya, ia akan benar-benar marah.
"Apa bakat Anda, Yah?" tuntut Jed, mencibir.
Rahang Ayah menegang. Dia menyipitkan mata pada Jed. "Kita tak membicarakanku,"
katanya dengan suara rendah. "Tapi aku akan memberitahumu. Bakatku adalah masakan Cinaku. Kau
lihat, di sini ada semua jenis bakat, Jed."
Ayah menganggap dirinya Master of Wok. Seminggu sekali atau dua kali, ia
memotong satu ton sayuran
menjadi potongan-potongan kecil dan menggorengnya dalam wajan listrik Ibu yang
dia dapatkan untuk Natal. (Master Wok: restoran yang menyiapkan masakan-masakan cina berkualitas)
Kami berpura-pura itu rasanya enak.
Tak ada gunanya menyakiti perasaan Ayah.
"Apa Jed akan dihukum atau tidak?" tuntut Sara dengan suara melengking.
Dia telah membuka kotak cat airnya dan menggulirkan kuas di warna hitam. Lalu ia
mulai melukis di atas wajah tersenyum itu dengan coretan-coretan marah yang cepat.
"Ya, Jed akan dihukum," jawab ibu, memelototi Jed. Jed menunduk ke lantai.
"Pertama dia akan minta
maaf pada Sara." Kami semua menunggu. Jed butuh beberapa saat. Tapi ia akhirnya berhasil bergumam, "Maaf, Sara."
Dia mulai meninggalkan ruangan, tapi Ibu meraih bahunya lagi dan menariknya
kembali. "Tak secepat
itu, Jed," katanya. "Hukumanmu adalah kau tak bisa pergi ke bioskop dengan Josh
dan Matt pada hari Sabtu. Dan.... Tak ada video game selama seminggu."
"Ibu -yang benar saja!" rengek Jed.
"Apa yang kau lakukan benar-benar buruk," kata Ibu tegas. "Mungkin hukuman ini
akan membuatmu menyadari betapa mengerikan itu."
"Tapi aku harus pergi ke bioskop!" protes Jed.
"Kau tak bisa," jawab ibunya pelan. "Dan tak ada perdebatan, atau aku akan
menambahkan hukumanmu. Sekarang pergi ke kamarmu."
"Aku tak berpikir itu hukuman yang cukup," kata Sara, sibuk mengoles-oles
lukisannya. "Terima itu, Sara," bentak Ibu.
"Ya. Terima itu." Gumam Jed. Ia mengentakkan kaki keluar dari kamar dan menuruni
lorong yang panjang ke kamarnya. Ayah mendesah. Dia menyapu tangannya k belakang kepalanya yang botak. "Malam
Berbagi Keluarga selesai," katanya sedih.
*** Aku tinggal di kamar Sara dan melihatnya memperbaiki lukisannya untuk sementara
waktu. Dia terus bercas cis cus dan menggelengkan kepala.
"Aku harus membuat batu-batu itu jauh lebih gelap, atau lukisan itu tak akan
menutupi wajah tersenyum bodoh itu," jelasnya sedih. "Tapi kalau aku membuat batu-batu lebih
gelap, aku harus mengubah langitnya. Semua keseimbangannya hancur."
"Kupikir itu terlihat cukup baik," kataku, berusaha menghiburnya.
"Bagaimana mungkin Jed melakukan itu?" tuntut Sara, mencelupkan kuasnya dalam
wadah air. "Bagaimana ia bisa menyelinap di sini dan benar-benar menghancurkan suatu karya
seni?" Aku merasa menyesal untuk Sara. Tapi ucapan itu membuatku kehilangan seluruh
simpati. Maksudku, mengapa dia tak bisa hanya menyebutnya lukisan cat air" Mengapa dia harus
menyebutnya "karya seni?" Kadang-kadang dia begitu sombong dan begitu mencintai dirinya sendiri, itu
membuatku sakit. Aku berbalik dan meninggalkan kamar. Dia bahkan tak menyadarinya.
Aku pergi ke lorong ke kamarku dan menelepon temanku Margo. Kami berbicara
sebentar tentang beberapa hal. Dan kami membuat rencana untuk bersama-sama di hari berikutnya.
Ketika aku berbicara di telepon, aku bisa mendengar Jed di kamarnya sebelah. Dia
mondar-mandir, melemparkan sesuatu di sekelilingnya, membuat banyak keributan.
Kadang-kadang aku mengeja kata "Jed" B-R-A-T.
(Brat: Anak bandel, nakal)
Ayah Margo membuatnya menutup telepon. Dia benar-benar ketat. Dia tak pernah
membiarkan kami bicara selama lebih dari sepuluh atau lima belas menit.
Aku berjalan ke dapur dan membuat semangkuk Frosted Flakes. Makanan kecil
favoritku akhir-akhir ini.
Saat aku masih kecil, aku dulu biasanya punya semangkuk sereal setiap malam
sebelum tidur. Dan aku tak pernah lepas dari kebiasaan itu.
Aku mencuci mangkuk itu. Lalu aku mengucapkan selamat malam pada Ibu dan Ayah
dan pergi tidur. Malam itu musim semi yang hangat. Angin lembut mengibarkan tirai di atas
jendela. Cahaya pucat dari
bulan besar setengah memenuhi jendela dan tertuang ke lantai.
Aku tidur sangat nyenyak begitu kepalaku menyentuh bantal.
Beberapa saat kemudian, sesuatu membangunkanku. Aku tak yakin apa itu.
Masih setengah tertidur, aku mengedipkan mataku terbuka dan mengangkat diriku di
bantal. Aku berusaha melihat dengan jelas.
Tirai-tirai berkibar di atas jendela.
Aku merasa seolah-olah aku masih tidur, bermimpi.
Tapi apa yang kulihat di jendela menyentakkanku terjaga.
Tirai-tirai itu mengembang, lalu terangkat.
Dan dalam cahaya keperakan, aku melihat suatu wajah.
Suatu wajah jelek menyeringai di jendela kamarku. Menatap melalui kegelapan
padaku. 3 Tirai-tirai berkibar lagi.
Wajah itu tak bergerak. "Siapa itu -?" Aku tercekat, meremas seprai sampai ke daguku.
Mata itu menatap ke arahku. Dingin, mata tak berkedip.
Mata boneka kayu. Dennis. Dennis menatap kosong ke arahku, mata putihnya menangkap cahaya dari sinar
bulan. Aku mengeluarkan raungan marah, melemparkan seprai, dan berlari keluar dari
tempat tidur. Ke jendela. Aku menyingkirkan tirai mengembang itu dan menyambar kepala Dennis dari birai
jendela. "Siapa yang meletakkanmu di sana?" tuntutku, memegang kepalanya di antara
tanganku. "Siapa yang
melakukannya, Dennis?"
Aku mendengar suara tawa pelan di belakangku. Dari lorong.
Aku terbang melintasi ruangan, kepala itu masih di tanganku. Aku membuka pintu
kamarku. Jed menahan tangannya ke mulutnya, meredam tawa.
"Kena kau!" bisiknya gembira.
"Jed - kau makhluk mengerikan!" teriakku. Aku menjatuhkan kepala boneka kayu itu
di lantai. Lalu aku meraih celana piyama Jed dengan kedua tangan dan merengutnya setinggi aku bisa -
hampir ke dagunya! Dia terkesiap kesakitan dan terhuyung-huyung ke dinding.
"Mengapa kau melakukan itu?" tuntutku dengan bisikan marah. "Mengapa kau menaruh
kepala boneka kayu pada birai jendelaku?"
Jed menarik celana piyamanya kembali ke tempatnya. "Untuk membalasmu kembali,"
gumamnya. "Hah" Aku?" jeritku. "Aku tak melakukan apa-apa padamu. Apa yang kulakukan?"
"Kau tak membelaku," gerutunya, menggaruk rambut merah keritingnya. Matanya
menyipit padaku. "Kau tak mengatakan apa-apa untuk membantuku. Kau tahu. Tentang lukisan Sara."
"Maaf?" teriakku. "Bagaimana aku bisa membantumu" Apa yang bisa kukatakan?"
"Kau bisa mengatakan hal itu bukan masalah besar," sahut Jed.
"Tapi itu masalah besar!" kataku padanya. "Kau tahu betapa serius Sara menjaga
lukisannya." Aku menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Jed. Tapi kau pantas dihukum. Kau benar-
benar pantas." Dia menatapku di lorong remang-remang, berpikir tentang apa yang kukatakan. Lalu
senyum jahat perlahan menyebar di wajah berbintik-bintiknya.
"Kuharap aku tak membuatmu terlalu takut, Amy." cibirnya. Lalu ia mengangkat
kepala Dennis dari karpet dan melemparkannya padaku.
Aku menangkapnya dengan satu tangan.
"Pergilah tidur, Jed," kataku. "Dan jangan main-main dengan Dennis lagi!"
Aku melangkah kembali ke kamarku dan menutup pintu. Aku melemparkan kepala
Dennis ke tumpukan pakaian di kursi mejaku. Lalu aku dengan letih naik kembali ke tempat tidur.
Begitu banyak masalah di sini malam ini, pikirku, menutup mata, mencoba untuk
bersantai. Begitu banyak masalah. . .
*** Dua hari kemudian, Ayah membawa pulang hadiah untukku.
Sebuah boneka ventriloquist baru.
Saat itulah masalah sebenarnya dimulai.
4 Margo datang di sore berikutnya. Margo benar-benar kecil, seperti orang mini.
Dia punya wajah kecil, dan sangat cantik, dengan mata biru cerah, dan roman yang halus.
Rambutnya yang pirang sangat terang dan sangat halus. Dia membiarkannya tumbuh
tahun ini. Hampir sampai ke sekitar pinggang kecil kecilnya.
Dia hampir satu kaki lebih pendek dariku, meskipun kami berdua jadi dua belas
tahun di bulan Februari. Dia sangat cerdas dan sangat populer. Tapi anak-anak lelaki suka mengolok-olok
suara berbisiknya yang lembut. Hari ini ia mengenakan tank top biru terang diselipkan ke dalam celana tenis
pendek putih. "Aku membeli koleksi baru Beatles," katanya padaku saat dia melangkah ke dalam
rumah. Dia mengangkat satu kotak CD.
Margo suka The Beatles. Dia tak mendengarkan suatu grup baru apa pun. Di
kamarnya, dia punya satu rak penuh CD dan kaset Beatles. Dan dia punya poster-poster Beatles di dinding
kamarnya. Kami pergi ke kamarku dan menyalakan CD. Margo duduk di tempat tidur. Aku
tergeletak di atas karpet
di depannya. "Ayahku hampir tak membiarkanku datang," kata Margo padaku, mendorong rambutnya
yang panjang ke belakang bahunya. "Dia pikir dia mungkin memerlukanku untuk bekerja di
restoran." Ayah Margo memiliki restoran di pusat kota besar yang disebut Rumah Pesta. Ini
tak benar-benar restoran. Ini adalah rumah besar tua yang dipenuhi dengan kamar-kamar besar di
mana orang bisa mengadakan pesta. Banyak anak-anak berpesta ulang tahun di sana. Dan ada juga bar mitzvah,


Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

konfirmasi dan resepsi pernikahan di sana. Kadang-kadang ada enam pesta terjadi sekaligus!
(Bar Mivtazh: satu upacara Yahudi yang dirayakan bila seorang anak laki-laki
mencapai kematangan dan dia akan jadi anggota masyarakat Yahudi, konfirmasi:
perayaan untuk mengakui anggota muda Yahudi yang menyelesaikan studi agama Yahudi.)
Salah satu lagu Beatles berakhir. Lagu berikutnya, "Love Me Do," dimulai.
"Aku suka lagu ini!" seru Margo. Dia bernyanyi bersama dengan lagu itu untuk
sementara waktu. Aku mencoba bernyanyi dengannya, tapi aku benar-benar buta nada. Sebagaimana ayahku
katakan, aku tak bisa membawakan lagu dalam gerobak.
"Yah, aku senang kau tak harus bekerja hari ini," kataku pada Margo.
"Aku juga," desah Margo. "Ayah selalu memberiku pekerjaan yang terburuk. Kau
tahu. Membersihkan meja. Atau membereskan piring. Atau membungkus kantong sampah. Iih."
Dia mulai bernyanyi lagi - dan lalu berhenti. Dia duduk di atas tempat tidur.
"Amy, aku hampir lupa. Ayah
mungkin punya pekerjaan untukmu."
"Maaf?" jawabku. "Membungkus kantong sampah" Aku tak berpikir begitu, Margo."
"Tidak. Tidak. Dengar," pinta Margo bersemangat dalam suaranya yang seperti
tikus. "Ini pekerjaan yang
baik. Ayah punya banyak pesta ulang tahun yang akan datang. Untuk anak-anak
kecil yang mungil. Kau tahu. Umur dua tahun. Mungkin tiga atau empat tahun. Dan dia pikir kau dapat
menghibur mereka." "Hah?" Aku menatap temanku. Aku masih tak mengerti. "Maksudmu, menyanyi atau
sesuatu?" "Tidak. Dengan Dennis," jelas Margo. Dia memutar-mutar seikat rambut dengan
jari-jarinya dan mengangguk-anggukkan kepalanya pada waktunya untuk musik saat ia berbicara.
"Ayah melihatmu dengan Dennis di malam bakat kelas enam. Dia benar-benar terkesan."
"Dia terkesan" Aku mengerikan malam itu!" jawabku.
"Yah, Ayah tak berpikir begitu. Dia tanya apa kau ingin datang ke pesta ulang
tahun dan mengadakan pertunjukan dengan Dennis. Anak-anak kecil akan menyukainya. Ayah bilang dia
bahkan akan membayarmu." "Wah! Itu keren!" jawabku. Benar-benar ide yang menarik.
Lalu aku teringat sesuatu.
Aku melompat berdiri, menyeberangi ruangan ke kursi, dan mengangkat kepala
Dennis. "Satu masalah kecil," erangku.
Margo melepaskan rambutnya dan membuat wajah sakit. "Kepalanya" Mengapa kau
mencopot kepalanya?" "Aku tak mencopotnya," jawabku. "Ini terjatuh dari setiap kali aku menggunakan
Dennis. Kepalanya jatuh." "Oh." desah Margo kecewa. "Kepala itu terlihat aneh dengan sendirinya. Aku tak
berpikir anak-anak kecil akan suka jika terjatuh."
"Aku pun tak berpikir begitu," aku setuju.
"Ini mungkin membuat takut mereka atau sesuatu," kata Margo. "Kau tahu. Berikan
mimpi buruk. Membuat mereka berpikir kepala mereka sendiri akan jatuh."
"Dennis benar-benar hancur. Ayah menjanjikan boneka baru. Tapi dia belum mampu
menemukan satu." "Sayang sekali," jawab Margo. "Kau akan bersenang-senang tampil untuk anak-
anak." Kami mendengarkan musik Beatles lagi. Lalu Margo harus pulang.
Beberapa menit setelah dia pergi, aku mendengar pintu depan dibanting.
"Hei, Amy Amy - kau pulang?" Aku mendengar panggilan Ayah dari ruang tamu.
"Aku datang!" kataku. Aku berjalan ke bagian depan rumah. Ayah berdiri di
jalanan masuk, sebuah kotak
kardus panjang di bawah lengannya, wajahnya senyum.
Dia menyerahkan kardus kepadanya.
"Selamat tidak ulang tahun!" serunya.
"Ayah! Apa itu -?" teriakku. Aku merobek kotak kardus itu. "Ya!"
Sebuah boneka baru! Aku mengangkatnya dengan hati-hati keluar dari kotak kardus.
Boneka kayu itu berambut cokelat bergelombang dicat di atas kepala kayunya. Aku
mengamati wajahnya. Ini agak aneh. Agak hebat. Matanya biru cerah - tak luntur seperti
Dennis. Bibirnya dicat merah terang, melengkung menjadi senyum menakutkan. Bibir bawahnya sumbing di
satu sisi sehingga tak cukup cocok dengan bibir yang lain.
Saat aku menariknya dari kotak kardus, boneka kayu itu tampak menatap ke mataku.
Mata berbinar. Seringainya jadi melebar.
Aku tiba-tiba merasa kedinginan. Mengapa boneka kayu ini tampaknya
menertawakanku" Aku bertanya-tanya. Aku mengangkatnya, memeriksa dengan hati-hati. Dia mengenakan jas abu-abu
berkancing ganda atas kerah kemeja putih. Kerah itu tertempel lehernya. Dia tak berbaju. Sebaliknya,
dada kayunya telah dicat putih. Sepatu kulit hitam yang menempel pada ujung kaki kurusnya yang menggantung.
"Ayah - dia hebat!" seruku.
"Aku menemukannya di pegadaian," kata Ayah, mengangkat tangan boneka kayu itu
dan berpura-pura berjabat tangan dengannya. "Bagaimana kabarmu, Slappy."
"Slappy" Apa itu namanya?"
"Itulah yang dikatakan laki-laki di toko itu," jawab Ayah. Dia mengangkat lengan
Slappy, memeriksa setelan jasnya. "Aku tak tahu mengapa dia menjual Slappy begitu murah. Dia
hampir memberikan boneka kayu itu!" Aku membalik boneka kayu dan mencari tali di punggungnya yang membuat mulutnya
membuka dan menutup. "Dia sangat bagus, Ayah," kataku. Aku mencium pipi ayahku. "Terima kasih."
"Apa kau benar-benar menyukainya?" tanya Ayah.
Slappy menyeringai ke arahku. Mata birunya menatap ke arahku. Dia tampaknya juga
menunggu jawaban. "Ya. Dia mengagumkan!" Kataku. "Aku suka matanya yang serius. Tampak begitu
nyata." "Mata yang bergerak," kata Ayah. "Matanya tak dicat seperti pada Dennis. Tak
berkedip,. Tapi bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain."
Aku mengulurkan tanganku di dalam punggung boneka itu.
"Bagaimana membuat matanya bergerak?" tanyaku.
"Pria itu menunjukkan padaku," kata Ayah. "Ini tak sulit. Pertama kau raih tali
yang bekerja di mulut."
"Aku mengerti," kataku.
"Lalu kau gerakkan tanganmu ke dalam kepala boneka kayu itu. Ada sebuah tuas
kecil di atas sana. Apa kau merasakannya" Dorong ke atasnya. Matanya akan bergerak ke arah kau
mendorong." "Oke. Aku akan mencoba," kataku.
Perlahan-lahan aku gerakkan tanganku di dalam punggung boneka kayu itu. Melalui
leher. Dan ke kepalanya. Aku berhenti dan berteriak kaget saat tanganku membentur sesuatu yang lembut.
Sesuatu yang lembut dan hangat.
Otaknya! 5 "Ohhh." aku mengeluarkan erangan sakit dan menyentakkan tanganku keluar secepat
yang aku bisa. Aku masih bisa merasakan bubur hangat lembut di jariku.
"Amy - apa yang salah?" teriak Ayah.
"O - otaknya -!" Aku tercekat, merasakan perutku bergolak.
"Hah" Apa yang kau bicarakan?" Ayah meraih boneka itu dari tanganku. Ia
membaliknya dan meraih ke
punggungnya. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan dan mengawasi Ayah mencapai ke kepala.
Matanya membelalak kaget. Ia berusaha dengan sesuatu. Lalu menarik tangannya keluar.
"Iih!" erangku. "Apa itu?"
Ayah menatap benda seperti bubur lembek hijau, ungu dan coklat di tangannya.
"Sepertinya orang yang
meninggalkan sandwich di sana!" serunya.
Wajah ayah mengernyit jijik. "Ini berjamur dan busuk. Pasti di sana selama
berbulan-bulan!." "Iih!" ulangku, memegang hidungku. "Ini benar-benar bau! Kenapa seseorang
meninggalkan sandwich di kepala boneka kayu itu?"
"Mana aku tahu," jawab Ayah sambil menggelengkan kepalanya. "Dan itu
kelihatannya seperti ada lubang cacing di dalamnya!"
"Iiiiiiihh!" teriak kami berdua bersama-sama.
Ayah menyerahkan Slappy kembali padaku. Lalu ia bergegas ke dapur untuk
menyingkirkan sandwich busuk berjamur itu. Aku mendengarnya menjalankan pembuangan sampah. Lalu aku mendengar air mengalir
saat dia mencuci tangannya. Beberapa detik kemudian, Ayah kembali ke ruang tamu,
mengeringkan tangannya dengan lap piring. "Mungkin sebaiknya kita memeriksa Slappy lebih dekat," usulnya. "Kita tak ingin
kejutan lagi - bukan!"
Aku membawa Slappy ke dapur, dan kami membaringkannya di atas meja. Ayah
memeriksa sepatu boneka kayu itu dengan hati-hati. Sepatu itu melekat pada kaki dan tak lepas.
Aku meletakkan jariku di dagu boneka kayu itu dan menggerakkan mulutnya naik dan
turun. Lalu aku memeriksa tangan kayunya.
Aku membuka kancing jas kemeja abu-abu dan mempelajari cat pakaian boneka kayu
itu. Sebagian kecil cat putih telah pecah dan retak. Tapi itu baik-baik saja.
"Semuanya tampak baik-baik saja, Ayah," aku melaporkan.
Dia mengangguk. Lalu dia mencium jari-jarinya. Kukira dia tak membasuh semua bau
dari sandwich busuk itu. "Sebaiknya kita semprot bagian dalam kepalanya dengan obat pembasmi hama atau
parfum atau sesuatu," kata Ayah.
Lalu, saat aku mengancingkan jaket, sesuatu tertangkap mataku.
Sesuatu yang kuning. Secarik kertas menyembul dari saku jaket.
Ini mungkin tanda terima penjualan, pikirku.
Tapi ketika aku mengeluarkan kertas kotak kuning kecil itu, aku menemukan
tulisan aneh di atasnya. Kata-kata aneh dalam bahasa yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku memicingkan mata tajam di kertas itu dan perlahan-lahan membaca kata-kata
itu dengan suara keras: "Karru Marri odonna Loma molonu karrano."
Aku ingin tahu apa artinya" Pikirku.
Lalu aku melirik ke wajah Slappy.
Dan melihat bibir merahnya berkedut.
Dan melihat satu mata perlahan-lahan tertutup berkedip.
6 "A-a-ayah!" Aku tergagap. "Dia - bergerak!"
"Hah?" Ayah sudah kembali ke wastafel untuk mencuci tangan untuk ketiga kalinya.
"Apa yang salah dengan boneka kayu itu?"
"Dia bergerak!" teriakku. "Dia berkedip padaku!"
Ayah datang ke meja, mengelap tangannya. "Sudah kubilang, Amy - dia tak bisa
berkedip. Mata hanya bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain."
"Tidak!" Aku bersikeras. "Dia mengedipkan mata. Bibirnya berkedut. Dan ia
mengedipkan mata." Ayah mengerutkan kening dan mengangkat kepala boneka kayu itu dengan kedua
tangan. Dia mengangkatnya untuk memeriksanya. "Yah... Mungkin kelopak matanya longgar."
Katanya. "Aku akan lihat apa aku bisa mengencangkannya. Mungkin jika aku mengambil obeng aku bisa
-." Ayah tak menyelesaikan kalimatnya.
Karena boneka kayu itu mengayunkan tangan kayunya ke atas dan memukul sebelah
kepala Ayah. "Aduh!" teriak Ayah, menjatuhkan boneka kayu itu kembali ke meja. Ayah meraih
pipinya. "Hei hentikan, Amy. Itu menyakitkan!"
"Aku?" jeritku. "Aku tak melakukannya!"
Ayah menatapku, menggosok pipinya. Pipinya berubah jadi merah terang.
"Boneka itu yang melakukannya!" Aku bersikeras. "Aku tak menyentuhnya, Ayah.Aku
tak menggerakkan tangannya!" "Tak lucu," gumam Ayah. "Kau tahu aku hampir tak suka lelucon."
Aku membuka mulut untuk menjawab, tapi tak ada kata yang keluar. Kuputuskan
lebih baik aku diam saja. Tentu saja Ayah tak akan percaya bahwa boneka kayu itu telah menamparnya.
Aku sendiri tak percaya. Ayah pasti menarik terlalu keras ketika ia memeriksa kepalanya. Ayah membuat
tangan itu tersentak tanpa sadar. Begitulah caraku menjelaskan pada diriku sendiri.
Penjelasan apa lagi yang bisa"
*** Aku minta maaf kepada Ayah. Lalu kami mencuci muka Slappy dengan spons basah.
Kami membersrihkannya dan menyemprot obat pembasmi hama dalam kepalanya.
Dia mulai terlihat cukup bagus.
Aku mengucapkan terima kasih Ayah lagi dan bergegas ke kamarku. Aku mengatur
Slappy di atas kursi di samping Dennis. Lalu aku menelepon Margo.
"Aku punya boneka baru," kataku penuh semangat. "Aku bisa tampil untuk pesta
ulang tahun anakanak. Di Rumah Pesta."
"Itu bagus, Amy!" seru Margo. "Sekarang yang kau butuhkan adalah akting."
Dia benar. Aku butuh lelucon. Lelucon yang banyak. Jika aku akan melakukan dengan Slappy di
depan puluhan anak-anak, aku butuh akting komedi yang lama.
***

Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku bergegas ke perpustakaan. Aku mengambil
setiap buku lelucon dapat kutemukan. Aku membawanya pulang dan mempelajarinya. Aku menuliskan semua
lelucon yang kupikir bisa kugunakan dengan Slappy.
Setelah makan malam, aku seharusnya mengerjakan PR. Sebaliknya, aku berlatih
dengan Slappy. Aku duduk di depan cermin dan melihat diriku dengannya.
Aku berusaha keras untuk berbicara dengan jelas, tetapi tak menggerakkan
bibirku. Dan aku berusaha
keras untuk menggerakkan mulut Slappy sehingga ia benar-benar tampak seolah-olah
sedang berbicara. Membuat mulutnya dan matanya bergerak pada saat yang sama cukup sulit. Tapi
setelah beberapa saat, jadi lebih mudah. Aku mencoba beberapa lelucon mengetuk-mengetuk dengan Slappy. Kupikir anak-anak
kecil mungkin menyukainya. "Tok tok," aku membuat Slappy berkata.
"Siapa di sana?" tanyaku, menatap matanya seolah aku benar-benar berbicara
dengannya. "Jane," kata Slappy.
"Jane siapa?" "Jane jer pakaian. Kau bau!"
Aku terus menerus melatih setiap lelucon, mengamati diriku sendiri di cermin.
Aku ingin jadi seorang pembicara perut benar-benar bagus. Aku ingin menjadi bagus. Aku ingin jadi bagus
dengan Slappy seperti Sara adalah dengan leluconnya.
Aku melatih beberapa lelucon mengetuk-ngetuk lagi dan beberapa lelucon tentang
hewan. Lelucon yang kupikir anak-anak kecil akan menganggapnya lucu.
Aku akan mencobanya pada Malam Berbagi Keluarga, aku memutuskan. Ini akan
membuat Ayah senang melihat seberapa keras aku bekerja dengan Slappy. Setidaknya aku tahu kepala
Slappy tak akan jatuh. Aku melirik di seberang ruangan pada Dennis. Dia terlihat begitu sedih dan
murung, rebah di kursi, kepalanya miring ke samping hampir di pundaknya.
Lalu aku menyandarkan Slappy dan berbalik kembali ke cermin.
"Tok tok." "Siapa di sana?"
"Wayne." "Wayne siapa?" "Wayne wayne, pergilah! Datanglah lagi di hari yang lain!"
*** Pada Kamis malam, aku benar-benar ingin menyelesaikan makan malam sehingga Malam
Berbagi bisa dimulai. Aku tak sabar untuk menunjukkan keluargaku akting baruku sdengan
Slappy. Kami makan malam dengan spaghetti. Aku suka spaghetti, tetapi Jed selalu
merusaknya. Dia sangat kotor. Dia duduk di seberang meja dariku, dan dia terus membuka mulut
lebar-lebar, sambil menunjukkan padaku mulut yang penuh dengan kunyahan spaghetti.
Lalu ia tertawa karena ia suara tajamnya sendiri. Dan saus spaghetti akan
mengalir turun ke bawah dagunya. Pada waktu makan malam selesai, seluruh wajah Jed terolesi saus spaghetti dan
seluruh taplak meja di piringnya. Tak seorang pun memperhatikan. Ibu dan Ayah terlalu sibuk mendengarkan Sara
membual tentang nilainilainya. Untuk perubahan.
Rapor akan diserahkan besok. Sara yakin ia dapat nilai A semua.
Aku yakin, juga. Tentu aku tak mendapat nilai A semua!
Aku akan beruntung mendapat nilai C di matematika. Aku benar-benar kacau di dua
tes terakhir. Dan aku mungkin juga tak akan melakukan dengan sangat baik dalam ilmu pengetahuan.
Proyek balon cuacaku berantakan, jadi aku belum menyerahkannya.
Aku menghabiskan spaghetti-ku dan menyeka sisa-sisa saus di atas piringku dengan
segumpal roti. Ketika aku mendongak, Jed menempelkan dua batang wortel di hidungnya. "Amy,
lihat ini. Aku beruang laut!" teriaknya, nyengir. Dia mengeluarkan suara Urk urks dan bertepuk tangan
bersama-sama seperti beruang laut. "Jed - hentikan itu!" teriak Ibu tajam. Dia membuat wajah jijik. "Keluarkan itu
dari hidungmu." "Buatlah dia memakannya, Bu!" teriakku.
Jed menjulurkan lidahnya padaku. Itu adalah jeruk dari saus spaghetti.
"Lihatlah dirimu. Kau berantakan!" teriak Ibu pada Jed. "Pergi bersihkan dirimu.
Sekarang! Cepat! Cuci semua saus itu dari wajahmu."
Jed mengerang. Tapi ia bangkit berdiri dan menuju ke kamar mandi.
"Apa dia makan apa pun" Ataukah ia hanya menggosokkannya ke seluruh dirinya?"
tanya Ayah, memutar matanya. Ada saus di dagu Ayah juga, tapi aku tak mengatakan apa-apa.
"Kalian menyelaku," kata Sara tak sabar. "Aku sedang bercerita pada kalian
tentang Kontes Seni Negara.
Ingat" Aku mengirimkan lukisan bungaku untuk itu?"
"Oh, ya," jawab ibu. "Pernahkah kau mendengar dari hakim?"
Aku tak mendengarkan menjawab Sara. Pikiranku mengembara. Aku mulai berpikir
lagi tentang betapa buruknya raporku. Aku harus memaksakan diriku untuk berhenti memikirkannya.
"Eh... Aku akan membereskan piring," aku mengumumkan.
Aku mulai berdiri. Tapi aku berhenti dengan teriakan kaget ketika aku melihat sesosok pendek
bergerak pelan ke ruang tamu. Sebuah boneka! Bonekaku. Dia bergerak pelan menyeberangi ruangan!
7 Aku menjerit lagi. Aku menunjuk ke ruang tamu dengan jari gemetar.
"I-ibu Ayah!" Aku tergagap.
Sara masih berbicara tentang kompetisi seni. Tapi dia berbalik untuk melihat apa
yang membuat semua orang melongo. Kepala boneka kayu muncul dari balik kursi.
"Ini Dennis!" teriakku.
Aku mendengar suara tawa teredam. Tawa teredam Jed.
Boneka kayu itu menjulurkan kedua tangannya ke atas dan menarik kepalanya
sendiri. Dan kepala Jed muncul melalui leher hijau itu. Saus spaghetti masih teroles di pipinya. Dia
tertawa keras. Semua orang mulai tertawa juga. Semua orang kecuali aku.
Jed benar-benar membuatku takut.
Dia telah menarik leher sweternya naik di atas kepalanya. Lalu dia menyelipkan
kepala kayu Dennis dalam kerah leher yang tinggi.
Jed begitu pendek dan kurus. Itu benar-benar tampak seperti Dennis yang bergerak
pelan ke dalam ruangan. "Hentikan ketawa!" Aku berteriak pada keluargaku. "Itu tak lucu!"
"Kupikir itu sangat lucu!" teriak Ibu. "Pikiran yang benar-benar gila!"
"Sangat pintar," tambah Ayah.
"Ini tidak pintar," aku bersikeras. Aku melotot marah pada adikku.
"Aku selalu tahu kau itu bodoh!" teriakku padanya.
"Amy, kau benar-benar ketakutan," tuduh Sara. "Kau benar-benar terkejut!"
"Tak benar!" Aku tergagap. "Aku tahu itu Dennis - maksudku - Jed!"
Sekarang semua orang mulai tertawa pada kami! Aku bisa merasakan wajahku semakin
panas, dan aku tahu wajahku memerah. Yang membuat mereka semua tertawa bahkan lebih keras.
Keluarga yang bagus, ya"
Aku berdiri, berjalan mengitari meja, dan mengambil kepala Dennis menjauh dari
Jed. "Jangan pergi di kamarku," kataku dengan gigi terkatup. "Dan jangan main-main
dengan barangbarangku."
Aku mengentakkan kaki pergi untuk meletakkan kepala boneka itu kembali di
kamarku. "Itu cuma lelucon, Amy," aku mendengar Sara memanggilku.
"Ya. Itu cuma lelucon," ulang Jed kejam.
"Ha-ha!" teriakku kembali pada mereka. "Lucu sekali!"
*** Kemarahanku telah memudar pada saat kami mulai Malam Berbagi Keluarga. Kami
duduk di ruang tamu, mengambil tempat-tempat biasa kami.
Ibu mengajukan diri untuk yang pertama. Dia menceritakan sebuah kisah lucu
tentang sesuatu yang telah terjadi di tempat kerja.
Ibu bekerja di toko pakaian wanita mewah di tengah kota. Dia bercerita tentang
seorang wanita yang sangat besar yang datang ke toko dan bersikeras mencoba cuma (pakaian yang)
berukuran kecil. Wanita itu merobek setiap potong pakaian ia coba - dan lalu membeli mereka
semua! "Pakaian itu bukan untukku," wanita itu menjelaskan. "Pakaian itu untuk adikku!"
Kami semua tertawa. Tapi aku terkejut Ibu menceritakan kisah itu. Karena Ibu
cukup gemuk. Dan dia sangat sensitif tentang hal itu.
Sesensitif Ayah tentang botak.
Berikutnya Ayah yang berbagi. Ia mengeluarkan gitarnya, dan kami semua
mengerang. Ayah pikir dia
seorang penyanyi yang bagus. Tapi dia hampir buta nada seperti aku.
Dia suka menyanyikan semua lagu rakyat kuno dari enam puluhan. Di situ
seharusnya ada semacam pesan di dalamnya. Tapi Sara, Jed, dan aku tak tahu tentang apa yang dia
nyanyikan. Ayah memetik gitar dan menyanyikan tentang sesuatu tak bekerja di pertanian
Maggie lagi. Setidaknya, kupikir itu apa yang ia katakan.
Kami semua bertepuk tangan dan bersorak. Tapi Ayah tahu kami tak bersungguh-
sungguh. Berikutnya giliran Jed. Tapi dia bersikeras bahwa dia telah berbagi. "Berdandan
seperti Dennis - itu saja,"
katanya. Tak ada yang ingin berdebat dengannya.
"Giliranmu, Amy," kata Ibu, bersandar pada ayah di sofa. Ayah memainkan
kacamatanya, lalu duduk kembali. Aku mengambil Slappy dan mengaturnya di pangkuanku. Aku merasa sedikit gugup.
Aku ingin melakukan pekerjaan dengan bagus dan membuat mereka terkesan dengan akting
komedi baruku. Aku sudah berlatih sepanjang minggu, dan aku tahu lelucon dengan hati. Tapi saat
aku menyelipkan tanganku ke belakang Slappy dan menemukan tali, perutku terasa berdenyut semua.
Aku berdeham dan mulai. "Ini adalah Slappy, orang-orang," kataku. "Slappy, katakan hai pada keluargaku."
"Hai untuk keluargaku!" Aku membuat Slappy berkata. Aku membuat matanya bergeser
bolak balik. Mereka semua tertawa. "Boneka ini jauh lebih baik!" komentar Ibu.
"Tapi itu pembicara perut lama yang sama," kata Sara kejam.
Aku memelototinya. "Cuma bercanda! Cuma bercanda!" kakakku bersikeras.
"Kupikir boneka kayu itu berbau busuk," sela Jed.
"Beri Amy kesempatan," kata Ayah tajam. "Teruskan, Amy."
Aku berdeham lagi. Tiba-tiba terasa sangat kering. "Slappy dan aku akan
menceritakan beberapa lelucon
ketuk-ketukan," kataku. Aku berbalik untuk menghadapi Slappy dan membuatnya
menoleh padaku. "Tok tok," kataku.
"Hentikan itu!" datang jawaban yang keras.
Slappy berbalik untuk menghadapi Ibuku. "Hei - jangan rusak sofanya, Gendut!"
katanya parau. "Mengapa kau tak melewatkan kentang goreng dan salad sesekali?"
"Hah?" Ibu tersentak kaget. "Amy -"
"Amy, itu tak lucu!" teriak Ayah marah.
"Apa masalahmu, botak?" teriak Slappy. "Apa itu kepalamu - atau kau menetaskan
telur burung unta di lehermu?" "Cukup, Amy!" teriak Ayah, melompat berdiri. "Hentikan itu - sekarang!"
"Tapi - tapi - Ayah -!" Aku tergagap.
"Mengapa kau tak menempatkan lubang tambahan di kepalamu dan menggunakannya
untuk bola bowling?" teriak Slappy pada Ayah.
"Leluconmu mengerikan!" seru Ibu. "Itu menyakitkan dan menghina."
"Ini tak lucu, Amy!" omel Ayah. "Ini tak lucu menyakiti perasaan orang."
"Tapi, Yah -" jawabku. "Aku tak mengatakan semua itu! Itu bukan aku! Itu Slappy!
Sungguh! Aku tak mengatakan itu! Aku tidak!"
Slappy mengangkat kepalanya. Bibir merahnya tampak tersenyum lebar. Matanya yang
biru berkilauan. "Apa aku menyebutkan kalian semua jelek?" tanyanya.
8 Semua orang mulai berteriak sekaligus.
Aku berdiri dan menjatuhkan Slappy menelungkup di kursi berlengan.
Kakiku gemetar. Seluruh tubuhku gemetar.
Apa yang terjadi di sini" tanyaku pada diriku sendiri. Aku tak mengatakan hal-
hal itu. Aku benar-benar tak mengatakannya. Tapi Slappy tak dapat berbicara sendiri - bisakah dia"
Tentu saja tidak, aku menyadari.
Tapi apa artinya itu" Apa itu artinya aku yang mengatakan itu, hal-hal yang
mengerikan menghina orang
tuaku tanpa menyadarinya"
Ibu dan Ayah berdiri berdampingan, menatapku dengan marah, menuntut untuk
mengetahui mengapa aku menghina mereka. "Apa kau pikir itu benar-benar lucu?" tanya Ibu. "Apa kau tak berpikir itu akan
menyakiti perasaanku untuk memanggilku Gendut?"
Sementara itu, Jed telentang di tengah-tengah lantai, cekikikan seperti orang
tolol. Dia berpikir semua
itu lucu . Sara duduk bersila pada dinding, menggeleng-gelengkan kepalanya, rambutnya yang
hitam jatuh ke

Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

wajahnya. "Kau dalam kesulitan besar," gumamnya. "Apa masalahmu, Amy?"
Aku berbalik untuk Ibu dan Ayah. Tanganku mengepal erat. Aku tak bisa berhenti
gemetar. "Kalian harus percaya padaku!" jeritku. "Aku tak mengatakan hal-hal itu! Aku
benar-benar tidak!" "Ya. Benar. Slappy itu orang yang buuruuk!" sela Jed, nyengir.
"Semuanya, diamlah!" teriak Ayah. Wajahnya jadi merah terang.
Ibu meremas lengannya. Dia tak suka kalau ayah terlalu marah atau senang. Kurasa
ia khawatir Ayah benar-benar bisa meledak atau sesuatu.
Ayah menyilangkan lengan di depan dadanya. Aku melihat bahwa di dada kemeja
polo-nya bernoda keringat. Wajahnya masih merah.
Ruangan tiba-tiba sunyi. "Amy, kami tak akan mempercayaimu," kata Ayah pelan.
"Tapi - tapi - tapi -"
Dia mengangkat tangan untuk diam.
"Kau seorang pendongeng yang luar biasa, Amy," lanjut Ayah. "Kau membuat fantasi
dan dongeng yang indah.Tapi kami tak akan percaya yang satu ini. Aku minta maaf. Kami tak akan
percaya boneka kayumu bicara sendiri." "Tapi dia bicara!" jeritku. Aku merasa seperti meledak dalam isak tangis. Aku
menggigit bibirku keraskeras, mencoba untuk memaksanya kembali.
Ayah menggelengkan kepalanya. "Tidak, Slappy tak menghina kami. Kau yang
mengatakan hal-hal itu, Amy. Kau. Dan sekarang aku ingin kau minta maaf kepada ibumu dan aku. Lalu aku
ingin kau mengambil bonekamu dan pergi ke kamarmu."
Tak mungkin mereka akan percaya padaku. Tidak. Aku sendiri tak yakin aku
percaya. "Maaf," gumamku, masih menahan air mata. "Sungguh. Aku minta maaf."
Dengan menghela napas sedih, aku mengangkat Slappy dari kursi. Aku membawanya di
pinggangnya sehingga lengan dan kakinya menjuntai ke lantai.
"Selamat malam," kataku. Aku berjalan perlahan menuju kamarku.
"Bagaimana giliran saya?" Aku mendengar Sara bertanya.
"Malam Berbagi selesai," jawab Ayah menggerutu. "Kalian berdua - pergilah.
Biarkan ibumu dan aku sendirian." Ayah terdengar sangat marah.
Aku tak menyalahkannya. Aku melangkah ke kamarku dan menutup pintu di belakangku. Lalu aku mengangkat
Slappy, memeganginya di bawah bahu. Aku mengangkat wajahnya ke wajahku.
Matanya tampak menatap wajahku.
Mata biru yang benar-benar dingin, pikirku.
Bibir merah cerahnya itu melengkung jadi seringai mengejek. Senyum itu tiba-tiba
terasa jahat. Mengejek. Seolah-olah Slappy tertawa padaku.
Tapi tentu saja itu tak mungkin. Imajinasi liarku sedang menipuku, aku
memutuskan. Tipuan yang menakutkan. Bagaimana pun juga Slappy itu cuma boneka. Cuma sepotong kayu yang dicat.
Aku menatap tajam ke mata biru yang dingin.
"Slappy, lihat semua masalah yang kau buat untukku malam ini," kataku.
Kamis malam ini mengerikan. Benar-benar mengerikan.
Tapi Jumat ternyata jauh lebih buruk.
9 Pertama aku menjatuhkan nampanku di ruang makan. Nanpan itu basah semua, dan aku
benar-benar menggelincirkannya keluar dari tanganku.
Pelat itu jatuh bergemerincing di lantai, dan makan siangku semuanya tumpah ke
sepatu baruku yang putih. Semua orang di ruang makan bertepuk tangan dan bersorak.
Apakah aku malu" Buatlah tiga tebakan.
Sore itu, rapor dibagikan.
Sara pulang dengan tersenyum dan bernyanyi. Tak ada yang membuatnya lebih
bahagia daripada jadi sempurna. Dan rapornya sempurna. Semua nilainya A.
Dia bersikeras menunjukkannya kepadaku tiga kali. Dia menunjukkannya kepada Jed
tiga kali juga. Dan kami berdua setiap kali harus mengatakan padanya betapa hebatnya dia.
Aku sedang tak adil kepada Sara.
Dia senang dan gembira. Dan dia punya hak untuk itu. Rapornya sempurna - dan
lukisan bunganya memenangkan pita biru di Kontes Seni Negara.
Jadi aku tak seharusnya menyalahkannya karena menari di sekeliling rumah dan
bernyanyi sekuatkuatnya. Dia tak berusaha mengajak bertengkar. Dia tak mencoba untuk membuatku merasa
seperti siput rendah karena kartu raporku ada dua nilai C. Satu di matematika dan satu dalam ilmu
pengetahuan. Itu bukan salah Sara bahwa aku telah menerima rapor terburukku.
Jadi aku mencoba untuk menahan perasaan cemburu dan tak mencekiknya (saat)
kesepuluh kalinya dia mengatakan kepadaku tentang hadiah seni. Tapi itu tak mudah.
Bagian terburuk dari raporku bukan dua nilai C. Catatan kecil yang ditulis Nona
Carson di bagian bawah. Dikatakan: Amy tak bekerja dengan kemampuan terbaiknya. Jika dia bekerja lebih
keras, dia bisa melakukan lebih baik dari ini.
Aku pikir guru tak seharusnya diperbolehkan untuk menulis catatan pada raport.
Kupikir dapat nilai itu cukup buruk. Aku mencoba untuk membuat semacam cerita untuk menjelaskan dua nilai C itu untuk
orang tuaku. Aku berencana untuk memberitahu mereka bahwa semua orang di kelas dapat nilai C
dalam matematika dan ilmu pengetahuan. "Miss Carson tak punya waktu untuk memeriksa kertas kelas
kami. Jadi dia memberi kami semua nilai C - cuma untuk bersikap adil."
Itu adalah cerita yang baik. Tapi bukan cerita bagus.
Tak mungkin Ibu dan Ayah percaya akan yang satu itu.
Aku berjalan mondar-mandir di kamarku, mencoba untuk memikirkan sebuah cerita
yang lebih baik. Setelah beberapa saat, aku melihat Slappy menatapku.
Dia duduk di kursi di samping Dennis, menyeringai dan menatap.
Mata Slappy itu tak mengikuti saat aku melangkah mondar-mandir - bukan"
Aku merasa rasa dingin berjalan ke bawah punggungku.
Matanya benar-benar tampak seolah-olah mengawasiku, bergerak saat aku bergerak.
Aku melesat ke kursi dan membalik Slappy sehingga punggungnya menghadap padaku.
Aku tak punya waktu untuk berpikir tentang boneka kayu bodoh itu. Orangtuaku akan pulang dari
kerja setiap saat. Dan aku butuh cerita yang baik untuk menjelaskan rapor burukku.
Apakah aku maju dengan satu kisah" Tidak.
Apakah orang tuaku marah" Ya.
Ibu bilang dia akan membantuku agar lebih teratur. Ayah mengatakan ia akan
membantuku memahami soal-soal matematikaku. Terakhir kali Ayah membantuku dengan matematikaku, aku
hampir gagal ujian! Bahkan Jed - yang benar-benar menyia-nyiakan waktu - dapat rapor yang lebih baik
dariku. Mereka tak memberikan nilai di sekolah rendah. Guru hanya menulis suatu laporan tentangmu.
Dan rapor Jed mengatakan bahwa ia adalah seorang anak yang hebat dan seorang
siswa yang benarbenar baik. Gurunya pasti sakit!
Aku menatap Jed seberang meja makan. Dia membuka mulut lebar-lebar untuk
menunjukkan padaku semulut penuh kunyahan kacang polong.
Sakit! "Kau bau busuk," katanya kepadaku. Tanpa alasan sama sekali.
Kadang-kadang aku heran mengapa keluarga diciptakan.
*** Sabtu pagi, aku menelepon Margo.
"Aku tak bisa datang," kataku dengan mendesah. "Orang tuaku tak akan
membiarkanku." "Raporku juga tak terlalu bagus," jawab Margo. "Miss Carson menulis catatan di
bagian bawah. Dia bilang aku terlalu banyak bicara di kelas."
"Miss Carson bicara terlalu banyak," kataku pahit.
Ketika aku mengobrol dengan Margo, aku menatap diriku di cermin rias. Aku
terlalu mirip seperti Sara,
pikirku. Mengapa aku harus terlihat seperti kembarannya" Mungkin aku akan
memotong rambutku benar-benar pendek. Atau membuat tato.
Aku tak berpikir terlalu jernih.
Aku terlalu marah bahwa orang tuaku tak mengizinkanku untuk pergi ke rumah
Margo. "Ini berita buruk," kata Margo. "Aku ingin bicara denganmu tentang pertunjukan
dengan Slappy di tempat ayahku." "Aku tahu," jawabku sedih. "Tapi mereka akan tak membiarkanku pergi ke mana pun
sampai proyek ilmiahku selesai." "Kau masih belum menyelesaikannya?" tuntut Margo.
"Aku agak lupa tentang hal itu," aku mengaku. "Aku melakukan bagian proyek -
untuk kedua kalinya. Aku benar-benar harus menulis laporan itu."
"Yah, aku bilang, Ayah ada sebuah pesta ulang tahun untuk selusin anak tiga
tahunan Sabtu depan," kata
Margo. "Dan dia ingin kau dan Slappy untuk menghibur mereka."
"Begitu aku menyelesaikan laporan ilmiahku, aku akan mulai berlatih," aku
berjanji. "Beritahu ayahmu
tak usah khawatir, Margo. Katakan padanya aku akan (tampil) bagus."
Kami mengobrol beberapa menit lagi. Lalu ibuku berteriak padaku untuk menutup
telepon. Aku berbicara sedikit lebih lama - sampai Ibu berteriak untuk kedua kalinya. Lalu
aku mengucapkan selamat tinggal kepada Margo dan menutup telepon.
Aku bekerja keras di komputerku sepanjang pagi ini dan sebagian sore hari. Dan
aku menyelesaikan laporan ilmiah. Ini tak mudah. Jed terus masuk ke kamarku, memintaku untuk bermain game Nintendo
dengannya. "Sekali saja!" Dan aku harus terus mendorongnya keluar.
Ketika akhirnya aku selesai menulis karangan itu, aku mencetaknya dan membacanya
sekali lagi. Kupikir itu cukup bagus. Yang dibutuhkan adalah sampul benar-benar tampak hebat, aku memutuskan.
Aku butuh sejumlah spidol berwarna dan membuat sampul yang benar-benar cerah.
Tapi spidolspidolku semuanya kering.
Aku melemparkannya ke tempat sampah dan berjalan ke kamar Sara. Aku tahu bahwa
dia punya selaci penuh spidol berwarna. Sara di mal dengan sekelompok teman-temannya. Nona Sempurna itu bisa pergi
keluar dan menghabiskan Sabtu melakukan apa pun yang diinginkannya. Karena dia sempurna.
Aku tahu dia tak akan keberatan kalau aku meminjam beberapa spidol.
Jed menghentikanku di luar pintu. "Satu kali main Battle Chess (pertandingan
catur) !" pintanya. "Satu
pertandingan saja!" "Tidak," kataku. Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya. Rambut merah
keritingnya terasa begitu
lembut. Aku mendorongnya keluar dari jalanku. "Kau selalu membunuhku di Battle
Chess. Dan aku belum selesai dengan pekerjaanku."
"Mau apa kau di kamar Sara?" tuntutnya.
"Bukan urusanmu," kataku.
"Kau bau busuk," katanya. "Kau bau dua kali lipat , Amy."
Aku mengabaikannya dan berjalan ke kamar Sara untuk meminjam spidol.
Aku menghabiskan hampir satu jam membuat sampul. Aku mengisinya dengan molekul-
molekul dan atom-atom, semuanya dalam warna yang berbeda. Nona Carson akan terkesan, aku
memutuskan. Sara pulang persis saat aku selesai. Dia membawa satu tas belanja besar penuh
dengan pakaian yang ia beli di Banana Republic. Dia mulai ke kamarnya dengan tas. "Ibu - lihat apa yang kubeli," panggilnya.
Ibu muncul, membawa setumpuk handuk yang baru dicuci.
"Bolehkah aku melihatnya juga?" kataku. Aku mengikuti mereka ke kamar Sara.
Tapi Sara berhenti di depan pintu.
Tas itu jatuh dari tangannya.
Dan dia menjerit. Ibu dan aku berkerumun di belakangnya. Kami mengintip ke kamar tidur.
Berantakan sekali! Seseorang telah membalik sekitar selusin botol cat. Merah, kuning, biru. Cat
telah menyebar di karpet putih Sara, seperti genangan lumpur besar berwarna-warni.
Aku tersentak dan berkedip beberapa kali. Ini tak sungguhan!
"Aku tak percaya ini!" Sara terus menjerit. "Aku tak percaya ini!"
"Karpet ini hancur!" seru Ibu, mengambil satu langkah ke dalam ruangan.
Botol-botol cat kosong berada di sisinya, berserakan di sekitar ruangan.
"Jed!" teriak Ibu marah. "Jed - kemari! Sekarang!"
Kami berbalik untuk melihat Jed tepat di belakang kami di lorong. "Ibu tak harus
berteriak," katanya pelan. Ibu menyipitkan mata marah pada adikku. "Jed - bagaimana kau bisa?" tanyanya
dengan gigi terkatup. "Maaf?" Dia menatap ke arahnya dengan wajah tak bersalah.
"Jed - jangan bohong!" jerit Sara. "Apa kau yang melakukan ini" Apa kau pergi di
kamarku lagi?" "Tak mungkin!" Jed protes, menggelengkan kepala. "Aku tak pergi di kamarmu hari
ini, Sara. Tak sekali pun. Tapi aku melihat Amy masuk. Dan ia tak mau cerita padaku kenapa."
10 Sara dan Ibu berdua berbalik, mata mereka menuduhku.
"Bagaimana kau bisa?" jerit Sara, berjalan di sekitar genangan cat besar itu.
"Bagaimana kau bisa?"
"Wah! Tunggu!! Aku tak melakukannya! Aku tidak!" teriakku panik.
"Aku tanya Amy mengapa dia akan di sini," sela Jed masuk. "Dan dia bilang itu
bukan urusanku." "Amy!" teriak Ibu. "Aku ngeri. Aku benar-benar ngeri. Ini - Ini sakit!"
"Ya, ini sakit," ulang Sara, menggelengkan kepalanya. "Semua lukisan posterku.
Semuanya. Berantakan sekali. Aku tahu mengapa kau melakukannya. Itu karena kau cemburu pada raporku
yang sempurna." "Tapi aku tak melakukannya!" Rengekku. "Aku tidak! Tidak! Aku tidak!"
"Amy - tak ada orang lain bisa," jawab ibunya. "Kalau Jed tak melakukannya, maka


Goosebumps - 31 Boneka Hidup Beraksi 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

-" "Tapi aku cuma datang ke sini untuk meminjam spidol!" tangisku dengan suara
gemetar. "Itu saja. Aku
butuh spidol." "Amy -" Ibu mulai, menunjuk ke genangan cat besar.
"Aku akan menunjukkan pada kalian!" teriakku. "Aku akan menunjukkan kepada
kalian apa yang kupinjam." Aku berlari ke kamarku. Tanganku gemetar saat aku meraup spidol-spidol Sara dari
mejaku. Jantungku berdegup kencang. Bagaimana bisa mereka menuduhku dengan sesuatu yang begitu mengerikan" tanyaku
pada diriku sendiri. Apa itukah yang semua orang berpikir tentangku" Bahwa aku benar-benar monster"
Bahwa aku begitu iri pada kakakku, aku akan mencurahkan semua cat dan merusak
karpetnya" Apa mereka benar-benar berpikir aku gila"
Aku berlari kembali ke kamar Sara, membawa spidol-spidol di kedua tangan. Jed
duduk di tempat tidur Sara, menatap ke genangan tebal merah, biru, dan kuning.
Ibu dan Sara berdiri di atasnya, menatap ke bawah dan sambil menggelengkan
kepala. Ibu terus membuat suara-suara berdecak dengan lidahnya. Dia terus menekan kedua tangannya
ke pipinya. "Ini! Lihat?" teriakku. Aku mendorongkan spidol-spidol itu ke arah mereka.
"Itulah sebabnya aku datang
di sini. Aku tak bohong!"
Beberapa spidol itu jatuh dari tanganku. Aku membungkuk untuk mengambilnya.
"Amy, cuma ada tiga dari kita yang pulang sore ini," kata Ibu. Dia berusaha
untuk menjaga suaranya rendah dan tenang. Tapi dia berbicara dengan menggertakkan gigi. "Kau, aku, dan
Jed." "Aku tahu -" aku mulai.
Ibu mengangkat tangan untuk diam.
"Aku tentu tak melakukan hal yang semengerikan ini," lanjut Ibu. "Dan Jed
mengatakan bahwa dia tak melakukan itu. Jadi..." Suaranya menghilang.
"Bu - Aku tak Sakit!" pekikku. "Aku tidak!"
"Kau akan merasa lebih baik jika kau mengaku," kata Ibu. "Lalu kita bisa
bicarakan ini dengan tenang,
dan -" "Tapi aku tak melakukannya!" Aku gusar.
Dengan teriakan marah, aku melemparkan spidol-spidol ke lantai. Lalu aku
berbalik, melesat dari kamar
Sara, dan berlari menyusuri lorong panjang ke kamarku.
Aku membanting pintu dan melemparkan diri menelungkup ke tempat tidurku. Aku
mulai menangis keras. Aku tak tahu berapa lama aku menangis.
Akhirnya, aku berdiri. Wajahku basah kuyup, dan hidungku berair. Aku mulai
lemari untuk mendapatkan tisu. Tapi sesuatu tertangkap mataku.
Bukankah aku membalik Slappy sehingga punggungnya menghadap kepadaku"
Sekarang ia duduk menghadapku, menatapku, bibirnya merah senyumnya lebih lebar
dari sebelumnya. Apakah aku membaliknya kembali" Apakah aku membaliknya"
Aku tak ingat. Dan apa yang kulihat di sepatu Slappy itu"
Aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku. Lalu aku melangkah mendekat ke
arah boneka kayu itu, menyipitkan mata dengan tajam ke sepatu besar kulitnya.
Apa itu di sepatunya"
Merah dan biru dan kuning. . . cat"
Ya. Dengan terkesiap kaget, aku meraih kedua sepatu oleh tumit dan mengangkatnya
dekat ke wajahku. Ya. Cat menetes di sepatu Slappy.
"Slappy - apa yang terjadi di sini?" tanyaku lantang. "Apa yang terjadi?"
11 Ketika Ayah pulang dan melihat kamar Sara, dia hampir marah sekali.
Aku benar-benar khawatir tentangnya. Wajahnya berubah semerah tomat. Dadanya
mulai naik-turun. Dan suara degukan mengerikan keluar dari tenggorokannya.
Seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu. Kami mengambil tempat Malam Berbagi
kami. Hanya saja, ini bukan Malam Berbagi Keluarga. Ini adalah Apa Yang Akan Kita Lakukan Pada Amy
Malam Ini. "Amy, pertama kau harus memberitahu kami yang sebenarnya," kata Ibu. Dia duduk
kaku di sofa, meremas-remas kedua tangannya di pangkuannya.
Ayah duduk di ujung lain sofa, mengetuk-ngetukkan satu tangan dengan gugup di
lengan sofa, mengunyah bibir bawahnya. Jed dan Sara duduk di atas lantai (bersandar) pada
dinding. "Aku mengatakan yang sebenarnya," aku bersikeras dengan nyaring. Aku merosot di
kursi di seberang mereka. Rambutku jatuh menutupi dahiku, tapi aku tak repot-repot untuk
menyekanya kembali. Kaos putihku bernoda air mata di bagian depan, masih basah. "Jika seandainya kalian
mau mendengarkanku,"
pintaku. " "Oke, kami mendengarkan," jawab ibu.
"Ketika aku pergi ke kamarku," aku memulai, "Ada percikan cat pada sepatu
Slappy. Dan -" "Cukup!" teriak Ayah, melompat berdiri.
"Tapi, Ayah -" aku memprotes.
"Cukup!" dia bersikeras. Dia menudingku. "Tak ada cerita gila lagi, nona muda.
Waktu bercerita berakhir. Kami tak ingin mendengar tentang noda cat di Slappy. Kami ingin
penjelasan untuk kejahatan
yang dilakukan di kamar Sara hari ini."
"Tapi aku sedang memberi penjelasan!" Rengekku. "Kenapa ada cat di sepatu
Slappy" Kenapa?"
Ayah turun kembali ke sofa sambil mendesah. Dia membisikkan sesuatu pada Ibu.
Ibu berbisik kembali. Kupikir aku mendengar mereka menyebut kata "dokter."
"Apa kalian - apa kalian akan membawaku ke psikiater?" Tanyaku takut-takut.
"Apa kau pikir kau perlu?" jawab Ibu, menatap tajam ke arahku.
Aku menggeleng. "Tidak"
"Ayahmu dan aku akan bicara tentang ini," kata Ibu. "Kami akan mengetahui hal
yang terbaik untuk dilakukan." *** Hal yang terbaik untuk dilakukan"
Mereka menghukumku selama dua minggu. Tak ada film. Tak ada teman. Tak ada
jalan-jalan ke mal. Tak ada jalan-jalan ke mana saja.
Aku mendengar mereka berbicara tentang mencarikan diriku seorang penasihat. Tapi
mereka tak mengatakan apa-apa tentang itu kepadaku.
Sepanjang minggu, aku bisa merasakan mereka mengawasiku. Mempelajari seakan aku
ini semacam makhluk asing. Sara cukup dingin padaku. Kamarnya harus dikosongkan dan karpet baru dipasang.
Dia tak senang tentang itu. Bahkan Jed memperlakukanku berbeda. Dia agak berjingkat-jingkat di sekitarku dan
menjaga jarak, seolah-olah aku kena pilek yang buruk atau sesuatu. Dia tak menggodaku, atau
mengataiku bahwa aku bau, atau memanggil namaku.
Aku benar-benar merindukan itu. Sungguh.
Bagaimana perasaanku" Aku merasa sengsara.
Aku ingin sakit. Aku ingin kena flu perut yang benar-benar buruk atau sesuatu
sehingga mereka semua akan merasa kasihan padaku dan berhenti memperlakukan aku seperti seorang
penjahat. Satu hal yang baik: Mereka mengatakan bahwa aku bisa tampil dengan Slappy di
Rumah Pesta pada hari Sabtu. Setiap kali aku mengambil Slappy, aku merasa sedikit aneh. Aku ingat cat di
sepatu dan kekacauan di kamar kakakku. Tapi aku tak bisa mengerti dengan satu penjelasan tunggal. Jadi aku berlatih
dengan Slappy setiap malam. Aku telah membuat banyak lelucon yang bagus bersama-sama. Lelucon konyol yang
kupikir anak-anak kecil umur tiga tahunan akan merasakannya lucu.
Dan aku belajar sendiri di cermin. Aku mulai agak baik dengan tak menggerak-
gerakkan bibirku. Dan semakin mudah untuk membuat mulut dan mata Slappy bergerak dengan benar.
"Tok tok," aku membuat Slappy berkata.
"Siapa di sana?" tanyaku.
"Eddie." "Eddie siapa?" tanyaku.
"Tubuh Eddie punya tisu" Aku benal-benal kedinginan!"
Dan kemudian aku menarik kembali kepala Slappy, membuka mulutnya benar-benar
lebar, dan seluruh tubuhnya tersentak saat aku membuatnya bersin, bersin dan bersin.
Kupikir itu akan benar-benar akan bikin heboh anak-anak tiga tahunan.
Setiap malam, aku bekerja dan bekerja pada akting komedi kami. Aku bekerja
begitu keras. Aku tak tahu bahwa akting itu tak akan berjalan.
*** Pada hari Sabtu sore, Ibu menurunkanku di Rumah Pesta. "Buat acara yang bagus!"
katanya saat dia pergi. Aku membawa Slappy dengan hati-hati dalam pelukanku. Margo menemuiku di pintu.
Dia menyapaku dengan senyum gembira. "Tepat pada waktunya!" teriaknya. "Anak-anak hampir semuanya di sini. Mereka
benar-benar binatang!" "Oh, bagus!" gumamku, memutar bola mata.
"Mereka benar-benar binatang, tapi mereka sangat lucu!" Margo menambahkan.
Dia membimbingku melalui lorong memutar ke ruang pesta di belakang. Sekelompok
balon merah dan Kutuk Sang Angkara 1 Si Kangkung Pendekar Lugu Soh Sim Kiam Karya Chin Yung Hina Kelana 42
^