Pencarian

Ramuan Ajaib 2

Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib Bagian 2


Aku berpakaian dengan cepat. Aku berjalan diam-diam ke dapur.
"Hei, Jack! Kau bangun pagi!" Ayah duduk di
meja dapur, makan sarapan. "Ini baru jam lima!"
"Aku - aku tak bisa tidur," kataku, terkejut menemukannya di sana. "Apa yang
Ayah lakukan?" "Telepon membangunkanku. Seorang pria mengatakan dia punya pertunjukan
harus dilihat - 'Nelson dan Jarumnya yang Menakjubkan '. "
"Jarum yang Menakjubkan." Aku menelan ludah. "Apa yang orang ini lakukan" "
"Yah, Nelson bukanlah orang," Ayah mulai menjelaskan. "Nelson seekor simpanse.
Dan jarumnya adalah jarum rajut. Pemiliknya berkata Nelson bisa
merajut kemeja dalam sepuluh menit. Lengan baju dan semua. "
Monyet yang merajut" Aku mendesah panjang.
Ayah mendesah juga. "Yah, panggilan teleponnya tak semuanya sia-sia. Akhirnya aku bisa mulai lebih
awal hari ini, "kata Ayah, menyelesaikan sarapannya.
Pada saat ia pergi, Ibu bangun tidur. Terlambat untuk mencoba untuk terbang
sekarang. Aku harus menunggu sampai pulang sekolah. Ibu akan bekerja. Ayah juga tak
akan berada di rumah. Saat itulah aku akan terbang untuk Mia, aku
memutuskan. Aku tak bisa menunggu! *** Ketika bel terakhir berdering, aku cepat-cepat keluar dari sekolah sebelum Mia
dan Wilson bisa mengejar.
Aku tak bicara kepada mereka sepanjang hari. Aku tak ingin berbicara dengan
mereka sekarang. Aku takut aku mungkin akan mengatakan pada mereka
rahasiaku. Aku takut aku mungkin memberitahu mereka bahwa aku bisa terbang. Dan aku
tak ingin melakukan itu. Aku ingin menunjukkan pada mereka!
Aku berlari di sepanjang perjalanan pulang. Aku melemparkan tasku.
Menuangkan segelas tinggi jus jeruk.
Untuk kekuatan. Lalu aku menelepon Mia. Tak ada jawaban. Dia belum pulang.
Aku akan memberinya sepuluh menit lagi, pikirku, menuju ke kamarku. Lalu
aku akan menelepon lagi. Aku duduk di mejaku dan mulai membuat sketsa pahlawan superku yang
terbaru - AKU! Aku menggambar diriku melambung tinggi di atas perbukitan
Hollywood. Melayang jauh di atas tanda besar HOLLYWOOD.
Mungkin aku harus memberitahu Ibu dan Ayah aku bisa terbang, pikirku saat
aku membuat sketsa. Dengan begitu aku tak perlu untuk menyembunyikannya.
Dengan begitu aku bisa terbang kapan pun aku mau.
Tidak. Tidak mungkin! Aku memutuskan. Mereka akan berpikir itu terlalu
berbahaya. Mereka mungkin akan berpikir aku aneh, bahwa ada sesuatu yang
salah dengan diriku. Dan mereka takkan membiarkan aku melakukannya. Aku
pasti tak bisa memberitahu mereka. Aku harus terus menyimpan rahasia ini.
Aku memegang gambarku dan mempelajarinya. Gambar ini perlu satu benda
terakhir. Lalu gambar ini akan jadi sempurna. Mantel pahlawan super. Ketika
aku membuat sketsa jubah itu, aku berpikir tentang Wilson.
Wilson dan pandangan sakit di wajahnya saat ia sadar bahwa persaingan kami
sudah berakhir untuk selamanya.
Saat ia sadar bahwa ia tak pernah bisa menang lagi denganku - tak pernah!
Saat dia melihat aku terbang!
Aku melompat dari mejaku dan menelepon Mia.
Masih belum ada jawaban. Aku berjalan ke jendela kamar tidurku dan menatap ke luar.
Hei! Itu dia! Di depan rumah Wilson.
Dengan Wilson. Wilson berseluncur ke jalan masuk rumahya di atas sepatu roda barunya yang
bermerk mewah. Di ujung jalan, dia mengatur jalur melandai yang kecil dan ia
bergulir lurus dengan kecepatan penuh.
Dia melayang di atas jalur itu dan melambung ke udara.
"Yahoo!" teriaknya, mengacungkan tinjunya saat ia menukik turun untuk pendaratan
yang sempurna. Mia bertepuk tangan. Ha! kau pikir itu terbang, Wilson" Pikirku. Hari-hari pamermu sudah berakhir.
Perhatikan ini! Aku membuka jendela setinggi yang aku bisa.
Aku bergerak menyebrangi kamarku - melalui pintu kamar tidur dan keluar ke
gang. Aku menarik napas dalam-dalam dan mulai berlari.
Aku menyerbu melalui kamar tidurku.
Aku melompat keluar jendela kamarku.
Aku merentangkan lenganku lebar-lebar.
Dan jatuh seperti batu. 16 "Ooooh!" Aku mendarat terlentang di atas pagar tanaman lembut di bawah jendelaku.
Jatuh membuatku kehabisan nafas. Aku berbaring di sana bingung sejenak,
dadaku sakit, berusaha untuk bernapas.
Aku menggerak-gerakkan tangan dan kakiku. Sepertinya tak apa-apa. Tak ada
yang patah. Apanya yang salah" Masih bisakah aku terbang" Aku bertanya-tanya.
Mungkin ramuan rahasia itu hanya bertahan untuk satu kali penerbangan.
Atau mungkin aku harus lepas landas dari tanah. Bisa jadi itu. Mungkin aku tak
seharusnya melompat untuk terbang.
"Jack! Kau baik-baik saja" "Mia lari kepadaku. "Apa yang terjadi" Apa kau jatuh
dari jendela" "
"Tak ada yang jatuh dari jendela kamar tidur - tak ada, kecuali Jack! " Wilson
bersorak. "Kikuk sekali haruskah kau jatuh keluar jendela" "
"Aku tak jatuh keluar jendela kamar tidurku," protesku. Aku tak tahu harus
berkata apa lagi. "Ya, kau jatuh, Jack. Kami melihatmu. Kami melihat semuanya. "ejek Wilson.
Ia berpaling ke Mia dengan wajah nyengir. "Taruhan Jack berlatih Twister lagi. "
Aku berdiri. Aku menatap ke bawah saat aku menyikat diriku. Menatap ke
bawah jadi aku tak harus melihat salah satu dari mereka.
"Jack, ikut aku." Wilson menarik tanganku." Aku ingin menunjukkan sesuatu.
Sesuatu yang benar-benar penting. Sesuatu yang bisa menyelamatkan hidupmu
suatu hari. Itu disebut pintu. "
Mia terkikik. Aku menggetok tangan Wilson menjauh.
Aku bisa merasakan darah mengalir deras ke wajahku.
Oke, Wilson. Cukup sudah! Aku sudah cukup denganmu - kau, bualanmu Anda
dan lelucon bodohmu. Aku menarik napas dalam-dalam.
"Aku ingin menunjukkan pada kalian berdua sesuatu," aku mengumumkan.
Aku merapatkan kedua kakiku.
Aku mengangkat tanganku dan menunjuk ke udara.
Kuharap ini bekerja, aku berdoa. Kuharap aku tak kelihatan seperti orang yang
brengsek. Aku mengangkat diriku di atas jari-jari kakiku.
Ini dia ... 17 Aku menekuk lututku. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku menutup mataku.
Siap untuk lepas landas ...
"Jack" Jack" Kau dimana?" Satu suara memanggil.
"Hah?" Aku membuka mataku. Aku pelan-pelan menurunkan tanganku.
"Jack?" Itu adalah Ibu. Pulang lebih cepat dari bekerja. Dia menjulurkan
kepalanya keluar dari jendela kamar tidurku.
Aku mendesah panjang. "Ada apa, Bu?"
"Jack, aku bermaksud mengejarmu sebelum kau keluar. Musim semi ini bersih-bersih
terlalu banyak untuk satu orang. Aku butuh bantuan membersihkan
lemari Ayah. Bisakah kau kemari dan membantuku" "
"Baik, Bu. Aku segera kesana. "
Ibu kembali masuk. "Jack?" Kepala Ibu kembali terjulur keluar.
"Ya?" "Apakah Morty baik-baik saja" Dia tak meninggalkan rumah anjingnya sejak
kemarin. " "Jangan khawatir, Bu. Dia baik-baik saja. Dia terlalu banyak latihan kemarin.
Dia agak capek. " Sebenarnya, aku sudah mencoba untuk mengeluarkan Morty rumah anjingnya
pagi ini. Tapi ia tak mau bergerak. Anjing malang itu mungkin takut akan
terbang menjauh lagi. Wilson pulang ke rumahnya.
Diikuti Mia. Dia berbalik padaku. "Temui kami setelah kau selesai membantu
ibumu," usulnya. "Di (rumah) Wilson."
"Ya, tentu," kataku, tak benar-benar merencanakan itu.
"Kau harus mencoba jalur melandai sepatu rodanya," kata Mia. "Dia membuatnya
sendiri, dan itu benar-benar mengagumkan. Itu benar-benar
mengirimkanmu terbang melalui udara. "
Aku mengamati mereka menyeberang jalan.
Terbang melalui udara - kata-kata Mia terulang di pikiranku. Aku menggeleng.
Aku akan menunjukkanmu bagaimana untuk terbang melalui udara, Wilson.
Tunggu saja. 18 Sore berikutnya, aku berlari sepanjang perjalanan pulang dari sekolah. Aku
bilang pada Mia dan Wilson untuk menemuiku di depan rumahku. Mereka pikir
kami yang akan bersepatu roda.
(Mia dan Wilson: dalam ebook bahasa Inggris Mia and Jack, tapi ini mungkin
keliru karena yang bercerita di sini adalah Jack)
Ha! Aku punya sesuatu yang jauh lebih baik dalam pikiran untuk hari ini.
Hari ini adalah hari di mana aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku
bisa terbang! Aku menjatuhkan tasku di gang dan berlari
keluar. Aku menatap ke atas awan-awan gelap tebal yang bergulir di atas bukit.
Pada saat Mia dan Wilson muncul, mulailah hujan yang benar-benar lebat.
Suatu petir meloncat berkelok-kelok melalui langit.
(Mia dan Wilson: dalam ebook bahasa Inggris Mia and Jack, tapi ini mungkin
keliru karena yang bercerita di sini adalah Jack)
"Kita harus menunggu sampai besok," kata Mia.
"Kurasa," gumamku saat aku menyaksikan mereka terburu-buru pergi.
Hari berikutnya hujan. Dan hari setelah itu (juga hujan). Dan hari setelah itu
(pun hujan). Tak bisa terbang. Tak ada kesempatan untuk menunjukkan pada Wilson betapa pecundangnya dia
itu. Aku duduk di jendela, menatap hujan yang jatuh itu.
Apa aku tak akan pernah punya kesempatan untuk terbang"
*** Pada hari Jumat, Mia harus pergi ke dokter gigi setelah sekolah.
Dan pada hari Sabtu dan Minggu, kami tak bisa bersama-sama. Aku harus
mengerjakan karangan istilah-ku. Karena karangan itu dikumpulkan pada hari
Senin dan aku bahkan belum memulainya.
Aku tak mengkhawatirkannya. Aku tahu persis apa yang akan kutulis - tentang
sejarah buku komik di Amerika Serikat.
Itu akan jadi bagus sekali. Aku tahu itu.
Aku bangun pagi di hari Sabtu dan mulai mengerjakannya. Aku duduk di depan
komputer berjam-jam. Aku perlu sepanjang hari untuk menulis. Lalu, pada hari
Minggu, aku mengatur pena-pena dan tinta-tinta, dan mulai menbuat
ilustrasinya (gambar-gambarnya).
Superman. Spider-Man. Sub-Mariner. X-man. Semua pahlawan super favoritku.
Saat aku menggambar S besar pada kostum Superman, aku berpikir tentang
terbang. Tentang betapa mengagumkan rasanya saat aku membumbung tinggi
pada arus kuat yang terus-menerus. Atau melayang di atas anging yang lembut.
Aku membayangkan diriku bergerak naik dengan cepat dari tanah dan melesat
di atas pohon. Lalu melambat. Melayang dengan malas di antara awan. Lalu
berhembus pergi lagi, ke stratosfer seperti Superman.
(Stratosfer: lapisan kedua dari atmosfer bumi. Ketebalannya sekitar 15-55 km.
Di lapisan ini terdapat lapisan ozon yang terbentuk pada ketinggian 20 km.)
Aku membayangkan diriku melakukan segala macam gerakan khayalan - spiral,
loncatan dengan hidung lebih dahulu, bersalto di udara. Aku membayangkan
diriku melakukan semua hal itu untuk Mia. Dan untuk Wilson ...
*** Kami menyerahkan karangan istilah kami pada Senin. Hari senin yang hujan.
Tak terbang juga hari ini. Aku mendesah. Siapa yang pernah mendengar begitu
banyak hujan di California.
Sisa minggu itu tetap mendung dan berangin kencang.
Seluruh minggu itu benar-benar terganggu dengan hujan.
Pada hari Jumat, guru menyerahkan kembali karangan kami.
Ya! Aku dapat nilai 97! Dan di atasnya ia menulis "Kerja bagus!"
"Hei, Wilson. Dengar-sembilan puluh tujuh!" aku mengangkat kertasku padanya
untuk dilihat. "Cukup bagus, ya!"
"Itu cukup bagus," kata Wilson. "Tapi itu tak bagus sekali!"
Wison tersenyum gembira. Dia mengangkat kertasnya.
Ada tulisan 98 gendut di atasnya. Dan kata-kata, "Kerja yang bagus sekali!"
Aku bisa merasakan pipiku mulai panas. Tetap tenang, kataku pada diriku
sendiri. Tak akan hujan selamanya.
*** Aku terbangun pagi berikutnya. Aku berlari ke jendela. Mendorong tirai
samping. Sinar hangat matahari menerpa wajahku.
Baiklah! Aku mengacungkan kedua tinjuku ke udara.
Aku menelepon Wilson dan Mia dan menyuruh mereka menemuiku di taman.
Secepatnya. Mia tiba lebih dulu. Wilson muncul beberapa menit kemudian, melambai,
penuh semangat. "Hei, teman-teman berita besar!" Dia buru-buru menghampiri kami. "Coba tebak di
mana aku akan pergi liburan musim semi ini"."
"Di mana?" Tanya Mia bersemangat.
"Kota New York!" Serunya. "Orangtuaku
mengajakku ke kota New York .... Kalian percaya itu" "
"Itu bagus!" Mia bersorak. Dia ber-tos dengan Wilson.
"Ke mana kau pergi untuk liburan musim semi ini, Jackie?" tanya Wilson.
"Eh ... Tak kemana-mana. Orangtuaku harus bekerja," gumamku.
"Hei - nasib yang buruk," kata Wilson. Tapi aku bisa melihat bahwa ia tak
bersungguh-sungguh . "Tentu saja, perjalananku bukan masalah besar," dia meneruskan. "Aku pernah
berkunjung ke New York sebelumnya. Empat kali. "
"Empat kali!" Teriak Mia. "Sungguh?"
"Ya," jawab Wilson. "Empat kali. Dan terakhir kali aku berada di sana, aku naik
kereta bawah tanah sendirian! "
Kau benar, Wilson, pikirku. New York City bukan masalah besar. Karena tidak
ada yang akan peduli akan bualanmu dalam beberapa detik.
"Hei, Wilson. Mau balapan " "Tanyaku. "Kau berlatih lari untuk kereta bawah
tanah. " "Tak lucu, Jackie," jawab Wilson. "Lagi pula,
apa gunanya balapan itu" Kau tahu kau tak bisa lari secepat aku. "
"Ayolah," desakku. "Balapan ke tiang bendera itu dan kembali. Aku akan
mengalahkanmu kali ini, Wilson. Sungguh. "
"Kau tak mungkin bisa menang." Dia mengangkat bahu. "Tapi - baiklah."
Inilah saatnya. Saat terbesarku. Hatiku mulai berdebar-debar.
Aku akan memenangkan perlombaan ini. Dan mengagetkan mereka berdua -
karena aku akan terbang! Wilson dan aku berdiri berdampingan.


Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Siap di tempat. Siap-siap."Mia mengumumkan.
Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi. Menunjuk ke langit.
Wilson menoleh padaku, menatap posisi balapku yang aneh.
"MULAI!" Teriak Mia.
Aku lari melompat dan meluncur dari atas tanah.
Aku melambung naik - naik di atas rumput. Ke udara. Ke atas menuju puncak
pohon. Ya! Ya! Aku terbang! "WAAAAAA!" Mia menjerit takjub saat aku membumbung tinggi bersama
angin. Sekarang untuk bagian yang terbaik.
Aku menatap ke tanah untuk melihat pandangan suram di wajah Wilson.
Aku menatap ke bawah dan menjerit kaget.
Di bawahku, aku melihat Wilson.
Dia TEPAT di bawahku. Beberapa inci jauhnya dariku.
Wilson juga terbang. 19 "TIDAAAAK!" Jeritku. "TAK MUNGKIIIIN!"
Aku begitu terkejut, benar-benar ngeri--aku menjatuhkan tanganku ke
pinggangku. Oh, tidak ... Aku jadi menukik curam. Aku menjerit pelan saat membentur tanah dengan cepat.
Aku menendangkan kakiku. Mengayunkan tanganku dengan panik.
Dan terbang dengan kepala lebih dahulu ke batang pohon.
"Ohhh." Nyeri menerjang tubuhku saat aku merosot ke rumput.
Berbaring di atas punggungku, aku mendongak ke Wilson. Aku mencengkeram
perutku, mual melihatnya.
Wilson terbang. Wilson dengan mudah melambung ke tiang bendera dan
kembali. Aku melihat saat dia menukik turun dengan pelan.
"Aku menang, Jackie!" serunya, mendarat mulus di sampingku.
"Bagaimana kau melakukannya?" Teriak Mia bersemangat.
Wilson berkacak pinggang. "Ah. Ini mudah," bualnya. "Tak ada apa-apanya."
Aku membuka mulut untuk bicara - tapi yang keluar hanyalah cicitan kecil.
Wilson tertawa. "Jackie, kau butuh baling-baling atau sesuatu. Penerbangamu agak
lambat! " Hatiku tenggelam. "Bagaimana -bagaimana-?" Aku tergagap.
"Oh, aku selalu tahu bagaimana untuk terbang," kata Wilson.
"BENAR-BENAR?" Teriak Mia.
"Sebenarnya tidak," katanya sambil tertawa. "Jackie yang memberitahuku
bagaimana." "Tidak. Tidak, aku tidak! " Aku berhasil bicara.
"Ya, kau, Jack. Cuma kau tak tahu itu! "
Wilson bersorak. "Aku melihatmu terbang di hari dimana aku dapat sepatu roda
baruku." "Bagaimana kau melihatnya terbang?" Tuntut Mia. "Aku saat itu bersamamu.
Bagaimana aku tak melihatnya" "
"Tidakkah kau ingat?" Jawab Wilson. "Aku berseluncur di depanmu - karena kau tak
bisa mengimbangiku. Jadi aku meluncur ke rumah Jack untuk
menunjukkan sepatu roda baruku kepadanya dan aku melihatnya terbang. "
Aku berdiri perlahan-lahan.
Aku menghadap Wilson. Siap untuk memukulnya. Aku akui. Aku lepas kontrol.
Dia telah merusak momen terbesarku. Merusaknya.
Aku ingin memukulnya seperti karung tinju. Tapi entah bagaimana aku bisa
menahan diri. Aku mengepalkan tangan sampai tanganku sakit.
Aku harus tahu persis bagaimana ia belajar untuk terbang. "Jadi - kau
melihatku." Aku menyipitkan mataku. "Lalu apa?"
"Lalu aku mengikutimu ke garasimu. Aku melihatmu menyembunyikan buku
itu di kasur. Dan jadi aku ... meminjamnya. Dan aku ikuti perintah-perintah
gampang itu." Dia nyengir pada Mia. "Aku benar-benar seperti seorang pahlawan super."
Dadanya terengah-engah. "Aku menyukainya!"
Dia berbalik padaku. "Hei, Jack! Kau bisa jadi tangan kananku. "
AKU TAK INGIN JADI TANGAN KANANMU,
WILSON! Aku ingin menang. Cukup sekali. Sekali saja, aku ingin mengalahkanmu.
Itulah yang ada dipikiranku.Tapi tak mengatakannya. Aku tak mengatakan apa
pun. Aku cuma mengentakkan kaki menjauh.
Hadapilah, aku berkata pada diriku sendiri muram saat aku keluar menuju
taman. Kau tak akan pernah mengalahkan Wilson dalam apa pun.
"Jack kembali!" panggil Mia. "Aku ingin melihatmu terbang lagi. "
Tidak, pikirku. Apa gunanya itu lagi" Aku terus berjalan.
"Tolong, Jack!" Teriak Mia. "Kau tampak begitu mengagumkan di sana. Tolong
lakukan lagi! " Aku berhenti. Mungkin aku harus terbang untuk Mia. Mengesankannya dengan beberapa
manuver terbang yang indah.
Oke, aku memutuskan. Aku akan terbang sekali lagi untuk membuatnya
terkesan. Aku menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dengan merentangkan tangan ke
depan aku melesat naik. Naik ke puncak pohon.
"Pergi, Jack! Pergi, Jack! Pregi, Jack! "teriak Mia, tersenyum dan melambaikan
tangan. Aku berbelok ke kiri meluncur melalui sebuah awan besar yang lunak. Saat aku
menerobos sisi lain, Wilson sudah ada di sana untuk menemuiku.
Kami terbang berdampingan, berputar, menukik, lalu membumbung naik
kembali. Kami menyesuaikan gerakan seolah-olah kami telah berlatih bersama
ribu kali. Lalu Wilson menukik menjauh dariku.
Dia berguling-guling di bawahku. Terbang di belakangku. Berguling di bawah
lagi. "Yahuu!" kudengar dia berteriak dari suatu tempat di atasku.
Aku menggelepar-gelepar di udara. Aku tak tahu di mana Wilson. Di mana dia
akan muncul berikutnya. Dia mengitariku seperti burung gila.
"Wilson!" Teriakku. "Hentikan!"
"Tenang saja, Jackie!" Katanya sambil tertawa.
Lalu, ia bergerak ke depanku menghalangi jalanku. Menghalangi pandanganku.
"Minggir!" teriakku. "Aku akan menabrakmu! "
Wilson mengeluarkan suara bergemuruh, seperti pesawat. Lalu menukik dalam-
dalam. Sekarang aku bisa melihat.
Terlambat. Aku membentur keras tiang bendera.
Aku bisa mendengar tawa kejam Wilson saat aku jatuh terguling ke tanah.
"Pendaratan yang bagus, Jackie!" Serunya. Dia turun dengan gampang di rumput di
depan Mia. Mia bertepuk tangan dan bersorak.
"Yah, aku harus pergi! Aku terlambat untuk permainan tenisku. Mau datang"
"Tanya Wilson padaku.
"Aku tak main tenis," jawabku mengertakkan gigi.
"Oh. Kupikir kau main tenis, "katanya, bingung. "Ray dan Ethan berkata padaku
kau les (tenis). Nah, pergi dulu ya! "
Wilson bergegas. "Jack - aku juga ingin terbang! Tolong ajari aku bagaimana untuk terbang!
"pinta Mia. "Aku tak tahu, Mia ..." aku memulai. "Aku ingin ini jadi semacam rahasia.
Maksudku - tak ada yang tahu tentang ini. Kecuali kau dan Wilson. Jika kita
semua terbang di sekitar Malibu, seseorang akan tahu. "
Aku benci mengakuinya, tapi aku benar-benar tak ingin Mia belajar bagaimana
terbang. "Jack! Kau harus menunjukkannya padaku bagaimana (caranya). Ini tak adil bahwa
kau dan Wilson bisa terbang dan aku tidak bisa!" ratapnya. "Tak adil!"
Waah. Tunggu sebentar! Kataku pada diriku sendiri. Mungkin aku harus
mengajar Mia bagaimana terbang. Jika aku mengajarinya, dia akan benar-benar
terkesan. Ini bisa jadi kesempatan besarku.
"Oke," aku setuju. "Aku akan mengajarkanmu bagaimana untuk terbang. Ayo kita
kembali ke rumahku. Kita akan ambil buku terbang itu. "
"Trim's! Trim's, Jack!" Mia begitu
bersemangat, dia memelukku.
Aku berjalan ke garasi kami.
"Oooh! Aku tak sabar menunggu! "Mia melompat dengan gembira.
Aku berhenti di depan pintu garasi.
"Apa yang kau tunggu, Jack" Bukalah!" teriaknya tak sabar.
"Aneh. Pintunya tertutup, "kataku, bingung. "Pintu garasi tak pernah ditutup. "
"Jadi - bukalah!" Tuntut Mia.
Aku meraih pegangan. Aku menarik pintu garasi ke atas dan berteriak kaget.
20 Lenyap! Semuanya lenyap. Bak meludah dokter gigi. Anak tangga kolam Mrs Green.
Kasur lama itu. Semua lenyap.
Aku menatap garasi kosong itu dengan terkejut.
"Ohhhh, Tidaaak. Ayah membersihkan garasi, " erangku sedih. "Mia - aku tak bisa
mengajarimu caranya terbang. Buku itu hilang. "
"Kau membaca buku itu, Jack. Kau harus ingat! "protes Mia. "Aku ingin TERBANG!
Pikirkan! Kau harus ingat! "
"Tak ada gunanya," kataku. "Kita perlu ramuan rahasia itu. Ramuan itu di dalam
amplop. Di dalam buku itu. Ramuan itu lenyap. "
Mia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengerang marah. Lalu wajahnya
tampak tenang. "Tak apa-apa, Jack. Mungkin itulah yang terbaik. Terbang agak
menakutkan. " "Jadi - kau tak marah padaku?" Tanyaku padanya.
"Tidak," jawabnya. "Itu benar-benar bukan kesalahanmu. Kau tahu apa yang
kupikirkan, Jack" "
Aku menggeleng. "Tidak. Apa" "
"Kupikir kau tak seharusnya terbang lagi. Atau mungkin kau harus
memberitahu orang tuamu tentang ini. Maksudku, itu tak normal. Aku punya
perasaan yang sangat buruk tentang ini. "
Aku mengangkat bahu. "Jack - aku tak bercanda. Aku tak berpikir kau harus terbang lagi. Ini tak
aman." "Tapi aku tak ingin berhenti," protesku. "Ini sangat menyenangkan.
Mengagumkan. Benar-benar hebat di sana. Selain itu, apa yang bisa terjadi" "
*** Malam itu setelah makan malam, aku bergegas ke kamarku untuk mengerjakan
gambar pahlawan super yang baru.
Aku menggambar sketsa sosoknya. Aku akan memanggilnya Kapten Arrow.
Aku mendorong kursiku menjauh dari mejaku. Menatap keluar jendela untuk
sementara waktu. Kembali ke gambarku.
Aku menggambar anak panah kulit ungu di atas bahu Kapten Arrow untuk
menahan panah-panah merah yang kuat.
Aku berdiri. Melihat ke luar lagi. Aku tak tahu menggambar pahlawan super
tampaknya sekarang agak membosankan.
Aku meninggalkan kamarku untuk mencari Ayah. Untuk memintanya main
basket denganku di luar. Aku menemukan Ayah dan Ibu tertidur di sofa di ruang tamu.
Aku menelepon Ethan dan Ray untuk melihat apakah mereka mau bermain -
tapi mereka tak bisa. Mereka berdua punya PR untuk dikerjakan.
Berjingkat melewati lorong, aku meninggalkan rumah melalui pintu belakang.
Aku berdiri di halaman belakang dan menatap ke bintang. Ini adalah malam
yang sempurna. Hangat. Tak ada satu awan pun di langit.
Malam yang sempurna penerbangan singkat di atas Malibu.
Aku melirik sekeliling untuk memastikan tak ada seorang pun yang melihat.
Lalu aku melambung naik ke langit malam.
Di atas puncak-puncak atap. Di atas pepohonan. Di atas pantai.
Aku menarik napas dalam-dalam. Udara laut terasa segar, begitu manis di sini.
Angin sepoi-sepoi meniup rambutku.
Begitu damai. Begitu tenang.
Begitu bebas. Melambung tinggi. Menatap keluar. Tak dikelilingi apa pun
kecuali bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Aku menambah kecepatan. Angin menyerbu wajahku.
Kaosku menerpa dadaku. Bintang-bintang mengalir. Laut gelap bergulung-gulung di bawahku.
Aku melihat ke bawah perbukitan Malibu. Lalu menuju ke arah Los Angeles.
Aku terbang di atas kota. Lampu-lampu di bawah bersinar bermil-mil.
Aku terbang lebih cepat. Meluncur dengan cepat berguling ke kiri. Lalu ke
kanan. Lalu menuju ke suatu lingkaran, terbang terbalik.
Hebat! Benar-benar mengagumkan! Aku sangat beruntung! Aku bisa melayang! Meluncur! Melambung!
"Aku bisa TERBANG!" sorakku, berputar di udara.
Aku meluncur sebentar di punggungku, menatap ke bintang-bintang. Mencoba
untuk mengenali rasi bintang. Lalu aku
berbalik dan mengintip ke bawah - ke kegelapan total.
Tak ada lampu teras. Tak ada lampu jalanan. Tak ada lampu mobil.
Tak ada rumah. Tak ada bangunan.
Kegelapan total. Gelombang kepanikan menerpaku. Bagaimana ini terjadi" Di kota mana ini"
Aku ada di mana" "Berapa lama aku telah terbang?" erangku. "Seberapa jauh aku terbang" "
Aku tak tahu. Aku menukik, mencari lampu redup di suatu tempat. Tapi aku hanya melihat
kegelapan. Kegelapan total.
Aku berbalik ke arah rumah, kuharap.
Menukik rendah. Mencari pemandangan yang kukenal.
Akhirnya aku melihat serangkaian lampu. Jalan raya! Tapi jalan raya yang
mana" Aku tak tahu! Hatiku berdebar-debar. Keringat dingin sebesar manik-manik keluar dari
dahiku. Aku tersesat, aku menyadari, menggigil dingin ketakutan.
Aku bermil-mil dari rumah.
Benar-benar tersesat. 21 Aku mendarat di rerumputan tinggi di sisi jalan raya.
Aku mulai berjalan. Mencari tanda untuk memberitahuku dimana aku berada.
Aku berjalan dan berjalan.
Malam itu sunyi, kecuali mobil-mobil yang menderu dan suara gemerisik
menyeramkan yang keluar dari semak-semak di pinggir jalan.
Aku menatap ke semak-semak. Melihatny bergerak-gerak.
Hatiku jadi berdebar lebih cepat
Aku bergerak cepat berlari-lari kecil.
Mobil-mobil dan truk-truk menderu-deru di dekatku.
Suara deringan tajam kacau keluar dari semak-semak tebal di sisi jalan raya.
Aku bisa melihat mata yang gelap bersinar di semak-semak.
"Hei-!" Suatu makhluk berbulu berlari cepat di jalanku.
Seekor rakun" Seekor sigung"
Aku mulai berlari. Di depan, akhirnya aku melihat sebuah tanda jalan raya.
Aku berlari terengah-engah keras sekarang. Awan-awan kotor naik tinggi di
bawah debaman sepatuku. Aku bisa melihat huruf-huruf putih pada tanda itu -tapi aku masih belum bisa
tahu apa katanya. Saat aku berlari ke arah tanda itu, sebuah mobil bergerak di
sampingku dan berhenti. Aku berputar dan terkesiap.
Mobil polisi.

Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ya! Pikirku dengan senang. Polisi! Mereka akan membantuku pulang ke rumah.
"Apa kau perlu bantuan?" Salah satu petugas melangkah keluar dari mobil polisi.
Dia memiringkan topinya ke belakang dan
menatap lurus ke mataku. "Ya. Aku perlu bantuan. Aku tersesat," kataku terengah-engah. "Bisakah anda
membawaku pulang ke Malibu?"
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Jack." "Yah, Jack. Kau cukup jauh dari Malibu. Bagaimana kau bisa sampai disini?"
tanyanya. Aku tak menjawab. Apa yang bisa kukatakan" Aku terbang ke sini"
Mereka akan langsung membawaku pulang. Dan mengunciku dengan semua
gila orang lain di Los Angeles.
"Jack. Apakah seseorang mengantarmu ke sini" "
Aku menggeleng tidak. "Nah, apakah kau jatuh begitu saja dari langit?" Dia terdengar seolah-olah telah
kehilangan kesabaran. Aku mengangkat bahuku dengan lemah.
"Masuk ke mobil, Jack," petugas mengangguk ke arah pintu mobil. "Kita akan
menemukan orang tuamu untukmu."
Oh, tidak! Aku tiba-tiba berubah pikiran. Aku tak dapat membiarkan mereka
mengantarku pulang, aku memutuskan, gemetar panik.
Apa yang akan kukatakan pada Ibu dan Ayah" Bagaimana aku menjelaskan
kepada mereka bagaimana aku bisa sampai di sini"
Aku beringsut menjauh. Petugas meraihku. "Masuk, Jack. Kami akan membantumu. "
"Eh ... tidak, terima kasih," kataku.
Aku mengangkat kedua tangan di atas kepalaku.
Dan lepas landas. Menatap ke bawah aku melihat petugas yang lain melompat dari mobil.
Keduanya berdiri berdampingan, melongo padaku dengan mulut terbuka lebar.
Aku mengikuti lampu jalan raya. Aku tak tahu untuk melakukan apa lagi.
Akhirnya bangunan di Los Angeles tampak kembali. Aku mengeluarkan
desahan panjang lega. Lalu aku berbalik di udara dan terbang pulang ke Malibu.
Aku mendarat diam-diam di belakang garasi. Aku merapikan rambutku.
Meluruskan kaosku. Aku mengambil napas dalam-dalam dan menyelinap ke
dalam rumah. Aku bisa mendengar orang tuaku di ruang tamu, berbicara.
Aku berhenti di dapur dan mendengarkan.
Apakah mereka bicara tentang diriku"
Apakah mereka melihatku pergi"
"Aku tak tahu mencari ke mana lagi," aku mendengar Ayah berkata. "Aku telah
mencari di mana-mana!"
Hatiku mulai berdebar. Apakah aku akan memberitahu mereka"
Aku menahan napas dan mendengarkan lagi.
"Aku tahu! Aku tahu! "Seru Ibu. "Kita harus
tetap tenang. Kau akan segera menemukan klien baru. Seseorang yang benar-
benar berbakat. Aku benar-benar tahu itu. "
Aku menghela napas panjang lega.
Mereka tak tahu. Lain kali, aku harus lebih berhati-hati, aku berjanji pada diriku sendiri. Jauh
lebih berhati-hati. Mia benar. Terbang dapat benar-benar berbahaya.
Terutama jika kau tak tahu kau kemana terbang!
Aku berjingkat ke kamarku dan menutup pintu.
Telepon berdering. "Apa kau siap untuk balapan besar besok?" Itu adalah Wilson.
"Hah" Balapan apa" "tanyaku.
"Aku bilang pada Mr Grossman kita akan mengadakan balapan untuk seluruh
sekolah besok, "Wilson menyatakan.
"Balapan macam apa?" Tanyaku padanya.
"Balapan yang tak akan pernah mereka lupakan!"
22 "Apa kau gila?" Aku menyentakkan Wilson di samping kelas olahraga pagi
berikutnya. "Kita tak bisa balapan!" teriakku.
"Aduh. Ayolah. Jadilah olahragawan yang baik." Wilson nyengir. "Kau cuma marah
karena kau tahu kau akan kalah. "
Di sisi lain dari gedung olahraga, aku bisa mendengar Mr Grossman
mengumumkan balapan pada kelas.
"Balapan khusus, "aku mendengarnya berkata. "Wilson menjanjikan kita semua
kejutan besar! " Aku menjalankan tanganku melalui rambutku.
"Wilson, apa kau lihat apa yang telah kau lakukan?" Suaraku meninggi. "Saat
semua orang tahu bahwa kita bisa terbang, hidup kita akan hancur! "
Wilson mengangkat bahu, lalu membungkuk turun untuk mengikat tali
sepatunya. "Aku tak tahu kenapa kau begitu khawatir tentang itu. Ini akan jadi
keren! " Aku melihat ke sekeliling gedung olahraga. Gedung olahraga ini kosong.
Seluruh kelas telah keluar mengosongkannya, menunggu
perlombaan dimulai. "Siap, anak-anak?" Mr Grossman menyembulkan kepalanya di ambang pintu.
"Siap!" teriak Wilson kembali.
Wilson menarikku melalui gang-gang. Gang yang kosong.
"Ayolah, Jack. Seluruh sekolah di luar. "
Seluruh sekolah. Di luar. Setiap anak di SMP Malibu akan melihat kami
terbang. Ini adalah bencana.
Jika kami meneruskan ini, aku tahu bahwa kehidupanku tak akan pernah sama
lagi. Kami melangkah ke taman bermain. Aku menyipitkan mata pada sinar matahari
yang terang itu. Memicingkan mata pada kerumunan anak-anak, berimpit-
impitan sepanjang lintasan lari untuk menunggu perlombaan untuk dimulai.
Seseorang menarik pada kaosku.
Itu adalah Mia. "Jack, kenapa kau melakukan ini?" tanyanya, matanya melebar
ketakutan. "Wilson mengatakan kepadaku kau akan terbang. "
"Aku - aku tak menginginkannya ," kataku tergagap. "Tapi aku tak bisa berbuat
apa pun tentang ini. Aku tak punya pilihan. "
Mia melindungi matanya dengan tangannya dan melirik Wilson. Cincin hati
ruby-merahnya berkilauan di matahari.
Kami berdua menyaksikan Wilson saat ia menjulur keluar dari garis start.
"Aku sangat khawatir pada kalian berdua, "katanya, matanya terkunci pada Wilson.
Aku menatap kerumunan itu.
Anak-anak bergeser dengan gelisah dari satu kaki ke yang lainnya.
Menonton. Menunggu. Aku ingin lari. Lari pulang dan bersembunyi.
"Hei, Jack!" Teriak Ray kerumunan. "Pergilah! Kau dapat mengalahkannya! "
Ethan berdiri disampingnya, mengacungkan tinjunya ke udara.
"Wilson sudah siap." Mr Grossman berlari ke arahku. "Bagaimana denganmu, Jack?"
Anak-anak mulai bernyanyi. "Balapan! Balapan! Balapan! "
Pelipisku berdenyut-denyut.
Kaosku terasa basah pada kulitku yang basah kuyup dengan keringat.
Apa yang telah kulakukan"
23 Aku harus balapan. Aku tahu aku tak punya pilihan.
Aku harus balapam dan aku harus menang.
Aku melangkah ke Wilson. "Siap, Jackie?" Dia tersenyum, senyum mengerikan Wilson.
Aku mengangguk. Mr Grossman mengibarkan bendera dimulai.
"Siap di posisi kali. Siap-siap. MULAI! "
Wilson dan aku lepas landas.
Kami melambung ke udara. Dengan tangan lurus ke depan, aku berhembus Ke depan. Aku melambung lebih
tinggi, lebih tinggi dan meluncur ke ujung lain taman bermain, meninggalkan
Wilson jauh di belakang. Ya! Aku menang! Akhirnya! Aku akhirnya mengalahkannya!
Aku berbalik di udara, menukik turun, dan kembali ke ujung lain taman
bermain. Aku melirik ke belakangku. Wilson membumbung tinggi dengan
cepat. Mengejar. Dia melayang bersamaku. "Sampai jumpa, Jackie!" Dia nyengir.
Lalu ia terbang ke depan.
Oh, tidak, kau tidak, Wilson. Jangan lagi.
Aku menahan tubuhku selurus anak panah dan melesat maju.
Kami terbang berdampingan sekarang. Aku bisa melihat otot-otot di wajahnya
tegang saat ia mencoba untuk meningkatkan kecepatan.
Tapi ia tak bisa. Dia tak bisa menarik di depanku.
Ujung lain dari taman bermain itu dengan segera terlihat. Dengan mata yang
tertuju ke garis finish, aku melambung dengan segala kekuatanku.
Kami mencapai garis dalam waktu bersamaan. Aku jatuh ke tanah.
"Tali!" Jeritku terengah-engah. "Ini adalah tali! "
Wilson tak menang! "Hei, Wilson" Wilson" " Aku mencari-cari di tanah sekolah.
Lalu aku mendongak. Di sana ia, melayang di atas kepalaku.
"Putaran ke dua! "teriaknya. Dan berangkat.
Aku berlari ke udara. Terlambat. Wilson menyelesaikan putaran kedua memenangkan perlombaan.
*** "Bagus, Jackie," Wilson menepuk bahuku. "Aku tahu aku bisa
mengandalkanmu - untuk kalah!" soraknya.
"Itu tak adil-" aku mulai.
"Hei - apa masalah mereka?" Ia menyelaku,
menunjuk ke kerumunan anak-anak.
Kerumunan yang hening itu.
Tak ada sorak-sorai. Tak ada tepuk tangan. Mereka menatap kami tertegun diam.
Aku berpaling pada Mr Grossman. Rahangnya ternganga. Dia melongo pada
kami tanpa berkata-kata. Aku perlahan-lahan berjalan ke Ray dan Ethan, menatap ke wajah tersenyum
mereka. "Jadi, teman-teman. Apa yang kalian pikir" "
"Kenapa kau tak memberitahu kami bahwa kau bisa terbang?" Wajah Ray mendadak
tersenyum lebar. "Aku - aku ingin mengejutkan kalian!" Kataku, lega.
"Mengagumkam! Benar-benar hebat "teriak Ethan.
"Bisakah kau mengajari kami caranya?"
"Maafkan aku. Aku tak bisa, "aku meminta maaf.
Aku menceritakan kepada mereka seluruh cerita -tentang bagaiman aku
menemukan buku itu dan kehilangannya - saat kami menuju kembali ke
sekolah. "Tim basket kita akan memenangkan setiap pertandingan sekarang!" Seru Ray.
"Lupakan tentang slam dunks! Kau akan pemain pertama yang pernah
melakukan fly-dunk! "
(Slam dunk: gaya dalam permainan bola basket, dengan cara memasukkan bola
ke dalam keranjang dimana muka telapak tangan menyentuh besi pada ring
basket (satu atau dua tangan) setelah bola melewati tinggi dari ring besi
basket. Fly dunk: kalau diartikan secara harfiah hunjaman terbang)
Ray dan Ethan benar-benar bersemangat tentang terbangku.
Tapi, lalu, saat aku berjalan ke kelasku, aku bisa merasakan tatapan dari anak-
anak lain. Mendengar mereka berbisik-bisik. Semua orang membicarakanku.
Beberapa mundur saat aku mendekat.
Mereka takut padaku! *** Sore itu, aku berjalan melalui gang-gang dengan kepala tertunduk. Aku tak
tahan semua bisik-bisik itu, semua tatapan itu.
"Jack!" Perawat sekolah melesat dari kantornya dan menyambarku keluar gang.
"Ada beberapa orang di sini yang ingin bertemu denganmu. "
Dua pria dan dua wanita berdiri kaku di kantor perawat. Seorang pria dan
seorang wanita yang mengenakan setelan bisnis. Dua lainnya mengenakan
celana khaki dan kemeja. Mereka tersenyum hangat padaku.
"Orang-orang ini ilmuwan dari universitas,"
perawat mulai menjelaskan. "Mereka sudah mendengar tentangmu ... eh ...
bakat khusus. Dan mereka ingin menelitimu dan Wilson. "
Aku mundur selangkah. Salah seorang pria mendekatiku. "Jika kau benar-benar bisa terbang, pikirkan
betapa berguna dirimu untuk pemerintah kita mungkin sebagai senjata rahasia
melawan musuh kita. "
Aku menelan ludah. Wanita yang bercelana khaki menjulurkan tangannya.
"Ikutlah dengan kami, Jack." Dia melirik dengan gugup pada yang lain. "Tak akan
ada hal buruk yang terjadi kepadamu."
Yang lain menatapku dari kacamata mereka.
Mereka mengangguk setuju penuh semangat.
"Kami hanya ingin melihatmu. Kau tahu. Melakukan beberapa percobaan
padamu. Di lab kami. "
24 "TIDAK! Aku tak mau jadi menjadi bahan percobaan laboratorium. Aku tak
mau jadi senjata rahasia." teriakku pada mereka.
Kaget dengan teriakanku, para ilmuwan itu terlompat mundur.
Dan aku lari dari ruangan itu.
"Jack, kembalilah!" Panggil perawat sekolah mengejarku.
Aku berlari dengan panik melalui gang-gang. Menabrak anak-anak. Mendorong
mereka menjauh dari jalanku.
"Jack, kami tak ingin menyakitimu!" Kudengar salah satu ilmuwan memanggil.
Dengan kepala tertunduk, aku menyerbu ke depan, zig-zag melalui gang yang
penuh sesak itu. Menyikut anak-anak yang
ada di jalanku. "Hei, hati-hati!" Suara-suara marah mengiringiku saat aku mendadak keluar pintu
sekolah dan melompat ke bawah
anak tangga. Aku berlari sepanjang perjalanan pulang. Aku tak berhenti. Aku tak melirik ke
belakang. Aku berlari keras - meskipun paru-paruku rasanya mau meledak.
Aku membuka pintu depan (rumah)ku dengan suara keras. Lalu membantingnya
menutup dan bersandar padanya, dengan napas terengah-engah.
"Jack?" panggil Ayah dari ruang tamu.
Mengapa Ayah pulang di tengah sore"
Aku berjalan ke ruang tamu dan menemukan kedua orang tuaku menungguku.
Ayah berdiri dengan tangannya masuk ke dalam celana sakunya.
"Jack, telepon kita berdering sepanjang sore, "katanya tegas. "Kami mendengar
tentang dirimu. Tentang apa yang lakukan di sekolah hari ini. "
Aku melirik pada Ibu. Dia mengangguk serius.
"Kau berada dalam kesulitan besar." Ayah terdengar benar-benar marah sekarang.
Aku menelan ludah. "Kenapa" Apa yang akan kalian lakukan" "
25 "Apa yang harus kami lakukan, Jack?" Ayah melangkah bolak-balik di
depanku. "Kami tak percaya kau tak memberitahu kami lebih cepat. "
"Maaf ..." Aku bergumam. "Maksudku, aku ingin memberitahu kalian bahwa aku bisa
terbang. Tapi ... " Ekspresi ayah berubah. Matanya bersinar gembira. "Jika kau benar-benar bisa
terbang, kau akan jadi aktor terpanas di negara ini. Kau akan jadi superstar,
Jack. Kau akan menghasilkan jutaan! "
Wajah Ibu menyunggingkan senyum lebar.
"Kita akhirnya menemukannya!" Kata Ayah padanya. "Aku tak percaya ini.


Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Selama ini kita sudah mencari di mana-mana dan ini tepat di bawah atap rumah
kita sendiri. Kita akhirnya menemukan aktor BESAR! "
*** "Hadirilah, nyonya-nyonya and tuan-tuan! Selamat Datang di pembukaan
Marva's Malibu Motor! "
Marvin Milstein berdiri di panggung yang menjulang tinggi.
Dia berteriak di pengeras suara, mengumpulkan kerumunan yang besar di
banyak di depan mobil barunya.
Aku berdiri di dalam showroom (ruang pajangan mobil). Aku mengintip keluar
- melihat kerumunan itu bertambah banyak. Ratusan orang terjebak ke tempat
parkir. Ratusan orang lebih berusaha mendesak masuk.
Mereka berdesak-desakan. Berdampingan di bawah matahari yang panas. Dan
menunggu. Menungguku. Bocah Terbang yang Menakjubkan.
"YA!" Marv terus berteriak. "Bocah Terbang yang Menakjubkan ada di sini!
Sebentar lagi, Anda akan melihatnya terbang di atas Silver Hawks, (mobil)
kiriman baru kami. "Silver Hawk!" Marv menunjuk tepat pada mobil perak mengkilap yang berputar
perlahan-lahan di panggung. "Lonjakan mobil itu begitu lancar, Anda akan
bersumpah roda itu tak pernah menyentuh tanah. "
Orang-orang dengan rapat memadati setiap jengkal tanah dalam kerumunan itu.
Aku bisa mendengar dengungan kerumunan itu melebihi pengeras suara Marv.
"Di mana Bocah Terbang itu" Bisakah dia benar-benar terbang" " aku
mendengar teriakan anak kecil.
Tenggorokanku tercekat. Ibu muncul di belakangku dan meletakkan tangannya pada bahuku. "Kau
tampak hebat, Jack!"
Aku menatap ke bawah ke kostum yang telah dibuat Ibu untukku. Kostum
pahlawan super keperakan. Sepatu metalik. Dan jubah berwarna perak.
"Bisakah kau percaya kerumunan ini?" Seru Ayah. "Sepuluh stasiun TV di luar sana
dengan kru berita mereka. Dan banyak sekali wartawan dari setiap surat
kabar di negara ini. Mereka semua di sini untuk melihatmu, Jack! "
"Aku tak tahu, Yah." Aku menatap ke
kerumunan yang bertambah banyak itu. "Apa kau yakin ini ide yang baik?"
"Ide yang bagus" Tidak, aku tak berpikir ini ide yang baik. Ini ide yang hebat!
Ini ide yang luar biasa!" teriaknya. "Dan ini baru saja dimulai, Jack. Kau akan
segera punya acara TV sendiri. Filmmu sendiri. Aksimu sendiri ! "
Gerombolan orang-orang di luar menjadi tidak sabar.
"APAKAH KALIAN ... ... SIAP?" teriak Malibu Marv di pengeras suara itu,
memancing kerumunan itu. "YA!" jawaban mereka bergemuruh di telingaku.
"Sudah waktunya, Jack!" Mata Ayah bersinar
gembira. Aku seharusnya terbang di atas mobil-mobil, membawa iklan dengan tulisan
besar-besar. Ayah menyerahkan IKLAN itu padaku. bacaannya:
TERBANGLAH DENGAN SILVER HAWK, HANYA DI MALIBU MARV'S.
Aku melangkah keluar dan menaiki tangga panggung untuk mengambil
tempatku di samping Marv.
Aku menatap kerumunan itu. Pada wajah-wajah mereka yang menunggu.
Pada mata ragu-ragu mereka.
Lalu aku lepas landas. Dan kerumunan itu terkesiap kaget.
Aku terbang berkeliling membawa iklan besar itu, menatap ke bawah pada
orang-orang saat mereka ternganga padaku.
"Dia terbang! Dia benar-benar terbang!" Kudengar seseorang berteriak.
Aku mencari wajah-wajah di bawah -mencoba untuk menemukan Mia,
Ethan, atau Ray. Aku tak melihat mereka berhari-hari. Aku melayang mengitari
mobil-mobil itu, tapi aku tak dapat menemui tanda-tanda mereka di kerumunan.
"Kalian melihat keajaiban, saudara-saudara!" suara Marv yang diperkuat (dengan
pengeras suara) melayang ke arahku. "Dan harga Silver Hawk kami
juga ajaib! " *** Pagi berikutnya, Ayah membawa wartawan dari Time dan Newsweek untuk
mewawancaraiku. Para wartawan itu bertanya padaku dengan banyak
pertanyaan: Kapan kau belajar untuk
terbang" Bisakah kau mengajarkan anak-anak lain bagaimana melakukannya"
Ramuan rahasia apa yang kau makan" Kata-kata sihir apa yang kau nyanyikan"
Kemudian para fotografer menjepret foto diriku yang terbang berkeliling
halaman belakang. Orang-orang dan TV Guide yang muncul berikutnya. Mereka menanyakan
pertanyaan yang sama. Mengambil gambar yang sama.
Mia menelpon. Dia memintaku untuk pergi berseluncur bersamanya sore itu.
Aku ingin pergi, tapi aku tak bisa.
Seseorang dari Journal Wall Street akan datang untuk mewawancaraiku.
Aku ingin memberitahu mereka untuk berbicara dengan TV Guide - mendapat
jawaban dari mereka. Tapi aku tahu Ibu dan Ayah tak akan menyukainya.
Mereka bekerja sangat keras untuk membuatku mendapatkan semua wawancara
itu. *** "Sampai nanti!" seruku pada Ibu dan Ayah pagi berikutnya. Aku pergi ke taman
untuk main basket dengan Ray dan Ethan.
"Wah! Tunggu!" Ayah menyerbu ke dapur.
"Di mana kau akan pergi?"
"Untuk main basket dengan teman-temanku. Aku tak akan pulang terlambat,"
kataku. "Maaf, Jack. Tapi kau tak bisa pergi. "
"Mengapa tidak?" Tanyaku, bingung. "Aku tak ada wawancara apa pun hari ini."
"Karena basket bukanlah jenis latihan yang tepat untuk seorang pahlawan super
yang terbang!" Ayah menepuk punggungku. "Kau harus melakukan sit-up, push-up,
berlari beberapa lintasan - meningkatkan kekuatan dan stamina untuk
terbangmu yang terbaik! "
Dia mendorongku ke arah pintu. "Kau harus
olahraga fisik tiap hari, Jack. Setiap hari. Sekarang, mari ayo kita mulai. Aku
akan latihan denganmu di halaman belakang. "
*** Aku tak bertemu Ray, Ethan atau Mia seminggu itu.
Aku punya lebih banyak wawancara yang dilakukan. Dan latihan. Dan
menyusun kostum. Dan aku melakukan penampilan terbang untuk pembukaan
restoran baru di Santa Monica.
Akhirnya hari Sabtu tiba. Ibu dan Ayah bilang aku itu hari liburku. Tak ada
wawancara. Tak ada latihan. Tak ada
pekerjaan. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan.
Aku bangun lebih awal untuk pergi main sepatu roda dengan Mia. Saat aku
menuju pintu keliar, Ibu menghentikanku. "Jack, kau tak boleh keluar itu! "
"Seperti apa?" Tanyaku, menatap kaosku dan celans jins sobek-sobek.
"Seperti itu," katanya, menunjuk ke pakaianku. "Kau sekarang bintang. Kau harus
memakai kostum terbangmu saat kau pergi keluar. Jadi penggemarmu
takkan kecewa. " "Tapi, Bu!" Protesku. "Aku tak bisa pakai jubahku untuk pergi meluncur. Tak
mungkin aku akan memakai celana ketat perak di
taman! " Aku menelepon Mia dan mengatakan padanya aku tak bisa pergi. Aku beringsut
murung ke ruang tamu dan menyalakan TV.
Aku tahu bahwa terbang di depan seluruh sekolah itu sebuah kesalahan besar.
Aku tahu itu akan menghancurkan hidupku. Aku tahu itu!
Aku tak bertemu teman-temanku seminggu ini. Aku mungkin akan tak pernah
melihat mereka lagi! Aku akan menghabiskan seluruh hidupku terbang dengan kostum bodoh, tak
pernah menyenangkan! Aku sadar.
Aku menggonta-ganti saluran TV tanpa tujuan.
Aku menggonta-ganti dan memindah-mindah, menonton siaran program-
program di layar. Dan lalu aku berhenti - saat aku melihat Wilson.
Wilson di TV! Wilson mengenakan kostum pahlawan super yang benar-benar keren dengan
aliran neon yang berkerlap-kerlip.
Mataku terbelalak saat aku melihatnya. Dia melambung mengitari puncak
gunung, menyelamatkan orang dari tebing yang curam.
"Kami akan kembali ke Si Ajaib Wilson dan Penyelamatannya yang
menakjubkan sebentar lagi! " kata penyiar TV.
Huh" Si Ajaib Wilson dan Penyelamatannya yang menakjubkan.
Aku menggeleng. "Aku melakukan pembukaan restoran dan Wilson sudah punya acara TV
sendiri!" ratapku. Tak PERNAHKAH AKU mengalahkan Wilson" SELAMA-LAMANYA"
Aku mendengar ketukan di pintu. Aku senang untuk meninggalkan ruangan
sebelum Si Ajaib Wilson kembali di TV.
Aku membuka pintu dan melihat tiga pria berwajah serius berseragam hijau
berdiri di sana. Tentara berseragam.
"Jack Johnson?" Tanya salah satu dari mereka tegas.
Aku mengangguk ya. "Bagus." Dia menjulurkan tangannya. "Kau harus ikut dengan kami.
26 Aku berdiri di tengah ruangan hijau kusam.
Sebuah laboratorium militer.
Tanpa jendela. Ruangan itu berbau seperti kantor dokter. Kau tahu. Bau alkohol yang keras itu.
Aku melirik ke pintu. Gerendel baja padat menguncinya.
Sebuah kursi dengan cangkir hisap menempel di seluruh bagian belakang dan
satu kursi berdiri di salah satu sudut ruangan. Kabel-kabel listrik mengalir
dari setiap gelas. Aku membayangkan bahwa itu tampak seperti kursi listrik penjara. Tak
mungkin pernah aku duduk di atasnya!
Hatiku mulai berdebar saat sekelompok ilmuwan tentara berjas lab putih
mengelilingiku. Mereka menatapku, mata mereka bergerak ke atas dan bawah
tubuhku. Mereka menulis pada clipboard yang mereka pegang di tangan mereka.
Lalu mereka menatapku lagi.
"Oke, Jack. Kita akan melakukan beberapa
tes. Apa kau siap" "Tanya salah satu ilmuwan itu.
"Tidak!" teriakku. "Aku tak siap. Aku mau pulang! "
"Maaf, Jack," kata ilmuwan itu. "Kami belum bisa membiarkanmu pergi.
Sekarang - silakan ikutlah dengan kami. "
Mereka membawaku keluar ke sebuah halaman yang luas. Halaman tertutup
layar. Aku merasa jika aku dalam sebuah tenda sirkus yang sangat besar.
Begitu kami tertutup, para ilmuwan mulai berteriak memerintah padaku:
Terbanglah di punggungmu.
Terbanglah di perutmu. Terbanglah dengan mata tertutup.
Terbanglah dengan kaki disilangkan.
Tahan napasmu dan terbanglah.
Pegang telingamu dan terbanglah.
Tahan pikiranmu dan terbanglah.
Mereka memerintahkanku untuk terbang dengan seribu cara yang berbeda.
Mereka tak akan berhenti.
Mereka tak akan beristirahat sampai aku terengah-engah seperti anjing.
Salah seorang ilmuwan memberiku sebotol air dingin.
Dia memberi isyarat bagiku untuk duduk di tanah. Mereka membentuk
lingkaran di sekelilingku.
"Oke, Jack," kata ilmuwan lain. "Waktunya untuk beberapa pertanyaan.
Pertama-tama beritahu kami - berapa lama kau telah terbang" "
Pertanyaan yang sama sekali lagi.
"Cuma beberapa minggu," jawabku.
Semua ilmuwan menuliskan jawabanku.
"Bagaimana kau belajar terbang?" Tanyanya.
"Apa kalian tak membaca Time atau Newsweek atau TV Guide?" tanyaku.
"Jawab saja pertanyaannya, Jack," kata ilmuwan itu tegas.
"Aku makan sebuah formula khusus," jawabku, memutar-mutar mata tak sabar.
Kepala para ilmuwan itu tersentak dari clipboard mereka. "Apa yang ada dalam
formula khusus itu?"
"Aku tak ingat," jawabku.
"Ya, kau ingat, Jack." Ilmuwan itu melangkah mendekatiku. Dia menatap tajam ke
mataku. "Sekarang katakan."
Aku berpikir keras, berusaha mengingat apa yang ada dalam ramuan itu. Tapi
aku tak bisa. "Aku - aku benar-benar tak ingat," Aku tergagap.
"Pikirkan lebih keras, Jack," desaknya. "Kau tahu apa yang ada di dalamnya.
Beritahu kami. " Hatiku berdebar-debar di dadaku. "Aku - aku tak ingat. Aku mengatakan yang
sebenarnya. Aku benar-benar tak ingat."
Para ilmuwan tak mempercayaiku. Mereka menunggu.
Menatapku dengan mata tak berkedip. Menunggu jawabanku.
Aku menatap ke bawah sepatuku untuk melarikan diri dari tatapan keras
mereka. Dimana orang tuaku" Apa mereka tahu aku ada di sini"
Aku bisa merasakan sebutir keringat mengalir di bawah punggungku.
"Tolong, biarkan aku pergi!" Aku memohon.
"Maaf, Jack," kata salah satu ilmuwan itu. "Pertama kau harus menjawab
pertanyaan itu." "Tapi aku tak bisa! Aku bilang - aku tak ingat! " jeritku.
"Oke. Kita teruskan," kata ilmuwan itu.
Yang lain mengangguk setuju.
Aku mengeluarkan napas lega.
"Jack - kita akan kembali ke sana." Para ilmuwan itu membimbingku saya ke
ruangan kecil itu. "Sekarang - duduklah di kursi itu."
"Hah" Apa yang akan kalian lakukan padaku?" Tanyaku.
27 Lebih banyak pertanyaan lagi.
Lalu lebih banyak demonstrasi terbang.
Lalu mereka mengaitkanku ke cangkir-cangkir hisap itu di kursi. Itulah yang
terburuk. Alat itu mengukur seberapa cepat detak jantungku. Seberapa cepat urat nadiku
berjalan. Seberapa cepat mataku berkedip. Berjam-jam dan berjam-jam
mengukur gerakan-gerakan kecil tubuhku. Bergerak turun untuk perpindahan
suatu gerakan. Lalu mereka melemparkanku ke dalam tangki logam dan mengambil semacam
gambar laser dariku. Lalu mereka menanyakan lebih banyak pertanyaan.
Sepuluh jam kemudian, Ayah duduk di sampingku di sofa ruang tamu, meminta
maaf. "Aku benar-benar menyesal, Jack. Mereka tak memberi kami pilihan. Mereka bilang
kau harus pergi dengan mereka. Tapi mereka tak memberitahu kami
bahwa ini membutuhkan waktu begitu lama. "
Ayah mendesah. "Aku sangat sibuk mendapatkan pekerjaan terbangmu, aku
memperingatkanmu bahwa mereka akan datang. Tapi lupakan itu semua, Jack.
Aku punya berita bagus. Aku sudah mengatur balapan seumur hidup. "
"Balapan" Balapan macam apa?" tuntutku.
"Balapan antara dirimu dan Wilson!" seru Ayah. "Balapan yang Bocah Terbang yang
Menakjubkan dan Si Ajaib Wilson - Pertunjukan pertama kalian bersama-sama!
Pemenang akan menerima satu juta dolar! Pikirkan itu, Jack. SATU
JUTA DOLAR! " "Satu juta dolar?" Aku tak mempercayainya.
"Perlombaan akan di siarkan TV di seluruh dunia." Ayah berdiri dan mulai mondar-
mandir. "Dua miliar orang akan
menonton. " Wow. Satu juta dolar! Dan semua orang di dunia akan melihatku terbang seperti
pahlawan super. Wilson dan aku akan jadi dua anak palin terkenal di bumi!
Ini benar-benar mengagumkan!


Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dan jika kau memenangkan balapan, Nak - itu bernilai miliaran dolar!" tangan
Ayah teracung di udara saat ia berbicara. "Pikirkan iklan TV yang akan kau
dapatkan! Kau akan jadi bintang di seluruh dunia! "
Aku perlahan-lahan bangkit dari sofa. "Aku - aku harus pergi keluar jalan-jalan,
Yah. Aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. "
Aku berjalan menyusuri blok, berpikir tentang semua yang Ayah katakan.
"Hei, ada Bocah Terbang Yang Menakjubkan!" Teriak seseorang dari sebuah mobil
yang melintas. "Itu dia! Itu dia! Anak yang terbang! "
Teriakan-teriakan dari mobil lain sekarang. Orang-orang menunjuk.
Bersorak. Melambai. Dari hampir tiap mobil yang berjalan.
Aku berjalan lebih cepat. Dengan kepala tertunduk.
"Bocah Terbang Malibu Motors! Anak terbang Marv! "
Lebih banyak teriakan-teriakan lagi.
"Anak terbang Johnson!"
Aku mendengar langkah-langkah kaki di belakangku.
Aku menoleh ke belakang. Sekelompok anak-anak mengikutiku. Aku mulai
berlari-lari kecil. "Bocah Terbang! Pelan-pelan!" Mereka mulai mengejarku. "Terbanglah untuk kami!
Ayolah, lepas landas. Terbanglah memutari
blok! " Aku mulai berlari. Aku merunduk di balik semak-semak sampai mereka lewat.
Lalu aku berjalan lagi - tetap dalam bayang-bayang.
Aku akan menjadi anak paling terkenal di bumi, saya berpikir, mencoba
menghibur diriku. Aku akan balapan di hadapan dua miliar orang- dan lalu hidupku tak akan
pernah sama lagi. Aku akan jadi kaya dan terkenal.
Kaya dan terkenal. Perutku menegang. Semua ototku menegang.
Bisakah aku melakukan itu"
Bisakah aku balapan di hadapan dua miliar orang"
Dan paling penting -bisakah aku akhirnya mengalahkan Wilson"
28 Hari balapan besar. Ibu, Ayah, dan aku naik ke bagian bawah
Hollywood Hills. Itulah tempat di mana balapan akan dimulai.
Wilson dan aku akan lepas landas dari sana. Lalu terbang ke tanda
HOLLYWOOD. Lalu turun kembali lagi.
Ayah menjalankan mobil kami dengan pelan sampai ke balapan itu.
Ribuan orang telah keluar untuk menonton Wilson dan aku terbang.
Ribuan orang menyaksikan saat mobil kami melaju. Tangan-tangan mereka
menekan pada mobil. Mata melongo mereka menatapku melalui jendela mobil.
Gerombolan tubuh-tubuh dan wajah-wajah perlahan-lahan bersama kami.
Begitu banyak orang, mereka menghalangi sinar matahari yang keluar.
Aku duduk dalam kursi gelap di belakang.
Menatap wajah-wajah yang ternganga padaku.
Mendengarkan teriakan-teriakan mereka
Itu dia! Dia di sini. Apa kau gugup" Bisakah kita berbicara denganmu sebelum balapan.
Apa yang kau makan untuk sarapan.
Apa yang akan kau lakukan dengan semua uang itu.
Apa kau datang ke sekolah kami dan terbang.
Apa kau dari planet lain.
"Hei!" Seseorang menggedor jendela mobil dan aku melompat. "Bisakah aku mendapat
tanda tanganmu?" Dia menggedor lagi. Aku mundur di kursiku.
"Cukup menarik, ya?" Ayah tersenyum di cermin spion.
Jack, kami mencintaimu! Jack, kau menakjubkan! Jack ajari aku bagaimana
untuk terbang! Teriakan-teriakan bergemuruh di sekelilingku.
Ayah memarkir mobil. Kerumunan orang banyak menekan-nekan pintu mobil. Menghalang-halangi
kami Mobil mulai berayun-ayun di bawah berat badan mereka.
Hatiku mulai berdebar-debar.
Aku meraih ke kursi erat-erat, buku-buku tanganku memutih.
"Ayo terus. Minggir." Sepasukan polisi mengosongkan jalan untuk mobil.
Para petugas membuka pintu.
Aku tak bergerak. "Ayo kita pergi, Jack. Sudah waktunya! "Kata Ayah.
Dengan kaki gemetar, aku melangkah keluar mobil. Suara gemuruh yang
memekakkan telinga datang dari kerumunan orang-orang.
"Jack. Jack. Jack." Nyanyian itu bergemuruh di telingaku.
Para polisi membentuk barikade, menahan mundur orang-orang yang berteriak,
bersorak, dan bernyanyi itu. Aku berjalan ke panggung beton besar itu yang
dibangun khusus untuk balapan.
Uluran lengan-lengan menjulur untuk menyentuhku.
Tangan-tangan menyambar lenganku. Meraih jubahku.
Menyambar. Meraih dengan panik. Menarikku ke arah mereka.
Aku berusaha untuk berjalan. Untuk menarik bebas dari sambaran-sambaran
tangan. Polisi mencoba menahan mundur kerumunan tapi orang-orang menyentak maju
dalam gelombang yang berat.
Mereka menerobos penghalang polisi itu.
Menekanku. Mulai menghancurkanku. Aku tenggelam. Tenggelam dalam tangan-tangan, kaki-kaki dan wajah-wajah
yang berbicara. Gelombang kepanikan melandaku.
Aku kehilangan Ibu dan Ayah dalam lautan tubuh itu.
Kerumunan orang itu menyapuku. Membawaku bersama mereka.
Jack! Jack! Jack! Mereka meneriakkan namaku dengan keras dan lebih keras.
"Ibu! Ayah!" Aku mencoba berteriak lebih keras dari gemuruh kerumunan orang-
orang itu. Aku tak bisa melihat. Aku tak bisa bernapas. Aku terengah-engah. Aku - aku tak akan berhasil, aku menyadari.
Kerumunan itu menelanku. Menelanku naik.
27 Lalu aku merasa seseorang meraih bawah bahuku.
"Ke arah sini, Jack." Dua polisi membimbingku naik ke anak-anak tangga panggung.
Empat orang lain perwira berseragam gelap mengelilingiku.
Ketika aku mencapai puncak, aku mengambil napas dalam-dalam dan menatap
ke orang-orang itu. Ribuan orang-orang terentang bermil-mil.
"Jack!" Seseorang menyorongkan mikrofon ke wajahku.
"Jack! Di sini. "mikrofon lagi.
Jack! Jack! Jack! Ratusan mikrofon tiba-tiba muncul di depanku.
Kamera berkilat. "Apakah kau pikir kau bisa menang?" tuntut seorang wartawan.
"Aku-" "Kapan kau belajar terbang?" Wartawan lain.
"Tiga bulan-" "Apa ramuan rahasia itu?" Wartawan lain.
Semua orang mengajukan pertanyaan sekaligus.
Kamera-kamera berkilat. JACK! JACK! JACK! Semua orang memanggilku.
Aku jadi berkeringat dingin yang hebat.
Aku menarik kerah kostum perakku.
Tersedak, pikirku. Ini ... Membuatku tersedak .
Gerombolan orang-orang terus menerus memanggil namaku.
Dan nama Wilson. Aku melirik ke sisi lain dari panggung.
Ada dia. Wilson dalam pakaian pahlawan supernya yang gemerlapan. Tangan
berkacak pinggang. Dadanya menggembung keluar. Tertawa dengan wartawan
surat kabar. Tersenyum untuk penulis majalah. Membual ke kamera-kamera
TV. Ia MENYUKAI ini! Aku sadar. Bagaimana dia bisa" Bagaimana mungkin ada
orang yang menyukai ini"
"Kita akan mulai," kata penyiar padaku saat dia melambai kepada Wilson.
"Ini dia." Wilson menepuk punggungku. "Aku benar-benar menyesal, Jackie. "
"Menyesal untuk apa?" Tanyaku.
"Menyesal harus mengalahkanmu di depan dua miliar orang!" soraknya.
"Semoga beruntung, Jackie. Kau butuh itu. "
Seorang wasit dengan baju bergaris-garis meminta kami untuk berjabat tangan
sebelum balapan. Aku menjabat tangan Wilson dan mencoba untuk menghancurkan jarinya. Tapi
Wilson hanya tersenyum dengan senyumannya yang mengerikan.
"Balapan akan dimulai!" Suara penyiar menggelegar dari pengeras suara besar.
Orang-orang banyak bergemuruh. Tapi gemuruh itu memudar jadi suara
berbisik-bisik. Wasit mengangkat pistol start.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menahannya.
Aku menutup mataku dan menunggu untuk mendengar ledakan pistol.
DOR! 30 Suara pistol itu bergema di telingaku.
Aku membuka mataku tepat untuk melihat Wilson lepas landas. Jubahnya
beterbangan di punggungnya saat ia mengangkat (dirinya) ke langit.
Aku mengangkat tanganku. Aku melompat ke udara. Dan mendarat keras pada kakiku.
Kesiap kaget muncul dari keramaian.
Aku mengangkat tanganku lagi. Keduanya gemetar saat aku menunjuk ke
langit. Aku membungkukkan lututku. Lalu melompat kuat-kuat.
Dan mendarat dengan suara berdebum keras di panggung beton.
Aku bisa mendengar napas orang banyak. Aku bisa melihat mereka melongo,
mata mereka melebar. Tertegun. Mereka semua tertegun.
Aku mencoba lagi. Tak ada apa-apa. Aku melirik ke atas untuk melihat Wilson melayang tinggi, mendekati tanda
HOLLYWOOD yang besar. "Aku - aku tak bisa terbang!" Teriakku. "Aku tak bisa terbang lagi. Aku sudah
kehilangan (kemampuan terbang)! Ini sudah lenyap! "
Ayah melompat ke panggung. Wajahnya panik.
"Coba lagi! Coba, Jack! Teruslah berusaha! "
Aku menarik napas panjang dan dalam.
Aku merapatkan kedua kakiku.
Aku membungkukkan lututku dan dengan segenap kekuatanku - aku melompat
naik. Dan turun. Tak ada apa-apa. Tak ada gunanya. "Aku sudah kehilangannya!" Jeritku. "Aku tak bisa terbang lagi! Aku tak bisa
terbang! " Aku menatap ke atas dan melihat Wilson melambung di atas tanda
HOLLYWOOD, berputar, dan mulai kembali.
Wilson menang lagi, kataku pada diriku sendiri. Wilson menang lagi.
31 Saat musim panas berlalu, kami tak sering berjumpa Wilson. Dia sedang sibuk
terbang sepanjang waktu. Acara TV-nya setiap minggu. Dan ia membuat
puluhan pertunjukan terbang di seluruh negeri.
Pada musim gugur, ia harus meninggalkan SMP Malibu karena dia selalu
bepergian. Selalu membuat pertunjukan terbang. Selalu bekerja, bekerja.
Dikejar waktu. Aku melihat di berita TV bahwa para tentara mengikutinya kemanapun ia pergi,
melakukan eksperimen pada dirinya. Mencoba untuk mencari tahu bagaimana
membuat orang-orang lain untuk terbang.
Saat Wilson di rumah, dia terlalu lelah untuk menemui teman-teman lamanya.
Mia mengatakan itu tak masalah. Dia mengatakan ngobrol denganku jauh lebih
menyenangkan. Aku kembali ke kehidupan lama normalku. Morty juga. Dia akhirnya keluar
dari rumah anjingnya. Dan dia tak melayang di atas tanah lagi - tidak sejak aku
mengikatkan dua pon pening anjing di tali pengikatnya.
Ethan, Ray dan aku akan bermain Lakers malam ini. Dan besok, Mia
mengundangku untuk pergi ke konser Purple Rose dengannya. Minggu depan
kami ikut les tenis bersama-sama.
Kami tak pernah membicarakan balapan besar itu dan bagaimana Wilson
menang. Kami tak pernah bicara tentang terbang sama sekali.
Aku menjaga rahasiaku dari Mia. Aku menjaga rahasiaku dari semua orang.
Aku tak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa aku masih bisa terbang.
Dan aku tak pernah memberitahu siapa pun bahwa aku hanya pura-pura
kehilangan kemampuan terbangku di pagi hari balapan itu.
Ya. Kau mendengarku. Aku hanya berpura-pura.
Aku membiarkan Wilson memenangkan perlombaan.
Mengapa" Karena aku tahu itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa menang.
Itulah satu-satunya cara agar aku bisa mengeluarkan ribuan orang dari
kehidupanku. Itulah satu-satunya agar bisa mendapatkan teman-temanku
kembali. Satu-satunya cara aku bisa kembali hidup normal. Satu-satunya cara
aku bisa senang. Aku sudah bilang padamu. Aku bukanlah termasuk jenis anak yang suka
berkompetisi. Aku tak suka bersaing. Aku tak perduli akan kemenangan.
Jadi, aku benar-benar beruntung. Karena meskipun aku tak perduli akan
kemenangan - telah aku memenangkan semuanya.
Kadang-kadang, di saat larut malam, aku menyelinap keluar rumah. Dan aku
terbang di atas Malibu, tinggi di atas lautan. Aku menatap ke bawah pada
gelombang berkilauan di bawah sinar bulan. Aku
melambung dengan angin dan berlayar ke arah bulan, merasakan angin laut
dingin di wajahku. Dan kupikir betapa beruntungnya aku.
Dan betapa pandai. Dan aku berharap Si Ajaib Wilson lebih beruntung.
Sungguh ... End Catatan: Twister adalah permainan yang mengandalkan kemampuan keluwesan tubuh
yang dapat dimainkan oleh dua orang atau lebih.
Permainan ini menggunakan sebuah alas/karpet yang cukup lebar yang
direntangkan di atas lantai dan memiliki sejumlah lingkaran bewarna.
Warnanya terdiri atas warna merah, kuning, hijau, dan biru. Tiap lingkaran
dengan warna yang sama disusun pada baris yang sama.
Selain itu, terdapat juga sebuah spinner -semacam alat penunjuk- yang
digunakan untuk menunjukkan dimanakah pemain harus meletakkan tangan
atau kakinya. Spinner ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu left foot (kaki
kiri), right foot (kaki kanan), left hand (tangan kiri), dan right hanf (tangan
kanan). Tiap bagian ini, memiliki keempat warna tadi.
Cara memainkan permainan ini adalah dengan memutar spinner sehingga
menghasilkan kombinasi, misalnya right foot red (kaki kanan merah). Maka,
pemain yang memutar pada saat itu harus meletakkan kaki kanannya di
lingkaran merah pada karpet tadi.
Berikutnya dilanjutkan oleh pemain lainnya. Tidak ada lebih dari satu tangan
ataupun kaki yang berada pada lingkaran yang sama. Pemain dinyatakan kalah
apabila terjatuh atau menyentuhkan siku atau lutut ke karpet.
Scan dan Ebook bahasa Inggris: Undead
Terjemah: Farid ZE Blog Pecinta Buku - PP Assalam Cepu


Goosebumps - 52 Ramuan Ajaib di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dewi Maut 25 Pendekar Rajawali Sakti 99 Pelangi Lembah Kambang Kisah Para Penggetar Langit 4
^