Pencarian

Misteri Manusia Kera 1

Hardy Boys Misteri Manusia Kera Bagian 1


Hardy Boys Misteri Manusia Kera Edit by : zheraf.net http://www.zheraf.net isi 1. Telapak kaki raksasa 2. Serpihan-serpihan petunjuk
3. Serangan gelap 4. Kejutan seram mengerikan
5. Kabar hangat 6. Bayangan yang lekat 7. Manusia otot 8. Isyarat-isyarat di laut
9. Mandi dalam 10. Pesan penting 11. Lagi-lagi jimat 12. Bayangan hantu 13. Sebentuk wajah di balik jendela
14. Rahasia yang dicuri 15. Petunjuk kata sandi 16. Karena umpan terjebak
17. Terbang malam 18. Raksasa yang sedang tidur
19. Duet tersembunyi 20. Jeritan-jeritan akhir
1. Telapak kaki raksasa "Kita beruntung, Frank!" kata Joe Hardy, si pirang berumur tujuh belas tahun,
pada suatu sore. "Kedua kursi malas itu kosong, dan pesawat TV hanya untuk kita
berdua!" "Bagus!" kata kakaknya tertawa. "Tepat waktunya untuk menonton si Manusia Kera!"
Frank, yang berambut hitam dan setahun lebih tua dari Joe, memutar tombol TV,
dan keduanya mengambil tempat duduk untuk menonton acara mingguan, Manusia Kera.
Pahlawan dari pertunjukan itu ialah tokoh buku komik yang tegap berotot, beralis
mata tebal dan rahang ke bawah. Peninggalan tunggal dari
sisa manusia gua Neanderthal yang masih hidup. Dalam cerita itu ditemukan oleh
seorang ilmuwan di sebuah pulau terpencil, lalu dibawa ke Amerika. Frank dan Joe
sedang menikmati acara tersebut, dan cerita malam ini akan menyajikan sesuatu
yang menggetarkan. Beberapa saat kemudian, keduanya mendongak. Mereka mendengar suara berdenting
tertahan dan lengkingan di luar.
"Suara apa itu?" Joe bertanya.
"Tidak mungkin kalau suara terompet kabut. Laut tidak terlalu dekat, biarpun
mungkin pantai berkabut."
Joe duduk lebih dekat pada pesawat TV. Ia mengecilkan suara TV, mereka lalu
mendengarkan dengan lebih seksama. Suara-suara itu kedengarannya datang dari
salah satu sisi rumah. "Ada seseorang masuk ke halaman!" seru Frank. Ia bangkit dan membuka jendela.
Mereka melihat ke luar. Ada sesuatu yang bergerak-gerak di kegelapan bayangan
semak-semak di sisi halaman. Mereka memusatkan pandangan mencari-cari. Sesuatu
yang remang-remang mulai membentuk sesosok tubuh di keremangan terang bulan.
"Ular beludak! Apa itu?" tanya Joe megap-megap.
Sosok tubuh itu terbungkus logam. Wajahnya datar berupa tengkorak. Sebuah
terompet yang bulat seperti terompet pemburu tergantung menye-lempang di pundak.
Sebentar-sebentar makhluk itu berhenti, dan meniup terompetnya melengking
mengerikan. Pada pergelangan tangan kiri tergantung sebuah lonceng, berdenting-
denting rawan mengikuti ayunan tangan.
"Uuh" Apakah aku benar-benar melihat sesuatu?" Frank menggumam. "Kalau aku tak
salah, itu kan Setan Maut!"
"Betul!" kata Joe.
Mereka teringat akan makhluk yang sangat dikenal oleh para penggemar buku komik.
Tidak seperti si Manusia Kera, Setan Maut ini adalah penjahat, yang biasanya
bertarung melawan petugas-petugas hukum yang dipimpin oleh Kapten Star.
Makhluk yang mengerikan itu bergerak langsung mendatangi mereka. Tiba-tiba ia
berhenti, lalu mengacungkan kedua belah tangannya lurus ke arah kakak-beradik
Hardy. Seolah-olah hendak melepaskan petir kematian kepada mereka.
Percikan bunga api berkeretak-keretak dari ujung jari-jarinya. Dan pada saat itu
pula makhluk tersebut menjerit kesakitan.
"Aduuuh!" jerit Setan Maut itu melompat-lompat melonjak-lonjak sambil mengibas-
ibaskan tangannya seperti terkena api.
"Lho! Suara itu seperti sudah kukenal!" seru Joe.
"Persis! Kupikir juga demikian!" Frank berkata. "Ayo ke luar! Lihat siapa berani
permainkan kita!" "Sudah! Sudaaah! Tenaang!" kata makhluk logam yang mengerikan itu. "Apa kalian
tak bisa menerima leluconku?"
Makhluk itu melepaskan kedok tengkoraknya, menampakkan wajah bulat berdagu
kembar seorang pemuda sebaya dengan mereka.
"Chet Morton! Kurang asem!" Joe meledak tertawa mengenali topeng itu.
"Seharusnya kita tahu!"
"Teruskan tertawa, anak pandir!" kata Chet dengan geram. "Jari-jariku hampir
hangus seperti terbakar, tetapi kalian menganggap lucu."
"Mau masuk, tidak" Perlu mendapat perawatan PPPK?" kata Frank. "Atau usungan?"
"Siapa perlu perawatan PPPK?" Chet mendengus. "Aku hanya butuh kue-kue atau
pastel dari bibi Gertrude!"
"Maaf, bung! Joe dan aku telah menyikatnya habis. Tetapi masuklah!"
Si pahlawan, kawan mereka itu, tertatih-tatih masuk ke dalam rumah. Lagaknya
seperti robot dalam film khayalan saja. Pakaian dan penutup.
kepalanya terbuat dari karton, dilapisi lembaran aluminium.
"Apa maksudmu ini semua?" tanya Joe. Mereka memandangi Chet dengan heran
bercampur senang. "Inilah pakaianku yang kupersiapkan untuk pesta buku komik di Alfresco Disco
besok malam. Jangan bilang siapa-siapa; apa kalian lupa?"
"O, ya. Betul!" kata Joe sambil membunyikan jari-jarinya dan melihat kepada
kakaknya. "Kita sebaiknya juga ngebut bikin pakaian, Frank!"
"Bagaimana dengan rupaku?" tanya Chet sambil memasang kembali kedok
tengkoraknya. Ia lalu berputar-putar bangga, memperlihatkan dirinya dari segala
macam gaya. Terompet yang ditiupnya untuk menyebar kematian, dibuat dari pipa
logam yang lentur, pada ujungnya dipasang sebuah corong.
"Setan Maut, ya?" tanya Frank memandangi penari topeng dengan mata bersinar.
"Kukira ukurannya agak terlalu besar, tetapi selebihnya tidak jelek!"
"Apa maksud kaukatakan tidak jelek?" keluh Chet. "Ini hasil karya seorang ahli!
Aku mengharapkan hadiah pertama untuk karya ini."
"Bagaimana cara kaupasang bunga api di jari-
jari tanganmu sewaktu tadi kau bidik kami" tanya Joe. "Apa rahasianya?"
"Ah, sebuah alat dengan batere. Kubeli de-ngan memesannya di toko alat-alat
perlengkapan sulap." Chet membuka topengnya, lalu menggulung lengan bajunya.
Ditunjukkannya sebuah alat yang diikatkan pada pergelangan tangannya. "Tetapi
jangan tanyakan cara kerjanya. Si tolol itu menyengat dengan arus listriknya."
"Katakanlah sekali lagi!" kata Joe tertawa membuat si gemuk merah malu.
"Hati-hati saja!" kata Frank mengingatkan. "Dan pada menyambar orang, kan kau
sendiri dulu yang terkena setrum!"
Dengan sifatnya yang periang itu, Chet Morton ikut tertawa gembira. "Ha, film
apa acara TV sekarang?" ia bertanya sambil melirik ke arah pesawat TV,
"Si Manusia Kera," kata Joe. "Bagus juga. Ayo, ambil sebuah kursi!"
"Terimakasih! Aku pun senang film itu."
Ketiganya segera mengarahkan pandangan matanya melekat erat pada gambar-gambar
di layar dan perhatian terserap pada acara.
Menurut cerita, seorang ilmuwan penemu Manusia Kera telah merawatnya dengan
obat-obatan khusus agar lebih mirip manusia biasa. Ia menjadi demikian patuh dan
penurut kepada si ilmuwan.
serta kawan-kawannya. Hingga orang lain menjadi salah sangka, mengira makhluk
itu manusia dungu dan pemalu.
Tetapi Manusia Kera itu sangat membenci segala bentuk kekerasan. Jika ia melihat
penjahat atau bangsat yang berbuat kejam kepada korbannya yang tak berdaya, ia
segera mengamuk. Hal ini akan mengubah susunan kimiawi tubuhnya sehingga berubah
bentuk menjadi makhluk mengerikan. Dengan otot-otot berbongkol-bongkol disertai
suara lenguh yang menakutkan, ia akan hancurkan si penjahat dan komplotannya,
membuat para penontonnya gembira. Para penonton pun ikut senang melihat dia
"mengepel" lantai dengan tubuh si penjahat, kini film itu menjadi top hit.
"Nah! itu dia datang!" Chet bergumam. "Bangsat-bangsat itu memang minta
dihajar!" "Kini mereka kena batunya!" Joe menambahkan.
Di layar TV, si Manusia Kera baru saja berhasil merebut pistol dari tangan si
penjahat, lalu diremasnya menjadi segumpal besi tua. Kemudian ia melemparkan
para penjahat seolah-olah hanya sekarung jagung saja. Lalu ia hancurkan alat-
alat laboratorium otak kejahatan itu, sebelumnya ia telah merusak terali besi
dan membebaskan dua orang tawanan.
"He! Apa kalian tidak mendengar suara di luar?" tanya Frank bergumam kepada
adiknya. Joe menggeleng. "Bunyinya seperti apa?"
"Mirip lenguh Manusia Kera. Kukira hanya gema suara dari TV."
Film TV itu sudah berakhir, lalu disusul acara "Berita Hari Ini", sejenak
sebelum jam sepuluh. Pertama-tama ada dua atau tiga berita laporan mengenai
keadaan internasional dan peristiwa-peristiwa di Washington. Kemudian penyiar
berita melanjutkan: "Badut bertopeng sebagai Manusia Kera baru-baru ini muncul
lagi di gedung bioskop di Shoreham, dekat Bayport."
"Para penonton dibuat ketakutan," penyiar itu meneruskan. "Alat perabotan,
dinding kaca dan lemari-lemari makanan dirusak. Penjahat itu lalu melarikan diri
melalui pintu belakang."
"Dasar badut!" kata Chet tidak senang.
"Para saksi mata mengatakan, penipu gadungan itu bentuk rupanya seperti tokoh
Manusia Kera yang sangat terkenal dalam film TV, yang juga mempunyai otot-otot
gempal. Tetapi baik produser film tersebut maupun para petugas TV membantah,
bahwa orang kuat yang membintangi film TV itu terlibat dalam peristiwa atau pun
mengilhami perbuatan yang kurang waras itu," demikian berita itu berakhir.
"Waaah! Itu adalah misteri yang kalian..."
Suara Chet menghilang ketika terdengar suara lenguh yang disusul suara teriakan
yang dalam. "Setan tauco! Apa-apaan itu?" seru si gemuk. Matanya melotot dan rahangnya turun
menganga. Frank segera bangkit dari kursinya. "Sama seperti yang kudengar tadi. Apa sih
itu?" Joe mengikuti kakaknya berlari ke pintu depan. Frank menyalakan lampu beranda
sebelum berlari ke luar. Chet hampir saja menubruk mereka, ketika berhenti
mendadak. "Lihat!" kata Joe terkejut, sambil menunduk ke bawah.
Nampak oleh mereka telapak kaki telanjang berlumpur yang sangat besar-besar di
lantai beranda. Telapak kaki itu seperti setengah manusia dengan empu jari kaki
mencuat keluar dan melintang pada jari-jari lainnya.
"Siapa pun yang membuat telapak kaki ini, pasti telah berjalan lewat rumpun
bunga." "Benar! Di sana tanahnya masih basah karena hujan kemarin," kata Joe. "Kalau
lewat rumput tentu tak berlumpur begitu!"
Frank berlari masuk kembali, mengambil sebuah lampu senter. Kemudian mereka
cepat-cepat memeriksa bedengan bunga dan semak di sekitar rumah. Benar juga. Di
sana pun terdapat banyak telapak kaki yang besar-besar di atas tanah basah di
bawah jendela yang dibuka Frank
beberapa saat sebelumnya. Yaitu ketika mereka melihat Chet dalam samarannya
sebagai Setan Maut. "Ini tentu lelucon," kata Joe.
Frank mengangguk. "Barangkali seseorang dari kawan kita juga. Ia juga akan ikut
dalam pesta Buku Komik, lalu hendak menunjukkan kepada kita. Seperti Chet tadi."
Ketika anak-anak muda itu memutar lewat depan hendak kembali masuk ke dalam
rumah, terdengar raungan sirene di kejauhan. Suara itu semakin keras. Tiba-tiba
mereka mendengar suara mencicit dari mobil yang membelok tajam tidak jauh dari
mereka. "Hee! Mobil itu kemari!" seru Joe.
Beberapa detik kemudian sebuah mobil patroli polisi berhenti di tikungan jalan
masuk. Pintu depan dibuka dan dua orang anggota polisi melompat keluar. Seorang
menuding dengan penuangannya ke arah Chet.
"Itu dia orangnya!" serunya. Kedua polisi itu lari menghampiri Chet yang berdiri
tertegun. 2. Serpihan-serpihan petunjuk
Polisi itu mengira bahwa Chet akan lari atau melawan ketika akan ditangkap.
Tetapi ia begitu terkejut hingga tak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya berdiri
kebingungan, kedua matanya berkedip-kedip keheranan.
"Ada apa ini?" Frank datang di tengah.
"Badut ini telah menakut-nakuti orang di sekitar ini!" kata polisi yang seorang.
Temannya menyambung: "Ada orang yang menelepon ke kantor, katanya badut itu
berjalan menuju Jalan Elm. Seseorang dengan pakaian logam, memakai topeng
tengkorak." Si gemuk pendek berwajah merah menggagap
kebingungan hendak menjelaskan kehadirannya. Tetapi topeng- tengkorak yang kini
tergantung pada tali karet di lehernya tak dapat membantu meyakinkan kedua orang
polisi itu bahwa ia tidak bersalah.
"Tunggu!" Joe memotong. "Chet tak mungkin menakut-nakuti orang. Ia duduk di
dalam menonton TV bersama kami, sejak setengah jam yang lalu atau lebih!"
Salah seorang polisi masih mencurigai, tetapi wajahnya segera berubah. Ia lalu
menyoroti wajah Frank dan Joe.
"Lho! Kalian kan anak-anak Fenton Hardy, bukan?"
"Betul!" jawab Frank. Kedua kakak-beradik itu mengangguk.
Fenton Hardy pernah menjadi detektif ulung di Kantor Polisi kota New York. Ia
telah pensiun dan tinggal di kota pantai Bayport. Ia mendirikan kantor detektif
swasta, dan kini termasyhur sebagai detektif swasta. Frank dan Joe rupanya
mewarisi naluri kemampuan menyelidik, dan telah berulang kali berhasil
memecahkan berbagai perkara.
"Maaf, anak-anak muda," kata polisi itu. "Jika kami telah mengenali kalian sejak
tadi takkan terjadi segala salah paham ini!"
"Aku ingin tahu apa maksud kawanmu de-
ngan pakaian demikian," kata rekannya ngotot.
"Besok malam akan diadakan pesta di Al-fresco Disco." Joe menjelaskan. "Setiap
pengikut diharapkan berpakaian seperti tokoh-tokoh dari buku komik. Chet Morton
memilih sebagai Setan Maut. Nah, ia datang kemari untuk memperlihatkan
pakaiannya." "Apa tidak dapat memperlihatkan di dalam rumah" Mengapa kalian ada di luar
membawa-bawa lampu senter?"
"Mau percaya atau nggak, kami tadi mendengar suara-suara aneh," kata Frank.
"Bukannya seorang sinting dalam pakaian logam. Tetapi orang sinting dengan kaki
telanjang yang sangat besar."
"Engkau main-main?" kata polisi yang seorang. Ia memandang kakak-beradik dengan
curiga. "Mari! Lihat sendiri!" Frank mempersilakan.
Raungan sirene polisi tadi menyebabkan lampu-lampu di sepanjang jalan menyala.
Beberapa tetangga melongok dari jalan masuk rumah mereka untuk mengetahui apa
yang terjadi. Salah seorang polisi mendatangi mereka untuk menenteramkan suasana dan
menenangkan mereka dari rasa takut. Polisi yang seorang lagi memeriksa telapak-
telapak kaki di lantai beranda rumah keluarga Hardy.
"Nampaknya bohong-bohongan," katanya. "Tidak ada orang yang kakinya begitu
datar!" "Kukira ia benar, Frank," kata Joe setelah memeriksa lebih teliti.
Kakaknya mengangguk berpikir. "Bahkan binatang Kaki Besar dari daerah Barat pun
kakinya mempunyai tonjolan dan lengkung tengah. Yang ini begitu datar seperti
kue apem!" "Kini aku berani bertaruh, orang yang membuat telapak kaki inilah yang menelepon
ke kantor polisi tentang Chet," seru Joe.
"Cocok!" Polisi itu berkata. "Seluruh peristiwa ini mungkin hanya lelucon
belaka!"

Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedua orang polisi itu segera pergi. Chet juga pulang ke rumah peternakan Morton
dengan mobil tuanya. Mobil itu diparkir agak jauh di jalan untuk membuat kejutan
pada kakak-beradik Hardy.
Esok paginya, telepon berdering ketika sedang sarapan. Frank yang menyahut dan
terdengar suara ayahnya. "Bagaimana keadaan di rumah, nak?"
"Baik, ayah! Kami mendapat sedikit heboh tadi malam. Tetapi kukira hanya orang
yang ingin membuat lelucon saja."
Frank dengan singkat menjelaskan kejadian aneh itu. Pak Hardy pun berpendapat
sebagai lelucon. Tetapi ia suruh anak-anaknya agar jangan lengah. Mereka harus
memasang mata dan alat tanda bahaya setiap malam. Barangkali saja ada penjahat-
penjahat yang telah dimasukkan penjara olehnya, setelah dilepas mencari
kesempatan untuk melakukan balas dendam.
"Baik, ayah," Frank menuruti. "Bagaimana tentang perkara yang sedang ayah
tangani?" "Aku tidak dapat banyak bicara di telepon umum," jawab detektif itu. "Tetapi ini
merupakan sebagian dari penyelidikan pemerintah yang besar. Rupanya akan membuat
aku banyak melakukan perjalanan untuk sementara waktu ini. Sementara itu ada
seorang teman yang meminta antuanku. Aku sendiri sangat sibuk. Bagaimana kalau
kalian berdua mengambil alih tugas ini?"
"Senang sekali, ayah! Baik kupanggil dulu Joe agar ikut mendengarkan di telepon
yang lain. Dengan demikian kami sama-sama dengar datanya."
Melihat tanda-tanda yang diberikan oleh kakaknya bernada penting, Joe lari naik
ke kamar atas untuk ikut mendengarkan lewat sambungan di sana.
"Sebagai kalian tahu, banyak tugas penyelidikan kulakukan untuk perusahaan-
perusahaan asuransi," kata pak Hardy. "Salah satu perusahaan ini dipimpin oleh
orang bernama Paul Lin-wood."
"Kami pernah mendengar ayah menyebut-nya," kata Joe. "Tinggal di Shoreham,
bukan?" "Betul! Ia mempunyai anak dara yang cantik. Namanya Sue. Sayangnya beberapa hari
yang lalu terjadi pertengkaran keluarga yang sengit. Akibatnya Sue lari dari
rumahnya." "Apa tuan Linwood pernah mendengar tentang anaknya, sejak itu?"
"Tak sepatah kata pun. Tetapi ia mendapat firasat bahwa anaknya ikut dalam
kebaktian iman yang aneh, yang dinamakan Anak-anak Noah. Pernah kalian dengar
nama itu?" "Sudah! Kami sering melihat mereka di Bayport dan kota lain di sekitar sini,"
kata Joe. "Mereka melakukan propaganda di beberapa kaki-lima."
"Mereka memakai jubah putih," kata Frank menambahkan, "dan pengikut-pengikut
kebaktian itu mencukur gundul kepalanya."
"Ya, itulah mereka," pak Hardy menguatkannya. "Kebaktian itu terutama terdiri
atas anak-anak muda. Karena itu kupikir engkau dan Joe lebih mudah mendapatkan
kesempatan untuk menghubungi Sue dari pada Sam Radley, pembantu tetapku. Ingin
kalian main di situ?"
"Senang sekali, ayah!" "Bagus! Kuharap kalian menghubungi Linwood. Baik di rumah
maupun di kantornya, Asuransi Argus. Letaknya juga di Shoreham. Telepon aku
besok dan laporkan segala sesuatunya padaku."
Frank menulis nomor telepon yang digunakan oleh ayahnya. Kemudian mereka kembali
ke meja makan, menyelesaikan makan telur dan daging asin mereka. Setelah itu
mereka masuk ke laboratorium di atas garasi, menyelesaikan pakaian untuk pesta
di disco sore nanti. "Apakah salah satu dari kalian mengambil kardus yang di emper belakang?" tanya
bibi Gertrude ketika mereka lewat di dapur.
"Tidak, bibi," kata Joe.
"Lho, kemarin malam masih ada di sana," kata bibi tajam. "Aku telah
meletakkannya di sana, sebelum Laura, ibumu, dan aku berangkat ke rapat di
kelab. Nah, jangan kauhilang kardus itu bisa kabur sendiri!"
"Kami tidak berani, bibi!" kata Joe tertawa cekikikan.
"Itu lebih baik, anak muda. Jangan sampai kulihat kalian tertawai aku, ya"
Kecuali kalau kalian tak akan makan kue yang kubuat untuk makan malam nanti!"
"Bibi, kau menang. Aku akan berbaikan denganmu!"
Nona Hardy, jangkung, kurus dan ceriwis, ia adalah adik Fenton Hardy yang tidak
menikah. Meskipun sifatnya bawel suka mengomel, tetapi sebenarnya sangat sayang kepada
kedua kemenakannya. Di mata Chet yang rakus makan, ia juga dianggap seorang ahli
masak yang terbaik di Bayport.
"Kardus itu tentu masih di sekitar sini," kata Frank. "Kami akan mencarinya!"
"Kuharap saja kalian mau mencarikannya," bibi Getrude berkata. "Aku perlu
membungkus sesuatu yang akan disimpan di loteng."
Kedua anak muda itu pergi ke luar. Ketika mereka masuk kembali tidak beberapa
lama kemudian, Frank memegang kardus yang hilang itu.
"Apa ini kardusnya, bibi?"
"Ya, betul. Kau telah menemukannya!" Senyuman girang tersungging di bibir
bibinya. Tetapi menerima uluran kardus itu dari tangan Frank, rasa jengkelnya timbul
melihat apa yang terjadi dengan kardus itu. "Lho, dua tutupnya kok sudah
dipotong. Sekarang tak bisa ditutup rapat lagi!"
Melihat kemenakannya mengerutkan dahi, ia melanjutkan: "O, jangan kaukira aku
memarahi kalian, anak-anak. Kalian sudah baik hati mencarikannya untukku. Di
mana ini tadi, sayang?"
Frank membalikkan badan lalu melangkah lebar menyeberang serambi menuju ke tong
sampah. Tong itu ada di dekat pagar belakang. Ia buka tutupnya.
"Apa kauki..." Joe hendak berbicara.
Tetapi berhenti ketika Frank mengambil dua helai kardus segi-empat berwarna
coklat berombak-ombak dari dalam tong sampah. Kedua helai kardus itu kotor dan
bengkok-bengkok. Rupanya tutup kardus yang hilang itu. Dari dua helai itu telah
dipotong dalamnya berlubang besar, dalam bentuk telapak kaki setengah manusia
dengan empu jari kakinya melintang ke luar.
"Wow! Paman kunyuk!" seru Joe heran. "Ha, begitulah kiranya tamu kita semalam
membuat telapak kakinya."
"Benar! Ia menekan kardus itu di lumpur bedengan bunga, lalu diinjakkannya
meninggalkan bekas telapak kaki besar pada lantai serambi depan."
"Kerja detektif ulung! Apa yang menimbulkan pikiran demikian?"
"Secara tiba-tiba saja kuingat, bahwa tutup-tutup itu cocok besarnya untuk
membuat telapak kaki," jawab Frank. "Tetapi yang kuingin tahu ialah apa orang
yang berbuat itu sekedar hendak bergurau atau hendak menakut-nakuti kita?"
Kakak-beradik itu melanjutkan perundingan sambil bekerja membuat pakaian pesta.
Frank akan tampil sebagai jagoan keadilan yang disebut Silver Streak, dan
adiknya sebagai pembantunya, Whipperanapper.
Setelah makan siang, mereka pergi ke Shore-ham mengendarai mobil mereka yang
berwarna kuning. Asuransi Argus terletak di sebuah gedung perkantoran modern, di
daerah pusat perwira-swasta di kota. Mereka mendapatkan tempat parkir di jalan
simpang yang dekat. Mereka masuk ke lobby dan mendaftarkan namanya di tempat penerima tamu.
"Apakah tuan Linwood mengharapkan kedatangan kalian?" tanya penerima tamu.
"Ya. Kami telah menelepon untuk bertemu," jawab Frank.
Tak berapa lama kemudian mereka diantarkan masuk ke kantornya. Paul Linwood
ternyata adalah seorang yang bertubuh besar, rambutnya sudah mulai beruban dan
penampilannya menarik. Ia memberi salam kepada mereka dengan senyuman gembira,
dan mengulurkan tangan untuk berjabatan. Tetapi kesedihan yang sangat nampak
jelas ketika ia mulai menceritakan kejadian-kejadiannya, yang menyebabkan
putrinya lari dari rumah.
"Aku mau memberikan apa saja jika aku dapat menarik kembali kata-kataku yang
keras sewaktu pertengkaran keluarga," katanya mengungkap rahasia keluarganya.
"Kukira aku tak kuasa mengendalikan diriku lagi waktu itu. Demikian pula Sue.
Mungkin aku adalah orang tua yang terlalu ketat. Aku tidak tahu. Ia menuduhku
hendak merusak hidupnya. Kesemuanya itu berakhir dengan saling berteriak marah. Sue keluar dan membanting
pintu. Itulah yang terakhir kami melihat dia."
"Apa ia punya mobil pribadi?" tanya Frank.
"Ya. Tetapi sedang dibetulkan di bengkel. Ia pergi mengendarai salah satu dari
mobil keluarga. Polisi telah menemukannya kemarin, diparkir dekat sebuah gedung
di daerah pelabuhan. Ada sepucuk surat diselipkan di penghapus kaca depan, mohon
agar mobil dikembalikan ke alamat kami."
"Ia sudah bekerja, ataukah masih sekolah?"
"Ia baru saja tamat dari SMA Shoreham beberapa minggu yang lalu. Ibunya dan aku
mengharap ia kuliah di musim semi nanti. Tetapi Sue tidak mau. Sesungguhnya
itulah salah satu sebab terjadinya pertengkaran keluarga."
"Apakah anda pernah menanyakan kepada gadis-gadis temannya?"
Tuan Linwood mengangguk dengan wajah muram. "Kami banyak kenal teman-temannya.
Tetapi Sue rupa-rupanya tidak berhubungan dengan mereka."
"Apakah ia sudah mempunyai pacar?" tanya Frank.
"Ya. Anak itu baik, bernama Buz Burton. Ia lebih tua satu atau dua tahun dari
Sue. Sue juga bertengkar dengan dia. Pada hari yang sama dengan pertengkaran
keluarga. Tak salah lagi, hal itu tentu ikut juga membuat hatinya tambah marah.
Mungkin pula ada hubungannya dengan larinya dari rumah. Tetapi dapat
kutambahkan, aku tidak menyalahkan Buz tentang apa yang telah terjadi. Tak
pernah!" "Bagaimana dengan kebaktian anak-anak Noah?" Frank melanjutkan pertanyaan-
pertanya-annya. "Ayah mengatakan bahwa mungkin ia menggabungkan diri dengan
mereka!" "Ya. Sue pernah membawa pulang beberapa brosur dan pesan-pesan yang mereka
sebarkan. Rupanya Sue menganggapnya serius. Aku menyebutnya sebagai omong kosong. Tentu
saja hal ini tidak menjernihkan suasana."
Joe berkata: "Misalkan anda benar, Sue menggabungkan diri dengan gerakan itu.
Apa anda mempunyai dugaan ke mana perginya?"
"Gerakan itu mempunyai sebuah kapal pesiar yang telah dirubah. Pemimpin mereka,
Norvel Noah menamakannya dengan Bahtera Nuh. Kapal itu selalu berlabuh jauh dari
pantai. Ke sanalah anggota-anggota baru mereka dikirimkan."
Linwood menambahkan dengan helaan napas yang dalam: "Celakanya, anak-anak muda
itu tak diperkenankan lagi berhubungan dengan orang tuanya. Karena Sue sudah
berumur delapanbelas, ia sudah boleh menentukan sendiri apa pilihannya. Karena
itulah ayah mengira, bahwa kalian mungkin dapat lebih mudah menemukan sesuatu
dari pada detektif yang lebih tua."
"Kami tentu akan berusaha, pak," berkata Frank meyakinkan dia.
Kakak-beradik itu pergi setelah berjanji untuk memberitahu tuan Linwood dengan
segera bila mereka telah tahu di mana Sue berada.
Sampai di luar, Frank mengambil di belakang kemudi mobilnya. Joe menyusulnya
duduk di sampingnya. "Sudahkah ada pikiran, bagaimana akan menangani perkara ini?" tanya Joe, ketika
mobil mulai berjalan. Kata-katanya itu tenggelam oleh suara ledakan yang keras. Hampir bersamaan
dengan itu mobil mereka melonjak keras sehingga tidak terkendali-kan.
3. Serangan gelap Frank memegang kemudi dengan erat, dan menginjak rem kuat-kuat. Mobil itu ngepot
dan berhenti dengan suara mencicit-cicit. Sebuah mobil di belakang mereka
membunyikan klakson dengan marah-marah, lalu melesat lewat di sampingnya untuk
menghindari suatu tabrakan. Tetapi setelah lewat, sopirnya melambaikan tangan
meminta maaf, setelah melihat ban depan mereka meletus.
"Pecah ban!" seru Joe kecewa kepada kakaknya.
Mesin mati dengan sendirinya karena berhenti mendadak. Frank menghidupkannya
kembali lalu berhenti di pinggir. Kakak-beradik keluar untuk memeriksa kerusakan.
Hampir bersamaan waktunya Joe melihat sebuah paku besar mencuat dari ban roda
depan sebelah kanan. "Nah, inilah penyebabnya," ia berseru. "Tetapi aneh dua ban
sekaligus pecah, letusannya pun begitu keras?"
"Tak mungkin!" kata Frank. Sambil bersungut ia berjalan kembali menyusuri jejak
mobilnya. Dalam beberapa menit ia telah kembali memegang sesuatu seperti sobekan-sobekan
kertas berwarna merah. "Inilah jawabannya!"
Joe mengambil salah satu sobekan kertas dari tangan kakaknya dan menelitinya
dengan seksama. Segera pula ia tahu. "Petasan!" serunya!
"Betul! Seseorang telah memasangnya di dalam knalpot. Ketika kita menghidupkan
mesin, panas knalpot itu membuat petasan itu meletus."
"Itu berarti, bahwa paku yang menembusi ban roda depan itu juga bukan suatu
kebetulan!" Frank mengangguk dengan wajah muram. "Ada orang yang tidak menghendaki kita
berada di Shoreham, atau kita memang telah dibayangi sejak dari Bayport."
"Barangkali si badut yang hendak menakut-nakuti kita. Yang melenguh dan membuat
telapak kaki tadi malam."
"Mungkin juga!"
Mereka mengambil dongkrak dan kunci roda dari tempat begasi, lalu menurunkan
roda depan sebelah kiri. Mereka melihat bahwa ban itu terkena dua buah paku,
persis sama dengan paku yang dilihat Joe menembusi ban roda kanan.
"Pekerjaan yang teliti," kata Frank sambil mengertak gigi. "Siapa pun yang
melakukan itu tentu sangat tepat menempatkannya. Persis di antara ban dan aspal.
Sehingga pada putaran roda yang pertama paku itu telah menancap."
"Kita bahkan tak lihat ada orang mengawasi kita," Joe menggerutu. "Mulai
sekarang sebaiknya kita harus waspada untuk setiap langkah."
Karena mereka hanya mempunyai satu ban serap, Joe terpaksa menggelindingkan roda
kiri ke tukang tambal ban yang terdekat untuk menam-balkannya. Sementara itu
Frank memasang ban serap pada roda lain.
Joe kembali membawa roda yang telah ditambatkan bannya serta dipompa. "Eh! Anak-
anak Noah sedang berpropaganda di Lapangan Frank-lin!" ia melapor. "Mau lihat?"
"Tentu! Mungkin mendapat kesempatan baik untuk membuat perkenalan dengan
mereka." Setelah selesai memasang roda, mereka mengunci pintu-pintu mobilnya, lalu
berjalan kaki menuju Lapangan Franklin. Sejak dari jarak satu
blok mereka dapat melihat demonstrasi itu berlangsung. Pemuda-pemuda yang
berpakaian jubah putih itu bernyanyi-nyanyi, bertepuk tangan, dan bermain gitar
dan seruling. "Lagu apa yang mereka nyanyikan itu?" tanya Frank.
"Jangan tanyakan aku!" jawab Joe. "Aku malah tidak jelas lagukah yang mereka
nyanyikan itu?" Sementara anggota-anggota kebaktian itu bernyanyi-nyanyi, ada beberapa yang
membagi-bagikan brosur dan kertas stensilan kepada para penonton, termasuk
kakak-beradik Hardy. Brosur itu menerangkan tentang kebaktian serta riwayat pemimpinnya, Norvel Noah
Kertas stensilan menyebutkan bahwa anak-anak muda yang tergabung dalam gerakan
kebaktian itu dapat disewa untuk melakukan pekerjaan apa saja. Di samping itu
memuat juga tarip upah yang dihitung setiap jam untuk berbagai jenis pekerjaan.
Rombongan itu berhenti bernyanyi sejenak, cukup lama untuk memberi waktu salah
seorang anggota yang gundul maju ke depan dan berseru kepada para penonton:
"Dunia tua yang penuh kegelapan dan kebencian akan berlalu, dan mereka yang
mendukungnya akan dihancurkan!" ia memperingatkan. "Suatu badai kemurkaan akan
menyapu mereka untuk selamanya! Hanya Anak-anak Noah yang suka damai akan
tinggal, untuk memulai dunia baru!"
Ia menganjurkan para pendengarnya untuk bergabung dalam kebaktian itu. Kemudian
nyanyian dan tepuk tangan yang hampir tak bernada itu diteruskan. Anggota-
anggota yang sebelumnya membagi-bagikan brosur, kini mengedarkan kaleng meminta
derma. Setelah propaganda itu berakhir, dan para penonton sudah bubar, Frank dan Joe
maju mendekat. "Kami ingin tahu lebih banyak dari gerakan ini untuk diperbolehkan ikut menjadi
Anak-anak Noah," kata Frank kepada si kepala gundul yang tadi berpidato.
Pemuda itu memandang dengan marah kepada kedua kakak-beradik itu. Mengapa?"
"Kami tertarik dengan yang telah kaukatakan," jawab Joe. "Jika kami boleh ikut
dalam kebaktian ini, tentunya kami akan dapat mendengar lebih banyak lagi."
Sebaliknya dari gembira, pemuda itu berpaling kepada teman-temannya. Mereka
saling berbisik dan melontarkan pandangan curiga kepada kedua kakak-beradik.
Akhirnya pemuda itu berkata kepada Joe dan Frank: "Oke! Kami akan gembira
menceritakan semuanya tentang Noah dan kabar gembiranya
kepada dunia. Pimpinan kami yang tercinta selalu senang untuk menjemput anak
baru dalam keluarga kami. Kami akan membawa kalian ke Bahtera kelak. Apakah
kalian telah mendengar tentang Bahtera kami?"
"Tentu," kata Joe. "Kapal pesiar yang telah di rubah untuk tempat anggota-


Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

anggota baru tinggal, bukan?"
"Betul! Ia berlabuh di lepas pantai. Nanti ada sebuah perahu yang ke sana
setelah jam lima. Apa kautahu di mana Decatur dan Fron Streets"
"Di dekat pelabuhan," jawab Frank.
"Betul," kata si gundul. "Pada satu sudut ada sebuah gudang kosong. Tunggulah
kami di sana. Kami akan datang."
Kedua kakak-beradik Hardy berlenggang melalui kota bawah Shoreham menuju ke arah
pantai. Beberapa blok lagi dari Lapangan Franklin nampak tiang-tiang layar para
perahu nelayan, dan cerobong asap kapal-kapal yang ditambat pada galangan.
Dengan menyusuri Jalan Decatur menuju ke pelabuhan, mereka tidak sukar untuk
menemukan gudang itu. Gudang itu berupa gedung yang bobrok dengan jendela-jendela yang pecah-pecah
ditutup papan. Ada papan yang ber tuliskan bahwa tidak lama lagi gudang itu akan
dirobohkan. Di sana nanti akan dibangun gedung pelayaran.
Salah satu pintu lantai bawah tergantung miring terbuka. Rupanya engsel dan
gerendelnya telah patah. Kakak-beradik Hardy masuk ke dalam, lalu melihat ke
sekeliling. Di dalam, suatu berkas sinar matahari yang masuk melalui jendela
pecah membuat titik-titik butiran debu nampak berputar-putar naik. Lantai
betonnya penuh sampah berserakan.
"Ruang tunggu yang nyaman," kata Joe mengejek. "Heran mengapa mereka suruh kita
tunggu di sini!" Frank mengangkat bahu. "Jangan tanyakan aku. Mungkin anggota-anggota kebaktian
itu berkumpul di sini sebelum kembali ke Bahtera setiap sore."
Pikiran Frank ini timbul karena adanya beberapa peti-peti kayu yang diatur
berkelompok. Rupanya digunakan sebagai tempat duduk darurat. Di sekitarnya banyak bertaburan
bekas bungkus kacang dan permen karet serta botol-botol soda yang kosong.
Keduanya hanya duduk dan menunggu.
Frank nampak berpikir. "Apakah kaulihat bagaimana sikap mereka mula-mula" Ketika
kita katakan ingin ikut gerakan mereka?"
"Aku memang lihat," kata Joe menanggapi. Tak terlihat sama sekali apa yang
disebut ramah. Kau dapat mengira bahwa Anak-anak Noah tak menginginkan lagi anggota baru."
"Lain lagi. Mereka dianggap bertingkah laku manis, sopan dan selalu mengatakan
hal-hal cinta sesama. Tetapi si gundul yang kita dengar tadi nampaknya marah
kepada dunia!" "Mungkin yang membuatnya marah, setelah melihat di antara para penonton."
Frank mengernyitkan alis mata sambil menggigit bibir bawah. "Kautahu, untuk itu
tentu ada apa-apanya?"
"Mereka punya alasan apa terhadap kita?" kata adiknya membalas.
"Pertanyaanmu bagus; kita akan segera tahu jawabannya, apabila kita ketahui
mengapa mereka suruh kita kemari!"
Tidak berapa lama kemudian ketika kakak-beradik sedang asyik duduk menunggu
serta bercakap-cakap, setengah lusin tubuh-tubuh berjubah putih menyerbu masuk.
Semuanya pemuda kepala gundul. Yang seorang ialah pengkhotbah yang telah
bercakap-cakap dengan mereka.
"Nah, sekarang kalian harus katakan apa maksud kalian ingin bergabung dalam
gerakan Anak-anak Noah?" serunya.
Kakak-beradik itu bangkit berdiri.
"Apa katamu?" tanya Frank dengan berani.
"Kau dengar apa yang kukatakan! Kau datang memata-matai kami!"
"Kalian berdua adalah anak-anak detektif terkenal, Fenton Hardy," teriak yang
lain. "Ya! Sekarang kalian akan memperoleh apa yang akan kalian minta!"
"Tunggu sebentar," kata Frank dengan nada pedas.
"Lihat dulu siapa yang kaudorong," kata Joe menahan seorang anggota yang mencoba
mendorong Joe dan kakaknya agar terjengkang jatuh terbentur peti-peti yang ada
di belakangnya. Mungkin pemuda-pemuda itu menggertak karena ingin menanyakan sesuatu kepada
kakak-beradik Hardy. Rupanya darah mereka terlalu cepat menjadi panas. Dua atau
tiga anggota merogoh ke dalam jubahnya lalu mengeluarkan semprotan.
"Awas, Joe!" teriak Frank memperingatkan. "Mereka hendak menyemprot kita!"
Beberapa detik kemudian kakak-beradik itu disemprot dari segala penjuru! Cabe,
kecap, penyemprot rambut, busa sabun cukur dan semir sepatu cair bermuncratan di
udara. Beberapa di antara Anak-anak Noah mempunyai lebih dari satu semprotan.
Tetapi kakak-beradik Hardy tidak mau jadi bulan-bulanan. Frank melemparkan
pemimpinnya ke belakang dengan pukulan dagu kiri. Joe membuat yang lain
membungkuk dengan pukulan tepat pada ulu hati. Sambil melayangkan beberapa
pukulan tinju Frank dan Joe mendesak untuk keluar dari gedung.
Pada saat mereka mencapai ambang pintu, Frank dan Joe berhasil merebut beberapa
kaleng semprotan. Mereka berhenti sebentar untuk mengosongkan isi semprotan itu
ke arah pasukan jubah putih lalu lari keluar.
Di terang sinar matahari satu blok jauhnya, mereka berhenti dan saling pandang.
"Wah, wajahmu!" kata Joe menggerutu. "Mereka benar-benar kerja keras untuk
kita." Meskipun hatinya marah dan jengkel, namun mereka tidak dapat menahan tertawa
melihat keadaan diri mereka masing-masing. Pakaian, muka, rambut dan tangan
penuh berlumuran aneka macam warna.
"Tak guna menyesali yang sudah-sudah," kata Frank menahan tertawa. "Ayo, kita
pulang mandi!" Ketika mereka menghentikan mobilnya di jalan masuk rumahnya, dan berjalan ke
beranda, bibi Gertrude membelalak ketakutan. "Bintang-bintangku sayang! Kenapa
kalian" Perpeloncoan otak udang, ya?"
"Bolehlah dikatakan perpeloncoan kebaktian," berkata Joe kepadanya.
"Nah, cepat naik dan mandi, kalian berdua!"
"Itu memang tujuan kami, bibi," kata Frank tertawa. Ia mengerdip kepada ibunya
yang duduk di kamar tamu. Tetapi kemudian ia berhenti di tengah-tengah tangga.
Tiba-tiba dilihatnya wajah-wajah ibu dan bibinya penuh khawatir. "Apa bu" Apa
ada yang tidak beres?"
"Sepanjang sore ibu menerima berita buruk lewat telepon," jawab nyonya Hardy.
"Ada orang melenguh seperti binatang lewat telepon," tambah bibi Gertrude. "Lalu
ia mengancam rumah kita akan diserbu dan dihancurkan oleh Manusia Kera."
4. Kejutan seram mengerikan
Frank dan Joe sangat marah kepada berita lewat telepon itu.
"Apa yang bibi lakukan?" seru Joe, tangannya mengepal marah.
"Meletakkan telepon kembali, tentu saja," jawab bibinya yang jangkung, dan
berhidung mancung. "Jangan kaukira aku mau mendengarkan segala omong kosong
itu." "Bagus, bibi!" Frank memuji. Ia merasa tergelitik hatinya memikirkan ada orang
yang begitu sinting, berani menakut-nakuti bibinya dengan kata-kata lewat
telepon. Namun bagaimana pun, jelas nampak bahwa
ibu dan bibinya dibuat bingung oleh telepon-telepon itu.
"Yang kumaksudkan, apa yang bibi kemudian lakukan menanggapi berita telepon
itu?" kata Joe tidak mau mengalah.
"Apakah bibi atau ibu memberitahu polisi" Atau berusaha menghubungi ayah?" Frank
menengahi. "Betul, sayang! Aku menelepon Kepala Polisi Collig sesudah panggilan telepon
keempat," sahut ibunya. "Tentu saja ia tak dapat berbuat banyak, kecuali hanya berjanji
akan menyadapnya dan mencari tahu nomor teleponnya. Itu pun kalau si penelepon
cukup lama berbicara di telepon."
"Berapa kali ia menelepon?"
Ibu dan bibinya saling berpandangan.
"Lima kali, bukan Laura?" jawab bibi menanya kepada ibu, lalu cepat-cepat
membetulkannya sendiri: "Bukan, enam kali!"
"Betul!" ibu mengangguk. "Ada dua kali lagi setelah aku menelepon polisi. Tetapi
hanya singkat-singkat. Hanya suara-suara binatang."
Frank memukulkan tinjunya pada telapak tangan kirinya. "Kalau saja aku atau Joe
ada di rumah bisa kujawab, bu. Beraninya cucunguk itu menakut-nakuti ibu dan
bibi!" "Tak apa, sayang," ibu menepuk-nepuk tangan Frank yang kemudian turun kembali
dan berdiri di samping untuk menghibur ibunya. "Barangkali hanya orang yang tak
waras. Makan segera disiapkan. Ayo, segera ke atas dan siap!"
Frank dan Joe saling pandang, tetapi mereka tak mau berbicara selama masih dapat
didengar ibu dan bibinya. Tetapi di dalam kamar mereka, Joe berpaling kepada
kakaknya: "Apa menurutmu si penelepon itu sama dengan orang yang membuat telapak kaki
malam itu?" "Sudah pasti! Yang ingin kuketahui apa dia juga yang membuat ban mobil kita
kempes dan memasang petasan di knalpot.
"Lalu bagaimana dengan Anak-anak Noah kepala gundul yang menjebak kita di dalam
gudang untuk disemprot?" kata Joe mengingatkan kakaknya. "Apa semua itu hanya
kebetulan saja" Dua kejadian yang begitu dekat waktunya satu dengan lainnya."
"Begitulah kira-kira. Ketika kita muncul sewaktu propaganda mereka, mereka telah
mengenali kita dari gambar-gambar di koran atau entah di mana," kata kakaknya.
"Kautahu dalam kaitan perkara-perkara yang kita pecahkan. Mungkin itu jawaban
atas jebakan di dalam gudang. Yang belum jelas ialah bagaimana mereka bisa tahu,
bahwa kita akan menyelidiki gerakan mereka?"
"Ya. Kutahu maksudmu," Joe mengernyit. "Badut kemarin malam itu tentu belum
tahu. Kita pun belum tahu sebelum ayah menelepon kita pagi tadi."
"Nah, tinggal kita sendiri! Di mana tempat kita?"
"Di kegelapan! Tepat di mana kita mulai!"
Setelah makan, kakak-beradik mengenakan pakaian mereka untuk pesta Buku Komik.
Mereka lalu berangkat dengan mobil kuning mereka tak lupa menjemput pacarnya
masing-masing. Frank sebagai Silver Streak, gemerlapan dalam pakaian yang terbuat dari kain
gorden keperak-perakan, yang dijahit oleh bibi Gertrude. Joe memakai topi
bertanduk dengan lonceng-lonceng kecil, membawa cambuk kulit yang pendek. Ia
nampak kocak berpakaian sebagai Whippersnapper.
Setelah menjemput pacar Frank yang berambut pirang, Callie Shaw, yang pergi ke
pesta sebagai Gadis Harimau, mereka lalu meneruskan dan mampir ke rumah
peternakan Morton. Di sini mereka bertemu dengan dua orang kawan dari SMA, Tony
Prito dan Biff Hooper. Mereka datang bersama pacar-pacar mereka dengan
mengendarai sebuah pick-up berwarna merah untuk menjemput Chet.
"Wow! Itu si penakluk kejahatan yang mem-
pesonakan, Silver Streak!' seru Tony ketika Frank turun dari mobilnya.
"Dan jangan dilupakan hamba setianya si Warppersnapper," seru Joe sambil
membunyikan cambuknya: ter - ter.
Tony berpakaian hijau seperti hewan melata si Manusia Kadal. Biff Hooper yang
semampai itu menggunduli kepalanya, lalu disemirnya dengan semir sepatu yang
mengkilap. Ia berperan sebagai penjahat ganas dari buku komik si Cue Ball.
Pacar-pacar mereka berperan sebagai Serpentella si Gadis Ular dan Lady Vampyra
si Gadis Vampir. Tidak lama kemudian Chet keluar tertatih-tatih dalam pakaian Setan Maut
mendenting-dentingkan loncengnya dan meniup terompet. Ia diikuti oleh adiknya si
wajah-peri Iola yang berpakaian hijau dengan tutup kepala runcing sebagai Nona
Mars. "Hee! Rupamu menyeramkan," sambut Joe. Iola merah mukanya karena senang.
Kedua kendaraan itu langsung keluar menuju Alfresco Disco. Sebuah pavilyun untuk
dansa-dansi yang terbuka. Didirikan oleh Memorial Park Bayport untuk menyediakan
tempat hiburan pada waktu musim panas bagi muda-mudi mau pun orang-orang dewasa.
Kakak-beradik Hardy dan kawan-kawannya memarkir mobil
mereka di tempat parkir yang telah penuh di dekat disco, lalu berjalan ke
pavilyun. Tempat itu terang-benderang dengan cahaya yang membiuskan. Sekelompok pemusik
rock yang terdiri atas murid-murid SMA yang berbakat telah mulai memainkan lagu-
lagunya. Daerah disco itu dikelilingi oleh pemantul-pemantul suara yang
dekorasinya berbentuk kerang.
Alat-alat ini berlaku sebagai reflektor pengeras suara ke dalam, sehingga suara
musik yang keras itu tertahan tidak keluar mengganggu penduduk di sekitarnya.
"Waduuh! Lihat pakaian-pakaian itu," seru Biff. "Seolah-olah buku komik hidup."
Tempat minuman menjual air soda, hotdogs dan hamburger, dan di sekitar pavilyun
ditempatkan meja kursi. Pembawa acara berpakaian seperti Kuta Raksasa,
mengumumkan nomor-nomor peserta.
"Kini tuan-tuan dan nyonya-nyonya," katanya melanjutkan, "suatu top hit baru
menjulang tinggi, berjudul..."
Suaranya tenggelam oleh suara menggerung keras diikuti seruan-seruan para
peserta. Sesosok tubuh tinggi besar masuk ke daerah disco melalui celah antara dua
pemantul suara yang berbentuk kerang itu.
Pendatang baru itu berotot berbongkol-bong-kol, berpakaian kulit binatang
berbulu terusan tanpa sambungan. Segumpal rambut tumbuh rendah di atas dahi, rahangnya yang
berat mencuat ke bawah, memperlihatkan wajah makhluk setengah manusia primitif.
"Heee! Itu si Manusia Kera!" seru Tony.
"Ya bintang terbang!" seru Tony. "Riasnya luar biasa. Kukira kau akan kehilangan
kesempatan merebut hadiah untuk pakaianmu, Chet! Dia begitu sempurna. Tepat
seperti si Manusia Kera yang sesungguhnya."
Tepat waktu Biff berbicara, makhluk itu membuka mulutnya mengeluarkan suara
lenguh yang menakutkan. Kemudian ia memukul-mukul dada dengan kedua tinjunya.
Para pengunjung dan penari disco tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan
keras-keras. Tetapi kakak-beradik Hardy saling pandang.
"Tunggu!" kata Frank. Ia mendorong meja di depannya, lalu melompat berdiri.
"Orang itu bukannya datang untuk ikut lomba pakaian! Aku yakin, dia tentulah
bangsat yang menakut-nakuti orang di gedung bioskop Shoreham kemarin malam!"
Dugaan Frank terbukti, ketika si Manusia Kera itu meninju pecah pemantul suara
yang terdekat! Detik berikutnya ia lempar-lemparkan meja, menghancurkan kursi-
kursi dan membanting segala sesuatu yang dapat diraihnya. Sambil menyebar
kehancuran di arena Alfresco Disco ia melenguh-lenguh dan menggerung-gerung
ganas penuh amarah. Pengunjung pesta berhamburan ketakutan. Pemain musik rock pun berlarian ketika
ia datang mendekat. Dua di antaranya menjatuhkan alat musiknya ketika lari.
Tetapi kakak-beradik Hardy mendidih darahnya karena marah. Mereka telah
merasakan diserang tukang-tukang gertak sebelumnya pada hari itu. Mereka tidak
lagi bersikap jinak mengalah menghadapi ledakan perusakan yang lebih jahat.
"Mari! Kita hentikan perbuatan orang menjijikkan itu!" seru Frank.
"Akur! Aku ikut!" seru Joe setuju.
"He! Tunggu-tunggu!" kata Chet menggagap. "Ap-apakah kalian sudah sinting" Si
Manusia Kera itu akan menyobek-koyak kalian!"
"Boleh ia mencabik-cabikku!" sahut Joe. "Ia memang sangat kuat, tetapi takkan
mampu untuk memukul kita semua!"
"Betul!" seru Tony Prito. "Ayo kita hajar bersama!"
"Oke! Tunggu apa lagi!" teriak Biff Hooper.
"Apakah kau- kau tahu apa yang kaulakukan, Frank?" tanya Callie Shaw khawatir.
Ia menarik-narik lengan baju pacarnya.
"Hati-hati!" lola menimbrung.
"Kita akan hati-hati, jangan khawatir!" Frank berjanji. "Kalian cewek-cewek
mundur jangan menghalangi!"
Sambil memungut patahan kursi dan apa saja sebagai senjata darurat yang dapat
diraih, kakak-beradik Hardy dan kawan-kawannya langsung maju mengepung si
Manusia Kera. Mereka bertambah semangat karena teman-teman yang lain ikut
melawan. Si Manusia Kera berusaha menakut-nakuti mereka. Ia melenguh, menggerung, dan
kedua lengannya mengancam serabutan. Kemudian melihat wajah-wajah yang geram
penuh percaya diri, ia melontarkan sebuah meja ke arah mereka, lalu berbalik
lari melompat-lompat seperti kera.
Kini ia berlari melewati deretan pemantul suara. Menuju pintu masuk di ujung
daerah disco. Di sana terdengar hiruk-pikuk sebentar di antara para pengunjung
yang kebetulan menghalangi larinya si Manusia Kera. Ia mendorong, mendesak dan
melempar mencari jalan. Bagaikan keajaiban kerumunan itu memecah memberi jalan. Sesaat kemudian ia telah
keluar dari kepungan. Melihat ia lari beberapa anak muda yang tergabung dalam pasukan pengejar darurat
itu sudah merasa senang tak perlu mengejar lagi. Tetapi kakak-beradik Hardy dan
kawan-kawannya tetap mengejar dengan ketat.


Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Terus kejar!" seru Frank mendesak. "Kita tangkap bangsat itu mumpung ada
kesempatan!" "Ayo, tetap ikut bersama!" teriak Tony.
Mereka dapat melihat tubuh besar itu menghilang di kegelapan taman. Frank, Joe
dan kawan-kawannya menyebar untuk menghadang. Tetapi mereka telah kehilangan
jejaknya. Hanya ada beberapa orang saja di taman pada malam yang mulai larut itu. Termasuk
pasangan-pasangan yang sedang bergandengan tangan, seorang pincang yang duduk di
bangku, dan seorang kakek yang menuntun anjingnya. Si Manusia Kera tak
menampakkan batang hidungnya di mana pun.
"Kita kehilangan jejak," kata Joe dengan melemparkan pandangannya yang terakhir
ke sekeliling. "Tak apa! Setidaknya kita telah membuatnya tahu rasa!" kata Frank. "Terimakasih
kawan-kawan atas bantuan kalian!"
Kembali ke Alfresco Disco mereka melihat Chet, Iola, Callie dan beberapa kawan
lagi sedang mengerumuni barang-barang yang berceceran di dekat pintu masuk.
"Tak berhasil?" tanya Chet sambil mendongak ketika mereka mendekat.
"Ia dapat melarikan diri," kata Joe. "Apa yang kauamati itu?"
"Sesuatu yang terlepas, atau terjatuh dari saku seseorang ketika ribut-ribut
tadi!" "Apanya yang menarik" Apakah barang berharga?"
"Sebetulnya tidak. Tetapi lihatlah sendiri!" Chet mengulurkan sebuah jimat dari
logam yang berbentuk aneh. "Pernah lihat barang seperti ini?"
Jimat itu bergambar seekor burung terbang. Di dalam paruhnya terdapat sesuatu.
Kakak-beradik Hardy memeriksa benda itu, lalu menggeleng. Iola menunjukkan
sehelai kertas, "kalau ini tentu menarik bagi kalian!" katanya.
Frank dan Joe terbelalak matanya. Terkejut. Mereka melihat tulisan di atas
kertas itu: alamat rumah mereka sendiri.
5. Kabar hangat "Apa kautemukan ini di tanah?" tanya Frank penuh teka-teki kepada Iola.
"Chet yang temukan itu!" jawabnya.
Si gemuk menjelaskan bahwa ia ikut lari bersama para pengejar. Ketika ia jatuh
terserimpat pakaiannya sendiri, ia melihat kertas itu. "Cukup terang tempatnya
di dekat pintu masuk. Aku lihat ada tulisan di atas kertas, ternyata alamatmu!"
Kertas itu rupanya seperti disobek dari sebuah amplop. Tetapi tak ada tulisan
atau cetakan lain. "Jika barang-barang ini terserak di satu tempat, tentunya terjatuh dari saku
seseorang yang sama," kata Joe mengutarakan pendapatnya.
Iola mengangguk membenarkan. "Betul! Begitu pula pendapatku. Apa itu dapat
memberikan petunjuk?"
"Tak banyak, kukira," jawab Frank. "Tetapi biarlah kita periksa!"
Barang-barang lainnya adalah yang umum, termasuk enam keping mata uang lima
senan, karcis kereta api bawah tanah dari New York, korek api dan setengah
bungkus permen. Frank dan Joe memasukkan barang-barang itu dengan hati-hati ke dalam sebuah
kantong plastik yang selalu ada di dalam saku baju mereka. Ketika mereka
berdiri, mereka mendengar suara tepuk tangan dan sorakan.
"Bagus, anak-anak!" terdengar suara orang.
"Untung saja ada yang berani mengejar bangsat itu!" seru orang lain. "Ia akan
menghancurkan seluruh isi pavilyun!"
Kakak-beradik Hardy bengong, ketika menyadari mereka dianggap pahlawan. Sebuah
kamera TV pada pundak seorang kameraman ditujukan kepada mereka. Seorang
pewawancara mendekat dan mengacungkan sebuah mikrofon.
"Apa yang membuat kalian begitu berani mengejar makhluk yang menakutkan si
Manusia Kera itu?" "Saya sangsi apa ia betul-betul si Manusia Kera," jawab Frank bernada lunak.
"Orang yang memegang peranan Manusia Kera di TV, mungkin sekali ada di Kalifornia. Sebab di
sanalah film itu dibuat."
"Kau mungkin benar," kata wartawan. Tetapi yang kita lihat tadi itu pun sudah
sangat menakutkan kami!"
"Dia memang kuat," kata Joe. "Tetapi bukan berarti ia Superman. Begitu sadar
bahwa orang-orang di sini siap untuk berkelahi, ia melarikan diri."
"Apa anda dapat menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi?"
Kakak-beradik itu berganti-ganti menceritakan pengejaran tersebut. Tony dan Biff
juga menambahkan satu dua patah kata melengkapi. Akhirnya wawancara itu selesai.
Pesta Buku Komik dilanjutkan. Meskipun tetap meriah, tetapi sebagian kegembiraan
telah lenyap malam itu. Chet sangat kecewa bahwa hadiah dimenangkan oleh seorang
gadis berpakaian sebagai Bidadari Angkasa Luar. Pada jam sepuluh tigapuluh,
Frank, Joe dan pacar-pacar mereka memutuskan untuk pulang meninggalkan tempat
pesta bersama beberapa kawan lainnya.
Secara pribadi kakak-beradik merasa lega dapat pulang tidak terlalu malam.
Mereka khawatir bahwa orang yang datang menakut-nakuti ibu dan bibinya tadi sore
akan datang kembali menakut-nakuti lagi sementara mereka hanya dua wanita lemah
di rumah itu. Mula-mula mereka mengantarkan Callie dan kemudian mengantarkan Iola ke
peternakan Morton. Chet sudah pulang lebih dulu dan telah menyimpan pakaiannya.
Kini ia duduk seorang diri di ruang tamu menonton acara TV, sedangkan orang
tuanya telah tidur. Si gemuk bulat itu keluar ke beranda sewaktu mendengar mobil kawan-kawannya
berhenti di depan rumah. Pada waktu Joe mengantar Iola sampai di ambang pintu
rumah, Chet menggapai mereka dengan gairah.
"Hee, masuk!" seru Chet. "Mereka akan menyiarkan sesuatu dari pesta disco! Nanti
pada jam sebelas!" Frank dan Joe menerima ajakan itu. Mereka masuk bersama Iola.
Benar juga. Penyiar sedang berkata, "Sekarang kita sajikan laporan terlambat
dari Alfresco Disco di Memorial Park Bayport. Pesta malam tadi telah diserang
oleh perusuh yang menyamar sebagai tokoh TV, si Manusia Kera."
Yang disajikan bukan saja kilasan berita pesta disco. Di mana mereka dapat
mengenali kawan-kawannya dalam pakaian pesta bertopeng tersebut. Tetapi Frank
dan Joe dimunculkan secara
close-up dalam wawancara, bersama Tony dan Biff.
"Aduh pahlawanku," Iola tertawa cekikikan sambil meremas lengan Joe.
"O, bukan begitu, nyonya," jawab Joe melawak. "Sesungguhnya kami sedang meminta
tanda tangan si Manusia Kera! Tetapi kami tidak tahu bahwa ia palsu."
Yang lebih menarik dari wawancara terhadap mereka ialah rangkaian rekaman yang
mempertontonkan si perusuh yang mengerikan itu. Team wartawan televisi itu
dikirim untuk meliput acara pesta Buku Komik tersebut. Mereka datang tepat pada
waktunya untuk merekam Manusia Kera gadungan, sewaktu ia sedang melakukan
pengru-sakan. Dengan menggunakan telefoto kameraman berhasil merekam secara close-up penyerang
misterius tersebut. "Wah, rupanya betul-betul seperti Mc Coy yang asli," seru Chet.
"Benar katamu," Joe menyambung. "Kita baru saja menonton si Manusia Kera tadi
malam, bukan" Orang ini sungguh mirip dengan dia. Aku berani bertaruh, ia dapat
mengganti main di TV, dan tak seorang pun akan mengetahuinya."
Seolah-olah percakapan anak-anak muda itu terdengar di studio, penyiar itu
melanjutkan: "Se- mentara itu bila anda menaruh curiga terhadap tokoh TV tersebut, maka salah
seorang wartawan dari jaringan TV kami di Kalifornia baru saja menelepon dia
bahwa si Manusia Kera yang asli pada waktu itu benar-benar sedang berada di
rumahnya dekat Hollywood."
Bagaimana pun dengan gumpalan rambut yang tumbuh rendah dekat dahi,
tongkrongannya yang kekar serta rahangnya yang menjorok ke bawah, si perusuh
pada rekaman TV itu, seolah-olah merupakan saudara kembar dari tokoh yang
ditirunya. "Suatu persamaan yang mengagumkan, memang," kata Frank, "ada orang yang
melakukan make up secara ahli padanya. Yang jelas otot-otot itu tak mungkin di
palsu." "Berbicara mengenai keahlian membuat make up," sambung Joe, "sungguh menyesal
kau tidak berhasil menang dengan Setan Maut-mu, Chet."
"Kukira juga begitu," kata Iola membela. "Dalam pakaian itu, Chet nampak lebih
meyakinkan dari pada Bidadari Angkasa Luar."
"Paling tidak lebih mantap," tambah Frank.
"Tetapi memang semungil dia juga, kata Joe menggoda. Ia tertawa menyeringai
ketika Iola menjulurkan lidahnya.
"Ah, aku tak peduli," kata Chet, sambil menegakkan tubuhnya di kursi goyang yang
didu-dukinya. "Membuat kartun. Itulah yang banyak menghasilkan uang. Aku akan
terjun ke bidang itu, mulai sekarang."
"Jangan kaubilang bahwa kau telah mengambil kursus tertulis lagi?" tanya Frank
setengah melucu. "Memang! Namanya Sistem Tujuh Hari Menuju Jalan Ketenaran dan Penghasilan dengan
Kartun. Aku baru setengah jalan. Tetapi aku telah menemukan tokoh pahlawan untuk
buku komikku. Tunggu sebentar, akan kuambil."
Ia berlari ke kamarnya di atas, dan kembali membawa satu halaman penuh gambar-
gambar dengan petak-petaknya. Gambar-gambar itu melukiskan seorang tokoh bernama
si Otot. Kakak-beradik dapat mengetahui bahwa Chet telah bekerja keras untuk ciptaannya.
Tetapi masih membutuhkan perjalanan yang jauh.
"Aku usul, sebaiknya kaunamakan si Kepala Otot," kata Joe dengan wajah datar.
"Oke, anak pandir," jawab Chet ramah. Ia meremas-remas dengan gemas segumpal
rambut Joe. "Sepatah kata lagi, akan ku-ototkan kepalamu."
"Jangan hiraukan, Chet. Tetap saja dengan nama itu," kata Frank memberi hati.
"Barangkali saja engkau dapat mencapai sesuatu."
Dalam perjalanan pulang dari tanah peternakan Morton, Joe yang memegang kemudi.
Ia melihat sinar lampu mobil yang nampak di kaca spion. Ketika mereka terus
memperhatikannya, tiba-tiba saja sinar lampu itu membelok, seolah-olah pengemudi
mobil itu menyadari bahwa ia telah diketahui.
"Kurasa kita dibayangi orang," gumam Joe.
"Mungkin orang yang membayangi kita juga sewaktu di Shoreham petang tadi," kata
kakaknya. "Barangkali." Pengan membelok di tikungan, Joe menghentikan mobilnya di sebuah jalan simpang.
Mereka mengharap dapat memberikan kejutan kepada orang yang membayangi mereka.
Tetapi tidak ada mobil lewat.
"Mungkin hanya bayangan pikiran kita saja," katanya sedikit malu.
Melihat sebuah mobil polisi di luar rumahnya, mereka menjadi khawatir. "Hanya
untuk berjaga-jaga saja," kata salah seorang polisi. "Ibu dari bibimu dapat
menjelaskannya!" Mereka bergegas masuk, dan menemukan ibu dan bibinya sedang minum teh di ruang
tamu dengan pakaian untuk ke kamar mandi. "Keduanya nampak gugup.
"Apa yang terjadi?" tanya Frank khawatir. "Ada telepon lagi?"
"Lebih buruk lagi!" sahut bibi Gertrude. "Kami mendengar suara melenguh di luar.
Kemudian melihat wajah di jendela. Seperti Manusia Kera di TV!"
"Aku menjerit takut!" kata ibunya mengaku. "Kemudian ia memukul kaca jendela
hingga pecah!" 6. Bayangan yang lekat "Apa ia mencoba masuk ke dalam rumah?" tanya Joe kepada ibunya.
"Untung saja tidak! Tetapi aku sangat terkejut!" jawab ibunya. "Sedangkan
Gertrude tidak, ia lari ke dapur mengambil kayu penggiling adonan."
"Benda itu pasti berguna!" sambung bibi dengan mata bersinar geram.
"Aku yakin," kata Frank penuh sayang. "Tetapi bagaimana dengan Manusia Kera
palsu itu" Apa yang hendak dilakukannya" Apa hanya berdiri di sana saja" Mengintai ke
dalam?" "Aku tak tahu," kata ibunya. "Ketika bibimu Gertrude pergi mengambil kayu
penggiling segera aku menelepon polisi."
"Ketika aku kembali dari dapur, setan itu sudah pergi," sambung bibi. "Ketika
polisi datang, mereka tak dapat menemukan sesuatu pun. Kupikir ia menyadari jika
mau mencoba lagi berbuat yang bukan-bukan, tentu ia akan mendapat kesulitan."
"Jika tidak berarti ia tak tahu diri," berkata Joe setuju sambil menahan
senyumnya. "Wah jika bibi ke medan perang membawa senjata kayu penggiling adonan itu, tentu
dapat menghancurkan musuh lebih lumat dari terigu."
"Pujian untuk menjilat tak ada guna, anak muda!" kata bibi. Tetapi pandangan
tegas pada wajahnya yang tajam menampakkan rasa senang terlihat jelas dari sinar
matanya. Ibu dan bibinya, telah menjadi tenang dengan adanya Frank dan Joe di rumah.
Anak-anak muda ini telah mendengar secara terperinci tentang rasa takut orang
tuanya. "Apa alat pengaman telah dipasang, ibu?" tanya Frank.
"Sudah sekarang," jawab ibunya. "Aku telah memasangnya setelah menelepon polisi.
Seharusnya kita memasang alat pengaman itu pada waktu kalian pergi. Tetapi aku
lalai. Sejak sekarang aku harus lebih hati-hati. Lalu bagaimana pestanya?"
"Menyenangkan," jawab Frank datar.
"Kami juga melihat si Manusia Kera," kata Joe menambahkan. "Sesungguhnya kami
telah mengejarnya!" "Ya ampun! Apa yang terjadi?" tanya ibu, lupa akan pengalaman mereka sendiri
yang mengejutkan. Kini kedua wanita itu nampak sangat memperhatikan anak-
anaknya. "Beritahu selengkapnya!" perintah bibi Ger-trude. Rupa-rupanya naluri detektif
keluarganya mulai timbul.
Frank dan Joe menceritakan bagaimana manusia liar yang misterius itu muncul di
Alfresco Disco. Bagaimana pula dia mengancam akan menghancurkan pavilyun tempat
berdansa. Lalu mereka menggebraknya dengan serangan balik.
"Kami bahkan diwawancarai di TV," Joe mengakhiri ceritanya. "Kami tadi melihat
diri kami sendiri pada acara Berita Jam Sebelas di rumah Chet."
"Ya, ampun! Aku betul-betul tak senang dengan alamat yang terdapat di atas
kertas yang ditemukan kawan-kawanmu itu," kata ibu khawatir.
"Mungkin tak perlu dirisaukan, bu," kata Frank, berusaha menenangkan hati
ibunya. "Barangkali jatuh dari dalam saku salah seorang kawan sekolah."
"Betul! Itulah jawaban yang masuk akal," kata Joe setuju. "Atau barangkali dari
seseorang yang ingin menghubungi untuk meminta bantuan penyelidikan suatu
perkara. Yang benar-benar luar biasa hanyalah mata uang lima senan dan jimat
ini." Dengan memegangi kepingan mata uang logam itu pada tepinya agar jangan sampai
meninggalkan sidik jari, Joe mengeluarkan dari kantong plastik barang-barang
temuannya itu. Bibi Gertrude mengerutkan dahi memandangi gambar yang tertera pada jimat. "Itu
gambar burung dara yang membawa ranting zaitun!" serunya.
Frank membunyikan jari-jari tangannya. "Ya, betul! Dari Kitab Injil, Bab Bahtera
Nabi Nuh!" "Yang betul, dalam Kitab Kejadian," kata Bibi membetulkan. "Burung dara itu
terbang kembali ke bahtera membawa daun pohon zaitun. Tetapi kebanyakan orang
mengatakan ranting zaitun."
"Yang penting," kata Joe, "kita lihat dari segi pengertian Nuh." Ia berpaling
kepada kakaknya. "Apa kaukira ada hubungan gerakan Anak-anak Noah dengan bangsat
yang menyamar sebagai Manusia Kera, Frank?"
Frank mengangkat bahu, alis matanya bertemu menandakan bingung. "Kau hendak
menarik aku ke bab itu. Suatu masalah yang justru harus mulai kita selidiki."
Sebelum pergi tidur, mereka bawa kantong plastik itu ke laboratoriumnya yang
terletak di atas garasi, untuk mencari sidik jari pada benda-benda temuan.
Mereka gagal menemukan sidik jari yang cukup jelas untuk pembuktian.
Pagi berikutnya setelah sarapan, telepon berdering. Frank menyambutnya dan
mendengar suara yang cepat dan lancar.
"Apa ini salah satu dari kakak-beradik Hardy?"
"Betul! Saya Frank Hardy, siapakah ini?"
"Micky Rudd. Editor dan penerbit dari Star Comix. Barangkali kau telah lihat
beberapa buku komik kami?"
"Ya, memang telah melihatnya. Banyak anak-anak Bayport sudah membacanya," kata
Frank setengah tertawa. "Apa yang dapat saya lakukan untuk anda, tuan Rudd?"
"Apa kau dan adikmu ada waktu untuk suatu penyelidikan sekarang ini?"
"Ya! Dapat! Apa yang anda inginkan untuk kami selidiki?"
"Aku rasa lebih baik tidak dibicarakan lewat telepon. Apa kalian dapat datang ke
kantorku di New York?"
"Kapan?" "Bagaimana kalau hari ini juga" Sesudah makan siang?"


Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Frank menahan napas sebentar lalu tertawa kecil sambil melirik ke arlojinya.
Rupanya Micky Rudd adalah seorang yang tak pernah buang-buang waktu. "Baiklah!
Kukira kami berdua dapat melakukannya," Frank setuju.
"Sangat senang!" Rudd lalu menyebutkan dengan cepat alamat kantor bagian editor
Star Comix, dan menambahkan: "Sampai ketemu! Jam satu nanti!"
Frank mendengar gagang telepon diletakkan. Ia pun letakkan gagang teleponnya
lalu berpaling kepada adiknya dengan tersenyum.
"Wadduuuh!" "Apa yang dibicarakannya?" tanya Joe.
"Kita baru saja diminta bantuan oleh penerbit Star Comix Ia minta agar kita
datang ke New York untuk melakukan suatu penyelidikan."
"Wah!" Joe bersiul kecil. "Aku pikir apa hal ini ada hubungannya dengan si
Manusia Kera palsu?"
"Perkiraan yang bagus!" Tokoh Manusia Kera dari Star Comix. Apa pun jadinya kita
mulai melibatkan diri. Kita ditunggu jam satu di kantornya."
Sebelum mereka berangkat, mereka menelepon ayahnya untuk memberi laporan. Tetapi
dari nomor yang diberikan ayahnya, tak ada yang menyahut.
Mereka mampir di Shoreham untuk menemui Paul Linwood. Mereka menceritakan
tentang pertemuan mereka dengan gerombolan Anak-anak Noah sehari sebelumnya.
"Anda pernah menyebutkan, bahwa Sue punya pacar," kata Frank menambahkan.
"Ya, seorang pemuda bernama Buzz Barton."
"Karena Anak-anak Noah sudah mengenal wajah-wajah kami, kami memerlukan
seseorang yang belum mereka kenal. Apa anda kira ia dapat membantu kami?"
"Kuyakin dia mau!" kata direktur kantor asuransi itu. Ia berjanji akan mengatur
suatu pertemuan dengannya, jika mereka nanti telah pulang dari New York.
Cuaca sangat cerah dalam perjalanan mereka. Musim panas yang cerah tetapi sejuk.
Joe dan Frank dapat menikmati perjalanan sementara mobilnya melaju menelusuri
jalan yang banyak tikungannya. Kemudian Joe melihat kakaknya sedang mengawasi
kaca spion. "Ada apa" Ada kawan baik di belakang?"
"Bisa jadi! Sebuah stasion wagon coklat selalu ada di belakang kita sejak di
tikungan balik tadi!"
"Apa kau telah melihatnya sejak dari Shoreham tadi?"
"Belum! Tetapi dengan jujur, memang tadi aku kurang perhatikan!"
"Kau mengenali sopirnya?"
"Tak jelas. Lihat saja nanti, kalau kita dapat menggiringnya ke tempat terbuka."
Frank mencoba mengurangi kecepatan. Tetapi hasilnya hanya berteretetnya klakson-
klakson dari mobil-mobil orang yang tak sabar. Station wagon coklat itu tetap
menjaga jarak. Lalu lintas cukup padat. Sopir station wagon berulang kali berhasil bersembunyi
di balik mobil-mobil di depannya, hingga tak kelihatan nyata dari mobil Hardy.
Akhirnya kaki langit kota Manhattan kelihatan dikuasai oleh State Empire
Building dan menara kembar dari Pusat Perdagangan Dunia. Ketika mereka memasuki
kota, Frank meminggirkan mobilnya untuk dapat melihat orang yang membayangi
mereka. Tetapi stasion wagon coklat itu tak lewat. Mungkin telah melepaskan diri dari
lalu lintas yang padat lewat suatu jalan samping. Atau telah melewati mereka dan
tak terlihat karena ada di balik kendaraan besar seperti truk pengangkut traktor
yang berkonvoi memenuhi jalanan menikung.
"Bagaimana menurut pendapatmu tentang mobil yang membayangi kita itu" Ia telah
lepas dari pengamatan," Frank menggerutu cemas.
"Ya, mudah-mudahan aku hanya melihatnya dalam bayangan saja!"
"Kaupun bilang begitu, kemarin malam," kata Joe masam. "Apa memang kau sering
berkhayal begitu" Ataukah dua kali dalam duabelas jam itu suatu kebetulan?"
"Kalau kaukatakan demikian, semuanyapun serba mungkin. Kita harus waspada setiap
saat. Jika kita memang dibayang-bayangi, satu-satunya cara ialah menjebaknya."
Meskipun mereka tidak saling mengutarakan namun mereka masih segar mengingat ban
pecah di Shoreham. Dan juga petasan yang dipasang di dalam knalpot. Peristiwa
itu rupanya adalah suatu petunjuk bahwa kegiatan mereka berdua selalu diawasi
orang. Jika memang demikian maka orang-orang yang membayang mereka itu bukan
hanya karena dendam tetapi juga karena ngotot.
Setelah menyimpan mobil mereka di sebuah garasi di tengah kota, Frank dan Joe
lalu berjalan kaki menuju kantor editorial Star Comix di gedung Pusat
Rockefeller. Dinding-dindingnya dihiasi gambar-gambar besar berwarna, yaitu
tokoh-tokoh dalam buku-buku komik mereka, seperti si Manusia Kera, Silver
Streat, Serpentella, Doom Demon dan lain-lain.
Micky Rudd ternyata seorang yang botak, dan nampak penuh gairah. Setelah
mempersilakan kakak-beradik Hardy duduk, ia lalu mondar-mandir di ruang
kerjanya. "Aku melihat kalian di TV tadi malam," Rudd membuka pembicaraan. "Jadi
aku tidak perlu mengatakan tentang badut yang menyamar sebagai Manusia Kera
itu!" Frank mengangguk. "Kita melihatnya di disco."
"Jadi kalian tahu ia berbahaya! Karena itulah kalian kuharap menangani perkara
ini. Kuingin kalian memburu dia, sebelum ia melakukan sesuatu yang sangat serius!"
7. Manusia otot "Apa maksud anda memanggil kami, tuan Rudd?" tanya Joe.
"Seperti telah kukatakan, aku telah melihat kalian di TV. Itulah menyebabkan aku
berpikir tentang kalian. Tetapi itu bukan satu-satunya alasan. Betul, bukan
satu-satunya," Rudd berhenti sebentar, melontarkan senyuman semarak kepada
kakak-beradik itu. Seolah-olah ia pancarkan cahaya penuh pesona kepribadiannya
yang seratus kilowatt itu kepada kedua anak-anak muda tersebut. "Orang di
seluruh negeri ini telah mendengar kakak-beradik Hardy, serta ayahnya detektif
kenamaan. Jika mereka membaca, bahwa Star Comix meminta kalian untuk membuka
kedok Manusia Kera gadungan, mereka akan mengetahui, bahwa perkara ini benar-
benar merupakan suatu misteri."
Rudd mengambil saputangan sutera biru dari saku dada bajunya, dan menyeka
keringat di dahinya. Frank mengerutkan dahi berpikir. "Jadi, apakah secara tak langsung anda ingin
mengatakan, bahwa jika tidak demikian orang-orang akan menganggap serangan dan
pengrusakan adalah siasat licik mendapatkan publisitas cuma-cuma?"
"Sudah tentu! Mau apa lagi?"
"Rupanya masalahnya sedikit lebih luas, bukan begitu?"
"Memang. Untuk pihak kami, karena kami tahu bahwa hal itu tidak benar. Tetapi di
mata umum tidaklah demikian. Mereka beranggapan, bahwa orang yang memulai usaha
dalam bidang penerbitan buku komik, orang harus berlaku sinting, misalnya."
Joe menahan sebuah senyuman. "Jadi, anda harus berbuat sinting untuk dapat
menghancurkan tokoh anda sebagai bintang?"
"Tepat!" Rudd jelaskan lebih lanjut. "Itulah masalahnya. Seluruh persoalan
monyet ini dapat menghancurkan bayangan umum tentang si Manusia Kera yang asli.
Jika umum selalu mendengar
kehebohan oleh Kera gadungan yang berkeliaran, mengancam keamanan dan
ketenteraman, menghancurkan harta benda orang, tentu sejumlah rasa tidak senang
akan menghapus hak cipta tokoh buku komik kami. Dan itu dapat merusak citra
penampilannya dalam acara TV."
Rudd menarik keluar saputangannya, dan sekali lagi menghapus keringat di dahi
sambil terus berjalan mondar-mandir.
"Jadi itukah anggapan anda tentang maksud-maksud buruk penipu gadungan itu?"
Rud mengangkat bahu seolah tak berdaya. "Siapa tahu" Bangsat itu tentu menaruh
dendam kepada seseorang. Dilihat dari cara-caranya ia menghancurkan segala
sesuatunya." "Apakah anda punya dugaan kepada seseorang yang menaruh dendam kepada Star Co-
mix?" Editor penerbit yang berkepala botak itu menjatuhkan dirinya di kursi meja
kerjanya. Ia mengerutkan seluruh wajahnya dalam berpikir keras. "Coba, lihat
dulu! Ada seorang seniman. Namanya Hamp Huber. Ia mungkin tidak senang dengan
Star Comix, sekarang ini."
"Mengapa tidak senang?"
"Dialah yang semula membuat gambar-gambar untuk komik si Manusia Kera. Tetapi
bulan lalu dia telah kupecat."
"Dengan alasan apa?"
"Ya, ada suatu perselisihan. Pokoknya, kami tak dapat hanya menggantungkan
kepadanya untuk menyerahkan gambar-gambar itu tepat pada waktunya."
"Apakah Huber ini tenaga lepas?"
Rudd mengangguk. "Sebagian besar buku-buku komik kami dibuat dengan cara
demikian. Yaitu oleh seniman-seniman di rumah masing-masing. Orang-orang yang kalian lihat
bekerja di sini, hanya tinggal memberi warna. Atau sedikit merubah jika terdapat
kesalahan atau kekurangan pada gambar-gambar atau petak-petak tulisan."
Frank berkata: "Tolong berikan alamat Huber. Kami akan coba menyelidikinya."
"Ada orang lain lagi menurut dugaan anda?" tambah Joe.
Rudd mengusap rahang dan dagunya. "Yah, mungkin tak perlu kusebut dia. Gil
Ostrow." "Siapa dia itu?"
"Editor kepala dari Galaxy Comics. Itulah saingan utama kami. Dan dari apa yang
kudengar, Gil sangat iri kepada top hit kami si Manusia Kera, karena telah pula
dimainkan dalam acara TV."
"Apa Galaxy juga bertempat di kota New York sini?"
"Ya! Hanya berjarak beberapa blok dari sini,
yaitu di Jalan Raya Madison." Rudd menamakan alamat tersebut pada alamat Hamp
Huber, dan memberikan kertas itu menyeberangi meja kepada Frank.
"Apa mungkin penipu gadungan itu ada hubungan dengan pertunjukkannya di TV?"
Micky Rudd berpikir sebentar. Kemudian dengan ragu menggeleng. "Aku tak dapat
pikirkan kalau dalam perusahaan TV ada seseorang yang demikian marah kepadaku,
hingga melakukan siasat begitu licik. Dan orang yang dapat berbicara mengenai
hal itu adalah Vern Kelso."
"Apa ia seorang pelaksana di TV?"
"Betul. Pelaksana di Federal Broadcasting System. Itulah jaringan TV yang
menyiarkan si Manusia Kera. Vern dan aku bekerjasama untuk mengembangkan
pertunjukan itu. Kemudian dialah yang menjualnya kepada pimpinan FBS."
Kedua kakak-beradik itu saling berpandangan, untuk mengetahui apakah masih ada
yang ingin ditanyakan. Maka mereka berdiri dan berjabatan tangan dengan editor
penerbit botak itu. "Oke, tuan Rudd," berkata Frank. "Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk
menemukan siapa yang mendalangi semuanya ini."
"Terimakasih! Aku sangat mengharap kalian kakak-beradik."
Dari Pusat Rockefeller mereka berjalan menuju Taman Pusat. Jalan itu dikelilingi
toko-toko dan pada sisi kanan menjulang menara-menara Katedral St. Patrick yang
anggun. "Apa pendapatmu tentang Rudd?" tanya Joe kepada kakaknya, ketika membelok ke
arah Jalan Raya Madison. Frank menyeringai kering. "Kubilang, dia sendiri juga tokoh. Tetapi di balik
bicaranya yang lancar itu, aku mendapat kesan bahwa dia sungguh-sungguh khawatir
terhadap kegiatan badut yang berkeliaran itu. Dan mungkin bahkan bukan dari segi
hubungan masyarakat!"
"Kupikir juga begitu," kata Joe menyetujui. "Sekali atau dua kali ia menunjukkan
rasa takut dengan melihat ke bawah. Seolah-olah si Manusia Kera itu mengejar-
ngejarnya." Meskipun tidak ada perjanjian lebih dulu, tetapi editor kepala dari Galaxy
Comics. mau menerima mereka, begitu mendengar siapa mereka itu. Orangnya
ternyata agak kerdil dengan rambut abu-abu kaku awut-awutan.
Setelah saling berjabatan tangan, Frank dan Joe saling pandang dengan cepat.
Pikiran yang sama menyelinap ke benak masing-masing. Jika sekiranya Gil Ostrow
memang ada di belakang semua kegiatan pengrusakan itu, paling tidak ada satu hal
yang mereka yakini. Yaitu: bukan dia sendiri yang melakukan penyamaran sebagai si Manusia Kera. Untuk itu tubuhnya
terlalu kecil. "Duduklah bung," Ostrow memulai bicaranya. "Katakan, soal apa yang membawa
kakak-beradik Hardy ini sampai di Galaxy Comics?"
Frank menjelaskan, bahwa mereka sedang berusaha mengungkap perusuh misterius
yang berkedok si Manusia Kera. Karena Galaxy Comics adalah saingan utama dari
penerbit buku komik si Manusia Kera, sudah wajarlah kalau Galaxy Comics termasuk
dalam usaha penyelidikannya. Frank cukup bijaksana untuk tidak menyebut nama-
nama. Tetapi Gil Ostrow menanggapi dengan senyuman menyindir.
"Jadi, Micky Rudd telah melemparkan kalian berdua kemari,?" Ostrow tertawa
menghina. "Itu cocok!" "Mengapa anda katakan demikian, tuan Ostrow?" tanya Joe.
"Dengarkan, nak,! Rudd dan aku terlibat pertengkaran bertahun-tahun. Si mulut
besar itu akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan aku."
"Jadi anda menyangkal, bahwa anda punya maksud untuk merugikan orang dengan
merusak tokoh Manusia Kera?"
"Tentu saja aku menyangkal! Untuk apa harus membuat pertunjukan dan mendapat
kesulitan" Kupikir adalah sesuatu yang besar bahwa ada
tokoh buku komik dimainkan di TV. Makin banyak makin baik. Itu menguntungkan
bagi usaha kami!" "Apabila yang anda katakan itu benar," kata Frank, "mengapa tuan Rudd berusaha
melemparkan kecurigaan terhadap anda?"
"Tapi sudah kukatakan, bahwa kami telah bermusuhan sejak beberapa tahun
dengannya. Mungkin ia tidak mengatakan bahwa kami jual buku komik dua kali lipat banyaknya
daripada Star Comix," Ostrow ragu-ragu sebentar, melihat kuku-kukunya lalu
mendongak melihat kepada anak-anak muda itu dengan nada angkuh. "Biarlah
kukatakan demikian. Aku hanya kutip kata-kata seorang seniman, bernama Archie
Frome, yang ditujukan kepadaku beberapa tahun yang lalu. Archie sudah meninggal
sekarang, jadi ia takkan berkeberatan jika ku-ulang kata-katanya. Ia katakan
kepadaku pada suatu ketika dari hati ke hati, begini: Manusia Rudd itu sungguh-
sungguh seorang bajingan!"
"Apa anda tahu, kata-kata itu diucapkannya berkenaan dengan apa?"
"Aku malah berpikir saja tak mau, nak. Aku tidak tertarik akan perbuatan Rudd.
Aku hanya kutip kata-kata itu entah bagaimana orang lain menilainya."
Sebelum kembali ke mobil, kakak-beradik itu
mampir dulu ke kedai kopi membeli hamburger.
"Dengar, Frank. Siapa pun yang menyamar sebagai Manusia Kera, orangnya tentu
berotot," kata Joe. Frank mengangguk. "Itu sudah pasti. Tak seorang pun dilahirkan dengan tubuh
seperti dimiliki orang itu. Satu-satunya cara untuk punya lengan dan dada
sebesar itu ialah dengan lakukan latihan-latihan menggunakan benda-benda berat
dalam waktu yang lama. Menurutku ia itu seorang profesional."
"Cocok! Dari apa yang pernah kubaca, tempat yang paling disukai oleh para
penggemar binaraga di daerah ini adalah Olympic Gym. Mengapa kita tidak pergi
saja ke sana" Mencoba mendapatkan beberapa petunjuk!"
"Ah benar! Buah pikiran yang bagus!"
Mereka mencari alamat Olympic Gym dalam buku telepon Manhattan. Ternyata
tempatnya di tingkat bawah sebuah gedung perkantoran di West Forties, tidak jauh
dari daerah Times Square.
Ruang yang lebar itu dipenuhi anak-anak muda berpakaian olahraga. Mereka sedang
melakukan latihan menggunakan barbel, dengan menarik-narik secara teratur pada
pegangan alat angkat besi. Suasananya dipenuhi bau obat gosok dan keringat.
Seorang yang bertubuh kuat dengan kaki sebe-
lah terbalut gips duduk di atas sebuah bangku di dekat pintu. Ia melihat dengan
wajah iri kepada orang-orang yang tengah berlatih. Ketika Frank dan Joe masuk
dan melihat sekeliling untuk mendapatkan seseorang yang dapat memberikan
petunjuk, ia dengan tiba-tiba berseru: "Hee! Kalian berdua adalah kakak-beradik
Hardy, bukan?" Frank dan Joe menjawabnya dengan anggukan ramah, lalu memperkenalkan diri.
"Kukira aku mengenali kalian," kata orang itu. "Aku melihat kalian di TV kemarin
malam. Ak uRollo Eckert!" Mereka saling berjabatan tangan.
"Kalian sedang bekerja untuk perkara Manusia Kera, bukan?"
"Perkara Manusia Kera gadungan," senyum Frank membetulkan. "Sesungguhnya kami
memang sedang melakukannya. Barangkali kaudapat membantu kami?"
"Senang sekali kalau bisa!"


Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kami ingin tahu ada berapa orang di daerah sini yang sudah mendekati tingkat
juara untuk dapat berperan sebagai si Manusia Kera?"
Rollo Eckert nampak terkejut. Ia ragu-ragu sebelum memberikan jawaban. "Untuk
itu aku khawatir tak banyak dapat membantu. Aku tak mengenal binaragawan
setempat. Sebetulnya aku dari Kalifornia. Aku datang ke timur ini karena
suatu peran pada sebuah pertunjukan di Broad way. Tetapi aku mendapat
kecelakaan. Kakiku patah. Nah, sekarang bahkan pulang ke Kalifor-nia pun aku tak dapat,
sampai pengadilan mengenai terjadinya kecelakaan itu telah selesai diputus."
"Berat juga," kata Joe sambil memandang kakaknya. Kedua anak muda itu merasa
bahwa Eckert mengelak karena ia terlalu sopan atau hati-hati untuk menyebut
nama. "Tetapi aku akan mengatakan kepada kalian seseorang yang mungkin mengetahuinya,"
kata Eckert membantu. "Temanku Zack Amboy, baru saja masuk ke ruang ganti
pakaian, tetapi ia tentu akan keluar lagi dalam satu dua detik ini. Zack adalah
seorang binaragawan kelas dunia. Sesungguhnya ia telah memenangkan gelar Mr.
Hercules tahun lalu. Ia mengenal semua orang yang main angkat besi di sekitar
sini." Pada aktu itu Amboy muncul di lantai ruang olahraga, berpakaian harian biasa. Ia
menyalami kakak-beradik Hardy dengan ramah, setelah diperkenalkan oleh Rollo
kepadanya. "Senang sekali bertemu kalian, bung! Aku pernah mendengar banyak tentang kalian
dan ayah kalian. Malah kemarin malam aku melihat kalian dalam berita TV."
Meskipun Zack nampak meyakinkan besarnya
dan baik tabiatnya, namun Frank dan Joe mendapat kesan bahwa orangnya tidaklah
terlalu bersih. Eckert mengatakan kepadanya mengapa kakak-beradik itu datang, lalu dengan
tertatih-tatih pergi meninggalkan mereka. Zack menggaruk kepalanya dengan
berpikir, lalu mulai menghitung-hitung pada jari tangannya.
"Lihat dulu. Aku hanya dapat menyebutkan delapan orang yang mungkin mampu
berperan sebagai si Manusia Kera. Kalian hendaknya mengerti aku tidak mengatakan
soal wajah, tetapi hanya potongan tubuh saja."
Frank berkata: "Kalau anda melihat apa yang terjadi di disco kemarin malam dalam
berita TV, anda tentu melihat pula si penipu yang menyamar sebagai Manusia
Kera." Zack mengangguk. "Tentu! Aku melihatnya dengan jelas. Orang itu mempunyai otot-
otot besar! Ia dapat memenangkan banyak pertandingan!"
"Apa anda dapat memberitahu nama-nama dan alamat dari kedelapan binaragawan yang
anda sebutkan tadi?"
"Tentu! Aku tak tahu di mana mereka itu tinggal. Tetapi aku dapat mencarinya
dalam buku arsip." Amboy masuk ke kantor manager. Ia segera keluar lagi memegangi secarik kertas
berisi nama-nama serta alamatnya. "Inilah, bung!"
Frank dan Joe mengucapkan terimakasih, lalu mengatakan selamat tinggal ketika
manager keluar untuk bercakap-cakap dengan orang kuat itu. Kedua anak-anak muda
itu berjalan ke luar. Mereka sedang melalui pintu lantai bawah ke arah tangga
ketika Zack datang mendekati.
"Hee! Ada telepon untuk Frank Hardy!"
Dengan terkejut Frank kembali untuk menyambut telepon. Joe menunggunya dan
mengobrol selama satu menit dengan Zack yang sedang pergi ke luar.
Sementara itu Frank mengangkat gagang telepon di kantor manager. "Halo,"
katanya, tetapi tak mendapat jawaban. "Halo! ... Halo!" Tetap tak ada jawaban.
Frank menunggu, berpikir bahwa lawan bicaranya mungkin sedang dipanggil oleh
orang lain. Tetapi setelah beberapa saat, ia mendengar suara "klik" ketika
gagang telepon diletakkan kembali.
Frank pun menurunkan gagang telepon keheranan. Tiba-tiba suatu pikiran datang
padanya. Ia letakkan gagang telepon lalu lari keluar gedung dan berhenti dengan cemas:
Joe tergeletak tak sadarkan diri di pintu masuk.
Edit by : zheraf.net http://www.zheraf.net 8. Isyarat-isyarat di laut
Frank berlutut dengan hati cemas memeriksa keadaan adiknya. Denyut nadinya kuat
dan teratur. Satu-satunya cidera berupa sebuah benjolan di kepala bagian
belakang. Ia teringat melihat kotak PPPK di dinding ruang olahraga. Frank berlari masuk
kembali untuk mengambil sebotol amoniak. Ia menggerak-gerakkan botol itu di
depan hidung Joe sambil menggosok-gosok tangannya. Joe mulai sadar lalu duduk.
"Aduuuh!" Joe meraba kepalanya dan melihat sekeliling untuk mengingat-ingat
kembali di mana ia berada.
"Kau ingat apa yang telah terjadi?" tanya kakaknya.
Joe ingat mengobrol sebentar dengan Zack Amboy.. Setelah Zack pergi ia jalan
mondar-mandir di depan pintu masuk menunggu kakaknya. "Kemudian sesuatu menimpa
kepalaku dari belakang!" katanya sedih.
"Bagaimana rasanya" Perlu ke dokter?"
"Tak usah. Aku sudah baik kembali. Siapa yang telah memukulku tadi. Pukulannya
tak begitu keras. Aku rasanya hanya terkejut. Bagaimana telepon itu?" tanya Joe.
"Hanya suatu siasat?"
"Benar. Hanya untuk memisahkan kita, sehingga yang memukulmu dapat melakukannya
dengan leluasa," kata Frank marah. "Ketika aku menyambut telepon itu, tak ada
yang menyahut. Ia menahan aku di telepon, cukup lama untuk memukulmu roboh!"
"Lalu apa maksudnya?" tanya Joe, mencoba berdiri dengan hati-hati. "Apa
pendapatmu?" "Barangkali saja suatu peringatan agar tidak mencampuri perkara si Manusia
Kera!" "Siapa kira-kira yang melakukannya" Salah seorang dari binaragawankah?"
Frank mengangkat bahu. "Mungkin juga. Atau barangkali orang yang membayangi
kita." Di kaki lima dekat tangga terdapat telepon
umum. Mereka mencoba untuk menelepon ayahnya. Kini mereka dapat jawaban. Fenton
Hardy mendengarkan laporan dari anak-anaknya dengan penuh perhatian. Kemudian
meminta untuk dibacakan nama kedelapan orang yang mungkin menjadi tersangka,
yang diberikan Zack. Setelah mendengar nama-nama tersebut, detektif ulung itu berkata: "Mereka
tinggal berjauhan satu dengan yang lain. Dan di negara bagian berbeda-beda. Nah,
dengar kata-kataku. Aku akan suruh pembantu-pembantuku menyelidiki mereka.
Dengan demikian kita dapat membatasi mana yang mempunyai alibi pada waktu si
Manusia Kera melakukan pengrusakan, baik kemarin malam maupun pada waktu yang
lain." Fenton Hardy mencatat petunjuk-petunjuk itu lalu menyambung: "Sementara
itu kalian harus berhati-hati. Jika kejadian yang dialami Joe dimaksudkan
sebagai peringatan, kemungkinan besar kalian akan menghadapi suatu bahaya."
"Kami akan hati-hati, ayah," Frank berjanji.
Dalam perjalanan pulang dari New York, kakak-beradik itu mampir di sebuah
perkampungan yang menyenangkan, disebut Fair Oaks. Di situlah tinggal seniman
Hamp Huber. Ia merupakan seorang yang besar dan ramah. Paling tidak seimbanglah
besar tubuhnya dengan si Manusia Kera gadungan.
Ternyata ia sedang bekerja di meja gambar ketika kedua kakak-beradik itu datang.
Baju sport yang terbuka pada lehernya agak kotor terkena perakan tinta dan cat.
Setelah mengamati besarnya tubuh Huber, kedua anak-anak muda itu merasa bahwa
siasat yang terbaik ialah mengatakan sejujurnya tentang maksud kedatangan
mereka. "Memang aku merasa sakit hati dipecat dari Star Comix," seniman itu mengakui.
"Tetapi bukan karena aku perlu pekerjaan. Tak seorang ahli gambar pun waktu ini
mendapat kesulitan untuk memperoleh suatu pekerjaan. Aku adalah ahli gambar
terbaik, meskipun itu kukatakan sendiri. Aku pasti mendapat pekerjaan yang mampu
kukerjakan." "Lalu apa yang anda keluhkan?" tanya Joe.
"Aku yang menggambar buku komik si Manusia Kera selama lebih dari dua tahun,"
kata Huber. "Kukerjakan dengan seluruh kemampuanku. Aku sebenarnya beranggapan,
bahwa aku telah banyak membantu membangun tokoh itu. Setelah mulai menghasilkan
uang dan terkenal di TV, apa aku mendapat kenaikan upah" Bukan! Yang kudapat
malah dipecat!" "Kami mendapat penjelasan, bahwa mereka tak mau tergantung pada anda untuk
menyerahkan pekerjaan itu tepat pada waktunya," kata Frank terus terang.
"Omong kosong! Mereka selalu puas dengan karyaku selama dua tahun itu. Tetapi
apa bedanya" Itu memang ciri khas cara kerja Micky Rudd."
"Apa maksud anda?"
"Ia selalu mengira bahwa dia sendirilah yang merupakan ahli di Star Comix," kata
Huber, "bila ia khawatir bahwa seorang pelukis atau penulis mendapat nama terlalu baik
untuk peranan buku komik, segera pula Rudd menemukan alasan untuk memecatnya
atau memindahkannya ke bagian lain. Demikianlah hingga Rudd memperoleh nama
untuk diri sendiri."
Frank menjadi ragu sebentar sebelum mengajukan pertanyaan: "Pernah mendengar
seorang seniman yang bernama Archie Frome?"
"Sudah tentu! Ia meninggal belum lama ini. Orang yang sangat berbakat."
"Ada orang yang mengatakan kepada kami, ia sebut tuan Rudd sebagai bajingan."
Hamp Huber tertawa gembira. "Jika Archie Frome katakan begitu, kalian sebaiknya
percaya saja." "Mengapa begitu?"
"Archie adalah orang paling baik yang pernah kujumpai. Hangat, selalu bersikap
manis. Aku belum pernah dengar ia mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap seseorang.
Jadi, jika ia benar-benar mengatakan bahwa Rudd adalah bajingan, ia tentu
mempunyai alasan yang kuat untuk mengatakan yang demikian."
Ketika mereka meneruskan perjalanan ke Bayport, mereka mampir lagi di Shoreham,
di kantor asuransi Argus. Waktu itu sudah beberapa menit tutup. Tuan Linwood
mengajak pacar Sue ke lobby untuk menemui mereka.
Buzz Barton adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap besar, wajahnya berbintik-
bintik. Kakak-beradik itu segera menyukainya. Ia antusias sekali ingin memberikan segala
bantuan untuk dapat menemukan Sue. Seperti tuan Linwood, Buzz juga curiga kalau
Sue telah menggabungkan diri pada Anak-anak Noah.
"Tetapi inilah kesulitannya," Frank menjelaskan," Joe dan aku pernah bentrok
dengan Anak-anak Noah itu. Dan mereka telah mengenal wajah kami. Jika kita
hendak ke Bahtera untuk melihat apakah Sue ada di sana, kita harus minta bantuan
orang lain untuk memata-matai. Itulah yang harus kaulakukan."
"Serahkan itu padaku," Buzz bersukarela. "Di sekitar pinggiran laut selalu ada
sekelompok dari mereka, biasanya sebelum waktu makan malam. Aku akan berpura-
pura ingin ikut gerakan mereka. Entah dengan cara apa aku akan datang di atas kapal itu."
"Bagus! Jika Sue ada di atas kapal, dan anak-anak jemaat itu membuat kesulitan,
Joe dan aku dapat temui kalian di kapal dan membawa kalian kembali ke darat.
Kami memiliki perahu yang cepat!"
"Aku akan berusaha menelepon kalian sore nanti," Buzz berjanji, "dan membentahu
bagaimana keadaannya."
Joe yang mengemudikan mobil dalam perjalanan terakhir pulang ke rumah. Sekali
lagi mereka merasa, bahwa mereka dibayang-bayangi. Tetapi di dalam lalu-lintas
pada jam-jam sibuk, mereka tidak dapat menjebak mobil yang membuntuti mereka.
Sampai di rumah, ibu mengatakan bahwa Chet Morton telah hampir siang tadi.
"Kukatakan padanya bahwa kalian pergi menemui penerbit Star Comix di New York.
Ia menjadi tegang penuh gairah," kata ibunya. "Aku tidak mengerti mengapa."
"Ooo! Boleh tebak tiga kali!" kata Joe dengan menyeringai lucu kepada kakaknya.
Frank tertawa kecil. "Aku tahu! Tentu sesuatu yang berhubungan dengan hobinya
yang baru membuat kartun."
Benar juga! Si gemuk dempal kawannya itu muncul ketika bibi Gertrude sedang
mengatur meja untuk makan malam. Chet membawa serta bebrapa contoh hasil
karyanya yang baru. Kakak-beradik melihat bahwa ia telah merubah nama kartunnya. Dari Manusia otot
menjadi Kapten Otot. "Sekarang kalian telah kenal Micky Rudd. Maukah kalian tunjukkan ciptaanku yang
baru?" "Anu, eh, aku belum pasti kapan dapat kesempatan," kata Frank mengelak. "Tetapi
jika ada kesempatan tentu akan kuperlihatkan."
Kakak-beradik itu tertolong dari kesulitan mencari dalih lain, ketika bel
telepon berdering. Yang menelepon ternyata Buzz Barton.
"Kami sedang ada urusan!" ia melapor penuh gairah. "Kukatakan kepada para jemaat
bahwa aku ingin menjadi anak Noah. Mereka langsung menerimanya. Kira-kira
setengah jam lagi ada perahu yang akan membawa sekelompok jemaat ke Bahtera. Aku
ikut dalam rombongan itu."
"Di mana berlabuhnya?"
"Dekat Teluk Barmet."
"Bagus! Kau bawa tangga khusus yang kami berikan padamu itu?"
"Sudah tentu! Aku pura-pura sedang melakukan petualangan. Jadi aku bawa alas
tidur yang kugulung. Tangga itu kutaruh di dalamnya. Aku
pun bawa lampu senter, seperti yang kalian katakan!"
Frank memberitahu Buzz beberapa isyarat menggunakan lampu. Ia berjanji
menyiapkan perahu cepat bersama Joe. Pada jam 11.00 malam perahu itu akan nampak
dari Bahtera. Kira-kira jam 10.15 malam itu, kedua anak-anak muda itu pergi ke kandang perahu
mereka. Sleuth, nama perahu cepat itu. Tak lama kemudian, perahu itu telah meluncur
menuju ke perairan Teluk Barmet, samar-samar di terang bulan.
Tak lama kemudian cahaya lampu-lampu dari kapal pesiar yang telah dirubah mulai
nampak di kejauhan. Kapal itu berlabuh kira-kira satu mil di sebelah utara mulut
teluk. Joe mematikan mesin perahunya, lalu membuang sauh. Mereka lalu berpindah ke
sebuah perahu dayung kecil terbuat dari plastik.
Dengan hati-hati mereka kayuh perahu itu menuju ke Bahtera. Waktu menunjukkan
beberapa menit kurang dari jam sebelas. Ketika mereka mendekati kapal itu,
nampak kilatan lampu dengan isyarat dua kali pendek sekali panjang.
"Itu berarti ia telah menemukan Sue. Dan Sue bersedia pergi bersamanya," kata
Frank berbisik. Mereka mengayuh mendekat. Mereka menemukan tangga khusus untuk detektif itu
menjulai di sisi kapal, tepat seperti mereka rencanakan.
Tangga itu dibuat dari tali nylon, dengan simpul-simpul plastik untuk tempat
pijakan dan pegangan. Mereka menambatkan perahu mereka pada tali tersebut, lalu memanjat naik ke atas.
Tetapi begitu mereka merayap ke atas geladak Bahtera, beberapa tangan yang kuat
menangkap mereka erat-erat di keremangan bulan.
9. Mandi dalam Tiba-tiba saja lampu-lampu geladak bersinar-an. Ada pula lampu sorot yang
diarahkan langsung ke mata kakak-beradik Hardy. Mereka ber-kejap-kejap dan
memicing-micingkan mata di dalam cahaya yang menyilaukan dan mereka berusaha
menunduk atau memalingkan muka. Tetapi cengkeraman tangan-tangan yang kuat
membuat mereka tidak berdaya.
Kini mereka dapat membedakan seseorang dalam pakaian kapten. Seorang lagi
berpakaian sebagai perwira tiga, ada bersamanya. Demikian pula beberapa pemuda-
pemuda gundul berjubah putih.
"Apa ini maksudnya! Menangkap orang seperti pencuri saja!" kata Frank dengan
berani kepada kapten kapal.
"Emangnya kami harus berbuat bagaimana" Dua pencoleng menyelundup naik di tengah
malam?" jawab kapten itu kasar. "Berjabat tangan menyuguhkan kopi?"
"Kami datang untuk menemui seorang teman," sahut Joe.
"Cara yang lucu untuk bertamu! Gelap-gelap merayap naik! Seperti pencuri saja!"
"Kami melihat isyarat lampu dari geladak! Jadi kami kira ada yang jaga, yang
memberi tahu keadaannya oke!"
Joe ingin melanjutkan dengan menyindir: Apa yang hendak kalian katakan, jika
teman kami itu telah memasang tangga untuk naik" Tetapi ia menyadari bahwa kata-
kata demikian hanya akan menyulitkan kawannya, Buzz. Artinya, jika Buzz belum
berada dalam keadaan yang menyedihkan. Bagaimana pun para awak kapal itu tentu
sudah tahu bagaimana mereka berdua bisa naik ke atas kapal.
"Ada satu hal yang kalian memang benar," kata kapten itu menghardik. "Penjaga
itu memang ada. Nah, sekarang karena kalian telah menyelundup naik kapalku,
kalian harus dihajar supaya seumur hidup jangan sampai lupa. Ayo,
anak-anak! Beri mereka itu mandi dalam!"
Sambil berteriak dan bersorak-sorai mereka kepung kedua kakak-beradik Hardy.
Kapten terus mengawasi sambil berkomat-kamit. Frank dan Joe mempertaruhkan


Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

segala-galanya untuk mempertahankan diri. Tetapi lawan terlalu banyak jumlahnya.
Terasa selusin tangan-tangan menyergapnya erat-erat. Sedetik kemudian mereka
merasa diangkat tinggi-tinggi lalu dibuang dari sisi kapal seperti muatan
berlebih. Cebuuurrr! Mereka kecebur ke dalam hampir bersamaan. Terengah-engah akibat jatuh
dari ketinggian kapal serta kejutan rasa dinginnya air laut, mereka hanya mampu
menggapai-gapai kalang kabut untuk beberapa waktu.
Untunglah mereka berdua adalah perenang-perenang yang baik. Dalam tiga gerakan
yang kuat dengan selamat mereka dapat mencapai perahu plastik. Tetapi untuk
dapat naik tanpa perahu itu mengguling merupakan masalah pula. Akhirnya, dengan
basah kuyup dan napas memburu mereka berhasil merangkak naik ke atas perahu
dayung plastik. Gelak tertawa mengejek menggema dari atas geladak kapal. Kemudian dengan
gemeretak, tangga nylon mereka lemparkan jatuh di atas perahu plastik.
"Pengecut!" teriak Joe tangan mengepal. "Kalau berani berkelahi dua lawan dua!"
"Sudah! Lupakan saja!" kata Frank menggertakkan gigi. "Kita memang telah
menyelundup ke atas dalam gelapnya malam. Kita pun sadar telah mempertaruhkan
diri. Lalu untuk apa lagi berteriak-teriak setengah mati itu?"
Mereka mengayuh perahu mereka kembali ke tempat membuang sauh perahu Sleuth.
Frank berkata: "Kini yang kuresahkan justru nasib yang menimpa si Buzz!"
Joe memandang kakaknya dengan khawatir: "Aku kaukira mereka juga mengerjai dia?"
"Siapa tahu! Jika kapten itu telah begitu kejam melempar kita ke dalam laut, tak
dapat dikatakan lagi apa yang dia lakukan bersama badut-badut Noah terhadap
Buzz, meski berpura-pura ingin masuk ke dalam gerakan mereka!"
"Itu pun dengan anggapan, bahwa merka tahu kalau Buzz adalah kawan kita. Dan
dengan tujuan apa ia menggabungkan diri dengan mereka."
"Mereka memang sudah seharusnya tahu!" kata Frank. "Bagaimana mereka telah
mengatur siasat menangkap kita, kalau mereka belum mengompes Buzz."
"Hmm," gumam Joe khawatir. "Mungkin kita perlu menghubungi ayah. Minta kepadanya
melepaskan Buzz dari kesulitan ini. Kita jugalah yang membuat dia terperangkap!"
"Baiklah! Kita coba menghubungi dengan radio!"
Begitu mereka sampai di perahu Sleuth, mereka memanasi dulu radio dua-arahnya
yang kuat, lalu memancarkan sinyal panggilan darurat. Untung sekali mereka
segera mendapat jawaban dari ayah mereka, yang kebetulan juga melihat sinyal
lampu pada pesawat radionya. "Ada apa, anak-anak?"
Frank dengan cepat melapor. Dari suaranya mereka mengerti kalau ayahnya pun
khawatir terhadap keadaannya.
"Pergilah ke pos Penjaga Pantai selekasnya; mintalah bantuan!" pak Hardy memberi
saran. "Sementara itu aku akan memanggil Washington!"
"Baik, ayah!" Joe menambah gas, dan dalam beberapa detik saja Sleuth sudah meluncur membelah
air laut menuju ke pos Penjaga Pantai dari Teluk Barmet.
Merka merasa lega, karena seorang letnan telah menunggu mereka. Sebuah kapal
patroli telah disiapkan dengan mesin yang dihidupkan agar dapat berangkat dengan
segera. "Ayahmu tentu telah menelepon tokoh penting," kata perwira itu. "Kami telah
menerima perintah kilat dari
pihak FBI dan atasan kami."
Kapal patroli itu meluncur cepat melintas teluk. Segera pula mereka menangkap
bayangan kapal Bahtera dalam cahaya lampu sorotnya yang kuat. Ketika merapat
pada sisi kapal Bahtera, letnan itu memanggil melalui pengeras suara:
"Harap siap menerima tamu!"
Frank dan Joe diperkenankan ikut. Kedua kakak-beradik itu menikmati wajah kapten
yang tersudut ketakutan, ketika letnan Penjaga Pantai itu berkata dengan nada
keras: "Apa kau tak sadar bahwa kau dapat kuseret ke depan penga- dilan, dan
surat izinmu dapat dicabut, karena yang telah kau perbuat terhadap kedua anak
muda ini?" "Tetapi mereka tak punya hak untuk menyelundup ke kapalku!" kata kapten coba
menggertak. "Jangan omong kosong," letnan itu ganti membentak. "Ini abad duapuluh! Kita
bukan lagi hidup dalam jaman tarik lunas. Kaupun bukan kapten Bligh! Nah,
dengar! Kami datang karena dikhawatirkan oleh keadaan diri dari seorang pemuda
bernama Buzz Barton. Kami ingin melihat bagaimana keadaannya."
Seorang gundul berjubah putih, yang nampaknya lebih tua dari pada yang lain,
berkata: Kami Anak-anak Noah tak mengijinkan saudara-saudara kami ditakut-takuti
oleh siapa pun. Termasuk oleh Penjaga Pantai Amerika Serikat!"
Letnan itu memandang kepadanya dengan wajah dingin. "Tak seorang pun berminat
akan kata-katamu, bung! Kami juga tidak menakut-nakuti siapa pun. Nah, kapten!"
"Apakah anda membawa surat perintah penggeledahan?"
"Tidak! Sebab aku tidak akan menggeledah. Aku hanya menanyakan salah seorang
penum-pangmu. Perlu kutambahkan bahwa aku diminta oleh pihak FBI akan hal ini.
Nah, mau damai atau tidak?"
Kapten menggagap dan menggerutu ragu-ragu, ingin menggertak terus. Tetapi jelas
ia merasa tidak aman dengan ikut campurnya Penjaga Pantai yang tidak diduganya.
Akhirnya ia menunjukkan jalan kepada letnan dan kedua kakak-beradik ke sebuah
bilik di bawah geladak. Di sana tergeletak Buzz Barton tidur di atas sebuah
dipan. Ketika dibangunkan, ia nampak setengah sadar dan bingung, tetapi tidak
ada tanda-tanda bekas aniaya.
"Apa engkau naik kekapal atas kemauanmu sendiri?" tanya letnan. "A-sa-ya, tuan!"
"Apa engkau ingin tetap tinggal di kapal atau
ingin kembali ke darat bersama-sama teman-temanmu?"
Buzz ragu-ragu, berkedip-kedip matanya. Frank dan Joe dapat membaca perasaannya
dalam sinar matanya. "S-sa-ya i-ngin tetap di k-ka-pal," ia menggagap.
Anggota jemaat yang tadi memrotes, kini nampak berseri wajahnya dan memandang
kepada kakak-beradik Hardy dan letnan dengan pandangan penuh kemenangan. Karena
rupanya tidak perlu pengamatan lebih jauh, maka para tamu itu kembali ke kapal
patroli. Dengan wajah muram kedua kakak-beradik tiba di pos Penjaga Pantai. Mereka
mengucapkan terimakasih, lalu pulang kembali ke pangkalan dengan perahu cepat
Sleuth. Setelah sarapan esok hari berikutnya, Frank menelepon Vern Kelso. Dia itu
pelaksana jaringan pada Federated Broadcasting System, yang telah disebutkan
oleh Micky Rudd. "Kami sedang melakukan penyelidikan terhadap perkara perusuh yang menyamar
sebagai Manusia Kera," kata Frank menjelaskan, "kami ingin bertanya apakah anda
dapat meluangkan waktu untuk kami, dengan melakukan pembicaraan dengan kami
kakak-beradik?" "Tentu! Dapat! Kami semua sangat senang, apa yang kalian telah perbuat untuk
menemukan pengganggu serta membuka kedoknya!" Kelso mengatakan bahwa Micky Rudd
telah berbicara kepadanya tentang hal meminta bantuan kepada mereka. Ia
tambahkan: "Bagaimana kalau makan siang bersama" Nanti jam satu?"
"Senang sekali! Terimakasih banyak, tuan Kelso! Kami akan datang!"
Kakak-beradik itu menelepon Chet, agar siap ikut bersama mereka. Setengah jam
kemudian, ketika mereka hendak keluar, telepon berdering. Bibi Gertrude
menyambut, lalu berkata: "Ayahmu menelepon, Joe!"
"Ada apa, ayah?" tanya Joe.
"Pembantu-pembantuku telah berhasil melakukan penyelidikan terhadap delapan
binaragawan itu, anak-anak. Enam mempunyai alibi, tetapi dua lainnya tidak.
Demikian juga Amboy. Ia sendiri juga tak punya alibi."
10. Pesan penting Joe menuliskan nama-nama para tersangka yang tak punya alibi, ketika si Manusia
Kera sedang melakukan pengrusakan.
"Terimakasih, ayah! Kita akan mengikuti jejak kedua tersangka itu dan juga Zack
Amboy!" "Bagus! Ingat-ingat baik peringatanku, nak," tambah pak Hardy. "Kalian harus
selalu waspada!" "Kami takkan melupakan petunjukmu, ayah!" Joe berjanji.
Ia meletakkan gagang telepon, lalu meneruskan berita itu kepada kakaknya. Frank
jadi sangat tertarik mendengar bahwa Zack sendiri tak punya alibi. "Ia juga tak
punya alibi ketika engkau dihantam di depan gedung olahraga itu," Frank mencoba
memperinci. "Tetapi telepon itu bukan pura-pura," balas Joe. "Kumaksudkan meskipun tak ada
yang berbicara, di ujung sana ada orangnya, bukan?"
"Kau betul! Tetapi itu bukan masalahnya. Apa yang perlu dilakukan hanya
menelepon seseorang. Minta agar memutar nomor telepon gedung olahraga, lalu
biarkan saja terbuka untuk beberapa menit. Zack dapat melakukan itu semua untuk
cepat-cepat mengejar kita kembali, lalu mengatakan ada telepon untukku. Kemudian
mengobrol sebentar dengan engkau. Ia berpura-pura pergi, lalu menyelinap kembali
untuk memukulmu dari belakang ketika engkau lengah."
Joe mengangguk memikir. "Itu bisa jadi. Tetapi Zack tampangnya sungguh-sungguh
tidak pantas untuk berbuat begitu!"
Mereka mengendarai mobilnya ke tanah peternakan Morton untuk menjemput Chet.
Kawan mereka yang gemuk bulat itu baru saja memberi warna gambar kartunya, si
Kapten Otot, dan ingin sekali untuk memamerkannya pada Star Comix.
"Berapa menurut perkiraanmu, mereka mau memberi honor untukku, jika mereka
menerbitkan ceritaku ini?" tanya Chet ingin tahu.
"Dua dolar barangkali. Kalau engkau beruntung," jawab Joe. Tetapi ia tak dapat
menyembunyikan perubahan wajahnya.
"Oke, anak pandir!" sahut Chet jengkel. "Tunggu saja, kalau ternyata ia menjadi
Top Hit! Engkau akan mengemis-ngemis minta tandata-nganku!"
Frank menyeringai tetapi tetap membungkam. Mereka lalu menuju ke tikungan balik
yang menuju New York. Salah satu orang kuat yang mereka curigai adalah seorang penjaga keamanan sebuah
bank, bernama Olafsen. Ia tinggal dan bekerja di sebuah kota kecil, yang
letaknya langsung di dalam arah perjalanan mereka. Mereka membelok ke sebuah
jalan simpang yang terdekat, lalu bertanya tentang alamat bank tersebut.
Ternyata bank itu mereka temukan di Jalan Raya. Mereka parkir mobilnya di tempat
parkir para langganan. Di dalam mereka tidak menemukan kesulitan untuk bertemu orang yang mereka cari.
Dua penjaga berdiri di dekat dua pintu yang berhadapan. Yang seorang berperut
buncit, setengah baya, nampak seperti bekas anggota polisi. Yang satu seorang
yang masih muda, berambut pirang, jangkung dengan dada dan bahu berotot, seolah-
olah selalu hendak membetot kancing-kancing bajunya. Frank dan Joe melangkah
menghampirinya lalu memperkenalkan diri.
"Tuan Olafsen, kami diminta untuk menyelidiki si perusuh yang menyamar sebagai
Si Manusia Kera," kata Frank. "Barangkali anda telah membacanya di surat kabar?"
"Tentu! Tetapi apa hubungannya dengan aku?" jawab Olafsen dingin.
"Salah satu dari hasil penyelidikan itu menyangkut para ahli binaraga di Negara
Bagian ini. Barangkali anda yang cukup besar tubuhnya serta cukup kekuatannya
mampu memenuhi peranan tersebut."
"Dengar, bung! Jika kalian hendak melemparkan kesalahan itu kepadaku, kalian
akan mendapatkan sesuatu yang lain."
"Tak seorang pun hendak melemparkan apa-apa kepada anda," Joe jelaskan.
"Sesungguhnya kami hendak membersihkan siapa pun yang tidak bersalah. Jadi kalau
anda tak punya apa-apa yang perlu disembunyikan, apa salahnya menjawab beberapa
pertanyaan kami?" "Aku sudah menjawab beberapa pertanyaan itu, bung!" Olafsen menggerutu. "Seorang
detektif swasta telah menelepon aku tadi malam, lalu ia datang sendiri. Ia
banyak bertanya tentang di mana aku berada pada waktu sekian jam sekian, dan
banyak omong kosong lainnya. Nah,
sejak dari sekarang aku tak mau bicara apa-apa lagi. Apa yang kulakukan di waktu
senggang itu urusanku sendiri. Kalau kalian tak senang, adukan saja kepada Jaksa
Wilayah!" Kakak-beradik itu masih saling berbicara beberapa lama dengan si pirang yang
kekar badannya itu. Cara mereka bicara yang sopan agak melunakkan hatinya.
Tetapi ia tetap tak bersedia membantu.
Ketika mereka meninggalkan gedung bank itu, Joe bertanya dengan suara
kebingungan: "Apa pendapatmu tentang dia, Frank" Apa kaukira Olafsen itu si
perusuh?" Kakaknya mengangkat bahu. "Barangkali. Ia tetap tak mau berusaha membersihkan
dirinya. Tetapi janganlah kita cepat mengambil kesimpulan. Apa pun yang dikatakan
pembantu ayah kepadanya, menurut dugaanku, ia telah memperlakukan Olafsen dengan
cara yang salah." "Itu sudah tentu!"
Setelah memarkir mobil mereka di New York, Joe dan Frank membawa Chet ke kantor
Star Comix di Pusat Rockefeller. Mereka memperkenalkan Chet kepda Micky Rudd.
Kemudian mereka meminta permisi, lalu pergi untuk memenuhi undangan makan siang
bersama Kelso. Kantor pusat dan studio-studio dari jaringan FBS terletak di sebuah gedung
pencakar langit baja dan kaca di jalan Avenue of The Americas. Sebuah elevator membawa kakak-
beradik itu ke ruang pelaksana di tingkat duapuluhlima. Seker-taris Kelso yang
cantik memberi salam dan mengantarkan mereka ke kantor pribadinya.
"O, jadi kalian detektif-detektif muda yang termasyhur itu!" katanya sambil
melompat bangun dan berjabat tangan. "Tak dapat kukatakan bagaimana aku gembira
kalian yang menangani perkara ini. Sabarlah sebentar, sementara aku
menandatangani beberapa surat, kemudian kita segera makan siang."
Vern Kelso adalah seorang yang ramping, berpakaian mahal, berumur kira-kira
tigapuluhan, berambut ikal berwarna coklat. Sambil dengan cepat menandatangani
setumpuk surat-surat, ia dengan lancar melakukan pembicaraan.
"Biasanya aku dijemput mobilku untuk pergi makan siang," katanya. "Lebih
menghormat waktu dari pada memanggil taksi. Tetapi aku agak lalai hari ini."
"Mobil kami diparkir tidak jauh dari sini. Kami dapat mengambilnya, jika tuan
kehendaki," kata Frank.
"Jangan! Jangan! Terimakasih! Aku tinggal di Sutton Place, dekat gedung PBB.
Jadi sebenarnya tak ada masalah untuk memanggil mobilku. Tetapi pesuruhku yang
merangkap sopir, agak sakit.
Di samping itu hari begini cerah. Kukira kita dapat enak-enak berjalan kaki,
kalau kalian tak keberatan tentunya."
"Kami senang sekali," jawab Joe setuju.
Kakak-beradik itu sebenarnya dapat menikmati keadaan sambil berjalan lambat-
lambat ke rumah makan, yang jaraknya hanya beberapa blok dari kantor FBS. Tetapi
ketika mereka berjalan di panas matahari, berdesakan dengan para pelancong dan
penduduk New York, mereka terganggu oleh perasaan bahwa ada orang yang
membayangi mereka. Dari pandangan mereka yang dilontarkan saling sembunyi-sembunyi, mereka tahu
masing-masing terganggu oleh naluri yang sama. Meskipun mereka telah berusaha
untuk tetap mengawasi yang membuntutinya, dengan melihat bayangannya di kaca
jendela toko, atau sebentar-sebentar mencuri melirik ke belakang, tetapi mereka
tak dapat menemukan seseorang menjejaki langkah-langkah mereka.
Sekertaris Kelso telah memesan meja untuk mereka. Rumah makan itu penuh dengan
tamu, yang berpakaian rapih dan saling mengobrol dengan riang. Pelaksana
jaringan TV menjelaskan bahwa kebanyakan langganan itu adalah dari TV dan industri busana.
Kelso menyuguhi kedua kakak-beradik itu dengan cerita menarik meskipun agak
bernada sombong, tentang bagaimana kerasnya ia bekerja untuk dapat menjual si
Manusia Kera kepada FBS, "Banyak rasa iri terjadi dalam usaha ini," katanya menyingkap rahasia. "Kadang-
kadang rasanya seperti setiap orang menodongkan pisau ke punggung sesamanya. Aku
benar-benar mempertaruhkan leherku agar si Manusia Kera dapat diterima. Jika
pertunjukan itu gagal, banyak orang di jaringan itu akan merasa senang melihat
aku menanggung kesalahan.
Tetapi ternyata kini ia menjadi top hit, dan akulah yang dapat tertawa!"
Kelso rupanya tidak terlalu resah tentang pu-blisitas tak menyenangkan yang
disebabkan oleh si perusuh yang menyamar sebagai si Manusia Kera. Kedua kakak-
beradik itu mendapat firasat bahwa ia diam-diam sebenarnya menyenangi publisitas
itu, dan merasa bahwa hal itu justru akan menarik lebih banyak penonton TV.
Frank menyebutkan para tersangka yang didapatkannya dari Zack Amboy, lalu
berkata: "Apakah mungkin ada seorang pemain TV yang menyamar sebagai si Manusia Kera"
Barangkali seseorang yang menginginkan peranan sebagai si Manusia Kera, yang
lalu marah karena batal mendapatkan peran itu?"
Vern Kelso menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tak mungkin. Micky Rudd dan
aku sejak semula telah memilih Dante Mazzola. Dia pulalah yang akhirnya
mendapatkannya. Jadi sebenarnya tak pernah ada persaingan untuk peranan itu."
Pembicaraan itu terhenti, karena seorang pelayan datang membawa pesawat telepon
tancapan.

Hardy Boys Misteri Manusia Kera di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Panggilan dari jaringan, tuan Kelso!"
"Terimakasih!" Kelso menerima pesawat itu, lalu menjawab. Kemudian ia memandang
kepada kakak-beradik Hardy. "Untuk kalian berdua, telepon dari rumahmu.
Sekertarisku menyambungkannya kemari."
Ia mengulurkan pesawat itu kepada Frank, yang menyambutnya dengan rasa khawatir.
"Halo!" "G di sini," terdengar suara yang tajam. "Kalian baru saja mendapat pesan dari
SR. Ia ada di New York, dan ingin segera dapat bertemu kalian. Katanya sangat
penting!" 11. Lagi-lagi jimat Frank mengeluarkan sebatang pensil, lalu dengan cepat menuliskan beberapa
petunjuk. "Terimakasih, bibi. Kami akan menemuinya selekas mungkin," katanya lalu
meletakkan gagang pesawat.
Sambil berpaling kepada adiknya, Frank berkata: "Ada sesuatu yang terjadi.
Rupanya sangat penting. Sam Radley ingin bertemu dengan kita."
Sam adalah pembantu utama Fenton Hardy. Ia juga sering bekerjasama dengan kedua
kakak-beradik itu untuk menangani beberapa perkara.
Setelah menyelesaikan makanan kecil selesai makan, mereka minta maaf kepada Vern
Kelso karena terpaksa menghentikan pertemuan mereka sebelum habis waktunya.
Mereka mengucapkan terimakasih untuk makan siang tersebut, lalu meninggalkan
rumah makan. "Kau punya dugaan kejadian apa yang terjadi?" tanya Joe ketika mereka berjalan
kaki menuju ke timur. "Sama sekali tidak. Tetapi aku tahu bahwa Sam sedang melakukan tugas dari ayah
sehubungan perkara benda-benda seni yang dicuri."
Dalam perkara yang disebutkan Frank, pak Hardy bekerja untuk suatu kantor
asuransi, berusaha menghentikan lalu-Iintas perdagangan lukisan-lukisan curian
serta benda-benda seni lainnya.
Mereka menjumpai Sam Radley sedang menunggu secara bersembunyi, di suatu ambang
pintu di East fifty ninth street. Detektif itu sedang melakukan pengamatan,
mengawasi toko milik seorang pedagang benda seni yang melakukan kecurangan di
seberang jalan. "Maaf kami berdua terlalu lama baru datang, Sam," kata Frank meminta maaf. "Kami
kira berjalan kaki lebih cepat daripada naik taksi di tempat yang sangat ramai
ini." "Tak mengapa," jawab Sam. "Sesungguhnya, kalian malah datang lebih cepat dari
yang kusangka. Bibimu tentu langsung meneleponmu."
Seperti yang telah mereka ketahui, ayah mereka selalu membagi-bagi foto dari
setiap tersangka kepada para pembantunya. Salah satu foto itu ialah foto dari
Sue, anak perempuan Paul Linwood yang hilang.
"Aku baru saja melihat dia," kata Sam, "beberapa menit sebelum aku menelepon
rumahmu." Kakak-beradik itu terkejut. Apa ini berarti bahwa anak perempuan yang sedang
mereka cari itu tidak bergabung dengan jemaat Anak-anak Noah?"
"Apa kau yakin, bahwa anak perempuan yang kau lihat itu adalah Sue, Sam?" tanya
Joe. "Positif! Kalau bukan dia tentu kembarannya. Ia menghantarkan sebuah bungkusan
kepada toko benda-benda seni itu. Kemudian pergi dengan naik taksi. Untung aku
mencatat nomornya." "Bagus! Coba kuminta nomor itu. Aku akan menceknya."
"Itu sudah aku lakukan. Sudah tak perlu menceknya lagi." Radley menerangkan,
bahwa sementara menunggu mereka berdua makan di rumah makan, ia telah menelepon
polisi Wilayah New York di sebuah telepon umum. Dari system komputer kepolisian
ia segera mendapat jejak dari pemilik merangkap sopir taksi tersebut. "Ini nama
dan alamatnya." Frank menyeringai ketika menerima secarik kertas dari pembantu ayahnya. "Sam,
kau sungguh-sungguh mengerikan!"
Di lobby sebuah bangunan perkantoran, kakak-beradik itu melihat-lihat dalam buku
telepon dari masing-masing wilayah kota New York. Mereka menemukan nomor telepon
sopir taksi itu, yang tinggal di Brooklyn. Isterinya yang menyambut.
Kemelut Di Cakrabuana 4 Pendekar Rajawali Sakti 101 Rahasia Dara Iblis Kesatria Baju Putih 4
^