Pencarian

Misteri Selat Penyelundup 1

Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup Bagian 1


Hardy Boys Franklin W Dixon Misteri Selat Penyelundup
Judul asli MYSTERY OF SMUGGLERS COVE
1981 Terbit di Indonesia: September 1982 ==============================
Ebook Cersil (zheraf.wapamp.com)
Gudang Ebook http://www.zheraf.net
==============================
Chapter 1 BUKTI PALSU Telepon berdering. Frank dan Joe Hardy mendongak sejenak. Mereka sedang asyik
bermain catur di ruang duduk, di rumah mereka di kota Bayport.
"Jangan-jangan untuk kita," kata Frank.
"Kita akan segera tahu," kata Joe. "Bibi Gertrude sudah mengangkatnya di kamar
tengah." Gertrude Hardy, yang tinggal pada keluarga itu sejak lama, menjenguk dari balik
pintu. "Frank, pak Wester ingin berbicara dengan engkau."
"Pak Wester?" "Engkau tentu ingat, pemilik bank yang sudah pensiun itu. Ia juga dikenal
sebagai pengumpul benda-benda seni."
"O ya, betul. terimakasih, bibi." Frank beranjak dari duduknya, pergi ke kamar
besar. Ia mengangkat gagang telepon.
"Pak Wester" Di sini Frank Hardy."
"Aku ingin bertemu dengan engkau dan Joe," kata suara di dalam telepon.
"Dapatkah kalian segera datang kemari?"
"Tentu, pak! Ada apa sebenarnya?"
"Aku sedang mencari beberapa penjahat. Engkau dan adikmu mungkin akan tertarik.
Aku ingin bertemu dengan kalian, sebelum aku memanggil polisi!"
Pak Wester menutup pembicaraan, dan Frank kembali ke kamar duduk. Ia mengatakan
kepada adiknya, apa yang dikatakan oleh penggemar barang antik itu.
"Wah!" kata Joe. Rupanya maling-maling itu telah membuat dia kalap! Ayo kita
berangkat!" Kedua pemuda itu lari keluar. Frank yang berumur delapanbelas, duduk di belakang
kemudi mobil sport kuning mereka. Pemuda berambut hitam itu setahun lebih tua
dari Joe, adiknya yang pirang. Joe lalu duduk di sampingnya. Kedua pemuda
tersebut sangat dikenal sampai ke luar kota tempat tinggalnya, sebagai detektif
amatir yang sangat cerdik.
Frank mengemudikan mobilnya melalui Jalan Elm ke jalan raya. Tak lama kemudian
mereka tiba di rumah Raymond Wester, di luaran kota Bayport. Rumah itu hampir
seperti istana. Dikelilingi halaman luas berumput dan pohon-pohon besar.
Frank memarkir mobilnya di jalan masuk halaman. Ia dan adiknya melihat seorang
nyonya, memandangi mereka dari jendela ruang atas. Nyonya itu mengangkat
tangannya, dan mereka melihat sesuatu yang tajam mengkilat di tangannya.
Joe menahan napas. "Nyonya itu seperti memegang sebilah belati!"
"Ya, nampaknya," kakaknya mengiakan. "Aku heran, mengapa ia berbuat demikian."
Nyonya itu bergerak dari jendela, dan menghilang dari pandangan. Kakak beradik
itu turun dari mobil, langsung menuju ke pintu depan.
Joe hendak membunyikan bel. Tetapi belum sempat tangannya menekan tombol, pintu
terbuka sedikit. Benda tajam mengkilat itu nampak di celah pintu!
Secara naluriah mereka mundur!
Ketika pintu terbuka lebar, mereka berhadapan dengan nyonya yang nampak di
jendela tadi. Tangan kanannya memegang sebilah pisau pembuka surat, dan tangan
kirinya memegang setumpuk surat.
"Aku melihat kalian datang," kata nyonya itu. "Karena itu aku turun untuk
membukakan pintu. Aku nyonya Summers, pengurus rumah tangga. Tuan Wester telah
menunggu kalian." Ia mengantarkan mereka melintas kamar besar, menuju ke kamar kerja tuannya.
Raymond Wester, yang bertubuh kecil berambut putih, duduk di belakang meja tulis
besar. Sejumlah lukisan tergantung di dinding.
Hanya di atas perapian nampak suatu tempat yang kosong. Sebagian dari tembok,
berwarna lebih tua dari sekelilingnya, menandakan, bahwa belum lama di tempat
itu masih tergantung sebuah lukisan.
Pak Wester mempersilakan mereka duduk pada kursi di depan meja tulisnya.
"Kukira kalian ingin tahu, mengapa aku minta kalian datang kemari," ia memulai
pembicaraan. "Betul, pak," Frank mengaku. "Kecuali, bahwa anda menyebutkan penjahat-
penjahat." Pak Wester mengangguk. "Mereka telah merampok aku."
"Apa saja yang hilang?"
Pak Wester menunjuk ke tempat kosong di atas perapian.
"Lukisan yang biasanya tergantung di situ telah hilang. Berupa potret Simon
Bolivar, yang sangat tinggi harganya. Kukira kalian tahu siapa Simon Bolivar
itu." Joe tersenyum. "Kita mempelajarinya dari pelajaran Sejarah di sekolah. Ia
merupakan George Washington-nya Amerika Selatan. Ia telah menghantam bangsa
Sepanyol, seperti Washington memukul bangsa Inggris."
"Karena itu ia disebut Liberator, Pembebas bangsa," sambung kakaknya.
"Kalian menguasai pelajaran Sejarah," pak Wester memuji.
"Nah, lukisan Bolivar-ku itu telah hilang. Lenyap begitu saja!"
"Kapan hal itu terjadi, pak" tanya Frank.
" "Dua minggu yang lalu. Aku sedang ada di Eropa. Ketika aku pulang siang tadi,
lukisan itu telah hilang."
"Anda tak punya persangkaan, siapa yang telah mengambilnya?" tanya Frank.
"Engg,kuceritakan saja apa yang telah terjadi. Sebelum aku berangkat bulan lalu,
aku menyuruh sekertarisku, Mark Morphy, untuk mengambil lukisan itu. Ia juga
kusuruh mengirimkannya kepada adikku Harrison yang tinggal di Key Blanco,
Florida. Sejak dulu, Harrison menginginkan lukisan itu. Karena itu, bulan lalu
aku sepakat untuk memberikannya kepada dia."
"Dengan cara bagaimana lukisan itu dikirimkan?" tanya Frank.
"Lukisan itu terlalu berharga untuk dikirimkan melalui pos atau perusahaan
pengiriman barang. Aku minta kepada Morphy, agar menyewa dua orang untuk
menjaganya dengan mobil ke Florida. Morphy sendiri harus ikut, untuk ikut
mengawasi lukisan itu setiap waktu."
"Apakah dapat terus bermobil sampai ke Key Blanco?" tanya Joe.
"Tidak. Hanya sampai di Key West. Dari sana harus menggunakan perahu. Sebelum
keberangkatanku ke Eropa, aku menelepon Harrison. Kukatakan, bahwa lukisan itu
akan segera dikirim kepadanya. Tetapi ketika aku pulang hari ini,ia menelepon
dan mengatakan bahwa lukisan itu tak pernah datang!"
"Apakah anda telah melapor kepada polisi"," tanya Frank.
"Mungkin terjadi kecelakaan. Polisi tentu dapat menemukan mobil itu antara sini
dengan Florida. " Pak Wester menggeleng. "Seperti yang kukatakan di telepon, aku lebih senang
menghubungi kalian dulu. Bagaimana pun, jika mobil itu mengalami kecelakaan,
Morphy tentu menelepon!"
"Anda tak mendengar berita sama sekali tentang sekertaris anda?"
"Tak sepatah kata pun! Aku kawatir, jangan-jangan ia telah diculik oleh dua
orang sewaan itu. Harap kalian dapat mengerti, aku tak pernah mencurigai dia
terlibat dalam suatu kejahatan."
"Apakah Morphy mempunyai identitas dua orang sewaan itu?" tanya Joe. "Misalnya,
dengan meninggalkan nama?"
"Ya," kata pak Wester. "Ia meninggalkan potret mereka."
"Itu bagus!" kata Frank. "Dengan demikian, kami dapat pergi kepada pak Collig di
markas kepolisian, untuk mencocokkan potret itu dengan yang ada di berkas-berkas
mereka." "Kukira tak perlu hal itu," kata pak Wester seperti acuh tak acuh. "Aku yakin,
kalian sendiri tentu dapat mengenalinya!"
"Mengapa, pak?" tanya Joe dengan heran.
Pensiunan pemilik bank itu mengeluarkan sebuah potret dari laci, dan memberikan
kepada Frank dan Joe. "Ini!"
Kedua detektif muda itu terperanjat memandangi potret tersebut, sebab mereka
menghadapi potretnya sendiri!
Chapter 2 TAK PUNYA ALIBI "Morphy sungguh cerdik, pak Wester!" kata Joe akhirnya.
"Kami belum pernah melihat lukisan itu. Bahkan bertemu dengan Morphy pun belum
pernah!" "Di samping itu, kami adalah detektif! Bukan orang sewaan!" sambung kakaknya
tegas. "Yang jelas, bukan penjahat!" Joe menambah.
Rupa-rupanya pak Wester tak tergoyahkan. "Kalian dapat saja menggunakan nama
baik kalian sebagai penumpas kejahatan itu, justru sebagai kedok! Semua orang di
Bayport tahu, bahwa kalian telah berhasil memecahkan banyak perkara. Mungkin
saja kalian berpendapat, tentu tak akan dicurigai! Itu foto kalian, bukan!"
"Memang," Frank mengaku. "Tetapi itu tak membuktikan apa-apa. Saya mengenali
foto itu. Dibuat oleh Andy Anderson dari suratkabar Bayport Timer pada suatu wawancara.
Morphy tentu mendapatkannya dari arsip suratkabar itu!"
Pak Wester hanya mengangkat bahu. "Seandainya itu betul, ia tetap menyebutkan
kalian sebagai orang sewaannya. Di mana kalian berada dua minggu yang lalu,
ketika lukisan itu dicuri orang?"
"Kami sedang berlibur di Maine," jawab Frank. "Olahraga jalan kaki sepanjang
Appalachian Trail. Olahraga kaki yang ..."
"Itu kata kalian!" sela pak Wester tetap curiga. "Ada yang melihat kalian?"
Memang tidak," Frank mengaku. "Kami memang tak mempunyai alibi semacam itu. Kami
" memang tidak terlibat!"
"Kami kira, ia hendak melemparkan kecurigaan kepada kami," Joe menjelaskan.
"Bagi kami, dialah tersangka pertama!"
"Tetapi kalian dapat saja bersekongkol dengan dia!" pak Wester mendebat.
"Mungkin saja ia menghilang dengan lukisan itu, dan membiarkan kalian sebagai
kambing hitamnya!" Frank dan Joe saling berpandangan. Baru kali dalam hidup mereka, dicurigai
sebagai penjahat! "Coba kita periksa, apakah pencuri yang sesungguhnya itu meninggalkan jejak,"
usul Joe. "Kami harus tahu sebanyak-banyaknya dari peristiwa pencurian ini. Apakah ada
yang dapat menceritakan, bagaimana terjadinya?"
"Nyonya Summers," kata pak Wester. "Seperti kalian belum tahu saja!"
Pak Wester memanggil pengurus rumah tangga. Nyonya itu masuk ke kamar kerja, dan
memandangi kakak beradik itu dengan curiga. Majikannya minta diceritakan,
tentang hilangnya lukisan itu.
"Ketika tuan Wester ada di Eropa," nyonya itu menjelaskan, "tuan Morphy yang
bertanggung jawab di sini. Ia mengatakan kepada saya, bahwa ia mendapat perintah
untuk mengambil lukisan itu, dan membawanya ke tuan Harrison Wester. Katanya, ia
telah menyewa dua orang suruhan, untuk membawanya dengan mobil ke Key Blanco. Ia
juga meninggalkan petunjuk-petunjuk yang terperinci di dalam laci."
"Itulah kami," Joe menyambung. "Susahnya, Morphy tak pernah memberitahu kepada
kami mengenai rencana-rencananya! Apakah ia mengatakan yang lain-lain lagi?"
"Aku tak tahu sama sekali tentang rencana itu!" tukas pengurus rumah tangga itu.
"Tentu saja tidak," kata Frank menenteramkan. "Kami hanya mengharap, agar nyonya
menceritakan apa yang terjadi setelah itu."
"Hari berikutnya, tuan Morphy memberi libur sehari kepada semua karyawan di
sini. Ketika kami masuk kembali, lukisan itu sudah tidak ada. "
"Morphy sendiri juga tidak ada?"
"Betul," jawab nyonya itu. "Aku juga tak melihat dia lagi sejak itu."
Pak Wester memandang kedua pemuda itu dengan tajam. "Aku tetap berpendirian,
bahwa kalian mungkin terlibat. Kalau memang tidak, kalian harus dapat
membuktikannya!" Joe berpendapat, "Bagaimana kalau Morphy hanya berpura-pura saja mengirimkan
lukisan itu" Tetapi sebenarnya hanya menyembunyikannya saja di sini?"
"Apakah kami boleh memeriksa rumah ini?" Frank menyambung, setelah menangkap
maksud adiknya. "Silakan," kata pensiunan pemilik bank itu. "Nyonya Summers akan mengantar
kalian berkeliling. Lukisan itu kira-kira berukuran enampuluh kali seratus
duapuluh senti. Tentu mudah ditemukan, jika memang masih ada disini."
Frank dan Joe memutuskan, untuk memulai pemeriksaan dari atas terus ke bawah.
Mereka mengikuti nyonya Summers naik ke loteng. Tempat itu berdebu, memanjang di
bagian lantai atas. Penerangan yang ada, hanya dari dua buah jendela kecil yang terdapat di langit-
langit atap yang miring. Dari pemeriksaan yang singkat mereka yakin, bahwa
lukisan yang hilang itu tak ada di rumah tersebut. Nyonya Summers menunjukkan ke
bagian lantai dua, tempat tinggal para pembantu rumah tangga. Tak ada sesuatu
pun yang mereka temukan. Di lantai kamar pak Wester pun tak ada hasilnya.
"Kita sia-sia menemui tempat kosong!" kata Frank kecewa.
"Kesempatan terakhir hanya tinggal ruangan bawah tanah," kata Joe. "Mari kita ."
" "Tak ada sesuatu di sana!" nyonya Summers menyela. "Aku sendiri telah
melihatnya." "Kita harus membuat laporan yang lengkap," kata Frank membujuk. "Apakah anda
berkeberatan, jika kita melihatnya sebentar?"
Nyonya itu mengangkat bahu, lalu membuka pintu ruangan bawah. Semuanya turun
melalui tangga yang goyah.
Ruangan bawah tanah itu berdinding batu bata yang terbuat dari abu arang yang
dipres, dan lantainya dari semen. Pada suatu sudut terdapat sebuah tungku dan
alat pemanas air. Di dekatnya ada sebuah bangku kerja, memanjang ke seluruh dinding.
"Tuan Wester menggunakan meja itu untuk memperbaiki lukisan-lukisannya," nyonya
itu menjelaskan. Pada sudut yang paling gelap, Joe mendapatkan sebuah gelang-gelang besi,
tergantung pada dinding. "Untuk apakah ini?" ia bertanya.
"Aku tak tahu!" tukas nyonya itu. "Nah, bisakah kita kembali sekarang ?"
"Tunggu sebentar," kata Frank. Ia sedang memperhatikan gelang besi itu.
"Nampaknya seperti pegangan pembuka pintu. Mungkin ada sebuah pintu pada dinding
ini." Ia memutar gelang-gelang itu, lalu menariknya kuat-kuat.
Sebagian dari batu bata abu arang itu bergerak ke samping!
"Ruangan rahasia!" seru Frank. "Jangan-jangan lukisan itu ada di sini!"
Kedua pemuda itu masuk. Mereka berada di dalam sebuah ruangan kecil, yang
dinding belakangnya hanya mendapat cahaya dari ruang bawah tanah.
"Wow!" seru Joe. "Siapa yang membuat ini" Untuk apa?"
Frank mengangkat bahu. "Yang membuat rumah ini pula, kukira. Barangkali pak
Wester tahu, untuk apa gunanya."
Mereka memeriksa dinding-dindingnya dengan teliti. Mereka begitu asyik
mengamati, sehingga tanpa mereka sadari pintu dinding di belakang mereka
menutup. Ruangan itu menjadi bertambah gelap, karena satu-satunya penerangan
telah tertahan oleh pintu yang tertutup.
Klik! Mereka mendengar pintu terkunci, dan mereka berada dalam ruangan yang
gelap gulita! Frank melompat ke pintu dan berusaha membukanya, tetapi kedua tangannya hanya
bertahan oleh dinding yang kokoh!
"Nyonya Summers!" ia berseru. "Tolong keluarkan kami!"
Nyonya itu tak menanggapi.
"Seharusnya ia mendengar suara kita!" kata Joe tegas. "Pintu itu tak seberapa
tebal." "Stt! Kata Frank, sambil berusaha mendengarkan suara langkah kaki nyonya
Summers. Tetapi yang ada hanya kesunyian!
Dengan kalap, Frank meraba-raba ke sekeliling dalam kegelapan, mencari-cari,


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kalau-kalau terdapat pegangan pembuka pintu. Tetapi jari-jarinya hanya merasakan
batu bata abu arang. "Joe!" serunya. "Kita terperangkap!"
"Barangkali masih ada jalan keluar yang lain," kata adiknya memberi semangat. Ia
berjalan menyusuri sepanjang dinding, meraba-raba mencari lubang jalan keluar.
Tiba-tiba kakinya menginjak tempat yang kosong! Sambil memekik ia jatuh ke dalam
lobang. "Joe! Engkau tak apa-apa?" seru kakaknya khawatir.
Tak ada jawaban! Frank berdiri tertegun diam, mencoba mengusir rasa panik yang menyergap. Frank
melompat turun ke sisi adiknya, lalu menggoyang-goyangkan tubuh yang tak
bergerak itu. Tiba-tiba ia teringat, bahwa ia membawa lampu senter kecil di saku belakang
celananya. Ia menyalakannya, dan mengarahkan sinarnya ke arah suara adiknya.
Cahaya senter itu menerangi tangga empat tingkat dari kayu, dan Joe meringkuk di
bawah tangga! Joe membuka matanya, meraba-raba kepalanya, lalu mencoba bangun.
"Lain kali, kalau aku hendak loncat indah, aku harus melihat dulu, ada airnya
atau tidak," Joe menggerutu. "Untung tidak cedera, hanya benjol sedikit di
kepala." Frank mengarahkan cahaya senternya ke depan. Mereka melihat, ternyata mereka
berada di dalam sebuah terowongan sempit, tapi tak seberapa panjang, lantainya
miring ke atas. "Barangkali ada pintu di depan itu," katanya. "Mari kita lihat."
Ia mendahului sambil berjalan membungkuk, karena langit-langit semakin rendah.
Tetapi setelah diselidiki, di depan hanya ada dinding yang menghalang.
"Jalan terakhir bagi kita," kata Frank. "Kita berada di dalam terowongan buntu!"
Joe meraba-raba langit-langit yang rendah itu. Tiba-tiba jari-jarinya meraba
sebuah gerendel, yang masuk ke dalam kaitannya dengan kuat.
"Nanti dulu," katanya. "Ini mungkin jalan keluar." Dengan sekuat tenaga ia
menarik gerendel dari kaitannya, lalu mendorong ke atas. Sebagian dari langit-
langit itu menguak terbuka ke atas, memasukkan cahaya dari luar. Mereka menjadi
silau dan terpaksa mengedip-ngedipkan mata, setelah sekian lama ada di dalam
kegelapan. Mereka memanjat ke atas, dan tiba di semak-semak sisi rumah, dekat
dengan jalan masuk. Joe menurunkan pintu, kembali menutup lubang. Kini tempat itu menjadi samar, tak
kentara dalam semak-semak.
"Suatu cara yang bagus untuk menyembunyikan jalan rahasia," kata Frank.
"He! Apa ini?" Kakinya tersandung sesuatu di semak-semak. Ia membungkuk, dan
memungut sebuah pisau lipat yang tangkainya berwarna kuning. Salah satu sisinya
bertuliskan huruf I.N. "Singkatan nama pemiliknya?" kata Frank dengan gairah, sambil menunjukkan kepada
adiknya. "Mari kita selidiki, apakah cocok dengan nama salah seorang penghuni
rumah." Mereka memutar menuju ke pintu depan, lalu membunyikan bel. Nyonya Summers
membuka pintu dan nampak terkejut melihat mereka.
"Pintu ruangan bawah tanah itu menutup sendiri," katanya. "Aku tak dapat
membukanya, lalu pergi mencari bantuan. Aku hendak minta tolong kepada tuan
Wester, tetapi beliau sedang menelepon."
"Kami menemukan jalan keluar yang lain," kata Frank memberitahu. Kemudian ia
memandangi nyonya itu dengan tajam.
"Apakah singkatan nama I.N. mempunyai sesuatu makna tertentu bagi anda, nyonya
Summers?" Nyonya itu nampak terkejut, tetapi menggelengkan kepala.
"Disini tak ada orang yang mempunyai singkatan nama demikian," katanya dengan
pasti. "Bolehkah kami menemui pak Wester?" tanya Joe.
"Tentu saja." Nyonya itu mempersilakan mereka masuk. Kedua pemuda itu lalu
datang kepada pak Wester di kamar kerjanya.
Pak Wester sedang meletakkan gagang telepon ketika mereka masuk. Ia terkejut
mendengar adanya jalan rahasia di ruang bawah tanah. "Aku tak pernah tahu akan
hal itu!" katanya. "Yah, tetapi rumah ini memang dibangun lebih dari seratus tahun yang lalu."
Frank mendapat suatu pikiran. "Pak Wester, jika sekertaris anda memang terlibat
dalam pencurian, tentunya ada barang-barang lain yang ikut tercuri. Apakah anda
merasa ada barang lain yang hilang?"
Pak Wester menggeleng. Tetapi ia menyuruh nyonya Summers untuk memeriksanya. Tak
lama nyonya itu kembali. Nampaknya bingung. "Saya tak menyadari sebelumnya,
tuan," katanya. "Tetapi kendi perak yang besar itu ternyata tak ada di tempatnya. Demikian pula
dua buah tempat lilin dari emas."
"Seseorang, mungkin Morphy, telah merampok anda tanpa anda ketahui," komentar
Joe. "Aku heran," kata pak Wester. "Mengapa ia tak mencuri lukisan-lukisan lain yang
lebih berharga?" "Mungkin ia berpikir, bahwa itu akan terlalu menyolok," kata Joe memberi alasan.
Nyonya Summers mengangguk. "Kendi dan tempat lilin itu tidak dipajangkan,"
katanya. "Saya saja tak menyadari, tuan, kalau saya tidak memeriksanya!"
"Apakah kalian menemukan petunjuk-petunjuk dari pemeriksaan kalian tadi" tanya
pak " Wester. "Hanya ini," kata Frank. Ia menunjukkan sebilah pisau lipat.
Pengumpul benda seni itu tak mengenalinya. Ia pun tak mengenal singkatan nama
I.N. Kakak beradik itu lalu memeriksa dinding di atas perapian, bekas tempat lukisan
Bolivar digantungkan. Suatu tempat pada dinding itu menarik perhatian Frank. Ia memeriksanya dengan
teliti. "Ini ada sidik jari yang cukup jelas," katanya. "Joe, tolong ambilkan kotak kita
di mobil." "Oke," kata Joe sambil berangkat. Ia kembali dengan sebuah kotak kecil, lalu
menaburkan semacam serbuk pada tempat yang dicurigai tersebut. Kemudian ia
memotretnya dengan sebuah kamera mini, sebelum sidik jari itu diangkatnya dengan
sejenis tape yang khusus.
Ia kembali ke dekat pak Wester. "Jika anda tak berkeberatan, saya akan mencari
sidik jari Morphy di kamarnya. Kita lihat nanti, apakah cocok dengan sidik jari
yang tadi." Pak Wester mengijinkan, dan Joe meninggalkan kamar kerja.
Frank memandang dengan penuh pikiran ke dinding yang kosong di atas perapian.
"Saya heran. Mengapa orang yang mengambil lukisan itu, tidak memakai sarung
tangan?" Pak Wester memandang tajam kepadanya. "Seharusnya engkau tahu. Kawat penggantung
lukisan itu diikatkan pada sebuah paku. Jadi, pencuri itu harus menggunakan
jari-jarinya untuk melepaskannya."
Mereka mempercakapkan peristiwa itu sampai Joe kembali.
"Saya berhasil mendapatkan sidik jari yang bagus pada pisau cukur yang digunakan
oleh Morphy," kata Joe. "Sekarang kami dapat membawanya kepada pak Collig untuk
dicocokkan. Pak Wester, kami akan kembali lagi kemari jika memang cocok. Kalau tidak, polisi
tentu akan tahu sidik siapa, setelah mencocokkannya dengan berkas-berkas sidik
jari di kantor polisi."
Pak Wester mengangguk. "Sementara kalian ada di sana, tolong laporkan bahwa
rumahku kecurian." "Dengan senang hati, pak. Kami akan melapor untuk anda," kata Frank.
Pak Wester memandangi dia. "Jangan lupa untuk mengatakan, bahwa kemungkinan
tersangka pertama adalah Frank dan Joe Hardy!"
Chapter 3 JERITAN MINTA TOLONG Frank dan Joe memandangi penggemar benda-benda seni itu. Rupanya, ia masih saja
percaya bahwa merekalah yang bersalah!
"Kami harus menemukan Mark Morphy untuk membersihkan diri kami, pak," kata Frank
perlahan-lahan. "Bagaimana roman wajahnya, pak?"
Pak Wester mengambil sebuah potret dari laci mejanya, lalu memberikannya kepada
Frank. "Inilah dia." "Apakah anda dapat memberitahu lebih lanjut tentang dia?" tanya Frank
selanjutnya. "Apakah dia mempunyai keluarga atau teman" Di mana tinggalnya sebelum bekerja
pada anda" Siapa yang mengajukan dia kepada anda?"
Pak Wester mengangkat bahu. "Ia telah bekerja padanya selama setahun. Aku
menerima dia setelah majikannya, seorang kenalanku, meninggal. Aku tak tahu
sedikit pun tentang keluarganya. Atau dari mana asalnya. Ia tak pernah
menyebutnya, dan aku juga tak pernah menanyakannya."
Pak Wester tak dapat memberikan informasi lebih jauh. Karena itu, kakak-adik itu
mempercakapkan peristiwa yang aneh itu.
"Bagaimana perasaanmu" Dikatakan sebagai seorang penjahat?" tanya Joe
menggerutu. "Pak Wester mencurigai kita dengan penuh keyakinan. Mengapa ia harus bertemu
dengan kita, sebelum melapor kepada polisi?"
Frank mengangguk. "Aku juga tak mempercayai pengurus rumah tangganya itu. Aku
yakin, bahwa ia tahu tentang jalan rahasia itu, dan dengan sengaja menutup pintu
ruang bawah tanah." Joe mengangkat bahu. "Katanya, ia hendak memanggil pak Wester, tetapi pak Wester
sedang menelepon. Kita melihat sendiri, bahwa pak Wester memang sedang
menelepon." "Dapat saja ia mendengar telepon berdering, lalu dibuat alasan!" kata Frank
dengan tetap pada pendiriannya. Ia memarkir mobilnya di depan kantor Kepala
Polisi Collig. Mereka lalu masuk, dan menjumpai teman lama mereka, yang telah banyak membantu
mereka dalam memecahkan perkara. Kepala polisi itu jangkung-tegap dengan pipi
merah sehat. Ia sedang duduk di meja tulisnya ketika mereka masuk.
"Halo, anak-anak! Ada keperluan apa?" ia bertanya dengan ramah.
Joe meletakkan kedua sidik jari di atas meja. "Kami ingin melihat, apakah kedua
sidik jari ini cocok satu sama lainnya."
Kepala Polisi itu mengerling ke arah mereka. "Kalian sedang menangani suatu
perkara lagi, bukan" Maukah mengatakannya kepadaku?"
Kakak beradik itu menceritakan tentang kunjungan mereka ke rumah Raymond Wester.
Mereka juga menyebutkan, bahwa mereka berdua dicurigai terlibat dalam pencurian
sebuah lukisan. Pak Collig bersiul. "Ini menempatkan kalian ke dalam kesulitan, ya" Nah, lihat
saja, apakah aku dapat membebaskan kalian dari tuduhan itu."
Ia mengantarkan mereka ke laboratorium kriminal. Kedua sidik jari itu diletakkan
di bawah sebuah mikroskop kembar, lalu disetel, agar kedua tepi sidik itu
berdampingan. Ia meneliti sejenak dengan seksama, lalu berkata: "Tidak sama.
Coba, lihat sendiri."
Frank dan Joe memang telah trampil dalam hal sidik jari. Mereka berganti-ganti
melihatnya. "Sidik Morphy hanya melingkar satu kali," kata Joe. "Sidik yang dari dinding
melingkar dua." "Ya. Kedua sidik ini berasal dari dua orang yang berbeda,"
Frank mengiakan. "Aku heran, sidik siapa yang satu ini?"
"Mari kita lihat, apakah kami mempunyai arsip dari sidik ini," kata pak Collig.
Ia menuju ke sebuah almari, lalu membalik-balik berkas-berkas sidik jari.
Beberapa saat kemudian ia menggeleng. "Tak ada di sini. Ia belum dikenal di
kalangan kriminal dari daerah ini. Aku akan mengirimkannya ke FBI di Washington.
Barangkali mereka dapat menyidiknya bagi kalian."
Pak Collig mengatakan, bahwa ia akan melihat sendiri perkara pencurian itu di
rumah Wester. Kakak beradik itu lalu pulang. Hati mereka lega atas bantuan pak
kepala polisi. Ayah mereka, seorang pensiunan anggota Kepolisian Kota New York, kini telah
menjadi detektif swasta. Ia baru saja pulang beberapa menit yang lalu.
"Aku tahu Key Blanco," katanya, setelah mendengar cerita anak-anaknya. "Sebuah
pusat penyelundupan di Teluk Meksiko dan Laut Karibia. Tentang Frank dan Joe
Hardy dikatakan sebagai penjahat, ini hal yang baru di keluarga kita!" Ia
tertawa berderai. Bu Hardy mengernyitkan alis tanda khawatir. "Kukira, perkara ini sangat
berbahaya," katanya dengan resah. Bibi Gertrude mendengus. "Laura, hal demikian ini selalu saja terjadi," katanya.
"Frank dan Joe memang pandai mencari bahaya di mana-mana. Bahkan di rumah
seorang pemilik bank yang terhormat!"
"Mungkin Wester itu sendiri penjahatnya," kata Joe sambil tersenyum. "Ia mencuri
lukisannya sendiri!"
Bibi Gertrude menggelengkan kepala sambil memberengut. Kemudian lalu tersenyum.
"Sebelum kalian mengambil kesimpulan yang bukan-bukan lagi, aku punya sepotong
kue coklat untuk kalian."
Biarpun sifatnya keras, ia sebenarnya menyayangi kedua kemenakannya itu. Ia
senang memanjakan mereka dengan kepandaiannya memasak.
Kemudian telepon berdering. Pak Collig yang menelepon. "Aku telah mendapat
laporan dari FBI mengenai sidik jari yang kedua itu," katanya kepada Joe yang
menerima telepon. "Ternyata sidik jari seseorang yang bernama Ignas Nitron. Dulu dikenal sebagai
pencuri yang suka membongkar rumah. Akhir-akhir ini sering terlihat di Key
Blanco." "Key Blanco!" seru Joe. "Ke sana pula pak Wester mengirimkan lukisannya!
Terimakasih, pak Collig!"
Joe meletakkan gagang telepon, lalu menceritakan perkembangan baru tersebut
kepada yang lain-lain. "Aku pernah mendengar nama Nitron," kata pak Hardy. "Ia dicurigai sebagai
pimpinan komplotan penyelundup. Tetapi belum pernah tertangkap basah dengan
barang selundupannya. Mencuri lukisan seperti yang dilakukan di rumah Wester,
memang termasuk kebiasaannya. Karena berupa potret Simon Bolivar, ia dengan
mudah akan menemukan pembeli yang kaya di Amerika Latin."
"Inisial, atau singkatan nama di gagang pisau itu tentu miliknya!" kata Frank
bersemangat. "Mungkin pisau itu terjatuh, ketika ia membantu membawa lukisan itu
melalui jalan rahasia!"
Joe tertegun. "Tetapi mengapa penjahat dari Key Blanco beroperasi di Bayport?"
"Mungkin Harrison Wester pernah membicarakan lukisan itu, dan Nitron
mendengarnya," Frank berteori. "Maka ia datang ke Key Bayport, lalu mencurinya.
"Mungkin dengan bantuan Morphy," Joe menyambung.
"Mungkin pula ada orang ketiga. Sebab Morphy disuruh mencari dua orang sewaan!"
"Nanti dulu!" ayahnya memperingatkan. "Jangan buru-buru mengambil kesimpulan.
Nitron, mungkin dengan bantuan anteknya, dapat pula menyingkirkan Morphy. Lalu
meletakkan potretmu di laci Wester."
"Aku menyangsikan hal itu," kata Joe. "Mengapa Morphy memberi cuti sehari kepada
para pembantu, jika memang tak mau menyembunyikan sesuatu?"
Pak Hardy mengangguk perlahan-lahan. "Ya. Engkau mempunyai titik kuat di sini.
Tetapi bagaimana pun, ini merupakan teka-teki yang rumit. Yang paling baik bagi
kalian ialah, pergi ke Key Blanco dan memulai penyelidikan di sana."
"Kita akan bekerja di bawah tanah. Menyamar sebagai penyelundup," Frank
mengusulkan. "Aku berharap pula, dapat bertemu dengan Nitron."
"Sambil memasang perangkap untuk Morphy juga!" sambung Joe.
Pak Fenton setuju akan rencana itu. Tetapi ia memperingatkan anak-anaknya, agar
selalu berhati-hati. Telepon berdering lagi. Frank menyambutnya. Ternyata Raymond Wester. Frank
menggapai adiknya, untuk mengambil telepon sambungan.
"Aku ada di Hotel Bayport!" kata pak Wester dengan jengkel. "Mengapa kalian
belum kemari juga?" "Untuk apa, pak Wester?"
"Lho, engkau yang minta kepadaku untuk bertemu di sini!" tukas penggemar barang
antik itu. "Tetapi kami tak menelepon anda! Sejak meninggalkan rumah anda!" Frank mengelak.
"Kami tak pernah menyebut nama Hotel Bayport!"
"Frank Hardy! Engkau menelepon sejamyang lalu!" kata pak Wester menyalahkan.
"Aku mengharap kedatanganmu bersama Joe di sini. Kukira, kalian telah menemukan


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lukisanku! Nah, aku ada di kamar 707!"
Frank tertegun. Dari pada berdebat di telepon, ia malah berkata: "Oke! Kami
segera datang." "Dari mana ia mendapat pikiran, bahwa engkau meminta dia untuk pergi ke hotel?"
tanya Joe heran. "Ada orang yang menelepon dia, menirukan suaraku," kata Frank dengan geram.
"Ayo! Kita harus menyelidikinya!"
Kakak beradik itu lari keluar dari pintu. Tetapi ayahnya menghentikannya.
"Kalian harus menyelidiki hal ini. Itu aku setuju," katanya. "Tetapi waspadalah.
Kalian mungkin diumpan agar masuk perangkap!"
Chapter 4 UMPAN BUAYA Frank mengangguk sambil berpikir. "Benar, ayah," katanya. "Kalau kami tak
kembali dalam setengah jam, susullah kami. Maukah ayah?"
"Tentu," ayahnya berjanji. Kedua pemuda itu berangkat.
Ketika mereka tiba di hotel, penerima tamu mengatakan, bahwa mereka diminta
untuk menelepon pak Wester dulu, jangan langsung ke kamarnya. Frank segera
menyadari, bahwa siapa pun orangnya, hendak berjaga-jaga lebih dulu kalau mereka
berdua datang. "Tak perlu," katanya sembarangan. "Kami telah berbicara dengan dia beberapa
menit yang lalu! Dengan segera ia dan Joe pergi ke elevator. Tetapi begitu pintu elevator
menutup, mereka sempat melihat penerima tamu itu memutar nomor telepon!
"Ia menelepon juga ke kamar!" kata Frank singkat. Mereka naik ke tingkat tujuh,
dan mengetuk pintu kamar 707. Jawabannya berupa suara mengerang yang menakutkan.
Joe mendobrak pintu, dan mata mereka segera membelalak. Raymond Wester
menggeletak di lantai, kedua tangannya terikat di belakang. Dua orang sedang
melarikan diri melalui jendela!
Mereka berkedok dengan kaus kaki. Frank dan Joe sempat melihat, salah seorang
bertubuh gemuk bercelana kotak-kotak. Yang seorang lagi jangkung tetapi berotot.
Orang yang kedua ini sedang naik ke jendela, ketika ia melihat kedatangan kedua
pemuda itu. Ia meraih sebuah lampu dari meja di dekat tempat tidur, lalu
melemparkannya kepada mereka.
Kemudian ia menyusul temannya, merosot turun dari tangga kebakaran.
Lampu itu menimpa Joe, hingga ia hilang keseimbangannya, jatuh ke lantai di
samping pak Wester. "Frank, kejar dia!" ia masih sempat berseru.
Frank memutar, menghindari tubuh pak Wester dan adiknya, berlari ke jendela. Ia
membungkuk melihat ke bawah. Dilihatnya, buronan itu merosot turun di tangga
kebakaran, lalu lari ke tempat parkir di sebelah gedung.
Beberapa detik kemudian, Frank juga telah mencapai tanah, lalu berlari mengejar.
la mendengar deru mesin, dan sebuah sedan melesat dari tempat parkir, menuju
tepat ke arah dia! Frank yang memang seorang olahragawan, melompat ke pagar kawat. Kakinya segera
mendapat pijakan, sementara jari-jarinya berkait erat-erat pada jaringan kawat.
Mobil menghambur lewat, hanya beberapa senti dari tubuhnya!
Ia melihat kedua wajah yang tertutup kaus kaki. Mata yang buas memandangi dia,
sementara mobil itu menggelinding ke jalan. Beberapa detik kemudian telah
menghilang. Frank melompat turun. "Wow!" pikirnya. "Sedikit lagi, aku sudah duduk bersama
mereka di mobil!" Dengan gemetar ia kembali masuk ke hotel. Penerima tamu melihatnya dengan heran.
"Darimana anda datang" Saya kira ."
" Frank tak menjawab. Ia langsung menuju ke elevator dan naik ke tingkat tujuh.
Di kamar pak Wester, ia melihat adiknya bersama pak Wester duduk-duduk di tempat
tidur, menunggu dia. "Bangsat-bangsat itu lari dengan mobil," katanya. "Hampir saja mereka menabrak
aku. Apa yang terjadi dengan anda, pak?"
Pensiunan pemilik bank itu nampak murung dan bingung. "Aku datang ke hotel ini,
setelah menerima teleponmu," ia mulai bercerita. "Karena kalian tak ada, aku
menelepon untuk mencari keterangan dimana kalian berada. Baru saja aku
meletakkan gagang telepon, kedua orang itu melompat masuk dari jendela."
"Apakah anda mengenali mereka?" tanya Joe.
Pak Wester menggeleng. "Tidak. Karena memakai kedok. Mereka memerintahkan aku,
menyuruh kalian pergi kalau kalian menelepon dari lobby. Mereka menakut-nakuti,
bahwa nyawaku tak berharga sesen pun kalau aku tak menghentikan kalian dalam
perkara ini." Dengan gugup ia mengambil saputangan dan menyeka dahinya.
"Kemudian penerima tamu itu menelepon, bahwa kalian datang dan langsung ke atas.
Mereka tak menyangka hal ini terjadi, lalu menjadi panik. Mereka mengikat
tanganku lalu lari melalui jendela."
"Nah, pak. Apakah anda masih mencurigai kami?" tanya Joe ingin tahu.
"Mengapa tidak?" tukas pak Wester. "Kalian ingin melepaskan diri dari perkara
ini. Lalu menggunakan siasat ini biar nampak bersih! Memancing aku kemari, lalu
menyuruh kedua badut itu untuk menganiaya aku!"
"Lalu, untuk apa kami datang kemari?" Joe membantah. "Kalau memang seperti yang
anda katakan, kami enak-enak saja tinggal di rumah dan minta maaf! Daripada
berlari-lari ke hotel, dan mendapat hadiah sebuah lampu di kepala!"
"Atau hampir ditabrak mobil!" Frank menyambung geram.
Pak Wester hanya mengangkat bahu. "Pokoknya, hanya ada satu jalan untuk
menghentikan kecurigaanku."
"Apa Pak" "Tetap menangani perkara ini, dan memecahkannya!" kata pensiunan pemilik bank
itu dengan tegas. "Oke!" Frank berjanji. "Kami memang akan segera berangkat ke Key Blanco untuk
memulai penyelidikan."
"Nah! Itu bagus! Harrison mempunyai rumah di sana. Di atas sebuah batu karang,
di sebelah timur sebuah pulau yang mengawasi Teluk Penyelundup. Aku akan
menelepon dia, bahwa kalian akan datang."
"Terimakasih," kata Frank. "Kami akan memberitahu anda begitu kami tiba."
Raymond Wester mengangguk, lalu meninggalkan hotel. Joe bersama kakaknya pulang
ke rumah. Di jalan, mereka memperbincangkan peristiwa tadi.
"Aku tak mengerti," kata Joe, "Mengapa para penjahat itu tidak ke rumah pak
Wester saja, dan memaksa agar kita melepaskan tugas kita" Mengapa harus mengatur
jebakan di hotel segala?"
"Agar pak Wester tetap mencurigai kita," Frank menjelaskan. "Ingat, ia masih
saja ngotot, bahwa akulah yang menelepon dia agar datang ke hotel. Bangsat-
bangsat itu mengharap, bahwa ia tetap percaya bahwa kitalah yang mengatur
jebakan!" "Kukira engkau benar."
Tiba di rumah, mereka mengambil beberapa buku dari perpustakaan ayah mereka,
dibawanya ke kamar duduk, dan mereka mulai membaca tentang daerah Florida
selatan. Mereka menemukan, bahwa Key Blanco terletak di dekat Key West di Teluk
Meksiko. "Pada zaman dahulu tempat itu merupakan sarang penyamun," Joe membaca dari
ensiklopedi. "Sekarang menjadi pusat penyelundupan, meskipun Pengawal Pantai telah berusaha
keras untuk menghentikan lalu lintas ilegal ini."
Frank mempelajari buku lain. "Menyebutkan, bahwa Key Blanco mempunyai sejumlah
teluk kecil-kecil, yang digunakan oleh para penyelundup untuk memasukkan barang-
barang terlarang. Karena itu Pengawal Pantai sangat repot untuk
menanggulanginya." Tiba-tiba diluar terdengar suara berdentum keras. Mereka terkejut, mengira suara
tembakan. Mereka menjadi lega, ketika suara itu disusul oleh suara letusan-
letusan yang lain, karena hanya suara knalpot.
Frank tersenyum. "Itu tentu Chet dengan mobil tuanya!"
Chet Morton adalah teman akrab mereka, seorang pemuda yang gemuk bulat, tinggal
pada suatu pertanian di luar kota Bayport. Ia juga sering mengikuti kakak
beradik itu dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. Meskipun ia menilai makanan
di atas segala-galanya, namun kedua temannya tahu, bahwa ia tak pernah
meninggalkan mereka bila menghadapi bahaya. Joe menuju ke jendela dan melihat
keluar. Sebuah mobil tua memasuki jalan masuk ke halaman. Setiap putaran rodanya
disertai ledakan dari knalpot. Chet mengendarainya seperti seorang koboi sedang
menunggang kuda binal. Wajahnya yang berjerawat menunjukkan ketegangan ketika ia
menghentikan kendaraannya di depan rumah.
Melihat ada teman yang duduk di samping Chet, Joe berkata pada kakaknya: "Biff
bersama dengan dia!"
Biff Hooper merupakan bintang lapangan di SMA Bayport. Ia juga biasa menggunakan
tinjunya jika Frank dan Joe membutuhkan bantuan bila menghadapi keadaan yang
panas. Ia pun sering pula menyertai mereka dalam beberapa penyelidikan.
Biff melompat turun, dan berjalan dengan kedua tangannya memegangi pinggangnya,
serta berpura-pura pincang. Melihat Joe keluar dari pintu, ia mengeluh: "Bawalah
aku ke dokter! Tempurung lututku lepas, naik tumpukan besi tua ini!"
"Naik saja lagi!" Joe membanyol. "Nanti Tempurung lututmu akan melompat sendiri
kembali ke asalnya!"
Chet kesulitan untuk melepaskan tubuhnya dari bawah batang kemudi. "Teruskan
mengigau!" katanya kepada kedua temannya. "Ini mobil yang tercepat di Bayport. Aku dapat
menembus dinding suara dengan mobil ini!"
"Engkau akan mengalami patah as sebelum mencapai separo jalan!" kata Biff.
Joe dan kedua temannya lalu masuk ke tempat Frank.
Melihat buku-buku tentang Florida Keys yang ada di meja, Chet melirik kepada
kedua temannya. "Apa ini" Hendak berlibur?"
"Berani bertaruh! Kalian tentu sedang menghadapi perkara lagi!" kata Biff.
"Engkau benar!" kata Frank: "Bahkan dimulainya dari Bayport sini." Dengan
singkat ia menceritakan tentang pencurian di rumah pak Wester.
"Ha" Bolehkah aku ikut?" tanya Chet bergairah.
"Daftar pula namaku!" sambung Biff. Ia mengacung-acungkan tinjunya di udara.
"Aku ingin beberapa ronde dengan para penjahat itu!"
"Kita mungkin akan menghadapi komplotan penyelundup," Joe memperingatkan.
"Penyelundup atau tukang sulap, sama saja!" kata Chet. "Jika menghadapi
komplotan, kalian membutuhkan tenaga bantuan."
Frank dan Joe membenarkan. Empat orang tentu akan lebih baik dari pada dua orang
di Key Blanco nanti. Chet dan Biff akan mereka terima dengan senang hati, bila
orang tua mereka mengijinkan.
"Kami tanyakan dulu. Kami akan kembali dengan segera!" Chet berjanji. Ia dan
Biff segera berlari-lari keluar.
Frank dan Joe masuk ke dalam kamar kerja ayah mereka untuk berunding.
"Kuharap saja Chet dan Biff dapat ikut," kata pak Hardy. "Dari apa yang
kudengar, Key Blanco adalah tempat yang keras. Kalian akan membutuhkan tenaga
bantuan. Di samping itu, aku akan memberitahu polisi Key. Blanco, bahwa kalian
akan menyamar sebagai penyelundup."
Chet dan Biff menelepon, bahwa mereka boleh ikut. Keempat pemuda itu bersepakat,
akan bertemu di lapangan terbang esok pagi.
**** Penerbangan ke Miami berangkat tepat pada waktunya. Mereka mendapat tempat duduk
di bagian belakang, dan mereka duduk dengan santai. Negara-negara bagian di
Pantai Timur mereka lalui, dan pesawat terus menderu menuju ke Florida.
Setengah jam setelah keberangkatan, Frank berdiri untuk mengambil minuman.
Ketika kembali, ia meletakkan minumannya dengan tegang. "He! Lihat itu dua orang
yang duduk di depan! Yang satu jangkung berotot, yang lain gemuk. Ia pun
mengenakan celana kotak-kotak, persis seperti yang dipakai orang yang kita
jumpai di Hotel Bayport!"
Joe bersiul. "Celana demikian nampak mengerikan pada tubuh seperti dia! Aku
sangsi, apakah selera orang itu sedemikian jeleknya!"
"Apa yang kalian katakan itu?" tanya Chet. "Apakah kedua orang itu sama dengan
orang-orang yang mengikat Raymond Wester?"
"Mungkin juga!"
"Aku jadi ingin mendengar apa yang mereka percakapkan," kata Joe. "Tetapi kalau
kami yang mendekati, mereka tentu mengenali kami."
"Mereka tak akan mengenali Biff dan Chet," kata Frank. "Bagaimana, teman-teman"
Mau melakukan tugas detektif sedikit?"
Biff bangkit dengan tersenyum. "Kebetulan tak ada orang yang duduk di
belakangnya," katanya. "Aku akan mencoba."
"Terimakasih teman!"
Telunjuk dan ibu jari Biff membentuk tanda O, menandakan semuanya akan beres.
Dengan berlagak acuh tak acuh ia ngeloyor di gang, lalu duduk di kursi yang
kosong. Kedua orang di depannya sedang saling mendekatkan kepala, bercakap-cakap
perlahan-lahan. "Melibatkan kedua anak Hardy itu adalah tolol," kata si gemuk menggerutu.
"Morphy salah besar meninggalkan potret mereka di laci, dan mengatakan bahwa
mereka itu orang sewaannya."
"Ia mengira, akan dapat memperdayakan orang," kata si jangkung. "Morphy mengira,
bahwa Wester akan melapor kepada polisi agar kedua anak itu ditangkap.
Celakanya, ia justru minta bantuan dari kedua anak tersebut!"
Si gemuk menggertakkan gigi. "Engkau kan tahu juga, Tom, bahwa akal kita untuk
menakut-nakuti mereka, supaya melepaskan perkara itu pun telah gagal pula."
"Betul. Daripada menyerah, mereka justru semakin gigih melakukan tugas. Seperti
anjing buldog saja! Mereka memang sudah terkenal, tak lekas menyerah begitu
saja. Bagaimana kalau mereka mengetahui, bahwa aku dan Nitron yang mencuri
lukisan itu?" "Mereka akan mengetahui lebih banyak lagi dari pada itu! Misalnya saja, mereka
juga mengetahui segala operasi penyelundupan kita" Aku tetap berpendapat,
sebaiknya mereka kita habisi saja, sewaktu di Bayport itu! Siasat menakut-
nakuti, seperti yang diperintahkan oleh boss itu, hanya berlaku untuk burung!"
Tom menghela napas. "Yah. Tetapi kita harus patuh pada perintah. Kalau anak-anak
Hardy itu merintangi kita lagi, kita lemparkan saja mereka itu sebagai umpan
buaya!" Chapter 5 PENGHADANGAN Biff mengepalkan tinjunya mendengar kata-kata busuk itu. "Itu pikiranmu!" ia
berpikir. Ia meneruskan mendengarkan dengan seksama apa yang mereka percakapkan
selanjutnya. "Lebih cepat kita menghantam kedua anak Hardy itu, aku lebih senang!" kata si
gemuk. "Begini saja, Fatso. Kalau kedua Hardy itu menyulitkan kita," kata Tom, "kita
culik saja mereka, lalu kita bawa ...."
Biff semakin membungkuk ke depan untuk menangkap kata-kata mereka lebih jelas.
Tom melihat suatu gerakan dari sudut matanya. Dengan mendadak ia berpaling ke
belakang, menatap wajah Biff!
Tepat pada waktu itu pesawat bergetar, meluncur ke bawah dengan hidungnya
tertuju ke atas. Biff terlempar dari kursinya, sementara pesawat menjadi miring
ke satu sisi. Sedetik kemudian Biff jatuh di tengah gang.
Tom dan Fatso membentur dinding pemisah, sementara terdengar teriakan-teriakan
yang campur baur dari para penumpang.
Pesawat terus meluncur menurun.
"Kita akan jatuh berantakan!" teriak Fatso ketakutan.
Untunglah pilot segera dapat menguasai pesawat. Pesawat mulai mendatar, dan
sedetik kemudian mulai melesat ke atas untuk mencapai ketinggian yang aman. Para
penumpang menjadi tenang kembali, dan kedua orang itu bersandar kembali sambil
menghela napas lega. Biff bangkit dengan goyah untuk berdiri, dilihati oleh Tom dengan penuh
kecurigaan. "He! Engkau nguping pembicaraan kami, ya!" si jangkung mendelik dengan geram.
"Saya kehilangan keseimbangan, ketika pesawat itu meluncur ke bawah," jawab Biff
minta maaf. "Saya terbentur pada kursi di belakang anda, lalu jatuh terguling di
gang pemisah. Saya tak mendengar apa-apa yang anda percakapkan."
"Nah, sekarang cepat duduk di tempatmu sana!" Tom memperingatkan.
"Pakailah sabuk pengamanmu!" sambung Fatso. "Dengan demikian engkau tetap di
tempatmu. Dari pada gentayangan sampai kemari!"
Biff menyeringai, seolah-olah bingung. Ia kembali ke belakang. Dengan singkat ia
lalu menceritakan apa yang didengarnya.
"Jadi, mereka itu betul orang-orang yang di hotel itu," kata Frank. "Mereka juga


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

penyelundup! Bagaimana pendapat kalian?"
"Si jangkung itu, si Tom, ikut dalam pencurian lukisan," kata Chet. "Jadi, ia
dan Nitronlah orang sewaan Morphy itu."
"Morphy juga sudah jelas ikut dalam komplotan mereka," sambung Joe.
"Aku ingin tahu, siapa boss-nya itu," kata Chet. "Tentunya pimpinan tertinggi di
kalangan kaum penyelundup."
Frank bingung. "Tetapi, mengapa mereka berbicara tentang buaya" Di Key Blanco
tidak ada buaya! Yang ada hanya di Everglades."
"Kita bayangi saja mereka, nanti di Miami,"usul Joe. "Barangkali mereka dapat
menuntun kita, untuk mengetahui teman-teman penyelundupnya!"
Tiba-tiba Chet menengadah, dan melihat kedua orang itu berjalan di gang pemisah.
"Frank, Joe, awas!" ia mendesis.
Kakak beradik itu segera menangkap isyarat itu. Joe buru-buru mengambil sehelai
surat kabar, dan sehelai lagi untuk kakaknya. Mereka meletakkan koran itu
menutupi wajahnya, lalu berpura-pura tidur.
Kedua orang itu makin dekat, lalu berhenti sejajar dengan mereka. Biff telah
bersiap-siap mengepalkan tinjunya. Ia akan memberitahu teman-temannya, untuk
memulai perkelahian, tetapi pada saat itu juga Tom memanggil pramugari.
"Mana itu bantal-bantal untuk tempat duduk di depan?"
"Ya! Bagaimana anda mengharapkan kami dapat tidur?" Fatso ikut membentak.
Nona yang cantik itu tersenyum menyabarkan. "Saya akan membawakan bantal-bantal
itu sekarang juga!" Kedua orang itu kembali ke tempat mereka, diperhatikan oleh pemuda-pemuda kita
dengan perasaan lega. "Sudah aman," kata Biff.
Frank dan Joe menyingkirkan koran mereka.
"Mereka tak melihat kalian," kata Chet. "Untung kalian tepat pada waktunya
menutup wajah kalian!"
Joe melihat ke surat kabar yang dipeganginya, lalu tertawa perlahan. "Bayangkan!
Ini halaman olahraga. Aku, Joe Hardy, diselamatkan oleh angka-angka hasil
pertandingan baseball!"
Tiba-tiba mata Chet berbinar. "Kulihat hidangan segera diedarkan. Harap siap
teman-teman!" Pramugari mendorong gerobak dari belakang. Ia membagikan nampan berisi sari
buah, ayam goreng, sayuran dan sepotong kue tar apel.
Tiga pemuda makan dengan santai, hanya Chet melahap dengan penuh semangat. Dalam
sekejap isi nampan telah lenyap. Setelah menelan potongan kue yang terakhir, ia
lalu bersandar ke kursinya, menepuk-nepuk perutnya, menutup mata dan tidur!
Frank tertawa. "Chet dan makanan memang tak terpisahkan!"
"Persis seperti roti dan mentega," Biff menyambung.
Pesawat melintasi perbatasan Florida. Tak lama kemudian, tampak Miami Trail
nampak meliuk-liuk di bawah.
Ketika pesawat mendarat di Miami, Frank dan Joe sekali lagi menutup wajahnya
dengan koran. Kedua penyelundup itu keluar melalui pintu belakang. Keempat
pemuda itu menunggu, hingga Tom dan Fatso telah lewat, lalu berdiri di antrian
paling belakang. Dengan demikian, mereka dapat tetap mengawasi kedua orang itu tanpa mereka
ketahui. Dua orang itu berjalan melalui lobby, menuju ke tempat penyewaan mobil.
Sementara mereka memenuhi administrasi sewa mobil, Frank melakukan hal yang sama
pada tempat penyewaan mobil lain. Kemudian keempat pemuda itu mengendarai mobil
mereka pada jarak yang aman di belakang mobil orang-orang itu. Para penyelundup
itu mengendarai sebuah mobil kecil berwarna biru, dan mulai keluar dari
terminal. Di mobil yang lain, Biff yang memegang kemudi. Chet duduk di sampingnya. Frank
dan Joe duduk di belakang, agar tak mudah dilihat orang dari luar.
"Aku punya firasat, bahwa mereka itu menuju ke Key Blanco pula," kata Frank,
ketika mobil biru itu menuju ke arah selatan, melintasi Miami Springs dan Coral
Gables. "Itu bagus!" kata Joe. "Jadi kita tak perlu membuang waktu. Apa yang kita
lakukan, hanyalah mengikuti mereka!"
"Itu lebih mudah dikatakan dari pada dikerjakan," Biff menggerutu. "Lalu lintas
begini padat!" Ia mengemudikan mobilnya melalui Coral Gables, membayangi mobil biru. Ia tetap
mempertahankan jarak, agar jangan menimbulkan kecurigaan.
Pada suatu kesempatan, lampu lalu lintas menyala kuning, dan mobil biru melaju
lewat. Biff berusaha mengikutinya, tetapi lampu lalu lintas berubah merah. Ia menginjak
rem dengan mendadak, dan mobil para penyelundup menghilang di depan mereka!
"Tikus busuk! Kita kehilangan jejak mereka!" seru Biff kecewa. "Apa yang kita
lakukan sekarang?" "Lupakan saja mereka itu," usul Chet. "Siapa sih yang membutuhkan mereka" Aku
akan memecahkan perkara ini, begitu sampai di Key Blanco!"
Teman-temannya, yang sudah terbiasa mendengar Chet membual, hanya tertawa.
Tetapi mereka menyambut baik usul itu, karena memang tak ada pilihan lain!
Mereka meninggalkan Miami Selatan, Kendall dan Perrine, lalu berhenti untuk
makan pada sebuah warung di Cutler Ridge. Setelah itu mereka menuju ke selatan
lagi melalui jalan raya. Dengan cepat mereka telah hampir sampai di dekat kota
Homestead. Tiba-tiba mobil biru nampak lagi di depan mereka.
"Itu dia mereka!" seru Biff. "Kita telah dapat mengejarnya."
"Jangan kehilangan jejak mereka lagi," Joe memperingatkan.
Biff menginjak gas, hingga kini mereka lebih dekat jaraknya dari semula. "Aku
harus mengikuti mereka dengan ketat," katanya. "Untung sebentar lagi akan mulai
gelap. Jadi mereka tak akan mudah mengetahui kita."
Sementara kedua mobil berpacu, Frank berkata: "Aku heran, mengapa mereka
nampaknya tergesa-gesa!"
"Aku merasa, bahwa kita segera mengetahui alasannya," kata Chet seperti meramal.
Kini tak ada lagi sebuah mobil pun di antara mereka, dan kedua mobil segera
memasuki kota Homestead. Mobil biru langsung menuju ke pusat kota, dan Biff
tetap lengket mengikuti. Tiba-tiba mobil kecil itu membelok ke kanan, memutar di sebuah tikungan, lalu
hilang dari pandangan. Hal itu terjadi begitu mendadak, hingga Biff hampir saja
melewati tikungan tersebut. Ia membanting kemudi ke kanan sambil menginjak rem,
hingga keempat roda bersuit-suit di aspal.
Mereka berada di dalam sebuah gang yang gelap. Di kiri kanan terdapat tembok
yang tinggi. Sebuah lampu senter menyala di tengah jalan, hingga Biff terpaksa
menghentikan mobilnya. Sebuah mobil lain diparkir kira-kira duapuluh meter di
depan mereka. Lampu senter itu bergerak-gerak, dan cahayanya menerangi wajah Biff, kemudian
wajah Chet. Dari kegelapan terdengar suara Tom mendamprat:
"Hei, engkau telah cukup jauh membuntuti kami! Sekarang berakhirlah
perjalananmu, bersama temanmu si gemuk itu!"
Chapter 6 PETUNJUK MENGEJUTKAN "Penghadangan!" Joe berbisik kepada kakaknya. "Tetapi mereka belum melihat kita.
Menunduk!" Mereka turun, meringkuk di lantai mobil. Segera pula cahaya senter menyapu
tempat duduk belakang. Melihat tempat yang kosong, Tom kembali berpaling kepada
Biff dan Chet. "Kami lihat kalian selalu mengikuti kami di jalan besar," tukasnya. "Sekarang
kalian terjebak. Nah, kini apa yang hendak kalian lakukan?"
Sadar, bahwa mereka menghadapi orang-orang yang berbahaya, Biff berusaha
membantah dan mengelak dari jebakan.
"Kami tak mengikuti kalian," jawabnya seperti tak bersalah. "Sesungguhnya kami
sedang menuju ke Florida Keys untuk berlibur. Bibi saya tinggal di sana, minta
agar kami menginap di sana untuk beberapa minggu."
Chet segera menangkap maksud temannya. "Kami asyik berbicara tentang Everglades.
Jadi saya kira, teman saya ini tak sadar masuk ke dalam gang. Saya dengar
Everglades sungguh indah. Banyak buaya di sana!"
Tom mendehem kebingungan. "Hmm. Apa yang kau ketahui tentang buaya?"
"O, banyak orang yang senang bertarung melawan buaya!" jawab Chet dengan
tersenyum tolol. "Itulah yang ingin saya lakukan. Ingin membentuk regu gulat
melawan buaya." "Tidak lucu!" Tom membentak.
Biff terus berceloteh. "Eh! Engkau dapat ditangkap para pemburu gelap," katanya
kepada Chet. "Di sana banyak pemburu gelap, di Everglades!"
"Pemburu gelap?" tanya Tom dengan tajam.
"Betul! Mereka menembaki buaya, lalu menjual kulitnya! Saya pernah membacanya di
dalam majalah Mere .."
" "Cukup!" Tom meledak. "Ayo, keluar dari mobil!"
Biff ragu-ragu, tetapi Chet menyikut pinggangnya. "Jangan mengambil risiko!" ia
berbisik mendesak. "Orang itu mungkin membawa pestol. "
Ia keluar dari mobil, memutar ke samping Biff. Mereka bertanya-tanya dalam hati,
apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara itu, Frank dan Joe menunggu di bagian belakang dengan napas tertahan.
"Kami akan membawa kalian ke pantai untuk mandi!" kata Tom kepada Biff dan Chet.
"Untuk selamanya, di dasar laut!"
"Tetapi, kami tak berbuat apa-apa!" kata Chet gemetar.
"Tutup mulut! Masuk ke mobil yang itu, lekas!"
Malam sudah sedemikian gelap untuk dapat melihat. Tetapi suara berkotreknya
logam menunjukkan, bahwa orang itu benar-benar bersenjata. Kunci pengaman pada
pestol telah dibuka. Kedua pemuda itu tak punya pilihan lain kecuali menurut.
Dengan gugup dan takut mereka menuju ke sedan biru, digiring oleh penangkapnya.
"Kita tak dapat membiarkan Chet dan Biff diculik ," bisik Joe kepada kakaknya.
"Tentu saja tidak," bisik Frank kembali. "Mari!" Dengan diam-diam ia keluar dari
mobil, diikuti oleh Joe. Untung, Biff membiarkan pintu mobil setengah terbuka.
Dengan mengendap-endap kakak beradik itu mengejar Tom dari belakang. Dan
mendadak mereka menjegal dan menangkap Tom.
Mendengar suara gaduh, Chet dan Biff berbalik, lalu menceburkan diri dalam
pergumulan. Frank menangkap pergelangan tangan lawannya. Dengan suara bergelatakan pestol
Tom jatuh menimpa batu. Keempat pemuda itu baru saja mulai ada di atas angin,
ketika Fatso sadar, bahwa temannya mendapat kesulitan.
Dengan cepat ia memasukkan persneling mundur, lalu melaju dengan mesin
menggerung-gerung. "Awas!" seru Frank. "Ia hendak melindas kita!"
Keempat pemuda itu melompat ke tepi, merapatkan diri pada dinding. Tom melompat
ke arah yang berlawanan, tangannya menggapai-gapai agar Fatso menolongnya.
Mobil kecil itu berhenti mendadak, hanya beberapa meter dari para pemuda. Tom
membuka pintu. Dalam cahaya lampu dalam yang menyala sekejap, para pemuda itu
melihat Fatso memandangi mereka dengan mata menyala-nyala.
"Lekas jalan!" kata Tom sambil menggertakkan gigi. "Mereka berempat, tidak hanya
berdua!" Pintu dibanting menutup, dan Fatso menginjak gas. Sambil menghamburkan
debu, mobil biru melesat maju di gang.
Dengan terbatuk-batuk keempat pemuda itu menuju ke mobil mereka, sambil
memandangi lampu belakang mobil lawannya menghilang di tikungan.
"Mereka telah menikung," Biff menggerutu. "Tak ada jalan lain untuk mengejar
mereka." Frank mengangguk, "Sayang sekali " Ia terhenti sejenak. Kakinya tersandung
sesuatu yang " berbunyi seperti logam beradu dengan batu. Ia membungkuk dan meraba-raba di
kegelapan. Akhirnya jari-jarinya menemukan pestol Tom yang terjatuh. Ia mengambilnya, dan
membawanya masuk ke dalam mobil. Dengan lampu dalam ia memeriksanya, dilihati
oleh teman-temannya. Joe mengambil alat-alat untuk memeriksa sidik jari dari kotaknya, lalu
menaburkan semacam serbuk pada gagang pestol. Tetapi harapan untuk menemukan
sidik jari tak berhasil. "Tom memakai sarung tangan!" katanya.
Biff menggigil. "Penjahat profesional! Untung kita tak berbuat yang bukan-bukan
ketika ditodong!" "Nah, ini merupakan barang bukti," kata Joe.
"Kita harus memeriksanya di kantor polisi," kata Frank. "Barangkali mereka dapat
mengenali pemiliknya."
"Aku usul," kata Chet. "Itu kita lakukan besok pagi saja. Kita harus
beristirahat dulu. Aku sudah loyo!" "Aku heran, mengapa orang itu marah dan gelisah ketika Biff menyebut-nyebut
pemburu gelap!" kata Chet. "Padahal itu kan hanya omong kosong."
Frank mengangkat bahu. "Siapa tahu" Tetapi bagaimana pun kini mereka tahu, bahwa
kita mengejar-ngejar mereka. Jadi penyamaran kita telah terbuka."
"Apa tindakan kita selanjutnya?" tanya Chet.
"Kita pikirkan nanti," jawab Frank, "Sekarang lebih baik kita tidur."
Malam itu, Chet bermimpi dikejar buaya. Ia sedang berada dirawa-rawa Everglades,
berlari sekencang-kencangnya dikejar beberapa ekor buaya. Rahang yang panjang
itu terbuka menakutkan. Ia tersandung dan jatuh, dan dalam sekejap buaya-buaya
itu menerkam dia. Sambil berteriak tertahan Chet terbangun. Ternyata hari sudah terang. Ia
menggeleng-gelengkan kepala dengan gemetar. Matanya berkedip-kedip sebentar,
lalu turun dari tempat tidur. Teman-temannya ternyata sedang berpakaian.
Setelah sarapan, mereka bermobil menuju ke kantor polisi. Frank dan Joe yang
masuk, sementara Biff dan Chet menunggu di mobil.
Seorang letnan polisi menerima mereka di meja kerjanya. "Aku telah mendengar
tentang ayah kalian. Juga perkara-perkara yang pernah kalian pecahkan," kata pak
letnan dengan tersenyum. "Apa yang sekarang kalian tangani?"
Frank mengeluarkan pestol dari sakunya, lalu diberikan kepada pak letnan. Letnan
itu memeriksanya dengan teliti. Setelah mendengar bagaimana Frank mendapatkan
senjata tersebut, ia pergi ke almari berkas-berkas ijin senjata. Dengan teliti
ia membuka-buka halaman setiap berkas.
"Kalian beruntung," katanya kemudian. Ia mengeluarkan sehelai kartu, dan
mengacungkannya kepada Frank dan Joe.
"Lho! Ini tercatat atas nama Harrison Wester dari Key Blanco!" seru Frank.
"Ia adalah adik dari orang yang menyuruh kami untuk menemukan lukisannya yang
hilang," Joe menjelaskan. Ia lalu menceritakan perkara itu kepada pak letnan.
"Kami akan membawa pestol ini kepada pak Wester," katanya kemudian. "Tentunya
telah dicuri orang."
Letnan itu mengangguk. "Tuan Harrison Wester terkenal baik namanya. Tetapi aku
tak dapat mengembalikan pestol ini, kalau ia tidak melaporkan kehilangan. Tolong
katakan kepadanya, agar ia menelepon kemari kalau kalian sampai di sana."
"Baik, pak," kata Frank berjanji. Kemudian mereka berpamitan dan menuju ke
mobil. Segera pula mereka melaju lagi di Route I. Joe yang memegang kemudi, sedangkan
Frank yang mencari jalan dari peta.
"Aku ingin tahu, apakah pak Wester memang kehilangan pestol itu," kata Chet.
"Jangan-jangan ia mengenal orang-orang yang terlibat dalam perkara kita ini."
"Mereka mungkin membelinya dari pasar gelap," kata Frank.
"Maksudmu, ada orang yang mencurinya dari pak Wester, lalu menjualnya?"
Frank mengangguk. "Banyak penjahat yang berbuat demikian."
Joe menginjak gas lebih dalam, dan mobil semakin cepat ketika mendekati ujung
selatan daerah Florida. "Yang jelas, pestol itu memberikan petunjuk ke arah Key Blanco. Sulitnya, kita
tak tahu ke mana tujuan kita dari sana nanti! Perkara ini benar-benar penuh
rahasia!" "Berbahaya pula, dilihat dari sudut pertemuan dengan Tom dan Fatso yang terakhir
ini," sambung Biff. "Kalau masih ada bahaya lagi, aku jangan diikutkan ah!" kata Chet buru-buru.
Joe tertawa. "Jangan begitu! Kami membutuhkan engkau. Kami tahu, engkaulah yang
paling pemberani di Bayport!"
Chet tertawa kecil. "Oke! Aku yang akan menggasak penjahat-penjahat itu," ia
berjanji. "Tetapi kalian harus selalu di dekatku. Aku tak kuat menghadapi lima orang
sekaligus!" Banyolan Chet itu membuat teman-temannya tertawa. Dengan semangat tinggi mereka
melanjutkan perjalanan. Mereka tiba pada suatu jembatan panjang, yang menjulur
dari daratan Florida ke tengah laut.


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Di mana kita sekarang ini?" tanya Biff.
"Kita sedang menyeberangi Intracoastal Water-way," kata Frank. "Key Blanco
berada tepat di hadapan kita. Ini adalah jembatan antar pulau yang terpanjang di
daerah Florida Keys ini."
Joe membelok ke selatan di Jalan Raya Laut, yang menghubungkan rangkaian pulau-
pulau tersebut. Mereka melaju dari jembatan yang satu ke jembatan yang lain,
sambil menikmati sinar matahari, udara yang hangat serta air yang biru-hijau di
kiri kanan mereka. Jalan Raya Laut ini merupakan jalan raya di atas laut yang terpanjang di dunia,"
kata Joe. "Setidaknya, itulah yang tertulis di ensiklopedi."
"Bagus untuk olahraga menyelam," kata Chet, melihat luasnya perairan.
"Tetapi kita kemari untuk memecahkan suatu perkara," Joe memperingatkan. "Bukan
untuk berlibur!" "Yaaah!" seru Chet kecewa. "Apakah kita tak dapat menyelam setelah menangkap
penjahat?" Frank tertawa. "Barangkali."
Kapal-kapal Angkatan Laut meluncur di laut, meninggalkan jejak putih berbuih.
Pesawat-pesawat AL mendengung-dengung di udara. Suatu formasi Phantom mendesing
begitu rendah, seperti hendak terjun ke laut. Desingan mesin jet itu memekakkan
telinga bagi mereka yang ada di dalam mobil. Dengan beruntun, pilot-pilot itu
menerbangkan pesawat mereka membentuk busur melengkung, lalu melesat di
kejauhan. Dalam sekejap saja, mereka telah hilang dari pandangan di langit yang
cerah. Mereka menyeberangi jembatan ke arah Key West, pulau yang terakhir. Dengan
perlahan mereka memasuki jalan-jalan sempit di antara deretan rumah-rumah yang
rapat. Dekat di ujung selatan, mereka melihat papan bertuliskan: Pangkalan
Angkatan Laut Key West. Tepat pada saat itu Chet melihat sebuah mobil biru, meluncur di jalan samping.
"He!" serunya. "itu dia mobil penyelundup itu!"
Chapter 7 BAYANGAN MENGINTIP DI MALAM HARI
"Mana" tanya Joe.
"Di tikungan itu!" kata Chet, sambil menunjuk ke tempat ketika ia melihat mobil
kecil berwarna biru. Dengan cepat Joe membelok ke jalan samping tersebut. Mereka
melihat mobil biru itu menuju ke tempat parkir. Atas kemauan Chet, Joe
mengikutinya, dan berhenti di dekatnya. Si gemuk segera membuka pintu.
"Tunggu sebentar!" seru Frank, setelah mengamati mobil tersebut. Tetapi Chet
telah ada di luar, melangkah lebar-lebar ke mobil biru. Kedua tinjunya
dikepalkan, dan diangkat ketika ia berdiri di samping pintu depannya.
Pintu itu terbuka, dan keluarlah seorang perwira AL !
Mata Chet membelalak bulat dan mulutnya ternganga lebar. Dengan kebingungan
tinjunya diturunkan. "Ada keperluan apa?" tanya perwira itu.
Wajah Chet memerah. "Ah, eh tidak pak!" ia menggagap. "Saya kira, eh, tuan orang
lain." " Perwira itu hanya mengangkat bahu, lalu masuk ke markas AL.
Chet kembali ke tempat teman-temannya, wajahnya merah bagaikan udang rebus"
"Engkau seharusnya berhenti, ketika kupanggil," kata Frank. "Aku melihat nomor
mobilnya, bukan nomor mobil yang kita cari!"
Chet hanya mengangguk dengan lesu. "Lain kali, kubiarkan kalian saja yang
mengejar penjahat!" Mereka melanjutkan perjalanan melalui Key West. Di sana mereka menemukan suatu
tempat penyewaan mobil, lalu menyerahkan mobil mereka.
"Bagaimana kami bisa sampai di Key Blanco?" tanya Joe kepada penjaganya.
"Dengan ferry. Tiga blok lagi ke timur, lalu belok kiri ke arah pantai. Kapal
ferry itu akan menurunkan kalian di Kota Blanco."
Di dermaga, ferry itu sudah siap untuk berangkat. Dengan segera mereka membeli
tiket lalu naik ke kapal. Kira-kira duapuluh orang lagi berdiri di pagar, atau
duduk-duduk di bangku-bangku panjang di geladak.
Ferry berangkat, menuju ke perairan bebas. Key West segera mereka tinggalkan,
dan kapal mulai menerjang ombak yang semakin besar, karena angin yang semakin
kencang. Keempat pemuda itu masuk ke sebuah bilik di geladak utama, dan berdiri di dekat
jendela, jauh dari orang-orang lainnya. Ketika mereka sedang berbisik-bisik
membicarakan perkara lukisan, suatu badai tropik mulai menyerang. Kapal menjadi
oleng, naik turun dihempas ombak. Ombak-ombak yang besar memecah di haluan,
menyiram air ke jendela-jendela.
Chet menjadi pucat dan gemetar, setiap kapal itu membelah ombak. Dengan perut
mual, ia dengan sebelah tangan memegangi pinggang, dan yang sebelah lagi
berpegangan pada ambang jendela.
"Kukira, sebaiknya aku duduk saja," katanya dengan parau.
Dengan terhuyung-huyung ia berjalan ke sederetan kursi yang kosong. Ia
menghempaskan diri di kursi, lalu bersandar ke belakang. Tak lama kemudian ia
tertidur! Suara mendengkur yang teratur segera terdengar di ruangan itu.
"Chet mendengkur," kata Frank sambil tertawa. "Jangan lupa membangunkan dia
kalau sudah sampai!"
Tetapi ternyata ia telah bangun sendiri, ketika kapal masuk ke dermaga di Kota
Blanco. Badai telah reda, dan Chet bergegas ke antrian yang paling depan, diikuti oleh
teman-temannya. Frank bertanya kepada penjaga karcis, bagaimana caranya dapat sampai di Teluk
Penyelundup. "Satu mil ke utara," jawab orang itu. Betul, di sana ada sebuah rumah yang besar
di atas batu karang, rumah keluarga Wester. Kalian dapat berjalan kaki sepanjang
pantai." Mereka berjalan kaki berkelompok. Tetapi tak lama kemudian Chet sudah
tertinggal. Ia berusaha keras untuk menempatkan kakinya di atas pasir. Peluhnya
bercucuran dan ia mulai mendengus-dengus kepayahan.
"Ini sih pembunuhan!" ia mengeluh.
"Tahan, Chet, " kata Frank, "Kita hampir sampai."
Joe menunjuk ke sebuah rumah di atas batu karang. "Itu tentu, rumah Wester."
Tangga dari balok-balok kayu menanjak terjal ke atas. Setelah sampai di atas,
mereka berada di serambi belakang sebuah rumah besar, yang lantainya terbuat
dari batu alam. Dari sana mereka dapat memandang luas ke Teluk Penyelundup. Teluk itu dibatasi
oleh pantai yang sempit, melingkar dari bawah batu karang sampai daratan lain di
seberang. Mereka memutar menuju ke pintu depan. Rumah itu menghadap pada suatu belukar
pohon bakau dan tumbuhan tropis lainnya.
Frank menekan bel. Seorang pembantu wanita mengantar mereka ke kamar duduk, pak
Harrison sedang memeriksa sederetan lukisan di dinding. Ia bertubuh sedang,
berambut putih dan berjalan pincang, bertopang pada sebuah tongkat yang kuat.
"Aku terluka sewaktu berolahraga selam," ia menjelaskan. "Karena itu aku tak
dapat melakukan perjalanan dengan baik. Kakakku Raymond mengatakan, bahwa kedua
anak Hardy akan datang kemari. Tetapi sekarang yang kulihat ada empat orang!"
"Bantuan, pak," kata Frank. "Chet Morton dan Biff Hopper. Saya harap anda tak
berkeberatan." "Tentu saja tidak. Aku mempunyai cukup banyak kamar,"kata pak Wester sambil
tertawa kecil. "Asal saja kalian dapat menemukan kembali lukisanku. Ketika
Raymond menelepon dari Bayport, ia mengatakan bahwa potret Simon Bolivar sedang
menuju kemari, dibawa oleh dua orang suruhan. Aku sampai tak sabar menunggu.
Tetapi gambar itu tak pernah sampai. Demikian pula orang-orang suruhannya,
mereka tentu telah mencurinya."
"Apakah anda mengira, bahwa lukisan itu sudah sampai di sini?" tanya Joe.
Pak Wester mengangkat bahu. "Itu mungkin saja. Pulau ini sangat terkenal akan
penyelundupannya. Tindakan yang paling mudah untuk para pencuri ialah membawanya
dari sini ke suatu tempat di mana mereka dapat menjualnya. Sekarang mungkin
sudah keluar lagi dari Key Blanco. Kalau memang demikian, tolonglah bawa kembali
kemari. Bagaimana pun, aku mengharap kalian dapat menemukannya."
"Kami mendapat petunjuk yang tepat," Joe mengungkapkan.
"Salah seorang pencurinya meninggalkan sidik jari ketika menurunkan lukisan dari
dinding. Namanya Ignas Nitron. Apakah anda mengenal dia, barangkali?"
Pak Wester menggeleng. "Belum pernah mendengar nama itu."
"Ada petunjuk lain lagi," Frank menambahkan. "Kami menemukan pestol anda di
Homestead." Pak Wester nampak terkejut. "Apa maksudmu" Pestolku?"
Frank menjelaskan tentang Tom, si jangkung yang menjadi teman Nitron pada waktu
mencuri. Ia menuturkan, bagaimana Tom dan Fatso telah dikirim ke Bayport, untuk
menakut-nakuti mereka, agar mau melepaskan perkara yang mereka tangani.
Demikian pula, ketika mereka telah menyerang Raymond Wester di Hotel Bayport.
Kemudian, para penjahat itu telah mereka bayangi berempat, sejak dari Miami
sampai di Homestead. Di sanalah Tom menjatuhkan pestolnya, ketika bergumul dengan mereka berempat di
sebuah gang. "Kami membawa pestol itu ke kantor polisi. Mereka memberitahu, bahwa pestol itu
terdaftar atas nama anda," detektif muda itu mengakhiri ceritanya.
Pak Wester kelihatan agak ketakutan. Ia membuka lacinya dan ternyata kosong.
"Aku tak tahu sama sekali tentang mereka ini," katanya. "Aku juga tak tahu,
bagaimana mereka dapat memiliki pestolku. Aku tak merasa kehilangan, karena
beberapa minggu terakhir ini aku tak lagi berlatih menembak. Hanya untuk itulah
gunanya pestol itu. Selain itu, ia selalu kusimpan di sini," katanya sambil
menunjuk ke laci. "Aku tak dapat membayangkan, siapa yang dapat mencurinya!"
"Bagaimana tentang Morphy?"
"Sekertaris kakakku itu" Tak mungkin!"
"Ia bersekongkol dengan para pencuri," Biff menjelaskan. "Tom sendiri
mengungkapkan hal itu kepada Fatso di pesawat."
"Morphy juga tak pernah kelihatan lagi semenjak hilangnya lukisan itu," sambung
Joe pula. Pak Wester bingung. "Semua ini merupakan hal yang baru bagiku," katanya. Kini ia
kelihatan gugup. "Aku tak pernah curiga terhadap Morphy. Wah, sulit mempercayai
orang lain sekarang ini!"
"Ini adalah Teluk Penyelundup," kata Chet. "Apakah anda juga berpendapat, bahwa
para penyelundup beroperasi dari wilayah ini?"
"Yah, sekarang tidak lagi, Chet," jawab pak Wester. "Sebutan itu diberikan pada
zaman bajak laut dulu. Saat ini, tak seorang pun dapat membawa barang terlarang
dengan leluasa. Mereka segera terlihat dari rumahku ini."
"Tetapi pulau ini masih dikenal sebagai tempat untuk melakukan hal-hal yang
tidak sah," kata pak Wester, melihat perubahan wajah Chet. "Hanya saja, penyelundupan itu
dilakukan di tempat-tempat terpencil, jauh dari keramaian."
"Kita harus memeriksa tempat-tempat itu!" kata Chet.
Pak Wester mengangguk. "Kuharap saja kalian akan berhasil," katanya. "Kalian
lihat gambar pemandangan di atas perapian itu" Besarnya sama dengan potret Simon
Bolivar. Sebenarnya aku ingin memasang lukisan itu di sana, sejajar dengan pemandangan
itu. Tentu saja, kalau kalian berhasil menemukan potret Bolivar itu! Sesungguhnya,
aku sudah seperti melihat potret itu terpampang di situ, sekarang ini," kata pak
Wester, sambil tersenyum kecil tak kentara.
"Kami akan menemukannya!" kata Chet seperti setengah bersumpah.
Wester mengantarkan mereka berkeliling rumah, sambil terpincang-pincang
bertopang pada tongkatnya. Ia menunjukkan kamar-kamar bagi mereka di lantai dua.
"Sampai nanti di meja makan. Setelah itu, kalian kupersilakan memulai memecahkan
rahasia hilangnya lukisan itu."
Dengan terpincang-pincang ia turun, sementara tamu-tamu itu memeriksa kamar
mereka. Kemudian mereka berkumpul di kamar Frank, untuk membicarakan rencana mereka.
"Kita harus merahasiakan semua tindakan kita," Frank memperingatkan. "Kita akan
menyamar sebagai penyelundup, tanpa memberitahu kepada Wester. Sebab ia mungkin
akan merusak rencana kita. Semakin kurang ia terlibat, semakin baik."
"Itu bukan masalah," kata Joe. "Apa yang ia inginkan, hanyalah menemukan gambar
itu. Bagaimana cara kita melakukannya, ia tak akan perduli."
Teman-temannya setuju. Bel tanda untuk makan berbunyi, dan mereka menuju ke
kamar makan. Lapar karena perjalanan yang jauh, maka dengan bersemangat mereka
menyerbu ayam goreng dan kue-kue yang tersedia.
"Aku usul," kata pak Wester, "Kalian mulai saja penyelidikannya di Kota Blanco,
mungkin akan mendapatkan petunjuk petunjuk di sana."
"Itu ide yang baik," kata Frank.
"Kalian tentu lebih tahu tentang pekerjaan detektif daripada aku," sambung pak
Wester. "Nah, anggaplah rumah ini sebagai markas kalian. Di almari es itu selalu ada
makanan kecil. Kalian juga boleh menggunakan kaset stereo di kamar tengah kalau
ingin." Ia berdiri dari meja, lalu terpincang-pincang masuk ke kamar kerjanya. Keempat
pemuda itu menuju ke kamar tengah, mendengarkan musik country sampai ngantuk.
Kemudian mereka masuk ke kamar tidur masing-masing.
Di tengah malam, Frank tiba-tiba terbangun, mendengar langkah-langkah orang di
kamar besar. Sebuah bayangan mengendap-endap menuju ke tangga!
"Akan kulihat, apa yang hendak dilakukan orang itu," pikir Frank. "Tentunya
pencuri!" Dengan diam-diam ia mengikutinya. Bayangan itu turun dan masuk ke kamar tengah.
"Barangkali ia hendak mencuri lukisan-lukisan yang ada di dinding," pikir Frank.
Tetapi bayangan itu terus menuju ke dapur, melalui kamar makan!
"Jangan-jangan ia telah berhasil mencuri!" pikir Frank. "Ia tentu akan melarikan
diri melalui pintu belakang. Aku harus mencegatnya!"
Dalam sekejap, detektif muda itu melesat ke pintu belakang, lalu menguncinya.
Bayangan yang mencurigakan itu kini berdiri di dekat almari es!
"Chet" seru Frank.
Chet tertawa cekikikan. "Aku mencari makanan, seperti yang dikatakan oleh pak
Wester. Aku yakin, engkau pun mengikuti aku untuk tujuan yang sama! Engkau ingin makan
juga!" "Makanan!" kata Frank marah. "Kukira engkau seorang pencuri!"
Chet tertawa. "Apakah aku seperti maling?"
"Mengapa tidak" Maling juga ada yang gemuk! "
"Sudahlah! Jangan katakan aku gemuk. Yang tepat ialah penuh gizi!"
"Chet," kata Frank dengan jengkel. "Ini sudah lewat jam tiga malam. Aku tak mau berdebat tentang bentuk tubuhmu. Tetapi aku
mengharap, janganlah aku dibangunkan kalau tak perlu!"
Chet mengambil dua potong kue dari almari es, lalu diletakkan pada sebuah
piring. "Ini, ambillah sepotong. Ini akan membuatmu merasa lebih segar."
Frank tak dapat menahan tertawanya. "Obat mujarab model Morton untuk segala
jenis penyakit! Terimakasih!"
Setelah selesai makan, mereka membersihkan dapur, lalu kembali tidur. Beberapa
saat kemudian, Frank terbangun lagi. Ia mendengar langkah-langkah kaki. "Aku
heran! Apa saja yang dilakukan Chet di rumahnya sendiri," pikirnya. "Setiap kali
bangun untuk makan!"
Ia enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Tetapi naluri detektifnya tak
mengijinkan dirinya kembali tidur. Jangan-jangan bukan Chet!
Ia bangkit, lalu membuka pintu. Bayangan yang mencuri-curi sudah nampak di
tangga! Frank mengikutinya dengan diam-diam. Ia tak mau membangunkan yang lain-lain.
Baru saja ia hendak mendahului Chet ke lemari es, dilihatnya bayangan itu menuju
ke pintu depan, lalu membukanya!
Fajar baru mulai merekah, dan keremangan itu memungkinkan Frank untuk melihat
dengan cukup nyata, "He!" serunya. "Berhenti!'
Orang itu berbalik sejenak, lalu lari keluar dari pintu sambil membantingnya
hingga tertutup kembali. "Mark Morphy!" seru Frank tertahan.
Chapter 8 PENYAMARAN YANG CERDIK Untuk sesaat, tertutupnya pintu itu menghentikan pengejaran Frank. Ketika ia
sampai di luar, Morphy telah mulai menuruni tangga menuju ke pantai. Frank
mengejar secepat-cepatnya, turun ke Teluk Penyelundup.
Morphy lari menuju ke sebuah perahu bermotor tempel, yang ditarik ke atas pasir.
Karena tak bersepatu, Frank lebih beruntung. Ia berhasil memperkecil jarak, dan


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akhirnya menangkap Morphy di tepi air.
Keduanya jatuh bergulingan dalam pergumulan yang seru.
Morphy berhasil melepaskan diri, lalu melompat bangun hendak lari. Tetapi kaki
Frank berhasil menggaetnya, dan sekali lagi Frank menubruknya. Berkelahi mati-
matian. Akhirnya Morphy meraup pasir, lalu dihamburkannya ke wajah Frank!
Menjadi buta sesaat, Frank mengusap-usap matanya yang pedih. Ketika dapat
membuka mata kembali, ia melihat Morphy sedang mendorong perahunya ke dalam air,
lalu melompat menaikinya. Mesin tempel segera dihidupkan. Perahu menjauh dari
tepi, membelok ke kiri mengitari karang, lalu menghilang. Hanya suaranya yang
terdengar makin menjauh! Frank menjadi kalap! Dengan mata pedih, ia memandang ke buronannya. Ia marah terhadap diri sendiri,
gagal menangkap musuhnya. Ia kembali ke rumah, lalu membasuh wajahnya yang penuh
pasir di kamar mandi. Tak seorang pun yang sudah bangun, kecuali pembantu rumah
tangga. Frank berganti pakaian, lalu menuju ke kamar duduk. Ia berusaha
menenangkan diri dengan membaca-baca majalah.
Ketika pak Wester dan teman-teman turun untuk sarapan, ia memberitahukan apa
yang telah terjadi. Pak Wester terkejut sekali.
"Morphy belum pernah kemari sebelum ini! Aku hanya mengenalnya di rumah Raymond
di Bayport. Apakah engkau merasa pasti mengenali dia?"
"Kakak anda menunjukkan potretnya kepada kami. Tak ragu lagi, dialah orang yang
saya kejar tadi pagi."
"Tetapi mengapa dia kemari?"
"Ia tahu, bahwa anda mempunyai banyak lukisan yang berharga," Joe menyela.
"Barangkali ia hendak mencuri lagi."
"Tetapi untuk apa ia berada di atas?" tanya Chet.
"Barangkali ia mencari lukisanku karya Degas!" kata pak Wester dengan tegang.
"Ia adalah milikku yang paling berharga! Dulu, lama sekali gambar itu
kugantungkan di kamar makan. Tetapi kini kugantungkan di kamar tidurku. Sebab
aku senang sekali melihatnya sebelum tidur."
"Apakah Morphy tahu tentang lukisan itu?" tanya Frank.
"Mungkin sekali Raymond pernah mengatakan, ketika menceritakan kesenangan kami
akan lukisan-lukisan," jawab pak Wester.
"Nah, terserah kalian anak-anak muda, untuk menyelidikinya! Chet, kudengar
engkau mengalami kesulitan berjalan di sepanjang pantai. Engkau tentu senang
mengetahui, ada jalan setapak di sepanjang puncak batu karang."
"Apakah anda tidak menelepon polisi, tentang peristiwa Morphy pagi tadi?" tanya
Frank. Pak Wester bimbang sebentar. "Aku kurang jelas apa yang akan mereka kerjakan
tentang barang yang hilang. Aku akan memikirkannya. Sementara itu, aku
menggantungkan seluruhnya kepada kalian, untuk menyelidiki apa yang sebenarnya
terjadi." Dengan berkata demikian, ia terpincang-pincang menuju ke kamar kerjanya.
Pemuda-pemuda tersebut menyelesaikan sarapan mereka, kemudian berangkat menuju
ke Kota Blanco. Di sepanjang jalan mereka mempercakapkan, bagaimana mereka akan
menyamar, kemudian menemui para penyelundup.
"Kita menyamar saja sebagai pelaut," Frank mengusulkan.
"Ide yang bagus," kata Joe. "Dengan demikian, kita dapat berkeliaran di pantai,
di antara para penyelundup. Tanpa dicurigai!"
"Bagaimana dengan wajah kita?" tanya Chet. "Wajah kita telah dikenali oleh Tom
dan Fatso!" '"Itu sudah kupikirkan," jawab Frank. "Ketika tadi aku seorang diri di kamar
duduk, aku membaca-baca di buku telepon. Di Market Street ada sebuah toko yang
menjual perlengkapan panggung"
Chet tertawa cekikikan. "Ide yang hebat!"
"Kita dapat membuat wajahmu sedemikian rupa hingga ibumu sendiri tak akan
mengenalinya lagi!" kata Frank. "Sayang sekali, kami tak dapat mengubah bentuk
tubuhmu!" Chet melemparkan pandangan matanya kepada Frank. "Pelaut juga ada yang gemuk!
Tahukah engkau?" Frank tertawa. "Kukira, istilahnya yang tepat penuh gizi!"
**** Di sebuah toko perlengkapan Angkatan Bersenjata, mereka membeli pakaian pelaut
dan ransel-ransel. Ransel itu untuk tempat menyimpan pakaian mereka sehari-hari.
Kemudian mereka menuju ke Market Street. Mereka membeli cat rambut, janggut dan
kumis palsu untuk Chet. Kemudian mengenakan penyamaran tersebut di sebuah sudut
yang sepi pada suatu taman. Setelah siap, mereka berjalan menuju ke pantai,
mereka yakin tidak diikuti orang.
Di pelabuhan, banyak kapal yang sedang mengangkat muatan diangkat oleh kuli-kuli
pelabuhan. Sementara para pedagang mencatat barang-barang muatan. Pelaut-pelaut bersantai-
santai di pantai, dan para penonton berjalan-jalan berkeliling, melihat-lihat
pemandangan yang mengasyikkan.
"Berjalanlah yang wajar," bisik Frank memperingatkan teman-temannya. "Ceritanya,
kita mempunyai barang-barang yang berharga, dan sedang mencari pembeli. Akur?"
"Kita akan selalu mempercakapkan hal itu," kata Joe. "Dengan harapan, ada orang
yang mendengarnya, lalu tertarik untuk menawar."
"Jika kita mendapat mangsa," usul Biff, "katakan saja kita mempunyai mesin
hitung elektronik. Kudengar, barang-barang itu yang paling laku sekarang."
Mereka mengatur siasat, lalu membaurkan diri dalam kegiatan yang membisingkan di
pelabuhan. Mereka berjalan-jalan sambil bercakap keras-keras, mengenai muatan
berharga yang hendak mereka jual. Sejumlah pelaut, kuli pelabuhan dan pengusaha
berpaling dan mendengarkan. Tetapi tak ada yang ikut berbicara.
Akhirnya mereka berhenti di ujung pelabuhan. Mereka mendapatkan sebuah bangku
panjang, lalu meletakkan ransel-ransel mereka. Mereka duduk sambil membicarakan
tindakan mereka selanjutnya.
"Mari kita coba di warung kopi dan rumah makan," usul Frank. "Di sana biasanya
para pelaut berkumpul, duduk-duduk selama mereka mendarat."
Semua setuju. Tetapi ketika mereka hendak berdiri, Joe mendengar suara
bergemerisik di semak-semak di belakang mereka.
Ia berpaling, dan melihat seseorang sedang mengintai mereka di antara ranting-
ranting belukar. Orang itu sadar bahwa telah ketahuan, lalu melepaskan ranting-ranting yang
disibakkannya. Joe melompat menerobos semak-semak diikuti oleh yang lain-lain.
Buronan itu lari melalui jalan kecil di luar daerah pelabuhan. Setelah mencapai
gedung yang paling dekat, yaitu sebuah rumah makan, ia masuk dari pintu
belakang. Joe menyusul, berlari-lari di antara tungku-tungku dan meja masak,
membuat takut koki kepala dan pembantu-pembantunya yang sedang bekerja.
Buronan itu membelok melalui pintu angin, masuk ke dalam ruang makan. Ia
berlari-lari di antara meja-meja, mendorong pelayan kepala ke samping,lalu
keluar melalui pintu putar. Setelah melewati jendela pajangan, ia menghilang.
Joe berada di urutan kedua. Tetapi sekarang, pelayan kepala berdiri di depannya,
dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Frank, Biff dan Chet berhenti di
belakang Joe. "Kau pikir, rumah makan ini milik nenek moyangmu ya" tanya pelayan itu.
"Kami sedang mengejar seorang buronan," Joe menerangkan.
Pelayan kepala itu menjadi pucat!
"Apakah ia telah mengambil uang dari kasir?"
"Belum," kata Joe marah. "Tetapi mungkin saja, kalau tidak kami tangkap. Dia
tentu melarikan diri, kalau engkau tak memberi jalan!"
Orang itu menyisih ke samping. "Teruskan mengejar! Kalau dia mencuri sendok-
garpuku, awas, aku akan mengajukan tuduhan!"
Keempat pemuda itu keluar ke trotoar, menengok ke sana @pkemari. Tetapi si
penguping itu tak nampak batang hidungnya.
"Dasar sial, Joe menggerutu. "Menurut engkau, siapa dia itu?"
Frank mengangkat bahu. "Mungkin ia mendengar yang kita bicarakan sebelumnya,
lalu menjadi curiga."
"Kalau ia mau berdagang, tak perlu ia lari," kata Biff.
"Betul," Frank mengaku. "Tetapi dari penglihatanku, ia berwajah sangat jujur. Ia
juga membawa alat potret, dikalungkan di leher. Kukira ia seorang wartawan muda,
yang sedang mengejar berita hangat. Ketika kita bangkit hendak menangkap dia, ia
menjadi ketakutan." Joe mengangguk. "Aku juga tak percaya, bahwa Tom, Fatso atau Morphy telah
mengenali kita dalam penyamaran begini. Jadi, mereka tentu tidak menyuruh orang
untuk memata-matai kita."
"Kita juga tak dibayangi orang, ketika sedang memakai janggut dan segala tetek-
bengek ini," Chet menyambung.
Mereka kembali ke bangku. Baru saja mereka hendak mengambil ransel-ransel
mereka, terdengar suara gemerisik di semak-semak seperti tadi.
"Stt," bisik Frank. "Itu dia lagi. Kali ini kita memecah menjadi dua. Kita coba,
apakah dapat menjebaknya di tengah-tengah."
Dengan cepat Biff dan Chet memutar mengelilingi semak.
Ketika mereka telah tak nampak, Frank dan Joe berjalan lurus menuju ke semak-
semak, tempat datangnya suara. Sesosok tubuh nampak dibelakang ranting-ranting.
Empat sekawan serentak menyerbu, dan orang asing itu terbanting ke tanah.
"Oke, pandir!" Chet berkata dengan mengertak gigi. "Kali ini engkau tertangkap
juga!" "Siapa itu Pandir?" tanya tawanan mereka. Pada saat itu juga mereka sadar, bahwa
ia bukan orang yang tadi mereka kejar.
"Ada orang yang memata-matai kami, beberapa menit yang lalu. Kami kira,
engkaulah orang itu," Frank menjelaskan.
"Bukan aku. Aku ingin membicarakan tentang barang-barang yang kausebut di
pelabuhan tadi. Barangkali saja kita dapat melakukan hubungan dagang, itu
maksudku. Tetapi kalian malahan menghantam aku!"
Dengan hati-hati mereka melepaskan tawanan mereka, yang segera merayap bangun.
Ternyata ia sebaya dengan mereka, mengenakan pakaian pelaut.
"Maafkan, atas kesalahan kami," kata Frank. "Siapa engkau?"
"Junior Seetro. Aku tak sempat berbicara dengan kalian tadi, karena terlalu
banyak orang. Tetapi aku tahu, kalau seorang pelaut bertingkah laku seperti
kalian, ia tentu akan menjual barang. Karena itu aku mengikuti kalian.
Bagaimana" Ingin membicarakan hal itu?"
"Tentu," jawab Joe. "Mari duduk di sini."
Ia mengajak ke bangku. Di sekitarnya tak ada orang yang dapat mendengar mereka.
"Aku juga lihat orang yang mencuri dengar kalian tadi," kata Junior tanpa
ditanya. "Nampaknya seperti seorang pramuka. Aku juga mengejar dia. Nah, katakan. Apa
yang kalian punyai?"
"Kalkulator elektronik," jawab Frank.
Junior manggut-manggut. "Aku tahu seseorang yang mau membeli barang demikian.
Bayarannya bagus. Ingin bertemu dengan dia?"
"Tentu! Mengapa tidak?" jawab Biff sembarangan.
"Oke. Tunggu saja di sini. Aku akan menelepon." Junior Seetro pergi ke telepon
umum yang terdekat. Ia berbicara beberapa menit, lalu kembali ke bangku.
"Beres!" katanya. "Kita pergi dengan mobilku."
Ia mengajak ke sebuah Cadillac tua di tempat parkir. Frank dan Joe saling
berpandangan. Keduanya berpikiran yang sama. Apakah mereka akan masuk perangkap"
Frank merasa, ada harganya untuk mengambil risiko. Sebab mereka berhadapan empat
lawan satu dengan Junior. Ia mengangguk diam-diam. Mereka meletakkan ransel di
tempat bagasi, lalu masuk ke dalam mobil.
Junior yang memegang kemudi. Mereka berjalan kira-kira sepuluh mil, ke sebuah
rumah di dalam hutan. Letaknya di Teluk,tertutup rapat oleh pohon-pohon dan
semak-semak. Sebuah perahu besar berukuran tujuhbelas meter tertambat pada
sebatang pohon. Junior membuka pintu rumah, dan semuanya masuk kecuali Biff. Ia merasa, akan
lebih aman jika ada seseorang yang menjaga diluar.
Sebuah meja di sudut ruang depan memamerkan sekumpulan barang berharga. Antara
lain seperangkat tempat lilin dari emas dan dua buah kendi dari perak.
Joe mengangguk kepada kakaknya.
"Barangkali barang-barang curian dari rumah pak Wester," ia berbisik.
"Tetapi aku tak melihat lukisan yang hilang itu," Frank berbisik kembali.
Junior pergi ke kaki tangga, lalu berseru: "Pak N.! Kami datang!" Ia lalu
kembali menemui keempat pemuda. "Kalian menemui orang yang tertinggi. Bapak ini
menerima segala barang emas di daerah ini. "
Pikiran yang serupa menyelinap di benak kakak beradik.
Apakah mereka akan bertemu dengan Ignas Nitron"
Biff mendengar percakapan itu dari luar, lalu masuk. Ia merasa cukup aman untuk
meninggalkan pos penjagaannya. Ia masuk tepat pada waktunya, untuk melihat
seseorang berotot kekar dengan rambut hitam sedang turun dari tangga. Tanpa
memberi salam, orang itu melotot memandangi keempat pemuda tersebut.
"Kalian hendak bertemu dengan aku?" katanya dengan suara keras.
"Kami mempunyai dagangan," kata Frank. "Junior mengatakan, bahwa anda akan
tertarik." "Siapa kalian ini?"
"Pelaut. Nama saya Frank. Ini adalah Joe, Biff dan Chet. Kami bekerja pada kapal
yang berbeda-beda. Kebanyakan dari daerah Pantai Barat. Kami mendapatkan muatan
ini " "Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" orang itu mengomel.
Frank mencoba mengambil kesempatan. "Memang tak bisa," jawabnya tegas. "Tetapi
kami mendengar, bahwa anda pantas ditemui."
"Di mana kalkulator-kalkulator itu" ia bertanya.
"Kami sembunyikan di pantai Florida. Di sebelah selatan Miami," jawab Frank
dengan cepat. "Terlalu panas untuk dikerjakan sekarang. Jika keadaan telah
dingin kembali, kami akan membawanya kemari dengan perahu kami."
Nitron manggut-manggut. "Oke. Rupanya kalian tahu apa yang kalian lakukan."
"Kami memang telah banyak berdagang," kata Chet.
"Dan kami belum pernah tertangkap!" sambung Biff.
Nitron mengusap-usap dagunya. "Aku dapat menggunakan tenaga kalian." katanya.
"Bagaimana kalau bekerja untukku ?"
"Oke saja, kalau memang menguntungkan," jawab Frank.
"Itu pasti ! Namaku Ignas Nitron. Aku akan membayar kalian, masing-masing
seratus untuk malam ini," kata Nitron selanjutnya.
"Nanti kalian mendapat bagian, kalau aku sudah selesai mengerjakan usahaku."
"Kapan kami mulai ?" tanya Joe.
"Sekarang juga !"
Chapter 9 TUGAS PENUH BAHAYA "Orang-orangku segera datang," kata Nitron selanjutnya. "Kami perlu mengambil
muatan, dan memerlukan tenaga tambahan."
Selesai ia berbicara, pintu diketuk. Tiga orang masuk secara beruntun. Mereka
memandangi keempat pemuda. Kemudian ia memberi isyarat agar berangkat. Komplotan
itu menuju ke teluk, lalu naik ke perahu besar.
Junior Seetro melepaskan tali tambatan, lalu melemparkannya ke geladak. Ia
sendiri lalu melompat naik.
Nitron menghidupkan mesin, dan sebentar kemudian mereka telah berlayar keluar
dari teluk. Perahu itu melaju melewati Key West, BocaChica Key dan Sugar Loaf Key. Tepat
sebelum Big Pine Key, Nitron mematikan mesin. Ia melihat ke jam tangannya, lalu
berkata: "Kita menunggu isyarat di sini."
Beberapa saat kemudian, setelah isyarat datang dari pantai.
Suatu cahaya yang terang ditujukan pada suatu titik tertentu di geladak. Cahaya
itu berkedip-kedip dengan jarak waktu yang berbeda-beda.
Frank dan Joe mengerti, bahwa seseorang di Big Pine Key sedang berkomunikasi
dengan sandi Morse. Mereka memang telah berlatih menggunakan sandi pada tugas-
tugas mereka. Isyarat itu berbunyi: "TELUK HONDA JAM SEMBILAN." Kemudian cahaya itu padam.
"Kita tak akan masuk sebelum jam sembilan. Kalau kalian mau, mendengarkan musik,
putar saja kasetku di bawah."
Keempat pemuda itu turun ke kabin. Beberapa menit kemudian Junior menemani
mereka. "Senang juga bisa beristirahat," katanya, lalu menghempaskan dirinya di kursi.
"Mengapa ?" tanya Frank. "Engkau tak senang bekerja di sini ?"
Junior mengangkat bahu. "Setiap saat harus waspada terhadap hukum, lama-lama
bosan juga ! Aku belum pernah masuk penjara. Tetapi aku kenal beberapa orang yang telah
mengalaminya. Lebih baik tak usah mengikuti jejak mereka !"
"Itu betul," kata Joe. "Tetapi di mana lagi bisa mendapatkan uang seperti di
sini ?" "Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apakah hal ini cukup berharga," jawab Junior


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sambil memasang kaset. "Tetapi aku memang tak punya pilihan lain."
"Maksudmu ?" tanya Joe ingin tahu.
Junior menghela napas. "Ah, tak apa-apa. Lupakan saja."
Karena ia tak mau lagi berbicara, Frank dan Joe tak mau mendesak lagi.
Setidaknya, untuk sementara. Mereka lalu membicarakan soal-soal mengenai para
gerombolan, yang kini harus mereka patuhi.
Pada jam delapan tigapuluh, Nitron menghidup kan mesin, dan mereka menuju ke
pulau Big Pine. Kegelapan telah menyelimuti lautan tropis itu. Mereka tak jelas
ke mana mereka pergi. Nitron memasuki sebuah teluk kecil. Ia sudah hafal daerah itu, seperti mengenali
jari-jari tangannya sendiri. Ia menjalankan perahunya dengan penuh keahlian ke
teluk yang sempit. Junior melompat ke pasir pantai sambil memegang tali, lalu ditambatkan pada
sebatang pohon. Semuanya turun, dan Nitron memberi isyarat dengan lampu
senternya. "Ke sini!" terdengar suara seperti orang gagu.
Para penyelundup berjalan menuju ke suatu tempat yang tersembunyi dan terlindung
oleh hutan bakau. Seseorang nampak berdiri di samping setumpuk peti-peti kayu.
Ia maju ke depan, lalu berjabatan tangan dengan Nitron.
"Semuanya lengkap, Roberto ?" tanya Nitron.
"Tak ada yang ketinggalan," jawab Roberto. "Nah, mari kita selesaikan urusan
kita. Aku harus segera kembali."
Nitron mengeluarkan seikat uang dari sakunya, lalu diberikannya kepada Roberto.
Roberto menghitungnya, lalu mengangguk, menyatakan pembayaran telah cocok.
Kemudian ia cepat pergi. "Mari, kita masukkan peti-peti ini ke perahu," perintah Nitron.
Setiap peti memerlukan tenaga dua orang. Frank dan Joe mengangkat sebuah peti,
lalu diangkutnya ke perahu.
"Aku ingin tahu, apa isinya," bisik Frank. "Rasanya berat seperti batu !"
Joe mengangguk. Karena ingin mengganti tangan pegangannya, hampir saja peti itu
terlepas. "Awas !" Nitron membentak. "Ini berisi arloji Swis yang mahal! Aku tak mau
sampai ada yang rusak."
Frank dan Joe masukkan peti itu ke perahu, lalu kembali untuk mengangkut yang
lain. Chet dan Biffpun mengerjakan demikian. Hal ini berlangsung hingga peti terakhir
telah dimasukkan. Selama perjalanan kembali, mereka semua diam tak berbicara. Nitron mengemudikan
perahu besar itu menuju ke Key Blanco.
Setelah sampai, peti-peti itu disimpan di dalam rumahnya. Frank dan Joe
mengangkat peti terakhir. Pada saat itu, mereka hanya berdua di dalam perahu.
"Lebih baik kita beritahukan kepada polisi," kata Joe. "Ini adalah barang
curian. Kita tak dapat membiarkannya lolos !"
"Kalau kita memberitahu polisi sekarang juga, kita tak akan mengetahui, apakah
Nitron menyimpan lukisan Wester atau tidak," kata Frank. "Kita tunggu saja dulu,
dan lihat situasi yang baik."
Mereka lalu membawa peti itu ke dalam rumah, lalu meletakkannya di atas
tumpukan. Nitron meremas-remas tangannya dengan senang. "Kerja yang bagus!" katanya. "Kita
simpan dulu barang-barang ini untuk beberapa bulan. Kemudian kita jual, kalau
suasana sudah tak panas lagi. Bersama-sama dengan kalkulator-kalkulator yang
disimpan di Miami." "Nah, itu memberi kita cukup waktu," bisik Frank kepada Joe.
Nitron memberikan imbalan masing-masing, lalu berpaling kepada Frank dan Joe.
"Kalian berdua, keluar sebentar. Aku ingin berbicara dengan kalian."
Dengan takut-takut Frank dan Joe ikut Nitron ke pantai. Apakah Nitron telah
mengetahui rahasia mereka"
Kalau memang demikian, kesempatan untuk melawan sangat kecil, sebab gerombolan
itu besar jumlahnya! Nitron tiba-tiba berhenti lalu berbalik. "Aku menghadapi tugas yang berbahaya,"
katanya. "Kita akan berlayar ke Egret Island di lepas Dry Tortugas."
"Anda menghendaki kami tetap bekerja pada anda?" tanya Frank dengan curiga.
Nitron mengangguk. "Tetapi aku harus memperingatkan kalian. Tugas ini penuh
risiko. Bicarakan dulu dengan teman-temanmu, putuskan bersama kalau memang hendak ikut."
"Kami tidak takut," kata Joe. "Demikian juga Biff dan Chet."
"Apa tugas itu?" tanya Frank
"Katakanlah, ini melibatkan sesuatu yang sangat berharga. Lagi pula tempatnya
penuh dengan petugas hukum. Tetapi kalian akan mendapat bayaran yang tinggi!"
Nitron tak mau berbicara lebih lanjut. Ia kembali ke rumah.
Frank dan Joe mengikutinya, lalu memberi isyarat kepada Biff dan Chet untuk
keluar. Keempat pemuda itu berjalan santai di sepanjang pantai, sementara Frank
menjelaskan tawaran Nitron.
"Muatan yang dikatakan sangat berharga, jangan-jangan potret Simon Bolivar," ia
menyimpulkan. "Apakah kita ikut?"
"Tentu!" kata Chet. "Kita sudah berhasil menyelundup di antara mereka, harus
tetap ikut serta. Sampai kita temukan apa yang kita cari!"
"Tetapi ingat! Nitron telah mengatakan, bahwa hal ini sangat berbahaya!"
Chet nampak sedikit khawatir. "Memang. Nah, kalau begitu, barangkali lebih baik
salah satu dari kita tinggal di sini. Untuk mengawasi rumah itu. Aku mengajukan
diri sebagai sukarelawan!"
"Tidak," kata Biff. "Kita kurang tenaga. Tak mungkin dikurangi satu lagi!"
"Oke, oke!" kata Chet mengalah. "Jangan dikatakan nanti Chet Morton meninggalkan
teman-temannya dalam kesulitan!"
Mereka kembali ke rumah, dan Frank memberitahu kepada Nitron bahwa mereka akan
ikut serta. "Perkenankan saya menelepon dulu seorang teman, yang menunggu
kedatangan kami," sambungnya. "Boleh. Telepon ada di sebelah sana."
Frank memutar nomor telepon pak Wester. "Kami terikat oleh tugas sementara ini,"
katanya, "tetapi jangan khawatir."
**** Malam itu mereka tidur di rumah kecil, sedangkan yang lain-lain tinggal di
kapal. Di waktu pagi, mereka berangkat menuju ke barat. Mereka berhenti di salah
satu pulau dari Torturas, dan Nitron mengizinkan anggota-anggota komplotan itu
naik ke darat. Tetapi ia memerintahkan Frank dan kawan-kawannya tetap tinggal di
perahu. "Mereka perlu beristirahat," kata Nitron. "Karena itu mereka kubiarkan di darat
untuk beberapa jam. Kalian yang menjaga. Aku sendiri perlu tidur sebentar."
Ia masuk ke kabin. ketika mereka yakin, bahwa Nitron telah pulas, mereka lalu
menggeledah perahu. Mereka mencari-cari, di mana kira-kira lukisan itu
disembunyikan. Tetapi di bagian atas, mereka tak menemukan apa-apa.
"Kukira ada di bawah,"' kata Joe. "Mungkin Nitron telah melepaskan lukisan itu
dari bingkainya lalu digulungnya. Kemudian disembunyikan di dalam salah satu
laci di kabin." "Atau di almari besi," sambung Frank. "Kalian bertiga memeriksa laci-laci. Aku
yang menangani almari besi. Tetapi hati-hati! Jangan sampai membangunkan Nitron,
kalau tak mau dihabisi!"
Dengan mengendap-ngendap mereka turun ke kabin, menyelinap didekat bangku tempat
Nitron tidur. Mereka melihat alat-alat menyelam, pelampung-pelampung, peta-peta
laut dan alat-alat pelayaran. Tetapi tak nampak sebuah lukisan pun. Sementara
itu, Frank berlutut di depan almari besi. Ia mengeluarkan kotak detektifnya. Ia
mengambil sebuah alat mini untuk mendengar, dan ditempelkan di dekat angka-angka
kombinasi kunci rahasia. Sambil meletakkan telinganya pada alat tersebut, ia
memutar-mutar angka kombinasi, mencari kombinasi yang tepat untuk membuka pintu
almari besi. Tiba-tiba suara Nitron mengguntur di belakangnya "He! Apa yang kaulakukan?"
Frank tertegun sejenak, mulutnya terasa kering. Dengan perlahan-lahan ia memutar
tubuhnya, berharap mendapat jalan keluar dari bahaya.
Ia ternganga heran. Nitron tidak berdiri di belakangnya seperti yang
disangkanya! Penyeludup itu tetap terbaring dengan mata tertutup! Hanya bibirnya yang
bergerak-gerak. "Apa yang kaulakukan," ia mengulang. "Engkau hendak membawa barang-barang ini ke
Key Largo" Kalau begitu, aku minta bagianku! Akan kukatakan ." Sisa kalimat itu
hanya " terdengar menggumam, tak dapat ditangkap maksudnya.
Frank menghela napas lega. "Ia hanya mengigau," pikirnya. "Huhh! Hampir copot
jantungku!" Masih sedikit gemetar, ia kembali menghadapi almari besi, mencoba-coba berbagai
kombinasi. Akhirnya ketemu juga, dengan sangat hati-hati, sesenti demi sesenti
ia membuka pintu, lalu mengintip ke dalam.
Almari besi itu kosong! Chapter 10 KAKEK AHLI KIMIA Dengan diam-diam Frank menutup kembali almari besi, lalu menyelinap lewat di
dekat Nitron yang masih tidur. Ia naik ke atas, ke geladak. Teman-temannya sudah
ada di sana. "Tak ada apa-apa di almari besi," ia melapor.
"Tak ada apa-apa sama sekali?" tanya Chet tak percaya.
"Tidak. Aku tak dapat me " Ia berhenti, mendengar langkah-langkah kaki. Nitron
keluar " dari kabin, membawa sebuah peta laut.
Peta itu dibeber di atas sebuah lemari di buritan.
"Inilah Egret Island," katanya kepada mereka, sambil menunjuk ke sebuah tempat
di peta. "Kira-kira setengah perjalanan antara Florida dan Dry Tortugas. Masalah kita
ialah, banyaknya polisi yang berpatroli di daerah itu."
"Mereka mungkin akan menahan kita," kata Joe.
Nitron mengangguk. "Karena itu aku telah memperingatkan bahwa ini adalah tugas
yang berbahaya! Jika polisi menahan kita, aku ingin, agar kalian dan Junior
segera bertindak. Kalian harus segera berkelahi untuk menarik perhatian mereka.
Dengan demikian, aku dapat mengamankan muatan bersama ketiga orangku."
"Meninggalkan kami sebagai kambing hitam?" tanya Joe, tak percaya dengan apa
yang didengarnya. "Aku akan membayar kalian, masing-masing limaratus! Tetapi kalau kalian
tertangkap, itu urusanmu sendiri."
Keempat pemuda itu saling berpandangan. "Kini aku tahu!" kata Frank sambil
mengertakkan gigi. "Anda berani membayar kami tinggi, tetapi anak buah anda tak
melibatkan diri dalam bahaya!"
Nitron hanya mengangkat bahu. "Limaratus, terserah pada kalian tinggal mau atau
tidak!" Pada saat itu anak buah Nitron berdatangan dari istirahat mereka di darat.
Nitron menjelaskan siasatnya kepada mereka, dan tak lama kemudian ia
menghidupkan mesin perahunya. Ia mengarahkannya ke Egret Island.
Keempat pemuda Bayport itu berunding dengan berbisik-bisik.
"Kita tak mungkin dapat melindungi coro-coro ini melawan polisi!" bisik Biff.
"Kita memang tak akan melakukan hal itu," bisik Frank kembali. "Tetapi kita
harus bertahan di sini selama mungkin, untuk menemukan lukisan itu!"
Junior ikut angkat bicara. "Cocok sekali!" ia menggerutu. "Siapa yang akan
menanggung risiko yang berbahaya itu" Bukan dia dan begundel-begundelnya, bukan!
Kita yang harus melindungi mereka, sehingga mereka dapat menyelamatkan muatan
itu dan melarikan diri!"
"Apakah dia pernah berbuat yang demikian ini sebelumnya?" tanya Biff.
"Sudah tentu! Dan selalu aku, atau orang lain seperti aku."
"Kalau begitu, mengapa engkau tetap ikut?"
"Kalau tidak ikut, aku sudah tak mungkin bisa berkeliaran begini. Kaukira aku
senang terlibat di sini" Ia memaksa aku, karena ia telah menguasai aku. Nah,
sekarang, kalian sudah seiring sejalan dengan aku!"
"Aku jadi tak mengerti!" kata Biff. "Dia kan tak mungkin melaporkan kepada
polisi?" "Lebih kejam daripada polisi, ia mempunyai algojo sendiri, yang akan melakukan
tugas itu. Ia juga tak akan mengirimkan engkau ke penjara. Yang pasti ke dasar
laut!" Junior mengangkat bahu tak berdaya. "Kalian memang baik-baik. Aku
sungguh-sungguh menyenangi kalian. Maafkan aku, karena telah melibatkan kalian
ke dalam komplotan busuk itu, tetapi aku tak punya pilihan lain."
"Aku senang engkau menceritakan semuanya itu," kata Frank. "Barangkali saja kita
dapat menemukan jalan keluar. Mari, kita pikirkan hal itu."
**** Nitron menghentikan perahunya. Egret Island nampak di kaki langit. Ia mengambil
sebuah teropong yang kuat, dan dengan seksama ia meneliti daerah pantai.
"Ada kapal di sana," katanya. "Dari utara ke selatan. Kita akan masuk kalau ia
telah pergi. Semoga tidak ada kapal lain yang muncul lagi!"
Dengan wajah tegang Nitron menjalankan perahu ke dekat pulau, lalu membelok ke
utara. Keempat pemuda itu melihat rumah-rumah peristirahatan yang menghadap ke laut.
Lebih jauh lagi, yang nampak hanya pohoh-pohon dan semak-semak. Kawanan burung
putih berleher panjang terbang di udara.
"Itulah burung bangau!" kata Frank.
Nitron mengarahkan perahu ke pantai, lewat pohon-pohonan yang rapat, sulur-sulur
dan akar-akar bakau. Sebentar kemudian mereka meluncur di sebuah teluk yang
dalam, menjorok seratus meter ke darat.
Sampai di ujung, Junior melompat ke darat sambil memegang tali, yang lalu
diikatkan pada sebatang pohon. Nitron memanggil semua orang ke geladak.
"Anak-anak," katanya. "Kalian tinggal di sini menjaga perahu. Yang lain-lain
ikut aku ke darat." "Nah, kalau polisi datang, kita yang harus menghadapinya dengan tangan kosong!"
Junior menggerutu, setelah para penyelundup itu naik ke darat. Kemudian ia
berpaling kepada Frank. "Apakah engkau sudah mendapat jalan keluar yang sip?"
"Aku sedang memikirkan, katakanlah, apa yang kauketahui tentang Egret Island
ini?" "Tak ada. Aku memang pernah kemari dengan mereka, tetapi ia selalu meninggalkan
aku untuk menjaga perahu. Aku tak pernah melihat apa yang mereka kerjakan."
"Maukah engkau pergi, melaporkan mereka ini kepada polisi?" tanya Joe.
"Engkau bercanda" Mana aku punya bukti! Polisi tak akan percaya kepadaku.
Paling-paling aku dilepaskan lagi, disuruh mengintip-ngintip di sekitar sini.
Kalau sudah demikian, Nitron tentu memergoki, dan membereskan aku!"
"Polisi akan mempercayai kami!" kata Frank.
"O, sudah tentu! Siapa kalian" Hanya sekelompok anak kecil di luar hukum!"
"Kami ini detektif," kata Frank. "Polisi telah tahu, bahwa kami sedang
menyelundup di antara penjahat. Aku Frank dan ini Joe Hardy."
"Hardy?" kata Junior terbelalak lebar. "Maksudmu, anak-anak Hardy yang itu?"
"Betul. Kami datang untuk menemukan sebuah lukisan yang sangat berharga. Nitron
telah mencurinya di Bayport, sebuah potret Simon Bolivar. Pernah melihatnya?"
Junior menggeleng. "Tidak, Belum pernah. He, bung! Kalian ini benar-benar anak
Hardy?" "Percayalah," kata Chet. "Mereka sedang menangani suatu perkara. Aku dan Biff
membantunya." "Dengar! Kita tak dapat membuang-buang waktu," kata Joe. "Apakah engkau tahu, ke
mana perginya Nitron jika sedang kemari?"
"Aku pernah mendengar, ia menyebut-nyebut sebuah bukit di ujung sana, melalui
sebatang pohon palem tinggi, di seberang sebuah empang."
"Baik," kata Frank. "Joe dan aku akan pergi. Berusaha untuk menemukan sesuatu.
Jika mereka kembali, katakan saja bahwa kami sedang ke hutan mencari buah
kelapa. Oke?" "Oke!" kata Junior. "Kalau kalian dapat melepaskan aku dengan selamat, aku tak
mau lagi melakukan hal-hal yang melanggar hukum."
Joe tersenyum. "Kami akan mengusahakan hal itu."
Beberapa saat kemudian, kakak beradik itu menerobos semak-semak. Mereka
mengikuti jejak dari ranting-ranting patah dan telapak kaki, yang rupanya bekas
dilewati oleh para penyelundup. Jalanan itu menanjak, dan tak lama kemudian
kedua pemuda itu berada di puncak sebuah bukit.
"Itu dia, pohon palem itu," kata Joe menunjuk "tetapi aku tak melihat empang."
"Hanya ada satu yang dapat kita lakukan," kata Frank. Ia melepaskan jaket dan
sepatunya, lalu memanjat pohon palem. Kaki dan tangannya bekerja keras, sampai
ia dapat berpegangan pada pelepah-pelepah daun. Ia lalu melihat ke sekeliling
"Itu dia, di sana," katanya. "Ada sebuah gudang di sisi lainnya. Barangkali


Hardy Boys Misteri Selat Penyelundup di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itulah tempat yang kita cari."
Ia merosot turun, lalu mengenakan sepatu dan jaketnya kembali. Mereka menuju ke
empang, mengitarinya, lalu berhenti di rumpun semak-semak. Dari celah-celahnya,
mereka dapat melihat sebuah gedung bertingkat. Asap hitam yang tebal mengepul
dari cerobongnya. "Ada orang di dalamnya," kata Frank perlahan-lahan.
Mereka menyelinap di semak-semak, hingga sampai di samping sebuah jendela yang
terbuka. Dengan hati-hati mereka mengintip ke dalam.
Yang mereka lihat pertama kali sebuah tungku berapi yang ada ditengah-tengah
ruangan. Uap api mendesis keluar dari katup-katupnya. Logam cair meleleh ke dalam saluran
besi tuang, dan dari sana mengalir lagi ke dalam periuk besi tuang.
Sebuah tong berisi bongkahan-bongkahan timah hitam berdiri pada satu sisi dari
tungku. Sebuah lagi berisi ampas bijih ada di sisi lainnya. Gayung, sendok besar dan
tang-tang berserakan di lantai. Di dinding tergantung-sebuah daftar tanda-tanda
ilmu perbintangan, dan di sampingnya sebuah gambar tata-surya, yaitu planet-
planet yang beredar di sekeliling matahari. Di hadapan gambar matahari tertulis
EMAS dalam huruf besar-besar.
"Aku hampir tak percaya!" bisik Joe. "Seperti laboratorium seorang sarjana yang
Kemelut Di Karang Galuh 3 Pendekar Bodoh 8 Pusaka Pedang Naga Persekutuan Tusuk Kundai Kumala 21
^