Pencarian

Hati Yang Terberkahi 7

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara Bagian 7


tadi melesat keluar dari gedung bank. Jantungku jelas berdebar kencang, tidak mungkin
ada roket yang meluncur di tengah-tengah kota, ini bukan medan perang, tapi hal itu telah
terjadi dan kini aku dapat melihat dengan jelas beberapa bangkai heli yang berjatuhan di
sekitar jalan raya, juga beberapa orang terlihat sedang terluka parah di jalanan. Aku segera
merendahkan ketinggian terbang bus hingga roda-roda bus menyerempet beberapa atap mobil yang
tinggi. "Kita turun di sana," kata Kumar menunjukkan sebuah lokasi yang di mana aku
dapat melihat berkumpulnya beberapa orang terluka di bawah tenda sederhana yang bertanda
silang merah dan latar putih. Begitu juga aku dapat melihat banyaknya para anggota BtP
berkeliaran di sana dan mengenal hampir setengah dari mereka sebagai pelanggan Kafe Eve,
bagaimanapun juga aku harus kabur ke suatu tempat sampai bus itu terisi penuh sebelum
seseorang mengenaliku. "Dr. Kumar, aku akan mengawasi lokasi ini. Kamu cukup menekan klakson jika bus
telah terisi penuh, aku akan kembali saat itu," sahutku cepat mendaratkan bus dan
melesatkan tubuhku terbang ke atas salah satu gedung tertinggi. Aku tahu Kumar ingin
mengucapkan sesuatu dan berbahaya bagiku jika aku mendengarkan semua itu, aku mungkin dapat
tertahan selamanya di bawah, disuruh membantunya dan berisiko dikenali oleh banyak orang.
Meski aku masih memakai jaket berlambang BtP tapi tetap saja tanpa benda berlogo BtP
di lengan kiri atasku. Dia orang gila. ~ 253 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Tubuhku terus meluncur terbang naik ke atas dengan cepat dan mendarat di salah
satu atap gedung tinggi. Merasa senang saat melihat lantai sekeliling gedung itu yang
kosong dan memutuskan untuk duduk bersandar di balik dinding pembatas gedung yang tingginya
hanya semeter lebih sambil menjulurkan kedua kakiku yang kelelahan. Lantai gedung itu
terasa panas melewati celanaku dan meresap ke kulit kakiku. Bersembunyi di sini adalah
hal terbaik yang dapat kulakukan, aku akan cukup menunggu suara klakson bus dan kemudian
turun menjemput bus itu ke rumah sakit.
Cahaya matahari terik menyinari diriku, aku merasa haus. Setelah hening beberapa
saat aku menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri dan merasakan tubuhku
gemetar, entah ketakutan karena baru lolos dari tiga buah roket peledak atau karena aku
telah menggunakan terlalu banyak tenaga. Belum pernah aku terbang dengan benda sebesar
itu, jelas aku sedikit kelelahan. Kembali aku menarik nafas menguatkan tubuhku.
Menutup mata dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua tugasku akan selesai saat aku
mendengar suara klakson, meluncur turun, mengangkat bus itu menjauh dari tempat ini,
melesat langsung menuju ke rumah sakit mana pun yang dia inginkan.
Sialan dokter itu. ~ 254 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Bab 14 ALPHA "Tap.. Tap.. Tap." Telingaku menangkap suara langkah seseorang mendekatiku dan
mataku segera terbuka mencari asal suara, tidak ada apa pun juga, sekeliling
lantai terlihat kosong. Tidak ada apa pun juga.
"Tap ... tap ... tap," Suara itu semakin mendekatiku.
Apakah aku sedang bermimpi"
"Sir...." Kali ini tidak mungkin telingaku salah mendengar seseorang memanggil, suara
wanita yang terdengar akrab. "Sir, ada yang bisa kubantu?"
Jantungku berdebar keras, suara itu jelas suara seorang wanita dan sangat dekat
dengan telingaku. Ke mana pun aku menolehkan mataku, aku tidak melihat siapa pun. Tidak
ada bayang seorang pun. Otakku segera berpikir keras, tidak mungkin aku sedang
bermimpi atau menjadi gila karena kelelahan dan kebanyakan memforsir energi. Atau juga aku
telah bertemu dengan hantu di siang bolong begini.
"Siapa?" teriakku sedikit ketakutan suaraku bergetar.
~ 255 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Maaf Sir, aku sedang dalam keadaan menghilang karena tempat ini berbahaya. Para
sniper musuh akan menembak apa pun yang terlihat Sir, " kata suara itu menenangkan.
Setidaknya hal itu melegakan diriku sedikit, jadi aku tidak sedang bertemu dengan setan
atau mulai berhalusinasi. Tapi tetap saja aku bertemu dengan orang BtP!!!
"...." "Ada yang bisa aku bantu, Sir" "
Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena jika aku harus jujur aku akan
mengatakan jika aku ke atas sini untuk bersembunyi dari orang-orang seperti mereka. Lagipula aku
juga tidak menyangka jika musuh akan memiliki sniper yang menembak dari atas gedung bank,
kelihatannya aku cukup beruntung tidak ditembak saat terbang menuju tempat ini.
"Aku ingin memberitahu kalau ada sebuah bus yang akan menuju ke rumah sakit,
jika ada yang membutuhkan perawatan sebaiknya segera ke bawah," balasku meski aku tahu
alasan ini begitu lemah. Bukankah sekarang ini semua orang sudah memakai radio dan
bagian kesehatanlah yang seharusnya mengumumkan bukan diriku yang tidak jelas ini.
Tapi lebih baik daripada ngak punya alasan apa pun juga. Jujur saja aku hanya
ingin segera lari dari tempat ini. Firasatku berkata ada lebih dari satu orang di sini dan jika mereka semua dapat
menghilang maka kemungkinan besar mereka adalah anggota dari regu pemburu atau regu gerak
cepat khusus BtP, Tim Ghost. Mereka cukup terkenal di kalangan dunia maya, karena
sepak terjang mereka yang dapat membumihanguskan markas-markas musuh dan menyelamatkan sandera
tanpa diketahui sama sekali oleh musuhnya. Mereka terdiri dari orang-orang yang
dapat menghilangkan diri dan memiliki persenjataan lengkap, juga tim paling berbahaya,
termasuk salah satu tim elit BtP. Musuh hanya mengetahui keberadaan mereka saat mereka
sedang ditembak atau dilumpuhkan.
Suara wanita berbisik sebentar yang mungkin sedang berbicara melalui alat
komunikasi kecilnya. "Sir, apakah itu sebuah bus bukan heli?" tanya suara itu lembut.
"Bus terbang," jawabku langsung. Suara berbisik-bisik itu kembali terdengar, aku
berharap jika mereka tidak memiliki orang yang terluka dan membiarkan kukabur secepatnya.
"Sir," suara itu terdengar kembali, "Kepala regu ingin bertemu dengan anda,
mohon menunggu sebentar." ~ 256 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Seluruh semangatku langsung lenyap, aku tidak mau berbicara pada siapa pun juga.
Saat itu juga muncul sebuah wujud bayangan di depanku, yang jelas langsung membuat
jantungku berdebar keras. Rambut yang terurai indah, hidung yang manis dan bibir yang
merah muda. Aku sudah merasakan kemiripan suara itu dengan seseorang tapi tidak menyangka
akan benar-benar melihatnya di sini.
Nadia. "Saya Nadia, Sir, copier dari unit pembantu yang bertugas sementara untuk
membantu Tim Ghost," Nadia memperkenalkan dirinya. Aku menggangguk saja, menahan debar di
hati dan kepalaku terlihat semakin menunduk sambil menarik topiku lebih dalam lagi, tidak
mau menjawab atau membalas perkenalan diri itu. Aku tidak mungkin membiarkan diriku
ketahuan dengan mengarang sebuah nama atau lainnya. Dan tepat seperti yang
kuduga, mereka yang di sini adalah Tim Ghost, regu elit yang kumaksudkan, meski
menurutku regu itu tidak akan banyak berguna untuk misi-misi tingkat tinggi sejak rata-rata
lawan berat selalu memiliki alat untuk mendeteksi panas tubuh mereka dan akan memberikan perlawanan
sengit. Seorang yang bertipe seperti Michelle yang dapat menyamar akan jauh lebih
berharga. Tidak sampai satu menit, dari jarak tiga meter mulai bermunculan tiga orang BtP
berpakaian hitam dan bersenjata lengkap yang sedang berlari dalam keadaan merunduk ke
arahku. Pakaian dan perlengkapan senjata mereka yang terlihat angker cukup
mengintimidasiku. Mau tak mau aku merasa diriku tergetar mundur oleh aura mereka.
"Saya Lee ketua dari tim Ghost," salah seorang yang berada paling depan
memperkenalkan diri, dapat terlihat ia berumur 40 tahunan ke atas. Wajah serius dengan dua luka
goresan di pipinya. Aku meringis dan otakku segera berputar cepat mencari jalan keluar,
karena aku harus memperkenalkan diriku atau aku akan dicurigai.
"Namaku Alpha, Sir, " jawabku. Membuat Lee dan beberapa pengikutnya terdiam
menatapku, sedikit curiga menurutku. "Dari Olympus," tambahku mengingat-ingat apakah sandi
yang kugunakan sudah benar. Karena aku nekat menggunakan sandi yang kuketahui dalam
mengerjakan laporannya Michelle, aku berharap semuanya akan baik-baik saja.
Lee terdiam sedikit mengingat bahwa sandi "Olympus" adalah untuk BtP
internasional dan jika mereka menemukan anggota BtP yang menggunakan sandi "Alpha, Beta, Delta,
Sierra" dan "Olympus" itu artinya mereka adalah anggota dari BtP internasional yang
sedang dalam penyamaran dan biasanya mereka dari Divisi Intelijen. Mereka juga tidak akan
membawa surat-surat atau apa pun tanda pengenal mereka sebagai anggota BtP karena mereka
adalah mata-mata. Keberadaan mereka harus dirahasiakan dan hanya para ketua regu yang
mengetahui kode itu. ~ 257 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Senang bertemu denganmu Alpha," kata Lee dan menatap jam tangannya sekitar
pukul satu siang lewat, "Apakah kamu sudah menikmati makan siangmu?" Dahiku berkeringat,
aku sadar sandi ini terus berputar, Lee bertanya apakah aku sudah makan siang,
artinya adalah apakah aku sudah mendapatkan informasi yang memadai tentang semua kejadian ini
dan bertemu dengan para ketua regu di ruang rapat yang membahas mengenai perampokan
ini atau dirinya perlu memperkenalkanku pada mereka yang terlibat di dalam misi ini.
Hal yang jelas tidak ingin kulakukan. "Belum Sir, juga aku tidak ingin makan
siang sekarang karena mungkin akan merusak makan malamku tapi aku tidak akan keberatan untuk
ditraktir minum selama teman kencan malamku tidak mengetahuinya."
Lee tersenyum dan mengulurkan tangannya ke depanku, "Aku akan dengan senang
mentraktirmu minum dan tidak akan membiarkan teman kencanmu mengetahuinya."
Aku menjabat tangan itu dan membalas, "Dengan senang hati, Sir. " Rasanya hatiku
begitu lega, aku hanya mengatakan kalau aku sedang mengerjakan pekerjaan lain yang
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kali ini. Tapi aku akan senang membantu pekerjaan
pribadinya jika aku dibutuhkan, selama aku tidak akan dicatat dalam laporannya
atau diketahui siapa pun, termasuk regu BtP sendiri agar tidak mempengaruhi
pekerjaanku yang lain, meski sebenarnya itu tidak ada. Nadia dan beberapa anggota Ghost masih
terdiam tidak mengerti pembicaraan kami, bagiku aku harus bersyukur telah mengerjakan beberapa
tugas- tugas Michelle yang berhubungan dengan Divisi Intelijen. Aku akan memberinya
hadiah nanti. "Alpha, kami mendapat laporan kamu mengangkat bus ke sini, apa yang terjadi?"
tanya Lee. Aku meringis, "Aku kebetulan berada di tempat di mana helikopter ambulans BtP
terjatuh sehingga aku menyelamatkan mereka," Aku menceritakan kejadian yang terjadi
tentunya tanpa mengatakan kebenaran diriku, "Aku bahkan terekam oleh kamera jalanan,
apakah anda bisa melakukan sesuatu untuk itu?"


Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Willy, akan membantu menghapus jejakmu dari kamera-kamera itu nantinya," kata
Lee menyakinkan. "Terima kasih, aku akan sangat menghargainya," aku akan sangat senang jika dia
sungguh melakukannya. "Apakah kamu dapat membawa kami ke lantai atas gedung bank itu?"
Lee menunjukkan tangannya ke arah gedung teroris.
Aku menatap tempat itu yang tidak begitu jauh, tentu saja mudah membawa mereka,
"Tidak ada masalah, Sir. " ~ 258 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Kami tertahan di sini karena para penerbang di bawah tidak mampu mengangkat
lebih dari dua orang dan kami tidak ingin membiarkan diri kami menjadi sasaran tembak.
Berapa orang yang sanggup kamu bawa sekali jalan?" tanya Lee menatapku. Aku terdiam, aku
tidak tahu berapa banyak orang dapat kubawa, jika bus itu sanggup menampung 40 orang
mungkin aku dapat membawa sebanyak itu, "Sekitar 40 orang, Sir, " jawabku. Bola mata Lee
membuka sedikit dan aku dapat merasakan Nadia serta anggota regu Ghost di belakang Lee
tiba-tiba berdecak memperhatikanku lebih seksama.
"Apakah kamu membutuhkan alat untuk mengantarkan kami?"
Mataku menyipit, kupikir langsung saja membawa mereka tentu lebih mudah dan
lebih ringan tanpa peralatan lainnya, "Tidak, Sir. " Beberapa orang di sana langsung
mendesah dan salah seorang langsung berbisik "Dominan" yang lain membalas "Tyrant". Lee
terdiam sebentar, "Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk terbang ke sana?" Aku
sudah melihat gedung itu hanya berjarak sekitar kurang lebih 100 meter, jika aku
melakukannya sendiri mungkin waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 detik.
"Kurang dari lima detik "
"Dengan 20 orang?"
Aku terdiam sejenak, sejak jika aku terbang membawa apa pun, benda itu tidak
akan memberikan tambahan bobot selama aku melingkupi benda itu dengan energiku.
"Tetap kurang dari lima detik, Sir. "
Para alinergi di sekitarku terdiam, Aku tidak mengerti mengapa. Lee tersenyum,
tapi aku jelas dapat merasakan semangat yang terbakar dalam dirinya.
"Kita akan berangkat dalam sepuluh menit, Aku akan memanggil anggota lainnya
dari gedung-gedung sebelah untuk berkumpul di sini, selama itu Nadia akan menemanimu
jika kamu memerlukan sesuatu."
"Kupikir aku butuh minuman," sahutku yang sungguh kehausan.
"Sir," kata Nadia menjawab sambil memberikan sebuah botol minumannya yang
dikeluarkan dari sebuah tas ransel.
"Terima kasih," jawabku dan segera membuka tempat minum itu dan menegaknya,
sambil berusaha menenangkan jantungku yang berdetak dengan keras. Sesaat kemudian Lee
dan anggotanya menghilang meninggalkanku dan Nadia di sana. Aku mendesah nafas dan
duduk bersandar, mataku melirik ke arah Nadia dan aku berani bertaruh dengan kacamata
hitam yang kukenakan dia tidak akan tahu jika aku sedang tidur atau menatapnya.
~ 259 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Oh, aku merindukannya. "Sir, apakah anda juga seorang receive?" tanyanya. Aku menelan ludah, aku sama
sekali tidak memahami hal mengenai "receive", "dominan" ataupun "tyrant". Apakah itu
semua mereka pelajari di sekolah dan pelatihan BtP mereka" Aku bahkan tidak membaca
mengenai hal itu di buku-buku mengenai alinergi. Aku tidak menjawab, karena aku tidak
tahu hal tersebut dan pura-pura menegak air minum lagi. Nadia terdiam tidak berani
menggangguku, mungkin baginya aku yang berbicara dengan Ketua regu Lee terlihat sebagai senior
atau memiliki posisi yang lebih penting darinya.
Syukurlah kalau demikian.
"Sir." "Hmm..." jawabku.
"Mungkin ini waktu yang kurang tepat, tapi aku adalah seorang copier," kata
Nadia sedikit ragu. "Apakah anda bisa memberi sedikit masukan tentang "dominan" sebab tidak
ada seorang pun di dalam BtP Graceland ini yang menguasai dominan." Kepalaku terasa
pening, jika semua orang di BtP Graceland tidak ada yang bisa "dominan" tentu saja aku
tidak bisa! Apalagi mereka memanggilku "dominan" dan sialnya mereka yakin aku bisa.
Keringatku mengalir. Di mana ranjau yang sudah kuinjak.
"Ehmm.." kataku coba membersihkan tenggorokan, "Katakan padaku apa yang kamu
ketahui tentang "dominan" terlebih dahulu, mungkin aku bisa membantu."
Mati aku. Aku sama sekali tidak tahu apa itu "dominan", akulah yang sedang ingin
mengetahuinya. Wajah Nadia tersenyum ceria dan menatapku, "Dominan adalah kemampuan alinergi
yang dapat mendominasi lawannya untuk menggunakan kekuatannya, istilahnya memaksa
mereka dalam pengaruh kita."
"Contohnya?" kataku seperti seorang yang sedang mengajari padalah akulah yang
tidak mengetahui apa pun juga. Nadia berpikir sejenak dan menjelaskan, "Aku memiliki
kekuatan menghilang dan aku dapat mendominasi pakaianku dan perlengkapanku untuk ikut
menghilang bersamaku karena mereka adalah benda mati. Berbeda untuk makhluk
hidup yang juga memiliki kekuatan mereka tersendiri, aku tidak dapat menyalurkan
kekuatanku pada mereka dan membuat mereka ikut menghilang bersamaku kecuali aku memiliki
kekuatan untuk mendominasi mereka atau mereka memiliki kekuatan receive untuk
~ 260 ~ - B L E S S E D H E A R T -
menerima kekuatanku. Sedangkan untuk anda yang dapat mengerahkan kekuatan untuk
mendominasi banyak orang tentunya adalah Tyrant"
Keringat mengalir di dahiku, aku baru pertama kali mendengar hal ini, aku
terbiasa mengalirkan energiku pada benda-benda mati, tapi tidak pernah sekalipun pada
manusia, aku tidak tahu jika kekuatanku tidak dapat menyelimuti manusia yang telah memiliki
energi mereka sendiri. Pantas saja Ketua Lee tadi bertanya apakah aku membutuhkan alat
untuk mengantar mereka, tapi aku dengan sok-sokkan mengatakan aku bisa mengangkat
mereka semua sekaligus. Tyrant" Sialan, dominan saja aku tidak tahu.
Waktu sudah berjalan sekitar tiga menit, aku harus mencoba sesuatu sebelum aku
bisa membawa mereka yang berjumlah 20 orang. "Kemarikan tanganmu," kataku sambil
membuka telapak tanganku. Nadia terlihat sedikit malu dan meletakkan tangannya
di atas tanganku, tangan yang lembut batinku membuat darahku berdesir hangat. Sebuah
perasaan akrab dan begitu indah mengalir dalam diriku, oh perasaan yang sudah begitu lama
kurindukan. Sialan, tidak ada waktu untuk itu.
Aku harus mencoba apakah aku bisa melakukan dominan atau tidak, aku menyalurkan
energi dari tengah dadaku agar dapat mengalir menyelimuti dirinya. Seketika itu juga
aku dapat merasakan energiku menyelimutinya namun tidak sepenuhnya, hanya bagian luar
saja, pakaian-pakaiannya dapat diselimuti namun seakan-akan semuanya tidak mampu
menembus ke dalam tubuhnya. Tubuh Nadia memiliki energinya sendiri yang menahan energiku
memasukinya. Dengan kata lain energiku hanya menyelimuti sehingga dia tidak
dapat terbang, ternyata pada saat menerbangkan bus itu, aku menggunakan bus itu
sebagai alat untuk membawa orang-orang di dalamnya. Lain ceritanya jika langsung pada
manusia. Aku harus melakukan sesuatu atau aku akan batal mengantarkan mereka semua dan
mendapat malu. Diriku menjadi gelisah dan memaksa agar energiku mau memasuki
tubuh bagian dalam Nadia. Akan tetapi tetap saja tanpa hasil bahkan aku kehilangan
perasaan akan energiku. Mungkin aku seharusnya kabur sekarang dan membiarkan semuanya termasuk bus di
bawah. Aku sudah menyelamatkan mereka, aku tidak memiliki utang pada mereka dan mereka
dapat mencari jalan keluarnya sendiri. Aku menatap langit di atas dan dapat terbang
kapan saja, tidak mungkin mereka akan mengejarku, lagipula mereka tidak mengenalku. Daripada
aku mendapat malu dan membongkar penyamaranku di sini.
~ 261 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Sir," kata Nadia mendadak dan membuatku kembali melihat tangannya dalam
genggamanku. S ialan aku harus lebih tenang, menggunakan hati, energi dan
perasaanku, bukan kepalaku. Aku akan mencoba lagi, menarik nafas dalam-dalam dan menutup
mata, semakin tenang diriku terasa energiku semakin halus mengalir. Suara-suara bising
mulai menghilang, saat itu energi halus yang menyelimuti Nadia seakan-akan menemukan
lubang- lubang yang dapat dimasuki di sekeliling tubuhnya dan menyusupinya hingga tidak
beberapa lama kemudian energi itu sudah memasuki seluruh tubuh bagian dalam Nadia.
"Wow," kata Nadia sedikit mendesah merasakan perasaan ringan. Saat aku membuka
mataku aku melihat kami sedang terbang beberapa senti dari lantai, aku merasakan sebuah
kesatuan energi dengan tubuh Nadia.
Aku berhasil" Mataku membelalak mungkin akulah yang paling kaget.
"Ini pertama kalinya ada yang mendominasi kekuatannya padaku," kata Nadia
tersenyum, "Rasanya menyenangkan."
Aku tersenyum tanpa sadar terikut kebahagiaan Nadia, "Mau mencoba melakukannya
padaku?" tanyaku karena aku merasa bisa memberinya petunjuk setelah berhasil
melakukannya. Aku menghilangkan kekuatanku dan kami kembali terduduk di lantai.
Nadia tersenyum begitu manis, mendadak tubuhnya mulai menghilang dari hadapanku dan
aku masih dapat merasakan kehangatan tangannya. Aku menutup mata berkonsentrasi
untuk merasakan energinya dan beberapa saat kemudian aku merasakan sebuah energi yang
pastinya energinya mulai merayapi permukaan diriku. Energi yang terasa berbeda
dengan energi terbang yang lebih ringan dan hangat mengambang, energi yang mengalir
dari tangan Nadia terasa ringan dan tidak memiliki rasa hangat maupun rasa dingin, lebih
terasa seperti rasa hilang atau kosong yang tidak memiliki kepadatan. Energi itu menyelimutiku
dan terasa sedikit kasar dibandingkan energiku sehingga tidak dapat menembus energi
tubuhku, dengan lembut aku meniatkan dari hati agar energiku dapat membuka dan membiarkan
energinya yang menyelimutiku ikut masuk ke dalam diriku dan mengalir bebas dalam diriku.
Menerima energinya dan juga dirinya Nadia. Sesaat kemudian aku sudah merasakan energi
ringan dari Nadia memasuki seluruh diriku mengalir bebas dan aku merasa menghilang. Saat aku
membuka mataku, aku melihat diriku hilang.
"Receive," kata Nadia tertawa senang, "Kamu membiarkan kekuatanku mengalir
padamu, aku sama sekali tidak mendominasi." Sejujurnya aku merasa begitu senang sekali
karena mendengar suara tawanya yang indah dan juga karena kami terhubung secara energi,
terasa begitu menyatu, begitu sempurna dan harmonis.
~ 262 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Sir, maaf," kata Nadia mendadak, "Ketua Lee menyuruh kita untuk berkumpul."
Merusak suasana saja pikirku yang masih menikmati energinya yang mengalir dalam
diriku. Aku melihat ketua Lee dan beberapa anak buahnya yang bersenjata lengkap, mungkin
tepat sekitar dua puluh orang yang sudah berkumpul di tengah-tengah gedung.
"Kita terbang ke sana," kataku.
Aku langsung mengalirkan kekuatan atau energi terbangku dari tengah dada, sebuah
perasaan yang halus mulai mengalir melalui dada namun aku tidak menyukainya karena energi
itu mendorong dan mendominasi energi menghilang dari Nadia untuk keluar dari dadaku.
Itu energi Nadia dan aku tidak ingin mendominasinya, aku ingin keharmonisan. Aku
menutup mata kembali dan merasakan energi terbangku mengalir di antara sela-sela energi
menghilang, bercampur dengan setiap keberadaan energinya dan secara harmonis menyatu menjadi


Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sebuah jenis energi yang berwarna baru, energi yang ringan, hangat mengambang juga
terasa sangat ringan dan kosong campuran dari energi menghilang dan energi terbang. Dengan
cara itu aku berhasil mengalirkan seluruh energi tersebut ke arahku dan Nadia, kemudian aku
membuka mata dan kami terbang sedikit di atas lantai untuk menuju ke arah Ketua Lee.
Saat tiba di depan ketua Lee yang tidak melihat kami, aku melepaskan energiku dan begitu juga
Nadia sehingga kami langsung muncul di hadapannya.
Ketua Lee terlihat terkejut menatapku, "Aku tidak mendengar suara langkah
kalian." "Kami terbang," kata Nadia terdengar sedikit gugup dan bersemangat.
"Sinkronisasi!" bisik beberapa anggota di sana dan ketua Lee terkejut melihatku,
kali ini benar-benar terkejut. "Alpha, kamu memang tidak berhenti membuatku terkejut," Ketua Lee tersenyum.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya terkejut sama sekali.
*** Nadia melihat tangannya masih tergenggam, dadanya berdebar keras, semenjak ia
menyentuh tangan Alpha, ia merasakan sensasi bahwa ia mengenal tangan tersebut, keakraban,
kehangatan dan perasaan yang dibawa oleh tangan itu. Ia mencoba mengintip
kewajah Alpha tapi tidak melihat apa pun yang bisa membuatnya mengenalinya dengan lebih jelas,
kacamata hitam yang lebar, topi yang menutup rapat dan wajah yang kotor dengan asap dan
bercak darah tidak memberikannya bayangan apa pun juga. Tapi dagu pria bertopeng dan
pria yang dipanggil Alpha ini sama persis.
~ 263 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Nadia hanya diam saja, ia tahu Alpha bukanlah nama asli pria itu tapi
kelihatannya ketua Lee juga tidak bertanya lebih lanjut setelah mereka berbicara memakai sandi. Yang
pastinya pria itu bukanlah orang sembarangan, ia berkata dapat membawa 20 orang sekaligus,
melakukan dominan, receive, tyrant bahkan sinkronisasi energi. Hanya para elit di atas
elit dari BtP internasional saja yang mungkin sanggup melakukannya. Dan tentunya dia akan
dengan mudah dapat mengalahkan Jess dan Daniel. Tapi, sebuah pikiran mendadak menyengat
Nadia, "Apakah Alpha mengenal dirinya?" Bukankah saat itu dirinya juga memakai topeng,
memikirkan sampai di sana, Nadia menjadi gelisah. Pada akhirnya dia hanya dapat
menanyainya secara langsung.
*** "Bagaimana kamu akan membawa kami?" tanya Lee. Aku melihat mereka berjumlah 20
orang masing-masing dengan tas yang cukup besar dan lengkap dengan persenjataan
mereka. Apakah mereka akan berbaris berjajar lulus dengan aku di depan atau berjajar
seperti burung yang berpindah tempat dalam formasi segi tiga siku"
Aku mengatakan padanya untuk bergerak dalam formasi burung terbang berkelompok
dengan aku di tengah. Dengan cepat Ketua Lee memberi perintah dan dalam sekejap
saja terlihat 20 orang bergerak cepat dan langsung duduk berjongkok dengan masing-
masing sepuluh orang di setiap sisi, masing-masing memegang bahu orang di depannya.
"Bawa Nadia," kata Ketua Lee padaku, "Kamu akan membutuhkannya untuk kembali nanti."
Aku menatap ke arah Nadia, aku sama sekali belum ingin berpisah darinya yang
langsung kusetujui dan dia menggangguk. Aku berjongkok di tengah-tengah mereka membiarkan
masing-masing dari mereka di belakangku memegang bahuku.
"Kita akan menerjang hujan roket dan mungkin beberapa tembakan, apakah kamu
sudah siap?" tanya Ketua Lee. Ditanya demikian jelas aku sedikit gugup dan tidak siap
dengan apa pun terutama menerjang ke daerah musuh dalam keadaan terlihat sepenuhnya dan aku
berada di barisan paling depan. Ini menyangkut masalah nyawa.
"Ada pilihan yang lebih baik?" tanyaku tiba-tiba. Aku benar-benar masih sayang
dengan nyawaku. Ketua Lee juga sebenarnya tidak senang dengan ide yang menerjang
langsung ke daerah musuh apalagi dengan keadaan terlihat langsung segera memberi saran,
"Apakah kamu dapat melakukan sinkronisasi dengan 20 orang sekaligus, ini jelas berbeda
dengan sinkronisasi dengan satu orang?"
~ 264 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Aku terdiam, aku tidak yakin dapat melakukannya. Mendominasi kekuatan 20 orang
dan Nadia jelas aku belum pernah mencobanya, tubuhku sejujurnya sudah sedikit
kelelahan dengan semua pengurasan energi sedari tadi.
*** Ketua Lee diam menunggu keputusan Alpha, menurut teori hal ini masih dapat
dilakukan akan tetapi hampir tidak ada orang di dalam BtP yang pernah melakukannya. Mereka
yang sanggup melakukannya mungkin hanyalah copier tingkat tinggi yang sudah terbiasa
merasakan berbagai macam energi dan di seluruh BtP di muka bumi hanya ada
segelintir orang yang dapat melakukannya dan mungkin hanya para pendiri BtP seperti
pemimpin BtP, Sherry dan putranya. *** Aku menelan ludah, belum pernah melakukannya akan tetapi secara insting aku
merasa dapat melakukannya, "Sir, mungkin aku dapat mencobanya sebelum menerjang langsung dan
jika sinkronisasi massal gagal kita tidak punya pilihan lain selain menerjang
langsung juga." Lee tertawa, "Silakan lakukan." Aku tertawa dan mengambil posisi bersiap-siap, Nadia
masih berada di depanku duduk merunduk tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Aku
menyentuh tangannya dan dengan lembut berkata, "Alirkan energi menghilangmu padaku." Nadia
menggangguk dan aku segera menutup mata merasakan energinya yang menerjang masuk
kembali, menerima semuanya dan kemudian dengan lembut membiarkan energi dari
tengah dadaku melakukan sinkronisasi dengan energi terbangku dan mengalirkannya kembali
pada Nadia. Sebuah sensasi keharmonisan energiku dengan Nadia terjadi sempurna.
Oh aku sangat menyukainya.
Dan saat itu juga aku mulai mencoba mengalirkan energi gabungan tersebut pada
semua orang di sana, perasaanku dapat merasakan energiku menyelimuti mereka masing-
masing. Seperti yang sudah kuduga, energiku hanya berputar di sekitar kulit luar mereka
dan tidak dapat menembus ke dalam tubuh mereka. Aku dapat merasakan setiap orang memiliki
energi yang berbeda-beda, terasa kekasaran dan kepadatan energi mereka tidak sama satu
dengan yang lainnya. Dengan membiarkan diriku menjadi lebih tenang dan energiku
mengalir menjadi semakin halus aku mulai dapat memasuki beberapa energi tubuh mereka.
Kelihatannya semakin halus dan lembut energi yang mengalir dari tengah dadaku
maka semakin tinggi kualitasnya untuk mendominasi atau memasuki setiap orang.
Pada ketua Lee energi tersebut seakan-akan amblas menyelimuti dirinya dan masuk
kedalaman dirinya, aku hanya bisa menebak dirinya mampu melakukan receive.
Setelah semuanya menjadi semakin utuh aku mulai merasakan energi yang lebih lembut,
ringan dan ~ 265 ~ - B L E S S E D H E A R T -
kental sekaligus kosong. Sinkronisasi energi dari kami semua terasa begitu halus
namun sekaligus tinggi jauh lebih tinggi daripada energi sinkronisasi diriku dan
Nadia. Seketika itu juga seluruh anggota regu sudah menghilang dan melayang sekitar setengah meter
dari atas lantai. "Kamu melakukannya dengan baik Alpha," kata Ketua Lee terdengar senang.
Aku tersenyum dan kemudian menstabilkan perasaanku terlebih dahulu agar dapat
merasakan seluruh anggota regu Ghost sebagai satu kesatuan.
"Hati-hati pada tembakan orang-orang yang memiliki alat pencari panas tubuh,"
sahut Lee. Wajahku memucat dan baru memikirkan jika Nadia berada tepat di depanku, tentunya
dia akan menjadi sasaran tembakan. Aku tidak ingin itu terjadi.
"Sir, apakah mereka mengelilingi lantai atas gedung Bank dari semua penjuru?"
"Benar," kata ketua Lee. Aku meminta pada ketua Lee agar mereka seluruhnya dapat
meluruskan kaki mereka dan terbang terlentang untuk mendapatkan kecepatan yang
lebih baik. Ketua Lee langsung memberikan perintah yang seketika itu juga dilaksanakan
oleh mereka, Aku menggigit rahangku dan kemudian dengan nekat menarik Nadia untuk
memelukku. "Maaf," kataku "Bisakah kamu memelukku" Kita akan melaju dalam kecepatan
tinggi." Nadia dengan tanpa daya segera memelukku, mendekatkan kakinya sejajar dengan
kakiku dan memeluk punggung belakangku sama seperti aku melingkarkan tanganku pada
pinggangnya. Yahuuuuu......... bahagianya diriku. Aku percaya Tuhan itu Maha Baik.
"Aku akan sedikit memutar," kataku pada ketua Lee. Aku segera melayang lebih
tinggi dan terbang berbalik menjauhi gedung bank tersebut dengan kecepatan tinggi. Selama
aku sudah menguasai keseluruhan anggota regu dengan energiku, aku dapat melaju dengan
tenang tanpa merasakan tekanan dan berat daripada setiap anggota. Tak lama terbang menjauhi
gedung bank dalam posisi sejajar, aku langsung terbang melesat cepat mengarah ke atas
dengan kecepatan tinggi sekali menembus langit biru. Aku merasakan Nadia merapatkan
kepalanya ke dadaku, dan kedua tangannya memeluk erat pinggangku. Jantungnya terdengar
berdebar keras. Sebenarnya beberapa anggota Lee juga kecut hati mereka melaju dalam kecepatan
tinggi menembus ke atas langit akan tetapi mereka adalah petarung yang setidaknya hal
itu tidak akan terlihat di wajah mereka. Bagi Lee sendiri yang sudah kenyang makan asam
garam merasa biasa saja namun tetap saja ia kagum merasakan bagaimana mereka semua
bergerak dalam satu kesatuan yang terasa begitu solid dan kuat, hanya mereka yang
memiliki kekuatan luar biasa dapat melakukannya.
~ 266 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Seet... sert..."
Dua buah roket dan puluhan peluru panas ditembakan dari atas gedung bank ke arah
kami, seperti yang kuduga mereka memiliki alat pendeteksi panas. Semua terjangan
peluru dan roket itu melesat begitu saja di bawah kami dan kami terus melaju ke atas dengan
kecepatan tinggi sambil sedikit berputar-putar dan bergerak acak. Bukan hal yang sulit
untuk lolos dari roket dan peluru yang hanya menerjang lurus saja. Kami terus terbang ke atas
langit melawan terjangan udara keras hingga Kelompok Pembebas kehilangan jejak kami dan mungkin
berpikir kami sudah menjauh. Aku terus terbang jauh ke atas hingga hampir
menyentuh awan dan kemudian berputar setengah lingkaran untuk menungkik ke bawah secepat
mungkin yang membuat siapa pun yang normal akan menjerit ketakutan.
Nadia sudah pasrah menutup matanya dan mencengkeram tubuhku lebih keras lagi.
Kami terus menerjang turun dengan cepat. Persis seperti sedang menaiki roller coaster
namun dengan turunan yang sangat panjang dan kecepatan yang dapat membuat orang
pingsan. Dalam beberapa detik saja aku sudah melihat puncak gedung Bank Viginia dan
orang-orang di atasnya yang mengelilingi setiap sisi gedung sambil memegang berbagai macam
senjata berat. Hal bagusnya adalah aku tidak menemukan siapa pun yang menatap ke atas
dan aku memang aku sedari awal telah mengincar posisi tepat di tengah-tengah mereka.
Dengan kecepatan tinggi kami meluncur turun ke tengah gedung, aku berniat untuk
berhenti pada jarak satu meter dari lantai gedung mereka. Ketua Lee ternyata sudah memberi
aba-aba pada seluruh anggotanya jauh sebelum aku dapat berhenti meluncur ke bawah dan mulai
menghitung mundur. "Tiga... dua..." Semua orang sudah menyiapkan kaki mereka untuk mendarat di
lantai ... "Satu!" Tepat ketika aku berhenti sepenuhnya dalam jarak satu meter di tengah lantai
gedung bank itu, seketika itu juga ia berbisik, "Sekarang," sebagai tanda untuk menyerang dan aku
segera

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melepaskan energiku yang menyelimuti mereka hanya membiarkan diriku dan Nadia
saja terselimuti. Semuanya bergerak begitu cepat, tidak sampai dua detik aku
melepaskan energiku dari mereka, seketika itu juga mereka semua melepaskan tangan mereka
dan menghilang dengan kemampuan mereka masing-masing dan menyebar. Detik demi detik
berikutnya aku hanya dapat melihat satu per satu musuh diterjang oleh sesuatu
yang tidak terlihat dan mereka segera jatuh pingsan tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Tertangkap dan dilumpuhkan sepenuhnya tanpa menyadari mereka tengah diserang bahkan jika mereka
adalah alinergi sekalipun, mereka tidak sempat mengerahkan kekuatan mereka.
Tidak sampai 30 detik, Lee dan semua anggotanya sudah menampakan diri mereka dan menguasai
lantai atas gedung bank. ~ 267 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Dan aku juga langsung menghilangkan kekuatanku. Aku hampir saja tertawa melihat
Nadia yang tanpa sadar sedang memelukku begitu erat, kelihatannya ia menutup matanya saat
semua aksi penangkapan itu terjadi. Lee mendekati kami sambil tersenyum, "Terima
kasih atas bantuannya, dari sini kami akan mengurus semuanya."
"Senang bisa membantu," kataku. Nadia tersadar dan kemudian kelihatan ingin
melepaskan diri dariku dan bergabung dengan regu Ghost namun aku menahan dirinya dan
memeluknya lebih erat tidak ingin melepaskan tubuhnya. Hanya relfeks karena aku tidak ingin
berpisah dengannya dan masih ingin terus bersamanya.
Tapi sekarang bukan saatnya mencari kesempatan dalam kesempitan.
Tapi tetap saja tanganku tidak mau melepas tubuhnya, rasanya pelukannya begitu
pas pada tubuhku. "Aku akan membantu semaksimal mungkin untuk menghilangkanmu dari semua
laporan," kata Lee menyakinkanku.
"Terima kasih Sir, " balasku, "Aku akan kembali untuk mengangkat bus tersebut ke
rumah sakit dan mohon izin membawa Nadia ikut serta," sambil merapatkan Nadia ke dalam
pelukanku lagi karena kelihatannya dia berjuang ingin melepaskan diri di bawah
tatapan Ketua Lee, "Aku membutuhkannya untuk tidak terlihat banyak orang dan juga untuk
tidak ditembak para musuh, Sir. "
Entah apakah alasanku cukup kuat, karena aku tidak ingin berpisah juga aku
merasa tidak sebaiknya Nadia berada di depan garis depan penyerangan bersama para elit ini
melawan puluhan alinergi dan Kelompok Pembebas, membuat perasaanku tidak tenang.
"Kamu boleh membawanya Alpha, memang itulah fungsinya lagipula ia tidak akan
banyak membantu di sini," kata Lee segera pergi berkumpul dengan para anggotanya untuk
merundingkan strategi berikutnya. Aku mendesah lega, tanganku memeluk punggung
Nadia dan dia masih menempel pada tubuhku, tanganku menyentuh tubuhnya yang hangat,
mencium aroma tubuhnya dan harum rambutnya semuanya terasa begitu sempurna.
Tempat ini, udara ini dan cahaya siang ini semuanya bersinar begitu indah, waktu
seakan-akan berhenti dan dunia yang begitu luas ini hanya milik kami berdua saja atau dia
telah menggantikan seluruh duniaku.
Hidup terasa begitu menakjubkan. Aku bersyukur untuk setiap nafasku, setiap
detak jantungku dan setiap detik aku bersamanya.
Terima kasih sudah menciptakan dirinya Tuhan.
~ 268 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Bab 15 MAAFKAN AKU TUAN PUTRI "Apakah kamu bisa menghilangkan kita berdua, kita harus pergi sekarang?" bisikku
padanya. Aku masih memiliki sebuah tugas lagi, mau tak mau harus memprioritaskan
keselamatan orang lain. Seketika energi dari tubuhnya merebak masuk ke tubuhku
dan dengan cepat aku menerimanya juga langsung menyinkronisasikannya untuk
membiarkan campuran energi menghilang dan terbang menyelimuti kami berdua.
"Sir!" Nadia berbisik rendah memanggilku dan aku berpura-pura tidak
memperdulikannya sambil mulai melayang tinggi jauh di atas gedung untuk mencari sebuah bus
pariwisata besar di bawah sana. Aku tidak ingin berbicara dengannya karena bisa saja Nadia akan
mengenaliku di Kafe Eve nantinya, tapi mungkin saja tidak karena Nadia baru
sekali saja bertemu denganku. Tentang Lee aku belum pernah melihatnya di Kafe Eve, jadi aku
merasa cukup lega berbicara dengannya.
"..." *** Nadia tiba-tiba kehilangan keberaniannya untuk bertanya lebih lanjut karena
tidak mendapatkan balasan. Ia menutup mata dan mengumpulkan keberaniannya, ia sudah
mencari ~ 269 ~ - B L E S S E D H E A R T -
pria itu berbulan-bulan tanpa hasil, ini mungkin adalah kesempatan terakhirnya
untuk mengetahui kebenaran. Meski Ia mungkin akan dianggap berbuat lancang pada
atasannya karena membawa masalah pribadi pada pekerjaann.
"Aku harus menanyakannya atau aku akan menyesal seumur hidup!" batin Nadia dalam
dirinya, sejujurnya air matanya sudah hampir mengalir. Nadia menguatkan diri,
bagaimanapun juga ia harus mencoba. "Apakah kita pernah bertemu di pesta topeng
sebelumnya?" Akhirnya suara itu keluar dari bibirnya.
*** Hal itu jelas mengejutkanku dan membuatku kalang kabut. Aku dapat merasakan
tatapan dalam Nadia padaku. Apakah aku harus menjawabnya"
Yah, aku akan menjawabnya, "Pegangan yang erat, kita akan meluncur ke bawah."
Bus pariwisata sudah berhasil kutemukan, masih tepat berada di samping tenda
perawatan dan dengan kecepatan tinggi aku melesat ke bawah. Secepat yang aku mampu selain
karena aku mendengar klakson dari bus itu juga karena aku merasa akan segera dihujani
beberapa tembakan. Tepat saat aku mulai melesat tebang ke bawah, beberapa peluru
berlompatan keluar dari beberapa jendela kaca depan gedung, seperti yang kuduga mereka
memakai alat pencari jejak panas dan menembaki kami. Aku yakin mereka tidak akan mampu
mengenaiku dengan kecepatan ini, hanya dalam beberapa detik aku sudah tiba di depan bus.
Bus terlihat penuh, terlalu penuh menurutku karena beberapa orang terlihat
berdiri berdesakan di dalamnya. Aku segera melayang turun membiarkan kedua kaki kami
menyentuh tanah dan segera melepaskan energi sinkronisasi dengan demikian kami
dapat terlihat di depan Kumar yang frustasi.
"Demi Tuhan, akhirnya kamu kembali," teriak Kumar keras saat melihatku, "Aku
menekan klakson jutaan kali dan ke mana saja kamu saat orang-orang di dalam kesakitan,"
suaranya berhenti sejenak menatap Nadia yang masih memelukku dan begitu juga aku masih
memeluknya. Sedikit lebih lama tidak akan ada masalah.
"Dan demi Tuhan jangan menggoda gadis muda ini dalam keadaan seperti sekarang
ini, kalian bisa memiliki waktu berdua nanti setelah semuanya selesai," kata Kumar
langsung melewatiku dan masuk ke dalam bus. Aku tersenyum begitu manis dan senang sambil
memperlihatkan gigiku pada Nadia yang membuatnya terkejut dan mendorongku dengan
kasar. Aku dapat melihat wajah Nadia memerah.
~ 270 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Dan aku menikmatinya. "Ayo berangkat, apalagi yang kamu tunggu!" teriak Kumar dari kaca bus.
Dokter satu ini tidak bisa melihatku senang.
"Permisi," kataku langsung meninggalkan Nadia dan tebang ke atas atap bus, tepat
di bagian depannya, "Kita berangkat!" teriakku.
"Yah seharusnya sejak tiga menit lalu," jawab Kumar gusar dari kursi supir. Aku
meringis dan mengerahkan kekuatanku. Energiku mulai mengalir ke dalam bus dan jika ada
yang kurasakan maka itu adalah seluruh tubuhku dan tulang-tulangku terasa ngilu dan
gemetar. Sepertinya aku telah memaksakan seluruh otot-ototku bekerja berlebihan, jelas
seharian ini aku bekerja terlalu keras, akan tetapi untuk mengantar satu bus ini ke rumah
sakit seharusnya aku masih sanggup. Lagipula aku tidak punya pilihan untuk menggerutu pada
seorang dokter gila dan para pasien pendukungnya yang kini berdesak-desakan dalam bus.
Perlahan-lahan bus mulai melayang di udara yang diikuti tatapan terkejut beberapa anggota BtP
di sana. "Apa yang kamu lakukan di sini?" terdengar suara Kumar dari dalam bus berbicara
pada orang lain. "Aku ingin menjelaskan keterlambatan Alpha karena membantu regu Ghost."
Nadia" Apa yang dia lakukan di dalam sana.
"Nadia," teriakku keras. Tak berapa lama Nadia langsung mengeluarkan kepalanya
melalui pintu kaca depan bus yang membuat rambutnya tertiup angin, "Apa?"
"Kupikir hal dengan tim Ghost itu adalah rahasia."
"Ah ..." kata Nadia terdengar menyesal, "Aku hanya tidak ingin Dr. Kumar
menyalahkan Sir hingga dikira membuang waktu dengan menggoda... ku."
Aku tertawa, "Aku senang menggodamu dan biarkan saja Kumar itu, dia memang
sedikit terlalu berdedikasi ... atau gila," kataku lemah.
"Baik, Sir. " "Tolong tanyakan pada Kumar ke mana kita akan menuju?" teriakku yang sudah
menerbangkan bus lebih tinggi lagi. Untuk sesaat kepala Nadia terlihat masuk ke
dalam bus dan kemudian keluar dari jendela kaca kembali, "kata Dr. Kumar kita menuju ke
rumah sakit BtP pusat di Graceland," balas Nadia.
Sejauh itu" ~ 271 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Tapi setidaknya itu pilihan terbaik karena di dalam rumah sakit BtP terdapat
banyak alinergi penyembuh yang tangan-tangan mereka bekerja bahkan lebih mujarab daripada obat
dan alat operasi mana pun. Kabarnya mereka bahkan dapat menghidupkan orang yang sudah
mati. "Baiklah," pasang sabuk pengamanmu, kataku mencoba bercanda sambil mengingat
posisi Markas Besar BtP Graceland dan terpaksa mendesah. Mengingat aku harus melewati
gedung Bank Viginia untuk mencapainya atau juga harus terbang memutar sedikit lebih
jauh agar menghindari Kelompok Pembebas.
Aku melihat sekeliling gedung saat aku terbang semakin tinggi, melewati gedung-
gedung dan terbang jauh di atas jalanan, rasanya begitu menyenangkan. Bus bergerak menjauhi
Bank Viginia semampu mungkin, menghindari jendela-jendela mereka yang dapat
menembakkan roket peledak dan memutari mereka. Aku juga dapat melihat beberapa anggota BtP
yang memiliki kemampuan terbang sedang membawa beberapa alinergi penyerang dari atas
gedung-gedung lain untuk mencapai lantai atas Bank Viginia.
Penyerangan balasan dari BtP mungkin akan segera dimulai.
Udara yang segar berhembus di ketinggian menenangkan diriku dan bus terbang
dengan tenang tanpa ada gangguan, semuanya berjalan lancar. Aku berhasil terbang
mengelilingi Bank Viginia tanpa masalah dan telah membelakangi gedung tersebut. Tugasku kini
hanya perlu terbang lurus menuju ke arah Markas Besar BtP. Tidak akan ada masalah
lagi. Suara ledakan dan tembakan di belakangku mendadak terdengar bersahut-sahutan, tepatnya
dari daerah sekitar gedung Bank. Pertempuran berkobar yang menurutku dengan tim Ghost
dan anggota BtP bagian penyerangan yang sudah menguasai atap gedung seharusnya
pertempuran ini akan selesai dengan cepat dan tanpa masalah.
Mungkin. "Sir, Ketua Lee mengatakan ada tiga buah roket pengejar yang sedang mengarah
pada bus ini!!!!" teriak Nadia panik mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Aku
menolehkan kepalaku ke belakang yang segera terlihat ada tiga buah benda yang mengeluarkan
asap yang sedang terbang meluncur ke arah kami. Mataku melotot ke belakang untuk sesaat.
Roket pengejar" "Apa kamu yakin itu roket pengejar bukan roket yang hanya terbang lurus!"
Teriakku. "Tidak, Sir. B enda itu positif roket pengejar yang sama digunakan Kelompok
Pembebas untuk menghancurkan beberapa helikopter tempur sebelumnya," balas Nadia.
Tidak ada yang mengatakan padaku bahwa mereka memiliki roket pengejar!
~ 272 ~

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

- B L E S S E D H E A R T -
Jantungku berdenyut kencang, marah tapi tidak ada yang dapat kulakukan kecuali
segera menerbangkan bus ini secepatnya ke Graceland. Tubuhku bergetar sedikit karena
energi yang keluar dari tubuhku semakin deras juga membuat tubuhku terasa sakit. Kecepatan
terbang bus mendadak menjadi tinggi dan hembusan angin yang menerjang wajahku menjadi
semakin kuat. Roket di belakang bus terdengar terus mengejar dan bahkan semakin
mendekati bus. Kecepatanku jelas masih kalah dengannya. Tidak perduli seberapa cepat aku sudah
mengusahakannya, suara roket tersebut terdengar semakin nyaring di belakang.
Otakku kusut kembali, roket itu setidaknya mengejar panas dan jika satu saja dari ketiganya
menyentuh bus ini maka semuanya akan hancur, roket itu akan mencerai beraikan semua isi di
dalam bus. Detak jantungku mengila, lebih dari 50-an orang yang sedang berdesak-desakan di
dalam bus akan berjatuhan dari ketinggian puluhan bahkan ratusan meter ini.
Bagus dan aku yang bertanggung jawab atas nyawa mereka.
SIALAN!!!! Keringat mengucur deras disekeliling tubuhku, nafasku mulai terengah-engah, aku
baru merasakan betapa kekuatanku sudah hampir mencapai titik penghabisan setelah
terkuras dari tadi. Aku tidak beda jauh dengan orang yang baru saja habis berlari marathon
selama tiga jam penuh dan mendadak seseorang berkata, "Aku akan menembak para penonton jika kamu
tidak terus berlari!" Nafasku sudah kembang kempis dan terputus-putus, otot-otot
tanganku mulai terasa ngilu dan kaku, apalagi yang dapat kulakukan.
Srett!!! Terdengar sebuah pintu kecil di tengah atas atap bus terbuka dan
setengah badan Nadia muncul dari sana dengan rambutnya yang terurai oleh angin sambil
mengacungkan senjata api menembaki roket yang sedang mengejar di belakang. Syukurlah, aku
berharap dia dapat menembak hancur semuanya. Aku segera mengundurkan diriku dari depan bus
dan merayap mundur ke tengah atap untuk berbicara padanya, mudah-mudahan dia atau
siapa pun di bawah sana memiliki cara untuk menyelamatkan kami.
Bukankah mereka semua adalah alinergi"
Suara letusan senjata api terdengar keras membelah udara berkali-kali. Menaikkan
semangatku. Akan tetapi hingga saat terdengar suara cklik, cklik, tanda
pelurunya telah habis tidak satu pun dari roket tersebut hancur atau meledak.
Aku berharap terlalu banyak.
"Nadia, tanyakan orang-orang di dalam apakah ada dari mereka yang memiliki
kekuatan untuk membantu menghancurkan atau melindungi kita dari roket-roket itu?"
~ 273 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Dr. Kumar dari bawah langsung menjawab, "Anggota BtP yang memiliki kekuatan
menyerang masih dirawat di sana, yang berada di sini adalah kebanyakan orang
biasa atau alinergi yang terluka dan tidak banyak membantu." Aku hampir memaki jika tidak
melihat wajah Nadia. "Sir..." terdengar suara Nadia yang lirih dan penuh ketakutan
memanggilku. Bukan dirinya saja tapi juga wajah seluruh penumpang bus pun sudah berubah
pucat, termasuk diriku. "Suruh mereka semua berdoa," kataku lirih sejak mereka tidak
banyak berguna. Dan yang banyak dosa boleh melompat keluar sekarang juga.
Beberapa yang menatapku segera menjadi pucat dan beberapa mulai berdoa.
Mereka semua bagaikan ayam dalam kotak yang siap untuk dipotong dalam sekejap.
Aku bahkan sudah berpikir untuk melepaskan bus ini dan terbang pergi
menyelamatkan nyawaku. Tapi demi Tuhan aku tidak akan melakukan hal itu apalagi membiarkan bus
ini dihantam oleh tiga peluru roket di depan mataku dan terutama Nadia. Aku menatap
dirinya. Jantungku berdetak hangat.
Oh, Aku rela mati demi dirinya.
Menggigit bibir dan mengeraskan rahang satu-satunya cara menyelamatkan diri yang
kuketahui adalah dengan menambah kecepatan semaksimal mungkin. Selain itu aku
tidak memiliki jalan lagi. Suara roket terdengar melesat semakin dekat. Jika roket
meledak aku akan menyambar Nadia dan terbang menjauh, cuma itu yang sanggup kupikirkan untuk
saat ini. Mungkin aku juga tidak akan sanggup melarikan diri jika terjadi ledakan.
Aku akan mati. Lepaskan sekarang dan selamatkan nyawaku atau mati bersama
mereka. Nadia melihat padaku dengan wajah pucat dan mata yang ketakutan, tubuhnya
mengigil. "ARGGGHHHH!!!!!!!" aku berteriak. Aku akan mati bersama mereka, mati seperti
saat aku terjatuh dari jurang. Saat itu .... Suara roket sudah mulai mendekat di belakangku, kurang dari dua puluh meter dan
terus mendekat perlahan-lahan. Aku ingat melihat sepedaku yang melayang di atasku tanpa tersentuh.
Roket itu sudah mendekat hingga 12 meter. Aku harus mencoba melakukannya, tidak
ada pilihan lain lagi. "Suruh Kumar untuk menghidupkan mesin bus dan bersiap-siap
memasuki jalanan!!" teriakku pada Nadia. Aku menurunkan ketinggian bus secara tajam untuk
memasuki jalanan lurus Viginia - Graceland. Ketinggian bus langsung meluncur
turun ~ 274 ~ - B L E S S E D H E A R T -
dengan tajam membuat orang-orang di dalam bus berteriak. Kini roket-roket itu
terus mengejar dan mendekat hingga jarak lima meter ke arah bus. Semua orang di dalam
bus mulai panik ada yang menangis, berteriak dan bahkan ada yang sudah berdesak-
desakan di belakang pintu bus mencoba untuk melompat keluar dari ketinggian itu namun masih
berhasil ditahan oleh seorang perawat
Roket semakin mendekat pada jarak tiga meter.
Nadia terlihat menatap ke arahku dan aku membalas menatap lulus ke arahnya.
"Nadia," bisikku.
"Ya, Sir, " katanya dengan suara mengigil.
Aku tersenyum, "Aku bersama denganmu di pesta topeng itu. Tuan putri bertopeng
perak." Aku segera membiarkan sebuah energiku dari tengah hati menyebar ke sekelilingku,
mencoba memasukkan apa pun dari jarak sepuluh meter ke dalam energiku,
keseluruhan. Aku berdoa agar aku masih memiliki tenaga yang tersisa.
Dan berdoa semoga ini bekerja, karena aku sudah untung-untungan.
Serrrrrrrrrr...Sebuah sensasi mulai merebak keluar dari tubuhku dan seketika roket
yang sudah mendekat hingga jarak satu meter di belakang bus mulai melayang tertahan,
meski api pendorong roketnya masih hidup dan bersuara begitu keras akan tetapi roket itu
tidak bertambah dekat pada bus barang sesentipun. Orang-orang yang berada di dalam bus
merasa dialiri oleh sesuatu energi yang hangat dan ringan. Mereka semua mulai melayang
di tengah- tengah bus, seperti kehilangan gravitasi. Dua buah roket yang lain langsung
melesat memasuki energi yang menyelimuti bus dan tertahan beberapa meter dari bus
seperti roket sebelumnya, aku sudah melepaskan kedua tanganku sepenuhnya dari bus.
Diriku, Nadia dan semuanya di dalam bus termasuk bus itu mengapung di
sekelilingku. Wajah Nadia terlihat penuh ketidak percayaan dan tak lama air matanya mengalir
keluar merasa begitu lega luar biasa saat melihat tiga buah roket yang sedang
mengepulkan asap tapi tidak bergerak semakin mendekati belakang bus. Kumar menelan ludahnya berkali-
kali dan tangannya terangkat ke depan dada entah berdoa atau bersyukur. Karena dia sudah
dua kali lolos dari maut. "Aku tidak akan berbuat dosa lagi, tidak akan minum minuman
keras lagi, tidak akan mengganggu perawat-perawat lagi," bisiknya serak karena
tenggorokananya masih tercekat dan matanya terlihat basah, setidaknya ia sudah lolos dari maut dua
kali dalam satu hari. Aku menarik nafas dalam-dalam menenangkan diri namun setiap nafas rasanya begitu
berat dan tubuhku bergetar tidak mau berhenti, terasa tertekan dari semua arah. Setiap
otot tubuhku ~ 275 ~ - B L E S S E D H E A R T -
menjerit kesakitan, letih, terasa kram dan tertarik setiap uratnya. "Katakan
pada Dr. Kumar untuk bersiap-siap mengendarai busnya," aku telah melihat jalanan Viginia-
Graceland yang lurus dan kosong, perlahan-lahan bus mulai turun mendekati belasan meter dari
atas aspal jalanan. Wajahku pucat dan hidungku mulai mengeluarkan darah, aku dapat
merasakan energiku yang menyebar menyelimuti bus dan roket yang sedang meluncur terus
semakin melemah dan jarak yang ada semakin menyusut perlahan-lahan.
Dua buah roket yang tadinya terjebak oleh energiku kini terlihat telah bergerak
semakin mendekat. Bagaimanapun juga bus ini harus lari sebelum aku kehilangan semua
kekuatanku. Aku mengeraskan rahang dan terus menyalurkan energi namun kembali gelombang demi
gelombang dari dalam tubuh terasa menerjang otakku dan seluruh otot tubuhku, aku
merasa energiku terus menjadi semakin menyusut. Kesadaranku mulai tidak terfokuskan,
mataku mulai menggelap dan terasa sangat pusing, seakan-akan darahku berhenti mengalir.
Tanganku gemetar tanpa alasan, aku tidak mungkin kehilangan energi di tengah-
tengah udara dan membiarkan roket-roket sialan ini menewaskan mereka semua. Aku tidak dapat
bertahan lebih jauh lagi. Kini aku bahkan dapat merasakan darah panas mengalir keluar
dari mulut dan bahkan hidungku. Bus sudah mulai turun menyentuh aspal jalanan.
"Aku tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi," teriakku keras ke dalam bus,
"Injak gasnya!!!" Nadia terlihat ketakutan dan ikut berteriak ke bawah menyampaikan
pesanku. Wajah Kumar pucat, tangannya penuh keringat dan seketika ia memasukkan gigi
mesin bus dan menginjak gas dalam-dalam, ia ketakutan dan kembali tangannya membentuk
sesuatu di depan dada. Nadia memunculkan kembali setengah badannya dan menyadari mereka
terbang semakin rendah, energi yang tadinya menerbangkan mereka terasa semakin redup dan
tidak lagi sekental awalnya yang dapat membuat mereka ikut melayang. Aku menatap ke
arah Nadia yang sedang melihatku ketakutan, aku melayang mendekat dan menyentuh dagu
serta pipinya. Mengelus pipinya dengan jari-jariku.
"Semoga kita dapat bertemu kembali ..." kataku dan saat aku menatap matanya
dalam-dalam, tidak sanggup aku menahan diriku untuk tidak berkata, "Aku selalu mencintaimu,
tuan putri." Nadia melihat ke arahku dan berteriak, "Sir..." Mataku sudah mulai bergoyang-
goyang dan otakku tidak mampu bertahan lebih lanjut lagi karena mendadak terasa begitu
gelap dan sekaligus pusing, segumpal darah terasa menerobos dari dada dan mengumal di
dalam mulutku. Dan darah itu segera tertumpah melayang ke belakang.
"Selamat tinggal," kataku tersenyum lemah dan tubuhku terhempas ke arah belakang
bus menjauhinya. *** ~ 276 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Nadia terkejut, ia memikirkan sesuatu yang mengerikan tapi ia tidak yakin akan
apa yang ingin dilakukan pria itu. Ia segera turun dan masuk ke dalam bus, kemudian
berlari menerobos ke belakang bus, melihat Alpha sedang tepat berada di antara tiga buah
roket dan belakang bus. Bagi Kumar, kecepatan bus melaju tidak berkurang tapi jelas busnya
semakin turun, ia bersiap-siap untuk yang terburuk, ia mulai menekan gas lebih dalam
lagi yang membuat roda-roda berputar di atas angin dan mulai menaikkan gigi mesin hingga
kecepatannya memasuki 100 km meter perjam sesuai yang ditunjukan oleh jarum pada
speedometernya. Masih tidak yakin apakah kecepatan itu sudah cukup atau tidak
jika disesuaikan dengan kecepatan terbang bus. Keringatnya mengalir. Dengan sekuat
tenaga ia mulai menekan gasnya kembali, ia tidak ingin kecepatan itu lebih rendah dari
kecepatan terbang bus dan mengakibatkan bus itu akan terdorong ke belakang sesaat dan
membiarkan tiga buah roket itu menabrak belakang bus. Ia nekat menginjakkan gasnya lebih
dalam lagi, lebih baik ia memilih melesat ke depan dan menghindari apa pun di belakangnya.


Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

*** Kepalaku pusing yang membuat tubuhku seakan-akan terus berputar akan tetapi aku
masih sadar dan tahu jalanan menuju ke markas BtP, masih akan lurus sekitar lima mil
tanpa belokan, ini adalah saat yang tepat untuk melepas bus, lagipula gas buangan di
belakang bus sudah menyala sedari tadi dan suara gas semakin meraung-raung Aku tahu dokter
gila itu sudah siap dengan busnya. Aku tidak tahu bagai mana cara kerja tiga buah roket
pengejar di belakangku ini, jika mereka mendeteksi panas tubuh, semoga mereka mendeteksi
tubuhku dan menjadikanku sebagai sasaran. Kalau tidak, aku tidak akan tahu lagi
bagaimana menjauhkan roket ini dari bus. Aku dapat melihat bayangan samar Nadia memukul-
mukul kaca paling belakang, kelihatannya dia berteriak sesuatu tapi aku tidak dapat
mendengarnya lagi. Telingaku sudah berdengung panjang,
Aku merasa Nadia sedang menangis. "Tersenyumlah," kataku lirih entah didengarnya
atau tidak, "Kamu lebih cantik saat tersenyum." Aku tidak lagi dapat berpikir jernih.
Segera aku melepaskan kekuatanku pada bagian belakang bus. Seketika bus terjatuh ke aspal
dan bergoyang, kemudian roda-roda bus berdecit mengeluarkan suara nyaring segera
melesat cepat ke depan yang membuat seluruh penumpang bus merasakan guncangan yang tidak
sedikit dan terdorong keras ke belakang. Aku dapat melihat bayangan bus itu
semakin meninggalkanku dan begitu juga wajah Nadia yang semakin mengecil.
Aku akan selalu merindukannya.
Tiga buah roket masih mengikutiku pada jarak semeter di belakangku dan masih
ditahan oleh kekuatanku. Kekuatan radiusku sudah semakin mengecil, aku segera terbang tinggi
bersama roket itu menjauh dari arah bus memasuki lautan dengan kekuatan terakhirku
~ 277 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Mari kita lihat siapa lebih cepat.
Dengan sisa kekuatan terakhirku, aku terbang melesat sendirian secepat mungkin
ke arah lautan menarik ketiga roket yang sedang menembakkan api diekornya itu bersamaku
dan terus hingga aku memutuskan untuk terbang ke dalam lautan dan mendadak seluruh
pandanganku menjadi berkunang-kunang, aku tidak lagi merasakan apa-apa, tidak
lagi sadar di mana aku berada dan semuanya menjadi gelap, seolah-olah seluruh kekuatan dan
pikiranku dimatikan seketika. *** Dari kejauhan Kumar dan Nadia dapat melihat asap roket yang sudah berbelok ke
arah lain menuju ke laut menjauhi bus dan seketika di tengah lautan roket itu meluncur
turun dan meledak bersamaan menerbangkan air laut. Sebagian air laut itu bahkan terbawa
oleh angin hingga mengenai kaca bus mereka.
"Tidak!!!" teriak Nadia keras menangis. Hatinya terasa hancur, jantungnya terasa
begitu sesak seketika ia terduduk dengan tangan yang menutupi wajah dan air mata yang
mengalir. Kumar mengalihkan matanya dari laut dan melihat ke arah jalan raya, hatinya
sedih dan sakit namun ia harus tetap maju, ia harus menyelesaikan misinya yang belum selesai,
matanya basah. Nadia masih menangis keras dan seisi bus hanya terdiam, beberapa orang
kelihatannya berdoa untuk keselamatan mereka atau keselamatan jiwa penolongnya di alam sana.
Dalam beberapa menit ke depan suasana dalam bus hening hanya terdengar isak tangis
beberapa wanita termasuk Nadia. Dr. Kumar berhasil membawa bus itu ke dalam Markas BtP dengan cepat ia membuka
pintu bus, memberi perintah pada para perawat dan dokter yang sudah menunggu di sana,
dirinya sendiri langsung berlari memasuki ruangan kantornya meninggalkan beberapa
perawat dan dokter yang menerjang seisi bus dengan alat-alat kesehatan mereka. "Sir, kita
tidak memiliki heli kesehatan lagi," terdengar suara sekretarisnya dan Kumar murka memukul meja
di kantornya, ia tahu ia tidak lagi memiliki cadangan heli kesehatan karena
tertembak berkali- kali hanya dalam satu hari. Dengan cepat ia mengangkat telepon dan menekan
sebuah nomor saluran cepat, Divisi militer BtP. "Untuk mencari seseorang Sir" " Tanya sebuah
suara di ujung telepon, "Kami tidak bisa melakukannya apabila Sir tidak mengatakan
kondisinya dan wilayahnya. Apakah dia terjatuh dari heli atau ... ?"
"Ia diterjang tiga buah roket pengejar ... sialan... dan pinjamkan heli sialanmu,"
teriak Kumar marah. Suara hening di ujung telepon. "Maaf Sir jika seseorang diterjang tiga
buah roket pengejar kita tidak akan mendapatkan apa pun lagi, tubuhnya akan hancur lebur
menjadi serpihan dan tersebar ke mana-mana." Hal itu membuat hati Kumar sakit sekali, ia
seorang dokter dan tidak mungkin ia tidak mengetahui hal itu.
~ 278 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Brengsek, aku ini Dokter! Aku tahu semua itu, yang penting pinjamkan heli
sialanmu sekarang juga." Ia sudah tahu sejak awal, ia tidak akan menemukan apa pun. Ia
hanya ingin kembali ke sana dan mungkin mencari keajaiban. "Maaf, Sir heli kami tinggal satu
dan itu hanya untuk urusan yang sangat mendesak. Tut... tut ... tut...," sambungan langsung
ditutup. Kumar mengangkat gagang teleponnya dan memukulkannya sekuat tenaga ke arah badan
telepon berkali-kali hingga hancur lebur dan tangannya mengeluarkan darah. Ia
kemudian melemparkan telepon itu sendiri ke dinding ruangan membiarkannya hancur lebur,
tidak puas sampai di sana Ia melemparkan apa saja yang ada di atas meja kerjanya dan
kemudian duduk memegang kepalanya erat-erat. Tangannya yang penuh darah mengalir ke bawah, Ia
tidak berdaya melakukan apa pun lagi.
Ia telah menyebabkan sebuah nyawa melayang karena keinginannya untuk
menyelamatkan orang lain bahkan nyawa yang telah menyelamatkan dirinya. Apakah yang
dilakukannya benar" Kumar tidak mampu menjawab semua ini.
Keesokan harinya. Sebuah helikopter sedari pagi melakukan pencarian sepanjang laut dan Kumar sudah
tahu ia tidak akan menemukan apa pun di sana.
*** "Tidak biasanya Jaime tidak masuk tanpa mengabari," kata Master mencoba
menghubungi telepon genggam Jaime yang tidak aktif sama sekali. "Bagaimana dengan telepon
rumah?" tanya Madame. "Sama sekali tidak ada jawaban."
"Apakah ada yang terjadi padanya" Mungkin seseorang harus memeriksa ke rumahnya,
dia tinggal sendirian. Kalau-kalau ada terjadi sesuatu padanya."
Master mendesah, "Aku sudah menyuruh Barth dan Susan ke sana. Kata mereka
pintunya dikunci dari luar yang berarti dia belum pulang sama sekali."
"Oh, ke mana dia berada" desah Madame.
Dua hari berikutnya di saat sore menjelang, Kumar melemparkan seikat bunga ke
laut dari sisi jalan di mana mereka dapat melihat terjadinya ledakan kemarin. Di kejauhan
ia juga melihat Nadia dan seluruh regu Ghost melakukan hal yang sama. Kumar melihat
matahari yang terbit berwarna merah, hatinya sakit dan ia masih dapat mendengar suara
isak tangis Nadia di sela-sela gemuruh ombak.
~ 279 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Seperti sebelumnya juga, ia tidak mampu berbuat apa-apa.
Pintu depan rumah Jaime, masih tergembok dari luar. Tidak ada tanda-tanda
seorang pun yang kembali. *** Pada saat yang sama aku sedang menaiki sepedaku dalam perjalanan pergi ke Kafe
Eve dan melihat Kumar, Nadia dan seluruh regu Ghost di tepi pantai. Aku tidak yakin apa
yang sedang mereka lakukan semua, tapi sebaiknya aku tidak mendekati mereka. Karena
sepanjang perjalananku dari tadi terlihat banyak anggota BtP yang berdiri di
tepi laut dan menebar bunga ke laut, beberapa orang menggunakan speedboat menuju ke tengah
untuk menaburkan jenazah teman mereka yang tewas pada kejadian perampokan Bank Viginia
kemarin oleh Kelompok Pembebas dan lainnya hanya mengikuti dari tepi pantai.
Kelihatannya cukup banyak yang tewas akibat kejadian itu dengan tenang aku
mengayuh sepedaku melewati Kumar. Dokter gila itu. Berikutnya aku melewati Nadia yang sedang menangis terisak, hatiku menjadi
semakin pilu dan bersedih, entah untuk siapa ia menangis. Aku melihat Lee dan anggotanya,
bertanya- tanya dalam hati, apakah salah satu anggota mereka tewas dalam penyerangan itu"
Kakiku mengayuh sepeda dan melewati mereka. Tapi aku merasa Lee menatapku untuk waktu
yang cukup lama hingga aku menghilang dari pandangannya.
Jika ada yang kuingat dalam dua hari terakhir ini adalah aku kehilangan
kesadaran sejenak saat sedang terbang dikejar roket-roket sialan itu. Saat tersadar kembali aku
mendapati diriku sedang tercebur ke dalam lautan yang dingin dan dalam. Tepat ketika aku mencoba
berenang untuk naik ke permukaan mengambil udara, air di permukaan laut meledak dengan
cahaya kuning kemerahan mendorong aku jauh lebih ke dalam lagi.
Separuh nafas aku menelan air dan langsung berusaha sekeras mungkin untuk
berenang ke atas permukaan laut mengambil udara yang segera disambut dengan uap panas serta
hujan percikan air. Seluruh tubuhku terasa lemah dan aku membiarkan diriku terapung di
atas permukaan sejenak untuk mengambil nafas dan beristirahat.
Saat aku merasakan energiku sudah sedikit pulih aku segera terbang ke rumahku
namun karena kelelahan aku langsung masuk melalui jendela kamar di lantai dua. Segera
membuka jaket BtP dan celanaku yang basah serta jatuh terbaring di atas tempat tidur.
Selama dua hari berturut-turut aku tidak sadarkan diri hingga tiga jam lalu aku baru sadar dari
tidur dan kelaparan. Aku tidak menemukan sedikit makanan pun di kulkas sehingga terpaksa
pergi ke ~ 280 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Kafe Eve. Mungkin aku juga akan bekerja setelahnya tapi tubuhku masih terasa
lemas seperti agar-agar. Aku kelaparan. ~ 281 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Bab 16 BUKAN SIAPA-SIAPA HANYA SEORANG PENIPU Hari ketiga sudah berlalu sejak pertempuran Bank Viginia dan bekasnya masih
terlihat jelas di wajah setiap anggota BtP yang memasuki Kafe Eve. Tepatnya Bar Eve, pengunjung
yang mengkonsumsi minuman sedikit meningkat, masing-masing sedang melepaskan
kesedihan dan mengobati luka-luka tidak terlihat mereka dengan cara mereka sendiri. Luka
kehilangan sahabat, rekan atau orang- yang mereka hormati. Tidak ada yang tahu apa yang
sedang mereka ratapi kecuali diri mereka sendiri. Selama dua hari aku tidak masuk
sehingga terpaksa membiarkan Susan mengambil libur dua hari dan mengambil jam kerjanya setelah ia
menggantikanku dua hari lalu. Malam ini terasa hangat dan merupakan malamnya
bulan penuh yang menerangi malam hari dengan cahayanya. Tidak banyak yang dapat
kukerjakan kecuali bekerja di bar, memberikan minuman dan mendengarkan beberapa keluhan,
tampaknya Masterlah yang kebagian peran mendengarkan keluhan itu dan duduk
bersama para tamu, menghibur tamu-tamu yang lebih muda. Sedangkan aku hanya menjaga agar
para tamu tidak kekurangan minuman yang dapat meredakan kesedihan hati mereka. Tepat
pukul 20.00 lewat sedikit seorang tamu yang tidak biasa memasuki bar, wajah yang pucat
dan bola mata merah habis menangis.


Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nadia. ~ 282 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Aku menatapnya dan seluruh bahasa tubuhnya memancarkan kesedihan, tidak jelas
apakah Nadia juga kehilangan rekan, sahabatnya atau mungkin juga salah satu anggota
regu Ghost sejak mereka berada pada garis paling depan dan aku melihatnya menangis bersama
anggota regu kemarin. Mungkin ini pertama kalinya ia mengikuti misi sebenarnya dan
melihat orang yang dikenalnya terluka atau meninggal untuk pertama kalinya. Jelas hatiku
terasa ikut bersedih melihatnya dalam keadaan seperti ini. Nadia perlahan duduk tepat
dikursi kosong bar di depanku, "Ingin minum sesuatu?" tanyaku selembut mungkin mencoba mengurangi kesedihannya
dengan kata-kataku. Nadia menaikkan wajahnya menatapku dengan kedua bola matanya
yang gelap dan indah. Jantungku berdetak kencang.
*** Nadia menatap Jaime, merasa Jaime begitu mirip dengan orang itu, tapi orang itu
jelas bukan Jaime karena ia sudah... sudah... mengingat hingga ke saat itu, air mata Nadia
kembali mengalir sambil menatap ke arah Jaime.
*** Aku terkejut melihat air matanya yang mendadak mengalir dan ia memandangku
dengan cara yang dapat meledakan hatiku. Membuatku ingin melakukan apa pun juga bahkan
mengorbankan nyawaku asalkan dapat membuatnya tersenyum. Entah bagaimana terasa
hati kami menyatu dalam sebuah perasaan yang terasa indah, kembali seolah-olah di
seluruh tempat ini hanya ada kami berdua. Tanpa sadar tanganku terulur menyentuh pipinya
dan dengan ibu jariku mengelus lembut air matanya di pipinya selembut mungkin.
"Tersenyumlah, kamu terlihat cantik jika sedang tersenyum," bisikku. Nadia
menatapku seperti tersihir tidak bergerak, mendadak aku merasa sedang diperhatikan dan
melihat Master sedang melihat ke arahku.
Sialan apa yang kukerjakan, ini masih waktunya kerja.
Dengan malu dan wajah memerah aku menunduk segera menarik tanganku serta
berbisik, "Adakah minuman yang kamu inginkan?" bisikku lirih dengan hati yang berdebar
keras sambil meletakkan sebuah tempat tisu di depannya.
Apa yang telah merasukiku"
Nadia menarik keluar selembar tisu dan menghapus air matanya, "Pilihkan minuman
yang tidak terlalu berat untukku," jawabnya lirih.
~ 283 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Nona," Aku hendak protes mengingat dirinya yang belum cukup umur tapi saat itu
Nadia sudah menyodorkan lisensi BtP-nya yang menunjukkan tanggal lahirnya. sepuluh
maret, tepat 18 tahun, pada hari ini. Hari ulang tahunnya"
"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu," tanganku mulai bergerak dengan ringan
dan elegan membuat sebuah minuman yang mungkin cocok untuk Nadia di saat seperti
ini. Membuatnya dengan sepenuh hatiku. Ia melihatku mencampur beberapa jenis minuman
berwarna biru, kuning dan putih serta mulai mengaduknya.
"Eve Drop," kataku meletakkan minuman biru dan kuning keemasan itu di depan
Nadia, minuman yang manis dengan kadar alkohol ringan dan warna biru lembut dengan
keemasan di atasnya. Eve drop adalah minuman buatan Master yang menjadi juara terfavorit
pada kejuaraan bartender internasional tiga puluh tahun lalu. Rasanya sangat lembut
dan terasa seperti menyesap sendiri pada lidah dan memasuki tenggorokan. Minuman yang
memberikan kedamaian dan ketenangan. Aku melihatnya menyentuh minuman itu dan menyesapnya
sedikit. Menatap jari jemarinya yang kecil dan wajahnya yang pucat, aku hampir
lupa betapa lemahnya makhluk yang bernama wanita terutama saat diterjang badai kesedihan.
Kehidupanku yang lebih banyak dihabiskan di desa membuatku melihat kehidupan
yang sedikit lebih keras. Di mana semua orang bekerja keras dan memiliki tubuh yang
besar, bahkan wanita-wanita di sana kebanyakan adalah wanita-wanita perkasa yang bisa
dengan mudah mengangkat karung beras puluhan kilo tanpa masalah. Wanita yang akan
memukul, meninju dan menendang jika mereka merasa di sakiti. Sedangkan di kota ini aku
hanya tinggal di Graceland dan berkenalan dengan begitu sedikit orang, kecuali para
pelanggan dan yang berhubungan dengan pekerjaan, aku tidak memiliki seorang temanpun lain
selain Michelle. Dan Michelle adalah wanita perkasa sedangkan Nadia, aku tidak tahu.
Dia terlihat begitu lemah dan aku begitu ingin melindunginya.
"Nona, aku akan dengan senang hati mendengarkanmu, jika kamu ingin berbagi," aku
mengambil inisiatif untuk memulai sejak Nadia kelihatan diam tidak melakukan apa
pun kecuali menyesap dan menatap eve dropnya. Lagu-lagu sendu bar terdengar membuai
dengan irama membuai. *** Nadia melihat ke dalam minumannya dan perlahan menegaknya, terasa hangat dan
lembut memasuki tubuhnya tanpa ada rasa yang terlalu kuat. Minuman itu hampir terasa
meleleh dalam lidahnya dan meluncur masuk tenggorokannya begitu lembut. Ia mencoba
menghembuskan nafasnya dalam-dalam seolah-olah kesedihannya tertolak keluar saat
cairan ~ 284 ~ - B L E S S E D H E A R T -
hangat itu meluncur masuk ke dalam tubuhnya. Meski ia merasa sebagian dari
dirinya merasa tidak pantas untuk membuang semua kesedihan itu dan mendapatkan ketenangan
setelah ia kehilangan seseorang. Entah bagaimana suara musik mulai terdengar mengalun di
telinganya, meski sebenarnya musik itu sudah menyala sedari tadi tapi kini ia dapat
merasakan dirinya menjadi semakin tenang. Apakah itu pengaruh minuman atau pengaruh ... Nadia
menatap ke arah Jaime dan entah bagaimana menatapnya terasa meringankan dirinya.
*** Aku mulai mengerjakan pesanan minuman lain dan kemudian sesering mungkin kembali
ke meja bar di hadapan Nadia, mencoba menemaninya tanpa terlihat terlalu memaksa.
Tak berapa lama kemudian semua pesanan tamu sudah dilayani dan aku mencoba berada di
jarak yang nyaman dengan Nadia sambil mencoba menyibukkan diri mengeringkan gelas-
gelas koktail yang baru dibersihkan. Sebagai bartender, aku sudah bertemu dengan
ratusan bahkan mungkin ribuan orang dan sudah melihat berbagai macam cara orang mabuk, orang
yang kesepian dan juga orang yang ingin berbuat gila. Aku menatap Nadia yang hanya
menikmati minuman sambil tetap diam melihat ke arah gelasnya. Kelihatannya Nadia bukanlah
tipe orang yang akan langsung membuka hatinya pada orang lain. Mungkin aku harus
memulai membuka pembicaraan. "Apakah ia orang yang baik?" tanyaku. Pertanyaan yang umum karena sejak
terjadinya insiden itu hampir semua orang sedih karena teman mereka yang terluka atau
meninggal. Tidak ada orang yang menangisi orang jahat.
*** Nadia mendengar pertanyaan itu, terdiam menatap sang bartender. Melihat mata
lembut Jaime yang membuatnya ingin berbagi kesedihan namun ia hanya menggangguk dengan
hati yang semakin sakit. *** "Apakah kamu menyukainya?" Aku hanya sekedar basa-basi karena kembali aku tahu,
tidak ada orang yang akan menangis untuk seseorang yang dibencinya. Air mata Nadia
kembali menetes ke bawah dan aku segera mengulurkan tisu ke arahnya.
*** Nadia merasa perasaannya begitu sakit karena menahan kepedihan di hati, ia
mendengar Jaime berkata "Ceritakanlah, mungkin itu akan sedikit memudahkanmu?" setiap
kata-kata itu terdengar begitu lembut mengelus beban di hati.
~ 285 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Ia orang yang baik," bisik Nadia.
"..." "Aku menyukainya," kata Nadia dan terisak menangis memegang dadanya yang sakit.
*** Aku merasa sedih namun hanya bisa diam membiarkan Nadia melanjutkannya, aku
tidak tahu siapa yang diceritakan oleh Nadia. Mungkin saja gurunya, seniornya atau
temannya, sejak banyak anggota BtP yang terluka, pensiun terpaksa karena cacat dan beberapa
harus tewas. Nadia menghabiskan isi gelasnya dengan cepat dan melanjutkan, "Aku tidak percaya
ia sudah ... sudah..." Air matanya menetes kembali dan aku segera menambahkan
minumannya yang kedua. "Aku turut berduka," kataku ikut prihatin, "Tidak mudah menerima kehilangan
orang yang kita sayangi namun kematian selalu tidak berperasaan mengambilnya begitu saja."
Aku menatap Nadia yang kebetulan sedang menatapku juga. Matanya, wajahnya, bibirnya
dan semuanya menghangatkan hatiku. Sesaat berikutnya sebuah perasaan kembali
terjalin begitu saja di antara kami. Aku tidak tahu. Pada saat yang sama Master meminta beberapa minuman untuk dibuatkan dan aku
segera meninggalkan Nadia. Sekembalinya aku melayani, aku melihat wajah Nadia sudah
merah dan matanya mulai menunjukkan gejala mabuk.
"Secepat itu?" Eve Drop meski dua gelas bukanlah jenis minuman yang akan memabukkan orang
normal karena kadarnya yang sangat rendah. Aku menatap Nadia yang kelihatannya sudah
cukup mabuk. Orang yang mabuk cenderung memiliki banyak kesamaan yaitu pikiran logis
mereka akan melemah untuk menahan perasaan atau perkataan apa pun yang secara normal
tidak akan mereka bicarakan. Mereka akan lebih cenderung mengeluarkan emosi yang
menekan di hati mereka tanpa melewati pertimbangan otak lagi. Bagi para bartender, mereka
memiliki dua pilihan yaitu diam dan tidak membicarakan apa pun yang memancing emosi
pemabuk sehingga pemabuknya akan diam dan duduk tenang dalam mabuk atau mereka dapat
sengaja memancing beberapa emosi dominan maka kata-kata akan meluncur keluar tanpa dapat
dibendung kembali, orang mabuk itu cenderung jujur.
Aku melihat Nadia sudah tenang dalam mabuknya dan memang bagi bartender adalah
tidak sopan untuk memancing apa pun keluar dari pelanggan yang mabuk sehingga aku
hanya mendiamkannya saja. Siap menjadi pendengar yang baik jika dibutuhkan, karena
orang ~ 286 ~ - B L E S S E D H E A R T -
mabuk juga dapat marah dan berbuat keributan apabila tidak didengarkan. Untuk
Nadia, aku akan membuka telinga dua kali lebih lebar untuk setiap informasi yang diberikan
olehnya. "Tahukah kamu kalau kamu itu sangat mirip dengannya?" mata Nadia mabuk namun
terlihat bersinar menatapku. Aku tersenyum membalas, "Tentunya dia tampan."
"Hehehe.... " Nadia tersenyum sedikit, "Aku tidak tahu, pada awalnya kupikir dia
itu kamu..." Nadia menegak minumannya dan mengosongkan gelasnya, "Tambah..." bisiknya
lirih... dan kepalanya mulai terkulai ditopang oleh tangannya dengan wajah
memerah. Aku tidak memiliki hak untuk menolak setiap gelas yang diminta oleh pelanggan selama
mereka membayar dan semua anggota BtP dapat membayar minuman mereka. Eve Drop
berikutnya segera tiba dan tangannya bermain-main dengan bibir gelas dengan mata menatap
sendu pada minuman. "Dia lelaki yang sangat kuat, ia bisa mengalahkan seniorku dalam
sekejap...." Aku menelan ludah dan mengeringkan beberapa gelas.
Anggota BtP senior Nadia.
"Dia bisa terbang dengan cepat... Bahkan bisa membawa 20 orang sekaligus. Kamu
tahu....

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketua Lee sampai terkagum-kagum." Karena satu atau dua hal Nadia tersenyum
merasa ikut bahagia mengatakan semua itu. "Dominan, receive, tyrant, sinkroisasi, tyrant
sinkronisasi... Semua dapat dilakukan olehnya," tambah Nadia.
Jantungku berdetak keras kini merasa yakin kalau Nadia bercerita tentang diriku
yang menyamar, membuat hati bergejolak senang dan bahagia karena dipikirkan olehnya.
Oh siapa makhluk di dunia ini yang tidak akan senang diperhatikan orang yang
dicintai mereka. "Tapi ia sudah meninggal..." bisik Nadia dan terisak
Alisku mengerut. Jangan membunuhku secepat itu.
"Apakah sungguh ia telah meninggal?" tanyaku meragukan hal itu. Sangat
meragukan. Nadia tertarik akan pertanyaan itu dan menegakkan kepalanya, ia meneguk
minumannya kemudian setengah terisak melanjutkan, "Ia menolong kami dengan mengorbankan
dirinya sebagai sasaran roket... Ia menjadi sasaran tiga buah roket pengejar."
Aku menelan ludah lagi, mengingat-ingat... kabur dari bus dengan roket, mendadak
semuanya menjadi gelap, kemungkinan besar aku jatuh tercebur ke dalam laut dan
roketnya mungkin meledak setelah menghantam permukaan laut di mana aku terdorong ke dalam
air ~ 287 ~ - B L E S S E D H E A R T -
tanpa terluka. Setelah itu aku pulang ke rumah, tidur dan bangun dalam keadaan
lapar dengan tubuh seperti di tabrak kereta api. "Menurutku dia tidak akan semudah itu
meninggal," tambahku yang merasa tidak nyaman telah membuat Nadia menangis dan bersedih,
apalagi di hari ulang tahunnya. Meski demikian aku merasa tersentuh dan semakin
menyayanginya. Nadia menatap ke arahku dengan mata bulatnya dan kemudian kepalanya menunduk
dalam- dalam sambil menggenggam Eve Drop. "Kuharap demikian..." bisik Nadia lirih "Dr.
Kumar juga berharap demikian... Ketua Lee juga.."
"Dokter Kumar?" kataku tanpa sadar, ternyata Dokter gila itu memikirkanku.
"Iya, dia menyalahkan dirinya karena menyebabkan pria itu meninggal setelah pria
itu menolong dirinya," Nadia menatap gelasnya,"Ia terus-terusan mabuk dan
menyalahkan dirinya beberapa hari ini." Nadia menegakkan kepalanya dan menyesap minumannya,
"Kamu tahu apa katanya ?" ia menatapku.
Aku menggelengkan kepalaku, tidak mungkin aku mengetahuinya.
"Andai aku tidak menyuruhnya kembali... andai aku langsung menuju rumah sakit
setelah diselamatkan... Kamu tahu," Mata Nadia membesar seketika, "Bayangkan saja, Alpha
menyelamatkan Kumar dari Heli yang jatuh."
Dengan mood yang tiba-tiba menjadi bagus binar mata Nadia bersinar dan malah
bercerita dengan semangat, "Katanya heli itu berputar-putar kemudian pria itu terbang
menyelamatkannya dan setelah semuanya selamat heli itu meledak... BOOMM... hehehe...
Pria itu begitu hebat..." Kata Nadia yang sekarang kepalanya terbenam dalam kedua
tangannya di atas meja bar.
Ia terisak menangis. "Baiklah," kataku merasa sedikit bangga juga sedikit meragukan apa aku sehebat
itu" Dan Kumar bukankah dia seorang dokter yang terbiasa menghadapai kematian"
"Tapi dia sudah meninggal..." tambah Nadia sambil menangis kembali.
Wow, aku tidak menyangka akan memberikan efek sebesar ini. Aku juga tidak
memiliki niat untuk melapor pada Kumar atau Nadia bukankah aku hanya kebetulan lewat.
Tidak bisakah mereka melupakanku begitu saja. Meski jika mereka melakukannya aku
akan sedikit marah tapi aku akan lebih marah jika mereka bersedih seperti ini.
"Kamu tahu?" Kepala Nadia kembali naik menatap ke arahku, "Dr. Kumar berusaha
menghubungi bagian intelijen dan...dan...."
~ 288 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Dan.." tambahku cemas.
"Mereka mengusir Kumar dan mengatakan tidak ada pria itu sama sekali... mereka
benar- benar tak berhati," maki Nadia.
Mereka mengerjakan tugas mereka dengan benar pikirku, mereka tidak akan pernah
mengetahui diriku. "Kak Michelle tentu saja bersedih sekarang?"
"Michelle?" tanyaku yang tidak mengetahui apa hubungannya.
"Pria itu teman baik kak Michelle lho..." Kata Nadia mencoba menerangkan dalam
mabuknya membuatnya kelihatan lucu, "Kak Michelle tentu sekarang sedang
menangis." Aku teringat Michelle sedang berlibur ke luar negeri bersama pacarnya untuk
bersenang- senang dan jelas sekarang ia sedang jauh dari kata menangis atau sedih. "Aku ...
aku...," kata Nadia tergagap dan tertunduk seperti malu, "Aku ingin menangis bersama Kak
Michelle, mungkin dia mau menceritakan lebih banyak tentang pria itu yang tidak aku
ketahui." Nadia terisak, "Aku ingin tahu tentangnya."
Aku menelan ludah, bisa berbahaya jika mereka berdua bertemu, "Kurasa sebaiknya
jangan." Nadia memandang penuh tanya padaku, "Mengapa tidak?"
Jantungku berdebar keras, mungkin aku telah berbicara terlalu banyak. Aku harus
mencari sebuah jawaban untuk itu. "Karena ini hari ulang tahunmu," kataku gugup, mencoba
mencocokkan apa saja yang terbersit dalam pikiranku.
"Hari ulang tahunku?" kata Nadia yang seperti baru menyadarinya dengan versi
mabuknya, "Jadi apa yang harus aku lakukan?" Ia kelihatan gelisah harus melakukan sesuatu.
Tidak ada! Dasar orang mabuk.
Tapi Nadia menatapku seperti seorang gadis kecil yang mengatakan Santa akan
datang dan memberinya hadiah ulang tahun jika ia melakukan sesuatu. Aku menghela nafas dan
tanganku segera bergerak lembut mengangkat sebuah gelas bulat mungil. Menuangkan
beberapa minuman yang berwarna warni ke dalamnya dan kemudian menyalakan api di
atasnya. Segera sebuah api biru lembut bergoyang-goyang menyala dan aku
meletakkannya di depan Nadia. "Mungkin kamu bisa mengucapkan permohonan ulang tahunmu untuk
bertemu dengannya lagi."
Mata Nadia hanya tertuju pada api yang menyala di depannya kemudian menutup
matanya, merapatkan kedua tangannya dan mulai berdoa atau mengucapkan sesuatu yang jelas
membuatku melihat setitik air yang menggantung di sudut matanya. Api dihembuskan
~ 289 ~ - B L E S S E D H E A R T -
olehnya secepat ia membuka mata dengan wajah penuh harap dan pipi yang merah.
Dengan bodoh Nadia menatapku, "Apakah ia akan menemuiku nanti?"
Aku tersenyum menatap Nadia. "Tentu saja," kataku menyakinkan.
Jika dia dapat menerobos ke dalam kamarmu, mencurimu di bawah kamera pengawasan
BtP dan segudang alat pengaman mereka. Itu pun dengan catatan pria malang itu
mengetahui letak kamarmu. Tentu tidak!!! Bodoh!!! Dasar Pemabuk.
Detik itu Jaime bersumpah ia melihat Nadia tersenyum begitu manis dan cantik,
sebelum ia jatuh tertidur di sana. Aku hanya dapat menghela nafas.
"Kadang kupikir kamu bisa jadi penakluk wanita yang hebat." Aku segera melihat
ke samping di mana Master sedang melihatku sambil tersenyum dengan rambutnya yang
memutih dan kemudian ia menatap Nadia, "Kelihatannya ia menghadapi hari yang
buruk." "Tampaknya begitu."
Master kemudian menatap ke sekeliling dan berkata, "Hari yang buruk bagi banyak
orang." Mau tidak mau aku harus mengakuinya juga. "Jaime kamu sudah boleh pulang."
Aku menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 11.00. Tidak terasa waktu berlalu
begitu cepat, aku menatap sekeliling dan masih begitu banyak orang mabuk di sana, "Tapi
Master masih banyak tamu." "Sudahlah, mereka mungkin tidak akan pulang sama sekali," kata Master memaklumi
hal itu dan menarik keluar sebuah kunci dari laci bawah dan memberikannya padaku.
Tepatnya sebuah kunci mobil. "Kamu boleh mengembalikannya besok pagi."
"Untuk apa, Master?" tanyaku tidak mengerti.
Master menunjuk pada Nadia yang tertidur, "Setidaknya kamu harus menyelesaikan
tugas terakhirmu, antarkan dia sampai asrama BtP."
Aku menatap Master seketika dan menghembuskan nafas, "Baiklah."
"Dan jangan berbuat macam macam pada tuan putri itu," kedip mata Master sebelah
sambil tersenyum. Aku hanya dapat meringis.
*** ~ 290 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Trett... trett... trettt....." Telepon genggam Nadia bergetar dan kemudian
melantunkan sebuah lagu lembut. Tangan Nadia terlihat berusaha menggapai telepon genggamnya
di kantung baju dan mengeluarkan telepon genggamnya, "Halo, Nadia di sini ...."
"Nadia, di mana kamu sekarang?" terdengar sebuah suara dari ujung telepon
"Aku" Di sini," kata Nadia.
"Bukan itu, di mana kamu berada sekarang ini." Nadia masih setengah tidur dengan
mata terpejam dan setengah mabuk, "Kafe Eve, kupikir."
"Aku sudah menelepon kafe itu dan katanya kamu sudah diantar pulang, jadi di
mana kamu sekarang?" "Aku tidak tahu," kata Nadia malas.
"Apakah kamu sedang melayang di atas lautan dengan kekasih idamanmu itu?" tanya
Gris. "Hahaha, Gris... apa kamu mengambarku seperti itu?"
"Iya!" kata Gris di ujung telepon, "Jadi di mana kamu?"
"Aku?" Mata Nadia kemudian membuka melihat ke sekeliling dan menemukan bulan
yang bersinar begitu terang di depannya di samping langit yang penuh bintang. Saat
itu udara hangat menerjangnya dan membuat bajunya sedikit berkibar serta di bawahnya
terdengar suara lembut gemuruh laut. Seketika ia baru sadar seseorang sedang di sampingnya
dan menggendongnya. "Anda sudah bangun tuan putri?"
Seorang pria yang memakai topeng hitam menatapnya. Nadia terdiam membiarkan
teleponnya terjatuh di tengah dadanya di mana Gris masih berteriak-teriak di
ujungnya. "..." "Kupikir kamu mencariku?" Kata pria itu sambil menatap Nadia sedangkan Nadia
sendiri masih menatapnya. *** "Apa aku bermimpi?" tanya Nadia sambil menggerakkan telapak tangannya ke arah
dadaku, menyentuh kehangatan tubuhku dan menempelkan telinganya pada dadaku,
mendengarkan suara detak jantung. ~ 291 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Menurutku kamu tidak sedang bermimpi, kamu hanya sedang mabuk," kataku lembut
menyentuh keningnya dan menyingkirkan rambutnya yang tertiup angin. Sebuah
kelembutan mendadak menyelimuti kami dan semuanya terasa lembut, enak ringan dan manis.
Nadia menutup matanya menikmati elusan tangan itu dan mendengarkan detak
jantungku yang berdetak begitu kuat, "Kamu masih hidup?" bisik Nadia.
Aku menatap wajah Nadia yang cantik, bibirnya yang tersenyum lembut dan berwarna
merah muda, rambutnya yang terurai oleh udara hangat, kulitnya yang pucat di bawah
sinar rembulan yang begitu terang, tubuhnya yang hangat dalam pangkuanku, aroma
tubuhnya yang memabukkan, semua itu memabukkan jiwaku. "Aku tidak akan mati sebelum dapat
menikahimu tuan putri." Tenggorokanku tercekat setelah kata-kata itu keluar,
mungkin aku hanya bercanda akan tetapi aku tidak menyangka kontrol diriku dapat hilang
begitu saja dan tersihir untuk mengatakan apa yang dalam hatiku.
Aku akan membuat dirinya ketakutan, karena aku juga ketakutan setelah
mengucapkannya. Berlainan dengan yang kukira, Nadia tersenyum manis sekali masih sambil menutup
matanya, kedua tangannya menyelinap ke punggungku dan memelukku begitu rapat. "Kalau
begitu jangan nikahi aku, karena kamu akan mati nantinya," kata Nadia sambil
membenamkan dirinya lebih dalam ke dalam pelukanku. Aku gemetar dan tersentuh. Kedua
tanganku segera memeluknya lembut sambil mengelus kepalanya. Aku membiarkan tubuh kami terbang
lembut mengikuti angin yang mengalir. Tubuh Nadia terasa hangat dan bahkan panas
di dalam pelukanku. Segera aku menyadari sepenuhnya bahwa Nadia masih mabuk.
"Tapi aku tidak akan sanggup hidup jika tidak dapat memilikimu, tuan putri,"
jawabku jujur. "Engkau sudah mencuri hatiku sejak pertama kali kita bertemu dan menyiksaku
terus menerus dalam bayang dan mimpiku," aku memeluknya lebih erat lagi, "Aku
merindukanmu dan mencintaimu dengan sepenuh jiwa dan ragaku." Kataku jujur meski itu semua
terasa indah juga sakit, karena aku tahu, ia sedang mabuk dan apa pun yang kukatakan di
sini, tidak

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

akan diingat olehnya saat ia terbangun nanti.
"Kamu bohong," balas Nadia. Sedikit banyak aku terkaget juga, "Mengapa aku harus
berbohong?" tambahku.
Meski aku tahu ada begitu banyak kebohongan dalam diriku namun aku tidak
berbohong tentang perasaanku padanya.
"Jika kamu mencintaiku maka nikahilah aku dan aku akan menjagamu," kata Nadia
yang bahkan semakin merapatkan pelukannya. Aku begitu tersentuh oleh kata-kata itu,
rasa haru memasuki diriku dan kemudian rasa sakit. Aku sadar aku menginginkan semua ini
terjadi tapi ~ 292 ~ - B L E S S E D H E A R T -
aku bukanlah siapa-siapa, aku bukan anggota BtP yang mungkin seperti dipikir
oleh dirinya, aku adalah kebohongan. Sebuah kebohongan tidak akan membawaku ke mana pun. Karena aku percaya tidak
akan ada hal baik yang akan tumbuh dari bibit kebohongan.
"Nadia," bisikku lembut di sisi telinganya, bahkan memanggil namanya saja hatiku
sudah bergetar. Nadia menggerakkan kepalanya dalam dadaku. Air mataku hampir menetes
turun dengan hati yang sakit dan perhitungan yang matang aku tahu apa yang harus aku
lakukan selanjutnya. "Maukah kamu melupakanku?"
"...." Nadia mendengar kata itu dan tergetar, kemudian ia memaksa untuk melepaskan
pelukanku serta langsung menamparku. Aku dapat melihat air matanya dan bola
matanya yang terluka. "Kamu," kata Nadia sudah berlinang air mata menunjuk padaku,
"Setelah apa yang kamu lakukan padaku, setelah aku mencarimu, setelah aku begitu
mencintaimu ...." Ia
terisak.. "Setelah kamu mengatakan mencintaiku ... mengapa kamu tega menyuruhku
melupakanmu!" teriak Nadia memukul dadaku dan kepalanya menyentuh dadaku sambil
menangis, "Apa yang kamu inginkan dariku, mengapa kamu menyakitiku begitu rupa?"
Hatiku juga terasa begitu sakit. Tanpa daya aku langsung memeluknya begitu erat,
hatiku begitu sedih, aku begitu ingin jujur dan terbuka padanya.
Aku mencintainya... Sepenuh hatiku.
Tapi apalah aku ini, seorang pelayan... Aku membenci diriku. Aku mengelus lembut
rambutnya, aroma harum rambutnya, tubuhnya yang hangat dan semuanya membuatku
menginginkannya lebih dari apa pun juga.
"Akankah kamu menikahiku?" tanya Nadia dalam pelukanku.
Aku menyesal sudah mengucapkan kata-kata itu. Sungguh menyesal karena aku benar-
benar menginginkannya hingga terasa sesak namun aku tidak berdaya untuk melakukannya.
Aku tidak memiliki apa pun juga untuk ditawarkan dan sekarang ini hanya kebohongan
yang kumiliki, "Nadia, saat ini aku mencintaimu sepenuh hatiku, tapi aku tidak
berdaya dengan semua kondisi yang sedang kuhadapi. Aku hanya dapat membohongimu terus menerus."
"Aku tak perduli," balas Nadia hampir menangis, "Aku mencintaimu dan aku tidak
akan melepaskanmu." Jika kata-kata itu langsung ditujukan padaku, mungkin aku akan
sudah memasuki surga tingkat ke tujuh karena kebahagiaan ini. Tapi kepada siapakah
kata itu ditujukan" Seorang bertopeng di pesta BtP" Seorang anggota BtP yang
menyelamatkan bus pasien" Seorang anggota BtP"
Demi Tuhan, aku bukanlah orang itu.
~ 293 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Kata-kata itu jelas ditujukan pada kebohongan dan topeng yang kubuat, orang yang
tak kukenal, mimpi yang ingin kugapai. "Nadia, maukah kamu memberiku waktu untuk
menyelesaikan semua masalahku hingga akhirnya nanti aku akan muncul ke hadapanmu
tanpa kebohongan apa pun juga, saat itu aku akan melakukan apa pun juga untuk
membuktikan perasaanku padamu?"
"Tidak, aku mau kamu mencintaiku sekarang dan menikahiku sekarang," protes Nadia
sambil tetap memelukku rapat-rapat. Aku tersenyum, dari kata-kata itu aku tahu sudah
seberapa mabuknya Nadia meski demikian air mataku mengalir juga, "Maafkan aku, Nadia."
"Jangan katakan itu, aku mau kamu melamarku sekarang. Kumohon jangan sakiti
aku," protes Nadia tapi dari suaranya aku tahu Nadia sudah di ambang batas, hanya
beberapa saat lagi ia akan segera tertidur kembali. "Nadia," kataku menyentuh pipinya dan
mengecup ringan bibirnya dengan sepenuh hati. Semuanya begitu indah dan sempurna, aku
ingin selamanya seperti ini tapi aku tahu itu tidak mungkin. Nadia terlihat meneteskan
air mata dan tertidur karena mabuk. "Nadia," bisikku lirih, "Jika ada satu kejujuran saja yang aku miliki sekarang
maka itu adalah aku sungguh mencintaimu, sepenuh hatiku." Nadia sudah tertidur dan aku hanya
dapat berdoa, "Semoga takdir tidak terlalu kejam pada kita," tambahku sambil mengecup dahinya.
Semoga Tuhan akan memudahkan jalanku padanya.
Aku menatap telepon genggam Nadia yang melayang sedari tadi, mengambilnya dan
mengirimkan sebuah pesan singkat pada nomor yang bertuliskan Gris.
"Mohon jemput Nadia di depan asrama sekarang."
... Tidak berapa lama kemudian Gris dan Angelina keluar dari depan pintu asrama BtP
dan aku menurunkan Nadia dari atas tanpa memperlihatkan diriku. Ketika Gris sudah
memapah Nadia, aku melepaskan kekuatanku dan berlalu begitu saja. Tugas berikutnya adalah
kembali ke rumahku, membuka LXX dan mencari alamat Dr. Kumar dan nomor telepon seseorang.
Keesokan harinya di atas teras apartemen milik Dr. Kumar yang tepat di lantai
lima terlihat dia sedang tertidur sambil tersenyum di atas lantai dengan sebuah surat di atas
tangannya dari seseorang bernama Alpha. Di lain tempat Ketua Lee menerima sebuah pesan singkat pada telepon genggamnya
dari nomor tidak terdaftar dan setelah membacanya Ketua Lee tertawa, "Dia selalu
dapat mengejutkanku." ~ 294 ~ - B L E S S E D H E A R T -
*** Nadia terbangun keesokan harinya di dalam kamarnya sendiri, Ia tidak begitu
ingat bagaimana ia dapat sampai pada kamarnya. Tubuhnya tidak sakit atau terkena
hangover, ia malah merasa tubuhnya ringan dan kesedihannya berkurang drastis, ia mencoba
mengingat kejadian kemarin. Tidak begitu jelas tapi ia merasa bermimpi tentang pria
bertopeng itu. Sebuah senyum muncul di bibirnya, ia menatap jam dinding dan segera memasuki
kamar mandi, menghidupkan shower air panasnya, membasuh diri, berganti pakaian dan
menuju ke kantin asrama untuk sarapan dengan suasana hati yang gembira. Ia mengambil
beberapa potong roti, telur dan susu kemudian melihat sekeliling untuk mencari Gris atau
Angelina yang sama sekali tidak terlihat. Ia duduk sendiri memandang sarapannya kemudian
teringat mimpinya kemarin yang langsung membuat wajahnya menjadi merah, ia tidak
menyangka ia akan bermimpi seperti itu, apalagi seagresif itu.
"Srttt..." Sebuah kertas gambar muncul di depan mejanya, Nadia menatap seseorang
di depannya yang menyodorkan kertas itu. "Gris.." teriaknya lembut dan kemudian
menatap Angelina di samping Gris, keduanya sambil tersenyum kecil, "Apa ini?"
"Lihatlah sendiri," balas Gris sambil duduk di depan Nadia. Nadia cukup memahami
betapa Gris berbakat dalam melukis, di dalam lukisan itu terlihat sepasang pria dan
wanita yang sedang terbang dilangit malam dengan bulan dan bintang bertaburan di latar
mereka yang indah. "Wow, lukisanmu bagus," kata Nadia membuatnya teringat mimpinya yang kemarin,
"Siapa?" Tanya Nadia karena biasanya Gris hanya mengambar orang-orang yang ia kenal yang
tentu saja sebagian besar dikenal oleh Nadia atau Angelina sendiri.
"Kamu," kata Gris dan Angelina serentak sambil menyengir. Nadia mengambil
kembali lukisan itu dan menatapnya sekali lagi, ia ingat ia memang bermimpi seperti itu.
"Ayolah Nad, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi"
"Hah?" Nadia memasang muka bingung. Gris tersenyum pada Angelina yang membuat
Angelina mengeluarkan telepon genggamnya dan memutar tepat di bagian Mp3nya.
Menyerahkan sebuah earphone nya pada Nadia dan membiarkan yang satu lagi di
pegang oleh Gris dan Angelina secara bersamaan mendengarkan sambil tertawa kecil...
"Anda sudah bangun tuan putri?"
Suara pria itu..." "Kupikir kamu mencariku?" ...
~ 295 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Apakah aku bermimpi?"
"Menurutku kamu tidak sedang bermimpi, kamu hanya sedang mabuk"
Nadia mengingat setiap kata-kata itu kembali.
"Kamu masih hidup?"
"Aku tidak akan mati sebelum dapat menikahimu tuan putri."
"Kalau begitu jangan nikahi aku, karena kamu akan mati nantinya"
Dan seterusnya persis seperti yang diingat oleh Nadia hingga pada akhirnya.
"Jika ada satu kejujuran saja yang aku miliki sekarang maka itu adalah aku
sungguh mencintaimu, sepenuh hatiku."
"Semoga takdir tidak terlalu kejam pada kita."
Pada saat itu Gris dan Angelina sudah bersiap-siap menggoda Nadia habis-habisan
dengan tawa dan senyum nakal mereka. Akan tetapi mereka terpaksa terdiam demi melihat
Nadia memegang erat earphone itu dan air mata mengalir perlahan dari sudut matanya
dengan bibir yang tersinggung sebuah senyum. "Aku juga mencintaimu," bisik Nadia lirih dengan
mata berair dan tenggelam dalam dunianya. Gris hanya menatap Angelina dan keduanya
hanya dapat menghembuskan nafas panjang. Teman mereka sudah kehilangan akal sehatnya.
~ 296 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Bab 17 HANTU CILIK DAN ORANG TUA Semalaman aku terduduk di sofa, berpikir ke sana kemari.
Menyesali apa yang sudah kukatakan. Aku tidak seharusnya terburu-buru mengambil
tindakan seperti itu, terutama saat aku sama sekali tidak siap untuk melakukan
apa pun, bukan tidak siap. Aku tidak berdaya, kini aku terpaksa memutar otak untuk
mencari jalan mencapai tahapan di mana aku bisa muncul di depan Nadia sebagai orang yang
pantas, setidaknya sebagai anggota BtP. Aku tidak ingin berakhir menjadi rabbit, juga
tidak ingin bergabung dengan kelompok yang melawan BtP. Aku ingin menjadi seorang anggota
BtP yang memiliki status terhormat, penghasilan tetap untuk membangun keluarga, nama
baik dan masa depan. Tetap saja namaku yang sudah masuk ke dalam buku hitam adalah
kutukan yang tidak mampu kulalui untuk menjadi anggota BtP. Aku mungkin harus mencari
cara untuk memasuki jaringan BtP dan menghapus daftar namaku dari database mereka.
Mungkin hanya itu satu-satunya cara. Berpikir lebih jauh, aku tidak akan
melakukannya. Karena sedikit keberanian pun tidak kupunyai untuk menerobos sistem super
canggih mereka dan bahkan katanya mereka memiliki anggota BtP alinergi jenius komputer yang
khusus untuk menangani sistem komputer mereka.
~ 297 ~ - B L E S S E D H E A R T -
Aku tidak akan berhasil. Seekor monyet tidak mungkin bertanding komputer dengan
Alien d an aku akan tertangkap.
*** "Nad, kamu serius mau menunggu pangeranmu?" tanya Gris yang sudah melihat
keseriusan Nadia sehingga ia hanya sekedar ingin menggoda saja.
Mata Nadia berbinar bercahaya dan mengganggukkan kepalanya "Aku akan
menunggunya. Dia mungkin dari BtP internasional, jika dia tidak bisa datang kemari aku yang
akan bergabung dengan BtP internasional!"
Angelina masih penasaran meski Nadia sudah bercerita kepadanya berkali-kali.
"Nad, apa benar dia sehebat itu?" Ketiganya kini sedang di dalam kamar Nadia menghabiskan
waktu sambil menunggu waktu tidur.
"Membawa dua puluh orang terbang sekaligus dan bahkan dapat menyinkronisasikan
energi mereka tanpa cacat. Kupikir itu kelas para pemimpin tertinggi BtP dan mungkin
saja dia dari unit yang sangat spesial," tambah Gris.
Nadia tersenyum, "Makanya kukatakan dia dapat mengalahkan senior Jess dan Daniel
hanya dalam sekejap."

Hati Yang Terberkahi Blessed Heart Karya Adam Aksara di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jika dia dari unit spesial, mereka berdua jelas tidak dapat berkutik tapi
mengapa ia harus merahasiakan dirinya, Nad?" Tanya Angelina.
Nadia memeluk bantalnya dan menghempaskan diri pada kasurnya yang empuk, "Dia
tentunya dari unit intelijen atau mata-mata, karena dia juga teman Kak Michelle
sehingga harus merahasiakan dirinya bahkan kepada unit BtP sekaligus, kemungkinan besar
dia langsung di bawah pimpinan BtP Internasional."
Mata Gris dan Angelina bercahaya, "Bagaimana kamu menemukan pria seperti itu
Nad" Kami juga mau," Gris sengaja mendekati Nadia dan mengelitik Nadia. Nadia tertawa
dan seketika mengerahkan kekuatannya untuk menghilang dari pandangan kedua orang itu
dan muncul kembali di ujung lain.
Angelina menatap Nadia, "Tapi kupikir kamu juga cocok untuknya Nad, kamu kan The
Perfect copier." Nadia menggelengkan kepalanya, "Kupikir aku yang sekarang masih jauh darinya
kecuali aku menjadi Finder atau Mindreader di bawah BtP Internasional langsung," jawab
Nadia sungguh-sungguh. ~ 298 ~ - B L E S S E D H E A R T -
"Fight for Love," teriak Gris dan melemparkan bantal tepat pada wajah Nadia.
Nadia tertawa dan mulai melempar balik bantal itu pada Gris, tapi Gris sudah melesat ke depan
dan mengellitik Nadia hingga membuatnya tertawa mengeluarkan air mata.
"Nad, Lain kali kamu harus mengenalkanku pada cowok keren atau kamu kukutuk jadi
Perfect kodok," canda Gris sambil tertawa.
"Bagaimana dengan bartender itu saja," kata Nadia sambil bercanda, "Bukannya dia
keren juga, lagipula dia baik?"
Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San 7 Musuh Dalam Selimut Karya Liang Ie Shen Maut Bermata Satu 2
^