Pencarian

Macan Tutul Di Salju 8

Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather Bagian 8


sepenuh tenaga. Peti mati itu bergeser sedikit, tapi itu sudah cukup.
Dengan suara seperti geraman, peti mati itu tergelincir dari penyangganya dan
jatuh di lantai. Pinggiran peti mati itu menimpa lengan si pembunuh dan
terdengarlah teriakan kesakitan. Tangan itu kemudian terlepas dari leher
Langdon, menggeliat dan ditarik keluar dari kegelapan di sekelilingnya. Ketika
si pembunuh akhirnya menarik lengannya keluar dari gencetan peti mati, peti itu
jatuh dengan suara berdebum di atas lantai pualam. Gelap gulita lagi. Lalu sunyi
senyap. Tidak ada gedoran putus asa di peti mati itu. Tidak ada usaha untuk
masuk lagi. Tidak ada apa-apa. Ketika Langdon berbaring di dalam gelap di antara
tumpukan tulang-belulang yang melingkupinya, dia memerangi perasaan tidak nyaman
yang dirasakannya di antara kegelapan yang menyelimutinya dengan memikirkan
Vittoria. Vittoria, masih hidupkah kamu"
Kalau Langdon tahu keadaan yang sebenarnya - kengerian yang akan segera dialami
Vittoria begitu tersadar - lelaki itu pasti berharap Vittoria lebih baik mati
saja. 94 DUDUK DI DALAM Kapel Sistina di antara rekan-rekan kardinal yang juga terkejut,
Kardinal Mortati mencoba memahami kata-kata yang didengarnya. Di depannya,
dengan hanya diterangi oleh cahaya lilin, sang camerlegno baru saja menceritakan
sebuah kisah tentang kebencian dan ancaman yang membuat Mortati gemetar. Sang
camerlegno berbicara tentang keempat kardinal yang diculik, dicap, dan dibunuh.
Dia juga berbicara tentang kelompok kuno Illuminati; sebuah nama yang
membangkitkan kembali kengerian yang sudah terlupakan, berikut kebangkitan
mereka serta sumpah balas dendam mereka kepada gereja. Dengan nada terluka dalam
suaranya, sang camerlegno berbicara tentang mendiang Paus ... yang menjadi satu
korban pembunuhan yang dilakukan Illuminati dengan cara diracun. Dan akhirnya,
dengan suara yang terdengar hampir seperti bisikan, dia juga menceritakan
tentang sebuah teknologi baru yang mematikan, antimateri yang terancam akan
meledak dan menghancurkan Vatican City dalam waktu kurang dari dua jam lagi.
Ketika dia sudah selesai berbicara, yang ada hanya keheningan seolah setan telah
menghisap udara di ruangan itu. Tidak seorang pun dapat bergerak. Kata-kata sang
camerlegno seperti menggantung di dalam kegelapan.
Satu-satunya suara yang dapat didengar Mortati hanyalah dengung aneh dari sebuah
kemera televisi di belakang yang merupakan kehadiran peralatan elektronik
pertama dalam sejarah penyelenggaraan rapat pemilihan paus. Tapi kehadiran
mereka berdasarkan permintaan sang camerlegno. Sambil mengundang gumam keheranan
dari para kardinal, sang camerlegno memasuki Kapel Sistina bersama-sama dengan
dua orang wartawan BBC, satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, dan
mengumumkan bahwa mereka akan menyiarkan pernyataan sang camerlegno langsung ke
seluruh dunia. Kini, sambil berbicara langsung ke arah kamera, sang camerlegno melangkah ke
depan. "Kepada kelompok Illuminati," katanya, suaranya terdengar dalam, "dan
kepada mereka, para ilmuwan, izinkan aku mengatakan ini." Dia berhenti sejenak.
"Kalian telah memenangkan peperangan ini."
Kesunyian sekarang tersebar hingga ke sudut terdalam dari kapel itu. Mortati
bahkan dapat mendengar debaran putus asa dari jantungnya sendiri.
"Roda itu telah berputar sejak lama," kata sang camerlegno. "Kemenangan kalian
sudah tidak bisa dihindari lagi. Sebelumnya tidak pernah begitu jelas seperti
sekarang ini. Ilmu pengetahuan kini menjadi Tuhan baru."
Apa yang sedang diucapkannya" kata Mortati dalam hati. Apa dia sudah gila"
Seluruh dunia mendengarkan ini semua!
"Pengobatan, komunikasi elektronik, perjalanan ke angkasa luar, manipulasi
genetika ... ini semua adalah keajaiban yang sekarang kita ceritakan kepada
anak-anak kita. Ini semua adalah keajaiban yang kita gembar-gemborkan sebagai
bukti bahwa ilmu pengetahuan akan memberikan kita semua jawaban dari semua
pertanyaan yang kita ajukan. Kisah-kisah kuno tentang konsep yang suci, seperti
semak terbakar dan laut terbelah tidak lagi terlihat relevan. Tuhan sudah usang.
Ilmu pengetahuan telah memenangkan pertempuran ini. Kami mengaku kalah."
Gemerisik kebingungan dan ketakutan menyapu seluruh
kapel. "Tetapi kemenangan ilmu pengetahuan," sang camerlegno melanjutkan,
suaranya bertambah kuat sekarang, "telah mengorbankan umat manusia. Dan itu
merupakan pengorbanan yang berat." Sunyi. "Ilmu pengetahuan mungkin telah
mengurangi misteri dari penyakit dan pekerjaan yang sukar serta menghasilkan
berbagai peralatan canggih untuk hiburan dan kenyamanan hidup kita. Tetapi itu
membuat kita hidup di dunia tanpa kekaguman. Makna matahari tenggelam telah
direduksi menjadi panjang gelombang dan frekuensi. Kerumitan alam semesta telah
dijabarkan menjadi persamaan matematika. Bahkan nilai pribadi kita sebagai
manusia telah dirusak. Ilmu pengetahuan menganggap planet bumi beserta
penghuninya adalah titik yang tidak ada artinya dalam sebuah skema yang luar
biasa besar. Sebuah peristiwa kosmis yang terjadi di alam raya." Dia berhenti
sejenak. "Bahkan teknologi yang berjanji ingin mempersatukan kita, ternyata
justru memisahkan kita. Semua orang sekarang saling terhubung secara elektronik,
tapi kita tetap merasa sangat sendirian. Kita dibombardir dengan kekerasan,
perpecahan, keretakan, dan pengkhianatan. Sikap skeptis dianggap sebagai nilai
yang lebih luhur. Kesinisan dan tuntutan akan bukti dianggap sebagai pikiran
yang tercerahkan. Apa kita tidak bertanya-tanya kenapa kita kini merasa lebih
tertekan dan terkalahkan dibanding masa lalu dalam sejarah umat manusia" Apakah
ilmu pengetahuan mengakui sesuatu yang suci" Ilmu pengetahuan mencari jawaban
dengan menyelidiki janin yang belum lahir. Ilmu pengetahuan bahkan berusaha
untuk mengatur kembali susunan DNA kita. Ilmu pengetahuan menghancurkan dunia
yang diciptakan Tuhan ke dalam potongan yang lebih kecil dalam usaha mereka
mencari makna ... dan itu hanya menghasilkan pertanyaan-pertanyaan baru."
Mortati menatap dengan kagum. Sang camerlegno nyaris menghipnotis mereka
sekarang. Dia memiliki kekuatan fisik dalam setiap gerakannya dan suaranya yang
belum pernah Mortati lihat di depan altar Vatican. Suara lelaki itu ditempa oleh
kesedihan dan keyakinannya.
"Peperangan kuno antara ilmu pengetahuan dan agama telah usai," kata sang
camerlegno. "Kalian sudah memenangkannya. Tetapi kalian tidak menang secara
jujur. Kalian tidak menang dengan memberikan jawaban. Kalian menang dengan
mengubah orientasi masyarakat kita secara radikal sehingga kebenaran yang dulu
kita lihat sebagai petunjuk kini dianggap tidak berguna lagi. Agama tidak bisa
mengejar perubahan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan adalah hal yang sudah
pasti. Dia berkembang biak seperti virus. Tiap terobosan baru membuka terobosan
yang lainnya. Umat manusia membutuhkan waktu ratusan tahun untuk maju dari
penemuan ban sampai bisa membuat mobil. Tapi kita hanya membutuhkan satu
dasawarsa untuk bisa pergi ke ruang angkasa setelah kita mengenal mobil. Kini,
kita bisa mengukur kemajuan ilmu pengetahuan dalam hitungan minggu. Kita semakin
kehilangan kontrol. Jurang antara kita semakin melebar, dan ketika agama
tertinggal, manusia menemukan dirinya di dalam kehampaan spiritual. Kita
berusaha keras untuk menemukan arti. Dan percayalah, kita memang benar-benar
berusaha dengan keras. Kita melihat UFO, berusaha terhubung dengan arwah,
berhubungan dengan hal-hal gaib, pengalaman berada di luar tubuh, pencarian
dalam pemikiran - semua ide eksentrik ini diselubungi oleh ilmu pengetahuan, tapi
pada kenyataannya mereka itu tidak rasional. Itu adalah usaha keras jiwa-jiwa
modern yang kesepian dan kebingungan yang sedang mencari pencerahan dan berusaha
melepaskan diri dari ketidakmampuan mereka untuk menerima arti dari sesuatu yang
tidak ada hubungannya dengan teknologi."
Mortati mencondongkan tubuhnya di atas kursinya. Dia, para kardinal lainnya
serta masyarakat di seluruh dunia terpaku ketika mendengar kata-kata pastor itu.
Sang camerlegno tidak berbicara dengan gaya berpidato atau menggunakan kata-kata
tajam. Tidak ada acuan dari Alkitab atau Yesus Kristus. Dia berbicara
menggunakan istilah-istilah modern, lugas dan murni. Kata-kata itu seakan
mengalir sendiri dari Tuhan. Sang camerlegno berbicara dengan bahasa modern ...
padahal dia sedang menyampaikan pesan yang sudah klasik. Pada saat itu Mortati
dapat memahami dengan jelas kenapa mendiang Paus sangat mencintai lelaki ini. Di
dalam dunia yang apatis, sinis dan dipenuhi dengan pemujaan terhadap teknologi,
lelaki seperti sang camerlegno; orang realis yang bisa mengungkapkan jiwa
manusia seperti yang baru saja dilakukannya, menjadi satusatunya harapan yang
dimiliki gereja. Sang camerlegno berbicara dengan lebih kuat sekarang. "Anda bilang ilmu
pengetahuan akan menyelamatkan kita. Menurut saya, ilmu pengetahuan sudah
menghancurkan kita. Sejak masa Galileo, gereja sudah berusaha untuk mengerem
kecepatan laju ilmu pengetahuan, kadang kala dengan menggunakan cara-cara yang
tidak pantas, tapi selalu didasari oleh niat baik. Tapi godaannya terlalu kuat
untuk ditolak oleh manusia. Saya mengingatkan Anda semua, lihatlah sekeliling
Anda. Janji-janji yang diberikan oleh ilmu pengetahuan belum ditepati olehnya.
Janji-janji seperti efisiensi dan kesederhanaan hanya menghasilkan polusi dan
kekacauan. Kita terpecah belah dan menjadi makhluk yang kebingungan ... dan
sedang tergelincir ke arah kehancuran."
Sang camerlegno berhenti agak lama dan kemudian menajamkan tatapannya ke arah
kamera. "Siapakah Tuhan ilmu pengetahuan itu" Siapa Tuhan yang menawarkan kekuatan
kepada umatnya tetapi tidak memberikan batasan moral untuk mengatakan kepada
kalian bagaimana menggunakan kekuatan itu" Tuhan seperti apa yang memberikan api
kepada seorang anak tetapi tidak memperingatkan akan bahaya yang ditimbulkannya"
Bahasa ilmu pengetahuan datang tanpa petunjuk tentang baik dan buruk. Buku-buku
ilmu pengetahuan mengatakan kepada kita bagaimana menciptakan reaksi nuklir,
namun buku itu tidak berisi bab yang menanyakan kepada kita apakah itu gagasan
yang baik atau buruk. "Kepada ilmu pengetahuan, dengarkanlah kata-kata saya. Gereja sudah letih. Kami
lelah menjadi petunjuk kalian. Kekuatan kami mengering karena usaha kami untuk
menjadi suara penyeimbang ketika kalian berusaha dengan membabi buta untuk
mencari keping yang lebih kecil dan keuntungan yang lebih besar. Kami tidak
bertanya kenapa kalian tidak mau mengendalikan diri, tetapi bagaimana kalian
bisa mengendalikan diri" Dunia kalian bergerak begitu cepat sehingga kalau
kalian berhenti sekejap saja untuk mempertimbangkan tindakan kalian, seseorang
yang lebih efisien akan mendahului kalian. Jadi kalian berjalan terus. Kalian
mengembangkan senjata pemusnah masal, tetapi Pauslah yang berkeliling dunia
untuk memohon para pemimpin agar menahan diri. Kalian membuat kloning makhluk
hidup, tetapi gereja jugalah yang mengingatkan kita agar mempertimbangkan
implikasi moral dari tindakan itu. Kalian mendorong orangorang untuk saling
berhubungan melalui telepon, layar video dan komputer, tetapi gerejalah yang
membuka pintunya dan mengingatkan kita untuk berhubungan secara pribadi kalau
kita memang betul-betul berniat. Kalian bahkan membunuh bayi yang belum lahir
atas nama penelitian yang akan menyelamatkan kehidupan. Lagi-lagi, gerejalah
yang menunjukkan kesalahan dari cara berpikir seperti itu."
"Dan sementara itu, kalian berkata gereja tidak peduli. Tetapi siapa
sesungguhnya yang tidak peduli" Orang yang tidak dapat menemukan arti dari petir
atau orang yang tidak menghormati kekuatannya yang dahsyat" Gereja ini
mengulurkan tangannya kepada kalian. Mengulurkan tangan pada semua orang. Namun,
semakin kami mengulurkan tangan, semakin kalian menolak kami. Tunjukkan bukti
kepada kami bahwa Tuhan ada, kata kalian. Aku katakan, gunakan teleskop kalian
untuk melihat surga, dan katakan padaku bagaimana mungkin tidak ada Tuhan!" Air
mata sang camerlegno nyaris menetes. "Kalian bertanya, seperti apa Tuhan itu"
Aku berkata, dari mana pertanyaan itu datang" Jawabannya hanya ada satu dan akan
selalu sama. Apakah kalian tidak melihat Tuhan di dalam ilmu pengetahuanmu"
Bagaimana mungkin kalian tidak melihat-Nya! Kalian berkata bahkan perubahan
paling kecil yang terjadi pada gaya tarik bumi atau berat sebuah atom bisa
sangat memengaruhi alam raya tapi kamu gagal untuk melihat campur tangan Tuhan
dalam hal ini. Apakah lebih mudah untuk memercayai bahwa kita hanya tinggal
memilih kartu yang tepat dari setumpuk ribuan kartu" Apakah jiwa spiritual kita
sudah benar-benar rusak sehingga kita lebih memercayai ketidakmungkinan
matematis ketimbang sebuah kekuatan yang lebih agung dari kita semua"
"Entah kalian memercayai Tuhan atau tidak," kata sang camerlegno, suaranya kini
terdengar lebih dalam, "kalian harus memercayai ini. Ketika kita sebagai makhluk
hidup meninggalkan kepercayaan kita kepada kekuatan yang lebih besar dari kita,
maka kita juga akan meninggalkan perasaan tanggung jawab kita. Keyakinan ... apa
pun keyakinan itu ... adalah sebuah peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak
dapat kita mengerti, sesuatu di mana kita harus bertanggung jawab kepadanya ....
Dengan keyakinan, kita bertanggung jawab pada sesama, kepada diri kita sendiri,
dan kepada kebenaran yang lebih tinggi. Agama mungkin tidak sempurna, tetapi itu
karena manusia tidak sempurna. Kalau dunia di luar sana dapat melihat gereja
seperti apa yang kulihat ... lebih memahami ritual yang dijalankan di balik
dinding ini ... mereka akan melihat keajaiban modern ... sebuah persaudaraan
dari ketidaksempurnaan, jiwajiwa sederhana yang hanya ingin menjadi suara kasih
sayang di dalam dunia yang berputar tak terkendali."
Sang camerlegno menunjuk pada Dewan Kardinal. Kamerawati BBC itu secara naluriah
mengikuti arah tangannya, dan menggerakkan kameranya ke arah orang-orang itu.
"Apakah kami kuno?" tanya sang camerlegno. "Apakah orangorang ini dinosaurus"
Apakah aku dinosaurus" Apakah dunia benar-benar membutuhkan suara untuk membela
mereka yang miskin, lemah, tertekan, bayi yang belum lahir" Apakah kita benar-
benar membutuhkan jiwa seperti ini yang tidak sempurna tapi ulet, dan
menghabiskan masa hidup mereka untuk memohon agar dapat membaca petunjuk
moralitas supaya tidak tersesat?"
Mortati sekarang tahu bahwa sang camerlegno, entah disadarinya atau tidak, telah
bertindak sangat cemerlang. Dengan memperlihatkan para kardinal, dia sedang
memanusiakan gereja. Vatican City bukan lagi sebuah bangunan, tapi manusia -
manusia seperti sang camerlegno yang telah menghabiskan masa hidupnya dalam
pelayanan bagi kebaikan. "Malam ini kami berada di atas jurang yang curam," kata sang camerlegno. "Tidak
seorang pun dari kita yang boleh menjadi apatis. Entah kalian melihatnya sebagai
setan, korupsi atau imoralitas ... kekuatan gelap itu hidup dan bertumbuh setiap
hari. Jangan abaikan itu." Sang camerlegno merendahkan suaranya sehingga menjadi
bisikan, dan kamera bergerak lagi. "Kekuatan itu, walau perkasa tapi tidak
mungkin tidak terkalahkan. Kebaikan pada akhirnya pasti akan menang. Dengarkan
hati kalian. Dengarkan Tuhan. Bersama-sama kita dapat melangkah menjauhi jurang
ini." Sekarang Mortati mengerti. Inilah alasannya. Aturan yang diterapkan selama rapat
pemilihan paus berlangsung memang telah dilanggar, tetapi inilah satu-satunya
cara. Ini adalah permintaan tolong yang dramatis dan disampaikan dengan
keputusasaan. Sang camerlegno sekarang berbicara kepada musuhnya dan kepada
temannya. Dia memohon kepada siapa saja, teman atau musuh, untuk mendengarkan
akal sehat dan menghentikan kegilaan ini.
Tentu saja orang yang mendengarkan perkataannya dengan baik akan menyadari
kegilaan dari peristiwa ini dan kemudian bertindak. Sang camerlegno lalu
berlutut di altar. "Berdoalah bersamaku." Dewan Kardinal ikut berlutut untuk
berdoa bersamanya. Di luar, di Lapangan Santo Petrus dan di seluruh dunia ...
dunia yang terpaku ikut berdoa bersama mereka.
95 SI HASSASSIN MELETAKKAN hadiah yang sedang tidak sadarkan diri itu di belakang
mobil vannya, dan tercenung sejenak untuk mengagumi tubuh yang tergeletak itu.
Perempuan itu tidak secantik perempuan-perempuan yang pernah dibelinya, walau
demikian perempuan ini memiliki kekuatan hewani yang membuatnya senang. Tubuh
perempuan ini dipenuhi dengan vitalitas dan basah oleh keringat. Harum tubuhnya
sangat menggoda. Ketika si Hassassin berdiri sambil mengagumi hadiahnya itu, dia mengabaikan rasa
sakit yang berdenyut di lengannya. Luka memar karena tertimpa peti mati dari
batu tadi, walau terasa sakit, tapi tidak terlalu parah ... sepadan dengan
imbalan yang sekarang tergolek di depannya. Dia merasa lega karena tahu lelaki
Amerika yang telah menyakiti lengannya itu mungkin sudah tewas sekarang.
Sambil menatap ke bawah, ke arah tawanannya yang tidak berdaya itu, si Hassassin
membayangkan apa yang akan didapatkannya nanti. Dia meraba kemeja perempuan itu.
Payudaranya terasa sempurna di balik branya. Ya, dia tersenyum. Kamu lebih
daripada sepadan. Sambil berjuang melawan dorongan untuk menidurinya saat itu
juga, si Hassassin menutup pintu vannya lalu melaju menembus malam.
Tidak perlu memberi tahu pers tentang pembunuhan ini ... kebakaran itu akan
membuat mereka tahu. Di CERN, Sylvie duduk terpaku karena ucapan sang camerlegno. Dia tidak pernah
merasa begitu bangga menjadi seorang Katolik sekaligus begitu malu karena
bekerja di CERN. Ketika dia meninggalkan ruang rekreasi, suasana di setiap ruang
menonton TV terlihat muram dan bingung. Ketika dia kembali berada di kantor
Kohler, tujuh saluran telepon di atas mejanya berdering semua. Telepon dari
media tidak pernah singgah di kantor Kohler sebelumnya, jadi telepon yang
berdering itu hanya dapat berarti satu hal saja. Geld. Uang.
Teknologi antimateri telah mengundang beberapa peminat. Di dalam Vatican,
Gunther Glick seperti melayang di atas udara ketika dia mengikuti sang
camerlegno keluar dari Kapel Sistina. Glick dan Macri baru saja menyiarkan
laporan langsung yang sangat penting selama satu dasawarsa ini. Sang camerlegno
telah membuat dunia terpesona.


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sekarang mereka berada di sebuah koridor dan sang camerlegno berpaling ke arah
Glick dan Macri. "Aku sudah meminta Garda Swiss untuk mengumpulkan foto-foto
untuk kalian, foto-foto para kardinal yang dicap berikut foto mendiang Paus. Aku
harus memperingatkan kalian, foto-foto itu bukanlah foto-foto yang menyenangkan.
Luka bakar yang mengerikan. Lidah menghitam. Tetapi aku ingin kalian
menyiarkannya kepada dunia."
Glick menduga Vatican City pasti terus-menerus merayakan natal tiap hari. Dia
ingin agar aku menyiarkan foto mendiang Paus secara eksklusif" "Anda yakin?"
tanya Glick sambil mencoba menahan nada kegirangan dalam suaranya.
Sang camerlegno mengangguk. "Garda Swiss juga akan memberi kalian tayangan
langsung dari video keamanan yang menyiarkan tabung antimateri yang sedang
menghitung mundur." Glick menatapnya tak percaya. Natal. Natal. Natal!
"Kelompok Illuminati itu akan segera tahu," jelas sang camerlegno, "bahwa mereka
telah mengotori tangan mereka secara berlebihan."
96 SEPERTI TEMA BERULANG dalam sebuah simponi yang
kejam, kegelapan yang menyesakkan napas itu telah kembali. Tidak ada cahaya.
Tidak ada udara. Tidak ada jalan
keluar. Langdon berbaring dan terperangkap di bawah peti mati batu yang
terjungkir, dan merasa otaknya mulai kehabisan akal. Dia kemudian berusaha
mengendalikan pikirannya ke hal lain sehingga tidak terpengaruh dengan keadaan
sesak di sekitarnya. Langdon berusaha memikirkan cara berpikir yang logis ...
seperti matematika, musik, apa saja. Tetapi tidak ada satu hal pun yang bisa
menenteramkan pikirannya. Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa bernapas.
Lengan jasnya yang tergencet, untung sudah terbebas ketika peti mati itu jatuh.
Sekarang Langdon mempunyai dua lengan yang bebas bergerak. Walau begitu, ketika
dia menekan langitlangit sel kecilnya itu, ternyata kotak pualam itu tidak dapat
bergerak. Lucunya, dia kemudian berpikir lebih baik lengan bajunya masih
terjepit saja. Setidaknya kain tebal itu bisa membuat celah untuk jalan udara.
Ketika Langdon mendorong langit-langit di atasnya, lengan jasnya tertarik
sehingga ada cahaya samar yang berasal dari kawan lamanya, Mickey. Wajah tokoh
kartun yang sekarang berwarna kehijauan itu kini tampak mengejeknya.
Langdon mengamati kegelapan dan mencari tanda-tanda adanya sinar, tetapi
pinggiran peti mati dari batu itu menutup lantai dengan rapat. Terkutuklah
kesempurnaan orang Italia itu, serapahnya. Sekarang dia terjebak di dalam peti
mati yang memiliki keunggulan artistik seperti yang selama ini dia katakan
kepada muridnya agar mereka hormati ... tepian yang rata tanpa cela, pararel
yang sempurna, dan tentu saja pualam Carrara berkualitas tinggi yang tidak
memiliki sambungan dan sangat keras. Kesempurnaan yang dapat membuat orang mati
lemas. "Angkat benda keparat ini," katanya dengan keras kepada dirinya sendiri
sambil mendorong lebih kuat di antara tulang belulang yang berserakan. Kotak
batu itu bergeser sedikit. Sambil mengeraskan rahangnya, dia mulai mengangkat
lagi. Walau peti mati itu terasa seperti bongkahan batu besar, tetapi kali ini
kotak batu itu terangkat seperempat inci. Secercah cahaya bersinar di
sekitarnya, lalu peti mati itu terhempas lagi. Langdon terbaring terengah-engah
di dalam gelap. Dia lalu mencoba menggunakan kakinya untuk mengangkat lagi
seperti tadi, tetapi karena sekarang peti batu itu telah jatuh, benda itu
menjadi sangat rapat dengan lantai. Tiada ruang lagi untuk meluruskan kakinya.
Ketika kepanikan yang disebabkan oleh claustropbobianya muncul, perasaan Langdon
dikuasai oleh bayangan peti batu itu mengerut di sekitar tubuhnya. Ditekan oleh
perasaan paniknya, Langdon berusaha membunuh bayangan itu dengan tiap keping
logika yang masih dimilikinya.
"Sarkofagus," dia berkata dengan keras dengan kemampuan akademis yang
dimilikinya. Tapi sepertinya ilmu pengetahuan pun telah memusuhinya hari ini.
Kata sarkofagus berasal dari kata bahasa Yunani, "sarx" artinya "daging", dan
"phagein" artinya "memakan". Aku terperangkap di dalam sebuah kotak yang secara
harfiah dirancang untuk "memakan daging." Bayangan akan daging dimakan sehingga
hanya meninggalkan tulang-belulang, kini menjadi peringatan muram bagi Langdon
kalau dirinya sekarang sedang terbaring tertutup bersama jasad manusia.
Pemikiran itu membuatnya mual dan merinding. Tetapi juga menimbulkan sebuah
gagasan lainnya. Sambil meraba-raba dalam kegelapan di sekitar peti mati itu, Langdon menemukan
sepotong tulang. Tulang iga, mungkin" Dia tidak peduli. Yang dibutuhkannya
hanyalah sebilah pengungkit. Kalau dia dapat mengangkat kotak batu itu, walau
hanya sebesar sebuah celah, dan menyelipkan sepotong tulang di bawah pinggiran
peti itu, mungkin akan ada cukup udara yang dapat ....
Sambil mengulurkan tangannya dan mengungkitkan ujung tulang itu ke dalam celah
di antara lantai dan peti mati, Langdon menekan langit-langit peti mati dengan
tangannya yang lain dan berusaha untuk mendorongnya ke atas. Peti itu tidak
bergerak sama sekali. Tidak sedikitpun. Dia berusaha lagi. Untuk sementara,
sepertinya peti itu bergetar sedikit, tapi hanya itu saja.
Dengan bau busuk dan kekurangan oksigen yang mencekik kekuatan tubuhnya, Langdon
sadar dia hanya dapat mengerahkan tenaganya satu kali lagi saja. Dia juga tahu
kalau dia harus menggunakan kedua lengannya.
Sambil mengumpulkan tenanga, Langdon meletakkan ujung tulang itu di balik celah
dan menggeser tubuhnya untuk menekan tulang tersebut dengan bahunya, dan
menjaganya agar tidak bergeser. Dengan berhati-hati supaya tulang itu tetap
berada ditempatnya, dia mengangkat kedua tangannya ke atas. Ketika peti mati
yang seakan mencekiknya itu mulai menekannya, dia merasakan kepanikan semakin
menguasainya. Ini adalah kedua kalinya dalam hari ini dia terkurung tanpa udara.
Dengan berteriak keras, Langdon menekan ke atas dengan gerakan yang sangat kuat.
Peti mati itu terangkat dari lantai dalam sekejap. Tetapi cukup lama. Potongan
tulang yang telah ditahan dengan bahunya itu menyelinap keluar, dan mengganjal
peti mati itu sehingga membuat celah yang lebih lebar. Ketika peti mati itu
jatuh lagi, tulang itu pecah. Tetapi kali ini Langdon dapat melihat peti mati
itu terungkit. Sebuah celah tipis terlihat di bawah tepian sarkofagus itu.
Karena sangat letih, Langdon terkulai. Dia berharap rasa sakit di tenggorokannya
akan berlalu. Dia menunggu. Tetapi keadaan itu semakin memburuk seiring
berjalannya detik demi detik. Apa pun yang muncul dari celah itu tampaknya tidak
cukup besar. Langdon bertanya-tanya apakah celah itu cukup untuk membuatnya bertahan hidup.
Tapi, untuk berapa lama" Kalau dia pingsan, siapa yang akan tahu kalau dia masih
berada di situ" Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Langdon kemudian mengangkat jam tangannya lagi:
10:12 malam. Dengan jemarinya yang gemetar, dia berusaha dengan susah payah
untuk mengatur jarum jam tangannya. Dia memutar salah satu pemutar kecilnya lalu
menekan tombolnya. Ketika kesadarannya berangsur menghilang, dia merasa dinding di sekitarnya
merapat semakin ketat, dan Langdon merasa ketakutan lamanya menghampirinya
kembali. Dia berkali-kali berusaha membayangkan kalau dirinya sedang berada di
sebuah lapangan terbuka. Gambaran yang dibuatnya itu ternyata sama sekali tidak membantunya. Bahkan mimpi
buruk yang telah menghantuinya sejak dia kecil datang menyerbunya kembali....
Bunga-bunga di sini seperti dalam lukisan, pikir bocah lelaki itu sambil tertawa
ketika dia berlarian melintasi lapangan rumput. Dia berharap orang tuanya datang
bersamanya. Tetapi orang tuanya sedang sibuk memasang tenda. "Jangan berkeliaran
terlalu jauh," kata ibunya kepadanya. Dia berpura-pura tidak mendengar ketika
dia melompat memasuki hutan. Sekarang, ketika melintasi lapangan indah itu, anak lelaki kecil
itu tiba di tumpukan bebatuan ladang. Dia membayangkan batu itu dulunya pasti
menjadi pondasi dari sebuah rumah tua. Dia tidak akan mendekatinya. Dia tahu
yang lebih baik. Lagipula matanya lebih tertarik pada hal lainnya - sekuntum bunga
lady's slipper yang cantik. Bunga itu adalah bunga terlangka dan tercantik di
New Hampshire. Dia hanya pernah melihatnya di dalam buku-buku.
Dengan gembira, anak lelaki itu mendekati bunga tersebut. Dia berlutut. Tanah di
bawahnya terasa gembur dan berongga. Dia tahu, bunganya itu telah menemukan
tempat yang sangat subur untuk tumbuh. Bunganya tumbuh di atas kayu yang
membusuk. Karena terlalu gembira dengan bayangan akan membawa pulang hadiahnya itu, anak
lelaki tersebut meraihnya ... jemarinya terulur ke arah tangkai bunga itu. Tapi
dia tidak pernah berhasil meraihnya. Dengan suara berderak keras, tanah yang
dipijaknya amblas. Dalam tiga detik yang membuatnya pusing, anak laki-laki itu tahu dia
akan mati. Sambil berguling-guling ke bawah, dia berusaha berpegangan pada
sesuatu supaya tidak mengalami patah tulang ketika terhempas. Ketika dia tiba di
bawah, dia sama sekali tidak merasa sakit. Hanya ada kelembutan. Dan dingin. Dia
jatuh dengan wajah menimpa cairan, lalu terbenam dalam kegelapan yang sempit.
Sambil berputar, jungkir balik karena kehilangan arah, anak lelaki itu meraih
dinding curam yang mengurungnya. Entah bagaimana, seperti didorong oleh insting
untuk bertahan hidup, dia berusaha keluar ke permukaan. Cahaya. Samar-samar. Di
atasnya. Seperti bermil-mil jauhnya. Lengannya menggapai-gapai di dalam air
untuk mencari lubang di dinding atau apa pun yang bisa digunakan untuk
berpegangan. Namun dia hanya dapat meraih batu halus. Dia sadar dirinya telah
terjatuh ke dalam sebuah sumur yang sudah ditinggalkan. Bocah itu berteriak
minta tolong, tetapi teriakannya menggaung di dalam terowongan sempit itu. Dia
berteriak lagi dan lagi. Di atasnya, lubang kecil itu menjadi tampak samar-
samar. Malam tiba. Waktu seperti berubah bentuk di dalam kegelapan. Rasa kaku
mulai terasa ketika dia terus menggerak-gerakkan kakinya di dalam air yang dalam
agar bisa tetap mengambang. Memanggil. Menjerit. Anak kecil itu tersiksa oleh
bayangan dinding yang dirasakan akan runtuh, dan akan menguburnya hidup-hidup.
Kedua lengannya sudah sakit karena letih. Beberapa kali dia merasa seperti
mendengar suara. Dia berteriak, tetapi suaranya tidak lagi terdengar ...
semuanya terasa seperti dalam mimpi.
Ketika malam tiba, sumur itu terasa semakin dalam. Dindingnya seperti mengerut
menelan dirinya. Anak lelaki itu memaksakan diri untuk keluar, mendorong
tubuhnya ke atas. Karena letih, dia ingin menyerah. Tapi dia merasa air
mengangkatnya ke atas, menenteramkan rasa takutnya hingga dia tidak merasakan
apa pun lagi. Ketika regu penyelamat datang, mereka menemukan bocah lelaki itu dalam keadaan
setengah sadar. Dia telah menggerakgerakkan kakinya di air supaya tidak
tenggelam selama lima jam. Dua hari setelah itu, harian Boston Globe mencetak
kisah itu di halaman depan dengan judul: "Perenang Cilik yang Hebat."
97 SI HASSASSIN TERSENYUM ketika memasukkan mobilnya ke dalam bangunan dari batu
berukuran raksasa yang menghadap ke sungai Tiber. Dia membawa hadiahnya ke atas
dan lebih ke atas lagi ... berputar lebih tinggi dalam terowongan batu. Dia
merasa senang karena bebannya lebih ramping. Dia tiba di pintu. Gereja
Pencerahan, dia merenung dengan senang. Ruang pertemuan Illuminati kuno. Siapa
yang dapat membayangkan kalau ruangan itu ada di sini"
Di dalam, dia meletakkan perempuan itu di atas sebuah sofa besar yang empuk.
Lalu dengan tangkas dia mengikat lengan perempuan itu di balik punggungnya
kemudian mengikat kakinya. Dia tahu apa yang sangat diinginkannya itu harus
menunggu hingga tugas terakhirnya selesai. Air.
Tapi, dia masih punya waktu untuk bersenang-senang, pikirnya. Dia berlutut di
samping perempuan itu lalu meluncurkan tangannya di paha tawanannya itu.
Kulitnya terasa halus. Lalu lebih tinggi lagi. Jemari gelapnya meliuk-liuk di
balik hak celana pendeknya. Lebih tinggi lagi.
Dia kemudian berhenti. Sabar, katanya pada dirinya sendiri ketika merasa
tergugah gairahnya. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Sesaat kemudian, dia berjalan keluar menuju ke balkon dari batu di depan ruangan
itu. Angin malam perlahan-lahan mendinginkan hasratnya. Jauh di bawahnya, sungai
Tiber menggelegak. Dia menaikkan pandangannya ke arah kubah Santo Petrus yang
hanya berjarak tiga perempat mil. Kubah itu telanjang di bawah terpaan lampu-lampu pers.
"Jam terakhirmu," katanya keras sambil membayangkan orang-orang Muslim yang
dibantai selama perang Salib. "Pada tengah malam nanti, kalian akan bertemu
dengan Tuhan kalian."
Di belakangnya, perempuan itu bergerak. Si Hassassin berpaling. Dia
mempertimbangkan untuk membiarkannya terbangun. Melihat sinar ketakutan di mata
perempuan itu merupakan rangsangan yang sangat istimewa baginya.
Tetapi dia memilih untuk menggunakan nalarnya. Lebih baik kalau perempuan itu
dibiarkan tidak sadar selama dia pergi. Walaupun perempuan itu terikat dan tidak
akan dapat melarikan diri, si Hassassin tidak mau kembali dan menemukan
perempuan itu dalam keadaan letih karena berjuang untuk melepaskan diri. Aku
ingin kekuatanmu tersimpan ... untukku.
Dia lalu mengangkat kepala perempuan itu sedikit. Lelaki itu meletakkan
tangannya di lehernya dan menemukan cekungan di bawah tengkoraknya. Titik
tekanan meridian sering digunakannya berkali-kali. Dengan kekuatan penuh, dia
mendorong ibu jarinya masuk ke dalam tulang rawan yang lembut dan kemudian
menekannya. Perempuan itu langsung terkulai. Dua puluh menit, pikirnya.
Tawanannya itu nanti akan menjadi seorang perempuan yang menggoda untuk
mengakhiri sebuah hari yang dipenuhi kesempurnaan seperti ini. Nanti, setelah
perempuan itu melayaninya dan mati kelelahan, si Hassassin akan berdiri di atas
balkon dan melihat kembang api Vatican di tengah malam.
Setelah meninggalkan hadiahnya itu pingsan di atas sofa besar itu, si Hassassin
turun ke lantai bawah dan memasuki ruang bawah tanah yang diterangi dengan obor.
Tugas terakhir. Dia berjalan mendekati meja dan menatap takzim ke arah sebentuk
logam suci yang ditinggalkan di sana untuknya. Air. Itu adalah tugas
terakhirnya. Sambil memindahkan obor dari dinding seperti yang sudah
dikerjakannya sebanyak tiga kali, dia mulai memanaskan ujung logam itu. Ketika
ujung benda itu menjadi putih dan menyala karena panas, dia membawanya ke sebuah
sel tak jauh dari situ. Di dalam sel itu, seorang lelaki berdiri dalam diam. Tua dan sendirian.
"Kardinal Baggia," si pembunuh itu mendesis. "Kamu sudah berdoa?"
Mata lelaki Italia itu tidak memperlihatkan ketakutannya. "Hanya untuk jiwamu."
98 KEENAM POMPIERI, petugas pemadam kebakaran, yang beraksi setelah melihat
kebakaran di Gereja Santa Maria della Vittoria, memadamkan api unggun itu dengan
semprotan gas halon. Semprotan air memang lebih murah, namun uap yang berasal
dari sisa-sisa pembakaran akan merusak lukisan dinding di kapel itu, dan Vatican
sudah membayar pompieri Roma dengan murah hati untuk mendapatkan layanan yang
hati-hati di semua gedung yang dimilikinya.
Para pompieri, karena sifat pekerjaan mereka, hampir tiap hari menyaksikan
tragedi. Tetapi apa yang terjadi pada gereja ini adalah hal yang tidak akan
mereka lupakan. Korban itu setengah disalib, setengah digantung, setengah
terbakar, sebuah pemandangan yang hanya cocok untuk mimpi buruk zaman Gothic.
Sayangnya pers, seperti biasanya, sudah tiba duluan sebelum petugas pemadam
kebakaran sampai di sana. Mereka telah merekam banyak gambar dalam video mereka
sebelum para pompieri membersihkan gereja. Ketika para petugas pemadam kebakaran
akhirnya menurunkan korban dan meletakkannya di atas lantai, tidak ada keraguan
tentang siapa lelaki itu. "Cardinale Guidera," seseorang berbisik. "Di
Barcelona." Korban itu tanpa busana. Setengah bagian dari tubuhnya hangus, darah
menetes dari celah di antara kedua pahanya. Tulang keringnya terbuka. Seorang
petugas pemadam kebakaran muntah. Yang satu lagi keluar untuk menghirup udara
segar. Yang paling menakutkan adalah simbol yang tertera di dada sang kardinal. Kepala
regu pemadam kebakaran mengelilingi jasad korban itu dengan ketakutan yang luar
biasa. Lavaro del diavolo, katanya pada dirinya sendiri. Pasti setan yang
melakukan ini. Lalu dia membuat tanda salib di dadanya sendiri untuk pertama
kalinya sejak masa kanak-kanaknya.
"Un' altro corpo!" seseorang berteriak. Salah satu dari petugas pemadam
kebakaran itu menemukan mayat yang lain.
Korban kedua adalah seorang lelaki yang segera dikenali oleh kepala regu itu.
Komandan Garda Swiss yang keras itu adalah sejenis orang yang disukai oleh
sedikit petugas penegak hukum. Kepala regu itu kemudian menelepon Vatican,
tetapi semua saluran sedang sibuk. Dia tahu itu tidak masalah. Garda Swiss akan
segera tahu tentang hal ini dari televisi dalam beberapa menit lagi.
Ketika kepala regu itu memeriksa kerusakan sambil berusaha membayangkan apa yang
telah terjadi di sini, dia melihat sebuah ceruk yang berlubang-lubang karena
peluru. Sebuah peti mati telah terguling dari penopangnya dan jatuh tertelungkup
dalam keadaan yang berantakan. Kacau balau. Ini adalah bagian polisi dan Tahta
Suci Vatican, pikir kepala regu itu sambil berpaling dan pergi.
Ketika hendak berpaling, tiba-tiba dia berhenti. Dari bawah peti mati itu dia
mendengar suara. Itu adalah suara yang tidak pernah disukai oleh petugas pemadam
kebakaran mana pun. "Bomba!" dia berteriak. "Tutti fuori!" Ketika regu penjinak
bom membalik peti mati itu, mereka melihat sumber suara elektronis itu. Mereka
memandang dengan tatapan bingung.
"Medicol" salah satu dari mereka akhirnya berteriak
memanggil petugas paramedis. "Medicol"
99 "ADA KABAR DARI Olivetti?" tanya sang camerlegno yang terlihat sangat letih


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ketika Rocher mengawalnya kembali dari Kapel Sistina ke Kantor Paus. "Tidak,
signore. Saya mengkhawatirkan yang terburuk." Ketika mereka tiba di Kantor Paus,
suara sang camerlegno terdengar berat. "Kapten, tidak ada lagi yang dapat aku
lakukan malam ini di sini. Aku khawatir aku telah melakukan terlalu banyak. Aku
akan masuk ke ruangan ini untuk berdoa. Aku tidak ingin diganggu. Sisanya ada di
tangan Tuhan." "Baik, signore." "Sudah malam, Kapten. Temukan tabung itu."
"Pencarian kami masih terus berlanjut." Rocher ragu-ragu.
"Senjata itu terbukti telah disembunyikan dengan sangat baik." Sang camerlegno
berkedip, seolah dia sudah tidak dapat berpikir lagi. "Ya. Pada pukul 11:15,
kalau gereja ini masih berada dalam bahaya, aku ingin kamu mengevakuasi para
kardinal. Aku menyerahkan keselamatan mereka di tanganmu. Aku hanya meminta satu
saja. Biarkan mereka keluar dari tempat ini dengan kehormatan. Biarkan mereka
keluar menuju Lapangan Santo Petrus untuk berdiri berdampingan dengan semua
orang. Aku tidak mau citra terakhir gereja ini adalah sekumpulan orang tua yang
ketakutan dan menyelinap keluar dari pintu belakang."
"Baiklah, signore. Dan Anda" Apakah saya akan menjemput Anda pada pukul 11:15
juga?" "Itu tidak perlu." "Signore?" "Aku akan pergi ketika jiwaku menggerakkan
tubuhku." Rocher bertanya-tanya apakah sang camerlegno akan pergi
dengan menggunakan kapal. Sang camerlegno membuka pintu Kantor Paus dan masuk.
"Sebenarnya ...," katanya sambil berpaling. "Masih ada satu hal lagi." "Ya,
signore?" "Ruang kantor ini sepertinya agak dingin malam ini. Aku
gemetar." "Pemanas listriknya mati. Biar saya menyalakan perapian
untuk Anda." Sang camerlegno tersenyum letih. "Terima kasih. Terima kasih
banyak." Rocher keluar dari Kantor Paus tempat dia meninggalkan sang camerlegno
yang sedang berdoa di depan perapian di hadapan patung kecil Bunda Maria yang
Diberkati. Itu adalah pemandangan yang menakutkan. Sebuah bayangan hitam
berlutut dalam nyala api. Ketika Rocher berjalan di gang, seorang penjaga muncul
dan berlari ke arahnya. Walau hanya diterangi nyala lilin, Rocher mengenali
Letnan Chartrand, seorang serdadu muda yang belum berpengalaman namun penuh
semangat. "Kapten," seru Chartrand sambil mengulurkan sebuah ponsel. "Kupikir kata-kata
sang camerlegno mungkin ada hasilnya. Kita mendapat telepon yang mengatakan
kalau dia memiliki informasi yang dapat membantu kita. Dia menelepon ke salah
satu sambungan pribadi Vatican. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan nomor
itu." Rocher berhenti. "Apa?" "Dia hanya mau berbicara dengan petugas berpangkat
tinggi." "Ada kabar dari Olivetti?" "Tidak, Pak." Rocher mengambil ponsel itu.
"Ini Kapten Rocher. Aku
petugas berpangkat tinggi di sini." "Rocher," kata suara itu. "Aku akan
menjelaskan padamu siapa aku sesungguhnya. Kemudian aku akan katakan padamu apa
yang harus kamu lakukan selanjutnya."
Ketika penelepon itu berhenti berbicara dan mematikan teleponnya, Rocher
sekarang tahu dari siapa dia menerima perintah itu. Kembali ke CERN, Sylvie
Baudeloque dengan kalut berusaha untuk mencatat semua permintaan lisensi yang
terekam ke dalam pesan suara di pesawat telepon Kohler. Ketika sambungan pribadi
di atas meja direktur itu mulai berdering, Sylvie terlonjak. Tidak seorang pun
mengetahui nomor itu. Dia menjawabnya. "Ya?" "Nona Beaudeloque" Ini Direktur
Kohler. Hubungi pilotku. Jetku harus siap dalam lima menit."
100 ROBERT LANGDON TIDAK tahu di mana dia berada atau berapa lama dia tidak sadarkan
diri. Ketika dia membuka matanya, dia menemukan dirinya sedang menatap sebuah
kubah bergaya zaman barok dengan lukisan di atasnya. Asap masih mengambang di
udara. Tapi ada sesuatu yang menutupi mulutnya. Ternyata itu topeng oksigen. Dia
menariknya. Ada aroma yang tidak menyenangkan di ruangan itu, seperti bau daging
hangus. Langdon mengernyit ketika merasakan kepalanya berdenyut. Dia berusaha untuk
bangun. Seorang berpakaian putih berlutut di sampingnya.
"Riposati!" kata lelaki itu dan merebahkan Langdon lagi. "Sono il paramedico."
Langdon menyerah, kepalanya berputar-putar seperti asap di atasnya. Apa yang
telah terjadi" Kepanikan mulai menembus benaknya.
"S "rcio salvatore," kata paramedis itu. "Tikus ... penyelamat." Langdon merasa
semakin bingung. Tikus penyelamat" Lelaki itu kemudian menunjuk jam tangan
Mickey Mouse yang melilit pergelangan tangan Langdon. Pikiran Langdon mulai
jernih sekarang. Dia ingat telah menyalakan alarmnya tadi. Ketika dia menatap
dengan kosong pada permukaan jam tangannya, Langdon juga dapat melihat pukul
berapa saat itu: 10:28 malam. Dia duduk tegak. Kemudian semuanya teringat
kembali. Langdon berdiri di dekat altar utama bersama dengan kepala regu petugas
pemadam kebakaran itu dan beberapa orang anak buahnya. Mereka menghujani Langdon
dengan berbagai pertanyaan. Tapi Langdon tidak mendengarkan mereka. Dia sendiri
mempunyai pertanyaan. Seluruh tubuhnya sakit, tetapi dia tahu dia harus segera
bertindak. Seorang pompiero mendekati Langdon dari seberang gereja. "Saya telah memeriksa
kembali, Pak. Mayat yang kami temukan hanyalah Kardinal Guidera dan Komandan
Garda Swiss. Tidak ada tanda-tanda adanya seorang perempuan di sini."
"Grazie," kata Langdon. Langdon tidak yakin harus merasa senang atau ketakutan.
Dia yakin tadi dia melihat Vittoria yang terbaring pingsan di atas lantai.
Sekarang perempuan itu telah hilang. Satu-satunya penjelasan yang didapatnya
sama sekali tidak menyenangkan. Pembunuh itu berbicara dengan gamblang ketika
berbicara di telepon tadi sore. Seorang perempuan yang penuh semangat. Aku suka
itu. Mungkin sebelum malam ini berakhir, aku akan menemukanmu. Dan ketika aku
menemukanmu ..." Langdon mengamati sekitarnya. "Di mana Garda Swiss?" "Masih
tidak ada kabar. Saluran Vatican sibuk semua." Langdon merasa sangat kebingungan
dan sendirian. Olivetti sudah tewas. Kardinal itu juga tewas. Vittoria
menghilang. Setengah jam dalam hidupnya telah menghilang dalam sekejap.
Di luar, Langdon dapat mendengar suara pers berkerumun. Dia menduga rekaman
gambar dari kematian kardinal yang sangat mengerikan itu akan segera mengudara,
kalau belum mengudara saat ini. Langdon berharap sang camerlegno telah
menduganya dan segera bertindak. Evakuasi Vatican! Sudahi permainan ini! Kita
kalah! Tiba-tiba Langdon menyadari alasan yang membuatnya berada di sini: membantu
menyelamatkan Vatican City, menyelamatkan keempat kardinal yang hilang dan
berhadapan dengan persaudaraan yang sudah dia pelajari selama bertahuntahun.
Tapi semuanya langsung menguap dari otaknya. Mereka sudah kalah dalam perang
ini. Sebuah dorongan baru muncul dari dalam hatinya. Sesuatu yang sederhana,
tidak dapat ditawar-tawar dan penting. Temukan Vittoria. Tiba-tiba, secara tidak
terduga dia merasakan kehampaan dalam hatinya. Langdon sering mendengar situasi
sulit seperti ini bisa mempersatukan dua orang dengan cara yang belum tentu
terjadi dalam waktu puluhan tahun. Dia sekarang memercayainya. Tanpa Vittoria di
sisinya, Langdon merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya selama
bertahuntahun. Kesepian. Tapi rasa sakit itu memberikan kekuatan.
Sambil berusaha membuang semua pikirannya, Langdon mengerahkan semua
konsentrasinya. Dia berdoa supaya si Hassassin memilih untuk menjalankan
kewajibannya dulu sebelum bersenang-senang. Kalau tidak, Langdon tahu dia sudah
terlambat. Tidak, katanya pada dirinya sendiri, kau masih punya waktu. Penculik
Vittoria masih harus melakukan sesuatu. Dia masih harus muncul ke permukaan satu
kali lagi untuk terakhir kalinya sebelum menghilang untuk selamanya.
Altar ilmu pengetahuan terakhir, pikir Langdon. Pembunuh itu mempunyai tugas
terakhir. Tanah, Udara, Api, Air.
Dia melihat jam tangannya. Tiga puluh menit lagi. Langdon bergerak melewati
petugas-petugas pemadam kebakaran yang berlalu lalang dan berjalan ke arah
patung karya Bernini, Ectasy
of St. Teresa. Kali ini, ketika dia menatap petunjuk yang ditinggalkan Bernini
itu, Langdon tidak ragu akan apa yang dicarinya.
Biarkan para malaikat membimbingmu dalam pencarian sucimu
Malaikat karya Bernini itu berdiri di atas orang suci yang berbaring terlentang
itu dan bersandar pada api yang menyala. Tangan malaikat itu menggenggam sebuah
tombak berujung api. Mata Langdon mengikuti arah tangkai tombak yang mengarah ke
sebelah kanan gereja itu. Matanya bertemu dengan dinding. Dia terus mengamati
titik yang ditunjuk oleh tombak itu. Tidak ada apa-apa di sana. Langdon tahu,
tentu saja tombak itu menunjuk ke tempat yang lebih jauh daripada tembok itu,
menembus malam, di suatu tempat di Roma.
"Arah ke mana itu?" tanya Langdon sambil berpaling dan bertanya pada kepala regu
petugas pemadam kebakaran mengenai arah yang baru saja ditemukannya itu.
"Arah?" Kepala regu itu menatap ke arah yang ditunjuk Langdon. Dia tampak
bingung. "Saya tidak tahu ... barat, saya pikir." "Gereja apa yang berada di
arah itu?" Kebingungan sang kepala regu tampak lebih dalam. "Ada
belasan. Mengapa?" Langdon mengerutkan keningnya. Tentu saja ada belasan.
"Aku memerlukan peta kota ini. Segera." Kepala regu itu memerintahkan seseorang
untuk berlari ke truk pemadam kebakaran untuk mengambil peta. Langdon kembali
memandang patung itu. Tanah ... Udara ... Api ...VITTORIA.
Petunjuk terakhir adalah Air, katanya pada dirinya sendiri. Patung Air karya
Bernini. Patung itu pasti berada di dalam
sebuah gereja di suatu tempat entah di mana. Seperti mencari sebatang jarum di
dalam tumpukan jerami. Dia memutar pikirannya untuk mengingat seluruh karya
Bernini yang dapat diingatnya. Aku memerlukan tanda penghormatan pada Air!
Langdon teringat pada patung karya Bernini, Triton atau dewa Yunani yang
menguasai laut. Kemudian dia sadar patung itu terletak di lapangan yang berada
di luar gereja ini dengan arah yang sama sekali tidak tepat. Bentuk apa yang
dipahat Bernini sebagai pemujaan kepada air" Neptune dan Appolo" Sayangnya,
patung itu kini berada di Museum Victoria & Albert di London.
"Signore?" kata seorang petugas sambil berlari memberikan peta itu kepadanya.
Langdon berterima kasih kepadanya dan membuka peta itu di atas altar. Dia segera
tahu dia telah bertanya kepada orang yang tepat; peta Roma milik lembaga pemadam
kebakaran itu sangat rinci. Dia belum pernah melihat yang seperti itu
sebelumnya. "Di mana kita sekarang?" Lelaki itu menunjuk. "Di dekat Piazza
Barberini." Langdon melihat tombak malaikat itu lagi untuk mengingatingat.
Perhitungan kepala regu itu ternyata sangat tepat. Menurut peta, tombak itu
menunjuk ke arah barat. Langdon menyusuri garis dari tempatnya sekarang ke barat
dan melintasi peta itu. Dengan segera harapannya mulai tenggelam. Tampaknya
setiap kali jarinya bergerak, dia melewati begitu banyak gedung dengan tanda
silang kecil berwarna hitam. Gereja-gereja. Kota ini dipenuhi oleh gereja.
Akhirnya, jari Langdon tidak menemukan gereja lagi dan dia terus menyusuri peta
hingga ke pinggiran kota Roma. Dia menghela nafas dan mundur dari peta itu.
Sialan. Sambil mengamati seluruh Roma di peta itu, mata Langdon menumbuk tiga gereja
tempat di mana ketiga kardinal sebelumnya dibunuh. Kapel Chigi ... Basilika
Santo Petrus ... lalu di sini ....
Setelah melihat semua yang terbentang di depannya saat itu, Langdon mencatat
keanehan tentang letak gereja-gereja itu. Dia tadi membayangkan gereja-gereja
itu tersebar secara acak di seluruh Roma. Tetapi ternyata tidak. Sepertinya
ketiga gereja itu tersebar secara sistematis, dalam bentuk segitiga besar seluas
kota. Langdon memeriksanya kembali. Dia tidak dapat membayangkannya. "Penna,"
katanya tiba-tiba tanpa mendongak. Seseorang memberikan sebuah pena. Langdon
melingkari ketiga gereja itu. Denyut nadinya bertambah cepat. Dia memeriksa
tanda-tanda itu untuk ketiga kalinya. Sebuah segitiga simetris!
Pikiran, Langdon yang pertama adalah the Great Seal yang tertera di lembaran
satu dolar Amerika Serikat - segitiga berisi mata yang melihat semuanya. Tetapi
itu tidak masuk akal. Dia baru menandai tiga titik. Seharusnya semuanya ada
empat titik. Jadi, di mana penghormatan terhadap Air" Langdon tahu di mana pun dia meletakkan
titik keempat, hal itu akan membuat segi tiga tersebut tidak simetris lagi.
Satu-satunya pilihan untuk menjaga kesimetrisan segitiga itu adalah menempatkan
titik keempat itu di dalam segi tiga itu, tepat di tengah-tengahnya. Dia
memeriksa kemungkinan itu pada peta. Tapi tidak ada gereja di sana. Walau
demikian, gagasan itu tetap mengganggunya. Empat elemen ilmu pengetahuan
dianggap setara. Air tidak istimewa; Air tidak akan berada di tengahtengah yang
lainnya. Walau begitu, nalurinya mengatakan pengaturan yang simetris itu bisa saja hanya
kebetulan. Aku masih belum dapat memahaminya. Hanya ada satu pilihan lain.
Keempat titik itu tidak membentuk segitiga, tapi membentuk bentuk lain.
Langdon kembali memeriksa peta di hadapannya itu. Sebuah persegi empat, mungkin"
Walau segiempat tidak membuat simbol apa pun, paling tidak segiempat itu
simetris. Langdon meletakkan jarinya di atas peta di satu titik yang bisa
membuat segi tiga itu menjadi segi empat. Dia langsung menyadari segi empat yang
sempurna tidak mungkin terbentuk. Sudut pada segitiga tadi miring dan hanya akan
membentuk segi empat yang tidak beraturan.
Ketika dia mempelajari kemungkinan lain di sekitar segitiga itu, sesuatu yang
tidak terduga terjadi. Dia memerhatikan garis yang sebelumnya dia tarik untuk
menunjukkan arah tombak malaikat, membentuk satu kemungkinan lain. Dengan
terheranheran, Langdon melingkari titik itu. Dia kini melihat empat titik di
atas peta dan membentuk sesuatu yang aneh; berlian atau layang-layang yang
janggal. Dia mengerutkan keningnya. Berlian bukan juga merupakan simbol Illuminati. Dia
berhenti sejenak. Tapi ....
Langdon segera ingat pada Berlian Illuminati. Gagasan itu tentu saja
menggelikan. Dia segera menyingkirkannya. Lagipula, berlian ini berbentuk bujur
dan lebih terlihat seperti layang-layang dan bukan contoh bentuk simetris yang
sempurna seperti berlian Illuminati itu.
Ketika dia mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa tempat dia meletakkan petunjuk
terakhir, Langdon heran karena melihat titik keempat itu terletak tepat di
tengah Piazza Navona yang terkenal itu. Dia tahu piazza itu berisi sebuah gereja
besar, tetapi jarinya sudah menyusuri piazza itu dan mempertimbangkan gereja
yang ada di sana. Setahunya, di sana tidak ada karya Bernini. Gereja itu bernama
Saint Agnes in Agony untuk mengenang Santa Agnes, seorang perawan cantik yang
diasingkan seumur hidupnya untuk menjadi budak seks karena menolak untuk
meninggalkan keyakinannya.
Pasti ada sesuatu di dalam gereja itu! Langdon memeras otaknya dan membayangkan
bagian dalam gereja itu. Dia tahu di gereja itu sama sekali tidak ada karya
Bernini, apalagi yang berhubungan dengan air. Tapi pengaturan letak titik-titik
pada peta itu juga mengganggu pikirannya. Sebutir berlian. Terlalu akurat untuk
disebut kebetulan, tetapi tidak cukup akurat untuk masuk akal. Sebuah layang-
layang! Langdon bertanya-tanya apakah dia telah salah memilih letak titik. Apa
yang tidak aku pahami"
Langdon memerlukan tiga puluh detik untuk mengetahui jawabannya. Tetapi ketika
dia tahu, dia merasa begitu gembira sekaligus sadar kalau dirinya belum pernah
merasa segembira ini sepanjang karir akademisnya.
Kelompok Illuminati itu jenius. Tampaknya akan selalu begitu.
Bentuk yang sedang dilihatnya sama sekali tidak dimaksudkan untuk berbentuk
berlian. Keempat titik itu hanya membentuk sebutir berlian karena Langdon
menghubungkan titik-titik yang berdekatan. Kelompok Illuminati percaya pada hal
yang berlawanan! Ketika dia menghubungkan titik-titik yang berlawanan dengan
penanya, jemari Langdon gemetar. Di depan matanya, di atas peta itu, tergambar
sebuah salib besar. Ini sebuah salib. Empat elemen ilmu pengetahuan terhampar di
depan matanya ... sebuah salib besar terbentang di kota Roma.
Ketika dia sedang berusaha memahami semua ini, sebaris puisi bergema di dalam
otaknya ... seperti sahabat lama yang memiliki wajah baru ....
'Cross Rome the mystic elements unfold ... (Seberangi Roma untuk membuka elemen-
elemen mistis) 'Cross Rome .... Kabut yang menutupi pikirannya kini mulai
menghilang. Langdon menemukan jawaban yang sejak tadi sudah berada di depan
matanya itu dengan pemahaman yang berbeda. Puisi Illuminati sudah memberitahunya
bagaimana letak keempat altar ilmu pengetahuan itu. Mereka membentuk sebuah
salib! 'Cross Rome the mystic elements unfold. Itu adalah permainan kata yang
cerdik. Langdon sebelumnya menganggap kata 'Cross sebagai singkatan dari kata
Across sehingga berarti menyeberangi. Dia menduga hal itu disebabkan oleh
kebebasan puitis untuk menjaga irama puisi tersebut. Tetapi ternyata lebih dari
sekadar itu! Ternyata itu adalah petunjuk tersembunyi lainnya.
Langdon menyadari tanda salib di peta itu adalah dualisme Illuminati yang paling
pokok. Ini adalah simbol agama yang dibentuk oleh elemen ilmu pengetahuan. Jalan
Pencerahan karya Galileo adalah penghormatan kepada ilmu pengetahuan dan Tuhan!
Dengan segera sisa dari teka-teki ini muncul. Piazza Navona. Tepat di tengah-
tengah Piazza Navona, di luar gereja St. Agnes in Agony, Bernini membuat salah
satu dari patungpatung karyanya yang paling terkenal. Setiap orang yang datang
ke Roma pasti mengunjunginya. Air Mancur dari Empat Sungai!
Sebagai bentuk penghormatan yang sempurna terhadap air, Fountain of the Four
Rivers karya Bernini itu memuji empat sungai besar dari Dunia Lama: Sungai Nil,
Gangga, Danube dan Rio Plata. Air, pikir Langdon. Petunjuk terakhir. Sempurna.
Langdon baru ingat, bahkan lebih sempurna lagi, di atas air mancur Bernini itu
berdiri sebuah obelisk yang menjulang tinggi.
Tanpa bermaksud membuat para petugas pemadam kebakaran bingung, Langdon berlari
melintasi gereja menuju tubuh Olivetti yang sudah tidak bernyawa.
10:31 malam, pikirnya. Masih banyak waktu. Ini adalah kali pertama dalam satu


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hari ini Langdon merasa memenangkan permainan itu.
Sambil berlutut di sisi jasad Olivetti yang tertutup oleh beberapa bangku
gereja, diam-diam Langdon mengambil pistol semi otomatis dan walkie-talkie sang
komandan. Langdon tahu, dia seharusnya menelepon untuk minta tolong, tetapi ini
bukan tempat yang tepat untuk melakukannya. Untuk saat ini, altar ilmu
pengetahuan yang terakhir harus menjadi rahasia. Mobil media dan pemadam
kebakaran yang berpacu sambil menyalakan sirene mereka ke arah Piazza Navona
bukanlah hal yang membantu.
Tanpa mengeluarkan kata-kata, Langdon menyelinap keluar pintu dan melewati para
wartawan yang sekarang mulai memasuki gereja secara bergerombol. Langdon
kemudian menyeberangi Piazza Bernini. Dalam kegelapan dia menyalakan walkie-
talkie itu. Dia mencoba menghubungi Vatican City, namun tidak mendengar apa-apa
kecuali nada statis. Entah dia berada di luar jangkauan atau walkie-talkie itu
membutuhkan kode otorisasi tertentu. Langdon memencet-mencet sekumpulan tombol
angka dan tombol lainnya, tapi tidak ada hasilnya. Tibatiba dia sadar
keinginannya untuk meminta tolong tidak akan terpenuhi. Dia berputar untuk
mencari telepon umum. Tidak ada. Lagipula, saluran di Vatican City diblokir. Dia
sendirian. Langdon merasa kepercayaan dirinya mulai menghilang. Lelaki itu
berdiri sejenak dan mengingat-ingat berbagai kejadian menyedihkan yang
menimpanya hari ini: tertimbun dalam debu bersama tulang-belulang, tangannya
terluka, merasa luar biasa lelah dan kelaparan.
Langdon melihat gereja itu kembali. Asap berputar di atas kubah yang diterangi
oleh lampu-lampu pers dan truk-truk pemadam kebakaran. Dia bertanya-tanya apakah
dia harus kembali dan minta bantuan. Namun nalurinya mengingatkan bantuan
tambahan, terutama dari seseorang yang tidak terlatih, hanya akan menyusahkannya
saja. Kalau si Hassassin melihat kami datang ... Langdon ingat pada Vittoria dan
tahu ini akan menjadi kesempatan terakhir untuk bertemu dengan penculik putri
Leonardo Vetra itu. Piazza Navona, pikirnya. Dia tahu dia dapat pergi ke sana dengan cepat dan
mengintainya. Langdon mengamati ke sekelilingnya untuk mencari taksi, tetapi
jalan itu sangat sunyi. Bahkan pengemudi taksi pun sepertinya telah meninggalkan
segalanya untuk menonton televisi. Piazza Navona hanya berjarak satu mil, tetapi
Langdon tidak berniat untuk memboroskan tenaganya yang sangat berarti untuk
berjalan kaki. Dia menatap gereja itu kembali sambil bertanya-tanya apakah dia
dapat meminjam kendaraan dari seseorang.
Truk pemadam kebakaran" Van milik pers" Yang benar saja.
Dia merasa tidak punya pilihan dan waktu terus berjalan. Langdon lalu membuat
keputusan. Dia menarik pistol Olivetti dari sakunya dan melakukan tindakan di
luar sifat aslinya sehingga dia sendiri menduga kalau jiwanya sudah kerasukan
setan. Dia lalu berlari menuju sebuah sedan Citroen yang sedang berhenti
sendirian di depan lampu lalu lintas. Langdon kemudian menodongkan senjatanya ke
arah jendela di sisi pengemudi yang terbuka. "Fuori!" teriak Langdon dan
menyuruh lelaki itu keluar. Orang itu pun keluar dengan tubuh gemetar. Langdon
segera meloncat ke depan kemudi dan memacu kendaraan itu.
101 GUNTHER GLICK DUDUK di sebuah bangku di sebuah ruang tahanan yang terdapat di
kantor Garda Swiss. Dia berdoa kepada semua tuhan yang dapat dia ingat. Kumohon,
semoga ini BUKANLAH mimpi. Ini adalah berita utama dalam hidupnya. Berita utama
bagi setiap manusia. Semua wartawan di bumi ini pasti berandai-andai kalau
dirinya adalah Glick sekarang. Kamu sedang terjaga, katanya pada dirinya
sendiri. Dan kamu adalah seorang bintang. Dan Rather sedang menangis karena
cemburu sekarang. Macri duduk di sebelahnya dan tampak agak terpaku. Glick tidak menyalahkannya.
Sebagai tambahan dari siaran langsung eksklusif yang berisi tentang pernyataan
sang camerlegno, Macri dan Glick melengkapi berita mereka dengan foto-foto
menyeramkan dari para kardinal yang tewas, mendiang Paus dengan lidah menghitam,
dan tayangan langsung dari siaran video yang menyorot tabung antimateri yang
sedang menghitung mundur. Luar biasa!
Tentu saja semuanya itu karena permintaan sang camerlegno, jadi tidak ada alasan
bagi mereka untuk dikurung di dalam ruang tahanan Garda Swiss. Keberadaan mereka
di ruang tahanan itu disebabkan oleh berita tambahan dalam liputan mereka yang
membuat para Garda Swiss tidak senang. Glick tahu percakapan yang dilaporkannya
itu seharusnya tidak boleh didengarnya. Tetapi informasi itu adalah kesempatan
bagus bagi Glick. Berita utama Glick lagi!
"The 11th Hour Samaritan?" tanya Macri sinis yang kini duduk di bangku sebelah
Glick. Dia jelas tidak terkesan. Glick tersenyum. "Cemerlang, bukan?" "Kebodohan
yang cemerlang." Dia hanya cemburu, kata Glick dalam hati. Tidak lama setelah
pernyataan sang camerlegno, Glick sekali lagi mendapat kesempatan emas karena
berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula. Dia mendengar Rocher
memberikan perintah baru kepada anak buahnya. Sepertinya Rocher baru saja
menerima panggilan telepon dari seseorang misterius yang menurut Rocher memiliki
informasi penting berkaitan dengan krisis yang mereka hadapi. Rocher berbicara
seperti orang ini dapat membantu mereka dan menyuruh anak buahnya untuk
mempersiapkan kedatangan sang tamu.
Walau informasi itu jelas-jelas merupakan informasi pribadi, Glick bertindak
seperti setiap wartawan berdedikasi lainnya - tanpa rasa hormat. Saat itu Glick
menemukan sudut gelap, lalu memerintahkan Macri untuk menyalakan kamera jarak
jauhnya, dan dia melaporkan berita itu.
"Ada perkembangan baru yang mengejutkan di kota Tuhan, katanya melaporkan sambil
menyipitkan matanya untuk menambah kesan ketegangan. Kemudian dia melanjutkan
bahwa seorang tamu misterius akan segera datang untuk menyelamatkan Vatican
City. The 11th Hour Samaritan, begitulah Glick menyebut tamu itu. Nama sempurna untuk
seorang misterius yang datang pada saat-saat terakhir untuk melakukan perbuatan
baik. Stasiun TV lainnya langsung mengutip judul yang menarik itu, dan sekali
lagi, Glick tidak dapat dihentikan.
Aku cemerlang, katanya senang. Peter Jennings baru saja meloncat dari jembatan
karena cemburu. Tentu saja Glick tidak berhenti di situ saja. Ketika dia
mendapat sorotan dari seluruh dunia, dia memberikan sedikit teori konspirasinya
sendiri sebagai tambahan laporannya tersebut. Cemerlang. Sangat cemerlang. "Kamu
mencelakakan kita," kata Macri. "Kamu betul-betul
telah menghancurkan laporan kita." "Apa maksudmu" Aku hebat!" Macri menatapnya
dengan tidak percaya. "Mantan Presiden
George Bush" Seorang anggota Illuminati?" Glick tersenyum. "Kurang jelas
bagaimana" George Bush berada di urutan ke-33 dalam daftar kelompok Mason dan
dia juga pernah menjabat sebagai Kepala CIA ketika badan itu menghentikan
penyelidikan tentang Illuminati karena kekurangan bukti. Dan semua pidato yang
disampaikannya tentang "ribuan titik cahaya" dan "Tata Dunia Baru" ...
menunjukkan kalau Bush adalah anggota Illuminati."
"Dan tentang CERN itu?" Macri mencaci. "Kamu akan menerima daftar panjang berisi
nama-nama pengacara di luar pintu rumahmu besok."
"CERN" Ayolah! Itu jelas sekali! Pikirkanlah! Kelompok Illuminati menghilang
dari muka bumi pada tahun 1950-an, hampir bersamaan dengan saat CERN didirikan.
CERN adalah surga bagi orang paling tercerahkan di dunia. Dana pribadi dalam
jumlah besar. Mereka menciptakan senjata yang dapat menghancurkan gereja, dan
waduh ... mereka sekarang kehilangan benda itu!"
"Jadi kamu mengatakan bahwa CERN merupakan markas Illuminati yang baru?"
"Jelas! Persaudaraan seperti itu tidak akan menghilang begitu saja. Kelompok
Illuminati itu pasti pergi ke suatu tempat. CERN adalah tempat yang sempurna
bagi mereka untuk besembunyi. Aku tidak mengatakan bahwa semua orang di CERN
adalah anggota Illuminati. CERN mungkin seperti rumah kayu besar milik kelompok
Mason di mana kebanyakan orang di sana tidak berdosa, tetapi eselon tingkat
atasnya - " "Pernah mendengar tentang fitnah, Glick" Dan tanggung jawab?"
"Pernah mendengar tentang jurnalisme yang sesungguhnya?"
"Jurnalisme" Kamu menyiarkan kebohongan ke seluruh dunia! Seharusnya aku
mematikan saja kameraku! Dan omong kosong apa lagi tentang logo institusi CERN"
Simbologi setan" Apa kamu sudah gila?"
Glick tersenyum. Kecemburuan Macri tampak jelas. Isu tentang logo CERN adalah
spekulasi yang paling cemerlang. Sejak pernyataan sang camerlegno, semua stasiun
TV membicarakan tentang CERN dan antimaterinya. Beberapa jaringan memperlihatkan
logo perusahaan CERN sebagai latar belakang. Logo itu tampaknya biasa-biasa
saja: dua lingkaran yang saling berpotongan yang menggambarkan dua akselerator
partikel, dan lima garis singgung yang menggambarkan tabung injeksi partikel.
Seluruh dunia mengamati logo tersebut, tetapi Glick-lah, yang sok-sokan menjadi
ahli simbologi, yang melihat simbol Illuminati yang tersembunyi di baliknya.
"Kamu bukan ahli simbologi," serapah Macri, "kamu hanya seorang wartawan yang
beruntung. Seharusnya kamu berikan saja urusan simbologi itu kepada lelaki dari
Harvard itu." "Lelaki Harvard itu tidak melihatnya," kata Glick. Gambaran
Illuminati dalam logo itu sangat jelas! Glick merasa sangat bahagia. Walaupun
CERN memiliki banyak akselerator, dalam logo mereka hanya terlihat dua saja. Dua
adalah angka Illuminati untuk dualitas. Walau pada umumnya akselerator hanya
memiliki satu tabung injeksi, logo itu menunjukkan lima tabung. Lima adalah
angka pentagram Illuminati. Kemudian muncullah spekulasi itu dan menjadi hal
yang paling cemerlang dari semuanya. Glick menunjukkan bahwa logo itu berisi
nomor "6" yang besar dan tampak jelas tergambar dari gabungan garis dan
lingkaran. Dan ketika logo itu diputar, angka enam itu muncul lagi ... dan juga
angka enam lainnya. Logo itu mengandung tiga angka enam! 666! Angka setan!
Pertanda kebuasan! Glick jenius. Macri tampak siap untuk memukulnya. Glick tahu
kecemburuan itu akan berlalu dan otaknya sekarang melayang ke tempat lain. Kalau
CERN adalah markas Illuminati, apakah lembaga itu menjadi tempat Illuminati
untuk menyimpan berlian Illuminati yang dipenuhi skandal itu" Glick pernah
membacanya di internet - "Sebutir berlian tanpa cela, berasal dari elemen kuno
dengan kesempurnaan yang tiada duanya sehingga semua orang yang melihatnya hanya
bisa terpana." Glick bertanya-tanya apakah rahasia keberadaan berlian Illuminati itu akan
menjadi misteri yang dapat diungkap olehnya malam ini juga.
102 PIAZZA NAVONA, Fontain of Four Rivers.
Malam di Roma, seperti halnya di gurun pasir, bisa begitu sejuk, bahkan setelah
melalui satu hari yang panas. Langdon berhenti di pinggir Piazza Navona, lalu
merapatkan jasnya pada tubuhnya. Dari kejauhan terdengar suara hiruk-pikuk lalu
lintas bersamaan dengan suara laporan berita yang bergema ke seluruh kota.
Langdon melihat jam tangannya. Lima belas menit lagi. Dia merasa senang karena
dapat beristirahat selama beberapa menit.
Piazza itu sunyi. Air mancur adikarya Bernini yang berdesis di depannya seakan
memiliki kekuatan sihir yang menakutkan. Kolam air mancur yang beriak itu
menimbulkan kabut ajaib yang bergerak ke atas, bersinar karena diterangi oleh
lampu di bawah air. Langdon merasakan kesejukan yang mengalir di udara.
Yang paling menarik dari air mancur ini adalah ketinggiannya. Pusatnya saja
setinggi dua puluh kaki yang terbuat dari pualam travertine kasar yang menjulang
tinggi dan dilengkapi dengan gua-gua dan terowongan buatan tempat di mana air
mengalir. Seluruh bagian dari air mancur itu dihiasi dengan figur-figur Pagan.
Di atasnya berdiri sebuah obelisk yang menjulang setinggi empat puluh kaki.
Langdon menyusuri obelisk yang menjulang tinggi itu. Di ujung obelisk terlihat
sebuah bayangan samar seperti menggores langit; seekor burung dara bertengger
sendirian. Sebuah salib, pikir Langdon sambil masih merasa kagum pada pengaturan
petunjuk-petunjuk di seluruh Roma itu. Fountain of Four Rivers karya Bernini
adalah altar ilmu pengetahuan yang terakhir. Hanya beberapa jam yang lalu
Langdon berdiri di depan Pantheon dan merasa yakin bahwa Jalan Pencerahan telah
rusak dan dia tidak akan sampai sejauh ini. Itu adalah kesalahan besar yang
bodoh. Kenyataannya, keseluruhan jalan itu masih utuh. Tanah, Udara, Api, Air.
Dan Langdon telah mengikutinya ... dari awal hingga akhir.
Belum betul-betul sampai akhir, dia mengingatkan dirinya sendiri. Jalan itu
memiliki lima pemberhentian, bukan empat. Petunjuk keempat yang berupa air
mancur ini menunjukkan ke tujuan akhir - tempat suci kelompok itu: markas
Illuminati. Langdon bertanya-tanya apakah markas itu masih berdiri utuh. Dia
bertanya-tanya ke tempat itukah si Hassassin membawa Vittoria.
Mata Langdon memeriksa berbagai figur di air mancur itu sambil mencari petunjuk
apa saja yang dapat membawanya ke markas kelompok Illuminati. Biarkan para
malaikat membimbingmu dalam pencarian muliamu. Tiba-tiba dia menjadi waspada.
Air mancur itu sama sekali tidak memiliki patung malaikat. Jelas sekali tidak
ada sesosok malaikat pun dan Langdon dapat melihatnya dengan pasti dari
tempatnya berdiri ... dan dia juga dari dulu tidak pernah melihatnya. The
Fountain of the Four Rivers adalah karya Pagan. Seluruh ukirannya terdiri atas
bentuk-bentuk duniawi seperti manusia, hewan, bahkan seekor armadilo yang
terlihat aneh. Kalau di sini ada malaikat, dia akan tampak menonjol.
Apakah ini tempat yang salah" Dia memperhitungkan bentuk salib dari keempat
obelisk yang membentuk Jalan Pencerahan. Dia mengepalkan tinjunya. Air mancur
ini sempurna. Saat itu baru pukul 10:46 malam, ketika sebuah van hitam muncul
dari sebuah gang di ujung piazza itu. Langdon tidak akan memerhatikannya kalau
van itu tidak berjalan tanpa menyalakan lampu. Seperti seekor hiu berpatroli di
teluk yang disinari rembulan, kendaraan itu mengelilingi pinggiran piazza.
Langdon merunduk lebih dalam, meringkuk di dalam kegelapan di samping tangga
besar yang menuju ke arah Gereja St. Agnes in Agony. Dia melihat ke arah piazza,
dan denyut nadinya bertambah cepat.
Setelah berkeliling dua kali, van tersebut membelok masuk ke arah air mancur
karya Bernini itu. Van itu menepi dan bergerak di tepian air mancur dengan rapat
sehingga sisi mobil itu basah oleh air dari air mancur. Kemudian van diparkir
dengan pintu dorong yang berada di sisi mobil hanya berjarak beberapa inci dari
semburan air. Kabut mengombak. Langdon merasakan pertanda yang meresahkan.
Apakah si Hassassin datang lebih awal" Apakah dia berada di dalam van itu"
Langdon membayangkan pembunuh itu mengawal korban terakhirnya menyeberangi
piazza dengan berjalan kaki seperti yang dilakukannya ketika di Lapangan Santo
Petrus sehingga memberi kesempatan pada Langdon untuk menembaknya dengan mudah.
Tetapi kalau si Hassassin datang dengan menggunakan van, aturannya harus
berubah. Tiba-tiba pintu samping itu bergeser terbuka. Di lantai van itu,
terlihat seorang lelaki yang tergolek tanpa busana dan meringkuk dengan
sengsara. Lelaki itu terbungkus oleh rantai berat yang panjangnya beryard-yard.
Dia terikat rapat dengan rantai besi itu. Lelaki itu meronta-ronta, tetapi
rantai itu terlalu berat. Salah satu mata rantainya dimasukkan ke dalam mulut
lelaki itu seperti kekang kuda sehingga menyumbat teriakan minta tolongnya.
Ketika itu Langdon juga melihat sosok kedua bergerak di belakang tawanan itu
dari balik kegelapan, seolah sedang membuat persiapan terakhir.
Langdon tahu, dia hanya mempunyai waktu beberapa detik untuk bertindak.
Dia mengambil pistolnya, melepas jasnya dan menjatuhkannya di tanah. Dia tidak
mau ada tambahan beban berupa jas wolnya yang tebal. Selain itu, dia juga tidak
mau membawa Diagramma Galileo ke dekat air. Dokumen itu harus tetap di sini, di
tempat yang aman dan kering.
Langdon bergerak ke sebelah kanannya. Sambil mengelilingi tepian air mancur itu,
Langdon menempatkan dirinya tepat di seberang van tersebut. Patung yang terdapat
di tengah-tengah air mancur yang besar itu menghalangi pandangannya ke seberang
kolam. Dia berharap suara air yang mengelegar dapat menelan suara langkahnya.
Ketika dia sampai di dekat air mancur, Langdon melompati pinggirannya dan
menceburkan dirinya ke dalam air yang berbuih itu.
Kedalaman kolam itu hanya sampai di pinggangnya tapi airnya sedingin es. Langdon
mengeraskan rahangnya untuk melawan rasa dingin dan berjalan di dalam air. Dasar
kolam itu licin dan menjadi dua kali lipat berbahaya karena tumpukan uang logam
yang dilemparkan para wisatawan yang mengharapkan nasib mujur. Ketika kabut itu
naik di sekitar Langdon, dia bertanya-tanya apakah udara dingin atau rasa
takutnya yang membuat senjata di tangannya bergetar.
Dia tiba di bagian dalam air mancur itu dan berputar balik ke arah kiri. Dia
berusaha berjalan walau terasa sulit dan berpegangan pada pahatan-pahatan
pualam. Sambil bersembunyi di balik patung kuda berukuran besar, Langdon menatap
tajam. Van itu hanya berjarak lima belas kaki. Si Hassassin sedang berjongkok di
lantai mobilnya, tangannya menempel di tubuh kardinal yang terbungkus rantai
besi dan bersiap untuk menggulingkan tubuh kardinal itu keluar melalui pintu
yang terbuka agar tercebur ke air mancur.
Sambil terendam sedalam pinggang, Robert Langdon mengangkat pistolnya dan
melangkah keluar dari balik kabut sambil merasa seperti koboi yang sedang
melakukan aksi terakhirnya. "Jangan bergerak." Suaranya lebih teguh daripada
genggaman di pistolnya. Si Hassassin mendongak. Sesaat dia tampak bingung seolah dia sedang melihat
hantu. Kemudian bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman bengis. Dia
mengangkat kedua lengannya sebagai tanda menyerah. "Ternyata begini jadinya."
"Keluar dari van." "Kamu tampak basah kuyup." "Kamu datang lebih awal." "Aku
ingin segera kembali mengambil hadiahku." Langdon mengarahkan pistolnya. "Aku
tidak ragu untuk menembakmu." "Kamu sudah ragu-ragu." Langdon merasa jarinya menegang di pelatuk
pistol. Kardinal itu terbaring tidak bergerak sekarang. Dia tampak letih dan


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sedang sekarat. "Lepaskan ikatannya."
"Lupakan dia. Kamu datang untuk mengambil perempuan itu. Jangan berpura-pura
kepadaku." Langdon menahan diri untuk tidak segera mengakhirinya saat itu juga. "Di mana
dia?" "Di suatu tempat. Aman. Menungguku kembali." Vittoria masih hidup. Langdon
merasakan ada harapan. "Di Gereja Pencerahan?" Pembunuh itu tersenyum. "Kamu
tidak akan dapat menemukan tempat itu." Langdon merasa tidak percaya. Markas Illuminati masih
berdiri. Dia mengarahkan senjatanya. "Di mana?" "Tempat itu akan tetap menjadi
rahasia selama berabadabad. Aku saja baru mengetahuinya baru-baru ini. Aku lebih
baik mati daripada melanggar kepercayaan yang mereka berikan." "Aku dapat
menemukannya tanpa bantuanmu." "Sombong sekali." Langdon menunjuk ke arah air
mancur. "Aku sudah tiba
hingga sejauh ini." "Banyak orang yang tiba sampai di sini. Langkah
terakhirlah yang paling sulit." Langdon melangkah lebih dekat, kakinya bergerak
raguragu di dalam air. Anehnya, Si Hassassin tenang-tenang saja dan tetap
berjongkok di dalam van dengan lengan terangkat ke atas. Langdon membidikkan
pistolnya ke dadanya sambil bertanyatanya apakah dia akan menembak begitu saja
dan selesailah semuanya. Tidak. Pembunuh ini tahu di mana Vittoria. Dia tahu di
mana antimateri itu. Aku membutuhkan informasi itu! Dari balik kegelapan van, si
Hassassin menatap ke luar, ke arah penyerangnya dan tidak dapat menahan diri
untuk tidak merasa kasihan sekaligus geli. Lelaki Amerika ini sangat berani, dan
dia telah membuktikannya. Tapi, keberanian tanpa keahlian adalah bunuh diri. Ada
peraturan-peraturan untuk bertahan hidup. Peraturan kuno. Dan orang Amerika ini
telah melanggar semuanya.
Kamu memiliki kesempatan itu - elemen kejutan. Tetapi kamu menyia-nyiakannya.
Orang Amerika itu bimbang ... seperti mengharapkan datangnya bantuan ... atau
mungkin kesalahan bicara yang dapat menghasilkan informasi penting.
Jangan pernah menginterogasi sebelum kamu melumpuhkan mangsamu. Musuh yang
terpojok adalah musuh yang sangat berbahaya.
Lelaki Amerika itu berbicara lagi. Mengamati. Berjalan jalan di air.
Si pembunuh itu hampir saja tertawa keras. Ini bukan salah satu dari film
Hollywood-mu ... tidak akan ada diskusi panjang di bawah todongan senjata
sebelum melakukan tembakan terakhir. Ini adalah akhirnya. Sekarang.
Tanpa berhenti memandang Langdon, pembunuh itu menggerakkan tangannya ke langit-
langit van hingga menemukan apa yang dicarinya. Sambil terus menatap lurus ke
depan, dia meraih benda itu. Lalu dia melakukan aksinya. Gerakan itu sangat
tidak terduga. Untuk sesaat, Langdon berpikir hukum fisika sudah tidak berlaku
lagi. Pembunuh itu tampak bergantung tanpa beban di udara ketika kedua kakinya
mencuat keluar dari bawah badannya. Sepatu botnya menendang sisi tubuh sang
kardinal sehingga tubuh yang terantai itu menggelinding ke luar van. Tubuh
kardinal itu tercebur ke kolam sehingga air kolam memercik tinggi.
Ketika air kolam membasahi wajahnya, Langdon tahu dia sudah terlambat untuk
memahami apa yang tengah terjadi. Si pembunuh meraih pegangan di dalam van dan
menggunakannya sebagai alat untuk mengayunkan tubuhnya ke depan. Sekarang si
Hassassin bergerak mendekatinya, kakinya melangkah melewati percikan air.
Langdon menarik pelatuk pistolnya, dan peredam suaranya langsung beraksi.
Pelurunya meledak menembus jari kaki kiri di balik sepatu bot si Hassassin. Tapi
sesaat kemudian, Langdon merasa sol sepatu bot si Hassassin menimpa dadanya dan
mengirimkan tendangan yang menghancurkan. Kedua lelaki itu tercebur di antara
hujan darah dan air. Ketika cairan dingin menelan tubuh Langdon, yang pertama
dirasakan olehnya adalah rasa sakit. Setelah itu, yang muncul adalah insting
untuk bertahan hidup. Dia sadar dia sudah tidak memegang senjatanya lagi.
Senjatanya sudah ditendang jatuh. Sekarang dia menyelam dalam air dan meraba-
raba dasar kolam yang licin. Tangannya meraih sesuatu dari logam. Segenggam
koin. Dia lalu membuangnya. Dia kemudian membuka matanya dan mengamati kolam
yang berkilauan itu. Air bergemicik di sekitarnya seperti Jacuzzi yang dingin
sekali. Walau Langdon merasa harus bernapas, ketakutan membuatnya untuk terus berada di
bawah. Terus bergerak. Dia tidak tahu serangan berikutnya akan datang dari mana.
Dia harus menemukan senjata itu! Kedua tangannya meraba-raba dengan putus asa di
depannya. Kamu beruntung, katanya pada diri sendiri. Kamu berada di dalam elemenmu. Walau
kaus turtleneck-nya basah kuyup Langdon masih tetap menjadi perenang yang
tangkas. Air adalah elemenmu.
Ketika jemari Langdon menemukan sesuatu dari logam untuk kedua kalinya, dia
yakin nasibnya berubah. Benda di dalam tangannya bukanlah segenggam uang logam.
Dia kemudian meraihnya dan mencoba menarik ke arahnya. Tetapi ketika dia
menariknya, benda temuannya itu membuatnya menggelinding di bawah air. Benda itu
tidak dapat bergerak. Langdon sadar, bahkan sebelum dia meluncur mendekati tubuh sang kardinal yang
sedang menggeliat-geliat itu, dia telah menarik rantai yang memberati lelaki tua
itu. Langdon terpaku sejenak, tidak dapat bergerak karena melihat wajah yang
dipenuhi ketakutan itu menatapnya dari dasar kolam air mancur.
Tersentak oleh sinar kehidupan di mata lelaki tua itu, Langdon meraih kembali ke
bawah dan mencengkeram rantai itu sambil mencoba mengangkat lelaki itu ke
permukaan. Perlahan-lahan tubuh itu terangkat ... seperti sebuah jangkar.
Langdon menarik lebih kuat. Ketika kepala sang kardinal muncul di permukaan air,
lelaki tua itu berjuang untuk bernapas dengan putus asa. Tapi tiba-tiba tubuh
tua itu kembali berguling dengan hebat, sehingga cengkeraman Langdon terlepas
dari rantai yang licin itu. Seperti sebuah batu, Baggia tenggelam dan menghilang
ke bawah air yang berbuih.
Langdon menyelam, matanya terbelalak di dalam kegelapan air. Dia kembali
menemukan sang kardinal. Kali ini, ketika Langdon meraihnya, rantai yang
membungkus tubuh lelaki tua itu bergeser ... terbuka dan memperlihatkan
kekejaman berikutnya ... sebuah kata telah dicapkan sehingga menimbulkan luka
bakar yang parah. Sesaat kemudian, sepasang sepatu bot muncul. Salah
satunya mengeluarkan darah.
103 SEBAGAI SEORANG PEMAIN polo air, Robert Langdon telah memberikan lebih dari
kemampuannya dalam pertempuran di bawah air. Kebuasan kompetitif yang terjadi di
bawah air dalam sebuah pertandingan polo air, jauh dari pengamatan mata wasit,
dapat dibandingkan dengan pertandingan gulat terburuk sekalipun. Langdon sudah
pernah ditendang, dicakar, dipeluk dan bahkan digigit oleh pemain belakang yang
putus asa. Namun Langdon selalu dapat lolos darinya.
Sekarang, ketika terendam di dalam kolam sedingin es di air mancur karya
Bernini, Langdon tahu dia berada jauh dari kolam renang Harvard. Dia berkelahi
bukan dalam sebuah pertandingan, tetapi untuk mempertahankan hidup. Ini adalah
kedua kalinya mereka berdua bertempur. Tidak ada wasit di sini. Tidak ada
pertandingan ulang. Lengan-lengan itu dengan kuat menekan wajahnya ke dasar
kolam dengan tujuan yang jelas - membunuhnya.
Secara naluriah, Langdon memutar tubuhnya seperti sebuah torpedo. Lepaskan
cengkeraman itu! Tetapi cengkeraman itu memutarnya kembali. Penyerangnya itu
menikmati keuntungan yang tidak pernah dirasakan oleh para pemain belakang polo
air mana pun - dua kaki menjejak dasar kolam dengan kukuh. Langdon merubah posisi
tubuhnya, dan berusaha menjejakkan kakinya di dasar kolam. Si Hassassin
tampaknya hanya menggunakan satu lengan saja ... walau begitu, cengkeramannya
sangat kuat. Saat itu Langdon tahu dia tidak akan dapat muncul ke permukaan. Dia hanya dapat
melakukan satu-satunya cara yang mungkin dilakukannya. Dia berhenti berusaha
muncul ke permukaan. Jika kamu tidak dapat pergi ke utara, pergilah ke selatan.
Sambil mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Langdon menendangkan kakinya seperti
seekor lumba-lumba dan mengayuhkan lengannya dengan gaya kupu-kupu yang aneh.
Tubuhnya terdorong ke depan.
Perubahan perlawanan Langdon yang tiba-tiba itu tampaknya mengejutkan si
Hassassin. Gerakan Langdon tadi berhasil menarik tangan si penculik itu ke
samping, sehingga menggoyahkan keseimbangannya. Cengkeraman lelaki itu
mengendur, dan Langdon menendang lagi. Sensasi saat itu seperti tali kendali
yang dihentakkan. Tiba-tiba Langdon bebas. Sambil segera menghembuskan napas
yang sudah tertahan lama di dalam paru-parunya, Langdon berusaha mengangkat
tubuhnya ke permukaan. Tapi kali ini dia hanya mendapat kesempatan untuk
mengambil napas satu kali saja. Dengan kekuatan yang menghancurkan, si Hassassin
sudah berada di atasnya lagi. Telapak tangannya berada di bahu Langdon dan
seluruh berat tubuhnya menekan Langdon ke bawah lagi. Langdon berusaha untuk
menjejakkan kakinya di dasar kolam, tapi kaki si Hassassin menyandung kakinya
sehingga membuat Langdon tercebur kembali ke dalam air. Langdon tenggelam lagi.
Tubuh Langdon terasa sakit ketika berputar di bawah air.
Kali ini usahanya tidak berhasil. Di antara gelembung air, Langdon mengamati
dasar kolam, mencari senjatanya. Segalanya tampak kabur. Banyak sekali gelembung
udara di dalam kolam ini. Secercah sinar menyilaukan menyinari wajah Langdon
ketika si pembunuh menekannya lebih ke dalam. Ternyata itu adalah lampu sorot
yang dipasang di lantai kolam air mancur. Langdon mengulurkan tangannya dan
berusaha meraih tabung lampu itu. Panas. Langdon mencoba membebaskan diri dari
cengkeraman si pembunuh dengan berpegangan pada lampu, tapi lampu itu terpasang
di engsel yang kuat dan dengan segera terlepas dari genggaman Langdon. Alat
untuk membantunya keluar dari air sudah hilang. Si Hassassin masih terus
menekannya ke bawah. Saat itulah Langdon melihatnya. Muncul di antara uanguang
logam, tepat di bawah wajahnya, terlihat sebuah silinder hitam ramping. Peredam
pistol Olivetti! Langdon meraihnya, tetapi ketika jemarinya menggenggam silender
itu, dia tidak merasakan benda logam di tangannya. Dia merasakan sebuah benda
dari plastik. Ketika dia menariknya, lubang selang karet yang lentur itu
tercabut seperti seekor ular. Panjangnya kira-kira dua kaki dan mengeluarkan
gelembung dari ujungnya. Langdon tidak menemukan senjata yang dicarinya sama
sekali. Yang dipegangnya hanyalah spumanti yang tidak berbahaya ... sebuah alat
pembuat gelembung. Tak jauh dari situ, Kardinal Baggia merasa jiwanya meronta
untuk meninggalkan tubuhnya. Walau dia telah bersiap untuk menghadapi saat
seperti itu sepanjang hidupnya, namun dia tidak pernah membayangkan akhirnya
akan seperti ini. Tubuhnya kesakitan terbakar, memar, dan tertahan di bawah air
oleh beban yang membuatnya tidak dapat bergerak. Dia mengingatkan dirinya
sendiri bahwa penderitaan ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa
yang telah dialami Yesus. Dia mati untuk menebus dosa-dosaku ....
Baggia dapat mendengar suara gelepar perkelahian sengit di dekatnya. Dia tidak
dapat menahan perasaannya. Penculiknya akan mengakhiri hidup orang lain lagi ...
lelaki bermata ramah itu, lelaki yang tadi berusaha menolongnya.
Ketika rasa sakitnya bertambah, Baggia berbaring terlentang dan menatap melalui
air ke arah langit hitam di atasnya. Untuk sesaat dia mengira, dia melihat
bintang-bintang. Sudah waktunya. Sambil membebaskan semua perasaan takut dan
ragunya, Baggia membuka mulutnya dan mengeluarkan apa yang dirasanya sebagai
napas terakhirnya. Dia melihat jiwanya melayang ke surga dalam bentuk gelembung
tembus pandang. Lalu, secara refleks dia megap-megap. Air masuk ke dalam tubuh
Baggia seperti belati dingin. Rasa sakit itu hanya berlangsung beberapa detik.
Kemudian ... damai. Si Hassassin mengabaikan luka tembakan yang terasa seperti membakar kakinya dan
memusatkan perhatiannya pada lelaki Amerika yang hampir mati lemas karena
dibenamkan di dalam arus air yang deras. Selesaikan hingga tuntas. Dia
mengeraskan cengkeramannya, dan dia tahu kali ini Robert Langdon tidak akan
selamat. Seperti yang telah diduganya, perlawanan korbannya menjadi semakin
lemah. Tiba-tiba tubuh Langdon menjadi kaku. Kemudian tubuhnya mulai bergetar dengan
liar. Ya, si Hassassin itu merasa senang. Ototnya mulai menjadi kaku. Itulah yang
terjadi begitu air memasuki paru-paru. Dia tahu keadaan itu hanya akan
berlangsung dalam lima detik. Ternyata itu berlangsung selama enam detik.
Kemudian, tepat seperti yang diduga si Hassassin, korbannya tiba-tiba menjadi
lemah. Seperti balon besar yang kehabisan udara, Robert Langdon menjadi lumpuh.
Selesai. Tapi si Hassassin masih tetap membenamkannya di bawah air selama tiga
puluh detik lagi untuk membiarkan air membanjiri paruparu korbannya. Sedikit
demi sedikit, dia merasakan tubuh Langdon mulai tenggelam dengan sendirinya ke
dasar kolam. Akhirnya, si Hassassin melepaskannya. Pers akan menemukan dua
kejutan di Fountain of the Four Rivers.
"Tabban!" si Hassassin menyumpah sambil memanjat keluar dari kolam air mancur
itu dan melihat jari kakinya yang terluka. Ujung sepatu botnya terkoyak dan
ujung jempolnya yang besar itu terluka parah. Dia menjadi marah karena
keteledorannya. Kemudian si Hassassin menyobek celananya dan menjejalkan kain
itu di lubang yang terdapat di ujung sepatunya itu. Rasa sakit menyebar dari
ujung kakinya. "Ibn alkalb!" Dia mengepalkan tinjunya dan menjejalkan kain tadi
lebih dalam lagi. Pendarahannya berkurang hingga akhirnya hanya menjadi tetesan
darah. Dia berusaha mengalihkan rasa sakit itu ke gagasan yang lebih menyenangkan. Si
Hassassin kemudian masuk ke vannya. Pekerjaannya di Roma telah selesai. Dia tahu
pasti apa yang dapat menghibur perasaan tidak nyamannya itu. Vittoria Vetra
terikat dan menunggunya. Walau basah dan kedinginan, si Hassassin merasa
tubuhnya menegang. Sekarang aku pantas menerima hadiahku.
Sementara itu, Vittoria terbangun kesakitan. Dia terbaring terlentang. Seluruh
ototnya terasa seperti membatu. Lengannya sakit. Ketika dia mencoba bergerak,
dia merasakan kekakuan di bahunya. Dia membutuhkan beberapa saat untuk menyadari
kalau tangannya terikat di belakang punggungnya. Reaksi pertamanya adalah
bingung. Apakah aku sedang bermimpi" Tetapi ketika dia mencoba mengangkat
kepalanya, rasa sakit di dasar tempurung kepalanya membuktikan dirinya betul-
betul tidak bermimpi. Ketika kebingungannya berubah menjadi ketakutan, Vittoria mengamati ruangan di
sekelilingnya dengan cemas. Dia berada di dalam ruangan berdinding batu yang
kasar. Ruangan itu besar dan dilengkapi dengan perabotan, dan diterangi oleh
sinar dari obor. Seperti sejenis ruang pertemuan kuno. Bangkubangku bergaya kuno
tertata melingkar di dekatnya.
Vittoria merasa ada hembusan angin dingin yang menerpa kulitnya. Di dekatnya,
terlihat dari pintu ganda yang terbuka lebar, balkon menampilkan langit malam
yang cerah. Melalui pintu itu, Vittoria yakin dia sedang melihat Vatican.
104 ROBERT LANGDON TERBARING di atas hamparan uang logam di dasar kolam Fountain of
the Four Rivers. Mulutnya masih mengulum selang plastik itu. Udara yang terpompa
melalui tabung spumanti yang ditujukan untuk menimbulkan gelembung di kolam itu
tidak bersih karena telah melalui pompa yang kotor. Kerongkongannya terasa
seperti terbakar. Tapi dia tidak mengeluh. Dia masih hidup. Dia tidak yakin
dengan kemampuannya meniru korban yang mati karena tenggelam, tapi Langdon sudah
bergaul dengan air sejak lama. Tentu saja dia pernah mendengar kisah-kisah
tentang orang tenggelam dan dia berusaha semampunya untuk menirunya dengan
tepat. Ketika si Hassassin membenamkan tubuhnya, Langdon menghembuskan seluruh
udara yang terkandung di paruparunya dan berhenti bernapas sehingga membuatnya
tenggelam. Untunglah, si Hassassin memercayai tipuannya dan pergi. Sekarang,
sambil terus terbaring di dasar kolam air mancur, Langdon masih harus menunggu
semampunya. Dia hampir saja tersedak. Dia bertanya-tanya apakah si Hassassin
masih berada di luar sana. Setelah mengambil napas melalui tabung itu, Langdon
lalu melepasnya dan berenang melintasi dasar air mancur hingga dia menemukan
gumpalan halus di tengah kolam. Tanpa membuat suara, dia mengikuti tonjolan-
tonjolan itu ke atas sampai akhirnya dia muncul di permukaan, di balik figur-
figur dari batu pualam itu. Van itu telah pergi. Hanya itu yang perlu dilihat
Langdon. Sambil menarik udara segar ke dalam paru-parunya, dia berenang lagi ke
tempat Kardinal Baggia tadi tenggelam. Langdon tahu lelaki itu pasti sudah
pingsan sekarang dan kemungkinannya untuk hidup juga sangat tipis. Tetapi
Langdon harus mencoba menolongnya. Ketika Langdon menemukan tubuh itu, dia
menjejakkan kakinya di dasar kolam kemudian meraih ke bawah. Langdon lalu meraih
rantai yang membalut tubuh sang kardinal dan menariknya. Ketika sang kardinal
muncul di permukaan, Langdon dapat melihat bahwa kedua mata lelaki itu telah
bergulung ke atas. Bukan pertanda yang bagus. Selain itu, tidak ada pernapasan
dan denyut nadi. Karena tahu dia tidak akan dapat mengangkat tubuh itu hingga ke tepi kolam,
Langdon membawa Kardinal Baggia melalui air dan memasuki bagian kosong di bawah
gundukan batu pualam. Di sini air menjadi dangkal, dan ada permukaan yang
mendaki. Langdon menarik tubuh tanpa busana itu hingga ke lereng itu sejauh
mungkin. Ternyata dia tidak mampu menyeretnya hingga terlalu jauh.
Kemudian dia mulai berusaha. Langdon menekan dada sang kardinal yang terbungkus
rantai untuk memompa air dari paruparunya. Kemudian dia mulai memberikan bantuan
pernapasan dengan berhati-hati. Berusaha agar tidak meniup terlalu keras dan
terlalu cepat. Selama tiga menit, Langdon mencoba menyadarkan lelaki tua itu.
Setelah lima menit, Langdon tahu usahanya tidak berhasil.
II preferito. Lelaki yang akan menjadi paus. Terbaring mati di depannya.
Walau begitu, Kardinal Baggia yang terbaring lemah di balik kegelapan di atas
lereng pualam dalam keadaan setengah tenggelam, mendapatkan suasana yang sangat


Macan Tutul Di Salju Leopard In The Snow Karya Anne Mather di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terhormat. Air beriak dengan lembut di dadanya seperti tampak menyesal ...
seolah air itu meminta maaf karena telah menjadi penyebab utama kematian lelaki
ini ... seolah mencoba membersihkan luka bakar yang menuliskan namanya. Air.
Dengan perlahan, Langdon mengusapkan tangannya di wajah lelaki itu dan
menutupkan matanya yang menatap ke atas. Ketika dia melakukannya, Langdon merasa
begitu lelah dan getaran air mata mulai mengalir dari pelupuknya. Perasaan itu
membuatnya merasa tidak berdaya. Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-
tahun tidak mengalaminya, Langdon menangis.
105 KABUT KELETIHAN PERLAHAN mulai terangkat ketika Langdon beranjak pergi dan
meninggalkan kardinal yang sudah tewas itu dengan berenang melintasi kolam.
Sambil merasa letih dan sendirian di dalam kolam air mancur, Langdon setengah
berharap dirinya lebih baik pingsan saja. Tetapi, dia merasakan sebuah dorongan
baru yang timbul di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak dapat ditolak sehingga
membuatnya kalut. Dia merasa tubuhnya menegang dengan ketabahan yang tidak
diduga-duganya. Pikirannya, seperti mengabaikan rasa sakit di hatinya,
memaksanya meninggalkan masa lalu dan membimbingnya untuk berkonsentrasi pada
satu tugas yang sangat mendesak. Temukan markas Illuminati. Selamatkan Vittoria.
Sambil berpaling dan menatap pahatan patung yang menjulang tinggi yang terdapat
di tengah-tengah air mancur karya Bernini itu, Langdon mengumpulkan harapan dan
mengembalikan tekadnya untuk menemukan petunjuk terakhir Illuminati. Dia tahu
figur-figur yang terpahat di bongkahan pualam di hadapannya ini pasti
menunjukkan di mana markas Illuminati itu berada. Ketika Langdon memeriksa air
mancur itu, harapannya dengan cepat menguap. Kata segno seperti sedang
mengejeknya. Biarkan para malaikat membimbingmu dalam pencarian sucimu. Langdon
memandang dengan kesal ke arah ukiran yang berada di depannya. Air mancur ini
karya Pagan! Tidak ada bentuk malaikat di mana pun! Ketika Langdon menghentikan
pencariannya, matanya secara alamiah menyusuri pilar baru yang menjulang tinggi.
Empat petunjuk, pikirnya, tersebar di Roma seperti sebuah salib raksasa.
Sambil memeriksa hieroglif yang menyelimuti obelisk, Langdon bertanya-tanya
apakah petunjuk selanjutnya tersembunyi di balik simbol-simbol Mesir. Dia
langsung menyingkirkan pemikiran itu. Hieroglif ini ditulis berabad-abad sebelum
Bernini hidup, dan belum bisa dibaca sebelum batu Rosetta ditemukan. Tapi
Langdon masih ingin berspekulasi dengan berpikir kalau Bernini mengukirkan
simbol tambahan yang tidak terlihat oleh seorang pun di antara simbol hieroglif
yang rumit itu. Langdon merasakan adanya secercah harapan, dan mulai mengamati air mancur itu
sekali lagi dan memeriksa keempat sisi obelisk. Dalam dua menit, Langdon
berhasil menyelesaikan sisi terakhir obelisk dan harapannya langsung memudar.
Tidak ada simbol hieroglif yang menonjol seperti tambahan yang diberikan oleh
Bernini. Jelas tidak ada malaikat di sini.
Langdon melihat jam tangannya. Pukul sebelas tepat. Dia tidak dapat mengatakan
apakah waktu berlalu dengan cepat atau merayap dengan lambat. Gambaran tentang
Vittoria dan si Hassassin berputar menghantuinya ketika Langdon merangkak di
sekitar air mancur itu. Rasa putus asa mulai merambatinya ketika dia tidak
berhasil menemukan petunjuk yang dicarinya. Merasa sangat letih dan sakit,
Langdon tahu dia akan pingsan sebentar lagi. Dia mendongakkan kepalanya dan
berteriak pada malam. Tapi suaranya tercekat di dalam tenggorokannya. Langdon
kini menatap obelisk. Benda yang bertengger di puncak obelisk itu adalah benda
yang tadi diabaikannya. Sekarang, benda itu membuatnya berhenti secara tiba-
tiba. Itu bukan sosok malaikat. Sama sekali bukan. Tadi dia sama sekali tidak
mengira kalau benda itu adalah bagian dari air mancur Bernini. Dia mengira benda
yang bertengger itu adalah makhluk hidup, pencari sisa-sisa makanan yang
bertengger di menara mulia itu. Seekor burung dara. Langdon menyipitkan matanya
ke atas untuk memerhatikan benda itu. Tapi pandangan matanya mengabur karena
kabut yang menyelimutinya. Itu seekor burung dara, bukan" Dia dengan jelas
melihat kepala dan paruhnya membayang di hamparan bintang yang menghiasi langit.
Terlebih lagi, burung itu tidak bergerak sejak Langdon tiba tadi, bahkan ketika
perkelahian sengit di bawahnya berlangsung sekalipun. Burung itu masih tetap
duduk seperti ketika Langdon memasuki lapangan itu. Burung itu bertengger tinggi
di puncak obelisk, menatap dengan tenang ke arah barat.
Langdon menatapnya sesaat dan kemudian mencelupkan tangannya ke dalam air mancur
dan meraup segenggam penuh uang logam. Dia melemparkan uang logam itu ke atas.
Koin itu kemudian berhamburan di bagian atas obelisk itu. Burung itu sama sekali
tidak bergerak. Langdon mencobanya lagi. Kali ini salah satu uang logam itu
mengenai burung tersebut. Samarsamar terdengar bunyi logam yang saling beradu
dan mengalir ke seluruh lapangan. Burung dara itu terbuat dari perunggu. Kamu
sedang mencari sesosok malaikat, bukan seekor burung dara, suara itu
mengingatkannya. Tetapi terlambat, Langdon sudah menghubung-hubungkannya. Dia
sadar burung itu sama sekali bukanlah seekor burung dara. Itu burung merpati.
Hampir tidak menyadari apa yang dilakukannya, Langdon kembali masuk ke air,
menuju pusat air mancur dan mulai mendaki gunung batu travertine yang terdapat
di sana. Sambil menginjak kepala-kepala dan lengan-lengan besar figur-figur
karya Bernini, Langdon memanjat lebih tinggi lagi. Di tengah perjalanan ke dasar
obelisk, dia berhasil terhindar dari kabut dan dapat melihat kepala burung itu
dengan lebih jelas. Tidak diragukan lagi. Itu burung merpati. Warna gelap di tubuh burung itu
terjadi akibat dari polusi udara kota Roma yang menutupi warna asli perunggunya.
Lalu arti yang sesungguhnya muncul. Langdon telah melihat sepasang burung
merpati di Pantheon tadi sore. Sepasang burung merpati tidak berarti apaapa.
Sedangkan burung merpati ini bertengger sendirian.
Burung merpati yang sendirian adalah simbol Pagan dari Malaikat Perdamaian.
Kebenaran itu hampir saja membuat Langdon memanjat lebih tinggi lagi. Bernini
memilih simbol Pagan untuk malaikat sehingga dia dapat menyembunyikannya di
sebuah air mancur Pagan. Biarkan para malaikat membimbingmu dalam pencarian
muliamu. Merpati itulah malaikat yang dicarinya! Langdon tidak dapat memikirkan
tempat yang lebih mulia sebagai petunjuk terakhir Illuminati daripada yang ada
di puncak obelisk itu. Burung itu menghadap ke barat. Langdon berusaha mengikuti arah tatapannya,
tetapi dia tidak dapat melihat apaapa melalui gedung yang berada di sekitarnya.
Dia memanjat lebih tinggi lagi. Sebuah kutipan yang diucapkan oleh Santo
Gregorius dari Nyssa muncul dalam ingatannya secara tak terduga. Jika jiwa
berhasil tercerahkan ... dia akan berbentuk seperti burung merpati yang indah.
Langdon memanjat semakin tinggi, ke arah burung merpati itu. Dia merasa seperti
terbang sekarang. Dia mencapai landasan tempat obelisk itu berdiri dan tidak
dapat memanjat lebih tinggi lagi. Sambil memandang ke sekelilingnya, Langdon
tahu dia memang tidak perlu memanjat lagi. Seluruh kota Roma terbentang di
depannya. Pemandangan itu membuatnya sangat terpesona.
Di sebelah kirinya, kerumunan lampu-lampu media massa dengan riuh mengelilingi
Santo Petrus. Di sebelah kanannya, kubah Santa Maria della Vittoria masih
terlihat berasap. Di depannya, jauh di ujung sana, terlihat Piazza del Popolo.
Di bawah kakinya, titik keempat dan terakhir itu berada. Sebuah salib besar dari
empat obelisk raksasa. Dengan gemetar, Langdon melihat ke arah burung merpati di atasnya. Dia menoleh
dan menghadap ke arah yang benar. Lelaki itu kemudian menurunkan matanya ke arah
garis langit. Dalam sekejap dia melihatnya. Begitu pasti. Begitu jelas. Begitu
sederhana. Ketika menemukan apa yang dicarinya, Langdon tidak dapat
memercayainya. Markas Illuminati tetap tersembunyi selama berabad-abad.
Pemandangan seluruh kota itu seperti kabur ketika Langdon melihat sebuah gedung
dari batu yang besar sekali di seberang sungai di depannya. Gedung itu sama
terkenalnya dengan gedung-gedung lainnya di Roma. Berdiri di tepi sungai Tiber
dan berhadapan secara diagonal dengan Vatican. Bentuk geometri gedung itu pun
sangat mencolok - sebuah kastil berbentuk bundar, dikelilingi oleh benteng
persegi, dan di sisi luar tembok benteng tersebut, mengelilingi gedung itu,
terlihat sebuah taman berbentuk segilima.
Benteng kuno dari batu di depannya itu dengan dramatis diterangi oleh lautan
sinar yang lembut. Tinggi di puncak kastil itu, berdiri patung malaikat
berukuran besar dari perunggu. Malaikat itu mengacungkan pedangnya ke bawah,
tepat di tengah-tengah kastil itu. Dan seolah itu saja tidak cukup, langsung
menuju ke pintu utama kastil itu, berdiri sebuah jembatan terkenal, Jembatan
Malaikat - Bridge of Angels ... jalan menuju ke kastil itu dihiasi oleh dua belas
patung malaikat yang dibuat tak lain oleh Bernini sendiri.
Ketika akhirnya Langdon bisa bernapas dengan normal, dia menyadari kalau salib
obelisk Bernini yang terbentang di kota ini menuju ke sebuah benteng yang sangat
bergaya Illuminati; lengan horizontal salib itu langsung melewati bagian tengah
jembatan kastil tersebut dan membaginya menjadi dua bagian yang setara.
Langdon kemudian mengambil jas wolnya dan menjauhkannya dari tubuhnya yang basah
kuyup. Lelaki itu kemudian meloncat masuk ke dalam sedan curiannya dan
menginjakkan sepatunya yang basah ke atas pedal gas, dan melesat membelah malam.
106 SAAT ITU PUKUL 11:07 malam. Mobil Langdon melesat dengan cepat dan menembus
malam Roma. Dia memacu mobilnya di sepanjang Lungotevere Tor Di Nona yang berada
di sepanjang sungai Tiber. Sekarang Langdon dapat melihat bangunan yang
ditujunya tersebut muncul seperti sebuah gunung di sisi kanannya. Castel Sant'
Angelo. Kastil Malaikat. Tiba-tiba, belokan yang menuju ke Jembatan Malaikat
yang sempit - Ponte Sant' Angelo - muncul tak jauh di hadapannya. Langdon menginjak
rem dan membelok. Dia membelok tepat waktu, tetapi jembatan itu dipasangi
penghalang. Dia tergelincir sepanjang sepuluh kaki dan menabrak serangkaian
pilar pendek dari semen yang menghalangi jalannya. Langdon tersentak ke depan
ketika mobilnya bergetar. Dia melupakan sesuatu. Untuk menjaga keindahannya,
Jembatan Malaikat sekarang hanya dijadikan zona bagi pejalan kaki.
Dengan gemetar, Langdon terhuyung-huyung keluar dari mobilnya yang sudah rusak,
dan berandai-andai dia memilih jalan yang lainnya. Langdon merasa kedinginan.
Tubuhnya menggigil karena basah terkena air mancur tadi. Dia mengenakan jas wol
Harris-nya di atas baju basahnya. Untunglah jas bermerek Harris selalu berlapis
dua sehingga folio Diagramma akan tetap kering di dalam sakunya. Di depannya, di
seberang jembatan, benteng batu itu menjulang seperti sebuah gunung. Walau
merasa sakit dan sangat letih, Langdon harus berlari dan melompat.
Di kedua sisinya, seperti sepasukan pengawal, barisan malaikat karya Bernini itu
seperti melambai-lambai dan memberi selamat kepada Langdon karena berhasil
menuju ke tujuan terakhir. Biarkan para malaikat membimbingmu dalam pencarian
sucimu. Kastil tersebut tampak semakin menjulang ketika dia berjalan mendekat.
Ternyata kastil itu bukan bangunan yang dapat dipanjat dengan mudah karena
lerengnya yang curam dan lebih menakutkan dibandingkan dengan Basilika Santo
Petrus. Langdon berlari-lari kecil menuju benteng sambil mengomel. Lalu dia
melihat ke depan, ke arah tengah-tengah benteng yang berbentuk bundar dan
menjulang tinggi ke arah malaikat berukuran besar yang sedang menghunuskan
pedangnya. Kastil itu tampak sunyi. Langdon tahu, selama berabad-abad Vatican
menggunakan kastil itu sebagai makam, benteng, tempat peristirahatan paus,
penjara bagi musuh gereja dan museum. Tampaknya kastil ini juga memiliki penyewa
lain - kelompok Illuminati. Kenyataan itu menciptakan kesan menakutkan. Walau
kastil ini adalah milik Vatican, mereka hanya menggunakannya sesekali saja.
Tampaknya Bernini telah merenovasi tempat itu selama beberapa tahun. Konon, di
bagian dalam gedung itu sekarang memiliki banyak jalan masuk rahasia, gang, dan
ruang-ruang tersembunyi seperti sarang lebah. Langdon merasa yakin patung
malaikat dan taman berbentuk segilima yang terdapat di sekitar kastil itu pasti
karya Bernini juga. Ketika tiba di depan pintu ganda yang besar, Langdon mendorongnya dengan kuat.
Lelaki itu tidak heran ketika kedua pintunya tidak dapat bergerak. Dua gerendel
besi besar tergantung setinggi matanya. Tapi Langdon tidak peduli. Dia melangkah
mundur, lalu matanya menyusuri dinding bagian luarnya yang curam. Benteng ini
telah digunakan untuk menangkal serangan dari tentara-tentara Berber, Moor dan
orang-orang kafir. Langdon tahu kemungkinan dia dapat masuk sangat kecil.
Vittoria, pikir Langdon. Apakah kamu ada di dalam" Langdon bergegas mengelilingi
dinding luar itu. Pasti ada
jalan masuk yang lain. Ketika mengelilingi bangunan berbentuk bulat di sudut
benteng yang terletak di sebelah barat, Langdon, dengan napas terengah-engah,
sampai di lapangan parkir kecil di luar Lungotere Angelo. Di tembok ini dia
menemukan jalan masuk kedua ke dalam kastil, semacam jalan masuk yang berupa
jembatan yang dapat dinaik-turunkan. Jembatan itu sekarang terangkat dan
terkunci. Langdon menatap ke atas lagi.
Satu-satunya cahaya yang terdapat di sana adalah cahaya dari luar yang menerpa
bagian depan puri itu. Semua jendela kecil di dalam tampak gelap. Mata Langdon
memanjat lebih tinggi. Di puncak tertinggi dari menara utama, seratus kaki ke
atas, tepat di bawah pedang patung malaikat yang berdiri gagah, terlihat ada
satu balkon yang menonjol. Dinding pualamnya tampak bercahaya dengan samar,
seolah bagian dalamnya diterangi oleh obor. Langdon berhenti sejenak. Tiba-tiba
tubuh basah kuyupnya gemetar. Sebuah bayangan" Dia menunggu dengan tegang. Lalu
dia melihatnya lagi. Punggungnya terasa seperti tertusuk. Ada orang di atas!
"Vittoria!" dia berseru tapi suaranya tertelan oleh gelegak air sungai Tiber di
belakangnya. Langdon berjalan berputarputar sambil bertanya-tanya di mana para
Garda Swiss itu. Apakah mereka masih mendengarkan radionya"
Di lapangan parkir terlihat sebuah truk pers yang sedang diparkir. Langdon
Halloween Tanpa Kepala 1 Dewa Arak 71 Petualang- Petualang Dari Nepal Pisau Tanduk Hantu 2
^