Pencarian

Matahari Terbit 2

Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton Bagian 2


Anda tentu melihat bah wa label-label pada set C, set yang
dikeluarkan Phillips ketika mulai bertugas, agak lebih putih
dibandingkan label-label pada set yang lain. Perbedaannya
tidak mencolok, sebab gedung ini baru digunakan selama
dua bulan, namun tetap kelihatan."
"Ah, begitu." Seseorang telah memasuki ruang
keamanan, mengeluarkan dua puluh kaset baru, membuka
bungkus plastik, menulis label-label baru, lalu memasukkan
semua kaset itu ke dalam alat-alat perekam, menggantikan
kaset-kaset semula yang sempat merekam pembunuhan di
lantai 46. Aku berkata, "Menurut saya, Phillips menutup-nutupi
sesuatu." "Barangkali," kata Connor, "tapi ada urusan lebih penting
yang harus kita kerjakan. Lagi pula, dia tidak memiliki
informasi yang kita perlukan. Pembunuhan itu dilaporkan
pukul delapan tiga puluh. Phillips tiba pukul sembilan
kurang seperempat, jadi dia tidak melihat langsung
kejadiannya. Kita bisa berasumsi bahwa petugas sebelum
dia, Cole, sempat menyaksikannya. Tapi pukul sembilan
kurang seperempat, Cole sudah pergi, dan seorang pria
Jepang tak dikenal berada di ruang keamanan, sedang
menutup tas kerjanya."
"Anda pikir dia yang menukar kaset-kaset itu?"
Connor mengangguk. "Mungkin sekali Saya bahkan
takkan heran kalau orang itu juga pembunuhnya.
Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan jawabannya di
apartemen Miss Austin." Ia membuka pintu, dan kami
keluar ke tempat parkir. Bab 8 SEJUMLAH tamu sedang menunggu sampai para valet
membawa kendaraan mereka. Aku melihat Ishiguro sedang
berbincang-bincang dengan Wali Kota Thomas dan istrinya.
Connor menggiringku ke arah mereka. Ishiguro berdiri di
samping Wall Kota. Ia bersikap sangat ramah, bahkan
nyaris menjilat. Ketika melihat kami, ia tersenyum lebar.
"Ah, Tuan-tuan, apakah penyidikan Anda berjalan dengan
memuaskan" Barangkali ada lagi yang dapat saya bantu?"
Aku belum marah sebelum itu, sampai aku melihat
bagaimana ia bermanis-manis di depan Wali Kota. Aku
begitu gusar, sehingga wajahku mulal merah padam. Tetapi
Connor menghadapinya dengan tenang.
"Terima kasih, Ishiguro-san," ia berkata sambil
membungkuk sedikit. "Penyidikan kami berjalan dengan
lancar. " "Anda mendapatkan semua bantuan yang Anda
perlukan?" tanya Ishiguro.
"Oh, ya," jawab Connor. "Semua orang sangat
membantu." "Bagus, bagus. Saya senang mendengar itu."
Ishiguro melirik ke arah Wali Kota, lalu tersenyum.
Tampaknya ia penuh senyum.
"Tapi," kata Connor, "ada satu hal."
"Katakan saja jika ada yang dapat kami lakukan..."
"Kaset-kaset keamanan rupanya telah diambil."
"Kaset-kaset keamanan?" Ishiguro mengerutkan kening.
Kelihatan jelas bahwa ia terkejut.
"Ya," kata Connor. "Rekaman dari kamera-kamera
keamanan." Saya tidak tahu apa-apa mengenai itu," ujar Ishiguro.
"Tapi percayalah, jika kaset-kaset itu memang ada, Anda
bebas memeriksa semuanya."
"Terima kasih," kata Connor. "Hanya saja, kaset-kaset
yang menentukan telah diambil dari ruang keamanan
Nakamoto." "Diambil" Gentlemen, saya yakin telah terjadi kekeliruan." Pak Wali Kota memperhatikan percakapan mereka
dengan saksama. Connor berkata, "Barangkali, tapi saya rasa tidak. Saya
akan senang sekali, Mr. Ishiguro, jika Anda secara langsung
menangani masalah ini."
"Tentu saja," balas Ishiguro. "Tapi sekali lagi, saya tidak
bisa membayangkan, Kapten Connor, bahwa ada kaset yang
hilang." "Terima kasih atas bantuan Anda, Mr. Ishiguro," ujar
Connor. "Kembali," katanya, masih sambil tersenyum. "Pokoknya,
saya akan membantu Anda sebisa mungkin."
"Haram jadah!" aku mengumpat. Kami sedang melaju ke
arah barat di Santa Monica freeway. Berani-beraninya dia
bohong di depan kita."
"Memang menjengkelkan," Connor mengakui. "Tapi
Anda harus mengerti, Ishiguro memiliki pandangan yang
berbeda. Karena berada di samping Wali Kota, dia melihat
dirinya dalam konteks yang lain, dengan seperangkat
tuntutan dan kewajiban lain yang harus dipenuhinya.
Karena dia peka terhadap konteks, dia sanggup bersikap
lain, tanpa mengingat-ingat sikapnya sebelum itu. Bagi kita,
dia seperti orang lain. Tetapi Ishiguro merasa bahwa dia
sekadar bersikap sepantasnya."
"Yang membuat saya kesal adalah bahwa dia kelihatan
begitu percaya diri."
"Tentu saja," kata Connor. "Dan dia pasti akan heran jika
mendengar bahwa Anda marah terhadapnya. Anda
menganggapnya tak bermoral. Dia menganggap Anda naif.
Sebab bagi orang Jepang, slkap yang konsisten adalah
sesuatu yang mustahil. Orang Jepang bersikap lain-lain di
hadapan orang dengan kedudukan yang berbeda. Dia
menjadi orang yang berbeda jika dia pindah dari satu
ruangan ke ruangan lain di rumahnya sendiri."
"Yeah," kataku. "Itu boleh-boleh saja, tapi dia tetap
pembohong keparat." Connor menatapku. "Mungkinkah Anda berkata begitu di
depan ibu Anda?" "Tentu saja tidak."
"Jadi Anda pun berubah, sesuai dengan konteks," ujar
Connor. "Nyatanya kita semua begitu. Hanya saja orang
Amerika percaya bahwa ada inti kepribadian yang tidak
berubah dari waktu ke waktu. Dan orang Jepang percaya
bahwa kontekslah yang mengatur segala-galanya."
"Bagi saya," kataku, "itu kedengarannya seperti izin
untuk berbohong." "Dia tidak menganggapnya sebagai bohong."
"Tapi itulah yang dilakukannya."
Connor mengangkat bahu. "Hanya dari sudut pandang
Anda, Kohai. Dari sudut pandang dia, tidak."
"Persetan." "Oke, terserah Anda saja. Anda bisa berusaha memahami
orang Jepang dan menghadapi mereka apa adanya, atau
Anda bisa menggerutu panjanglebar. Tapi masalah kita di
negeri ini adalah bahwa kita tidak menghadapi orang
Jepang apa adanya." Mobil kami masuk ke lubang dalam, dan terguncang
begitu keras, sehingga gagang telepon mobil terlempar.
Connor memungutnya dari lantai dan menggantungkannya
di tempat semula. Di depan, aku melihat pintu keluar ke Bundy. Aku pindah
ke jalur kanan. "Ada satu hal yang belum jelas bagi saya,"
kataku. "Kenapa Anda menyangka bahwa orang dengan tas
kerja di ruang keamanan mungkin si pembunuh?"
"Karena urut-urutan waktunya. Begini, pembunuhan itu
dilaporkan pukul 20.32. Kurang dari lima belas menit
kemudian, yaitu pukul 20.45 seorang pria Jepang berada di
sana, menukar-nukar kaset, mencoba menutup-nutupi
kejadian tersebut. Itu tanggapan yang sangat cepat. Terlalu
cepat bagi perusahaan Jepang."
"Kenapa?" "Organisasi-organisasi Jepang sebenarnya sangat lambat
dalam menanggapi sebuah krisis. Proses pengambilan
keputusan mereka mengandalkan preseden, dan jika suatu
situasi tidak memiliki preseden, orang-orang menjadi
bimbang dan tidak tahu harus bersikap bagaimana. Anda
masih ingat kiriman fax yang bertubi-tubi" Saya yakin,
mereka pasti sibuk mengirim fax mondar-mandir ke kantor
Pusat Nakamoto di Tokyo sepanjang malam. Bisa
dipastikan bahwa perusahaan itu masih berusaha
menentukan langkah berikut. Sebuah organisasi Jepang
tidak sanggup bertindak cepat jika menghadapi situasi yang
baru." "Lain halnya jika seseorang bertindak sendiri?"
"Ya. Persis." Aku berkata, "Dan karena itu, Anda menduga bahwa
orang dengan tas kerja mungkin si pembunuh."
Connor mengangguk. "Ya. Si pembunuh, atau seseorang
yang berhubungan erat dengannya. Tapi saya rasa kita akan
mengetahui lebih banyak di apartemen Miss Austin. Kalau
tidak salah, apar temennya sudah kelihatan di depan, di
sebelah kanan jalan."
Bab 9 GEDUNG Imperial Arms merupakan gedung apartemen
di sebuah jalan yang diapit pepohonan, kira-kira satu
kilometer dari Westwood Village. Gedung yang meniru gaya
Tudor itu sudah perlu dicat ulang, dan penampilannya
secara keseluruhan tidak terlalu mengesankan, kalau tidak
mau dibilang tak terurus. Tetapi itu tidak aneh bagi gedung
apartemen kelas menengah yang dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa pascasarjana dan keluarga-keluarga
muda. Ciri utama Imperial Arms memang kenyataan bahwa
gedung itu tidak mencolok. Kita bisa lewat setiap hari di
depannya, tanpa sekali pun memperhatikannya.
"Yeah," kata Connor ketika ia menaiki tangga menuju
pintu masuk. "Persis seperti yang mereka sukai."
"Siapa menyukai apa?"
Kami masuk ke lobi, yang telah direnovasi dengan gaya
California yang serba tenang; kertas dinding berwarna
pastel dengan motif bunga, sofa-sofa empuk, lampu-lampu
keramik murahan, dan meja krom. Satu-satunya hal yang
membedakan lobi ini dari seratus lobi apartemen lain
adalah meja keamanan di pojok, tempat penjaga pintu
berbadan pendek gemuk mengalihkan pandangan dari
buku komik yang sedang dibacanya. Ia orang Jepang.
Sikapnya sangat tidak bersahabat. "Bisa saya bantu?"
Connor menunjukkan lencananya, lalu menanyakan
apartemen Cheryl Austin. "Saya beritahukan kedatangan Anda dulu," si penjaga
pintu berkata sambil meraih gagang telepon.
"Jangan repot-repot."
"Tidak. Saya beritahukan dulu. Barangkali ada tamu
sekarang. " "Saya jamin dia tidak sedang menerima tamu," ujar
Connor. "Kore wa keisatsu no shigoto da." Ia berkata bahwa
kami sedang menjalankan tugas resmi dari kepolisian.
Si penjaga pintu membungkuk, dengan kaku. "Kyugo
shitu." Ia menyerahkan sebuah anak kunci kepada Connor.
Kami melewati pintu kaca kedua, dan menyusuri selasar
berkarpet. Di masing-masing ujung selasar terdapat sebuah
meja kecil dan dengan segala kesederhanaannya,
interiornya berkesan anggun.
"Ciri khas orang Jepang," ujar Connor sambil tersenyum.
Aku berkata dalam hati, "Gedung apartemen bergaya
Tudor, tak terurus, di Westford" Ciri khas orang Jepang?"
Dari salah satu ruang di sebelah kanan, sayup-sayup
terdengar musik rap, hit terbaru dari Hammer.
"Bagian luarnya tidak memberi petunjuk mengenai
bagian dalamnya," Connor menjelaskan. "Salah satu prinsip
dasar dalam cara berpikir orang Jepang. Citra yang
ditampilkan kepada umum tidak mengungkapkan apa-apa -
dalam arsitektur, wajah orang, semuanya. Dari dulu sudah
begitu. Lihat saja rumah-rumah samurai zaman dulu di
Takayama atau Kyoto. Dari luar tidak kelihatan apa-apa."
"Ini gedung Jepang?"
"Tentu saja. Kalau bukan, kenapa orang Jepang yang
hampir tidak bisa menguasai bahasa Inggris dijadikan
penjaga pintu" Dan dia anggota yakuza. Mungkin Anda
sempat melihat tatonya tadi."
Aku tidak melihatnya. Yakuza adalah kelompok gangster
di Jepang. Aku baru tahu bahwa mereka sudah melebarkan
sayap ke Amerika, dan aku mengatakannya kepada Connor.
"Anda perlu menyadari," ujar Connor, "bahwa ada dunia
bayangan di L.A. sini, di Honolulu, di New York. Biasanya
dunia itu tidak terlihat oleh kita. Kita hidup di dunia
Amerika, mondar-mandir di jalan-jalan Amerika, dan kita
tak pernah sadar bahwa di samping dunia kita masih ada
dunia lain. Sangat rahasia, sangat tertutup. Di New York,
Anda mungkin melihat pengusaha Jepang masuk melalui
sebuah pintu tanpa tanda-tanda khusus, dan sepintas lalu
Anda sempat melihat kelab yang berada di balik pintu itu.
Barangkali Anda mendengar cerita mengenai sushi bar kecil
di Los Angeles, yang mengenakan charge sebesar 1.200
dolar per orang, sebanding dengan harga-harga di Tokyo.
Tapi kedua-duanya tidak tercantum dalam buku panduan.
Kedua-duanya bukan bagian dari dunia Amerika yang kita
kenal. Tempat-tempat seperti itu merupakan bagian dari
dunia bayangan, sebuah dunia yang hanya bisa dimasuki
oleh orang-orang Jepang."
"Dan tempat ini?"
"Ini sebuah benaku. Sebuah pondok cinta untuk para
wanita simpanan. Dan ini apartemen Miss Austin."


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Connor membuka pintu dengan anak kunci yang
diberikan penjaga tadi. Kami melangkah masuk.
Apartemen itu memiliki dua kamar tidur, berisi perabot
sewaan gaya Oriental yang mahal, dengan warna pastel
pink dan hijau. Lukisan-lukisan cat minyak yang tergantung
di dinding juga disewa; sebuah tabel di sisi salah satu
bingkai menunjukkan tempat asalnya, Breuner's Rents.
Meja dapur kosong, hanya ada semangkuk buah-buahan.
Lemari es hanya berisi yogurt dan beberapa kaleng Diet
Coke. Sofa-sofa di ruang duduk tampaknya belum pernah
diduduki. Di meja terdapat buku bergambar dengan potret
bintang-bintang Hollywood, serta vas berisi bunga kering.
Asbak-asbak kosong ada di mana-mana.
Satu dari kedua kamar tidur telah diubah menjadi ruang
kerja, dengan sofa dan pesawat TV, dan sebuah exercise
bike di pojok. Semuanya masih baru. Di pesawat TV masih
menempel stiker bertulisan DIGITAL TUNING FEATURE,
melintang di salah satu sudut. Sedang pada exercise bike
masih dibungkus plastik. Di kamar tidur utama, aku akhirnya menemukan tanda
mengenai kehadiran orang. Sebuah pintu lemari bercermin
terbuka lebar, dan tiga gaun pesta mahal tergeletak di
tempat tidur. Rupanya Miss Austin sempat memilih-milih
gaun mana yang akan dipakainya. Di meja rias terdapat
beberapa botol parfum, kalung berlian, jam Rolex emas,
foto-foto berbingkai, dan asbak dengan beberapa puntung
rokok Mild Seven Menthol. Laci paling atas di meja rias,
yang berisi celana dalam dan pakaian dalam lainnya,
terbuka sebagian. Aku melihat paspor Miss Austin, dan
segera memeriksanya. Ada satu visa untuk Arab Saudi, satu
untuk Indonesia, dan tiga cap kunjungan ke Jepang.
Stereo set di pojok ruangan masih menyala, dengan
kaset di dalamnya. Aku menghidupkannya, dan Jerry Lee
Lewis menyanyi, "You shake my nerves and you ra"le my
brain, too much love Irives a man insane..." Musik Texas,
terlalu kuno bagi wanita muda seperti ini. Tapi mungkin dia
menyukai lagu-lagu kenangan.
Aku kembali menghadap ke meja rias. Beberapa foto
berbingkai memperlihatkan Cheryl Austin di hadapan latar
belakang Asia - pintu gerbang berwarna merah di sebuah
kuil, taman bergaya formal, jalan dengan gedung pencakar
langit berwarna kelabu, stasiun kereta api. Sepertinya
semua foto itu diambil di Jepang. Sebagian besar mem-
perlihatkan Cheryl seorang diri, tetapi dalam beberapa foto
ia tampak bersama pria Jepang setengah baya, dengan
kacamata dan rambut yang mulai menipis. Foto terakhir
memperlihatkan ia di suatu tempat yang mestinya terletak
di wilayah barat Amerika. Cheryl berdiri di dekat mobil
pickup berdebu, tersenyum, di samping wanita tua dengan
kacamata hitam. Wanita itu tidak tersenyum dan bahkan
tampak rikuh. Terselip di bawah meja rias terdapat beberapa gulungan
kertas berukuran besar. Aku membuka salah satu. Rupanya
sebuah poster, dengan Cheryl berbikini, tersenyum sambil
mengacungkan botol bir Asahi. Semua tulisan di poster itu
berbahasa Jepang. Aku masuk ke kamar mandi.
Aku melihat celana jeans t ergeletak di sudut. Di atas
meja rias ada sweater berwarna putih. Sebuah handuk
basah tergantung di samping tempat shower. Butir-butir air
menempel pada dinding tempat shower. Alat pengeriting
rambut listrik masih tercolok di stopkontak. Terselip di
bingkai cermin, foto-foto Cheryl sedang berdiri bersama
pria Jepang lain di dermaga Malibu. Laki-laki ini berusia
tiga puluhan dan tampan. Di salah satu foto, ia merangkul
bahu Cheryl dengan akrab. Bekas luka di tangannya
kelihatan jelas. "Bingo," kataku.
Connor melangkah masuk. "Anda menemukan sesuatu?"
Toto seorang laki-laki dengan bekas luka di tangan."
"Bagus." Connor mengamati foto itu dengan saksama.
Aku menatap barang-barang yang tergeletak di kamar
mandi dan barang-barang di tempat cuci tangan. "Rasanya
ada yang tidak beres di sini," kataku.
"Apa itu?" "Saya tahu dia belum lama tinggal di sini. Dan saya juga
tahu semuanya disewa... tapi, entahlah... saya mendapat
kesan bahwa segala sesuatu sengaja diatur seperti ini. Saya
tidak bisa memastikan kenapa."
Connor tersenyum. "Bagus sekali, Letnan. Tempat ini
memang sengaja diatur. Dan saya sudah tahu kenapa."
Ia menyerahkan sebuah foto Polaroid padaku. Foto itu
memperlihatkan kamar mandi tempat kami berdiri. Celana
jeans yang tergeletak di pojok. Handuk yang tergantung di
dinding. Alat pengeriting. Tetapi fotonya diambii dengan
kamera berlensa ultrawide yang menimbulkan distorsi
hebat, jenis kamera yang kadang-kadang digunakan oleh
tim SID untuk memotret barang bukti.
"Di mana Anda menemukan foto ini?"
"Di keranjang sampah di selasar, di dekat lift."
"Berarti fotonya diambil malam ini."
"Ya. Anda melihat sesuatu yang berbeda?"
Aku memeriksa foto itu dengan teliti. "Tidak,
kelihatannya sama saja... tunggu dulu. Foto-foto yang
terselip di bingkai cermin. Foto-foto itu tidak ada di foto
Polaroid ini. Foto-foto itu dipasang kemudian."
"Tepat sekali." Connor kembali memasuki kamar mandi.
Ia mengambil salah satu foto berbingkai di meja rias.
"Sekarang perhatikan yang ini," katanya. "Miss Austin dan
seorang teman Jepang di Stasiun Shinjuku di Tokyo.
Barangkali dia tertarik ke daerah Kabukicho - atau mungkin
juga dia sekadar berbelanja. Perhatikan tepi kanan foto ini.
Anda lihat garis tipis yang lebih terang itu?"
"Ya." Aku mengerti apa arti garis itu. Sebelumnya ada
foto lain di depan foto ini. Tepi foto ini menyembul keluar
dan menjadi pucat karena sinar matahari. Foto di depannya
telah diambil." "Ya," ujar Connor.
"Apartemen ini telah digeledah."
"Ya," kata Connor "Dan mereka bekerja dengan hati-hati
sekali. Mereka masuk, membuat foto-foto Polaroid,
menggeledah semua ruangan, lalu mengembalikan
barang-barang ke tempat semula. Tapi mereka tak mungkin
mengembalikan apartemen ini ke keadaan yang persis
sama. Menurut orang Jepang, kesederhanaan merupakan
seni yang paling sukar. Dan orang-orang ini tak bisa
berbuat lain, mereka terobsesi. Jadi mereka meletakkan
foto-foto sedikit terlalu teratur, begitu juga dengan
botol-botol parfum. Semuanya agak dipaksakan. Mata kita
melihatnya, biarpun tanpa disadari oleh otak kita."
Aku berkata, "Tapi untuk apa tempat ini digeledah" Foto
mana yang mereka bawa" Wanita itu bersama
pembunuhnya?" "Itu belum jelas," ujar Connor. "Kelihatannya, hubungan
Miss Austin dengan Jepang, dan dengan pria-pria Jepang,
tidak bisa dibilang buruk. Tapi ada sesuatu yang harus
segera mereka ambil, dan itu pasti ......
Kemudian, dari ruang tamu, terdengar sebuah suara
yang memanggil dengan hati-hati, "Lynn" Sayang" Kau di
sana?" Bab 10 IA berdiri di ambang pintu, memandang ke dalam
apartemen. Bertelanjang kaki, dengan celana pendek dan
singlet. Wajahnya tidak kelihatan jelas, tetapi ia termasuk
yang oleh bekas partnerku, Anderson, disebut penari ular.
Connor memperlihatkan lencananya. Wanita muda itu
mengaku bemama Julia Young. Lafalnya berlogat Selatan,
dan kata-katanya agak ditelan. Connor menyalakan lampu,
dan kami bisa melihatnya dengan lebih jelas. Ia sangat
cantik. Ia tampak ragu-ragu ketika melangkah masuk.
"Saya mendengar musik - dia ada di sini" Cherylynn
tidak apa-apa" Dia pergi ke pesta itu, bukan?"
"Saya tidak tahu apa-apa mengenai itu," ujar Connor,
sambil melirik sekilas ke arahku. "Anda mengenal
Cherylynn?" "Oh, tentu saja. Saya tinggal di seberang, di nomor
delapan. Kenapa semua orang datang ke tempat dia?"
"Semua orang?" "Ya, Anda berdua. Dan kedua laki-laki Jepang tadi?"
"Kapan mereka ke sini?"
"Saya tidak tahu persis. Mungkin setengah jam yang lalu.
Ada masalah dengan Cherylynn?"
Aku berkata, "Apakah Anda sempat melihat orang-orang
itu, Miss Young?" Siapa tahu ia mengintip melalui lubang
intip di pintu apartemennya.
"Bisa dibilang begitu. Saya sempat mengobrol dengan
mereka. "O, ya?" "Saya kenal cukup baik dengan salah satu dari mereka.
Eddie." "Eddie?" "Eddie Sakamura. Kami semua kenal Eddie. Fast Eddie."
Aku berkata, "Anda dapat menyebutkan ciri-cirinya?"
Ia menatapku dengan heran. "Dia ada dalam foto-foto
Cherylynn - laki-laki muda dengan bekas luka di tangannya.
Saya pikir semua orang kenal Eddie Sakamura. Dia selalu
muncul di koran-koran. Acara pengumpulan dana, dan
sebagainya. Dia tukang pesta."
Aku berkata, "Anda tahu di mana kami dapat
menemukan dia?" Connor berkata, "Eddie Sakamura merupakan salah satu
pemilik sebuah restoran Polynesia bernama Bora-Bora di
Beverly Hills. Dia selalu ada di sana."
"Itu dia," kata Julia. "Tempat itu seperti kantornya. Saya
sendiri tidak betah di sana, terlalu bising. Tapi Eddie selalu
berlari mondar-mandir, mengejar-ngejar cewek-cewek
pirang yang jangkung. Dia paling suka cewek yang lebih
tinggi dari dia." Ia bersandaran pada meja dan menyibakkan rambutnya
yang coklat dengan sikap menggoda. Ia menatapku sambil
merengut sedikit. "Anda berdua partner?"
"Ya," kataku. "Dia sudah menunjukkan lencananya. Tapi Anda belum
menunjukkan lencana Anda."
Aku mengeluarkan dompet. Ia mengamati lencanaku.
"Peter," ia membaca. "Pacarku yang pertama bernama
Peter. Tapi dia tidak setampan Anda." Ia menatapku sambil
tersenyum. Connor berdehem dan berkata, "Anda sudah pernah
masuk ke apartemen Cherylynn?"
"Sudah. Saya kan tinggal di seberang gang. Tapi
belakangan ini dia jarang di rumah. Sepertinya dia
bepergian terus." "Bepergian ke mana?"
"Ke mana saja. New York, Washington, Sea"le, Chicago...
ke mana saja. Dia punya pacar yang sering bepergian. Dia
yang menemuinya. Tapi saya rasa dia hanya menemuinya
kalau istrinya sedang pergi."
"Pacarnya ini sudah menikah?"
"Pokoknya, ada sesuatu yang menghalangi."
"Anda tahu siapa orangnya?"
"Tidak. Cheryl pernah bilang bahwa pacarnya tak
mungkin datang ke apartemennya. Dia orang penting. Kaya
raya. Mereka kirim jet untuk menjemputnya, dan Cheryl
langsung berangkat Siapa pun orangnya, dia membuat
Eddie marah. Tapi Eddie memang cepat cemburu. Dia mau
jadi iro otoko bagi semua cewek. Kekasih yang seksi."
Connor berkata, "Apakah hubungan Cheryl merupakan
rahasia" Dengan pacarnya itu?"
"Saya tidak tahu. Saya tidak pernah berpikir begitu.
Hubungan mereka hebat sekali. Cheryl tergila-gila pada
laki-laki itu." "Dia tergila-gila?"
"Pokoknya, Anda takkan percaya kalau belum lihat
sendiri. Dia bisa meninggalkan segala sesuatu yang sedang
dikerjakannya untuk menemui orang itu. Suatu malam, dia
datang ke apartemen saya dan memberikan dua tiket untuk
konser Springsteen kepada saya. Tapi dia malah berseri-
seri, sebab dia hendak pergi ke Detroit. Dia sudah bawa
koper kecilnya. Dan dia pakai gaun anak manis. Sebab
sepuluh menit sebelumnya pacarnya telepon dan berpesan,
'Temui aku.' Wajahnya ceriah, tampangnya jadi seperti
anak umur lima tahun. Saya tidak habis pikir kenapa dia
tidak menyadarinya."
"Menyadari apa?"
"Bahwa orang itu hanya memanfaatkannya."
"Kenapa Anda berpendapat demikian?"
"Cheryl sangat cantik. Dia sudah mengunjungi seluruh
dunia sebagai model, terutama Asia. Tapi di lubuk hatinya,
dia tetap anak kota kecil. Makmid saya, Midland memang
kota minyak, di sana memang banyak uang, tapi tetap saja
kota kecil. Dan Cheryl mendambakan cincin kawin di jari
manis, anak-anak, dan anjing yang berlari-lari di
pekarangan. Dan orang itu takkan mau membelikan
semuanya itu. Tapi Cheryl belum sadar juga."
Aku berkata, "Tapi Anda tidak tahu siapa orangnya?"
"Tidak, saya tidak tahu." Ia tersenyum simpul.
Ia menggeser tubuhnya, menurunkan sebelah bahu,
sehingga payudaranya menonjol ke depan. "Anda tidak
datang untuk membicarakan pacar Cheryl, bukan?"
Connor menggeleng. "Bukan."
Julia tersenyum penuh pengertian. "Pasti karena Eddie."
"Hmm," Connor bergumam.
"Hah, sudah saya duga," kata Julia. "Dari dulu saya sudah
tahu, cepat atau lambat dia pasti dapat kesulitan. Kami
semua sudah pernah membahasnya, semua cewek yang
tinggal di sini." Ia memberi isyarat tak jelas. "Soalnya
gerak-geriknya terlalu gesit. Fast Eddie. Anda takkan
menduga bahwa dia orang Jepang. Penampilannya terlalu
mencolok."

Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Connor berkata, "Dia dari Osaka?"
"Ayahnya pengusaha besar di sana, di Daimatsu. Orang
tua yang ramah. Kalau dia berkunjung ke sini,
kadang-kadang dia menemui salah satu cewek di lantai
atas. Dan Eddie. Semula, Eddie hanya datang untuk belajar
selama beberapa tahun, lalu kembali dan bekerja untuk
kaisha, perusahaan ayahnya. Tapi dia tidak mau pulang. Dia
senang tinggal di sini. Kenapa tidak" Dia punya apa saja
yang diinginkannya. Dia beli Ferrari baru, setiap kali yang
lama hancur karena tabrakan. Uangnya lebih banyak dari
raja. Dia sudah begitu lama di sini, dia sudah seperti orang
Amerika. Tampan. Seksi. Dan obat bius. Pokoknya, tukang
pesta sejati. Apa yang bisa dia harapkan di Osaka?"
Aku berkata, "Tapi tadi Anda mengatakan bahwa dari
dulu Anda sudah tahu..."
"Bahwa dia bakal dapat kesulitan" Tentu. Karena sisi
buruk dari wataknya. Sisi gelapnya." Ia mengangkat bahu.
"Banyak dari mereka punya sifat serupa. Mereka datang
dari Tokyo, dan biarpun mereka bawa sodkai, surat
pengantar, kita tetap harus waspada. Bagi mereka, 20.000
atau 30.000 semalam tidak ada artinya. Sekadar tip saja.
Ditaruh di meja rias. Tapi, apa yang mereka minta, paling
tidak, sebagian dari mereka..."
Ia terdiam. Pikirannya menerawang. Aku diam saja,
menunggu. Connor menatapnya sambil meng- angguk-angguk penuh pengertian.
Tiba-tiba saja Julia angkat bicara lagi, seakan-akan tidak
sadar bahwa ia sempat terdiam. "Dan bagi mereka,"
katanya, "segala keinginan mereka, hasrat mereka, itu
wajar-wajar saja. Seperti memberi tip tadi. Saya tidak
keberatan diborgol atau semacamnya, tapi kalau sampai
disayat-nanti duIu. Dipukul di pantat pun masih saya
terima, kalau saya suka orangnya. Tapi saya tidak mau
disayat. Saya tak peduli berapa banyak yang mereka bayar.
Pokoknya, tidak ada yang main pisau atau pedang, tapi
mereka... Banyak dari mereka begitu sopan, begitu baik,
tapi kalau sudah terangsang, mereka jadi jadi
aneh. Ia kembali terdiam, menggelengkan kepala. "Mereka memang
aneh." Connor melirik jam tangannya. "Miss Young, keterangan
Anda sangat membantu. Mungkin kami perlu menghubungi
Anda lagi. Letnan Smith akan mencatat nomor telepon
Anda." "Ya, tentu." Aku membuka buku catatanku.
Connor berkata, "Saya mau bicara sebentar dengan
penjaga pintu tadi."
"Shinichi," ujar Julia.
Connor pergi. Aku mencatat nomor telepon Julia. Ia
menjilat-jilat bibir sambil memperhatikanku menulis.
Kemudian ia berkata, "Anda bisa terus terang kepada saya.
Apakah dia membunuhnya?"
"Siapa?" "Eddie. Dia membunuh Cheryl?"
Julia memang cantik, tetapi a ku melihat gairah terpancar
dari matanya. Ia menatapku dengan mantap. Suasananya
menyeramkan. Aku berkata, "Kenapa Anda berpikir
begitu?" "Eddie selalu mengancam untuk membunuhnya. Seperti
tadi sore, dia mengancamnya."
Aku berkata, "Eddle datang ke sini tadi sore?"
"Yeah." Ia mengangkat bahu. "Dia selalu datang ke sini.
Tadi sore dia datang menemui Cheryl, dan sepertinya dia
sedang kesal. Semua dinding di gedung ini dibuat kedap
suara ketika orang-orang Jepang membelinya, tapi suara
mereka tetap terdengar, saling membentak. Eddie dan
Cheryl. Cheryl menyetel kaset Jerry Lee Lewis, kaset yang
diputarnya siang dan malam, dan mereka berteriak-teriak
dan melempar-lempar barang. Eddie selalu hilang,
'Kubunuh kau, kubunuh kau, dasar pelacur.' Jadi, memang
dia?" "Saya tidak tahu."
"Tapi Cheryl sudah mati?"
"Ya." "Memang tak terelakkan," ujar Julia. Ia tampak lenang
sekali. "Kami semua sudah tahu. Hanya masalah waktu saja.
Kalau mau, Anda bisa menelepon saya. Kalau Anda perlu
informasi tambahan."
"Baiklah." Aku menyerahkan kartu namaku. Dan jika
Anda teringat sesuatu, Anda bisa menghubungi saya di
nomor ini." Sambil menggeliat, ia menyelipkan kartu namaku ke
kantong celana. "Saya suka bicara dengan Anda, Peter."
"Ya. Oke." Aku berjalan menyusuri selasar. Ketika sampai di ujung,
aku menoleh. Julia berdiri di ambang pintu apartemennya.
Ia melambaikan tangan. Bab 11 CONNOR menggunakan telepon di lobi, sementara si
penjaga pintu menatapnya dengan cemberut, seakan-akan
hendak melarang, tetapi tidak menemukan alasan yang
tepat. "Betul," Connor sedang berkata. "Semua telepon dari
pesawat itu antara pukul delapan dan pukul sepuluh
malam. Betul." Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan
bicaranya. "Saya tidak mau tahu bahwa data Anda tidak
tertata dengan baik, pokoknya dapatkan informasi itu
untuk saya. Kapan saya bisa memperolehnya" Besok" Saya
perlu dalam dua jam. Nanti saya telepon lagi. Ya." Ia
meletakkan gagang. "Ayo, Kohai."
Kami keluar, ke mobil. Aku berkata, "Cari info ke koneksi-koneksi Anda?"
"Koneksi?" Ia tampak bingung. "Oh. Graham bercerita
mengenai 'koneksi' saya. Saya tidak punya informan
khusus. Dia saja yang berpikir begitu."
"Dia menyinggung kasus Arakawa."
Connor mendesah. "Lagi-lagi cerita basi itu."
Kami berjalan ke mobil. "Anda ingin mendengar cerita
itu" Sebenarnya sederhana saja. Dua warga negara Jepang
mati terbunuh. Plhak Departemen menugaskan detektif-detektif yang tidak menguasai bahasa Jepang.
Akhirnya, setelah satu minggu, kasus itu mereka serahkan
pada saya." "Dan apa yang Anda lakukan?"
"Suami-istri Arakawa menginap di New Otani Hotel. Saya
mendapatkan catatan mengenai nomor-nomor telepon di
Jepang yang mereka hubungi. Saya telepon ke sana, dan
berbicara dengan beberapa orang. Kemudian saya
menelepon ke Osaka dan berbicara dengan pihak
kepolisian setempat. Sekali lagi dalam bahasa Jepang.
Mereka heran ketika mendengar bahwa kisah pasangan
suami istri itu tidak kami ketahui secara lengkap."
"Oh, begitu." "Ceritanya belum selesai," ujar Connor. "Departemen
kepolisian di sini sudah sempat dipermainkan. Pihak pers
tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengkritik
Departemen. Orang-orang dari segala kalangan mengirim
karangan bunga. Semuanya telah memperlihatkan simpati
bagi pasangan muda itu, yang kemudian diketahui sebagai
gangster. Banyak orang merasa malu. Akhirnya kesalahan
ditimpakan kepada saya. Saya dituduh berbuat curang
dalam memecahkan kasus itu. Terus terang, waktu itu saya
dongkol sekali." "Karena itu Anda pergi ke Jepang?"
"Bukan. Itu cerita lain lagi."
Kami sampai di mobil. Aku menoleh ke gedung Imperial
Arms dan melihat Julia Young berdiri di jendela,
memandang ke arah kami. "Dia menggairahkan."
"Orang Jepang menyebut wanita seperti itu shirigaru
onna. Mereka bilang dia memiliki pantat yang ringan." Ia
membuka pintu mobil, dan masuk. "Tapi dia menggunakan
obat bius. Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang
diceritakannya. Meski demikian, saya mulai melihat pola
yang tidak saya sukai." Ia melirik jam tangannya dan
menggelengkan kepala. "Brengsek. Kita terlalu banyak
menghabiskan waktu. Sebaiknya kita ke Palomino, untuk
menemui Mr. Cole." Aku mulai menyetir ke selatan, ke arah bandara. Connor
menyandarkan badan dan melipat tangan di depan dada.
Pandangannya tertuju ke kakinya. Ia tampak gundah.
"Kenapa Anda mengatakan bahwa Anda melihat pola
yang tidak Anda sukai?"
Connor berkata, "Bungkus-bungkus plastik di keranjang
sampah. Foto Polaroid tadi. Barang-barang itu seharusnya
tidak ditinggalkan."
"Anda sendiri bilang mereka terburu-buru."
"Mungkin. Tapi perlu Anda ketahui bahwa orang Jepang
menganggap polisi Amerika tidak kompeten. Kesembronoan ini salah satu buktinya."
"Hah, siapa bilang kita tidak kompeten?"
Connor menggelengkan kepala. "Dibandingkan dengan
orang Jepang, kita memang tidak kompeten. Di Jepang,
setiap penjahat tertangkap. Untuk kejahatan kelas kakap,
99 persen dari para pelaku dijatuhi hukuman. Jadi, setiap
penjahat di Jepang sejak awal sudah tahu bahwa dia akan
tertangkap. Tapi di sini, hanya tujuh belas persen pelaku
kejahatan dijatuhi hukuman. Tidak sampai satu dari lima
orang. Jadi, penjahat di Amerika tahu bahwa dia
kemungkinan besar takkan tertangkap - dan kalaupun
tertangkap, takkan dijatuhi hukuman, berkat segala
pengamanan legal yang dimilikinya. Dan Anda tahu, semua
penelitian mengenai efektivitas polisi menunjukkan bahwa
detektif Amerika bisa memecahkan sebuah kasus dalam
enam jam pertama, atau tidak sama sekali."
"Jadi, apa yang hendak Anda katakan?"
"Maksud saya, pembunuhan ini dilakukan dengan
perhitungan bahwa kasusnya takkan terpecahkan. Dan saya
ingin memecahkannya, Kohai."
Connor membisu selama sepuluh menit berikut. Ia
duduk tanpa bergerak, dengan tangan terlipat dan dagu
menempel di dada. Napasnya tenang dan teratur. Ia
seakan-akan sedang tidur, hanya saja matanya terbuka.
Aku terus menjalankan mobil, dan mendengarkan suara
napasnya. Akhirnya ia berkata, "Ishiguro."
"Ada apa dengan dia?"
"Seandainya kita tahu apa yang menyebabkan Ishiguro
bersikap seperti tadi, kita akan memahami kasus ini."
"Saya tidak mengerti."
"Bagi orang Amerika memang sukar untuk membayangkan dia secara utuh," ujar Connor. "Sebab di
Amerika, sampai taraf tertentu, kesalahan-kesalahan
dianggap wajar. Pesawat yang terlambat dianggap wajar.
Surat yang tidak diantarkan dianggap wajar. Mesin cuci
yang rusak dianggap wajar. Kita menerima kenyataan
bahwa selalu ada sesuatu yang tidak seperti seharusnya.
"Tapi di Jepang, keadaannya berbeda. Segala sesuatu
berjalan dengan lancar. Di stasiun-stasiun kereta di Tokyo,
kita bisa berdiri di suatu titik di peron yang telah diberi
tanda, dan pada waktu kereta berhenti, pintunya membuka
tepat di depan hidung kita. Semua kereta selalu tepat
waktu. Tidak ada koper yang hilang. Tidak ada yang
ketinggalan pesawat. Semua batas waktu dipenuhi. Segala
sesuatu berjalan sesuai rencana. Orang Jepang adalah orang
yang berpendidikan, selalu mempersiapkan diri, dan
bermotivasi. Tak ada pekerjaan yang terbengkalai. Tak ada
yang mengacau." "Hmm." "Dan malam ini merupakan malam penting bagi
Nakamoto Corporation. Percayalah, mereka telah merencanakan segala sesuatu sampai ke detail yang
sekecil-kecilnya. Mereka telah menyiapkan hors d'oeuvres
vegetarian kegemaran Madonna dan mengontrak juru foto
yang paling disukainya. Mereka telah menyusun rencana
untuk keadaan darurat dalam bentuk apa pun. Anda tahu
bagaimana mereka. Mereka duduk mengelilingi meja rapat
dan membahas setiap kemungkinan yang ada - bagaimana
kalau ada kebakaran" Bagaimana kalau terjadi gempa
bumi" Ancaman bom" Gangguan listrik" Hal-hal yang
tampak mustahil pun dibahas sampai tuntas. Memang
berlebihan, tapi pada waktu acaranya dimulai, mereka telah
memikirkan segala sesuatu dan mereka menguasai keadaan
sepenuhnya. Di mata mereka, tidak menguasai keadaan
adalah sesuatu yang sangat tidak pantas. Oke?"
"Oke." Lalu ada Ishiguro, wakil resmi Nakamoto, berdiri di
depan mayat wanita muda, dan dia jelas-jelas tidak


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menguasai keadaan. Dia rikutsuppoi, melakukan konfrontasi gaya Barat, tapi dia tidak tenang - Anda tentu
melihat keringat di bibirnya. Dan tangannya lembap; dia
terus-menerus mengusapkan tangannya ke celana. Dia
rikutsuppoi, terlalu banyak berdebat. Dia terIalu banyak
bicara. "Singkat kata, dia bersikap seakan-akan tidak mengenal
wanita muda itu - padahal bisa dipastikan bahwa dia
mengenaInya, karena dia kenal semua orang yang diundang
untuk menghadiri pesta itu - dan berlagak tidak tahu siapa
pembunuhnya. Yang sesungguhnya juga diketahuinya. "
Mobil kami terguncang karena lubang di permukaan
jalan. "Tunggu dulu. Ishiguro tahu siapa yang membunuh
wanita muda itu?" "Saya yakin sekali. Dan bukan dia saja. Saat ini, paling
tidak sudah ada tiga orang yang mengetahuinya. Bukankah
Anda sempat menyinggung bahwa Anda pernah bekerja
sebagai petugas hubungan pers?"
"Ya. Tahun lalu."
"Anda masih berhubungan dengan orang-orang siaran
berita pers?" "Dengan beberapa orang," kataku. "Tapi tidak secara
teratur. Kenapa?" "Saya ingin melihat rekaman yang dibuat malam ini."
"Hanya melihat" Bukan memberi panggilan tertulis
untuk menghadap ke pengadilan?"
"Betul. Hanya melihat."
"Kalau begitu, rasanya tidak terlalu sulit," kataku. Aku
teringat pada Jennifer Lewis di KNBC, atau Bob Arthur di
KEBS. Mungkin lebih baik Bob.
Connor berkata, "Orang itu harus bisa didekati secara
pribadi oleh Anda. Kalau tidak, stasiun-stasiun TV takkan
membantu. Anda pasti menyadari bahwa tidak ada kru TV
di tempat kejadian tadi. Biasanya kita harus berjuang
menerobos kerumunan kamera agar bisa sampai ke pita
pembatas. Tapi malam ini tak ada kru TV, tak ada reporter.
Tak ada apa-apa." Aku mengangkat bahu. "Kita menggunakan saluran
darat. Orang-orang pers tidak bisa memantau percakapan
lewat radio." "Mereka sudah ada di sana," ujar Connor, "meliput pesta
dengan Tom Cruise dan Madonna. Dan kemudian seorang
wanita mati terbunuh, satu lantai di atas tempat pesta. Jadi,
ke mana kru-kru TV itu?"
Aku berkata, "Kapten, tuduhan Anda tidak masuk akal."
Salah satu hal yang kupelajari sebagai petugas hubungan
pers adalah bahwa, tidak ada persekongkolan. Pihak pers
terlalu beraneka ragam, dan bisa dibilang tanpa koordinasi.
Bahkan, dalam kesempatan-kesempatan langka ketika
embargo siaran memang diperlukan - misalnya dalam
kasus penculikan yang sedang dalam tahap negosiasi uang
tebusan - kami harus bersusah payah untuk mewujudkan
kerja sama. "Koran-koran tutup lebih awal. Kru-kru TV
harus mengejar siaran berita pukul sebelas. Kemungkinan
semuanya telah kembali untuk menyunting liputan
masing-masing." "Saya tidak sependapat. Menurut saya, orang-orang
Jepang menyatakan keprihatinan mengenai citra perusahaan mereka, dan pihak pers menanggapinya
dengan tidak meliput kejadian itu. Percayalah, Kohai,
mereka telah mulai mengerahkan tekanan. "
"Saya tidak percaya."
"Saya jamin," ujar Connor. "Mereka memanfaatkan
pengaruh yang mereka miliki."
Pada saat itulah telepon mobil berdering.
"Persetan, Peter," sebuah suara serak yang sangat
kukenal berkata. "Ada apa dengan pengusutan pembunuhan itu?" Suara itu milik atasanku. Sepertinya ia
habis minum. "Bagaimana maksud Anda, Chief?"
Connor menatapku, dan menekan tombol speaker agar ia
bisa ikut mendengar. Atasanku berkata, "Kalian melecehkan orang-orang
Jepang itu" Kalian ingin Departemen dituduh bersikap
rasialis lagi?" "Tidak, Sir," kataku. "Sama sekali tidak. Saya tidak tahu
apa yang Anda dengar ......
"Kudengar si tolol Graham melontarkan penghinaan,
seperti biasa," ujar atasanku.
"Ehm, Sir, saya kira kata penghinaan terlalu keras."
"Tahi kucing. Jangan banyak alasan, Peter. Aku sudah
menegur Fred Hoffmann karena menugaskan Graham
untuk menangani kasus ini. Kuminta dia segera ditarik dari
kasus ini. Mulai sekarang, kita semua harus menjaga
hubungan baik dengan orang-orang Jepang itu. Begitulah
aturan mainnya. Kaudengar itu, Peter?"
"Ya, Sir." "Sekarang mengenai John Connorr. Dia ada bersamamu,
bukan?" "Ya, Sir." "Kenapa kauajak dia untuk urusan ini?"
Dalam hati aku berkata, "Kenapa aku mengajak dia?"
Rupanya Fred Hoffmann mengaku bahwa melibatkan
Connor adalah gagasanku, bukan gagasan dia sendiri.
"Maaf," kataku. "Tapi saya..."
"Aku mengerti," ujar atasanku. "Mungkin kaupikir kau
tak sanggup menangani kasus ini seorang diri. Kau butuh
bantuan. Tapi kurasa kau bakal dapat lebih banyak
kesulitan daripada bantuan. Sebab orang-orang Jepang itu
tidak suka pada Connor. Dan asal tahu saja, aku sudah lama
kenal John. Dia dan aku sama-sama masuk akademi tahun
lima sembilan. Dari dulu dia selalu menyendiri dan
membuat masalah. Kau tahu, kalau ada orang yang pergi
dan tinggal di negara lain, itu karena dia tidak mau
mengikuti peraturan yang berlaku di sini. Jangan sampai
dia mengacaukan penyidikan ini."
"Sir ... " "Menurutku, masalahnya begini, Pete. Kasus pembunuhan itu harus kauselesaikan dengan cepat dan
rapi. Pokoknya kau yang bertanggung jawab. Mengerti?"
"Ya, Sir." "Bereskan, Pete. Jangan sampai aku ditelepon lagi
mengenai urusan ini."
"Ya, Sir." "Paling lambat besok. Sekian." Dan ia memutuskan
hubungan. Aku mengembalikan gagang ke tempatnya.
"Ya," kata Connor. "Saya rasa mereka sudah mulai
mengerahkan tekanan."
Bab 12 AKU menuju ke selatan di freeway 405, ke arah bandara.
Daerah yang kami lalui agak berkabut. Connor memandang
ke luar jendela. "Dalam organisasi Jepang, Anda takkan pernah
mendapat telepon seperti itu. Anda baru saja dijadikan
tumbal oleh atasan Anda. Dia lepas tangan - semuanya
dibebankan kepada Anda. Dan dia menyalahkan Anda atas
hal-hal yang tidak berhubungan dengan Anda, seperti
Graham, dan saya." Connor menggelengkan kepala. "Orang
Jepang tidak berbuat demikian. Mereka punya pepatah:
Gunakan waktu untuk mengatasi masalah, bukan untuk
mencari siapa yang salah. Dalam organisasi Amerika, yang
paling penting adalah siapa yang salah. Siapa yang harus
bertanggungjawab. Dalam organisasi Jepang, yang paling di
perhatikan adalah apa yang salah, dan bagaimana cara
untuk mengatasinya. Tidak ada yang dituding. Cara mereka
lebih baik " Connor kembali membisu, memandang ke luar jendela.
Kami sedang melewati Slausan, Marina freeway tampak
melengkung di atas kami, sebuah lengkungan gelap di
tengah kabut. Aku berkata, "Atasan saya terlalu yakin, itu saja."
"Ya. Dan kurang informasi, seperti biasa. Tapi, biarpun
begitu, sebaiknya kasus ini kita rampungkan sebelum dia
keluar dari tempat tidurnya besok pagi."
"Apakah ada harapan?"
"Ada. Jika Ishiguro menyerahkan kaset-kaset yang saya
minta." Telepon kembali berdering. Aku mengangkatnya.
Ternyata Ishiguro. Aku menyerahkan gagang telepon kepada Connor.
Sayup-sayup aku mendengar suara Ishiguro. Suaranya
tegang. Ia berbicara tergesa-gesa, "A, moshi moshi,
Connor-san desuka" Keibi no heyani denwa shitandesugane.
Daremo denaindesuyo."
Connor menutup gagang dengan sebelah tangan dan
menerjemahkan. "Dia sudah menelepon petugas keamanan,
tapi ternyata tidak ada yang menyahut."
"Sorede, chuokeibishitsu ni renraku shite, hito wo oku"e
moraimasite, issho ni tipu o kakunin Shite kimashita."
"Kemudian dia menghubungi ruang keamanan pusat dan
minta agar mereka menyertainya untuk memeriksa
kaset-kaset video." "Tepu wa subete rekoda no naka ni arimasu. Nakuna"emo
torikaeraretemo imasen. Subete daijobu desu. "
"Semua alat perekam berisi kaset. Tidak ada kaset yang
hilang atau ditukar." Connor mengerutkan kening dan
membalas, "Iya, tepu wa surikaerarete iru hazu nanda. Tepu
o sagase!" "Dakara, daijobi nandesu, Connor-san. Doshiro to iun desu
ka ?" "Dia berkeras bahwa tak ada kekeliruan."
Connor berkata, "Tepu o sagase!" Kepadaku, ia berkata,
"Saya bilang bahwa saya minta kaset-kaset brengsek. itu."
"Daijobu da to i"erudeshou. Doshite sonnani tipu ni
kodawarundesuka?" "Ore niwa waka"e irunda. Tepu wa nakuna"e iru. Saya
tahu lebih banyak dari yang Anda sangka, Mr. Ishiguro.
Moichido iu, tepu o sagasunda!"
Connor membanting gagang telepon. Ia menyandarkan
tubuh dan mendengus dengan kesal. "Sialan! Mereka
bertahan pada posisi bahwa tidak ada kaset yang hilang."
"Apa artinya?" "Mereka telah memutuskan untuk mengadu kekuatan."
Connor menatap ke luar jendela, mengamati lalu lintas,
sambil mengetuk-ngetuk gigi dengan jari. "Mereka takkan
bersikap seperti ini, kecuali kalau mereka merasa memiliki
posisi kuat. Posisi yang tak tergoyahkan. Ini berarti..."
Connor terdiam, sibuk berpikir. Setiap kali kami lewat di
bawah lampu penerangan jalan, aku melihat pantulan
wajahnya di kaca mobiI. Akhirnya ia berkata, "Bukan,
bukan, bukan," seakan-akan berbicara pada orang lain.
"Apanya yang bukan?"
"Pasti bukan Graham." Ia menggelengkan kepala.
"Graham terlalu riskan - terlalu banyak kejadian di masa
lalu. Dan bukan juga saya. Saya berita basi. Berarti pasti
Anda, Peter." Aku berkata, "Apa maksud Anda?"
"Sesuatu telah terjadi," ujar Connor, "sesuatu yang
menyebabkan Ishiguro merasa berada di atas angin. Dan
saya rasa hal tersebut berkaitan dengan Anda."
"Saya?" "Yeah. Pasti sesuatu yang bersifat pribadi. Anda pernah
punya masalah di masa lalu?"
"Seperti apa, misalnya?"
"Anda pernah ditahan, diperiksa oleh internal affairs,
dituduh mabuk-mabukkan, homoseksual, atau mengejar-ngejar wanita" Atau barangkali Anda pernah
mengikuti program rehabilitasi obat bius" Masalah dengan
partner Anda, dengan atasan Anda. Apa saja yang bersifat
pribadi atau profesional. Apa saja."
Aku mengangkat bahu. "Jeez, saya rasa tidak."
Connor hanya menunggu sambil menatapku. Akhirnya ia
berkata, "Mereka merasa mengetahui sesuatu, Peter."
"Saya bercerai. Saya orangtua tunggal. Saya punya anak
perempuan, Michelle. Umurnya dua tahun."
"Ya ... " "Kehidupan saya biasa-biasa saja. Saya mengurus anak
saya baik-baik. Saya bertanggung jawab."
"Dan istri Anda?"
"Bekas istri saya pengacara. Dia bekerja di kejaksaan."
"Kapan Anda bercerai?"
"Dua tahun lalu."
"Sebelum anak Anda lahir?"
"Segera sesudahnya."
"Kenapa Anda bercerai?"
"Astaga. Kenapa orang-orang bercerai?"
Connor tidak berkomentar.
"Pernikahan kami hanya bertahan satu tahun. Dia masih
muda waktu kami bertemu. Dua puluh empat tahun. Penuh
khayalan. Kami berjumpa di ruang pengadilan. Dia


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyangka saya detektif yang keras, kasar, setiap hari
menghadapi bahaya. Dia suka kalau saya membawa pistol.
Hal-hal seperti itulah. Lalu kami menjalin affair. Lalu, ketika
dia hamil, dia tidak mau menggugurkan bayinya. Dia justru
ingin menikah. Itu salah satu khayalannya. Tapi dia tidak
memikirkannya dengan matang. Tetapi masa hamilnya
terasa berat baginya, dan waktu itu sudah terlambat untuk
menjalani aborsi, dan tak lama kemudian dia menyadari
bahwa dia tidak suka hidup bersama saya karena
apartemen saya kecil, penghasilan saya tidak memadai, dan
saya tinggal di Culver City, bukannya di Brentwood. Dan
pada waktu bayi kami akhirnya lahir, segala angan-angannya seolah-olah telah buyar. Dia bilang dia
telah melakukan kesalahan. Dia memilih kariernya. Dia
tidak mau menjadi istri polisi. Dia tidak mai membesarkan
anak. Dia bilang dia menyesal, semuanya merupakan kesa-
lahan. Dan kemudian dia pergi."
Connor mendengarkan penjelasanku dengan mata
terpejam. "Ya..."
"Kenapa semuanya ini begitu penting" Dia pergi dua
tahun yang lalu. Setelah itu, saya tidak sanggup - saya tidak
mau lagi menjalankan jadwal tugas detektif, karena ada
anak kecil yang harus saya besarkan, jadi saya mengikuti
beberapa tes dan pindah ke Special Services, dan saya
bekerja di bagian hubungan pers. Tidak ada masalah.
Semuanya berjalan dengan lancar. Kemudian, tahun lalu,
ada lowongan sebagai petugas penghubung untuk
masyarakat Asia, dan bayarannya lebih besar. Beberapa
ratus dolar lebih banyak per bulan. Jadi saya melamar."
"Hmm." "Saya betul-betul memerlukan uang itu. Banyak
pengeluaran tambahan yang harus saya tanggung, misalnya
baby sister untuk Michelle. Anda tahu berapa bayaran baby
sister untuk anak dua tahun" Saya juga punya pembantu,
dan Lauren sering lalai membayar uang tunjangan anak.
Dia bilang gajinya tidak mencukupi, tapi beberapa waktu
yang lalu dia beli BMW baru, jadi entahlah. Apa yang bisa
saya lakukan" Mengajukannya ke pengadilan" Dia bekerja
di kejaksaan." Connor tetap membisu. Di depan, aku melihat pesawat
terbang rendah di atas freeway. Kami sudah di dekat
bandara. "Pokoknya," kataku, "saya lega ketika diterima sebagai
petugas penghubung. Jam kerjanya lebih menguntungkan,
dan gajinya juga lebih baik. Begitulah ceritanya bagaimana
saya bisa sampai di sini. Duduk semobil dengan Anda."
"Kohai," ia berkata dengan tenang, "saya di pihak Anda.
Katakan saja. Apa masalahnya?"
"Tidak ada masalah apa-apa."
"Kohai." "Tidak ada." "Kohai..." "Hei, John," kataku, "barangkali Anda belum tahu.
Sewaktu kita melamar sebagai petugas penghubung Special
Services, catatan kita diperiksa oleh lima komite berbeda.
Untuk mendapatkan tugas itu, kita harus bersih.
Komite-komite itu sudah meneliti catatan saya. Dan mereka
tidak menemukan sesuatu yang berarti."
Connor mengangguk. "Tapi mereka menemukan
sesuatu" "Astaga," kataku. "Lima tahun saya bertugas sebagai
detektif. Tak mungkin kita bekerja selama itu tanpa
keluhan sama sekali. Anda tahu itu."
"Dan apa keluhan mengenai Anda?"
Aku menggelengkan kepala. "Biasa. Hal-hal sepele. Saya
menangkap seorang pria dalam tahun pertama saya
bertugas. Dia menuduh saya menggunakan kekerasan
berlebihan. Tuduhan itu dicabut setelah ada pengusutan
lebih lanjut. Saya menangkap seorang wanita karena
perampokan bersenjata. Dia mengaku saya menyelipkan
segram obat bius ke kantongnya. Tuduhan dibatalkan; obat
bius itu ternyata miliknya sendiri. Tersangka pelaku pem-
hunuhan mengaku dipukul dan ditendang oleh saya waktu
diinterogasi. Tapi sepanjang interogasi ada petugas-petugas lain yang hadir. Seorang wanita mabuk
dalam suatu kasus pertengkaran rumah tangga mengaku
bahwa saya menodai anak perempuannya. Dia mencabut
tuduhannya. Pemimpin geng remaja yang ditahan karena
kasus pembunuhan mengaku diajak melakukan hubungan
homoseksual oleh saya. Tuduhan dibatalkan. Hanya itu."
Sebagai petugas polisi, kita tahu bahwa keluhan-keluhan
seperti itu merupakan bagian dari kehidupan kita. Tak ada
yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan suara-suara
sumbang itu. Kita berada di lingkungan yang memusuhi
kita. Kita menuduh orang-orang sebagai pelaku kejahatan.
Mereka balik menuduh kita. Begitulah kenyataannya. Pihak
Departemen tidak memperhatikan keluhan-keluhan itu,
kecuali jika terjadi berulang-ulang atau jika terdapat suatu
pola. Jika Departemen menerima tiga atau empat laporan
selama beberapa tahun bahwa seseorang menggunakan
kekerasan berlebihan, orang itu akan diselidiki. Atau jika
ada serangkaian keluhan yang bermiat rasial, ia akan
diselidiki. Tetapi selain itu, seperti yang selalu dikatakan
oleh Asisten Kepala Jim Olson, pekerjaan polisi adalah
pekerjaan untuk orang berkulit tebal.
Connor membisu cukup lama. Ia mengerutkan kening,
merenung. Akhirnya ia berkata, "Bagaimana dengan
perceraian Anda" Ada masalah?"
"Tidak ada masalah khusus."
"Anda dan bekas istri Anda masih saling menyapa?"
"Ya. Hubungan kami baik-baik saja. Tidak akrab. Tapi
lumayan." Ia masih mengerutkan kening. Masih mencari-cari
sesuatu. "Dan Anda meninggalkan divisi detektif dua tahun
yang lalu?" "Ya." "Kenapa?" "Anda sudah mendengar alasan saya tadi."
"Anda bilang Anda tidak sanggup lagi menjalankan
jadwal tugas detektif."
"Ya, itu yang utama."
"Itu, dan apa lagi?"
Aku mengangkat bahu. "Setelah bercerai, saya tidak mau
menangani kasus pembunuhan lagi. Saya merasa...
entahlah. Kecewa, mungkin. Saya punya anak kecil dan istri
saya meninggalkan saya. Dia melanjutkan hidupnya,
berkencan dengan seorang jaksa yang hebat. Saya ditinggal
bersama anak kecil. Saya patah semangat. Saya tak ingin
bekerja sebagai detektif lagi."
"Anda menemui psikiater waktu itu" Untuk menjalani
terapi?" "Tidak." "Ada masalah dengan obat bius atau alkohol?"
"Tidak." "Wanita lain?" "Beberapa." "Sewaktu Anda masih menikah?"
Aku terdiam sejenak. "Farley" Di kantor Wali Kota?"
"Bukan. Itu baru kemudian."
"Tetapi ada wanita lain sewaktu Anda masih menikah."
"Ya. Tapi dia tinggal di Phoenix sekarang. Suaminya
dipindahkan ke sana."
"Dia juga bekerja di Departemen?"
Aku mengangkat bahu. Connor kembali bersandar. "Oke, Kohai," katanya. "Kalau
memang hanya itu, Anda aman-aman saja." Ia menatapku.
"Memang hanya itu."
"Tapi saya perlu memperingatkan Anda," ia berkata.
"Saya sudah pernah mengalami hal seperti ini, dengan
orang-orang Jepang. Kalau mereka berniat mengadu
kekuatan, mereka bisa membuat hidup Anda tidak
menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan."
"Anda ingin menakut-nakuti saya?"
"Tidak. Saya hanya berkata apa adanya."
"Persetan dengan orang-orang Jepang," aku mengumpat.
"Tidak ada yang perlu saya sembunyikan."
"Baiklah. Sekarang Anda sebaiknya menelepon teman-teman Anda di stasiun TV. Beritahu mereka bahwa
kita akan mampir, setelah kunjungan berikut ini."
Bab 13 SEBUAH 747 bergemuruh di atas kami, lampu-lampu
pendaratannya menyala terang di tengah kabut. Pesawat
itu melewati papan reklame neon yang bertulisan GIRLS!
GIRLS! ALL NUDE! GIRLS! Ketika kami masuk sudah sekitar
pukul 23.30. Kelab Palomino termasuk tempat hiburan murahan.
Gedung yang ditempatinya merupakan bekas tempat
boling, dengan gambar-gambar kaktus dan kuda di dinding.
Ruang dalamnya berkesan lebih sempit dibandingkan
bayangan kita kalau kita melihatnya dari luar. Seorang
wanita setengah telanjang menari di bawah cahaya jingga.
Ia berusia sekitar empat puluh tahum. Tampaknya ia tak
kalah jemu dari para pengunjung yang duduk membungkuk
di meja-meja k ecil yang berwarna pink. Pelayan-pelayan
wanita dengan dada terbuka berjalan mondar-mandir.
Musik dari tape recorder diiringi desis yang keras.
Seorang laki-laki di dekat pintu berkata, "Dua belas
dolar. Minimum dua minuman." Connor memperlihatkan
lencananya. Laki-laki itu berkata, "Oke, masuk saja."
Connor memandang berkeliling dan berkomentar, "Saya
baru tahu bahwa ada orang Jepang yang berkunjung ke
sini." Aku melihat tiga pengusaha dengan setelan jas warna
biru duduk di sebuah meja pojok.
"Hampir tidak pernah," balas si penjaga pintu.
"Mereka lebih suka Star Strip di pusat kota. Lebih
mentereng, barangnya lebih mulus. Menurut aku sih,
Jepang-Jepang itu terpisah dari rombongan tur mereka."
Connor mengangguk. "Saya mencari Ted Cole."
"Di bar. Si kacamata itu."
Ted Cole, sedang duduk di bar. Jaket yang dikenakannya
menutupi seragam Nakamoto Security. Ia menatap dengan
acuh tak acuh ketika kami mendekat dan duduk di
sebelahnya. Petugas bar menghampiri kami., Connor berkata,
"Dua Budweiser."
"Tidak ada Bud. Asahi saja, oke?"
"Oke." Connor menunjukkan lencananya. Cole menggelengkan
kepala dan berbalik Dengan saksama ia mengamati penari
telanjang tadi. "Saya tidak tahu apa-apa."
Connor berkata, "Mengenai apa?"
"Mengenai semuanya. Saya tidak ada urusan dengan
Saudara. Saya sedang bertugas." Ia agak mabuk.
Connor berkata "Jam berapa Anda selesai tugas?"
"Saya pulang lebih cepat malam ini."
"Kenapa?" "Sakit mag. Saya kena tukak lambuing, kadang-kadang
kumat. Jadi saya pulang lebih cepat."
"Jam berapa?" "Sekitar jam delapan lima belas."
"Bisa dibuktikan dengan kartu absensi?"
"Tidak. Di tempat kami tidak ada mesin absensi. "
"Dan siapa yang mengambil alih tugas Anda?"
"Saya digantikan."
"Oleh siapa?" "Penyelia saya."
"Siapa namanya?"
"Saya tidak tahu. Orang Jepang. Baru tadi saya Iihat dia."
"Dia penyelia Anda, dan Anda belum pernah
melihatnya?" "Dia orang baru. Orang Jepang. Saya tidak kenal dia. Apa
tujuan Saudara sebenarnya?"
"Saya hanya ingin mengaiukan beberapa pertlanyaan,"
kata Connor. "Silakan, tak ada yang perlu saya sembunyikan," ujar
Cole. Salah satu orang Jepang berjalan ke arah kami. Ia
berkata pada petugas bar, "Rokok apa saja yang ada di
sini?" "Marlboro," jawab si petugas bar.
"Apa lagi?" "Mungkin Kools. Saya harus periksa dulu. Tapi Marlboro
pasti ada. Anda mau Marlboro?"
Si Jepang dipelototi oleh Ted Cole. Tapi ia tidak
memperhatikannya. "Kent?" ia bertanya. "Anda punya Kent
Light?" "Tidak. Tidak ada."
"Oke, kalau begitu Marlboro saja," ujar orang Jepang itu.
"Marlboro juga boleh." Ia menoleh dan tersenyum kepada
kami. "Ini Marlboro country, betul tidak?"
"Betul," kata Connor.
Cole meraih botol dan mereguk birnya. Kami semua
membisu. Si Jepang mengetuk-ngetuk meja layan, seirama
dengan musik. "Tempat bagus," katanya. "Meriah."


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku tak mengerti apa yang dimaksudnya. Tempat itu
benar-benar parah. Si Jepang duduk di kursi di samping kami. Cole
mengamati botol birnya, seolah-olah belum pernah melihat
botol bir sebelunrnya. Ia memutar-mutarnya dengan
tangan. Petugas bar membawa sebungkus rokok, dan si Jepang
melemparkan selembar lima dolar ke atas meia. "Ambil saja
kembaliannya." Ia membuka bungkus rokoknya, dan
menarik sebatang. Ia tersenyum kepada kami.
Connor mengeluarkan korrk apinya untuk menyalakan
rokok orang Jepang itu. Ketika si Jepang membungkuk
untuk menyulut rokoknya, Connor berkata, "Doko kaisha
iuenno?" Orang itu berkedip-kedip. "Maaf?"
"Wakanni no?" ujar Connor. "Doko kaisha i"enno?"
Si Jepang tersenyum dan berdiri. " Soro soro ikanakutewa.
Shitsurei shimasu." Ia melambaikan tangan asal saja, dan
kembali kepada rekan-rekannya di seberang ruangan.
"Dewa mata," kata Connor. Ia pindah ke kursi yang
diduduki orang Jepang itu.
Cole berkata, "Ada apa ini?"
"Saya hanya bertanya di perusahaan mana dia bekerja,"
Connor menjelaskan. "Tapi dia tidak berminat mengobrol.
Sepertinya dia ingin cepat-cepat kembali ke teman-temannya." Cole meraba-raba di bawah bar.
"Sepertinya bersih."
Connor kembali berpaling pada Cole dan berkata, "Oke,
Mr. Cole. Tadi Anda mengatakan bahwa Anda digantikan
oleh penyelia Anda. Jam beiapa itu?"
"Delapan lima belas."
"Dan Anda tidak mengenalnya?"
"Tidak." "Dan sebelum itu, waktu Anda bertugas, Anda merekam
gambar-gambar dari kamera-kamera video?"
"Tentu. Bagian keamanan selalu merekam gam-
bar-gambar dari semua kamera."
"Dan apakah penyelia Anda mengambil kaset-kaset itu?"
"Mengambil kaset-kaset itu" Saya kira tidak. Setahu saya,
semuanya masih di sana."
Ia menatap kami dengan heran.
"Saudara berminat pada kaset-kaset itu?"
"Ya," kata Connor.
"Saya sendiri tidak terlalu peduli pada kaset-kaset itu.
Saya tertarik pada kamera-kamera."
"Kenapa?" "Seluruh gedung dipersiapkan untuk menghadapi pesta
besar, dan sampai saat terakhir memang masih banyak
detail-detail kecil yang harus ditangani. Tapi saya tetap
heran kenapa begitu banyak kamera dipindahkan dari
tempat-tempat lain di dalam gedung, lalu dipasang di lantai
itu." "Dipindahkan?" aku bertanya.
"Kemarin pagi, kamera-kamera itu belum ada di lantai
46," ujar Cole. "Semuanya masih terpasang di tempat lain.
Rupanya ada yang memindahkan semuanya. Kamera-kamera itu memang mudah dipindah-pindah,
karena tidak pakai kabel."
"Kamera-kamera itu tidak memakai kabel?"
"Tidak. Di dalam gedung kami memakai transmisi
selular. Memang sudah dirancang begitu. Karena itu kami
tidak pakai audio, dengan sistem selular, kapasitas
transmisinya terbatas. Kamera-kamera itu hanya mengirim
gambar. Tapi semuanya bisa dipindah-pindah sesuai
kebutuhan. Mereka bisa melihat apa saja yang ingin mereka
lihat. Saudara tidak tahu itu?"
"Tidak," kataku.
"Aneh, kenapa tidak ada yang memberitahu Saudara"
Padahal itu salah satu kelebihan Nakamoto Tower yang
paling mereka banggakan." Cole kembali mereguk birnya.
"Satu-satunya hal yang belum jelas bagi saya adalah kenapa
seseorang mengambil lima kamera, lalu memasang
semuanya di lantai di atas tempat pesta. Soalnya, dari segi
keamanan itu tidak perlu. Semua lift bisa diprogram supaya
hanya naik sampai lantai tertentu. Jadi, kamera-kamera
hanya diperlukan di lantai-lantai di bawah tempat pesta.
Bukan di atasnya." "Tapi lift-lift itu tidak diprogram agar hanya naik sampai
lantai 46." "Memang. Saya sendiri juga heran." Ia menatap
orang-orang Jepang di seberang ruangan. "Sebentar lagi
saya harus pergi," katanya.
"Baiklah," ujar Connor. "Kami sangat menghargai
bantuan Anda, Mr. Cole. Mungkin kami perlu minta
keterangan tambahan dari Anda."
"Saya akan menuliskan nomor telepon saya untuk
Saudara," kata Cole, sambil mencoret-coret sebuah serbet
kertas. "Dan alamat Anda?"
"Oh, ya. Tapi sebenarnya saya akan ke luar kota untuk
beberapa hari. Ibu saya tidak enak badan, dan dia minta
agar saya membawanya ke Meksiko untuk beberapa hari.
Kemungkinan besar saya berangkat akhir pekan ini."
"Liburan panjang?"
"Seminggu, mungkin. Saya masih ada jatah cuti, dan
sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk mengambilnya." "Ya," kata Connor, "tentu saja. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan Anda." Ia
bersalaman dengan Cole, dan
menonjok bahunya. "Jangan lupa perhatikan kesehatan
Anda." "Oh, jangan khawatir."
"Berhentilah minum, dan hati-hati dalam perjalanan
pulang nanti." Ia terdiam sejenak. "Atau ke mana pun Anda
akan menuju malam ini."
Cole mengangguk. "Saya rasa Saudara benar. Itu ide yang
baik." "Saya tahu bahwa saya benar."
Cole bersalaman denganku. Connor sudah menuju pintu.
Cole berkata, "Saya tidak mengerti kenapa Saudara masih
repot-repot." "Dengan kaset-kaset itu?"
"Dengan orang-orang Jepang. Apa yang bisa kita
lakukan" Mereka selalu satu langkah di depan kita. Dan
semua orang besar sudah ada di kantong mereka. Kita tak
bisa mengalahkan mereka. Kalian berdua takkan
mengalahkan mereka. Mereka terlalu hebat."
Di luar, di bawah papan reklame neon yang
berkedap-kedip, Connor berkata, "Tepat, waktu tinggal
sedikit." Kami masuk ke mobil. Ia menyerahkan serbet tadi
padaku. Di atasnya tertulis dengan huruf cetak:
MEREKA MENCURI KASET-KASET ITU.
"Ayo, jalan," kata Connor.
Aku menghidupkan mesin mobil.
Bab 14 BERITA jam sebelas malam telah selesai, dan ruang
wartawan sudah hampir kosong. Connor dan aku
menyusuri selasar menuju studio rekaman, di tempat tanda
Action News masih menyala.
Di dalam studio, siaran malam diputar ulang tanpa
suara. Si pembaca berita menunjuk monitor. "Aku tidak
bodoh, Bobby. Aku memperhatikan hal-hal seperti ltu.
Sudah tiga malam berturut-turut dia yang membacakan
ringkasan berita utama dan penutup." Ia menyandarkan
badan dan menyilangkan tangan. Aku menunggu
jawabanmu, Bobby." Temanku Bob Arthur, produser berita jam sebhelas yang
berbadan pendek kekar, menghirup scotch dari gelas yang
sebesar kepalan tangannya. Ia berkata, "Jim, ini hanya
kebetulan saja." "Omong kosong," balas si pembaca berita.
Rekannya yang tengah dibicarakan adalah seorang
wanita cantik berambut merah, dengan bentuk tubuh
menggiurkan. Ia sengaja berlama-lama ketika membereskan catatannya, untuk memastikan bahwa ia
mendengar seluruh percakapan antara Bob dan Jim
"Begini," ujar Jim. "Kita sudah sepakat Ringkasan dan
penutup dibaca bergantian. Setengahnya dia, setengahnya
aku. Itu tercantum dalam kontrakku."
"Tapi, Jim, berita utama malam ini menyangkut
perkernbangan mode di Paris dan pesta Nakamoto. Human
interest." "Seharusnya laporan mengenai kasus pembunuhan
berantai itu dijadikan berita utama."
Bob mendesah. "Pembacaan tuduhan terhadap dia
ditunda. Lagi pula masyarakat sudah bosan dengan kasus
pembunuhan berantai."
Si pembaca berita tampak terheran-heran.
"Masyarakat sudah bosan dengan kasus pembunuhan
berantai" Wah, di mana kaudengar itu?"
"Baca saja hasil angket yang lalu, Jim. Pembunuhan
berantai sudah terlalu sering diliput. Penonton kita
khawatir mengenai keadaan ekonomi. Mereka tidak
berminat pada pembunuh berantai."
"Penonton kita khawatir mengenai keadaan ekonomi,
jadi kita membuat berita utama mengenai Nakamoto dan
perkembangan mode di Paris?"
"Betul, Jim," Bob Arthur berkata. "Dalam masa sulit, kita
meliput pesta yang gemerlapan. Itulah yang diminati oleh
para penonton: fashion dan impian."
Si pembaca berita merengut. "Aku wartawan, a ku di sini
untuk meliput berita, bukan fashion."
"Betul, Jim," ujar si produser. "Karena itulah Liz yang
membacakan ringkasan berita utama. Kami berupaya agar
citramu tidak luntur."
"Ketika Teddy Roosevelt mengangkat negeri ini dan
kesulitan ekonomi di tahun 30-an, dia tidak memakai
fashion dan impian. "Franklin Roosevelt."
"Sama saja. Kau tahu maksudku. Kalau orang-orang
memang khawatir, mari kita liput ekonomi. Mari kita liput
neraca pembayaran atau apa pun masalahnya."
"Betul, Jim. Tapi ini berita jam sebelas untuk pasar lokal,
dan para penonton tidak mau mendengar..."
"Dan itulah yang salah di Amerika," Jim berkata.
"Orang-orang tidak mau mendengar berita sebenarnya."
"Betul, Jim. Kau betul sekali." Bob merangkul si pembaca
berita. "Sekarang istirahat dulu, oke" Besok kita bicara
lagi." Rupanya itu semacam isyarat, sebab pembaca berita
yang satu lagi segera merapikan catatannya dan pergi.
"Aku wartawan," ujar Jim. "Aku hanya ingin melakukan
pekerjaan yang kupelajari."
"Betul, Jim. Besok kita lanjutkan lagi. Selamat malam."
"Dasar tolol," kata Bob Arthur. Ia menyusuri sebuah
selasar bersama kami. "Teddy Roosevelt. Astaga. Mereka
bukan wartawan Mereka aktor. Dan mereka menghitung-hitung jumlah kata yang mereka ucapkan,
sama seperti semua aktor lainnya." Ia mendesah, lalu
kembali menghirup scotch-nya. "Oke, tolong ceritakan
sekali lagi apa yang hendak kalian lihat."
"Rekaman resepsi Nakamoto."
"Maksudnya, rekaman yang mengudara" Berita yang
kami tayangkan tadi?"
"Bukan, kami ingin melihat rekaman yang asli, yang
langsung dari kamera."
"Rekaman lapangan. Jeez. Moga-moga masih ada.
Mungkin sudah dihapus."
"Dihapus?" "Yeah. Di sini kami merekam empat puluh kaset setiap
hari. Sebagian besar langsung dihapus. Dulu, semua
rekaman lapangan disimpan selama seminggu, tapi
maklum, kami harus menekan biaya. "
Di salah satu sisi ruang wartawan terdapat rak-rak berisi
deretan kaset Betamax. Bob menyusuri deretan itu dengan
jarinya. "Nakamoto... Nakamoto... Hmm, sepertinya tidak
ada." Seorang wanita melewati kami. "Cindy, Rick masih di
sini?" "Tidak, dia sudah pulang. Kau perlu sesuatu?"
"Rekaman lapangan dari resepsi Nakamoto. Kaset-kasetnya tidak ada di rak."
"Coba periksa ruangan Don. Dia yang menyuntingnya."


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oke." Bob mengajak kami ke bilik-bilik penyuntingan d i
seberang ruang wartawan. Ia membuka sebuah pintu, dan
kami memasuki ruangan sempit yang berantakan. Ruangan
itu berisi dua monitor, sejumlah alat perekam, serta meja
penyuntingan. Kaset-kaset video tampak berserakan di
lantai. Bob segera mulai mencari. "Oke, kalian beruntung.
Rekaman yang asli. Ada beberapa kaset. Saya akan minta
Jenny untuk mengamati semuanya. Matanya paling jeli. Dia
kenal semua orang." Ia menyembulkan kepala dari pintu.
"Jenny" Jenny!"
"Oke, coba kita lihat," ujar Jenny Gonzales beherapa
menit kemudian. Ia memakai kacamata, berbadan pendek
tegap, berusia empat puluhan. Ia mengamati catatan
penyunting dan mengerutkan kening. "Sudah berkali-kali
saya beritahu mereka, tapi mereka tidak pernah mau
belajar. Akhirnya. Ini dia. Empat kaset. Dua di pintu masuk,
dua lagi di tempat pesta. Apa yang hendak kalian lihat?"
Connor berkata, "Kita mulai dengan rekaman di pintu
masuk." Ia melirik jam tangannya. "Apakah ini bisa
diselesaikan dengan cepat" Kami sedang terburu-buru. "
"Bisa saja. Saya sudah biasa. Kita putar dengan
kecepatan tinggi saja."
Ia menekan sebuah tombol. Kami melihat limo-limo
berhenti, pintu-pintu membuka, para penumpang turun,
lalu berjalan dengan gerakan tersentak-sentak.
"Kalian cari orang tertentu" Soalnya sudah ada yang
membuat catatan mengenai orang-orang terkenal dalam
proses penyuntingan tadi."
"Kami tidak mencari orang terkenal."
"Sayang sekali. Rasanya cuma itu yang direkam." Kami
memperhatikan gambar di layar monitor. Jenny berkata,
"Itu Senator Kennedy. Dia kelihatan lebih kurus, bukan" Oh,
sudah hilang. Dan Senator Morton. Dia tampak fit. Tidak
mengherankan. Dan itu asistennya yang menakutkan. Gigi
saya selalu gemeletukan kalau melihatnya. Senator Rowe,
tanpa istrinya, seperti biasa. Itu Tom Hanks. Orang Jepang
ini saya tidak kenal."
Connor berkata, "Hiroshi Masukawa, wakil pre siden
Mitsui." "Oke. Senator Chalmers, transplantasi rambutnya
lumayan sukses. Anggota Kongres Levine. Anggota Kongres
Daniels. Tumben tidak mabuk. Terus terang, saya tak
menyangka Nakamoto bisa menarik begitu banyak orang
dari Washington." "Kenapa?" "Hmm, kalau dipikir-pikir, ini hanya acara peresmian
sebuah gedung baru. Acara biasa. Tempatnya di Pantai
Barat. Dan sekarang-ini posisl Nakamoto cukup kontroversial. Barbara Streissand. Saya tidak tahu siapa
laki-laki yang menemaninya."
"Posisi Nakamoto sedang kontroversial" Kenapa?"
"Karena penjualan MicroCon."
Aku berkata, "MicroCon" Apa itu?"
"MicroCon adalah sebuah perusahaan Amerika yang
membuat peralatan komputer. Kabarnya akan dibeli oleh
perusahaan Jepang bernama Akai Ceramics. Kongres
menentang penjualan itu, karena takut teknologi Amerika
akan jatuh ke tangan Jepang."
Aku berkata, "Dan apa hubungannya dengan Nakamoto?" "Nakamoto adalah perusahaan induk Akai." Kaset
pertama telah tamat. "Belum ketemu yang kalian cari?"
"Belum. Coba yang berikutnya."
"Oke." Ia memasukkan kaset kedua. "Pokoknya, saya
heran bahwa begitu banyak senator dan anggota Kongres
merasa pantas muncul di sini tadi. Oke, ada lagi. Roger
Hillman, deputi menteri negara untuk urusan Pasifik. Itu
asistennya Kenichi Aikou, konsul jenderal Jepang di L.A.,
Richard Meier, arsitek. Dia bekerja untuk Ge"y. Wanita ini
saya tidak kenal. Beberapa orang Jepang..."
Connor berkata, "Hisashi Koyama, wakil presiden Honda
untuk Amerika." "Oh, yeah," ujar Jenny. "Dia sudah sekitar tiga tahun di sini. Sebentar lagi dia
akan pulang Itu Fena Morris, dia
mengepalai delegasi AS ke perundingan GA" - General
Agreement on Tariffs and Trade. Wah, berani benar dia
muncul di sini, ini jelas-jelas perselisihan kepentingan. Tapi
dia malah penuh senyum. Chuck Norris. Eddie Nakamura.
Semacam playboy lokal. Saya tidak tahu siapa wanita yang
menemaninya itu. Tom Cruise, berikut istri. Dan Madonna,
tentu saja." Di layar monitor, lampu-lampu kilat seakan-akan
menyala tanpa henti ketika Madonna turun dari
limousine-nya dan bergenit-genit di depan para wartawan.
"Kalian tertarik?"
Connor berkata, "Malam ini tidak."
"Hmm, dia pasti disorot terus," Jenny berkomentar. Ia
menekan tombol fast-forward - kecepatan sangat tinggi -
dan gambar menjadi kelabu bergaris-garis. Ketika
dikembalikan ke kecepatan semula, Madonna sedang
melenggak-lenggok ke tangga berjalan sambil bergandengan tangan dengan pemuda Latin yang langsing
dan berkumis. Gambar di monitor mendadak kabur karena
kamera kembali diarahkan ke jalanan.
"Itu Daniel Okimoto. Pakar mengenai kebijaksanaan
industri Jepang. Itu Arnold, dengan Maria. Dan di belakang
mereka ada Steve Martin, bersama Arata Isozaki, arsitek
yang merancang Museum..."
Connor berkata, "Tunggu."
Jenny menekan sebuah tombol. Gambarnya membeku.
Jenny tampak heran. "Anda tertarik pada Isozaki?"
"Tidak. Tolong mundurkan."
Gambar bergerak mundur, berkedap-kedip ketika
kamera beralih dari Steve Martin dan kembali mengarah ke
jalanan untuk merekam kedatangan berikutnya. Tapi
sekilas saja, kamera melewati sekelompok orang yang
sudah turun dari limo-limo mereka, dan sedang berjalan di
trotoar yang telah dilapisi karpet.
Connor berkata, "Itu."
Sekali lagi gambar membeku. Agak kabur, aku melihat
wanita pirang dengan gaun koktail warna hitam berjalan di
sebelah pria tampan dengan setelan jas berwarna gelap.
"Oh," kata Jenny. "Anda tertarik pada prianya, atau
wanitanya?" "Wanitanya." "Sebentar, saya ingat-ingat dulu," ujar Jenny sambil
mengerutkan kening. "Saya sudah beberapa kali melihat dia
di pesta orang-orang Washington, kira-kira sejak sembilan
bulan yang lalu. Dia Kelly Emberg-nya tahun ini. Atletis,
seperti model. Sophisticated, s eperti kembaran Tatiana.
Namanya... Austin. Cindy Austin, Carrie Austin... Cheryl
Austin. Itu dia." Aku berkata, "Anda mengetahui sesuatu mengenai dia?"
Jenny menggelengkan kepala. "Hei, sudah bagus Anda
mendapatkan namanya. Gadis-gadis seperti ini terus
bermunculan. Mereka ada di mana-mana selama enam
bulan, setahun, lalu mereka hilang lagi. Entah ke mana.
Siapa yang bisa mengingat semuanya?"
"Dan pria yang datang bernmanya?"
"Richard Levi". Ahli bedah plastik. Dia sering menangani
bintang-bintang terkenal."
"Kenapa dia ada di sini?"
Jenny mengangkat bahu. "Pergaulan. Dia menemani para
bintang di masa-masa sulit. Kalau di antara pasien-pasiennya ada yang bercerai atau sebagainya, dia
mengawal para istri. Dan kalau dia tidak mengawal klien,
dia mengajak gadis-gadis model, seperti yang ini. Mereka
tampak serasi." Di layar monitor, Cheryl dan pengawalnya melangkah
tersendat-sendat ke arah kami, satu frame setiap tiga puluh
detik. Pelan-pelan. Aku memperhatikan bahwa mereka tak
pernah saling berpandangan. Cheryl kelihatan tegang,
seakan-akan mengharapkan sesuatu.
Jenny Gonzales berkata, "Oke, seorang ahli bedah plastik
dan seorang model. Kalau saya boleh tahu, kenapa mereka
berdua begitu penting" Soalnya dalam kesempatan seperti
ini, mereka sekadar... ehm... meramaikan suasana."
Connor berkata, "Wanita itu terbunuh tadi."
"Oh, rupanya dia" Menarik."
Aku berkata, "Anda sudah tahu soal pembunuhan itu?"
"Oh, tentu." "Apakah ada laporan dalam siaran berita?"
"Tidak, berita jam sebelas tidak menyiarkannya," kata
Jenny. "Dan rasanya besok pun takkan disiarkan.
Sebenarnya ini memang bukan berita."
"Kenapa begitu?" aku bertanya sambil melirik Connor.
"Habis, di mana letak nilai beritanya?"
"Maksud Anda?" "Pihak Nakamoto pasti berdalih bahwa peristiwa itu
dianggap berita hanya karena terjadi di resepsi peresmian
mereka. Mereka tentu akan mengambil sikap bahwa setiap
liputan mengenai kejadian itu merupakan usaha untuk
menjelek-jelekkan mereka Dan pada dasarnya mereka
benar. Maksud saya, seandainya gadis ini tewas di jalan
raya, takkan ada yang meliputnya. Seandainya dia terbunuh
dalam perampokan toko, dia takkan masuk berita. Jadi,
biarpun dia terbunuh di sebuah pesta, siapa yang peduli"
Dia muda dan cantik, tapi tidak istimewa. Dia bukan
pemain film atau semacamnya."
Connor melirik jam tangannya. "Bagaimana kalau
kaset-kaset yang lain diputar?"
"Rekaman di tempat pesta" Oke. Anda mencari gadis
ini?" "Ya." "Oke, kita mulai saja." Jenny memasukkan kaset ketiga.
Kami melihat beberapa adegan dari pesta di lantai 45:
para pemain band, orang-orang berdansa di bawah hiasan
gantung. Dengan bersusah payah kami mencari gadis itu di
tengah keramaian. Jenny herkomentar, "Kalau di Jepang,
pekerjaan seperti ini tak perlu dilakukan secara manual.
Orang Jepang punya video recognition software yang cang-
gih sekarang. Mereka punya program di mana kita
mengidentifikasi sebuah gambar, sebuah wajah misalnya,
dan programnya mencari wajah itu secara otomatis. Kita
diberitahu setiap kali wajah itu muncul. Di tengah-tengah
kerumunan, atau di mana saja. Cukup dengan identifikasi
dari satu sudut pandang saja, setiap objek tiga dimensi bisa
ditemukan, meskipun objek itu tampak dari sudut pandang
lain. Kabarnya program itu cukup bagus. Sayangnya
lambat." "Kenapa stasiun ini belum memilikinya?"
"Oh, program itu tidak dijual di sini. Perlengkapan video
Jepang yang paling cangglh tidak bisa diperoleh di Amerika.
Mereka membiarkan kita ketinggalan tiga sampai lima
tahun. Itu hak mereka. Mereka yang mengembangkan
teknologi itu, jadi mereka bebas berbuat apa saja. Tapi
dalam kasus seperti ini pasti banyak gunanya."
Adegan demi adegan silih berganti.
Tiba-tiba Jenny mengunci gambar.
"Itu. Kamera latar belakang sebelah kiri. Cheryl Austin
sedang mengobrol dengan Eddie Sakamura. Eddie tentu
saja mengenalnya Dia kenal semua gadis model. Kecepatan
normal?" "Ya, tolong," ujar Connor sambil menatap layar monitor.
Kamera berputar dengan pelan. Cheryl Austin kelihatan
hampir selama adegan itu berlangsung. Tertawa bersama
Eddie Sakamura, menengadahkan kepala, meletakkan
tangan di lengan Eddie, bergembira karena berada
bersamanya. Eddie membadut. Kelihatannya ia senang
membuat Cheryl tertawa. Tapi sekali-sekali mata Cheryl
berpaling ke arah lain, memandang berkeliling. Seakan-akan menunggu sesuatu. Atau seseorang.
Sakamura akhirnya menyadari bahwa tidak seluruh
perhatian Cheryl terarah padanya. Ia menggenggam lengan
gadis itu, dan menariknya dengan kasar. Cheryl membuang
muka Eddie mencondongkan badan ke depan dan
mengatakan sesuatu dengan kesal. Kemudian seorang pria
berkepala botak melangkah maju, sangat dekat dengan ka-
mera. Cahaya memantul pada wajahnya, sehingga
tampangnya tidak kelihatan, kepalanya menutupi Eddie
dan Cheryl. Kemudian kamera beralih, Eddie dan Cheryl
menghilang dari pandangan kami.
"Sial." "Mau diulang?" Jenny memundurkan rekaman dan kami
melihatnya sekali lagi.

Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku berkata, "Eddie tampak dongkol."
"Yeah." Connor mengerutkan kening. "Sulit sekali mengartikan
ini. Apakah ada rekaman suara?"
Jenny berkata, "Tentu, tapi kemungkinan besar tidak
jelas." Ia menekan beberapa tombol dan mengulangi
adegan itu. Jenny benar. Suaranya memang tidak jelas.
Hanya sesekali kami dapat menangkap sepotong kalimat.
Pada suatu ketika, Cheryl Austin menatap Eddie
Sakamura dan berkata, "...bukan salahku kalau kau
penasaran karena aku."
Jawaban Eddie tenggelam dalam kebisingan di sekeliling
mereka, tetapi kemudian ia berkata dengan jelas, "Tidak
mengerti... mengenai pertemuan Sabtu..."
Dan dalam detik-detik terakhir adegan itu, ketika ia
menarik Cheryl, ia mengucapkan sesuatu yang terdengar
seperti "...jangan bodoh... no cheapie..."
Aku berkata, "Dia bilang 'no cheapie'?"
"Mirip itu," ujar Connor.
Jenny bertanya, "Perlu diulang lagi?"
"Tidak," kata Connor. "Tak ada lagi yang bisa dipelajari
di sini. Teruskan saja."
"Oke," Jenny berkata.
Gambar bertambah cepat, para pengunjung pes" tampak
berjalan mondar-mandir, tertawa, mengangkat gelas untuk
minum sedikit. Dan kemudian aku berkata, "Tunggu!"
Kembali ke kecepatan normal. Seorang wanita pirang
dengan jas sutra buatan Armani sedang bersalaman dengan
pria botak yang kami lihat beberapa saat yang lalu.
"Ada apa?" tanya Jenny sambil menatapku.
"Itu istrinya," kata Connor.
Wanita itu maju sedikit untuk mengecup bibir si Botak.
Kemudian ia mundur lagi dan berkomentar mengenai
setelan jas yang dikenakan pria itu.
"Dia pengacara di kejaksaan," kata Jenny. "Lauren Davis.
Dia ikut membantu dalam beberapa kasus besar. Sunset
Strangler, penembakan Kellermann. Dia sangat ambisius.
Pintar dan banyak koneksi. Katanya, dia punya masa depan
kalau dia tetap bekerja di kejaksaan. Rasanya memang
benar, sebab Wyland tak pernah membiarkan dia tampil di
depan karnera. Anda lihat sendiri, penampilannya cukup
meyakinkan, tetapi Wyland selalu menjauhkannya dari
mikrofon-mikrofon. Laki-laki botak yang sedang mengobrol
dengannya adalah John MeKenna, dari Regis MeKenna,
sebuah perusahaan humas di San Francisco. Sebagian besar
perusahaan high-tech merupakan klien mereka."
Aku berkata, "Sudah bisa dilanjutkan lagi."
Jenny menekan tombol. "Dia benar-benar istri Anda, atau
partner Anda hanya bercanda?"
"Benar, dia istri saya. Bekas istri saya."
"Anda bercerai?"
"Yeah." Jenny menatapku. Sepertinya ia hendak mengatakan
sesuatu. Namun kemudian ia membatalkan niatnya dan
kembali memperhatikan monitor. Di layar, pesta itu
berlanjut dengan kecepatan, tinggi.
Aku menyadari bahwa aku sedang memikirkan Lauren.
Ketika aku mengenalnya, ia memang cerdas dan penuh
ambisi, tetapi ada banyak hal yang tidak dipahaminya. Ia
berasal dari kalangan atas, ia belajar di sekolah-sekolah
yang termasuk jajaran Ivy League, dan keyakinan khas
kalangan atas telah mendarah daging dalam dirinya, yaitu
bahwa apa pun yang dipikirkannya kemungkinan besar
memang benar. Tak ada yang perlu dibandingkan dengan
kenyataan. Ia muda, bagian dari dunia yang sedang berputar. Ia
masih meraba-raba, mempelajari cara kerja dunia. Ia penuh
antusiasme, dan dalam menguraikan pandangannya, ia bisa
berapi-api. Tetapi pandangannya selalu berubah-ubah,
tergantung pada siapa yang terakhir berbincang-bincang
dengannya. Ia sangat mudah terkesan. Ia mencoba
gagasan-gagasan baru seperti wanita lain mencoba topi. Ia
selalu tahu trend terbaru. Mula-mula sifatnya itu kuanggap
menarik, lucu, tetapi lama-lama aku mulai jengkel.
Karena ia tidak memiliki isi. Bagaikan pesawat TV, ia
hanya menampilkan pertunjukan terakhir Apa pun
pertunjukannya. Ia tak pernah mempertanyakannya.
Pada hakikatnya, bakat Lauren yang paling besar adalah
menyesuaikan diri. Ia ahli dalam memperhatikan TV, koran,
atasannya - apa saja yang dianggapnya sebagai sumber
otoritas - dan menyimpulkan arah perkembangan dunia.
Dan menempatkan diri, sehingga ia berada di tempat ia
seharusnya berada. Aku tidak heran bahwa kariernya maju
pesat. Tata nilai yang dianutnya, sama seperti pakaiannya,
selalu bagus dan up-to-date.
"...kepada Anda, Letnan, tapi sekarang sudah malam...
Letnan?" Aku terperanjat. Suara Jenny membuyarkan lamunanku.
Ia menunjuk layar monitor, di mana Cheryl Austin dengan
gaun hitamnya sedang berdiri bersama dua pria setengah
baya. Aku menoleh ke arah Connor, tapi ia sedang menghadap
ke arah lain dan berbicara melalul telepon.
"Letnan" Apakah Anda tertarik pada adegan ini?"
"Ya, tentu. Siapa mereka?"
Jenny memutar rekaman itu dengan kecepatan normal.
"Senator John Morton dan Senator Stephen Rowe.
Mereka sama-sama anggota Komite Keuangan Senat.
Komite yang mengadakan dengar pendapat mengenai
penjualan MicroCon."
Di layar, Cheryl tertawa dan mengangguk. Ia sangat
cantik, berkesan lugu sekaligus sensual. Sesekali raut
wajahnya tampak keras. Sepertinya ia mengenal kedua pria
itu, walaupun tidak kenal baik. Ia tidak mendekati
keduanya atau menyentuh mereka, kecuali pada waktu
bersalaman. Sedangkan kedua senator itu tampaknya
menyadari kehadiran kamera, dan terus menampilkan
sikap ramah, namun resmi.
"Negara kita sedang menuju kehancuran, tapi pada
malam Jumat, senator-senator AS malah mengobrol dengan
gadis model," Jenny berkomentar. "Pantas saja kita dalam
kesulitan. Dan mereka ini termasuk orang penting. Morton
bahkan disebut-sebut sebagai calon presiden dalam pemilu
berikut. " Aku berkata, "Apa yang Anda ketahui mengenai pribadi
mereka?" "Kedua-duanya berkeluarga. Tapi, ya, Rowe sudah pisah
ranjang. Istrinya tinggal di Virginia. Rowe sendiri tukang
pesta. Dia cenderung terlalu banyak minum."
Aku menatap Rowe di monitor. Rowe-lah yang hendak
naik ke lift bersama kami di tempat pesta tadi. Dan waktu
itu ia kelihatan mabuk, nyaris tak sanggup berdiri. Tetapi di
monitor sekarang ia belum tampak mabuk.
"Dan Morton?" "Kabarnya, dia Mr. Dean. Bekas atlet, gila fitness.
Penggemar health food. Mengutamakan keluarga. Bidang
keahlian Morton adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.
Lingkungan hidup. Daya saing Amerika. Tata nilai Amerika.
Hal-hal seperti itulah. Tapi dia tak mungkin sebersih itu.
Saya dengar desas-desus bahwa dia punya pacar gelap yang
masih muda." "Betul itu?" Jenny mengangkat bahu. "Katanya, para anggota stafnya
berusaha untuk memutuskan hubungan itu. Tapi siapa yang
tahu mana yang benar mana yang tidak."
Rekaman berakhir dan Jenny memasukkan kaset
berikutnya. "Ini yang terakhir."
Connor meletakkan gagang telepon dan berkata,
"Lupakan saja." Ia berdiri. "Kita harus berangkat,
Koshai." "Kenapa?" "Saya baru saja bicara dengan perusahaan telepon
mengenai percakapan-percakapan yang dilakukan dari
pesawat telepon umum di lobi gedung Nakamura antara
jam delapan dan jam sepuluh."
"Lalu?" "Ternyata pesawatnya tidak dipakai selama dua jam itu."
Aku tahu bahwa Connor menduga seseorang keluar dari
ruang keamanan dan menelepon dari telepon umum itu -
Cole, atau salah satu orang Jepang. Kini harapan untuk
melacak percakapan itu telah pupus. "Sayang sekali,"
kataku. "Sayang sekali?" ujar Connor dengan nada heran. "Ini
justru sangat membantu. Ruang gerak kita jadi lebih
terbatas. Miss Gonzales, Anda punya rekaman mengenai
orang-orang yang meninggalkan tempat pesta?"
"Meninggalkan tempat pesta" Tidak. Begitu para tamu
sudah datang, semua kru naik untuk meliput pesta. Mereka
sudah kembali ke sini pada waktu pesta masih
berlangsung." "Baiklah. Saya kira urusan kami di sini sudah selesai.
Terima kasih atas bantuan Anda. Pengetahuan Anda sangat
luar biasa. Kohai, mari berangkat."
Bab 15 KEMBALI naik mobil. Kali ini kami menuju ke sebuah
alamat di Beverly Hills. Aku lelah, jam tanganku
menunjukkan pukul satu dini hari. "Kenapa telepon umum
di lobi itu demikian penting?"
"Karena," ujar Connor, "pandangan kita tentang kasus ini
bertumpu pada pertanyaan apakah ada yang menelepon
dari pesawat itu atau tidak. Masalahnya sekarang,
perusahaan mana di Jepang yang bertikai dengan
Nakamoto." "Perusahaan di Jepang?" kataku.
"Ya. Dan bisa dipastikan bahwa perusahaan itu termasuk
keiretsu yang lain."
Aku berkata, "Keiretsu?"
"Orang Jepang menyusun bisnis mereka dalam
organisasi-organisasi besar yang mereka sebut keiretsu. Di
Jepang ada enam keiretsu utama, dan keenam-enamnya
berukuran raksasa. Sebagai contoh, keiretsu Mitsubishi
terdiri atas tujuh ratus perusahaan yang bekerja sama, atau
memiliki keuangan yang berkaitan atau berbagai
persetujuan khusus lainnya. Organisasi raksasa seperti ini
tidak ada di Amerika, karena melanggar undang-undang
antitrust, lain halnya dengan di Jepang. Kita menganggap
bahwa sebuah perusahaan berdiri sendiri. Untuk
melihatnya dari sudut pandang orang Jepang, Anda harus
membayangkan gabungan antara, misalnya, IBM dan
Citibank dan Ford dan Exxon, dan semuanya menjalin
hubungan kerja sama secara rahasia, dan berbagi dana atau
riset. Artinya, perusahaan Jepang tak pernah berdiri sendiri
- selalu ada kerja sama dengan ratusan perusahaan lain.
Dan semuanya bersaing dengan perusahaan-perusahaan
yang tergabung dalam keiretsu lain.
"Jadi, kalau Anda bertanya apa yang dilakukan
perusahaan Nakamoto, Anda harus bertanya apa yang
dilakukan keiretsu Nakamoto di Jepang sana. Dan
bagaimana tanggapan dari keiretsu-keiretsu lainnya. Sebab
pembunuhan ini sangat memalukan bagi Nakamoto.
Bahkan bisa dianggap sebagai serangan terhadap
Nakamoto." "Serangan?" "Coba pikirkan. Nakamoto merencanakan resepsi
besar-besaran untuk peresmian gedung baru mereka.
Mereka ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Lalu,
salah satu tamu mati terbunuh. Pertanyaannya adalah,
siapa yang memberitahu kita?"
"Siapa yang melaporkan pembunuhan itu?"
"Betul. Harap diingat, Nakamoto sepenuhnya mengontrol tempat itu. Itu pesta mereka, gedung mereka.
Mudah saja bagi mereka untuk menunggu sampai pesta
berakhir dan semua tamu pulang, untuk melaporkan
pembunuhan itu. Seandainya saya sangat memperhatikan
pandangan umum dan, citra saya di masyarakat, itulah yang
akan saya lakukan. Sebab semua tindakan lain dapat
mengancam citra Nakamoto di mata umum."
"Oke." "Tetapi laporannya tidak ditunda," Connor berkata.
"Justru sebaliknya, laporannya masuk puktil 20.32, pada
waktu pesta tengah berlangsung, dan dengan demikian,
mengancam acara itu. Jadi, kembali ke pertanyaan tadi,
siapa yang melaporkannya?"
Aku berkata, "Anda menyuruh Ishiguro mencari orang
itu. Dan sampai sekarang dia belum melakukannya."
"Betul. Karena dia tidak bisa."
"Dia tidak tahu siapa yang menelepon polisi?"
"Betul." "Anda pikir peneleponnya bukan orang Nakamoto?"
"Betul." "Musuh Nakamoto?"
"Hampir pasti."
Aku berkata, "Jadi, bagaimana kita mencari orang itu?"
Connor tertawa. "Untuk itulah saya memeriksa telepon
umum di lobi. Pesawat itu sangat penting dalam mencari
jawaban atas pertanyaan kita."
"Kenapa begitu?"
"Andaikan Anda bekerja untuk sebuah perusahaan
saingan, dan Anda ingin tahu apa yang terjadi di dalam
tubuh Nakamoto. Anda tidak bisa mengetahuinya, karena
perusahaan Jepang mempekerjakan para eksekutif mereka
untuk seumur hidup. Para eksekutif merasa sebagai bagian
dari sebuah keluarga besar. Dan mereka takkan
mengkhianati keluarga sendiri.

Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jadi, Nakamoto menampilkan topeng yang tak tertembus kepada dunia,
dan ini menyebabkan detail-detail paling kecil pun
memiliki arti: eksekutif mana saja yang berkunjung dari
Jepang, siapa bertemu dengan siapa, orang-orang yang
datang dan pergi, dan sebagainya. Dan kita bisa
mempelajari detail-detail itu jika kita menjalin hubungan
dengan petugas keamanan Amerika yang sepanjang hari
duduk di depan deretan monitor. Terutama jika petugas itu
sudah mencicipi prasangka orang Jepang terhadap orang
kulit hitam." "Teruskan," kataku.
"Orang Jepang sering berusaha menyuap petugas
keamanan setempat yang bekerja untuk perusahaan
saingan mereka. Orang Jepang orang terhormat, tetapi
tradisi mereka menghalalkan penyuapan. Dalam cinta dan
perang, semuanya halal, dan orang Jepang memandang
bisnis sebagai perang. Penyuapan boleh-boleh saja, kalau
kita bisa menanganinya."
"Oke." "Nah, dalam detik-detik pertama setelah pembunuhan
terjadi, kita bisa memastikan kematian gadis itu diketahui
hanya oleh dua orang. Yang pertama adalah pembunuhnya
sendiri. Yang satu lagi adalah si petugas keamanan, Ted
Cole, yang menyaksikannya di layar monitor."
"Tunggu dulu! Ted Cole menyaksikan kejadian itu di
layar monitor" Dia tahu siapa pembunuhnya?"
"Tentu." "Dia mengaku pulang pukul 20.15."
"Dia berbohong."
"Tapi kalau Anda tahu itu, kenapa kita tidak..."
"Dia takkan memberitahukan apa-apa kepada kita," ujar
Connor. "Sama seperti Phillips. Karena itulah saya tidak
menahan Cole dan membawanya untuk diinterogasi. Sebab
pada akhirnya kita hanya akan buang-buang waktu - dan
waktu sangat penting sekarang. Kita sudah tahu bahwa dia
takkan buka mulut. Pertanyaan saya, apakah dia mem-
beritahu orang lain?"
Aku mulai memahami maksud Connor. "Maksud Anda,
apakah dia keluar dari ruang keamanan dan pergi ke
telepon umum untuk memberitahu seseorang bahwa telah
terjadi pembunuhan?"
"Betul. Karena dia takkan mau menggunakan telepon di
ruang kerjanya. Dia tentu menggunakan telepon umum,
dan menghubungi seseorang - salah satu musuh Nakamoto,
saingan mereka." Aku berkata, "Tapi sekarang kita sudah tahu bahwa
telepon umum itu tidak dipakai."
"Betul," kata Connor.
"Artinya, kita harus mulai dari nol lagi."
"Oh, tidak. Hal itu justru memperkuat teori saya. Jika
Cole tidak menghubungi orang lain, siapa yang melaporkan
pembunuhan itu" Hanya ada satu jawaban, yaitu
pembunuhnya sendiri."
Aku merinding. "Dia menelepon untuk mempermalukan pihak Nakamoto?" "Saya pikir begitu."
"Tapi dari mana dia menelepon?"
"Itu belum jelas. Tapi dugaan saya, dari dalam gedung
Nakamoto. Dan ada beberapa detail membingungkan yang
belum kita pikirkan "Misalnya?" Telepon berdering. Connor menyahut, lalu menyerahkan
gagangnya padaku. "Untuk Anda."
"Bukan, bukan," ujar Mrs. Ascenio. "Si Kecil baik-baik
saja. Saya baru saja menengoknya beberapa menit yang
lalu. Dia baik-baik saja. Letnan, saya ingin memberitahu
Anda bahwa Mrs. Davis menelepon." Itulah sebutan yang
digunakannya untuk bekas istriku.
"Kapan?" "Kira-kira sepuluh menit yang lalu."
"Apakah dia meninggalkan nomor telepon?"
"Tidak. Dia bilang dia tidak bisa dihubungi malam ini.
Tapi dia ingin memberitahu Anda bahwa ada acara
mendadak, dan bahwa dia mungkin harus ke luar kota. Jadi,
dia mungkin tidak sempat membawa si Kecil selama akhir
pekan." Aku menghela napas. "Oke."
"Dia bilang, besok dia akan menelepon Anda lagi untuk
memastikannya." "Oke." Aku tidak heran. Begitulah Lauren. Selalu ada perubahan
pada saat terakhir. Kita tak pernah bisa membuat rencana
yang melibatkan Lauren, sebab ia selalu berubah pikiran.
Perubahan terakhir ini mungkin berarti bahwa ia
mempunyai pacar baru dan hendak bepergian dengannya.
Tapi ia belum bisa memastikannya sampai besok.
Tadinya aku beranggapan bahwa sikap Lauren itu
berpengaruh buruk pada Michelle, dan akan membuatnya
tidak percaya diri. Tetapi anak-anak sangat pragmatis.
Tampaknya Michelle mengerti bahwa ibunya memang
begitu, dan ia tidak terganggu.
Akulah yang terganggu. Mrs. Ascenio berkata, "Anda akan pulang cepat, Letnan?"
"Tidak. Kelihatannya saya baru akan pulang pagi. Anda
bisa menginap?" "Bisa, tapi jam sembilan besok saya harus berangkat.
Saya tidur di ruang duduk saja, seperti biasa."
Aku mempunyai sofa merangkap tempat tidur di ruang
duduk. Mrs. Ascenio biasa memakainya kalau terpaksa
menginap. "Tentu, silakan."
"Oke, selamat malam, Letnan."
"Selamat malam, Mrs. Ascenio."
Connor berkata, "Ada masalah?" Aku terkejut karena
suaranya bernada tegang. "Tidak. Bekas istri saya macam-macam, seperti biasa. Dia
belum tahu apakah dia bisa membawa si Kecil selama akhir
pekan. Kenapa?" Connor mengangkat bahu. "Sekadar tanya saja."
Perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu di balik
sikapnya itu. "Apa maksud Anda tadi, waktu Anda
mengatakan bahwa kasus ini bisa berakibat buruk?"
"Belum tentu," balas Connor. "Jalan keluar yang terbaik
adalah memecahkan kasus ini dalam beberapa jam berikut.
Dan saya rasa ada harapan. Ah, itu restorannya, di depan,
sebelah kiri." Aku melihat papan reklame neon. Bora Bora.
"Ini restoran milik Eddie Sakamura?"
"Ya. Sebenarnya dia bukan pemilik penuh. Jangan
serahkan kunci pada petugas parkir. Berhenti saja di bawah
tanda larangan. Kita mungkin harus pergi cepat-cepat."
Bora Bora merupakan restoran yang sedang in di L.A.
minggu ini. Dekorasinya berupa topeng-topeng dan
perisai-perisai Polinesia. Perahu dayung berwarna hijau
tergantung di atas bar. Di atas dapur yang terbuka, videoclip
Prince terlihat pada layar selebar lima meter. Makanan
yang dihidangkan adalah makanan Pacific Rim; kebisingan
di sini memekakkan telinga; para pengunjung terdiri atas
orang-orang yang berharap dapat menembus industri film.
Semuanya berpakaian serba hitam.
Connor tersenyum. "Seperti Trader Vic's setelah ada
ledakan bom, bukan" Jangan melotot begitu. Anda tidak
pernah ke luar rumah?"
"Tidak," kataku. Connor berbicara dengan petugas
penerima tamu, seorang wanita peranakan Asia. Aku
memandang ke bar, tempat dua wanita sedang berciuman.
Lebih ke ujung, pria Jepang dengan jaket penerbang tampak
merangkul gadis pirang yang jangkung. Kedua-duanya
sedang mendengarkan seorang pria dengan rambut
menipis dan sikap menantang, yang kukenali sebagai sutra-
dara. "Ayo," ujar Connor. "Kita pergi."
"Apa?" "Eddie tidak ada di sini."
"Di mana dia?" "Dia ada di sebuah pesta di perbukitan. Ayo kita ke sana
saja." Bab 16 ALAMAT itu berada di sebuah jalan berkelok-kelok di
perbukitan di atas Sunset Boulevard. Seharusnya kota
kelihatan jelas dari sini, tetapi kabut telah menyelubunginya. Ketika mendekat, kami melihat mobil-mobil mewah berderet di kedua sisi jalan. Sebagian
besar sedan Lexus, ada juga Mercedes dua pintu dengan
kap terbuka dan sedap Bentley. Para petugas parkir tampak
heran ketika kami muncul naik sedan Chevy, dan menuju
rumah itu. Seperti rumah-rumah lain di jalan itu, rumah ini
dikelilingi tembok setinggi tiga meter, dan jalan masuknya
terhalang oleh gerbang besi yang di- lengkapi alat
pengendali jarak jauh. Di atas gerbang terdapat kamera
keamanan, satu lagi tampak di jalan menuju rumah.
Seorang petugas keamanan swasta berdiri di sisi jalan dan
memeriksa identitas kami.
Aku berkata, "Rumah siapa ini?"
Sepuluh tahun yang lalu, orang yang menggunakan
pengamanan seperti ini hanya para anggota Mafia, atau
bintang film seperti Stallone, yang melalui film-filmnya
yang keras mengundang perhatian yang juga penuh
kekerasan. Tapi belakangan ini, tampaknya semua
penghuni di lingkungan tempat tinggal orang kaya memiliki
pengamanan serupa. Hal itu telah lazim, bahkan hampir
menjadi mode. Kami menaiki tangga yang melewati taman
kaktus, menuju rumah yang berbentuk modem, menyerupai benteng. Musik terdengar mengentak-entak.
"Ini rumah pemilik Maxim Noir." Rupanya Connor
melihat bahwa aku terbengong-bengong. "Toko pakaian
mahal yang terkenal karena pelayannya yang congkak. Jack
Nicholson dan Cher biasa berbelanja di sana."
"Jack Nicholson dan Cher," aku mengulangi sambil
geleng-geleng. "Dari mana Anda tahu?"
"Sekarang banyak orang Jepang yang berbelanja di sana.
Maxim Noir sama saja dengan sebagian besar toko Amerika
yang mahal - mereka terpaksa gulung tikar seandainya
tidak ada pengunjung darl Tokyo. Mereka tergantung pada
orang-orang Jepang."
Ketika kami menghampiri pintu depan, seorang pria
tinggi besar dengan jas santai muncul. Ia membawa daftar
nama. "Maaf, pesta ini khusus untuk undangan, Gentlemen."
Connor memperlihatkan lencananya. "Kami ingin bicara
dengan salah satu tamu Anda," katanya.
"Tamu yang mana itu, Sir?"
"Mr. Sakamura."
Orang itu tampak enggan "Silakan tunggu di sini."
Dari pintu masuk, kami bisa melihat ke ruang duduk.
Ruangan itu penuh tamu, yang sepintas lalu sama dengan
orang-orang yang menghadiri resepsi Nakamoto. Seperti di
restoran tadi, hampir semua orang mengenakan pakaian
berwarna hitam. Tapi justru ruangan itu sendiri yang
menarik perhatianku. Semuanya serba putih, sama sekali
tanpa hiasan. Tak ada lukisan di dinding. Tak ada perabot.
Hanya dinding-dinding putih dan karpet polos. Para tamu
tampak canggung. Mereka memegang gelas dan serbet,
memandang berkeliling, mencari tempat untuk meletakkan
semuanya. Sepasang pria dan wanita melewati kami ketika mereka
menuju ruang makan. "Rod selalu tahu apa yang harus
dilakukannya," ujar wanita itu'.
"Ya," jawab pria yang bersamanya. "Minimalis penuh
keanggunan. Kaulihat detail di ruangan itu" Aku tidak tahu
bagaimana dia bisa mengecat dinding seperti itu.
Sempurna. Tanpa bekas kuas, tanpa belang. Sempurna."
"Memang sudah seharusnya. Ini bagian integral dari
seluruh konsepsinya."
"Sangat berani."
"Berani?" aku berkomentar. "Apa yang mereka sebut
berani" Saya hanya melihat ruangan kosong."
Connor tersenyum. "Saya menyebutnya faux zen. Gaya
tanpa isi." Aku mengamati para tamu. "Senator Morton ada." Ia berdiri di sebuah pojok.
Penampilannya memang pantas sebagai calon presiden.
"Begitu." Karena penjaga pintu tadi belum kembali, kami maju
beberapa kaki. Ketika aku mendekati Senator Morton, aku
mendengarnya berkata, "Ya, saya bisa menjelaskan
mengapa saya keberatan dengan tingkat kepemilikan
Jepang dalam industri Amerika. Kalau kita kehilangan
kemampuan membuat produk-produk kita sendiri, kita


Matahari Terbit Rising Sun Karya Michael Crichton di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kehilangan kontrol atas nasib kita. Sederhana saja. Sebagai
contoh, tahun 1987 kita mendapat laporan bahwa Toshiba
menjual teknologi yang menentukan kepada Rusia, yang
memungkinkan Angkatan Laut Soviet mengurangi kebisingan yang ditimbulkan oleh baling-baling kapal
selam mereka. Sekarang kapal selam nuklir Rusia berada di
lepas pantai dan kita tidak sanggup melacak mereka,
karena mereka memiliki teknologi dari Jepang. Kongres
marah sekali, dan para warga Amerika pun geram. Dan
memang beralasan, sebab kejadian itu sangat keterlaluan.
Pihak Kongres lalu berniat mengenakan sanksi ekonomi
kepada Toshiba. Tetapi rencana itu akhirnya dibatalkan
atas imbauan perusahaan-perusahaan Amerika, sebab
perusahaan-perusahaan Amerika seperti Hewle"-Packard
dan Compaq tergantung pada Toshiba untuk memperoleh.
komponenkomponen komputer. Mereka tak sanggup men-
dukung rencana boikot, karena mereka tidak memiliki
sumber lain. Singkat kata, kita tak sanggup mengambil
langkah balasan. Jepang menjual teknologi vital kepada
musuh kita, dan kita tak dapat berbuat apa-apa. Itulah
masalahnya. Kita, sekarang tergantung pada Jepang, dan
menurut saya, Amerika tidak boleh tergantung pada negara
mana pun." Seseorang mengajukan pertanyaan dan Senator Morton
mengangguk. "Ya, memang benar bahwa keadaan industri
kita tidak terlalu baik. Upah nyata kini sebanding dengan
upah nyata, di tahun 1962. Daya beli angkatan kerja
Amerika mundur sekitar tiga puluh tahun. Dan itu
berpengaruh, juga terhadap orang-orang berada yang saya
lihat di ruangan ini, sebab itu berarti para konsumen Ame-
rika tidak mempunyai uang untuk nonton film, membeli
mobil, pakaian, atau apa pun yang Anda jual. Kenyataannya
bangsa kita sedang merosot."
Seorang wanita mengajukan pertanyaan lain yang tak
terdengar olehku, dan Morton berkata, "Betul, sebanding
dengan tahun 1962. Saya tahu bahwa ini sukar dipercaya,
tapi coba ingat keadaan di tahun lima puluhan, ketika
pekerja Amerika sanggup memiliki rumah, membiayai
keluarga, dan memasukkan anak-anaknya ke perguruan
tinggi, semuanya dengan gaji yang dia terima. Kini kedua
orangtua terpaksa bekerja, dan sebagian besar orang tetap
tak mampu mendapatkan rumah. Nilai dolar semakin
merosot, segala sesuatu bertambah. mahal. Orang-orang
harus berjuang untuk mempertahankan apa yang mereka
miliki. Mereka tidak bisa maju."
Aku menyadari bahwa aku mendengarkannya sambil
mengangguk-angguk. Sekitar sebulan yang lalu aku mencari
rumah, dengan harapan dapat memperoleh pekarangan
belakang untuk Michelle Tapi harga rumah benar-benar
tidak masuk akal di L.A. Aku takkan pernah sanggup
membeli rumah, kecuali jika aku menikah lagi. Dan itu pun
belum tentu, sebab... Aku merasakan sebuah sikat mendarat di tulang igaku.
Seketika aku berbalik, dan melihat petugas penjaga pintu.
Walet Emas Perak 8 Pendekar Rajawali Sakti 101 Rahasia Dara Iblis Rahasia Peti Wasiat 5
^