Pencarian

Misteri Kain Kafan Jesus 6

Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro Bagian 6


meski pamannya Raja Prancis belum menelantarkannya.
De Molesmes tetap tenang. "Saya akan menyampaikan tawaran Anda kepada Kaisar,
dan saya akan mengabari Anda jika ada jawaban."
Balduino mendengar penasihatnya dengan pikirankacau. Dia tahu pasti bahwa jika
dia melanggar sumpahnya kepada para kesatria Templar ia bisa kehilangannyawa.
"Kamu harus memberitahu saudagar ini bahwa aku menolak tawarannya."
"Tetapi Paduka, pertimbangkanlah!"
"Tidak, aku tidak bisa. Dan aku melarangmu lagi untuk memintaku menjual
Mandylion! Sampai kapan pun!"
Pascal de Molesmes hilang semangat saat meninggalkan ruang singgasana. Dia
mencurigai kegelisahan Balduino ketika dia berbicara dengannya tentang
Mandylion. Kain tersebut telah dimiliki kaisar selama berbulan-bulan, meski tak
seorang pun pernah melihatnya, tak juga dirinya, si Penasihat Kaisar.
Kabar burung menyebutkan bahwa emas dalam jumlah besar yang dibawa ke istana
oleh wali biara kesatriaTemplar Konstantinopel, Andre de Saint Remy, adalah
pembayaran atas pembelian Mandylion tersebut.
Namun dengan berapi-api Balduino menepis kabar burung itu; dia bersumpah Kafan
Suci tersebut dia simpan sendiri.
Ketika Raja Louis telah dibebaskan dan kembali ke Prancis, sekali lagi dia
mengirim Comte de Dijon ke Konstantinopel membawa tawaran yang lebih besar lagi
untuk mendapatkan Mandylion. Yang membuat seisi istana terkejut adalah Kaisar
tetap teguh dengan keputusannya, dan dia membuat maklumat di hadapan mereka
semua bahwa dia tidak akan menjual relik tersebut kepada pamannya. Kini sekali
lagi dia menolak sebuah tawaran penting. Pascal de Molesmes lebih mengenal
Kaisar ketimbang orang lain. Jelaslah baginya bahwa Balduino tidak lagi memiliki
Mandylion tersebut, bahwa dia memang telah menjualnya kepada para kesatria
Templar. Pada malam itu dia memanggil duc de Valant dan pemuda didikannya untuk
memberitahu mereka tentang keputusan Kaisar. De Molesmes terkejut ketika
saudagar dari Edessa tersebut memberitahunya bahwa dia bersedia menaikkan
tawaran hingga dua kali lipat. Tetapi penasihat istana itu tidak mau memberi
pemuda tersebut harapan palsu.
"Berarti yang dikatakan orang-orang di istana benar?" tanya duc de Valant.
"Dan apakah yang dikatakan orang-orang di istana, Kawanku?"
"Bahwa kaisar bukan lagi penjaga Mandylion, bahwa dia telah memberikannya kepada
kesatria Templar sebagai ganti atas emas yang diberikan kesatria Templar
kepadanya untuk membayar orang Venesia dan Genoa. Itulah satu-satunya cara kita
menjelaskan penolakan Kaisar atas tawaran yang amat besar ini."
"Saya tidak memedulikan kabar burung atau intrik-intrik lain di istana, dan,
hemat saya, jangan begitu saja percaya segala yang kaudengar. Saya telah
menyampaikan keputusan Kaisar kepadamu berdua, dan tak ada lagi yang ingin saya
katakan." Pascal de Molesmes pernah melihat orang disiksa dan melihat mereka mati. Tetapi
dia tidak pernah melupakan air muka saudagar muda tersebut ketika dia
memberitahu bahwa perjuangannya sia-sia. Ketika melihat para tamunya keluar, dia
tahu mereka memiliki kecurigaan yang sama dengannya: kesatria Templar. Kafan
Suci Yesus Kristus sang Juru Selamat kini ada di tangan Ordo Kesatria Templar.
Benteng kesatria Templar berdiri di tanjung karang di pesisir.
Warna keemasan pada karang tempat bangunan tersebut dibangun menyerupai pasir
gurun tak jauh dari sana, dan posisinya yang tinggi memberinya sudut pandang
hingga bermil-mil ke sekeliling. Saint-Jean d'Acre adalah salah satu benteng
Kristen terakhir di Tanah Suci.
Robert de Saint-Remy mengucek-ucek matanya seolah gambaran benteng tersebut
hanya tipuan pandangan belaka. Dia memperhitungkan bahwa dalam beberapa menit
saja mereka akan dikepung para kesatria, yang telah mengamati mereka selama dua
atau tiga jam. Dia maupun Francois de Charney mirip orang Sarasen sungguhan;
bahkan kuda mereka, kuda berdarah Arab asli, membantu tetap menyamarkan mereka.
Ali, pengawal mereka, sekali lagi menunjukkan diri mereka sebagai seorang
pemandu yang ahli serta seorang kawan yang setia. Sungguh, Robert berutang nyawa
kepadanya, karena Ali telah menyelamatkannya ketika keempat pengelana itu
diserang sebuah patroli Ayubi. Dia bertarung dengan buas mendampingi Robert, dan
ketika sepucuk tombak diluncurkan tepat ke jantung Robert, Ali melangkah ke
depan kesatria Templar tersebut dan melakukan upaya yang bisa saja mengakibatkan
luka mematikan pada tubuhnya. Tak satu pun orang Ayubi selamat dalam penyerangan
itu, namun Ali menggigil dan nyaris tewas selama beberapa hari. Robert tidak
pernah meninggalkannya. Nyawa Ali berhasil diselamatkan dengan ramuan obat yang diracik Said, pengawal
de Charney, yang telah mempelajari pengobatan khusus dari ahli pengobatan Biara
dan juga dan para ahli pengobatan Muslim yang telah dia temui selama berkelana.
Saidlah yang menarik tombak dari dada Ali dan benar-benar membersihkan luka,
selanjutnya dia olesi dengan salep dan tumbuh-tumbuhan yang selalu dia bawa-bawa
ke manapun dia pergi. Dia juga menyuruh Ah meminum cairan berbau busuk yang
membuat pemuda itu tidur lelap.
Ketika ditanya akankah Ali selamat, Said selalu memberi jawaban yang membuat
kedua kesatria Templar itu frustasi, "Hanya Allah yang tahu." Pada hari ketujuh,
Ali bangun dari tidurnya yang sepulas orang mati. Ada rasa nyeri yang panas dan
menusuk di paru-parunya, dan dia sulit bernafas, tetapi pada akhirnya Said
mengatakan bahwa dia masih bisa hidup, dan demi mendengar hal itu, pikiran para
kesatria Templar pun menjadi tenang.
Baru tujuh hari kemudian Ali bisa duduk, dan setelah tujuh hari lagi dia baru
bisa menunggang kuda jinaknya, yang dia lengkapi tali kulit untuk mengikat
tubuhnya sendiri sehingga jika dia hilang kesadaran sekali lagi dia tidak akan
jatuh. Setelah beberapa hari dan minggu diapun sembuh, dan sekarang dia sudah di
sini, berdampingan dengan yang lain, dalam perjalanan terakhir ke benteng,
tempat mereka tiba-tiba diselimuti debu yang membubung karena derap kaki belasan
kuda. Kapten patroli tersebut meneriaki mereka agar berhenti.
Ketika Saint Remy dan de Charney menunjukkan diri mereka yang sebenarnya, mereka
pun dikawal dan segera dibawa ke hadapan Imam Besar. Renaud de Vichiers, Imam
Besar Ordo Biara, menerima mereka dengan hangat. Kendati sangat lelah, Saint
Remy dan de Charney duduk menemani de Vichiers selama satu jam, melaporkan
perjalanan mereka secara terperinci dan menyampaikan kepadanya surat dan
dokumen-dokumen yang telah diberikan Andre de Saint-Remy kepada mereka,
sekaligus kantong kain wadah Mandylion.
Kemudian Imam Besar menyuruh mereka pergi beristirahat dan memberi perintah agar
Ali dibebaskan dari segala tugas hingga kesehatannya benar-benar pulih.
Ketika sendirian, dengan tangan gemetaran Renaud de Vichiers mengambil peti
wadah Mandylion dan kantong tersebut. Dia merasakan akal sehatnya dikuasai emosi
karena dia akan melihat wajah Yesus, sang Kristus.
Dia membuka kain tersebut dan berlutut lalu berdoa, mengucap syukur kepada Tuhan
karena telah mengizinkannya menatap keajaiban ini. Petang hari setelah
kedatangan Robert de Saint Remy dan Francois de Charney, Imam Besar memanggil
semua kesatria Ordo Biara ke balai agung Rumah Induk. Disana, di atas meja
panjang, dibentangkanlah Mandylion sepenuh panjangnya. Satu persatu mereka
melintas didepan kafan Kristus tersebut, dan beberapa di antara para kesatria
perkasa itu nyaris tidak bisa membendung air mata mereka. Setelah berdoa, Renaud
de Vichiers menjelaskan kepada para brudernya bahwa kain pemakaman Yesus itu
akan diletakkan di dalam peti yang tersembunyi dari mata para pengintip. Relik
tersebut adalah permata paling berharga yang dimiliki ordo Templar, dan mereka
akan mempertahankannya dengan taruhan nyawa mereka.
Berkumpul bersama , para kesatria itu mengucapkan sumpah suci: Apa pun yang
terjadi, hingga kematian atau sesudahnya, mereka tidak akan membeberkan di mana
kafan tersebut disimpan. Kepemilikan mereka atas relik tersebut akan menjadi
salah satu rahasia terbesar Ordo Kesatria Templar.
37 Minerva, Pietro, dan Antonino telah tiba di Turin dengan penerbangan pertama
pagi itu, dan Marco mengundang tim tersebut untuk makan siang bersama.
Mereka baru saja selesai ketika ponsel Sofia berbunyi. Saat dia mengenali suara
di seberang sana, wajahnya merona dan dia bangkit lalu meninggalkan ruangan.
Tampak jelas ketegangan di wajah Pietro ketika Sofia kembali. Perangainya telah
bertambah buruk. Tetapi Sofia tahu bahwa selama bekerja di Divisi Kejahatan
Seni, dia harus berhubungan dengan Pietro. Sofia sendiri telah menegaskan
kembali keputusannya untuk maju terus begitu kasus ini ditutup.
"Marco, itu tadi D'Alaqua. Dia mengundangku untuk ikut dengannya besok dalam
semacam acara makan siang perpisahan untuk Dr. Bolard dan komite ilmiah
lainnya." "Dan kuharap kamu bilang ya," jawab Marco.
"Tidak," balas Sofia. "Besok adalah gladi resik kita dengan seluruh tim, kupikir
aku harus mengoordinasisegalanya."
"Ya sih, tetapi itu akan menjadi kesempatan emas untuk menyelidiki para ilmuwan
itu lagi, khususnya Bolard."
"Baiklah, kita menundanya hingga lusa, meskipun para ilmuwan itu tidak akan
datang." Semua orang memandangnya dengan wajah terkejut, dan Marco tidak bisa menahan
senyumnya. Dia meminta laporan, dan perbincangan pun berganti tema mengenai rincian operasi
yang akan mereka gelar. Beberapa kilometer di luar Turin, mobil yang dikirimkan D'Alaqua menuruni jalan
kecil yang berujung di depan sebuah palazzo mengesankan bergaya Renaisans
dikelilingi hutan. Sofia berpakaian sederhana, dengan jeans dan jas kasual,
rambutnya diikat membentuk ekor kuda. Dia ingin meminta kejelasan tentang sifat
makan siang ini, tetapi kini dia mulai menyesal mengapa sebelumnya dia tidak
berusaha lebih keras. Gerbang rumah membuka secara otomatis ketika mobil Sofia mendekatinya. Dia tidak
bisa menemukan letak kamera keamanan namun tahu bahwa ada kamera dimana-mana.
Umberto D'Alaqua sudah menunggunya di pintu, mengenakan setelan sutera abu-abu
gelap yang tampak elegan. Dia menyambut Sofia dengan hangat dan tersenyum ketika
Sofia memujinya atas kemegahan rumahnya. "Aku mengundangmu kemari karena aku
tahu kamuakan suka lukisan," katanya saat mengantarkan Sofia melewati balai
masuk yang megah. Palazzo tersebut adalah sebuah musium, musium yang diubah menjadi rumah. Selama
lebih dari satu jam mereka menyusun ruang demi ruang, yang kesemuanya memamerkan
karya-karya seni yang digantung dengan cita rasa tinggi dan cerdas. Selama makan
siang yang panjang itu mereka berbicara penuh semangat mengenai seni, politik,
sastra. Waktu berlalu begitu cepatnya hingga Sofia terkejut ketika D'Alaqua
minta diri karena dia harus ke bandara untuk mengejar pesawat pukul tujuh ke
Prancis. "Oh, maaf. Aku telah menghambatmu," Sofia meminta maaf.
"Tidak sama sekali. Sekarang masih pukul enam kurang, dan andaikan aku tidak
harus ke Paris sekarang, pasti aku akan memintamu tinggal sejenak untuk makan
malam. Aku akan kembali sepuluh hari lagi.
Jika kamu masih di Turin, aku ingin bertemu kamu lagi."
"Aku tidak yakin... Pada saat itu mungkin kami sudah selesai atau nyaris
selesai." "Selesai?" "Urusan investigasi."
"Oh, ya! Bagaimana perkembangannya?"
"Bagus. Kurasa, kami sudah mencapai tahap akhir."
"Apakah kalian sudah menyimpulkan sesuatu?"
"Bagaimana ya..." Sofia berhenti sejenak agak tidak enak.
"Jangan khawatir," sela D'Alagua, menepis pertanyaan itu dengan senyuman. "Aku
paham. Kalau kalian sudah menyelesaikan pekerjaan kalian dan segalanya sudah
beres, kamu bisa beritahu aku."
Sofia lega. Marco benar-benar melarangnya memberitahu D'Alaqua tentang apa pun,
dan meskipun dia tidak lagi memiliki kecurigaan yang sama dengan pimpinannya itu
tentang D'Alaqua, dia tidak akan pernah melanggar perintah langsung darinya.
Dua mobil menunggu di pintu. Salah satu akan memulangkan Sofia ke Hotel
Alexandra dan satunya akan mengantarkan D'Alaqua ke bandara, tempat pesawat
pribadinya sudah menunggu. D'Alaqua menggenggam tangan Sofia dengan hangat dan
menahannya beberapa saat ketika dia mengantar Sofia ke mobilnya.
"Mengapa mereka ingin membunuhnya?" tanya capo tersebut kepada informannya.
"Aku tidak tahu. Mereka sudah merencanakannya selama berhari-hari. Mereka
mencoba menyuap seorang penjaga untuk membiarkan pintunya terbuka, juga pintu
mereka. Rencananya mereka masuk ke kamarnya besok malam-malam, menggorok
lehernya, dan kembali ke sel mereka tanpa ada yang menyaksikan. Tidak akan ada
yang tahu, orang bisu tidak bisa berteriak."
"Apakah penjaga itu mau menerima suap tersebut?"
"Mungkin. Kudengar jumlahnya lima puluh ribu euro."
"Ya Tuhan! Siapa lagi yang tahu tentang ini?"
"Dua napi lain. Sepertinya mereka orang Turki."
"Oke, keluarlah."
"Bagaimana dengan bayaranku?"
"Kamu akan dibayar."
Frasguello termenung. Mengapa Bajerai bersaudara mau membunuh orang ini" Pasti
mereka cuma pembunuh bayaran, siapa yang membayar"
Dia memanggil para asistennya, dua mafioso yang menjalani hukuman seumur hidup
karena pembunuhan. Ketiganya bertemu selama setengah jam. Kemudian dia meminta
penjaga memanggil Genari.
Sipir kepala itu masuk ke sel si capo selewat tengah malam.
Frasquello tengah menonton TV dan tidak bergerak ketika mendengar Genari masuk.
"Duduklah, dan jangan bicara. Katakan kepada Pak Polisi temanmu itu bahwa dia
benar. Mereka akan membunuh si Bisu."
"Siapa?" "Bajerai bersaudara."
"Tapi kenapa?" tanya Genari terkejut.
"Bagaimana aku bisa tahu! Dan apa peduliku" Aku sudah melakukan tugasku, katakan
kepadanya lebih baik dia melakukan ini."
Capo itu berbicara lirih selama beberapa saat lagi, memberitahukan kepada si
sipir kepala apa yang telah dia ketahui.
Genari meninggalkan sel itu dan bergegas ke kantornya, tempat dia menelpon ke
ponsel Marco Valoni. " Signor Valoni, ini Genari."
Marco melihat jam, sudah lewat tengah malam. Dia lelah. Kemarin dia melakukan
gladi resik operasi yang akan dilaksanakan begitu si Bisu dibebaskan dan
penjara. Hari ini dia telah menginspeksi lagi beberapa terowongan dibawah Turin,
dan selama dua jam dia keluyuran, menepuk-nepuk dinding, mendengarkan bagian-
bagian yang bolong. Dengan menampakkan kesabaran yang amat besar, Comandante
Colombana juga ikut, terus bersikukuh bahwa dia tidak menemukan apa-apa.
"Kau benar, mereka akan mencoba membunuh orang tak berlidah itu." Sipir kepala
tersebut jelas-jelas gelisah.
"Ceritakan semuanya."
"Anak buah Frasquello bilang bahwa dua orang Turki, Bajerai bersaudara, akan
menghabisinya besok malam. Mereka membagi-bagi uang ke orang-orang. Kami mungkin
mampu menghentikannya kali ini, tetapi kami tidak bisa melindunginya lama-lama
kalau uang sudah bermain seperti itu. Kau perlu mengeluarkannya dari sini
sesegera mungkin." "Kami tidak bisa. Dia akan curiga ada yang tidak beres, dan seluruh operasi kita
akan sia-sia. Maukah Fransquello melakukan tugasnya?"
"Dia sudah melakukan tugasnya, dia bilang kepadaku sisanya bagianmu."
"Akan kutangani. Apakah kau di penjara?"
"Ya." "Baiklah. Aku akan menelpon kepala penjara. Aku akan tiba di sana satu jam lagi,
aku ingin mendapatkan semua informasi yang kau miliki tentang kedua
bersaudaraitu." "Mereka orang Turki. Sebenarnya orang yang baik. Mereka membunuh seseorang dalam
sebuah perkelahian, tetapi mereka bukan pembunuh, juga bukan pembunuh
profesional." "Kau bisa menceritakan itu kepadaku kalau aku sudah tiba di sana.
Satu jam lagi." Marco membangunkan kepala penjara dan menyuruhnya menemui dia di kantornya di
penjara. Lalu dia menelpon Minerva.
"Kau sudah tidur?"
"Sedang baca. Ada apa?"
"Berpakaianlah. Akan aku tunggu di lobi lantai bawah lima belas menit lagi. Aku
ingin kau ke markas besar carabinieri, bukalah komputer mereka, dan cari
keterangan apa saja tentang dua orang yang perlu kita ketahui. Aku akan pergi ke
penjara, dan aku akan meneleponmu dari sana tentang segala informasi yang
dimiliki petugas penjara tentang mereka."
"Tunggu dulu, tunggu dulu! Apa yang terjadi?"
"Akan kuceritakan di lantai bawah. Jangan sampai telat."


Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika Marco tiba di penjara, kepala penjara sudah menunggunya di kantor,
setengah terjaga. Genari juga disana, mondar-mandir gugup.
"Aku ingin mendapatkan segala informasi yang kalian miliki tentang Bajerai
bersaudara ini," kata Marco tanpa berbasa-basi.
"Bajerai bersaudara?" rutuk kepala penjara. "Apa yang telah mereka perbuat" Kamu
percaya cerita Fransquello" Dengar, Genari, kalau kasus ini sudah selesai nanti,
kau harus menjelaskan banyak hal tentang keterlibatanmu dengan bajingan itu."
Si kepala penjara mengeluarkan berkas-berkas mengenai Bajerai bersaudara dan
menyerahkannya kepada Marco, yang langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dan
mulai membaca. Saat selesai, dia membicarakan informasi itu secara menyeluruh
dengan kepala penjara dan Genari, kemudian dia menelpon Minerva.
"Aku lelah. Tadi hampir ketiduran di atas kibor,"katanya.
"Kalau begitu, bangunlah. Cari segala informasi yang bisa kau temukan tentang
keluarga Turki ini, mereka lahir disini, tetapi orangtua mereka imigran. Aku
ingin tahu segalanya tentang mereka dan keluarga-keluarga mereka." Dia
memberitahu segala yang dia ketahui. "Tanya Interpol, bicaralah kepada polisi
Turki, pokoknya kamu harus mendapatkan laporan penuh dalam tiga jam."
"Tiga jam! Mustahil. Beri waktu sampai pagi."
"Jam tujuh," sergah Marco.
"Oke, lima jam. Itu baru oke."
Ruang makan hotel dibuka pada pukul tujuh. Minerva, dengan mata merah karena
kurang tidur dan berada didepan layar komputer selama berjam-jam, memasuki
ruangan dengan keyakinan akan menemui Marco di sana.
Bosnya sedang membaca koran dan minum kopi. Seperti halnya Minerva, tampangnya
juga kacau. Minerva melemparkan dua map ke atas meja dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi.
"Mau mati saja rasanya!"
"Kurasa aku juga. Dapat sesuatu yang menarik?"
"Tergantung kau tertarik dengan apa."
"Coba saja ceritakan."
"Bajerai bersaudara adalah anak imigran Turki, seperti yang kautahu. Orang
tuanya pertama-tama ke Jerman dan dari sana mereka ke Turin. Mereka mendapat
pekerjaan di Frankfurt, tetapi ibunya tidak suka Jerman atau orang Jerman, jadi
mereka memutuskan mencoba peruntungan mereka di Italia karena mereka punya
kerabat disini. Anak-anak itu asli Italia, mereka tinggal di Turin sejak lahir.
Ayahnya kerja di pabrik Fiat dan ibunya tukang bersih-bersih. Mereka adalah
murid biasa- biasa saja di sekolah, tidak lebih baik atau lebih buruk dibandingkan kebanyakan
siswa lain. Si kakak beberapakali terlibat perkelahian, sepertinya agak keras,
tetapi mungkin dia yang lebih pandai di antara keduanya, nilai pelajarannya
lebih tinggi daripada adiknya. Ketika lulus SMA si kakak mulai kerja di Fiat,
seperti ayahnya. Si adik bekerja sebagai sopir untuk seorang tokoh penting di
pemerintah daerah, seseorang yang bernama Regio, yang mempekerjakannya karena
ibu anak itu adalah tukang bersih-bersih di rumahnya. Si kakak bertahan lumayan
lama di Fiat, namun dia tidak suka jam kerja konvesional pukul delapan pagi
sampai lima sore, jadi dia menyewa stan di pasar dan mulai berjualan buah-buahan
dan sayur-mayur. Mereka berdua baik-baik saja, tidak pernah terlibat dengan
polisi atau yang lain-lain. Tidak pernah. Ayahnya pensiunan, begitu juga ibunya.
Mereka hidup dari uang pensiun yang diberikan negara dan tabungan mereka. Mereka
tidak punya apa-apa, sungguh, selain rumah yang mereka beli lima belas tahun
yang lalu; mereka hidup hemat dan menabung.
"Beberapa tahun yang lalu, pada Sabtu malam minggu, kakak-beradik itu pergi ke
diskotek dengan pacar mereka. Sejumlah orang mabuk mulai menggoda-goda kedua
gadis itu, jelas-jelas salah seorang dan merekamencubit bokong gadis-gadis itu.
Laporan polisi menyebutkan bahwa kedua bersaudara ini menghunus pisau dan mereka
pun berkelahi. Mereka membunuh satu orang dan membuat seorang lainnya terluka begitu parah
hingga harus kehilangan tangannya. Mereka diganjar dua puluh tahun, hampir
seumur hidup. Pacar mereka menikahi oranglain."
"Apa yang kamu ketahui tentang keluarga mereka diTurki?"
"Hanya orang-orang biasa, miskin, kesusahan. Mereka berasal dari Urfa, dekat
perbatasan dengan Irak. Melalui Interpol, polisi Turki mengirimkan via email
semua informasi yang mereka punya tentang keluarganya di sana, yang jumlahnya
sangat sedikit, benar-benar tidak menarik. Ayahnya punya adik di Urfa, tapi
usianya relatif, dia akan pensiun. Dia bekerja di ladang minyak. Ada juga
seorang adik perempuan, yang menikahi seorang guru; mereka punya delapan anak.
Mereka adalah orang-orang baik dan santun, tidak pernah terlibat persoalan.
Polisi Turki itu terkejut mengetahui kita menyelidiki mereka.
Sebenarnya, mungkin kita telah membuat orang-orang ini mendapat masalah, kau
tahu sendiri bagaimana pola pikir orang-orang di sana."
"Ada lagi lainnya?"
"Yeah. Di Turin sini ada seorang sepupu ibu mereka, namanya Amin, kelihatannya
dia seorang warga teladan. Dia seorang akuntan, dan telah bekerja selama
bertahun-tahun untuk sebuah perusahaan periklanan. Dia menikahi seorang
perempuan Italia; dia bekerja di sebuah toko pakaian mewah. Mereka punya dua
anak. Anak pertama masih kuliah; yang kedua akan lulus SMA. Mereka menghadiri
misa pada hari Minggu."
"Misa?" "Yeah, Misa. Tidak aneh, bukan, ini Italia."
"Yeah, tapi saudara sepupu ini, mereka bukan Muslim?"
"Aku tidak tahu, kurasa dia Muslim, atau dulunya Muslim, tetapi dia menikahi
seorang perempuan Italia, di gereja. Dia pasti sudah pindah agama, meskipun
tidak ada catatan pindah agama dalam berkas-berkasnya."
"Selidiki dia. Dan cobalah cari apakah keluarga Bajerai anggota perkumpulan
masjid di sini." "Masjid?" tanya Minerva ragu-ragu.
"Oke, ini Italia. Tetapi kita harus tahu apakah mereka Muslim - atau dulunya
Muslim. Dan apakah ada orang-orang lain yang berhubungan dengannya. Apakah kau
bisa mendapat keterangan tentang catatan bank mereka?"
"Yah, tidak ada yang luar biasa di situ. Sepupu ini punya gaji lumayan besar;
begitu pula istrinya. Mereka hidup lumayan makmur, meskipun mereka punya
hipotekdengan jaminan apartemen mereka.
Tidak ada simpanan yang mencurigakan. Mereka adalah keluarga yang sangat rukun;
Setidaknya beberapa di antara mereka mengunjungi kedua bersaudara itu saat hari
kunjungan, membawakan mereka makanan, permen, tembakau, buku-buku,pakaian,
mereka mencoba memberikan yang terbaik buat kakak-beradik itu."
"Yah, aku tahu. Aku punya salinan daftar pembesuk. Amin ini telah mengunjunginya
dua kali bulan ini, padahal biasanya dia mengunjungi mereka sekali."
"Kurasa mengunjungi mereka lebih satu hari bukan sesuatu yang patut dicurigai."
"Kita harus menyelidiki semuanya," Marco mengingatkannya.
"Yah, pasti, tetapi kita juga tidak boleh gelap mata."
"Kau tahu apa yang mengagetkan aku" Ternyata sepupu mereka ini menghadiri Misa
dan menikah di Gereja. Kaum Muslim tidak mungkin begitu saja mengingkari agama
mereka." "Dan kau juga akan menyidik semua orang Italia yang tidak pernah menginjakkan
kaki di gereja" Dengar, ada seorang kawanku yang jadi pemeluk Yahudi karena dia
jatuh cinta kepada seorang lelaki Israel pada sebuahmusim panas saat dia di
sebuah kibbutz*. Ibu lelaki itu adalah seorang Yahudi Ortodoks yang tidak akan
pernah mengizinkan putra kesayangannya menikahi seorang shiksa**, sehingga
temanku itu pindah agama dan setiap Sabtu dia pergi ke sinagog. Dia tidak
mengimani apa-apa, tapi dia tetap pergi."
"Itu temanmu. Di sini ada dua orang Turki yang ingin membunuh seseorang."
"Uh-huh, tetapi mereka pembunuh, sementara sepupu mereka bukan, dan kau tidak
bisa menjadikannya tersangka hanya karena menghadiri Misa."
* Lahan pertanian milik bersama di Negara Israel
** Julukan yang diberikan orang-orang Yahudi kepada perempuan non-Yahudi
Pietro memasuki ruang makan dan langsung menghampiri mereka.
Sesaat kemudian, Antonino dan Giuseppe bergabung dengan mereka.
Sofia datang paling akhir.
Minerva memberitahu perkembangan terakhir yakni tentang yang telah terjadi
semalam itu dan atas perintah Marco dia membagikan salinan laporan yang telah
dia buat. "Jadi" Bagaimana pendapatmu?" tanya Marco ketika mereka semua sudah selesai
membaca berkas-berkas itu.
"Mereka bukan pembunuh profesional, jika mereka dibayar untuk melakukan
pekerjaan itu karena mereka punya keterkaitan dengan orang kita atau karena
seseorang yang melakukannya memercayai mereka berdua," begitulah hasil
pengamatan Pietro. Giuseppe menyela. "Ada orang-orang yang ingin menggorok lehernya tanpa pikir
panjang, tetapi orang yang telah memerintahkan pembunuhan itu mungkin tidak tahu
bagaimana cara berurusan dengan orang-orang macam itu, yang artinya tidak
memiliki ikatan dengan gembong kriminal, atau, seperti kata Pietro, dia
memercayai kedua orang ini, karena mereka tidak tampak istimewa. Mereka tidak
pernah terlibat urusan uang kotor, tidak pernah sampai mencuri Vespa tetangganya
untuk jalan-jalan. Perkelahian bar konyol seperti itu tidak akan memasukkannya
ke dalam lingkaran besar."
"Bagus, Giuseppe, tapi ceritakan tentang sesuatu yang tidak kami ketahui," desak
Marco. "Tahan dulu, Marco, kurasa Giuseppe dan Pietro sudah bicara banyak," sergah
Antonino. "Kini kita tahu bahwa orang kita ini benar-benar terlibat sesuatu,
seseorang ingin dia mati karena mereka tahu dia bisa menggiring kita kepada
mereka. Artinya ada kebocoran, mereka mengetahui rencana-rencana kita; jika
tidak mereka pasti telah menyingkirkannya sejak lama. Tetap itidak, mereka baru
ingin membunuhnya sekarang, sekonyong-konyong, tepat ketika dia akan bebas."
"Siapa yang benar-benar tahu tentang bagian operasi ini?" tanya Sofia. "Terlalu
banyak yang tahu," jawab Marco. "Dan Antonino benar-benar tepat sasaran. Mereka
tahu kita pergi ke mana sebelum tiba di sana. Minerva, Antonino, carilah apa
lagi yang bisa kalian dapatkan tentang keluarga Bajerai, mereka satu jaringan.
Mereka pasti terhubung dengan seseorang yang ingin orang kita mati. Tinjaulah
kembali semuanya, selidiki sampai yang sedetail-detailnya. Aku akan kembali ke
penjara." "Kenapa tidak berbicara dengan orangtua dan sepupunya itu?"
tanya Pietro. "Karena kita tidak ingin memperlihatkan operasi kita. Kita tidak boleh terlihat
lebih jelas daripada sekarang. Dan kita tidak boleh menarik si Bisu ini keluar
penjara, karena jika begitu dia sendiri yang akan curiga.
Kita harus menjaganya agar tetap hidup, di luar jangkauan kedua bersaudara ini,"
jawab Marco."Bagaimana?" tanya Sofia.
"Seorang capo mafia obat bius, seorang lelaki bernama Frasquello.
Aku membuat kesepakatan dengan dia. Baiklah, kawan-kawan, ayo berangkat,"
katanya buru-buru, menepis pertanyaan mereka.
Mereka berpapasan dengan Jimenez di lobi. Dia meninggalkan meja resepsionis, dan
membawa kemarahannya. "Kawan-kawan, sepertinya kalian sedang mengurusi sesuatu yang besar," guraunya.
"Kau mau pergi?" tanya Sofia.
"Aku akan pergi ke London, dan kemudian ke Prancis."
"Urusan pekerjaan?" desak Sofia.
"Urusan pekerjaan. Mungkin aku akan meneleponmu, Dottoressa.
Mungkin aku butuh nasihatmu."
Penjaga pintu memberitahu Ana bahwa taksinya sudah menunggu, dan dia memberi
mereka cium jauh ketika dia akan melewati pintu.
"Gadis itu membuatku gugup," aku Marco. Sofia menganggu. "Yeah, kamu tidak
pernah benar-benar menyukainya."
"Tidak, kau salah, aku suka dia, tetapi aku tidak suka dia mengendus-endus kasus
kita. Buat apa dia pergi ke London" Dan Prancis"
Mungkinkah dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui, ataukah dia akan
mengacaukan segala-galanya, membuktikan salah satu teori sintingnya."
"Aku terkesan olehnya," jawab Sofia, "dan teori-teorinya tidak terlalu sinting.
Semua orang mengira Schliemann tidak waras, dan dia menemukan Troy."
"Dia hanya membutuhkanmu sebagai pembela! Aku masih ingin tahu tujuannya. Aku
akan menelpon Santiago. Kau dan aku sama-sama tahu bahwa ini pasti ada
hubungannya dengan Kafan Suci."
Penjara sunyi. Malam itu, pintu sel para penghuni telah dikunci dua jam lebih
awal. Koridor dan gang-gang penjara hanya diterangi cahaya bohlam sepuluh watt
yang kekuningan dan pucat, dan para penjaga yang kebagian dinas malam sedang
tidur ayam. Bajerai bersaudara mendorong pintu sel mereka untuk memeriksa apakah pintu itu
terbuka. Ya, penjaga telah menjalankan tugasnya sesuai kesepakatan... Sambil
tetap merapat ke dinding dan merunduk hingga nyaris merangkak, kedua kakak-
beradik itu mulai berjalan menuju sisi lain koridor, tempat sel si Bisu itu
berada. Jika segalanya berjalan sesuai rencana mereka, kurang dari lima menit
mereka akan kembali ke sel mereka sendiri seolah-olah mereka tidak pernah
meninggalkannya. Mereka sudah menempuh setengah jalan di sepanjang koridor ketika si adik, yang
ada di belakang, merasakan seseorang memegang lehernya setengah detik sebelum
pukulan keras menghantam kepadanya dan membuatnya roboh tak sadarkan diri. Si
kakak menoleh pada saat yang tepat hingga bisa menerima bogem mentah pas
dihidungnya. Dengan darah mengucur deras, dia jatuh berlutut tanpa suara ketika sebatang besi
mencekik lehernya. Dia berjuang mendapatkan udara, tidak mendapatkannya, dan dia
pun merasakan nyawanya lepas dari raga.
Cahaya mulai menerangi koridor penjara Turin ketika sipir giliran pagi
tercengang di depan sel Bajerai bersaudara. Kemudian dia berlari untuk
membunyikan alarm ketika kedua tubuh pucat berlumuran darah yang saling melilit
di lantai itu mulai bergerak-gerak dan merintih.
Di ruang kesehatan, dokter menyuruh kedua bersaudara itu tenang dan menyuntikkan
pereda nyeri banyak-banyak. Wajah mereka habis dipukuli hingga lebam-lebam, mata
mereka tinggal celah sempit di antara bagian-bagian yang bengkak.
Ketika Marco tiba di kantor kepala penjara setelah mendapat telepon dan sana,
pegawai yang dongkol itu menceritakan ulang apa yang terjadi. Dia harus
memberitahu pengadilan dan carabinieri.
Marco menenangkannya, memudian meminta bertemu Frasquello.
"Aku telah melaksanakan tugasku," capo tersebut meludah ke arahnya ketika dia
memasuki kantor kepala penjara.
"Ya, dan aku akan melaksanakan bagianku. Apa yang terjadi?"
"Jangan tanya-tanya. Aku melakukan seperti yang kauminta. Si Bisu masih hidup di
si Turki juga, apa lagi yang kau mau, heh" Tidak ada yang terluka. Dua
bersaudara itu hanya tergores sedikit, itu saja."
"Aku ingin kamu terus memasang mata. Mereka mungkin mencoba lagi." "Siapa, dua
orang itu" Kamu bercanda."
"Dia atau orang lain, aku tidak tahu. Awasi saja."
"Kapan kamu berbicara dengan dewan pembebasan bersyarat?"
"Saat semua ini usai."
"Artinya kapan?"
"Kuharap tak lebih dan lima atau empat hari lagi."
"Oke. Tetapi kamu memang mau melakukan apa yang kaubilang akan kaulakukan, kan,
Pak Polisi" Sebab jika tidak kau akan menyesal mengapa tidak melakukannya."
"Dan kamu bukan mau mengancamku, kan?"
"Pokoknya lakukan saja."
Frasquello membanting pintu saat dia meninggalkan ruangan.
38 Addaio sedang bekerja di kantornya ketika ponselnya berbunyi.
Pembicaraan itu berlangsung sebentar, tetapi pada saat dia menutupnya, mukanya
memerah marah. Dia berteriak memanggil Guner, yang datang sambil berlari.
"Ada apa, Pastor?"
"Segera cari Bakkalbasi. Tak peduli di manapun dia, aku harus bertemu dia. Dan
aku ingin semua sesepuh berkumpul di sini setengah jam lagi."
"Apa yang telah terjadi?"
"Malapetaka. Sekarang kumpulkan mereka."
Ketika dia sendirian, dia memegang pelipisnya dan memijitnya keras-keras.
Kepalanya selalu sakit. Selama berhari-hari dia merasakan sakit kepala yang
paling dahsyat dan tak tertahankan. Tidurnya gelisah dan nafsu makannya hilang.
Makin lama dia makin merasa kematian akan menjadi berkah pada saat ini. Dia
lelah terjebak seumur hidup seperti ini, terjebak menjadi Addaio.
Kabar tersebut adalah seburuk-buruknya kabar. Bajerai bersaudara telah ketahuan.
Seseorang di penjara itu telah mengetahui rencana-rencana mereka dan menahannya.
Mungkin keduanya terlalu banyak bicara, atau mungkin ada seseorang yang
melindungi Mendib. Bisa-bisa mereka, lagi-lagi mereka, atau polisi yang selalu
mengendus-endus di mana-mana itu. Kentara sekali, beberapa hari terakhir dia
keluar masuk kantor kepala penjara. Dia merencanakan sesuatu, tetapi apa" Dia


Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendapat kabar bahwa dia beberapa kali menemui seorang capo obat bius, seorang
lelaki bernama Frasquello. Ya,ya, dugaannya tepat, tak pelak lagi, pasti si
Valoni ini telah menyerahkan tanggung jawab melindungi Mendib kepada mafioso
itu. Dialah satu-satunya petunjuk-petunjuk yang bisa membawa mereka ke mari, ke
Urfa, dan mereka harus melindunginya. Itu dia, ya, itu dia.
Rasa sakit memakan otaknya. Dia mencari kunci sebentar dan membuka laci,
mengeluarkan sebotol pil, menelan dua, dan kemudian duduk dengan mata tertutup
menunggu reaksinya. Dengan sedikit keberuntungan, pada saat para sesepuh nanti
datang keadaannya sudah membaik.
Guner mengetuk pintu kantor pelan-pelan. Para sesepuh menunggu Addaio di ruang
rapat besar. Ketika tidak ada jawaban, Guner masuk dan mendapatkan Addaio dengan
kepala terkulai di atas meja, matanya tertutup, tak bergerak. Guner mendekat
dengan ragu-ragu bercampur takut dan menggoyang-goyang tubuh pimpinannya itu
perlahan hingga terbangun. Si pelayan menghela nafas lega.
"Kau tertidur."
"Ya... kepalaku sakit."
"Kau harus kembali ke dokter; rasa sakit ini bisa membunuhmu.
Kau perlu menjalani pemindaian otak."
"Aku baik-baik saja." Addaio mencegah pembicaraan lebih jauh.
Beberapa saat kemudian dia berjalan ke ruang rapat. Kedelapan anggota dewan
tersebut tampak mengesankan, duduk teratur di tepi meja mahoni besar mengenakan
rompi pendeta warna hitam.
Kekhawatiran tampak di wajah mereka saat Addaio memberitahukan kejadian-kejadian di penjara Turin.
"Mendib akan dibebaskan empat atau lima hari lagi dan akan berupaya menghubungi
kita," lanjut Addaio."Kita harus mencegahnya; orang-orang kita tidak boleh gagal
lagi. Karena itulah kau wajib berada di sana, Bakkalbasi, mengoordinasi operasi,
terus membuat kontak denganku. Kita sudah di ambang bencana."
"Aku mendapat kabar tentang Turgut."
Semua mata tertuju ke Talat, penghubung utama mereka ke tukang sapu Katedral
Turin. Mata birunya yang tajam tertuju pada Addaio.
"Kita harus mengeluarkan dia dari sana. Makin lama dia makin tidak waras. Dia
bersumpah bahwa dirinya sedang dibuntuti, bahwa orang-orang di kantor uskup
tidak lagi memercayainya, dan bahwa pegawai kepolisian Roma tetap tinggal di
Turin untuk menangkapnya."
"Itulah hal terakhir yang bisa kita lakukan di tengah semua kejadian ini,
Talat," balas Bakkalbasi.
"Apakah Ismet siap bepergian?" tanya Addaio. "Dia akan mempersiapkan diri
mengambil kedudukan pamannya di katedral. Itulah jalur terbaik kita saat ini."
"Kedua orangtuanya telah setuju, tetapi pria muda itu tampaknya ogah-ogahan. Dia
punya pacar di sini," jelas Talat.
"Pacar! Dan karena dia punya pacar dia akan membahayakan seluruh perkumpulan"
Panggil mereka. Dia akan pergi hari ini, dengan saudara kita Bakkalbasi. Suruh
orang tua Ismet menelpon Turgut dan beritahu dia bahw mereka mengirim anak
mereka untuk tinggal dengannya selama mengadu nasib di Italia. Dan lakukan
sekarang juga." Nada bicara Addaio yang tidak mau di ganggu gugat itu tidak memberi ruang bagi
keraguan atau ketidak-setujuan. Sejenak kemudian, kedelapan orang itu
meninggalkan rumah besar tersebut, masing-masing membawa perintah yang harus
dikerjakan. 39 Ana Jimenez membunyikan bel pintu sebuah rumah bergaya Victoria di salah satu
bilangan paling elegan diLondon. Seorang kepala pelayan tua membuka pintu dan
menyambutnya dengan ramah. Bisa saja rumah itu tempat tinggal seorang lord. Jika
ini memang benteng seorang kesatria Templar masa kini, ini benar-benar jauh
berbeda dengan benteng abad pertengahan yang pernah mereka pertahankan.
Ana memperkenalkan dirinya dan meminta bertemu direktur organisasi itu, Anthony
McGilles. Tidaklah mudah membuat janji dengan sarjana terkenal itu, tetapi Ana
telah menelepon teman dari temannya, berbagi koneksi lingkaran diplomatik, dan
pertemuan itu pun pada akhirnya telah diatur.
Kepala pelayan memintanya menunggu di sebuah ruangan masuk berperabot mewah,
yang lantai papan kayunya tertutup permadani Persia tebal dan dindingnya
dipenuhi gantungan lukisan bertema keagamaan.
Seorang lelaki berambut perak segera muncul dari ruang kerja tak jauh dari
ruangan itu dan menyambutnya dengan ramah.
McGilles mempersilakan Ana duduk di sofa ruang kerjanya sementara dia duduk di
kursi berlengan berlapis kulit. Mereka baru menyamankan posisi duduk mereka
ketika kepala pelayan tersebut masuk membawa nampan teh.
Selama beberapa saat Ana menjawab pertanyaan-pertanyaan McGilles, dia tertarik
dengan pekerjaannya sebagai reporter dan situasi politik di Spanyol. Pada
akhirnya, profesor tersebut langsung menanyakan tujuan kedatangannya.
"Anda tertarik dengan kesatria Templar?"
"Ya. Saya harus bilang bahwa saya terkejut begitu tahu bahwa mereka masih ada
dan bahkan punya alamat Internet. Itulah yang membuat saya datang kemari."
"Ini adalah pusat penelitian dan pembelajaran, Cuma itu. Apa sebenarnya yang
ingin Anda ketahui?"
"Begini, jika kesatria Templar masih ada hingga hari ini dan zaman sekarang,
maka saya ingin tahu lebih banyak tentang seluk beluk dan lingkup organisasi
mereka saat ini, dan apa yang dikerjakannya. Dan saya ingin bertanya kepada Anda
tentang kejadian-kejadian sejarah ketika kesatria Templar turut ambil bagian,
terlibat dengan sangat menonjol."
"Begini, Nona, kesatria Templar yang tampaknya ada dalam bayangan Anda, seperti
yang ada pada zaman dulu, sudah tidak ada lagi."
"Lalu basis data di Internet itu tidak otentik?"
"Bukan begitu, alamat tersebut otentik. Anda sekarang berbicara dengan saya,
bukan" Tetapi jangan biarkan imajinasi Anda berpikir liar membayangkan kesatria-
kesatria memakai baju zirah berkilauan.
Sekarang ini abad dua satu."
"Begitulah yang saya dengar."
"Baiklah kalau begitu, kami ini adalah organisasi yang mencurahkan segala upaya
untuk penelitian dan pembelajaran. Misi kami bersifat intelektual dan sosial."
"Tetapi Anda benar-benar pewaris Biara yang sesungguhnya?"
"Ketika Paus Clement V menutup ordo tersebut, Templar menjadi bagian dari ordo
lain. Di Aragon, mereka menjadi bagian dari Ordo Montesa; di Portugal, Raja
Dinis menciptakan ordo baru, Orden do Cristo; di Jerman mereka menjadi bagian
Ordo Teutonic. Hanya di Skotlandia saja ordo tersebut tidak pernah bubar.
Keberadaan Ordo Skotlandia yang tak terputus itulah yang mencerminkan bagaimana
semangat Templar menitis hingga ke zaman sekarang. Pada abad ke-15 para Kesatria
Templar Skotlandia menjadi bagian dari Garde Ecossaie Prancis, yang melindungi
raja, dan mereka mendukung Yakobit di Skotlandia. Sejak 1705 ordo itu telah
terbuka; pada tahun itu ia menerapkan undang-undang baru, dan Louis Philippe dan
Orleans menjadi Imam Besar. Ada kesatria Templar yang turut ambil bagian dalam
Revolusi Prancis, di kekaisaran Napoleon, dalam perjuangan kemerdekaan Yunani,
dan tentu saja mereka menjadi bagian dari perlawanan Prancis pada Perang Dunia
II... " "Tetapi sekarang" Melalui organisasi apa" Saya belum mendapatkan referensi
sejarah bahwa ordo ini beroperasi sedemikian rupa. Apa nama mereka sekarang?"
"Nona Jimenez, selama bertahun-tahun kesatria Templar hidup secara sembunyi-
sembunyi, mencurahkan tenaga mereka untuk merenung dan belajar, turut serta
dalam kejadian-kejadian ini secara perseorangan, namun selalu mengenali saudara-
saudara mereka. Ada berbagai jenis organisasi, Anda boleh menyebutnya loji,
tempat kelompok-kelompok kesatria Templar bertemu. Loji-loji ini resmi; mereka
tersebar di banyak negara, dan mereka berjalan berdasarkan hukum setiap negara.
Anda harus mengubah fokus Anda terhadap Ordo Biara; seperti saya bilang, di abad
ke-21 ini Anda tidak akan menemukan organisasi seperti yang ada pada abad ke-12
atau ke-13-yang semacam itu benar-benar tidak ada.
"Lembaga kami ini mendedikasikan diri untuk mempelajari sejarah Biara dan
kejadian-kejadian kolektif atau perseorangan yang terkait dengannya, sejak
berdiri hingga masa kini," lanjut profesor tersebut.
"Kami memeriksa arsip-arsip; sebagai sejarawan, kami memeriksa kejadian-kejadian
tertentu yang masih kabur; kami mencari dokumen-dokumen tua... Saya yakin saya
melihat kekecewaan di wajah Anda."
"Tidak, hanya saja..."
"Anda mengharapkan kesatria pejuang" Maaf jika kami mengecewakan Anda. Saya
hanya seorang profesor pensiunan Cambridge yang, selain menjadi orang beriman,
juga memegang prinsip-prinsip yang sama dengan kesatria-kesatria lain: cinta
kebenaran dan keadilan."
Ana merasakan ada sesuatu yang lebih banyak di balik kata-kata Anthony McGilles,
yang membuat segalanya menjadi sejelas itu, sesederhana itu.
"Profesor, saya menghargai kesediaan Anda menjelaskan semua ini.
Saya tahu saya mengambil untung dari kesabaran Anda, tetapi apakah kiranya Anda
bisa membantu saya memahami sebuah kejadian yang di dalamnya saya rasa ada
keterlibatan kesatria Templar?"
"Tentu, akan saya usahakan. Jika saya tidak tahu jawabannya, kita akan ke arsip-
arsip elektronik. Kejadian apa itu?"
"Saya ingin tahu apakah para kesatria Templar mengambil Kafan Suci, yang
sekarang ada di Turin itu, dan Konstantinopel selama masa pemerintahan Balduino
II. Kafan tersebut menghilang pada saat itu dan baru sekitar seratus tahun
kemudian relik tersebut muncul kembali di Prancis."
Apakah Ana hanya membayangkan sedikit perubahan pada prilaku sopan profesor ini"
"Ah, kafan itu... Terlalu banyak kontroversi! Terlalu banyak legenda! Pendapat
saya sebagai seorang sejarawan adalah Biara tidak ada sangkut pautnya dengan
menghilangnya relik itu."
"Bolehkan saya sedikit menelusuri arsip-arsip Anda" Saya sudah datang sejauh
ini... " "Saya rasa bisa kami atur. Saya akan meminta Profesor McFadden membantu Anda."
"Profesor McFadden?"
"Saya harus menghadiri sebuah rapat, tetapi saya menitipkan Anda pada orang yang
tepat. Profesor McFadden adalah kepala juru arsip kami, dan dia mau membantu
Anda mendapatkan segala yang Anda butuhkan."
McGilles mengambil sebuah genta perak kecil dan mengklonengkannya dengan halus. Kepala pelayan segera masuk.
"Richard, antarkan Nona Jimenez ini ke perpustakaan. Profesor McFadden akan
menemuinya di sana."
"Saya hargai bantuan Anda, Profesor."
"Saya berharap kami bisa membantu Anda, Nona Jimenez. Selamat siang."
40 1291 Masehi Guillaume de Beaujeu, Imam Besar Biara, dengan hati-hati memasukkan dokumen ke
dalam laci rahasia di meja tulisnya, wajah kurusnya terlihat susah. Pesan dari
para bruder di Prancis semakin membuktikan bahwa Biara tidak lagi memiliki
banyak Teman di istana Philippe IV sebagaimana mereka miliki pada masa Raja
Louis, semoga Tuhan melindungi dan memuliakannya, karena belum pernah lagi ada
raja yang lebih sopan dan gagah berani di seluruh dunia Kristen.
Philippe berutang emas kepada mereka, emas dalam jumlah besar, dan semakin dia
berutang, tampaknya semakin besar pula kebenciannya kepada Biara. Juga di Roma,
ada ordo-ordo keagamaan lain yang tidak bisa menyembunyikan iri dengki mereka
dengan kekuasan Biara. Tetapi pada musim semi tahun 1291 itu, Guillaumede Beaujeu punya masalah lain
yang lebih mendesak daripada intrik-intrik di dalam istana Prancis dan Roma. Francois de
Charney dan Said telah kembali dari penyusupan mereka ke kamp Mameluke dengan
membawa kabar buruk. Bangsa Mameluke menguasai Mesir dan Syria, dan mereka telah merebut Nazaret,
kota tempat Tuhan kita Yesus tumbuh mulai kanak-kanak hingga dewasa. Sekarang
bendera mereka sudah berkibar di atas pelabuhan Jaffa, yang jaraknya tak begitu
jauh dari benteng Templar Saint-Jean d'Acre. Selama sebulan ini kesatria
tersebut dan pengawalnya telah tinggal di antara mereka di perkemahan militer
perintis mereka, telah mendengar percakapan para prajuritnya dan berbagi roti,
air, serta memuja Allah yang Maha Pengasih bersama mereka. Mereka menyusupkan
diri mereka sebagai saudagar-saudagar Mesir yang ingin menjual perbekalan kepada
tentara tersebut. Informasi yang telah mereka kumpulkan menggiring mereka pada
satu kesimpulan yang tak bisa dihindari. Hanya beberapa hari lagi, paling banter
lima belas hari, tentara Mameluke akan menyerang Saint Jean d'Acre. Itulah yang
dikatakan para prajurit, dan hal itu telah ditegaskan oleh para petinggi yang
telah menjadi sahabat de Charney. Para komandan Mameluke telah menggembar-
gemborkan bahwa mereka akan kaya setelah merebut harta karun yang disimpan di
benteng Acre ,yang mereka pastikan akan jatuh, sebagaimana benteng-benteng lain
yang telah jatuh di tangan tentara-tentara mereka.
Angin sepoi bulan Maret menandai datangnya panas bukan main pada bulan-bulan
selanjutnya di sebuah Tanah Suci yang disiram darah umat Kristiani. Dua hari
yang lalu sekelompok kesatria Templar terpilih mengisi penuh peti-peti dengan
emas dan harta karun yang disimpan Biara di dalam bentengnya. Imam Besar telah
memerintahkan agar mereka segera memulai pelayaran, begitu mereka siap, dalam
perjalanan ke Cyprus, dan dari sana ke Prancis. Tak seorang bruder pun ingin
pergi, dan mereka telah memohon kepada Guillaume de Beaujeu agar diperbolehkan
tinggal dan mempertahankan kota. Tetapi Imam Besar tidak akan mengubah
pendiriannya: Keselamatan Ordo ada di tangan mereka, karena mereka mendapat
tugas menyimpan harta karun Templar. Kini segalanya sudah siap untuk
keberangkatan mereka. Di antara semua kesatria, yang paling kebingungan adalah Francois de Charney.
Dia telah menahan tangis pedih ketika de Beaujeu menugasinya menjalankan sebuah
misi jauh dari Acre. Orang Prancis ini mengiba agar wali biaranya membiarkan dia
tinggal dan bertarung demi Salib, tetapi de Beaujeu tidak mau berdebat lebih
jauh lagi. Keputusannya sudah bulat.
Imam Besar itu menuruni tangga menuju tahanan bawah tanah di benteng tersebut,
dan di sana, di sebuah ruang yang dijaga para kesatria, dia memeriksa peti-peti
raksasa yang segera akan diberangkatkan ke Prancis.
"Kita akan membagi harta karun ini ke tiga bahtera agar tidak mempertaruhkan
semuanya di atas satu kapal. Masing-masing kalian tahu kapal mana yang akan
kalian naiki. Bersiaplah untuk berlayar begitu ada pemberitahuan."
"Saya masih belum tahu kapal saya," kata de Charney. Tatapan tajam Guilalume de
Beaujeu terpaku pada de Charney. Meski usianya enam puluh tahun lebih, tubuhnya
masih kuat, wajahnya rusak karena sengatan matahari, dia adalah salah satu
kesatria Templar paling kawakan. Dia telah selamat dari seribu marabahaya, dan
sebagai seorang mata-mata tidak ada yang bisa menandinginya selain mendiang
temannya Robert de Saint Remy, yang telah tewas selama pertempuran
mempertahankan Tripoli saat panah Sarasen menancap di jantung-nya.
"Tuan yang baik, kau akan menemaniku ke balai pertemuan Rumah Induk. Kita akan
berbicara di sana. Tetapi sebelum kau berangkat ke misimu sendiri, aku harus
memintamu kembali ke perkemahan Mameluke. Kita harus tahu apakah mereka juga
bisa mencegah kapal-kapal kita sampai ke tempat tujuannya, apakah ada
penyerangan yang menunggu kita di laut."
Sang Imam Besar bisa membaca adanya kesedihan di mata de Charney karena kesatria
tua itu harus meninggalkan negeri yang kini dia sebut negerinya sendiri,
kehidupan tempat dia lebih sering tidur malam beralaska tanah di bawah bintang-
bintang, pada siang hari dia lebih sering mengendarai karavan untuk mencari
informasi, dan adakalanya selama berminggu-minggu dia melebur ke dalam
perkemahan Sarasen, dan dia selalu berhasil kembali dari sana.
Bagi Francois de Charney, kembali ke Prancis adalah tragedi. Sang pimpinan
meremas pundak de Charney ketika mereka hanya berdua saja di balai pertemuan
itu. "Ketahuilah, de Charney, kaulah satu-satunya orang yang bisa kuberi kepercayaan
menjalankan misi ini. Bertahun-tahun yang lalu, ketika kau masih belia dan baru
masuk Ordo, kau dan Saint-Remy membawa pulang dan Konstantinopel satu-satunya
relik asli Tuhan kita, kain penguburannya, yang di situ tercetak wajah dan sosok
tubuhnya. Berkat Kafan Suci itu kita tahu wajah Yesus,dan dengannya pula kita berdoa
kepada Tuhan sendiri. Relik tersebut telah menjadi anugerah istimewa sekaligus


Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepercayaan suci bagi kita. Dengan adanya perubahan waktu dan politik, bangsa
dan hierarki keagamaan serta lemahnya hati manusia, kita telah bersumpah sebagai
saudara untuk tetap menjaga kerahasiaan dan keamanan kain berharga ini sehingga
ia bisa bertahan melewati segala zaman manusia.
"Kau sekarang sudah tua tetapi kesetiaanmu tetap terjaga, dan kekuatan serta
keberanianmu menjadi teladan bagi kami semua. Karena alasan itulah aku
memercayakan kepadamu keselamatan kafan Kristus Tuhan kita. Dari seluruh harta
karun yang kita miliki, inilah yang paling berharga, karena tidak hanya gambar
Yesus tapi darah serta intisarinya juga meresap di dalam benangnya. Kau harus
menyelamatkannya, de Charney! Begitu kau kembali dari perkemahan Mameluke, kau
harus berangkat ke Cyprus dengan siapa pun yang kaupihh untuk berangkat
bersamamu. Kau boleh memilih jalurnya, naik kapal atau menunggang kuda. Aku
percaya dengan penilaianmu yang bijak, kesetiaanmu, kekuatan tanganmu dalam
mengemban misi membawa Kafan Suci ini ke Prancis. Tidak adayang boleh tahu apa
yang kau bawa; kau sendiri harus merencanakan keseluruhan perjalanan itu. Dan
sekarang,bersiap-siaplah untuk misimu."
De Charney, dengan ditemani pengawal setianya, Said tua, sekali lagi menerobos
ke perkemahan Mameluke. Di antara para prajurit tersebut, dia bisa mencium
meningkatnya ketegangan yang mendahului terjadinya peperangan, saat di
sekeliling api unggun mereka mengingat-ingat keluarga mereka dan memimpikan
bayangan samar-samar anak mereka, yang sekarang pasti sudah tumbuh dewasa.
Sebentar kemudian kesatria tersebut merasa yakin bahwa mereka tidak merencanakan
penyerangan kapal-kapal Templar, dan dia menyuruh Said kembali ke benteng dengan
membawa pesan bahwa mereka boleh berlayar.
Selama tiga hari selanjutnya kesatria Templar itu mendengar penggalan-penggalan
perbincangan antara para prajurit dan di antara para petinggi dan juga diantara
banyak pelayan para pimpinan Sarasen, berharap mendapatkan informasi yang bisa
membantu saudara-saudaranya mempertahankan kubu mereka. Ketika dia menguping
salah seorang komandan memberitahukan kepada asistennya bahwa penyerangan
tersebut akan digelar dua hari lagi, dia buru-buru kembali ke benteng.
Dia memasuki Saint-Jean d'Acre saat cahaya pagi pertama mengubah dinding batu
benteng Templar yang gagah itu menjadi emas berkilauan.
Guillaume de Beaujeu memerintah para kesatria Templar melakukan persiapan
terakhir untuk menahan serangan. Orang-orang kristen berlarian di jalanan dengan
gusar, banyak yang dikuasai ketakutan ketika mereka tidak menemukan cara untuk
pergi dari benteng yang nasibnya tidak bisa dipastikan itu. Kapal terakhir telah
berlayar, dan keputus asaan menyebar di antara penduduk.
De Charney membantu saudara-saudaranya merampungkan persiapan membuat
pertahanan, mencobanya ribuan kali, dan menenangkan keributan di kalangan
penduduk, ada orang yang sampai tega membunuh tetangganya agar bisa melarikan
diri. Malam telah tiba sekali lagi ketika Imam Besar memanggilnya.
"Saudaraku yang baik, kau harus berangkat. Aku keliru ketika mengirimmu ke
perkemahan Mameluke, sekarang tidak ada kapal yang akan membawamu.
Francois de Charney berjuang untuk mengendalikan emosinya.
"Tuan, aku tahu. Aku harus memohon bantuan. Aku ingin pergi sendiri, hanya
ditemani Said." "Tetapi itu lebih berbahaya."
"Tetapi tidak seorang pun akan mencurigai kami, dua orang Mameluke."
"Lakukan apa yang kau anggap paling baik, Saudaraku."
Kedua orang itu berpelukan. Itulah terakhir kalinya mereka bertemu di bumi ini;
takdir mereka sudah ditentukan. Keduanya tahu bahwa Imam Besar akan mati disana,
mempertahankan benteng Saint-Jean d'Acre.
De Charney mencari sepotong kain linen yang ukurannya sama dengan Kafan Suci.
Dia tidak mau kain yang berharga itu rusak karena beratnya medan perjalanan,
tetapi kali ini dia merasa lebih baik tidak membawanya di dalam peti. Mereka
akan kesulitan mencapai Konstantinopel, tempat dia bertolak berlayar ke Prancis,
dan semakin ringan barang bawaannya, semakin baik jadinya.
Seperti Said, dia terbiasa tidur beralaskan tanah, makan apa yang bisa mereka
buru di jalan, apakah itu didalam benteng atau di gurun.
Mereka hanya membutuhkan dua kuda yang bagus.
Hatinya dikuasai penyesalan yang mendalam karena pergi, karena dia tahu bahwa
saudara-saudara sesama anggota ordo pasti akan gugur.
Dia tahu bahwa dia meninggalkan negeri ini untuk selamanya, bahwa dia tidak akan
kembali, dan bahwa di Prancis yang indah dia akan mengingat keringnya udara
gurun, kebahagiaan perkemahan Sarasen tempat dia menjalin banyak persahabatan,
karena apa pun yang terjadi, yang namanya lelaki tetap lelaki, tak peduli Tuhan
mana yang dia sembah. Dan dia telah melihat kehormatan, keadilan, dukacita,
kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kesengsaraan di jajaran musuh-musuhnya,
sebagaimana juga di kelompoknya sendiri. Mereka tidaklah berbeda, mereka hanya
bertarung dibawah panji yang berbeda.
Dia akan meminta Said menemaninya sebentar, tetapi kemudian dia akan meneruskan
perjalanan sendirian. Dia tidak bisa meminta kawannya itu meninggalkan negeri
asalnya, Said tidak akan terbiasa hidup di Prancis, sebanyak apa pun de Charney
telah bercerita kepadany atentang keajaiban Lirey, dekat Troyes, kota kelahiran
serta masa kanak-kanaknya. Di sana, de Charney belajar menunggang kuda di padang
rumput menghijau dekat rumahnya, belajar memegang pedang kecil yang dibuatkan
ayahnya sang pandai besi untuk dia dan saudaranya agar anak-anaknya tumbuh
menjadi kesatria. Tidak, Said sudah tua, seperti halnya dirinya, sudah terlambat
jika dia harus belajar menjalani hidup yang berbeda.
Dengan hati-hati dia melipat kafan tersebut di dalam kain linen yang baru itu
dan kemudian dia menyelipkannya ke tas punggung dari kulit yang selalu dia bawa
itu. Lalu dia menemui Said dan memberitahunya tentang perintah Imam Besar. Said
hanya mengangguk ketika de Charney bertanya kepadanya maukah dia berkuda
dengannya sebentar sebelum akhirnya berpisah jalan. Pengawal tersebut tahu bahwa
saat dia kembali, tidak akan ada lagi orang Kristen di Acre. Dia akan kembali ke
kaumnya, dan menjalani sisa hidupnya.
Terjadilah hujan api. Rombongan anak panah menyala melesat di atas dinding,
membakar apa saja yang mereka kenai. Penyerbuan Saint-Jean d'Acre oleh Mameluke
dimulai pada tanggal 6 April tahun Tuhan kita 1291. Sudah beberapa hari, setelah
penyerangan berminggu-minggu, tentara musuh menghajar benteng berulang kali,
meski para kesatria Templar mempertahankannya mati-matian. Berapa banyak yang
bertahan" Kurang dari lima puluh kesatria mempertahankan dinding kota, mereka
tidak mau menyerahkannya.
Pada hari dimulainya serangan, Guillaume de Beaujeu telah memerintahkan para
kesatrianya agar melakukan pengakuan dosa dan melakukan komuni. Dia tahu bahwa
hanya sedikit, kalaupun ada, di antara mereka yang akan selamat, sehingga dia
pun meminta mereka mendamaikan jiwa mereka dengan Tuhan.
Kini, di dalam dinding kota Acre, di benteng Templar yang agung, terjadi
pertarungan langsung ketika dinding kota pada akhirnya berhasil diterobos. Para
kesatria Templar ngotot tidak mau menyerahkan sejengkal tanahpun; mereka
mempertahankan setiap jengkal tanah dengan taruhan nyawa mereka, dan hanya
ketika nyawa tersebut terrenggut musuh mereka bisa maju.
Guillaume de Beaujeu telah memainkan pedangnya selama berjam-jam; dia tidak tahu
berapa banyak orang yang telah dia bunuh atau berapa banyak yang telah mati di
sekelilingnya. Dia telah meminta para kesatrianya untuk mencoba kabur sebelum
Acre jatuh ke tangan lawan, tetapi permohonannya itu hanya masuk telinga kanan
dan keluar lewat telinga kiri, karena mereka semua bertarung dengan kesadaran
bahwa tidak lama lagi mereka akan bersama Tuhan.
Bahkan sambil terus bertarung pun, dia dengan santainya membayangkan bermil-mil
jarak yang terbentang dihadapan Francois de Charney saat dia berkuda lebih jauh
lagi, mengucap selamat tinggal pada tempat-tempat yang dia sebut rumah. Dia
percaya bahwa kesatria itu akan menyelamatkan kafan Yesus dan membawanya ke
Prancis dengan selamat. Hatinya memerintahkan agar memberikan kain tersebut
kepada de Charney, dan dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat.
Lelaki yang empat puluh tahun sebelumnya pernah membawa kafan tersebut dari
Konstantinopel kini memegang relik itu sekali lagi, dalam perjalanan ke Barat.
Dua orang Sarasen yang bengis menubruk Imam Besar, dan dia tiba-tiba merasakan
tambahan kekuatan, dan menahan golok besar mereka dengan pedang dan tamengnya.
Tetapi, oh! Apa yang telah dia perbuat" Tiba-tiba dia merasakan sakit bukan
alang kepalang didadanya.
Dia tidak bisa melihat apa-apa, malam telah datang. Insya Allah!
Jean de Pengord menarik tubuh Guillaume de Beaujeu ke dinding.
Kabar pun cepat menyebar: Imam Besar telah gugur. Acre sudah di ambang
kehancuran, tetapi Tuhan berkehendak bahwa terjadinya bukan pada malam itu.
Mameluke kembali ke perkemahan mereka dari mana tercium aroma domba berbumbu dan
suara nyanyian kemenangan. Para kesatria berkumpul bersama-sama, kelelahan, di
balai pertemuan Rumah Induk.
Mereka harus memilih Imam Besar yang baru, di situ, saat itu juga, mereka tidak
bisa menunggu. Mereka letih lunglai, dan mereka tidak peduli siapa yang menjadi
pimpinan mereka, karena besok, atau paling banter besoknya lagi, mereka semua
pasti mati, apa bedanya" Tetapi mereka berdoa dan bermeditasi, dan mereka
meminta Tuhan memberi pencerahan. Thibaut Gaudin terpilih menjadi penerus
Guillaume de Beaujeu yang gagah berani.
Pada tanggal 25 Mei 1291, cuaca di Acre terasa panas, dan ada aroma
kematian. Sebelum matahari terbit, Thibaut Gaudin memerintahkan sisa-sisa prajuritnya ke Misa. Kemudian mereka mengambil posisi
dan sekali lagi mereka menghadapi musuh. Pedang-pedang berdencingan tiada henti,
dan anak panah berlesatan tak tentu arah mencari sasaran. Benteng itu menyerupai
kuburan. Hanya segelintir kesatria yang bertahan hidup.
Sebelum matahari terbenam, bendera musuh berkibar di langit Acre. Insya Allah!
41 Ana terbangun sambil menjerit, jantungnya berdegub kencang di dada seolah dia di
tengah-tengah pertempuran. Tetapi dia berada di jantung kota London, disebuah
kamar Hotel Dorchester. Pelipisnya berdenyut-denyut, dan dia merasa keringat
berleleran di punggungnya.
Dengan hati dikuasai dukacita dan gelisah, dia bangkit dari ranjangnya dan
berjalan gontai ke kamar mandi. Rambutnya menempel di wajah dan baju tidurnya
basahkuyup. Dia lepaskan bajunya dan memasuki shower. Sudah dua kali ini dia
mendapat mimpi buruk tentang peperangan. Jika dia memercayai transmigrasi jiwa,
dia akan bersumpah dia pernah mengalaminya, di benteng Saint-Jean d'Acre,
menyaksikan para kesatria Templar gugur sebagai pahlawan. Dia bisa menggambarkan
wajah dan tingkah laku Guillaume de Beaujeu dan warna mata Thibaut Gauidin. Dia
ada di sana; dia bisa merasakannya. Dia kenal orang-orang itu.
Dia keluar dari shower dengan perasaan lebih baik, dan kemudian mengenakan T-
shirt. Dia tidak punya baju tidur lain. Kasurnya basah oleh keringat, sehingga
dia memutuskan menyalakan laptopnya dan berselancar di Internet sebentar.
Penjelasan-penjelasan profesor McFadden yang
mendalam, ditambah dokumentasi yang dia sediakan tentang sejarah kesatria Templar, memberi
dampak serius terhadap dirinya. Dan dia juga memberi Ana banyak detail informasi
mengenai tumbangnya Saint-Jean d'Acre, menurut profesor McFadden, salah satu
masa paling pahit dalam sejarah Ordo Biara.
Pastilah itu yang menyebabkan dia mendapat mimpi yang sedemikian jelasnya
tentang pertahanan benteng Saint-Jean d'Acre yang diporak-porandakan,
sebagaimana dialaminya ketika Sofia Galloni menceritakan tentang gempuran yang
dilancarkan pasukan Bizantium ke Edessa.
Besok dia berencana menemui profesor itu lagi. Kali ini ia akan mencoba menggali
sesuatu yang kongkret dari orang itu sesuatu yang bukan sekadar kisah berbunga-
bunga tentang jatuhnya Templar secara perlahan serta kematian mengerikan para
kesatria Templar. 42 Aroma laut membangkitkan semangatnya. Dia tidak ingin menoleh ke belakang.
Tahun-tahun yang dia jalani kini mendatangkan keharuan, hingga dia menangis
tanpa malu ketika memulai pelayaran dari Cyprus, pelabuhan terakhir negeri
Timur, sebagaimana halnya ketika dirinya dan Said berpisah dengan satu sama lain
untuk terakhir kalinya. Perpisahan mereka serupa dengan seorang manusia yang
dibelah jadi dua. Setelah bertahun-tahun, inilah pertama kalinya mereka
berpelukan. Bagi Said, tibalah saatnya untuk kembali ke kaumnya, sementara dia, Francois de
Charney, kembali ke negeri asalnya, sebuah negeri yang hampir tidak dia kenal
dan tidak pula dia rasa sebagai negerinya.
Kampung halamannya adalah Biara, dan rumahnya adalah negeri Timur.
Orang yang kini menempuh perjalanan ke Prancis itu hanyalah cangkang saja. Dia
telah meninggalkan jiwanya di bawah dinding kota Saint-Jean d'Acre.
Kendati terasa beban berat di hatinya, keberadaan beberapa kesatria Templar yang
kembali ke Prancis, seperti juga dia, membuat perjalanannya lebih enteng, namun
mereka berhati-hati untuk tidak mengusiknya. Pelayaran penyeberangan itu terasa
tenang, meski Mediterania adalah laut yang berbahaya, seperti diketahui Ulysses
sendiri. Tetapi kapalnya membelah ombak tanpa masalah. Perintah Guillaume de Beaujeu
sudah jelas: DeCharney harus mengirimkan Kafan Suci ke benteng Biaradi
Marseilles dan menunggu perintah baru di sana. Tuannya telah menyuruh dia
bersumpah untuk tidak melepaskan relik tersebut kepada pihak-pihak selain Ordo
Biara dan dia akan mempertahankannya dengan taruhan nyawa.
Pelabuhan Marseilles sangat mengesankan. Puluhan kapal dan orang-orang yang tak
terhitung jumlahnya berseliweran, berteriak dan berbicara tiada henti. Ketika
mereka turun dan kapal, telah menunggu sekawanan kesatria, yang mengantarkan
mereka ke Rumah Induk Biara di kota itu. Tak seorang pun tahu tentang relik yang
dibawa de Charney. De Beaujeu telah memberinya sepucuk surat untuk preseptor Rumah Induk Biara di
Marseilles dan untuk wali biara. "Mereka," katanya waktu itu, "akan menentukan
yang terbaik." Jacques Vazelay, sang wali biara, adalah seorang bangsawan yang tidak terlalu
hangat dan tidak banyak berkata-kata. Tetapi matanya tampak ramah ketika dia
menyimak kisah de Charney. Lalu dia meminta kesatria tua itu untuk menunjukkan
Kafan Suci. Selama bertahun-tahun kesatria Templar sudah mengetahui wajah asli Kristus,
karena Renaud de Vichiers, imam pertama yang memegang kafan tersebut, telah
mengupayakan dibuatnya salinan gambar yang mencengangkan itu dan mengirimnya ke
setiap padepokan dan Rumah Induk Templar. Namun, Vichiers tetap menyarankan agar
benar-benar bersikap bijak. Setiap Rumah Induk memiliki salinan gambar ini di
sebuah kapel rahasia dimana hanya para kesatria yang boleh beribadah. Tidak ada
orang lain yang boleh melihatnya atau bahkan mengetahui keberadaannya.
Dengan begitu, rahasia kepemilikan satu-satunya relik Yesus Kristus yang asli
oleh Biara tetap terjaga selama bertahun-tahun.
De Charney membuka tasnya dan mengeluarkan bundelan terbungkus linen yang telah
dia bawa dengan amat hati-hati. Dia membuka gulungannya, dan... kedua orang itu
pun jatuh berlutut saking takjubnya, begitulah terjadinya keajaiban itu.
Sambil tetap berlutut, Jacques Vazelay, wali biara Rumah Induk tersebut, dan
Francois de Charney bersyukur kepada Tuhan atas segala ciptaan-Nya.
43 Penjaga memasuki sel dan mulai menggeledah loker Mendib, mengumpulkan sejumlah
pakaian yang bisa dia temukan. Si Bisu memerhatikan, tak bergerak sedikit pun.
"Waktunya tampil keren untuk menyambut dunia luar, Kawan.
Sepertinya mereka akan membebaskanmu, dan kami tidak boleh membiarkan para napi
keluar dengan mengenakan pakaian kotor. Aku tidak tahu kamu mengerti aku atau
tidak, namun mengerti ataupun tidak, aku tetap akan membawa barang-barang ini
dan mencucinya lalu aku akan mengembalikannya dalam keadaan bersih. Oh! Dan
sepatu olahragamu yang bau itu, busuk sekali baunya!"
Dia menghampiri ranjang, membungkuk, dan mengambil sepatunya. Mendib mulai
berdiri, siaga, tetapi penjaga itu menyentuhkan jarinya ke dada Mendib.
"Hei, santai saja. Aku hanya menjalankan perintah. Besok akan kami kembalikan
semuanya." Ketika Mendib sendiri lagi, dia menutup matanya. Dia tidak ingin kamera
pengamanan melihat kekalutan yang dia rasakan. Dia tidak bisa menahan kegirangan
hatinya karena kemungkinan akan bebas itu. Tetap ada yang tidak beres. Dia yakin
itu. Marco telah berada di penjara itu selama berjam-jam. Dia telah menginterogasi
Bajerai bersaudara, kendati dokter memprotesnya, tetapi tidak mendapatkan apa-
apa. Dia mulai dengan pertanyaan rutin, pertanyaan-pertanyaan yang sudah mereka
tunggu-tunggu. Kedua kakak-beradik itu menolak mengatakan mereka akan ke mana
ketika diserang, atau siapa, jika memang ada, yang mereka curigai menghajar
mereka. Yang paling bisa diketahui Marco, mereka tidak menyadari keterlibatan
Frasquello.

Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lalu dia melanjutkan memeriksa koneksi mereka diluar penjara, ada kasak-kusuk
terdengar di penjara bahwa mereka berkoar-koar memiliki banyak uang. Dia mencoba
menyerempet bahaya antara memaksa mereka membeberkan detail rencana pembunuhan
mereka dan membangkitkan kekhawatiran mereka, dan siapa pun dibelakang mereka,
bahwa dia sudah tahu sasaran mereka.
Tetapi Bajerai bersaudara itu tidak mengatakan apa-apa. Yang dia lakukan cuma
merintih-rintih tentang sakit kepala yang berdenyut-denyut dan bahwasanya polisi
ini sedang menyiksa mereka dengan pertanyaan-pertanyaannya. Mereka tidak pergi
kemana-mana, mereka hanya memerhatikan pintu sel terbuka, mereka melongok, dan
seseorang menghajar mereka. Tidak lebih dan itu. Itulah cerita mereka dan tidak
akan ada yang bisa mengubahnya.
Kembali ke kantor kepala penjara, Marco mengambil sepatu si Bisu yang baru saja
dicuci, sehingga chip pelacak bisa dipasang. Kepala penjara meminta Marco secara
blak-blakan mendesak Bajerai bersaudara memberitahukan mengapa mereka ingin
membunuh si Bisu dan siapa yang membayar mereka, tetapi Marco terus menolak
mengambil langkah itu. Di penjara manapun, ratusan mata mengawasi. Siapa yang
tahu mata rantai ke luar penjara" Saat Marco mengumpulkan kertas-kertasnya untuk
kembali ke hotel, keduanya setuju untuk bertanya kembali beberapa hari lagi.
Tak seorang pun di antara mereka memerhatikan perempuan tukang bersih-bersih
yang meninggalkan kantor. Dia baru datang dari kamar kecil pribadi di kantor
kepala penjara untuk mengganti handuk, pekerjaan yang tidak berbahaya di
penjara. Marco mengantarkan sepatu itu ke markas besar carabinieri. Ketika sampai di
hotelnya, Antonino, Pietro, dan Giuseppe sudah menunggunya di bar. Sofia sudah
tidur, dan Minerva telah berjanji akan datang setelah dia menelpon rumah.
"Jadi, tinggal lima hari lagi, dan si Bisu akan turun ke jalan. Ada perkembangan
baru?" tanya Marco. "Tidak ada yang pasti," jawab Antonino, "tetapi sepertinya kota Turin yang
cantik ini memiliki daya tarik khusus bagi imigran dari Urfa."
Macro mengernyitkan dahi. "Apa artinya?"
"Aku dan Minerva telah bekerja sangat keras menangani hal ini.
Kami masukkan keluarga Bajerai dan apa saja yang muncul di otak kami ke dalam
komputer dan melakukan cara lama, dan muncullah hal-hal menarik dari situ. Kamu
tahu Pak Tua di katedral tempo hari, si tukang sapu" Orang yang namanya Turgut"
Asalnya dari Urfa, maksudku, bukan dia, tapi ayahnya. Kisahnya lumayan persis
dengan kisah Bajerai bersaudara. Ayahnya datang ke Turin untuk mencari
pekerjaan, mendapat pekerjaan di Fiat, menikahi seorang perempuan Italia, dan
Turgut lahir di sini. Namun, selain kemiripan latar belakang itu, tidak terlihat
ada hubungan di antara kedua keluarga itu. Tetapi kamu ingat Tariq?"
"Tariq?" tanya Marco.
"Salah seorang tukang listrik yang bekerja di katedral saat terjadi kebakaran,"
Giuseppe mengingatkannya.
"Asalnya juga dan Urfa."
Minerva memasuki bar. Dia lelah, dan memang terlihat lelah. Marco merasakan
getaran rasa bersalah; dia telah memberinya dan Antonino setumpuk pekerjaan
selama beberapa hari terakhir, tetapi diukur dari segi apa pun perempuan itu
memang ahli komputer terbaik yang dia miliki, dan keterampilan analitis serta
pendataan Antonino sungguh dahsyat. Marco menaruh kepercayaan kepada mereka
untuk melakukan pekerjaan terbaik yang mungkin dilakukan.
"Baiklah, Marco!" seru Minerva saat dia duduk. "Kau tidak boleh mengatakan kita
tidak mendapat gaji."
"Begitulah yang telah kudengar," jawabnya. "Koneksi Urfa ini benar-benar layak
dikejar. Apa lagi yang telah kautemukan?"
"Bahwa mereka bukan Muslim yang taat, mungkin mereka sama sekali bukan Muslim.
Mereka semua menghadiri Misa," kata Minerva.
"Jangan lupa, Turki adalah negara sekuler berkat Ataturk. Bahwa orang-orang ini
bukan Muslim yang taat, itu tidak jadi soal. Bahwa mereka menghadiri Misa dan
benar-benar terlihat seperti orang Kristen yang saleh, itulah yang menarik,"
tegas Antonino. "Apa ada banyak orang Kristen di Urfa?" tanya Marco.
"Hanya minoritas kecil," jawab Minerva.
Antonino terhenyak. "Tetapi di masa silam, Urfa adalah sebuah kota Kristen,
sebenarnya namanya Edessa. Dan kau pasti ingat bahwa Bizantium menyerang Edessa
pada 944 untuk merebut Kafan Suci, yang ada di tangan masyarakat Kristen
minoritas di sana, meskipun pada saat itu kota tersebut dikuasai kaum Muslim."
"Panggil Sofia," kata Marco.
"Kenapa?" tanya Pietro.
"Karena kita akan brainstorming. Kita mendapat petunjuk. Belum lama ini Sofia
bilang kepadaku bahwa mungkin kunci semua ini adalah masa lalu. Ana Jimenezj uga
punya pikiran yang sama."
Pietro memukul bar. "Demi Tuhan, Marco, jangan jadi gila di sini."
"Apa yang benar-benar membuatmu mengira aku jadi gila?"
"Aku sudah melihat gejalanya. Para perempuan ini semakin gila saja dengan urusan
sialan ini. Sudahlah. Berapa banyak kota yang berdiri di atas kota-kota kuno" Di
Italia sini semua batu punya kisahnya sendiri-sendiri, dan kita tidak menelusuri
sejarah setiap kali terjadi pembunuhan atau kebakaran. Aku tahu kasus ini
istimewa untukmu, Marco, tapi maaf, kurasa kau sudah kelewat batas, membawa kami
semua kemari, menghabiskan banyak waktu, padahal kita punya banyak pekerjaan di
Roma. Banyak sekali orang sini berlatar belakang Turki yang bisa dilacak ke kota
bernama Urfa, memangnya kenapa" Berapa banyak orang Italia dari sebuah kota
pindah ke Frankfurt selama masa-masa sulit untuk bekerjadi pabrik-pabrik yang
ada di sana" Aku ragu apakah setiap kali seorang Italia melakukan tindak
kejahatan di Jerman polisi Jerman mulai menggali informasi tentang kehidupan
Juhus Caesar dan legiunnya.
Maksudku adalah, kita tidak boleh terbawa karena kebetulan-kebetulan yang acak
ini. Banyak sekali urusan esoterik terkait yang ada seputar kafan itu, kita
perlu berpegang teguh pada tata tertib kerja polisi yang benar dan tidak asal
kejar, dengan seorang sejarawan sialan berlagak jadi polisi."
Minerva dan Antonino mulai menyemprotkan jawaban-jawaban bercampur kemarahan.
Marco mengangkat tangannya untuk mencegah perdebatan lebih lanjut. Dia menimbang
kata-katanya dengan hati-hati.
Menghentikan ucapan-ucapan yang menyerang Sofia itu, karena dialah sasaran kata-
kata mereka, tak diragukan lagi, kata-kata Pietro memang ada benarnya, banyak
benarnya, sampai-sampai Marco sendiri menyadari mungkin kata-katanya itu benar.
Tetapi Kepala Divisi Kejahatan Seni itu orang yang sudah berpengalaman; dia
telah menghabiskan hidupnya mengendus-endus jejak samar-samar, dan nalurinya
mengatakan bahwa dia harus meneruskan kasus ini, betapapun kasus ini tampak
"esoterik". "Baiklah, Pietro. Kau sudah mengatakan yang harus kau katakan.
Dan kau mungkin benar. Tetapi karena tidak ada ruginya mencoba, kita akan
menelusuri segala kemungkinan. Minerva, tolong panggil Sofia.
Kuharap dia masih terjaga. Apa lagi yang kita ketahui tentang Urfa?"
Antonino memberinya sebuah berkas lengkap mengenai Urfa, atau Edessa. Dia sudah
mengira pimpinannya itu akan meminta file tersebut.
"Pietro, aku ingin kau dan Giuseppe berbicara dengan tukang sapu ini besok.
Beritahu dia bahwa penyidikan belum ditutup dan kau ingin berbicara dengannya,
siapa tahu ada detail kejadian yang sudah bisa dia ingat sejak terakhir kalian
berbicara." Marco menatap tajam pada polisi yang masih marah itu.
"Dia akan gugup. Dia benar-benar menangis ketika kami pertama kali menanyainya
waktu itu," Giuseppe mengatakan apa yang diingatnya.
"Benar. Dia ini mata rantai yang lemah. Itu bagus. Kita juga akan meminta surat
perintah untuk menyadap telepon orang-orang baik dari Urfa ini yang punya
keterkaitan dengan Bajerai bersaudara. Hanya itu satu-satunya surat perintah
yang bisa kita dapatkan. Dan ayo kita mulai cari gereja-gereja yang bisa
ditemukan di Urfa sendiri."
Minerva kembali dengan Sofia. Kedua perempuan itu membelalakkan mata pada Pietro dan duduk. Ketika bar tutup pada pukul tiga,
Marco dan timnya masih berbicara. Sofia merunut sejarah kafan tersebut secara
panjang lebar, sambil sesekali berhenti pada sejumlah titik potong yang menarik
minat mereka. Dia, Antonino, dan Minerva setuju bahwa mereka harus melacak
jalurnya ke Urfa, dan Giuseppe bersikukuh dengan sikap skeptisnya. Sementara
Pietro sendiri terang-terangan mengatakan bahwa mereka hanya buang-buang waktu.
Tetapi dengan cara apa pun mereka memahaminya, mereka semua bisa tidur malam itu
dengan membawa keyakinan bahwa mereka sudah dekat dengan yang mereka cari-cari.
Lelaki tua itu mengerdip-ngerdipkan matanya agar benar-benar terbangun. Telepon
berdering, membangunkannya dari tidur yang lelap; baru dua jam sebelumnya dia
tertidur. Suasana hati si duke sedang bukan main senangnya dan belum
memperbolehkan mereka pulang hingga lewat tengah malam. Makan malam itu sangat
lezat dan perbincangannya menyenangkan, cocok untuk para lelaki seusia dan
setingkat mereka saat tidak ada perempuan disekeliling mereka.
Dia bangun dan, seraya mengenakan sepotong jubah kasmir lembut, pergi ke ruang
kerja. Dia kunci pintu dan duduk di balik meja, tempat dia menekan sebuah tombol
tersembunyi, mengaktifkan pengacak.
Informasi yang dia terima membuatnya terusik: Divisi Kejahatan Seni semakin
dekat dengan perkumpulan, semakin dekat ke Addaio.
Addaio telah gagal dengan rencananya menyingkirkan Mendib, yang sebentar lagi
akan bebas untuk menggiring Valoni langsung ke pastor itu dan rahasia-
rahasianya, dan terlalu banyak rahasia mereka sendiri.
Tetapi bukan itu saja. Kini tim Valoni telah membebaskan imajinasi mereka, dan
Dr. Galloni menyusun sebuah hipotesis yang sangat dekat dengan kebenaran, meski
dia sendiri masih belum bisa mencurigainya.
Sedangkan si reporter asal Spanyol punya pembawaan suka berspekulasi dan
imajinasinya menyerupai seorang novelis, yang dalam kasus ini merupakan senjata
yang berbahaya. Berbahaya bagi mereka.
Matahari sudah muncul pada saat dia meninggalkan ruang kerjanya. Dia kembali ke
kamar dan mulai bersiap-siap pergi menghadiri rapat di Paris yang para
pesertanya baru saja dia hubungi. Ini akan menjadi hari yang panjang. Semua
orang akan datang, namun dia mengkhawatirkan kepergian mereka semua yang begitu
tiba-tiba. Hal itu bisa menarik perhatian.
44 1314 Masehi Senja cepat berubah menjadi malam saat Jacques de Molay, Imam Besar Ordo
Kesatria Templar, dengan diterangi lilin, duduk dan membaca laporan yang dikirim
dari Vienne oleh Pierre Berard yang memberitahukan kepadanya tentang detail-
detail pertemuan dewan. Mata de Molay memerah, wajah agungnya kusut disertai kerut-merut dan bayang-
bayang kelelahan. Malam-malam panjang tanpa tidur telah meninggalkan bekasnya.
Ini adalah masa-masa yang berat bagi Biara.
Di depan Villeneuve du Temple, kawasan kota Templar berbenteng kuat, berdiri
istana kerajaan yang megah, tempat Raja Philippe IV dari Prancis mempersiapkan
usaha akbarnya menggulingkan Ordo. Harta kekayaan Kerajaansudah menipis, dan
Philippe le Beau punya utang yang amat besar pada Biara, amat sangat besar
hingga orang-orang mengatakan dia harus menjalani sepuluh kali kehidupan untuk
bisa melunasinya. Tetapi Philippe tidak berniat membayar utang-utangnya. Sebenarnya, dia memiliki rencana yang agak berbeda: Dia ingin mewarisi aset
Ordo, meskipun ituartinya dia harus berbagi harta kekayaan dengan Gereja. Dia
telah mendekati Ordo Hospitaller untuk meminta bantuan, dengan menjanjikan tanah
serta vila jika mereka bersedia mendukung rencana kotornya melawan kesatria
Templar. Dan di sekeliling Paus Clement terdapat pendeta-pendeta berpengaruh
yang dibayar Philippe untuk berkomplot melawan Biara.
Karena telah membeli kesaksian palsu Esquieu de Floryan, tanpa bisa ditawar-
tawar lagi Philippe semakin mempererat tambang yang mencekik leher kesatria
Templar, dan kian hari kian dekat pula saatnya dia mampu smelakukan penggulingan
kehormatan. Secara sembunyi-sembunyi, Raja iri kepada Jacquesde Molay atas keberanian serta
integritasnya, karena memiliki semua syarat kebangsawanan dan kebajikan yang
tidak dia punyai. Terlihat jelas kerisauannya saat berada di dekat si Imam
Besar, dan dia tidak tahan berdiri di depan bening mata kesatria Templar yang
tak pernah gentar itu. Dia tidak akan berhenti hingga bisa melihatnya terbakar
di kayusula. Sebelumnya pada malam itu juga, seperti pada banyak malam lainnya, Jacques de
Molay pergi ke kapel untuk mendoakan para kesatria yang telah menjadi korban
peraturan Raja. Kian hari kian banyak di antara mereka yang tewas karena
diadukan sebagai pelaku bidah oleh penguasa serta Gereja mereka. Dia juga berdoa
agar dibebaskan dari kelaliman Raja Philippe.
Sudah lama, sejak Clement menunjuk Philippe sebagai penjaga aset-aset kesatria
Templar, di Poitiers, dia telah mengekang ordo tersebut. Kini Imam Besar sedang
tegang menunggu keputusan Dewan Wina. Philippe telah pergi sendiri untuk
mendesakkan tekanan kepada Clement dan pengadilan gereja. Dia tidak puas
mengelola harta kekayaan yang bukan miliknya; dia menginginkan harta tersebut
untuk dirinya sendiri, dan Dewan Wina menjadi kendaraan yang sempurna untuk
menyarangkan pukulan mematikan kepada Biara.
Ketika dia telah selesai membaca laporan itu, Jacques de Molay mengucek-ucek
matanya dan kemudian mengambil selembar perkamen.
Hampir selama satu jam itu penanya menari-nari di atas kertas. Pada saat selesai
dia memanggil dua orang kesatrianya yang paling setia, Beltran de Santillana dan
Geoffroy de Charney. Beltran de Santillana, yang lahir di sebuah rumah hangat di pegunungan Cantabria
Spanyol, adalah seorang lelaki yang suka diam dan bermeditasi. Dia sudah masuk
Ordo tak lama setelah usianya menginjak delapan belas tahun, tetapi bahkan
sebelum mulai menjadi bruder dia sudah berperang di Tanah Suci. Di sana dia
bertemu deMolay dan menyelamatkan nyawanya, melindungi kesatria Templar itu
dengan tubuhnya ketika golok seorang prajurit Sarasen akan menebas leher Molay.
Sebuah luka memanjang di dada Santillana, dekat jantungnya, menjadi saksi
tindakan pemberani dan mengorbankan diri pada masa yang telah lampau itu.
Geoffroy de Charney, preseptor Ordo di Normandia, adalah seorang kesatria keras
dan tegas yang keluarganya telah memberikan putra-putra mereka kepada Ordo,
kesatria-kesatria ternama seperti pamannya Francois de Charney, semoga dia
beristirahat dalam damai, yang telah meninggal karena melankolia bertahun-tahun
yang lalu ketika mengunjungi perkebunan keluarganya.
Jacques de Molay memercayai Geoffroy de Charney sebagaimana dia memercayai
dirinya sendiri. Mereka pernah berperang bersama di Mesir dan di depan benteng
Tortosa, dan dia tahu keberanian serta kesalehan de Charney, sebagaimana dia
juga tahu keberanian serta kesalehan Beltran de Santillana. Karena alasan itulah
dia memilih kedua kesatria ini untuk mengemban misi maha-sulit itu.
Dalam laporannya, Kesatria Templar Pierre Berard menyampaikan kabar yang paling
buruk. Clement akan mengabulkan tuntutan Philippe.
Sisa umur Ordo Biara tinggal sedikit lagi, eksekusi penutupannya akan segera
dikeluarkan dari Wina. Perlu dilakukan pengaturan cepat untuk menyelamatkan
harta-harta Biara yang paling dilindungi.
Suara gaduh di kejauhan dari jalanan Paris memecah kesunyian malam.
De Charney dan de Santillana memasuki ruang kerja Imam Besar tanpa menimbulkan
suara. Dengan tenang Jacques de Molay mempersilakan kesatrianya itu untuk duduk.
Banyak detail yang harus mereka bahas, dan tidak perlu lagi basa-basi saat Imam
Besar itu mulai memberikan instruksi secara garis besar. Mereka semua tahu apa
yang mereka hadapi. "Beltran, kamu harus segera berangkat ke Portugal. Saudara kita Pierre Berard
telah mengabari aku bahwa Paus akan menjatuhkan hukuman kepada Biara dalam
beberapa hari ini. Saat ini terlalu dini untuk mengetahui apa yang akan terjadi
kepada saudara kita di negara-negara lain, tetapi di Prancis kita sudah kalah.
Aku sempat terpikir untuk mengirimmu ke Skotlandia, karena Robert Bruce, Raja
Skotlandia, telah dikucilkan sehingga di luar jangkauan Clement. Tetapi aku
percaya Raja Dinis yang baik darin Portugal, yang telah memberiku kepastian akan
melindungi Ordo. Philippe telah mengambil banyak dari kita. Tetapi bukan emas
atau tanah yang membuatk ukhawatir, hanya satu harta, permata mahkota Biara,
kafan Kristus. Selama bertahun-tahun, raja-raja Kristen telah mencurigai bahwa
relik tersebut ada pada kita, dan mereka sangat ingin merebutnya kembali. Kabar
burung tentang kekuatan magis yang membuat pemiliknya tak terkalahkan telah
berkembang seiring waktu.
Namun, aku percaya keinginan Raja Louis untuk diberi kesempatan berdoa di


Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hadapan gambar asli Kristus itu benar-benar tulus.
"Banyak kejadian yang menegaskan betapa bijaknya pemahaman pengetahuan kita atas
kebijaksanaan Ordo untuk tetap benar-benar merahasiakan keberadaan kafan
tersebut di tangan kita. Kini rahasia itu harus dijaga dan dipertahankan dengan
lebih berani dan serius dibanding sebelumnya. Aku yakin, Philippe berniat
memasuki biara dan mencari di setiap sudut ruangan. Dia telah membeberkan
rahasia kepada para penasihatnya bahwa jika dia menemukan Kafan Suci itu, kafan
itu akan melipat-gandakan kekuatannya serta kekuasaannya sebagai raja Kristen
atas seluruh dunia. Matanya telah terbutakan oleh ambisi, dan kita sudah
mencicipi betapa pahit kejahatan yang bersemayam dalam jiwanya.
"Kini, pada jam-jam terakhir di Prancis ini, kita harus menyelamatkan relik
berharga ini sebagaimana pernah dilakukan pamanmu de Charney yang baik
sebelumnya. Kau, Beltran, akan membawa kafan itu dari Prancis ke Rumah Induk
kita di Castro Marim, menyeberang Guadiana. Di sana, kau akan menyerahkannya ke
wali biara di Portugal, saudara kita Jose sa Beiro. Kau harus membawa serta
sepucuk surat yang aku telah tulisi instruksi-instruksi tentang cara
perlindungannya." "Hanya kau, Sa Beiro, de Charney, dan aku saja yang tahu di mana kafan tersebut
berada, dan Sa Beiro akan meneruskan rahasia ini kepada penerusnya, tepat pada
saat dia akan meninggal. Kamu akan tinggal di Portugal, Beltran, untuk menjaga
relik itu. Jika diperlukan, akan kuusahakan mengirim instruksi-instruksi baru
untukmu. Selama perjalanan, kau akan melewati kawasan teritorial sejumlah Rumah
Induk Templar di Spanyol. Kau akan membawa sebuah dokumen yang didalaminya aku
tulisi instruksi kepada para wali serta kepala biara tentang bagaimana harus
menjalankan biara jika, sebagaimana kutakutkan akan terjadi, Biara ditutup atau
para kesatrianya dibunuh.
Anggota-anggota Ordo yang lain sudah mengunjungi kerajaan-kerajaan Kristen
membawa dokumen serupa bagi saudara-saudara kita yang diserbu."
"Kapankah saya akan berangkat, Imam?" kesatria Spanyol itu bertanya kepada Imam
Besar, orang yang dengan senang hati akan dia bela meski harus mempertaruhkan
nyawanya lagi. "Begitu kau siap."
Geoffroy de Charney tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya ketika dia
menyampaikan pertanyaan yang membakar batinnya kepada Imam Besar.
"Kalau begitu, apakah misi saya, Tuan?"
"Geoffroy, kamu harus pergi Lirey membawa kain yang dipakai pamanmu untuk
membungkus Kafan Suci, dan disana kau harus menjaganya. Kurasa yang paling baik
kain tersebut tetap ada di Prancis, tetapi di tempat yang aman. Selama bertahun-
tahun ini aku telah memikirkan tentang kejaiban yang terjadi pada selembar kain
linen itu, pastilah itu keajaiban yang sebenar-benarnya. Pamanmu menangis haru
ketika dia menceritakan kepadaku tentang saat-saat dia membuka lipatan kain
tersebut di hadapan Imam Besar di Marseilles, dan aku memiliki keyakinan bahwa
kita telah dianugerahi sarana untuk melindungi Kafan Suci Yesus hingga akhir
zaman. Meski hanya kain pertama yang dipakai untuk membaringkan tubuh Tuhan
kita, kedua lembar kain itu suci.
"Kini segalanya tertumpu pada kemuliaan keluarga de Charney, keluargamu, dan aku
tahu bahwa saudara serta ayahmu yang sudah uzur itu akan melindungi dan
menjaganya hingga Biara memintanya kembali.
"Dua kali Francois de Charney melintasi gurun melewati negeri-negeri kaum kafir
untuk membawa kafan tersebut ke Biara. Sekali lagi kita menghadapi sebuah titik
penting sejarah. Dan sekali lagi Biara membutuhkan bakti keluarga Kristenmu yang
gagah berani." Ketiga orang itu tetap membisu selama beberapa saat, bukannya mengingkari
perasaan mereka, namun mereka tersentuh tergetar hingga ke lubuk jiwa mereka.
Pada malam itu juga, kedua kesatria Templar tersebut memulai perjalanan
mengantarkan barang bawaan berharga dengan menempuh jalan mereka sendiri-
sendiri, ke sebuah tempat tujuan yang tak seorang pun tahu. Karena Jacques de
Molay benar: Tuhan telah menitipkan keajaiban pada kain yang membungkus Kafan
Suci itu selama perjalanan panjang berbahaya yang ditempuh Francois deCharney
bertahun-tahun sebelumnya, selembar kain linen halus, yang tekstur serta
warnanya sama dengan kain yang dipakai Yosef dari Arimathea untuk membaringkan
tubuh Yesus. Mereka telah menunggang kuda selama berhari-hari, namun pada akhirnya
terlihatlah oleh mereka lembah Bidasoa, di Navarro. Beltran de Santillana,
ditemani empat kesatria dan pengawal mereka, memacu kudanya. Mereka ingin cepat-
cepat memasuki Spanyol, meninggalkan Prancis dan para antek Raja Philippe.
Karena tahu bahwa mungkin saja mereka dibuntuti pembunuh, mereka hampir tidak
pernah berhenti untuk istirahat. Philippe punya mata-mata di mana-mana, dan
tidaklah mengherankan jika ada yang berbisik pada mata-matanya bahwa sekelompok
orang telah meninggalkan benteng Villeneuve du Temple.
Jacques de Molay telah meminta mereka untuk tidak mengenakan helm atau baju
jaring besi kesatria, sehingga mereka tidak dicungai-setidaknya sampai mereka
sudah jauh dan Paris. Mereka tidak boleh mengganti jubah polos mereka hingga
mereka agak jauh melewati perbatasan Spanyol dengan selamat. Baru kemudian
mereka kembali tampil sebagaimana aslinya, sebagai kesatria, kesatria Templar,
karena tidak ada lagi yang lebih terhormat daripada menjadi anggota Biara dan
memenuhi misi sucinya, menyelamatkan harta karunnya yang paling berharga.
Selama perjalanan itu, Beltran de Santillana baru bisa bernafas lega ketika dia
mulai mengenali bentangan kampung halaman yang nyaris dia lupakan itu, dan dia
menikmati suara-suara Castilian saat dia berbicara dengan para buruh dan para
bruder di Rumah-rumah Induk Templar di negeri-negeri yang mereka lalui.
Setelah berkuda selama berhari-hari, mereka pun mendekati kota Jerez, di
Extremadura, seringkah disebut Jerez de los Caballeros, karena itu adalah
tempatberdirinya sebuah Rumah Induk Templar. Beltran memberitahukan kepada para
kesatria dan pengawal yang menyertainya bahwa mereka akan beristirahat selama
beberapa hari sebelum memulai tahap terakhir perjalanan mereka.
Saat berada di Castile ini, Beltran merasakan kerinduan akan masa lalunya, masa-
masa ketika dia belum tahu apa yang disiapkan masa depan untuk dirinya dan dia
hanya bermimpi menjadi prajurit yang akan membebaskan Makam Suci dari orang-
orang kafir dan mengembalikannya kepada kaum Kristiani.
Ayahnyalah yang meyakinkan dia agar masuk Ordo Kesatria Templar dan menjadi
pejuang Tuhan. Pada awalnya berat bagi dia, karena meski dia senang memainkan pedang dan busur
panah, pembawaannya yang gembira itu tidaklah cocok untuk hidup selibat. Dia
harus menghadapi masa-masa sulit penuh penyesalan dan pengorbanan, hingga dia
bisa menjinakkan tubuhnya, menyelaraskannya dengan gerakan jiwa-nya, dan layak
mengucap sumpah sebagai kesatria Templar.
Kini usianya sudah lima puluh tahun, dan usia senja menemaninya, tetapi dia
merasa kembali muda dalam perjalanan yang telah membawanya dari utara lewat
selatan Castile. Di kejauhan sana, berlatarkan ufuk, berdirilah kastil Biara yang megah. Lembah
yang subur menjamin ketersediaan makanan bagi Rumah Induk Templar, dan aliran
air serta sungai-sungai kecil yang berlimpah memuaskan dahaganya. Para buruh
yang bekerja di sawah melihat mereka mendekat dan melambaikan tangan. Di sini,
para kesatria Templar dihormati dan disanjung-sanjung. Seorang pengawal
menggiring kuda-kuda mereka dan menunjukkan mereka jalan ke pintu masuk kastil.
Beltran menceritakan tentang perkembangan terakhir di Prancis kepada wali biara
yang muram dan memberinya sebuah gulungan surat bersegel Jacques de Molay.
Pada hari-hari selama mereka beristirahat itu, Beltran de Santillana suka
berbincang-bincang dengan seorang prajurit Templar lain yang lahir di pegunungan
Cantabria, di sebuah kota yang sangat dekat dengan kotanya. Mereka mengingat-
ingat nama tempat yang sama-sama mereka kenal, para pelayan istana yang pernah
mereka kunjungi, bahkan nama-nama lembu tertentu yang merumput di sawah, tanpa
memedulikan jejeritan anak-anak yang berlarian.
Beltran tidak pernah membicarakan tentang misi yang telah di amanatkan
kepadanya. Dan wali biara di Rumah Induk maupun saudaranya dari Cantabria
tersebut tidak pernah bertanya-tanya kepada kesatria pendiam itu. Tetapi ketika
berpamitan, mereka pun menanyakannya dengan hati yang nyaman.
Sejumlah rumah bercat putih yang letaknya menyebar dan ditempa matahari itu
merupakan desa terakhir sebelum menyeberangi sungai ke Portugal. Pemilik kapal
tongkang yang menyeberangkan penumpang serta barang-barang di atas sungai
Guadiana setiap hari itu menarik ongkos tinggi, tetapi para kesatria Templar
tidak mempersoalkan harga.
Tukang perahu itu membawa mereka ke sisi lain sungai dan menunjuk pada jalan
yang mengarah kegerbang Castro Marim, yang dinding batunya bisa terlihat dari
sisi Castiha. Dari atas benteng kastil Templar, para kesatria bisa melihat ufuk yang jauh dan
lautan. Tetapi benteng tersebut aman dari serbuan musuh manapun, karena ia
berdiri di tikungan sungai Guadiana.
Jose Sa Beiro, imam Rumah Induk di Castro Marim, adalah seorang lelaki bijak dan
terpelajar yang telah mempelajari ilmu pengobatan, astronomi, dan matematika,
dan kemampuan bahasa Arabnya memungkinkan dia membaca kitab-kitab klasik, karena
pengetahuan Aristoteles, Thales dan Miletus, Archimedes, dan banyak filsuf
lainnya pasti akan hilang andaikan tidak diterjemahkan para sarjana Arab. Dia
pernah berperang di Tanah Suci, mengetahui angin kering datarannya yang gersang,
dan dia masih merindukan malam-malam diterangi bintang, yang dinegeri Timur
terlihat seakan-akan bisa kita raih dengan tangan kita.
Wali biara itu menyambut Beltran dan kawanan kesatrianya dengan hangat dan
mempersilakan mereka beristirahat dan membersihkan diri dari debu jalanan. Dia
tidak mau berbicara dengan mereka sebelum mereka makan dan minum dan dia yakin
mereka dipersilakan ke bilik-bilik sederhana yang telah dipersiapkan untuk
mereka. Beltran bertemu dengan Sa Beiro di ruang kerja si pimpinan yang jendela besarnya
menerima sepoi angin dari arah sungai.
Ketika kesatria tersebut sudah menyelesaikan ceritanya, dengan takzim dia buka
lipatan kain tersebut di hadapan si wali biara. Kedua orang itu takjub melihat
jelasnya gambar Kristus yang terbentuk di bentangan sepanjang kain tersebut. Ada
tanda-tanda Penderitaan, penderitaan yang ditanggung sang Juru Selamat.
Jose Sa Beiro mengelus kain tersebut, dia tahu bisa melakukannya adalah sebuah
kehormatan yang amat berharga. Di tangannya itu terdapat gambar asli Yesus,
gambar yang dipuja para kesatria Templar di kapel mereka tanpa sepengetahuan
orang lain sejak Imam Besar de Vichiers mengirimkan salinan gambar tersebut ke
seluruh markas persaudaraan mereka.
Sang pimpinan mempersilakan Beltran duduk saat dia membawa surat de Molay.
Ketika telah selesai membacanya, matanya menjadi panas karena amarah yang sama
besarnya dengan yang membuat dia berulang kali ikut berperang di Tanah Suci.
"Kesatria yang baik, kita harus mempertahankan kain ini meski nyawa jadi
taruhan. Imam Besar meminta agar pada saat ini kita tidak memberitahukan kepada
siapa pun bahwa kain tersebut ada di sini. Kita harus menunggu apa yang terjadi
di Prancis, apa dampak dari keputusan Konsul Wina terhadap ordo kita. Jacques de
Molay meminta aku segera mengirim seorang kesatria ke Paris sebagai mata-mata;
dia harus menyamar, dan tidak boleh mendekati Biara atau mencoba berkomunikasi
dengan kesatria Templar manapun, tetapi hanya melihat dan menyimak, dan ketika
dia telah mengetahui nasib yang akan menimpa Ordo, dia harus segera kembali.
Pada saat itulah kita akan memutuskan apakah kafan ini tetap berada di Castro
Marim atau dibawa ke tempat lain yang lebih aman. Inilah yang diinstruksikan
oleh Imam Besar, dan ini pula yang harus kita lakukan.
"Aku akan memanggil Joao de Tomar. Dia orang yang tepat untuk misi ini."
Kota Troyes sudah di belakang, dan jaraknya tinggal beberapa jengkal saja dari
perkebunan Lirey. Geoffroy de Charney menempuh perjalanan sendirian, hanya
ditemani pengawalnya, dan dia merasakan tatapan mata-mata Philippe mengikutinya
sepanjang perjalanan. Di tas pundaknya dia membawa kain linen yang telah
melindungi Kafan Suci, sebagaimana dilakukan pamannya Francois de Charney
sebelum dia. Para buruh di sawah-sawah tengah mengumpulkan alat-alat mereka saat cahaya hari
mulai redup. Kesatria Templar itu merasakan gairahnya meningkat saat dia melihat
tanah pertanian dari masa mudanya yang telah lama hadir di dalam mimpi-mimpinya,
dan dia memacu kudanya lebih cepat lagi, ingin segera memeluk abangnya.
Persatuannya kembali dengan keluarga dipenuhi keharuan.
Abangnya, Paul, memberinya pelukan yang sangat erat untuk memastikan bahwa dia
telah kembali ke rumahnya sendiri. Ayahnya, yang sudah bau tanah itu,
menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis sesenggukan saat menatap putra
keduanya itu. Kekagumannya kepada Biara tidak pernah berkurang dan dia pun
membantu Ordo kapan saja dibutuhkan. Jasa putra-putra keluarga de Charney yang
sudah tersohor itu kepada jajaran kesatria Templar telah menjadi sumber
kebanggaan dan kehormatan keluarga de Charney selama bertahun-tahun itu, dan
kini keluarga tersebut akan berjuang di pihak Ordo.
Malam itu, ketika anggota keluarga lainnya sudah tidur, Geoffroy membeberkan
kepada ayah dan abangnya bahwa kain suci tersebut telah dipercayakan kepada
keluarga mereka. Dia telah terikat sumpah setia dan mendapat perintah tegas dari
Imam Besar untuk tidak menceritakan keseluruhan kisah kepada mereka. Tetapi hal
itu tidak mengurangi arti penting tugas yang harus mereka emban serta kesetiaan
mereka dalam menjalankan kepercayaan ini.
Demi mengetahui nasib yang hampir bisa dipastikan akan mereka hadapi, si abang
memintanya untuk tetap tinggal di Lirey, bersama mereka dan kain ajaib itu,
menjaganya hingga akhir hayat jika memang harus demikian. Tetapi dia telah
berketetapan akan kembali bergabung dengan saudara-saudaranya di Biara dan tidak
akan tergoyahkan. Dia pun tidak akan mematuhi Imam Besarnya, karena dia tahu
bahwa keberadaannya di Lirey hanya akan membuat orang tahu tempat
disembunyikannya kainsuci tersebut. Tugas serta nasibnya ada di tempat lain, di
Villeneuue du Temple, mendampingi Jacques de Molay.
Namun, selama beberapa hari Geoffroy mau bersenang-senang menikmati waktu di
tengah kehangatan keluarganya. Dia bermain-main dengan keponakannya, yang
bernama sama dengan dirinya dan kelak akan mewarisi rumah keluarga itu. Kawan
kecil yang cerdas dan berani ini mengikuti ke manapun pamannya pergi, memintanya
mengajarkan cara bertarung.
"Kalau sudah besar nanti aku akan menjadi kesatria Templar,"
begitu katanya. Dan Geoffroy hanya bisa menelan ludah, karena dia tahu bahwa Biara sudah tidak
memiliki masa depan lagi, mungkin untuk selamanya.
Pada hari keberangkatannya, Geoffroy muda mengucapkan selamat tinggal kepada
pamannya sambil berurai air mata. Dia merengek meminta kesatria tersebut
mengajaknya serta untuk berperang di Tanah Suci, dan dia sangat sedih karena
tidak boleh ikut. Dalam keluguannya itu, dia tak tidak tahu bahwa pamannya akan
memasuki pertempuran paling berat, melawan musuh yang tak kenal kejantanan dalam
berperang dan tidak memiliki kehormatan, seorang musuh yang bukan bangsa
Sarasen, namun Philippe dari Prancis, raja mereka.
Jacques de Molay sedang berdoa di biliknya ketika seorang pelayan mengabarkan
kembalinya de Charney. Dia meminta agar kesatria tersebut segera dibawa
menghadap kepadanya dan, begitu melihat wajahnya serta menerima laporan singkat
tentang keberhasilan misinya, tanpa membuang-buang waktu dia segera memarahinya
karena bergabung kembali dengan saudara-saudaranya.
Sepanjang perjalanannya baliknya ke benteng Templar, de Charney telah mendengar
desas-desus tentang gerakan-gerakan terakhir Philippe melawan Biara, dan
sekarang Imam Besar menceritakan kepadanya tentang perkembangan fatal yang
terbaru. Tampaknya, hanya beberapa hari lagi mereka akan diadili secara bersama-
sama dan dipanggang di kayusula. Namun pertama-tama mereka akan disiksa dan
difitnah habis-habisan, karena raja menuduh para anggota Templar mempraktikkan
agama pagan dan sodomi, serta memuja setan dan bersujud di hadapan berhala yang
mereka sebut Baphumet. Sebenarnya memang ada satu sosok yang dipuja para kesatria Templar dari segala
penjuru dunia di Rumah-rumah Induk mereka, namun nama-Nya bukan Baphumet.
Mungkin di suatu tempat, seorang pelayan yang tak setia telah disuap untuk
membeberkan detail-detail kehidupan di dalam dinding Biara dan telah membisikkan
bahwa kesatria-kesatria itu seringkali mengurung diri mereka di dalam sebuah
kapel, tempat tak seorang pun boleh masuk, dan di sana mereka berdoa. Dan di
dinding kapel rahasia itu terlihat sebuah lukisan, sebuah gambar sosok tubuh
yang asing, sebuah berhala, yang mereka sembah.
Benteng Villeneuve du Temple bukan lagi tempat perlindungan yang sakral dan tak
bisa ditembus. Para prajurit raja sudah bisa masuk dengan bebasnya dan mengambil
apa saja yang mereka temukan. Hanya sedikit yang bisa diambil dan tidak ada
tanda-tanda ke mana perginya harta kekayaan itu. Berbulan-bulan sebelumnya,
Jacques de Molay telah membagi sisa-sisa emas yang ada dan menyebarkannya ke
Rumah-rumah Induk di tempat-tempat yang jauh dan memindahkan harta karun biara
ke Skotlandia, yang merupakan tujuan pengiriman dokumen-dokumen rahasia mereka.
Kemarahan Philippe benar-benar memuncak.
Namun ada satu harta karun, harta karun paling berharga, yang dia yakin pasti
masih di wilayah kekuasaannya.
Dia mengirimkan seorang duta ke benteng tersebut, Comte de Champagne, yang


Misteri Kain Kafan Jesus The Brotherhood Of The Holy Shroud Karya Julia Navarro di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

muncul di gerbang Benteng dan meminta dipertemukan dengan Imam Besar. Jacques de
Molay menerimanya dengan sikap khasnya yang tenang dan berwibawa.
"Saya datang atas nama raja," kata bangsawan tersebut dengan gagahnya ketika
tinggal mereka berdua. "Saya sudah memperkirakan demikian. Jika bukan karena itu, pasti saya tidak akan
bertemu dengan Anda."
Imam Besar tetap berdiri, dan dia tidak mempersilakan Comte de Champagne duduk,
sebuah penghinaan yang melukai perasaan halus bangsawan tersebut dan juga
melukai dia yang sudah amat menguasai tata krama istana. Dia datang membawa
wewenang penuh dari Raja Prancis. Namun dia gentar juga menghadapi tatapan tajam
kesatria tersebut. "Yang Mulia berharap Anda sudi menerima tawarannya: nyawa Anda sebagai ganti
atas Kafan Suci yang dipakai untuk menguburkan Yesus. Raja sungguh yakin relik
tersebut ada di tangan Biara, Raja Louis kita yang telah menjadi santo juga
percaya demikian. Dalam arsip-arsip kerajaan terdapat dokumen-dokumen mengenai
hal ini, laporan dari duta besar kami untuk Konstantinopel, berjilid-jilid hasil
kerja mata-mata istana kekaisaran, pertanyaan rahasia dari Kaisar Balduino
kepada pamannya Raja Prancis. Kami tahu bahwa kafan Kristus ada ditangan Biara.
Anda menyembunyikannya."
Jacques de Molay menyimak ucapan Comte de Champagne sambil membisu, wajah maupun
tubuhnya sama sekali tidak bereaksi, benar-benar tanpa emosi. Tetapi di dalam
batinnya dia bersyukur kepada Tuhan karena telah meramalkan pentingnya
pemindahan relik yang, menurutnya, pada saat itu sudah aman di Castro Marim, di
bawah perlindungan Jose Sa Beiro yang baik.
Ketika bangsawan tersebut sudah selesai berbicara, Imam Besar menjawab dengan
tenang, "Tuanku yang baik, saya berani menjamin bahwa relik yang Anda maksud itu
tidak ada pada kami. Bagaimanapun, Anda boleh saja yakin bahwa meskipun relik
tersebut pernah ada pada kami, saya tidak akan pernah sudi menukarnya. Raja
tidak boleh menyamakan nilai harga diri orang lain dengan harga dirinya
sendiri." Wajah de Champagne memerah mendengar hinaan kepada rajanya.
Namun dia tetap berusaha. Dia yakin kesatria yang kasar ini bisa diajak
menggunakan akal sehatnya.
"De Molay, Raja akan menunjukkan kemurahan hatinya kepada Anda. Pikirkanlah!
Anda ingin mati demi sesuatu yang sebenarnya milik Raja, milik Prancis, dan
milik kaum Kristiani."
"Milik" Jelaskan mengapa relik itu milik Philippe.
"Bangsawan tersebut nyaris tidak bisa menahan murka. Dia pasti akan senang
melihat orang yang disebut "imam" ini beserta kawan-kawannya mengiba-iba memohon
belas kasihan yang kini mereka tolak dengan congkaknya.
"Kita berdua sama-sama tahu sebanyak apa emas yang dikirim Louis, Raja Louis
yang baik, ke Bizantium untuk ditukarkan dengan relik suci itu. Dan Anda tahu
bahwa Kaisar sendiri setuju bahwa hendaknya kafan Kristus itu menjadi milik
Louis, sebelum kafan tersebut dicuri!"
Kesatria Templar tersebut menepis ucapannya.
"Saya tidak punya urusan dengan perdagangan antar-raja. Nyawa saya ini milik
Tuhan; Raja boleh mengambilnya dari saya, tetapi nyawa saya tetap milik Tuhan.
Pergilah dan beritahu Philippe bahwa saya tidak memiliki benda yang dia cari,
tetapi kalaupun benar-benar punya, saya tidak akan pernah menyerahkan benda itu
ketangan orang-orang macam dia, meski ditukar dengan apapun, termasuk nyawa
saya. Saya adalah laki-laki terhormat."
Tidak lama sesudahnya, Jacques de Molay, Geoffroy de Charney, dan para kesatria
Templar lain yang bertahan di Villeneuve de Temple ditangkap dan dibawa ke
penjara bawah tanah milik raja.
Philippe dan Prancis memerintahkan para penjaga tahanan untuk menyiksa kesatria-
kesatria Templar itu tanpa kenal belas kasihan. Mereka harus memberi perhatian
khusus kepada Jacques de Molay, sampai mereka mendapatkan jawaban yang
diinginkan Philippe, yakni, di mana Imam Besar itu menyembunyikan relik suci
yang mengandung gambar Kristus itu.
Teriakan-teriakan orang-orang yang tersiksa itu menggema di dalam dinding tebal
penjara bawah tanah tersebut. Sudah berapa hari telah lewat sejak mereka
ditangkap" Para kesatria Templar itu sudah tidak ingat lagi hitungan hari.
Dengan tulang remuk karena ditarik dengan alat penyiksa, disundut dengan besi
yang membara, dikuliti dan kemudian disiram cuka, sejumlah kesatria mengakui
kejahatan-kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan sambil berdoa agar
penderitaan mereka segera berakhir. Tetapi pengakuan mereka sia-sia belaka,
karena siksaan yang mereka terima terus-terusan menganiaya mereka tanpa ampun.
Pada saat-saat tertentu, seorang lelaki dengan wajah bertutup tudung
memerhatikan dari kegelapan, menyaksikan penderitaan yang mendera para kesatria
yang dahulu pernah mengangkat pedang dan mempertaruhkan nyawa mereka satu-
satunya untuk membela salib.
Dengan bersuka ria di atas penderitaan mereka, sambil tersenyum hambar penuh
ketamakan dan kekejaman, Philippe biasanya memberi isyarat agar penyiksaan itu
dilanjutkan... Suatu malam dia meminta diantarkan menghadap Jacques de Molay. Imam Besar yang
tubuhnya sudahremuk dan berdarah-darah itu nyaris tidak bisa lagi melihat,
tetapi dia tahu siapa yang ada di balik tudung itu. Terbitlah seulas senyum di
bibirnya ketika raja itu meminta dia mengaku di mana dia menyembunyikan Kafan
Suci Yesus. Pada akhirnya, Philippe beranggapan sia-sia saja dia melanjutkan itu. De Molay
tidak akan menyerah. Kini hanya tinggal eksekusi di depan umum, agar dunia tahu
bahwa Biara telah ditumpas untuk selamanya.
Keputusan pemberian hukuman mati untuk Imam Besar Biara dan para kesatria yang
selamat dari penyiksaan atas perintah Raja itu ditanda-tangani pada 15 Maret
1314. Pada tanggal sembilan belas, suasana kota Paris gegap gempita seperti ada
pameran, karena Raja telah memerintahkan agar di depan puncak menara Notre Dame
yang agung dibuat api unggun raksasa di mana Jacques de Molay akan dibakar di
depan orang banyak. Para bangsawan maupun rakyat jelata berkumpul untuk
menyaksikan kejadian tersebut, dan terdengar desas-desus bahwa Raja sendiri akan
hadir. Ketika matahari baru menampakkan wajahnya, lapangan tersebut dipenuhi orang-
orang penasaran yang ribut dan saling dorong berebut tempat terbaik untuk
menyaksikan penderitaan terakhir orang-orang yang dulunya adalah kesatria hebat.
Orang-orang selalu senang melihat tokoh-tokoh perkasa di muka bumi dipermalukan,
dan Biara adalah sosok yang perkasa, meskipun keperkasaan mereka lebih banyak
digunakan untuk memberi kebaikan daripada kejahatan.
Jacques de Molay dan Geoffroy de Charney dinaikkan kereta kuda dan dibawa ke
alun-alun. Mereka tahu bahwa rasa api tersebut akan mengakhiri rasa sakit mereka
untuk selama-selamanya. Seisi istana telah mengenakan busana terbaik mereka, dan Raja tertawa-tawa serta
bercanda dengan para putri. Dia, Philippe, Raja Prancis, telah melakukan apa
yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya dia menjatuhkan martabat Biara.
Sicantik Gila Gunung Gede 2 Pendekar Naga Putih 30 Dendam Pendekar Cacat Kucing Suruhan 11
^