Pencarian

Pembawa Kabar Dari 3

Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem Bagian 3


berbunyi: Apa artiku dan bagi dunia ini" Pupuslah harapanku
Hanya dengan kilat para penipu
Tidaklah aku menafikan elegannya saksi-saksi jujur
Aku terangi perasaan dengan kebaikan mengingat
Siapa duta bangsa selain aku jika aku pergi
Aku bukanlah diri seribu ketulusan
Keindahan aku buat hamparan
Aku melampaui batas waktu para pengembara
Meski dia adalah majikan Yang wajib terikuti Namun kau tak pernah mengikutinya sebagai seorang pengikut
Seorang kaya pemilik angan-angan kepuasan
Tidak cukup setetes air di depan muka seorang pemuasnya
Tetap saja Ibnu Jahwar berpaling muka dirinya. Hubungan Ibnu Zaidun dengannya
begitu dekat seolah seperti anaknya, Abu Walid Muhammad bin Jahwar. Ia tidak menemukan
kebencian dari ayahnya selain kecintaan seorang ayah pada anaknya.
Setelah pulang dari Patoleous, Ibnu Zaidun langsung menuju rumah Wilada. Ia
menemuinya dalam keadaan kecut seolah-olah seisi rumah itu penuh kebencian.
Dalam keadaan marah dan nada tinggi, Wilada berkata, "Tidak, wahai Muhammad!
Telah sampai kepadaku gunjingan itu sehingga aku melupakan kebesaran dan kemuliaan
kedudukanmu di antara para pejabat Andalusia yang lain. Telah sirna kegemilangan dari
sosokmu," ia kemudian mendongakkan kepalanya yang bisa menggemparkan Cordova,
"walau diriku selalu berkata
bahwa bait syairmu adalah yang terindah dan abadi sepanjang zaman."
"Tidak, tidak. Puanku. Syair dan keindahan tidak akan menyatu!"
Seraya berkelakar, Wilada menjawab, "Keduanya menyatu, wahai Tuan Menteri!
Bukanlah syair kecuali keindahan dan bukanlah keindahan."
Wilada kemudian menarik tangan Ibnu Zaidun ke sisi ranjang. Setelah keduanya
terduduk, ia berkata, "Adakah jalan untuk membebaskanku dari Ibnu Abdus" Wahai Abu Walid, dia
sering memergokiku laksana pemburu yang mengejar buruannya. Dia mewajibkan aku untuk
mencintainya sebagaimana Ibnu Jahwar mewajibkan pajak atas kafir zhimmi. Ia
seolah-olah orang yang tidak tertolak setiap keinginanya dan tidak berlaku penentangan atas
kekuasaannya. Dia memasang perangkap yang ia duga bahwa hati yang baik hanya milik janjinya
sehingga ia merasa bebas untuk menentukan segala sesuatu sesuai kehendak hatinya. Yang lebih pahit
lagi, dia merasa bahwa dialah pemuda tertampan di seluruh Kota Cordova ini. Seluruh
Andalusia tidak ada yang dapat menyaingi kebesarannya, sastranya, dan kekayaannya. Dia selalu datang
mengagetkanku setiap hari di kala engkau tidak ada. Dia meneriakkan cintanya
dengan memelas dan memaksa. Ketika aku tidak berkutik di depannya, aku katakan saja kepadanya
bahwa aku sudah menjadi tunanganmu. Kemarin, dia mengutus seorang perempuan padaku dari
para sahabatnya. Perempuan itu menyanjung kebaikannya dan memaksa aku untuk
mencintainya. Aku pun menolak dengan tegas. Aku menyuruh pulang perempuan itu dengan tanpa takut
dan gentar." Wilada melanjutkan lagi, "Ada lagi seorang lelaki yang lebih gigih dan bodoh
dari Ibnu Abdus. Dialah Abu Abdullah bin Al Qallas Al Patholeous. Si penjilat ini mengira bahwa
seluruh harta kekayaan yang dikumpulkannya selama perang dan revolusi bisa memperoleh
segalanya. Karenanya, aku pun jarang melihat dan menemuinya. Sungguh aku tersiksa oleh
keduanya, wahai Abu Walid! Aku memohon kepadamu mau menuliskanku surat pada Ibnu Abdus bahwa aku
menolak permohonannya dan menjauhkannya dari pintu rumahku!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ibnu Zaidun pun murka dan tampak resah dalam tempat duduknya itu seraya berkata,
"Ibnu Abdus itu sungguh telah aku anggap sahabat. Akan tetapi kini aku membaca pada
kedua matanya penuh dengki dan kebencian. Pantas, kuat dugaanku, dia jugalah yang telah
memfitnahku di depan Ibnu Jahwar." "Apa maksudmu, Abu Walid!"
"Aku juga kurang tahu pasti. Hanya, semenjak aku kembali dari Patoleous, aku
tidak mendapatkan Ibnu Jahwar sebagaimana biasanya."
"Ini benar-benar isu Andalusia! Lihatlah, bagaimana dia merendahkan martabat
kita dan mencerai-beraikan kerajaan kita menjadi beberapa bagian, serta menguatkan dugaan
kita bahwa raja-raja asing itu tidak memiliki apa-apa selain dengki, kebencian, dan
kekayaan" Jangan putus asa, Tuanku. Mereka hanyalah lalat yang tidak memiliki
apa-apa selain bunyi."
Wilada segera mengambil kertas di atas mejanya seraya berkata lantang, "Atas
segala kepercayaanku padamu, Wahai Abu Walid. Hendaklah kautulis sepucuk surat pada
Ibnu Abdus sehingga rumahku bisa tenteram kembali dari ulah busuknya."
Ibnu Zaidun mengambil pena. Setelah menyendiri selama satu jam, ia pun kembali
seraya memberikan sebuah surat yang berbunyi:
Dengan hormat, Wahai yang gelap akalnya, yang terliputi kebodohan, yang terang keruntuhannya,
yang keji kekhilafannya, yang berbuntut penipuan di perangainya, yang buta akan matahari
di siang harinya, dan yang jatuhnya lalat ke dalam minuman!
Wilada pun berteriak seraya berkata, "Sekiranya aku diperkenankan memohon,
hendaklah engkau menulis surat pada Ibnu Abdus itu lebih keji dari kata-kata itu!"
Ia pun merebut kertas surat itu dari Ibnu Zaidun dan mulai mendiktekan kata-
katanya: Hadirmu adalah tiada. Kebahagiaan bagimu adalah penyesalan. Kejelekanmu
menjerumuskan, dan surga bagimu adalah neraka. Bagaimana bisa keburukanmu menghormati
martabatku dan memuliakan kedudukanku" Tidaklah aku begitu bodoh jika segala sesuatu itu, akan
kembali ke pilihannya. Bukan aku mengajarkan bahwa timur dan barat selamanya
tidak akan menyatu sebagaimana tidak akan saling mendekatnya keimanan dan kekufuran.
Wilada hanya berujar, "Aku telah membunuh lelaki ini. Kota-kota ini adalah racun
panah. Penjelasan ini adalah maut berbisa."
Ia menoleh Ibnu Zaidun seraya berkata, "Demi Allah, hendaklah engkau
mencantumkan syair agar tidak tumbuh kesombongannya dan keangkuhannya!"
Ibnu Zaidun lalu mengambil kertas. Setelah merenung selama 1 jam, ia pun
menuliskan: Tampak memotong gembira saat menanti
Menyadarkannya apabila menerangi kegelapan
Waspadalah, waspadalah, karena kemuliaan
Apabila terhias cacat tertolak, maka marahlah
Diamnya sang pemberani yang menggigit
Tidak ada halangan baginya untuk menggigit
Bintang-bintang itu tidak terbit
Timbangan-timbangan itu pun diabaian
Wahai Abu Amir, mana janjimu itu"
Saat tahun-tahun dan kehidupan itu ujian"
Percayalah padaku, aku tidak akan muncul sebagai penyadar . .
Dengan kesia-siaan pemberian pada siapa ia memandang"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk ketenteramanku aku rela mengorbankan otot-ototku
Dan mencurahkannya seandainya terbersit keinginan
Memedayaimu masa Wilada Fatamorgana yang tengah unjuk gigi bak kilat
berkelebatan Layaknya air yang terkepal pengepal
Dan menghalangi ampasnya dari intisarinya
Tidaklah Wilada membaca bait demi bait sampai ia bertepuk tangan kegirangan
layaknya tepuk tangan seorang anak kecil dengan intonasi memerintah. Ia kemudian berteriak
memekik, "Jangan kausimpan dulu penamu sebelum kautulis bait-bait lain untuk si
tolol Ibnu Qallas itu!"
Berteriaklah untuk tulisanku dan dengarkanlali AmbillaJt apa yang kaulihat atau
tinggalkanlah Dekatkanlah jauhnya atau tambahlah Terbanglah untuk akibatnya atau diamlah
Tidakkah kau tahu bahwa satu tahun Membolehkan setelalmya dilarang" BaJtwa usaha telah diperdaya
Dan perasangka telah tertipu" Seolah hari-hari berlalu
Dengan keindahanku namun tak pernah aku hiraukan
Balikkanlali pandangan karena kesewenang-wenangan
Tidak selamanya berbenturan
Dan kamu tidak memasang rumah itu
Dengan cermin dan pendengaran
Sesungguhnya istanamu Al Dahliz
Saat tidak ada kamu di pembaringannya
Wilada pun tertawa terbahak-bahak seraya berkata, "Demi Allah, bahkan bukan
Dahliz! Demi Allah, katakanlah olehmu wahai Ahmad:
Sesungguhnya istanamu adalah istal Saat tidak ada kamu di pembaringannya."
Terkumpullah surat-surat itu. Wilada lalu memerintahkan hamba sahayanya untuk
segera mengirimkan surat-surat itu pada yang ditujunya.
Tak lama kemudian. Abu Bakar bin Zakwan menghadap. Ia disertai Ammar Al Baghie
dan Abdullah bin Al Makrie. Berlangsunglah pembicaraan di antara mereka dalam
berbagai hal. Ibnu Zakwan berkata, "Hari ini telah tersiar berita Cordova yang membuat orang-
orang benci dan fanatik. Yaitu berita mengenai Al Makmun bin Dzunnun, Raja
Tulaitilla dan rencana penyerangan serta penjajahan bangsanya ke Cordova."
Al Baqhie menjawab, "Orang-orang Cordova itu tidak membenci siapa pun di dunia
ini sebagaimana orang-orang Barbar, setelah mereka membentuk suatu pemerintahan.
Mereka pun lalu menjatuhkan dan menghancurkan Al Makmun. Ini tiada lain pewaris keturunan
bangsa Barbar. Dalam pandangan kami, dia hanyalah mitra Al Azvonus."
Ibnu Zaidun pun mencibir seraya berkata, "Kalaulah dia menipu dirinya sendiri
dan menghias tipuannya itu dengan menyerang Cordova, maka dia akan melihat di
sekelilingnya pagar dari pedang dan hati. Lebih baik ia bersembunyi di negeri, mengurungkan niatnya, dan
menyatukan bangsa dari ketercerai-beraian. Kejayaan bangsa Arab-Andalusia tidak akan
kembali sampai mereka mau menyatukan langkah dan hati mereka...."
Ia hanya mengangguk dengan anggukan panjang seraya berkata, "Terpuruklah
Andalusia. Ia mengumpulkan segala dunia sehingga menjadi hiasan sepanjang zaman. Ia mengikat
kekuatan bangsa Arab dengan menyatukan ragam pandangan menjadi satu. Mencetak para
ksatria yang gugur dalam peperangan sebagai pahlawan dan perlawanan sebagai pedang. Saat
bangsa Arab bercerai-berai di negeri yang naas rni, ia benar-benar seperti gerombolan domba
yang dibuat kocar-kacir oleh serigala liar. Ia diliputi rasa takut dan lapar yang tidak
mendapatkan naungan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benteng-benteng. Kami lahir di negeri yang tidak banyak memiliki senjata. Akan
tetapi kami memiliki semangat, kekuatan, dan keyakinan akan kebenaran pada pasukan tentara
yang gagah berani, yang memiliki kekuatan yang dapat mengguncangkan gunung-gunung. Aku
tidak akan menyebut Thariq. Kekuatan dan keberaniannya benar-benar menjadi teladan
sepanjang zaman. Bangsa asing di sekitar kami tidak henti-hentinya membicarakannya sehingga
menyifati hati orangorang Andalusia sebagai tidak kenal takut. Seorang Arab yang
memiliki kekuatan 12.000 pasukan
bangsa Barbar maupun Arab.
Senjata terkuat mereka adalah pedang tajam dan panah runcing. Mereka menyerang
tentara Ludrick. Dia bagaikan ombak di lautan. Namun, jangan kaupuji aku akan kekuatan
mereka dan semangat pasukan mereka sehingga tertulis sebuah kekaguman. Kini, pedang-pedang
mereka kembali tertawa di sarung-sarungnya! Ke manakah gerangan kekuatannya" Dan ke
mana pula semangat mereka" Mana badai semangat Islam yang tidak membuat gentar benteng
yang menghadang di depannya dan tidak meyulitkan dirinya menyusuri dengan pengintai
kendatipun tertutupi di balik ketebalan awan?"
Ia masih melanjutkan, "Manakah masa-masa Abdurrahman Al Dakhil" Dialah pemuda
berke- bangsaan Samiri yang pandai, datang ke Andalusia sendirian. Belum sampai satu
tahun, ia ternyata telah berhasil menggenggam Andalusia dalam tangannya. Mana pula masa Al
Nashir Li Dinillah di mana manusia adalah manusia dan waktu adalah waktu. Saat raja-raja
asing ketika itu selalu memohon belas-kasihnya dan saling berlomba-lomba untuk
menaatinya" Matahari diutus kepadanya, duta Raja Konstantinopel Agung, dan mereka membawa
berbagai macam hadiah dan perbekalan. Mereka sampai di Cordova pada hari kesaksian.
Mereka menghadap dengan rendah hati di hadapan sang Raja. Mereka datang kepada Al
Nashir dengan ketulusan niat dan limpahan barang bawaan."
"Dan, di manakah masa-masa putera Al Hakam Al Mustanshir Billah saat ia
berencana menyerang negeri Raja Yordania" Sang Raja pun gelisah. Ia lalu pergi bersama 20


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang pengikutnya kepada Al Hakam guna meminta perlindungan dan naungan di bawah
kekuasaannya. Tatkala ia sampai di Cordova, yang pertama ia tanyakan adalah makam Al Nashir Li
Dinillah. Ketika ditunjukkan kepadanya, ia akan bersimpuh di hadapannya dengan khusyuk
seraya mencopot baju kebesarannya dan menundukkan punggungnya. Al Hakam
memerintahkannya agar singgah di daerah kincir air. Ia tinggal di sana selama dua hari. Ia
kemudian mendapat undangan Al Nashir. Ia lalu mempersiapkan hari kunjungannya itu dengan sejumlah
hadiah dan kekuatan. Bergabunglah mereka di antara barisan balatentara itu. Sang Raja pun
bingung, bolak- balik memikirkan terlalu banyaknya tentara yang ia pimpin. Sampailah ia di pintu
gerbang utama dan ia pun turun. Demikian juga mereka tatkala sampai di ruangan
sang khalifah, Raja Yordania
itu pun diperkenankan untuk masuk. Para pengikutnya menyusul di belakangnya."
"Tiba saatnya ia menghadap Khalifah Al Mus-tanshir Billah. Ia berdiri sambil
membuka mahkotanya dan juga pakaian kebesarannya. Yang tersisa hanyalah baju biasa. Ini
dilakukan untuk menghormat sang khalifah. Ketika ia menghadap kursi singgasana khalifah,
ia pun tunduk bersujud khidmat. Ia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang
khalifah seraya menciuminya dan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Segala kebesaran
dan keagungan sang khalifah yang ada di depannya benar-benar membuat dirinya
terkagum-kagum. Kewibawaan, kekuasaan, dan kerajaannya! Benar-benar masa yang indah di mana para
penyair dan sastrawannya berada dalam kedudukan yang luhur."
"Inilah kebesaran bangsa kita! Inilah kekuasaan negeri kita! Di manakah kejayaan
yang kini mulai sirna itu" Kejayaan yang ditelan perjalanan sejarah sehingga
tidak muncul lagi ke permukaan?" Ibnu Al Makrie segera menyahut, "Masya Allah, kenyataan ini sungguh luar biasa!"
Ibnu Zawan tidak tinggal diam, ia berkata, "Sungguh engkau seorang sejarawan,
wahai Abu Walid?" Ibnu Zaidun hanya tersenyum kecut seraya berkata, "Wahai Abu Bakar, apa gunanya
obrolan ini jika tidak memiliki hati dan telinga" Kita mesti bangkit. Kita jangan
menutup mata dari bahaya yang mengancam. Sesungguhnya raja-raja asing itu,
setelah mereka merebut wilayah Astorias,
Lion, dan Qistalla, target mereka selanjutnya adalah memecah-belah bangsa Arab.
Menyebar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
fitnah di antara para pemimpinnya sehingga mereka mencurigai satu sama lainnya.
Menolong kelompok yang satu dan mencampakkan kelompok yang lainnya. Akibat di balik itu
semua adalah kehancuran seluruhnya. Jika kita tidak melawannya dengan gigih, niscaya ajal
mendekat dan sirnalah kejayaan kita. Ibnu Jahwar telah berbicara banyak soal ini. Namun, ia
terlalu berpikir panjang sambil mendongakkan kepalanya. Ia tidak lebih hanya
mampu berkata, 'Engkau terlalu
sombong, wahai Anak Muda!"
Ibnu Al Makrie menyela, "Ibnu Jahwar adalah orang yang paling mampu untuk
memecahkan masalah ini. Dengan kepintaran, keberanian, serta keluasan pandangannya, dia
tidak akan tinggal diam kecuali memang dia tidak menyadari sebagai pelanjut
dinasti kerajaan. Rakyat Cordova
diciptakan dari darah kecintaaan mereka dan tidak menyerahkan kematian kecuali
jika berada di bawah komando sang raja ataupun khalifah."
Ibnu Zaidun meenggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, "Benar, wahai Abu
Yazid." Buru-buru si busuk itu menyela, "Tidak ada seorang pun kini di Cordova yang
berani melawan orang-orang asing itu. Sejak lama orang-orang selalu berlindung
di sekitar seorang pemuda putera Al Nashir li Dinillah yang bernama Ibnu Al
Murtadha. Akan tetapi, dia kini tidak diketahui rimbanya.
Aku kira, kita layak mengharapkan kedatangannya."
Al Baqhie menggeser tempat duduknya seraya berkata dengan suara merendah, "Wahai
putera saudaraku, aku sungguh khawatir, bukankah engkau mengetahui rahasia segala
sesuatu" Sebagian orang menganggap Ibnu Al Murtadha telah kembali ke Cordova bulan-bulan
ini. Tidak ada yang tahu di mana ia kini tinggal selain pengikut setianya."
Wajah Ibnu Zaidun pun mengerut. Dengan suara tinggi ia berkata, "Siapa yang
memberitahumu tentang hal ini?"
"Tidak memberitahuku siapa pun. Ini sekadar praduga, Saudaraku. Dan, sebagian
prasangka itu dosa. Ini isu yang tidak berdasar, hasil rekayasa para pembohong agar
menyurutkan nyali para pengecut."
Akhirnya mereka pun mengakhiri obrolannya. Setelah mereka berpamitan kepada
Wilada, mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Tatkala Ibnu Zaidun tiba di rumahnya, ia menoleh ke belakang dan melihat sesosok
laki-laki yang sedari tadi membuntutinya dari belakang. Ia pun segera bersembunyi di balik
dinding. Berubah kecutlah wajah Ibnu Zaidun. "Binasalah wahai mata-mata Cordova"!"
0==0 07 Setiap pagi, Ibnu Jahwar biasa duduk-duduk beserta anak dan asistennya, Abu
Walid, untuk menelaah berbagai informasi seputar bangsanya. Terlebih mengkaji apa yang telah
diberitahukan para mata-matanya dalam berbagai hal.
Hari itu, Ibnu Jahwar tampak sangat pucat dan kusam. Ia membawa kertas kecil di
tangannya. "Sungguh aku mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Firasatku benar tentang
lelaki itu. Namun, aku memohon kepada Allah agar semua itu tidak benar."
"Siapa dia itu, Tuan?"
"Seorang lelaki pintar, cerdas, terkenal, seorang penulis, penyair, dan
politikus ulung! Aku kagum dengan kelebihan-kelebihannya itu. Aku sangat ingin
bertemu dengannya dan menyerahkan urusan kerajaan serta jabatan kepadanya. Aku menilai, dia pantas
untuk menduduki dan menerima kehormatan tersebut. Bahkan jika perlu, aku akan membayarnya dengan
gaji yang tinggi. Akan tetapi, aku selalu mengurungkan niatku karena khawatir jabatan yang
kuberikan itu tiada berarti. Walau dia bukanlah seorang yang angkuh dan sombong.
Aku takut ia mengeruk keuntungan bagi dirinya dan negara dengan pendapatan-pendapatan yang nista. Dari
sini aku memilih diam. Aku berusaha puas untuk membatasi pekerjaannya pada urusan-urusan
pajak dan tebusan walau dengan sangat berat hati. Meski pada akhirnya aku membohongi diri
sendiri. Aku Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendustakan firasat benarku. Ia pun menjabat salah satu kementerian. Ia
membaktikan dirinya pada negara sebagai majikan yang taat. Akan tetapi, kini aku sudah lama tidak
mendengar kabar beritanya. Aku sudah menebak jelek tentangnya."
"Tuan menginginkan Abu Walid bin Zaidun?"
"Ya, dia anakku."
"Tuan, Ibnu Zaidun adalah orang yang paling tulus membelamu dan orang yang
paling jujur menasihati kepentingan-kepentingan bangsamu. Ia paling banyak berkorban dalam
membela bangsa. Setiap waktu, dia menunjukkan syair indah kepada kami. Semua syair itu
memujimu, memuliakanmu, dan menghormati kebesaranmu.
Dalam pujiannya itu tidak terasa ada unsur keterpaksaan atau menipu. Kejujuran
syairnya menjadi nyanyian indah para sastrawan. Dari setiap baitnya terpancar ketulusan
dan ketenteraman jiwa. Ia terkadang begitu bangga kepada dirinya. Itulah
kelemahannya, walaupun orang seperti dia layak dipuji. Terkadang pula ia sangat ambisius, akan tetapi
tiada lain hanya untuk mengokohkan bangsanya dan membangkitkan kesadaran
umatnya." "Aku tidak mengira demikian, wahai Abu Walid! Dia memujiku dalam syairnya lebih
banyak dari apa yang kauceritakan. Akan tetapi, aku khawatir di balik semua
pujian itu ada dendam yang
mendengki dan menjadi penghalang bagi kedua mataku untuk menilai keburukan yang
dikerjakannya." Dengan nada kesal dan ketus, ia pun melanjutkan ucapannya, "Apakah benar ia
tulus memujiku sementara dia juga memuji Sahib Patoleous dan membatasi setiap
sifat dari kebesaran sekaligus
mengensampingkan raja-raja yang lain?"
Ia pun mendendangkan sebuah syair:
Tegas kebijakan larangannya adalah keuntungan
Orang yang paling terkenal dalam kedudukannya tiada tersaing
Ia membebani manusia dengan perintah dan larangan
Ia juga raja paling taliu akan janji dan pengingkarannya
Awan menaungi dan matahari pun menyinari
Laut bergelombang dan pedang pun terhunus
Penuh malu, tertawanya memaafkan orang lain
Luhur tutur katanya dan terpelajar cara diskusinya
Bukan kami jika diseralii urusan mengingkari
Dan selain kamu jika memiliki harta rampasan perang
Menipumu jika terpenuhi hasil pajak yang berlimpah
"Jika saja Al Muzaffar termasuk orang yang paling lugas kebijakannya, selalu
membebani, rakyatnya dengan perintah dan larangan, maka apa lagi yang bisa kupercaya" Lalu,
siapa lagi selainnya yang diserahi urusan menolak" Siapa pula selainnya yang jika diserahi
harta rampasan ia memonopoli" Apabila ia menyindir maka bagi ibunya Dewa Hubal!"
"Wahai, Ayah," kata anaknya,-seorang penyair itu jika memuji sering berlebih-
lebihan. Semua orang mengetahui hal ini bahkan sampai melebihi batas. Syair
pujian itu adalah kelebihan dan
keistimewaan bagi para penyair sejak Ibnu Rabi'ah menciptakan syair. Bahkan
seandainya seorang penyair hendak menggambarkan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan
sekalipun. Syair bukanlah filsafat ataupun ilmu logika. Akan tetapi, ia adalah kesangsian yang
diekspresikan melalui nyanyian." "Engkau benar, Anak Muda! Syair adalah kesangsian yang diekspresikan melalui
nyanyian. Demikian pula syair lelaki itu ketika memujiku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ibnu Jahwar kemudian menyerahkan sepucuk surat yang ada di tangannya seraya
berkata, "Wahai Abu Walid, bacalah surat ini. Jelaskanlah padaku maksud isi surat yang
tersembunyi itu bagiku."
Abu Walid pun membacanya:
Dari Ibnu Abdus Teruntuk:
Kepala Dewan Pemerintahan Dengan hormat,
Telah memberitahukan seorang lelaki yang diperintah untuk membuntuti dan
mengawasi Ibnu Zaidun dari kejauhan. Semenjak Ibnu Zaidun di rumah Patoleous, kebingungan
senantiasa menyertainya. Dia berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Ia juga
mengunjungi suatu kaum yang sebelumnya belum pernah dikunjungi. Bahkan, seminggu
yang lalu, ia berkali-kali
mengunjungi rumah Rajih Al Slianhagie. Dia selalu berpamitan di depan pintu
rumafinya. Aku pernah mendengar dia berkata suatu kali, 'Kelak tiba saatnya
kemudahan dan udara segar.' Ia mengunjunginya dua hari yang lalu setelah Tsabit
Al GhafiqL Ia ke luar dari rumah itu selalu dengan muka masam, merenung, dan
sepeti orang kebingungan. Kemarin, ia bersama Ibnu
Zakwan di rumah Wilada. Keduanya baru ke luar dari rumali itu sebelum subuh.
Keduanya berbincang-bincang seputar masalah yang agaknya sangat penting.
Belum lagi Abu Walid selesai membaca surat tersebut, Ibnu Jahwar tiba-tiba memekik, "Apakah kau perhatikan laki-laki ini tidaklah berperangai selain orang
yang ragu dan pengacau yang tidak dapat menutupi rahasia dari mereka kecuali
kelemahan dan kepengecutan sehingga mereka
menjadi kayu bakar untuk apinya?"
"Aku khawatir, Ayah, musuh-musuh Ibnu Zaidun itu telah memerdayakan tipuan
mereka dengan membisikkan isu pada pendengaranmu. Sehingga mereka merasa telah berhasil
mempengaruhimu. Seandainya engkau mau melintaskan pandangan dari sejumlah
pandangan yang meyakinkan, niscaya ia akan beterbangan di udara."
"Apa maksud ini semua, Tuanku" Semua yang aku baca dan dengar dalam pertemuan
ini menyatakan bahwa ia adalah orang yang prestisius. Hampir tidak ada cela maupun
kelemahan. Dia banyak dipuji raja-raja bangsa lain. Jika ia memuji mereka seolah-olah Anda
yang berbicara. Ia selalu menghormati negaramu dengan syair karena dia adalah
duta dan menterimu. Ia memiliki
pandangan yang bijak. Politikus pemerdaya ketika ia menjadikan musuh-musuh
memujimu dan para pengumpat berubah menghormatinya. Abdullah bin Qais, seorang pemantra
bermadzhab Zubairi yang keluar dari Dinasti Umayyah, ia kini mau memuji Mus'ab bin Zubair
dan Abdul Malik bin Marwan. Adalah Kamith bin Ali termasuk salah seorang
pengagum Dinasti Umayyah dan
termasuk seorang penyair yang membenci mereka. Semua isi yang ada dalam surat
ini adalah omong kosong yang tidak perlu dipedulikan dan dipertimbangkan."
"Inti surat itu hanyalah bualan bahwa Ibnu Zaidun bertemu si fulan, si fulan,
dan si fulan. Ada apa dengan ini semua, Ayah" Engkau pun sering bertemu,
bergaul, dan mengunjungi mereka di
rumah-rumah mereka. Dan, jika dia terkadang muram, terkadang merenung, dan
terkadang berbincang-bincang, ini semua tak lain perkataan yang tidak terbang dengan kedua
sayap dan tidak berjalan dengan kedua kaki. Seandainya kemuraman, termenung, dan berbisik-
bisik itu menunjukkan tindakan mencurigakan untuk menghancurkan negara, maka negara tidak
akan bertahan lama di muka bumi ini barang satu hari sekalipun.


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Robeklah surat ini, Tuanku, dan buanglah segala keraguan yang ada di benakmu!
Abaikan isu ini! Tidak ada apa pun yang berada di balik isu ini selain orang-orang yang
menghunus pedang untuk memenuhi dendam permusuhan mereka. Bumikanlah orang-orang yang telah
menebarkan isu-isu sesat itu. Karena engkau tidak akan menemukan orang seperti Abu Walid
yang keturunannya mulia, tinggi cita-citanya, dan rasa patriotisme yang luar biasa."
"Aku harap engkau adalah informan yang jujur, wahai Anakku! Karena aku sangat
menginginkan Ibnu Zaidun menjadi pembela dan pahlawan bagi negeri ini."
"Jangan kaupedulikan cerita Ibnu Abdus itu, Tuanku! Dia itu tiada lain saingan
dan rival Ibnu Zaidun dalam cinta maupun politik."
"Dalam cinta?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ya, dalam memburu cinta Wilada."
Ibnu Jahwar tersenyum seraya berkata, "Inilah cinta yang menumbuhkan kebencian!"
Ia kemudian menoleh kepada anaknya dengan tatapan yang cukup lama.
"Tutuplah pertemuan ini, wahai Abu Walid. Jangan kauceritakan hal ini walau oleh
dirimu ketika menyendiri. Aku memohon kepada Allah agar senantiasa menjauhkan
kita dari kebencian dan memberi petunjuk agar kita mencintai apa yang Dia
cintai." Pada pagi hari ini, Wilada mengunjungi Naila. Ia mendapatkan Naila belum
beranjak pergi dari tempat tidurnya. Para pelayannya membereskan tempat-tempat
yang masih berantakan bekas pertemuan semalam. Naila menerima Wilada dengan
penuh rasa kangen dan kasih.
Ia menyuruh Wilada untuk mendekatkan kursinya di sampingnya seraya berkata,
"Bagaimana kabar Abu Walid" Anak yang lemah ini belum lagi datang mengunjungiku
akhir-akhir ini." "Ibnu Zaidun kini tidaklah seperti pandangan orang-orang dulu kepadanya. Dia
kini banyak diserang dan diliputi kegamangan. Orang-orang telah mencabut
kebahagiaannya di setiap tempat dan merampas tertawanya dari mulut yang lara."
"Pandangan miring orang-orang akan bertambah manakala mereka mempertinggi
kedudukan dan jabatan mereka. Bukankah engkau berharap agar tunanganmu itu
menjadi seorang menteri"
Ketika kelak cita-citanya terwujud, niscaya semakin kencang ujiannya dan seakan
sulit pula lengannya untuk mewujudkan kesungguh-sung-guhannya."
"Tidak, Bibi. Masalahnya bukan sekadar popularitas dan jabatan. Akan tetapi aku
ragu, jangan-jangan ia memiliki urusan besar yang menyita pikirannya sehingga ia
mencurahkan segalanya untuk memikirkannya."
Naila tertawa terbahak-bahak. "Masalah itu tidak seperti yang engkau duga, wahai
Wilada. Jika ia banyak menyita pikiran itu karena dia sangat mencintaimu. Ia
menghitung hari agar menjadi seorang jejaka sejati bagi seorang gadis yang
tercantik. " Wilada tersenyum girang dan berseri-seri. "Bibi, aku hanya khawatir musuh-musuh
itu tengah memedayainya. Aku juga khawatir Ibnu Jahwar mendapatkan pendengaran-
pendengaran miring tentang dirinya." ,
"Aku tidak begitu yakin, Anakku, jika musuh-musuhnya itu akan mengotori
pengaruhnya. Tangan mereka tidak cukup panjang untuk menodai budi pekertinya. Bahkan
menurutku, kendati Ibnu Jahwar adalah orang tegas dan mahal senyum, ia justru
seorang yang pemurah. Bagiku, beliau ibarat adonan roti buatan si ahli pembuat
roti. Satu kata dariku cukup untuk sekadar menghalau para pembisik-pembisik di
telinganya dalam beribu-ribu kata."
"Aisyah binti Galib pernah menemuiku pada suatu hari. Tampak padanya kecintaan
dan ketulusan yang mendalam padaku. Ia berbicara mengenai pencuri surat-surat
Ibnu Zaidun dari lemarinya itu sebagai bahan lelucon dan senda gurau.
Ia bersumpah dengari kekuatan imannya bahwa ia menginginkan untuk mengembalikan
surat-surat itu pada pemiliknya.
"Aku yakin, setiap janji dan harapannya itu hanyalah dusta dan rekayasa untuk
mengembalikan cinta butanya sehingga mereka berdua bisa hidup bahagia dan
tenteram. Ia memandang wajahku lama dan memulai pembicaraannya. Namun, tatkala
dia berlagak sombong dan merasa putus asa dari upayanya itu, terbersit dalam
benakku untuk menyakitinya. Aku berangan inilah loyalitas terbaik sebagaimana
yang diharapkan oleh seorang terkasih pada kekasihnya itu. Demi Allah, aku
sungguh bahagia sebelum perempuan-perempuan Cordova menggencarkan langkahnya
dalam meraih simpati Ibnu Jahwar untuk menduduki jabatan kementerian. Ia
memberitahu bibiku bahwa aku adalah orang yang paling disayanginya, paling
dihormati pada masanya, dan paling tinggi kedudukannya. Sungguh aku melihat
'sambutan hangat' di atas sekawanan bagalnya dengan pengawal di sekelilingnya,
dan pejabat-pejabat pemerintahan di belakangnya. Aku memohon kepada Allah agar
senantiasa melindunginya dan membutakan darinya penglihatan para dengki. Ia
menggambarkan harapannya seputar Sahib Patoleous itu dengan: Adakah jalan menuju
kecelaan itu Berapa mata sebelumnya yang sempurna"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Buru-buru Wilada menyela, "Apakah engkau benar-benar jujur semua ini, wahai
Naila?" Naila hanya berkedip ringan dengan salah satu sudut matanya. "Jujur atau tidak,
ia adalah asuhan setiap zaman."
"Bukan asuhan!"
"Lantas, keberatan apa aku menjadikan diriku tolol sehingga berani mengambil
resiko?" "Siapa yang memberitahu isu bohong bahwa Abu Walid memuji Sahib Patoleous dalam
syairnya" Siapa yang meriwayatkan syair ini?"
"Mata-mata! Mata-mata! Mereka itu lebih banyak dari lalat Cordova."
Naila kemudian memandang Wilada seolah-olah ia teringat sesuatu seraya berkata
lancang, "Apa yang kauperbuat dengan Ibnu Abdus, wahai putri Al Mustakfi?"
Muka Wilada tampak marah seraya berkata, "Dengar, Naila! Sebagaimana periwayat
cerita bertutur, saat gunung diciptakan, ia mengeluh karena berat dari pikulan
bebatuannya. Akan tetapi ia mulai tenang ketika mengetahui bahwa Allah
menciptakan yang lebih berat darinya. Mereka
juga bersajak, 'Suatu saat ular akan binasa dengan bisanya sendiri!"
Ia pun melanjutkan ucapannya, "Pikirkanlah! Sesungguhnya Allah telah menciptakan
orang yang lebih bahaya bisanya darimu. Tahukah engkau, Bibi, siapa orang yang lebih
berat dari gunung-gunung dan lebih bahaya bisanya dari ular" Dialah Ibnu Abdus. Aku nyaris
meninggalkan Cordova karena ulahnya. Dengan bebannya, keserakahannya, dan keburukannya, dia
mengajukan sebuah permohonan kepadaku dengan kewajiban untuk mencintainya.
Tidaklah aku kepadanya untuk menghancur-leburkan batok kepalanya yang sombong. Abu Walid pun
melengkapinya dengan beberapa bait yang dapat mengguncangkan tempat tidurnya dan
membuat terbolak-balik bantalnya."
"Kemarin dia datang menemuiku mengadukan surat dan bait-bait syair itu. Dia
memohon kepadaku agar mau memperbaiki keretakan hubungannya dengan Ibnu Zaidun karena ia
merasa berhutang budi dengan persahabatan padanya. Ia menginginkan kerendah-hatian Ibnu
Zaidun. Dia mendesakku agar mau menjadi perantara denganmu agar ia bisa kembali berbincang-
bincang denganmu dan agar kau mau menerimanya kembali dalam perkumpulanmu serta
menganggapnya seorang sahabat yang tulus."
"Akan lebih baik bagiku dan baginya jika ia tidak bergabung dalam perkumpulanku
lagi, Naila!" "Tidakkah kau merasa bingung dan bimbang dalam soal ini" Menurutku, bukanlah
kebetulan belaka jika Aisyah datang kemudian disusul Ibnu Abdus. Ini menunjukkan seolah-
olah keduanya satu dalam menyukai Ibnu Zaidun dan menghormatinya. Aku melihat di balik itu
semua ada kepentingan. Hendaknya Abu Walid berhati-hati pada semua sahabatnya. Hendaklah
tetap waspada dan berjaga-jaga."
"Apa yang mesti saya perbuat, Bibi?"
"Waspada dan berjaga-jaga!"
Rasa takut seolah-olah mempercepat bangkitnya dari berdiri, seolah-olah ia
hendak meloncat padanya seraya berkata, "Aku sering menasihatinya. Tetapi dia tidak peduli dan
tidak mengambil pusing. Dia lebih taat padamu dan lebih mendengar nasihatmu."
"Serahkanlah urusan ini padaku, Putriku. Semoga ia mau mempertimbangkannya."
Ia kemudian segera menuju pintu sambil otot-otot tubuhnya gemetaran.
0==0 Sore hari ini telah berkumpul empat orang tokoh di rumah Aisyah. Seandainya
iblis makhluk Allah yang paling tinggi teknologinya, yang empat orang itu justru ingin lebih
jahat, tipudaya, dan lebih buruk lagi. Empat tokoh itu tiada lain; Abu Amir bin
Abdus, Ibnu Al Qallas, Ibnu Al Makrie, dan Aisyah. Mereka menutup pintu bagi
selain mereka. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seraya menoleh ke arah Ibnu Al Marie, Aisyah berkata, "Suatu kehormatan
kedatangan Anda di pertemuan kami, wahai Abu Yazid! Engkau tahu dan orang-orang
pun mengenal jika engkau adalah orang yang paling dekat dengan Ibnu Zaidun, bahkan termasuk sahabat
karib. Aku melihatmu sering bermain di kedua belah pihak. Engkau hadir dengan jamuan makan
Mu'awiyah dan shalat di belakang Ali. Kami bukanlah orang-orang yang lalai jika engkau
sendiri khawatir pada kami dengan tipu daya ini. Atau menyembunyikan kebenaran dari mata kami."
Ibnu Abdus segera menyela, "Justru sebaliknya, wahai Aisyah! Ibnu Al Makrie
adalah musuh bebuyutan Ibnu Zaidun. Ia adalah orang yang paling mendendam dan mendengki. Akan
tetapi dia itu luput dari penglihatan. Ia lolos tidak diketahui apa yang tersembunyi di
dalam hatinya. Ia memeluk erat permusuhan dan menciumnya di pagi hari agar
kebenciannya terkelabui sehingga ia
aman pada waktu petang hari. Engkau tidak mengetahuinya, wahai Aisyah, dia
justru raja penipu dan panglima malapetaka."
Aisyah hanya tersenyum sinis. "Siapa yang lebih tahu dariku - setelah ia menyifati
lelaki tersebut sesuai penilaiannya - dia hari ini adalah seorang yang jujur lagi
tepercaya" Bisa jadi ia kini memakai pakaian yang bukan pakaiannya dan menilai
dengan sesuatu yang disembunyikannya sehingga ia berbohong kepada kami sebagaimana ia berbohong pada
setiap makhluk." Dengan penuh amarah, Ibnu Al Makrie menjawab, "Dengarlah, wahai Aisyah!
Permusuhan dan kebencian datang di balik kepentingan tertentu. Musuhilah aku sebagaimana musuh-
musuh yang merongrong kekayaan, pangkat, dan jabatanmu. Itu semua adalah naluri, wahai Tuan
Putri! Engkau akan melihatnya pada manusia sebagaimana kau menyaksikannya pada hewan-
hewan. Hamparkanlah semangkuk biji-bijian di antara ayam-ayam. Perhatikanlah, apa yang
akan engkau perbuat" Mereka akan meloncat, mematuk, dan mengibas-ibaskan sayapnya ke sana
kemari. Ibnu Zaidun kini telah merebut segalanya dariku. Ia merebut seniku, jabatanku, dan
kekayaanku sehingga keberadaanku dalam pemerintahan tak ubahnya seorang lumpuh di atas
kursi yang tidak memiliki ide dan pekerjaan. Aku menjadi samar dan gelap dalam pandangan orang-
orang, setelannya aku termasuk orang yang paling bersinar di antara mereka. Syairku
menjadi igauan yang panas, sastraku adalah bentuk tanpa makna, dan jabatanku hanyalah nama
belaka yang mudah digoyang para oposan maupun orang-orang yang mendengki. Aku berada di dua
ujung, wahai Aisyah, yakni menggencarkan permusuhan dan kebencian dengan terang-
terangan sebagaimana yang dilakukan sahabatku Ibnu Abdus, atau menyerahkan diriku untuk
dijajah dan dikuasai. Sementara aku berada dalam kegelapan, aku mesti mendaki gunung yang
menjulang atau memburu singa yang lapar! Aku memandang, lebih baik menghindari bahaya dan
senantiasa berjaga-jaga. Hingga ia memerangiku dengan pedang yang lebih tumpul dari
pedangku. Berjelagalah kekuatanku di depan kekuatannya. Menurutku, mempertahankan diri itu
lebih dekat dengan keselamatan dan lebih rendah risikonya sehingga aku dapat mencapai tujuan
dengan mulus. Akan bertambahlah kebesaran jiwaku dan kelembutan perangaiku. Dan aku
tidak akan mendapatkan dirinya curiga akan perangkap dan tipu daya tersebut. Ia bahkan
merasa tenang dan nyaman dengan kecintaanku. Dengan begitu, jadilah aku seorang teman setia dan
tepercaya baginya. Seandainya aku bertindak seperti yang dilakukan oleh Ibnu Abdus,
niscaya aku ibarat hewan buruan yang lari dari pemburunya. Ia akan menjauh-kanku dari berhubungan
dengannya dan membebani kepalaku dengan batu kerena lemahnya sebagaimana yang dilakukan
kambing hutan yang tolol." Ibnu Abdus berkata, "Berbahagialah, wahai Abu Badir! Jika orang-orang hanya
memiliki satu muka maka engkau memiliki seribu muka yang padanya tidak ada wajah
yang benar!" Ibnu Qallas pun tertawa seraya berkata, "Aku khawatir sebagaimana kekhawatiran
Aisyah, jika pada hari ini dia menggunakan salah satu mukanya."
Aisyah menyahut, "Tidak, Abdulllah! Aku mengenal lelaki ini dan paham benar akan
filsafat hidupnya." Ia kemudian menoleh kepada Ibnu Abdus seraya berkata, "Bilal - seorang hamba
sahaya istimewa setelah ia bebaskan, ia mencium gelagat dan menyerap informasi -
memberitahuku bahwa dia tidak sering berkunjung ke rumah Wilada akhir-akhir ini. Dia
melarutkan malam- malamnya dengan menyendiri di rumah."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ibnu Abdus menjawab, "Bisa jadi, dia tengah menyembunyikan diri di dalam
rumahnya" Dia tengah merahasiakan isu-isu tentangnya dari sahabat-sahabat dekatnya sekalipun."
Ibnu Al Makrie pun menyahut, "Mungkin sekali. Aku tahu persis dan ini bukan
prasangka jika Ibnu Al Murtadha telah datang ke Cordova dengan diam-diam. Ibnu
Zaidun sering menghubunginya. Seandainya kami memiliki wewenang untuk menyampaikan
kedekatannya ini pada Ibnu Jahwar niscaya tamatlah riwayatnya. Bahkan berakhirlah masa hidupnya."
Ibnu Abdus menjawab, "Sungguh udara buruk. Padahal Ibnu Jahwar terpengaruh
informasi

Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tentang Ibnu Zaidun. Akan tetapi, berita-berita itu ibarat lalat yang hinggap di
telinga sehingga kemudian berhubungan dan tidak lama menghinggapinya."
Aisyah pun berteriak lantang, "Bagaimana cara memberi tahu Ibnu Jahwar berita
penting ini sementara ia adalah orang yang tegas dalam kebenaran, menentang yang
subhat, dan tidak memutuskan sesuatu kecuali sudah jelas kedudukannya ?"
Ibnu Al Qallas menjawab, "Inilah yang akan kita musyawarahkan sekarang dalam
kumpulan hari ini." Aisyah lalu menoleh Ibnu Al Makrie seraya berkata, "Aku pastikan sekali lagi
kepadamu, benarkah Ibnu Al Muradha sekarang berada di Cordova dan Ibnu Zaidun sering
menghubungi- "Ya, benar." "Siapa yang memberitahumu?"
"Seorang sahabat yang tidak pernah berbohong padaku sedikit pun. Dia sering
menyerahkan Ibnu Zaidun saat dicucurkan padanya air minum sehingga terlihat julur lidahnya
dalam untaian ucapan-ucapannya. Di antara mereka itu adalah sahabatku yang sering menemui Ibnu
Al Murtadla setiap malam." Aisyah lalu berpikir sambil mengulurkan kedua lengannya seolah-olah hendak
menyambut kedatangan tipu daya yang baru. Ia berkata, "Aku punya ide! Aku telah menemukan
kunci untuk menyulut peperangan! Kini aku dapat berpikir dan menilai."
Ia kemudian menoleh Ibnu Al Makrie seraya bertanya, "Bisakah engkau ajak Ibnu
Zaidun besok ke rumahmu?"
"Ini sangat mudah sekali. Terlebih dia sekarang sering mengunjungiku untuk
mempererat ikatan persahabatan di antara kami."
"Bagus. Ajak besok makan malam dan biarkanlah ia datang bersama teman-teman yang
dicintainya." "Lalu?" "Lalu kau pergi ke rumah Ibnu Jahwar sekarang. Kau undang beliau untuk datang ke
rumahmu besok secara diam-diam untuk memastikan bahwa Ibnu Zaidun suka mengumpat dan
mencela pemerintahnya." "Lalu?" Aisyah tersenyum dan berkata, "Lalu kalian berbincang-bincang setelah makan
malam. Kemudian kau akan mendengar kekacauan dan kegaduhan di antara budak-budak dan
anak- anakmu. Kemudian engkau bertanya tentang berita kera-jaan. Akan memberitahukan
kepadamu bahwa Ibnu Jahwar telah menangkap Wilada karena ia menyembunyikan Ibnu Al
Murtadha di istana-nya. "Lalu?" "Lalu, aku lebih tahu watak Ibnu Zaidun. Ia akan sedih bercampur marah. Keduanya
cukup untuk menyingkap jati dirinya. Untuk memancingnya mengeluarkan kata-kata yang
dipendam dalam hatinya dari rasa cemas dan khawatir. Tatkala Ibnu Jahwar mendengarnya,
niscaya ia tidak sangsi lagi untuk mendamprat dan memecatnya karena kesombongan
dan tipu dayanya." Ibnu Abdus menyela, "Aku khawatir rencanamu itu meleset."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku telah berpikir dengan tenang dan konsentrasi. Aku mampu meramal masa depan
sebagaimana aku melihat masa lalu. Tidak ada keraguan dalam diriku jika Ibnu
Zaidun pasti masuk perangkap tersebut."
Ibnu Al Makrie menjawab, "Bagus. Sekarang aku akan pergi ke rumah Ibnu Jahwar."
Ibnu Abdus pun berkata, "Pergilah kepadanya dengan muka yang tak terlihat garis-
garis keraguan maupun selintas kesangsian. Jika kau mampu melakukannya, niscaya kau
akan melihat beliau hadir di rumahmu besok."
Ibnu Al Makrie segera menuju istana negara menemui Ibnu Jahwar. Namun, ia
berdiri lama di depan beliau. Tatkala obrolan selesai, ia menuju pintu gerbang.
Tiba-tiba Ibnu Jahwar berteriak, "Aku tidak yakin, Anak Muda! Jika engkau masih
ragu tentang berita itu maka beritahukanlah kembali sebelum engkau melalui pintu
gerbang itu!" "Saya yakin, Tuan!"
"Luar biasa. Besok pedangku akan menebas salah satu dari dua kepala. Waspadalah
jika kepalamu termasuk yang satu itu. Pergilah!"
Tibalah waktu besok. Siang hari berlangsung menyelimuti Cordova. Penduduk kota
itu bagaikan malam gelap-gulita seakan-akan langkah serigala atau segerombolan para
pemberontak. Malam, dilihatnya sekelompok penduduk yang terkena demam hiburan,
nyanyian, dan kegila-gilaan. Sebagian lain melihatnya tak lebih sebagai pembangkit
kesedihan, dendam kesumat, serta kegelapan malam yang menyelimuti Cordova. Orang-orang mulai resah
sebagaimana mereka selalu resah pada setiap malam.
Berkumpullah Ibnu Zaidun bersama para sahabatnya di rumah Ibnu Al Makrie. Ibnu
Jahwar bersama para asistennya, kepala kepolisian, dan para pengawalnya pergi juga ke
rumah Ibnu Al Makrie dengan sembunyi-sembunyi.
Mereka kemudian menempati sebuah ruangan di samping ruangan para tamu.
Disuguhkanlah jamuan makan. Mereka pun melahapnya sesuai dengan selera keinginan mereka.
Kemudian mulailah mereka berbincang-bincang. Malam itu, Ibnu Zaidun banyak
merenung, bimbang, dan ragu. Kawan-kawannya telah menyita banyak waktu dengan perbincangan
mereka. Mereka pun membubuhinya dengan kelakar dan senda gurau. Tidak tampak apa-apa
dalam diri Ibnu Zaidun selain senyuman enteng dan lembut.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan di antara para budak dan pelayan. Ibnu Al Makrie
memanggil kepala pelayan seraya bertanya dengan heran dan suara lantang, "Ada apa, wahai
Ribah?" Budak itu tanpa ragu menjawab, "Telah sampai berita kepada kami sekarang bahwa
seorang polisi atas perintah tuanku kepala dewan pemerintahan menangkap Wilada. Ia
disiksa oleh sekelompok balatentara dengan siksaan yang paling berat."
Ibnu Al Makrie menggigil seraya berkata dengan suara seperti orang marah,
"Menyiksanya" Kenapa ia disiksa?" "Mereka mendapatkan Tuanku Ibnu Al Murtadha di istananya."
Ibnu Zaidun tampak bingung. Amarah tampak pada urat lehernya yang menonjol
keluar seraya berkata, "Ini jelas-jelas kabar bohong! Ibnu Al Murtadha tidak bersembunyi di
istana Wilada. Aku tahu tempat persembunyiannya. Wilada itu tidak tahu-menahu
soal yang berhubungan dengan
Ibnu Al Murtadha. Itu hanyalah berita bohong. Ibnu Al Murtadha itu ada di
rumahku. Aku akan pergi dan memberitahu Ibnu Jahwar tentang hal ini agar ia terhindar dari ancaman
bahaya perempuan paling terhormat dan tersuci di Cordova ini."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Berdirilah Ibnu Jahwar di tengah-tengah pintu itu
seolah-olah makhluk yang tumbuh dari bumi. Ia berteriak dengan suara yang menyerupai gelegar
suara petir, "Kenapa kamu sembunyikan Ibnu Al Murtadha di rumahmu, wahai penyebar fitnah"
Engkau tidak menyembunyikannya selain untuk menyambut perpecahan dan
menghancurkan sendi-sendi
persatuan bangsa ini. Sungguh aku telah melihat akhiratmu sejak aku mengenalmu.
Aku sengaja terus menyembunyikan rahasia ini. Namun, kini terbukti mana tuba dan mana susu
sehinggga terhindarlah tipu daya dan terbukalah kebenaran itu. Terbitlah pagi di kedua
kelopak mata!" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia kemudian berisyarat marah pada Ubaidillah bin Yazid - kepala kepolisian - seraya
berkata, "Utuslah pasukanmu untuk mendatangi rumah si penipu ini guna mencari laki-laki
yang disembunyikannya itu."
Pergilah pasukan itu. Sekitar satu jam kemudian, mereka kembali seraya
melaporkan bahwa mereka tidak menemukan bayangan Ibnu Al Murtadha sekalipun.
Ibnu Zaidun pun bernapas lega. Ia berkata, "Alhamdulillah! Alhamdulillah!"
Ibnu Jahwar bertambah marah, "Seekor burung telah lepas dari kuningannya. Ia
telah menyembunyikannya yang kedua kali untuk rencana buruk berikutnya."
Ibnu Jahwar kemudian memandang kepala polisi seraya berkata, "Tangkaplah si
tolol pengacau ini dan masukkan ke penjara agar dia dapat merasakan akibat
perbuatannya itu dan kita dapat
melihat hukum Allah dan rasul-Nya dan yang membuat kerusakan di muka bumi ini.
Mereka hanya pantas untuk dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan
bertimbal balik, atau dibuang dari negeri tempat kediamannya."
0==0 08 Pagi harinya, tersiarlah berita penangkapan dan masuknya Ibnu Zaidun ke dalam
penjara. Sebagaimana orang berbahagia, dan sebagaimana lainnya merasa kecewa. Setiap
orang mulai membicarakan peristiwa ini untuk mencurahkan rasa simpati dan penilaian mereka
sebagaimana mereka membicarakan kepentingan-kepentingan masyarakat banyak.
Berkumpul di rumah Khan Abu Ishaq Al Yahudi, seorang saudagar kaya yang
terhormat berkebangsaan Yaman serta para pemuda Cordova yang hidup senang dan mewah untuk
turut membicarakan persoalan-persoalan bangsa.
Salah seorang di antara mereka yang biasa dipanggil Umar Al Valensi, berkata,
"Berita di pagi ini membuatku yakin tanpa ragu lagi bahwa ada keraguan yang
dipertanyakan. Ibnu Zaidun itu rela ditangkap Ibnu Jahwar karena ini sekadar
rekayasa sebagai alasan untuk menjajah Aspilia dan
merebut kekuasan raja Ibnu Abad!"
Orang-orang pun tersentak kaget, "Ini tidak mungkin! Apa hubungan antara penjara
Ibnu Zaidun dengan penjajahan Aspilia?"
"Kalian tidak bisa membaca strategi politik. Ia ibarat terowongan berliku-liku
yang dilalui bertahun-tahun, kemudian mesti kembali ke tempat semula."
Salah satu di antara mereka pun menyahut sinis, "Wahai Ibnu Abdullah, ini adalah
terowongan tergelap dan keraguan yang paling rancu!"
"Dalam rekayasa politik, semua rencana itu memiliki tujuan yang jelas ibarat
goresan gambar seorang anak kecil yang tengah bermain namun dapat dilihat orang-
orang yang cerdik lagi pandai." "Maksud Tuan?" "Ibnu Zaidun dipenjara agar Ibnu Jahwar dapat memecatnya dan menyiksanya dengan
berbagai siksaan, sehingga Ibnu Zaidun melarikan diri ke Aspilia seolah-olah
meninggalkan dendam pada Ibnu Jahwar. Dengan begitu, Ibnu Abbad akan menerima dan menyambut
Ibnu Zaidun dengan gembira dan memberikan jabatan tinggi kepadanya. Ia memercayainya
sehingga Ibnu Zaidun mengetahui seluruh rahasia kerajaan. Ibnu Zaidun akan kembali dari
Aspilia dengan menguasai sepenuhnya kelemahan lawan sehingga mendapatkan strategi yang jitu dan
mudah untuk melumpuhkannya. Pasukan Ibnu Jahwar lalu akan mengepung kota itu. Dan,
belum saja bertahan satu jam di siang hari, kota tersebut telah berada di bawah kedua
telapak kakinya." Salah seorang di antara mereka menyahut, "Bagus! Bagus!"
Yang lainnya berujar, "Bisa jadi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebagian lain menyeru, "Strategi yang logis sekali."
Valenci pun tersenyum pada sahabat-sahabatnya itu dengan lega dan bangga. "Besok
akan tersingkap di tengah-tengah kalian, kebenaran apa yang kuramalkan."
Namun, salah seorang pemuda berbisik, "Bukan masalah politik, juga bukan soal
strategi. Yang aku ketahui dengan yakin, Ibnu Jahwar berang soal surat yang Ibnu
Zaidun kirimkan pada putrinya, Ramla. Masalah ini menjadi besar karena ia khawatir tersiksa oleh
tindakannya itu dan berita tersebut tersiar. Kekacauan pun bertambah. Karenanya,
ia membuat rekayasa agar dapat
menjauhkan Ibnu Zaidun dari seluruh masalah yang berhubungan dengan keluarganya.
Maka terciptalah rekayasa ini dengan memenjarakannya."
Seorang pemuda yang sedari tadi duduk tenang, mulai terusik seraya berkata
dengan bimbang, "Lantas, kenapa penahanan itu disebut rekayasa sementara ia sengaja mengelabui
Kepala Dewan Pemerintahan?" .
Valenci menjawab, "Aku justru tidak yakin."
Ketika mereka asyik dengan obrolan, tiba-tiba salah seorang sahabat mereka
masuk. Setelah memperkenalkan diri, ia pun berkata lantang, "Harap tenang, saudaraku sekalian!
Kalian semua keliru. Soal berita penahanan sementara Ibnu Zaidun itu bohong
belaka. Tadi aku bertemu dengan Abu Qasim bin Rafaq. Aku menanyakan soal ini
padanya dan ia menegaskan berita itu tidak
benar. Itu hanyalah isu di Cordova yang setiap harinya lahir seribu kali dan
lenyap seribu kali pula. Setelah kami berpisah, terlintas dari jauh sosok seseorang yang serupa dengan
Ibnu Zaidun di atas bagalnya dan pengawalnya yang diiringi oleh hamba sahaya dan para
pelayannya." Orang-orang pun bingung mana yang benar dan yang bohong. Mereka terus
berbincang- bincang seputar masalah tersebut hingga membuat gaduh seisi ruangan.
Malam harinya, berita itu sampai ke rumah Aisyah binti Galib. Ia pun gembira
bukan kepalang. Ia menari-nari di depan cenninnya ibarat orang gila. Ketersiksaan dalam dirinya
yang sakit ternyata lebih besar daripada kebaikan dan kebahagiaan orang-orang
yang berbuat baik. Ibnu Jahwar duduk di samping anaknya. Abu Walid. Ia memandangi para menterinya
yang diam membisu penuh keraguan. Ia merasa kasus tersebut meliuk-liuk. Ia mengenal
Ibnu Zaidun adalah sosok yang patriotik, la mengenalnya dengan penuh gagu, bimbang, dan
ragu.

Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ia pun tidak menduga sampai menjebloskannya ke penjara hingga menyulut fitnah
dalam kasus ini yang seolah-olah menjadikan dirinya sebagai kayu bakar. Ia selalu
menempatkan Ibnu Zaidun pada kedudukan terhormat. Setiap berita miring yang datang tentangnya selalu ia
halau untuk menjaga martabatnya. Namun, sekarang dengan penuh kecewa, sosoknya ternyata
dituduh tidak patriotik. Ia lalu menoleh pada Ibnu Abbas seraya berkata, "Apakah pendapatmu tentang yang
aku perbuat terhadap Ibnu Zaidun?"
"Menurut saya, sebaiknya ia tetap dipenjara sampai Tuan yakin dan tidak ragu
lagi kepadanya. Lalu kita akan membuangnya ke daerah utara."
Menteri Abdul Aziz bin Hasan berpendapat, "Kalau menurut saya, sebaiknya ia
dibunuh agar kita tenang. Tuan! Dengan begitu, lenyaplah penyakit dari akar-akarnya.
Pemenjaraannya hanya membuat kita senantiasa dirundung kekhawatiran akan para pengikutnya yang
mengikuti jejaknya. Mereka akan berupaya membebaskannya dan melarikannya dari penjara."
Ibnu Abdus buru-buru menjawab, "Ini pendapat yang tepat sekali! Penjara justru
membuat perlawanan dan kebencian Ibnu Zaidun semakin semu. Agar dia tidak lolos jika
melarikan diri, karena jika melarikan diri, maka kejahatannya akan lebih besar lagi."
Abu Walid berpindah ke samping Ibnu Burad seraya berbisik kepadanya. Ibnu Burad
pun terdiam muram seraya berkata, " Tangguhkanlah, wahai Abu Amir. Ibnu Zaidun itu
bukanlah pejabat negara yang namanya mudah dihapus dari kehidupan ini dengan kata-kata
yang lembut. Negara yang telah membunuh anak cucunya untuk menghilangkan malapetaka justru
akan menimbulkan keresahan besar hingga negara pun kalap dan tidak tahu apa yang
harus diperbuat. Ibnu Zaidun itu sedikit saingan dan para pengkritiknya karena ia adalah tiang
bangsa ini. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kewajiban kita untuk meluruskan tingkat yang bengkok hingga ia kokoh kembali dan
mengokohkan bangunan. Semoga ia diberi kesempatan membela diri bahwa apa yang
dikatakannya kemarin itu tidaklah benar."
Pada saat itu, tiba-tiba Al Hajib masuk seraya berujar, "Di gerbang, ada dua
orang perempuan bercadar yang mendesak ingin bertemu dengan Anda, Tuanku!"
Sambil menoleh pada menteri-menterinya, Ibnu Jahwar seraya berkata dengan kaget,
"Siapa dua perempuan itu?" Al Hajib menjawab, "Mereka hanya mengatakan bahwa mereka berdua datang untuk
menyelamatkan negara ini dari berbagai ancaman baha-ya."
"Bahaya apa yang ingin diselamatkan perempuan-perempuan itu" Suruh mereka
masuk!" Terbukalah pintu. Tersingkapah kedua wajah perempuan itu. Mereka tiada lain
Naila Al Dimasykia dan Wilada binti Al Mustakfi.
Tatkala Kepala Dewan melihat keduanya, ia pun kaget bercampur marah, "Bencana
apa lagi kalian datang pada kami?"
Naila pun menjawab, "Bencana"! Bencana apa" Anda adalah simbol pemersatu
Cordova, Tuan. Kebijakanmu adalah tepat sehingga kami menyebut Anda sebagai Abu Hazm.
Anda tidaklah menangkap seseorang karena mengharapkan kedudukan, kekayaan, maupun jabatan.
Kedudukan Anda begitu mulia. Simbol kebapakan yang bijak dalam setiap keputusannya. Namun,
kami melihat keguncangan dalam dirimu. Kekuasaan yang mulai pudar. Anda telah
mendaftarkan ketulusan dan ketabahan ke atas nirwana. Anda mengangkat orang-orang untuk
memperkuat negara dan berbakti kepada umat. Anda menerima mereka setelah teruji dalam
perjalanan waktu yang cukup panjang. Tetapi Anda kini justru memandang para menteri yang jujur,
tulus dan senantiasa berbakti kepada Anda itu hanya demi kebencian dan kedengkian. Anda
seolah bergembira dengan kedua pendengaranmu itu karena Anda telah menilai jujur orang-
orang yang telah berkata dusta. Tuan, Ibnu Zaidun yang Anda tangkap dan penjarakan kemarin
itu sesungguhnya pembela dan pahlawan negaramu serta pedang yang dapat menghadang
musuh- musuhmu. Namun, pendapatmulah yang selanjutnya terundi dari semua pendapat.
Seandainya dia adalah seorang menteri di belahan timur, niscaya Anda akan membuat tugu
baginya dan sedih akan kehilangannya. Andalusia justru mengubur kekayaan itu dan menumpulkan
pedangnya dengan kekuatan. Setelah kegagalan naas ini, lantas siapa yang akan membelamu
memimpin bangsa" Bukankah syair-syairnya memenuhi seluruh pelosok Andalusia" Bukankah dia
itu duta Anda yang mengharumkan kerajaanmu dan menyampaikan pandanganmu sehingga para
musuh gentar dengan kekuatamu" Bukankah dia penasihat yang jujur dan pejabat yang
tulus" Aib! Aib apakah jika tersebar di seluruh daerah bahwa Abu Hazm bin Ibnu Jahwar menyiksa
salah satu menteri terbaiknya dengan rekayasa bohong dan nista" Aib! Aib apa seandainya
obrolan di rumah-rumah, pertemuan-pertemuan, dan pesta-pesta, bahwa Abu Hazm bin Jahwar
menyakiti orang yang paling jujur dan memotong tangan seorang yang justru membela
negaranya?" Ia kemudian terdiam sejenak. Setelah mantap dan yakin, Wilada pun turut
bertutur, "Tuan, Ibnu Zaidun itu tunangan dan kekasih sejatiku. Seandainya Anda
membenarkan apa yang dituduhkan
para pemitnah itu, maka siksalah aku juga karena kami adalah satu jiwa dalam dua
tubuh. Aku merasakan apa yang ia rasakan. Apa yang dibicarakan dengan terang adalah ucapan
dariku secara pelan-pelan. Tuanku, setelah keluarga dan kaumku mendapat keagungan dan
kekuasaan kekhalifahan, aku sedikit pun tak merasa sedih dan kecewa jika harus kehilangan
itu semua. Aku melihatmu sebaik-baik penghancur sekaligus pengangkat kekuasaan
ini. Allah mengajarkan aku
menilaimu sebagai kekurangan dan kelemahan sehingga aku akan mengusung Dinasti
Umayyah dan mengajak orang-orang untuk ber-baiat kepada Ibnu Al Murtadha. Aku akan
menebar perlawanan sengit yang akan menghancurleburkan daratan dan lautan. Tetapi, Tuan,
aku datang untuk meluruskan kebengkokan itu sehingga sendi-sendi persatuan bangsa tetap
kokoh. Aku akan mengibarkan bendera Cordova di puncak dan menegakkan keadilan di tengah-
tengah rakyat bangsa ini. Semoga Allah membalas kebaikanmu sebagaimana orang-orang yang
berbuat baik. Aku juga tidak akan menutupi darimu, aku tidak mengagumi dan rela memberikan
cinta dan ampunan persahabatan pada Ibnu Zaidun, selain karena ia tulus mencintaimu,
membelamu, dan mitra setiamu. Aku bersumpah, andai aku tahu ia memiliki niat jahat, akulah yang
pertama yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akan memberitahumu dan menyingkap rahasia itu di hadapanmu. Ini adalah sebuah
propaganda busuk yang digencarkan para pesaing yang iri kepadanya."
Ibnu Jahwar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya bertanya, "Propaganda
apa" Aku justru mendengarnya dengan telingaku sendiri!"
Naila terdiam sejenak seraya balik bertanya, "Di mana Anda mendengarnya, Tuan?"
"Di rumah Ibnu Al Makrie."
"Siapa yang menyuruhmu untuk datang ke rumahnya?"
"Ini rahasia Negara, Naila."
Naila hanya bergumam seolah-olah berbisik, "Ia tak lain Aisyah binti Galib.
Celakalah, wahai Pengkhianat! Kali ini kau telah mendahuluiku. Berkecamuklah
perang sengit antara aku dengannya". Ia kemudian menoleh pada Ibnu Jahwar seraya berkata, "Konon, ia hanya membela
sebuah isu yang mengatakan bahwa Ibnu Al Murtadha berada di rumahnya karena cintanya yang
mendalam pada Wilada di saat musuh-musuhnya disuruh masuk. Anda lalu menangkapnya dan
memerintah para pengawal untuk menyiksanya."
Wilada berteriak histeris dan bercucuran air dari kedua kelopak matanya. "Tuan,
hadirkanlah ia dan tanyakanlah apa maksud dari pengakuan dusta ini. Dia pasti
memiliki alasan tertentu.Dia,
terkadang keliru. Namun, jika aku memberitahu kebenaran kepadanya, ia pun pasti
memegangnya dengan teguh dan mempertahankannya sampai darah penghabisan. Tentara negeri ini
membutuhkan sosok-sosok Ibnu Zaidun bukan tindakan bijaksana atas rakyat Cordova
dengan menjebloskannya ke penjara sebelum ia ditanya apa maksud dari tindakannya itu.
Dia itu pelita umat. Adalah hak setiap warga negara ditanya tentang apa yang disembunyikannya
sehingga benar-benar murni dari rekayasa pemberontakan."
Ibnu Jahwar memekik seraya berkata, "Ini sungguh berbahaya!"
Naila menyahut, "Itu tidaklah berbahaya akan tetapi fakta kebenaran yang tidak
dapat disangkal lagi. Ibnu Zaidun dinyatakan bersalah padahal ia berada dalam
luasnya pengampunan dan di
bawah naungannya. Para penyair bersenandung:
Ulurkanlah persahabatan, wahai Tuan Agungi
Karena persahabatan itu akan mengobati luka
Ia juga berdendang: Tidaklah orang-orang bebas dibunuh karena telah termaafkan
Siapa orang yang bebas yang dapat memelihara tangannya"
Allah menunjukkan kepadamu siapa orang-orang yang berbuat baik padamu dari
orang-orang yang berbuat jahat padanya:
Jadilah engkau pemaaf dan perintahlah orang-orang mengerjakan kebajikan, serta
berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh!
Lantas apa yang telah diperbuat Ibnu Zaidun" Ia berbohong pada dirinya sendiri
dengan mengatakan bahwa Ibnu Al Murtadha berada di rumahnya hanya demi menghindarkan
Wilada dari apa-apa yang ada dalam benaknya. Engkau kemudian memenjarakannya padahal telah
terbukti bahwa laki-laki itu tidak ada di rumahnya. Bahkan bayangannya pun tidak ada di
seluruh Cordova sekalipun. Pantaskah dia setelah itu dipenjara dan diberi
hukuman sebagaimana pelaku kejahatan dan kriminal" Panggillah ia ke hadapanmu.
Nasi-hatilah ia dengan baik dan santun. Anda memiliki wewenang setelah ia diuji
dengan berbagai ujian yang mampu melepaskannya dari api neraka dan
dari pedang tajam yang terhadang."
"Tidak, Naila. Dia itu penebar fitnah dan kejahatan. Cordova selamanya tidak
akan tenang selama dia mengembuskan racunnya. Bahkan, terlintas dalam pikiranku membunuhnya.
Namun, cukuplah penjara baginya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Maka bersimpuhlah Wilada di depannya seraya berkata, "Asingkanlah dia ke salah
satu kerajaan di Andalusia Raya ini, Tuanku. Usirlah aku bersamanya jika engkau
tidak mau memeriksanya lebih lanjut."
"Tidak, Putriku. Aku tidak merasa tenteram dari ulahnya kecuali dia berada dalam
genggamanku dan berada di bawah naungan penglihatan dan pendengaranku. Sebaiknya
kita tidak membicarakan soal ini lagi panjang lebar karena aku lebih dari puas
dengan hukuman ini."
Keduanya pun pergi dengan sedih dan menangis.
Ibnu Zaidun masuk penjara dengan murung dan kecewa. Pupuslah segala harapannya.
Sirnalah segala cita-citanya. Kepercayaannya itu telah hilang. Rencananya gagal.
Padahal, ia memiliki cita-cita yang besar dengan ambisi yang penuh kemuliaan.
Bukankah kabilah Bani Makhzoum adalah pemilik kehormatan dan oposan kuat yang
menjajah Andalusia hingga berhasil menguasainya" Merekalah yang mengokohkan
ajaran Islam di sana. Bukankah ayahnya penguasa kerajaan yang memiliki kedudukan
terhormat baik dalam bidang pemerintahan, keilmuan, dan sastra"
Ia pun menarik napas panjang dan berkata, "Sekarang apa yang bisa aku perbuat"
Dan apa yang akan dia perbuat padaku" Jika marah, ia seperti api neraka yang
dingin dan menyelamatkan.
Dan apabila ia diam, terhindarlah segala bencana."
Beberapa saat ia berpikir sambil memungut pena di depannya dan menulis:
Katakanlali pada menteri itu aku sudah berhenti memujinya
Sekian lama karena penjara menjadi ganjaranku
Jangan kau khawatir tentang kebenaran yang aku usung
Itu tanggunganku, dan jangan kau tabuh genderang
Kenapa salalikan kebenaranku yang nyata
Inikali balasan bagi penyair dusta!
Namun, setelah ia membaca bait itu, ia merobeknya dan berseru, "Ini tidak
mungkin. Aku mesti menghalau niat jahatnya dengan meminta pengampunannya. Aku
mesti memohon maaf dengan syair yang pernah membuat orang-orang lupa dengan
permohonan maaf Nukman bin Al Munzir.
Aku tidak akan putus asa selama masih banyak luang dan kesempatan. Aku tidak
akan putus asa akan pertolongan Allah. Aku tidak akan membiarkan ada celah bagi
kejahatan selain aku menghadapinya. Di depanku masih ada kehidupan, harapan, dan
cita-cita. Rasa patriotisme itu jika diusik akan melawan dan jika jatuh akan
bangkit berdiri. Betapa banyak bahaya yang bermanfaat. Dan, betapa banyak di
balik siksaan itu tersimpan kebohongan!"
Demikianlah perasaan Abu Walid. Ia mengobarkan kembali semangat hidupnya. Ia
mengirimkan syair-syair permohonan maaf pada Ibnu Jahwar. Ia di antaranya
berdendang: Wahai Abu Hazm, pergunakanlah kesempatan!
Ucapan terima kasih padanya dengan lapang
Tidak terbayang harapan perlawanan
]ika aku bukanlah bahu sayap
Tidak terpuji aku dari harapan yang terlintas
Keringat telah kering dan luka pun sembuh
Yang menyita waktu istirahat dan nyenyakku
Dalam kesempatan lain ia bersyair:
Orang-orang yang mempertanyakan keadaanku maka saksiny a Melihat sendiri apa


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang sebenarnya terjadi Tidak menjadikan tua kepemudaanku yang mendingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bahkan aku melihat, Geledek ketuaan memuncak di atas ketinggian syair-syair
Sebelum tiga puluh tahun menunggu kerinduan tertimbun
Bagi si Tuan hanyalah ranting yang tak kokoh
Dialah selintas perasaan buruk
Api harapan dan burung pengembara keburukan
Orang yang gembira akan bencana yang menimpa orang lain
Tidak akan tenang akan suatu bahaya
Betapa harapan terwujud dan bahaya sirna
Apakah bumi tergoyangkan angin dengan badainya"
Atau gerhana terjadi tanpa bulan dan matahari"
Seandainya aku tetap di penjara bukanlah luar biasa
Jika memang membuat kekuasan Sang Abu Hazm merasa aman
Dari ancaman baliayaku yang tidak begitu peduli akan kekuasaan
Sayangnya, Ibnu Jahwar tidak mau mendengar syairnya itu dan tidak menerima
permohonan maafnya. Ia tidak merasa kasihan dan simpatik. Akibatnya, Ibnu Zaidun kembali
membenci kehidupan dan menangisi harapan-harapannya yang pudar dan cita-citanya yang
nyaris lenyap. Keresahannya tidak merasa terobati selain oleh kunjungan Naila dan Wilada.
Keduanya tidak melewatkan satu hari pun untuk tidak mengunjunginya. Rasa kasih dan sayang
adalah sepasang kata yang tidak Allah ciptakan pada hari duka dan lara selain untuk meringankan
rasa sakit dan menenangkan badai.
Di antara manusia ada yang berusaha sekuat tenaga untuk menghalau keresahan
orang-orang yang sedang resah. Namun sangat jarang orang-orang yang merasa sedih itu tidak
memedulikan rasa sakit dan merasa tenteram.
Orang-orang yang merasa jiwanya resah akan senantiasa berupaya untuk mencarikan
jalan keluarnya. Hal ini sering tampak pada anak-anak. Cara yang paling jitu adalah
menahan mereka agar tidak terlarut dalam kesedihan. Kesedihan hanyalah dibuat agar ada jalan
untuk menasihati mereka. .
Naila memiliki sifat langka ini. Ia tidak berbincang-bincang dengan Ibnu Zaidun
saat di penjara dengan harapan yang serbapupus dengan obrolan menarik yang penuh
canda tawa dan terhiasi senda gurau sebagaimana pertemuan di taman rumahnya. Dunia cerah dan waktu pun
tersenyum, seolah-olah kepedihan yang membelit raga telah pudar dan terkubur dalam catatan
sejarah sebagaimana lembaran demi lembaran kertas.
Wilada adalah penghibur lain. Ia berkeyakinan bahwa kesedihan tidak akan sirna
kecuali dengan obrolan. Kesedihan yang berlarut dikhawatirkan akan semakin memperparah
dan memperpedih kesedihannya. Agar air mata tidak tertumpah dan hatinya tidak
bergetar. Setiap kali ia melihat kekasihnya, seolah-olah ia berada dalam kamar
gelap dengan udara yang penat dan
berada di terowongan umur yang besar. Bertambahlah kedukaannya dan melelehlah
air matanya. Ia lalu bertanya pada Ibnu Zaidun, "Siapa yang mengajak Ibnu Jahwar pergi ke
rumah Ibnu Al Makrie?"
Ia menjawab lemah dan sedih, "Tidak tahu, Tuan Putri. Saat itu aku pun merasa
kaget melihatnya di rumah itu padahal semula aku tidak mengira dia ada di sana."
Buru-buru Naila memotong, "Apa gunanya membicarakan ini, wahai putri khalifah!
Semestinya kita tidak melihat apa yang sudah terjadi. Pandanglah ke depan!
Kebanyakan manusia terpuruk
dalam hidupnya dengan melihat kejadian masa lalu dan lalai terhadap apa yang
terjadi kini dan esok. Berapa banyak kesempatan yang sebenarnya bisa mereka pergunakan. Aku tahu
jalan desas-desus ini dan bagaimana Ibnu Jahwar diundang ke rumah Ibnu Al Makrie. Aku
tahu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagaimana kita harus bertindak. Demi Allah, serahkanlah urusan ini kepadaku,
Tuan Putri. Ucapanku pada Abu Walid tadi hanyalah berita lemah untuk mengelabui saja."
Terngangalah kedua bibir Wilada karena tersenyum sedih seraya berkata, "Perintah
perempuan ini penuh ujub. Aku kemarin duduk dengan Naila di istananya. Kami
mendengar suara gaduh. Kami melihat sejumlah anak yang melangkah dengan gontai karena membawa bejana di
atas kepalanya. Di belakangnya ada seekor anjing dan kambing. Mereka memakai baju
polos bertambal-an. Wajahnya meenyiratkan kepedihan dan kesedihan. Anak-anak itu
terasuki iblis-iblis jahat. Mereka kemudian melemparkan batu untuk menjaga anak
panah. Mereka terombang-ambing ke kiri dan ke kanan. Bahkan saat mengusirnya, ia
berlindung ke istana. Ia masuk dan
menguncinya. Kemudian jatuh di belakangnya penyakit yang membuatnya tidak
bernapas. Buru- buru Utba - pelayannya - menghampirinya. Ia mulai membeberkan apa yang tengah
terjadi sambil menyuguhkan makanan dan minuman. Tatkala keadaan aman, ia gembira. Kami
sengaja turun untuk mengetahui soal ini. Ia memberitahukan, 'Dia itu orang Miracus. Dia
datang dari Aspilia dengan berjalan kaki. Kami menanyakan padanya tentang anjing
dan kambingnya. Ia menjawab,
'Ini adalah saudaraku yang mengajariku dengan jujur dan setia. Dan ini adalah
saudariku yang memberiku susu dan ampasnya.' Kami bertanya kepadanya tentang pendapatan
nafkahnya. 'Aku hanyalah seorang peramal. Aku cukup melihat telapak tangan apa yang tersembunyi
dari masa lalu dan apa yang samar-samar pada masa depan. Aku mampu membaca jiwa si penanya
seolah- olah aku membaca buku yang terbuka. Ia kemudian menarik telapak tanganku dengan
paksa. Tatkala ia menyelidikinya, ia berteriak, 'Ini telapak tangan ajaib! Ini garis
kerajaan, Tuan Putri! Akan tetapi sayangnya ia agak miring sedikit ke sebelah kiri.
Mahasuci Zat yang tidak butuh akan kekuasaan! Bagi-Nya kekuasaan dan segala
urusan dan di atas segala sesuatu. Ia Maha Berkuasa. Berlimpah-lah mahkota dan berlian!' Ia
kemudian melirikkan kedua matanya seolah-olah ingin membenarkan garis-garis itu dengan
pandangannya seraya berkata, 'Garis ini adalah garis cinta. Ada apa dengannya" Garis inilah
yang menyimpangkan garis kerajaan. Garis ini adalah garis aneh yang belum pernah aku
lihat sepanjang hidupku. Cinta itu memiliki hati. Berguncanglah ia, terlintaslah
harapannya. Namun kini sudah tenang. Ya, sekarang tengah berada di ruangan gelap
dalam sebuah masjid yang besar.
Aku melihat seorang pemuda yang memenuhi dunia dengan cita-cita dan keinginan
namun terbatas oleh tempat yang sempit yang tidak ada padanya selain jendela kecil di
atapnya.' Tampak rasa kaget di mukanya seraya memekik, 'Lihatlah, Tuan Putri,
jendela itu meluas! Lihatlah, demi Allah, atas kamu burung-burungnya! Ia
berkicau dan beterbangan di udara. Apa ini" Jendela itu
berubah menjadi pintu dan pemuda yang sedih itu hendak melompat dari pintu
tersebut/ Ia kemudian tertawa terbahak-bahak dan berteriak, 'Ia telah keluar ke udara dan
cahaya! Dia layak mendapat ganjarannya sebagaimana burung yang mengepakkan
sayapnya ketika hendak terbang. Ia tertawa dan bersenda gurau. Ia menghadapi hidup dengan kobar semangat hidup.
Mahasuci Engkau, wahai Tuhan! Begitu singkat waktu kehidupan ini di antara sedih dan
gembira! Begitu tipis batas antara keceriaan dan keresahan!' Ia kembali muram
seraya berkata, 'Namun, cinta itu pelit dan dengki. Kali ini, apakah bisa
bersatu antara dua hati yang putus asa mengobati dua luka"' Ia menoleh kepadaku
dan berkata, 'Tertawalah, wahai Tuan Putri! Bergembira dan pergunakanlah
masa muda karena ia tidak akan pernah kembali lagi!"
Naila bangkit berdiri dan berkata, "Ya, demi Allah! Masa muda tidak akan
terulang. Aku menginginkan seandainya penjara itu cermin, niscaya kau akan melihat wajahnya
tertinggal." Ibnu Zaidun tersenyum pada Wilada dan berkata, "Penjara ini tidak akan
berlangsung lama, Putriku. Kegetiran di masa lalu akan semakin indah untuk dikenang di hari-hari
kemudian." Ibnu Zaidun kembali setelah dua kekasihnya kembali risau dan resah. Ia teringat
sahabat- sahabatnya dan mengharapkan pertolongan mereka. Ia lalu menulis syair pada salah
seorang temannya, Abu Walid putra Kepala Dewan Pemerintahan sebagai berikut:
Apakah panggilan yang tersiar pada pendengar
Atau dalam seratus yang maju bermanfaaat
Katakanlali pada menteri yang menglmrap jabatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jika gagal gelisali, jika berhasil ceria
Teriakkan dengan berbisik pada gerbang yang bisu
Bebanilali dari dirinya di atas apa yang kau mampu
Jangan kauhadiahi keterpurukkan kekuasaanku setelah tingginya
Demi Allah, kekuasaan yang lemah tidak akan terpuruk
Saking besarnya kecintaan Abu Walid padanya, ia lalu memberitahukan hal tersebut
pada ayahnya. Hilanglah teriak Ibnu Zaidun itu di udara.
Pagi harinya, seorang sipir penjara masuk membawa sepucuk surat dari Naila. Ia
segera membuka dan membacanya: Betapa tahun berlalu di hadapan orang-orang
Bukankah semuanya bersedih dengan episode akhir kami
Katakanlah pada orang-orang yang kecewa: sepakatilah!
Niscaya ditemukan orang-orang kecewa itu sebagamana kami menemukannya
Aisyah binti Galib hampir tertipu. Dia kini dalam perjalanan ke Kerajaan
Qistalla setelah mengeluarkan seluruh yang dimilikinya dari barang-barang yang diam hingga yang
bisa bicara. Aku melihat kesempatan. Bersabarlah, dan janganlah berputus asa.
Setelah selesai membaca surat itu, ia tersenyum gembira. Ia pun menggumam:
Ketundukan kepada dunia bukanlah bukti kekayaan Ia hanya giliran hari-hari yang
penuh kesenangan 0==0 09 Bulan-bulan berlalu di penjara Ibnu Zaidun. Naila belum merasa tenang sedikit
pun. Dia tidak merasa tenteram sampai datang revolusi perlawanan dalam beberapa generasi yang
dalam perkiraannya akan menjadi awal rasa takut bahwa Aisyah binti Galib adalah
penghalang utama dan penipu kawakan. Ia bertambah yakin tatkala mendapat kabar dari Abu Hafs bin
Burad seluruh yang berkaitan dengan kasus itu secara global maupun detail.
Ia merenung beberapa jam seperti seorang pemikir, menggambar garis-gemaris dan
menali tali- temali. Dalam setiap garis itu tampak sisi kesia-siaan keputusan itu.
Tersingkaplah rahasia yang menyelimuti rasa pesimis.
Setiap kali terperangkap jerat yang tampak maka leluasalah untuk pelarian gajah
yang dibuang karena kecewa akan kepandaiannya dan jelek perangainya. Demikian hari-hari
berlalu dalam cinta dan benci, bangun dan hancur. Tidak tetap dalam saru
keadaan. Seolah-olah luka lama telah
terkubur, seolah-olah ketuaan usia melemahkan anugerah yang ada. Setan itu pada
masa muda selalu hadir. Tidak membuatnya lemah berbagai tipu daya dan perangkap.
Apakah hatinya kini menjadi bodoh dan pandir" Ia makan sambil berpikir inilah
kebiasaan Aisyah. Ia tidur sambil berpikir dan berbincang-bincang sambil berpikir. Akan
tetapi, semua itu tidak menyampaikan pada apa-apa yang diharapkan, disenangi,
dan diinginkannya. Cita-citanya pudar sehingga Aisyah tertimpa bencana. Ia terjerat perangkapnya
sendiri. Lantas, dari segi apa menyerangnya" Dari sudut mana memudarkan
penjagaan ketat ini"
Sebagian orang berbisik bahwa ia bergabung dengan kaum Nasrani utara. Akan
tetapi ia menyembunyikannya penuh waspada seperti sembunyinya kura-kura yang tidak tampak
kecuali mencintai bangsa Arab dan tulus hanya untuk bangsa Arab. Bagaimana bisa
menyingkap tabir perempuan jalang yang misterius ini" Naluri dan indera keenamnya menggambarkan
dengan jelas bahwa ia keturunan bangsa Spanyol, akan tetapi adakah cara untuk membuktikan itu
semua" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimana caranya menyingkap tabir dan menggali kuburan yang dipenuhi segudang
rahasia" Ia berpikir panjang. Ia berkuasa banyak namun ia kehilangan pikiran dan
kekuatannya. Ia berteriak, "Aspioto! Aspioto! Dialah kunci rahasia dan mantra ampuh untuk
membuka kuburan ini. Galia memberitahuku setiap kali ia menemuiku bahwa Aspioto banyak berbincang-
bincang dengan Aisyah. Dia pasti mengenalnya. Dia pasti sahabat dekatnya. Dia pasti bergabung
dalam tipu daya rahasia ini sehingga ia terlibat bersama Aisyah. Tapi, bagaimana
menghubunginya tanpa terlintas prasangka dan curiga dalam pikirannya" Para mata-
mata itu lebih gesit kewaspadaannya daripada
serigala yang tidur dengan sebelah matanya dan berjaga-jaga dengan kukunya. Dia
itu adalah singa yang sedang tidur."
"Aku tahu dari Galia bahwa ia belajar ilmu kedokteran dari Ibnu Zuhar. Tetapi
kenapa engkau tidak memberi tahu orang yang tengah demam ringan sehingga engkau
ajak dia ke istananya untuk makan malam dan menyembuhkan penyakitnya" Kini aku dapat - jika Allah
menyingkapnya - menyampaikannya pada tujuan."
Ia pun pergi ke istana Wilada. Ia meminta kepadanya agar mengajak Ibnu Zuhar
besok ke istananya makan malam. Ia akan berpura-pura sakit dan mengadu kepadanya tentang
bahaya penyakit yang dideritanya.
Wilada kaget. Ia berusaha untuk mengetahui sebabnya. Tapi Naila datang ke istana


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan berbisik kepadanya, "Kau akan tahu hasilnya dalam waktu dekat ini."
Ibnu Zuhar datang untuk makan malam. Ia memberitahu bahwa Wilada sakit demam
panas sehingga ia menceracau setiap pagi. Ibnu Zuhar pun mengobatinya. Mereka pun
terlibat dalam obrolan tentang berbagai hal. Tiba saatnya ia menyebut Ibnu Zaidun dan tipu
dayanya pada Ibnu Jahwar sehingga ia memenjarakannya.
Ibnu Zuhar berkata, "Pemenjaraan Ibnu Zaidun benar-benar malapetaka bagi
Cordova. Setiap dosa laki-laki itu, jika ia memang berdosa, maksud dia tiada lain hanya ingin
mengembalikan kejayaan bangsa Arab."
Wilada menjawab sedih, "Inilah kata-kata yang akan kaudengar di penjara besok,
Tuan!" Untuk menuju pada pembicaraan pokok, Naila segera menyela, "Apakah Tuanku
mengajar ilmu kedokteran di Universitas Cordova?"
"Benar, Tuan Putri. Universitas ini merupakan kebanggaan Andalusia. Ribuan
mahasiswa datang dari seluruh pelosok negeri bahkan dari negeri sebelah timur. Mereka
belajar ilmu-ilmu agama, bahasa Arab, dan sastra, di samping belajar filsafat Yunani, ilmu
kedokteran, astronomi, aritmatika, geografi, kimia, dan biologi. Murid-murid
asing itu bahkan menguasai sastra Arab
ketimbang qissis-qissis mereka. Sampai salah seorang di antara "mereka
memberitahuku, dan dia hampir marah bahwa mahasiswa Universitas Spanyol menyembunyikan bahasa Spanyol
karena kecintaan mereka pada sastra Arab. Karenanya, mereka banyak melupakan bahasa ibu
mereka. Sebaliknya, jika membuat syair Arab maka mereka dengan mudah dapat
menciptakannya dengan baik sekali." Tibalah saatnya Naila mempertanyakan maksud utamanya. "Apakah di antara
mahasiswa- mahasiswa Spanyol itu ada yang datang dari utara?"
"Banyak, Puanku. Banyak pula mereka yang belajar gigih dan tekun."
"Saya rasa - saya tidak tahu apa penyebab perasaan ini muncul - sangat bersimpati
pada mereka karena mereka datang dari negeri yang jauh dan berpisah dari keluarga dan
sanak saudara. Mereka menguatkan ke-Andalusiaanku. Cordova menjadi begitu bersinar dan
menerangi seluruh dunia. Mereka datang ke Cordova dengan gigih dan bersungguh-sungguh
untuk mendapatkan cahaya ini. Mereka mendorongku untuk belajar bahasa Spanyol. Bahasa
benar- benar merupakan perekat jalinan emosional di antara orang-orang yang berbicara
dengan bahasa tersebut." "Agaknya sebab-sebab inilah yang mendorong rasa cinta pada mereka, Puanku."
"Aku pernah mendengar dari dokter Abu Ishak bahwa di antara mahasiswa muda
Spanyol yang sangat pintar yang aku lupa lagi namanya." Ia melanjutkan ucapannya, "Luar biasa
nama ini Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga terus terlintas dalam pikiran mesti kami tidak menghendakinya dan
mencoba untuk tidak mengingatnya. Aku tahu dia itu cerdas dan pintar walau
wajahnya aku tidak tahu." Segera ia berteriak, "Aku mengingatnya. Aspioto!
Aspioto, Tuan!" "Dia murid sangat pintar, sayangnya, karena kondisi negaranya ia sering pulang
dua sampai tiga kali setahun."
Naila tampak berseri-seri akan kebenaran praduganya itu. Kepulangannya ini tidak
terjadi selain untuk menyampaikan surat-surat Aisyah pada raja Spanyol. Ia pun
menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, "Mungkin dia seorang miskin, Tuan. Keluarganya tidak
mampu membiayainya sehingga ia harus pulang dan mengambilnya dengan paksa."
"Tampaknya ia benar-benar miskin. Namun dia bisa menyembunyikannya dengan
kesederhanaannya." "Bisakah Tuan membawa dia ke rumahku besok petang agar aku dapat membantu
kebutuhannya?" "Dengan senang hati, Puan."
Wilada memandangi Naila, bertanya-tanya tentang rahasia di balik itu semua.
Namun, Naila tidak memedulikannya. Ia berpamitan dan keluar meninggalkan istana.
Di rumahnya, Naila terus berpikir dan merenung. Ia lalu menulis surat dengan
bahasa Spanyol untuk raja Spanyol yang isinya membeberkan sebagian rahasia kerajaan Cordova. Ia
kemudian menyimpan surat itu di antara tumpukan kertas salah satu buku farmasi karya
Yunus Al Harrani. Buku itu ia simpan di antara buku lain di dalam lemari bukunya.
Hingga petang hari tiba, masuk salah seorang pelayannya berseru, "Seorang pemuda
Spanyol ingin menemuimu, Tuan Putri."
Ia pun memerintahkannya agar masuk.
Aspioto adalah pemuda berusia tujuh belas tahun. Perawakannya pendek dan
tubuhnya yang gemuk menunjukkan paras mukanya yang jelek. Namun, ia menutupinya dengan tawadlu
dan rendah hati. Ia masuk dengan menundukkan kedua matanya ke tanah. Jika ia
berbicara, ia mengangkat kepalanya sebentar kepada lawan bicaranya untuk sekadar menampakkan
wajahnya. Naila menyambut ramah. Ia mempersilakan duduk dan mulai berbincang-bincang
dengan bahasa Spanyol seputar negara dan keluarganya.
Saat suasana mulai cair, hilanglah kekhawatirannya. Ia berkata, "Dokter Ibnu
Zuhar sangat memujimu sehingga aku ingin menemuimu. Sebenarnya, Nak, aku tidak
menyukai dua perkara yang orang Cordova pintar-pintar dalam keduanya, dalam ilmu kedokteran dan
bahasa Spanyol." "Tuan Putri berbicara bahasa Spanyol sebagaimana si empunya bahasa."
Ia tertawa dan berkata, "Jangan mengelabuiku, Nak. Kecintaanku pada bangsa
Spanyol tidak kalah dalamnya dari kecintaanku pada bangsa Spanyol-Arab. Yang menyakitkanku
dalam hal ini adalah prasangka sebagian pejabat negara yang menuduhku lebih mencintai Spanyol
hanya karena aku bisa berbahasa mereka. Mencintai Spanyol benar-benar sebuah kejahatan
yang tidak terampuni pada masa banyaknya tersebar fitnah dan desas-desus. Aku keturunan
Arab asli. Inilah yang pernah dikatakan ayahku. Tapi aku tidak mengharamkan
darahku dari tetesan warisan
Spanyol. Aku menyatakan ini bukan untuk maksud lain selain dari persahabatan.
Kondisi Cordova saat ini tidak menarik lagi bagiku. Aku menginginkan suasana aman, tenteram, dan
taat hukum di mana orang-orang yang diberi hukuman tidak merasa dipenggal
lehernya oleh sang hakim."
Aspioto kaget karena mendengar ucapan lantang yang belum pernah ia dengar di
Cordova. Ia berkata, "Bangsa Arab adalah makhluk Allah yang paling sempurna, Tuan Putri!
Mereka membaca Al Quran kemudian mereka menyusunnya menjadi suatu sistem
pemerintahan. Luhur diplomasinya pada negara-negara jajahan. Mereka sarat dengan kekaguman dan
keluhuran sekali-gus." "Benar. Tapi kini apa yang mereka perbuat sesuai dengan Kitabullah itu nyaris
tidak ada petunjuk dan cahaya. Apakah kau lihat sengitnya perselisihan dan kedengkian di
antara para pejabat Andalusia" Ini bencana yang memilukan."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia kemudian tersenyum dan berkata congkak, "Mungkin saja aku tidak tahu, banyak
kemudharatan yang bermanfaat."
Ia berdiri di depan lemari bukunya seraya berkata, "Di lemari ini tersedia ragam
buku-buku syair dan sastra."
Aspioto berdiri lalu mengulurkan tangannya hati-hati mengambil salah satu buku
kedokteran dan berkata, "Anda memiliki banyak sekali buku-buku kedokteran, Tuan Putri."
"Aku akan memberikan sebagiannya kepada-mu.
Ia lalu memungut buku karya Ibnu Hasada, seorang dokter Yahudi masa Dinasti Al
Nashir Li Dinillah. Ia membuka lembaran-lembarannya. Ia lalu melirik ke sampingnya di mana
terdapat buku farmasi karya Yunus Al Harrani. Ia pun segera mengambilnya seraya
berujar, "Buku ini sangat langka, Puan."
"Ia ditulis oleh pengarangnya sendiri."
Tatkala ia membuka lembaran-lembaannya, tiba-tiba selembar kertas yang ditulis
Naila jatuh ke lantai. Ia pun segera memungutnya. Ia menoleh selintas di awal surat itu, nama
raja Spanyol. Ia pun curiga dan membaca beberapa kalimat di awal surat tersebut.
Naila lalu merebutnya dengan marah. Ia tampak seperti harimau buas yang
mengamuk. Naila lalu mencekik leher Aspioto seraya berteriak geram seperti orang gila, "Apakah
kamu membaca isi kertas itu" Apakah matamu melihat isinya" Wahai pengkhianat!
Wahai si jelek! Wahai penebar
fitnah! Satu kata saja yang bocor dari surat, ini jaminannya adalah leherku.
Katakan, apakah kau membacanya satu kata atau kalimat?"
Aspioto ketakutan dan gemetar seraya menjawab gugup tertahan, "Aku tidak
membacanya selain kata-kata 'kepada Raja Spanyol Yang Agung' dan beberapa baris setelah
itu." Naila lalu mengunci pintu ia berkata dengan kedua matanya terbelalak, "Engkau
kini tahu rahasiaku. Salah seorang di antara kita mesti ada yang mati, dan aku belum ingin
mati. Kau tidak akan keluar dari rumah ini hidup-hidup. Aku tidak suka jika
harus membunuh seorang pemuda
yang mencintai bangsanya. Tapi siasatku lebih penting ketimbang ia harus tahu
rahasiaku. Inilah akhir hidupnya!"
Aspioto semakin takut. Ia lalu berkata dengan gugup, "Ampunilah aku, Tuan Putri.
Tidak ada yang tahu rahasiamu selain mata-mata bangsa Spanyol."
Kepanikan Naila berubah gembira seraya berteriak, "Engkau mata-mata Spanyol?"
"Ya, Puan. Aku sangat gembira bisa bertemu dengan Anda."
Naila menarik napas lega. Harapannya terbuka lebar setelah ia ragu. Ia merasa
aman setelah khawatir. Ia berkata, "Bersama siapa engkau bekerja, wahai Aspioto?"
"Bersama satu atau dua orang. Aku yakin, semuanya berjalan lancar. Aku berharap
tidak melewati masa yang lama sampai Raja Spanyol menguasai Cordova dengan
balatentaranya. Kelak negara ini milik kita. Kelak semua ketulusan dan kesetiaan lebih tinggi
dari pangkat dan harta kekayaan. Beritahu aku, wahai Tuan Putri, apakah Anda
tahu orang yang bekerja bersama
kita?" Naila hanya memandang sambil menebak-nebak nama yang tidak dikenalnya. Ia hampir
menyebut nama Aisyah binti Galib namun ia ragu seraya berkata, "Aku mengenal
Atikah Al Quw-watia, Nozha Al Garnacia dan Silmi binti Hujaj."
Aspioto hanya menggeleng-gelengkan kepala pertanda ia tidak mengenal mereka
semua dan berkata, "Apakah kamu kenal Aisyah binti Galib?"
Ia menjawab dengan tenang, "Ya, aku mengenalnya."
Aspioto menyahut girang, "Aku bekerja dengannya."
"Apa rencana kalian berdua?"
"Dia menulis surat-surat yang isinya memberitahukan keadaan negara beserta
rahasia-rahasia militer dan pertahanannya, karena dia sangat dekat dengan para
menteri dan petinggi kerajaan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Aku lalu membawa surat itu ke utara dan menyampaikannya kepada Raja Spanyol. Aku
akan segera pergi setelah dua hari untuk membawa surat yang baru/'
"Bagus sekali. Jika kau dapat membawa suratku sekalian nanti setelah aku
memeriksa dan menambahkan isinya."
"Aku akan kembali kepadamu Selasa pagi."
"Setuju. Tapi dengar, jangan kaubocorkan satu kalimat pun apa yang telah terjadi
kepada Aisyah. Jangan sekali-kali kau menyebut namaku. Seorang mata-mata hendaklah
menutupi rahasia dirinya sendiri bahkan kepada sesama mitranya."
"Percayalah padaku, aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun! Selamat sore,
Tuan Putri!" "Selamat sore, Aspioto! Kita akan ketemu lagi Selasa pagi."
Belum lagi keduanya berpisah lama, Naila sudah berada di istana Ibnu Jahwar dan
menceritakan segalanya dari awal hingga akhir.
Ibnu Jahwar kaget dan menepuk pundak Naila seraya marah, "Percayalah, Naila, aku
tidak gampang percaya pada permainan para wanita. Jika apa yang kaukatakan bohong.
Katakanlah itu adalah dusta yang membuatmu mendapat segala macam siksaan."
"Ini adalah kebenaran nyata, Tuanku. Yang aku mohonkan, utuslah polisi ke
rumahku hari Selasa, pagi-pagi benar. Aku tahu bagaimana menjerat mereka."
Hari Selasa tiba. Aspioto datang ke rumah Naila. Para polisi lalu menangkap dan
menyerahkannya ke istana Ibnu Jahwar. Ia lalu memeriksa pakaiannya. Ternyata
tersimpan sepucuk surat yang tersembunyi di dalam sakunya. Didatangkanlah para pakar
bahasa Spanyol untuk kemudian membaca dan menerjemahkannya. Isinya menyiarkan rahasia negara
dan maksud untuk menjajahnya.
Ibnu Jahwar marah besar dan memerintahkan balatentaranya untuk menangkap Aisyah.
Mereka lalu berangkat ke rumahnya dengan muka geram layaknya bara Neraka Jahim.
Terbuktilah kini kedok Aisyah. Saat dakwaan dituduhkan kepadanya, ia pun seperti
orang gila. Betapa ia lama menyembunyikan rahasia itu pada setiap orang. Iblis manakah yang
berhasil mengungkap rahasia ini dan membeberkan rahasia tersembunyi di balik segudang
kekayaan ini" Siapa pencuri misterius yang mampu merampas cerita hari ini yang hanya tergerak
dalam getaran jiwa" Siapa lagi kalau bukan Naila"
"Dalam beberapa bulan ini Ibnu Zaidun tetap berada di penjara. Dia bukanlah
penghuni dunia maupun akhirat. Tidak ada musuh bagiku selain
Naila. Semoga Allah mengutuknya sebagaimana ia mengutuk Iblis!"
Ia marah di depan Ibnu Jahwar. Ia berharap, memohon ampunan dan menangis


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tersedu-sedu hingga menyayat hati. Namun Ibnu Jahwar adalah batu keras yang sangat beku. Ia
memutuskan untuk mengeksekusi Aspioto di lapangan kekha-lifahan dan merajam Aisyah dengan
tato api di ketiak kirinya. Harta kekayaannya dirampas dan ia diusir ke Qistalla.
Para polisi lalu menjalankan hukuman. Ia menangis, berteriak, dan memukul-
mukulkan kedua kakinya di tanah hingga suaranya kuat dan nyaring terdengar. Ibnu Jahwar lalu
memerintahkan lima orang dari tentaranya untuk menyertai kepergiannya.
Naila menjadi semakin dekat dengan istana kekhalifahan. Ia diberikan jabatan
penasihat kera- jaan sebagaimana panglima yang merencanakan strategi penyerangan.
Tatkala ia tahu bahwa Aisyah dihukum, buru-buru ia mengirimkan kabar gembira
tersebut pada Ibnu Zaidun dan Wilada. Ia memerintahkan agar tandu Aisyah dibawa ke sebelah
timur kota. Di sana ia melambaikan tangan perpisahan.
Hati Aisyah kecewa. Air matanya meleleh deras memohon perlindungan seraya
berteriak sejadi-jadinya pada Naila bercampur marah dan geram, "Kita akan berjumpa lagi di
lain kesempatan, wahai Naila!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia hanya tertawa seraya berkata, "Ya, dalam kebahagiaan dan kegembiraan!!"
0==0 10 Tibalah Aisyah di kota Bargash, Qistalla, setelah berhari-hari letih dan lunglai
selama perjalanan. Ia sampai dengan perasaan luluh dan gontai. Jiwa dan raganya
penuh kepedihan: kekayaannya raib dan kedudukannya sirna sebagaimana copotnya
kuku dari daging. Ia lalu menerawang segala kenikmatan yang hilang laksana gunung es yang
tersinari matahari di musim panas. Ia menyaksikan segala harapan lari dari
genggamannya sebagaimana burung-burung yang terlepas. Di sekelilingnya kini
hanya bebatuan. Kini, jalan begitu berliku, sangat dingin dan terjal dengan bebatuan, serta
tentara pengawal yang kasar. Siapa sangka seorang Aisyah akan memikul bencana
ini, padahal ia hidup tak pernah kekurangan, penuh dengan berbagai kesenangan.
Ia hidup bahagia dan kaya raya. Ia berpakaian sutera, tidur beralaskan
singgasana, dan menempelkan pernik perhiasan di kedua pipinya.
Bagaimana bisa ia kini beranjangkan bebatuan keras, makanannya cuma labu pahit,
dan hanya badai salju yang senantiasa menyelimutinya di waktu siang dan malam"
Bagaimana bisa perempuan kaya raya yang berlimpah dengan kesenangan ini menjadi
terpuruk seperti itu dan tergelincir pada kesengsaraan nista ini"
Setiap kali ia melihat gurun, bebatuan, padang pasir, dan bukit-bukit serta
melihat jasadnya dibopong di atas bagalnya, seolah-olah ia sisa air susu yang
hanya mengeluarkan sarinya.
Ia lalu teringat pada apa yang pernah dialaminya bersama ibunya tatkala ia
keluar besama kakek dan neneknya dari Saint-Yakev, melarikan diri dari
cengkeraman Al Mansur Abu Amir. Sejak saat itu, ia belum pernah menemui bencana
dan kenaasan hingga malapetaka hari itu.
Ia berkhayal tentang masa lalu dan masa kini. Saat teringat masa lalu, ia
menangis. Ia pun ingat masa kini yang hitam kelam tanpa cahaya. Ia pun mengingat
Ibnu Zaidun dan memikirkan cara untuk melawannya.
Ia teringat Naila dan bagaimana cara membalas dendam padanya setelah
kesengsaraannya itu sirna. Dialah teman Ibnu Zaidun yang berhasil mencuri surat-
suratnya dari rumahnya. Saat ia terkekang, tidaklah ia menemukan kesesakan dan
kepedihan. Ia sebenarnya sudah mencurigainya dan ingin segera memburunya:
"Lantas malapetaka apa yang membuat Ibnu Jahwar mencium hal ini" Ia tidak
menghiraukan tangisanku dan tidak memedulikan jeritan kewanitaanku Celakalah aku
dan kecerobohanku! Ibuku telah berwasiat kepadaku agar selalu berhati-hati. Aku
harus berpikir tentang kakiku sebelum melangkahkannya. Inilah yang aku perbuat.
Namun siapa sangka ada orang yang mengendus jiwaku" Telah tersingkap bahwa aku
pembela Spanyol dan musuh bagi bangsa Arab! Apa yang dapat aku perbuat terhadap
warisan keluargaku dan kebencian dari susu ibuku" Aku adalah orang Spanyol
bangsawan asli. Darah kerajaan mengalir dalam didikan, lingkungan, dan perilaku.
Darah ini terus mengalir meski termakan waktu dan perubahan generasi."
Ia masih melanjutkan, "Kakekku sangat membenci bangsa Arab. Aku khawatir
kebenciannya itu hanyalah siasat dan tipu daya. Ia sangat geram pada
pemerintahan bangsa Arab yang otoriter. Ia sangat dendam hingga ia ingin
menghancurkannya. Tetapi aku tidak hidup dengan penduduk belahan utara. Bangsa
Arab lebih tahu bagaimana mereka hidup dan menikmati berbagai kesenangan. Mereka
adalah orang-orang kasar turunan
Dinasti Umayyah. Bagaimana hidup dengan mereka pasca Cordova gemilang di mana
pestanya ibarat mutiara, tertawanya adalah nyanyian, dan terbahak-bahaknya
membelah kesunyian serta dipenuhi para penyair, satrawan, dan seniman?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku dilahirkan di sebuah kota yang riang yang malamnya laksana pagi. Hari-hari
berlalu dengan penuh gembira. Sebuah kota yang tidak redup meski gemintang di langit
tidak muncul. Jernih minumannya membuat lupa akan penderitaan. Sebuah kota titisan surga
firdaus yang di dalamnya ada ketenteraman jiwa dan kesejukan mata yang memandang."
Ia kemudian berdiri sambil air matanya meleleh dari kedua matanya. Pipinya
memerah marah seraya berkata lantang, "Cucu Garcia tidak menangis hanya karena kesengsaraan!"
Aisyah tiba di Bargash pada malam yang kelam. Dingin mencekam menyelimuti kota
itu sehingga membekukan hati yang kecewa. Kota Bargash berada di puncak bukit dan
dikelilingi gubuk-gubuk tua usang yang bergoyang dengan dingin dan badai. Setiap gubuk itu
memancarkan cahaya redup yang berkedip-kedip seolah-olah hendak padam.
Di kota itu hanya ada dua bentuk bangunan. Pertama, dan berada di tengah, istana
Raja Qistalla yang dikelilingi rumah para tentara dan petinggi negara. Kedua, banguan
Dewan Gereja Saint-Badvi. Aisyah terdiam menangis sedih di malam pekat ini. Ia tidak tahu bagaimana akhir
malam ini. Ia tidak bisa menemui raja di istananya karena malam telah begitu larut. Ia juga
tidak bisa turun ke toko-toko. Kesengsaraan yang tampak pada wajahnya membuat
pintu-pintu toko tertutup baginya.
Setelah merenung penuh resah, ia pun melihat gereja dan menuju ke arahnya.
Ketika sampai di pintunya, ia mengetuk berulang-ulang. Pintu gereja dibuka seorang biarawati tua
berwajah muram seolah benci akan kehidupan. Ia menyukai kesendirian. Bahkan,
masa mudanya dilalui dengan
menjauhi orang-orang karena demi menjaga ketenteraman dan kesucian.
Namun, terlihat juga bahwa sumber kebahagiaan hidup tidaklah terwujud kecuali
dengan bergaul dengan sesama manusia. Kesucian dan ketenteraman jiwa hampir tidak
pernah ada kecuali saat guncangan iblis-iblis lari dari biarawati itu karena melihat
kepedihan Aisyah. Ia berkata dengan suara serak parau dan geram, "Korban baru syetan?"
Aisyah menjawab dengan suara gemetar dan sedih, "Bukan, Saudariku."
"Dialah perempuan malang yang tidak mendapatkan tempat penginapan maupun
makanan. Ia tidak menginginkan apa-apa selain tempat ber-teduh dan seteguk minuman. Ia akan
pulang dari gereja itu pagi-pagi benar. Apakah ia mendapatkan perlindungan untuk sisa
hidupnya?" "Kalau untuk sekadar tempat berteduh, ada. Tetapi kalau makanan, kau tidak akan
mendapatkannya malam-malam begini selain beberapa suap saja. Masuklah!"
Aisyah pun masuk. Ia menghabiskan malam itu dengan penuh kesedihan, lapar,
dingin, dan dahaga. Cacing yang berteriak seolah menggoyangkan pakaiannya.
Pemilik gereja melambaikan tangan padanya. Ia lalu pergi menuju istana raja.
Ketika ia mendekati pintu, penjaga gerbang istana buru-buru mengusirnya. Seandainya tidak
dikatakan kepada kepala penjara bahwa ia membawa surat dari Cordova untuk sang Raja, maka
hilanglah kesempatan untuk bertemu raja.
Ia menunggu sambil melirikkan pandangannya ke berbagai arah hingga kemudian raja
asing itu muncul di hadapannya. Ia melihat sosok lelaki tua renta berkulit hitam dan gemuk
perawakannya melebar ke samping. Ia duduk di atas singgasana yang tinggi. Kepalanya yang
sulah terbuka dengan dipenuhi uban. Ia memakai pakaian seperti umat Islam.
Aisyah menyalami dan mencium tangannya. Ia kemudian menangis sejadi-jadinya
seraya berkata, "Seranglah Ibnu Jahwar dan umat Islam itu untukku. Tuan!"
Sang Raja tersenyum curiga. Ia tidak memalingkan pandangannya karena rasa
penasaran seraya berkata, "Tenangkanlah dirimu, wahai anak gadis. Ceritakanlah apa yang
sebenarnya telah terjadi. Dan, perkenalkanlah dirimu terlebih dahulu karena aku
tidak suka berbicara dengan orang asing."
"Aku adalah Aisyah binti Galib, Tuan."
Kagetlah sang raja dan melebarkan kedua pipinya seraya berkata, "Aisyah"
Sukarelawan' pembela bangsa Spanyol"!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia lalu membuka ketiak kirinya untuk menampakkan bekas tato api itu seraya
berkata, "Inilah, Tuan, balasan ketulusanku dalam mengabdi kepadamu dan hukuman
dari membelamu." Sang raja bangkit dan berdiri dari duduknya seraya berkata geram, "Siapa yang
telah melakukan ini?"
"Ibnu Jahwar. Setelahnya itu, merampas harta kekayaanku dan mengusirku dari
Cordova tempat kelahiran ayahku."
Sang Raja mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seorang pemikir seraya berkata,
"Apakah semua ini karena kau membelaku?"
"Ya, Tuanku. Dan demi tujuan yang kita gencarkan padanya sekaligus."
"Siapa gerangan yang mengadukamu?"
"Seorang perempuan yang bersaing denganku dalam memperebutkan seorang laki-
laki." "Memang kau mesti tahu, Anakku, bahwa mata-mata itu tidak memiliki nurani. Jika
ia menyukai sesuatu, ia akan merusak segalanya. Kita harus belajar dari
kekalahan kita. Kini kau aman tanpa gangguan. Hari-hari berikutnya memastikan
kita melawan mereka demi kamu. Orang lemah yang beranjak kuat adalah lebih kuat
dari orang kuat yang mulai lemah. Bangsa Arab telah mengalahkan kita dengan
kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan kita dan dengan keimanan yang lebih
agung. Rakyat kita tidak akan tersentuh lagi sedikit pun. Dendam dalam diri kita
belum padam. Kita mulai membangkitkan hidup setelah itu terputus dari diri kita
kecuali kekuatan di akhir cerita sehingga kita menjadi api dahsyat yang berkobar
seperti gejolak Neraka Sa'ir. Bangsa Arab pun ketakutan. Embusannya menulikan
pendengaran mereka. Kita tidak akan lalai dari luka kita, Anakku. Namun kita
mesti bersabar sampai bunyi lonceng membungkam suara-suara adzan.
Apakah engkau tahu apa latar belakangnya" Di Jelica, ada seorang pendeta kejam
bernama Bilai. Ia melihat bangsanya lari dari kejaran para penjajah. Hatinya penuh amarah. Ia
mengobarkan semangat di tengah-tengah rakyatnya untuk mengobati rasa luka dan
mengusir para penjajah dari negeri mereka. Namun, bangsa Arab memang bengis.
Sebagian rakyatnya telantar di padang-padang gurun pasir. Di antara mereka
banyak yang mati kelaparan hingga jumlah yang tersisa sekitar tiga puluh orang
laki-laki dari sepuluh orang perempuan. Tidak ada makanan yang bisa disantap
baik madu maupun kurma. Para pahlawan perang itu tertahan di tengah padang
pasir. Bangsa Arab pun beputus asa dalam menyerang mereka sehingga akhirnya
meninggalkan mereka seraya berkata, 'Tiga puluh orang laki-laki tidak ada yang
datang satu pun"' Namun, tiga puluh orang itu senantiasa berlomba bermegah-
megahan, memperkuat diri, dan tersebar ke beberapa kerajaan Arab. Nasib mereka
sebagaimana yang kaulihat kini. Negara mereka cukup kuat, didatangi para raja
maupun pangeran." Sang Raja lalu melanjutkan, "Bersabarlah, wahai Anakku, sesungguhnya arak,
wanita, mengumbar hawa nafsu dan bercerai-berai, menjamin dapat melemahkan
kekuatan mereka. Mungkin kondisi itu tidak kita dapati sekarang. Namun, tanda-tandanya mulai
terlihat kini." Aisyah berkata, "Tidakkah sekarang Tuan berkehendak membalaskan dendam pada
mereka?" "Tidak, wahai Aisyah."
"Sebaiknya Tuan memanggilku 'Rozali'. Aku mengganti nama Aisyah sejak aku
meninggalkan Cordova."
"Rozali" Sekarang namamu menjadi Rozali?"
"Ya, Tuan." "Baiklah! Tenanglah, wahai Rozali! Tinggallah bersama kami hingga kamu merasa tenang.
Akan aku sediakan rumah tinggal dan sejumlah uang untuk kebutuhan hidupmu."
Aisyah alias Rozali tinggal beberapa bulan di Bargash dengan limpahan kekayaan
dan jabatan tinggi. Hubungannya dengan sang Raja begitu dekat. Ia mendapatkan
wewenang dan kepercayaan.
Pada suatu pagi, sang Raja memanggilnya sebelum sampai di pintu rumah, "Aku akan
membahas permohonanmu, wahai Rozali! Kemarilah menghadapku setelah engkau
mengunci pintu karena pembicaraan kita tak mau dikuping oleh telinga ketiga."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Aisyah menghampirinya dengan langkah hati-hati seolah khawatir suara kakinya
dapat membocorkan rahasia penting ini, seraya berbisik, "Ada berita baru. Tuan?"
"Tidak, Rozali. Hanya saja, ada dua orang utusan istana Cordova datang tengah
malam tadi." "Apakah rakyat Cordova merevolusi?"
"Tidak, Ibnu Jahwar itu lebih pintar hanya sekadar memperlihatkan seorang pemuka
yang berpaling darinya. Dia tahu kapan seseorang mendekati dan mengkhianatinya.
Namun, seorang lelaki merayap kepadanya. Kini ia telah tua dan sudah dekat liang kubur. Aku
tidak tahu pasti apakah anak-anaknya akan melanjutkan misinya."
Ia menarik napas panjang dan melanjutkan ucapannya, "Hari-hari itu kini telah
berlalu. Namun, tanda-tanda itu belum juga terlihat. Orang yang mendahulukan
makanan dan kekuasaan akan
terbakar tangannya. Kemarin, utusan itu datang dari pihak Ramirez bin Petro."
"Pemilik kedai minuman terbesar di Cordova?"
"Ya, dia adalah kepala mata-mata kami di sana setelah ayahnya meninggal."
"Dia hidup bersama orang Arab dan menyatu dengan mereka. Ia begitu banyak
mendorong ajaran Islam dan fanatik terhadap umat Islam."
"Ini rahasia besar. Putriku."
"Berita apa yang dibawa utusan itu?"
"Ia mengatakan bahwa Ibnu Ibad Aspilia itu berencana menyerang Cordova dan
menyingkirkan kepemimpinan di bawah Ibnu Jahwar. Ia mengutus dua orang utusan pada Ramirez,
mengharap dan mendesaknya agar aku dan tentaraku mau membantu dan bersekutu dengannya,
agar selamanya binasa ia mengutus orang padaku setiap tahun."


Pembawa Kabar Dari Andalusia Karya Ali Al Ghareem di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apa yang ia kabarkan. Tuan?"
"Menurutku, Ibnu Ibad itu singa buas dan Ibnu Jahwar itu serigala pintar. Jika
kita menolong Ibnu Ibad, niscaya Cordova tetap tak terkalahkan. Bisa racunnya
begitu menyebar ke seluruh
Dataran Arabia di bawah kekuasaannya. Kita pun menjadi resah dan bimbang. Sebab,
Ibnu Jahwar itu sosok yang sangat hati-hati yang bisa menggetarkan hati. Ia mengambil
tapi tidak memberi. Para pengawalnya dilarang untuk menerima suap dari siapa pun."
"Benar. Masalah ini memang cukup pelik."
"Tidak, Rozali. Kepelikan itu akan menjadi mudah dengan berpikir, bersabar, dan
rencana yang baik." "Apakah Anda memilliki rencana, Tuan?"
"Aku berencana sejak lama, karena Ibnu Al Murtadha yang Umayyah itu diusir Ibnu
Jahwar ke belahan timur Andalusia sejak beberapa bulan yang lalu. Ia kembali
yang kedua kali ke Cordova.
Para pendukungnya menariknya kembali secara diam-diam. Rakyat Cordova begitu
merindukan masa dinasti kekhalifahan Umayyah."
Sontak Aisyah kaget seraya berkata, "Apakah Tuan menginginkan dia memimpin
Cordova?" "Kenapa tidak" Dia seorang bijak yang memiliki jiwa kepemimpinan. Apabila kita
menolongnya, dia pasti jadi sekutu kita dan mitra kekuatan untuk melumpuhkan
musuh-musuh kita." "Apa yang bisa saya perbuat, Tuan?"
"Sebenarnya saya tidak mau merepotkanmu. Tapi aku memandang bahwa Ramirez tidak
dapat mengerjakan apa yang aku inginkan."
"Apakah kau menginginkanku kembali ke Cordova" Tetapi seandainya aku kembali,
Tuan, mereka pasti akan membunuhku."
"Tidak, Aisyah. Engkau adalah pengelak yang pintar. Kau akan tinggal di rumah
Ramirez. Ia akan mengeluarkan sejumlah surat. Ia akan memulai perbincangannya,
'Aku ingin kau mengirimkan surat ini pada Ibnu Al Murtadha. Dan dia bersembunyi di salah satu
desa besar di Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cordova bernama Burg. Ramires tahu rumah itu. Aku memerintahkanmu, Rozali, agar
mengajak dia. Obrolanmu akan memabukkannya sehingga tidak mempan dengan mantra-mantra."
Senyum Aisyah tertahan seraya berkata, "Apa yang harus aku tulis dalam surat
itu. Tuanku, jika boleh aku tahu?"
"Kau akan menulis tentang keluhuran ayahnya, melapangkan dadanya untuk melawan
Ibnu Jahwar. Kautawarkan padanya pertolonganku. Aku tidak memintanya kecuali
pembelaan kebenaran atas kegelapan nyata. Tapi aku menyarankan, sebelum aku mengirimkan
tentaraku untuk menolongnya, hendaklah ia menulis surat permohonan bantuan kepadaku."
"Ia tidak bisa menulis dengan tangannya sendiri!"
"Aku mengerti, Rozali. Seandainya sebagian pejabat memiliki sebagian
kepintaranmu, aku pasti merasa tenang. Pergilah sekarang. Aku perintahkan agar
kau mempersiapkan segalanya untuk
keberangkatanmu. Aku tidak akan menasihatimu bagaimana harus selalu waspada dan
berhati- hati." Aisyah pun mencium tangannya dan berlalu.
Aisyah hidup senang dan bahagia di Bargash. Raja barat itu memberinya berbagai
kesenangan dan meliputinya dengan berbagai kasih sayang. Ia tinggal di tempat yang indah
dan kedudukannya yang mulia. Rumahnya penuh dengan harta kekayaan dan kata-kata
Rahasia Di Pulau Kirrin 2 Pendekar Bayangan Sukma 6 Kakek Sakti Dari Gunung Muria Pertempuran Di Lembah Bunga Hay Tong 1
^