Pencarian

Robinson Crusoe 4

Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe Bagian 4


memberi jawaban. Ke sepuluh orang itu, sebagaimana mereka kemudian
menceritakannya kepada kami, merasa heran karena tidak
mendapat balasan sama sekali. Pada saat pertama mereka
memutuskan segera kembali ke kapal, untuk memberitahukan
kepada orang-orang yang tinggal di kapal bahwa orang-orang
lainnya terbunuh dan bahwa sampan tak dapat dipakai lagi.
Kami telah melihat, bahwa mereka mendorong lagi
sampannya ke laut dan semua masuk ke dalamnya.
Melihat ini kapitan amat terkejut, karena ia mengira pasti
mereka akan kembali ke kapalnya dan akan meneruskan
perjalanan, karena teman-temannya sudah dianggap hilang.
Dengan demikian ia akan kehilangan kapalnya buat selama-
lamanya. Tapi belum jauh mereka mendayung sampannya di laut,
tiba-tiba kami melihat mereka kembali menuju pantai. Tapi
setelah mendarat ditinggalkannya tiga orang temannya dalam
sampan, sedangkan ke tujuh orang lainnya mendaki daratan
tentu dengan maksud mencari teman-temannya. Ini
mengecewakan benar, sebab sekarang kami tak tahu lagi apa
yang mesti kami perbuat, sebab melawan ke tujuh orang itu
tak akan berfaedah apa-apa, kalau kapal bisa melarikan diri,
sebab ke tiga orang lainnya tentu saja akan segera
mendayung kembali ke kapal.
Jadi dengan secepat mungkin mereka akan membongkar
sauh dan memasang layar mereka akan cepat-cepat berlayar
dan kapal itu akan hilang buat selama-lamanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jadi tak ada jalan lain daripada menantikan saja dengan
tenang hal-hal yang akan datang. Seperti sudah kukatakan, ke
tujuh orang itu mendaki daratan sedangkan ke tiga orang
lainnya ditinggalkan; setelah membawa sampan ke suatu
tempat lalu membuang sauh dan menantikan kedatangan
teman-temannya di sana. Jadi kami tak mungkin datang ke
sampannya. Ke tujuh orang tadi dengan berjalan rapat, mendaki puncak
sebuah bukit kecil, tempat rumahku tersembunyi di bawahnya,
dan meskipun kami dapat melihat mereka dengan jelas,
sebaliknya mereka tak dapat melihat kami. Kami akan amat
bersenang hati, bila mereka lebih mendekat, sehingga dapat
kami menembak atau menyerang mereka dari belakang. Tapi
ketika mereka sudah sampai di puncak bukit, dan mana
mereka mendapat pemandangan luas ke arah lembah dan
hutan-hutan, yang membujur ke arah timur laut, tempat-
tempat yang paling rendah di pulau, mereka mulai berteriak-
teriak dan memanggil-manggil sedemikian lamanya, sehingga
menjadi lelah karenanya. Dan seakan-akan tidak memperdulikan, bahwa mereka terlalu jauh dari pantai dan
dari teman-temannya, mereka duduk bersama-sama di bawah
sebuah pohon dan mulai berunding. Andaikata mereka tidur-
tidur seperti rombongan lainnya sebelum mereka, maka
pekerjaan kami menjadi agak lebih mudah. Tapi mereka
tampaknya terlalu diliputi kekhawatiran terancam sesuatu
bahaya untuk berani berbuat demikian, meskipun mereka tak
dapat mengatakan dengan pasti, bahaya apakah yang
sesungguhnya dikhawatirkan.
Kapitan mengajukan sebuah usul yang sangat baik,
berhubung dengan perundingan tadi. Ia mulai berkata, bahwa
menurut pendapatnya, mereka akan melepaskan tembakan
bersama-sama sekali lagi untuk mencoba memanggil teman-
temannya buat penghabisan kalinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kapitan kapal mengusulkan bahwa justru pada saat itu,
pada saat mereka melepaskan tembakan bersama-sama
(tentu dengan bedil-bedil tak berisi), kami harus menyerang
mereka. Tentu mereka - menurut dugaannya - akan menyerah, hingga semua akan berakhir tanpa pertumpahan
darah. Aku sangat setuju dengan usul ini. Aku merasa bahwa
maksud seperti ini akan dapat dilakukan, karena jarak kami
dari mereka begitu dekat, hingga sebelum mereka mempunyai
kesempatan untuk mengisi kembali bedilnya, kami sekalian
sudah berada di bawah hidung mereka.
Tapi mereka tidak me lepaskan tembakan, jadi kami tak
dapat mengambil keputusan, hanya menunggu saja. Akhirnya
aku menyatakan juga kepada teman-temanku itu, bahwa
menurut dugaanku kelasi-kelasi itu tak akan mencari lagi
teman-temannya dan sebelum malam tentu sudah dapat
kembali ke kapalnya. Akan lebih mudah bagi kami apabila
kami semua berada di tempat antara mereka dan pantai, dan
dengan demikian barangkali akan mudah pula dengan serba
akal, memancing ketiga orang yang ditinggalkan di perahu
supaya naik ke darat. Kami menanti lama sekali sampai akhirnya merasa sangat
kecewa, karena orang-orang itu setelah berunding lama sekali,
lalu bangkit dan pergi menuju pantai. Rupanya sudah ada
perasaan pada mereka bahwa mereka terancam bahaya, lalu
memutuskan saja kembali ke kapalnya dan membiarkan
teman-temannya itu hilang tak tentu rimbanya.
Tidak segera terpikir oleh kami bahwa mereka ke pantai itu
karena tak akan menghiraukan lagi teman-temannya. Dan
karena itu aku segera menyatakan pendapatku kepada
kapitan, yang telah mengira pula bahwa usaha kami ini
sungguh telah sia-sia. Tapi aku mendapat lagi pikiran baru,
pikiran yang akan dapat menahan mereka tidak segera turun
ke laut. Aku menyuruh si Jum'at dan juru mudi itu pergi ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
arah barat melalui anak air ke tempat di mana Jum'at dahulu
dengan orang-orang liar mendarat. Dan setelah mereka
mencapai jarak kira-kira satu mil, dan datang pada suatu
tempat dekat bukit kecil, mereka harus berteriak-teriak
sekeras-kerasnya dan teriak ini harus mereka lakukan terus
dengan tak berhenti, sampai kira-kira terdengar oleh kelasi-
kelasi yang hendak pergi itu. Begitu mereka mendengar dan
menjawab, kedua suruhan itu harus kembali dengan me lalui
jalan lain, jalan memutar. Kelasi-kelasi itu pasti akan terus
menjawab teriakan-teriakan itu juga dengan tak henti-
hentinya, hingga mereka akhirnya tersesat ke hutan. Dan
kalau ini sudah tepat menurut rencana yang kami rancangkan,
barulah Jum'at dan juru mudi itu boleh kembali kepada kami.
Kelasi-kelasi itu memang akan naik ke dalam perahunya,
ketika si Jum'at dan temannya tiba-tiba berteriak-teriak. Dan
kelasi itu pun mendengar teriakan itu, sambil berseru-seru
pula mereka berlari-lari sepanjang pantai menuju ke arah dari
mana teriakan itu datang. Tapi ketika mereka sudah agak
jauh, tahulah mereka bahwa di tempat itu ada anak air, yang
menghalangi jalan mereka, dan tak akan dapat melaluinya
tanpa menggunakan perahu. Dan betul-betul, apa yang
kukira-kirakan mereka menyeberang dengan perahu. Setelah
mereka sudah menyeberang dengan selamat, aku dapat
mengetahui, mereka menaruh perahunya di sebelah teluk
kecil, dan mendarat dengan meninggalkan dua orang saja
untuk menunggu perahu itu. Perahu itu ditanamkannya ke
dalam pasir, supaya tak terbawa air.
Ini semua adalah apa yang saya harap-harapkan, dan
sambil membiarkan si Jum'at dan juru mudi itu melakukan
terus apa yang menjadi kewajibannya, aku beserta yang lain-
lainnya pun, setelah menyeberang anak air, berhasil dapat
menyergap kedua penunggu perahu itu, sebelum mereka
sempat berpikir. Seorang di antaranya sedang berbaring-
baring di tepi dan yang lain sedang berada dalam perahu.
Yang berbaring-baring itu rupanya akan tertidur, dan alangkah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terkejutnya ia melihat kami datang. Ia bangun dan akan
melompat, tapi kapitan kapal yang berjalan di muka sekali
segera mengejar dan menghantam dia. Yang ada di perahu
diteriakkannya juga dan diancam supaya menyerah, kalau
tidak akan dihantamnya juga. Tak ada kesukarannya untuk
menyuruh seorang supaya menyerah, padahal yang menyuruh
ditemani oleh lima orang yang ketika itu sudah bersiap-siap di
bawah hidung yang disuruh. Di samping itu, kedua orang
penunggu perahu ini, memang orang-orang yang oleh kapitan
sendiri sudah dinyatakan hanya karena terpaksa mereka ikut
memberontak terpaksa oleh hasutan yang lain. Karena itu
mereka mudah saja dibujuk. Dan bukan hanya menyerah, tapi
mereka menyatakan pula akan berdiri di pihak kami.
Dalam pada itu, si Jum'at dan juru mudi itu menjalankan
tugasnya sangat baik sekali. Karena mereka berteriak tak
putus-putusnya itu, kelasi-kelasi yang sedang dipancing itu
terus juga mengikuti: menuruni lembah mendaki bukit, ke luar
hutan masuk lagi ke hutan yang lain, hingga akhirnya mereka
sangat kelelahan. Dan bukan saja lelah rupanya tapi malah
sudah tak dapat lagi melangkahkan kakinya untuk terus
berjalan mengikuti suara, dan dengan demikian tak akan
mungkin mereka dapat kembali ke pantai sebelum malam.
Juga Jum'at dan jurumudi itu pun sudah sangat lelah rupanya
ketika mereka datang pada kami. Jadi kami sekarang tak
dapat berbuat apa-apa, kecuali menunggu. Menunggu sampai
hari kelam untuk menyerang mereka dengan serentak. Antara
kira-kira beberapa jam, setelah Jum'at kembali kepada kami,
berhasil jugalah mereka dapat kembali ke tempat di mana
perahunya ditinggalkan. Kami mendengar bagaimana mereka,
yang berjalan lebih dulu memerintahkan supaya yang di
belakang cepat-cepat berjalan, dan bagaimana yang tersebut
belakang ini menjawab, bahwa mereka sudah sangat lelah dan
tak dapat lagi melangkahkan kakinya. Tentu saja berita ini
merupakan suatu berita yang sangat menggembirakan kami.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya mereka semua sampai juga di sampan, tapi
tidaklah mungkin untuk menceritakan kekecewaan dan
keputusasaan yang menghinggapi mereka, ketika melihat
bahwa, pertama sampannya terkandas dalam pasir dan kedua
orang yang ditinggalkan mereka sudah tidak ada lagi. Buktinya
kami mendengar mereka mengaduh dengan cara yang
menyeramkan dan saling mengatakan, bahwa pulau itu tentu
kena sihir, atau ada penghuninya yang akan membunuh
mereka semua, atau juga didiami setan-setan dan makhluk-
makhluk halus yang akan menyeret dan menelan mereka.
Mulailah mereka berteriak-teriak lagi dan berkali-kali
memanggil nama kedua orang temannya, tapi tentu saja tak
terjawab. Beberapa saat kemudian dalam cahaya yang samar-
samar dapat kami me lihat mereka berjalan kian kemari dan
berbuat seperti orang yang tidak tahu apa yang harus
diperbuat. Kemudian mereka duduk lagi beberapa waktu
lamanya di pinggir sampan untuk beristirahat, untuk kemudian
mundar-mandir lagi di pantai dan sebagainya. Orang-orangku
ingin sekali menyerang mereka, tapi aku bertekad akan
berbuat secermat mungkin dan membunuh sedikit mungkin.
Apalagi karena aku tahu bahwa musuh bersenjata baik, aku
tak mau bila orang-orangku mendapat bahaya terbunuh. Jadi
aku memutuskan untuk menunggu dan me lihat saja apakah
mereka akan terbagi-bagi dalam rombongan. Karena itu aku
lebih tajam lagi mengamat-amati dan memberi perintah
kepada si Jum'at dan kapitan untuk merangkak sedekat
mungkin kepada mereka. Mereka belum lama berada dalam
keadaan seperti itu, ketika seorang, yang menjadi pemimpin
utama pemberontakan, tapi sekarang ternyata orang yang
paling berputus-asa, berjalan ke arah rombongan si Jum'at
dengan dua orang lainnya. Ketika melihat durjana itu, kapitan
menjadi demikian marahnya, sehingga ia hampir-hampir tak
dapat menantikan lagi sampai ia lebih mendekat. Ketika ia
sudah dekat si Jum'at dan kapitan segera bangkit dan
melepaskan tembakan. Seorang mati di tempat itu juga salah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang temannya terkena badannya dan jatuh di
sampingnya, meskipun ia baru mati beberapa jam kemudian,
dan orang yang ketiga melarikan diri.
Tatkala aku mendengar tembakan, aku segera maju
dengan seluruh bala tentaraku, yang terdiri dari delapan
orang. Aku sendiri telah mengangkat diriku sebagai jenderal,
sedangkan si Jum'at menjadi letnan-jenderal. Selanjutnya
rombonganku terdiri dari kapitan dengan kedua orang
senasibnya dan ketiga orang tawanan perang, yang seperti
sudah kukatakan, dibebaskan dan dipersenjatai. Dalam gelap
kami menuju mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat
jumlah kami. Sekarang kuperintahkan orang yang mereka
tinggalkan dalam sampan dan sekarang menjadi kawan kami,
untuk memanggil nama mereka dan mencoba berunding
dengan kami, supaya dengan demikian mereka dapat
memahami kesalahannya. Perundingan itu berhasil, hal mana
gampang dapat dimengerti dalam keadaan mereka. Ia mulai
memanggil nama salah seorang dari mereka dengan suara
senyaring mungkin, "Tom Smith! Tom Smith!" Segera Tom
Smith, menjawab, "Siapa itu?" "Robinson?", sebab rupanya ia mengenal suaranya.
Yang lain menjawab, "Wahai, Tom Smith,
demi Allah lemparkan senjata-senjatamu dan menyerahlah,
kalau tidak kamu semua dibunuh." "Kepada siapa kami harus
menyerah" Siapakah mereka?" tanya Smith lagi. "Mereka ada
di sini," jawabnya, "Kapitan kita ada di s ini dan ia disertai lima
puluh orang dan mereka sudah dua jam lamanya mengejar-
ngejar kamu. Seorang sudah mati. Will T rye luka-luka dan aku
tertawan dan kalau kamu tidak menyerah, kamu semua akan
mati." "Apakah mereka akan mengampuni kami, apabila kami
menyerah?" tanya Tom Smith selanjutnya. "Aku akan pergi
dan akan bertanya kepada mereka asal saja kau berjanji akan
menyerah" jawab Robinson. Kemudian ia bertanya kepada
kapitan, sesudah mana kapitan berseru dengan keras, "Kau
tentu mengenal suaraku, Smith. Nah, letakkanlah sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
senjata-senjatamu dan menyerahlah, dan jiwamu semua akan
tertolong, kecuali W ill Atkins."


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

26 Kemudian Will Atkins berseru, "Demi Allah, Kapitan,
ampunilah juga daku. Keistimewaan apakah yang telah
kuperbuat" Mereka semua sejabat aku." Tapi ini tidaklah
benar, sebab rupanya Will Atkins adalah orang pertama yang
menangkap kapitan dan memperlakukannya dengan cara
biadab sekali, karena dialah yang mengikat tangannya dan
melemparkan kata-kata hinaan padanya. Kemudian kapitan
berkata padanya, supaya ia meletakkan dahulu senjata-
senjatanya dan minta ampun kepada gubernur. Yang
dimaksudkannya ialah aku, sebab mereka semua memanggilku gubernur. Pendeknya mereka meletakkan senjatanya dan minta
supaya tinggal hidup. Aku mengirimkan orang yang dapat
berbicara disertai dua orang yang akan mengikat mereka.
Kemudian dari lima puluh orang termasuk ke tiga orang yanfe
tadi, lalu memboyong mereka dan menyita perahunya. Hanya
aku sendirilah dan seorang yang lain, karena beberapa hal,
tidak menampakkan diri. Pekerjaan yang mula-mula kami lakukan ialah memperbaiki
perahu. Kami bermaksud pada saat itu juga akan merebut
kapal. Nakhoda mendapat kesempatan berbicara kepada
mereka, menyatakan betapa buruknya kelakuan-kelakuan
jahat terhadap dirinya membawa akibat mereka dalam
keadaan seperti sekarang, ya barangkali juga akan lebih buruk
lagi, akan membawa pemberontak-pemberontak itu ke tiang
gantungan. Mereka rupanya sangat menyesal, dan minta
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ampun. Atas permintaan ini nakhoda menjelaskan, bahwa
mereka sebenarnya bukan tawanannya, tapi tawanan
gubernur yang memerintah di pulau ini. Bahwa mereka
mengira nakhoda terdampar di sebuah pulau yang tandus dan
tak berpenghuni, tapi kiranya Tuhan mengaruniai yang tidak
bersalah, sebab ternyata pulau itu tidak kosong, dan gubernur
yang berkuasa di situ adalah orang Inggris. Bahwa gubernur
ini kelak dapat menyuruh mereka supaya digantung saja, tapi
kalau beliau bermurah hati sudi memberi ampun, nakhoda
mengira, tawanan-tawanan semua akan dikirim ke Inggris, di
mana mereka nanti akan diserahkan kepada pertimbangan
orang-orang di sana, bahwa hukumlah yang menghendaki
semua ini. Hanya nakhoda itu menyampaikan permohonan
kepada gubernur supaya Will Atkins dihukum mati, dan ini
harus dijalankan besok. Meskipun ini hanya gertak sambal, semata-mata fantasi
sang nakhoda, ternyata membawa hasil yang diharapkan.
Atkins lalu berlutut, memohon kepada nakhoda supaya suka
melunakkan hati gubernur, sedangkan yang lain-lain, sambil
menyebut-nyebut nama Tuhan, bermohon pula sekeras-
kerasnya, supaya tidak dikirim ke Inggris.
Kini jelaslah sudah, bahwa saat bebas bagi kami sudah
mendekat, sebab kiraku tak akan berapa sukarnya
menyiapkan tawanan-tawanan ini untuk merebut kapal
kembali. Aku belum berani tampil memperlihatkan diri di muka
mereka, apa kata mereka nanti, kalau tahu macam gubernur
apa aku ini. Aku memanggil nakhoda, karena jarak tempatku
agak jauh, seorang di antara orang-orang kami bertindak
sebagai perantara. Ia berkata, "Kapitan, Panglima Tertinggi
memanggil Tuan!" Dan nakhoda pun menjawab, "Sampaikan
kepada yang mulia, bahwa aku segera menghadap!" Ini
semua membuat mereka lebih-lebih tercengang, sebab
tahulah mereka bahwa Panglima T ertinggi dengan pasukannya
sebesar lima puluh orang ternyata tidak jauh dari tempat
mereka. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam pada itu nakhoda pun datang kepadaku, kunyatakan
kepadanya maksudku akan merebut kembali kapal itu. Ini
rupanya sangat berkenan di hatinya, la menyatakan
keinginannya supaya niat itu keesokan harinya sudah harus
dilaksanakan. Tapi untuk lebih meyakinkan akan berhasilnya, kuusulkan
supaya tawanan-tawanan itu dijadikan dua rombongan. Will
Atkins dengan dua temannya yang kami anggap berbahaya,
harus ditempatkan di dalam gua dicampurkan dengan
beberapa orang tawanan yang memang telah ada di sana.
Pekerjaan ini diserahkan kepada si Jum'at beserta dua orang
teman nakhoda. Mereka diantarkan dengan pengawal
bersenjata ke penjara, ya, memang gua itu kini sudah benar-
benar merupakan penjara, lebih-lebih untuk orang semacam
mereka. Yang lain-lain kusuruh antarkan ke rumahku yang di
pedalaman itu, dan karena tempat itu di pagar sekelilingnya
dan tawanan-tawanan sendiri pun diikat, maka amanlah
kiranya mereka ditempatkan di situ. Terutama kalau kita
pikirkan, bahwa mereka itu sebenarnya berkelakuan baik-baik.
Kepada merekalah aku pada keesokan harinya mengirimkan kapitan sebagai utusan untuk mengadakan
perundingan mengenai maksud merampas kapal kembali.
Dengan singkat ia dapat perintah dari padaku untuk
menyelami perasaan-perasaan mereka, dan kelak mengabarkannya kepadaku apakah mereka dapat dipercaya
untuk diajak bersama-sama, ya atau tidak. Ia mengatakan
kepada mereka tentang penghinaan-penghinaan yang mereka
lakukan terhadap dirinya, kemudian tentang nasib malang
mereka sendiri, akibat dan pikiran-pikiran yang jahat, dan
menjelaskan selanjutnya, meskipun gubernur pada saat ini
membiarkan mereka hidup, toh kalau mereka dikirim ke
Inggris tak boleh tidak akan dihadapkan ke tiang gantungan
juga. Tapi, katanya, kalau kalian mengatakan sanggup
membantu merampas kembali kapal yang kini di tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemberontak, maka gubernur pun sudah pasti akan memberi
ampun sepenuhnya kepada mereka.
Kita akan mengerti, bagaimana mereka segera menyatakan
kesanggupannya. Mereka berlutut di muka kapitan dan
bersumpah seberat-berat sumpah, bahwa mereka akan teguh
setia sampai titik darah penghabisan. Sebab mereka merasa
berhutang jiwa, ke mana saja ke seluruh dunia sekalipun
mereka akan setia mengikut.
"Ya," kata nakhoda. "Aku sekarang akan menghadap
gubernur untuk menyampaikan apa-apa yang kalian katakan
dan akan melihat apakah dapat aku memintakan ampun bagi
kalian atau tidak." Demikianlah nakhoda membawa laporan lengkap kepadaku
dari perundingan dengan mereka dan menyatakan pendapatnya pula, bahwa ia percaya mereka akan setia
kepada janjinya. Tapi supaya kami mendapat kepastian, kuperintahkan
padanya pulang kembali kepada mereka dan membawa lima
orang dari antara mereka. Ia harus menegaskan, bahwa kami
memerlukan lima orang itu bukan karena kekurangan tenaga,
orang kedua dan ketiga lainnya, yang telah dikirim ke dalam
gua sebagai tawanan, tak usah ikut bertempur, melainkan
dipakai sebagai sandera saja. Jika salah seorang dari mereka
yang menyerang kapal berkhianat kepada kami, maka kelima
orang itulah harus menanggung perbuatan jahatnya dan akan
segera digantung di pantai.
Jadi tentara kami sekarang terdiri dari: pertama, kapitan,
mualim dan penumpangnya; ke dua, ke dua orang tawanan,
yang termasuk rombongan pertama, tapi yang kubebaskan
atas permintaan kapitan dan kemudian kuberi senjata dan
mesiu, ke tiga, ke dua orang yang terbelenggu ditawan dalam
rumah peristirahatanku, tapi juga atas permintaan kapitan
beroleh kebebasannya kembali; dan ke empat, ke lima orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersebut di atas, sehingga seluruhnya berjumlah dua belas
orang. Lalu aku bertanya kepada kapitan, apakah dengan orang-
orang ini ia dapat kiranya merebut kapal, sebab si Jum'at dan
aku sendiri kurasa lebih baik tinggal di pulau saja sebab masih
ada orang-orang tawanan. Dan bagi kami pun cukup
pekerjaan untuk memisahkan ke tujuh orang dari satu dan
lainnya serta memberi keperluan hidupnya sehari-hari.
Mengenai ke lima orang dalam gua, kuambil keputusan
menyuruh mereka berpuasa sedikit, tapi si Jum'at sendiri
memberi mereka makanan dua kali sehari; ke dua orang
lainnya juga dipeliharanya.
Ketika aku buat pertama kalinya memperlihatkan diri
kepada mereka, mereka ditemani oleh kapitan, yang
menceritakan pada mereka, bahwa akulah orangnya yang
diangkat oleh gubernur untuk mengawasi mereka dan bahwa,
menurut kehendaknya mereka tidak boleh pergi ke mana-
mana jika tidak disertaiku. Dan bila mereka toh berbuat juga
mereka akan diambil dari rumah dan dibelenggu.
Pekerjaan kapitan sekarang tiada lain daripada mempersiapkan ke dua sampannya, menutup lubang sampan
yang satu dan mengisinya dengan anak buah, penumpangnya
diangkat menjadi kapitan sampan yang satu dan menaruh
empat orang di bawah perintahnya. Ia sendiri, mualimnya dan
kelima orang lainnya masuk ke dalam sampan lainnya, dan
mereka tampaknya faham benar akan pekerjaannya, sebab
sebelum tengah malam mereka sudah sampai di kapal.
Ketika mereka mendekati kapal, ia memerintahkan
Robinson supaya menemui anak-anak kapal dan menceritakan
pada mereka, bahwa mereka membawa kembali orang-orang
serta sampannya dan bahwa lama benar mencari sebelum
mereka menemukan orang-orang tadi. Dengan demikian
mereka menyesatkan anak-anak kapal itu dengan selamat
sampai dekat lambung kapal. Kemudian kapitan dan mualim
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat melomat ke atas kapal dan memukul dengan gagang
senapan mereka, mula-mula mualim ke dua dan kemudian
tukang kayu, dengan dibantu oleh anak-anak buahnya, lalu
mereka menguasai semua yang masih berada di geladak-
geladak atas dan geladak-geladak tengah dan mengikat
pelekah-pelekah, sehingga mereka yang ada di bawah, tidak
dapat naik di atas lagi. Sampan lainnya berlabuh dekat linggi
muka kapal dan anak kapalnya menduduki geladak muka dan
jalan masuk ke dapur. Masih ada tiga orang tertutup di
dalamnya. Ketika semua ini selesa i dan geladak dibersihkan
dari musuh, kapitan memerintahkan mualim dan tiga orang
lainnya untuk mendobrak rumah jaga, yang dipakai menutup
diri kapitan, pemberontak pada permulaan pertempuran
dengan dua orang dan seorang anak laki-laki, yang semuanya
dipersenjatai. Ketika mualim dengan sebuah linggis membuka
pintu, kapitan baru dan orang-orangnya melepaskan
tembakan padanya dan melukai mualim pada tangannya
dengan peluru bedil setinggar. Dua orang lainnya luka-luka,
meskipun tak ada yang mati. Sambil minta tolong dan dalam
keadaan luka mualim masuk dengan paksa ke dalam rumah
jaga dan dengan pistolnya, ia menembak kapitan kapalnya
demikian rupa, hingga kapitan itu tak dapat berkata lagi buat
selama-lamanya. Sesudah itu orang-orang lainnya menyerah
dan kapal, tanpa lebih banyak memakan korban, direbut oleh
kapitan kami. Sesudah kapal direbut, kapitan memerintahkan menembakkan tujuh pucuk bedil, isyarat bagiku bahwa ia
berhasil, dan sebagaimana dapat dibayangkan, waktu aku
mendengar tembakan-tembakan ini kira-kira jam satu atau
dua dinihari, aku sangat bergirang hati.
Setelah aku mendengar isyarat yang menentramkan hati
ini, aku beristirahat dan oleh karena aku amat lelah hari itu
segera aku tertidur nyenyak dan tidur terus, sampai aku
sekonyong-konyong terbangun oleh sebuah letusan bedil, dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika bangkit aku terperanjat mendengar orang memanggil-
manggil, "Gubernur! Gubernur!"
Segera aku kenal akan suara nakhoda, dan ketika aku lari
mendaki bukit, ternyata ia telah ada di sana. Sambil
merangkul ia menunjuk dengan telunjuknya ke arah kapal dan
berseru, "Sahabatku dan penolongku, lihatlah, itu kapal T uan."
Dan ketika kulepas pandanganku ke arah laut, aku melihat
pada jarak kira-kira setengah mil dari pantai, kapal yang
dimaksudkan sedang menari-nari di atas permukaan air.
Setelah nakhoda kembali berkuasa, ia segera mengangkat
sauh dan karena laut sedang tenang, ia rapatkan kapal itu
tepat di muka muara anak air, dan karena air sedang pasang
ia menggunakan sampan di tempat aku dahulu menggunakan
rakit dan dengan demikian mendaratlah ia tepat di muka
rumahku benar. Aku tak dapat mengeluarkan kata-kata karena terharu,
demikianlah aku ketika nakhoda itu berkata, aku hanya
memegang dia erat-erat aku cemas kalau-kalau aku akan
jatuh. Ia mengerti akan halku demikian ini, lalu segera ia


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengambil anggur manis dari sakunya, yang rupanya telah
dibawanya dari kapal, sengaja untuk aku, lalu disuruhnya aku
minum seteguk. Setelah minum, aku duduk di tanah dan
meskipun aku cepat sadar akan keadaanku, agak lama juga
menunggu sampai aku dapat berbicara kembali seperti biasa.
Dalam pada itu nakhoda sendiri pun tak jauh bedanya
dengan aku. Ia mengeluarkan kata-kata bujukan yang lemah
lembut kepadaku untuk mengembalikan keadaanku, tetapi
perasaan gembira rupanya sangat kuat mempengaruhi diriku,
hingga seluruh tubuh terasa kaku dan tak dapat menahan air
mata yang titik membasahi pipiku. Tapi ini meringankan,
ternyata setelah menangis keadaanku terasa sudah seperti
biasa. Dan kini giliranku untuk merangkul leher nakhoda,
sambil menyatakan bahwa ia pun penolongku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah agak lama kami bercakap, nakhoda mengatakan
bahwa ia membawa makanan dan minuman untukku,
sekurang-kurangnya semua sisa pemberontak celaka itu. Lalu
ia memerintahkan orang-orang supaya persediaan untuk tuan
gubernur dibawa ke darat.
Mula-mula ia memberikan kepadaku sebuah peti besar
berisi macam-macam minuman yang lezat, enam botol besar
anggur Madeira (tiap botol masih berisi kira-kira setengahnya),
dua pon tembakau yang sangat baik, dua belas kerat daging
sapi dan enam kerat daging babi yang masih segar, dengan
sekantung ercis, seratus pon biskuit yang biasa untuk anak-
anak kapal. Juga ia membawakan daku gula sepeti, tepung
sepeti, satu tempat penuh air jeruk dan beberapa tempat lagi.
Dan lain daripada ini semua, ia membawakan pula sesuatu
yang seribu kali lebih menggembirakan hatiku, yaitu enam
helai kemeja baru berwarna cerah, enam potong kain leher
yang baik-baik buatannya, dua pasang sarung tangan,
sepasang sepatu, sebuah topi, sepasang kaus kaki dan
beberapa pak pakaian lagi, yang baru dipakai sebagian kecil
saja. Pendeknya, nakhoda itu telah mendandani aku,
membungkus seluruh tubuhku dari bawah sampai ke atas.
Pakaian ini, dalam keadaan seperti sekarang, tentu merupakan
suatu pemberian yang sangat berharga. Tiap orang tentu akan
memakluminya Setelah kami mengakhiri ucapan-ucapan saling memberi
selamat dan semua barang-barang hadiah itu sudah selamat
dan baik pula dibawa ke dalam rumahku, barulah kami
merencanakan bagaimana cara memperlakukan tawanan-
tawanan kami. Dan ini sangat perlu untuk berunding dulu
masak-masak, sebab kami harus menentukan pula apakah
mereka akan kami bawa atau tidak. Lebih-lebih mengenai
kedua orang antara mereka yang pasti tidak dapat diperbaiki
lagi akhlaknya, dan ini memakan waktu lama sekali, untuk
mencapai penyelesaian. Nakhoda mengatakan bahwa pemberontak-pemberontak semacam itu, kalau dibawa harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diikat selama perjalanan dan apabila salnpai di salah satu
tempat jajahan Inggris, baiknya diserahkan saja kepada yang
berwajib. Tapi aku berpendapat bahwa nakhoda dalam hal ini
terlalu melihat dari sudut gelap. Karena itu kalau nakhoda
sepakat kuusulkan, bagaimana kalau kedua penjahat itu
ditinggalkan saja di pulau.
"Usul ini menggembirakan sekali," kata nakhoda
"Mari," kataku, "kalau demikian, akan saya suruh panggil
mereka. Aku akan bicara kepada mereka untuk Tuan."
Kupanggil si Jum'at dan dua orang tawanan, yang kini telah
dibebaskan, karena telah patuh menuruti janjinya akan setia.
Kusuruh Jum'at beserta mereka itu ke gua tempat tawanan;
kuperintahkan membawa kelima tawanan itu terikat ke
rumahku yang di pedalaman itu, dan menunggunya sampai
aku sendiri datang. Dalam tempo singkat dengan berpakaian baru dari atas
sampai ke bawah, aku tiba di rumah peristirahatan dan
kubiarkan lagi orang memanggilku gubernur. Ketika seluruh
anak kapal berkumpul, kuperintahkan membawa ke lima orang
ke hadapanku dan sekarang kuceritakan dengan lengkap
perbuatan jahat mereka terhadap kapitan. Kuceritakan pula,
bahwa aku tahu mereka bermaksud melarikan diri dengan
kapal dan sebagainya, kukemukakan pula, betapa Yang Maha
Esa pada saat terakhir membimbing mereka ke jalan yang
benar, oleh karena mereka akhirnya toh akan terjerumus ke
dalam lobang yang mereka gali buat orang lain. Seterusnya
mereka kuberitahukan, bahwa dengan pimpinanku kapal dapat
direbut kembali, dan sekarang dengan aman berlabuh di
pelabuhan dan bahwa mereka dapat melihat, bagaimana
kapitan baru mereka mendapat pembalasan bagi perbuatan
jahatnya, hal mana dapat mereka lihat dia bergantung di
andang-andang besar. Dan tentang mereka sendiri, aku ingin
tahu, apa yang mereka dapat kemukakan sebagai pembelaan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bila kuperlakukan mereka sebagai bajak laut - memang itulah
mereka - dan mendapat pembalasan yang setimpal.
Salah seorang dari mereka kemudian menjawab atas nama
orang-orang lainnya, bahwa yang mereka harapkan dari
kapitan ketika mereka tertangkap ialah, agar dibiarkan hidup.
Sesudah itu ia atas nama kawan-kawannya dengan rendah
hati minta diampuni dan dikaruniai serta dikasihani. Tapi aku
berkata padanya, bahwa aku tidak tahu karunia apakah yang
dapat kuberikan padanya, karena aku sudah mengambil
keputusan dengan kapal kapitan serta semua orang-orangku
akan berlayar kembali ke Inggris. Menurut kapitan sendiri, tak
lain hanya ingin membawa kembali mereka ke Inggris selaku
tawanan yang terbelenggu dan di sanalah mereka akan
mendapat hukuman yang selayaknya buat pemberontakan
dan pencurian mereka dan akhirnya, seperti yang mereka
ketahui juga, akan digantung. Jadi tak ada nasihat yang lebih
baik yang dapat kuberikan kepada mereka selain tinggal saja
di pulau ini. Bila mereka kehendaki, aku tidak keberatan,
sebab aku pun ingin mereka tetap hidup, asal saja sanggup
hidup di pulau ini. Mereka tampaknya berterima kasih dan berkata lebih baik
begitu saja daripada dibawa kembali ke Inggris dan digantung
di sana. Jadi keputusan itu, demikianlah jadinya.
Selanjutnya kapitan berpura-pura seakan-akan ia berkeberatan meninggalkan mereka. Aku pun berpura-pura
seolah-olah aku agak marah kepada kapitan. Aku berkata,
bahwa mereka adalah tawananku dan bukan tawanannya.
Karena tahu bahwa aku telah menaruh kepercayaan kepada
mereka, ia pun harus percaya juga dan bila tidak, aku akan
membebaskan mereka kembali dan ia sendirilah yang harus
menawan mereka. Sesudah mereka mendengar kata-kata ini dari mulutku,
mereka tampaknya amat berterima kasih lagi dan ketika itu
pula kubebaskan mereka kembali, sambil memerintahkan agar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka masuk lagi ke dalam hutan ke tempat tahanan mereka
dulu. Di sana kelak akan kuberi mereka beberapa pucuk bedil
dan sedikit obat dan petunjuk cara hidup yang harus mereka
turuti. Sesudah itu aku berkemas-kemas untuk naik ke kapal,
tetapi kuberitahukan kepada kapitan, bahwa malam itu aku
masih akan bermalam di darat buat mengatur urusanku. Tapi
kuperintahkan dia supaya naik ke kapal untuk menyiapkannya,
sehingga pagi-pagi esok harinya ia dapat mengirimkan
sampan ke darat untuk menjemput aku. Seterusnya kuberi
nasihat padanya untuk menggantungkan mayit kapitan
pemberontak pada andang-andang, sehingga kelima orang
tadi dapat melihatnya. Ketika kapitan sudah berangkat,
kusuruh ke lima orang itu datang lagi padaku dan aku bicara
bersungguh-sungguh dengan mereka. Kukatakan pada
mereka, bahwa mereka telah mengambil pilihan yang
bijaksana, sebab jika kapitan membawa mereka kembali,
mereka tentu akan digantung di Inggris, seperti juga halnya
dengan kapitan pemberontak, yang sekarang kuntal-kantil
pada andang-andang besar. Ketika mereka sekali lagi
menyatakan persetujuan mereka tinggal di pulau, kukatakan
pada mereka, bahwa aku akan menceritakan riwayatku, agar
mereka dapat mengambil teladan dari padanya. Jadi,
kuceritakan selengkapnya tentang kediamanku di pulau dan
kuceritakan juga bagaimana aku mendarat, kutunjukkan
benteng-bentengku, kuberitahukan cara membakar roti,
menyebar benih gandum dan menjemur kismis. Pendeknya,
segala yang mereka perlukan, kuceritakan pada mereka.
Seterusnya kuberitahukan juga tentang ke enam belas orang
Spanyol, yang mereka dapat harapkan kedatangannya setiap
waktu, buat siapa kutinggalkan sepucuk surat. Kusuruh
mereka berjanji padaku, bahwa mereka akan memperlakukan
orang-orang Spanyol itu sebagai sesama mereka sendiri.
Selanjutnya aku akan menggembirakan mereka dengan
memberikan senjata-senjataku, yaitu lima bedil setinggar, t iga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bedil pemburu dan tiga bilah pedang beserta mesiu satu
setangah kantung. Setelah dua tahun pertama aku tinggal di
pulau, sedikit sekali menggunakan mesiu. Seterusnya aku
menjelaskan bagaimana mereka harus memelihara kambing-
kambing itu, juga kuberikan beberapa petunjuk cara-cara
memerah dan memberi makan binatang-binatang itu dan
bagaimana cara membuat mentega dan keju. Pendeknya aku
menceritakan segala apa yang sudah kualami dari riwayat
penghidupan di sana dan kemudian kujanjikan akan
memintakan kepada nakhoda dua kantung mesiu lagi, sambil
meminta pula sedikit benih-benih tanaman untuk diperkebunkan. Dengan itu mereka akan sangat gembira
seperti aku sangat gembira dahulu ketika aku menemukan
benda itu. Juga kuberikan kepada mereka sekantung ercis,
yang dibawa nakhoda untukku, yang sebenarnya untuk
dimakan, aku nasihatkan kepada mereka supaya sewaktu-
waktu suka menanamnya. Setelah semua siap diatur, pada keesokan harinya pergilah
aku meninggalkan pulau yang telah lama kudiam i itu, naik ke
kapal. Kami siapkan memasang layar, tapi belum mengangkat
jangkar malam itu. Pagi harinya, pagi-pagi benar, datanglah
dua orang dari mereka yang kami tinggalkan itu, ke samping
kapal kami. Mereka merayu-rayu mengadukan ke tiga orang
temannya, sambil menyebut-nyebut nama Tuhan, mereka
memohon dengan sangat supaya diizinkan naik dan ikut kami,
sebab katanya kalau tidak, pasti mereka akan dibunuh. Biarlah
katanya sesampainya nanti akan digantung sekalipun, asal kini
dapat turut. Nakhoda menjawab bahwa mengenai ini ia tidak berkuasa
apa-apa, tapi setelah lama bercakap dan kedua orang itu
sudah pula bersumpah akan setia, akhirnya mereka diizinkan.
Tapi sebelumnya harus mendapat hukuman badan dulu, dan
baru setelah ini mereka jadi manusia yang baik dan tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa saat kemudian, ketika air sedang pasang, aku
pergi dengan perahu sekali lagi ke darat, untuk mengantarkan
kantung mesiu yang kujanjikan itu, sedangkan nakhoda
memberi nasihat supaya peti dan pakaian mereka dibawakan
pula. Barang-barang itu pun diterima mereka dengan ucapan
terima kasih. Aku memberi harapan kepadanya dengan
menyatakan kalau ada kesempatan aku akan mengirimkan
kelak kepada mereka sebuah kapal, dan selanjutnya
kunyatakan bahwa aku tak akan melupakan mereka.
Ketika aku berpisah itu, sebagai tanda peringatan, kubawa kopiahku yang kubuat dari kulit kambing, juga payungku dan kakaktua tidak kutinggalkan. Di samping itu uang perakan yang pernah kukatakan dahulu; mata uang itu mula- mula tidak kelihatan seperti perak, tapi setelah sedikit digosok dan kutaruh agak lama dalam kantung, mulailah tampak seperti yang laz im. Jadi pergilah aku meninggalkan pulau tersebut pada tanggal 19 Desember tahun 1686. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

27 Maka genaplah aku mendiam i pulau tersebut dua puluh
delapan tahun dua bulan dan sembilan belas hari. Maka
bebaslah aku dari tawanan yang kedua ini tepat pada hari dan
bulan yang sama, dengan waktu dulu aku meninggalkan
tempat tawananku dari bangsa Moor di Sallee. Dengan kapal
inilah setelah beberapa lama berlayar, sampailah aku di
Inggris, yaitu pada tanggal 11 Juni tahun 1687, setelah
mengembara tiga puluh lima tahun lamanya.
Dalam pada itu di Inggris aku merasa asing sama sekali,
seakan-akan aku belum pernah ke sana selama hidupku:
Temanku wanita yang kutitipi uang dahulu itu, masih hidup
tapi dalam ketidakcukupan. Ia kini janda untuk kedua kalinya,
dan baik kekayaan, maupun kehidupan tampaknya mundur
sekali. Aku menyenang-nyenangkan hatinya dengan mengatakan bahwa aku tak akan melupakan kebaikan dan
keramahannya dahulu terhadapku. Juga tidak sekiranya
modalku sudah bertambah. Lalu aku pergi ke Yorkshire. Tapi
ayahku ternyata sudah meninggal, juga ibuku dan beberapa
keluarga lain-lainya. Hanya tinggal dua saudara perempuan
lagi dan dua anak-anak saudara laki-lakiku, dan karena
mereka menganggap aku sudah tak ada lagi di dunia,
demikianlah orang tuaku tak meninggalkan apa-apa bagiku,
pendeknya aku tak mempunyai harta peninggalan semerang
bulupun. Sedangkan uang yang kupunyai pasti tak akan cukup
untuk hidup lama. Tapi untunglah aku mendapat sesuatu dari
pihak lain yang sebenarnya tidak kuharapkan dan tidak
kusangka-sangka. Beginilah peristiwanya: Nakhoda kepala
yang kutolong itu, ketika aku menyerahkan kapal beserta
sekalian isinya kepadanya, menceritakan segala peristiwa yang
telah terjadi kepada saudagar yang punya kapal itu. Ia
menceritakan dengan dibunga-bungai yang sebenarnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkelebihan, lalu memajukan usul supaya aku diberinya
hadiah sebesar dua ratus pondsterling.
Setelah aku berpikir-pikir lama tentang masa depanku, aku
teringat akan pergi saja ke Lisabon, melihat atau kalau dapat
mengusut perkara perkebunanku dahulu, di Brasilia,
bagaimana hanya dan bagaimana jadinya dengan teman
sekongsiku dahulu itu. Maka berlayarlah aku ke Lisabon dan
pada bulan April tahun berikutnya sampailah aku di sana.
Si Jum'at selama itu melayaniku dan dalam suka-duka ia
ternyata seorang hamba yang setia. Ketika aku tiba di
Lisabon, dengan senang sekali kutemukan tempat tinggal
sahabatku yang lama, yakni kapitan kapal, yang dahulu
mengambilku dekat pantai Afrika dan membawaku ke Brasilia
kepada anaknya, yang juga sudah tidak tergolong muda lagi.
Ia hampir-hampir saja tidak ingat lagi padaku, tetapi setelah
kukatakan siapa aku, ia segera mengenalku.
Setelah mengungkit soal-soal lama, aku bertanya tentang
keadaan perkebunanku dan tentang peseroku. Orang tua itu
berkata, bahwa ia sudah sembilan tahun lamanya tidak pernah
pergi ke Brasilia, tetapi katanya. Ketika ia bertolak, peseroku
masih hidup. Tetapi kedua orang juru kuasaku yang mengurus
perkebunanku, sudah meninggal dunia. Tetapi ia berpendapat
bahwa aku gampang saja meminta hakku, oleh karena juru
kuasaku, yang mengira bahwa aku mati tenggelam atau mati
karena sebab lainnya, telah menyerahkan perhitungan serta
pertanggungan-jawab atas perkebunanku kepada hakim.
Hakim ini telah memutuskan, bahwa jika aku tidak menuntut
lagi kekayaanku, seperti akan diserahkan kepada raja dan dua
pertiga kepada biara, pertama untuk menolong orang-orang
miskin dan kedua, untuk menyokong misionaris-misionaris
yang menyebarkan agama Katolik di kalangan orang-orang
Indian. Tetapi kalau aku sendiri, atau orang lain yang
bertindak atas namaku, menuntut lagi hakku, kekayaanku
segera akan diberikan kepadaku. Hanya saja yang tiap tahun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah dikeluarkan untuk badan-badan amal, tidak akan
diganti. Tetapi ia dapat memastikan, bahwa pemungut pajak
raja dan pengurus biara telah meneliti dengan cermat, agar
peseroku tiap tahun menyantaikan perhitungan sebenarnya
dari penghasilan yang didapat tahun itu. Seterusnya
kutanyakan padanya, sampai di mana peseroku memajukan
perkebunanku dan apakah menurut pendapatnya ada gunanya
bila aku menyelesaikannya dengan pergi sendiri ke sana dan
apakah aku akan menemui kesulitan-kesulitan besar. Ia
menjawab, bahwa ia tidak dapat menentukan dengan tepat
nilai perkebunanaku, tetapi ia tahu betul, bahwa peseroku
dengan bagian separuhnya itu menjadi kaya luar biasa. Dan
jika ia tidak keliru, ia telah mendengar, bahwa sepertiga
bagian buat raja, yang dijanjikan kepada biara lain atau
kepada yayasan gereja lainnya, ditaksir kira-kira dua ratus
uang emas setahunnya. Selanjutnya ia percaya, bahwa hak-
hakku mudah dibuktikannya, karena pertama, peseroku masih
hidup dan kedua, namaku tercatat dalam daftar-daftar negeri.
Juga ia berkata kepadaku, bahwa ahli waris ke dua juru
kuasaku orang-orang baik dan jujur, lagi pula kaya raya.
Menurut pendapatnya, mereka tidak saja akan menolongku
untuk mendapatkan dan mempertahakan hak-hakku, tetapi
merekapun akan memberikan padaku sejumlah uang sebagai
perhitungan almarhum ayah mereka.
"Tetapi," kata orang tua itu, "satu hal yang mesti
kuceritakan padamu, yang barangkali tidak begitu menyenangkan seperti lain-lainnya. Sebab karena mengira,
bahwa aku telah mati, dan seluruh dunia pun mengira
demikian, maka mereka atas namamu berjanji padaku untuk
menyampaikan perhitungan dengan aku selama enam atau
delapan tahun yang pertama, hal mana juga sudah terjadi.
Tetapi karena dalam waktu itu justru terjadi perluasan-
perluasan yang penting, misalnya membangun pabrik gula,
membeli lebih banyak budak-budak, dan sebagainya, maka
labanya selama tahun-tahun itu tidak sebesar kemudian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi," kata orang tua itu, "aku akan memberikan
perhitungan teliti tentang segala sesuatu, apa yang selama ini
kuterima dan kukeluarkan."
Beberapa hari kemudian sahabat tuaku memberikan
perhitungan kepadaku mengenai laba, yang dibuat perkebunan dalam tahun-tahun pertama, yang ditandatangani
oleh peseroku dan oleh juru kuasaku dan yang seluruhnya
dinyatakan berupa barang-barang, artinya berupa gulungan-
gulungan tembakau, peti-peti berisi gula, rum, dan melasse,
yang terakhir ini benar-benar merupakan hasil sesuatu pabrik
gula. Dari perhitungan ini kulihat, bahwa tiap tahun labanya
sangat bertambah, tetapi sesudah dipotong pengeluaran-
pengeluaran, jumlah laba itu amat kecil. Orang tua itu
menunjukkan padaku, bahwa ia berutang padaku empat ratus
tujuh puluh uang emas, dan enam puluh peti gula dan lima
gulungan rangkap tembakau, oleh karena barang-barang ini
ikut hilang dengan kapalnya, dalam perjalanan ke Lisabon,
kira-kira sebelas tahun yang lalu, karena kapal yang
membawanya karam. Orang yang baik hati itu mulailah mengeluh tentang
kesukaran-kesukaran yang dialaminya dan berkata bagaimana
ia menutupi kerugian-kerugian perusahaannya dengan uangku
dan lalu membeli sebuah kapal lain.
"Meskipun demikian, sahabatku," katanya, "engkau tak
akan menanggung kerugian. Setelah anakku kembali, kita
akan membuat perhitungan." Sambil berkata demikian ia
mengambil dompet dari kantungnya dan lalu memberikannya
kepadaku seratus enam puluh uang emas Portugis. Lalu ia
memperlihatkan juga sura-surat andil kapalnya itu, yang kini
sedang dibawa berlayar oleh seorang anaknya laki-laki ke
Lisabon. Diterangkannya pula, bahwa ia sendiri dan seorang
lagi anaknya yang laki-laki juga, masing-masing mempunyai
seperempat bagian dari kapal itu. Semua surat-surat itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diperlihatkannya kepadaku, sebagai bukti, supaya aku tidak
ragu-ragu. Aku sangat terharu oleh kejujuran dan keramahan orang
tua itu, aku hampir tak kuasa menyembunyikan rasa terharu
ini. Dan aku insyaf ia sudah berbuat sesuatu jasa yang sangat
besar ketika ia mengambilku dahulu, waktu aku terkatung-
katung di tengah laut, dan bagaimana baik sikapnya, setelah
aku tinggal padanya. Dan kini telah bertindak pula sangat adil
dan jujur sebagai sahabat. Mengingat ini semua, hampir-
hampir aku tak dapat menahan air mata yang mendesak-
desak akan ke luar. Karena itu mula-mula sekali kukemukakan
pertanyaan kepadanya, apakah keadaannya mengizinkan
untuk tiba-tiba menyerahkan uang sebanyak itu kepadaku dan
apakah ini tidak akan menyukarkan baginya". Ia menyatakan
tentang ini terus terang, bahwa mungkin ia akan menghadapi
kesukaran, tapi itu adalah uangku dan aku sendiri tentu lebih
berhak menggunakannya daripada dia.
Apa saja yang dikatakan oleh orang tua, membayangkan
kelembutan hatinya terhadapku, hingga aku yang tidak biasa,
sangat terharu. Pendeknya kuambil saja uang yang seratus,
dan setelah aku minta pena dan tinta, kubuat suatu tanda
penerimaan, kuberikan kepadanya, bahwa bila aku dapat
memiliki lagi perkebunanku yang dahulu, yang seratus itu pun
akan kuberikan kembali (kemudian kulakukan juga). Tetapi
tentang surat-surat bukti pembelian kapal anaknya, aku sama
sekali tak hendak mengambilnya. Aku tahu pasti bahwa kalau
aku perlu uang, anaknya itu akan bersikap jujur pula
kepadaku. Ia pasti mau membayarnya, dan sebaliknya, bila
aku mempunyai kekayaan, aku pun tak akan mengambil uang
sesen pun dari padanya. Setelah perkara ini selesai, orang tua itu bertanya
kepadaku, apakah ia dapat menolong berkenan hak-hak
memiliki kembali perkebunanku itu, dengan mengajukan bukti-
bukti. Aku menjawab, bahwa aku akan berpikir dahulu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenai hal ini. Ia menyatakan bahwa aku sendirilah harus
mengetahui perkara ini sedalam-dalamya, dan harus cukup
dulu usaha untuk dapat memulihkan perkebunan itu kembali
seperti sedia kala supaya dapat segera dinikmati hasilnya,
katanya. Dan karena justru waktu itu ada kapal-kapal di
perairan Lisabon yang akan segera berangkat ke Brasilia, ia
menyuruhku supaya aku lekas-lekas mendaftarkan nama
dalam daftar umum bagi penumpang dengan disertai
keterangan di bawah sumpah yang ditandatangani olehnya.
Keterangan itu menyatakan bahwa aku masih hidup dan
adalah orang yang dahulu membuka tanah ini dan ini
diselesaikan dengan baik oleh seorang pengacara, dikirimnya
surat-surat keterangan ini dengan disertai sepucuk surat dari
padanya, dialamatkan kepada salah seorang sahabat
dagangnya, seorang saudagar di Lisabon. Lalu ia mengusulkan
supaya aku tinggal di rumahnya saja selama menanti perkara
ini selesai. Tak pernah kujumpai sebelumnya, suatu tindakan adil dan
jujur seperti dibuat oleh orang tua ini, sebab belum sampai
tujuh bulan aku telah menerima dan ahli warisnya yang
menjadi pengusaha kebunku dahulu, sebuah paket yang
berisikan surat-surat dan kertas-kertas berharga seperti
berikut: Berkas pertama berisikan kwitansi-kwitansi dari perkebunanku mulai dari tahun, waktu ayah sahabatku itu
membuat perhitungan dengan nakhoda tua, orang Portugis
dahulu itu, terbilang untuk enam tahun. Neracanya
menunjukkan ada keuntungan-keuntungan bagiku sebanyak
seribu seratus tujuh puluh empat uang emas.
Berkas ke dua berisikan kwitansi-kwitansi empat tahun
kemudian, ketika pemerintah belum turut campur tentang
urusan tata usaha. Neraca ini menunjukkan bahwa harga
perkebunan menjadi naik sampai mencapai jumlah sembilan
belas ribu empat ratus empat puluh uang emas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang ketiga berisikan tanda-tanda penerimaan dari kepala
Biara Augustin, yang selama empat belas tahun menerima
jumlah dari keuntungan-keuntungan kebunku itu. Meskipun
tidak dinyatakan bahwa uang yang dikeluarkan itu untuk
membangun sebuah rumah sakit. Diterangkan pula selanjutnya, bahwa sejumlah delapan ratus tujuh puluh dua
mata uang emas lagi belum diapa-apakan olehnya, karena itu
ditambahkannya ke dalam jumlah bagianku.
Ada disertakan dalam paket itu sepucuk surat dari peseroku
itu yang menyatakan ia sangat gembira ketika mendengar
bahwa aku masih hidup. Dan ia memberikan laporan lengkap
tentang cara, bagaimana perkebunan itu dibangun, dan dari
perseroan keuntungan yang dibuatkan tiap tahun. Lebih-lebih
ia menerangkan dengan cermat kepadaku, berapa luas tanah
yang termasuk perkebunan, bagaimana ditanaminya, ada
berapa hamba sahaya yang kini masih bekerja. Selanjutnya ia
mengirimkan ucapan syukur sebagai tanda terima kasih
kepada Gadis Suci yang telah menolongku, dan kemudian ia
mengundangku, agar aku segera datang dan memiliki apa
yang menjadi kepunyaanku itu. Sekaligus ia minta supaya aku


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengirimkan perintah bagaimana selanjutnya ia harus
bertindak selama menanti kedatanganku. Kemudian sebagai
penutup suratnya, ia menyatakan dengan sangat mesra salam
persahabatan, dan ucapan bahagia dari keluarganya.
Sebagai hadiah ia mengirimkan padaku kulit macan tutul
tiga lembar yang rupanya baru saja ia terima dari Afrika
dengan salah satu kapal yang ia kirimkan ke sana, niscaya ia
telah melakukan pelayaran yang menguntungkan. Seterusnya
ia mengirimkan padaku lima peti lagi yang berisikan makanan-
makanan manis yang lezat-lezat dan seratus uang emas,
tetapi tidak begitu berharga seperti "moidores." Dengan
iringan kapal-kapal itu pula ke dua orang kuasaku
mengirimkan padaku seribu seratus peti gula, delapan ratus
gulungan tembakau, dan sisanya berupa uang emas, dengan
inilah mereka membayar utang mereka padaku.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dapatlah kukatakan, bahwa penghidupan orang miskin
seperti aku lalu kemudian menjadi lebih baik daripada semula,
tidak mungkin rasanya untuk menggambarkan perasaan-
perasaan hati yang men-jengkau diriku, ketika aku membaca
surat-surat ini dan ketika aku me lihat kekayaanku. Sebab,
karena kapal-kapal Bras ilia itu selalu bersama-sama berangkat
dan bersama-sama pula datangnya, maka kapal-kapal itulah
pula yang membawa surat-surat dan barang-barangku. Maka
terjadilah peristiwa barang-barangku telah berada dengan
amannya di kapal diatas sungai sedangkan surat-suratnya
belum kuterima. Pendeknya, aku menjadi pucat karena kaget
dan andaikata orang tua itu tidak memberikan seteguk rum
padaku untuk membuat aku sadar kembali, kukira aku jatuh
pingsan. Tetapi meskipun begitu hingga beberapa jam
lamanya aku sakit, sehingga akhirnya dipanggil seorang
dokter, yang agak mengerti sebab-sebab penyakitku dan
segera mengambil sedikit darahku. Sesudah itu aku segera
sembuh kembali. Sekarang, dengan secara tiba-tiba aku menjadi pemilik
limapuluh ribu pondsterling (1 pondsterling kira-kira tiga puluh
dua rupiah) berupa uang dan pemilik perusahaan dan
perkebunan di Brasilia yang menghasilkan lebih kurang seribu
pon setahun, jadi sama dengan seluas tanah milik di Inggris;
pendek kata, sekarang aku berada dalam keadaan sangat
baik, hingga sukarlah bagiku untuk menyadarinya.
Yang pertama-tama kulakukan, ialah membalas budi orang
yang berbuat baik padaku, yaitu kapitan tua yang baik hati,
terutama dalam keadaanku yang sebatang kara ini demikian
murah hatinya terhadapku.
Kuperlihatkan padanya apa yang kuperoleh dan kukatakan
padanya, bahwa ia boleh mempergunakannya sesuka hatinya.
Pertama-tama tentu saja kuberikan lagi padanya seratus uang
emas kepunyaannya, kemudian aku memanggil notaris dan
memerintahkan padanya untuk membuat akta, yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyatakan utangnya sebanyak empat ratus tujuh puluh uang
emas dianggap terbayar lunas. Selanjutnya kusuruh dia
membuat prokurasi, dengan mana kuserahkan padanya
pengelolaan keuangan perkebunan dan memerintahkan
peseroku untuk membuat perhitungan dengan dia dan bila
kapal-kapal kembali di Portugal menyerahkan segala-galanya
kepadanya. Seterusnya dalam suatu syarat kuberikan wasiat
istimewa padanya buat sepanjang hidupnya seratus uang
emas setiap tahun dan kepada putranya, sepeninggal
ayahnya, wasiat sebanyak lima puluh uang emas setahun.
Demikianlah kuselesaikan utangku kepada orang tua itu.
Sekarang pertama-tama aku harus mengambil keputusan,
tempat manakah yang akan kutuju dan kedua, apa yang akan
kuperbuat dengan tanah milik yang sekonyong-konyong jatuh
di tanganku. Memang aku mendapat lebih banyak beban
daripada selama penghidupanku yang suny i di pulau, di mana
aku sama sekali tidak menghendaki apa jua pun yang berada
di luar kesanggupanku, dan tak mempunyai tanggung jawab
yang besar dan kupergunakan uangku dalam pelbagai usaha.
Sekarang aku tidak mempunyai gua, di mana aku dapat
menyembunyikan uangku, atau suatu tempat di mana uang itu
aman tanpa dikunci. Sebaliknya aku tidak tahu, di mana dia
harus kusimpan atau kepada siapa harus kupercayakan
dengan aman. Majikanku yang dulu, kapitan, memang orang
yang dapat dipercayai, tetapi cuma dialah satu-satunya
kepercayaanku. Selain daripada itu, kepentingan di Brasilia
menjadi bertambah besar dan aku ingin benar pergi melihat-
lihat ke sana. Tetapi aku belum dapat berangkat ke sana,
sebelum urusanku selesai dan uang serta surat-suratku
disimpan di tempat yang aman. Mula-mulanya aku berpikir
untuk mempercayakan semuanya kepada janda, sahabatku
yang lama, yang kuketahui, bahwa ia orang jujur. Tapi ia
sudah tua dan miskin, lagi pula seperti yang pasti kuketahui,
ia mempunyai utang. Oleh karena itu pendeknya aku tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menemukan jalan lain selain kembali sendiri ke Inggris dan
membawa uang dan surat-suratku.
Tetapi masih harus lewat beberapa bulan dulu sebelum aku
mengambil keputusan itu dan karena aku telah membalas
sepenuhnya kebaikan dan keramahan kapitan, mulailah aku
memikirkan tentang janda yang miskin tadi, yang suaminya
pernah menjadi sahabatku yang terbaik, sedangkan ia sendiri
selalu menolongku sedapat-dapatnya.
Mula-mula aku pergi menemui seorang saudagar di
Lisabon, minta kepadanya supaya ia menyurati teman
sejawatnya di London untukku. Pertama-tama, teman sejawat
itu supaya menyelidiki seorang janda, apa ia masih ada atau
tidak. Ke dua, supaya menolong menanyakan perkara uang,
supaya dibayarnya kepadaku sebanyak seratus pondsterling,
dan ke tiga, ia harus menyatakan bahwa perempuan itu akan
mendapat tunjangan dari padaku selama hidupnya. Serentak
dengan ini, aku mengirimkan pula kepada ketfua saudara
perempuanku yang tingal di luar kota itu seratus pondsterling
masing-masing, meskipun mungkin mereka tak membutuhkannya tapi uang itu toh dapat digunakannya.
Seorang dari ke dua saudaraku itu pernah bersuami, tapi kini
janda. Yang lainnya masih bersuami, tapi suaminya itu adalah
seorang suami yang sebenarnya bukan untuknya. Tapi dari
lingkungan keluarga dan kenalanku tak ada yang kupilih
kecuali mereka, yang dapat kupercayai menyimpan uangku,
selama aku bepergian dan selama tinggal di Brasilia, dan ini
sebenarnya sangat menyedihkan hatiku.
Aku sudah terlanjur mempunyai maksud hendak menetap
di Bras ilia, dan memang sebenarnya Brasilia tempatku. Di sana
aku harus tinggal, sebab dahulu aku pernah mencatatkan
nama sebagai penduduk di sana. Tapi sebetulnya aku tak
senang akan segala yang tampaknya benci agama, dan ini
pulalah kelak yang memaksaku pergi lagi dari sana, tapi
tentang ini barangkali nanti akan kuceritakan lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti telah kukatakan, ini bukan sebab yang utama
mengapa aku tak pergi ke Brasilia ketika itu. Yang
menyebabkan ialah pikiran bahwa uang tidak akan jatuh di
tangan orang yang dapat kupercayai sepenuh hati kalau
ditinggalkan. Hanya pikiran inilah sebenarnya yang menahanku, yang memutuskan aku pergi saja kembali ke
Inggris dan mencoba mencari hubungan persahabatan supaya
aku di sana tak merasa kesepian.
Sebelum pergi aku membereskan sedapat mungkin
urusanku dan karena rombongan laut Brasilia itu akan segera
berangkat, secepat mungkin aku menjawab surat-surat yang
kuterima dari Brasilia. Mula-mula aku menjawab surat Kepala Biara Augustin.
Dalam surat yang satu kunyatakan terima kasihku atas
perlakuannya yang jujur dengan permintaan agar uang yang
delapan ratus tujuh puluh dua uang emas itu diambilnya
kembali lima ratus dari padanya dan diserahkan kepada Biara,
sedangkan yang tiga ratus tujuh puluh dua dibagikan kepada
orang-orang miskin menurut pilihannya.
Selanjutnya aku memohon supaya Bapa yang mulia itu sudi
mendoa untuk kebahagiaanku dan sebagainya. Kemudian
kutulis pula surat kepada penguasaku yang dua orang itu (dua
anak laki-laki penguasa yang dulu), dengan pertanyaan atas
kejujuran dan keadilan mereka dapatlah hak-hakku dahulu itu
kutuntut. Tentang mengirim hadiah sangat dilebih-lebihkan
untuk mengatakan mereka mau menerimanya. Akhirnya aku
menulis kepada pesero itu menyatakan terima kasih akan
kerelaannya memberikan pertolongan kepada usahaku dan
pendapat-pendapat untuk mengambil keputusan-keputusan,
kukatakan, semua ini kujunjung tinggi. Lalu kuberi penjelasan
tentang bagaimana cara mengurus perkebunan itu selanjutnya
dan meminta supaya seterusnya keuntungan tahunan itu
dikirimkan kepada sahabatku, Kapitan tua orang Portugis itu,
sampai ada kabar lagi tentang ini dari padaku. Sebagai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penutup suratku kunyatakan bahwa aku sudah pasti sewaktu-
waktu akan berangkat ke Brasilia untuk menghabiskan hari
tuaku di sana. Beserta surat ini kukirimkan kepadanya sebuah hadiah kain
sutera Italia untuk istri dan kedua anak perempuannya (sebab
Kapitan itu pernah mengatakan bahwa ia sudah kawin dan
punya dua orang anak perempuan), dua potong kain laken
buatan Inggris yang tebal dan lebar, yang baik yang terdapat
di Lisabon, dan lima potong kain wol dengan sedikit kain sutra
dari Vlaanderen, yang harganya dapat menjamin mutunya.
Jadi setelah perkaraku ini teratur dan telah kubayar
ongkos-ongkos kapal, mulailah aku memikir-mikir dengan
jalan bagaimana aku dapat kembali ke Inggris.
Aku adalah seorang pelaut, yang telah biasa berlayar jauh.
Begitulah tentu orang berpikir tentangku, tapi kini aku
mempunyai kesegenan tertentu untuk kembali ke Inggris
dengan jalan laut. Aku tak dapat menyebutkan bagaimana
kesegananku, hingga barang-barangku yang sudah dimuatkan
ke kapal dan segera akan berangkat, lalu kuurungkan niatku
itu. Ketika keenggananku menjadi besar pelaut tua yang
kuceritai halku, menasihati agar aku jangan melalui lautan,
lewat daratan saja menuju Groyne, dari sana melintasi Teluk
Biskaya sampai La Rochelle. Dari sana dengan mudah dan tak
usah takut akan bahaya bisa sampai di Paris dan dari sana ke
Calais, lalu menyeberang ke Dover. Dapat juga melalui Madrid
dan dari sana jalan darat lagi melalui Perancis Tengah, sampai
di Paris. Pendeknya, aku demikian enggannya akan segala yang
dinamai laut, hingga aku memutuskan menempuh seluruh
perjalanan lewat daratan saja, waktuku cukup banyak dan
biayanya tidak menjadi soal bahkan merupakan perjalanan
yang menyenangkan. Dan supaya perjalanan bagiku lebih
menggembirakan lagi, dengan perantaraan kapitan yang tua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, ikut pula seorang Inggris, putra seorang saudagar di
Lisabon. Kemudian kami berhasil membujuk ikut serta dua
orang Inggris lagi dan dua orang Portugis muda, tetapi yang
dua orang belakangan ini hanya sampai di Paris. Kami
sekarang berjumlah enam orang dan sebagai pengiring
membawa pula lima orang pelayan. Kedua orang saudagar
Inggris dan orang-orang Portugis merasa senang masing-
masing mempunyai dua orang pelayan, dan mengenai aku
sendiri, kecuali si Jum'at, kubawa pula seorang kelasi Inggris,
karena Jum'at masih terlalu asing di Eropa untuk dapat
digunakan sebagi pelayan.
Demikianlah aku me lakukan perjalanan pulang dan oleh
karena rombongan kami berkendaraan kuda dan cukup
bersenjata, kami seolah-olah merupakan pasukan kecil
tentara. Aku diangkat sebagai kapten. Pertama, karena akulah
yang tertua dari rombongan dan kedua karena aku
mempunyai dua orang pelayan dan rencananya pun berasal
dari aku pula. Oleh karena aku tidak pernah mengganggu para pembaca
dengan uraian-uraian tentang perjalanan-perjalanan laut,
maka sekarang pun aku tidak akan menghidangkan uraian-
uraian yang panjang lebar, melainkan hanya akan
menceritakan peristiwa-peristiwa yang paling menarik dari
perjalanan yang berbahaya dan sukar ini.
Beberapa waktu kemudian kami sampai di Madrid dan oleh
karena tidak seorang pun dari kami pernah ke Spanyol, kami
ingin benar tinggal di kota ini beberapa waktu lamanya untuk
melihat-lihat segala keanehannya. Tetapi oleh karena waktu
itu menjelang akhir musim panas, kami harus bergegas-gegas
dan dengan demikian kami sudah meninggalkan Madrid dalam
pertengahan bulan Oktober. Akan tetapi ketika kami
mendekati Tanjung Navarra, kami mendengar di beberapa
kota yang kami lalui dalam perjalanan kami, bahwa di
pegunungan yang termasuk daerah Perancis demikian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
banyaknya jatuh salju, sehingga beberapa orang dalam
perjalanan terpaksa kembali ke Pampeluna, setelah berusaha
melalui pegunungan, tapi s ia-sia.
Ketika kami sampai di Pampeluna, kabar-kabar diperkuat
lagi oleh pelbagai pihak. Mengenai aku sendiri, karena aku
sudah biasa kepada iklim tropik dan hampir seumur hidupku
tinggal di daerah-daerah, yang panasnya hampir-hampir tidak
kuat berpakaian, maka hawa dingin tak tertahan lagi. Lagi
pula karena kira-kira sepuluh hari yang lalu di Kastilia Lama
kami mengalam i hawa panas tropik. Dan sekarang kami
menghadapi angin yang datang lewat Pegunungan Pyrenea
dan angin ini demikian keras dan dinginnya, hingga kami
hampir menemui bahaya mati kedinginan.
Si Jum'at yang malang itu terkejut, ketika ia melihat
gunung-gunung yang sama sekali tertutup salju dan ia pun


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sangat menderita oleh hawa dingin yang tak tertahankan.
Supaya jelas soalnya, ketika kami sampai di Pampeluna, salju
telah turun demikian hebat dan lama, hingga orang-orang dari
daerah itu berkata, bahwa musim dingin datangnya terlalu
cepat. Dan jalan-jalan yang dulunya sudah amat sukar dilalui,
sekarang menjadi tidak terlalui sama sekali. Pendek kata, di
beberapa tempat salju demikian tingginya, hingga kami tidak
mungkin mengarunginya dan oleh karena salju itu tidak padat
seperti di negeri-negeri yang terletak lebih di utara, maka
kami menghadapi bahaya tertimbun hidup-hidup.
Kami tinggal di Pampeluna tidak lebih dari dua puluh hari,
dan ketika kami mengetahui, bahwa musim dingin yang
sebenarnya masih harus tiba (dan musim dingin itu adalah
musim dingin yang bertahun-tahun lamanya tidak pernah
dialam i di Eropah), aku mengusulkan untuk pergi ke
Fontarabia, dan dari sana naik kapal ke Bordeaux hal mana
hanya perjalanan pendek saja. Tetapi ketika kami sedang
berunding, datanglah di kota empat orang Perancis, yang
telah mengalami perjalanan di antara pegunungan di daerah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perancis, ketika kami baru saja berhenti di daerah Spanyol.
Mereka menceritakan kepada kami, bahwa mereka telah
menemukan seorang penunjuk jalan waktu melalui negeri di
sebelah Languedoc, telah membawa mereka lewat jalan-jalan,
di mana mereka sama sekali tidak mendapat gangguan salju.
Tempat itu bukan tidak bersalju, tapi salju itu beku dan keras
sehingga dengan mudah saja melaluinya dengan berkuda.
Kami mencari penunjuk jalan itu, yang kemudian
memberitahukan bahwa ia mau dengan kami kembali
menempuh jalan yang telah dilaluinya. Kami tak usah takut
salju, dan senjata pun cukup untuk menyelamatkan diri dari
serangan-serangan binatang buas. Ia menyatakan kalau
banyak salju, serigala juga banyak yang turun sampai ke kaki
egunungan, dan biasanya galak-galak, setengah gila, karena
kelaparan. Kami katakan bahwa kami tidak takut oleh serigala
yang berkaki empat, melainkan khawatir oleh semacam
serigala yang berkaki dua, yang sering memperlihatkan diri
terutama di perbatasan tanah Perancis.Tapi ia menyakinkan
kami, bahwa sepanjang jalan yang akan kami lalui, tak akan
berjumpa dengan binatang yang serupa itu. Jadi kami setuju
mengikuti dia dan demikian pula ke dua belas orang yang
kumaksudkan, mereka yang telah kusebutkan tadi, yang telah,
mencoba berkali-kali tak berhasil, dan akhirnya kembali ke
Pampeluna. Kami meninggalkan Pampeluna beserta penunjuk jalan itu
pada tanggal 15 November dan aku sebenarnya kaget ketika
si penunjuk jalan itu berjalan kembali ke arah Madrid, pada hal
seharusnya meneruskan perjalanan. Dan perjalanan kembali
ini sampai dua belas mil jauhnya. Lalu setelah kami
menyeberangi dua buah sungai dan datang di suatu tempat
yang baik sekelilingnya dengan hawanya yang sangat nyaman,
tak ada pula tanda-tanda bekas salju, baru setelah sampai di
situlah tiba-tiba kami diajak membelok ke kiri dan berjalan di
sebuah jalan yang lain menuju ke arah pegunungan. Dan
meskipun berbagai bukit dan lembah sering mengecilkan hati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena mencari jalan yang biasanya panjang berbelok-belok
hingga sampailah kami ke suatu puncak bukit, sebelum kami
mengetahuinya lebih dulu, dan sebelum dapat gangguan saja.
Dan sebelum kami dapat mengira-ngirakan pada suatu pagi
penunjuk jalan itu telah menunjukkan kepada kami suatu
tempat yang sangat bagus, subur tanahnya, di propinsi
Languedoc dan Gascogne. Tempat itu tampaknya kehijauan
dan semarak, meskipun baru saja samar-samar dari kejauhan.
Kami mulai merasa tidak senang, ketika sehari-harian dan
semalam penuh tidak henti-hentinya turun salju, hingga kami
tak dapat meneruskan perjalanan. Tapi penunjuk jalan itu
mencoba hendak menghilangkan kekecewaan kami dengan
mengatakan bahwa itu semua akan segera reda. Dan
sesungguhnya, kami mengetahui kini, bahwa perjalanan kami
makin lama makin jauh dari pegunungan, kami terus menurun
dan sampailah ke bagian pegunungan sebelah utara. Jadi kami
terus meneruskan perjalanan dengan tak hentinya sambil
menyerah saja kepada kehendak penunjuk jalan kami.
28 Ada kira-kira dua jam sebelum hari menjelang malam,
ketika penunjuk jalan kami agak jauh ke muka dari kami, tiba-
tiba dari jalan terusan yang menuju hutan, muncullah tiga
serigala dan seekor beruang berlari-lari menuju kami. Dua di
antara serigala itu menyerang penunjuk jalan kami, dan
sekiranya ia lebih jauh lagi dari kami tentu sudah dikoyak-
koyak, sebelum kami sempat menolong. Seekor dari kedua
serigala itu melompati kuda, sedangkan yang seekor lagi
menyerang orangnya demikian hebatnya, hingga penunjuk
jalan kami itu kehilangan waktu dan kehilangan semangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk dapat mengeluarkan pistolnya. Ia hanya sempat
berteriak minta tolong kepada kami. Kebetulan si Jum'at ada
di dekatku. Kusuruh dia memacu kudanya dan melihat segera
apa yang terjadi. Setelah Jum'at dekat kepada orang yang akan ditolongnya
itu, ia berteriak keras, "Tuan!" tapi karena ia seorang
pemberani, seorang yang tak kenal takut, demikian ia lari
menghampiri penunjuk jalan itu, dan menembak seekor
serigala sehingga jatuh dan kemudian mati.
Beruntung bagi si penunujuk jalan bahwa aku masih
sempat menyuruh si Jum'at. Ia sudah biasa menghadapi
binatang-binatang buas, waktu berburu di tanah kelahirannya.
Seorang dari kami pun rupanya telah pula menembaknya dari
tempat yang jauh. Ini memang berbahaya, sebab ada
kemungkinan tembakannya meleset atau mengenai si
penunjuk jalan itu sendiri. T api cukup menciutkan hati, bagi si
pemberani seperti aku ini. Ketika, setelah pistol si Jum'at
meletus, kami mendengar dari kedua belah pingir jalan, raung
serigala yang menggigilkan tubuh, diikuti oleh gema yang
bersambung-sambung seperti suara serigala yang tak
terhitung lagi banyak jumlahnya, seolah-olah serentak datang
hendak mengoyak-ngoyak kami sekalian.
Dan ketika si Jum'at menembak serigala itu, serigala yang
seekor lagi, yang tadinya hendak menerkam kuda, tiba-tiba
mengurungkan niatnya, lalu lari meninggalkan mangsanya.
Tapi si penunjuk jalan kami terkena juga. Binatang yang
marah itu sempat menggigit dia sampai dua kali. Sekali pada
lengannya, kemudian sedikit di atas lututnya. Dan ia rupanya
sedang menjatuhkan diri dari punggung kuda, ketika si Jum'at
melepaskan pelurunya. Ketika mendengar letusan pistol, kami semua tidak diam,
sedapat-dapat memburunya hendak melihat apa yang terjadi.
Ketika kami akhirnya sampai di tempat yang tidak terlindung
pohon-pohonan, kami tahu apa yang terjadi itu. Dan kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat melihat bahwa pertolongan si Jum'at tepat pada
waktunya, hanya kami belum dapat jelas melihat binatang apa
sebenarnya yang telah dibunuhnya.
Kiranya belum pernah ada perkelahian yang demikian seru
dan lucunya seperti perkelahian antara si Jum'at dan beruang.
Dan meskipun mula-mulanya kami amat terkejut, kemudian
kami tertawa terbahak-bahak. Beruang itu kecuali seekor
binatang yang berat dan kikuk yang tidak dapat bergerak
cepat seperti serigala, ia masih mempunyai dua macam sifat
yang aneh, yang menguasai seluruh tingkah lakunya. Pertama,
manusia-manusia yang tidak merupakan makanannya biasa
sehari-hari tidak akan diserangnya, kecuali jika mengganggunya (bahkan ia tidak akan menyerang mereka,
jika mereka tidak menyerang dia, kecuali jika amat lapar dan
waktu itu memang ia amat lapar karena bumi seluruhnya
tertutup salju). Tetapi kita harus memperlakukannya dengan
amat sopan dan memberi jalan kepadanya, sebab ia ingin
diperlakukan sebagai orang terhormat. Terhadap seorang raja
pun ia tak sudi mengalah. Jadi jika kita benar-benar takut
kepadanya, maka cara yang paling bijaksana ialah mengambil
jalan lain dan jangan menoleh lagi kepadanya. Sebab jika kita
berhenti sebentar dan menoleh kepadanya, maka ia akan
merasa tersinggung. Bila kita me lemparkan sesuatu kepadanya dan tidak
mengenainya, sekalipun hanya tong\at kecil sebesar jari, ia
akan merasa tersinggung dan akan melupakan segala-galanya
untuk membalas dendam. Inilah keganjilannya yang pertama.
Dan keganjilan yang kedua ialah, jika ia sekali saja merasa
terhina, ia tidak akan membiarkan kita lagi, me lainkan akan
mengejar kita siang malam dan tidak akan berhenti sebelum
kita terkeiar. Si Jum'at telah menolong penunjuk jalan kami, dan
sementara kami sampai di tempat terjadinya kecelakaan, ia
sedang menolong dia turun dari kuda. Sebab orang itu bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja terluka, melainkan amat terkejut juga, lebih-lebih lagi
ketika kami sekonyong-konyong melihat beruang yang ke luar
dari hutan. Belum pernah kami me lihat binatang yang
demikian luar biasa besarnya. Kami sekalian terkejut, ketika
kami melihatnya. Tetapi ketika si Jum'at melihat dia, wajahnya
tampak berseri-seri kegirangan, "O,o,o," kata Jum'at tiga kali
berturut-turut, sambil menunjuk kepadanya. "Tuan, izinkanlah
saya berjabatan tangan dengan dia. Saya ingin membuat Tuan
tertawa." Aku tercengang melihat dia dem ikian girangnya. "Kau gila."
kataku "kau nanti ditelan olehnya." "Menelan saya, menelan
saya." kata si Jum'at, "sayalah yang akan menelan dia. Saya
akan membuat Tuan-tuan tertawa enak. Tuan-tuan harus
menunggu di sini dan saya akan membuat Tuan-tuan tertawa
enak." Kemudian ia duduk dan setelah dalam sekejap mata
saja membuka sepatunya dan mengenakan celana sebagai
gantinya, pelayanku lainnya lagi memberikan kuda kepadanya
dan dengan sepucuk bedil di tangannya cepatlah ia berlari.
Beruang itu perlahan-lahan pergi dan agaknya tidak ingin
mengganggu kami lagi. Si Jum'at yang sudah amat dekat
kepadanya mulai memanggil-manggil dia dan berteriak-teriak
kepadanya, seolah-olah beruang itu dapat mengerti padanya.
"Hai, hai," teriak si Jum'at, "aku mau berkata padamu."
Kami mengikuti agak jauh dari dia, sebab setelah kami sampai
di pegunungan yang termasuk daerah Gascogne, kami jarang
berada di daerah hutan yang besar dan luas sekali, terdiri dari
tanah datar terbuka, di sana sini diselingi oleh hutan-hutan
lebat. Si Jum'at yang seperti sudah kukatakan, mengejar-
ngejar beruang dekat sekali, dengan sekonyong-konyong
memungut sebuah batu besar dan melemparkannya ke arah
beruang, tepat mengenai kepalanya. Tetapi binatang itu sama
sekali tidak terluka. Sebaliknya dengan ini si Jum'at benar-
benar telah mencapai maksudnya, sebab ia tidak takut sama
sekali untuk memaksa beruang menyerang dia, supaya kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat menyaksikan pertunjukan yang amat lucu. Ketika
beruang itu merasai lemparan batu dan melihat si Jum'at, ia
berbalik dan mengejar dia dengan langkah-langkah besar,
mendengus dengan marah, seperti kuda yang bercongklang
cepat-cepat. Larilah si Jum'at ke arah kami, seakan-akan
minta tolong. Karena itu kami bersepakat untuk menembak
beruang supaya si Jum'at tertolong. Terutama akulah yang
amat marah kepadanya, sebab beruang itu sendiri tadinya
sudah akan pergi dengan tidak mengganggu Rami.
"Bodoh kau," teriakku. "Inikah cara kau membuat kami
tertawa" Pergilah dengan kudamu, supaya kami dapat
menembak binatang itu."
Mendengar kami, ia berteriak, "Jangan tembak, jangan
tembak! Berhentilah, nanti Tuan dapat tertawa banyak-
banyak." Si Jum'at yang berbadan lentuk mengambil dua langkah,
kemudian dengan sekonyong-konyong berbalik di hadapan
kami, dan setelah dilihatnya sebuah pohon besar yang amat
serasi baginya, ia memberi isyarat kepada kami untuk
mengikutinya. Sambil mempercepat langkahnya, dengan
segera ia naik ke atas pohon, sedangkan bedilnya ditaruh di
atas tanah kira-kira 3 meter jauhnya dari pohon. Tak lama
kemudian beruang itu sampai ke dekat pohon, dan kami
mengikutinya agak jauh. Yang pertama dilakukan beruang itu
ialah menuju bedil, tapi setelah dicium, dibiarkannya saja dan
kemudian ia naik ke atas pohon, cepat seperti kucing, hal
mana tak kami duga dari binatang sebesar itu.
Aku heran melihat begitu banyak kegilaan yang
dipertunjukkan si Jum'at, ya kegilaan, aku tak bisa
menyebutnya daripada itu, dan sungguh aku tak mengerti
kelucuan apa yang dimaksudkan olehnya. Ketika kami melihat
beruang itu naik ke atas pohon, kami bersama-sama
mendekati pohon itu sampai dekat benar ke batangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika sudah dekat, kami melihat si Jum'at duduk di ujung
sebuah cabang yang ditengah-tengahnya diduduki pula oleh
beruang yang diikutinya itu. Tapi sebelum beruang itu dapat
menghampiri dia, si Jum'at tiba-tiba berteriak sambil tertawa,
"Ha ha, sekarang T uan akan menyuruh saya supaya beruang
itu berdansa, bukan?" Dan mulailah ia mengguncang-
guncangkan cabang kayu itu sekeras-kerasnya, hingga
beruang itu betul-betul sekarang seperti sedang dansa. Sambil
berdiri ia melihat ke bawah untuk mengetahui bagaimana
caranya yang mudah, supaya ia dapat segera turun. Dan kini
betul-betul kami terbahak-bahak.
Tapi si Jum'at tak membiarkan terus demikian. Ketika ia
melihat beruang itu berdiri diam saja ia mulai memanggil-
manggilnya lagi sambil berseru-seru seolah-olah beruang itu
mengerti bahasa Inggris, "Apa" Engkau tak mau dekat" Aku
minta dengan hormat supaya engkau hampir padaku." Dan
dalam pada itu diguncangnya pula dahan kayu itu keras-keras,
dan seperti benar-benar beruang itu mengerti, ia melangkah
perlahan-lahan menghampiri Jum'at. Tapi kalau melihat si
Jum'at dansa pula, ia kembali berdiri diam. Kami berpendapat


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tiba saatnya yang baik untuk menembak kepala beruang itu
karena itu aku berseru supaya Jum'at berhenti berdansa. Tapi
ia menjawab dengan sungguh-sungguh, "O, saya mohon
dengan sangat, jangan tembak. Saya sendiri akan segera
menembaknya." Untuk tidak memanjangkan cerita kami ringkaskan saja. Si
Jum'at masih beberapa lama berbuat seperti yang ia kerjakan
itu, dan beruang itu makin bersemangat pula ulahnya, hingga
kami benar-benar terpaksa tertawa. Tapi kami tak dapat
menerka, apa yang sebenarnya akan dilakukan si Jum'at.
Mula-mula kami mengira bahwa ia akan mengusahakan
supaya beruang itu jatuh, tapi kami mengetahui kemudian,
beruang terlalu cerdik. Ia tidak membiarkan dirinya sampai
jauh ke ujung dahan, dan malah berpegang erat-erat dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kukunya yang kukuh kuat itu, hingga kami tak dapat mengerti
bagaimana lelucon ini akan berakhir. Tapi si Jum'at segera
menghilangkan keragu-raguan kami. Setelah ia melihat
beruang itu berpegang erat kepada dahan itu, ia pun berkata,
"O, begitu! Engkau tak mau lebih dekat padaku, bukan" Kalau
engkau tak mau hampir, aku yang akan datang padamu." Dan
setelah ia berkata demikian, ia pun merangkak ke ujung
dahan yang kecil dan perlahan ia turun ke bawah, dengan
melengkungkan ujung dahan itu, dan dengan demikian
sampailah kedua belah kakinya di tanah. Setelah sampai di
tanah, ia segera mengambil bedilnya dan berdiri tegak di
tempat itu untuk beberapa saat.
"Ya," kataku kepadanya, "Ya, Jum'at, apa kehendakmu
sekarang" Mengapa tidak kautembak beruang itu?"
"Tidak, aku tidak tembak" kata si Jum'at. "Belum, saya
belum tembak sekarang. Tidak mati; saya masih tunggu dan
hendak menyuruh Tuan-tuan tertawa dulu."
Dan sesungguhnya, ia berbuat seperti kami segera
melihatnya. Ketika beruang itu melihat musuhnya pergi, ia pun
melangkah perlahan-lahan kembali ke pangkal dahan itu. Ia
berbuat ini sangat hati-hati, tiap langkah ia lakukan sambil
menengok ke kanan dan ke kiri dulu, dan ia melangkah
mundur, hingga sampai ke dekat pohon itu. Kemudian ia turun
dengan cara yang seperti tadi pula, sangat hati-hati
menjulurkan kaki belakangnya satu demi satu, sampai
akhirnya kedua kakinya dapat mencapai tanah. Tapi justru
pada saat ini, pada saat ia menginjakkan kakinya ke tanah,
justru pada waktu itu pula si Jum'at datang berlari-lari,
menaruhkan laras bedilnya tepat pada telinga beruang yang
malang itu, dan menembaknya mati. Kemudian ia berbalik
kepada kami, dan ketika ia melihat muka kami masing-masing
rupanya ia tidak ragu lagi, bahwa kepandaiannya betul-betul
menyenangkan kami. Ia pun tertawa keras, "Begitulah kami
membunuh beruang di tanah air kam i," katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Begitulah kalian membunuhnya?" kataku. - "Padahal kalian
tak mempunyai bedil."
"Tidak," jawabnya, "memang kami tak punya bedil, tapi
kami membunuh dengan panah, anak panah yang besar-
besar." Perkelahian antara si Jum'at dengan beruang adalah
pertunjukkan yang menggembirakan kami. Tapi kami masih
berada di dalam keadaan dan tempat yang jauh ke mana-
mana, dan karena petunjuk jalan kami luka parah, karena itu
tak tahu apa yang harus kami lakukan. Suara-suara serigala
masih terngiang-ngiang di telinga. Dan sesungguhnya lain
daripada aum dan raung binatang-binatang buas di pantai
Afrika dulu, aku tak pernah mendengar suara yang begitu
membuat kecut hatiku. Itu semua dan kepastian bahwa malam akan segera tiba,
tak memperkenankan kami melaksanakan apa yang
dikehendaki si Jum'at, yaitu menguliti kulit beruang yang
sudah mati, yang sebenarnya berharga sekali. Tapi karena
kami masih harus menempuh jarak tiga mil lagi, dan petunjuk
jalan kami berulang-ulang dengan sangat meminta supaya
perjalanan segera diteruskan, maka kami biarkan beruang itu
terhantar, dan kami meneruskan perjalanan kami.
Tanah di tempat itu masih tertutup salju, meskipun salju di
tempat semacam ini tidak berbahaya lagi seperti di tempat-
tempat pegunungan yang tinggi. Dan binatang-binatang buas,
seperti kami dengar belakangan, karena kelaparan, banyak
yang turun ke bawah memasuki hutan-hutan belukar dan
tegalan, terpencar mencari makanan, dan mengganggu
penduduk kampung dan membunuh berpuluh-puluh biri-biri,
kuda dan ternak lainnya. Kami harus melalui suatu tempat yang berbahaya.
Penunjuk jalan kami sebelumnya juga sudah memberitahukan
bahwa bila ada serigala-serigala, maka di tempat itulah kami
akan menjumpainya. Tempat itu merupakan suatu dataran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecil, yang dikelilingi oleh hutan-hutan, dengan di tengah-
tengahnya sebuah jalan yang panjang dan sempit. Jalan itu
harus kami lalui supaya bisa masuk hutan dan kemudian
sampai di desa, di mana kami akan bermalam.
Kira-kira setengah jam sebelum matahari terbenam,
sampailah kami di hutan. Mula-mulanya tidak seekor serigala
pun tampak. Hanya di suatu dataran kecil di muka, kami
melihat lima ekor serigala, yang saling berkejaran cepat sekali,
seakan-akan sedang mengejar mangsa atau melihat sesuatu.
Tetapi binatang-binatang itu tidak menghiraukan kami, lagi
pula beberapa saat kemudian sudah hilang lenyap. Kemudian
penunjuk jalan kami, yang sesungguhnya seorang penakut,
minta kepada kami agar bersiap-siap terhadap serangan,
sebab ia menduga, bahwa segera akan datang lagi serigala-
serigala. Senjata-senjata kami siapkan dan melihat dengan
baik-baik, tetapi tidaklah tampak serigala-serigala lagi.
Akhirnya kami ke luar dari hutan, yang panjangnya kira-kira
setengah mil berjalan kaki, lalu sampailah di dataran terbuka.
Akan tetapi ketika kami telah sampai di dataran itu kami
mendapat kesempatan yang lebih baik untuk melihat-lihat
sekeliling kami. Pertama-tama yang kami lihat ialah seekor
kuda mati, artinya seekor kuda malang, yang dibunuh oleh
serigala-serigala. Kira-kira ada dua belas ekor binatang itu
sedang asyik memakannya, tetapi apa yang harus dimakan
sebab semua dagingnya sudah habis. Akan tetapi binatang-
binatang itu masih saja mengungkai, dan menghisap tulang-
tulang yang besar dan kecil.
Tentu saja kami tidak berniat sama sekali untuk
mengganggunya. Sebaliknya binatang-bintang itu pun sama
sekali tida bermaksud mengganggu kami. Si Jum'at ingin
benar menembaknya, tapi kularang dia sekeras-kerasnya
sebab aku tidak merasa perlu menambah pekerjaan kami yang
sudah cukup berat itu. Belum separuh dari dataran itu kami
lalui, ketika dari dalam hutan di sebelah kiri kami mendengar
serigala-serigala meraung raung dan melolong secara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyeramkan. Tak lama kemudian kami melihat kira-kira
seratus ekor serigala menuju kami, berbaris rapi, dengan
pemimpin-pemimpinnya di muka sekali, yang memimpin
gerombolannya seperti pemimpin pasukan sesungguhnya.
Mula-mulanya aku tidak tahu bagaimana caranya kami
menyambut mereka, tapi akhirnya aku memutuskan membuat
barisan rapat. Jadi dengan segera kami mengatur barisan
demikian dan agar supaya di antara tembakan-tembakan
serentak tidak terdapat jangka waktu yang terlalu panjang,
kuperintahkan supaya menembak secara bergiliran. Mereka
yang tidak menembak harus bersiap-siap untuk memasang
bedilnya sehabis salvo yang pertama, jika salvo yang pertama
tadi ternyata tidak cukup untuk menghalaukan serigala-
serigala itu. Seterusnya mereka yang pertama kali menembak
segera mesti siap sedia untuk menembak ke dua kalinya.
Tetapi mereka tidak boleh menggunakan bedilnya, melainkan
pistolnya, sebab tiap orang bersenjatakan sepucuk bedil dan
dua pistol. Dengan demikian kami dapat memberi enam salvo
berturut-turut. Tetapi untuk sementara kami tidak usah
memikirkan hal itu, sebab setelah salvo yang pertama, juga
musuh sudah berhenti, menjadi takut sekali oleh letupan
bedil-bedil kami. Empat ekor tertembak kepalanya dan jatuh
mati. Beberapa ekor lainnya mendapat luka-luka, lalu
melarikan diri dengan darah berceceran sambil meninggalkan
bekas di atas salju. Kulihat serigala-serigala itu serentak
berhenti, tapi belum lari sama sekali. Kemudian aku teringat,
bahwa binatang-binatang yang paling berani pun bisa
dikagetkan oleh suara manusia. Lalu kuperintahkan seluruh
rombongan supaya berteriak sekeras-kerasnya. Harapanku
tidak kecewa, sebab mendengar teriakan kami itu binatang-
binatang tadi sekonyong-koyong lari dengan cepat. Kuperintahkan melepaskan salvo yang kedua, dan larilah
seluruh rombongan cepat-cepat ke dalam hutan. Ini
memberikan kesempatan kepada kami untuk mengisi lagi bedil
bedil kam i, dan supaya jangan membuang-buang waktu, kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terus melanjutkan perjalanan. Tapi baru saja kami mengisi
bedil dan membentuk lagi barisan rapat-rapat, maka dari
hutan yang terletak di sebelah kiri, terdengarlah gaduh luar
biasa, ke arah yang sedang kami tuju, hanya lebih jauh
daripada yang pertama kali.
Tibalah malam gelap gulita, hal mana membuat kami jauh
lebih sukar lagi. Dan ketika gaduh itu agak reda, kami dengan
tegas dapat mendengar raung dan lolong binatang-binatang
buas tadi lebih nyaring. Dan sekonyong-konyong tampaklah
tiga gerombolan serigala: segerombolan di sebelah kiri,
segerombolan di sebelah kanan, segerombolan lagi di muka
kami, sehingga kami seolah-olah terkepung.
Akan tetapi, karena mereka tidak menyerang kami, kami
pun terus saja berjalan sampai kepada batas, ke tempat kuda-
kuda kami sanggup membawanya. Demikian kami melanjutkan perjalanan dengan cara begini sampai akhirnya
kami melihatlah ja'ian yang kami tempuh menuju ke suatu
hutan. Setelah kami melalui dataran sampai ke tepinya kami
pun sampailah ke hutan tersebut. Dan kami sangat terkejut.
Baru saja kami sampai di muka hutan itu, kami telah ditunggu
oleh sejumlah serigala dari muka. Dan tiba-tiba kami
mendengar satu letusan di jalan masuk ke hutan seberang
sana, dan ketika kami melepaskan pandangan ke arah sana,
kami me lihat seekor kuda masih lengkap berpelana dan lain-
lainnya, berlari sangat kencang ke luar dari dalam hutan itu,
diikuti oleh kira-kira enam belas atau tujuh belas serigala.
Pada saat itu kuda tersebut masih dapat lari sekencang-
kencangnya mendahului serigala-serigala itu, tapi kami dapat
memastikan, bahwa ia tak akan lama dapat bertahan berlari
sekencang itu, dan ternyata akhirnya serigala serigala itu
dapat mengejarnya dan menerkamnya sekali.
Dan kiranya masih ada yang lain yang menunggu di tempat
itu, yaitu pemandangan yang lebih-lebih mengerikan. Ketika
kami menuju jalan masuk ke hutan itu, dari tempat kuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang, kami melihat bangkai seekor kuda yang lain dan
mayat dua orang manusia terhantar. Mereka adalah sisa-sisa
yang dimakan oleh serigala-serigala ganas itu, dan tentang
mayat laki-laki yang terhantar itu tak sangsi lagi, dialah yang
membunyikan tembakan tadi, sebab di sampingnya masih
terletak sebuah bedil yang baru diletuskan. Tapi kepala dan
bagian atas tubuhnya sudah tak ada. Semua ini memenuhi
pikiran kami dengan sangat, hingga kami tak tahu ke mana
kami mengarahkan tujuan. Dan binatang-binatang celaka itu
sudah melihat kami, dan sangat bernapsu rupanya
menghadapi mangsa yang baru ini. Aku mengira tak kurang
dari tiga ratus ekor jumlahnya. Kebetulan, di muka jalan
masuk itu, berjarak beberapa langkah saja dari kami, ada
beberapa batang kayu, yang rupanya telah ditebangi, pada
musim panas yang lalu, dan akan diangkut dengan gerobak.
Kudorong kini rombonganku yang tidak berapa jumlahnya itu
antara batang-batang kayu dan kami pun membentuk barisan
pertahanan di belakang batang-batang kayu itu. Kuperintahkan seterusnya supaya membuat pertahanan
bersudut tiga, sedangkan kuda-kuda kami, kami tempatkan di
tengah-tengah kami. Batang-batang kayu itu harus mereka
gunakan sebagi dinding pertahanan. Mereka menurut dan
ternyata bahwa perintahku ini baik kesudahannya, sebab tak
pernah ada serangan demikian dahsyatnya seperti yang
dilakukan oleh binatang-binatang keparat ini, yang makin lama
makin ganas nampaknya Mereka menyerang dengan
hebatnya, sambil me lompati batang-batang kayu yang seperti
telah kukatakan kami gunakan sebagai benteng pertahanan.
Seolah-olah binatang-binatang ini tak menghiraukan apa-apa
lagi, selain dari hendak membinasakan mangsanya. Tapi
napsunya yang sangat itu ternyata ditujukan kepada kuda-
kuda kami yang ada di belakang kami. Kuperintahkan supaya
orang-orang jangan berhenti menembak, dan serentak, seperti
mula-mula mereka lakukan, yaitu berturut-turut dan memilih
tujuan yang tepat. Hingga pada tembakan serentak yang
pertama sudah ada beberapa serigala yang mati. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang sesungguhnya, benar-benar harus dilakukan demikian, terus menembak berturut-turut dan berkali-kali
dengan serentak, sebab banyaknya serigala itu seperti


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bermunculan saja laiknya dari dalam tanah.
Ketika kami me lepaskan tembakan serentak yang kedua,
kami mengira sesaat, bahwa binatang-binatang ini tak akan
menyerang lagi, dan aku telah mengharap dalam hati, mereka
segera pergi. Tapi harapan itu hanya sebentar saja, karena
tiba-tiba datang lagi serangan serentak dari arah yang lain,
jadi terpaksa kami menggunakan tembakan serentak lagi, kini
dengan pistol. Dan kami mengira dalam empat kali tembakan
serentak berturut-turut itu, kami telah dapat membunuh mati
tujuh belas atau delapan belas ekor serigala, dua kali jumlah
tersebut yang luka-luka, tapi toh mereka masih terus saja
menyerang kami. Aku memanggil pesuruhku (bukan s i Jum'at,
sebab ia akan kupergunakan untuk menghadapi bahaya yang
lebih besar, sebab ia berhasil dapat membantu mengisi
bedilku kembali), aku memanggil pesuruh yang lain, dan
sambil memberikan tempat mesiu kuperintahkan dia obat bedil
itu supaya disebarkan di sepanjang dinding pertahanan. Ia
melakukan apa yang kuperintahkan dan masih sempat kembali
dengan selamat, sebab setelah itu serigala-serigala itu datang
lagr menyerang kami lebih hebat, malah ada beberapa ekor
yang menyerbu sampai batas yang disebari obat bedil itu.
Seorang dan kami membidik obat bedil yang berserak dengan
pistol juga hanya diisi obat bedil saja. Maka menyalalah
tempat-tempat yang disebari mesiu itu. Serigala-serigala yang
sudah menginjak batang-batang kayu itu terbakar bersama-
sama dengan kayu yang diinjaknya dan enam atau tujuh ekor
menyerbu kami, karena takut api yang sedang berkobar-kobar
itu. Serigala-serigala ini tentu kami habiskan seketika,
sedangkan yang lainnya rupanya juga sangat terkejut melihat
nyala api, yang tiba-tiba bersinar-sinar di ma lam kelam. Ya
ketika itu, memang hari sudah gelap, hingga serigala-serigala
itu berlarian meninggalkan tempat semula. Dalam pada itu aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyuruh membunyikan tembakan serentak sekali lagi
dengan pistol disertai teriakan-teriakan sekeras-kerasnya,
hingga akhirnya serigala-serigala itu membiarkan kami
melepaskan lelah. Dua puluh ekor yang luka-luka sedang
meregang nyawanya, segera kami tolong menyelesaikannya
dengan pedang, dan teman-teman membawanya terus, untuk
meyakinkan teman-teman serigala, sebab aum dan raungnya
tentu terdengar oleh yang lain dan mengerti, hingga akhirnya
binatang-binatang itu menjauhkan diri dan membiarkan kami
dengan tenteram. Seluruhnya kami telah membunuh kira-kira enam puluh
ekor dan jika siang hari, mungkin jumlahnya lebih besar lagi.
Karena pertempuran sudah selesai, maka perjalanan kami
teruskan, sebab kami harus menempuh setengah mil. Dalam
hutan-hutan yang kami lalui, kami bertemu dengan binatang-
binatang yang setengah gila itu beberapa kali me lolong dan
meraung-raung dan kadang-kadang kami mengira dapat
melihat beberapa ekor dari padanya. Tapi karena kami
setengah buta oleh warna putih salju, tak dapat kami
memastikannya. Sesudah kira-kira sejam berjalan demikian,
akhirnya sampailah kami di kota kecil, di mana kami akan
bermalam. Tetapi ketika kami sampai di sana, dengan amat
terkejut kami ketahui, bahwa semua penduduk dipanggil
memanggul senjata, sebab rupanya saja pada malam
sebelumnya ada sejumlah serigala, bahkan beberapa ekor
beruang yang masuk ke dalam kota. Tentu saja penduduknya
menjadi takut, sehingga mereka siang malam, terutama
malam hari mengadakan penjagaan-penjagaan buat melindungi ternak dan dirinya sendiri.
Keesokan harinya penunjuk jalan kami demikian parah
sakitnya, sedangkan anggota-anggota badannya bengkak-
bengkak disebabkan oleh radang kedua lukanya, sehingga ia
tak dapat terus. Oleh sebab itu terpaksalah kami mengambil
penunjuk jalan lain, lalu pergi ke Toulouse, di mana kami
disambut oleh iklim sedang dan daerah yang subur dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyenangkan, sedangkan salju maupun serigala dan
binatang-binatang semacam itu tidak ada.
Ketika kami menceritakan pengalaman kami di Toulouse,
orang-orang di sana menganggapnya soal biasa saja. Mereka
berkata, bahwa setiap musim dingin, di kaki-kaki gunung,
terutama kalau jatuh salju, terjadi seperti itu. Tetapi mereka
bertanya tentang penunjuk jalan kami, yang telah begitu
berani membawa kami di musim dingin me lalui gunung-
gunung dan mereka semua merasa heran, mengapa kami
semua tidak tertelan habis. Ketika kami menceritakan kepada
mereka, bagaimana kami mengatur diri dan kuda-kuda kami,
mereka amat mencelanya. Katanya, besar sekali kemungkinan
kami semua jatuh menjadi mangsa serigala-serigala, sebab
terutama sekali me lihat kuda-kudalah yang membuat
binatang-binatang itu jadi demikian marahnya. Biasanya
mereka takut sekali akan tembakan bedil. Tetapi karena lapar
luar biasa dan karenanya menjadi setengah gila, mereka
berani menentang segala bahaya. Jika kami tidak terus-
menerus menembak dan tidak meletupkan mesiu, kata
mereka, kami semua tentu akan habis dikoyak-koyak.
Tetapi kalau kami dengan tenang-tenang saja duduk di atas
kuda dan menembaki binatang-binatang itu, mereka tidak
akan begitu acuh kepada kuda-kudanya
dan lebih memperhatikan penunggang-penunggangnya.
Akhirnya mereka berkata, bahwa jika kami mengorbankan saja kuda
kami, dengan senjata di tangan kami tentu bisa melarikan diri
sambil berjalan kaki. Mengenai aku sendiri, dalam hidupku belum pernah merasa
demikian takutnya. Sebab ketika aku melihat setan-setan yang
kira-kira tiga ratus ekor banyaknya itu, yang dengan mulut
terbuka lebar berlari cepat ke arah kami, siap untuk
menerkam kami, sedangkan kami tidak mempunyai tempat
untuk berteduh atau berlindung sama sekali, hilang harapan
kami semua bisa selamat. Kukira, aku takkan berani untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekali lagi mendaki gunung-gunung ini. Jika begitu berlayar
seribu mil di laut, meskipun di sana setiap minggu ada
harapan diserang topan, adalah lebih baik.
Selama perjalananku di Perancis, kukira tidak ada sesuatu
pun yang luar biasa yang patut dicatat, artinya tak ada apa-
apa, yang tak pernah diceritakan oleh orang-orang yang
bepergian sebelum aku. Aku menempuh perjalanan dari
Toulouse ke Paris. Sesudah lama tinggal di sini, akhirnya aku
sampai di Calais dan dari sana aku menyeberang ke Dover, di
mana aku tiba tanggal 13 Januari, setelah aku bepergian
selama musim dingin penuh.
Yang pertama-tama kuperbuat di London, ialah pergi ke
sahabatku yang perempuan, seorang janda tua yang baik hati
itu. Ia amat berterima kasih atas uang yang kukirimkan
padanya, dan ia berkata, bahwa tak ada kesukaran yang
terlalu besar baginya. Jadi kepadanyalah semua uang dan
surat-surat kuserahkan, dan dari perempuan tua itulah aku
mendapat kasih sayang. Oleh karena aku mengambil keputusan untuk menjual saja
per-kebunan-perkebunanku di Brasilia, kusurati sahabatku
yang tua di Lisabon. Dialah yang atas namaku menawarkan
perkebunanku itu kepada kedua orang saudagar yang menjadi
kuasaku, yang masih tinggal di Brasilia. Dengan suka hati
mereka menerima tawaran itu dan menyerahkan kepada wakil
mereka di London tiga puluh tiga ribu uang emas. Kemudian
kutanda tangani kontrak jual beli, yang telah mereka susun
seluruhnya. Setelah dibubuhi tanda tangan secukupnya
mereka mengirimkannya ke Lisabon, kepada orang tua, yang
kemudian mengirimkan kepadaku sebuah wesel seharga tiga
puluh dua ribu delapan ratus uang emas, dipotong oleh
seratus "moidores" setahun baginya dan lima puluh
"moidores" setahun bagi putranya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jadi telah selesa ilah kini, aku menuliskan suatu bagian
pertama dari suatu kehidupan. Begitu kaya akan pengalaman
dan peristiwa yang mulanya gila, tapi akhirnya berbahagia.
Semua akan mengira, bahwa sesampainya aku di negeri
kaya raya, tidak akan tertarik lagi oleh kehendak mencari lagi
pengalaman-pengalaman. Dan sebenarnya, sekiranya aku
tidak mengalam i peristiwa apa yang kualami sekarang, tentu
akan demikian jadinya. Tapi rupanya aku sudah ditakdirkan
benar-benar harus menjadi seorang pengelana sebab ternyata
aku tak punya keluarga, tak punya kaum kerabat yang
mengikat, tak banyak mempunyai sahabat kenalan tempat
melekatkan hati, meskipun aku terbilang orang berada. Dan
meskipun tanah milikku di Brasilia telah kujual, toh selalu
terbayang di ruang mata, tak dapat kuenyahkan dari pikiran.
Aku hendak memilih kembali ke lautan luas. Juga suatu
keinginan yang tak dapat kutahan-tahan, ialah melihat-lihat
lagi dan mendengar apa yang telah terjadi dengan orang-
orang Spanyol dahulu itu, apakah mereka selamat sampai di
sana. Tapi, sahabatku yang budiman, perempuan janda itu
sungguh-sungguh telah berubah sikapnya, demikian jauhnya,
hingga aku berjanji sampai selama tujuh tahun tak akan
memikir-mikir tentang maksudku itu dan dua kemana-kanku,
anak dan salah seorang saudaraku diambilnya supaya diam di
rumahnya, agar aku dapat mengamat-amatinya menjelang
mereka besar. Karena yang tertua mempunyai modal sendiri,
kudidik secara pemuda layaknya, dan kuberi tunjangan
sejumlah uang untuk mengusahakan tanah. Kemenakan yang
lain, kusuruh belajar pada seorang nakhoda kapal dan sete lah
berlangsung lima tahun dan sudah jadi pemuda yang gagah
serta berani, kubelikan kapal yang baik dan kusuruh dia pada
saat yang baik pula untuk mengarungi laut lepas mana saja
yang dikehendakinya. Dan pemuda inilah yang kemudian
masih berkenan membawa seorang tua bangka seperti aku
kembali hidup dalam pengembaraan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika aku telah menyelenggarkan rumah tangga, artinya
aku beristri dan mempunyai anak tiga orang, dua laki-laki dan
seorang perempuan. Tapi ketika istriku meninggal dan
kemenakanku telah pulang dari pengembaraannya ke Spanyol
dengan selamat dan berbahagia, keinginanku untuk pergi
mengelana lagi sudah tak tertahankan. Maka aku pun
berangkatlah, berlayar selaku saudagar partikelir, kini menuju
kepulauan Hindia. Ini berlangsung dalam tahun 1694. Dalam
perjalanan itu aku berkunjung juga ke pulauku, pulau bekas
jajahanku dahulu itu. Dapat kusebutkan pengikut-pengikutku
orang-orang Spanyol itu dapat mengumpulkan laporan
lengkap dari pengalaman-pengalaman dan tentang penjahat-
penjahat yang kami tinggalkan dahulu di pulau itu. Mereka
bercerita kepadaku, bagaimana penjahat-penjahat itu mula-
mula bersatu, kemudian bermusuhan satu dan lainnya, dan
bagaimana akhirnya orang-orang Spanyol yang ma lang itu
terpaksa menggunakan kekerasan terhadap mereka. Bagaimana mereka menyerahkan diri kepada orang-orang
Spanyol itu dan bagaimana orang Spanyol itu berbuat adil
terhadap mereka. Ringkasnya, aku mendapat laporan
petualangan yang tidak banyak selisihnya dan tidak kurang
kayanya dari kejadian-kejadian yang pernah kualami dahulu.
Lebih-lebih tentang perkelahian melawan orang-orang
Caraiba, yang berkali-kali mendarat di pulau tersebut, pula
tentang perubahan-perubahan yang dibawanya sendiri ke
pulau tersebut. Mereka berkisah panjang-panjang. Selanjutnya
mereka masih menceritakan bagaimana lima orang dari sana
dapat menawan sebelas orang laki-laki dan lima orang
perempuan, dan karena itu pada waktu aku datang itu,
kudapati di sana tidak kurang dari dua puluh anak-anak.
Aku tinggal di sana selama dua puluh hari, dan waktu akan
berangkat kutinggalkan pada mereka apa yang perlu seperti
senjata, obat bedil, peluru pakaian, perkakas, dan barang-
barang, dan juga dua orang tukang, yang kubawa dari Inggris,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sengaja untuk maksud ini, yaitu seorang tukang kayu dan
seorang lagi pandai besi.
Lain daripada itu, kubagi pulau itu dengan persetujuan
mereka tentu, dalam beberapa daerah masing-masing
mendapat bagian, sedangkan aku sendiri berlaku seperti
penguasa agung dari seluruh pulau tadi. Dan setelah aku
mengatur ini itu seperlunya, dan setelah kutekankan ke dalam
hatinya bahwa mereka tak boleh sekali-sekali meninggalkan
pulau itu, akupun berangkatlah.
Aku menuju ke Brasilia, dan dari sini aku mengirimkan
sebuah kapal layar bertiang tiga ke pulau tersebut. Dalam
kapal itu kumuatkan, selain barang-barang keperluan, juga
tujuh orang wanita. Wanita-wanita ini kuikutsertakan, pertama
untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari, kedua kalinya
mereka dapat dijadikan istri. Kepada orang-orang Inggris aku
berjanji akan mengirimkan wanita-wanita dari Inggris sekalian
dengan barang-barang untuk keperluan mengusahakan tanah.
Ternyata orang-orang itu jujur dan dapat memperlihatkan
kerajinannya, setelah mereka ditundukkan itu. Aku mengirimkan pula kepada mereka dari Brasilia sapi lima ekor,
seekor di antaranya bunting, dan kusertakan pula sejumlah
kecil biri-biri dan babi, yang ketika aku datang untuk ke dua
kalinya berkunjung ke pulau tersebut, sudah berkembang
biak. Tapi dari semua ini, terutama dari serangan tiga ratus
orang Caraiba di pulau tersebut, merusak tanam-tanaman dan
membunuh salah seorang dari mereka, akan kucoba
mengisahkannya pada kesempatan lain.


Robinson Crusoe Karya Daniel Defoe di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Selesai Eng Djiauw Ong 2 Telapak Setan Karya Khu Lung Pedang Keadilan 8
^