Pencarian

Natasha 1

Natasha Karya Viktor Malarek Bagian 1


NATASHA Mengungkapkan Perdagangan Seks Dunia
Viktor Malarek ? Victor Malarek 2006 Diterjemahkan dari The Natashas: The New Global Sex Trade, karangan Victor
Malarek, terbitan Viking Canada, cetakan ke-10, Kanada, 2003
Hak terjemahan Indonesia pada Serambi
Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini
dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin tertulis dan penerbit
Penerjemah: Zia Anshor Pewajah Isi: Siti PT SERAMBI ILMU SEMESTA Anggota IKAPI Jin. Kemang Timur Raya, Jakarta 12730
www.serambi.co.id; info@serarnbi.co.id
Cetakan I: Februari 2008 ISBN: 97S-979-1275-44-6 Untuk putriku, Larissa Teriring rasa cinta catatan penulis PARA PEREMPUAN dalam buku ini adalah korban perkosaan. Mereka telah cukup banyak
menderita. Untuk memastikan supaya mereka tak mendapat hinaan atau rasa malu
lagi, nama-nama mereka telah disamarkan.
Karya Victor Malarek lainnya
Gut Instinct Merchant of Misery Haven's Gate Hey Malarek! "oh, natasha! natasha!"
Marika seketika diterpa hawa panas kering saat ia melangkah keluar pesawat
terbang di bandar udara internasional Kairo. Gadis jangkung 19
tahun bermata hijau berambut pirang itu celingukan, kebingungan. Lelah dan
tegang, ia bergegas menuju antrean bea cukai. Seorang petugas berkulit
kecokelatan membuka-buka paspor Marika, melirik gadis itu sejenak, dan
membubuhkan cap visa ke halaman paspor yang kosong.
Ketika Marika muncul di ruang kedatangan yang penuh sesak, ia dihampiri seorang
laki-laki Rusia bertubuh besar. Laki-laki itu menggumamkan nama Marika. Marika
mengangguk dan laki-laki itu menggamit tangannya, menggiringnya menuju sebuah
jip cokelat berdebu. Di kursi belakang jip tiga perempuan lain berdesak-desakan - dua dari Moldova, dan
satu dari Rusia - semuanya berumur belasan akhir. Gadis-gadis itu diam saja.
Mereka tampak, khawatir dan takut. Si sopir mendorong Marika ke kursi penumpang
depan lalu menyelipkan perut gendutnya di belakang kemudi. "Kita tak. bisa
buang-buang waktu," serunya dalam bahasa Rusia. "Aku harus ke tempat pertemuan
dalam dua jam." Mobil melaju diiringi kencangnya deru mesin. Jalanan kurang mulus dan amat
sunyi. Selagi jip menjelajah ke tengah gurun pasir yang panas membara, Marika
memejamkan matanya dan berdoa dalam hati.
Beberapa minggu sebelumnya, seorang perempuan menor gemuk di sebuah kantor agen
tenaga kerja di kota asal Marika, Kharkiv di Ukraina, berbicara dengan penuh
semangat mengenai pekerjaan yang ditawarkannya kepada Marika - pelayan restoran di
Tel Aviv, Israel. Awalnya Marika khawatir. Ia sudah pernah mendengar mengenai
gadis-gadis muda yang terbujuk, menerima tawaran pekerjaan bohongan dan akhirnya
dipaksa melacurkan diri. Tapi si perekrut bersikukuh dan berkali-kali bersumpah -
bahkan atas nama Tuhan - bahwa tawaran itu sungguhan, bukan penipuan.
Marika benar-benar mudah ditipu. Ia sangat memerlukan pekerjaan.
Ibunya sakit dan ayahnya pemabuk, pengangguran yang menyedihkan. Dua adik
perempuannya tak. terurus. Tawaran pekerjaan tersebut merupakan satu-satunya
kesempatan Marika untuk memperbaiki keadaan. Tawaran itu juga mengandung risiko;
ia merasakannya di sekujur tubuhnya. Tapi ia tahu ia harus menerima tawaran itu.
Yang mencurigakan dalam tawaran pekerjaan itu adalah rencana perjalanannya yang
tak biasa - jalur memutar-mutar yang menyerupai jalan cerita novel spionase. Ia
akan diterbangkan dari Kyiv ke Wina, Austria. Dari sana ia berganti pesawat ke
Siprus, lalu naik pesawat lagi ke Kairo, Mesir. Setelah tiba di Mesir, ia akan
dibawa dengan mobil ke Tel Aviv. Marika menyatakan kekhawatirannya namun si
perekrut dengan lihai meyakinkan gadis itu, mengatakan bahwa jalur memutar-mutar
itu demi menghemat biaya tiket pesawat. Sekarang, setelah menghabiskan dua hari
bepergian, impian pekerjaan baru Marika sedikit demi sedikit memudar.
Jip berhenti di luar suatu desa yang terpanggang panasnya matahari.
Sopir melompat keluar dan mendekati dua orang Badui bersenjata. Mereka berbicara
sebentar. Si sopir memberikan sebuah amplop kepada mereka dan menyuruh
perempuan-perempuan penumpang jip keluar.
Untuk pertama kalinya pada hari itu, Marika berbicara. "Kubilang aku ingin
pulang," kenangnya, "Babi Rusia itu menempelengku keras sekali dan menyuruhku
diam. Bibirku berdarah dan aku mulai menangis."
Si sopir kembali ke jip dan pergi meninggalkan awan debu, serta Marika dan tiga
perempuan lain di tangan para Badui. Penampilan orang-orang Badui itu
menyeramkan; sosok-sosok berjubah cokelat-tanah yang menyandang senapan di bahu
dan belati panjang bengkok di pinggang.
Gadis-gadis itu hanya memerhatikan ketika para Badui menaiki unta-unta mereka.
Para Badui meneriakkan perintah dan menyuruh gadis-gadis itu mengikuti mereka.
Kafilah kecil itu berjalan melintasi Gurun Sinai, para perempuan berjalan kaki
mengikuti unta. "Waktu itu panas sekali dan kami sangat haus, tapi orang-orang Arab yang membawa
kami melintas gurun tak peduli. Mereka terus berteriak, kepada kami. Aku tak.
tahu apa sebenarnya yang mereka katakan. Mereka cuma berteriak-teriak," kenang
Marika. Mereka berjalan terus selama hampir dua hari, dua kali berhenti untuk makan roti
pita, ara, dan kurma kering, dan minum semangkuk air, dan sekali berhenti untuk
tidur beralaskan kanvas di bawah bintang-bintang.
"Aku merasakan apa yang kiranya dirasakan budak-budak pada zaman peristiwa-
peristiwa Alkitab," kata Marika, "Pada tiap langkah, kupikir aku sedang dihukum
Tuhan atas dosa-dosaku."
Pada akhir siang kedua, kafilah tersebut mencapai daerah berpagar kawat duri
berkarat yang melintang melalui bentang alam yang tandus.
Orang-orang Badui turun dari unta. Di tengah-tengah pasir, berdirilah satu tiang
lancip. Para Badui mengikat unta-unta mereka pada tiang itu dan menyuruh gadis-
gadis melewati pagar kawat duri. Marika belum tahu saat itu bahwa mereka sudah
mencapai perbatasan Mesir dan Israel. Dari sana, kelompok kecil itu meneruskan
perjalanan dengan berjalan kaki. Sejam kemudian, para pemandu Badui mendadak
menoleh ke para gadis dan menyuruh mereka tiarap. Di kejauhan, Marika bisa
mendengar bunyi deru truk. Patroli tentara Israel. Orang-orang Badui menyuruh
mereka diam tak. bersuara. Beberapa menit yang penuh ketegangan berlalu, dan truk. itu lenyap di kejauhan.
Setelah itu, mereka bangun kembali, dan di bawah pengawasan para Badui, gadis-
gadis itu melanjutkan perjalanan.
Malam itu, karena kelelahan dan kehausan, para gadis akhirnya ambruk, di bawah
langit terbuka dekat pinggiran suatu desa. Salah seorang pemandu terus berjalan
sendirian, dan kembali tak. lama kemudian dengan mobil pickup putih bersama dua
laki-laki Israel. Sopirnya fasih berbahasa Rusia dan dengan kasar menyuruh
gadis-gadis itu naik ke belakang. Mereka dibawa ke suatu rumah terpencil dan
dimasukkan ke dalam kamar kosong.
Pintu kamar itu ditutup dan dikunci. Walau baru saja melakukan perjalanan
panjang yang melelahkan, gadis-gadis itu tak. ditawari makanan ataupun air, dan
mereka pun tak. diperbolehkan mandi atau berbicara. Mereka tidur beralaskan
tanah. Pagi berikutnya, dua laki-laki bertampang begundal muncul dan menyuruh gadis-
gadis itu membuka pakaian. "Kami disuruh melepas semua pakaian kami agar mereka
bisa melihat kami. Sungguh sangat memalukan,"
kata Marika. Kami amat takut. Kami lakukan apa yang mereka suruh. Salah seorang laki-laki
membawa saya dan si gadis dari Rusia. Nama gadis itu Lydia. Laki-laki itu
membawa kami dengan mobil ke Tel Aviv, ke apartemen dekat laut. Di dalam
apartemen ada tiga perempuan lain. Dua dari Ukraina, satu lagi dari Moldova.
Pintunya punya banyak kunci dan seorang laki-laki berbadan amat besar bernama
Avi duduk, di belakang meja di depan pintu. Avi mengawasi kami. Kami disuruh
mandi, dan ketika kami sedang mengeringkan tubuh, laki-laki itu masuk, dan
menyuruh kami memakai pakaian dalam murahan yang tembus pandang.
Gadis-gadis itu digiring ke ruang utama, tempat mereka bertemu dengan pemilik
mereka. "Kami menyebut pemilik sebagai Talabi. Belakangan aku tahu bahwa Talabi
dalam bahasa Ibrani artinya "pemilik rumah". Tal
adalah pemilik dan bi artinya rumah," Marika menjelaskan.
Laki-laki durjana itu mengatakan bahwa ia telah membeli mereka dengan harga
masing-masing $10.000 dan mereka akan jadi miliknya sampai bisa membayar utang
sebesar $20.000. Diberitahunya gadis-gadis itu bahwa mereka harus mulai bekerja
untuk membayar utang malam itu juga dengan melayani klien. Ia juga
memperingatkan gadis-gadis itu bahwa siapa pun yang menolak bekerja akan segera
dihukum berat. Untuk menegaskan maksudnya, si pemilik melirik ke arah Avi.
Raksasa berbulu yang menjaga pintu itu menyeringai mengancam gadis-gadis yang
ketakutan. Malam itu, untuk pertama kalinya aku mengetahui bagaimana rasanya menjadi
pelacur. Aku harus melayani delapan laki-laki. Aku mandi tiap kali selesai
melayani orang tapi aku tak.
bisa membersihkan najis yang menempel pada diriku. Empat bulan sesudahnya, aku
tak tahu lagi berapa banyak, laki-laki Israel yang terpaKsa kulayam. Laki-laki
muda, tua, gendut, menjijikkan.
Prajurit, suami, bahkan pemuka agama. Biarpun aku sedang sakit atau datang
bulan, aku harus tetap bekerja atau dihukum.
Selama masa itu, Marika terus-menerus mencari cara untuk kabur, tapi jendela-
jendela apartemen dua kamar itu dipaku dan si gendut Avi selalu bersiaga.
Aku memohon pertolongan dari beberapa klien - yang kelihatan bersimpati. Aku
meminta pinjam telepon seluler mereka untuk, menelepon ibuku, hanya untuk,
memberi tahu dia bahwa aku masih hidup. Semuanya menolak, bahkan yang pemuka
agama. Mereka cuma mengeluh pada Avi jika aku tak memuaskan mereka. Kalau sudah
begitu, aku akan ditampar, utang biaya perjalananku ke Israel ditambahi denda,
dan aku tidak, diberi makan seharian.
Sering sekali aku berpikir untuk, bunuh diri, tapi lalu aku mengingat ibu dan
adik.-adikku yang malang. Tiap hari aku berdoa agar diselamatkan. Tapi tiap hari
berlalu begitu saja, Ketika melayani klien yang terus-menerus datang, ada satu hal yang membuat
Marika bertanya-tanya. Sebagian besar klien tak. membeda-bedakan asal-usul
gadis-gadis itu. Tak. peduli aslinya mereka itu dari Rusia, Moldova, Romania,
atau Ukraina. Di mata para laki-laki hidung belang itu, mereka semua gadis
Rusia. Yang lebih aneh lagi adalah cara sebagian besar laki-laki itu memanggil
mereka. "Mereka panggil kami Natasha. Tak pernah sekalipun mereka menanyakan nama asli
kami. Bagi mereka, kami semua Natasha."
"Kami adalah fantasi seks mereka. Manusia-manusia bejat itu berjalan masuk
bordil dan sambil nyengir mereka memanggil 'Natasha!' seolah-olah kami ini
semacam boneka Rusia. Dan kami harus tersenyum dan menghampiri mereka." Marika
mengingat saat pertama kali ia dipanggil dengan nama itu.
Babi gendut yang mandi keringat itu hampir mencapai klimaks dan ia mulai
menggumam, "Oh, Natasha! Natasha!"
Awalnya kupikir aneh juga rasanya dipanggil dengan nama lain.
Tapi aku segera menerimanya sebagai pelarian. Ketika aku larut dalam pikiran dan
impian, aku adalah Marika - yang bebas dari penjara ini. Tapi ketika aku sedang
bersama seorang laki-laki, aku menjadi seorang perempuan lain - pelacur bernama
Natasha yang mati dan dingin dalam diriku.
Natasha adalah mimpi burukku. Marika adalah penyelamatanku. Aku tak pernah memberi tahu nama asliku kepada semua laki-laki
itu. Dan mereka tak pernah bertanya.
PENGANTAR: gelombang keempat SEIRING BUBARNYA Uni Soviet pada 1991, demokrasi melanda negeri-negeri yang dulu
tergabung dalam negara adidaya komunis yang opresif itu.
Saat itu merupakan masa peralihan dan perubahan besar, namun kebanyakan penduduk
negeri-negeri tersebut tampak siap menghadapinya.
Mereka kembali merdeka dan dapat hidup sebagai bangsa-bangsa tersendiri.
Mereka bisa berbicara bahasa mereka sendiri, menjalankan agama mereka sendiri,
dan yang terpenting, memerintah diri sendiri.
Lalu realitas pun hadir. Bagi sebagian besar penduduk, impian kehidupan yang
lebih baik sirna dalam sekejap. Gerakan menuju reformasi pasar yang dimaksudkan
membawa negara-negara tersebut ke dalam kancah ekonomi global justru menyebabkan
pelarian modal besar-besaran.
Hukum dan keteraturan dirongrong oleh korupsi, kerakusan, dan penyuapan. Dengan
segera, ekonomi negara-negara baru itu pun runtuh dan jaring pengaman sosial
yang telah menyediakan standar kehidupan minimal pun tercabik-cabik. Keamanan
dan kesetaraan tinggal kenangan.
Demokrasi menjadi kepalsuan yang pahit.
Dalam kekacauan yang terjadi sesudahnya, puluhan juta orang terlunta-lunta.
Mereka dipaksa bertahan hidup semampu mereka. Siapa yang bisa mereka mintai
bantuan" Jelas bukan pemerintah mereka. Kelas penguasa telah menjadi kelas
berpunya. Selagi rakyat kecil kebingungan mencari makan, para politikus dan
birokrat tingkat atas mengisi penuh kantongnya sendiri. Bagi mereka, mobil
Mercedes dan telepon seluler menjadi bagian gaya hidup, dan yang ada di pikiran
mereka hanyalah "seberapa banyak?" dan "pilih yang mana?" Ketika para pucuk pimpinan negara
mengangkangi kekuasaan dan mengeruk kekayaan, rasa tidak percaya terhadap
otoritas yang tertanam akibat puluhan tahun di bawah kuasa Soviet menimbulkan
kekecewaan yang tersebar luas. Rakyat harus mengurus diri sendiri.
Tak butuh waktu lama hingga hilangnya kendali dan perbatasan baru yang
berlubang-lubang mendatangkan suatu kekuatan digdaya baru. Seraya Tirai Besi
yang dulu tak dapat ditembus runtuh berkeping-keping, kejahatan terorganisasi
menerobos masuk ... dan mengganti Tirai Besi dengan retsleting plastik murahan.
Pasar gelap merajalela dan tetap bercokol hingga sekarang. Juga tidak perlu
waktu lama bagi para penjahat untuk menemukan aset paling berharga republik-
republik baru: kaum perempuan yang cantik namun putus asa - berpendidikan,
bertatakrama, tanpa masa depan.
Akibat kacaunya struktur sosial, keluarga-keluarga pun ikut berantakan. Anak-
anak ditelantarkan di jalanan. Para suami mencari pelarian dalam botol dan
kecanduan alkohol pun marak. Kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat.
Dan di tengah semua itu, kaum perempuanlah yang terpaksa membereskan puing-
puingnya. Mereka mulai mencari pekerjaan untuk menjaga keutuhan keluarga mereka.
Gadis-gadis muda yang belum berkeluarga pun mencari pekerjaan untuk memberi
makan adik-adik dan orangtua mereka. Tapi, pada saat itu tingkat pengangguran
perempuan melonjak hingga kira-kira 80% persen. Tak ada lowongan yang tersedia.
Dengan hawa keputusasaan di mana-mana, kaum perempuan pun menjadi sasaran empuk.
Datanglah "para penyelamat", yang menjanjikan berbagai macam hal yang oleh para
perempuan itu dianggap jalan keselamatan. Pekerjaan sebagai pengasuh anak di
Yunani ... pengurus rumah tangga di Italia dan Prancis ... pelayan di Austria
dan Spanyol ... model di Amerika Utara dan Jepang. Para perekrut selalu
menggambarkan impian indah pekerjaan bergaji tinggi di negeri-negeri menawan.
Bagi angkatan perempuan muda tersebut, yang tumbuh dengan memelihara fantasi
romantis tentang dunia Barat, kesempatan-kesempatan itu tak hanya pekerjaan
impian. Kesempatan-kesempatan itu adalah jalan keluar. Tanpa banyak pertimbangan mereka
langsung menyambarnya, dan mendapati diri mereka terjebak dalam lingkaran setan.
Para Natasha dikirim ke seluruh penjuru dunia. Mereka menjadi mode terbaru dalam
industri seks. Mereka hadir di jalan-jalan daerah lampu merah di Austria,
Italia, Belgia, dan Belanda. Mereka mengisi rumah-rumah bordil di Korea Selatan,
Bosnia, dan Jepang. Mereka bekerja tanpa busana di panti pijat di Kanada dan
Inggris. Mereka dikurung sebagai budak seks dalam apartemen di Uni Emirat Arab,
Jerman, Israel, dan Yunani. Mereka membintangi pertunjukan intip dan tari


Natasha Karya Viktor Malarek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telanjang di Amerika Serikat. Bagi yang mengamati sekilas, mereka langsung
berbaur dengan perempuan-perempuan yang memilih untuk menukar uang dengan seks.
Dalam makeup tebal, pakaian seronok, dan sepatu hak tinggi, mereka berjalan dan
berbuat hal-hal yang sama. Mereka tersenyum, mengedip, berpose, dan melenggang,
tapi mereka melakukannya karena tahu apa yang akan terjadi kalau mereka tak
melakukannya. Tiap hari, para Natasha dipaksa melayani sepuluh sampai tiga puluh laki-laki
dalam semalam. Uang yang mereka dapat langsung diambil oleh
"pemilik" mereka. Mereka hidup dalam kondisi menyedihkan, sering menderita
penyiksaan dan ancaman. Mereka yang melawan dihukum berat.
Mereka yang menolak adakalanya dicederai atau dibunuh.
Sebagian besar orang tak tahu-menahu mengenai keberadaan perempuan-perempuan
tersebut. Selain yang bekerja di jalan, biasanya mereka tak terlihat,
tersembunyi di balik pintu terkunci di apartemen, bordil, panti pijat, dan bar.
Bagi klien mereka, mereka hanyalah seonggok tubuh tanpa arti. Tak peduli mereka
itu diperbudak; seks demi uang adalah transaksi bisnis. Bagi pemilik dan
mucikari, gadis-gadis itu adalah barang dapat rusak yang harus dimanfaatkan
sesering mungkin sebelum hancur.
Dan bagi geng yang menyelundupkan perempuan, mereka adalah satu bentuk bisnis
paling menguntungkan yang ada sekarang. Trafiking ( trafficking) manusia
sekarang merupakan bisnis penghasil uang terbesar ketiga di dunia, sesudah
perdagangan gelap senjata dan obat-obatan.
Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa perdagangan manusia
memberikan 12 miliar dolar per tahun* bagi kejahatan terorganisasi.
Di suatu kedai kopi pinggir jalan di luar kota Roma, seorang mucikari Albania
membual, "Kubeli perempuan itu seharga $2.500. Modalku balik dalam beberapa
hari." Menurut organisasi polisi internasional Interpol, seorang perempuan
korban trafiking bisa mendatangkan $75.000 sampai $250.000 per tahun. Dipandang
dari keuntungan yang dihasilkan, trafiking manusia adalah bisnis yang sempurna.
Labanya luar biasa besar. Barang dagangannya banyak tersedia dan murah pula. Dan
setelah seorang perempuan tak lagi diminati atau mampu bekerja, ia dibuang dan
diganti wajah baru yang lebih muda.
Jumlah korban trafiking sungguh mencengangkan. Dalam laporan trafiking 2003,
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa "tak ada negara yang bebas trafiking"
dan memperkirakan bahwa kurang-lebih 800
ribu sampai 900 ribu orang diperdagangkan melintas batas-batas negara di
seantero dunia. Angka tersebut belum mencakup trafiking dalam negeri, yang oleh
beberapa pengamat diperkirakan akan memperbesarnya menjadi lebih dari dua juta
orang. Sayangnya, laporan tersebut menambahkan bahwa "perdagangan manusia tak
hanya berlanjut, tapi tampaknya makin meningkat di seluruh dunia" dan hampir
semua korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Laporan itu juga menyatakan bahwa trafiking menyengsarakan perempuan dan anak,
"membuat mereka mengalami pemerkosaan, siksaan, HIV/AIDS dan berbagai penyakit
menular seksual lain, kekerasan, kondisi kerja yang berbahaya, kurang gizi,
serta ketergantungan terhadap alkohol dan obat-obatan. Makin banyak orang dewasa
dan anak yang dipaksa melakukan prostitusi, dan juga anak jalanan, yang mengidap
HIV/AIDS." Pasar perempuan internasional bukanlah hal baru - perempuan Asia sudah bertahun-
tahun jadi barang dagangan utama, dan banyak sekali laki-laki yang mengunjungi
Bangkok dan Manila untuk wisata seks.
Dalam tiga dasawarsa terakhir, dunia telah menyaksikan empat gelombang trafiking
untuk eksploitasi seksual. Gelombang terbaru dan Eropa Timur dan Tengah telah
dinamai "Gelombang Keempat" ( the Fourth Wave), dan kecepatan serta ukurannya
sungguh mengejutkan. Satu dasawarsa lalu saja perempuan Eropa Timur dan eks-
Soviet belum kelihatan sama sekali.
Sekarang, mereka sudah mencakup lebih daripada 25 persen perdagangan perempuan.
* Mata uang dolar yang digunakan sepanjang buku ini adalah dolar Amerika Serikat
(USD) Gelombang pertama perempuan korban trafiking berasal dari Asia Tenggara pada
1970-an dan sebagian besar terdiri atas perempuan Thai dan Filipina. Gelombang
kedua tiba pada awal 1980-an dan terdiri atas perempuan Afrika, terutama Ghana
dan Nigeria. Gelombang ketiga, dan Amerika Latin, menyusul tak lama sesudahnya
dan umumnya berisi perempuan dari Kolombia, Brasil, dan Republik Dominika. Jadi,
dunia bukannya tidak tahu bahwa sedang banyak perempuan yang diculik, dijual,
dan diperkosa. Bedanya, kegiatan itu kini lebih marak daripada sebelumnya.
Natasha merupakan penyelidikan atas gelombang keempat, untuk mengetahui mengapa
gelombang tersebut terjadi dan mengapa terus berlanjut. Akan diteliti pemicunya -
faktor tarik-ulurnya, penawaran dan permintaan - berikut segala kelalaian,
keterlibatan, dan korupsi yang memungkinkan perdagangan perempuan merajalela.
Sepanjang tiga puluh tahun karier saya sebagai wartawan, saya telah menghadapi
segala macam skandal, korupsi, kerakusan, dan kejahatan.
Saya telah menyaksikan tragedi-tragedi monumental - keputusasaan dalam kelaparan,
kehancuran akibat perang. Telah saya saksikan hilangnya nyawa dan asa di Timur
Tengah dan Afrika ... di Afghanistan, Etiopia, Somalia, dan Iran. Tapi belum
pernah saya sebegitu tertohok oleh pengingkaran tanpa perasaan atas martabat
manusia sebagaimana yang saya temukan dalam dua tahun penelitian untuk buku ini.
Bagi saya, Natasha adalah mengenai satu generasi gadis-gadis yang hilang. Nyaris
tiap kota dan desa di Eropa Timur dan Tengah telah menyaksikan hilangnya
sebagian kaum perempuan mereka. Yang mengherankan, mereka tidaklah lenyap karena
penyakit, perang, kelaparan, atau bencana alam. Mereka justru telah menjadi pion
yang bisa dikorbankan dalam bisnis uang, syahwat, dan seks yang sedang menanjak.
Yang paling menyakitkan, perdagangan perempuan adalah bencana buatan manusia
yang bisa dicegah. Namun, dunia terus mengabaikan penderitaan perempuan-
perempuan korbannya. Sudah tiba saatnya untuk menghentikan perdagangan
perempuan. 1 mangsa penyelundup kehidupanku bukan milikku lagi.
- LIDA, seorang anak yatim piatu
dari Romania TIAP HARI. banyak perempuan muda di seantero wilayah bekas Blok Timur dibujuk
dengan tawaran pekerjaan yang mengarah kepada perjalanan menyedihkan berupa
perbudakan seksual dan kekerasan. Meski telah ada peringatan bertubi-tubi dari
radio dan TV, koran dan papan pengumuman, perempuan-perempuan putus asa terus
berbaris melamar kerja membawa kepolosan dan surat lamaran, berharap bahwa kali
ini mereka mungkin mujur. Iklan koran di Kyiv, Bucuresti, St. Petersburg,
Moskwa, Odessa, Minsk, dan Praha menawarkan jalan keluar dari kemiskinan bagi
kaum perempuan duafa - kesempatan memperoleh awal yang baru - tanpa persyaratan
apa-apa. Iklan-iklan tersebut menjanjikan dunia yang relatif nyaman, apalagi
kalau dibandingkan dengan kondisi rumah. Ditawarkanlah berbagai pekerjaan di
seantero dunia sebagai pelayan, model, pengasuh anak, pencuci piring, dan
pembantu rumah tangga. Gaji bulanan yang diiklankan bisa mencapai $2.500, yang
bagi kebanyakan orang lebih besar daripada yang bisa mereka dapat selama
bertahun-tahun. Beberapa iklan bahkan kelihatan berizin resmi, karena dilengkapi
logo bintang dan strip Amerika Serikat atau daun mapel Kanada. Yang lainnya
memamerkan triwarna Jerman, Belgia, Belanda, Italia, atau Prancis.
Perekrut tenaga kerja gadungan menawari pencari kerja "paket lengkap" pekerjaan
di luar negeri. Biasanya tawaran tersebut tak mensyaratkan pengalaman kerja, dan
hampir selalu mencari perempuan muda dan lebih disukai lajang. "Dicari perempuan
lajang berpenampilan menarik. Muda dan bertubuh tinggi. Kami menawarkan
pekerjaan sebagai model, sekretaris, penari, penata tari, pesenam. Tempat
tinggal disediakan. Tersedia lowongan mancanegara. Pelamar harap datang sendiri," begitu isi satu
iklan di koran Kyiv. Paketnya sering kali mencakup pelatihan, pengurusan dokumen
perjalanan, dan biaya tiket pesawat, tanpa menarik biaya dari pelamar. Mereka
cuma perlu datang saja! Yang tak diketahui para pelamar kerja itu adalah pada 95
persen kasusnya, lowongan pekerjaan yang ditawarkan itu bohongan.
Banyak iklan seperti itu dipasang oleh agen-agen tenaga kerja yang kelihatan
resmi dengan cabang di Rusia, Romania, Republik Ceko, dan Ukraina. Beberapa agen
bahkan sampai membuka stan "hari karier" di universitas-universitas Rusia,
menjanjikan pekerjaan yang menguntungkan di luar negeri. Sebagian besar
perusahaan perantara tersebut hanyalah medan perburuan jejaring kriminal yang
terlibat industri seks yang menguntungkan. Selama satu dasawarsa lebih, para
perekrut tenaga kerja tak bermoral telah menjerat hingga 175.000 perempuan per
tahun dari negara-negara eks Soviet dan mengirim mereka sebagai kurban kepada
pedagang manusia, mucikari, dan pemilik bordil di negara-negara lain.
Kadang-kadang para perempuan direkrut secara berkelompok, dan karena menganggap
akan lebih aman kalau ada banyak orang, mereka menerima tawarannya dengan
antusias. Sekelompok perempuan dari Lviv, Ukraina, ditawari pekerjaan sebagai
pengurus rumah di Republik Ceko.
Ketika mereka memasuki Republik Ceko mereka dijual ke seorang mucikari seharga
$500 per orang dan dipaksa melakukan prostitusi di sepanjang Jalan Raya E-55
dekat perbatasan Ceko dan Jerman. Pada kasus lain, suatu grup tari beranggotakan
gadis-gadis muda Ukraina ditipu 'impresario' yang menjanjikan tur lima kota
Eropa. Mereka bahkan sudah disodori "kontrak".
Akhirnya mereka dikurung di sebuah apartemen di Jerman dan dijual.
Dalam dunia trafiking seks, tak semua perempuan menjadi korban penipuan agen
tenaga kerja dan iklan lowongan gadungan. Mata rantai pertama dalam rantai
perdagangan manusia sering kali adalah kerabat, tetangga, atau temannya teman.
Seorang kenalan yang bisa dengan mudah dipercaya akan mendatangi keluarga
seorang perempuan muda dengan tawaran membantu perempuan itu mendapat pekerjaan
bagus di luar negeri. Tiap tahun, banyak sekali gadis yang terjerumus akibat
siasat seperti itu. La Strada, suatu lembaga non pemerintah di Kyiv yang membantu perempuan korban
trafiking dan Ukraina, telah mencatat banyak sekali kasus penipuan oleh kenalan
dan individu-individu yang dipercaya oleh masyarakat. Di antara pelakunya
terdapat guru, ahli psikologi setempat, istri polisi, dan putri pendeta desa.
Tanya, yang berasal dan kota kecil di daerah Luhansk di Ukraina Timur, adalah
seorang korban penipuan macam itu. Ia, yang ditelantarkan ayahnya sejak berumur
empat tahun, mulai mencari pekerjaan pada umur dua puluh untuk menghidupi ibunya
dan saudara laki-lakinya yang cacat.
Walau ia lulusan sekolah teknik, tak ada lowongan pekerjaan baginya karena
sebagian besar pabrik di kotanya telah tutup. Keadaannya cukup gawat.
Kadang-kadang keluarganya hanya punya roti dan air untuk hidup. Menurut La
Strada, Tanya, yang digambarkan "langsing dan cantik" ditawari kesempatan luar
biasa ketika teman ibunya mengusulkan supaya ia bekerja di luar negeri pada
1998. Perempuan teman ibunya itu memberi tahu Tanya bahwa keluarga-keluarga kaya
di Uni Emirat Arab mencari pembantu rumah tangga. Katanya pekerjaan itu bergaji
hingga $4.000 per bulan. Tanya nyaris tak percaya betapa mujurnya ia.
Tapi ketika Tanya tiba di Abu Dhabi, ia dibawa ke sebuah bordil, di mana seorang
mucikari memberitahunya bahwa ia telah membeli Tanya seharga $7.000. Sejak saat
itu Tanya harus bekerja sebagai pelacur sampai bisa membayar kembali "utangnya".
Setelah tiga bulan dikurung, Tanya berhasil kabur. Ia mengungsi ke kantor polisi
setempat dan menceritakan kisahnya. Ajaibnya, Tanya justru didakwa melakukan
prostitusi dan malah dijatuhi hukuman kurungan tiga tahun di suatu penjara di
gurun. Pada 2001, setelah dipermalukan dan remuk redam secara psikologis, Tanya
bebas. Tak ada yang terjadi pada si mucikari. Karena telah dianggap pelacur oleh
negara Islam tersebut, Tanya langsung dideportasi kembali ke Ukraina.
Kasus lain yang tercatat oleh La Strada adalah kasus seorang lulusan universitas
berumur 23 bernama Olexandra dan Chernihiv di Ukraina Utara.
Olexandra adalah janda cerai dengan satu anak perempuan berumur dua tahun, dan
ia mengalami kesulitan keuangan. Ia ditawari pekerjaan bergaji lumayan di Jerman
oleh seorang saudara jauh, yang membual bahwa putrinya sendiri sudah bekerja di
sana dan hidup bahagia. Dan karenanya pada musim panas 1997 Olexandra dan
seorang perempuan muda Ukraina lainnya menyeberang perbatasan ke Polandia untuk
mencari pekerjaan. Mereka lantas disekap di suatu bangunan dan di sana mereka dipukuli dan
diperkosa. Beberapa minggu kemudian mereka diselundupkan menyeberangi suatu
sungai ke Jerman, di mana mucikari-mucikari Turki menjual mereka beberapa kali.
Bersama-sama perempuan-perempuan dari Polandia, Bulgaria, dan Ceko, Olexandra
dipaksa melayani klien-klien di berbagai bordil Jerman. Belakangan, pada musim
gugur, perempuan-perempuan tersebut diciduk polisi. Olexandra yang sakit keras
dideportasi ke Ukraina, dan ia didiagnosis mengalami infeksi internal parah,
dirawat di rumah sakit selama tiga bulan, dan menjalani sejumlah pembedahan
invasif. Infeksi tersebut disebabkan pekerjaannya dalam industri seks di luar
negeri. Sayangnya, kesehatan Olexandra tak pernah pulih kembali.
Yang lebih meresahkan lagi adalah penggunaan perempuan korban trafiking untuk
memikat korban-korban baru - disebut gelombang kedua.
Bagi banyak perempuan korban trafiking, cara tersebut adalah satu-satunya jalan
keluar dan keterpaksaan melakukan hubungan seks tak dikehendaki dengan selusin
laki-laki tiap hari. Para mucikari mereka menyatakan mereka boleh pulang kalau
bisa memperoleh sejumlah pengganti. Dan perempuan-perempuan tersebut sangat
meyakinkan, sering kali datang dengan mobil mewah, mengenakan perhiasan
gemerlapan dan baju mahal. Langsung saja mereka dikerumuni gadis-gadis remaja
naif yang iri, yang mudah termakan cerita-cerita bualan mengenai kehidupan di
Barat yang bergelimang harta.
Perangkap lain adalah "jasa perjodohan" yang beroperasi di balik kedok jasa
kontak jodoh internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut, yang bidang usahanya
adalah menyediakan "pengantin pesanan" dan seringkali bisa ditemukan siapa pun
yang menggunakan komputer, biasanya hanyalah bordil online. Menurut
International Organization for Migration yang bermarkas di Jenewa, sebagian
besar agen pengantin pesanan di bekas Uni Soviet dimiliki dan dijalankan
jaringan kejahatan terorganisasi.
Dengan begitu banyak perempuan yang berpegang pada impian dongeng romansa
berbunga-bunga dan kehidupan yang lebih mudah di Barat, mereka sangat mudah
menjaring korban. Perempuan sampai mengantre untuk bergabung dengan agen-agen
itu. Tapi ketika mereka akhirnya keluar negeri untuk menemui suami idaman
mereka, mereka malah jatuh ke tangan mucikari tak berperikemanusiaan, dipaksa
melakukan prostitusi oleh "suami"
barunya atau dijual untuk seks.
Korban-korban lain dibujuk menyeberangi perbatasan oleh "pacar"
baru, yang menjanjikan berkencan semalaman di kota. Mereka juga dipaksa masuk
mobil mobil yang telah menunggu, lantas dijual kepada mucikari atau pedagang
manusia demi segepok uang. Barangkali taktik perekrutan yang paling mengerikan
adalah penculikan langsung. Gadis-gadis korban diambil begitu saja. Di banyak
daerah pedesaan di Moldova, Romania, dan Bulgaria, sering kali perempuan diculik
ketika sedang berjalan di jalan-jalan kampung.
Situasinya sudah sedemikian gawat sampai-sampai di beberapa wilayah pedesaan
para orangtua melarang anak perempuannya pergi ke sekolah supaya tidak diculik.
Tak diragukan lagi bahwa salah satu sisi paling menjijikkan dalam perdagangan
perempuan adalah menjadikan anak yatim piatu di Eropa Timur sebagai sasaran.
Misalnya, pada Maret 2003, Departemen Luar Negeri AS melaporkan "pola trafiking"
yang melibatkan yatim piatu di Moldova.
Menurut Country Reports on Human Rights Practices, anak-anak perempuan dengan
risiko terbesar adalah mereka yang "harus meninggalkan panti asuhan ketika lulus
sekolah," biasanya pada umur enam belas atau tujuh belas. Sebagian besar tak
punya uang untuk biaya hidup ataupun pendidikan untuk memperoleh pekerjaan. Para
pedagang manusia sering kali sudah hafal kapan gadis-gadis itu harus keluar dari
panti asuhan ("sebagian direktur panti asuhan menjual informasi ... kepada
pelaku trafiking") dan menunggu mereka, sambil menawarkan pekerjaan.
Departemen Luar Negeri AS juga memerhatikan bahwa di seantero Rusia, terdapat
"laporan anak-anak diculik atau dibeli dari ... panti-panti asuhan untuk
penyiksaan seksual atau pornografi anak" dan bahwa prostitusi anak
"tersebar luas" di panti-panti asuhan Ukraina. Dan di Romania, "banyak panti
asuhan terlibat menjerumuskan gadis-gadis menjadi korban jejaring trafiking."
Banyak sekali anak-anak Rusia yang kabur dari panti-panti asuhan yang kejam,
lalu berkeliaran di jalan-jalan Moskwa dan St. Petersburg.
Mereka disebut Bezprizornye. Ada juga Beznadzornye, anak-anak jalanan yang
ditelantarkan orangtuanya. Bocah-bocah malang tersebut adalah produk sampingan
tragis Rusia baru. Menurut perkiraan resmi, jumlahnya tak kurang daripada satu
juta; banyak pekerja sosial yang berkata jumlahnya bisa saja dua kali lipatnya.
Selain itu, masalahnya merembes ke semua negara bekas Soviet. Di semua negara
bekas Uni Soviet, makin banyak anak yang ditelantarkan orangtua dan keluarga
yang tak lagi mampu menghidupi mereka. Menurut data polisi di Ukraina, 12.000
anak ditelantarkan orangtuanya tiap tahun.
Suatu dokumen Departemen Dalam Negeri Ukraina menyatakan bahwa 100.000 anak - 14
persennya berumur di bawah tujuh tahun - tercatat sebagai tunawisma pada 2000.
Separuh dari anak-anak itu tertampung dalam panti-panti asuhan. Sementara itu,
jumlah anak yatim piatu di negeri tetangga, Romania, melebihi 60.000.


Natasha Karya Viktor Malarek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Umumnya, panti-panti asuhan tersebut hanyalah semacam gudang.
Satu penelitian Human Rights Watch pada 1998 mendapati bahwa anak-anak penghuni
panti asuhan di Rusia "terpapar kekerasan dan kelalaian dengan kadar
memprihatinkan. Mereka bisa dipukul, dikurung dalam kamar yang dingin selama
berhari-hari, atau dilecehkan secara seksual, dan sering kali menerima perlakuan
merendahkan dari staf panti asuhan." Tak heran ribuan anak kabur dari panti
asuhan tiap tahun, mengadu nasib dengan hidup di jalanan.
Panti-panti asuhan di Ukraina, Romania, dan Rusia penuh sesak, dan karena
kehilangan pembiayaan negara, tak mampu menanggung anak-anak yatim piatu yang
ditampungnya. Tiap hari mereka berjuang untuk bertahan hidup. Kaidah-kaidah yang
menjalankan lembaga-lembaga tersebut kurang memenuhi syarat dan tak banyak
membantu anak-anak yang ditampungnya hidup normal setelah keluar dari panti.
Memenuhi kebutuhan dasar anak-anak itu saja sudah cukup sulit; boro-boro
menyiapkan agar mereka mandiri setelah mencapai umur delapan belas. Hanya
sedikit yang terlatih menghadapi perubahan-perubahan drastis kehidupan mandiri.
Bahkan banyak yang merebus air saja tidak bisa. Ketiadaan keterampilan kehidupan
dasar menjadikan anak-anak itu - terutama yang perempuan - sasaran empuk bagi para
pemangsa yang menunggu di gerbang. Terkadang mereka sudah diincar bahkan sebelum
mencapai gerbang panti asuhan - dipilih dan dijual oleh pegawai panti asuhan.
Direktur beberapa panti asuhan di Rusia, Ukraina, Romania, dan Republik Ceko
mengakui bahwa anak-anak perempuan di panti asuhan mereka dirongrong jaringan
trafiking, tapi mereka mengeluh bahwa mereka tak punya kemampuan untuk
mengatasinya. Pada musim gugur 1999 dua perekrut mengumpulkan gadis-gadis muda dan sejumlah
panti asuhan di Republik Karelia, negara bagian Rusia di Rusia barat laut dekat
perbatasan dengan Finlandia. Para perekrut, yang bertampang profesional dan
meyakinkan, tiba dengan tawaran pelatihan kerja bagi gadis-gadis berumur antara
empat belas dan tujuh belas. Staf panti asuhan yang kerepotan amat girang karena
ada orang-orang budiman yang peduli dengan kesejahteraan gadis-gadis yang mereka
tampung. Mereka tahu benar kerasnya realitas yang akan dihadapi gadis-gadis itu sesudah
dikeluarkan dari panti asuhan setelah berumur delapan belas, dan kini setidaknya
beberapa di antara mereka diberi kesempatan untuk jadi mampu bersaing di luar.
Sesudah wawancara formal, beberapa orang dipilih untuk belajar memasak masakan
Cina di sebuah sekolah di Cina. Biaya perjalanan dan pelatihan digratiskan,
dengan syarat mereka magang dua tahun sebagai pelayan sesudah belajar.
Sekitar tiga puluh gadis segera mendaftar - tentu saja, semuanya cantik,
bersemangat, dan naif. Seminggu kemudian, membawa sedikit barang milik mereka,
mereka naik bus. Kegembiraannya begitu kentara.
Dan berhenti di sana. Bukannya menuju timur ke Cina, mereka malah menuju
selatan, ke jantung Eropa Barat. Tujuannya adalah suatu kota di Jerman, di mana
mereka dibawa ke sebuah apartemen, dikurung, dan tak diberi makanan ataupun air.
Mimpi indah gadis-gadis itu dengan cepat merosot menjadi mimpi buruk. Mereka
terus-menerus dihardik. Sekali-sekali mereka dipukul. Beberapa hari kemudian
mereka digiring ke ruang keluarga dan disuruh membuka baju di hadapan sejumlah
laki-laki yang dikawal. Para begundal mengamati gadis-gadis itu dan mulai
menawar, membeli anak-anak yatim piatu tersebut sekali tiga, empat, atau lima
orang. Gadis-gadis itu lalu dibawa ke berbagai bordil Jerman, tempat mereka
dipaksa berhubungan seks dengan sepuluh laki-laki atau lebih tiap hari. Selama
enam bulan kemudian, beberapa berhasil lolos. Yang lainnya diciduk polisi.
Baru sesudahnya kisah penipuan memilukan itu sampai ke panti asuhan asal mereka.
Perlu diperhatikan bahwa di dalam perdagangan manusia internasional, tidak semua
perempuan adalah korban penipuan yang polos.
Bahkan, polisi dan pejabat pemerintah sering kali sampai repot-repot menegaskan
bahwa sebagian perempuan tersebut sengaja memulai profesi demikian. Barangkali,
di mata mereka, kesengajaan tersebut bisa dijadikan alasan bagi sikap apatis
serta acuh para polisi dan pejabat. Tapi itu jauh sekali dari kenyataan. Bahkan
perempuan-perempuan yang "sengaja"
terkadang tak tahu apa yang mereka hadapi. Memang, banyak perempuan yang tahu
ketika menerima tawaran kerja bahwa mereka akan bekerja di suatu bagian industri
seks - panti pijat, klub tari telanjang, pertunjukan intip, dan agen pendamping
( escort). Tergantung siapa yang menilai keadaan - polisi, pekerja sosial,
birokrat, atau kelompok aktivis hak asasi perempuan - perkiraan jumlah perempuan
yang "sengaja" berkisar antara 30 hingga 80
persen. Namun, sebagian besar perempuan tersebut tak tahu-menahu mengenai sifat
atau kondisi pekerjaannya. Mereka yang sepakat untuk bekerja di luar negeri
sebagai pelacur dan pendamping diberi tahu bahwa mereka akan menerima kondisi
tertentu. Mereka dijanjikan penghasilan $5.000 sebulan, apartemen mewah, libur
dua hari seminggu, melayani dua atau tiga klien semalam, dan tak harus melayani
laki-laki yang tak mereka sukai. "Kontrak" itu sering hanya untuk tiga bulan,
dan sesudahnya mereka bebas untuk keluar dari pekerjaan itu.
Banyak perempuan yang menyetujuinya sambil membayangkan film Pretty Woman.
Mereka berharap memperoleh uang banyak dengan cepat, dan barangkali sambil
melakukannya bisa bertemu laki-laki idaman. Tapi khayalan itu hancur ketika, tak
lama setelah tiba di tujuan, mereka mengetahui seperti apa sebenarnya nasib
mereka. Banyak yang jadi terlilit utang, tak mampu menghasilkan cukup uang untuk
membayar bunga utang biaya perjalanan dan hidup mereka. Mereka menjadi korban
eksploitasi seks versi terparah. Mereka tidak bisa pergi dengan leluasa, dan
juga tidak bisa kabur. Mereka dijual kepada mucikari atau pemilik bordil di
pasar bebas, dan segera terjebak dalam situasi tak enak di mana mereka dipaksa
berhubungan seks dengan sepuluh, dua puluh, atau bahkan tiga puluh klien dalam
sehari. Mereka tak boleh menolak pelanggan atau keinginan apa pun.
Mereka tak diberi cuti sakit. Mereka tak libur ketika haid. Beberapa menjadi
hamil dan melakukan aborsi. Banyak yang tertular HIV atau penyakit kelamin lain,
selain masalah psikologis atau medis yang bersumber dari penyiksaan dan
pemerkosaan massal terus-menerus. Beberapa menjadi pecandu alkohol. Yang lainnya
menjadi pecandu obat. Sering kali mucikari mereka membuat mereka menjadi pecandu
heroin agar mereka mau menurut.
Secara keseluruhan, tanpa peduli mereka "sengaja" atau tidak, dan tanpa peduli
bagaimana caranya mereka terjerumus ke dalam jebakan trafiking, sebagian besar
perempuan tersebut akhirnya menjadi budak - yang disiksa, dimanfaatkan, dan
diperjual belikan. Dan kalau mereka sudah tak lagi berguna atau terlalu tua atau
penyakitan, mereka dibuang begitu saja. Baru pada saat itulah mereka bisa
memikirkan untuk pulang. Banyak sekali yang tak pernah pulang. Banyak yang mati
karena siksaan dan penyakit. Yang lainnya putus harapan dan bunuh diri.
SETELAH PEREMPUAN-PEREMPUAN tersebut direkrut - ditangkap atau diculik - sistem
trafiking pun bergerak. Organisasi-organisasi kejahatan menggunakan beragam
mekanisme untuk mengangkut kargo manusia mereka menyeberangi batas-batas negara.
Banyak yang melakukannya lewat jalur-jalur yang kelihatan sepenuhnya legal,
yakni visa pelajar, turis, atau izin kerja singkat. Pada beberapa negara,
perempuan bisa memperoleh visa untuk bekerja sebagai penari eksotik atau
seniwati. Yang lainnya masuk sebagai "pengantin pesanan". Lalu mereka tinggal
melebihi batas yang diizinkan visa dan menjadi imigran gelap.
Akan tetapi, jika jalur-jalur yang kelihatan legal tak tersedia, para pelaku
trafiking menggunakan jasa penyelundup profesional. Kelompok-kelompok kejahatan
terorganisasi telah mendirikan jejaring rute yang amat besar dan ruwet untuk
membawa perempuan-perempuan korban mereka ke berbagai negara melalui darat, air,
dan udara. Jalur-jalur penyelundupan tersebut melintasi seantero dunia dan pada
tiap bagiannya dikendalikan jejaring kriminal yang saling berhubungan.
Sebenarnya, sebagian besar rute tersebut dahulu dibuat oleh penyelundup untuk
membawa senjata ilegal atau obat-obatan terlarang. Ledakan permintaan akan
perempuan Eropa Timur dan Tengah baru-baru ini menghadirkan komoditi pasar gelap
baru di jalur-jalur lama tersebut.
Para pelaku trafiking profesional, yang sudah terbiasa melintas batas-batas
negara, bermain kucing-kucingan dengan aparat penjaga perbatasan.
Mereka terus-menerus mengubah rute yang ditempuh agar selalu selangkah lebih
maju daripada hukum, mengangkut perempuan-perempuan melintas perbatasan dengan
relatif mudah. Sepanjang lika-liku perbatasan Uni Eropa (UE), para penyelundup
telah membentuk sistem koridor terlindung yang rumit dengan memanfaatkan
"perbatasan hijau" atau wilayah yang tak dijaga. Salah satu koridor darat yang
terpenting dikenal sebagai "Rute Timur" yang menembus Polandia menuju Jerman.
Sekalinya para pelaku trafiking dan korban-korban mereka berada dalam Uni Eropa,
pintu ke semua negara anggota UE pun terbuka dan pergerakan kejahatan
terorganisasi relatif tak terkekang. Perempuan-perempuan yang diselundupkan melalui rute tersebut berasal dan Rusia, Ukraina, Romania, Latvia,
Lithuania, dan Estonia, serta banyak ditemukan di Italia, Yunani, Jerman,
Belgia, Austria, dan Prancis.
Koridor paling terkenal adalah rute Balkan. Rute tersebut berkelok-kelok melalui
Serbia, Kroasia, Albania, Makedonia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, dan Kosovo.
Saat terjadi perang saudara berdarah yang merobek-robek Yugoslavia, organisasi-
organisasi kriminal bercokol di kawasan tersebut. Bisnis haram mereka mencakup
penjualan senjata dan narkotika. Setelah perang usai, rute Balkan digunakan
untuk menyelundupkan obat-obatan terlarang, mobil, dan perempuan. Rute rahasia
tersebut menembus kawasan Balkan menuju wilayah Uni Eropa.
Italia adalah tujuan utamanya karena menjadi pintu gerbang menuju banyak negara
lain di Eropa. Tapi kawasan Balkan tak sekadar menjadi tempat transit, berkat
membanjirnya pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan
pekerja sosial internasional ke sana. Celakanya, keberadaan mereka justru
membuka pasar yang menguntungkan bagi para pemilik bordil setempat yang
menawarkan perempuan korban trafiking.
Di Moldova, jalur menuju perbudakan seksual sering kali bermula di suatu desa
kecil melarat, lalu dengan cepat bergerak lewat Romania ke Hungaria atau
Montenegro. Tujuan berikutnya adalah tempat penggojlokan di Serbia. Sementara
perempuan dan Ukraina biasanya dibawa ke Beograd, Serbia melalui Hungaria lalu
disebar ke Bosnia atau Italia. Perempuan-perempuan Romania dibawa ke Serbia
lewat Lembah Gerbang Besi (Portile de Fier), perbatasan Romania - Serbia di sungai
Danube, sedangkan perempuan-perempuan Bulgaria biasanya langsung diselundupkan
ke Serbia. Perjalanan dari Serbia ke Italia bisa lewat jalur darat - melalui
Bosnia, Kroasia, dan Slovenia - atau lewat kota-kota pelabuhan Albania, Vlore dan
Durres, di mana perempuan-perempuan tersebut dibawa dengan perahu karet
berkecepatan tinggi yang berpacu melintas Laut Adnatik menuju pesisir Italia.
Koridor penting lain berawal di "segitiga emas" Bulgaria selatan, tiga kota
yakni Blagoevgrad, Sandanski, dan Petnc, menuju Yunani. Gadis-gadis muda dan
Rusia, Romania, Georgia, dan Ukraina dibawa sindikat trafiking ke sejumlah hotel
di kota-kota tersebut. Mereka bertemu gangster Yunani yang sering mampir untuk
memilih dan memesan, dan bahkan mencoba langsung. Perempuan-perempuan tersebut
lantas dipindah tangankan kepada para penyelundup setempat, yang ahli dalam
menelusuri jalur-jalur sulit di pegunungan perbatasan Bulgaria - Yunani, dan
diantar ke pemilik baru mereka. Perempuan korban trafiking lain menuju Turki,
pasar raya lain bagi perempuan Eropa Timur, terutama perempuan Ukraina. Untuk
mencapai Turki, para pelaku trafiking menempuh jalan darat melalui Georgia atau
Bulgaria atau naik kapal dan kota pelabuhan Ukraina, Odessa di pesisir Laut
Hitam, menuju Istanbul atau Ankara. Sindikat trafiking juga telah membuat jalur
penyelundupan melewati negara-negara Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania-
Penerj.) ke Skandinavia. Akan tetapi, situasi dan aspek geografi perempuan korban trafiking selalu
berubah. Pada awal 1990-an, negara-negara sumber utama adalah Hungaria, Republik
Ceko, dan Polandia. Sepuluh tahun kemudian negara-negara tersebut tetap menjadi
sumber korban trafiking tetapi juga menjadi tujuan. Sebagian besar perempuan
yang diselundupkan ke Republik Ceko dan Polandia berasal dari Rusia, Ukraina,
Belarus, Moldova, Romania, Georgia, dan Bulgaria. Sementara itu, republik-
republik eks Soviet di Asia Tengah - Armenia, Georgia, Azerbaijan, Kyrgyzstan, dan
Kazakhstan - kini mulai menjadi tempat perekrutan. Sepertiga lalu-lintas dari
kawasan Asia Tengah menuju Eropa Tengah dan selanjutnya ke negara-negara Eropa
lain, sementara sisanya mengarah ke Timur Tengah dan Cina. Ke jurusan-jurusan
itu pun banyak pula rute penyelundupan.
Sindikat-sindikat kejahatan terorganisasi juga membuat rute-rute rumit namun
menguntungkan ke tujuan-tujuan jauh demi meraup untung dari "barang dagangan"
mereka. Israel, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Thailand, Cina, dan Jepang,
semuanya menjadi kunci jejaring prostitusi mereka. Kanada dan Amerika Serikat
makin sering menjadi tempat tujuan perempuan korban trafiking dari Eropa Timur,
sebagaimana dibuktikan oleh banyaknya iklan di halaman belakang tabloid-tabloid
heboh di banyak kota Amerika Utara. "Pijat bugil dan servis lengkap oleh cewek
cantik Rusia" bertarif $60 per jam - boleh pegang-pegang, dan "dijamin puas". Iklan juga
menunjukkan makin banyaknya jumlah jasa penyedia pendamping Rusia di New York,
Miami, Chicago, Los Angeles, Montreal, dan Toronto, dan di ke semua kota
tersebut, penari-penari Rusia sudah menjadi tontonan populer di klub tari
telanjang dan pertunjukan intip. Para penyedia tidak membeda-bedakan antara
perempuan Rusia, Ukraina, Latvia, atau Lithuania.
Semuanya dianggap satu etnis - Rusia.
Agar selalu selangkah lebih maju daripada hukum dan tekanan otoritas
internasional untuk memperketat pengawasan perbatasan, kejahatan terorganisasi
masuk makin jauh ke dalam pasar internal. Banyak perempuan didatangkan ke kota-
kota tempat perekrutan. Kota-kota besar di Eropa Timur seperti Bucuresti, Praha,
Odessa, Kyiv, St. Petersburg, dan Moskwa menawarkan pasokan perempuan Eropa
Timur kepada pasar turisme seks yang ramai di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
Perempuan korban trafiking juga dibawa ke kota-kota dan jalan-jalan Ceko,
Polandia, dan Hungaria yang dekat dengan perbatasan Jerman dan Austria untuk
memanfaatkan ramainya lalu-lintas antar negara. Jalan yang paling terkenal
adalah Jalan Raya E-55. Jalan Raya E-55 yang terkenal di seantero dunia terletak di sebelah jalan utama
antara Dresden dan Praha, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Ceko-Jerman.
Bagi pengendara mobil, jalur aspal sepanjang lima kilometer tersebut merupakan
tempat dengan kepadatan pelacur tertinggi di Eropa.
Saya memutuskan untuk melihat sendiri keadaannya dengan berkendara melewatinya
dan langsung terkejut mendapati banyaknya jumlah pedagang yang berjejer di kedua
sisi jalan, menjajakan barang dagangan mereka. Pemandangan yang sulit dipercaya.
Para pedagang tersebut masih muda-muda. Beberapa amat menawan. Semuanya adalah
perempuan dari Ukraina, Romania, Rusia, Belarus, dan Bulgaria. Barang dagangan
mereka adalah tubuh mereka, yang dibalut pakaian dengan berbagai kadar
keminiman. Mereka berpose menggoda dalam celana jeans ketat yang tak menutup
perut, halter top mini, dan sepatu stiletto hak tinggi. Sembari mobil-mobil
melaju lewat, perempuan-perempuan itu mengangkat kaus dan memamerkan payudara.
Yang lainnya berseru kepada orang-orang yang lewat, berjanji bersedia melakukan
apa pun yang mereka kehendaki.
Walaupun tersaji suasana aneh bin ajaib mirip sirkus semacam itu, yang terlihat
jelas bahkan oleh pengamat awam adalah bahwa mayoritas perempuan di sana tidak
memegang kendali atas pekerjaan mereka.
Sekelompok laki-laki bersweater dan berkalung emas berpatroli naik mobil tua di
sana. Tugas para laki-laki itu adalah mengawasi barang dagangan mereka dan
menagih uang yang mereka peroleh.
Seraya saya melongo sambil memelototi segala macam manusia yang bertebaran di E-
55, beberapa perempuan pelan-pelan melangkah ke jalan raya dan berseru kepada
pengendara mobil yang lewat, " Warte mal!" (Hei, tunggu!) dan " Ich mache
alles!" (Saya mau melakukan apa saja!). Seorang perempuan langsing berambut
pirang sebahu bergegas menuju mobil saya.
Ketika saya terhenti karena terjebak macet, dia membuka pintu, masuk, dan duduk
di kursi penumpang depan. Dengan lambaian tangannya, dia memandu saya menuju
daerah berpohon tersembunyi dan di sana dia minta 1.400 koruna Ceko, dibayar di
muka. Saya penuhi permintaannya tapi saya beri tahu juga dia bahwa saya hanya
mau bicara. Dia kelihatan heran, tapi dia hanya mengangkat bahu dan
menganggukkan kepala. Sepanjang pertemuan singkat lima belas menit tersebut, mata cokelatnya yang
tajam tak pernah lepas menatap dasbor. Sambil mencuili kulit mati di jemarinya
dengan gugup, dia berbicara lirih. Percakapan yang sulit. Namanya Lida. Dia
berasal dari Romania, berumur delapan belas, dan telah bekerja di E-55 selama
tiga bulan. Dia anak yatim piatu. Selagi dia bersiap meninggalkan panti asuhan
di luar kota Bucuresti, muncul seorang perempuan yang mengaku anggota
keluarganya. "Perempuan itu bibiku. Begitu kata direktur panti asuhan. Aku tak percaya dia
tapi bisa apa aku" Perempuan itu memberitahuku bahwa dia sudah punya izin untuk
membawaku. Aku pergi dengan dia. Dia membawaku kepada Stephan dan Stephan
menyuruhku bekerja di jalan ini.
Pendapatku tak dianggap. Kehidupanku bukan milikku lagi," ujarnya dengan nada


Natasha Karya Viktor Malarek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pasrah. Tiba-tiba ia panik. "Kalau dia melihatku bicara dengan kamu, dia akan
memukuhku." Saya bertanya apakah dia ingin kabur. "Saya bisa membawamu pergi dari sini."
Tangan Lida mulai gemetar. "Jangan. Dia akan menemukanku lalu membunuhku. Dia
sudah bersumpah akan melakukan itu. Tolonglah, aku tak mau bicara lagi."
Pembicaraan berhenti mendadak ketika Lida tiba-tiba menunduk di bawah dasbor
sehingga terlihat seolah-olah sedang bekerja. Dari sudut matanya dia melihat
Stephan di kaca spion. Si mucikari bermata bulat kecil dengan rambut keriting
berminyak dan senyum menjijikkan itu baru saja lewat dalam Ford Opel putih
usang. Stephan memandang penuh ancaman ke arah saya. Beberapa menit kemudian
Lida meninggalkan mobil saya dan bergegas kembali ke tongkrongannya di E-55. Dia
kelihatan susah dan sedih. Mucikarinya mendekatinya, membuka jendela mobil, dan
mulai berteriak-teriak kepadanya. Lida memberi si mucikari 1.400 koruna yang
tadi dan si mucikari pun melesat pergi. Dengan senyuman kembali menempel di
wajahnya, Lida kembali ke jalan, melambai kepada mobil berplat nomor Jerman
berikut yang lewat, dan berseru, " Ich mache alles!"
Tujuan saya yang berikutnya adalah desa Dubi di Bohemia, Ceko yang tak jauh dari
E-55. Dubi yang dulu terkenal karena porselen biru-putih berbentuk bawang yang
dikenal sebagai "cibulak" kini malah terkenal karena perempuan gampangan. Bar-
bar dengan nama seperti Alibi, Libido, dan Kiss memenuhi tepi jalan di samping
sederetan hotel mesum dan rumah kos yang jelas-jelas bukan untuk menginap saja.
Semenjak pembukaan perbatasan Jerman pada 1989, jumlah pekerja pelacur di
wilayah Ceko yang berbatasan dengan Jerman membludak. Ada banyak bar dan tiap
bar berisi selusin lebih gadis yang duduk-duduk di meja atau menari mengikuti
musik disko sambil menunggu laki-laki datang. Negosiasi dilakukan dengan
ditemani segelas anggur murah, disusul cekikikan dan sedikit rabaan sebelum
pasangan tersebut menuju kamar di atas atau di belakang bar.
"Daerah ini macam kebun binatang seks saja," kata seorang polisi dengan masam.
"Orang pemerintah tak ada yang mau menyetopnya. Jadi, buat apa aku peduli"
Pekerjaanku menjaga biar tak ada keributan, dan lonte lonte itu tahu mereka
enggak boleh bikin keributan."
Saya bertanya apakah si polisi menganggap banyak perempuan di sana merupakan
korban trafiking dan dipaksa bekerja sebagai pelacur.
Si polisi terbahak. "Mereka itu bisa memilih mau jadi pelacur atau hidup seperti
biasa. Mereka sudah memilih mau jadi lonte."
Kalau berjalan lebih jauh lagi selepas Dubi, di bukit-bukit permai Dataran
Tinggi Bohemia, terdapatlah kota wisata spa Teplice. Teplice menyimpan rahasia
kelam - konsekuensi tragis segala perbuatan di E-55
dan Dubi. Tiap tahun, lusinan bayi yang tak dikehendaki dilahirkan dan
ditelantarkan di rumah sakit setempat. Bayi-bayi tersebut merupakan akibat
perbuatan klien-klien yang bersedia membayar lebih untuk berhubungan seks tanpa
kondom, dan perempuan yang tak diberi uang oleh mucikarinya untuk membeli sarana
pencegah kehamilan alternatif. Tiap bulan, rata-rata ada tiga pelacur yang
melahirkan. Banyak bayi mereka yang sejak lahir sudah terkena sipilis atau HIV.
Beberapa bayi malah sudah kecanduan narkotika. Dokter di rumah sakit tersebut
menyatakan bahwa aborsi mahal dan banyak perempuan yang terus bekerja sampai
waktu melahirkan. Malah selalu ada saja klien yang sengaja ingin berhubungan
seks dengan perempuan hamil, dan mereka bersedia membayar mahal untuk itu.
Di dekat situ, di suatu panti asuhan yang kewalahan, sekitar tujuh puluh bayi E-
55 dipamerkan, menunggu adopsi.
2 tempat penggojlokan Aku tahu aku tak akan kuat menanggung
apa yang akan terjadi bila aku melawan.
- SOPHIA, yang "dilatih" setelah tiga
hari disekap OLESKANDER MAZUR tahu banyak mengenai tempat penggojlokan. Mazur, seorang
petugas polisi Ukraina, ditugaskan oleh satuan polisi internasional Perserikatan
Bangsa-Bangsa - CIVPOL - di Pristina, ibu kota Kosovo.
Tugasnya mendobrak pintu rumah-rumah bordil dan menyelamatkan para perempuan
korban trafiking di provinsi Serbia yang liar tersebut. Telah setahun lebih
sedikit ia melakukan pekerjaannya, dan selama itu ia sudah menyelamatkan lebih
daripada seratus perempuan - sebagian besar masih remaja.
"Saya ingin menyudahi segala kekacauan ini," kata Mazur. "Saya tak menginginkan
pekerjaan seperti ini. Saya sudah kehilangan impian saya karenanya."
Dari berbagai penyelidikan, Mazur telah menyusun kumpulan dokumen yang hebat
mengenai para pelaku trafiking dan operasi mereka. Ia sangat mengenal lawan -
seperti apa bentuknya, bagaimana cara berpikirnya, bagaimana bergeraknya. Ia
tahu nama beberapa tokoh penting; deskripsi tokoh-tokoh tersebut tertatah dalam
benaknya. Yang lebih penting, ia sudah menemukan lokasi pusat-pusat penggojlokan
rahasia di Serbia tempat para bajingan menghancurkan semangat dan kehendak para
sandera mereka yang ketakutan. Pusat-pusat tersebut berada dalam jangkauannya,
tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Wilayah tugasnya terbatas pada Kosovo.
Tempat-tempat penggojlokan, yang hanya berjarak beberapa kilometer di seberang
perbatasan di Serbia, tidak termasuk dalam rincian tugasnya maupun
yurisdiksinya. Saya ingin punya kekuasaan, wewenang untuk memasuki Serbia dan menangkap para
penjahat dan menghentikan mereka selama-lamanya. Di sini rasanya seperti
menangkap pengedar obat terlarang kelas teri. Sungguh membuat frustrasi, apalagi
kalau kamu tahu bisa menangkap para dalang trafiking, tapi tidak diperkenankan
menyeberangi perbatasan. Saya punya banyak informasi. Tidak sukar menangkap
mereka. Tinggal pergi ke sana dan dobrak pintunya.
Beograd adalah pusatnya di Serbia. Ada juga apartemen-apartemen di Nis dan
Kraljevo. Ada tempat-tempat mirip penjara, di mana ratusan perempuan dikurung
sebelum akhirnya dijual. Di sanalah gadis-gadis itu digojlok. Di sanalah mereka
dilatih. Tempat-tempat itu adalah neraka.
Anna Eva Radicetti juga telah mendengar mengenai tempat-tempat penggojlokan di
Serbia dan wawancara dengan banyak sekali perempuan korban trafiking yang
terselamatkan. Sebagai manajer proyek Pengembalian dan
Reintegrasi Kontra-Trafiking yang dilaksanakan International Organization for Migration di Kosovo, ia juga telah mengumpulkan seabrek
informasi mengenai apa yang terjadi pada para perempuan korban trafiking di
seberang perbatasan. "Sebagian besar gadis dibawa ke apartemen-apartemen besar
atau rumah-rumah di Beograd. Kadang-kadang di satu tempat ada sampai lima puluh
gadis," ia menjelaskan. Radicetti telah mengetahui bahwa calon pembeli "mencoba"
perempuan-perempuan itu, sebagaimana kita mencoba mobil baru sebelum membeli.
"Mereka dicoba oleh tiap pembeli. Para pembeli ingin mengetahui sendiri
bagaimana kemampuan tiap gadis dalam hal performa seks."
Kalau tidak sedang digunakan, kata Radicetti, sandera-sandera muda itu didorong-
dorong dan digiring seperti ternak.
Mereka harus berdiri telanjang selama berjam-jam dalam sehari sementara banyak
laki-laki datang dan mengamati mereka. Para calon pembeli melihat payudara
mereka, warna kulit mereka, dan memeriksa apakah ada bintik-bintik merah atau
jerawat di wajah mereka. Gadis-gadis itu harus berpakaian seperti pelacur dan
memakai rias wajah. Yang melawan diisolasi, dipukuli, dan diancam. Lebih gawat
lagi kalau mereka dianggap jelek. Mereka diperlakukan lebih buruk daripada hewan
karena segala yang mereka terpaksa lakukan itu. Ada berbagai macam pelaku
trafiking, dari yang kejam sampai yang sangat kejam.
Yang terjadi pada sebagian besar perempuan korban trafiking, baik yang ditipu,
diculik, maupun sukarela, adalah kejahatan. Mereka dipaksa mengalami ketakutan
yang amat sangat, setara dengan disandera.
Dokumen-dokumen perjalanan mereka langsung dirampas dan tiap gerakan mereka
diawasi dan dibatasi. Biasanya mereka tinggal di tempat mereka bekerja, dikurung
dalam kamar-kamar, terus-menerus dijaga dan selalu takut kekerasan ekstrem dan
ancaman. Mereka diperingatkan, kalau coba-coba kabur, mereka pasti akan
ditemukan dan dihukum berat. Mereka juga diberi tahu bahwa keluarga mereka pun
akan diincar. Sering kali mereka dipotret atau direkam kamera video dalam
situasi seksual yang memalukan, dan diperingatkan bahwa kalau mereka kabur,
gambar dan video tersebut akan dikirim ke keluarga mereka dan disebar di kota
asal mereka. SOPHIA BERGIDIK karena panik ketika ditanya mengenai saat ia diculik setelah
ditodong pisau ketika berjalan pulang pada suatu malam di jalan kampung sekitar
satu kilometer dari rumahnya.
"Aku bisa mendengar mobil mendekat dan mendadak aku terpaku.
Aku tak bisa bergerak," gadis delapan belas tahun dari Romania itu berkata,
sambil memain-mainkan rambut hitam sebahunya dengan gugup selagi ia mengingat-
ingat mimpi buruk yang mewujud dalam kehidupannya empat bulan berikutnya.
Dua laki-laki yang membawa pisau memaksaku masuk mobil. Kupikir mereka akan
memerkosaku lalu membunuhku. Aku berdoa meminta hidupku dilindungi. Tapi aku
justru dibawa ke suatu penyeberangan sungai, tempat mereka menjualku ke seorang
laki-laki Serbia. Si orang Serbia membawaku menyeberang Sungai Danube dengan
perahu kecil, lalu ke suatu apartemen di sebuah kota pegunungan. Aku tak tahu
nama kota itu. Tapi aku segera tahu bahwa aku berada di Serbia.
Sophia begitu ketakutan terhadap apa yang dia saksikan selama ia dikurung di
bangunan tersebut. Pengalamannya di sana terus menghantuinya ketika tidur,
seperti yang biasa dialami para perempuan di tempat penggojlokan.
Ada banyak sekali gadis muda di sana. Mereka berasal dar Moldova, Romania,
Ukraina, dan Bulgaria. Beberapa menangis. Yang lainnya kelihatan ketakutan. Kami
dilarang saling berbicara. Tidak boleh saling memberitahukan nama atau tempat
asal. Laki-laki kejam dan jelek bolak-balik masuk dan menyeret gadis-gadis ke
kamar. Kadang-kadang mereka memerkosa di hadapan kami. Mereka berteriak kepada
kami, menyuruh bergerak seperti ini atau itu ... pura-pura menikmati ...
mengerang ... Sungguh memuakkan. Tiap gadis dianiaya secara fisik dan emosional oleh para bajingan tanpa hati
yang menjalankan pusat penggojlokan itu.
Mereka yang melawan dipukuli. Jika tak mau menurut, mereka dikunci dalam ruangan
gelap berisi tikus dan tak diberi air atau makanan selama tiga hari. Satu gadis
menolak melakukan seks anal, dan malamnya si pemilik membawa lima laki-laki.
Mereka menindihnya dan masing-masing melakukan seks anal terhadapnya di hadapan
kami semua. Dia menjerit-jerit, dan kami semua menangis.
Hari berikutnya, gadis tersebut berusaha gantung diri.
"Banyak gadis yang mencoba bunuh diri," kata Sophia. "Aku diberi tahu bahwa ada
beberapa yang berhasil dan mayat mereka dibuang di hutan."
Ketakutan terbesar Sophia adalah menghadapi gilirannya untuk ditaklukkan.
Aku amat takut menghadapinya. Pada hari pertama, kupikir, aku akan melawan. Lalu
kulihat apa yang mereka lakukan kepada satu gadis yang melawan. Gadis itu
berasal dari Ukraina. Sangat cantik, sangat teguh pendirian. Dua penilik mencoba
memaksanya melakukan berbagai hal dan dia menolak. Mereka memukuli dia,
menyundut sekujur lengannya dengan rokok. Dia masih tak mau menurut. Para
pemilik terus mendesaknya dan dia terus melawan. Mereka menonjoknya. Mereka
menyepaknya berkali-kali. Lalu dia roboh tak sadarkan diri.
Dia tergeletak, dan mereka masih saja memerkosa anusnya.
Ketika mereka selesai, dia tak bergerak. Dia tak bernapas. Tak terlihat
kekhawatiran di wajah para pemilik. Mereka hanya menggotongnya keluar.
Beberapa hari setelah si gadis Ukraina dibawa pergi, salah seorang rekannya
memberanikan diri bertanya mengenai dia. Reaksi si pemilik tajam, singkat, dan
brutal. Si pemilik menjambak rambut gadis itu dan menyeretnya ke luar. Ketika gadis itu
kembali, dia kelihatan seperti baru melihat malaikat maut. Dia memberi tahu kami
bahwa si pemilik membawanya ke hutan tak jauh dan bangunan tempat kami disekap,
memberinya sekop, dan menyuruhnya menggali. Dia percaya dia sedang menggali
kuburannya sendiri. Selagi menggali, dia memerhatikan gundukan tanah segar di
sebelahnya. Dia yakin gundukan itu adalah kuburan si gadis Ukraina yang melawan.
Sesudah satu jam, si pemilik merebut sekop dari tangan si gadis dan menyuruhnya
keluar dari lubang galiannya. Pesannya jelas: "Kalau tanya-tanya lagi, siap-siap
saja masuk kuburan."
Pada hari ketiga disekap, Sophia pun "dilatih". Dia tunduk tanpa perlawanan. Dia
bergerak sebagai-mana disuruh. Dia berpura-pura menikmati.
Aku tahu aku tak akan kuat menanggung apa yang akan terjadi bila aku melawan.
Malam itu, aku ingin mati saja rasanya. Aku malu sekali. Bagi para laki-laki
itu, aku cuma sepotong daging. Sejak saat itu, aku merasa kotor. Aku tak bisa
membersihkan rasa itu dan tubuhku atau benakku, sekeras apa pun kucoba.
Seminggu kemudian, Sophia dan dua perempuan lain dijual ke seorang laki-laki
mucikari Albania. Sophia kini milik si mucikari. Dia hanya mengenal si mucikari
sebagai Saba, seorang Albania berumur dua puluhan. Ketiga perempuan itu dibawa
dengan truk ke Albania lalu diselundupkan ke Italia di tengah malam dengan
perahu motor menyeberang Laut Adriatik. Saba orang yang kejam, dengan kebiasaan
menakut-nakuti "barang dagangannya"
dengan sundutan rokok. Saba menyuruh para perempuan itu bekerja di Via Salaria,
jalan ramai yang menuju Kota Abadi, Roma. Ketiga perempuan itu tinggal di sebuah
apartemen bawah tanah yang lembap, tempat mereka tidur di atas kasur busa. Si
mucikari mengambil semua pendapatan mereka, kecuali sebagian kecil untuk
kebutuhan dasar dan makanan. "Pastinya, dia mendapat seribu dolar semalam dari
kami," kata Sophia. "Kami tak boleh pulang ke apartemen kalau belum bisa
menyetor uang sebanyak itu."
Tiga bulan kemudian, dengan bantuan seorang pelanggan yang bersimpati, Sophia
kabur dan dibawa ke sebuah misi penyelamatan Katolik di Italia selatan.
BAGI RATUSAN perempuan "takluk" yang diboyong dari Eropa Timur, tujuan
berikutnya dalam perjalanan adalah "Pasar Arizona" yang terkenal. Di daerah
antara Sarajevo dan Zagreb di Bosnia barat laut dekat perbatasan dengan Serbia
dan Kroasia, terdapat suatu jalan yang disebut Jalan Raya Arizona. Di sebelahnya
terdapat Pasar Arizona. Dengan gang-gang sempit dan los-los kayunya, tempat
tersebut menyerupai kota Amerika pada zaman
"demam emas"1800-an. Pada siang hari tempat itu ramai dengan pebelanja yang
menelusuri jalan-jalan tanah mencari penawaran termurah. Di sana Anda tak hanya
bisa menemukan kaos, sepatu, kosmetik, kasur, radio, dan CD bajakan, tapi juga
bisa mendapati tiruan barang bermerek semacam Rolex, Levi's, dan Ralph Lauren,
juga buah kering, kloset porselen mengilap, sampai ayam yang baru disembelih.
Di pintu masuknya, ada papan tanda terima kasih kepada orang-orang Amerika:
"Terima kasih kami kepada Angkatan Darat AS yang telah mendukung pembangunan
pasar ini." Pasar tersebut - yang sering secara bercanda dijuluki Wal-Mart Bosnia -
dibangun pada 1996 setelah perang saudara di Balkan, buah gagasan seorang
jenderal Amerika. Pasar itu diniatkan menjadi tempat semua faksi - Kroasia,
Serbia, dan Bosnia - bisa mengesampingkan perseteruan etnis dan agama dan bertemu
dalam perdagangan bebas. Pada siang hari, dengan ramainya pembeli, pasar
tersebut tampak sebagai eksperimen yang berjalan sesuai harapan. Tapi setelah
matahari terbenam, perdagangan haram pun dimulai.
Dalam gelapnya malam, kaos dan sepatu digantikan mobil mewah dan SUV yang dicuri
dari jalan-jalan Uni Eropa, ditambah senjata, obat terlarang, dan bertruk-truk
rokok selundupan. Tapi barang dagangan yang paling berharga adalah makhluk hidup
- gadis-gadis muda yang didatangkan dari Eropa Timur.
Mara Radovanovic, Wakil Ketua Lara, organisasi perempuan setempat di kota
Bijeljina yang tak jauh dari sana, menggeleng-gelengkan kepala karena jijik
dengan Pasar Arizona. "Coba lihat saja kalau sedang waktunya para pedagang
datang membeli gadis-gadis. Mereka menyuruh gadis-gadis membuka semua pakaiannya
dan berdiri telanjang dijalan. Mereka dipamerkan untuk dijual, macam hewan
ternak saja." Kata Radovanovic, perempuan-perempuan korban trafiking juga dijual
di "lelang budak seks" di klub-klub malam dengan nama seperti Acapulco dan Las
Vegas yang buka dalam pasar. "Gadis-gadis itu tampil telanjang di atas panggung
memegang nomor. Para laki-laki menghampiri mereka, menyentuh tubuh mereka,
memeriksa kulit mereka, bahkan sampai melihat mulut mereka sebelum mengajukan
penawaran." Setelah dibeli, perempuan-perempuan itu lantas hidup dalam kondisi
ibarat budak dan dipaksa bekerja di bar dan bordil di seantero daerah tersebut.
"Dokumen-dokumen pribadi mereka diambil, dan mereka tak diizinkan pergi keluar
tanpa penjagaan. Mereka tak dibayar sama sekali, dan sering kali para pemilik
klub malam memaksa mereka berhubungan seks tanpa perlindungan dengan klien.
Akibatnya, tiap minggu setidaknya ada satu perempuan semacam itu yang melakukan
aborsi di rumah sakit Bijeljina."
Di desa-desa sekitarnya, muncul "pusat-pusat pengumpulan" tempat ratusan
perempuan disekap di ruang bawah tanah, gudang, dan loteng, menunggu giliran
dilelang. "Sebagian besar adalah gadis-gadis muda dan polos dari kampung yang
percaya bahwa mereka akan mendapat pekerjaan setelah menyeberangi perbatasan,"


Natasha Karya Viktor Malarek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kata Radovanovic. "Mereka baru sadar pekerjaan macam apa yang akan mereka
lakukan kalau sudah terjebak di Pasar Arizona atau di Serbia. Kalau sudah
begitu, sudah terlambat, dan kecil kemungkinan mereka bisa lolos."
Perempuan-perempuan tersebut dijual ke ratusan bordil dan bar yang menjamur di
pedesaan BosniaHerzegovina. Di sana mereka melayani warga setempat dan, yang
lebih mencolok, banyak sekali orang asing yang tergabung dalam pasukan penjaga
perdamaian dan rekonstruksi internasional. Perempuan-perempuan yang tak terjual
pada lelang tetap berada di Arizona, melayani pemilik toko dan polisi setempat
di selusin klub dalam pasar.
Dalam satu rapat dadakan sehari penuh pada akhir musim gugur 2001
yang disponsori kelompok Radovanovic, polisi setempat diundang untuk berbicara
mengenai upaya penegakan hukum untuk menghentikan perdagangan perempuan. Dalam
beberapa menit, dua petugas polisi laki-laki yang hadir didudukkan di kursi
panas. Dikepung perempuan di segala sisi - semuanya sukarelawati LSM lokal dan
regional - mereka ditanyai langsung mengapa polisi diam saja walaupun sudah jelas
sekali apa yang terjadi di tiap kota di daerah mereka. Para polisi yang terlihat
tak nyaman itu mengajukan berbagai alasan lemah, menyebut-nyebut keruwetan hukum
dan aturan yang berlaku di berbagai yurisdiksi. Tapi Radovanovic tak mau
melepaskan kedua polisi tersebut. Dia tanpa basa-basi menuduh polisi lalai dan
korup, sambil menunjukkan bahwa suatu bar tempat pertunjukan tari telanjang yang
katanya menampung perempuan korban trafiking bisa beroperasi tanpa gangguan
tepat di seberang kantor polisi Bijeljina. Para polisi kelabakan tapi tak
bergeming dari sikap mereka.
Malamnya, seorang mahasiswa hukum membawa saya ke bar itu.
Suasananya remang-remang, penuh asap rokok, hawanya dipenuhi bau badan dan bau
bir murah. Musik disko menggelegar dari dua pengeras suara yang bertengger di
atas panggung tempat seorang gadis remaja telanjang bergerak dengan canggung
mengikuti irama. Selagi menari, dia memandangi bayangan dirinya di cermin besar
yang merentang dari lantai ke langit-langit di ujung panggung. Dia tampak murung
dan sadar akan dirinya sendiri. Seolah-olah dia sedang kesurupan, dan perempuan
muda yang dilihatnya di cermin adalah orang asing yang telah merebut tubuhnya.
Seorang penjaga pintu bertubuh tegap membawa kami ke meja di satu pojok bar.
Lewat sudut mata, saya memerhatikan pemiliknya - laki-laki berambut cepak dalam
jaket kulit hitam - melambaikan tangannya ke dua gadis yang duduk di meja dekat
bagian depan. "Mau apa?" seorang gadis berwajah pucat berambut cokelat pendek
bertanya menggunakan bahasa Ukraina.
"Bir, dua," jawab saya dalam bahasa Ukraina juga, dan sedetik sesudahnya saya
sadar itu adalah tindakan yang keliru. Gadis itu melotot ke arah saya lalu pergi
ke bar, berbicara dengan pemilik. Si pemilik mengambil telepon selulernya dan
menekan nomor. "Kupikir kita harus cepat-cepat habiskan birnya dan cabut dan
sini," saya katakan kepada rekan saya, si mahasiswa hukum. Dia mengangguk dengan
risau. Pada saat itu, seorang perempuan muda lain tampil di panggung. Dia bertubuh amat
gendut dan jelas tampil di sana untuk digoda dan diledek para pengunjung. Sambil
berpegangan pada tiang kuningan, si gadis gendut menghentak mengikuti irama
musik sementara sebarisan laki-laki di pinggir panggung bersuit-suit dan
tertawa. Sementara si gendut memutari tiang, penari yang sebelumnya muncul lagi
dari belakang dengan mengenakan gaun tipis berwarna cokelat-pasir. Si pemilik
menyuruhnya menuju suatu pojok bar yang gelap, tempat seorang laki-laki parobaya
dengan kulit berminyak duduk menghadapi sebotol anggur merah murahan. Begitu si
gadis duduk, laki-laki itu langsung menggerayanginya, tangannya berkeliaran
keluar-masuk baju si gadis. Selagi laki-laki itu menjamahnya, si gadis menutup
mata, seolah sedang berdoa. Semenit kemudian, keduanya menghilang ke kamar di
balik bar. Kami baru saja menghabiskan minuman ketika lima preman setempat menghampiri meja
kami. Salah satunya mengatakan sesuatu kepada saya.
Nadanya jelas mengancam. Saya menoleh kepada kawan saya.
"Dia ingin tahu kamu siapa dan mengapa kita ada di sini."
"Bilang kita haus dan mampir untuk minum bir." Beberapa kata disampaikan dan
diterima. "Dia menyuruh kita cepat-cepat habiskan birnya dan pergi. Dia tak suka
tampangmu." Kami bangkit dan pergi. KADAR KEKERASAN fisik dan intimidasi psikologis yang digunakan untuk
mengendalikan para perempuan tersebut amat tinggi dan memang disengaja.
Maksudnya adalah untuk menanamkan rasa takut - untuk menghancurkan mereka,
meluluhkan semangat mereka, memaksa mereka menurut. Ada laporan-laporan mengenai
perempuan-perempuan yang dimutilasi dan dibunuh sebagai hukuman karena menolak
terlibat industri seks. Perempuan-perempuan yang berani melawan dibunuh sebagai
contoh bagi yang lain. Menurut polisi Italia, tiap bulan di negara itu ada satu
pelacur asing dibunuh. Di Istanbul, Turki, dua perempuan Ukraina dilempar dari
balkon gedung tinggi disaksikan enam perempuan Rusia yang ketakutan. Di Serbia,
katanya ada perempuan Ukraina yang dipancung di depan sekelompok perempuan
korban trafiking. Seorang perempuan Rusia dicekik sampai mati oleh mucikarinya
pada Mei 1996 ketika menolak menyetorkan tip sebesar $20 dari kliennya.
Mucikarinya yang orang Israel membuang mayat si perempuan Rusia dekat kota
Ramallah di Tepi Barat supaya polisi menduga perempuan itu dibunuh orang-orang
Arab. Dan pada tahun 2000, mayat dua perempuan Moldova ditemukan mengambang di
sungai dekat Pasar Arizona. Tangan mereka terbelenggu di punggung, kaki mereka
dibebani blok beton, dan mulut mereka diplester - semuanya pertanda pembunuhan. Di
polester yang menutup mulut mereka, para pembunuh menulis kata-kata
"Organization for Secunty and Cooperation in Europe".
OSCE sedang mencoba menegakkan ketertiban di Bosnia-Herzegovina.
Lalu ada banyak sekali kasus perempuan seperti Irini Penkina yang menyerah dan
bunuh diri. Situasi memilukan di balik kasus bunuh diri Irini menggoncang
demokrasi, namun kemarahan publik tak berlangsung lama.
Irini, gadis dua puluh tahun dari Belarus, ditemukan tewas di suatu apartemen di
kota pelabuhan di utara Yunani, Thessaloniki, pada Oktober 1998. Penyelidikan
asal-asalan oleh polisi menyimpulkan bahwa Irini gantung diri karena putus asa,
setelah dipaksa melayani selusin lebih laki-laki tiap hari oleh mucikarinya yang
berkebangsaan Yunani. Irini mengalungkan stoking hitam di sekeliling lehernya
dan mengikatkan ujung satunya pada pipa di atas kloset dalam kamar mandi yang
sempit. Teman sekamarnya yang berumur dua puluh tiga-lah yang menemukan mayat
Irini. Tak ada pesan yang ditinggalkan sebelum ia gantung diri.
Para penyelidik menemukan bahwa Irini meninggalkan tanah airnya setelah
dijanjikan pekerjaan sebagai pelayan di Yunani. Ketika Irini tiba di Yunani, ia
disiksa sampai takluk, lalu dikurung dalam sebuah bordil yang sesak di sebuah
kota yang terkenal karena prostitusi. Irini dan tiga perempuan lain - dari
Bulgaria, Moldova, dan Ukraina - jarang diperbolehkan meninggalkan apartemen,
kecuali kalau diawasi seorang penjaga. Mucikari memaksa mereka melayani banyak
sekali wisatawan pencari seks dan penduduk setempat yang mendatangi apartemen
lembap tersebut pada tiap jam, baik siang maupun malam. Si mucikari ditangkap
dan didakwa menjerumuskan perempuan menjadi pelacur dan menjual tubuh mereka,
tapi belakangan dilepaskan karena tak ada cukup bukti.
DITIAP metropolis di seantero dunia, perempuan-perempuan korban trafiking
bercampur-baur dengan perempuan-perempuan yang memilih menukar seks dengan uang.
Sepintas mereka tampak sama persis. Mereka berpakaian dan berpenampilan sama.
Mereka menunjukkan ekspresi mengundang yang sama. Mereka tersenyum, berpose,
melenggang, dan memamerkan tubuh. Itulah yang dilihat calon klien dan masyarakat
di bar atau jalanan. Tapi itu juga yang dipastikan oleh para mucikari untuk dilihat masyarakat. Yang
luput sepenuhnya dari perhatian masyarakat adalah sisi gelap dunia tersebut.
Sisi yang amat buruk, yang tersembunyi di balik pintu bergembok berat dalam
ruang-ruang dengan jendela berteralis yang dijaga begundal-begundal bersenjata.
Di sana, gadis pirang menawan yang tersenyum genit di jalan boleh jadi dilecut kabel listrik pada malam
sebelumnya. Di balik dinding-dinding itu, gadis manis berambut cokelat yang
berdiri malu-malu di pojok dengan tatapan mata bak anak sekolah tujuh belas
tahun mungkin baru saja didoktrin untuk terlibat prostitusi oleh dua penjaga dan
mucikari yang berupaya "menaklukkan" dia. Inilah sisi yang membuat mereka
bertahan di jalan dan menjaga agar mereka tetap tersenyum. Mereka bertahan
karena takut apa yang akan terjadi kalau mereka kabur ... dan tersenyum karena
tahu apa yang akan mereka alami kalau tidak melakukannya.
Jika para "klien" mengamati tubuh gadis-gadis yang mereka pakai dengan saksama,
Barangkali bisa terlihat bekas-bekasnya - memar-memar di balik rias wajah yang
sewarna dengan kulit, bekas cambukan di bokong, luka bakar sundutan rokok di
lengan. Saat mencapai klimaks, jika para klien sempat melihat mata gadis-gadis
itu, mungkin akan tampak frustrasi, rasa jijik, takut, depresi, kepasrahan,
kemarahan, malu .... Dan jika perempuan-perempuan tersebut ditanya mengapa
melakukan yang mereka lakukan dan dikorek masa lalunya, boleh jadi akan
terungkap mengenai penculikan dari panti asuhan di Ukraina, penyelundupan ke
luar negeri, lelang, serta bagaimana mereka dipaksa menjual diri di jalan oleh
mucikari tamak yang menuntut setoran $500 semalam.
Singkatnya, perempuan-perempuan itu dipaksa melakukan apa saja yang dikehendaki
oleh siapa pun yang meminta, asalkan membayar, dan dipaksa melakukannya sambil
tersenyum, dengan mata berbinar, dan desahan ... sebagaimana diajarkan di tempat
penggojlokan. 3 maksud jahat Kamu bisa beli satu perempuan seharga
$10.000 dan uangmu akan kembaii dalam
seminggu kafau dia muda dan cantik.
Sesudahnya tinggal meraup untung.
- Seorang tokoh mafia yang dikenal
sebagai "TARZAN "
Di NEGARA-NEGARA sumber yakni Rusia, Ukraina, Moldova, dan negara-negara Eropa
Timur lainnya, trafiking ilegal perempuan dipicu keinginan memperoleh kehidupan
yang lebih baik. Di negara-negara tujuan, yang menyuburkannya adalah nafsu akan
seks dagangan yang tak pernah bisa terpuaskan. Kekuatan yang menyatukan semua
itu adalah kejahatan terorganisasi, yang dikenal cepat bereaksi terhadap peluang
pasar yang menarik. Tetapi, dalam situasi demikian, tak seperti perdagangan
gelap senjata api dan obat-obatan, risiko bagi para penjahat amat kecil dan
keuntungannya luar biasa tinggi.
Anna Diamantopoulou, komisioner Eropa yang bertanggung jawab atas Lapangan Kerja
dan Urusan Sosial, mengeluhkan kejamnya trafiking zaman modern dalam suatu
pidato pada konferensi anti trafiking di Brussels pada September 2002:
[Trafiking] merupakan industri yang sedang marak, dijalankan dengan efisiensi
tanpa ampun oleh jejaring kriminal multinasional yang kuat ...
Mereka bukan penjahat sembarangan. Mereka menjalankan organisasi yang berdana
kuat, tersusun rapi, berpengaruh. Mereka paham benar mengenai bidang usaha
mereka dan menanggapi perubahan pasar dengan kecepatan yang tak tertandingi oleh
perusahaan-perusahaan paling kompetitif sekalipun. Kemampuan dan kecakapan
mereka memanfaatkan pasar hanya ditandingi oleh ketidak pedulian mereka terhadap
kehidupan manusia. Perempuan dibeli, dijual, dan disewakan seolah barang
dagangan lain. Intinya adalah keuntungan.
Keuntungannya benar-benar kelewatan. Interpol memperkirakan bahwa tiap perempuan
tereksploitasi bisa mendatangkan $75.000 sampai $250.000 per tahun. Para germo
sering membual bahwa perempuan yang dibeli seharga $1.500 bisa mendatangkan $100
per jam ... sehingga modal mereka kembali dalam beberapa malam saja. Menurut
Willy W. Bruggeman, Wakil Direktur Europol, agen intelijen polisi Uni Eropa,
perdagangan manusia menghasilkan sampai $12 miliar euro per tahun di seantero
dunia. Perdagangan manusia juga ada di mana-mana. Bruggeman menunjukkan bahwa semua
negara anggota Uni Eropa "telah melaporkan keberadaan kelompok kejahatan
terorganisasi asing" dalam trafiking manusia. Dan tidak hanya di Eropa. Sebagai
kepala Kantor PBB untuk Pengendalian Obat-obatan dan Pencegahan Kejahatan (UN
Office for Drug Control and Crime Prevention) pada 2001, Pino Arlacchi
memerhatikan bahwa trafiking manusia adalah "salah satu pasar paling
terglobalisasi di dunia sekarang ... nyaris tak ada negara yang bebas darinya."
Juga ditunjukkan oleh Arlacchi bahwa sebagai bentuk kejahatan internasional yang
paling cepat tumbuh, "[perdagangan manusia] adalah bisnis paling menguntungkan
nomor tiga bagi kejahatan terorganisasi, sesudah obat-obatan dan senjata."
Keadaannya cukup serius. Kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi mulai berubah menjadi struktur-struktur hierarkis besar.
Mereka tak lagi mau berurusan dengan perantara. Mereka mau menjalankannya
sendiri - mulai dari perekrutan sampai akhirnya eksploitasi.
Menurut Laporan Penilaian Europol 2002 atas Trafiking Manusia ke Uni Eropa, cara
tersebut akan "meningkatkan keuntungan, efisiensi, dan keamanan operasi". Cara
demikian juga "mencerminkan hasrat untuk lebih menguasai tiap unsurnya,
Barangkali menunjukkan peningkatan posisi trafiking manusia dalam portofolio
umum aktivitas kejahatan organisasi."
Berbagai laporan urgen dari lembaga intelijen dan kepolisian di seantero dunia
memperlihatkan gambaran mengerikan mengenai peningkatan aktivitas tersebut.
Ancaman terbesar bagi perempuan rumpun Slav hari ini adalah kejahatan
terorganisasi Rusia (Russian Organized Crime, ROC). Tiap kali ada perempuan dan
negara Eropa Timur menjadi korban trafiking, bisa dipastikan bahwa tangan besi
ROC terlibat. Sindikat-sindikatnya, yang kini berjumlah lebih dari 200, aktif di
lima puluh delapan negara di seantero dunia, termasuk Austria, Jerman, Belgia,
Belanda, Italia, Hungaria, Polandia, Turki, Israel, Kanada, dan Amerika Serikat.
Sebagian besar menguasai bisnis prostitusi, walau mereka juga terlibat pemerasan
dan penipuan. Sindikat-sindikat ROC telah membentuk poros kejahatan global yang tangguh dengan
empat kekuatan utama dalam kejahatan terorganisasi internasional: Mafia Italia,
kartel obat Kolombia, Triad Cina, dan Yakuza Jepang. Menurut polisi Italia, di
beberapa bagian Italia pengaruh ROC sudah lebih besar daripada Mafia. Mafia
Rusia juga telah menjalin persekutuan strategis dengan kelompok penjahat dan
geng bermotor AS dan geng Ukraina, Polandia, Hungaria, Ceko, Turki, Serbia,
Israel, dan Albania. Para pemimpin politik di Eropa Timur berkali-kali mennyebutkan makin besarnya
keterlibatan ROC dalam trafiking perempuan dari wilayah tersebut.
Menteri Dalam Negeri Bulgaria Bozhidar Popov membuat pernyataan publik bahwa
para penjahat Rusia menggunakan negaranya sebagai tempat transit untuk membawa
perempuan Rusia, Ukraina, Georgia, dan Chechen ke Turki, Yunani, dan Eropa Barat
untuk dilacurkan. Anggota parlemen Lithiania Vilija Aleknaite Abramikiene
melaporkan bahwa begundal-begundal Rusia berada di balik trafiking perempuan
untuk industri seks di negaranya. Salah satu geng terkenal yang diselidiki
intensif oleh kepolisian beberapa negara Eropa adalah sindikat Izmailovskaya
yang kuat. Kelompok lain, organisasi Mogilevich yang ditakuti, memiliki klub-
klub tari telanjang di Praha, Riga, dan Kyiv; klub-klub itu penuh perempuan
korban trafiking. Di Timur Jauh Rusia, geng-geng keji di Vladivostok menyalurkan
pasokan perempuan ke bordil-bordil dan klub-klub di Hong Kong, Taiwan, Korea
Selatan, Thailand, dan Makao. Kira-kira selusin sindikat prostitusi Rusia
beroperasi di Israel saat ini. Laporan Israel's Women's Network pada November
1997 menyimpulkan bahwa ROC mengendalikan industri seks di seantero negara itu. Dan
polisi Uni Emirat Arab menyatakan bahwa organisasi kejahatan Rusia banyak
terlibat prostitusi perempuan korban trafiking di sana.
Informasi intelijen yang dikumpulkan FBI dan Royal Canadian Mounted Police
selama sepuluh tahun terakhir mengungkap bahwa ROC telah masuk ke pasar seks
Amerika Serikat dan Kanada yang menguntungkan dengan mengekspor perempuan Rusia
dan Ukraina ke bisnis klub tari telanjang, pertunjukan intip, pendamping, dan
panti pijat di Amerika Utara. Markas besar FBI di Washington, D.C. telah
mengumpulkan banyak dokumen yang menunjukkan sindikat-sindikat Izmailovskaya,
Dagestantsy, Solntsevskaya, dan Kazanskaya dan Rusia telah memasuki bisnis
prostitusi di Amerika Serikat. Geng ROC setempat di New York dan New Jersey
bahkan telah mencoba menguasai aktivitas bisnis prostitusi dan trafiking yang
dijalankan organisasi kriminal lain. Misalnya, pada musim panas 199S, bos
penjahat Vyacheslav Ivankov - alias "Godfather Merah" yang katanya adalah kepala
cabang sindikat Solntsevkaya di AS - mengerahkan antek-anteknya untuk berupaya
merebut kendali atas agen-agen penari dan model yang mengimpor perempuan Eropa
Timur korban trafiking untuk bisnis tubuh manusia. FBI memperkirakan bahwa lebih
dari selusin agen penari dan model Rusia tersebut, yang masing-masing
mempekerjakan 60 sampai 200
perempuan Eropa timur, memasok perempuan kepada banyak klub tari telanjang dan
pertunjukan intip yang dimiliki Mafia Italia di New York dan New Jersey.
ROC, dan sejumlah kelompok kriminal Eropa Timur lain, juga berekspansi ke
Kanada, terutama ke Toronto, Montreal, dan Vancouver.


Natasha Karya Viktor Malarek di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Menurut laporan Criminal Intelligence Service of Canada pada 2002
mengenai kejahatan terorganisasi di Kanada, "kelompok-kelompok kriminal yang
berbasis Eropa Timur di Kanada terhubung baik dengan rekan-rekannya di Rusia,
Eropa, dan Amerika Serikat, serta berfungsi selaku bagian-bagian integral
jejaring kejahatan terorganisasi internasional berskala besar." Laporan CISC
mencatat bahwa kelompok-kelompok penjahat tersebut "dikenal karena kecenderungan
kewirausahaan dan oportunisme mereka, lumayan mudah menyesuaikan diri dan sangat
termotivasi keuntungan. Oleh sebab itu, mereka akan melakukan aktivitas kriminal
apa saja atau berupaya menembus sektor pasar apa pun yang mereka anggap bisa
dieksploitasi," termasuk prostitusi.
Laporan inteijen polisi Kanada dan AS juga mengungkap bahwa kendali trafiking di
Amerika Utara sebagian besar masih dikuasai geng-geng imigran kecil yang
terhubung secara longgar dengan sindikat-sindikat kejahatan terorganisasi yang
lebih kuat di luar negeri. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah, gangster yang
beroperasi di negeri-negeri asing menggunakan koneksi kriminal mereka di negeri
asal mereka untuk menggarap rekan sebangsanya. Situasinya sekarang tak berbeda.
Sebagian besar korban trafiking direkrut dan dijual oleh orang-orang sebangsa
mereka. Akan tetapi, ROC bukanlah satu-satunya pemain. Dalam bisnis tersebut ikut
terlibat geng Ukraina, Polandia, Israel, Ceko, Georgia, Hungaria, Romania,
Bulgaria, Serbia, dan Albania, serta Mafia Italia, Triad Cina, dan Yakuza
Jepang. Laporan polisi internasional dari hampir tiap negara di dunia penuh
dengan peringatan mengenai keterlibatan kelompok-kelompok tersebut dalam
trafiking perempuan. Namun, apa pun struktur hubungannya, para gangster yang
terlibat dalam trafiking punya dua senjata sangat ampuh: kekerasan untuk
menimbulkan ketakutan, dan uang untuk memengaruhi dan merusak.
SAYA INGIN mengetahui apakah sulit membeli gadis muda Slavia untuk bisnis seks.
Dan yang saya dapati, ternyata lumayan gampang. Yang diperlukan hanya koneksi
dan uang tunai. Pertemuan terjadi di suatu apartemen di Ottawa, Ibu Kota Kanada, pada suatu
malam dingin bersalju awal Januari 2003. Saya sedikit gelisah.
Orang yang akan saya temui bukan kroco sembarangan. Ludwig Fainberg adalah
seorang durjana Israel terkenal yang cepat marah dan suka kekerasan. Menurut
dokumen-dokumen FBI, Fainberg adalah perantara dalam persekongkolan penyelundup
obat dan senjata internasional yang menghubungkan para penjual obat terlarang
Kolombia dengan Mafia Rusia di Miami. Fainberg mulai tenar pada pertengahan
1990-an, ketika ia mendatangi suatu pangkalan angkatan laut yang dijaga ketat di
ujung utara Rusia. Misinya adalah negosiasi pembelian kapal selam Rusia bermesin
diesel dari zaman Perang Dingin - lengkap dengan kaptennya yang pensiunan angkatan
laut dan dua puluh lima awak - untuk kartel kokain Kolombia. Harganya: $5,5 juta.
Kapal selam itu hendak digunakan untuk menyelundupkan berton-ton bubuk putih
kokain ke sepanjang pesisir California. Negosiasinya gagal.
Sejak 1990 sampai ditangkap dan diadu di Miami pada Februari 1997
atas dakwaan penyelundupan dan pemerasan, Fainberg menjalankan klub tari
telanjang terkenal bernama Porky's. Klub bercat merah muda neon di pinggir
Bandara Internasional Miami itu adalah magnet bagi para bajingan Rusia dan
penjahat imigran Eropa Timur yang hidup dengan cara-cara tak halal sambil
membayangkan kesempatan kejahatan yang belum dimanfaatkan.
Perjalanan karier Fainberg mendaki hierarki ROC ibarat cerita film Hollywood.
Fainberg lahir di Odessa, Ukraina, pada 1958. Ketika berumur tiga belas dia dan
orangtuanya bermigrasi ke Israel. Belakangan, dia mencoba masuk marinir Israel,
berharap bisa menjadi anggota unit Navy Seal. Dia gagal dalam pelatihan dasar.
Lalu dia ingin menjadi perwira Angkatan Darat Israel tapi tidak lulus ujian.
Setelah ego besarnya babak-belur, dia memutuskan untuk mengadu nasib di tempat
lain. Pada 1980 dia angkat koper menuju Berlin, tempat dia mulai dengan menjadi
preman jalanan yang kerjanya memeras dan melakukan penipuan kartu kredit.
Empat tahun kemudian dia bertolak ke Amerika Serikat - negeri yang ia sebut "wild
West, karena gampang sekali mencuri di sana!"
Fainberg menetap di daerah Brighton Beach, Brooklyn, yang telah menjadi markas
Organizatsiya, sebutan untuk mafia Rusia. Di sana dia berkenalan dengan mereka
dan bekerja sebagai tukang bakar - membakar tempat tempat usaha yang bersaing
dengan tempat usaha milik orang Rusia. Pada 1990 dia pindah ke Miami untuk
menjalankan Porky's. Sembilan tahun kemudian dia didakwa atas tuduhan pemerasan
dan dijatuhi hukuman tiga puluh tujuh bulan penjara. Karena dia sudah dipenjara
selama tiga puluh bulan menunggu sidang maka Fainberg dideportasi ke Israel.
Tahun berikutnya dia muncul di Kanada dengan impian jadi kaya karena berdagang
tubuh manusia. Tak lama setelah kedatangannya dia menikahi seorang perempuan
Kanada dan pindah ke apartemen nyaman di tepi Sungai Ottawa bersama pengantin
barunya dan putrinya yang berumur sepuluh tahun, buah pernikahannya yang
terdahulu. Saya memasuki apartemen dua kamar tidur tersebut dan Fainberg menatap tajam
wajah saya ketika kami berjabat tangan. Dia seorang laki-laki bertubuh besar
dengan jenggot tipis dan rambut cepak, dan dia jelas sedang menilai saya.
Pastilah saya lulus waktu itu. Dia menggenggam tangan saya erat-erat dan membawa
saya ke ruang keluarga, yang diperlengkapi perangkat hiburan video dan audio
tercanggih. Saya duduk di sofa berbungkus kulit hitam lembut sementara dia pergi
ke dapur untuk mengambil bir impor.
"Panggil aku Tarzan," dia langsung memulai begitu dia kembali ke ruang keluarga.
Dengan cengiran bangga bak seorang bocah, dia memberi saya kartu namanya. Sampul
Jejak Malaikat Biru 2 Pendekar Rajawali Sakti 69 Titisan Ratu Pantai Selatan Tusuk Kondai Pusaka 17
^