Pencarian

Bourne Supremacy 10

The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum Bagian 10


tertekuk dan jatuh, tapi ia tidak menyerah mendengar ejekan para penangkapnya;
ia tetap berdiri dengan sikap menantang.
Bergeraklah! Bertindaklah! Apa" Medusa kami punya isyarat. Apa saja" Oh Tuhan,
?apa saja isyaratnya" Batu, ranting, karang... kerikil! Lemparkan sesuatu untuk
menimbulkan suara, suara pelan yang mengusik perhatian, apa saja menjauhi
? kawasan itu, di depan, sejauh mungkin! Lalu lanjutkan dari sana. Cepat!
Jason berlutut dalam keremangan di pagar yang membelok ke kanan. fa mengulurkan
tangan dan meraih segenggam kerikil, lalu melemparkannya ke udara melewati
kepala para tawanan yang bangkit berdiri dengan susah payah. Dentangan singkat
di atap mobil tenggelam oleh jeritan-jeritan tertahan para tawanan yang terikat.
Bourne mengulangi tindakannya, kali ini dengan Iebih banyak kerikil. Penjaga
yang berdiri di samping d'Anjou melirik ke arah jatuhnya kerikil-kerikil itu,
lalu mengabaikannya sewaktu perhatiannya tiba-tiba tertarik pada seorang wanita
yang berhasil bangkit dan beriari ke gerbang. Ia melesat ke sana, mencengkeram
rambutnya, dan melemparkan wanita itu kembali ke kumpulan tawanan yang Iain.
Sekali lagi Jason mengambil kerikil.
Ia berhenti bergerak. D'Anjou jatuh ke tanah, bertumpu pada lutut kanan,
tangannya yang terikat bertumpu di atas kerikil. Ia mengawasi penjaga yang
perhatiannya teralih, lalu perlah'an-lahan berpaling ke arah Bourne. Medusa
tidak pernah jauh dari Echo ia ingat. Dengan sigap, Jason swnibuka telapak ?tangannya, sekali, dua kali. Pantulan cahaya suram pada kulitnya sudah cukup;
tatapan si orang Prancis tertarik ke sana. Bourne memajukan kepalanya dalam
keremangan. Echo melihatnya! Pandangan mereka beradu. D'Anjou mengangguk, lalu
berpaling, dan dengan idkuk dan kesakitan bangkit saat penjaga tadi kembali.
Jason menghitung para tawanan itu. Ada dua wanita dan lima pria, termasuk Echo.
Mareka digiring para penjaga, yang telah mencabut tongkat dari sabuk dan
menggunakannya untuk menyodok para tawanan, mengarahkan kelompok itu ke jalan
setapak di luar areal parkir. D'Anjou jatuh. Ia jatuh pada kaki kirinya, memutar
tubuh saat hampir menghantam tanah. Bourne mengawasinya dengan teliti, ada yang
aneh. Lalu ia mengerti. Jemari tangan si orang Prancis, yang diikat di depannya,
membentang lebar. Menutupi gerakan dengan tubuhnya, Echo meraup dua genggam
kerikil, dan saat penjaga mendekat dan menariknya berdiri, d'Anjou sekali lagi
menatap sekilas ke arah Jason. Isyarat. Echo akan membuang kerikil-kerikil itu
sampai habis agar rekan Medusa-nya bisa mengikuti.
Para tawanan digiring ke kanan, keluar dari areal berkerikil, saat si penjaga
muda, "kapten pasukan Kuomintang", mengunci gerbang. Jason beriari keluar dari
keremangan pagar ke balik bayang-bayang truk, mencabut pisau berburu dari
sarungnya sambil berjongkok di dekat tutup mesin, mengawasi pos jaga. Penjaga
itu ada di luar pintu, berbicara ke radio genggam yang menghubungkannya dengan
lokasi pertemuan. Radio itu hams disingkirkan. Begitu pula orang itu.
Ikat dia. Gunakan pakaiannya untuk menyumpal mulutnya.
Biinah dia! Tidak boleh ada risiko tambahan. Dengarkan aku!
Bourne tiarap, menghunjamkan pisau berburu ke ban kiri depan truk, dan saat
ban'itu mengempis ia beriari ke belakang dan mengulangi tindakannya. Setelah
mengitari belakang truk, ia melesat ke celah di antara truk dan mobil di
sampingnya. Berbalik sambil maju, ia menusuk ban-ban truk yang lain dan ban-ban
kiri mobil di sampingnya. Ia mengulangi taktik itu sampai semua ban kendaraan
kempis, kecuali Zia Rusia itu, hanya sekitar sepuluh meter jauhnya dari pos
jaga. Sudah waktunya menangani si penjaga.
Ikat dia ?Bunuh dia! Setiap langkah hands ditutupi, dan setiap langkah membawamu kembali
pada istrimu! Dengan diam-diam, Jason membuka pintu mobil Rusia itu, tangannya menyusup ke
dalam dan melepaskan rem tangan. Setelah menutup pintu sepelan ketika
membukanya, ia memperkirakan jarak dari tutup mesin ke pagar kurang-lebih tiga
meter. Sambil mencengkeram ambang jendela, ia menumpukan seluruh berat tubuhnya
ke depan, meringis saat mobil besar itu mulai bergulir. Setelah mendorong
kendaraan itu untuk terakhir kalinya, ia melesat di depan mobil di samping Zia
saat limusin itu menghantam pagar. Ia merunduk dan mengulurkan tangan ke saku
kanan belakang. Mendengar keributan, penjaga yang terkejut itu beriari mengitari pos jaga dan
masuk ke areal parkir, mengarahkan pandangan ke segala arah, lalu menatap Zia
yang tidak lagi bergerak. Ia menggeleng, seakan-akan menerima saja kerusakan
yang tak bisa dijelaskan, lalu berjalan menuju pintunya.
Bourne menerjang dari kegelapan, penggulung di kedua tangan, kawat melengkung
melewati kepala penjaga itu. Dalam waktu kurang dari tiga detik semua telah
selesai, tidak ada suara kecuali dengusan memuakkan. Garrotte-ays mematikan
kapten Kuomintang itu tewas.
Setelah mencabut radio dari sabuk pria itu, Jason menggeledah pakaiannya. Besar
kemungkinan ada sesuatu yang bisa ditemukannya, sesuatu yang berharga.
Ada beberapa! Yang pertama senjata tentu saja pistol otomatis. Kaliber yang ? ?sama seperti yang diambilnya dari antek lain di makam Mao. Pistol khusus untuk
orang-orang khusus, faktor pengenalan yang lain, persenjataan yang konsisten.
Bukannya satu peluru, sekarang ia memiliki sembilan peluru lengkap, ditambah
peredam yang membuat keributan di tempat jenazah yang dipuja di mausoleum yang
dipuja. Yang kedua adalah dompet berisi uang dan dokumen resmi yang menyatakan
pembawanya anggota Pasukan Keamanan Rakyat. Para konspirator memiliki kolega di
tempat-tempat tinggi. Bourne menggulingkan mayat ke bawah limusin, mengiris
kedua ban kiri dan beriari mengitari mobil, menghunjamkan pisau berburu ke ban-
ban sebelah kanan. Mobil besar itu merosot ke tanah. Kapten pasukan Kuomintang
mendapat tempat peristirahatan yang am an dan tersembunyi.
Jason beriari ke pos jaga, berdebat dengan diri sendiri apakah perlu menembak
lampu sorot, dan memutuskan tidak melakukannya. Kalau berhasil selamat, ia akan
membutuhkan penerangan itu. Kalau kalau" Ia hams selamat.' Marie! masuk dan
?berlutut di bawah jendela, mengeluarkan peluru dari pistol otomatis si penjaga,
memasukkannya ke dalam pistolnya sendiri. Ia memandang sekitamya mencari jadwal
atau instruksi ada daftar giliran jaga dipakukan ke dinding di samping seilcat
anak kunci yang tergantung di paku. Ia menyambar kunci-kunci itu.
Telepon berderingl Dering memekakkan telinga yang memantul pada dinding-dinding
kaca pos jaga kecil itu. Kalau ada pemeriksaan melalui telepon, aku tahu
rutinitasnya. Kapten pasukan Kuomintang. Bourne bangkit, meraih telepon dari
meja, dan kembali berjongkok, menutupi telepon dengan tangannya.
"Jing Shan," katanya serak. "Ya?"
"Halo, kupu-kupu penyodokku," kata wanita dengan bahasa Mandarin yang menurut
Jason kasar. "Bagaimana kabar burung-burungmu malam ini"'
"Mereka baik-baik saja tapi aku tidak."
"Kau tidak kedengaran seperti biasa. Ini Wo, bukan?"
'Dengan flu berat dan muntah-muntah dan ke kamar kecil setiap dua tnenit. Tidak
ada yang bisa masuk atau tetap tinggal di perut."
"Kau akan sembuh besok pagi" Aku tidak ingin ketularan."
Bujukyang kesepian, yang buruk...
"Aku tidak ingin melewatkan kencan kita "
?"Kau akan terlalu lemah. Kuteiepon lagi besok malam."
"Hatiku bergetar seperti bunga yang sekarat."
'Tahi!" Wanita itu menutup telepon.
Sambil berbicara pandangan Jason melayang ke tumpukan rantai
tergulung di sudut pos jaga, dan ia mengerti. Di Cina, dengan begitu banyak
benda mekanis yang rusak, rantai itu merupakan cadangan seandainya kunci di
tengah-tengah gerbang tidak mau menutup. Di atas gulungan rantai itu terdapat
gembok baja biasa. Salah satu kunci itu pasti cocok, pikirnya, sambil mencoba
memasukkan beberapa di antaranya bingga menemukan yang tepat, lalu berhenti,
berbalik, dan mencabut telepon dari dinding. Satu lagi peralatan yang tidak
berfungsi. Di gerbang ia membuka gulungan rantai dan melilitkan seluruh rantai ke tengah-
tengah dua tiang hingga terlihat gulungan tebal. Ia menggembok empat mata rantai
menjadi satu sehingga celahnya terbuka, menyelipkan besi melengkung gemboknya,
dan menguncinya. Semuanya tertarik kencang, dan berlawanan dengan kepercayaan
umum, menembakkan peluru ke onggokan logam keras tidak akan menghancurkannya,
malah meningkatkan kemungkinan peluru memantul membunuh penembaknya sendiri dan
membahayakan keselamatan orang-orang lain di dekatnya. la berbalik dan menyusuri
jalan setapak tengah, sekali lagi tetap berada di bayang-bayang gelap tepi
jalan. Jalan setapak itu gelap. Cahaya lampu sorot dari gerbang terhalang pepohonan
lebat, tapi cahaya di langit masih terlihat. Dengan menangkupkan telapak tangan
kiri di depan senter, lengan terulur ke bawah, ia bisa. melihat sebutir kerikil
setiap satu atau dua meter. Begitu melihat dua-tiga kerikil pertama, ia tahu apa
yang hams dicarinya perbedaan warna tanah yang gelap di sekitamya, jaraknya
relatif konsisten antara satu kerikil dengan kerikil yang lain. D'Anjou
menghaluskan setiap kerikil, mungkin dengan telunjuk dan ibu jarinya,
menggosoknya sekuat tenaga untuk membersihkan tanah dan menempelkannya pada
kulit agar setiap kerikil tampak mengilap. Echo yang babak-belur mpanya belum
kehilangan kemampuan berpikirnya.
Tiba-tiba ia menemukan dua kerikil, bukan satu, dan jaraknya hanya beberapa
inci. Jason menengadah, menyipitkan mata, berusaha melihat dengan bantuan cahaya
senter yang ditutupi. Kedua batu itu bukan kebetulan, itu isyarat yang lain.
Jalan setapak utama lurus ke depan, tapi jalan yang diambil para tawanan
berbelok tajam ke kanan. Dua batu berarti berbelok.
Lalu, tiba-tiba, ada perubahan jarak relatif antara kerikil-kerikil itu.
Jaraknya semakin lama semakin jauh, dan tepat pada saat Bourne mengira tidak ada
batu lagi, ia melihat kerikil berikutnya. Tiba-tiba, ada dua kerikil di tanah,
menandai belokan yang lain. D'Anjou tahu ia hampir kehabisan batu dan mulai
melaksanakan strategi kedua, taktik yang dengan cepat menjadi jelas bagi Jason.
Selama para tawanan berjalan di jalan yang sama, tidak akan ada batu yang
dijatuhkan, tapi pada saat mereka berbelok ke jalan lain, dua butir batu
menandai arahnya. Ia merayap di tepi rawa-rawa, dan masuk jauh ke padang dan keluar
dari sana, di mana-mana terdengar kepakan sayap tiba-tiba dan jeritan burung
yang terganggu ketika terbang ke langit yang diterangi cahaya bulan. Akhimya
hanya ada satu jalan setapak sempit yang menuju semacam lembah sempit fa ?berhenti, seketika memadamkan senter yang ditutupi. Oi bawahnya, . sekitar tiga
puluh meter di jalan setapak yang sempit itu, ia melihat pendar suram nyala
rokok. Cahaya itu. bergerak perlahan, mondar-mandir, seseorang yang tengah
merokok tanpa khawatir, tapi tetap saja ia ada di sana karena suatu alasan. Lalu
Jason meneliti kegelapan di b'aliknya karena kegelapan itu berbeda; bintik-
?bintik cahaya sesekali terlihat dari balik hutan lebat lembah itu. Suluh,
mungkin, karena tak ada cahaya yang stabil. Tentu saja, suluh. Ia sudah tiba di
sana. Di lembah di bawah, di belakang penjaga yang tengah merokok, itulah tempat
pertemuannya. Bourne meiuncur ke sesemakan rapat di sebelah kanan jalan. Ia turun, hanya
mendapati sulur-sulur di sana bagai jala ikan, terjalin ruwet akibat tiupan
angin selama bertahun-tahun. Mencabiknya atau merobeknya akan menimbulkan suara
yang tak konsisten dengan suara-suara normal di sini. Bunyi patah dan deritan
mirip ritsleting tidak sesuai dengan kepakan sayap atau pekik tiba-tiba penghuni
yang terganggu. Itu suara manusia dan menunjukkan adanya pengganggu. Ia meraih
pisau, berharap mata pisaunya lebih panjang, dan memulai perjalanan yang
seandainya dilakukan di jalan setapak akan makan waktu tidak lebih dari tiga
puluh detik. Sekarang ia membutuhkan waktu hampir dua puluh menit untuk
menerobos jalan hingga dekat dengan penjaga itu.
"Ya Tuhan!" Jason menahan napas, menahan jeritan di tenggorokannya. Ia
terpeleset makhluk yang licin dan mendesis-desis di bawah kaki kirinya paling
sedikit satu setengah meter panjangnya. Makhluk itu meliliti kakinya, dan dalam
kepanikan ia mencengkeram tubuh makhluk itu, menariknya menjauhi dirinya, dan
menebasnya di udara. Ular itu menggeliat-geliat hebat selama beberapa detik,
lalu berhenti; binatang itu mati, lilitan pada kakinya mengendur. Bourne
memejamkan mata dan menggigil, membiarkan saat-saat itu berlalu. Sekali lagi ia
berjongkok dan merayap mendekati si penjaga, yang sekarang menyulut rokok lagi
atau berusaha menyulutnya dengan korek yang terus-menerus padam. Penjaga itu
sepertinya marah pada korek buatan pemerintahnya. "Ma de shizi, shizi!". katanya
pelan, rokok tetap di mulutnya. Bourne merayap maju, memotong beberapa bilah
rumput tinggi terakhir hingga tak lebih dari dua meter dari orang itu. Ia
menyarungkan pisau berburunya, dan sekali lagi mengulurkan tangan ke saku kanan
belakang, mengambil garrotte. Tidak boleh salah tusuk, yang memberi kesempatan
bagi jeritan; hanya boleh ada kesunyian total yang dipecahkan dengusan napas.
Ia manusia! Seorang putra, saudara, ayah!
Ia musuh. la sasaran kita. Hanya itu yang perlu kita ketahui. Marie milikmu,
bukan milik mereka. Jason Bourne menerjang keluar dari rerumputan saat penjaga itu ioenghirup asap
pertama tembakaunya. Asapnya terburai dari mulut yang ternganga. Garrotte-nya
melilit, lehernya robek saat petugas patroli itu terjengkang ke sesemakan,
tubuhnya terkulai, hidupnya berakbir.
Setelah melepas kawat yang berlumuran darah itu, Jason menggoyang^ goyangkannya
di rerumputan, lalu menggulungnya dan menjejalkannya kembali ke saku. Ia menarik
mayat itu semakin jauh ke dalam sesemakan, menjauhi jalan setapak, dan mulai
menggeledah sakunya. Mula-mula ia menemukan sesuatu yang mirip setumpuk tebal
tisu toilet yang terlipat; bukan hal aneh di Cina, di mana kertas seperti itu
selalu kurang. Ia menghidupkan senter, menangkupnya, dan memandang temuannya,
tertegun. Kertas itu terlipat dan lunak, tapi bukan tisu. Kertas itu renminbi,
ribuan yuan, lebih dari penghasilan beberapa tahun bagi sebagian besar orang
Cina. Penjaga di gerbang, "kapten pasukan Kuomintang", memiliki uang agak lebih?banyak dari biasa tapi sama sekali tidak mendekati jumlah ini. Lalu ia
?menemukan dompet. Ada foto anak-anak, yang dengan cepat dikembalikan Bourne,
SIM, sertifikat alokasi rumah, dan dokumen resmi yang menyatakan pembawanya
sebagai... anggota Pasukan Keamanan Rakyat! Jason mengeluarkan dokumen yang
diambilnya dari dompet penjaga pertama dan meletakkan keduanya berdampingan di
tanah. ldentik. Ia melipat keduanya dan memasukkannya ke saku. Benda terakhir
yang ditemukannya membingungkan sekaligus menarik. Surat izin yang memungkinkan
pembawanya masuk ke Toko-Toko Persahabatan, toko-toko yang melayani pelancong
asing, terlarang bagi orang Cina kecuali pejabat tinggi pemerintah. Siapa pun
orang-orang di bawah sana, pikir Bourne,- mereka adalah kelompok yang aneh dan
langka. Penjaga rendahan membawa sejumlah besar uang, menikmati privilese yang
amat jauh dari posisi mereka, dan membawa dokumen yang mengidentifikasi mereka
sebagai anggota polisi rahasia pemerintah. Kalau mereka memang konspirator dan
?segala sesuatu yang telah dilihat maupun didengarnya sejak Shenzen, Lapangan
Tian An Men, hingga suaka ini tampaknya mengkonfirmasi hal itu konspirasi ini
?sudah mencapai hierarki Beijing. Tidak ada waktu lagi! Itu bukan urusanmu!
Senjata yang terikat di pinggang orang itu, seperti yang diduganya, sama seperti
yang ada di sabuk Bourne, juga pistol yang telah dibuangnya ke dalam hutan di
gerbang Jing Shan. Senjata itu termasuk jenis unggul, dan senjata merupakan
simbol. Senjata canggih rrterupakan simbol status, sama seperti arloji mahal,
yang mungkin banyak dipalsukan, tapi mereka yang telah terdidik akan mengenali
keasliannya. Orang mungkin hanya pamer untuk mengkonfirmasi statusnya, atau
mengingkarinya sebagai keluaran pemerintah, dari angkatan darat yang membeli senjata itu dari semua
sumber yang tersedia di dunia. Tanda pengenal yang tak kentara hanya jenis ?unggul yang dialokasikan untuk satii lingkungan elite. Tidak ada waktu lagi! Itu
bukan urusanmu! Pergi! Jason mengeluarkan pelurunya, mengantonginya, dan membuang pistol itu ke hutan.
Ia merangkak keluar ke jalan setapak dan perlahan-lahan, tanpa suara, berjalan
ke cahaya yang berkedip-kedip di balik pepohonan tinggi.
Tempat itu lebih dari sekadar lembah, tempat itu merupakan sumur raksasa yang
digali dari tanah prasejarah, retakan yang berasal dari zaman es yang tidak
menutup kembali. Burung-burung mengepak-ngepak-kan sayap, karena takut dan
penasaran burung hantu mendekut marah. Bourne berdiri di tepi jurang memandang
ke bawah, ke balik pepohonan, pada orang-orang yang berkumpul di sana. Lingkaran
obor yang menari-nari menerangi lokasi pertemuan. David Webb tersentak, ingin
muntah, tapi perintah sedingin es menyatakan sebaliknya Hentikan. Perhatikan.
Kenali apa yang tengah kita hadapi.
Dengan pergelangan tangan terikat di batang pohon, lengan terentang ke atas,
kaki hampir tak menyentuh tanah, seorang tawanan pria menggeliat-geliat panik,
jeritan teredam terdengar dari tenggorokannya, matanya nanar dan memohon di atas
mulutnya yang tersumpal. Seorang pria ramping, paro baya, mengenakan jaket dan celana panjang Mao,
berdiri di depan tubuh yang menggeliat-geliat hebat itu. Tangan kanannya
terentang, menggenggam gagang pedang bertatahkan permata, mata pisaunya panjang
dan tipis, ujungnya menyentuh tanah. David Webb mengenali senjata itu sekaligus
?bukan senjata. Pedang itu pedang upacara panglima perang abad keempat belas dari
kelompok militeristis brutal yang menghancurkan desa-desa dan kota-kota serta
pedalaman, bahkan dicurigai menentang kaisar-kaisar Yuan Mongol yang tidak
?menyisakan apa pun kecuali kebakaran dan kematian serta jeritan anak-anak.
Pedang itu juga digunakan untuk upacara-upacara yang lebih tidak simbolis, jauh
lebih brutal daripada ritual yang dilakukan di sidang pengadilan dinasti. David
merasakan gelombang mual dan ketakutan mencengkeram dirinya saat mengamati
pemandangan di bawah.

The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dengarkan aku!" teriak pria ramping di depan tawanan itu sambil berpaling ke
arah para penontonnya. Suaranya tinggi tapi sengaja dibuat demikian, nadanya
memerintah. Bourne tidak mengenalnya, tapi wajah itu suht dilupakan. Rambut
kelabu yang dipotong pendek, wajah yang tiros dan pucat di atas semua itu,
?tatapannya. Jason tidak bisa melihat matanya dengan jelas, tapi nyala apt suluh.
yang menari-nari di sana sudah cukup menggambarkararya. Mata itu juga membara.
"Malam pedang agung dimulail" jerit pria ramping itu tiba-tiba. "Dan akan terus
berlanjut malam demi malam hingga semua yang mengkhianati
406 kita dikirim ke neraka! Masing-masing serangga beracun ini telah melakukan
kejahatan terhadap tujuan suci kita, kejahatan yang kita ketahui, yang semua
bisa menuju pada kejahatan besar yang menuntut hadimya pedang agung." Pembicara
itu berbalik menghadap tawanan yang tergantung. "Kau! Katakan kebenaran dan
hanya kebenaran! Apakah kau mengenal orang Barat itu?"
Tawanan itu menggeleng, erangan terdengar dari lehernya, mengiringi gerakan-
gerakannya yang liar. "Bohong!" teriak seseorang dari keramaian. "Ia ada di Tian An Men sore tadi!"
Sekali lagi tawanan itu menggeleng panik.
'la berbicara menentang Cina sejati!" teriak orang lain. "Aku mendengarnya di
Taman Hua Gong bersama para pemuda!" "Dan di kedai kopi di Xidan Bei!"
Tawanan itu muntah, matanya yang membelalak terpaku ke arah. kerumunan orang.
Bourne mulai mengerti. Orang ini mendengar kebohongan dan tidak tahu alasannya,
tapi Jason tahu. Penyelidikan sedang berlangsung; seorang pembuat masalah, atau
orang yang diragukan, tengah dieksekusi atas nama kejahatan yang lebih besar.
Dan kemungkinan kecil bahwa ia melakukannya. Malam pedang agung dimulai malam ?demi malam! Rangkaian teror dalam kerajaan kecil berlumuran darah di tanah luas,
tempat panglima-panglima perang yang ternoda darah selama berabad-abad berjaya.
"Ia melakukannya?" teriak orator berwajah tiros itu. "Ia mengatakan hal-hal
itu?" Serangkaian persetujuan heboh memenuhi lembah.
"Di Tian An Men....!"
"Ia berbicara dengan orang Barat itu....!"
"Ia mengkhianati kita semua....!"
"Ia yang menyebabkan huru-hara di makam Mao yang menjijikkan....!" "Ia akan
memastikan kematian kita, gagalnya tujuan kita....!" "Ia berbicara menentang para
pemimpin kita dan ingin mereka dibunuh....!"
"Menentang para pemimpin kita," kata orator itu, suaranya tenang tapi meninggi,
"berarti merendahkan mereka, dan dengan berbuat begitu, mengesampingkan berkat
berharga yang disebut kehidupan. Kalau hak hal ini terjadi, hadiah itu harus
dicabut." Pria yang tergantung itu menggeliat-geKat lebih hebat, jeritannya semakin keras
dan menyamai erangan para tawanan Iain yang dipaksa berlutut di depan si orator
sehingga bisa melihat jalannya eksekusi dengan jelas. Hanya satu yang menolak,
terus-menerus mencoba berdiri, menunjukkan ketidakpatuhan dan pembangkangan, dan
terus-menerus dipukul hingga jatuh oleh penjaga yang terdekat. Orang itu
Phillipe d,Anjau,Echo tengah mengirim pesan lain pada Delta, tapi jason bourne tidak bisa
memahaminya. munafik yg tak tahu terimakasih ini, guru anak anak muda ini,yg
disambut Sbagai saudara dalam jajaran kita yang berdedikasi karena kta
mempercayai kata-kata yang dmcapkannya-begitu berani pikir kita menantang para
penyiksa Ibu Pertiwi, tidak lebih dari pada pengkhianat. Kata-katanya kosong. Ia
berteman dengan angin pengkhianat dan mereka akan membawanya pada musuh-musuh
kita, para penyiksa Ibu Pertiwi! Semoga dalam kematiannya ia menemukan kemurnia!
Orafor yang suaranya sekarang melengking itu mencabut pedang dari tanah. Ia
mengangkatnya ke atas kepala.
Dan dengan begitu benihnya tidak akan menyebar, kutip David Webb si sarjana pada
dirinya sendiri, mengingat kutipan kuno itu dan ingin memejamkan mata, tapi
tidak mampu melakukannya, diperintah bagian dirinya yang lain untuk tidak
berbuat begitu. Kita menghancurkan sumur tempat benih itu tumbuh, berdoa pada
roh-roh untuk menghancurkan semua benih yang telah memasuki bumi ini.
Pedang itu terayun vertikal ke bawah, membabat selangkangan dan kemaluan orang
yang menjerit sambil menggeliat-geliat itu.
Dan dengan begitu pemikirannya tidak tersebar, menjangkiti yang tak bersalah dan
yang lemah, lata berdoa pada roh-roh untuk menghancurkan pemikirannya di mana
pun berada, sebagaimana kita di sini menghancurkan sumur tempat pemikiran itu
tumbuh. Pedang itu sekarang terayun horisontal, memenggal leher tawanan. Tubuhnya yang
menggeliat-geliat jatuh ke tanah di bawah siraman darah dari leher yang putus,
yang terus dicincang pria ramping bermata membara itu dengan pedangnya hingga
tak lagi bisa dikenali sebagai kepala manusia.
Para tawanan lain yang ketakutan memenuhi lembah dengan lolongan ngeri sementara
mereka meringkuk di tanah, mengompol, memohon pengampunan. Kecuali satu orang.
D'Anjou bangkit dan menatap bisu orang berpedang itu. Penjaga mendekat.
Mendengarnya, si orang Prancis berbalik dan meludahi wajahnya. Penjaga tersebut
tertegun, mungkin muak dengan apa yang dilihatoya, melangkah mundur. Apa yang
dilakukan echo" Apa pesannya"
Bourne memandang si algojo berwajah tints dan berambut kelabu penaek. Mm
mengusap mata pedang yang panjang dengan syal sutra putih,sementara para ajudan
menyingkirkan mayat dan apa yg tersisa dari kepalanya,si algojo menunjuk seorang
wanita menarik yg tengah diseret dua penjaga,sosok waniata itu
tegak,menantang,delta mengamati wajah si algojo,dibawah matanya yg gila,mulut
tipis pria itu membentuk garis,ia tersenyum.
ia mati.suatu saat,disuatu tempat.mungkin malam ini,fanatik
tukang jagal,buta dan tanganya berlumuran darah,ys akan menerjunkan timur jauh
ke dalam perang yg tak terbayangkan cina melawan cina,dan seluruh dunia
mengikuti malam ini! 27 WANITA ini kurir, salah seorang yang kita ben kepercayaan," lanjut orator itu,
perlahan-Iahan meninggikan suara seperti pendeta fundamentalis, mengkotbahkan
kasih sementara pandangannya terpaku pada pekerjaan iblis. "Kepercayaan yang
bukan diperoleh tapi diberikan dengan mat baik, karena ia istri salah seorang
dari antara kita, prajurit pemberani, putra pertama dari keluarga Cina sejati.
Yang sementara aku bicara sekarang tengah mempertaruhkan nyawa dengan menyusup
ke sarang musuh kita di selatan. Ia juga memberikan kepercayaannya kepada wanita
ini... dan wanita ini mengkhianati kepercayaan itu, ia mengkhianati suaminya yang
pemberani, ia mengkhianati kita semua! Ia tidak lebih dari pelacur yang tidur
dengan musuh! Dan sementara nafsunya terpuaskan. berapa banyak rahasia yang
sudah diungkapkannya, seberapa dalam pengkhianatannya" Diakah kontak orang Barat
di Beijing kri" Diakah yang membongkar rahasia kita, yang memberitahu musuh-
musuh kita apa yang hams mereka cari, apa yang harus mereka harapkan" Bagaimana
lagi hari mengerikan ini bisa terjadi" Orang-orang kita yang paling
berpengalaman dan berbakti menyiapkan jebakan yang seharusnya membantai musuh-
musuh kita, menyingkirkan para penjahat Barat yang hanya melihat kekayaan dengan
menjilat para penyiksa Cina. Ada hubungannya dengan keberadaannya di bandara
pagi ini. Bandara! Tempat perangkap itu dipasang! Apakah ia memberikan tubuhnya
pada orang yang berbakti, membiusnya, mungkin" Apa kekasihnya memberitahukan apa
yang harus dilakukannya, apa yang harus dikatakannya kepada musuh-musuh kita"
Apa yang sudah dilakukan pengkhianat ini?"
Adegan ini sudah tertata, pikir Boume. Kasus yang begitu terang-terangan
melompati fakta-fakta, dan fakta-fakta "terkait" yang sangat tak masuk akal.
Rangkaian teror dalam suku si panglima perang berlanjut. Cabut yang tak beres di
antara yang tak beres. Temukan pengkhianatnya. Bunuh semua orang yang mungkin
menjadi pengkhianat. Seruan "Pelacur!" dan 'Tengkhianat!" yang lebih pelan tapi marah terdengar dari
para penonton, saat wanita yang terikat itu berjuang
410 melawan kedua penjaganya. Orator itu mengacungkan tangan tanda diam. Perintahnya
seketika dipatuhi. "Kekasihnya adalah wartawan menjijikkan dari Kantor Berita Xinhua, pembohong dan
pemfitnah dari rezim yang menjijikkan. Satu jam yang lalu makhluk menjijikkan
itu sudah mati, ditembak di kepala, tenggorokannya digorok, agar semua tahu
bahwa ia juga pengkhianat'. Aku sudah bicara sendiri dengan suami pelacur ini,
karena aku menghormatinya. Ia menyuruhku memenuhi tuntutan roh leluhur kita. Ia
sudah tidak peduli lagi pada istrinya -"?"Aiyaaa!" Dengan kekuatan dan kemurkaan yang luar biasa wanita itu berhasil
mencabik sumpal dari mulutaya. "Pembohong!" jeritnya. "Pembunuh para pembunuh!
Kau membunuh orang yang tak bersalah dan aku tidak mengkhianati siapa pun! Aku
yang dikhianati! Aku tidak berada di bandara, dan kau tahu itu! Aku belum pernah
bertemu orang Barat ini dan kau juga tahu! Aku tidak tahu apa-apa tentang
jebakan bagi para penjahat Barat dan kau bisa melihat kebenaran di wajahku!
Bagaimana aku bisa melakukannya?"
"Dengan melacur pada pelayan berbakti dan mempengaruhinya, membiusnya! Dengan
menawarkan payudaramu dan cara korupsi, main tarik-ttlur hingga obat-obatan itu
membuatnya gila!" "Kau gila! Kau mengatakan hal-hal ini, kebohongan-kebohongan ini, karena kau
mengirim suamiku ke selatan dan menemuiku selama berhari-hari, mula-mula dengan
janji, lalu dengan ancaman. Aku harus melayanimu. Sudah menjadi' tugasku,
katamu! Kau meniduriku dan aku tahu hal-hal "
?"Wanita, kau memang menjijikkan! Aku menemuimu untuk memohon agar kau
menghormati suamimu, demi tujuan! Agar kau meninggalkan kekasihmu dan memohon
pengampunan." "Bohong! Orang-orang datang menemuimu, taipan-taipan dari selatan yang dikirim
suamiku, orang-orang yang tidak boleh terlihat berada dekat kantor-kantormu yang
tinggi. Mereka datang diam-diam ke toko di bawah apartemenku, apartemen janda
terhormat, begitu istilah kalian kebohongan lain yang kautinggalkan untukku
?dan anakku!" "Pelacur!" jerit pria bermata nanar yang membawa pedang itu.
"Pembohong sedalam danau-danau di utara!" balas wanita itu. "Seperti dirimu,
suamiku memiliki banyak wanita dan tak peduli denganku! Ia memukuliku dan kau
memberitahuku bahwa ia berhak melakukannya, karena ia putra hebat Cina sejati!
Aku membawa pesan dari satu kota ke 'kota lain, yang kalau di temukan padaku
akan membuatku disiksa dan dibunuh, dan aku menerima ejekan, biaya perjalananku
tidak pemah diganti, atau yuan-ku ditahan dari tempat kerjaku, karena katamu
itulah tugasku! Bagaimana anak perempuanku bisa makan" Anak yang hampir tak
dikenali putra hebat Cina-mu itu, karena ia hanya menginginkan anak laki-laki!"
411 "Takdir tidak akan memberimu anak laki-laki, karena mereka akan jadi wanita,
mempermalukan rumah agung Cina! Kaulah pengkhianatnya! Kau pergi ke bandara dan
menghubungi musuh-musuh kita sehingga seorang penjahat besar bisa lolos! Kau
akan memperbudak kami selama seribu tahun "
?"Kau akan menjadikan kami temakmu selama sepuluh ribu tahun!" "Kau tidak tahu
arti kemerdekaan, wanita."
"Kemerdekaan" Dari mulutmu" Kau mengatakan padaku kau mengatakan pada
?kami bahwa kau akan mengembalikan kemerdekaan yang dimiliki leluhur kita di
?Cina sejati, tapi kemerdekaan macam apa, pembohong" Kemerdekaan yang menuntut
kepatuhan mutlak, yang merampas beras dari anakku, anak yang dibuang ayahnya,
yang percaya hanya pada ruan-tuan di bumi panglima perang, tuan tanah, para
?tuan di bumi! AiyaP' Wanita itu berbalik menghadap kerumunan, bergegas maju,
menjauhi orator itu. "Kalian!" jeritnya. "Kalian semua! Aku tidak mengkhianati
kalian, maupun tujuan kita, tapi aku belajar banyak hal. Semuanya tidak seperti
yang dikatakan pembohong besar ini! Memang ada banyak penderitaan dan larangan,
yang kita semua tahu, tapi dulu pun ada penderitaan, ada larangan!... Kekasihku
bukan orang jahat, bukan pengikut rezim yang fanatik, tapi orang terpelajar,
pria sejati, dan yang percaya akan Cina abadi! Ia menginginkan hal-hal yang kita
inginkan! Ia hanya minta waktu untuk menumpas kejahatan yang sudah menjangkiti
para orang tua dalam komite-komite yang memimpin kita. Akan ada perubahan,
katanya padaku. Beberapa menunjukkan hal itu. Sekarang!... Jangan biarkan
pembohong ini berbuat begini padaku! Jangan biarkan ia berbuat begini pada
kalianr "Pelacur! Pengkhianat!" Pedang itu terayun di udara, memenggal wanita itu. Tubuh
tanpa kepala itu tumbang ke kiri, kepalanya jatuh ke kanan, menyemburkan darah
dengan dahsyat. Orator itu lalu mengayunkan pedang ke bawah, mencincang mayat
itu, tapi kesunyian yang menyelimuti kerumunan terasa berat, menakjubkan. Ia
berhenti; ia telah kehilangan mpmennya. ia meraihnya kembali dengan sigap.
"Semoga roh leluhur yang suci memberinya kedamaian dan kemurnian!" teriaknya,
pandangannya menjelajah, berhenti, menatap wajah setiap anggota kelompoknya.
"Karena bukan dalam kebencian kuakhiri hidupnya, tapi belas kasihan karena
kelemahannya. Ia akan menemukan kedamaian' dan pengampunan. Roh-roh akan
mengerti tapi di sini, di Ibu Pertiwi, kita pun harus mengerti! Kita tidak bisa?menyimpang dari tujuan kita harus kuat! Kita harus "
? ?Bourne sudah muak mendengar ocehan gila ini. Orang ini manifestasi kebencian.
Dan ia mati. Suatu waktu. Di suatu tempat. Mungkin malam ini kalau mungkin,
?malam ini! Delta mencabut pisaunya dan bergerak ke kanan, merangkak menerobos
hutan Medusa yang lebat, denyut nadinya anehnya tenang, keyakinan yang murka
? ?semakin membuncah dalam dirinya David Webb telah lenyap. Ada begitu banyak hal
?yang tak bisa diingatnya dari hari-hari yang samar dan jauh im, tapi juga ada
banyak hal yang kembali diingatnya. Masih kabur, tapi nalurinya jelas. Dorongan-
dorongan hati raengarahkannya, dan ia menyatu dengan kegelapan hutan. Hutan
bukan musuh; hutan adalah sekutunya, karena hutan pemah melindunginya,
menyelamatkannya dalam kenangan yang jauh dan kacau itu. Pepohonan, sulur-
suluran, dan sesemakan adalah teman4emannya; ia bergerak menerobos dan
mengitarinya seperti kucing liar, langkahnya pasti dan tak bersuara.
Ia berbelok ke kiri di atas lembah tua itu dan mulai turun sambil memusatkan
perhatian pada si pembunuh bayaran yang berdiri santai dekat pohon. Orator itu
sekali lagi mengubah strategi dalam menangani penontonnya. Ia tidak mau
merugikan kredibilitasnya lebih jauh dengan membunuh wanita lain yang oleh
?orang-orang ini akan dianggap gila, apa pun tujuannya. Permohonan tawanan wanita
yang mati dicincang hams disingkirkan dari otak. Sebagai pakar dalam bidangnya,
orator tersebut tahu kapan harus berkotbah tentang kasih, sejenak menghilangkan
pamor iblisnya. Ajudan-ajudannya dengan sigap menyingkirkan buku> bukti kematian
yang brutal, dan wanita yang masih ada dipanggil dengan isyarat menggunakan
pedang upacara. Wanita itu tidak lebih dari delapan belas tahun dan cukup
cantik, menangis dan muntah-muntah saat diseret ke depan.
"Air mata dan kesedihanmu tidak diperlukan, Nak," kata orator itu dengan nada
paling kebapakan. "Sejak dulu kami berniat membiarkanmu tetap hidup, karena kau
diminta melakukan tugas yang melebihi kemampuanmu di usia muda, mendapat
keistimewaan mengetahui rahasia-rahasia yang tidak kaupahami. Anak muda sering
berbicara padahal seharusnya diam.... Kau terlihat ditemani dua saudara dari Hong
Kong tapi bukan saudara-saudara kita. Orang-orang yang bekerja untuk Kerajaan
?Inggris yang tak tahu malu, pemerintah,lemah dan korop yang menjual Ibu Pertiwi
kepada para penyiksa kita. Mereka memberimu hadiah, perhiasan yang indah, serta
pemerah bibir dan parfum Prancis dari Kowloon. Sekarang, Nak, apa yang
kauberikan pada mefeka?"
Gadis muda itu, terbatuk-batuk hingga muntah dari balik sumpalnya, menggeleng
mati-matian, air mata membanjiri wajahnya.
'Tangannya ada di bawah meja, di sela kaki seorang pria, di sebuah kafe di
Guangquem!" teriak seorang penuduh.
"Pria itu salah satu babi yang bekerja untuk Inggris!" tambah yang lain.
"Masa muda merupakan sasaran empuk pembangkitan nafsu," kata sang orator sambil
menengadah memandang mereka yang telah berbicara,
matanya melotot, seakan-akan memberi perintah agar diam. "Ada pengampunan dalam
hati kita bagi semangat muda ini selama pengkhianatan bukan bagian dari ?pembangkitan nafsu ini, dalam semangat itu." "Ia ada di Gerbang Qian Men....!"
"Ia tidak ada di Tian An Men. Aku sendiri sudah memastikannya!" teriak orang
berpedang itu. "Informasimu keliru. Satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa
adalah pertanyaan yang sederhana. Nak! Apakah kau berbicara tentang kami"
Mungkinkah kata-katamu sudah disampaikan pada musuh-musuh kita di sini atau di
selatan?" Gadis itu menggeliat-geliat di tanah, seluruh tubuhnya berayun-ayun ke
depan dan ke belakang, mengingkari tuduhan tersirat itu.
"Kuterima kepolosanmu, sebagaimana yang akan dilakukan seorang ayah, tapi tidak
kebodohanmu, Nak. Pergaulanmu terlalu bebas, dalam kesukaanmu akan hadiah-
hadiah. Kalau tidak menguntungkan kita, hal-hal ini bisa berbahaya."
Wanita muda itu diserahkan pada pria gendut setengah umur, diiringi perintah
untuk "instruksi dan meditasi introspeksi". Dari ekspresi pria itu, jelas bahwa
mandat itu lebih Iuas daripada yang diutarakan sang orator. Dan sesudah
iaselesai menangani gadis itu, bocah tersebut, yangtelah menggali rahasia-
rahasia dari hierarki Beijing yang menuntut peran gadis-gadis muda diJandasi
?kepercayaan bahwa hubungan seperti itu, seperti yang telah diputuskan Mao, akan
memperpanjang usia akan lenyap.
?Dua dari tiga pria Cina lain pun disidang. Tuduhan awalnya adalah berdagang obat
bins, pada ppros Shanghai-Beijing. Tapi kejahatan mereka bukan mendistribusikan
narkotika, melainkan terus-menerus mencuri labanya, menyimpan sejumlah besar
uang di rekening pribadi di puluhan bank di Hong Kong. Beberapa penonton maju
untuk menghadirkan bukti-bukti yang memberatkan, menyatakan bahwa sebagai


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

distributor bawahan, mereka telah memberikan sejumlah uang kepada kedua "bos"
itu, tapi tidak pemah tercatat dalam buku rahasia organisasi. Itu tuduhan
awalnya, tapi bukan tuduhan utama. Tuduhan utama dijatuhkan dengan suara tinggi
namun bernada bosan. "Kalian bepergian ke selatan, ke Kowloon. Sekali, dua kali,
bahkan tiga kali sebulan. Bandara Kai-tak.... Kau!" jerit orang fanatik berpedang
itu, menunjuk tawanan di sebelah kirinya. "Kau terbang kernari sore ini. Kau ada
di Kowloon semalam. Semalam! Kai-tak! Kita dikhianati semalam di Kai-tak!"
Orator itu melangkah dengan sifeap mengancam, menjauhi cahaya obor, mendekati
dua orang yang berlutut ketakutan. "Cintamu pada uang mengurangi cintamu pada
tujuan kita," katanya dengan nada seperti pemimpin umat! yang sedih tapi marah:
"Saudara dalam darah dan saudara dalam pencurian. Kami sudah mengetahuinya
selama berminggu-minggu, mengetahui ada begitu banyak keserakahan dalam
kegelisahanmu. Uang kalian berlipat ganda seperti hewan pengerat dalam selokan
bau, jadi kalian menemui para triad penjahat di Hong Kong. Benar-benar hebat, rajin, dan
betapa bodohnya! Kaupikir tidak ada kelompok' triad yang mengenal kita atau kita
mengenal mereka" Kaupikir tidak ada bidaag-bidang di mana kepentingan kita sama"
Kaupikir mereka lebih tidak membenci pengkhianat dibandingkan kita?"
Kedua saudara yang terikat itu meliuk-liuk di tanah, berlutut dalam penyerahan,
menggeleng-geleng mengingkari. Jeritan-jeritan teredam mereka merupakan
permohonan untuk didengarkan, untuk diizinkan bicara. Orator itu mendekati
tawanan di sebelah kirinya dan menarik sumpalnya, talinya melukai kulit tawanan
itu. "Kami tidak mengkhianati siapa pun, man yang agung!" jeritnya. "Aku tidak
mengkhianati siapa pun! Aku ada di Kai-tak ya, tapi hanya dalam keramaian. Untuk
mengamati, Tuan! Untuk bersukacita!"
"Kau berbicara dengan siapa?"
"Tak seorang pun, tuan yang agung! Oh, ya, karyawan itu. Untuk mengkonfirmasi
penerbanganku besok pagi, Sir, hanya itu. Aku bersumpah demi roh para leluhur
kami. Mengkonfirmasi penerbanganku dan adikku, Tuan."
"Uangnya. Bagaimana dengan uang yang kaucwn?"
"Bukan kucuri, tuan yang agung. Aku bersumpah! Kami percaya dalam hati kami yang
bangga hati yang bangga pada tujuan kita bahwa kami bisa menggunakan uang itu? ?demi kebesaran Cina sejati! Setiap yuan dari keuntungan akan dikembalikan pada
tujuan.1" Jawaban dari kerumunan orang terdengar menggemuruh. Makian-makian dilontarkan
pada para tawanan itu; tuduhan-tuduhan pengkhianatan dan pencurian memenuhi
lembah. Si orator mengangkat tangan menyuruh diam. Suara-suara pun mereda.
"Biarkan beritanya menyebar," katanya perlahan-lahan dengan kekuatan yang
meningkat. "Biarlah orang-orang dalam kelompok kita yang semakin besar ini, yang
mungkin terpikir untuk berkhianat, diperingatkan. Tidak ada belas kasihan dalam
diri kita, karena kita pun tidak diberi belas kasihan. Tujuan kita benar dan
murni, bahkan niat berkhianat merupakan peng-hujatan. Sebarkan beritanya. Kalian
tidak tahu siapa kami atau di mana kami berada entah sebagai birokrat di
?kementerian atau anggota polisi keamanan. Kami tidak ada di mana-mana dan kami
ada di mana-mana. Mereka yang goyah dan ragu-ragu akan mati.... Persidangan
anjing-anjing beracun ini sudah selesai. Terserah pada kalian, anak-anakku."
Vonisnya cepat dan mutlak: bersalah atas tuduhan pertama, mungkin bersalah atas
tuduhan kedua. Hukumannya: yang satu akan mati, yang lain hidup, untuk dikawal
ke selatan, ke Hong Kong, di mana uang akan diambil kembali. Pilihannya
ditentukan ritual yi zang li yang telah berabad-abad usianya, ritual yang secara
harfiah berarti "satu pemakaman". Masing-masing diberi sebrlah pisau yang
identik, dengan mata bergerigi
setajam pisau cukur. Arena pertempurannya berbentuk Iingkaran, diameter sepuluh
langkah. Kedua saudara itu berhadapan dan ritual buas dimulai saat salah satunya
menerjang mati-matian dan yang lain menghindar ke samping, mata pisaunya melukai
wajah si penyerang. Duel dalam Iingkaran maut itu, juga reaksi primitif penonton, menutupi suara apa
pun yang ditimbulkan Bourne dalam keputusannya bergerak cepat. Ia melesat
menerobos sesemakan, mematahkan ranting-ranting dan memotong rerumputan yang
terjalin rapat, hingga berada enam puluh meter di belakang pohon tempat si
pembunuh bayaran berdiri. Ia akan kembali dan lebih mendekat lagi, tapi pertama-
tama ada d'Anjou. Echo harus tahu ia ada di sana.Orang Prancis dan tawanan pria
Cina terakhir berada di sebelah kanan Iingkaran, para penjaga mengapit mereka.
Jason merayap maju sementara kerumunan penonton meraung meneriakkan penghinaan
dan dorongan semangat kepada para gladiator. Keduanya sekarang berlumuran darah,
dan salah seorang petarung telah berhasil menyarangkan pisau dalam serangan yang
hampir mematikan, tapi hidup yang ingin diakhirinya tidak bersedia menyerah.
Bourne hanya dua atau tiga meter jauhnya dari d'Anjou; ia meraba-raba tanah dan
mengambil ranting yang jatuh. Saat para penonton yang menggila meraung lagi, ia
mematahkan ranting itu menjadi tiga. Ia membersihkan sisa-sisa daun dari ketiga
potong itu dan membuatnya menjadi tongkat. Ia membidik dan melontarkan potongan
ranting pertama, mengusahakan ranting itu tetap melayang rendah. Ranting itu
jatuh di dekat kaki si orang Prancis. Boume melemparkan ranting kedua; ranting
itu menghantam belakang lutut Echo! D'Anjou mengangguk dua kali untuk mengakui
kehadiran Delta. Lalu si orang Prancis melakukan tindakan aneh. Ia mulai
menggeleng-geleng perlahan. Echo berusaha memberitahukan sesuatu padanya. Tiba-
tiba, kaki kiri d'Anjou terlipat dan ia jatuh ke tanah. Ia disentakkan dengan
kasar oleh penjaga di sebelah kanannya, tapi konsentrasi penjaga itu tengah
terpaku ke pertempuran berdarah yang sedang berfangsung dalam Iingkaran satu
pemakaman. Sekali lagi Echo menggeleng perlahan-lahan, lalu akhirnya bergeming dan menatap
ke sebelah kiri, tatapannya terpaku pada si pembunuh bayaran yang telah menjauhi
pohon untuk menyaksikan pertempuran maut itu! Kemudian ia berpaling lagi,
sekarang mengarahkan tatapan pada si maniak berpedang.
D'Anjou kembali jatuh, kali ini berusaha bangkit sebelum penjaga sempat
menyentuhnya. Sambil berdiri ia menggoyang-goyangkan bahunya yang kurus. Sambil
menghela napas dalam-dalam, Bourne memejamkan mata dalam kedukaan singkat yang
diizinkan untuk dirasakannya. Pesannya jelas. Echo menyingkirkan dirinya
sendiri, menyuruh Delta memburu si pembunuh bayaran dan sementara itu, membunuh?penjaga) tukang
kotbah. D'Anjou tahu dirinya terlalu babak-belur, terlalu lemah untuk terlibat
dalam pelarian. Ia hanya akan menjadi hambatan, padahal si peniru lebih penting...
Marie lebih penting. Kehidupan Echo sudah berakhir. Tapi ia akan mendapatkan
bonus berupa kematian si penjagal maniak, si fanatik yang jelas akan mencabut
nyawanya. Jeritan memekakkan telinga memenuhi lembah; kerumunan orang tiba-tiba terdiam.
Bourne menyentakkan kepala ke kiri, ia bisa melihat ke balik tepi deretan
penonton. Yang dilihatnya sama memuakkarmya seperti yang telah dilihatnya selama
beberapa menit penuh kekerasan. Orator itu menghunjamkan pedang upacaraaya di
leher salah seorang petarung; ia mencabutaya sementara mayat berlumuran darah
itu terguncang-guncang menyambut kematian dan jatuh telentang di tanah. Pelaku
pembunuhan tersebut.mengangkat kepala dan berbicara, "Ahli bedah!"
"Ya, Sir?" kata seseorang dari kerumunan.
"Rawat yang masih hidup. Sembuhkan dia sebaik mungkin untuk melakukan perjalanan
ke selatan. Kalau kubiarkan ini terus berlanjut, keduanya akan mati dan uang
kita akan hilang. Hubungan keluarga yang erat ini menentang yi zang li.
Singkirkan mayat saudaranya dan buang ke rawa-rawa bersama yang lain. Mereka
akan menjadi santapan tambahan yang manis bagi burung-burung yang lebih
agresif." "Baik, Sir." Seorang pria yang membawa tas dokter hitam melangkah maju ke
Iingkaran tanah, sementara mayatnya dibawa pergi dan tandu muncul dari kegelapan
di ujung terjauh kerumunan. Segalanya sudah direncanakan, semuanya
dipertimbangkan. Dokter itu menyuntik lengan si petarung yang mengerang,
berlumuran darah, dibawa keluar dari Iingkaran tempat saudaranya tewas. Sambil
membersihkan pedang dengan kain sutra bam, orator itu mengangguk ke arah kedua
tawanan yang tersisa. i Dengan tertegun, Bourne mengawasi saat orang Cina di samping d'Anjou dengan
tenang melepaskan ikatan pergelangan tangannya dan mengangkat tangan ke belakang
leher, membuka ikatan kain yang seharusnya sangat erat dan menjaga mulutnya
tetap temganga tanpa mampu mengeluarkan suara kecuali erangan. Pria itu berjalan
mendekati sang orator dan berbicara dengan suara keras, berbicara pada
pemimpinnya sekaligus pada pengikutnya. "Ia tidak mengatakan apa-apa dan tidak
mengungkapkan apa-apa, tapi bahasa Cina-nya fasih dan ia memiliki banyak
kesempatan untuk bicara denganku sebelum kami naik ke truk dan disumpal. Bahkan
pada waktu itu aku berusaha berkomunikasi dengannya dengan mengendurkan sumpalku
sendiri, menawarkan melakukan yang sama baginya. Ia menolak. Ia keras kepala dan
sangat berani, tapi aku yakin ia tahu apa yang tidak akan diberitahukannya
kepada kita." "Tong ku, long kit!" Teriakan-teriakan liar terdengar dari kerumunan, menuntut
penyiksaan terhadap buah zakar si orang Barat.
"Ia sudah tua, rapuh, dan akan tak sadarkan diri, seperti yang pemah
terjadi sebelumnya," tawanan palsu itu berkeras. "Oleh karena itu, atas persetujuan
pemimpin kita, aku ingin mengajukan saran."
"Kalau ada kemungkinan berhasil, terserah kehendakmu," kata sang orator.
"Kita sudah menawarinya kebebasan sebagai ganti informasi, tapi ia tidak
mempercayai kita. Sudah terlalu lama ia berurusan dengan kaum Marxis. Aku
menyarankan kita mengajak sekutu kita yang enggan ini ke bandara Beijing dan
menggunakan posisiku untuk mendapatkan tempat baginya dalam pesawat berikut ke
Kai-tak. Aku akan membantunya melewati imigrasi, ia hanya perlu memberikan
informasinya padaku sebelum naik ke pesawat. Pemyataan rasa percaya yang sangat
besar. Kita akan berada di tengah-tengah musuh, dan kalau nuraninya begitu
tersinggung, ia hanya perlu berteriak. Ia sudah melihat dan mendengar lebih
daripada siapa pun yang pernah meninggalkan kita dalam keadaan hidup. Pada
waktunya, kita mungkirr akan menjadi sekutu sejati, tapi pertama-tama hams ada
kepercayaan." Sang orator mengamati wajah provokator itu, lalu mengalihkan pandangan pada
d'Anjou, yang berdiri tegak, mengintip dari balik matanya yang bengkak,
mendengarkan tanpa ekspresi. Lalu pria pembawa pedang berlumuran darah tersebut
berpaling pada si pembunuh bayaran di dekat pohon, tiba-tiba berbicara dalam
bahasa Inggris. "Kami menawarkan membebaskan manipulator murahan ini kalau ia
memberitahukan di mana kita bisa menemukan rekannya. Kau setuju?"
"Orang Prancis itu akan berbohong padamu!" kata pembunuh itu dengan aksen
Inggris yang kental, sambil melangkah maju.
"Untuk tujuan apa"' tanya si orator. "Ia mendapatkan nyawa dan kebebasannya. Ia
tidak memedulikan orang lain, seluruh dosirnya membuktikan hal itu."
"Aku tidak yakin," kata si orang Inggris. "Mereka pernah bekerja sama dalam
organisasi bernama Medusa. Ia selalu membicarakan kejadian itu. Ada aturan-
aturan kau mungkin menyebutnya kode. Ia akan berbohong."?"Medusa yang terkenal buruk itu terdiri atas sampah manusia, orang-orang yang
bersedia membunuh saudara mereka sendiri kalau hal itu bisa menyelamatkan
nyawa." Pembunuh bayaran itu mengangkat bahu. "Kau meminta pendapatku," katanya. "Itu
pendapatku." "Sebaiknya kita tanyakan langsung pada orang yang akan diberi ampun." Orator Hu
kembali menggunakan bahasa Mandarin, memberi perintah, sementara si pembunuh
bayaran kembali ke pohon dan menyulut rokok. D'Anjou dibawa ke depan. "Lepaskan
ikatan tangannya; ia tidak akan kabur ke mana-mana. Dan tanggalkan tali dari
mulutnya. Biarkan ia didengar. Tunjukkan padanya bahwa kita bisa mengulurkan...
kepercayaan, juga aspek-aspek yang kurang menarik dari sifat kita."
D'Anjou menggoyang-goyangkan tangan di sisi tubuhnya, lalu mengangkat tangan
kanan dan memijat-mijat mulutnya. "Kepercayaanmu sama menarik dan meyakinkannya
seperti perlakuanmu terhadap tawanan," katanya .dalam bahasa Inggris.
"Aku lupa." Orator itu mengangkat alis. "Kau memahami bahasa kami, bukan?"
"Lebih daripada dugaanmu," jawab Echo.
"Bagus. Aku lebih suka bicara dalam bahasa Inggris. Boleh dikata ini masalah
antara kita, bukan?"
'Tidak ada apa-apa di antara kita. Sebisa mungkin aku tidak berurusan dengan
orang gila, mereka sangat tak mudah ditebak." D'Anjou melirik ke arah pembunuh
bayaran di dekat pohon. "Aku melakukan kesalahan, tentu saja. Tapi entah
bagaimana aku merasa kesalahan itu akan diperbaiki."
"Kau boleh tetap hidup," kata orator itu.
"Untuk berapa lama?"
"Lebih lama daripada malam ini. Sisanya terserah padamu, pada kesehatan dan
kemampuanmu." 'Tidak. Semua sudah berakhir sewaktu aku turun dari pesawat di Kai-tak. Kau
tidak akan luput sebagaimana yang terjadi semalam. Tidak akan ada pasukan
pengamanan, tidak ada limusin antipeluru, hanya satu orang berjalan masuk atau
keluar terminal, dan yang lain membawa pistol berperedam atau pisau. Seperti
yang dikatakan sesama 'tawananku' yang tidak meyakinkan, aku ada di sini malam
ini. Aku sudah melihat, aku sudah mendengar, dan yang kulihat serta kudengar
menandai kematianku.... Omong-omong, kalau ia penasaran kenapa aku tidak
mempercayainya, katakan padanya bahwa ia terlalu mencolok, terlalu bersemangat.
Dan mikrofon yang tiba-tiba kendur. Yang benar saja! Ia tidak akan pernah
menjadi muridku. Seperti kau, kata-katanya berbunga-bunga, tapi pada dasarnya ia
bodoh." "Seperti aku?" "Ya, dan kau tidak punya alasan menjadi bodoh. Kau orang berpendidikan,
pelancong dunia terlihat dari cara bicaramu. Di mana kau belajar" Oxford" ?Cambridge?"
"London School of Economics," sahut Sheng Chou Yang, tidak mampu menahan diri.
"Bagus sekali ikatan sekolah lama, seperti kata orang Inggris. Tapi lepas dari
?semua itu, kau kosong. Badut. Kau bukan sarjana, bahkan bukan mahasiswa, hanya
fanatik yang tidak menginjak bumi. Kau orang bodoh."
"Kau berani mengatakan begitu padaku?"
"Fengzi," kata Echo sambil berpaling pada kerumunan. "Shenjing bing!" tambahnya,
sambil tertawa, menjelaskan bahwa ia sedang bercakap-cakap dengan orang sinting.
"Hentikan!" "Wei shemme?" lanjut si orang Prancis, bertanya Kenapa" melib'atkan orang-orang
?Iain dengan bicara bahasa Cina. "Kau menyesatkan orang-orang ini dengan teori
gilamu untuk mengubah timah menjadi emas! Air kencing menjadi anggur! Tapi
seperti yang dikatakan wanita malang tadi emas siapa, anggur siapa" Milikmu
?atau milik mereka?" D'Anjou menyapukan tangan ke arah kerumunan. "Kuperingatkan
kau!" jerit Sheng dalam bahasa Inggris. "Kalian llhatr teriak Echo serak, lemah,
dalam bahasa Mandarin. "Ia tidak bersedia berbicara denganku dalam bahasa
kalian! Ada yang di-sembunyikannya dari kalian! Pria kecil dengan pedang besar
ini apakah pedangnya berrungsi untuk menutupi kekurangan dalam hal lain" Apakah
?ia membacok wanita dengan pedangnya karena ia tidak memiliki perlengkapan lain
dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka" Dan lihat kepala kosong dengan
puncak rata tanda kebodohannya ' "Cukup!"
?" dan mata bocah kecil yang menjerit-jerit, bandel, jelek! Seperti yang tadi
?kukatakan, ia tidak lebih daripada orang gila. Kenapa kalian memberihya
kesempatan" Ia hanya memberi kalian air kencing sebagai balasan, bukan anggur!"
"Aku akan berhenti kalau jadi kau," kata Sheng sambil melangkah maju membawa
pedangnya. "Mereka akan membunuhmu sebelum aku melakukannya."
"Entah bagaimana aku meragukannya," jawab d'Anjou dalam bahasa Inggris.
"Kemarahanmu mengurangi daya pendengaranmu, Tuan Omong Kosong. Kau tidak
mendengar satu-dua cibiran" Aku mendengarnya."
"Gou lei" raung Sheng Chou Yang, memerintah Echo menutup mulutnya. "Kau akan
memberikan informasi yang harus kami ketahui," lanjutnya, bahasa Cina-nya yang
melengking menyiratkan ia orang yang biasa dipatuhi. "Permainan sudah selesai
dan kami tidak akan mentolerir dirimu lagi! Di mana pembunuh yang kaubawa dari
Macao?" "Di sana," kata d'Anjou santai, memberi isyarat dengan kepala ke arah si
pembunuh bayaran. "Bukan dial Yang datang sebelumnya. Orang sinting yang kaupanggil kembali dari
kubur untuk membalaskan. dendammu! Di mana tempat pertemuan kalian" Di mana
kalian akan bertemu" Pangkalanmu di Beijing ini, di mana?"
'Tidak ada janji temu," jawab Echo, kembali menggunakan bahasa Inggris. 'Tidak
ada pangkalan operasi, tidak ada rencana bertemu."
"Ada! Kalian selalu meributkan rencana cadangan, darurat. Begitulah cara kalian
bertahan hidup!" "Dulu. Masa lalu, sayangnya."
Sheng mengangkat pedangnya. "Bicara atau kau akan mati secara tidak ?menyenangkan, Monsieur."'
"Aku akan bicara padamu. Kalau ia bisa mendengar suaraku, akan kujelaskan
padanya bahwa fajw-lah yang harus dibunuhnya. Karena kau orang yang akan membawa
Asia bertekuk lutut bersama jutaan orang yang berenang di lautan darah saudara
mereka sendiri. Aku mengerti ia harus menyelesaikan urusannya sendiri, tapi akan
kukatakan padanya dengan napas terakhirku, bahwa kau harus menjadi bagian dari
urusan itu! Akan kukatakan agar ia bergerak Cepat.*"
Terperangah melihat penampilan d'Anjou, Bourne mengernyit seakan-akan dipukul.
Echo mengirimkan sinyal terakhir! Bergerak! Sekarang! Jason memasukkan tangan ke
saku kiri depan dan mengeluarkan isinya sambil merangkak cepat menerobos hutan
di balik arena ritual buas itu. la menemukan karang yang menjulang beberapa


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meter dari permukaan tanah. Udara di baliknya tak bergerak dan ukuran batu itu
lebih dari cukup untuk menyembunyikan pekerjaannya. Saat memulai, ia bisa
mendengar suara d'Anjou; lemah dan bergetar, tapi tetap saja menantang. Echo
menemukan kekuatan dalam dirinya, bukan saja untuk menghadapi saat-saat
terakhirnya, tapi juga memberi Delta waktu berharga yang sangat dibutuhkannya.
"...Jangan tergesa-gesa, mon general Genghis Khan, atau siapa pun dirimu. Aku
sudah tua dan antek-antekmu telah melakukan tugas mereka. Seperti yang bisa
kaulihat, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Di sisi lain, aku tidak peduli kau
akan mengirimku ke mana... Kami tidak cukup pandai untuk menyadari jebakan yang
kausiapkan bagi kami. Kalau saja kami pandai, kami tidak akan pernah
terperangkap, jadi kenapa kau mengira kami cukup pandai untuk mengadakan janji
temu?" "Karena kalian memang masuk ke dalam jebakan," kata Sheng Chou Yang tenang.
"Kau ia mengikuti orang dari Macao ke dalam mausoleum. Orang gila yang mengira
? ?akan keluar lagi. Rencana daruratmu melibatkan kekacauan dan janji temu."
"Dari luar logikamu tampak tak tergoyahkan "'
?"Di mana" " teriak Sheng.
"Insentifku?" "Nyawamu!" "Oh, ya, kau sudah menyinggungnya tadi." "Waktumu hampir habis."
"Aku seharusnya tahu waktuku, Monsieur!" Pesan terakhir. Delta memahaminya.
Bourne menyalakan korek, menutupi kobarannya, dan menyulut lilin kecil, sumbunya
tertancap setengah senti di bawah permukaan. Ia bergegas merangkak semakin jauh
ke dalam hutan, membuka ikatan dua gutung petasannya. Ia tiba di ujung hutan dan
kembali menuju pohonnya. "...Apa jaminan keselamatanku?" tanya Echo berkeras, menikmati situasi, pakar
permainan catur yang tengah menyusun kematiannya sendiri yang tak terelakkan.
"Kebenaran," jawab Sheng. "Hanya itu yang kaubutuhkan."
'Tapi man tan muridku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan
berbohong sebagaimana kau telah berbohong secara konsisten malam ini." D'Anjou ?diam sejenak dan mengulangi pernyataannya dalam bahasa Mandarin. "Liao jie?"
katanya pada para penonton, bertanya apakah mereka mengerti. "Hentikan!"
"Kau terus mengatakan hal yang sama. Kau harus belajar mengendalikannya. Itu
kebiasaan yang melelahkan." "Dan kesabaranku sudah habis! Di mana orang
sintingmul" "Dalam bidang pekerjaanmu, mon general, kesabaran bukan sekadar
nilai, tapi juga kebutuhan."
"Tahan!" teriak si pembunuh bayaran, menjauh dari pohon, mengejutkan semua
orang. "Ia mengulur waktu! Ia mempermainkanxaa. Aku kenal orang ini!" "Untuk
alasan apa?" tanya Sheng, pedangnya rriengancam. "Aku tidak tahu," kata Commando
Inggris itu. "Aku hanya tidak menyukainya, dan itu alasan yang cukup bagiku!"
Tiga meter di balik pohon, Delta memandang jarum radium arlojinya, memusatkan
perhatian pada jarum detiknya. Ia telah memperhitungkan waktu terbakarnya lilin
di dalam mobil, dan waktunya adalah sekarang. Sambil memejamkan mata, memohon
dengan sesuatu yang tak dipahaminya, ia meraih segenggam tanah dan
melontarkannya tinggi ke sebelah kanan pohon, lebih jauh ke sebelah kanan
d'Anjou. Sewaktu mendengar jatuhnya tanah untuk pertama kali, Echo meninggikan
suara menjadi raungan lantang.
"Berurusan denganrttu?" jeritnya. "Aku lebih baik berurusan dengan penghulu
malaikat kegelapan! Aku mungkin terpaksa berbuat begitu, tapi kalau dipikir-
pikir lagi mungkin tidak, karena Tuhan yang mana pengampun tahu kau sudah
melakukan dosa-dosa yang melebihi dosa apa pun yang pernah kulakukan, dan aku
akan meninggalkan dunia ini hanya dengan keinginan untuk membawamu bersamaku!
Terlepas dari ke-brutalanmu yang menjijikkan, mon general, kau orang membosankan
yang bodoh dan kosong, lelucon kejam bagi orang-orangmu sendiri! Matilah
bersamaku, jenderal tahir
Dengan kata-kata terakhimya, d'Anjou menghambur ke arah Sheng Chou Yang,
mencakar wajahnya, meludahi matanya yang membelalak tertegun. Sheng melompat
mundur, mengayunkan pedang upacaranya, mata pisaunya terayun ke kepala si orang
Prancis. Dengan cepat, segalanya terakhir bagi Echo.
Mulai! Rentetan letusan petasan terdengar memenuhi lembah, menggema di dalam
hutan, meningkat saat kerumunan yang terperangah bereaksi dalam kekagetan.
Orang-orang tiarap di tanah, lainnya berhamburan ke balik pohon dan sesemakan,
berteriak-teriak panik, men-eemaskan keselamatan diri sendiri.
Pembunuh bayaran itu melesat ke balik pohon, berjongkok, senjata di tangan.
Bourne, dengan peredam tertancap di pistolnya, mendekati pembunuh itu dan
berdiri di atasnya. Ia membidik dan menembak melepaskan senjata itu dari tangan
si pembunuh bayaran, daging di antara ibu jari dan telunjuknya menyemburkan
darah. Pembunuh itu berbalik, matanya membelalak, mulutnya ternganga. Jason
kembali menembak, kali ini menggores tulang pipi si pembunuh bayaran.
"Berbalik!" perintah Bourne sambil menyurukkan pistol ke mata kiri Commando itu.
"Sekarang, peluk pohonnya! Peluk! Kedua lenganmu, erat-erat, lebih erat!" Jason
menyodokkan pistol ke tengkuk si pembunuh bayaran sambil mengintip ke balik
pohon. Beberapa obor yang tadi tertancap di tanah telah tercabut, apinya padam.
Serangkaian ledakan lain terdengar lebih jauh di dalam hutan. Orang-orang yang
panik mulai menembak ke arah asal suara itu. Kaki si pembunuh bayaran bergerak!
Lalu tangan kanannya! Bourne menembak pohon dua kali, pelurunya mencabik kayu,
menghancurkan kulit pohon kurang dari satu inci jauhnya dari kepala si Commando.
Ia mencengkeram batang pohon, tubuhnya bergeming, kaku.
"Kepala tetap di sebelah kiri!" bentak Jason kasar. "Bergerak Sekali lagi,
kepalamu akan meledak!" Di mana dia" Di mana maniak pembunuh berpedang itu"
Delta berutang sebanyak itu pada Echo. Di mana... di sana! Pria bermata fanatik
itu beranjak dari tanah, memandang ke segala arah, meneriakkan perintah kepada
mereka yang berada di dekatnya, dan meminta senjata. Jason melangkah menjauhi
pohon dan mengangkat pistol. Kepala fanatik itu berhenti berputar. Pandangan
mereka bertemu. Bourne menembak tepat ke arah Sheng saat ia menarik seorang
pengawal ke depan tubuhnya. Prajurit itu terjengkang, lehernya tersentak akibat
benturan peluru. Sheng masih memegangi mayat itu, menggunakannya sebagai
perisai, sementara Jason menembak dua kali, membuat mayat pengawal itu berkedut-
kedut. Ia tidak bisa melakukannya! Siapa pun maniak itu, ia terlindung mayat si
prajurit! Delta tidak bisa melakukan perintah Echo! Jenderal Tahi akan selamat!
Maafkan aku, Echo! Tidak ada waktu! Bergerak! Echo sudah tewas.... Marie!
Pembunuh bayaran itu menggeser kepalanya, mencoba melihat. Bourne meremas
picunya. Kulit pohon meledak di depan wajah si pembunuh dan ia mengayunkan
tangan ke mata, lalu menggeleng, mengerjapkan mata untuk memulihkan penglihatan.
"Bangun!" perintah Jason sambil mencengkeram leher pembunuh itu
dan memutarnya ke jalan setapak yang ia buat ketika menerobos sesemakan dan
berlari-lari turun ke lembah. "Kau ikut denganku!"
Rentetan petasan ketiga, lebih jauh di hutan, meledak dalam semburan cepat,
sahut-menyahut. Sheng Chou Yang menjerit histeris, memerintahkan para
pengikutnya mengejar ke dua arah ke sekitar pepohonan dan ke asal suara ?ledakan. Ledakan berhenti saat Bourne mendorong tawanannya ke sesemakan,
memerintahkan pembunuh itu berbaring diam, satu kaki Jason di tengkuknya. Bourne
berjongkok, meraba-raba tanah; ia mengambil tiga batu dan melemparkannya satu
demi satu melewati orang-orang yang mencari-cari di sekitar pohon, masing-masing
dilempar lebih jauh dari sebelumnya. Pengalih perhatian itu berhasil.
"Nati!" "Shu net!" "Bu! Caodi ner!"
Mereka mulai bergerak maju, senjata siap ditembakkan. Beberapa bergegas
mendului, terjun ke sesemakan. Yang lain menggabungkan diri pada saat rentetan
petasan keempat dan terakhir meledak. Meski jaraknya lebih jauh, suara
letusannya sama keras atau lebih keras daripada sebelumnya. Itu tahap terakhir,
klimaks pamerannya, lebih lama dan lebih menggemuruh dibandingkan ledakan-
ledakan yang tadi. Delta tahu waktunya sekarang dihitung dalam menit, dan kalau hutan pernah
menjadi temannya, sekaranglah saatnya. Dalam beberapa saat, mungkin beberapa
detik, orang-orang akan menemukan sisa-sisa petasan bertebaran di tanah dan
pengalih perhatian taktis itu akan terbongkar. Berikutnya akan ada perlombaan
histeris menuju gerbang. "Cepat!" perintah Bourne, sambil mencengkeram rambut si pembunuh bayaran,
menariknya berdiri, dan mendorongnya maju. "Ingat, keparat, tidak ada tipuan
yang kaupelajari yang belum kusempurnakan, dan itu mengkompensasi perbedaan usia
kita! Kalau memandang ke arah yang salah, kau akan mendapat dua lubang peluru
sebagai lubang mata. Cepat!"
Saat mereka menerobos jalan setapak di lembah berhutan itu, Bourne memasukkan
tangan ke saku dan mengeluarkan segenggam peluru. Sementara pembunuh bayaran itu
beriari di depannya, berusaha menggosok-gosok mata dan mengusap darah dari
pipinya, Jason mengeluarkan magasin dari pistol, memasukkan peluru, dan
mengembalikan magasin itu. Mendengar bunyi senjata dibongkar, Commando itu
berpaling tapi terlambat; pistol itu telah terpasang kembali. Bourne menembak,
melukai telinga si pembunuh. "Sudah kuperingatkan," katanya, napashya terdengar
keras tapi teratur. "Kau mau di mana" Di tengah-tengah dahimu?" Ia mengarahkan
pistol otomatis itu di depannya.
"Astaga, tukang jagal itu benar!" seru Commando Inggris itu sambil memegangi
telinganya. "Kau memang edan!" "Dan kau akan mati kalau tidak jalan. Lebih
cepatr Mereka tiba di mayat penjaga yang ditempatkan di jalan setapak sempit menuju
lembah yang dalam. "Belok kanan!" perintah Jason;
"Ke mana, demi Tuhan" Aku tidak bisa melihatr
"Ada jalan setapak. Kau bisa merasakannya. Cepatr
Begitu tiba di sederetan jalan tanah utama di lahan suaka itu, Bourne terus
menyodokkan pistol ke tulang punggung pembunuh bayaran tersebut, memaksanya
beriari lebih cepat, lebih cepat! Sejenak David Webb kembali, dan Delta
berayukur karenanya. Webb pelari, pelari tangguh, untuk alasan-alasan yang sudah
berlalu dalam waktu dan kenangan-kenangan menyiksa, dari Jason Bourne hingga
Medusa. Kaki yang memompa, keringat dan angin di wajah, membuat hidup sehari-
hari lebih mudah bagi David, dan Jason Bourne bemapas keras, tidak setenang
pembunuh bayaran yang lebih muda dan kuat itu.
Delta melihat cahaya di langit gerbang ada di ujung padang dan melewati tiga ?jalan setapak yang gelap dan berliku-liku. Tidak lebih dari setengah mil! Ia
menembak ke sela kaki-kaki si Commando. "Aku mau kau lari lebih cepat!" katanya,
mengendalikan suaranya, agar seolah-olah kerja keras ini hanya sedikit
berpengaruh terhadap dirinya.
"Astaga, aku tidak bisa! Napasku habis!"
"Cari lagi," perintah Jason.
Tiba-tiba, di kejauhan di belakang mereka, terdengar teriakan-teriakan histeris
orang-orang yang diperintah pemimpin maniak mereka untuk kembali ke gerbang,
menemukan dan membunuh penyusup yang begitu berbahaya hingga mengancam
keselamatan dan harta mereka. Kertas bergerigi sisa-sisa petasan sudah
ditemukan; radio diaktifkan tanpa ada jawaban dari pos jaga. Temukan orang itu!
Hentikan dia! Bunuh! "Kalau kau punya pikiran macam-macam, Major, lupakan saja!" teriak Bourne.
"Major?" kata Commando itu, hampir-hampir tak bisa bicara, sambil terus beriari.
"Kau sudah bukan rahasia lagi bagiku, dan yang kuketahui membuatku muak! Kau
menyaksikan d'Anjou mati seperti babi yang dibantai. Kau menyeringai, keparat."
"Ia ingin mati! Ia ingin membunuhku!"
"Aku akan membunuhmu kalau kau berhenti beriari. Tapi sebelum itu, akan
kucincang kau dari buah zakar hingga tenggorokan, begitu lam ban hingga kau
berharap sudah mati bersama orang yang menciptakanmu."
"Apa pilihanku" Kau tetap saja akan membunuhku!"
"Mungkin tidak. Pertimbangkanlah. Mungkin aku justru sedang menyelamatkan
nyawamu. Pikirkan itu!"
Si pembunuh bayaran beriari lebih cepat Mereka melesat melewati jalan setapak
gelap yang terakhir, beriari ke ruang terbuka dengan gerbang yang terang
benderang. "Areal parkir!" teriak Jason. "Ujung paling kanan!" Bourne berhenti. "Tahanl"
Pembunuh bayaran yang kebingungan itu berhenti di tempatnya. Jason mengeluarkan
senter kecilnya, lalu mengarahkan pistol otomatis. Sambil berjalan mendekati
pembunuh itu ia menembak lima kali, salah satunya luput. Lampu-lampu sorot
padam; areal gerbang gelap gulita, dan Bourne menjejalkan pistol ke pangkal
tengkorak Commando itu. Ia menghidupkan lampu senter, mengarahkannya ke wajah si
pembunuh bayaran. "Siruasi sudah diatasi, Major," katanya. "Operasi dilanjutkan.
Cepat, haram jadahF' Saat melesat menyeberangi areal parkir yang gelap, pembunuh bayaran itu
terhuyung jatuh, menelungkup 'di atas kerikil. Jason menembak dua kali dalam
cahaya suram lampu senter; peluru memantul menjauhi kepala Commando itu. Ia
berdiri dan terus beriari melewati mobil dan truk, ke ujung tempat parkir.
"Pagar!" desis Bourne keras. "Pergi ke sana." Di tepi areal berkerikil ia
kembali memberi perintah. "Merangkak lihat lurus ke depan! Kalau berbalik aku ?akan menjadi benda terakhir yang kaulihat. Merangkak!" Pembunuh bayaran itu tiba
di pagar yang terpotong. "Lewati lubang itu," kata Jason, sekali lagi tangannya
masuk ke saku untuk mengambil peluru dan diam-diam mencabut magasin pistolnya.
"Berhenti!" bisiknya sewaktu mantan Commando gila itu sedang merangkak. Ia
mengganti peluru dalam kegelapan dan memasukkan magasin ke gagang pistol.
"Sekadar berjaga-jaga kalau kau menghitung," katanya. "Sekarang terns merangkak
hingga dua langkah dari pagar. Cepat!"
Saat si pembunuh bayaran merangkak di bawah kawat yang terlipat, Bourne'
berjongkok dan menerobos lubang itu beberapa jengkal di belakangnya. Mengira
yang sebaliknya, Commando itu berbalik, berlutut. Ia langsung berhadapan dengan
sorotan lampu senter, yang menerangi senjata yang diarahkan ke kepalanya. "Aku
pasti juga berbuat begitu," kata Jason sambil berdiri. "Aku pasti berpikiran
begitu. Sekarang kembali ke pagar, tank bagian yang terlipat ke tempat semula.
Cepat!" Pembunuh itu mematuhi perintah Jason, berupaya keras menarik kawat itu turun.
Begitu mencapai tiga perempat, Bourne berbicara, "Sudah cukup. Berdiri dan
berjalanlah melewatiku dengan tangan menangkup di belakang punggung. Lurus ke
depan, gunakan bahumu untuk membuka jalan menerobos cabang-cabang. Senterku
terarah ke tanganmu. Kalau kaubuka tanganmu akan kubunuh kau. Jelas?" "Kaupikir
aku akan mengayunkan cabang ke wajahmu?" "Aku pasti berbuat begitu.v
"Mengerti.", Mereka tiba di jalan di depan gerbang yang gelap menakutkan. Teriakan-teriakan
di kejauhan terdengar jelas, kelompok terdepan semakin dekat. "Ke jalan," kata
Jason. "Lari!" Tiga menit kemudian ia meng -
426 hidupkan lampu senternya. "Berhenti!" teriaknya. 'Tumpukan dedaunan di sana itu,
kau bisa melihatnya?"
"Di mana?" tanya pembunuh bayaran yang kehabisan napas itu.
"Senter kuarahkan ke sana."
"Itu hanya ranting, bagian dari pohon pinus."
'Tarik ranting-ranting itu. Cepat.'"
Commando itu mulai melemparkan ranting-ranting ke samping, kemudian tampaklah
sedan Shanghai hitam. Sudah waktunya mengambil ransel. Bourne berbicara, "Ikuti
cahaya senterku, ke sebelah kiri tutup mesin."
"Ke mana?" "Ke pohon dengan bekas putih di batangnya. Lihat?" "Ya."
"Di bawahnya, sekitar delapan inci di depannya, ada tanah gembur. Di bawahnya
ada ransel. Gali." "Sok pakar kau ya?" "Memangnya kau tidak?"
Tanpa menjawab, pembunuh yang cemberut itu menggali tanah dan mengeluarkan
ransel. Sambil memegang tali ransel dengan tangan kanan, ia maju seakan-akan
hendak memberikan ransel itu pada penangkapnya. Lalu tiba-tiba ia mengayunkan
ransel itu diagonal ke atas, ke arah senjata dan senter Jason sambil menerjang
maju, jemari tangannya terbentang seperti cakar kucing yang murka.
Bourne sudah siap. Memang momen seperti itulah yang akan ia manfaatkan, tak
peduli sesingkat apa, karena dengan begitu ia akan' mendapatkan beberapa detik
yang dibutuhkannya untuk melarikan diri ke dalam kegelapan. Ia me langkah
mundur, menghantamkan pistol ke kepala pembunuh bayaran itu saat menghambur
melewatinya. Ia menghunjamkan lutut ke punggung si Commando yang menelungkup, menyambar
lengan kanannya sambil menggigit gagang lampu senter.
"Sudah kuperingatkan" kata Jason sambil menyentakkan lengan kanan pembunuh itu.
"Tapi aku juga membutuhkanya. Jadi aku tidak akan mencabut nyawamu, tapi kita
akan melakukan sedikit pembedahan dengan peluru." Ia menempelkan laras pistol
pada lengan pembunuh bayaran itu dan menarik picunya.
"Astaga!" jerit pembunuh itu saat letupan pelan terdengar dan darah menyembur.
'Tidak ada tulang yang patah," kata Delta. "Hanya jaringan otot, dan sekarang
kau bisa melupakan kemungkinan menggunakan lenganmu. Kau beruntung aku orang
yang penuh pengampunan. Di ransel ada perban, plester, dan desinfektan. Kau bisa
mengobati dirimu sendiri,. Major. Lalu kau akan mengemudi. Kau akan menjadi
sopirku di Republik Rakyat Cina. Aku akan ada di kursi belakang dengan pistol
terarah ke kepalamu, dan aku punya peta. Kalau jadi kau, aku tidak akan salah berbelok."
Dua belas anak buah Sheng Chou Yang berlari-larian ke gerbang, hanya empat yang
membawa senter. "Wei shemme" Cuo wu!"


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ma/an! Feng Kuang!" "You mad bing!" "Wei fan!"
Terdengar jeritan-jeritan memaki lampu sorot yang padam, menyalahkan segalanya
dan semua orang, dari ketidakefisienan hingga pengkhianatan. Pos jaga diperiksa;
sakelar-sakelar lampu dan telepon rupanya tak berfungsi, penjaga tak terlihat di
mana pun. Beberapa orang memeriksa lilitan rantai di kunci gerbang dan memberi
perintah yang lain. Karena tidak ada yang bisa keluar, begitu pikir mereka,
penyusup tadi pasti masih berada di areal suaka.
"Biao!" teriak orang yang menyamar sebagai sesama tawanan d'Anjou. "Quan bu zai
zheli!" jeritnya, menyuruh yang lain berbagi senter dan mencari di areal parkir,
hutan di sekitamya, dan rawa-rawa di baliknya. Para pemburu hu menyebar dengan
pistol terhunus, beriari menyeberangi areal parkir ke berbagai arah. Tujuh orang
lagi tiba, hanya satu yang membawa senter. Tawanan palsu tadi meminta senter
itu, lalu menjelaskan situasinya sambil membentuk kelompok pencari yang lain.
Ada yang keberatan, mengatakan satu senter saja tidak cukup. Dengan frustrasi
orang itu meneriakkkan umpatan, menyatakan semua orang bodoh kecuali dirinya
sendiri. Kobaran api suluh yang menari-nari semakin terang saat para sekongkol terakhir
tiba dari lembah, dipimpin sosok Sheng Chou Yang yang berderap, pedang
upacaranya terayun di sisi, dalam sarung yang bersabuk. Lilitan rantai itu
diperlihatkan dan tawanan palsu tadi menjelaskan siruasi padanya.
"Kau tidak berpikir jenrihv" kata Sheng jengkel. "Pendekatanmu kelim! Rantai itu
bukan dililitkan di sana oleb salah seorang dari kita untuk mencegah keluarnya
penjahat atau para penjahat. Sebaliknya, rantai itu dililitkan di sana oleh
penyusup atau para penyusup itu untuk menunda kita, menahan kita di dalam!"'Tapi
ada terlalu banyak halangan "?"Pelajari dan pikirkan!" teriak Sheng Chou Yang. "Apa aku harus mengulangi kata-
kataku" Orang-orang ini mampu bertahan hidup. Mereka tetap hidup dalam batalion
penjahat bemama Medusa karena mereka menyadarkan segala sesuatu! Mereka memanjat
keluar!" "Mustahil," protes orang yang lebih muda. "Pipa paling atas dan
panel kawat duri yang menjorok itu dialiri listrik, Sir..Beban lebih dari lima
belas kilogram akan mengaktifkannya. Itu sebabnya burung dan hewan tidak pernah
tersengat." "Kalau begitu-mereka menemukan sumber dayanya dan mematikannya!"
"Sakelar-sakelarnya ada di dalam, dan sedikitnya tujuh puluh lima meter dari
gerbang, terkubur dalam tanah. Bahkan aku sendiri tidak yakin di mana letaknya."
"Suruh orang naik," kata Sheng.
Anak buah itu memandang sekitamya. Enam meter jauhnya dua orang tengah bercakap-
cakap pelan, cepat, dan tak mungkin salah satu dari mereka mendengar percakapan
panas tadi. "Kau!" kata pemimpin muda itu, menunjuk orang di sebelah kiri.
"Sir?" "Panjat pagarnya!"
"Ya, Sir!" Anak buah rendahan itu beriari ke pagar dan melompat naik, tangannya
mencengkeram kawat telanjang yang silang menyilang, sementara kakinya di bawah
bekerja mati-matian. Ia tiba di pipa teratas dan hendak melewati gulungan kawat
duri. "Aiyaaa!"
Hujan statik yang sangat kuat menyertai semburan kilat listrik yang putih
kebiruan. Tubuhnya kaku, rambut dan alisnya hangus hingga ke akar, pemanjat itu
terjengkang, menghantam tanah seperti sebongkah batu pipih. Sorotan-sorotan
lampu senter menyatu. Laki-laki itu tewas.
"Truk!" teriak Sheng. "Benar-benar bodoh! Hidupkan mesin truk dan terjang
gerbangnya! Lakukan perintahku! Sekarang juga!"
Dua orang beriari ke areal parkir dan beberapa detik kemudian raungan mesin truk
yang kuat memenuhi udara malam. Persnelingnya berdesir saat gigi mundur
ditemukan. Truk berat itu tersentak ke belakang, seluruh rangkanya bergetar
hebat hingga kendaraan itu berhenti tiba-tiba. Roda-rodanya yang kempis berputar
kettcang, asap mengepul dari karetnya yang terbakar. Sheng Chou Yang menatap
dengari kepanikan dan kemurkaan yang menghebat.
"Yang lain!" pekiknya. "Hidupkan kendaraan yang lain! Semuanya
Satu demi satu mesin kendaraan dihidupkan, dan satu demi satu tersentak mundur,
berderak-derak dan mengerang, terbenam dalam kerikil, tidak mampu bergerak.
Dalam kepanikan, Sheng beriari ke gerbang, mencabut pistol, dan menembak lilitan
rantai itu dua kali. Seorang anak buah di sebelah kanannya menjerit, memegangi
keningnya yang berlumuran darah, jatuh ke tanah. Sheng menengadah ke langit yang
gelap dan melontarkan raungan buas penuh protes. Ia mencabut pedang upacaranya
dan menghantamkannya berulahg-ulang ke kunci gerbang yang dirantai. Usaha yang
sia-sia. Pedangnya patah. 28 ITU rumahnya, yang berdinding batu tinggi," kata Case Officer CIA
Matthew Richards sambil mengemudikan mobil mendaki bukit di Victoria Peak.
"Menurut informasi kami, marinir menjaga seluruh tempat itu, dan sebaiknya aku
tidak terlihat bersamamu."
"Kurasa kau ingin berutang beberapa dolar lagi padaku," kata Alex Conklin sambil
mencondongkan tubuh ke depan dan memandang dari balik kaca depan. "Bisa
dinegosiasikan." "Aku hanya tidak ingin terlihat, demi Tuhan! Dan aku tidak memiliki dolar."
"Matt yang miskin, Matt yang sedih. Kau terlalu harfiah dalam menerima
segalanya." "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Aku sendiri tidak yakin aku mengerti, tapi lewati saja rumah itu seakan-akan
kau menuju tempat lain. Akan kuberitahu kapan kau hams berhenti dan menurunkan
aku." "Sungguh?" "Dengan syarat Itulah dolamya." "Oh, sialan."
"Dolar hu tidak sulit diterima dan mungkin aku tidak akan menagihnya. Melihat
keadaannya sekarang aku ingin tetap tersembunyi. Dengan kata lain, aku ingin ada
orang di dalam. Akan kutelepon kau beberapa kali sehari untuk menanyakan apakah
janji makan siang atau makan malam masih berlaku, atau apakah aku akan bertemu
denganmu di Happy Valley Race "?"Jangan di sana" sela Richards.
"Baiklah, Museum Lilin apa pun yang terlintas dalam otakku, kecuali arena
?balap. Kalau kau mengatakan "Tidak, aku sibuk,' aku tahu belum ada yang
mendekatiku. Kalau kau mengatakan 'Ya,' aku akan segera pergi."
"Aku bahkan tidak tahu kau menginap di mana! Kau menyuruhku menjemputmu di
tikungan Granville dan Carnarvon."
430 "Menurut tebakanku, unitmu akan dipanggil untuk meluruskan masalah dan
menempatkan tanggung jawab di posisinya. Inggris akan berkeras mengenai hal itu.
Mereka tidak mau jatuh sendirian kalau D.C. mengacaukannya. Ini saat-saat yang
peka bagi Inggris di sini, jadi mereka akan melindungi pantat kolonial mereka."
Mereka melewati gerbang. Conklin mengalihkan pandangan dan mempelajari pintu
masuk besar bergaya Victoria itu.
"Aku bersumpah, Alex, aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Itu lebih baik lagi. Kau setuju" Kau jadi orangku di dalam?"
"Hell, ya. Aku lebih suka tidak berurusan dengan Marinir."
"Baik. Berhenti di sini. Aku akan turun dan jalan kaki kembali. Sejauh yang
diketahui orang, aku naik trem ke Peak, diantar taksi ke rumah yang salah, dan
kembali ke tujuanku yang benar, hanya enam puluh meter jauhnya. Kau senang,
Matt?" "Sangat," kata petugas kasus itu sambil menginjak rem.
"Tidurlah dengan nyenyak malam ini. Sudah lama sekali sejak Saigon, dan semakin
tua, semakin banyak istirahat yang kita butuhkan."
"Kudengar kau jadi pemabuk. Tidak benar, kan?"
"Kau mendengar apa yang kami ingin kaudengar," jawab Conklin datar. Tapi, kali
irii, ia mampu menyilangkan jemari tangannya sebelum turun dengan susah payah
dari mobil. Ketukan singkat, dan pintu terbuka. Dengan terkejut, Havilland menengadah
menatap Edward McAllister, wajahnya pucat pasi, bergegas masuk ke ruangan.
"Conklin ada di gerbang," kata menteri muda itu. "Ia menuntut bertemu denganmu
dan katanya akan tetap di sana semalaman kalau perlu. Ia juga mengatakan kalau
udara bertambah dingin, ia akan menyalakan api di jalan agar tetap hangat."
"Timpang atau tidak, ia belum kehilangan kemampuannya," kata Ambassador.
"Sama sekali tak terduga," lanjut McAllister sambil memijat-mijat pelipis
kanannya. "Kita tidak siap menghadapi konfrontasi."
"Tampaknya kita tidak punya pilihan. Di luar sana itu jalan umum, dan jadi
urusan Departemen Pemadam Kebakaran koloni kalau ada tetangga kita yang terkejut
karenanya." "Tentunya ia tidak akan "?"Tentu ia akan berbuat begitu," sela Havilland. "Izinkan ia masuk. Ini bukan
hanya tak terduga, tapi luar biasa. Ia tidak punya waktu untuk menyusun fakta
atau mengorganisir serangan yang menguntungkannya. Ia terang-terangan
mengungkapkan keterlibatannya, dan mengingat latar belakangnya dalam bidang
operasi rahasia, ia tidak akan tanggung-
tanggung melakukannya. ini terlalu berbahaya. Ia, ia sendiri, pernah memberi.
perintah sudah-tak-bisa-diselamatkan-lagi."
"Kita bisa menganggap ia sudah mengadakan kontak dengan wanita itu," menten muda
itu memprotes, sambil melangkah ke telepon di meja Ambassador. "Dengan begitu ia
sudah mendapatkan semua fakta yang dibutuhkannya!"
'Tidak, tidak. Mrs. Webb belum tahu."
"Dan kau," kata McAllister, tangannya menyentuh telepon. "Dari mana ia tahu
harus menemuimu?" Havilland tersenyum muram. "Ia hanya perlu mendengar bahwa aku ada di Hong Kong.
Lagi pula, kami pernah berbicara, dan aku yakin ia sudah memikirkan semuanya."
'Tapi rumah ini?" "Ia tidak akan pernah membongkar rahasia' kita. Conklin pakar Timur Jauh sejak
lama, Mr. Undersecretary, dan ia memiliki kontak-kontak yang tidak kita ketahui.
Dan kita tidak akan tahu apa yang membawanya kemari kecuali ia dipersilakan
masuk, bukan?" "Benar." McAllister mengangkat telepon, menekan tiga angka. "Petugas raga"....
Izinkan Mr. Conklin masuk, geledah kalau-kalau ia membawa senjata. dan kawal
sendiri ke kantor Bangsal Timur.... Ia apa"... Surah ia ;uk secepataya dan bereskan
ulahnya itu.'"; Apa yang terjadi?" tanya Havilland saat McAllister menutup telepon.
"Ia menyalakan api di sisi seberang jalan."
Alexander Conklin tertatih-tatih memasuki ruangan bergaya Victoria yang
berdekorasi meriah itu sementara marinir yang bertugas jaga menutup intu.
Havilland beranjak dari kursi dan mengitari meja, tangannya lulur..
KMr. Conklin?" rahan saja tanganmu, Mr. Ambassador. Aku tidak ingin ketularan."
"Aku mengerti. Kemarahan mengalahkan kesopanan?"
'Tidak, aku benar-benar tidak ingin ketularan apa pun. Seperti kata mereka di
sini, kau membawa nasib buruk. Kau membawa sesuatu. Kurasa penyakit." "Dan
penyakit apa itu?" "Maut."
"Begitu meiodramatis" Ayolah, Mr. Conklin, kau bisa lebih baik daripada itu."
Tidak, aku serius. Kurang dari dua puluh menit yang lalu aku melihat seseorang
terbunuh, dibantai di jalan dengan empat puluh atau lima puluh butir peluru di
tubuhnya. Wanita itu dhembak hingga meng -
432 hantam kaca pintu gedung apartemennya, sopimya ditembak di mobil. , Tempat itu
benar-benar kacau, darah dan kaca ada di mana-mana "?Mata Havilland membelalak, tapi suara histeris McAllister-lah yang menghentikan
orang CIA itu. "Wanita" Wanita" Apakah wanita itu?"
"Seorang wanita," kata Conklin, berpaling memandang si menteri muda, yang
kehadirannya belum diakuinya. "Kau McAllister?"
"Ya." "Aku juga tidak ingin menjabat tanganmu. Wanita itu terlibat dengan kalian."
"Istri Webb tewas?" teriak McAllister, seluruh tubuhnya terasa lumpuh. 'Tidak,
tapi trims untuk konfirmasinya."
"Astaga!" seru duta besar untuk kegiatan rahasia Kementerian Luar Negeri itu.
"Staples. Catherine Staples!"
"Beri orang ini cerutu yang bisa meledak. Dan trims lagi untuk konfirmasi kedua.
Apakah kau punya rencana makan malam dengan Komisaris Tinggi Konsulat Kanada
tidak lama lagi" Aku senang bisa nadir sekadar melihat cara kerja Ambassador
?Havilland yang terkenal. Gosh and golly, aku berani taruhan orang-orang rendahan
seperti kami bisa belajar banyak sekali."
"Tutup mulutmu, kau keparat toloir teriak Havilland, sambil menuju belakang meja
dan mengempaskan diri ke kursinya; ia bersandar, matanya terpejam.
"Itu satu hal yang tidak akan kulakukan," kata Conklin sambil melangkah maju,
kaki palsunya mengentak lantai. "Kau bertanggung jawab... Sirr Orang CIA itu
mencondongkatt tubuh ke depan, mencengkeram tepi meja. "Sama seperti kau
bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada David dan Marie Webb! Kaupikir kau
ini siapa" Dan kalau bahasaku menyinggung perasaanmu, Sir, cari derivatifnya.
Istilah itu berasal dari istilah pada Abad Pertengahan yang berarti menanam
benih di tanah, dan dalam satu cara itulah keahlianmu! Hanya saja dalam kasusmu,
benih-benih itu busuk kau menggali tanah bersih dan mengubahnya menjadi sampah.
?Benih-benihmu adalah kebohongan dan penipuan. Benih-benihmu tumbuh di dalam diri
manusia, mengubah mereka menjadi boneka yang marah dan ketakutan, menari-nari,
tergantung di talimu sesuai skenario terkutuk/ww/ Kuulangi, kau haram jadah
aristokrat, kaupikir kau ini siapa?"
Havilland setengah membuka kelopak matanya yang tebal dan menyandar ke depan.
Ekspresinya seperti orang tua yang bersedia mati asal penderitaannya berakhir.
Tapi mata yang sama juga tampak hidup dengan kemurkaan dingin yang melihat hal-
hal yang tak bisa dilihat orang lain. "Apakah sesuai dengan argumentasimu kalau
kukatakan Catherine Staples mengatakan pendapat yang pada intinya sama?"
"Sesuai dan melengkapinya!"
433 "Sekalipun begitu ia tewas terbunuh karena bergabung dengan kam Ia tidak suka
melakukannya, tapi menurut peniiaiannya tidak ada alternatif lain." "Boneket
yang lain?" "Bukan. Manusia dengan otak kelas satu dan pengalaman yang me mahami apa yang
kita hadapi. Aku berduka atas kepergiannya dan caranya menemui aja! lebih ? ?daripada yang bisa kaubayangkan." "Kepergiannya, Sir, atau fakta bahwa operasi
sucimu sudah disusitpi?" "Berani-beraninya kau?" Havilland, suaranya pelan dan
dingin, bangkit dari kursi dan menatap orang CIA itu. "Sudah agak terlambat
bagimu untuk berkotbah tentang moral, Mr. Conklin. Kealpaanmu sendiri terlalu
mencolok dalam hal penipuan dan etika. Kalau rencanamu berhasil, tidak akan ada
David Webb, tidak ada Jason Bourne. Kau yang memposisikan dirinya sebagai tak-
bisa-diselamatkan-lagi, bukan orang lain. Kau yang merencanakan eksekusi atas
dirinya dan hampir saja berhasil."
"Aku sudah membayar untuk kealpaan itu. Demi Tuhan, aku sudah membayarnya!"
"Dan kurasa kau masih membayarnya, kalau tidak kau tidak akan berada di Hong
Kong sekarang," kata Ambassador sambil mengangguk perlahan-lahan, suaranya
melembut. 'Turunkan meriamrnu, Mr. Conklin, dan aku juga akan berbuat begitu.
Catherine Staples benar-benar memahami, dan kaJau ada arti dalam kematiannya,
mari kita coba menemukannya."
"Aku sama sekali tidak tahu harus mulai mencari dari mana." "Kau akan diberitahu
selengkapnya... sama seperti Staples." "Mungkin sebaiknya aku tidak mendengarnya."
"Aku tidak memiliki pilihan kecuali berkeras memaksamu." "Kurasa kau tidak.
mendengarkan. Kau telah disusupi! Staples itu dibunub karena dianggap memiliki
informasi yang mengharuskan dirinya disingkirkan. Pendeknya, mata-mata yang
telah berhasil menembus kemari melihat wanita itu dalam pertemuan atau beberapa
pertemuan dengan kalian. Kaitan Kana4a ditarik, perintah diberikan, dan kau
membiarkannya berkeliaran tanpa perlindungan!" "Kau mengkhawatirkan
keselamatanmu?" tanya Ambassador. "Selalu," jawab orang CIA itu. "Dan sekarang
ini aku juga mengkhawatirkan keselamatan orang lain lagi." "Webb?"
Conklin diam sejenak, mempelajari wajah diplomat tua itu. "Kalau yang kupercayai
benar," katanya pelan, "aku tak perlu melakukan untuk Delta apa yang tak bisa
dUakukannya sendiri dengan lebih baik. Tapi kalau ia tidak berhasil
melakukannya, aku tahu.apa yang akan dimintanya dariku. Melindungi Marie. Dan
aku bisa melakukannya dengan melawan, bukan dengan mendengarkanmu."
"Dan bagaimana caramu melawanku?"
"Dengan satu-satunya cara yang kuketahui. Habis-habisan dan sangat kotor. Akan
kusebarkan berita di semua sudut gelap Washington bahwa kali ini kau melampaui
batas, kau kehilangan kendaH, bahkan agak gila mengingat usiamu. Aku sudah
dengar cerita Marie, Mo Panov "
?"Morris Panov?" sela Havilland hati-hati. "Psikiater Webb?"
"Kau dapat cerutu lagi. Dan, yang paling akhir, kontribusiku sendiri. Kebetulan,
sekadar untuk membangkitkan ingatanmu, aku satu-satunya yang bicara dengan David
sebelum ia datang kemari. Semuanya, termasuk pembantaian pejabat dinas asing
Kanada, akan menjadi bacaan yang menarik sebagai affidavit, dibagikan dengan
?hati-hati, tentu saja."
"Dengan begitu kau membahayakan segalanya."
"Itu masalahmu, bukan masalahku."
"Kalau begitu, sekali lagi, aku tidak punya pilihan lain," kata duta besar itu,
mata dan suaranya kembali sedingin es. "Seperti kau pernah mengeluarkan perintah
sudah-tak-bisa-diselamatkan-lagi, aku akan terpaksa berbuat sama. Kau tidak akan


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pergi dari sini dalam keadaan hidup."
"Oh Tuhan!" bisik McAllister dari seberang ruangan.
"Itu tindakan terbodoh yang bisa kaulakukan," kata Conklin, pandangannya beradu
dengan Havilland. "Kau tidak tahu apa yang kutinggalkan di belakangku atau
dengan siapa. Atau apa yang akan tersebar seandainya aku tidak mengadakan kontak
pada waktu tertentu dengan orang tertentu dan sebagainya. Jangan meremehkan
diriku." "Kami sudah menduga kau akan mengandalkan taktik seperti itu," kata diplomat itu
sambil berjalan menjauhi si orang CIA seakan-akan menyepelekannya, dan kembali
ke kursi. "Kau juga meninggalkan hal lain di belakangmu, Mr. Conklin. Secara
halus, mungkin akurat, kau dikenal menderita penyakit kronis bemama alkoholisme.
Menjelang pen-siunmu yang sudah dekat, dan sebagai pengakuan atas prestasimu di
masa lalu, tidak ada tindakan-tindakan disipliner yang diambil, tapi kau juga
tidak diberi tanggung jawab. Kau hanya ditolerir, relik tak berguna yang akan
segera dikubur, pemabuk dengan ledakan-ledakan paranoia yang menjadi bahan
pembicaraan dan keprihatinan para kolegamu. Apa pun yang muncul dari sumber mana
pun akan dikategorikan dan diperkuat sebagai ocehan tak jelas pencandu alkohol
yang cacat dan psikopat" Ambassador bersandar ke kursi, sikunya bertumpu pada
lengan kursi, jemari panjang tangan kanannya menyentuh dagu. "Kau harus
dikasihani, Mr. Conklin, bukan diberi teguran. Kejadian yang terjadi belakangan
mungkin akan didramatisir dengan bunuh diri "?"Havilland!" seru McAllister, tertegun.
'Tenang, Mr. Undersecretary," kata diplomat itu. "Mr. Conklin dan aku sama-sama
tahu dari mana kami berasaj. Kami pernah mengalaminya"
435 "Ada bedanya," Conklin memprotes, tatapannya tak pernah teralih dari mata
Havilland. "Aku tidak pernah menikmati permainan ini."
"Menurutmu aku senang?" Telepon bordering. Havilland tersentak maju, menyambar
gagangnya. "Ya?" Duta besar itu mendengarkan, mengerutkan kening, menatap
jendela besar yang gelap. "Kalau aku tidak terdengar kaget, Major, itu karena
beritanya sudah kudengar beberapa menit yang lalu.... Tidak, bukan polisi tapi
seseorang yang aku ingin kautemui malam ini. Katakanlah, dua jam lagi, apa bisa"
... Ya, ia salah seorang dari kita sekarang." Havilland menengadah memandang
Conklin. "Ada yang mengatakan ia lebih baik daripada sebagian besar di antara
kita, dan aku berani mengatakan prestasi dinasnya di masa lalu mendukung
pendapat itu.... Ya, dialah orangnya.... Ya, akan kuberitahukan padanya.... Apa" Apa
katamu?" Diplomat itu sekali lagi memandang jendela besar, kerutan di keningnya
semakin dalam. "Mereka menyembunyikan diri dengan cepat, bukan" Dua jam, Major."
Havilland menutup telepon, kedua siku di meja, tangan saling menangkup. Ia
menghela napas dalam, pria tua kelelahan yang berusaha menyatukan pemikirannya,
hendak bicara. "Namanya Lin Wenzu," kata Conklin, mengejutkan Havilland dan McAllister. "Ia CI
Kerajaan, yang berarti berorientasi pada Mi-Six, mungkin Cabang Khusus. Ia
menjalani pendidikan Cina dan Inggris, dan dianggap petugas intelijen terbaik di
wilayah ini. Hanya ukuran tubuhnya yang tidak menguntungkan. Ia mudah dikenali."
"Dari mana ?" McAllister maju selangkah mendekati orang CIA itu.
?"Burung kecil, Cock Robin," kata Conklin.
"Kurasa burung cardinal berambut merah," kata diplomat itu.
'Tidak lagi," jawab Alex.
"Aku mengerti." Havilland melepaskan tangannya, menurunkan lengan di meja. "Ia
juga tahu siapa dirimu."
"Sudah seharusnya. Ia bagian dari kelompok di stasiun Kowloon."
"Ia memintaku mengucapkan selamat padamu, memberitahukan bahwa atlet Olimpiade-
mu berhasil mengalahkan mereka. Ia berhasil lolos."
"Ia pandai." "Ia tahu di mana harus mencari atlet itu tapi tidak mau membuang-buang
waktunya." "Lebih pandai lagi. Membuang-buang waktu tetap saja membuang-buang waktu. Ada
hal lain yang dikatalcannya padamu, dan karena aku tanpa sengaja mendengarmu
menyanjung masa laluku, apa kau bersedia memberitahukan apa yang dikatakkn Lin
Wenzu padamu?" "Kau mau mendengarkan aku kalau begitu?"
"Atau dibawa keluar dalam peti" Atau peti-peti" Apa pilihannya?" "Ya, ada ?benarnya," kata diplomat itu. "Aku harus melakukannya, kau tahu."
"Aku tahu kau tahu, Herr General." "Itu menyinggung perasaan." "Kau juga. Apa
yang dikatakan mayor itu padamu?" "Sekelompok teroris dari Macao menghubungi
South Cina News Agency dan mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Hanya
saja, kata mereka wanita itu kekeliruan, sopirnyalah yang jadi sasaran. Penduduk
asli yang menjadi anggota dinas rahasia Inggris yang dibenci, menembak mati
salah seorang pemimpin mereka di pantai Wanchai dua minggu yang lalu. Informasi
itu benar. Ia adalah periindungan yang kami tugaskan untuk Catherine Staples."
"Itu bohong!" teriak Conklin. "Wanita itulah sasarannya!" "Kata Lin, buang-buang
waktu saja kalau kita memburu sumber palsu." "Kalau begitu ia tahu?" "Bahwa kami
sudah disusupi?" "Memangnya apa lagi?" seru orang CIA yang jengkel itu.
"Ia Zhongguo ren yang bangga dan memiliki otak cemerlang. la tidak menyukai
kegagalan dalam bentuk apa pun, terutama sekarang. Kurasa ia sudah memulai
perburuannya.... Duduklah, Mr. Conklin. Ada yang harus kita bicarakan."
"Aku tidak percaya ini!" jerit McAllister emosional. "Kalian membicarakan
pembunuhan, membicarakan sasaran-sasaran, mengenai tidak-bisa.-diselamatkan-...
mengenai bunuh diri yang direkayasa korbannya di sini, membicarakan kematiannya
?sendiri seakan-akan kalian sedang mendiskusikan saham Dow-Jones atau menu
?restoran! Orang-orang macam apa kalian ini?"
"Sudah kukatakan padamu, Mr. Undersecretary," kata Havilland lembut "Orang-orang
yang melakukan apa yang tidak mau dilakukan orang lain, atau tidak bisa, atau
seharusnya tidak mereka lakukan. Tidak ada tempat misterius ataujahat tempat
kami dididik, tidak ada dorongan semangat untuk menghancurkan. Kami hanyut ke
bidang ini karena ada kekosongan yang harus diisi dan kandidatnya hanya sedikit.
Kurasa semuanya agak kebetulan. Dan setelah berulang-ulang kau akan tahu apakah
kau punya nyali untuk ini karena memang harus ada yang punya nyali. Kau setuju,
?Mr. Conklin?" "Ini membuang-buang waktu."
"Tidak," sahut diplomat itu. "Jelaskan pada Mr. McAllister. Percayalah, ia
berbarga dan kita membutuhkan dirinya. Ia harus memahami kita."
Conklin memandang menteri muda urusan luar negeri itu, ekspresinya tanpa
simpati. "Ia tidak membutuhkan penjelasan apa pun dariku, ia analis. Ia melihat
semuanya sejelas kita, kalau bukan mat ah lebih jelas lagi. Ia tahu apa yang
terjadi di dalam terowongan, ia hanya tidak ingin mengakuinya, dan cara paling
mudah untuk menjauhkan diri adalah
dengan pura-pura kaget. Berhati-hatilah terhadap intelektual yang sole, pada
tahap mana pun di bidang ini. Mereka menyumbangkan otak mereka tapi mengumbar
tuduhan palsu. Ia seperti ulama di rumah bordil yang mengumpulkan bahan untuk
kotbah yang akan ditulisnya sewaktu ia pulang dan bermain-main dengan dirinya
sendiri." "Ucapanmu tadi benar," kata McAllister, berbalik menuju pintu. "Ini membuang-
buang waktu." "Edward?" Havilland, jelas marah terhadap orang CIA timpang itu, memanggil
menteri muda itu dengan simpatik. "Kita tidak selalu bisa memilih dengan siapa
kita bekerja sama, dan itulah yang terjadi sekarang."
"Aku mengerti," kata McAllister dingin.
"Selidiki semua orang dalam staf Lin," lanjut duta besar itu. "Tidak mungkin ada
lebih dari sepuluh atau dua belas orang yang tahu tentang kita. Bantu dia. Dia
temanmu." "Benar," kata sang menteri muda, sambil keluar dari pintu.
"Apakah itu perlu?" sergah Havilland sewaktu ia dan Conklin tinggal berdua.
"Ya. Kalau kau tidak bisa meyakinkanku bahwa apa yang kaulakukan merupakan satu-
satunya jalan yang bisa diambil yang sangat kuragukan atau kalau aku tidak ? ?bisa menemukan pilihan yang memberikan kesempatan hidup pada Marie dan David,
dan tetap waras, aku akan terpaksa bekerja bersamamu. Alternatif tak-bisa-
diselamatkan-rlagi sudah tidak bisa diterima atas beberapa dasar, tapi juga
karena aku berutang budi pada pasangan Webb. Apa kita setuju sejauh ini?" "Kita
kerja sama, dengan satu atau lain cara. Skak mat." "Mengingat realitanya, aku
menginginkan haram jadah itu, McAllister, si kelinci itu, untuk tahu dari mana
asalku. Ia tenggelam sama dalamnya seperti kita semua, dan sisi intelektualnya
sebaiknya turun ke lapangan kotor dan menemukan setiap alasan serta kemungkinan.
Aku ingin tahu siapa yang seharusnya kita bunuh bahkan mereka yang nilai
?kepentmgannya rendah untuk mengurangi kerugian dan mengeluarkan suami-istri
?Webb. Aku ingin ia tahu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwanya adalah
menguburnya dengan prestasi. Kalau kita gagal, ia gagal, dan ia tidak bisa
kembali mengajar sekolah minggu." "Kau terlalu kasar padanya. Ia analis, bukan
algojo." "Menurutmu dari mana algojo mendapatkan masukari" Dari mana kita
mendapatkan masukan" Dari Siapa" Komite pengawas Kongres?"
"Skak mat, sekali lagi. Kau memang sebagus kata orang. la menemukan terobosan-
terobosan. Itu sebabnya ia berada di sini."
"Bicaralah padaku, Sir," kata Conklin, duduk di kursi, punggungnya lurus, kaki
palsunya miring dengan kikuk. "Aku ingin mendengar ceritamu."
"Pertama-tama, wanita itu. Istri Webb. Ia baik-baik saja" Ia aman?"
"Jawaban untuk pertanyaan pertamamu begitu jelas hingga aku heran kau
menanyakannya. Tidak, ia tidak baik-baik saja. Suammya hilang dan ia tidak tahu
suaminya masih hidup atau sudah tewas. Sedangkan untuk pertanyaan kedua, ya, ia
aman. Bersamaku, bukan bersamamu. Aku bisa memindahkan kami ke mana-mana dan aku
mengenal daerah ini. Kau harus tetap berada di sini."
"Kami putus asa," diplomat itu memohon. "Kami membutuhkan wanita itu!"
"Kau juga sudah disusupi, tampaknya kau masih belum benar-benar memahaminya. Aku
tidak mau menghadapkan Marie pada masalah itu." "Rumah ini seperti benteng!"
'Yang dibutuhkan hanyalah satu koki busuk di dapur. Satu orang gila di tangga."
"Conklin, dengarkan aku! Kami mendapat informasi dari tempat pemeriksaan
paspor semuanya cocok. Itu dia, kami tahu. Webb ada di Peking. Sekarang ini! Ia?tidak akan pergi ke sana kalau tidak mengejar sasarannya satu-satunya sasaran.
?Kalau entah bagaimana, hanya Tuhan yang tahu, Delta-mu itu keluar membawa
barangnya dan istrinya tidak berada di tempat, ia akan membunuh satu-satunya
koneksi yang harus kami miliki! Tanpa itu kami kalah. Kita semua kalah."
"Jadi begitu skenarionya sejak awal. Reductio ad absurdum. Jason Bourne memburu
Jason Bourne." "Ya. Sangat sederhana, tapi tanpa komplikasi yang bereskalasi ia tidak akan
pernah setuju. Ia akan tetap berada di rumah tua di Maine itu, mempelajari
makalah-makalahnya. Kami tidak akan mendapatkan pemburu kami."
"Kau memang benar-benar keparat," kata Conklin dengan lambat, pelan, kekaguman
terdengar dalam suaranya. "Dan kau yakin ia masih bisa melakukannya" Menangani
Asia yang sekarang seperti yang dilakukannya bertahun-tahun yang lalu sebagai
Delta?" "Ia menjalani pemeriksaan fisik setiap tiga bulan, bagian dari program
perlindungan pemerintah. Ia dalam kondisi sangat bagus ada kaitannya dengan
?kegiatan lari yang mirip obsesi, kalau aku tidak salah."
"Mulai dari awal." Orang CIA itu memantapkan posisi duduknya di kursi. "Aku
ingin mendengarnya langkah demi langkah karena kupikir isu-isu itu benar. Aku
sedang berhadapan dengan pakar keparat."
"Tidak bisa disebut begitu, Mr. Conklin," kata Havilland. "Kita semua meraba-
raba. Tentu saja, aku mengharapkan komentarmu." "Kau akan mendapatkannya.
Silakan." "Baiklah. Akan kumulai dengan nama yang aku yakin kaukenali. Sheng Chou Yang.
Ada komentar?" "Ia negosiator tangguh, dan kurasa di balik penampilan ramahnya
ada batang besi kaku. Sekalipun begitu, ia salah satu orang paling logis di Peking.
Seharusnya ada seribu orang seperti dirinya."
"Kalau ada, kemungkinan terjadinya holocaust Timur Jauh akan seribu kali lebih
besar." Lin Wenzu meninju meja, menggetarkan sembilan foto di hadapannya dan menyebabkan
ringkasan dosir terlompat dari permukaan meja. Yang mana" Yang mana orangnya"
Masing-masing telah diperiksa London, latar belakang masing-masing diperiksa,
diperiksa, dan diperiksa lagi; tidak boleh ada kesalahan. Mereka bukan sekadar
Zhongguo ren berpendidikan baik yang dipilih melalui eliminasi birokrat, tapi
produk dari pencarian teliti otak-otak paling cerdas di pemerintahan dan dalam
?beberapa kasus di luar pemerintahan yang mungkin bisa direkmt ke dalam dinas
?paling peka ini. Menurut Lin persyaratan itu harus ditulis besar-besar di
dinding mungkin di Tembok Besar dan pasukan intelijen khusus yang unggul dan
? ?dikelola orang-orang koloni sendiri bisa jadi merupakan garis pertahanan pertama
sebelum 1997, dan, dalam hubungannya dengan pengambilalihan, merupakan garis
perlawanan kohesif. Inggris harus menyerahkan kepemimpinan bidang operasi
intelijen rahasia karena alasan yang jelas sekaligus tidak menyenangkan bagi
London; orang Barat tidak akan pernah bisa memahami keunikan cara berpikir
Oriental, dan sekarang bukan waktunya untuk memberikan informasi yang
menyesatkan atau kurang dievaluasi dengan baik. London harus tahu Barat harus
?tahu dengan tepat situasinya... demi Hong Kong, demi seluruh Timur Jauh.
?Bukannya Lin yakin satuan tugas pengumpul intelijennya yang semakin besar
merupakan faktor penting bagi pengambilan kebijakan; tidak begitu. Tapi ia
percaya sepenuhnya kalau koloni ini harus memiliki Cabang Khusus, lembaga itu
harus dikelola oleh mereka yang bisa melakukan pekerjaan ini dengan sebaik
mungkin, dan itu tidak termasuk veteran tak peduli secemerlang apa pun dari ? ?dinas rahasia Eropa yang ber-orierrtasi pada Inggris. Sebagai permulaan, mereka
semua tampak mirip dan tidak sesuai dengan lingkungan maupun bahasanya.
Sesudah bekerja dan membuktikan diri selama bertahun-tahun, Lin Wenzu dipanggil
ke London dan selama tiga hari dicecar habis-habisan oleh para spesialis
intelijen Timur Jauh yang tidak banyak 'senyum. Tapi pada pagi hari keempat,
senyum itu muncul bersama rekomendasi agar Major Lin ditugaskan memimpih cabang
Hong Kong dengan kewenangan luas. Dan selama beberapa tahun sejak itu ia tahu ia
telah membuktikan diri. Ia juga tahu bahwa sekarang, dalam operasi paling vital
sepanjang kehidupan profesional dan pribadinya, ia telah gagal. Ada 38 petugas
Cabang Khusus di bawah komandonya, dan ia telah memilih sembilan-~sembilan orang
yang dipilihnya sendiri untuk menjadi bagian dari operasi yang luar biasa dan
?gila ini. Kedengarannya gila hingga ia mendengar penjelasan yang luar biasa dari
Ambassador. Kesembilan orang itu pilihan paling istimewa dari ke-38 anggota
satuan tugas, masing-masing mampu mengemban pimpinan kalau pemimpin mereka
tersingkir; ia sudah menulis begitu dalam laporan evaluasi mereka. Dan ia telah
gagal. Salah satu dari kesembilan orang yang dipilihnya sendiri adalah
pengkhianat. Tidak ada gunanya mempelajari kembali dosir mereka. Apa pun ketidakkonsistenan
yang mungkin ditemukannya akan makan waktu terlalu lama, karena hal-hal
itu atau hal itu telah berhasil lolos dari pandangannya yang berpengalaman,
? ?juga pandangan orang-orang di London. Tidak ada waktu untuk analisis rumit,
eksplorasi yang teramat lamban dalam kehidupan sembilan orang ini. Ia hanya
memiliki satu pilihan. Serangan frontal terhadap setiap orang, dan kata "front"
memainkan peran intrinsik dalam rencananya. Kalau ia bisa memainkan peran
sebagai taipan, ia bisa memainkan peran sebagai pengkhianat. Ia sadar rencananya
penuh risiko risiko yang tidak akan ditolerir London maupun orang Amerika itu,
?Havilland. Tapi risiko ini harus diambilnya. Kalau ia gagal, Sheng Chou Yang
akan menyadari ada perang rahasia menentang dirinya dan langkah-langkah
balasannya bisa menimbulkan bencana. Tapi Lin Wenzu tidak berniat gagal. Kalau
kegagalan sudah tertera di. angin utara, tidak ada hal lain yang penting,
apalagi nyawanya sendiri.
Major meraih telepon. Ia menekan tombol di panel untuk menghubungi operator
radio di pusat komunikasi terkomputerisasi MI6, Cabang Khusus. "Ya, Sir?" kata
seseorang di ruang putih yang steril itu. "Siapa Capung yang masih bertugas?"
tanya Lin, menyebut nama unit elite sembilan orang yang melapor tapi tidak pemah
memberi penjelasan. "Dua, Sir. Di kendaraan tiga dan tujuh, tapi saya bisa memanggil yang lain dalam
beberapa menit. Lima sudah melapor-Hnereka di rumah dan dua sisanya
?meninggalkan nomor telepon. Satu di Pagoda Cinema hingga pukul setengah dua
belas, saat ia pulang ke apartemennya, tapi bisa dihubungi melalui radio panggil
sebelum itu. Yang lain ada di Yacht Club di Aberdeen bersama istri dan kehiarga
istrinya. Istrinya Inggris, Anda tahu."
Lin tertawa pelan. "Tidak ragu lagi menagihkan kuitansi kehiarga Inggris itu ke
anggaran dari London yang sangat tidak mencukupi."
"Apakah itu mungkin, Major" Kalau bisa begitu, Anda bersedia mempertimbangkan
saya sebagai Capung, apa pun itu?" "Jangan kurang ajar." "Maaf, Sir "
?"Aku hanya bergurau, anak muda. Minggu depan aku sendiri, yang akan mengajakmu
makan malam yang lezat. Pekerjaanmu bagus dan aku mengandalkanmu."
"Terima kasih, Sir!"
"Aku yang seharusnya berterima kasih." "Apakah sebaiknya Capung saya siagakan?"
Jaka Lola 14 Bende Mataram Karya Herman Pratikto Sumur Kematian 3
^