Pencarian

Bourne Supremacy 6

The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum Bagian 6


sekarang." "Trims. Tapi harus kuberitahu, kalau kau membohongiku, akan kucari kau.
Percayalah." "Kalau begitu kebohongannya bukan dariku dan uangnya akan dikembalikan."
"Kau berlebihan."
"Kau sudah mengalahkan aku. Aku harus menjaga kehormatan dalam segala hal."
Bourne merangkak perlahan-lahan, begitu perlahan, menyeberangi bentangan
rerumputan tinggi yang dipenuhi bunga rumput setajam jarum, sambii mencabutinya
dari leher dan dahi, bersyukur memakai jaket nilon yang mampu mengatasinya.
Secara instingtif ia mengetahui apa yang tidak diketahui pemandunya, kenapa ia
tidak ingin orang Cina itu ikut bersamanya. Padang dengan rerumputan tinggi
merupakan tempat paling logjs untuk menempatkan patroli; bilah-bilah rumputaya
bergerak kalau ada penyusup bergerak di sela-selanya. Oleh karena itu orang
harus mengamati goyangan rerumputan dari tanah dan bergerak maju sesuai embusan
angin pegunungan yang sering kali bertiup tiba-tiba. .
Ia melihat tepi hutan, pepohonan menjulang di rerumputan. la mulai bangkit ke
posisi jongkok, lalu dengan tiba-tiba, dengan sigap, merendahkan tubuh dan tidak
bergerak. Di sebelah kanan depannya, seorang pria berdiri di tepi padang,
menyandang senapan, mengawasi rerumputan dalam cahaya bulan yang muncul dan
menghilang, mencari-cari pola bilah rumput yang bergoyang bertentangan dengan
arah angin. Angin bergulung-gulung turun dari pegunungan. Bourne bergerak seiring dengannya,
hingga sejauh tiga meter dari si penjaga. Sejengkal demi sejengkal ia merayap ke
tepi padang; ia sekarang paralel dengan orang yang konsentrasinya terpusat ke
depan, bukan ke sampingnya. Jason merayap mendekat hingga bisa melihatnya dari
sela-sela ramput. Penjaga itu memandang ke sebelah kirinya. Sekarang!
Bourne melompat keluar dari rerumputan dan, dengan cepat, menerjang pria itu.
Dalam kepanikannya, penjaga itu secara instingtif mengayunkan popor senapannya
untuk menghalangi serangan tiba-tiba. Jason menyambar larasnya, memuntimya ke
arah kepala pria itu, dan menghantamkannya ke tengkoraknya sambil menghunjamkan
lutut ke rusuk. Penjaga itu jatuh pingsan. Bourne bergegas menyeretaya ke dalam
rerumputan tinggi. Dengan gerakan sesedikit mungkin, Jason menanggalkan jaket
penjaga itu dan mencabik bagian punggung pakaiannya, merobek-robek kain itu
menjadi tali. Beberapa saat kemudian orang itu telah terikat sebegitu rupa
hingga setiap gerakan yang dilakukannya justm mempererat ikatan improvisasi itu.
Mulutnya disumpal, cabikan lengan kemejanya diikatkan di kepalanya memantapkan
posisi sumpalnya. Biasanya, seperti di waktu-waktu lalu secara instingtif Bourne tahu itulah
?langkah-langkah normal dalam kejadian seperti ini ia akan bergegas keluar dari
? padang dan menerobos hutan menuju api unggun. Tapi ia malah mempelajari sosok
Oriental yang pingsan di bawahnya; ada sesuatu yang mengganggu sesuatu yang ?tidak harmonis. Pertama-tama, ia menduga penjaga itu mengenakan seragam angkatan
darat Cina, karena ia masih ingat dengan jelas kendaraan dinas di Shenzen itu
dan tahu siapa yang ada. di dalamnya. Tapi selain tidak adanya seragam, pakaian
yang dikenakan orang itu juga mengganggunya. Pakaiannya murahan dan kotor,
berbau busuk makanan yang mengandung terlalu banyak lemak. Ia mengulurkan tangan
dan memalingkan wajah orang itu, membuka mulutnya; ada beberapa gigi, hitam
karena membusuk. Penjaga macam apa ini, patroli macam apa" Orang ini hanya
tukang pukul tidak ragu lagi berpengalaman penjahat kasar, dikontrak dari
? ?kalangan bawah dengan kehidupan murah dan umumnya tak berarti. Sekalipun begitu,
orang-orang dalam "pertemuan" ini menangani puluhan ribu dolar. Harga yang
mereka bayarkan untuk nyawa sangat tinggi. Memang ada yang tidak seimbang.
Bourne meraih senapannya dan merangkak keluar dari rerumputan. Tidak melihat
apa-apa, tidak mendengar apa-apa kecuali gumaman hutan di depannya, ia berdiri
dan berlari ke dalam hutan. Ia mendaki dengan sigap, diam-diam, berhenti seperti
sebelumnya setiap kali mendengar jeritan burung, setiap kepak sayap, setiap
simfoni jangkrik yang berhenti tiba-tiba. la tidak merangkak sekarang, ia
merayap dengan kaki tertekuk, memegang laras senapan, bisa digunakan sebagai
pemukul kalau diperlukan. Tidak boleh ada tembakan kecuali nyawanya menjadi taruhan, tidak ada
peringatan bagi buruannya. Jebakan ini menutup, hanya masalah kesabaran
sekarang, kesabaran dan pengintaian terakhir sewaktu rahang jebakan akan
terkatup menutup. Ia tiba di puncak hutan, meluncur tanpa suara di batik batu
besar di tepi perkemahan. Diam-diam ia meletakkan senapan di tanah, mencabut
pistol si pemandu dari sabuknya, dan mengintip ke batik batu besar.
Ia memandangi apa yang diharapkan akan ditemukannya di bawah sana. Seorang
prajurit, berdiri tegak dalam seragamnya, pistol genggam tersandang di pinggang,
berada sekitar enam meter di sebelah kiri api. Sepertinya ia ingin terlihat tapi
tidak dikenali. Tidak seimbang. Orang itu memandang arlojinya; penantian sudah
dimulai. Penantian itu berlangsung selama hampir satu jam. Prajurit itu telah mengisap
lima batang rokok; Jason tetap tidak bergerak, hampir-hampir tidak bernapas.
Lalu terjadilah, perlahan-lahan, tidak kentara, tidak ada bunyi terompet yang
mengumumkan, kemunculannya tidak dramatis sama sekali. Sosok kedua muncul ia
berjalan santai dari kegelapan, menyingkirkan cabang-cabang hutan sambii
melangkah keluar. Dan, tanpa peringatan, kilat menyambar membelah langit,
membakar, menusuk-nusuk kepala David Webb, membekukan benak Jason Bourne.
Karena saat pria itu terlihat di dalam cahaya api, Bourne terkesiap,
mencengkeram laras pistolnya agar tidak menjerit atau membunuh. Ia tengah
?memandang hantu dirinya, penampakan' menakutkan dari bertahun-tahun yang lalu
kembali memburunya, tak peduli siapa yang menjadi pemburu sekarang. Wajah yang
sekali waktu dulu adalah wajahnya tapi sekaligus bukan wajahnya mungkin
?wajahnya sebelum para ahli bedah mengubahnya menjadi Jason Bourne. Tubuh yang
ramping, kencang, wajahnya lebih muda lebih muda daripada mitos yang
?ditirunya dan dalam kemudaan itu terdapat kekuatan, kekuatan seorang Delta dari
?Medusa. Luar biasa. Bahkan gaya jalan waspada, bagai kucing, dengan lengan
panjang tergantung bebas di sisinya yang sangat ahli dalam seni beladiri
mematikan. Ia memang Delta, Delta yang pernah diceritakan kepadanya, Delta yang
menjadi Cain dan akhirnya Jason Bourne. Ia tengah memandang dirinya sendiri tapi
bukan dirinya, namun tetap saja seorang pembunuh. Pembunuh bayaran.
Bunyi berderak di kejauhan menyela suara-suara pegunungan. Pembunuh bayaran itu
berhenti, lalu berbalik menjauhi api dan menerjang ke kanannya semen tara
prajurit itu tiarap ke tanah, Rente tan tembakan senapan yang memekakkan telinga
terdengar dari hutan; pembunuh itu berguling-guling di rerumputan perkemahan,
peluru mencabik-cabik tanah saat ia tiba di kegelapan pepohonan. Prajurit Cina
itu bertumpu pada satu lutut, menembak membabi buta ke arah pembunuh bayaran
itu. Lalu pertempuran yang memekakkan telinga itu meningkat, bukan dari
satu tingkat ke tingkat selanjutnya tapi pada tiga tahap yang berbeda. Ledakan-
ledakannya luar biasa. Granat pertama menghancurkan lokasi perkemahan, diikuti
granat kedua, mencabut pepohonan hingga akarnya, cabang-cabang keringnya
menangkap api, dan akhirnya granat ketiga dilontarkan tinggi di udara, meledak
dengan kekuatan besar di atas pepohonan tempat senapan mesin menyalak. Tiba-tiba
kobaran api ada di mana-mana, dan Bourne melindungi matanya, bergerak mengitari
batu dengan senapan di tangan. Jebakan telah disiapkan untuk pembunuh itu dan ia
memasukinya begitu saja! Prajurit Cina itu tewas, pistolnya lepas, juga sebagian
besar anggota tubuhnya. Ada sosok yang tiba-tiba melesat dari kiri ke neraka
yang tadinya merupakan lokasi perkemahan, lalu berbalik dan berlari menerobos
kobaran api, berbelok dua kali dan, saat melihat Jason, menembakinya. Pembunuh
bayaran itu telah berbalik di dalam hutan, berharap bisa menjebak dan membunuh
siapa pun yang ingin membunuhnya. Sambii berputar, Bourne mula-mula melompat ke
kanan, lalu ke kiri, lalu membuang diri ke tanah, pandangannya terpaku pada
orang yang berlari itu. Ia bangkit berdiri dan melesat maju. Ia tidak bisa
membiarkan orang itu lolos! Ia melesat menerobos api yang mengamuk; sosok di
depannya meliuk-liuk di sela-sela pepohonan. Sosok itu pembunuhnya! Peniru yang
mengaku sebagai mitos mematikan yang telah mengobarkan Asia, menggunakan mitos
itu untuk tujuannya sendiri, menghancurkan yang asli dan istri yang dicintainya.
Bourne berlari lebih cepat daripada yang pernah dilakukannya seumur hidup,
menghindari pepohonan dan melompati sesemakan dengan kelincahan yang menafikan
tahun-tahun Medusa dan sekarang. Ia kembali ke Medusa! Ia memang Medusa! Dan
setiap sepuluh meter ia berhasil memperpendek jarak sejauh lima meter. Ia
mengenal hutan, dan setiap hutan merupakan rimba dan setiap rimba adalah
temannya. Ia pernah selamat di dalam rimba; tanpa berpikir hanya merasakan ia ? ?mengenal lekuk likunya, sulur-sulurnya, lubang dan ngarainya yang tiba-tiba. Ia
semakin dekat, semakin dekat! Lalu ia tiba di sana, pembunuh itu hanya beberapa
meter di depannya! Dengan yang dirasa sebagai napas terakhir dalam tubuhnya, Jason menerjang Boume
?melawan Bourne! Tangannya bagai cakar kucing gunung saat mencengkeram bahu sosok
yang berlari-lari di depannya, jemarinya menancap ke daging keras dan tulang
saat ia menyentakkan pembunuh itu ke belakang, tumitnya menancap ke tanah, lutut
kanannya menghantam tulang punggung orang itu. Kemurkaannya begitu hebat
sehingga secara sadar ia harus mengingatkan diri untuk tidak membunuh. Tetap
hidup! Kaulah jaminan kebebasanku, kebebasan kami!
Pembunuh itu berteriak saat Jason Bourne asli mengunci lehernya, memuntir
kepalanya ke kanan, dan memaksa peniru itu merunduk. Keduanya jatuh ke tanah,
lengan Bourne mengunci leher orang itu,
tangan kirinya terkepal, berulang-ulang menghantam perut bawah pembunuh itu,
memaksa udara keluar dari tubuhnya yang melemah.
Wajahnya" Wajah itu" Di mana wajah yang berasal dari bertahun-tahun yang lalu"
Penampakan yang ingin membawanya kembali ke neraka yang terhalang oleh kenangan.
Di mana wajah itu" Bukan ini!
"Delta!" jerit orang di bawahnya.
"Apa katamu?" teriak Bourne.
"Delta!" jerit sosok yang menggeliat-geliat itu. "Cain untuk Carlos, Delta untuk
Cain!" "Terkutuk kau! Siapa "
?"D'Anjou! Aku d'Anjou! Medusa! Tarn Quan! Kita tidak punya nama, hanya simbol!
Demi Tuhan, Paris! Louvre! Kau sudah menyelamatkan nyawaku di Paris seperti kau
?sudah menyelamatkan begitu banyak nyawa di Medusa! Aku d'Anjou! Aku yang
memberitahumu apa yang harus kauketahui di Paris! Kau Jason Bourne! Orang gila
yang melarikan diri dari kita itu hanya ciptaan! Ciptaan"
Webb menatap wajah yang mengernyit di bawahnya, menatap kurais kelabu yang
tertata rapi dan rambut keperakan yang disisir ke belakang di kepala yang menua.
Mimpi buruknya kembali... ia berada di hutan Tam Quan tanpa jalan keluar dan maut
di sekeliling mereka. Lalu tiba-tiba ia berada di Paris, dekat tangga Louvre di
bawah siraman cahaya siang yang menyilaukan. Tembakan. Mobil-mobil berdecit,
orang-orang menjerit-jerit. Ia harus menyelamatkan wajah di bawahnya!
Menyelamatkan wajah dari Medusa ini, yang bisa memasok potongan yang hilang dari
teka-teki suiting ini! "D'Anjou?" bisik Jason. "Kau d'Anjou?" "Kalau kaukembalikan leherku," kata orang
Prancis itu dengan suara tercekik, "akan kuceritakan sebuah kisah padamu. Aku
yakin kau sendiri punya kisah yang ingin kauceritakan padaku."
Phillipe d'Anjou mengamati reruntuhan perkemahan, sekarang tinggal puing-puing
berasap. Ia membuat tanda salib sewaktu menggeledah saku-saku "prajurit" yang
tewas itu, mengambil barang berharga apa pun yang ditemukannya. "Kita bebaskan
orang di bawah sana saat pergi nanti," katanya. "Tidak ada jalan masuk lain ke
tempat ini. Itu sebabnya ku-tempatkan dia di sana."
"Dan menyuruhnya mencari apa?"
"Seperti dirimu, aku dari Medusa. Padang rumput persetan dengan penulis ?puisi merupakan jalan masuk sekaligus jebakan. Kaum gerilya tahu hal itu. Kita
?tahu." "Kau tidak mungkin mengantisipasi kehadiranku." "Sama sekali. Tapi aku
bisa dan memang mengantisipasi setiap langkah
balasan yang mungkin dipertimbangkan ciptaanku. Ia seharusnya datang seorang
diri. Instruksinya jelas, tapi siapa yang bisa mempercayainya,
apalagi aku?" "Aku tidak mengerti."
"Itu bagian dari ceritaku. Nanti kau akan mendengarnya."
Mereka turun melewati hutan, d'Anjou yang tua mencengkeram batang pohon dan
pohon muda untuk mempermudah perjalanan turunnya. Mereka tiba di padang,
mendengar jeritan teredam penjaga yang terikat saat "mereka berjalan memasuki
rerumputan tinggi. Bourne memotong tali dari cabikan kain dengan pisaunya dan si
orang Prancis membayar orang itu.
"Zou ba!" seru d'Anjou. Pria itu melarikan diri ke dalam kegelapan. "Ia sampah.
Mereka semua sampah, tapi bersedia membunuh demi uang dan menghilang."
"Kau mencoba membunuhnya malam ini, bukan" Itu tadi jebakan."
"Ya. Kukira ia terluka kena ledakan. Itu sebabnya aku memburunya."
"Kukira ia berbalik untuk menyerangmu dari belakang."
"Ya, kita pasti berbuat begitu di Medusa "
?"Itu sebabnya kukira kau adalah dia." Jason tiba-tiba berteriak murka. "Apa yang
sudah kaulakukan?" "Itu bagian dari cerita."
"Aku ingin mendengarnya. Sekarang?"
"Ada sepetak tanah rata beberapa ratus meter di sebelah kiri," kata orang
Prancis itu, sambii menunjuk. "Dulu tempat merumput, tapi akhir-akhir ini
digunakan helikopter yang datang untuk menemui si pembunuh bayaran. Kita ke
ujung terjauh dan beristirahat dan bicara. Sekadar berjaga-jaga kalau sisa-sisa
?kebakaran menarik perhatian siapa pun di desa."
"Itu kan lima mil jauhnya."
'Tetap saja mi Cina."
Awan telah menghilang, tertiup angin malam; bulan mulai turun, tapi masih cukup
tinggi untuk menyirami pegunungan di kejauhan dengan cahayanya. Kedua orang dari
Medusa itu duduk di tanah. Bourne menyulut sebatang rokok sementara d'Anjou
bicara. "Kau ingat sewaktu di Paris, di kafe yang penuh sesak tempat kita bicara
sesudah kegilaan di Louvre?"
Tentu saja. Carlos hampir membunuh kita berdua sore itu."
Kau hampir berhasil menjebak Jackal."
Tapi tidak. Ada apa dengan Paris, dengan kafe itu?"
"Sudah kukatakan waktu itu aku akan kembali ke Asia Ke Singapura atau Hong Kong,
mungkin Srilanka, kalau tidak salah. Prancis tidak pernah baik bagiku atau ?kepadaku. Sesudah Dienbienphu segala sesuatu
?yang kumiliki hancur, diledakkan pasukan kami sendiri pembicaraan mengenai
?perbaikan tidak ada artinya. Hanya omong kosong dari orang-orang yang kosong.
Itu sebabnya aku bergabung dengan Medusa' Satu-satunya cara yang mungkin untuk
mendapatkan milikku kembali adalah dengan kemenangan Amerika."
"Aku ingat," kata Jason. "Apa hubungannya dengan malam ini?" "Seperti yang bisa
diduga, aku kembali ke Asia. Karena Jackal pernah meiihatku, rute yang kutempuh
berputar-putar, memberiku waktu untuk berpikir. Aku harus menilai dengan jelas
situasiku dan kemungkinan yang kuhadapi. Sementara aku melarikan diri demi
keselamatanku, aset-asetku tidak ban yak tapi juga tidak terlalu sedikit Aku
mengambil risiko kembali ke toko di St. Honore sore itu dan, jujur saja, mencuri
setiap sou baik secara terang-terangan maupun tidak. Aku tahu nomor kombinasi
lemari besinya dan untung saja isinya cukup banyak. Aku bisa menjelajahi separo
dunia dengan nyaman, jauh dari jangkauan Carlos, dan hidup berminggu-minggu
tanpa panik. Tapi apa yang harus kulakukan" Uang itu akan habis. dan
keahlianku yang begitu nyata dalam dunia beradab bukan keahlian yang
?memungkinkanku menjalani pensiun nyaman di sini, yang sudah dicuri dariku.
Sekalipun begitu, tidak sia-sia aku dulu ular di kepala Medusa. Tuhan tahu aku
sudah menemukan dan rne-ngembangkan bakatbakat yang tak pernah kuimpikan ada
dalam diriku dan menemukan, sejujumya, bahwa moralitas bukan masalah. Aku
?sudah diperlakukan secara tidak adil. dan aku bisa memperlakukan orang lain
dengan tidak adil. Dan orang-orang asing tanpa nama dan tanpa wajah sudah
mencoba membunuhku puluhan kali, jadi aku bisa bertanggung jawab atas kematian
orang-orang asing tanpa nama dan wajah lainnya. Kau memahami simetrinya, bukan"
Begitu disingkirkan, persamaannya menjadi abstrak."
"Aku mendengar banyak omong kosong," jawab Bourne. "Kalau begitu kau tidak
mendengarkan, Delta." "Aku bukan Delta." "Baiklah, Bourne."
"Aku bukan lanjutkan. mungkin aku memang dirinya." "Comment" " "Rien.
?Lanjutkan." 'Terlintas dalam benakku bahwa apa pun yang terjadi padamu di Paris entah kau
?menang atau kalah, entah kau dibunuh atau dibiarkan hidup Jason Bourne sudah
?tamat. Dan demi semua orang kudus, aku tahu Washington tidak akan pernah
mengakui atau mengklarifikasi; kau akan menghilang begitu saja. 'Tak-bisa-
diselamatkan-lagi', aku yakin begitu istilahnya."
"Aku tahu," kata Jason. "Jadi aku sudah tamat." "Naturellement. Tapi tidak akan
ada penjelasan, tidak mungkin ada.
Mm Dieu, pembunuh bayaran yang mereka ciptakan berubah gila ia membunuh! Tidak,
?tidak akan ada apa-apa. Para ahli strategi akan menghilang kalau rencana
mereka 'keluar jalur', kurasa itu istilahnya." "Aku juga tahu yang satu itu."
? "Bien. Kalau begitu kau bisa memahami solusi yang kuteinukan bagi diriku
sendiri, demi hari-hari terakhir orang yang sudah tua." "Aku muiai memahaminya."
"Bien encore. Ada lowongan di Asia ini. Jason Bourne tidak lagi ada, tapi
legendanya masih hidup. Dan ada orang-orang yang bersedia membayar untuk layanan
dari orang yang luar biasa seperti dirinya Oleh karena itu aku tahu apa yang


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

harus kulakukan. Hanya masalah menemukan
penantang" "Penan tang?"
"Baiklah, peniru, kalau kau mau. Dan melatihnya dengan cara-cara Medusa, cara-
cara anggota yang paling dikagumi dari persaudaraan penjahat tak resmi itu. Aku
pergi ke Singapura dan mengunjungi tempat-tempat berkumpul para bajingan, sering
kali mencemaskan keselamatanku sendiri, hingga menemukan orangnya. Dan, boleh
kutambahkan, aku menemukannya dengan cepat. Ia putus asa; ia kabur demi
menyelamatkan nyawa selama hampir tiga tahun; seperti kata mereka, hanya
beberapa langkah dari orang-orang yang memburunya. Ia orang Inggris, mantan
anggota Royal Commando yang mabuk di suatu malam dan membunuh tujuh orang di
jalanan London dalam kemurkaarmya. Karena catatan pengabdiannya yang menonjol,
ia dikirim ke rumah saktt jiwa di Kent, tempat ia melarikan diri dan entah
bagaimana hanya Tuhan yang tahu sampai di Singapura. Ia memiliki semua ? ?persyaratan yang dibutuhkan; hanya perlu diperbaiki dan dipandu."
"Ia mirip aku. Tampangku yang dulu."
"Sekarang jauh lebih mirip lagi. Ciri-ciri dasamya sudah ada, juga sosok
jangkung dan tubuh kekar; itu semua aset Hanya masalah mengubah hidung yang agak
mancung dan membulatkan dagu yang lancip sesuai ingatanku sebagai Delta, tentu
?saja Kau tampak berbeda di Paris, tapi tidak terlalu drastis sehingga aku tidak
bisa mengenalimu." "Seorang Commando," kata Jason pelan. "Memang cocok. Siapa dia?"
"Ia orang tanpa nama tapi bukannya tanpa cerita mengerikan," jawab d'Anjou,
sambii menatap pegunungan di kejauhan.
'Tanpa nama.'..?" "Ia tidak pernah memberitahuku nama apa pun yang tidak diingkari-nya sesaat
kemudian tidak satu pun nama asli. Ia merahasiakannya seakan-akan itulah satu-
?satunya perpanjangan kehidupannya, pengungkapan nama itu pada akhirnya akan
membawa pada kematiannya. Tentu saja ia benar; situasi sekarang merupakan contoh
kasus yang tepat. Kalau tahu nama aslinya, aku bisa menyampaikannya melalui
perantara yang tidak tahu apa-apa kepada pihak berwenang Inggris di Hong Kong. Komputer mereka akan
aktif, para spesialis akan dikirim dari London dan perburuan yang tidak akan
pemah bisa kuselenggarakan sendiri akan dimulai. Mereka tidak akan pernah
menangkapnya hidup-hidup ia tidak akan mengizinkannya dan mereka tidak
?pedult dan oleh karena itu tujuanku akan tercapai."
?"Kenapa Inggris ingin menghabisinya?"
"Cukup dikatakan bahwa Washington memiliki Mai Lai dan Medusa, sementara London
memiliki unit mi liter yang lebih bam dan dipimpin psikopat dengan kecenderungan
bunuh diri yang meninggalkan jejak ratusan pembantaian di belakangnya sedikit
?perbedaan antara yang tak bersalah dan yang bersalah. Ia menyimpan terlalu
banyak rahasia yang, kalau terungkap, bisa menimbulkan gelombang pembalasan
dendam di seluruh Timur Tengah dan Afrika. Kepraktisan lebih dulu, kau tahu kan.
Atau seharusnya kau tahu."
"Ia pemah memimpin"'" tanya Bourne, tertegun sekaligus kebingungan. "Bukan
sekadar prajurit lapangan biasa, Delta. Ia jadi kapten di usia dua puhih dua dan
mayor di usia dua puluh empat pada saat pangkat hampir mustahil diperoleh karena
penghematan di Whitehall. Tidak ragu lagi ia akan jadi brigadir atau bahkan
jenderal penuh sekarang kalau keberuntungannya masih bertahan." "Itu yang
diceritakannya padamu?"
"Dalam amukan mabuk yang periodik sewaktu kebenaran yang buruk muncul tapi ?tidak pernah ia menyebut namanya. Kejadian-kejadian itu biasanya muncul satu
atau dua kali sebulan, bisa berlangsung selama beberapa hari setiap kali ia
memblokir kehidupannya dalam lautan benci sendiri. Sekalipun begitu ia biasanya
cukup sadar sebelum kemarahannya meledak, menyuruhku mengikataya, mengurungnya,
melindunginya dari dirinya sendiri.... Ia menceritakan kejadian-kejadian
mengerikan dari masa lalunya, suaranya serak, kasar, hampa. Saat minuman
mengambil alih ia menjabarkan adegan-adegan penyiksaan dan mutilasi, interogasi
tawanan dengan pisau tertancap di mata, dan pergelangan diiris, memerintahkan
para tawanan menyaksikan kehidupan mengalir kfeluar dari pembuluh darah mereka.
Sejauh yang bisa kususun dari potongan-potongan ceritanya, ia memimpin banyak
penggerebekan paling berbahaya dan buas terhadap pemberontak-pemberontak fanatik
di akhir tahun tujuh puluhan dan awal delapan puluhan, dari Yaman hingga ke
genangan darah di Afrika Timur. Pada saat seperti itu, ia pernah mengatakan
bahwa Idi Amin sendiri akan berhenti bernapas mendengar narnanya disebut,
reputasinya begitu tersebar luas dalam menyamai bahkan me-tebihi strategi
? ?brutal yang digunakan Amin." D'Anjou diam sejenak, mengangguk perlahan-lahan dan
mengangkat alis khas orang-orang Gallic, tanda menerima apa yang tidak bisa
dijelaskan. "la bukan manusia
?hingga sekarang tapi terlepas dari semua itu, ia perwira dan kesatria yang
?sangat cerdas. Paradoks yang lengkap, kontradiksi total dari orang yang
beradab.... Ia menertawakan fakta bahwa anak buahnya membencinya dan menyebutaya
bmatang, tapi tidak ada yang pemah berani mengajukan
keluhan resmi." "Kenapa tidak?" tanya Jason, tergerak dan teriuka oleh apa yang didengamya.
"Kenapa mereka tidak melaporkannya?"
"Karena ia selalu membawa mereka keluar sebagian besar dari mereka sewaktu
? ?perintah pertempuran terasa mustahil."
"Aku mengerti," kata Bourne, membiarkan komentar itu terbawa angin pegunungan.
"Tidak, aku tidak mengerti," teriaknya marah, seakan-akan ia tersengat dengan
tiba-tiba, tanpa terduga. "Struktur Commando lebih baik daripada itu. Kenapa
para atasannya membiarkan dia" Mereka pasti tahu!"
"Kalau aku tidak salah memahami celotehnya, ia berhasil menyelesaikan pekerjaan
yang tidak bisa diselesaikan orang lain atau tidak mau diselesaikan orang lain.
?Ia mempelajari rahasia yang kita pelajari di Medusa bertahun-tahun yang lalu.
Bermain berdasarkan kondisi musuh yang paling brutal. Ubah aturannya sesuai
kultur. Bagaimanapun juga, nyawa manusia bagi orang Iain tidak seperti yang
dipahami konsep Yudeo-Kristiani. Bagaimana bisa" Bagi begitu banyak orang,
kematian adalah pembebasan dari kondisi manusia yang tidak bisa ditolerir."
"Bernapas tetap bernapas!" kata Jason, berkeras. "Ada tetap ada dan berpikir
tetap berpikir!" tambah David Webb. "Dia barbar."
'Tidak jauh berbeda ketimbang Delta di waktu-waktu tertentu. Dan kau
mengefuarkan kami berapa kali "
?"Jangan katakan!" orang dari Medusa itu memprotes, menyela si orang Prancis.
"Itu tidak sama."
'Tapi jelas merupakan variasi," d'Anjou bersikeras. "Pada akhirnya motif tidak
benar-benar, penting, bukan" Hanya hasilnya. Atau kau tidak mau menerima
kebenaran" Kau pemah rrienjalaninya. Apakah Jason Bourne sekarang hidup dalam
kebdhdngan?" "Pada saat ini aku sekadar hidup dari hari ke hari, dari malam ke malam hingga? ?selesai. Dengan satu atau lain cara."
"Kau harus lebih jelas."
"Kalau aku memang ingin atau terpaksa menjelaskannya," jawab Bourne dingin. "Ia
bagus, kalau begitu" Commando mayor tanpa nama itu. Bagus dalam bidangnya."
?"Sama bagusnya seperti Delta mungkin lebih baik..Kau mengerti, ia tidak
?memiliki hati nurani, sedikit pun. Kau, di stsi lain, sekalipun brutal, pernah
menunjukkan belas kasihan walau sekilas. Ada sesuatu dalam dirirnu yang menuntut
hal itu. 'Biarkan orang ini tetap hidup,' katamu. 'Ia suami, ayah, saudara
seseorang. Lumpuhkan dia, tapi biarkan
tetap hidup, biarkan dia berfungsi lagi kelak... Ciptaanku, penirumu, tidak akan
pemah berbuat begitu. Ia selalu menginginkan solusi terakhir kematian di depan
?ma tanya." "Apa yang terjadi padanya" Kenapa ia membunuhi orang-orang di London itu" Mabuk
bukan alasan yang cukup bagus, mengingat asalnya."
"Alasan yang cukup bagus kalau itu cara hidup yang tak bisa kau-lepaskan."
"Kau menyimpan senjatamu di tempatnya kecuali kau terancam. Kalau tidak, kau
justru mengundang ancaman."
"Ia tidak menggunakan senjata. Hanya tangan kosong pada malam di London itu."
"Apa?" "Ia mengintai di jalanan mencari musuh-musuh imajiner itu yang kuketahui dari
?celotehannya. 'Ada di mata mereka!' jeritnya. 'Selalu di mata! Mereka tahu siapa
aku, apa diriku!' Kuberitahu .kau, Delta, pengalaman itu menakutkan sekaligus
melelahkan, dan aku tidak pemah mendapatkan nama, tidak pernah ada referensi
spesifik kecuali Idi Amin, yang di gun akan prajurit bayaran pemabuk mana pun
untuk meningkatkan nilai dirinya. Mehbatkan Inggris di Hong Kong berarti
melibatkan diriku sendiri, dan, bagaimanapun juga, aku tidak bisa berbuat
begitu. Seluruh masalah ini menimbulkan fxustrasi, jadi aku kembali ke cara-cara
Medusa. Aku melakukannya sendiri. Kau yang mengajari kami, Delta. Kau terus
memberitahu kami memerintah kami untuk menggunakan imajinasi. Itu yang
? ?kulakukan malam ini. Dan aku gagal, sebagaimana yang bisa diharapkan dari orang
yang sudah tua." "Jawab pertanyaanku," desak Bourne. "Kenapa ia membunuhi orang-orang di London
itu?" "Untuk alasan yang konyol sekaligus biasa dan sangat familier. Ia ditolak, dan
?egonya tidak mampu menerima penolakan itu. Sejujurnya aku meragukan ada emosi
lain yang terlibat. Seperti semua pemanjaan diri yang dilakukannya, aktivitas
seksual hanyalah pelampiasan nafsu hewani; tidak ada perasaan yang terlibat,
karena ia tidak mampu memiliki perasaan. Mon Dieu, ia benar sekali!"
"Sekali lagi. Apa yang terjadi?"
"Ia pulang, terluka, dari togas yang sangat brutal di Uganda dengan harapan bisa
melanjutkan hubungan dengan seorang wanita di London seseorang, yang menurut
?dugaanku, dari kalangan atas, seperti istilah orang Inggris, kekasihnya di hari-
hari awal kariernya. Tapi wanita itu menolak menemuinya dan menyewa pengawal
bersenjata untuk melindungi rumahnya di Chelsea sesudah ia menelepon. Dua di
antaranya termasuk di antara tujuh orang yang dibunuhnya malam itu. Wanita itu
mengaku temperamennya tidak bisa dikendalikan dan kesukaannya minum-minum
membuatnya berbahaya, yang tentu saja memang benar, Tapi bagiku, ia
penantang yang sempurna. Di Singapura kuikuti dia keluar dari bar yang
reputasinya buruk dan kulihat dia menyudutkan dua preman berbahaya di
lorong penyelundup yang mendapatkan banyak uang dari penjualan narkotika di ?bar-bar pelabuhan kotor dan aku melihatnya memaksa mereka mundur ke dinding dan
?menggorok leher mereka dengan satu tebasan pisau. Ia mengambil barang-barang
berharga milik mereka dari saku mereka. Pada saat itu aku tahu ia orang yang
tepat. Aku sudah menemukan Jason Bourne-ku. Kudekati dia perlahan-lahan, dengan
diam-diam, tanganku terulur, membawa uang lebih banyak daripada yang diambilnya
dari para korbannya. Kami bicara. Itulah awalnya."
"Jadi Pygmalion menciptakan Galatea, dan kontrak pertama yang kauterima menjadi
Aphrodite dan memberinya nyawa. Bernard Shaw pasti menyukaimu, dan aku bisa
membunuhmu." "Untuk apa" Kau datang untuk mencarinya malam ini. Aku datang untuk
menghancurkannya." "Dan itu bagian dari ceritamu," kata David Webb, mengalihkan pandangan dari
orang Prancis itu ke pegunungan yang terbakar, teringat akan Maine dan kehidupan
bersama Marie yang telah direnggut dengan paksa. "Kau keparat!" teriaknya tiba-
tiba. "Aku bisa saja membunuhmu! Apa kau tahu apa yang sudah kaulakukan?"
"Itu ceritamu, Delta. Biar kuselesaikan ceritaku dulu."
"Singkat saja.... Echo. Itu namamu dulu, bukan" Echo?" Ingatannya kembali.
"Ya, benar. Kau pernah memberitahu Saigon bahwa kau tidak bersedia pergi tanpa
'Echo tua'. Aku harus masuk regumu karena aku bisa membereskan masalah dengan
suku-suku dan kepala desa yang tidak bisa dilakukan orang lain tidak ada
?hubungannya dengan simbol abjadku. Tentu saja, itu bukan mistik. Aku sudah
tinggal di koloni itu selama sepuluh tahun. Aku pasti, tahu kalau Quan-si
berbohong." "Selesaikan ceritamu," kata Bourne.
"Pengkhianatan," kata d'Anjou, dengan telapak terulur. "Sama seperti kau
diciptakan, aku menciptakan Jason Bourne-ku sendiri. Dan sama seperti kau
menjadi gila, ciptaanku juga begitu. Ia berbalik dariku; ia menjadi realitas
ciptaanku. Lupakan Galatea, Delta, ia menjadi monster Frankenstein tanpa sedikit
pun siksaan batin yang dimiliki makhluk itu. Ia meninggalkanku dan mulai
berpikir sendiri, melakukan semua sendiri. Begitu rasa putus asanya
berlalu dengan bantuanku yang tak ternilai dan pisau ahli bedah perasaan
? ?berkuasanya kembali^ juga kesombongannya, keburukannya. Ia menganggapku
gangguan. Begitulah ia menyebutku, 'gangguan'! Nonentitas sepele yang
memanfaatkan dirinya! Padahal akulah yang menciptakan dirinya!"
"Maksudmu, ia membuat kontrak-kontraknya sendiri?"
"Kontrak-kontrak sinting, menjijikkan, dan sangat berbahaya"
'Tapi aku melacaknya melalui dirimu, melalui pengaturanntu di Kam Pek. Meja
Lima. Nomor telepon di hotel di Macao dan nama" "Metode kontak yang menurutnya
layak dipertahankan. Dan kau tidak" Metode itu boleh dibilang aman dan apa yang
bisa kulakukan Pergi ke pihak berwenang dan mengatakan, Begini, gentlemen orang
ini yang boleh dibilang merupakan tanggung jawabku-Lv berkeras menggunakan
?pengaturan yang kuciptakan agar bisa dibawa untuk membunuh seseorang.' Ia bahkan
menggunakan penghubungku"
"Zhongguo ren dengan tangan gesit dan kaki yang lebih gesit lagi?"
D'Anjou memandang Jason. "Jadi begitu caramu melakukannya, bagai mana kau
menemukan tempat ini. Delta belum kehilangan sentuhannya n 'est-ce pas" Apa ia
masih hidup?" "Hidup, dan sepuluh ribu dolar lebih kaya."
"Ia cochon yang haus akan uang. Tapi aku tidak bisa mengkritik, aku sendiri
menggunakan dia. Kubayar dia lima ratus untuk mengambil dan mengirimkan pesan."
"Itu yang membawa ciptaanmu kemari malam ini untuk kaubunuh" Kenapa kau begitu
yakin ia akan datang?"
"Lasting Medusa, dan sedikit pengetahuan mengenai hubungan luar biasa yang sudah
dibuatnya, kontak yang begitu menguntungkan baginya dan begitu berbahaya hingga
bisa melibatkan seluruh Hong Kong ke dalam perang, seluruh koloni akan lumpuh."
"Aku pernah mendengar teori itu," kata Jason, teringat kata-kata yang diucapkan
McAllister pada sore itu di Maine, "dan aku masih tidak percaya. Kalau para
pembunuh saling bunuh, merekalah yang biasanya dirugikan. Mereka menyingkirkan
diri' sendiri, dan para informan keluar dari bisnis sambii berpikir merekalah
giliran selanjutnya."
"Kalau korbannya terbatas pada pola yang begitu mudah, kau memang benar. Tapi
tidak begitu kalau korbannya termasuk tokoh politik berkuasa dari negara besar
dan agresif." Bourne menatap d'Anjou. "Cina?" tanyanya lirih.
Orang Prancis itu mengangguk. "Lima orang tewas dibunuh di Tsnn Sha Tsui "Aku ?tahu."
"Empat di antara mayat-mayat itu tidak ada artinya. Tapi yang to'1*8 berbeda. Ia
wakil perdana menterj Republik Rakyat Cina."
"Astaga!" Jason mengerutkan kening, bayangan sebuah mobil tne di benaknya. Mobil
dengan jendela gelap dan seorang pembunuh bay di dalamnya. Kendaraan dinas
pemerintah Cina. GedunS "Sumber-sumberku mengatakan ada komunikasi hebat antara Pemerintah dan Beijing,
berhasil karena kepraktisan dan peng wajah kali ini. Kalau dipikir-pikir, apa
?yang dilakukan Wakil Menteri di Kowloon" Apakah salah satu pemimpin besar Komite
juga termasuk fah satu y ang korup" Tapi, seperti yang kukatakan tadi, wSkali
ini. Tidak, Delta ciptaanku hams dihancurkan sebelum ia "! oerima kontrak lain
yang bisa menerjunkan kita semua ke dalam pahing
vang dalam." Maaf, Echo. Tidak dibunuh. Ditangkap dan dibawa menemui
seseorang." "Itu ceritamu, kalau begitu," tanya d'Anjou. "Sebagian di antaranya, ya."
"Katakan." "Hanya apa yang perlu kauketahui. Istriku diculik dan dibawa ke Hong Kong. Untuk
mendapatkannya kembali dan aku akan mendapatkannya kembali, atau kalian semua
?akan mati satu per satu aku harus mengirimkan bajingan ciptaanmu itu. Dan
?sekarang aku satu langkah lebih dekat karena kau akan membantuku, dan maksudku
benar-benar membantuku. Kalau tidak "
?'Tidak perlu mengancam, Delta," sela mantan anggota Medusa itu. "Aku tahu apa
yang bisa kaulakukan. Aku sudah pemah melihatmu melakukannya. Kau
menginginkannya untuk suatu alasan dan aku menginginkannya untuk alasanku
sendiri. Perintah pertempuran sudah digabungkan."
241 17 CATHERINE STAPLES berkeras agar tamu makan malamnya memesan segelas vodka
martini lagi, menolak bagi dirinya sendiri, karena gelasnya masih separo terisi.
"Itu juga separo kosong," ujar atase Amerika berusia 32 tahun itu, tersenyum
waspada dan gugup, menyibak rambut hitamnya dari kening. "Waktu itu aku benar-
benar bodoh, Catherine," tambahnya. "Maaf, tapi aku tidak bisa lupa bahwa kau
pernah melihat foto-foto itu di samping fakta bahwa kau sudah menyelamatkan ?karierku dan mungkin juga nyawaku foto-foto sialan itu."
?"Tidak ada orang lain yang pernah melihatnya kecuali Inspector Ballantyne."
"Tapi kau melihatnya."
"Aku sudah cukup tua untuk menjadi ibumu."
"Justru itu. Setiap kali memandangmu, aku merasa begitu malu, begitu kotor."
"Mantan suamiku, di mana pun dia sekarang, pernah mengatakan bahwa tidak ada apa
pun yang bisa atau seharusnya dianggap kotor dalam hal hubungan seksuai. Kurasa
ia memiliki motif tersendiri dengan bilang begitu, tapi kebetulan aku menganggap


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pendapatnya benar. Sudah-lah, John, lupakan saja. Aku sudah melupakannya."
"Kuusahakan sebaik-baiknya." Seorang pramusaji mendekat, minuman dipesan dengan
isyarat. "Sejak kau menelepon tadi sore, aku sudah kacau-balau. Kukira ada foto-
foto lain yang muncul. Aku benar-benar pusing waktu itu."
"Kau dalam pengaruh obat bius yang diberikan secara licik. Dalam hal itu kau
tidak bertanggung jawab. Dan aku minta maaf, seharusnya aku memberitahumu bahwa
ini tidak ada hubungannya dengan urusan kita dulu."
"Kalau kau memberitahuku, aku mungkin bisa bekerja dengan tenang selama lima
jam." "Aku benar-benar pelupa dan jahat. Aku minta maaf."
"Diterima. Kau cewek hebat, Catherine."
"Aku sudah memanfaatkan kelemahanmu yang kekanak-kanakan."
"Jangan terlalu berharap dalam hal itu."
"Kalau begitu jangan memesan vodka martini kelima."
"Ini baru gelas kedua." "Sedikit pujian kan boleh saja."
Mereka tertawa pelan. Pramusaji kembali membawakan minuman untuk John Nelson; ia
mengucapkan terima kasih pada pria itu dan kembali memandang Staples. "Dugaanku,
puji-pujian saja tidak akan membayariku makan gratis di Plume. Tempat ini di
luar jangkauanku." "Juga di luar jangkauanku, tapi tidak bagi Ottawa. Kau akan didaftar sebagai
orang yang sangat penting. Sebenarnya memang begitu."
"Asyik juga. Tidak ada yang pemah memberitahuku. Aku dapat pekerjaan yang cukup
bagus di sini karena belajar bahasa Cina. Pendapatku, dengan adanya para
rekrutan dari Ivy League, bocah dari Upper Iowa College di Fayette tua, Big
Iowa, hams memiliki kelebihan entah di mana."
"Kau memilikinya, John. Konsulat menyukaimu. 'Jajaran Kedutaan' dinas asing kami
menghormatimu, dan sudah seharusnya."
"Kalau begitu, itu berkat kau dan Ballantyne. Dan hanya kalian berdua." Nelson
diam sejenak, menghirup martininya, lalu memandang Staples dari tepi gelas. Ia
menurunkan gelasnya dan kembali berbicara, "Ada apa, Catherine" Kenapa aku
penting?" "Karena aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa pun. Apa pun yang bisa kulakukan."
"Tidak secepat itu, Johnny. Ini masa yang rumit dan bisa jadi aku menenggelamkan
diri sendiri." "Kalau ada yang layak mendapat pertolongan dariku, kaulah orangnya. Selain
masalah-masalah kecil, kedua negara kita hidup berdampingan dan pada dasarnya
saling menyukai-r-kita ada di pihak yang sama. Ada apa" Apa yang bisa lcubantu?"
"Marie St. Jacques... Webb," kata Catherine, sambii mengamati wajah atase itu.
Nelson mengerjapkan mata, pandangannya melayang-layang tanpa tuju-an sementara
berpikir. "Tidak ada," katanya. "Nama itu tidak ada artinya
bagiku." "Baiklah, coba Raymond Havilland."
"Oh, kalau itu kelas berat." Atase itu membelalak dan memiringkan kepala. "Kami
semua meributkan dirinya. Ia tidak datang ke Konsulat, bahkan tidak menelepon
kepala kami, yang ingin berfoto dengannya di koran. Bagaimanapun juga, Havilland
orang hebat semacam filsuf dalam pekerjaan ini. Sudah ada sejak lama, dan ?mungkin dialah yang menyusun semua skenario."
"Kalau begitu kau menyadari selama bertahun-tahun ini duta besar aristokratmu
tak hanya terlibat dalam sekadar negosiasi diplomatik."
'Tidak ada yang pernah mengatakannya, tapi hanya orang naif yang menerima apa
yang diperlihatkannya di permukaan."
"Kau benar-benar bagus, Johnny."
"Hanya teliti. Aku memang layak mendapatkan gajiku. Apa hubungannya nama yang
aku tahu dan yang tidak kuketahui?"
"Kalau saja aku bisa menjawabnya. Kau bisa menduga kenapa Havilland ada di sini"
Ada isu yang kaudengar?"
"Aku tidak tahu kenapa ia di sini, tapi aku tahu kau tidak akan menemukannya di
hotel." "Kuanggap ia memiliki teman-teman yang kaya "
?"Aku yakin begitu, tapi ia juga tidak menginap di tempat mereka."
"Oh?" "Konsulat secara diam-diam menyewa rumah di Victoria Peak, dan kontingen marinir
kedua dikirim dari Hawaii untuk bertugas jaga. Tidak satu pun dari antara kami
di jajaran menengah-atas yang tahu hingga beberapa hari yang lalu sampai ada
kejadian bodoh. Dua marinir makan malam di Wanchai dan salah satunya membayar
dengan cek sementara dari bank di Hong Kong. Well, kau tahu orang-orang militer
dan cek; manajer mempersulit kopral itu. Bocah itu mengatakan ia dan temannya
tidak punya wakta untuk menguangkannya dan cek itu beres. Bagaimana kalau
manajemya menghubungi Konsulat dan bicara dengan atase militer?" "Kopral yang
cerdas," sela Staples.
"Konsulat yang tidak cerdas," kata Nelson. "Bocah-bocah militer itu sudah
selesai bertugas hari itu, dan personel keamanan kami, yang memiliki paranoia
tanpa baras kalau menyangkut kerahasiaan, tidak men-da ftarkan kontingen di
Victoria Peak. Manajer restoran kemudian mengatakan kopral itu menunjukkan dua
kartu identitas dan dua bocah tersebut tampaknya baik, jadi ia mengambil
risiko." Tindakan manajer restoran itu masuk akal. Ia mungkin tidak akan bertindak begitu
kalau kopral itu bertindak lain. Sekali lagi, marinir yang cerdas."
Tapi ia memang bertindak lain. Keesokan paginya di Konsulat Ia membacakan
undang-undang kerusuhan dengan suara begitu keras, bahkan aku bisa mendengarnya,
padahal kantorku terletak di ujung lorong dari ruang resepsionis. Ia ingin tahu,
kami pikir mereka yang bertugas di gunung itu siapa dan kenapa mereka tidak
terdaftar, karena mereka sudah seminggu ada di sana. Ia benar-benar marah,
tahu." "Dan tiba-tiba seluruh Konsulat tahu ada rumah persembunyian di koloni."
"Kau yang mengatakannya, Catherine, bukan aku. Tapi akan ktlkatakan dengan tepat
apa isi memorandum yang ditujukan pada seluruh personel
tentang apa yang harus kami katakan memonya tiba di meja kami satu jam ?sesudah kepergian kopral itu, sesudah menghabiskan dua puluh menit dengan badut
keamanan yang sangat malu." " 5HJ
"Dan instruksi yang kauterima tidak seperti yang kaupercayai."
"No comment," kata Nelson. "Rumah di Victoria itu disewa untuk kemudahan dan
keamanan perjalanan personel pemerintah, juga perwakilan perusahaan-perusahaan
AS yang berbisnis di wilayah ini."
"Omong kosong. Terutama yang terakhir. Sejak kapan pembayar pajak Amerika
menanggung beban seperti itu untuk General Motors dan ITT?"
"Washington aktif mendorong ekspansi perdagangan sesuai kebijakan pintu terbuka
kami yang semakin lebar dengan Republik Rakyat Cina. Konsisten. Kami ingin
mempermudah segalanya, membuka akses lebih lebar, dan tempat ini penuh sesak.
Coba saja mendapatkan reservasi yang layak dalam waktu dua, hari."
"Kedengarannya kau sudah melatih jawaban itu."
'Wo comment. Aku sudah memberitahumu' instruksi yang kuterima mengenai apa yang
hams kukatakan seandainya kau menyinggung masalah ini yang aku yakin akan ?kaulakukan."
'Tentu saja. Aku punya teman di Peak yang mengira lingkungannya akan jadi buruk
dengan kehadiran segala jenis kopral di sana." Staples menghirup minumannya.
"Havilland ada di sana?" tanyanya sambii meletakkan gelas di meja.
"Hampir dijamin."
"Hampir?" "Petugas informasi kami kantornya tepat di samping kantorku ingin mendapatkan
? ?keuntungan humas dari kedatangan Ambassador. Ia bertanya pada Konsul Jenderal di
hotel mana Ambassador menginap, dan ia diberitahu bahwa Ambassador tidak
menginap di hotel mana pun. Lalu di rumah siapa" Jawaban yang sama. 'Kita
terpaksa menunggu ia menelepon, kalau ia menelepon,' kata bos kami. Ia menangis
di bahuku, tapi perintahnya tegas. Tidak boleh melacak Ambassador.".
"Ia ada di Peak," Staples menyimpulkan dengan suara pelan. "Ia membangun rumah
persembunyian bagi dirinya dan ia menjalankan operasi."
"Yang ada hubungannya dengan Webb ini, si Marie St Entah-siapa -
tadi Webb?" "St. Jacques. Ya."
"Kau mau menceritakannya padaku?"
'Tidak sekarang demi keselamatanmu, juga keselamatanku. Kalau aku benar dan ada
?yang mengira kau membocorkan informasi, kau bisa dipindahkan ke Reykjavik tanpa
sweter" 'Tapi katamu tadi kau tidak tahu hubungannya, dan berharap kau
mengetahuinya." < 4
"Dalam arti, aku tidak bisa memahami alasannya kalau memang hubungan itu ada.
Aku hanya tahu cerita dari satu pihak dan cerita itu penuh lubang. Bisa saja aku
keliru." Catherine sekali lagi menyesap wiskinya. "Look,. Johnny," lanjutnya.
"Hanya kau yang bisa mengambil keputusan, dan kalau jawabanmu negatif, aku
mengerti. Aku harus tahu apakah keberadaan Havilland di sana ada hubungannya
dengan seseorang bemama David Webb dan istrinya, Marie St. Jacques. Wanita itu
ahli ekonomi di Ottawa sebelum menikah." "Warga Kanada?"
"Ya. Biar kuberitahu kenapa aku harus tahu tanpa mengungkapkan terlalu banyak
padamu agar kau tidak mendapat masalah. Kalau hubungannya ada, aku harus menuju
satu arah; kalau tidak, aku bisa. berbalik seratus delapan puluh derajat dan
mengambil rate lain. Kalau yang terakhir yang terjadi, aku bisa go public. Aku
bisa menggunakan koran, radio, televisi, atau apa pun yang bisa menyebarkan
berita dan memanggil suaminya."
"Berarti orang itu ada di suatu tempat di luar sana seorang diri," sela atase
itu. "Dan kau tahu di mana istrinya berada, tapi yang lainnya
tidak." "Seperti yang kukatakan tadi, kau sangat gesit."
Tapi kalau yang pertama yang terjadi kalau memang ada hubungan dengan ?Havilland, dan kau yakin ada "
?"No comment. Kalau kujawab, aku akan menceritakan lebih daripada yang seharusnya
kauketahui." "Aku mengerti. Urusannya peka. Biar kupikirkan sebentar." Nelson meraih
martininya, tapi bukannya meminumnya ia justru meletakkannya kembali. "Bagaimana
kalau aku mendapat telepon anonim?" "Misalnya?"
"Seorang wanita Kanada yang sangat tertekan mencari informasi mengenai suami
Amerika-nya yang hilang."
"Kenapa ia meneleponmu" Ia berpengalaman dalam lingkungan pemerintahan. Kenapa
tidak menghubungi Konsul Jenderal secara langsung?"
"Ia sedang tidak masuk kerja. Aku ada."
"Aku tidak ingin melecehkan impian kemegahanmu, Johnny, tapi kau bukan orang
kedua dalam jajaran."
"Kau benar. Dan siapa pun bisa mengecek operator dan tahu bahwa aku tidak pernah
menerima telepon itu."
Staples mengerutkan kening, lalu mencondongkan tubuh. "Ada jalan kalau kau
bersedia berbohong lebih jauh lagi. Ini berdasarkan pada kenyataan. Sudah
terjadi, dan tak seorang pun bisa membantahnya."
"Apa itu?" "Seorang wanita mencegatmu di Garden Road sewaktu kau meninggalkan Konsulat. Ia
tidak banyak bicara tapi cukup membuatmu
246 waspada, dan ia tidak bersedia masuk karena ketakutan. Ia wanita yang sangat
tertekan karena suami Amerika-nya hilang. Kau bahkan bisa
mendeskripsikan penampilannya." fQlH "Mulailah dengan deskripsinya," kata
Nelson. Duduk di depan meja McAllister, Lin Wenzu membaca dari buku catatannya sementara
Menteri Muda Urusan Luar Negeri mendengarkan. "Sekalipun deskripsinya berbeda,
perbedaannya sangat kecil dan bisa didapat dengan mudah. Rambut ditarik ke
belakang dan ditutup topi, tanpa rias wajah, sepatu rata untuk mengurangi tinggi
badan tapi tidak sebanyak itu ini orang yang kita cari."
?"Dan ia mengaku tidak mengenali siapa pun dalam direktori yang bisa jadi adalah
sepupunya itu?" "Sepupu kedua dari pihak ibu. Cukup jauh tapi spesifik untuk bisa dipercaya.
Menurut resepsionis, wanita itu agak kikuk, bahkan memerah wajahnya. Ia juga
membawa tas tangan Gucci imitasi yang sangat mencolok sehingga resepsionis
menganggapnya orang kampungan. Menyenangkan tapi bodoh."
"Ada nama yang dikenalinya," kata McAllister.
"Kalau benar begitu, kenapa ia tidak meminta untuk menemuinya" Ia tidak akan
membuang-buang waktu mengingat situasinya."
"Ia mungkin menganggap kita mengeluarkan peringatan kewaspadaan, ia tidak berani
mengambil risiko dikenali, terutama di tempat itu."
"Kurasa hal ita tidak jadi masalah baginya, Edward. Dengan apa yang
diketahuinya, apa yang sudah dialaminya, ia bisa sangat meyakinkan."
"Dengan apa yang menurutnya diketahuinya, Lin. Ia tidak bisa memastikan apa pun.
Ia akan bersikap sangat hati-hati, takut mengambil langkah keliru. Suaminya ada
di luar sana, dan percayalah padaku aku pemah melihat mereka bersama wanita ? ?itu sangat protektif terhadap suaminya. Demi Tuhan, ia mencuri lebih dari lima
juta dolar untuk alasan sederhana bahwa ia merasa yang ada betiarnya
?juga suaminya telah diperlakukan semena-mena oleh orang-orangnya sendiri.
?Menurut pendapataya, suaminya berhak mendapatkan uang itu mereka berhak
?mendapatkannya dan persetan dengan Washington."
?"Ia melakukannya?"
"Havilland sudah memberimu izin untuk segalanya. Wanita itu melakukannya dan
berhasil loios. Siapa yang bisa memprotes" Washington yang takut rahasianya
terbongkar berada tepat di tempat yang diinginkannya. Ketakutan dan malu, hingga
ke ujung rambut." "Semakin banyak yang kuketahui, semakin kagum aku padanya."
"Kagumilah sesukamu, tapi temukan dia."
"Omong-omong mengenai Ambassador, di mana dia?"
247 "Makan siang diam-diam bersama Komisaris Tinggi Kanada." "Ia akan menceritakan
segalanya?" 'Tidak, ia akan meminta kerja sama buta menggunakan telepon di mejanya agar ia
bisa menghubungi London. London akan memberikan perintah kepada Komisaris untuk
memenuhi apa pun permintaan Havilland. Sudah diatur."
' la sanggup mengobrak-abrik, ya?"
'Tak ada duanya. Seharusnya ia kembali sebentar lagi ia terlambat." Telepon
?berdering dan McAllister meraihnya. "Ya"... Tidak, ia tidak ada di sini. Siapa"...
Ya, tentu saja, akan kubicarakan dengannya." Menteri Muda menutup rnikrofon
telepon dan berbicara kepada Major. "Konsul Jenderal kami. Maksudku Amerika."
"Sesuatu terjadi," kata Lin, dengan gugup beranjak dari kursi. "Ya, Mr. Lewis,
ini McAllister. Aku ingin Anda tahu bahwa kami menghargai kerja sama, Sir.
Konsulat sangat kooperatif." Tiba-tiba pintu terbuka dan Havilland melangkah
masuk. "Konsul Jenderal Amerika, Mr. Ambassador," kata Lin. "Aku yakin ia
mencari Anda." "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk pesta makan malam sialannya!" u \m
'Tunggu sebentar, Mr. Lewis. Ambassador baru saja tiba. Aku yakin Anda ingin
berbicara dengannya." McAllister mengulurkan telepon kepada Havilland, yang
bergegas menghampiri meja.
"Ya, Jonathan, ada apa?" Tubuhnya yang jangkung dan ramping tampak kaku,
pandangannya terpaku pada titik tak terlihat di kebun di balik jendela besar
yang menghadap teluk, Ambassador berdiri membisu, mendengarkan. Akhirnya ia
berbicara, "Terima kasih, Jonathan, kau sudah mengambil tindakan yang benar.
Jangan mengatakan apa-apa kepada siapa pun dan kuambil alih mulai sekarang."
Havilland menutup telepon lalu memandang McAllister dan Lin bergantian.
"Terobosan kita, kalau ini memang terobosan, baru saja muncul dari arah yang
keliru. Bukan Konsulat Kanada tapi Amerika."
"Itu tidak konsisten," kata McAllister. "Tidak konsisten dengan Paris, jalan
dengan pohon kesukaannya, pohon maple, daun maple. Itu artinya Konsulat Kanada,
bukan Amerika." "Dan dengan analisis itu kita harus mengesampingkan informasi ini?" 'Tentu saja
tidak. Apa yang terjadi?"
"Seorang atase bernama Nelson dicegat di Garden Road oleh seorang wanita Kanada
yang mencoba menemukan suami Amerika-nya. Nelson ini menawarkan bantuan,
menemaninya ke polisi, tapi wanita ini berkeras tidak mau menemUi polisi, dan ia
juga tidak mau ikut Nelson kembali ke kantomya."
"Wanita itu memberi alasan?" tanya Lin. "Ia meminta bantuan, tapi
lalu menolaknya." "Hanya bahwa ini masalah pribadi. Nelson menggambarkan wanita ini tegang,
tertekan. Wanita ini mengaku bernama Marie Webb dan mengatakan mungkin suaminya
datang ke Konsulat mencarinya. Ia ingin Nelson.bertanya-tanya dan wanita itu
akan meneleponnya nanti."
"Bukan begitu yang ia katakan sebelumnya," McAllister memprotes. "Ia menyinggung
kejadian yang mereka alami di Paris, dan itu berarti menghubungi pejabat
pemerintahnya sendiri, negaranya sendiri. Kanada."
"Kenapa kau ngotot?" tanya Havilland. "Pertanyaan ini bukan kritik, aku hanya
ingin tahu alasannya."
"Aku tidak yakin. Ada yang tidak cocok. Salah satunya, Major sudah memastikan
wanita itu memang pergi ke Konsulat Kanada."
"Oh?" Ambassador memandang orang dari Cabang Khusus itu.
"Resepsionis mengkonfirmasinya. Deskripsinya cukup mirip, terutama bagi orang


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang dilatih sang bunglon. Ceritanya, ia sudah berjanji pada keluarganya untuk
menemui sepupu jauh yang nama keluarganya tidak bisa diingatnya. Resepsionis
memberinya direktori dan ia membacanya."
"Ia menemukan orang yang dikenalnya," sela Menteri Muda Urusan Luar Negeri. "Ia
sudah mengadakan kontak."
"Kalau begitu, itulah jawabanmu," kata Havilland tegas. "Ia tahu suaminya tidak
pergi ke jalan dengan sederetan pohon maple, jadi ia mengambil langkah terbaik
selanjutnya. Konsulat Amerika,"
"Dan mengidentifikasi diri padahal seharusnya ia tahu ada orang-orang' yang
sedang memburunya di seluruh Hong Kong?"
"Memberikan nama palsu tidak ada gunanya," jawab Ambassador.
"Mereka berdua menguasai bahasa Prancis. Ia bisa saja menggunakan kata
Prancis toile, misalnya. Itu berarti web sarang labah-labah."? ?"Aku tahu apa artinya, tapi kupikir kau hanya coba-coba."
"Suaminya pasti paham. Wanita itu tidak akan mengambil tindakan yang begitu
mencolok." "Mr. Ambassador," sela Lin Wenzu, perlahan-lahan mengalihkan ' pandangan dari
McAllister. "Mendengar kata-kata Anda kepada Konsul Jenderal Amerika, bahwa ia
tidak boleh mengatakan apa-apa kepada siapa pun, dan sekarang memahami
sepenuhnya keprihatinan Anda atas kerahasiaan, kuanggap Mr. Lewis belum
diberitahu situasi sesungguhnya." "Benar, Major."
"Kalau begitu, bagaimana ia tahu hams menelepon Anda" Banyak orang tersesat di
Hong Kong. Suami atau istri yang hilang bukan kejadian yang tidak biasa."
Sejenak ekspresi Havilland tampak ragu-ragu. "Jonathan Lewis dan aku sudah lama
saling mengenal," katanya, suaranya tidak setegas semula. "Ia mungkin agak sok,
tapi tidak bodoh ia tidak akan berada di sini?249
kalau bodoh. Tentang si wanita yang menghentikan atasenya itu well, Lewis
?mengenalku dan ia menarik kesimpulan tertentu." Diplomat itu berpaling pada
McAllister; sewaktu melanjutkan bicaranya, sikapnya yang tegas perlahan-lahan
pulih. 'Telepon Lewis, Edward. Suruh dia memerintahkan Nelson ini menunggu
telepon darimu. Sebenarnya aku lebih suka pendekatan yang tidak langsung, tapi
kita tidak punya waktu. Kuminta kau menanyainya tentang apa pun yang terpikir
olehmu. Aku akan mendengarkan melalui telepon di kantormu."
"Anda setuju, kalau begitu," kata sang menteri muda. "Ada yang tidak beres." tW;
"Ya," jawab Havilland sambii memandang Lin. "Major memahaminya dan aku tidak.
Caraku mengungkapkannya agak berbeda, tapi pada intinya, itulah yang membuamya
terganggu. Yang menjadi pertanyaan bukan kenapa Lewis meneleponku, tapi kenapa
seorang atase menemui dia. Seorang wanita gelisah mengatakan suaminya hilang
tapi tidak bersedia menemui polisi, tidak mau masuk ke Konsulat. Biasanya orang
seperti itu akan dianggap sinting. Sekilas saja masalah itu tidak layak diajukan
ke Konsul Jenderal yang punya banyak pekerjaan. Hubungi Lewis."
"Tentu saja. Tapi, sebelumnya, apakah semua lancar dengan Komisaris Kanada" Ia
mau bekerja sama?" "Jawaban untuk pertanyaan pertamamu adalah tidak, situasinya tidak berjalan
lancar. Sedang untuk pertanyaan kedua, ia tidak punya pilihan." "Aku tidak
mengerti." Havilland menghela napas dengan jengkel dan lelah. "Melalui Ottawa, ia akan
menyediakan daftar stafnya yang pernah berhubungan dengan Marie St. Jacques-
?dengan enggan. Kerja sama itu sesuai perintah yang diterimanya, tapi ia jelas
sangat marah karenanya. Sebagai awal, ia sendiri pernah mengikuti seminar dua
hari bersama St. Jacques empat tahun yang lalu, dan ia bilang mungkin separo
staf konsulat juga pemah. Bukannya St Jacques akan mengingat mereka, tapi mereka
jelas akan mengingatnya. Ia 'menonjoP, begitu istilah yang digunakannya. Ia juga
warga Kanada yang pemah dikerjai habis-habisan oleh sekelompok keparat
Amerika asal kau tahu, ia tak keberatan sedikit pun menggunakan kata itu-
? ?dalam semacam operasi rahasia sinting -ya, itu istilah yang digunakannya,
?'sinting' operasi idiot yang diselenggarakan keparat-keparat ini sungguh, ia
? ?mengulanginya yang tidak pemah dijelaskan secara memuaskan." Ambassador
?berhenti sejenak, tersenyum singkat, terbatuk geli. "Benar-benar menyegarkan. Ia
tidak menyerang sedikit pun, dan belum pernah ada orang yang bicara seperti itu
padaku sejak istriku tersayang meninggal. Aku butuh lebih banyak percakapan
seperti itu." 'Tapi Anda sudah memberitahunya bahwa ini demi kebaikan St. Jacques sendiri,
bukan" Bahwa kita harus menemukannya sebelum terjadi apa-apa padanya."
"Aku mendapat kesan teman Kanada kita ini sangat meragukan kesehatan mentalku.
Hubungi Lewis. Hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan mendapatkan daftar itu.
Daun maple kita mungkin akan mengirimkannya dengan kereta dari Ottawa ke
Vancouver, lalu dengan kapal barang yang lambat ke Hong Kong, tempat daftar itu
hilang di ruang surat. Sementara itu, di sini kita punya atase yang bertingkah
aneh. Ia mengambil tindakan melewati batas yang sebenarnya tidak periu."
"Aku pemah bertemu John Nelson, Sir," kata Lin. "Ia bocah yang cerdas dan
menguasai bahasa Cina dengan cukup baik. Cukup populer di
kalangan Konsulat." "Juga ada sesuatu yang lain, Major."
Nelson menutup telepon. Butir-butir keringat mengucur di keningnya; ia
mengusapnya dengan punggung tangan, puas karena telah menguasai diri, mengingat
situasinya. Ia terutama senang karena berhasil membalikkan serangan dalam
pertanyaan-pertanyaan McAllister, sekalipun secara diplomatis.
Kenapa kau merasa harus menghubungi Konsul Jenderal"
Telepon Anda ini tampaknya sudah menjawab pertanyaan itu, Mr. McAllister. Aku
merasa ada kejadian yang tidak biasa. Kupikir Konsul seharusnya diberitahu.
Tapi wanita itu menolak menemui polisi; ia bahkan menolak masuk ke Konsulat.
Seperti yang sudah kukatakan, kejadiannya tidak biasa, Sir. Ia gugup
dan tegang, tapi bukan ding-dong. Apa"
Pikirannya jernih, Anda bahkan bisa mengatakan terkendali, terlepas dari
sikapnya yang gelisah. Aku mengerti.
Aku tidak yakin Anda benar-benar memahaminya, Sir. Aku tidak tahu apa yang
dikatakan Konsul Jenderal kepada Anda, tapi kuusulkan, dengan adanya rumah di
Victoria Peak marinir penjaga, lalu tibanya Ambassador Havilland, beliau mungkin
mau mempertimbangkan untuk
menghubungi seseorang di sana. Kau menyarankan begitu" Ya, benar. Kenapa"
Kurasa tak ada gunanya bagiku berspekulasi mengenai masalah ini, Mr. McAllister.
Masalah ini tidak ada hubungannya denganku.
Ya, tentu saja, kau benar. Maksudku baiklah: Tapi kita harus menemukan wanita ?itu, Mr. Nelson. Aku sudah diperintahkan untuk memberitahumu kalau kau bisa
membantu kami. hal itu akan sangat meng-iintungkan dirimu.
Aku memang ingin membantu, Sir. Kalau ia menghubungiku lagi, akan kucoba
mengatur pertemuan entah di mana dan menghubungi Anda. Aku tahu tindakanku
benar, kata-kata yang kukatakan benar. ',
Kami menunggu teleponmu. Catherine tepat mengenai sasaran, pikir John Nelson, memang ada kaitan yang
erat. Kaitan yang begitu hebat sehingga ia tidak berani menggunakan telepon
Konsulat untuk menghubungi Staples. Tapi kalau menghubunginya nanti, ia akan
mengajukan beberapa pertanyaan yang sangat keras. Ia mempercayai Catherine, tapi
terlepas dari foto-foto dulu dan konsekuensinya, ia tidak bisa dibeli. Ia
bangkit dan melangkah ke pintu kantornya. Alasan janji temu tiba-tiba dengan
dokter gigi menurutnya sudah cukup. Saat ia berjalan menyusuri lorong ke ruang
resepsionis, pikirannya kembali ke Catherine Staples. Catherine salah satu orang
terkuat yang pemah ditemuinya, tapi pandangan matanya semalam tidak memancarkan
kekuatan, melainkan semacam ketakutan yang putus asa. Ia tidak pernah melihat
Catherine seperti itu. la mengalihkan pertanyaanmu demi kepentingannya," kata Havilland sambii memasuki
pintu, Lin Wenzu yang bertubuh besar mengikutinya. "Kau setuju, Major?"
"Ya, dan itu berarti ia sudah mengantisipasi pertanyaannya. Ia sudah
dipersiapkan untuk itu." 'V^N
"Berarti ada yang mempersiapkan dirinya!"
"Kita seharusnya tidak meneleponnya," kata McAllister pelan, duduk di belakang
meja, jemarinya yang gugup sekali lagi memijat-mijat dahi kanannya. "Hampir
semua yang diucapkannya ditujukan untuk memprovokasi jawaban dariku."
"Kita memang harus meneleponnya," tandas Havilland, "kalaupun hanya untuk
mengetahui apa yang sudah bisa diduga."
"Ia tetap terkendali. Aku yang kehilangan kendali."
"Kau tidak bisa lain, Edward," kata Lin. "Sikap yang berbeda sama saja dengan
mempertanyakan motivasinya. Pada intinya, kau akan meng-ancamnya."
"Dan saat ini, kita tidak ingin ia merasa terancam," Havilland menyetujui. "Ia
mencarikan informasi untuk seseorang, dan kita harus tahu siapa orang itu."
"Dan itu berarti istri Webb memang menghubungi seseorang yang dikenalnya dan
menceritakan segala sesuatunya pada orang itu." McAllister mencondongkan tubuh,
sikunya bertumpu di meja, tangannya saling menggenggam.
"Kau benar," kata Ambassador sambii memandang si menteri muda. "Jalanan dengan
pohon maple kesayangannya. Paris. Pengulangan yang tak terelakkan. Cukup jelas.
Nelson bekerja untuk seseorang di Konsulat Kanada dan siapa pun orangnya, ia ?punya kontak dengan istri Webb."
McAllister menengadah. "Kalau begitu Nelson ini bodoh atau lebih bodoh lagi. Ia
menyadari setidaknya berasumsi ia berurusan dengan informasi yang sangat peka
? ?dan melibatkan penasihat presiden. Selain ancaman pemecatan, ia bisa dikirim ke
penjara karena bersekongkol menentang pemerintah."
"Ia bukan orang bodoh, kujamin," kata Lin.
"Kalau begitu ada yang memaksanya melakukan ini di luar kehendak-nya kemungkin
?besar pemeraSan atau ia dibayar untuk mencari tahu apakah ada hubungan antara
?Marie St. Jacques dengan rumah di Victoria Peak ini. Tidak mungkin karena sebab
lain lagi." Sambii mengerutkan kening, Havilland duduk di depan meja.
"Beri aku waktu sehari," lanjut mayor dari MI6 itu. "Mungkin aku bisa mencari
tahu. Kalau bisa, kita tangkap siapa pun orang dari Konsulat itu."
'Tidak," kata diplomat yang ahli dalam bidang operasi rahasia tersebut. "Kau
memiliki waktu hingga pukul delapan malam ini. Kita tidak bisa menanggungnya,
tapi kalau bisa menghindari konfrontasi dan kemungkinan terungkap, kita harus
mencoba. Kerahasiaan adalah prioritas nomor satu. Cobalah, Lin. Demi Tuhan,
cobalah" "Dan sesudah pukul delapan, Mr. Ambassador" Sesudah itu bagaimana?"
"Sesudah itu, Major, kita ciduk atase yang cerdik dan licin itu, lalu kita
tanyai dia sampai mengaku. Aku lebih suka memanfaatkan dia tanpa
Sepengetahuannya, tanpa risiko menimbulkan kewaspadaan, tapi wanita itu
prioritas pertama. Pukul delapan, Major Lin."
"Aku akan berusaha sebaik-baiknya."
"Dan kalau kita keliru," lanjut Havilland, seakan-akan Lin Wenzu tidak bicara,
"kalau Nelson ini sudah disiapkan sebagai jalan buntu dan tidak tahu apa-apa,
kuminta semua peraturan dilanggar. Aku tak peduli bagaimana caramu melakukannya
atau seberapa besar suap yang hams kaukeluarkan atau sampah yang hams
kaupekerjakan untuk menyelesaikannya. Aku meminta kamera, penyadapan telepon,
pengintaian elektronik apa pun yang bisa kaugunakan untuk setiap orang dalam ? ?konsulat itu. Ada orang di sana yang tahu di mana istri Webb berada. Ada orang
yang menyembunyikannya."
"Catherine, ini John," kata Nelson ke telepon umum di Albert Road. "Senang kau
menelepon," jawab Staples cepat. "Siang ini melelahkan,
253 tapi ajak aku minum hari-hari ini. Pasti menyenangkan bisa bertemu lagi denganmu
sesudah berbulan-bulan, dan kau bisa cerita tentang Canberra padaku. Tapi tolong
katakan satu hal padaku sekarang. Apa yang kuceritakan padamu dulu itu benar?"
"Aku harus bertemu denganmu, Catherine."
'Tidak ada petunjuk sedikit pun?"
"Aku harus bertemu denganmu. Kau bebas?"
"Ada pertemuan empat puluh lima menit lagi."
"Kalau begitu, nanti sekitar pukul lima. Ada tempat namanya Monkey's Tree di
Wanchai, di Gloucester " "Aku tahu. Aku akan ada di sana."
?John Nelson menutup telepon. Tidak ada kegiatan lain yang harus dilakukannya
kecuali kembali ke kantor. Ia tidak bisa menghilang dari kantor selama tiga jam,
terutama sesudah percakapannya dengan Menteri Muda Urusan Luar Negeri Edward
McAllister; absen seperti itu jadi tidak mungkin. Ia pemah dengar tentang
McAllister; menteri muda itu pemah menghabiskan tujuh tahun di Hong Kong,
meninggalkan wilayah ini hanya beberapa bulan sebelum kedatangan Nelson. Kenapa
ia kembali" Kenapa ada rumah persembunyian di Victoria Peak yang tiba-tiba
dihuni Ambassador Havilland" Di atas semua itu, kenapa Catherine Staples begitu
ketakutan" Ia berutang nyawa kepada Catherine, tapi ia harus mendapat beberapa
jawaban. Ada keputusari yang harus diambilnya.
Lin Wenzu menguras habis sumber-sumbernya. Hanya satu yang sempat membuatnya
berhenti sejenak dan berpikir. Inspector Ian Ballantyne, seperti biasa, menjawab
pertanyaan dengan pertanyaan lain, bukannya memberikan jawaban singkat. Hal itu
memusingkan, karena jadi sulit memastikan apakah pindahan yang dipuja dari
Scotland Yard itu tahu sesuatu tentang subjek terkait, dalam hal ini atase
Amerika bernama John Nelson.
"Aku pemah bertemu dia beberapa kali," kata Ballantyne pada waktu itu. "Bocah
?yang cerdas. Berbicara lingo-rmx, kau tahu?" "Lingo-ku, Inspector?"
"Well, sedikit sekali di antara kami yang bisa, bahkan sewaktu Perang Candu.
Periode sejarah yang menarik, bukan, Major?" "Perang Opium" Aku membicarakan
Atase John Nelson." "Oh, apa ada hubungannya?" "Dengan apa, Inspector?" "Perang
Candu." "Kalau ada, berarti usianya sudah seratus lima puluh tahun sementara di dosimya
disebutkan baru tiga puluh dua."
"Sungguh" Semuda itu, eh?"
Tapi Ballantyne terlalu banyak diam sehingga Lin tidak puas. Kalaupun kuda-
perang tua itu tahu sesuatu, ia tidak bemiat mengungkapkannya. Semua orang
lain dari kepolisian Hong Kong dan Kowloon hingga para "spesialis" yang bekerja
?bagi Konsulat Amerika dengan mengumpulkan informasi demi uang menyatakan Nelson
?tidak memiliki sisi negatif dan cukup dihormati di wilayah itu. Kalaupun Nelson
punya kelemahan, itu hanya perburuan terhadap seks yang luar biasa dan tidak
terlalu pemilih, tapi sepanjang hubungan itu heteroseksual, dan karena ia masih
bujangan, hal im malah pantas dipuji, bukan dihukum. Salah seorang "spesialis"
memberitahu Lin, ia dengar Nelson pemah' diperingatkan unmk memeriksakan
kesehatannya secara teratur. Bukan kejahatan; atase im hidung belang ajak saja ?makan malam.
Telepon berdering; Lin menyambarnya. "Ya?"
"Subjek kita berjalan ke Peak Tram dan naik taksi ke Wanchai. Ia ada di kafe
bernama Monkey Tree. Aku bersamanya. Aku bisa melihatnya."
'Tempat itu di pelosok dan sangat ramai," kata Major. "Ada yang menemuinya?"
'Tidak, tapi ia minta meja untuk dua orang."
"Aku akan ke sana secepat mungkin. Kalau kau hams pergi, akan kuhubungi melalui
radio. Kau bawa Kendaraan Tujuh, bukan?"
"Kendaraan Tujuh, Sir.... Tunggu! Ada wanita yang berjalan ke mejanya. Ia
berdiri." "Kau mengenali wanita im?"
"Di sini terlalu gelap. Tidak."
"Bayar pelayannya. Bikin kekacauan. Tapi jangan mencolok, hanya beberapa menit.
Akan kugunakan ambulans kita dan sirenenya hingga satu blok dari sana."
"Catherine, aku sangat berutang budi padamu dan ingin membantumu sebisa mungkin,
tapi aku hams tahu lebih banyak daripada yang kauceritakan padaku."
"Kaitannya ada, bukan" Havilland dan Marie St. Jacques." j
"Aku tidak akan mengkonfirmasinya aku tidak bisa mengkonfirmasinya karena aku
? ?belum bicara pada Havilland. Tapi aku bicara dengan seseorang lainnya, yang
sering kudengar ceritanya dan pemah ditugaskan di sini luar biasa cerdas dan
? ?ia kedengarannya sama putus asanya seperti-dirimu semalam."
"Menumtmu aku tampak begitu semalam?" tanya Staples sambii merapikan rambutnya
yang telah dihiasi ttban. "Aku tidak sadar."
"Hei, ayolah. Mungkin bukan kata-katamu, tapi caramu berbicara. Ketegangan yang
bersembunyi di balik permukaan. Kau kedengaran
255 seperti diriku waktu kau memberikan foto-foto itu padaku. Percayalah, aku bisa
mengenalinya." "Johnny, percayalah padaku. Kita mungkin berurusan dengan sesuatu yang
seharusnya tidak kita dekati, sesuatu yang begitu tinggi hingga kita aku tidak
? ?memiliki pengetahuan untuk mengambil keputusan yang tepat"
"Aku harus mengambil keputusan, Catherine." Nelson menengadah mencari pelayan.
"Di mana minuman sialan itu?" "Aku tidak haus."
?"Aku haus. Aku berutang segalanya padamu dan aku menyukaimu dan aku tahu kau
tidak akan menggunakan foto-foto itu, yang bisa menjadikan segalanya lebih
buruk " ?"Sudah kuberikan semua yang ada, dan kita membakar negatifnya bersama-sama."
"Jadi utangku nyata, apa kau masih belum mengerti" Astaga, bocah itu masih
berapa dua betas tahun?"
? "Kau kan tidak tahu. Kau dalam pengaruh obat."
"Pasporku lenyap. Tidak ada impian jadi menteri luar negeri di masa depanku,
hanya menteri porno-anak-anak. Benar-benar perjalanan yang luar biasa!"
"Itu sudah berakhir dan kau terlalu melodramatis. Aku hanya ingin kau
memberitahuku apakah ada kaitan antara Havilland dan Marie St. Jacques yang ?menurutku bisa kaulakukan. Kenapa begitu sulif" Aku akan tahu apa yang harus
kulakukan sesudah mendapatkan jawabannya."


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau kukatakan padamu, aku harus memberitahu Havilland bahwa aku
memberitahumu." "Kalau begitu beri aku waktu satu jam."
"Kenapa?" "Karena aku punya beberapa foto dalam lemari besiku di Konsulat," kata Catherine
Staples, berbohong. Nelson tersentak di kursinya, tertegun. "Oh, astaga, aku
tidak percayaT "Cobalah untuk memahami, Johnny. Kita semua main keras sekarang,
dan itu pun demi kepentingan terbaik para majikan kita negara kita masing-
?masing, kalau kau mau. Marie St. Jacques temanku -masih temanku dan nyawanya
? ?jadi tidak berarti di mata orang-orang sok-penting yang menjalankan operasi
rahasia yang tidak memedulikan dirinya dan suaminya. Mereka memanfaatkan kedua
orang itu lalu mencoba membunuh keduanya! Kuberitahu kau, Johnny. Aku benci
Central intelligence Agency dan divisi Kementerian Luar Negeri-mu yang dinamai
begitu agung, Consular Operations. Bukan karena mereka keparat, tapi karena
mereka keparat yang bodoh. Dan kalau aku merasa ada operasi yang sedang
dijalankan, sekali lagi memanfaatkan dua orang yang sudah
mengalami begitu banyak penderitaan, aku berniat mengetahui alasannya dan
bertindak sesuai dengan apa yang kutemukan. Tapi tidak ada lagi omong kosong
dengan nyawa mereka. Aku berpengalaman dan mereka tidak, dan aku sudah cukup
marah tidak, cukup murka untuk menuntut
? ?jawaban." "Oh, Tuhan " .^So
?Pelayan tiba membawa minuman mereka, dan saat Staples menengadah sedikit untuk
mengisyaratkan ucapan terima kasih, pandangannya tertarik pada seorang pria
dekat telepon urnum di lorong luar yang ramai,
mengawasi mereka. Ia membuang muka. "Bagaimana, Johnny?" lanjutnya. "Konfirmasi
atau tidak?" "Konfirmasi," bisik Nelson sambii meraih gelasnya. "Rumah di
Victoria Peak?" "Ya." "Siapa orang yang bicara denganmu, yang ditempatkan di sana?" "McAllister.
Menteri Muda Urusan Luar Negeri McAllister."
"Astaga!" Ada keriuhan di lorong luar. Catherine menudungi matanya dan memiringkan kepala
sedikit, memperlebar bidang pandangnya. Seorang pria besar masuk dan berjalan
menuju telepon di dinding. Hanya ada satu orang seperti itu di seluruh Hong
Kong. Ia adalah Lin Wenzu, MI6, Cabang Khusus! Amerika telah merekrut yang
terbaik, tapi bisa jadi yang terburuk bagi Marie dan suaminya.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, Johnny," kata Staples sambii beranjak
dari kursi. "Kita akan bicara lagi, tapi sekarang ini aku mau ke kamar kecil."
"Catherine?" "Apa?" "Main keras?" "Sangat keras, Sayang."
Staples berjalan melewati Lin yang menyumt dan memalingkan wajah. la masuk ke
kamar kecil, menunggu beberapa detik, lalu keluar bersama dua wanita lain
sebelum memisahkan diri, melanjutkan perjalanan menyusuri lorong dan memasuki
dapur Monkey Tree. Tanpa mengatakan apa pun pada para pelayan dan koki yang
terkejut, ia menemukan pintu dan keluar. Ia berlari menyusuri jalan' sempit itu
menuju Gloucester Road; ia berbelok ke kiri, langkahnya semakin cepat sampai
menemukan telepon urnum. Setelah memasukkan koin, ia memutar nomomya.
"Halo?" "Marie, pergi dari apartemenku! Mobilku ada di garasi satu blok di sebelah kanan
begitu kau meninggalkan gedung. Namanya Ming's; papan namanya merah. Pergilah ke
sana secepat mungkin! Akan kutemui kau
di sana. Cepat!" Catherine Staples memanggil taksi.
"Wanita itu bernama Staples, Catherine Staples.1" kata Lin Wenzu di telepon
dinding lorong luar Monkey Tree, mengeraskan suaranya mengatasi keramaian.
"Masukkan disket Konsulat dan cari dengan komputer. Cepat! Aku butuh alamatnya
dan pastikan itu alamat rerbaru!" Otot-otot di rahang Major bekerja mati-matian
sementara ia menunggu, rrien-dengarkan. Jawabannya disampaikan, dan ia
memberikan perintah lain, "Kalau salah satu kendaraan regu kita ada di kawasan
itu, hubungi melalui radio dan perintahkan menuju ke sana. Kalau tidak, kirim
satu secepatnya." Lin diam sejenak, sekali lagi mendengarkan. "Wanita Amerika
itu," katanya dengan pelan ke telepon. "Mereka hams mengawasinya. Kalau ia
terlihat dekati dan tangkap. Kami dalam perjalanan ke sana."
"Kendaraan Lima, jawab.1" ulang operator radio, berbicara ke mikrofon, tangannya
berada di tombol sudut kanan bawah panel di depannya. Ruangan itu putih dan
tidak berjendela, dengung pendingin ruangan terdengar pelan tapi konstan,
denging sistem penyaring bahkan lebih pelan lagi. Di ketiga dindingnya terdapat
deretan radio, dan komputer canggih di atas meja putih bersih dari Formica
paling halus. Ruangan itu berkesan antiseptik; di mana-mana permukaan keras.
Ruangan itu bisa jadi laboratorium elektronik pusat medis dengan aliran dana
yang baik, tapi rupanya bukan. Tempat itu adalah pusat komunikasi MI6, Cabang
Khusus, Hong Kong. "Kendaraan Lima menjawabr teriak seseorang dengan terengah-engah melalui
pengeras suara. "Kuterima sinyalmu, tapi aku satu jalan jauhnya mengawasi orang-
orang Thai itu. Kita benar. Obat bius."
"Gunakan pengacak!" perintah operator sambii menjentikkan sakelar. Terdengar
siulan yang berhenti tiba-tiba seperti mulainya. "Lupakan orang-orang Thai itu,"
lanjut petugas radio. "Kau yang terdekat. .Pergilah ke Arbuthnot Road; jalan
tercepat melalui pintu masuk Botanical Garden." Ia memberikan alamat gedung
tempat tinggal Catherine Staples, dan mengakhirinya dengan perintah terakhir.
"Wanita Amerika itu. Awasi. Tangkap."
"Aiya" bisik agen dari Cabang Khusus yang terengah-engah itu.. j
Marie berusaha tidak panik, menerapkan penguasaan diri ...yang tak dirasakannya.
Situasinya benar-benar absurd. Juga sangat serius. Ia mengenakan mantel mandi
Catherine yang terlalu besar, sesudah mandi
air panas cukup lama, dan yang lebih buruk lagi, mencuci pakaiannya di wastafel
dapur Staples. Pakaian itu tergantung di kursi plastik di balkon kecil Catherine
dan masih basah. Rasanya wajar sekali, begitu logis, untuk mencuci panas dan
debu Hong Kong dari tubuhnya, juga pakaian orang asing itu. Dan sandalnya yang
murahan membuat telapak kakinya melepuh; ia menusuk salah satu bekas melepuh
yang paling mengerikan dengan jamm dan jadi sulit berjalan. Tapi ia tidak berani
berjalan, ia harus lari. Apa yang telah terjadi" Catherine bukan jenis orang yang senang memberi
perintah. Sama seperti dirinya, terutama pada David. Orang-orang seperti
Catherine menghindari pendekatan imperatif karena hanya akan membuat bingung
korbannya padahal temannya, Marie St. Jacques, adalah korban sekarang, tidak ?seberat David, tapi tetap saja korban. Jalan! Berapa sering Jason mengatakannya
di Zurich dan Paris" Begitu sering hingga ia masih tegang setiap kali mendengar
kata itu. Ia pun berpakaian, baju basah menempel di tubuhnya, lalu mengaduk-aduk lemari
pakaian Staples mencari selop. Selopnya tidak nyaman tapi lebih empuk daripada
sandalnya. Ia bisa berlari; ia harus berlari.
Rambutnya! Oh, Tuhan, rambutnya! Ia berlari ke kamar mandi, tempat Catherine
meletakkan guci porselen berisi jepit rambut. Dalam beberapa detik, ia telah
menjepit rambutnya di puncak kepala, bergegas kembali ke ruang duduk mungil
apartemen itu, menemukan topinya yang konyol, dan mengenakannya.
Menanti lift lama sekali! Menurut angka-angka yang menyala di panel-panelnya,
kedua lift berayun-ayun antara lantai satu, tiga, dan tujuh, tidak satu pun naik
melebihi lantai sembilan. Para penghuni di bawah yang akan keluar malam ini
telah memprogram monster-monster vertikal itu, menunda kesempatannya turun.
Hindari lift kalau bisa. Lift adalah jebakan. Jason Bourne. Zurich.
Marie memandang kedua ujung lorong. Ia melihat pintu tangga darurat dan berlari
ke sana. Dengan terengah-engah, ia menghambur ke lobi pendek, menenangkan diri sebisa
mungkin untuk menghindari lirikan-lirikan yang diarahkan padanya oleh lima atau
enam penyewa, beberapa masuk, beberapa keluar. Ia tidak menghitung; ia hampir-
hampir tidak melihat; ia hams keluar!
Mobilku ada di garasi satu blok di sebelah kanan begitu kau meninggalkan gedung.
Namanya Ming's. Sebelah kanan" Atau kiri" Di trotoar ia ragu-ragu. Kanan atau
kiri" "Kanan" bisa berarti banyak, "kiri" lebih spesifik. Ia mencoba berpikir.
Apa yang dikatakan Catherine" Kanan! Ia hams berbelok ke kanan; itu yang pertama
kali melintas di benaknya. Ia harus mempercayainya.
Ingatan pertama adalah yang terbaik, yang paling akurat, karena
259 kesan-kesan itu tersimpan dalam kepalamu, seperti informas' bank data Itulah
kepalamu. Jason Bourne. Paris. '
Ia mulai berlari. Selop kirinya terlepas; ia berhenti, merrib untuk
mengambilnya. Tiba-tiba sebuah mobil berbelok sambii be gerbang Botanical Garden
di seberang jalan yang lebar itu, aan 6Cit rudal pencari panas yang marah,
melecut ke kiri dan terpaku n Mobil itu meliuk membentuk setengah lingkaran,
berdecit-decit ^ berputar di jalan. Seorang pria melompat keluar dan berlari ke
arahn"'1 260 18 TlDAK ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia tersudut, terjebak Marie menjerit dan
menjent, sementara agen Cina itu mendekat, histerianya semakin hebat saat pria
tersebut dengan sopan tapi tegas menarik Wngannya. Ia mengenali pria itu salah ?seorang dari mereka, salah seorang birokrat itu! Jeritannya semakin keras.
Orang-orang di jalan berhenti dan berpaling. Para wanita terkesiap sementara
pria-pria yang terkejut melangkah maju ragu-ragu atau memandang sekitarnya
dengan panik mencari polisi, beberapa bahkan berteriak memanggil polisi.
"Please, Mrs....!" seru orang Oriental itu, mencoba mengendalikan silaranya. "Anda
tidak akan disakiti. Izinkan aku mengawal Anda ke kendaraanku. Ini untuk
perlindungan Anda sendiri."
"Tolong!" jerit Marie sementara orang-orang yang berjalan-jalan senja hari itu
tertegun dan mulai berkerumun. "Orang ini pencuri! Ia mencuri tas tanganku,
uangku! Ia mencoba mengambil perbiasanku!"
"Dengar, chap!" teriak seorang pria Inggris tua, terhuyung-huyung maju,
mengangkat tongkat berjalannya. "Aku sudah menyuruh seorang bocah memanggil
polisi, tapi sebelum mereka tiba, demi Tuhan, akan kuhajar kau!"
"Please, Sir," kata orang dari Cabang Khusus itu, tegas namttB tenang. "Ini
masalah pihak berwenang, dan aku dari pihak berwajib. Izinkan aku menunjukkan
kartu identitasku pada Anda."
"Sabar, myte!" raung seseorang dengan aksen Australia. Seorang pria bergegas
maju; dengan lembut menyirigkirkan pria Inggris tua itu dan menurunkan^
tbngkataya. "Kau benar-benar hebat untuk orang seusiamu, Pak tua, tapi jangan
repot-repot! Bajingan seperti ini butuh jems. yang lebih muda." Orang Australia
itu berdiri di depan agen Cina tersebut "Lepaskan tanganmu dari wanita itu,
bajingan! Dan kalau jadi kau, aku akan melakukannya dengan cepat."
. , , . , . ?. "Please, Sit, ini kesalahpahaman serins. Wanita in. dalam bahaya dan
dicari untuk ditanyai pihak berwenang." Aku tidak melihat seragammu!"
"Izinkan aku menunjukkan kartu identitas."
"Itu yang dikatakannya satu jam yang lalu sebelum ia menyerangku di Garden
Road!" teriak Marie histeris. "Orang-orang mencoba menolongku tadi! Ia
membohongi semua orang! Lalu ia mencuri tas tanganku! Ia mengikutiku sejak
tadi!" Marie tahu kata-kata yang terns diteriakkannya itu tidak masuk akal. Ia
hanya berharap timbul kebingungan, sesuatu yang telah diajarkan Jason.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, myteV teriak orang Australia itu sambii
melangkah maju. "Lepaskan tanganmu dari wanita itu!"
"Please, Sir. Aku tidak bisa berbuat begitu. Para petugas Iain sedang dalam
perjalanan." "Oh, begitu, eh" Kalian bajingan sekarang bepergian dalam kelompok, bukan" Well,
kau akan menjadi pemandangan yang menyakitkan bagi mereka pada saat mereka tiba
di sini!" Orang Australia itu, menyambar bahu orang Cina itu, memutamya ke kiri.
Tapi saat orang dari Cabang Khusus itu berputar, kaki kanannya- ujung sepatu
?kulitnya teracung bagai ujung pisau melecut berputar, menghantam perut orang
?Australia itu. Orang Samaria yang baik dari Down Under tersebut terbungkuk.
jatuh berlutut. "Sekali lagi kuminta Anda jangan ikut campur, Sir!" "Begitu, sekarang" Dasar
haram jadah sipit!" Orang Australia yang murka itu menerjang maju, mengempaskan
tubuhnya pada si orang Oriental, tinjunya menghantam wajah orang dari Cabang
Khusus itu bertubi-tubi. Kerumunan meraung setuju, suaranya menggema di jalan
?dan lengan Marie pun bebas! Lalu suara lain bergabung dengan keributen itu.
Sirene, diikuti tiga mobil yang melaju kencang, di antaranya sebuah ambulans.
Ketiganya berbelok tajam dengan tiba-tiba, roda-rodanya berdecit dan kendaraan-
kendaraan itu tersentak berhenti.
Marie terjun ke keramaian dan sampai di trotoar; ia mulai berlari ke arah papan
merah setengah blok jauhnya. Selopnya terlepas dari kakinya; bekas hikanya yang
tercabik seperti terbakar, mengirimkan sengatan nyeri ke tungkainya. Ia tidak
boleh memikirkan rasa sakit itu. Ia harus lari, lari, melarikan diri! Lalu suara
yang menggelegar mengatasi keributan jalan, dan Marie membayangkan seorang pria
bertubuh besar-tengah meraung. Itu orang Cina raksasa yang mereka panggil mayor.
? "Mrs. Webb! Mrs. Webb, kumohon! Berhenti! Kami tidak bermaksud jahat! Semuanya
akan diceritakan padamu! Demi Tuhan, berhenti"'
Semuanya akan diceritakan! pikir Marie. Cerita kebohongan dan kebohongan lagi!
Tiba-tiba orang-orang berhamburan ke arahnya. Apa yang mereka lakukan" Kenapa..."
Lalu mereka melesat melewatinys. sebagian besar pria, tapi tidak semuanya pria,
dan ia mengerti. Ada kepanikan di jalan mungkin kecelakaan, mutilasi, ?kematiari. Ayo llhd. j Ayo saksikan! Tapi dari jauh saja.
Kesempatan akan datang sendiri. Kenalilah, bertindaklah berdasarkan
kesempatan itu. Marie tiba-tiba berbalik, berjongkok, menerjang menerobos keramaian yang masih
berhamburan maju ke tepi jalan, merunduk serendah mungkin, dan berlari kembali
ke tempat ia tadi hampir tertangkap. Ia terns menoleh ke kiri mengawasi,
?berharap. Ia melihat pria itu di sela-sela orang-orang yang berlari-Iari! Mayor
bertubuh besar itu berlari ke arah yang berlawanan; seorang pria lain
bersamanya, pria berpakaian rapi lainnya, birokrat yang lain.
Orang-orang bersikap hati-hati, karena kejadian luar biasa selalu hams
diperlakukan dengan hati-hati, merayap maju tapi menjaga jarak agar tidak
terlibat. Yang mereka saksikan tidak membuat senang para penonton Cina maupun
mereka yang memuja seni beladiri mistis Oriental. Orang Australia yang lincah
itu, bahasanya luar biasa jorok, tengah menghajar habis-habisan tiga
penyerangnya di arena tinju pribadinya. Tiba-tiba, yang mengejutkan semua orang,
orang Australia itu meraih salah seorang penyerangnya yang jatuh dan meraung
sekeras mayor bertubuh besar itu. "Demi Tuhan! Bisakah kalian berhenti" Kalian
bukan bajingan, bahkan aku bisa melihatnya! Kita semua sudah ditipu!"
Marie berlari menyeberangi jalan lebar ke pintu masuk Botanical Garden. Ia
berdiri di bawah pohon dekat gerbang, tempat ia bisa melihat Ming's Parking
Palace. Major melewati garasi itu, menengok beberapa lorong yang memotong
Arbuthnot Road, mengirim beberapa anak buahnya menyusuri lorong-lorong itu,
terns memandang sekitamya mencari pasukan pendukung. Mereka tidak ada di sana;
Marie melihatnya sendiri sewaktu kerumunan sprang bubar. Ketiganya terengah-
engah dan bersandar ke ambulans, digiring ke sana oleh orang Australia itu.
Sebuah taksi melaju ke Ming's, Mula-mula tidak ada yang keluar, lalu sopirnya
muncul. Ia berjalan ke garasi terbuka itu dan berbicara pada seseorang di balik
bilik kaca. Ia membungkuk berterima kasih, kembali ke taksi, dan berbicara pada
penumpangnya. Dengan.hati-hati penumpangnya membuka pintu dan keluar ke tepi
jalan. Catherine! Ia juga berjalan ke pintu masuk lebar itu, jauh lebih cepat
daripada si sopir, berbicara ke bilik kaca, menggeleng-geleng, menunjukkan bahwa
ia mendengar apa yang tidak diharapkannya.
Tiba-tiba Lin muncul. Ia kembali menyusuri langkahnya, marah karena orang
lainlah yang seharusnya menyusuri kembali jejak/jya. Ia akan melewati garasi
terbuka itu; ia akan melihat Catherine!
"Carlos!" jerit Marie, mengambil asumsi terburuk, tahu asumsi itu akan
memberitahukan segalanya padanya. "Delta!"
Mayor itu berbalik, matanya membelalak lebar. Marie melesat ke dalam Botanical
Garden; itu kuncinya! Cain untuk Delta dan Carlos akan dibunuh oleh Cain... atau
apa pun kata sandi yang disebarkan di
Paris! Mereka memanfaatkan David lagi! Bukan kemungkinan lagi, itu kenyataan!
Mereka pemerintah Amerika Serikat mengirim' suaminya untuk memainkan peran ? ?yang hampir membuataya tewas, dibunuh orang-orangnya sendiri! Keparat macam apa
mereka"... Atau, sebaliknya, hasil akhir macam apa yang membenarkan cara yang
digunakan orang-orang yang seharusnya berpikiran waras"
Sekarang ia semakin ingin menemukan David, sebelum David mengambil risiko yang
seharusnya diambil orang lain! Ia sudah memberi begitu banyak dan sekarang
mereka meminta lebih lagi, menuntut dengan cara paling kejam. Tapi untuk
menemukan suaminya ia harus menghubungi Catherine, yang tidak lebih dari seratus
meter jauhnya/ Ia haras ffie-mancing musuh dan kembali menyeberangi jalan tanpa
terlihat musuh. Jason, apa yang bisa kulakukan"


The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ia bersembunyi di balik sesemakan, mendesak semakin dalam, saat mayor itu
berlari melewati gerbang Garden. Orang Oriental bertubuh tinggi besar itu
berhenti dan memandang sekitarnya dengan mata disipitkan. pandangan tajam
menusuk, lalu berbalik dan berteriak memanggil anak buahnya, yang muncul dari
lorong di Arbuthnot Road. Orang kedua kesulitan menyeberangi jalan; lalu lintas
lebih ramai dan lambat karena ambulans yang diparkir dan dua kendaraan lain
menghalangi aliran normal dekat pinto masuk Botanical Garden. Mayor itu tiba-
tiba murka sewaktu melihat dan menyadari alasan memadatnya lalu lintas.
"Perintahkan orang-orang tolol itu memindahkan mobilnya!" raungnya. "Dan kirim
mereka kemari.... Tidak! Kirim satu ke gerbang di Albany Road. Kalian yang lain,
kemari semuanya! Cepat!"
Para pejalan sore semakin banyak. Para pria mengendurkan dasi yang mereka
kenakan sepanjang hari di kantor, sementara para wanita membawa sepatu berhak
tinggi di dalam tas biasa, menggantinya dengan sandal. Para istri yang mendorong
kereta bayi didampingi suami; kekasih berpelukan dan berjalan bergandengan di
antara deretan bunga yang mekar. Tawa anak-anak yang berlari-lari terdengar
membelah Garden, dan mayor itu bertahan di tempatnya di gerbang utama. Marie
menelan ludah, kepanikannya memuncak. Ambulans dan dua mobil lainnya bergerak;
lalu lintas mulai lancar.
Tabrakan! Dekat ambulans, seorang sopir yang tak sabar telah menabrak mobil di
depannya. Mayor itu tidak mampu menahan diri; lokasi tabrakan yang begitu dekat
dengan kendaraan dinasnya memaksa ia maju, untuk memastikan apakah anak buahnya
terlibat. Kesempatan akan datang sendiri... gunakan! Sekarang!
Marie berlari mengitari ujung terjauh sesemakan, lalu melesat menyeberangi
rerumputan dan bergabung dengan kelompok empat orang di jalan setapak berkerikil
yang menuju keluar Garden. Ia melirik ke kanan, takut akan apa yang mungkin
dilihatnya tapi tahu bahwa ia hams
264 memastikannya. Ketakutan terburuknya terbukti; mayor raksasa itu merasakan atau
?melihat sosok wanita berlari di belakangnya. Ia berhenti sejenak, tidak yakin,
?tidak pasti, lalu melangkah cepat ke gerbang.
KJakson berbunyi empat semburan pendek dan cepat Itu Catherine, melambai
?memanggilnya dari balik jendela terbuka sebuah mobil Jepang kecil saat Marie
berlari ke jalan. "Masuk!" teriak Staples.
"Ia melihatku!"
"Cepat!" Marie melompat ke kursi depan saat Catherine menginjak pedal gas dan membelokkan
mobil kecil itu keluar jalur, setengah di trotoar, lalu berputar balik ketika
ada celah di lalu lintas yang padat. Ia membelokkan mobil ke jalan samping dan
mengemudi dengan lincah ke persimpangan tempat terdapat rambu bergambar anak
panah merah yang menuju ke kanan. Pusat Distrik Bisnis. Staples membelok ke
kanan.. "Catherine!" teriak Marie. "Ia melihatkuF' "Lebih buruk lagi," kata
Staples. "Ia melihat mobilku."
"Mitsubishi dua pintu hijau!" teriak Lin Wenzu ke radio genggamnya. "Nomor
pelatnya AOR-lima, tiga, lima, nol nolnya mungkin enam, tapi kurasa tidak. ?Tidak penting, tiga huruf pertama sudah cukup. Kuminta nomor itu disebarkan,
status darurat menggunakan jaringan polisi! Sopir dan penumpangnya hams ditahan
dan tidak boleh ada percakapan di antara keduanya. Ini masalah pemerintah dan
tidak perlu ada penjelasan. Sampaikan! Sekarang.'"
Staples membelokkan mobil memasuki garasi parkir di Ice House Street. Papan nama
merah baru Hotel Mandarin, diterangi lampu, terlihat kurang dari satu blok
jauhnya. "Kita akan menyewa mobil," kata Catherine sambii menerima tiket dari
orang di dalam. bilik. "Aku kenal beberapa
kepala di hotel." "Kami parkir" Kau parkir?" Petogas yang menyeringai' itu jelas mengharapkan yang
pertama "Kau parkir," jawab Staples, sambii mengambil beberapa lembar dolar Hong Kong
dari tas tangannya. "Ayo pergi," katanya, berpaling pada Marie. "Berjalanlah di
sebelah kananku, dalam bayang-bayang, dekat gedung. Bagaimana kakimu?"
"Lebih baik tidak kukatakan."
"Kalau begitu jangan. Tidak ada waktu untuk kakimu sekarang. Bertahanlah, old
girl." "Catherine, berhentilah bersikap seperti C. Aubrey Smith."
"Siapa itu?" "Lupakan. Aku senang film lama. Ayo pergi."
Dengan Marie terhuyung-huyung, kedua wanita itu menyusuri jalan menuju pintu
samping Mandarin. Mereka menaiki tangga hotel dan masuk. "Ada kamar kecil wanita
di sebelah kanan, lewat deretan toko," kata Catherine.
"Bisa kulihat tandanya."
'Tunggu di sana. Akan kutemui kau secepat mungkin." "Apa ada apotek di sini?"
"Aku tidak ingin kau berkeliaran. Deskripsimu pasti sudah tersebar." "Aku
mengerti, tapi apa kau bisa berkeliaran" Sedikit." "Bulanan?"
"Bukan, kakiku! Vaseline, skin lotion, sandal tidak, jangan sandal. Sandal
?karet, mungkin, dan peroksida." "Akan kuusahakan sebisanya, tapi waktu adalah
segalanya." "Sudah begitu terus selama setahun ini. Seperti treadmill yang
menakutkan. Apakah treadmill ini akan berhenti, Catherine?"
"Aku berusaha sebaik-baiknya untuk memastikannya. Kau teman dan rekan senegara,
Sayang. Dan aku wanita yang sangat marah dan omong-omong tentang marah berapa
? ?banyak wanita yang kautemui di lorong-lorong CIA atau di Kementerian Luar
Negeri, di Consular Operations?" Marie mengerjapkan mata, berusaha mengingat.
"Tidak ada." "Kalau begitu persetan dengan mereka!" "Ada seorang wanita di
Paris " "Selalu ada, Sayang. Pergilah ke kamar kecil."
? "Mobil merupakan hambatan di Hong Kong," kata Lin sambii memandang jam di
dinding kantor markas besar MI6, Cabang Khusus. Jam menunjukkan pukul 18.34.
"Oleh karena im kita hams menganggap ia bemiat mengantar istri Webb ke suatu
tempat, menyembunyikannya, dan tidak mengambil risiko menggunakan taksi. Tenggat
waktu pukul delapan sudah dibatalkan, pengejaran sudah dimulai. Kita harus
menghadangnya. Ada yang belum kita pertimbangkan?"
"Memenjarakan orang Australia ita," kata anak buahnya yang bertubuh pendek dan
berpakaian rapi dengan tegas. "Ada korban dari pihak kita di Walled City, tapi
dia sendiri mempakan penghinaan di depan urnum. Kita tahu di mana ia menginap.
Kita bisa menangkapnya."
"Atas tuduhan apa?"
"Menghalangi." "Untuk tujuan apa?"
266 Anak buah im mengangkat bahu dengan marah. "Kepuasan, hanya
itu." "Kau baru saja menjawab pertanyaanmu sendiri. Harga diri tidak penting. Tetap
pikirkan wanita itu para wanita itu." "Anda benar, tentu saja."?"Setiap garasi, semua persewaan mobil di pulau ini dan di Kowloon sudah
dihubungi polisi, benar?"
"Ya, Sir. Tapi harus kuingatkan bahwa Staples itu bisa dengan mudah menelepon
teman-temannya teman-teman Kanada-nya dan ia akan mendapatkan mobil yang tidak
? ?bisa kita lacak."
"Kita beroperasi berdasarkan apa yang bisa kita kendalikan, bukan yang tidak
bisa. Lagi pula, dari yang kuketahui sebelumnya dan yang kemudian kuketahui
mengenai Staples, menumtku ia bertindak seorang diri, tidak seizin karrtornya.
Ia tidak akan melibatkan orang lain untuk sementara ini."
"Bagaimana Anda bisa yakin?"
Lin memandang anak buahnya itu; ia harus memilih kata-katanya
dengan hati-hati. "Hanya menebak." 'Tebakan Anda terkenal akurat."
"Penilaian yang berlebihan. Logika adalah sekutuku." Telepon berdering. Tangan
mayor im melesat. "Ya?"
"Sentral Empat Kepolisian," kata seorang pria.
"Kami menghargai kerja samamu, Sentral Empat."
"Ming's Parking Palace menjawab permintaan kita. Mitsubishi AOR itu memiliki
tempat yang disewa bulanan. Pemiliknya bernama Staples. Catherine Staples. Orang
Kanada. Mobil itu diambil sekitar tiga puluh lima menit yang lalu."
"Anda sangat membantu, Sentral Empat," kata Lin. 'Terima kasih." Ia menutup
telepon dan memandang anak buahnya yang gelisah. "Kita sekarang memiliki tiga
potong informasi. Yang pertama, permintaan yang kita sebarkan melalui kepolisian
benar-benar disebarkan. Yang kedua, sedikitnya satu garasi mencatat informasi
itu, dan yang ketiga, Mrs. Staples menyewa tempat parkirnya secara bulanan."
"Lumayan untuk permulaan. Sir."
"Ada tiga persewaan mobil besar dan mungkin selusin persewaan kecil, tidak
termasuk hotel, yang kita periksa secara terpisah. Statistiknya bisa kita
tangani, tapi, tentu saja, garasi tidak bisa."
"Kenapa tidak?" tanya anak buahnya. "Paling banyak sekitar seratus. Siapa yang
mau membangun garasi di Hong Kong kalau ia bisa membangun selusin toko untuk ?bisnis" Operator kepolisian ada dua puluh hingga tiga puluh orang. Mereka bisa
menghubungi semua garasi."
"Bukan jumlahnya, sobat. Tapi mentalitas para karyawannya, karena pekerjaan im
tidak membuat iri yang lain. Mereka yang bisa menulis
terlalu malas atau terlalu jahat untuk mau bersusah payah, dan mereka yang tidak
bisa menghindari kontak apa pun dengan polisi."
"Satu garasi menjawab." vU
?"Seorang Kanton sejati. Pemilik garasi im sendiri."
"Pemilik harus diberitahu!" kata bocah tukang parkir dalam bahasa Cina yang
meiengking pada petugas bilik di garasi di Ice House Street. "Kenapa?"
"Aku sudah menjelaskannya padamu! Aku.sudah menuliskannya untukmu "
?"Karena kau sekolah dan bisa menulis lebih baik daripada aku, bukan berarti kau
bos di sini." "Kau tidak bisa menulis sama sekali! Kau takut! Kau memanggilku sewaktu orang di
telepon mengatakan ini keadaan darurat polisi. Kalian buta huruf selalu
melarikan diri dari polisi. Im mobilnya, Mitsubishi hijau yang kuparkir di
Tingkat Dua! Kalau kau tidak mau menelepon polisi, kau harus menghubungi pemilik
tempat ini," "Ada hal-hal yang tidak mereka ajarkan di sekolah, burung kecil."
"Mereka mengajari kami untuk tidak menentang polisi.' Membawa nasib buruk."
"Aku akan menelepon polisi atau, lebih baik lagi, kau boleh jadi pahlawannya."
?"Bagus!" "Sesudah kedua wanita im kembali, dan aku bercakap-cakap sedikit dengan
pengemudinya." "Apa?" "Ia mengira memberiku kita dua dolar, tapi sebenarnya sebelas, Salah satunya
? ?temyata lembaran sepuluh dolar. Ia sangat gugup, sangat gelisah. Ia ketakutan.
Ia tidak memperhatikan uangnya."
"Katamu tadi dua dolar!"
"Dan sekarang aku jujur. Memangnya aku akan jujur padamu kalau tidak memikirkan
kepentingan kita berdua?" "Dengan cara apa?"
"Aku akan memberitahu orang Amerika yang kaya dan ketakutan ini bicaranya
?seperti orang Amerika bahwa kau dan aku tidak membalas telepon polisi. Ia akan
?langsung menghadiahi kita dengan sangat dermawan karena ia mengerti tidak
? ?mungkin bisa mengambil mobil tanpa membayar. Kau boleh mengawasiku dari dalam
garasi dekat telepon yang satu lagi. Sesudah ia membayar, aku akan mengirim
bocah laid untuk mengambil mobilnya, yang tidak akan ditemukan dengan mudah.
karena aku akan memberikan lokasi yang salah padanya, dan kau akan menelepon
polisi. Polisi akan tiba, kita sudah melakukan kewajiban kita
yang mulia, lalu berlimpah uang seperti pada malam-malam yang jarang
terjadi dalam pekerjaan payah ini,"
Bocah tukang parkir im menyipitkan mata, menggeleng. "Kau benar," katanya.
"Mereka tidak mengajarkan hal-hal seperti itu di sekolah. Dan kurasa aku tidak
punya pilihan." "Oh, justru sebaliknya," kata karyawan itu, sambii mencabut sebilah pisau
panjang dari sabuknya. "Kau bisa menolak, dan akan kupotong iidahmu1." '?Catherine mendekati meja concierge di lobi Mandarin, jengkel karena tidak
mengenal kedua karyawan di belakang meja. Ia membutuhkan bantuan secepatnya, dan
di Hong Kong itu berarti berurusan dengan orang yang kaukenal. Lalu, yang
membuatnya lega, ia melihat concierge Nomor Sam bekerja malam ini. Ia berada di
tengah-tengah lobi, berusaha menenangkan tamu yang ribut. Catherine melangkah ke
kanan dan menunggu, berharap bisa beradu pandang dengan Lee Teng. Ia dulu
mendekati Teng, mengirimkan puluhan orang Kanada kepadanya kalau ada masalah
kenyamanan yang hams diselesaikan. Teng selalu dibayar dengan memuaskan.
"Ya, bisa saya bantu, Mrs....?" kata karyawan Cina yang masih muda itu, mendekati
Staples. "Aku akan menunggu Mr. Teng, kalau kau tidak keberatan."
"Mr. Teng sangat sibuk, Mrs.... Waktu yang sangat buruk bagi Mr. Teng. Anda tamu
Mandarin, Mrs....?" "Aku penduduk wilayah ini dan teman lama Mr. Teng. Kalau ada kesempatan, aku
membawa rekan bisnis kemari agar kalian mendapat nama."
"Ohh...?" Karyawan im bereaksi mendengar status Catherine yang bukan wisatawan. Ia
mencondongkan tubuh ke depan, berbicara dengan gays sekongkol. "Nasib Lee Teng
sangat sial malam ini. Wanita ini akan menghadiri pesta dansa di Gedung
Pemerintahan tapi pakaiannya terkirim ke Bangkok. Ia pasti mengira Mr. Teng
punya sayap di balik jaketnya dan mesin jet di ketiaknya, ya?"
"Konsep yang menarik. Wanita itu bam'tiba?"
"Ya, Mrs.... Tapi ia memiliki banyak barang. Tadinya ia tidak merasa kehilangan
koper yang satu itu. Mula-muia ia menyalahkan suaminya dan sekarang menyalahkan
Lee Teng." "Di mana suaminya?"
"Di bar. Suaminya menawarkan untuk terbang ke Bangkok, tapi kebaikannya hanya
membuat istrinya semakin marah. Suaminya tidak akan meninggalkan bar, dan ia
tidak akan pergi ke Gedung Pemerintahan dengan cara yang membuatnya puas di pagi
hari. Nasib buruk di mana-mana.... Mungkin saya bisa membantu sementara Mr. Teng
berusaha sebaik-baiknya menenangkan semua orang."
"Aku ingin menyewa mobil secepat yang bisa kaudapatkan."
"Aiya," kata karyawan itu. "Sekarang pukul tujuh malam, dan persewaan mobil
jarang buka di malam hari. Sebagian besar sudah tutup."
"Aku yakin ada perkecualian."
"Mungkin mobil hotel dengan sopir?"
"Kalau tidak ada lainnya. Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku bukan tamu di
sini dan, sejujurnya, aku bukan orang kaya."
'"Siapa yang kaya di antara kita'?" ujar karyawan im. "Seperti kata Buku Kristen
yang bagus entah di mana."?"Kedengarannya tepat," Staples menyetujui. "Please, tolong usahakan sebaik-
baiknya." Pemuda im meraih ke bawah meja. dan mengeluarkan daftar persewaan mobil yang
terbungkus plastik. Ia menuju telepon beberapa meter di sebelah kanannya,
meraihnya, dan memutar nomomya. Catherine memandang Lee Teng. Ia berhasil
mengajak wanita yang im marah ke dinding, dekat pohon palem mini, dalam usaha
mati-matian untuk tidak mempengaruhi tamu-tamu lain yang duduk di lobi,
menyambut teman dan memesan koktail. Teng berbicara cepat, lembut, dan demi
Tuhan, pikir Staples, ia benar-benar berhasil mendapatkan perhatian wanita itu.
Apa pun keluhan wanita itu, pikir Catherine, ia jelas merepotkan. Wanita
tersebut mengenakan mantel bulu di daerah beriklim paling buruk untuk bahan
semahal itu. Bukannya ia, Foreign Service Officer Staples, harus memikirkan hal-
hal seperti itu. Ia mungkin menghadapi masalah yang sama kalau melupakan status
FSO-nya dan bertahan dengan Owen Staples. Haram jadah im memiliki sedikitnya
empat bank di Toronto sekarang. Owen sebenarnya bukan pria buruk, dan yang
menambah rasa bersalahnya adalah Owen tidak pernah menikah lagi. Tidak adil,
Owen! Ia pernah bertemu mantan suaminya im tiga tahun yang lalu, sesudah masa
dinasnya di Eropa, sewaktu menghadiri konferensi yang diselenggarakan pihak
Inggris di Toronto. Mereka minum-minum di Mayfair Club di King Edward Hotel,
yang sebenarnya begitu mirip Mandarin.
"Ayolah, Owen. Dengan tampangmu, uangmu-^dan tampangmu lebih penting daripada
uangmu kenapa tidak" Ada ribuan gadis cantik dalam radius lima blok yang dengan
?senang hati menyambarmu." "Satu kali sudah cukup, Cathy. Kau yang mengajariku
begitu." "Aku tidak tahu,' tapi kau membuatku merasa oh, entahlah bersalah.
? ?Aku meninggalkanmu, Owen, tapi bukan karena aku tidak menyukaimu."
"'Menyukaiku'?" "Kau tahu maksudku."
"Ya, kurasa begitu." Owen tertawa waktu itu. "Kau meninggalkanku untuk alasan
yang benar, dan kuterima kepergianmu untuk alasan yang
270 sama. Kalau kau menunggu lima menit lebih lama, kupikir aku akan mendepakmu. Aku
yang membayar sewa bulan itu." "Dasar keparat!"
"Sama sekali tidak, tidak satu pun dari kita. Kau memiliki ambisi dan aku
memiliki ambisiku sendiri. Keduanya tidak cocok." 'Tapi im tidak menjelaskan
kenapa kau tidak pemah menikah lagi." "Aku baru .saja mengatakannya padamu. Kau
yang mengajariku, Sayang." "Mengajarimu apa" Bahwa semua ambisi tidak cocok satu sama
lain?"

The Bourne Supremacy Karya Robert Ludlum di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau ambisi im sangat drastis, ya. Kau mengerti, aku belajar bahwa aku tidak
tertarik menjalin hubungan tetap dengan siapa pun yang tidak memiliki apa yang
kausebut 'dorongan' luar biasa, atau ambisi yang menguasai. Tapi aku tidak bisa
hidup dengan orang seperti itu siang-malam. Dan dengan mereka yang tidak
memiliki ambisi, terasa ada yang kurang dalam hubungan kami. Tidak ada sesuatu
yang permanen di sana."
"Tapi bagaimana dengan keluarga" Anak-anak?" <
"Aku memiliki dua anak," kata Owen pelan. "Yang sangat kusukai. Aku sangat
?menyayangi mereka, dan ibu mereka yang sangat ambisius juga sangat baik. Bahkan
suami mereka masing-masing mau memahami. Sewaktu mereka tumhuh dewasa, aku
selalu bertemu anak-anakku. Jadi, boleh dibilang aku memiliki tiga keluarga.
Cukup beradab, kalau bukan sering membingungkan."
"Kau" Tolok ukur masyarakat, bankirnya para bankirl Orang yang gosipnya mandi
dengan mengenakan gaun tidur Dickens! Diakonia gereja!" .
"Kuhentikan semua im waktu kau pergi. Pokoknya, itu hanya politik bagiku. Kau
mempraktikkannya setiap hari." "Owen, kau'tidak pemah memberitahuku"
"Kau tidak pemah bertanya, Cathy. Kau memiliki ambisimu dan aku memiliki
ambisiku sendiri. Tapi akan kuberitahu kau satu " hal yang
kusesali, kalau kau mau dengar." "Aku mau."
"Aku benar-benar menyesal kita tidak pemah punya anak. Menilai dari kedua
anakku, anak kita pasti sangat hebat" "Kau keparat. Aku kepingin menangis."
'Tolong jangan. Kita jujur saja, tak satu pun dari kita menyesalinya."
Lamunan Catherine tiba-tiba buyar, Karyawan hotel itu kembali dari telepon,
tangannya diletakkan di meja dengan sikap penuh kemenangan. "Anda bemasib baik,
Mrs....!" semnya. "Petugas Apex di Bonham Strand East masih ada di tempat, dan ia
punya mobil tapi tidak ada yang mengantar kemari."
"Aku naik taksi saja. TUliskan alamatnya." Staples memandang sekitarnya,
mencari-cari apotek hotel. Terlalu banyak orang di lobi, terlalu banyak
kebingungan. "Di mana aku bisa membeli skin lotion atau Vaseline, sandal atau ?sandal jepit?" tanyanya, sambii berpaling kembali pada karyawan hotel im.
"Ada kios koran di lorong kanan, Mrs.... Mereka menjual banyak barang seperti yang
Anda jabarkan. Tapi, bolehkah say a minta uangnya sekarang, karena Anda harus
menunjukkan kuitansi pada petugas perse waannya" Biayanya seribu dolar Hong
Kong, berapa pun sisanya akan dikembalikan atau kekurangannya akan ditagihkan "
?"Aku tidak membawa uang sebanyak itu. Aku terpaksa menggunakan kartu kredit."
"Lebih baik lagi."
Catherine membuka tas tangannya dan mengeluarkan kartu kredit dari saku dalam.
"Aku akan segera kembali," katanya sambii meletakkan kartu im di meja, dan
melangkah ke lorong di sebelah kanan. Tanpa alasan yang jelas, ia melirik Lee
Teng dan tamunya yang tengah jengkel. Yang membuamya geli, wanita dengan mantel
bulu konyol im mengangguk-angguk senang saat Teng menuding jajaran toko mahal
yang bisa dicapai melalui tangga di atas lobi. Lee Teng benar-benar diplomat
sejati. Tanpa ragu lagi, ia pasti telah menjelaskan pada tamu yang kebingungan
im bahwa ia memiliki pilihan yang akan memenuhi kebutuhannya dan membuatnya
tenang, sekaligus menghantam uang suaminya. Ini Hong Kong, ia bisa membeli yang
terbaik dan yang paling mengilap, dan dengan sejumlahuang segala sesuatunya akan
siap pada waktunya untuk pesta dansa di Gedung Pemerintahan. Staples terns
melangkah ke lorong. "Catheriner Nama im diucapkan begitu tajam hingga Staples mera-beku.' "Please,
Mrs. Catherine!" Dengan kaku, Staples berbalik. Ternyata Lee Teng, yang sudah meninggalkan
tamunya yang kini jinak. "Ada apa?" tanya Staples, ketakutan saat Teng yang
berusia paro baya itu mendekat, wajahnya memancarkan kekhawatiran, keringat
tampak jelas di kepalanya yang botak. "Aku melihatmu bam beberapa saat yang
lalu. Aku punya masalah." "Aku tahu." "Kau juga, Catherine." "Maaf?"
Teng melirik meja concierge anehnya, bukan pada pemuda yang membantunya tadi,
Bola Bola Iblis 1 Wiro Sableng 051 Raja Sesat Penyebar Racun Misteri Wanita Bertopeng 2
^