Pencarian

Zaman Edan 5

Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry Bagian 5


dan menatap jauh seolah-olah dia sedang dalam pengaruh
sejenis obat. Dia sungguh sangat geram, tapi saya curiga
bahwa terjemahan Basilio sedikit lebih ber-kilau daripada
aslinya. Lelaki-lelaki berkemeja hitam berdiri di sekeliling m
e m aki d a n m e n g g e r u t u, la m p u -1 a m p u kilat m e n g e r j a p
saat dua fotografer Australia
tiba. Orang semakin ramai di dalam ruangan itu,
bergeser dan mengatur sendiri dengan perlahan saat
sekelompok polisi Indonesia berjalan ke depan.
Yang senior di antara mereka adalah seorang pria
bertubuh pendek, berkumis rapi, dengan pistol berkilat dan
pensil runcing mencuat dari kantong bajunya. Dia dan
Eurico saling menyapa dengan berpelukan, dan bercakap-
cakap dengan akrab. "Basilio," kata saya. "Siapa ... korban tewas itu?"
"Dia anggota Aitarak. Namanya Muhammad Ali."
"Muhammad Ali?"
"Ada sebelas luka tikaman di tubuhnya. Hanya lima di
antaranya yang terlihat."
"Apakah dia anggota Aitarak yang penting?"
"Seluruh anggota Aitarak penting."
Semakin banyak reporter berdatangan dan Eurico telah
keluar ke halaman sehingga juru kamera bisa
memanfaatkan cahaya siang. Kolonel polisi yang dari
lencana namanya terbaca J. J. Sitompul tampak sangat
ingin tampil di depan kamera. Secara perlahan ditariknya
Eurico ke satu sisi agar dia sendirian yang tersorot.
O r a n g - o r a n g m e n g a j u k a n p e r t a n y a a n.
Basilio m e n e r j emahkannya.
"Apakah insiden ini akan berpengaruh pada referendum
kemerdekaan?" tanya seorang Australia.
"Kelompok pro-kemerdekaan sedang cari-cari masalah,"
kata Eurico. "Mereka sedang memancing reaksi dari kami.
Tapi, saya telah memberikan komitmen kami. Kami tidak
akan membalas." "Tapi, bagaimana Anda tahu bahwa Falintil ada di balik
ini?" Kolonel Sitompul berkata, "Kalau Anda lihat metode
pembunuhannya, Anda akan tahu bahwa itu dilakukan oleh
kelompok pro-kemerdekaan. Dia ditikam dengan pisau dan
wajahnya dihancurkan dengan batu." "Tapi, mengapa itu berarti pelakunya pasti
prokemerdekaan?" Kolonel itu mengemyitkan dahi. "Polisi tahu hal-hal
seperti ini," ujamya, setelah beberapa saat.
"Falintil mengatakan bahwa orang ini seorang penjudi
dan bahwa dia terlibat perkelahian karena utang judi," kata salah seorang
wartawan lepas. "Mereka mengatakan orang-orang Andalah yang membunuhnya."
Eurico tampak tersinggung. "Dia salah seorang Aitarak,"
katanya. "Mengapa pula kami mau membunuh anggota
kelompok kami sendiri?"
Ada beberapa pertanyaan lagi. Basilio ditarik ke pinggir
oleh seorang polisi muda. Saat dia kembali untuk
melanjutkan terjemahannya, Eurico dan sang kolonel mulai
berjalan pergi. Eurico bilang, "Timor Timur akan menjadi seperti
Kosovo atau Angola."
"PBB dan para juru bicara mereka harus tetap netral,"
kata sang kolonel. Eurico berkata, "Kapan PBB pemah menangani si tuasi
seperti Timor Timur dengan baik" Di seluruh dunia, dalam
setiap kasus seperti ini, mereka telah gagal."
Bahkan pada saat itu, ada bukti jelas bahwa Eurico
Guterres adalah seorang pembunuh, atau setidaknya dia
telah memerintahkan pembunuhan beberapa puluh orang.
Polisi Indonesia mengaku akan menyelidiki kasus-kasus
itu - tetapi di sini Eurico berdiri, berdampingan dengan
Kolonel Sitompul. Para wartawan mulai beranjak dan pergi
ke dalam untuk melihat mayat itu lagi, tetapi mereka
berdua terus melanjutkan pertunjukan ganda mereka,
saling memberi petunjuk dan menyelesaikan kalimat yang
lain, begitu cepat sehingga Basilio kesulitan mengejamya.
Ketika mereka telah menyampaikan semua yang ingin
mereka katakan, kolonel Indonesia itu meletakkan
tangannya di bahu Eurico, menepuknya dengan mantap
dan menatap langsung ke arah kamera. Bahkan Basilio
tampak sedikit jengah. "Teman saya," kata kolonel itu,
"saudara saya - Komandan Eurico Guterres."
SAYA KEMBALI ke Timor Timur pada Juni 1999, dan
selama saya tidak berada di sana sesuatu yang dramatis
telah terjadi pada Dili. Di bandara, terasa ada suasana
tergesa-gesa dan genting pada petugas yang menangani
bagasi serta pada pengemudi taksi. Bahkan setelah hari
gelap, banyak pemuda dan anak-anak berkeliaran di
jalanan, serta kios-kios baru bermunculan menjual rokok
dan mie serta permen karet. Tetapi, tanda perubahan yang
terbesar dan paling nyata ada di jalan raya, menderu
melintasi setiap tikungan, diparkir di depan setiap bangunan
pemerintahan, adalah lambang PBB di dunia ketiga: Toyota
Land Cruiser putih. Antena radio melengkung dari kapnya yang kuat.
Sepanjang area jalan kaki publik dan dalam putaran di
depan pasar, mobil-mobil itu meluncur menembus
keramaian sepeda dan angkot seperti angsa bertenaga diesel
di tengah-tengah anak itik. Sebuah helikopter putih,
bercetak logo biru PBB, mendengung datang dan pergi.
Anak-anak melambai dan bersorak saat ia melin-tas di atas
kepala. "Unamet!" teriak mereka. "Hore ... Unamet!"
Semuanya terjadi dengan sangat cepat.
Tak lama setelah kunjungan saya yang pertama ke hutan
pada 1998, atmosfer di Timor Timur telah sangat
memburuk. Setelah sebuah serangan Falintil di barat daya,
Indonesia melancarkan pembalasan keras yang tidak biasa,
membakar rumah-rumah dan membunuh lima puluh warga
desa. Dokumen-dokumen militer yang dibocorkan
membuktikan tanpa ragu bahwa tentara mengorganisasi
preman-preman lokal sebagai milisi anti-kemerdekaan. Di
Indonesia, ada presiden baru - B. J. Habibie - dan rencana-
rencana untuk pemilu yang baru. Para tahanan politik telah
dibebaskan dan majalah-majalah serta surat-surat kabar
baru bermunculan. Tetapi, Timor Timur masih berada di
bawah kaki militer. Di New York, pemerintah Portugal dan Indonesia terus
m e n g a d a k a n p e r t e m u a n - p e r t e m u a n t a n p a re n c a n a
serta tujuan yang jelas tentang Timor Timur,
sebagai-mana yang telah mereka lakukan selama bertahun-
tahun. Pembicaraan terakhir adalah tentang sesuatu yang
disebut "paket otonomi", yang akan memberi provinsi itu kendali atas sedikit
dari urusan intemalnya. Kemudian, Uni
Eropa menyatakan untuk pertama kalinya bahwa warga
Timor Timur harus diberi hak untuk menentukan nasib
sendiri. Satu bulan kemudian, Australia, satu-satunya
negara yang telah secara resmi mengakui aneksasi
Indonesia, mengatakan hal yang sama. Ucapan-ucapan
diplomatis semacam itu memang penting, tetapi rasa
kegentingannya kecil. Jadi, tak seorang pun siap bagi
pengumuman tiba-tiba dari Presiden Habibie bahwa jika
penduduknya menolak proposal otonomi, Timor Timur
bisa m e m p e r o I e h k e m e r d e k a a n n y a.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, yang seumur
hidupnya telah menepis kemungkinan sekecil apa pun bagi
hal semacam itu, terkejut luar biasa. Bahkan, Xanana
Gusmao tidak langsung meminta kemerdekaan. Orang
Timor Timur skeptis dan curiga. Sebagian nyaris
memandangnya sebagai sebuah ancaman. Apa arti
penjungkirbalikan secara tiba-tiba ini, setelah pertumpahan
darah dan sikap keras kepala selama dua puluh tiga tahun"
Tetapi, presiden telah mengucapkan itu, dan PBB
membahasnya bersama Portugal dan Indonesia di New
York. Di Jakarta, sebagai pertanda niat baik Habibie,
Xanana dibebaskan dari penjara ke tahanan rumah. Tetapi
di Timor Timur sendiri, hidup menjadi kian menakutkan.
Anggota-anggota milisi menyerang warga desa
prokemerdekaan. Ada pembantaian dan ribuan petani
miskin lari mencari perlindungan ke kota-kota. D o k t e r- d o k t e r d a n g
u ru - g u ru I n d o n e s i a m u I a i b e r k e m a s serta angkat kaki.
Sementara, pembicaraan di New
York tidak beranjak ke mana-mana.
Habibie telah menjanjikan untuk memberi Timor Timur
pilihan antara otonomi khusus dan kemerdekaan. Tetapi,
Ali Ala t as menolak untuk menyetujui mekanisme untuk
mempresentasikan pilihan itu. Akhimya, diraih sebuah
jalan keluar. Sebagai ganti referendum, PBB akan
mengawasi sesuatu yang disebut "konsultasi dengan
rakyat". Ini mencakup sebuah periode kampanye politik,
sebuah pilihan antara dua opsi (otonomi di bawah
pemerintahan Indonesia atau kemerdekaan) dan
pemungutan suara rakyat. Kedengarannya mirip
referendum, tetapi ini tidak boleh disebut sebagai
referendum, dan dengan ini kewibawaan Indonesia terjaga.
Pada April, polisi dan milisi anti-kemerdekaan
menembakkan gas air mata ke sebuah gereja tempat
berlindung 1.500 pengungsi, dan menembak serta menikam
belasan di antara mereka saat mereka lari k e I u a r. M e r e k a m e n y era n
g r u m ah s e o r a n g p e m i m p i n proke-merdekaan di Dili dan membunuh
tiga puluh orang lainnya. Mereka mengatakan kepada para korban bahwa
inilah yang akan mereka peroleh jika mendukung
kemerdekaan dan bahwa jika mereka cukup bodoh untuk
memilih itu, akan terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Laporan-laporan tentang intimidasi yang terorganisasi
berdatangan dari seluruh negeri, tetapi terutama dari barat,
dekat perbatasan dengan Indonesia. Satu unsur yang sama
dalam kesemuanya adalah keterlibatan tentara Indonesia
dan polisi Indonesia di dalam kekerasan itu.
Ada cerita-cerita tentang pejabat pemerintahan
Indonesia, yang di bawah kesepakatan PBB dilarang ikut
pada bagian apa pun dari referendum itu, telah
melancarkan kampanye pro-Indonesia di desa-desa di
pegunungan. Ada rumor bahwa kaum milisi sedang
merencanakan operasi penyisiran ketika ribuan dari mereka
akan turun ke Dili untuk membunuh dan mengusir para
pendukung kemerdekaan. Referendum atau tepatnya
konsultasi dijadwalkan pada S Agustus, meskipun apakah
itu bisa secara realistis diadakan masih dipertanyakan. Para
diplomat dari Indonesia, Portugal, dan Australia turun ke
Dili bersama para aktivis hak asasi manusia, pengamat
pemilu, dokter sukarelawan, mata-mata, serta wartawan.
Tak lama sebelum saya tiba hari itu di Turismo, PBB
mendarat di Dili, dan Misi PBB di Timtim - Unamet -
lahir. UNAMET BERMARKAS di bekas kampus pendidikan
keguruan Dili. Saya pergi ke sana sore itu juga, setelah
menarik diri dari Eurico, Basilio, dan Pak Ali yang tewas.
"Markas" itu, demikian setiap orang menyebutnya, terdiri atas sebuah ruangan
persegi panjang, setiap sisinya beberapa ratus meter, bagian belakangnya
berbatasan dengan bukit terjal. Kantor-kantomya terletak di ruang-
ruang kelas beriamur kapur putih, diteduhi pepohonan hijau
rimbun, dan setiap lahan kosong dicadangkan untuk sebuah
Toyota Land Cruiser. Ini sebuah tempat yang akan selalu
saya ingat; hati saya bergemuruh saat memikirkan
tentangnya. Tetapi, pada kunjungan saya yang pertama,
tidak banyak kesan yang saya dapatkan.
Kantor penerangan Unamet bertanggung jawab atas
relasi dengan media sekaligus atas kampanye informasi
publik sebelum referendum. Yang mengepalainya adalah
seseorang yang oleh Kolonel Sitompul dirujuk sebagai "juru bicara", seorang
Kanada bemama David Wimhurst. Setiap
akhir pekan, dia akan mengadakan konferensi pers,
meskipun pada saat-saat awal ini sering kali tidak ada apa-
apa yang perlu disampaikan. Pada pagi-pagi seperti itu,
orang tetap saja mengajukan pertanyaan, memanfaatkan
kenyataan bahwa cepat atau lambat dia akan membuat
kekeliruan yang tak terelakkan.
"Unamet tidak punya otoritas," jelas Wimhurst secara teknis, setelah sebuah
pertanyaan lagi tentang mengapa
PBB tidak berbuat lebih banyak untuk memadamkan aksi
kelompok milisi. "Polisi Indonesia sepenuhnya bertanggung jawab atas masalah
keamanan sebelum, selama, dan setelah
referendum." "Eh, Anda barusan menyebut 'referendum1, David,"
tanya seseorang. "Konsultasi dengan rakyat," sergah Wimhurst dengan
terburu-buru. "Anda benar. Itu bukan referendum,
melainkan konsultasi dengan rakyat. Dan polisi Indonesia
bertanggung jawab atas keamanannya."
Ini akan semakin terbukti sebagai sebuah kekeliruan
besar. PBB tahu apa yang sedang dilakukannya ketika
berhadapan dengan pemilu. Dalam pekan-pekan menjelang
hari pemungutan suara, PBB akan membuat daftar pemilih,
dan melakukan kampanye informasi melalui radio, televisi,
surat kabar, pamflet, serta melalui pertemuan-pertemuan
publik di seluruh negeri. Mereka akan menyebarkan kotak-
kotak suara, kertas suara dan daftar pemilih, mengawasi
pemungutan suara, mengirim kotak-kotak suara kembali ke
Dili, serta menghitungnya. Untuk semua tugas ini, mereka
memiliki sejumlah personel yang berpengalaman. Tetapi,
polisi sipilnya berjumlah kurang dari tiga ratus orang, dan
hanya lima puluh pejabat penghubung militer (MLO).
Mereka adalah pasukan yang enak dipandang. Masing-
masing mengenakan seragam nasional mereka ketika
bertugas - sersan polisi dari Jepang dan tentara dari
Uruguay. Kepala MLO, seorang brigadir berkebangsaan
Bangladesh, ke mana-mana mengenakan kacamata hitam
sambil membawa sebuah tongkat kecil yang bergetar saat
dia berjalan. Tongkat kebesarannya ini adalah senjata
terberat yang dimiliki oleh Unamet. Karena mereka
bukanlah "penjaga perdamaian". Di bawah kesepakatan New York, mereka tidak lebih


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari "pembimbing" bagi polisi-polisi Indonesia. Dan, polisi-polisi Indonesia
bukan sekadar bagian dari masalah. Mereka berada di akamya.
Seperti yang telah saya lihat sendiri di Hotel Tropicale,
polisi tidak melakukan upaya untuk m e n y a marka n
antusiasme mereka terhadap upaya anti-kemer-dekaan.
Selama pembantaian di gereja dua bulan sebe-lumnya,
mereka yang lolos telah melaporkan melihat pasukan
angkatan darat Indonesia dan anggota brigade mobil
( B ri m o b ) m e n o n t o n p e m b a n t a i a n itu saat b e r I a n g s u
n g. Tiga hari setelah kedatangan saya, sebuah iring-iringan PBB yang sedang
melaju kembali ke Dili berpapasan dengan sekelompok tentara dan anggota milisi
yang membakar habis sebuah desa serta memukuli
penduduknya. Penghinaan paling mencolok terhadap PBB
adalah penunjukan pemimpin baru bagi anggota polisi
sukarelawan. Orang yang dipilih oleh polisi Dili adalah
Eurico Guterres. PADA HARI pertama saya melihat ke dalam, belum
banyak yang berlangsung di markas. Meja-meja telah
diserahkan, tetapi hanya sedikit komputer yang menyala,
dan atap bocor di atas meja dengan komputer-komputer
sedang menyala itu. Jadi, saya duduk di luar bersama orang
PBB dari Australia, yang menceritakan kepada saya tentang
upacara minum darah yang diselenggarakan kelompok-
kelompok anti-kemerdekaan. ("Demi solidaritas, setiap
orang memasukkan setetes ke dalam mangkuk; setiap orang
meminumnya seteguk"), dan penunjukan Eurico sebagai
agen polisi Dili ("seperti mengangkat seekor musang untuk bertanggung jawab
menjaga kawanan ayam"), serta
berbagai kesulitan dalam merekrut staf lokal dari orang
Timor sendiri. "Mereka ketakutan," katanya. "Mereka ingin membantu kami, tapi mereka takut.
Pesan yang sudah berhasil
disebarkan sekarang adalah jika Anda bergabung dengan
kami, Anda dalam bahaya. Dan mungkin itu benar. Kami
bukan polisi. Kami tidak bisa mengamankan para pemilih.
Kami hanya bisa mengamankan pemungutan suara."
Saya bertanya tentang polisi dan tentara, serta betapa
absurdnya memercayakan keamanan kepada institusi yang
telah meruntuhkannya sejak lama. Orang Australia itu
mengangguk dan, sambil menarik sebatang rokok,
berkata, "Tetapi, setidaknya kami ada di sini." "Maksud Anda?"
"Kami di sini. PBB ada di Timor Timur: jangan lupa
betapa pentingnya itu. Lihat, tak seorang pun memaksa
Indonesia bicara tentang kemerdekaan. Semua itu hanya
ide Habibie; tak seorang pun melihat peluangnya. Jadi,
kemudian mereka datang ke New York dan akhimya
setelah semua omong kosong itu, mereka sepakat untuk
mengadakan referendum. Kami juga tidak bisa memaksa
mereka untuk melakukan itu, tetapi mereka
melakukannya - dan bayangkan betapa itu sangat membuat
berang para jenderal. Maka Indonesia berkata, 'Kami akan
menjamin keamanannya.' Baiklah, mereka toh anggota
PBB, anggota terhormat Gerakan Non-Blok, dan mereka
menawarkan untuk menjaga keamanan di atas wilayah
yang mereka kontrol. PBB bisa saja berkata tidak, dan
segalanya bisa saja dibatalkan, serta selama dua puluh
empat tahun ke depan kami akan menyesali peluang besar
yang telah kami campakkan. Tetapi, kami tidak berkata
begitu, dan kami ke sini. Sistemnya tidak sempuma, bahkan
buruk, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi
sebelum ini berakhir. Tapi, ini akan diselesaikan, dan apa
pun yang terjadi dunia akan menyaksikannya."
Sejenak kemudian, dia berkata, "Kami meminta satu
tindakan berani dari rakyat Timor Timur."
Setelah semuanya berakhir, ketika banyak omongan jelek
tentang Unamet dan tanggung jawabnya, saya terkadang
mengulangi apa yang dikatakan orang PBB itu kepada
saya kepada orang-orang Timor yang masih bertahan
hidup setelah kekerasan itu. Sebagian dari mereka
kehilangan banyak hal. Sebagian dari mereka kehilangan
segalanya. Tapi, tak seorang pun mengatakan itu sia-sia dan
bahwa keadaan akan lebih baik jika Unamet tidak pemah
datang ke Timor Timur. DALAM PERCAKAPAN yang sama, kawan Australia
saya berkata, "Kami belum bertemu seorang Timor yang
waras dan berpendidikan yang menentang kemerdekaan."
Basilio Arao waras dan berpendidikan; sayangnya dia juga
angkuh dan menggelikan. Saya pergi menemuinya
keesokan hari di sebuah vila biru pucat cantik terletak di
sebuah taman tersendiri di bagian yang paling tenang dari
pinggiran pantai kota Dili. Seorang pelayan muncul
membawakan teh dan biskuit lezat, dan saya tanya Basilio
tentang masa-masa mahasiswanya di Inggris. Dia tidak
terbuka, seolah-olah itu bukan saat-saat yang benar-benar
menyenangkan. Saya curiga itu karena mahasiswa-
mahasiswa Manchester mendapati Basilio sebagai
seseorang yang menyebalkan seperti yang saya rasakan, dan
itu membuatnya tak senang.
Dia bekerja pada peringkat madya di Badan Koordinasi
Penanaman Modal Timor Timur, yang bertugas menarik
pengusaha asing ke salah satu zona perang yang paling
terkenal buruk di Asia Tenggara. Forum untuk Persatuan,
Demokrasi dan Keadilan baru saja dibentuk lima bulan
sebelumnya. "Misi kami adalah untuk menciptakan
persatuan, demokrasi dan keadilan," jelas Basilio. "Ini adalah tiga hal yang
tidak kami miliki." Anggotanya, sejauh yang saya ketahui, sangat serupa
dengannya: pegawai negeri sipil muda prolndonesia, pemimpin-pemimpin lokal
dan pengusaha - orang-orang yang secara pribadi takkan
pemah menembakkan sebuah M-16 ke gereja, tetapi
memegang tujuan yang sama dengan mereka yang
melakukan itu, dan tidak mengetahui dengan jelas tentang
caranya. Basilio penuh dendam dan rasa keadilan yang terluka.
Dia menjalani hidup di luar opini mayoritas dan dia suka
mengungkit luka dan duka yang diakibatkan oleh posisi
yang diambilnya. Usianya tiga puluh lima, dilahirkan di
Aileu, wilayah pro-Falintil yang kuat - tetapi keluarganya
sendiri banyak terlibat dengan Apodeti, partai integrasionis.
Setiap saat dia siap untuk menyebutkan daftar penghinaan
dan sakit hati yang menimpa dirinya dan orang-orang yang
dekat dengannya, satu per satu dengan rincian yang amat
cermat. "Rumah saya diserang oleh tiga puluh orang pada
Desember tahun lalu," kata Basilio sambil menuangkan teh.
"Apa yang terjadi?"
"Mereka berkumpul di luar, mereka meneriakkan
umpatan dan slogan-slogan kemerdekaan, mereka
menggedor pintu dan jendela. Sebagian dari mereka adalah
tetangga-tetangga saya."
"Itu pasti sangat mengerikan."
"Ya. Untungnya, saya tidak sedang berada di sana pada
saat itu." Dan, beberapa menit kemudian, "Pada 28 Mei tahun ini,
saya diserang lagi di sebuah konferensi di Jakarta. Mereka
menyerang saya secara fisik."
"Apakah mereka melukai Anda?"
"Mereka mendorong saya dan mencoba menarik baju
saya. Salah seorang dari mereka menendang kaki saya. Dan
bukan hanya orang Timor yang melakukan ini. Pemah
suatu kali saya mendapat telepon intemasional yang m e n g a n c a m a k a n m e
n y erang saya. Dia bila n g m
e r e k a akan membunuh saya. Dia seorang Australia. Saya
bisa tahu. Saya juga diserang oleh seorang Australia
pendukung kemerdekaan di Canberra."
"Diserang secara fisik?"
"Ya, hampir." Ada "banyak argumen" m e n e n t a n g kemerdekaan, kata Basilio. "Pertama," dia
bilang. "Cobalah realistis. Coba ikuti tren global. Lihat Jerman Timur, Hong
Kong, Makao. Negara-negara bergerak menyatu, bukan memisah. Orang-
orang bicara tentang asosiasi regional - APEC, ASEAN,
EU. Bahkan Portugal adalah anggota EU. Tak lama lagi
Eropa akan menjadi satu negara saja. Mengapa Timor
Timur harus bergerak ke arah yang salah"
"Kedua," Basilio melanjutkan, "membuat perbatasan bukanlah sesuatu yang praktis
ketika negara-negara lain
justru sedang menghapuskannya. Ketiga, barang-barang
konsumsi kami. Kami bergantung pada produk-produk
konsumsi dari bagian-bagian lain Indonesia. Kami hampir
tidak punya pabrik apa pun di sini. Apakah kami akan
menghabiskan semua modal kami untuk mengimpor dari
Indonesia, dari Australia" Kami hanya punya satu produk
sendiri. Bisakah sebuah negara bergantung sepenuhnya
pada kopi" Saya pikir itu tidak cukup.
"Yang ingin saya katakan adalah bahwa orang-orang ini
tidak punya pengertian sama sekali tentang bagaimana
membangun sebuah negeri. Orang tak bisa hanya berpikir
tentang kemerdekaan. Kalau merdeka, harus dipikirkan
juga bagaimana memberi makan rakyat. Mereka pikir: 'Kita
bisa makan batu kalau kita merdeka. Negara-negara lain
akan membantu kita!'" (Untuk bagian ini - versinya tentang pemikiran massa yang
bodoh - Basilio menggunakan suara dungu lucu dibuat-buat. Dia tampak
agak senang dengan itu, tapi itu membuat saya ingin
mengguyurkan teh saya ke wajahnya.) "Kami harus tahu
kelemahan kami," lanjutnya. "Kami tidak siap untuk
memimpin rakyat kami di seberang."
Saya bertanya tentang pelanggaran hak asasi manusia
Indonesia di Timor Timur. Saya menyebut pembantaian
Santa Cruz saat tentara menembak para pelayat mahasiswa.
Basilio bilang, "Kesalahan adalah hal normal di mana-
mana." Kemudian dia berkata, "Santa Cruz, 199 1 - itu bisa terjadi di mana-mana di
dunia." Saya mengambil sepotong kue bergula dari piring dan
menimbangnya di jari saya. Kemudian bertanya, "Berapa
orang di Timor Timur yang mendukung integrasi, menurut
perkiraanmu?" "Sulit mengatakannya. Begitu banyak propaganda. Saya
perkirakan ada 60 hingga 70 persen massa mengambang,
orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang politik. Petani,
buta huruf. Orang-orang ini tidak cukup tahu. Terserah
kaum intelektual untuk m e n g a r a h k a n m e r e k a.
Kalau Anda m e m a k s a m e r e k a membuat keputusan,
Anda menggiring mereka sampai ke pinggir. Di situlah
kami menolak jalan pikiran Barat tentang demokrasi."
"Tapi, kamu mengerti demokrasi, Basilio. Bagaimana
kamu bisa begitu yakin bahwa orang lain tidak?"
Untuk sesaat dia terlihat agak terluka. "Itu berbeda,"
katanya. "Saya berada dalam ... keluarga yang sama."
Kemudian perangai gampang tersinggung itu tampak
kembali. "Mengapa kami harus menerima hasil
pemungutan suara hanya karena demokrasi" Kami tidak
ingin menerimanya. Kalau rakyat realistis, mereka akan
berkata tidak kepada kemerdekaan."
"Apa h u b u n g a n antara organisasi m u d a n k e I o m p o k milisi?"
"Kami independen, tetapi punya tujuan yang sama.
Aitarak dan milisi-milisi lain adalah rakyat biasa, rakyat
yang marah yang m e n e n t a n g kemerdekaan. Anggota
FPDK adalah pegawai negeri, kaum intelektual."
"Dan bagaimana tentang angkatan bersenjata Indonesia
dan polisi?" "Kami berjuang untuk pemerintahan yang sama. Kami s
a m a - s a m a i n g i n m e m p e r t a h a n k a n T i m o r T
i m u r sebagai bagian dari Indonesia. Kadang-kadang kami
saling m e m bantu. K a d a n g - k a d a n g m e re k a m e
m b u t u h k a n s a y a sebagai penerjemah mereka."
"Bagaimana tentang pembunuhan dan serangan-
serangan di desa-desa. PBB bilang_"
Basilio menyela. "Falintil membakar habis rumah-rumah
itu." "Tetapi, PBB mengatakan bahwa kelompok milisi_"
"Jangan salahkan milisi - mereka tidak tahu aturannya.
Mereka berperilaku buruk" Ya, mereka harus dilaporkan ke
polisi, dan polisi akan melakukan tugas mereka untuk
menyelesaikan itu." Saya mengosongkan cangkir teh saya, kemudian minta
diri. Taman vila itu sangat indah dan saya bertanya-tanya
iseng bagaimana bisa seorang pegawai negeri sipil peringkat
madya bisa memiliki tempat seperti itu. Tapi, temyata
rumah itu bukan milik Basilio, melainkan milik bupati Dili,
ketua dan donatur Forum Persatuan Demokrasi dan
Keadilan. DI SELURUH Timor Timur, sepertiga penduduknya
berada di bawah kekuasaan milisi. Lebih dari 40.000 orang
telah dipaksa keluar dari rumah-rumah dan desa-desa
mereka. Di luar Dili, PBB belum mendirikan satu pun
kantor cabang di luar Dili, dan polisi sipilnya masih
menjalani pelatihan di Australia. Helikopter PBB terbang di
atas wilayah itu, dan setiap beberapa waktu iring-iringan
dikirim ke luar untuk melakukan survei. Tetapi, pada
malam hari, ketika mobil-mobil Land Cruiser telah kembali
ke Dili, seluruh Timor Timur kembali gelap dan mencekam
sebagaimana masa-masa semenjak invasi.
Suatu hari saya menyewa sebuah mobil dan pergi
mendatangi daerah milisi. Sulit untuk mendapatkan
penerjemah (karena Unamet telah menyewa mereka semua)
dan pengemudi (karena mereka takut). Akhimya Femao,
teman Felice, mengambil cuti kerja dan membujuk teman
seorang sepupu untuk membawa kami ke sana dengan
jipnya. Kami bermobil ke arah Liquisa, tiga puluh dua
kilometer sebelah barat Dili, di jalan yang menuju ke
perbatasan dan Timor Barat Indonesia. Barisan hutan
bakau lebat membatasi jalan dan laut. Kami melaju
melewati sebuah danau payau, dan menyusuri puncak
tebing yang amat terjal. Di desa-desa saya hampir tidak
melihat siapa pun, kecuali seorang pria setengah baya
bertelanjang dada yang berbaring di sebuah pondok tak
berdinding. Di samping pondok itu berkibar bendera


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Indonesia ukuran besar di puncak sebuah tiang tinggi. Di
atasnya sebuah tanda berbahasa Indonesia dengan cat
merah darah. "Besi Merah Putih," Femao membaca. Ini sama dengan
milisi Aitarak Dili di Liquisa. "Sekarang kita melintas dari kabupaten Dili ke
kabupaten Liquisa," kata Femao. "Di sini, BMP pegang kuasa."
Beberapa menit kemudian kami melewati barisan p o n d
o k - p o n d o k y a n g h a n g u s t e r b a k a r. F e r n a o m e n a r i k
napas keras dan menggelengkan kepalanya;
teman sepupu Femao, yang tadinya tidak mau ikut,
menambah k e c e p a t a n d a n m e n g e n c a n g k a n c e n g k era m a n n
ya pada setir. Tak lama kemudian kami
tiba di kota Liquisa, tempat di mana semua orang
ketakutan. LIQUISA ADALAH sebuah kota yang cantik, dan
menjadi semakin cantik lagi dengan kehadiran pada
pengungsi. Sebagian besar rumah terbuat dari bambu dan
palem, sedangkan rumah-rumah yang lebih besar dan
bangunan-bangunan publik adalah bangunan batu tua
pening-galan Portugis. Kembang-kembang pucat kelabu
tumbuh di halamannya dan di sepanjang jalan, serta di sini
ada lebih banyak anak-anak daripada yang pemah saya lihat
di Dili. Semak-semak dan pagar-pagar ditutupi oleh apa
yang pada awalnya saya pikir kain-kain hiasan. Tapi,
temyata itu pakaian yang sedang dijemur - celana pendek
dan kaus ribuan orang. Liquisa penuh dengan kekhasan kecil seperti itu - hal
normal yang sedikit dibelokkan, ditekuk, dan dibuat seram
dengan sedikit perbedaan, tak terlihat oleh mata biasa.
Anak-anak pengungsi tertawa-tawa dan berlarian ke sana-
kemari, tetapi kemudian perhatikan perut mereka yang
membuncit dan sisik-sisik keperakan di kulit kaki serta leher mereka yang kasar.
"Kamu lihat bendera-bendera itu?" kata Femao. "Setiap rumah punya bendera
Indonesia. Kapan pemah kamu melihat rumah-rumah di Dili dengan bendera
seperti itu?" Sekarang si pengemudi sudah benar-benar ketakutan.
Ketika k a m i m e m i n t a n y a u n t u k m e I a m b a t, s e k e I o m p o
k orang yang kepada mereka Femao
berbisik melalui jendela juga ketakutan. Kami berhenti di
sebuah kantin kecil di sudut persimpangan, tetapi mereka
takut melayani kami, maka kami belok kanan ke arah gereja
tempat pembantaian terjadi. Hari berlalu; matahari mulai
tergelincir. Sopir melihat jam di dashhoard dengan cemas;
dia memberi syarat tegas bahwa kami tidak boleh
kemalaman di jalan. Pada malam hari, kota berubah.
Kegelapan adalah apa yang paling ditakuti orang-orang di
sini. Liquisa adalah kota vampir. "Kamu benar-benar ingin
pergi ke dalam gereja itu, Richard?"
"Kamu juga, Femao?"
Setelah beberapa menit mengamati kiri kanan jalan,
kami menyelinap melalui pintu belakang gereja. Lantainya
baru disikat dan dinding-dindingnya bercat putih, tapi di
sana sini masih terlihat bekas guratan peluru dan pecahan
granat di batu dan dinding semen. Tiba-tiba, sebuah suara
memenuhi gereja itu. "Permisi," ka-tanya. "Apa yang sedang kalian lakukan di
sini?" Seorang biarawati setengah baya masuk, dan berbicara kepada saya dengan
bahasa Inggris. "Saya mohon, kalian harus pergi. Kalau kita bicara di sini, setelah
kalian pergi, mereka akan datang dan
bertanya mengapa, dan mereka akan memberi kami
masalah." "Siapa yang akan datang, Suster?"
"Ada mata-mata di sini, bahkan di dalam. Mereka bisa
mengusir saya, dan kalau saya diusir dari sini dan para
pengungsi ditinggalkan sendiri, itu kesalahan kalian."
"Maafkan kami ..."
"Pergi! Sebentar lagi gelap. Kalian harus kembali ke
Dili." Kami kembali naik mobil dan meluncur menjauh dari
gereja itu ke arah barat. Dalam lima menit Liquisa sudah di
belakang kami, dan kami kembali di jalanan sepi dengan p e
m anda n g a n r u m p u t - r u m p u t p e n d e k m e r a n g g a s serta
pondok tak berdinding. "Tak seorang pun mau bicara," kata Femao. "Sopimya mau pulang."
Kemudian seseorang terlihat di jalan di depan kami,
bersiluet hitam menantang langit senja. Dia sedang berjalan
ke arah Liquisa, matahari ada di belakangnya. Dia sedang
memikul sebuah cabang pohon besar berbentuk aneh di
bahunya. Dia berjalan sangat pelan ke arah kami dan,
ketika dia melewati mobil, Femao berbicara kepadanya
melalui jendela yang terbuka. Dia melihat ke depan dan ke
belakangnya, tapi jalanan kosong. Dengan hati-hati
diturunkannya cabang pohon itu lalu naik ke dalam mobil.
"Dia bersedia bicara kepada kita," kata Femao. "Ajukan pertanyaanmu."
Dia berasal dari desa Hatoguesi di perbukitan di awas
Liquisa, dan telah berada di sini selama dua bulan bersama
istrinya, lima anaknya dan semua tetangganya. Milisi tiba
di Hatoguesi suatu hari dan memerintahkan mereka untuk
pergi. Milisi membakari rumah-rumah mereka, menembak
beberapa sapi dan kerbau, serta melumpuhkan seekor kuda.
Tidak banyak yang melawan. "Mereka bilang kalau kami
tidak pergi, kami jahat dan m e re k a a k a n m e m b u n u
h k a m i," kata n ya. " K a m i i n g i n memetik kopi kami dulu, tapi mereka
tidak membolehkan." Saat itu adalah masa panen kopi, jadi ini hal yang serius.
Pendapatan selama setahun bergantung dari pohon-
pohon itu, matang atau terlalu matang, dimangsa maling
dan hama tikus. Sekali seminggu, pria itu diam-diam
kembali ke desanya untuk mengumpulkan beberapa buah-
buahan dan memeriksa pohon kopinya. Di Liquisa tidak
ada makanan. "Apa yang Anda makan kemarin?"
"Kemarin, saya tidak makan apa-apa."
"Bagaimana dengan hari sebelumnya?" "Singkong."
"Di mana milisi-milisi itu sekarang?"
"Di Liquisa" Di mana-mana. Mereka ada di mana-
mana." Vampir yang menghantui Liquisa datang pada malam
hari, dan mengadakan sesi-sesi indoktrinasi di pospos jaga
militer. Semua pengungsi diminta datang dan mengenakan
ikat kepala merah-putih. Milisi mengancam dan meneriaki
mereka. Serdadu-serdadu Indonesia berdiri di samping
mereka. "Setiap malam ada intimidasi," ujar petani kopi itu.
"Kalau kami tidak pergi ke pertemuan-pertemuan mereka,
mereka akan memukuli kami. Mereka mengatakan kami
harus memilih untuk tetap bersama Indonesia, dan kalau
tidak, mereka akan datang dan membunuh kami. Mereka
bilang, 'Kalau kalian memilih kemerdekaan maka, ketika
orang-orang Barat itu kembali ke negara-negara mereka,
kami akan datang dan menghabisi kalian.1 Mereka bilang
orang-orang Barat itu hanya akan tinggal selama dua bulan,
dan ketika mereka telah pergi, kami akan dihabisi."
"Dan apa yang Anda inginkan" Kemerdekaan atau
otonomi?" "Kemerdekaan," katanya. "Kami semua ingin merdeka."
Setelah pertemuan-pertemuan indoktrinasi itu, para
milisi mengadakan "pesta-pesta". Mereka m e m p e r s i a p k a n n y a dengan m
e n g u nj u n g r u m a h - r u m a h
penduduk setempat. Pada beberapa rumah, mereka akan
meminta seekor kambing, dan kalau keluarga itu tidak
punya kambing, mereka mengambil uang sebagai gantinya.
Tetapi, terkadang mereka mengundang gadis-gadis yang
belum kawin di rumah itu untuk menghadiri pesta-pesta
tersebut. Mereka datang sekitar pukul sepuluh, sebelas, dua
belas malam. Mereka datang dengan mobil-mobil besar dan
truk-truk, serta berkata, 'Datanglah ke pesta kami untuk
menari.' Maka gadis-gadis itu pamit kepada orangtua
mereka, dan jika izin tidak diberikan, maka ayahnya
dipukuli." "Apa yang terjadi di pesta-pesta itu?" "Mereka minum-minum. Mereka menari dengan
gadis-gadis itu." "Apakah gadis-gadis itu mau"1 "Tidak."
"Apakah mereka menyakitinya?" "Kadang-kadang gadis-gadis itu ... dinodai." Saya
bertanya, "Siapa yang membantu para pengungsi di sini?"
"Tak seorang pun," jawabnya. "Para suster dan pendeta mencoba membantu. Tapi,
mereka tidak punya cukup makanan. Dan mereka pun takut." PBB tidak berguna
karena PBB ada di Dili dan Dili berjarak setengah hari
berjalan kaki jauhnya. Unamet seharusnya sudah membuka
kantor cabang di sini sekarang, tetapi jadwalnya telah
beberapa kali dimundurkan.
"Bagaimana orang-orang di sini memberikan suara
nanti?" tanya saya. "Ketika milisi menanyai kami, kami bilang, 'Otonomi,
otonomi.' Tapi, ketika bulan Agustus datang nanti kami
akan memiliki kemerdekaan."
"Bisakah Anda bertahan selama dua bulan?"
"Dua bulan tidak lama." Matanya menerawang keluar.
Hari mulai malam dan matahari terbenam. Femao memberi
isyarat kepada saya dengan menggerakkan mulutnya tanpa
suara: kita harus pergi. Saya katakan kepada bapak itu, "Mengapa Anda m e n d
u k u n g k e m e r d e k a a n ?"
Femao menerjemahkan, dan jawaban datang de-ngan
segera. "Dia bilang, 'Ya, saya mendukung kemerdekaan.'"
"Ya, tapi mengapa dia mendukung kemerdekaan?"
Femao menyampaikan pertanyaan itu lagi, dengan lebih
rinci. "Dia bilang bahwa semua orang di desanya mendukung
Falintil dan mendukung kemerdekaan." "Tapi mengapa?"
Femao mulai bicara lagi, penjelasan yang sabar dan
panjang. Bapak itu mengangguk, tetapi dia mengerutkan
dahi dan terus menyela seakan-akan apa yang sedang
dikatakan Femao tidak masuk akal. Segera saja wawancara
itu berubah menjadi percakapan, dan keduanya awalnya
tersenyum kemudian tergelak dan akhimya tertawa
terbahak-bahak. Karena pertanyaan itu absurd. Mengapa
kemerdekaan. Tidak ada jawabannya. Itu se-perti
menanyakan suatu dorongan alamiah: m e n g a p a b e r n
a p a s, m e n g a p a m a k a n, m e n g a p a k a w i n "
Tanpa kemerdekaan, orang Timor seperti lelaki tanpa udara
atau tanpa nasi atau tanpa perempuan. Begitulah mere-ka
selama dua puluh empat tahun terakhir, tetapi seka-rang
hanya perlu menunggu dua bulan lagi.
Bapak itu melihat ke kiri dan ke kanan jalan de-ngan
hati-hati, kemudian turun dari mobil dan berjabat tangan
dengan kami melalui jendela yang terbuka. Dia mengangkat kayu bakamya dan
kembali berjalan. Femao minta maaf dengan berkata, "Sulit untuk menjelaskan pertanyaan itu. Dia pokoknya
menginginkan kemerdekaan."
"Saya mengerti, Femao. Tidak apa-apa."
Ketika telah berlalu cukup waktu, kami datang kembali
ke Liquisa pada siang hari. Kain-kain jemuran itu tak ada
lagi di semak-semak pagar. Bendera-bendera masih berkibar
di tiang-tiang. Semua orang telah lenyap. []
GARUDA KEBEBASAN r MENGAPA B. J. Habibie tiba-tiba menawarkan janji
kemerdekaan kepada Timor Timur ketika begitu banyak di
antara menteri-menterinya, jenderal-jenderalnya, dan
serdadu-serdadunya di lapangan menentang hal itu tanpa
berpikir panjang lagi" Bahkan, para penasihat terdekatnya
pun sepertinya tidak tahu.
Habibie adalah seorang yang eksentrik dan tidak biasa.
Dia adalah anak emas seorang diktator. Tak seorang pun
memilih dia dan dia tidak mengangkat dirinya ke tampuk
kekuasaan melalui keinginan serta tipu dayanya sendiri
seperti Soeharto. Penjelasan terbaik adalah bahwa dia jenuh
mendengar tentang Timor Timur dan aib yang
ditimbulkannya terhadap Indonesia serta bahwa, secara
pribadi, dia senang-senang saja melepas wilayah itu. Dia
tidak berkonsultasi kepada siapa pun, tidak membujuk siapa
pun, dan begitu dia membuat pemyataan historisnya, dia
sendiri tidak berurusan dengan pelaksanaannya. "Saya akan membuktikan bahwa saya
bisa membuat sumbangsih besar
bagi perdamaian dunia sebagaimana yang dimandatkan
oleh konstitusi kita," katanya kepada para penasihatnya.
"Itu akan terus bergulir seperti bola salju dan tak seorang pun bisa
menghentikannya." Setelah kunjungan senja saya ke Liquisa itu, saya
meninggalkan Asia selama lebih dari sebulan. Kekeras-an,
saya tahu, terus berlanjut; referendum diundurkan bukan
sekali, tapi dua kali, ke tanggal 30 Agustus. Saya terbang
kembali ke Jakarta sepuluh hari menjelang itu, di tengah
rasa penantian yang semakin memuncak. Di sebuah pusat
perbelanjaan tempat saya membeli krim tabir surya dan pil-
pil malaria, saya berjumpa kolega-kolega yang baru datang
dari Amerika dan Belanda. Keesokan paginya, lebih banyak
lagi mereka di dalam pesawat ke Dili. Saya tunjukkan
sebuah buku bacaan selama penerbangan karya James
Dunn, mantan konsul Australia di Dili yang dievakuasi
persis sebelum invasi. Di Bali, para penumpang dari Sydney
bergabung di pesawat itu dan di antara mereka adalah
James Dunn sendiri, seorang bapak tua yang senang bicara,
berkemeja lengan pendek dan topi lebar, kembali ke Timor
untuk pertama kalinya sejak 197S.
Ada suasana gembira dan tegang di pesawat ke Dili itu.
Teman-teman lama saling menyapa di lorong sempit; laci-
laci kabin di atas kepala berjejalan dengan kamera TV dan
perlengkapan rekaman. Saat kami kembali naik pesawat di
Bali saya melihat wajah tak asing lain beberapa baris di
depan saya di kelas ekonomi. Topi bisbolnya baru, tetapi
rambut lebat panjang, tubuh gempal, dan mata berkilatnya
tak berbeda dari yang saya ingat saat di Hotel Tropicale.
"Eurico! Pak Guterres! Siapa yang akan memenangi
referendum?" Eurico menyorotkan tatapan datar ke arah saya dan
berbalik di tempat duduknya tanpa menjawab.


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Di bandara Dili, suasana perayaan bahkan lebih kentara.
Kolega-kolega bermunculan menyambut kolega-kolega
yang tiba. Sebuah jip penuh dengan biarawati menanti
kedatangan James Dunn. Hanya Eurico yang menghilang
dengan cepat dan diam-diam bersama rombongan kecil
penjemputnya seakan-akan ada tempat yang harus segera
ditujunya serta tugas-tugas yang harus segera
dikerjakannya. Di jalan menurun dari bandara, seseorang
telah memasang poster dengan pesan tertulis dalam huruf-
huruf besar: "Kalau Anda cinta Timor Timur, cintailah Pro-Integrasionis dan Pro
Kemerdekaan". DILI TUMPAH ruah dengan para pengamat pemilu,
aktivis demokrasi, pejabat pemerintahan, dan rela wan
PBB. Ada biarawati Filipina. hakim-hakim Irlandia, dan
diplomat-diplomat Kanada. Ada polisi militer Portugal,
polisi Ghana, dan produser film dokumenter indepen-den
Australia. Turismo penuh sesak. Kamar-kamar diisi berdua
dan bertiga, serta sebagian besar wartawan harus tinggal di
Hotel Mahkota yang dekil, atau di Hotel Dili, jejeran petak-
petak kamar penuh nyamuk di ujung jalan. Tarif berlipat
empat sampai lima kali, dan persaingan untuk
mendapatkan tempat menginap menjadi sengit. Satu
kontingen polisi Eropa disalip pada menit-menit terakhir
oleh sebuah tim diplomat Amerika yang sedia membayar
tinggi. Kedutaan Inggris sama sekali lupa memesan kamar
dan duta besamya terpaksa ber-bagi kamar sumpek dengan
salah seorang polisi sipil senior.
Semuanya serba tidak mencukupi - kendaraan, bahan
bakar, kaset, bahkan buku tulis dan pulpen. Jaringan telepon selular dipaksa
hingga ke batas maksimalnya; sering
kali butuh dua puluh kali percobaan untuk menghubungi
sebuah nomor sejarak kurang dari satu kilometer. Tetapi,
jalur telepon biasa malah lebih parah, dan di luar Dili satu-
satunya sarana komunikasi adalah telepon satelit serta radio
lapangan. Para jumalis secara alamiah membentuk tim-tim
kecil, dan berbagi setiap sumber daya yang tersedia. Pada
setiap waktu pada siang hari, selalu ada seseorang yang
berkeliling kota, dan berita-berita tentang perkelahian di
jalan, demo, serta pengumuman resmi dengan segera
sampai ke taman Turismo. Kegiatan sehari-hari memiliki urutan tertentu yang
terbentuk dengan sendirinya. Hal pertama pada pagi hari
adalah konferensi pers Unamet bersama David Wimhurst.
Basilio dan FPDK sering mengundang wartawan persis
sebelum makan siang. Sore adalah untuk wawancara, dan
berkeliling Dili mengunjungi sumber-sumber informasi yang
sudah jelas - rumah sakit, markas PBB, Hotel Tropicale,
serta daerah pinggiran yang lebih miskin di mana kaum
milisi suka muncul dalam kelompok-kelompok jahat untuk
memancing dan menghasut para pendukung kemerdekaan.
Dili menggelegak; ada penusukan atau penembakan atau
adu tinju setiap hari. Dan berita-berita dari luar ibu kota -
dari Liquisa, Los Palos, Maliana, dan Suai - lebih buruk
lagi. Saya salah satu yang dapat keistimewaan; saya sudah
memesan kamar sejak awal. Kamar saya menghadap taman
dari lantai pertama Turismo. Saya bisa duduk di meja di
kamar saya pada pengujung hari, dan gosip hari itu akan
mengambang sendirinya ke arah saya dari hehijauan di
bawah sana. REFERENDUM AKAN dilaksanakan pada hari Senin.
Sepekan sebelumnya sekelompok dari kami berdesak-
desakan di dalam sebuah jip bersama Felice untuk pergi
berbicara dengan PBB di kota Maliana, tiga setengah jam
perjalanan darat ke barat, dekat dengan perbatasan
Indonesia. Ada pos-pos milisi di setiap desa sepanjang
jalan, dan orang-orang di jalan mengenakan topi bisbol dan
kaus baru berwama merah dan putih serta bertuliskan
"Otonomi". Sopir kami pun, yang bemama John, punya
topi bisbol sendiri, berwama coklat kotor. Tapi, setiap kali
kami mendekati sebuah kota atau pos pemeriksaan milisi
dia akan melepas topi itu dan membalik yang dalam ke
luar, menampakkan wama merah dan putih di sebelah
dalam. Ketika kami sudah jauh, dia akan menghentikan
mobil dan membalik topinya lagi.
"Orang-orang desa dengan kaus dan topi otonomi itu,"
kata Felice, "mereka hanya berpura-pura demi para milisi.
Di dalam hati mereka, mereka merasakan yang sama seperti
John." Pusat Maliana didominasi oleh lapangan rumput hijau
yang besar. Felice pemah ke sana tahun sebelumnya dan
sela m a p e rj a I a n a n dia m e n g g a m b a r k a n k e ra m a i a n n y
a: para petani dari desa-desa pinggirannya
yang berjalan ke kota untuk menjual cabe atau bawang,
kios-kios pasar, dan permainan sepak bola kapan saja. Kami
tiba pada jam makan siang, tetapi lapangan hijau itu nyaris
kosong. Di sisi seberang, barisan Land Cruiser yang sedang
parkir menunjukkan kehadiran Unamet. Markas regional
Maliana berpagar besi, bercat biru PBB, dan berlekuk akibat
pukulan yang keras. Di lobi depan markas Unamet, yang menempel ke
dinding paling ujung, terdapat sebuah batu abu-abu berat
sebesar mangga. Batu itu ada di sana sejak dua bulan silam. Sekelompok
milisi lokal, Besi Merah Putih, datang ke depan pagar suatu
hari dan mulai melemparkan makian dan batu-batu. Batu
yang ini dilemparkan dengan kekuatan yang cukup hingga
sampai ke seberang pagar, menembus kaca jendela kantor,
masuk ke ruangan dan mengenai dinding.
Suasana hati para staf PBB di Maliana agak berbeda dari
kolega mereka di ibukota. Polisi sipil dan MLO di Dili tidak
percaya pada wartawan, tetapi di sini mereka tegang dan
mudah marah, dan keterkucilan mereka m e m buat m e r e
k a b e r s e m a n g a t u n t u k bicara. M e re k a bicara tentang pemimpin
milisi Joao Tavares, dan tentang Letnan
Kolonel Siagian, komandan militer setempat yang tidak
melakukan upaya apa pun untuk menutupi kedekatannya
dengan milisi dan kebenciannya pada Unamet. Anggota
milisi bisa dilihat di sekitar kota, se-cara terbuka membawa
senapan tentara dan bedil berkaki yang dibuat dari pipa
besi, dan diisi dengan racun tanaman dan paku-paku. Ada
rumor tentang rencana busuk yang disiapkan untuk
melawan staf PBB: seorang MLO Australia telah dikirim
kembali ke Dili karena ancaman pembunuhan terhadap
dirinya telah menjadi sangat rinci dan berulang.
Sepekan sebelumnya, kepala Unamet, Ian Martin,
datang ke Maliana bersama Jamsheed Marker, diplomat P a
k i s t a n y a n g m e r u p a k a n p e r w a k i I a n pribadi Sekretaris
Jenderal. "Penembakan terus terdengar dari
kejauhan selama mereka berada di sini," kata seorang
kolonel Inggris, satu di antara MLO' yang tersisa. "Besi Merah Putih ke mana-
mana membawa M-16. Siagian
melihatnya: dia tidak melakukan apa-apa. Mereka berjalan
menyeberangi lapangan. Dia hanya duduk-duduk di dekat
warung kecil itu, makan kacang."
Hari itu dua aktivis kemerdekaan ditarik keluar dari
sebuah bus oleh BMP. Salah satu dari mereka berhasil
melarikan diri, tetapi yang seorang, Agusto Martin, dibawa
pergi oleh anggota milis. Tubuhnya ditemukan malam itu,
dengan tenggorokan putus dan tanda-tanda penyiksaan.
Pada sore hari yang sama sebuah tim di bawah program
pendidikan pemilih Unamet dikepung oleh gerombolan
anggota milisi di sebua desa kecil. Mereka bersorak, "Kami ingin perang!"
Tiga ribu orang, pendukung Indonesia dan keluarga-
keluarga mereka, telah meninggalkan wilayah itu pekan lalu
menuju Timor Barat. "Sebagian dari truknya melewati
tempat ini," kata kolonel. "Truk-truk itu padat dengan
tumpukan barang - tempat tidur, kasur, kam-bing, pakaian.
Mereka tidak meninggalkan apa pun. Joao Tavares sudah
mengungsikan keluarganya. Mengapa" Apa yang mereka
kira akan terjadi" Saya pikir saya bisa menduga, dan saya
sudah mengemasi barang-barang. Saya siap untuk
dievakuasi." Orang Australia yang mengepalai di kantor Unamet
Maliana merasa bahwa bos-bosnya di Dili tidak
menanggapi kepriha t janinnya dengan serius. Dia
menunjukkan kepada kami sebuah laporan yang belum
lama ini dikirimnya, berdasarkan "sumber-sumber intelijen"
yang dikumpulkan selama beberapa hari terakhir. Dia yakin
kekerasan itu bukan acak dan aji mumpung, melainkan
merupakan bagian dari sebuah rencana tersusun rapi yang
akan berpuncak dalam sebuah serangan oleh milisi terhadap
PBB dan para pendukung kemerdekaan yang diketahui. Itu
akan terjadi pada hari Jumat, hari kampanye terakhir, atau
pada Senin, malam setelah referendum itu sendiri. Senapan
otomatis akan disebarkan di tengah para milisi. Pasokan
listrik akan diputuskan ke seluruh kota.
"Dan kemudian?"
"Kemudian mereka bisa melakukan apa pun yang
mereka suka," kata kepala regional itu. "Para pelajar itu, teman-teman Agusto
Martin, mereka tinggal di sebelah.
Mereka telah diserang tiga kali dan pelindung mereka
hanya polisi, jadi merekalah yang akan diserang pertama
kali. Lalu, mereka barangkali akan pergi ke para pendeta,
dan kemudian mereka akan mencobanya di sini, tetapi
dengan sesuatu yang lebih kuat daripada batu. Jadi mereka
akan datang dengan senjata-senjata mereka, dan kami akan
berada di dalam sini, tanpa senjata, mencoba untuk keluar."
Termasuk staf setempat, ada tiga ratus pegawai Unamet
di Maliana, terlalu banyak untuk dievakuasi dengan
helikopter. Maka rencananya adalah pergi melalui jalan
darat, perjalanan menembus wilayah-wilayah yang paling
banyak dihantui vampir di Timor, yang bahkan pada siang
hari perlu waktu tempuh tiga setengah jam.
Kolonel Inggris itu bemama Alan. Dagunya kotak dan
matanya biru lembut. Ketika berbicara tentang bahaya di
Maliana, orang Australia yang mengepalai misi itu
menimbulkan perasaan gemas, tetapi Kolonel Alan adalah
orang asing pertama yang pemah saya temui di Timor yang
sangat penakut, dan tidak menyembunyikannya. "Saya
tidak akan suka perjalanan malam itu," katanya. "Tidak, saya tidak mau sama
sekali." Kolonel Alan membuatkan teh untuk kami di kantor
kecilnya. Ketika kami pergi, dia mengantar kami keluar dan
berjabat tangan saat kami naik ke atas jip. "Datanglah lagi/'
katanya dengan gembira. "Saya akan menelepon Anda jika
terjadi sesuatu di sini. Tapi, saya akan pindah Senin ini.
Setelah itu kita bertemu di Dili."
KELOMPOK PRO dan anti punya hari-hari tersendiri
untuk berkampanye dan pada hari Rabu itu adalah giliran p
e r g e r a k a n k e m e r d e k a a n, C N RT atau Dewa n N
a s i o n a I untuk Pelawanan Maubere. CNRT adalah
organisasi payung untuk berbagai kelompok pro-
kemerdekaan, tetapi perbedaan di antara mereka
tampaknya tidak banyak berarti. Ketika para pendukung
kemerdekaan b e r k a m p a n y e, m e r e k a b u k a n m e
n g a m p a n y e k a n s e b u a h partai atau ideologi, tetapi sebuah wajah
dan nama: Xanana Gusmao. Xanana masih dalam tahanan rumah di Jakarta dan para
pejuang Falintil tidak tampak di mana-mana. Mereka
menolak untuk melepaskan senjata, tetapi sebagai gantinya
mereka setuju untuk menyerahkan diri bersama senjata
mereka ke tiga tempat penampungan, tempat-tempat yang
jauh di pegunungan di mana Unamet bisa mengunjungi
mereka, tetapi mereka bisa dengan cepat menarik diri dan
berpencar jika tentara Indonesia bergerak melawan mereka.
Para gerilyawan dengan berat hati memenuhi kesepakatan
dengan PBB itu. Bagi mereka mudah saja untuk menyerang
milisi, tetapi - bahkan setelah pembantaian yang terburuk -
mereka tetap diam di tempat penampungan dan menahan
keinginan untuk membalas dendam.
Sikap tidak menyerang merupakan strategi kampanye
gerakan kemerdekaan. Sejak awal, Indonesia selalu
mengklaim bahwa rakyat Timor Timur itu terpecah-pecah,
bahwa tanpa campur tangan tegas Jakarta tem-pat itu akan
terjerumus ke dalam perang sipil dan anarki. Di dalam
Timor sendiri, argumen itu telah dipatahkan beberapa
dekade silam. Tetapi bagi pemerintahan asing, yang tidak
mengerti negeri itu sekaligus tidak benar-benar peduli, itu
dipandang ada benamya. CNRT tidak harus membujuk
atau memobilisasi: sudah tidak ada keraguan bahwa, jika
diberi pilihan bebas, sebagian besar orang Timor akan
memilih kemerdekaan. Yang diperlukan hanyalah jaminan
bahwa pilihan itu tetap bebas dengan mencegah efek-efek
intimidasi Indonesia, menjaga semangat dan menolak
ajakan yang berkali-kali untuk m e I a k u k a n k e k e r a s a n.
Kampanye kemerdekaan hari itu benar-benar mulus.
Mereka mengawali dengan berkumpul di tempat terbuka
dan di depan kediaman gubemur tidak lama setelah fajar
dan orang-orang terus berdatangan sepanjang pagi itu - dari
Bacau dan Los Palos di timur serta dari Ailcu dan Ermera
di selatan. Mereka semua terorganisasi dengan baik:
masing-masing memiliki seorang pemimpin yang
mengawasi pengecatan poster-poster dan pemasangan
spanduk-spanduk, serta memastikan bahwa setiap orang
telah naik ke truk yang tepat. Ada sekitar dua ratusan
kendaraan truk, dan yang baru datang terus bergabung
dengan parade itu - truk tua berhak terbuka yang sebagian
besar umumya dilalui dengan terhuyung-huyung melewati
jalan-jalan berlubang, sarat muatan kopi, batang kayu, dan
semen. Sepanjang pagi para demonstran beriringan ke pusat
kota Dili dengan peria h a n -1 a h a n, m e m b u n y i k a n k I a k s o n, m
e I a m b a i ceria. Orang meneriakkan nama
Xanana. Mereka berteriak, V/Va
Timor Les te!" d a n " Viva independencia f"
Sulit m e m p e r k i r a k a n berapa b a n y a k p e s e rt a i ri n g - i r i
n g a n itu, tapi jumlahnya lebih sedikit daripada yang saya harapkan.
Perlu keberanian untuk bergabung dalam barisan ini; ada
ketakutan yang kuat dan beralasan bahwa anggota milisi
sedang berkumpul serta akan menyerbu ke dalam kota


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk menyerang para pendukung kemerdekaan secara
langsung. Maka sebagian besar orang yang ada di dalam
truk itu adalah para pemuda, dan banyak di antara mereka
adalah aktivis-aktivis berpengalaman. Bagi mereka hari itu
adalah hari yang sangat menggairahkan - perayaan publik
yang pertama bagi gerakan bahwa tanah yang untuk sekian
lama telah beroperasi secara rahasia dan penuh bahaya,
demonstrasi kemerdekaan terbesar yang pemah ada di
Timor. Dan untuk setiap orang Timor yang naik ke atas
truk itu, ada seseorang yang melambaikan tangan di pinggir
jalan - orang lanjut usia, para lelaki usia pekerja, para ibu
dan bayi-bayi, anak-anak. Mereka melambai dan bertepuk
tangan, sebagian dari mereka bersorak, tetapi kebanyakan
hanya memandang, tak kuasa menerima penampakan tiba-
tiba kebebasan dan kemerdekaan ini. Mereka tersenyum
malu dan saling menatap, seakan-akan mereka sendiri ingin
berada di sana di atas truk itu, tetapi tidak mampu
membangkitkan keberanian untuk itu, masih belum bisa
percaya bahwa hal ini bisa terjadi, dan terus berlangsung
tanpa ada yang merintangi.
Memang tak ada. Sebelum siang, truk-truk menurun-k a
n p e n u m p a n g m e r e k a. M e r e k a b e rk u m pul di I a p a n g a n
terbuka, menari dan menyanyi sementara para
pemimpin C N RT m e n y a m p a i k a n pidato-pidato. M
e r e k a lebih s e p e rt i siaran informasi publik Unamet daripada propaganda
gerakan kemerdekaan. Pilih apa pun
yang kalian mau; jangan terintimidasi; pilihanmu
dirahasiakan; PBB akan tetap di sini setelah referendum -
mereka bahkan menyebutnya sebagai "konsultasi dengan
rakyat". Perlu sedikit penjelasan teknis - CNRT khawatir,
misalnya, para pemilih akan salah memahami pertanyaan
pada kertas suara dan menusuk "ya" untuk otonomi sambil merasa yakin bahwa
mereka telah memilih ya untuk
kemerdekaan. Tetapi pidato-pidato saja tidak cukup.
Argumen itu sudah bola k - b a I i k di k e m u k a k a n s e j a k b e r t a h
u n -1 a h u n lalu. T a k seorang pun perlu
dibujuk, jadi apa lagi yang perlu disampaikan"
Di sudut-sudut jalan berdiri truk-truk penuh dengan
anggota Brimob lengkap dengan perisai huru-hara dan
pelindung tubuh. Bersanding di samping mereka, kendaraan
para demonstran tampak makin kerdil dan bobrok. Polisi
bersiaga penuh dan tegang. Mereka tidak berkontak mata
dengan orang Timor; tak ada kelakar atau perbantahan.
Para demonstran berlalu, bersorak dan mengangkat tinggi-
tinggi spanduk mereka, serta tak memedulikan polisi sama
sekali. Tak sekilas pandang, tak sepat ah kata,
dipertukarkan di antara mereka. Seolah-olah Indonesia
tidak ada di sana, dan tak pemah ada.
HARI BERIKUTNYA, Kamis, adalah giliran kampanye
pro-Indonesia; di Dili, ini berarti Eurico dan Aitarak. Itu
adalah hari yang ricuh, berdarah, sarat dengan rumor,
ketakutan, dan pengalihan jalan berputar-putar keliling
kota. Barisan dimulai dengan berkumpul di depan Hotel
Tropicale, dan ketika saya tiba di sana Eurico sudah ada,
sedang mempersiapkan pasukan. Ada sedikit keraguan
bahwa Eurico adalah seorang penjahat kejam dan
pembunuh, tetapi saya tidak pemah bisa menganggapnya
serius. Seperti kebanyakan anggota milisi, dia tampak
menakutkan hanya dari kejauhan. Dilihat dari dekat,
keangkuhan dan ancaman itu menjadi lucu dan dibuat-buat.
Hari ini dia mengenakan seragam tempur lengkap seorang
panglima milisi: jaket kamuflase, celana kamuflase, sepatu
bot militer, dan topi bisbol hitam bertanda simbol resmi
otonomi, peta Timor di laut biru, dengan bendera merah-
putih di tengah-tengah. Anak buah Eurico berkumpul di jalan, membuat
sebanyak-banyaknya keributan dengan armada kecil sepeda
motor. Sepeda-sepeda motor itu sangat butut, dengan bunyi
mesin yang mirip bersin daripada raungan, tetapi efek
keseluruhannya cukup mengesankan. Di belakang mereka,
barisan utama iring-iringan sedang berkumpul; saya
berjalan menyusuri barisan, mengintip ke dalam truk-truk.
Anak-anak muda yang agresif melotot atau m e n y u n g g i
n g k a n s e n y u m m e n g a n c a m; o r a n g - o ra n g biasa m e m aling
k a n p anda n g a n. P e m b a n d i n g a n d e n g a n kemarin jadi menarik,
karena ada perbedaan nyata serta sangat fisikal antara kelompok pendukung dan
penentang kemerdekaan. Saya tidak suka menggeneralisasi. Saya ragu
mengatakannya. Tetapi, pendukung otonomi tampil
memuakkan. Pengikut sejati, anggota korps Aitarak yang
memimpin prosesi itu, adalah yang terburuk - tak ada
pengarah peran yang bisa menampilkan serentetan bergajul
dengan liur meleler secara lebih layak. Sebagian besar
berwajah bintik-bintik. Semuanya bergigi kehitaman,
patah, atau dituang emas. Salah satu pengemudi
sepeda motor dikutuk dengan rahang terlalu besar beberapa
nomor untuk ukuran tubuhnya. Rahangnya berayun-ayun
di bawah wajahnya, dan mulutnya menganga secara
permanen bahkan ketika dia sedang mengunyah pinang.
Mengunyah itu membuat dia terus mengeluarkan ludah,
dan tetesan liur terus mengalir ke bawah ke dagunya dan
terus ke kemeja denimnya yang kotor.
Anggota milisi mengenakan beraneka ragam pakai-an,
tetapi kesan yang mereka tampilkan konsisten: tro-pikal,
malaikat-malaikat neraka Dunia Ketiga; mereka
mengingatkan tentang sampul-sampul album heavy metal
1970-an. Rambut panjang berminyak, lengan atas terbuka
dan dikelilingi tato-tato misterius. Kebanyakan mengenakan
kaus hitam, bergambar simbol otonomi atau tulisan Aitarak
dalam huruf Gothic tak rata seperti judul film horor
murahan. Mereka memakai jaket denim dan khaki, dengan lengan
dipotong untuk memamerkan bahu gempal. Mereka
mengenakan cincin-cincin berat dan kacamata cermin
besar; macam-macam kalung medali dan tanda salib
tergantung di leher-leher mereka. Salah seorang preman tua
memakai selempang peluru-peluru berminyak. Pisau dan
golok juga terlihat, meskipun pada tahap kampanye ini,
senjata tidak diperbolehkan. Beberapa pengemudi sepeda
motor berwajah tanpa ekspresi seperti Eurico - orang bilang
itu pengaruh dari amfetamin derajat rendah yang dikenal
dengan sebutan "pil anjing gila". Mereka kumal, norak dan bau, serta mendapatkan
banyak uang dari sua t u tempat.
Sebuah kepala berminyak menjulur ke luar kabin sebuah
truk pikap. "Australia" Anda dari Australia?"
Beberapa pekan sebelumnya, Eurico telah bersumpah
akan "membunuh semua orang Australia", dalam sebuah deklarasi terkenal yang
belum sepenuhnya ditarik.
"Bukan, dari Inggris."
"Inggris?" "Inggris." "Pulanglah, Inggris!"
Dia menunjukkan kegeraman teatrikal; saya tersenyum
basa-basi dan berjalan terus menyusuri barisan. Saya masih
belum bisa menganggap serius orang-orang ini. Dari bagian
tengah hingga belakang prosesi ini, tampilan pesertanya
berubah. Mereka juga tidak jelas bentuknya, tetapi karena
sangat miskin bukannya karena miskin selera. Usia mereka
beragam. Ada sebuah keluarga yang terdiri dari orang-orang
bertubuh kurus dan lesu - sepasang kakek nenek keriput,
ayah dan ibu kurus pucat, serta sederet anak-anak dari
remaja tukang makan hingga bocah ingusan. Banyak yang
tidak bersepatu. Baju-baju mereka yang kusam tak
berbentuk adalah buatan tangan. Mereka tentu datang dari
luar kota; bahkan yang paling miskin di Dili tampak necis
dan metropolitan disandingkan dengan mereka.
"Dari mana?" tanya saya dalam bahasa Indonesia kepada satu kelompok. "Dari
Ermera" Maliana?"
Orang-orang di dalam truk bergumam dan memalingkan
wajah. Seorang preman berwajah cemberut datang mendekat
dan berkata, "Ya. Dari Maliana."
Tetapi, Felice, yang sejak tadi memerhatikan dari jarak
aman, tertawa. "Kamu bisa lihat dari wajah mereka,"
katanya. "Mereka dari Timor Barat. Mereka orang
Indonesia, bukan Timor Timur. Aitarak membawa mereka
masuk dari perbatasan. Selama sehari Eurico membawa
mereka keliling Dili untuk membuat kesan seakan-akan dia
punya banyak pendukung dan kemudian dia akan mengirim
mereka pulang. Mereka tidak punya suara dalam
referendum ini. Mereka bahkan tidak bisa bicara bahasa
kami. Mereka di sini hanya karena takut."
I RI N G -1 RI N G A N P r o -oto n o M i a k h i m y a
mulai b e r g e r a k, dipimpin oleh Land Rover Eurico.
Setelah beberapa putaran di pusat kota Dili, mereka
berkumpul di stadion sepak bola untuk bemyanyi-nyanyi
dan berpidato, termasuk salah satunya oleh Eurico. Dalam
pidatonya E u ri c o m e m p e r k i r a k a n b a h w a k e m e n angan bagi
pergerakan kemerdekaan akan mengubah
Timor menjadi "lautan api". Kerumunan orang sewaan dari Timor Barat itu diberi
kotak-kotak nasi dan ayam; setelah
itu, para preman dan pengendara sepeda motor pecah ke
dalam kelompok-kelompok kecil dan turun ke jalan lagi.
Inilah saat yang berbahaya, ketika kampanye berubah
menjadi kerusuhan. Orang-orang biasa telah lenyap ke
dalam rumah dan warung-warung ditutup, meskipun saat
itu masih tengah hari. Brimob terlihat di sana sini,
memerhatikan dengan tenang dari truk-truk besar mereka,
tetapi tidak melakukan apa-apa untuk campur tangan.
Kelihatannya bakal ada masalah, dan masalah itu datang
dengan segera. Di Kuluhan, salah satu wilayah pinggiran Dili yang
paling miskin dan paling kuat mendukung Falintil,
sekumpulan orang-orang Eurico datang, diiringi oleh
sebuah truk Brimob. Pemuda-pemuda keluar dari rumah-
rumah mereka untuk mengusir milisi. Ada pelemparan
batu, dan senapan-senapan rakitan ditembakkan. Sebagai
alasan untuk menjaga keamanan, polisi beraksi sebagai
perisai bagi Aitarak. Milisi melemparkan batu dan botol di
atas kepala mereka, tetapi ketika pendukung kemerdekaan
mencoba membalas, Brimob mengangkat senapan mereka.
Kemarahan membuat nekat para pemuda Kuluhuri; mereka
mendekat. Semua itu terekam dalam sebuah film oleh
fotografer Amerika: seorang pemuda berlari ke arah barisan
polisi, berbalik untuk kembali, dan ditembak hingga mati
dari jarak beberapa meter dengan peluru menembus
belakang leher oleh seorang Brimob.
HANYA SATU akhir pekan untuk dilalui sebelum
referendum, dan ketenangan yang tidak alamiah melanda
kota. Sebagian besar toko di Dili tidak buka kembali. Di
wilayah-wilayah seperti Kuluhuri dan Becora, para pemuda
bergantian ronda sepanjang malam, tetapi kaum perempuan
dan anak-anak tetap di dalam. Unamet m e n g e I u a r k a
n p e m y a t a a n k e m a r a h a n, m e n c e I a s e r a n g a n rudal, dan
protes keras dialamatkan kepada militer serta
polisi Indonesia. Kantor CNRT juga telah diserang oleh
Aitarak, dan para pemimpinnya kembali pergi bersembunyi,
berpindah dari rumah ke rumah, pada siang maupun
malam hari. Menjadi sulit untuk m e n e muka n mereka
dan mengikuti perkembangan rencana-rencana mereka,
serta kesatuan kepemimpinannya dikabarkan menjadi
tegang lantaran kekerasan.
Komandan lapangan Falintil, Taur Matan Ruak, didesak
melakukan pembalasan atas rakyat yang terbunuh, tetapi
Xanana, yang masih menjalani tahanan rumah di Jakarta,
menekankan harus tidak bereaksi. Serangan Falintil justru
yang diinginkan Indonesia; itu akan memberi mereka
alasan yang mereka butuhkan untuk menyerang tempat
penampungan sementara Falintil dan memaksa pembatalan
referendum. "Falintil adalah tentara nasional/' kata seorang anggota CNRT kepada
saya, ketika saya akhimya diberi
kesempatan bertemu, di sebuah rumah yang aman di
Becora. "Mereka disiplin. Mereka tidak akan bertindak
tanpa perintah. Pen-duduk awamlah yang kami cemaskan.
Ada rasa putus asa. Akhimya, setelah sekian lama,
komunitas intema-sional telah datang ke sini - namun
mereka masih saja membiarkan pembantaian terjadi. Yah,
semuanya ada batasnya dan kemudian batas itu hancur.
Jika ada pergolakan rakyat maka akan terjadi pertumpahan
darah habis-habisan."
PAG-PAGI SEKALI setiap hari Minggu, Carlos
Ximenes Belo, Uskup Dili dan pemenang Hadiah Nobel
Perdamaian 1996, akan memberikan misa di taman tempat
kediamannya; sehari sebelum referendum, saya datang ke
sana d e n g a n h a r a p a n a k a n m e n d e n g a r n y a b e rk h o t b a
h. Misa pagi selalu merupakan saat-saat yang
penuh khidmat, dengan kidung dan doa di bawah naungan
pepohonan berbunga dan cahaya pagi yang lembut. Hari ini
lebih banyak orang dari biasanya di taman itu, meskipun
Belo sendiri sedang menghadiri misa di pantai selatan.
Seorang pendeta membacakan pesan dari us-kup. "Saudara-
saudari, banyak orang di sini saat ini sangat ketakutan,"
katanya. "Jangan takut. Beranilah, dan pilihlah masa depan bagi Timor Timur. Ini
adalah generasi yang akan
menciptakan sejarah, dan suatu hari orang dari seluruh
dunia akan bicara tentang kita, rakyat pejuang yang berhati
berani." Sepanjang sore, mobil-mobil dan j i p - j i p meluncur
keluar kota Dili saat anggota-anggota parlemen, diplomat, aktivis, dan jumalis
yang berkunjung menyebar ke seantero Timor Timur untuk hari pemungutan suara.
Saya dan kolega saya, Alex, pergi sore itu bersama Felice
dan John si pengemudi. Jalan ke Maliana saat itu lebih
ramai dengan milisi. Tiga kali kami melewati rintangan
jalan dari b a m b u, yang dioperasi k a n o I e h p e m u d a
- p e m u d a membawa pedang dan tombak. Tiga kali, John
membalik dan membalik lagi topi bisbolnya. Semakin dekat
ke Maliana, gambarannya semakin mengejutkan. Setengah


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jam perjalanan kami melihat gabungan kelompok milisi
membawa golok dan kelompok tentara yang membawa
senapan; beberapa kilometer lebih jauh lagi ada sekelompok
milisi lain, membawa M-16 milik mereka sendiri.
Di Maliana, kami diterima oleh sekelompok biarawati
yang menggelar kasur-kasur di kamar depan mereka. Kami
menyesap wiski dari tutup botolnya dan duduk-duduk
hingga larut malam. Sebelum fajar kami berganti pakaian dan berjalan ke
pusat jajak pendapat, gedung olahraga bobrok yang
menghadap ke lapangan kota. Felice terhenyak saat kami
berkelok di sudut. Masih satu jam lagi sebelum pemungutan suara dimulai,
tetapi lapangan hijau itu sudah penuh dengan ribuan orang.
Mereka berdatangan dari segala arah, dalam kelompok-
kelompok besar dan kecil, membawa bungkusan makanan,
bayi-bayi dan bahkan gulungan kasur. Mereka berpakaian
seperti pakaian para jemaat di rumah Uskup Belo dua puluh
empat jam yang lalu. Lelaki dan wanita yang lebih tua
mengenakan kain batik di kepala, yang muda memakai
jeans yang disetrika rapi dan sandal karet. Mereka berdesak-
desakan di depan pintu lebar gedung olahraga itu.
Kolonel Alan berdiri di hadapan mereka, mati-matian
berusaha untuk membuat jarak pemisah: pintu-pintu kayu
itu mulai lepas karena desakan orang banyak. Tetapi, tidak
ada aksi dorong-mendorong dan berteriak-teriak, tidak
kelihatan semangat menggebu-gebu, bahkan tidak banyak
senyuman. Orang-orang ada di sana untuk alasan yang
jelas - untuk memberikan suara, dan kemudian pergi
selekas mungkin. Setiap orang memegang dokumen putih
tercetak dengan tulisan tangan khusus, formulir registrasi
resmi yang tanpanya tak seorang pun diperbolehkan masuk.
Di luar lingkaran keramaian itu, orang-orang duduk di
rumput dan membuka bungkusan kecil nasi serta sayuran
untuk sarapan. Sekelompok milisi, tampaknya tak
bersenjata, berdiri di bawah pohon cendana besar. Medan
kekuatan tak kasat mata seperti mengelilingi mereka:
meskipun banyaknya orang yang tumpah ruah di sana, tak
seorang pun mendekatinya dalam jarak sepuluh meter dari
pohon itu Akhimya, Kolonel Alan berhasil membentuk sebuah
koridor sempit menembus keramaian itu dan kami
menyelinap masuk ke dalam aula.
Di dalam sedang dilakukan persiapan akhir sebelum
pintu-pintu dibukakan. Sebaris meja telah disiapkan sebagai
tempat setiap pemberi suara untuk menerima kertas
suaranya. Pada setiap meja ada pena, pensil, kotak untuk
formulir registrasi, dan botol plastik tinta untuk menandai
jari mereka yang telah memberikan suara. Di luar, Kolonel
Alan menggiring orang-orang untuk membentuk baris
antrean. Persis pada pukul 6.30 pagi, pemberi suara
pertama dibolehkan masuk.
Yang pertama berada di dalam adalah bupati Bobonaro,
sponsor terkenal milisi Besi Merah Putih, kelihatan gemuk
dan rapi dalam pakaian batik mengilap. "Tentu saja, kami tidak memberikan
perlakuan istimewa pada siapa pun,"
kata rela wan PBB di samping saya. "Ini hanya sebentuk
kompromi - tapi lihat betapa gembiranya dia." Yang masuk
setelah itu adalah orang-orang lanjut usia dan lumpuh.
Di antara mereka adalah seseorang berusia setengah
baya yang ditopang dengan dua tongkat patah. Kakinya
pincang akibat kecelakaan atau penyakit, dan dia butuh I i
m a m e n i t u n t u k m e n y e b e r a n g i r u a n g a n, m e n g a m b i I
kertas suaranya, serta menyelinap ke dalam
bilik di depan saya. Pemandangan yang pedih; saat dia
mendekat saya merasa jantung saya berdegup kencang.
Akhimya, referendum berjalan. Apa yang akan terjadi
selanjutnya" Mungkinkah Eurico dan Basilio memiliki
dukungan yang lebih besar daripada yang saya duga"
Bagaimana bisa kekerasan selama tujuh bulan terakhir ini
tidak berefek" Saya mestinya memalingkan pandangan,
tetapi saya tetap melihat, dan lelaki bertongkat itu dengan
susah payah menandai silang di kotak yang di bawah di
antara dua kotak yang tersedia, kotak untuk menolak terus
bergabung dengan Indonesia. Kemudian dia melipat
kertasnya, memutar kakinya, dan mulai berjalan perlahan
ke arah kotak suara. MALIANA TERLETAK di tengah dataran luas dan
subur. Setelah meninggalkan gedung olahraga itu, kami
melaju ke luar kota dan menuju perbukitan yang
membentang di horison. Saat itu hari cerah, panas, dan
kering. Di jalan, kulit-kulit sapi dan kambing telah digelar
untuk dijemur di bawah sinar matahari serta ban-ban mobil
yang melintas. Di setiap desa sama saja. Orang-orang berjalan sepanjang
malam agar tiba di tempat pemungutan suara pada saat
tempat itu dibuka. Di sebuah daerah kecil bemama Odomao Atas,
referendum dilaksanakan di dalam gereja putih kecil.
Pemberi suara di sini disebut "orang bukit", istilah halus yang digunakan PBB
untuk keluarga-keluarga Falintil yang
tinggal dan berpindah-pindah di dalam hutan bersama para
gerilyawan. Gereja itu dibangun pada batu besar yang
menjulur di atas sebuah tikungan jalan sempit, dan jalan itu
sama sekali tertutup oleh orang ramai, semua mengenakan
pakaian Minggu mereka yang terbaik sambil memegang
erat formulir registrasi mereka yang berkibar-kibar ditiup
angin. Ada anak-anak dibahu kakak mereka, dan bocah-
bocah bergantungan di cabang-cabang pohon. Mereka
tampak seperti telah berjalan jauh menembus hutan.
Sebagian besar mereka tak beralas kaki, dan banyak di
antara mereka terluka serta tergores di kaki.
Sisi dalam gereja itu kosong, kecuali lukisan Jalan Salib
berpigura. Bilik suara terletak persis di depan altar. Seorang relawan Amerika
bertubuh gempal bemama Jean Feilmoser
mengatakan kepada saya tentang kesulitan mendaftar
orang-orang bukit - pertemuan-pertemuan rahasia dengan
Falintil, diperantarai oleh pendeta-pendeta setempat;
perjalanan dua jam turun dari gunung, diantar oleh polisi
sipil dan MLO, di bawah pengawasan polisi dan tentara
Indonesia. "Mereka ini adalah orang-orang yang diburu
tentara Indonesia selama b e r t a h u n -1 a h u n," kata J e a n. " M e r e k
a m e m p e r t a r u h k a n segalanya untuk datang ke sini." Hampir tak satu
pun orang gunung itu yang bisa baca tulis; mereka bahkan tidak bisa bahasa
Tetum. Tetapi, dua pendeta setempat telah bekerja berhari-hari,
menuliskan surat sumpah yang dibutuhkan untuk
mengidentifikasi setiap pemberi suara. Kemudian tim
pendidikan pemilih dan penerjemahnya bersiap untuk
menjelaskan mekanisme pemungutan suara, diterjemahkan
dari Inggris ke Indonesia, dari Indonesia ke Kemak atau
Bunak, dan menerjemahkan balik pertanyaan-pertanyaan
yang muncul. Ketika tidak sedang bekerja sebagai relawan PBB, Jean
adalah seorang agen wisata di Florida. Dia berpembawaan
keras, sengit, dan sentimental. Dia bercerita, "Di salah satu desa yang kami
kunjungi untuk pendidikan pemilih, mereka
memberi saya sekantong telur dan dua ekor ayam. Saya
menamai ayam-ayam itu Independencia dan Otonomi.
Besok, satu dari mereka akan masuk panci." Selama masa
pendaftaran, para pekerja Jean yang orang Timor menerima
banyak ancaman; dua di antara mereka tidak hadir pagi ini.
Air mata menetes ke hidungnya saat dia bicara tentang
keberangkatannya dua hari lagi. "Saya mencemaskan
mereka setelah pemilu," katanya. "Saya mencemaskan
Timor dan saya mencemaskan staf lokal saya."
Persis sebelum kami pergi, Jean berkata, "Kalian tahu
tidak" Falintil ada di sini. Mereka tidak bersenjata, tetapi
mereka mengawasi semuanya. Apa kalian bisa mengenali
mereka?" Saya melihat-lihat di antara orang-orang gunung itu, dan berpikir
barangkali saya bisa menebaknya: seorang
lelaki tua berwibawa; seorang pemuda dengan tampang
siaga, bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain,
tampak mengarahkan dan memberi petunjuk kepada
pemberi suara lain. Saya tidak bisa yakin. Tetapi,
begitulah Falintil: tak pemah sepenuhnya hadir
maupun sepenuhnya tiada, terasa sebagai penenteram hati
daripada sebuah kekuatan fisik: sesuatu yang mengawasi.
TERLEPAS DARI kesalahan-kesalahan lain yang dibuat
oleh Unamet, sebagai sebuah latihan pemilu referendum itu
sukses luar biasa. Menjelang tengah hari, di seluruh Timor
Timur, empat dari lima yang terdaftar sebagai pemilih telah
memberikan suaranya. Hitungan terakhimya adalah 98,6
persen. Di dalam Timor Timur, hanya 6.000 orang yang
tidak memberikan suara dari jumlah pemilih terdaftar
sebanyak 43 8.000 orang. Pemahkah pemilu bebas di
tempat lain di seluruh dunia mencapai tingkat keikutsertaan
yang begitu tinggi" Malam itu, helikopter Unamet terbang mengelilingi
pusat-pusat pemungutan suara, mengumpulkan kotak-kota
suara dan membawanya kembali ke Dili. Di Ermera,
beberapa kertas suara hilang saat sebuah kotak suara pecah
terbuka ketika anggota milisi melepas tembakan ke arah staf
yang sedang memuatnya ke dalam helikopter. Di Atsabe,
orang Timor yang bekerja untuk PBB ditikam di paru-
parunya dan meninggal dua jam kemudian. Tetapi, secara
keseluruhan hari itu berlalu dengan mulus daripada yang
berani diharapkan siapa pun.
Serangan yang diramalkan terhadap Maliana, yang tidak
terjadi pada hari terakhir kampanye, juga tidak terjadi pada
malam itu. Tidak ada laporan tentang intimidasi yang
signifikan. Jamsheed Marker, utusan khusus PBB yang
bombastis, melewatkan hari itu dengan terbang dari kota ke
kota, dan pengalaman itu membangkitkan jiwa puitisnya.
"Saya mendapatkan kesan yang sangat hidup tentang
keagungan memesona yang nyata di dalam kekuatan
rakyat/1 katanya pada konferensi pers di Dili malam itu.
"Banyak yang pergi ke tempat-tempat pemungutan suara
itu datang di bawah kondisi penderitaan yang begitu berat.
Mereka mengabaikan kemiskinan, jarak, iklim, medan yang
berat dan, dalam beberapa kasus, intimidasi mencekam
demi menjalankan hak yang telah dianugerahkan Tuhan
kepada mereka untuk memilih secara bebas ... Namun,
masih terlalu dini untuk memperkirakan hasil jajak
pendapat ini. Tapi apa pun hasilnya, garuda kebebasan
telah menaungkan sayapnya di atas rakyat Timor Timur
dan tak sesuatu pun, demi Tuhan, yang akan pemah
mengenyahkannya." Duta besar Marker dengan segera mengidentifikasi pihak
yang bertanggung jawab atas hasil yang m e n g g e m b i r a
k a n ini: polisi Indonesia. P e r i I a k u m e r e k a, ujamya,
"sangat tertib". Kepemimpinan komandannya, Kolonel
Timbul Silaen, "luar biasa."[]
1 SISI QATAR BILAH GOLOK r KEKERASAN KEMBALI muncul segera setelah hari re
f e re n d u m y a n g tenang. Ha r i b e r i k u t n y a, p a r a anggota
Aitarak berbaju hitam bertebaran sepanjang daerah
pantai Dili dan di depan bandara. Mereka menghalangi
kapal-kapal motor berangkat, dan secara paksa mencegah
orang-orang Timor yang hendak bepergian dengan pesawat
ke Jakarta. Dari seluruh Timor Timur, ada laporan-laporan
tentang rintangan jalan - bukan dari batang-batang bambu
seperti yang telah kami jumpai, melainkan tumpukan besar
cabang-cabang pohon, batang besi, dan drum minyak yang
dirusak oleh anggota milisi agresif untuk mengusir mobil-
mobil agar berputar balik, dan menampari serta meng-
ancam orang-orang Timor yang ada di dalamnya.
Di selatan Dili, milisi membakar rumah-rumah
pendukung kemerdekaan di kota Ermera dan mencaci-maki
penduduk setempat yang bekerja untuk Unamet. Setidaknya
ada dua lagi pekerja PBB lokal yang terbunuh. Polisi
Ermera tidak melakukan apa-apa, maka dibuatlah k e p u t
u s a n u n t u k m e n g e v a k u a s i k a n t o r U n a m e t. Total
pekerjanya ISO orang - termasuk staf orang Timor
yang masih hidup, yang selalu dalam posisi paling
terancam - menaiki mobil-mobil Land Cruiser mereka.
Tetapi, milisi menghalangi jalan.
Berjam-jam berlalu. Helikopter PBB didatangkan untuk
bemegosiasi dan akhimya konvoi itu dibolehkan melaju lagi
ke Dili. Sepanjang masa kampanye, satu pesan berkali-kali
diulang di Radio Unamet, di pamflet-pamflet dan buletin
tercetak, dan pada semua pertemuan pendidikan-pemilih.
Pesan itu diulang-ulang dalam bahasa Tetum, Portugis,
Indonesia, dan Inggris. Kofi Annan juga mengulanginya
dalam pesannya dua hari sebelum referendum: "Unamet
akan tetap di sini setelah Anda memberikan suara."
Tetapi, di Ermera itu tidak lagi berlaku.
KERTAS SUARA dibawa ke museum tua Dili;
penghitungan diduga akan membutuhkan waktu seminggu
penuh. Dua hari setelah referendum, Aitarak keluar dalam
jumlah besar untuk acara pemakaman salah satu anggota
milisinya, seorang preman peringkat menengah yang
ditikam hingga mati oleh seorang anggota Falintil. (Falintil
mengakuinya; mereka telah menangkap sendiri tersangka
pelakunya dan menyerahkannya ke polisi.) Acara itu
dilangsungkan di sebuah lapangan terbuka dekat bandara.
Tiga ratus anggota milisi berbaris menurut peringkat;
bahkan ada upaya untuk melakukan latihan di luar jadwal.
Eurico menyampaikan pidato yang tidak terlalu membakar
dan ada kata-kata permohonan maaf serta mendamaikan
dari seorang perwakilan Falintil. Acara itu diawali dan
disudahi dengan cara yang sama, iring-iringan sepeda motor
keliling Dili. "Orang Australia?" tanya seorang pengendara sepeda
motor kepada saya saat saya menonton mereka pergi.
"Bukan. Inggris. * "Wartawan?" "Ya."
"Anda harus menuliskan yang sebenamya. Kalau Anda


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tidak menuliskan yang sebenamya, kami semua akan mati
di sini. Anda juga."
Inilah sikap sok penting yang menahan saya untuk tidak
menganggap serius kelompok milisi.
Pada sore hari saya pergi menemui kontak saya di C N
RT. Pengawasan k e a m a n a n t a m p a k n y a m asih b e
I u m dilonggarkan untuk pucuk pimpinannya yang masih
tinggal dalam persembunyian dan dikelilingi oleh pengawal-
pengawal. Tetapi, kawan CNRT saya sangat gembira. Dia
telah mengantisipasi kemenangan. Dia bicara tentang
kebutuhan akan pemerintahan kesatuan nasional, tentang
program pendidikan dan kesehatan, serta tentang
penggabungan kembali para gerilyawan ke dalam m a s y a
r a k a t. M e n j elang a k h i r p e r c a k apa n k a m i, p o n s e I saya
menyuarakan deringnya yang langka. Rupanya itu
kawan saya, Alex, yang sedang berada di dalam jip bersama
John dan Felice. Mereka telah mendengar tentang suatu
masalah di markas Unamet.
"Kamu di mana?" tanya Alex. "Kami mau
menjemputmu." Sepuluh menit kemudian, John mengarahkan jip ke jalan
yang melintas melalui Unamet. Hari-hari ini dia
mengenakan topi dengan wama milisi tetap di sebelah luar.
Dia tidak senang berada di sini dan tidak mau kami turun
dari mobil. "Jangan khawatir, John," kata Alex, melalui Felice.
"Kami akan berhati-hati. Kamu tunggu di sini. Kami akan
kembali dalam sepuluh menit."
Markas itu sendiri berjarak lima ratus meteran lagi, tak
terlihat oleh kami di balik lengkungan jalan. Wilayah ini
adalah pusat permukiman di Dili, sebuah kabupaten rumah-
rumah dari kayu dan batu yang terletak di sela pepohonan
kelapa dan kayu putih; tak seorang pun penghuninya yang
tampak; wartawan-wartawan lain turun dari mobil-mobil
mereka dan bergerak ke arah yang sama. Tiba-tiba
terdengar bunyi patahan keras dari depan dan tiga pemuda
kurus berbaju kaus muncul dari balik tikungan jalan.
Kami melompat dengan gugup untuk bersembunyi di
belakang pohon dan dinding. Dua dari pemuda itu
mengabaikan kami, saat mereka berlari menuruni jalan.
Yang ketiga, remaja belasan tahun yang kerempeng dengan
wajah mirip tengkorak, melompat ke balik dinding tempat
saya dan Felice berlindung serta mulai bicara dengan cepat
dalam bahasa Tetum. "Mereka pro-kemerdekaan," kata Felice. "Di atas sana ada Aitarak. Mereka datang
untuk menyerang salah satu r u
m ah. Ada p e r k e I a h i a n. Dia bilang A i t a r a k m e m b u n u h i
orang-orang di atas sana."
Siapa pun yang tadinya mengejar ketiga anak ini temyata
tidak mengikuti mereka. Kami berjalan terus dengan hati-
hati sepanjang pinggir, dekat dengan lengkungan pohon
kelapa dan rumah-rumah. Jalan menuju ke markas Unamet terlihat dari jarak
seratus meteran dan di depannya sedang berlangsung
perkelahian jalanan yang kacau. Lebih banyak lagi anak-
anak muda berbaju kaus yang muncul, berlari ke depan
untuk melemparkan batu ke arah musuh sebelum mundur.
Kemudian lawan mereka lari ke depan, mengena kan
wama-wama Aitarak, merah, putih dan hitam.
"Milisi, milisi," kata pemuda pendukung kemerdekaaan yang mengikuti kami kembali
menaiki jalan. Dua milisi membawa senapan dan semuanya memiliki
golok. Seorang juru kamera - saya tidak ingat yang mana -
memotret dari cukup dekat. "Kamu mau pergi ke atas
sana?" tanya Felice tidak yakin, tapi baik Alex maupun saya tidak mau. "Mungkin
kita harus kembali ke John," kata saya. Setelah itu semuanya terjadi sangat
cepat. Ada keributan besar di belakang kami, semakin banyak p
e m u d a p ro - k e m e r d e k a a n y a n g berlarian d a n b e r t e ri a k,
dan menyusul di belakang mereka lebih banyak
lagi p re m a n - p re m a n b e r s e r a g a m m e r a h - p u t i h - h i t a
m. M e re k a adalah Aitarak; mereka diam-diam
memutar ke belakang untuk menyergap kami dari belakang.
Tiba-tiba, kami terjebak; anggota milisi ada di depan dan di
belakang kami. Salah seorang Aitarak yang baru tiba
membawa golok yang diayun-ayunkannya di atas kepala
seperti pedang perang. Saya memerhatikan seorang lelaki
gendut berambut keriting lebat berhenti saat berlari ke arah
kami, dan membidikkan senapan angin di tangannya.
Apakah jarak tempat dia berdiri tiga puluh meteran atau
hanya sepuluh meter" Bedilnya sangat kumal; saya bisa
mendengar gesekan di dalam moncong senapan ketika tuas
logam menggurat di dalam pipa. Saya berlari menjauh dari
jalan tanpa pikiran sadar dan melintasi apa yang tampak
seperti ruang terbuka, dan saya bemapas tersengal-sengal di
tengah rumput liar lebat di antara dua rumah. Sepatu
saya terjebak di dalam lumpur. Saya panjat pagar kawat berduri dan melihat
dinding setinggi satu setengah
meter yang penuh dipanjat i orang-orang. Saya lega
menemukan beberapa teman yang tadi saya lihat di jalan.
Felice dan Alex juga di sana. Kami saling bantu memanjat
pagar dan jatuh di belakang bangunan rendah besar dengan
meja-meja dan komputer terlihat di dalamnya. Kami berada
di dalam markas Unamet. Dari arah jalan terdengar letupan keras, barangkali dari
senapan yang tadi dipersiapkan oleh lelaki berambut
keriting itu saat saya melarikan diri. Kami menapaki jalan
di antara bangunan kecil di luar gedung dan tong-tong
sampah menuju pusat markas, tempat mobil-mobil Land
Cruiser diparkir. Banyak staf PBB sedang berdiri bimbang
dan belasan wartawan telah berkumpul sehabis memanjat
pagar, gerbang, dan dinding seperti kami tadi. Seorang
koresponden televisi menceritakan bagaimana dia
berlindung di kandang babi setelah dikejar-kejar oleh
seorang pria membawa golok. Dia mengkhawatirkan
Jonathan yang terpisah dari yang lain ketika anggota milisi
melakukan serangan kejutan mereka dari belakang. Satu
orang pendukung kemerdekaan sudah jelas mati. Dia
terjatuh ketika berlari dan dibacok dengan golok.
Di bagian belakang markas itu adalah aula tempat
konferensi pers diadakan. Aula itu kini penuh dengan orang
Timor yang ketakutan, dua atau tiga ratus orang, duduk di
kursi, meja, dan lantai. Sebagian besar dari mereka
perempuan dan anak-anak kecil, dan banyak di antara
mereka yang terisak menangis. Seorang perempuan remaja
memimpin doa dan himne melalui pengeras suara. Mereka
adalah para pengungsi yang berlindung di gedung sekolah
di sebelah markas dan mereka berlompatan memanjat
pagar ketika senapansenapan rakitan mulai meletus.
Kini ada bunyi-bunyian baru, terdengar dari jarak dekat:
bunyi tembakan senapan otomatis, diikuti oleh serentetan
tembakan satu per satu. David Wimhurst sedang bediri di
tangga menuju aula. Seseorang berkata, "David, senapan
jenis apa itu?" "Saya tidak tahu," kata Wimhurst.
"Bukankah itu seperti sepucuk AK?"
"Saya tidak tahu," kata Wimhurst.
"Atau sejenis senapan mesin ringan?"
"SAYA TIDAK TAHU, MENGERTI!" bentak
Wimhurst. Hening. "Itu M-16," kata perwira tentara Australia di sebelah saya.
"Terima kasih," kata Wimhurst dan kepada penanya
pertama, "ITU M-16."
"Di negeri ini, hanya ada dua kelompok orang yang
membawa M-16," kata perwira itu. "Tentara Indonesia dan orang-orang yang diberi
senapan itu oleh tentara Indonesia." Sebuah suara terdengar dari pengeras suara, "Di luar m a r k a s sedang t e rj a
d i t e m b a k - m e n e m b a k. M o h o n m a s u k ke dalam. Diulang,
dimohon semua orang masuk ke dalam. Ini bukan perintah."
Kami berdesak-desakan ke dalam aula yang sudah sesak.
Terdengar lagi bunyi tembakan acak. Mengiringi setiap
bunyi itu terdengar desah ketakutan menjalar di tengah
pengungsi. Kemudian berhenti. Di depan markas terlihat
polisi-polisi Indonesia sedang berbicara dengan polisi sipil.
Tak lama kemudian, suara penyiar terdengar lagi dari
pengeras suara, "Ibu-ibu dan Bapak-Bapak, terima kasih
atas kerja sama Anda. Polisi sekarang telah memulihkan
ketertiban dan seluruh staf PBB diharapkan kembali ke
ruang kerja mereka masing-masing."
Sejak saat tembakan pertama, polisi butuh lebih dari satu
jam untuk tiba di tempat kejadian. Tetapi, kini mereka telah
"memulihkan ketertiban". Mereka bahkan menyediakan
truk-truk untuk mengangkut para wartawan kembali ke
hotel-hotel. Saat kami sedang menunggu, Alex berkata,
"Apa yang terjadi pada Jonathan" Saya harap dia baik-baik
saja." Saya teringat radio gelombang pendek saya dan
mendengarkan stasiunnya. Dan keluarlah dari situ suara
Jonathan. Dia sedang bicara langsung melalui ponselnya;
dia barangkali tak lebih dari beberapa ratus meter dari
tempat kami berdiri, mendengarkannya. Dia selamat.
Dia sedang menceritakan apa yang telah terjadi pada
dirinya. Peristiwa itu terekam dalam film oleh seorang juru
kamera, dan kami akan menontonnya nanti malam. Film
itu memperlihatkan Jonathan yang terhalang dari rute
melarikan diri ke dalam markas, sedang dikejar oleh
seorang anggota milisi, barangkali orang yang pemah saya
lihat mengayun-ayunkan golok di atas kepalanya.
Jonathan terpeleset dan jatuh, lalu tampak pemandangan
mengerikan saat orang itu berdiri di atasnya dan
memukulnya dengan gagang senapan otomatisnya.
Jonathan mengangkat tangannya untuk melindungi diri
sendiri, persis seperti orang Timor yang telah ditusuk
hingga tewas beberapa saat sebelumnya. Dia pikir dia akan
mati. Tetapi, seorang Indonesia, intel yang bekerja bersama
kelompok milisi, datang mendekat dan menarik anggota
milisi itu. Tak jauh dari sana, koresponden dari Washington
Pos t benar-benar tersabet golok. Tetapi, penyerangnya
memutar golok itu saat mengayunkannya, sehingga dia
terkena sisi datar bilah golok, bukan matanya yang tajam.
Lebih dari semua yang lain, inilah yang mendorong
banyak wartawan meninggalkan Dili dalam beberapa hari
ke depan: film tentang Jonathan yang tergeletak di tanah di
bawah moncong senapan yang sedang diturunkan. Ada
orang-orang yang mengemukakan betapa berhati-hatinya
milisi itu agar jangan sampai membunuh seorang asing
ketika sangat mudah bagi mereka untuk melakukan itu.
Tetapi bagi banyak orang, itu terlalu bahaya, terlalu mudah
terbayangkan - adanya intel di mana-mana, sudut
kemiringan golok, menjadi titik pembeda antara hidup dan
mati. Orang-orang berkumpul di seputar monitor di ruang
editing yang telah disiapkan tim TV dan menonton adegan
itu berulang-ulang. Hari berikutnya, Maliana akhimya jatuh. Seperti telah
diramalkan Kolonel Alan, bangunan PBB dikepung saat
milisi berkeliaran di kota sambil menembakkan M-16 dan
membakar rumah-rumah orang yang terkait dengan g e r a k
a n k e m e r d e k a a n. E m p a t orang t e r b u n u h, t e r m a s u k dua
orang Timor yang bekerja sebagai pengemudi
Unamet, dan enam lainnya hilang. Lebih dari dua puluh ru
m ah t e r b a k a r. P e n e m b a k a n t e ru s b e r I a n g s u n g h a m p
i r sepanjang malam. Tim Unamet Maliana tiba di Dili pada Jumat pagi,
banyak di antara mereka dalam keadaan syok dan berurai
air mata. Hari berikutnya siaran radio Unamet dihentikan
karena teknisinya takut datang bekerja. Banyak kru televisi
meninggalkan tempat; sebagian besar pengamat pemilu
sudah berangkat. Tiba-tiba kamar hotel menjadi banyak dan
murah. Tetapi, pengemudi dan penerjemah s e m a k i n la n
g k a dibanding k a n s e b e I u m n y a. Felice m u n c u I di hotel suatu
pagi dan dengan tenang menjelaskan bahwa
keluarganya mencemaskan dirinya serta bahwa dia tidak
akan bisa bekerja untuk kami lagi. Tetapi, John si
pengemudi tetap bersama kami. Setelah kengerian di
markas, dia berputar-putar mencari kami. Dia pikir kami
telah diciduk oleh milisi dan itu adalah kesalahannya
karena tidak menunggu bersama jipnya. Larut malam pada
hari itu, dia muncul di kamar saya. Tubuhnya gemetar
karena lega. Pada hari penarikan dari Maliana, kami menemukan
istilah halus PBB yang lain. Alih-alih dievakuasi ke Dili,
kami diberi tahu bahwa operasi Unamet telah "direlokasi".
"KAMI KHAWATIR mereka menuntut pembagian
teritorial," kata Joaquim Fonseca. "Mereka akan mencoba melepaskan Bobonaro,
Ermera, Liquisa, dan seluruh
kabupaten di sebelah barat, serta menyatukannya ke Timor
Barat. Di sana milisi sangat kuat. Itu adalah bagian terbesar dari negeri ini,
dan mengandung paling banyak sumber
daya alam. Kopi, cendana. Dan mungkin akan ada
politikus di Jakarta yang menghendaki itu. Dan jika para
politikus itu cukup vokal, maka negara-negara di dalam
PBB, negara-negara yang selama ini mendukung Indonesia,
akan mulai berpikir bahwa hal tersebut dapat diterima.
Itulah skenario yang mencemaskan kami."
Joaquim adalah pengurus organisasi hak asasi manusia
lokal. Dia direkomendasikan kepada saya sebagai pakar
soal milisi. Saya ingin tahu lebih banyak, untuk m e n u n d
u k k a n k e t i d a k m a m p u a n s a y a m e m anda n g s e ri u s Eurico
dan para pengikutnya. Tetapi, semua yang
saya dengar membuat mereka tampak semakin konyol.
Begitu banyak kelompok pro-Indonesia yang
berbeda-beda; setiap hari saya mendengar tentang
kelompok yang baru. Mereka tergolong ke dalam dua
kategori: kelompok milisi dan Singkatan-singkatan.
Kelompok kedua ini terdiri atas bermacam-macam
organisasi dan kesatuan semi-resmi, yang dikenali dengan
berbagai singkatan yang aneh seperti UNIF, BRTT, PPI,
dan FPDK. Milisi lebih suka nama yang lebih gampang di-


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ingat dan menggugah, semakin seram semakin baik. Di Dili
ada Aitaraknya Eurico dan Besi Merah Putih. Ka-bupaten
Ainaro punya Mahidi, singkatan rumit yang didapat dari
frasa berbahasa Indonesia, Mati Hidup Demi Integrasi. Di
Viqueque ada Makikit, yang berarti Kelelawar, dan di
kantong Oecussi ada Sakunar, yang berarti Kalajengking.
Nama-nama milisi selaras dengan pakaian milisi, sepeda
motor milisi, dan bau milisi. Mereka angkuh, tidak matang,
dan dibuat-buat, dicirikan oleh rambut panjang, jaket kulit
berhias kepala paku payung, serta kostum heavy metal.
Pemimpin-pemimpin mereka adalah gabungan
administrator yang diangkat oleh Indonesia, kepala-kepala
suku Timor, dan para preman. Eurico, belum lagi berusia
tiga puluh tahun, adalah yang termuda dan paling menarik
di antara mereka. Sebagai remaja, dia telah aktif dalam gerakan bawah
tanah. Orangtuanya dikabarkan telah terbunuh oleh tentara
Indonesia dan dia ditangkap oleh Kopassus. Di bawah
penyiksaan, sesuatu di dalam dirinya berubah. Dia diserahi
tanggung jawab atas sebuah "kasino" di Dili yang tak lebih dari dua meja biliar
dan sebuah ruangan untuk bermain
kartu. Beberapa tahun kemudian dia terlibat dalam
kelompok paramiliter yang disebut Tim Sepulo. "Itu adalah semacam tukang pukul,"
kata Joaquim. "Mereka berkeliling kota, menakut-nakuti orang, menculik mereka
untuk beberapa hari." Segera setelah pengumuman referendum,
Tim Sepulo lahir kembali sebagai Aitarak, dikomandani
oleh Eurico. Joaquim membenci kaum milisi, tetapi sebagian dari
dirinya mengasihani mereka juga. "Banyak di antara
mereka yang diancam atau dipaksa," katanya. "Beberapa di antara mereka pemah
datang kepada saya dan mengatakan
mereka merasa terjebak serta bertanya pada saya apa yang
harus mereka lakukan. Begitu seseorang bergabung dengan
milisi, dia tidak punya pilihan. Dia bisa k e I u a r, tapi k e m u d i a n
keluarga n y a a k a n m e n g h a d a p i risiko.
Pentolannya, para pemimpinnya, telah bekerja sama
dengan militer Indonesia selama bertahun-tahun dan tahu
begitu banyak rahasia mereka sehingga sangat berbahaya
bagi mereka untuk keluar dari milisi. Mereka bisa dibunuh
dengan mudah." Anggota baru sering diharuskan menjalani inisiasi. Dia
diminta untuk menyerang seseorang, atau menikam
seseorang hingga mati, atau menyelinap ke dalam
pergerakan bawah tanah dan membawa pulang rahasia-
rahasianya. Setelah berhasil dia akan dibayar 50.000 rupiah;
yang lebih penting lagi, dia akan mendapati dirinya terikat
pada kelompok itu melalui pengetahuan mereka tentang
kejahatan atau pengkhianatannya. "Banyak di antara
mereka yang tidak memiliki motivasi logis," kata Joaquim.
"Mereka bisa dibunuh kapan saja. Apa yang mereka dapat
dari sana" Sering kali mereka tidak benar-benar sadar apa
yang sedang mereka lakukan, di bawah pengaruh obat-
obatan dan minuman keras itu. Anda tentu telah
menyaksikannya. Lihat mata mereka dan Anda pun tahu."
Berapa banyak anggota milisi" Saya bertanya kepada
seorang diplomat yang saya kenal di salah satu kedutaan
besar di Jakarta. "Kira-kira beberapa ratus pengikut
beraliran keras, beberapa ratus hingga seribuan paling
banyak," katanya. "Banyak di antara anggota bawahannya hanya ikut-ikutan. Maksud
saya, Anda sudah lihat sendiri,
kan. Mereka mabuk, mereka menelan obat-obatan, mereka
tidak tahu apa yang mereka perjuangkan. Sedangkan para
pemimpinnya, orang-orang yang tahu apa yang sedang
mereka kerjakan, jumlahnya tidak berarti. Ada lima puluh,
mungkin hanya dua puluh orang, dan kalau mereka
ditangkap, persoalan terpecahkan."
Polisi Indonesia memalingkan pandangan ketika para
milisi melakukan serangan, tetapi tentara membantu
dengan aktif. Tentara Indonesia dan agen-agen mereka
memasok milisi dengan obat-obatan dan uang. Lebih dari
satu kali staf Unamet dalam konvoi ke daerah-daerah
pinggiran melewati desa-desa tempat para tentara sedang
melatih unit-unit milisi atau memimpin barisan saat mereka
menggiring orang-orang keluar dari rumah-rumah
penduduk. Itu lebih dari sekadar rumor atau asumsi: itu
telah sering kali disaksikan. Unamet mengeluh, "jaminan"
diberikan. Tapi tak ada yang berubah.
Indonesia mempersenjatai milisi, meskipun mereka
melakukan ini dengan berhati-hati. "Selain senjata rakitan, mereka punya
barangkali dua ratusan pucuk senjata
sungguhan," kata diplomat itu. "Tentara yang
memberikannya, membiarkan mereka bermain-main
dengannya dan mengayunkannya ke sana-kemari untuk s e
m e n t a r a w a k t u, dan k e m u d i a n m e n g a m b i I n y a k e m b a I
i sebelum menjadi terlalu mencolok. Ada
seseorang bemama Domingos Soares yang memiliki
sepucuk Uzi dan sangat bangga dengan itu. Hermfnio
memiliki dua senjata yang canggih. Kami belum pemah
melihat pergelaran senjata besar-besaran, tetapi di tempat
seperti ini, dengan populasi tak bersenjata dan gerilyawan
yang terkungkung di pegunungan, berapalah jumlah senjata
yang dibutuhkan?" SAYA DAN ALEX mendatangi komandan milisi
bemama Hermfnio - Hermfnio da Silva da Costa, Kepala
staf PPI, Pasukan Perjuangan Integrasi Timor Timur. Para
pemimpin pro-integrasi berada di persembunyian, tetapi
membuat perjanjian untuk bertemu dengan Hermfnio
gampang. Kami bertemu di salah satu vila putih Portugis
sepanjang tepi pantai dan duduk di atas kursi ukiran kayu
jati menghadap meja kopi yang ditata dengan taplak kecil
berenda-renda halus. Semilir angin laut berembus dari pintu
yang terbuka. Saat kami berbincang, Hermfnio dengan
pelan memakan permen dari sebuah mangkuk kaca berat.
Dia berusia lima puluhan, ber-perut buncit, dengan mata
sipit yang menatap kami lekat-lekat saat dia berbicara.
Ketika dia tidak sedang berbicara, dia tersenyum,
mengangguk pelari saat pertanyaan-pertanyaan
diterjemahkan untuknya. Dia bukan seorang badut seperti
Basilio atau orang sinting seperti Eurico. Dia membuat saya
teringat pada seekor buaya - seekor buaya penyabar,
berperut buncit dengan senjata yang canggih.
Hermfnio pemah menjadi serdadu Portugal dan anggota
pendiri partai integrasionis. Sekarang dia adalah pemimpin
PPI, salah satu dari singkatan-singkatan yang banyak itu.
Dia menjelaskan perannya saat ini dengan membandingkan
Angkatan Bersenjata Perjuang-an Integrasi Timor Timur
dengan NATO. "Setiap wila-yah memiliki kelompok
milisinya sendiri dan saya se-perti atap y a n g m e n a u n g i m e re k a s e
m u a," kata n y a. "Jika satu kelompok dari wilayah-wilayah ini meminta
pertolongan, misalnya, mereka tidak memintanya secara langsung. Mereka datang
ke saya dulu. Saya seperti Sekjen NATO. Tetapi, kalau saya
tertangkap atau terbunuh, kekuasaan saya akan terus
berlanjut." Sejak awal, cerita Hermfnio tentang dirinya sendiri
sangat membingungkan. Belakangan saya menyadari
bahwa itu merupakan tanda betapa dia sepenuhnya berada
di bawah kendali dan perlindungan dari Indonesia - dia
bahkan tidak merasa perlu berbohong secara efektif. Dia
melantur, terjebak dalam perangkap perca-kapan, dan
kalimat-kalimatnya saling bertentangan. Ketika hal itu
dikemukakan kepadanya, dia hanya tersenyum. Dia berada
dalam posisi enak yang tidak mengharuskannya untuk
konsisten. Dia malah bisa saja bersikap mengancam.
Namun, sebagai sebuah wawancara, ini buang-buang
waktu saja. Kami bertanya tentang hubungan Hermfnio
dengan tentara Indonesia, dan dia mengatakan bahwa
semuanya telah berubah. Dulu, tentara mendukung
kelompok milisi dengan senjata, tetapi kini mereka harus
melindungi kedua pihak, dan donasi telah berhenti. "Tetapi jika ada konflik,"
kata Hermfnio, "mereka akan mendukung kami seratus persen. Tidak ada perjanjian
tentang ini, tapi saya tahu itu." Kami bertanya bagaimana dia bisa begitu yakin.
Hermfnio bilang, "Militer Indonesia tidak akan memihak
yang satu atau yang lain. Jika ada konflik mereka akan
berdiri di tengah-tengah."
"Tapi, bukankah Anda baru saja mengatakan bahwa
Indonesia akan mendukung Anda seratus persen?" tanya
Alex. Hermfnio tersenyum. Kami tanya berapa banyak senjata yang ada di
tangannya. Dia mengangkat bahu dan memasukkan satu
permen lagi ke dalam mulutnya. "Kami dulu punya 10.000
senjata. Kini di tiga belas kabupaten di Timor Timur hanya
ada sekitar seribu yang tersisa." Sembilan ribu lainnya telah
"diserahkan kembali ke Indonesia dengan syarat bahwa
tentara Indonesia akan menjaga mereka." Tetapi, tak lama kemudian dia menegaskan
bahwa milisi tak p e r n a h m e
n e r i m a s e nj a t a dari sahabat-sahabat m e r e k a. "Satu-satunya senjata
yang benar-benar kami miliki adalah yang
kami dapatkan dari Falintil yang tertangkap," katanya
nyaris berang. "Tentu saja, kami menyerahkannya ke
polisi." Wawancara itu menjadi agak membosankan, tetapi kami
tanya juga dia berapa banyak anggota PPI. Hermfnio
mengatakan, "Sekitar 10.000 hingga 15.000 jumlah
totalnya. Perempuan juga tertarik untuk ikut. Jika situasi
darurat, jika ada perang, kami bisa memobilisasi 15 0.000
orang." Seratus lima puluh ribu orang berarti seperempat
populasi dewasa. Saya berpikir sendiri: ini tidak akan ke m
a n a - m a n a. Sebagian n y a b a r a n g k a I i b e n a r, kebanyakannya
adalah bohong, tetapi semua itu dirancang
untuk mengelabui. Telepon di meja jati kecil berdering.
"Permisi," kata Herminio, lalu bangkit untuk menjawabnya.
Telepon itu, saya perhatikan, juga terbungkus kain berenda,
persis seperti yang ada di meja. Herminio berbicara
sebentar, dan kembali kepada kami dengan minta maaf.
Kami bertanya kepadanya apa hasil yang dia harapkan
dari referendum dan dia tersenyum malas, seakan-akan itu
sesuatu yang tak terlalu dipikirkannya. "Tentu saja otonomi akan menang,"
katanya. "Sembilan puluh lima persen sudah pasti, kalau mereka menghitung dengan
adil. Mungkin 80 persen jika Unamet curang. Paling buruk kami akan
mendapat 60 persen."
Kami meminta Hermfnio membayangkan situasi -
situasi hipotetis yang nyaris tak masuk akal - di mana
gerakan pro-Indonesia benar-benar kalah dalam
pemungutan suara itu. Dia bilang, "Saya akan menolak hasilnya. Jika mereka
mengumumkan hasil seperti itu, jelas ada kecurangan. Dan
itu adalah pekerjaan Unamet, karena kotak suara adalah
tanggung jawab Unamet. Rencana saya adalah
membawakan masalah itu ke Dewan Keamanan PBB di
New York dan meminta Kofi Annan mengada-kan
pemungutan suara lain, tetapi dilaksanakan oleh Indonesia,
bukan oleh Unamet." (Saya m e m b a y a n g k a n H e r m f n i o m elang k a h
b e r a n g melintasi jalan-jalan di New York, dan
berhadapan dengan Kofi Annan, sesama Sekretaris
Jenderal.) Kami memperhadapkan Herminio pada skenario yang
lebih fantastis di mana proposal ini pun ditolak. Hermfnio
mengatakan, "Kalau PBB benar-benar mengklaim bahwa
kemerdekaan yang menang, saya bersumpah akan ada
perang saudara lagi. Kalau PBB mengatakan itu maka pro-
kemerdekaan tidak pantas untuk hidup lagi, karena itu tidak
adil. Saya lebih suka berperang dan memenggal semua
orang pro-kemerdekaan."
Pada menit terakhir, dia sudah menjadi agak panas. Dia
tidak tersenyum lagi. Kami mengucapkan terima kasih
kepada Hermfnio, dan beranjak pergi.
Berjalan kembali ke hotel sepanjang pinggir pantai, saya
mendapati diri berada dalam sebuah dilema. Dia satu
pihak, itu jelas-jelas omong kosong. Milisi tidak punya
15.000 anggota, mereka tidak punya ribuan senapan jenis
apa pun, dan mereka tidak akan melakukan pembantaian
massal. Di pihak lain, dia telah mengatakannya dan itu
adalah bahan tulisan yang bagus. Saya tuliskan wawancara
itu, dengan menghilangkan kebohongan Herminio yang
terlalu mencolok dan sedapat-dapatnya menampilkan nada
yang netral. Tulisan itu muncul dengan judul IF POLL IS
LOST THE SLAUGHTER WILL BEGIN, jika pro-
Indonesia kalah dalam pemungutan suara, pembantaian
akan terjadi, dan saya merasa campur aduk antara malu dan
bangga karena sudah mengirimkan cerita menyesatkan yang
dipampangkan dengan begitu jelas.
Selesai menulis - juga setelah pergulatan semalaman
dengan mesin faksimile antik dan jalur telepon Turismo
yang tersendat - saya duduk-duduk di taman sambil
merokok. Hotel itu nyaman karena kosong; sore tadi
sepesawat penuh tamunya sudah pergi lagi. Layanan
restoran sudah jauh lebih baik; saya memesan ikan
panggang dan beberapa botol bir dingin. Salah seorang
pelayan mudanya duduk dan merokok bersama saya. Dia
sama leganya dengan yang lain karena keramaian tamu
telah berkurang. Tetapi, dia khawatir tentang masa depan,
lebih-lebih tentang apa yang akan terjadi jika milisi dan
tentara Indonesia menyadari bahwa mereka telah kalah.
Dia ingin tahu benarkah yang dia dengar bahwa hasilnya
akan diumumkan keesokan hari.
Itu benar: penghitungan suara butuh waktu yang lebih
singkat daripada yang diduga. Dalam beberapa jam lagi
akan selesai. Apa yang akan terjadi setelah itu" Saya tidak
tahu, tetapi Hermfnio da Silva da Costa tahu.
Dia mengatakan kepada kami dengan tepat apa yang
akan dia lakukan nanti. Belakangan, temyata Unamet dan
kedutaan-kedutaan asing telah menerima laporan yang


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sama selama beberapa pekan. Milisi tidak merahasiakan
apa yang sedang direncanakan.
Unamet menyampaikan informasi itu ke New York,
kedutaan-kedutaan menyampaikannya ke ibu kota mereka.
Soal itu pun muncul di koran saya keesokan pagi.
Tapi, tak seorang pun dari kami memercayainya. []
i MARKAS HASILNYA DIUMUMKAN pada pukul sembilan pagi
^ hari Sabtu di ruang dansa Hotel Mahkota. Orang
menduga pengumuman itu masih tiga hari lagi, tapi
penghitungan berlangsung cepat. Tentunya terasa wajar
menyebarkan berita itu secepat-cepatnya agar para
perencana kerusuhan dan boneka-bonekanya tidak sempat
siap. Tetapi, belakangan orang mengutuk Unamet karena
itu. Penduduk Timor biasapun sudah membuat rencana -
rencana untuk meninggalkan kota menuju gunung-gunung,
mengirim anak-anak mereka ke tempat persembunyian
pergerakan kemerdekaan, atau sekadar mengumpulkan
cadangan makanan sebagai persiapan selama pekan-pekan
berbahaya dan terkucil. Pada hari Sabtu, baru sedikit dari
rencana-rencana ini yang telah tertuntaskan. Belakangan,
setelah lama sekali, Felice berkata kepada saya, "Orang
orang tewas, saya kira karena mereka mengumumkan hasil
itu terlalu cepat." Ruang dansa penuh sesak. Kepala Unamet, Ian Martin,
berjalan cepat ke depan dan membacakan hasilnya. Dia
seorang pria kurus berkacamata dengan perilaku birokratis
dan sabar yang cenderung memperlemah pemyataannya
yang tegas serta tandas. Ketika pengumuman itu dilakukan,
itu merupakan sebuah anti-klimaks. Instruksi tegas telah
dikeluarkan kepada staf PBB untuk tidak menunjukkan
reaksi apa-apa terhadap hasil itu dan di kalangan jumalis
hal ini pun sudah disepakati. "Dalam memenuhi tugas yang dipercayakan kepada
saya/1 kata Ian Martin, "dengan ini
saya mengumumkan hasil jajak pendapat adalah 94.388
atau 21, S persen mendukung dan 344.580 atau 78,5 persen
menentang usulan otonomi khusus."
Empat dari lima orang Timor Timur memilih ke-m e r d
e k a a n. M a rt i n m u I a i m e m baca k a n p e m y a t a a n d a r i Kofi
Annan, tetapi sebelum dia selesai bicara,
orang-orang sudah berdiri dan beranjak ke luar ruangan.
Orang-orang berkerumun berisik di lobi hotel yang kumuh.
Teman-teman saling tersenyum tipis dan mengucapkan
selamat kepada beberapa orang Timor yang sedang berdiri
di sana sini. John si pengemudi berlari ke depan dan
merangkul saya tanpa mampu berkata apa-apa. Air mata
membasahi pipinya. Dia tampak sangat bahagia.
Di tangga hotel, orang-orang mondar-mandir tak pasti.
Tidak ada kerumunan yang bersorak, tidak ada perayaan.
Jalanan kosong, hanya satu warung yang tetap buka. Apa
pun yang terjadi, tampaknya penting untuk memborong
rokok sebanyak-banyaknya. Saat saya menjejalkan kotak-
kotak itu ke dalam tas saya, dua anggota Aitarak berlalu
pelan dengan sepeda motor, memandang tanpa ekspresi ke
arah depan hotel. Butuh lima belas menit untuk berjalan kaki dari Mahkota
ke Turismo. Tapi, pagi ini tak seorang pun ingin berjalan
kaki dan jip John dengan segera terisi penuh dengan orang-
orang yang butuh tumpangan. Di sisi dermaga keluarga-
keluarga bergeletakan di depan kapal barang besar, di
antara kasur-kasur, kulkas, sepeda motor, dan perabotan.
Sepanjang jalan kami melewati kelompok-kelompok
kecil perempuan dan anak-anak, semua mereka bergerak ke
arah rumah Uskup Belo. Mereka berdatangan ke sana sejak
malam sebelumnya; di halaman rumah uskup ratusan orang
berteduh dari terik matahari di bawah seprai yang diikatkan
ke pohon-pohon. Sebuah truk bak terbuka milik Brimob
berlalu, mengangkut anak-anak muda bercelana jeans dan
kaus. Sebagian dari mereka tampak seperti polisi berpakaian
sipil, tetapi kebanyakan bertampang Aitarak.
Tidak banyak pembicaraan dalam perjalanan pulang ke
hotel. Begitu tiba kembali di kamar, secara naluriah kami
menyalakan radio gelombang pendek dan komputer-
komputer kami untuk mengecek berita terkini. Begitulah,
kami berada di pusat berita yang luar biasa, namun untuk
saat itu apa yang telah kami saksikan sendiri kurang penting
dibandingkan reaksi dunia selebihnya terhadap berita itu.
Orang-orang saling menyerukan judul-judul berita penting
saat mereka mendapatkannya. Xanana Gusmao, berbicara
dari tahanan rumahnya di Jakarta, mengatakan: "Hari ini
akan senantiasa dikenang sebagai hari pembebasan
nasional." Menteri Luar Negeri Timor Leste di
pengasingan, Jose Ram o s Horta, menyampaikan pesan
untuk para pendukung Indonesia, "Mereka tidak kalah -
mereka telah mendapatkan sebuah negara." Bahkan ada
reaksi dari Eurico Guterres. "Kami dikalahkan secara
diplomatis," begitu kutipan pemyataannya. "Tapi kami tidak akan menyerah."
Eurico tidak lagi berada di Dili, tampaknya. Dia telah pergi dengan pesawat pagi
ke Jakarta dan sulit untuk mengatakan apakah ini pertanda baik atau
buruk. "Entah dia sudah angkat tangan," kata Alex, "atau dia tahu bahwa sesuatu
yang buruk akan terjadi."
Pedang Sakti Tongkat Mustika 9 Pendekar Romantis 05 Skandal Hantu Putih Kaki Tiga Menjangan 5
^