Pencarian

Zaman Edan 4

Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry Bagian 4


hanya tampuk kepemimpinan pemerintah saja yang
berganti. Sulit menyebutnya sebagai kemenangan Kekuatan
Rakyat, karena keputusan terpenting - menahan diri dari
kerusuhan, membiarkan mahasiswa masuk ke gedung
parlemen, mengadakan sesi khusus MPR - sama sekali
bukan dibuat oleh rakyat. Semua keputusan itu dibuat oleh
elite, tentara, dan pengikut setia Orde Baru yang ditunjuk
oleh Soeharto sendiri. Bagaimana kalau krisis ekonomi atau kebakaran hutan
sedikit lebih terkendali dengan baik" Bagaimana kalau
Soeharto tidak menetapkan kenaikan harga-harga"
Bagaimana kalau dia tidak pergi ke Mesir" Bagaimana
kalau mahasiswa Trisakti tidak tertembak" Bagaimana
kalau rumah Harmoko tidak dibakar" Bagaimana kalau
demonstrasi Lapangan Merdeka tetap berlangsung" Saya
tetap berada di Jakarta semalam lagi dan mampir di Bali
selama sepekan sebelum terbang pulang. Pada akhir semua
itu, masih belum ada jawaban jelas atas semua Bagaimana
kalau itu. Pada satu kesempatan, di antara kematian di Trisakti dan
hari pertama kerusuhan berskala penuh itu, orang Indonesia
seperti telah kehilangan rasa takut mereka. Beratnya krisis
ekonomi dan kejutan penembakan itu m e m b a n g k i t k a
n k e b e r a n i a n orang-orang serta jimat Soeharto, yakni
bayang-bayang tentang pembantaian 196S dan 1966 yang
menakutkan, bagai kehilangan daya cengkeramnya.
Mahasiswa yang tegak menantangnya secara paling
terang-terangan adalah generasi yang terlalu muda untuk
mengenang persitiwa itu. Semua orang lain pun mampu u n
t u k m e I u p a k a n n ya sela m a w a k t u y a n g d i b u t u h k a n.
Tetapi, ketakutan akan Soeharto itu hanya
bersembunyi untuk sejenak. Belum lama dia meninggalkan
istana, ketakutan itu pun kembali.
DALAM SEPEKAN, Presiden Habibie mulai
melepaskan para tawanan politik. Pada pertengahan tahun,
berbagai surat kabar dan majalah yang telah dibredel oleh
Soeharto mulai terbit kembali. Dalam beberapa bulan,
ratusan partai politik baru didirikan dan sebelum akhir tahun itu, undang-undang
telah direvisi: pemilu legislatif akan diadakan pada pertengahan tahun
berikutnya, pemilihan bebas yang pertama semenjak 1950-
an. Tetapi, situasi Indonesia payah. Konflik berdarah
merebak di seantero negeri - politis, religius, rasial. O r a n g - o r a n g m e
m p e r b a n d i n g k a n n ya d e n g a n Y
u g o s I a v i a dan Uni Soviet. Mereka bicara secara serius tentang prospek
perpecahan Indonesia. Kini es telah
mencair, permusuhan dan kebencian yang membeku di
bawahnya serta merta muncul ke permukaan secara utuh
dan hidup. Saya terbang kembali ke Indonesia awal 1999. Di pulau
Ambon, perang saudara telah pecah antara orang Islam dan
Kristen. Ada perang gerilya di Aceh dan kekerasan milisi di
Timor Timur. Beberapa ledakan misterius terjadi di Jakarta,
dan di Jawa Timur ratusan penduduk desa lanjut usia
dibunuh karena dianggap sebagai dukun santet. Juga ada
pembunuhan di Kalimantan yang saya saksikan sendiri.
Masalah-masalah ini dipisahkan oleh jarak ribuan
kilometer. Asal-usul dan motif di baliknya sama
beragamnya dengan Indonesia sendiri. Tetapi, dalam setiap
kasus, orang menyalahkan Soeharto.
Di sebuah gereja di Ambon, seorang pemuda
mengatakan kepada saya bahwa Soeharto telah
mengirimkan agen-agen untuk mengadu orang Muslim
dengan orang Kristen. Seorang Muslim bersikeras bahwa
orang Kristen telah dihasut untuk angkat senjata melalui
cara yang s a m a. S e o r a n g M adu r a m e nj e I a s k a n m e n g a p a t
e n t a r a Indonesia telah begitu terang-terangan gagal mencegah pembunuhan
rakyatnya: Soeharto sengaja menahan mereka supaya membiarkan situasi
menjadi kacau di luar kendali. Seorang diplomat Barat
menceritakan kepada saya tentang perjalanan yang telah
dilakukannya untuk m e m buat I a p o r a n t e n t a n g p e m b u n u h a n d
u k u n - d u k u n santet di Jawa Timur.
Di tiga kota berbeda dia melakukan percakapan dengan tiga
kepala polisi berbeda. Masing-
bertentangan dan masing-masing, pada titik tertentu,
punya keterkaitan dengan Soeharto.
Tetapi, keyakinan mendasar yang dipegang semua orang
adalah bahwa Soeharto, meski pensiun, secara aktif
menyusun strategi berbagai kekerasan di seluruh negeri.
Sopir-sopir taksi di Jakarta memercayai itu. Petani cengkeh
di Ambon memercayai itu. Amien Rais dan Abdurrahman
Wahid pun memercayai itu serta menyampaikannya secara
terbuka. Tetapi, itu hanyalah sebuah dugaan berlandaskan
ketakutan; sama sekali tidak ada buktinya. "Tak seorang
pun punya bukti," aku Dewi Fortuna Anwar, penasihat
terdekat Presiden Habibie. "Namun begitu, dengan
menggunakan logika, tampaknya agak naif menduga bahwa
seseorang yang telah membangun kekuasaan yang begitu
besar, yang telah membangun piramida patronase ini, akan
kehilangan seluruh kekuasaannya secara sekaligus."
DAHULU, KETIKA seorang raja Jawa Kuno
mendekati akhir hayatnya, dia akan menarik diri ke sebuah
tempat yang jauh dan keramat, alih-alih mati, dia akan
sekadar lenyap. Momen itu disebut moksa. "Dengan cara
ini," tulis peneliti Soemarsaid Moertono, "gagasan tentang perubahan menjadi
terlepas dari pengaruh upaya manusia
yang dangkal dan diwamai oleh takdir Tuhan yang tidak
terelakkan." Soeharto, pada hari Kenaikan Isa Al-Masih,
telah melakukan hal yang sama.
masin g punya teori p e m b u n u h a n - p e m b u n u h
a n yang itu, rumit semuanya tentang saling
Kehidupannya dalam masa pensiun adalah sebuah
misteri. Sesekali, kehadirannya terlihat di sebuah masjid,
atau di Taman Mini Indonesia Indah - yang dibangun atas
kehendak mendiang istrinya di pinggiran Jakarta. Orang-
orang yang mengenalnya mengatakan bahwa dia jarang
sekali meninggalkan rumah.
Dia bangun pada pukul 4.30 pagi untuk menunaikan
salat subuh - yang pertama dari lima salat wajib. Setelah
itu, dia melakukan olahraga peregangan di teras yang
menghadap ke taman kecil. Burung-burung di dalam
sangkar disimpan di sana, termasuk seekor beo yang telah
diajar untuk menyanyikan lagu kebangsaan, dan
menyerukan, "Allahu akbar!" Di rumah, dia mengenakan sarung dan kaus oblong,
kecuali ketika me-nerima tamu dia
mengenakan celana panjang dan kemeja batik. Pada jam
makan siang, dia menyenangi makanan Jawa sederhana -
pisang kukus, kerupuk, nasi, mie goreng kecap. Dua hari
dalam seminggu dia berpuasa sunah, yakni pada hari Senin
dan Kamis. Selain beberapa perjalanan keluar, dia telah
meninggalkan hobinya main golf dan memancing di laut.
"Beliau mengatakan kepada saya, 'Saya prihatin pada
bangsa ini. Bangsa ini menghadapi masa-masa yang sulit
dan banyak pertumpahan darah. Saya tidak sampai hati
pergi memancing,1" cerita seorang teman. "Dia tidak lagi memiliki aktivitas
kenegaraan, tetapi aktivitas
keagamaannya bertambah banyak. Sebagian besar
waktunya disibukkan dengan urusan agama."
Pada bulan setelah pengunduran dirinya Soeharto
berusia tujuh puluh delapan; dua tahun sebelumnya, dia
menjalani operasi jantung. Tetapi, meski usianya lanjut,
dan meski telah menyaksikan perubahan demikian besar
pada tahun-tahun terakhir, tak seorang pun dari teman-
temannya yang saya ajak bicara mengutarakan keprihatinan
tentang kesehatan fisik maupun mental Soeharto.
"Menakjubkan, tetapi itu bagian dari karaktemya/1 ujar
salah seorang pengacaranya. "Dia sangat tenang. Super
tenang." Para pendukungnya menyatakan kesederhanaan hidup
Soeharto sebagai penegas bukti ketulusannya. Tetapi, s i k a
p n y a yang t i d a k m e n u n j u k k a n k e p e d u I i a n terhadap apa
yang menimpa dirinya, penolakannya untuk
tampak terguncang oleh apa yang telah terjadi pada dirinya,
merupakan salah satu hal yang paling membuat orang
Indonesia ketakutan. SOEHARTO SERING bertemu pengacara-
pengacaranya. Pertemuan yang membuahkan hasil sangat
baik. Investigasi sedang berjalan atas dugaan bahwa dia
telah menggelapkan miliaran dolar uang negara. Sebuah
majalah A m e ri k a m e m p e r k i r a k a n total k e s e I u
r u h a n k e k a y a a n keluarga itu adalah 15 miliar dolar.
Tetapi, silih berganti tak seorang pun Jaksa Agung yang
menunjukkan antusiasme untuk menuntaskan kasus itu.
Ketika tuduhan korupsi pada akhimya diajukan, tim
pembela dengan sukses menyatakan bahwa, disebabkan
oleh kesehatan yang buruk, mantan presiden tidak dapat
menghadiri pengadilan. Putra bungsu Soeharto, Tommy,
pada akhimya dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara
karena membunuh seorang hakim; kawan main golf
Soeharto, Bob Hasan, diganjar enam tahun penjara karena
korupsi. Tetapi, Soeharto tak pemah satu kali pun hadir di
pengadilan. Hanya sekali Soeharto memberi kewibawaan kepada
para p e n u d u h n ya d e n g a n m e m beri k a n t a n g g a p a n. D a I a
m sebuah wawancara yang langka di sebuah
majalah mingguan, dia menyangkal bahwa dirinya
memiliki banyak harta dan bahwa dia m e main k a n peran
dalam berbagai kekerasan yang terus berlanjut. Dia telah
mengundurkan diri, bukan karena terpaksa, melainkan
demi menghindari konfrontasi lebih lanjut.
"Jika saya ingin mengadakan gangguan bersenjata
mengapa saya tidak melakukannya pada 21 Mei, padahal
saya masih memiliki komando atas angkatan bersenjata?"
tanyanya. "Karena saya tidak ingin melihat jatuhnya k o r b a n d a n k e k a c
a u a n, s a y a m e n g u n d u r k a n
diri." Pada saat yang sama, dia memiliki teori konspirasi sendiri tentang
kejatuhannya dari tampuk kekuasaan.
"Rencana Zionis," jelasnya. "Pemerintahan Indonesia tidak cukup waspada terhadap
rencana Zionis yang diatur dengan
sangat baik dan sistematis." Seorang Indonesia yang sering mengunjungi Soeharto
mengatakan kepada saya bahwa
omongan pribadinya tentang soal itu jauh lebih fantastis,
mencakup bar code barang eceran dan angka 666.
Jaksa agung pemerintahan Habibie, mantan pejabat
militer bemama Andi Ghalib, ditantang parlemen tentang
lambatnya kemajuan investigasi. "Ini seperti memotong
pohon besar di tengah hutan lebat," katanya. "Orang tidak bisa langsung masuk
begitu saja ke dalam hutan dan
menebangnya ... kalau tidak mau dimangsa harimau atau
ular besar." DI ANTARA orang Indonesia yang lebih canggih,
demonisasi Soeharto berubah menjadi motif bagi budaya
pop. Ada kaus-kaus yang menggambarkan Soeharto
dengan tanda tanya besar melintang di dadanya. Seorang
teman memperlihatkan kepada saya screen saver komputer
baru yang beredar di Jakarta. Awalnya adalah layar kosong,
di atasnya lantas muncul sosok-sosok kartun para jenderal,
lengkap dengan seragam dan jejeran medalinya. Kemudian
perlahan-lahan pada awalnya, tetapi dengan kecepatan dan
kekerapan yang meningkat - muncul sosok lain di belakang
mereka, di tengah mereka, di sini, di sana, dan di mana-
mana: wajah Soeharto t e r s e n y u m m e n g a n c a m.
Apa pun kekuatan misterius yang sedang bekerja, sulit
dibayangkan bahwa satu orang saja bisa berdiri di balik
semua permasalahan Indonesia. Dia telah menjadi momok,
penjelasan yang siap untuk disodorkan pada setiap masalah
yang rumit. Tetapi Soeharto berkuasa dengan menanamkan
ketakutan selama tiga puluh dua tahun, dan ketakutan itu
terus hidup. Pada akhimya, tidak penting apakah teori
konspirasi itu benar atau tidak. Yang penting adalah bahwa
teori-teori itu dipercaya.
Kehadiran Soeharto yang tak terelakkan di Indonesia
menjadi lebih mencengangkan lagi karena nyaris
sepenuhnya tidak terlihat. Bahkan sebelum pengunduran
dirinya, wisatawan yang tidak cermat barangkali bisa
melewatkan berminggu-minggu di Jakarta tanpa pemah
sadar tentang adanya sosok seperti dia. Selama tiga dekade
berkuasa Soeharto sama sekali menghindari kultus
kepribadian. Tidak ada Jalan Soeharto, Lapangan Soeharto,
atau Masjid Soeharto; ketika dia melepaskan jabatan tidak
ada patung atau poster publik yang diturunkan. Ikon
visualnya hanya ada satu - pada lembaran uang 50.000
rupiah. Selama masa kepresidenannya, setiap kantor negeri
maupun swasta di Indonesia memajang sepasang foto:
presiden, disandingkan dengan wakil presiden periode itu.
Dalam kurun beberapa bulan, gambar Soeharto telah
diturunkan, meninggalkan gambar Habibie sendirian.
Tetapi, di seluruh negeri, dia tetap hidup, dan dalam bentuk
yang mirip hantu. Di berbagai perusahaan, sekolah, kantor
pemerintah, bahkan di sebagian r u m a h - ru m a h p e n
dudu k, p a k u t e m p a t potret S o e h a r t o dulu
tergantung masih tertancap, di atas kotak yang tidak pudar
seakan-akan baru dicat. KEKUASAAN, DALAM konsepsi Jawa Kuno, tidak
memiliki komponen moral atau etika. Seperti yang ditulis
Benedict Anderson tiga puluh tahun silam, kekuasaan
"mendahului pertanyaan soal baik atau buruk ... Kekuasaan bukan sah atau tidak
sah." Dan, Kekuasaan dapat le-nyap
secepat dan semisterius kedatangannya. "Tanda-tanda
kelemahan dalam daya cengkeram kekuasaan se-orang
penguasa," menurut Anderson, "terlihat secara seimbang dalam terwujudnya
kekacauan di dunia alamiah - banjir,
letusan gunung api, dan wabah - serta dalam menyebamya


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perilaku sosial yang tak pantas - pencurian, kerakusan, dan
pembunuhan." Pada saat gejala-gejala melemahnya kekuasaan terlihat,
biasanya itu sudah sangat terlambat. Kekuasaan itu semua
atau tidak sama sekali; seorang raja yang harus b e rj u a n g
u n t u k m e n e g a s k a n o t o r i t a s n y a b u k a n I a h r aj a.
"Seorang penguasa yang sekali saja pemah
membiarkan kekacauan alam dan sosial muncul akan
menemukan kesulitan besar untuk menegakkan kembali
otoritasnya," tulis Anderson. "Orang Jawa cenderung percaya bahwa jika seorang
raja masih memiliki kekuasaan maka kekacauan itu tidak akan pemah
muncul." Raja Jawa adalah "Paku Bumi" yang menyelaraskan apa yang tampak dan yang tak
tampak. Tanpa dia, kerajaan
kehilangan tambatannya dan tercampak jauh ke tempat-
tempat yang tidak diketahui. Terjadinya berbagai bencana
dan peristiwa supranatural mengerikan merupakan pertanda
kejatuhan sang raja sekaligus sinyal bahwa dia sudah tidak
lagi menjadi "Pemangku Alam Semesta". Tatanan manusia juga terpengaruh karena
kita pun bagian dari alam; ada
perang, kekerasan, dan perilaku tidak alamiah di kalangan
manusia. Zaman Keemasan telah digantikan oleh Zaman
Edan. Maka, kejatuhan seorang raja menjadi malapetaka
bagi semua. [] Ljnrt 11 andil 10W ro 2i> a- 40 c&km KISAH ATAURO Li?u m "J.mwni *(.?. Miri?Alnii
G. iVliTir/rinii M II TIMOR TIMUR D Samudra Pnsifik SCMA'JRt ja\i' \ -3o?c3- fjwor rjAiuir*^
JAUA S /a ui ji jfrd F/i) i rfto
i untuk surat kabar setempat Suara Timor Timur. Saya
menanyainya dia tentang legenda-legenda Timor, dan dia
menceritakan yang berikut ini kepada saya
Dahulu kala, di bagian dunia ini, tidak ada Timor dan
tidak ada orang Timor, hanya sebuah pulau kecil terpencil
di tengah samudra yang dihuni oleh dua bocah lelaki. Suatu
hari ketika mereka sedang bermain di pantai mereka
bertemu seekor buaya besar yang terdampar di pantai.
Buaya itu kelelahan dan nyaris mati; anak-anak itu takut
padanya. Tetapi, rasa kasihan mengalahkan ketakutan.
Dengan hati-hati, mereka membawakan air dan ikan untuk
makhluk itu, serta m e n dorong n y a kembali ke dalam
laut. Buaya itu pun segar kembali; tergerak oleh kebaikan
penyelamatnya, dia bertanya apa yang bisa dia lakukan
untuk mereka sebagai balasan. Anak-anak itu kesepian di
pulau tersebut dan tak pemah keluar dari sana sepanjang
hayat mereka. "Bawalah kami di punggungmu/1 kata mereka, "agar kami bisa melihat
sendiri pulau tempat kami tinggal ini."
Maka kedua anak itu naik ke punggung buaya yang
lebar, dan bertiga mereka berlayar. Buaya itu berenang dan
terus berenang, serta anak-anak itu senang dengan semua
yang bisa mereka lihat. Setiap kali buaya itu mau berhenti
dan beristirahat, mereka selalu melihat hal baru yang
menarik dan mendesak agar dia terus berenang ke sana
untuk melihatnya. Buaya itu mulai lelah dan merasa lapar.
Tak lama kemudian dia benar-benar merasa sangat lapar.
Saat anak-anak itu tertawa-tawa dan bercakap-cakap di
punggungnya, si buaya meriimbang-riimbarig apa yang
akan dilakukannya. Anak-anak itu memang bertubuh kecil, tetapi mereka
empuk serta lezat: sekali tepuk dengan ekomya yang besar
dan dua caplokan, rasa lapamya pun akan terpuaskan.
Tetapi, mereka telah menyelamatkan nyawanya dan dia
tidak tega mengambil nyawa mereka. Maka dia terus
berenang berkeliling-keliling pulau kecil itu, beban di
punggungnya semakin lama terasa semakin berat, gerakan
ekomya semakin pelan, sampai akhir-nya dia berhenti
bergerak untuk selamanya.
Setelah mati, tubuh buaya itu menjadi pulau Timor:
moncongnya ada di Kupang di sebelah barat wilayah Timor
yang menjadi bagian Indonesia, ekomya ada di kota
Tutuala sebelah timur, dan tulang belakangnya membentuk
pegunungan tempat Falintil berdiam. "Kemudian, dua anak
lelaki itu menemukan dua anak perempuan," kata Rosa,
"dan anak-anak mereka adalah orang-orang Timor yang
pertama. Pulau kecil tempat mereka pertama tinggal adalah
Pulau Semau, lepas pantai Kupang. Itulah sebabnya orang
Timor tidak takut pada buaya karena mereka melindungi
kami." Sejenak kemudian Rosa berkata, "Tapi, itu tidak
sepenuhnya benar. Ada seorang pendeta di Dili yang
menjadikan buaya sebagai binatang piaraannya, dan dulu s
e o r a n g bapa k tua m e n c o b a m e m b e r i n y a m a k a n. B u a y a
itu menggigit tangan bapak itu hingga putus
sampai siku. Orang-orang pun takut, tetapi mereka tidak,
kalau Anda mengerti apa yang saya maksud."
Saya bertanya apakah buaya liar sering kelihatan.
"Lumayan sering," kata Rosa. "Ketika mereka terlihat di pantai, itu pertanda
sesuatu akan terjadi, sesuatu yang
besar." "Benarkah" Kapan terakhir kalinya?"
"Sekitar seminggu yang lalu. Kamis yang lalu, kalau
tidak salah. Beberapa orang menelepon kantor surat kabar
kami dan mengatakan ada buaya-buaya di pantai, persis di
depan Turismo. Kami mengirim seseorang untuk
melihatnya, tetapi saat dia tiba di sana buaya-buaya itu
sudah pergi." TIMOR TIMUR berada dalam keadaan rusuh tak pasti
saat saya pertama ke sana, tidak sepenuhnya tenteram,
tidak pula benar-benar dalam keadaan perang. Soeharto
telah tumbang lima bulan silam dan, dinilai dari potongan
berita yang berhasil sampai ke dunia luar, atmosfer di Dili,
ibukota Timor Timur, telah berubah secara dramatis. Pada
1976 Indonesia telah menginvasi koloni setengah pulau itu
yang dulu dikenal sebagai Timor Portugis.
Pada awal 1998, Timor Timur penuh ketakutan dan
mata-mata, hidup dalam bayangan pembantaian sangat
mengerikan saat ratusan orang yang sedang berkabung
dibunuh oleh tentara Indonesia pada sebuah pemakaman di
Dili tujuh tahun sebelumnya. Tetapi, pada bulan Oktober,
penduduk Timor mengalami kebebasan yang lebih besar
daripada kapan pun dalam dua puluh dua tahun terakhir.
Demonstrasi-demonstrasi besar pun bergulir, ditoleransi
dengan cemas oleh tentara. K e I o m p o k - k e I o m p ok
bawah tanah y a n g m e n e n t a n g pemerintahan
Indonesia secara terbuka mendirikan markas di sebuah
kantor di pusat kota. Pada Agustus, ada pertunjukan drum
hand di pelabuhan Dili, saat Indonesia mengadakan
upacara penarikan tentara yang ingin dikesankan sebagai
upaya mengurangi ketegangan di wilayah itu.
Saya mewawancarai menteri luar negeri junior
pemerintahan Eropa yang berkunjung selama beberapa hari
di Jakarta, seperti banyak menteri junior pada masa-masa
itu, mendesakkan demokrasi kepada pemerintahan yang
baru. "Duta besar berada di sana beberapa pekan silam, dan dia mengatakan tadi
malam bahwa Dili berubah," katanya
kepada saya. "Restoran ikan mulai buka, orang-orang
berkeliaran di luar pada malam hari dan berjalan-jalan di
pantai. Hampir seperti gaya hidup di laut tengah." Duta
besar itu, yang tampak seperti seorang penggemar ikan yang
enak, mengangguk dan tersenyum.
Konon, bahkan para gerilyawan Timor Timur semakin
banyak melewatkan waktu di kota, menyelinap ke luar
hutan untuk berbagai pertemuan, beristirahat dan
mengunjungi keluarga. Informasi ini yang terutama
menarik bagi saya, karena semenjak saya tahu tentang
Timor Timur, saya penasaran pada orang-orang yang
disebut menurut akronim dalam bahasa Portugis, Falintil -
Forca Armadas de Libertagao Nacional de Timor Les t e
(Tentara Pembebasan Nasional Timor Timur).
Selama dua puluh tiga tahun mereka telah hidup di
hutan, dikejar-kejar oleh tentara Indonesia, terdesak jauh ke pegunungan,
kelaparan, dibom, dan dilempari napalm,
sebuah kekuatan yang melemah namun tak pemah benar-
benar mati, bersenjatakan beberapa senapan buatan
Portugal dan apa pun yang dapat mereka curi dari musuh.
Pejuang yang aktif tampaknya berjumlah tak lebih dari
beberapa ratus, dan tentara Indonesia bersikeras bahwa,
sebagai sebuah kekuatan, mereka telah habis.
Pemimpin mereka, Xanana Gusmao, dipenjara di
Jakarta, dan telah hampir dua puluh tahun berlalu semenjak
mereka memperoleh kemenangan militer yang signifikan.
Tapi, mereka berhasil bertahan hidup, sesekali mereka
melancarkan serangan, dan karena merekalah sekitar 15.000
tentara Indonesia diturunkan di Timor Timur. Setiap
beberapa tahun seorang wartawan asing akan menyelinap
masuk untuk mengunjungi mereka, dan kembali dengan
kisah-kisah menegakkan bulu roma menembus ke dalam
hutan, serta dengan foto-foto orang-orang berjenggot
berpakaian khaki, berpose di depan panggang ular yang
dikuliti dan monyet. Saya mulai mengumpulkan buku-buku
dan kliping-kliping berita tentang Timor Timur; saya
bermimpi akan melakukan petualangan yang sana. Falintil
adalah para jagoan dan, saat saya membayangkan berjumpa
dengan mereka, saya sendiri mulai merasa sedikit seperti
jagoan pula. Tetapi, bagaimana mewujudkan pertemuan seperti itu"
Saya b e r k o n s u 11 a s i pada k e I o m p o k - k e I o m p o k a k t i v i
s di Inggris dan Australia serta mengajukan
pertanyaan secara tidak langsung kepada komunitas kecil
orang Timor di Jakarta. Beberapa teman memperkenalkan
saya kepada teman-teman lain; setelah beberapa hari, ada
yang mengetuk pelari di pintu kamar hotel saya. Di luar
berdiri tiga pemuda berkulit gelap dengan salib perak
mengalungi leher mereka. Mereka mundur dari pintu dan
melirik ke kiri kanan koridor sebelum me-langkah masuk.
Mereka duduk bersisian di sofa hotel saat saya menjelaskan
bahwa saya hendak pergi ke Timor Timur dan menemukan
sendiri kebenaran tentang apa yang sedang terjadi di sana.
Di atas semua itu, saya ingin menguji dua dari klaim
Indonesia: pertama, bahwa mereka telah menarik mundur
pasukannya, dan kedua, bahwa Falintil sudah sampai pada
titik kekuatannya yang terakhir. Untuk melakukan ini saya
ingin masuk ke hutan dan bertatap muka langsung dengan
para gerilyawan. P e m u d a - p e m u d a itu m e n d e n gar k a n s a m b i I m e m bisu,
kemudian mereka bicara perlahan dalam
bahasa yang saya duga adalah bahasa Tetum, bahasa asli
Timor Timur. Mereka menelepon dari pesawat telepon di
samping tempat tidur saya, percakapan panjang dengan
bahasa Tetum dan Portugis. Dengan seketika, saya
mendapat persetujuan. Salah seorang pemuda Timor ini,
seorang pria bertubuh kecil dengan wajah kurus dan kerutan
di bawah matanya, akan menemani saya ke Dili. Dari sana,
dia akan melakukan kontak lagi dengan para pejuang itu;
jika beruntung - meski tidak ada jaminan - dia akan
memandu saya menemui mereka di dalam hutan. Dia
pemah bertugas di bawah salah satu komandan Falintil dan
namanya adalah Jose Belo.
Setelah itu, semuanya berlangsung dengan cepat.
Disepakati bahwa Jose akan pergi ke Dili duluan, dan saya
akan menyusul sehari kemudian. Saya berangkat sebagai
turis. Saya akan menginap di sebuah hotel dan tetap tidak
semencolok mungkin. Kemudian saya hanya harus
menunggu sampai saya dihubungi, meskipun dalam bentuk
apa kontak ini nanti, dan siapa yang akan mengontak,
tidaklah jelas. Pesawat dari Jakarta pertama terbang ke Bali, kemudian
ke Kupang, wilayah Indonesia di Timor Barat, dan akhimya
ke Dili. Perjalanan itu hampir menghabiskan waktu sehari.
Saya bisa sampai ke Eropa dalam waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai Timor Timur. Saya mengambil buku dan
map dari tas saya, menurunkan meja plastik di belakang
tempat duduk di depan saya, serta mulai membaca.
APAKAH TIMUR Timur itu" Hingga 1975, sedikit
orang yang mampu menemukannya di atas peta. Pedagang
Eropa pertama berlabuh di sana pada awal abad ke-enam
belas; dua ratus tahun kemudian, karena alasan
kenyamanan kolonial yang tak jelas, pulau itu dibagi
menjadi wilayah timur dan barat yang masing-masing
dikuasai oleh orang-orang Portugis dan Belanda. Wilayah
Timor sedikit lebih kecil daripada Belgia, dan beriklim
sangat keras di seluruh kepulauan nusantara. Pada musim
hujan, hujan mengguyur hutan dan menuruni perbukitan
batu, m e n g h a n y u t k a n p o n d o k - p o n dok,
jalanan, serta ladang-ladang; selebihnya sepanjang tahun
cuaca panas yang sangat terik. Timor tidak memiliki buah
dan biji pala seperti Kepulauan Rempah-rempah di
utaranya - selain cendana, hanya satu jenis ekspor yang
signifikan. "Timor menyediakan budak-budak berperilaku
baik sebagai tenaga pembantu rumah tangga," tulis seorang pelancong Eropa pada
1792. Maka, sepanjang sejarah
kolonialnya, dunia luas tidak menaruh perhatian padanya.
Bukan pula pulau itu merupakan tempat yang tenteram
atau tidak bermasalah - yang dihadapi oleh para koloni itu
adalah perbedaan bahasa, ras, dan suku yang amat tajam.
Gelombang imigran dan pelarian telah masuk ke dalam
Timor: Belu dan Atoni, Melayu, Melanesia, Papua,


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Makassar, saudagar Arab, pedagang Cina, Goa India, serta
pemerintahan Belanda, tentara Jerman, pelaut Inggris,
biarawan Portugis, beserta budak-budak Afrika mereka.
Selama sekian dekade tanpa henti, bara peperangan terus
menyala antara para kolonialis, kepala suku lokal, dan
sebuah kerajaan para bandit aneh yang dikenal dengan
sebutan Topas. Tak ada raja muda yang mampu
menjinakkan mereka: dari masa ke masa, Gubemur
Jenderal Portugis digulingkan dan dipermalukan.
Peperangan tingkat rendah tak pemah berakhir dan para
kolonialis dan misionaris saling bersaing dengan
memanfaatkan wilayah pantai seraya membiarkan wilayah
pedalaman berkembang sendiri.
Seorang kepala suku karismatik memimpin pergolakan
panjang yang ditundukkan oleh kapal perang Portugis pada
1912. Komando Australia melawan pendudukan Jepang
pada masa Perang Dunia Kedua, dan kemudian pergi,
meninggalkan kamerad Timor menghadapi pembalasan
yang kejam. Setelah kekalahannya, Belanda keluar dan
Hindia Belanda menjadi Indonesia yang merdeka. Tetapi,
orang-orang Portugis kembali ke Timor Timur, dan secara
serampangan melanjutkan apa yang dulu telah mereka
tinggalkan tanpa tanggung jawab. Pada 1970-an, sejauh
yang diketahui oleh dunia luar, tak ada sesuatu yang
penting terjadi di sana dalam lima ratus tahun. Kemudian
perubahan terjadi dalam seketika.
PADA APRIL 1974, presiden fasis Portugal yang
digulingkan oleh pemimpin tentara sayap-kiri segera bersiap
untuk melepaskan negara jajahannya. Berita itu
menimbulkan kegalauan di Timor Timur. Dalam beberapa
pekan, kelompok menengah yang berjumlah kecil di
wilayah itu - beberapa pegawai negeri, guru, jumalis,
kepala suku, seminari, dan beberapa mahasiswa yang
pemah belajar di universitas luar negeri - dengan terburu-
buru menyusun organisasi dan menyebarkan pamflet. Tak
lama kemudian berdirilah Partai Buruh, dengan anggota
sepuluh orang yang kesemuanya berasal dari satu keluarga.
Ada partai kecil lain Asosiasi Monarki Populer Timor. Ada
pula Apodeti, kelompok kecil para kepala suku yang
mendukung integrasi dengan Indonesia. Hanya dua dari
organisasi-organisasi baru ini yang merupakan partai politik
yang agak otentik: Serikat Demokrasi Timor dan Front
Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor Timur (Fretilin).
Pendiri Serikat Demokrasi adalah para pegawai negeri
konservatif dan para pemilik perkebunan yang berkehendak
memegang tampuk kekuasaan. Aktivis Fretilin adalah anak-
anak muda yang sebagian besar baru kembali dari
universitas-universitas di Lisbon, Macao, dan Luanda;
meskipun partainya m e n y a n d a n g nama yang tegas,
namun semangat revolusioner mereka tidak jauh
melampaui kegairahan yang besar akan kemerdekaan.
Portugis tak sabar ingin lepas dari Timor Timur, dan
sepanjang 1974 Timor Timur tampak bergerak mantap ke
arah kemerdekaan. Kedua partai utama membentuk sebuah aliansi.
Menjelang akhir tahun itu, gubemur Portugis telah
menetapkan jadwal untuk pemilu. Para mahasiswa Fretilin
bergerak ke desa-desa untuk menjalankan program
kesehatan dan pendidikan; Serikat Demokrasi mendekati
para pendeta Katolik dan para pemimpin konservatif lokal.
Partai yang pro-Indonesia hampir sepenuhnya diabaikan.
Tidak ada keraguan - tak pemah ada keraguan - bahwa
yang diinginkan sebagian besar orang Timor Timur adalah
kemerdekaan. Kemudian pemerintahan Lisbon, yang cemas atas segala
sesuatu yang ada hubungannya dengan kolonialisme dan
sedang menghadapi masalah-masalah ekonomi, mulai p u n
y a p i k i r a n lain. K e m e r d e k a a n T i m o r s e s u n g g u h n y a
bukan akan menjadi akhir tanggung jawab
Portugis, tetapi akan membawakan kewajiban yang terus
menerus terhadap negara kecil yang terabaikan ini. Bagi
Australia, Timor Timur yang merdeka juga memusingkan
kepala - sebuah negara kecil, terabaikan, tak terduga, yang
berjarak kurang dari empat ratus mil dari Darwin. Sekilas
pandang pada peta mana pun, yang tergantung di dinding
ruang brifing di Lisbon atau Canberra, menampilkan apa
yang tampaknya merupakan sebuah solusi elegan yang
jelas: Indonesia, Negara luas, stabil, anti-komunis yang
dengannya Timor Timur menempel bak k e p i n g puzzie y
a n g hilang. Segera setelah kudeta di Lisbon, sekelompok jenderal
dalam pemerintahan Soeharto memutuskan sendiri bahwa
Timor Timur harus menjadi bagian dari Indonesia. Mereka
menetaskan rencana untuk mewujudkan ini. Rencana itu
diberi nama sandi Operasi Komodo, mengambil nama
sebuah pulau kecil di Indonesia dan penghuninya yang
paling terkenal, kadal raksasa pemakan daging bemama
Naga Komodo. PESAWAT KAMI berhenti selama satu jam di Bali,
kemudian terbang ke timur di atas Laut Sawu yang
menyilaukan dan Kepulauan Sunda kecil hijau serta cokelat
keemasan - Lombok, Sumbawa, Flores, Roti. Komodo,
juga, ada di suatu tempat di bawah sana. Saya menjulurkan
leher untuk mengintip melalui jendela pesawat, tetapi pulau
mana pun tampak sama jauh dan rata seperti yang lain.
Saya meneguk minuman jus hangat dari gelas saya dan
membaca tentang serangkaian trik kotor yang dinamai
Operasi Komodo itu. Pada stasiun-stasiun radio pemerintah di Timor Barat
Indonesia, para pendukung integrasi yang diusir
dipekerjakan untuk menyiarkan propaganda busuk
melawan Fretilin yang komunis dan Demokrat yang
neofasis. Mata-mata Indonesia kedapatan memotret pantai-
pantai Timor Timur. Beredar cerita-cerita tentang infiltrasi
Fretilin; ada kisah tentang kapal selam Soviet yang melayari
perairan lepas pantai, dan tentang pelatihan tentara
revolusioner rahasia menggunakan senjata yang dipasok
oleh komunis. Di Sumatra yang jauh, angkatan bersenjata
Indonesia menggelar latihan militer di darat, laut, dan
udara secara besar-besaran. Diawali dengan pengeboman
angkatan laut, diikuti oleh pendaratan pasukan parasut dan
serangan amfibi di pantai.
Propaganda di Dili berefek buruk pada aliansi antara
Fretilin dan Serikat Demokrat. Setiap pihak curiga pihak
lain merencakan penyerobotan kekuasaan. Keduanya
menginginkan kemerdekaan, tetapi para pemimpin
Demokrat yakin jika Fretilin yang berkuasa, Indonesia akan
menginvasi. Pada Agustus, Demokrat merebut senjata dari
polisi kolonial dan mengusir Fretilin keluar dari
Dili. Gubemur yang diangkat Portugal diam dan
menolak ikut campur. Konflik yang pecah setelahnya kelak
disebut sebagai "perang saudara".
Perang itu berlangsung lebih sedikit dari dua pekan.
Ketika telah berakhir, beberapa ratus orang tewas, Fretilin
berhasil meraih kendali penuh atas negara itu, dan
Demokrat diusir ke luar perbatasan masuk ke Indonesia.
Pengungsi yang kalah ini dibolehkan masuk dengan syarat
m e r e k a m e n a n d a t a n g a n i petisi y a n g m e m o h o n k a n
integrasi dengan Indonesia.
Pada 16 Oktober 197S, Operasi Komodo ditingkatkan
dari rangkaian trik kotor menjadi invasi berskala penuh.
Setelah berjam-jam dibom dari laut dan udara, tentara
Indonesia, bersama sebuah milisi Timor prointegrasi,
berhasil menghalau para pendukung Fretilin dan merebut
sebuah desa perbatasan bemama Baliho. Di sana mereka
bertemu lima wartawan televisi dari stasiun televisi
Australia. Para jumalis ini datang untuk memfilmkan
persiapan militer Indonesia, dan mereka tetap berada di
sana untuk memfilmkan invasi tersebut. Setelah terbunuh,
mereka dirujuk dengan sebutan Balibo Lima.
Mereka mengecat bendera Australia di rumah tempat m
e re k a tinggal. M e n u ru t beberapa s a k s i m a t a, m e re k a
meneriakkan "Australia! Australia!" saat pasukan invasi memasuki kota. Laporan
tentang apa yang terjadi selanjutnya saling bertentangan. Apakah mereka ditembak
ataukah ditikam" Apakah mereka mati di dalam rumah
atau di depannya" Selama pertempuran yang sedang
memanas atau setelahnya, dieksekusi dengan darah dingin"
Pemerintah Indonesia bersikeras bahwa tak seorang pun
tentaranya yang berada di Balibo, dan pemerintah negara-
negara korban yang tewas, Inggris,
Australia, dan Selandia Baru, memilih untuk tidak
menentang versi peristiwa yang ini. Namun, semua bukti
menunjukkan bahwa Balibo Lima dibunuh secara sengaja
oleh tentara Indonesia atau oleh orang Timor pengikut setia
di bawah perintah Indonesia.
Balibo adalah titik balik bagi Timor Timur; negara itu
kalah di sana, meskipun butuh waktu yang sangat lama
untuk kalah di darat. Fretilin adalah sebuah kekuatan
militer yang tangguh. Di jantungnya adalah orang Timor
Timur yang pemah menjadi anggota tentara Portugal. B a n
y a k di a n t a r a m e re k a - t e rm a s u k k o m anda n m e re k a, dua
bersaudara Nicolau dan Rogerio Lobato -
memiliki pengalaman berada di garis depan perang kolonial
di Angola dan Mozambique. Tentara Fretilin memiliki
mortir, bazooka, senapan keluaran baru NATO dan artileri
75 mm. Senapan ringan dipasang dengan seadanya di atas
sebuah kapal patroli, dan kini Fretilin memiliki angkatan
laut. Mereka juga punya helikopter Portugal yang diambil
alih pada zaman perang. Fretilin akan memiliki angkatan
udara jika ada seseorang yang tahu cara menerbangkan
pesawat tempur. Di darat, di luar jangkauan perlindungan senapan
angkatan lautnya, tentara Indonesia dengan cepat
terlumpuhkan. Bahasa lokal dan medan yang tidak mereka
kenali menjadi hambatan. Saat musim hujan tiba,
kendaraan mereka yang berat terjebak di jalanan berlumpur.
Setelah memasuki Balibo, baru berminggu-minggu
kemudian mereka meraih kemenangan lain yang signi-
fikan. Fretilin melekatkan julukan kebanggaan baru bagi
tentara-tentaranya - Forgas Armadas de Libertagao
Nacional de Timor Leste (Tentara Pembebasan Nasional
Timor Timur), atau F a I i n t i L Sebagai sebuah pasukan,
mereka berdiri dengan gagah. Tetapi, sebagai sebuah
negara, nasib Timor Timur sudah ditetapkan.
Sikap keras kepala dan licik di lapangan hanya dapat
menahan para penyerbu untuk waktu terbatas dan, secara
politik serta diplomatik, Timor Timur tak punya kawan.
Pemerintahan Australia, Amerika Serikat, dan Inggris, serta
mungkin semua pemerintahan lain, tahu persis apa yang
sedang terjadi dan tidak melakukan apa-apa untuk
menghentikannya. Dan ketika mereka memilih untuk
mengabaikan pembunuhan warga negara mereka sendiri,
menjadi sangat jelaslah bahwa Timor Timur ditinggalkan
sendirian. Fretilin mengajukan permohonan formal kepada PBB,
tetapi mereka didiamkan. Setelah pertempuran dua pekan,
tentara Indonesia menguasai kota terbesar di arah menuju
Dili. Sore itu, dalam upacara muram dan diadakan secara
terburu-buru, pemimpin-pemimpin Fretilin m e n g u m u m
k a n k e m e r d e k a a n m e r e k a sebagai Republik
Demokratik Timor Timur. Pekan berikutnya, pada 7
Desember 197S, tentara Indonesia secara besar-besaran
menyerang Dili lewat udara dan laut, serta mengambil
kendali atas kota tersebut dalam beberapa jam.
Sebuah pesan mengejek disiarkan hari berikutnya dari
pemancar radio yang dicaplok. Para pemimpin Fretilin,
penyiamya berkoar, "sedang bersembunyi di gua-gua, di
balik batu dan semak-semak ... Kini kalian seperti rusa, babi hutan, dan ular,
bersembunyi di semak-semak," lanjutnya.
"Saudara-saudara warga Timor Timur, republik yang
dideklarasikan Fretilin sudah mati. Ia hidup hanya sembilan
hari ... Dirgahayu Timor Timur bersama Republik
Indonesia!" Tetapi, penyerahan Dili telah direncanakan secara
cermat. Alih-alih membiarkan para serdadunya berhadapan
dengan kekuatan musuh yang besar, Nicolau Lobato
mundur ke pegunungan. Mereka telah mempersiapkan
cadangan makanan dan amunisi di sana.
Indonesia bukanlah penyerang pertama yang
meremehkan orang Timor. Pada abad ketujuh belas dan
kedelapan belas, para penjajah Eropa telah meninggalkan
upaya mereka untuk mendamaikan pedalaman, setelah
serangkaian kekalahan dan kehinaan. Seorang jenderal
Belanda bemama Amold de Viaming van Oudshoom
menulis tentang p e n g a I a m a n m e n y a k s i k a n
orang-orangnya dibantai oleh serdadu Topas "seolah-
olah mereka adalah domba-domba tak berdaya". Seorang g
u b e r n u r Portugis d a n ro m b o n g a n n ya t e r k e p u n g sela m a
delapan puluh lima hari, bertahan hidup
dengan memakan tikus, daun-daun, dan tepung dari tulang
kuda. "Makao Portugis mendorong perdagangan yang sangat
menguntungkan ke Timor selama beberapa tahun," tulis
seorang pengunjung Inggris pada 1704, "dan ... mencoba
dengan jalan yang adil untuk mendapatkan seluruh
pemerintahan negara itu ke tangan gereja, tetapi tidak bisa
membohongi mereka dengan cara itu. Oleh karenanya
mereka mencoba cara kekerasan, dan melancarkan perang,
tetapi dengan susah payah mereka mendapati bahwa orang
Timor tidak mau kehilangan kebebasan mereka hanya
lantaran takut kehabisan darah."
INDONESIA MENGANGKAT pemimpin-pemimpin
prointegrasi untuk mengepalai "Pemerintahan Sementara"
mereka sendiri. Penyatuan formal dengan Indonesia
dideklarasikan pada Juni 1976. Tetapi, setahun setelah
invasi itu, mereka hanya mampu mengontrol beberapa kota
dan wilayah di sekitar mereka.
Puluhan ribu orang telah bermigrasi ke pegunungan dan
ke arah timur, sebuah wilayah yang luasnya lebih dari dua


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pertiga dari keseluruhan negeri itu. Di sana kehidupan
berjalan hampir secara normal di bawah Fretilin. Meski
jumlah mereka banyak, para pengungsi itu mendapat
tempat berteduh dan dilindungi. Hasil tanaman berhasil
didatangkan, dan Fretilin mengelola pabrik-pabrik hutan
yang membuat obat-obatan dari akar dan buah-buahan.
Ada organisasi pelengkap medis, serta jaringan anak-anak
dan orang lanjut usia yang berperan sebagai kurir,
menyampaikan pesan di antara para pemimpin perlawanan.
Ada pula unit siaran radio, yang dipimpin oleh menteri
informasi Fretilin yang menyiarkan laporan tentang
kekejaman Indonesia dan permohonan dukungan kepada
sebuah stasiun penerima di Australia Utara.
Di hutan, posisi Indonesia dan Timor sering kali sangat
berdekatan sehingga mereka bisa saling meneriakkan ejekan
kepada satu sama lain. Falintil kalah banyak, tetapi mereka
mengenal negeri mereka sendiri, dan musuh mereka
ketakutan serta dipatahkan. Laporan-laporan tentang
konflik pada hari-hari pertama i t u m e n g g a m b a r k a n s e b u a h p e p
e r a n g a n y a n g la m b a n, dengan
periode jeda yang panjang di antara serangan-serangan,
serta hubungan akrab yang aneh antara penyerang dan
penentang. "Satu insiden yang sangat saya ingat adalah
ketika seorang teman saya, Koli, menembak tentara
Indonesia di tebing sebuah bukit," tulis seorang mantan
gerilyawan yang berusia empat belas tahun pada saat itu.
"Mereka saling memandang dan tertawa untuk
sejenak sebelum menembak.
Menyedihkan. Awalnya tentara Indonesia itu yang
menembak ke arah Koli, dan pelurunya menebas sebuah
cabang pohon. Cabang itu jatuh menimpanya. Kemudian
giliran Koli dan, sayangnya, pelurunya mengambil nyawa
tentara Indonesia yang malang itu. Barangkali keluarga
tentara Indonesia itu masih menunggunya pulang kembali
ke Indonesia." Indonesia melemah, dan seiring meningkatnya frustrasi
mereka, demikian pula kekejaman mereka. Kekejaman i t u
m e n g a m b i I b e n t u k t i n d a k a n p e n j a r a h a n, p e m b a k a
ra n desa-desa, pemenjaraan massal, penyiksaan
orang-orang yang dicurigai mendukung Fretilin,
pemerkosaan para wanita, dan pembantaian tawanan.
Tetapi, dengan segera beratnya beban perangkat keras
Indonesia mulai menampakkan akibat yang tak terelakkan.
Berkali-kali muncul laporan tentang penggunaan bom
napalm. Indonesia juga menggunakan peluncur roket Soviet
mengerikan yang dikenal dengan sebutan "organ Stalin".
Pesawat pengebom mengosongkan senjata pembunuh di
atas desa-desa di pegunungan. Unit-unit komando kecil
menembus pegunungan untuk membakar tanaman pangan.
Seperti seluruh operasi militemya, Indonesia
menisbahkan operasi ini dengan kode nama yang ekspresif:
Operasi Pengepungan dan Pemusnahan. Korbannya
kebanyakan warga sipil. Dan, operasi inilah yang nyaris
menghabisi Fretilin. Pada September 1977, presiden Fretilin, seorang pegawai
negeri sipil yang lembut bemama Xavier do Amaral,
ditahan oleh panglima perang Falintil, Nicolau Lobato.
Karena kasihan melihat penderitaan yang menimpa rakyat
biasa, Xavier secara terbuka mengambil tindakan untuk
bemegosiasi dengan musuh. Setahun kemudian, dia
ditangkap oleh tentara Indonesia. Dia akhimya dikirim ke
Bali, bekerja sebagai pelayan di rumah seorang jenderal
Indonesia. Pada Desember 197S, menteri informasi membelot
bersama empat pemimpin Fretilin lainnya, membuat
Indonesia memiliki banyak informasi intelijen yang
berharga. Pada M a I a m T a h u n B a r u, m e r e k a m e n y e r g a p
Nicolau Lobato yang kemudian dibunuh setelah
pertempuran enam jam. Nicolau yang gagah dan cerdas
telah menjadi pahlawan rakyat, pengejawantahan
perjuangan itu sendiri. Bagi orang Timor, berita tentang
kematiannya dan foto-foto para jenderal Indonesia
tersenyum di atas jasadnya terasa begitu menyentak.
Dalam beberapa pekan, wakil presiden dan perdana
menteri Fretilin juga tewas, dan komunikasi antara para
pemimpin yang tersisa terputus. Persediaan makanan
menipis dan para pemukim di pegunungan mulai lari
meninggalkan rumah-rumah mereka yang telah dibom ke
hutan untuk hidup sebagai pengais makanan. Semakin
banyak yang menyerahkan diri kepada Indonesia untuk
"dimukimkan kembali" di kamp-kamp konsentrasi yang
ditempatkan secara strategis.
Para pembelot membawa bersama mereka pemancar
radio Fretilin. Gerilyawan kehilangan satu-satunya
penghubung mereka dengan dunia luar. Di Darwin,
pemimpin-pemimpin yang terbuang dan pendukung mereka
membuka frekuensi yang lama, tetapi yang mereka dengar
dari Timor Timur hanya suara-suara berbahasa Indonesia
dan desis statis. DI BANDARA Dili, anak-anak dan perempuan muda
menekankan wajah mereka pada pagar kawat jala yang
memisahkan para penumpang di ruang kedatangan dari
dunia luar. Sekelompok pejabat Indonesia, yang ikut
menumpang pesawat dari Bali, berjalan melalui pintu yang
dikhususkan untuk VIP. Kami mengambil bagasi kami dari
tumpukan serampangan di lantai dan bergabung dengan
antrean yang lambat. Di depan saya, dua orang lanjut usia
berbaju safari, berkulit gelap dan berambut kelabu,
bercakap-cakap dalam bahasa Portugis. Seorang pria
Tionghoa dengan anak lelakinya menyibukkan diri dengan
tumpukan kadus-kardus berisi tele-visi dari Jepang. Di
depan antrean itu sebuah meja tempat seorang pria pegawai
negeri sipil Indonesia dengan tanda pangkat di bahu
mencatat nama dan nomor paspor.
"Apa pekerjaan Anda?"
"Saya seorang guru."
"Dan apa tujuan Anda di sini?"
"Liburan." "Berapa lama Anda akan tinggal di sini" "Sekitar dua minggu."
Pria bertanda pangkat di bahu itu menyerahkan kembali
paspor saya. Lepas dari wajah-wajah tertekan itu, saya menarik napas
lega karena telah tiba. Seorang lelaki keriting bersandal
plastik membawakan tas saya ke sebuah mobil wagon biru
butut. Hanya pintu depannya yang bisa dibuka. Penumpang
naik ke jok belakang melalui jok sopir, dan barang-barang
bawaan dimasukkan melalui jendela.
"Anda berbahasa Portugis?" tanya sopir dalam bahasa Portugis.
"Hanya Inggris," jawab saya dalam bahasa Indonesia.
"Where your hotel?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang tak sempuma.
"Hotel Turismo."
Setelah mengunjungi Jawa yang lembap, udara di sini
terasa sangat kering, dengan bebauan pohon yang tidak
saya kenali. Segera saja kota itu menampakkan watak
hibridanya. Jalan-jalan memiliki nama seperti Alvez Aldeia
dan Avenida Marechal Carmona; wajah-wajah yang berlalu
lalang berkisar dari pucat berbintik-bintik hingga hitam. Di
depan bangunan-bangunan yang lebih elegan terdapat tanda
bertuliskan nama organisasi pemerintahan Indonesia dan
satuan-satuan militer; di sela-selanya ada rum a h-rum a h
dari semen dan ubin, atau ruko-ruko baru yang masih
kosong. Kami melewati bungalo-bungalo bagus di pinggir
kota, kemudian taman kecil yang rimbun oleh pohon kepala
dan kayu putih. Kemudian laut muncul di sisi kiri, dan tiba-
tiba jalan terbuka menjadi bentangan lebar dengan
pepohonan dan rerumputan di sepanjang sisi air. Langit dan
cahaya mengelilingi. Sisi dermaga tampak melalui batang-batang pagar besi;
tentara-tentara berdiri di sekitar sebuah kapal angkatan laut berlapis perunggu.
Dua ratus meteran dari sana, tampak
pilar-pilar serambi kediaman gubemur menghadap pantai di
seberang lapangan rumput apik yang luas. Di pantai
terdapat rongsokan kapal berpasir, puing kapal angkatan
laut yang mendaratkan tentara Indonesia pada 197S. Jauh
setelah itu, pantai mendaki tebing dan pada puncaknya
yang tertinggi berdiri patung besar Yesus menghadap ke
laut, hadiah bagi warga Katolik Roma Timor dari para
jenderal Muslim Indonesia.
"Soeharto yang membuat itu," kata sopir, tertawa dan mengangguk ke arah patung
itu. "Soeharto membuat Yesus
Kristus untuk orang Timor Timur."
Selepas markas Palang Merah dan rumah Uskup, kami
tiba di Hotel Turismo. Di Dili, ada dua hotel yang menawarkan standar
intemasional, tetapi kelebihan Turismo, dan alasan
kepopulerannya, adalah kekebalannya terhadap mata-mata.
Hotel Mahkota, di seberang dermaga, lebih besar dan
berlokasi lebih bagus tetapi redup dan berdebu seperti
tempat persemayaman terakhir orang mati. Di area lobi
berdinding kaca yang muram, pemuda-pemuda berkumis
bertampang licik duduk di sofa plastik dengan pandangan
melirik ke samping. Restorannya berpenerangan lampu
neon dan bergema; percakapan bisik-bisik terpantul dari
langit-langitnya yang mengilap dan masuk ke telinga orang-
orang yang duduk sendirian di dekat jendela, tepekur di
hadapan segelas Fanta hangat. Turismo punya
keanehannya sendiri - warga lokal yang keluar masuk,
tersenyum tanpa perlu dan memicu delikan marah dari para
pelayannya. Tetapi pekerjaan mereka disulitkan oleh taman
hotel, tempat para pencuri dengar tak pemah bisa merasa
nyaman, padahal di sanalah kehidupan nyata hotel itu
berlangsung. Taman itu bukan taman yang indah atau terawat baik,
dan kesan pertama saat memasukinya bagian bersemen
sama ban y a k nya d e ng a n he h i j a u a n. Pa y ung-pay
ung kusam terkembang di atas meja-meja plastik yang
ditanamkan pada cakram semen kotor. Vegetasinya terdiri
atas palem, nangka, mangga, dan cendana, serta pohon-
pohon eucalyptus yang menunjukkan karakter Austronesia
Timor. Palem dan tanaman semak tegak seperti partisi
antara bangku-bangku plastik; taman itu terbagi secara
alamiah ke dalam zona-zona yang di dalamnya para
tamu dan pengunjung dapat saling terpisah satu sama
lain seperti di ruang pribadi. Pada malam hari, ruang-ruang
itu penuh dengan celotehan serangga dan suara-suara: dua
atase militer yang baru saja tiba dari Jakarta; koresponden
Belanda yang sedang berkun-jung mengobrol dengan
beberapa pekerja lepas Australia; seorang perempuan dari
Palang Merah bersama seorang pendeta dari rumah Uskup.
Hotel Turismo adalah sejenis tempat yang membuat
orang merasa bemostalgia, bahkan sebelum meninggalkan
tempat itu. Pengarang salah satu buku yang sedang saya
baca, Jill Jolliffe, tinggal di sana selama tiga bulan terakhir Timor Timur
merdeka pada 1975, antara akhir perang
saudara dan invasi tentara Indonesia. "Di Hotel Turismo/1
tulisnya, "seorang penyair Portugis meneriakkan puisinya ke udara malam dan Rita
si monyet berceloteh di cabang-cabang pohon mangga yang menjulur. Para serdadu
Falintil yang tampak seperti Abbie Hoffmans hitam meminum
bergelas-gelas bir Laurentina yang dihadiahkan oleh orang-
oramg Portugis dan memainkan granat di atas taplak meja
putih ... Cahaya lampu dari kapal-kapal perang Indonesia
kadang tampak berkelap-kelip di pelabuhan Dili pada
malam hari. Setelah k e c e m asan y a n g di m u n c u I k a n o I e h k e h a
d i r a n m e r e k a pertama kali, mereka
kini menjadi bagian dari pemandangan yang tidak nyata."
DUA PEMUDA sedang menanti saya di taman itu
keesokan harinya. Mereka memakai sepatu, bukan lagi
sandal plastik; dibandingkan para sopir dan pelayan
Turismo, mereka jangkung dan terurus dengan baik.
Mereka memperkenalkan diri sebagai Felice dan Sebastiao,
mereka mahasiswa Universitas Timor Timur. Felice suka
tertawa dan kurus, dia berbahasa Inggris dengan fasih dan
cepat. Sebastiao tenang dan atletis. Dia anggora Dewan
Solidaritas M a h a s i s w a p r o - k e m e r d e k a a n. E n a m bulan lalu,
tak terbayangkan oleh siapa pun yang terkait
dengan pergerakan bawah tanah untuk mengunjungi tempat
seterbuka Turismo. Tetapi, sesuatu telah berubah di Dili,
meskipun tak seorang pun bisa mengatakan apa itu.
Baru tiga hari yang lalu, 30.000 orang - mahasiswa,
guru, pegawai negeri, dan pekerja - berdemonstrasi untuk
menuntut pengunduran diri gubemur boneka provinsi itu.
Sekarang para mahasiswa sedang mempersiapkan
serangkaian "dialog". Iring-iringan aktivis akan berkunjung dari desa ke desa,
mengadakan pertemuan publik di mana
lagu-lagu akan dinyanyikan, doa diucapkan, dan penduduk
lokal didorong untuk bicara tentang pengalaman mereka
atas pendudukan itu serta harapan mereka bagi masa
setelah Soeharto. Dewan Nasional Perlawanan Rakyat
Timor (CNRT), sebuah koalisi kelompok-kelompok pro-
kemerdekaan termasuk Fretilin, Serikat Demokrasi, dan
bahkan para mantan aktivis pro-integrasi baru saja
membuka kantor di kota. Pemerintahan yang baru telah
membebaskan beberapa narapidana politik Timor Timur,
dan ada pembicaraan bahwa Xanana Gusmao sendiri
mungkin yang akan dibebaskan selanjutnya. "Kami bisa
bicara dengan lebih bebas," ujar Sebastiao. "Kami bisa berkeliaran di tengah
malam. Tapi, masih ada tentara di s e
k e I i I i n g k a m i. N e g e r i ini m e n g i n g i n k a n k e b e b a s a
n n y a, tetapi tentara-tentara masih di sini."
"Mereka bilang, mereka berada di sini untuk menjamin
keamanan kami," kata Felice. "Tetapi ketika ada masalah, apakah orang berlari
kepada tentara untuk minta bantuan"
Tidak, mereka lari ke rumah Uskup, tapi uskup tidak punya
senjata." Perjuangan melawan Indonesia, kata mereka, berbeda
dari perjuangan melawan Soeharto. "Para mahasiswa
Indonesia menghendaki pemerintahan baru," kata
Sebastiao. "Tetapi, kami menginginkan pemerintahan kami


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sendiri. Kami manusia biasa, dan kami punya hak-hak yang
sama seperti orang lain. Kalau orang Indonesia punya hak
menegaskan diri, kenapa kami tidak?" Tetapi, tanda-tanda menunjukkan bahwa
militer bukannya mengurangi pasukan
di wilayah itu, malah mendatangkan p a s u k a n - p a s u k
a n b a r u. Upacara pada Agustus, dengan pertunjukan drum hand
untuk melepas para serdadu di Pelabuhan Dili itu "omong
kosong" menurut Sebastiao. "Apa bedanya jika mereka menarik keluar dari satu
kota dan membawa masuk tentara-tentara baru ke kota lain?" katanya. Di luar
Dili, ketegangan meningkat: pada ujung paling timur pulau itu, anggota
jaringan bawah tanah telah melaporkan pendaratan
sejumlah besar serdadu dan bahkan tank pada malam hari.
Komandan lapangan Falintil, Taur Matan Ruak, orang
yang saya harap dapat saya temui, nyaris tertangkap ketika
tentara Indonesia menyergapnya di sebuah desa pedalaman.
Di kalangan mahasiswa, ada keyakinan bahwa Indonesia
sedang menjalankan sebuah rencana untuk meraih kendali
yang lebih besar; yakni setelah menarik keluar gerakan-
gerakan bawah tanah, mengidentifikasi para pemimpinnya
dan menganalisis struktumya, mereka akan menyerang
secara tiba-tiba, dengan penahanan dan serangan militer,
untuk menumpas perlawanan secara tuntas dan sekaligus.
Tampaknya tak bisa dipercaya bahwa Indonesia akan
secara sukarela melepas Timor Timur, atau menawarkan
bentuk kompromi apa pun. "Mereka berhadapan dengan masalah Aceh dan Papua,
bahkan Maluku serta Kalimantan," kata Sebastiao. "Begitu
Indonesia memberi kami kemerdekaan, daerah-daerah itu
juga menginginkan kemerdekaan. Indonesia adalah negara
yang terdiri atas pulau-pulau. Timor Timur bisa jadi sebuah
letupan kecil yang bisa mengakibatkan letupan yang lebih
besar." Sebastiao dilahirkan pada 1973. Orang-orang Portugis
telah pergi sebelum dia bisa berjalan, dan invasi sendiri
hanya kenangan yang sangat samar. Dia dididik di
Indonesia; pendudukan Indonesia merupakan sebuah
kenyataan hidup, sangat biasa dan menjemukan, layaknya
keberadaan sepeda motor dan telepon. Bagaimana rasanya,
tanya saya, hidup sebagai seorang dua puluh lima tahun
dalam masa pendudukan dua puluh empat tahun"
"Rasanya aneh," dia bilang, "benar-benar aneh. Berada di rumah sendiri, tetapi
tidak bisa bersikap sesuka hati. Kami
mesti hati-hati dengan apa yang kami ucapkan. Tidak bisa
bicara dengan orang ini atau itu. Membuat orang merasa
terkucil. Kami memang terkucil. Seperti ada kegelapan di
belakang kami." SELAMA BEBERAPA hari berikutnya, tidak ada yang
perlu dilakukan kecuali menunggu kontak dari Jose Belo.
Saya beberapa kali mencoba berjalan-jalan keluar
menumpang sepeda motor Felice. Saya mengunjungi Suara
Timor Timur, dan bicara tentang buaya dengan Rosa
Soares. Saya meminta informasi dari Dewan Nasional
Perlawanan Rakyat Timor (CNRT), yang berkantor di
pusat kota. Selebihnya saya membaca, dan mengobrol
dengan para pelayan di taman Turisme, serta berjalan-jalan
menyusuri lapangan terbuka di tepi pantai, menyaksikan
matahari terbit dan tenggelam. Taksi-taksi wagon biru
meluncur terbatuk-batuk di bawah bayangan pohon-pohon
kelapa. Sepeda motor berlalu dengan sangat pelan sehingga
hampir mustahil ia tetap tegak. Saya dulu menduga Dili
tempat yang seram menakutkan, tetapi temyata ibu kota
yang paling cantik, paling santai dan lamban, namun paling
memesona yang pemah saya lihat.
Dua puluh lima bayi dibaptis pada suatu sore di katedral
Dili. Bangku-bangku dan lorong penuh sebelum kebaktian
dimulai, dan limpahan jemaat yang tak tertampung
mengintip melalui pintu katedral: dua puluh lima keluarga
besar, serta dua puluh lima himpunan sahabat dan tetangga,
semua mengenakan pakaian minggu mereka yang terbaik.
Yang pria mengenakan pantalon licin dengan kemeja
bersetrika, perempuannya mengenakan gaun-gaun panjang
berbunga, dan setidaknya setengah dari jemaat itu adalah
anak-anak. Di atas dasar tiang berdiri patung Bunda Maria,
dililit lampu hias kelap-kelip.
Pintu dan jendela katedral kecil itu membuka ke udara
pagi. Sebuah organ mengiringi lagu-lagu pujian melankolis,
dinyanyikan dalam bahasa Tetum dengan nada-nada
rendah yang lembut. Seorang ibu hamil b e r-b aju hijau
menyebutkan nama-nama panjang Portugis dari setiap
kandidat dan pendeta berambut kelabu memercikkan air ke
atas kening mereka. Setelah itu, jemaat keluar ke bawah
sinar matahari, sementara anak-anak bersorakan dan saling
berkejaran menembus debu. Sebarisan anak-anak yang
terkikik-kikik mengekor di belakang saya, sampai mereka
dihalau oleh seorang pendeta.
"Mister.1" teriak anak-anak itu. "Mister.1 He/lo, Mister.1 HellOj Mister!
Mister, Mister!" Di Turismo, lelaki muda di belakang meja penerima
tamu tersenyum penuh rahasia kepada saya saat
menyerahkan kunci kamar. "Anda kedatangan tamu,"
katanya. Dan, Jose Belo tampak mengerlip seperti sebuah
bayangan di antara pohon-pohon palem. Itulah pertama
kali saya melihatnya sejak tiba di Dili dan dia punya berita
yang membuat jantung saya berdegup. Pengaturan terakhir
telah dibuat. Besok kami akan memasuki hutan.[]
i BERSAMA FALINTIL DI DILI, setiap orang yang saya jumpai sepertinya
bermimpi tentang rimba. Bukan hanya para reporter asing
di Turismo, melainkan juga orang Timor sendiri -
mahasiswa, pendeta, Rosa Soares dan para koleganya di
Suara Timor Timur. Di beberapa desa dan kota kecil -
tempat yang dekat dengan hutan serta di mana batas antara
tentara Indonesia dan Falintil, antara perang dan damai,
kabur serta bergeser - gerilyawan bukanlah hal yang baru.
Tetapi, bagi orang di Dili, mereka itu tak terjangkau, ajaib, dan dihormati,
mata air perjuangan yang aimya mengalir
turun dari pegunungan ke dalam hati para warga kota.
Pada 1990, seorang aktivis Australia telah menjadi orang
asing pertama yang menemui Falintil di hutan; wawancara
n ya d e n g a n X a n a n a Gus m a o m e n g u n g k a p k a n kebohongan
klaim Indonesia bahwa Falintil telah
dikalahkan. Kunjungan itu menjadi legenda,
mempermalukan tentara Indonesia, dan kegemilangan bagi
orang Timor yang mengatur pertemuan itu. Mengantarkan
orang asing ke dalam hutan menjadi cita-cita banyak
pemuda ambisius di Dili - seorang anak lelaki, belum lagi
belasan tahun, dikeluhkan karena begitu sering diam-diam
bersembunyi di sekitar Turismo dan mendekati tamu-tamu
yang datang dengan bisik-bisik tawaran untuk mengatur
pertemuan dengan para komandan itu. Para jumalis akan
saling melempar pandangan gugup, dan kemudian
mengundangnya ke kamar mereka; selama beberapa hari,
dia akan datang ke kamar mereka pada malam hari,
memberi jaminan bahwa semuanya telah diatur, dan
memohon tambahan waktu lagi. Tak pemah ada hasil dari
inisiatif-inisiatif ini, tetapi fantasi itu menimbulkan
kegairahan kepada setiap pihak - anak itu, si tamu, dan
kepada institusi Turismo sendiri.
Saya mulai curiga, bayangan tentang hutan itu bisa jadi
lebih memikat daripada hutan itu sendiri.
Ada waktu delapan belas jam sebelum kami memulai
perjalanan kami. Selama dua jam pertamanya, saya merasa
sedikit gugup yang konstruktif. Saya mengumpulkan
barang-barang penting dalam sebuah tas kecil - senter,
kamera, film cadangan, radio gelombang pendek, sebotol
wiski, dan banyak rokok. Pada saat saya mem-persiapkan
peralatan mandi baru muncul keraguan. Alat mandi apa,
tanya saya pada diri sendiri, yang sesuai untuk seorang
gerilyawan yang bersembunyi di hutan" Krim matahari,
tentunya, dan sikat gigi. Peralatan cukur tidak akan perlu.
Tapi, bagaimana dengan deodo-ran" Saya tentu akan
banyak berkeringat - bahkan sekarang pun sudah mulai.
Namun begitu, bayangan tentang hutan membuat pikiran
tentang deodoran jadi menggelikan. Saya m e n i n g g a I k
a n n ya, d a n m e n j e j a I k a n s e p a k e t r o k o k lagi sebagai
gantinya. Setelah itu tidak banyak yang harus dikerjakan, selain
merokok, yang saya lakukan dengan penuh semangat dan
konsentrasi. Saya tidak terlalu berselera makan, dan saya
dilarang Jose bicara kepada siapa pun tentang rencana saya.
Gabungan kelebihan nikotin, tidak cukup makan, dan
kesendirian membuat saya gelisah dalam cara yang
eksentrik. Di dalam jamban kamar saya ada potongan tinja
padat panjang yang saya pandangi untuk waktu lama.
Benda yang indah, begitu pikir saya, saat asap dari rokok
saya memenuhi kamar mandi: siapakah pemiliknya" Saya
tidak ingat sama sekali pemah meninggalkannya di sana.
PADA PUKUL tiga sore keesokan harinya, saya
berjalan keluar dari Turismo ke arah kediaman gubemur. Di
depan rumah Uskup, saya menghentikan angkot biru dan
menyusuri jalan dekat anak sungai yang sudah kering, dekat
dari tempat buaya-buaya pemah terlihat. Setelah tiga
kilometer, ada sebuah jembatan, dan di sana saya turun.
Saya berjalan perlahan menyeberangi jembatan dan
melewati barisan toko-toko di seberang jembatan. Saya
mengenakan topi bisbol yang ditarik hampir menutupi
mata; saya berusaha sedapat-dapatnya untuk tidak menarik
perhatian. Tetapi, setiap orang yang berpapasan dengan
saya tampaknya adalah orang muda dan a n a k - a n a k
jahil y a n g s u k a b e r s e ru, "Heiio, Mis teri" cekikikan dan berlari
kecil mengiringi saya sejauh beberapa ratus
meter sebelum menghilang untuk memanggil teman-teman
kecil lain yang melakukan hal yang sama. Secara sangat
tidak menyolek sebagaimana Pied Piper, saya tiba di toko
yang telah dijanjikan Jose akan menunggu. Saya lega dapat
langsung mencirikannya, sedang bersembunyi di bawah
topi merahnya, lima puluh meter di depan dan memanggil
saya dengan gerakan pelan membalik telapak tangannya.
Saya menyusulnya di belakang menyusuri jalan berdebu
dijejeri pohon palem dan anak ayam. Sekarang, bahkan
orang dewasa menyapa saya dengan hangat dan akrab;
seluruh penghuni tampaknya telah keluar untuk melihat
saya lewat. Jose berjalan terus, sesekali menoleh ke
belakang. Dia lenyap di sebuah tikungan, dan saat saya tiba
di sana, dia sudah tidak ada.
Seorang wanita muda keluar dari barisan palem.
"Apakah Anda Richard?" tanyanya.
"Ya, betul." "Silakan ikuti saya."
"Eh ... siapa Anda"
"Saya teman Jose."
Dia mengantar saya ke sebuah bungalo tersembunyi di
balik bunga-bunga berwama kuning limau dan merah
kirmizi. Di dalamnya ada empat orang, yang berdiri saat
saya masuk dan menjabat tangan saya - seorang biarawati,
dua perempuan muda dengan blus putih berkanji, dan
seorang lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Billy.
Tak seorang pun bisa berbahasa Inggris kecuali beberapa
patah kata, tetapi disampaikan kepada saya bahwa Jose
sedang keluar sebentar, dan saya diminta menunggu.
Rumah itu semacam sanatorium. Ada lemari kaca berkunci
berisi jarum suntik dan obat-obatan, serta di dua ruangan
kecil di belakang, enam pria berusia sangat lanjut terbaring
di atas matras tipis. "Tuberkulosis," ujar Billy. "Mereka tidak punya keluarga
di Dili, tidak ada anak. Tak lama lagi
mereka akan mati." Perawat-perawat m e m bawa k a n teh, d a n m e n y i I
a k a n saya duduk di ruang depan. Saya melanjutkan
merokok. Rasa tidak nyata menghampiri saya. Mengapa
saya ada di sini" Di mana Jose" Perjumpaan saya
dengannya begitu singkat, dan berjarak: barangkali tadi saya mengikuti orang
yang lain" Mungkin tempat
perawatan ini sebuah jebakan Intel" Satu jam berlalu.
Kemudian Billy berlari masuk dan berkata, "Pak Richard,
ke sini." Saya melangkah keluar dan melihat sebuah truk
bak terbuka putih besar mendekat serta berhenti tepat di
depan bungalo itu. Pintu kabin depan terbuka,
menampakkan tiga wajah. Tak ada Jose di antara mereka.
Kedua p e-n umpan g melompat turun dan naik ke bak
terbuka di belakang; pengemudinya berbisik cepat kepada
saya, "Ayo, ayo." Saya naik ke dalam.
Selama setengah jam kami melaju melintasi Dili, keluar
masuk jalanan sempit, berputar-putar di jalan dan
persimpangan yang sama. Si sopir jarang melepas
pandangannya dari cermin untuk melihat ke belakang.
Rasanya saya kenal wajahnya, meski saya tidak tahu di
mana saya pemah melihatnya sebelum ini. Ketika dia puas
bahwa kami tidak sedang dibuntuti, dia tersenyum dan
mengulurkan tangannya. "Saya Jacinto," katanya. "Teman Jose." Kami berada di
sebuah jalan yang lebih di wilayah hunian di Dili, dan truk itu melambat di
samping sebuah mobil biru. Seseorang keluar dari mobil itu, pintu di
samping saya tiba-tiba terbuka, dan Jose naik membawa
kantong-kantong plastik menggelembung. Dia tersenyum
dan mengangguk pada saya, dan bicara dengan cepat
kepada Jacinto. "Kita meninggalkan Dili sekarang,"
katanya kepada saya dalam bahasa Inggris. Dia mengamati
wajah saya serta meletakkan tangannya di bahu saya.
"Jangan khawatir."
Jok depan truk pikap itu berisi tiga orang, dan saya di
tengah-tengah. Jendelanya digelapkan untuk mengurangi
silau tropis; bahkan kaca depan pun digelapkan, kecuali
sebidang bagian tengahnya yang dibiarkan terang. Dari
luar, kami tidak kelihatan. Saya disuruh untuk tetap
memakai topi dan memasukkan rambut saya ke dalamnya.
" Ra m b u t m u terlalu terang," u j a r Jose dengan p e n u h pertimbangan.
"Kalau ada yang menghentikan kita,
biarkan saya saja yang bicara."


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apa yang akan Anda katakan?" "Kalau polisi, saya kasih uang saja. Kalau
tentara, kita katakan pada mereka
bahwa Anda seorang turis, dan kami membawamu
bertemu pendeta-pendeta di Los Palos."
"Pendeta-pendeta?"
"Tapi, biar saya yang bicara pada mereka."
Kami mendaki jalan tebing curam di atas Dili, dan di
belakang kami terbentang kota menghadap ke laut.
Kantong-kantong plastik di kaki Jose berisi persediaan
untuk Falintil, sebagian besar rokok dan pasta gigi
Pepsodent. Di tengah jalan antara Dili dan Manatuto, kami
melihat iring-iringan militer mendekat dari depan. Pada
truk terakhir, tentara-tentaranya mengenakan celana jeanSj
jaket kulit, dan kerpus hitam sebagai ganti kamuflase.
"Kopassus," kata Jose. "Pasukan khusus. Mereka baru pulang dari operasi di dalam
hutan." TEBING ITU semakin curam di luar kota; selama tiga
jam kami melaju sepanjang jalan pantai berbatu yang indah
di timur Dili, kemudian berkelok ke arah selatan pada
sebuah rute yang sering dirintangi oleh banjir lumpur
selama musim hujan. Semak-semak lebat tumbuh ke arah
perbukitan berhutan; menjulang di atasnya adalah Gunung
Matebian, puncaknya tersembunyi dari penglihatan oleh
segumpal awan tebal, bagai tempat bersemayamnya para
dewa. Matebian adalah gunung maut, dan batu-batu
kelabu tajam mencuat dari punggungnya. Belakangan
saya mendengar sebuah lagu Tetum mengenainya:
M a t e b i a n, M a t e b i a n Di sana tersimpan
tengkorak Lorosae Di barat, tampak Gunung Ramelau
Tetapi di timur, Matebian. Begitu banyak yang terhanyut
dan terbunuh, Semua demi engkau, Matebian. Karena
engkau, mereka mati dan lenyap - Darah kental mengalir
di atas bebatuanmu. Mengapa darah itu mengalir dan tak
pemah berhenti" Matebian merupakan gunung kematian mitologis, jauh
sebelum kedatangan tentara Indonesia. Tetapi, pada 1978
gunung itu juga menjadi lokasi beberapa adegan terburuk
Operasi Pengepungan dan Pemusnahan. Di lereng-
lerengnya dan di gua-guanya, tak terhitung jumlah
penduduk desa Timor yang dibakar, dibom, ditembak, atau
dibiarkan kelaparan hingga mati. "Pada satu kesempatan,
sebuah bom bakar, barangkali napalm, jatuh ke sekelompok
orang beranggotakan dua puluh tujuh orang, mereka
terpanggang seketika," tulis seorang komandan Falintil.
"Pada waktu lain, sekitar seratus orang, banyak di antara mereka perempuan,
anak-anak, dan orang lanjut usia, yang
berlindung di sebuah gua selama pengeboman dari udara,
terkubur hidup-hidup ketika sebuah bom berkekuatan besar
diledakkan di luar dan menutup mulut gua sepenuhnya.
Setelah dua minggu, erangan mereka tidak lagi terdengar."
Ketika Fretilin ditekuk, dan para pemimpinnya
membelot atau mati, semakin banyak orang yang menyerahkan diri kepada penyerang.
Tetapi, tugas memberi makan semua rakyat sipil di pegunungan, sembari m e n a h
a n g e r a k tentara Indonesia m e m a n g m e r u p a k a n tugas yang
mustahil. Fretilin dan tentaranya tidak lagi bisa
mengklaim "memerintah" Timor Timur secara bermakna.
Alih-alih, Fretilin kembali menjadikan Falintil sebagai
gerakan gerilya, sangat sering berpindah-pindah tempat dan
dikelola secara lokal di bawah komando salah satu dari
beberapa pendirinya yang masih hidup: Jose Alexandre
Gusmao, yang dikenala sebagai Xanana.
Strateginya adalah menimbulkan gangguan maksimal
dengan kerugian minimal. Cukup sukses, Falintil mulai
menjebak iring-iringan militer dan mencuri amunisi; bahkan
ada serangan berani terhadap Dili sendiri saat mereka
berhasil menduduki menara televisi dan bertahan selama
beberapa jam. Sebagai tanggapannya Indonesia
melancarkan serangan baru: Operasi Keamanan, yang
dikenal sebagai "pagar betis".
Serdadu-serdadu datang di sebuah desa atau kota, dan
mengumpulkan semua pria saat anak-anak lelaki usia
antara delapan dan lima belas tahun. Mereka akan dibawa
ke pegunungan untuk menjadi penghubung antara dua
rantai besar manusia, yang membentang negeri itu dari
pantai utara hingga ke selatan. Yang satu di-mulai dari
dekat Los Palos dan bergerak ke barat, yang lain dimulai
dari perbatasan dekat Timor Barat dan bergerak ke arah
timur. Di belakang pagar betis ini berbaris serdadu-serdadu
Indonesia. Idenya adalah, berhadapan dengan bahaya
menembaki rakyat mereka sendiri, Falintil akan menyerah
atau bergerak semakin jauh lagi ke dalam pegunungan
sehingga dapat dihabisi dengan bom atau napalm. Terjadi
sejumlah pembantaian, kelaparan dan penyakit
membinasakan para penduduk desa yang dipaksa turun
dalam operasi militer ini. Tetapi, banyak di antara m e r e k a y a n g m e m b
a n t u g e r a k a n p e r I a w a n a n. M e r e k a menggiring serdadu-
serdadu Indonesia menjauh dari
t e m p a t p e r s e m b u n y i a n; para g e r i I y a w a n m e n y e I i n
a p menembus pagar betis, dan Falintil tetap
bertahan. Sepanjang 1980-an dan 1990-an, pasukan yang terdiri
atas ribuan gerilyawan menghadapi tentara Indonesia yang
jumlahnya sampai empat puluh kali lipat. Tetapi, Falintil
tetap tangguh, dan di kota-kota yang lebih besar sebuah
generasi baru Timor menjadi gerakan bawah tanah-
clandestine, atau intifada, yang matang dengan anggota-
anggota seperti Jose dan Jacinto.
Mereka mengadakan demonstrasi-demonstrasi yang riuh
tapi damai di Dili - saat kunjungan Paus Yohanes Paulus II
pada 1989, dan penguburan mahasiswa yang dibunuh,
Sebastiao Gomes, di Pemakaman Santa Cruz pada 1991. Di
sanalah serdadu-serdadu Indonesia melepas tembakan dan
membunuh ratusan orang yang sedang berkabung, sebuah
peristiwa yang secara rahasia terekam dalam film, dan
menimbulkan kerusakan tak terkira pada citra Indonesia di
dunia intemasional. Untuk sesaat tampaknya ini akan
menjadi peristiwa yang akan menarik perhatian dunia luar
terhadap Timor Timur. Tetapi, setahun kemudian, dalam
situasi misterius dan barangkali diwamai pengkhianatan,
Xanana Gusmao ditangkap di sebuah rumah yang aman di
Dili dan dibawa ke Jakarta untuk menjalani hukuman
penjara seumur hidup. SETELAH HARI gelap sempuma, kami berkelok
menjauhi pantai dan masuk ke rute-rute kasar ke pedalaman
yang m e m belah g u n u n g - g u n u n g. Jala n n ya t e rj a I dan basa h,
dengan jurang tanpa pagar di satu sisi serta tebing berbatu di sisi lainnya;
setiap beberapa kilometer, di atas jalanan berserakan batu dan tanah yang
tersapu oleh hujan dari atas gunung. Jacinto mengendarai truk melewati
tikungan-tikungan, dan Jose mengintip cemas melalui kaca
depan. Gerakan truk yang berayun-ayun membuat
mengantuk, serta mengejutkan ketika tersentak bangun
beberapa kilometer di depan dan menyadari bahwa kami
tiba-tiba berhenti. Dari belakang, saya bisa mendengar dua penum-pang
melompat turun; Jacinto juga turun, dan kemudi-an Jose.
Di luar, saya samar-samar melihat bangunan-bangunan
rendah dan kumpulan orang-orang di dalam gelap. Suara
hutan terdengar keras di sekitar kami, tetapi selain itu hanya suara bisik-bisik
dan satu-satunya cahaya adalah nyala di
ujung rokok-rokok. Tidak ada api, tidak ada lampu listrik,
tidak ada tawa atau ucapan salam. Jose kembali ke truk dan
memberi tanda kepada saya supaya keluar. Sekelompok
orang berdiri di depan pondok bambu; mereka mengangguk
cemberut ke arah saya saat saya turun.
"Ada masalah, Jose?" tanya saya.
"Tidak apa-apa. Sekarang sudah aman. Tadi ada
beberapa serdadu di sini, tapi mereka sudah pergi. Kita
harus cepat-cepat berangkat."
Saya mengikutinya menembus sela-sela di antara
pondok-pondok itu dan masuk ke sebuah desa kecil dengan
permukiman-permukiman rendah yang sama. Jacinto tidak
terlihat lagi, tetapi pemuda-pemuda lain ikut berjalan
bersama kali ini, semuanya membawa kantong-kantong
plastik dan ransel. Ini rupanya merupakan awal dari
perjalanan kami menembus ke dalam
Rimba; awalnya tiba jauh lebih cepat dari yang saya
duga. Setelah melewati desa itu terhampar lereng hijau yang
mengarah ke sebuah sungai dangkal dengan sawah-sawah
di kejauhan. Setelah ini ada lagi lereng menurun, dan
setelah itu kami berada di dalam hutan.
Kami berjalan dalam gelap. Sinar bintang dan bu-lan
terlalu lemah sehingga hanya menyorotkan cahaya seperti
bayangan hantu. Kami berjalan melewati area yang rimbun,
tetapi sebagian besar tempat itu ditumbuhi semak-semak
kering, dengan bebatuan di bawah kaki dan bayangan hitam
tanaman berduri. Tanpa wama, pemandangan itu hanya
menampakkan kontras lapangan terbuka dan hutan, tanah
dan air, kelam dan kilau.
Kami bersepuluh, termasuk Jose dan dua anak lelaki
yang ikut naik truk tadi, serta semuanya membawa beban
berat. Beberapa anak lelaki bertelanjang kaki dan tak
seorang pun mengenakan alas kaki yang lebih kuat daripada
sandal karet. Saya memakai sepatu bot bersol tebal dan
kaus kaki hiking, tetapi segera saja saya tertinggal jauh di
belakang. Kami berjalan mendaki dan menurun; dalam
beberapa menit perjalanan itu sudah terasa seperti tanpa
akhir. Betis saya nyeri akibat perjalanan brutal naik-turun
yang tiba-tiba ini, dan tenggorokan saya terbakar oleh rokok
yang telah saya isap. Selama setengah mil kami berjalan
menembus aliran air yang berat, dan perjuangan
melangkahkan sepatu bot saya dan kemudian
menyentakkannya lepas lagi benar-benar menyiksa. Ransel
di punggung saya terasa seperti sebuah kutukan, dan
bahkan di tanah yang datar, saya tak henti-hentinya
tersandung batu dan cabang pohon. Akhimya saya
memecahkan masalah ini dengan menyalakan senter
yang saya bawa untuk kesempatan-kesempatan seperti itu. Jose muncul di samping
saya. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik, Jose, baik," saya menelan ludah.
"Kamu lelah" Saya bawakan tasmu." "Tidak, sungguh, Jose. Terima kasih, tapi itu
tidak perlu." "Lebih baik matikan sentermu di sini."
"Tentu saja, tentu saja," saya tersengal. "Mengapa?"
Dia mengarahkan tangannya ke perbukitan di sekeliling.
Indera keenam tampaknya membimbing tema n-tema n
seperjalanan saya ini. Mereka sesekali mengobrol, tapi
mereka semua tahu kapan harus mematikan rokok dan
senter mereka, serta kapan berhenti dan meringkuk bersama
di balik rumpun pohon kelapa. Suatu kali, di puncak sebuah
tebing yang terbuka, Jose mendesiskan peringatan dan saya
tiarap, mendatarkan tubuh saya di atas tanah. Pada waktu-
waktu lain, kami berkelompok menunggu sementara salah
seorang anak lelaki berlari mendahului, merangkak
memanjat sebuah tebing rendah dengan hati-hati. Saya
mencoba untuk tidak terlalu memikirkan alasan di balik ini.
Setelah setengah jam saya tidak lagi memerhatikan berapa
jauh kami telah berjalan atau ke arah mana kami bergerak,
tetapi saya terus sadar akan langit di atas, bintang-bintang
langit selatan yang ganjil, dan kemungkinan yang sangat
besar akan adanya sepasang mata yang berfokus pada sosok
saya yang tersandung-sandung melalui teropong dan
teleskop dengan alat bantu melihat di malam hari,
tersembunyi dari pandangan di bawah naungan pepohonan
hutan yang lebat. Setelah satu jam, kami berjalan menembus pepohonan b
e r k i I a u dan s e m a k p a k i s renda h. B u r u n g - b u r u n g atau
tikus-tikus melayap di dalam belukar saat saya
tersandung-saundung melewatinya; dedaunan berbentuk
pedang. Di balik pepohonan itu, undak-undakan berakhir.
Mulai dari sini dan seterusnya adalah pendakian ke puncak,
lereng berbatu yang mengharuskan saya merangkak naik
dengan tangan berpegangan pada akar atau batu. Nyeri di
dada dan kaki saya, peluh di mata saya, membutakan dan
saya tahu tentulah perjalanan seperti ini harus ditempuh
berjam-jam lagi. Ketika permukaan tanah mendatar di
puncak pendakian, saya melepaskan ransel dan
menggeletak di tanah, tersengal-sengal seperti ikan
terdampar. Ketika detak jantung saya sudah tenang, saya baru
tersadar bahwa tak seorang pun teman seperjalanan saya
yang terlihat. Kemudian, saya memerhatikan sesuatu yang
membuat perut saya mulas - lingkaran cahaya beberapa
meter di depan, dan sosok-sosok yang sedang berdiri tak
jauh darinya. Saya melirik ke arahnya, serta dapat
menandai ada api dan sekelompok orang mengelilinginya.
Saya melangkah lebih dekat ke cahaya itu, dan melihat Jose
sedang berbicara pada seorang pria jangkung berbayang
siluet karena cahaya api. Jose melihat saya dan menunjuk;
pria yang lain berbalik dan berjalan ke arah saya. Dia
berpakaian seragam tentara Indonesia, dan sebuah senapan
hitam melintang di bahunya. Dia bergerak lebih dekat dan
setengah merangkul, setengah menangkap saya saat saya
terhuyung ke tempat terang. Tangannya memegang bahu
saya saat merangkul, dan dia mencium kedua pipi saya,
tersenyum, serta berbicara dalam bahasa Portugis yang
ramai. Suaranya dalam. Dia berjenggot hitam sampai ke
dadanya dan mengenakan kacamata besar. "Atas nama
Xanana Gusmao, dan Angkatan Bersenjata untuk
Pembebasan Nasional Timor Leste, serta seluruh rakyat
Maubere," Jose menerjemahkan, "comandante menyam-but kedatangan senhor ke
perkemahannya dan ke Timor
Timur." APA YANG saya bayangkan akan saya temui di
perkemahan gerilya di tengah hutan" Sebuah lapangan
terbuka, saya kira, hutan lebat yang dirambah dengan golok
dan tenda-tenda kanvas yang ditegakkan dengan rapi. Pintu
masuk dijaga oleh pengawal, yang memberi tanda kepada


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang lain dengan menirukan suara burung. Ada tempat
terbuka untuk berlatih, dan di ujung lainnya beberapa
gerilyawan sedang memasak rusa yang telah mereka
tembak. Lokasinya sekian jam, barangkali sekian hari,
perjalanan ke dalam hutan. Alih-alih, saya mendapati diri
berada beberapa kilometer dari jalan, di tengah tempat yang
lebih mirip seperti festival desa.
Sekitar seratus orang duduk di atas tikar dan kain terpal
diterangi lilin dan lampu kaleng. Ada beberapa anak yang
memegang tangan kakak perempuan mereka, dan
sekelompok perempuan yang membereskan sisa makanan.
Di sini lebih sejuk daripada di pantai: para pria mengenakan
kemeja berlengan panjang serta jeans dan sandal karet.
Beberapa memiliki pisau lipat atau golok, tetapi hanya
gerilyawan yang pegang senapan. Mereka memiliki senapan
otomatis yang berkilau redup, dan seragam rapi pudar
dengan lencana serdadu-serdadu Indonesia yang tewas.
Mereka memiliki semua yang harus dimiliki oleh tentara
gerilyawan kecuali satu hal: mereka hanya berenam.
Saya dipersilakan duduk di tengah lingkaran dan
disajikan sekaleng kecil bir hangat Singapura serta se-piring ayam panggang.
Gemuruh di dalam dada saya sudah reda.
Setelah menghabiskan bir itu saya merasa kuat untuk
merokok lagi. Sang comandante dan Jose mengobrol
dengan cepat saat saya makan, serta dua pemuda lagi yang
datang dari arah kami tadi datang tiba memikul kantong-
kantong. Mereka membawa berita yang harus disampaikan
dan pergi bergerombol bersama para gerilyawan.
"Tentara-tentara datang lagi ke desa melalui jalan persis setelah kita pergi,"
kata Jose. "Mereka melihat mobil kita dan mereka bertanya. Tetapi, orang desa
tidak memberi tahu apa pun. Sudah tidak apa-apa sekarang."
Sang komandan duduk di hadapan saya, bersila.
Perlunya kerahasiaan membuat Falintil mengambil nom de
guerre, nama s a mara n, dan yang dipilih oleh pemimpin
Falintil ini luar biasa, sesuai dengan status mereka sebagai
pengawal perjuangan, dewa gunung. Komandan wilayah
timur, Lere, disebut sebagai Anak Timur. Di balik jaket
samarannya, dia mengenakan kaus dalam hitam dan di
lehemya menggantung rantai peluit plastik merah serta
medali logam yang berisikan foto seorang pemuda. Orang-
orang di sekitar kami menjadi hening saat kami mulai
bicara; ibu-ibu menenangkan anak-anak mereka yang
menatap kami dengan mata bulat.
Saya berkata kepada sang komandan, "Di sinikah Anda
tinggal?" Melalui Jose, komandan menjawab, "Falintil tinggal di
mana saja di dalam hutan."
"Di mana Anda tidur tadi malam?"
"Jauh dari sini," kata komandan.
"Dan bagaimana dengan orang-orang ini" Siapakah
mereka?" "Mereka semua bersama Falintil."
Hening sejenak, dan saya merasa tersengat panik.
Sepanjang jalan menuju ke sini, selama perjalanan dan
pendakian yang panjang itu, saya sudah membolak-balik
banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan di dalam
pikiran saya - tetapi sekarang semuanya telah lenyap dari
ingatan saya. Komandan melipat tangannya di lutut. Saya
memerhatikan betapa tangan-tangan itu besar. Saya juga
memerhatikan jari tengah tangan kanannya putus persis di
atas sendinya. Komandan berkata, "Apakah perjalanan senhor sulit?"
"Jalannya ... terjal," kata saya. Saya menepuk kotak merah di piring saya.
"Terlalu banyak merokok."
Sang komandan tersenyum. "Berapa usia senhor?"
Saya menambah dua tahun dari usia saya sebenamya.
"Oh, Anda masih muda," katanya, kemudian dia dan
Jose berbicara dalam bahasa Portugis, tapi tidak
diterjemahkan. Kemudian dia berkata, "Apakah Anda
takut?" Saya tidak tahu harus menjawab apa.
"Andai serdadu Indonesia datang sekarang," kata
komandan, "bagaimana perasaan Anda?"
Saya takut: takut dihentikan di titik pemeriksaan dan
diseret keluar dari truk serta selangkangan saya ditendang di pinggir jalan;
takut dilempar ke dalam jurang dan takut
leher saya patah kalau truk jatuh ke cadas di bawah sana;
takut jebakan di dalam hutan, takut peluru-peluru yang
berdesing menembus pepohonan dan kilau belati Kopassus.
Saya pemah takut pada Jose dan
Jacinto, juga pada sang komandan dan seragam tentara
Indonesia curiannya. Saya takut pengkhianatan orang lain,
dan takut pada kebimbangan saya sendiri. Saya takut
datang ke sini, dan takut kalau terlalu takut untuk datang,
serta di lereng tebing tadi saya takut kalau-kalau secara fisik saya tak cukup
kuat untuk sampai di puncak. Tetapi,
sekarang saya tidak merasa takut lagi. Jenggot komandan
itu mulai beruban di ujung-ujungnya. Seorang gerilyawan
memainkan gagang pisaunya. Seekor anjing kurus
mengendus tulang-tulang ayam di piring saya. Saya
bersama Falintil dan Falintil membuat saya berani. Tetapi,
saya tidak memberi jawaban kepada pertanyaan komandan
itu. "Jika kami semua terbunuh, maka Anda pun akan
terbunuh," katanya, tersenyum. "Tetapi, selama commandante masih hidup, senhor
akan hidup. Silakan bertanya." Saya membuat rekaman percakapan yang berlangsung
sepanjang malam dan siang berikutnya, yang saya temukan
bertahun-tahun kemudian di dalam kotak berdebu di
belakang sebuah lemari. Dalam rekaman itu, dalam jeda
antara pertanyaan saya, terjemahan pelan Jose, dan
jawaban sang comandante, dapat terdengar keheningan
malam, dipecah oleh lengking suara burung, desir pohon
dan rerumputan - segala bunyi-bunyian riuh hutan.
XANANA GUSMAO ditangkap di Dili pada 20
November 1992. Orang-orang selalu tampak enggan bicara
tentang situasi seputar penangkapannya. Disebutkan bahwa
dia telah dikhianati. Ada rumor bahwa dia diciduk saat
sedang bertemu dengan seorang kekasih. Enam bulan
kemudian di Jakarta dia dihukum dua puluh tahun penjara karena
memberontak. Wakil komandannya, Ma'Huno, ditangkap
pada April 1993, dan komandan lapangan berikutnya, Nino
Konis San tana, terbunuh beberapa tahun kemudian.
Setelah penangkapan Xanana, Falintil menjadi semakin
terjepit dibandingkan sebelumnya. Dalam pidatonya di
pengadilan, Xanana mengatakan, "Saya mengakui
kekalahan militer di lapangan." Tetapi dengan penahanan
sang pemimpin, perlawanan justru semakin kuat.
Setelah pembantaian Santa Cruz dan kehinaan yang
ditimbulkannya terhadap Indonesia, Soeharto tahu bahwa
dia tidak bisa menghukum mati Xanana. Tetapi dipenjara
Cipinang Jakarta, di bawah tekanan musuhnya, dia menjadi
lebih perkasa daripada sebelumnya. Para p e n g u n j u n g
k e C i p i n a n g m e n y e I u n d u p k a n surat-surat
keluar-masuk; mereka bahkan membawakan pon sel agar
Xanana bisa berbicara dengan komandan pasukannya di
Timor Timur. Tetapi, apa yang dilakukan atau dikatakan
Xanana sama sekali tidak menjadi masalah. Para prajurit
Xanana telah turun dari gunung menuju persembunyian di
bawah tanah, dan di sana dia menjadi sebuah simbol,
sebuah ikon, hampir seperti dewa.
Xanana menulis puisi dalam bahasa Tetum, syair-syair I
e m b u t m e n g h a r u k a n t e n tang p e g u n u n g a n, p e p o h o n a
n, penderitaan, dan kerinduan. Tiga suku kata
dari namanya yang misterius bagaikan tangisan kebebasan,
sempuma untuk diteriakkan keras-keras dalam perlawanan
atau perayaan. Saya pemah menyaksikan sebuah
demonstrasi ketika para demonstran membawa poster-
poster Xanana bikinan tangan, yang dilukis dengan m e min
jam berbagai gaya dan genre. Ada Xanana sebagai Che
Guevara, pemimpin gerilyawan berjenggot dan berwajah
keras itu dalam wama-wama realisme sosialis yang
menyala. Ada Xanana sebagai negarawan intemasional
modem, dipotret dalam jas resmi sedang berjabat tangan
dengan Nelson Mandela, ikon perjuangan besar lainnya,
dalam kunjungannya yang terkenal ke penjara. Beberapa p e
r e m p u a n m u d a telah m e n g g a m b a r k a n X a n a n a sebagai
pahlawan yang romantis - bintang film idola
dengan kemeja berleher terbuka dan rambut keri-ting. Dan
kemudian ada Xanana sebagai Kristus, wa-jahnya dilukis d
e n g a n pensil m e n u n j u k k a n k e s e d i h a n m e n d a I a m p e n u
h kasih dan derita, serta ada bulatan cahaya
lemah namun jelas di seputar kepalanya.
Xanana adalah semua itu dan bahkan lebih dari itu.
Xanana adalah apa pun yang mereka inginkan. Dia tidak
harus melakukan sesuatu; dia hanya harus ada.
Demikianlah bagi Falintil.
Semua ini saya sadari secara perlahan saat saya berbicara
dengan sang comandante. Pada awalnya, saya akan dipertemukan dengan atasan
Lere, komandan lapangan yang sekarang, Taur Matan
Ruak, tetapi belakangan ini dia sangat terdesak. Baru saja
malam kemarin, dia nyaris tertangkap ketika komando
Indonesia datang ke desa tempat dia menginap. Saya telah
mendengar tentang insiden inij menurut yang diceritakan
kepada saya di Dili, terjadi pertempuran bersenjata yang
sengit di mana Taur beruntung bisa lolos. Tetapi,
Komandan Lere mengoreksi saya tentang ini. "Tidak ada
penembakan, tidak ada serangan," katanya. "Tentara
Indonesia sudah tahu bahwa mereka ada di sana, tetapi
tidak berhasil membawa mereka."
"Bagaimana dia lolos?" tanya saya.
" O r a n g - o ra n g m e m peringat k a n n y a bahwa tentara
Indonesia datang, dan dia mengambil jalan rahasia."
"Dia beruntung."
Komandan Lere tidak setuju bahwa itu ada hubungan
dengan keberuntungan. "Begitulah situasinya di Timor
Timur," katanya. "Semua orang, gerilyawan maupun sipil, semua berjuang melawan
Indonesia. Mereka adalah mata
dan telinga kami, dan rakyat menjaga Falintil seperti
Falintil menjaga rakyat. "Tentara Indonesia selalu bingung, 'Siapa gerilyawan dan siapa sipil"1" katanya.
"Kadang comandante dan Falintil mengenakan pakaian biasa dan bekerja bersama
rakyat. Kami pergi ke kebun di hutan, tinggal di rumah-rumah,
bekerja di sawah. Ketika kami ingin bertempur, kami m e n
g e n akan seragam kami, dan mengangkat senjata untuk
melawan." Dalam perjuangan kemerdekaan, jelas comandante, ada
tiga medan: diplomatis, militer, dan politis. Yang pertama
ditegakkan oleh beberapa ribu orang Timor di pengasingan
dan pendukung-pendukung mereka di Australia dan
Portugal. Yang kedua dilaksanakan oleh para pejuang di
hutan. Yang ketiga, pergerakan bawah tanah, dijalankan di
kota-kota dan desa-desa Timor Timur. Anggota-anggotanya
yang paling aktif adalah para pemuda seperti pengantar
saya. Tetapi, ada juga orang-orang tua, pasangan suami
istri, anak-anak, biarawati dan perawat, pendeta dan orang
awam - pendeknya, semua orang.
Saya mengangguk kepada komandan, dan berkata,
"Berapa banyak gerilyawan yang dimiliki Falintil?"
Indonesia bilang beberapa puluh; kelompok pendukung
Timor di luar negeri mengklaim lima ratus; seorang
diplomat di Jakarta pemah mengatakan kepada saya
menurut perkiraannya sekitar 250.
Komandan itu bilang, "Jumlahnya bergantung pada
komandan. Terkadang sepuluh, terkadang dua puluh,
terkadang delapan puluh. Ketika saya butuh lebih banyak,
saya bisa minta tambahan."
"Lalu, berapa banyak senjata yang kalian miliki?"
"Anda tampaknya selalu cemas soal senjata. Tetapi, ini
adalah situasi yang hanya bisa dituntaskan melalui politik,
dan dengan damai. Tentu saja ada hal-hal yang kami
butuhkan di sini - komunikasi, uang, obat-obatan, dan
makanan. Tetapi kami tidak membutuhkan senjata, belum.
Karena masalah Timor Timur tidak bisa diselesaikan
dengan senjata." Saya melihat ke sekeliling lingkaran terang tempat kami
duduk-duduk, pada para ibu dan bayi-bayi mereka, pada
anak-anak yang sedang bermain, pada kakek-kakek yang
terbatuk-batuk dan para pemuda yang gagah, serta pada
sedikit gerilyawan yang duduk di tengah mereka. Wajah-
wajah dan sosok tubuh mereka tidak terbedakan; tak ada
rasa agung atau istimewa yang memisahkan pejuang dari
rakyat. Falintil dan warga desa adalah sama, kecuali bahwa
Falintil membawa senjata dan mengenakan seragam.
Tetapi, mereka semua miskin.
Di ujung tikar duduk seorang ayah bersama tiga anak
kecil, dua laki-laki dan satu perempuan berwajah lembut,
duduk dengan tenang saat yang lain berkeliaran ke sana-
kemari. Pada awalnya saya pikir mereka sekadar anak-anak
manis yang berperilaku baik, tetapi ketika mereka berdiri,
saya baru tahu. Ketiga anak itu cacat akibat polio. Dengan
tenang, mereka tertatih-tatih menjauh dari cahaya dan
berjalan ke arah desa, sedangkan ayah mereka
menggendong yang paling kecil di antara m e r e k a di atas
bahunya. I b u m e re k a, m e r e k a punya ibu, tidak
kelihatan. Sejarak beberapa kilometer dari sini ada tentara-tentara
Indonesia yang kemenangan terbesar bagi mereka adalah
menangkap seseorang seperti Lere Anak Timur ini.
Limpahan hadiah apa yang bisa diperoleh keluarga cacat ini
jika mereka menyerahkan hadiah itu! Sebuah rumah baru di
desa lain, kunjungan teratur dari dokter tentara Indonesia.
Di sekeliling kami ada ratusan orang yang sama miskinnya
dengan dia, dan sekian puluh anak-anak. Hanya perlu


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sepatah kata dari satu di anta-ra mereka dan itu akan segera
menjadi kiamat bagi sang komandan serta gerilyawannya,
bagi Jose dan gerakan bawah tanahnya, serta bagi
petualangan saya di rimba belantara. Namun demikian, di
Timor Timur hal semacam itu tidak terpikirkan, hanya
sebuah kemung-kinan teoretis, secara realistis tidak
dipersoalkan lagi. Komandan berkata, "Selama dua puluh tiga tahun
Falintil telah bertempur melawan Indonesia, pasukan
tentara terbesar di Asia Tenggara. Bisakah kami bertahan
begitu lama andai rakyat tidak bersama kami" Berjuang
melawan Indonesia ada di dalam kesadaran setiap orang
Timor. Jika Indonesia ingin membunuh semua Falintil,
mereka harus membunuh seluruh penduduk Timor Timur.
Jika mereka tidak bisa membunuh semuanya, maka Falintil
akan tetap eksis." ORANG-ORANG di Dili terkadang menyebut Falintil
sebagai orang utan, dan meskipun ini sebuah
kelakar, itu merupakan penghormatan. Hutan adalah
seragam gerilyawan; di sanalah mereka menjadi Falintil,
bersama kekuatan dan prestise Falintil. Desa tempat kami
bertemu merupakan batas paling barat wilayah Komandan Lere
dan, meskipun rakyatnya setia, tinggal terlalu lama di satu
tempat sangat berisiko. Saat api mulai padam, para gerilyawan mengumpulkan
barang-barang mereka dan saya mengikuti mereka menjauh
dari tempat terbuka. Kami menapaki rute ke dalam area
hijau rimba, dan berhenti pada sebuah tempat dengan batu
besar membentuk meja alamiah di bawah semak-semak.
Selembar terpal persegi segera diikatkan pada cabang-
cabang, selembar lagi dibentangkan di atas tanah, sebuah
lampu badai diletakkan di atasnya, dan di sinilah kami
berdiam selama dua puluh empat jam ke depan. Saya
berbicara dengan komandan, dengan diterjemahkan oleh
Jose; kemudian saya tertidur, Jose dan komandan berbicara
berdua. Kopi diseduh, ayam dan mie dimasak di tungku
batu. Para gerilyawan tidur, merokok, berbasuh, menyisir
jenggot dan rambut mereka yang panjang, membersihkan
senapan mereka, serta bermain dengan seekor anjing putih
milik salah seorang penduduk desa.
Di dalam Falintil hanya ada dua peringkat, komandan
dan prajurit. Lere membawa senapan Mauser Swiss dan
mengenakan sepatu bot kulit, sedangkan yang lain
memegang M-16 dan sepatu bot karet Wellington, tetapi
tidak terlihat perbedaan lain di antara mereka. Satu orang
mengenakan baret ungu terang, lainnya syal hitam, yang
ketiga berambut lebat tebal yang digeraikan ke bahu. Sulit u
n t u k m e m b a y a n g k a n m e r e k a d a I a m p e r t e m p u r a n,
kecuali seorang tua berpembawaan tenang di
antara mereka, yang tampaknya sama sekali tidak peduli
dengan k e h a d i r a n saya. W a j a h n y a k u ru s tanpa s e n y u m, r a m
b u t pendek, dan mengenakan seragam
hijau zaitun polos sebagai ganti penyamaran.
"Dia gerilyawan yang sangat berpengalaman/1 kata
Jose, ketika saya bertanya. "Namanya Intel."
"Mengapa mereka memanggilnya begitu?"
"Karena dia suka membunuh intel."
Semua gerilyawan terpukau pada peralatan, seperti pada
senjata yang terus menerus mereka pegang. Semua, kecuali
Intel, membawa kamera kecilj kebersamaan saya dengan
mereka ditandai oleh kilatan lampu kamera mereka, dan
bunyi mengeong pelan saat lampu kilatnya mengisi
kembali. Saya dipotret untuk beragam tajuk: Reporter
Inggris bicara dengan komandan, reporter Inggris makan
miej reporter Inggris kencing di hutan. Film-filmnya akan
dibawa turun ke Dili dan diproses pada sebuah studio foto
yang sudah dikenal, meski saya tahu bahwa kesenangan
memotret seperti ini pemah membawa tragedi pada masa
lalu, ketika tentara Indonesia menyita foto-foto yang
memperlihatkan para gerilyawan bersama beberapa anggota
perlawanan yang sebelumnya tidak diketahui. Puncak
kecemasan saya terjadi ketika tiap-tiap gerilyawan itu secara bergiliran m e n y
e r a h k a n M -16 m e re k a dan m e m o t r e t s a y a b e r p o s e dengan
itu. Saya membayangkan bagaimana potret yang satu itu dapat ditampilkan: Tentara
bayaran dari Eropa dipotret sedang melatih teroris-teroris
komunis. Saya memegang senapan berat itu di sepanjang
lengan dan berusaha mengatur agar wajah menunjukkan
ekspresi netral tak peduli.
Komandan duduk di atas terpal di tengah-tengah
prajuritnya, membaca dan menulis. Selama berjam-jam
tanpa henti dia bekerja, membaca surat-surat dan kliping
koran yang dibawakan untuknya dari Dili, tempayak dan
kepik berjatuhan ke pangkuannya dari deda-unan di atas.
Dia menulis di atas lembaran kertas berkop, setiap lembar
bertuliskan nama kabupatennya, dan kata-kata For gas
Armadas de Ubertagao Nacional de Timor Leste dalam
huruf miring bergaya kuno. Radio ada, dan gerilyawan
yang tak jauh dari kota menggunakan ponsel mereka, tetapi
para komandan berkomunikasi melalui surat di antara
mereka sendiri. Saya mengintip di balik bahunya dan
membaca awal dari salah salah satu surat itu, salam
pembuka yang panjang, formal dan sopan dalam bahasa
Portugis. Saya bertanya bagaimana komandan melewatkan
waktunya di dalam rimba. "Membaca surat-surat, menulis surat-surat, melatih
Falintil, mengumpulkan makanan, melakukan aktivitas
politik di desa-desa, dan aktivitas militer di hutan. Tidak
ada waktu untuk beristirahat."
"Apakah Anda pemah bosan?"
"Tidak." "Anda sering berkunjung ke Dili?"
"Kalau perlu, saya akan pergi ke kota, tetapi biasanya
saya mengirim utusan. Untuk menemui pengunjung, seperti
Anda, saya turun ke tempat ini."
"Bagaimana dengan hari libur" Apakah Anda merayakan
Natal?" "Kami dulu merayakan Natal dan Tahun Baru," katanya, melepas kacamata, "tetapi
pada 1996, tentara Indonesia
melancarkan operasi besar karena mereka tahu bahwa
Falintil akan turun ke desa-desa."
"Bagaimana dengan para prajurit Anda" Bagaimana
Anda menjaga semangat mereka?"
"Mereka bertemu dengan keluarga mereka sesekali,
orang tua mereka. Tetapi, mereka berada di hutan ini
karena pilihan mereka sendiri, dari kesadaran mereka
sendiri. Mereka di sini untuk membebaskan rakyat me-reka
sendiri. Banyak di antara kawan-kawan kami telah dibunuh
oleh tentara Indonesia. Dari darah mereka, dan tulang-
tulang mereka, kami membangun semangat yang kuat."
"Apakah Anda telah kehilangan banyak teman-teman
Anda sendiri?" Dia mengemyitkan alis sejenak, seolah-olah sedang
berusaha mengingat: "Dari wilayah timur: Comandante
Koro A su, Comandante Guba, Comandante Falucai,
Comandante Rank Bian, Comandante Letimoko,
Comandante Mau Bani. Dari wilayah kedua: Comandante
David Alex. Dari wilayah ketiga: Comandante F era
Lafaek. Dari dewan militer sentral: Comandante B e re
Malai La c a n, Comandante Mau r Jam i, Comandante V e
n a n c i o Ferraz, Comandante Mau Garu."
Saya ingin tahu tentang pemuda dalam foto di gantungan
kalung sang komandan. Tetapi, pertanyaan yang langsung
dan bersifat pribadi hanya akan menghasilkan jawaban
singkat serta tidak langsung, jadi alih-alih menanyai
komandan tentang anaknya, saya bertanya tentang luka-
lukanya. Dia pemah ditembak di belasan tempat, katanya,
sambil menggulung ujung celananya ke atas untuk
menunjukkan medali berupa bekas luka di tulang
keringnya. "Dua puluh empat Juni 1996 di Iliomar," katanya.
"Selama satu bulan saya tidak bisa berdiri. Pada 1 Agustus saya bisa berjalan
lagi, dan mereka membawa saya turun
dan menyembunyikan saya di dekat sebuah desa agar
penduduk desa bisa datang dan merawat saya. Pelurunya
masih di dalam kaki saya, jauh di dalam. Masih jadi
masalah kalau saya berlari. Yang ini" - dia menunjuk ke
garis tipis kulit yang menghitam di pipinya-"adalah pada Maret 1992, juga di
Iliomar. Yang ini" - dia mengacungkan
pangkal jarinya yang hilang - "adalah pada 4 Maret 1984 di wilayah antara Ainaro
dan Same. Kedua kaki saya juga
terluka waktu itu. Tidak ada obat, dan tentara Indonesia
sedang sangat agresif pada saat itu. Jadi, kami hanya
menggunakan dedaunan. Saya melewatkan enam bulan
bersembunyi di dalam hutan. Terkadang, sulit dipercaya
bahwa sebuah peluru bisa melesat begitu dekat dan tidak
menembus tubuh." "Di Timor Timur, kami bertempur seperti ayam jantan,"
kata Jose. "Mereka bilang bahwa seekor ayam jantan yang
telah terluka melawan dengan lebih berani daripada yang
lain." Komandan tinggal di dalam hutan selama lebih dari
separuh usianya. Saat invasi berlangsung, ia berusia dua
puluh empat tahun, mahasiswa pertanian di sebuah
universitas di Los Palos dan dia ikut menyaksikan berbagai
k e b e r h a s i I a n pera n g y a n g m u I a - m u I a. N a m u n, k e m u d
i a n tentara Indonesia mulai menggunakan
pesawat pengebom, termasuk, konon, pesawat tempur
Hawk buatan Inggris; komandan telah sering melihatnya
beraksi. "Kami menembak jatuh satu sekitar 1987-an, tetapi pesawat itu jatuh ke
laut." Katanya. "Kami m e n y e b u t n y a k a I a j e n g k i n g k a r e n a
b e n t u k n ya s e p e rt i i t u ketika terbang. Saya tidak melihat napalm,
tetapi saya melihat tubuh-tubuh orang yang telah terbunuh oleh
napalm, semua kulit mereka hancur dan terbakar."
Ketika berbicara, gantungan kalung di leher Komandan
Lere berayun-ayun. Saya bisa membaca sebuah nama
terpatri di balik logam itu: Aluk.
"Siapa itu?" tanya saya.
"Anak lelaki saya/1 kata komandan.
"Berapa usianya?"
"Dua puluh." "Di mana dia sekarang?"
"Di Jakarta. Sebelumnya, dia tinggal bersama seorang
pendeta di Los Palos."
"Apa yang dilakukannya di sana?"
"Dia masih muda. Dia hanya ... bersenang-senang." Dia terhenti dan kemudian
berkata lemah, "Aluk."
Istri komandan sudah meninggal, atau dianggap begitu.
Dia menghilang pada 1981 setelah melahirkan anak kedua,
seorang putra, yang juga menghilang setelah dibawa pergi
oleh para serdadu beberapa tahun silam. Orangtua
komandan juga sudah meninggal, diracun katanya, setelah
diinterogasi mengenai aktivitas Lere. "Dari setiap seratus orang yang meninggal
di Timor Timur," kata komandan,
"Anda akan dapati lima yang meninggal secara alamiah.
Mereka mati karena pendudukan. Tanyai orang-orang, dan
mereka akan mengatakan kepada Anda bahwa ibu saya,
ayah saya, istri saya, dan anak saya dibunuh oleh
Indonesia." "SAYA MENGAKUI kekalahan militer di lapangan,"
begitu Xanana pemah berkata dalam pidato yang
dipersiapkannya untuk pengadilannya. "Saya tidak malu
mengatakan itu. Sebaliknya, saya bangga akan fakta bahwa
sebuah pasukan kecil tentara gerilyawan mampu melawan
bangsa besar seperti Indonesia, negeri kuat yang secara
pengecut telah menginvasi kami serta hendak mendominasi
kami dengan hukum teror dan keji." H a k i m m e n g h e n t i k a n X a n a n a
m e m baca k a n pidato itu
setelah tiga halaman. "Para jenderal Indonesia/1 begitu
selanjutnya yang akan dia katakan, "harus disadarkan
bahwa mereka telah dikalahkan secara politik di Timor
Timur." Ketika saya tanya Komandan Lere tentang pertemuan
terakhimya dengan tentara Indonesia, dia tampak sedikit
tercenung. Setahun lalu, sebuah iring-iringan telah diserang
dengan peluru kendali (rudal) yang tidak meledak. Rudal
itu ditemukan oleh para gerilyawan dan disambungkan
kembali menjadi sebuah granat besar yang kuat. Bom itu
menghancurkan sebuah truk tentara dan membunuh tujuh
belas serdadu. Malang bagi Falintil, ledakan itu juga
membakar senapan-senapan Indonesia yang berharga.
"Mudah menyerang mereka," kata komandan. "Tapi, setiap kali kami membunuh
serdadu Indonesia, itu menimbulkan
masalah bagi warga sipil."
Yang dimaksudnya adalah: pemerkosaan, penangkapan,
penyiksaan, dan penghilangan paksa. Logika balas dendam
ini telah melumpuhkan Falintil sebagai sebuah kekuatan
militer. Mereka terlalu kecil, terlalu terbatas untuk bisa lebih dari sekadar
pengusik, sedangkan terorisme, satu-satunya
altematif lain, tak pemah menjadi jalan yang ditempuh oleh
orang Timor. Xanana tahu bahwa dia tidak akan pemah
menaklukkan tentara Indonesia. Dan sekali dia
mencampakkan harapan itu, Falintil mewarisi seluruh
kekuatannya - kekuatan simbolik, yang nyaris spiritual,
mustahil untuk dikenali dengan cara-cara fisikal.
Agresi tentara Indonesia telah melahirkan Falintil, dan
Falintil terus hidup dengan mereka, mengenakan seragam
mereka, menembakkan senjata serta peluru-peluru mereka.
Xanana suatu kali berkata, "Kami membawa musuh di dalam tas kami." Ketika
memburu para gerilyawan, tentara Indonesia seperti mengejar ekor m e r e k a. M e r e
k a bisa berlari m e n e m b u s hutan sela m a berhari-hari
tanpa pemah sedikit pun melihat Falintil, meskipun mereka
sedang diamati oleh Falintil dari jarak beberapa meter saja
di balik semak belukar. Bahkan dengan hanya beberapa
gelintir gerilyawan, tanpa seragam, hidup sebagai petani
kelaparan, satuan-satuan yang terserak, senjata dan amunisi
mereka terkubur, pergerakan itu masih tetap hidup, tentara


Zaman Edan Karya Richard Llyod Parry di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang sempuma, tanpa senjata dan tanpa serdadu. "Bertahan berarti menang," ujar
Xanana. Apakah Falintil kalau bukan sikap bertahan - ungkapan mumi sebuah
perlawanan" * * * UNTUK SARAPAN kami keesokan paginya ada kopi
manis, biskuit cokelat, dan roti yang dipanggang di Dili
sehari sebelumnya. Pada saat makan siang ada nasi dengan
sarden kaleng, dan ayam panggang yang dibawakan ibu-ibu
dari desa. Di sela-sela percakapan dengan komandan, saya
tertidur dan menghabiskan rokok saya yang terakhir. Saya
mengawalinya di Dili dalam kecemasan, tapi kini saya
menghabiskannya dengan santai. Komandan sedang
terlelap dengan kepala tergolek di atas sebuah kamus
bahasa Portugis yang tebal dan tua. Salah seorang
gerilyawan muda sedang memunguti semut dari
jenggotnya, dan kupu-kupu kuning mengepakkan sayap
menembus kolom-kolom cahaya serta bayangan yang
menembus tudung dedaunan. Saya bisa mengerti daya
tarik kehidupan di dalam rimba - kesenangan hidup sebagai seorang gerilyawan;
terbebas dari tanggung jawab dan kesibukan hidup sehari-hari sebagai petani atau
anggota masyarakat miskin di kota. Hari demi hari, bulan
demi bulan, dan tahun demi ta-hun berlalu, tak jauh
berbeda dari yang sebelumnya, ditandai oleh musim hujan
dan musim kering, keyakin-an yang tak berubah, dan hidup
yang hanya peduli pada kematian yang jauh.
Saya dan Jose berangkat malam itu setelah gelap.
Sebelum mengucapkan selamat tinggal, komandan
menghadiahi saya tenunan ungu dari kantong Oecussi di
Timor, dan betapa saya berharap membawakan sesuatu
untuk dihadiahkan kepadanya, selain pasta gigi Pepsodent.
Perjalanan turun jauh lebih mudah daripada perjalanan
mendaki; saat kami mendekati desa di pinggir jalan, seorang
anak lelaki menemui kami dan memperingatkan adanya
patroli tentara. Kami bersembunyi di balik sebuah dinding
dan tak lama kemudian utusan lain datang memberi tanda
oke. Kami terus menuruni jalan kemudian masuk ke mobil
pikap putih. Kami tiba di Dili beberapa jam lewat tengah malam dan
jalanan benar-benar lengang. Jacinto menurunkan saya dari
jok depan dan saya berjalan kaki ke Turismo. Di sana, saya
terduduk di atas ranjang, merinding senang karena telah
lepas dari sebuah pengalaman seru. Pada hari itu, saya
keluar dari hotel dan mengambil penerbangan sore kembali
ke Jakarta.[] i DI TAMAN Turismo, delapan bulan setelah perjalanan
saya ke dalam hutan, seorang lelaki bemama Basilio Arao
mengundang saya untuk melihat sesosok mayat di Hotel
Tropicale. Basilio pemah belajar di Manchester dengan
biaya pemerintah Inggris. Bahasa Inggrisnya bagus. Dia
berambut tebal, berkumis lebat, dan berperilaku aneh yang
tak terjelaskan - mudah marah sekaligus menyenangkan.
Dia adalah ketua organisasi pro-Indonesia bemama FPDK,
atau Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan. Dia orang
yang dapat diterima dalam premanisme orang Timor
"Mayat seperti apa itu, Basilio" Maksud saya mayat
siapa?" "Dia anggota Aitarak. Falintil membunuhnya kemarin,
dan tubuhnya baru ditemukan pagi ini. Dia baru saja
dibawa ke markas Aitarak dan Eurico telah tiba."
"Eurico ada di sana?" Saya melirik kolega yang
menemani perjalanan saya dari Jakarta, dan dia balas
menatap penuh makna. Kami baru mendarat di Dili kurang
dari satu jam yang lalu, dan ini adalah sebuah keberuntungan.
"Eurico benar-benar ada di sana, Basilio?" "Dia ada di sana."
"Kamu bisa jadi penerjemah kami." "Akan saya
terjemahkan." Kami ambil buku catatan kami dan berjalan keluar hotel
bersama Basilio menyusuri tepi pantai.
Eurico Guterres adalah pemimpin Aitarak, kelompok
milisi cabang Dili yang berjuang menentang kemerdekaan
dari Indonesia. Aitarak berarti "Duri". Eurico dan orang-orangnya adalah wajah
yang tak dapat diterima dalam
premanisme orang Timor. Ada banyak cerita seram tentang apa yang berlangsung
di Hotel Tropicale dan tak ada yang bisa mengingat kapan
hotel itu pertama kali menerima tamu yang membayar. Ada
yang mengatakan dulunya hotel itu merupakan kantor intel
serta pusat penyiksaan, dan kini tempat itu adalah markas
Eurico. Seorang Timor bertubuh pendek gempal mengena k a n
kemeja hitam dan jeans menyalami Basilio saat kami
masuk. Di ujung halaman yang tidak rapi ada sebuah aula
remang-remang berisi bermacam perabotan aneh dan
sebuah papan yang ditempeli peta besar pulau Timor. Di
atas sebuah meja rendah, mayat itu dibaringkan.
Mayat itu seorang lelaki usia dua puluhan, dengan
pakaian celana panjang khaki dan t-shirt. Dia dipancing
keluar ke pelabuhan pagi itu, dan semalaman terendam
dalam air telah menghapuskan darah dari pakaian dan
kulitnya. Wajahnya hancur dan menghitam, serta luka
tikam menganga dapat terlihat di leher dan bahunya.
Pinggiran kulit yang sobek sudah berubah putih, seperti
jempol kaki sehabis mandi terlalu lama.
Seorang juru kamera Australia menggerakkan
kameranya dengan perlahan ke sepanjang meja. Di
ujungnya berdiri Eurico, mengomel keras tak putus-putus
dengan wajah berang. Dia bersosok besar padat, berambut
sebahu yang terurai dari balik topi bisbol putih. Dia
mengangguk ke arah kami saat kami masuk, dan Basilio
segera m u I a i m e n e r j e m a h k a n.
"Dia bilang, 'Kami sudah didatangi wartawan. Polisi
Indonesia juga sudah datang. Tapi, mana perwakilan PBB
yang datang untuk menyampaikan belasungkawa" Mereka
tidak ke sini, mereka tidak tertarik, karena kawan-kawan
merekalah yang melakukan ini, teman-teman pembunuh
mereka di kelompok pro-kemerdekaan. Mereka datang ke
negeri kita berjanji untuk bersikap netral, nyatanya mereka
mendukung dan ..." Basilio berhenti sejenak, mencari-cari kosakata yang
impresif, "... membebaskan hanya satu pihak dari segala tuduhan kejahatan. Kami
menolak sikap partisan dan bias mereka, dan kami ingatkan bahwa PBB
sedang mendorong rakyat Timor Timur ke dalam lautan
darah dan api.1" Bulir keringat menetes di pipi Eurico; matanya berkilat
Cinta Berlumur Darah 1 Pusaka Pulau Es Karya Kho Ping Hoo Han Bu Kong 3
^