Pencarian

Dracula 1

Dracula Karya Bram Stoker Bagian 1


This document was generated by Trial version of ABC Amber Text Converter program
Kuangkat tutup peti mati itu, dan apa yang kulihat membuat jiwaku menggigil oleh
rasa takut. Count itu terbaring di situ, tapi ia seperti telah mendapatkan kembali separo
masa mudanya, karena rambut dan kumisnya yang sudah putih berubah menjadi kelabu
kehitaman. Bibirnya berlumuran darah segar yang menetes dari sudut-sudut
mulutnya, dan mengalir ke dagu dan lehernya. Makhluk mengerikan itu boleh
dikatakan memuntahkan darah. Ia terbaring bagaikan seekor lintah yang keletihan
karena kekenyangan. Senyum mengejek yang terbayang di wajahnya yang membengkak
itu membuatku amat marah.
Inilah makhluk yang sedang kubantu kepindahannya ke London, ke tempat selama
berabad-abad yang akan datang ia akan memangsa orang-orang tak berdaya. Kusambar
sebuah sekop, lalu kuhantamkan mata sekop-ke wajah menjijikkan itu. Waktu itu
kulakukan, kepala makhluk itu berpaling dan matanya mengarah tepat kepadaku,
membelalak dengan sangat mengerikan. Aku terpaku. Sekop itu terlepas-dari
tanganku. Yang terakhir kulihat adalah wajah yang bengkak, berlumuran darah, dan dihiasi
senyum jahat yang agaknya akan tetap dibawanya sampai ke neraka jahanam.
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan
alas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu
ciplaan alau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama
7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000 - (seratus juta
rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, alau menjual
kepada umum suatu ciptaan alau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana
dimaksud {(alam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama S (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh jula rupiah).
Bram Stoker DRACULA 1 Scanned book shook ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSILKAN
atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan
BBSC Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1993
DRACULA by Bram Stoker All new material copyright " 1988 by Tom Doherty
Associates, Inc. DRACULA 1 Alihbahasa: Ny. Suwarni AS. GM 402 93.708 Hak cipta terjemahan
Indonesia oleh: Penerbit PT Gramcdia Pustaka Ulama, Jl. Palmerah Selaian 24-26,
Jakarta 10270 Gambar sampul oleh David Diterbitkan pertama kali oleb Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Maret 1993
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan KDT)
STOKER, Bram ; 1. 1847 - Dracula / Bram Stoker ; alihbahasa, Ny Suwarni AS. Cet. 1. Jakarta : ? ?Gramedia Pustaka Utama, 1993. 2 jil. ; 18 cm. ; 384 him
Judul asli: Dracula. ISBN 979-511-707-6 (no. jil. lengkap)
ISBN 979-511-708-4 (jil. 1)
ISBN 979-511-709-2 (Jil-2)
I. Judul. H. Suwarni AS. 828.308 738 Dicetak oleh Percetakan FT Gramedia, Jakarta
Isi'di luar tanggung jawab Percetakan PT Gramedia
Untuk Temanku Tersayang HOMMY-BEG
Scanned book (sbook) ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSUKAN
atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan
BRSC Kehidupan Bram Stoker 1847 1912
?Abraham -bram" stoker dilahirkan di dekat Dublin pada tanggal 8 November 1847.
Ia adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Suatu penyakit yang tak dapat
dikenali menyebabkan ia boleh dikatakan terbaring saja di tempat tidur sampai
berumur tujuh tahun. Apakah penyakit itu merupakan penyakit fisik ataukah ada
unsur psikisnya" Itukah pula yang menyebabkan Stoker berulang kali jatuh sakit"
Seperti juga sebagian besar kehidupan Stoker, kebenaran dari keadaan itu tetap
merupakan misteri terselubung.
Meskipun tak dapat menghilangkan sifat pemalu dan kutu bukunya, setelah dewasa
Bram Stoker sama sekali tidak sakit-sakitan lagi. Mungkin un-f tuk mengimbangi
masa kecilnya yang lemah, maka ia menjadi seorang olahragawan yang baik. Di
Trinity College, Dublin, ia berhasil mengalahkan sifat pemalunya, sampai-sampai
mendapat gelar Olahragawan Universitas, karena kecakapannya dalam sepakbola dan
jalan maraton. Ia bukan lagi sosok lemah seperti yang mungkin kita bayangkan,
7 melainkan telah menjadi seorang pemuda bertubuh tegap dan ramah-tamah, yang suka
bepergian, tangkas dalam berdebat, dan memelihara janggut Ia tamat dari Trinity
College dengan nilai tinggi dalam matematika, tapi kemudian mengalihkan
perhatiannya pada soal-soal kehidupan.
Bram muda sudah lama memimpikan untuk menjadi penulis, tapi ayahnya punya
rencana-rencana yang lebih aman. Bram mengalah pada keinginan orangtuanya, lalu
mengikuti jejak ayahnya menjadi pegawai negeri di Dublin Castle. Dalam meniti
kariernya sebagai pegawai negeri, ia sempat menulis sebuah buku yang tidak
menarik, berjudul Duties of Clerks of Petty Sessions in Ireland. Tapi buku yang
berisi peraturan-peraturan ini baru diterbitkan pada tahun 1879. Waktu itu
Stoker sudah menikah, tinggal di negeri lain, dan sudah pindah ke bidang
pekerjaan lain. j, , -: Selama delapan tahun menjalankan lugasnya sebagai pegawai negeri, Stoker terus
menulis cerita-cerita. Yang pertama adalah sebuah fantasi impian berjudul The
Crystal Cup (1872), diterbitkan oleh The London Society. Tiga tahun kemudian
menyusul sebuah cerita horor yang terdiri atas empat seri, berjudul The Chain of
Destiny yang diterbitkan dalam The Shamrock. Ia juga masih punya waktu untuk
menerima pekerjaan tanpa bayaran sebagai kritikus teater untuk surat kabar
Evening Mad di Dublin, dan kemudian sebagai editor The Irish Echo.
Waktu masih kuliah di Trinity, Stoker sangat
8 terkesan oleh bakat akting Henry Irving, yang pernah dilihatnya dalam sebuah
pertunjukan di Theatre Royal di Dublin. Hampir sepuluh tahun kemudian, Irving
datang lagi ke Dublin untuk membintangi peran Hamlet. Resensi Stoker yang
mengandung pujian dalam The Mail agaknya menarik perhatian aktor itu, dan
penulis resensi itu diundangnya untuk menemuinya di balik panggung. Sejak itu
berkembanglah persahabatan antara mereka berdua, yang berlangsung selama hampir
tiga puluh tahun. Dua tahun kemudian, pada tahun 1878, Irving menawari Stoker pekerjaan sebagai
manajer aktor di London's Lyceum Theatre. Stoker langsung berhenti menjadi"
pegawai negeri, menjalin hubungan dengan Florence Balcombe, seorang gadis cantik
berumur sembilan belas tahun, yang dinikahinya tahun berikutnya. Dan mereka pun
memulai hidup bani di London. Setahun kemudian, Florence melahirkan anak tunggal
mereka, seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Noel. Tapi kata orang,
setelah itu Stoker dan istrinya tak rukun lagi, meskipun mereka masih tetap
muncul berdua di tempat-tempat pertemuan.
Bagaimanapun juga, beban kerja Stoker yang berat tidak memungkinkannya
memberikan cukup - iktu untuk kehidupan rumah tangga. Tugas-gasnya meliputi
pengawasan terhadap lebih dari -ratus dua puluh karyawan, mengatur urusan tur
i*ternasional, menulis surat-menyurat dalam jumlah besar, memegang pembukuan
Lyceum, dan w melindungi aktor yang sedang amat dikagumi itu dari orang-orang yang mungkin
ingin memanfaatkan kemasyhurannya.
Namun, sungguh mengagumkan, Stoker masih juga punya waktu untuk menulis buku-
buku cerita. Bukunya yang pertama, Under the Sunset (1882), terdiri atas delapan
buah dongeng mengerikan untuk anak-anak. Novel lengkapnya yang pertama, The
Snake's Pass, diterbitkan pada tahun 1890. Pada tahun itu pula ia memulai
risetnya untuk karya akbarnya, Dracula, yang setelah dibaca umum beberapa tahun
kemudian, meluncurkan tokoh utamanya yang haus darah, Count Dracula (atau
mungkin juga penulisnya sendiri), ke arah kemasyhuran.
R.L. Fisher Scanned book sbook ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSELKAN
atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan
HRSC 10 Kata Pendahuluan Count dracula tergolong pada kelompok terkemuka tokoh-tokoh fiksi abad
kesembilan belas, yang telah mencekam imajinasi orang sejak zaman Victoria, dan
yang popularitasnya berlanjut sampai masa kini. Seperti juga Sherlock Holmes,
monster Frankenstein, dan lain-lain yang tak banyak jumlahnya, Count Dracula
memiliki sesuatu yang ajaib mungkin bisa disebut karisma atau bahkan daya ?tarik luar biasa yang agaknya membuatnya makin populer dengan berlalunya waktu.
?Apa kunci keberhasilan Dracula yang bertahan lama itu" Apakah itu karena Bram
Stoker memiliki daya kreasi yang demikian kuat hingga ia mampu mencekam minat
pembaca sampai beberapa generasi, hanya dengan menggunakan sedikit saja daya
imajinasinya" Tidak, Bram Stoker kurang sesuai dikenang sebagai seorang pemikir sejati atau
orang berimajinasi besar pada zamannya. Ia jelas tidak memegang peran dalam
penemuan tokoh vampir (pengisap darah). Dongeng-dongeng seram tentang makhluk
yang tak bisa mati sudah lama sekali
11 dikenai dalam kisah-kisah rakyat di Eropa. Karena ia dibesarkan di Irlandia,
Bram Stoker pasti telah mengenal, berbagai kisah tentang jin dan makhluk halus,
yang di antaranya punya kecenderungan sebagai pengisap darah. Ia pasti sudah
mendengar dari ibunya, dongeng-dongeng tentang peri tua renta yang dikenal
sebagai makhluk jadi-jadian, seperti Red B dsucker atau Dearg-due, yang di- *
katakan memasuki tubuh anak-anak yang jiwanya sudah diracuni. Juga pemimpin
peri, Leanhaun Shee, yang memanfaatkan daya tarik kewanitaannya untuk menjerat
korbannya yang malang, dan mengisap kekuatan serta kemauannya sampai ha^-bis.
Namun, kalaupun Stoker telah menarik ilham dari banyak sumber, sewaktu menulis
karya besar- ^ nya yang mengerikan itu, tak dapat dikatakan bahwa karyanya
tersebut kekurangan imajinasi atau keaslian tidak. Kalaupun garis cerita
?Dracula banyak meniru bentuk roman dan tradisi masa Gotik, penanganan Stoker
mengenai vampirisme tidak ter-~ batas pada tradisi-tradisi itu. Kalaupun ia
telah secara bebas meminjam dari sumber-sumber sejarah, dan meskipun dalam
kreasinya ia telah mengambil gaya penulisan fiksi, baik yang ter- ^ masyhur
seperti Macbeth karya Shakespeare, maupun yang kurang terkenal seperti The
Vampyre karya Polidori, Stoker tetap harus dipuji karena telah mengolah ramuan-
ramuan itu menjadi suatu karya asli yang amat memukau.
Mungkin perbedaan paling mencolok antara to -
12 koh mengerikan dari Stoker dan tokoh-tokoh dari penulis-penulis sezamannya
adalah bahwa tokoh-tokoh pada masa itu bersifat moral ganda, sedangkan Count
Dracula adalah suatu contoh jelas dari kejahatan sejati. Bandingkanlah dia
dengan monster imajinasi Mary Shelley dalam Frankenstein (1818), yang telah
menimbulkan simpati besar para pembacanya, atau dengan tokoh berwatak ganda
dalam buku karangan Robert Louis Stevenson, The Strange Case of Dr. Jekyl and
Mr. Hyde (1886), yang sangat menyesali perubahan dirinya pada malam hari
(sesuatu yang memang sepantasnya disesalinya). Tokoh utama yang punya kelainan
jiwa dan haus darah ciptaan Stoker itu lak kenal rasa sesal, dan tak sempat
mengontrol dirinya. Mana mungkin" Ia terlalu sibuk mengubah dunia ke arah
vampirisme. Jadi sebaiknya kita mengakui bahwa Bram Stoker sama sekali tidak kekurangan daya
khayal dan keaslian. Tapi banyak penulis sezamannya yang juga imajinatif namun
kurang berhasil. Seperti misalnya J.S. LeFanu yang menulis Carmilla
(1871 1872). Karya itu dibaca oleh Stoker, dan pasti telah mempengaruhi keputu ?anny untuk menggali soal vampirisme lebih dalam lagi. Secara $ umum, karya
tersebut dianggap lebih baik daripada 'Dracula bila ditinjau dari segi
penulisannya. Lalu mengapa Dracula memberikan kesan yang tak terhapuskan dalam pikiran orang
banyak, sedangkan hasil-hasil karya lain yang mungkin sama imajinatifnya melemah
dan akhirnya tak dikenal TAfWAN BACAAN
13 ?"I A YA A"X%m "
YOG YAK Ait f A lagi" Apakah itu disebabkan oleh kemampuan Stoker yang unik sebagai penempa
kata-kata, dialognya" vang hidup, realita yang tak terbantah dalam bagian-bagian
yang deskriptif, serta kedalaman emosi yang diserapkannya dalam melukiskan
tokoh-tokohnya" Tidak juga. Secara teknis, tulisan Stoker banyak kekurangannya. Banyak tokoh
Stoker, kecuali Count Dracula sendiri, hanya ditinjau dari satu sisi, dan tidak
dilukiskan dengan keahlian khusus, dialognya sering kaku, sedangkan bagian-
bagian tulisannya yang deskriptif cenderung terlalu banyak menggunakan kata-kata
dan sentimen berlebihan. Mengenai tulisannya yang lain, sekarang hanya sedikit yang diingat orang.
Seperti romannya yang tak menarik, Miss Betty (1898). Dan bagaimana pula dengan
The Lady of die Shroud (1909) atau The Lair of die White Worm (1911)" Jawabnya
adalah bahwa buku-buku itu senasib dengan cerita-cerita seperti The Judge's
House, The Squaw, The" Secret of the Growing Gold, dan The Burial of the Rats
yang meskipun cukup baik namun semuanya sudah dilupakan.
Jadi, bila bukan karena penulisnya dan bukan pula karena kekuatan imajinasi si
pengarangnya, mengapa pandangan Stoker tentang vampir itu terbukti lebih
bertahan daripada semuanya"
Pertanyaan itu tak dapat dijawab dengan sederhana. Keistimewaan Dracula tak
mungkin terletak pada plotnya, gayanya, dialognya, atau pada
14 bagian-bagiannya yang deskriptif. Bila Dracula terus bertambah populer seabad
setelah penulisannya, sepatutnyalah kita kemukakan beberapa unsurnya yang baik,
yaitu temanya yang luar biasa kuat, penggunaan sudut pandangnya yang beragam,
kemampuannya untuk mencakup beberapa bidang (intelektual, emosional, maupun
seksual), adanya beberapa peristiwa yang benar-benar mengerikan, dan mungkin
yang paling penting adalah kemampuan penulisnya meninjau ke dalam jiwa manusia.
Efek Dracula sangat cocok kalau disamakan dengan efek suatu mimpi buruk Kita tak
bisa menyentuh mimpi buruk, tak bisa menimbang atau mengukurnya. Tapi tak
seorang pun bisa membantah rasa takut yang ditimbulkannya pada diri kita.
Seperti dalam mimpi buruk, Dracula memberikan suatu peringatan, suatu alarm yang
tak nyata tapi sekaligus ada, suatu gaung yang halus namun mengganggu, yang tak
tertangkap oleh akal sehat kita, tapi tertangkap dengan nyaring dan jelas oleh
organ-organ bawah sadar kita yang lebih peka.
Jadi, keberhasilan Dracula untuk bertahan sebaiknya kita anggap sekurang-
?kurangnya sebagian. adalah berkat kemampuan unik Bram Stoker untuk melihat
?dunia dari segi di mana impian adalah kenyataan dan kesadaran adalah mimpi. Dan
tanpa berpanjang-lebar lagi, marilah kita ikuti petualangan Jonathan darker,
sejak ia memulai perjalanannya yang menentukan, ke dunia vampir
T A 'V" A *y j" j ^
? " ">*. 15 OLKAi^t?YOG"aKa#i A
/ yang ajaib dan ke sisi teramat gelap dari pikiran manusia.
R.L. FLsher Scanned book sbook ini hanya untuk koleksi pribadi. DILARANG MENGKOMERSILKAN
atau hidup anda mengalami ketidakbahagiaan dan ketidakberuntungan
BBSC 16 Bab 1 CATATAN HARIAN JONATHAN HARKER (ditulis dengan huruf steno)
3 Mei. Bistritz. -Berangkat dari Munich jam 20.35 malam, pada tanggal 1 Mei,
?tiba di Wina pagi-pagi keesokan harinya. Seharusnya tiba jam 06.46, tapi kereta
api terlambat satu jam. Dari pemandangan-pemandangan yang dapat kulihat sekilas
dari kereta api, dan dari bagian kecil jalan-jalan yang sudah kulewati, agaknya
Budapest adalah suatu kota yang amat bagus. Aku takut pergi jauh-jauh dari
stasiun, soalnya kami tadi tiba terlambat, dan ingin berangkat setepat mungkin
pada waktunya. Aku mendapat kesan bahwa kami sedang meninggalkan Eropa Barat dan
memasuki wilayah Timur. Melalui jembatan-jembatan paling barat Sungai Danube,
yang di bagian itu sangat lebar dan sangat dalam, kami memasuki wilayah
bertradisi Turki. Kami berangkat pada waktu yang cukup tepat, dan tiba di Klausenburgh pada senja
hari. Di situ aku bermalam di Hotel Royale. Aku makan malam agak larut.
Makanannya terdiri atas ayam yang


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

17 dimasak dengan lada merah, cukup enak, tapi membuatku haus {Ingat, minta
resepnya untuk Mina). Aku bertanya pada pelayan, dan dikatakannya bahwa makanan
itu bernama paprika hendl dan karena makanan itu merupakan iauk nasional, aku
bisa mendapatkannya di mana pun di sepanjang daerah Carpathia. Bahasa Jerman-ku
yang sangat terbatas, berguna sekali di sini. Entah bagaimana aku bila tidak
memiliki pengetahuan itu.
Karena aku punya waktu senggang sewaktu berada di London, aku mengunjungi
British Museum. Di bagian perpustakaannya aku mencari buku-buku dan peta-peta
mengenai Transylvania. Ternyata pengetahuan tentang negeri itu sangat besar
manfaatnya untuk berurusan dengan seorang ningrat di sana. Ternyata pula bahwa
daerah yang disebutkannya itu terletak di ujung timur negeri itu, di perbatasan
antara tiga negara: Transylvania, Moldavia, dan Bukovina, di tengah-tengah
Pegunungan Carpathia yang merupakan salah satu bagian Eropa yang paling lebat
hutannya dan paling kurang dikenal. Aku tak berhasil menemukan di peta atau di
buku petunjuk mana pun, letak yang tepat dari Puri Dracula itu, karena negeri
itu belum memiliki peta-peta yang setaraf dengan peta-peta Ordnance Survey yang
kita miliki. Tapi kudapati bahwa Bis tritz, kota persinggahan yang disebut oleh
Count Dracula itu, adalah sebuah tempat yang cukup dikenal. Akan kucantumkan
catatan-catatanku di sini, supaya bisa menyegarkan ingatanku bila ke
18 lak aku bercakap-cakap dengan Mina tentang perjalanan-perjalananku ini.
Penduduk Transylvania terdiri atas empat wilayah kebangsaan di daerah selatan,
suku Saxon yang berbaur dengan suku Wallach, yaitu keturunan suku Dacian, suku
Magyar di sebelah barat, dan suku Szekely di timur dan utara. Aku akan berada di
antara suku Szekely yang mengaku keturunan dari Atilla dan bangsa Hun. Itu
mungkin benar, karena waktu suku Magyar merebut negeri ini pada abad kesebelas,
mereka menemukan bangsa Hun sudah ada di situ. Aku pernah membaca bahwa semua
takhayul yang dikenal dunia, terkumpul pada ladam kuda orang Carphatia, yang
seolah-olah merupakan pusat dari lingkaran khayalan. Kalau itu benar,
keberadaanku di sini pasti akan menarik sekali (Ingat, aku harus menanyakan itu
semua pada Count). Tidurku tak nyenyak, meskipun tempat tidurku cukup nyaman, karena mimpiku aneh-
aneh. Apalagi ada anjing yang melolong sepanjang malam di bawah jendelaku.
Mungkin mimpiku yang aneh-aneh disebabkan oleh hal itu, atau mungkin juga gara-
gara paprika yang kumakan tadi, karena aku tadi harus meminum air dalam kendiku
sampai habis, tapi masih juga haus. Menjelang pagi baru aku tertidur, dan aku
dibangunkan oleh ketukan panjang pada pintu kamarku. Mungkin tidurku nyenyak
waktu itu. Sar panku lagi-lagi terdiri atas paprika dan semacam bubur dari
tepung jagung, yang kata mereka bernama mamaliga, dan terung
19 berisi daging cincang yang enak sekali, dan mereka namakan impletata (Ingat,
minta juga resep masakan ini). Aku harus cepat-cepat makan, karena kereta api
akan berangkat jam delapan kurang sedikit. Yah, setidaknya seharusnya berangkat
jam sekian. Tapi, setelah aku bergegas pergi ke stasiun pada jam setengah
delapan, ternyata aku harus duduk menunggu di kereta api lebih dari satu jam,
sebelum kereta mulai bergerak. Menurut pengamatanku, makin ke timur, makin tak
tepat ke berangkatan kereta api. Jadi bagaimana keadaannya di Cina"
Sepanjang hari itu kereta rasanya berjalan malas-ntalasan, melewati daerah-
daerah berpemandangan indah dan beraneka ragam. Kadang-kadang kami melihat kota-
kota kecil, atau puri di puncak bukit-bukit terjal, seperti yang biasa kita
lihat dalam buku-buku misi tua. Kadang-kadang kami menyusuri sungai-sungai, ada
yang besar dan ada yang kecil. Agaknya sungai-sungai itu menjadi penyebab banjir
besar, karena kedua belah tepinya luas dan berbatu-batu. Pasti diperlukan banyak
air yang alirannya kuat untuk menyapu bersih tepi luar sungai itu. Di setiap
stasiun kelihatan orang berkelompok-kelompok, kadang-kadang banyak sekali,
pakaian mereka beraneka ragam. Ada di antaranya yang sama benar dengan pakaian
buruh tani di Inggris, atau dengan buruh tani yang biasa kulihat datang dari
Prancis atau Jerman. Tapi yang lam bagus-bagus sekali. Kaum wanitanya cantik-
cantik, kalau dilihat dari jauh, tapi bagian ping-20
gang mereka kurang bagus. Lengan baju mereka semuanya putih, dengan beraneka
macam model, dan kebanyakan di antaranya memakai ikat pinggang lebar dengan
bermacam-macam hiasan yang berumbai-rumbai seperti pakaian balet. Dan semuanya
memakai pakaian dalam lebar. Yang paling aneh adalah penampilan orang-orang
Slowak, -yang dianggap paling barbar dari semuanya. Mereka mengenakan topi koboi
yang besar, celana lebar berwarna putih kotor, kemeja linen putih, dan ikat
pinggang kulit yang amat berat, hampir tiga puluh sentimeter lebarnya, dan
seluruhnya berhiaskan paku-paku kuningan. Mereka mengenakan sepatu lars tinggi,
dan kaki celananya dimasukkan ke dalamnya. Rambut mereka panjang dan hitam,
begitu pula kumis mereka. Mereka memang sangat menarik perhatian, meskipun
kelihatannya mereka tak suka menonjolkan diri. Di pentas, mereka pasti akan
ditampilkan sebagai gerombolan penyamun dari Timur. Tapi kata orang, mereka sama
sekali tidak berbahaya, dan hanya mengurus urusan mereka sendiri saja.
Senja sudah larut waktu kami tiba Bistritz, sebuah kota tua yang amat menarik.
Karena praktis berada di perbatasan Celah Borgo memanjang dari situ sampai ke ?
Bukovina kota itu telah mengalami gejolak, dan bekas-bekasnya masih tampak ?jelas Lima puluh tahun yang lalu terjadi serangkaian kebakaran besar yang telah
menimbulkan kekacauan hebat pada lima peristiwa terpisah. Pada awal abad ketujuh
belas, kota itu "taMa !m ~~b a c a an
21 "jaya $^mtF* pernah mengalami pengepungan selama tiga ming gu, dan telah kehilangan tiga
belas ribu orang. Bencana bentana perang itu disusul pula oleh kelaparan dan
penyakit-penyakit. Berdasarkan petunjuk Count Dracula, aku harus menginap di Golden Krone Hotel.
Aku senang sekali, karena kudapati hotel itu benar-benar kuno. Aku tentu ingin
sekali melihat sebanyak mungkin adat kebiasaan negeri itu. Rupanya aku memang
sudah ditunggu, karena waktu aku tiba di dekat pintu, aku disambut oleh seorang
wanita setengah baya yang amat ceria, yang seperti biasanya berpakaian seperti
buruh tani rok panjang putih dengan celemek ganda yang panjang pula di depan
?dan di belakang, dari bahan beraneka warna yang diikat amat ketat. Waktu aku
sudah dekat, ia membungkuk dan berkata, "Herr Inggris?"
"Ya," sahutku, "Jonathan Harker." Ia tersenyum, lalu mengatakan sesuatu pada
seorang pria setengah baya berkemeja putih yang mengikutinya ke pintu. Pria itu
pergi, tapi segera kembali dengan membawa sepucuk surat. Bunyinya,
Sahabatku. Selamat datang di Carpathia. Aku sangat mengharapkan kedatangan
?Anda. Tidurlah dengan nyenyak malam ini Jam tiga besok, ada kereta yang akan
berangkat ke Bukovina. Sudah dipesankan tempat untuk Anda di kereta itu. Di
Tuan 22 Celah Borgo, keretaku akan siap menunggu Anda, dan mengantarkan Anda ke
tempatku. Aku yakin perjalanan Anda dari London menyenangkan, dan Anda akan
senang berada di negeriku yang indah ini.
Sahabatmu, Dracula. 4 Mei. Ternyata pemilik hotel sudah menerima surat dari Count, yang memberikan
?instruksi supaya menyiapkan tempat terbaik bagiku di kereta. Tapi waktu aku
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terinci, ia jadi agak enggan
berbicara, dan berpura-pura tak mengerti bahasa Jerman yang kuucapkan. Itu jelas
tak benar, karena sebelum itu ia memahaminya dengan baik sekali, atau sekurang-
kurangnya ia telah menjawab pertany n pertanyaanku dengan tepat. Ia dan
istrinya, wanita tua yang tadi menyambutku, saling pandang dengan ketakutan. Ia
hanya bergumam bahwa uangnya telah dikirim bersama surat, dan hanya itulah yang
diketahuinya. Waktu kutanyakan apakah ia kenal pada Count Dracula, dan apakah ia
bisa menceritakan sedikit tentang purinya, ia dan istrinya membuat tanda salib.
Dan setelah mengatakan ia tak tahu apa-apa, ia sama sekali tak mau berbicara
lagi. Waktu keberangkatanku sudah amat dekat, hingga aku tak sempat bertanya
pada orang lain. Kelihatannya semuanya misterius sekali, dan sama sekali tidak
melegakan. 23 Sesaat sebelum aku berangkat, wanita tua itu datang ke kamarku, dan berkata
dengan kacau dan gugup sekal
"Haruskah Anda pergi" Oh, Herr muda, haruskah Anda pergi?" Begitu gugupnya ia,
hingga ia lupa akan bahasa Jerman yang dikuasainya sedikit, dan dicampuraduknya
dengan suatu bahasa lain yang sama sekali tak kukenal. Aku baru bisa
mengikutinya setelah mengajukan banyak pertanyaan. Waktu kukatakan padanya bahwa
aku harus segera pergi, dan bahwa aku ada urusan yang penting sekali, ia
bertanya lagi, "Tahukah Anda hari apa hari ini?" Kujawab bahwa hari ini adalah
tanggal 4 Mei. Ia menggeleng sambil berkata lagi,
"Oh, ya! Saya tahu itu! Saya tahu itu, tapi tahukah Anda hari apa hari ini?".
Waktu kukatakan bahwa aku tak mengerti apa maksudnya, ia berkata lagi,
"Ini adalah malam hari St. George. Tidakkah Anda tahu bahwa malam ini, saat jam
berbunyi menyatakan tengah malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas
merdeka" Tahukah Anda tempat yang Anda tuju itu, dan apa yang sedang Anda
lakukan ini?" Jelas sekali bahwa ia sangat khawatir, hingga aku mencoba
menghiburnya, namun tak berhasil. Akhirnya ia menjatuhkan dirinya, berlutut, dan
memohon agar aku tidak pergi, atau setidaknya menunggu sehari-dua hari lagi baru
berangkat. Semuanya itu tak masuk akal. Tapi aku merasa tak enak juga. Namun ada
urusan yang harus kulaksanakan, dan aku tak bisa
24 membiarkan apa pun juga menghalanginya. Sebab itujiucoba mengangkat wanita tua
itu, dan berkata dengan sangat bersungguh-sungguh bahwa aku berterima kasih
padanya, tapi tugasku sangat mendesak, dan aku tetap harus pergi. Lalu ia
bangkit dan menyeka matanya. Kemudian diambilnya sebuah salib di lehernya, dan
diberikannya padaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai seorang Inggris
yang taat beragama, aku diajar untuk menganggap hal-hal semacam itu sebagai
pemujaan yang salah. Tapi rasanya tak pantas menolak pemberian seorang wanita
tua yang bermaksud baik, dan sedang dalam keadaan kacau begitu. Kurasa ia
melihat keraguan di wajahku, sebab ia lalu mengalungkan rosario bersalib itu ke
leherku, dan berkata, "Terimalah, demi ibu Anda," dan ia langsung keluar dari
kamarku. Bagian dari catatanku ini kutulis ketika aku sedang menunggu kereta
yang tentu saja terlambat, dan salib itu masih tergantung di leherku. Apakah aku
telah ketularan rasa takut wanita tua itu, ataukah karena banyaknya tradisi
mengerikan di tempat ini, ataukah gara-gara salib itu sendiri, aku tak tahu.
Tapi aku sama sekali tidak merasa tenang seperti biasanya. Bila buku catatan ini
diterima oleh Mina sebelum aku kembali, berarti ini merupakan ucapan selamat
tinggal dariku. Itu kereta datang!
5 Mei. Puri. Kelabu pagi hari telah berlalu, dan matahari sudah tinggi di atas ?cakrawala yang jauh. Cakrawala itu kelihatan bergerigi, entah ka -
25 rena pohon-pohon atau karena bukit-bukit, aku tak tahu, karena terlalu jauh,
hingga apa-apa yang besar maupun yang kecil tcrbaur saja. Aku belum mengantuk,
dan karena aku tak akan dibangunkan dan bisa bangun semauku, maka aku menulis
saja sampai mengantuk. Banyak hal aneh yang harus kutuliskan. Supaya orang yang
membaca catatanku ini tidak menyangka bahwa aku telah makan terlalu banyak
sebelum berangkat dari Bistritz, akan kutuliskan apa-apa yang telah kumakan. Aku
makan apa yang mereka sebut robber steak, yaitu potongan-potongan lemak babi,
bawang bombai, dan daging sapi yang dibumbui dengan lada merah dan ditusukkan
pada lidi, lalu dipanggang. Anggurnya adalah anggur Golden Mediasch, yang
menimbulkan rasa menyengat yang aneh pada lidah, meskipun bukan berarti tak
enak. Aku hanya minum beberapa gelas, tak lebih.
Waktu aku naik ke kereta, kusirnya belum duduk di tempatnya, dan kulihat ia
bercakap-cakap dengan pemilik hotel itu. Jelas bahwa ia berbicara tentang
diriku, karena mereka sekali-sekali melihat padaku. Beberapa orang yang sedang
duduk di bangku di luar hotel, menghampiri mereka dan ikut mendengarkan, dan
menoleh pula padaku. Kebanyakan dari mereka melihat padaku dengan rasa iba.
Kudengar banyak kata yang sering diulang-ulang, kata-kata aneh, karena di antara
kumpuian orang banyak itu terdapat banyak suku bangsa. Maka diam-diam
kukeluarkan kamus aneka bahasaku dari tas, dan kucari arti kata-kata itu. Ter
26 nyata kata-kata itu mempunyai arti yang tak bagus. Di antaranya adalah
ordog artinya setan, pokol artinya neraka, stregoica artinya sihir, vrolok ? ? ?dan vlkoslak keduanya mempunyai arti yang sama. Yang satu adalah bahasa Slovak,
?dan yang satu lagi bahasa Servia, artinya serigala jadi-jadian atau vampir
(Ingat, harus kutanyakan takhayul itu pada Count).
Waktu kami berangkat, jumlah orang yang berkumpul di dekat pintu penginapan itu
telah bertambah banyak. Mereka semua membuat tanda salib dan mengacungkan dua
jari ke arah diriku. Dengan susah payah aku berhasil meminta bantuan seorang
penumpang untuk memberitahukan apa maksud mereka. Mula-mula ia tak mau menjawab,
j tapi setelah mendengar bahwa aku orang Inggris, dijelaskannya bahwa itu suatu
penangkal atau penjagaan terhadap mata setan. Hal itu membuatku ta'k senang. Aku
baru saja akan berangkat ke tempat yang tak kukenal, akan menemui seseorang yang
tak kukenal pula, tapi semua orang kelihatannya ingin berbaik hati padaku,
kelihatan sedih sekali dan begitu simpatik, hingga mau tak mau aku merasa
terharu. Aku takkan pernah melupakan if pemandangan terakhir di halaman
penginapan itu, juga semua orang yang ada di situ, yang mengenakan pakaian indah
beraneka ragam. Mereka semua membuat tanda salib. Mereka berdiri di sekitar
gerbang yang pintunya melengkung dan lebar, berlatar belakang pohon-pohon
oleander dan jeruk yang berdaun rimbun di dalam tong-tong
27 berwarna hijau, mengelompok di tengah-lengah halaman. Lalu kusir kereta kami
yang bercelana linen sedemikian lebar, hingga memenuhi tempat duduknya di depan,
melecutkan cambuknya pada keempat kudanya yang kecil-kecil, yang dipasang
sejajar. Dan mulailah perjalanan kami.
Perasaan takutku pada setan-setan dengan segera terlupakan, karena melihat
pemandangan-pemandangan indah yang kami lewati. Tapi, seandainya aku tahu bahasa
mereka, atau tepatnya bahasa-bahasa yang dipakai oleh teman-teman
seperjalananku, pasti takkan semudah itu aku melupakannya. Di hadapan kami
terhampar tanah hijau yang melandai, penuh dengan hutan-hutan belukar, diselingi
bukit-bukit terjal di sana-sini. Di atasnya tumbuh sekelompok pepohonan atau
rumah-rumah petani yang dindingnya menghadap ke jalan. Di mana-mana terdapat
banyak pohon buah-buahan apel, prem, pir, ceri, semuanya sedang berbunga. Dan
?ketika kami lewat di situ, kulihat rumput hijau di bawah pohon-pohon itu
bertaburkan bunga-bunga yang gugur. Jalannya berbelok-belok, keluar-masuk di
celah-celah bukit-bukit hijau, di daerah yang kata mereka bernama Mittel Land
itu. Lalu, setelah memasuki sebuah tikungan berumput, jalan itu seolah-olah
hilang atau terlindung oleh pohon-pohon pinus yang tumbuh berserakan di sisi-
sisi bukit, seperti nyala lidah api. Jalannya berbatu-batu, tapi kami serasa
terbang melewatinya dengan kecepatan sangat tinggi. Waktu itu aku tak mengerti
mengapa harus 28 secepat itu. Kelihatannya pengemudinya bertekad untuk secepatnya tiba di Borgo
Prund. Menurut cerita mereka, jalan itu bagus sekali dalam musim panas, tapi
sekarang belum dibersihkan dari bekas salju musim dingin. Dalam hal itu,
keadaannya berbeda dari keadaan jalan-jalan Carpathia, karena sudah merupakan
tradisi lama di sana bahwa jalan-jalan tak boleh dipelihara terlalu baik. Zaman
dahulu, orang-orang Hospadar tak mau memperbaiki jalan-jalan, karena takut
bangsa Turki mengira mereka bersiap-siap memasukkan tentara asing, sehingga
mereka pun cepat-cepat mengumumkan perang, yang memang selalu mengancam kedua
bangsa itu. Lebih jauh dari bukit-bukit hijau Mittel Land, menjulang lereng-lereng berhutan
lebat, terus ke arah puncak Pegunungan Carpathia yang tinggi dan curam. Lereng-
lereng itu menjulang di km kanan kami, ditimpa sinar matahari petang yang
langsung menyinarinya, dan dengan demikian menonjolkan warna-warni indah dari
daerah yang permai ini. Warna-warna biru dan merah tua di bawah bayang-bayang
puncak, hijau dan coklat di tempat-tempat rumput dan batu karang membaur.
Kemudian terbentang batu karang bergerigi dan karang-karang yang berujung tajam,
sampai semuanya menghilang di kejauhan, di tempat puncak-puncak bersalju
menjulang dengan megah. Di sana-sini terdapat celah-celah pada gunung-gunung
itu. Melalui celah-celah itu, sekali-sekali kami melihat kilatan air terjun yang
putih memancar, di-TAMAN timpa sinar matahari yang mulai terbenam. Kami membelok melalui dasar sebuah
bukit, dan di hadapan kami tampak puncak sebuah gunung yang berselimutkan salju.
Puncak itu kelihatan tepat berada di hadapan kami, ketika kami melalui jalan
yang berliku-liku bagaikan ular. Waktu itu, seorang teman seperjalananku
mencolek lenganku dan berkata,
"Lihat, itu Isten szek! Takhta Tuhan!" dan ia pun membuat tanda salib dengan ?khidmat.
Sewaktu kami melalui jalan berliku-liku yang seolah tak berujung itu, dan
matahari tenggelam makin rendah di belakang kami, bayangan malam pun mulai
menyelimuti kami. Keadaan itu makin terasa, karena puncak gunung yang bersalju
masih menyimpan sinar lembut. Sekali-sekali kami berpapasan dengan orang-orang
Ceko atau Slowak yang semuanya berpakaian aneka warna. Yang menarik tentang
mereka adalah, kebanyakan di antara mereka menderita penyakit gondok. Di tepi
jalan terdapat banyak salib, dan waktu kami melesat melewatinya, semua teman


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperjalananku membuat tanda salib. Di sana-sini ada pula pria atau wanita yang
sedang berlutut di depan sebuah altar. Mereka sama sekali tak menoleh waktu kami
mendekat. Agaknya mereka sedang berdoa dengan demikian khusyuknya, hingga mata
dan telinga mereka tertutup terhadap dunia luar. Banyak hal yang baru bagiku di
situ, umpamanya jerami kering di pohon-pohon, serta kelompok-kelompok pohon ^ang
daunnya berjuntai di sana-sini, dan
30 batangnya tampak putih dan bersinar seperti perak di celah-celah daunnya yang
berwarna hijau lembut. Kadang-kadang kami berpapasan dengan letter -wagon, yaitu
gerobak petani yang berbadan panjang seperti ular,.sengaja dibuat demikian
?supaya sesuai dengan keadaan jalan yang tak rata. Di gerobak-gerobak itu pasti
duduk sejumlah buruh tani yang akan pulang. Yang berkebangsaan Ceko dengan tas
putih mereka, dan bangsa Slowak dengan tas-tas beraneka warna. Orang-orang
Slowak itu membawa tongkat seperti tombak, tapi berujung kapak.
Waktu malam tiba, udara menjadi dingin sekali. Senja yang makin larut, tenggelam
dalam kegelapan berkabut yang disebabkan oleh pohon-pohon. Tapi waktu kami
mendaki melewati Celah, di lembah-lembah yang dalam di antara bukit-bukit, masih
kelihatan pohon-pohon cemara*berlatar belakang salju. Kadang-kadang, saat kereta
memotong jalan melewati hutan pinus, yang dalam gelap seolah-olah mengurung
kami, maka kegelapan memberikan efek yang aneh dan mengerikan, menimbulkan
kembali pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan seram yang telah ditanamkan oleh
orang-orang tadi. Matahari yang baru tenggelam menimbulkan kabut kabut gelap
seperti hantu. Di tengah-tengah Pegunungan Carpathia itu, jalan seolah-olah melingkar tak
henti-hentinya, melewati lembah-lembah. Kadang-kadang lembah-lembah itu demikian
curamnya, hingga meskipun kami sangat tergesa-gesa, kuda-kuda hanya bisa
31 berjalan lambat-lambat. Aku ingin turun saja dan berjalan, seperti yang biasa
kulakukan di negeriku sendiri. Tapi pengemudi melarangku dengan keras. "Jangan,
jangan," katanya. "Anda tak boleh berjalan di sini, anjing-anjing terlalu buas."
Lalu ditambahkannya, mungkin untuk melucu karena ia menoleh pada para penumpang
?lain, yang tersenyum membenarkannya, "Dan, sebelum Anda tidur nanti, mungkin
Anda akan mengalami banyak hal seperti itu." Ia hanya berhenti sebentar untuk
menyalakan lampunya. Waktu malam makin gelap, para penumpang nampak gelisah, dan selalu ada saja yang
berbicara dengan pengemudi, seolah-olah mendorongnya untuk terus menambah
kecepatan. Dan pengemudi pun melecutkan cambuknya tanpa belas kasihan, mendorong
kuda-kudanya untuk berlari lebih cepat dengan teriakan-teriakan nyaring. Lalu,
dalam gelap itu kulihat sepotong cahaya kelabu di depan kami, seolah-olah ada
celah pada bukit-bukit itu. Para penumpang jadi makin kacau. Kereta gila itu
terombang-ambing pada per kulitnya yang besar, oleng seperti kapal yang dihantam
badai di laut. Aku harus berpegangan pada sesuatu. Jalanan menjadi makin rata,
dan kami serasa terbang. Lalu gunung-gunung serasa makin dekat mengapit kami,
dan seolah-olah memandangi kami dengan marah Kami memasuki Celah Borgo. Beberapa
teman seperjalananku memberiku hadiah-hadiah. Barang-barang itu mereka berikan
dengan paksa dan dengan bersungguh-sungguh, hingga aku tak bisa
32 menolak. Barang-barang itu beragam dan aneh-aneh, tapi semuanya diberikan dengan
niat yang baik, dan disertai kata-kata manis serta doa. Kali ini pun gerak-gerik
mereka penuh rasa takut, seperti yang kulihat di luar penginapan di Bistritz
tadi. Tak lupa mereka membuat tanda salib dan mengucapkan doa penangkal terhadap
mata setan yang jahat. Sementara itu, kusir teras membungkukkan tubuhnya, dan
penumpang-penumpang di kedua sisi memandang tajam ke kegelapan, dengan
menjulurkan leher mereka di sisi kereta. Jelas ada sesuatu yang istimewa akan
terjadi, atau yang mereka harapkan. Tapi waktu kutanyakan mengapa mereka
demikian, tak seorang pun di antara para penumpang itu mau memberikan
penjelasan. Keadaan tetap tegang beberapa saat lamanya, sampai akhirnya kami
lihat di hadapan kami celah itu terbuka di sisi timur. Di langit tampak awan
gelap, dan terasa seperti ada guntur yang berat dan menekan. Rasanya daerah
pegunungan itu telah membagi suasana menjadi dua bagian, dan sekarang kami tiba
di bagian yang gemuruh. Kini aku pun melihat ke luar, ingin melihat kalau-kalau
kereta yang harus membawaku ke tempat Count sudah ada. Setiap saat mungkin aku
akan melibat lampu kereta itu dalam gelap, tapi semuanya tetap gelap. Satu-
satunya cahaya yang terlihat adalah kelap-kelip lampu kereta kami sendiri,
diselubungi oleh uap keringat kuda-kuda kami yang dipacu dengan keras, membubung
seperti awan putih. Kini kami bisa melihat jalanan yang berpasir putih di ha-33
dapan kami, tapi di sana sama sekali tak tampak kendaraan. Para penumpang
bersandar dengan lega, tapi sebaliknya aku merasa kecewa. Aku mulai memikirkan
apa sebaiknya yang harus kulakukan. Kulihat kusir melihat ke arlojinya, dan
mengatakan sesuatu pada penumpang-penumpang yang lain. Aku hampir tak dapat
menangkap kata-katanya, karena diucapkan dengan suara yang amat halus. Kalau tak
salah, ia berkata, "Satu jam lebih cepat daripada seharusnya." Lalu, sambil
berpaling padaku, ia berkata dengan bahasa Jerman yang lebih buruk daripada
bahasa Jerman ku "T k ada kereta di sini. Rupanya tak ada yang menunggu Tuan. Sebaiknya Anda
sekarang ikut kami terus ke Bukovina, dan kembali besok atau lusa. Sebaiknya
lusa." Tapi sementara ia berbicara, kuda-kuda mulai meringkik dan mendengus, dan
mengangkat kaki depan mereka tinggi-tinggi, hingga si kusir harus menahannya
kuat-kuat. Lalu di belakang kami muncul sebuah kereta kecil yang ditarik oleh
empat ekor kuda. Kemunculan kereta itu disambut dengan pekik serempak oleh para
penumpang lain, sambil membuat tanda salib. Kereta itu menyusul kami, lalu
berhenti di samping kereta kami. Dari cahaya lampu kami, dapat kulihat bahwa
semua kudanya hitam legam dan tegap-tegap. Kusirnya adalah seorang pria bertubuh
tinggi, berjanggut panjang warna coklat, dan ia memakai topi hitam besar, yang
melindungi wajahnya dari kami. Aku hanya bisa melihat kilatan sepasang mata yang
sangat tajam. Waktu ia me-34
noleh pada kami, mata itu berkilat merah. Kepada kusir kami, ia berkata,
"Kau lebih cepat malam ini, Teman."
Si kusir menjawab dengan terbata-bata, "Herr Inggris ingin cepat-cepat"
"Sebab itu kau ingin membawanya terus ke Bukovina, bukan?" jawab kusir asing
itu. "Kau tak bisa menipuku, sahabatku. Aku tahu banyak, dan kuda-kudaku cepat."
Sambil berbicara, ia tersenyum. Dalam cahaya lampu kereta, tampak mulutnya yang
keras dan berbibir merah, giginya tajam dan amat putih. Salah seorang teman
seperjalananku membisikkan pada yang lain, sebaris syair Lenore ciptaan Burger:
"Denn die Todten feiten schnell."*
Agaknya kusir asing itu mendengar ucapan tersebut, sebab ia mendongak dengan
senyum yang seolah-olah memancarkan cahaya. Penumpang itu memalingkan kepalanya
ke arah lain, sambil mengacungkan dua jarinya ke arah kusir itu dan membuat
tanda salib. "Kemarikan barang bawaan Herr Inggris," kata kusir itu, dan dengan amat tangkas
koper-koperku dimasukkannya ke dalam kereta kecil itu. Lalu aku turun dari sisi
kereta, karena kereta kecil itu telah berada dekat di sebelah kereta kami. Kusir
asing itu membantuku turun, tangannya yang memegang
- . s* Karena yang sudah mati cepat larinya. P;
YOfi t i i . ?lenganku terasa seperti jepitan baja. Agaknya ia memiliki kekuatan luar biasa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, diguncangnya/kendalinya, kuda-kudanya membelok, dan
kami pun melesat ke dalam kegelapan Celah. Waktu aku menoleh ke belakang, tampak
olehku uap dari tubuh kuda-kuda tadi di cahaya lampu. Dan tampak bayangan bekas
teman-teman seperjalananku membuat tanda salib. Lalu si kusir melecutkan
cambuknya sambil berseru pada kuda-kudanya, dan mereka pun meluncur ke arah
Bukovina. Setelah kereta itu tak tampak lagi, ditelan kegelapan, aku merasa
dingin dan aneh, dan kesepian. Tanpa sepengetahuanku, sehelai mantel dipasangkan
ke pundakku, dan lututku ditutupi selimut Lalu kusir itu berkata dalam bahasa
Jerman yang sempurna, "Malam ini dingin, Mein Herr, dan Count, majikan saya, telah memerintahkan saya
untuk mengurus Anda baik-baik. Di bawah tempat duduk ada sebotol slivovitz, bila
Anda memerlukannya." Aku tidak meminumnya, tapi aku merasa tenang, karena aku
tahu bahwa minuman itu ada. Aku merasa aneh, tapi tidak merasa takut
Kereta berlari dengan kecepatan tinggi, lurus saja, lalu kami membelok tajam dan
melewati jalan yang lurus lagi. Aku merasa seolah-olah kami melalui jalan yang
sama sejak tadi. Oleh karenanya, aku mulai memperhatikan bagian-
"brendi setempat yang terbuat dari buah plum
36 bagian tertentu yang menonjol, dan dapat kusimpulkan bahwa dugaanku benar.
Sebenarnya ingin aku bertanya pada si kusir, apa arti semua itu, tapi aku takut
melakukannya, karena kupikir dalam kedudukanku sekarang, protes yang
bagaimanapun takkan ada pengaruhnya, kalaupun ia memang sengaja memperpanjang
perjalanan. Tapi kemudian, karena aku ingin tahu sudah berapa lama waktu
berlalu, aku menyalakan korek api, dan melihat ke arlojiku. Ternyata tinggal
beberapa menit lagi tengah malam. Aku jadi merasa agak shock, karena kurasa aku
sudah ikut-ikutan percaya akan takhayul mengenai tengah malam, gara-gara
pengalaman yang baru kudapat Aku menunggu dengan perasaan tegang yang menyiksa.
Lalu seekor anjing mulai melolong di sebuah rumah petani, di suatu tempat yang
jauh dari jalan. Suara itu seperti suara ratapan panjang yang tersiksa dan amat
ketakutan. Suara itu disambut oleh suara anjing lain, lalu seekor lagi dan
seekor lagi, hingga mulailah suara lolong ramai, terbawa angin sepoi-sepoi di
Celah itu. Suara itu seolah datang dari seluruh negeri, sejauh daya khayal dapat
menangkapnya dalam kegelapan malam itu. Waktu mendengar anjing yang pertama
melolong, kuda-kuda menjadi tegang dan mengangkat kepala mereka. Tapi si kusir
berbicara pada mereka dengan nada membujuk, dan kuda-kuda itu pun menjadi
tenang. Tapi mereka tampak menggigil dan berkeringat, seolah baru saja melarikan
diri dari sesuatu yang menakutkan. Lalu dari jauh, dari
37 gunung-gunung yang mengapit kami, mulai terdengar suara lolong yang teh h
nyaring dan lebih tajam lolong serigala. Aku dan kuda-kuda, sama-sama kena ?pengaruhnya. Aku ingin sekali melompat dari kereta dan lari, sedang kuda-kuda
itu mengangkat kepala lagi, dan mengangkat kaki depan tinggi-tinggi, hingga si
kusir harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan mereka agar tidak
lepas. Tapi, beberapa menit kemudian, telingaku jadi terbiasa akan suara-suara
itu. Kuda-kuda pun menjadi tenang, hingga kusir bisa turun dari tempat duduknya,
dan berdiri di depan mereka, sep ru yang kudengar biasa dilakukan oleh para
penjinak kuda. Usaha itu luar biasa hasilnya. Berkat belaian-belaiannya, kuda-
kuda itu bisa dikendalikan lagi, meskipun mereka masih gemetar. Si kusir duduk
kembali di tempatnya, menggoyang kendalinya, dan kereta mulai berjalan dengan
kecepatan tinggi, ke arah kanan.
Tak lama kemudian, kami terkurung oleh pohon-pohon, yang di tempat-tempat
tertentu condong di atas jalanan hingga kami seolah-olah melewati sebuah
terowongan. Dan lagi-lagi batu-batu karang yang seolah-olah memandangi kami
dengan marah, mengawal kami dengan tegapnya di kiri kanan. Meskipun berada di
tempat terlindung, kami tn"o mendengar angin yang bertiup kencang. Suaranya
seperti orang mengerang dan mendesis melalui batu-batu karang. Cabang-cabang
pepohonan bergesekan waktu kami melesat melewatinya. Udara makin lama makin
dingin, dan salju halus 38 seperti bedak mulai turun, hingga tak lama kemudian kereta kami dan semua yang
ada di sekeliling kami tertutup selimut putih. Angin yang keras masih membawa
suara lolongan anjing-anjing, namun dengan menjauhnya kami, suara itu jadi makin
samar. Sebaliknya, suara lolong serigala-serigala terdengar makin lama makin
dekat, seolah-olah binatang-binatang itu mengepung kami dari segala arah. Aku
menjadi takut sekali, begitu pula kuda-kuda. Tapi si kusir kelihatannya sama
sekali tidak terganggu. Ia terus-menerus memalingkan kepalanya ke kanan dan ke
kiri, tapi aku tak bisa melihat apa-apa"dalam gelap itu.
Tiba-tiba, jauh di sebelah kiri kami, kulihat nyala api biru yang berkelap-
kelip. Pengemudi melihatnya pula pada saat yang bersamaan. Ia segera
menghentikan kuda-kuda, lalu melompat turun, dan menghilang dalam gelap. Aku tak
tahu harus berbuat apa, apalagi karena lolong serigala terdengar makin dekat.
Tapi ketika aku sedang bertanya-tanya, tiba-tiba kusir itu muncul lagi, dan
duduk di tempatnya, tanpa berkata apa-apa. Kami melanjutkan perjalanan. Kurasa
aku tertidur, dan aku terus-menerus bermimpi tentang kejadian itu. Rasanya
kejadian itu berulang-ulang terus. Kini kusadari bahwa itu hanya suatu mimpi
buruk yang mengerikan. Suatu kali, nyala api itu muncul demikian dekatnya dengan
jalan, hingga dalam gelap itu pun aku bisa memperhatikan gerak-gerik kusir itu.
Ia cepat-cepat pergi ke tempat nyala api itu muncul, mengumpulkan beberapa buah
batu yang 39 dijadikannya semacam alat, dan nyala itu pun padam. Suatu kali, terjadi pula
suatu bentuk penampakan yang aneh. Waktu ia^berdiri di antara aku dan nyala api
itu, ia tidak memadamkanya. Kulihat nyala itu bergoyang seperti hantu. Aku
terkejut sekali, tapi karena itu hanya terjadi sebentar, aku mengambil
kesimpulan bahwa itu adalah suatu tipuan penglihatan, karena mataku telah
terlalu lama dan tegang melihat kegelapan. Lalu beberapa lamanya tak ada nyala
api biru. Kami melaju terus dalam kegelapan itu, dengan suara lolong serigala di
sekeliling kami, seolah-olah binatang-binatang itu mengikuti kami dalam suatu
lingkaran yang bergerak. Akhirnya, pada suatu saat, si kusir pergi lebih jauh daripada sebelumnya, dan
selama ia pergi, kuda-kuda gemetar makin hebat, mendengus, dan menjerit
ketakutan. Aku tak tahu apa sebabnya, karena lolong serigala telah berhenti sama
sekali. Tapi pada saat itu, bulan yang seolah-seolah berjalan meniti awan-awan
hitam, muncul dari balik batu karang yang bergerigi karena penuh ditumbuhi pohon
pinus. Dan dalam cahaya bulan itu kulihat di sekeliling kami selingkaran
serigala yang memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan lidah merah terjulur,
dengan anggota tubuh berotot dan bulu tebal. Dalam keadaan diam, binatang-
binatang itu seratus kali lebih menakutkan daripada kalau mereka melolong. Aku
merasa tubuhku menjadi lumpuh karena ketakutan. Bila kita berhadapan dengan
kengerian yang begitu hebat, b
40 rulah kita mengerti apa arti kengerian itu sebenarnya.
Tiba-tiba semua serigala itu mulai melolong serempak, seolah-olah cahaya bulan
menimbulkan pengaruh aneh atas diri mereka. Kuda-kuda meronta-ronta dan
memberontak, dan semuanya melihat ke sekeliling mereka dengan mata membelalak
liar, hingga ngeri melihatnya. Tapi lingkaran serigala itu mengepung di segala
penjuru, hingga mereka terpaksa tinggal di dalam lingkaran itu. Kupanggil kusir
kereta, karena kulihat bahwa satu-satunya kesempatan adalah mencoba keluar dari
lingkaran itu. Aku berteriak dan memukul-mukul sisi kereta, dengan harapan agar
keributan yang kubuat bisa menakuti serigala-serigala yang ada di sisi itu, dan
supaya si kusir kereta bisa lewat melalui celah itu. Aku tak tahu bagaimana ia
datang. Tiba-tiba saja kudengar suaranya yang nyaring dengan nada memerintah.
Waktu aku melihat ke arah suara itu berasal, kulihat ia sedang berdiri di tengah
jalan. Direntangkannya lengannya yang panjang, lalu ia membuat gerakan seolah-
olah menyingkirkan suatu rintangan yang maya. Pada saat itu juga, serigala-
serigala itu mundur, makin lama makin jauh. Dan pada saat itu pula awan tebal
menutupi bulan, hingga kami berada dalam kegelapan lagi.
Waktu aku bisa melihat lagi, si' kusir sudah naik ke kereta, sedang serigala-
serigala itu sudah tak ada lagi. Semuanya begitu aneh dan mengerikan, hingga aku
dilanda rasa takut, dan tak berani
41 bergerak atau berbicara. Waktu seakan-akan tak ada batasnya saat kami melesat.
Kini kami berada dalam kegelapan sempurna, karena awan yang bergerak telah
menyembunyikan bulan. Kami mendaki terus, sekali menurun dengan amat cepat, tapi
lebih sering mendaki. Tiba-tiba kusadari bahwa si kusir sedang menghentikan
kuda-kuda. Kami berada di halaman yang amat luas dari sebuah puri yang sudah tua
sekali. Dari jendela-jendelanya yang hitam dan tinggi-tinggi tak tampak secercah
pun cahaya. Dan benteng-bentengnya yang sudah rusak merupakan garis bergerigi,
menjulang tinggi ke langit yang bermandikan cahaya bulan.
42 Bab 2 CATATAN HARIAN JONATHAN HARKER (lanjutan)
5 Mei. Pasti aku tadi tertidur, karena sekiranya aku dalam keadaan bangun, ?pasti aku tahu waktu kami mendekati tempat yang begitu mencolok. Dalam
kegelapan, halaman itu kelihatan besar sekali. Dan karena ada beberapa jalan
keluar yang gelap dari situ, lewat gerbang-gerbang lengkung yang besar-besar,
maka kelihatannya lebih besar daripada keadaan sebenarnya. Aku belum sempat
melihatnya siang hari. Waktu kereta berhenti, si kusir melompat turun, lalu mengulurkan tangan untuk
membantuku turun. Lagi-lagi, mau tak mau, kurasakan kekuatannya yang luar biasa.
Tangannya benar-benar seperti penjepit dari baja. Bila dikehendakinya, bisa saja
ia meremukkan lenganku. Lalu dikeluarkannya barang-barangku, dan diletakkannya
di tanah, di dekat kakiku. Aku berdiri di dekat sebuah pintu besar. Pintu itu
tua dan dihiasi dengan paku-paku besi yang besar, dan berada dalam kerangka
pintu 43

Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari batu kokoh. Dalam cahaya samar dapat kulihat bahwa batu itu diukir, tapi
ukirannya sudah sangat usang dimakan waktu dan cuaca. Saat aku berdiri, si kusir
melompat ke tempat duduknya lagi, mengguncang tali kekangnya. Kuda-kuda mulai
berjalan, dan kereta itu pun menghilang melalui salah satu gerbang gelap itu.
Aku berdiri terpaku di situ, karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sama
sekali tak kulihat bel atau alat pengetuk pada pintu itu, sedangkan suaraku
pasti tak dapat menembus tembok-tembok tebal dan jendela-jendela gelap itu.
Rasanya lama sekali aku harus menunggu, dan aku dilanda rasa ragu dan takut.
Tempat apa yang telah kudatangi ini, dan orang-orang macam apa ini" Petualangan
apa yang akan kuhadapi" Apakah peristiwa ini biasa dialami oleh seorang karyawan
kantor penasihat hukum, yang diutus untuk menjelaskan tentang pembelian sebidang
tanah di London pada seorang asing" Karyawan kantor penasihat hukum! Mina tak
suka aku disebut begitu. Aku seorang penasihat hukum, katanya karena tak lama' ?sebelum berangkat dari London, aku menerima berita bahwa ujianku sudah berhasil,
dan aku pun menjadi penasihat hukum sepenuhnya!
Kugosok-gosok mataku dan kucubit lenganku untuk meyakinkan diri apakah aku
benar-benar dalam keadaan bangun. Semuanya rasanya seperti mimpi buruk yang
mengerikan-Aku ingin tiba-tiba terbangun dan mendapati diriku di rumah,
sementara sinar fajar sedang berjuang menembus jendela
44 kamarku, sebagaimana sering kurasakan di pagi hari, setelah malam harinya
bekerja lembur. Tapi dagingku merasakan sakitnya cubitanku, dan mataku tidak
tertipu. Aku memang dalam keadaan bangun dan berada di tengah-tengah Pegunungan
Carpathia. Yang dapat kulakukan sekarang hanyalah bersabar, dan menunggu
datangnya pagi hari. Baru saja aku tiba pada kesimpulan itu, kudengar langkah-langkah berat di balik
pintu besar itu, dan melalui celah-celahnya kulihat cahaya mendekat. Lalu
terdengar gemenncing rantai dan bunyi palang pintu yang besar dicabut Sebuah
kunci diputar dengan bunyi nyaring dan berderak karena lama tak dipakai, lalu
pintu itu pun terbuka. Di dalam, berdiri seorang pria tua bertubuh tinggi. Wajahnya tercukur bersih,
kecuali kumis panjang yang putih. Ia berpakaian hitam seluruhnya, dari kepala
sampai ke kaki, tanpa secercah warna lain di tubuhnya. Ia memegang sebuah lampu
perak yang unik. Api di lampu itu menyala tanpa cerobong kaca atau semprong, dan
membuat bayang-bayang panjang yang bergoyang-goyang, karena nyala api itu ditiup
angin lewat celah pintu yang terbuka. Pria itu mengisyaratkan dengan tangan
kanannya supaya aku masuk. Sopan santunnya sempurna, dan ia berkata dengan
bahasa Inggris yang baik sekali, dengan logat aneh,
"Selamat datang di rumah saya! Silakan masuk dengan bebas!" Ia tak bergerak
untuk memberiku jalan masuk, melainkan berdiri saja seperti patung,
45 "M YA * - -P.i\"
"seolah-olah penyambutannya tadi telah mengubahnya menjadi batu. Tapi begitu aku
melangkahi ambang pintu, ia melangkah, maju dan langsung mencekam lenganku
dengan kekuatan yang menyebabkan aku meringis kesakitan. Rasa sakit itu disertai
dengan kesadaran bahwa tangan itu dingin seperti es bukan seperti tangan orang
?hidup, melainkan seperti tangan orang mati. Lalu ia berkata lagi,
"Selamat datang di rumah saya. Datanglah dengan bebas, pergilah dengan selamat,
dan tinggalkanlah sedikit dari kebahagiaan yang Anda bawa, di sini!" Kekuatan
tangannya yang menyalamiku sama benar dengan tangan kusir yang wajahnya tak
pernah kulihat tadi. Aku jadi curiga, jangan-jangan orang yang menyaiamiku ini
adalah kusir tadi juga. Untuk meyakinkan diri, aku bertanya,
"Apakah Anda Count Dracula?" Ia membungkuk dengan khidmat dan menjawab,
"Saya Dracula, dan saya mengucapkan selamat datang pada Anda, Mr. Harker.
Silakan masuk, udara malam dingin sekali, dan Anda harus makan dan
beristirahat." Sambil berbicara diletakkannya lampu itu di atas sebuah penyangga pada dinding.
Lalu diangkatnya barang-barangku dan dibawanya masuk, sebelum aku sempat
mencegahnya. Aku melarangnya membawa barang-barangku itu, tapi ia memaksa.
"Tidak, Sahabat, Anda tamu saya. Hari sudah malam, dan para pelayan saya tak ada
lagi. Biar - 46 lah saya sendiri yang mengurus kenyamanan Anda." Ia memaksa untuk membawa terus
koper-koperku. Kami berjalan di sepanjang lorong rumah, lalu menaiki tangga
besar yang berkelok-kelok, dan melalui sebuah lorong yang besar lagi. Langkah-
langkah kami menimbulkan gaung nyaring pada lantai batu itu. Di ujung lorong,
dibukanya sebuah pintu yang berat. Aku senang melihat bahwa kamar itu terang. Di
situ ada sebuah meja, di mana telah tersedia makan malam, sedang di perapian
yang besar terdapat kayu api besar-besar yang baru saja dinyalakan, dan nyalanya
besar. Count berhenti. Setelah meletakkan koper-koperku, ditutupnya pintu. Ia
menyeberangi kamar itu, lalu membuka sebuah pintu lain yang menuju ke sebuah
kamar kecil bersegi delapan yang hanya disinari sebuah lampu, dan kelihatannya
tidak memiliki jendela satu pun. Kamar itu dilewatinya, dan ia membuka sebuah
pintu lagi. Diisyaratkannya supaya aku masuk. Pemandangan di situ membesarkan
hatiku, karena kamar itu adalah sebuah kamar tidur besar, terang, dan dihangati
sebuah perapian yang juga memakai kayu api. Agaknya kayunya juga baru
ditambahkan, karena kayu di bagian atas belum terbakar. Bunyi gemeretak api yang
besar menimbulkan gema ke cerobong asap .besar. Setelah meninggalkan barang-
barangku di dalam, ia keluar. Sebelum menutup pintu, ia berkata,
"Setelah perjalanan tadi, Anda pasti merasa per -
47 ?"rm v YCG> AaA"* ia lu mandi untuk menyegarkan tubuh Anda. Segala-galanya sudah tersedia untuk Anda.
Kalau Anda sudah selesai, silakan ke kamar sebelah. Di sana makanan Anda sudah
tersedia." Kamar terang dan hangat, serta sambutan Count yang baik, agaknya telah
menghilangkan semua keraguan dan rasa takutku. Setelah kembali pada keadaan
normalku, barulah terasa olehku bahwa aku lapar sekali. Jadi aku cepat-cepat
mandi, lalu pergi ke kamar sebelah.
Kudapati makan malam sudah tersedia. Tuan rumahku berdiri di salah satu sisi
perapian. Ia bersandar pada dindingnya, lalu dengan anggun menunjuk ke meja
makan, dan berkata, "Silakan duduk, dan silakan makan sepuasnya. Harap maafkan saya tidak menyertai
Anda, karena saya sudah makan sore-sore, dan tak pernah makan malam lagi."
Kuserahkan padanya amplop surat yang tertutup rapat, yang telah dipercayakan Mr.
Hawkins padaku. Surat itu dibukanya, lalu dibacanya dengan sungguh-sungguh.
Lalu, dengan senyum yang menarik, diberikannya surat itu padaku supaya kubaca.
Setidaknya ada satu bagian dari surat' itu yang membuatku senang.
Saya menyesal sekali karena pada saat ini penyakit cncok saya kumat. Saya memang
sudah lama menderita penyakit ini. Hal itu menyebabkan saya sama sekali tak bisa
mengadakan perjalanan selama beberapa waktu yang akan datang. Tapi
48 saya senang karena bisa mengutus pengganti yang amat saya percayai. Dia adalah
seorang anak muda yang penuh semangat, berbakat, dan amat setia. Dia pandai
menyimpan rahasia dan pendiam. Apalagi sudah sejak muda dia bekerja pada saya,
dan boleh dikatakan telah tumbuh di bawah bimbingan saya. Dia siap melayani
keinginan Anda selama dia berada di sini, dan dia akan menjalankan instruksi-
instruksi Anda mengenai semua urusan.
Count mendekat, lalu membuka penutup makanan. Aku pun segera menyerbu ayam
panggang yang enak sekali. Makan malamku terdiri atas ayam panggang, keju,
selada, dan sebotol anggur Tokay. Aku minum dua gglas anggur. Sementara aku
makan, Count banyak bertanya, terutama mengenai perjalananku. Dan sedikit demi
sedikit, kuceritakan semua pengalamanku.
Selesai makan, tuan rumahku mengajakku duduk di dekat perapian, dan menawarkan
cerutu padaku. Kali ini pun ia minta maaf karena tak ikut merokok. Kini aku
mendapat kesempatan untuk memperhatikannya, dan kurasa ia memiliki susunan tubuh
dan wajah yang unik. Wajahnya bergaris keras keras sekali, hidungnya bengkok, batang hidungnya ?lebar, .sedangkan cuping hidungnya melengkung. Dahinya tinggi, rambutnya lebat,
tapi pada pelipisnya tipis. Alisnya tebal sekali, hampir bertemu di atas
hidungnya, seperti semak yang melingkar-lingkar. Mulutnya,
49 sejauh yang dapat kulihat melalui kumisnya yang lebat, kaku dan tampak kejam.
Giginya berbentuk aneh, tajam dan putih, dan menjorok keluar dari bibirnya.
Bibirnya merah dan segar sekali, suatu hal yang mengejutkan, karena menunjukkan
tenaga hidup yang besar, padahal ia sudah behimur. Telinganya pucat, dan bagian
atasnya runcing sekali, dagunya lebar dan kokoh, sedangkan pipinya terik, namun
tirus. Secara umum, ia sangat pucat.
Waktu tangannya diletakkan di atas lutut dan kena cahaya api, kulihat punggung
tangannya putih dan halus. Tapi setelah kulihat dari dekat, ternyata tangan itu
kasar, telapaknya lebar, dan jemarinya bengkok. Yang paling aneh, di tengah-
tengah telapak tangannya tumbuh rambut. Kukunya panjang dan halus, dan dipotong
sangat runcing. Waktu Count membungkukkan tubuh ke arahku dan menyentuh tubuhku, aku bergidik
tanpa bisa ditahan. Mungkin karena napasnya berbau busuk, hingga aku merasa amat
mual, dan aku tak dapat menyembunyikannya, meskipun sudah kuusahakan Ternyata
Count menyadari hal itu. Ia menarik diri sambil tersenyum. Dengan demikian,
giginya yang menonjol keluar tampak makin jelas. Ia duduk kembali di tempatnya,
di sisi lain perapian. Beberapa lama kami berdua berdiam diri. Waktu aku melihat
ke jendela, ternyata fajar sudah menyingsing. Segala-galanya terasa sepi, tapi
waktu kudengarkan baik-baik, serasa ada suara lolongan
50 serigala dari lembah di bawah. Mata Count berkilat, dan ia berkata,
"Dengarlah mereka, anak-anak malam. Indah sekali musik mereka!" Kurasa, karena
melihat air mukaku yang keheranan, ia berkata lagi,
"O, ya, kalian penghuni kota besar, tentu tak mengerti perasaan seorang
pemburu." Lalu ia diam, dan bangkit sambil berkata,
"Anda pasti sangat letih. Kamar tidur Anda sudah siap. Silakan Anda tidur, dan
bangun sesuka Anda. Saya harus pergi sampai petang, jadi selamat tidur dan
selamat bermimpi!" Sambil membungkukkan tubuh dengan hormat, ia sendiri yang
membukakan pintu kamar yang bersegi delapan itu untukku. Dan aku pun masuk ke
kamar tidurku.... Aku berada dalam lautan penuh keajaiban. Aku ragu, takut, dan yang kupikirkan
adalah hal-hal aneh yang tak berani kuakui, bahkan pada jiwaku sendiri pun
tidak. Tuhan, lindungilah aku, sekurang-kurangnya demi orang-orang yang
kusayangi! 7 Mei Hari sudah pagi lagi. Letihku sudah hilang, dan aku sudah bersantai-?santai selama dua puluh empat jam terakhir ini. Aku tidur semauku, dan bangun
sesukaku. Setelah berpakaian, aku pergi ke ruangan tempat aku makan semalam. Di
sana sudah tersedia makanan pagi yang dingin, dan kopi yang tekonya diletakkan
di atas perapian supaya tetap panas. Di atas meja terletak sehelai
51 kartu bertulisan: Saya tak berada di rumah untuk beberapa lama. Tak usah tunggu
saya. Dracula. Aku duduk, laliTsarapan dengan enak. Waktu sudah selesai, aku mencari-cari bel
atau semacamnya, untuk memberitahu pelayan bahwa aku sudah selesai. Tapi aku
tidak menemukannya^ Ada beberapa keanehan di rumah ini. Keadaan di sekelilingku
menunjukkan kekayaan yang luar biasa. Peralatan makannya dari emas yang indah
sekali mangannya, jadi pasti mahal sekali harganya. Tirai-tirai dan bahan
pelapis kursi-kursi serta sofa-sofanya, juga kelambu tempat tidurku, semuanya
dari bahan yang amat bagus dan pasti mahal. Dan barang-barang itu juga pasti
tinggi mutunya, karena sudah berusia berabad-abad, namun keadaannya masih baik.
Aku pernah melihat barang-barang semacam itu di Hampton Court, tapi yang di sana
sudah usang, robek-robek, dan dimakan ngengat Anehnya, tak ada satu pun kamar
yang bercermin. Bahkan di atas meja riasku pun tak ada, hingga aku harus
mengeluarkan kaca cukurku dari tas, kalau aku akan bercukur atau menyikat
rambutku. Aku belum melihat seorang pun juga di dekat puri itu. Hanya lolong
serigala yang terdengar. Pada suatu kali, setelah makan aku melihat ke
sekelilingku, mencari-cari sesuatu untuk dibaca. Aku tak mau pergi ke bagian
lain puri itu, sebelum mendapat izin dari Count. Tapi di dalam ruangan itu sama
sekali tak ada buku, surat kabar, atau bahkan alat-alat tulis. Jadi kubuka
sebuah pintu lain yang ada di ruangan itu, dan kutemukan se-52
macam ruang perpustakaan. Pintu di seberang kamarku pun kucoba membukanya, tipi
pintu itu terkunci. Aku senang sekali, karena di dalam ruang perpustakaan itu kudapati sejumlah
besar buku berbahasa Inggris. Rak-rak penuh dengan buku-buku itu. Ada pula
majalah-majalah yang dijilid, juga surat-surat kabar, meskipun tak ada nomor-
nomor yang baru. Buku-bukunya amat beraneka ragam sejarah, ilmu bumi, politik,
?politik perekonomian, ilmu pertanian, ilmu pertanahan, ilmu hukum semuanya
?berhubungan dengan Inggris. Bahkan ada buku-buku petunjuk seperti buku petunjuk
kota London, buku "Merah" dan buku "Biru", almanak Whitaker, petunjuk-petunjuk
mengenai Angkatan Darat dan Angkatan Laut, dan yang paling menyenangkan hatiku
adalah buku The Law List.
Ketika aku sedang melihat-lihat buku-buku itu, pintu terbuka, dan Count masuk.
Ia menyapaku dengan amat ramah, berharap tidurku nyenyak. Lalu katanya lagi,
"Saya senang Anda sudah menemukan kamar ini, karena saya yakin di sini banyak
yang menarik minat Anda. Buku-buku ini," diletakkannya tangannya di atas buku-
?buku itu "adalah teman-teman baik saya. Dan selama bertahun-tahun, sejak saya
?punya gagasan untuk pergi ke London, buku-buku ini bisa menghibur saya selama
berjam-jam. Lewat buku-buku inilah saya mengenal negeri Anda, Inggris yang besar
itu, dan dengan mengenalnya, saya jadi mencintainya. Saya ingin se-53
kali berjalan di jalan-jalan ramai di kota London yang besar itu. Saya ingin
berada di tengah-tengah pusaran dan arus manusianya, ikut merasakan
kehidupannya, perubahannya, kemaliannya, dan semuanya yang telah membuatnya jadi
begitu. Tapi... sayang! Selama ini saya hanya mengenal bahasa Anda lewat buku-buku
saja. Berkat Anda, Sahabat, saya jadi tahu bahwa saya bisa menggunakannya."
"Tapi, Count," kataku, "bahasa Inggris Anda sempurna!" Ia membungkuk dengan
khidmat. "Terima kasih, Sahabat, atas penilaian Anda yang membuat saya merasa tersanjung.
Tapi saya takut, karena saya merasa pengetahuan saya mengenai jalan yang ingin
saya tempuh masih sangat sedikit. Memang saya tahu tata bahasa dan kata-katanya,
tapi saya belum tahu cara-cara memakainya."
"Sungguh," kataku, "bahasa Inggris yang Anda pakai baik sekali."
"Tidak begitu baik," sahutnya. "Yah,.saya yakin bila saya berada di London dan
berbisa, takkan ada seorang pun yang tak tahu bahwa saya orang asing. Itu tak
cukup bagi saya. Di sini saya orang terkemuka, seorang bangsawan. Orang-orang
biasa mengenal saya, dan saya dianggap tuan besar. Tapi seorang asing di suatu
negara asing, bukanlah siapa-siapa. Orang-orang tidak mengenalinya, dan karena
tak dikenal, tentu tak disukai. Saya sudah cukup puas bila saya sama dengan yang
lain, supaya tak ada orang yang berhenti bila melihat saya, atau harus berhenti
berbicara bila dia men-54
dengar kata-kata saya, *Ha, ha, orang asing rupanya.' Saya ingin tetap menjadi
tuan besar atau setidaknya, supaya tak ada orang lain yang merasa dirinya lebih?tuan besar daripada saya. Anda datang kemari tidak hanya sebagai wakil teman
saya, Peter Hawkins dari Exeter, untuk menceritakan segala sesuatu pada saya
tentang tanah dan bangunan saya yang baru di London. Saya harap Anda mau tinggal
di sini beberapa lama, supaya dengan bercakap-cakap, saya bisa mempelajari logat
bahasa Inggris. Dan saya minta Anda memberitahu saya bila saya membuat kesalahan
dalam cara bicara saya, seberapa pun kecilnya. Maafkan, saya harus pergi lama
tadi. Saya yakin Anda pasti mau memaafkan seseorang yang harus menyelesaikan
begitu banyak urusan."
Tentu saja kukatakan bahwa aku maklum, dan kutanyakan apakah aku boleh masuk ke
ruang perpustakaan itu kapan saja aku ingin. Jawabnya, "Ya, tentu boleh," dan
ditambahkannya, "Anda boleh pergi ke mana pun Anda suka di dalam puri ini, kecuali yang pintunya
terkunci. Saya yakin, Anda tentu tak ingin masuk ke kamar-kamar itu. Ada
alasannya mengapa semua barang di sini harus dijaga supaya tetap seperti
sediakala. Dan sekiranya Anda bisa melihat seperti mata saya, dan tahu apa yang
saya ketahui, mungkin Anda lebih mengerti." Kukatakan bahwa aku sependapat
dengannya, dan ia berkata lagi,
"Kita berada di Transylvania, dan Transylvania bukan Inggris. Cara-cara kami
lain dari cara-cara 55 Anda, dan Anda banyak menemukan hal aneh. Ya, dari apa yang telah Anda ceritakan
tentang pengalaman-pengalaman anda, Anda sudah tahu sedikit tentang hal-hal aneh
yang ada di sini." Itu berlanjut dengan keterangan-keterangan yang lebih panjang. Dan karena
kelihatannya ia ingin bercakap-cakap, meskipun hanya untuk bercakap-cakap biasa
saja, aku pun lalu banyak bertanya mengenai hal-hal yang sudah terjadi atas
diriku, atau yang sudah kulihat. Kadang-kadang ia mengelakkan pokok pembicaraan,
atau mengalihkan percakapan dengan berpura-pura tak mengerti. Tapi pada umumnya
ia menjawab semua pertanyaanku dengan jujur. Beberapa lama kemudian, setelah aku
menjadi lebih berani, kutanyakan mengenai beberapa hal aneh tentang malam
kemarin. Seperti umpamanya mengapa kusir kereta pergi ke tempat-" tempat ia


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melihat nyala api biru. Dijelaskannya bahwa sudah merupakan .kepercayaan umum,
bahwa pada malam tertentu setiap tahun seperti kemarin malam umpamanya, waktu ?semua roh jahat dianggap bebas berkeliaran terlihat nyala api biru di tempat
?ada harta karun tersembunyi. "Harta karun itu," lanjutnya, "disembunyikan di
daerah yang Anda lalui kemarin malam. Kita tak bisa terlalu meragukan
kepercayaan itu, karena tanah itu telah berabad-abad diperebutkan oleh suku-suku
Wallach, Saxon, dan Turki. Yah, boleh dikatakan tak ada sejengkal pun tanah di
seluruh daerah ini yang tidak tersiram darah manusia, baik darah pahlawan
bangsa, maupun darah bangsa p
56 nyerbu. Zaman dulu "sering terjadi pergolakan ketika bangsa Austria dan Hungaria
datang berbondong-bondong, dan para pahlawan bangsa maju untuk menyambut
mereka pria dan wanita, orang tua dan bahkan anak-anak. Mereka menghadang di
?bukit-bukit karang di atas celah-eejah, dan mereka menghancurkan para penyerbu
itu dengan salju buatan mereka. Waktu para penyerbu itu menang, hanya sedikit
yang mereka dapatkan, karena semua kekayaan yang ada telah disembunyikan dengan
aman di dalam tanah."
"Tapi bagaimana harta itu bisa tetap terpendam tanpa ditemukan orang?" tanyaku.
"Karena pastilah ada petunjuk ke tempat itu, kalau saja orang mau mencarinya."
Count tersenyum, dan waktu bibirnya tertarik ke atas gusinya, giginya yang
panjang dan tajam menonjol dengan aneh, seperti gigi anjing. Jawabnya,
"Karena para buruh tani pengecut sekali! Nyala api itu hanya muncul pada satu
malam dalam setahun, dan pada malam itu semua orang di negeri ini berusaha untuk
tidak beranjak ke luar rumah. Kalaupun mereka keluar, mereka takkan tahu apa
yang harus mereka perbuat. Yah, bahkan orang yang Anda ceritakan itu pun, yang
telah menandai tempat nyala itu, siang harinya takkan bisa mencarinya lagi,
meskipun untuk dirinya sendiri Saya bahkan berani bertaruh bahwa Anda pun takkan
bisa menemukan kembali tempat-tempat itu."
"Anda benar," kataku, "saya sama sekali tak
57 tahu ke mana harus mencarinya." Lalu percakapan kami beralih pada soal-soal
lain. "Nah," katanya akhirnya, "sekarang ceritakan tentang London, dan tentang tanah
berikut rumah yang telah Anda temukan untuk saya." Aku meminta maaf atas
kelengahanku, lalu aku pergi ke kamarku untuk mengambil berkas-berkasnya dari
tasku. Sementara aku menyusun kertas-kertas itu, kudengar burrji barang-barang
pecah belah dan sendok garpu bcrkclentingan di kamar sebelah. Waktu aku
mejewatinya, kulihat bahwa meja sudah diatur dan lampu sudah dinyalakan, karena
hari sudah gelap. Juga di ruang kerja dan di ruang perpustakaan, lampu-lampu
sudah dinyalakan, dan kudapati Count sedang berbaring di sofa sambil membaca.
Anehnya, yang dibacanya adajah English Bradshaw's Guide, sebuah buku petunjuk.
Waktu aku masuk, disisihkannya buku-buku dan kertas-kertas di meja, dan kami pun
mulai membahas berVagai rencana, perjanjian-perjanjian, dan angka-angka. Ia
menaruh minat pada segala-galanya, dan banyak sekali bertanya tentang tempat itu
dan sekitarnya, dan akhirnya ternyata ia tahu jauh lebih banyak daripada aku.
Waktu hal itu ku kemukakan, ia berkata, "Yah, bukankah memang sepantasnya saya tahu" Kalau saya pergi ke sana
nanti, saya akan seorang diri, dan Anda, sahabat saya Harker Jonathan eh, maaf,?saya lelah memakai kebiasaan di negeri saya ini, yaitu menyebutkan nama keluarga
dulu maksud saya Anda, sahabat saya Jonathan Harker, takkan ber-58
?ada di samping saya lagi untuk memperbaiki dan membantu saya. Anda akan berada
jauh di Exeter, mungkin menangani surat-surat hukum dengan sahabat saya yang
seorang lagi, Peter Hawkins. Begitulah keadaannya!"
Kami membahas sampai tuntas urusan pembelian tanah dan rumah di Purfleet itu.
Kujelaskan } segala-galanya, dan kuminta ia menandatangani surat-surat yang diperlukan. Aku
juga sudah menulis surat pada Mr. Hawkins sehubungan dengan urusan itu, dan
surat itu siap dimasukkan ke kantor pos. Count menanyakan padaku bagaimana aku
sampai bisa menemukan tempat yang begitu cocok. Kubacakan catatan-catatan yang
telah kubuat saat mencari tempat itu. Catatan itu kusertakan di sini.
m r. Di sebuah simpang jalan di Purfleet, kutemukan tempat seperti yang diinginkan
itu. Di depan rumah itu terpasang papan pemberitahuan yang sudah usang, bahwa
tempat itu akan dijual. Rumah itu dikelilingi sebuah tembok tinggi berstruktur
tua, terbuat dari batu besar-besar, dan sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki
Pintu gerbangnya terbuat dari kayu ek yang besar dan sudah tua, > serta dari
besi yang seluruhnya sudah berkarat. Pintu itu tertutup.
Rumah itu bernama Carfax. Nama itu pasti diambil dari buku berjudul Quatre Face.
Rumah itu berbentuk segi empat, sesuai dengan titik arah utama pada kompas. Luas
tanah seluruhnya kira - 59 kira dua puluh ekor, dikelilingi tembok kokoh seperti sudah disebutkan di atas.
Di situ terdapat banyak pohon, hingga di beberapa tempat tampak suram. Ada pula
sebuah kolam atau danau kecil yang kelihatannya dalam. Agaknya kolam itu
mendapatkan airnya dari beberapa buah mata air, karena airnya jernih dan
mengalir ke sebuah parit yang cukup lebar. Rumahnya besar sekali, dan^ sudah
sangat tua. Kurasa bangunan itu sudah ada sejak zaman abad pertengahan, sebab
ada satu bagian terbuat dari batu yang bukan main tebalnya, hanya berjendela
beberapa buah yang letaknya tinggi sekali dan berterali besi. Rumah itu seolah
merupakan bagian dari sebuah benteng, dan berdekatan dengan sebuah kapel atau
gereja tua. Aku tak bisa masuk ke dalamnya, karena aku tidak memiliki kuncinya.
Tapi aku telah membuai1* beberapa foto dari beberapa sisi. Rumah itu baru
kemudian ditambahkan, tapi bukan main hebatnya. Aku hanya bLu menebak berapa
luas tanah yang ditempatinya. Pasti luas sekali Hanya ada sedikit rumah di
sekitar tempat itu. Satu di antaranya adalah sebuah rumah yang amat besar, yang
baru-baru ini ditambahkan dan digunakan sebagai sanatorium penyakit jiwa, milik
swasta. Tapi rumah itu tak kelihatan dari tempat yang kutemukan"* itu.
Setelah aku selesai membaca, ia berkata, "Saya senang rumah itu besar dan tua.
Saya berasal dari keluarga tua, dan saya akan mati
60 kalau disuruh tinggal di sebuah rumah model baru. Orang tak bisa membuat rumah
yang layak huni dalam sehari, apalagi satu abad itu tak lama. Saya juga senang
karena ada kapel tuanya. Kami, kaum ningrat Transylvania, tak ingin tubuh kami
dibaringkan di antara orang-orang biasa. Saya tidak mencari keceriaan dan
kesenangan, atau sesuatu yang besar dan mencolok, dengan banyak matahari dan air
berkilauan, seperti yang disukai kaum muda yang ceria. Saya tidak muda lagi, dan
hati saya yang sudah melewati tahun-tahun sedih karena meratapi yang sudah
tiada, tak menginginkan kesenangan. Apalagi tembok-tembok puri saya sudah rusak,
banyak bayang-bayangnya, dan angin mengembuskan udara dingin melalui celah-celah
gerigi benteng dan jendela-jendela yang sudah rusak. Saya suka akan keteduhan
dan bayang-bayang, dan kalau bisa, saya ingin menyendiri dengan pikiran saya."
Entah mengapa, aku merasa kata-katanya tak sesuai dengan pandangannya, mungkin
karena air mukanya membayangkan senyum yang jahat seperti setan.
Kemudian ia minta diri untuk meninggalkan aku, dan menyuruhku mengumpulkan semua
suratku. Lalu aku pun mulai melihat-lihat buku-buku yang ada di sekelilingku.
Salah satu di antaranya adalah sebuah atlas yang terbuka pada peta Inggris.
Agaknya peta itu sudah sering sekali dipakai. Waktu kuperhatikan, kulihat bahwa
pada tempat-tempat tertentu terdapat tanda-tanda lingkaran ke -
61 cil, dan waktu tanda-tanda itu kuperhatikan lagi, kulihat bahwa satu lingkaran
terdapat di dekat kota London, di sebelah timur, menunjukkan lokasi purinya yang
baru. Dua lingkaran lain menunjukkan Exeter dan Whitby, di pantai Yorkshire.
Lebih dari sejam kemudian, Count kembali.
"Wah!" katanya. "Masih membaca" Itu bagus! Tapi Anda tak boleh bekerja terus.
Mari, makan malam sudah siap." Dituntunnya lenganku, dan kami pergi ke kamar
sebelah, di mana makan malam yang enak sudah tersedia. Lagi-lagi Count meminta
maaf tak ikut makan, karena ia sudah makan sore waktu ia pergi tadi, katanya.
Tapi, seperti malam kemarin, ia duduk dan mengobrol sementara aku makan. Setelah
makan, aku merokok, seperti malam kemarin pula, dan Count menemaniku mengobrol
dan menanyakan banyak hal selama berjam-jam. Aku merasa bahwa malam sudah larut,
tapi aku tak mengatakan apa-apa, karena aku merasa sepantasnyalah aku
menyesuaikan diri dengan keinginan tuan rumahku dalam segala hal. Aku tak merasa
mengantuk, karena aku tidur sampai siang, dan aku merasa segar. Tapi mau tak
mau, aku merasakan dingin yang biasa menerpa bila fajar hampir menyingsing,
seperti juga perubahan pasang-surut air. Kata orang, orang-orang yang sudah
sekarat umumnya meninggal pada saat pergantian fajar, atau pada saat perubahan
pasang-surut air. Orang yang letih, dan yang boleh dikatakan terikat pada
tugasnya, dan yang telah mengalami perubahan itu, bisa mempercayainya.
Tiba-tiba kami mendengar kokok ayam yang melengking di udara pagi yang cerah
itu. Count Dracula terlompat, dan berkata,
"Wah, hari sudah pagi lagi! Alangkah lengahnya saya, membiarkan Anda bergadang.
Seharusnya Anda tidak menceritakan hal-hal menarik tentang Inggris, yang akan
menjadi negeri baru saya yang tercinta itu, supaya saya tak lupa betapa cepatnya
waktu berlalu." Dan sambil membungkuk sopan, ia cepat-cepat meninggalkanku.
Aku masuk ke kamarku sendiri. Kubuka tirai-tirai jendela, tapi tak banyak yang
tampak. Jendelaku menghadap ke pekarangan, dan yang kulihat hanyalah langit
kelabu yang cepat menjadi hangat. Maka kututup lagi tirai-tirai itu, dan kutulis
tentang hari ini. 8 Mei. Sementara aku menulis dalam buku ini, aku mulai takut kalau-kalau aku ?terlalu berpanjang-lebar. Tapi sekarang aku senang bahwa sejak awal aku sudah
menulis sampai pada hal-hal sekecil-kecilnya. Karena ada sesuatu yang aneh di
tempat ini, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, hingga mau tak mau aku
merasa resah. * Alangkah baiknya bila aku berada di luar dalam keadaan selamat,
atau tak pernah datang sama sekali. Mungkin suasana malam ini telah
mempengaruhiku. Yah, alangkah baiknya kalau hanya itu saja! Kalau saja ada
seorang teman bicara, aku bisa menanggungnya. Tapi kini tak ada seorang
pun. Hanya ada Count, teman bicaraku, padahal ia...! Aku merasa akulah satu-
satunya manusia bernyawa di tempat ini. Akan kuusahakan supaya aku tetap
berpegang pada kenyataan saja. Itu akan membantuku untuk bertahan. Dan daya
imajinasi dalam diriku tak boleh sampai musnah, sebab kalau itu sampai terjadi,
habislah aku. Biarlah kukatakan langsung bagaimana keadaanku atau' ?kelihatannya.
Aku pergi tidur, tapi hanya bisa tidur beberapa jam. Dan karena merasa tak bisa
tidur lagi, aku bangun. Cermin kecilku untuk bercukur telah kugantung di dekat
jendela, dan aku akan mulai bercukur. Tiba-tiba. kurasakan sebuah tangan di
pundakku, dan kudengar suara Count berkala, "Selamat pagi." Aku terkejut sekali,
dan sangat heran mengapa aku tak melihat bayangannya di cerminku, padahal
cerminku bisa menangkap bayang-' an dari seluruh kamar di belakangku. Karena
terperanjat, wajahku terkena ,-"isau cukur sedikit, tapi saat itu tak kusadari.
Setelah membalas salam Count, aku kembali berpaling ke cermin. Aku ingin melihat
di mana kekeliruanku. Kali ini aku tak mungkin salah, karena pria itu berada di
dekatku, dan aku bisa melihatnya dari balik pundakku. Tapi tetap tak ada
bayangan dirinya di cermin! Seluruh ruangan di belakangku kelihatan, tapi tak
ada bayangan orang, kecuali diriku sendiri. Hal itu amat mengejutkan, dan di
samping begitu banyak hal aneh, hal itu makin menguatkan perasaan gelisahku yang
semula masih samar, namun selalu
64 muncul setiap kali Count berada di dekatku. Pada saat itu kulihat lukaku mulai
berdarah sedikit, dan darah itu mulai menetes ke daguku. Kuletakkan pisau
cukurku, lalu aku berbalik akan mencari plester. Waktu Count melihat wajahku,
matanya memancarkan kemarahan setan, dan ia tiba-tiba mencengkeram leherku.
Aku mundur, dan terpegang olehnya merjan rosario tempat salibku tergantung.
Peristiwa itu mendatangkan perubahan mendadak pada dirinya, karena kemarahannya
tadi sirna demikian cepat hingga rasanya sulit aku percaya bahwa kemarahan itu
tadi kulihat di wajahnya.
"Hati-hati;" katanya, "jangan sampai luka. Di negeri ini, luka lebih berbahaya
daripada yang Anda duga." Lalu, sambil mengambil kaca cukurku, ia berkata lagi,
"Dan ini adalah barang sial yang menimbulkan musibah. Ini tak lebih dari tetek
bengek menjijikkan, perlambang keangkuhan kaum pria. Buang saja!" Dibukanya
jendela berat di situ dengan sekali putar, dengan tangannya yang mengerikan,
lalu cerminku dilemparkannya. Barang itu hancur berkeping-keping di batu, di
halaman bawah. Lalu ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Aku jengkel sekali,
karena aku tak tahu bagaimana aku bisa bercukur. Mungkin dengan kaca arlojiku,
atau bagian belakang pot krim cukurku, yang untungnya terbuat dari logam.
Waktu aku pergi ke ruang makan, sarapan sudah siap, tapi Count tak ada. Jadi aku
sarapan seorang diri. Aneh, selama di sini, belum pernah
65 aku melihat Count makan atau minum. Ia pasti seorang yang aneh sekali! Setelah
sarapan, aku berkeliling melihat-lihat puri. Aku keluar ke tangga, dan kutemukan
sebuah kamar yang menghadap ke selatan. Pemandangan dari situ indah sekali.
Rupanya puri itu terletak tepat di tepi sebuah jurang yang mengerikan. Sebuah
batu yang dilempar dari jendela, pasti jatuh beribu-ribu meter ke bawah, tanpa
menyentuh apa-apa! Sejauh mata memandang, yang nampak hanya lautan pucuk
pepohonan hijau, diselingi oleh celah yang sangat dalam, yaitu sebuah jurang. Di
sana-sini tampak jalur perak, yaitu sungai-sungai yang berkelok-kelok di lekuk
tanah yang dalam, melalui hutan rimba.
Tapi aku tak ingin melukiskan keindahan alam. Setelah melihat keindahan itu, aku
pergi untuk melihat-lihat lagi. Tapi yang kulihat adalah pintu, pintu, dan
pintu. Di mana-mana pintu, dan semuanya terkunci dan berpr^ang. Kecuali melalui
jendela-jendela pada tembok-tembok puri, sama sekali tak ada jalan keluar lain.
Puri itu merupakan sebuah penjara yang sempurna, dan aku terpenjara di dalamnya!
66 Bab 3 CATATAN HARIAN JONATHAN HARKER (lanjutan)
Waktu kusadari bahwa aku terpenjara, aku dilanda oleh perasaan ingin
memberontak. Aku berlari menaiki dan menuruni tangga-tangga, mencoba membuka ?setiap pintu, dan melihat ke luar lewat setiap jendela yang kutemukan. Tapi tak
lama kemudian, keyakinan akan keadaanku yang tak berdaya, mengatasi semua
perasaan lain. Waktu aku mengingat hal itu kembali beberapa jam kemudian, aku
merasa bahwa saat itu aku pasti sudah gila. Aku telah berperilaku seperti seekor
tikus yang terperangkap. Tapi waktu sadar bahwa aku tak berdaya, aku duduk diam-
diam tak per-4 nah aku duduk setenang itu sepanjang hidupku dan mulai
? ?memikirkan apa yang sebaiknya kulakukan. Aku masih tetap berpikir, tapi masih
belum mendapat kcpulusan pasti. Aku hanya, menyadari satu hal, yaitu bahwa tak
ada gunanya menyampaikan pikiranku itu pada Count. Ia tahu benar bahwa aku
terpenjara, dan karena ia sendiri
67 yang melakukannya, pasti dengan alasannya sendiri pula, ia hanya akan
membohongiku bila kuceritakan kenyataan itu padanya. Sejauh ini, satu-satunya
rencanaku adalah mendiamkan saja apa yang kuketahui, dan menyembunyikan rasa
takutku, serta membuka mataku terus. A'ku tahu, mungkin aku ditipu oleh rasa
takutku sendiri, atau aku berada dalam keadaan sangat putus asa. Bila begitu
keadaannya, aku sangat, sangat membutuhkan pikiran sehatku.
Baru saja kuambil k putusan itu, kudengar pintu besar di bawah tertutup, dan
tahulah aku bahwa Count sudah kembali. Ia tidak langsung masuk ke ruang
perpustakaan, jadi dengan hati-hati aku kembali ke kamarku sendiri. Di sana
kulihat ia sedang membenahi tempat tidurku. Aneh,.tapi hal itu menegaskan apa
yang selama ini sudah kuduga, yaitu bahwa di dalam rumah ini tak ada pelayan.
Waktu kemudian kulihat melalui celah engsel pintu, ia sedang menyediakan makanan
di ruang makan, yakinlah aku. Bila ia harus melakukan sendiri semua pekerjaan
rumah tangga, berarti tak ada pelayan di sini. Aku jadi makin ketakutan, karena
bila tak ada siapa-siapa lagi di puri ini, tentu Count sendiri pula yang telah
mengemudikan kereta yang membawaku kemari. Ini mengerikan sekali, sebab bukankah
itu berarti ia bisa menenangkan serigala-serigala hanya dengan mengangkat
tangannya tanpa berkata apa-apa" Itukah sebabnya maka semua orang di Bistritz
dan di kereta sangat ngeri memikirkan diriku" Apakah arti pemberian
68 berupa salib, bawang putih, mawar liar, dan abu gunung itu" Aku bersyukur karena
wanita yang baik itu telah menggantungkan kalung salib ke leherku. Benda itu
memberiku rasa tenang dan kekuatan, setiap kali aku menyentuhnya. Aneh, benda
yang menurut ajaran yang kuterima ku rang baik dan tak boleh dipuja-puja, bisa
? ?memberikan ketenangan dalam kesepian dan kesusahan. Apakah itu disebabkan oleh
inti yang terdapat dalam benda itu sendiri, atau apakah itu merupakan suatu
alat, suatu bantuan berwujud, untuk menyampaikan rasa simpati dan hiburan"
Kelak, bila ada kesempatan, aku harus menyelidiki hal itu dan mencoba menentukan
sikapku. Sementara ini, aku harus menyelidiki sebisaku mengenai Count Dracula,
karena hal itu mungkin bisa membantuku untuk mengerti. Malam ini mungkin ia akan
berbicara tentang dirinya sendiri, bila percakapan ku belokkan ke arah itu. Tapi
aku harus amat berhati-hati, jangan sampai aku membangkitkan kecurigaannya-TAMAN
\ca f N ~ "JAYA * OL..K AL!L. J-i V& V 6. i
VOdvA.KAa i A Tengah malam. Aku selalu bercakap-cakap
?lama dengan Count. Kuajukan beberapa pertanyaan mengenai sejarah Transylvania,
dan ia menceritakannya dengan penuh gairah. Caranya bercerita tentang hal hal


Dracula Karya Bram Stoker di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan orang-orang dan terutama tentang pertempuran-pertempuran, sangat hidup,
seolah-olah ia hadir sendiri dalam peristiwa-peristiwa itu. Hal itu kemudian
dijelaskannya dengan me -
69 ngatakan bahwa bagi seorang boyar* kebanggaan atas tanah air dan nama keluarga
adalah kebanggaan tersendiri, kemenangan leluhurnya di zaman itu adalah
kemenangannya pula, dan nasib leluhurnya adalah nasibnya pula. Bikr berbicara
tentang tanah airnya, ia selalu menggunakan kata "kami", dan ia berbicara dalam
bentuk jamak, seperti kebiasaan seorang raja. Alangkah baiknya bila aku bisa
menuliskan dengan tepat apa-apa yang dikatakannya, karena aku merasa amat
tercekam Agaknya di situlah tersirat seluruh sejarah negeri itu. Ia bersemangat
sekali waktu berbicara. Ia berjalan hilir-mudik dalam ruangan itu, sambil
menarik-narik kumisnya yang putih dan lebat, dan menangkap apa saja yang
tersentuh olehnya, seolah-olah akan diremukkannya dengan segenap kekuatannya.
Ada satu hal yang dikatakannya, yang akan kutuliskan sebatas kemampuanku, karena
hal itu merupakan kisah suku bangsanya.
"Kami, suku Szekely, berhak merasa bangga, karena dalam urat kami mengalir darah
dari banyak suku pemberani, yang telah berjuang seberani singa untuk membela
pangerannya. Dalam pusaran suku-suku bangsa di Eropa ini, suku Ugric menurunkan
semangat juang dari Thor dan Wodin dari Islandia. Pahlawan-pahlawan mereka
memperlihatkan kegarangan mereka ke seluruh daratan Eropa. Ya, bahkan sampai ke
Asia dan Afrika, hingga orang-orang di sana menyangka bahwa
bangsawan 70 serigala jadi-jadianlah yang datang. Waktu mereka datang kemari, mereka
menemukan suku bangsa Hun, yang semangat perangnya telah menyapu bumi bagaikan
nyala api yang bernyawa, hingga orang-orang itu beranggapan bahwa dalam urat
nadi mereka mengalir darah ahli-ahli sihir yang telah terusir dari Scythia dan
menyatu dengan setan-setan di gurun. Tolol, sungguh tolol mereka! Mana ada setan
atau sihir sehebat Attila yang darahnya mengalir dalam urat-urat ini?"
Diangkatnya kedua belah lengannya. "Jadi, mengherankan-kah kalau kami menjadi
suku bangsa yang selalu menang" Bahwa kami bangga, dan ketika suku-suku bangsa
Magyar, Lombard Bulgar, dan Turki, mengalirkan pejuang-pejuangnya ke perbatasan
kami, kami mampu mengusir mereka" Anehkah ketika Arpad dan pasukannya menyapu
Hungaria dan tiba di perbatasan kami, mereka temukan kami siap melawan di sini"
Bahwa suku bangsa H n foglala musnah di sana" Dan waktu pasukan Hungaria menyapu
ke arah timur, suku bangsa Szekely mereka anggap punya pertalian darah dengan
suku Magyar yang menang, dan mereka lalu mempercayakan pengawalan perbatasan
tanah Turki kepada kami selama berabad-abad" Ya, lebih dari itu, mereka juga
memberikan banyak sekali tugas kepada 'kami sebagai pengawal perbatasan, karena
bangsa Turki mengancam, 'Air bisa tidur, tapi musuh tak pernah tidur.' Adakah
yang lebih berbahagia daripada kami ketika menerima 'pedang berdarah'" Adakah
yang lebih cepat berkumpul
71 atas panggilan perang dari raja" Dan ketika bendera Wallach dan Magyar
dijatuhkan oleh bendera bulan sabit Turki, siapakah yang menghapuskan aib
mahabesar itu, aib yang telah menimpa bangsa saya dan aib bagi Cassova" Siapakah
yang telah menyeberangi Sungai Danube di Voivode dan mengalahkan bangsa Turki di
tanahnya sendiri, kalau bukan salah satu suku bangsa saya" Itulah keluarga
Dracula! Sialnya, salah satu saudaranya, ketika dikalahkan, telah menjual
bangsanya kepada bangsa Turki dan membawa aib perbudakan atas diri keturunan
mereka! Apakah bukan Dracula ini yang telah membangkitkan semangat teman-teman
se-bangsanya yang lain, yang dalam abad berikutnya berulang kali membawa
pasukannya menyeberangi sungai lebar itu memasuki Turki, dan waktu mereka
terpukul mundur, telah datang kembali berulang kali, meskipun dia harus datang
seorang diri dari medan berdarah tempat pasukannya habis terbantai, karena dia
menyadari bahwa dia sendirilah yang akhirnya bisa menang! Orang berkata bahwa
dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bah! Apalah artinya petani-petani bodoh
tanpa seorang pemimpin" Kapan perang akan berakhir, tanpa otak dan semangat
orang yang bisa memimpinnya" Lagi-lagi, setelah pertempuran Mohacs, waktu kami
melepaskan diri dari penjajahan bangsa Hun gana, kami yang berdarah Dracula
adalah salah satu pemimpinnya, karena kami tidak puas sebelum bisa bebas.
Pokoknya, Sahabat, suku bangsa Szekely dan warga Dracula sebagai intinya, otak-?72
nya, dan ujung tombaknya bisa berbangga diri atas keberhasilan mereka, yang tak
?dapat disamai oleh warga-warga yang kemudian bermunculan seperti jamur, seperti
warga Hapsburg dan Romanoff. Kini masa perang telah berlalu. Darah dianggap
terlalu berharga dalam zaman damai yang tak terhormat ini, dan dari suku-suku
bangsa besar, yang tertinggal adalah kisah yang diceritakan orang."
Waktu itu hari sudah hampir pagi, dan kami pergi tidur. (Catatan. Catatan harian
ini aneh sekali, seperti awal dari kisah Seribu Satu Malam, saja, karena
semuanya selalu terputus pada saat ayam berkokok atau seperti kisah ayah Hamlel
?yang telah menjadi hantu!)
12 Mei. Aku akan mulai dengan fakta-fakta fakta-fakta nyata yang diperkuat
? ?oleh buku-buku dan angka-angka yang tak dapat diragukan. Aku tak boleh
mencampuradukkannya dengan pengalaman-pengalaman yang hanya didasari oleh
penelitian atau ingatanku sendiri mengenai hal itu. Kemarin malam, waktu Count
datang, ia mulai menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan hukum, dan mengenai
menjalankan beberapa macam usaha. Sebelum itu, aku membaca terus, dan sekadar
untuk menyibukkan pikiranku, aku mempelajari beberapa persoalan yang telah
diujikan padaku di Lincoln's Inn.
Ada urut-urutan tertentu dalam pertanyaan-pertanyaan Count, maka aku akan
menuliskannya se - 73 cara berurutan pula. Hal itu mungkin akan bermanfaat bagiku kelak.
Pertama-tama, ia menanyakan apakah seseorang di Inggris boleh memiliki dua orang
penasihat hukum atau lebih. Kukatakan bahwa seseorang boleh saja memiliki
selusin penasihat hukum kalau ia mau, tapi tidaklah bijak memiliki lebih dari
seorang penasihat hukum untuk mengurus satu transaksi, karena hanya seorang yang
bisa bertindak dalam satu perkara, dan bila diganti, pasti akan bertentangan
dengan kepentingannya sendiri. Kelihatannya ia mengerti betul. Lalu
ditanyakannya lagi apakah dalam prakteknya ada kesulitan kalau umpamanya ia
membayar satu orang untuk mengurus soal-soal perbankan, seorang lagi untuk
mengurus pengapalan, bila umpamanya diperlukan bantuan orang setempat di suatu
tempat yang jauh dari tempat penasihat hukum yang mengurus perbankan tadi.
Kuminta agar ia memberikan penjelasan lebih terperinci, supaya aku tidak
memberikan keterangan yang keliru. Maka ia berkata,
"Akan saya lukiskan. Sahabat kita berdua, Mr. Peter Hawkins, dari tempat
tinggalnya yang indah di Exeter yang jauh letaknya dari London, telah membelikan
saya sebuah bangunan di London, berkat bantuan Anda sendiri. Baik! Supaya Anda
tidak merasa aneh mengapa saya telah meminta jasa seorang penasihat hukum yang
begitu jauh dari London, dan bukan seseorang dari London sendiri, maka saya akan
menjelaskannya. Alasan saya adalah, saya ingin hanya urusan saya sendiri
74 saja yang diurusnya. Seorang penduduk London mungkin ingin melayani, tapi dengan
tujuan kepentingan sendiri atau kepentingan temannya. Oleh karenanya, saya cari
perwakilan yang hanya mengurus kepentingan saya sendiri. Nah, sekiranya saya,
yang punya banyak sekali bidang usaha, ingin mengapalkan barang-barang ke
Newcastle, atau Durham, atau Harwich, atau ke Dover umpamanya, apakah tidak
lebih mudah membayar seorang penasihat hukum di salah satu pelabuhan itu?"
Kujawab bahwa itu tentu sangat memudahkan, tapi kami para penasihat hukum punya
sistem yang masing-masing saling merupakan agen dari rekannya, hingga tugas di
suatu tempat "dapat diselesaikan di tempat itu atas instruksi penasihat hukum
mana pun. Klien bisa saja meminta supaya keinginan-keinginannya dilaksanakan di
mana pun juga oleh penasihat hukum itu, tanpa kesulitan.
"Tapi saya bebas mengatur, bukan?" tanyanya.
"Tentu," sahutku, "hal semacam itu sering dilakukan oleh pengusaha-pengusaha
yang tak suka semua urusannya diketahui oleh siapa pun."
"Bagus!" katanya. Lalu ia bertanya lagi mengenai cara-cara pengiriman barang,
syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan segala macam kesulitan yang mungkin
timbul, yang sebenarnya bisa dicegah. Semua itu kujelaskan padanya sebatas
kemampuanku. Ia benar-benar mengesankan. Ia sebenarnya bisa menjadi seorang
pengacara hebat, karena sama sekali tak ada hal yang tak dipikirkannya atau tak
diantipasinya. Sebagai orang yang
75 tak pernah pergi ke negeri itu, dan yang kelihatannya belum banyak bergerak
dalam bidang usaha, pengetahuan serta ketajaman pikirannya hebat sekali. Setelah
ia puas dengan hal-hal yang ditanyakannya, dan setelah aku menjelaskan sebisanya
berdasarkan buku-buku yang ada, ia tiba-tiba bangkit dan berkata,
"Apakah Anda sudah menulis surat lagi kepada teman kita Mr. Peter Hawkins atau
kepada orang lain, sejak surat yang pertama dulu itu?"
Aku menyesal sekali menjawab bahwa aku belum menulis lagi, dan bahwa aku belum
punya kesempatan untuk menulis surat pada siapa-siapa. "Kalau begitu tulislah
sekarang, Sahabat," kalanya, sambil meletakkan tangannya yang berat di pundakku.
"Tulislah pada sahabat kita itu, atau pada siapa pun juga, dan katakan bahwa
Anda akan tinggal di sini sebulan lagi."
"Apakah Anda menginginkan saya tinggal di sini begitu lama?" tanyaku. Hatiku
jadi terasa beku. "Saya sangat menginginkannya. Ya, bahkan saya tak mau Anda menolak. Bila majikan
Anda menugaskan seseorang untuk datang mewakilinya, orang yang mendapat tugas
ilu harus memenuhi semua kebutuhan saya, bukan" Saya tidak memberikan batas-
batas, bukan?" Aku tak bisa berbuat lain, kecuali membenarkannya. Ini adalah kepentingan Mr.
Hawkins, bukan kepentinganku. Dan aku harus memikirkan dia, bukan diriku
sendiri. Lagi pula, waktu Count
76 Dracula berbicara, ada sesuatu pada mata dan sikapnya yang mengingatkan diriku
bahwa aku terpenjara, dan kalaupun aku punya keinginan, aku tak punya pilihan.
Count merasa menang karena sikapku yang mengalah, dan ia merasa berkuasa melihat
wajahku yang susah. Ia pun langsung memanfaatkannya, dengan cara halus yang tak
bisa ditolak. "Saya minta Anda tidak menyinggung hal-hal lain kecuali bisnis dalam surat Anda
itu. Teman-teman Anda pasti akan senang mendapat berita bahwa Anda baik-baik
saja, dan bahwa Anda ingin sekali pulang untuk bertemu lagi dengan mereka."
Sambil berbicara, diberinya aku tiga helai kertas tulis dan tiga buah amplop.
Kertas-kertas itu tipis sekali, bermutu luar negeri. Aku menatap kertas-kertas
itu, kemudian ke arahnya.
Ia tersenyum tenang, memperlihatkan giginya yang tajam, yang menutupi bibir
bawahnya yang merah cerahi Melihat itu, mengertilah aku bahwa aku harus berhati-
hati mengenai apa yang kutulis, karena ia membacanya. Jadi aku bertekad untuk
menidis surat-surat resmi saja sekarang. Tapi diam-diam aku akan menulis
sejelas-jelasnya pada Mr. Hawkins, juga pada Mina, karena padanya aku bisa
menulis dengan huruf steno, yang tidak akan dipahami Count, kalaupun ia
membacanya. Setelah-menulis surat-suratku itu, aku duduk diam-diam, membaca
buku, sedangkan Count menulis beberapa surat sambil sekali-sekali melihat ke
buku-buku yang ada di mejanya, sebagai petunjuk.
77 Kemudian diambilnya surat-suratku, dan diletakkan bersama surat-suratnya di
dekat alat-alat tulisnya, lalu ia pergi. Begitu pintu tertutup, aku pergi kc
meja dan melihat ke surat-suratnya yang diletakkan tertelungkup. Aku tak merasa
bersalah berbuat begitu, karena dalam keadaanku, aku merasa harus melindungi
diriku dengan cara apa pun juga.
Salah satu suratnya ditujukan pada Samuel F. Billington, Crescent No. 7, Whitby.
Yang satu lagi kepada Herr -Leutner, Varna. Yang ketiga kepada Coutts & Co.,
London, sedang yang keempat kepada Herren Klopstopk & Billreuth, bankirs;
Budapest. Yang kedua dan keempat tidak dilem. Aku baru saja akan membacanya,
waktu kulihat gagang pintu berputar. Cepat-cepat kuletakkan kembali surat-surat
itu, lalu duduk kembali di kursiku, dan mengambil buku bacaanku lagi. Count
masuk ke kamar dengan membawa sepucuk surat lagi. Dianv bilnya surat-surat yang
ada di atas meja itu, lalu ditempeli prangko. Kemudian ia berpaling kepadaku dan
berkata, "Maafkan saya lagi, karena saya banyak urusan pribadi malam ini. Apa-apa yang
Anda butuhkan sudah disiapkan semua." Di pintu, ia berbalik lagi, dan setelah
berdiam diri sebentar, ia berkata, "Sebaiknya saya nasihatkan pada Anda ya, ?saya peringatkan benar-benar pada Anda, supaya bila Anda keluar dari kamar-kamar
ini, bagaimanapun juga, jangan sampai Anda tidur di bagian lain puri ini. Ini
bangunan tua, banyak kenangan-kenangan-nya, dan banyak sekali mimpi buruk bagi
siapa 78 yang tidur sembarangan. Ingat itu! Kapan pun Anda mengantuk, cepat-cepatlah
pergi ke kamar tidur Anda sendiri, atau salah satu kamar-kamar ini, karena di
tempat-tempat ini istirahat Anda akan aman. Tapi kalau Anda tidak berhati-hati
dalam hal itu..." Ia menyudahi kata-katanya dengan cara yang mengerikan, dengan
gerakan seolah-olah mencuci tangannya. Aku mengerti sekali. Hanya saja aku*
merasa ragu, apakah suatu mimpi bisa lebih seram daripada jaringan kesuraman dan
misteri mengerikan dan Hfoflfijft gftfcfjftF menyelubungi diriku ini. w j^y$
OL.KA1,* " i Beberapa, waktu .kemudian, -^aktu kutuliskan 1 kata yang terakhir itu, aku tak
merasa ragu lagi. Aku takkan merasa takut tidur di mana pun juga, bila ia tak
ada. Salibku telah kugantung di kepala tempat tidurku. Kubayangkan bahwa dengan
demikian istirahatku akan bebas dari mimpi-mimpi. Dan salib itu akan tetap
tergantung di situ. Setelah ia pergi, aku masuk ke kamarku. Sebentar kemudian, setelah aku tak
mendengar apa-apa, aku keluar lagi dan menaiki tangga balu, ke tempat aku bisa
melihat ke arah selatan. Di tempat yang terbentang luas itu, aku merasakan
kebebasan yang takkan bisa kucapai. Saat melihat ke luar, aku benar-benar merasa
seperti di dalam penjara, dan-rasanya aku sangat membutuhkan udara segar, meski
udara malam sekalipun. Aku mulai merasakan pengaruh "malam ini. Hal itu rasanya
merusak sarafku. Aku terkejut melihat bayang-79
bayangku sendiri, dan bermacam-macam khayalan mengerikan memenuhi benakku. Rasa
takutku yang bebat itu jelas beralasan di tempat terkutuk ini! Aku memandang ke
luar, "ke^tempat indah yang bermandikan cahaya bulan kuning lembut, hingga
keadaan menjadi seperti siang. Dalam temaram lembut itu, bukit-bukit nun jauh di
sana bagaikan menyatu dengan bayang-bayang gelap bak beludru di lembah-lembah
Suling Naga 16 Pendekar Pulau Neraka 50 Bidadari Penyambar Nyawa Tanah Semenanjung 2
^