Pencarian

Number Four 4

I Am Number Four Karya Pittacus Lore Bagian 4


dekat pantai." "Nomor Sembilan?"
"Yah, aku yakin gadis itu salah satu dari kita. Apakah
dia itu Nomor Sembilan atau bukan masih perlu
diselidiki." "Kenapa" Nggak ada yang aneh dari menolong orang
tua dari reruntuhan."
"Lihat," kata Henri, lalu menunjukkan bagian atas
artikel itu. Di sana ada gambar lempeng beton besar
yang tebalnya sekitar 30 senti, dengan panjang dan
lebar 2,5 meter. "Ini yang dia angkat untuk
menyelamatkan lelaki tua itu. Beratnya pasti sekitar
lima ton. Dan lihat ini," kata Henri, lalu menunjukkan
bagian bawah halaman itu. Dia menyorot kalimat
terakhir. Bunyinya: "Sofia Garcia tidak bisa ditemukan
untuk memberikan komentar."
Aku membaca kalimat itu tiga kali. "Dia tidak bisa
ditemukan," kataku. "Tepat. Dia tidak menolak memberikan komentar, dia
hanya tidak bisa ditemukan."
"Bagaimana mereka tahu namanya?"
"Itu kota kecil, ukurannya tak sampai sepertiga
Paradise. Semua orang pasti tahu namanya."
"Dia pergi, ya?"
Henri mengangguk. "Kurasa begitu. Mungkin sebelum
surat kabar itu diterbitkan. Itu sisi buruk dari kota
kecil, tidak mungkin untuk tidak menjadi perhatian."
Aku mendesah. "Dan para Mogadorian juga sulit
untuk tak menonjol."
"Tepat." "Sayang," kataku, lalu berdiri. "Entah apa yang harus
dia tinggalkan." Henri memandangku heran, membuka mulut untuk
mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi dan kembali
berkutat dengan komputernya. Aku kembali ke
kamarku. Aku mengepak tas dengan pakaian ganti
baru dan buku-buku yang kubutuhkan untuk hari itu.
Kembali ke sekolah. Aku tidak antusias, walaupun
pasti menyenangkan bertemu Sam lagi, yang tidak
kulihat selama hampir dua minggu.
"Oke," kataku. "Aku berangkat."
"Semoga harimu indah. Hati-hati di luar sana."
"Sampai ketemu nanti sore."
Bernie Kosar bergegas keluar rumah mendahuluiku.
Dia penuh energi hari ini. Aku rasa dia menantikan lari
pagi kami. Kami tidak melakukannya selama satu
setengah minggu sehingga dia tak sabar untuk itu. Dia
bisa mengimbangi kecepatanku selama berlari.
Setelah kami tiba di sekolah, aku membelai dan
menggaruk belakang telinganya.
"Oke, pulang ke rumah," kataku. Bernie Kosar berbalik
dan mulai berlari kembali ke rumah.
Aku mandi dengan tenang. Begitu selesai, murid-murid
lain mulai berdatangan. Aku berjalan di lorong,
berhenti di lokerku, lalu pergi ke loker Sam. Aku
menepuk punggungnya. Dia terkejut. Saat melihat
bahwa itu aku, dia menyeringai lebar.
"Aku pikir aku dikerjai tadi," katanya.
"Cuma aku, Kawan. Bagaimana Illinois?"
"Ugh," katanya, lalu memutar mata. "Bibiku
memaksaku minum teh dan nonton Little House on
the Prairie hampir setiap hari."
Aku tertawa. "Kedengarannya buruk."
"Memang, percaya deh," katanya, lalu merogoh ke
dalam tas. "Ini ada di kotak surat saat kami kembali."
Sam memberikan edisi They Walk Among Us terbaru
kepadaku. Aku mulai membalik-baliknya.
"Tidak ada tentang kita atau Mogadorian," katanya.
"Bagus," kataku. "Mereka pasti takut setelah kita
mengunjungi mereka."
"Yeah, benar." Dari balik bahu Sam, aku bisa melihat Sarah
menghampiri. Mark James menghentikannya di
tengah lorong dan memberikan beberapa lembar
kertas berwarna oranye. Lalu Sarah terus berjalan.
"Hai, Cantik," kataku saat Sarah tiba. Sarah berjinjit
untuk menciumku. Aku bisa merasakan lip balm
stroberi di bibirnya. "Hai, Sam. Apa kabar?"
"Baik. Kamu?" tanya Sam. Sekarang Sam lebih santai
di dekat Sarah. Sebelum peristiwa Henri, yang terjadi
sekitar satu setengah bulan yang lalu, berdiri di dekat
Sarah selalu membuat Sam tidak nyaman. Dia tidak
bisa menatap mata Sarah dan bingung apa yang
harus dilakukan dengan tangannya. Tapi sekarang
Sam memandang Sarah dan tersenyum, berbicara
dengan percaya diri. "Baik," jawab Sarah. "Aku harus memberikan kalian
ini." Sarah memberikan lembaran oranye yang baru saja
diberikan Mark kepadanya. Itu undangan pesta pada
malam Minggu mendatang di rumah Mark.
"Aku diundang?" tanya Sam.
Sarah mengangguk. "Kita bertiga diundang."
"Kau mau datang?" tanyaku.
"Mungkin bisa kita coba."
Aku mengangguk. "Kau tertarik, Sam?"
Sam memandang melewati Sarah dan aku. Aku
berbalik untuk melihat apa yang Sam lihat, atau
sebenarnya siapa. Di loker di seberang lorong, berdiri
Emily. Dia gadis yang ikut naik gerobak jerami
bersama kami, dan yang Sam taksir sejak saat itu.
Saat Emily lewat, dia melihat Sam memandanginya.
Emily tersenyum sopan. "Emily?" tanyaku kepada Sam.
"Emily apa?" tanya Sam, balik menatapku.
Aku memandang Sarah. "Kurasa Sam naksir Emily
Knapp." "Nggak," kata Sam.
"Aku bisa mengajaknya ke pesta bersama kita," kata
Sarah. "Menurutmu Emily akan pergi?" tanya Sam.
Sarah memandangku. "Yah, mungkin sebaiknya aku
nggak mengundang Emily karena Sam tak suka dia."
Sam tersenyum. "Oke, baiklah. Aku hanya, entahlah."
"Emily selalu bertanya kenapa kau tidak pernah
menelepon setelah naik gerobak jerami itu. Dia
sepertinya suka kepadamu."
"Itu benar," kataku. "Aku pernah dengar Emily
berkata begitu." "Kenapa kau nggak bilang?" tanya Sam.
"Kau nggak tanya."
Sam menunduk memandang kertas itu. "Jadi Sabtu
ini?" "Ya." Sam memandangku. "Kita pergi."
Aku mengangkat bahu. "Kita pergi."
*** Henri sedang menungguku saat bel terakhir berbunyi.
Seperti biasa, Bernie Kosar duduk di tempat duduk
penumpang. Saat melihatku, ekornya mulai dikibaskibas dengan kecepatan 160
kilometer per jam. Aku melompat ke dalam truk. Henri memasukkan gigi dan
menyetir keluar sekolah. "Ada kelanjutan artikel tentang gadis yang di
Argentina," kata Henri.
"Dan?" "Hanya artikel pendek yang menyatakan bahwa dia
hilang. Wali kota menawarkan hadiah kepada yang
bisa memberi informasi di mana gadis itu berada.
Sepertinya mereka yakin dia diculik."
"Apa kau khawatir para Mogadorian menangkapnya
duluan?" "Jika gadis itu si Nomor Sembilan, seperti yang tertulis
di kertas catatan yang kita temukan itu, dan para
Mogadorian sedang membuntutinya, maka bagus jika
dia menghilang. Dan jika dia ditangkap, para
Mogadorian tidak bisa membunuhnya- mereka bahkan
tidak bisa menyakitinya. Masih ada harapan. Sisi
bagusnya, selain dari berita itu sendiri adalah, kurasa
semua Mogadorian di Bumi pergi ke Argentina saat
ini." "Ngomong-ngomong, hari ini Sam membawa edisi
They Walk Among Us terbaru."
"Ada sesuatu di dalamnya?"
"Nggak." "Sudah kuduga. Kemampuanmu menerbangkan
benda tampaknya sangat memengaruhi mereka."
Saat kami tiba di rumah aku berganti pakaian dan
menemui Henri di halaman belakang untuk latihan.
Melakukan banyak sambil dibakar sudah terasa lebih
mudah. Aku tidak kalut seperti pada hari pertama.
Aku bisa menahan napas lebih lama, hampir empat
menit. Aku bisa lebih mengendalikan benda-benda
yang kuangkat. Aku juga bisa mengangkat lebih
banyak benda dalam satu waktu. Sedikit demi sedikit,
ekspresi khawatir yang kulihat di wajah Henri pada
hari pertama mulai mencair. Dia lebih sering
mengangguk. Dia lebih sering tersenyum. Pada hari
ketika latihanku berjalan dengan sangat baik,
matanya bersinar dan dia mengangkat tangan ke
udara serta berteriak "Yes!" sekeras mungkin. Aku jadi
merasa lebih percaya diri dengan Pusakaku. Pusaka
yang lain belum muncul, tapi kurasa tidak akan lama
lagi. Dan juga Pusaka utamaku, apa pun itu.
Penantian itu membuatku terjaga hampir setiap
malam. Aku ingin bertempur. Aku berharap
Mogadorian datang ke halaman belakang rumah kami
sehingga aku bisa balas dendam.
Hari ini latihannya mudah. Tanpa api. Pada dasarnya
aku hanya mengangkat benda-benda dan
menggerakkannya di udara. Dua puluh menit berlalu
dengan Henri melemparkan benda-benda ke arahku.
Kadang-kadang aku perlu membiarkan benda itu
jatuh ke tanah, di saat lain aku harus membelokkan
benda itu dan membuatnya berbalik cepat ke arah
Henri, seperti bumerang. Suatu saat pemukul daging
terbang ke arah Henri dengan begitu cepat sehingga
dia harus menjatuhkan diri ke salju agar tidak
terpukul. Aku tertawa. Henri tidak. Bernie Kosar
berbaring di tanah sepanjang latihan, menonton kami,
seolah memberikan dukungan. Setelah selesai
berlatih, aku mandi, lalu mengerjakan PR. Setelah itu
aku duduk di meja dapur untuk makan malam.
"Sabtu ini ada pesta dan aku akan pergi."
Henri menatapku, berhenti mengunyah. "Pesta siapa?"
"Mark James." Henri tampak terkejut. "Masalah yang dulu kan sudah selesai," kataku
sebelum Henri mengatakan keberatannya.
"Yah, kurasa kau tahu yang terbaik. Tapi ingat apa
yang kau pertaruhkan."
CUACA MENGHANGAT. ANGIN DINGIN, CUACA
menggigit, dan hujan salju terus-menerus digantikan
langit biru dan suhu sepuluh derajat Celcius. Salju
meleleh. Awalnya ada kubangan air di halaman.
Jalanan basah dan terdengar bunyi percikan air
terlindas ban. Namun setelah satu hari, semua air
kering dan menguap. Mobil-mobil lewat dengan mulus
seperti biasa. Ini masa istirahat sebelum pak tua
musim dingin lewat mengemudikan keretanya lagi.
Aku duduk di beranda menanti Sarah, memandangi
langit malam penuh bintang berkelap-kelip serta bulan
purnama. Awan tipis bagai pisau membelah bulan
menjadi dua, lalu hilang dengan cepat. Terdengar
bunyi kerikil dilindas ban, disusul sorotan lampu
depan. Sebuah mobil masuk ke halaman. Sarah keluar
dari sisi pengemudi. Dia mengenakan celana abu-abu
gelap dengan pola lidah api di bagian pergelangan
kaki, sweater cardigan biru laut, dan jaket beige. Mata
birunya semakin menonjol akibat kemeja biru yang
mengintip dari ujung jaket. Rambut pirangnya tergerai
melewati bahu. Dia tersenyum menggoda dan
memandangku, mengedip-ngedipkan mata sambil
berjalan menghampiri. Perutku seakan tergelitik.
Sudah hampir tiga bulan kami bersama, tapi aku tetap
gugup saat melihat Sarah. Rasa gugup yang
sepertinya tidak akan pernah reda seiring dengan
waktu. "Kau tampak menawan," kataku.
"Makasih," katanya sambil membungkukkan badan.
"Kau sendiri nggak jelek."
Aku mencium pipi Sarah. Lalu Henri keluar dari rumah
dan melambai ke ibu Sarah, yang duduk di tempat
duduk penumpang dalam mobil.
"Nanti kau telepon kalau sudah mau dijemput, kan?"
tanya Henri. "Ya," jawabku. Kami berjalan ke mobil. Sarah duduk di belakang
kemudi. Aku duduk di belakang. Sarah sedang belajar
menyetir mobil. Dia bisa menyetir asalkan didampingi
seseorang yang memiliki SIM. Ujian mengemudinya
akan dilaksanakan hari Senin, dua hari lagi. Sejak
tanggal ujian mengemudinya ditetapkan musim dingin
lalu, dia sangat bersemangat. Sarah memundurkan
mobil keluar dari halaman, lalu berbelok ke jalan. Lalu
dia menurunkan pelindung matahari dan
memandangku melalui kaca spion. Aku balas
tersenyum.

I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Jadi bagaimana harimu, John?" tanya ibu Sarah
sambil menengok ke belakang. Kami berbasa-basi. Ibu
Sarah bercerita mengenai perjalanannya ke mal pagi
tadi, dan bagaimana Sarah menyetir. Aku bercerita
bahwa aku bermain dengan Bernie Kosar di halaman,
dan setelah itu lari bersama. Aku tidak menceritakan
mengenai sesi latihan selama tiga jam di halaman
belakang setelahnya. Aku tidak menceritakan
kepadanya bagaimana aku membelah batang pohon
mati dari atas ke bawah menggunakan telekinesis,
atau bagaimana Henri melemparkan pisau ke arahku
yang kemudian kubelokkan ke karung pasir yang
berjarak 15 meter. Aku tidak bercerita bahwa aku
dibakar atau pun mengenai benda-benda yang
kuangkat, kuremukkan, dan kuhancurkan. Rahasia
lagi. Setengah kebenaran yang terasa seperti
kebohongan. Aku ingin memberi tahu Sarah. Aku
merasa seolah mengkhianatinya dengan
merahasiakan itu. Selama minggu-minggu terakhir,
beban itu mulai memberatiku. Tapi aku juga tahu
bahwa aku tidak punya pilihan lain. Tidak pada saat
ini. "Jadi ini tempatnya?" tanya Sarah.
"Ya," jawabku. Sarah masuk ke halaman rumah Sam. Sam sedang
berjalan mondar-mandir. Dia mengenakan jins dan
sweater wol dan mendongak kaget saat kami datang.
Rambutnya berkilap oleh gel. Aku belum pernah
melihat Sam memakai gel. Dia berjalan ke samping
mobil, membuka pintu, dan duduk di sampingku.
"Hai, Sam," kata Sarah, lalu mengenalkan Sam
kepada ibunya. Sarah mundur lagi dan berbelok ke jalan. Kedua
tangan Sam tertancap erat di kursi karena gugup.
Sarah mengemudikan mobil di jalan yang belum
pernah kulihat lalu berbelok ke kanan dan memasuki
jalan untuk mobil yang berkelok. Ada tiga puluh mobil
atau lebih yang diparkir di pinggirnya. Di ujung jalan
untuk mobil itu, dikelilingi pepohonan, terdapat sebuah
rumah besar berlantai dua. Suara musik terdengar
bahkan sebelum kami tiba di sana.
"Wah, rumah yang bagus," kata Sam.
"Baik-baik di sana, ya," kata ibu Sarah. "Dan hati-hati.
Telepon jika perlu sesuatu, atau jika tidak bisa
menghubungi ayahmu," katanya, sambil
memandangku. "Baik, Mrs. Hart," kataku.
Kami keluar dari mobil dan berjalan ke pintu depan.
Dua ekor anjing berlari menyongsong kami dari
samping rumah, seekor golden retriever dan seekor
bulldog. Ekor mereka dikibas-kibaskan dan mereka
mengendus-endus celanaku, mencium bau Bernie
Kosar. Si bulldog membawa tongkat di mulutnya. Aku
mengambil tongkat itu lalu melemparkannya melintasi
halaman. Kedua anjing itu berlari kencang
mengejarnya. "Dozer dan Abby," kata Sarah.
"Dozer itu si bulldog?" tanyaku.
Sarah mengangguk dan tersenyum seolah meminta
maaf. Aku teringat bahwa dia mengenal rumah ini.
Aku ingin tahu apakah dia merasa aneh kembali ke
rumah ini, bersamaku. "Ini ide yang buruk," kata Sam. Dia memandangku.
"Aku baru menyadarinya."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena baru tiga bulan lalu orang yang tinggal di sini
memenuhi loker kita dengan kotoran sapi dan
menimpuk belakang kepalaku dengan bakso saat
makan siang. Dan sekarang kita di sini."
"Taruhan, Emily sudah ada di sini," kataku sambil
menyikutnya. Pintu depan terbuka ke arah lorong masuk. Anjinganjing berlari masuk melewati
kami dan hilang di dapur, yang terletak lurus di depan. Aku bisa melihat
Abby menggigit tongkat. Kami disambut musik keras
sehingga harus berteriak agar bisa didengar. Orangorang berdansa di ruang tamu.
Sebagian besar dari mereka memegang kaleng bir. Hanya sedikit yang
minum air atau soda botolan. Tampaknya orangtua
Mark sedang keluar kota. Seluruh tim football ada di
dapur, setengah dari mereka mengenakan jaket
football. Mark datang dan memeluk Sarah. Lalu dia
menjabat tanganku. Dia menatapku sebentar lalu
mengalihkan pandangan. Mark tidak menjabat tangan
Sam. Dia bahkan tidak memandang Sam. Mungkin
Sam benar. Ini suatu kesalahan.
"Senang kalian bisa datang. Ayo masuk. Bir ada di
dapur." Emily berdiri di salah satu sudut, berbicara dengan
orang lain. Sam memandang ke arah Emily, lalu
bertanya kepada Mark di mana letak kamar mandi.
Mark menunjukkan arahnya.
"Aku segera kembali," kata Sam kepadaku.
Sebagian besar laki-laki berdiri mengelilingi meja di
tengah dapur. Mereka memandangku saat Sarah dan
aku masuk. Aku memandang mereka semua, lalu
mengambil sebotol air dari ember berisi es. Mark
membuka sekaleng bir dan memberikannya kepada
Sarah. Cara Mark memandang Sarah membuatku
sadar bahwa aku tidak percaya kepadanya. Dan
sekarang aku baru sadar betapa anehnya situasi ini.
Aku berada di rumahnya saat ini bersama Sarah,
mantan pacarnya. Aku senang Sam bersamaku.
Aku membungkuk dan bermain dengan anjing-anjing
hingga Sam keluar dari kamar mandi. Saat itu Sarah
sudah sampai di ujung ruang tamu dan berbicara
dengan Emily. Sam menegang di sampingku saat
sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kami lakukan
selain menghampiri mereka dan menyapa. Dia
menarik napas dalam. Di dapur, dua orang anak lakilaki iseng membakar ujung
surat kabar. "Pastikan kau memuji Emily," kataku kepada Sam
saat kami mendekat. Dia mengangguk.
"Kalian di sini toh," kata Sarah. "Aku pikir kau
meninggalkanku sendirian."
"Tak akan," jawabku. "Hai, Emily. Apa kabar?"
"Baik," katanya. Lalu Emily berkata kepada Sam, "Aku
suka rambutmu." Sam hanya memandangnya. Aku menyodok Sam.
Sam tersenyum. "Makasih," katanya. "Kau tampak sangat cantik."
Sarah memandangku penuh arti. Aku mengangkat
bahu dan mencium pipinya. Musik semakin keras.
Sam berbicara dengan Emily, gugup, tapi Emily
tertawa dan setelah beberapa saat Sam menjadi lebih
santai. "Kau baik-baik saja?" tanya Sarah kepadaku.
"Tentu. Aku bersama gadis tercantik di pesta ini. Apa
ada yang lebih baik daripada itu?"
"Gombal," katanya, sambil menusuk perutku.
Kami berempat berdansa selama satu jam atau lebih.
Para pemain football masih minum-minum. Seseorang
muncul membawa satu botol vodka. Segera saja
salah satu dari mereka- entah yang mana- muntah di
kamar mandi sehingga bau muntahan menguar di
lantai bawah. Seorang pemain football pingsan di sofa
ruang tamu, dan beberapa temannya menggambari
wajahnya dengan spidol. Orang-orang masuk dan
keluar melalui pintu yang mengarah ke ruang bawah
tanah. Aku tidak tahu apa yang terjadi di bawah
sana. Aku tidak melihat Sarah selama sepuluh menit
terakhir. Aku meninggalkan Sam dan berjalan
melintasi ruang tamu dan dapur, lalu naik ke atas.
Karpet tebal dan dinding putih dihiasi dengan lukisan
dan foto keluarga. Beberapa pintu kamar tidur
terbuka. Sebagian lagi tertutup. Aku tidak melihat
Sarah. Aku kembali ke bawah. Sam berdiri murung
sendirian di pojok. Aku menghampirinya.
"Kenapa murung?" tanyaku.
Sam menggelengkan kepala.
"Jangan buat aku mengangkatmu ke udara dan
membalikkanmu seperti laki-laki di Athens itu."
Aku tersenyum, Sam tidak.
"Aku baru saja dipojokkan oleh Alex Davis," katanya.
Alex Davis itu salah satu gerombolan Mark James,
penerima bola di tim football. Dia anak kelas tiga,
tinggi dan kurus. Aku belum pernah berbicara
dengannya, sehingga tidak tahu apa-apa tentang
dirinya. "Apa maksudmu 'dipojokkan'?"
"Kami cuma mengobrol. Dia melihatku berbicara
dengan Emily. Aku rasa mereka berkencan pada
musim panas." "Lalu apa" Kenapa kau terganggu?"
Sam mengangkat bahu. "Rasanya menyebalkan, dan
itu menggangguku, oke?"
"Sam, kau tahu berapa lama Sarah dan Mark
berkencan?" "Lama." "Dua tahun," kataku.
"Apa kau terganggu?" tanyanya.
"Nggak sama sekali. Siapa yang peduli dengan masa
lalunya" Lagi pula, lihat Alex," kataku sambil
mengarahkan dagu ke arah Alex yang sedang berdiri
di dapur. Dia duduk merosot di konter dapur, setengah
tak sadar karena mabuk, selapis tipis keringat
berkilauan di dahinya. "Kau pikir Emily kangen dengan
orang seperti itu?" Sam memandang Alex, lalu mengangkat bahu.
"Kau itu laki-laki baik, Sam Goode. Jangan menyesali
diri." "Aku tidak menyesali diri."
"Yah, kalau begitu, jangan khawatir tentang masa lalu
Emily. Kita tidak ditentukan oleh hal-hal yang kita
lakukan atau tak kita lakukan di masa lalu. Ada
orang-orang yang membiarkan diri mereka
dikendalikan oleh penyesalan. Mungkin itu
penyesalan, mungkin juga bukan. Itu hanya sesuatu
yang sudah terjadi. Terima saja."
Sam mendesah. Dia masih bergulat dengan
perasaannya. "Ayolah. Emily suka kepadamu. Tak ada yang perlu
ditakutkan," kataku.
"Tapi aku takut."
"Cara terbaik mengatasi rasa takut adalah dengan
menghadapinya. Hampiri dia dan cium dia. Aku berani
jamin dia akan membalas ciumanmu."
Sam memandangku dan mengangguk. Kemudian dia
pergi ke ruang bawah tanah, tempat Emily berada.
Dua anjing bergulat di ruang tamu. Lidah terjulur. Ekor
dikibas-kibas. Dozer menempelkan dadanya di tanah
dan menunggu Abby hingga cukup dekat, lalu Dozer
melompat menerkam Abby dan Abby melompat
menjauh. Aku memandangi hingga mereka hilang di
tangga, bermain perang-perangan dengan mainan
plastik. Lima belas menit lagi tengah malam. Para
pemain football masih minum-minum di dapur. Aku
mulai mengantuk. Aku masih tidak bisa menemukan
Sarah. Lalu salah satu pemain football berlari dari ruang
bawah tanah dengan tatapan panik dan kalut. Dia
bergegas menuju bak cuci di dapur, menyalakan
keran sebesar mungkin, dan membuka-buka pintupintu lemari di dapur.
"Ada kebakaran di bawah!" katanya kepada temanteman di dekatnya.
Mereka mengisi panci dan wajan dengan air, lalu
bergegas turun satu per satu.
Emily dan Sam muncul dari tangga. Sam tampak
terguncang. "Ada apa?" tanyaku.
"Rumah ini kebakaran!"
"Seberapa parah?"
"Sejak kapan yang namanya kebakaran itu bagus"
Dan kurasa kami yang menyebabkannya. Kami, ehm,
menjatuhkan lilin ke tirai."
Sam dan Emily tampak kusut, jelas mereka baru saja
bermesraan. Aku harus memberi selamat pada Sam
nanti. "Kau lihat Sarah?" tanyaku kepada Emily.
Dia menggeleng. Ada lebih banyak anak laki-laki yang bergegas ke
atas, Mark James bersama mereka. Ada rasa takut di
matanya. Lalu aku mencium bau asap. Aku
memandang Sam. "Keluar," kataku.
Sam mengangguk, menggandeng Emily, lalu mereka
berdua keluar. Beberapa orang mengikuti mereka, tapi
beberapa yang lain tetap di tempat mereka,
memandang penasaran sambil mabuk. Beberapa
orang berdiri dengan bodohnya dan menepuk-nepuk
punggung para pemain football saat mereka berlari
naik dan turun tangga ruang bawah tanah, menyoraki
mereka seolah-olah itu suatu lelucon.
Aku pergi ke dapur dan mengambil benda terbesar
yang tersisa, panci logam ukuran sedang. Aku
mengisinya dengan air lalu turun ke ruang bawah
tanah. Semua orang sudah keluar. Yang tersisa hanya
kami yang bertarung melawan api, yang jauh lebih
besar dari dugaanku. Setengah ruang bawah tanah itu
dilalap api. Memadamkan api dengan sedikit air jelas
sia-sia. Aku tidak berusaha memadamkan api. Aku


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

justru menjatuhkan panci itu dan berlari ke atas. Mark
sedang berlari ke bawah. Aku menghentikannya di
tengah tangga. Dari matanya aku tahu dia mabuk,
tapi aku juga melihat bahwa dia ketakutan dan putus
asa. "Lupakan," kataku. "Terlalu besar. Kita harus
mengeluarkan semua orang."
Mark melihat ke bawah, memandang api. Dia tahu
apa yang kukatakan itu benar. Sikap sok jagonya
menghilang. Tidak ada pura-pura lagi.
"Mark!" bentakku.
Mark mengangguk dan menjatuhkan panci. Kami
berdua berlari ke atas. "Semuanya keluar! Sekarang!" teriakku begitu sampai
di ujung tangga. Beberapa orang yang mabuk tidak bergerak.
Beberapa dari mereka tertawa. Salah satu orang
berkata, "Mana marshmallow-nya?" Mark menampar
wajah orang itu. "Keluar!" bentaknya.
Aku mengambil telepon tanpa kabel dari dinding dan
menyodorkannya ke tangan Mark.
"Telepon pemadam," teriakku mengatasi suara keras
dan musik yang masih meraung entah dari mana
bagaikan musik latar keadaan hiruk-pikuk. Lantai
mulai memanas. Asap mulai mengambang dari
bawah kami. Setelah melihat itu, barulah orang-orang
menanggapinya dengan serius. Aku mendorong
mereka ke pintu. Aku berlari melewati Mark saat dia menekan nomor
dan bergegas melintasi rumah. Aku menaiki tangga
ke lantai dua, tiga anak tangga sekaligus, lalu
menendang pintu-pintu. Satu pasangan sedang
bermesraan di salah satu kamar. Aku membentak
mereka berdua agar keluar. Sarah tidak ada di mana
pun. Aku berlari kembali ke bawah, melewati pintu,
ke malam yang gelap dan dingin. Orang-orang berdiri,
menonton. Aku bisa melihat beberapa dari mereka
senang melihat rumah itu akan terbakar habis.
Beberapa lagi tertawa. Aku mulai panik. Di mana
Sarah" Sam berdiri di belakang kerumunan, yang
mungkin berjumlah sekitar seratus orang. Aku berlari
ke arahnya. "Kau lihat Sarah?" tanyaku.
"Nggak," jawab Sam.
Aku memandang rumah itu kembali. Orang-orang
masih berlarian keluar. Jendela ruang bawah tanah
merah membara, lidah api menjilati kaca jendela.
Salah satu jendela terbuka. Asap hitam keluar dan
membubung tinggi ke udara. Aku menerobos
kerumunan. Lalu ledakan menggetarkan rumah itu.
Seluruh jendela ruang bawah tanah pecah. Beberapa
orang bersorak. Api sudah mencapai lantai satu, dan
api itu bergerak dengan cepat. Mark James berdiri di
depan kerumunan, tidak bisa mengalihkan
pandangan. Wajahnya berkilau dengan cahaya
oranye. Matanya berkaca-kaca, penuh rasa putus asa,
tatapan yang sama seperti yang kulihat di mata para
Loric pada hari penyerbuan. Pasti aneh melihat segala
hal yang kau kenal hancur. Api merebak dengan
ganas, tanpa ampun. Yang bisa Mark lakukan hanya
menatap. Lidah api mulai naik melewati jendela lantai
satu. Kami bisa merasakan panasnya di wajah kami,
dari tempat kami berdiri.
"Di mana Sarah?" tanyaku.
Mark tidak mendengarku. Aku mengguncang
bahunya. Mark beralih dan menatapku dengan
tatapan kosong, jelas masih tidak percaya dengan
apa yang dia lihat. "Di mana Sarah?" tanyaku lagi.
"Aku tak tahu," jawabnya.
Aku mulai menerobos kerumunan mencari Sarah,
semakin lama semakin panik. Semua orang
memandang lautan api itu. Vinil pelapis dinding mulai
mendidih dan meleleh. Gorden-gorden di jendela
sudah terbakar habis. Pintu depan tetap terbuka, asap
mengalir keluar dari bagian atas pintu seperti air
terjun terbalik. Kami bisa melihat hingga ke dapur,
yang seperti neraka. Di bagian kiri rumah, api sudah
mencapai lantai dua. Lalu kami semua mendengarnya.
Jeritan panjang yang mengerikan. Anjing-anjing
menyalak. Hatiku mencelos. Semua orang yang ada di
sana berusaha mendengarkan sambil berharap bahwa
kami tidak mendengar apa yang tadi kami dengar.
Lalu suara itu terdengar lagi. Tidak salah lagi. Ada
orang yang menjerit tanpa henti. Semua orang
menarik napas. "Oh, tidak," kata Emily. "Ya, Tuhan. Jangan."
SEMUA TERDIAM. MATA TERBELALAK, TERPANA. Sarah
dan anjing-anjing pasti ada di suatu tempat di
belakang. Aku menutup mata dan menundukkan
kepala. Yang bisa kucium hanya asap. "Ingat apa
yang kau pertaruhkan," kata Henri terngiang di
kepalaku. Aku tahu benar apa yang kupertaruhkan.
Nyawaku, dan sekarang nyawa Sarah. Jeritan kembali
terdengar. Ketakutan. Mencekam.
Aku merasa Sam menatapku. Dia pernah melihat
kemampuan tahan apiku. Tapi dia juga tahu aku
diburu. Aku memandang berkeliling. Mark berlutut,
berayun ke depan dan ke belakang putus asa. Dia
ingin ini semua segera berakhir. Dia ingin anjinganjing berhenti menyalak. Tapi
anjing-anjing itu tidak berhenti. Perut Mark seperti ditikam setiap kali
mendengar suara anjing menyalak.
"Sam," kataku pelan sehingga hanya Sam yang bisa
mendengar, "aku akan masuk." Sam menutup mata,
menarik napas dalam, dan menatapku.
"Selamatkan dia," katanya.
Kuberikan ponselku dan memintanya menelepon
Henri jika aku tidak bisa berhasil keluar. Sam
mengangguk. Aku berjalan ke belakang, menerobos
kerumunan. Tak ada yang memperhatikanku. Saat
akhirnya tiba di belakang, aku berlari kencang ke arah
belakang rumah agar bisa masuk tanpa terlihat. Dapur
sudah habis ditelan api. Aku memandangnya
sebentar. Terdengar jeritan Sarah dan gonggongan
anjing-anjing. Suara mereka terdengar lebih dekat.
Kutarik napas dalam-dalam. Bersamaan dengan itu,
berbagai hal lainnya pun ikut masuk. Kemarahan.
Ketetapan hati. Harapan dan rasa takut. Aku
membiarkan semua itu masuk. Kurasakan semuanya.
Lalu aku berlari, melintasi halaman belakang, dan
menerobos masuk ke dalam rumah. Api langsung
menelanku, tidak terdengar apa pun kecuali derakan
dan gemeretak deru lidah api. Bajuku terbakar. Lautan
api itu seakan tak berujung. Aku berjalan menuju
bagian depan rumah dan tangga yang sudah
setengah terbakar. Sisa tangga itu masih terbakar dan
tampak rapuh, tapi tidak ada waktu untuk
mengetesnya. Aku berlari ke atas. Namun, tangga itu
runtuh tak kuat lagi menahan berat badanku saat aku
mencapai bagian tengahnya. Aku terjatuh. Api
menjilat semakin tinggi seolah mendapat bahan bakar
tambahan. Sesuatu menembus punggungku. Aku
menggertakkan gigi, masih menahan napas. Aku
berdiri menjauhi reruntuhan dan berusaha
mendengarkan arah jeritan Sarah. Sarah menjerit. Dia
ketakutan. Dia akan mati, mati dalam kematian yang
mengerikan jika aku tidak menolongnya. Waktu
hanya sedikit. Aku harus melompat ke lantai dua.
Aku melompat dan meraih ujung langkan lantai dua
lalu menarik diriku ke atas. Api sudah menjalar ke
bagian lain rumah. Sarah dan anjing-anjing ada di
suatu tempat di sebelah kananku. Aku melompat di
lorong, memeriksa kamar-kamar. Foto-foto di dinding
terbakar bersama bingkainya, hanya tersisa siluet
hitam yang menempel di dinding. Tiba-tiba kakiku
terperosok menembus lantai, aku kaget dan terengah.
Asap dan lidah api langsung terhirup. Aku terbatuk.
Kututup mulut dengan tangan, tapi itu tidak cukup
membantu. Asap dan api membakar paru-paruku. Aku
jatuh berlutut, batuk, berusaha bernapas. Lalu darahku
mendidih penuh tekad dan kemarahan, aku kembali
berdiri dan berjalan, terbungkuk-bungkuk,
menggertakkan gigi, membulatkan tekad.
Kutemukan mereka di kamar ujung lorong sebelah
kiri. Sarah menjerit, "TOLONG!" Anjing-anjing melolong
dan mendengking. Pintu kamar tertutup. Aku
menendangnya hingga pintu itu terlontar lepas dari
engselnya. Mereka bertiga berpelukan erat di salah
satu pojok kamar. Sarah melihatku. Dia meneriakkan
namaku dan hendak berdiri. Aku mengisyaratkan agar
dia tetap di tempatnya. Saat aku melangkahkan kaki ke dalam kamar, balok
penyokong besar yang terbakar jatuh di antara kami.
Kutangkap balok membara itu dan melemparkannya
ke atas, menembus atap. Sarah bingung melihatnya.
Lalu aku melompat ke arah Sarah dengan satu
lompatan berjarak enam meter, mebembus api tanpa
terpengaruh sama sekali. Anjing-anjing ada di kaki
Sarah. Aku menyorongkan Dozer, si bulldog ke lengan
Sarah dan memungut Abby, si retriever. Dengan
tanganku yang lain, aku membantu Sarah berdiri.
"Kau datang," katanya.
"Tak ada seorang pun, dan sesuatu apa pun, yang
akan menyakitimu selama aku masih hidup," kataku
kepadanya. Balok besar lain jatuh dan menembus lantai,
mendarat di dapur di bawah kami. Kami harus keluar
lewat belakang rumah agar tak ada orang yang
melihat kami, atau melihat apa yang akan kulakukan.
Aku merangkul Sarah erat-erat di sampingku dan
memeluk anjing di dadaku. Kami maju beberapa
langkah, lalu melompat di atas lubang berapi akibat
balok yang tadi jatuh. Saat kami mulai berjalan
menyusuri lorong, sebuah ledakan besar di bawah
menghancurkan lorong lantai dua dan membuatnya
lenyap. Tempat yang dulunya adalah dinding dan
jendela langsung dilalap api. Satu-satunya
kesempatan kami hanyalah melalui jendela. Sarah
menjerit lagi. Dia berpegangan erat padaku. Aku bisa
merasakan cakar anjing menembus dadaku,
mendengking ketakutan. Kuulurkan tangan ke
jendela, menatapnya, dan berkonsentrasi. Jendela
langsung terlontar lepas dari bingkainya. Aku menoleh
ke Sarah, merangkulnya. "Pegang yang erat," kataku.
Aku berjalan tiga langkah dan melompat ke depan.
Api menelan kami, tapi kami terbang di udara seperti
peluru, lurus ke arah lubang bekas jendela. Nyaris
saja kami tak berhasil. Namun, sesaat kemudian,
kami meluncur lewat lubang jendela. Serpihan bingkai
jendela yang tajam menggores lengan dan bagian
atas kakiku. Kupeluk Sarah dan Dozer sebisa mungkin,
lalu memutar tubuh agar aku mendarat di punggung
dan mereka semua jatuh di atasku. Kami menubruk
tanah dengan suara bergedebuk. Dozer berguling.
Abby menyalak. Aku mendengar napas Sarah
tercekat. Kami jatuh sekitar sepuluh meter di
belakang rumah. Aku merasakan bagian atas
kepalaku luka tergores pecahan kaca. Dozer yang
pertama bangkit. Tampaknya dia baik-baik saja. Abby
agak lebih lambat. Kaki depannya pincang, tapi kurasa
lukanya tak serius. Aku berbaring telentang dan
memeluk Sarah. Dia mulai menangis. Aku bisa
mencium bau rambutnya yang terbakar. Darah
menetes dari pelipisku dan berkumpul di telinga.
Aku duduk di rumput dan terengah-engah. Sarah di
pelukanku. Bagian bawah sepatuku meleleh.
Kemejaku hampir sepenuhnya terbakar, begitu juga
dengan celana jinsku. Goresan-goresan kecil di
sepanjang kedua lenganku. Tapi aku tidak terbakar
sama sekali. Dozer menghampiri dan menjilati
tanganku. Aku mengelusnya.
"Anjing pintar," kataku di antara isakan Sarah. "Ayo.
Bawa adikmu dan pergi ke depan."
Terdengar bunyi sirene di kejauhan. Mereka akan tiba
di tempat ini dalam satu atau dua menit. Hutan itu
berjarak sekitar seratus meter dari bagian belakang
rumah. Kedua anjing itu duduk memandangiku. Aku
mengangguk ke arah depan rumah. Mereka berdiri
seakan mengerti apa maksudku dan mulai berjalan
ke depan. Sarah masih di pelukanku. Aku
menggendongnya, kemudian berdiri dan berjalan ke
hutan, membawa Sarah yang menangis di bahuku.
Saat memasuki hutan, aku mendengar orang-orang
bersorak. Pasti mereka melihat Dozer dan Abby.
Hutan itu lebat. Bulan purnama masih bersinar tapi
redup. Aku menyalakan tanganku sehingga kami
dapat melihat dengan jelas. Aku mulai menggigil. Aku
merasa panik. Bagaimana aku menjelaskan ini
kepada Henri" Aku mengenakan pakaian yang
terbakar. Kepalaku berdarah. Begitu juga punggungku.
Ditambah lagi berbagai goresan di lengan dan kakiku.
Paru-paruku terasa seperti terbakar setiap kali
menarik napas. Dan Sarah di pelukanku. Sekarang dia
pasti tahu apa yang bisa kulakukan, apa
kemampuanku, atau setidaknya sebagian
kemampuanku. Aku harus menjelaskan segalanya
kepada Sarah. Aku harus memberi tahu Henri bahwa


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sarah tahu. Aku sudah melakukan terlalu banyak
kesalahan. Henri akan berkata bahwa seseorang akan
mengatakan sesuatu. Dia akan berkeras agar kami
pergi. Tidak ada cara lain untuk menghindar.
Kuturunkan Sarah. Dia sudah berhenti menangis dan
sekarang memandangku, kacau, ketakutan, dan
bingung. Aku tahu aku perlu mendapatkan pakaian
dan kembali ke pesta agar orang-orang tidak curiga.
Aku harus membawa Sarah kembali sehingga orangorang tidak berpikir bahwa dia
mati. "Kau bisa berjalan?" tanyaku.
"Kurasa." "Ikut aku." "Kita ke mana?"
"Aku perlu pakaian. Semoga salah satu pemain
football membawa baju ganti."
Kami mulai berjalan menembus hutan. Aku berjalan
memutar dan mengintip ke dalam mobil orang-orang
untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai.
"Apa yang baru saja terjadi, John" Apa yang terjadi?"
"Kau di dalam kebakaran, dan aku menolongmu
keluar." "Apa yang kau lakukan tadi itu tidak mungkin."
"Mungkin bagiku."
"Maksudnya?" Aku memandang Sarah. Aku berharap tidak perlu
mengatakan apa yang akan kuberitahukan
kepadanya. Walaupun aku tahu bahwa ini tidak
realistis, aku selalu berharap bisa tetap tinggal di
Paradise dan bersembunyi. Henri selalu
mengingatkanku agar tidak terlalu dekat dengan
seseorang. Jika kau terlalu dekat dengan seseorang,
suatu saat mereka akan sadar bahwa kau berbeda,
dan itu perlu penjelasan. Dan itu berarti kami harus
pergi. Jantungku berdebar, tanganku gemetar, bukan
karena kedinginan. Jika aku ingin tetap tinggal, atau
lolos dari apa yang kulakukan malam ini, aku harus
memberitahunya. "Aku bukanlah apa yang kau duga," kataku.
"Siapa kau?" "Aku Nomor Empat."
"Maksudnya?" "Sarah, ini mungkin terdengar bodoh dan gila, tapi
yang akan kukatakan ini benar. Kau harus percaya
kepadaku." Sarah menempelkan kedua tangannya di sisi
wajahku. "Jika yang kau katakan itu benar, maka aku
akan memercayaimu." "Memang benar."
"Katakanlah." "Aku ini alien. Aku anak keempat dari sembilan anak
yang dikirim ke Bumi setelah planet kami
dihancurkan. Aku memiliki kekuatan. Kekuatan yang
berbeda dari kekuatan manusia. Kekuatan yang
memungkinkanku melakukan hal-hal seperti yang
kulakukan di rumah itu. Dan ada alien lain di Bumi ini
yang memburuku. Mereka alien yang menyerang
planetku. Jika mereka menemukanku, mereka akan
membunuhku." Kukira Sarah akan menamparku, atau
menertawakanku, atau berteriak, atau berbalik dan
lari meninggalkanku. Namun, dia hanya diam dan
memandangku. Memandang ke dalam mataku.
"Kau mengatakan yang sebenarnya," katanya.
"Memang." Aku memandang Sarah, ingin agar dia
memercayaiku. Sarah menatapku lama, lalu
mengangguk. "Terima kasih karena menyelamatkan nyawaku. Aku
tak peduli apa kau ini atau dari mana kau berasal.
Bagiku kau adalah John, laki-laki yang kucintai."
"Apa?" "Aku mencintaimu, John. Kau menyelamatkan
nyawaku. Hanya itu yang penting."
"Aku juga mencintaimu. Dan akan selalu
mencintaimu." Aku memeluk dan menciumnya. Beberapa saat
kemudian, Sarah melepaskan pelukanku.
"Ayo kita cari pakaian buatmu dan kembali agar
orang-orang tahu kita baik-baik saja."
*** Sarah menemukan pakaian ganti di mobil keempat
yang kami periksa. Pakaian itu cukup mirip dengan
yang aku kenakan- jins dan kemeja
berkancing- sehingga tidak ada yang akan
memperhatikan perbedaannya. Saat tiba kembali di
rumah Mark, kami berdiri agak jauh tapi cukup dekat
sehingga masih bisa melihat. Rumah itu sudah runtuh
dan sekarang hanya tinggal tumpukan kayu hitam
yang lembap karena air. Gumpalan asap membubung
naik di berbagai tempat, tampak mengerikan di langit
malam. Ada tiga truk pemadam kebakaran. Aku
menghitung ada enam mobil polisi. Sembilan lampu
sirene berkelip-kelip tanpa suara. Masih banyak orang
yang bertahan di sana, dan orang sudah disuruh
mundur oleh polisi. Rumah itu dikelilingi pita kuning.
Petugas polisi menanyai beberapa orang. Lima
petugas pemadam kebakaran berdiri di tengah-tengah
reruntuhan rumah, memeriksanya.
Lalu aku mendengar teriakan "Itu mereka!" dari
belakangku. Semua mata menoleh ke arahku. Perlu
lima detik bagiku untuk menyadari bahwa yang
dimaksud adalah aku. Empat petugas polisi menghampiri kami. Di belakang
mereka ada seorang lelaki yang membawa buku
catatan dan alat perekam. Saat kami mencari pakaian
tadi, Sarah dan aku mengarang cerita. Aku ke
belakang rumah dan menemukan Sarah sedang
memandangi api. Dia sudah melompat dari jendela di
lantai dua bersama kedua anjing, yang langsung
kabur. Mulanya kami menonton di tempat yang
terpisah dari kerumunan, tapi akhirnya kami berjalan
kembali ke kerumunan itu. Aku menjelaskan kepada
Sarah bahwa kami harus merahasiakan mengenai
apa yang terjadi, bahkan juga kepada Sam atau
Henri. Jika ada yang tahu sebenarnya, aku harus
langsung pergi. Kami sepakat bahwa aku akan
menjawab pertanyaan dan Sarah akan mengamini
apa pun yang kukatakan. "Kau John Smith?" tanya salah satu polisi itu. Polisi itu
tingginya biasa saja dan berdiri dengan bahu
membungkuk. Dia tidak kelebihan berat badan, tapi
jelas tidak cukup fit, dengan perut gendut dan bagianbagian tubuh yang tampak
lembek. "Ya, kenapa?" "Ada dua orang yang berkata bahwa kau berlari
masuk ke dalam rumah lalu keluar lewat belakang
dan terbang seperti Superman, sambil membawa
anjing dan gadis itu."
"Yang benar?" tanyaku tak percaya. Sarah tetap
berdiri di sampingku. "Itu yang mereka katakan."
Aku pura-pura tertawa. "Rumah itu terbakar. Apa aku
seperti baru dari dalam rumah yang terbakar?"
Dia mengernyitkan alis dan meletakkan tangan di
pinggulnya. "Jadi maksudmu kau tidak masuk ke
sana?" "Aku berkeliling ke halaman belakang mencari Sarah,"
kataku. "Dia sudah keluar bersama anjing-anjing.
Kami tetap di sana dan menonton api itu lalu kembali
ke sini." Polisi itu memandang Sarah. "Benarkah?"
"Ya." "Jadi, siapa yang lari ke dalam rumah?" tanya reporter
di samping si polisi. Baru kali ini dia bicara. Reporter itu
memandangku dengan pandangan cerdas dan
menilai. Aku langsung tahu bahwa dia tidak percaya
dengan ceritaku. "Mana kutahu?" jawabku.
Reporter itu menganggukkan kepala dan menulis
sesuatu di buku catatannya. Aku tidak bisa membaca
tulisannya. "Jadi menurutmu dua saksi itu pembohong?" tanya si
reporter. "Baines," kata si polisi sambil menggelengkan kepala
ke arah si reporter. Aku mengangguk. "Aku tidak masuk ke rumah dan
menyelamatkan dia atau anjing-anjing. Mereka sudah
ada di luar." "Siapa yang bilang soal mengenai menyelamatkan dia
dan anjing-anjing?" tanya Baines.
Aku mengangkat bahu. "Kupikir itu maksudmu."
"Aku tidak bermaksud apa-apa."
Sam menghampiri sambil membawa ponselku. Aku
berusaha menatapnya untuk memberi tahu bahwa ini
bukan saat yang tepat. Namun, Sam tidak mengerti
dan tetap mengembalikan ponselku.
"Makasih," kataku.
"Aku senang kau selamat," kata Sam. Polisi itu
memelototi Sam, lalu Sam menyelinap pergi.
Baines memandang Sam dengan mata menyipit.
Sambil mengunyah permen karet, dia mencoba
menggabungkan informasi. Lalu dia mengangguk
kepada dirinya sendiri. "Jadi kau memberikan ponselmu kepada temanmu
sebelum pergi?" tanyanya.
"Aku memberikannya saat pesta. Terasa tidak
nyaman di sakuku." "Pasti," kata Baines. "Jadi ke mana kau pergi?"
"Oke, Baines, sudah cukup pertanyaannya," kata si
polisi. "Boleh aku pergi?" tanyaku. Dia menganggukkan
kepala. Aku berjalan pergi dengan ponsel di tangan,
memutar nomor Henri, bersama Sarah di sampingku.
"Halo," jawab Henri.
"Aku sudah siap dijemput," kataku. "Ada kebakaran
besar di sini." "Apa?" "Bisakah kau menjemput kami?"
"Ya. Aku segera berangkat."
"Jadi bagaimana kau menjelaskan luka di kepalamu?"
tanya Baines dari belakangku. Dia membuntutiku,
mendengarkan percakapanku dengan Henri.
"Luka akibat dahan di hutan."
"Pas sekali," katanya, lalu menulis sesuatu lagi di buku
catatannya. "Aku bisa tahu kalau aku dibohongi, kau
tahu?" Aku mengabaikannya, tetap berjalan sambil
memegang tangan Sarah. Kami berjalan ke arah Sam.
"Aku akan mendapatkan cerita yang sebenarnya, Mr.
Smith. Aku selalu begitu," teriak Baines dari
belakangku. "Henri sedang di jalan," kataku kepada Sam dan
Sarah. "Tadi itu apa?" tanya Sam.
"Entah. Ada yang mengaku melihatku lari ke dalam,
mungkin orang yang terlalu banyak minum," kataku
lebih kepada Baines daripada Sam.
Kami berdiri di ujung jalan untuk mobil hingga Henri
tiba. Begitu tiba, dia turun dari truk dan memandang
rumah hangus di kejauhan.
"Ya ampun. Bersumpahlah bahwa kau tidak terlibat,"
katanya. "Aku tidak terlibat," kataku.
Kami masuk ke dalam truk. Henri menyetir pergi
sambil memandangi reruntuhan yang berasap.
"Kalian bau asap," kata Henri.
Kami tidak menjawab, hening sepanjang jalan. Sarah
duduk di pangkuanku. Kami menurunkan Sam dulu,
kemudian Henri mundur dari halaman rumah Sam dan
mengarahkan truk ke rumah Sarah.
"Aku tak mau berpisah denganmu malam ini," kata
Sarah kepadaku. "Aku juga tak mau berpisah denganmu."
Saat tiba di rumah Sarah, aku keluar bersamanya dan
mengantar Sarah hingga di pintu. Dia tidak mau
melepaskanku saat aku memberikan pelukan selamat
malam. "Apa kau akan meneleponku saat tiba di rumah?"
"Tentu." "Aku mencintaimu."
Aku tersenyum. "Aku juga mencintaimu."
Sarah masuk ke rumah. Aku berjalan kembali ke truk,
tempat Henri menunggu. Aku harus mencari cara agar
Henri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam
ini, yang bisa membuat kami meninggalkan Paradise.
Henri keluar dari halaman rumah Sarah dan menyetir
pulang. "Jaketmu mana?" tanyanya.
"Di lemari Mark."
"Kepalamu kenapa?"
"Terantuk saat mencoba keluar ketika kebakaran
terjadi." Henri memandangku ragu. "Kau bau asap."
Aku mengangkat bahu. "Ada banyak asap."
"Jadi, apa yang menyebabkan kebakaran?"
"Tebakanku sih mabuk."
Henri mengangguk dan berbelok ke jalan kami.
"Yah," katanya. "Pasti menarik melihat apa yang ada
di surat kabar hari Senin." Dia menoleh dan
menatapku, mempelajari reaksiku.


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku tetap diam. Ya, pikirku, pasti menarik.
AKU TIDAK BISA TIDUR. AKU BERBARING DI tempat
tidur menatap kegelapan di langit-langit. Aku
menelepon Sarah dan kami mengobrol hingga pukul
tiga pagi. Lalu aku menutup telepon dan berbaring
dengan mata nyalang. Pukul empat aku turun dari
tempat tidur dan keluar kamar. Henri duduk di meja
dapur, minum kopi. Dia memandangku, ada kantong
mata di matanya, rambutnya kusut.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Tak bisa tidur juga," katanya. "Memeriksa berita."
"Menemukan sesuatu?"
"Ya, tapi aku tidak yakin apa pentingnya bagi kita.
Orang-orang yang menulis dan menerbitkan They
Walk Among Us, yang kita temui itu, disiksa dan
dibunuh." Aku duduk di depan Henri. "Apa?"
"Polisi menemukan mereka karena para tetangga
menelepon akibat mendengar jeritan dari rumah itu."
"Mereka tidak tahu di mana kita tinggal."
"Tidak, mereka tidak tahu. Syukurlah. Tapi itu artinya
para Mogadorian makin berani. Dan mereka dekat.
Jika kita melihat atau mendengar sesuatu yang tidak
wajar, kita harus pergi secepatnya, tanpa banyak
tanya, tanpa berdebat."
"Oke." "Bagaimana kepalamu?"
"Sakit," kataku. Perlu tujuh jahitan untuk menutup
luka itu. Henri yang menjahitnya. Aku mengenakan
kaus olahraga longgar. Aku yakin salah satu luka di
punggungku juga harus dijahit, tapi itu berarti aku
harus membuka kemejaku, lalu bagaimana aku
menjelaskan luka-luka dan baret-baret itu kepada
Henri" Dia pasti langsung tahu apa yang telah terjadi.
Paru-paruku masih panas. Sakitnya semakin parah.
"Jadi, kebakaran itu berawal dari ruang bawah
tanah?" "Ya." "Dan saat itu kau di ruang tamu?"
"Ya." "Bagaimana kau tahu kebakaran itu berawal dari
ruang bawah tanah?" "Karena semua orang lari ke atas dari sana."
"Dan kau tahu bahwa semua orang sudah ada di luar
saat kau keluar?" "Ya." "Bagaimana bisa?"
Aku tahu Henri sedang mencoba memancingku. Dia
tidak percaya dengan ceritaku. Aku yakin Henri tidak
percaya bahwa aku hanya berdiri di depan menonton
kebakaran seperti yang lainnya.
"Aku nggak masuk ke dalam," kataku. Hatiku sakit
karena melakukannya, tapi aku menatap matanya
dan berbohong. "Aku percaya," katanya.
*** Aku terbangun menjelang siang. Burung-burung
berkicau di luar, dan sinar matahari masuk dari
jendela. Aku bernapas lega. Aku dibiarkan tidur
hingga siang. Itu berarti tidak ada berita mengenai
diriku. Jika ada berita mengenaiku, aku pasti sudah
ditarik dari tempat tidur dan disuruh berkemas.
Aku berguling telentang dan merasa sakit. Dadaku
seakan ditindih seseorang, ditekan. Aku tidak bisa
bernapas dalam-dalam. Saat aku mencoba menarik
napas dalam, ada rasa sakit yang menusuk. Aku
takut. Bernie Kosar mendengkur dengan tubuh melingkar di
sampingku. Aku membangunkannya dengan
mengajaknya bergulat. Mulanya dia mengerang, lalu
ikut bergulat. Beginilah cara kami mengawali hari. Aku
membangunkan anjing di sampingku yang tidur
mendengkur. Ekornya yang dikibas-kibas, dan
lidahnya yang terjulur langsung membuatku merasa
lebih baik. Membuatku lupa rasa sakit di dadaku.
Membuatku tidak khawatir dengan apa yang akan
terjadi hari itu. Truk Henri tidak ada. Di meja ada kertas yang
bertuliskan: "Pergi ke toko. Pulang jam satu." Aku
berjalan keluar. Kepalaku sakit dan lenganku
berbaret-baret merah. Lukanya agak menggembung
seolah aku baru dicakar kucing. Aku tidak peduli
dengan luka, sakit kepala, atau rasa terbakar di
dadaku. Yang aku pedulikan hanya bahwa saat ini
aku masih di sini, di Ohio, lalu besok aku akan
kembali ke sekolah yang sudah tiga bulan aku
datangi, dan malam ini aku akan menemui Sarah.
*** Henri pulang pukul satu. Matanya tampak cekung
sehingga aku tahu dia belum tidur. Setelah
mengeluarkan belanjaan, dia pergi ke kamarnya dan
menutup pintu. Bernie Kosar dan aku pergi berjalanjalan di hutan. Aku mencoba
berlari. Aku bisa berlari
sebentar. Namun setelah sekitar setengah kilometer,
rasa sakit di dadaku semakin parah dan aku harus
berhenti. Kami berjalan sejauh kurang lebih delapan
kilometer. Hutan itu berakhir di jalan pedesaan lain
yang mirip dengan jalan menuju rumah kami. Aku
berbalik dan berjalan pulang. Henri masih di
kamarnya dengan pintu masih tertutup saat aku
kembali. Aku duduk di beranda. Badanku tegang
setiap kali ada mobil yang lewat. Aku selalu berpikir
bahwa salah satunya akan berhenti, tapi ternyata
tidak. Rasa percaya diri yang kurasakan saat bangun tidur
tadi pagi perlahan-lahan mulai terkikis seiring
berjalannya waktu. Paradise Gazette tidak dicetak
pada hari Minggu. Apa besok ada berita menarik" Aku
rasa aku berharap ada telepon, atau reporter yang
kemarin, muncul di rumah kami, atau salah satu polisi
menanyakan lebih banyak pertanyaan. Aku tidak tahu
mengapa aku begitu khawatir dengan reporter
amatiran itu, tapi dia begitu gigih- terlalu gigih malah.
Dan aku tahu dia tidak percaya dengan ceritaku.
Tapi tidak ada orang yang datang ke rumah kami.
Tidak ada yang menelepon. Aku mengharapkan
sesuatu. Lalu saat sesuatu itu tidak terjadi, rasa takut
bahwa kedokku akan terbuka mulai merayapiku.
"Aku akan mendapatkan cerita yang sebenarnya, Mr.
Smith. Aku selalu begitu," kata Baines. Aku berpikir
untuk berlari ke kota, mencari reporter itu dan
memintanya agar jangan mencari cerita yang
sebenarnya, tapi aku tahu itu hanya akan
menimbulkan kecurigaan. Yang bisa kulakukan
hanyalah menahan napas dan berdoa.
Aku tidak ada di dalam rumah itu.
Tidak ada yang kusembunyikan.
*** Malam harinya, Sarah datang. Kami pergi ke kamarku.
Aku memeluknya sambil berbaring telentang. Dia
bertanya mengenai siapa aku, masa laluku, mengenai
Lorien, dan mengenai para Mogadorian. Aku masih
takjub dengan begitu cepatnya, dan begitu
mudahnya, Sarah memercayai segalanya, dan
bagaimana dia menerima itu semua. Aku menjawab
semuanya dengan jujur, yang terasa lebih enak
setelah segala kebohongan yang kukatakan selama
beberapa hari terakhir. Tapi saat kami bicara
mengenai para Mogadorian, aku mulai merasa takut.
Aku takut mereka bisa menemukan kami. Aku takut
apa yang kulakukan kemarin akan menyebabkan
penyamaran kami terbongkar. Aku memang akan
tetap melakukan hal yang sama seandainya kejadian
itu terulang lagi, karena jika tidak, Sarah akan mati,
tapi aku takut. Aku juga takut dengan apa yang akan
Henri lakukan jika dia tahu. Walaupun bukan ayah
biologisku, Henri sudah seperti ayahku. Aku
menyayanginya dan dia menyayangiku. Aku tidak
ingin membuatnya kecewa. Dan saat kami berbaring,
rasa takutku semakin meningkat. Aku tidak tahan
karena tidak tahu apa yang akan terjadi
besok- ketidakpastian membuatku galau.
Kamarku gelap. Lilin menyala berkelap-kelip di
ambang jendela, beberapa meter dari kami. Aku
menarik napas dalam, sedalam yang aku bisa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sarah.
Aku memeluknya. "Aku kangen kamu," kataku.
"Kamu kangen aku" Tapi aku kan ada di sini."
"Ini rasa rindu yang paling menyakitkan. Orang yang
kau cinta ada di sampingmu tapi kau tetap
merindukannya." "Bicaramu kacau." Sarah menciumku. Aku tidak ingin
dia berhenti. Selama dia bersamaku, maka segalanya
baik-baik saja. Segalanya baik-baik saja. Seandainya
bisa, aku ingin tinggal di kamar ini selamanya. Dunia
bisa tetap berputar tanpa aku, tanpa kami. Selama
kami bisa tinggal di sini, bersama, berpelukan.
"Besok," kataku.
Sarah memandangku. "Besok, apa?"
Aku menggelengkan kepala. "Aku tak tahu," kataku.
"Kurasa aku hanya takut."
Sarah memandangku bingung. "Takut apa?"
"Entahlah," kataku. "Hanya takut."
*** Begitu Henri dan aku kembali setelah mengantar
Sarah pulang, aku ke kamarku dan tidur di tempat
yang tadi ditiduri Sarah. Aku masih bisa mencium
aroma tubuhnya. Aku tidak akan tidur malam ini. Aku
bahkan tidak akan mencoba untuk tidur. Aku mondarmandir di kamar. Saat Henri
tidur, aku keluar dan duduk di meja dapur, menulis di bawah sinar lilin. Aku
menulis mengenai Lorien, mengenai Florida, mengenai
hal-hal yang kulihat sejak latihan kami
dimulai- perang, hewan-hewan, ingatan masa kanakkanak. Aku berharap bisa
melepaskan emosiku, tapi ternyata tidak. Aku malah semakin sedih.
Saat tanganku terasa pegal, aku berjalan ke luar
rumah dan berdiri di beranda. Udara dingin membantu
meringankan rasa sakit saat bernapas. Bulan hampir
penuh, masih ada bagian tepinya yang terlihat samar.
Dua jam lagi matahari terbit, hari baru dimulai, dan
ada berita dari akhir pekan kemarin. Surat kabar
biasanya tiba di halaman rumah kami pukul enam,
kadang-kadang pukul enam tiga puluh. Aku pasti
sudah di sekolah saat surat kabar itu tiba. Jika aku
ada dalam surat kabar itu, aku tidak mau pergi tanpa
menjumpai Sarah sekali lagi, tanpa mengucapkan
selamat tinggal kepada Sam.
Aku berjalan ke dalam rumah, berganti pakaian, dan
mengemasi tas. Aku mengendap-endap melintasi
rumah dan menutup pintu perlahan-lahan. Saat sudah
berjalan tiga langkah di beranda, aku mendengar
suara pintu digaruk. Aku berbalik dan membuka pintu.
Bernie Kosar berjalan keluar. Oke, pikirku, mari pergi
bersama. Kami berjalan, sering kali berhenti, berdiri dan
mendengarkan keheningan. Hari masih gelap. Namun
setelah beberapa waktu, sinar pucat merebak di langit
timur saat kami memasuki halaman sekolah. Tidak
ada mobil di tempat parkir. Semua lampu di dalam
gedung dimatikan. Tepat di depan sekolah, di depan
lukisan dinding bajak laut, berdirilah sebuah batu
besar yang dicat oleh para murid-murid yang sudah
lulus. Aku duduk di atas batu itu. Bernie Kosar
berbaring di rumput beberapa meter dariku. Setengah
jam setelah aku tiba di sekolah, muncul satu
kendaraan. Sebuah van. Kukira van itu milik Hobbs, si
tukang sapu, yang selalu tiba pagi di sekolah untuk
berbenah. Ternyata aku salah. Van itu berhenti di
pintu depan gedung sekolah. Pengemudinya turun dan
membiarkan mesin tetap menyala. Dia membawa
setumpuk surat kabar yang diikat. Kami saling
mengangguk. Dia meletakkan tumpukan surat kabar
itu di pintu kemudian pergi. Aku diam di batu itu. Aku
melirik tumpukan surat kabar itu dengan jijik. Aku
menumpahkan rentetan sumpah serapah dalam hati,
mengancam jika surat kabar itu berisi berita buruk
yang kutakutkan. "Aku tidak berada di dalam rumah itu hari Sabtu
kemarin," kataku keras-keras, dan aku langsung
merasa bodoh sekali. Lalu aku mengalihkan
pandangan, mendesah, dan turun dari batu itu.
"Yah," kataku kepada Bernie Kosar. "Ini dia, baik atau
buruk." Bernie Kosar membuka mata sebentar, lalu
menutupnya kembali dan melanjutkan tidurnya di
tanah yang dingin. Aku merobek ikatan tumpukan surat kabar itu dan
mengangkat surat kabar paling atas. Beritanya dimuat
di halaman utama. Di bagian atas terdapat foto puingpuing yang terbakar. Foto
itu diambil pada keesokan
paginya. Foto itu tampak suram dan mengerikan. Abu
menghitam di depan pepohonan gundul dan rumput
berlapiskan es. Aku membaca judulnya:
RUMAH KELUARGA JAMES HABIS DILAHAP SI JAGO MERAH
Aku menahan napas. Perutku terasa tidak enak
karena takut menemukan berita mengerikan
mengenai diriku. Aku membaca beritanya dengan


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cepat. Aku tidak benar-benar membacanya. Aku
hanya mencari namaku, hingga sampai akhir berita.
Aku mengedipkan mata dan menggeleng tak percaya.
Senyum mengembang di wajahku. Lalu aku
membaca berita itu dengan cepat sekali lagi.
"Tak mungkin," kataku. "Bernie Kosar, namaku nggak
ada di sini!" Bernie Kosar tidak memedulikanku. Aku berlari di
rumput dan melompat kembali ke batu tadi.
"Namaku nggak ada!" teriakku lagi, kali ini sekeras
mungkin. Aku duduk dan membaca berita itu. Polisi yakin
bahwa kebakaran itu terjadi karena ada yang
mengisap ganja di ruang bawah tanah. Aku tidak
tahu bagaimana polisi bisa mengira begitu, terutama
karena itu sangat-sangat salah. Artikel itu sendiri
kejam dan tanpa belas kasihan, hampir seperti
menyalahkan keluarga James. Aku tidak suka
reporternya. Dan jelas bahwa reporter itu juga tidak
menyukai keluarga James. Tapi kenapa"
Aku duduk di batu dan membaca artikel itu tiga kali
sebelum penjaga sekolah tiba dan membuka pintu
gedung sekolah. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Aku tetap tinggal di Ohio, di Paradise. Nama kota ini
tidak lagi terasa aneh bagiku. Walaupun senang luar
biasa, aku merasa seperti melewatkan sesuatu,
seperti melupakan hal penting. Tapi aku begitu
bahagia sehingga tidak peduli. Hal buruk apa yang
bisa terjadi sekarang" Namaku tidak ada di artikel.
Aku tidak berlari masuk ke dalam rumah James.
Buktinya ada di sini, di tanganku. Tidak ada yang bisa
menentangnya. "Kenapa kamu senang begitu?" tanya Sam saat
pelajaran astronomi. Aku belum berhenti tersenyum.
"Kau baca surat kabar pagi ini?"
Sam mengangguk. "Sam, aku tidak ada di dalamnya! Aku tidak perlu
pergi." "Kenapa mereka mau memasukkan namamu ke
dalam surat kabar?" tanyanya.
Aku tercengang. Aku membuka mulut untuk berdebat
dengan Sam, tapi kemudian Sarah masuk ke kelas.
Dia berjalan menyusuri gang.
"Halo, Cantik," kataku.
Sarah membungkuk dan mencium pipiku, sesuatu
yang tidak pernah kuanggap biasa saja.
"Ada yang senang hari ini," katanya.
"Senang melihatmu," kataku. "Khawatir dengan ujian
mengemudimu?" "Mungkin sedikit. Cuma ingin ini semua segera
berakhir." Sarah duduk di sampingku. Ini hariku, pikirku. Aku
ingin berada di sini dan di sinilah aku berada. Sarah di
satu sisi, dan Sam di sisi yang lain.
Aku belajar seperti pada hari-hari lainnya. Aku duduk
bersama Sam saat makan siang. Kami tidak berbicara
mengenai kebakaran itu. Pasti hanya kami di sekolah
ini yang tidak membicarakan itu. Kisah yang sama,
diulang-ulang terus. Aku tidak pernah mendengar
namaku disebut. Seperti yang kuduga, Mark tidak
masuk. Ada kabar burung bahwa dia dan beberapa
temannya diskors karena teori yang ada di surat
kabar itu. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak.
Aku tidak tahu apakah aku peduli.
Saat Sarah dan aku masuk ke dapur sekolah pada
jam pelajaran kedelapan, tata boga, keyakinanku
bahwa aku aman semakin kuat. Keyakinan itu begitu
kuat dan justru membuatku merasa bahwa aku salah,
bahwa ada yang terlewat. Sepanjang hari, keraguan
itu semakin meningkat. Tapi aku menekannya dengan
cepat. Kami membuat puding tapioka. Hari yang biasa. Di
tengah-tengah pelajaran, pintu dapur terbuka. Guru
pengawas. Aku memandangnya dan langsung
mengerti. Pembawa berita buruk. Pembawa pesan
kematian. Dia berjalan lurus ke arahku dan
memberikanku secarik kertas.
"Mr. Harris ingin bertemu denganmu," katanya.
"Sekarang?" Dia mengangguk. Aku memandang Sarah dan mengangkat bahu. Aku
tidak ingin Sarah melihat ketakutanku. Aku tersenyum
ke arahnya dan berjalan ke pintu. Sebelum pergi, aku
berbalik dan memandang Sarah lagi. Sarah
membungkuk di meja, mengaduk bahan-bahan. Dia
mengenakan celemek hijau yang kuikatkan untuknya
pada hari pertamaku, ketika kami membuat pancake
dan makan dari satu piring. Rambutnya dikuncir ekor
kuda dan ada helaian rambut yang menggantung di
depan wajahnya. Dia menyampirkannya ke belakang
telinga dan melihatku berdiri di pintu memandanginya.
Aku tetap memandangi Sarah, mencoba mengingat
setiap rinciannya, caranya memegang sendok kayu,
warna kulitnya yang seperti gading di bawah sinar
dari jendela di belakangnya, kelembutan di matanya.
Ada kancing yang lepas di kerah kemejanya. Aku
penasaran apakah Sarah menyadarinya. Guru
pengawas mengatakan sesuatu di belakangku. Aku
melambai ke Sarah, menutup pintu, dan berjalan
menyusuri lorong. Aku berjalan dengan tenang,
mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya formalitas
belaka, ada dokumen yang lupa ditandatangani, ada
pertanyaan mengenai catatan akademis. Tapi aku
tahu ini bukan formalitas.
Mr. Harris duduk di mejanya saat aku masuk ke
kantornya. Dia tersenyum dengan cara yang
membuatku takut, senyuman bangga yang sama
seperti saat dia memanggil Mark dari kelas untuk
wawancara. "Duduk," katanya. Aku duduk. "Jadi apakah itu
benar?" tanyanya. Dia melirik sekilas ke monitor
komputernya, lalu kembali memandangku.
"Apa yang benar?"
Di atas mejanya terdapat sebuah amplop dengan
namaku yang ditulis dengan tangan menggunakan
tinta hitam. Mr. Harris melihatku memandangnya.
"Oh, ya. Ini difaks untukmu sekitar setengah jam
yang lalu." Dia mengambil amplop itu dan melemparkannya
kepadaku. Aku menangkapnya.
"Apa ini?" tanyaku.
"Entahlah. Sekretarisku langsung memasukkan ke
dalam amplop begitu menerimanya."
Beberapa hal terjadi bersamaan. Aku membuka
amplop itu dan mengeluarkan isinya. Dua lembar
kertas. Yang paling depan adalah halaman sampul
dengan namaku dan tulisan "RAHASIA" yang tertulis
dengan huruf hitam besar. Aku membaliknya dan
melihat lembar kedua. Satu kalimat dengan huruf
kapital. Tidak ada nama. Hanya empat kata hitam
berlatar belakang putih. "Jadi, Mr. Smith, apa itu benar" Kau berlari masuk ke
dalam rumah yang terbakar untuk menyelamatkan
Sarah Hart dan anjing-anjing?" tanya Mr. Harris. Darah
mengalir ke wajahku. Aku mendongak. Mr. Harris
memutar monitor komputernya ke arahku sehingga
aku bisa membaca yang ada di sana. Sebuah blog
yang tergabung dengan Paradise Gazette. Aku tidak
perlu melihat nama penulis untuk mengetahui siapa
yang menulisnya. Judulnya sudah cukup.
KEBAKARAN DI RUMAH JAMES:
KISAH YANG TIDAK DIBERITAKAN
Napasku tercekat. Jantungku berdebar kencang. Dunia
berhenti, atau setidaknya terasa begitu. Aku merasa
mati di dalam. Aku menunduk memandang kertas
yang kupegang. Kertas putih, terasa mulus di ujung
jariku. Bunyinya: APAKAH KAU NOMOR 4" Kedua kertas itu terlepas dari tanganku, meluncur, dan
melayang ke lantai, lalu diam di sana. Aku tidak
mengerti, pikirku. Bagaimana ini bisa terjadi"
"Jadi apa benar?" tanya Mr. Harris.
Mulutku terbuka. Mr. Harris tersenyum, bangga,
senang. Tapi bukan dia yang kulihat. Melainkan apa
yang di belakangnya, melalui jendela kantornya.
Warna merah muncul dari sudut lapangan parkir,
bergerak lebih cepat daripada normal, atau kecepatan
aman. Ban berdecit saat truk itu masuk ke halaman
sekolah. Kerikil berloncatan saat truk itu berbelok
untuk kedua kalinya. Henri mencondongkan tubuh di
setir seperti seorang maniak gila. Dia menginjak rem
begitu kuat sehingga seluruh tubuhnya terloncat dan
truk itu berdecit berhenti.
Aku menutup mata. Aku meletakkan kepala di tanganku.
Aku mendengar pintu truk dibuka dari jendela. Lalu
ditutup. Sebentar lagi Henri akan masuk ke kantor ini.
"KAU BAIK-BAIK SAJA, MR. SMITH?" TANYA Kepala
Sekolah. Aku mendongak memandangnya. Dia
mencoba memperlihatkan wajah khawatir, yang
hanya bertahan satu detik sebelum seringai lebar
kembali ke wajahnya. "Tidak, Mr. Harris," kataku. "Aku tidak sehat."
Aku mengambil kertas-kertas yang jatuh. Aku
membacanya lagi. Dari mana datangnya" Tidak ada
nomor telepon, alamat, bahkan nama. Tidak ada apa
pun kecuali empat kata dan satu tanda tanya. Aku
menengadah dan memandang keluar jendela. Truk
Henri diparkir, uap mengepul dari knalpot. Dia datang
secepatnya. Aku kembali melihat monitor komputer.
Artikel itu diposting pukul 11:59, hampir dua jam yang
lalu. Aku heran Henri perlu waktu selama ini untuk
tiba. Aku merasa pusing. Tubuhku limbung.
"Perlu perawat?" tanya Mr. Harris.
Perawat, pikirku. Tidak, aku tidak butuh perawat.
Ruang kesehatan ada di sebelah dapur kelas tata
boga. Yang kuperlukan, Mr. Harris, adalah kembali ke
sana, kembali ke lima belas menit yang lalu, sebelum
guru pengawas muncul di kelas. Saat ini pasti Sarah
sudah menaikkan puding ke kompor. Aku ingin tahu
apakah sudah mendidih atau belum. Apakah Sarah
memandang ke pintu, menantiku kembali"
Gaung lemah pintu sekolah dibanting tertutup
terdengar hingga ke kantor kepala sekolah. Lima
belas detik lagi Henri sampai di kantor ini. Lalu ke
truknya. Lalu ke rumah. Lalu ke mana" Ke Maine"
Missouri" Kanada" Sekolah lain, awal baru lagi, nama
baru lagi. Aku belum tidur sekejap pun selama tiga puluh jam
terakhir, dan sekarang aku merasa lelah. Tapi aku
juga merasakan perasaan lain. Dalam waktu yang
begitu singkat, kenyataan bahwa aku akan pergi
selamanya tanpa sempat mengucapkan selamat
tinggal tiba-tiba terasa begitu berat. Mataku menyipit,
aku sedih, lalu- tanpa berpikir, tanpa benar-benar tahu
apa yang kulakukan- aku menerjang melompati meja
Mr. Harris, menerobos jendela kaca, yang langsung
pecah berkeping-keping. Jeritan kaget terdengar.
Aku mendarat di rumput di luar. Aku berbelok ke
kanan dan berlari melintasi halaman sekolah. Ruangruang kelas di sebelah kananku
tampak kabur. Aku melewati tempat parkir dan masuk ke hutan yang
ada di belakang lapangan bisbol. Dahi dan siku kiriku
luka akibat kaca jendela tadi. Paru-paruku terbakar.
Persetan dengan rasa sakitnya. Aku terus berlari.
Tangan kananku masih membawa kertas tadi. Aku
memasukkannya ke dalam saku. Kenapa Mogadorian
mengirim faks" Kenapa mereka tidak langsung
muncul" Itu kelebihan utama mereka, tiba tanpa
diduga, tanpa peringatan. Unsur kejutan.
Aku berbelok tajam ke kiri di tengah hutan, berlari
menembus lebarnya hutan hingga hutan itu berakhir
dan tanah lapang terlihat. Sepi memamah biak sambil
memandang dengan tatapan kosong saat aku
melintas. Aku kembali ke rumah lebih dulu daripada
Henri. Bernie Kosar tidak ada di mana pun. Aku
melewati pintu dan berhenti. Napasku tercekat. Di
meja dapur, di depan laptop Henri yang terbuka,
duduklah seseorang yang langsung kuduga sebagai
salah satu dari mereka. Mereka tiba lebih dulu
daripadaku. Mereka mengakaliku sehingga aku
sendirian, tanpa Henri. Orang itu berbalik. Aku
mengepalkan tinju, siap berkelahi.
Mark James. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.
"Aku mencari tahu apa yang terjadi," katanya, rasa
takut begitu jelas di matanya. "Siapa sebenarnya
kau?" "Apa yang kau bicarakan?"
"Lihat," katanya, menunjuk ke layar komputer.
Aku berjalan ke arahnya. Namun aku tidak melihat
layar komputer dan justru menatap kertas putih yang
ada di samping komputer. Kertas itu sama dengan
kertas yang ada di dalam sakuku, tapi kertas itu lebih
tebal daripada faks. Lalu aku melihat sesuatu yang
lain. Di bagian bawah kertas Henri, ada nomor telepon
dengan tulisan yang sangat kecil. Masa mereka ingin
kami menelepon" "Ya, ini aku, Nomor Empat. Aku di
sini menantimu. Kami sudah melarikan diri selama


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sepuluh tahun, tapi tolong, datanglah dan bunuh kami.
Kami tidak akan melawan." Itu sama sekali tidak
masuk akal. "Ini punyamu?" tanyaku.
"Bukan," kata Mark. "Kurir mengantarkan kertas itu
saat aku tiba di sini. Ayahmu membacanya saat aku
memperlihatkan video ini, lalu dia berlari keluar."
"Video apa?" tanyaku.
"Lihat," kata Mark.
Aku menatap komputer dan melihat bahwa Mark
sudah membuka YouTube. Dia mengklik tombol play.
Video itu kabur, kualitasnya jelek. Tampaknya
seseorang menggunakan telepon genggam untuk
merekam peristiwa itu. Aku langsung mengenali
rumah Mark, bagian depannya terbakar. Kamera itu
goyang, tapi suara anjing dan seruan tertahan orangorang bisa terdengar. Lalu
orang itu mulai berjalan menjauhi kerumunan, menuju samping rumah, dan
akhirnya ke belakang rumah. Kamera itu di-zoom ke
jendela belakang tempat asal suara anjing menyalak.
Salakan anjing berhenti. Aku menutup mata karena
tahu apa yang selanjutnya terjadi. Sekitar dua puluh
detik berlalu. Kemudian, pada saat aku terbang
melalui jendela dengan Sarah di tangan yang satu
dan anjing di tangan yang lain, Mark menekan tombol
pause video itu. Kamera di-zoom. Wajah kami dapat
dikenali. "Siapa kau?" tanya Mark.
Aku mengabaikan pertanyaannya dan malah
mengajukan pertanyaanku sendiri: "Siapa yang
merekam ini?" "Entah," jawab Mark.
Terdengar suara kerikil dilindas ban truk di depan
rumah saat Henri masuk. Aku berdiri tegak. Naluriku
menyuruhku lari, keluar dari rumah, dan kembali ke
sekolah- Sarah ada di sana mencuci foto-foto, menanti
ujian mengemudi pada pukul empat tiga puluh.
Wajah Sarah tampak sejelas wajahku dalam video
itu, yang berarti dia juga dalam bahaya. Tapi sesuatu
mencegahku lari. Aku justru berjalan ke sisi lain meja
makan dan menunggu. Pintu truk dibanting tertutup.
Lima detik kemudian Henri berjalan ke dalam rumah.
Bernie Kosar berlari di depannya.
"Kau membohongiku," teriaknya dari pintu, wajahnya
keras, otot-otot rahangnya tegang.
"Aku membohongi semua orang," kataku. "Aku
belajar itu darimu."
"Kita tidak saling membohongi!" bentak Henri.
Mata kami beradu. "Ada apa?" tanya Mark.
"Aku tak akan pergi sebelum menemui Sarah,"
kataku. "Dia dalam bahaya, Henri!"
Henri menggelengkan kepala. "Sekarang bukan
saatnya sentimentil, John. Kau tidak lihat ini?"
tanyanya, sambil berjalan melintasi ruangan dan
mengangkat kertas serta melambaikannya ke arahku.
"Menurutmu ini datang dari mana?"
"Ada apa sebenarnya?" Mark hampir berteriak.
Aku menatap mata Henri, mengabaikan kertas dan
Mark. "Ya, aku sudah melihatnya. Itu sebabnya aku
harus kembali ke sekolah. Mereka pasti mencari dan
mengejar Sarah." Henri berjalan ke arahku. Saat Henri melangkah lagi,
aku mengangkat tangan dan menghentikannya
dengan telekinesis. Henri mencoba berjalan tapi aku
menahannya. "Kita harus pergi dari sini, John," katanya, suaranya
terdengar terluka, hampir memohon.
Sambil menahan Henri di sana, aku berjalan mundur
ke kamarku. Henri berhenti berusaha berjalan. Dia
tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berdiri di sana,
memandangiku dengan tatapan sakit hati, tatapan
yang membuatku merasa lebih buruk dari
sebelumnya. Aku harus memalingkan wajah. Saat
aku tiba di pintu kamar, mata kami bertatapan lagi.
Bahu Henri merosot, lengannya tergantung lemas. Dia
tampak seakan tidak tahu apa yang harus dia
lakukan. Henri hanya menatapku, memandangku
seakan ingin menangis. "Maafkan aku," kataku sambil mencuri waktu untuk
pergi. Lalu aku berbalik dan lari ke kamarku,
membuka laci dan mengambil pisau yang biasa
kugunakan untuk membersihkan ikan saat kami
masih tinggal di Florida, lalu melompat keluar jendela
dan berlari ke hutan. Hanya terdengar suara Bernie
Kosar menyalak. Aku berlari satu kilometer dan
berhenti di tempat terbuka besar di hutan, tempat aku
dan Sarah membuat malaikat salju. Tempat kita,
begitu Sarah menyebutnya. Di tempat ini kami akan
mengadakan piknik musim panas. Rasanya begitu
sakit sehingga aku membungkuk dan menggertakkan
gigi. Jika saja aku bisa menelepon Sarah dan
menyuruhnya keluar dari sekolah. Ponselku, bersama
benda-benda lain yang kubawa ke sekolah, ada di
dalam loker. Aku akan menyelamatkan Sarah, lalu
kembali ke Henri, dan pergi.
Aku berbalik dan berlari ke sekolah, dengan kencang
sesuai kemampuan paru-paruku. Aku tiba di sekolah
saat bus-bus mulai keluar dari halaman. Aku melihat
bus-bus itu dari tepi hutan. Di depan sekolah, Hobbs
sedang berdiri di luar jendela depan, mengukur
tripleks untuk menutup jendela yang kuterobos. Aku
memperlambat napasku, mencoba sebaik mungkin
untuk mengosongkan pikiran. Aku memandangi
mobil-mobil meninggalkan sekolah hingga hanya
tersisa beberapa buah. Hobbs menutup lubang, lalu
menghilang ke dalam sekolah. Aku bertanya-tanya
apakah dia sudah diperingatkan mengenai diriku,
apakah dia sudah diinstruksikan untuk menelepon
polisi jika melihatku. Aku melihat jam tangan.
Walaupun saat ini baru pukul 3:30, kegelapan
tampaknya datang lebih cepat daripada biasanya.
Kegelapan yang kelam. Berat dan melelahkan. Lampulampu di tempat parkir menyala,
tapi tetap tampak suram dan redup. Aku keluar dari hutan, berjalan melintasi lapangan
bisbol, lalu masuk ke tempat parkir. Ada sekitar
sepuluh mobil. Pintu sekolah sudah dikunci. Aku
memegang pintu. Kemudian aku menutup mata dan
memusatkan perhatian. Kunci pun berbunyi 'klik'. Aku
berjalan ke dalam dan tidak melihat siapa pun. Hanya
sebagian lampu lorong yang menyala. Udaranya
tenang dan sepi. Terdengar suara alat penggosok
lantai dari suatu tempat. Aku berbelok ke lobi dan
melihat pintu kamar gelap kelas fotografi. Sarah. Dia
mencuci foto hari ini sebelum ujian mengemudi. Aku
lewat di lokerku dan membukanya. Ponselku tidak
ada. Loker itu kosong melompong. Seseorang
menyimpan ponselku. Kuharap orang itu Henri. Saat
tiba di kamar gelap, aku tidak melihat seorang pun. Di
mana para atlet, anggota marching band, guru-guru
yang biasanya tetap tinggal di sekolah untuk
memeriksa ujian atau apa pun yang biasanya mereka
lakukan" Firasat buruk menjalari tulangku. Aku takut
sesuatu yang buruk sudah menimpa Sarah. Aku
menempelkan telinga ke pintu kamar gelap untuk
mendengarkan. Namun, aku tidak mendengar apaapa selain bunyi alat penggosok
lantai yang datang dari lorong. Aku menarik napas dalam dan mencoba
membuka pintu. Terkunci. Aku menempelkan
telingaku lagi dan mengetuk pelan. Tidak ada
jawaban. Tapi aku mendengar bunyi gemeresik di
balik sana. Aku menarik napas dalam,
mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang
kutemukan di dalam ruangan itu, dan membuka
kuncinya. Ruangan itu gelap gulita. Aku menyalakan tanganku.
Kemudian aku menyapukan tangan yang satu ke
salah satu sisi, dan tangan yang lain ke sisi lain. Aku
tidak melihat apa pun dan berpikir bahwa ruangan itu
kosong. Namun kemudian aku melihat gerakan di
sudut sana. Aku berjongkok untuk melihat. Di bawah
konter, berusaha untuk tetap tidak terlihat, ada Sarah.
Aku meredupkan cahaya di tanganku sehingga dia
bisa melihat diriku. Dari balik kegelapan, Sarah
menengadah dan tersenyum, mendesah lega.
"Mereka di sini, kan?"
"Jika belum, mereka akan segera tiba."
Aku membantu Sarah berdiri. Dia memeluk dan
mendekapku begitu erat sehingga aku pikir dia tidak
akan melepaskanku. "Aku masuk ke sini setelah jam pelajaran kedelapan
selesai. Begitu sekolah bubar, suara-suara aneh mulai
berdatangan dari lorong. Lalu segalanya menjadi
begitu gelap. Jadi, aku mengunci diri di sini dan diam
di bawah konter, ketakutan, nggak berani bergerak.
Aku tahu pasti ada yang salah, terutama setelah aku
dengar kau melompat menerobos jendela dan tidak
mengangkat teleponmu."
"Pintar. Tapi sekarang kita harus keluar dari sini,
secepatnya." Kami keluar dari ruangan itu, bergandengan tangan.
Lampu di lorong berkedip padam. Seluruh sekolah
ditelan kegelapan, padahal matahari baru terbenam
sekitar satu jam lagi. Setelah sekitar sepuluh detik,
lampu kembali menyala. "Apa yang terjadi?" bisik Sarah.
"Tak tahu." Kami berjalan di lorong sepelan mungkin. Suara-suara
yang kami buat pun seolah berkurang, teredam. Jalan
paling cepat untuk ke luar adalah melalui pintu
belakang yang mengarah ke tempat parkir para guru.
Saat kami berjalan ke sana, suara alat penggosok
lantai semakin keras. Aku menduga kami berjalan ke
arah Hobbs. Pasti dia tahu bahwa akulah yang
merusak jendela. Apakah dia akan memukulku
dengan gagang sapu dan menelepon polisi" Kurasa
saat ini, itu bukan masalah.
Saat kami tiba di lorong belakang, lampu-lampu
kembali padam. Kami berhenti dan menunggu lampu
menyala, tapi lampu tetap padam. Alat penggosok
lantai terus berbunyi, berdengung mantap. Aku tidak
bisa melihatnya, tapi jaraknya hanya sekitar enam
meter di kegelapan yang begitu gelap gulita. Aku
merasa aneh karena mesin itu tetap berfungsi, karena
Hobbs tetap menggosok lantai di kegelapan. Aku
menyalakan tanganku. Sarah melepaskan
pegangannya dan berdiri di belakangku sambil
memegangi pinggangku. Aku menemukan steker di
dinding, lalu menyusuri kabel hingga melihat mesin
itu. Mesin itu diam, bersandar di dinding, tak berawak,
masih dalam keadaan menyala. Aku panik. Sarah dan
aku harus keluar dari sekolah.
Aku mencabut kabel dari steker. Alat penggosok
lantai itu berhenti, bunyinya digantikan dengan
dengung pelan keheningan. Kupadamkan cahaya
tanganku. Jauh di lorong sana, terdengar suara pintu
berderit terbuka. Aku berjongkok. Punggungku
menempel di dinding. Sarah memegang lenganku
dengan erat. Kami berdua terlalu takut sehingga tidak
bisa bicara. Naluri membuatku menarik kabel untuk
mematikan alat penggosok lantai itu. Aku merasa
perlu memasangnya kembali, tapi aku tahu jika aku
melakukan itu, mereka akan tahu kami ad adi tempat
itu. Aku menutup mata dan berusaha mendengarkan.
Bunyi pintu berderit sudah tak terdengar lagi. Aku
merasakan angin berembus lembut entah dari mana
asalnya. Tentunya tidak ada jendela yang terbuka.
Aku pikir mungkin angin itu masuk dari jendela yang
kurusakkan. Lalu terdengar suara pintu dibanting
diikuti suara kaca pecah dan jatuh berkeping-keping
di lantai. Sarah menjerit. Sesuatu melewati kami tapi aku tidak
bisa melihatnya dan juga tidak ingin mencari tahu
benda apa itu. Aku menarik tangan Sarah dan berlari
menyusuri lorong. Aku mendobrak pintu dengan bahu
dan berlari ke luar ke tempat parkir. Sarah terengah.
Kami berdua berhenti. Napasku tercekat di
tenggorokan. Dingin merayapi tulang punggungku.
Lampu-lampu masih menyala, namun redup dan
tampak mengerikan dalam keadaan yang gelap
gulita. Di bawah lampu terdekat, kami melihatnya.
Satu sosok dengan jubah panjang melambai ditiup
angin dan topi yang ditarik begitu rendah sehingga
hanya matanya yang terlihat. Sosok itu mengangkat
kepala dan menyeringai ke arahku.
Sarah mencengkeram tanganku. Kami berdua
melangkah mundur dan terpeleset karena buru-buru
ingin kabur. Kami berdua beringsut mundur hingga
menubruk pintu. "Ayo," teriakku sambil berusaha berdiri. Sarah berdiri.
Aku mencoba membuka pintu, tapi pintu itu langsung
terkunci di belakang kami.
"Sial!" teriakku.
Dari sudut mataku, aku melihat satu lagi. Tadi sosok
itu hanya berdiri diam. Aku memandang sosok itu
melangkah ke arahku. Lalu ada satu lagi di
belakangnya. Para Mogadorian. Setelah bertahuntahun, akhirnya mereka ada di
sini. Aku mencoba memusatkan perhatian, tapi tanganku bergetar begitu


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kuat sehingga sulit membuka pintu. Aku merasakan
para Mogadorian mendekat, mengepung. Sarah
merapat kepadaku. Aku bisa merasakan tubuhnya
gemetar. Aku tidak bisa memusatkan perhatian untuk
membuka kunci pintu itu. Apa yang terjadi pada
ketenangan di bawah tekanan yang kupelajari dalam
latihan di halaman belakang" Aku tidak mau mati,
pikirku. Aku tidak mau mati.
"John," kata Sarah. Ada ketakutan di suaranya yang
membuat mataku terbuka lebar, dan menguatkan
tekadku. Kunci berputar. Pintu terbuka. Sarah dan aku
menerobos masuk. Aku membanting pintu tertutup.
Ada bunyi bergedebuk di luar sana seolah salah satu
dari mereka menendang pintu. Kami berlari di lorong.
Diikuti suara-suara. Aku tidak tahu apakah ada
Mogadorian di dalam gedung sekolah. Sebuah jendela
pecah di samping dan Sarah menjerit kaget.
"Kita harus diam," kataku.
Kami mencoba membuka pintu-pintu kelas, tapi
semuanya terkunci. Sepertinya kami tidak akan punya
cukup waktu untuk membuka salah satu pintu.
Terdengar suara pintu terbanting tertutup dari suatu
tempat, entah dari depan atau dari belakang.
Terdengar suara-suara di belakang kami, mengepung,
memenuhi telinga kami. Sarah memegang tanganku.
Kami berlari lebih kencang. Pikiranku berpacu
mengingat denah gedung sekolah agar aku tidak
perlu menyalakan tanganku, agar kami tak terlihat.
Akhirnya kami melihat sebuah pintu terbuka. Tanpa
pikir panjang kami bergegas masuk ke dalam. Ruang
kelas sejarah. Ruangan itu ada di bagian kiri sekolah,
menghadap bukit kecil, dank arena jaraknya sekitar
enam meter dari tanah maka ada teralis di
jendelanya. Kegelapan menekan jendela dengan kuat
dan tidak ada cahaya yang masuk. Aku menutup
pintu pelan-pelan dan berharap mereka tidak melihat
kami. Aku menyorotkan cahaya di tanganku ke
segala penjuru ruangan itu lalu langsung
mematikannya. Kami sendirian. Kami bersembunyi di
bawah meja guru. Aku berusaha bernapas. Keringat
mengalir menuruni pelipis dan membuat mataku
perih. Berapa jumlah mereka" Aku melihat setidaknya
tiga. Pasti mereka tidak hanya bertiga. Apa mereka
membawa para hewan buas, musang kecil yang
ditakuti para penulis di Athens itu" Aku berharap Henri
ada di sini, atau bahkan Bernie Kosar.
Pintu terbuka perlahan-lahan. Aku menahan napas,
mendengarkan. Sarah menyandarkan diri ke arahku.
Kami saling memeluk. Pintu itu menutup dengan
sangat pelan hingga akhirnya terdengar bunyi 'klik'.
Tidak terdengar langkah kaki. Apa mereka hanya
membuka pintu dan menjulurkan kepala ke dalam
untuk melihat apakah kami ada di dalam" Apa
mereka terus berjalan tanpa masuk" Mereka berhasil
menemukanku setelah waktu yang lama, pastilah
mereka tidak semalas itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Sarah setelah
tiga puluh detik. "Aku tak tahu," bisikku.
Ruangan itu terbalut keheningan. Apa pun yang
membuka pintu itu pastilah sudah pergi, atau
menunggu di lorong. Tapi aku tahu, semakin lama
kami diam di sana, jumlah mereka akan semakin
banyak. Kami harus pergi dari situ. Kami harus
mengambil risiko. Aku menarik napas dalam.
"Kita harus pergi," bisikku. "Tidak aman di sini."
"Tapi mereka ada di luar sana."
"Aku tahu. Mereka tak akan ke mana-mana. Henri
ada di rumah. Dia juga dalam bahaya seperti kita."
"Tapi bagaimana kita keluar?"
Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu harus berkata
apa. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu dari tempat
kami masuk tadi. Sarah tetap memelukku.
"Kalau terus di sini kita terjebak, Sarah. Mereka akan
menemukan kita. Saat mereka menemukan kita, kita
akan menghadapi mereka semua. Setidaknya kalau
kita berusaha keluar akan menjadi elemen kejutan
buat mereka. Jika kita bisa keluar dari sekolah, kurasa
aku bisa menyalakan mobil. Jika tidak bisa, kita harus
kembali." Sarah mengangguk setuju. Aku menarik napas dalam dan keluar dari bawah
meja. Aku meraih tangan Sarah dan dia berdiri
bersamaku. Bersama-sama kami melangkah, sepelan
mungkin. Lalu melangkah lagi. Perlu satu menit untuk
melintasi ruangan dan tidak ada yang menyergap
kami di kegelapan. Aku menyalakan tanganku sedikit
sehingga bersinar redup, hampir tak kentara, hanya
cukup untuk menjaga agar kami tidak menabrak
meja. Aku menatap pintu. Aku akan membukanya
lalu menggendong Sarah di punggung. Kemudian aku
akan berlari secepat yang kubisa, dengan tangan
menyala, menyusuri lorong, keluar dari gedung
sekolah ke tempat parkir atau, jika gagal, langsung ke
hutan. Aku mengenali hutan itu dan tahu jalan pulang.
Ada banyak Mogadorian. Tapi Sarah dan aku
mengenal lingkungan ini, dan itu keuntungan kami.
Saat kami berada di dekat pintu, aku bisa merasakan
jantungku berdebar begitu keras sehingga aku
khawatir para Mogadorian bisa mendengarnya. Aku
menutup mata dan perlahan-lahan meraih kenop
pintu. Sarah menegang, mencengkeram tanganku
sebisa mungkin. Saat tanganku tinggal beberapa senti
lagi, begitu dekat dengan kenop pintu sehingga aku
bisa merasakan aura dinginnya, kami berdua
direnggut dari belakang lalu ditarik ke bawah.
Aku mencoba berteriak, tapi mulutku dibungkam.
Rasa takut mencengkeramku. Aku bisa merasakan
Sarah berusaha membebaskan diri dari cengkeraman
itu. Aku pun melakukan hal yang sama. Tapi
cengkeraman itu terlalu kuat. Aku tidak pernah
menduga bahwa para Mogadorian lebih kuat
daripadaku. Aku benar-benar salah karena
meremehkan mereka. Sekarang tidak ada harapan.
Aku telah gagal. Aku gagal melindungi Sarah dan juga
Henri. Aku menyesal. Henri, kuharap kau memberikan
perlawanan yang lebih hebat daripadaku.
Sarah terengah-engah. Dengan seluruh kekuatanku
aku mencoba membebaskan diri, tapi tidak bisa.
"Sst, jangan meronta," terdengar bisikan di telingaku.
Suara perempuan. "Mereka menunggu di luar. Kalian
berdua harus diam." Perempuan. Kuat seperti aku, bahkan mungkin lebih
kuat. Aku tidak mengerti. Dia melonggarkan
cengkeramannya. Kemudian aku berbalik dan
memandangnya. Kami saling menatap. Dengan sinar
dari tanganku, aku bisa melihat wajah yang agak
lebih tua dariku. Mata merah kecokelatan, tulang pipi
tinggi, rambut hitam panjang diekor kuda, mulut lebar
dan hidung yang kokoh, dan kulit berwarna zaitun.
"Siapa kau?" tanyaku.
Gadis itu memandang ke arah pintu, masih diam.
Seorang teman, pikirku. Seseorang selain para
Mogadorian yang tahu bahwa kami ada. Seseorang
ada di sini, untuk membantu.
"Aku Nomor Enam," katanya. "Aku berusaha tiba di
sini sebelum mereka."
E "BAGAIMANA KAU TAHU ITU AKU?" TANYAKU.
Gadis itu memandang ke arah pintu. "Aku berusaha
menemukanmu sejak Nomor Tiga dibunuh. Nanti akan
kujelaskan semuanya. Sekarang kita harus keluar dari
sini." "Bagaimana kau bisa masuk tanpa terlihat mereka?"
"Aku bisa membuat diriku tak terlihat."
Aku tersenyum. Seperti Pusaka kakekku. Kemampuan
untuk tak terlihat. Kemampuan untuk membuat
benda-benda yang disentuhnya juga tak terlihat,
seperti rumah kami di Lorien.
"Seberapa jauh rumahmu dari sini?" tanyanya.
"Lima kilometer."
Aku merasa gadis itu mengangguk di kegelapan.
"Kau punya C?pan?" tanyanya.
"Tentunya. Kau juga punya, kan?"
Dia bergeser dan terdiam sejenak, seolah
mengerahkan kekuatan dari sesuatu yang tak terlihat.
"Dulu," katanya. "Dia meninggal tiga tahun lalu. Sejak
itu aku sendirian." "Aku ikut berduka," kataku.
"Ini perang, orang bakal mati. Sekarang kita harus
pergi dari sini atau kita juga bakal mati. Jika mereka
ada di daerah ini, itu berarti mereka sudah tahu
tempat tinggalmu. Itu artinya mereka sudah ada di
sana. Jadi percuma bersembunyi saat kita di luar sana.
Mereka ini hanya pengintai. Para prajurit sedang
dalam perjalanan. Prajuritlah yang membawa pedang.
Hewan-hewan buas ada di dekat mereka. Waktu kita
sedikit. Paling banyak, kita hanya punya satu hari.
Dan kemungkinan terburuknya mereka sudah di sini."
Yang pertama terlintas di benakku: Mereka sudah
tahu rumahku. Aku panik. Henri di rumah bersama
Bernie Kosar, dan para prajurit dan hewan buas
mungkin sudah di sana. Yang kedua: C?pan gadis ini
meninggal tiga tahun lalu. Sejak saat itu Nomor Enam
sendirian, sendirian di planet asing sejak itu. Sejak
usia berapa" Tiga belas" Empat belas"
"Dia di rumah," kataku.
"Siapa?" "Henri, C?pan-ku."
"Aku yakin dia baik-baik saja. Mereka tidak akan
melakukan apa-apa kepadanya selama kau bebas.
Kaulah yang mereka inginkan. Mereka akan
menggunakannya untuk memancingmu," kata Nomor
Enam. Kemudian dia mengangkat kepala ke arah
jendela yang berteralis. Kami ikut menengok ke sana.
Cahaya lampu depan mobil melintas di belokan ke
arah sekolah. Cahayanya sangat redup. Kemudian
cahaya itu memelan, melewati jalan keluar, lalu
berbelok ke pintu masuk dan menghilang dengan
cepat. Nomor Enam kembali memandang kami.
"Semua pintu dikunci. Dari mana lagi kita bisa keluar?"
Aku berpikir. Salah satu jendela tak berteralis di kelas
lain bisa jadi jalan terbaik kami.
"Kita bisa keluar lewat gedung olahraga," kata Sarah.
"Di panggungnya ada pintu lubang palka yang
mengarah ke terowongan di bawahnya. Terowongan
itu menuju ke belakang sekolah."
"Oh, ya?" tanyaku.
Sarah mengangguk. Aku merasa bangga.
"Masing-masing pegang tanganku," kata Nomor Enam.
Aku memegang tangan kanannya, Sarah memegang
tangan kirinya. "Sebisa mungkin jangan menimbulkan
suara. Selama kalian memegang tanganku, kalian tak
akan terlihat. Mereka tak akan bisa melihat kita, tapi
bisa mendengar kita. Begitu kit adi luar, kita lari
secepat mungkin. Kita tidak akan bisa melarikan diri
dari mereka karena mereka sudah menemukan kita.
Satu-satunya cara untuk kabur adalah dengan
membunuh mereka, semuanya, sebelum yang lainnya
datang." "Oke," kataku. "Kau tahu apa artinya itu?" tanya Nomor Enam.
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak mengerti apa
yang dia tanyakan. "Sekarang ini tidak mungkin melarikan diri dari
mereka," katanya. "Itu artinya kau harus bertarung."
Aku berniat untuk menjawab, tapi bunyi gemeresik
yang sebelumnya kudengar berhenti di luar pintu.
Hening. Lalu kenop pintu berguncang. Nomor Enam
menarik napas dalam dan melepaskan tanganku.
"Percuma mengendap-endap," katanya. "Pertempuran
dimulai sekarang." Dia bergegas maju dan menolakkan tangannya ke
depan. Pintu itu terdorong lepas dari engselnya dan
terbanting ke lorong. Serpihan kayu. Pecahan kaca.
"Nyalakan tanganmu!" teriaknya.
Aku menyalakan tanganku. Satu Mogadorian berdiri di
tengah-tengah puing-puing pintu. Dia tersenyum,
darah menetes dari sudut mulutnya, di tempat yang
dihantam pintu. Mata hitam, kulit pucat seolah tidak
pernah terkena sinar matahari. Makhluk gua yang
bangkit dari kematian. Mogadorian itu melemparkan
sesuatu yang tak terlihat olehku. Aku mendengar
Nomor Enam mengerang di sampingku. Aku menatap
mata si Mogadorian. Rasa sakit menghunjamku
sehingga aku terpaku di tempat, tak bisa bergerak.
Kegelapan merayap turun. Kesedihan. Tubuhku
menegang. Gambaran-gambaran kabur dari hari
penyerbuan berkelap-kelip di benakku. Anak-anak
dan wanita yang mati, kakek-nenekku. Air mata,
jeritan, darah, tumpukan tubuh terbakar. Nomor Enam
mematahkan sihir itu dengan mengangkat si
Mogadorian ke udara dan melemparkannya ke
tembok. Si Mogadorian berusaha berdiri. Nomor Enam
mengangkatnya lagi. Kali ini dia melontarkan si
Mogadorian sekuat mungkin ke dinding yang satu lalu
ke dinding yang lain. Pengintai Mogadorian itu jatuh
ke lantai, dengan badan meliuk dan patah. Dadanya


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tersentak sekali lalu diam. Satu atau dua detik berlalu.
Seluruh tubuh si Mogadorian berubah menjadi
tumpukan abu, diikuti suara yang mirip dengan
karung pasir jatuh ke tanah.
"Apa-apaan?" heranku, bertanya-tanya bagaimana
mungkin tubuhnya bisa langsung hancur seperti itu.
"Jangan lihat mata mereka!" teriak Nomor Enam,
mengabaikan kebingunganku.
Aku teringat penulis They Walk Among Us. Sekarang
aku mengerti apa yang dia alami saat melihat mata
Mogadorian. Aku bertanya-tanya apakah si penulis itu
menyambut kematian ketika waktunya tiba,
menyambutnya untuk menyingkirkan gambarangambaran yang selalu muncul di
benaknya. Aku tak bisa membayangkan separah apa gambaran itu jika
Nomor Enam tidak mematahkan sihirnya.
Dua Mogadorian pengintai lain berjalan ke arah kami
dari ujung lorong. Selubung kegelapan mengelilingi
mereka. Mereka tampak seakan mengisap segala
yang ada di dekat mereka dan mengubahnya
menjadi gelap. Nomor Enam berdiri di depanku
dengan gagah, tegap, dan dagu diangkat tinggi. Dia
lima senti lebih pendek daripadaku. Namun cara
berdirinya membuat dia tampak lima senti lebih tinggi.
Sarah berdiri di belakangku. Kedua Mogadorian itu
berhenti di persimpangan lorong. Mereka menyeringai
mencemooh. Tubuhku tegang, otot-ototku panas
karena lelah. Kedua Mogadorian menarik napas dalam
dan serak. Suara itulah yang kami dengar di luar
pintu, suara napas mereka, bukan suara mereka
berjalan. Menatap kami. Lalu suara lain memenuhi
lorong. Kedua Mogadorian mengalihkan perhatian
mereka ke arah suara itu. Pintu berguncang seolah
seseorang berusaha membukanya. Lalu terdengar
suara letusan senjata, diikuti dengan pintu sekolah
yang ditendang hingga terbuka. Kedua Mogadorian itu
tampak terkejut. Saat mereka berbalik untuk lari, dua
letusan lagi meledak di lorong. Kedua pengintai itu
terlontar ke belakang. Kami mendengar suara
sepasang sepatu mendekat dan bunyi cakar anjing.
Nomor Enam menegang di sampingku, siap
menghadapi apa pun yang datang. Henri! Yang kami
lihat memasuki halaman sekolah itu lampu truk Henri.
Dia membawa senapan laras ganda yang belum
pernah kulihat. Bernie Kosar berjalan di sampingnya
lalu berlari ke arahku. Aku berlutut dan mengangkat
Bernie dari lantai. Anjing itu menjilati wajahku dengan
liar. Aku begitu senang melihatnya sehingga hampir
lupa untuk memperkenalkan lelaki yang membawa
senapan itu kepada Nomor Enam.
"Itu Henri," kataku. "C?panku."
Henri berjalan menghampiri, waspada, memandang
pintu-pintu kelas saat melewatinya. Di belakang Henri
ada Mark yang membawa Peti Loric. Aku tidak tahu
mengapa Henri membawa Mark. Mata Henri tampak
liar. Dia terlihat lelah, takut serta khawatir. Kukira,
karena caraku meninggalkan rumah tadi, Henri akan
membentak, bahkan mungkin menamparku. Namun
ternyata dia malah memindahkan senapan ke tangan
kirinya lalu memelukku seerat mungkin. Aku balas
memeluknya. "Maafkan aku, Henri. Aku tak tahu kejadiannya bakal
seperti ini." "Aku tahu kau tidak bermaksud buruk. Aku senang
melihatmu baik-baik saja." Lalu Henri berkata, "Ayo,
kita harus keluar dari sini. Seluruh sekolah sialan ini
dikepung." Sarah memimpin kami ke ruangan teraman yang bisa
dia pikirkan, dapur tata boga. Kami mengunci
pintunya. Nomor Enam memindahkan tiga lemari es
ke belakang pintu untuk barikade. Sementara itu,
Henri bergegas ke jendela dan menutup tirai. Sarah
berjalan ke dapur yang biasa kami gunakan. Dia
membuka laci dan mengeluarkan pisau daging
terbesar yang bisa dia temukan. Mark memandang
Sarah. Saat melihat apa yang Sarah lakukan, Mark
menurunkan Peti Loric ke lantai dan mengambil pisau
untuk dirinya sendiri. Dia mengaduk-aduk laci-laci lain
dan mengambil palu daging lalu menyelipkan palu itu
di ikat pinggangnya. "Kalian baik-baik saja?" tanya Henri.
"Ya," kataku. "Selain dari belati di lenganku, ya, aku baik-baik saja,"
kata Nomor Enam. Aku menyalakan sinar redup dan melihat lengannya.
Dia tidak bercanda. Di dekat bahunya ada belati kecil
yang mencuat. Itu sebabnya dia mengerang sebelum
membunuh si Mogadorian pengintai. Mogadorian itu
melemparkan belati ke arah Nomor Enam. Henri
menghampiri dan mencabut belati itu. Nomor Enam
mengerang. "Untung hanya belati," kata Nomor Enam, sambil
memandangku. "Para prajurit memiliki pedang yang
berkilau dengan berbagai kekuatan."
Aku ingin bertanya kekuatan macam apa, tapi Henri
menyela. "Pegang ini," katanya, sambil menyodorkan senapan
itu kepada Mark. Mark mengambil senapan itu dengan
tangannya yang bebas tanpa protes, memandang
takjub pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
Aku bertanya-tanya seberapa banyak yang Henri
katakan kepada Mark dan kenapa dia membawa
Mark. Aku menoleh ke Nomor Enam. Henri
menekankan kain ke lengan gadis itu untuk
memperlambat pendarahan dan Nomor Enam
memegangnya. Lalu Henri berjalan, mengangkat Peti
Loric dan meletakkannya di meja terdekat.
"Sini, John," katanya.
Tanpa menunggu penjelasan, aku membantu Henri
membuka kunci peti itu. Henri membuka Peti, meraih
ke dalam, dan mengeluarkan sebuah batu datar
dengan aura gelap seperti yang mengelilingi para
Mogadorian. Nomor Enam tampaknya tahu kegunaan
batu itu. Dia melepaskan kemejanya. Di bawah
kemejanya, dia mengenakan pakaian karet berwarna
hitam dan abu-abu. Pakaian itu mirip dengan pakaian
berwarna perak dan biru yang ayahku gunakan
dalam kilas balik yang kulihat. Nomor Enam menarik
napas dalam-dalam. Kemudian dia mengulurkan
lengannya kepada Henri. Henri menghunjamkan batu
itu ke dalam luka. Nomor Enam, dengan gigi terkatup
rapat, mengerang dan menggeliat kesakitan. Butiran
keringat bercucuran di dahinya, wajahnya merah
karena tegang, urat bertonjolan di lehernya. Henri
menahan batu itu selama satu menit penuh, sebelum
mencabutnya. Nomor Enam membungkuk dalam,
menarik napas untuk menenangkan diri. Aku
memandang lengannya. Selain sedikit darah yang
masih tampak berkilauan, luka itu sudah sembuh
sepenuhnya, tanpa bekas, tanpa apa pun selain
sobekan kecil di pakaiannya.
"Apa itu?" tanyaku sambil mengangguk ke arah batu.
"Ini batu penyembuh," kata Henri.
"Benda seperti itu benar-benar ada?"
"Di Lorien ada. Tapi batu ini menyebabkan rasa
sakitnya berlipat ganda dibandingkan rasa sakit yang
asli. Lagi pula batu ini hanya berfungsi jika luka itu
diniatkan untuk menyakiti atau membunuh. Dan batu
penyembuh harus langsung digunakan."
"Diniatkan?" tanyaku. "Jadi, batu itu tidak akan
berfungsi jika aku tersandung dan secara nggak
sengaja melukai kepalaku?"
"Tidak," jawab Henri. "Itulah kunci Pusaka. Pertahanan
dan Kemurnian." "Apakah batu itu bisa berfungsi pada Mark atau
Sarah?" "Aku tak tahu," jawab Henri. "Dan kuharap kita tidak
perlu mencari tahu."
Nomor Enam menarik napas. Dia berdiri tegak,
merasakan lengannya. Warna merah di wajahnya
mulai hilang. Di belakangnya, Bernie Kosar berlari
bolak-balik antara pintu dan jendela, yang letaknya
terlalu tinggi sehingga dia tidak bisa melihat keluar.
Walaupun begitu, Bernie Kosar berdiri dengan kaki
belakang dan mencoba mengintip melalui jendela,
menggeram kepada apa pun yang ada di luar sana.
Mungkin bukan apa-apa, pikirku. Beberapa kali Bernie
Kosar membuat gerakan seakan mencaplok sesuatu.
"Kau mengambil ponselku waktu di sekolah tadi?" aku
bertanya kepada Henri. "Tidak," jawab Henri. "Aku tidak mengambil apa pun."
"Ponselku tidak ada di loker saat aku kembali."
"Tak apa, toh benda itu tak akan berfungsi. Mereka
melakukan sesuatu terhadap rumah kita dan juga
sekolah. Listrik padam. Selain itu tak ada sinyal yang
bisa menembus entah perisai apa yang mereka bikin.
Semua jam mati. Bahkan udara pun seakan mati."
"Kita tak punya banyak waktu," sela Nomor Enam.
Henri mengangguk. Sekilas Henri tampak meringis
saat melihat Nomor Enam, tampak bangga, bahkan
mungkin lega. "Aku ingat kau," katanya.
"Aku juga." Henri mengulurkan tangan dan Nomor Enam
menjabatnya. "Banget senang melihatmu lagi."
"Sangat senang," aku mengoreksi Henri, tapi dia
mengabaikanku. "Aku sudah lama mencari kalian," kata Nomor Enam.
"Di mana Katarina?" tanya Henri.
Nomor Enam menggelengkan kepala. Wajahnya
tampak berduka. "Dia tidak berhasil. Dia meninggal tiga tahun lalu.
Sejak saat itu aku mencari yang lain, termasuk
kalian." "Turut berduka cita," kata Henri.
Nomor Enam mengangguk. Dia berjalan melintasi
ruangan menghampiri Bernie Kosar, yang mulai
menggeram garang. Bernie Kosar tampak seperti
bertambah besar dan tinggi sehingga kepalanya bisa
mengintip dari bawah jendela. Henri mengambil
senapan dari lantai dan berjalan sekitar 1,5 meter dari
jendela. "John, padamkan sinarmu," katanya. Aku menurut.
"Sekarang, sesuai aba-abaku, tarik kerainya."
Aku berjalan ke tepi jendela dan menggulung tali dua
kali di tanganku. Aku mengangguk ke arah Henri. Dari
balik bahu Henri, aku bisa melihat Sarah menutup
telinga dengan tangan, mengantisipasi letusan. Henri
mengokang senapan dan membidik.
"Saatnya pembalasan," katanya, lalu, "sekarang!"
Aku menarik tali. Tirai langsung terbuka. Henri
menembakkan senapan. Suaranya menulikan,
bergaung di telingaku. Henri mengokang senapan lagi,
tetap membidik. Aku memuntir tubuh untuk melihat
ke luar. Dua Mogadorian pengintai terbaring di rumput,
tak bergerak. Salah satu dari mereka berubah
menjadi abu dengan bunyi gedebuk bergaung seperti
yang di lorong tadi. Henri menembak Mogadorian
yang satu lagi untuk kedua kalinya dan Mogadorian
itu berubah jadi abu juga. Bayangan seolah
berkerumun di sekitar mereka.
"Enam, pindahkan lemari es itu ke sini," kata Henri
kepadanya. Mark dan Sarah memandang kagum saat lemari es itu
terbang ke arah kami dan turun di depan jendela
untuk menghalangi para Mogadorian masuk atau
melihat ke dalam ruangan.
"Lebih baik daripada tidak terhalang sama sekali,"
kata Henri. Henri menoleh ke arah Enam. "Berapa
lama waktu kita?" "Sedikit," katanya. "Pos terdepan mereka sekitar tiga
jam dari sini, dalam gua di gunung Virginia Barat."
Henri membuka senapan, memasukkan dua peluru,
dan menutupnya kembali. "Berapa peluru yang bisa masuk ke sana?" tanyaku.
"Sepuluh," jawab Henri.
Sarah dan Mark saling berbisik. Aku menghampiri
mereka. "Kalian baik-baik saja?" tanyaku.
Sarah mengangguk, Mark mengangkat bahu. Mereka
berdua tidak tahu harus berkata apa dalam situasi
mengerikan ini. Aku mencium pipi Sarah dan
memegang tangannya. "Jangan khawatir," kataku. "Kita akan keluar dari sini."
Aku berpaling ke arah Nomor Enam dan Henri.
"Kenapa mereka hanya menunggu di luar sana?"
tanyaku. "Kenapa mereka tidak memecahkan jendela
dan masuk" Mereka tahu kita kalah jumlah."
"Mereka ingin agar kita tetap di sini, di dalam," jawab
Nomor Enam. "Mereka sudah menempatkan kita di
tempat yang mereka mau. Kita semua ada di satu
tempat dan terkurung. Sekarang mereka menunggu
yang lain tiba, para prajurit dengan senjata, yang
terampil dalam membunuh. Mereka sekarang putus
asa karena tahu Pusaka kita mulai berkembang.
Mereka tidak bisa mengacaukan segalanya dan
membiarkan kita semakin kuat. Mereka tahu
sekarang kita bisa melawan."
"Kita harus keluar dari sini," pinta Sarah, suaranya lirih
dan bergetar.

I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nomor Enam mengangguk menenangkan Sarah. Lalu
aku teringat sesuatu yang kulupakan dalam
kegemparan itu. "Tunggu, kau ada di sini, kita bersama, berarti mantra
pelindungnya patah. Sekarang semuanya kacau,"
kataku. "Mereka bisa membunuh kita tanpa harus
sesuai urutan." Aku bisa melihat kengerian di wajah Henri karena dia
juga lupa dengan hal itu.
Nomor Enam mengangguk. "Aku harus mengambil
risiko," katanya. "Kita tidak bisa terus melarikan diri.
Lagi pula aku bosan menunggu. Kemampuan kita
semua sedang berkembang. Kita semua siap untuk
melawan. Ingat apa yang mereka lakukan terhadap
kita pada hari itu. Aku juga tak akan lupa dengan apa
yang mereka lakukan terhadap Katarina. Semua yang
kita kenal sudah mati, keluarga kita, teman-teman
kita. Kurasa mereka berencana untuk melakukan
yang sama terhadap Bumi seperti yang dulu mereka
lakukan terhadap Lorien, dan mereka hampir siap.
Duduk dan tidak melakukan apa-apa sama saja
dengan membiarkan kehancuran, kematian, dan
pembantaian yang sama, terjadi. Kenapa kita diam
dan membiarkan itu terjadi" Jika planet ini mati, kita
juga mati." Bernie Kosar masih menyalaki jendela. Aku hampir
ingin membiarkannya keluar, melihat apa yang bisa
dia lakukan. Mulutnya berbuih, dia menyeringai
memperlihatkan gigi-giginya. Bulu di tengah
punggungnya berdiri. Anjing itu siap, pikirku.
Pertanyaannya, apakah kami juga siap"
"Yah, sekarang kau di sini," kata Henri. "Mari berharap
semoga yang lainnya selamat. Mari berdoa semoga
mereka bisa menjaga diri mereka. Kalian berdua akan
langsung tahu jika mereka tidak selamat. Dan bagi
kita, perang datang ke depan pintu kita. Kita tidak
mengundangnya. Tapi karena perang sudah ada di
sini, kita tidak punya pilihan lain selain
menyambutnya, dengan gagah, dengan kekuatan
penuh." Henri mengangkat kepala dan memandang kami.
Bagian putih matanya berkilau di ruangan yang gelap.
"Aku setuju denganmu, Enam," katanya. "Waktunya
sudah tiba." E E ANGIN DARI JENDELA YANG TERBUKA BEREMBUS
masuk ke dalam kelas tata boga. Lemari es yang
menghalangi tak bisa mencegah angin dingin masuk.
Sekolah sendiri sudah terasa dingin karena listrik
padam. Sekarang Nomor Enam hanya mengenakan
pakaian karet. Seluruh pakaian itu berwarna hitam
dengan sebuah garis abu-abu yang membelah miring
di bagian depan. Dia berdiri di tengah-tengah kami
dengan tenang dan percaya diri. Melihatnya
membuatku berpikir seandainya aku juga memiliki
pakaian Loric. Dia membuka mulut untuk berbicara,
tapi disela oleh suara ledakan keras di luar. Kami
semua bergegas ke jendela namun tidak dapat
melihat apa yang terjadi. Suara ledakan keras itu
diikuti dengan sejumlah letusan, dan suara sesuatu
dirobek, diremukkan, dan dihancurkan.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Sinarmu," kata Henri mengalahkan suara
penghancuran itu. Aku menyalakan tangan dan menyorotkannya ke luar
ke halaman. Cahaya dari tanganku hanya bisa
menyinari sejauh tiga meter sebelum akhirnya ditelan
kegelapan. Henri mundur dan memiringkan kepala,
mendengarkan suara-suara itu dengan konsentrasi
tinggi. Kemudian dia mengangguk paham.
"Mereka menghancurkan semua mobil di luar sana,
termasuk trukku," katanya. "Jika kita bisa bertahan
hidup dan keluar dari sekolah ini, kita terpaksa jalan
kaki." Teror menyelimuti wajah Mark dan Sarah.
"Kita tak bisa buang-buang waktu lagi," kata Nomor
Enam. "Dengan atau tanpa strategi, kita harus pergi
sebelum para prajurit dan hewan buas tiba. Dia bilang
kita bisa keluar lewat gedung olahraga," kata Nomor
Enam sambil mengangguk ke arah Sarah. "Itu satusatunya harapan kita."
"Namanya Sarah," kataku.
Aku duduk di kursi di dekatnya, gugup mendengar
nada suara Nomor Enam yang mendesak. Tampaknya
dia orang yang paling mantap. Dia satu-satunya yang
tetap tenang dalam situasi penuh teror yang kami
alami hingga saat ini. Bernie Kosar berdiri di dekat
pintu, menggaruk lemari es yang menghalanginya,
menggeram dan mendengking tak sabar. Karena sinar
di tanganku menyala, Nomor Enam bisa melihat
Bernie Kosar dengan baik. Dia menatap Bernie Kosar,
lalu menyipitkan mata dan mencondongkan
wajahnya. Kemudian dia menghampiri dan
berjongkok untuk mengelus Bernie Kosar. Aku
berbalik dan memandang Nomor Enam. Aku merasa
aneh melihat dia menyeringai.
"Apa?" tanyaku.
Nomor Enam menengadah melihatku. "Kau tak tahu?"
"Tahu apa?" Seringainya semakin lebar. Lalu Nomor Enam kembali
memandang Bernie Kosar. Anjing itu berlari
menjauhinya dan kembali ke jendela, menggarukgaruk jendela, menggeram-geram, dan
menyalaknyalak frustrasi. Sekolah dikepung. Kematian tak
terelakkan, hampir pasti terjadi. Nomor Enam malah
menyeringai. Itu membuatku kesal.
"Anjingmu," katanya. "Kau benar-benar tak tahu?"
"Tidak," kata Henri. Aku memandang Henri. Henri
menggelengkan kepala ke arah Nomor Enam.
"Apa, sih?" tanyaku. "Apa?"
Nomor Enam memandangku lalu Henri. Dia setengah
tertawa lalu membuka mulut untuk berbicara. Tapi,
sebelum berhasil mengucapkan sepatah kata pun, dia
melihat sesuatu dan berlari ke jendela. Kami
mengikuti. Seperti sebelumnya, kami melihat sinar
redup lampu depan mobil berbelok di jalan dan
masuk ke halaman parkir sekolah. Mobil lain, mungkin
pelatih atau guru. Aku menutup mata dan menarik
napas dalam. "Mungkin bukan apa-apa," kataku.
"Padamkan sinarmu," kata Henri kepadaku.
Aku memadamkan sinar dan mengepalkan tangan.
Sesuatu tentang mobil di luar membuat hatiku panas.
Persetan dengan rasa lelah, dengan segala sesuatu
yang terjadi sejak melompat menerobos jendela
kepala sekolah. Aku tidak mau dikurung di ruangan ini
lebih lama lagi, walaupun tahu para Mogadorian ada
di luar sana, menunggu, dan membuat rencana untuk
menghancurkan kami. Mobil di luar tadi mungkin
prajurit Mogadorian pertama yang tiba di tempat ini.
Saat aku berpikir begitu, kami melihat cahaya lampu
mobil itu mundur dari tempat parkir, lalu pergi cepatcepat, melalui jalan yang
tadi dilaluinya. "Kita harus keluar dari sekolah sialan ini," kata Henri.
*** Henri duduk di kursi, enam meter dari pintu, dengan
senapan diarahkan ke pintu. Dia bernapas dengan
pelan walaupun tegang. Aku bisa melihat otot-otot
rahangnya mengencang. Kami tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Nomor Enam membuat dirinya tak
terlihat dan menyelinap ke luar untuk menjelajah.
Kami hanya menanti hingga dia kembali. Tiga ketukan
ringan di pintu. Itu kode agar kami tahu bahwa
Nomor Enamlah yang datang dan bukan Mogadorian
pengintai yang berusaha masuk. Henri menurunkan
senapan. Nomor Enam berjalan masuk. Aku
memindahkan salah satu lemari es untuk
menghalangi pintu di belakangnya. Dia pergi selama
sepuluh menit. "Kau benar," katanya kepada Henri. "Mereka sudah
menghancurkan semua mobil di tempat parkir. Lalu,
entah bagaimana, mereka memindahkan rongsokanrongsokan mobil untuk memblokir
semua pintu agar tidak bisa dibuka. Sarah juga benar. Mereka tidak
menjaga lubang di panggung. Aku menghitung ada
tujuh pengintai di luar dan ada lima pengintai di
dalam, berjaga di lorong. Ada satu pengintai di luar
pintu ruangan ini, tapi dia sudah dikalahkan.
Tampaknya mereka mulai gelisah. Kurasa itu berarti
yang lainnya sudah di kota ini, artinya mereka pasti
tidak jauh dari sini."
Henri berdiri dan meraih Peti Loric lalu mengangguk
ke arahku. Aku membantu Henri membuka peti itu.
Henri merogoh ke dalam dan mengeluarkan beberapa
kerikil bulat kecil yang kemudian dimasukkannya ke
dalam saku. Aku tidak tahu kerikil apa itu. Lalu Henri
menutup dan mengunci Peti. Setelah itu, dia
memasukkan Peti Loric ke dalam oven dan menutup
pintunya. Aku memindahkan lemari es ke depan oven
agar tidak bisa dibuka. Tidak ada pilihan lain. Peti itu
berat. Kami harus keluar dari sini dan tidak mungkin
bertempur sambil membawa peti.
"Aku tak suka meninggalkannya," kata Henri,
menggelengkan kepala. Nomor Enam mengangguk
tak tenang. Bayangan Mogadorian mendapatkan Peti
Loric mencemaskan mereka berdua.
"Peti itu aman di sini," kataku.
Henri mengangkat senapan dan mengokangnya, lalu
memandang Sarah dan Mark.
"Ini bukan pertempuran kalian," kata Henri kepada
mereka berdua. "Aku tak tahu apa yang akan terjadi
di luar sana. Tapi jika keadaannya parah, kalian
berdua harus kembali ke sekolah ini dan bersembunyi.
Mereka tidak mengejar kalian. Lagi pula, kupikir
mereka tidak akan mau repot-repot mencari kalian
jika mereka sudah menangkap kami."
Baik Sarah maupun Mark tampak ketakutan.
Keduanya memegang pisau erat-erat dengan tangan
kanan hingga buku-buku jari mereka memutih. Mark
sudah menghiasi ikat pinggangnya dengan berbagai
benda dari laci dapur yang bisa digunakan- pisaupisau, palu daging, parutan keju,
gunting. "Dari sini kita ke kiri hingga tiba di ujung lorong.
Gedung olahraga ada di balik pintu ganda sekitar dua
belas meter di kanan," kataku kepada Henri.
"Pintunya ada di tengah-tengah panggung," kata
Nomor Enam. "Tertutup karpet biru. Tidak ada
pengintai di gedung itu, tapi bukan berarti mereka
tidak akan ada di sana."
"Jadi kita hanya perlu pergi keluar dan mencoba
menghindari mereka?" tanya Sarah. Suaranya
terdengar panik. Napasnya berat.
"Itu satu-satunya kesempatan kita," kata Henri.
Aku memegang tangan Sarah. Dia gemetaran.
"Semua akan baik-baik saja," kataku.
"Bagaimana kau tahu?" katanya menuntut.
"Aku tidak tahu," kataku.
Nomor Enam memindahkan lemari es dari pintu.
Bernie Kosar langsung mulai menggaruk pintu,
berusaha keluar, sambil menggeram.
"Aku tidak bisa membuat kalian semua tak terlihat,"
kata Nomor Enam. "Tapi, jika aku tak terlihat, aku
masih ada di dekat kalian."
Nomor Enam memegang kenop pintu. Sarah menarik
napas panjang, gemetar di sampingku, meremas
tanganku sekuat mungkin. Aku bisa melihat pisau di
tangan kanannya bergetar.
"Tetap di dekatku," kataku.
"Aku tak akan jauh-jauh."
Pintu mengayun terbuka. Nomor Enam melompat
keluar ke lorong. Henri mengikuti di belakangnya. Aku
mengikuti mereka. Bernie Kosar berlari di depan kami
semua. Dia berlari kencang dengan ganas. Henri
mengarahkan senapan ke sisi lorong yang satu, lalu
ke sisi yang lain. Lorong itu kosong. Bernie Kosar
sudah tiba di persimpangan, dan lenyap dari
pandangan. Nomor Enam mengikutinya dan membuat
dirinya tak terlihat. Kami berlari ke arah gedung
olahraga. Henri di depan. Aku menyuruh Mark dan
Sarah berlari di depanku. Kami tidak bisa melihat apa
pun. Kami hanya bisa mendengar suara langkah kaki
kami. Aku menyalakan sinar di tanganku untuk
memandu jalan, dan itu kesalahan pertama yang
kubuat. Pintu kelas di kananku berayun terbuka. Segalanya
terjadi begitu cepat. Sebelum aku sempat bereaksi,
bahuku dihantam sesuatu yang berat. Sinarku padam.
Aku langsung terlempar dan menabrak kaca lemari
pajang. Kepalaku luka. Darah langsung mengalir di
pelipisku. Sarah menjerit. Benda apa pun yang tadi
menghantamku memukulku lagi, diikuti bunyi
gedebuk di igaku dan aku tersedak.
"Nyalakan sinarmu!" teriak Henri. Aku melakukannya.
Satu Mogadorian pengintai berdiri di depanku,
memegang kayu sepanjang dua meter yang pastilah
ditemukannya di kelas seni kerajinan. Dia
mengangkat kayu itu untuk memukulku lagi. Namun
Henri, yang berdiri enam meter dari kami, lebih dulu
menembakkan senapan. Kepala si pengintai hancur,
meledak berkeping-keping. Sisa tubuhnya berubah
menjadi abu sebelum jatuh ke lantai.


I Am Number Four Karya Pittacus Lore di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Henri menurunkan senapannya. "Sialan," katanya saat
melihat darah. Henri berjalan menghampiriku. Lalu
dari sudut mataku, aku melihat pengintai lain.
Pengintai itu berdiri di pintu yang tadi, mengayunkan
palu besar di atas kepalanya. Si Mogadorian
menyerbu ke depan. Aku melemparkan benda entah
apa yang ada di dekatku dengan telekinesis. Benda
berkilat keemasan membelah udara dengan ganas
dan menghantam si pengintai dengan sangat kuat
sehingga tengkoraknya retak. Si pengintai jatuh ke
lantai dan diam tak bergerak. Henri, Mark, dan Sarah
bergegas menghampiri. Si pengintai masih hidup.
Henri mengambil pisau Sarah lalu
menghunjamkannya ke dada si pengintai, yang
langsung berubah menjadi tumpukan abu. Kemudian
Henri mengembalikan pisau itu kepada Sarah. Sarah
memegang pisau itu di depannya, dengan ibu jari dan
jari telunjuk, ngeri. Mark membungkuk dan
memungut benda yang tadi kulemparkan. Benda itu
sudah pecah menjadi tiga bagian.
"Ini piala football-ku," katanya sambil terkekeh sendiri.
"Aku mendapatkannya bulan lalu."
Aku berdiri. Ternyata aku menabrak lemari piala.
"Kau baik-baik saja?" tanya Henri sambil memandangi
luka di kepalaku. "Yeah, aku baik-baik saja. Ayo jalan."
Kami bergegas menyusuri lorong dan memasuki
gedung olahraga, berlari melintasi lapangan, lalu
melompat ke panggung. Aku menyalakan sinarku dan
melihat karpet biru bergeser sendiri. Kemudian pintu di
lantai panggung terbuka sendiri. Dan Nomor Enam
membuat dirinya kembali terlihat.
"Apa yang tadi terjadi di sana?" tanyanya.
"Sedikit masalah," kata Henri sambil menuruni tangga
untuk memastikan keadaan aman. Lalu Sarah dan
Mark turun. "Di mana Bernie?" tanyaku.
Nomor Enam menggelengkan kepala.
"Kau duluan," kataku. Nomor Enam turun,
meninggalkanku sendirian di panggung. Aku bersiul
sekeras yang kubisa, sadar bahwa dengan begitu
para Mogadorian bisa mengetahui posisiku. Aku
menunggu. "Ayo, John," panggil Henri dari bawah.
Aku merangkak ke lubang lalu menurunkan kaki ke
tangga. Bagian atas tubuhku masih di atas panggung.
Aku menunggu. "Ayolah!" kataku kepada diri sendiri. "Di mana kau?"
Saat aku tak punya pilihan lain selain menyerah,
ketika aku beranjak turun, Bernie Kosar muncul di
ujung gedung olahraga dan berlari menghampiriku
dengan telinga menempel di samping kepalanya. Aku
tersenyum. "Ayo!" kali ini Henri berteriak.
"Sebentar!" aku balas berteriak.
Bernie Kosar melompat ke panggung lalu ke
pelukanku. "Ini!" teriakku sambil memberikan Bernie Kosar ke
Nomor Enam. Aku melompat turun, menutup dan
mengunci pintu, lalu menyalakan sinarku seterang
mungkin. Dinding dari lantai lubang itu terbuat dari semen dan
berbau jamur. Kami harus berjalan sambil menunduk
agar kepala kami tidak terantuk. Nomor Enam
memimpin. Panjang terowongan itu sekitar tiga puluh
meter dan aku tidak tahu apa kegunaannya. Kami
Tujuh Pendekar Pedang Gunung Thian San 12 Pendekar Rajawali Sakti 125 Rahasia Candi Tua Bentrok Rimba Persilatan 6
^