Pencarian

Mimi Elektrik 2

Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr Bagian 2


seperti bayi raksasa pada teman-teman yang
memegang-megang dan mengurut-urut pangkal
lengannya sambil berusaha mengembalikan ke posisi
normal. Mimi terpaku memperhatikan adegan tadi.
"Ngapain melotot di situ!" hardik Lisa antara malu dan
jengkel. "Kali ini kamu beruntung! Ayo, pergi! Awas
kamu! Pergi!!!" teriakan Lisa menggema sepanjang
koridor. Mimi terbirit-birit meninggalkan koridor yang
mengerikan itu dengan hati bertanya-tanya. Apakah
lengan Lisa terkilir" Kalau benar, kenapa sampai
terjadi seperti itu" Mengapa persis sama dengan yang
diinginkannya" Persis sama dengan apa yang ada
dalam benaknya tadi saat ketakutan mau dipukul
Lisa"! Aneh... sungguh aneh, pikir Mimi serius.
Kejadian demi kejadian yang dialaminya mulai
menjurus pada sebuah kesamaan dan keseragaman
urutan kejadian. Awalnya pasti dari pikirannya, lantas
menjadi kenyataan, persis seperti apa yang
diharapkannya. Bukannya ia tak percaya pada Tuhan.
Tapi kalau benar mukjizat itu dari Tuhan, mestinya
Mimi adalah nabi atau rasul. Sedangkan hal seperti itu
jelas tak mungkin. Lalu apa" Apakah aku ini
keturunan nenek sihir, atau berbakat menjadi
paranormal" Sambil mengayuh sepedanya Mimi terus memikirkan
semua yang dialaminya. Tapi yang jelas ia merasa
amat lega dan bersyukur bisa terbebas dari ancaman
Lisa and the gang. Tentu Lisa marah melihat
keakrabannya dengan Rio. Bukan cuma Lisa, pikir
Mimi, tentu seisi sekolah akan memusuhiku. Paling
tidak menaruh iri padaku.
Tapi mereka tak pernah tahu, bagiku kedekatan dan
keakraban dengan Rio adalah sesuatu yang justru
membuatku waswas. Aku selalu berusaha menjaga
jarak agar suatu saat jika kami harus mengucapkan
selamat tinggal, tak terlalu sakit. Ya, tak ada yang
istimewa pada diriku... Mimi melirik ke kaca spion
sepedanya. Dilihatnya bayangan seorang gadis berkulit putih
pucat, berkacamata tebal dan berambut kuno,
panjang terkepang. Tanpa bedak tanpa gincu, tanpa
polesan apa-apa. Mestinya aku ini disimpan di
museum saja, batin Mimi. Tapi mau apa lagi" Mengubah penampilan dan
gayanya dalam seketika" Hoho... mengubah sesuatu
yang telah 17 tahun melekat dalam hidup seseorang
tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Dan
gaya ala tahun 60-an itu telah terlanjur menjadi
bagian dari kehidupan Mimi. Keinginan untuk
mengubahnya selalu ada. Apalagi jika melihat
bagaimana gadis-gadis lain. Belia misalnya, berlomba
mencuri perhatian Rio dengan penampilan mereka
yang modern, modis, dan up to date. Hal-hal seperti
itulah yang membuat Mimi ragu akan kelangsungan
hubungan persahabatannya dengan Rio. Rio akan
segera menjadi bosan padanya. Dan ia tak mau
menaruh harapan pada sesuatu yang pasti tak akan
diraihnya. Rasa rendah diri itu menghalangi khayalnya
tentang menjadi gadis yang spesial untuk Rio. Menjadi
kekasih Rio. Kring... kring... Mimi menoleh... hampir saja ia melanggar sepeda lain
didepannya. "Hati-hati, Non..." Rio yang barusan membunyikan bel
sepeda, nyengir. Mimi mencibir jengkel. "Kok aku nggak melihatmu keluar kelas sih?" Rio
menyusul, mengimbangi laju sepeda Mimi.
"Aku,., ah, sebaiknya jangan mendekatiku lagi di
sekolah Rio," ujar Mimi teringat pada ancaman Lisa.
"Lho ada apa nih" Kok tiba-tiba jadi begini?"
"Ya... aku mohon. Demi ketenangan dan
keselamatanku..." "Pasti Lisa lagi, kan?" terka Rio seraya melirik.
"Oh, Rio... aku tak bermaksud mengadu, tapi tadi aku
begitu ketakutan," cerita Mimi sungguh-sungguh.
"Ya... aku mengerti. Akan kuberi pelajaran mereka!"
gumam Rio dengan nada suara rendah menahan
amarah dan gemas. "Mau kauapakan mereka, Rio?"
"Masa cowok kalah sama cewek" Biar kata Lisa ikut
body building atau binaragawati aku nggak gentar.
Akan kutunjukkan kejantananku dan kulihat
kebetinaannya," ujar Rio konyol dengan mimik serius.
"Rio... apa-apaan sih kamu?" Mimi menahan tawanya.
"Iya... bener."
"Jangan ngaco ah! Masa cowok ngeladeni cewek
berkelahi," komentar Mimi.
"Emangnya Lisa tuh cewek" Cewek apa-an" Cakepan
juga banci yang suka ngamen di depan rumahku....
Ih... jijay." Rio bergidik membayangkan postur tubuh
Lisa yang kekar, tapi centil. Sungguh sebuah
kombinasi yang kontradiktif sehingga menjelma
menjadi makhluk aneh, mengerikan, menjijikkan.
Mimi teringat akan rencananya memasak di rumah
sore ini. Dan terlintas di pikirannya bahwa ia hendak
mengundang Rio mampir dan mencicipi. Tapi
bagaimana cara mengajaknya, ya" Dan bagaimana
kalau Rio menolak" "Langsung pulang, Rio?" Mimi membuka percakapan.
Rio mengangguk. "Kau?"
"Ya... aku ada rencana mempraktekkan resep baru
dari majalah Gadis. Resep ala Itali."
Mimi menunggu tanggapan Rio.
"Wah... pasti sedap." Rio mengangkat alisnya. "Maukah
kausisakan dan bawakan untukku besok?"
Mimi mengurungkan kata-kata yang telah ia
rencanakan selanjutnya. Kata-kata mengundang Rio
untuk mampir dan mencicipi terpaksa ditelannya
kembali begitu mendengar kalimat terakhir Rio.
"Tentu...," sahut Mimi lirih.
"Sungguh" Jangan lupa panasi dulu, ya" Aku nggak
suka makanan yang udah dingin, apalagi yang udah
basi," canda Rio. Mimi tersenyum sumbang. Ada kekecewaan bermain
di hatinya, tapi tak lama.
"Sayang sore ini aku ada janji... sampai malam lagi!"
seru Rio sesaat sebelum mereka berpisah di kelokan
jalan. "Ya... aku pun ada acara pribadi... mendengarkan
acara penyiar favoritku... Mister DJ," hibur Mimi
perlahan. "Apa?" teriak Rio seperti terkejut.
"Ah... tidak. Sampai besok!" Mimi melambai dan
mempercepat kayuhan sepedanya agar segera hilang
dari pandangan Rio. Mestinya niat untuk mengajak Rio mampir itu tak
pernah singgah di hatinya. Mestinya ia sudah dapat
menduga apa tanggapan Rio. Manalah mungkin
seorang Rio mau menemaninya bermalam Minggu.
Tentu se-abreg acara yang mengasyikkan telah antre
memohon kehadiran Rio. Tentu Rio lebih suka
menemani Belia atau Rina atau Diana ketimbang
seorang yang kuno dan membosankan seperti diriku....
-----I Dream of Jeannie. Cihuyyy! sorak Mimi dalam hati.
Malam Minggunya tak akan terlalu sepi dengan
kehadiran film komedi setengah fantasi ini. Apalagi
Mama telah menyembunyikan radio walkman-nya. Ia
kehilangan suara merdu sang penyiar pujaan.
Dibesarkannya volume suara televisi dan dengan
santai Mimi menyaksikan film seri kesayangannya
sambil sesekali merogoh stoples biskuit dan
mengunyah perlahan. "Mimi, apakah sudah kauselesaikan pekerjaan
rumahmu?" tegur Mama. Seperti biasanya melulu
membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah
dan pelajaran. "Sudah, Ma...."
"Sudah kaubuka-buka juga pelajaran untuk besok?"
"Besok kan hari Minggu, Ma," gumam Mimi.
"Ya, Mama tahu, maksud Mama untuk hari Senin.
Lebih dini belajar kan lebih baik. Lebih meresap di
otak," Mama berfilsafah.
"Sebentar, Ma, tanggung sampai filmnya habis," pinta
Mimi. Ia kelewatan beberapa adegan seru gara-gara
percakapan dengan Mama barusan.
"Eh., sejak kapan televisi mengalahkan waktu
belajar?" Mama menghampiri.
"Sejak radio Mimi direbut Mama," jawab Mimi jengkel.
"Itu kan demi kebaikanmu!"
"Itu demi kebaikan Mama," sahut Mimi makin berani.
Entah dari mana keberanian itu muncul. Kata orang,
sebodoh-bodohnya anjing, bila ekornya diinjak akan
menggigit pula. Mungkin Mimi sudah tak tahan lagi
akan kesewenang-wenangan Mama yang
membelenggunya. Ya... sejak radionya diambil, rasa ingin memberontak
itu mulai muncul. Sejak ia kian akrab dengan Rio.
Sejak ia mulai iri dan menaruh perhatian pada gaya
gadis-gadis sebayanya yang modern dan modis. Sejak
ia mulai takut kehilangan kebersamaannya dengan
Rio. Sejak... "Sejak kapan kamu berani menjawab dengan katakata jelekmu itu hah!" hardik Mama
dengan bola mata membesar. Mimi menghela napasnya. Dimatikannya pesawat
televisi dan ditatapnya Mama dengan mata berair.
"Nah... Mama puas, kan" Biar Mimi lumutan di kamar,
membaca, dan belajar sepanjang waktu... seumur
hidup. Itu yang Mama inginkan, bukan?"
"Mimi! Kau..." Mimi berlari ke kamarnya tanpa mempedulikan katakata dan panggilan Mama.
Sebenarnya ia ingin sejenak menghibur diri di malam
panjang. Mencoba melupakan kenyataan bahwa Rio
mungkin saja tengah bersenang-senang dan
bertandang ke rumah gadis-gadis manis. Melupakan
kenyataan bahwa malam Minggu bagi gadis
sebayanya berarti waktu untuk didatangi oleh Arjunanya. Berusaha mengalihkan
pikiran-pikiran bahwa ia sungguh malang tak berkawan, apalagi punya Arjuna.
Bahwa ia tak punya apa-apa kecuali buku pelajaran
dan kepandaian yang terus diasah. Bayangan akan
penolakan Rio sore tadi terus menghantuinya.
Menekan perasaannya hingga meledak seperti tadi.
Sayup-sayup didengarnya langkah kaki Mama
menyusulnya ke kamarnya. Oh... tentu Mama akan
menghujaninya lagi dengan omelan-omelan, nasihatnasihat filsafat-hlsa-fat dan
ancaman-ancaman yang semakin mempersempit dunianya. Membelenggu,
membatasi... oh... Mimi menutup wajannya dengan
bantal. Betapa ia ingin Mama tak dapat mencapai kamarnya.
Mungkin satu-satunya yang bisa menghentikan
langkah Mama adalah kecelakaan kecil seperti
terpeleset atau... Braaakkk...! "Oh..." Terdengar teriak kesakitan Mama setelah
diawali debuman benda berat yang terjatuh.
Mimi tersentak. Sadar akan apa yang ada di
pikirannya. Ia melompat turun dari tempat tidur dan
memburu ke arah Mama yang tersimpuh di depan
pintu kamarnya sambil memegangi pergelangan kaki.
"Kenapa, Ma?" tanya Mimi khawatir.
"Keseleo...," Mama meringis seraya mengurut
pergelangan kaki kanannya.
"Pasti tersandung karpet," gumam Mimi.
"Tolong Mama, Mi...." Mama melingkarkan tangannya
di bahu Mimi, minta dipapah menuruni tangga.
Mimi menghela napasnya. Ini tentu bukan lagi
kebetulan. Alam pikirannya bisa menembus alam
nyata dan menghasilkan sesuatu tanpa perlu berbuat
apa-apa. Semacam gelombang elektromagnetik...
semacam... ah... entah apa namanya, pikir Mimi
pusing. Yang jelas mulai saat ini ia mesti lebih berhatihati dengan pikirannya.
Pikiran-pikiran yang bisa
menjadi kenyataan bila dikonsentrasikan itu boleh
jadi menguntungkan bagi dirinya, tapi bisa juga
menjadi sesuatu yang membahayakan bagi orang
lain... *** cerita-silat "Spada... susu...!"
Mimi menggeliat Hari Minggu pagi yang cerah, mentari
menyembulkan sinarnya dari celah-celah tirai jendela
yang terkuak sedikit. Siapa pula yang merusak
keheningan pagi dengan teriakan-teriakan yang
memekakkan telinga seperti itu"
Perlahan Mimi bangkit dan menyeret langkahnya
menuju jendela. Dilihatnya Pak Oman, tukang susu
langganan mereka, tengah mengetuk-ngetuk pintu
sambil memeriksa catatannya. Tentu ia mau menagih
hari ini. "Spada... susu! Hoi!!! Nggak ada orang apa gimana
sih?" gedor Pak Oman lagi.
"Mimi!! Tolong bukakan pintu buat Pak Oman!" teriak
Mama dari bawah. Mimi segera ingat bahwa kaki Mama keseleo tadi


Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

malam, tentu pagi ini sedang bengkak-bengkaknya
dan sudah pasti tidak bisa dipergunakan untuk
berjalan. "Ya, Ma...," sahut Mimi sambil menyambar jas
kamarnya dan mengenakan sandalnya. Setelah itu
langsung menuju ke pintu depan, menyambut Pak
Oman yang tak sabaran itu.
"Spa..." "...da...!" sambung Mimi jengkel.
Pintu terbuka, teriakan Pak Oman terhenti, disambung
teriakan Mimi yang tak kalah kerasnya hingga Pak
Oman terpaksa menutup telinganya dengan buku
catatannya. "Huh, bikin kaget saja! Anak nakal!" umpatnya. Pak
Oman memang tak akrab dengan anak-anak.
Terutama Mimi yang juga tak pernah berusaha
mengakrabi Pak Oman. Orang tua ini sama sekali tak
punya rasa humor. Tak pernah tersenyum selama
menjalankan tugasnya. Mungkin ia tipe pekerja yang
baik, tapi yang jelas ia bukan tipe masyarakat yang
baik. "Ada apa, Pak... kok teriak-teriak sepagi ini?"
"Pagi" Pukul setengah delapan kau bilang pagi?" cibir
Pak Oman. Mimi balas mencibir. Tentu saja waktu Pak Oman tak
melihatnya, sebab tentu tak sopan bila mencibiri
orang yang lebih tua. "Ini... tagihan susu minggu ini. Harap dilunasi, hari ini
juga. Saya tunggu," pesan Pak Oman seraya
menyobek nota pembelian dan menyerahkannya
pada Mimi. Mimi mengambilnya lantas segera
meminta uang pada mamanya.
Beberapa menit kemudian ia sudah kembali dan
menyerahkan uang pembayaran pada Pak Oman.
"Hm... tujuh ribu rupiah... pas... tak lebih maka tak ada
kembali," ujar Pak Oman seperti jengkel karena tak
diberi tip. "Ya... selamat siang. Pak... ciao!"
Mimi menutup pintu. Dari jendela diintipnya kelakuan
Pak Oman yang memasukkan uang pembayaran ke
dalam sakunya sambil bersungut-sungut. Sudah
seenaknya membangunkan orang, teriak-teriak,
menagih tanpa basa-basi tanpa senyum eh... masih
pula menggerutu. Ck... ck... ck... Mimi menggelengkan
kepalanya. Dia pikir cuma dia manusia yang berhak
jengkel di dunia ini" pikir Mimi. Aku juga bisa jengkel,
pikir Mimi sambil membayangkan, betapa asyiknya
bila punya kesempatan mengguyur kepala Pak Oman
dengan air dingin. "Brrr... ups,.. eh... hati-hati dong kalau menyiram!"
teriak Pak Oman gelagapan.
"Aduh, maap. Pak Oman, Bibi tidak sengaja...," ujar
Bibi tetangga sebelah dengan amat menyesal dan ikut
terkejut. Entah mengapa selang air yang
diarahkannya pada tanamannya, mendadak berputar
sendiri dan di luar kekuasaannya mengarah pada Pak
Oman yang sedang memasuki pekarangan rumahnya
untuk mengantarkan susu dan menagih.
"Enak saja... brrr...," Pak Oman menggerutu sambil
menggigil kedinginan. Mimi ternganga lantas tertawa terpingkal-pingkal
menyaksikan adegan barusan. Ia baru ingat bahwa
kini ia memiliki sebuah kemampuan yang menjurus
pada keajaiban. Kekuatan baru yang bisa menjadi
hiburan bagi dirinya sendiri. Dan pagi ini korban
pertama adalah Pak Oman. Untung hanya air dingin....
"Mimi... sudah kauberikan uangnya?" panggil Mama
dari kamarnya. "Eh... sudah, Ma," sahut Mimi menghentikan tawanya.
Hari ini tentu ia harus mengerjakan pekerjaanpekerjaan rumah tangga yang
biasanya dilakukan oleh Mama. Di hari Minggu biasanya Mama pergi
berbelanja ke supermarket untuk membeli
kebutuhan-kebutuhan untuk satu minggu penuh. Dan
dengan kaki terkilir tentu Mama tak bisa mengemudi
mobil dan pergi ke supermarket, dan itu berarti tugas
Mama beralih jadi tugas Mimi.
Dan peralihan tugas pagi ini diawali dengan
menyiapkan sarapan pada nampan dan
membawakannya ke kamar Mama. Dengan cekatan
Mimi mengeluarkan mentega, selai strawberry, dan
coklat dari lemari pendingin. Disiapkannya alat
pemanggang dan dimasukkannya beberapa helai roti
tawar ke dalam panggangan yang dalam beberapa
detik mengubah roti lunak menjadi garing kecoklatan.
Susu dari botol pun mesti dipindahkan ke dalam gelas
khusus milik Mama. Nah, selesai sudah. Mimi membawanya ke kamar
Mama. "Sarapan siap," ujarnya seperti seorang
jururawat. Mama tersenyum. "Tak disangka, ternyata anak Mama
tahu juga cara mengerjakan pekerjaan rumah
tangga," ujar Mama kagum sedikit terharu.
Mimi hanya tersenyum. "Dari mana kaupelajari semua ini?" tanya Mama,
menyadari bahwa ia tak pernah mengajari Mimi halhal seperti ini. Bahwa yang
diperkenankan untuk Mimi hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran
sekolah belaka. Titik. "Dari... apakah Mama marah kalau Mimi katakan yang
sebenarnya?" tanya Mimi ragu sebelum menjawab.
Dilihatnya Mama menggeleng sambil tersenyum
lembut. "... dari majalah-majalah dan dari film-film televisi...
juga dari khayalan-khayalan Mimi sendiri...."
Mama meraih kepala Mimi ke dalam pelukannya. Ada
rasa haru merambat di hatinya. Ternyata ia telah
terlalu ketat membatasi gerak Mimi selama ini.
Bahkan untuk hal-hal yang mestinya diperoleh Mimi
dari seorang ibu, ia tak sempat mengajarkannya. Ia
terlalu khawatir dituduh tak mampu mendidik anak
oleh orang-orang. Sepeninggal almarhum Papa, Mama
memang menerima amanat untuk mendidik dan
membesarkan Mimi hingga berhasil menjadi dokter
seperti almarhum Papa. Dan amanat Papa berubah
menjadi beban dan bumerang bagi Mama.
Kelembutan seorang ibu ditukarnya dengan tangan
besi dan kekerasan seorang laki-laki. Dididiknya Mimi
dengan pendidikan ala militer. Mama lupa bahwa
Mimi adalah anak gadisnya yang terus tumbuh dan
akan menjadi wanita. Dan hari ini, karena keseleo
dan tak berdaya, Mimi telah melakukan pekerjaan
rumah tangga yang tak pernah diajarkan oleh Mama.
Anak gadisnya, mencari pengetahuan tentang rumah
tangga dari majalah, bukan dari ibunya... ironis sekali,
batin Mama sedih. "Enak nggak, Ma?" tanya Mimi waktu Mama
mengunyah roti bakar berlapis selai.
"Mh... enak sekali," sahut Mama cepat. Dua, tiga,
empat helai roti bakar tandas diiringi penyesalan demi
penyesalan di hati Mama. "Mimi, coba buka laci meja rias Mama," ujar Mama.
Mimi menurut. Dibukanya hati-hati... dan ia terkesiap
melihat radio kesayangannya ada di sana.
"Jangan ragu, Mi... ambil saja," ujar Mama lembut. "Itu
milikmu...." Mimi menatap mamanya dengan rasa tak percaya.
Benarkah kata-kata itu keluar dari mulut Mama"
Tanpa berani menyentuh radio di dalam laci, Mimi
terus menatap Mama. Dan ketika dilihatnya perlahan
kepala Mama mengayun mengangguk,
mempersilakannya mengambil miliknya... barulah
Mimi berani menggerakkan tangan mengeluarkan
radio kecilnya dari laci, lantas mendekapnya erat di
dada. "Oh... terima kasih. Mama," ucapnya bergetar sambil
mencium pipi Mama berulang-ulang.
"Hei... hei... hati-hati," Mama kewalahan." Nanti kau
terpaksa menyiapkan sarapan dua kali untuk Mama
kalau semuanya tumpah."
"Seribu kali pun Mimi tak keberatan, Ma!" seru Mimi
riang. Dan Mama semakin sadar bahwa gadisnya telah
berubah... telah tumbuh. Bukan lagi gadis kecil,
melainkan seorang remaja yang tengah menuju ke
kedewasaan. Yang butuh bimbingan, bukan laranganlarangan. Yang butuh kebebasan
dan pergaulan luas, bukan belenggu. Kring... kriing...! Minggu siang yang tenang dan paling
membahagiakan bagi Mimi. Telepon berdering Mimi
melangkah malas menuju meja tempat pesawat
telepon. "Ya, halo...," sapa Mimi.
"Nah... akhirnya..."
"Rio?" tanya Mimi tak percaya.
"Yap. Sedang apa kamu?" tanya Rio Jenaka. "Susah
betul sih menghubungi kamu lewat telepon."
"Lewat apa pun akan sama sulitnya," gumam Mimi.
"Ah... yang penting sekarang ketemu. Eh... apa kabar
jatah makanku" Masih ada atau sudah digondol
kucing?" "Makananmu?" "Ya... percobaan masakmu dan janjimu Sabtu sore
kemarin," Rio mengingatkan.
"Oh, ya...," desis Mimi, teringat kembali pada ajakan
yang ditolak kemarin. "Aku nggak sabar menunggu sampai besok. Mi, boleh
nggak kuambil sekarang?"
"Sekarang?" "Iya." "Maksudmu, kau mau ke rumahku?" seru Mimi tak
yakin akan pikirannya. "Nggak boleh" Ya udaaahh...," Rio sok merajuk.
"Lho, siapa yang bilang tidak boleh" Kalau kau mau
tentu... lagi pula mungkin kalau menunggu besok
makanan itu keburu digondol kucing," ujar Mimi riang.
"Digondol kucing atau digondol Mimi?" goda Rio.
Pipi Mimi bersemburat merah jambu. Ia bersyukur
karena Rio tak dapat melihatnya. Kegembiraan itu tak
mampu disembunyikannya lagi. Ia tak lagi ingat untuk
mengontrol irama suaranya yang barangkali
kedengaran terlalu bernada sukacita di telinga Rio.
Barangkali terlalu jelas mengekspresikan
perasaannya. "Oke, nanti sore aku ke rumahmu," janji Rio
mengakhiri percakapan. "Betul?" "Ya." "Oke. Ciao," seru Mimi. Diletakkannya gagang telepon
dan dirabanya dadanya yang berdetak tak keruan.
Dentuman-dentuman menyanyikan irama ceria.
Didatangi Rio" Ah... rasanya tolakan kemarin terbayar
berlipat ganda hari ini. Mudah-mudahan tak timbul
masalah dengan Mama, doa Mimi dalam hati, penuh
khayalan berbunga-bunga. Mimi berbaring menengadah menghadap langit-langit
dengan mata terpejam. Kakinya menyilang dengan
telapak kaki yang tak henti bergoyang-goyang tanda
belum tertidur. Tanda pikirannya masih di awangawang. Tanda pejamannya semu.
Peristiwa sore tadi di serambi rumahnya adalah peristiwa pertamanya
yang amat berkesan, berduaan dengan makhluk yang
bernama cowok. Rio pula! Bukan sembarang cowok,
tapi cowok yang jadi idaman hampir tiap gadis di
sekolah. Dan sore tadi, semua berjalan begitu
sempurna. Bahkan langit yang sudah gelap pun
mendukung suksesnya acara. Tak ada hujan setetes
pun meski awan hitam menggantung sore tadi.
Spaghetti masakan Mimi juga sukses berat. Tidak
lengket atau kebanyakan saus tomat seperti
biasanya. Dan yang paling membahagiakan adalah,
sikap Mama yang bersahabat pada Rio. Bahkan Mama
seperti telah lama mengenal Rio.
"Sepertinya kok sudah kenal ya..." ujar Mama waktu
berkenalan dengan Rio sore tadi.
"Kenal di mana, Ma?"
"Di... aduh, lupa Mama." Mama mengerutkan kening,
tak berhasil mengingat-ingat di mana atau segi apa
yang dihafalnya dari Rio.
"Mungkin Tante pernah melihat saya di album sekolah
Mimi," kata Rio membantu mengingat-ingat.
"Bukan... mh... suaramu itu lho, Rio, seperti sering
Tante dengar... tapi di mana, ya" Dan kapan?"
Percakapan akrab dan bersahabat itu masih
terngiang-ngiang di telinga Mimi. Ya... rasanya ucapan
dan perasaan Mama ada benarnya juga, pikir Mimi.
Sejak awal ia pun telah merasakan hal itu. Rasanya
kok ada sesuatu dalam diri Rio yang membuatnya
merasa sudah lama akrab dan tak memerlukan
waktu lama untuk penyesuaian. Tapi apa" Suaranya"
Kapan dan di mana, ya"
Mimi terus mengingat-ingat dengan mata terpejam.
Sambil mendekap boneka panda coklatnya dan
kuping bersumpal headphone Mimi memonitor
gelombang FM stereo kesayangannya yang sebentar
lagi akan mengudarakan acara Mister DJ.
...jalan jalan, kita berjalan-jalan sore-sore mencari
terus... pengalaman yang berguna, bagiku, bagimu,
semoga berguna bagi semua...


Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Yap... itulah tadi, Nona manis dan Jaka berkumis, satu
irama khas dari Guruh Soekarno Putra yang
ditariksuarakan oleh Denny Malik. Sebuah nomor yang
lain dari biasanya. Bahkan mungkin terlalu lincah
untuk suasana menjelang tidur...."
Mimi mendekap panda-nya makin erat. Suara itu...
oh... ia menyimak dengan lebih sungguh-sungguh.
"...sore tadi saya mengalami peristiwa yang amat
berkesan dan karena cuma lagu itu yang bertema
sore, saya putarkan juga. Sesekali egois sah aja, kan"
Oke... teriring salam buat Mimi manis di rumahnya,
dengan ucapan selamat bobo dan semoga lekas
sembuh untuk Mama...." Rio!
Mimi menggigit bibirnya, seketika matanya terbelalak.
Ya! Tak salah lagi, suara itu jelas suara Rio! Jadi
dugaan Mama tak salah, suara itu telah menjadi
sesuatu yang akrab di telinga penghuni rumah ini. Di
telinga Mimi yang setengah mati tergila-gila, dan di
telinga Mama yang sering penasaran ingin tahu
kenapa anaknya bisa sampai tergila-gila pada radio.
Jadi tiap malam... ah... Mimi tersenyum geli. Hari ini
terlalu banyak hadiah yang diberikan Tuhan untuknya.
Apakah ini karena keajaiban aneh yang kumiliki"
Rasanya tidak. Pertama-tama memang ya, waktu
Mama mendadak keseleo. Tapi seterusnya, waktu
Mama mengembalikan radio kecilnya waktu Rio
menelepon dan bertandang ke rumahnya, waktu
Mama bersikap ramah ada Rio dan waktu
diketahuinya bahwa rio tak lain adalah si Mister DJ
yang dikaguminya barusan, rasanya semua bukan bahkan keajaibannya. Sebab semua
itu merupakan kejutan bagi dirinya, dan tak pernah sekali pun
terlintas dalam benaknya..Terima kasih. Tuhan, bisik Mimi sebelum akhirnya
terlelap dengan headphone masih menggantung di
kepala dan boneka panda coklat dalam dekapan yang
mengendur. Semoga esok masih ada hadiah-hadiah
lain yang tak kalah indah...
*** http://cerita-silat.mywapblog.com/
"Itu dia!" Mimi menghentikan langkahnya. Waktu istirahat siang
ini sedianya akan dihabiskannya dengan makan
risoles di kantin bersama Rio. Tadi pagi, janji telah
disepakati kala berangkat bareng. Tapi agaknya
niatan itu akan sedikit terhambat.
Mimi menoleh dengan tenang. Ditatapnya Lisa, Kiki,
dan beberapa gadis perkasa lain yang menjadi
kelompok the gangster lady itu satu per satu.
"Lihat caranya menatapmu Lis," pancing salah satu di
antara mereka yang bertubuh kekar berbetis bagai
tukang becak. "Iya... nantangin tuh," timpal yang lain. "Hajar aja, Lis,
biar dia ngehargain loe dikit."
Lisa menghampiri. "Heh... persoalan kita belum selesai,
inget nggak?" ujarnya galak.
"Ya," sahut Mimi datar. Entah mengapa, tak ada rasa
takut di hatinya kali ini. Tidak seperti biasanya,
didekati Lisa saja Mimi sudah mengkerut ketakutan,
apalagi dipelototi semacam ini, bisa terkencingkencing Mimi dibuatnya.
"Jadi?" tanya Lisa agak heran melihat reaksi Mimi
yang tidak seperti dugaannya. Tidak seperti biasanya.
"Lisa, sebetulnya aku tak ingin membuat masalah
denganmu" "Eh... suara siapa tuh?" ejek Lisa, seolah tak percaya
bahwa kata-kata seperti itu bisa keluar dari bibir
seorang Mimi yang pemalu, penakut, dan kutu buku.
"Lisa, jangan ganggu aku dan aku tak akan
mengganggumu," sahut Mimi mulai kehilangan
kesabarannya. Waktu istirahat tinggal sepuluh menit
lagi, berarti ia telah membuang waktunya yang lima
menit untuk meladeni gertak sambal Lisa yang tak
ada gunanya ini. "Kau... kau mau menggangguku" Olala..." Lisa
membelai pipi Mimi dengan gaya, menghina.
"Cukup, Lisa," Mimi menepis tangan Lisa.
"Wah, Lis... ini udah keterlaluan."
"Hantam, Lis...!"
Lisa mendengus dan mengusap hidungnya yang selalu
berkeringat bila sedang bersemangat. Ditatapnya Mimi
dengan beringas. Baginya tepisan barusan bisa
diartikan sebagai perlawanan dan perlawanan berarti
tantangan. "Kau yang mulai, Mimi...," desis Lisa.
"Lisa, sekali lagi kukatakan..." Kata-kata Mimi terhenti
ketika tangan Lisa terayun ke arah perutnya. Tapi
dengan sigap Mimi menangkapnya sambil
membayangkan dirinya menjadi Advent Bangun si
jago karateka nasional. Dengan sekali ayunan ringan,
Lisa terpelanting begitu kerasnya sehingga mirip atlet
melakukan salto. Lantas mendarat dengan tidak
mulus di darat. Untung tak membentur batu atau
benda keras lainnya, melainkan di hamparan rumput
yang cukup lunak. Keempat temannya cuma melongo melihat kejadian
tadi dan tidak segera menolong bos mereka yang
jatuh berdebum dan mengaduh kesakitan setelah
terdiam sesaat lantaran kaget.
Mimi menghela napas, bersyukur bahwa kekuatan
ajaib reaksi cairan Profesor Aloy itu masih ada dan
bekerja dengan baik dalam dirinya. Disentuhnya bahu
Lisa sebelum berlalu menuju kantin.
"Maaf, Lis... terlalu keras... aku tak sengaja," ujarnya
seperti merendah dan secara tak langsung
menyatakan bahwa ia masih punya kekuatan ekstra
yang lebih dari itu. Masih ada lima menit, bisik Mimi dengan napas
memburu. Braak...! "Oh... maaf," seru Mimi waktu menabrak seseorang.
"Mau ke mana?" Mimi membetulkan kacamatanya yang melorot dan
terkejut waktu melihat siapa yang ditabraknya
barusan. "Rio... maaf, aku terlambat," ujarnya.
"Nggak apa-apa, tapi boleh dong aku tanya kenapa?"
"Karena... ah, panjang ceritanya,"
Mimi ragu untuk bercerita. Namun ada rasa ingin
sedikit berbangga di hadapan Rio, bahwa ia berhasil
mengalahkan Lisa. "Ceritakan yang paling singkat," desak Rio sambil
berjalan beriringan. "Lisa... tadi mereka menghadangku lagi."
"Karena tadi pagi melihat aku berangkat sekolah
bersamamu?" terka Rio.
"Mungkin." "Lalu" Kau tak diapa-apakannya, bukan?" tanya Rio
sambil memegang dagu Mimi dan memutar wajah
gadis itu agar dapat ditelitinya dengan saksama.
"Ah, tidak... aku telah menghajarnya," ujar Mimi
perlahan. "Kau... apa!?" seru Rio kaget.
"Sedikit keras mungkin, tapi itulah yang terjadi... ia
terbanting ke tanah tadi."
"Aku tak mengerti. Mi... kau,membanting Lisa?" Dahi
Rio berkerut lantaran bingung dan tak percaya.
Mimi mengangguk pasti dengan hidung sedikit mekar
lantaran bangga. Akhirnya ia punya sesuatu untuk
dibanggakan. "Kau... memban..banting Lisa?" desis Rio seolah pada
dirinya sendiri. "Ya... eh... dulu aku pernah belajar karate sedikit,"
dusta Mimi supaya kejadian tadi tak berkesan begitu
"gaib" bagi Rio.
"O... kau tak pernah cerita."
"Ya... aku memang tak pernah berniat
memamerkannya tapi kalau terpaksa... yah... kuharap
ini pelajaran bagi Lisa agar tak mengganggu yang
lain. Aku siap menolong anak-anak lain yang di
ganggunya," Mimi mendengus sambil sedikit
membusungkan dadanya. Rio tersenyum dipaksakan sambil memperhatikan
mimik dan gaya Mimi waktu bercerita, diam-diam.
Ada rasa aneh bermain dalam dadanya. Rasanya ia
seperti tidak sedang berbicara dengan Mimi. Mimi
dengan segala kerendahan hati yang disukainya. Yang
memiliki seratus persen citra sebagai wanita, menurut
Rio. "Rio?" tegur Mimi saat dilihatnya Rio seperti tengah
melamun. "Eh... ya... kau hebat. Mi," sahut Rio. "Tapi kurasa lain
kali tak perlu main banting-bantingan segala. Aku jadi
ngeri, jangan-jangan nanti aku kaubanting pula bila
kau kesal." "Macem-macem aja kamu...." Mimi tersenyum
mendengar kalimat Rio. "Yuk, Mi... sampai nanti," Rio melambai.
"Lho, Rio... kita nggak jadi ke kantin?" Mimi teringat
akan janji mereka. Dilihatnya Rio menggeleng. Sebersit kekecewaan
menyembul di benak dan hatinya. Padahal ia begitu
mengharapkan acara berdua ini. "Lain kali saja, lagi
pula sudah hampir bel masuk. Daaag!"
Mimi mengentakkan kakinya jengkel. Kurang ajar... ini
semua gara-gara Lisa yang menghadangku hingga
terlambat. Awas, akan kuberi pelajaran sekali lagi
anak-anak itu, pikir Mimi. Biar mereka kapok dan
tidak lagi menggangguku, tidak lagi mencampuri
urusan pribadiku. Huh. Ditendangnya kerikil yang
menghalangi langkahnya. Di benaknya ada seribu
rencana untuk Lisa and the gang.
*** http://cerita-silat.mywapblog.com/
Sore yang cerah. Mimi keluar dari perpustakaan
menuju lapangan basket. Sore ini, tepatnya setengah
jam lagi, regu basket putra yang dipimpin Rio akan
bertanding me lawan regu basket SMA Merah-Putih
yang dipimpin Hilman. Mata Mimi yang besar dan bundar bagai bola di balik
kacamata minusnya yang tebal, mulai mencari-cari
sosok Rio di tengah begitu banyak manusia di
lapangan dan sekitarnya. "Rio!" seru Mimi sambil menggerakkan tangannya
dengan penuh semangat ke arah Rio yang tengah
melatih dribble kirinya di lapangan. Rio tersenyum dan
balas melambai. Mimi berlari kecil menghampiri.
"Jam berapa tandingnya?" tanya Mimi begitu sampai
di tempat Rio. "Lima belas menit lagi mungkin..." Rio berlari menuju
ring... melompat sedikit dan... hop... bola melejit ke
dalam keranjang. Mimi bertepuk tangan dan memandang Rio dengan
kagum. Si penyiar bersuara lembut ini ternyata bisa
jadi macan yang ditakuti di lapangan basket. Rio
memang merupakan produk keteledoran malaikat,
pikir Mimi. Mestinya mereka tak mencintakan manusia yang
sempurna seperti ini, khayal Mimi tanpa menyadari
bahwa bagi orang yang sedang dilanda cinta tentu
segala sesuatu kelihatan indah, sempurna....
"Hei, lihat, itu teman-temanmu!" tukas Rio berolok-olok
waktu kawanan Lisa melintas dengan gaya seronok
mereka. "Huh, baunya pun telah tercium dari sini," timpal Mimi
sinis. "Mereka sahabatmu, kan... he... he... he..." Rio tertawa
dengan leluconnya sendiri.
"Uhhh enak aja... nih.." Mimi menghujani Rio dengan
cubitan. "Aduh... ampun... ampun..."
Mimi tersenyum gembira. Tiba-tiba ia teringat lagi
akan rencananya memberi pelajaran pada Lisa dan
gang-nya itu. Cepat dipikirnya suatu adegan kocak
yang bisa membuat Lisa malu di depan demikian
banyak orang di lapangan ini. Sesuatu yang bisa
memudarkan kepopuleran Lisa sebagai yang terkuat
di sini.... Tentu akan seru bila tiba-tiba rok yang dikenakan Lisa
sobek menjadi dua dan rambutnya yang di-gelly rapi
itu mendadak kaku seperti landak....
"Aaaaachhh!!!" Terdengar teriakan dari arah Lisa. Mimi dan Rio
bergegas menghampiri kerumunan yang mulai ramai
di sekeliling Lisa. Susah payah mereka mengintip di
sela-sela kepala-kepala manusia yang bergerombolan
menyaksikan kejadian ajaib dan kocak yang terjadi
pada diri Lisa. "Ha... ha... ha..." Mimi terkekeh geli. Kekuatan untuk
menciptakan sesuatu tanpa perlu bertindak masih ada
dalam dirinya. Formula Profesor Aloy masih bekerja
dan dendam kesumatnya terhadap Lisa terlampiaskan
sudah. Rio menatap tajam ke arah Mimi, hingga akhirnya
Mimi sadar dan menghentikan tawa terbahaknya
agak malu. "Sori... habis lucu sih," ujar Mimi gugup. Ia merasa ada
yang lain dalam tatapan Rio kali ini. Seperti tersirat
rasa tak suka atas perbuatannya menertawakan Lisa.
"Kok malah diketawain sih...." Rio menyeruak masuk
ke tengah lapangan dan menolong Lisa menutupi
bagian roknya yang sobek, dengan jaketnya.


Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ayo minggir... bubar semua!" teriak Rio membubarkan
gerombolan yang merubungi Lisa.
"Kok bisa gini sih, Lis?" tanya Rio berbisik sambil
membimbing Lisa yang menutupi wajahnya karena
malu. "Nggak tau. Rio.., aku... aku malu sekali," isak Lisa.
"Sstt... tenanglah."
Mimi melihat kejadian itu dengan hati jengkel. Aneh.
Bukankah Rio selama ini juga benci pada Lisa" Lalu
kenapa mesti ditolong segala" Kenapa tidak dibiarkan
saja biar kapok dan berhenti jadi gangster di sekolah
ini" Mimi betul-betul tidak mengerti sikap Rio. Apalagi
Rio kelihatan marah waktu Mimi menertawai Lisa tadi.
Cuih...! maki Mimi dalam hati. Mereka justru menjadi
begitu akrab... pakai gandeng-gandengan segala, desis
Mimi agak sedih. -----Kantin agak sepi karena sore sebentar lagi berangkat
diganti oleh malam. Mimi dan Rio masih di situ. Lebih
banyak diam daripada bicara.
"Aku tak mengerti... katanya kau juga jengkel pada
Lisa," ujar Mimi menumpahkan keheranan dan
kekesalannya. "Ya, memang." "Lalu kenapa kautolong dia?"
"Aku membenci perbuatan jahatnya, kesokjagoannya, bukan orangnya, Mimi. Kau
harus bisa bedakan itu." "Maksudmu?" "Maksudku, di saat ia tak berdaya dan butuh
pertolongan, aku tak akan mengingat-ingat kebencian
itu. Ngerti" Kita harus bisa membatasi rasa marah,
benci, agar tak menjadi dendam. Dendam itu jahat,
Mimi," celoteh Rio panjang-lebar.
Mimi mencibir. "Kau aneh," desis Mimi masih tidak bisa menerima
jalan pikiran Rio. "Lho... kalau mau aneh-anehan, kupikir malah kau
yang aneh belakangan ini," balas Rio sengit.
"Aku?" Mimi menunjuk dadanya sendiri.
"Iya. Aku seperti berteman dengan makhluk tak
berperasaan. Ingat, Mimi, yang kusukai adalah
kepribadianmu, bukan apa-apa.... Jadi kalau kau
berubah, jangan salahkan aku kalau persahabatan
kita akan lenyap perlahan-lahan," ucap Rio agak
keras. "O ya?" Mimi bangkit dari kursinya. "Jangan pakai itu
sebagai alasan...." "Aku tak beralasan," kilah Rio.
"Ah, siapa pun tahu bahwa kau hanya kasihan
padaku, bahwa kau lebih memilih..." Mimi tak
melanjutkan kata-katanya sebab dilihatnya Belia
datang menghampiri dengan seragam basketnya
sambil tersenyum manis seperti biasa.
"Hai," seru Belia yang tak menyadari situasi yang
tengah panas. "Hai... juga," sahut Rio, berusaha menutupi keadaan
dan pertengkarannya dengan Mimi.
"Selamat, ya...." Belia menyalami Rio sambil
menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Rio.
"Terima kasih... lagi dong," canda Rio.
"Uh... maunya...." Belia berkelit manja.
"Oh, jadi kepribadian seperti ini yang lebih kausukai,"
gumam Mimi panas. "Selamat tinggal, Rio...."
"Mimi!" panggil Rio.
Mimi berlalu dengan hati terbakar melihat adegan
tadi. Tapi ia toh tak punya hak apa-apa atas diri Rio.
Mereka hanya bersahabat dan persahabatan itu kini
tengah berada di ujung tanduk. Mimi amat sangat
sedih. Betulkah ada yang berubah dalam diriku" Ada yang
hilang dalam kepribadianku" batin Mimi
menginstrospeksi. Tapi emosinya mengalahkan
segalanya. Ditengokkannya kepalanya ke belakang.
Rio seperti tak lagi mengacuhkannya, malah asyik
bercakap-cakap dengan Belia.
Cuih. Mimi menatap keduanya sambil memikirkan
sesuatu... "Oohh...," pekik Belia waktu Coca-Cola dari mulut Rio
menyembur wajahnya. "Eh, so... sori...," Rio terkejut sambil membantu
mengeringkan wajah Belia.
Mimi tersenyum puas. Dilanjutkannya langkahnya ke
tempat parkiran sepeda. Perlahan dikayuhnya
sepedanya menuju ke rumahnya. Mungkin
persahabatannya dengan Rio memang akan berakhir
hingga di sini saja. Tak apa... Mimi mencoba tegar. Toh
ia tak lagi memerlukan Rio sekarang. Tak lagi
memerlukan teman dan sahabat yang
mendukungnya. Aku bukan lagi Mimi yang lemah
yang selalu mengalah dan menuruti kemauan orang
lain, pikir Mimi penuh percaya diri. Formula ajaib itu
masih bekerja dalam diriku, dan itu lebih berarti
daripada Rio. Cuih... cuih, umpat Mimi mencoba
mengenyahkan rasa sedihnya.
-----Mama memperhatikan keresahan Mimi sejak usai
makan malam itu. Biasanya Mimi belum akan
beranjak dari depan pesawat televisi sebelum
mendengar perintah Mama. Biasanya saat-saat seperti
ini di telinga Mimi telah melekat headphone yang
mengantarkan acara dari radio kesayangannya.
Aneh. Sekarang Mimi malah asyik membaca buku
pelajarannya. Padahal belakangan ini, setelah Mama
sedikit memberi kelonggaran untuk melakukan
sesuatu yang berkenan bagi dirinya sendiri, Mimi
selalu memanfaatkan waktu luang tidak lagi untuk
belajar dan belajar melulu. Mimi punya banyak
kegiatan. Dan yang paling penting, Mimi kelihatan
ceria. "Mi... Mama nggak salah lihat nih?" tegur Mama sambil
mendekati dan ikut duduk di sebelah Mimi.
"Sstt.. Mimi lagi belajar, Ma."
"Besok ada ulangan?"
Mimi mengangguk. Mama diam. Pekan ulangan umum baru saja berlalu.
Tentu kini murid-murid sudah tidak lagi dibebani
dengan kewajiban belajar atau tes-tes lainnya.
Mungkin anak-anak lain sedang sibuk merencanakan
acara liburan mereka. Dan Mimi sendiri akan ulangan"
"Ulangan apa besok?" tanya Mama tanpa
menunjukkan rasa curiganya.
"Mhh..." Mimi membalik buku yang sedang ditekuninya
untuk melihat judulnya. "Kimia..."
Mama menahan senyumnya. Belajar sejak sejam
yang lalu dan tak tahu apa yang sedang dipelajari"
Pasti Mimi sedang melamun, dan pasti bukan
melamunkan sesuatu yang menggembirakan. Mimi
tengah gundah. "Ya... boleh dong istirahat sebentar. Nggak capek tuh
belajar terus?" pancing Mama lagi.
"Ahh... Mama. Mimi jadi nggak bisa konsentrasi deh."
Mimi bangkit dari kursinya dan meninggalkan Mama
yang geleng kepala. Ditatapnya Mimi sampai lenyap
di balik pintu kamarnya di balkon.
Mama makin yakin, Mimi telah beranjak dewasa
menjadi remaja yang normal, seperti teman-teman
sebayanya yang lain. Remaja yang punya problem,
masalah dan gaya uring-uringannya yang khas.
Apalagi kalau bukan patah hati dan urusan lelaki"
pikir Mama seraya meraih koran sore dan mulai
membaca. Di kamarnya Mimi tertegun menatap cermin.
Terbayang lagi pertengkaran dan perselisihannya
dengan Rio di sekolah. Hubungan yang tadinya begitu
manis dan akrab, mendadak renggang. Dua hati yang
tadinya sejalan, sepikiran, kini bagai dua kutub yang
saling tolak-menolak. Aneh. Mengapa semua justru
datang setelah aku menemukan diriku yang
sebenarnya" pikir Mimi heran.
Mengapa setelah kepercayaan diri ini tumbuh, setelah
aku mulai punya pengaruh, punya sesuatu yang bisa
kubanggakan, yang bisa kujadikan andalan untuk
bersaing dengan Belia. Mengapa" Apakah aku tak
mungkin mendapatkan segala yang ingin kuperoleh"
Apakah di antara kebahagiaan mesti ada kesedihan"
Apakah tak mungkin hidup terisi kebahagiaan melulu"
Mimi menghela napas. Diraihnya radio mini
kesayangannya dan dikenakannya headphone.
Terdengar suara lembut Rio. Kali ini tidak lagi
menyebut nama samarannya, tapi nama aslinya.
Mimi tertunduk, matanya menghangat sebelum
kemudian air matanya menetes perlahan. Lagu yang
dikirim Rio untuknya... ah, seolah-olah persahabatan
mereka kini telah demikian retak hingga tak mungkin
lagi diperbaiki... when I'm feeling blue all I have to do is take a look
at you then I'm not so blue..
*** http://cerita-silat.mywapblog.com/
"Mimi. Tunggu!"
Mimi menghentikan ayunan kakinya, menoleh ke
belakang dan mendengus jengkel tatkala melihat
sosok yang mendekatinya. Si mata bola, berhidung mangir, bergigi mutiara. Si
mata bola dengan segala kesempurnaan yang
diimpikan para gadis remaja. Cantik, menarik, lincah.
Cuih. Tapi toh bibir Mimi tetap berusaha mengukir sebuah
senyum. "Aku mau menagih janji," ujar Belia, seperti biasa
sambil memamerkan sederetan mutiara kecil di balik
bibirnya yang ranum dan merah alami. Berkilat dipoles
olesan lipstik. "Janji apa?" sahut Mimi acuh tak acuh.
"Katanya mau mengajari aku mengarang.... Gini, Mi,
rencananya untuk mengisi liburan, aku ingin belajar
menulis. Siapa tahu berhasil dimuat di majalah kan
lumayan honornya...." Belia nampak antusias,
tercermin dari gerak bola matanya yang bagai penari
Bali itu. "O..." "Gimana, Mi" Kapan?" desak Belia.
"Kapan ya?" Mimi balik bertanya dengan malasmalasan. Mengajari Belia" Saingannya
sendiri" Rasanya ia bukan manusia normal kalau punya hati
sebaik dan setulus itu pada orang yang dianggapnya
telah menghancurkan persahabatannya dengan Rio.
"Aku bersedia datang ke rumahmu...."
"Ke rumahku" Hmm..." Mimi melirik ke arah
perpustakaan berusaha menghindari percakapan lebih
jauh. Ia khawatir Belia terus mendesak hingga
akhirnya ia terpaksa mengiyakan.
"Kapan?" desak Belia lagi.
"Nanti saja kuputuskan pulang sekolah. Sekarang aku
harus ke perpustakaan dulu, ada yang mesti
kupinjam. Yuk..." Mimi melambai dan berlalu tanpa
menunggu jawaban Belia lagi.
Huh. Selamatlah aku. Mimi menghela napas lega
begitu tiba di gerbang perpustakaan. Sesaat Mimi
bersandar di lekukan dinding yang tak terlihat dari
luar. Sebetulnya ia tak ada keperluan apa-apa di
perpustakaan. Dari jauh diintainya Belia, jika anak itu
sudah lenyap ke dalam kelas, baru ia keluar dari
persembunyiannya. "Hei, Mi...," tegur Kiki ramah. Kiki adalah salah satu
kawanan cewek gangster yang dipimpin Lisa. Tapi
sejak kekalahan Lisa dua kali berturut-turut tempo
hari, mereka mulai menghormati Mimi. Bahkan
kelihatan seperti menawarkan persahabatan.
"Hai..." "Menunggu Rio?"
Mimi diam dan akhirnya mengangguk asal saja. Ia toh
tak punya alasan lain. Apakah ia harus bilang bahwa
ia menyembunyikan diri di sini untuk menghindari
Bella" Oho... tentu tidak.
"Tuh Rio...." Kiki menunjuk ke arah jalan setapak.
Kelihatan Rio tengah berjalan di samping Belia sambil
menggiring sepedanya. Sesekali Belia menepuk bahu
Rio dengan bukunya. Manja dan akrab.
Rahang Mimi mengeras, seluruh urat sarafnya tegang.
Jantungnya berdebar menahan perasaan aneh yang
bermain bagai angin ribut di dadanya. Entah iri, entah
cemburu. Mestinya dialah yang berjalan bersama Rio,
setiap pagi, seperti kebiasaan mereka. Dulu. Sebelum
perselisihan demi perselisihan muncul di antara ia dan
Rio. "Sepertinya Rio lupa akan janjinya," pancing Kiki lagi.
"Diam kau..." Kiki mengangkat bahunya dan berlalu. "Aku hanya
memberitahu, Mi, kalau aku jadi kamu akan kususul
mereka dan kugandeng Rio agar Belia mengerti.
Kaulah yang pantas untuk Rio," ujarnya sebelum
meninggalkan Mimi dalam kesendirian yang hening.
Tiba-tiba saja Mimi ingin membuat Rio malu di
hadapan Belia... Ah... tidak, tidak... Mimi cepat meralat
keinginannya. Ia tak sampai hati melakukannya pada
Rio. Mengapa bukan Belia saja" Ya... tentu akan lucu
dan memalukan bila tiba-tiba...
Mimi ingat apa saja isi tas Belia, gadis tergenit di
sekolah ini. Rio pasti tak suka melihat perlengkapan
Belia yang mirip salon kecantikan keliling itu.


Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh... oh... ooohh..," terdengar teriakan panik Belia
memunguti barang-barang yang mendadak
berjatuhan dari tasnya. Rio tertegun sesaat. Dari kejauhan Mimi mengamati.
Lipstick, sisir, gel, bedak, parfum dalam botol kecil,
saputangan penyegar, menthol pengharum hawa
napas... apa lagi" Cermin kecil... ha., ha... ha...
Tapi tawa Mimi harus terhenti waktu dilihatnya Rio
ikut membantu Belia membenahi barang-barangnya
yang berserakan. "Oh... terima kasih, Rio... Aku tak tahu kalau tasku
sudah demikian lapuk hingga jebol begini," keluh Belia
kebingungan campur malu. "Tak apa.... Ngomong-ngomong kau salesgirl kosmetik,
ya?" tukas Rio sambil mengedipkan mata separuh
menyindir. Satu hal yang kurang disukainya dari Belia
memang dalam soal gejala "over centil" gadis satu ini.
Kecentilan yang dimusuhinya itu ada dalam diri semua
gadis. Ya... semua gadis ingin punya kelebihan, ingin menarik
perhatian lawan jenis dengan menonjolkan
kecantikannya saja. Cuma satu gadis yang kukenal,
yang punya kecantikan lahiriah yang memancar dari
dalam. Kepandaian. Sayang... agaknya kebersahajaan
itu mulai lenyap dari diri Mimi, pikir Rio sedih....
Mimi menggigit bibirnya. Rio dan Belia masih berjalan
beriringan hingga berpisah di ujung koridor. Rio ke
kelasnya dan Belia terus ke arah kamar kecil. Tentu
membetulkan tataan rambutnya atau menambah
bedaknya. Bel berbunyi tiga kali. Dengan malas Mimi berjalan
menuju kelas. Hatinya resah. Rasa kehilangan
membuat hari berjalan lambat dan menjemukan.
Adakah Rio merasakannya juga"
-----Suasana kantin kini bukan lagi hal yang asing bagi
Mimi. Ya, sejak Rio mengajarnya untuk tidak menutup
diri. Untuk membaur agar bisa diterima oleh
lingkungan. Untuk tidak memiliki prasangka pada
lingkungan. Hhh... Rio, Rio, batin Mimi agak sedih. Dari hari ke hari
rasa kehilangan itu bukannya memudar, akan tetapi
justru kian melekat. Mengerat lubang yang kian
dalam. Lubang kekosongan.
Di sudut ini, di meja kayu bercat biru muda inilah
biasanya aku dan Rio duduk bersama. Menikmati
hotdog, siomay, atau sekadar minum es sirup. Kini...
meja ini bukan lagi tempat yang menjanjikan
keceriaan atau persahabatan atau semangat. Meja ini
tak lebih dari meja-meja lainnya. Tak ada kesan.
Mimi menatap gelas sirup agak lama. Sang gelas pun
lantas bergerak mendekat seolah tahu bahwa Mimi
sedang haus tapi malas bergerak meraihnya.
Kekuatan formula itu masih ada, pikir Mimi. Tapi itu
tak lagi berarti. "Aduh... Rio... sakit dong," terdengar pekik suara genit
di sela ketawa-ketiwi dua insan.
Mimi mendengus membuang muka melihat Belia dan
Rio melintas di hadapannya. Rio pun seolah tak
mengacuhkannya. Terus saja melanjutkan acara
canda rianya dengan Bella. Menarik-narik kuncir kuda
gadis centil itu. Cuih...
"Memangnya aku kuda... ditarik-tarik begitu" Sudah
ah...!!" rengek Belia.
"Yiihhaa!" teriak Rio konyol sambil bergaya ala
cowboy Texas yang mengendalikan kudanya.
"Rio..." "Kadang-kadang kamu kaya kuda juga lho, Bell, kalo
kebanyakan nyengir.... Nyengir kuda gitu," goda Rio
lagi seraya mengerling ke arah Mimi.
Di saat yang sama, ternyata Mimi juga sedang
mencuri pandang ke arah mereka berdua. Tatapan
mata mereka bersirobok, berbenturan sesaat. Satu
detik, dua, tiga, lima, sepuluh...
Mimi segera menundukkan kepalanya dengan rasa
jengah. Rio pun mengambil sikap sama, mengalihkan
matanya pada Belia kembali. Tak ada yang tahu,
kejadian itu begitu singkat, tapi cukup mengobati
rindu yang tersirat dalam bola mata masing-masing.
Kata orang mata adalah jendela jiwa. Sayang belum
ada kamus khusus tentang mata. Jika ada, tentu Rio
mengetahui betapa Mimi amat merindukan
kebersamaan seperti dulu lagi. Dan sebaliknya Mimi
pun dapat mengerti bahwa hati Rio masih tertinggal
padanya, bukan beralih pada Belia seperti
kelihatannya. "Rio, kita duduk bareng Mimi yuk," ajak Belia setengah
berbisik. "Pasti seru deh, dia lagi ngelamun, kita
kagetin dari belakang, yuk," usul Belia nakal.
Rio menggeleng. "Ahh... ayo..."
Melihat Rio tak bereaksi. Belia dengan gayanya
melenggang menghampiri Mimi dari arah belakang.
Mengendap-endap, bersiap mengageti. Dan...
"Aaawwww..." lengkingan panjang terdengar. Bukan
suara Mimi melainkan suara Belia.
Mimi tersenyum dan tertawa dalam hati. Rasakan...
gadis nakal dan centil. Kaupikir aku sedang melamun"
Huh. Justru aku sedang memikirkan cara untuk
mengusik kebahagiaanmu dan Rio! Dan rencanaku
sukses besar... gumam Mimi dalam hati.
"Lho, kenapa kau. Belia?" tanya Mimi berlagak terkejut
dan agak panik. Rio pun menghampiri, ikut membantu Belia yang
terjatuh karena kakinya tersandung kursi.
"Hati hati dong, lain kali," gerutu Rio. Belakangan ini
ada saja hal-hal aneh yang terjadi atas diri Belia. Yang
tasnya jebol, yang alat kosmetiknya berserakan-lah,
yang tersandung kursi-lah. Huh. Kursi di depan mata
kok ya nggak kelihatan"
"Tadi rasanya nggak ada kursi...."
"Ah, masa" Mungkin eye shadow-mu terlalu tebal
hingga mengganggu penglihatanmu," tukas Mimi
dingin sambil berlalu dari situ.
-----"Apa sebetulnya yang tengah terjadi pada dirimu, Mi?"
tanya Rio dengan kepala tertunduk dan tangan
tenggelam di saku jeansnya.
"Tidak ada apa-apa," sahut Mimi acuh.
"Jangan membohongi dirimu sendiri. Mi... aku
merasakannya. Aku..."
"Apa yang kaurasakan?" tanya Mimi setengah
menantang. "Aku kehilangan Mimi-ku, sahabatku," desis Rio
sejujurnya. Mimi menelan ludahnya. Dicobanya untuk menutupi
rasa haru yang bermain di dadanya. Dicegahnya
kepalanya yang seolah ingin mengayun menyatakan
bahwa ia pun merasakan hal itu.
"Kau kehilangan aku" Justru kau yang seperti selalu
menghindari aku, Rio... seperti bocah yang bosan
dengan mainan lamanya dan menemukan mainan
baru... yang lebih cantik," ujar Mimi membayangkan
sosok Belia. "Mimi, kau tak mengerti... bukan itu maksudku."
"Oh, aku mengerti... aku mengerti kalau aku tak
punya kelebihan apa pun dibanding gadis-gadis lain
yang cantik, pesolek, dan hafal betul merek kosmetik
modern zaman sekarang. Sedangkan aku" Aku hanya
tahu rumus-rumus, judul-judul buku sastra, dan..."
"Justru itu kelebihanmu," sela Rio sambil menatap
mata Mimi dalam dan tajam.
Mimi ternganga tak mengerti.
"Belia tak sesempurna dugaanmu, Mimi, tapi
belakangan ini kau seperti berubah. Aku kehilangan
Mimi bukan dalam arti sebenarnya. Aku kehilangan
Mimi-ku dengan segala sifat-sifat lucu dan uniknya,"
desah Rio. Mimi tertegun. "Mengertikah kau, Mi?"
"Dan karena itu kau lantas mengakrabi Belia?" tanya
Mimi. "Bukan karena itu, tapi..."
"Karena apa?" potong Mimi penasaran.
Rio terdiam. Sulit untuk mengakui bahwa sebetulnya
memang ia sengaja membuat Mimi cemburu.
Membuat Mimi merenungi dirinya sendiri. Lantas
menyadari bahwa ada yang hilang dari dalam dirinya.
Kepribadiannya. Kerendah-hatian dan kelembutannya.
Keluguan dan kepolosannya. Semua telah berganti
kepongahan setelan bisa mengalahkan Lisa. Mimi
menjadi gadis yang cenderung sirik dan suka
menertawakan kesusahan orang lain.
"Ah... aku mengerti, tentu karena memang Belia lebih
baik daripada aku. Bagaimanapun juga, tentu
penampilan fisik lebih menentukan, bukan?" tuding
Mimi lantaran Rio tak memberi argumen.
"Tidak, Mimi... aku..."
"Kalau cuma untuk itu kau datang kemari, lebih baik
tidak usah dan jangan pernah lagi!" Mimi bangkit dari
kursinya, meninggalkan Rio sendiri di serambi
rumahnya dan membanting pintu agak keras.
Senja memerah di ufuk barat. Rio meninggalkan
halaman rumah Mimi dengan langkah perlahan dan
kepala tertunduk menatap langkah demi langkahnya
yang lesu. Niat baiknya kandas sudah, dan
kelihatannya justru memperburuk keadaan.
Peristiwa siang tadi di kantin membuat Rio tak bisa
menahan keinginannya untuk berjumpa dengan Mimi.
Kerinduan yang ditekannya seperti tergelitik waktu
tatapan mereka bertemu di kantin. Tapi nyatanya, hati
Mimi tetap sekeras cadas, Mimi telah banyak
berubah... apakah aku harus menyerah" pikir Rio lelah.
Jika kita menyayangi seseorang, apakah kita akan
membiarkannya kehujanan atau tersesat di rimba tak
bertuan" Tidak, geleng Rio menjawab pertanyaan itu
sendiri. Aku harus menggamit lengannya,
membawakan lentera baginya, menuntunnya
kembali. Tapi bagaimana caranya" Rio mengangkat kedua
bahunya. Pasrah. *** http://cerita-silat.mywapblog.com/
"Mi, kau dipanggil Profesor Aloysius," Joyce, sang
ketua kelas, memberi tahu sambil melemparkan surat
panggilan resmi yang ditandatangani Profesor.
Hati Mimi berdegup kencang waktu membaca surat
panggilan itu. Bahkan ketika melangkahkan kaki
menuju laboratorium tempat kamar kerja Profesor
pun jantungnya berdegup kian cepat.
Ada apa gerangan" Apakah Profesor telah menyadari
bahwa formula cairan kuningnya tempo hari lenyap"
Apakah ia telah menguji formulanya dan tahu bahwa
itu cuma campuran sirup biasa yang kubeli di kantin"
Apakah ia tahu bahwa kekuatan formula itu kini ada
dalam diriku" Kalau jawabannya "ya", tentu luapan
marah-lah yang akan kuterima. Bahkan mungkin juga
sanksi-sanksi atau lebih buruk lagi....
Oh... Mimi menghentikan pikiran-pikiran yang
membuat langkahnya kian perlahan surut dan ragu
saat jarak makin dekat ke laboratorium.
Tok... tok.. tok... "Masuk!" terdengar suara menyilakan yang tegas
seperti mencerminkan suasana hati si empunya suara
yang sedang marah. Pintu berderit, kepala Mimi menyembul dengan mata
takut-takut. "Selamat siang. Prof," sapanya gemetar.
"Duduk!" "Ya, Prof." Mimi duduk di kursi tepat di muka meja
Profesor. Di meja besar berwarna coklat itu ada tabung berisi
cairan kuning. Mimi yakin, itu adalah cairan sirup yang
dipakainya untuk mengelabui Profesor. Untuk
mengganti formula rahasia yang tumpah lantaran
sambitan bola basket tak terduga tempo hari.
"Kau masih ingat bahwa tiga minggu yang lalu kau
kuberi tugas untuk menjaga lab ini?" Profesor mulai
menginterogasi. "Ya, Prof." "Dan membantu mengadakan percobaan untuk
menyempurnakan formula saya?"
"Ya, Prof." "Lalu, apa artinya ini?" suara Profesor terdengar agak
bergetar waktu mengucapkan kalimat terakhir itu
seraya mengacungkan tabung berisi cairan sirup kuning itu ke dekat Mimi.
Mimi tertunduk, tak punya nyali untuk menatap
wajah sang Profesor yang sedang berang.
"Kamu telah mempermalukan saya, Mimi, di depan
para cendekiawan ulung. Saya membawa formula
istimewa yang ternyata cuma... sirup?" desis Profesor.
"Ma... maaf, Prof...." Hanya kata-kata itu yang keluar
dari mulut Mimi. "Maaf" Itu yang akan kaujadikan
pertanggungjawabanmu atas hilangnya formula
saya?" nada suara Profesor meninggi. "Bertahun-tahun
saya habiskan waktu untuk membuat formula itu, dan
kini setelah kauhilangkan kau cuma bilang 'maaf?"
Mimi menggigit bibirnya. "Prof... apakah tidak ada
catatan rumusnya?" tanyanya takut-takut.
"Saya tidak buruh nasihatmu! Seorang ilmuwan punya


Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

daya ingat yang cukup baik, kau tahu itu, bukan" Jadi
catatan itu adalah hal yang tak perlu dan membuangbuang aktu saja!" ujar
Profesor seperti bergumam.
"Jadi... formula itu bisa Anda buat lagi, kan, Prof?" usul
Mimi penuh harapan. Profesor diam. "Sebetulnya apa yang terjadi, Mimi?" suara Profesor
kali ini agak melunak. Seolah sadar bahwa tidak
mencatat rumus adalah keteledorannya sendiri dan
oleh karena itu kesalahan tak dapat sepenuhnya
ditumpahkan pada Mimi. "Sore itu... kaca jendela tertimpuk bola basket. Prof,
dan saya sedang memegang tabung itu tepat di balik
jendela," cerita Mimi tanpa merinci siapa yang
melempar bola nyasar tersebut.
"Lalu?" "Saya takut Profesor marah... waktu itu kita sedang
bersiap menghadapi ulangan umum. Saya takut
diskors, takut. Prof... karena itu saya masukkan sirup
kuning dalam tabung yang sama...."
Profesor geleng-geleng kepala, mengurut dadanya,
dantmencoba bersabar. Tidak mencatat rumus... yah,
itu memang kesalahannya. Tapi kalau formula itu
benar sukses, tentu ada pengaruhnya atas diri Mimi
sekarang. Sebab cairan formula akan menguap bila
keluar dari tabung dan berada pada suhu tertentu.
Orang yang menghirupnya pasti terkena
pengaruhnya. "Nah, Mimi, apakah kau merasa ada perubahan dalam
dirimu setelah kejadian itu?" tanya Profesor penuh
harap. Mimi terdiam. Otaknya bekerja. Kalau ia menjawab
"ya", tentu Profesor akan berusaha membuat formula
itu lagi. Padahal... formula seperti itu cukup
membahayakan seseorang. Tidak secara langsung,
tapi perlahan-lahan bisa membuat seseorang merasa
berkuasa lalu bertindak sewenang-wenang. Apalagi
kalau sampai ke tangan penjahat. Wah... bisa kacau
dunia, pikir Mimi. Lagi pula, kalau Profesor mengetahui bahwa
formulanya tak berguna alias gagal, tentu ia tak
begitu menyesal dan tak begitu marah padaku, pikir
Mimi lagi. Perlahan kepalanya bergerak menggeleng dua kali.
"Tidak" Kau yakin" Tidak mengalami hal-hal aneh?"
desak Profesor tak percaya.
"Tidak, Prof, saya sehat-sehat saja."
"Aneh," gumam Profesor. "Pasti ada yang salah. Saya
sudah mencobakannya pada tikus, ternyata hasilnya
tak sama dengan manusia, berarti formula saya
belum sempurna...." Teng... teng... teng... Bel berbunyi memanggil siswa-siswa untuk kembali
ke kelas masing-masing. "Maaf, Prof, saya harus kembali ke kelas," pamit Mimi
sambil segera berlalu dari ruangan Profesor Aloysius.
Sementara sang Profesor sudah tak mengacuhkannya lagi malah asyik
mengaduk-aduk laci mejanya. Mungkin mencari
beberapa data yang bisa mengembalikan ingatannya
akan rumus formula ajaib itu.
Aku tak akan menggunakan formula itu lagi... janji
Mimi dalam hati sambil melangkah ke kelas. Untung
Profesor tidak mengenakan sanksi atas kelalaianku
menjaga formulanya. Dasar Profesor, mahluk genius
yang sulit diterka. "Hei! Hati-hati kalau jalan!" teriak Lisa marah waktu
Mimi tak sengaja menyenggol lengannya.
Mimi menatap Lisa dengan jengkel. Anak satu ini,
mau macam-macam lagi" Alangkah lucunya jika tibatiba Lisatterpeleset lantaran
kulit pisang itu, pikir Mimi
waktu melihat sehelai kulit pisang di tong sampah.
Mimi berusaha berkonsentrasi, membayangkan
kejadian lucu itu. Tapi kulit pisang tetap pada
tempatnya dan Lisa juga tak terpeleset, bahkan masih
menatapnya dengan mata melotot.
Sekali lagi Mimi mencoba...
"Apa" Mau nantangin aku lagi, ya"!" seru Lisa dengan
hati kebat-kebit, sebab sebetulnya ia masih ngeri
berhadapan dengan Mimi. Kejadian-kejadian beberapa
hari lalu masih membekas di ingatannya dan malunya
belum lagi usai. "Eh... tidak. Sori," ujar Mimi sambil segera melanjutkan
langkahnya. Aneh, formula itu tidak lagi bekerja. Sudah habiskah
kekuatannya dalam tiga minggu ini" Mimi
mencobanya lagi waktu melintasi kelas anak-anak
baru. Ada pot-pot bunga berjejer menghias serambi
kelas. Dicobanya untuk menggeser pot-pot tersebut
dengan mengandalkan daya konsentrasi dan
kekuatan formula itu. Gagal!
Mimi menghela napas. Jadi hanya tiga minggu saja.
Tak apalah... toh aku telah berjanji untuk tak
menggunakannya lagi. Tapi mungkin kini aku benarbenar tak punya kebanggaan lagi.
Setelah Rio meninggalkanku, kini kekuatan formula yang
menimbulkan kepercayaan diriku pun ikut-ikutan
mengucapkan selamat tinggal padaku, bisik hati Mimi
agak resah. Sepasang mata mengawasi sejak tadi dari belakang.
"Mimi..." Mimi menoleh, dilihatnya senyum mengembang di
bibir Rio. "Hai...," sahut Mimi jengah dan cepat membalikkan
wajahnya dan memasuki kelasnya.
Hari-hari panjang dan menjemukan akan berulang
lagi kini, pikir Mimi. Aku kembali menjadi Mimi yang
pemalu, rendah diri, dan lamban. Dan julukan "itik
dungu" pun kembali akan kusandang...
*** http://cerita-silat.mywapblog.com/
if you leave me now you'll take the very best part of
me... ooh, don't baby please don't go ooh no, I just
want you to stay Lamat-lamat lagu yang dilantunkan sebagai penutup
acara 'Mister DJ' yang dibawakan oleh group Chicago
itu masih tertangkap oleh telinga Mimi, sebelum
akhirnya ia terlelap dalam tidur.
Mama masuk ke kamar Mimi dan geleng-geleng
kepala melihat Mimi tertidur dengan headphone masih
melekat di kepalanya. Padahal belakangan ini Mimi
seperti sedang memusuhi benda satu itu.
Hh... anak muda memang sulit diterka. Kadang uringuringan dan bilang benci,
kadang diam dan tanpa mau
bercerita, kembali menyukai sesuatu yang dibenci itu.
Sama juga seperti anak muda yang kini tengah
menunggu di ruang tamu. Hari sudah menunjukkan
pukul enam pagi, tapi Mimi belum juga bangun,
padahal Rio telah datang menjemput.
"Mimi... bangun, Sayang" bisik Mama agak dekat ke
telinga Mimi. Mimi menggeliat. Seperti sulit membuka matanya
ataupun menggerakkan anggota tubuhnya. Bibirnya
kelihatan agak pucat. Mama meraba kening Mimi. Agak panas.
"Kau sakit, Mi?" tanya Mama prihatin.
"Mhh...?" "Badanmu panas, Sayang..."
"Ya, rasanya juga begitu," gumam Mimi dengan mata
masih separuh terpejam. "Rio menjemputmu, tapi sepertinya kau lebih baik
istirahat di rumah hari ini," Mama memberitahu seraya
membetulkan letak selimut Mimi.
"Rio?" seru Mimi lemah tapi agak keras.
"Ya... kau mau bertemu dia sebentar atau..." Mama tak
melanjutkan kalimatnya karena lewat gerak bola
mata anaknya ia dapat menduga jawaban Mimi.
"Sebentar..." Begitu Mama menghilang memanggil Rio, Mimi segera
mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersandar
pada dinding tempat tidur. Dirapikannya rambutnya
sedikit dan dibersihkannya matanya dengan tissu.
Rio datang menjemput untuk sekolah" Astaga... sudah
pukul enam pagi! pekik Mimi dalam hati saat
dilihatnya jam dinding yang membuatnya menyadari
waktu saat ini. Kepalanya terasa agak pening dan
persendiannya terasa ngilu, nyeri, dan rasa-rasa tak
enak lainnya. "Halo..." "Hai... maaf, aku baru bangun," sambut Mimi agak
malu-malu, melihat Rio yang sudah rapi dan siap ke
sekolah. Dengan jaket jeans-nya seperti biasa dan
senyumnya seperti biasa. Hei! Segalanya seperti
kembali menjadi biasa seperti dulu... seperti sebelum
kemunculannya perselisihan di antara mereka.
"Kata ibumu kau sakit?" Rio duduk di tepi tempat tidur
Mimi. Mimi mengangguk. "Coba, Dokter Rio periksa," canda Rio sambil
memegang dahi Mimi. "Panas, kan?" tanya Mimi lugu.
"Ah... ini sih cuma sakit manja, malas, minta
perhatian," goda Rio Jenaka. Seperti biasa... seperti tak
pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Gombal... dokter apaan kamu!" Mimi meninju lengan
Rio. "Aduh... jangan dong nanti kalau aku ikut sakit
bagaimana?" "Ya nggak gimana-gimana...."
"Nggak bisa dong. Kalau aku sakit artinya aku ikut
tidur di kamar ini dan nggak bisa sekolah., aduh, sakit
lho," celoteh Rio nakal.
Mereka tertawa bersamaan. Mimi merasa ada sedikit
kesejukan merambat di hatinya. Meski suhu tubuh
terasa panas, tapi kedatangan Rio, canda Rio, sedikit
menetralisir rasa-rasa tak enak itu.
Sejak kemarin sore, sepulang sekolah berbagai
persoalan memberatkan pikiran Mimi.
Persahabatannya yang retak, lenyapnya kekuatan
formula itu, dan kembalinya ia menjadi Mimi si "itik
dungu" yang lamban seperti sediakala. Dan keresahan
itu membuat nafsu makannya mengendor hingga
diam-diam jatahnya diberikannya pada si Doggy.
Keresahan itu pula yang membuatnya tak jua mampu
terlelap hingga larut malam, padahal fisiknya yang
lapar dan pikirannya yang lelah butuh istirahat.
Mungkin karena itu pagi ini suhu badannya agak
meningkat di atas garis normal. Tapi yang jelas
persahabatannya kembali normal.
"Mimi, maafkan sikapku selama ini," ujar Rio tiba-tiba
dengan mata menatap lurus ke arah Mimi.
"Sikapmu yang mana?"
"Ketidakjujuranku dan kekanak-kanakannya jalan
pikiranku dalam menyelesaikan masalah. Jujur, aku
ingin melihatmu marah dan cemburu dengan
mengakrabi Belia. Kupikir cara itu bisa membuatmu
mengoreksi diri. Tapi sebetulnya bukan itu guna
seorang sahabat. Mestinya aku tidak melibatkan pihak
ketiga. Aku tak pernah menyukai Belia, Mimi. Dan
kalau aku boleh jujur, di hatiku cuma ada kamu, dan
karena kini kamu sudah tahu aku sayang padamu,
tentu kamu tak akan mengecewakan orang yang
menyayangi kamu, kan?" tutur Rio.
Kalimat terakhir Rio membuat Mimi tersenyum. Di sela
pengakuannya yang mengharukan dan serius, masih
saja Rio sempat menyelipkan canda dengan kalimat
konyol itu. "Jika kau sayang padaku... bagaimana, Rio" Aku tak
mengerti,'' timpal Mimi menahan tawa.
"Ya, jika aku sayang padamu maka kau tak boleh
mengecewakan aku." "Jadi...?" "Jadi, kita harus saling menyayangi... eh... kau mau,
kan?" Rio meralat kata-kata konyolnya dengan
kalimat yang lebih sopan. Bukan suatu keharusan, tapi
lebih merupakan sebuah permintaan.
"Jadi...?" tanya Mimi berbisik.
Mereka saling bertatapan. Seperti ada sebuah
kekuatan yang mendekatkan hati mereka. Seperti
ada kesamaan jalan pikiran. Ketika Mimi diam
terpaku, Rio secepat kilat mendaratkan bibirnya ke
pipi Mimi. "Kuharap kau mengerti... ciao... Sampai pulang sekolah
nanti, ya!" seru Rio, lantas berlalu secepat kilat dari
hadapan Mimi, sebelum Mimi sempat memberikan
reaksi apa-apa. Tertegun Mimi meraba pipinya. Sepertinya bibir Rio
masih tertinggal di sana. Ah... benar kata pepatah.
Patah tumbuh hilang berganti. Hilang satu tumbuh
seribu. Ya, kekuatan formula ajaib itu telah lenyap, pergi
meninggalkan diriku, tapi ada seribu hari-hari manis
berselimut gula yang menantiku. Tentu saja tidak
sendiri lagi. "Rioooooo!!!" teriak Mimi meluapkan segala
kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, memecah
pagi yang hening, membangunkan tetangga-tetangga
yang masih terlelap, menyambut kembalinya sebuah
pribadi dan masa muda yang wajar...
--THE END-http://cerita-silat.mywapblog.com/
?

Mimi Elektrik Karya Zara Zettira Zr di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

New XtGem feature: Discussion forums
Iblis Sungai Telaga 2 Gento Guyon 6 Tumbal Ratan Segara Lembah Nirmala 20
^