Pencarian

My Name Red 8

My Name Is Red Karya Orhan Pamuk Bagian 8


berpuluh-puluh tahun merana di muka bumi.
Untuk sementara sukmaku meninggalkan ragaku yang sedang menggeliatgeliat
kesakitan saat tergeletak bermandi darah akibat hantaman wadah tinta itu, dan
ragaku sejenak bergetar hebat di dalam seberkas cahaya yang bersinar amat
terang. Sesudahnya, dua bidadari cantik jelita dengan senyuman tersungging di
wajah secerah sinar matahari sebagaimana yang kubaca berulangulang di dalam ?Kitab Sukma perlahanlahan mendekatiku di dalam kecemerlangan surgawi, memegangi
?kedua lenganku, seolaholah aku masih berbentuk raga
manusia, dan mulailah mereka membubung naik. Begitu tenang dan lembut, dan
begitu cepatnya kami melayang naik seperti di dalam sebuah mimpi yang amat
menyenangkan! Kami melintasi kobaran api yang bergelora bagai rimba api,
menyeberangi sungaisungai cahaya, dan menerobos samudra-samudra kegelapan, juga
gununggunung es bersalju. Setiap kali melintas diperlukan waktu ribuan tahun,
meskipun rasanya seakan hanya sekejap.
Kami naik melewati surga ketujuh, melintasi berbagai kumpulan, makhlukmakhluk
aneh, tanah-tanah lunak, dan gumpalangumpalan awan yang penuh sesak oleh
beraneka serangga dan burung. Pada setiap tingkatan surga, bidadari yang
menuntunku akan mengetuk sebuah pembatas, dan ketika muncul seruan Tanya yang
datang dari seberang, "Siapa itu?" bidadari itu akan mulai menggambarkan
sosokku, termasuk semua nama dan gelarku, diakhiri dengan ucapan, "Seorang hamba
Allah yang patuh!" yang lalu memunculkan air mata kebahagiaan di kedua mataku.
?Aku tahu, bagaimanapun akan ada masa ribuan tahun sebelum Hari Pengadilan,
ketika mereka yang ditakdirkan untuk masuk surga akan dipisahkan dari merekayang
ditakdirkan untuk masuk neraka.
Yang kualami, kecuali untuk beberapa perbedaan kecil, terjadi seperti yang
dituliskan oleh al-Ghazali, al-Jauziyah, dan para ulama legendaris lainnya dalam
buku mereka yang membahas tentang kematian. Teka-teki abadi dan misteri gelap
yang hanya bisa dipahami mereka yang sudah mati kini terbuka sudah, dan
bercahaya, berhamburan ke depanku dengan gemilang, satu demi satu dalam ribuan
warna. Ah, bagaimana aku bisa menjelaskan dengan tepat warnawarni yang kulihat dalam
perjalanan yang luar biasa ini" Seluruh dunia diciptakan dari warna, semuanya
adalah warna. Tepat ketika aku merasakan kekuatan yang memisahkanku dari makhluk
hidup lainnya dan juga bendabenda yang berwarna, kini aku tahu warna itu
sendirilah yang dengan penuh kasih telah merengkuh dan mengikatku dengan dunia
ini. Aku menyaksikan hamparan langit berwarna Jingga, tubuhtubuh indah berwarna
hijau daun, telur-telur cokelat dan sekawanan kuda berwarna biru langit. Dunia
ini sangat setia pada ilustrasi dan legenda yang kuamati dengan sepenuh hati
selama bertahuntahun. Aku memandangi ciptaan Tuhan dengan kekaguman dan
keheranan seolaholah baru kulihat untuk pertama kalinya, bersamaan dengan itu
ada sesuatu yang menyeruak begitu saja dari ingatanku. Apa yang kusebut
"ingatan" itu berisi seluruh isi dunia ini. Dengan waktu yang membentang tak
terhingga di depanku dalam dua arah, aku memahami bagaimana dunia yang mulamula
kualami bisa terus bertahan sesudahnya sebagai ingatan. Bersama kematianku yang
dikelilingi gegap gempita warnawarni ini, aku juga menyadari mengapa aku merasa
begitu santai, seakanakan aku terbebas dari sebuah ikatan. Mulai saat ini, tidak
ada apapun yang terlarang, aku memiliki ruang dan waktu yang tak berbatas untuk
mengalami semua zaman dan segala tempat.
Aku segera menyadari kemerdekaanku ini, dengan rasa takut dan nikmat karena aku
tahu aku begitu dekat denganNya: di saat yang sama, dengan pasrah kurasakan
kehadiran sebuah warna merah yang tiada bandingnya.
Dalam waktu singkat, merah menyelubungi semuanya.
Keindahan warna yang satu ini menyelimutiku dan semesta raya. Saat aku mendekati
zat-Nya dalam keadaan seperti ini, aku merasakan keinginan membuncah untuk
menangis merayakannya. Tibatiba saja aku merasa malu dibawa ke hadapanNya dengan
diri yang larut dalam darah. Bagian lain benakku mengingat apa yang kubaca dalam
bukubuku tentang kematian, yakni bahwa Allah akan memerintahkan Izrail dan
malaikatmalaikat-Nya yang lain untuk memanggilku ke hadapanNya.
Mungkinkah aku mampu melihatNya" Aku nyaris tak bisa bernapas karena terlalu
bergairah. Merah mendekatiku merah yang ada di mana saja dalam semua sosok di alam semesta?ini begitu hebat dan indah, sehingga ia memicu tangisku, karena kupikir aku
?akan menjadi bagian darinya, dan akan menjadi sedemikian dekat denganNya.
Namun, aku juga tahu Ia tidak akan menjadi lebih dekat padaku daripada yang
sudah dilakukanNya. Ia mempertanyakan aku pada malaikatmalaikat-Nya dan mereka
akan memuji-mujiku. Ia melihatku sebagai seorang hamba yang setia mengikatkan
diri pada semua aturan dan menjauhi larangan-Nya, dan Ia mencintaiku.
Kebahagiaanku yang semakin besar dan curahan air mataku itu tibatiba teracuni
oleh keraguan yang mengganggu. Beban rasa bersalah dan ketidaksabaran berkecamuk
dalam ketidakpastianku, dan akupun bertanya kepadaNya, "Selama dua puluh tahun
terakhir kehidupanku, aku sudah dipengaruhi oleh ilustrasiilustrasi kaum kafir
yang kusaksikan di Venesia. Bahkan, ada suatu masa di mana aku menginginkan
potret diriku dilukis dengan metode dan gaya itu, tetapi aku merasa takut. Aku
malah menggambarkan dunia-Mu,
makhlukmakhluk-Mu, dan Sultan kami, bayangan-Mu di muka bumi, dengan gaya kaum
kafir Frank." Aku tidak mengingat suaraNya, tetapi aku mengingat jawaban yang diberikanNya
dalam pikiranku. "Timur dan Barat adalah milikku."
Aku nyaris tidak bisa menahan sukacitaku.
"Lalu, apakah makna semua ini, apakah makna dunia
ini?" "Misteri," aku mendengar itu dalam pikiranku, atau mungkin, "belas kasih,"
tetapi aku tidak yakin. Saat para malaikat mendekatiku, aku tahu sudah ada semacam keputusan yang dibuat
untukku dalam tingkatan langit ini, tetapi aku harus menunggu di alam barzkah,
bersama sekian banyak sukma-sukma lainnya yang sudah mati selama lebih dari
puluhan ribu tahun ini, hingga hari pembalasan, di mana keputusan akhir atas
diri kami ditentukan. Betapa semuanya terjadi sedemikian rupa seperti yang
tercatat di bukubuku yang menyenangkanku. Aku ingat kemudian dari beberapa
bacaanku saat aku turun ke bumi bahwa aku akan bergabung kembali dengan ragaku
selama upacara pemakaman.
Namun, aku segera paham bahwa fenomena "masuk kembali ke dalam raga tak
bernyawa" hanyalah kalimat ungkapan. Terlepas dari duka cita mereka, mereka yang
hadir dalam upacara pemakaman megah yang membuatku sesak oleh rasa bangga itu
teratur rapi memanggul peti matiku setelah disalatkan, lalu dibawa ke komplek
pemakaman kecil Hillock di samping masjid. Dari atas, prosesi itu tampak seperti
seutas tali tipis yang panjang dan halus.
Akan kujelaskan keadaanku: sebagaimana yang dicontohkan oleh legenda terkenal
Nabi kita yang menyatakan "Sukma orang yang beriman bagaikan seekor burung yang?diberi makan dari pepohonan surga" setelah mati, sukma tersebut akan mengelanai
?cakrawala. Seperti yang dinyatakan oleh Abu Omer bin Abdulber, makna legenda ini
bukan berarti sukma manusia akan merasuki raga seekor burung atau menjadi burung
itu sendiri, melainkan seperti yang dinyatakan oleh Al Jauziyah, sukma itu bisa
ditemukan di manapun burungburung berkumpul. Titik tempat aku mengamati
segalanya yang oleh para empu Venesia yang mencintai ilmu perspektif disebut
?sebagai "sudut pandang" membenarkan penafsiran Al Jauziyah.
?Dari tempatku, contohnya, aku bisa melihat prosesi pemakaman yang bagaikan
seutas benang itu memasuki komplek pemakaman, dan dengan kesenangan mengamati
sebuah lukisan, aku melihat sebuah perahu memacu kecepatannya, layar-layarnya
membentang melahap angin seraya melaju ke arah Titik Istana, tempat Golden Horn
bertemu Selat Bosphorus. Melihat ke bawah dari ketinggian sebuah menara masjid,
seluruh dunia bagaikan sebuah buku luar biasa indah yang halaman-halamannya
kuteliti satu persatu. Namun, aku bisa melihat lebih banyak daripada seorang lelaki yang naik begitu
saja ke ketinggian tanpa sukmanya meninggalkan raganya, dan lebih jauh lagi aku
bisa melihat semua nya sekaligus. Di sisi lain Selat Bosphorus, di luar
Uskiidar, di antara batu-batu nisan di sebuah halaman kosong, anakanak bermain
lompat kodok; laju perahu Wazir Urusan Diplomatik yang megah dan dikayuh tujuh
pasang pendayung dua belas tahun tujuh bulan yang lalu ketika kami menemani duta
besar Venesia dari rumah peristirahatan tepi pantainya untuk diterima Wazir Agung,
Bald Ragip Pasha, seorang perempuan gempal di pasar Langa sedang memegangi
sebongkah kubis besar seperti seorang balita yang sedang diasuhnya; ledakan
kegembiraanku ketika anggota Dewan Ramazan Effendi meninggal dunia karena
berarti terbukanya jalan bagi kenaikan jabatanku; bagaimana aku sebagai seorang
anak kecil di pangkuan nenekku menatap nanar kemeja-kemeja merah yang sedang
dijemur ibuku di halaman; bagaimana aku berlari ke tempattempat jauh di sekitar
rumah kami untuk mencari bidan ketika ibunda Shekure, semoga dia beristirahat
dalam damai akan melahirkan; tempat aku kehilangan sabuk merahku lebih dari
?empat puluh tahun yang lalu (kini aku tahu Vasfi-lah yang mencurinya); taman
yang sangat indah di tempat amat jauh yang pernah kumimpikan dua puluh satu
tahun yang lalu, yang kumohonkan pada Allah untuk menunjukkannya padaku suatu
hari nanti di surga; kepala-kepala yang terpenggal, hidung dan telinga yang
dikirimkan Ali Bey, Gubernur Jenderal Georgia, ke Istanbul, yang kemudian memicu
pemberontakan di benteng Gori; dan putriku yang jelita Shekure, yang memisahkan
diri dari perempuanperempuan tetangga kami, dengan berduka di dalam rumah seraya
memandangi pijaran api di tungku batu bata di halaman rumah kami.
Sebagaimana yang tertulis dalam bukubuku dan diyakini oleh para ulama, sukma
akan menghuni empat alam: 1. alam rahim; 2. alam dunia; 3. alam barzah, atau
alam antara, tempat aku kini menanti hari kiamat; dan 4. surga atau neraka, di
mana aku akan menuju setelah hari kiamat nanti.
Dari alam barzah yang merupakan alam antara, masa
lalu dan masa kini bisa terlihat sekaligus, dan selama sukma itu tetap berada di
dalam ingatan-ingatan tersebut, tidak ada batasan ruang untuknya. Ketika
seseorang melepaskan diri dari loronglorong ruang dan waktu, maka saat itulah
terbukti baginya betapa hidup adalah sebuah mantel yang mengikat erat tubuh
kita. Betapa membahagiakannya menjadi sebentuk sukma tanpa raga di alam kubur,
begitu pula dengan menjadi sebentuk raga tanpa sukma di antara mereka yang masih
hidup. Betapa ruginya karena tak seorang pun menyadarinya sebelum kematian tiba.
Oleh karena itu, selama upacara pemakamanku yang indah itu, sambil berduka
melihat Shekureku tersayang menangis di balik cadarnya, aku memohon kepada Allah
yang Mahaagung agar memberi kami sukma-tanpa-raga di surga dan raga-tanpa sukma
dalam kehidupan.[] Bab 38 INILAH AKU. TUAN OSMAN KALIAN TAHU tentang orangorang tua awam yang dengan sukarela mengabdikan diri
pada seni. Mereka akan menyerang siapa pun yang menghalangi mereka. Mereka
biasanya kurus kering dan jangkung. Mereka ingin harihari yang berlalu di depan
mereka tepat sama seperti masa lalu yang telah mereka tinggalkan. Mereka mudah
naik darah dan mengeluh tentang banyak hal. Mereka akan berupaya menguasai
keadaan dalam situasi apa pun, menyebabkan semua orang di sekeliling mereka
menyerah karena frustrasi. Mereka tidak me nyukai siapapun atau apapun. Aku
tahu, karena aku adalah salah seorang di antara mereka.
Empu dari segala empu, Nurullah Selim Chelebi, dengan siapa aku mendapat
kehormatan membuat ilustrasi bersama berhadapan di dalam bengkel kerja yang
sama, bersikap seperti ini di usianya yang telah memasuki delapan puluhan tahun,
ketika aku tak lebih sebagai seorang murid berusia enam belas tahun (meskipun ia
dulu bukanlah seorang pemberang seperti aku sekarang ini). Ali si pirang, yang
terakhir di antara para empu agung, meninggal dunia tiga puluh tahun lalu, juga
bersikap seperti itu (meskipun ia tidak sekurus dan sejangkung aku). Karena anak
anak panah kritik yang diarahkan pada para empu legendaris yang memimpin
bengkel-bengkel seni pada zaman dulu kini sering menusukku dari belakang, aku ingin kautahu
bahwa tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada kami itu sepenuhnya tidak berdasar.
Berikut ini adalah fakta-faktanya:
1. Alasan mengapa kami tidak menyukai apa pun yang berupa penemuan baru adalah
karena tidak ada hal baru apa pun yang sungguhsungguh layak untuk disukai.
2. Kami memperlakukan sebagian besar orang sebagai orangorang bodoh, karena
sesungguhnya sebagian besar orang memang bodoh, bukan karena kami teracuni
kemarahan, ketidakbahagiaan, atau sifat buruk lainnya. (Benar bahwa
memperlakukan orangorang ini dengan lebih baik akan menjadi sesuatu yang lebih
bijak dan masuk akal.) 3. Alasan mengapa aku lupa dan bingung terhadap begitu banyak nama dan wajah
kecuali para miniaturis yang kucintai dan kudidik sejak mereka masih magang
bukanlah karena pikun, melainkan karena namanama dan wajahwajah ini tidak
menggairahkan dan tak berwarna, sehingga tidak pantas untuk diingat.
Selama prosesi pemakaman Enishte yang nyawanya dicabut Tuhan lebih cepat karena
kebodohannya sendiri, aku mencoba melupakan kenyataan bahwa almarhum pernah satu
kali membuatku sakit hati tak terperi dengan memaksaku meniru karya para empu
Eropa. Di jalan pulang, aku memikirkan hal-hal berikut ini: kebutaan dan
kematian, yang keduanya adalah anugerah dari Sang Pencipta, kini tidak begitu
jauh jaraknya dariku. Tentu saja, aku hanya akan dikenang selama
ilustrasiilustrasi dan manuskrip-manuskripku membuat mata kalian berbinar-binar dan bungabunga
bermekaran di dalam hati. Namun, setelah kematianku, biarlah semua orang tahu
bahwa di masa tuaku, di ujung hidupku, masih ada banyak hal yang membuatku
tersenyum. Misalnya: 1. Anakanak mereka mewakili hal yang penting di muka bumi ini.?2. Kenangan-kenangan indah terhadap bocah-bocah tampan, perempuan perempuan
jelita, lukisanlukisan indah, dan persahabatan.
3. Memandangi karya-karya besar para empu Herat ini tidak bisa dijelaskan
?kepada mereka yang tidak paham.
Makna sederhana semua ini. Di dalam bengkel seni Sultan yang kuketuai, karya
karya hebat tidak bisa lagi dibuat seperti dulu dan keadaan ini semakin ?memburuk, semuanya meredup dan menghilang, Dengan pedih kusadari bahwa kami
jarang sekali mencapai tingkat kemuliaan para empu tua Herat, meskipun kami
dengan tulus ikhlas mengorbankan seluruh hidup kami untuk berkarya. Menerima
semua kenyataan ini dengan rendah hati membuat hidup terasa lebih mudah. Karena
membuat hidup terasa lebih mudah, kebersahajaan seperti itu begitu dihargai di
bagian dunia yang kami tempati.
Dengan suasana bersahaja seperti itu aku menyempurnakan ilustrasi dalam Kitab
Segala Pesta yang menggambarkan rangkaian upacara khitanan pangeran kami. Di
dalamnya dilukiskan Gubernur Jenderal Mesir yang mempersembahkan kado-kado
berikut ini: sebuah pedang bertatahkan emas dan berhiaskan batu rubi, permata,
dan pirus, di atas secarik beludru merah dan merupakan salah
seni pada zaman dulu kini sering menusukku dari belakang, aku ingin kautahu
bahwa tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada kami itu sepenuhnya tidak berdasar.
Berikut ini adalah fakta-faktanya:
1. Alasan mengapa kami tidak menyukai apa pun yang berupa penemuan baru adalah
karena tidak ada hal baru apa pun yang sungguhsungguh layak untuk disukai.
2. Kami memperlakukan sebagian besar orang sebagai orangorang bodoh, karena
sesungguhnya sebagian besar orang memang bodoh, bukan karena kami teracuni
kemarahan, ketidakbahagiaan, atau sifat buruk lainnya. (Benar bahwa
memperlakukan orangorang ini dengan lebih baik akan menjadi sesuatu yang lebih
bijak dan masuk akal.) 3. Alasan mengapa aku lupa dan bingung terhadap begitu banyak nama dan wajah
kecuali para miniaturis yang kucintai dan kudidik sejak mereka masih magang
bukanlah karena pikun, melainkan karena namanama dan wajahwajah ini tidak
menggairahkan dan tak berwarna, sehingga tidak pantas untuk diingat.
Selama prosesi pemakaman Enishte yang nyawanya dicabut Tuhan lebih cepat karena
kebodohannya sendiri, aku mencoba melupakan kenyataan bahwa almarhum pernah satu
kali membuatku sakit hati tak terperi dengan memaksaku meniru karya para empu
Eropa. Di jalan pulang, aku memikirkan hal-hal berikut ini: kebutaan dan
kematian, yang keduanya adalah anugerah dari Sang Pencipta, kini tidak begitu
jauh jaraknya dariku. Tentu saja, aku hanya akan dikenang selama
ilustrasiilustrasi dan manuskrip-manuskripku membuat mata kalian berbinar-binar dan bungabunga
bermekaran di dalam hati. Namun, setelah kematianku, biarlah semua orang tahu
bahwa di masa tuaku, di ujung hidupku, masih ada banyak hal yang membuatku
tersenyum. Misalnya: 1. Anakanak mereka mewakili hal yang penting di muka bumi ini.
?2. Kenangan-kenangan indah terhadap bocah-bocah tampan, perempuan perempuan
jelita, lukisanlukisan indah, dan persahabatan.
3. Memandangi karya-karya besar para empu Herat ini tidak bisa dijelaskan
?kepada mereka yang tidak paham.
Makna sederhana semua ini. Di dalam bengkel seni Sultan yang kuketuai, karya
karya hebat tidak bisa lagi dibuat seperti dulu dan keadaan ini semakin
?memburuk, semuanya meredup dan menghilang, Dengan pedih kusadari bahwa kami
jarang sekali mencapai tingkat kemuliaan para empu tua Herat, meskipun kami
dengan tulus ikhlas mengorbankan seluruh hidup kami untuk berkarya. Menerima
semua kenyataan ini dengan rendah hati membuat hidup terasa lebih mudah. Karena
membuat hidup terasa lebih mudah, kebersahajaan seperti itu begitu dihargai di
bagian dunia yang kami tempati.


My Name Is Red Karya Orhan Pamuk di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan suasana bersahaja seperti itu aku menyempurnakan ilustrasi dalam Kitab
Segala Pesta yang menggambarkan rangkaian upacara khitanan pangeran kami. Di
dalamnya dilukiskan Gubernur Jenderal Mesir yang mempersembahkan kado-kado
berikut ini: sebuah pedang bertatahkan emas dan berhiaskan batu rubi, permata,
dan pirus, di atas secarik beludru merah dan merupakan salah
satu hadiah yang paling dibanggakan Gubernur Jenderal, juga kudakuda Arab yang
gagah dan mampu berlari secepat kilat dengan warna putih terang di hidungnya,
dilengkapi jubah perak cemerlang yang dipenuhi kepingan koin emas, juga pada
tali kekangnya, sanggurdi berhias mutiara dan batu permata berwarna kuning
kehijauan, serta sebuah pelana beludru merah berhiaskan benang perak dan hiasan
bunga dari batu rubi. Dengan satu kibasan kuasku di sana-sini, aku memperhalus
ilustrasi yang komposisinya sudah kususun sedemikian rupa, sementara aku juga
mewakilkan pembuatan kuda, pedang, sang pangeran, dan para duta besar yang
menonton pada beberapa muridku. Aku memulaskan warna ungu pada beberapa helai
daun pohon palem di arena balap kuda. Aku mengoleskan warna kuning di atas
kancing-kancing tunik duta besar Tatar Khan. Saat aku menyapukan tipis-tipis
bias emas pada tali kekang kuda, seseorang mengetuk pintu. Aku menghentikan
pekerjaanku. Ternyata itu adalah seorang pemuda pesuruh istana. Kepala Bendahara memanggilku
ke istana, Kedua mataku terasa agak nyeri, tidak seperti biasanya. Aku menyimpan
lensa pembesar ke dalam kantungku, dan berlalu bersama pemuda itu.
Ah, betapa nyamannya berjalan melewati jalanan setelah bekerja sekian lama tanpa
henti! Di waktu-waktu seperti itu, seluruh dunia ini mendera seseorang dengan
begitu murni dan menakjubkan seolaholah baru diciptakan Allah sehari sebelumnya.
Aku mengamati seekor anjing, ia jauh lebih bermakna dari gambargambar anjing
yang pernah kusaksikan. Aku melihat seekor kuda, makhluk yang kurang lebih
menyerupai hasil karya para empu miniaturisku, Aku mengawasi sebatang pohon
palem di arena balap kuda, pohon yang sama dengan dedaunan yang baru saja
kububuhi warna ungu, Aku terus melangkah melewati arena balap kuda yang penampakannya sudah kugambar
selama dua tahun terakhir ini. Aku merasa sedang melangkah memasuki lukisanku
sendiri. Kemudian, kami menuruni seruas jalan. Dalam sebuah lukisan orangorang
Frank, ini berarti kami melangkah keluar dari bingkai dan juga lukisannya; dalam
sebuah lukisan yang meniru apa yang dicontohkan oleh empu empu Herat, ini akan
membawa kami ke suatu tempat di mana Allah sedang mengawasi kami; di dalam
sebuah lukisan Cina, kami seakanakan terjebak, karena ilustrasi Cina tidak
memiliki batasan. Pemuda pesuruh itu ternyata tidak membawaku ke Ruang Dewan tempat aku sering
bertemu dengan Kepala Bendahara untuk mendiskusikan hal-hal berikut ini:
berbagai manuskrip, telur-telur burung unta yang diberi hiasan, atau hadiahhadiah lainnya yang
disiapkan miniaturis-miniaturisku untuk Sultan; kesehatan para ilustrator, atau
keadaan jasmani dan kedamaian pikiran Kepala Bendahara sendiri; hasil akhir
lukisan, lembaran emas atau bahan-bahan lainnya; keluh kesah ringan dan aneka
permintaan; hasrat, kenikmatan, tuntutan dan kecenderungan Sultan kami;
penglihatanku, kaca mataku, atau sakit encokku; atau menantu Kepala Bendahara
yang tak berguna, atau kesehatan kucing betinanya. Dalam hening, kami memasuki
Taman Pribadi Sultan. Seakanakan sedang melakukan sebuah kejahatan,
perlahanlahan kami menuruni jalan yang menghadap ke laut melintasi jajaran
pepohonan. "Kami sedang mendekati
tenda-tenda di tepi pantai," pikirku, "ini artinya ku akan bertemu Sultan. Yang
Mulia pasti sedang berada di sini." Namun, kemudian ami berganti arah. Kami
berjalan beberapa langkah elewati pintu masuk sebuah edung batu berbentuk
lengkung i belakang perahu kayu dan bangsal tempat ersandarnya erahu-perahu. Aku
bisa mencium aroma roti yang sedang dipanggang meruap dari dapur para pengawal,
sebelum akhirnya kutangkap pemandangan para anggota pasukan pengawal dalam
seragam merah mereka. Kepala Bendahara dan Panglima Pasukan Pengawal sedang bersama dalam satu
ruangan: Malaikat dan Iblis!
Sang panglima, yang melaksanakan hukuman atas nama Sultan di seluruh wilayah
istana menyiksa, menginterogasi, memukul, membutakan mata, dan mengawasi ?pelaksanaan hukuman tersenyum manis ke arahku. Rasanya seakanakan seorang
?penumpang yang membuatku terpaksa berbagi kafilah bersama hendak menceritakan
kembali sebuah kisah yang menghangatkan hati.
Kepala bendahara dengan raguragu berkata, "Setahun yang lalu Sultan kita
memerintahkanku menyusun sebuah naskah bergambar yang harus dilakukan dengan
kerahasiaan tingkat tinggi, sebuah manuskrip yang akan disertakan di antara
persembahan bagi sebuah rombongan utusan. Dengan menekankan kerahasiaan buku
ini, Yang Mulia menganggap tidak cukup pantas jika Tuan Lokman, Sejarawan
Istana, yang diminta menuliskannya. Senada dengan itu, beliau juga tidak mau
mengambil risiko dengan menyertakan dirimu, walaupun kemahiran senimu beliau
kagumi. Tentu saja, beliau juga beranggapan kau sudah terlalu disibukkan oleh
Kitab Segala Pesta."
Ketika memasuki ruangan ini, aku beranggapan ada orangorang culas yang telah
memfitnahku, mengadukan bahwa aku melakukan perbuatan bid'ah dalam ilustrasi
tertentu, dan bahwa aku menyindir penguasa dalam lukisan lainnya. Kubayangkan
dengan rasa takut, betapa si pengadu ini telah berhasil meyakinkan pucuk
pimpinan negeri ini tentang kesalahanku, dan bahwa aku akan mendapat siksaan
berat tanpa menghiraukan usiaku. Maka saat mendengar Kepala Bendahara hanya
berusaha menunjukkan sikap bahwa ia menyayangkan keputusan Sultan yang telah
menitahkan pembuatan sebuah manuskrip kepada orang luar katakata ini terasa
?lebih manis daripada madu. Tanpa mendapat pengetahuan baru, aku menyimak cerita
tentang manuskrip itu, sesuatu yang sesungguhnya sudah kutahu benar. Aku
mendengar gunjingan tentang Nusret Hoja dari Erzurum dan ntrik-intrik di dalam
bengkel seni. "Siapakah yang bertanggung jawab untuk menyusun manuskrip tersebut?" tanyaku.
"Enishte Effendi, seperti yang sudah kautahu," sahut Kepala Bendahara. Dengan
menatap tajam mataku, ia menambahkan, "Kau sudah tahu bukan bahwa ia meninggal
secara tidak wajar, dengan kata lain ia telah dibunuh?"
"Tidak," jawabku singkat, seperti seorang anak kecil, lalu aku terdiam.
"Sultan sangat murka akan hal ini," ujar Kepala Bendahara.
Enishte Effendi adalah orang bodoh. Para empu miniaturis selalu mengolok oloknya
karena lebih cenderung hidup mewah ketimbang berilmu, dan lebih cenderung
ambisius daripada cerdas. Aku tahu ada sesuatu yang
busuk dalam prosesi pemakamannya. Bagaimana ia dibunuh" tanyaku.
Kepala Bendahara menjelaskan bagaimana hal itu terjadi ternyata begitu
mencengangkan. Ya, Tuhan, lindungilah kami. Siapakah yang bertanggung jawab atas
perbuatan itu" "Sultan telah menurunkan perintah resmi," ujar Kepala Bendahara, "bahwa buku
yang dipersoalkan itu harus diselesaikan secepat mungkin, sementara manuskrip
Kitab Segala Pesta ..."
"Baginda juga telah menurunkan perintahnya yang kedua," ujar Panglima Pasukan
Pengawal. "Jika pembunuh yang tak diketahui ini adalah salah satu miniaturis,
Sultan menginginkan setan laknat itu segera ditemukan. Beliau berniat memberi
hukuman berat baginya yang akan menjadi pelajaran bagi semuanya."
Sebersit ungkapan suka cita muncul di wajah sang Panglima, seakanakan ia telah
mengetahui sedahsyat apa hukuman yang akan dijatuhkan oleh Sultan kami.
Aku tahu bahwa Sultan barubaru ini menyerahkan sebuah wewenang pada kedua lelaki
ini, yang kemudian memaksa mereka bekerja sama di mana mereka tidak mampu ?menyembunyikan ketidaksukaan mereka satu sama lain, bahkan pada saat ini pun.
Melihat hal ini, aku terilhami sebentuk rasa cinta pada Sultan yang jauh
melebihi sebuah kekaguman. Seorang pelayan menyajikan kopi dan kami pun duduk-
duduk sejenak. Aku diberi tahu bahwa Enishte Effendi memiliki seorang kemenakan bernama Hitam
Effendi yang telah dididiknya sejak kecil, seorang lelaki yang terlatih dalam
bidang iluminasi dan seni pembuatan buku. Apakah aku pernah bertemu dengannya"
Aku terdiam. Beberapa waktu sebelumnya, atas undangan Enishtenya, Hitam kembali dari medan perang
Persia, di mana ia bertugas di bawah komando Serhat Pasha sang panglima
?menyorotkan tatapan curiga ke arahku. Di sini, di Istanbul, ia berkerja
sendirian untuk menghargai kebaikan Enishtenya, dan mempelajari kisah di balik
buku yang sedang diawasi proses pembuatannya oleh Enishtenya. Hitam mengaku
bahwa setelah Elok Effendi terbunuh, Enishte mencurigai salah seorang empu
miniaturis yang mendatanginya di malam hari untuk mengerjakan manuskrip tersebut
sebagai pelakunya. Ia sudah melihat ilustrasiilustrasi yang dihasilkan para empu
ini dan berkata bahwa pembunuh Enishte yang juga telah mencuri ilustrasi Sultan
?yang di dalam nya terdapat gambar singa dari satu lempengan emas adalah salah
?satu di antara mereka. Selama dua hari, pemuda Hitam Effendi ini menutup nutupi
kematian Enishte dari istana dan Kepala Bendahara. Dalam waktu dua hari itu, ia
mempercepat pernikahan dengan putri sang Enishte, sebuah hal yang meragukan baik
dari sudut moral maupun agama, lalu ia pun tinggal di rumah Enishte. Oleh
karenanya, kedua lelaki di hadapanku menganggap Hitam sebagai seorang tersangka.
"Jika rumah dan tempat kerja mereka digeledah dan halaman lukisan yang hilang
itu ternyata ada pada salah seorang empu miniaturis itu, maka berarti Hitam
tidak bersalah," ujarku. "Sejujurnya, para miniaturis yang kukenal baik sejak
mereka masih menjadi murid ini tidak akan mampu merenggut nyawa orang lain."
"Bagi Zaitun, Bangau, dan Kupukupu," ujar Panglima, sengaja menyebutkan julukan-
julukan yang kuberikan dengan penuh kasih sayang pada mereka itu dengan nada
mengejek, "kami berniat menyisir rumah mereka, tempattempat yang sering mereka
kunjungi, tempat mereka bekerja, dan jika memungkinkan kedaikedai, dengan tidak
meninggalkan satu keping batu pun tanpa pemeriksaan. Dan itu melibatkan Hitam
Ekspresi wajahnya menunjukkan keengganan, "Menghadapi keadaan yang kacau ini, hakim telah
mengizinkan kami melakukan penyiksaan jika diperlukan dalam masa interogasi
Hitam Effendi. Siksaan dianggap boleh dilakukan secara hukum karena pembunuhan
kedua telah dilakukan terhadap seseorang yang memiliki keterkaitan dengan para
miniaturis, membuat mereka semua menjadi tersangka, dari murid sampai empu."
Aku merenungkan hal ini dengan berdiam diri: 1. Kalimat "boleh dilakukan secara
hukum" menjelaskan bahwa bukan Sultan yang memberi izin penyiksaan tersebut. 2.
Karena semua miniaturis dicurigai melakukan pembunuhan ganda di mata hakim dan
karena aku, sebagai Kepala Iluminator, tidak mampu mengungkap pelaku kejahatan
di antara kami, maka aku pun menjadi tersangka. 3. Aku paham mereka menginginkan
agar aku, baik secara langsung maupun tersirat, mengizinkan upaya penyiksaan
terhadap orangorang yang kukasihi: Kupukupu, Zaitun, Bangau, dan yang
lainnya mereka semua yang dalam beberapa tahun terakhir ini telah ?mengkhianatiku.
"Karena Sultan menginginkan penyelesaian Kitab Segala Pesta dan buku ini dengan
memuaskan yang terbukti baru diselesaikan setengahnya," ujar Kepala Bendahara,
?"kami mencemaskan siksaan akan merusak tangan dan mata para empu, dan
menghancurkan kepiawaian mereka." Ia menoleh ke arahku, "Bukankah demikian?"
"Ada kecemasan serupa mengenai kejadian lainnya barubaru ini," tukas Panglima
dengan cepat. "Seorang pandai emas dan seorang ahli pembuat perhiasan yang
sedang bekerja termakan bujuk rayu iblis. Mereka dengan kekanakkanakan telah
dibutakan oleh sebuah cangkir kopi dengan gagang bertatahkan batu rubi milik
adik perempuan Sultan kita, Sultan Nejmiye, dan mencurinya. Mengingat pencurian
cangkir yang membuat adik Sultan kita berduka itu dia sangat menyayangi benda
?tersebut terjadi di Istana Uskudar, Sultan menunjukku untuk melakukan
?penyelidikan. Jelas bahwa Sultan kita dan Sultan Nejmiye tidak ingin mata dan
jemari pandai emas dan ahli perhiasan itu terluka agar kepiawaian mereka tidak
terpengaruh. Maka, aku memerintahkan semua ahli perhiasan ditelanjangi dan
dilemparkan ke kolam air dingin di halaman, di antara bongkahan es dan katak.
Sesekali, aku mengeluarkan mereka dari kolam itu dan mencambuk mereka kuat kuat,
dengan tetap menjaga agar wajah dan tangan mereka tidak terluka. Dalam waktu
singkat, tukang perhiasan yang terbujuk iblis itu mengaku dan menerima
hukumannya. Meski dengan air sedingin es, udara yang membekukan, dan semua
cambukan itu, tiada luka yang bertahan lama sampai ke tangan dan mata para ahli
perhiasan itu, karena mereka memiliki hati yang bersih. Sultan bahkan mengatakan
adik beliau cukup senang dengan pekerjaanku dan para ahli perhiasan akan bekerja
lebih giat lagi setelah sebutir apel busuk itu dikeluarkan dari keranjangnya."
Aku yakin Panglima akan memperlakukan para empu ilustrasiku dengan lebih keji
daripada para ahli perhiasan. Meskipun ia menghargai perhatian Sultan terhadap
manuskrip bergambar, seperti banyak orang lainnya, ia
menganggap kaligrafi adalah satusatunya bentuk seni yang bermartabat, dengan
meremehkan dekorasi dan ilustrasi sebagai perbuatan bid'ah yang hanya cocok bagi
kaum perempuan dan layak dicaci. Untuk menghasutku, ia berkata, "Sementara
dirimu terhanyut dalam pekerjaan, para miniaturis kesayanganmu telah bersiasat
memperhitungkan siapa yang akan menjadi Kepala Miniaturis setelah kematianmu."
Apakah gunjingan semacam ini belum pernah kudengar" Apakah ia baru saja
memberitahuku tentang sesuatu yang baru" Dengan menguatkan diri, aku tidak
menanggapinya. Kepala Bendahara amat menyadari kemarahanku terhadapnya karena
telah memesan sebuah menuskrip dari almarhum Enishte tanpa sepengetahuanku, dan
terhadap para miniaturisku yang tak tahu diri, yang diam diam membuat
ilustrasiilustrasi ini untuk menjilat dan mendapatkan beberapa keping uang perak
tambahan. Kudapati diriku tengah memikirkan caracara penyiksaan yang mungkin dilakukan.
Mereka tidak mungkin menguliti saat melakukan introgasi, karena hal ini pasti
akan mengarah pada kematian. Mereka tidak akan memanah siapapun, sebagaimana
yang mereka lakukan pada para pemberontak, karena itu biasa digunakan sebagai
pencegahan. Mematahkan dan memuntir jemari, lengan, atau kaki para miniaturis
juga tampaknya tidak mungkin dilakukan. Tentu saja, pencungkilan salah satu bola
mata konon belakangan ini makin banyak dilakukan, terbukti dari bertambahnya
?jumlah orang bermata satu di jalan-jalan Istanbul tidak cukup layak untuk para
?seniman empu. Maka, saat aku membayangkan para miniaturis kesayanganku berada di
salah satu sudut tersembunyi taman istana, berada di dalam kolam sedingin
es, di antara bungabunga teratai, dalam keadaan gemetar hebat dan saling
berpandangan penuh kebencian satu sama lain, seketika aku merasa ingin tertawa.
Namun, tetap terasa pedih hatiku saat membayangkan bagaimana Zaitun akan
menjerit ketika bokongnya dicap oleh besi panas, dan bagaimana kulit Kupukupu
akan memucat ketika ia dibelenggu. Aku tidak sanggup memikirkan adegan
Kupukupu yang kemampuan dan kecintaannya dalam membuat naskah bergambar ?membuatku menitikkan air mata saat ia menerima hukuman rajam bagaikan seorang
?murid biasa yang kedapatan mencuri. Aku berdiri terpaku karena terpana dan
linglung. Benak tuaku membeku tersihir mantra dari kesunyiannya sendiri. Ada suatu masa
saat kami melukis bersama-sama dalam kegairahan yang membuat kami lupa daratan.
"Orangorang ini adalah para miniaturis terbaik yang mengabdi pada Sultan,"
ujarku. "Tolong pastikan mereka tidak akan terluka."
Dengan suka cita, Kepala Bendahara bangkit, menyambar beberapa lembar kertas
dari atas meja kerjanya di ujung ruangan, dan menyusunnya di hadapanku.
Selanjutnya, seolaholah ruangan itu gelap gulita, ia menempatkan dua dudukan
lilin besar di sampingku. Lilin-lilinnya yang besar dan mengerucut menyala
dengan pijar api yang berkerjap-kerjap dan selalu bergerak-gerak saat aku
memerhatikan semua lukisan itu dengan penuh tanya.
Bagaimana aku menjelaskan apa yang kuamati saat aku menggerakkan lensa lensa
kaca pembesarku di atas lukisanlukisan itu" Aku merasa ingin tertawa dan bukan
?karena semua lukisan itu menggelikan. Aku merasa kalap sepertinya Enishte
?Effendi telah memberi perintah berikut ini pada para empuku, "Jangan melukis
seperti dirimu sendiri, melukislah seolaholah kau adalah orang lain." Ia telah
memaksa mereka untuk mengingat kembali serpihan ingatan yang sesungguhnya tak
pernah ada untuk menyulap dan menggambarkan masa depan, masa yang tidak pernah
ingin mereka jalani. Yang lebih dahsyat lagi adalah mereka saling bunuh demi hal
tak masuk akal ini. "Dengan melihat semua ilustrasi ini, bisakah kau katakan padaku, miniaturis mana
yang mengerjakan lukisan ini?" Tanya Kepala Bendahara.
"Ya," aku menjawab dengan gusar. "Di manakah lukisanlukisan ini ditemukan?"
"Hitam yang membawa semua lukisan itu dan memberikannya padaku," sahut Kepala
Bendahara. "Ia bertekad membuktikan bahwa ia dan almarhum Enishtenya tidak
bersalah." "Selama proses pemeriksaan, siksalah ia," ujarku. "Dengan cara itu kita akan
mengetahui rahasia lain yang disimpan oleh almarhum Enishte."
"Kami sudah memanggilnya," ujar Panglima Pasukan Pengawal. "Setelah itu, kita
akan menggeledah rumah pengantin baru itu secara menyeluruh."
Kedua wajah lelaki itu tampak bersinar-sinar aneh, sebersit rasa takut bercampur
kekaguman menyelimuti mereka, dan mereka menghentakkan kaki mereka.
Tanpa harus menolehkan kepala, aku tahu bahwa kami sedang berada di hadapan
Sultan kami.[] b 39 SEWAKU ADALAH ESTHER OH, BETAPA indahnya terisak bersama dengan mereka semua! Sementara para lelaki
berada di makam ayahanda Shekureku tersayang, para perempuan, handai taulan dan
kerabat, para istri, dan sahabat, berkumpul di dalam rumah dan mengucurkan air
mata mereka. Aku pun memukuli dadaku dalam duka cita mendalam, dan ikut terisak
bersama mereka. Meratap serempak dengan seorang perempuan cantik di sampingku,
menyandar padanya dan berayun maju mundur, lalu menangis dengan cara berpikir
yang sepenuhnya berbeda, aku tersentuh sedemikian dalam oleh hidupku sendiri


My Name Is Red Karya Orhan Pamuk di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang amat menyedihkan. Jika aku bisa menangis seperti ini satu kali saja
seminggu, kurasa aku bisa melupakan betapa aku harus menyusuri jalanan sepanjang
hari hanya untuk sampai ke ujung jalan buntu, aku bisa melupakan semua cemoohan
yang ditujukan pada berat badanku dan keyahudianku, dan karena aku dilahirkan
kembali menjadi seorang Esther yang lebih cerewet.
Aku menyukai pertemuan semacam ini karena aku bisa mengeluarkan semua isi
hatiku, dan di saat yang sama melupakan bahwa aku adalah kambing hitam dalam
keramaian itu, Aku menyukai baklava*, permen mentol,
*"Iakanan pencuci mulut khas Turki berupa kue kering beroleskan mentega dan
bertabur kacang, setelah dipanggang disajikan dengan kuah sirup atau madu.
roti marzipan, dan kulit buah kering untuk sajian hari libur; piiaf dengan
daging dan kue-kue teman minum teh dalam perayaan-perayaan tertentu, minum
sherbet" ceri asam yang disajikan pada perayaan yang dilangsungkan Sultan di
arena balap kuda, melahap semuanya di pesta-pesta pernikahan, menelan biji-biji
wijen, madu atau haiva tanda duka cita beraneka rasa yang dikirimkan oleh para
tetangga. Perlahanlahan aku menyelinap memasuki selasar, memakai sepatuku, dan turun ke
lantai bawah. Sebelum aku berbelok masuk ke dapur, aku jadi merasa penasaran
dengan suarasuara aneh yang datang dari celah pintu yang setengah terkuak di
ruangan di sebelah kandang kuda. Aku berjalan beberapa langkah ke arah itu, lalu
mengintip ke dalam, dan menemukan Shevket dan Orhan sedang mengikat anak lelaki
salah satu perempuan yang ikut berduka. Mereka berdua sedang melukisi wajah anak
itu dengan cat dan kuas milik almarhum kakek mereka. "Jika kau mencoba kabur,
kami akan memukulmu seperti ini," ujar Shevket sambil menampar anak malang itu.
"Anakanakku, bermainlah dengan baik dan tidak berlaku kasar. Jangan saling
menyakiti, ya?" seruku dengan suara selembut mungkin.
"Urus saja urusanmu sendiri!" bentak Shevket.
Kuperhatikan adik perempuan bocah yang sedang mereka siksa itu dengan tubuhnya
yang mungil dan rambut pirang. Dia tampak ketakutan berdiri di samping mereka
dan entah karena apa aku sungguhsungguh tersentuh oleh gadis itu. Sekarang
lupakanlah hal itu, Esther!
" Minuman yang dibekukan, biasanya terbuat dari campuran sirup buah, susu, dan ?putih telur yang dihaluskan bersamaan.
Di dapur, Hayriye menatapku dengan penuh tanya.
"Aku telah menangis habis-habisan, Hayriye," kataku. "Demi Tuhan, tuangkan
segelas air untukku."
Dia melakukannya tanpa bersuara. Sebelum meneguknya, aku menatap tajam mata
Hayriye yang membengkak karena menangis terusmenerus,
"Enishte Effendi yang malang. Mereka bilang ia sudah mati sebelum pernikahan
Shekure," ujarku. "Mulut orang tidak seperti kantung yang bisa dikancingkan,
sebagian bahkan mengeluhkan adanya permainan kotor di belakang semua ini."
Dengan sebuah gerakan yang dibuat-buat, dia menjatuhkan pandangannya ke ujung
jemari kakinya. Lalu, dia mengangkat kepalanya dan tanpa menatapku dia berkata,
"Semoga Tuhan melindungi kami dari segala fitnah tak berdasar."
Bahasa tubuh pertamanya tadi mengamini apa yang kukatakan, dan lebih jauh lagi,
irama kata-katanya jelas menunjukkan perasaan tertekan karena menyembunyikan ?kebenaran.
"Apa yang telah terjadi?" tanyaku dengan suara berbisik, seolaholah aku ini
orang kepercayaannya. Dalam bimbang, Hayriye tentu saja menyadari bahwa tidak mungkin baginya
mendapatkan kewenangan apapun atas Shekure setelah kematian Enishte Effendi. Dan
sesaat sebelumnya, dia adalah salah seorang yang berduka dengan cucuran air mata
paling menyentuh. "Apa yang akan terjadi denganku kini?" ujarnya.
"Shekure memperlakukanmu dengan penuh hormat," sahutku dengan kebiasaanku
menyebarkan kabar berita. Sambil mengangkat tutup belanga-belanga haiva yang
berjejer di antara guci-guci besar berisi sirup anggur dan
acar, dan diamdiam mencicipi seujung jari salah satu di antaranya atau
mencondongkan tubuh ke depan untuk mencium aroma yang lainnya, aku bertanya
siapa saja yang mengirimkan haiva itu satu demi satu.
Hayriye sedang menceracau menyebutkan siapa saja yang mengirimkan belanga itu,
"Yang ini kiriman Kasim Effendi dari Kayseri, yang satu ini dari asisten
miniaturis yang tinggal dua jalan dari sini, yang itu kiriman pandai kunci,
Hamdi si kidal, sedangkan yang satu itu dari pengantin muda dari Edirne-" ketika
Shekure dating memotong perkataannya.
"Kalbiye, janda almarhum Elok Effendi, tidak datang untuk menyatakan duka cita,
tidak mengirimkan pesan barang sepatah kata pun, dan juga tidak mengirimkan
halval" Dia sedang berjalan dari pintu dapur menuju anak tangga terbawah. Aku
membuntutinya. Aku tahu dia ingin berbicara denganku berdua saja.
"Tidak ada perselisihan apa pun antara Elok Effendi dan ayahku. Di hari
pemakaman Elok, kami membuat haiva dan mengirimkannya pada mereka. Aku ingin
tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya," ujar Shekure.
"Aku akan segera berangkat dan mencari tahu," sahutku, mencoba menebak apa yang
dipikirkan Shekure. Karena aku mempersingkat pembicaraan kami, dia lalu mencium pipiku. Saat hawa
dingin dari halaman rumah menerpa kami, kami berpelukan dan berdiri di sana
tanpa bergerak. Setelah itu, aku mengelus lembut rambut indah Shekure.
"Esther, aku takut," ucapnya lirih.
"Sayangku, jangan takut," seruku, "Setiap awan selalu memiliki tepian perak.
Lihatlah, kini akhirnya kau menikah."
"Tetapi, aku tidak yakin sudah melakukan hal yang benar," tambahnya. "Itu
sebabnya aku belum membolehkan Hitam mendekatiku. Aku menghabiskan malam di
samping ayahku yang malang."
Dia membelalakkan matanya dan memandangiku dengan sorot mata yang seakan akan
berkata, "Kau mengerti apa yang kumaksud."
"Hasan mengatakan pernikahanmu tidak sah di mata hakim," ujarku, "Ia mengirimkan
ini untukmu." Meski dia mengatakan, "Jangan lagi," dengan cepat dia membuka surat itu, tetapi
kali ini dia tidak memberitahuku apa isinya.
Dia sudah benar karena merahasiakannya. Kami tidak sendirian di halaman itu, di
mana kami berdiri sambil berangkulan. Di atas kami, seorang tukang kayu yang
sedang menyeringai, sedang memasang kembali daun jendela di lorong yang entah
mengapa jatuh dan patah dengan alasan yang tidak diketahui pagi itu. Ia juga
mengamati kami berdua dan para perempuan yang sedang berduka di dalam rumah.
Sementara itu, Hayriye keluar dari rumah dan bergegas membuka pintu untuk anak
lelaki seorang tetangga yang berteriak, "Ini halva-nya," sambil mengetuk gerbang
halaman. "Rasanya sunyi sekali sejak kami menguburkan ayahku," ucap Shekure. "Kini aku
bisa merasakan bahwa sukma ayahku yang malang sedang meninggalkan raganya ntuk
selamanya dan naik ke langit."
Dia melepaskan diri dari pelukanku dan menengadah menatap langit yang terang,
lalu mengucapkan doa yang amat panjang.
Tibatiba saja aku merasa begitu berjarak dan terasing dari Shekure, perasaan
yang tidak akan membuatku
heran jika aku adalah gumpalan awan yang sedang dipandanginya. Begitu dia
menuntaskan doanya, Shekure yang jelita itu mencium kedua pipiku dengan penuh
kasih sayang. "Esther," ujarnya, "selama pembunuh ayahku masih bebas berkeliaran di muka bumi
ini, tak akan ada kedamaian untukku dan anakanakku."
Aku merasa senang karena dia tidak menyebut nama suami barunya.
"Pergilah ke rumah Elok Effendi, berbincanglah dengan jandanya seperti yang
biasa kaulakukan, dan coba kaucari tahu mengapa mereka tidak mengirimi kami
haiva. Beri tahu aku secepatnya tentang apa yang kauketahui."
"Apakah kau punya pesan untuk Hasan?" tanyaku.
Aku merasa malu, bukan karena bertanya seperti itu, melainkan karena aku tidak
bisa memandangi matanya sebagaimana yang biasa kulakukan. Untuk menutupi rasa
maluku, aku menghentikan Hayriye dan membuka tutup belanga haiva yang sedang
dipegangnya. "Oh," seruku, "haiva semolina* dengan kacang pistachio," dan
setelah aku mencicipinya, "mereka menambahkan jeruk di dalamnya."
Aku bahagia melihat Shekure tersenyum manis, seakanakan semuanya berlangsung
sesuai rencana. Aku menyambar buntalanku dan berlalu. Tak lebih dari dua langkah aku berjalan,
aku melihat Hitam berada di ujung jalan itu. Ia baru saja pulang dari pemakaman
ayah mertuanya, dan aku bisa melihat dari wajahnya yang bercahaya bahwa suami
baru ini cukup bahagia dengan kehidupan barunya. Untuk mengurangi semangatnya,
aku meninggalkan jalan itu, memasuki barisan tanaman
"Tepung gandum yang kasar seperti pasir dari ampas penggilingan, biasa digunakan
untuk membuat pasta atau adonan makanan lainnya.
sayuran, dan melintasi taman rumah tempat adik lelaki kekasih dokter Yahudi
termasyhur Moshe Hamon pernah tinggal sebelum ia digantung. Taman yang
mengingatkan pada kematian ini selalu membangkitkan kepiluan yang hebat dalam
diriku setiap kali aku melintasinya, sehingga aku selalu lupa bahwa aku diminta
mencarikan pembeli untuk rumah itu.
Hawa kematian juga amat terasa di rumah Elok Effendi, meski bagiku hawa maut itu
tidak membersitkan rasa sedih. Aku adalah Esther, seorang perempuan yang hilir
mudik ke ribuan rumah dan berteman baik dengan ratusan janda. Aku mengenal para
perempuan yang kehilangan suami mereka lebih cepat, yang terhanyut oleh
kekalahan, penderitaan, kemarahan, dan pembangkangan (meskipun Shekure telah
mengalami semua kepedihan itu). Kalbiye telah terasuki racun kemarahan dan aku
segera menyadari bahwa hal itu bisa mempercepat pekerjaanku.
Seperti semua perempuan culas yang hidupnya dianiaya, Kalbiye mencurigai semua
orang yang berkunjung kepadanya, datang untuk mengasihaninya dalam masa
terkelamnya. Atau lebih buruk lagi, untuk menyaksikan penderitaaan Kalbiye dan
diamdiam bersyukur atas keadaannya yang jauh lebih baik daripada Kalbiye. Dengan
semua kecurigaan itu, dia tak menunjukkan sikap berbasa-basi kepada semua
tamunya, melainkan langsung ke pokok permasalahan tanpa menggunakan bahasa yang
berbunga-bunga. Mengapa Esther datang siang ini, tepat ketika Kalbiye akan tidur
siang untuk menenangkan diri dari dukanya" Karena tahu benar bahwa dia tidak
tertarik pada sutra mutakhir dari Cina atau sapu tangan dari Bursa, maka aku
tidak berpurapura membuka buntalanku,
melainkan langsung masuk ke pokok persoalan dan menjelaskan apa yang telah
membuat Shekure bingung dan berlinang air mata. "Shekure makin menderita dengan
berpikir bahwa tanpa sengaja dia telah menyinggung perasaanmu, seseorang yang
seharusnya menjadi tempat berbagi penderitaan serupa," ujarku.
Dengan angkuh Kalbiye menyatakan bahwa dia tidak peduli pada keadaan Shekure dan
tidak berniat datang berkunjung untuk menunjukkan rasa duka atau mengirimkan
hafva. Di balik keangkuhannya, tersembunyi rasa senang yang tak mampu
ditutupinya: suka cita karena ketidakhadirannya diperhitungkan. Dari titik
inilah aku yang cepat tanggap berusaha menguak alasan kemarahan Kalbiye,
Tak memakan waktu lama hingga Kalbiye mengakui bahwa dia merasa kecewa pada
almarhum Enishte Effendi berkaitan dengan manuskrip bergambar sedang
disiapkannya. Dia berkata bahwa suaminya, semoga ia beristirahat dalam damai di
alam sana, sempat tidak bersedia mengerjakan buku tersebut demi beberapa keeping
perak tambahan. Suaminya akhirnya mau mengerjakannya karena Enishte Effendi
meyakinkannya bahwa proyek tersebut menjadi tanggung jawab Sultan. Namun, ketika
almarhum suaminya sadar bahwa kerja penyepuhan yang diserahkan Enishte Effendi
kepadanya perlahanlahan mulai berkembang dari halamanhalaman berhias sederhana
menjadi ilustrasi yang sempurna, gambargambar yang melebihi penistaan agama yang
dilakukan kaum Frank, ateisme, dan bahkan perbuatan bidah, ia menjadi gundah
gulana dan mulai kehilangan kemampuan membedakan salah dan benar. Merasa lebih
pintar dan lebih bijak daripada Elok Effendi, dengan
berhatihati Kalbiye menambahkan bahwa semua keraguan suaminya tumbuh sedikit
demi sedikit, dan karena Elok Effendi yang malang tidak pernah menemukan apapun
yang bisa dinyatakan secara terangterangan sebagai penistaan terhadap agama, ia
segera menghapus kecemasannya sebagai sesuatu yang tak berdasar. Lagi pula, ia
menenangkan dirinya sendiri dengan tidak pernah sekalipun absen dalam ceramah
yang diberikan oleh Nusret Hoja dari Erzurum. Jika ia lalai sekali saja dalam
menjalankan salat lima waktu, ia akan merasa sangat gundah. Begitu ia tahu bahwa
berandal-berandal tertentu dalam bengkel seni melecehkan kesetiaannya dalam
menjalankan ibadah, ia paham bahwa kelakar mereka yang kerap tak tahu malu itu
muncul dari kecemburuan mereka pada bakat dan kepiawaiannya.
Sebutir air mata menetes dari mata Kalbiye yang berkilaukilau ke pipinya, dan
kuputuskan untuk mencarikan suami baru bagi Kalbiye yang lebih baik daripada
suaminya yang sudah tiada.
"Almarhum suamiku tidak sedikitpun membagi semua kegundahannya itu padaku," ujar
Kalbiye dengan hatihati. "Berdasarkan apa yang kuingat, kusimpulkan bahwa
semuanya terjadi akibat ilustrasiilustrasi yang dibawanya ke rumah Enishte
Effendi di malam terakhirnya itu."
Ini adalah sikap yang menunjukkan permintaan maaf. Sebagai tanggapan, aku
mengingatkannya betapa nasibnya dan nasib Shekure serupa, tanpa menyebut musuh
mereka, jika orang beranggapan bahwa Enishte Effendi mungkin dibunuh oleh
"bajingan" yang sama. Dua kepala anakanak malang tak berayah, menatap ke arahku
dari sudut, memberikan bukti kesamaan yang lebih
jelas dari kedua perempuan itu, Namun, logika mak comblangku yang tak kenal
ampun segera mengingatkanku betapa keadaan Shekure jauh lebih cantik, kaya, dan
misterius. Aku membiarkan Kalbiye tahu apa yang kurasakan, "Shekure mengatakan
padaku, jika dia secara tak sengaja pernah berbuat salah padamu, dia
menyesalinya dan meminta maaf," ujarku. "Dia ingin mengatakan betapa dia
mencintaimu sebagai seorang saudari dan perempuan senasib. Dia ingin kau
memikirkan hal ini dan membantunya. Ketika almarhum Elok Effendi meninggalkan
rumah ini di malam terakhirnya itu, apakah ia menyebutkan bahwa ia akan menemui
orang lain selain Enishte Effendi" Pernahkah kaurenungkan bahwa ia mungkin saja
berjumpa dengan orang lain?"
"Ini ditemukan di tubuhnya," ucapnya.
Kalbiye mengambil secarik kertas yang terlipat dari sebuah kotak anyaman
bertutup yang berisi jarum-jarum bordir, kain-kain perca, dan sebutir biji
kenari yang besar. Ketika aku mengambil kertas kasar yang tergumpal itu dan
memeriksanya, aku melihat berbagai bentuk gambar dari tinta yang telah luntur
terkena air sumur. Aku baru saja akan menentukan bentukbentuk apa yang kulihat,
ketika Kalbiye menyatakan isi kepalaku.
"Kudakuda," ujarnya. "Tetapi, Elok Effendi hanya melakukan penyepuhan saja. Ia
tidak pernah menggambar kuda. Dan tak seorang pun yang pernah menyuruhnya
menggambar kuda." Aku memandangi gambar kudakuda yang dibuat dengan tergesa, tetapi tidak mampu
melihat apapun dari gambar itu.
"Jika aku membawa secarik kertas ini pada Shekure, dia pasti akan merasa senang
hati," ujarku. "Jika Shekure ingin melihat sketsa-sketsa ini, biar saja dia mengambilnya
sendiri," sahut Kalbiye tanpa sedikitpun menyiratkan kelicikan.[]
Bab 40 v^-AKU DINAMAI HITAM MUNGKIN KAU kini paham, bagi para lelaki pemurung sepertiku yang baginya cinta,
penderitaan, kebahagiaan dan kepedihan hanyalah alasan untuk memelihara
kesunyian abadi, kehidupan tidak menawarkan kebahagiaan atau kesedihan yang luar
bisaa. Aku tidak sedang berkata bahwa kita tidak bisa berhubungan dengan jiwa-
jiwa yang lain yang diliputi perasaan-perasaan tersebut, sebaliknya kami justru
bersimpati pada mereka. Yang tidak bisa kami taklukkan adalah kegelisahan ganjil
yang membuat jiwa kami tenggelam di waktu-waktu tertentu. Kebingungan yang
senyap ini menumpulkan kecerdasan dan membebalkan hati kami, mengambil alih
tempat bagi kebahagiaan sejati dan kesedihan yang seharusnya kami alami. Setelah
menguburkan ayahandanya, aku bergegas pulang dari pemakaman dan dengan sikap
penuh duka cita aku memeluk istriku, Shekure. Namun, tibatiba saja, seraya
menangis dia menjatuhkan diri ke atas sofa besar dengan anakanaknya yang
memandang ke arahku dengan sorot mata mendendam. Aku tidak tahu harus berbuat
apa, Penderitaannya datang bersamaan dengan kemenanganku. Dengan sekali sapu,
aku mendapatkan pernikahan idaman masa mudaku, membebaskan diri dari ayahnya
yang merendahkanku, dan menjadi tuan di rumah
ini. Siapa yang akan memercayai ketulusan air mataku" Tetapi, percayalah padaku,
bukan seperti itu kenyataannya. Aku sungguhsungguh ingin berduka, tetapi tak
mampu. Enishte lebih kuanggap ayah daripada ayahku sendiri. Namun, karena
penceramah yang sok ikut campur memimpin pemandian jenazah Enishte tidak
berhenti berceloteh maka desas-desus tentang kematian Enishte yang misterius
tersebar luas di antara para tetangga selama prosesi pemakaman
berlangsung sementara aku bisa merasakannya sambil berdiri di halaman masjid. ?
Aku tidak ingin ketidakmampuanku menangis disalahartikan. Aku tidak perlu
memberitahumu betapa nyata rasa takut dianggap sebagai seseorang yang "berhati
batu". Kautahu bagaimana para bibi yang bersimpati akan selalu mengatakan betapa "ia
menangis di dalam hati" untuk mencegah orangorang sepertiku dikucilkan dari
sebuah kerumunan. Pada kenyataannya aku memang menangis di dalam batinku saat
aku berusaha bersembunyi di salah satu sudut dari para tetangga yang memasang


My Name Is Red Karya Orhan Pamuk di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mata dan telinga mereka, serta para kerabat jauh yang memiliki kemampuan hebat
dalam menghadirkan hujan air mata, Aku baru saja berpikir sebagai kepala rumah
tangga di rumah ini, menimbang-nimbang untuk mengatasi keadaan ini dengan
sedemikian rupa, tetapi kemudian terdengar ketukan di pintu, Sejenak aku panik.
Apakah itu Hasan" Bagaimanapun, aku ingin menyelamatkan diri dari neraka ratapan
ini, apapun tebusannya. Ternyata itu adalah seorang pesuruh istana yang menjemputku untuk pergi ke
istana. Aku segera terdiam mematung.
Begitu aku keluar dari halaman, aku menemukan sekeping koin perak berlumuran
lumpur di atas tanah. Apakah aku merasa takut pergi ke istana" Ya, tetapi aku
juga bahagia berada di luar di tengah hawa dingin, di antara kuda, anjing,
pepohonan, dan orangorang. Menurutku aku akan berteman baik dengan pesuruh
istana ini, seperti para pelamun putus asa yang percaya mereka bisa mempermanis
kekejaman dunia ini sebelum menghadapi algojo, mengupayakan sebuah percakapan
ringan yang menentramkan hati dengan penjaga penjara bawah tanah tentang ini
itu, tentang keindahan-keindahan hidup, tentang bebek-bebek yang mengapung di
atas kolam, atau keanehan segumpal awan di langit. Namun, ternyata ia
mengecewakanku. Pesuruh istana itu malah menunjukkan sikap murung, pemuda
berjerawat yang mengatupkan mulutnya kuatkuat. Begitu aku melewati Hagia Sophia,
aku memandang dengan takjub ke arah jajaran pohon cemara ramping yang dengan
lembut menggeliatkan dahandahannya ke langit yang berkabut. Ini bukanlah
perasaan takut mati setelah menikahi Shekure, setelah bertahuntahun aku menanti
dengan tegang. Rasanya tidak adil karena harus sekarat di tangan para algojo
istana tanpa sempat bercinta dengan Shekure.
Kami tidak berjalan menuju puncakpuncak menara Gerbang Tengah, melewati tempat
para algojo dan juru siksa yang cekatan melihat hasil karya mereka, melainkan
menuju bengkel tukang kayu. Ketika kami berjalan di antara lumbung lumbung,
seekor kucing membersihkan diri di tengah lumpur di antara kaki-kaki seekor kuda
sewarna kastanye dengan lubang-lubang hidung beruap yang sedang memalingkan
kepalanya, tetapi tidak menoleh ke
arah kami. Kucing itu sibuk dengan kotorannya, sama saja seperti kami.
Di belakang lumbung, dua sosok yang jabatan dan keanggotaannya tidak bisa
kutentukan dari seragam hijau ungu mereka, menyuruh pergi pesuruh istana dan
memasukkan aku ke dalam sebuah kamar gelap di sebuah rumah kecil yang tampak nya
baru dibangun menilik dari bau kayu segarnya. Aku tahu, mengurung seseorang di
dalam sebuah kamar gelap dimaksudkan untuk membangkitkan rasa takut sebelum
penyiksaan. Berharap mereka memulainya dengan cambukan di kaki, aku memikirkan
dusta-dusta yang bisa kukatakan untuk menyelamatkan rahasiaku. Segerombolan
orang di ruang penghubung membuat keributan.
Pasti banyak sekali di antara kalian yang tidak bisa menghubungkan nada mengejek
perkataanku dengan situasi di mana seorang lelaki tengah menyongsong siksaan
yang akan diterimanya. Apakah aku belum mengatakan padamu betapa aku menganggap
diriku seorang hamba Allah yang lebih beruntung" Dan andai burung burung
keberuntungan yang melayang-layang di atas kepalaku selama dua hari terakhir
setelah bertahuntahun tak pernah mendekatiku tidak cukup sebagai bukti, pastilah
uang perak yang kutemukan di gerbang depan rumah itu bisa disebut sebagai
pertanda. Sambil menunggu siksaan yang akan kuterima, aku terhibur oleh koin perak itu dan
merasa yakin sepenuhnya bahwa benda itu akan melindungiku. Aku menggenggamnya,
menggosok-gosokkannya, dan berkali-kali menciumi koin keberuntungan yang
dikirimkan Allah padaku. Namun, pada suatu waktu yang aku tak tahu kapan
pastinya, mereka memindahkanku dari
kegelapan dan membawaku ke kamar sebelah, di mana aku melihat Panglima Pasukan
Pengawal dan para algojo Kroasia-nya yang berkepala botak. Aku langsung sadar
bahwa koin perak itu tak berguna sama sekali. Suarasuara tak berampun di dalam
diriku memang benar sepenuhnya. Koin di dalam kantung bajuku itu bukan datang
dari Tuhan, melainkan salah satu uang perak yang kutaburkan di atas kepala
Shekure dua hari yang lalu yang diburu anakanak. Sejak itu, di tangan para
algojo itu, aku tidak memiliki apa pun sebagai tempat perlindungan. Aku bahkan
tidak memerhatikan betapa air mataku mulai berjatuhan. Aku ingin memohon, tetapi
seakanakan dalam mimpi, tak satu suara pun yang lolos dari mulutku. Aku tahu
dari perang, kematian dan pembunuhan politik, dan siksaan (yang kusaksikan dari
jauh), betapa kehidupan bisa lenyap begitu saja, tetapi aku tidak pernah
mengalaminya sedekat ini. Mereka akan merenggutku dari muka bumi ini, seperti
mereka merenggut pakaianku,
Mereka melepas rompi dan kemejaku. Salah satu algojo itu menduduki tubuhku,
menindihkan lututnya ke bahuku. Yang lainnya menempatkan sebuah kurungan
menutupi kepalaku dan perlahanlahan mulai memutar sekrup di depannya, semuanya
dilakukan dengan keterampilan seorang perempuan yang sedang menyiapkan sajian
makanan. Tidak, itu bukan kurungan, melainkan lebih serupa catok yang lambat
laun menjepit kepalaku. Aku menjerit sekuatkuatnya, aku memohon, tetapi hanya ceracau tak karuan yang
terlontar. Aku menangis, lebih karena syaraf-syarafku telah berhenti bekerja.
Mereka menghentikannya sesekali dan bertanya, "Apakah
kau yang membunuh Enishte Effendi?"Aku mengambil napas dalam-dalam, "Tidak."
Mereka mulai memutar sekrup catok itu lebih ketat. Itu sangat menyiksa.
Mereka bertanya lagi. "Tidak." "Kalau begitu, siapa?" "Aku tidak tahu!"
Aku bimbang, barangkali aku harus mengaku saja bahwa aku yang membunuhnya. Dunia
berputar-putar dengan suka cita di atas kepalaku, Aku merasa dilanda keengganan.
Kutanya diriku sendiri apakah aku telah menjadi terbisaa dengan rasa sakit itu.
Para algojoku dan aku terdiam sesaat. Aku tidak merasakan sakit, aku hanya
ketakutan. Ketika kusimpulkan lewat koin perak di dalam kantungku bahwa mereka tidak akan
membunuhku, tibatiba saja mereka melepaskanku. Mereka membuka alat seperti catok
yang sesungguhnya telah sedikit merusak kepalaku. Algojo yang menjepitku berdiri
tanpa sedikitpun menyatakan permintaan maaf. Aku mengenakan kembali kemeja dan
rompiku. Lalu hening beberapa lama.
Di ujung lain ruangan itu, aku melihat Kepala Iluminator Osman Effendi. Aku
mendekatinya dan mencium tangannya.
"Jangan resah, anakku," ujarnya padaku. "Mereka hanya mengujimu."
Seketika aku tahu bahwa aku telah menemukan ayah baru untuk menggantikan tempat
Enishte, semoga ia beristirahat dengan damai.
"Sultan baru saja memberi perintah bahwa kau tidak
akan disiksa kali ini," ujar Panglima. "Beliau beranggapan lebih baik kau
membantu Kepala Iluminator Tuan Osman untuk menemukan begundal yang telah
membunuh para miniaturis beliau dan pelayan-pelayan setia yang sedang menyiapkan
manuskrip untuk beliau. Kalian punya waktu tiga hari untuk menanyai para
miniaturis, memeriksa halamanhalaman bergambar yang sudah mereka buat, dan
menemukan penjahat busuk itu. Sultan cukup terkejut mendengar desas-desus yang
disebarluaskan para tukang fitnah tentang para miniaturisnya dan manuskrip itu.
Kepala Bendahara Hazim Agha dan aku akan membantu kalian menemukan begundal ini,
sebagaimana yang telah dititahkan oleh Sultan. Salah seorang di antara kalian
sangat dekat dengan Enishte Effendi sehingga pernah mendengar semua yang
diajarkannya dan tahu tentang para miniaturis yang mengunjungi almarhum di malam
hari, serta kisah di balik buku tersebut. Sementara yang lainnya adalah seorang
empu agung yang mengenal semua miniaturis di bengkel seni bagai bagian belakang
tangannya sendiri. Selama tiga hari, jika kalian gagal menemukan babi itu
bersama halaman yang dicurinya yang isinya membuat gunjingan beredar
luas Sultan ingin agar kau, anakku Hitam Effendi, menjadi orang pertama yang ?menjalani siksaan dan introgasi. Setelah itu, tak diragukan lagi, setiap empu
miniaturis akan mendapatkan gilirannya."
Aku bisa merasakan tak ada bahasa tubuh yang dirahasiakan atau bahasa isyarat di
antara dua orang sahabat lama yang sudah bekerja sama selama bertahuntahun ini:
Kepala Bendahara Hazim Agha yang memerintahkan tugas itu dan Kepala Iluminator
Tuan Osman Effendi, yang menerima dana dan bahan kerja
melalui Kepala Bendahara.
"Semua orang tahu, Icapanpun sebuah kejahatan dilakukan di dalam wilayah,
resimen atau divisi di bawah kekuasaan Sultan kita, maka seluruh kelompok akan
dianggap bersalah, hingga salah satu di antara mereka terungkap dan menyerahkan
diri. Sebuah divisi yang gagal mengungkap pembunuh di antara mereka akan
dijatuhkan martabatnya dalam catatan hukum sebagai 'divisi para pembunuh1,
termasuk perwira atau empunya, dan akan dihukum sesuai kesalahannya," ujar
Panglima. "Oleh karena itu, Tuan Osman sebagai Kepala Iluminator akan terus
mengawasi dengan saksama, memeriksa setiap ilustrasi dengan teliti, menguak
segala kejahatan, tipu muslihat, keculasan, dan dorongan yang telah menyebabkan
para miniaturis menjadi saling cekik, dan mengirimkan mereka yang bersalah pada
keadilan Sultan kita, sekaligus membersihkan nama baik kelompoknya. Kami telah
diperintahkan untuk memenuhi segala yang dibutuhkan oleh Tuan Osman. Anak buahku
saat ini sedang menyita semua halaman manuskrip yang telah dihias oleh para empu
miniaturis di rumah mereka."[]
Bab 41 INILAH AKU, TUAN OSMAN - . ^r^ ? ?PANGLIMA PASUKAN Pengawal dan Kepala Bendahara menyampaikan kembali perintah-
perintah Sultan sebelum meninggalkan kami berdua. Tentu saja Hitam kehabisan
tenaga karena rasa takut, tangisan, dan siksaan yang dialaminya. Ia terdiam
seperti seorang pemuda tanggung. Aku tahu aku akan menyukainya, dan sengaja aku
tidak mengganggu kedamaiannya.
Aku memiliki waktu tiga hari untuk meneliti halamanhalaman yang dikumpulkan oleh
anakanak buah Panglima dari rumahrumah para ahli kaligrafi dan para empu
miniaturisku, dan untuk menentukan siapakah yang telah mengerjakannya. Kalian
semua tahu betapa jijiknya aku ketika pertama kali melihat lukisanlukisan yang
dipersiapkan untuk buku Enishte Effendi, dan bagaimana Hitam telah memberikan
mereka kepada Kepala Bendahara Hazim Agha untuk membersihkan namanya. Pasti ada
sesuatu dalam halamanhalaman itu bagi mereka, sehingga bisa menimbulkan
kekerasan menjijikkan dan kebencian semacam itu dalam diri seorang miniaturis
sepertiku yang mengabdikan seluruh hidupnya pada kesenian; seni yang buruk
semata-mata tak akan mengakibatkan reaksi seperti itu. Maka, dengan penuh rasa
ingin tahu, aku mulai mempelajari kembali sembilan
halaman yang telah dipesan si bodoh yang telah mati itu dari para miniaturis
yang datang padanya secara diamdiam di malam hari.
Aku melihat sebatang pohon di tengah sebuah halaman yang kosong, terletak dalam
pola bingkai dan sepuhan karya Elok yang malang, yang dengan anggun membingkai
setiap halaman. Aku mencoba membayangkan dari adegan dan kisah manakah pohon ini
berasal. Jika aku mengatakan pada ilustratorku untuk menggambar sebuah pohon,
Kupukupu tersayang, Bangau yang bijak, dan Zaitun yang cerdik akan memulai
dengan menganggap pohon ini sebagai bagian dari sebuah kisah sehingga mereka
bisa menggambar pohon itu dengan penuh percaya diri. Jika aku kemudian meneliti
pohon itu, aku akan bisa menentukan dongeng mana yang ada dalam benak si
illustrator yang digunakannya sebagai dasar bagi dedaunan dan dahandahan
pohonnya itu. Pohon ini, bagaimanapun, adalah sebuah pohon menyedihkan yang
menyendiri. Di belakangnya, terdapat sebuah garis cakrawala yang tinggi sehingga
mengingatkanku pada gaya para empu lama Shiraz dan makin menekankan rasa
terasing. Sama sekali tiada apa pun yang mengisi daerah kosong yang diciptakan
oleh naiknya cakrawala itu. Hasrat untuk menggambarkan sebuah pohon sesederhana
yang dilakukan para empu Venesia, di sini digabungkan dengan cara orangorang
Persia melihat dunia dari atas, dan hasilnya adalah sebuah lukisan menyedihkan
yang bukan bergaya Venesia, tetapi juga tidak bergaya Persia. Tampaknya seperti
inilah sebatang pohon di ujung dunia. Percobaan menggabungkan dua gaya terpisah
yang dilakukan oleh para miniaturisku dan badut yang sudah mati itu telah
menciptakan sebuah karya yang tanpa
gaya sama sekali. Namun, bukan ilustrasi yang dinyatakan oleh dua pandangan
dunia berbeda yang tak punya gaya itu yang membangkitkan kemarahanku.
Aku merasakan perasaan yang sama saat aku menatap lukisanlukisan lainnya, pada
kuda impian sempurna dan perempuan yang kepalanya menunduk. Pilihan bahan
ilustrasinya juga menggangguku, apakah itu gambar dua sufi pengembara atau
setan. Tampak jelas bahwa para ilustratorku telah dengan malumalu kucing
memasukkan gambargambar bermutu rendah ini ke dalam manuskrip bergambar milik
Sultan. Aku merasa kian kagum pada keagungan pengadilan Allah yang telah
mencabut nyawa Enishte sebelum buku itu selesai. Tak perlu dikatakan, aku tak
punya hasrat apapun untuk menyelesaikan manuskrip ini.
Siapa yang tak akan terganggu oleh anjing ini digambar dari atas, tetapi ?menatapku tepat di bawah hidungku seakanakan itu adalah saudaraku" Di satu sisi
aku takjub oleh ratanya posisi si anjing, keindahannya dilihat dari samping,
kepalanya yang menunduk ke tanah, dan gigigigi putihnya yang tampak mengerikan.
Pendeknya, aku kagum pada bakat sang miniaturis yang menggambarnya (aku hampir
bisa menentukan dengan tepat siapa yang mengerjakan gambar itu). Di sisi lain,
aku tidak bisa memaafkan cara bakat ini dimanfaatkan oleh logika tidak jelas
sebuah kehendak yang tak dapat dimengerti. Hasrat untuk meniru orangorang Eropa,
juga alasan bahwa buku yang dipesan Sultan sebagai hadiah untuk penguasa Venesia
seharusnya menggunakan teknik teknik yang akrab bagi orangorang Venesia, tidak
cukup memadai untuk menjelaskan keinginan menjilat dalam lukisanlukisan ini.
Aku merasa ngeri oleh warna merah menyala pada salah satu lukisan yang ramai, di
mana di dalamnya aku langsung mengenali sentuhan masingmasing empu miniaturisku
di setiap sudut. Tangan seorang seniman yang tak dapat kukenali telah memulaskan
sebuah warna merah yang ganjil pada lukisan itu di bawah bimbingan sebuah logika
yang ganjil, dan seluruh dunia yang diungkap oleh ilustrasi ini perlahanlahan
diliputi oleh warna tersebut. Aku menghabiskan beberapa saat untuk membungkuk di
atas lukisan ini dan menunjukkan pada Hitam mana di antara para miniaturisku
yang menggambar pohon (Bangau), kapal-kapal dan rumahrumah (Zaitun), dan
layanglayang serta bungabunga (Kupukupu).
"Tentu saja, seorang miniaturis agung seperti Anda yang telah menjadi kepala
sebuah divisi buku seni selama bertahuntahun, pasti bisa membedakan karya
masingmasing ilustrator, penggambaran garisgaris mereka, dan watak sentuhan
kuasmereka," ujar Hitam. "Tetapi, ketika seorang pencinta buku eksentrik seperti
Enishteku memaksa para ilustrator yang sama untuk melukis dengan teknikteknik
baru yang belum pernah dicoba, bagaimana Anda bisa menentukan para seniman yang
bertanggung jawab untuk tiap-tiap desain dengan keyakinan semacam itu?"
Aku memutuskan untuk menjawab dengan sebuah parabel, "Pada zaman dahulu, ada
seorang shah yang berkuasa di Isfahan. Shah ini adalah seorang pencinta buku
seni yang hidup terpencil di purinya. Ia adalah seorang shah yang kuat, perkasa,
dan cerdas, tetapi kejam, dan ia hanya memiliki kecintaan pada dua hal:
manuskrip manuskrip berilustrasi yang ia pesan dan putrinya. Shah ini begitu
menyayangi putrinya sehingga
musuhmusuhnya mengira ia jatuh cinta pada putrinya sendiri karena ia cukup
angkuh dan pencemburu untuk menyatakan perang terhadap para penguasa
negerinegeri tetangga hanya karena yang bersangkutan mengutus duta untuk melamar
putrinya. Sesungguhnya, baginya tak ada suami yang layak bagi putrinya, dan ia
mengasingkan putrinya di sebuah kamar yang hanya bisa dicapai melalui empat
puluh pintu terkunci. Menurut sebuah kepercayaan di Isfahan, ia mengira
kecantikan putrinya akan pudar jika ada lelaki lain yang memandangnya. Suatu
hari, setelah sebuah edisi Hiisrev dan Shirin yang ia pesan ditulis dan diberi
ilustrasi dengan gaya Herat, sebuah gunjingan beredar di Isfahan: Perempuan
cantik berwajah pucat yang muncul dalam salah satu lukisan tak lain adalah putri
sang shah pencemburu itu! Bahkan sebelum mendengar gunjingan itu, sang shah yang
merasa curiga pada ilustrasi misterius ini telah membuka halamanhalaman buku itu
dengan tangan gemetar dan banjir air mata melihat bahwa kecantikan putrinya
sungguh telah tersurat di atas halaman buku. Sesungguhnya, bukan putri shah yang
dilindungi empat puluh pintu terkunci itu yang muncul untuk dilukis pada suatu
malam, melainkan kecantikannyalah yang lolos dari kamarnya seperti sesosok hantu
yang tercekik rasa bosan, memantul pada serangkaian cermin, dan melewati pintu
pintu dan lubang-lubang kunci seperti secercah cahaya atau selarik asap hingga
mencapai mata seorang ilustrator yang bekerja sepanjang malam. Miniaturis muda
yang piawai itu tak mampu menahan diri. Digambarkannya kecantikan yang tak
sanggup ia pandangi dalam ilustrasi yang tengah ia selesaikan. Itu adalah sebuah
adegan yang menunjukkan Shirin tengah menatap sebuah lukisan Husrev dan jatuh cinta padanya
saat dia berjalan-jalan ke sebuah daerah pinggiran kota."
"Tuan, ini adalah sesuatu yang sangat kebetulan," ujar Hitam. "Aku juga amat
menyenangi adegan dari kisah Husrev dan Shirin itu."
"Ini bukan dongeng, melainkan peristiwa yang sungguhsungguh terjadi," kataku.
"Dengarkan, miniaturis itu tidak menggambarkan putri shah yang cantik sebagai
Shirin, tetapi sebagai seorang perempuan penghibur yang memainkan kecapi atau
menata meja, karena itulah sosok yang tengah ia selesaikan ilustrasinya pada
saat itu. Akibatnya, kecantikan Shirin menjadi pucat dibandingkan kecantikan
luar bisaa perempuan penghibur yang tengah berdiri di sampingnya, sehingga
mengacaukan keseimbangan lukisan itu. Setelah shah melihat putrinya dalam
lukisan itu, ia ingin mengetahui siapakah miniaturis berbakat yang
menggambarkannya. Namun, karena takut pada kemarahan shah, miniaturis yang mahir


My Name Is Red Karya Orhan Pamuk di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu telah menggambar sosok perempuan penghibur dan Shirin bukan dengan gayanya
sendiri, melainkan dengan sebuah cara baru, demi menyembunyikan identitasnya.
Sentuhan kuas penuh keterampilan yang hanya dimiliki segelintir miniaturis lain
telah lenyap menjadi karya orang kebanyakan."
"Bagaimana shah menemukan identitas miniaturis yang menggambarkan potret diri
putrinya?" "Dari telinganya!"
"Telinga siapa" Telinga sang putri atau lukisan dirinya?"
"Bukan keduanya. Mengikuti nalurinya, mulamula shah itu menghamparkan buku buku,
halamanhalaman, dan ilustrasiilustrasi yang dibuat oleh para miniaturisnya, dan memeriksa semua
telinga di dalamnya. Ia melihat apa yang telah ia ketahui bertahuntahun dalam
sebuah cahaya baru. Apa pun tingkatan bakatnya, setiap miniaturis membuat
telinga menurut gayanya masingmasing. Tak peduli apakah wajah yang mereka
gambarkan adalah wajah seorang sultan, seorang bocah, seorang pejuang, wajah
tersembunyi Nabi kita yang mulia, atau bahkan wajah iblis. Tiap-tiap miniaturis,
dalam tiap kasus, selalu menggambar telinga dengan cara yang sama, seakanakan
ini adalah sebuah tanda tangan rahasia."
"Mengapa?" "Ketika para empu membuat ilustrasi seraut wajah, mereka memusatkan perhatian
untuk mendekati keindahan yang agung, pada kaidah-kaidah model bentuk lama, pada
ekspresi, atau pada apakah gambar itu sebaiknya mirip dengan seseorang yang
nyata. Tetapi, ketika tiba saatnya untuk membuat telinga, mereka tak mencuri
dari yang lain, meniru seorang model, atau mempelajari sebuah telinga sungguhan.
Untuk telinga, mereka tidak berpikir, tidak menginginkan apa pun, bahkan tak
berhenti untuk mempertimbangkan apa yang tengah mereka lakukan. Mereka memandu
kuas mereka berdasarkan ingatan."
"Tetapi, tidakkah para empu agung juga menciptakan adikarya mereka dari ingatan,
bahkan tanpa melihat kuda, orang, atau pohon sungguhan?" ujar Hitam.
"Benar," kataku, "tetapi ingatan-ingatan itu didapat setelah bertahuntahun
pemikiran, perenungan, dan pertimbangan. Setelah melihat begitu banyak kuda,
baik ilustrasi maupun yang sesungguhnya, selama masa hidup
mereka, mereka tahu bahwa kuda hidup terakhir yang mereka lihat adalah kuda
sempurna yang mereka ingat baikbaik dalam benak mereka. Kuda yang telah digambar
seorang empu miniaturis puluhan ribu kali akhirnya mendekati pandangan Tuhan
mengenai seekor kuda, dan sang seniman mengetahui hal ini melalui pengalaman dan
dengan lubuk jiwanya. Kuda yang digambar oleh tangannya dengan cepat berdasarkan
ingatan, sesungguhnya dibuat dengan bakat, usaha keras, dan wawasan, dan ini
adalah seekor kuda yang mendekati kuda Allah. Bagaimanapun, telinga yang
digambar di hadapan tangan yang telah mengumpulkan banyak pengetahuan, sebelum
sang seniman mempertimbangkan apa yang sedang ia lakukan, atau sebelum memberi
perhatian pada telinga putri sang shah, akan selalu menjadi sebuah cacat. Karena
itu adalah sebuah cacat, atau ketidaksempurnaan, hasilnya akan beragam di antara
miniaturis yang satu dengan yang lain. Maka, itu sama saja dengan sebuah tanda
tangan." Terjadi keributan. Beberapa anak buah Panglima membawa halamanhalaman ilustrasi
yang mereka kumpulkan dari rumahrumah para miniaturis dan ahli kaligrafi ke
dalam bengkel kerja tua itu.
"Selain itu, telinga memang merupakan cacat bagi manusia," kataku, berharap
Hitam akan tersenyum. "Mereka berbeda sekaligus sama bagi semua orang: sebuah
perwujudan keburukrupaan yang sempurna."
"Apa yang terjadi dengan miniaturis yang tertangkap oleh penguasa melalui
gayanya dalam melukis telinga?"
Aku menahan diri dari berkata, "Ia buta," untuk menjaga agar Hitam tidak semakin
putus asa. Alihalih, aku malah menimpali, "Ia menikahi anak perempuan sang shah
dan cara ini, yang sejak itu digunakan untuk mengenali identitas miniaturis,
dikenal oleh banyak sekali khan, shah, dan sultan yang mendanai bengkel buku
seni sebagai 'metode pelacur.1 Lebih jauh lagi, metode ini tetap dirahasiakan
sehingga jika salah satu di antara miniaturis mereka membuat sebuah gambar
terlarang atau sebuah desain kecil yang menyembunyikan kejahatan tertentu dan
kemudian diingkari, mereka akan segera tahu siapa yang harus bertanggung
jawab para seniman sejati memiliki hasrat naluriah untuk menggambar apa saja ?yang dilarang! Kadang kala tangan mereka sendiri yang membuat kenakalan.
Membongkar pelanggaran seperti ini berarti menemukan gambargambar remeh yang
dibuat dengan tergesagesa dan dengan detail berulang yang dipindahkan dari pusat
lukisan tersebut, seperti telinga, tangan, rumput, dedaunan, atau bahkan surai
kuda, kaki atau kuku-kukunya. Namun, berhati hatilah, metode itu tidak akan
berjalan sebagaimana mestinya jika sang ilustrator benar benar menyadari bahwa
detail semacam itu sudah menjadi tanda tangan rahasianya. Kumis tidak akan
berpengaruh, misalnya, karena banyak seniman yang sadar betapa mereka bisa
dengan bebas menggambarkannya sebagai tanda tangan. Namun, alis mata adalah
sebuah kemungkinan: Tidak ada orang yang memerhatikan alis dengan sedemikian
teliti. Ayolah, mari kita lihat empu muda mana yang telah membawa kuas dan pena
buluhnya untuk mengerjakan ilustrasiilustrasi almarhum Enishte."
Maka kami membawa serta semua halaman dari dua manuskrip bergambar itu, yang
satu diselesaikan secara sembunyisembunyi dan yang lainnya diselesaikan secara
terbuka. Dua buah buku dengan dua kisah dan subjek
yang berbeda dan diilustrasikan dalam dua gaya yang berbeda, yaitu buku almarhum
Enishte dan Kitab Segala Pesta yang menceritakan kembali upacara khitanan
pangeran kami yang pembuatannya berada di bawah pengawasanku. Hitam dan aku
mengamati keduanya dengan sungguhsungguh mengikuti ke mana pun aku menggerakkan
lensa pembesarku: 1. Dalam halamanhalaman Kitab Segala Pesta, mulamula kami mempelajari mulut
terbuka seekor rubah yang kulit bulunya dipegang seorang empu ahli kulit
berjubah merah dan berselendang ungu di pangkuannya saat menghadap Sultan yang
sedang mengamati arak-arakan dari sebuah balkon khusus yang dibuat untuk acara
tersebut. Tak salah lagi, Zaitun yang menggambar gigi rubah dan gigi dalam
ilustrasi Enishte tentang setan, sesosok makhluk yang mengerikan, setengah iblis
dan separuh raksasa, yang tampaknya dating dari Samarkand.
2. Pada suatu hari yang menyenangkan dalam pesta tersebut, di bawah balkon
Sultan yang menghadap arena balap kuda, satu divisi ghazi" miskin di barisan
depan tampak mengenakan seragam bertambal-tambal, Salah satu di antara mereka
mengajukan permohonan, "Sultan, kami, bala tentaramu yang gagah berani ini,
sempat ditawan saat kami memerangi kaum kafir demi agama kita dan kami harus
menebus kebebasan kami dengan meninggalkan saudarasaudara seagama kami sebagai
sandera di sana. Maka, kami dibebaskan untuk mengambil tebusan. Namun, saat kami
kembali ke Istanbul, kami
Sebutan untuk para tentara muslim.?mendapati semua barang begitu mahal harganya sehingga kami tidak mampu
mengumpulkan uang untuk menyelamatkan saudarasaudara kami yang dijadikan tawanan
kaum kafir. Kami memohon belas kasih Yang Mulia. Berilah kami emas atau para
budak agar kami bisa kembali untuk menebus kebebasan mereka." Bangau dengan
jelas menggambarkan kuku-kuku seekor anjing yang malas mencuat ke
samping seraya menatap dengan sebelah mata terbuka pada Sultan, pada pasukan
?ghazi melarat yang menyedihkan itu, dan pada para duta besar Persia dan Tatar di
arena balap kuda seperti halnya kuku kuku anjing yang menghuni sudut gambar
?yang menceritakan petualangan Uang Emas dalam buku Enishte.
3. Di antara para pesulap yang sedang memutar butiran telur di atas lempeng
papan kayu dan berjungkir balik di hadapan Sultan, ada seorang lelaki botak
bertelanjang kaki mengenakan rompi berwarna ungu yang sedang memainkan tamborin
sambil duduk di tepi luar sehelai karpet merah. Lelaki ini memegang alat musik
tersebut dengan gaya yang sama dengan perempuan yang memegang nampan kuningan
besar untuk menyajikan hidangan dalam ilustrasi tentang warna merah dalam buku
Enishte: tak diragukan lagi ini adalah karya Zaitun.
4. Saat kelompok juru masak dihadapkan pada Sultan, mereka sedang memasak kubis
isi daging dan bawang dalam sebuah ketel di atas tungku di kereta mereka. Sang
empu juru masak menghuni kereta yang diparkir di atas tanah berwarna merah jambu
dan menaruh belanga-belanga rebusan di atas batu-batu biru.
Bebatuan ini dilukis oleh seniman yang sama yang membuat bebatuan merah di atas
tanah berwarna biru gelap di atas sosok melayang setengah hantu di dalam
ilustrasi yang oleh Enishte diberi judul Malaikat Maut: sebuah karya tanpa cela
dari Kupu kupu. S. Beberapa orang kurir Tatar di atas punggung kuda membawa
pesan bahwa bala tentara Shah Persia sudah mulai bergerak untuk kembali
berperang melawan tentara Utsmaniyah, karena tenda pengamatan duta besar Persia
telah diratakan dengan tanah. Duta besar ini berkali-kali menyatakan pada Sultan
kami secara bergurau bahwa Shah Persia adalah temannya dan ia hanya memiliki
rasa kasih saying sebagai saudara kepadanya. Dalam episode kemurkaan dan
kehancuran ini, para pengangkut air berlarian untuk mencegah debu meruap di
arena balap kuda, dan sekelompok orang muncul memanggul karung-karung kulit
berisi minyak biji rami untuk dituangkan ke atas segerombolan orang yang siap
untuk menyerang sang duta besar dengan harapan bisa menenangkan mereka. Kaki-
kaki yang terangkat ilik para tukang angkut air dan orangorang yang memanggul
karung minyak biji rami dibuat oleh seniman yang melukis kaki-kaki terangkat
para tentara yang bersiaga dalam lukisan tentang merah: juga merupakan karya
Kupukupu, Aku bukanlah orang yang membuat penemuan terakhir ini meski aku yang mengarahkan
pencarian kami akan tandatanda dengan menggerakkan lensa kaca pembesar ke kiri
dan ke kanan, dari satu gambar ke gambar lainnya: malah Hitamlah penemunya, yang
membuka matanya lebar-lebar dan nyaris tanpa berkedip, karena didera rasa takut terhadap siksaan
dan harapan untuk segera kembali pada istrinya yang tengah menunggunya di rumah.
Menggunakan "metode pelacur" ini, pencarian kami memakan waktu sepanjang siang
untuk memilah karya masingmasing miniaturis dalam kesembilan lukisan yang
tersisa peninggalan almarhum Enishte, kemudian kami pun harus mengartikan semua
informasi yang didapat. Almarhum Enishte tidak membatasi satu halaman pun pada bakat seni seorang
miniaturis saja. Ketiga empu miniaturisku bekerja dalam sebagian besar lukisan
itu. Ini berarti gambargambar itu berpindahpindah dari satu rumah ke rumah
lainnya berkali-kali. Sebagai tambahan dari karya-karya yang kukenali, aku
mengamati adanya goresan-goresan amatir seorang seniman kelima, tetapi saat aku
menjadi marah akan kurangnya bakat yang dimiliki si pembunuh laknat ini, dari
goresan kuas yang kuat tersebut Hitam memutuskan bahwa itu adalah hasil karya
Enishtenya hal itu menyelamatkan kami dari jejak palsu. Jika kami menyisihkan ?Elok Effendi yang mengerjakan penyepuhan yang nyaris serupa dalam buku Enishte
dan Kitab Segala Pesta (ya, hal ini tentu saja melukai perasaanku) dan kurasa
terkadang menyentuhkan kuas ke beberapa dinding, daun, dan gumpalangumpalan
awan, terbukti bahwa hanya ketiga empu miniaturisku yang cemerlang itu saja yang
telah memberi sumbangan berarti pada ilustrasiilustrasi ini. Mereka adalah
orangorang kesayanganku yang telah kudidik dengan penuh cinta kasih sejak masih
menjadi murid magang, ketiga seniman berbakat yang kucintai: Zaitun, Kupukupu,
dan Bangau. Membahas bakat, kepiawaian dan watak mereka untuk menemukan sebuah petunjuk yang
kami cari, mau tak mau berujung pada pembahasan atas kehidupanku sendiri:
Sifat-sifat Zaitun Nama yang diberikan padanya sejak lahir adalah Velijan. Jika ia memiliki nama
samaran selain yang kuberikan padanya, aku tak akan tahu karena aku tidak pernah
melihatnya menandatangani satu pun hasil karyanya. Ketika ia masih menjadi
seorang murid, ia menjemputku dari rumahku pada setiap Selasa pagi. Ia sangat
angkuh, dan karenanya, jika ia pernah merendahkan dirinya dengan menandatangani
karyanya, ia akan menginginkan tanda tangannya sederhana dan mudah dikenali dan
ia akan berusaha menyembunyikannya di suatu tempat. Allah telah amat bermurah
hati menganugerahinya kemampuan yang luar bisaa. Ia bisa mengerjakan apa pun
dengan cepat dan enteng, mulai menyepuh hingga menggarisi, dan karyanya memang
sangat hebat. Ia yang paling cemerlang di bengkel seni dalam mencipta pepohonan,
binatang, dan wajah manusia. Ayah Velijan, yang membawanya ke Istanbul ketika ia
berumur sepuluh tahun, dididik oleh Siyavush, seorang ilustrator terkenal yang
mengkhususkan diri melukis wajah di bengkel seni seorang Shah Persia di Tabriz.
Velijan berasal dari silsilah panjang para empu berdarah Mongol, dan seperti
para empu nenek moyangnya yang bosan pada pengaruh Mongol-Cina dan menetap di
Samarkand, Bukhara dan Herat seratus lima puluh tahun yang lalu, ia melukiskan
pasangan kekasih dengan wajahwajah bulat, seolaholah mereka adalah orangorang
Cina. Saat ia menjadi murid hingga ia sudah menjadi seorang empu, aku tak mampu
mengarahkan seniman keras kepala ini untuk beralih pada gaya melukis lain.
Betapa aku menginginkannya berkarya sepenuh jiwa melebihi gaya dan model yang
dicontohkan para empu Herat, Mongol dan Cina, atau bahkan agar ia melupakan
mereka sama sekali. Ketika kukatakan padanya keinginanku ini, ia menjawab bahwa
seperti juga banyak miniaturis yang berpindahpindah bengkel seni, dan bertualang
dari negeri yang satu ke negeri yang lain, ia akan melupakan gaya-gaya lama ini,
jika ia tidak sungguhsungguh mempelajarinya. Meski nilai sebagian besar
miniaturis terletak pada model-model lukisan yang berhasil mereka tanamkan dalam
ingatan mereka, jika Velijan sungguhsungguh melupakan semua itu, ia malah akan
menjadi seorang illustrator yang lebih hebat lagi. Namun, ada dua keuntungan
lain yang tidak ia sadari dengan menyimpan semua pengajaran mentor-mentornya
jauh di dalam lubuk hatinya, seperti sepasang dosa yang tak diakui: 1. Bagi
seorang miniaturis yang demikian hebat, terusmenerus terikat pada bentukbentuk
lama pasti memancing perasaan perasaan bersalah dan keterasingan yang akan
menggodok bakatnya menjadi semakin matang. 2. Dalam masa sulit, ia bisa selalu
mengingat apa yangmenurutnya udah dilupakannya, dan oleh karenanya, ia akan
berhasil menuntaskan ubjek baru, sejarah, atau kejadian apa pun, dengan
menggunakan salah satu model lama Herat. Dengan mata tajamnya, ia tahu bagaimana
menyelaraskan yang ia pelajari dari bentukbentuk lama dan empu-empu lama Shah
Tahmasp dalam lukisanlukisan baru. Lukisan Herat dan gaya hiasan Istanbul dengan
riang berpadu dalam diri Zaitun.
Seperti pada semua miniaturisku, aku juga pernah membuat kunjungan mendadak ke
rumahnya. Tidak seperti wilayah kerjaku dan tempat kerja miniaturis miniaturisku yang lain,
tempat tinggalnya adalah sebuah sarang yang semrawut oleh cat, kuas, bungkus-
bungkus plitur, meja lipat, dan bendabenda lainnya. Itu menjadi sebuah misteri
bagiku, tetapi ia bahkan tidak merasa malu oleh semua itu. Ia tidak mengambil
pekerjaan sambilan untuk mendapatkan beberapa keping perak tambahan. Setelah
kuhubungkan fakta-fakta ini, Hitam berkata bahwa Zaitun-lah yang menunjukkan
gairah paling besar dan yang paling menerima gaya para empu Frank yang dikagumi
oleh almarhum Enishtenya. Aku paham ini berasal dari cara pandang si bodoh yang
sudah mati itu, meskipun itu salah. Aku tidak bisa mengatakan apakah Zaitun
diamdiam merasa lebih memiliki keterikatan batin dengan gaya Herat kembali pada?gaya warisan mentor ayahnya Siyavush dan mentor Siyavush yang bernama Muzaffer,
kembali ke masa Bihzad dan para empu lama dibanding yang ditampakkannya, karena
?aku selalu merasa heran dengan kecenderungan yang ditampakkan atau
disembunyikannya. Dari semua miniaturisku (kukatakan pada diriku dengan serta
merta), Zaitun merupakan yang paling pendiam dan paling perasa, tetapi juga yang
paling besar kesalahannya dan paling berkhianat, serta yang paling hebat dalam
bermuslihat. Ketika aku memikirkan ruang siksaan Panglima, ia yang pertama kali
muncul dalam benakku. (Aku menginginkannya disiksa, sekaligus juga tidak rela.)
Ia memiliki mata laksana jin. Ia mengetahui dan memperhitungkan semuanya,
termasuk kekurangan-kekuranganku. Namun, dengan kehati-hatian seorang eksil yang
mampu menyesuaikan diri pada situasi apa pun, ia jarang salah bicara. Ia amat
lihai, tetapi menurutku ia bukan seorang pembunuh. (Aku tidak
mengatakan hal ini pada Hitam.) Zaitun tidak memercayai apa pun. Ia tidak
percaya pada uang. Ia akan menumpuknya dengan gugup. Bertentangan dengan yang
lazim diyakini orang, semua pembunuh justru adalah orang yang memiliki keimanan
kuat, dan bukan orang yang tak beriman. Manuskrip bergambar mengarah pada
lukisan, dan lukisan pada gilirannya akan berujung pada menantang Allah. Semua
orang tahu tentang hal ini. Maka, dengan mempertimbangkan kekurangan imannya,
Zaitun adalah seorang seniman sejati. Meski demikian, aku percaya bahwa anugerah
Tuhan yang diterimanya itu sama seperti yang diberikan pada Kupukupu, atau
bahkan Bangau. Aku sempat menginginkan Zaitun untuk menjadi putraku. Saat
mengatakan hal ini, aku ingin memancing kecemburuan Hitam, tetapi ternyata ia
hanya menanggapinya dengan membelalakkan sepasang matanya yang gelap dan
menatapku dengan sorot mata seorang anak kecil yang penasaran. Lalu, aku berkata
bahwa Zaitun sangat hebat apabila berkarya dengan tinta hitam untuk ditempelkan
di albumalbum, yakni ketika ia menggambarkan kesatriakesatria, adegan perburuan,
pemandangan alam Cina yang penuh ilham dan dipenuhi bangau, bocah-bocah tampan
berkumpul di bawah sebatang pohon sedang mengaji dan memainkan kecapi, dan
ketika ia melukiskan kesedihan pasangan kekasih legendaris, amukan pedang yang
berkelebat, shah yang marah, dan raut wajah kesatria yang ketakutan saat
menangkis serangan seekor naga.
"Mungkin Enishte menginginkan Zaitun membuat gambar terakhir yang akan
menunjukkan sebuah detail yang luar bisaa dengan gaya Eropa. Wajah Sultan dan
sikap duduknya," ujar Hitam.
Apakah ia sedang berusaha membuatku bingung" "Andai memang demikian, setelah
Zaitun membunuh Enishte, mengapa ia melarikan diri dengan gambar yang sudah ia
kenal betul?" tanyaku. "Atau, mengapa ia harus membunuh Enishte untuk bisa
melihat gambar itu?"
Sejenak kami berdua merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
"Karena ada sesuatu yang hilang dalam lukisan tersebut," tukas Hitam kemudian.


My Name Is Red Karya Orhan Pamuk di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Atau karena ia menyesali sesuatu yang telah dilakukannya dan ketakutan
karenanya. Atau bahkan ..." ia berpikir selama beberapa saat. "Atau, setelah
membunuh Enishte, ia mengambil lukisan itu untuk melakukan kejahatan lain, demi
mendapatkan sebuah kenang-kenangan, atau bahkan tanpa alasan sama sekali. Lagi
pula, Zaitun adalah seorang illustrator hebat yang secara naluriah amat
menghargai keindahan sebuah lukisan."
"Kita sudah mendiskusikan seperti apa Zaitun sebagai seorang ilustrator yang
hebat," seruku, menjadi gusar. "Tetapi tak satu pun lukisan Enishte yang indah."
"Kita belum melihat lukisan yang terakhir," ujar Hitam dengan lugas.
Sifat-sifat Kupukupu Ia dikenal sebagai Hasan Chelebi dari Pabrik Mesiu, tetapi bagiku ia selalu
menjadi "Kupukupu." Julukan ini selalu mengingatkanku pada keindahannya sebagai
seorang bocah lelaki tampan dan muda: Ia sangat tampan sehingga mereka yang
melihatnya kerap tidak memercayai mata mereka dan selalu ingin memandang untuk
kedua kalinya. Aku selalu terpukau oleh keajaibannya yang
memiliki bakat sehebat ketampanannya. Ia adalah empu dalam bidang warna dan ini
adalah kekuatan terbesarnya. Ia melukis dengan penuh gairah, menyatu dengan
kesenangan memulas warna, Namun, aku memperingatkan Hitam bahwa Kupukupu agak
banyak tingkah, serampangan, dan peragu. Dengan sedikit cemas, aku menambahkan:
Ia adalah seorang miniaturis tulen yang melukis dengan hati. Jika seni menghias
tidak dimaksudkan untuk menunjukkan kepintaran, untuk berbicara dengan sisi
hewani dalam diri kita, atau untuk mengagungkan martabat Sultan; yakni, jika
seni memang dimaksudkan untuk menjadi sebuah perayaan bagi mata, Kupukupu tak
pelak lagi benarbenar seorang miniaturis sejati. Ia membuat lengkungan-
lengkungan yang lebar, sederhana dan berkesan riang, seakanakan ia pernah
mendapat pelajaran dari para empu Kazvin empat puluh tahun yang lalu. Dengan
sangat percaya diri ia membubuhkan warna-warnanya yang terang dan murni, dan
selalu ada sebuah lingkaran lembut yang disembunyikan di dalam komposisi
lukisannya. Namun, akulah yang telah mendidiknya, bukan para empu Kazvin yang
sudah lama mati itu. Mungkin untuk alasan inilah aku sangat mencintainya seperti
anak lelakiku sendiri tidak, bahkan lebih daripada seorang anak meski aku tak ? ?pernah merasa kagum padanya. Sebagaimana yang terjadi dengan semua muridku, di masa kanakkanak dan remajanya aku pernah
memukulnya dengan gagang kuas, penggaris, dan bahkan sepotong kayu, tetapi bukan
berarti aku tidak menghargainya. Meski aku lebih sering lagi memukuli Bangau
dengan penggaris, aku juga menghormatinya. Berlawanan dengan apa yang akan
dipikirkan oleh mereka yang menyaksikannya, pukulan
seorang empu tidak akan mengusir jin bakat dan setan dalam diri murid-muridnya,
melainkan hanya memberangusnya untuk sementara. Jika kebetulan hal itu merupakan
pukulan yang baik dan layak diterimanya, sesudahnya para jin dan setan akan
bangkit dan merangsang minat miniaturis yang sedang berkembang itu agar menjadi
lebih baik. Sedangkan, pukulan-pukulan yang kujatuhkan pada Kupukupu justru
membentuknya menjadi seorang seniman yang berpuas diri dan penurut.
Aku segera merasa perlu memujinya di depan Hitam. "Kepiawaian seni Kupu kupu,"
ujarku, "adalah bukti kuat bahwa membuat lukisan kebahagiaan, yang oleh sang
penyair ternama direnungkan dalam puisi matsnawi-nya, hanya mungkin dicapai
melalui anugerah Tuhan berupa pemahaman dalam memulas warna. Ketika aku
menyadari hal ini, aku langsung tersadar pada kekurangan-kekurangan yang
dimiliki Kupukupu: Ia tidak mengenal kehilangan iman untuk sesaat yang
dinyatakan Jami dalam puisinya sebagai 'malam gelapnya jiwa.1 Seperti seorang
illustrator yang melukiskan kebahagiaan hakiki surga, ia membuat karyanya
dipenuhi keyakinan dan kepuasan hati, meyakini bahwa ia bisa membuat sebuah
lukisan yang menggambarkan kebahagiaan, dan ia memang berhasil melakukannya.
Bala tentara kita yang sedang menguasai kuil Doppio, duta besar Hungaria yang
sedang mencium kaki Sultan, Rasulullah yang sedang naik ke surga ketujuh, semua
ini tentu saja adalah gambaran-gambaran yang membahagiakan, dan oleh Kupu kupu
semua gambaran tersebut menjadi luapan kegembiraan yang melesat keluar dari
halaman buku. Dalam salah satu ilustrasiku, jika kegelapan maut atau keseriusan
sebuah rapat pemerintahan membebani gambarku, aku akan
mengatakan pada Kupukupu agar 'mewarnainya dengan apa yang menuturmu tepat,1 dan
kemudian pakaian-pakaian, dedaunan, bendera, dan laut yang terbentang dibuat
seakan bertaburan pasir agar menambah kesenduan, seakanakan beriak diterpa angin
semilir. Ada masanya ketika aku berpikir betapa Allah menginginkan dunia ini
dilihat sebagaimana Kupukupu menggambarkannya, bahwa Allah menginginkan
kehidupan menjadi sebuah perayaan. Dan memang demikian, ini adalah sebuah dunia
di mana warnawarna dengan harmonis saling mendeklamasikan syair yang luar bisaa,
di mana waktu terhenti, di mana setan tak pernah muncul."
Namun, Kupukupu tahu bahwa ini semua tidak cukup. Seseorang pasti telah dengan
tepat ya, dalam ukuran yang tepat berbisik padanya bahwa di dalam karyanya ? ?segala sesuatu menjadi seriang hari libur, tetapi sama sekali tidak mendalam.
Para pangeran cilik dan para perempuan harem tua yang sedang sekarat, akan
menikmati lukisanlukisannya, bukan tokoh-tokoh dunia yang terpaksa harus
berperang melawan iblis. Karena Kupukupu menyadari kritik semacam ini, lelaki
malang itu, sesekali ia merasa cemburu pada para miniaturis kebanyakan yang
meskipun tidak begitu berbakat dibandingkan dirinya, tetapi terasuki para setan
dan jin. Keyakinan salahnya tentang menjadi sejahat iblis dan tentang karya-
karya jin, menjadi lebih sering terjadi dibanding kejahatan dan iri hati yang
tidak terbuka. Ia menjengkelkanku, karena ketika melukis, ia tidak membebaskan dirinya dalam
dunia yang mengagumkan itu, ataupun memasrahkan diri pada kenikmatannya,
melainkan hanya mencapai tingkat di mana ia membayangkan karyanya akan membuat
senang orang lain. Ia membuatku geram karena ia memikirkan uang yang akan diperolehnya. Ini
adalah ironi lain kehidupan. Ada banyak seniman yang tidak begitu berbakat dan
tidak lebih hebat daripada Kupukupu yang memasrahkan diri mereka pada karya seni
mereka. Demi memperbaiki kekurangannya ini, Kupukupu bekerja keras membuktikan bahwa
dirinya sudah banyak berkorban untuk seni, Seperti miniaturis-miniaturis tolol
yang melukis di atas kuku-kuku jari dan butiran padi, gambargambar yang nyaris
tak terlihat oleh mata telanjang, ia hanyut dalam keterampilan tangan membuat
sesuatu yang amat kecil dan halus. Aku pernah bertanya padanya apakah ia sendiri
akan menyerahkan diri pada ambisi yang telah membuat buta banyak ilustrator di
usia mudanya itu, karena ia malu pada karunia amat besar yang telah diberikan
Allah padanya. Hanya miniaturis-miniaturis aneh yang melukis setiap helai daun
dari sebatang pohon yang mereka buat di atas sebutir padi agar namanya terkenal
dan untuk meraih kedudukan penting di mata tokoh-tokoh yang bodoh.
Kecenderungan Kupukupu dalam merancang dan membuat ilustrasi lebih untuk
menyenangkan orang lain daripada dirinya sendiri. Keinginannya yang tak bisa
dikendalikan untuk menyenangkan orang lain, membuatnya menjadi seorang budak
pujian, lebih dari siapa pun. Dan hal itu diikuti kenyataan bahwa seorang
Kupukupu yang tak berpendirian ingin memastikan kedudukannya dengan menjadi
seorang Kepala Iluminator. Hitamlah yang memunculkan masalah ini.
"Ya," kataku, "aku tahu ia sedang bersiasat untuk menggantikanku setelah aku
mati." "Apakah menurut Anda hal itu bisa mendorongnya
membunuh saudaranya sesama miniaturis?"
"Bisa saja. Ia seorang empu hebat, tetapi ia tidak menyadari hal ini, dan ia
tidak mampu meninggalkan dunia di belakangnya ketika ia melukis."
Aku mengatakan hal ini, lalu aku menyadari bahwa sesungguhnya aku pun
menginginkan Kupukupu memimpin bengkel seni setelah aku. Aku tidak bisa
memercayai Zaitun dan Bangau pada akhirnya akan dengan bodohnya menjadi budak
gaya Venesia. Kebutuhan Kupukupu untuk dikagumi aku gusar dengan pikiran bahwa ?ia bisa mencabut nyawa orang menjadi penting dalam menangani bengkel seni dan
?juga Sultan. Hanya kepekaan Kupukupu dan keyakinannya terhadap paletnya sendiri
yang bisa menahan pengaruh seni Venesia yang menipu para penikmat seni, dengan
berusaha menggambarkan kenyataan itu sendiri daripada pengandaiannya, dalam
semua detailnya: gambar, bayangan, para kardinal, jembatan, perahu dayung,
batangan lilin, gereja dan kandang-kandang kuda, lembu dan kereta beroda,
seakanakan semua itu sama pentingnya di mata Allah.
"Pernahkah ada suatu waktu ketika Anda mengunjunginya tanpa pemberitahuan
sebelumnya, sebagaimana yang Anda lakukan pada yang lainnya?"
"Siapa pun yang melihat karya Kupukupu akan segera merasakan adanya kesan bahwa
ia memahami nilai cinta dan makna kegembiraan dan kesedihan yang mendalam.
Namun, sebagaimana para pencinta warna lainnya, ia terhanyut dengan perasaan dan
ia adalah orang yang tidak berketetapan hati. Tentu saja, dalam situasi seperti
itu, miniaturis lainnya akan segera cemburu dan hubungan empu murid menjadi
tegang dan rusak. Ada banyak sekali saat-saat penuh cinta di mana Kupukupu tidak merasa takut terhadap
apa yang akan dikatakan orang lain. Belakangan ini, sejak ia menikah dengan
putri penjual buah-buahan tetangganya yang cantik jelita, aku tidak berhasrat
Kisah Pedang Di Sungai Es 12 Fear Street - Cowok Misterius The Knife Pendekar Sadis 21
^