Pencarian

Ramalan Malapetaka 2

Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer Bagian 2


bagaikan seorang perwira tinggi. Ia berhenti dekat tempat Rob dan
meletakkan tangannya di ambang jendela. Rob melihat bahwa
kukunya bersih. Rob jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah orang ini
orang Indian. "Mr. Hawks?" tanya Isely.
"Benar," jawab Hawks. Memang dia adalah John Hawks.
Orang itu membungkuk dan mempelajari wajah semua yang ada
di dalam mobil. "Anda siapa?" ia bertanya kepada Isely.
"Namaku Bethel Isely."
"O, Anda yang bernama Isely," kata Hawks, dan nampak jelas
bahwa ia tidak menyukai nama tersebut.
"Ini Mr. Vern dan isterinya," kata Isely menjelaskan. "Mereka
dari Perwakilan Perlindungan Lingkungan. Dapatkah kami lewat?"
Hawks memusatkan pandangannya pada Rob. Daya di dalam
kedua mata orang itu sungguh menakutkan. Maggie memalingkan
muka dan memandang lewat kaca depan. Ia melihat bahwa salah satu
di antara orang Indian itu seorang wanita. Mata kedua wanita bertemu.
Pandangan Romona menyorot tajam.
"Saya dengar bahwa Anda datang ke mari untuk bekerja
sendiri," kata Hawks kepada Rob. "Itu menurut kata Senator."
"Saya bekerja sendiri, bebas," jawab Rob. Ia heran akan
suaranya sendiri. Rasanya tak pasti dan lirih, sangat berbeda dengan
suara orang Indian itu. "Kenapa Anda berada di dalam mobil ini?"
Rob menggertakkan gigi. Tadi ia telah merasakan kekeliruan
ini. "Mr. Vern berada di mobil ini karena saya telah memintanya,
Mr. Hawks," jawab Isely. "Saya telah berjumpa di lapangan terbang
dan mengantarkannya ke mari karena takut akan terjadi hla yang
serupa ini." "Anda keliru memilih mobil," jawab Hawks. "Tidak satu pun
mobil dari perusahaan penebangan dapat lewat."
Isely melemparkan pandangannya ke Rob, kemudian kembali
ke orang Indian itu. "Ini melanggar hukum, Mr. Hawks."
"Bagaimanakah Anda memilih hukum mana yang dapat
dilanggar?" "Saya tidak akan duduk-duduk di sini untuk bersilat lidah
dengan Anda. Mahkamah Tertinggi telah mengeluarkan larangan
terhadap pemblokiran ini."
Kini wanita Indian itu mendekat. Ia berdiri mendampingi
Hawks, seakan-akan untuk memberikan dukungan manakala orang itu
menjadi lemah. "Hello, Romona," Isely menyapa dingin.
"Mr. Isely," jawab gadis itu sama dinginnya.
"Kau ikut juga, Romona?"
Mulut gadis itu menegang. "Tuntutan darah saya, Mr. Isely."
"Kau akan menghadapi banyak kesulitan," kata Isely lagi.
"Sudah sewajarnya, Mr. Isely."
Sekali lagi mata Romona bertemu dengan pandangan Maggie.
Hati Maggie sedikit kuncup oleh pandangan gadis itu.
Isely mengeluarkan nafas panjang sambil memandang ke depan.
"Kita jalan kaki saja?" usul Rob kepada Isely.
"Lima belas kilo?"
"Apakah tidak ada jalan lain?"
"Sayang tidak."
"Kita kembali saja," kata Rob.
Tetapi Isely tak mengacuhkan kata Rob dan berpaling kepada
Hawks. "John, dengarkan ..."
"Mr. Hawks," tukas Hawks mengoreksi.
"Mr. Hawks Anda harus memberitahukan kepada teman-teman
itu agar menyisih." "Baiklah, akan saya perintahkan sekarang juga, Mr. Isely."
Berkata begitu Hawks berpaling kepada teman-temannya dan
memberikan tanda agar mereka menyisih. Kesepuluh orang Indian itu
melangkah minggir dan nampaklah rantai besar yang diikatkan pada
dua pohon di kanan-kiri jalan dengan sambungan yang digembok.
Wajah Isely berubah warna menjadi merah padam. "Saya kira
tidak akan ada gunanya kalau saya mengatakan kepada Anda untuk
membuka gembok itu, bukankah demikian, Mr. Hawks?"
"Cobalah," kata Hawks.
"Maukah Anda membuka gembok itu?"
"Tidak." Isely dengan cepat turun dari mobil. "Kelso?" Serunya kepada
orang di mobil yang Iain. "Cobalah, robohkan dua pohon itu."
Di dalam mobil Rob dan Maggie bertukar pandangan
kecemasan. Di belakang mereka, suara mesin tiba-tiba memecah
kesunyian. Kelso, yang berbadan kokoh itu, tiba-tiba sudah berada di
tengah jalan dengan gergaji mesin berdengung di tangannya.
Semua orang bergerak. Orang-orang Indian itu menyisih, Kelso
dan temannya bergerak maju, Hawks lari ke dekat rantai untuk
mengambil sebuah kapak besar bertangkai panjang dan
mengacungkannya tinggi-tinggi sebagai tanda peringatan.
"Nah, John ... " Isely mulai berbicara tetapi dipotong Hawks.
"Mr. Hawks!" teriak Hawks mengatasi kebisingan bunyi mesin
gergaji. "Mr. Hawks, jangan bertindak bodoh."
"Anda tak akan bisa lewat, Mr. Isely."
Mata Hawks kelihatan liar, nampak adanya perasaan gentar
juga. Rob turun dari mobil dan menarik tangan Isely.
"Saya bilang, saya tak mau terus."
"Saya yang mau."
"Apa gunanya?" "Soalnya, kita tak boleh mundur karena ditakut-takuti."
"Begini...." "Kalau kita putar haluan, kitalah yang akan sulit. Mereka akan
kembali dan bercerita kepada semua orang bahwa mereka telah
menang, dan lain kali mereka akan berdiri lagi di sini dengan barisan
yang tiga kali lebih besar."
"Kalau sampai jatuh kurban...."
"Tidak mungkin mereka itu hanya main gertak sambal." Isely
kemudian berpaling kepada orang-orangnya. "Kelso, tebang pohon
itu!" Orang yang bernama Kelso itu maju dengan gergaji mesin di
tangan. Rob dapat melihat pada pandangan orang itu bahwa ia sudah
geregetan untuk segera mulai bertempur. Badannya lebih besar
daripada Hawks dan nafsu berkelahinya sudah menyala-nyala.
Romona berdiri di samping Hawks, tangan terkepal seakan-akan siap
untuk menerima pukulan. Hawks mengulurkan tangan untuk
mendorong gadis itu perlahan ke samping sedang dia sendiri tetap di
tempat menghadang orang yang maju dengan gergajinya.
"Rob!" teriak Maggie dari dalam mobil.
"Jangan biarkan ini terjadi, Isely!" seru Rob kepada Isely.
"Menyingkirlah, Hawks!" kata Isely sekali lagi.
Hawks mengangkat kapaknya setinggi dada. "Pohon itu tak
akan roboh sebelum leherku terpotong!"
"Terserah!" jawab Isely. "Kelso. Gergaji pohon itu!"
"Tunggu dulu!" teriak Rob. Tetapi suaranya tak terdengar
karena kebisingan bunyi gergaji yang menghantam kulit pohon.
Apa yang terjadi berikutnya sukar digambarkan karena
cepatnya. Begitu gergaji itu mengenai kulit pohon, Hawks
memukulnya ke atas dengan pegangan kapaknya. Sesaat lamanya
kedua orang laki-laki itu berhadapan bagaikan dua gladiator. Kedua
senjata berbenturan. Bunga api bepercikan ketika logam dan logam
beradu. "Hentikan!" jerit Maggie.
Tetapi terlambat. Kedua orang itu sudah tak terpisahkan.
Mereka berputar-putar dengan senjata masing-masing di tangan.
Semua yang melihat maju dan berteriak tak keruan.
"John, jangan!" teriak Romona.
"Hentikan dia, Isely!" erang Rob.
"Kelso!" Udara penuh dengan suara logam berdentangan, penonton
mundur ngeri penuh kepanikan. Gergaji mesin itu menyerang maju
sedang kapak Hawks mengayun dengan lengkungan lebar,
pemegangnya berputar untuk menyerang dan menghindar, sehingga
medan perkelahian bertambah luas. Kelso menjadi pihak penyerang
sedang Hawks menggunakan senjata secara defensif dengan
menangkis dan menghindar setiap gergaji itu berdesing lewat dekat
kepalanya. Dengan dentangan keras, gergaji itu berbenturan dengan mata
kapak; Hawks kehilangan keseimbangan sehingga terjengkang dan
jatuh. Kelso melompat ke arahnya, tetapi kaki Hawks menghantam
dadanya, membuat lawannya terlempar ke udara. Hawks melompat
berdiri dan menerjang menuju Kelso dengan menyuarakan jeritan
perang yang nyaring dengan kapak siap di tangan. Kelso terhempas
pada kap mobil. Bagai terbang Hawks menyusul dan menekankan
gagang kapaknya ke leher lawan. Kelso tak berdaya kini, matanya
melotot ketika tekanan Hawks menjadi semakin keras.
"Cukup!" teriak Isely. "Lepaskan dia!"
"Jatuhkan dulu gergaji itu!" seru Hawks kembali. "Jatuhkan,
Kelso!" Tetapi Kelso seperti tidak mendengar. Sambil meringis dan
menjerit nyaring bagaikan binatang buas, ia mengangkat lututnya dan
menghantamkannya dengan tak tersangka di antara kedua kaki
Hawks. Seluruh tubuh Hawks bergetar, tetapi ia tetap berdiri di
tempatnya seraya menekankan gagang kapaknya semakin keras.
Sekali lagi lutut Kelso mengenai sasaran, dan Hawks kehilangan
keseimbangan. "Hentikan!" jerit Maggie nyaring.
Kelso mengumpulkan seluruh tenaga dan menerjang untuk
ketiga, kalinya. Tendangan kali ini sungguh-sungguh melemaskan.
Hawks mencoba berdiri tegak, tetapi kaki Kelso mengenai perutnya
tanpa ampun. Hawks terbungkuk dan kaki lawan menghantam
mukanya. Hawks terjengkang dan Kelso mengejar. Gergaji yang
masih mendesing terus itu menghantam batu sehingga bunga api
memercik. Untung Indian itu telah menggulingkan tubuhnya.Kalau
tidak, kepalanya yang kena. Keduanya bergulingan di tanah, ketika
Hawks mencoba menangkis gergaji dengan pegangan kapaknya.
Tetapi gagang kayu itu hancur menjadi berkeping-keping, dan tibatiba segala
gerak terhenti. Hawks terbaring tak bergerak, matanya
melotot lebar dan memandang ke mata Kelso ketika gergaji mesin itu
diturunkan ke arah jakunnya sampai jarak beberapa sentimeter.
"Pilih salah satu!" gertak Kelso. "Kepalamu atau pohon-pohon
itu!" "Kau hancurkan hutan ini, dan hutan ini akan
menghancurkanmu!" "Baiklah!" Gergaji itu turun sampai persis mengenai kulit.
"Berhenti!" teriak Rob sambil melompat mendekat.
"Hentikan, Kelso!" seru Isely kepada orangnya.
"Suruh orang Indian ini membuka rantai itu!" tukas Kelso.
"Bukalah, Hawks!"
"Jangan!" perintah Hawks kepada orang-orangnya. "Jangan
buka!" "Kalau tidak, saya bunuh dia!" teriak Kelso.
"Bukalah!" ulang Rob.
"J angan !" Rob berpaling kepada Romona. Mata gadis itu membelalak
lebar penuh rasa ngeri. "Bukalah! Apa gunanya semua ini?"
"Untuk membuktikan bahwa mereka itu pembunuh!"
"Jangan buka!" perintah Hawks kepada gadis itu.
"Pembunuh!" jerit Romona kepada Isely.
"Tidak!" kata Rob kepada Romona. "Semua ini tak
membuktikan apa-apa! Tindakan kalian ini bertentangan dengan
hukum! Orang-orang itu mempunyai hak untuk masuk hutan! Kalian
memblokir jalan mereka! Kalian angkat senjata! Orang ini akan mati
di sini tetapi itu tak akan membuktikan sesuatu pun!"
Gergaji itu menyerempet segaris merah di leher Hawks. Mata
Romona semakin melotot ketakutan.
"Siapa pun yang memegang kunci gembok itu, adalah seorang
pembunuh!" Rob lebih merintih daripada berkata-kata.
"Jangan buka!" teriak Hawks lagi sementara darah menetes dari
lehernya. "Akan saya bunuh dia!" teriak Kelso nyaring.
Dengan gerak mendadak, Romona berlari ke salah seorang
temannya dan merenggut kunci yang tergantung pada ikat
pinggangnya, kemudian bergegas menuju gembok.
"Jangan!" jerit Hawks.
Romona membuka gembok dan mengangkat tangannya tinggitinggi untuk mengatakan
bahwa ia telah melakukannya. Tiba-tiba
suasana menjadi sunyi senyap. Mesin pada gergaji itu berhenti
mendesing. Tidak seorang pun bergerak. Seluruh hutan tak
mengeluarkan suara. Sepi mengerikan.
Kelso masih menindih tubuh Hawks dengan mata yang melotot
garang. Kemudian ia meludahi muka orang Indian itu. Hawks diam
tak bergerak. Kelso akhirnya bangkit sambil menendang orang Indian
itu. "Kalau di sini tidak ada nyonya berkulit putih ini, saya kencingi
kau!" Berkata begitu ia berbalik dan berjalan menuju mobil. Pintu
mobil berdebam ketika ia telah masuk.
"Maaf atas kejadian ini, Hawks," kata Isely. "Sungguh, saya tak
menginginkan hal semacam ini." Ia pun menuju ke mobilnya. "Mr.
Vern?" katanya kepada Rob. Rob sedang berdiri di dekat Hawks dan
memandangi orang Indian itu. Ia dapat merasakan apa yang terjadi di
hati orang itu. "Anda tidak apa-apa?" tanya Rob lirih.
Hawks tidak menjawab. Juga tidak bergerak. Ludah lawannya
masih menempel di mukanya. Pada lehernya terdapat goresan yang
dengan cepat tertutup darah mengental. Rob melihat sesuatu yang lain.
Di mata orang Indian itu nampak air mata menggenang.
"Mr. Vern?" kata Isely lagi.
Rob mengangguk dan melangkah perlahan menuju mobil. Ia
duduk kembali di samping Maggie.Pandangan Maggie masih nanar
menatap Romona. Gadis Indian itu membelakangi mereka dengan
kepala tertunduk ke arah sebatang pohon. Maggie tahu, gadis itu
menangis. "Kalau tahu akan terjadi seperti itu....," kata Isely kepada Rob,
"saya akan mempertaruhkan apa saja untuk menghindarinya. Tak
mengira ia akan benar-benar melawan."
"Mari, kita berangkat saja," ajak Rob memotong segala
pembicaraan. Kedua mobil kuning dari Pitney Paper Mill itu bergerak
perlahan-lahan meninggalkan tempat, menggilas rantai yang sudah
terhampar di tanah dan meneruskan perjalanan masuk hutan.
Chapter 7 PERJALANAN selanjutnya sampai Mary's Lake berlangsung
dalam suasana diam. Rob, Maggie maupun Isely bagaikan terkena


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mati-rasa akibat peristiwa kekerasan yang begitu tiba-tiba dan tak
tersangka-sangka. Isely mencoba memberikan semacam pembelaan
atas sikap keras kepalanya untuk menerobos rintangan yang dipasang
Hawks dan teman-temannya. Tetapi semua tak didengarkan. Baik Rob
maupun Maggie tak memberikan tanggapan apa pun.
Mereka sampai di tepi danau itu ketika hari hampir sore. Rob
menggandeng tangan Maggie dan mereka naik ke sampan kecil yang
disediakan Isely bagi mereka. Selain sampan itu, Isely juga
menyediakan mobil, sehingga mereka bebas untuk pergi ke kota atau
ke mana saja sekehendak hati. Andaikata tidak ada kejadian siang tadi
semua ini sungguh-sungguh ideal. Tetapi Rob dan Maggie telah
merasa sangat terluka. Luka parah yang entah dapat disembuhkan atau
tidak. Motor tempel mereka mendengung selagi sampan itu
menyibakkan permukaan air yang mulus. Burung-burung menyelam
di sekitar mereka, dan ikan meloncat dari air, tak peduli akan
gangguan sampan mereka. Di depan mereka nampak sebuah pulau
kecil di tengah danau, yang ditumbuhi serumpun pepohonan tusam. Di
tengahnya terdapat sebuah pondok. Pondok itu kecil, terbuat dari
batang-batang kayu. "Kelihatannya bagus," kata Maggie ketika sampan mereka
bertambah dekat. Tetapi sebenarnya tidak bagus. Nampaknya pondok
itu sangat terpencil dan kemungkinan besar akan membosankan.
Pondok itu sepi dan gelap, seakan-akan telah beberapa tahun tak
dihuni manusia. "Kita harus memecahkan kebisuan ini," kata Rob.
"Aku tahu." Rob cepat mendekati sebuah lampu minyak yang segera
dinyalakannya. Sesaat mereka berpandangan dalam sinar yang cukup
terang. "Lihat tungku itu," kata Rob.
Tungku itu terbuat dari batu dan memenuhi satu dinding sendiri.
"Wou," sahut Maggie melongo.
"Tidak jelek, Maggie. Tempat ini kiranya cukup
menyenangkan." Maggie memaksa dirinya tersenyum berani.
Rob menyelidiki lemari-lemari dan menemukan bahwa orang
telah melengkapi pondok kecil itu dengan segala keperluan. Makanan
kaleng, pukul besi dan paku, kapak; lilin dan korek api, PPPK, bahkan
kartu mainan. Seluruh pondok adalah satu ruangan besar, tetapi
dapurnya dibuat lebih rendah, dan kamar tidur berada di tingkat atas.
Maggie memanjat ke atas dan melihat ranjang besar yang cukup
nyaman. Ternyata semuanya cukup menyenangkan.
"Rupanya akan menyenangkan juga," kata Rob.
Mereka berdua mulai sibuk. Maggie berkemas-kemas. Rob
menyalakan sebuah lampu minyak lagi dan kemudian menghidupkan
tungku yang sangat besar itu.
"Bagaimana dengan makan malam kita?" seru Maggie dari
kamar tidur. "Oh, kan ada makanan kaleng," jawab Rob. Kemudian ia
berhenti ketika dilihatnya sebuah gagang pancing tersandar di pojok.
"Atau, kita makan ikan segar saja?"
"Alangkah enaknya."
"Kau mau?" "Tentu. Dengan kentang bakar."
"Kau mau membersihkannya?"
"Kentang itu?" "Ikannya?" "Ikan yang mana?"
"Yang akan kutangkap sebentar lagi." Berkata begitu Rob
mengacungkan gagang pancingnya.
Beberapa lama Maggie masih tercenung. Api dalam tungku
telah menyala besar. Maggie mengeluarkan cellonya dan dibawanya
ke dekat tungku. Setelah senar-senar disetel semestinya, Maggie mulai
bermain. Selagi Rob mencari ketenangan dengan caranya, Maggie
mendapatkannya dari alat musiknya. Alunan lembut mengisi pondok
kayu itu dan menghilangkan ketegangan yang telah menumpuk
seharian itu. Rob yang berdiri di luar dalam sinar senja dapat mendengar
musik yang lembut itu, dan rasa tenang menyelusup ke dalam hatinya.
Ia merasa dirinya sangat beruntung. Nasibnya baik dalam segala hal.
Ia jadi bertanya-tanya mengapa ia begitu sedikit menggunakan waktu
untuk menikmatinya. Pikiran Rob tiba-tiba terganggu; tali pancingnya bergoyang dan
ia merasakan tarikan keras. Ternyata seekor salmon kecil sedang
berusaha keras untuk melepaskan diri. Tetapi tenaganya segera habis
dan Rob menariknya ke pinggir. Dengan mengaitkan jari pada ingsang
ikan itu, Rob memeriksanya, kagum akan keindahannya dalam sinar
senja yang mulai redup. ****************************************
Jauh di sebelah lain danau itu, John Hawks duduk sendiri dalam
gelap dengan pandangan yang mengarah ke pulau tadi. Ia teringat,
sewaktu ia masih kecil, di pulau itu belum ada pondoknya dan anakanak Indian
biasa bermain-main di sana, melatih ketangkasan
berenang dan bersampan-sampan. Kemudian Morris Pitney
mendirikan pondok itu, dan pulau tersebut dinyatakan terlarang bagi
orang kulit merah. Setelah peristiwa siang tadi, Romona telah membawa Hawks ke
perkemahan kakeknya. Luka lelaki itu diobatinya dengan ramuan akar
dan lumut paya. Obat itu menghilangkan rasa sakit pada dagingnya,
tetapi kepedihan hatinya tidaklah berkurang. Berjam-jam lamanya
Hawks duduk diam sambil merenungi api di perapian dan
mendengarkan M'rai bercerita tentang makhluk-makhluk hutan yang
aneh-aneh. Setelah M'rai menarik diri, ia dan Romona masih tetap diam
beberapa lama. Akhirnya Romonalah yang memecah kesunyian
malam itu. "Kau akan mati karena sombongmu, John," kata Romona. "Kau
telah belajar itu dari orang kulit putih. Pelajaran yang tak berguna."
Hawks memalingkan muka kepada gadis itu. Wajahnya
menegang karena kecaman tadi.
"Saya telah belajar berbangga diri dari orang Indian," jawabnya.
"Ada perbedaan besar antara kebanggaan diri dan
kesombongan." "O ya?" Gadis itu mengangguk. Nada suaranya lembut dan penuh kasih
sayang. "Kebanggan diri datang dari pengetahuan tentang apa yang
tak sanggup kita lakukan. Kesombongan adalah sebaliknya."
"Kau telah mulai membuka-buka kamus di perpustakaan lagi?"
"Ya." Romona mendekat dengan harapan agar Hawks mau berpaling
kepadanya. "Kami tidak membutuhkan kau untuk mati demi kami
semua, John," kata Romona. "Kami membutuhkan kau agar hidup
untuk kami. Agar menyembuhkan luka-luka kami, bukan
memperdalamnya. Aku keliru, mengatakan bersedia bertempur di
sampingmu. Aku tidak mengira bahwa kau hanya mau mati untuk
kami." "Aku bukan bermaksud untuk mati. Tetapi aku bersedia."
"Kau marah padaku, karena aku telah menghalangimu tadi?"
Betapa beruntungnya mempunyai seorang Romona, pikir
Hawks. Gadis itu mempunyai kebijaksanaan yang dapat menembus
bentengnya. Mendengar pertanyaan Romona itu, ia hanya dapat
geleng kepala. "Aku tidak tahu," jawab Hawks akhirnya lirih.
"Banyak hal di hutan ini yang tidak kauketahui," kata Romona.
"Katahnas, yang menyerang daya ingat orang itu?"
"Kau sudah tahu?"
"Ya." "Dan tentang bayi-bayi yang lahir-mati?"
Hawks terbeliak tak mengerti. "Tidak."
Romona mulai bercerita. Hawks mendengarkan penuh
perhatian. Ia dapat melihat kepedihan hati dalam pandangan gadis itu.
"Kita akan hancur. Bangsa kita sedang menghadapi
kepunahan." "Siapa saja yang tahu tentang hal ini?"
"Tak seorang pun. Hanya aku. Wanita-wanita itu malu berterus
terang." "Mengapa tak kauceritakan hal ini kepada siapa pun"
"Aku takut. Orang-orang kota sedang marah kepada kita."
Hawks mengepalkan tinjunya.
"Siapa yang dapat kita percayai. Orang-orang pemerintah
mungkin?" "Orang pemerintah adalah yang paling tidak dapat kita
percayai," jawab Hawks geram.
"Orang tadi siang nampaknya orang baik. Yakin, dia orang
baik." "Kita perlu dokter, bukan politikus."
Romona mengangguk setuju.
"Berapa orang di desa ini yang sedang hamil sekarang?"
"Saat ini hanya dua."
"Kita bawa mereka ke Portland."
"Mereka tak akan mau pergi."
"Kau harus yakinkan mereka."
"Mereka malu " "Tetapi seorang dokter kulit putih tak kan mau meninggalkan
Portland dan pergi jauh-jauh untuk membantu dua orang Indian."
Suara lelaki itu menjadi keras karena kejengkelan.
"Baiklah, akan saya usahakan," bisik Romona.
Dan ia bangkit. "Mona." Romona berhenti dan menoleh. Hawks berdiri dan
mendekatinya. "Jangan pergi sekarang."
"Sudah tak ada yang perlu dibicarakan."
"Aku tahu," bisik Hawks, dan ia tunduk tak tahu mau berkata
apa. "Kau tahu, apa kata kakekku, John" Tentang kata-kata?"
Hawks geleng kepala. "Bahwa orang menemukan penggunaan kata-kata untuk
menyembunyikan perasaan."
Ketika Hawks mengangkat matanya kepada gadis itu, matanya
basah. "Aku senang, kau masih bisa takut, John," bisik Romona. "Aku
takut kau sudah kehilangan bagian yang manusiawi dari dirimu."
Dalam kegelapan, jengkerik dan belalang yang tadi tiba-tiba
membisu kini mulai memperdengarkan suaranya.
**************************************
Malam itu sunyi. Rob telah tidur nyenyak, tetapi Maggie masih
melek seraya memandangi bayangan dari api tungku pada langit-langit
kamar. Tiba-tiba telinganya menangkap suara tertentu. Seakan-akan
ada entah apa yang menggaruk-garuk pada papan di pintu luar. Suara
garuk-garuk itu berhenti; digantikan oleh ketukan keras yang makin
lama makin cepat dan makin keras, kemudian mendadak berhenti.
Mungkin karena merasa tubuh Maggie menegang, Rob terbangun.
Dan suara itu berulang lagi. Kini lebih cepat. Keduanya duduk dan
mendengarkan dengan mata yang membeliak penuh tanda tanya dan
kecemasan. "Apa itu?" bisik Maggie.
Rob menggelengkan kepala. "Di mana senter?"
"Di bawah." Rob bangkit dari tempat tidur dan turun dengan cepat. Setelah
menemukan senter itu, ia melangkah ke pintu. Suara itu bertambah
cepat. Maggie bangkit dan melongok ke bawah dengan wajah
ketakutan. "Apa?" bisiknya.
"Entahlah." Rob melepas kancing pintu dan memegang tanganannya. Ia
berdiam diri untuk mengumpulkan keberaniannya.
"Jangan, jangan buka!" desis Maggie dari atas.
Tetapi Rob telah menarik tanganan pintu dan pintu itu terbuka.
Di kaki Rob terbaring seekor rakun, dengan muka ke atas dan seperti
sedang sekarat. Matanya basah, mulutnya berbuih, cakarnya bergetar.
Rob memandang ke Maggie. "Awas!" jerit Maggie tiba-tiba.
Tanpa terduga-duga, makhluk yang sedang sekarat itu tiba-tiba
melompat, dan tahu-tahu telah bertengger di punggung Rob dengan
cakar yang menghunjam tajam.
"Ya Tuhan!" teriak Maggie panik.
"Yesus!" Rob melompat-lompat, lari, dan menggoyanggoyangkan tubuhnya tak keruan
di dalam sinar api tungku. Tetapi
binatang itu tak terlepaskan. Gigi dan cakarnya tertanam dalam pada
daging di punggung Rob sambil mengeluarkan dengking yang lebih
keras daripada jeritan Rob.
"Rob!" Rob berhasil melepas bajunya dan dengan gerakan mendadak
memelantingkan binatang yang mengamuk itu. Setelah ternanar
sebentar, rakun itu kembali menyerang, tetapi Rob telah memegang
sebuah pendayung yang tersandar di dinding. Ia menghantamkan
senjata itu sekuat tenaga dan mengenai perut lawannya. Entah karena
kesakitan, binatang itu lari, dan celaka, arahnya tepat masuk tungku,
sehingga api meluap Maggie menjerit. Tiba-tiba semuanya sudah berlalu. Rakun itu
mati kaku dengan bulu yang habis terbakar.
Rob berdiri, tak berbaju, badannya berlumuran darah. Maggie
menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang gemetaran.
Chapter 8 PADA AWAL MUSIM semi, pagi datang dini. Burung titihan
sudah memperdengarkan suaranya yang nyaring, menandakan bahwa
malam akan berganti pagi.
Dalam pondok yang sunyi itu, Rob mendengar suara burung
tadi, dan kuduknya bergeridik. Telapak tangan Rob basah oleh
keringat untuk memegangi gagang pisau, ketika ia sedang
mempelajari jaringan otak dari rakun yang mati sesudah mengamuk
bagaikan gila semalam. Ia telah mengenal penyakit rabies dengan baik. Tetapi gejala
pada rakun ini sangat berbeda. Apa yang dilihatnya membuat ia lega
tetapi juga penuh tanda tanya. Jaringan otak rakun itu rusak sama
sekali, seperti bubur Ia melemparkan pandangan ke kamar isterinya. Kasihan gadis
itu. "Kita dimusuhi hutan ini," kata Maggie.
Rob pun merasakan. Tetapi ia berusaha menekan keinginannya
untuk meninggalkan tempat itu sebelum tugasnya selesai. Dan ia
mempunyai tugas yang jelas kini, yang akan dilakukannya secepat
mungkin. Mungkin ia perlu lima atau enam hari. Penyelidikannya
meliputi pengambilan sampel-sampel dan pembuatan foto, dan juga
menyelidiki lingkungan di perusahaan penebangan.
Rob mengambil tape-recordernya dan mulai merekam
laporannya setengah berbisik agar jangan membangunkan isterinya.
"Tiga Mei ... ," ia memulai. "Jam lima pagi. Histologi otak.


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rakun." Ia memutarnya kembali untuk mencek apakah suaranya
sudah terekam. Kemudian ia meneruskan, "Atrofi kortikal pada ujung
anterior jaringan kalkarin....kerusakan total pada cerebellum...."
*********************************
Pada waktu yang sama dengan terlelapnya Robert Vern pagi itu,
sekeluarga pekemah sedang terbangun. Seorang anak laki-laki sepuluh
tahunan dan seorang gadis dua belas tahunan mulai bergerak dalam
kantung tidurnya. Ayah kedua anak itu sudah sibuk menghidupkan api
untuk memasak sarapan mereka.
Travis Nelson, yang guru sejarah itu, sudah sangat biasa hidup
di hutan. Tetapi untuk berkemah di Hutan Manatee ini, banyaklah
orang yang memperingatkannya. Hutan itu tidak aman. Sudah berapa
saja orang hilang secara misterius.
"Papa?" Wajah anak lelaki itu, Paul, menyembul dari dalam
kantungnya. "Saya tadi malam sudah mendengar suara air terjun itu."
"Ah, masih jauh, Paulie. Mungkin kau mendengar suara hujan."
"Apakah kita nanti jadi berkemah sendiri-sendiri?"
"Kalau kau berani."
"Asal Kathleen berani, saya juga berani."
Wajah Kathleen tersembul pula. "Saya berani."
"Saya juga," seru Paul tak mau kalah.
"Bagaimana kalau kita terguling dari tebing jurang?"
"Kita akan tidur jauh dari tebing, tentu saja."
"Kenapa tidak tidur di bawah jurang saja?" usul Kathleen.
"Mungkin juga. Lihat saja nanti."
Travis tersenyum. Ia dan isterinya telah lama merencanakan
untuk berlibur di Hutan Manatee, bersama anak-anak itu.
*************************************
Hari hampir tengah siang ketika Robert Vern terbangun. Segera
mulailah ia dengan penyelidikannya. Maggie masih takut untuk
ditinggalkan sendiri di pondok; ia ikut Rob menjelajahi hutan dan
menungguinya selagi Rob mengumpulkan sampel tanah yang
disimpannya dalam botol-botol kecil, sehingga kantungnya
berkerincing setiap kakinya melangkah. Entah berapa jauh mereka
berjalan melalui hamparan lumut dan paku pada lantai hutan, sehingga
celana Rob dan Maggie basah sampai ke batas paha.
"Lihat, Maggie," kata Rob sambil menunjuk ke atas.
Maggie mengikuti arah telunjuk suaminya dan melihat sebentuk
atap dedaunan di atas pohon. "Seperti rumah di atas pohon."
"Pos penjagaan hutan. Mungkin aku dapat mengambil foto dari
sana." Hampir setengah jam mereka harus berjalan sebelum sampai ke
bawah panggung yang kelihatannya tidaklah begitu jauh.
"Hallo!" seru Rob dari bawah. "Hallo, siapa di atas?"
Tiada jawaban. Maka Rob lalu menggandeng Maggie menaiki
tangga menuju ke atas. Belum sampai setengah tangga, Maggie
menjadi gamang. "Rob aku pusing."
"Inikah nyonya yang setahun yang lalu mengajak mendaki
Gunung McKinley?" "Tahun ini lain," jawab Maggie.
"Mungkin lagi kurang sehat, itu saja."
Maggie memandangi mata Rob. "Saya kira bukan itu saja." Ia
hampir mau berkata lebih jauh, ketika dari atas terdengar suara
manusia. "Hai, kalian, turun. Ini terlarang untuk umum."
"Kami petugas pemerintah," jawab Rob.
"Ha?" "Kami ingin mengambil beberapa foto dari atas."
"Naiklah, naiklah," jawab orang itu cepat.
"Pusingmu sudah hilang?" tanya Rob kepada Maggie.
"Ayolah." Mereka naik dengan agak susah payah dan sampailah ke atas,
tempat penjaga hutan itu telah menunggu.
Setelah saling memperkenalkan diri dan tanya ini-itu, Rob
melihat ke bawah berkeliling.
"Itukah Sungai Espee?"
"Tidak lain," jawab orang itu.
"Ah, itu tentu cerobong asap pabrik kertas Pitney Mill!"
Rob memasang lensa jarak jauhnya dan membidikkan
kameranya ke cerobong asap yang menjulang tinggi di atas dedaunan.
Pabrik itu nampak lebih besar daripada perkiraan semula. Sungguhsungguh pabrik
raksasa. Rob mengambil beberapa jepretan, dan kemudian mereka minta
diri. "Kenapa tangan anda?" tanya Rob sambil menunjuk tangan
orang itu. "Digigit itu," jawab si penjaga hutan sambil menuding ke sudut.
Di sana, di tengah-tengah setumpuk sampah, terletak bangkai
kucing. Maggie terbeliak ngeri dan cepat menutup mata.
"Tadi malam," kata orang itu menjelaskan. "Tiba-tiba ia
menjadi seperti gila, menggigit saya dan langsung mati sendiri."
Rob mendekati bangkai kucing itu. Ia melihat buih kering di
sekitar mulutnya. "Ayo kita pulang, Rob," kata Maggie lirih.
Rob membungkuk dan memungut bangkai itu. "Biarlah kami
yang akan menyingkirkannya."
"O ya" Baiklah. Tetapi pendamlah dalam-dalam. Di hutan ini
berkeliaran makhluk yang doyan apa saja. Besarnya bagaikan naga!"
"Ayo, Rob, kita pulang!" Ajak Maggie mendesak.
Dengan hati-hati mereka menuruni tangga. Tangan Rob yang
satu menuntun Maggie, dan satunya memegangi bangkai kucing yang
akan diperiksanya sebagaimana bangkai rakun yang kemarin. Sewaktu
mereka berjalan menembus hutan kembali, mereka mencium bau
hujan dalam udara. Guruh terdengar menggema dari awan-awan yang
menyelimuti puncak-puncak gunung tidak begitu jauh dari tempat itu.
**************************************
Keluarga pekemah, Travis Nelson dan isteri beserta kedua anak
lelaki dan perempuannya, merasakan jatuhnya tetes-tetes hujan
pertama dan memutuskan untuk mendirikan kemah mereka dan
menunggu sampai hujan reda untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Tentu saja mereka tidak akan tiba di tempat air terjun pada waktu
yang sudah mereka rencanakan. Tetapi berjalan naik melintasi tanah
yang basah oleh hujan akan terlalu sulit, terutama bagi isterinya dan
anak-anak itu. Mereka mendirikan kemah mereka di tepi Danau Mary,
dengan harapan bahwa hujan akan berhenti keesokan harinya.
*************************************
Hujan ternyata tidak berhenti pada keesokan harinya. Begitu
lebat dan begitu tak henti-hentinya air tercurah dari langit, seakanakan tidak
akan ada habisnya. Dalam waktu dua hari, kecambahkecambah baru mulai tumbuh
menutup tanah. Cabang-cabang
pepohonan yang telanjang jadi terselimut lagi oleh kehijauan tunas
musim semi. Binatang hutan berteduh dan untuk sementara masih
menahan lapar dengan sabar, karena tahu bahwa setelah hujan
berhenti lantai hutan akan penuh mangsa berlimpah-ruah. Hujan yang
terserap tanah akan menumbuhkan biji-biji yang selama ini dalam
keadaan rehat, dan kecambahnya akan menjadi penyambung hidup
makhluk-makhluk yang makanannya vegetasi muda. Makhlukmakhluk ini pada
gilirannya merupakan penunjang binatang pemakan
daging. Rantai pangan yang mulai dari jamur berakhir dengan
binatang pemangsa yang paling besar; seekor beruang yang memangsa
seekor rusa sebenarnya memangsa vegetasi seluas beberapa hektar
yang telah membesarkan rusa tersebut.
Di antara pepohonan yang diombang-ambingkan hujan dan
angin itu, satu-satunya orang yang melakukan kegiatannya adalah
Robert Vern. Ia ingin menyelesaikan tugasnya di Hutan Manatee
sesegera mungkin; Maggie semakin hari semakin gelisah.
Histologi otak yang dilakukannya pada bangkai kucing itu
belum memberikan kesimpulan yang pasti. Memang ada juga
kerusakan otak seperti pada otak rakun itu, tetapi agak berbeda.
Mungkin karena ia tidak memeriksa otak kucing itu segera setelah
mati. Begitu hujan berhenti, Rob akan mengirim sampel otak kedua
binatang itu ke laboratorium di Washington.
Mengenai penyelidikan ekologisnya, Rob mendapatkan
jawaban yang jelas justru pada hari-hari yang terus-menerus hujan itu.
Tanah di daerah itu berupa lempung dan hanya menyerap dan
menahan air hujan karena banyaknya daun-daun yang gugur. Kalau
semua pohon telah ditebang, tanah akan menjadi jenuh dan tak
menyerap air, sehingga kecambah baru akan tergenang dan dalam
waktu sepuluh tahunan seluruh rimba raya itu akan berubah menjadi
padang tandus. Memang ada cara-cara untuk menanam atau menyelamatkan
kecambah dalam bedeng atau ruang yang terkendalikan. Sesudah
cukup besar kecambah yang sudah menjadi pohon muda itu dapat
ditanam di mana pun sesuai kemauan. Kalau Pitney Paper Mill
bersedia melakukan pekerjaan yang menghabiskan waktu dan biaya
ini, pengaruh jelek dari penebangan pepohonan akan dapat diatasi.
Tetapi janji mudahlah dibuat, sedang pelaksanaannya biasanya jauh
lebih sukar. Perwakilan Perlindungan Lingkungan tidak mempunyai
cukup dana untuk melakukan pengawasan terus-menerus. Padahal
dengan peralatan yang digunakan Pitney Paper Mill, menebang pohon
besar hanya memakan waktu lima puluh detik. Sebaliknya, untuk
menumbuhkan pohon sampai sebesar yang telah ditebang itu,
diperlukan waktu lima puluh tahun atau bahkan lebih.
**************************************
Bagi John Hawks dan Romona Peters, hujan yang terus
menerus itu merupakan penghibur. Mereka berdua telah mendirikan
kemah jauh di tengah hutan dan selama tiga hari tiga malam tak keluar
kemah dengan saling berpelukan dan memadu cinta. Dengan demikian
,dapatlah mereka untuk sementara waktu melupakan segala nestapa
dan frustrasi di dunia luar. Selama mencurahnya hujan yang terusmenerus itu
segala kegiatan penebangan terhenti; Hawks tidak perlu
menghadapi orang-orang Pitney Paper Mill dengan tindakan yang
gawat seperti yang sudah terjadi pada pemblokiran jalan tempo hari.
Seakan-akan alam telah ikut campur untuk menengahi dan
menghentikan momentum peristiwa yang menimbulkan bencana itu.
Romona telah berbicara dengan kedua wanita yang hamil di
desanya, tetapi mereka itu menolak mentah-mentah untuk dibawa ke
Portland. Kini tiada lain yang dapat mereka lakukan kecuali
menunggu. Kalau bayi yang lahir nanti cacat, Romona akan membawa
bayi itu, hidup atau mati, kepada seseorang yang dapat memeriksanya
dan memberikan jawaban atas masalah yang sulit itu.
Satu-satunya unsur hujan yang menyedihkan ialah bahwa
dengan berlimpahnya air di seluruh hutan, penyakit latahnas yang
menyerang fikiran itu meningkat dan makin merata. Selama hujan hari
pertama, orang-orang Indian telah memanfaatkan waktu dengan
mengasapi ikan-ikan yang memenuhi jala mereka. Sesudah itu mereka
seakan-akan memuaskan hati makan ikan setelah dua minggu lamanya
hanya makan makanan kaleng karena takut pergi ke danau mencari
ikan. Begitu mendengar berita tentang berjangkitnya penyakit yang
mengerikan itu, Romona dan Hawks segera pergi ke desa dan
mengunjungi para penderita. Ada tiga orang yang terkena. Badannya
panas dingin dan igauannya tak keruan. Hawks sangat kebingungan
dan untuk pertama kali mengerti betapa hebatnya serangan penyakit
itu. Katahnas menyerang tanpa gejala yang mendahuluinya. Dan
agaknya tidak ada penjelasan tentang mengapa atau kapan datangnya.
Sekembalinya mereka di kemah, Romona dan Hawks dipenuhi
rasa putus asa. Mereka merasa seakan-akan hutan memusuhi mereka.
Kedua orang itu termenung di dalam kemah. Hujan telah berhenti.
Malam sunyi sepi dan mereka tahu bahwa esok hari pertempuran
mereka akan mulai lagi. Tetapi keadaan sepi itu tidak berlangsung lama. Suara dengung
mobil terdengar semakin dekat. Hawks ke luar dari kemah dan
matanya menjadi silau oleh sorotan lampu yang tepat diarahkan ke
mukanya. Ia dapat melihat siluet tiga orang lelaki yang mendekat
dengan senjata di tangan.
"Kau John Hawks?"
"Ya." "Di dalam kemah ada orang lain?"
"Tidak." "Kalau begitu, bolehkah saya menembakkan beberapa butir
peluru ke dalam?" kata seorang dan mengokang senjata, siap
menembak. "Jangan!" kata John Hawks tiba-tiba.
"Suruh dia ke luar juga."
Romona muncul dan tiga buah lampu menyoroti wajahnya yang
ketakutan. "O, o." "Nama saya Romona Peters, cucu Hector M'rai." Gadis itu
berdiri kaku, dengan kepala tengadah, meski agak gemetar.
"Kalian mau apa?" tanya Hawks.
"Menghadap ke sana!"
"Mengapa?" "Kalau-kalau kau membawa senjata."
"Saya tidak mau membelakang."
Salah satu senjata terangkat.
"Turuti saja," desak Romona.
"Saya tidak mau."
"John!" Sebuah popor mengenai kepala Indian itu.
"Kalian datang untuk membunuh kami?"
"Tunggu saja!" "Jangan," hiba Romona. "Kami tidak berbuat salah kepada
kalian." "Kalian masuk daerah yang bukan milik kalian."
"Kami akan pergi," kata Romona menyerah.
"Lebih baik dengarkan squawmu itu."
"Kami tidak memasuki daerah yang bukan milik kami!" jawab
Hawks. "Kau tidak tahu bahwa tanah ini adalah milik Pitney Paper
Mill?" "Tanah ini milik bangsaku, milik orang Indian!"
"Kau keliru, Indian."
"Kami akan kalian apakan, sebenarnya," tanya Romona.
"Yang kami kehendaki, kalian keluar dari sini!"
"Kami tidak akan pergi," kata Hawks geram.
"Saya kira kau akan terpaksa pergi."
Orang yang berbicara itu mengangkat kaleng yang sejak tadi
dipegangnya dan tiba-tiba mencurahkan isinya ke celana Hawks. Dari
baunya tahulah Hawks, isinya adalah bensin. Hawks mencoba lari
tetapi kedua orang kulit putih lain telah menerjangnya sehingga
Hawks terjatuh dan ditindih kedua orang itu dengan senjata yang
ditekankan pada lehernya. Hawks sudah tak berdaya.
Orang yang tadi mencurahkan bensin itu mengambil pipa dari
sakunya dan mengisinya dengan tembakau dengan gaya seorang yang
mempunyai banyak waktu. Orang itu kemudian mengambil korek api
gas dari sakunya yang setelah dihidupkannya bukannya digunakan
untuk menyulut pipa melainkan perlahan-lahan diturunkannya makin
lama makin dekat celana Hawks yang sudah basah oleh bensin.


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Matanya memandangi Hawks dengan pandangan kejam. Nyala korek
api itu sudah sangat dekat bahan bakar yang sangat mudah terbakar
itu. "Kalian saya beri waktu dua puluh empat jam dari sekarang
untuk meninggalkan hutan ini," kata orang yang memegang korek api
dan yang rupanya merupakan pemimpin rombongan kecil itu. "Kalau
sampai besok malam kalian belum juga meninggalkan tempat ini,
awas! Kami akan kembali!"
Sesudah berkata-kata demikian, orang itu memadamkan korek
apinya dan menggamit kedua temannya untuk membiarkan Hawks
dan meninggalkan tempat itu. Hawks tetap tak bergerak, sementara
matanya memandang tajam ke arah ketiga orang itu yang masuk
kembali ke mobilnya dan kemudian menghilang di dalam gelap.
Chapter 9 ROB DAN MAGGIE menyambut terbitnya matahari pagi
dengan kegembiraan bagai orang yang pertama kali melihat cahaya
matahari setelah lama terkurung dalam sel yang gelap. Sungguh suatu
obat pelipur lara. Cepat mereka merancang perjalanan ke kota.
Danau nampak berkilau bermandikan cahaya ketika mereka
melintasinya dengan sampan mereka. Sampai di tepi danau, Rob
menyingkap kanvas penutup mobil tinggalan Isely dan tak lama
kemudian mereka berangkat. Sesaat Rob kuatir bahwa mereka akan
dicegat lagi oleh orang Indian, karena kendaraan mereka adalah mobil
Pitney Mill. Tetapi ketika mereka tiba di bekas tempat peristiwa
berdarah itu, ternyata tak seorang Indian pun yang nampak.
"Mungkinkah mereka menyerah?" tanya Maggie.
"Kukira tidak. Lebih baik kita jangan memakai mobil ini."
Tanpa banyak bicara lagi mereka berangkat dan tak lama
kemudian Rob memarkir mobilnya di depan perpustakaan, karena
Maggie akan meminjam beberapa buku sebelum pergi berbelanja.
Mereka itu begitu gembira dapat ke luar dari kungkungan
kesunyian di pulau terpencil itu, dan dapat berjumpa dengan orangorang yang
menganggukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi,
sehingga mereka tidak menyadari adanya dua pasang mata yang
mengikuti gerak-gerik mereka. John Hawks dan Romona Peters pagi
itu telah juga pergi ke kota dan melihat kendaraan kuning yang tempo
hari telah mereka cegat. Di dalam kota yang kecil itu, kedua Indian
menantikan saat yang tepat untuk menemui Rob dan Maggie.
Hawks telah datang ke kota itu untuk meminta perlindungan
kepada sherif terhadap orang-orang yang mengancam hidupnya
semalam. Sherif mendengarkan laporan Hawks tanpa perhatian, tanpa
simpati. Itulah selalu caranya menghadapi orang kulit merah; hanya
sekedar mengangguk sampai si pelapor kehabisan omong. Sherif itu
ialah Bartholomew Pilgrim. Romona sudah pernah mengenalnya,
karena kepada sherif itulah ia dulu melapor ketika kehormatannya
sebagai gadis telah dilanggar oleh seorang penebang di hutan pada
usia dua belas tahun. Peristiwa itu kini sudah enam belas tahun
berlalu, tetapi sikap sherif itu tidaklah berubah.
Namun demikian, sebelumnya Pilgrim telah diperingatkan oleh
atasannya di Portland, bahwa orang yang bernama John Hawks adalah
orang yang dikenal di Washington, sehingga secara resmi orang itu
hendaklah diperhatikan. Tetapi secara tidak resmi, soalnya lain.
Selama tidak terjadi pelanggaran hukum, Pilgrim dapat menutup mata
terhadap kejadian seperti yang dialami kedua Indian itu semalam.
Sementara berbicara kepada sherif, Hawks dapat melihat bahwa
orang itu sudah tahu-menahu tentang apa yang dialaminya semalam.
"Saya sebenarnya ingin menolong Anda, sahabat...."
"Jangan panggil saya sahabat."
"Sungguh-sungguh saya ingin menolong, tetapi saya tidak dapat
berbuat banyak." "Anda berkewajiban melindungi seluruh penduduk di daerah
ini." "Saya penduduk daerah ini."
"Bukan, Anda datang dari daerah lain."
"Saya dilahirkan di sini dan sekarang ada di sini."
"Kalau saya menjadi Anda, saya akan seccpatnya meninggalkan
daerah ini." "Saya tidak akan pergi ke mana pun juga."
Sherif itu menyandarkan diri pada kursi putarnya, sehingga
perabot kecil itu berkeriat di bawah beban tubuhnya yang gemuk.
"Dengarlah sebentar," katanya. "Saya ini tidak memusuhi
kalian, orang-orang Indian. Juga Mr. Isely tidak. Sungguh, dia itu
orang baik. Sesudah mendengar berita tentang peristiwa pemblokiran
itu, sebenarnya saya berhak untuk menjebloskan kalian ke dalam
penjara. Tetapi justru Mr. Isely yang berkata jangan. Ia berkata,
berilah John Hawks waktu untuk meninggalkan daerah ini."
"Saya tidak akan pergi ke mana pun juga."
"Sayang Anda berpikiran begitu."
"Jika sampai ada sesuatu yang menimpa diriku, orang akan
tahu." "Tentu saja mereka akan tahu."
"Anda akan dimintai tanggung jawab."
"Kalau begitu, jagalah diri sendiri."
Sesudah pembicaraan inilah Hawks dan Romona meninggalkan
kantor polisi dan melihat mobil Pitney Paper Mill di depan
perpustakaan itu. Kini, dengan kehidupannya terancam, John Hawks
tahu bahwa baginya tiadalah jalan yang lebih baik daripada menemui
Robert Vern yang menjadi utusan pemerintah itu.
***************************************
"Sungguh suatu liburan yang hebat ini, Victor. Seperti neraka."
Rob menutup sebelah telinga dengan tangan selagi telinga satunya
digunakan untuk mendengarkan suara di gagang tilpon. Ia menilpon
dari sebuah tilpon umum dekat kantor pos. "Aku lari dari tikus kota,
dan di sini dimakan rakun. Aku akan menyelesaikan tugas ini secepat
mungkin dan laporannya akan kubuat di Washington saja."
Victor Shusette duduk di kantornya di Washington dan
mendengarkan kata-kata Rob lewat tilpon dengan kuatir.
Bagaimanapun juga, Rob tidak boleh pulang sebelum semuanya
benar-benar selesai. "Maaf, Rob. Tetapi kau harus tinggal di situ selama mungkin.
Ini penting sekali."
Seribu lima ratus kilometer jauhnya dari Shusette, Rob berdiri
di kotak tilpon umum sambil mendengarkan dengan wajah yang
muram. Shusette menjelaskan situasi mereka.
"Begini, Victor," sela Rob. "Mungkin tadi kurang jelas. Di sini
orang Indian telah haus darah. Menurut kata orang, mereka telah
membunuh beberapa orang kulit putih."
"Apa katamu?" "Ya, itulah kata orang. Dan menurut apa yang kulihat, kata
orang itu ada alasannya."
"Maksudmu, hidupmu dalam bahaya?"
"Maksudku, keadaanku di sini tidak menyenangkan. Juga untuk
Maggie." "Kau butuh pengawalan" Akan kusiapkan."
"Tidak. Bukan itu yang kuperlukan."
"Apa" Katakan saja."
"Aku mau cepat-cepat pergi."
"Kalau kau terlalu cepat kembali, nama Perwakilan yang
celaka. Begini, Rob, kalau tidak sungguh-sungguh terancam bahaya,
kuminta jangan terlalu cepat pulang."
Rob tidak menjawab. "Rob?" "Aku masih di sini."
"Baiklah, Rob. Kalau kau memang merasa harus pulang,
pulanglah. Aku hanya mau mengatakan, bahwa bagi orang luar
kehadiranmu di situ sangatlah penting. Kalau kau tak dapat berbuat
lain, biarlah aku sendiri yang menggantikanmu."
"Ah, bukan begitu," jawab Rob lesu.
"Kalau dapat, tahankan sepuluh hari lagi. Cukuplah itu bagiku."
"Baiklah." "Beri kabar, ya?"
"Oke." Rob menggantungkan gagang tilpon. Dengan lesu ia
memandang ke luar dan melihat Maggie sedang masuk toko bahan
makanan. Gadis itu mengenakan sepatu tinggi dan jaket pengendara
kuda, rambutnya berlambaian tertiup angin. Melihat isterinya dari
jarak itu, ia teringat akan apa yang sering dilakukannya dari jendela
apartemennya di New York dulu.
Percakapan yang baru saja dilakukannya dengan Shusette
membuat Rob merasa sangat lelah tak berdaya. Mau ia rasanya
menyerah saja. Rupanya ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk
mengubah jalannya planet ini. Hidup di antara pepohonan di rimba
raya memberinya pandangan jelas tentang ukuran dan kekuatannya
yang sebenarnya. Ia tidaklah lebih dari pada seekor semut yang ingin
mendorong sebuah pencakar langit.
"Mr. Vern?" Rob terkesiap. Ia berpaling dan melihat John Hawks berdiri di
luar. Juga wanita itu, Romona, ada di sana. Ekspresi wajah mereka
tegang, hampir seperti sewaktu ia melihat mereka pertama kali dalam
peristiwa yang tidak menyenangkan itu. Rob melangkah ke luar.
Hatinya agak kecut. "Nama saya John Hawks."
"Saya masih ingat."
"Kami minta Anda datang bersama kami."
"Untuk apa?" "Ada yang ingin kami bicarakan."
"Di sini saja juga tidak apa."
Hawks melihat rasa takut membayang di wajah Rob, dan ia jadi
heran. Sungguh jaranglah ada orang kulit putih yang merasa kurang
lebih setara dengan dia, si kulit merah.
"Anda takut kepada kami?"
Rob diam sebentar. "Ya."
"Karena segala yang telah Anda dengar?"
"Saya tidak mendengar apa-apa."
Hawks tahu bahwa Rob berbohong. "Anda belum mendengar
bahwa kami telah pada mabuk-mabukan" Bahwa kami telah menjadi
haus darah" Pembunuh?"
Rob menyelidiki wajah Hawks, tetapi tak dapat menjajagi
apakah orang itu mau menakut-nakuti atau justru sebaliknya.
"Itulah yang mereka katakan tentang kami, Mr. Vern. Mereka
menyangkal hak-hak kami dengan menyebarkan kebohongankebohongan itu."
Hawks mendekat dan Rob dapat merasakan kelembaban jaket
orang Indian itu. "Kami bukan pemabuk. Kami tidak haus darah.
Bangsa kami bangsa nelayan, hati kami menghendaki kedamaian."
Rob tidak tahu akan menjawab bagaimana. Hawks menegang,
karena mengira Rob akan menyuruhnya pergi seperti laku orang-orang
yang lain. "Saya mengatakan ini kepada Anda bukan karena apa-apa,
tetapi karena perlu."
"Mengapa?" "Mereka mau membunuh saya."
"Mereka siapa?"
"Orang-orang Pitney Mill."
"Apa sebabnya?"
"Tidakkah sudah jelas?"
"Mereka mempunyai hak untuk masuk hutan "
"Saya bukannya berbicara tentang itu."
Ketajaman nada Hawks menimbulkan kebisuan. Kedua laki-laki
itu saling memandang sebagai musuh.
"Sungguh," sela Romona, "kami ingin Anda datang bersama
kami." "Kenapa?" "Belum pernah orang pemerintah datang ke tempat ini. Kami
mau agar Anda datang ke desa kami dan melihat sendiri keadaan di
sana dan menceritakan itu kepada mereka."
"Lihat," sela Rob. "Saya dapat mengerti perasaan kalian. Tetapi
pekerjaan saya...." "Adakah Anda tuli juga seperti yang lain-lain?" tukas Hawks. Ia
sudah muntab lagi; dan hanya dengan susah payah mengendalikan
dirinya. "Anda tuli karena tidak mau mendengar! Mengapa tidak?"
Kata-kata itu mengenai sasaran pada bagian yang salah. Rob
muntab. "Mungkin Anda pun tidak mendengar apa yang saya katakan
sekarang." "O, saya dapat mendengar sekali," jawab Rob. "Tetapi saya juga
melihat. Apakah Anda heran bahwa orang menganggap kalian haus
darah ?" "Kekerasan yang Anda lihat adalah karena ada yang
mengobarkan." "Siapa?" "Itu terpaksa."
"Itu bunuh diri, tahu?"
Mata Hawks memandang tajam seakan-akan menembus
pandangan Rob. "Coba katakan, dengan kesungguhan, adakah
kesediaan mati demi suatu keyakinan itu suatu bunuh diri?"
Rob mundur. "Dengar. Saya ada di sini untuk menyelidiki
lingkungan." "Dan apakah yang anda katakan lingkungan itu" Saya ingin
tahu. Sampah" Hutan" Batu?"
"Sebentar " "Lingkungan itu adalah kami. Lingkungan itu kini sedang
dihancurkan, dan demikian juga kami sekalian."
"Bangsa kami sedang sakit, Mr. Vern," sela Romona. "Mereka
kehilangan daya pikir dan ingatan. Mereka demam, gemetaran dan
mati. Apakah itu karena mabuk, karena alkohol" Seperti kata orang
kota itu?" "Ceritakan semua," perintah Hawks.
"Saya pernah menolong orang melahirkan, Mr. Vern. Saya telah
melihat akibat kehancuran lingkungan ini, Mr. Vern."
Rob memandang kedua orang itu satu per satu, tak mengerti.
"Ceritakan semua, Mona," kata Hawks lagi.
"Anak lahir-mati. Cacat. Bukan cacat lagi, rusak...." Romona
tergagap sebentar. "Mereka itu terpaksa tidak dibiarkan hidup."
"Apa?" "Bayi-bayi itu lebih menyerupai binatang daripada manusia."
Rob termangu. Ia merasa bahwa gadis Indian itu telah
mengatakan yang sebenarnya, melihat kesungguhan bicaranya. Tetapi,
masuk akalkah semua itu"
"Kami membutuhkan pertolongan, Mr. Vern. Sangat
membutuhkan. Dan tidak seorang pun mau menolong kami."
"Kalau hutan ini punah, bangsa kami pun akan punah,'" kata
Hawks bersungguh-sungguh. "Maka janganlah Anda bicara tentang
lingkungan seakan-akan tiada hubungannya dengan kami, orang
Indian." Beberapa saat lamanya tidak seorang pun membuka mulut.
Pada waktu itu, Rob melihat Maggie datang mendekat. Gadis itu
langsung merasa adanya ketegangan antara ketiga orang yang saling
berhadapan itu. Rob mengulurkan tangannya kepada isterinya.
"Mereka mengajak kita pergi ke perkampungan Indian. Ada
sesuatu hal yang akan mereka perlihatkan. Ayo."


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

*****************************************
Dalam perjalanan melintasi hutan, Romona menceritakan segala
sesuatu yang diketahuinya mengenai penyakit aneh yang menimpa
banyak orang dewasa, mengenai kelahiran-mati dan janin yang cacat.
Diceritakan pula tentang usahanya yang tanpa hasil untuk memperoleh
jawaban di perpustakaan kota. Maggie mendengarkan penuh perhatian
dan tanpa membuka mulut, hatinya tertawan akan wanita Indian yang
penuh kemauan itu. Dalam hati ia mengucapkan syukur kepada Tuhan
bahwa janin yang ada di dalam kandungannya terlindung dari
malapetaka yang menimpa orang-orang ini.
Rob menanyai Romona dengan ketelitian profesional, dan
kemudian mengungkapkan bahwa ia adalah seorang dokter.
Pernyataan terakhir ini menyebabkan gadis Indian itu mengangkat
kedua tangan menutup matanya, untuk menyembunyikan air mata
yang meleleh karena rasa bersyukur. Maggie mengulurkan tangan
untuk menyentuhnya, tetapi Romona menjauh. Jurang pemisah antara
kedua dunia mereka terlalu lebar untuk dijembatani hanya dengan satu
gerakan tangan. "Anda telah melakukan percobaan dengan binatang?"
"O ya." "Macam apa?" "Biasa. Pengaruh obat-obatan."
"Saya pernah melihat binatang yang menjadi sakit karena
dikurung. Ada yang melahirkan anak sebelum waktunya. Ada yang
menjadi gila, bahkan sampai memakan anaknya."
"Saya pun pernah melihat yang serupa itu. Tetapi tentang apa
yang kalian gambarkan tadi, saya tak dapat memberi penjelasan.
Tekanan jiwa dapat sangat berpengaruh, tetapi tidak sejauh itu."
"Kakek saya selalu mengatakan, bahwa bila manusia memusuhi
hutan, maka hutan akan memusuhi manusia. Ia berkata bahwa kita
semua akan menderita karena pengrusakan ini."
Mereka melewati suatu persimpangan jalan dan Hawks
menyentuh lengan Rob. "Berhenti di sini dulu."
"Kenapa?" tanya Romona.
"Mereka tidak akan kembali. Saya ingin agar mereka melihat
segala sesuatu." Rob menghentikan mobil di tepi jalan dan mereka semua turun,
lalu berjalan mengikuti lorong yang menuju ke perkemahan Hector
M'rai. Jalan kecil itu penuh ditumbuhi semak-semak berduri. Lalat
hitam berdesingan menyambar mata dan telinga. Sarang-sarang labalaba malang
melintang merintang jalan. Semua ini menandakan bahwa
jalan itu jarang dipakai.
Sebuah pikiran yang tidak enak tiba-tiba muncul di benak Rob.
Ia melayangkan pandangan ke Maggie dan rupanya Maggie pun
berpikir yang sama. Orang Indian di tempat itu dituduh melakukan
pembunuhan dan ia sendiri telah menyaksikan bahwa Hawks tidak
terlalu takut melakukan kekerasan.
"Kita ini mau ke mana?" tanya Rob.
"Tunggu saja," jawab Hawks.
Rob berhenti. "Saya mau tahu."
Hawks menunjuk ke depan. "Itu!"
Maggie memegangi lengan Rob sementara mereka memasuki
suatu tempat yang mencolok keindahannya bagai sebuah oasis.
Sebuah taman Firdaus. Tiga kemah besar berdiri mengelilingi sebuah
tungku bertepikan batuan. Beberapa kulit binatang tergantung di
jemuran. Sebuah busur yang indah tersandar pada sebatang pohon.
"Aduh ," bisik Maggie kagum.
"Inikah desa itu?"
"Bukan," jawab Romona.
"Inilah satu-satunya sisa dari masa lalu kami," sambung Hawks.
"Saya mau agar kalian melihat tempat ini sebelum menyaksikan
keadaan kami yang sekarang."
"Kakek saya yang telah membangun ini. Ia tak mengizinkan
orang lain masuk ke sini."
Rob melangkah ke tengah-tengah perkemahan dan memandang
pepohonan di sekelilingnya. Ia dapat merasakan perasaan damai yang
memenuhi suasana di tempat itu. "Saya dapat melihat apa yang kalian
perjuangkan." "Kami tidak berjuang untuk hidup di masa lalu, sebagaimana
Anda pun tentu tidak," jawab Hawks. "Kami berjuang untuk ikut
menikmati masa kini. Masa kini yang bukan milik kalian saja."
Rob mendengarkan kata-kata Hawks tanpa menjawab. Ia
melihat dalam diri Hawks segala sesuatu yang dialaminya sendiri.
Semangat yang sama, cita-cita yang sama, frustrasi yang sama. Satusatunya
perbedaan adalah, bahwa Hawks, sebagai orang Indian, tidak
diberi hak untuk menjadi marah. "Yang saya maksud ialah," katanya
lirih, "bahwa tempat ini sangat indah."
Salah satu tenda itu terbuka pintunya, dan seorang tua ke luar.
"Kakek saya sedang tidak sehat," kata Romona lirih. "Ia pun
menderita katahnas."
Orang tua itu bergerak dengan agak bersusah payah. Matanya
tertuju pada Maggie dan mereka bertukar kata dalam bahasa Indian.
"Kakek telah tahu bahwa ada tamu datang," kata Romona.
"Dari mana ia tahu?" tanya Maggie.
"Ia tahu hal-hal semacam itu," jawab Romona. Menilik cara
Romona memandangi kakeknya, orang langsung tahu betapa besar
kasih sayangnya kepada orang tua itu. Demikian pula sebaliknya.
"Katakan padanya, bahwa kami senang berada di tempat ini,"
kata Maggie kepada Romona.
"Ia tahu bahasa Inggris sedikit-sedikit," jawab Romona.
"Welcome," kata orang tua itu.
Juga perhatian Rob sangat tertarik. Tetapi ia memandangi kakek
itu dengan mata profesional. Ia melihat bahwa mata M'rai telah
menjadi kabur karena bular, dan bahwa buku-buku jarinya hangus
kehitam-hitaman, mungkin akibat tembakau yang diisapnya.
"Kami membawa mereka ini ke sini, dengan harapan agar
mereka akan dapat membantu kita," kata Romona menjelaskan.
"Berapa orang?"
"Kami berdua." "Cukupkah itu?"
Rob tertawa kecil. "Yah, kami bekerja keras."
"Bagus, bagus."
M'rai mengulurkan tangannya kepada Maggie, dan Maggie
maju. "Wanita yang halus," kata M'rai sambil memegangi tangan
Maggie. "Terlalu halus?" jawab Maggie.
"Sedang." "Perkemahan Anda bagus sekali, Mr. M'rai."
"Terima kasih."
"Ketika masih awas, M'rai adalah pemanah ulung," kata
Romona ketika melihat pandangan Maggie mengawasi busur yang
indah itu. "Kata orang, ia dapat mengenai seekor kolibri dalam sinar
bulan." "Benarkah itu?" tanya Rob.
"Ya, tetapi colibri di sini besar-besar," jawab orang tua itu.
Rob tertawa, tetapi kemudian sadar bahwa M'rai bukan melucu.
"Benar, di sini segala sesuatu adalah lebih besar. Besar sekali,"
kata M'rai bersungguh-sungguh. "Ayo kita lihat."
"Ke mana?" tanya Romona.
"Ke kolam." Romona hampir tak dapat mempercayai pendengarannya.
Kolam itu tak pernah dikunjungi siapa pun kecuali M'rai. Mereka
berjalan ke suatu tempat terbuka dan berhenti, kagum akan apa yang
mereka hadapi. Di tengah-tengah pepohonan yang menjulang tinggi,
terdapat kolam yang tenang, dengan airnya yang berwarna biru pucat.
Segala dedaunan dan perambat di sekitar kolam itu lebih besar
daripada biasanya. Perbedaan itu tidak berhenti di situ saja. Ketika
Rob melihat lebih tajam, ternyata jamur-jamurnya pun lebih subur dan
menutup segala sesuatu. Rob mendekat ke kolam, dan ia melihat di dalam air apa yang
menyerupai ikatan batang-batang kayu, seakan-akan tenggelam di
situ. Hawks yang ikut mendekat ke air dan berdiri di sebelah Rob,
melihat pandangan Rob yang nampak risau, seperti sedang mencari
jawaban suatu pertanyaan yang tak terjawab.
"Tempat ini keramat," kata M'rai, "penuh keajaiban. "
"Seperti yang diceritakan orang?"
"Apa itu?" "Katahdin?" kata Romona.
"Ya," jawab M'rai. "Dan itu bukan cerita. Saya telah benarbenar melihatnya di
sini, di tepi kolam ini."
Hawks melangkah maju. "Inilah yang membuat orang berkata
bahwa kita sedang mabuk, M'rai."
"Sungguh," jawab M'rai bersungguh-sungguh. "Ia telah bangkit
untuk menolong bangsa kita."
"Mr. M'rai?" sela Rob. "Apakah yang di dalam air itu batang
kayu?" M'rai memusatkan pandangannya ke dalam air. "Oh, itu" Ya.
Batang-batang yang terikat itu datang dua kali setiap tahun, ajaib
bukan" Dari sini ikatan besar itu akan berpindah sendiri masuk
danau." Rob melihat bahwa kolam itu sebenarnya hanya cabang atau
kelokan dari sungai sebelum memasuki danau.
"Apakah air di luar kolam ini sama birunya seperti di sini?"
tanya Rob lagi. "Yang masuk, tidak. Tetapi sewaktu ke luar, ya."
"Jadi warna pucat ini mulai di kolam ini."
"Ya, air itu mengalir ke danau, dan warnanya pulih menjadi
biru lebih tua di sana. Warna itu berkat kekuatan gaib tempat ini."
Rob melemparkan pandangan ke Hawks, dan orang itu mulai
menangkap apa yang memenuhi pikiran Rob.
"Apa itu?" seru Maggie. Semua mata mengikuti pandangan
gadis itu dan melihat riak-riak dalam air akibat sesuatu yang berenang
di bawah permukaan. "Apa itu?" M'rai mengisyaratkan kepada Hawks agar menangkap makhluk
itu dengan jaring yang terdapat di dekat situ.
Tak lama kemudian seekor makhluk mirip kecebong terkapar di
dekat kaki mereka. Bentuk binatang itu sangat tidak lumrah: Pertama
besarnya hampir mencapai seperempat meter. Sebelah matanya
menonjol besar, seakan-akan terdesak ke luar oleh tekanan sesuatu di
dalam kepalanya. Salah satu kakinya yang tumbuh kelihatan panjang
sekali. "Sudah saya katakan, segala sesuatu menjadi besar di kolam
ini," kata M'rai tersenyum.
Rob sungguh-sungguh tergoncang hatinya. Semua ini makin
memperkuat kecurigaannya. Batang-batang yang terendam,
pewarnaan air, banyaknya jamur
"Air kolam itu mengalir ke danau?"
"Ya." "Dan datangnya dari sungai Espee?"
"Ya." Rob mengepalkan tinjunya. Ia mondar-mandir geram, kemudian
berhenti dan berkata kepada orang tua itu, "Jangan makan apa pun dari
kolam ini. Jangan makan apa pun dari tanah ini." Suaranya menjadi
gemetar. "Pendeknya apa pun!"
"Mengapa?" tanya M'rai.
"Air ini terkena racun. Air dan tanah ini. Segala sesuatu di
tempat ini!" Orang tua itu terperanjat. Kemudian ia tertawa. Sungguh tak
masuk di akalnya. "Berapakah jauhnya pabrik pengolahan kayu itu dari sini?"
"Empat lima kilo ke hulu sungai," jawab Hawks. "Paling mudah
dengan sampan orang dapat sampai ke sana."
"Tunggu kami di sini," perintah Rob.
"Bagaimana dengan kunjungan ke desa itu?" tanya Romona.
"Saya akan pergi dulu ke pabrik itu," kata Rob dengan
pandangan penuh kemarahan. Berkata begitu ia sudah balik kanan dan
mau berangkat secepatnya.
"Mr. Vern," kata Hawks menahannya. "Di dalam hutan nyawa
saya terancam malam ini. Saya tidak mungkin tinggal di sini."
"Baik. Di mana saya dapat menemui Anda?"
"Di pondok di pulau itu, besok pagi."
********************************************
Titik tempat masuknya Sungai Espee ke Danau Mary sangat
mudah ditemukan. Tempat itu merupakan jalur pusaran air yang lebar,
penuh deretan jaring ikan salem yang dipancangkan dengan tongkat.
Selagi duduk di sampan bermotor mereka, Rob terlalu marah
hatinya, sehingga tak sepatah pun ia berbicara, hanya matanya melotot
tajam memandang ke depan. Dari buku-buku yang sudah
dipelajarinya, ia tahu bahwa ada beberapa bentuk kehidupan yang
mudah sekali mengalami perubahan akibat adanya perubahan
kimiawi. Yang paling peka ialah makhluk yang sebelum sampai ke
tingkat dewasa harus melewati beberapa tahap perkembangan.
Misalnya kadal dan kodok. Pernah dibacanya tentang seekor kodok
yang menumbuhkan enam kaki akibat penyemprotan obat pembasmi
hama di pepohonan tempat hidupnya. Obatnya waktu itu ialah
Deldrin. Di Hutan Manatee ini jelas bukan obat pembasmi hama yang
mengganggu lingkungan, sebab perusahaan perkayuan itu tentu tidak
menggunakan obat pembasmi hama. Rupanya untuk memproses kayukayu bahan mentah
mereka, orang-orang itu telah menggunakan
bahan kimia tertentu yang mengandung racun.
Setelah melewati pusaran air itu, Rob dan Maggie dapat
mendengar suara mesin-mesin pabrik yang makin lama makin jelas.
Pemandangan alamnya tiba-tiba berubah. Permukaan air berganti
warna karena banyaknya minyak yang tertumpah ke sungai. Kalengkaleng Pepsi
terapung berserakan di antara bangkai-bangkai ikan yang
mati entah kenapa. Rob dan Maggie saling berpandangan. Rasa jijik mereka
terungkap dalam kebisuan. Motor tempel mereka mulai menggerang
dan Rob menjadi sadar bahwa sungai itu tiba-tiba bertambah dangkal.
Yang dapat dilalui hanya bagian tengah karena banyaknya potonganpotongan kayu
dan buangan lain. Rob mencari-cari jalan untuk
menepi. "Lewat sana!" teriak sebuah suara dari tepi. Rob memandang ke
atas dan melihat beberapa buruh pabrik melambaikan tangan dan
menunjuk ke bagian hulu. Tetapi terlambat. Buritan sampan
menyangkut batang kayu dan motor tempel itu macet. Rob dan
Maggie berada lima meter jauhnya dari pinggiran sungai.
"Bawa tambang?" tanya seorang di antara buruh-buruh itu.
"Ada, tetapi mungkin terlampau pendek."
"Tunggu sebentar!"
Rob dan Maggie menunggu sampai seorang buruh
melemparkan tali besar yang cukup panjang ke arah mereka. Rob
mengikatkannya ke moncong sampan; empat orang menarik dari
daratan sehingga akhirnya sampailah mereka ke tepi sungai.
"Mr. Isely ada?"
"Ada. Kantornya di atas."


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rob dan Maggie diantar sampai ke pintu, tempat mereka
disambut oleh penjaga berseragam yang memberitahukan kedatangan
mereka ke atas. "Nama?" "Robert Vern?" Setelah menunggu beberapa saat kedua suami isteri itu
dipersilahkan naik. "Di balik pintu itu terdapat lift. Mr. Isely di lantai
empat." Rob dan Maggie cepat masuk lift dan memijit angka 4. Selagi
naik mata mereka tertumbuk pada sederet masker. Dibawahnya
terbaca tulisan, "Pakailah bila tanda bahaya berbunyi. Cepat-cepatlah
menuju ke luar." Dengan suatu sentakan lift itu berhenti, pintu pun terbuka dan
mereka sudah berhadapan dengan Bethel Isely. Senyumnya lebar
menawan. Isely membawa mereka ke ruang kerjanya. Seorang
sekretaris menawarkan kopi, tetapi Rob dan Maggie menolak. Rob
mau cepat-cepat mengadakan peninjauan ke pabrik itu.
"Saya ingin mengerti seluruh proses pemabrikan, dari awal
sampai akhir," kata Rob tegas.
"Beres! Mudah saja. Mari, saya tunjukkan."
Peninjauan mulai dari atap pabrik. Di sana mereka berdiri
berpegang pada pagar besi dan memandang ke bawah, pada timbunan
batang kayu yang menumpuk tinggi bagaikan gunung.
"Sebenarnya pabrik ini tidak berbeda dengan pabrik yang kunokuno itu. Hanya
lebih besar. Semua tumpukan kayu itu belum cukup
kecil dipotong-potong. Kemudian semua, dimasukkan ke mesin giling.
Kami menggunakan penggiling batu untuk mengubah batang-batang
itu menjadi bubur kayu. Bubur itu kemudian kami beri obat pemutih.
Lalu bubur dipres, dan selesailah pekerjaan kami, sebagai pemabrik
kertas." Setelah bertanya ini itu tentang kapasitas pabrik, Rob mulai
mengarahkan pertanyaannya pada tujuan kedatangannya.
"Sampai menjadi kertas, satu pohon memerlukan waktu berapa
lama?" Agaknya Isely dapat membaca perasaan Rob yang tegang itu.
"Saya tidak pernah menghitungnya." jawabnya.
"Kira-kira?" "Anda tahu, tujuan pertama setiap pabrik adalah efisiensi...."
"Kalau begitu, Anda tahu pasti."
"Maksudku, kami membanggakan...."
"Pertanyaan yang begitu sederhana."
"Yah, sepuluh menit."
Rob sungguh-sungguh terperangah. Sepuluh menit. Sebatang
pohon yang mungkin sudah berpuluh abad berdiri di hutan, habis
dalam waktu sepuluh menit. Daya perusak manusia sungguh-sungguh
dahsyat. "Saya ingin melihat seluruhnya," kata Rob.
"Akan saya perlihatkan apa saja. Kami tak punya rahasia."
Rob menggandeng tangan Maggie dan mereka bersama-sama
turun ke tingkat empat lewat tangga yang sempit. Suara di sana
membisingkan. Mereka harus saling berteriak.
"Di sini batang-batang dihancurkan. Tiada bahan kimia."
"Lalu diputihkan?"
"Ya." "Saya ingin melihat."
Mereka turun lagi satu tingkat. Di sana bubur yang berwarna
coklat kehitam-hitaman itu dimasukkan dalam tangki besar dan keluar
lagi sudah menjadi putih. Udara di tempat ini sungguh-sungguh
menyesakkan dada. Maggie terpaksa menutup mulut dan hidungnya
dengan sapu tangan. Kepalanya mulai pusing lagi.
"Anda tidak apa-apa, Mrs. Vern" Duduk saja di bangku itu."
Maggie mengangguk dan pergi ke bangku di balik pintu dan
bernafas agak lega. Rob mengawasinya sebentar, kemudian setelah
yakin bahwa Maggie tidak apa-apa, ia berpaling kepada Isely lagi.
"Obat pemutih apakah yang digunakan?"
"Chlorine. Tetapi obat itu tetap di dalam pabrik. Sebenarnya
berbahaya bagi kami, sebab chlorine dapat berubah menjadi gas.
Sebenarnya lebih enak, kalau sisanya dapat kami buang saja ke
sungai. Tetapi itu akan mengotori lingkungan. Dan hal ini selalu
menjadi pusat perhatian kami."
"Tak sedikit pun terbuang ke sungai?"
"Setetes pun tidak. Anda dapat mentes airnya."
"Kita terus?" Rob melambai dan Maggie mengikuti mereka turun ke tingkat
terbawah. Tempat itu panasnya bukan kepalang. Di situlah bubur yang
putih itu dimasukkan dalam pres-pres besar mirip mesin gilas jalan
dan keluar lagi berupa lembaran kertas lebar yang tak ada putusnya..
"Nah, itulah semua!" kata Isely. "Begitu sampai di sini, bubur
kayu itu dipres menjadi lembaran dan dikeringkan menjadi kertas."
"Bagaimana bisa menjadi kertas?"
"Bubur itu berserat-serat. Bila digilas, serat-serat itu saling
menempel sehingga padat."
Rob memandang berkeliling, dan wajahnya menampakkan
kekecewaannya. "Dan bahan kimia yang digunakan hanyalah chlorine
satu-satunya?" "Ya. O, maaf. Chlorine itu dicampur dengan zat caustic. Tetapi
itu pun tidak ada yang menetes ke luar pabrik."
Rob memandang Isely dengan tajam.
"Ada sesuatu?" tanya Isely, melihat pandangan Rob.
"Apa yang terjadi dengan batang-batang itu sebelum masuk
penggilingan?" Ada sesuatu dalam pertanyaan Rob yang membuat Isely
berubah sikap. Nada suara Rob lebih menuduh daripada bertanya.
"Batang-batang itu dihanyutkan dari hutan ke pabrik."
"Begitu" Dihanyutkan langsung ke pabrik?"
"Benar." "Tidak dihentikan di mana-mana?"
"Kadang-kadang, kalau timbunan di sini terlalu banyak."
"Di mana?" "Biasanya tidak berhenti."
"Tetapi kadang-kadang. Bukankah itu yang saya dengar tadi?"
"Ya." "Di mana?" "Di berbagai tempat."
"Dalam kolam" Dalam kedung?"
"Mungkin juga. Kayu-kayu itu jadi lebih empuk."
"Jadi merendam batang-batang itu termasuk dalam proses?"
"Kayu-kayu itu sudah terendam dengan sendirinya sewaktu
hanyut." "Perendaman ekstra kan lebih baik."
Isely mulai menjadi jengkel. "Begini Mr. Vern, itu justru tidak
baik. Kalau terlalu lama terendam, kayu-kayu itu penuh ganggang,
dan kami tidak menghendaki ganggang masuk dalam bubur."
"Baiklah. Saya masih mau bertanya lagi."
Maggie memandangi Rob dengan maksud mengingatkan Rob
agar meredakan luapan emosinya.
"Saya dengar tadi, batang-batang kayu itu dihentikan di
kolam?" "Ya. Kalau kami mempunyai surplus terlalu banyak."
"Saya melihat di luar itu batang kayu menggunung. Dapatkah
saya menyimpulkan bahwa pada saat ini sedang surplus?"
"Ya." "Dan berapa sering keadaan seperti ini terjadi?"
Isely tidak menjawab. "Bagi saya mudahlah mengetahuinya."
"Untuk apakah semua ini?"
"Berapa sering surplusnya terlalu banyak seperti ini?"
"Cukup sering."
"Mungkin sepanjang waktu?"
"Saya tidak tahu."
"Tetapi bukan hanya kadang-kadang saja?"
Kejengkelan Isely makin besar. "Saya tidak tahu."
"Anda kepala di sini?"
"Saya bertanggung jawab, tetapi saya tidak tahu segala tetek
bengek." Isely menyorotkan matanya tajam-tajam. "Saya ini baru di sini.
Seperti anda juga, Mr. Vern. "
Rob menegang karena muntab. Maggie menyentuh lengannya
agar jangan kehilangan kesabarannya.
"Apakah batang-batang itu direndam dalam bahan kimia?"
tanya Rob. "Setahu saya tidak."
"Maksudnya, setahu saya?"
"Ini di luar tanggungan kami. Pengangkutan batang-batang itu
kami serahkan kontraktor tersendiri. Saya tidak punya hak mengorekngorek apa
yang dikerjakannya."
"Anda mendengar pertanyaan saya?"
"Saya sudah menjawabnya!"
"Kalian bertanggung jawab atas segala buangan yang ke luar
dari pabrik ini!" Rob benar-benar berteriak. "Kalian yang menyewa
kontraktor itu, kalian yang menjual hasilnya, dan kalianlah yang
bertanggung jawab atas apa pun juga yang terjadi di tempat ini!" Rob
mendekatkan mukanya ke muka Isely. "Sekarang, jawablah, bahan
kimia apakah yang anda gunakan untuk merendam batang-batang
itu?" "Saya mau tanya!" Suara Isely sama kerasnya. "Berapa
lembarkah laporan itu nantinya?"
"Jawab pertanyaanku!"
"Berapa lembar" Seratus" Seribu" Dan berapa tembusan" Lima
ratus mungkin?" "Saya mau tahu bahan kimia yang dipakai di sini!"
"Saya tadi menanyakan tentang lima ratus ribu lembar yang
digunakan hanya untuk laporan ini."
"Pertanyaan saya "
"Dan berapa lembar lagi untuk disimpan di lemari-lemari file di
Washington?" "Anda belum menjawab...."
"Saya sedang menjawab. Anda menghabiskan kertas, saya
menyediakan! Jadi anda pun bertanggung jawab! Kecuali kalau
lemari-lemari di Washington itu akan anda isi dengan batuan "
"Bahan kimia apa ," ulang Rob ngotot.
"Tidak ada bahan kimia!"
"Saya tidak percaya."
"Tes air sungai itu!" teriak Isely galak. "Kalau kayu-kayu itu
direndam dengan bahan kimia, sungai di luar itu akan mengandung
buangannya!" Isely nampak marah sekali. "Kami mengambil sampel
air sungai untuk diperiksa setiap sepuluh hari sekali. Tidak setetes pun
tercemar. Tidak setetes pun!"
"Lalu ikan-ikan yang mati di luar itu, mati sendirikah?"
"Kalau anda lebih tahu tentang pekerjaan anda, Mr. Vern, anda
tentunya tahu jawabannya! Air di sekitar pabrik ini terlalu banyak
dipakai. Kandungan oksigennya tidak cukup untuk menunjang
kehidupan ikan. Selamanya harus begitu, dalam radius setengah kilo,
tetapi lebih jauh dari itu tidak menjadi soal. Dalam hal ini tidak ada
soal kimia-kimiawian."
Kata-kata Isely yang terakhir ini membungkam mulut Rob. Ia
yakin bahwa sebenarnya Isely tahu apa yang sedang ditanyakannya
tadi. "Anda tahu caranya mentes air, Mr. Vern?"
"Saya tahu caranya mentes air."
"Nah, lakukanlah! Kami tak menyembunyikan apa-apa!"
Berkata begitu Isely berbalik dan melangkah menuju ke lift
untuk kembali ke tingkat atas. Rob seakan-akan kehilangan tenaga. Ia
memegangi lengan Maggie dan bersama-sama kedua suami-isteri itu
berjalan ke pintu gerbang.
Di luar pabrik, matahari sudah mendekati cakrawala. Rob dan
Maggie berjalan dengan lesu menuju ke sampan. Meskipun agak
dengan susah payah, mereka akhirnya dapat naik ke sampan. Rob
menggunakan sebuah pendayung untuk mengetengahkan sampan itu
dan sebentar kemudian pabrik itu sudah tertinggal agak jauh. Sampai
di tempat masuknya Sungai Espee ke Danau Mary, Rob melihat
bangkai seekor berang-berang menyangkut di salah satu jaring pencari
ikan Indian yang berjajar-jajar terpasang di tempat itu.
Sementara sampan kecil mereka meluncur di atas permukaan air
yang tenang menuju ke pulau, kedua suami isteri itu duduk diam tanpa
berkata-kata sambil menghirup keharuman pohon-pohon tusam yang
membuat saraf-saraf mereka menjadi agak tenang kembali. Dalam
udara panas dan suara bising yang memenuhi ruang dalam pabrik itu,
Maggie merasakan adanya gerakan dalam perutnya yang agak berbeda
dengan yang biasa dirasakannya. Janin dalam kandungannya bergerak.
Namun gerakan yang tidak menyenangkan sebagaimana selalu
dialami wanita yang kandungannya sudah agak besar. Geraknya
menyentak bagai berontak seakan-akan ada sesuatu yang tidak
dikehendakinya. Pergolakan itu kini mereda setelah saraf-saraf
Maggie mengendor berkat kesegaran udara dan ketenangan suasana.
Dari tempat duduknya di haluan sampan, Maggie menoleh ke
suaminya dan melihat rasa putus asa yang membayang di wajah lelaki
itu. Maggie tahu bahwa Rob tidak biasa mengalami kekalahan.
Maggie merasa sedih, tetapi tak tahu apa yang akan dikatakannya
untuk membesarkan hati Rob. ?"?""L"W"S."?OG?"OT."?M
"Tidakkah mungkin bahwa anak kodok dan kadal menjadi
sangat besar karena sebab tertentu?" tanya Maggie.
"Ya. Tetapi di kolam M'rai itu semuanya tidak lumrah. Lumut
begitu berlimpah. Dedaunan tak serupa di tempat lain. Dan warna air
itu." "Pastikah bahwa sebabnya terletak di pabrik itu" Bukan di
tempat lain?" Rob menggelengkan kepalanya penuh keputusasaan. "Aku tak
tahu." Maggie melihat bahwa sepatunya bergelepotan penuh lumpur
berwarna coklat keabu-abuan. Ia mencolek sedikit lumpur itu dan
mengamatinya sambil merosok-rosoknya di antara jari dan jempol.
"Ikh." Ia mencuci lumpur kotor itu dengan menyeret jari-jarinya pada
permukaan air. Perbuatan itu diulang-ulangnya, setiap kali mencolek
lumpur dan membasuhnya pada permukaan air.
"Aku percaya orang itu," kata Maggie sambil mengulang
perbuatannya. "Maksudku Isely."
"Mengapa?" "Aku tidak tahu. Ia terlalu banyak membuat kesalahan,
sehingga tak mungkin ia seorang pembohong."
"Atau sebaliknya," jawab Rob.
"Kukira ia tak berdusta."
Sementara matanya mengawasi Maggie setiap kali jari-jarinya
dicelupkan di air, Rob menjadi penuh perhatian. Ia melihat betapa tiap
kali colekan lumpur itu masuk air, timbullah kilauan di permukaan air
seakan-akan lumpur itu mengandung bahan logam.
"Lagi pula," sambung Maggie, "andaikan ia membohong,
bagaimana mungkin ia menyuruh kau mentes air sungai" Maksudku,
kalau di air itu memang terdapat zat-zat yang tidak semestinya."
Pandangan Rob terpusat pada sepatu bot Maggie selagi gadis itu


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengorek lumpur yang semakin banyak dari sepatunya. Kini yakinlah
ia bahwa dalam lumpur itu terkandung zat logam tertentu, setelah tiaptiap kali
nampak kilatan warna keperak-perakan pada bekas jari-jari
isterinya. Keyakinan ini membuat wajah Rob tiba-tiba menjadi tegang
dan dingin. "Mungkin memang tidak di dalam air," gumamnya.
Maggie melihat pandangan suaminya dan ia menjadi cemas.
"Apa maksudmu, tidak di dalam air?"
"Lihatlah sepatumu."
Maggie memperhatikan sepatunya dan ia pun melihat apa yang
dilihat Rob. Ia mengorek segumpal lumpur dari bawah sol sepatunya
dan menjerengnya di atas telapak tangan.
"Kelihatannya seperti perak," kata Maggie.
"Lunak atau keraskah?"
Maggie meremasnya. "Lunak," katanya.
"Perak keras, bukan?"
"Lalu apa gerangan?"
"Coba, keringkan jari-jarimu bersih-bersih, kemudian sentuhlah
lumpur itu lagi." Cepat Maggie menyapukan tangannya pada pakaiannya
sehingga benar-benar kering. Dengan telunjuknya ia kemudian
menyentuh gumpalan lumpur yang tadi.
"Basah atau kering?" tanya Rob.
"Kering, aneh sekali," jawab Maggie keheran-heranan.
Wajah Rob menjadi merah padam penuh kemarahan. Namun
pandangannya menyorotkan kemenangan.
"Apakah ini sebenarnya?" tanya Maggie ingin tahu.
"Sewaktu masih kuliah dulu, pernah aku harus menjawab
pertanyaan yang aneh. Kini aku ingat, karena waktu itu jawabanku
keliru." "Apa itu?" "Cairan apakah yang tidak basah?"
"Lalu, jawabnya?"
Wajah Rob nampak tegang. Tangannya dikepal-kepal. Sekarang
telah didapatinya suatu batu loncatan untuk meneruskan
penyelidikannya sampai ke suatu tujuan.
"Mercury." "Mercury?" "Ya, mercury - air raksa!"
Chapter 10 SEMENTARA MAKHLUK-MAKHLUK malam mencari
makan di dalam sinar bulan yang lembut di Hutan Manatee, Robert
Vern sibuk sendiri dalam pondok menekuni setumpuk buku bagaikan
seorang mahasiswa menghadapi musim ujian. Sudah lima jam
lamanya ia membuka-buka buku yang diberikan kepadanya oleh
Shusette sambil mencatat dan membuat garis bawah di sana sini. Pada
jam satu malam, akhirnya arti dari apa yang ditemukannya sore tadi
mulai menjadi jelas. Maggie sudah pulas tidur di ruang atas. Suasana yang sunyi sepi
dalam pondok membuat apa yang ditemukannya semakin mengerikan.
Suatu index di belakang salah satu buku itu menyajikan daftar
senyawa kimia berisi mercury yang digunakan dalam perindustrian. Ia
mempelajarinya satu per satu, menyingkirkan yang tidak relevan dan
mengumpulkan yang dicurigainya.
Penciutan penelitiannya akhirnya sampai pada suatu senyawa
anorganik yang biasa digunakan untuk tujuan higienik dan untuk
menjaga agar mesin-mesin tetap bersih. Senyawa itu ialah PMT.
Bahan itu digunakan untuk mengendalikan vegetasi, untuk mencegah
hidupnya ganggang pada bagian-bagian mesin yang digunakan di
dalam air. Rob jadi teringat kata-kata Isely, bahwa kalau batangbatang itu
terlalu lama dibiarkan di dalam air, ganggang akan tumbuh
dan ikut tergiling menjadi bubur kayu, suatu hal yang menurut Isely
tidak menguntungkan. Mungkin sekali mereka telah memasukkan
PMT atau bahan semacam itu dalam kolam tempat mereka merendam
batang-batang kayu tersebut, agar tetap bersih.
Rob cepat membuat diagram untuk menegaskan bagaimana
rantai reaksi kimiawi dari bahan itu bekerja. PMT dicurahkan dalam
air. Butir-butir mercury yang terkandung di dalamnya bekerja
bagaikan magnit yang saling tarik menarik. Tiap butir menarik butir
lain sehingga merupakan gumpalan atau bola kecil. Sementara saling
mengumpul, butir-butir itu membawa pula plankton, komponen
ganggang yang sangat kecil itu, yang ikut tertarik dan ikut membentuk
gumpalan bersama mercury tersebut. Dengan demikian, bukannya
menempel pada batang, tetapi ganggang mengumpul dan mengendap
di dasar air. Serangga-serangga air yang makanannya plankton dan
ganggang melahap gumpalan itu. Mercury ikut tertelan dan setelah
melewati tubuh binatang, sifatnya menjadi organik. Serangga kecil itu
dimakan binatang yang lebih besar seperti ikan, kadal dan lain-lain.
Demikian seterusnya, rantai pangan itu beruntai makin meninggi dan
dengan penyerapan mercury yang makin banyak, sehingga pada
tingkat tertinggi makhluk-makhluk yang telah mencernanya menjadi
berisi racun. Juga tinja makhluk-makhluk itu beracun. Dan ketika
dibuang di lantai hutan, pepohonan dan tumbuhan lain akan
menyerapnya sehingga segala pemakan dedaunan dan rerumputan
akan juga terkena racun tersebut. Seluruh lingkungan sudah tercemar.
Itu belum semua. Robert Vern terus membuka-buka buku
mengenai bencana-bencana yang pernah terjadi akibat penggunaan
bahan-bahan kimia dalam industri. Dalam daftar isi tertulis "MMT".
Lambang ini berbeda dengan PMT, tetapi Robert yakin bahwa
bahannya sama, hanya istilahnya menurut gaya lama, dan keduanya
mengandung methyl-mercury anorganik.
Apa yang dilihat Rob dalam lembaran-lembaran buku ini benarbenar mengerikan. Ada
satu bab yang menyajikan kisah mendetil,
lengkap dengan foto-foto, mengenai bencana industri yang paling
hebat yang pernah terjadi. Foto-foto itu seakan-akan telah diambil
dalam suatu medan pertempuran: foto rumah sakit penuh orang cacat
dengan anggota yang tak lengkap atau kurang beres, anak-anak kecil
bertubuh tak wajar, orang tua dengan mata persis kelereng mati dan
senyuman tak waras. Semua itu telah diambil di Minamata, Jepang,
pada tahun 1956. Pada tahun itu, di kota tersebut, seluruh masyarakat
yang terdiri dari seratus ribu orang telah menjadi sakit dan cacat fisik
maupun mental. Sebabnya adalah keracunan methyl-mercury. Sebuah
pabrik kertas di tepi Danau Minamata telah lima puluh tahun lamanya
terus menerus membuang sisa-sisa bahan yang mengandung zat
beracun itu tanpa menyadari akibat yang ditimbulkannya. Zat ini telah
meracuni sumber air yang merupakan penunjang kehidupan seluruh
kota kecil itu. Tidak seorang pun anak-anak, orang dewasa atau
kakek-nenek yang tak terkena akibat racun tersebut. Ketika mula-mula
ketahuan, penyakit itu disebut "Sakit Mabuk" atau "Sakit Tawa" dan
"Wabah Kucing", sebab kucinglah yang pertama-tama terkena akibat
makanannya yang sepenuhnya terdiri dari ikan danau, tempat jenis
binatang pertama kali menjadi gila dan mati.
Pada waktu itu baru diketabui bahwa methyl-mercury
anorganik, bila berubah menjadi organik akibat pencernaan, akan
menjadi neurotoxin dan mutagen. Sebagai neurotoxin, zat itu akan
menyerang sel-sel otak yang membuat penderita mati-rasa, hilang
ingatan, lumpuh dan akhirnya mati. Sebagai mutagen, zat itu
menyerang janin. Tidak seperti mutagen lain, zat ini mampu
menembus placenta yang biasanya melindungi janin terhadap penyakit
dan racun yang masuk pencernaan ibunya. PMT bahkan mengendap
dalam sel-sel darah janin tiga puluh persen lebih banyak daripada
yang mengendap dalam sel-sel darah ibunya. Setelah penelitian
mendalam di laboratorium, methyl-mercury oleh para ilmuwan
dinyatakan sebagai racun paling kuat yang ditemukan sesudah Perang
Dunia II. Penggunaannya dalam industri telah dilarang untuk selamalamanya oleh
Mahkamah Dunia di Den Haag, Negeri Belanda.
Halaman terakhir bab itu menyajikan foto yang paling jelas
mengenai kehebatan pengaruh PMT pada manusia. Seorang wanita,
dalam keadaan cacat dan bungkuk, sedang menggendong bayinya,
suatu makhluk yang tak menentu bentuknya.
Robert Vern menutup bukunya dan duduk diam tak bergerak
dalam kebisuan pondok sampai beberapa menit lamanya. Ia terlalu
terguncang untuk beranjak dari tempat duduknya. Otak Rob berjalan
terus mengendapkan apa yang telah ditemukannya. Racun di
Minamata itu memerlukan waktu lima puluh tahun untuk menjadi
bencana yang menyeluruh. Di sini, di Hutan Manatee, orang baru dua
puluh tahun menggunakannya. Mungkin belum sangat terlambat.
Hanya, yang menjadi pertanyaan kini, samakah kekuatan bahan kimia
yang digunakan di sini dan di Minamata"
Pertanyaan terakhir yang membentuk di dalam benak Rob
membuat Rob hampir tak dapat menguasai emosinya. Bagaimana
mungkin mereka menggunakan obat yang amat berbahaya itu"
Apakah orang-orang itu tidak menyadari perbuatan mereka, atau tidak
mengetahui bahayanya" Apakah karena lambangnya berbeda, bukan
MMT melainkan PMT, mereka mengira bahan zat itu tidak serupa"
Atau hal itu mereka gunakan sebagai alasan mengelakkan tuduhan"
Bagaimana mungkin" Begitu meluapnya kemarahan Rob,
sehingga dengan sekuat tenaga ia menghantamkan kepalan tangannya
di atas meja dengan suara berdebam. Ia bangkit dan melangkah ke
pintu menuju ke luar. Di sanalah ia berdiri dengan tangan terkepal
sambil menengadah memandangi bintang-bintang di langit dengan
perasaan tak berdaya. "Rob ?" Ia berpaling dan melihat Maggie turun dari ruang atas dengan
mengenakan pakaian malamnya. Mata gadis itu nampak ketakutan
selagi ia berdiri di ambang pintu.
"Ada apa?" bisiknya.
"Kau pernah dengar tentang senyawa air raksa yang disebut
PMT" Suatu methyl-mercury anorganik?" Suara Rob terdengar
gemetar. "PMT adalah bahan anti ganggang yang tanpa itu akan
tumbuh pada batang-batang kayu yang direndam."
Rob dapat melihat bahwa isterinya tidak mengerti. "PMT adalah
zat beracun. Pada tahun 1956, bahan itu telah memusnahkan seluruh
penduduk kota kecil Minamata, di Jepang, yang seluruhnya berjumlah
seratus ribu orang."
Maggie mencernakan kata-kata suaminya itu dengan perasaan
masih bingung dan kurang mengerti. "Mengapa racun itu mereka
gunakan di sini?" "Karena cara itu murah dan sangat mujarab. Bukankah itu yang
dikatakan Isely" Mereka bangga dengan efisiensi kerja mereka?"
Tangan Rob mulai gemetaran karena emosi.
"Kau yakin?" "Orang-orang Indian makan ikan dan berperilaku seperti orang
mabuk, sedangkan mereka tak meminum minuman keras setetes pun.
Bukankah itu yang dikatakan Hawks" Orang mengira bahwa orangorang Indian itu
telah bermabuk-mabukan. Hawks tadi berkata, `Kami
ini pencari ikan', ya kan" Di Minamata penyakit itu disebut `Penyakit
mabuk'!" Dengan nafas yang memburu, Rob berjalan mondar-mandir
penuh frustrasi karena tak tahu cara melampiaskan kemarahannya.
"Rakun menjadi gila dan mati! Kucing demikian juga, kucing penjaga
hutan itu, ingatkah kau" Dan orang tua itu. Kau melihat kulit yang
hangus pada jari-jarinya?"
"Itu karena mercury?"
"Ya, dari tembakau yang diisapnya," jawab Rob. "Itulah
sebabnya ia mati-rasa pada tangannya. Ia telah makan apa yang
dijaringnya dari kolam itu. Itulah sebabnya ada kecebong yang
besarnya menyamai kodok dewasa."
"Semua itu karena mercury?"
"Semua itu karena mercury! Mercury adalah suatu mutagen!
Dan selama dua puluh tahun racun itu dicurahkan dalam kolam ini dan
perairan di tempat ini, juga danau ini."
Maggie mundur selangkah dengan muka yang ketakutan.
"Maksudmu bahan itu?"
"Inilah satu-satunya mutagen, yang dapat menembus rintangan
dinding placenta, dan kemudian mengendap dalam sel-sel darah janin,
bahkan melebihi yang terdapat pada induknya, tiga puluh persen
lebih..." "Rob," kata Maggie lirih. "Aku mau mengerti...."
"Kau mau mengerti" Aku juga mau mengerti, mengapa bahan
seperti itu sampai digunakan di sini?"
"Ikan-ikan pada terkena" Semua?"
"Semua ikan yang makan plankton. Apapun yang makan
ganggang. Apa pun yang kemudian makan pemakan ganggang itu!
Artinya semua, semua!"
Maggie berusaha agar suaranya tetap tenang dan tidak
menampakkan kecemasannya. "Apa maksudnya menembus rintangan
placenta itu?" "Zat itu menarik kromosom sebagaimana ganggang dalam air
itu." "Maksudmu ?" "Maksudku, semua yang lahir sesudah ini akan keluar dalam
keadaan tidak wajar. Cacat, kerdil, dan entah apa lagi!"
Maggie tiba-tiba merasa mual, seakan-akan mau muntah karena
guncangan perasaannya. "Dan lahir-mati!" tambah Rob.
"Apa?" Maggie tergagap.
"Bukankah itu pula yang merisaukan gadis Indian tadi siang?"
Maggie merasakan dirinya gemetar sekujur badan.
Pandangannya mulai berputar. Tetapi ia berusaha keras agar jangan
pingsan. Ia harus tahu lebih banyak. "Jadi, kalau seorang seekor
binatang yang sedang hamil makan ikan itu, ia mungkin....."
"Ia pasti akan melahirkan anak yang tidak wajar!"
Maggie hampir tak dapat menahan diri. Rob berpaling melihat
ketakutan dalam pandangan Maggie. Dan ia pun menjadi cemas,
ngeri. Namun ia tidak sadar bahwa ketakutan mereka tidak
sepenuhnya sama. Maggie menjatuhkan diri di ambang pintu dan
duduk dengan kaki gemetar. Kepalanya dipegangnya dengan kedua
belah tangan. "Janin yang sedang dalam perkembangan, mengalami berbagai
tahap," demikian Rob memberi penjelasan, tak sadar bahwa katakatanya menghunjam
pedih dalam hati isterinya. "Pada tiap tahap
janin mengalami tingkatan evolusi tertentu. Pada suatu tahap, janin
akan mirip ikan. Juga janin manusia. Ada insang, ada siripnya. Pada
tahap lain, janin menjadi mirip kucing, mirip kera, demikianlah
seterusnya." Maggie memejamkan mata. Kata-kata Rob bagaikan
datang dari jauh. "Racun ini menempel pada DNA. DNA itu suatu unsur darah.
Karenanya, janin dapat `beku', artinya berhenti berkembang. Atau ada
kalanya, yang terhenti perkembangannya hanyalah bagian-bagian
tertentu, sedangkan lainnya justru berkembang lebih cepat tanpa
melalui tahap evolusi tertentu." Ia berhenti. "Maggie, kau
mendengarkan?" "Ya." "Seekor binatang yang hamil, entah beruang, burung dan lainlain, telah makan
ikan yang sudah mengandung racun itu....janinnya
akan terkena, dan akan lahirlah bayi yang...." Rob berpaling kepada
isterinya yang duduk dengan mata nanar dan muka pucat lesi.
"Maggie?" "Ya?" Rob memandang ke kejauhan, di mana ia mendengar suara
burung titihan yang berteriak nyaring dalam kesunyian malam,


Ramalan Malapetaka The Prophecy Karya David Seltzer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seakan-akan mengisi seluruh hutan dengan jeritannya yang tidak pada
waktunya. "Untuk menjadi seperti yang kaukatakan itu, tentunya induk itu
harus makan ikan banyak sekali?"
"Racun itu mengental dalam sel darah."
"Berapa banyak?"
"Sedikit saja cukuplah."
Maggie hampir tak dapat menahan diri lagi. Terhuyung-huyung
ia masuk, takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan suaminya.
"Tetapi saya masih perlu bukti," kata Rob dengan memandang
geram. "Jadi semua itu belum pasti?"
"Saya masih harus mengambil sampel-sampel darah. Yang akan
saya nomor-satukan adalah sampel darah manusia."
Maggie berpaling kepada suaminya sambil menahan nafas
untuk meredakan perasaan mualnya. "Berapa lama lagi" Kapankah
kaudapat memastikan seratus persen?"
"Asal di rumah sakit kota kecil ini ada laboratoriumnya, besok."
Maggie masuk, tinggallah Rob di luar sendirian. Di kejauhan
lagi-lagi terdengar suara titihan yang menjerit bagaikan gila.
***************************************
Travis Nelson yang sedang berbaring-baring di dekat api
perkemahannya sambil membaca-baca, mendengar juga suara titihan
yang nyaring itu. Travis melihat jamnya dan sadar bahwa fajar pagi
masih terlalu jauh bagi berbunyinya burung titihan. Ia tersenyum
sendiri, agaknya seperti dia sendiri, burung itu sedang melakukan
suatu tugas yang penuh tanggung jawab malam ini.
Hujan yang tercurah tiga hari terus menerus itu sangat
memperlambat kemajuan keluarga Travis dalam perjalanannya
menuju ke air terjun. Mereka terpaksa menunggu sampai tanahnya
cukup kering untuk melanjutkan perjalanan. Setelah seharian berjalan,
suami-isteri Nelson dan kedua putera-puterinya sampai di suatu
tempat terbuka yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi. Dalam peta
Jawatan Kehutanan tempat itu diberi nama Tikungan Mary. Dari sana
mereka menyusur Sungai Espee sekira setengah jam perjalanan dan
mendirikan kemah di tengah-tengah pepohonan.
Untuk menghangatkan diri dan menghalau binatang hutan,
Travis telah menyalakan api. Di sekitar api unggun itulah mereka
duduk-duduk sambil omong-omong dan makan dari perbekalan
mereka. Travis dan isterinya, Jeanine, tersenyum sendiri mendengar
percakapan anak-anak mereka, apa lagi ketika mereka saling
menantang untuk tidur menyendiri, terpisah dari ayah ibu mereka.
Tantangan-tantangan itu begitu memuncak sehingga akhirnya kedua
anak itu benar-benar beranjak dari tempat itu, dengan masing-masing
membawa kantung tidurnya.
Travis yakin, mereka itu pasti akan kembali dalam waktu satu
dua menit. Tetapi sudah seperempat jam lamanya, anak-anak itu tidak
muncul. Ia pergi untuk mencari mereka. Rupanya mereka itu benarbenar mau
membuktikan keberanian untuk tidur tak setempat dengan
ayah atau ibu mereka. Namun anak-anak itu tidak berani sendirian
sama sekali, maka jalan tengah diambil, mereka tidur berdua.
Travis membuatkan api bagi kedua anak itu. Mereka berjanji
akan menjaga agar api itu tetap menyala semalaman untuk mengusir
nyamuk dan binatang hutan yang mungkin berkeliaran sampai ke
tempat itu. Kedua anak itu telah terbaring dalam kantung tidur
masing-masing ketika Travis meninggalkannya.
Di tengah malam, atas desakan isterinya, Travis kembali ke
tempat kedua anak itu. Semua tenang. Api masih menyala. Jam
wekker Kathleen terletak di dekat kepala gadis itu, disetel jam dua.
Rupanya gadis itu mau bangun pada jam tadi untuk menyalakan
kembali api perkemahan dengan memberinya bahan bakar baru.
Travis tetap berada di sana, dalam hati terharu melihat anak-anak itu
tidur berdampingan, menyendiri dari orang tua demi membuktikan
keberanian mereka. Segala masalah, kejengkelan dan frustrasi yang
dihadapinya sehari-hari dalam membesarkan anak-anak itu, pada saat
ini terhapus dari ingatannya. Betapa damainya keadaan waktu itu.
Travis akan selalu mengenangnya.
Travis tak berani lama-lama tetap di dekat anak-anak itu, takut
isterinya menjadi kuatir. Sampai di kemahnya, kira-kira lima puluh
meter dari sana, ternyata isterinya pun sudah tertidur. Ia memandangi
isterinya yang meringkal di kantung tidurnya dan suatu perasaan yang
jarang dirasainya menyelusup dalam hatinya. Perasaan bangga
bercampur bahagia, bahwa ia sendiri jaga dan semua orang yang
disayangnya tidur lelap. Hal itu membuat Travis menyadari, betapa
mereka itu tergantung kepadanya. Betapa damai mereka tidur, meski
dalam lingkungan yang asing, karena mereka tahu, apa pun juga yang
terjadi, ia masih ada. Perasaan bangga diri itu begitu menyenangkan,
sehingga Travis tak mau cepat-cepat membaringkan diri untuk tidur.
Ia tetap jaga sambil membaca buku puisi tulisan Thoreau yang sangat
disenanginya. Pada jam dua malam ia mendengar weker Kathleen berdering di
kejauhan. Lama weker tak dimatikan. Namun demikian ia seakanakan mendengar
geretak-geretik di dalam hutan, agaknya gadis itu
telah bangun juga, dan kini sedang mencari-cari ranting kering untuk
tambahan bahan bakar api kemahnya.
Ia menutup bukunya dan membaringkan diri di dekat isterinya
sambil menengadah ke langit. Ia belum pernah selama hidupnya
melihat bintang sebanyak itu. Ia mencoba menghitungnya sementara
telinganya masih menangkap bunyi ranting-ranting patah. Banyak
benar gadisnya mengumpulkan bahan bakar, pikir Travis.
Sementara masih meringkal di dalam kantung tidurnya,
Kathleen pun mendengar juga bunyi geretak-geretik di antara
pepohonan itu. Kathleen telah terjaga oleh dering wekernya, namun
gadis itu terlalu malas untuk mengulurkan tangan dan mematikan
wekernya. Dibiarkan saja per jam itu berputar sampai habis.
Kemudian ia berpikir tentang janjinya untuk membesarkan api
penghalau nyamuk dan binatang hutan. Kathleen baru mau bangkit,
ketika telinganya menangkap suatu suara di antara pepohonan,
seakan-akan ada orang berjalan ke arah mereka.
"Ayah?" Sebagai jawaban, suara itu berhenti. Jengkerik-jengkerik
berhenti berdering dan seluruh lingkungan menjadi sunyi bagaikan
ruang hampa udara. Lalu, suara itu datang lagi, tetapi kini tidak begitu
jelas, hanya bagaikan daun yang digeser-geser di lantai hutan.
"Ayah?" bisik Kathleen sekali lagi.
Suasana membisu kembali. Kathleen memaksa matanya untuk
melihat ke dalam gelap. Ia tak melihat apa-apa, tetapi telinganya
mendengar nafas yang cukup keras. Dan juga hidungnya mencium bau
sesuatu yang apak bagaikan kamar terkunci sesudah hujan. Dengan
tubuh yang mulai gemetar gadis itu melemparkan pandangan ke api,
yang tinggal bara tanpa nyala. Kathleen ingin berteriak memanggil
ayahnya, tetapi betapa pun dicobanya, mulutnya tak mengeluarkan suara.
Ia berjuang dengan seluruh tenaga untuk membentuk suatu kata
dengan nafasnya yang bergetaran, namun hanya bisikan lirih yang
keluar. "Ayah ?" Kemudian suara itu makin mendekat. Ia kini dapat merasakan
selain mendengar. Lantai hutan tempat ia terbaring bergetar sewaktu
sesuatu yang besar membayang di atas gadis itu. Kathleen menutup
mata setelah setetes air mata meleleh melewati pipinya dan jatuh ke
tanah. "Oh, Tuhan " Paul mendengar keluh kakak perempuannya, dan ia membuka
mata. Suara berikutnya yang terdengar ialah bunyi berdebug berat
yang disusul erangan lirih. Masih dalam kantung tidurnya, Paul
menggelinding ke tempat kakaknya. Kosong. Tiada kantung, tiada
orangnya. Ada semacam hujan bertetesan deras ke tanah. Tetapi hujan
ini berwarna merah. Paul terbaring diam, bagaikan dalam mimpi. Hujan yang
berwarna merah itu berhenti, digantikan hujan salju: bulu-bulu angsa
bekas pengisi kantung tidur Kathleen. Di atas Paul mendengar
geretak-geretuk bagian suara kucing makan tikus. Mata Paul menjalar
ke atas dan ia terpaku penuh kengerian. Bayangan raksasa di atas anak
itu makan dengan tak bersuara, boleh dikata dengan malas. Hujan
darah dan bulu-bulu itu tiba-tiba menjadi bertambah deras, menimpa
kepala Paul yang tersembul dari kantung tidurnya. Kemudian ia
melihat dua biji mata makhluk raksasa itu menyorot ke arah dirinya.
Dua pasang mata beradu pandang.
Barulah Paul menyadari sepenuhnya bahaya yang mengancam
dirinya dan bahwa ia harus lari secepat mungkin. Paul mencoba
bangkit dan berlari, tetapi tidak dapat. Kantung tidur itu telah
mengurung dia bagaikan kepompong. Dicobanya membuka kancingtarik kantung itu,
ternyata macet, mungkin saking terburu-burunya.
Suara berdebug didengarnya ketika kantung-tidur Kathleen
menghempas di tanah dan Paul masih sempat melihat lengan
kakaknya jatuh menyusul kantung yang sudah berantakan itu. Anak
lelaki itu mulai menjerit sekuat tenaga penuh keputus asaan ketika
suatu bayangan hitam membungkuk ke arah dirinya.
Dari dekat api kemahnya, sejauh lima puluh meteran, Travis
mendengar jeritan nyaring itu dan langsung melompat bangun dan lari
bagaikan kijang dalam bahaya menuju ke tempat anak-anaknya.
"Paul! Paulie!" Di tengah larinya, Travis mendengar jeritan anak itu
makin lama makin kegila-gilaan dan kemudian berhenti dengan
mendadak. Travis Nelson masih sempat melihat bentuk siluet anaknya
terbang bagaikan boneka mainan, tersaput hujan bulu-bulu angsa yang
bertebaran di sinar bulan. Sesaat kemudian nampaklah olehnya
sebentuk binatang raksasa muncul dari antara pepohonan.
"Ampun Tuhan!" gagap Travis hampir tak bersuara.
Kata-kata yang lirih itu akan merupakan ucapan terakhir yang
pernah ke luar dari mulut Travis Nelson sejak saat itu.
*****************************************
Pada waktu fajar menyingsing, Romona dan Hawks berjalan
cepat melintasi hutan menuju tepi danau dan bersampan ke pulau. Rob
dan Maggie sudah agak lama bangun dan sudah menunggu
kedatangan mereka. Dalam pondok itu Rob menjelaskan segala
sesuatu yang telah ditemukannya sejak mereka berpisah kemarin.
Kedua Indian itu mendengarkan dengan minat yang semakin besar
dan kemarahan yang semakin memuncak. Rob tidak lupa
memperlihatkan juga foto-foto dari bencana industri di Minamata.
Maggie memaksa diri mendengarkan dari awal sampai akhir
dan memusatkan perhatiannya pada setiap detil. Gadis itu sudah
mendekati tahap histeris, namun ia merasa harus mengerti segalanya
sejelas mungkin, atau kalau tidak, ia terpaksa jatuh dalam kelumpuhan
emosional yang tak bertanggung jawab. Betapa pun pahitnya,
kenyataan itu harus dihadapinya.
Rob menyampaikan rencananya untuk mengambil sampelsampel darah dari orang-orang
Indian. Kalau hasilnya ternyata positif,
maka besar kemung kinan bahwa suku-suku Indian di Hutan Manatee
itu sedang menghadapi bencana yang serupa di Minamata. Rob Yakin,
asalkan ia dapat mengumpulkan sampel-sampel darah dari sepuluh
lelaki, sepuluh wanita dan sepuluh anak-anak, maka kepastian akan
segera dapat diperoleh. Hari baru jam delapan pagi ketika berempat mereka
meninggalkan pulau dan bersampan menuju ke tempat parkir mobil
Rob. Dengan mobil itulah mereka melintasi hutan menuju ke
perkampungan Indian di tengah hutan. Perjalanan itu makan waktu
satu jam. Rob agak buru-buru membuka peralatan dokternya dan
mempersilahkan Romona dan Hawks mendahului masuk
perkampungan dan memberitahukan apa yang akan terjadi. Rob tidak
dapat mendengar kata-kata mereka, tetapi dari gerak-gerik dan reaksi
Dendam Asmara Liar 2 Bidadari Dari Thian-san Pendekar Cinta Karya Tabib Gila Suramnya Bayang Bayang 8
^