Pencarian

Emptiness Soul 2

Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena Bagian 2


"Jarvis!" Astaga, aku lupa dengan keberadaan wanita jalang itu.
Aku berbalik dan menyeret tangannya, menghentikan taksi dan
menyuruhnya naik. Lalu memberi uang pada supir taksi tersebut dan
menyebutkan alamat rumah Sandra.
"Tunggu Jarvis, kau tidak boleh memperlakukan aku seperti ini."
Tapi taksi itu sudah melaju kencang dan teriakan Sandra hilang
terbawa angin. Aku bergegas masuk ke mobilku dan melajukannya dengan kencang.
Seperti orang gila, aku mendatangi club-club yang biasa dikunjungi
Jeremy. Menembus lautan manusia dan berharap bisa menemukan
Alexa. Tapi nihil. Lalu ketika sudah tidak ada lagi daftar nightclub yang bisa
kukunjungi, dengan putus asa, aku mendatangi hotel-hotel.
Menanyakan kepada setiap resepsionis hotel, mencari jejak
keberadaan Jeremy. Tapi sudah sekitar 15 hotel yang aku datangi,
tidak ada setitikpun tanda-tanda aku bisa menemukan Jeremy.
Sudah pukul tiga dini hari ketika aku berjalan gontai ke luar dari
hotel ke 16 yang aku datangi.
Kau bawa kemana Alexa, Jeremy..."
Aku menyandarkan keningku pada roda kemudi, hatiku diselimuti
rasa was-was dan kepedihan, memikirkan apa yang mungkin
diperbuat Jeremy pada Alexa.
Aku merasa putus asa, mungkin ini memang takdirku untuk tidak
bersama Alexa. Kurasa aku harus pulang ke apartemen.
Apartemen" Tunggu. Seketika kesadaran menyentakku, aku sama sekali belum ke
apartemen Jeremy. Kenapa itu tidak terpikirkan olehku sebelumnya"
Aku segera memundurkan mobilku dari tempat parkir dan
membelokkannya, lalu melaju dengan kencang menuju apartemen
Jeremy. Aku menghentikan mobilku di depan gedung apartemen, dan
langsung berlari ke dalam. Masuk ke dalam lift dan menunggu
dengan gelisah di dalam lift yang bergerak naik, segera menerobos
ke luar ketika pintu belum sepenuhnya terbuka.
Aku berlari di lorong...109...110...111...112...113...Ini dia.
Aku berhenti dan menekan bel pintu berkali-kali. Namun pintu sama
sekali tidak terbuka. Karena panik aku menggedor-gedor pintu itu,
tapi gedoranku malah membuat pintu itu terdorong dan terbuka
sedikit. Hei, pintu ini tidak tertutup sempurna.
Aku mendorong pintu tersebut, dan langsung terbuka lebar. Aku
menerobos masuk, memanggil-manggil Jeremy.
Tidak ada sahutan, aku mendengar alunan musik erotis dari kamar
Jeremy. Dengan langkah lebar, aku menuju kamar Jeremy, dan
menghampiri pintunya yang setengah terbuka.
"Oh yeah babe, teruskan. Sialan, ini luar biasa babe, milikmu terasa
nikmat..." Aku meradang mendengar ucapan Jeremy yang bercampur dengan
desahannya. Lalu aku mendengar suara perempuan mengerang.
Sialan Jeremy. Aku akan membunuhnya.
Kudorong pintu kamar Jeremy, dan aku melihat dia sedang
menggoyang pantatnya di atas tubuh seseorang (yang aku yakini
adalah Alexa). Aku meraih bahu Jeremy dan menariknya kasar, hingga membuatnya
terhuyung-huyung di hadapanku, dan sebelum dia menyadari apa
yang terjadi, aku sudah melayangkan tinjuku pada rahangnya.
Membuatnya terjengkang dan jatuh terduduk.
Jeremy menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah,
"Brengsek kau Jarvis! Apa yang kau lakukan"!"
"Kau yang brengsek!" Teriakku, lalu meloncat ke arahnya dan
memukulinya secara bertubi-tubi. "Beraninya kau meniduri Alexa,
beraninya kau bercinta dengannya. Dia milikku Jeremy! Kau dengar
itu! Alexa milikku!"
"Hentikan! Kumohon hentikan!"
Aku menghentikan tinjuku di udara, dan tertegun mendengar suara
yang menghentikanku. Aku berbalik dengan cepat dan mendapati seorang wanita berambut
hitam yang terduduk di ranjang menangis ketakutan. Tangannya
gemetar, menggenggam selimut yang menutupi dadanya.
Bergantian aku memandangi Jeremy yang telanjang dan gadis itu
dengan bingung. Aku tidak mengerti...Jeremy...Tidak bersama
Alexa... Jeremy bangkit dan menghampiri gadis itu. Membisikkan sesuatu
untuk menenangkannya. Gadis itu mengangguk dan menyeka air
matanya. Lalu Jeremy memakai boxernya dan berbalik menatapku.
"Kau..." tudingnya padaku, "Ikut denganku!" Lalu dia ke luar dari
kamarnya. Aku mengikutinya setengah linglung. Jeremy menutup pintu
kamarnya dan mengajakku ke bar pribadinya.
Jeremy mengambil dua buah gelas kecil dari lemari beserta sebotol
wine. Lalu dia mengisi gelas itu dengan es batu dan menuang wine
ke dalamnya. Dia menghampiriku yang terduduk lemas di sofa dan memberikan
segelas wine itu padaku. Aku menerima gelas itu dan meneguk habis
isinya. Mengendurkan kembali syaraf-syarafku yang menegang.
Jeremy berdiri di hadapanku, meneguk minumannya, dan matanya
mengamatiku, menyelidik ke dalaman isi hatiku.
"Jadi benar, kau mencintai Alex?" tanyanya pelan, lebih seperti
gumaman. "Kau tidak bersama Alexa?" Aku balik bertanya.
Jeremy menggeleng. "Aku mengantarnya pulang tidak lama setelah
kami ke luar dari restoran."
"Tapi kau tadi..."
"Aku memancingmu Jarvis, aku ingin melihat reaksimu. Tidak
kukira, rasa penasaranku membuat mukaku jadi babak belur."
Jeremy mengusap lebam yang ada di pipinya.
"Maafkan aku," aku menunduk dan meremas rambutku dengan
kedua tanganku, "Aku..."
"Cemburu." Jeremy memotong ucapanku.
Aku terhenyak, aku cemburu" Benarkah" Aku merasakan perasaan
marah yang tidak tertahankan saat melihat Jeremy sedang bercinta
dengan gadis yang kukira Alexa, aku merasakan sakit di dalam dada,
seakan-akan ada yang meremas jantungku. Seperti inikah rasanya
cemburu" "Kau cemburu buta Jarvis." Jeremy kembali meneguk minumannya.
"Tapi kenapa?" "Kau masih belum mengerti" Karena kau mencintai Alex."
"Aku tahu." Jeremy mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tahu aku mencintai Alexa. Rasa ingin memilikinya, begitu kuat
di dalam sini." Aku menunjuk dadaku, "Tapi kenapa aku mencintai
dia" Kenapa harus Alexa?"
Jeremy terkekeh, "Karena cinta tidak memilih, Jarvis."
"Aku tidak pantas untuk Alexa."
"Apa yang kau katakan?"
Aku berdiri tegak di hadapan Jeremy, merentangkan tanganku ke
samping. "Lihat aku Jeremy, siapa aku" Aku pria simpanan, gigolo,
atau apapun orang menyebutnya," lalu aku terduduk kembali, lemas
tak berdaya, "Aku bajingan...Bajingan kotor yang tidak ada artinya."
"Omong kosong! Kau manusia seperti yang lainnya Jarvis, kau
berhak memiliki cinta."
"Kau tidak mengerti..." gumamku pelan.
"Aku mengerti." Jeremy menunduk dan menatapku tajam. "Aku
mengerti dirimu, lebih daripada yang kau tahu." Lalu dia berdiri dan
berbalik, berjalan ke meja bar dan menuang kembali wine ke dalam
gelasnya. "Kejar dia Jarvis. Kalau kau laki-laki, kejar Alexa.
Dapatkan cintanya, dia pantas untukmu."
Aku terdiam, tekad yang kuat muncul dalam dadaku. "Aku akan
mengejarnya." "Bagus...dan satu lagi," Jeremy menghampiriku. Lalu tiba-tiba, dia
melayangkan tinjunya ke pipiku, hingga membuatku terlempar ke
samping. "Itu tadi sakit tahu." Seringainya puas. Lalu dia berbalik
dan melangkah menuju kamarnya, "Sekarang kau boleh pulang, atau
tidur di situ jika mau. Aku akan meneruskan apa yang tadi kau
kacaukan." Sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman kecil. Lalu aku
menyeka darah yang menetes di sudut bibirku.
Bersiaplah Alexa, aku akan mengejarmu.
*** Bab 7 TOGETHER WITH HER Kelegaan memenuhi dadaku ketika aku memutuskan untuk mengejar
Alexa. Aku ingin memperbaiki diriku, melepaskan hatiku untuk
mendapatkan apa yang aku inginkan.
Aku tidak lagi memikirkan ketakutanku akan masa lalu. Kehadiran
Alexa dalam jiwaku menghapus semua mimpi-mimpi yang selama
bertahun-tahun menghantuiku.
Pembangunan supermall PT Wise Darmawan sudah dimulai. Pagi
ini, aku dan Jeremy memutuskan untuk meninjau secara langsung
proses pembangunan tersebut.
Di sampingku yang sedang menyetir, Jeremy menatap serius ke layar
laptopnya, melihat gambar rancangan gedung supermall yang akan
dibangun. "Bro, menurutmu aku harus memulai dari mana?" tanyaku mengusik
keseriusannya. Dia sama sekali tidak mendengarkanku.
"Hei, aku bertanya padamu."
"Apa?" tanyanya tanpa melihatku.
"Menurutmu aku harus memulai dari mana?"
"Apanya?" Aku mendengus kesal, "Alexa. Kau bilang aku harus mengejarnya.
Aku harus mulai darimana?" Aku mengulangi pertanyaanku untuk
ketiga kalinya. Jeremy mengalihkan perhatiannya dari layar laptop dan menatapku
sebal. "Ini bukan yang pertama kalinya kau berurusan dengan
seorang gadis. Kenapa bertanya padaku?" Lalu Jeremy kembali
menatap layar laptopnya. Alexa berbeda. Dia tidak sama dengan gadis-gadis lainnya, yang
kudekati hanya untuk kutiduri.
Jeremy mematikan laptopnya ketika aku membelokkan mobil dan
menghentikannya di sebuah lahan kosong. Kemudian kami turun
dari mobil dan berjalan kaki menuju tempat pembangunan.
Kami menghampiri sebuah bangunan sederhana berupa ruang
persegi yang menyerupai kamar, kamar itu digunakan sebagai tempat
penyimpanan berbagai macam peralatan untuk bekerja.
Ada seorang penjaga di sana. Penjaga itu berdiri dan tersenyum
ramah melihat kedatangan kami.
"Pagi, Pak..." sapanya ramah.
"Pagi Pak Santo."
Itulah hebatnya Jeremy, dia hafal nama semua pekerja. Baik staff di
kantor maupun buruh bangunan yang hanya sebagai pekerja
sementara. Sementara Jeremy bercakap-cakap dengan Pak Santo, aku masuk ke
dalam dan mencari helm proyek. Lalu ke luar lagi dengan membawa
dua helm proyek berwarna merah di tanganku. Aku menyerahkan
satu pada Jeremy dan memakai yang satunya untuk diriku sendiri.
Aku tidak begitu pintar bergaul dan beramah-tamah, karena itu aku
bergeser agak jauh dari Jeremy dan mengamati para pekerja. Saat
itulah aku melihat dia...Berlari di kejauhan dan melambaikan
tangannya ke arahku. Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Apakah itu benar dia"
"Hai, Jarvis." Dia sudah ada di hadapanku, meletakkan kedua tangannya di
belakang punggungnya, dan tersenyum malu-malu.
Aku mengucek mataku, masih tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Itu memang dia, bodoh," gumam Jeremy yang sudah ada di
belakangku, bahunya menabrak bahuku saat melewatiku. "Hai
Alex." Jeremy mendekati Alexa dan mencium pipinya.
Hei, bagaimana bisa dia mencium pipi Alexa.
"Hei, Jeremy." Jeremy mengamati Alexa yang mengenakan setelan blazer dan
celana panjang warna ungu muda. "Kau terlihat sangat cantik hari
ini," gumamnya menilai.
Alexa tersenyum, "Terima kasih, kau mengirim pesan memintaku
untuk datang ke sini, ada apa?"
Jeremy meminta Alexa ke sini"
"Betul. Jarvis dan aku ingin memperlihatkan proses pembangunan
tahap awal padamu. Tapi..." Jeremy melirik jam tangannya,
"...kebetulan aku ada janji. Maaf Alex, tapi sepertinya aku tidak bisa
menemanimu. Jarvis akan mengurus semuanya, dia akan
mengajakmu berkeliling."
Jeremy merencanakan ini"
Aku berusaha bersikap sewajar mungkin. Tidak melompat-lompat
kegirangan dengan situasi ini.
Alexa melirikku, "Okay, tidak masalah."
Jeremy menoleh ke arahku, "Sorry bro, sepertinya aku harus
meminjam kunci mobilmu," katanya. "Kau tidak keberatan kalau
nanti mengantar Jarvis kan Alexa?"
Aku bersorak dalam hati, thanks...bro.
"Tentu saja tidak." Jawab Alexa, bibirnya melengkung ke atas,
membentuk senyuman yang sangat manis.
Jeremy berbalik ke arahku, "Kunci mobilnya, bro." Dia mengulurkan
tangannya dan mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku melemparkan kunci mobilku ke arahnya dan Jeremy
menyambarnya sebelum kunci itu jatuh ke tanah. Lalu dia pergi dan
melambaikan tangannya pada Alexa, "Sampai jumpa Alex..."
Aku dan Alexa memperhatikan Jeremy sampai dia tidak terlihat.
Sekarang...Hanya ada aku dan Alexa...
"Kita mau ke mana dulu?" Tanya Alexa mengakhiri kebisuan kami.
"Sebentar, tunggu sebentar..." Aku berjalan mundur dan
menyuruhnya menunggu, "Jangan ke mana-mana ya..." Kemudian
aku berbalik dan berlari masuk ke dalam kamar penyimpanan
peralatan yang tadi aku masuki.
Lalu aku ke luar dengan menenteng sebuah helm proyek di
tanganku. Aku berdiri di depan Alexa dan memakaikan helm itu
padanya, agak terlalu longgar untuk kepala Alexa.
"Ini untuk melindungi kepalamu," gumamku, mata coklatnya terlihat
melembut saat bertemu dengan mataku.
"Terima kasih..." Dia berbisik pelan.
Aku berdeham, "Okay, mari kita melihat-lihat."
Alexa berjalan di sampingku saat aku mengajaknya berkeliling dan
menerangkan proses pembangunan supermall miliknya.
"...jadi nantinya akan ada dua pintu utama, pintu untuk hotel dan
pintu untuk supermall itu sendiri...ups," Aku menangkap tubuh
Alexa yang condong ke samping karena tergelincir. "Hati-hati
Fairy..." Tanganku merengkuh pinggang Alexa, dan tangannya


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencengkeram bajuku kuat-kuat, menahan tubuhnya agar tidak
terjatuh. Sesaat kami saling terpaku, sampai akhirnya dia bergerak dan aku
membantunya untuk berdiri tegak kembali.
"Terima kasih," gumamnya pendek.
Aku hanya mengangguk, menenangkan jantungku yang terlanjur
berdetak sangat kencang. "Kenapa?" tanyanya pelan.
Aku tidak mengerti dengan pertanyaannya. "Apa?"
"Kenapa...kau menyebutku Fairy?"
Oh... "Kalau aku boleh tahu..."
Aku berdeham, menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba datang
menghampiriku. "Itu karena...saat pertama melihatmu, aku mengira
kau seorang peri." Ini menggelikan. Dia pasti akan menertawakanku.
Tapi dia hanya berpaling, menatap lembut padaku. "Di mana itu?"
Merasa canggung, aku menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak
gatal, "Di tengah hujan, kau merentangkan tangan dan memejamkan
matamu...dan kau...tersenyum." Aku terkekeh pelan, "Kau sangat
menyukai hujan ya?" Dia masih menatapku, kemudian dia tersenyum, "Ya..." bisiknya,
"Aku sangat menyukai hujan."
Aku memalingkan wajahku, menghindar dari tatapannya. "Well, itu
bagus..." Gumamku. Alexa berjalan mendahuluiku, dia mendekati sebuah pilar yang
belum terpasang dan duduk di atasnya. Aku menghampirinya dan
ikut duduk di sampingnya.
"Selain hujan, apa yang kau sukai?" tanyaku.
"Umm...Aku suka petir."
Itu mengejutkanku. "Aku juga suka pelangi, langit, hutan, laut, bintang, bulan, awan,
matahari, pohon..." "Tunggu." Dia menghentikan ucapannya dan berpaling menatapku, mengangkat
sebelah alisnya... "Apakah bisa diselipkan kata 'kamu' sebelum kata pelangi?"
Dia mengangguk, meski terlihat tidak mengerti dengan apa yang
kumaksud. "Aku juga suka 'kamu'..." Alexa terbelalak, menatapku yang
berusaha menahan tawa. Kemudian dia tergelak.
Aku tersenyum memandangnya yang tertawa lepas. Anak-anak
rambut yang terlepas dari jalinan rambutnya berterbangan tertiup
angin, membelai-belai pipinya, membuatku merasa iri dengan anakanak rambut
tersebut. Dia menghentikan tawanya dan menatapku dengan masih
menyimpan sorot geli pada matanya.
"Jadi...mau makan siang denganku?" Tanyaku berharap.
Alexa menggeleng, dan aku berusaha menekan rasa kecewaku.
Tidak apa, Jarvis. "Bagaimana kalau makan malam?" gumamnya dibalik
senyumannya. Dia kembali mengejutkanku.
Alexa menelengkan kepalanya dan mengangkat alisnya, melihatku
yang hanya ternganga. Aku tersadar, dan kebahagiaan menyerbu hatiku. "Okay. Nanti
malam?" kataku cepat.
Alexa kembali tertawa mendengar ucapanku.
*** Sebelumnya aku tidak pernah makan malam dengan seorang gadis,
karena itu aku meminta bantuan Jeremy. Jeremy merekomendasikan
sebuah restoran dengan konsep berputar yang cukup romantis. Dia
menyuruhku untuk reservasi tempat. Tapi, aku khawatir Alexa tidak
menyukainya. Dia agak berbeda dengan gadis kebanyakan. Aku pun
tidak melakukan reservasi. Kupikir, toh ini bukan malam minggu.
Mungkin restoran tidak begitu ramai.
Aku berada di depan pintu rumahnya tepat pukul 7, menekan bel
beberapa kali sebelum Alexa membukakan pintu.
Dia berdiri di depan pintu, dengan gaun malam biru gelap sepanjang
lutut yang membalut tubuhnya, sepatu high heels warna senada
melengkapi penampilannya. Dia terlihat sangat seksi di mataku.
"Siapa di luar, sayang?" Terdengar suara perempuan dengan logat
asing dari dalam rumah. Alexa terlihat gugup. "Teman, Aunty." jawabnya setengah berteriak.
Seorang wanita ke luar dan menghampiri kami. Matanya menyipit
saat menatap Alexa, "Teman?" Kemudian dia berpaling menatapku
dan terlihat seperti menilaiku.
Aku tersenyum padanya, dia membalas senyumanku dan
menegaskan pertanyaannya pada Alexa. "Kau yakin hanya teman?"
"Ya Aunty, dan aku akan ke luar dengannya sekarang." Kata Alexa
terlihat terburu-buru. Lalu dia meraih tanganku, bersiap untuk
berlalu, tapi wanita itu menahannya.
"Setidaknya perkenalkan Aunty pada temanmu."
Alexa tersenyum gugup, aku mengambil inisiatif dengan
mengulurkan tanganku. "Saya Jarvis, Tante."
Wanita itu tersenyum hangat dan menyambut uluran tanganku,
"Panggil saja Claire," gumamnya ramah.
Aku mengangguk, "Okay, Claire."
Claire tertawa, "Okay, sekarang kau boleh pergi Alex. Senang
bertemu denganmu, Jarvis."
Aku membungkuk sopan, "Saya juga."
Lalu Alexa menggeretku, meninggalkan Tantenya.
"Tantemu sangat ramah," gumamku setelah kami berada di dalam
mobilku. "Ya, dia adik kembar Ibuku."
"Ibumu mempunyai saudara kembar?" Sekilas aku teringat cerita
Sandra tentang saudara kembar Alexa yang hilang.
Alexa hanya mengangguk, tapi matanya menunjukkan kalau dia
enggan menceritakan tentang dirinya, aku pun tidak lagi
mengungkitnya. "Kau mau mengajakku makan malam di mana?" Setengah melamun,
dia bertanya padaku. "Bagaimana menurutmu dengan Pure Dine n' Drinks?" Aku
meliriknya, ingin melihat reaksi Alexa. Menurut Jeremy, setiap gadis
pasti suka dengan resto itu.
Tapi Alexa...tidak. Dia hanya termangu dan menatap ke luar jendela.
Aku menstarter mobil dan menjalankannya.
"Kau sudah reservasi tempat di resto itu?" Tanya Alexa.
Aku menggeleng. "Bagus." Tiba-tiba Alexa terlihat bersemangat.
Aku mengangkat alis tidak mengerti.
"Aku akan mengajakmu ke tempat lain," dia tersenyum misterius,
"Tempat yang lebih asik." Lalu dia membungkukkan badannya ke
depan dan melihat ke atas dari kaca jendela depan mobil. "Not bad,"
gumamnya pada diri sendiri.
"Apa yang kau lihat?" tanyaku penasaran.
Kembali dia tersenyum misterius, "Nanti kau akan tahu."
Aku melihat Alexa dengan sudut mataku, dia memang berbeda.
"Berapa umurmu?"
Alexa menatapku dan mengangkat alisnya dengan cara yang jenaka,
"Itu pertanyaan yang sangat sensitif."
Aku terkekeh, "Ya, maaf aku hanya penasaran."
"Kenapa?" "Pertama melihatmu, aku pikir kau baru berumur 15 atau 16 tahun."
Aku meliriknya dan melihat ekspresinya yang seolah-olah merasa
terhina dengan ucapanku, tapi aku tahu dia tidak merasa seperti itu.
"Sekarang?" "Well, kau terlihat lebih dewasa dari perkiraanku sebelumnya."
Dia terlihat lega mendengarnya, "Itu bagus," seringainya, lalu dia
berpaling dariku. "Umurku 19 tahun," gumamnya.
Kali ini aku yang menarik nafas lega.
"Ada apa dengan gaun dan high heels" Kau sering menggunakannya
akhir-akhir ini." "Kupikir kau menyukainya?"
Aku menyeringai, menangkap maksud dari ucapannya. "Jadi, kau
mengenakan gaun dan high heels itu karena berpikir aku
menyukainya?" "Tidak! Bukan. Maksudku...Ah aku tidak tahu!" Dia terlihat panik
dan memalingkan mukanya ke samping. Menyembunyikan rona
merah yang menjalar di pipi mulusnya. Cahaya lampu dari beberapa
mobil yang berpapasan dengan kami, membuatku bisa leluasa
melihat rona merah itu. Menurutku, itu sangat menggemaskan.
Aku terkekeh geli melihat reaksi spontan Alexa, lalu kuletakkan
tanganku ke atas tangan Alexa yang berada di atas pahanya dan
meremasnya lembut. Alexa terlihat kaget dan mengalihkan perhatiannya padaku,
menatapku dengan mata bulatnya yang melebar.
Aku tersenyum menenangkannya, "Aku menyukainya, Fairy,"
gumamku. Lalu melepaskan genggaman tanganku dan
meletakkannya kembali di atas roda kemudi.
Mata Alexa melembut, lalu dia kembali menatap lurus ke depan
dengan kedua tangan yang saling menggenggam di atas
pangkuannya. "Sekedar informasi," aku kembali bersuara, "Aku menyukai apapun
yang kau pakai." "Terima kasih. Kalau begitu...Kau yang pertama," gumamnya pelan,
wajahnya terlihat sendu saat mengucapkan kalimat itu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Alexa, tapi aku tidak
ingin menanyakannya. "Berhenti di depan." Kata Alexa tiba-tiba, tangannya menunjuk
papan nama sebuah restoran western.
"Kita makan malam di sana?"
"Tidak. Tapi kita akan membeli makan malam di sana."
Aku mengerutkan keningku, dan menghentikan mobil di depan resto
itu. Lalu berbalik menghadapnya, menunggu instruksi selanjutnya.
"Kau, turunlah dan beli apapun yang bisa dijadikan makan malam
dan sebotol wine," katanya.
Sisi lain yang baru kulihat pada Alexa, 'bossy'.
Aku turun dari mobil dan mengikuti perintahnya. Lalu kembali
dengan membawa dua porsi tenderloin steak dan sebotol Paul
Jaboulet di tanganku. Dia tersenyum manis saat melihatku duduk dan meletakkan
bawaanku di pangkuannya. Lalu aku kembali mengendarai mobilku.
"Kau harus mengikuti arah yang kutunjuk."
"Tak masalah. You're the boss," gumamku.
Dia terlihat suka dengan apa yang kukatakan.
*** Sekarang, di sinilah kami. Duduk di atas mobil, di tepi jalan kecil
tempat pertama kali aku melihat Alexa. Aku sudah melepas jas-ku,
sedangkan high heels Alexa tergeletak begitu saja di bawah mobil.
Kami sudah menghabiskan dua porsi tenderloin steak dan setengah
botol Paul Jaboulet. Tanpa pisau dan garpu, tanpa gelas wine. Kami
saling menjilat tangan yang belepotan, dia menjilat tanganku dengan
lembut. Lidahnya menyapu habis sisa-sisa makanan di jariku, dan
aku berusaha tidak memikirkan efek dari lidah lembutnya pada
tubuh bagian bawahku. Sialnya saat giliranku menjilat tangannya,
dia merogohkan jarinya ke tenggorokanku, membuatku tersedak dan
terbatuk-batuk. Alexa tergelak, kemudian menyodorkan botol wine yang isinya
tinggal setengah padaku. Tapi aku menangkap pergelangan
tangannya dan menatapnya tajam. Alexa terdiam, dengan tangan
yang satunya, aku mengambil botol wine dalam genggamannya dan
meletakkannya di sampingku. Lalu meluruskan jari-jarinya dengan
lembut, dan tanpa mengalihkan tatapanku pada bola matanya, aku
mendekatkan jari-jari tangannya pada bibirku.
Alexa menahan nafas saat aku menyelipkan jari-jarinya ke bibirku
dan menelusurinya dengan lidahku. Membersihkannya sampai tak
ada sisa makanan pada jarinya. Saat aku melakukan itu,
pandanganku sama sekali tidak terlepas dari matanya.
"Sekarang sudah bersih..." Gumamku.
Alexa menarik tangannya dari genggamanku, dan meskipun dengan
penerangan yang minimum, aku yakin telah melihat rona merah
pada pipinya. Aku terkekeh melihat Alexa yang salah tingkah, "Kenapa?" Godaku.
Alexa hanya mengeluarkan suara yang tidak aku mengerti, seperti
gumaman...'bukan urusanmu' atau semacamnya.
Aku mengeluarkan rokok dari sakuku dan menyalakannya. Lalu
menghisapnya dalam-dalam.
"Kau merokok?" tanya Alexa.
"Kadang-kadang."
"Situasi seperti apa yang membuatmu ingin merokok?"
Aku kembali menghisap rokok dan menghembuskannya, berusaha
agar asapnya tidak mengenai Alexa. "Mungkin...saat stres, atau
seperti sekarang...saat aku berusaha untuk mengalihkan pikiranku."
Alexa berpaling menatapku dan mengerutkan keningnya.
"Maksudku...seperti...yah jika seorang pria berdekatan dengan
seorang gadis cantik dan seksi, menurutmu, apa yang pria itu
pikirkan" Hal seperti itulah yang ingin aku alihkan dari pikiranku."
Aku menatapnya penuh arti.
Alexa ternganga menatapku, "Kau...menjijikkan!!!" teriaknya
membuatku tergelak. Lucu dan menggemaskan. Itulah yang kupikirkan ketika melihat
ekspresinya saat dia mengucapkan kalimat itu.
"Bagaimana mungkin kau berpikir kalau itu menjijikkan" Itu hal
yang sangat-sangat normal, seperti kau membutuhkan udara,
tanaman membutuhkan air..."
Dia menutup telinganya dan terkikik geli, "Sudah, hentikan..."
gumamnya dengan muka merah padam.
Aku tersenyum dan menghisap rokokku untuk yang terakhir kalinya,
lalu membuangnya ke jalan raya.
Melihatnya seperti itu membuatku sangat ingin menciumnya.
Kami terdiam beberapa saat. Alexa mendekap kedua kakinya yang
tertekuk hingga lututnya menyentuh dada, dan meletakkan dagunya
di atas lutut. Sedangkan aku berbaring telentang di sampingnya
beralaskan kedua lenganku dengan salah satu kaki yang setengah
tertekuk, menatap langit yang hanya memiliki sedikit bintang,
dengan bulan separuh yang menyembul malu-malu di balik awan.
"Menurutmu, apa ini makan malam yang romantis" Dengan langit
yang tanpa bintang dan hanya bulan separuh, bukannya bulan
penuh," gumamku sambil menunjuk langit.
Alexa melepaskan dekapan pada lututnya dan ikut berbaring di
sebelahku. "Menurutmu romantis itu apa hanya sebatas langit penuh
bintang dan bulan yang bersinar penuh?"
Aku terdiam, menelaah ucapannya. Aku tidak tahu, aku tidak pernah
memikirkan kata itu sebelumnya.
"Menurutku, romantis itu...suatu masa dimana kita merasa bahagia,
sesederhana apapun kejadian yang membuat kita bahagia. Apakah
malam ini kau bahagia?" Alexa berbisik di sampingku.
Aku menoleh, menatap matanya yang juga sedang menatapku. "Aku


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahagia..." gumamku pelan.
"Aku juga. Berarti, kita melewatkan malam yang romantis saat ini..."
"Meski dengan langit tanpa bintang?"
"Meski dengan langit tanpa bintang."
"Meski hanya ada bulan separuh di atas kita?"
"Meski hanya ada bulan separuh di atas kita."
"Sesederhana itukah?"
"Ya, memang sesederhana itu."
Aku menatap wajahnya yang berada sangat dekat dengan wajahku,
sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya menyapu permukaan
wajahku. Dia mengalihkan pandangannya dan bangkit, kemudian duduk
kembali, "Kau harus mengantarku pulang, ini sudah malam."
Aku melirik jam tanganku dan mendesah kecewa. Sudah lewat pukul
sepuluh, kenapa waktu begitu cepat berlalu"
Aku bangkit dan meloncat turun dari atas mobil, lalu membantu
Alexa menuruni mobilku dengan mengangkat pinggangnya.
Sebelum turun. Alexa meraih jas-ku dan botol wine yang masih
tergeletak di atas mobil. Lalu dia menyerahkannya padaku saat
kakinya sudah menginjak tanah.
Aku menerimanya dan membukakan pintu mobil untuknya, dia
melangkah masuk, lalu aku ambil high heels-nya dan dengan
seringaian pada wajahku, aku melemparkan high heels itu ke
pangkuannya. Lalu aku memutar dan duduk di sampingnya, berbalik ke belakang
dan meletakkan jas serta botol wine itu di jok belakang. Kemudian
berbalik kembali menghadap kemudi.
Aku melihat Alexa tidak memasang sabuk pengamannya. "Kau harus
memakai sabuk pengamanmu." Kataku, lalu aku mendekat dan
memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Alexa terlihat gugup. Setelah selesai dengan Alexa, aku tersenyum dan menepuk pelan
pipinya, lalu memasang sabuk pengaman untuk diriku sendiri dan
mulai menstarter mobil. "Kapan aku bisa bersamamu lagi?" Tanyaku saat mobil sudah
melaju, menembus kegelapan jalan kecil itu.
"Kapanpun kau mau."
Aku tersenyum senang, "Besok?" Desakku.
Alexa terkikik geli, dan hanya mengangguk. "Tapi aku harus ke
kampus dulu besok." "Aku akan mengantarmu."
"Tidak usah, aku bersama Sandra."
Sandra. Teman Alexa yang menyebalkan itu ya. "Sandra bukannya
temanmu yang pernah menemanimu makan malam bersama Jeremy
itu kan?" Alexa tersenyum simpul, "Teman kencanmu malam itu," gumamnya
penuh arti. Aku meringis, "Dia bukan teman kencanku." Lalu aku teringat
sikapnya malam itu, dan ingin mencari tahu sedikit tentangnya. "Kau
terlihat dekat dengannya."
"Sandra temanku sejak kecil, rumah kami berdekatan."
"Tapi dia terlihat lebih...dewasa."
"Dia memang tiga tahun lebih tua dariku, tapi kami sangat cocok.
Dia tidak menyukaimu, kau tahu?"
Aku mengerutkan keningku, sikapnya tidak menunjukkan itu.
"Katanya, dia sering melihatmu di nightclub."
Sandra sudah mengatakannya padaku.
"Menurutnya kau playboy."
"Oh ya?" Alexa menunduk, "Dia memperingatkanku agar jangan terlalu dekat
denganmu. Katanya, kau hanya mendekati wanita untuk ditiduri,"
gumamnya pelan. Oh tidak. Aku harus membungkam mulut si jalang itu.
"Kau percaya?" Tanyaku was-was.
Alexa berpaling dan menatapku, "Tentu saja. Sandra punya fotomu
bersama seorang gadis seksi. Kalian sedang...ehm...kau tahu
maksudku..." Alexa mengerutkan hidungnya, "...ber...cumbu..."
katanya dengan susah payah.
Damn it. Di luar kejengkelanku terhadap Sandra, aku merasa geli melihat
betapa canggungnya Alexa saat mengatakan 'bercumbu'.
"Tapi kau mau kuajak makan malam." Gumamku menahan senyum.
Alexa tersipu, "Biasanya aku menurut pada Sandra. Dia satu-satunya
temanku, kau tahu." Alexa melihatku sekilas, lalu kembali menatap
lurus ke depan. "Tapi, kata Jeremy...pada dasarnya kau pria yang
baik, hanya...kau mempunyai sedikit masalah yang membuatmu
agak...kehilangan arah. Jadi..." Alexa mengangkat bahunya, "...tidak
ada salahnya aku mencoba untuk mengenalmu. Kita bisa berteman,
selama..." "Apa?" Tanyaku penasaran.
Alexa tersenyum malu-malu, "...kau tidak berusaha memaksaku
untuk telentang di ranjangmu."
Aku ternganga tak percaya mendengar Alexa mengucapkan kalimat
itu. Lalu tertawa terbahak-bahak. "Aku benar-benar sangat
menyukaimu Fairy..." gumamku diantara tawa.
*** Bab 8 STORM Kami sampai di halaman rumah Alexa dan melihat sebuah mobil
mewah yang terparkir di sana.
"Mereka sudah kembali." Gumam Alexa sambil melepas sabuk
pengamannya. "Siapa?" tanyaku.
"Orangtuaku." Aku ke luar dari mobil dan membukakan pintu untuk Alexa.
Alexa menerima uluran tanganku dan melangkah turun.
"Apakah kau ingin aku mengantarmu ke dalam?" Tanyaku.
Alexa terlihat ragu-ragu, tapi kemudian kami mendengar Claire
memanggil kami. "Kamukah itu, Alex?"
"Ya, Aunty." "Oh dear, kemarilah. Ajak Jarvis masuk."
Alexa menatapku sambil menahan senyum.
"Apa?" Tanyaku.
"Tidak, hanya agak mengherankan melihat Aunty Claire bisa
mengingat namamu. Dia sangat pelupa, kau tahu?"
Aku tersenyum senang, "Sepertinya itu pertanda baik." Gumamku.
Alexa menggandeng tanganku, mengajakku masuk ke dalam
rumahnya. Dia melepaskan gandengannya saat kami berjalan
menuju ruang tengah, di mana kedua orang tuanya berada.
Aku melihat Claire yang berdiri di samping seorang wanita yang
sangat mirip dengannya -yang aku yakini sebagai Mama Alexa-dan
seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah, sedang duduk di
sofa. Claire menghampiriku, "Ini Jarvis Clara, 'teman' Alexa yang tadi
aku ceritakan," katanya menekankan kata 'teman' saat
mengucapkannya. "Jarvis, itu Clara dan Wahyu, orang tua Alexa."
"Jarvis bekerja pada perusahaan properti yang membangun
supermall kita, Papa." Kata Alexa, kenapa suaranya terdengar
bergetar" Papa Alexa berdiri dan menghampiriku, "Halo Jarvis, saya sudah
banyak mendengar tentangmu. Seorang pengusaha muda yang
jenius." "Berita di media terlalu berlebihan, Om." Gumamku, lalu kami
berjabat tangan dengan hangat.
"Nah, sekarang ceritakan sudah sampai sejauh apa proses
pembangunan proyek kami." Papa Alexa membimbingku untuk
duduk di sofa bersamanya.
"Wahyu, itu sangat tidak sopan." Tegur Claire yang disambut dengan
tawa Mama Alexa. Om Wahyu memutar kedua bola matanya, membuat aku menahan
senyum. "Maafkan kami Jarvis," kata Mama Alexa lembut. Lalu beliau duduk
di samping suaminya yang langsung melingkarkan lengannya di
pundaknya. "Tidak apa-apa, Tante."
"Oh ya, kata Claire kalian tadi ke luar untuk makan malam ya"
Kemana?" Aku melirik Alexa, dan sangat membingungkanku melihatnya
berdiri di sudut ruangan, sendirian dan termangu. Seperti anak ayam
yang kehilangan induknya. Aku memutuskan untuk merahasiakan
tempat kencan kami malam ini. "Hanya ke restoran tempat biasa
saya ke sana, Tante." Gumamku pelan.
Mama Alexa menatapku, dan seperti mengingat sesuatu, dia
bertanya pada suaminya, "Dia mengingatkanku pada seseorang,
sayang. Apakah kau juga merasakannya?"
Papa Alexa mengernyitkan keningnya, lalu berdeham, "Kau
benar..." Aku tidak memperhatikan apa yang mereka katakan. Perhatianku
teralihkan sepenuhnya pada Alexa yang kini sedang berbicara pada
Claire. Lalu Claire membimbing Alexa ke lorong yang
menghubungkan ruang tengah dengan bagian dalam rumah yang
lebih pribadi. "Sepertinya, saya harus permisi dulu Om, Tante." Kataku
menghentikan diskusi mereka.
Orang tua Alexa terlihat terkejut mendengar suaraku. Mereka pasti
sedang mendiskusikan sesuatu yang serius.
"Oh, iya Jarvis. Senang bertemu denganmu." Mama Alexa
menjawab dengan gugup, lalu dia berdiri diikuti suaminya.
Mereka mengantarku sampai depan pintu, dan Mama Alexa
melambaikan tangannya saat mobilku meninggalkan halaman
rumahnya. Ada yang aneh dengan mereka, Alexa dan kedua orang tuanya.
Mereka tidak bersikap seperti orangtua dan anak pada umumnya.
Mengapa" *** Aku memasuki apartemen, jas-ku kusampirkan di lengan kananku,
dan aku membawa wine yang tadi kuminum bersama Alexa dengan
senyuman lebar. Masih tersisa setengah, dan ada bekas bibir Alexa di
mulut botolnya. Aku akan mengingat wine ini. Paul Jaboulet Hermitage La Chapelle
tahun 2001. "Kau sudah pulang?"
Aku terkejut melihat Liana yang sudah ada di depanku. "Oh...
Hai..." Sapaku gugup.
Liana memperhatikan penampilanku, "Kau habis makan malam"
Bersama klien?" tanyanya.
"Eh...Iya." Aku tidak berbohong kan" Alexa memang klienku.
Lalu aku meletakkan botol wine yang ada di tanganku ke atas meja
dan menyampirkan jasku ke sandaran kursi.
"Ah...Kau membawa wine..." Liana meraih botol wine yang baru
saja kuletakkan dan bersiap membuka botolnya ketika aku
merebutnya kembali. Liana terlihat terkejut. "Maaf..." Kataku gugup, "Maaf Liana, tapi wine ini..." Aku tidak
tahu mau menjelaskan apa. Apa aku harus bilang 'maaf Liana, tapi
ada bekas bibir gadis yang kucintai di mulut botol ini, dan aku ingin
meminumnya untuk diriku sendiri'. Itu tidak lucu.
"Aku mengerti..." gumam Liana.
Aku menatapnya khawatir. "Botol itu pasti bekas bibir Jeremy. Itu satu-satunya alasan kau
melarangku meminum wine itu. Betul kan?"
Aku mengangguk, diam-diam menarik nafas lega.
Liana berbalik, "Mandilah Jarvis. Aku menunggumu di kamar
khusus," katanya, lalu dia melangkah meninggalkanku.
Kenapa sekarang aku merasa takut"
Aku mandi dengan perasaan kacau. Aku tidak ingin bersama Liana,
tapi aku tidak ingin menyakitinya. Apa yang harus kulakukan"
Saat aku berdiri di depan pintu kamar khusus, Liana sudah
mengganti pakaiannya dengan lingerie warna hitam yang terlihat
kontras dengan kulitnya. Rambut hitam sebahunya tergerai agak
berantakan, membuat penampilannya terlihat makin seksi.
Kebimbangan muncul dalam hatiku, antara menuruti nuraniku
atau...kejantananku. Sudah dua minggu aku tidak berhubungan seks, dan itu berpengaruh
pada prinsipku saat ini. Aku mencintai Alexa, aku tahu itu. Tapi
setelah dua minggu hanya merasakan blue balls, dan sekarang...
melihat Liana yang menatapku sayu...dengan jemarinya yang
menelusuri kulit payudaranya yang terekspos...bibir yang mendesah
menyebut namaku...membuat milikku yang di bawah sana
berdenyut, menuntut untuk dipenuhi kebutuhannya.
Tidak! Aku memejamkan mataku, "Maafkan aku Liana..." gumamku, lalu
aku berbalik dan menyambar botol wine yang tergeletak di meja
depan sebelum berlari ke luar apartemen.
Aku mengendarai mobilku secepat kilat menuju ke kediaman Alexa.
Aku tidak tahu kenapa aku lari dari Liana, bisa saja aku bercinta
dengannya, aku selalu bisa dengannya. Selama 8 tahun, aku selalu
bisa menyingkirkan harga diriku dan selalu melayaninya. Kenapa
sekarang aku merasa salah jika bercinta dengan Liana" Aku
merasa...itu tidak benar.
Aku berhenti agak jauh dari rumah Alexa. Pagarnya sudah tertutup
rapat, tentu saja, ini sudah hampir tengah malam.
Aku mengamati rumah Alexa, mengira-ngira di mana letak
kamarnya. Tidak. Aku tidak berniat untuk menyelinap masuk, hanya
saja...jika mengetahui di mana dia berada, itu membuatku merasa
nyaman, bahwa aku berada dekat dengannya.
Suara pintu gerbang yang digeser dengan hati-hati mengalihkan
perhatianku. Aku melihat seorang satpam yang ke luar, disusul
dengan sosok yang sangat aku kenal.
Itu...Alexa. Ia mengenakan kaos oblong putih dan celana katun
pendek. Alexa berbicara pada satpam itu, satpam itu hanya menganggukanggukkan kepalanya,
kemudian satpam itu membungkuk pada
Alexa dan masuk lagi ke dalam untuk menutup pintu gerbang
kembali. Alexa melangkahkan kakinya perlahan. Aku bergegas menjalankan
mobilku dan menyusulnya. Aku berhenti tepat di samping Alexa dan menggeser dudukku untuk
membuka kaca mobil. "Masuklah Fairy..." Gumamku, lalu membuka pintu mobil
untuknya. "Jarvis?" Alexa terlihat heran dengan kehadiranku, tapi dia menuruti
perintahku dan masuk ke dalam mobil.
Aku menjalankan mobilku. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
Aku mengangkat sebelah alisku, "Kenapa seorang gadis ke luar
sendirian di tengah malam seperti ini?"
"Aku hanya ingin mencari udara segar," gumamnya.


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Orang tuamu tidak mencarimu?"
"Mereka sudah pergi lagi."
"Bukankah mereka baru datang tadi?"
Alexa menatapku dan tersenyum, "Kau tidak tahu ya" Mereka tidak
tinggal bersamaku." Aku mengernyitkan keningku.
"Aku tinggal bersama Aunty Claire sejak 4 tahun yang lalu, sejak
suaminya meninggal dan Aunty Claire tidak ingin tinggal di
Sheffield lagi." "Lalu, apakah kau terbiasa ke luar pada saat tengah malam seperti
ini?" Alexa tersenyum tipis, "Tidak juga. Hanya jika dirasa perlu."
"Menurutmu saat ini perlu?"
Alexa kembali tersenyum, tapi dia tidak menjawabnya.
Sesaat kami terdiam. "Jarvis, maukah kau mengantarku ke suatu tempat?"
"Tentu saja," gumamku, "Kau mau ke mana?"
"Grand Alena Hotel."
Aku menoleh ke arah Alexa dan melihat dia sedang menatap kosong
ke luar jendela. Aku kembali fokus pada jalanan.
Alexa seperti memendam kesedihan yang sangat dalam. Aku merasa
ingin merengkuhnya dalam pelukanku dan menghiburnya.
"Alena...Nama hotelnya mirip dengan namamu." Gumamku, aku
merasa familiar dengan nama hotel itu.
"Itu nama saudara kembarku. Papa membangun hotel itu lima tahun
yang lalu." Sekarang aku ingat, lima tahun yang lalu...Perusahaan Om Bayu
membangun sebuah hotel yang memiliki 555 kamar, dengan 55
lantai beserta basement. Ada banyak angka 5 di sana, kurasa aku
mengerti maksudnya. "Kau tidak pernah bercerita kalau kau memiliki saudara kembar,
Fairy." "Alena hilang saat berumur lima tahun."
Oh ya...Aku sudah mendengarnya dari wanita jalang itu.
"Saat itu, kami...ke luargaku dalam perjalanan piknik ke luar kota."
Suara Alexa bergetar saat menceritakan kisahnya, "Papa berhenti di
sebuah kota kecil yang sangat indah untuk istirahat. Kota yang
jarang sekali penduduknya, tapi aku ingat, kami melewati sebuah
rumah besar berwarna putih yang sangat besar dan indah.
Kupikir..." Alexa mengerutkan keningnya, "...rumah itu agak mirip
dengan mansion milik bangsawan Inggris." Alexa menghentikan
ceritanya sejenak. "Kami berhenti di pinggir hutan. Ada sungai kecil
di sana. Papa menggelar kain coklat yang dibawanya dari rumah,
sedangkan Mama menyiapkan makan siang kami."
Aku menyimak cerita Alexa dengan serius, sesekali menoleh
kepadanya dan menggenggam tangannya yang terasa dingin.
Memberikan dukungan padanya.
"Banyak kupu-kupu di sana. Setelah makan, aku mengajak Alena
untuk menangkap kupu-kupu, kami pergi agak terlalu jauh...sampai
aku tidak sadar sudah kehilangan Alena." Alexa menghela nafas
panjang, "Kupikir dia sudah kembali lebih dulu. Maka aku langsung
kembali tanpa mencarinya terlebih dahulu. Saat itu...langit sangat
gelap, dan hujan sudah mulai turun. Aku pun berlari sangat kencang,
dan melihat Papa serta Mama sudah berada di dalam mobil, mereka
berteriak menyuruhku cepat. Aku mengira Alena sudah berada di
dalam mobil bersama mereka. Aku masuk ke mobil dan mereka
menjalankan mobil dengan tergesa-gesa. Mama sangat panik melihat
hujan yang turun sangat deras disertai angin yang kencang dan
guntur yang terus-terusan menggelegar, sehingga Papa harus
mengemudi sambil menenangkan Mama. Setelah kami sudah
melewati daerah yang terkena badai, kami baru sadar bahwa Alena
sudah tidak bersama kami. Kami langsung kembali untuk mencari
Alena, tapi jalan yang tadi kami lewati sudah ditutup karena terkena
longsor. Tidak ada alternatif jalan lain. Papa berniat menyewa
helikopter untuk kembali, tapi cuaca yang belum stabil
memungkinkan badai bisa datang kembali. Pihak berwajib
menyarankan kami untuk menunggu."
"Kau mengingat itu semua?" tanyaku kagum.
Alexa menatapku tidak mengerti.
"Maksudku, saat itu kamu juga baru berumur 5 tahun kan" Dan
kamu mengingat semuanya secara mendetail."
Alexa tertawa kecil, "Ingatanku sangat kuat. Tidak seperti Alena...
dia pelupa." Ada nada getir pada suaranya.
"Lalu kalian menunggu?"
Alexa mengangguk, "Ya. Dua hari kemudian kami kembali. Tapi
kami tidak menemukan Alena. Tidak ada satu pun penduduk yang
pernah bertemu dengan Alena."
"Juga penghuni rumah putih yang besar itu?"
Alexa mengernyitkan keningnya.
"Katamu tadi, kau melihat rumah besar berwarna putih yang sangat
indah. Apakah kalian juga menanyakan tentang Alena pada pemilik
rumah itu?" "Oh ya, kami berniat menanyakannya. Tapi rumah itu kosong. Kata
penduduk setempat, pemiliknya baru pindah ke Jakarta sehari
sebelum kami ke sana."
Aku teringat sikap Om Wahyu dan Tante Clara saat aku bertemu
dengan mereka. Jika diperhatikan, mereka sama sekali tidak
berbicara dengan Alexa saat itu.
"Apa orangtuamu menyalahkanmu dengan hilangnya Alena?"
"Tentu saja tidak!" Alexa menjawab cepat, tapi kemudian dia
menundukkan kepalanya. "Mereka hanya terlalu sedih..."
gumamnya. Mendengar suaranya, aku merasa ada sesuatu yang meremas hatiku.
Aku mengerti Fairy...Aku mengerti...
"Hei, ngomong-ngomong apakah kau akan menginap di hotel itu?"
Aku mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan kesedihan
Alexa. Alexa tersenyum, "Aku memang mempunyai kamar di sana. Tapi
aku ke sana bukan untuk menumpang tidur."
"Aku tertarik dengan bagian kau memiliki kamar di sana, Fairy."
Gumamku mencoba mencairkan suasana.
Alexa tersipu dan memukul pundakku dengan tangan mungilnya.
Aku hanya terkekeh geli. "Boleh aku ikut denganmu?" Tanyaku
memohon. "Apa itu karena aku mempunyai kamar di sana?"
Aku menyeringai, "Tentu saja tidak. Aku hanya ingin menemanimu."
"Mungkin aku akan berdiri di atap hotel semalaman," gumamnya.
"Itu menarik." "Okay, ikutlah."
Aku tersenyum senang. "Tapi kita tidak boleh terlihat bersama."
Aku mengerutkan keningku.
"Turunkan aku beberapa meter sebelum hotel, dan setelah aku
masuk, baru kau boleh masuk. Tapi ingat, kau harus menyelinap
untuk bisa sampai ke atas."
"Bagaimana caranya?"
Alexa mengangkat bahunya, "Itu urusanmu," gumamnya. "Lantai 55
kamar no. 554." "Apa?" "Aku hanya akan menunggumu selama 10 menit di sana. Lebih dari
itu, silahkan pulang kembali."
Aku membelalakkan mataku, "Kau sangat kejam."
Alexa hanya tersenyum simpul, mata coklat lembutnya menatap
tajam mataku, membuatku meleleh dan tak berdaya. "Perhatikan
jalan," gumamnya geli.
Aku tersentak dan meluruskan kembali laju mobilku yang sudah
melenceng dari jalurnya. Alexa tertawa, dan aku tersenyum, merasa lega melihatnya sudah
melupakan kesedihannya. "Berhenti di depan," serunya sambil menunjuk ke depan.
Aku menghentikan mobilku perlahan.
"Aku turun di sini," gumam Alexa.
Aku memperhatikan Alexa yang turun dari mobil, dan sebelum
menutup pintu, dia membungkuk dan berkata, "Bersenangsenanglah, Jarvis.
Pengawasan hotel ini sangat ketat." Lalu dia
mengedipkan sebelah matanya dan melenggang pergi.
Ketika Alexa sudah tak terlihat dari pandanganku, aku menjalankan
mobilku menuju halaman hotel, turun dari mobil dan menyerahkan
kuncinya pada petugas valet yang menghampiriku.
Aku memasuki lobby hotel, dan merasa putus asa ketika melihat
banyaknya petugas hotel di sana.
Aku tidak mungkin bisa menyelinap masuk, dengan banyaknya
petugas hotel yang berkeliaran.
Seorang petugas menghampiriku.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?"
Aku berdeham, lalu mengeluarkan tanda pengenalku. "Saya Jarvis,
dari JFM Group." Petugas hotel itu memperhatikan tanda pengenalku, kemudian
menganggukkan kepalanya. "Ya Pak Jarvis. Bisa saya bantu?"
"Perusahaan kami sedang menangani proyek pembangunan
supermall dan hotel milik PT Wise Darmawan. Kebetulan tadi saya
lewat sini, dan saya berpikir untuk melihat-lihat hotel ini. Hanya
sebagai perbandingan untuk pembangunan hotel yang akan kami
bangun nantinya. Apakah itu diperbolehkan?"
"Silahkan Anda tunggu sebentar, saya konfirmasi dulu pada atasan
saya." Waktunya tidak akan cukup.
"Tidak usah, sebaiknya besok saja saya kembali."
Petugas itu mengangguk, dan aku berbalik ke luar dari lobby.
Aku membelokkan langkahku ke belakang gedung. Hanya ada
beberapa petugas yang lewat, saat aku menelusuri area belakang
hotel yang agak sepi. Aku menyelinap masuk ke gudang dan
menemukan lift barang di sana.
Ini kesempatanku. Aku bergegas masuk ke lift itu dan menekan tombol 55.
Melirik jam tanganku, aku ke luar dari lift, dan mendapati aku
berada di sebuah ruangan yang penuh dengan kotak-kotak kayu.
Aku mendekati pintu dan membukanya sedikit. Memastikan tidak
ada petugas di lorong hotel, dan segera menyelinap ke luar saat aku
yakin tidak ada petugas yang berkeliaran.
Tidak ada banyak pintu di lantai ini, hanya ada tiga dengan pintu
yang baru saja aku lewati. Dua pintu lainnya terletak berhadapan, no.
554 dan no. 555. Kembali aku melirik jam tanganku untuk memastikan aku belum
terlambat, lalu kuketuk pintu kamar no. 554.
Alexa membuka pintu dengan senyuman lebar pada bibirnya, dia
melongokkan kepalanya, melihat ke ujung lorong, dan menyuruhku
masuk ketika yakin tidak ada orang lain selain aku di sini.
Aku masuk dan tertegun, ini bukan kamar hotel biasa. Ini Penthouse.
Saat mendengar Alexa berkata bahwa dia memiliki sebuah kamar di
hotel ini, tak pernah terpikirkan olehku yang dimaksud 'kamar'
olehnya adalah sebuah Penthouse.
Aku menatapnya dengan pandangan menuduh, dan dia hanya
mengangkat alisnya dengan jenaka. Lalu dia menggandeng
tanganku, mengajakku memasuki lift kecil yang ada di Penthousenya.
Angin dingin menerpa wajahku saat pintu lift terbuka. Alexa
mengajakku ke atap Penthouse-nya, memperlihatkan pemandangan
langit yang sangat luar biasa.
Pantulan cahaya dari bulan yang bersinar penuh membiaskan warna
keemasan pada permukaan kolam renang yang hampir memenuhi
atap. Aku berdecak kagum. "Ini...benar-benar indah Fairy." Gumamku
mengagumi keindahan malam yang memukau.
"Ini tidak akan lama," gumamnya. Ada senyum pada suaranya.
Aku berpaling menatapnya, "Maksudmu?"
"Lihat saja." Dia mengedipkan sebelah matanya penuh misteri,
membuatku terkekeh geli. Alexa duduk di lantai atap, dan menggeretku agar ikut duduk di
sampingnya. Aku menunjuk tembok tinggi yang membatasi kolam renang, "Ada
apa dibalik tembok itu?" tanyaku.
"Sama dengan di sini, hanya itu milik Alena."
"Apakah kamar, maksudku 'Penthouse' no. 555 itu juga milik
Alena?" Tanyaku, meliriknya tajam saat mengucapkan Penthouse.
Alexa tertawa dan mengangguk, "Papa dan Mama sengaja
menjadikan lantai 55 khusus untuk Penthouse kami."
"Tapi bukannya Alena..."
"Mereka masih berharap, suatu saat akan menemukan Alena.
Begitupun denganku."
Aku merengkuh bahu mungilnya dan mendekapnya erat, "Kau pasti
akan bisa menemukan Alena, Fairy." Gumamku menghiburnya.
Alexa menyandarkan kepalanya pada bahuku, aroma lembut dan
manis dari tubuhnya menyeruak masuk ke dalam indra
penciumanku. Membangkitkan khayalan-khayalan yang berusaha
aku pendam dalam-dalam. Tubuhku menegang saat Alexa bergerak, membuat rambut halusnya
menggesek leherku, dan milikku langsung terasa keras di bawah
sana. Oh shit...Ini akan menjadi malam yang sangat panjang buatku.
Alexa menatap langit dengan senyuman di bibirnya, memperhatikan
bulan dan ribuan bintang yang bertebaran. Lalu senyumannya
semakin lebar, dan bibir tipisnya yang selalu bisa membuat
pandanganku hanya terpaku padanya, mulai menghitung mundur.
"10, 9, 8, 7....6, 5...4...3...2...1!"
Sim salabim...Langit yang tadinya terang menjadi gelap seketika.
Aku mendongak dan mendapati awan hitam sudah menutupi
sebagian isi langit. "Ini kejutannya..." Gumam Alexa, dia berdiri dan berjalan beberapa
langkah di depanku, melebarkan tangannya dan mendongakkan
kepalanya. Matanya terpejam, dan bibirnya membentuk senyum
penuh kerinduan. D?j" vu...Aku merasa pernah mengalami kejadian ini.
Sebaris kilat muncul di ujung langit, aku mendongak dan menatap
langit cemas. "Fairy, sebaiknya kita ke bawah, sepertinya akan ada badai."
Suaraku kabur, terkalahkan oleh suara angin yang bergemuruh,
Alexa sama sekali tidak mendengarkanku. Aku kembali menatap
langit dengan cemas. Angin kencang menghantam tubuhku, mengingatkanku akan sebuah
kesadaran yang terpendam.
"Fairy..." Panggilku setengah berteriak.
Tapi suara halilintar yang menggelegar mengalahkan suaraku. Alexa
tak bergeming sedikitpun.
Aku mendekap tubuhku yang bergetar, dan ketika aku merasakan
tetesan air yang membasahi tubuhku, aku mendongak ngeri.
Aku benci hujan... Aku merasa tubuhku menjadi kaku, pandanganku berkabut...
Kilasan-kilasan kejadian pada masa laluku berkelebat dalam
benakku. Suara-suara yang menghantuiku selama ini berdenging di


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telingaku. Aku melihat tubuh Ibu yang bersimbah darah...
Aku melihat Tante Mirna yang terkapar di tengah jalan raya...
Lalu aku melihat api yang berkobar-kobar, membakar sesosok tubuh.
Diantara suara petir yang terus menggelegar, samar-samar aku
mendengar sebuah suara yang membuat bulu kudukku meremang.
Suara yang mirip lolongan seekor serigala, sarat dengan kesedihan...
dan kepiluan. Aku sudah tidak mengenali sekelilingku, ketika sebuah cahaya
membawa pandanganku pada sesosok tubuh yang bersinar, yang
duduk di sampingku dan membawa kepalaku di pangkuannya.
Tangannya membelai pipiku, ada kekhawatiran pada mata coklat
lembutnya. "Fairy..." Gumamku pelan, aku mengulurkan tanganku, ingin
menyentuh bibirnya yang menyebut namaku dengan cemas, tapi
terjatuh ketika bibir itu belum tersentuh. Lalu...semuanya menjadi
gelap... *** Bab 9 THE MOST BEAUTIFUL Aku melihat Ibu tersenyum padaku, aku tertawa gembira dan berlari
untuk memeluknya. Aneh...tinggiku hanya sepinggang Ibu. Lalu aku baru menyadari
bahwa ini adalah tubuh kecilku.
Ibu membelai kepalaku lembut, lalu dia berlutut di hadapanku.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang..." gumamnya.
Aku mengangguk, mempercayai ucapannya. Lalu pandanganku
menjadi kabur, dan ketika semuanya terlihat jelas kembali, aku
melihat Alexa yang berada di hadapanku.
"Jarvis..." gumamnya penuh kelegaan.
Tangan kanan Alexa menyangga leherku, sedangkan tangan satunya
berada di pipiku. Aku mengangkat kepalaku yang masih berada di
pangkuannya, namun Alexa menahannya.
"Diamlah Jarvis," dia berbisik lembut. Matanya menatapku sayu,
"Aku sangat cemas melihatmu seperti itu."
"Apa yang sudah kulakukan...?" Gumamku tak mengerti.
Lalu aku teringat dengan badai tadi, aku mendongak dan menatap
langit yang masih mencurahkan hujan. Sesekali dengan kilat dan
bunyi guntur dari kejauhan. Tubuhku basah kuyup, namun aneh...
perasaan yang selalu kurasakan jika berada di tengah hujan, sama
sekali tidak kurasakan saat ini. Hilang tak berbekas.
Aku memperhatikan Alexa yang masih menatapku, anak-anak
rambut yang lepas dari jalinan kepangnya menempel di pipinya yang
basah. Air hujan yang jatuh mengenai tubuhnya, menyisakan bulirbulir bening pada
kulit sehalus sutranya. Membuatnya terlihat
berkilau seolah dikelilingi berlian.
"Jarvis..." Alexa terlihat cemas.
Aku mengulurkan tanganku dan membelai pipinya lembut, "Kau
sangat cantik Fairy..." gumamku, lalu aku bangkit dan duduk di
hadapannya. "Apa aku melakukan hal yang memalukan?" tanyaku.
Alisku terangkat sebelah saat menanyakan itu.
Tiba-tiba Alexa memeluk dan menubrukku, membuatku kehilangan
keseimbangan dan harus menyangga tubuh kami dengan sikuku. Aku
yang tidak menduga Alexa akan berbuat seperti itu hanya tertegun.
"Kau benar-benar membuatku khawatir Jarvis..." bisiknya, dan dia
memelukku makin erat. Aku tersenyum dan menelusupkan kepalaku pada lehernya, lalu
mengusap punggungnya pelan.
"Aku tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja..." gumamku.
Mataku menerawang, mengingat wajah Ibu yang tersenyum saat
mengucapkan kata-kata itu dalam mimpiku.
Alexa melepaskan pelukannya dan menatapku sekali lagi.
Aku mengangguk, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
"Kau ingin kita ke bawah sekarang?" Tanya Alexa pelan.
Aku memperhatikan sekelilingku, kupikir hujan tidak akan berhenti
dalam waktu dekat, tapi aku tidak merasakan kecemasan sama
sekali. Aku berpaling dan menatap Alexa lembut, mengulurkan tanganku
untuk menyentuh bibirnya yang selalu menarik perhatianku. "Aku
ingin..." Aku menelan ludahku, "...kita tetap di sini Fairy."
Saat ujung jariku merasakan kelembutan bibir Alexa, aku tahu...aku
merasa tidak akan cukup hanya dengan menyentuhnya.
Aku menatap mata coklat Alexa lekat, membelai bibirnya dengan
jariku. Menyusuri pipinya yang halus, menyingkirkan anak-anak
rambut yang menempel pada pipinya dan menyelipkannya ke
belakang telinganya. Tanganku merasakan kenyamanan saat
menyentuh leher belakangnya, dan aku mendiamkannya di sana.
Kami saling menatap lekat satu sama lain, enggan untuk melepaskan
diri. Jantungku berdetak lebih kencang saat tanganku menekan
lehernya hingga wajahnya mendekat ke wajahku. Lalu aku menekan
bibirnya dengan bibirku. Alexa mengerang, dia memejamkan
matanya dan membuka mulutnya, memberikan akses agar aku lebih
mudah merasakan kelembutan dan kehangatan bibirnya.
Aku melumat bibirnya lembut, mencecap dan menjelajah mulutnya
dengan lidahku. Merasakan tiap-tiap jengkalnya.
Oh Tuhan...Aku merasa kembali hidup setelah seribu tahun lamanya
mati. Alexa melingkarkan lengannya ke leherku, dia mulai membalas
ciumanku. Aku makin kehilangan kendali. Kami saling berpelukan
dengan bibir yang masih terpaut, saling mencecap dan merasakan ke
dalaman masing-masing. Tanganku yang semula cukup hanya dengan membelai rambutnya,
kini menelusuri tubuhnya yang dibalut pakaian basah, meremas tiap
lekukannya, dan merasakan sensasi yang membuat jantungku
melompat. Alexa mendesah dan mendorongku hingga aku telentang di atas
lantai, dia menggeliat di atasku saat tanganku meremas
pinggangnya. Lidahnya dan lidahku saling membelit, tak ada yang
ingin berhenti. Tanganku meluncur turun ke bawah pinggulnya dan
menemukan bongkahan pantatnya yang indah. Aku membelai dan
meremasnya, Alexa membalasnya dengan memutar pinggulnya di
atas kejantananku, milikku yang sudah mengeras dengan hanya
menyentuhnya, kini semakin keras dan tegang. Aku memejamkan
mataku dan mengerang, tidak menduga Alexa dapat melakukan
gerakan yang bisa membuatku gila.
Aku berguling dan merubah posisi kami, kali ini Alexa berada di
bawahku. Aku tidak ingin kehilangan kendali, bersama Alexa...
akulah pemegang kendalinya. Jika aku tidak ingin semuanya
berakhir dengan cepat. Aku melepaskan ciumanku, Alexa mengerang protes.
Aku menatapnya dengan pandangan berkabut, "Hentikan aku
Fairy...Jika kau tidak menghentikannya sekarang, aku pastikan aku
tidak akan bisa berhenti." Gumamku dengan suara bergetar dan
nafas yang menderu menahan gairah.
Alexa menyentuh pipiku, "Aku tidak akan menghentikanmu, Jarvis.
Tidak akan..." Aku tidak menunggu kelanjutan dari ucapan Alexa, bibirku kembali
menekan bibirnya dan melumatnya dengan rakus. Alexa meraih
ujung kaosku dan menariknya ke atas, aku melepaskan ciumanku
saat Alexa menarik kaosku melewati kepalaku dan kembali
menciumnya ketika kaosku sudah terlepas.
Alexa melepaskan ciumanku, kali ini aku yang mengerang protes.
"Pelan-pelan Jarvis, aku tidak akan kemana-mana, okay?"
Aku mencoba untuk menenangkan diriku.
Ini sulit. Alexa menyentuh dada telanjangku dan membelainya dengan
lembut. Ujung jarinya menelusuri bekas luka memanjang pada
pangkal leherku. Alexa mendesah, "Demi Tuhan, kau sangat indah
Jarvis..." Aku menarik kaos Alexa ke atas, membukanya dan melemparkannya
ke samping. "Kau...cantik..." Gumamku, lalu aku melepas kancing
celana pendek Alexa dan menurunkan ritsletingnya. Menarik celana
itu hingga terlepas dari kaki Alexa, "Sangat cantik..."
Mataku meredup melihat tubuh Alexa yang hanya mengenakan
setelan pakaian dalam warna peach, terlihat lembut di kulitnya yang
pucat. Tanpa mengalihkan pandanganku, aku melepas celanaku.
Kini aku berlutut di samping Alexa yang hampir telanjang, dengan
kejantanan yang mengacung tegak, dengan angkuhnya
memperlihatkan seberapa besar dia terpengaruh dengan tubuh indah
Alexa. Aku membelai bahu Alexa dan menurunkan tali bra-nya, merasakan
kelembutan kulitnya. Nafas cepat Alexa memberikan gerakan yang
indah pada dadanya, aku meraba bagian depan dadanya dan melepas
kaitan bra-nya. Alexa tercekat saat payudaranya terekspos di
hadapanku. Reflek tangannya ingin menutup dadanya, namun aku
menahannya. "Tidak apa-apa, sayang. Kau...indah..." Bisikku.
Alexa memejamkan matanya ketika tanganku meluncur turun ke
bawah perutnya hingga sampai pada kain segitiga tipis yang
menutupi puncak kewanitaan Alexa. Aku mengaitkan jariku pada
karet celana dalam itu dan menariknya ke bawah. Menggulungnya
hingga terlepas dari kedua kakinya. Alexa merapatkan kakinya,
perlahan aku membimbingnya untuk membuka kakinya hingga
memperlihatkan keindahan yang membuat pandanganku nanar.
Aku menelan air liurku, melihat milik Alexa yang sangat indah. Dia
bersih dan tercukur rapi. Berbeda dengan milik Liana yang lebih
suka menebalkan pubisnya, Alexa hanya menyisakan sedikit dan
tipis. Aku menyentuhnya dengan jariku, pubisnya terasa lembut,
tidak kasar dan menusuk. Alexa kini membuka matanya, menatapku dengan sayu. Aku
mendekati wajahnya dan mengecup ujung bibirnya lembut, lalu
pipinya, dan turun ke lehernya.
Alexa melentingkan punggungnya saat bibirku sampai pada salah
satu puncak payudaranya. Menyusuri puting pink pucatnya dengan
ujung lidahku, dan memilin-milin puting yang satunya dengan
tanganku. Aku menghisap puting Alexa dan menariknya hingga
terlepas. Alexa memekik dan berusaha menahan kepalaku di atas
payudaranya. "Tetap di situ Jarvis...Jangan berhenti..."
"Aku mau saja sayang...tapi aku ingin merasakan bagian tubuhmu
yang lain..." gumamku dengan seringaian pada wajahku.
Alexa mengerang, "Kau menyiksaku..."
Aku mengangkat wajahku dan mengusap pipinya lembut, "Tidak
akan Fairy...percayalah padaku."
Hujan belum berhenti, tetesan-tetesan airnya membasahi tubuh
Alexa dan membuatnya berkilau terkena pantulan cahaya lampu
kolam renang yang bersinar redup.
Aku berdecak, mengagumi keindahan yang ada di depanku. Milikku
sudah terasa sakit menahan keinginan untuk terlampiaskan, tapi aku
menahannya. Ini bukan untukku, ini untuk Alexa.
Aku menangkupkan telapak tanganku pada payudara Alexa dan
mendesah senang ketika melihat payudaranya terasa pas di bawah
telapak tanganku. Aku memijatnya pelan, sesekali memelintir
putingnya dengan jariku. Alexa mengeluarkan suara desahan yang makin membangkitkan
libidoku, aku merunduk dan mencium pusarnya, menyusuri tiap
bagian perutnya dengan lidahku.
"Jarvis..." Aku merasa mabuk mendengar Alexa menyebut namaku. Berkalikali aku mendengar
wanita yang bercinta denganku menyebut
namaku dengan memuja. Tapi ini Alexa, gadis yang kucintai. Terasa
sangat berbeda ketika dia yang menyebut namaku. Aku merasa...
Aku bisa melakukan apapun agar Alexa bersedia menyebut namaku
seperti itu. Aku mencium puncak kewanitaan Alexa dan menyelipkan lidahku di
antara celahnya, melakukan gerakan memutar pada klitorisnya.
"Jarvis!" Alexa memekik ketika aku menghisap miliknya.
Aku menyeringai dan kembali menghisap miliknya, lalu
menusukkan lidahku pada kewanitaannya.
Alexa menggelinjang dan menggerak-gerakkan pinggulnya, aku
menahannya dengan menekan pinggangnya agar bibirku tetap
bersentuhan dengan bibir bawahnya.
Alexa mengerang parau, tubuhnya terasa bergetar dalam sentuhanku.
"Klimakslah untukku sayang..." Bisikku diantara hisapanku.
Alexa mengalihkan tangannya pada rambutku. Dia
mencengkeramnya kuat-kuat dan berusaha menarik kepalaku
menjauh dari miliknya. Aku menahannya dan terus menghisap
miliknya, menusuknya dengan lidahku dan memutar-mutarnya di ke
dalamannya. Mencari titik-titiknya yang sensitif, sampai aku
merasakan getaran pada tubuhnya dan denyutan pada
kewanitaannya. Aku tidak menarik ke luar lidahku, aku hanya diam,
merasakan denyutan yang mengelilingi lidahku. Menahan
keinginanku yang makin tidak terkendali, dan meskipun ingin, aku
tidak menghisap habis cairan Alexa. Itu akan berguna ketika aku
memulainya nanti. Ketika Alexa sudah lebih tenang, aku mengangkat kepalaku dan
mendekati wajahnya. Dia tersenyum dan menatapku malu-malu.
"Jarvis...kau...ini...sangat..."
"Luar biasa." Aku menyelesaikan kalimatnya dengan senyuman pada
wajahku. Alexa memejamkan matanya dan mengatur nafasnya. Aku
melingkupi tubuhnya dengan tubuhku dan meletakkan kepalaku di
dadanya. Milikku yang sudah terasa berdenyut menusuk keras
kakinya, membuat Alexa membuka matanya dan menatapku lembut.
"Sekarang, mari kita urus dirimu..." gumamnya jenaka.
Aku mengangkat kepalaku dan mengecup matanya, "Aku bisa
mengurus diriku sendiri, Fairy."
Lalu aku mencium bibirnya dan melumatnya lembut. Alexa
membalas ciumanku, berbeda dengan tadi, kali ini dia lebih lihai
dalam mencium. Alexa membelit lidahku dengan lidahnya dan
menghisapnya lembut. Aku kelabakan menghadapi ciumannya dan
membalasnya dengan lumatan yang panjang.
Kami melepaskan ciuman kami, nafas kami memburu dan aku
menempelkan keningku pada keningnya.
Aku menyeringai, "Gadis pintar. Kau cepat belajar, sayang."
Alexa balas menyeringai, kemudian dia memutar pinggulnya.
Aku mengerang, "Oh shit. You drive me crazy." Aku menekan
pinggulku pada pinggulnya. "Katakan padaku, Fairy. Apakah kau
benar-benar menginginkan ini?"
"Ya Jarvis...Ya...Aku menginginkannya."
"Aku tahu ini yang pertama buatmu. Mungkin akan sedikit
menyakitkan sayang..." Bisikku, aku menggigit cuping telinganya
lembut. "Uughh...Aku tidak peduli Jarvis...Sialan...Aku benar-benar tidak
peduli..." Aku menatap lembut pada ke dalaman mata coklatnya dan bersiap
memasukkan milikku pada kewanitaannya ketika Alexa berbisik.
"Jarvis..." Aku berhenti dan menatapnya, mencoba untuk tidak menampilkan
ekspresi kecewa pada wajahku karena sudah dihentikan. Aku tidak


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ingin menjadi laki-laki brengsek. Aku akan menghargai keputusan
Alexa jika dia berubah pikiran.
"Aku hanya ingin kau tahu...Aku menarik ucapanku..."
Aku mengangkat sebelah alisku tak mengerti.
"Bahwa aku keberatan jika kau memaksaku telentang di ranjangmu."
Aku mengerti. Aku menunduk dan mengecup keningnya.
"Sejujurnya, aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Aku tak
peduli jika kau memaksaku, aku tak peduli jika kau jadikan one
night stand...Aku..."
Aku menempelkan bibirku pada bibirnya, menghentikan ucapannya.
"Aku menginginkanmu sejak pertama aku melihatmu, Fairy. Di jalan
itu, di tengah hujan itu..."
Alexa terbelalak dengan matanya yang berbinar, tangannya
merengkuh leherku dan dia mencium bibirku keras.
Aku meletakkan kejantananku pada intinya. Merasakan desahan
nafasnya ketika milikku mulai mendesak masuk ke dalam lubang
kewanitaannya. Aku berusaha melakukannya sepelan mungkin, mendorongnya
sedikit demi sedikit, sampai aku merasakan adanya lapisan yang
menahan ujung penisku. Alexa memekik, aku berhenti sebentar dan
menciumi leher Alexa, mengecupnya dengan lembut. Aku
merasakan milik Alexa menahanku. Aku menggertakkan gigi,
menahan keinginanku untuk menusuknya dengan keras.
Aku memejamkan mataku. Tenang Jarvis...Tenang...
Aku mendorong pinggulku perlahan, mencoba menembus selaput
tipis yang menghalangiku. Pada dorongan ketiga, Alexa menjerit
keras, dia mencengkeram punggungku sampai aku bisa merasakan
kukunya menembus kulitku. Aku terkesiap ketika merasakan
milikku terhisap ke dalam kewanitaan Alexa disertai dengan
cengkeraman ketat di sekitar kejantananku.
Oh Tuhan...Ini...ini... Aku kehabisan kata-kata. Puluhan atau bahkan mungkin ratusan
wanita yang pernah kutiduri, tidak sebanding dengan ini. Bahkan
jika mereka disatukan dan melakukan kegel secara bersamaan, itu
benar-benar tidak ada artinya dibandingkan dengan milik Alexa. Dia
begitu...begitu ketat...begitu lembut dan panas.
Aku merasa terbakar ketika menerima kenikmatan ini. Hangus dan
melebur bersama hasrat yang begitu menggelora.
Cengkeraman kuku Alexa semakin kuat. Susah payah aku mencoba
untuk diam, menatap wajahnya yang menahan sakit. Melihat mata
coklatnya yang berkaca-kaca, aku ingin menghilangkan rasa sakit
yang menderanya. "Sssshh...sayang, aku tidak bermaksud
menyakitimu." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menciumi lehernya
dan menjilati cuping telinganya. Lalu aku mengecup bagian-bagian
wajah Alexa. Keningnya...matanya...pipinya...Kemudian
memberikan ciuman yang dalam dan intim di bibir tipis Alexa.
Lalu, ketika Alexa sudah lebih tenang, aku mulai menggerakkan
pinggulku. Mula-mula perlahan dan teratur, namun ketika Alexa
mulai ikut bergerak, menjepit pinggangku dengan kakinya dan
memutar pinggulnya, aku kehilangan kendali. Kenikmatan yang
kurasakan membuatku melayang-layang. Erangan dan desahan
Alexa semakin membuatku frustasi.
"Oh Tuhan...Fai...Oh Tuhan...Fai..." Hanya kata-kata itu yang bisa
terucap dari bibirku. Aku menangkupkan kedua tanganku pada pipinya, menyangga bobot
tubuhku dengan sikuku. Mengunci matanya dengan mataku.
Alexa mendesah, "Jarvis...Aku...Aku..."
Aku melumat bibir Alexa, "Fai...Demi Tuhan Fai..." Aku
mempercepat gerakanku, "Klimakslah bersamaku Fai...Klimakslah
untukku..." Bersamaan dengan itu, aku mendorong pinggulku keras dan
menekannya kuat-kuat. Alexa menjerit, tubuhnya menegang lalu aku
merasakan denyutan di sekitar kejantananku. Tubuh kami bergetar
hebat di bawah tetesan hujan yang makin deras. Tidak terdengar lagi
suara guntur diantara hujan, satu-satunya suara yang terdengar
adalah degup jantung kami berdua.
Alexa membiarkanku menindihnya beberapa saat, lalu aku berguling
dan telentang di sampingnya. Alexa menjatuhkan kepalanya ke
samping, berhadap-hadapan denganku, tangan kami saling
menggenggam erat, mata kami saling bertaut. Lalu kami tertawa
bersama-sama, mendongak ke arah langit yang mulai terang,
membiarkan tetesan air hujan menerpa wajah kami.
"Aku jatuh cinta padamu, Alexa..." Aku mengungkapkan perasaan
yang begitu meluap-luap dalam hatiku. Kebahagiaan yang mengaliri
setiap pembuluh darahku dan mengiringi denyutan nadiku,
membuatku merasakan keinginan untuk mempertahankan ini. Aku
tidak akan membiarkannya lewat begitu saja. Aku ingin memiliki
saat-saat seperti ini selamanya. Aku ingin memiliki Alexa untuk
diriku sendiri, selamanya.
Alexa menghentikan tawanya, aku bangkit dan mencondongkan
tubuhku ke atas tubuh Alexa tanpa menindihnya. Menatap mata
coklat lembutnya yang sewarna beer. Benar-benar memabukkan.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu, dan meskipun aku baru
menyadarinya...Aku yakin, aku sudah jatuh cinta padamu sejak
pertama melihatmu," gumamku pelan. "Kau merubah semuanya
yang ada pada diriku, aku yang tidak sempurna. Tapi kau adalah
peri-ku, kau yang membuatku sempurna."
Alexa menatapku lembut, lalu dia menarikku dalam pelukannya.
"Kau tahu Jarvis, bertahun-tahun lamanya aku bermimpi, bahwa
suatu saat nanti mereka akan benar-benar mencintaiku, tanpa merasa
sedih lagi jika melihatku."
Aku mengerti dengan apa yang dimaksud Alexa, meskipun dia tidak
pernah membicarakannya, tapi aku tahu yang dimaksudnya dengan
mereka adalah kedua orang tuanya.
Aku menyusupkan wajahku pada lehernya dan menghirup aroma
manis lembut yang ada pada tubuhnya.
Alexa mencium rambutku, "Sampai saat aku bertemu denganmu di
cafe itu, aku merasa...bumiku berubah. Aku masih menginginkan
mereka, tidak pernah tidak. Tapi aku tidak memimpikan mereka lagi.
Aku memimpikanmu. Kau...mimpiku yang baru."
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan haru, "Oh Fai...,
kau sangat manis..." Lalu aku mengeluarkan seringaianku, "Itu
membuatku ingin memakanmu."
Alexa memekik dan terkikik geli ketika aku menggigiti lehernya,
lalu aku berdiri dan mengangkatnya di lenganku, membawanya
masuk ke dalam lift. Meninggalkan pakaian kami yang berserakan,
sekilas aku melihat genangan air yang disebabkan oleh hujan di
lantai atap. Ada semburat kemerahan di sana, yang mulai hilang
tercampur dengan curahan air hujan. Aku mengecup bibir Alexa
yang masih terkikik geli.
Aku baru saja bercinta dengan seorang perawan, aku tidak bisa
menyembunyikan senyumku, merasa bangga menjadi pria pertama
bagi Alexa. Gadis periku.
*** Bab 10 KEBERSAMAAN Kami baru saja selesai berendam air hangat di dalam jacuzzi. Aku
memandikan Alexa, memijatnya dengan lembut dan meremas
beberapa bagian tubuhnya yang menarik perhatianku. Dan meskipun
milikku mengeras di bawah sana, aku sama sekali tidak
mengajaknya bercinta. Alexa membutuhkan waktu beberapa saat
untuk memulihkan rasa sakit akibat kehilangan virginitasnya, dan
sebagai seorang pria sejati, aku harus menghormati itu.
"Aku harus menelepon Jeremy." Aku menghampiri Alexa, "Ponselku
tertinggal, boleh aku pinjam ponselmu?"
Alexa mengangguk, dia tidak memalingkan wajahnya dariku. Dan
dia berusaha menahan tawanya.
Aku memutar bola mataku, "Tidak usah berpura-pura. Kau boleh
tertawa jika kau ingin tertawa."
Lalu meledaklah tawa Alexa, dia menelungkupkan mukanya di atas
bantal untuk meredam suara tawanya.
Alexa tidak menyimpan nomor ponsel Jeremy, beruntunglah aku
mengingatnya di luar kepala. Aku menekan beberapa tombol dan
menunggu panggilanku tersambung.
"Halo..." "Jeremy, aku butuh bantuanmu." Seruku begitu mendengar suara
Jeremy menyahut dari seberang.
"Jarvis. Sialan, kau di mana" Semalam Liana menghubungiku, dia
mengira kau bersamaku. Ah brengsek, kau harus tahu apa yang
dikatakan Liana padaku..."
"Jeremy." Jeremy terdiam, aku mendengar dia menarik nafas. "Okay...Kau di
mana?" tanyanya lebih tenang.
"Aku di hotel. Kau harus menyuruh seseorang untuk membelikanku
pakaian dan membawanya ke sini."
"Kenapa dengan pakaianmu?"
"Kuceritakan nanti."
"Okay, harus kukirim ke hotel apa?" Lalu terdengar bunyi kertas
dirobek. "Grand Alena Hotel. Penthouse 554 atas nama Alexa."
Hening sesaat di sana, lalu Jeremy tertawa terbahak-bahak, sampai
aku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. "Dasar si brengsek
yang beruntung. Kau bersama Alex, ha?" tanyanya diantara gelak
tawanya. "Apa kau bercinta dengan Alex sedemikian hebatnya
sampai-sampai kau membutuhkan baju baru?"
"Jeremy." Aku memperingatkannya.
Jeremy sama sekali tidak mempedulikan peringatanku, dia masih
saja tertawa meski sudah tidak sekeras tadi. "Katakan padaku, apa
sekarang kau telanjang di depan Alex?"
"Aku tidak harus menjawabnya." Dengusku kesal.
"O...o...Kau harus, terutama jika kau menginginkan bajumu."
Sialan. Aku melirik Alexa yang sudah berhenti tertawa tapi masih terlihat
geli. Lalu aku menunduk, memperhatikan diriku sendiri.
Tentu saja aku tidak telanjang, tapi aku mengenakan jubah mandi
warna pink yang kekecilan di badanku. Jubah mandi milik Alexa,
panjangnya hanya setengah pahaku dan jubah ini sama sekali tidak
menutupi dadaku. Jeremy akan senang sekali jika mengetahui aku
memakai ini, dan itu akan menjadi olok-oloknya sepanjang tahun.
Akan lebih baik jika dia tidak mengetahui hal ini. "Ya, aku
telanjang." Kembali aku mendengar Jeremy tertawa. Aku menekan tombol
ponsel dengan kesal, memutuskan sambungan telepon.
Aku meletakkan ponsel Alexa ke atas meja dan berpaling menatap
Alexa tajam. Melihat ekspresiku, Alexa berusaha mengatupkan bibirnya. Dan
ketika bibirnya tidak bisa menutupi seringaian lebarnya, dia
membungkamnya dengan tangannya. Tapi sepertinya sia-sia, karena
tak berapa lama kemudian, Alexa sudah kembali tergelak.
Aku melompat ke arahnya dan menindihnya, menciumi perutnya
hingga dia berteriak-teriak minta ampun karena kegelian.
"Hentikan Jarvis, hentikan..." teriaknya disela-sela tawanya.
"Aku akan berhenti kalau kau berjanji tidak menertawakanku lagi."
"Aku berjanji...Aku berjanji Jarvis..."
Aku menghentikan aksiku, mendongakkan kepalaku dan
menatapnya dengan seringaian penuh kemenangan di wajahku.
Alexa mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, dia memegangi
dadanya. "Rasanya...dadaku hampir...meledak..." gumamnya
payah. Aku terkekeh dan menghempaskan tubuhku di samping Alexa.
"Sudah lama aku tidak tertawa sekeras ini."
Aku merasa tidak nyaman dengan jubah mandi yang kukenakan, aku
bangkit dan melepaskan jubah itu, lalu menarik bedcover untuk
menutupi bagian bawah tubuhku sampai pinggang.
"Kau tidak harus menutupinya dengan bedcover." Gumam Alexa,
seringai jahil menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu, sebaiknya kau juga tidak mengenakan piyama itu..."
Kataku sambil berbalik ke atas Alexa dan melucuti piyama yang
dikenakannya. Menyadari ketelanjangannya, Alexa menyusup masuk ke balik
bedcover, dan berbalik miring membelakangiku. Sekilas aku melihat
wajahnya merona. Aku terkekeh dan meraihnya, membuatnya meringkuk dalam
pelukanku. Tubuhnya terlihat mungil dan rapuh ketika berada dalam
dekapanku. Aku mencium puncak kepalanya dan menahannya di
sana. Perasaan nyaman dan bahagia mengaliri setiap pembuluh
darahku, memompanya sampai memenuhi dadaku.
"Jadilah milikku...selamanya, Fairy." Gumamku pelan.
Alexa merapatkan tubuhnya, membuat punggungnya sepenuhnya
menempel ke dadaku. Dia terasa pas berada dalam dekapanku, lekuk
tubuhnya mengisi bagian-bagian tubuhku dengan sempurna, bagai
dua potong puzzle yang disatukan. Seolah-olah dia memang
diciptakan dari bagian tubuhku, seperti Hawa yang tercipta dari
tulang rusuk Adam. Aku mencium bahunya, naik ke lehernya dan mulai menjilati cuping
telinganya. Tanganku meraba payudaranya, membelainya dan
meremasnya penuh gairah. Alexa menggelinjang, aku merasakan
bulu-bulu halus pada tengkuknya meremang.
"Oh Fai...Aku ingin bercinta...Aku ingin memasukimu..." Bisikku
menggoda. Alexa mendesah, dia menjatuhkan kepalanya ke bahuku. Bibirnya
terbuka menyebut namaku, suaranya terdengar parau dan seksi.
"Kau menginginkannya, Fai..." Menciumi tulang pipinya, aku
kembali berbisik, "Kau ingin ereksiku masuk ke dalam milikmu
yang ketat itu...dan panas...dan lembut..."
"Ya...Ya...Jarvis, demi Tuhan ya. Aku sangat menginginkanmu...
berada dalam diriku."
Aku melumat bibirnya, merasakan kembali kelembutannya, rasa
manisnya...yang selalu bisa membuatku terbakar hanya dengan
menyentuhnya. Satu tanganku meluncur turun ke intinya, membuka bibirnya dan
memasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalamnya.
Sedangkan tanganku yang lain masih berada di payudaranya,
memilin putingnya dengan jari-jariku.
Aku menggeram ketika dia sudah basah untukku, "Oh Fai...Kau
sangat...basah...Sangat siap untukku..."
Aku memajukan pinggulku, membuat ereksiku berada tepat di
intinya. Mendorongnya, berusaha untuk memasukinya. Aku baru
memasukinya setengah jalan, tapi milik Alexa sudah menghisapku
dengan sangat kuatnya, membuatku masuk sepenuhnya.
Aku gelagapan, "Damn it! Oh demi Tuhan Fai...Dari mana kau
belajar menghisap seperti itu...Kau membuatku terbakar..."
Setengah gila, tanganku memainkan klitorisnya, mengimbangi
perasaan ingin meledak yang kurasakan.
Alexa mengerang, lalu dia memberikan cengkeraman yang kuat pada
ereksiku, melepasnya...dan mencengkeram lagi.
Merasa tidak tahan, aku menarik ereksiku dari intinya dan Alexa
mengerang sebagai bentuk protes.
"Tidak sayang...Bukan seperti itu cara bermainnya..." gumamku


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan membalik tubuhnya hingga telentang.
Nafasku memburu dan jantungku berdebar kencang. "Dengar...
peraturannya adalah, aku akan membuatmu klimaks dan biarkan aku
merasakan kenikmatannya."
Aku mengecup bibirnya yang merengut, lalu mulai memasukkan
kembali ereksiku ke intinya. Aku menggeram, ketika merasakan
hisapan itu lagi. "Oh Tuhan, berhentilah menghisapku, Fai...Kau bisa membuatku
gila." Alexa tidak mempedulikan peringatanku, dia menggerakkan
pinggulnya memutar, menghisap, dan mencengkeram milikku secara
bersamaan. Aku menggila, bergerak dengan liar dan tak terkendali.
Alexa melengkungkan punggungnya, tubuhnya menegang dan
bergetar, intinya berdenyut dengan keras.
"Jarvis...Oh...Jarvis..." desahnya parau.
Dan...meledaklah...Aku terbakar dan meleleh secara bersamaan.
Melebur bersama kenikmatan panas yang membara. Aku
menekankan pinggulku kuat-kuat, meraup kenikmatan yang seperti
tiada akhir. Membuat jantungku seakan ingin meledak, dan tubuhku
bergetar dengan hebatnya.
"Luar biasa..." Desisku parau.
Aku berguling ke samping, miring menghadap Alexa dengan
bertumpu pada sikuku. "Untuk seorang gadis 19 tahun yang masih
perawan, kau termasuk hebat dalam urusan bercinta." Gumamku
menggodanya. "Untuk seorang pria berusia 23 tahun yang berpengalaman, kau
terlihat sangat kacau."
Aku menyeringai, "Kau yang mengacaukanku, Fairy."
Lalu aku mengangkat bahunya dan meletakkan kepalanya di atas
dadaku. Alexa menempelkan pipinya di dadaku, rambut coklat
gelapnya tergerai melewati bahuku. Aroma bunga-bungaan dari
shampoo yang digunakannya menyeruak masuk dalam indra
penciumanku, bercampur dengan aroma manis dari tubuhnya. Aku
menghirupnya dalam-dalam dan menyimpannya dalam ingatanku.
"Jarvis..." "Hmm..." Alexa terlihat ragu-ragu, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya?" "Kenapa semalam kau bersikap seperti itu?"
Aku terdiam, teringat kejadian semalam.
"Kau terlihat sangat sedih dan ketakutan. Kau...mengeluarkan suara
yang..." Alexa menghela nafas panjang, "...memilukan.
Mengingatkanku pada lolongan serigala yang terluka. Siapapun yang
mendengarnya pasti ikut merasa sedih..."
Jadi, suara lolongan yang aku dengar itu...adalah suaraku sendiri.
Aku mengusap-usap bahunya pelan.
"Kau tidak perlu bercerita jika itu membuatmu tidak nyaman,
Jarvis." Aku berpaling, menatap mata coklat lembutnya yang kini
menatapku. Entah kenapa aku ingin menceritakannya pada Alexa.
Kejadian yang selalu ingin kulupakan dan kukubur dalam-dalam,
yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun, bahkan Liana
sekalipun. "Berlawanan denganmu yang menyukai hujan, aku sangat membenci
hujan." Aku mulai bercerita.
Alexa mendengarkan, sama sekali tidak menyela ucapanku.
"Aku kehilangan Ibuku saat berumur 6 tahun."
Aku merasakan Alexa mempererat pelukannya padaku. Aku
menatapnya penuh rasa terima kasih.
"Ayahku orang Jerman. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya.
Dia meninggalkan Ibu saat Ibu mengandung aku."
Aku mengecup puncak kepala Alexa, berpikir untuk tidak
melakukan perbuatan seperti yang Ayah lakukan pada Ibu.
"Tapi meski Ibu membesarkanku seorang diri, dia tidak pernah
mengeluh. Dia sangat menyayangiku dan memanjakanku," aku
menghela nafas panjang. "Kami bukan orang kaya, tapi Ibu selalu
berusaha untuk memenuhi kebutuhanku."
"Kau sangat beruntung..." gumam Alexa sedih.
"Oh sayang..." Aku mencium matanya, menghiburnya.
"Teruskan Jarvis."
"Ibu mempunyai seorang adik laki-laki, namanya Om Benny." Aku
meringis ketika menyebut nama itu. Sudah lama aku berusaha
melupakan nama itu, bahkan tidak pernah menyebutnya sama sekali.
"Sewaktu orang tua Ibuku meninggal, mereka mewariskan rumah
pada Ibu dan sebidang tanah untuk Om Benny. Usiaku belum genap
satu tahun saat itu."
Alexa mengecup dadaku. "Om Benny suka berjudi, tanah peninggalan Kakek dan Nenek tidak
bertahan lama di tangannya. Lalu dia mulai mengganggu Ibu,
meminta uang dan memukuli Ibu. Aku sangat membencinya."
Mataku membara mengingat kejadian itu, dimana Om Benny selalu
melakukan kekerasan pada kami.
Aku menarik nafas panjang, saat sampai pada bagian yang paling
menyakitkan. "Sampai suatu malam, hujan turun sangat deras,
dengan bunyi guntur dan angin yang sangat kencang. Ibu
memelukku sepanjang malam, dia menyanyikan lagu nina bobo
untuk menenangkanku."
Demi Tuhan, aku tidak pernah menangis lagi semenjak beranjak
remaja, tapi kali ini aku tidak bisa menahan air mataku.
"Oh sayang..." Alexa bergeser ke sampingku dan memelukku,
"Tidak usah diteruskan lagi, sayang..." bisiknya lembut.
Aku menggeleng, "Tidak apa-apa," gumamku. "Tengah malam, Om
Benny membangunkanku dengan kasar, dan aku menemukan Ibuku
sudah tidak bernyawa lagi. Om Benny membunuh Ibu dengan pisau
yang dibawanya dari rumah. Dia sudah merencanakan semuanya."
Aku mengetatkan rahangku, "Om Benny membawaku dan dia
membakar rumah Ibu untuk menghilangkan jejaknya."
Alexa menatapku, ada kesedihan pada matanya. Aku mengendurkan
otot wajahku dan tersenyum padanya, "Semua itu sudah berlalu,
sayang." Gumamku. Aku mengganti posisi tiduranku menjadi duduk dan bersandar pada
kepala ranjang, lalu meraih Alexa dalam pangkuanku. "Kau masih
ingin mendengar kelanjutannya?"
Alexa mengangguk, lalu meringkuk dengan nyaman dalam
pangkuanku. "Aku dalam keadaan pingsan ketika Om Benny membawaku ke
rumahnya. Saat aku terbangun, aku berada di pelukan seorang
wanita yang kemudian kuketahui sebagai kekasih Om Benny,
namanya Tante Mirna. Dia sangat baik dan lembut, mirip dengan
Ibu." "Kau menganggapnya sebagai pengganti Ibumu?" Tanya Alexa.
Aku mengangguk. "Om Benny sering memukuliku, tetapi Tante
Mirna-lah yang selalu melindungiku dan membelaku. Dia
menyayangiku seperti seorang Ibu yang menyayangi anaknya."
"Om Benny selalu memukulimu?" Alexa terlihat tidak suka.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Apa dia juga yang menyebabkan bekas luka ini?" Alexa meraba
bekas luka memanjang di pangkal leherku, "Pasti sakit sekali ya..."
"Aku masih berumur 10 tahun saat mendapatkan luka ini."
"Oh..." Alexa membekap mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Aku memeluknya dengan sayang.
"Kenapa dia melukaimu?"
"Karena hari itu hujan turun sangat deras, aku tidak berani ke luar
rumah untuk bekerja, dan Om Benny sangat marah. Dia kesal, tidak
bekerja berarti tidak ada uang, tidak ada uang itu artinya dia tidak
bisa bersenang-senang."
Alexa terbelalak, "Dia menyuruhmu bekerja?"
"Aku melakukan apapun untuk mendapatkan uang, Fairy.
Mengamen, jadi kuli pasar, bahkan mencopet."
"Mencopet?" Aku terkekeh melihat mata coklatnya yang membulat sempurna.
Merasa gemas, aku membekap pipinya dengan kedua tanganku, "Ya
mencopet. Kau merasa pernah kehilangan sesuatu saat bersamaku?"
Aku mengerling penuh arti.
Alexa tersipu, merasa malu, dia melepaskan tanganku dan beranjak
dari pangkuanku. Lupa dengan ketelanjangannya.
"Wow, aku suka pada bagian ini, sayang!" Seringaiku puas.
Alexa memekik, teringat dengan ketelanjangannya, dia menarik
bedcover dan melilitkannya di tubuhnya. Mukanya merah padam,
dan dia menatapku kesal. Aku tergelak, "Bukan salahku..." Gumamku diantara tawa. Tapi mau
tak mau milikku mulai mengeras lagi melihat ketelanjangan Alexa.
Alexa memperhatikan perubahan wajahku, lalu melirik pangkal
pahaku yang kini sudah tidak tertutup apa-apa. Oh sial...merasa
diperhatikan, milikku langsung terasa tegang sempurna.
Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak..."
Lalu Alexa berbalik dan berusaha berlari. Tapi dia kalah cepat, aku
sudah merengkuh pinggangnya dan menariknya, sehingga dia jatuh
di atas tubuhku. Alexa tertawa ketika aku membaliknya dengan
mudah meski dia meronta. Aku memegang kedua lengannya dengan
satu tanganku dan menguncinya di atas kepalanya, bibirku mencari
bibirnya dan melumatnya dengan rakus ketika menemukannya.
"Hmmpphhh..." Tawa Alexa terhenti. Dia berusaha memiringkan
kepalanya, tapi tanganku yang satu menahan pipinya, membuatnya
menerima ciumanku seutuhnya.
Kami sudah sama-sama terbakar ketika tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu. Panik, Alexa mendorongku dan meraih jubah
mandinya yang tadi kupakai.
Dia mengenakan jubah mandinya dan mengikat tali pada
pinggangnya, dan berbisik padaku, "Kau, diamlah di sini." Lalu dia
berbalik dan ke luar dari kamar.
Aku mendengar Alexa membuka pintu dan bercakap-cakap sebentar
dengan seseorang yang kuyakini sebagai petugas hotel. Tak berapa
lama kemudian, Alexa kembali dengan membawa tas kertas
eksklusif di tangannya. "Jeremy sungguh cerdas," gumam Alexa. Aku mengangkat alisku tak
mengerti. "Dia menggunakan tas dari butik wanita untuk
membungkus pakaianmu."
Aku tidak begitu mempedulikan ucapan Alexa, aku hanya ingin
menyelesaikan hasratku yang sudah begitu menggebu. Aku
mendekati Alexa dan meraih pinggangnya, mencumbu lehernya
penuh gairah. Meneruskan apa yang tadi sempat tertunda.
*** Alexa tertidur di sampingku, kepala mungilnya bersandar di
lenganku. Aku menatapnya sayang, merasakan kedamaian ketika
melihat wajah polosnya yang tertidur. Dengkuran halusnya
membuatku merasa nyaman, seolah meyakinkanku bahwa dia tidak
berada jauh dariku. Alexa sudah menghubungi Claire, mengatakan bahwa dia berada di
Penthouse, dan menceritakan sedikit tentangku padanya.
Aku tersenyum mengingat ekspresi Alexa saat berbicara dengan
Claire lewat telepon. Mukanya merah padam, dan dia berbisik-bisik
dan terus melirikku. Aku pura-pura tidak memperhatikannya, asik
dengan kripik kentang yang kutemukan di lemari pendingin. Ketika
Alexa selesai berbicara dengan Claire, dia menghampiriku.
"Aunty ingin bertemu denganmu," katanya gugup. "Maaf, aku tidak
bermaksud mengikatmu, atau berusaha menjebakmu. Tapi Aunty..."
Aku menariknya, dan membuatnya meringkuk dalam pangkuanku,
"Apa yang kau bicarakan, Fairy" Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Ehm, kupikir...maksudku, aku tahu kau tidak tertarik untuk
berhubungan serius dengan wanita, Jarvis. Kau lebih suka dengan
hubungan satu malam yang tanpa komitmen apa-apa."
Aku mengangkat dagunya dan menatapnya tajam, "Siapa yang
mengatakan itu padamu?"
Alexa menatapku bingung, "Bukankah...kau..."
"Gadis bodoh," gumamku lembut, aku mendekapnya dan mengayunayunkannya dalam
pangkuanku. "Tidak mengertikah kau apa yang
kuucapkan semalam" Bahwa aku tergila-gila padamu, ingin
memilikimu...dan kalau kau tidak mau mengikatku, aku yang akan
menjebakmu. Hingga kau tidak akan bisa lari dariku."
Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku.
Alexa mendongak dan menatapku, mata bulat coklatnya melembut.
"Oh Jarvis, aku pikir itu yang selalu kau ucapkan jika bercinta
dengan seorang gadis. Tidak heran jika mereka tergila-gila padamu."
Aku mengerling dan tersenyum jenaka, "Apakah itu artinya kau juga
tergila-gila padaku?"
Alexa memukul bahuku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Aku terkekeh, "Asal kau tahu Fairy, aku hanya mengucapkan katakata itu padamu...
Hanya padamu..." Gumamku pelan.
Aku menggulingkan tubuhku, menghadap Alexa yang masih tertidur
dan membelai pipinya lembut. Menyingkirkan helaian rambut yang
menutupi pipinya, aku tercenung, mengingat apa yang harus
kulakukan selanjutnya. Yang pertama tentu berbicara dengan Liana,
aku harus meninggalkan Liana.
Beberapa waktu yang lalu aku tidak memiliki kekuatan untuk
meninggalkannya, mengingat apa yang sudah dia lakukan untukku
selama ini. Sekarang, dorongan untuk mengakhiri hubunganku
dengan Liana begitu kuat.
Aku mengernyit, mungkin Liana akan terluka. Aku tidak begitu suka
mengingat hal itu, tapi jika aku tidak meninggalkannya, Alexa yang
akan terluka. Aku, beribu kali lebih tidak menginginkan Alexa yang
terluka. Aku mengetatkan rahangku, kesal lebih kepada diri sendiri.
Seharusnya aku mengikuti kata-kata Jeremy, meninggalkan Liana
dari dulu. Semuanya tidak akan serumit sekarang.
"Apa yang kau pikirkan?"
Suara lembut Alexa menyentakku, aku tidak menyadari Alexa
terbangun dan kini sedang menatapku.
"Tidak sayang, aku hanya berpikir untuk mengenalkanmu pada
seseorang." "Apa itu Tantemu?"
Apa yang kukatakan" "Maksudmu?"
Alexa tersipu, "Maaf, lupakan saja." Matanya menghindari tatapanku
dan dia berusaha berbalik membelakangiku.
Aku menahannya, "Tidak, sayang. Katakan padaku, 'Tante' siapa
yang kau maksud?" "Kau ingat saat kau dan Jeremy menjemputku untuk makan siang di
restoran Prancis?" Tentu saja aku ingat. Aku mengangguk.
"Aku heran kenapa kau tidak ikut masuk ke dalam."
Itu karena Jeremy menahanku.
"Ternyata karena di dalam ada Tantemu."
Aku kaget menerima informasi ini.
"Siapa?" Alexa mendekat dan meletakkan kepalanya di dadaku. "Seorang
wanita cantik menghampiri kami dan menyapa Jeremy, lalu
mengajak kami untuk bergabung dengan dia dan suaminya. Tapi
Jeremy menolaknya. Kata Jeremy, wanita itu Tantemu, kalau tidak
salah namanya Lina..."
"Liana..." Aku secara tidak sadar menyebut nama Liana.


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ya itu. Liana. Nama yang bagus, dia sangat elegant...dan juga
ramah." Alexa sama sekali tidak menyadari perubahan wajahku.
Kenapa Jeremy tidak menceritakannya padaku"
"Jarvis." Aku menunduk dan melihat Alexa yang kini menatapku.
"Kau tidak harus mengenalkanku pada Tantemu, aku tahu itu terlalu
cepat." Oh, dia salah paham. Aku merasa hancur saat mendengar nada tidak percaya diri pada
suaranya, "Kau akan berkenalan dengannya, Fairy. Kau pantas untuk
mengenal satu-satunya keluargaku."
Alexa menatapku tak percaya, tapi aku melihat kegembiraan di
matanya. Aku mengangguk dan memeluknya sayang.
Oh Tuhan...Gadis periku ini begitu...begitu tidak dimengerti. Dia
memiliki semua yang setiap gadis idamkan, tapi kenapa aku merasa,
dia tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi layaknya gadis-gadis
kaya lainnya" Sekarang melihatnya seperti ini, merasa gembira karena akan
berkenalan dengan seseorang yang dia pikir ke luargaku, aku tidak
akan tega untuk tidak mengenalkannya pada 'Tanteku'.
Aku mendekapnya erat. Jika memang harus hancur, hancurlah...
Selama aku tidak harus kehilangan Alexa tidak apa-apa.
*** Bab 11 RETAK Kupikir semuanya akan baik-baik saja...
Pada awalnya semuanya memang baik-baik saja. Kami menemui
Claire, makan siang bersamanya, dan berbincang-bincang
dengannya sejenak. Aku senang karena Claire terlihat menyukaiku,
tak henti-hentinya dia menceritakan kecerobohan Alexa semasa
kecil, membuat wajah Alexa merah padam dan aku tidak berhenti
tertawa lebih karena melihat reaksinya.
Sungguh, aku tidak pernah merasa selengkap ini sebelumnya.
Sore hari, aku mengajak Alexa ke apartemenku, menembus hujan
yang masih setia membasahi bumi. Dalam perjalanan, jika ada
kesempatan, aku selalu memperhatikannya dengan senyuman yang
terus mengembang pada bibirku. Aku menyukai penampilannya sore
ini, dia mengenakan celana jeans ketat. T-shirt orange cerah -dengan
tulisan Yours di dadanya-yang dikenakannya, mempunyai garis leher
yang lebar, memperlihatkan sebagian bahunya yang terlihat kontras
dengan warna T-shirt itu. Dan aku suka dengan kombinasi karet
lebar pada bagian bawahnya, membuat kaos itu menggantung di atas
pinggangnya, sehingga jika aku beruntung, aku bisa mengintip
perutnya yang selalu membuatku ingin menyentuhnya dengan
lidahku. Di dalam lift, aku melihat muka Alexa yang agak pucat, dan ketika
pintu lift terbuka, dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
Aku menggenggam tangannya lembut, "Ayo..." Gumamku pelan,
mengajaknya ke luar dari lift.
Alexa tak bergeming, pandangannya sama sekali tidak fokus.
"Kurasa sebaiknya aku pulang, Jarvis," gumamnya gugup.
Seharusnya aku menurutinya, dan mengantarkannya pulang, tapi
bukan itu yang kulakukan...
"Tidak sayang, kau sudah berada di sini. Ikutlah denganku..." Aku
mencium tangannya yang berada dalam genggamanku untuk
menenangkannya. "Apa menurutmu ini tidak terlalu cepat?"
"Tidak ada yang terlalu cepat. Kita bertemu, kita saling jatuh cinta
dan tertarik satu sama lain, lalu kita menjalin hubungan serius, itu
sederhana." Aku berkata lembut untuk membujuknya.
Alexa terlihat bimbang, "Tapi..."
Ucapannya terhenti dan berganti dengan pekikan ketika aku
mengangkat tubuh mungilnya dan meletakkannya di atas bahuku,
"Tidak ada tapi." Gumamku tanpa basa-basi.
Alexa berteriak-teriak dan memukul-mukul punggungku sekuat
tenaga, aku hanya terkekeh menerima pukulannya.
"Turunkan aku, Jarvis! Aku tidak suka diperlakukan seperti ini,
turunkan aku!" Dia benar-benar terdengar kesal.
Aku membuka pintu apartemen, "Sebentar lagi sayang..."
Lalu aku menurunkan Alexa saat berada di dalam apartemenku.
Alexa mendengus kesal, wajahnya merah padam. "Kau membuatku
marah." Dia menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya untuk
duduk di atasnya, tangannya terlipat di depan dadanya dan dia
terlihat sangat marah. Demi Tuhan...Dia terlihat seksi ketika marah.
Kejantananku terasa mengeras di bawah sana. Aku menghampirinya
dan berlutut di depannya, meraih tangannya yang terlipat di depan
dadanya untuk kugenggam. "Maafkan aku..." Aku memasang wajah memelas.
Alexa memutar bola matanya.
Demi bolaku, posisi berlututku kali ini benar-benar membuatku
tersiksa. Menahan rasa sakit di area vitalku, aku menggigit bibir bawahku.
"Kalau kau mau, kau bisa bercerita kenapa kau tidak suka
diperlakukan seperti itu." Aku berusaha membujuknya.
Sesaat Alexa menatapku, kemudian dia terlihat lebih santai. Bahunya
mulai melemas. "Itu karena papa..." gumamnya kemudian.
Aku mengangkat sebelah alisku, mendorongnya untuk terus
bercerita. "Dulu, jika aku nakal atau tidak mau menurut, Papa selalu
mengangkatku di atas bahunya dan membawaku ke gudang untuk
mengurungku..." Aku berusaha menyembunyikan senyumku.
Alexa menatapku tajam, "Itu tidak lucu."
"Aku tidak menganggapnya lucu." Tapi aku tidak bisa menahan
senyumku yang semakin melebar.
"Kau tertawa." Aku memalingkan mukaku, menghindar dari tatapannya, "Tidak."
Dan kemudian, ketika Alexa menyipitkan matanya, menyelidik
kesungguhanku, aku tergelak.
Alexa merengut, dia kembali menyilangkan kedua tangannya di
depan dada. Aku berdiri dan duduk di sampingnya, berusaha menghentikan
tawaku. "Kau menyebalkan," gumamnya kesal.
"Kau tahu kenapa kami para pria senang melakukan itu padamu?"
Alexa melirikku, dan meskipun kesal, dia terlihat tertarik dengan
jawabannya. "Karena kau sangat menggemaskan." Aku mendekap tubuhnya,
menariknya hingga punggungnya menempel di dadaku.
Sesaat tubuh Alexa menegang, kemudian aku meletakkan daguku ke
atas puncak kepalanya dan mengayun-ayunkan tubuhnya lembut.
"Maafkan aku..." Gumamku.
Perlahan tubuh Alexa merileks, dan terlihat menikmati ayunanku.
"Kau berjanji tidak akan melakukannya lagi?" tanyanya.
Aku menyeringai, "Maaf sayang, sepertinya aku tidak bisa berjanji.
Aku sangat menyukai tubuh mungilmu berada di atas bahuku."
Alexa menarik tubuhnya dari dekapanku, berusaha melepaskan diri.
Tapi aku menahannya dan membalik tubuhnya hingga dia
menghadapku. Aku membuat tubuhku telentang di atas sofa dengan
Alexa berada di atasku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku, aku
bisa melihat dengan jelas ketika pipinya merona, kurasa itu karena
dia merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya.
Aku kembali menyeringai, "Kau merasakannya, Fai. Bagaimana kau
selalu bisa membuatku bergairah?"
Alexa semakin merona, dia menahan tubuhnya dengan kedua
lengannya. Itu sama sekali tidak berarti bagiku, aku menariknya
lebih keras, membuatnya lebih dekat denganku. Kini telapak tangan
sampai sebatas sikunya menempel di dadaku. Mata bulat Alexa
terbuka lebar, terlihat gugup dan malu.
Aku menekan lehernya ke arahku, membuat bibirnya yang sedikit
terbuka menempel pada bibirku, dan aku merasakan sentakan keras
pada jantungku. Demi Tuhan, berkali-kali aku menciumnya, dan berkali-kali juga aku
terbakar. Ciumanku penuh gairah...sangat menuntut...sangat mendesak.
Seolah-olah aku tidak akan pernah merasa cukup puas dengan
bibirnya. Aku tergoda, lidahku membelai bibir tipisnya,
membujuknya agar terbuka lebih lebar. Membiarkan aku masuk ke
dalamnya, menikmati setiap sensasi yang kurasakan, yang membuat
letupan-letupan dalam dadaku. Oh Tuhan...Aku sangat menyukai
kelembutan bibirnya. Aku melepaskan ciumanku, melihat ke dalaman mata coklat Alexa
yang kini meredup. Aku bangkit, dan membuat Alexa terduduk di pangkuanku. Alexa
melingkarkan kedua kakinya di pinggangku saat aku berdiri. Aku
mengangkat pantatnya sedikit lebih tinggi dan melangkah
meninggalkan ruang tamu. Mataku tak pernah lepas dari matanya, aku sengaja melewati kamar
khusus dan memasuki kamarku. Aku tidak akan bercinta dengan
Alexa di kamar khusus, bukan karena di sana ada lingerie milik
Liana, tapi karena Alexa pantas untuk mendapatkan lebih dari
sekedar kamar khusus. Kamar khusus tempat biasa aku berhubungan seks dengan sekian
banyak wanita. Aku hanya tidak ingin Alexa menjadi salah satu dari
mereka. Dia...bukan Liana, bukan juga wanita satu malamku. Aku
ingin memilikinya seumur hidupku. Dan kamarku-lah satu-satunya
tempat yang pantas untuknya, dimana aku tidak pernah bercinta
dengan seorang wanita-pun di sana.
Aku merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size-ku, membuat
tubuh mungilnya tenggelam di kasurku. Terburu-buru melepas
sweater abu-abu gelap yang kukenakan dan meletakkannya begitu
saja di lantai. Lalu aku merangkak menghampiri kaki Alexa,
membuka celana jeans ketat yang digunakannya dan menariknya
hingga terlepas dari kakinya. Aku terpana melihat apa yang
dipakainya, tanganku gemetar saat aku meraih karet lebar Tshirt-nya
dan menariknya ke atas, melepaskan dari tubuh Alexa.
Alexa tersenyum sensual saat melihatku yang menatapnya tak
berkedip. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya malu-malu.
"Sangat..." Aku menelan air liurku, "...cantik."
Apa lagi yang harus kukatakan"
Dia mengenakan G-string berenda yang membuatku tidak bisa
bicara, hanya mengagumi dan mengagumi keindahannya.
"Kemarilah, sayang." Aku menarik tangannya dan menggeretnya ke
sofa yang ada di kamarku. "Berdirilah di hadapanku, lakukan
gerakan apapun." Gumamku parau. Aku ingin memanjakan mataku
dengan keindahannya. Aku duduk di atas sofa dan menyandarkan tubuhku ke sandaran
sofa, membuka kakiku agar lebih terasa nyaman.
Alexa berdiri di hadapanku dengan canggung, aku menikmati
kecanggungannya. Kurasa aku bisa orgasme hanya dengan
melihatnya seperti ini. "Katakan padaku...," kataku dengan suara serak, "...apakah kau
melakukan ini untukku?"
Alexa menatapku dari balik bulu matanya yang panjang dan lentik,
dan meskipun rona merah menjalar di pipinya, dia tersenyum
sensual. "Ya." Damn! Jawaban pendeknya membuatku semakin keras.
Aku mulai mengelus ereksiku, menatap payudaranya yang tertutup
kain tipis berenda, sama sekali tidak menghalangi keindahan
puncaknya. Pandanganku turun pada perutnya yang rata tanpa otot,
lalu meluncur turun ke keindahan yang satunya, yang nyaris
membuat nafasku tersedot habis. Kain segitiga transparan yang
berada di atasnya tidak bisa menutupi keindahannya. Di kedua ujung
segitiga itu, terdapat renda yang berbentuk bunga-bunga kecil
menggantikan tali, melingkari pinggulnya.
Aku merubah elusan pada ereksiku menjadi remasan, nafasku sudah
mulai memburu. "Berbaliklah, Fai..." Suaraku tercekat di
tenggorokan. Alexa berbalik, membiarkan rambutnya tergerai ke samping
melewati bahunya. Tenggorokanku mendadak kering melihat pantatnya yang sempurna.
Perlahan aku menghampirinya dan berlutut di belakangnya.
Aku meremas pantatnya, mengusapnya dengan lembut, lalu
tanganku berpindah ke pinggulnya, menekannya lembut saat lidahku
membelai bongkahan pantatnya. Alexa menggelinjang, aku
memuaskan lidahku merasakan kehalusan daging kenyal itu,
menelusuri tiap inch-nya dengan penuh kenikmatan, sesekali
menggigit kecil, membuat Alexa memekik.
Tanganku mulai turun menyusuri paha mulusnya, membelainya
dengan lembut. Lalu bergerak mendekati intinya, dan meletakkan
ujung jariku pada pusatnya. Membelai ujung klit-nya, merasakan
sensasi luar biasa yang kurasakan pada perutku saat mendengarnya
mengerang karena itu. "Jarvis..." desahnya lembut.
Kepalaku terasa dipenuhi aliran darah, aku merasa pening dalam
artian yang bukan sebenarnya. Alexa benar-benar membuatku kacau.
Aku berdiri dan melepaskan celana denimku, bersamaan dengan
boxer putih yang kukenakan. Lalu aku memeluknya dari belakang,
mencumbu bahunya dan meremas lembut payudaranya.
Aku memajukan pinggulku hingga ereksiku terselip di antara kedua
bongkahan pantatnya, Alexa mengerang...Dia mendongakkan
kepalanya hingga tersandar di bahuku. Aku mencari bibirnya,
merasakan nikmatnya saat bibir kami bertemu, memagutnya dengan
frustasi. Aku memutar tubuh Alexa hingga menghadapku tanpa
melepas bibirnya, menangkup pantatnya dan mengangkatnya dengan
mudah, membantunya mengaitkan kakinya pada pinggangku.
Alexa melingkarkan kedua tangannya pada leherku, dia membalas
ciumanku penuh gairah. Aku berjalan mundur dan menghempaskan
tubuhku di atas sofa, memilin tali renda yang melingkari pinggulnya
dan menariknya, hingga membuat G-string yang dipakainya
terkoyak dan terlepas darinya.
Aku menggeram merasakan bibir basahnya menyentuh ereksiku,
Alexa mengangkat pinggulnya sedikit, memberikan ruang agar aku
bisa memasukinya. Dan...akupun meleleh saat kehangatannya
melingkupi ereksiku. Kelembutan dan basahnya mengakibatkan
gejolak yang begitu kuat dalam perutku, menjadikannya sebuah
gelombang besar yang menghantam setiap sisi diriku.
Alexa bergerak naik turun di pangkuanku, menggesek setiap inch
kulitku dengan kelembabannya.
"Fai..." gumamku serak, tanganku meremas pinggulnya yang telah
menyiksaku. Membantunya mempercepat gerakannya, "Oh...Fai..."
"Ya Jarvis...Ya..." Alexa mengikuti iramaku, lalu dia melengkungkan
punggungnya dan memekik. Aku merasakan ledakan yang menghancurkanku. Membuatku
berkeping-keping dan berserakan.
"Fai...Fai...Oh Fai..." Aku memeluk tubuhnya yang bergetar,


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meletakkan wajahku pada lekukan lehernya yang beraroma manis.
Aku melonggarkan pelukanku ketika merasakan tubuh Alexa mulai
melemas, dan mencium keningnya lembut. Lalu aku beranjak dari
sofa dengan kejantananku yang masih berada di dalam Alexa.
Membawanya ke ranjangku dan berbaring di sana.
Aku mengusap rambut Alexa dan mencium matanya yang masih
terpejam, lalu menatapnya dengan pandangan sayu. "Maafkan aku..."
Gumamku. Alexa membuka matanya, mengelus pipiku dengan tangannya.
"Kenapa?" tanyanya lembut.
"Aku melakukannya lagi."
Alexa mengangkat alisnya.
"Aku bercinta denganmu tanpa menggunakan pengaman."
"Apakah kau..." Alexa menatapku ragu-ragu.
Aku terbelalak ketika mengetahui arah pembicaraannya. "Tentu saja
tidak. Sialan, aku tidak terkena HIV, babe."
Alexa terkikik geli, "Lalu, kenapa kau terlihat cemas?"
"Itu bisa membuatmu hamil, Fai...Kau tidak khawatir?"
Alexa membelalakkan matanya.
Aku merasa bersalah dan mengutuk diriku sendiri yang sudah begitu
ceroboh. Tapi kemudian mata Alexa melembut, dan dia membelai
perutnya sayang. "Apakah itu artinya, aku akan mempunyai bayi?" gumamnya pelan,
dia menunduk memandangi perutnya.
Itu membuatku frustasi. "Kau tidak khawatir?"
Alexa menatapku, "Kenapa harus khawatir" Aku bisa merawat bayi."
"Ehm, tapi kita belum menikah."
"Bukankah kau akan menikahiku?"
"Tentu saja." Jawabku cepat. "Tentu saja aku akan menikahimu." Itu
sudah ada dalam rencanaku sejak aku menyadari bahwa aku
mencintai Alexa. Alexa bergelung di dadaku, "Lalu, kenapa harus khawatir" Kau akan
menikahiku, entah itu besok atau seratus tahun lagi. Aku tidak peduli
selama kau ada di sisiku Jarvis..." gumamnya dengan suara
mengantuk. Aku mendekapnya, dan mengelus rambutnya. Tak berapa lama
kemudian, Alexa sudah tertidur. Dengkuran halusnya membuatku
merasa nyaman. Aku menghela nafas panjang. Aku akan menikahinya, itu pasti. Aku
harus memastikan dia akan menjadi milikku selamanya.
Tapi...Begitu banyak hal yang harus diselesaikan.
*** Indra penciumanku menangkap aroma yang terasa familiar dalam
ingatan, meraih ke samping, aku tersentak dan membuka mata, panik
ketika melihat Alexa sudah tidak lagi berada di sampingku.
Aku bangkit dan setengah berlari ke luar dari kamar, merasa lega
ketika menemukan Alexa berada di dapur.
Aku tersenyum. Membayangkan beberapa tahun kedepan dia akan
selalu ada di dapurku, hatiku terasa hangat.
Alexa berdiri di depan kompor, mengaduk-aduk sesuatu di dalam
panci yang sedang dimasaknya. Menyadari kehadiranku, dia
melambaikan tangannya yang memegang sendok sayur ke arahku.
Aku menghampirinya dan menempelkan tubuhku ke punggungnya.
Dia mengenakan kaos oblong milikku dan aku merasa terangsang
saat menyadari dia tidak mengenakan apapun dibaliknya.
"Ada aroma yang enak di sini," gumamku. Aku melongok dari atas
bahunya untuk melihat apa yang dimasaknya. "Kau masak apa"
Kelihatannya lezat." Aku memperhatikan kuah santan kekuningan
yang sedang diaduk-aduknya.
"Bubur ayam," jawabnya pendek.
Aku tertegun, ingatanku kembali ke puluhan tahun silam...
"Jeremy bilang, kau sangat suka bubur ayam." Alexa mematikan
kompor dan berbalik menghadapku, menyadari perubahan wajahku,
dia terlihat cemas. "Kau tidak keberatan aku memasak bubur ayam
kan?" "Tentu saja tidak." Aku beranjak ke meja makan dan menarik
kursinya, lalu duduk di atasnya. "Kemarilah, hidangkan bubur ayam
itu. Aku membutuhkan tenaga ekstra untuk kegiatan setelah makan."
Gumamku dengan seringaian pada wajahku.
Alexa merona ketika menyadari maksudku. Dia berbalik dan
menyiapkan bubur ayam di dua mangkuk keramik. Lalu dia
menghampiriku dan meletakkan sebuah mangkuk di hadapanku,
menarik kursi yang ada di depanku dan duduk di atasnya.
Alexa memperhatikanku ketika aku menyuapkan sesendok bubur ke
mulutku. Aku merasa ingin menangis saat bubur ayam itu melewati
tenggorokanku. "Kau tidak suka ya?" tanyanya cemas, menyalahartikan ekspresiku.
"Aku suka, ini...enak sekali." Aku tersenyum dan menatapnya
lembut, "Terima kasih, Fai..."
Alexa terlihat lega, dia mulai menyendok bubur ayam itu dan
meniupnya pelan-pelan. "Kau tahu...Dulu Ibuku berjualan bubur ayam di depan rumah."
Alexa berhenti meniup, perhatiannya teralihkan padaku. "Setiap pagi
aku makan bubur ayam." Aku terkekeh mengingat kenangan itu.
Alexa meletakkan sendoknya, dan menjadikan kedua tangannya
sebagai penopang dagunya. Dia tersenyum dan menatapku lembut.
"Rasa bubur ayam buatanmu, sangat mirip dengan buatannya.
Sangat enak dan gurih..." Aku kembali menyuapkan bubur itu ke
mulutku. "Makanlah, Fai. Aku tidak mau kau menjadi lemas setelah
ini." Alexa kembali merona, dia meraih sendoknya dan mulai memakan
bubur ayamnya. Aku memandangnya dari balik bulu mataku, merasa geli melihat
reaksinya. "Jarvis." Aku merasa ada petir yang melintas di kepalaku ketika mendengar
suara itu. Aku berpaling ke arah pintu dan melihat dia di sana. Liana.
Liana menatapku, kemudian berpaling memperhatikan Alexa.
Aku panik ketika Liana menghampiri kami, aku berdiri, dan dengan
langkah lebar aku menghampirinya sebelum Liana sampai ke tempat
dimana Alexa sedang menatapku bingung.
"Liana, tolong..."
Liana mengangkat tangannya, menghentikan ucapanku, dia tetap
melangkah ke arah Alexa. "Halo," Liana mengulurkan tangannya pada Alexa, "Sepertinya kita
pernah bertemu." Alexa berdiri dan menyambut uluran tangan Liana, dia mengangguk.
"Oh ya...Aku ingat, kita memang pernah bertemu. Alexa kan" Waktu
itu kau bersama Jeremy."
Aku tidak heran jika Liana mengingat nama Alexa.
Alexa kembali mengangguk. Aku menghampiri mereka dan duduk di
kursiku. Liana duduk di antara kami. "Duduklah, Lexa." Kata Liana ketika
melihat Alexa masih berdiri. "Hmmm...Rupanya kau masak bubur
ayam, sepertinya enak. Maukah kau mengambilkan satu mangkuk
untukku Lexa?" "Tentu saja, Tante."
"Biar aku saja." Aku berdiri mendahului Alexa dan mengambilkan
semangkuk bubur untuk Liana.
Aku meletakkan mangkuk bubur itu di depan Liana.
"Sepertinya kalian baru melewati malam yang panjang." Gumam
Liana melirik Alexa dengan pandangan menggoda.
Alexa merona, "Maaf Tante, aku harus ke kamar dulu." Alexa
beranjak dari duduknya. Aku meraih tangannya ketika dia melewatiku, "Aku temani."
Gumamku. "Aku hanya mau ganti baju, Jarvis." Bisik Alexa, "Nanti aku ke sini
lagi." Aku melepaskan tanganku dan membiarkan dia pergi.
"Dia cantik." Gumam Liana.
Aku berpaling dan menatap Liana, "Kumohon. Jangan ganggu dia,
Liana." Liana hanya tersenyum. "Tadi sebelum ke sini, aku mencarimu ke
kamar khusus. Kamar itu masih sangat rapi, seperti kau tidak
memakainya saja semalam. Dia pasti gadis yang rajin. One night
stand-mu sebelumnya tidak pernah seperti itu."
"Dia bukan one night stand-ku Liana." Desisku, "Dan kami tidur di
kamarku semalam." Liana terhenyak. Dia menatapku, sekilas aku melihat luka di sana,
tapi dia menyembunyikannya dengan baik.
"Kau tidak pernah membawa gadis ke kamarmu sebelumnya,"
gumamnya lirih. "Kau juga tidak mengijinkan aku tidur di kamarmu,
sampai sekarang aku tidak tahu kenapa. Tapi Alexa..." Liana
mendesah, "Sepertinya aku sudah kalah."
Aku luluh melihatnya seperti itu, "Liana...aku..."
"It's okay Jarvis. Aku mengerti. Aku akan bersikap baik pada
gadismu." Aku merasa senang mendengar Liana menyebut Alexa sebagai
gadisku. Dan merasa percaya padanya...
"Terima kasih, Liana."
Liana tersenyum. Seharusnya aku memperhatikan senyumnya yang
agak berbeda saat itu. "Lexa." Aku menoleh dan melihat Alexa menghampiri kami dengan senyum
malu-malu di bibirnya. Dia memakai baju yang dikenakannya
kemarin, tapi sekarang dengan rambutnya yang masih acak-acakan
membuat penampilannya terlihat lebih sensual.
Aku menatapnya tak berkedip.
"Sebaiknya kau ke luar untuk membelikan Lexa baju Jarvis.
Sepertinya dia tidak membawa baju ganti."
Aku merasa sedikit curiga, kenapa Liana bisa tahu Alexa tidak
mengganti bajunya" Tapi ketika melihat dia tersenyum dan
mengedipkan mata menggoda pada Alexa, aku menghilangkan
kecurigaanku. Mungkin Liana hanya menebak.
"Okay." Aku mendorong kursiku ke belakang dan berdiri, "Kau mau
ikut, Fai?" Tanyaku pada Alexa.
"Alexa di sini saja, ada banyak yang perlu kami bicarakan, ya kan
Lexa?" Liana mengucapkan itu dengan nada yang bersahabat. Sama
sekali tidak menunjukkan adanya kecemburuan, lebih
seperti...seorang kakak yang ingin mengenal pacar adiknya.
"Kau tidak keberatan, sayang?"
Alexa menggeleng, "Tentu saja tidak, Jarvis."
Aku mengangguk setuju, "Okay, aku pergi dulu ya." Aku
menghampiri Alexa dan mengecup ujung bibirnya.
Alexa merona, merasa malu, dan aku terkekeh senang.
*** Bab 12 HANCUR Hujan mulai turun lagi saat aku ke luar dari mall yang terdekat
dengan apartemenku. Aku menembus hujan tanpa merasa khawatir
lagi, bunyi kecipak genangan air yang kuinjak bahkan terdengar
indah di telingaku. Aku tersenyum lebar, membayangkan wajah
Alexa yang sedang menungguku di apartemen. Dia pasti akan sangat
kesal ketika mengetahui isi kantung belanjaanku. Aku membeli 10
pasang baju -yang kesemuanya adalah seleraku tentu saja-untuknya.
Membutuhkan waktu yang lama saat memilih baju untuknya, ada
banyak faktor yang harus kupertimbangkan, diantaranya : baju itu
bisa memperlihatkan belahan dadanya saat dia membungkuk, tidak
menghalangiku menyentuh bahunya, tidak menutupi leher
jenjangnya, tidak terlalu tebal, tidak menutupi kakinya, dan yang
paling penting mudah untuk dibuka.
Di dalam mobil, tak henti-hentinya aku bersenandung. Mengikuti
lagu yang dinyanyikan sebuah grup musik yang kuputar di stereoku.
Aku bukan orang yang suka bernyanyi, dengan kenangan masa
laluku yang kelam, aku bukanlah orang yang suka mengikuti
perkembangan musik. Tapi sekarang aku menyanyikan lagu cinta
-yang bahkan tidak kutahu judulnya-dengan lancar.
Aku kembali tersenyum lebar. Melirik kaca spion di atas dashboard
dan mengusap rambut basahku ke belakang. Hatiku membuncah
karena bahagia. Semua akan baik-baik saja.
Seharusnya aku tidak seyakin itu...
Aku memasuki apartemen dan memanggil Alexa.
"Fairy..." Alexa tidak menyahut. Aku melangkah ke dalam dan mendapati Liana yang sedang duduk
di sofa ruang tengah. Ekspresinya tidak terbaca.
Aku menghampirinya dan meletakkan belanjaanku di sampingnya.
Berceloteh dengan gembira.
"Aku membelikan banyak baju untuk Alexa, kuharap dia tidak akan
marah." Aku menyeringai, "Tapi melihat sifatnya, aku yakin dia akan
marah besar." Liana hanya diam saja, aku mulai mengeluarkan
belanjaanku dari kantong plastik. "Aku juga membelikannya
perlengkapan mandi, dia suka sabun yang beraroma daun-daunan.
Mmm...Kosmetik...Ini lotion dengan aroma vanilla, aku tidak tahu
dia memakai lotion apa, tapi kurasa wangi lotion ini mirip dengan
wangi tubuhnya, jadi aku membelinya. Dan aku juga membeli
beberapa camilan. Kau tidak akan percaya Liana, dibalik tubuhnya
yang mungil ternyata dia sangat suka camilan yang dihindari
sebagian besar wanita karena takut gemuk." Aku terus mengeluarkan
barang-barang satu persatu sambil tak henti-hentinya bicara.
"Sekarang aku harus menemui Alexa. Di mana dia" Ah...pasti di
kamarku." Aku melompat ke kamarku dan membuka pintunya,
"Fai..." Tidak ada Alexa di kamarku, aku melangkah masuk dan
mencarinya di kamar mandi. Tapi aku juga tidak menemukannya di
sana. Sekarang aku agak panik, aku setengah berlari menuju dapur
dan mendapati keheningan di sana.
Aku kembali ke ruang tengah, nafasku memburu karena panik. "Di
mana Alexa?" Tanyaku pada Liana. Mataku mulai berkeliaran ke
mana-mana, meneliti setiap sudut ruangan.
Liana tidak menjawab. "DI MANA ALEXA, LIANA"!" Teriakku panik.
Liana menatapku, sorot matanya benar-benar membuatku takut,
takut dengan kenyataan yang akan menghantamku.
"Katakan padaku di mana Alexa." Kataku lirih, suaraku sarat dengan
permohonan. Liana tak bergeming. Aku mulai mengerti, namun aku berharap ini tidaklah nyata.
Kemarahan mulai melingkupi hatiku, aku mulai histeris. "KENAPA
KAU DIAM SAJA"! SIALAN! JAWAB AKU! DI MANA
ALEXA"!" Aku meraih belanjaanku dan melemparkannya hingga
mengenai televisi layar datar yang ada di depan sofa. Liana
tersentak, keangkuhan di matanya luruh, berganti dengan
kecemasan. Aku menendang meja kaca di samping sofa dan
membuatnya pecah berantakan.
Liana berdiri, kepanikan terlihat di matanya. "Tenang Jarvis,
tenang...okay?" Aku menggeram marah, dia memperlakukan aku seperti hewan liar
yang harus dijinakkan. "AKU TIDAK AKAN TENANG SEBELUM
KAU MENGATAKAN DI MANA ALEXA!" Dengan gusar aku
melangkah ke kamarku dan menendang pintunya hingga terlepas


Emptiness Of The Soul Karya Andros Luvena di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dari engselnya. Menimbulkan bunyi keras saat pintunya jatuh ke
lantai. "DI MANA ALEXA?" Aku menghancurkan barang-barang
yang ada di kamarku, menarik sprei dan mengoyaknya menjadi
beberapa bagian. "KENAPA KAU TIDAK MAU BILANG, DI
MANA ALEXA"! DI MANA ALEXA"! KATAKAN PADAKU DI
MANA ALEXA!" Liana yang berlari mengikutiku berteriak-teriak mencoba
menenangkanku sambil berusaha menghindari barang-barang yang
berterbangan di sekitarnya.
Kisah Sepasang Bayangan Dewa 7 Dewa Arak 65 Si Linglung Sakti Matahari Esok Pagi 21
^