Pencarian

Runtuhnya Gunung Es 4

Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella Bagian 4


mengetahui segala sesuatunya yang menyangkut anak Jenny.
BAB 14 Vladimer terperangah mendengar cerita Angella. Ia telah menduga gadis
itu mengetahui banyak tentang Charlemagne. Tetapi ia tetap terkejut
mendengar cerita itu. Ia tidak menduga Angella berperan sangat penting dalam kehidupan
Charlemagne sejak anak itu baru lahir.
Vladimer tidak dapat membayangkan perasaan Angella yang saat itu
masih sangat muda dan bahkan mungkin masih kekanak-kanakan, yang
mengetahui semua itu dan menolong putra sahabatnya, kesedihan
Angella saat menggendong Charlemagne menerobos hujan deras menuju
Gereja St. Augustine. "Jadi itu sebabnya," gumam Vladimer.
"Sebab apa?" tanya Angella tak mengerti sambil menghapus air matanya
yang masih tersisa. "Engkau bersikap dingin kepada semua orang tidak terkecuali keluargamu
karena engkau telah kehilangan kepercayaanmu terhadap orang-orang di
sekitarmu," kata Vladimer.
Angella dengan tersipu-sipu membenarkan kata-kata Vladimer. Ia
memang telah kehilangan kepercayaannya terhadap semua orang akibat
peristiwa yang menimpa Jenny.
"Aku dapat menyimpulkan bahwa aku sangat beruntung karena engkau
mempercayaiku. Apakah sekarang engkau menyesal karena telah
melanggar janjimu?" "Aku tidak tahu. Aku...," kata Angella, "Aku telah melanggar janjiku."
"Jangan menyesal. Apa yang kaulakukan ini memang benar. Tidak
seharusnya engkau memendam ini semua," kata Vladimer menghibur
Angella. "Berjanjilah kepadaku, Vladimer. Berjanjilah engkau tidak akan
menceritakannya kepada siapapun termasuk kakak-kakakku," kata
Angella. "Mengapa engkau bersikeras menyembunyikan hal ini dari kakakkakakmu" Biarkanlah
mereka mengetahuinya, mereka akan lebih banyak
memberimu bantuan daripada aku," bujuk Vladimer.
"Bila engkau melanggar janjimu, aku tidak akan memaafkanmu," kata
Angella tajam. "Baiklah, aku tidak akan memintamu berterus terang kepada mereka.
Aku juga tidak akan melanggar janjiku. Aku tidak ingin kehilangan
kepercayaanmu yang sangat langka itu, karena itu percayalah," kata
Vladimer. "Engkau harus memegang teguh kata-katamu itu."
"Sekarang apa yang akan kaulakukan?"
"Aku akan membawa Charlie menemui neneknya. Aku juga akan
berusaha menghapus kebencian Jenny kepada anaknya. Bila aku dapat
menghilangkan kebencian Jenny, aku akan mengembalikan Charlie
kepada mereka." "Kapan engkau akan membawanya?"
"Aku tidak tahu. Freddy dan Oscar menjagaku lebih ketat dari biasanya
akhir-akhir ini. Di samping itu aku belum memberitahu Charlie. Aku tidak
tahu apakah anak itu akan siap menerima kenyataan ini. Ia sangat
menyayangi keluarga Boudini."
"Apabila engkau berterus terang kepada mereka, tentunya mereka akan
mengerti." "Vladimer!" "Jangan marah. Aku tidak bermaksud membujukmu, aku hanya
mengatakan yang sebenarnya," kata Vladimer. "Masih ada satu hal yang
tidak kumengerti. Mengapa engkau sangat yakin kelak harga diri Danny
akan jatuh?" "Karena bila Earl mengetahui ia memiliki putra, dengan sendirinya Danny
tidak akan menjadi pewaris Earl. Kesombongannya karena menjadi
pewaris pamannya akan jatuh bila ia mengetahui Charlie adalah pewaris
Earl," kata Angella menjelaskan. "Selama ini ia sangat bangga pada
posisinya." "Aku mengerti. Mengapa engkau yakin Earl tidak mengetahui bahwa ia
mempunyai putra" Bagaimana bila Earl menolak mengakui Charlie
sebagai putranya?" tanya Vladimer.
"Bila Earl mengetahui bahwa ia mempunyai putra, ia pasti berusaha
menemukan Charlie sejak kematian istrinya. Tetapi ia tidak
melakukannya, di samping itu aku yakin Lady Elize tidak memberi tahu
kedatangan Jenny pada Earl," jawab Angella, "Harga diri Earl yang tinggi
tidak akan mengijinkannya memilih Danny sebagai pewarisnya. Ia akan
memilih anaknya daripada keponakannya."
"Sepertinya engkau sangat yakin dengan perkataanmu itu."
"Aku telah mengenal baik keluarga yang berharga diri tinggi itu. Karena
itu aku sangat yakin," kata Angella.
"Aku mengerti," Vladimer berdiri.
"Apa yang kaulakukan!?" tanya Angella panik ketika Vladimer
mengangkat tubuhnya. "Aku akan membawamu kembali ke kamarmu," jawab Vladimer tenang.
"Aku bisa berjalan sendiri. Turunkan aku!" kata Angella.
"Jangan keras kepala. Aku tidak yakin engkau akan sampai di kamarmu
dengan selamat setelah mendapat berbagai kejutan akhir-akhir ini," kata
Vladimer, "Sekarang lingkarkan saja tanganmu pada leherku."
Angella menuruti keinginan Vladimer. Kemudian ia menyembunyikan
wajahnya yang memerah di bahu Vladimer.
-----0----- "Bagaimana keadaan Angella?" tanya Frederick ketika melihat Vladimer
meninggalkan kamar adiknya.
"Ia baik-baik saja. Ia baru saja tertidur."
"Apakah engkau berhasil?" tanya Oscar.
"Ia telah menceritakan segalanya kepadaku, tetapi aku tidak dapat
memberi tahu kalian. Aku telah berjanji kepadanya," kata Vladimer.
"Katakan saja kepada kami. Kami janji tidak akan membuka mulut," kata
Oscar mendesak. "Jangan mendesaknya, Oscar. Seorang pria harus memegang teguh
janjinya," tegur Frederick.
"Tetapi..." "Aku akan membujuknya agar ia mau bercerita kepada kalian juga," kata
Vladimer sambil menyembunyikan keraguannya.
Vladimer merasa ragu apakah ia berhasil membujuk Angella untuk
menceritakan masalah ini kepada kakak-kakaknya. Ia telah mengalami
kesulitan sewaktu mencoba membuat Angella menceritakan segala
sesuatu tentang Charlemagne. Dan ia merasa kali ini akan jauh lebih sulit
membujuk Angella agar mau menceritakan hal ini kepada kakakkakaknya. Gadis itu
telah menunjukkan sikapnya yang tidak mempercayai
siapa pun selama bertahun-tahun.
Kini, pertanyaan yang muncul di benak Vladimer adalah apakah Angella
benar-benar mempercayainya" Apakah Angella akan tidak
mempercayainya lagi" Apakah Angella tetap akan mempercayainya bila ia
membujuk gadis itu" Terlalu besar resiko yang harus ditanggungnya. Ia tidak ingin kehilangan
kepercayaan Angella yang sangat berharga itu. Tetapi ia juga tidak dapat
membiarkan gadis itu terus menerus menyembunyikan kenyataan yang
sebenarnya dari kakak-kakaknya.
Ia ingin membantu gadis itu, ia tidak ingin Angella menanggung sendiri
beban itu. Selama empat tahun lebih, Angella menanggung kepedihan itu
dengan penuh ketabahan. Bertahun-tahun gadis itu memendam dirinya dalam kesedihan, dalam
kedinginan hatinya. Ia ingin mengeluarkan gadis itu dari belenggu
kesedihan yang membuat Angella berubah dari seorang anak pendiam
yang ceria menjadi gadis cantik yang sangat pendiam dan dingin. Tetapi
Vladimer juga menemui resiko bila ia ingin meruntuhkan dinding es yang
menutupi hati gadis itu. Ada kemungkinan Angella tidak menyukai pria setelah ia mengetahui apa
yang terjadi pada sahabatnya, Jenny.
Dan itu telah terbukti. Gadis itu tidak pernah mau didekati pria baik itu
tua maupun muda selain kakak-kakaknya dan ayahnya. Sikap gadis itu
jauh lebih dingin kepada pria daripada kepada wanita. Gadis itu menutup
dirinya dari semua pria. Angella membuat semua pria merasa tertarik untuk menembus
kedinginan hatinya. Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang berhasil.
Danny yang selama ini terkenal sebagai pria yang sangat tampan juga
tidak berhasil menembus kedinginan hati Angella. Walaupun banyak
wanita yang ingin menjadi kekasih Danny, tetapi pria itu tidak berhasil
menembus kedinginan hati Angella.
Frederick dan Oscar juga telah bercerita kepadanya mengenai segala
tingkah Angella yang membuat semua pria merasa semakin tertarik untuk
mencoba menundukkan kedinginan hatinya.
Mereka juga mengatakan bahwa Angella sering mendapat undangan
jamuan, tetapi gadis itu selalu menolaknya. Tetapi tidak semua undangan
bisa ditolaknya, ada beberapa undangan dari kawan Earl yang tidak bisa
ditolak Angella. Dalam menghadiri undangan yang tidak dapat ditolaknya itu, Angella
selalu dikawal kedua kakaknya. Kedua kakaknya yang selalu berada di
sisinya, membuat setiap pria berpikir berulang kali sebelum
mendekatinya. Semua orang tahu Frederick dan Oscar sangat menyayangi Angella.
Mereka tidak akan membiarkan Angella didekati pria manapun.
Terlalu sulit membujuk kedua kakak Angella agar mau meninggalkan
adiknya seorang diri bila mereka berada di luar Troglodyte Oinos.
Pernah pada suatu saat Angella terpaksa hadir dalam suatu jamuan
seorang diri. Saat itu tidak ada seorangpun dari keluarganya yang dapat
menghadiri jamuan itu selain dirinya. Mereka tidak dapat menolak
undangan itu karena undangan itu berasal dari sahabat keluarga Earl.
Keluarga Arkt dan keluarga Tritonville telah bertahun-tahun bersahabat,
sejak kakek moyang mereka. Turun temurun mereka telah menjalin
persahabatan yang baik. Untuk menjaga persahabatan yang telah berjalan lama itu, Angella
terpaksa menghadiri jamuan makan malam yang diadakan keluarga itu.
Semua orang yang hadir di pesta itu terkejut melihat Angella datang
sendiri tanpa kedua kakaknya.
Putra tertua Earl of Arkt, Hilbert menyambut Angella dengan sangat
ramah, namun Angella menerima sambutan itu dengan sikap yang sangat
dingin. Selama perjamuan itu, Hilbert tidak pernah beranjak dari sisi Angella. Ia
berusaha memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk
meruntuhkan kedinginan hati Angella.
Semua pria lainnya yang hadir di dalam perjamuan itu merasa iri pada
Hilbert. Mereka mengira Angella membukakan hatinya yang dingin itu
bagi Hilbert. Namun ternyata mereka salah.
Ketika jamuan itu selesai, mereka menuju ke Ruang Duduk. Saat itu
Hilbert dengan sengaja memasang musik waltz yang lembut. Setelah itu
pria itu tanpa berkata apa-apa menarik tangan Angella ke lantai dansa.
Saat itu Angella masih duduk bersama wanita-wanita yang lain. Ia
memainkan gelas yang berisi anggur di tangannya sambil mendengarkan
para wanita itu bercakap-cakap.
Ketika tangan Hilbert menyentuh tangannya, Angella tanpa berkata apaapa segera
menyiramkan anggur yang berada di tangannya itu.
Semua yang hadir terkejut dengan sikap Angella. Mereka hanya dapat
memandang tanpa melakukan apa-apa melihat Hilbert marah-marah
terhadap perlakuan Angella yang kasar itu.
"Wanita macam apa engkau ini! Tidak tahu sopan santun, seenaknya
menyiramkan anggur ke wajah orang," kata Hilbert sambil menyeka
wajahnya yang basah. Angella dengan tenang meletakkan gelas itu di meja yang berada di
dekatnya dan berkata, "Lebih tidak sopan seorang pria yang memaksakan
kehendaknya kepada wanita."
Hilbert segera terdiam mendengar kata-kata Angella yang tenang namun
dingin dan tajam itu. Tanpa mempedulikan apa yang telah dilakukannya, Angella meninggalkan
Ruang Duduk. Ia mengucapkan terima kasih atas jamuan makan malam itu kepada Earl
of Arkt kemudian meninggalkan rumah itu bersama Thompson yang terus
menantinya sejak mereka tiba.
Ketika Earl of Tritonville mengetahui apa yang telah dilakukan putrinya
dalam jamuan itu, ia menasehati Angella untuk bersikap lebih sopan bila
ia hendak menolak ajakan seseorang.
"Ia pantas mendapatkan itu, Papa. Agar ia tidak berbuat seenaknya lagi
kepadaku," kata Angella dengan tenang.
Earl dan Countess hanya dapat menasehati Angella, tetapi mereka tidak
dapat membuat Angella merasa menyesal pada tindakannya itu.
Sikap Earl dan Countes ketika mengetahui kejadian dalam jamuan itu
berlainan dengan Frederick dan Oscar. Kedua kakak Angella sangat
menyetujui tindakan adiknyai tu. Mereka memuji Angella yang menurut
mereka berbuat yang seharusnya.
Hilbert sejak kejadian itu berusaha dengan keras untuk menundukkan
kedinginan hati Angella. Tetapi ia tidak pernah berhasil bahkan hingga
saat ini ia tidak berhasil membuat Angella mengeluarkan sepatah katapun
bila mereka bertemu. Sikap Angella pada putra tertuanya tidak membuat Earl of Arkt
memutuskan tali persahabatan kedua keluarga itu.
Bahkan Earl of Arkt menyetujui sikap Angella pada putra tertua mereka
yang telah berbuat tidak sopan kepada dirinya.
Terlalu banyak resiko yang harus diambil Vladimer bila ia ingin
mengeluarkan Angella dari kesedihan yang telah mengurung dirinya.
Ia tidak bisa membuat gadis itu terus menutup hatinya dari dunia luar. Ia
tidak bisa membiarkan Angella terus tidak mempercayai orang lain.
Tetapi ia tidak ingin membuat gadis itu menjauhinya apalagi
membencinya seperti gadis itu membenci keluarga Earl of Wicklow.
"Baiklah. Kami akan memberikan kesempatan kepadamu untuk berdua
dengan Angella agar engkau bisa dengan leluasa berbicara kepadanya,"
kata Frederick. Hari-hari berikutnya Angella tetap tidak diijinkan meninggalkan kamarnya
oleh kedua kakaknya walau telah dilarang oleh kedua orang tua mereka.
Frederick menepati kata-katanya. Ia sering membiarkan Angella dan
Vladimer berdua. Setiap hari ia dan Oscar berusaha mengalihkan
perhatian Charlie dari Angella.
Countess dan Nanny juga semakin jarang menemani Angella ketika
mereka mengetahui gadis itu semakin dekat dengan Vladimer. Mereka
menduga kedua insan itu sedang jatuh cinta. Mereka berusaha memberi
kesempatan kepada kedua insan itu untuk berdua tanpa mengetahui
bahwa mereka telah membantu Frederick dan Oscar juga Vladimer
sendiri. "Aku pernah melihatmu membawakan bunga untukku ketika aku sakit,"
kata Angella mengejutkan Vladimer yang datang diam-diam dengan
membawa sekeranjang bunga di tangannya.
"Maaf aku membuatmu terbangun," kata Vladimer.
"Tidak apa-apa, aku tidak dapat tidur sejak tadi," kata Angella.
"Mengapa engkau tidak tidur" Bukankah dokter berpesan engkau harus
beristirahat," kata Vladimer memarahi Angella.
"Aku sudah sembuh. Mengapa aku harus beristirahat sepanjang hari dan
tidak boleh meninggalkan kamar ini?" kata Angella.
"Suhu tubuhmu kemarin malam tinggi sekali," kata Vladimer
mengingatkan Angella akan keadaannya pada malam sebelumnya.
"Tetapi suhu tubuhku sudah turun," protes Angella.
"Kakak-kakakmu mengkhawatirkanmu."
"Aku merasa mereka marah kepadaku karena itu aku tidak boleh
meninggalkan kamar."
Vladimer tersenyum melihat Angella yang sedang marah. "Mereka tidak


Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pernah marah padamu, mereka sangat menyayangimu."
"Aku yakin mereka marah padaku karena aku hanya bercerita
kepadamu." "Karena itu biarkanlah mereka mengetahui semuanya," bujuk Vladimer.
"Jangan membujukku, engkau telah berjanji," kata Angella.
"Jangan cemberut, aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu."
"Bila engkau tidak suka, maka silakan pergi," kata Angella tajam.
"Jangan bersikap dingin seperti itu kepadaku. Aku lebih menyukai
keramahanmu." "Mengapa engkau tetap berada di sini bila engkau tidak suka?" tanya
Angella. Vladimer memberikan keranjang bunga itu kepada Angella. "Karena aku
belum memberikan bunga ini kepadamu," kata pria sambil tersenyum
meletakkan keranjang bunga itu di pangkuan Angella.
"Engkau telah memberikannya kepadaku. Sekarang engkau boleh pergi
bila engkau tidak suka," kata Angella tanpa mengurangi ketajaman katakatanya.
"Aku senang berada di sisimu. Walaupun engkau bersikap dingin
kepadaku," kata Vladimer, kemudian ia duduk di sisi Angella untuk
menunjukkan kepada gadis itu kesungguhan kata-katanya.
Angella merasa malu mendengar keterusterangan Vladimer. "Mengapa
engkau tidak membawakan bunga yang seperti waktu itu?" katanya
mengalihkan topik. "Karena aku percaya engkau lebih menyukai merangkai bunga sendiri
daripada bunga yang dirangkaikan oleh Nanny."
"Bunga yang waktu itu Nanny yang merangkainya?"
Vladimer menganggukan kepala. "Apakah engkau menyukai bunga itu?"
"Aku menyukainya. Apakah engkau yang memetik bunga ini?"
"Bukan. Bukan aku. Sejujurnya aku tidak mengerti tentang bunga.
Kakak-kakakmu dan Charlie yang memetiknya untukmu."
"Katakan kepada mereka aku menyukai bunga ini."
Vladimer memperhatikan Angella yang sibuk menata bunga. Dengan
tekun, Angella membuang bagian bunga yang tak diperlukan dan
mengumpulkannya di keranjang itu. Kemudian merangkai bunga itu di
jambangan di sampingnya. Ia tampak terhanyut dalam kesibukannya.
"Mengapa engkau memandangku seperti itu?" tanya Angella ketika
menyadari Vladimer tengah memperhatikannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu bagaimana engkau bisa
membangun dinding es yang sangat tebal di sekeliling kehangatan
hatimu." "Bagaimana engkau dapat mempercayai bahwa aku tidak sedingin yang
mereka katakan?" tanya Angella.
"Karena aku telah melihat kehangatanmu itu."
"Engkau akan menyesal bila mengetahui bahwa engkau salah," kata
Angella memperingatkan Vladimer.
"Aku tidak mungkin salah. Sebelum engkau menceritakan hal itu
kepadaku, aku telah menduga engkau mendirikan dinding es di sekeliling
kelembutan hatimu," kata Vladimer sambil tersenyum memandang
Angella. Angella merasa salah tingkah melihat senyuman Vladimer. "Engkau
sendiri juga terkenal akan kedinginan sikapmu."
"Ya, engkau benar. Tetapi aku berbeda denganmu. Aku bersikap dingin
bukan karena aku membangun dinding es sepertimu tetapi karena aku
tidak ingin mereka mendekatiku," kata Vladimer.
"Aku tak mengerti," kata Angella.
"Aku tidak ingin didekati wanita manapun karena itu aku bersikap dingin
kepada mereka. Aku berpikir bila aku bersikap seperti itu, mereka dengan
sendirinya akan menjauhiku dan itu telah terbukti kebenarannya," kata
Vladimer. "Bagaimana dengan kawan-kawanmu?" tanya Angella.
"Aku tidak tahu," jawab Vladimer.
"Itu berarti engkau bersikap dingin bukan karena engkau tidak ingin
didekati mereka tetapi karena engkau memang dingin," kata Angella.
"Mungkin engkau benar."
"Apakah engkau mengetahui bahwa Mama dan Nanny menduga kita
saling mencintai?" "Aku tidak tahu. Dari mana engkau tahu?"
"Mata mereka yang mengatakannya. Bila mereka tahu yang sebenarnya,
tentu mereka akan kecewa."
"Mereka benar," kata Vladimer.
Angella terkejut mendengar penyataan Vladimer. "Apa yang kaukatakan"
Apakah engkau..." Jangan bercanda, tidak mungkin itu benar," kata
Angella mengelengkan kepala antara percaya dan tidak, antara senang
dan bingung. "Lupakan saja yang kukatakan," kata Vladimer sedih melihat reaksi
Angella. "Apakah engkau telah menemukan cara untuk mengajak Charlie
mengunjungi neneknya?"
"Belum. Aku tidak akan pernah dapat mengajak Charlie bila Frederick dan
Oscar tidak mengijinkanku keluar kamar," kata Angella dengan sedih.
"Menurutku, engkau lebih baik memberi tahu mereka. Mereka akan
mengijinkanmu bila mereka tahu," saran Vladimer.
Angella merenungkan saran Vladimer. "Baiklah, aku menceritakan
semuanya kepada mereka dan Charlie malam ini di gereja samping
rumah bukan di sini."
"Mengapa tidak di kamar ini?" tanya Vladimer tak mengerti.
"Karena aku tidak ingin orang lain turut mendengarkan."
"Mengapa?" tanya Vladimer tetap tak mengerti.
"Kejadian tragis yang menimpa Jenny ini bukan cerita yang patut
disebarkan," kata Angella tajam.
Vladimer tersenyum mendengar Angella. "Baiklah, aku akan memberi
tahu mereka. Mereka pasti senang bila mendengar hal ini."
BAB 15 "Mengapa engkau pergi sendiri" Bukankah aku telah mengatakan aku akan
mengantarmu," kata Vladimer ketika melihat Angella telah berada di gereja
bersama Charlie. "Jangan marah. Aku tidak sendiri, Charlie bersamaku," kata Angella tenang.
"Bagaimana bila terjadi sesuatu kepadamu selama perjalananmu menuju tempat
ini?" tanya Vladimer semakin marah.
"Aku telah berada di sini dengan selamat, karena itu jangan marah," kata
Angella mencoba meredakan kemarahan Vladimer.
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Kita berkumpul di sini bukan untuk
mendengar kalian bertengkar tetapi untuk mendengar penjelasan yang sangat
penting dari Angella," kata Oscar tak sabar.
Angella mengangkat Charlie ke pangkuannya. "Dengar, Charlie. Apa yang akan
kukatakan ini sangat penting. Karena itu engkau harus mempercayaiku."
"Saya selalu mempercayai Anda."
"Aku senang mendengarnya. Sekarang dengarkan dengan baik-baik," Angella
berhenti sebentar kemudian melanjutkan, "Mr. dan Mrs. Boudini bukan orang
tua kandungmu, mereka orang tua baptismu. Dulu ibumu adalah pelayanku.
Namanya Jenny. Dan engkau juga mempunyai seorang nenek dan paman. Atau
dengan kata lain, engkau tidak sebatang kara di dunia ini."
Charlie terkejut mendengarnya tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya
memeluk erat Angella. "Aku ingin mengajakmu menemui mereka suatu saat nanti. Tetapi aku tidak bisa
mempertemukanmu dengan ibumu," kemudian dengan mengeraskan hati ia
melanjutkan, "Karena... karena... ibumu sangat terguncang dan ia... ia...
menjadi... menjadi...."
Angella tak sanggup meneruskan perkataannya, air matanya kembali
membasahi pipinya. Vladimer dengan segera berusaha menghibur Angella.
Setelah tangis Angella mereda, Vladimer melanjutkan cerita Angella.
"Jenny sangat terguncang ketika mengetahui ayah Charlie menikah dengan
gadis lain. Pikirannya menjadi ..."
"Apa yang terjadi pada Jenny, Vladimer" Katakanlah kepada kami," desak Oscar.
"Sabarlah, Oscar. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya berhenti bercerita,"
kata Frederick menenangkan Oscar kemudian menatap Angella.
"Kami tidak dapat menceritakannya kepada Charlie. Charlie akan sangat
terguncang bila mengetahui keadaan ibunya. Biarkanlah ia tidur, aku melihat ia
mulai mengantuk," kata Angella.
Angella memeluk Charlie erat-erat. Ia merasa kasihan kepada anak itu. Ia
membuai anak itu seperti membuai seorang bayi ke alam mimpi, seperti yang
dilakukannya pada anak itu ketika mereka meninggalkan rumah Jenny dalam
hujan deras yang mengguyur bumi.
"Vladimer, tolong kau ceritakan kepada mereka. Aku tidak sanggup," kata
Angella setelah Charlie tertidur.
Vladimer menceritakan kembali cerita Angella. Kedua kakak Angella tampak
terkejut mendengar cerita panjang itu.
"Tak kuduga Earl of Wicklow itu sangat kejam terutama adiknya. Untung aku
tidak pernah menyukai wanita itu. Entah apa yang akan dilakukannya padaku
bila aku memilihnya. Mungkin aku akan diusirnya juga bila ia sudah tidak
menyukaiku lagi seperti ia mengusir Jenny yang sedang mengandung," kata
Oscar penuh kemarahan. "Apakah engkau yakin Charlie adalah putra Jenny dan Earl of Wicklow?" tanya
Frederick. "Tentu saja aku yakin. Aku sendiri yang menyerahkan anak ini kepada keluarga
Boudini sehari setelah kelahirannya," kata Angella dengan marah di sela-sela
tangisnya, "Sifat anak ini sudah cukup membuktikan bahwa aku benar. Ia keras
kepala seperti ibunya dan ia juga tidak mudah mempercayai orang seperti
keadaan Jenny ketika mengandung."
"Maaf, aku hanya ingin kebenaran yang jelas," kata Frederick.
"Apakah peristiwa yang menimpa Jenny itu belum jelas?" tanya Angella tajam.
"Frederick!" tegur Vladimer ketika melihat Frederick akan mengatakan sesuatu.
"Kami mempercayai cerita itu. Jangan menangis lagi, aku tidak ingin melihatmu
bersedih," kata Oscar sambil berlutut di depan Angella.
"Sekarang yang harus kita lakukan adalah mempertemukan Charlie dengan
keluarganya," kata Vladimer.
"Dan memberi tahu Earl mengenai hal ini," tambah Frederick.
"Apakah Earl akan mempercayai kenyataan ini?" tanya Oscar.
"Ia pasti percaya bila ia melihat anak ini dan Jenny," kata Vladimer.
"Baiklah. Karena kalian telah sepakat, aku juga setuju," kata Oscar, "Bagaimana
denganmu Angella?" "Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Mrs. Dellas," kata Angella ragu-ragu,
"Tetapi bila kalian bersikeras, maka aku tidak akan mencegah kalian. Aku tahu
kalian tidak dapat dihentikan bila kalian bersungguh-sungguh melakukan
sesuatu. Kalian yang membuat rencananya, aku menjalankannya."
"Sekarang semua telah diputuskan. Bila keadaan Angella sudah membaik, kita
akan mengantar Charlie menemui keluarganya. Dan aku akan memberi tahu
Earl," kata Frederick.
"Jangan terburu-buru memberi tahu Earl. Tunggulah sampai kebencian Jenny
berkurang. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya bila Earl muncul dengan
tiba-tiba untuk mengambil putranya," kata Angella.
"Earl tidak akan mengambil putranya saja, tetapi ia juga akan mengambil Jenny.
Percayalah, aku akan membuatnya menjadi kenyataan. Bila ia tidak mau
membawa Jenny, maka ia tidak akan mendapatkan putranya. Aku yang akan
memastikannya," kata Frederick bersungguh-sungguh.
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah membawa Angella dan Charlie
kembali ke kamar," kata Vladimer.
"Oscar antarkan mereka kembali ke kamarnya. Ada yang ingin kubicarakan
dengan Vladimer," kata Frederick.
Oscar mengambil Charlie dari pangkuan Angella dan mengajak Angella
meninggalkan gereja. Sepanjang jalan mereka tak berbicara apa-apa.
"Apakah engkau marah kepadaku?" tanya Angella memecahkan keheningan di
antara mereka. "Tidak," jawab Oscar singkat.
"Engkau bohong! Aku tahu engkau marah kepadaku karena aku
menyembunyikan hal ini dari kalian selama empat tahun lebih."
Oscar tetap berdiam diri.
"Maafkan aku, Oscar. Aku tidak berniat menyembunyikannya dari kalian, tetapi
aku telah berjanji kepada Jenny," kata Angella melihat Oscar yang terdiam.
"Aku mengerti. Jangan khawatir, aku tidak marah kepadamu," kata Oscar.
"Mengapa engkau diam saja?"
"Aku sedang memikirkan langkah yang harus kita ambil untuk menyelesaikan
masalah ini tanpa membuatmu bersedih lagi," jawab Oscar.
"Aku tidak dapat menghentikan kesedihanku ini sebelum aku melihat mereka
bahagia," kata Angella.
"Percayalah pada kami, kami akan membuat mereka bahagia. Engkau jangan
bersedih lagi juga jangan merasa bersalah lagi."
"Tetapi karena kecerobohanku semua ini terjadi," protes Angella.
"Saat itu engkau tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Engkau tidak
bersalah." "Engkau dan Vladimer sama saja. Kalian tidak mengerti perasaanku."
"Vladimer pernah mengatakannya juga?" tanya Oscar tak percaya.
"Ya. Setiap hari ia mengatakan aku tidak perlu merasa bersalah karena saat itu
aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Karena itu jangan merasa bersalah lagi."
"Aku tidak dapat menghentikannya, Oscar. Aku tidak dapat menghilangkan
perasaan itu. Sejak semua ini terjadi, aku selalu menyalahkan diriku sendiri."
"Berusahalah. Engkau pasti bisa," kata Oscar.
Oscar mengantar Angella ke kamarnya kemudian menyerahkan Charlie yang
sudah tertidur kepada Nanny. Setelah melaksanakan tugas yang diberikan
Frederick, ia pergi ke tempat Frederick dan Vladimer berbicara. Dalam
perjalanan ke gereja, ia memikirkan kata-kata adiknya sebelum masuk kamar.
"Mereka sudah tidur?" tanya Frederick.
Oscar menganggukan kepalanya kemudian bertanya, "Apa yang kalian
bicarakan?" "Kami membicarakan pembagian tugas selama kunjungan Angella ke rumah
Jenny. Kami memutuskan besok lusa bila keadaan Angella membaik, ia boleh
pergi ke sana bersama Charlie," kata Vladimer.
"Apakah ia akan setuju dengan keputusan kalian?" tanya Oscar.
"Ia pasti setuju. Ia telah menyerahkan segalanya kepada kita," kata Frederick
meyakinkan Oscar. "Siapa yang akan menjaganya selama kunjungannya ke rumah Jenny?" tanya
Oscar. "Besok lusa, engkau yang menjaganya. Kemudian pada kunjungannya yang
selanjutnya, kita akan secara bergiliran menemani mereka," kata Frederick.
"Menurutmu, apakah mudah menghilangkan kebencian Jenny pada anaknya?"
"Aku tidak tahu, Oscar. Masalahnya adalah Charlie mirip sekali dengan Earl,
sedangkan Jenny membenci Earl karena telah melanggar janjinya," kata
Frederick. "Masalah ini akan sangat sulit terselesaikan," kata Vladimer.
"Tidak!" seru Oscar mengejutkan Frederick dan Vladimer, "Masalah ini akan
cepat terselesaikan. Aku yakin Jenny masih mencintai Earl. Mungkin pada saat ia
melihat Charlie untuk pertama kalinya, ia akan menjadi histeris tetapi lama
kelamaan ia akan terbiasa dengan kehadiran Charlie."
"Setelah itu kita mengajak Earl menemui Jenny. Aku yakin kedatangan Earl
setelah kebencian Jenny terhadap anaknya berkurang, akan mempengaruhi
pikiran Jenny. Dan bila dugaanku benar, mungkin Jenny bisa pulih seperti sedia
kala." "Mengapa engkau sangat yakin pada kata-katamu?" tanya Frederick.
"Angella memberi tahuku kemungkinan itu. Kata Angella, ia telah banyak
membaca buku mengenai ini. Dan inilah kesimpulan Angella."
"Rupanya Angella benar-benar memikirkan Jenny dan putranya," kata Vladimer.
"Setiap saat ia selalu memikirkan orang-orang yang disayanginya. Dan Jenny
salah satu orang yang disayanginya," kata Frederick.
"Walaupun ia berhati dingin, tetapi sebenarnya ia penuh perhatian," tambah
Oscar. "Karena itu, berdoalah agar engkau juga termasuk di antara orang-orang yang
disayanginya, Vladimer," goda Frederick.
"Salah, Frederick. Bukan disayangi tetapi dicintai. Berharaplah Vladimer," Oscar
ikut menggoda. Vladimer tidak menghiraukan godaan mereka. Ia sibuk dengan pikirannya
sendiri. Mengapa Angella terkejut ketika ia membenarkan dugaan Nanny dan


Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Countess" Mengapa ia tampak tidak senang"
Angella memprotes ketika mendengar keputusan mereka. Tetapi ia tetap
menyetujui keputusan itu. Sepanjang hari ia mempersiapkan mental Charlie
untuk bertemu keluarganya terutama ibunya. Ia tidak ingin Charlie terguncang
melihat keadaan ibunya. Nenek Charlie sangat senang ketika melihat cucunya. Charlie juga tampak
senang bertemu keluarganya. Bill, paman Charlie mengajak keponakannya
berkeliling ketika Angella dan Oscar berbicara dengan Mrs. Dellas.
"Kami baru mendengar apa yang terjadi pada Jenny. Kami turut merasa
menyesal," kata Oscar.
"Maafkan saya, Mrs. Dellas. Saya tidak dapat menepati janji saya. Orang tua
angkat Charlie telah meninggal dan saya tidak tega melihatnya sebatang kara
karena itu saya menceritakan segalanya kepada anak itu."
Mrs. Dellas tampak terkejut mendengar berita itu. Setelah menguasai dirinya ia
berkata, "Tidak apa-apa, Tuan Puteri. Mungkin memang sudah kehendak-Nya
anak itu mengetahui segalanya."
"Mrs. Dellas, kami memutuskan untuk memberi tahu ayah Charlie. Ia harus
bertanggung jawab terhadap anaknya," kata Oscar.
"Jangan lakukan itu! Ia tidak boleh memisahkan Jenny dari putranya. Walaupun
Jenny membenci anak itu, tetapi ia tetap ibu Charlie. Saya percaya suatu saat
nanti Jenny akan dapat menghilangkan kebenciannya itu."
"Kami tidak bermaksud memisahkan mereka. Kami akan memastikan ayah
Charlie tidak hanya mengambil Charlie tetapi juga Jenny," kata Oscar.
"Percayalah, Mrs. Dellas. Kami tidak ingin memisahkan mereka. Kami hanya
ingin melihat mereka bahagia," kata Angella memohon.
"Baiklah. Anda boleh memberi tahu ayah Charlie karena memang sudah
seharusnya ia bertanggung jawab terhadap anak itu. Tetapi saya tidak akan
mengijinkan bila ia hendak memisahkan Jenny dan Charlie."
"Kami akan memastikan itu, Mrs. Dellas," kata Angella, "Saya tahu Anda ibu
yang pengertian. Saya tidak akan mengecewakan Anda lagi."
"Karena Anda telah setuju. Kami akan mengajak ayah Jenny kemari bila Jenny
tidak lagi membenci Charlie seperti dulu lagi. Untuk itu kami membutuhkan
bantuan Anda." "Kami akan membantu Anda. Jenny harus menghilangkan kebenciannya pada
putranya sendiri. Saya percaya hal ini akan terjadi. Jenny pasti bisa," kata
Mrs. Dellas terharu. Ketika Bill dan Charlie tiba, mereka segera menghentikan percakapan mereka.
Charlie dengan penuh semangat menceritakan segala yang dilihatnya kepada
mereka. Ia tampak senang sekali dengan pertanian ini. Ia juga bercerita
mengenai beberapa ternak yang dilihatnya.
Bill tampak menyukai keponakannya itu. Kata Bill, Charlie memaksa
mengajaknya berkuda. Semula ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya,
tetapi Charlie sudah berada di atas kuda ketika ia baru memutuskan tidak
mengijinkan anak itu. Ia mengaku bahwa ia terkejut karena Charlie sudah dapat
berkuda. Charlie bercerita mengenai pelajaran berkuda yang diberikan oleh kedua kakak
Angella serta Vladimer. Dengan penuh semangat ia bercerita mengenai
kunjungannya selama berada di Troglodyte Oinos.
Mrs. Dellas senang mendengar cerita cucunya, tetapi ia harus melakukan
sesuatu yang penting. Ia harus mempertemukan Charlie dengan ibunya.
Suasana terasa tegang ketika Bill membuka pintu kamar Jenny.
Jenny yang sedang duduk termenung di tempat tidurnya, menjerit histeris ketika
melihat Charlie. Tangannya meraih barang-barang yang ada di dekatnya dan
melemparkannya ke Charlie sambil mengusirnya pergi.
Angella hendak berdiri di depan Charlie untuk melindunginya, tetapi Oscar
menahannya. Sebagai gantinya, Oscar berdiri melindungi mereka berdua.
Charlie menangis ketakutan melihat ibunya. Angella dan Mrs. Dellas sibuk
menenangkan Charlie. "Jangan menangis, Charlie. Ibumu tidak mengenalmu sehingga ia seperti ini,
bila engkau menangis ia semakin tidak mengenalmu," bujuk Mrs. Dellas.
"Engkau harus bersabar menghadapinya, ia menyayangimu. Ia hanya terkejut
melihatmu," bujuk Angella. "Jangan menangis, engkau anak yang berani."
Bill mendekati Jenny. Ia mencengkeram kuat-kuat tangan adiknya. "Apa yang
kaulakukan" Apakah engkau tidak menyadari engkau bisa melukai putramu?"
bentaknya. Jenny tampak termenung melihat kemarahan kakaknya. Ia melihat Charlie yang
ketakutan. Ia terus menatap anak itu.
Charlie tiba-tiba berlari mendekati Jenny. Angella dan Mrs. Dellas tampak cemas
melihat anak itu mendekati Jenny. Mereka tidak dapat menduga reaksi Jenny.
Mereka hanya berharap Jenny tidak melakukan sesuatu yang lebih buruk
terhadap anak itu lagi. "Lihatlah! Ia putramu sendiri, anak yang kausayangi. Mengapa sekarang engkau
tidak mengenalinya lagi?" tanya Bill melihat Charlie mengguncang tubuh Jenny
sambil memanggil namanya.
Jenny tetap tidak bergerak ketika Charlie memanggil namanya. Ia memandangi
wajah anak itu tanpa berkata apa-apa.
Angella tidak sanggup melihat adegan itu, ia menarik Oscar meninggalkan
keluarga itu. Oscar mengibur Angella yang mulai menangis di pelukannya.
"Oscar, kita pulang saja. Aku tidak sanggup melihat mereka," kata Angella.
"Bagaimana dengan Charlie?" tanya Oscar.
"Biarkan Charlie di sini. Ia pasti senang berkumpul dengan keluarganya."
"Baiklah. Aku akan memberi tahu mereka. Tunggu di sini," kata Oscar.
Oscar masuk kembali ke kamar Jenny, Angella mendengar mereka berbicara.
Terdengar Oscar dengan keras kepala meyakinkan mereka bahwa Charlie harus
berkumpul dengan keluarganya. Setelah berhasil meyakinkan mereka, ia
kembali ke sisi Angella. Dalam perjalanan pulang, Angella tampak sedih. Ia duduk termenung. Oscar
membiarkan Angella. Ia tahu adiknya sedang memikirkan sesuatu. Pada
mulanya, Oscar membiarkan adiknya terdiam, tetapi tak lama kemudian ia mulai
merasa cemas ketika Angella tidak berbicara apa-apa.
"Apa yang terjadi padamu, Angella" Mengapa engkau diam saja sejak kita
meninggalkan rumah Jenny?" tanya Oscar memecahkan lamunan Angella.
Angella tersentak kaget. "Tidak... tidak ada apa-apa," katanya terbata-bata
karena belum pulih dari terkejutnya.
"Mengapa engkau terbata-bata seperti itu bila tidak terjadi apa-apa" Apa yang
kaupikirkan?" desak Oscar.
"Aku...," kata Angella enggan menjawab. Ia menatap lekat-lekat mata Oscar
yang menampakkan dengan jelas tuntutannya. Angella menghela napas
kemudian melanjutkan: "Aku hanya berpikir apakah Jenny akan menerima kehadiran Charlie di sana.
Aku tidak pernah melihat mata Jenny yang seperti itu."
"Percayalah, cepat lambat Jenny akan menerima Charlie. Ikatan antara seorang
ibu dan anak itu sangat erat," kata Oscar menyakinkan Angella.
"Aku sependapat denganmu. Aku dapat melihat mata Jenny memancarkan kasih
sayangnya ketika melihat Charlie. Aku tidak tahu kapankah waktu yang tepat
untuk mempertemukan Earl dengan mereka."
"Saat itu pasti segera tiba."
Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Angella memandang keluar
jendela melihat gerakan awan putih di langit yang biru. Merasakan angin yang
menerpa wajahnya. "Mereka pasti sedih," kata Angella tiba-tiba.
"Mereka siapa?" tanya Oscar tak mengerti.
"Mama, Nanny, dan semua orang di rumah yang menyayangi Charlie. Aku tidak
tahu apa yang harus kukatakan kepada mereka. Aku tidak ingin memberi tahu
mereka bahwa Charlie berada di tengah-tengah keluarganya. Saat ini aku tidak
ingin seorang pun selain kita yang mengetahui bahwa Charlie masih mempunyai
keluarga," kata Angella.
"Mengapa?" "Karena masalah ini belum selesai. Aku ingin semua orang mengetahuinya
setelah kita menyelesaikannya dengan baik," jawab Angella.
"Sepertinya engkau merencanakan sesuatu," kata Oscar mendengar tekanan
Angella pada kata-kata terakhirnya.
Angella tidak menjawab Oscar. Ia tersenyum lembut kepadanya. Tetapi mata
Angella berkilat-kilat tajam penuh misteri. Membuat Oscar bertanya-tanya.
Tepat seperti yang dikatakan Angella pada Oscar, semua orang di Troglodyte
Oinos yang menyayangi Charlie merasa sedih ketika mengetahui anak itu telah
pergi. Angella melarang keras kakak-kakaknya, Vladimer juga Thompson memberi
tahu siapa pun bahwa sekarang Charlie berada di tengah-tengah keluarganya.
Melalui sikapnya itu, ia telah membuat sebuah tanda tanya besar di dalam
benak semua orang. Baik mereka yang mengetahui kejadian sebenarnya juga
mereka yang tidak tahu apa-apa.
Apakah Angella tengah merencanakan sesuatu" Tidak ada seorang pun yang
tahu kecuali dirinya sendiri. Mereka hanya dapat menebak.
Pada kunjungan kedua Angella ke rumah Jenny, Frederick menemaninya.
Angella tampak sangat senang sekaligus tak percaya ketika melihat Jenny sudah
dapat menerima kehadiran Charlie. Ia tampak tenang walaupun Charlie
memegang tangannya. Kata-katanya mulai dapat dimengerti, walaupun kadangkadang
sulit. Tetapi telah banyak perubahan Jenny selama minggu-minggu
terakhir ini. Doa Mrs. Dellas telah dikabulkan.
Tangan Angella yang menutupi mulutnya tampak bergetar ketika ia melihat
Charlie dengan sabar meladeni ibunya. Air mata kebahagiannya tidak
terbendung lagi. Mrs. Dellas ikut terharu ketika melihat air mata Angella.
"Hati Anda sangat lembut, Tuan Puteri," kata Mrs. Dellas.
"Tidak, Anda tidak benar," bantah Angella.
Frederick tersenyum melihat wajah Angella yang memerah. "Apakah Anda tidak
tahu, gadis ini terkenal sangat dingin" Tetapi sekarang kelembutan hatinya telah
muncul kembali." "Apakah itu benar" Saya tidak pernah mendengarnya, tetapi saya pernah
mendengar seorang gadis yang sangat dingin. Namanya Snow Angel," kata Mrs.
Dellas tak percaya. "Snow Angel dan Angella adalah orang yang sama. Kami yang memberinya
nama itu," kata Frederick tanpa menghiraukan protes Angella.
Wanita tua itu tampak terkejut. "Apakah Anda menyembunyikan kelembutan
hati Anda karena Jenny" Saya tidak menduga begitu besar rasa bersalah Anda
pada Jenny," katanya terharu.
Angella tertunduk diam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan wanita itu. Ia
telah mendirikan dinding es yang tebal, namun dinding es itu mulai menipis.
Apakah dinding es itu akan tetap ada ataukah dinding es itu akan melebur,
Angella tidak tahu. Ia hanya mengetahui seorang pria telah menemukan lubang
di dinding es itu kemudian memasuki tempat yang dilindungi dinding itu.
Ia merasa sangat sedih karena pria itu kini menjauhinya. Pria itu selalu
menghindar darinya, ia tidak lagi mengajak Angella berbicara. Ia segera pergi
menjauh bila melihatnya walaupun pria itu melihatnya dari kejauhan seakanakan
Angella adalah makhluk berbahaya yang harus dijauhi selagi ada
kesempatan. Pernah Angella mengajaknya bicara, namun ia tampak enggan berbicara
kepadanya. Hal itu membuat Angella semakin sedih. Akhirnya Angella
meninggalkan pria itu, ia tidak lagi berusaha mengajak bicara pria itu.
Nanny dan Countess yang melihat mereka menjadi dingin satu sama lain lagi,
merasa sedih. Mereka menduga Angella dan Vladimer bertengkar lagi untuk
kedua kalinya. Oscar dan Frederick juga merasa sedih. Mereka tidak tahu mengapa Angella dan
Vladimer tidak seakrab dulu lagi. Mereka merasa harapan mereka sejak kecil
tidak dapat terwujud ketika melihat hubungan kedua insan itu menjadi lebih
dingin dari permusuhan mereka yang pertama.
Angella juga tidak tahu mengapa Vladimer menjauhinya. Ia merasa sedih
karenanya, namun ia tidak pernah menampakkan kesedihannya di depan siapa
pun, karena itu tidak ada yang mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
"Kapan kami dapat membawa ayah Charlie ke mari?" tanya Frederick.
"Sebaiknya bila Jenny benar-benar telah terbiasa dengan Charlie," kata Mrs.
Dellas. "Aku ingin segera melihat wajah pria yang telah menyakiti hati adikku," geram
Bill. "Bill!" tegur ibunya, "Walaupun pria itu telah menyakiti hati Jenny, tetapi ia
tetap ayah Charlie. Engkau jangan berbuat apa-apa terhadapnya bila ia datang."
"Beberapa minggu lagi kami akan membawanya ke mari. Bagaimana menurut
Anda?" "Saya setuju, Tuan Muda. Charlie dalam waktu satu minggu lebih telah mampu
menghilangkan kebencian ibunya, tentu dalam waktu sekian minggu hubungan
mereka akan semakin dekat," kata Mrs. Dellas.
BAB 16 Akhirnya hari yang dinantikan Angella tiba. Hari ini ia akan membuka kartu yang
akan menggemparkan semua orang sekaligus menyakitkan bagi segelintir
orang. Seusai sarapan pagi, mereka berempat meninggalkan rumah dengan alasan
hendak berkuda. Angellalah yang menyarankan hal ini. Ia bersikeras naik kuda
ke tempat yang yang akan mereka tuju. Ia mengatakan kepada mereka agar
orang tuanya tidak curiga.
Ia menyadari protes keras ketiga pria itu dengan usulnya. Tetapi mereka tetap
setuju, karena mereka tahu percuma membantah gadis itu saat ia menatap
tajam pada mereka. Mereka tidak menyadari rencana di balik semua ini. Tidak
seorang pun dari ketiga pria itu yang mencurigainya.
Mereka berpisah tak jauh dari Troglodyte Oinos. Frederick dan Oscar menemui
Earl sedangkan Angella dan Vladimer menuju rumah Jenny.
"Apakah engkau marah kepadaku?" tanya Angella.
"Tidak, aku tidak marah kepadamu," jawab Vladimer.
"Engkau bohong. Engkau marah kepadaku sehingga engkau menjauhiku," kata
Angella. "Apakah engkau marah karena malam itu aku pergi sendiri ke gereja?"
"Tidak, aku tidak marah kepadamu," ulang Vladimer.
"Jangan menipuku!" kata Angella tajam, "Matamu mengatakannya kepadaku."
"Engkau membuatku bingung. Engkau tidak mempercayai orang lain, tetapi
engkau mempercayai mata mereka."
"Mata tidak dapat menipu," kata Angella datar.
"Baru kali ini aku mendengarnya. Siapa yang mengatakannya kepadamu?"
"Nanny. Nanny sering mengatakan kepadaku bahwa mulut bisa berbicara
banyak, tetapi mata dapat berbicara jujur."
"Apakah itu sebabnya engkau selalu memandang mata orang yang berbicara?"
"Ya. Apakah sekarang engkau mau jujur kepadaku" Aku minta maaf bila engkau
marah karena aku malam itu aku pergi sendiri. Aku tidak berniat membuatmu
marah, aku hanya tidak ingin membuatmu semakin repot."
"Aku tidak pernah merasa repot bila membantumu, aku senang melakukannya.
Aku juga tidak marah kepadamu. Bila mataku menunjukkan kemarahan,
percayalah itu tidak kutujukan padamu."
"Bila bukan kepadaku, kepada siapa?" tanya Angella tajam. "Aku sedih melihat
matamu yang penuh kemarahan itu."
Kemudian ia memacu kudanya meninggalkan Vladimer.
"Jangan sedih! Aku tidak bermaksud membuatmu sedih," kata Vladimer setelah
berhasil menyusul Angella. "Aku marah kepada diriku sendiri."
"Mengapa" Engkau tidak pernah berbuat salah akhir-akhir ini. Engkau menepati
janjimu. Di mana letak kesalahanmu" Aku tidak melihatnya," kata Angella
bingung. "Engkau salah. Aku telah membuat suatu kesalahan besar."
"Kesalahan apa?" desak Angella.
"Aku telah membuatmu sedih. Aku tidak ingin membuatmu sedih tetapi aku
telah melakukannya. Bagiku itulah kesalahan terbesarku seumur hidupku,"
jawab Vladimer. "Mengapa engkau berkata seperti itu" Selama beberapa tahun terakhir ini aku
memang sedih, tetapi itu bukan karenamu. Engkau telah mengetahuinya juga,"
kata Angella sedih. "Memang selama beberapa hari ini engkau membuatku sedih
karena engkau menjauhiku. Tetapi kemarahanmu itu sudah kulihat sebelum
engkau mulai menjauhiku. Mata itu mulai menunjukkan kemarahan pada malam
kita berkumpul di gereja."
"Jangan sedih, Angella!" hibur Vladimer, "Aku tidak ingin menjauhimu tetapi aku
terpaksa melakukannya sebab...."
"Sebab apa?" tanya Angella dengan lembut melihat keragu-raguan Vladimer.
Sejenak Vladimer tampak terkejut mendengar kata-kata lembut Angella, tetapi
ia tetap tidak melanjutkan kata-katanya.
"Katakan kepadaku, Vladimer. Bila masalah ini selesai, engkau akan pulang,


Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bukan" Karena itu, jangan membuatku penasaran," bujuk Angella.
"Aku terpaksa melakukannya sebab engkau tampak sedih ketika mengatakan
kepadaku bahwa Nanny dan ibumu menduga kita saling mencintai."
"Mengapa engkau menduga seperti itu?"
"Engkau tampak kebingungan dan sedih ketika aku membenarkan pendapat
mereka," kata Vladimer tak kalah sedih dari Angella.
"Waktu itu aku memang bingung, tetapi aku tidak sedih. Aku...," Angella malu
mengakui perasaannya saat itu. "Mungkin aku tampak sedih, tetapi
sesungguhnya aku tidak merasa demikian. Sebaliknya aku merasa senang,
tetapi aku tidak percaya. Bahkan akhir-akhir ini ketika engkau menjauhiku, aku
semakin merasa engkau berbohong kepadaku ketika mengatakan itu."
"Mengapa engkau tidak mempercayaiku?" tanya Vladimer.
"Karena matamu saat itu tampak ragu-ragu. Seperti...," kata Angella perlahanlahan,
"Seperti tidak bersungguh-sungguh."
"Saat itu aku memang ragu-ragu mengatakannya," kata Vladimer.
"Mengapa?" sahut Angella.
"Karena aku tidak yakin apa yang akan kaulakukan. Aku menduga engkau
membenci semua pria setelah kejadian yang menimpa Jenny itu."
"Kau tahu" Aku tidak membenci semua pria di dunia ini setelah kejadian itu. Aku
percaya tidak semua pria seperti Earl. Bila aku membenci semua pria, aku tidak
akan mempercayaimu," kata Angella semakin sedih.
"Jangan bersedih lagi. Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Maafkan aku yang
telah membuatmu bersedih. Aku ingin engkau mempercayai kata-kataku. Untuk
kali ini aku tidak akan ragu-ragu, aku akan mengatakan dengan penuh
keyakinan. Tidak peduli apa yang akan kaulakukan."
Angella menghentikan langkah kudanya, demikian pula Vladimer. Ia menatap
dalam-dalam mata Vladimer. Ia merasa jantungnya seperti berhenti berdetak
karena tegang menanti apa yang akan dikatakan Vladimer. Tangannya
menggenggam erat-erat tali kendali kuda.
Vladimer menatap lekat-lekat mata Angella. Ia melihat Angella tampak tegang.
Ia ingin mengulurkan tangannya untuk menghilangkan ketegangan gadis itu.
Tetapi ia menahan keras keinginannya itu.
"Aku mencintaimu," kata Vladimer dengan segenap perasaannya.
Angella terkejut mendengar pengakuan Vladimer. Ia tertunduk malu tanpa dapat
mengutarakan perasaannya.
"Sejak dulu aku menyayangimu tetapi bagiku alasan itu tidak cukup
menjelaskan perasaanku yang aneh ketika mengetahui tentang Danny. Aku tak
dapat mengerti diriku sendiri yang dengan mudahnya membenci pria yang baru
kulihat itu." "Dan aku merasa bersalah telah menuduhmu bersikap tidak benar dengan
meletakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan. Seharusnya aku tahu bahwa
engkau memang tidak menyukai baik bunga yang dikirim Danny itu maupun
Danny sendiri." Angella teringat pada suatu siang ketika Vladimer menemaninya. Saat itu tibatiba
suara pintu diketuk perlahan memecahkan keheningan dalam kamar
Angella. Angella yang sejak tadi memejamkan matanya, membuka matanya dan melihat
Vladimer berdiri dari kursi depan perapian yang akhir-akhir ini menjadi kursi
kesayangannya bila ia berada di kamar Angella. Pria itu selalu duduk di sana
sambil menemani Angella. Ketika pintu dibuka, tampak seorang pelayan membawa seikat besar bunga
mawar merah. Wajah pelayan ini tertutup oleh ikatan bunga mawar yang besar
dan megah itu. "Letakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan," kata Angella ketika Vladimer
mengulurkan tangannya hendak menerima bunga itu dari pelayan.
Pria itu terkejut mendengar suara Angella yang tajam. Ia menatap wajah
Angella yang tak berperasaan itu.
"Bunga ini sangat indah. Pasti akan memperindah kamarmu bila diletakkan di
vas dekat tempat tidurmu itu," kata Vladimer dengan nada yang aneh.
Pria itu tidak mengerti mengapa dirinya merasa marah ketika Angella mendapat
kiriman bunga yang indah itu dari Danny. Ia menduga itu karena ia tidak
menyukai Danny dan segala hal yang berhubungan dengan pria itu.
Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu salah. Bukan karena itu ia tidak
menyukai Angella mendapat kiriman bunga yang sangat indah itu.
"Letakkan di Ruang Perpustakaan," kta Angella tajam.
Vladimer meminta pelayan itu menyerahkan rangkaian bunga mawar itu di
Ruang Perustakaan. Setelah menutup pintu kamar Angella, ia kembali ke tempatnya semula.
"Mengapa engkau bersikap seperti itu?" tanya Vladimer.
"Karena tidak ada alasan bagiku untuk menerimanya," jawab Angella dengan
tenang. "Katakan sejujurnya padaku, apakah engkau menyukai bunga itu?"
"Takkan ada wanita yang mengatakan bunga itu buruk."
"Mengapa engkau bersikap seperti seorang pengecut" Mengapa engkau tidak
menerima bunga itu kalau engkau memang menyukainya?"
"Aku tidak menyukainya," kata Angella tajam.
"Engkau marah pada Danny yang tidak mengantarkan bunga itu sendiri setiap
hari. engkau marah karena Danny menyuruh orang lain mengantar bunga itu
bukan ia sendiri yang mengantarnya. Benarkah demikian?"
Angella menatap tajam pada Vladimer.
Vladimer melihat pandangan mata Angella sangat dingin. Pandangan terdingin
yang pernah dilihatnya. Ia percaya bila ia bukan orang yang juga memiliki sikap yang sama dinginnya
dengan Angella, ia akan merasa beku oleh pandangan mata yang lebih dingin
dari es manapun itu. "Apakah hakmu mengatur aku?" kata Angella tajam.
Vladimer terdiam. Ketika ia akan mengatakan sesuatu, Angella telah
mendahuluinya: "Bila aku mengatakan tidak suka kepada seseorang, aku tidak akan pernah
menyukainya. Untuk apa membohongi diriku sendiri?"
"Jangan membohongiku, Angella. Aku telah melihat banyak wanita yang berbuat
tidak sesuai dengan perasaan mereka. Apa yang mereka lakukan berbeda
dengan apa yang ada di hati mereka," kata Vladimer tak kalah tajamnya.
"Jangan samakan aku dengan wanita-wanitamu," balas Angella.
"Mengapa aku tidak boleh menyamakanmu bila kenyataannya memang
demikian" Jujurlah, Angella. Engkau merasa sakit hati karena bukan Danny yang
mengantar bunga itu untukmu."
"Kalau pun aku merasa sakit hati itu bukan masalahmu," kata Angella dingin
sedingin tatapannya saat itu.
"Memang bukan masalahku," kata Vladimer.
"Pergilah engkau! Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergilah sejauh mungkin,"
kata Angella sambil menahan gejolak perasaannya.
"Mengapa, Angella" Engkau mengakuinya?" tanya Vladimer dengan suara
mengejek. "Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. walaupun aku beribu-ribu
kali menjelaskannya kepadamu tetapi tetap tidak akan ada gunanya," kata
Angella, "Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri."
"Baik. Bila engkau menginginkan waktu untuk menyadari kesalahanmu yang
telah meminta pelayan meletakkan bunga itu di Ruang Perpustakaan," kata
Vladimer, "Dan ketahuilah Angella engkau adalah wanita yang paling sombong
tetapi pengecut yang pernah kujumpai."
Setelah pria itu pergi, Angella merasa sangat marah dan sedih. Ia memejamkan
matanya. "Bagaimana Vladimer bisa mengatakan hal itu?" kata Angella pada dirinya
sendiri, "Ia telah mengetahui aku tidak pernah menyukai Danny. Mengapa ia
mengatakan hal itu" mengapa ia menyamakan aku dengan wanita-wanitanya?"
Gadis itu berusaha menjawab semua pertanyaan itu. Tetapi tiap kali pertanyaan
baru muncul di benaknya. Akhirnya dengan perasaan jengkel dan sedih Angella
membuat suatu keputusan bagi dirinya sendiri.
Angella memutuskan sejak saat itu ia tidak akan mau melihat wajah Vladimer
lagi. Pria itu boleh menganggapnya seperti apa saja sesuka hatinya, sedangkan
yang sebenarnya ia tidak seperti yang dianggap pria itu.
Vladimer tidak tahu mengapa Angella bersikap sangat dingin seperti itu bahkan
terkesan sangat sombong. Pria itu tidak tahu apa-apa mengenai gadis itu sejak
sejak kepergiannya ke Eton, delapan tahun lalu.
Pria itu boleh mengatakan bahwa ia seorang pengecut, tetapi ia tahu ia tidak
pernah berusaha menghindari Danny. Ia memang tidak menyukai Danny.
"Bagaimana dengan sikapku yang selalu menolak bertemu Danny setiap kali pria
itu berkunjung ke rumahnya" Bagaimana dengan sikapku pada bunga-bunga
yang dikirim pria itu?" tanya Angella pada dirinya sendiri.
Angella diam berpikir, kemudian menjawab pertanyaan yang muncul di
benaknya itu, "Pria sombong itu akan semakin sombong bila aku menerima
setiap kunjungannya dan bunga-bunganya. Saat ini mungkin ia menjadi lebih
sombong karena mengira aku menerima bunga-bunganya, tetapi kelak ia akan
tahu aku tidak pernah menerimanya."
Ia merasa kata-kata Vladimer itu merupakan suatu tanda permusuhan bagi
mereka. Seolah-olah pria itu telah memberinya tanda perang, ia merasa ia tidak
dapat membiarkan Vladimer terus mengejek dirinya.
Pada saat yang bersamaan, Angella merasa perasaannya sangat pilu. Seolaholah
tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi, ia menangis tersedu-sedu.
Sejak saat itu permusuhan pertama mereka muncul. Tetapi permusuhan itu
menghilang bersamaan ketika Angella menunjukkan kepercayannya pada
Vladimer dengan menceritakan segala sesuatu mengenai Charlie pada pria itu.
Vladimer memandang Angella yang masih menundukkan kepalanya mendengar
ceritanya. Kemudian ia melanjutkan:
"Aku minta maaf telah menuduhmu sangat sombong dan pengecut. Seharusnya
saat itu aku tidak mengatakan hal seperti itu. Aku seharusnya percaya pada
kata-katamu. Engkau memang dingin tetapi aku tidak pernah merasa engkau
sangat sombong. Saat itu aku hanya merasa cemburu pada Danny yang telah
mengirimimu bunga yang sangat indah sehingga aku mengucapkan kata-kata
yang sangat menyakitkan itu."
"Aku... tidak menyalahkanmu atas... atas kata-katamu waktu itu. Kata-katamu...
waktu itu memang... sangat... menyakitkan, tetapi... lebih menyakitkan
tindakanmu... yang menjauhiku," kata Angella perlahan.
"Aku minta maaf, Angella, saat itu aku tidak menyadari bahwa aku
mencintaimu. Aku baru menyadari perasaanku ketika engkau bertanya
mengenai sikapku yang dingin. Saat itu aku menyadari alasanku bersikap dingin
kepada wanita lain. Aku berusaha menghindari mereka karena aku
mencintaimu." Vladimer memandang wajah Angella yang memerah.
"Aku sangat mencintaimu sehingga saat aku melihat engkau tampak sedih
ketika secara tidak langsung aku mengungkapkan perasaanku kepadamu, aku
merasa telah membuat kesalahan besar."
"Aku mulai menduga engkau membenci semua laki-laki. Hal itulah yang
mendorongku melakukan tindakan yang tidak ingin kulakukan. Aku mulai
menjauhimu karena aku takut engkau semakin membenciku. Aku takut selama
ini engkau menganggapku hanya main-main dengannya, hanya menggodamu."
Angella mengangkat kepalanya. Ia menatap lekat-lekat mata Vladimer. "Itu
tidak benar," katanya lirih, "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu
terhadapmu. Aku... aku... mencintaimu."
Angella tertunduk malu ketika ia menyatakan perasaan yang telah lama
dipendamnya, jauh sebelum Charlie lahir.
"Percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena engkau mirip
Frederick, tetapi karena engkau selalu baik kepadaku walaupun kadang-kadang
engkau juga dingin kepadaku sehingga membuat aku merasa sedih," kata
Angella tiba-tiba. Vladimer tersenyum lembut pada Angella. Ia tidak menyalahkan gadis itu atas
dugaannya. Ia mengakui ia dan Frederick mirip. Apabila mereka bertiga berdiri
bersama, orang akan menduga ialah adik Frederick.
Rambutnya sehitam rambut Frederick demikian pula matanya. Yang
membedakan hanyalah sorot mata mereka. Sorot mata Frederick ramah,
sedangkan sorot matanya dingin dan tajam seperti Angella.
"Aku percaya padamu, Angella," kata Vladimer. Kemudian ia dengan lembut
mencium bibir Angella untuk semakin meyakinkan gadis itu.
Angella terkejut dengan gerakan Vladimer yang tak diduganya itu. Tubuhnya
terasa bergetar ketika Vladimer menciumnya.
"Aku mempercayaimu dan akan selalu mempercayaimu. Aku ingin rasanya
membuatmu mengetahui besarnya cintaku padamu tetapi kita masih
mempunyai urusan yang sangat penting," kata Vladimer dengan tersenyum,
"Mari kita berangkat sekarang, aku khawatir kita terlambat."
Angella merasa jantungnya berdebar-debar melihat senyuman Vladimer yang
jarang dilihatnya itu. Ia membalas senyuman Vladimer dan mulai melanjutkan
perjalanan. Semakin mendekati rumah Jenny, mata Angella tampak semakin penuh misteri.
Tetapi Vladimer tidak menyadarinya karena ia sedang mencurahkan semua
perhatiannya pada kuda yang ditungganginya.
Keluarga Jenny menyambut mereka dengan ramah, Charlie tampak semakin
akrab dengan ibunya. Angella menemani mereka berdua, Jenny melihat padanya
terus menerus seakan-akan ingin mengenali Angella. Vladimer menanti di luar,
ia bercakap-cakap dengan Bill.
Ketika hari mulai siang, Frederick dan Oscar datang. Sekali lagi Angella
membuat pertanyaan di benak kakak-kakaknya dan Vladimer. Ia melarang
kakak-kakaknya mengatakan kepada keluarga Jenny bahwa ayah Charlie akan
datang. Tak lama setelah kedatangan mereka, sebuah kereta mendekat dan akhirnya
berhenti tepat di depan rumah Jenny. Ketiga pria itu, menyambut kedatangan
Earl. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada keluarga Jenny. Angella juga
melarang mereka memberi tahu keluarga Jenny bahwa pria itulah ayah Charlie.
Angella tampak tenang, ia sengaja tidak menyambut kedatangan Earl. Dengan
tenang, ia membisikkan sesuatu kepada Jenny dan Charlie. Setelah itu ia
meninggalkan mereka berdua.
Di luar, Bill dan Mrs. Dellas tampak kebingungan melihat Earl yang datang
dengan sebuah kereta kuda yang megah. Angella tersenyum misterius melihat
mereka, ia menyuruh Bill dan Mrs. Dellas masuk. Setelah itu ia berkata perlahan
kepada Earl agar ketiga pria yang kebingungan melihatnya itu tidak mendengar
apa yang dikatakannya kepada Earl.
Ketiga pria itu tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan Angella dengan
Earl. Mereka hanya dapat melihat Angella menatap tajam kepada Earl kemudian
Earl menganggukkan kepala. Setelah itu Earl mengikuti Angella menuju rumah
Jenny. Angella tidak masuk ke dalam, ia hanya berdiri di pintu. Setelah Earl masuk, ia
segera menutup pintu rumah Jenny dan menghampiri kakak-kakaknya dan
Vladimer. "Sebenarnya, saat ini engkau sedang merencanakan apa?" tanya Oscar.
"Aku tidak merencanakan apa-apa," jawab Angella tenang.
"Bila engkau tidak merencanakan apa-apa, mengapa tingkahmu sangat
misterius" Apa yang kaukatakan kepada Earl tadi?" tanya Oscar.
"Tunggu saja. Bagaimana pertemuanmu dengan Earl?"
"Ia memberi kami kejutan yang takkan pernah kami duga. Kami tidak segera
mengatakan segalanya kepadanya. Pertama, kami menanyakan apakah ia ingat
pada Jenny. Pada awalnya ia enggan menjawab, tetapi setelah kami desak agar
jujur, akhirnya ia menjawab ia masih ingat," kata Frederick.
"Kemudian aku bertanya kepadanya bagaimana perasaannya kepada Jenny.
Frederick marah kepadaku karena menanyakan hal itu. Tetapi aku terus
mendesak Earl, aku berkata, 'Ini demi masa depan keluarga Anda.' Frederick
sangat marah kepadaku, tetapi kemudian ia dan aku sama-sama terkejut
dengan jawaban Earl," kata Oscar.
Oscar tertawa geli, Frederick marah melihatnya. "Wajah Frederick saat itu lucu
sekali. Aku bisa mati tertawa bila mengingat wajahnya saat itu. Sayang saat itu
suasana di sana sedang tegang sehingga aku tidak bisa tertawa melihat wajah
Frederick yang baru pertama kali kulihat itu. Ia melongo, matanya membelalak
seperti ikan koki." "Oscar!" bentak Frederick, mukanya merah pada karena malu dan marah.
Oscar tidak berhenti tertawa melihat wajah kakaknya yang merah padam.
Vladimer juga tertawa geli melihat wajah Frederick, Angella hanya tersenyum
geli. Angella tahu Frederick akan semakin marah bila mereka, Vladimer dan Oscar
terus menertawakannya. "Apa yang dikatakan Earl?" tanyanya untuk
mengalihkan perhatian ketiga pria itu.


Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Oh..., Angella. Apakah engkau memang terbuat dari es" Mengapa engkau tidak
tertawa melihat wajah Frederick yang seperti itu" Vladimer yang sama dinginnya
denganmu saja bisa tertawa," keluh Oscar.
Frederick tidak menghiraukan keluhan Oscar. Ia menjawab, "Earl mengatakan ia
sangat mencintai Jenny. Kami terkejut mendengarnya kemudian Oscar bertanya,
"Bila Anda mencintai Jenny, mengapa Anda menikah dengan wanita lain?"
Earl menjawab, "Aku menikah dengan istriku karena ia adalah tunangan yang
dipilihkan orang tuaku. Aku tidak berani menentang mereka. Setelah kematian
istriku, aku berharap dapat bertemu Jenny lagi."
"Apakah itu sebabnya Anda tidak menikah lagi?" tanya Oscar.
Earl menganggukan kepala. Kemudian aku mengatakan segalanya pada Earl.
Mengenai Jenny juga mengenai putranya, Charlie. Aku bercerita persis seperti
yang Vladimer ceritakan kepada kami.
Earl terkejut mendengar cerita itu. "Di mana Jenny" Di mana putraku?"
tanyanya. Aku menjawab, "Kami akan mengantar Anda menemui mereka bila Anda
berjanji kepada kami bahwa Anda mau bertanggung jawab terhadap mereka
berdua. Tetapi yang kami inginkan bukanlah sekedar janji. Kami menginginkan
perbuatan yang nyata."
"Aku akan bertanggung jawab atas mereka. Aku akan menjaga mereka dengan
sungguh-sungguh untuk menebus dosaku selama ini kepada mereka berdua,"
kata Earl. "Tetapi Anda harus ingat bahwa keadaan Jenny yang sekarang tidak sama
dengan dulu," kata Oscar mengingatkan.
"Tidak apa-apa. Aku senang dapat bertemu dengannya lagi. Aku percaya aku
dan putraku akan dapat memulihkan keadaannya," kata Earl bersungguhsungguh.
Setelah meyakinkan kami berdua, Earl segera mempersiapkan kereta. Kemudian
kami mengantarnya ke tempat ini."
"Sudah kuduga Ldy Elize tidak mengatakan mengenai kedatangan Jenny kepada
Earl. Apa yang dikatakan Earl ketika kalian mengatakan bahwa Jenny diusir oleh
adiknya?" tanya Angella.
"Ia tampak marah sekali. Ia menatap adiknya penuh kebencian ketika kami
melihatnya berdiri kebingungan di depan pintu melihat kami bergegas pergi,"
kata Frederick. "Sekarang giliran kami yang bertanya dan engkau yang menjawab," kata Oscar.
"Apa yang sedang kaurencanakan?"
"Aku tidak merencanakan apa pun," kata Angella tenang.
"Apa yang kaukatakan kepada Earl?" tanya Oscar lagi.
"Tunggulah sampai mereka keluar."
"Mengapa engkau membiarkan mereka berbicara sendiri di dalam" Kita berada
di sini untuk membantu mereka, bukan berdiri menanti di luar."
"Tenanglah, Oscar. Tunggulah sampai mereka keluar. Setelah itu akan jelas
segalanya bagi kalian."
Angella menghampiri tempat kudanya ditambatkan. Ia mengelus-elus bulu kuda
itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ketiga pria itu telah dibuatnya bingung.
Ketika matahari mulai menuruni langit, ia melompat ke atas kudanya. Kemudian
menghampiri ketiga pria yang semakin bingung melihatnya. "Mungkin sebentar
lagi kita dapat pulang. Aku merasa tak lama lagi pembicaraan mereka akan
selesai dan mereka akan keluar."
Benar apa yang dikatakan Angella. Setelah ia menyelesaikan kalimatnya,
seorang pria yang menggendong seorang anak laki-laki muncul dari balik pintu.
"Terima kasih karena kalian mau mempertemukan kami kembali," kata Earl.
"Terima kasih kembali karena Anda telah menepati janji Anda," kata Frederick.
"Mulai sekarang engkau akan tinggal dengan ayah dan ibumu, Charlie," kata
Angella. "Engkau harus menyayangi dan meenghormati mereka seperti yang
engkau janjikan kepadaku."
"Baik, Tuan Puteri," kata Charlie.
"Mulai sekarang engkau jangan memanggilku Tuan Puteri lagi," kata Angella,
"Panggillah aku dengan namaku, Angella."
"Tetapi saya lebih suka memanggil Anda 'Tuan Puteri' daripada Angella."
"Berusahalah engkau pasti bisa," kata Angella. "Bagaimana pembicaraan Anda?"
"Tepat seperti yang Anda katakan. Mula-mula mereka terkejut dan marah.
Tetapi setelah saya mengatakan segalanya seperti yang Anda sarankan, mereka
mulai mengerti. Kalian jangan khawatir lagi, segalanya telah beres," kata Earl.
"Apakah saya boleh bermain lagi di Ruang Kanak-Kanak?" tanya Charlie.
"Tentu saja. Kami akan menanti kedatanganmu," kata Angella.
Charlie berseru gembira. Ia senang bermain di Ruang Kanak-Kanak dan ia tidak
pernah merasa bosan bila berada di sana.
"Apakah Tuan Muda mau mengajak saya bepergian naik kuda lagi?"
"Jangan memanggil kami Tuan Muda lagi. Sepertinya sekarang engkau tidak
memerlukan kami lagi bila ingin berkuda. Engkau dapat melakukannya tanpa
kami, engkau dapat berkuda dengan ayahmu," kata Frederick.
"Tetapi bila ayahmu mengijinkan, kami dengan senang hati akan mengajakmu
berkuda sambil mengelilingi hutan di sekitar rumah kami," kata Oscar.
Sekali lagi Charlie berseru gembira kemudian ia berkata, "Apakah aku boleh
bermain ke Troglog... Trog...." Charlie mengeluh lagi karena tidak dapat
menyebut nama rumah Earl of Tritonville dengan benar.
"Ya, engkau boleh bermain ke Troglodyte Oinos kapan pun kau mau," kata Earl.
"Aku juga akan mengajarimu mengucapkan Troglodyte Oinos dengan benar."
BAB 17 Angella merasa lega. Earl tidak hanya menepati janjinya tetapi juga
sangat menyayangi Charlie. Charlie juga tampak sangat menyayangi Earl.
"Apakah kalian akan menunggu hingga mereka kembali atau kita pulang
sekarang?" tanya Angella kepada kakak-kakaknya. "Kurasa sebaiknya
kita pulang dulu, biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka."
"Baiklah. Kita akan pulang. Lagipula engkau masih harus menjelaskan
beberapa hal kepada kami," kata Frederick.
Ketiga pria itu mengikuti langkah Angella. Mereka menuju ke tempat kuda
mereka ditambatkan, kemudian kembali ke sisi Angella. Mereka
berpamitan kepada Earl dan keluarga Jenny.
Setelah agak jauh dari rumah Jenny, Frederick bertanya kepada Angella,
"Apa yang sedang kaurencanakan?"
"Engkau harus menjawab sekarang. Tidak ada jalan untuk lari lagi.
Mereka telah selesai berbicara," kata Oscar.
"Baiklah, aku akan menceritakannya kepada kalian. Tetapi pertama-tama
kalian harus mempercayai bahwa aku tidak merencanakan apa-apa," kata
Angella. "Baiklah, kami percaya kepadamu," kata Oscar.
"Aku tidak merencanakannya, semuanya terjadi dengan sendirinya."
"Apa maksudmu?" sela Oscar.
"Jangan menyela, Oscar. Ia belum selesai bercerita," bentak Frederick.
"Baik. Baik, aku tidak akan menyela lagi. Teruskan ceritamu, Angella,"
kata Oscar. "Aku akan memulai dari percakapanku dengan Earl. Aku mengatakan
kepada Earl bahwa keluarga Jenny tidak mengetahui siapa ayah Charlie.
Mereka pasti terkejut bila tahu ayah Charlie adalah seorang Earl, karena
itu aku meminta kepadanya untuk berbicara dengan perlahan namun
jujur. Aku memintanya untuk tidak segera mengatakan kepada keluarga
Jenny bahwa ia seorang Earl dan berniat membawa mereka."
"Keluarga Jenny tidak tahu" Selama ini kukira mereka tahu ayah Charlie
adalah seorang Earl," sela Oscar terkejut.
"Oscar!" bentak Frederick dan Vladimer.
"Maaf. Mungkin memang sudah kebiasaanku menyela pembicaraan
orang." Angella melanjutkan, "Keluarga Jenny memang tidak tahu. Aku tidak tahu
mengapa Jenny tidak mengatakannnya kepada mereka, tetapi aku juga
tidak dapat memberi tahu mereka bahwa pria itu adalah seorang Earl.
Aku berpikir mungkin Jenny tidak ingin Mrs. Dellas dan Bill
mengetahuinya. Jenny tidak pernah menyebut namanya di hadapan
mereka, ia hanya mengatakan pria itu."
"Jadi itu sebabnya mereka hanya mengatakan ayah Charlie atau ayahnya,
tanpa pernah menyebut namanya," kata Frederick.
Sekarang giliran Oscar dan Vladimer yang membentak Frederick.
Frederick segera meminta maaf kepada mereka.
"Pertama, Earl kusarankan agar meminta maaf atas perbuatannya empat
tahun silam kepada mereka. Aku memintanya untuk menceritakan dulu
kejadian itu dengan sejujur-jujurnya."
"Aku juga menyarankan agar ia meyakinkan mereka bahwa ia tidak tahu
mengenai kedatangan Jenny dalam keadaan mengandung ke rumahnya
dan bahwa ia tidak tahu keadaan Jenny. Baru setelah mereka mengerti
masalah itu, ia boleh mengatakan kepada mereka bahwa ia seorang Earl
dan ia berniat membawa Jenny dan putranya ke rumahnya. Itulah yang
kukatakan kepada Earl."
"Ya, aku mengerti sekarang," kata Oscar. "Lalu, mengapa kita tidak
membantu mereka tadi melainkan hanya menunggu di luar?"
"Karena kita telah membantu mereka berkumpul lagi. Biarkan mereka
berkumpul dan berbicara sendiri sebagai satu keluarga. Kehadiran kita
hanya akan mengganggu bukan membantu. Kadang kala pembicaraan
suatu keluarga ada baiknya bila tanpa campur tangan orang luar," jawab
Angella. "Engkau telah menjadi lebih dewasa dan bijaksana sekarang," kata
Frederick. "Masih ada yang kausembunyikan dari kami. Ceritakan apa yang ada di
pikiranmu," kata Vladimer.
"Aku tidak mengerti," kata Angella pura-pura tidak mengerti.
"Apakah masih ada yang lain" Ceritakan kepada kami, Angella," kata
Frederick. "Baiklah. Saat ini aku sedang memikirkan besarnya akibat dari kejadian
ini." "Apa maksudmu?" tanya Oscar. "Sejak tadi engkau hanya tenang-tenang
saja, membuat kami bingung."
"Semua orang pasti akan gempar bila mengetahui Earl tiba-tiba
mempunyai seorang putra dan istri baru. Danny pasti akan sangat
terpukul bila mengetahui ia tidak lagi menjadi pewaris pamannya. Harga
dirinya akan jatuh dan hancur berkeping-keping. Kemudian, Lady Elize
pasti akan merasa sangat malu kepada kakaknya juga kepada Jenny bila
mereka berkumpul di rumah itu."
"Engkau membuatku teringat akan Danny. Apakah engkau sekarang akan
menjadi lebih hangat kepadanya setelah mengetahui keluarganya tidaklah
seburuk yang kaukatakan?" tanya Frederick.
"Tidak. Bila aku ingin bersikap lebih baik kepadanya, tentunya aku tidak
akan membuka rahasia yang akan membuatnya jatuh ini," kata Angella
tenang, "Di samping itu aku tidak ingin membuat seseorang menjadi
cemburu lagi." "Apakah engkau berhasil, Vladimer" Sejak tadi aku melihat kalian
menjadi semakin akrab dari biasanya," tanya Oscar ingin tahu.
Angella melihat mereka dengan kebingungan. Vladimer tersenyum
melihat kebingungan Angella.
"Seperti yang kalian harapkan," kata Vladimer.
Kedua kakak Angella berseru gembira seperti anak kecil, "Akhirnya apa
yang kita harapkan sejak kecil menjadi kenyataan," kata mereka.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Angella kebingungan.
"Kami akan mengatakannya kepadamu pada saat pernikahanmu," kata
Oscar. Mereka tersenyum melihat Angella yang menunduk malu. Mereka tahu
Angella merasa senang mendengar kata-kata Oscar.
"Benar apa yang kita duga waktu mereka bertengkar, Oscar," kata
Frederick. "Apa yang kalian pikirkan saat kami bertengkar?" tanya Vladimer.
"Kami merasa pertengkaran kalian itu seperti jalan agar kalian dapat
menyadari bahwa kalian saling mencintai."
"Pertengkaran konyol," kata Angella dingin.
"Engkau tahu, Angella" Aku merasa engkaulah satu-satunya gadis yang
sanggup menghadapi sikapku yang sangat dingin itu," kata Vladimer,
"Dan ketika kita bertengkar itu, aku merasa benar-benar berhadapan
dengan orang yang sangat tepat, yang dapat membalas semua katakataku yang
menyakitkan." "Mengapa engkau berkata seperti itu?" protes Angella, "Tetapi apa yang
kaukatakan memang benar. Saat itu aku juga merasa berhadapan
dengan orang yang tepat."
"Kalian memang cocok satu sama lain. Sama-sama dinginnya," kata
Frederick. "Dan bila bertengkar sangat seru," timpal Oscar.
"Oscar! Jangan berkata seperti itu. Bukankah kita tidak mengharapkan
mereka bertengkar lagi," tegur Frederick.
"Jangan khawatir, Frederick. Kurasa mereka tidak akan bertengkar lagi."
"Apakah engkau bersedia menjadi mempelaiku?"
Angella tetap tertunduk malu, tetapi mereka sudah mengetahui jawaban
gadis itu. Harapan kedua kakak Angella telah menjadi kenyataan,
sekarang mereka menanti suara dentang lonceng .
-----0----Apa yang dikatakan Angella memang tepat.
Semua orang terkejut ketika mengetahui Earl of Wicklow mempunyai
seorang putra yang sangat lucu.
Lady Elize merasa serba salah terhadap kakaknya. Wanita itu memilih
tinggal di tempat lain untuk menghindari perasaannya yang berkecamuk
melihat wanita yang dulu diusirnya kini tinggal bersamanya.
Sehari setelah Earl of Wicklow membawa Charlemagne pulang, wanita itu
pindah ke Skotlandia. Danny tampak terpukul mendengar berita itu. Ia kini tidak lagi sering
terlihat. Pria itu seperti sedang bersembunyi untuk menyembunyikan
keterkejutannya. Memang semua orang terkejut mendengar berita itu, tetapi mereka lebih
terkejut ketika mengetahui sepasang manusia yang terkenal dingin itu
melangsungkan pernikahannya.
Atas permintaan Angella, pernikahan itu dilangsungkan di Gereja St.
Augustine. Semula kedua orang tua Angella dan orang tua Vladimer tidak setuju,
tetapi karena Vladimer dan kedua kakak Angella menyetujuinya, akhirnya
pernikahan itu dilangsungkan di Gereja St. Augustine.
Satu hal yang membuat mereka terkejut adalah jumlah orang yang hadir
dalam pernikahan itu. Mereka hanya mengundang keluarga yang sangat dekat saja dalam
upacara pemberkatan pernikahan itu, namun jumlah yang hadir melebihi
yang mereka perkirakan. Jumlah mereka yang sangat banyak membanjiri
gereja tua itu. Rupanya banyak orang yang ingin mengetahui bagaimana pernikahan
antara seorang gadis cantik yang berhati dingin dengan pria tampan yang
juga berhati dingin. Suasana di dalam maupun di luar gereja itu sangat berbeda dari
sebelumnya. Halamannya yang semula banyak ditumbuhi tumbuhan liar,
kini terlihat rapi dan banyak bunga yang bermekaran di halaman itu.
Anak-anak dari Panti Asuhan Gabriel berdiri dengan penuh senyum di
depan gereja. Mereka menyambut setiap orang yang hadir. Setiap ada
yang datang, mereka menyambut dengan riang.
Ketika kereta terakhir tiba, mereka segera berlari mendekat.
Pintu kereta terbuka dan muncullah Earl of Tritonville dengan senyuman
senang. Ia mengulurkan tangannya ke dalam kereta.
Dari dalam kereta, terulur tangan yang bersarung putih. Tangan itu
menerima uluran tangan Earl of Tritonville dan kemudian menampakkan
dirinya dari dalam kereta.
Angella tampak sangat cantik dalam gaun pengantinnya. Walaupun
wajahnya masih tertutup kerudung pengantin, namun tidak menutupi
kebahagiaan yang tercermin di sana.
Earl of Tritonville menuntun Angella menuju ke altar yang berhiaskan
bunga-bunga yang sangat indah, ke samping pria yang dicintainya.
Angella merasa sangat bahagia melihat Vladimer yang telah berdiri di
depan altar. Hatinya terasa damai dan bahagia ketika ia mendekati pria
itu. Pria itu tampak semakin tampan dalam kemeja hitamnya. Pria itu
tersenyum menyambut kedatangannya.


Runtuhnya Gunung Es Karya Sherls Astrella di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Vladimer mengulurkan tangannya pada Angella yang segera
menyambutnya. Pria itu tersenyum lembut pada Angella.
"Kuserahkan putriku padamu. Jagalah dia baik-baik," bisik Earl.
Matanya tampak basah oleh air mata kebahagiaan. Senyumnya terus
mengembang ketika ia menghampiri keluarganya yang berada di barisan
terdepan tempat duduk jemaat itu.
Pendeta segera memulai upacara pemberkatan itu. Dan ketika upacara itu
selesai, ia segera memberi ucapan selamat kepada mereka berdua.
"Saya berdoa agar kalian bahagia selalu," kata Pendeta Paul.
"Terima kasih, Pendeta," kata Vladimer.
Setelah ucapan selamat dari Pendeta Paul, mereka terus menerima
ucapan-ucapan selamat yang terus membanjir.
Hingga mereka berada di Cardington House, ucapan semacam itu terus
membanjir. Miss Lyne serta Miss Mary juga anak-anak Panti Asuhan Gabriel diundang
dalam pesta pernikahan mereka di Cardington House. Pendeta Paul juga
turut diundang. "Anda telah berbohong kepada kami ketika Anda mengatakan nama Anda
Gazetta," kata Miss Lyne sambil tersenyum.
"Maafkan saya, Miss Lyne. Saya harus melakukannya karena saya tidak
ingin seorang pun mengetahui saya pernah ke sana dengan membawa
seorang bayi," kata Angella.
"Kalau begitu cerita itu benar?" tanya Miss Mary.
"Cerita apa, Miss Mary?" tanya Nanny.
"Pendeta Paul pernah bercerita kepada saya bahwa Miss Gazetta....
Oh,...." "Tidak apa-apa, Miss Mary. Anda belum terbiasa dengan nama saya yang
sebenarnya," kata Angella memaklumi kekeliruan Miss Mary.
"Pendeta Paul pernah mengatakan kepada saya bahwa ketika Anda
pertama kalinya datang ke Gereja St. Augustine, Anda membawa seorang
bayi," kata Miss Mary malanjutkan ceritanya.
"Itu benar. Ketika saya pertama kali ke Gereja St. Augustine, saya
membawa Charlemagne yang saat itu masih bayi."
"Charlemagne, putra Earl of Wicklow?" kata Miss Lyne terkejut.
"Jadi berita yang ditulis koran itu benar," kata Miss Lyne melihat Angella
menganggukan kepalanya. "Benar," kata Vladimer yang tiba-tiba muncul di teras Cardington House
tempat mereka bercakap-cakap.
"Anda mengejutkan kami, Tuan Muda," kata Miss Mary.
"Saya mengucapkan selamat kepada Anda, Tuan Muda. Istri Anda benarbenar luar
biasa," kata Miss Lyne, "Ia sangat baik hati dan tabah."
"Saya sependapat dengan Anda, Miss Lyne. Angella memang luar biasa.
Saya sangat beruntung bisa meruntuhkan kedinginan hatinya," kata
Vladimer sambil tersenyum pada Angella.
"Sejujurnya saya sangat terkejut ketika mengetahui Snow Angel yang
terkenal dingin itu adalah Anda," kata Miss Lyne pada Angella.
"Saya juga terkejut ketika mengetahui Snow Angel itu adalah adik teman
saya," kata Vladimer, "Ia memang suka membuat kejutan."
"Tuan Puteri tidak berhati dingin," protes Nanny.
Angella tersenyum dingin pada Vladimer. Namun Vladimer pura-pura
tidak tahu, ia merangkulkan tangannya pada pundak Angella.
"Maafkan saya. Saya harus membawa Angella masuk. Kakak-kakak
Angella telah memberi peringatan pada saya untuk menjaga Angella baikbaik.
Mereka akan sangat marah pada saya bila mengetahui saya tidak
segera menyuruh Angella masuk di malam yang dingin seperti ini."
"Malam ini memang sangat dingin, Tuan Muda," kata Miss Lyne kemudian
berkata kepada Angella, "Sebaiknya Tuan Puteri segera masuk dan
beristirahat, Anda terlihat sangat letih."
"Kalian juga sebaiknya masuk," kata Angella.
"Tidak, Tuan Puteri. Kami masih harus mengawasi anak-anak yang
bermain di halaman yang sangat luas ini," kata Miss Mary.
"Tetapi...." "Saya akan menemani mereka, Tuan Puteri. Anda harus beristirahat,
Anda terlihat sangat letih," kata Nanny.
"Mari Angella, engkau tidak ingin kakak-kakakmu marah padaku, bukan?"
kata Vladimer membujuk. "Aku akan meminta anak-anak itu masuk. Mereka juga bisa sakit bila
terkena udara malam yang dingin," kata Angella.
"Biarkanlah mereka bermain dulu, Angella. Mereka kelihatan sangat
senang. Nanny, Miss Lyne serta Miss Mary akan menjaga mereka dengan
baik. Mereka tentu juga tidak ingin anak-anak itu sakit."
"Baiklah, Vladimer," kata Angella mengalah.
"Kami permisi dulu," kata Vladimer sambil menggandeng tangan Angella.
"Mereka sangat serasi," kata Miss Mary sambil memandangi kedua orang
itu memutari Cardington House.
"Sejak kecil mereka memang selalu terlihat serasi," kata Nanny.
"Tuan Puteri memang beruntung. Ia disayangi banyak orang."
"Itu karena ia selalu penuh perhatian, Miss Lyne. Walaupun ia terkenal
akan kedinginannya tetapi ia selalu penuh perhatian. Saya tahu itu dan
karena itu pula saya tidak setuju mereka mengatakan Tuan Puteri berhati
dingin," kata Nanny.
"Tuan Puteri memang luar biasa. Ia sangat disayangi kakak-kakaknya
tetapi ia tidak pernah terlihat manja."
"Saya sependapat dengan Anda, Miss Lyne. Jarang saya melihat orang
yang tidak manja walaupun hidupnya penuh dengan perhatian. Biasanya
mereka yang sangat diperhatikan oleh keluarganya menjadi manja."
"Itu karena Tuan Puteri menyadari ia tidak boleh bermanja-manja
walaupun ia sangat disayangi keluarganya, terutama Tuan Muda Frederick
dan Oscar." "Dapat saya bayangkan, Nanny. Mereka pasti sangat sedih harus
menyerahkan adik mereka kepada Tuan Muda Vladimer."
"Mereka memang sangat sedih. Tetapi mereka pula yang terlihat sangat
bahagia dengan pernikahan ini. Saya percaya Tuan Muda Frederick dan
Oscar tidak akan pernah menyetujui pernikahan Tuan Puteri andai ia
menikah dengan orang lain," kata Nanny.
"Tuan Puteri memang sangat beruntung, ia sangat disayangi kakakkakaknya. Tetapi
ia lebih beruntung karena dapat menikah dengan orang
yang dicintainya." "Tuan Muda Vladimer juga sangat beruntung, Miss Mary. Ia dapat
menikah dengan Snow Angel yang terkenal sangat sulit didekati itu."
"Saya menyesal tidak mengetahui apa-apa tentang masalah itu. Andai
saya juga mengetahuinya, Tuan Puteri pasti tidak akan menjadi sangat
dingin seperti itu."
"Jangan sedih, Nanny. Tuan Puteri melakukannya pasti karena ia tidak
ingin Anda merasa cemas. Ia seorang gadis yang sangat tabah. Saya
tidak dapat membayangkan bagaiamana perasaannya ketika membawa
Charlemagne ke Gereja St. Augustine dalam cuaca yang sangat buruk."
"Itulah salah satu kelebihannya yang lain, Miss Mary," kata Miss Lyne.
Angella menduga Vladimer ingin menghindari tamu-tamu yang masih
berada di Ruang Besar dengan membawanya memutari Cardington House
menuju kebun belakang yang berhubungan dengan Ruang Perpustakaan.
"Rupanya engkau masih tetap dingin," kata Angella dengan tersenyum.
Vladimer yang mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Angella pura-pura
marah, "Jadi begitu, ya. Engkau menganggap aku masih berhati dingin."
"Engkau menghindari tamu-tamu itu," kata Angella dengan tenang.
"Kukira aku telah meruntuhkan semua dinding es yang menyelubungi
hatimu," kata Vladimer melihat wajah Angella yang dingin.
"Engkau telah melakukannya. Dinding es itu telah lenyap tanpa bekas,"
kata Angella. "Menurutmu apakah banyak orang yang terkejut mendengar penikahan
kita ini?" tanya Vladimer.
"Bila melihat jumlah tamu yang hadir dalam upacara pernikahan kita tadi,
aku rasa tidak hanya banyak orang yang terkejut, semua orang akan
terkejut." Vladimer tertawa mendengar jawaban itu, "Mereka pasti tidak pernah
menduga hal ini. Aku pun tidak pernah menduga hal ini akan menjadi
kenyataan." "Mengapa?" "Karena banyak pria yang mencoba meruntuhkan dinding es itu tetapi
tidak pernah ada yang berhasil."
"Kasihan, Danny," kata Angella tiba-tiba.
"Apakah engkau mengasihani Danny karena ia tidak dapat menikah
denganmu?" "Jangan marah, Vladimer. Aku hanya merasa kasihan pada Danny yang
tidak dapat menjadi pewaris tunggal Earl of Wicklow."
"Satu hal dari kelebihanmu yang kusukai adalah engkau selalu penuh
perhatian." "Aku... aku berharap dapat... lebih memperhatikan... dirimu," kata Angella
perlahan. "Oh, Angella. Itulah yang kusukai darimu, engkau selalu penuh perhatian
kepada siapapun. Engkau telah memberikan banyak kebahagiaan
padaku," kata Vladimer sambil memeluk Angella.
"Sungguh?" tanya Angella tak percaya.
"Sejak engkau masih kecil," kata Vladimer, "Terlebih lagi sejak saat ini,
sejak engkau menjadi milikku untuk selamanya. Aku begitu khawatir
engkau akan jatuh ke tangan pria lain karena kecantikanmu."
"Aku... sangat mencintaimu, Vladimer. Dan aku tidak peduli pada pria lain
karena aku hanya mencintaimu," kata Angella.
"Oh, Angella, engkau tahu" Engkau sangat cantik tadi pagi, aku merasa
setiap hari engkau bertambah cantik saja. Dan itu membuat aku semakin
mencintaimu." "Sejak kapan engkau menjadi pandai merayu?" goda Angella.
"Sejak engkau merayuku," jawab Vladimer dengan tenang.
"Kapan aku merayumu" Aku tidak pernah merayumu," protes Angella.
"Setiap hari engkau merayuku dengan wajahmu yang cantik itu dan
membuat aku ingin sekali memeluk dan menciummu."
Vladimer mengatakan itu dengan tenang dan sungguh-sungguh. Dan itu
membuat Angella merasa malu.
Angella merasa semakin memerah ketika Vladimer menciumnya dengan
lembut sambil terus memandangi matanya.
Mata Vladimer menatap lekat-lekat wajah Angella yang memerah. Ia
tersenyum pada Angella yang juga menatap wajahnya dari jarak yang
sangat dekat. "Aku harus mengucapkan terima kasih karena engkau telah mengundang
anak-anak Panti Asuhan Gabriel ke mari," kata Angella mengganti topik.
"Rupanya engkau memang pandai mengalihkan perhatian orang," kata
Vladimer sambil tersenyum yang membuat jantung Angella berdebar
semakin kencang, "Aku tahu engkau meminta upacara pernikahan kita itu
tidak dilakukan di gereja samping rumahmu melainkan di Gereja St.
Augustine itu karena anak-anak itu."
"Bagaimana engkau mengetahuinya?" tany Angella keheranan.
"Karena sikapmu yang penuh perhatian itu," kata Vladimer sambil
tersenyum. Sejak awal, Vladimer telah mengetahui Angella meminta upacara itu
dilakukan di Gereja St. Augustine karena anak-anak Panti Asuhan Gabriel.
Angella ingin agar setiap orang yang diundang ke upacara yang suci itu
mengetahui keadaan Panti Asuhan Gabriel dan membantu Panti Asuhan
itu. "Aku masih ingat Nanny sangat senang hingga menangis ketika Oscar dan
Frederick mengatakan kita akan segera menikah," kata Angella, "Tadi
Charlie juga tampak senang, sayang aku tidak melihat Jenny dan Earl of
Wicklow." "Semua orang juga senang, Angella."
"Menurutmu, bagaimana kabar mereka?"
"Mereka pasti baik-baik saja, Angella. Engkau tidak perlu khawatir,
mereka pasti juga datang tetapi engkau tidak melihatnya."
"Aku bahagia sekali..., Vladimer, hingga aku... takut semua ini... hanya
mimpi," kata Angella perlahan.
"Ini bukan mimpi, Angella," kata Vladimer sambil mempererat pelukannya
kemudian ia mencium Angella lagi.
Angella merasakan sesuatu yang aneh, yang tidak pernah dirasakannya
sebelumnya menjalari tubuhnya ketika Vladimer menciumnya.
"Aku... mencintaimu," bisik Angella.
"Sebaiknya aku membawamu masuk sekarang juga daripada nanti kedua
saudaramu memarahiku karena engkau sakit," kata Vladimer sambil
membopong Angella. Angella tersenyum. Dia tahu Vladimer akan membawanya masuk ke
dalam kebahagiaan yang tiada batasnya dan tiada orang lain selain
mereka berdua. Kebahagiaan abadi yang selalu diidamkannya.
Sumur Perut Setan 3 Dendam Empu Bharada Karya S D Djatilaksana Lembah Patah Hati 5
^