Pencarian

Rocker That Hold 2

The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne Bagian 2


menemukan suara yang lebih kuat.
"Kau akhirnya datang padaku. Oh Tuhan! Aku sudah nyeri
sepanjang malam hanya untukmu." Dia duduk dan mengulurkan
tangannya yang tidak membelai dirinya, sesuatu yang masih tetap
dilakukannya. Jemarinya bergoyang, menggodaku untuk datang
kepadanya. "Kemarilah, baby!"
Tanpa berpikir, aku maju ke arahnya dan meletakan tanganku
digenggamannya. Dengan sedikit tarikan dia menarikku jatuh ke
sampingnya ditempat tidur. "Sentuhlah!" Masih memegang
tanganku, dia membawanya ke kejantanannya dan menangkupkan
jemariku di sekelilingnya. "Apakah kau merasakan betapa aku
membutuhkanmu?" "Ya." Bisikku, terpesona akan pemandangan jemariku yang
meluncur naik turun di kejantanannya yang besar.
Aku tahu ini salah. Nik mabuk dan berpikir aku adalah salah satu
dari fansnya yang datang untuk bermain cinta dengannya. Tapi
begitu aku menyentuh benda hidup yang mana itu adalah
kejantanannya, aku tahu bahwa aku tidak perduli. Aku
menginginkannya, sungguh menginginkannya sejak lama. Dan aku
mencintainya dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh orang lain.
Tidak masalah aku masih perawan, dia kemungkinan besar tidak
akan mengingatnya begitu pagi menjelang, dimana waktu yang aku
rencanakan untuk telah pergi lama dari tempat tidur ini. Badai yang
mengamuk diluar sudah bukan hal yang penting lagi, pikiranku
teralihkan sepenuhnya ketika aku membungkuk dan mencium Nik.
Suara erangannya dalam, seksi dan membuatku merinding ketika
kurasakan lidahnya menyapu bibir bawahku. "Manisnya! Belum
pernah aku merasakan sesuatu yang semanis ini sebelumnya." Dia
melumat mulutku, membuatku pusing akan hasrat dan membuatku
kehilangan napas. Jemariku saling tertaut di rambut tebalnya,
membutuhkan sesuatu untuk dipegang saat dia memulai petualangan
liar ini yang hanya pernah kuimpikan dengan pria ini.
"Perlahan, baby." Dia terkekeh geli dengan suara yang kaya akan
godaan yang begitu kusukai. "Aku takkan kemana-mana."
"Aku sangat menginginkanmu." Ujarku padanya, tanpa
menghiraukan perasaanku terungkap di pikiran gelapnya yang
berkabut. "Aku membutuhkanmu, Nik."
"Oh Tuhan! Aku juga menginginkanmu, baby." Dia menangkup
wajahku, seakan mengingat setiap detilnya, namun aku juga
bertanya-tanya apakah dia benar mengenaliku. "Begitu cantik."
Bibirnya menyapu di sepanjang rahangku, lidah nakalnya meluncur
di leherku dan menghisap urat yang praktis berdenyut-denyut dari
dasarnya. Dia menikmati waktunya berlama-lama denganku. Dengan hati-hati
melepas baju kaus & celana pendekku. Dia menjilati setiap inci
tatoku di pinggul, menggigit-gigit di sayap iblis hitam yang
mengelilingi gambar hati berwarna hitam dengan semua nama
mereka tertulis di dalamnya dengan tinta berwarna merah. "Sungguh
seksi sekali." Geramnya sebelum membalik tubuhku sehingga dia
bisa member perhatian lebih jelas tato yang menghiasi sebagian
besar punggungku. Sayap iblis yang berwarna gelap,
menggambarkan aku sebagai iblis bersayap itu dengan penulisan
gaya Gothic yang menyebutku adalah "Milik dari Demon's Wings,"
ditulis dengan huruf Goth.
Kurasakan kejantanannya menyenggolku, meluncur di sepanjang
celah pantatku dan aku melebarkan kakiku tanpa ragu. "Kau belum
siap untuk aku melakukan itu, baby. Pantat perawanmu itu harus
dijinakkan perlahan. Terutama ketika aku keras seperti ini...Belum
pernah aku sekeras ini, baby. Tidak pernah! Semuanya untukmu..."
Dia menggigit bahuku. Aku menjerit dari kenikmatan murni dari
rasa sakit sedikit yang mendalam di antara kakiku.
Ketika dia membalik tubuhku kembali ke punggungku dan
menyerang bibirku lagi, terlihat hilang dalam cecapan rasaku. Dia
menangkup payudara kecilku ditangan besarnya, membuatku
merona. Dia terbiasa dengan payudara yang besar daripada punyaku.
Nik adalah pecinta payudara dan aku tahu bahwa punyaku tidak
memukau dia sebelumnya. Tapi kelihatannya dia menyukainya.
Mulutnya meninggalkan mulutku dan menelan hampir keseluruhan
salah satu payudaraku saat dia mengisap putingku ke dalam mulut
panasanya. Aku menjerit, menyukai sensasi tarikan yang
ditimbulkan saat dia menghisap. Jemarinya menarik putingku yang
lain, tidak mau melewatkannya sedikit pun. Setelah beberapa menit,
mulutnya berpindah ke payudaraku yang lain sementara jemarinya
bergerak meluncur ke bawah, membelai sepanjang pusarku dan
semakin turun. Ketika dia mencapai kewanitaanku, dia mengangkat kepalanya dan
melihat saat jemarinya membuka lipatanku. Sebuah erangan tersiksa
keluar dari mulutnya. "Sungguh basah untukku." Dia tampak
terpesona dengan rambut pubisku. Aku selalu membersihkannya
dengan waxing kecuali pada bagian yang disebut orang-orang garis
landasan di sepanjang lipatan luarku. Dari cara dia menatapku begitu
intens pada rambut pubis keriting pirangku, aku mengambil
kesimpulan dia menyukainya. "Apakah rasamu sama bagusnya
dengan aromamu, baby?"
Sebelum aku bisa menjawabnya, dia telah pindah dan memposisikan
mulutnya diklitorisku. Aku menjerit saat dia menghisap pusat intiku
dengan mulut panasnya. Punggungku melengkung dari ranjang saat
dia menghisap dan terus menghisap hingga aku tak bisa bertahan
lagi dan akhirnya orgasme dimulutnya. Cairanku melimpah ruah
dipintu kewanitaanku dan dia merintih sambil membersihkanku
hingga tetes terakhir. Ketika dia mengangkat kepalanya, wajahnya berkilauan dengan
bukti gairahku. Nik tidak bersusah payah untuk mengelapnya ketika
dia menciumku. Rasaku di lidahnya sungguh memalukan pada
awalnya, tapi kemudian aku dapat merasakan seutuhnya hal itu dan
mengerang akan betapa eksotisnya rasa ini.
Dia berbaring terlentang dan membawaku ke atasnya. "Katakan kau
milikku." Tuntutnya.
"Aku milikmu." Jawabku tanpa keraguan. "Semuanya untukmu,
Nik!" "Bawa aku ke dalam dirimu, baby. Jadikan aku bagian darimu." Jika
aku bisa berhenti berpikir sejenak, aku mungkin akan menyarankan
kondom. Tapi saat ini aku mungkin telah terlalu terangsang.
Pengaman adalah hal paling jauh yang ada di pikiranku saat aku
meluncur turun ke kejantanannya.
Aku menggigit bibirku dan menelan balik tangisan kesakitanku saat
dia mencoba menerobos penghalang keperawananku. Dia terengahengah saat aku
memulai gerakan turun sampai ke dasar. "Begitu
nikmat. Sungguh sangat ketat." Desisnya. Tangannya dipinggulku
menahanku untuk tetap stabil. "Tahan sebentar, cantik. Jika kau
bergerak sekarang aku akan mempermalukan diriku dan meledak
terlalu cepat di dalammu."
Aku dengan senang hati memberinya semua waktu yang dia
butuhkan karena aku sendiri sedang berjuang untuk menampungnya.
Aku membungkuk ke depan hingga putingku menelusuri dadanya
dan menciumnya. Lidahnya bergelut dengan lidahku dan kurasakan
otot intiku mengendur, membuatnya pas untuk diatur. Aku mulai
bergerak diatasnya tapi tangannya mengencang dipinggulku,
memaksaku untuk tetap diam.
"Belum sekarang." Ucapnya. "Aku terlalu dekat untuk keluar."
"Nik!" Aku perlu bergerak sekarang. Aku terbakar lagi untuknya.
Memahami kebutuhanku, ibu jarinya menggosok klitorisku. Aku
berteriak menikmatinya. "Kumohon. Aku hampir sampai." Dia
melepaskan pegangannya di pinggulku dan aku mulai bergerak maju
dan mundur dengan hati-hati. Otot dalamku menegang saat
pelepasanku mulai dekat. Jempolnya terus menggosok dan memutar
dengan cepat di atas klitorisku, memburuku hingga aku sampai ke
tepian jurang orgasme. "Nik!" Aku tak bisa bertahan lebih lama. "Sialan, Nik!"
"Baby...!" Punggungnya melengkung saat melepaskan dirinya di
dalam diriku. Aku jatuh di dada kerasnya, mencoba untuk bernafas. Lengannya
mendekapku erat dan dia mencium bahuku. "Sungguh
menakjubkan." Gumamnya setengah tertidur. Aku tersenyum di atas
dadanya yang berkeringat basah sambil mengangguk setuju.
Pada saat aku telah bisa mengatur napas, Nik telah terlelap. Aku
benci meninggalkannya, tapi aku tahu aku tidak bisa tinggal
sehingga aku turun dari atas tubuhnya. Dia mengigau sesuatu hal
yang tidak bisa kupahami saat dia berguling menjauh dariku. Aku
cepat-cepat berpakaian dan pergi meninggalkannya.
Keesokan harinya ketika berprilaku seperti Nik yang telah lama
kukenal, aku tahu dia tidak mengingat apa-apa. Sebagian kecil diriku
mati perlahan didalam, namun sebagian besarnya terlihat lega. Aku
tak bisa menghadapinya bila dia tiba-tiba memperlakukanku berbeda
karena kejadian spontan dimana aku terlalu lemah untuk berkata
tidak. *** Bab 9 Sekarang saat aku duduk memakai sebuah baju rumah sakit,
menatap pria yang kucintai setelah sebelumnya berteriak padanya
bahwa ia adalah ayah dari anakku, aku tidak bisa mengatasi rasa
malu yang melandaku. Aku mengambil keuntungan dari seseorang
yang aku cintai, satu-satunya orang yang bisa memilikiku begitu
menyeluruh. Air mata mengalir di wajahku dan aku tak bisa
menahan isakan pelan yang keluar dariku.
Semua kemarahan tampaknya menguap dari Nik. Dia jatuh dalam
pelukan Drake, menyebabkan pria besar itu hampir menjatuhkannya.
"Apa?" Dia berbisik.
"Kau, Nik." Isakku. "Kau adalah ayahnya."
"Tidak...aku..." Dia menggeleng. tidak..."
Hatiku lebih hancur lagi karena aku tahu bahwa dia tak akan pernah
menjadi kekasihku jika dia tidak mabuk, jika ia tidak berpikir bahwa
aku adalah orang lain. Ya Tuhan, aku orang yang hina. Tidak lebih
baik dari seorang pemerkosa yang mengambil keuntungan dari
seorang gadis yang mabuk. Aku menerima dia untuk berkata 'tidak'.
Dan aku tahu bahwa Nik akan berteriak 'tidak' padaku kalau ia tahu
bahwa aku adalah gadis yang berhubungan seks dengannya malam
itu. Aku menyeka wajahku, membenci air mataku. "Ya, Nik."
"Ini adalah mimpi. Aku memimpikannya." Dia tersentak menjauh
dari Drake, mendorong Jesse yang menghalangi jalannya dan jatuh
berlutut di sampingku. "Benarkah?"
Menolak untuk menatap matanya aku menggeleng. "Maafkan aku,
Nik. Maaf aku mengambil keuntungan darimu. Tolong...tolong
jangan membenciku." Kata yang terakhir keluar berupa bisikan
serak. Suasana di sekitar ruangan ini begitu hening bahwa kupikir mungkin
yang lain telah meninggalkan kami dan aku tidak
memperhatikannya. Tapi ketika Jesse mulai terkekeh dan para
saudara prianya segera bergabung aku tahu bahwa aku tidak
mendapat keberuntungan. Aku memberikan tatapan paling dinginku
pada mereka. "Hal ini tidak lucu! Aku seperti memperkosanya."
Sekarang ini Nik yang terkekeh dan aku ternganga, tidak dapat
memahami bagaimana ini menjadi sesuatu yang lucu. Ketika ia
melihat betapa kesalnya aku dia berhenti tertawa padaku dan
menggelengkan kepalanya. "Ayolah, Em. Tidak mungkin kau
mengambil keuntungan dariku. Dan ini bukanlah pemerkosaan
ketika itu hubungan suka sama suka, sayang."
"Kau tidak tahu itu aku. Kau berpikir bahwa aku adalah salah satu
dari fans pelacurmu." Air mata lebih banyak lagi mengalir di
wajahku. Matanya menyipit padaku. "Apa yang kau katakan! Aku mungkin
mabuk, tapi aku tahu siapa dirimu, Emmie. Aku telah bermimpi
tentang hal itu jauh lebih lama dari yang seharusnya. Itu sebabnya
ketika aku terbangun keesokan paginya aku hanya berpikir itu adalah
mimpi. Sebuah mimpi basah, tentu saja, tapi masih hanya sebuah
mimpi." Para pria yang lain membuat kebisingan dan Jesse memberi Nik
tatapan tajam. "Terlalu banyak info, bung. Terlalu banyak info. Kami
tak perlu tahu apa-apa tentang itu."
Kata-katanya membuat aku syok. Jauh di lubuk hatiku, aku merasa
dinding yang telah kubangun di sekeliling hatiku runtuh perlahan.
Nik tahu bahwa itu aku. Malam itu, malam indah itu yang telah
menghantuiku selama berbulan-bulan saat dia bercinta denganku -
bukan dengan salah satu pelacur yang tak terhitung jumlahnya! Aku
tidak bisa merangkai kata-kata, mulut dan pikiranku tak tahu
bagaimana untuk bekerja sama saat ini. Jadi aku hanya duduk di
sana di tempat tidur rumah sakit dan menatap dengan mata
terbelalak pada ayah dari anakku.
"Emmie..." Pintu terbuka dan memotong apapun yang hendak ia katakan.
Seorang perawat masuk mendorong kursi roda di depannya. Dia
tidak terlihat senang. Dari kerutan permanen di sekitar bibir dan
matanya kupikir wanita ini jarang tertawa dalam lima puluh tahun
kehidupannya. "Nah, karena semua teriakan telah berhenti saya pikir
aman untuk masuk tanpa takut kehilangan anggota tubuhku. Apakah
Anda membutuhkan bantuan untuk ganti pakaian Nona Jameson?"
Aku menggelengkan kepala dan ia mengalihkan pandangan
tajamnya pada para priaku. "Saya sarankan menempatkan mobil
Anda di sekitar pintu masuk utama sehingga kita bisa memulangkan
wanita muda ini." Shane meringis. "Aku akan pergi memanggil taksi." Aku
memberinya senyuman. "Terima kasih."
Perawat itu, aku menjulukinya Si Galak karena dia mengingatkanku
pada kurcaci dari Kisah Putih Salju dengan rambut abu-abu dan
perawakan pendeknya, mengusir yang lain keluar dari ruangan. "Dia
perlu berpakaian. Saya tidak peduli apa hubungan kalian dengan, dia
tidak mengganti pakaian dengan adanya kalian di sini."
Nik memelototi wanita tua kecil itu dan aku tahu bahwa dia akan
mungkin menggeram pada wanita itu jadi aku meraih tangannya dan
sedikit meremasnya. "Tidak apa-apa. Aku akan keluar dalam
beberapa menit." Jesse meletakkan tangannya di bahu Nik. "Mari kita pergi, bung.
Ada banyak waktu untuk bicara nanti. Dia tidak akan ke manamana."
Nik dengan bahu tegang mengikuti Drake keluar pintu dengan Jesse
mengikuti tepat di belakangnya. Di pintu Jesse berhenti dan melirik
ke arahku. "Kami akan berada di luar. Oke?"
Aku mengangguk dan menunggu sampai pintu ditutup di belakang
mereka sebelum meraih pakaian yang kukenakan malam
sebelumnya. Pakaianku terlipat rapi di lemari kecil yang juga sebuah
nakas disamping tempat tidur kecil yang tidak nyaman. Perawat
membantuku karena kakiku masih gemetar. "Kamu perlu banyak
istirahat, sayang." Kekasaran dalam suara Galaknya sudah hilang sekarang.
"Aku akan pergi untuk liburan hari ini. Aku berencana untuk tidak
melakukan apapun selain berbaring di pantai di bawah sinar
matahari yang hangat."
Perawat itu mengangguk. "Hanya saja jangan terlalu banyak terkena
sinar matahari. Itu tidak baik untuk bayinya."


The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aku terhuyung, menyadari bahwa aku tak tahu apa yang baik atau
tidak untuk bayiku. Air mata segar menusuk di mataku. Aku tak
ingin menyakiti bayi perempuanku dengan cara apapun, sama sekali.
Setelah masa kecil yang aku alami di mana ibuku bertindak kejam
padaku, aku bersumpah untuk memastikan bahwa anakku hanya tahu
cinta dan kasih sayang. Aku menarik keluar foto yang teknisi berikan
padaku malam sebelumnya dari saku celana jeansku di mana aku
menyembunyikannya sehingga para priaku tidak akan melihatnya
dan merapikan tepian foto itu.
"Ada situs web yang tak terhitung jumlahnya yang dapat kau
kunjungi untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan pada kehamilan pada setiap tahap." Perawat
menyarankannya saat dia membantuku duduk ke kursi roda. Entah
bagaimana dia berhasil menahan pintu terbuka dan mendorongku
keluar tanpa kesulitan apapun.
Aku mengeluarkan ponselku dan membuka internet, sudah mengetik
kata kunci di mesin pencari sehingga aku bisa melihatnya nanti.
Para pria bersandar di dinding ketika kami keluar. Jesse
mengerutkan dahi ke arahku ketika ia melihat ponselku. "Sialan,
jangan! Kau akan beristirahat, bukan bekerja." Dia merebut telepon
dari tanganku sebelum aku bisa mengatakan apa-apa dan
mematikannya. "Tapi aku tidak..."
"Apa itu?" Nik mengangguk ke gambar yang telah tergenggam di
tanganku. Aku menyodorkannya pada Nik saat yang lain melangkah ke sisiku
sementara perawat mendorongku menuju lift. "Ini gambar USG si
bayi." Aku menggigit bibir saat ia meraih foto mengkilap itu dengan
tangan sedikit gemetar. Saat ia menatap untuk pertama kalinya gambar anak kami, aku
mengamatinya dengan cermat. Dia tampak pucat, mata biru esnya
berkaca-kaca, tapi aku melihat senyum kecil tersungging dibibirnya
saat ia menatap pada foto di tangannya yang besar. "Indah."
Bisiknya. Semua orang diam saat lift turun ke bawah. Jesse berdiri sebelah
kiriku, jari-jarinya mengelus leherku untuk menenangkan sementara
Drake menyandarkan kepala di dinding lift dan menutup matanya.
Nik tampak asyik dengan gambar anaknya sambil terus menatap
pada foto itu. Ketika perawat mendorongku keluar Shane sudah
mendapatkan dua taksi yang menunggu kami. Dia menahan pintu
yang pertama terbuka untukku.
Seolah-olah aku orang cacat Nik melangkah maju saat aku mulai
berdiri dan mengangkatku, menempatkanku di taksi dengan lembut
sebelum meluncur di sampingku. Drake membuka pintu dan
meluncur di sisi lainku meninggalkan Shane dan Jesse untuk
mengambil taksi kedua. Perjalanan menuju hotel tampak seperti memakan waktu lama sekali
dan karena bagi Axton tidak butuh waktu lama untuk
menempatkanku ke ruang gawat darurat malam sebelumnya. aku
bertanya-tanya seberapa cepat dia telah mengemudi. Aku
menggelengkan kepala memikirkan hal itu. "Apa?" Tanya Drake.
"Tidak ada." Aku tahu lebih baik menyembunyikannya daripada
menyuarakan pikiranku. Para priaku secara berlebihan melindungiku
dan akan mengejutkan Axton jika mereka tahu bahwa ia telah
mengemudi seperti dalam balapan Indianapolis 500 sementara aku
berada dalam kendaraan yang sama. Dan mungkin mereka tidak
perduli bahwa aku dalam keadaan setengah sadar pada saat itu.
Tapi memikirkan keterampilan para rocker itu mengemudi
membuatku bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya. Aku
tidak melihat dia bahkan sebelum para pria tiba malam sebelumnya.
"Di mana Axton?"
Nik mengangkat bahu. "Tidak tahu. Jangan pedulikan."
Drake mendesah. "Dia mendapat telepon dari Gabriella dan
mengatakan ia sedang menuju kembali ke California. Dia berpesan
padamu bahwa dia berharap kau segera merasa lebih baik dan
menghubunginya ketika kau sudah mampu."
"Oh." Aku bertanya-tanya apakah Gabriella menghubungi karena
ada sesuatu yang salah dengan Alexis. Aku ingin mengirimi pesan
padanya untuk bertanya tapi tidak bisa karena Jesse masih
menyimpan ponselku. Raut wajahnya mengatakan padaku bahwa
meminta Nik agar aku bisa menggunakan ponselnya hanya akan
membawaku dalam masalah, jadi aku mengepalkan tanganku dan
mendesah. *** Bab 10 Ini tidak mudah tapi entah bagaimana aku mendapatkan lima tiket
untuk kami semua dalam penerbangan ke Panama City malam itu.
Dari sana perjalanan ke rumah pantai kami memakan waktu satu
jam. Aku menyewa sebuah SUV besar yang bisa menampung kami
semua ditambah koper barang-barang kami kemudian mengatur agar
sisanya dikirim ke rumah. Drake mengemudi sementara Shane dan
Jesse naik di baris ketiga sehingga aku bisa berbaring di kursi
panjang di belakang. Sudah larut malam dan aku lelah. Kami tidak banyak bepergian
menggunakan pesawat, kecuali para priaku harus berada di sebuah
acara penghargaan atau sesuatu seperti premier film yang hanya
melepaskan kami dari rangkaian tur kami untuk satu atau dua hari.
Aku benci terbang, aku selalu mengalami mual dan menghabiskan
sebagian besar waktu dengan kantong di tanganku atau di kamar
mandi. Itu tidak membuat morning sickness (mual karena hamil)
yang aku alami lebih baik dan pada saat kami telah mendarat para
pria mengancamku dengan mengunjungi rumah sakit lain. Tapi
ketika aku mampu menanggulangi rasa mualku dengan meminum
fizzy lemon lime soda mereka tidak mempermasalahkannya lagi.
Pada saat kami sampai di rumah pantai, yang secara teknis hanya
sebuah pondok besar, aku tertidur. Lengan yang kuat mengangkat
aku dan aku tidak repot-repot untuk membuka mataku saat kau
membungkuskan lenganku di leher Nik dan tertidur lagi.
Cahaya pagi yang cerah membanjiri jendelaku. Aku mengulurkan
tangan untuk tambahan bantal dan menariknya ke atas kepalaku
untuk menghalangi cahaya yang terang. Kandung kemihku
memprotes ketika aku mencoba untuk kembali tidur dan aku duduk
perlahan agar perutku tidak memiliki terlalu banyak alasan untuk
membenciku. Sepintas kamarku itu indah. Langit-langit berkubah,
pintu Prancis yang menuju balkon, dinding krem dengan karpet
cokelat lembut. Sebuah TV enam puluh inci tergantung di dinding di
seberang tempat tidurku, yang terbungkus selimut dan seprai yang
berwana beige dan krem yang nyaman.
Aku berdiri, melangkah ke kamar mandi yang terhubung dengan
kamar. Aksen hijau laut menghiasi dinding, lilin-lilin ada dimanamana dengan
aroma segar kapas dan bunga melati. Ada bak mandi
jacuzzi dan sebuah shower pribadi. Aku tahu dari perjelajahan di
dunia maya saat online bahwa ini adalah kamar tidur utama dan
kamar mandi karena satu-satunya dengan jacuzzi dan bertanya-tanya
apakah para pria telah menempatkan aku di sini karena kemewahan
itu. Jika demikian aku benci untuk memberitahu mereka bahwa aku
tidak bisa menggunakan jacuzzi karena aku hamil. Tetapi pikiran
bijaksana mereka menghangatkan hatiku. Tersenyum aku
menggunakan kamar mandi untuk mandi dengan cepat. Perutku
menggerutu untuk makanan dan aku punya keinginan gila ini untuk
bacon (daging babi/sapi asap) dan bubur jagung keju.
Di lantai bawah aku menemukan dapur modern dengan granit cantik
di atas konter dapur dan peralatan dari stainless steel. Sesuai
permintaanku kulkas dan dapur terisi penuh dengan makanan dan
minuman ringan. Tapi aku tidak bisa menemukan bacon atau bubur
jagung dimanapun. Aku tidak meminta barang-barang itu, aku
bahkan tidak memakan bubur jagung sejak aku masih kecil.
Perutku menggeram dan aku mendesah. Tidak ada lagi yang
terdengar menarik. Aku tidak tahu apakah aku bisa memakan
makanan yang lain jika aku tidak bisa mendapatkan bacon dan bubur
jagung keju. Menarik keluar Sprite aku membuka botol itu dan
meneguknya sedikit. "Pagi, Em." Shane datang melalui pintu geser yang mengarah luar.
Dia penuh keringat karena baru saja selesai berjalan di pantai.
"Bagaimana perasaanmu?" Dia bertanya sambil membuka lemari es
dan mengeluarkan sebotol air.
"Aku lapar." Kataku dengan sedikit cemberut.
"Itu kabar baik." Dia terduduk di kursi di meja dapur. "Dapatkah
kamu membuatkan aku sesuatu juga?"
"Kita tidak punya bubur jagung." Ada getaran dalam suaraku dan
gilanya sebuah air mata lolos dari mata kiriku. Aku akan menangis
jika tidak mendapatkan bubur jagung" Apa-apaan ini!
Shane, melihat air mataku cepat untuk menenangkanku. Dia
mengambil tanganku dan memberinya sedikit remasan. "Jadi buatlah
sesuatu yang lain, sayang."
Aku menggeleng. "Aku ingin bubur jagung." Bisikku. "Aku kira ini
semacam keinginan gila dalam kehamilan karena aku tidak berpikir
aku bisa makan apa pun. Aku ingin bacon dan bubur jagung
keju...Sama seperti yang dibuat oleh ibuku ketika dia benar-benar
sadar." Dadaku sakit hanya karena berpikir tentang ibuku,
menyebabkan rasa sakit yang mendalam menyeruak keluar dan aku
mulai tersedu-sedu. Shane yang malang kebingungan. Aku mendengar langkah kaki yang
bergegas ke dapur. Suara marah Jesse menuntut untuk mengetahui
apa yang sedang terjadi dan kemudian lengan yang kuat melilitku.
"Em" Apa yang salah sayang?"
Tapi aku tidak bisa menjawabnya jadi aku hanya membenamkan
wajahku di lehernya dan terus menangis. Aku tidak menangis untuk
ibu aku ketika dia meninggal. Pada waktu itu aku sudah sangat lega.
Dia adalah mosnter dari jenis terburuk. Aku menjadi sasaran
pukulannya secara teratur. Tumbuh di sebuah trailer yang selalu ada
setengah botol-botol minuman kosong tergeletak di sekeliling
dengan pipa ganja dan jarum heroin, mengherankan bahwa aku
ternyata tumbuh setengah normal.
"Dia ingin bubur jagung." Aku mendengar Shane menjelaskan
kepada Jesse. "Dengan bacon dan keju seperti yang dulu dibuat oleh
ibunya." "Jadi pergilah dapatkan dia bubur jagung terkutuk dan bacon itu,
Shane!" Teriak Jesse, putus asa. Dia mengangkatku dan kemudian
duduk dan menempatkanku di pangkuannya. Aku mendengar Shane
bergerak cepat kemudian membanting pintu belakang saat ia berlari
keluar. "Emmie, tidak apa-apa. Kami akan membuatkanmu bubur jagung,
sayang " Dia mengoyangku sekarang, suaranya yang ia digunakan
untuk menyakiti hal-hal kecil.
Aku menggeleng. "Ini tidak akan sama. Ini tidak akan terasa sama.
Dia membuatnya begitu baik. Aku menyukai bubur jagung itu. Itu
adalah favoritku." "Oh, Emmie." Dia menghembuskan napas frustrasi. "Sayang, dia
hampir tidak ingat jelas sembilan puluh lima persen dari waktunya.
Mengapa kamu bahkan berpikir tentang dia sekarang?"
"Aku tidak tahu." Aku terisak lebih kencang. "Dia jahat dan aku
seharusnya tidak membiarkan dia masuk dalam pikiranku. Tapi...dia
adalah ibuku, Jesse." Hidungku berair. Dan tanpa berpikir aku
menyekanya di bahunya sambil dia terus menggoyangkan tubuhku
yang gemetar. "Yang bisa aku pikirkan adalah betapa aku ingin
semangkuk bacon dan bubur jagung dengan keju buatannya."
"Oke, sayang. Aku bersumpah kita akan mendapatkannya, dan aku
akan bekerja keras hingga rasanya sama seperti yang kau
inginkan...Hanya tolonglah berhenti menangis. Kau membuatku
bersedih." Ada sedikit getaran dalam suaranya dan aku mengangkat
kepalaku untuk melihat mata cokelat besarnya yang basah.
Tangisanku berhenti. Aku tidak menyadari bahwa rasa sakitku ini
rasa sakitnya juga. "M-m-maaf."
"Apakah ini bagian dari hormon-hormon kehamilan yang aku
dengar?" Dia bertanya sambil menjalankan tangan di atas kepala
botaknya. "Karena jika hal itu penyebabnya aku tidak berpikir aku
akan bertahan lama dengan omong kosong ini."
Aku tertawa. "Aku rasa begitu...Aku tidak pernah berpikir tentang
ibuku. Hal ini begitu kacau."
Aku tidak suka ini. Benci bahwa aku telah menghabiskan waktu
meski cuma sedetik menangisi si jalang yang jahat itu. Aku meringis
mengusap mataku dengan punggung tanganku dan menyadari bahwa
kemeja Jesse basah oleh air mata dan ingusku. "Oh. Maaf tentang
kemejamu." Dia menariknya di atas kepalanya dan menggunakannya untuk
mengeringkan wajahku. "Ini hanya kemeja, sayang. Lihat, sekarang
lebih baik. Emmie-ku yang cantik kembali lagi." Dia mengecup
keningku dan bergerak sehingga aku kembali duduk sendiri dan dia
berdiri. "Aku butuh kopi."
Nik baru saja bergabung dengan kami, sepasang celana tidur
menggantung di pinggul rampingnya, ketika Shane datang dengan
dua kantong belanja. Dia tampak lebih dari sekedar kehabisan napas
sekarang setelah berlari. "Aku membeli semua bubur jagung yang
mereka punya, Em. Masing-masing satu jenis. Aku tidak tahu
apakah kita mendapatkan keju atau apapun yang kamu inginkan.
Jadi aku membeli jenis yang berbeda. Dan aku berharap bacon-nya
cukup." Aku melemparkan tanganku di sekelilingnya, tidak peduli bahwa ia
masih bermandi keringat. "Terima kasih, Shane." Dia benar-benar
berlebihan tapi dia begitu manis, mendapatkan apa yang aku
inginkan karena aku telah begitu sedih.
Dia mencium pipiku. "Apa pun asalkan kau senang, sayang."
"Ada apa tentang bubur jagung?" Tanya Nik, menambahkan gula ke
cangkir kopinya. "Aku kelaparan."
"Em ingin bacon dan bubur jagung dengan keju." Kata Jesse sambil
membuka sebungkus bacon dan melemparkannya ke dalam panci di
atas kompor. "Jadi Em akan mendapatkan bacon dan bubur jagung
keju." Dia mengedipkan mata padaku saat ia mulai menempatkan
sisa belanjaan. "Seperti yang ibunya buat."
*** Bab 11 Dengan perutku yang kenyang karena bubur jagung buatan Jesse,
yang ternyata cukup spektakuler walaupun rasanya tidak menyerupai
buatan ibuku, aku memutuskan untuk menghabiskan sisa pagiku
berbaring di pantai. Kami mendapatkan pantai pribadi sekitar
seperempat mil luasnya dan aku mengambil keuntungan dari hal itu.
Drake membawakan kursi panjang untukku sementara aku
mengambil payung sehingga aku tidak terkena paparan sinar
matahari terlalu banyak. Dengan buku ditanganku dan botol air
minum di tempat minumku, aku siap. Aku mengambil buku What To
Expect When Expecting sehari sebelumnya saat kami di bandara tapi
aku belum bisa membaca melewati beberapa halaman pertama.
Mengatakan bahwa aku merasakan ketakutan tentang janin ini
adalah pernyataan yang meremehkan kenyataan sebenarnya. Tapi
aku berusaha mengatasinya. Setidaknya aku merasa lebih baik hari
ini dibandingkan dengan apa yang kurasakan selama ini. Rasa
mualku kelihatannya mulai mereda dan walaupun aku kelelahan tapi
aku merasa cukup istirahat.


The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Para priaku meninggalkanku untuk beberapa saat. Drake
menggumamkan sesuatu tentang kembali tidur setelah dia begitu
baik membawakanku kursi panjang yang berat. Aku senang
mendapatkan waktu untukku sendiri, sesuatu yang jarang
kudapatkan. Ini sungguh menyenangkan untuk meluruskan tubuh,
dengan sinar hangat matahari di atasku dan tidak harus khawatir
akan para priaku. Menjelang siang aku kulemparkan bukuku ke kursi dan berdiri. Aku
merasa kelaparan dan berpikir betapa nikmatnya sandwich (roti
tangkup isi) keju panggang dengan tomat dan bacon. Saat aku
memasuki rumah melalui pintu samping yang langsung mengarah ke
ruang tamu, aku menemukan Shane dan Nik tengah menonton
Sports Center di televisi layar datar 90 inci yang tergantung di
dinding. "Kalian lapar?" Tanyaku saat aku berjalan melintasi ruang menonton
menuju kamar mandi. Aku harus buang air kecil layaknya...Yah,
layaknya wanita hamil! Kandung kemihku terasa seperti seukuran
semangka karena terasa begitu penuh.
"Aku mau." Jawab Shane padaku. "Apa yang kau buat?"
"Sandwich." Jawabku, bergegas ke kamar mandi. Ketika aku duduk
di tiolet, rasanya sungguh melegakan hingga tak sadar aku
mengerang. Setelah mencuci tangan, aku langsung menuju dapur dan mulai
menggoreng beberapa bacon. Kurasa ini menjadi makanan idamanku
sekarang, tapi aku tidak masalah. Bacon sungguh enak! Aku
membuat sepiring besar sandwich yang banyak. BLT (sandwich
tanpa isian daging), dengan keju panggang, dan dengan irisan daging
kalkun. Aku sedang memasukkan seiris bacon dimulutku ketika Nik
masuk. "Oh Tuhan, baunya enak disini." Dia mengambil bir dari kulkas dan
membuka tutupnya. "Angin laut sungguh membuat seorang pria
menjadi lapar." Aku memutar mataku padanya, nyengir. "Benarkah" Dan sejak
kapan kau berada diluar untuk menghirup udara laut itu?" Dia
menyeringai malu dan mengambil sepotong BLT. "Rakus."
"Tidak bisakah aku tidak menahannya ketika kau membuat sandwich
terbaik didunia?" Dia menarikku mendekat ke arahnya dengan
tangannya yang bebas. Sepasang mata biru esnya itu menangkap
mataku dan aku terjebak di kedalaman indahnya.
Tangannya mengelus sisi tubuhku, membuat jantungku berhenti
berdetak. Aku tidak terbiasa dengan sentuhan Nik seperti ini. Aku
telah mendambakannya, ya. Tapi hingga saat itu aku tak pernah
berpikir akan menerima belaian kasih sayangnya. Ketika tangannya
menyentuh pinggulku, pinggulku yang ada tatonya dan menarikku
lebih dekat ke sisinya, aku mendekat dengan senang hati.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh dadanya. Jantungnya
berdebar-debar. Panas dari kulitnya membakarku dan aku
menyandarkan diriku padanya, ingin merasakan kulitnya yang
terlihat dari baju kausnya tepat diatas kerah bajunya. Aku ingin
menjilati lehernya dan menggigit kupingnya. Aku ingin...
"Makan siang." Drake masuk ke dapur sambil menggosokan kedua
tangannya, rambutnya berantakan karena tidur siang panjangnya.
"Mengagumkan, aku belum pernah lagi menikmati keju panggang
setelah sekian lama."
Merasa lemah, aku beranjak menjauh dari Nik. Dia menjatuhkan
tangannya di sisi tubuhnya dan rahangnya mengetat. Aku
menyiapkan sepiring sandwich keju panggang untuk Drake dan
menyodorkannya sekantong keripik sebelum menyiapkan sandwich
untukku sendiri. Jantungku berdetak terasa seperti aku akan mati dan jemariku
gemetar saat aku mulai menyusun bacon dan tomat di atas keju
panggangku. Yang lainnya turut bergabung dan kami semua duduk untuk
menikmati hidangan bersama. Ini terasa nyaman, sungguh sangat
menyenangkan. Kami jarang makan seperti ini. Biasanya hanya
makanan siap saji dan terburu-buru, tidak pernah masakan buatan
sendiri dan tidak pernah bersama-sama.
Liburan kali ini sungguh senilai dengan setiap sen uang yang aku
benci untuk dihabiskan. *** Tidur siang sangat menyenangkan. Tidur malam adalah surga.
Aku tidur lebih banyak dalam dua hari terakhir ini daripada mingguminggu
sebelumnya. Aku tertidur di kursi panjangku setelah makan
siang kemarin. Kemudian pagi ini aku tidur hingga siang setelah
pergi tidur jam 8 malam tadi malam. Dan sekarang sudah hampir
jam 3 sore dan mataku sudah terasa berat lagi.
Menguap, aku melempar bukuku ke handuk pantai di samping
kursiku dan meregangkan lenganku hingga ke atas kepalaku. Ketika
aku melakukan itu, bahan kain dari atasan bikiniku mengencang dan
aku menyadari sesuatu yang tidak aku sadari sebelumnya.
Payudaraku besar! Tampaknya kurang lebih naik satu ukuran lebih
besar dari ukuran normalku. Kabar ini menggembirakan hatiku dan
aku nyengir saat aku menutup mata. Hal kehamilan ini ternyata tidak
begitu buruk juga... Tetesan air dingin menyentuh kulitku dan aku menjerit ketika aku
tersentak dari kursiku, kaget terbangun dari tidur indahku. Sambil
melotot pada Nik, aku mendorong kacamataku dari wajahku ke
rambutku. "Brengsek kau!"
Dia tertawa kecil dengan suara khasnya yang dalam dan seksi lalu
menjatuhkan diri di samping kursiku. Celana renang basahnya
menekan paha hangatku yang telanjang dan aku memukul perutnya.
"Kau membeku, Nik. Apakah airnya begitu dingin?"
"Tidak. Terasa pas untukku." Dia menarik kacamata dari kepalaku
dan memakainya di matanya. "Ini bagus." Dia memindahkan
lengannya hingga kepalaku berbantalkan bahunya daripada gulungan
handuk pantai yang sebelumnya kupakai. Dadanya sungguh dingin
untukku tapi aku meringkuk mendekatinya hingga kepalaku dapat
bersandar di dadanya. "Ayo kita membeli sebuah rumah di pinggir
pantai. Bukan yang seperti itu, tapi sesuatu yang menyerupainya.
Yang lebih besar." Kubiarkan lengan hangatku memeluk pinggangnya, merasa nyaman
didalam pelukannya. "Sungguh?"
Dia mengangguk. "Aku suka pantai. Dan kau kelihatannya bahagia
disini. Kita tidak bisa tinggal selamanya di bus tur dan kamar hotel,
Em. Terutama sekarang." Jemarinya mengelusku lenganku naik
turun. "Apakah kau ingin tinggal di Florida atau di California?"
"Aku tak perduli." Dan memang aku tidak perduli. Sepanjang aku
bersama orang-orang yang kucintai, aku yakin aku bisa tinggal
walau itu di kotak kardus.
"Aku akan menelpon Rich nanti dan menyuruhnya mencari seorang
makelar. Aku ingin kita mendapatkan rumah sebelum musim panas
ini berakhir. Dan aku ingin mengatakan padanya bahwa tur untuk
musim gugur ini dibatalkan. Kita tak bisa banyak bepergian dengan
usia 7 bulan kehamilanmu."
Kepalaku mendongak. "Tunggu. APA" Kau tidak bisa membatalkan
tur." "Tentu aku bisa. Kau tidak bisa ikut tur dengan kami selama hamil,
Em. Dan aku tidak ingin meninggalkanmu seperti itu di rumah. Rich
akan bisa mengatasinya." Dia membuatnya terdengar seperti masuk
akal, tapi itu hanya makin membuatku merasa bersalah. Dia
membatalkan sesuatu yang besar, hanya untukku. Aku tak bisa
membiarkannya berkorban sebesar itu.
"Nik..." Dia mendorong kacamataku ke rambutnya. "Jangan berdebat
denganku, Emmie. Tidak ada satupun yang kau katakan akan
mengubah pikiranku. Ada hal yang lebih penting dibanding dengan
tur bodoh sialan itu."
Aku rasa aku jatuh cinta sekali lagi padanya saat ini. Aku tak bisa
menahan senyum yang mengembang di wajahku saat aku kembali
bersandar di otot dadanya yang keras. "Terserah apa katamu, Nik."
"Itu benar, sayang." Kami berdua tertawa dan kemudian kurasakan
bibirnya di rambutku. "Mari kita tidur siang. Aku kelelahan."
"Ide yang bagus." Aku bergeser sehingga kakiku terjalin dengan
kakinya. "Kemudian kita bisa pergi makan malam." Jemarinya tertaut di
rambutku sambil dia memijat kulit kepalaku. "Hanya kau dan aku."
Kepalaku mendongak lagi. "Seperti...kencan?"
Ada sebuah senyuman di bibir 'cium aku' nya yang sempurna. "Sama
seperti sebuah kencan, baby girl."
*** Bab 12 Bagaimana bisa aku tidak punya baju untuk di pakai"
Aku punya celana jins, dan baju, dan pakaian dalam. Tapi aku tidak
punya apa-apa yang dianggap seksi, atau pantas untuk dipakai
berkencan. Celana jinsku mahal tapi sudah usang, dengan robekan
yang tak seharusnya ada disana, dan berjumbai karena sering di cuci.
Semua bajuku adalah baju kaus T-shirt dan sembilan dari sepuluh
dari baju-baju itu memilki logo Demon's Wings. Bra dan celana
pendekku adalah katun dan merupakan hal yang paling tidak seksi
yang pernah aku lihat. Dengan tersedu-sedu aku jatuh ke tempat tidur dan memandang ke
kamar berantakanku. Semua pakaianku yang terlempar dari tasku
berserakan di sekitar kamar. Bahkan ada bra yang tergantung di
kepala ranjang. Aku tidak bisa pergi di kencan pertamaku dengan
Nik, Sial, kencan pertamaku satu-satunya dengan jins dan T-shirt!
Ada ketukan tajam di pintu kamarku yang tertutup sebelum itu
terbuka dan Nik menjulurkan kepalanya kedalam. "Hai sayang, kau
siap..?" suaranya mengecil dan matanya melebar ketika melihat
kekacauan yang telah aku lakukan pada kamarku di lima belas menit
terakhir. "Em?"
Isakan lain lolos dari mulutku. "Aku tidak punya apa-apa untuk di
pakai." Alisan menaik dengan cara yang begitu manis yang sangat aku sukai
dan dia melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kamar. "Kamarmu
memberi kesan dengan berbeda, baby. Ada apa?"
"Semua yang aku miliki adalah jins bodoh dan semua bajuku
memiliki logo Demon's Wings. Aku tak memiliki satupun gaun yang
mengagumkan! Bahkan satu rok pun aku tak punya. Semua celana
dalamku terbuat dari katun dan braku terlihat membosankan." Aku
mengambil gulingku dan memeluknya di dadaku.
Dia memiringkan kepalanya kesamping. "Dan kau menginginkan
kan sebuah gaun dan rok, dan pakaian dalam yang tidak
membosankan" Meskipun aku katakan padamu kenyataan bahwa bra
yang tergantung pada tonggak tempat tidurmu itu sangat sangat
seksi?" Aku melemparkan sebuah tatapan tajam padanya. "Aku ingin
sesuatu yang bisa aku pakai di kencan kita sehingga kau akan
menginginkan untuk melepaskannya dari tubuhku dengan gigimu.
Aku ingin jadi seksi!"
Cuping hidungnya mengembang dan dia berbalik menjauh. Sebelum
aku bahkan sempat berpikir apa yang sedang dia lakukan, dia
mengunci pintu di belakangnya dan tiba-tiba di depanku. "Berdiri,
Em." Ketika aku tidak bergerak dia mengambil tanganku dan menari
ku agar berdiri. Jari-jari lembut mengangkat daguku, memaksaku
untuk bertemu dengan pandangan intens biru dinginnya. "Pernahkah
aku berbohong padamu, baby girl?"
Menggigit bibirku, aku menggeleng. Nik selalu mengatakan
kebenaran padaku. Mungkin dia menyembunyikan beberapa hal
dariku, tapi dia tidak pernah berbohong padaku. Tidak pernah.
"Jadi dengarkan aku, karena aku tidak mau mengulanginya lagi,
oke?" aku mengangguk, tertawan oleh caranya menatap kebawah
padaku dari tinggi badannya yang 6 kaki 3 inchi. "Kau adalah wanita
paling seksi yang pernah aku temui. Kau tak butuh lebih dari
sepasang jins robek, baju compang camping, dan pakaian dalam
yang kasar dan aku ingin menelanjangimu dengan gigiku. Sial, kau
membuatku keras hanya dengan berada di satu ruangan yang sama.
Jika aku mencium parfummu, atau apapun yang kau pakai itu
membuat arom mu menakjubkan, aku tak bisa berjalan dengan
benar." Aku lupa cara bernapas. Semua kekuatan otak ku hanya terfokus
pada bibirnya saat mereka membentuk kata-kata gila bermakna
dalam penuh kasih sayang. "Jika kau menginginkan semua itu maka
kita akan mendapatkannya. Malam ini, besok. Kapanpun kau mau.
Namun, jangan membelinya kecuali jika kau menginginkannya,
karena aku lebih menginginkanmu sekarang berdiri disana dalam
kaus kebesaran dan jins pendek itu daripada dalam gaun atau
lingerie." "Be-benarkah?" Suaraku keluar berupa desahan.
"Sungguh." Jarinya menyusuri pinggang celana jinsku, membuat isi
kepalaku berenang dalam hasrat. "Jadi apa yang kau inginkan, Em"
Mau aku bawa berbelanja?"
"Ya." Karena aku masih merasa tidak seksi meskipun dia berkata
begitu. Lidahku menjilati bibir keringku. "Tapi...besok."
"Besok?" Suaranya merendah, menjadi desahan seduktif yang aku
ingat dari malam kami bersama. "Jadi kencan kita batal?"
Aku menggelengkan kepalaku "Tidak, aku hanya ingin melewati
makan malam dan langsung ke ciuman selamat malam." Dan saat ini
aku ingin berbahagia pada fakta bahwa dia benar-benar tahu bahwa
akulah yang dia cium. "Dan mungkin melihat seberapa hebat kau
menelanjangiku dengan gigimu."
Dia menyeringai dengan ganas, menyebabkanku menggigil nikmat.
"Aku pikir aku bisa bersedia melayanimu Nona."
*** Baiklah, aku akan jadi orang pertama yang mengatakan bercinta
dengan Nik bukanlah sebuah ide bagus. Tapi sial, jika itu bukan ide
terbaik yang pernah aku miliki. Pria itu memiliki talenta, aku tahu ini
di malam pertama kami bersama. Pria bisa menggunakan lidahnya
dalam banyak cara yang membuatku memohon untuk dikasihani.
Malam pertama kami bersama tidak ada apa-apanya dengan tadi
malam. Mungkin karena aku tidak harus merasa bersalah karena
memanfaatkannya. Atau harus menyembunyikan bagaimana semua
perasaanku tentangnya. Mungkin karena saat ini dia sadar dan
meneriakkan namaku ketika dia datang, daripada "baby". Atau
mungkin karena setelah itu, sebagai ganti tertidur dia malah berbalik
padaku sehingga punggungku berada di dadanya dan memelukku
sampai tertidur di lengannya.
Apapun alasannya ini adalah keajaiban dan aku bangun pagi
berikutnya dengan perasaan seperti aku bisa mengapung. Dia masih
menempel di punggungku, dengan satu tangan meraup payudaraky
dan tangan satunya lagi berbaring dengan cara melindungi dimana
anak kami bertumbuh di perutku. Ini adalah cara sempurna untuk
bangun dan aku menginginkan itu setiap pagi selama sisa hidupku.
Bibir hangat membelai leherku. "Pagi, baby." Dia bernapas di
telingaku. "Bagaimana tidurmu?"
"Jika aku katakan ini adalah malam terbaik yang pernah aku rasakan
akankah kau percaya padaku?"
Aku merasakan senyumannya pada bahuku. "Ya, karena ini juga satu
dari malam terbaik yang pernah kurasakan juga."
Aku benar-benar tidak senang dengan jawabannya. Berbalik dalam
lengannya aku memegang dagunya dan bertemu dengan mata


The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berbinar miliknya "Satu dari yang terbaik?"
Dia mengangguk. "Yup."
Mata hijauku menyipit. "Apa yang lainnya?"
Dia menyeringai. "Coba aku pikir dulu... seminggu yang lalu ketika
kau merayap disampingku dalam bus. Ketika kau tidak bisa tidur
tahun lalu dan menghabiskan malam di kamarku di hotel mengobrol
denganku sampai aku tertidur..." dia mengangkat bahu. "Semua itu
kelihatannya melibatkanmu tidur di lenganku."
Oke, jadi aku dengan jelas lebih bahagia dengan jawaban itu. Tidak
banyak wanita yang bisa, terutama ketika seorang seseksi seperti
Nikolas Armstrong mengatakan semua itu padanya! "Aku tidak tahu
kenapa aku mempertahankanmu kadang-kadang Tuan."
Dia mengerjapkan bulu mata tebal itu padaku dan aku terpaku
sejenak oleh keindahan mendalamnya ketika menggantung di mata
biru esnya. Tuhan, aku akan membunuh untuk bulu mata seperti itu!
Berwarna lebih gelap dari pada rambutnya, bulu matanya
menakjubkan. Ini tidak adil bahwa matanya sangat menawan.
"Ayo mandi, baby. Aku lapar."
Karena saran agar bangun dan makan darinya, perutku berbunyi. Nik
menyeringai padaku. "Bagaimana dengan beberapa bacon?"
Aku tertawa. "Aku akan membenci bacon setelah semua ini
berakhir." "Mungkin," dia menciumku, cepat, kuat namun tidak terlalu kuat.
"Sekarang angkat pantatmu yang seksi itu sehingga kita bisa makan.
Aku butuh makanan, wanita. Makanan."
*** Bab 13 Aku tidak mempunyai teman wanita. Aku dibesarkan oleh empat
rocker. Hal ini sedikit tidak mengherankan jika aku tidak tertarik
untuk berbelanja. Kemarin malam untuk pertama kalinya aku ingin
memiliki gaun. Bayi ini begitu membuatku kehilangan pikiranku!
Semua yang aku inginkan adalah untuk merasa cantik, seksi. Tetapi
aku tidak ingin menghilangkan jati diriku. Aku tidak ingin gaun
desainer. Aku mungkin akan muntah jika aku menghabiskan lebih
dari seratus dollar untuk pakaian. Jadi aku berakhir di mall.
Di sebuah mall pada hari Rabu di kota turis" Yeah, ini adalah ide
yang bagus. Tidak! Apakah kamu punya ide berapa banyak gadis remaja berada di
sebuah mal pada hari Rabu di musim panas" Aku yakin kau tidak
mengetahuinya, dan aku juga yakin bahwa Nik juga tak
mengetahuinya. Jadi ketika kami masuk ke American Eagle dan
gadis pelayan toko berdiri dengan kemeja yang belum selesai di lipat
berada ditangannya menjerit aku hampir melompat keluar dari
kulitku karena aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi.
"Oh Tuhanku. Oh Tuhanku. Oh Tuhanku!" Gadis itu berada didepan
Nik bahkan sebelum aku mengetahui darimana teriakan itu berasal.
"Kau Nik Armstrong." Dia berteriak lagi, menyebabkan semua orang
yang berada di dalam dan di luar toko berhenti dan melihat apa yang
sedang terjadi. "Aku ini penggemar beratmu. Aku Meg."
Aku tahu saat itu juga bahwa aku tidak akan berbelanja apapun hari
itu. Sepertinya begitu Meg menyebutkan nama Nik dengan lantang
seketika itu pula Nik dikelilingi oleh gadis-gadis yang terengahengah. Salah
satu dari mereka benar-benar mendorongku keluar dari
jalannya sehingga dia bisa lebih dekat pada Nik. Berpasang tangan
berada di seluruh tubuhnya, ingin memiliki kenangan menyentuh
rocker yang mungkin menatap dalam mimpi basah mereka.
Aku harus menyembunyikan perasaanku untuk Nik selama setahun
dari sekarang. Walaupun itu membunuhku dari dalam aku tidak akan
membiarkan melihat berapa banyak gadis jalang yang
menyentuhnya-atau lebih buruk, yang tidur dengan Nikmenggangguku. Tapi hari ini
aku tidak bisa bersembunyi di balik
dinding-dinding yang aku bangun untuk saat seperti ini. Aku hamil
dengan bayinya, Sialan! Nik menghabiskan berjam-jam membuatku
datang ke dalam pelukannya semalam sebelumnya.
Jadi sementara dia tersenyum dan tertawa dan membiarkan mereka
menyentuhnya aku berbalik dan pergi. Kecemburuan memakanku
seperti penyakit dan aku begitu marah pada Nik karena membiarkan
mereka menyentuhnya, bahwa dia membiarkan mereka
mendorongku keluar seperti aku tidak berarti. Bagian otakku yang
lebih rasional mencoba untuk memahami hal itu. Berusaha untuk
membuatku melihat bahwa dia hanya memainkan bagiannya,
bermain berlebihan pada penggemarnya. Tetapi sebagian besar
penggemar yang datang lebih banyak penggemar perempuan
Demon's Wing aku sanksi jika mereka bahkan mendengarkan musik
mereka. Atau apakah itu hanya tentang tidur bersama seorang rocker
seksi" Dari apa yang telah aku saksikan selama bertahun-tahun
alasan yang terakhir lebih mendekati garis kebenaran daripada
alasan yang pertama. Teleponku mulai memainkan Ashes oleh Demon's Wing dan aku
mendelik turun pada benda yang berada dalam genggamanku untuk
melihat wajah Nik tersenyum kearahku di layar iPhone. Alih-alih
menjawab aku naik ke eskalator dan pergi ke lantai dua. Aku tidak
dapat menghadapinya sekarang. Tak ada yang tahu apa yang akan
aku lakukan jika aku melihatnya saat ini.
Menampar wajah tampannya" Menendang tepat di bolanya"
Mengakui bahwa aku obsesif jatuh cinta padanya" Aku tidak akan
melakukan itu. Sudah cukup buruk bahwa ia tahu betapa aku
menginginkannya, sejauh aku akan membungkuk hanya untuk
masuk ke dalam celananya.
"Em?" Aku tidak melihat kerel ketika aku mendengar dia panik dan
memanggil namaku dari lantai bawah. Biarkan dia khawatir. Beri
waktu lima menit dan dia akan dikelilingi oleh gadis-gadis lagi dan
aku hanya akan menjadi yang kedua. Persetan dengan itu, dan
setubuhi saja dia! Sebuah toko menarik perhatianku dan aku pergi tanpa berfikir
tentang hal tersebut. Sekarang, ini adalah toko yang aku inginkan.
Renda kulit hitam, rantai, sutra dan berlubang. Oh, fvck yeah! Ada
seorang gadis yang murung di belakang meja yang cemberut padaku
ketika aku masuk ke dalam. Dia mempunyai semacam majalah rock
di meja yang berada di depannya dan setelah menentukan bahwa aku
tidak layak untuk waktunya, dia kembali ke artikel di depannya.
Aku tersesat dalam membeli pakaian. Celana dalam seksi berwarna
hitam, bra yang cocok. Potongan tinggi dan garter. Gaun hitam
berteriak bahwa itu dibuat untukku. Sebuah rok dengan rantai di
kedua sisinya. Atasan yang memamerkan aset baruku. Sepatu,
sepatu, dan sepatu lagi yang cocok dengan semua pakaian gelapku
yang seksi. Aku memastikan untuk mendapatkan semuanya dalam ukuran yang
lebih besar jadi aku akan mempunyai sedikit ruang untuk tumbuh
karena kehamilanku akan segera terlihat. Dan saat aku mencoba
sepatu aku menyadari bahwa satu nomor lebih besar dan lebar-lah
yang aku butuhkan, tapi itu tidak mengejutkanku. Aku telah
membaca tentang kaki beberapa wanita tumbuh seperti itu ketika
mereka hamil. Itu aneh tapi nyata.
Gadis di belakang meja menatapku selama aku melemparkan
barang-barangku di atas meja. "Apakah kau menemukan barang
yang kau cari?" tanyanya.
Aku melihat rambutnya di cat hitam, tindikan di hidung dan alisnya,
tato demon di lengan kanannya dan aku merasa menemukan
semacam semangat. Seandainya aku mengenal gadis ini ketika aku
tumbuh dewasa dia akan memiliki kemungkinan besar berakhir
sebagai sahabatku. "Semua yang aku miliki adalah celana jins dan
kemeja Demon's Wings bodoh itu. Sudah waktunya untuk
perubahan." Mata gadis itu menyempit padaku. "Kemeja Demon's Wing tidak
bodoh. Aku memiliki enam dari mereka."
"Maka kau memiliki selera yang sangat bagus dalam musik. Tapi
aku butuh sesuatu yang menjeritkan kata seksi, bukan gadis rocker di
pintu sebelah." Dia mulai mengambil pakaianku dan aku berpaling
untuk melihat rak perhiasan dibelakangku. Ada benda-benda kecil,
beberapa dari mereka paling mahal hanya dua puluh dollar. Tetapi
mereka sangat indah. Iblis seksi dengan sayap dan tanduk perak
bernoda menggantung dari mencuri perhatianku dan aku
melemparkan itu ke atas meja dengan barangku yang lainnnya.
Bagian samping dengan cincin pusar yang berikutnya dan aku
menemukan beberapa yang aku suka. Beberapa anting hidung dan
aku selesai. Ada delapan kantong penuh saat gadis itu telah selesai memindai
barang-barangku ke dalam komputer. Aku menyerahkan kartu kredit
dan melihat mata gadis melotot saat dia melihat nama di kartu kredit.
"Nikolas Amstrong?" Dia tergagap dan melihatku lebih dekat. "Itu
kau. Aku berpikir kau terlihat familiar. Kau adalah Ember Jameson!"
Aku tersenyum pada gadis itu. "Ya."
"Kau adalah gadis terkeren di dunia." Dia menggesek kartunya
sebelum mengembalikannya. "Aku suka poster Demon's Wings
dengan kau menempel pada Jesse Thornton. Sialan aku akan
membunuh untuk menjadi dirimu."
Itu membuat senyumku menghilang. "Tidak. Kamu tidak akan." Aku
meyakinkannya. Hidupku mungkin terlihat sempurna sekarang,
tetapi tidak ada seorangpun yang berharap untuk hidup seperti ku
saat tumbuh dewasa. Tidak ada yang layak mimpi buruk semacam
itu memenuhi masa kanak-kanak mereka.
Ada keributan di luar toko dan aku berbalik untuk menemukan tiga
penjaga berdiri di luar dengan wajah Nik pucat dan panik. Aku
melirik teleponku dan melihat bahwa aku telah di toko selama lebih
dari satu jam. Sial! "Nik!" Aku memanggilnya saat dia melewati
toko. Kepalanya tersentak dan dia bergerak lebih cepat daripada yang
pernah kulihat saat dia memasuki toko dan menarikku ke dalam
pelukannya. Seluruh tubuhnya gemetar, jari-jarinya gemetar ketika
mereka menyusup ke dalam rambutku dan menyentak kepalaku ke
belakang untuk bertemu dengan mata birunya. "Jangan pernah
melakukan itu padaku lagi!"
Sebagian besar amarahku pudar saat aku berbelanja, jadi aku berdiri
dan memberinya kecupan di pipi. "Aku pikir kau sedang bersenangsenang dengan
klub penggemarmu jadi kau tidak akan
merindukanku." Matanya menyipit. "Apakah kau cemburu?"
Aku menjauh darinya dan berpaling pada gadis di belakang meja
yang sedang menatap Nik dengan heran. Itu tidak mengangguku kali
ini, aku tahu gadis itu adalah penggemar sejati dari band, tidak hanya
karena wajah tampan para personelnya. Aku melihat name tagnya
dan memberikan senyum menghargai. "Terima kasih untuk semua
bantuanmu Beth. Nik, Beth telah sangat membantu hari ini. Aku
menghabiskan tiga ribu tanpa menyadarinya."
Nik mengangkat alis tetapi gadis itu mempersembahkan seringai.
"Terima kasih, Beth."
Aku menarik keluar salah satu dari atasan yang baru saja aku beli,
yang abu-abu, dan meraih spidol di atas meja samping komputer.
Aku menuliskan namaku di belakang dan kemudian menyerahkan
spidol ke Nik tanpa melihatnya. "Tuliskan alamatmu untukku dan
aku akan mengirimkanmu poster yang paling kamu suka dengan
tanda tanda tangan semua personel di atasnya."
"Itu..." Dia menggelengkan kepalanya. "Itu sangat luar biasa. Terima
kasih!" Aku mengangkat bahu menonton coretan tangannya di selembar
kertas kecil. "Tidak apa-apa. Aku suka bertemu dengan penggemar
sejati Demon's Wing. Terima kasih sekali lagi." Nik mengangkat
delapan tas dan mengikutiku keluar toko dengan mengedipkan mata
pada gadis itu. *** Bab 14 Aku tidur sendirian malam itu. Panggil aku kekanak-kanakan dan
tidak dewasa, aku tidak peduli. Aku menyebutnya perlindungan.
Setelah peristiwa di mal dan pertempuranku dengan kecemburuan
aku tidak bisa menangani menghabiskan satu malam lagi di lengan
Nik tanpa mengabaikan perasaanku.
Jadi aku mengunci pintuku ketika aku pergi ke tempat tidur malam
itu dan tidak bergerak ketika aku mendengar ketukan Nik. "Em,
jangan lakukan ini." Dia memanggil, tapi aku baru saja menempati
tempat tidurku. Pagi ini aku sudah mandi dan berpakaian, tapi aku belum siap untuk
turun dan bersikap baik kepada semua orang. Jadi aku duduk di
tempat tidurku dengan rambutku masih basah dan laptopku terbuka.
Ada beberapa email yang aku harus tangani dari Rich. Dia tidak
senang para priaku tidak akan mengikuti tur pada bulan September
dan aku tidak terkejut. Aku tidak tahu seberapa banyak Nik berbicara
kepada manajernya, tapi aku sadar bahwa bajingan itu menyalahkan
aku. Setelah menangani bisnis pada akhir email-emailku aku menyambar
ponselku, mengambil gambarku dengan memberikannya jari tengah
dan mengirim pesannya ke Rich Branson. Ya, aku benar-benar peduli
soal apa yang dia pikir tentang aku. Terserahlah.
Aku sedang berselancar di dunia maya mencari ulasan ahli
kandungan/kebidanan lokal ketika aku mendapat pesan balasan.
Kehamilan telah benar-benar TIDAK menenangkan kejalanganmu,
Princess. Alih-alih menelepon untuk berteriak padanya karena memanggil aku
'Princess', aku hanya mengirim kembali gambarku memberinya jari
tengah dan melemparkan teleponku ke samping. Satu jam kemudian
aku keluar dari kamarku dan turun ke bawah. Jesse sedang menonton
film zombie menjijikkan pada layar datar di ruang tamu dan aku
berharap aku punya waktu untuk duduk dan menonton bersamanya.
"Mau ke mana?" Dia bertanya ketika aku mengambil kunci mobil
SUV. "Aku mendapatkan sebuah janji dengan dokter kandungan yang
bagus." Aku berkata melewati atas bahuku. "Mereka mendapatkan
pembatalan janji kunjungan siang ini dan mampu menyisipkan untuk
masuk. Aku harus segera pergi atau aku akan terlambat."
Dia mengikuti aku keluar pintu. "Dimana Nik" Tidakkah kau pikir
dia harus pergi denganmu" "Aku mengangkat bahu. "Dia tidak ada
di kamarnya dan aku tidak punya waktu untuk khawatir tentang hal
itu." Aku naik ke kursi pengemudi dan mulai mengetuk alamat
kompleks medis ke dalam GPS.
Jesse melompat di sampingku. "Seseorang harus pergi denganmu."
Dia memberiku tatapan taja, yang mengatakan kepadaku untuk tidak
berdebat. Bukan berarti aku akan melakukannya. Aku sangat senang
untuk memiliki teman dan dukungan dari seseorang yang
mencintaiku. Dengan tersenyum aku mundur dari jalan masuk dan berbalik
menuju Panama City. Stafnya ramah dan profesional. Aku harus mengisi formulir yang tak
terhitung jumlahnya ketika aku tiba. Asuransi, keluarga dan riwayat
kesehatan pribadi. Ada sebuah halaman seluruhnya tentang periode
haidku. Kapan periode pertamaku" Berapa hari lamanya periode
terakhirku" Seberapa sering siklusku" Di bagian belakang ada lebih
banyak pertanyaan pribadi. Berapa banyak pasangan seksual yang
Anda miliki" Apakah Anda pernah/sedang menderita STD (Sexual
Transmitted Disease = PMS, Penyakit Menular Seksual)"


The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jesse duduk dengan sabar di sampingku sementara aku mengisi
semuanya dan masuk denganku ketika perawat memanggil namaku.
Aku tidak melupakan bahwa Nik seharusnya bersamaku hari ini.
Dan aku merasakan kebutuhan untuk kehadiran saat kunjungan ini
melelahkanku. Aku mencoba menelponnya dua kali sementara kami menunggu
dokter untuk datang, tapi ia tidak menjawab. Aku menyimpulkan dia
membalasku karena tidak membiarkan dia masuk ke kamarku tadi
malam. Ketika Dr. Morgan melangkah ke ruangan aku terkejut betapa
cantiknya dia. Pada akhir usia tiga puluhan, dia memiliki kecantikan
yang awet. Aku pikir dia akan menjadi secantik ini ketika dia berusia
delapan puluh. Dia memberiku senyum yang menyenangkan dan
menjabat tanganku. "Halo Ember. Senang bertemu Anda." Dia
menawarkan tangannya untuk Jesse. "Apakah kau Ayah si baby?"
"Tidak, Bu. Hanya teman."
Dr. Morgan mengangkat satu alisnya, tapi tidak berkomentar saat ia
duduk dan meletakkan iPad di atas meja kecil di samping kursinya.
"Nah, Ember, ceritakan sedikit tentang kehamilan Anda."
"Aku sembilan belas minggu dan bayi ini perempuan." Aku tidak
yakin apa yang dokter inginkan, tapi itu semua yang aku benar-benar
tahu tentang kehamilanku.
"Dan kau baru-baru ini mengetahuinya?" Aku mengangguk. "Oke.
Nah, biarkan aku memberitahu Anda tentang beberapa hal yang
perlu kita lakukan. Kita harus melakukan beberapa cek darah dan
aku perlu melakukan Pap smear. Ini semua adalah tes rutin untuk
memastikan bahwa Anda dan bayi Anda sehat. Karena Anda sudah
begitu jauh dalam kehamilan Anda, aku ingin melakukan USG lain
untuk mendapatkan beberapa pengukuran dan untuk
mengkonfirmasi tanggal kelahirannya. "
"Oke." "Bagus." Dia menarik sebuah perangkat kecil dari saku mantelnya.
"Pertama aku ingin mendengarkan detak jantung bayi apakah baikbaik saja?"
Aku duduk dengan nyaman dan dokter menarik baju kausku ke atas.
Sedikit gel kecil di ujung perangkat dan dia mendorong itu pada
perut bawahku. Dia menggerakkan alat itu beberapa kali dan
kemudian ruangan itu dipenuhi dengan suara yang tidak salah lagi
adalah detak jantung bayiku.
"Itu menakjubkan." Jesse berbisik dari kursinya diseberang dinding.
Aku memberinya senyuman. "Aku tahu."
"Sial, Em. Ini kenyataan, ya" Kau benar-benar memiliki seorang
bayi. "Dia mengusap tangannya di atas kepalanya yang botak.
Dokter tertawa pelan. "Tidak diragukan lagi ada bayi di sana.
Kedengarannya bagus. Sebuah detak jantung yang kuat. "Dia
menjauhkan perangkat itu dan menggunakan kertas tisu untuk
menyeka gel dari kulitku. "Sekarang untuk bagian yang tidak
menyenangkan, Ember." Dia menarik keluar sebuah gaun dan
selimut kertas dari lemari di bawah meja di mana iPad-nya berada.
"Semuanya dilepas. Aku akan melangkah keluar saat Anda melepas
baju. Gaun ini terbuka di depan."
Aku menunggu sampai dia pergi sebelum meraih bajuku. Jesse
berdiri dan berbalik sampai aku memakai baju dan selimut kertas
menutupiku. Aku tidak malu untuk kehadiran Jesse disini. Kami
merasa nyaman dengan tubuh kami dan sifat alamiah hubungan kami
sehingga ia telah melihat aku telanjang lebih dari beberapa kali.
Ketika aku mengalami menstruasi pertamaku Jesse lah yang
membelikanku tampon dan kemudian menunjukkan bagaimana cara
memakainya. Itu mungkin terdengar tidak pantas, tapi tak ada orang
lain untuk membantuku. Ibuku telah pingsan setelah malam dengan
minuman keras, ganja, dan laki-laki, dan aku telah takut apa yang
terjadi dengan tubuhku. Semenit kemudian dokter kembali dan aku punya pengalaman
pertamaku dengan penyiksaan yang disebut Pap smear. "Ini hanya
untuk memeriksa kanker serviks (leher rahim) dan PMS." Dr.
Morgan menjelaskan saat dia melakukan sesuatu yang membuat aku
merintih. Pada detik berikutnya itu telah selesai. "Terlihat bagus,
Ember. Leher rahim Anda bagus dan tertutup." Dia melepas sarung
tangan dan melemparkannya ke tempat sampah sebelum mencuci
tangan. "Perawatku akan datang dan mengambil darah. Jangan panik karena
dia akan mengambil beberapa vial." Dia melirik Jesse. "Pastikan dia
makan dengan segera." Dia mengangguk. "Aku ingin melakukan
USG tapi teknisiku sakit hari ini. Bisakah Anda datang kembali
besok pagi" " Aku senang untuk penundaan USG. Aku ingin Nik denganku untuk
melakukannya. Dia adalah sang ayah, orang yang aku cintai. Dia
harus denganku untuk melihat sesuatu yang ajaib itu. Kenangan
pertamaku saat USG telah membuatku jatuh cinta dengan makhluk
yang aku tidak tahu ada. Aku yakin bahwa pengalaman itu akan
meninggalkan kesan baginya.
Setelah kami meninggalkan ruangan itu aku merasa sedikit pusing
karena pengambilan darah dan Jesse membantuku menuju ke SUV.
Aku lebih dari senang untuk menyerahkan kunci sehingga ia bisa
mengemudi. Sebuah pemberhentian singkat di McDonalds karena
aku ingin Big Mac dengan bacon dan kami dalam perjalanan
kembali ke rumah pantai. Aku senang akan pulang rumah. Aku tidak sabar untuk berbicara
dengan Nik tentang pergi ke dokter denganku esok hari. Rasa
antusias melihat anak kami ketika bergerak dalam diriku akan
menjadi sesuatu yang akan menjadi salah satu momen terbesar
dalam hidupnya. Aku yakin akan hal itu.
*** Begitu Jesse memasukkan SUV ke dalam parkiran aku melompat
keluar dari kendaraan dan praktis melesat ke dalam. "Nik?" Aku
meneriakkan namanya, tapi tidak ada orang di rumah. Pergerakan
dari pantai menarik perhatianku dan aku berbalik untuk melihat Nik,
Drake, dan Shane keluar di pantai dengan sekelompok gadis-gadis
berbikini. Kegembiraanku menguap. Saat aku mendekati pintu Prancis yang mengarah luar ke pantai
hatiku retak terbuka. Nik memiliki dua dari lima gadis melilit
dirinya. Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya pada sesuatu
yang Shane katakan. Buah dada yang ukurannya tiga kali lebih besar
dari punyaku mengusap dada Nik karena terguncang oleh tawa.
"Apakah kita mengadakan pesta?" Tanya Jesse di belakangku.
Aku menelan sebuah ganjalan di tenggorokanku. "Sepertinya
demikian. Tapi aku tidak berpikir kita diundang." Merasa jijik aku
berbalik dan menuju tangga. "Jadi, kau akan pergi denganku besok
pagi?" "Kupikir kau ingin Nik untuk pergi denganmu."
"Aku tidak ingin apapun dari Nik!" Aku meyakinkannya saat aku
menaiki tangga. *** Bab 15 Hormon kehamilan adalah hal yang menakutkan. Mereka
meninggalkanmu pada tumpukan tisu bekas ingus dan bantal
lembab. Mereka membuatmu berpikir tentang hal-hal yang kau
secara normal tak akan pernah kau pikirkan sebelumnnya. Seperti
berlari menjauh dari satu-satunya kehidupan yang pernah kau
ketahui, dari orang-orang yang selalu menjaga dan mencintaimu.
Mereka membuatmu marah pada dunia.
Aku mengunci diriku sendiri di kamar dan menyalakan komputer.
Kami hanya berada di liburan bodoh ini kurang dari seminggu dan
aku sudah berharap ini segera berakhir. Aku ingin Nik dan yang
lainnya menghilang. Aku ingin mereka pergi. Aku ingin...
Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, oke!
Semenjak aku berumur lima tahun para priaku sudah ada di dalam
hidupku. Ketika aku pergi untuk hidup dengan mereka saat berumur
lima belas tahun aku tahu bahwa akhirnya aku pulang kerumahku
sebenarnya. Mereka pelabuhan amanku. Aku selalu berpikir bahwa
selama aku memiliki empat pria itu denganku, aku tak akan pernah
khawatir tentang apapun lagi. Namun sekarang aku merenungkan
untuk meninggalkan mereka! Itu adalah pikiran paling menakutkan
yang pernah masuk kedalam otakku.
Aku menghabiskan tiga jam mencari apa yang sebenarnya aku
inginkan lalu berhenti untuk mengecek rekeningku untuk melihat
apa yang aku miliki. Aku punya tiga juta dolar di tabunganku dan
sedikit lebih dari sejuta dolar di rekeningku. Ya, Rich membayarku
dengan baik. Sebut aku pengecut. Aku tak peduli. Tapi aku tidak akan bertahan
dan diperlakukan lebih dari apa yang aku saksikan ketika aku pulang
dari dokter. Aku tidak cukup stabil secara emosional untuk
menyembunyikan perasaanku ke lelaki bodoh itu dan aku tidak jadi
bodoh jika aku membiarkannya memilki jenis kekuatan itu atas
emosiku segera setelah ia menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya.
Mengepak barang-barangku adalah sesuatu yang telah aku kuasai.
Hanya kurang dari satu jam untuk memasukkan semua yang aku
butuhkan kedalam koperku. Setelah mandi aku duduk di ujung
tempat tidur dan menunggu sampai rumah menjadi sepi. Disana ada
musik mengalun di pantai tapi aku tidak meninggalkan kamar untuk
melihat apa yang sedang terjadi. Dari suara cekikikan wanita dan
suara tawa serak pria tak sulit menarik kesimpulan bahwa mereka
mengalami waktu yang menyenangkan.
Sekitar jam dua musik berhenti. Sesaat kemudian pintu terbanting
menutup dan akhirnya aku keluar untuk memeriksa semuanya.
Rumah gelap. Semua orang di tempat tidur, atau telah pergi
semenjak mereka memutuskan bahwa wanita-wanita itu tak akan
tinggal di rumah. Aku menolak untuk memeriksa kamar Nik untuk
menemukan dia masuk dalam kategori apa. Jika aku tak
menemukannya di tempat tidur maka aku yakin aku tak akan
bertahan. Kembali ke kamar, aku menelpon sebuah taksi kemudian mendorong
koperku ke lantai sepelan mungkin. Pengemudi taksi baru saja
sampai di halaman ketika aku melihat lampu menyala di lantai atas.
Jantungku berhenti saat aku menyadari itu adalah kamar Nik.
Gorden tersibak dan aku melihat wajahnya muncul di jendela. Aku
berbalik dan mulai melemparkan barang-barangku ke bagian
belakang taksi sebelum si pengemudi keluar.
Hanya tinggal tas besarku yang tertinggal. Aku dalam keadaan kalut
utuk pergi. Pengemudi baru saja mengangkat itu bersamaan dengan
pintu depan terbuka dan Nik datang berlari. "Em!'
"Tolong cepat." Aku memohon pada lelaki tua kecil itu.
"Berhenti!" Nik berteriak."Apa yang kau lakukan?" aku meraih pintu
belakang taksi tapi dia bisa menjangkauku sebelum aku bisa
membukanya. Jari-jarinya mengunci lenganku dan menyentakku
untuk berhadapan dengannya. "Kau akan kemana?"
"Jauh." Aku meludahkan kata itu padanya.
Sinar lampu jalan cukup memancarkan cahaya sehingga aku mampu
melihat wajahnya pucat karena marah. "Apa-apaan kau! Kau tidak
akan pergi. Kau tidak bisa pergi." Suaranya pecah dan pegangan
tangannya di lenganku mengencang menyebabkan aku meringis
kesakitan, tapi dia tidak melepaskanku. "Masuk kembali ke rumah."
"Kenapa?" Tuntutku. "Kenapa aku harus bertahan disini" Agar kau
bisa menyiksaku dengan semua pelacur itu" Dengan begitu kau bisa
menyombongkan padaku sesuatu yang tak pernah akan aku punyai?"
Tawa kering lolos dari mulutku. "Terima kasih, tapi tidak. Aku lelah
dengan semuanya. Lelah melihat perempuan yang berbeda masuk
dan keluar dari tempat tidurmu. Lelah memimpikan sesuatu yang
aku tahu tidak akan pernah bisa aku miliki."
"Apa yang kau bicarakan?" Dia menuntut. "Tak ada seorangpun di
tempat tidurku selama berbulan-bulan! Demi Tuhan, Emmie. Apa
kau buta" Tak bisakah kau melihat bagaimana perasaanku pada mu?"
Pertanyaannya membingungkanku. Aku tidak menahan kerutan
muncul di keningku. "Perasaan apa?"
Dia menutup matanya dan menggelengkan kepala. "Kumohon, Em.
Kembalilah masuk kerumah dan mari bicara. Jangan pergi, sayang.
Kumohon jangan pergi."
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Otakku berteriak padaku
untuk masuk kedalam taksi dan pergi. Ini bukan kehidupan yang
ingin aku berikan pada anakku.
Bagaimana mungkin aku membawa seorang anak kedalam
kehidupan kami yang tidak ada apa-apa selain pesta dan wanita
untuk para priaku" Namun hatiku bertengkar dengan otakku,
menyuruhku diam dan pergi dengan Nik.
Melihat kebimbangan di wajahku Nik menatap supir taksi dan
menyuruh pria itu membongkar barang-barangku. Dia memberi
banyak uang tip pada supir itu lalu memegang tanganku sampai taksi
itu keluar dari halaman dan menghilang ke dalam malam sebelum
meraih koperku. " ayo, baby." Dia mendorongku pelan.
Dengan diam aku mengikutinya kedalam rumah pantai. Dia
menjatuhkan tas-tasku di ruang masuk dekat pintu kemudian
menggenggam tanganku. Nik menarikku ke lantai atas dan masuk ke
kamarnya dimana ia mengunci pintu dan mendorongku duduk di
ujung tempat tidurnya. Masih menggenggam tanganku dia
membungkuk di depanku, memaksaku untuk melihatnya.
"Kemana kau akan pergi, Em?" dia berbisik dengan suara serak.
Aku mengangkat bahu. "Di suatu tempat disana tidak ada fans
fanatik dan pelacur di semua tempat aku berjalan."
Nik meringis. "Apa mereka benar-benar mengganggu untukmu"
Sekarang, setelah sekian tahun kau hidup bersama kami?"
Aku membelalak padanya. "Apa yang kau pikirkan" Haruskah aku
ingin memiliki bayi ini dan menempatkannya pada pelacur-pelaur itu
di kehidupan sehari-hari" Haruskah aku membiarkannya melihat
seperti apa kau sebenarnya: rocker angkuh yang harus memiliki
semua penggemar yang memujanya bergelayut di lengannya ketika
aku, ibunya, harus melihat dari samping?"
Kepalanya tersentak seolah aku secara fisik menamparnya. "Itu yang
kau rasakan" Seolah kau menonton dari samping?" Dia melepaskan
tanganku dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Tidakkah kau tahu bahwa aku ingin kau disampingku Em" Kau dan
hanya kau?" Dengusanku suaranya tidak indah. "Itu sungguh sulit untuk
membayangkannya, Nik. Dengan apa yang terjadi kemarin dan
semua pelacur itu memdorongku menjauh darimu begitu cepat. Dan
hari ini dengan dua pelacur yang menempel padamu seperti mereka
sangat kepanasan." "Jadi kau cemburu!" Dia menyeringai dan aku ingin memukulnya.
Atau bahkan mungkin menendangnya di tempat yang akan sangat
dia rasakan. Aku berdebat antara dua hal itu ketika dia tertawa benarbenar
gembira dan aku memutuskan bahwa tamparan terasa lebih
baik. Tamparan itu menghilangkan senyuman di wajahnya. Dia menatapku
terkejut sepenuhnya, jari-jarinya menyentuh jejak merah di
wajahnya. "Aku sangat senang bahwa kau menganggap
menyombongkan semua pelacur itu padaku lucu. Siapa yang peduli
jika sekeping demi sekeping hatiku mati setiap aku melihat itu,
benarkan?" "Oh sweetheart." Dia menggelengkan kepala. "Kau harus benarbenar membuka mata
hijamu indahmu itu."
Dia mengambil tanganku yang memerah berdenyut karena


The Rocker That Hold Me Karya Terry Anne di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menamparnya dan mencium bagian pusat yang sakit.
"Satu-satunya alasan semua gadis itu di pelukanku adalah agar aku
bisa menemukan kebenaran. Kemarin aku hanya menduga, tapi hari
ini aku memastikannya."
"Apa yang kau bicarakan?"
Sebuah senyuman miring menghiasi di bibirnya. "Aku harus tahu
untuk meyakinkan. Bahwa perasaanmu sama dalamnya seperti yang
kurasa padamu. Em, kau membuatku gila dengan kecemburuan.
Tahukah kau bahwa aku hampir membunuh sahabat terbaikku
beberapa kali sejak enam bulan yang lalu?"
Mataku melebar terkejut. "Jesse" Kenapa kau melakukan itu?"
"Untuk alasan yang sama kenapa aku menggila ketika kau
mengatakan padaku kau hamil. Aku tidak ingin siapapun bisa
menyentuhmu selain aku. Kau milikku, Em. Butuh waktu selamanya
bagiku untuk mengakui itu pada diriku sendiri, tetapi ketika aku bisa
mengakuinya, aku tak bisa menerima ide bahwa Jesse atau Axton
atau orang lain memegang tanganmu apalagi menyentuhmu." Dia
menggelengkan kepalanya. "Malam saat Ax membawamu ke rumah
sakit" Dia sudah menelponku sepuluh kali sebelum aku
mengangkatnya. Aku harus melihatmu membiarkannya menciummu.
Sial, aku tak bisa memandang lurus aku sangat cemburu. Kemudian
aku menyanyikan lagu itu dan berharap kau melompat ke pelukan ku
ketika aku berjalan turun ke bawah panggung...
"Namun kau menghilang. Aku menggila akan kemarahan. Kabur dan
menolak untuk menjawab telponku ketika pertama kali Axton
menelpon. Aku tak tahu apa yang telah terjadi padamu. Jadi ketika
akhirnya aku mendengar satu pesan yang dia tinggalkan aku..."
Dia tiba-tiba berhenti, menelan ludah dengan susah. "Kau sangat
sakit dan disana aku berakting seperti anak kecil pemarah karena kau
tidak jatuh kepelukanku seperti yang selalu aku mimpikan."
Mengingat lagunya membuat hatiku perih. Aku telah mencoba untuk
melupakan bahwa Nik telah jatuh cinta. "Aku tidak tahan terlalu
lama untuk mendengar lagumu. Aku mulai menjauh ketika aku
menyadari bahwa kau...jatuh cinta." kata terakhir keluar sebagai
sebuah bisikan dan aku menggit bibirku agar tak bergetar.
Nik maju kedepan sambil berlutut sampai aku merasakan napasnya
di leherku. "Sweet, sweet Emmie." Dia bergumam. "Masih saja buta.
Bagaimana bisa aku membuka matamu, baby girl" Kau butuh aku
untuk mengucapkannya" Apakah aku telah menjadi seorang bodoh
untuk tidak menyadari bahwa kau tidak bisa melihat apa yang telah
kau lakukan padaku?" bibirnya menyentuh bagian sensitif di bawah
telingaku, memnyebabkanku menggigil. "Ya, aku jatuh cinta. There
is this Ember in my heart that has hold of me and won't let go. (Ada
bara api di hatiku yang menggenggamku dan tidak akan terlepas)"
Dia menyanyikan bagian akhir lagu itu dan air mataku tumpah.
Aku menolak untuk melihat itu sementara aku mencoba dengan
putus asa untuk menyembunyikan perasaanku pada Nik, dia sedang
mencoba untuk memperlihatkan perasaannya sendiri padaku. Semua
hal tak pernah sama antara aku dan dia seperti antara aku dengan
Jesse, Drake, atau Shane. Selalu ada benang tak terlihat yang
menghubungkan kami, yang terikat ke dalam hatiku di tempat yang
berbeda dari dimana yang lainnya berada. Aku mengetahui itu ketika
aku ikut hidup dengan mereka saat aku berumur lima belas. Aku
tahu itu dan aku menolak untuk melihatnya karena ketika kau tak
punya apa-apa kau akan berjuang untuk apa saja yang kau punya dan
terlalu takut untuk kehilangan itu.
Itulah kenapa malamku dengan Nik sungguh mudah diterima dan
tersimpan di hatiku. Itulah kenapa begitu mudah untuk mencintai
janin yang sedang tumbuh di tubuhku ini. Nik dan aku ditakdirkan
untuk bersama. "Aku mencintaimu, Em. Dengan seluruh jiwaku aku mencintaimu.
Kau adalah mimpi terindahku yang menjadi nyata dan aku tak akan
pernah membiarkan kau pergi." Bibirnya membelai mataku,
menghisap air mataku. "Aku membutuhkanmu untuk bernapas. Kau
menjaga duniaku tetap melayang ketika semuanya menjadi gila."
"Aku sudah mencintaimu sejak lama Nik." Aku berbisik. "Kau
adalah pengeran kegelapanku yang berbaju baja ketika aku kecil.
Sekarang kau jadi alasanku untuk bangun setiap pagi. Beberapa
tahun terakhir, melihatmu masuk dalam lingkaran hubungan satu
malam, secara perlahan membunuhku. Aku dengan segera membenci
semua wanita yang memandangmu."
"Oh baby, aku sungguh minta maaf. Aku tak tahu." Dia menangkup
wajahku. "mereka tak berarti untukku, Em. Aku bersumpah. Mereka
hanya sesuatu yang mengalihkanku dari melakukan apa yang
seharusnya tidak aku lakukan. Ketika kau datang untuk hidup
bersama kami, aku telah menginginkanmu. Aku pikir aku berubah
menjadi seorang pedofil yang gila dan aku benci diriku sendiri."
Nik mengeluarkan sebuah desahan frustasi, dan aku mengerti
alasannya benci pada dirinya sendiri untuk semua perasaan itu. Aku
bukanlah satu-satunya yang memiliki masa kecil yang mengerikan...
"Kemudian aku menyadari itu hanya dirimu, namun itu tak
membuatku merasa lebih baik. Jadi aku menggunakan gadis lain
untuk mengambil pikiranku-dan hal lainnya-menjauh dari apa yang
paling aku inginkan."
"Mimpi-mimpi itu dimulai beberapa tahun yang lalu. Aku akan
terbangun tengah malam dengan kejantananku sangat keras dan
membutuhkan segenap kekuatanku untuk bertahan dari mencari
kehangatan dari pelukanmu sehingga aku bisa membuat mimpiku
menjadi nyata." Satu jari panjang mengusap bibir bawahku. "Itulah
kenapa malam kita bersama tidak mengejutkanku. Aku
mengabaikannya sebagai mimpiku yang lainnya."
"Aku pikir kau tidak tahu itu adalah aku. Aku membenci diriku
sendiri karena mengambil keuntungan darimu seperti itu. Tapi aku
hidup oleh kenangan itu." Aku menjalinkan jari-jari ku di rambut
tebalnya. "Malam itu lebih daripada apa yang pernah aku harapkan."
Dan malam ini...malam ini dia membuat semua mimpiku menjadi
kenyataan. Nik menyapukan sebuah ciuman lembut di bibirku, bertahan untuk
sesaat sebelum menarik diri. "Ketika kau pergi menjauh dariku di
mall itu aku sedikit gila. Aku tak bisa menemukan mu dan itu adalah
perasaan terburuk yang pernah aku alami. Sampai malam ini.
Melihat taksi itu dan menyadari bahwa kau akan
meninggalkanku...Jantungku benar-benar berhenti, Em."
"Aku tak bisa menangani semua gadis itu bergelayut padamu, Nik.
Aku sangat mencintaimu dan aku pikir..." air mata menyumbat
tenggorokanku dan aku tak bisa berbicara.
Dia menciumku lagi. "hanya satu cara untuk melihat bagaimana kau
cemburu, cintaku. Tak lebih. Segera setelah aku melihatmu menjauh
dari pintu aku melepaskan mereka dan mendorong mereka ke Jesse
segera setelah dia keluar. Aku tidak bertahan setelah itu. Aku
menghabiskan sisa malam menonton Sport Center dan meminum bir
di ruang tamu sementara aku merencanakan langkah berikutnya
untuk membuatmu melihat bahwa aku jatuh cinta padamu."
Kata-katanya menyembuhkan setiap retakan dalam hatiku. Tak
pernah terpikir aku akan sebahagia seperti aku di momen ini. Tak
pernah aku bermimpi bahwa Nik dan aku akan bersama, dan disini
dia memberikan ku segalanya yang pernah aku inginkan.
Cintanya! "Em, kau tidak akan pergi meninggalkan aku, bukan?" Dia berbisik
di bibirku. Dia terasa begitu nikmat aku mengerang.
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, takkan pernah."
Nik menyentuhkan hidungnya pada hidungku "Dan kau
mencintaiku, iya kan?"
"Ya." Aku mendesah saat dia menangkup payudaraku.
"Maukah kau menikahiku, Ember-ku?" Jari-jarinya bermain dengan
jari-jariku. Terjalin, membelai.
Sebuah sentakan kebahagiaan melalui tubuhku. Napasku tertahan di
dadaku dan aku tak bisa menghentikan air mata yang mengalir dari
mataku. "Ya." *** Epilog "Sungguh luar biasa bisa tampil disini untuk kalian, New York!"
Keramaian menggila, berteriak meminta lebih ketika Nik mengakhiri
konser. Ini adalah konser satu hari, yang merupakan tipe konserkonser Demon's
Wings akhir-akhir ini. Jarang di tur singkat seperti
ini mereka melakukan sebuah pertunjukan malam. Namun para fans
masih tetap kuat. Hanya karena mereka merubah gaya hidup bukan
berarti bahwa Demon's Wings kehilangan penggemar mereka.
"Kalian tahu bahwa kami mencintai kalian semua dan tidak bisa
melakukan ini tanpa kalian." Itu adalah cara Nik setiap mengakhiri
konser. Menunjukkan penghargaan dan memastikan bahwa seluruh
anggota band mendapat sorotan.
"Jesse Thornton pada drum mencintai kalian, Shane Stevenson pada
bass memuja kalian, saudaraku Drake disini tergila-gila pada
kalian." Nik menyentuhkan sebelah tangan ke dadanya. "Dan kalian
tahu bahwa dengan pengecualian dua perempuan istimewaku di
dunia kalian adalah hidupku."
Aku tersenyum lebar ketika ia berbalik dan meniupkan sebuah
ciuman padaku, cincin perak di tangan kirinya mencerminkan
cahaya matahari. Tuhan, aku jatuh semakin dalam pada lelaki itu
setiap hari! "Maka, dengan satu lagu terakhir kami akan
meninggalkan kalian. Namun ketahuilah bahwa kalian akan selalu
berada di hati kami!"
"Kalian tahu lagu ini. Telah diminati seluruh dunia, menjadikannya
nomor satu selama empat bulan berturut-turut. Bantulah aku,
bernyanyi bersama." Hatiku luluh saat aku mendengarkan untaian kata-kata yang sudah
menjadi bagian dari rutinitas malam kami selama dua tahun terakhir.
Sleeping Angel adalah lagu pengantar tidur malaikat kecil kami dan
Mia tak bisa tidur tanpa ayahnya menyanyikan lagu itu untuknya.
Tapi jangan berpikir bahwa hanya karena Nik menjadi seorang ayah
sekarang ia berubah menjadi lembut. Beberapa orang bertanya-tanya
apakah dia kehilangan sifat rockernya ketika Sleeping Angel
terkenal. Semua orang gusar karena mereka takut Demon's Wings
hanya akan menyanyikan semua lagu tentang cinta yang terlalu
sentimentil untuk wanita-wanita di kehidupan mereka.
Mereka tidak perlu khawatir. Nik masih memiliki banyak inspirasi
untuk ditulis. Hanya karena Sleeping Angel menjadi nomor satu
pada daftar lagu rock tidak berarti bahwa itu adalah lagu hits satusatunya yang
mereka miliki di album terbaru mereka. Musik mereka
bisa menjadi gelap seperti juga sebelumnya yang begitu sentimentil.
Mendengar Nik menyanyikan lagu favoritnya, balita dalam
pelukanku menggeliat dan aku meletakkannya untuk berdiri di
kakinya sendiri. Sebelum kau panik dan berpikir bahwa aku membawa balitaku pada
sebuah pertunjukkan rock, tenanglah. Kami baru saja meninggalkan
bus pribadi kami - bis yang telah di rancang untuk perjalanan sebuah
keluarga dengan seorang bayi - sesaat yang lalu setelah Mia bangun
dari tidur siangnya. Namun Mia selalu ingin melihat akhir
pertunjukan ayahnya. Untuk mengatakan bahwa dia adalah gadis
ayahnya merupakan pernyataan yang terlalu sepele.
Hal ini sedikit menghancurkan hatiku bahwa dia lebih memilih
ayahnya daripada aku, tapi aku belajar untuk menerimanya. Nik dan
aku telah berbicara tentang memiliki bayi lagi. Namun itu adalah
sesuatu yang ingin aku tunda sedikit lebih lama. Bahkan jika aku
hanya terbaik kedua bagi Mia, aku tak pernah lelah memanjakan
gadis kecilku ini. Memiliki bayi lagi sekarang akan menghilangkan
itu. Dia bergelung di kakiku, masih sedikit ketakutan dengan keramaian
yang selalu ada di konser Demon's Wings. Tapi karena ayahnya
duduk disana, di panggung dikelilingi oleh semua lelaki di hidupnya
yang Mia tahu tak akan pernah membiarkan dia tersakiti, dia
melepaskanku. Sebelum aku bisa beranjak dia telah berlari, kaki
kecil montoknya bergerak cepat daripada yang pernah aku lihat
sebelumnya. "Daddy, Daddy, Daddy!" Mia melemparkan dirinya sendiri ke
lengan terbuka ayahnya dan memeluknya erat sambil melanjutkan
bernyanyi hanya untuknya. "Tidurlah bidadariku." Nada suara Nik
melembut yang hanya dia berikan untuk Mia seorang ketika dia
bernyanyi untuknya saat tidur di pelukannya setiap malam.
Aku menggelengkan kepalaku, tahu bahwa pemandangan seorang
rocker besar dengan replika mungil dariku di dalam pelukannya
telah membuat wanita di keramaian jatuh cinta lebih dalam padanya
dalam sesaat. Namun itu tak masalah untukku.
Karena dengan pengecualian dari putri kami, aku adalah satusatunya wanita yang
menggenggam hati Nik. The End Pedang Penyebar Maut 1 Titik Muslihat Deception Point Karya Dan Brown Pendekar Laknat 4
^