Pencarian

Cinderella Jakarta 1

Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar Bagian 1


http://cerita-silat.mywapblog.com Nasib Tira nggak seberuntung kebanyakan cewek. Boro-boro mikir punya
gebetan, sekolah aja harus dia tinggalin. Maka, Tira pun harus pasrah
nerima nasib jadi pembantu di keluarga Pak Sasongko. Namun,
kecantikan dan kesederhanaannya membuat hati Gun kepincut. Tira diamdiam juga menaruh cinta pada putra sang majikannya itu. Gawat, kan"!
Mungkinkah nasib Tira seberuntung Cinderella yang lantas dipersunting
pangeran tajir dan keren" Gimana pula nasib gaun dan sepatu hak tinggi
pemberian Gun" Kamu boleh aja nebak-nebak akhir ceritanya. Tapi, biar
nggak meleset, mendingan baca aja sendiri! Di buku ini, masih ada
belasan cerita keren lainnya dari penulis yang suka banget bikin
pembacanya nyengir sendirian!
te, ditii Buat kamu yang lagi bete, ditinggal pacar, ngejomblo, ataupun ditolak
cinta ... mendingan baca buku ini biar bisa happy! Apalagi buat yang lagi
jatuh cinta. Dijamin tambah sayang sama gebetannya, deh!
r lu i ? ? i i CTNTA Katakan saja dengan cinta .
CINDERELLA JAKARTA Penulis: Zaenal Radar T. Ilustrator: Sinta Sari
Penyunting naskah: Benny Rhamdani Penyunting ilustrasi: Andi Y.A. dan
Iwan Y. Desain sampul dan isi: Bunga Melati dan Andi Y. A. Layout sampul
dan seting isi: KemasBuku Hak cipta dilindungi undang-undang All rights
reserved Cetakan I, Januari 2006 Diterbitkan oleh Penerbit Cinta Jin.
Cinambo No. 137 Cisaranten Wetan, Bandung 40294 Telp. (022)
7834315-Faks. (022) 7834316 e-mail: penerbitcinta@yahoo.com
t-1 * n ? CINTA Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Radar T.,
Zaenal Cinderella Jakarta/Zaenal Radar T.; penyunting, Benny Rhamdani."
Cet. 1."Bandung: Cinta, 2006.
200 him.: ilus.; 17 cm. ISBN979-3800-24-0I. Judul. II. Rhamdani, Benny.
813 Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama (MMU) Jin. Cinambo
(Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294 Telp. (022) 7815500-Faks. (022)
7802288 e-mail: mizanmu@bdg.centrin.net.id
Lukisan Elliza ELLIZA gemar melukis, terutama melukis wajah cowok yang
ditaksirnya. Bila Elliza melihat cowok yang disukai di sekolah maupun di
jalan maka ia simpan sketsa wajah cowok itu di benaknya. Setibanya di
rumah, barulah ia tuangkan ke kanvas.
Seperti malam itu. Elliza baru saja melukis wajah seorang cowok
yang ia lihat di sebuah taman. Cowok itu Elliza temukan di sebuah kursi
taman saat ia pulang sekolah. Ketika melintasi taman itu, wajahnya
sempat beradu pandang dengan wajah si cowok.Sekilas senyum si
cowok mengembang, hingga membekas dalam ingatan Elliza. Senyum
cowok itu begitu manis, semanis susu rasa stroberi yang sering
disediakan mama di rumah.
Sayangnya,cowok di taman itu duduk berdua dengan seorang cewek.
Entah siapa cewek yang duduk bersanding dengan cowok itu. Mungkin
adiknya, sodaranya, teman sekolahnya, atau ..."
Ah,Elliza enggan berpikir yang nggak-nggak! Ia nggak mau termakan
perasaan. Melenyapkan rasa cemburu yang tiba-tiba menghampiri
jiwanya. Kemudian,Elliza mengandaikan cowok di bangku taman itu
masih sendirian, dan senyumnya itu memberikan
tanda bahwa si cowok sangat mengharapkan kenal dengan Elliza.
Elliza pernah punya pengalaman tentang seorang cowok yang duduk
berduaan dengan seorang cewek. Kala itu, cowok yang Elliza lihat duduk
berdua dengan seorang cewek, kemudian cowok itu mendekati Elliza
untuk berkenalan.Tetapi, Elliza menolaknya. Elliza takut melukai perasaan
cewek yang duduk di sebelah sang cowok. Elliza memutuskan pergi
meninggalkan cowok itu, dan melupakannya.
Namun, belakangan Elliza baru tahu. Ternyata, cewek yang duduk di
sebelah si cowok itu bukan pacarnya, tetapi hanya teman biasa. Elliza tahu
karena di kemudian hari, melihat cewek itu jalan dengan cowok lain. Dan
si cowok itu tetap sendirian. Tentu saja, Elliza menyesal. Apalagi ketika
Elliza ingin mengenal lebih dekat dengan cowok itu, sang cowok keburu
akrab dengan cewek lain! Pupuslah harapannya.
Oleh sebab itulah, Elliza nggak mau berpikir macam-macam terhadap
cewek yang duduk di sebelah cowok di bangku taman itu, cowok yang
wajahnya ia lukis di sebuah kanvas berbingkai indah. Dan Elliza hanya
mau mengingat-ingat cowok itu. Senyum manis cowok itu ia letakkan di
sebuah dinding, berjejer dengan lukisan lain yang pernah ia lukis,
menambah koleksi lukisannya.
"ELLIZA, berhentilah melukis wajah cowok! Lukislah momen
lain.Bukankah masih banyak hal yang bisa kamu lukis, selain wajah
cowok-cowok itu?" "Elliza nggak bisa, Ma.Elliza hanya bisa melukis wajah cowok. Siapa
tahu, cowok yang Elliza lukis mau jadi teman dekat Elliza?"
"Mendapatkan seorang cowok nggak harus melukisnya lebih dulu,
Sayang!" "Mengapa, Ma" Bukankah Mama dulu pernah melukis wajah papa,
waktu Mama ingin mengenal papa" Mama memberikan lukisan wajah
papa itu ke papa, hingga akhirnya papa suka sama Mama?"
"Iya, Sayang, kamu benar. Tapi, Mama hanya melukis wajah papa,
bukan pria lain." "Elliza belum bisa mendapatkan wajah cowok yang mau sama Elliza,
Ma?" "Lalu, apa kamu harus terus melukis wajah-wajah itu?"
"Iya, Ma." "Sampai kapan?"
"Sampai Elliza mendapatkan dia dan menjadikan cowok itu teman
spesial Elliza!" Mamanya geleng-geleng, tetapi tentunya sangat mengerti. Putri
tersayangnya yang saat ini duduk di kelas tiga SMA, memang belum
pernah terdengar dekat sama cowok. Setiap kali Elliza cerita, yang ia
dengar adalah keluhan mengapa Elliza sulit mendapatkan teman cowok
yang ia inginkan. Keputusan melukis wajah-wajah cowok yang ia suka
akhirnya menjadi pilihan. Sebelum Elliza benar-benar mendapatkan
cowok yang dilukisnya itu.
Kini, sudah cukup banyak koleksi lukisan cowok Elliza yang ditempel
di dinding kamarnya. Sekitar tiga belas lukisan! Pertama, lukisan wajah
Adrian. Adrian adalah cowok yang Elliza lukis waktu ia kelas satu. Elliza
suka sama Adrian karena dia pintar main gitar. Sayangnya, Adrian harus
pindah ke luar negeri. Sehingga sebelum Elliza memberikan lukisan itu,
Adrian sudah nggak di sekolahnya lagi.
Lukisan berikutnya adalah Agus, Pepen, Jave, dan Rae. Keempat
cowok itu Elliza lukis sewaktu ia kelas dua. Keempat cowok itu kakak
kelasnya. Mereka anak band sekolah yang disukai cewek-cewek satu
sekolah! Semuanya hanya bisa Elliza lukis, karena pada akhirnya Elliza tak
bisa berharap lebih selain melukis wajahnya. Sebab, keempat cowok itu
udah punya cewek, anak kelas tiga juga!
Lukisan keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh,
kesebelas, dan kedua belas, adalah lukisan yang Elliza buat saat ia duduk
di kelas tiga. Mereka adalah Dani, Tyo, Andra, Kevin, Arman, Jack, dan
Ron. Mereka bukan cuma anak-anak satu sekolah. Ada yang Elliza kenal
di mal, di sebuah pesta temannya, tempat parkir, atau bioskop. Semuanya
cowok bertampang keren, karena semua lukisan yang Elliza buat
memang khusus cowok-cowok bertampang keren. Sayangnya, dari
ketujuh cowok yang dilukis, tak ada satu pun yang berhasil Elliza
dapatkan. Selain melukisnya, Elliza senang menuliskan nama-nama cowok itu
di balik setiap lukisannya. Dan ia tak pernah lupa dengan nama-nama itu,
karena sebelum melukis wajahnya, Elliza pasti tau siapa namanya.
Kecuali cowok di taman, yang sore itu tersenyum padanya. Elliza nggak
tahu siapa nama cowok yang baru dilukis itu. Cowok ketiga belas itu
masih misterius statusnya.
Rencananya, sore ini, Elliza akan melintasi taman itu lagi, berharap
bertemu cowok yang telah dilukis wajahnya.Mudah-mudahan,cowok itu
duduk-duduk di taman lagi. Dan ... sendirian.
Sayang, ternyata Elliza tak menemukan cowok itu ketika melintasi
taman. Akhirnya, ia memutuskan duduk di kursi taman yang kosong. Elliza
berharap cowok yang udah dilukis wajahnya itu datang ke taman, lalu
duduk di sebelahnya. Akan ia berikan lukisan itu pada si cowok,berharap
bisa mendapatkan cintanya.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Elliza masih saja duduk
sendirian. Elliza muak sama keadaan ini! Tetapi, ia masih saja duduk di
kursi taman itu, berharap bisa bertemu dengan seseorang yang
diharapkan datang. Satu-dua orang melintasi taman itu, tapi seperti tak
peduli dengan keberadaan Elliza. Mereka sibuk dengan urusan masingmasing.
Dua puluh menit sudah ia duduk.Datanglah seseorang, duduk di
sebelahnya. Kursi taman yang panjang itu, kini diduduki oleh dua orang.
Kalo nggak salah, yang duduk di sebelah Elliza itu cewek yang sore itu
duduk dengan cowok yang telah dilukis wajahnya. Elliza mulai berpikir,
Apakah cewek yang duduk di sebelahku ini lagi nunggu seseorang" Atau
jangan-jangan, cewek ini emang udah janjian
sama cowok itu di kursi taman ini"
Tiga puluh menit sudah Elliza duduk di kursi taman itu, bersebelahan
dengan cewek yang baru duduk sepuluh menit. Keduanya saling diam.
Satu, dua orang melintasi kursi taman itu lagi, dan seperti tak
memedulikan keberadaan Elliza dan cewek itu.
Elliza pengin nanya sama cewek di sebelahnya, apakah ia kenal
sama cowok yang sore itu duduk di sebelahnya waktu Elliza melintas"
Tetapi, Elliza ragu menanyakannya. Jangan-jangan, cewek di sebelahnya
ini memang pacar cowok itu dan sedang menunggunya. Kalo itu yang
terjadi, Elliza bisa malu!
Tiga puluh lima menit waktu berlalu. Cewek di sebelahnya membuka
majalah, lalu menenggelamkan wajahnya ke cover majalah. Kalo Elliza
tampak tegang, cewek itu biasa-biasa saja. Namun, cewek di sebelahnya
sesekali melihat jam tangan.Setelah itu, kembali sibuk dengan
majalahnya. Rupanya, si cewek seperti nunggu seseorang yang akan
menemuinya. Akhirnya, Elliza pergi dari taman karena takut kalo cewek itu emang
lagi nunggu cowoknya! Kalo iya, percuma saja Elliza menunggu!
ESOK sore sepulang sekolah, Elliza kembali duduk di kursi taman
dan ingin memastikan apakah cewek yang duduk di kursi taman kemarin,
emang pacar cowok itu" Kalo iya, ya nggak masalah, tapi kalo bukan, inilah
kesempatan! Elliza udah nyiapin lukisan cowok itu, dan berniat
memberikannya. Tapi, ya ampun! Ternyata cewek yang kemarin sore duduk di sebelah
Elliza, udah lebih dulu duduk di kursi taman itu! Cewek itu membaca
sebuah majalah yang kemarin Elliza baca.
Elliza memberanikan diri duduk di sebelah cewek itu walaupun agak
takut dan ragu. Elliza bertekad untuk bertemu cowok itu, meskipun cewek
di sebelahnya ini kekasihnya! Elliza tak mau berharap banyak kecuali ingin
berkenalan, dan mau memberikan lukisan wajah cowok itu.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, Elliza duduk di kursi
taman itu. Bersebelahan dengan seorang cewek yang entah sedang
menunggu siapa.Sebentar-sebentar,cewek di sebelahnya melihat jam
tangannya, lalu kembali sibuk dengan bacaannya.
Lima menit kemudian, cewek itu bangkit dari duduknya, lalu
merapikan majalahnya. Cewek itu seperti hendak meninggalkan kursi
taman itu! Sebelum cewek itu benar-benar pergi, Elliza menahannya.
?Eee ... hai!" "Hai ...!" "Ng ... kamu lagi nunggu siapa?" tanya Elliza akhirnya, masih malumalu.
"Maaf, aku nggak nunggu siapa-siapa, kok. Aku emang seneng duduk
di kursi taman ini, sambil baca majalah! Kenapa, ya?"
"Ooh, maaf.... Ngngng ... boleh tanya, nggak?"
"Kayaknya dari tadi, kamu udah nanya aku, deh?"
"Eee ... hehehe maaf. Aku cuma mau tanya, apakah kamu kenal sama
cowok yang pernah duduk di kursi taman ini tiga atau empat hari yang
lalu?". Cewek itu mengernyitkan dahinya, lalu menggeleng. "Maaf, aku nggak
pernah merhatiin siapa aja yang pernah duduk di kursi taman ini. Terlalu
banyak orang duduk di kursi taman ini. Maaf ya, aku harus pulang
sekarang!" "Eh, tunggu dulu!" Elliza menarik lengan cewek itu. "Tunggu sebentar!
Aku akan mengeuarkan lukisanku dulu. Siapa tahu, kamu ... kenal dia?"
Cewek itu tampak bingung menghadapi sikap Elliza. Sejenak, ia
menghela napas, menunggu Elliza mengeluarkan lukisan dari dalam tas
sekolahnya. Lukisan wajah seorang cowok itu Elliza keluarkan, kemudian
menunjukkannya ke cewek itu.
"Kamu kenal dia?"
Cewek itu menatap lukisan, lalu beralih ke Elliza. "Maaf, aku nggak
kenal. Dan aku nggak pernah tahu siapa dia! Maaf ... aku harus pulang
sekarang!" "Terima kasih. Maaf mengganggu waktumu."
Cewek itu meninggalkan Elliza. Kini,Elliza duduk sendirian di kursi
taman, menunggu siapa tahu cowok yang udah ia lukis wajahnya akan
datang. Elliza senang sekali karena si cewek nggak kenal cowok itu!Elliza
bahagia sekali, karena ternyata cewek yang sering duduk di kursi taman
itu bukan kekasih cowok yang udah dilukis wajahnya!
Elliza menunggu cowok itu sambil mendekap lukisannya. Satu jam,
dua jam, tiga jam, dan sore pun berubah malam. Ternyata, cowok yang
udah dilukis itu tak kunjung datang.
Elliza kesal dan muak sama semua ini! Ia banting lukisan dalam
dekapannya, lalu pergi meninggalkan kursi taman itu!
Satu menit kemudian, seorang cowok melintasi taman itu. Cowok itu
terkejut melihat sebuah lukisan robek teronggok di dekat kursi taman.
Meskipun lampu taman agak meremang, cowok itu bisa dengan jelas
melihat lukisan wajah itu. Cowok itu pun bergumam sendiri, "Hah"!
Lukisan siapa ini" Kok ... seperti lukisan wajahku" Siapa yang
melukisnya" Indah sekali. Oh, seandainya yang melukis ini seorang
cewek Cinderella Jakarta BAIKLAH, kuharap kalian menikmati cerita ini dengan santai.
Siapkanlah susu atau teh manis sebagai teman untuk kalian membaca.
Jangan lupa sepotong pizza atau boleh juga pisang goreng. Siapa
tahu,kalian pengin camilan.Asyik sekali bukan, membaca sambil
menikmati camilan" Yang penting, kalian enjoy, namun tentu saja,
tetaplah berusaha agar tubuh nggak terlalu gemuk!
Berikut ini akan kuceritakan pada kalian sebuah kisah tentang
seorang cewek cantik namun miskin, yang tinggal di rumah gedongan
sebuah pemukiman elite Jakarta. Cewek cantik itu bernama Tira.
Tira berumur sekitar enam belas tahun. Cewek lain seusia Tira
mungkin lagi menikmati masa-masa remaja yang indah dengan temanteman sekolah, atau bisa jadi udah punya gebetan. Ehm, gebetan ..."
Nggak pernah terlintas dalam benak Tira, memiliki seorang kekasih
pujaan hati. Mimpi pun barangkali nggak!
Tira menetap di keluarga pengusaha kaya raya sejak umur tiga belas
tahun, yakni setelah ia lulus SD. Tetangga Tira satu kampung
mengajaknya bekerja di Jakarta. Ketika itu, Tira nggak mikirin apa
pekerjaan yang akan dikerjakan. Ia hanya ikut-ikutan dan berharap
mendapat gaji yang akan diberikan pada orangtua di kampung seperti
teman-temannya yang sudah lebih dulu bekerja di kota.
Oya, baiknya kalian tahu dari mana Tira berasal. Tira terlahir di
sebuah desa pesisir utara pulau Jawa, bertetangga dengan sebuah


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

daerah yang dikenal sebagai lumbung padi. Di desa, keluarga Tira
bekerja menanam padi di sawah. Hanya, sawah-sawah yang ditanami
padi itu bukan sawah milik mereka, melainkan milik orang kota. Tak bisa
diceritakan di sini,entah bagaimana caranya keluarga Tira bisa terbelit
utang dan menggadaikan semua sawahnya pada orang kota.
Sebenarnya, bukan cuma keluarga Tira yang mengalami nasib pahit ini.
Tetangga-tetangga Tira pun mengalami hal yang sama. Itulah sebabnya,
anak-anak seusia Tira di desanya pergi ke Jakarta untuk menjadi ...
seperti yang saat ini lagi dijalani Tira; Pembantu Rumah Tangga!
Tira tinggal di rumah Bapak Sasongko Prawiro, seorang pengusaha
sukses yang bergerak di bidang otomotif. Di rumah yang sangat luas dan
berasitek-tur indah layaknya istana kerajaan itu, Bapak Sasongko Prawiro
tinggal bersama istrinya.Pak Sasongko hanya memiliki satu anak yang
disekolahkan di Inggris. Di rumah Pak Sasongko yang sangat luas itu, meskipun Tira sebagai
pembantu rumah tangga,Tira diperlakukan sangat baik. Bapak dan Ibu
Sasongko bahkan menganggap Tira sebagai putrinya. Bagaimana nggak,
Tira itu seorang cewek yang cantik,
berkulit putih mulus, berbulu mata lentik, beralis bagus, berambut
hitam panjang nan tebal dan indah, pokoknya te-o-pe BGT!
Setiap kali Bapak dan Ibu Sasongko pergi jalan-jalan ke sebuah
tempat, ke hotel atau mal misalnya, Tira selalu diajak. Kerabat dan partner
Pak Sasongko yang kebetulan sesekali bertemu dengan mereka pasti
salah sangka.Mereka menganggap Tira putrinya Pak Sasongko! Bila
mendapat perlakuan seperti itu, Bapak dan Ibu Sasongko senang dan
bahagia. Bagaimana nggak, Tira itu cantik sekali! Bo lehlah kalo kita sebut
Cinderella! Bapak dan Ibu Sasongko nggak merasa malu atau sungkan
bila orang menyangka Tira putri mereka.
SUATU hari ketika musim liburan tiba, Goena-wan Sasongko, putra
semata wayang Pak Sasongko pulang ke Indonesia. Goenawan yang
dipanggil Gun oleh orangtuanya itu adalah cowok tampan, cerdas,
berperangai sopan, dan nggak sombong. Meskipun anak orang kaya, Gun
selalu berpenampilan sederhana. Papanya pernah menghadiahkan Ferari
untuk Gun, tetapi tak pernah mau disentuhnya.
Gun bilang, "Aku nggak enak pakai Ferari di Jakarta. Masa sih, setiap
lampu merah, harus membuka jendela untuk memberi recehan pada
pengamen dan pengemis ...T'
Orangtuanya hanya tersenyum mendengar alasan putra
kesayangannya tidak mau menggunakan mobil pemberiannya. Ketika di
Jakarta, Gun hanya memakai mobil yang cukup sederhana.
Orangtua Gun senang sekali menyambutnya di bandara. Gun pun
bahagia sekali bisa kembali berkumpul dengan kedua orangtuanya.
Ketika tiba di bandara, Gun langsung memeluk papa dan mamanya
secara bergantian. Dan ketika melihat Tira yang menemani mereka, Gun
terkejut. Gun bertanya, "Pa Mam Who is she?"
Papa dan mamanya hanya tersenyum, lalu mamanya
memperkenalkan Tira. "Oya, sorry Mama belum cerita. Ini Tira, pembantu kita yang
menggantikan Mbok Nah. Dia sudah tinggal di rumah kita sejak kamu
berangkat, lho!" Gun tersenyum ramah dan terlihat menaruh hormat pada cewek yang
baru dikenalnya itu, meskipun ia hanyalah seorang pembantu.
Setelah itu, papa dan mamanya mengajak Gun menuju mobil. Pak
Samson, sopir pribadi Pak Sasongko, membawa koper dan barangbarang milik Gun. Tira membantu membawa satu buah koper.
Ketika Tira tengah menarik koper itu, Gun mencegahnya.
"Ini berat sekali. Biar aku aja yang bawa!" ujar Gun setengah berteriak.
Tira pun tersenyum dan bilang, "Nggak apa-apa, biar aku bawa. Udah
biasa, kok!" "Biar saja, Nak Gun! Tira itu anaknya kuat lho ..."!" kata Pak Samson,
sambil terus meng-ikuti langkah Pak Sasongko dan istrinya menuju mobil.
Tira akhirnya menarik koper itu dengan sangat antusias. Gun hanya
bisa memandangi apa yang dilakukan Tira, sambil teus
memerhatikannya. Gun merasakan dadanya bergetar ....
SETELAH menjemput Gun di bandara,malamnya Tira merasakan
sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.Tira tak mampu memejamkan
matanya. Mendadak di kepalanya selalu terbayang senyum Gun tadi
siang! Oh, apakah aku jatuh hati sama anak majikan "
DI kamarnya, Gun merenung dan tak mampu melepaskan sosok Tira
walaupun sekejap. Baru pertama melihatnya, Gun langsung merasa
tertarik sama Tira. Sejujurnya Gun akui, baru pertama kali dalam hidupnya,
bertemu dengan cewek seperti yang selama ini diimpiimpikan.Ternyata,cewek itu tinggal di rumah sendiri!
Tetapi, kenapa cewek itu harus pembantu"
WAKTU terus berjalan. Sudah seminggu Gun tinggal di Jakarta.
Selama seminggu itu, Gun selalu memerhatikan gerak-gerik Tira. Melihat
cara Tira mengepel lantai.Mengintip cara Tira menyetrika baju baju.Melihat dari jauh Tira menyiram bunga-bunga di halaman.
Gun benar-benar jatuh hati pada Tira! Begitupula sebaliknya, Tira
merasa bersemangat sekali bekerja di rumah majikannya. Apalagi ketika
diperintah untuk melayani Gun. Mencarikan sepatu yang akan dipakai Gun.
Mengambilkan buku dari ruang perpustakaan untuk Gun baca. Membawa
makanan untuk Gun. Tira suka sekali bisa bersama-sama Gun.
Tetapi, Tira selalu menyadarkan dirinya, mem-buang jauh-jauh
pikiran yang melesat-lesat di kepalanya, bahwa ia benar-benar sangat
menyukai Gun! Sedapat mungkin, Tira mengenyahkan pikiran yang
bersarang dibenaknya! Aku ini siapa" Gun adalah anak majikanku yang kaya raya.
Sedangkan aku, cuma ... seorang cewek kampung yang miskin!
SINGKAT cerita, kedekatan antara Gun dengan Tira akhirnya diketahui
oleh Pak Sasongko dan istrinya. Kedua orangtua Gun telah mendengar
kabar dari Angelina yang sudah lama berharap menjadi istri Gun kelak
bahwa Gun seringkah mengajak Tira
si pembokat itu jalan ke luar rumah. Ke mal, ke bioskop, dan ke
tempat-tempat lainnya. Angelina putri kolega Pak Sasongko berhubungan dengan Gun sejak
Gun masih di Jakarta, meskipun sebenarnya Gun nggak memiliki
perasaan cinta sedikitpun terhadapnya. Angelina sangat geram setiap kali
ingin bertemu Gun, sementara Gun malah ingin bersama dengan
pembantunya! Akhirnya, pada suatu hari, Angelina yang berada di rumah Pak
Sasongko memanggil Tira menghadap mereka.
"Tira, seharusnya kamu nyadar diri dan ngaca, dong! Kamu itu siapa"!
Kamu pikir, selama ini bapak sama ibu nggak tahu ya, kalo kamu sering
berduaan ke luar rumah bareng Gun"!" sewot Angelina dengan sorot mata
penuh kebencian. "Tapi ... walaupun aku keluar rumah, semua pekerjaan udah aku
selesaikan seperti biasanya?"
"Bukan itu maksudnya! Posisi kamu di rumah ini cuma pembantu!
Kamu nggak pantas jalan berdua sama Tuan Gun!"
"Iya, Ra. Mulai sekarang, bapak dan Ibu berharap kamu nggak lagi
berdua-duaan dengan Gun. Mengerti kamu"!" tegas Bu Sasongko.
"BaikPa, Bu. Aku berjanji nggak akan lagi pergi sama Gun."
Sejak saat itu, Tira selalu menolak kalo Gun mengajaknya
pergi.Namun,Tira tak mau memberikan alasannya.
Gun jadi bingung. KEMUDIAN, Tira merasa tersiksa tinggal di rumah majikannya.
Apalagi setiap kali Tira melihat sepatu hak tinggi dan gaun indah yang
dibelikan Gun, yang rencananya akan ia pakai jalan-jalan bareng Gun.
Pergi berduaan dengan Gun, kini hanyalah menjadi mimpi belaka. Sebab,
Tira udah janji sama majikannya, bahwa ia nggak mau lagi jalan bareng
Gun. Suatu hari, akhirnya Gun mengetahui kenapa Tira selalu menolak
setiap ajakannya. Gun marah sama Angelina, dan bilang kalo Angelina
nggak berhak ngelarang ia pergi sama siapa pun. Gun juga menjelaskan
seluruh kegundahan pada orangtua-nya. Tentu aja hal itu membuat mama
dan papanya marah besar. "Gun, Papa dan mama menyekolahkan kamu jauh-jauh ke Inggris
untuk menjadi orang pintar! Menjadi seseorang yang disegani. Kamu
adalah pewaris Papa dan mama yang mulai beranjak tua ini. Sudah
sepantasnya kalau kamu mulai berpikir serius untuk mencari siapa cewek
yang akan menjadi istrimu kelak. Kami telah sepakat dengan keluarga
Angelina, agar kalian menjadi akrab dan melanjutkan hubungan yang
lebih serius. Jadi, untuk apa kamu deket sama pembantu kita itu"!" bentak
papa Gun. "Maaf, Pa, Ma, bila kata-kata Gun ini menyakiti perasaan Papa sama
Mama. Aku ingin berterus terang, kalo hubunganku sama Tira nggak
main-main. Sedangkan dengan Angelina, Gun nggak punya perasaan
cinta sedikitpun! Dan, Gun merasa menemukan cewek yang selama ini
Gun impi-impikan. Cewek itu adalah ... Tira!"
"APA KAMU BILANG"!" Papa dan mamanya terkejut.
"Ya, Gun merasa mencintai Tira dengan sepenuh hati dan jiwa,"
tambah Gun. "Dasar, kamu anak keras kepala dan tak tahu balas budi!" papa dan
mama Gun marah besar. Kemarahan itu nggak hanya dilampiaskan pada
Gun putra semata wayangnya, namun juga pada Tira. Hingga puncaknya,
mereka mengusir Tira dari rumah. Sementara Gun, kembali dikirim ke
Inggris. Duh, cerita ini kayaknya semakin seru aja! Gimana susu atau teh
manisnya" Gimana pizza atau mungkin pisang goreng yang tadi kamu
siapin" Cobalah nikmatin dulu, sebelum membaca kelanjutan cerita ini.
Aku sendiri lagi menikmati sebatang cokelat yang tadi aku beli,sebelum
melanjutkan mengetik kalimat berikut-nya.
Hmmm ... asyik banget cokelatnya f
Akhirnya, Tira meninggalkan rumah majikannya yang luar biasa
megah itu menuju rumahnya yang sederhana di kampung. Ketika
keluarganya bertanya mengapa ia pulang, Tira menjawab kalo ia sengaja
berhenti karena majikannya pindah.
Setelah kembali tinggal di rumahnya, Tira tak
pernah bisa melupakan Gun. Setiap malam, Tira memandangi gaun
indah dan sepatu hak tinggi pemberian Gun. Tira ingat, ketika membeli
gaun indah dan sepatu hak tinggi itu, Gun bilang kalo ia ingin sekali
mengajak Tira jalan-jalan dengan mengenakan gaun indah dan sepatu
hak tinggi itu. Tira jadi cantik seperti putri Cinderella!
Mengingat semua itu, Tira hanya bisa menangis. Ya, Tira sering
menangis sendirian.Ketika salah satu keluarganya memergoki Tira
sedang menangis, mereka menanyakan kenapa Tira menangis. Tira
menjawab, kalo dirinya menangis karena kehilangan pekerjaan.
SEMINGGU kemudian, kampung Tira menjadi ramai. Serombongan
anak berlarian mengikuti sebuah Ferari merah menya-la. Sedan itu
menuju rumah Tira! Pak Samson, si pengemudi Ferari itu, tersenyum ke
arah Tira yang berdiri kebi-ngungan di depan rumahnya. Kebetulan sekali,
hari itu Tira sedang mencoba-coba gaun dan sepatu hak tinggi pemberian
Gun. Dan Tira nggak sengaja memakainya sampai ke halaman rumahnya
yang lumayan becek ketika sedan Ferari itu tiba.
Beberapa saat kemudian,seorang cowok turun dari dalam Ferari,
membawa setangkai bunga dan
memberikannya pada Tira. "Untuk apa kamu ke sini" Bukankah kamu lagi di Inggris?"
Gun menggeleng. "Aku sengaja ke sini mau ngajak kamu jalan-jalan.
Asal kamu tau, sebelumnya aku nggak pernah naik mobilku ini. Aku ingin
jalan-jalan sama kamu dengan mobil ini."
"Tapi ...." "Sudahlah! Kamu jangan pikirin papa sama mama. Mereka nggak tau.
Tenang aja, Pak Samson nggak bakalan ngasih tau, deh!"
"Tapi ...." Gun mengajak Tira naik Ferari miliknya. Entah bagaimana perasaan
Tira saat itu, antara takut dan senang jadi satu.
Dan maafkanlah aku, karena cerita ini harus berakhir sampai di
sini.Aku nggak akan melanjutkannya, karena aku harus mengha-biskan
dua batang cokelat yang belum ku nikmati ini.
Unjuk Rasa SUDAH tiga hari, murid-murid SMA 1973 nggak masuk kelas. Hampir
semua murid melakukan aksi unjuk rasa. Mereka menuntut Dewan
Sekolah yang dianggap mengeluarkan keputusan sepihak. Dewan
Sekolah menaikan SPP, tanpa kesepakatan orangtua siswa.
"Ini namanya kesewenang-wenangan!" protes Winy, dengan lantang.
"Bener, Win! Kita harus meluruskannya!"sambar Nien, tak kalah
semangat. "Kalo perlu, kita demo setiap hari sampai mereka mendengar protes
kita!" Hilna menam-bahkan.
"Benar! Jangan berhenti demo, sebelum Dewan Sekolah menarik
keputusannya!" seru Ajeng dengan tangan terkepal.
"Menurutku ... lebih baik kita masuk aja. Kita kan, masih sanggup
membayar kenaikan SPP itu. Kalo kita demo terus, nanti kita semua akan
ketinggalan pelajaran."Eugina justru menentang, membuat rekanrekannya marah.
"Gin! Kalo elo mau masuk, masuk aja sendiri!"
"Tau nih anak! Nggak solider amat, sih!"
"Kita memang mampu membayar kenaikkan
SPP itu. Tapi, cara mereka yang kita sesalkan!"
"Selain itu, nggak semua murid di sekolah ini mampu. Iya, nggak"!"
"BENER!!!" Eugina tak berkutik. Ia manut pada kesepakatan teman-temannya,
melakukan protes terhadap keputusan Dewan Sekolah.
"Kalo kamu nggak mau ikut unjuk rasa ini,nggak apa-apa, Gin!" ujar
Winy, dengan tampang asem.
"Iya Win, apalah artinya satu suara, dibandingin dengan hampir
seluruh siswa di sekolah ini!"
"Ini jelas menandakan siapa sebenarnya siswa yang nggak punya
rasa peduli terhadap siswa lainnya."
Eugina semakin terkucil. "Oke, deh! Gue minta maaf.Gue akan ikut
kalian berdemo!" Eugina akhirnya luluh juga. Sohib-sohib-nya memeluk
Eugina, menandakan bahwa mereka memang kompak.
Sejak saat itu, Eugina selalu ikutan unjuk rasa, menuntut agar Dewan
Sekolah membatalkan keputusannya. Bahkan, karena takut dibilang
setengah-setengah, justru Eugina yang menjadi juru bicara dalam setiap
unjuk rasa. Dan terus terang aja, Eugina emang ahli bicara. Eugina
adalah salah satu siswa pemenang lomba pidato antar sekolah tingkat
provinsi! Selain itu, Eugina juga beberapa kali menjadi juara lomba debat!
"Dewan Sekolah jangan hanya memikirkan diri sendiri. Setiap
keputusan hendaknya mendapat kesepakatan para orangtua siswa!
Apalagi negara kita belum terbebas dari krisis. Sehingga, nggak semua orangtua mampu
membiayai anak-anaknya sekolah. Jangan menambah beban mereka
dengan kenaikan yang belum begitu perlu. Aku melihat, alasan Dewan
Sekolah menaikkan SPP demi kemajuan sekolah ini nggak relevan.
Karena tanpa menaikkan SPP pun, kita bisa memajukan sekolah ini, yakni
dengan cara menunjukkan prestasi setiap siswa. Dan, ini masih terus
berlangsung hingga kini, tanpa ada embel-embel kenaikan. Menyangkut
biaya pembangunan sekolah, baik berupa pembangunan gedung-gedung
tambahan maupun perawatan, bukankah sudah berjalan" Seluruh biaya
pembangunan sekolah sudah dipungut dari biaya pendaftaran siswasiswa baru. Ditambah lagi dengan biaya para donatur dari orangtua siswa
yang mampu! Jadi, buat apa Dewan Sekolah menaikkan SPP"!"
Demikian kata-kata Eugina, yang disambut riuh tepuk tangan oleh
siswa-siswi yang berunjuk rasa.
"Gila si Gin-Gin, keren abiiis ...!"
"Dia bener-bener all out\"
"Iya, ya"! Ternyata, dia serius ikutan unjuk rasa ini!"
Sohib-sohib Eugina bangga padanya.
Diam-diam, ada seorang cowok bernama Seno yang memerhatikan
Eugina. Dia adalah cowok yang selama ini menjadi perhatian Eugina dan
teman-temannya. Siapa sih, cewek-cewek di SMA 1973 yang tak kenal


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seno" Seno yang tajir tapi pendiam, dan terkenal sangat rendah hati.
Meskipun Seno siswa baru, tuh cowok udah ngerebut perhatian
cewek-cewek di 1973. Seusai unjuk rasa di hari yang ketujuh itu, Seno mendatangi Eugina.
"Hai!" Eugina mendadak sesak napas ketika makhluk bernama Seno itu
menyapanya. "Hai!" Eugina membalas sapaan.
"Gue Seno! Gue seneng banget denger pidato unjuk rasa elo! Hebat!"
"Ya." "Boleh kenalan, nggak?"
"Ya." Eugina masih belum bisa bicara apa-apa. Di sudut lain,sohibsohib Eugina melihat keberadaan Seno.
"Weits! Itu si Seno, kan?" "Eh, lagi ngapain tuh cowok?" "Kayaknya ...
serius banget!" "Datengin, yuk ...!" "Ssst ... ntar aja."
Keempat sohib Eugina mengintip di sudut koridor sekolah. Seno dan
Eugina duduk di bangku depan kelas, membicarakan tentang unjuk rasa.
"Aku bangga sama kamu, karena kamu cewek yang cerdas dan
tegas," puji Seno sambil terus memerhatikan Eugina.
"Ya." "Nggak semua cewek, atau mungkin cowok sekalipun, yang bisa
bicara begitu lancar di depan umum seperti kamu, Gin!" tambah Seno.
"Ya." Eugina masih belum bisa berkata-kata.
"Oke, deh! Gue cabut ke kelas dulu, Gin!"
"Ya." Seno meninggalkan kelas Eugina. Keempat sohib Eugina langsung
menghambur mengerubutinya. Mereka memberikan ucapan selamat
pada Eugina, karena didatangi Seno!
"Gimana perasaan elo didatengin Seno?"
"Gin-Gin, tau nggak, tiap malem gue mimpiin dia! Taunya dia caper ke
elo!" "Iya, Gin! Nggak percuma elo jadi juru bicara unjuk rasa sekolah kita,
sampai bikin cowok kayak Seno merhatiin elo!"
"Selamat ya, Gin!"
Eugina cuma senyum-senyum. Ia nggak nge-rasa tersanjung sama
pujian sohib-sohibnya.Sebab, Eugina masih saja memikirkan, mengapa
di depan Seno tadi ia hanya bisa bilang, "Ya."
Di hari yang kesepuluh, unjuk rasa semakin meriah. Karena Dewan
Sekolah masih belum memberikan keputusan, seluruh siswa SMA 1973
tetap bersikukuh nggak mau mengikuti pelajaran di sekolah.
Sejumlah wartawan mendatangi sekolah. Rupanya, para kuli disket
baru mengetahui unjuk rasa itu, setelah mendapat bocoran dari beberapa
orangtua murid yang mengaku resah karena proses belajar anak-anak
mereka terganggu.Bahkan, sejumlah orangtua murid ada yang akhirnya
ikut berunjuk rasa. Tak ketinggalan,akhirnya sejumlah stasiun televisi
swasta meliput unjuk rasa ini.
Eugina dipercaya menjadi juru bicara oleh para siswa SMA 1973.
Karena sejak hari keempat, dialah
yang menjadi andalan para pengunjuk rasa. Bicaranya cerdas dan
tegas. Ia tak pernah kehabisan kata-kata. Saat para wartawan datang,
Eugina yang menjadi sorotan.
"Sebenarnya, kami nggak menginginkan unjuk rasa ini. Bisa Anda
bayangkan, tak akan ada asap kalo nggak ada api. Benar, kan" Jadi, unjuk
rasa ini terjadi hingga berlarut-larut seperti sekarang, disebabkan karena
Dewan Sekolah seperti nggak mau kompromi!"
"Dewan Sekolah merasa kecewa pada siswa, karena unjuk rasa ini
mencoreng nama SMA 1973. Mereka beranggapan, kenaikan SPP itu
dilakukan demi kemajuan sekolah. Bagaimana menurut komentar Anda?"
"Sampai kapan unjuk rasa ini berlangsung?" "Apakah kalian nggak
merasa rugi bila setiap hari seperti ini?"
Para wartawan media cetak maupun media elektronik,
membombardir Eugina dengan rentetan pertanyaan.
Dengan tenang, Eugina menjawab, "Maaf, Bapak-Bapak. Satu-satu,
ya! Begini .... Kami rasa, kekecewaan Dewan Sekolah nggak berdasar
sama sekali. Kenapa mereka mesti kecewa" Yang seharusnya kecewa
adalah kami, para siswa. Kenapa Dewan Sekolah harus menaikkan SPP
tanpa lebih dulu berunding dengan orangtua murid" Dan, kami pikir
alasan menaikkan SPP untuk memajukan sekolah ini cuma isapan
jempol belaka! Tanpa harus menaikkan SPP, sekolah ini tetap maju!
Dan kalo Bapak-Bapak bertanya sampai kapan kami berunjuk rasa, kami
menjawab; sampai Dewan Sekolah mau membatalkan keputusan
mereka! Kalopun mereka memaksa untuk tetap pada keputusan itu,
mereka harus lebih dulu membawa masalah ini ke dalam rapat orangtua
murid dan Dewan Sekolah! Sudah, ya! Aku rasa cukup. Makasih, BapakBapak."
"Maaf, pertanyaan aku belum dijawab."
"Yang mana?" "Ini, eee ... apakah kalian nggak rugi bila setiap hari seperti ini?"
"Sejujurnya kami akui, kami merasa rugi nggak melakukan proses
belajar mengajar seperti biasanya.Namun,satu hal yang perlu BapakBapak catat, bahwa tindakan yang kami lakukan ini pun sebenarnya
sebuah pembelajaran! Mengapa aku katakan begitu" Tindakan melawan
kesewenang-wenangan terhadap pihak yang berkuasa itu memang
seharusnya dilakukan! Ini sebagai bekal kami, sebagai siswa yang
nantinya jadi mahasiswa! Apakah Anda lupa, siapa yang menggerakkan
roda reformasi di negeri ini" Apakah Anda, para wartawan" Atau, BapakBapak yang duduk di gedung wakil rakyat" Tentu semua masih ingat,
bahwa mahasiswa lah yang menjadi penggeraknya! Dan Anda, para
wartawan, yang membantu menuliskannya di media!"
Semua yang hadir manggut-manggut. Satu, dua wartawan gelenggeleng kepala. Mereka agak takjub pada kata-kata seorang siswi yang
menjadi juru bicara unjuk rasa sekolah. Lebih-lebih sohib-sohib Eugina,
yang merasa sangat bangga pada
sahabatnya. Tak ketinggalan, Seno yang selalu me-luangakan
perhatiannya, menjadi semakin tertarik pada Eugina!
Keesokan harinya, Dewan Sekolah bersedia berunding dengan para
siswa dan sejumlah orang tua murid. Perundingan itu memutuskan
bahwa kenaikan SPP ditunda dalam waktu yang nggak terbatas.
Dikemudian hari akan dibicarakan lagi, pada rapat antara Dewan Sekolah
dan para orangtua murid. Kontan, murid-murid seisi sekolah bergembira menyambutnya.
Terlebih, beberapa siswa yang merasa keberatan karena ortu mereka
orang nggak mampu. Kegembiraan mereka dilampiaskan pada Eugina,
yang menjadi juru bicara andalan selama unjuk rasa berlangsung.
"Gue nggak bakalan melupakan kejadian ini,Gin! Gue bangga punya
temen cewek yang pinter ngo-mong kayak elo! Gue berdoa, semoga suatu
saat elo jadi presiden!"
"Gin! Elo potensial banget jadi politikus!"
"Makasih. Jangan terlalu berlebihan. Ini semua berkat kerja sama kita
semua!" Sohib-sohib Eugina nggak kalah senangnya. Mereka bangga sekali
pada Eugina. Dan ... seorang cowok pun datang memberikan selamat
pada Eugina. Siapa lagi kalo bukan ... Seno!
Ketika Seno datang, sohib-sohib Eugina menyingkir.
"Gin, selamat, ya! Oya, waktu liat kamu di berita teve semalem, gue
nonton sama bonyok gue! Mereka juga terkagum-kagum lho, sama kamu!" "Ya."
"Sekali lagi, selamat!"
Setelah itu, Seno pergi. Sohib-sohib Eugina kembali mengerubuti
Eugina. Mereka memberi selamat pada Eugina, karena Seno kelihatannya
"ada hati" pada Eugina. Tapi, Eugina ternyata nggak sesenang yang
sohib-sohibnya kira. Eugina masih saja tak percaya, bahwa dirinya yang
juara lomba pidato dan kampiun debat itu, yang menjadi juru bicara unjuk
rasa sekolahnya, ternyata selalu menjadi seperti orang gagu di depan
Seno. Di hadapan Seno, Eugina hanya bisa bilang, "Ya". Nggak lebih dari
itu! Cewek yang Menunggu Pelangi
SEJAK siang hingga menjelang sore, cewek itu duduk di beranda
belakang rumahnya yang menjorok ke pantai.
Aku ingin tahu kenapa di waktu yang sama, ia selalu berada di sana,
seperti tengah menanti seseorang yang udah sekian lama nggak datangdatang. Dan bila hari berubah gelap, ia kembali masuk ke rumah, dengan
raut wajah kelam. Setelah kutanyakan pada salah seorang tetanggaku, barulah
kuketahui. Ternyata, cewek itu gagal melihat pelangi!
Oh, rupanya cewek itu menunggu pelangi. Kenapa cewek itu selalu
menunggu datangnya pelangi"
Maka pada suatu sore yang mendung, saat awan hitam berarak
bergerak menutupi sebagian langit,aku bermaksud mendatanginya untuk
sekadar berkenalan. Aku sudah lama menanti saat yang tepat untuk lebih
mengenalnya, ketimbang harus tanya sana sini seperti yang selama ini
kulakukan. Namun sebelum niatku terlaksana, gerimis terlanjur pecah. Titik-titik
air tumpah dari langit, meskipun pada saat yang bersamaan matahari dari
arah barat menyibak awan. Pada saat yang bersamaan pula, lamatlamat kudapati segores cahaya menghias ujung langit. Cahayanya indah
berwarna merah, kuning, dan hijau. Itulah warna pelangi.
Dari kejauhan, kulihat cewek itu tersenyum di beranda belakang
rumahnya, menikmati apa yang ditatapnya. Begitu cantiknya ia, manakala
senyumnya mengembang. Sepertinya, kerinduan yang selama ini
terpendam, terobati sudah. Oh, dunia ini seolah miliknya!
Aku yang bermaksud mendekatinya untuk berkenalan, terpaksa
menahan diri. Aku nggak mau mengganggu keasyikan cewek itu
menikmati pelangi. DI siang yang lain, saat cuaca cerah, kucoba untuk kembali
mendekatinya. Aku ingin menemui cewek itu di beranda rumahnya.
Sebagai tetangga barunya, bukan alasan yang dibuat-buat bila aku
memperkenalkan diri. Siapa tahu, dia bersedia jadi sahabatku. Sebab
sejak tinggal di daerah ini, aku belum memiliki seorang teman yang
seumuran denganku. Tetapi, sebelum aku berhadap-hadapan dengannya, seorang cowok
lebih dulu datang ke beranda itu, dan terlibat pembicaraan serius dengan
sang cewek. Cowok itu cukup tampan. Tubuhnya proporsional bak
seorang atlet. Ia datang membawa setangkai bunga melati. Aku hanya
bisa mengintipnya dari balik bilik beranda samping rumahku.
Aku melihat cowok itu memperlihatkan keakraban, mengajak si cewek
bicara. Si cowok tampak begitu antusias. Namun, cewek itu tak
menunjukkan rasa senangnya.Kukira,cewek itu nggak terlalu suka dengan
si cowok. Hal itu ia tunjukkan dengan wajahnya yang selalu memberengut,
sepanjang bersama-sama si cowok.
Beberapa saat kemudian, si cowok pergi me ninggalkan si cewek.
Dan si cewek tampak senang melepas kepergian cowok keren itu. Aku
nggak tahu kenapa cewek itu terlihat nggak suka sama kedatangan cowok
itu. Aku jadi khawatir mendapat perlakuan yang sama kalo mau kenalan
sama dia. Aku takut cewek itu ngerasa keganggu sama kehadiranku.
Siang itu, kembali kutanyakan tentang cewek itu pada orang yang
udah lama tinggal di sekitar kediamanku.Aku terpaksa nggak menanyai
langsung cewek itu, karena alasan tadi. Dengan orang yang kutanyai ini,
kebetulan aku udah sangat akrab. Dia Pak Koko Nata, seorang nelayan
tua bermata sipit yang ramah, yang namanya seperti orang Jepang. Pak
Koko Nata berasal dari Palembang.
"Kamu beruntung bisa melihat cewek itu. Cantik, kan?" puji Pak Koko
Nata. "Bukan masalah cantik atau nggak, Pak. Aku hanya bingung pada apa
yang ia lakukan setiap siang menjelang sore." "Maksud kamu?"
"Kenapa dia selalu berada di beranda belakang
rumahnya?" "Udah Bapak bilang,kalo dia sedang menung-gu pelangi!"
Aku menghela napas. Aku masih nggak habis pikir tentang cewek itu.
"Ya! Cewek itu menyukai pelangi!" ulang Pak Koko Nata.
"Jadi, setiap sore dia akan berada di beranda belakang rumahnya,
hanya untuk melihat pela-ngi"!"
"Sepertinya begitu! Lagi pula, dia nggak setiap hari tinggal di
rumahnya. Hanya waktu liburan, seperti saat ini."
"Lho"! Jadi, sebenarnya dia nggak menetap di rumah itu?"
"Cewek itu tinggal dan sekolah di Jakarta."
"Bapak tahu siapa namanya?"
"Eee ... aku tahu, nama cewek itu Elliza. Coba kamu tanyakan sendiri."
KALO benar cewek bernama Elliza itu tinggal di daerah ini hanya pada
waktu liburan, berarti waktu yang kumiliki untuk bisa mendekatinya hanya
tersisa sehari.Besok bisa dipastikan Elliza akan bersiap-siap kembali ke
Jakarta karena waktu liburan udah habis.
Aku pun bersiap-siap berangkat ke Jakarta, untuk mencari sekolah
baru. Ayahku memang menginginkan aku bersekolah di Jakarta, meski
pun beliau ditugaskan di daerah, tempat aku berada kini. Di
Jakarta, aku bisa menumpang di rumah paman. Setelah tinggal dan
sekolah di sana, mungkin aku baru pulang ke rumah ini hanya pada waktu
liburan atau di akhir pekan.
Sebelum terlambat, baiknya kudatangi cewek itu, yang siang ini
tengah asyik duduk di beranda belakang rumahnya. Aku berharap, mudahmudahan dia mau menerima kedatanganku.
Tetapi sebelum kulangkahkan kaki, seorang cowok yang kemarin
membawa bunga datang lagi. Cowok keren itu datang membawa bunga
lain, yang warnanya berbeda. Dan si cewek seperti biasa, mengacuhkan
kedatangannya. Hingga akhirnya si cowok pergi meninggalkannya.
Bersamaan dengan kepergian si cowok, aku berjalan melintasi
beranda rumahnya.Cuaca saat itu mendung. Aku sengaja nggak mampir
ke berandanya, melainkan berjalan ke arah pantai. Kurasa aku tengah
melakukan trik 1001 cara menaklukan cewek, yang pernah kubaca di
sebuah buku. Aku mencuri perhatian cewek itu, menyukai apa yang
disukai si cewek. Yup! Aku terus berjalan hingga ke bibir pantai. Aku sengaja nggak menoleh
ke belakang, pura-pura tidak peduli sama keberadaan cewek itu. Aku
berharap cewek itu melihatku.
Aku duduk pada sebuah batu karang yang mulai tersentuh oleh
deburan ombak. Laut hampir pasang. Kulihat guntur membelah langit,
memercik seperti las listrik. Gerimis perlahan tumpah membasahi tanah.
Aku segera berlari ke arah pohon kelapa
yang daunnya nggak terlalu tinggi, berteduh di sana.
Ketika tubuhku udah merasa aman di bawah pohon kelapa, tiba-tiba
gerimis berhenti. Matahari perlahan menyembul dari balik awan hitam.
Aku kembali ke batu karang semula. Dan sialnya, pada saat pantatku
menyentuh batu karang itu, gerimis kembali tumpah ruah. Gerimis datang
meskipun sang surya bercahaya terang. Dan secara bersamaan,
terlihatlah pelangi. Aku kembali berlari untuk berteduh. Tapi, aku ragu melangkah ke
pohon kelapa itu, karena seseorang telah berada di sana, duduk
menengadahkan wajahnya ke pojok langit. Dia, cewek itu, tengah
menatap pelangi! Kupikir ini kesempatan. Aku tak akan merasa malu untuk berteduh di
bawah pohon kelapa itu.Aku udah lebih dulu berada di sana, sebelum ia
datang. Menyesal aku telah meninggalkan pohon kelapa itu ketika gerimis
berhenti. Harusnya, aku ada di sana sebelum dia tiba. Kukuatkan hati
untuk berteduh di dekatnya!
"Boleh numpang berteduh?" tanyaku pada cewek itu, dan langsung
disambut dengan senyuman. "Silakan."
Aku berdiri di sebelahnya, kemudian melirik sekilas, mendapati
keceriaan wajahnya yang antusias menatap pelangi. Aku ingin berbasabasi, tapi takut menganggu. Apakah aku harus selamanya berdiam seperti
ini" Tuhan menciptakan mulut untuk bicara, bukan untuk makan saja.
Kenapa aku jadi seperti kura-kura"
"Indah sekali, ya, pelangi itu"!" akhirnya, keluar juga kata-kata dari
mulutku. "Ya, ya ... indah." "Kamu suka pelangi?"
"Suka sekali! Kamu?"cewek itu menatapku. Bulu matanya yang lentik
seolah menarik-narik bola mataku. Duh, begitu teduhnya tatapan itu.
Aku tak kuasa berkata-kata, takjub pada tatapannya.Aku hanya
mengangguk pelan,lalu kembali memandang pelangi. Ketika
pandanganku tegak lurus menikmati pelangi,cewek itu menatap wajahku


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lama sekali.Aku tahu karena aku nggak benar-benar menatap pelangi.
"Kenapa kamu suka pelangi?"tanyaku kemudian.
"Karena pelangi tak pernah bohong."
"Cuma itu?" "Karena pelangi selalu setia." "O, ya?"
"Dan pelangi selalu bisa menyejukan suasana hati. Kalo kamu,
kenapa suka pelangi?" cewek itu balik bertanya.
"Aku ...?" "Ya, kamu" Kenapa kamu suka pelangi?"
"Karena aku sungguh bingung dibuatnya. Kenapa aku suka pelangi,
ya" Uh, aku nggak pernah berpikir tentang pelangi sebelum ini. Aku jarang
sekali melihat pelangi. Selama di Jakarta, aku nggak pernah menyaksikan
pelangi. Lagi pula, untuk apa"
"Kok, diem ...?"
"Kenapa aku suka pelangi ... karena ...." Pikiranku kembali buntu,
namun terbersit masa kanak-kanak,saat kudengar lagu pelangi menga-lun, "Peiangi-peiangi
... alangkah indahmu ... merah kuning hijau, di langit yang biru setelah itu,
kembali buntu! "Boleh aku jujur sama kamu, kenapa aku suka pelangi?" kataku
kemudian, membuat raut wajahnya berubah. Mungkin tumbuh rasa ingin
tahu yang berkecamuk di benaknya.
"Ya, kamu memang harus jujur."
"Aku suka pelangi ... karena ... keindahannya." Begitulah yang
kukatakan padanya, hingga senyumnya tiba-tiba merekah.
"Aku baru menemukan cowok romantis kayak kamu," ucapnya sambil
tersipu. "Maksud kamu?" "Aku nggak pernah menemukan cowok yang menyukai pelangi kayak
kamu." "Begitu, ya"!" Cewek itu tersenyum. "Oya, boleh aku tahu nama
kamu ...?" Lalu, aku menyebutkan nama. Dan bilang padanya, "Kamu
pasti Elliza?" "Kok kamu tahu nama aku?" Aku tersenyum. Elliza geleng-geleng
kepala. SEJAK saat itu, nggak bisa nggak, aku menyukai pelangi. Dan saat
tinggal di Jakarta, aku selalu mencari pelangi. Kalo rindu sama Elliza, dan
Elliza ternyata sedang sibuk, pelangi-lah yang kucari.
Seringkah aku menunggu pelangi, namun nggak pernah
menemukannya. Aku jadi bingung, mengapa di Jakarta sulit sekali
menemukan pelangi" Apakah karena Jakarta selalu terang benderang
oleh lampu-lampu gedung-gedung bertingkat, sehingga membuat pelangi
tak mau menunjukkan dirinya.
Aku jadi kangen pulang ke rumah di bibir pantai itu, mengajak Elliza
untuk bersama-sama melihat pelangi di sana.
Cowok Yang Menakutkan TRISTAN selalu bikin masalah. Kalo nggak nyindir-nyindir, ada aja
yang dia lakuin. Mendenguslah, mendehemlah, bersiul-siul sok merdulah,
atau cekikikan dengan anak-anak cowok lain. Jadinya, lama-lama tuh
cowok jadi menakutkan! "Hm, boleh juga tuh sepatu"! Warnanya ngej-reng amat! Jadi kayak
kue lapis bikinan nyokap gue! Hahaha ...!" itulah komentar Tristan, waktu
gue pake sepatu pink yang baru gue beli di sebuah mal.
"Eh, tumben nih ... roknya agak tinggian" Jadi kayak Britney habis
kecebur di kali! Hahaha ...!" ini komentar dia waktu gue habis latihan
cheers. "Wuah, rambutnya diponi ni, yee ...! Hihihi lumayan buat ngelindungi
muka kalo turun hujan!" ini komentar waktu Tristan ketemu gue di deket
kantin. Itu belum seberapa. Malah ada lagi yang lebih nyeremin. Tau nggak,
Tristan pernah bilang, "Dhini, mending elo ikutan casting aja, biar bisa
gantiin Mpok Ati. Lumayan tau, peran jadi ibu-ibu sekarang lagi banyak
dibutuhin rumah pro-duksi! Hihihi ...!"
"Dhini, elo kok, cemberut aja kalo lewat di depan gue" Mending
manis! Bibir elo tuh, udah kayak dompet tanggung bulan! Hahaha .,,!"
"Dhini! Kalo dipikir-pikir, elo cakep juga. Sayang, gue nggak pikirin!"
Tuh, nyebelin nggak, sih"! Untung cowok yang namanya Tristan
cuma satu di sekolah gue. Coba kalo ada tiga Tristan. Bisa ko'it gue!
Sebenernya, gue pengin ngedamprat dia kalo lagi jahil sama gue.
Tapi, gue nggak berani. Temen-temen gue malah ngasih selamat ke gue,
atas perlakuan si tengik Tristan sama gue.
"Elo beruntung, Dhin! Tristan tuh setau gue, anaknya pendiam!" kata
Chacha, yang ngaku sering banget merhatiin Tristan kalo upacara
bendera. "Gue nggak percaya kalo Tristan begitu sama elo! Anaknya kan, cool
banget!" Agni malah memuji.
"Gue tuh mimpi banget digodain Tristan! Sumpeh, deh!" ucap Bunga
berapi-api. Audi lain lagi. Dia malah bilang, "Tristan"! Dia itu cowok dambaan
gue!" Huaaah, bener-bener membingungkan!
Sewaktu curhat sama nyokap, beliau malah ceramah tentang masa
remajanya. "Dhini, dulu di sekolah Mami juga ada cowok yang ngeselin
banget! Anaknya suka jahil. Mami sebel banget sama cowok itu. Tapi
lama-lama, Mami suka sama dia. Nggak tau kenapa" Tau nggak, cowok
itu siapa" Dia itu papi kamu! Hihihi ...!"
"Oh, jadi papi itu dulunya sengak juga ya"!"
"Bukan sengak lagi! Tapi ngeselin, sok, tengil, berlagak, perlente,
sirik, dengki ... cumaaa ... dia
dulunya ganteng, lho!"
"Uh, Mami kenapa mau sama cowok tengil jahil kayak papi, sih?"
"Buktinya, ternyata papi orangnya baik banget. Iya, kan"!"
"Iya juga, siiih EMANG gue akui, Tristan itu cowok yang keren dan lumayan tajir.
Kebisaannya banyak. Dan kata anak-anak di kelasnya, dia termasuk anak
pinter. Tapi ... kok, kelakuannya ama gue begitu, ya" Kenapa, ya" Apa
mungkin karena selama ini gue nggak pernah marah diperlakukan begitu
sama dia" Apa gue mesti melawannya"
Oke, mulai besok, gue nggak bakal menghindar lagi kalo ketemu dia.
Gue nggak takut lagi! Gue ba-kalan ngedamprat dia, kalo dia kurang ajar
lagi sama gue! Gue bakalan marah habis-habisan!
Keesokan harinya, gue mencari-cari di mana Tristan berada.Gue
sengaja mau lewat di depan dia. Gue mau cari gara-gara! Gue udah
panas banget kalo inget dia. Selama ini, boleh aja dia nginjek-nginjek gue.
Sekarang nggak boleh lagi! Cowok kayak Tristan musti dikasih pelajaran.
Musti digecek! Kalo perlu ditumbuk halus, diberi sedikit lada, dicampur
garem, dikasih cabe rawit, ditaburin cuka, terus disiram pake air panas
seratus delapan puluh derajat selsius!!!
"Liat Trsitan, nggak?" tanya gue ke salah satu cowok yang biasa
nongkrong sama Tristan. "Belum liat, tuh. Kenapa" Kangen, ya?"
Busyet! Kangen" Gila aja kangen sama cowok kayak Tristan"
"Eh, jangan macem-macem,ya! Liat nggak, lo"!"
"Bujug, Non, galak amat"! Nggak liat!"
"Bilang dong, dari tadi!" Ya, ampun! Ternyata gue galak juga, ya"
Tristan nggak berhasil gue temukan. Ke mana ya, tuh cowok" Janganjangan, dia udah punya firasat, kalo pagi ini gue mau melabraknya!
Hari ini, Tristan nggak masuk. Kata salah satu temen sekelasnya
waktu gue interogasi Tristan sakit.
?St KEESOKAN harinya, Tristan masih belum masuk juga. Begitupun
hari-hari berikutnya. Hingga seminggu lamanya, Tristan nggak masuk
sekolah. Lama-lama, kemarahan gue jadi surut.
Sejak Tristan nggak masuk, nggak ada lagi cowok yang jahil sama
gue. Nggak ada yang sirik, dengki, macem-macem, ngeledekin, nyeletuk,
atau apalah. Gue bener-bener terbebas dari godaan makhluk
menyebalkan seperti si Tristan itu.
Sepuluh hari kemudian, gue ngeliat Tristan di depan kelasnya
sendirian. Dia tampak segar bugar. Nggak ada kesan bahwa dia habis
sakit. Malahan, bisa dibilang tuh anak tambah manis aja! Ups, kok, gue jadi muji-muji
si Brengsek, ya"! Kayaknya, gue mesti lewat di depan dia. Gue pengin tau, apakah dia
jahil sama gue kayak biasanya atau udah berubah"
Gue pun melintas di depan Tristan. Dan ternyata ... dia cuek aja!
Gue jadi penasaran. Gue mampir ke kantin. Pesen jus alpukat. Habis
itu, gue balik lagi ke kelas, lewat ke kelasnya Tristan. Pas mau lewat
kelasnya, Tristan keluar kelas, berpapasan ama gue. Tapi, dia cuek aja!
Kok, dia cuek aja"! SEJAK kejadian hari itu, gue jadi sering melamun. Kenapa cowok
bernama Tristan yang sengak dan tengil itu nggak lagi ngeganggu gue"
Apakah dia udah menyadari kesalahannya" Atau jangan-jangan, mungkin
karena penyakit yang dideritanya. Dia kan, nggak masuk sekolah karena
sakit. Karena sakitnya itulah dia jadi nyadar. Nggak mau ngego-dain gue
lagi. Begitu kali, ya"
Hm, gue jadi penasaran. Besok,gue mau lewat di depan Tristan lagi.
Gue mau ngepang rambut. Dulu, dia pernah ngomentarin rambut gue. Dia
pernah bilang kalo rambut gue sebaiknya ditutupin topi, biar enak diliat.
Tapi, topinya topi proyek! (Yang kayak helm itu, lho!). Ugh!
Nah, kalo sekarang gue lewat di depan dia pake rambut kepang dua,
siapa tau dia jahil lagi, ngatain rambut kepang gue" Nggak dimacemmace-min aja dia jahil, apalagi ... dikepang dua begini! Yup! Gue coba.
Pas jam istirahat, rambut gue minta dikepang dua sama Audi. Gue
mau melintas di depan Tristan dengan rambut kepang dua. Pasti, dia
bakalan nyin-dir gue. Ternyata ... udah susah payah dikepang dua dan dikasih pita segala,
Tristan cuek-cuek aja! Malahan, kayaknya dia nggak terpengaruh sama
keberadaan gue! Sial! Gue semakin penasaran! Gue coba ngegulung tangan baju seragam.
Dulu, gue pernah dibilang preman terminal waktu tangan baju seragam
gue nggak sengaja terlipat. Hm, gue coba, deh.
Ternyata ... Tristan cuek aja!!!
Kenapa, ya"! Apakah Tristan udah ngeiupain
gue"! Waduh, kenapa justru sekarang gue jadi inget terus sama Tristan"!
"Mami bilang juga apa" Kalo kamu digodain cowok, nggak usah
ditanggepin. Apalagi dipikirin! Nanti, lama-lama kamu bisa seneng sama
dia," ucap mami waktu gue curhat.
"Ah, Mami. Siapa sih, yang seneng sama dia"! Dhini cuma
penasaran. Kenapa dia jadi berubah."
"Itu bagus, kan?" tanya mami.
"Bagus sih, bagus ... tapi, apa dong, penyebabnya?"
"Kenapa tanya Mami" Tanya dong, sama anaknya langsung!"
"Hah"! Tanya sama Tristan"! Amit-amit, deh!" "Jangan begitu, dia itu
temen kamu juga!" "Iya juga, sih."
Besoknya, gue harus tanya langsung, kenapa Tristan berbuat begini
sama gue. Kenapa kemarin-kemarin itu dia sok tengil sama gue.
Tibalah saatnya gue ketemu Tristan di depan lapangan upacara
bendera. Gue sengaja ngedate-ngin dia pas latihan basket.
"Tan, gue mau ngomong sama elo!" teriak gue keras.Tristan tampak
sok bego.Dia cuma menunjuk-nunjuk dadanya.
"Iya, sama elo! Gue mau ngomong!" Tristan pun nyamperin gue. Tapi
sewaktu dia jalan ke arah gue, kakinya tersandung. Dia nyaris jatuh dan
kelihatan culun dan lucu. Gue sempet senyam-senyum, tapi langsung
ditahan. Nanti jadi nggak keliatan gahar lagi di depan dia.
"Ada apa?" tanya Tristan dengan ramah sekali.
"Gue mau ngomong sama elo, bisa"!"
"Kayaknya nggak bisa sekarang, deh. Gue lagi latihan."
"Kapan bisanya?"
"Kalo ntar, gimana?"
"Habis latihan?"
"Ya. Tapi, gue latihannya sampe sore. Elo tunggu gue, gimana?"
Gimana, ya" Gue jadi bingung, nih! Ya, daripada terus penasaran,
gue tunggu aja, deh. Lagian, kalo gue maksa ngomong di pinggir lapangan, ntar dikira gue
keganjenan ngobrol sama dia.
"Oke, gue tunggu!"
"Ya, udah. Gue latihan dulu, ya?"
Gila tuh anak! Kok, sopan banget, ya"
Akhirnya, gue nunggu Tristan latihan. Temen-temen gue pulang lebih
dulu. Boleh jadi, karena hari Sabtu. Mereka pasti pada pengin cepet-cepet
pulang. Kok, gue jadi nunggu Tristan, ya"
Selesai latihan, Tristan langsung ngajak gue pulang.
"Boleh nggak, gue nganter elo pulang?" ucap Tristan, sebelum gue
berkata-kata. "Hah"! Berani-beraninya elo nganter gue pulang"!"
"Kalo elo mau "Udah, jangan pura-pura jadi orang baik, deh! Gue mau ngomong,
nih!" "Ngomong aja ... mau ngomong apa, sih?" Gue dan Tristan berhadaphadapan. Sorot matanya begitu tajam. Gue jadi bingung mau ngomong
apa, saking silau sama tatapannya.
"Udah, ngomong aja!"
Tiba-tiba, gue lupa mau ngomong apa!
"Ya, udah. Ngomongnya ntar aja. Sekarang udah hampir gelap. Gue
anter elo pulang, ya?" usul Tristan, lalu berjalan ke halaman parkir
sekolah. Gue nurut sama kata-katanya. Gue terus aja ngikutin ke mana
langkahnya. Sampai dia nyuruh
gue masuk ke mobilnya. Dan gue diem aja sampai mobil jalan, dia
cengar-cengir sendirian. "Tadi, katanya mau ngomong. Udah, ngomong aja!" Tristan
mendesak gue lagi. Gue bingung mau ngomong apa. Terus terang aja, gue suka dia jadi
berubah baik. "Huh, bilang aja pengin dianterin pulangiNggak usah pake alesan
mau ngomong segala."
"TRISTAN!" Mata gue melotot. Tapi, Tristan malah senyam-senyum. Gue luluh
sama senyumnya yang manis itu. Siaaal ...!
Bekas Koreng DUA benci banget sama bekas koreng yang ada di kedua lututnya.
Pasalnya, ia jadi nggak berani pakai rok pendek lagi ke sekolah. Selama
ini, Dita selalu pakai rok yang tingginya di atas lutut. Tapi setelah ada
bekas korengnya itu, ia jadi nggak pede lagi pake rok pendek!
Bekas koreng itu sangat jelas terlihat ketika lututnya terbuka.
Bentuknya bulat sebesar telur puyuh, melingkar pas di bagian depan
tempurung kedua lututnya. Hal itu terjadi akibat Dita jatuh dari sepeda
waktu boncengan sama Pepen. Dita jatuh dengan posisi lutut membentur
tanah aspal kompleks perumahan. Kedua lututnya berdarah hingga lama
kelamaan jadi koreng. Salah Dita sendiri yang menyebabkan luka di kedua lututnya itu jadi
koreng. Saat Dita jatuh dari sepeda, ia nggak bilang papa-mama.
Alasannya takut, sebab papa dan mama pernah melarang Dita
boncengan sepeda sama Pepen. Sepeda cowok yang Dita taksir itu nggak
ada jok belakangnya. Dita sering boncengan sama Pepen, berdiri pada
besi yang dipasang di bagian tengah ban belakang sepeda itu.
Peristiwa malang itu terjadi waktu Pepen mengayuh sepedanya
kencang-kencang, dan lupa mengerem saat melintasi "polisi tidur". Hal itu
menyebabkan ban depan sepeda terangkat, lalu Dita terpelanting ke
belakang, terjatuh dengan posisi kedua lutut membentur aspal!


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Berhari-hari Dita menutupi kedua lututnya dari papa dan mama.
Begitupula terhadap teman-teman di sekolah. Setiap hari, Dita memakai
rok panjang untuk menutupi lukanya. Dita hanya mengobatinya dengan
plester dan obat merah. Namun suatu malam, mamanya mendengar
rintihan Dita di kamar. Mama masuk dan memergoki Dita tengah
membuka plester yang menutupi lukanya. Luka di kedua lutut itu bukannya
sembuh, tetapi malah menjadi koreng!
Malam itu juga,mama dan papa membawa Dita ke dokter. Menurut
dokter, luka Dita mengalami infeksi. Tetapi, dokter bisa menanganinya,
Dita diberi obat secukupnya dan disarankan istirahat di rumah dulu
sebelum luka itu sembuh. Dita pun izin nggak masuk sekolah. Karena
nggak masuk sekolah, akhirnya teman-teman dekatnya jadi tahu kalo Dita
korengan. Setelah tiga hari nggak masuk sekolah,luka itu mengering. Dan Dita
senang bukan main karena nggak merasakan nyeri lagi. Hanya,luka itu
membekas. Menurut dokter, hal itu terjadi karena luka itu tadinya telah jadi
koreng! Karena bekas koreng itulah, Dita jadi nggak berani pakai rok pendek
ke sekolah. Ia malu kalo semua temannya melihat bekas koreng.
Sementara itu, kalo pakai rok panjang terus, Dita juga merasa jengah. Jengah
pada teman-temannya yang biasa melihat Dita pakai rok yang panjangnya
di atas lutut. Jadi serba salah!
"Kamu kan, bisa pake rok panjang, Ta," nasihat mamanya, waktu
Dita mengeluh soal bekas koreng yang masih sangat kentara di kedua
lutut-nya itu. "Malu sama temen-temen, Ma. Nanti diledekin
lagi!" "Masa sih, orang pake rok panjang diledekin"!" "Bener lho, Ma. Kalo
Dita pake rok panjang terus, dikiranya kaki Dita masih korengan!" "Terus
gimana, dong"!"
"Mungkin Dita perlu operasi plastik. Biar bekas korengnya nggak
kelihatan lagi!" "Operasi plastik"!" Mama terbengong-bengong mendengar Dita
mengusulkan operasi plastik. Jelas aja mama jadi mendadak
terbengong-bengong kare na biaya operasi pasti mahal. "Apa nggak ada
jalan lain, Ta" Apa nggak nunggu hilang sendiri aja"!"
"Kalo bisa hilang! Kalo nggak bisa" Apa Dita harus seumur-umur
pake rok panjang"!"
"Cewek yang selalu pake rok panjang belum tentu lebih jelek dari
cewek yang pake rok pendek, Dita! Apalagi anak sekolahan!"
"Uh, bilang aja Mama nggak sayang Dita lagi!"
"Dita! Kok, kamu ngomong begitu?"
"Mama sih, nggak pernah mau serius nolongin Dita. Bujuk papa, kek!"
"Ya udah. Nanti Mama bujuk papa buat
mengoperasi plastik kedua lututmu, biar bekas korengnya nggak
kelihatan lagi!" "Nah! Gitu, dong!"
TERNYATA, papa nggak setuju kalo Dita harus operasi plastik segala.
Papa justru menyarankan agar Dita bersabar. Kata papa, seperti kata
mama tempo hari, bekas koreng yang tumbuh di kedua lututnya bisa
hilang sendiri. "Kalo nggak diobatin mana bisa hilang, Pa"!" protes Dita, dengan
mulut manyun. "Papa juga dulunya sering korengan di lutut. Nih, lihat lutut Papa!
Waktu seumuran kamu, papa masuk tim sepak bola, jadi penjaga
gawang. Papa sering jatuh hingga lutut Papa sering luka. Dulunya juga
pernah korengan kayak lutut kamu. Tapi, lama kelamaan hilang
sendiri!Nih,lihat!"Papa menunjukkan lututnya pada Dita.
"Ih, lutut Papa kan, item! Lagian, Kaki Papa banyak bulunya! Jadi
nggak keliatan bekas korengnya! Kalo lutut Dita putih mulus, Pa! Dan
nggak ada bulunya! Pasti bekas korengnya nggak bakalan bisa ilang!"
"Waduh, Ta! Kamu kok, menghina Papa, sih"! Ya udah, deh! Yang
jelas,Papa belum punya uang buat biaya operasi lutut kamu! Papa
sarankan, kamu cari dulu obat-obat murah, lotion atau apa kek, yang bisa
menghilangkan bekas koreng itu!"
"Iya, Ta. Mending kita cari cara lain dulu sebelum dioperasi! Dan
sebelum bekas koreng itu benar-benar hilang, kamu pakai rok panjang
dulu!" Dita nggak menjawab, tapi cuma cemberut. Abis, mau gimana lagi
kalo papa diam, mama nggak punya uang buat operasi lutut itu. Akhirnya,
ia menghubungi sahabat-sahabat dekatnya, siapa tahu bisa mencarikan
jalan keluar. "Gue rasa, mama-papa elo bener, Ta. Sebaiknya, elo berobat luar
dulu, daripada mikirin biaya operasi yang pasti mahal itu," saran Titi.
"Bener, Ta! Nanti kita cari di apotek aja, siapa tau ada obat yang bisa
menghilangkan bekas koreng elo," ujar yang lain.
"Minum suplemen bervitamin E aja, Ta!" tambah yang lainnya lagi.
SETELAH keluar masuk apotek, ternyata Dita nggak nemuin obat yang
mujarab buat musnahin bekas koreng terkutuk itu dari kedua lututnya. Dita
sungguh merasa tersiksa lahir batin karena ulah bekas koreng itu.
Sepertinya,memang nggak ada jalan lain kecuali operasi plastik! Uh, kalo
aja papa dan mama mau membiayainya.
Karena bekas koreng itu belum juga hilang, akhirnya Dita selalu pakai
rok panjang. Dita pernah mencoba pakai rok pendek. Tetapi, setiap kali ia
melihat bekas koreng itu, ia segera menggantinya
lagi dengan rok panjang. Rasanya bener-bener jelek kedua lututnya
ini,yang keduanya dihiasi oleh bekas koreng.
Dita jadi nggak pernah lagi mengikuti kegiatan-kegiatan di luar
sekolah sejak ia pake rok panjang. Ia enggan ikut cheerleader lagi dan
menolak setiap anak-anak mengajaknya ke pesta.Ia malu nongkrong di
mal seperti dulu. Karena menurutnya, memakai rok panjang itu kayak
dandanan ibu-ibu arisan yang pakai kain dan kebaya! Dengan begitu, Dita
nggak lagi berpikir tentang cowok.
Menurutnya, tak ada lagi cowok-cowok keren suka padanya. Sebab,
meskipun Dita lumayan manis, ia punya bekas koreng di kedua lututnya.
Termasuk Pepen, cowok sekompleks yang udah jarang main lagi
bersamanya. Mungkin Pepen tahu kalo lutut Dita pernah korengan"
Wah,nggak bertanggung jawab amat tuh cowok!
Tetapi ternyata, Dita ngerasa terheran-heran ketika suatu hari
mendapat sepucuk surat di kolong mejanya. Apalagi surat itu dari Acid!
Siapa sih, yang nggak kenal Acid, jagoan nge-band di sekolahnya"! Yang
kalo udah nyanyi, suaranya bisa bikin penonton cewek berteriak-teriak histeris!
"Gue rasa, Acid emang ada hati ke elo, Ta!" ujar Titi, saat mendengar
cerita Dita. "Soalnya, Acid sering nitip salam lewat gue!"
"Ah, masa"! Kok, elo nggak pernah cerita?"
"Abis, gue juga suka sama Acid!"
"Ya udah, elo ambil aja!"
"Eits, bentar dulu, Ta!" Titi menarik lengan Dita
yang ngambek itu. "Sekarang, gue sadar, Ta. Kalo Acid itu lebih suka
sama elo daripada gue. Seperti yang ada di surat elo itu. Acid suka sama
cewek yang pake rok panjang kayak elo. Dan dia justru benci sama cewek
yang pake rok mini kayak gue! Uh, sebel! Kalo tau begitu, gue pasti selalu
pake rok panjang terus!"
"Ya udah, Ti! Elo pake rok panjang terus aja kayak gue!"
"Udah terlambat, Ta! Nanti dikiranya gue pake rok panjang gara-gara
Acid, lagi!" "Tapi, Acid tau nggak ya, kalo gue pake rok panjang karena punya
bekas koreng di kedua lutut gue"!"
"Wah, gue nggak tau!"
"Kalo dia tau, gimana"!"
"Elo jujur aja!"
Akhirnya, Dita emang bener-bener jujur ketika ketemu Acid. Dan
ternyata, di luar dugaan Dita,Acid nggak peduli apakah lutut Dita ada
bekas korenga-nya apa nggak.Sebab Acid bilang,Dita tetep terlihat manis
di matanya, meskipun apakah ia pernah korengan apa nggak!
Uh, akhirnya Dita sangat bersyukur pernah memiliki koreng. Sebab,
kalo nggak pernah korengan dan akhirnya berbekas, belum tentu Dita
punya te-men cowok sebaik dan se-oke Acid. Kalo dulunya Dita nggak
punya bekas koreng, belum tentu Dita selalu pake rok panjang ke sekolah!
Pada akhirnya, setelah sering jalan bareng pas pulang sekolah, Dita
dan Acid jadian. Dita seneng
bukan main. Ia pun menceritakan sama papa dan mamanya. Dan
bisa diduga, papa dan mamanya nggak setuju!
Papa dan mama yang sekarang ini udah punya dana buat ngoperasi
bekas koreng kedua lutut Dita itu, nggak rela Dita punya pacar. Mereka
membujuk Dita buat mutusin hubungan.Sebagai imbalan, bekas koreng
kedua lututnya itu akan dioperasi plastik!
"Dita udah nggak butuh lagi operasi-operasian, Pa, Ma!"
"Kamu nggak nyesel"!"
"Nggak, Ma!" "Ya udah! Kamu boleh berteman dekat dengan cowok, tapi harus hatihati!"
"Iya, Pa! Tenang! Nanti, Dita ngenalin Acid ke Papa dan Mama!"
Mendengar penjelasan Dita, papa dan mama nyerah. Namun, papa
dan mama nggak ngerti mengapa tiba-tiba Dita berubah pikiran. Mengapa Dita nggak mau dioperasi seperti yang pernah ia inginkan.
"Jadi, elo nggak mau bekas koreng di kedua lutut elo diilangin, Ta"!"
"Bukannya nggak mau, Ti! Nih, elo liat sendiri!" Dita membuka rok
panjangnya hingga ke atas lutut.Ternyata ... kedua lututnya yang bagus
... nggak ada bekas korengnya lagi. Lututnya mulus seperti nggak pernah
korengan! "HAH! Bekas koreng elo udah nggak ada! Kok, papa sama mama elo
nggak tau"!" "Ssst! Yang tau cuma elo dan Acid, ya! Nanti kalo Acid dateng ke
rumah, baru gue kasih tau
mereka. Biar surprise]"
"Terus, elo kok, nggak pake rok pendek lagi"!"
"Nggak, ah!" "Pasti karena Acid, ya"!"
"Nggak juga! Acid juga suka kok, gue pake rok pendek. Asal nggak
kependekan. Dan, sebenernya justru Acid yang nganter gue ke dokter
spesialis kulit waktu gue terus terang ke dia, kalo gue punya bekas
koreng!" "Hah"! Beruntung banget elo punya koreng."
"Hus!" "Eh, maksud gue ... punya cowok care kayak Acid!"
"Ini kan, yang disebut hikmah, Ti! Acid bilang, setiap apa yang terjadi
menimpa kita, meskipun musibah sekalipun,pasti ada hikmahnya! Gue
bersyukur banget pernah punya koreng di kedua lutut gue!"
"Aaah mau dong, punya koreng!"
"Hus! Apa-apaan, sih"! Punya koreng tuh nggak enak, tau!"
"Iya! Gue cuma bercanda. Sekarang, gue ngerti. Gue yang pernah
sombong karena nggak pernah punya koreng kayak elo, ternyata nggak
lebih beruntung dari elo!"
Ojek Cewek DPA yang bisa dilakukan cewek sebatangkara yang nggak punya lagi
sanak saudara" Apakah harus mengemis" Apakah harus merengekrengek minta tolong pada orang-orang yang ditemuinya" Atau, datang ke
yayasan untuk sekadar mendapat bantuan dana"
Nggak. Tatu nggak mau melakukan itu semua. Tatu adalah seorang
cewek yang kuat. Tatu yang sempat menangis bermalam-malam karena
teman, kerabat, dan seluruh keluarganya tewas secara mengenaskan di
Aceh itu, tetap sabar dan tabah menjalani hidup. Tatu harus bisa survive.
SIANG cukup terik. Tatu pulang dari sekolah dengan perut kosong.
Nggak ada uang sepeser pun yang tersisa di rumah kosnya. Mestinya,
hari ini kiriman wesel dari Aceh udah tiba. Seharusnya, semuanya baikbaik saja kalo gempa dan gelombang tsunami enggak meluluhlantahkan
rumah keluarganya di Banda Aceh.
Di tempat kosnya ini, Tatu nggak tinggal sendirian. Tatu yang sekolah
di sebuah SMA di pinggiran Jakarta, ikut keluarga kakaknya. Namun, kakak
dan istri serta anak-anaknya saat ini tengah berkunjung ke Aceh
menengok keluarga besar yang jadi korban tsunami.
Tatu kini sendirian dan nggak ikut sama kakaknya pulang ke Aceh,
karena Tatu nggak ingin bolos sekolah. Lagi pula,kakak Tatu berjanji
nggak lama di Aceh,nggak lebih dari dua minggu. Dan yang terjadi, hingga
saat ini Tatu nggak pernah dapat kabar dari kakaknya, ataupun keluarga
lainnya. Sejak sambungan telekomunikasi diberitakan terputus, Tatu
nggak pernah mendapat kabar apa pun. Dan kini, semuanya udah
jelas.Tatu nggak bakalan dapat kabar dari keluarganya. Tatu bisa lihat
sendiri melalui televisi, kalo daerah tempat rumahnya berada, kini udah
rata dengan tanah. Siang ini, Tatu harus mengisi perutnya. Tatu udah mempersiapkan
segala sesuatunya untuk bisa bertahan hidup. Kakak Tatu memiliki
sepeda motor. Tatu jago naik sepeda motor dan mau coba jadi pe-ngojek
motor buat cari uang, buat nyambung hidup. Caranya gampang,Tatu ikut
mangkal di tempat ojek! Apakah bisa" Selama ini, memang nggak pernah ada cewek jadi tukang ojek motor
di daerah tempat tinggalnya. Dan Tatu sebenarnya nggak mau membuat
sejarah. Tatu nggak mau disebut sebagai cewek yang memelopori
pengojek cewek. Makanya, Tatu memutuskan akan merombak
penampilannya jadi cowok!
Nggak susah bagi Tatu. Tatu punya jaket dan topi serta kacamata
hitam yang bisa menipu mata calon penumpang. Tatu adalah cewek Aceh
yang kulitnya lumayan gelap. Wajahnya nggak secantik Cut Tary, atau CutCut artis lainnya. Boleh dibilang, Tatu memang lebih mirip cewek
kelahiran Jawa. Bisa jadi, karena ayah Tatu yang pensiunan tentara itu
emang orang Jawa yang menikah dengan cewek Aceh.Gen ayah lebih
kuat dari ibu. Tatu pun terlahir sebagai blasteran Jawa-Aceh.
Selama ini, Tatu nggak pernah mengeluh kalo dirinya nggak secantik
teman-temannya, atau artis sinetron Aceh yang cantik-cantik itu. Dan saat
ini, Tatu justru bersyukur pada Tuhan, karena dikarunia bentuk serta raut
wajah seperti yang kini dimilikinya. Penyamaran yang Tatu lakukan akan
berjalan dengan baik dan lancar.Tatu akan menjadi pengojek dengan
penampilan cowok. <*>. NGGAK akan ada orang lain yang tau siapa Tatu, kecuali Pak
Anggoro. Pak Anggoro adalah lelaki tua yang udah lebih dari sepuluh
tahun menjadi tukang ojek. Pak Anggoro tinggal nggak jauh dari rumah
kos kakak Tatu. Tatu udah bilang ke Pak Anggoro, kalo ia mau ngojek. Pak
Anggoro nggak percaya apa yang dikatakan Tatu. Dan tentu saja, Pak
Anggoro nggak pernah nyadar kalo Tatu itu cewek Aceh yang keluarganya
habis diterjang gem- pa dan gelombang tsunami.
"Nak Tatu mau ngojek" Mana mungkin bisa" Nak Tatu kan,
perempuan ...?" ujar Pak Anggoro, ketika Tatu mengutarakan isi hatinya.
"Tatu bisa kok, Pak. Ngojek itu kan, yang penting bisa naik motor. Dan
aku juga bisa. Bapak lihat sendiri, gimana aku naik sepeda motor?"
"Ya. Bapak sering lihat kamu naik sepeda motor. Tapi
"Udahlah ... aku bisa kok, ngubah penampilan jadi laki-laki. Itu
masalah kecil." "Tapi
"Bapak nggak usah khawatir. Yang penting, aku diberi kesempatan
untuk ikut ngojek di pangkalan."
Pak Anggoro menatap wajah Tatu dengan luar biasa herannya. Pak
Anggoro seperti nggak ngerti kenapa Tatu begitu memaksakan diri untuk
bisa menjadi tukang ojek seperti dirinya.Hingga akhirnya, Pak Anggoro
jadi merasa kasihan melihat Tatu.
"Kalo kamu butuh uang, Bapak mau kok, minja-min uang."
"Aku nggak mau menyusahkan Bapak."
"Kalo cuma buat makan sih, Bapak punya. Memangnya, saudarasaudara kamu pada ke mana" Kayaknya, beberapa hari ini Bapak nggak
melihat orang-orang yang tinggal bareng kamu."
Tatu jadi gugup mendengar pertanyaan Pak Anggoro. Tatu takut Pak
Anggoro tahu kalo dirinya anak Aceh yang seluruh keluarganya telah
musnah. "Pak Anggoro tahu, kalo saya dan kakak saya itu pendatang baru di


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

daerah ini. Nah, sekarang ini
kakak saya sedang ke rumah famili di Sumatra. Kalo kakak saya
kembali, saya juga nggak mau menjadi tukang ojek. Pasti kakak saya
marah besar." "Ke mana kakak kamu" Ke Sumatra?"
Tatu mengangguk pelan. Setelah itu, Tatu menunduk.
Pak Anggoro kembali berkata, "Mudah-mudahan bukan ke Aceh atau
ke Sumatra Utara yang kena musibah itu. Baiklah, kalo kamu ngotot mau
ngojek, silakan. Tapi ingat ya, kamu harus ngubah penampilan seperti
laki-laki. Ya udah, Bapak ke pangkalan dulu. Nanti, kamu nyusul saja! Kalo
ada apa-apa, bilang,Pak Anggoro yang punya pangkalan ojek!"
Tatu mengangguk. Tak terasa, air mata haru tumpah ke pipinya.Tatu
segera melangkah ke kosan sambil melap air matanya. Ia akan
merombak penampilannya menjadi cowok.
Di kamar kosnya, Tatu menatap dirinya di cermin.
"Aku ini cewek Aceh! Aku harus kuat.Aku harus seperti Cut Nyak
Dhien! Harus setegar Cut Meutia! Aku nggak mau jadi cewek Aceh yang
lemah! Aku nggak mau ngemis-ngemis sama orang lain. Beruntung kakak
punya sepeda motor. Aku siap mencari rezeki yang udah di-siapin Tuhan."
Memang, jalan satu-satunya bagi Tatu adalah menjadi tukang ojek.
Semua makanan dan minuman yang ada dikosannya udah ia habiskan.
Tatu nggak mau menjual barang-barang yang ada di rumah kos kakaknya.
Sebab, Tatu merasa bertangung jawab
menjaga barang-barang ini, dan masih memiliki harapan, kelak
kakaknya akan pulang membawa seluruh keluarga,datang dari Aceh
berkunjung ke rumah kos di pinggiran Jakarta. Tatu pun berharap semua
orang yakin kalo keluarganya bukanlah orang GAM. Sehingga, nggak
harus repot-repot mendapat pemeriksaan di perbatasan, seperti yang
selama ini dikeluhkan keluarganya.
Tatu udah siap bertempur di pangkalan ojek. Jilbabnya udah tertutup
rapi oleh topi. Setelah itu, ditindih dengan helm. Karena Tatu anak baru di
sekolahnya, mungkin juga nggak akan ada seorang anak pun yang
menyangka ada anak cewek jadi tukang ojek!
Setelah selesai menghias penampilan wajah, Tatu mengambil jaket
kakak laki-lakinya. Lalu, memakainya dengan kerah dibiarkan berdiri.
Sepatu kets dan celana jins yang kebesaran pun dikenakannya. Jadilah
Tatu sebagai tukang ojek yang siap menarik penumpang.
Tatu bergegas menghidupkan sepeda motor. Dan berangkatlah ia
mencari uang.Tiba di pangkalan ojek langsung bertemu dengan Pak
Anggoro. Kalo bukan Tatu yang menegur lebih dulu, Pak Anggoro enggak
akan mengenali. Sebab, penampilan Tatu benar-benar seperti tukang ojek
kebanyakan. "Kamu ...." Pak Anggoro geleng-geleng kepala. "Kamu bener-bener
luar biasa. Bapak jadi ingat sama pahlawan-pahlawan perempuan tem-po
dulu!" Tatu cuma tersenyum. Beberapa saat kemudian, tukang ojek lainnya
mengerubuti Tatu dan Pak Anggoro. Pak Anggoro pun mengenalkan
Tatu pada semua tukang ojek sebagai keponakannya. Tukang ojek itu
mengangguk-angguk mengerti meskipun mungkin merasa keberatan
karena ada saingan baru. SETENGAH hari Tatu ngojek. Tatu bersyukur karena bisa membawa
cukup banyak penumpang. Di antara penumpang-penumpang itu, Tatu
menarik penumpang yang tak lain teman sekolahnya, dan ada juga
gurunya. Mereka nggak mengenali Tatu! Ini benar-benar luar biasa. Ternyata,
doa Tatu dikabulkan Tuhan. Tatu memang berharap semua orang, kecuali
Pak Anggoro, nggak mengenali dirinya.
"Gimana, Nak ... lumayan hasil ngojeknya?" "Alhamdulillah, ini semua
berkat bantuan Pak Anggoro."
"Kalo kamu masih mau ngojek, besok kamu bisa ngojek lagi."
"Boleh?" "Ya, boleh! Yang penting, sekolah kamu nggak keganggu."
Sepulang ngojek, Tatu mampir di tempat makan. Di tempat makan itu
ada televisi. Kebetulan, menyiarkan tentang gempa dan gelombang
tsunami yang terjadi di Aceh. Tatu cuma melirik layar televisi itu sebentar,
Tatu tak kuasa berlama-lama menyaksikan orang-orang di daerah-nya yang terlihat sangat
menyedihkan.Setelah makan, Tatu bergegas menuju rumah kosnya. Tatu
berpikir, seandainya ia terus menjadi tukang ojek, Tatu yakin ia bisa
menghidupi dirinya. Seperti Pak Anggoro yang mengaku sebagai
pensiunan pegawai negeri rendahan, yang ternyata mampu mencari
tambahan penghasilan jadi tukang ojek.
Sepanjang perjalanan menuju rumah kosnya, Tatu menemui banyak
panitia penggalangan dana Aceh. Setelah membayar makanan di warung
makan tadi, Tatu masih memegang sisanya. Tatu udah menghitunghitung, bisa untuk makan pagi dan ongkos ke sekolah besok. Dan itu pun
masih ada sisanya sedikit.
Pada salah satu peminta-minta amal untuk korban Aceh di pinggir
jalan itu, Tatu merogoh saku jaketnya. Lalu, mengeluarkan sedikit
uangnya untuk disumbangkan ke Aceh. Tatu sungguh bersyukur bisa
membebaskan dirinya dari bantuan orang lain, dan bahkan mampu
membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah, meskipun tak
banyak. Tatu merasa harus jadi cewek Aceh yang tegar dan kuat, dan tak
pernah jadi lemah, seperti tokoh-tokoh pahlawan wanita asal Aceh yang
terkenal gigih dan nggak kenal putus asa.
Aku Ingin Kau Membenciku KURASAKAN malam semakin pekat. Awan hitam menggulung
cakrawala, melenyapkan cahaya rembulan dan bintang gemintang. Angin
berembus perlahan, membuat sam-pah plastik beterbangan.
Kuperhatikan para pedagang kaki lima mulai merapikan
dagangannya, berkemas-kemas untuk pulang. Aku berada tak jauh dari
mereka, menyandarkan tubuh pada sebuah dinding ruko. Napasku turun
naik begitu cepat, seiring degup jantung yang berdetak-detak. Kuremasremas kepalaku, sesekali membenturkannya ke tembok. Pusing!
Aku berjalan menyusuri jalan-jalan di sepanjang ruko-ruko untuk
menghilangkan penat. Para pedagang makanan, warung-warung tenda,
satu demi satu meninggalkan tempat mereka berdagang. Aku sendiri
terus saja berjalan, melangkah tiada tujuan. Pikiranku kembali teringat
pada kejadian tadi sore, ketika Anna menemuiku di tempat aku biasa
parkir. Anna, dengan sedan BMW-nya, menemuiku dengan bermaksud
mengajakku jalan-jalan. "Cuma nemenin aku, Kum," bujuk Anna. "Aku
nggak bisa, An." "Kenapa?" "Ya ... nggak bisa."
"Mesti ada alasannya, dong!"
"Nggak bisa ... ya, nggak bisa aja."
"Oke deh, gini aja, sore ini kamu nganter aku, ntar pulangnya aku
kasih ongkos, lebih besar dari pendapatan parkir kamu sore ini! Gimana?"
"ANNA"!" aku berteriak, ngerasa tersinggung.
"Maaf, Kum, aku cuma pengin kita jalan-jalan. Itu aja."
"Tapi, bisa di lain waktu. Nggak harus sekarang, kan?"
Anna memandangku sesaat, lalu menepiskan tangannya dengan raut
wajah marah. "Kalo nggak mau, ya udah!"
Anna membanting pintu sedannya, lalu melajukannya ke luar areal
parkir warung tenda yang terletak di sekitar ruko-ruko itu.
"Kum, Markum! Cewek bening gitu kok, disia-siain"!" ledek Kang
Asep, penjual sea food yang tadi mergokin aku sama Anna.
Aku nggak meladeni Kang Asep. Menghela napas sebentar yang
terasa sesak, lalu meninggalkan areal parkir.
Sejak kelas dua SMP, aku udah menjadi tukang parkir. Menjadi tukang
parkir kulakoni demi menyambung hidup diri dan keluargaku. Membiayai
sekolahku,adik-adikku,dan ibuku yang sakit-sakitan. Saat ini, aku kelas
tiga SMA. Aku bangga karena mampu membiayai sekolah sendiri. Dua
adikku yang beranjak besar, mengikuti jejakku menjadi tukang
parkir. Maka, sedikit demi sedikit, pengeluaranku berkurang. Namun,
sejak ibuku berobat jalan, aku harus lebih giat lagi. Kalo biasa-nya aku
pulang pukul sepuluh malam, kini aku baru kembali pukul dua belas. Kalo
biasanya aku mengantongi dua puluh lima ribu, aku bisa mendapat tiga
puluh lima sampai lima puluh ribu rupiah. Apalagi kalo malam Sabtu atau
malam Minggu, aku bisa mendapat lebih dari itu. Dengan begitu, aku bisa
mengatasi biaya pengobatan ibu.
Hanya, kalo aku pulang malam, besoknya Tetapi semua temanku
maklum, karena mereka tahu bahwa aku adalah seorang tukang parkir
yang pulang larut malam! Termasuk Anna.
Anna adalah teman sekolahku, hanya berlainan kelas. Anna tahu kalo
aku ini tukang parkir. Tapi, itu tak menyurutkan dirinya temenan denganku.
Semua anak di kelasku akhirnya tahu kalo Anna suka padaku. Begitupun
aku, senang punya temen secantik dirinya. Hanya, aku selalu merasa
nggak enak berdua-duaan sama Anna, cewek cakep anak orang kaya itu.
Semua teman di sekolahku mengatakan bahwa aku memiliki wajah
yang lumayan tampan. Selain itu, tubuhku atletis dan berisi. Aku jago
taekwondo dan basket. Di sela-sela markir, aku berlatih main basket di
areal parkir. Untuk latihan taekwondo, aku menyempatkan ikut latihan
setiap Minggu pagi. Sejak ikut latihan kelas dua SMP, kini aku
menyandang sabuk hitam dan dua!
Perihal hubunganku sama Anna, bukan rahasia
lagi. Karena akhirnya semua anak di sekolah, guru-guru, para pemilik
warung tenda di tempat aku biasa parkir, tahu kalo Anna kekasihku.
Bahkan, ibuku pun tahu. Sebab, bukan sekali dua kali Anna datang ke
rumahku. Anna sempat masuk sekolah, aku pasti mengantuk di kelas,
pula mengantar ibuku ke rumah sakit dengan sedannya.
Namun begitu, tampaknya kedua orangtua Anna nggak suka Anna
berhubungan denganku. Orang tua Anna mengetahui hubungan putrinya
dari Alek, salah satu cowok sekelas Anna. Alek cukup tampan dan berada.
Hobinya motor sport dan nge-track di jalan raya.Teman-temanku
bilang,Alek udah lama naksir Anna. Tapi, Anna nggak
menanggapi.Malah,Anna pernah mengatakan padaku bahwa ia nggak
suka Alek. Anna bilang, ia sangat mencintaiku.Ia nggak peduli meskipun
aku ini tukang parkir! Sebaliknya, akhir-akhir ini, aku yang selalu menghindari Anna.
Dengan berbagai alasan, aku selalu menolak kalo Anna menemuiku di
luar sekolah. Apalagi harus jalan-jalan berduaan, seperti yang diinginkan
Anna sore ini. Hal itu kulakukan karena aku mendapat ancaman dari
orangtua Anna,yang mendampratku di tempat parkir.
Ketika itu,aku tengah sibuk memarkir kendaraan seperti biasa. Tibatiba, seseorang dari dalam salah satu mobil yang tengah parkir
memanggilku. "Kamu yang bernama Markum, ya"!" tanya seorang laki-laki berkepala
botak dari dalam mobilnya. "Kenalkan, saya papinya Anna! Saya tahu,
kamu suka mengganggu putri saya! Apa kamu nggak
pernah ngaca, siapa diri kamu" Mulai sekarang, jauhi putri saya! Kalo
nggak, kamu akan berurusan dengan polisi! Nih, kembaliannya
ambil!"bentak laki-laki yang mengaku orangtua Anna itu, sambil melempar
uang dua puluh ribu rupiah padaku.
Aku nggak ngambil uang itu. Membiarkan lembaran bergambar Ki
Hajar Dewantara terhempas di aspal. Temanku Ipen, seorang tukang
parkir lainnya, mengambil uang itu lantas mengembalikannya padaku.
"Ambil aja! Buat anak-anak!" kataku pada Ipen.
Sejak saat itu, aku yang sebenarnya mencintai Anna, berusaha untuk
menghindar. Aku nggak peduli meskipun ia selalu mendekatiku. Aku
nggak peduli meskipun ia selalu mengajakku pergi. Aku nggak peduli
meskipun sesungguhnya hatiku begitu berat menolak setiap ajakannya.
Aku nggak peduli menolaknya meskipun sesungguhnya aku begitu
mencintainya. Aku nggak peduli! Aku ingin, ia tak mencintaiku!
"Apakah kamu udah nggak suka sama aku lagi, Kum?" tanya Anna
siang itu, di kantin sekolah. "Aku suka kamu, An!" kataku, jujur. "Lalu,
kenapa kamu selalu menolak ajakan-ku?" "Belum saatnya, An." "Belum
saatnya?" "Ya."
Anna nggak tau kalo orangtuanya mendampratku di areal parkir. Anna
nggak pernah tau kalo orangtuanya sering mengancamku, melalui Alek.
Sebaliknya, aku nggak pernah menceritakan perihal
ini. Aku khawatir Anna akan marah pada orangtuanya bila
kuberitahukan hal itu. Aku masih berjalan sendirian, menyusuri jalan di penghujung malam.
Hujan tiba-tiba turun, ditandai dengan gemuruh halilintar. Langit akhirnya
menangis,seperti ingin berbagi kesedihan.Aku berteduh di sebuah
emperan swalayan, duduk di sana dan menunggu hujan reda.
Lima belas menit kemudian, aku udah kembali berjalan, entah ke
mana, yang aku sendiri nggak tau. Aku nggak peduli malam masih
menyisakan gerimis, aku melangkahkan kaki mengikuti jalan raya dengan
hati giris. Pikiranku kembali pada Anna, cewek cantik yang telah membuat
perasaanku gundah gulana. Ingin kukatakan bahwa sesungguhnya aku
mencintainya.Tapi,aku nggak mampu, bukan karena aku takut pada
orangtuanya.Tetapi, aku menuruti pesan ibuku, agar aku nggak terlalu
serius berhubungan dengan cewek.
"Berteman boleh-boleh saja, tapi ada batasnya. Kamu harus lebih
banyak konsentrasi pada sekolah dan pekerjaanmu! Ingat, kamulah
harapan Ibu satu-satunya. Kamu harus lulus sekolah. Kalo gigih, kamu
pasti mampu! Meskipun cuma tukang parkir, kalau kamu sungguhsungguh, kamu pasti bisa, Kum! Seandainya bapakmu masih hidup,
beliau pasti bang-ga."
"Ibu jangan berkata begitu. Biarlah bapak tenang di alamnya. Markum
janji akan menuruti pesan Ibu," jawabku waktu itu.
"Maaf ya, Kum"! Ibu harus melarangmu seperti
ini. Apa yang Ibu katakan, semuanya demi kemajuan kamu. Satu hal
lagi Kum, tentang Anna. Kalo bisa, sebaiknya kamu jangan terlalu serius
dengannya. Dia itu berbeda dengan kita. Antara kita dan dia itu ibarat langit
dan bumi. Kamu harus memperlakukannya dengan baik. Meskipun Anna
baik sama kitajangan sekali-kali kamu berpikir, berandai-andai suatu saat
ia jadi pendamping hidupmu. Kecuali jika kamu bisa membuktikan, keluar
dari kesulitan ini. Oleh karena itu, konsentrasilah pada sekolah dan
pekerjaanmu." Aku kembali tersadar dari lamunan dan masih berjalan sendirian,
menyusuri jalan aspal yang basah. Tak kuhiraukan gerimis yang mulai
membasahi tubuhku. Aku tetap berjalan, menembus kegelapan malam
yang gerimis. Aku masih tetap nggak mampu keluar dari bayang-bayang
Anna. Entah kenapa, sekarang baru kusadari. Semakin aku berusaha
melupakannya, aku semakin rindu padanya. Semakin kutekadkan diri
untuk nggak mencintainya, aku semakin merasa tersiksa. Apakah harus
kukatakan sejujurnya bahwa aku sebenarnya sangat mencintai Anna, dan
selalu kuturuti setiap ajakannya"
Aku nggak tau dan bingung. Mungkin aku memang cowok bodoh. Aku
benci sama semua ini! Ya Tuhan, mengapa nasibku seperti ini" Mengapa
aku nggak seperti teman-teman sekolahku" Apakah seharusnya aku
nggak sekolah saja" Apakah seharusnya aku seperti teman-teman
parkirku aja" Nggak perlu susah-susah sekolah,karena sekolah cuma
bikin pusing aja"! Aku sendiri belum tau, apakah setelah lulus SMA ini aku bisa langsung mendapatkan kerja,
meneruskan kuliah, atau tetap seperti ini, menjadi tukang parkir"
Menjadi tukang parkir pun nggak jelek-jelek amat.Tetapi untuk apa
aku sekolah,kalo tetap menjadi tukang parkir" Temanku seperti Ipen dan
Agus yang nggak sekolah pun bisa jadi tukang parkir! Ya, TuhaniKalo saja
ibu tidak menyuruhku sekolah,udah lama aku berhenti
sekolahIDan,mengapa Anna harus mencintaiku"! Sialnya, aku pun nggak
mampu melupakannya. Aku nggak tau lagi gimana cara menghindarinya.
Seminggu lalu, udah kucoba dengan cara memanas-manasinya
dengan cewek lain. Aku sengaja berjalan dengan Lidya di depannya,
dengan maksud memancing kecemburuannya. Aku pun mengantar Lidya
pulang sekolah. Aku berharap ia terpancing. Aku ingin Anna membenciku.
Biar dia nggak usah datang-datang lagi menemuiku. Biar aku bisa
melupakan wajahnya dan lambat laun, aku bisa menghapus
keberadaanya, melenyapkan dirinya dari kehidupanku!


Cinderella Jakarta Karya Zaenal Radar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi,Anna nggak cemburu! Anna nggak marah aku jalan bareng Lidya.
Anna nggak marah aku ngantar pulang Lidya. Ketika itu, Anna justru
menanyakan secara baik-baik sama Lidya, tentang hubungan Lidya
Pendekar Baja 22 Pendekar Pedang Matahari 4 Neraka Lembah Tengkorak Kisah Sepasang Rajawali 2
^