Pencarian

Jingga Untuk Matahari 4

Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih Bagian 4


termenung di dekat jendela, menandakan bahwa si empunya kamar
belum tidur, membuat hati Ari makin nelangsa.
Dan ketika sampai pukul tiga dini hari lampu kamar Tari belum
mati juga, disusul siluet gadis itu masih bergerak" Ari langsung
memutuskan sesuatu. Keputusan yang mencabik dirinya sendiri, namun
itu yang terbaik bagi semua pihak. Lo gadis tangguh, Tari" lo harus
tangguh. * Airlangga gempar! Setelah adanya adu basket yang lebih mirip
gladiator antara Ata dan Ari, Panglima dan Mantan Panglima Perang
Airlangga, yang berakhir dengan kekalahan Ari dan putusnya hubungan
Ari dan Tari, kini mantan orang nomor satu di Airlangga itu"
menghilang! Sudah seminggu Ari tidak masuk sekolah dan tidak pulang
kerumah, tidak ada yang tahu keberadaannya. Termasuk Ayah Ari dan
kedua sahabat Ari " Ridho dan Oji.
Yang membuat ngilu adalah selama seminggu itu, orang-orang
selalu menemukan pemandangan Tari yang terus-terusan menangis
atau berjalan dengan mata sembab dan wajah pucat yang tanpa
ekspresi seperti zombie. Di kelas pun Tari hanya mencatat seperti
robot dan kelihatan linglung jika ditanya. Benar-benar pemandangan
yang sangat mengenaskan. Herannya lagi... Ata, yang mana telah menjadi sumber perkara,
terlihat sangat santai dan tenang-tenang saja. Otomatis semua
langsung berspekulasi bahwa Ata yang membuat mantan Panglima
Perang tidak menampakkan diri!
Hilangnya Ari diikuti oleh pemunculan sifat asli Ata: beringas,
dingin dan menakutkan. Bahkan, melebihi Ari dahulu. Bila Ari masih
bisa "disentuh", maka Ata ini tidak teraih. Ata seperti lava yang
menggelegak. Menghancurkan semua yang ia lewati. Tiada hari tanpa
adanya salah seorang korban tak bersalah, menjadi sandsack pelampiasan Ata. Ata yang sekarang seperti monster.
Kerinduan mereka terhadap hadirnya Ari pun makin menjadi"
* Karena setiap air mata yang keluar, tidak bisa dihentikan. Tiap air
mata adalah simbol cinta yang begitu dalam, sekaligus kepedihan
karena orang itu ada namun tak teraih. Ketiadaan Ari dan ketidakjelasan kabarnya membuat Tari sangat terpuruk. Menangis
adalah tempat Tari berlari ketika semuanya sudah tidak tertahankan
lagi. Menangis itu melelahkan. Menangis itu menguras tenaga dan hati.
Apalagi bila dilakukan hampir setiap hari dan setiap waktu.
Tari asalnya wanita tangguh yang jarang sekali menangis. Namun
permasalahan Ari ini menjadikannya wanita slang air yang menangis
tiap detik, tiap waktu. Ia sangat lelah menangis. Ia juga kasihan
dengan Fio yang mau tidak mau harus mendampinginya karena
terkadang ledakan tangis ini terjadi tiba-tiba. Lelah, ia lelah menangis.
Semakin ia sering menangis, semakin hatinya terasa berat. Menangis
berarti menegaskan ketiadaan Ari disisinya nyata adanya. Selama ini
Tari tidak pernah tahu bahwa ditinggalkan Ari bisa semenyakitkan ini.
Ditambah kenyataan, Ari-nya menghilang. Benar-benar hilang, tidak
ada yang tahu dimana keberadaannya.
Tari merasa ini semua salahnya. Karena dialah Ari pergi. Lebih dari
siapapun, Tari sangat memahami Ari. Dan Tari tahu betul bahwa alasan
Ari pergi adalah dirinya. Begitu cintanya Ari padanya, sehingga apapun
akan Ari lakukan untuk melindungi dirinya. Untuk tindakan Ari
sekarang, Tari kurang sependapat. Rasanya Tari ingin sekali menyeret
Ari ke depannya, kemudian diperlihatkannya pada Ari mata bengkak
karena kebanyakan menangis ini. Jelas, tanpa Ari, Tari sangat
berantakan. Kemudian Ata" ah, apa yang bisa Tari jelaskan" Melihat Ata, Tari
lebih nelangsa. Karena dalam Ata, ia lihat sosok Ari yang dulu. Yang
cadas dan selalu memakai topeng sebagai benteng pertahanan. Kedua
kembar itu" memakai cara yang sama untuk melindungi hati dari
trauma yang dulu mereka peroleh. Tari mahfum dengan alasan Ata.
Yang Ata lakukan adalah simbol kekecewaan. Yang Ata lakukan adalah
perwujudan rasa pahitnya yang dipendam bertahun-tahun. Kepada
seseorang yang telah menjalani begitu banyak emosi, bagaimana Tari
bisa menyalahkan" Tari menghela napas. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu
yang singkat. Dilempar nyeri bertubi-tubi membuat gadis setangguh
Tari menjadi slang air. Karena tiap air mata, akan menjelma sebagai doa. Dalam
sujudnya, Tari berharap agar semuanya segera baik-baik saja.
* Oji mengintip dari jendela X-9. Ia mendesah, ikut nelangsa. Lagilagi ia disuguhi dengan pemandangan Tari yang menangis.
Ingin rasanya ia peluk Tari erat-erat agar air matanya tidak mengalir.
Namun Oji paham betul bahwa kehilangan separuh jiwa dapat
membuat orang sekuat apapun tidak bisa mengontrol emosinya.
Terlebih lagi, sebagai salah satu orang yang dekat dengan Ari, Oji bisa
mengerti segala kekhawatiran, kecemasan dan segala perasaan yang
berkecamuk di hati Tari. Karena ia pun merasakan hal yang sama. Jika
saja dia wanita, maka dia pun juga akan ikut menangis bersama Tari.
Berhubung dia masih lelaki " tulen lagi " maka untuk mengusir rasa
sesaknya, hal yang ia lakukan adalah menganggu Ridho yang kebetulan
sekarang ada di sampingnya, ikut mengintip Tari.
"Gue baru tau ada orang yang bisa memproduksi air mata
sebanyak itu." Oji menggeleng, tampak prihatin. "Gue rasa kalo
dikumpulin air mata Tari bisa buat mandiin gajah sampe kinclong."
Oji tetaplah Oji. Yang selalu bisa melihat celah humor dalam
situasi apapun. Yang dapat melontarkan jokes mesti hatinya sendiri
juga teriris. "Ck" gue rasa itu air mata bisa buat ngeguyur Ari supaya sadar
kalo dia harus berhenti bersikap sok pahlawan dan ninggalin Tari dalam
kondisi kacau begitu!" sahut Ridho jengkel. Ia rangkul Oji, kemudian
berjalan menuju kelasnya sendiri. Acara mengawasi Tari menangis
sudah cukup hari ini. "Belum tau keberadaannya Ari, Dho?" Tanya Oji, kembali serius.
Ridho menggeleng lemah. "Belom, Ji. Bahkan Bokapnya juga kelimpungan nyariin dia. Tapi
beliau nggak bisa lapor polisi, karena Ari bukan tergolong anak ilang.
Dia rutin ngehubungin Bokap-Nyokapnya."
"Lho, kalo gitu bisa aja kita minta nomornya ke Tante terus kita
seret itu kunyuk kesini biar dia liat dampak perbuatan dia kayak apa!"
"Nggak bisa. Nomornya selalu ganti-ganti." Ridho menghela napas,
frustasi. Oji menepuk bahu Ridho, seakan menenangkan. Ia tersenyum.
Senang rasanya bisa berkumpul kembali dengan sahabatnya yang satu
ini. Rasanya sudah berabad-abad ia kehilangan Ridho akibat ulah Ata.
Sekarang, sahabatnya kembali. Seperti keajaiban.
Seakan tersengat, Oji melonjak. Ia ingat ada sesuatu yang sudah
lama ia ingin tanyakan pada Ridho.
"Dho" jadi yang kemaren-kemaren itu" lo sama Ata?""
Ridho nyengir, merasa bersalah sekaligus bangga.
"Itu strategi, bego. Devide et impera. Kita deketin musuh buat tau
kelemahannya," jelas Ridho seperti mengajari anak TK.
"Terus, apa yang lo dapet" Ata cerita apa aja?"
Ridho mendesah. Ia menarik Oji ke pojok koridor yang sepi, untuk
meminimalisir orang-orang yang ingin mencuri dengar. Bersama Oji, ia
ceritakan sekeping demi sekeping puzzle yang menjawab sejuta tanya.
Tentang masalalu Ari dan Ata. Tentang konspirasi dengan Angga.
Tentang perasaan dan alasan Ata. Terakhir, tentang Kirana.
Mendengar cerita Ridho tersebut, Oji hanya bisa mengangguk,
melongo, ternganga dan kombinasi dari tiga itu. Segalanya benar-benar
tidak terduga, segalanya benar-benar tidak terprediksi. Menyatukan
puzzle-puzzle itu membuat semuanya menjadi masuk akal. Meski itu
tidak dapat dijadikan alasan pembenaran.
"Terlepas dari itu, kita masih punya pe-er yang besar," Ridho
menghela napas, seakan ada beban yang sarat di pundaknya. "Angga."
* Gita mengintip dari jendela X-9. Ia mendesah, ikut nelangsa. Lagilagi ia disuguhi dengan pemandangan Tari yang menangis. Ingin rasanya
ia peluk Tari erat-erat, seakan menambah kekuatan. Atau paling tidak
menangis bersama agar seluruh beban tidak terlalu berat.
Namun beban yang disandang Tari saat ini tidak terbagi. Dan Gita
sadar betul hal itu. Tidak ada satu hal pun yang dapat ia lakukan,
betapapun ia ingin membantu Tari. Dalam hati ia ikut sedih, merasa
bersalah. Hal ini terjadi karena Angga, kakak sepupunya dan
"pacarnya". Berbicara mengenai Ata, Gita sudah tidak bisa berkata-kata. Ata
ini susah untuk dijangkau. Ata ini tidak terbaca. Kedekatan mereka
yang terlihat mesra, hanya dipermukaan saja. Pada setiap tatap, tidak
pernah menyelam ke dalam jendela jiwa. Pada setiap rangkulan, Ata
tidak pernah memeluk Gita dengan keseluruhan jiwa. Pada setiap
tawa, Ata tidak membiarkan Gita masuk di dalamnya. Gita tidak bisa
mendekat, karena Ata telah menggariskan batas tegas yang tidak boleh
Gita lewati sama sekali. Tidak dibiarkannya Gita mendekati batas itu.
Kata "Ibu Negara" memang betul-betul secara de facto saja.
Karena pada kenyataannya, hubungan antara Ata dan Gita memang
hanya simbol belaka. Tidak ada hati yang berbicara disana. Ironis
sekali, bukan" Tapi Gita tidak mau menyerah. Persoalan ini harus selesai,
bagaimanapun caranya, apapun resikonya.
Sekelebatan ia lihat Ata sedang berjalan menyusuri koridor
seberang. Gita langsung menghampirinya. Ata mengangkat alis, agak
kaget. Karena tidak biasanya "pacar"nya ini menemuinya terlebih
dahulu. Apalagi, sorot mata "pacar"nya itu tidak seperti biasanya yang
lembut dan polos. Sorot mata ini" sorot kemurkaan juga kekecewaan.
"Ada apa?" "Kakak puas dengan kondisi kaya gini?" tembak Gita langsung,
tanpa ampun. Sepertinya tangisan Tari memupuk keberaniannya,
memicu kekuatannya dan membuatnya meledak seperti sekarang.
"Jadi" ini yang Kak Ata mau" Liat Tari nangis setiap hari. Liat Kak
Ari ilang entah dimana. Kakak bikin semua hubungan hancur. Percuma
ada di posisi tertinggi, tapi dengan cara mematikan orang lain!"
"Git!" tangan Ata sudah melayang, namun seketika ia tersadar
siapa yang dihadapinya dan urung melakukan kekerasan fisik itu.
Sebagai gantinya ia memukul pilar yang ada di belakang Gita.
Hampir ditampar seperti itu, Gita terkejut. Ia tidak menyangka
betapa sensitifnya perkataannya barusan hingga membuat Ata lepas
kendali. Dengan tatapan nanar, ia tatap Ata. Kedua tangan Gita yang
gemetar menyentuh pipi Ata, lembut.
"Maafin saya, Kak," bisik Gita dengan suara bergetar, menahan
isak. Ata menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, kemudian ia
turunkan tangan Gita dari pipi menuju dadanya. Dada yang berdegup
sangat kencang, seperti ingin melesak dari tempatnya. Dadanya sangat
sesak. "Sakit, Git." Gita nyaris tak bisa membendung air matanya. Ini pertama
kalinya" Ata membiarkannya melangkah lebih jauh! Ini pertama
kalinya Ata membiarkannya mendekat. Terharu, Gita pun memeluk
Ata. "Saya nggak akan ninggalin Kak Ata?"
* Angga dan Bram. Keduanya ada di taman belakang rumah Angga,
duduk berhadapan. Yang satu sedang menggebu-gebu bercerita, yang
satunya menjadi pendengar yang baik dan menahan seulas senyum juga
perkataan, "I"ve told you so!"
Keadaannya begitu lucu. Angga ternyata bekerja sama dengan
orang yang ternyata adalah sumber petaka, biang kerok masalahnya.
Dan bahkan ia menitipkan "adiknya" yang satu lagi pada si biang kerok
itu! Angga merutuki kebodohannya. Ia meminta maaf pada Bram
karena telah mengabaikan perkataan Bram dulu.
"Terus rencana lo sekarang apa?" Tanya Bram, setelah mendengarkan curhatan Angga dengan khusyuk.
"Bales Ata, apalgi!" jawab Angga, geram. "An eye for an eye,
Bram!" "Terus Gita gimana?"
Ata berdecak. Bram ini! Tidak bisakah sekali saja mengesampingkan perasaan pribadinya dengan adiknya itu" Ia ingin
mengatakan hal tersebut pada sahabatnya itu, tapi urung karena ia
melihat Mbok Narti, asisten rumah tangga yang sudah lima tahun
mengabdi, tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Mas, Mbak Gita sudah datang."
"Makasih, Mbok. Nanti saya temuin di ruang tamu," ujarnya pada
Mbok Narti. Dan pada Bram, ia memperingatkan, "Lo jangan
mengacaukan segalanya dengan acara ngomel-ngomel nggak jelas ke
Gita!" "Ngomelin gue apaan?" sahut Gita, yang ternyata sudah berada di
depan Angga. "Jadi gue dipanggil kesini cuma buat diomelin, nih?"
"Bukan diomelin, tapi dinasehatin," ralat Angga. "Jadi, Git,
maksud gue nyuruh lo kesini ?"
"Lo" brengsek!" desis Gita tajam, memotong perkataan Angga.
"Lo tau perkembangan terbaru yang terjadi di Airlangga berkat kerjaan
elo" Nggak. Pasti lo nggak tau. Karena otak lo udah ketutup sama
ambisi untuk bales dendam dan mata lo udah gelap jadi nggak bisa
ngeliatberapa banyak orang yang udah lo tusuk, yang bahkan enggak
bersalah sama sekali, buat nuntasin dendam lo itu!"
Gita menatap Angga tajam. Napasnya sedikit tersengal karena
emosi yang menggelegak membuat dadanya sesak. Angga surprised
sekaligus bingung karena tiba-tiba diserang oleh adik sepupunya. Pasti
ada kejadian mahahebat sehingga membuat adiknya yang biasanya


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kalem itu jadi muntab. "Bisa lo jelasin kenapa tiba-tiba lo ngomelin gue begini?"
Gita menghela napas panjang. Ia ceritakan kehebohan yang
melanda Airlangga beberapa hari terakhir ini. Tentang perseteruan Ata
dan Ari yang terang-terangan. Tentang adu basket yang menyebabkan
putusnya Ari dan Tari. Tentang menghilangnya Ari. Tentang Tari yang
menjadi manusia slang air separuh zombie; sangat kacau.
Angga sendiri tidak menyangka bahwa perkembangannya akan
seperti itu. Pertikaian antara Ata dan Ari adalah kabar baik untuknya,
namun depresinya Tari membuatnya sangat tertohok. Untuk itu ia
hanya bisa menyayangkan dalam hati. Lo nggak akan begitu kalo elo
lari ke gue, Tar. "Sebenernya mau sampe kapan, sih, bales-balesan begini berlangsung" Perang nggak berkesudahan kayak gini emangnya nggak
bikin kalian capek, apa"!" Gita mendengus kesal. "Lo liat Tari, Ga. Dia
udah bisa dibilang hidup yang nggak hidup. Tolong" hentikan, Ga."
Gita mengucapkan permohonannya dengan suara lemah. Matanya
langsung menatap Angga. Ada permohonan yang sarat disana. Untuk
berhenti. Untuk menyerah. Untuk meletakkan beban itu jauh-jauh di
belakang. Apa yang telah terjadi ya sudahlah, tidak ada yang bisa
dilakukan lagi kecuali mengikhlaskan segalanya. Namun Angga tidak
mengindahkan tatapan Gita. Hatinya masih keras. Angga malah balik
menatap Gita, tajam. "Lo pikir gue lakuin ini buat siapa" Jelas, gue juga nggak senengseneng disini, Git! Gue cuma ngelakuin apa yang berhak mereka
dapetin!" bentak Angga.
"Bukan cuma elo yang ngebawa luka hati, Ga! Mereka " Ata dan Ari
" udah punya masalah yang cukup berat tanpa lo harus ikut campur dan
ngebawa kepentingan lo disana!" jerit Gita frustasi karena Angga tak
kunjung mengerti. "Demi Tuhan, Angga" kenapa lo nggak ngerti-ngerti
juga!" "Lo itu yang nggak ngerti!! Udah, Git, cukup elo ikut dalam kancah
peperangan ini! Lo sebaiknya out dan nggak usah ikut campur lagi!
Jauhin Ata!" Gita histeris mendengar perkataan Angga barusan. "Emangnya lo
siapa nyuruh-nyuruh gue jauhin Ata"!!"
"Gita! NURUT!!"
"NGGAK!!" Kedua orang itu, Angga dan Gita, saling menatap, saling garang.
Sama-sama keras hati dan mempertahankan apa yang menurut mereka
benar. Egoisme mereka yang berbicara. Sama-sama tidak ada yang mau
mengalah. Angga, dengan dasar untuk melindungi orang yang ia
sayang. Gita, dengan dasar untuk melindungi orang yang sama sekali
tidak bersalah. Semua alasan itu valid. Tidak ada yang sangat benar
atau sangat salah. Bram sedari tadi hanya diam melihat perdebatan kakak beradik
itu. Sebenarnya ia agak geli, karena Angga dan Gita sangat mirip ketika
sama-sama sedang ngotot. Tapi diingatnya bahwa perdebatan ini bukan
perdebatan antara adik dan kakak yang sedang memperebutkan
remote TV. Perdebatan ini mengenai suatu hal yang dapat mengacaukan rencana Angga dan membahayakan keselamatan Gita itu
sendiri. Karenanya, diputuskanlah dirinya untuk ikut bicara. Dengan
hati-hati Bram memilih kata-katanya.
"Git, lo dengerin Angga. Yang dihadepin ini bukan main-main,
lho," bujuk Bram. Gita menatap ke arah Bram. Matanya mendelik, sorot matanya
begitu keras dan tajam. Gita benar-benar murka.
"Justru karena ini nggak main-main, gue minta kalian berhenti!"
Mata Angga melebar seakan Gita menyuruhnya memakan rumput
di halaman belakang. "Lo?" "Git?" Bram memotong perkataan Angga, sengaja untuk menghindari pertikaian yang lebih hebat antara Angga dan Gita. "Coba
aja lo tau alesan Angga berbuat seperti ini. Lo pasti akan maklum"
terus ?" "Jangan bilang ini soal Kirana!" potong Gita, kemudian ia tertawa
histeris. "Lo sebaiknya nggak usah bawa-bawa Kirana. Nggak ada
kaitannya Kirana dengan masalah ini!"
"Nggak ada kaitannya gimana maksud lo"!" emosi Bram mulai
tersulut menghadapi Gita yang benar-benar keras kepala . "Kirana ini"
Ata dan Ari?" "Gue udah tahu cerita tentang surat Kirana yang disobek Ata alihalih Ari, terima kasih," sela Gita dingin. "Okelah kalo dasar kalian itu
buat ngebales orang yang nyakitin Kirana. Tapi Ari sama sekali nggak
tau apa-apa. Ata sendiri juga bukannya nggak punya alesan?"
Sebagai "pacar" yang baik dan pengertian, ketika Ata sangat
kacau pasca didatangi Papanya di sekolah, Gita bermaksud menghibur
Ata siang itu. Definisi menghibur disini adalah, duduk di samping Ata
dan menceritakan sebuah kisah dari novel yang ia baca. Namun
alangkah terkejutnya Gita ketika menghampiri Ata dan Ata sedang
kalap. Ata menangis yang benar-benar menangis! Membantingi kursi,
meja dan memukuli apa saja yang ada disana. Gita takut dan
memutuskan untuk mengintip saja. Beberapa saat kemudian, Ridho
datang. Ia dan Ata berbicara banyak, membuat Gita yang sengaja
mencuri dengar terhenyak. Dari mencuri dengar itu, bukannya Ata yang
menyakiti Kirana yang menjadi fokus perhatiannya. Namun bagaimana
Ata telah sangat terluka dan terpuruk setelah kejadian itu.
Ata adalah dinding yang kokoh tak teraih, tak terjangkau. Ata
adalah badai yang sangat kuat dan dingin. Ata adalah lava yang
menggelegak dan menghancurkan. Ata adalah seorang yang berjalan
dengan pisau menancap di dadanya. Ata penuh luka! Dan apa yang dia
lakukan" itu adalah salah satu bentuk pertahanan.
"Lo ngebelain Ata"!! Lo ngebelain Ata?"!!!"
Angga kalap. Dilemparnya kursi yang ada disebelahnya hingga kursi
itu patah. "Itu orang yang ngancurin Kirana, tau!! Aaarggh!! Bram!
Bikin cewek keras kepala ini ngerti!!!"
Untuk menenangkan diri agar tidak terjadi hal yang akan ia sesali
nanti, Angga berbalik dan pergi. Meninggalkan Gita yang badannya
bergetar menahan marah dan Bram yang masygul dan bingung.
Bram menatap Gita lembut. Berharap dengan itu Gita akan lebih
melunak dan bisa dibujuk.
"Ayolah Git. Kenapa sih, lo ngebelain Ata?"
"Yang terluka bukan cuma Kirana, tau," jawab Gita sebal.
"Oke. Anggeplah emang Ata enggak salah-salah banget?" Bram
menghela napas. "Kenapa elo ikut campur" Biarin aja. Ini urusan
antara Angga dan Ata. Nggak usah ikut-ikutan dan turutin apa kata
abang lo." "Kalo gitu lo bisa nggak, nggak usah ikut campur juga dan biarin
Angga berhadapan sama Ata sendiri?"
Serangan balik Gita membuat Bram tergeragap.
"Beda cerita, Git. Angga itu sahabat gue."
"Ata itu" pacar gue." Gita menggigit bibir, malu.
Kata "pacar" belum tepat untuk melabeli hubungan Gita dan Ata.
Karenanya Gita sangat segan untuk menyebut kata itu. Mereka " Gita
dan Ata, hanya pacar di atas kertas saja. Agak kurang resmi, begitu.
Menyebut Ata sebagai miliknya, membuat Gita seakan mengaku-aku.
Tapi mau bagaimana lagi. Penjelasan itu yang termudah bisa diterima
oleh telinga siapapun. Bram langsung terpaku. Lidahnya kelu. Salah paham dengan katakata Gita, Bram berasumsi bahwa Ata benar-benar telah merasuk di
hati Gita. Ia patah hati seketika. Ia menelan ludah ketika menguatkan
diri untuk berkata-kata, "Jadi?"
"Jadi gue harus melakukan tugas gue sebagai pacar yang baik,"
Gita menegaskan dengan suara melengking. "Lebih dari itu" ada hati
yang lebih rusak dari punya lo atau Angga. Dan gue sudah memilih
untuk berdiri dimana."
Gita memberikan menjelasan dengan lembut. Karena, bukannya ia
tidak tahu bahwa sahabat sepupunya ini menaruh hati padanya, bahkan
sudah cukup lama. Bram dan Gita, keduanya saling bertatapan. Saling mencoba
membaca perasaan melalui jendela jiwa. Ada keinginan yang kuat
untuk memeluk, ada retakan hati yang terlihat jelas. Ada kelembutan
juga keras hati yang terpancar, keputusan tidak bisa diganggu gugat
lagi. Hanya ada satu kesamaan di sinar mata itu: sama-sama mencoba
berdiri di samping orang yang mereka sayang.
"Gue pamit. Tolong sampein ke Angga," ucap Gita kemudian,
memecah kesunyian yang canggung itu. Ia berbalik dan melangkah
meninggalkan Bram dengan hati patah.
Melihat punggung Gita makin menjauh, Bram pun dilanda perasaan
gundah. Apakah sebenarnya masih ada kesempatan" Apakah ia bisa
membuat Gita berpaling" Mungkin" mungkin. Ia harus mencoba. Meski
itu mempertaruhkan perasaannya.
"Git" gue" sayang elo," ucap Bram pelan dan tegas.
Gita menghentikan langkah. Matanya terpejam. Ia sudah menduga,
hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Namun kata-kata yang
diucapkan Bram dengan serak dan lirih seakan mengucapkan permohonan untuk tetap tinggal itu membuat hatinya bergetar. Terus
terang, ia bingung harus menjawab apa pertanyaan dari orang yang
sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu. Gita menghela napas,
kemudian menoleh. Ia menatap Bram tepat di manik mata, untuk
membuktikan bahwa ia benar-benar menghargai ucapan Bram barusan.
"Gue tau, Bram," jawab Gita pelan, sambil menyunggingkan
senyum. "Terima kasih, ya," lanjutnya, kemudian berbalik dan pergi
tanpa menoleh lagi. * Bandara Soekarno Hatta, 21.15 WIB.
Seminggu di Bali tidak membuat langkah Ari menjadi lebih ringan.
Kuta, Sanur, Nusa Penida, Bedugul, Ubud, berbagai diskotik, alkohol
dan perjalananya bersama Wayan, tidak membuat langkahnya ringan.
Tidak ada hari yang tidak ia habiskan dengan memikirkan Jakarta. Dan
orang yang ia sayangi yang berada disana.
Seminggu di Bali adalah pergolakan batin yang hebat. Ditahannya
kuat-kuat keinginan untuk langsung berlari, melesat, terbang menuju
orang yang sangat amat ingin dipeluknya. Rasa rindu dan sesak
memenuhi rongga dada Ari, membuatnya sangat sakit sehingga ada
waktu-waktu dimana ia terlihat seperti orang sakaw saking menderitanya. Sengaja berganti-ganti nomer untuk memberi kabar
Mama dan Papanya, agar ia tak terlacak dan tidak ada yang bisa
menghubunginya. Karena hanya satu SMS saja dapat membuatnya
langsung melesat dan merobohkan segala benteng pertahanannya.
Seminggu di Bali sangat menyiksanya. Namun bagaimanapun ia
harus bisa menghadapinya. Meninggalkan Tari memang bukan hal yang
mudah namun hal itu harus ia lakukan. Demi kebaikan gadis itu
sendiri" juga penebusan rasa bersalahnya pada orang yang selama
Sembilan bulan berbagi rahim sang ibu dengannya. Tak apa, Ari ikhlas.
Karena mungkin itu adalah harga mahal yang harus ia bayar.
Antara ia dan Ata" entah apa yang terjadi hingga seperti ini.
Mereka sama-sama terluka, sama-sama berperang menghadapi bayangbayang. Saling berperan menjadi yang lain, sekedar untuk mengobati
hati. Setelah sekian lama berdiri sendiri, memang sangat sulit tiba-tiba
harus berdua lagi. Ata telah melewati hidup yang keras, apapun itu.
Untuk kebahagiaan Ata, Ari rela memberikan semua.
Ari menghela napas. Dadanya sakit karena ia teringat Tari. Gadis
yang termaterai takdir untuk menjadi jalan pulang baginya, namun
tidak untuk bersama. Ikhlas" ikhlas" ia memejamkan mata, kemudian
berjalan. Langkahnya masih berat, tapi ia harus paksa untuk kuat. Ia
langsung menaiki taksi yang berhenti di depannya. Ia menyandarkan
diri di jendela. Merasa sangat letih.
Seminggu sudah nomornya tidak diaktifkan. Sebenarnya ia agak
penasaran juga berita apa yang ia lewatkan seminggu ini. Ia ambil
ponsel dari sakunya kemudian mengganti simcard yang ada di
ponselnya sekarang dengan simcardnya yang asli. Nomor keramatnya.
Dan benar saja, begitu diaktifkan ada begitu banyak SMS yang masuk.
Sebagian besar dari sahabatnya, Ridho dan Oji, ada Fio juga dan, yang
membuat dada Ari serasa berhenti" Tari.
Ia langsung menchecklist semua SMS dari Tari, kemudian ia
menghapusnya tanpa membacanya sama sekali. Sengaja, karena satu
pesan dapat menggoyahkan hatinya. Dan ia tidak bisa menjamin apa
dia bisa bertahan untuk tidak berlari dan mengajak Tari berlari
bersamanya, jauh dari segala yang ada sekarang.
Satu demi satu ia baca SMS yang ada. Standar, menanyakan kabar,
menanyakan dimana ia, sehat atau tidak. Menceritakan kejadian di
sekolah. Memberitahu ada PR, tanding futsal, dan sebagainya.
Kemudian tinggal 1 yang belum ia buka. Sebuah MMS dari Oji. Tanpa
ada perasaan apapun ia membukanya. Dan seketika" napasnya
berhenti!! MMS itu sebuah foto. Foto Tari di kelas, sedang menangis
ditenangkan oleh Fio. Merasa itu belum cukup, Oji menulis caption
Begini keadaan Tari, setiap hari, semenjak lo tinggalin Bos"
Satu pesan" benar dapat membawanya langsung melesat seperti
anak panah yang lepas dari busurnya! Seperti kesetanan, Ari langsung
memerintahkan supir taksi untuk putar balik dengan tujuan rumah
Tari. * Dua jam. Dua jam yang sangat menyiksa. Disinilah ia sejak dua
jam yang lalu. Berdiri di depan rumah gadisnya. Memandangi jendela
kamar gadis itu, berusaha mereguk kerinduan yang menggelegak di
dada, yang terpancar melalui siluet. Namun kali ini Ari hanya cukup
melihat jendela saja. Tidak ada siluet. Lampu kamar itu sudah mati,
bahkan mungkin sebelum Ari datang kesana. Ari tertawa, getir. Setelah


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ia nyaris kehilangan kesadarannya tadi, ternyata pemandangan yang
ada tidak seperti yang ada dalam pikirannya.
Sebagian hatinya merasa lega, karena itu berarti, Tari baik-baik
saja. Sebagian hati yang lain merasa sakit luar biasa, karena itu berarti
Tari baik-baik saja" tanpanya. Tapi ia menekankan kuat-kuat dalam
hatinya, ini yang terbaik. Ini yang terbaik.
Ada satu hal yang Ari tidak tahu. Tadi siang, Tari di sekolah
pingsan. Sudah seminggu lebih makan Tari berantakan, kurang tidur
dan menangis hampir setiap waktu.
Hari ini adalah puncaknya. Setelah tangis Tari meledak tiba-tiba
waktu istirahat, ia langsung pingsan. Hidungnya mimisan, pula. Hampir
satu sekolah heboh. Fio yang menangis tergugu, Oji dan Ridho
membawa Tari ke UGD. Walau setelah diperiksa, ternyata Tari tidak
apa-apa. Hanya lelah saja dan maagnya kambuh. Stress memang
membuat tubuh Tari sangat lemah. Mama Tari langsung histeris
mendapati anaknya diantar pulang dalam keadaan lemas begitu,
ditambah adanya obat dari rumah sakit, pula. Segera saja beliau
memaksa Tari untuk beristirahat, menyuapinya makan yang banyak dan
memaksanya minum obat. Di antara banyak obat yang diresepkan, ternyata ada obat tidur.
Karenanya Tari langsung jatuh tertidur setelah meminum obat. Ya, Ari
tidak tahu itu. Dan mungkin sebaiknya tidak perlu tahu.
Ari merasa Tari sudah baik-baik saja. Namun tetap saja ia
pandangi jendela kamar Tari. Sedikit berharap terlihat siluet Tari
disana. Sedetik saja tidak mengapa. Untuk mengobati kerinduan dan
sakit hatinya" "Udah gue duga. Elo disini."
Ari terperanjat. Ia menoleh ke arah suara, tepat di belakangnya.
Ari mendesah, merasa lelah untuk menanggapi orang itu. Angga.
"Lo mau apa lagi?"
Angga tersenyum menghina, menatap Ari dari atas ke bawah
seakan menilai apakah Ari berhak berbicara padanya atau tidak.
"Apa yang gue mau udah terlaksana. Sedikit demi sedikit. Itu juga
berkat elo. Makasih ya, "Suh"," ucap Angga sembari membungkuk
berlebihan dan memanggil Ari dengan sebutan "Suh", kependekan dari
"Musuh." "Maksud lo apa?" Tanya Ari, defensif. Moodnya sedang tidak baik
dan sebaiknya Angga berhati-hati sebelum Ari naik darah.
Angga tertawa terbahak, kemudian menepuk bahu Ari."Gak usah
sensitif begitu, dong. Gue cuma nggak habis pikir aja sama lo dan Tari.
Pasangan" apes. Nggak sengaja ada di medan perang, kemudian jadi
sasaran." Ari hanya terdiam mendengar jawaban Angga yang berputar dan
tidak jelas apa maksudnya. Sunyi langsung menyeruak, hanya
dipecahkan oleh suara lalu lalang kendaraan di jalan besar ujung gang
yang nampaknya sangat jauh.
"Dari awal dulu?" Angga menarik napas, memecah keheningan.
"Gue udah kasih peringatan ke elo. Tapi lo dengan sombongnya nggak
mau denger. Gue juga udah kasih peringatan ke Tari. Cewek itu?"
Angga tertawa, mengingat reaksi Tari.
"Cewek itu begitu bodohnya mengira elo bisa ngelindungin dia
selamanya. Pasti sekarang dia nyesel banget lo lepeh gitu aja."
"Gue enggak lepeh dia!" Ari meradang mencengkram kaus Angga.
"Gue nggak ada niatan sama sekali buat ninggalin dia! Tapi keadaan?"
Angga melepas cengkraman Ari dengan mudah. Ganti ia yang
mencengkram kerah kaus Ari, dan mendesis geram.
"Justru itu! Keadaan! Dari dulu juga udah gue peringetin Tari buat
jauhin lo biar nggak keseret masalah! Gue juga udah kasih peringatan
buat lo ngejauhin Tari biar dia nggak dapet masalah! Lo ini trouble
maker!" Kata-kata Angga barusan serasa menampar Ari keras. Ari diam.
Sama sekali tidak membantah dan melawan Angga. Ia sudah sangat
pasrah. Dan merasa sangat bersalah karena sudah terlambat menyelamatkan hati Tari dari kehancuran yang disebabka
n olehnya. "Lo" udah gak bisa jaga Tari lagi!!!" bentak Angga. "Lo sakitin dia
terus-terusan!" "Maaf," ujar Ari lirih, menelan ludah.
Angga tercekat. Ari yang begitu gagah berani di medan tawuran,
seorang lawan yang sulit sekali ia kalahkan di segala bidang"
melemah! Benar-benar Angga tidak mempercayai pengelihatannya
sendiri. Dari dekat, dilihatnya kehancuran yang nyata, benar-benar
nyata" dari Ari! Angga melepas cengkramannya. Ia sama nelangsanya dengan sosok
musuh yang berada di depannya ini, dengan alasan hampir sama.
Jingga Matahari. Malam semakin larut. Namun Angga dan Ari sama sekali tidak
mengalihkan pandangannya dari jendela kamar Tari. Keduanya,
bersebelahan, asyik dengan pikirannya masing-masing. Mereka mencintai gadis yang sama. Yang sedang dipeluk kehangatan kamar,
tanpa merasa ada dua hati yang terkoyak berdiri di depan rumahnya.
* Pagi itu Tari bangun dengan kepala yang sangat berat dan badan
yang sakit luar biasa, seperti sedang terkena flu. Tari membersit
hidungnya. Ternyata benar, ia terkena flu. Andai saja hari ini tidak
ulangan kimia, maka ia malas sekali pergi ke sekolah. Ia tidak enak
badan, ditambah sudah tidak ada orang yang ia cari di sekolah. Tari
meringis. Belum-belum air matanya mau tumpah lagi. Ia mendesah.
Betapa cengengnya ia beberapa hari terakhir ini.
Tari memaksakan bangkit dari tempat tidur dan bersiap ke
sekolah. Sedikit terburu-buru, karena ia terlambat bangun. Mamanya
memang sengaja tidak membangunkannya, karena Mama pikir ia masih
sakit, setelah kemarin ia pingsan kemudian diantar pulang oleh Fio,
Ridho dan Oji. Benar-benar memalukan. Dirinya, maksudnya. Bisa
pingsan begitu dan sampai merepotkan banyak orang.
Selesai mandi, Tari mengambil ponselnya, menelepon Ridho. Ia
harus berterima kasih pada seniornya itu karena telah mengantarnya
pulang kemarin. Karena mungkin nanti di sekolah, ia tidak sempat
mengatakan ucapan terima kasihnya pada Ridho. Ia tidak mungkin
datang ke kelas Ridho dan" tidak mau. Terlalu menyakitkan. Ari tidak
disana. "Halo, Kak. Ini Tari?" sapa Tari dengan suara serak, ketika
teleponnya diangkat. "Iya, tau. Ada apa, Tar" Sehat?"
"Nggak ada apa-apa, Kak. Saya sehat. Makasih ya, Kak, kemarin
udah nganter saya pulang," ucap Tari tulus.
"Bohong. Suara lo serak gitu. Sehat darimana?" Ridho terkekeh.
"Udah, lo tidur lagi aja. Istirahat dulu baik-baik dirumah." ujar Ridho
penuh pengertian. Tari terdiam, tahu betul apa yang dimaksud Ridho.
"Ng" nggak, Kak. Saya masuk sekolah, kok. Ada ulangan kimia,
Kak." "Hah"! Dengan kondisi kaya gini lo mau masuk"! Trus lo berangkat
sekolahnya naik bus"! Ck!!" Ridho berdecak. Tidak mengerti dengan
jalan pikiran Tari. Ulangan masih bisa ikut susulan. Tapi kalau pingsan
di bus, siapa yang menjamin"
"Iyalah Kak. Naik bus. Biasanya juga gitu," Tari membalasnya
dengan keki karena pagi-pagi sudah dimarahi. "Sudah ya, Kak ?"
"Tunggu gue. Lima belas menit lagi gue sampe."
Kemudian telepon ditutup tanpa menunggu jawaban dari Tari.
Mata Tari melebar. Kesal. Ridho ini betul-betul otoriter sekali.
Seperti" Tari tercekat. Tidak mau mengingat lagi. Setidaknya" sebelum
ulangan kimia yang sangat menguras tenaga itu. Tari menghela napas.
Ia kembali bersiap-siap sebelum berangkat ke sekolah.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti di
depan rumah Tari. Tari melihat jamnya. Belum ada lima belas menit.
Tari pun mempercepat persiapannya kemudian pergi ke ruang tamu,
dimana Ridho sedang mengobrol asyik dengan Mamanya.
"Tari berangkat dulu, ya, Ma," pamitnya sembari mencium tangan
Mamanya. Mamanya mengangguk. "Hati-hati, ya. Kalau nggak kuat, minta
dianterin pulang aja sama Ridho."
Tari melirik tajam ke arah Ridho yang menyunggingkan senyum
kemenangan. Setelah Ridho berpamitan pada Mamanya, mereka pun
langsung naik ke sedan putih Ridho dan berangkat ke sekolah.
"Katanya lima belas menit. Itu baru sebelas menit, ya, Kak, dari
gue nutup telpon. Cepet amat datengnya," gerutu Tari. Ridho hanya
tertawa. "Gue nggak mau ambil resiko. Takutnya lo ngabur dulu ke halte.
Soalnya kata Ari lo sukanya ngabur kalo nggak mau dijemput."
Ridho mengatakannya dengan santai, tanpa sadar ucapannya
membuat Tari agak guncang.
Mengingat Ari, mendengar namanya" betul-betul bisa membuat
Tari kacau seketika. Tari menghela napas, berusaha tenang. Kemudian
ia mencari bahan pembicaraan yang tidak sensitif dan tidak ada
hubungannya sama sekali atau bahkan mengarah pada Ari. Tanpa sadar
mereka sudah berada di parkiran sekolah.
Tari sudah akan mendesah lega, ketika sebuah motor hitam, yang
sangat familiar, parkir di sebelah mobil Ridho. Jantungnya serasa
berhenti berdegub, ia kehilangan
kemampuan untuk bernapas.
Astaga"ini benar yang berada disampingnya...
Hanya kebetulan belaka. Motornya datang sepersekian nano detik
dari mobil Ridho. Hanya kebetulan belaka ia parkir di samping mobil
Ridho, karena memang hanya itu satu-satunya tempat yang belum
terisi. Siapa yang sangka ia akan melihat gadis ini keluar dari mobil
Ridho" Benar-benar di luar dugaan! Dan membuat geram hatinya.
Dalam hati ia belum memutuskan akan berlaku seperti apa kepada
Ridho, nanti. Ari melepas helm dan menaruhnya di stang motor. Sengaja ia
mengabaikan keberadaan dua orang yang sedang melongo seperti
melihat hantu ketika menatapnya. Sengaja ia tidak menatap mereka,
pura-pura tidak mengenal. Ari akan melepas jaketnya, sebelum ia
menyadari bahwa lengannya dipegang oleh seseorang. Erat-erat. Ari
memejam, meneguhkan hati untuk tidak memeluk gadis yang
memegang lengannya itu. "Kak Ari... baik-baik aja" baik-baik aja?" bisik Tari lirih,
menahan isaknya. Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Tidak membutuhkan jawaban.
Pernyataan yang membuat Ari ngilu, karena diucapkan dengan nada
yang lega luar biasa. Pernyataan yang membuat Ari ngilu, karena kata
pertama yang diucapkan Tari bukanlah tuntutan untuk menjawab
serentet pertanyaan, namun murni bahagia karena melihat Ari yang
baik-baik saja. Ari membuka matanya. Ia menoleh, menatap Tari yang masih
memegang erat jaketnya, seakan Ari bisa saja melesat pergi bila Tari
melepas pegangannya. Ari terkesiap melihat keadaan gadis yang berdiri
di depannya itu. Berapa banyak berat badan yang turun dalam satu
minggu" Tari nampak begitu kurus dan sangat pucat!
Dengan sekali lihat saja Ari tahu bahwa Tari ini sedang tidak
sehat. Mukanya pucat dan ada lingkaran hitam di matanya yang
bengkak itu. Mau tidak mau Ari teringat MMS Oji semalam yang
membuatnya langsung melesat ke rumah Tari. Oji benar. Tari terlalu
banyak menangis. Ari membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Tari. Ditatapnya
Tari dalam-dalam, dengan penuh kesungguhan. Disentuhnya pipi Tari
dengan kedua tangan yang gemetar.
"Iya. Gue baik-baik aja. Seharusnya lo juga gitu, ya."
Menahan mati-matian hasrat untuk memeluk gadis yang ada di
depannya ini, Ari membalikkan badannya. Namun baru beberapa
langkah berjalan, Tari menyongsongnya dan memeluknya dari belakang. Punggung Ari sedikit basah. Air mata Tari mengalir deras
membasahi baju Ari. Kepada gadis yang telah diseretnya menuju medan perang. Kepada
gadis yang pernah dipaksa berdiri disampingnya, namun akhirnya
sukarela menjadi penopang dirinya. Kepada gadis yang pernah
dijanjikannya bahagia"
Ia harus melanggar janjinya.
* Airlangga pagi ini kedatangan tamu yang istimewa. Panglima
Perang Brawijaya dan tangan kanannya. Kunjungan diplomatis, begitu
spekulasi yang beredar mengenai alasan kedatangan kedua tamu dari
Brawijaya tersebut. Kunjungan yang menandakan bahwa hubungan
Airlangga dan Brawijaya memang berjalan baik.
Namun, terlepas dari semua pandangan kagum mengenai membaiknya hubungan diplomatik antara Airlangga dan Brawijaya, ada
pandangan tidak suka melihat kedatangan kedua tamu istimewa itu.
Panglima Perang Airlangga itu sendiri. Ata.
"Lo ngapain kesini pagi-pagi" Nggak ngomong apapun, lagi!" tegur
Ata, menghampiri Angga dan Bram di depan pintu gerbang.
Angga tersenyum, manis."Elo ini. Belum-belum gue uda lo semprot
begitu. Entar gue salah sangka, lho, ngirain lo nggak mau dikunjungin."
Ata mendesah. Ia harus mengontrol moodnya. Terutama di depan
partner in crime nya ini.
"Sori-sori. Ada urusan apa pagi-pagi kesini?"
Masih tersenyum, Angga menjawab pertanyaan Ata halus.
"Gue denger dari Gita kalo sekarang lo udah berhasil misahin dua
matahari " Ari dan Tari. Untuk itu, gue ngucapin makasih banyak. Gue
jadi bisa ngerebut Tari lagi. Nggak pa-pa, kan?"
Ata mengendikkan bahu, terlihat tidak peduli.
"Terserah lo aja. Udah, gitu doang?"
Kali ini Bram yang menjawab pertanyaan Ata. Dengan super
ramah! "Enggak, lah. Gue sama Angga kesini buat ngasih tau lo, kalo kami
" Angga maksud gue, mau lihat kejatuhan kembaran lo itu jauh lebih
parah dari ini. Angga pengen nantangin Ari trek-trekan. Honestly, dari


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dulu dia penasaran sih, ngalahin Ari di adu balap."
Ata terdiam sejenak. Mencoba mencari celah kejanggalan dari
perkataan barusan dan pertemuannya dengan Angga dan Bram sepagi
ini. Setelah beberapa saat, Ata menyerah kemudian mengangkat bahu.
"Kalo itu mau lo."
Angga menjentikkan jempolnya. "Bagus! Gue minta bantuan elo
buat ngegiring Ari ke TKP yang udah Bram siapin," Angga menepuk
bahu Bram, seakan proud Dad. "Bisa, kan?"
"Oke. Lo kirim waktu dan tempatnya aja. Nanti kita bicarain lagi
lebih detailnya. Udah mau bel, nih. Gue masuk, ya?" pamit Ata.
Angga mengacungkan jempolnya, mempersilahkan Ata untuk
hengkang terlebih dahulu.
"Eh, ngomong-ngomong, wakil lo, si Ridho, mana?"
Pertanyaan barusan sangat menohok hati Ata. Baru ia menyadari
bahwa ia benar-benar sendiri sekarang. Tanpa siapapun yang mendampinginya. Selama ini Ata berpura-pura bahwa segalanya baikbaik saja. Namun Ata tahu betul bahwa segalanya tidak baik-baik saja.
Pengkhianatan Ridho sebaiknya tidak ia ungkapkan di depan Angga. Ata
memutuskan untuk langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Angga.
* Angga terenyak dan seketika ia kehilangan seluruh kemampuan
motorik dan bicaranya. Melihat pemandangan itu" sangat mengiris hati
Angga. Pemandangan itu" di tempat parkir. Ari, berdiri mematung
dengan gadis yang memenamkan wajahnya di punggungnya " yang
Angga yakin sekali itu adalah Tari.
Ketidaksengajaan melihat pemandangan di tempat parkir itu
sebabkan oleh Bram yang sangat kebelet buang air kecil. Dan setelah
bertanya pada satpam, diketahui bahwa kamar mandi terdekat adalah
di ujung lapangan, dekat tempat parkir. Siapa sangka dalam perjalanan
menuju tempat parkir mendapat pemandangan yang bisa mengadukaduk perut Angga"
Selama ini memang Angga mendengar bahwa kemesraan antara
dua matahari itu memang menghebohkan. Dan kemarin, Gita bercerita
bahwa pasca perpisahan Ari dan Tari, mereka berdua terlihat sangat
amat nelangsa! Ketika dua pemandangan itu dijadikan satu dan
disodorkan pada Angga secara langsung, membuat Angga langsung
kacau seketika. Pikirannya berkecamuk. Ingin sekali ia berlari kesana,
menarik Tari dalam pelukannya sendiri. Agar gadis itu tidak terlibat
dengan segala kehebohan. Agar gadis itu aman dan tenang dalam
penjagaannya. Ia sangat menyesal. Karena dulu sekali" ia telah membuang
kesempatan yang tersodor di depannya! Memaksa gadis itu berpaling
padanya dan memilih punggung lain untuk bersandar. Punggung
musuhnya" "Ga." Suara Bram menyadarkannya. Ia menarik napas. Sudahlah, tidak
ada waktu untuk menye-menye. Sesuatu yang lebih besar " hadiah yang
lebih besar, menunggu kedua sejoli itu. Angga menatap Bram, yang
dibalas dengan anggukan. Mereka berdua pun menghampiri Ari dan Tari
" plus Ridho yang melongo melihat pemandangan di depannya.
"Hei." Ari dan Tari, seperti tersengat. Keduanya tersadar dan langsung
memasang posisi siap tempur. Sedang Ridho langsung ada di belakang
Ari, membayangi. Angga tertawa sumbang.
"Ah, Ridho" ternyata lo balik ke majikan
lama?" Bram menggeleng, takjub. "Pantes tadi lo nggak ada sama Ata" barusan
kami ketemu sama dia."
Menanggapi ucapan Bram, Ridho hanya tersenyum tipis. Tanpa
mengendurkan kewaspadaannya sama sekali. Ari pun demikian, sudah
dalam posisi menyerang. Melihatnya sikap tersebut, Angga tertawa.
Benar-benar mengingatkannya pada tawuran yang sering mereka
lakukan. "Pada serius banget, sih. Lo nggak perlu pasang kuda-kuda di
depan gue, Dho. Lo juga, Ri." Angga tergelak. "Gue disini nggak mau
ngapa-ngapain, kok. Lo tenang, ya, Tar. Ari nggak gue apa-apain, kok "
belum." Angga berucap manis, sembari menyentuh pipi Tari. Tari langsung
menyentaknya, tidak suka.
"Ck! Gue sentuh aja nggak mau." Angga memasang tampang
terluka " dan memang iya. Penolakan Tari barusan menamparnya telak,
dan membuatnya semakin bertekad menjalankan rencananya.
Sedangkan Tari... matanya melebar, memelototi Angga. "Bisa lo
nggak ganggu gue" Nggak ganggu Ari?"
"Ck, ck" lo jangan suudzon sama kami, Tar. Karena kami malah
mau ngajakin Ari main," Angga mengedipkan sebelah matanya. Kali ini
dilayangkan pandangannya pada Ari.
"Arena 21. Minggu depan. Jam satu malem. Lo kudu dateng.
Atau?"Angga tertawa, "Yah, gue ngerti kalo elo takut."
"You wish." Ari dan Angga. Keduanya berhadapan dengan tatapan ingin
membunuh orang yang berada di depannya. Genderang perang telah
berbunyi. Ari dan Angga. Keduanya berhadapan dengan tatapan ingin
membunuh orang yang berada di depannya. Genderang perang telah
berbunyi. Dan tidak ada jalan untuk menariknya kembali. Dari
peperangan ini, semuanya tidak bisa lari.
Kemudian, dengan langkah gontai kedua pentolan Brawijaya
tersebut pergi dari Airlangga. Merasa semua urusannya sudah selesai " ditambah lagi bel masuk
yang telah berbunyi nyaring " Ari turut melangkahkan kakinya menuju
kelas. Namun teriak kekhawatiran dari Ridho menahannya.
"Jangan pernah lo dateng memenuhi tantangannya Angga! Tu
orang pasti punya niatan busuk, Ri!!"
Ari tertawa datar. "Kenapa lo masih nguatirin gue, sih" Kan udah
gue bilang, jangan pernah ninggalin Ata."
"Ari!" "Masalah tantangan dari Angga... Itu urusan gue."
Ridho meremas rambutnya sendiri, jengkel dengan sikap dingin
orang yang masih dianggapnya sebagai sahabat. "Denger ya, gue mulai
bosen sama kata-kata "ini urusan gue" yang selalu lo lontarin. Sejak
kapan lo selalu bertindak sendirian, hah"!"
"Sejak keluarga gue hancur berantakan," desisnya. "Puas lo"!"
Bukan itu! Ridho tidak pernah bermaksud menyinggung ke arah
itu, namun Ari malah menangkap yang sebaliknya.
"Woy, Kuya! Gue serius. Pikirin lagi. Balapan itu bukan sesuatu
yang bisa dianggap enteng ?"
"Trus lo maunya gue tolak" Dan bikin Angga tertawa puas, makin
aja dia ngeremehin gue, gitu" Mau negasin ke semua orang kalo gue
lembek" Itu maksud lo?" Ari tertawa miris. "Iya, lah. Pasti itu."
PLAKK! "Woy, Kuya!"
Ridho menatap Ari dengan tatapan terluka. Ia merasa tersindir.
Malu, namun juga sakit hati. Segala akting pengkhianatan yang ia
lakukan kemarin emangnya untuk siapa" Untuk apa" Sebenarnya ia
tidak suka dan tidak mau mengumbar yang sudah dia lakukan. Namun
Ari ini sepertinya harus diberi penjelasan. Kesalahpahaman ini,
semuanya harus diluruskan.
"Lo mau menyinggung tentang sikap gue kemarin dulu" Oke, gue
jelasin!" Saat ini, emosi Ridho yang sedang menggelegak sangat
kontras dengan sikap Ari yang cuek. Namun Ridho tetap bicara. "Lo tau
kenapa gue deketin Ata" Supaya gue tau motifnya yang sebenarnya!
Sodara macam apa yang tega nyakitin sodaranya sendiri"! Tapi gue
sadar, kalo seb ?" Ari mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar Ridho
berhenti bicara. Ia menghela napas. Sebenarnya ia tidak perlu
penjelasan dan Ridho tidak perlu mengklarifikasi. Terlepas dari
makarnya Ridho itu dilakukan dengan sukarela atau terpaksa, Ari sama
sekali tidak mempermasalahkannya. Baginya, jika hal itu membuat
Ridho lebih baik, Ari akan berbahagia untuknya. Apalagi Ridho berlari
ke sisi saudara kembarnya yang membutuhkan penopang seperti ia
dulu. Ari berharap, Ridho dapat menjaga Ata seperti Ridho menjaganya. Namun, tidak dapat ia pungkiri, kembalinya Ridho ke sisinya "
terlepas apakah cowok itu benar melakukan makar atau tidak " sangat
meringankan hatinya. Hanya saja, pagi ini Ridho perlu diingatkan
bagaimana caranya ia "bekerja". Lebih dari apapun, harusnya Ridho
mengerti bahwa untuk saat ini, Ari sangat butuh pelampiasan.
Menanggapi tantangan Angga merupakan salah satunya.
"Akhirnya lo sadar kalo sebenernya apa yang terjadi di antara
kami murni urusan pribadi!" tukas Ari tandas. "Begitu juga dengan
masalah gue dan Angga. Oke" Gue masuk dulu."
Ridho ternganga mendengar jawaban dingin yang keluar dari mulut
Ari. Dilihatnya Ari kembali menutup hati. Ingin sekali rasanya Ridho
menghujani Ari dengan tinjuan yang bertubi-tubi, sekadar untuk
menyadarkan sahabatnya itu kembali. Namun, jika diingatnya lagi apa
yang sudah Ari jalani dalam kehidupannya akhir-akhir ini, mati-matian
Ridho menahan agar emosinya tetap terjaga.
"Tar, TARI!! Lo jelasin ke kunyuk satu itu, Tar!"
Tari, yang sejak kepergian Angga hanya diam mematung, terlonjak
mendengar teriakan frustasi Ridho tersebut. Berkali-kali ia menarik
napas panjang, seakan berpikir keras mengenai apa yang ia akan
jawab. Setelah didera perang bertubi-tubi dan berakhir dengan kekalahan. Setelah ditusuk sana-sini tanpa bisa melawan sama sekali...
Tari mengerti bahwa Ari butuh pengakuan. Agar sedikit saja ia
mendapatkan kembali pridenya yang telah dinjak-injak. Dan mungkin,
mungkin" - muka Tari memerah karena memikirkan hal ini " setelah
Ari mendapatkan kembali sisa-sisa kekuatannya" ia akan tersadar
bahwa sebenarnya Tari tidak membutuhkan apa-apa dari Ari "
kekuasaannya dan kekuatannya " kecuali keberadaan cowok itu
disampingnya. Hanya disampingnya.
Setelah melewati pergolakan batin yang rumit, akhirnya Tari
angkat bicara. Dengan suara berat karena flu yang dideritanya, dan
juga karena apa yang akan ia katakan nanti... Tari berjalan pelan.
Menjauh, meninggalkan keduanya.
"Kalo emang lo mau trek-trekan sama Angga... Silakan. Gue nggak
punya kewenangan untuk mencegah. Juga Kak Ridho."
Semakinlah Ridho menganga, stres melihat kelakuan kedua zombie
yang telah berjalan menuju kelasnya masing-masing.
* Pada akhirnya, Tari tetap tidak memiliki tenaga yang cukup untuk
mengerjakan ulangan kimia. Itu semua gara-gara kedatangan Angga.
Tari sangat takut. Paranoid, malah. Perasaannya berkata" akan ada
badai yang sangat besar menerpa mereka. Lagi.
Tari memang berhasil bertahan di ruang kelasnya, namun bukan
untuk mengerjakan soal di hadapannya. Yang ia lakukan hanyalah
menatap kosong entah kemana, dengan tangan yang sama sekali tidak
melakukan aktivitas tulis-menulis. Bu Pur yang tidak sampai hati
melihat muridnya nelangsa seperti itu akhirnya memutuskan agar Tari
dibawa ke UKS saja ditemani Fio.
"Kalian ulangan susulan saja."
Sebenarnya anak-anak sekelas ingin protes, namun nggak tega
karena kondisi Tari yang seminggu belakangan benar-benar parah.
Sudah tidak ada lagi yang sampai hati mencemooh Tari.
Fio akhirnya menuntun Tari keluar kelas, namun tidak ke UKS.
Tempat tujuan mereka adalah gudang yang telah dinobatkan sebagai
markas mereka berdua. Disitulah, tangis Tari kembali pecah.
Sungguh, bukannya Fio jahat atau bagaimana. Tapi melihat Tari
yang terus-terusan menangis seperti ini, Fio benar-benar nggak tega.
Maka, disinilah batas kesabaran Fio. Diangkatnya wajah Tari dan...
PLAK! Kontan saja Tari terkejut karena mendapat tamparan dari Fio.
Tamparan tersebut tidaklah terlalu kuat, namun efeknya menggentarkan sampai ke dasar hati terdalam!
"Sadar, Tar! Sadar!" Giliran Fio yang histeris, lebih untuk
menutupi perasaan bersalahnya akibat menampar Tari. "Bukannya lo
sendiri yang bilang, lo mau jadi kuat demi kak Ari" Bukannya lo sendiri
yang bilang, udah cukup tangis-tangisan nggak berguna" Kenapa
semuanya selalu lo langgar sekarang, Tar"!"
Ketika dilihatnya Tari mematung dan tak bereaksi, Fio melanjutkan kata-katanya dengan intonasi yang lebih lembut. "Gue
disini, sebagai sahabat... Cuma mau ngingetin lo atas semua yang
pernah lo janjiin bakal dilakuin dulu. Katanya lo mau kuat demi Kak
Ari. Kalo elo sendiri melemah gini, apa Kak Ari juga bakal jadi kuat"
Nggak, kan?" "Tapi, Fi..." suara Tari tersendat-sendat. "Dia selalu menghindar..." "Tapi bukan jadi alasan buat lo melemah, kan" Coba... sekarang
ada apa lagi, sih. Tar?"


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Angga... Angga ngajak dia balapan, Fi. Gue takut. Tapi... tapi
gue nggak nyegah dia. Gue malah nyuruh dia pergi ?"
Fio menghela napas. Ternyata masih ada satu masalah lagi. Angga.
"Yaudah... Coba lo tenang dulu ya," dirangkulnya sahabatnya itu
dengan penuh empati. "Apa yang lo lakuin udah bener, kok... Lo udah
ngedukung Kak Ari. Tapi, lo jadi punya pe-er, Tar..."
Benar. Tari jadi punya pe-er baru. Yang harus segera ia selesaikan.
Meskipun ia benci melakukan hal ini, tapi setidaknya... Patut untuk
dicoba. Agar masih ada bagian dari dirinya yang tersisa untuk
membantu Ari. Walau tidak dengan berjalan bersisian di samping
cowok itu. * Siang ini Brawijaya kedatangan tamu istimewa. Sangat istimewa
sehingga menimbulkan keributan. Bagaimana tidak, mereka sangat
takjub melihat seorang gadis yang memakai bed sekolah musuh,
dengan gagah berani berdiri di depan pintu gerbang.
Memang, hubungan Airlangga-Brawijaya sudah membaik. Namun,
seperti kata salah satu sitcom di sebuah stasiun TV swasta, nggak gitu
juga, kali! Permusuhan antara dua sekolah itu telah berakar,
diturunkan entah dari berapa generasi. Keberadaan gadis itu dianggap
sebagai tantangan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan
" pengkhianatan Airlangga, misalnya, beberapa orang berinisiatif
memanggil Panglima Perangnya dan menyeretnya untuk melihat sendiri
"tantangan" yang terpampang di pintu gerbang.
Jika tadi Angga yang dengan seenaknya melenggang di SMA
Airlangga, maka sekarang dirinya justru terbengong-bengong karena
melihat kedatangan Tari " sendirian " di SMA Brawijaya.
"Tari"!" Segera Angga menyeret Tari menuju taman sepi yang terletak di
belakang SMA Brawijaya untuk meminimalisir mulut-mulut usil yang
suka mengambil kesimpulan sembarangan. Rahang Angga mengeras.
Ditahannya mati-matian hasrat untuk memeluk gadis yang berada
dalam gandengannya ini. Yang tangannya dingin dan mukanya sangat
pucat. Melihat Tari yang sepertinya tidak punya inisiatif untuk melakukan
apapun kecuali menjadi arca batu, Angga dengan hati-hati mendudukkan cewek itu di sebuah bangku, sebelum kemudian
mengambil duduk di sebelahnya. Ditatapnya wajah Tari lekat-lekat,
dengan rakus, seakan tidak mempunyai kesempatan untuk menatap
wajah gadis ini keesokan hari.
Angga mengambil napas dalam-dalam, menyembunyikan kegetiran
hatinya. Gadis yang berada di sampingnya ini lemas dan lunglai. Pucat
dan tampak tidak sehat. Dan baru Angga sadari, berat badan gadis ini
telah merosot tajam semenjak terakhir Angga melihatnya secara jelas.
Angga shock. Kini, setelah dilihatnya Tari dengan lebih seksama...
Cewek itu jelas hancur! Tak ada keraguan atasnya. Namun, dibalik
kehancuran hatinya, Angga melihat cewek ini masih menyimpan
harapan, walau sangat kecil.
"Gue... mau bicara sama elo," Agak tersendat, gadis itu akhirnya
berucap memecah keheningan. Suaranya bergetar, namun memaksa
untuk mengucapkan setiap kata sejelas mungkin, setegas mungkin.
Setelah beberapa detik ketercengangan, Angga akhirnya tersadar.
Ia mengerti tujuan Tari datang menemuinya.
"Ari yang ngutus elo?" tanya Angga sinis dan agak sakit hati. Ia
belum bisa memastikan sakit hatinya ini karena gadis yang berada di
sampingnya ini selalu saja menjadi perisai Ari dan menghambat ruang
gerak Angga, atau karena gadis ini telah berlari pada punggung orang
yang sangat amat dibencinya.
"Dia bahkan nggak tau kalo gue kesini," Tari menjawab datar,
kemudian ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Apa yang
sebenernya lagi lo rencanain, Ga?"
Angga menghela napas panjang. Hatinya sedang bergulat, karena
gadis di hadapannya ini. "Semuanya udah jelas. Nggak ada yang perlu
gue jelasin lagi." "Bohong!" Sergah Tari murka. "Lo... Ngerencanain sesuatu yang
berbahaya!" "Makanya, datang ke gue, Tar! Supaya lo bisa terhindar dari
bahaya tersebut!" Teriakan Angga juga mengandung kesakitan yang mendalam,
walau mungkin nggak akan sama bila dibandingkan dengan yang sedang
Tari rasakan. "Setidaknya, gue nggak bakal bikin lo tersiksa batin
kayak gini..." "Lo yang pergi, dan lo juga yang datang terlambat..." Tari
mendesah lemah. "Harus berapa kali gue tegasin ini, sih?"
"Kalo gitu... biarin Ari menjalani tantangan dari gue," Angga
berujar final. "Apa yang akan terjadi disana, serahkan semuanya pada
nasib." Angga bangkit dari duduknya, bersiap meninggalkan Tari. Sebelum
gadis itu sempat menahannya, Angga langsung menambahkan kalimat
penegas. "Nggak, Tar. Gue nggak akan merubah pikiran lagi tentang
tantangan ini." Sia-sialah kedatangan Tari ke Brawijaya. Yang ada, Angga malah
semakin terluka dan semakin besar tekadnya untuk melaksanakan
balap motor tersebut. * Seorang ibu memiliki insting yang begitu kuat atas anak-anaknya.
Sekecil apapun perubahan sikap anaknya, seorang ibu pasti akan
menyadarinya. Mama dari kedua kembar menyadari, anak-anaknya saat ini sedang
menyembunyikan sesuatu darinya. Keduanya seperti saling menghindar
satu sama lain. Apalagi, beberapa minggu terakhir ini Ari jarang tidur
di rumahnya. Juga berbagai keanehan lainnya.
Jika Ari ada di rumah, maka Ata tidak akan pernah terlihat di
rumah. Sebaliknya, jika Ata sedang di rumah, Ari lebih memilih untuk
langsung berpamitan pergi ke tempat lain. Mama sampai pusing dengan
keanehan sikap kedua mataharinya itu.
"Mama jangan khawatir," ucap Ari pada suatu ketika, saat ia coba
mengorek keterangan. "Kami baik-baik aja, kok."
"Benar, Ari sama Ata baik-baik aja" Nggak lagi berantem, kan?"
pertanyaan cemas dari mamanya membuat Ari tertawa geli.
"Kami kan bukan anak SD lagi, Ma. Yang kalo berantem trus
ngambek lamaaa banget. Yah... Biasa deh, Ma. Persoalan lelaki," Ari
menjawab dengan memasang mimik muka selucu mungkin, mencoba
menghilangkan kegundahan hati sang mama.
Ari perlu menenangkan hatinya, demi menghadapi jadwal balapan
dengan Angga yang semakin dekat.
Dan, menenangkan hatinya berarti juga menenangkan hati sang
mama, agar menghilangkan kecurigaan pada sikap anak-anaknya yang
memang sedang dirundung permasalahan serius.
* Kantin kelas dua belas. Ata duduk sendirian disana, dengan
sebelah tangan memegang rokok. Sudah sangat lama sejak Ata
memutuskan untuk tidak merokok. Namun, kejadian akhir-akhir ini
membuatnya kembali memasok tubuhnya dengan nikotin.
Kata-kata Gita saat itu selalu ia pikirkan, hingga kini. Kata-kata
yang menohoknya dengan keras, namun mati-matian ia lakukan
penyangkalan dan pembenaran. Ingin sekali rasanya Ata berteriak, Gita
salah! Apa semua orang selalu hanya melihat Ata sebagai orang yang
bersalah" Apa nggak ada yang bisa melihat kalo dirinya juga hancur"
Miris. Bahkan setelah segala sabotase, konspirasi dan skenario
yang telah ia susun dengan begitu rapi dan sempurna umtuk
menjatuhkan kembarannya itu... kini kembali Ari yang menjadi
pemenangnya. Ari yang baik. Ari yang menderita. Lagi-lagi" Ari!
Ata tidak pernah " sekalipun tidak pernah " mendapatkan sahabat
seperti Ridho. Yang sangat memerhatikan
detail terkecil dari sahabatnya. Yang begitu setia, yang mengobservasi dengan teliti, yang
merengkuhnya saat jatuh. Tidak. Kesibukannya menjaga Ari membuatnya tidak sempat memikirkan hal-hal remeh seperti hubungan
pertemanan. Bahkan hingga kepindahannya ke Malang saat SMA.
Keberadaan Ridho disampingnya membawa secercah harapan untuknya. Bahwa ternyata Ata bisa memiliki teman yang begitu setia.
Namun ketika kenyataan terungkap bahwa ternyata Ridho hanya matamata, bagaimana ia tidak murka" Karma" benar-benar memukulnya
tepat di wajah. Ata tidak pernah bermaksud menghancurkan segalanya. Target Ata
jelas, hanya Ari! Bahkan Tari pun, sebelum ia memulai ini semua,
sudah ia peringatkan. Namun gadis itu memilih maju, memilih pasang
badan untuk melawan dan melindungi. Ata sudah pernah memperingatkan Tari. Makanya Ata tidak pernah sekalipun melarang Tari berjuang
bersama Ari, sebenarnya agar... ia sendiri bisa memperlunak sikapnya.
Agar apa yang ia lakukan masih masuk dalam batas kewajaran.
Sewajar-wajarnya, segini saja sudah membuat semua pihak
tersakiti. Dan dikira mereka semua, dirinya tidak ikut tersakiti"
"Kak Ata..." Gita menyapanya pelan.
Kedatangan Gita memaksa Ata untuk mengendurkan ketegangan di
wajahnya. Kepada gadis yang beberapa hari ini membayangi langkahnya, kepada gadis yang tanpa rasa takut sedikitpun berada
disampingnya, kepada gadis yang mati-matian berusaha memahami
tanpa menghakimi" ia menaruh beribu hormat. Karena hanya gadis ini
yang tanpa kenal lelah tetap bertahan menghadapi dirinya dan segala
ketidakjelasan perasaannya. Dan dalam diri gadis ini pula dilihatnya
sebuah harapan, meski Ata sama sekali tidak berani berharap.
Gita menepuk bahu Ata pelan sebelum ia mengambil tempat
duduk di samping Ata. Ata membenarkan posisi duduknya, memberikan
tempat yang lapang bagi Gita untuk duduk.
Gita memilin rambutnya, khas Gita menunjukkan kegelisahannya.
Ata hanya menatap Gita tanpa melakukan apapun. Beberapa minggu
bersama gadis ini ia belajar bahwa gadis ini sangat pemalu dan tidak
terbiasa mengungkapkan apa yang dipikirannya secara lugas. Beberapa
minggu bersama gadis ini, dia belajar untuk bersabar menunggu Gita
menyusun kata-katanya terlebih dahulu sebelum berbicara. Karena
kalau Ata main menyela begitu saja, Gita langsung menelan segala
kata-katanya, tidak jadi berbicara.
Setelah menarik napas panjang, seakan mengumpulkan keberaniannya, Gita membuka mulutnya,"Balapan Sabtu nanti, apa
Kakak ?" "Gue datang," jawabnya lugas. "Pasti."
Gita menggigit bibir bagian bawahnya. Ata salah paham. Bukan itu
maksud pertanyaan Gita. Apa yang ia maksudkan adalah...
"Nantinya... Kakak ada dimana?"
Dimana" Pertanyaan itu yang sampai sekarang belum mampu Ata
jawab. Kesal, ditekannya puntung rokok kuat-kuat ke meja kantin.
* Setelah mengiyakan tantangan Angga, Ari segera bersiap diri
sebaik mungkin tanpa membuang-buang waktu. Harus sebaik mungkin,
karena ia tidak mau ditumbangkan lagi. Harga dirinya tidak mengizinkan. Karenanya, disinilah Ari. Berdiri di sebuah bengkel milik
teman lamanya, Raka, untuk memeriksakan keadaan motornya.
"Gimana, Ka?" "Oke, motor lo dalam kondisi prima. Siap untuk meluncur."
"Yakin?" "Weits, lo masih ngeraguin keahlian gue?"
Suara Raka yang terdengar tersinggung membuat Ari tertawa geli.
"Bercandaaaa. Thanks, ya."
Raka melap tangannya yang berlumuran oli, sebelum kemudian
mengambil duduk di samping Ari. Sudah mengenal Ari sejak kecil,
sekali melirik pun Raka sudah tahu bahwa ada sesuatu yang salah dan
berbeda. Apalagi ditambah rona wajah Ari yang terlihat lebih kelam,
tubuhnya pun lebih kurus daripada biasanya.
"Ada masalah, Bro?"
Ari tersenyum, jenis senyum yang dipaksakan.
"Lusa... Temenin gue, ya" Jaga-jaga kalo motor gue kenapanapa..."
"Emangnya ada apa?" Tanya Raka heran. Ari hanya menjawab
dengan rangkulan yang terasa dingin.
* Besok adalah hari dimana Ari akan menyambut tantangan dari
Angga. Tari sudah menyiapkan hati sejak jauh-jauh hari. Tentang
kejadian apalagi yang akan mereka jumpai di depan sana, Tari sudah
menyerahkan semuanya pada Yang Maha Menentukan.
Hanya saja, hati Tari tidak berhenti merasa gusar. Makanya malam
ini, Tari memutuskan untuk curhat dengan mamanya.
Mama sangat mengerti kecemasan hati Tari. Setelah dituntunnya
Ari menuju jalan pulang, kini anaknya harus membantu Ari untuk
memecahkan serangkaian masalah rumit lainnya. Mama merasa iba


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pada Ari. Lebih iba lagi pada takdir yang harus dipikul oleh Jingga
Matahari-nya, yang menjadi medium bagi banyak hati yang terluka itu.
Bahkan harus ikut terluka lebih dalam, seiring dengan proses
penyembuhan yang perlahan tapi pasti mulai menampakkan khasiatnya. Apa yang bisa mama lakukan sekarang hanyalah menenangkan hati
anaknya. Karena, jika hati Tari sendiri tidak tenang, luka-luka baru
bisa saja tercipta. * Hari penentuan! Hari ini, sengaja Ari datang ke rumah mamanya pagi-pagi. Manja
minta dibuatkan sarapan. Manja minta disuapin. Berkali-kali merangkul
lengan ibunya, seperti yang sering ia lakukan saat masih kecil.
Air muka Ari terlihat sangat tenang. Pada wajahnya tidak terlihat
beban sedikitpun, malah senyum sumringah tak pernah lepas dari
wajahnya. Tidak, Ari bertekad tidak akan merusak moodnya hari ini,
setidaknya di depan Mama.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Masih terlalu dini,
memang. Tapi Ari butuh persiapan lain selain persiapan mental. Ia
harus memahami medan perangnya nanti. Belum lagi berkonsultasi
dengan Raka, sekaligus melakukan pengecekan terakhir atas kesehatan
motornya. Karena Ari sudah bertekad. Apapun alasannya, hari ini ia akan
tetap maju dengan gagah. Kalah, apalagi mengalah, tidak ada dalam
tujuan hidupnya kali ini. Apalagi mengalah pada orang yang menaruh
amarah padanya tanpa alasan yang jelas.
"Ma..." Ari menyapa pelan mamanya yang sedang asyik merajut.
Seketika mama menolehkan kepalanya.
"Ari mau pamit."
"Lho... Kamu mau kemana?" tanya mama heran. Ari menjawab
dengan senyum tenang. "Ari mau main, Ma. Biasa, anak muda."
Mama ikut tersenyum. Namun, hatinya merasa gusar. Apa ini"
Kegusaran yang tak terpahami.
Ari mengecup punggung tangan mamanya dengan khidmat, dan
lama. Menaruhkan harapan serta doa disana, berharap kali ini Tuhan
tidak mengajaknya bermain lagi.
"Doain Ari ya, Ma. Semoga mainnya sukses, gitu," Ari tertawa geli.
"Dah, Mama..." * Ata menyaksikannya dari celah pintu kamarnya. Ari sudah pergi.
Sedang dirinya" Sampai saat ini belum mengambil keputusan.
Ada dimana" Di posisi mana kali ini lo berdiri"
Mendalangi kejadian-kejadian yang membuat kembarannya itu
jatuh dan terpuruk sama sekali tidak membuat perasaannya merasa
puas. Membalas sakit hatinya yang berakar ternyata tidak meringankan
hatinya. Malah, kejadian demi kejadian membuatnya menorehkan luka
yang baru, membuat hatinya makin tersayat.
Pada setiap kejatuhan dan keterpurukan yang Ari dapatkan, Ata
menemukan hatinya serasa diremuk. Pada setiap luka yang ditorehkan
pada kembarannya, mata pisaunya mengiris hatinya jauh lebih tajam.
Pada setiap hati yang ia hancurkan, serasa dadanya dihunus pedang.
Perang ini juga menyakitinya. Perang ini" perang yang tidak dapat
ia menangkan. Karena yang dihadapi adalah orang yang sembilan bulan
telah berbagi rahim sang ibu dengannya. Perang ini adalah perang
yang tidak dapat ia menangkan. Karena yang dihadapinya adalah
cermin! Namun mengingat sakit hati itu" luka itu" jalan terjal yang harus
dihadapi" Ata jadi ragu.
Ada dimana" Posisi mana kali ini lo berdiri"
Pertanyaan itu terngiang-ngiang di otaknya, membuatnya sakit
kepala. Gusar, diambilnya ponselnya dan dihubunginya satu nomor.
"Git?" sapanya serak. "Kita pergi bareng, ya. Lo siap-siap. Gue
otewe ke rumah lo." * Ruang tamu rumah Tari beralih fungsi menjadi tempat transit. Oji,
yang sudah lama tidak berkumpul Ridho plus dua gadis yang bisa ia
goda menyambut pertemuan dengan sangat bersemangat. Atmosfernya
memang panas dan tegang. Namun Oji berprinsip, selagi bersama,
gunakan waktu sebaik mungkin untuk quality time!
Tapi harapan hanya harapan. Asumsi Oji itu, kalau tidak bisa
dibilang bodoh, sangat berlebihan. Bahkan pemakaman lebih ramai
daripada suasana di ruang tamu rumah Tari sekarang. Tidak ada yang
berbicara, semuanya hanya menunjukkan raut wajah tegang " Tari, Fio
dan Ridho. Hanya Oji yang berusaha rileks, berusaha melucu... Tapi
gagal total. Percuma. Ketiga orang di hadapannya sedang menjelma menjadi arca batu.
Hanya diam memandangi satu titik dengan wajah datar dan pucat.
Padahal, apa yang mereka pikirkan sama dengan apa yang sedang Oji
pikirkan. "Udahlah..." ujar Oji pada akhirnya seraya bangkit dari sofa ruang
tamu rumah Tari. "Bermuram durja kayak gini nggak bakal menghasilkan apa-apa. Justru kita harus rileks, kita harus semangat,
supaya Ari ntar bawa motornya konsen. Kalo muka kalian semua kayak
zombie gitu, kalian pikir itu bisa bikin Ari menang tanpa tergores,
apa"!" Masuk akal. Fio yang pertama kali merespon kalimat Oji tersebut.
"Bener, Tar. Kita yang harusnya bersemangat! Kita yang harusnya
kuat! Demi Kak Ari!"
Demi Kak Ari.... Kalimat itu hanya menggaung di relung hati Tari.
* Arena 21, pukul 00.45. Angga sudah bertengger manis di motornya bersama Bram. Di
sebelahnya, Ari sedang mengamati Raka yang sekali lagi mengecek
motor hitam milik Ari. "Oli udah diganti. Mesin oke. Rem pakem. Jari-jari oke. Ban
prima. Motor lo udah siap tempur," ujar Raka sekali lagi. Melihat raut
wajah suporter yang kaku, Raka dapat menebak bahwa ini bukanlah
balapan biasa. Suporter yang dimaksud oleh Raka adalah... siapa lagi kalo bukan
Tari, Fio, Ridho dan Oji. Fio hanya berdiri di samping Tari seraya
merangkul sahabatnya itu, takut tiba-tiba Tari pingsan karena kondisi
tubuhnya yang masih lemah. Sementara Ridho dan Oji sedang galau,
hanya mondar mandir antara tempat Tari berdiri dan Ari. Ingin
mendekati Ari, namun takut cowok itu kalap atau menjadi tidak fokus.
Akhirnya, beberapa menit sebelum pukul satu dini hari, dua orang
lagi datang ke Arena 21. Ata dan Gita. Senyum sinis Angga langsung tercetak lebar, sementara Bram
hanya menatap keduanya dengan muka datar. Namun, baik Ata
maupun Gita tidak mengambil posisi di dekat Ari atau juga di dekat
Angga. Keduanya memilih netral.
"Akhirnya lo datang juga, Ta," sapa Angga sok akrab. "Bentar lagi
permainannya dimulai. Lo datang tepat waktu."
Ata tidak menanggapi pentolan Brawijaya tersebut. Dilihatnya
Angga melirik Bram yang sedang mengecek motor kedua "kontestan"
dengan lirikan kemenangan. Ada firasat buruk yang menggerayap,
namun tidak ia hiraukan. Ini efek tegang. Begitu ia menghibur dirinya
sendiri. Ditariknya Gita agar lebih merapat untuk dipeluk, sekadar
menenangkan kegundahan yang tiba-tiba muncul.
"Sebelum kita mulai, Ri... Ada yang harus gue sampein."
Ari menatap Angga seraya memicingkan mata. Begitupun dengan
Ata. Skenario ini" sama sekali tidak terduga. Apakah Angga ingin
membuat pidato intimidasi" Apa ini adalah bagian dari rencana"
"Gue mau minta maaf."
Apa yang keluar dari mulut Angga tak ayal membuat Ari terheranheran. Angga, minta maaf" Untuk apa"
"Gue minta maaf karna selama ini selalu menyerang lo tanpa
alesan. Tapi sebenarnya... justru sangat beralasan." Angga menggenggam erat stir motornya untuk menahan emosi. "Waktu kita
SMP dulu, Ri. Lo pernah liat adek kelas kita yang kakinya pincang"
Pernah?" Ari menggeleng ragu-ragu. Sedangkan Ata malah menegang,
tangannya mencengkram bahu Gita erat. Angga melanjutkan ceritanya.
"Gadis itu... Namanya Kirana. Ata pasti tau siapa dia," Angga
menyunggingkan seringai sinis. "Gadis itu sekarang di luar negeri. Tau
alesannya kenapa?" Pertanyaan itu tidak lagi ditujukan pada satu orang, namun pada
Ari dan Ata sekaligus. Seketika Ata membeku di tempat.
"Gadis itu... ditolak cintanya sama elo, Matahari Senja!"
Ari, yang merasa sama sekali tidak tahu tentang hal tersebut
langsung membantah, "Bentar, gue nggak ngerasa ?"
"Emang nggak!" Potong Angga kasar. "Lo emang nggak pernah
secara langsung menolaknya. Tapi kembaran lo itu... DIA NGEROBEK
SURAT YANG ADEK GUE BIKIN KHUSUS BUAT ELO!! Ya, Kirana itu adek
gue, asal kalian semua tau!!"
Bagai petir yang menyambar di tengah sunyinya arena balapan
tersebut. Ata terduduk sempurna di tanah. Sementara Ari... masih
berusaha mencerna informasi ini. Ditatapnya Angga dengan pandangan
tidak mengerti. "Asal lo tau, Ri," kali ini suara Angga melengking tak terkendali.
"Kirana suka banget sama lo. Bahkan sampe taraf memuja! Cuma
karena lo pernah nolongin dia waktu SMP. Tapi kembaran lo itu, yang
waktu SMP selalu nguntit kemanapun lo pergi, bikin adek gue jadi
patah hati!! Karena Ata, yang dikira adek gue adalah elo, ngerobek
surat yang Kirana kasih tanpa sekalipun dibaca isinya! Tanpa
penjelasan! Tanpa klarifikasi!"
Satu fakta lain yang membuat Ari akhirnya ikut tersungkur. Ata"
Mengikuti dia" Dipandanginya wajah pias saudara kembarnya, yang kini
telah didekap oleh sepupunya Angga. Shock!
Fakta bahwa Kirana adalah adik dari orang yang selama ini
berkomplot dengannya untuk menggulingkan Ari benar-benar membuat
otaknya kosong. Pantas saja! Pantas saja Angga jadi berubah setelah ia
bercerita tentang si Gadis Pincang! Ata memandangi Gita dengan
wajah pucat. "Lo... udah tau?" Gita hanya mengangguk tanpa suara. Semakin
membuat Ata lemas! "Dan lo... nggak ngasih tau gue?"
Maaf, Kak... Bahkan untuk menyuarakan kata itu saja, Gita sudah
tidak sanggup. Ia speechless. Tega sekali sepupunya itu membocorkan
fakta ini saat sebelum mereka bertanding. Untuk apa"!
Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, Ari berjalan pelan
menuju Ata. Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, Ari mengajukan pertanyaan yang paling ia ingin dengar langsung dari
mulut Ata. "Bener, waktu kita SMP, lo... Lo masih...?"
Ari tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Namun, anggukan pelan
dari Ata justru menjawab segalanya. Mendadak hati Ari terasa
mencelos. Ternyata benar. Ternyata selama ini Ari tidak berhalusinasi.
Ternyata rumor yang Ari dengar juga benar.
Saat SMP dulu, Ari sering mendapat laporan tentang kemunculan
dirinya di berbagai tempat, kebanyakan tempat musuh. Padahal, Ari
tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di daerah lawan kecuali
memang keadaannya sangat mendesak. Ternyata... jawabannya baru
tersaji bertahun-tahun kemudian!
"Udah, cukup klarifikasinya!!" Angga kembali bersuara dengan
lantang. "Sebenernya gue nggak terlalu merasa bersalah ke elo, karna
emang lo sumber masalahnya, dan kembaran lo itu yang meledakkannya! Gue yakin, kalian pasti akrab dengan yang namanya
rasa sakit. Balas dendam atas tersakitinya orang yang kalian sayangi.
Saudara kalian. Well..."
Angga menstarter motornya.
"Tolong, Ri. Sebagai orang yang pernah sangat dicintai oleh adek
gue, tolong penuhi keinginan gue supaya kelakuan Kakak kembar lo
itu... termaafkan!" Ata langsung bangkit menghampiri Angga, meski jalannya agak
terhuyung. Fakta ini benar-benar mengguncangnya.
"Ga! Lo jangan seenaknya aja! Ini masalah pribadi gue sama elo,
jangan bawa-bawa Ari!"
Angga tertawa getir. "An eye for an eye, Ta! Lo sakitin adek gue"
gue bales ke adek lo! Impas, kan"!"
Ridho, yang sejak tadi hanya terdiam saja melihat percakapan
ketiga orang itu, tiba-tiba merasa ikut terbakar hatinya dan ingin
angkat bicara. Mereka juga harus memahami bagaimana perasaan Ata
saat menyakiti Kirana dua tahun silam. Karena disana, Ata bukan hanya
merobek hati Kirana, namun juga hatinya sendiri!
"Tapi sebenernya Ata ?"
Ucapan Ridho itu dipotong Ata dengan isyarat tangan yang
menyuruh Ridho untuk tutup mulut. Ata memang salah dan Ridho tidak
perlu mengajukan pledoi untuknya. Dengan badan yang dipaksa berdiri
tegak dan wajah yang dipaksa untuk tenang, ia menghampiri Ari.
"Siniin kontak lo."
Ari menggeleng, menggenggam

Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

erat kontak motornya, mengisyaratkan jangan harap gue bakal kasih dengan sukarela. Karena
Ari sangat paham. Begitupun dengan semua " termasuk Ata yang
sebenarnya tidak rela " yang mendengar permintaan Angga barusan.
Pada akhirnya, ini semua adalah urusan hati. Urusan bagaimana
menyembuhkan hati dengan cara melukai hati yang lain. Dan hati yang
terluka di depannya ini... menuntut dirinya langsung yang turun agar
sakitnya segera hilang. Agar balas dendam ini segera berakhir.
Angga menuntut Ari, dan bukan Ata, yang menjalani pembalasan
ini. Karena yang tersakiti adalah saudaranya, maka akan lebih
menyenangkan jika kisah pembalasan ini dilakukan bersama-sama
dengan saudara dari orang yang menyakiti hati Kirana. Bukannya
impas" Bram sudah siap melakukan pengecekan.
"Bisa kita mulai."
Kata-kata itu keluar dari mulut Ari, yang entah sejak kapan sudah
bersiap di motornya. Dirinya sudah siap. Bahkan lebih dari siap.
Dipandangi satu persatu wajah orang-orang yang hadir mendukungnya.
Ridho, Oji, Fio.... dan Tari. Tari yang sejak tadi hanya terdiam. Tari
yang terlihat menggigil. Tari yang pucat. Tari yang pada wajahnya
tidak menyiratkan apapun selain kehampaan. Pada wajah itu, Ari
tersenyum. Senyum pertama sejak ia memutuskan untuk menyerah
atas gadis itu. Dan... pertandingan pun dimulai!
Kedua motor sport yang dikendarai oleh Ari dan Angga melaju
kencang melintasi area balap yang awalnya hanya lurus, namun
menjelang pertengahan lintasan terdapat banyak tikungan tajam.
Sejauh apapun motor-motor tersebut melaju, keduanya masih dalam
jarak pandang. Angga melaju rapat di sisi Ari. Keduanya terlihat sangat
berkonsentrasi. Ari berusaha mendahului. Ditariknya gas motornya agar
ia melesat lebih kencang. Sayang, perhitungannya kurang matang.
Beberapa detik lagi Ari akan menemui tikungan yang tajam ke kanan.
Sebelum semakin terlambat, ditekannya rem kuat-kuat.
Namun... Tidak berfungsi! Sementara Angga sudah tertinggal di belakangnya, Ari terus
mencoba menekan remnya kuat-kuat. Nihil!
Sebelum ia sempat merutuki nasib, motornya telah membentur
pagar pembatas yang menandakan tikungan. Bak kejadian di film
action, motor yang dikendarai Ari terpental melayang sebelum
akhirnya jatuh berdebum dan menyeret tanpa awak. Si pengendara
yang terlempar beberapa meter, terjatuh di pinggir lapangan rumput
dekat lintasan kemudian" menggelepar.
Demi melihat terpentalnya Ari dari motor, semuanya hanya bisa
mematung. Dan yang bereaksi pertama... tentu saja Tari.
"KAK ARIIIIII!!!!"
Dengan kalap, Tari berlari ke tempat dimana Ari terjatuh. Tak
peduli jaraknya sejauh apapun, tak peduli segala sumpah serapah yang
keluar dari mulut Oji, ataupun tindakan pertama yang Ridho lakukan
dengan mengambil sedan putihnya untuk mengangkut Ari.
Semuanya berlarian menghampiri Ari, yang saat dihampiri...
Badannya bersimbah darah! Darah keluar dimana-mana. Mulut, hidung,
telinga dan bagian tubuh Ari lainnya yang tergores. Matanya terpejam.
Badannya menggelepar seperti ikan yang ditaruh di darat.
Raka dan Oji berteriak dan memaki entah siapa, untuk menahan
tangis mereka yang akan tumpah. Ata hanya bisa mematung sementara
Gita memeluknya erat. Ridho, tangannya memegang setir namun
badannya berguncang hebat. Tari menangis histeris seraya memeluk
badan yang bersimbah darah tersebut. Sama sekali ia tidak mau
melepaskan pelukannya. Baru menurut ketika Fio " yang juga tergugu "
membujuknya lembut untuk melepas peluknya agar Ari bisa diangkut di
mobil Ridho. Angga, yang telah memarkir motornya dari posisi yang tak jauh
dari tempat mereka start, akhirnya tersenyum puas. Rasakan!!!
Rumah sakit. Disanalah saat ini Ata, Tari, Fio, Ridho dan Oji
berada. Mereka bersebelahan, tanpa bicara sama sekali. Duduk dalam
isakan, dan air mata yang tak henti mengucur. Mereka larut dalam
pikiran mereka masing-masing yang meneriakkan hal yang sama : Ari!
Ridho melakukan penelusurannya, Raka komunikasi mendapati dengan bahwa rem Raka. motor Dari hasil Ari telah disabotase! Dan Raka menjadi sangat tersinggung akan hal ini, karena
saat ia mengecek untuk terakhir kalinya, motor hitam itu berada dalam
keadaan sempurna. Ridho menggeram. Dasar Angga sialan!! Ceritanya tadi, selain
menjadi ajang curhat, pastilah menjadi ajang untuk menyabotase
motor Ari. Pantas saja Bram terlihat sok melakukan pengecekan akhir
nggak penting. "AAAARRRGGGHHH!!!"
Ridho merasa sangat bodoh karena tidak peka terhadap hal
tersebut. Ingin rasanya ia mengejar kedua pentolan Brawijaya
tersebut, kalau saja tidak dilihatnya kedua orang tua Ari dan Ata yang
berlari menghampiri mereka.
"Ariiii! Ari dimanaaa"!" Mama berteriak histeris. Papanya Ari
merangkul mantan istrinya tersebut, mencoba menenangkan. Tak
lama, dokter keluar dari ruang ICU.
"Luka di tubuhnya berhasil ditangani. Hanya saja... Ari mengalami
pendarahan yang cukup serius di organ tubuh bagian dalamnya. Kita
harus secepatnya melakukan operasi sebelum terlambat."
Hanya itu. Kata-kata yang sama sekali tidak menenangkan,
membuat semua yang mendengarnya seketika lemas. Tubuh Mama
langsung terkulai dalam pelukan Papa. Wanita itu kehilangan kesadarannya. Tuhan.... bantu Kak Ari untuk melewati ini semua...
* "KELAKUAN KALIAN ITU BISA BIKIN ANAK ORANG MATI!!"
Entah sudah berapa kali Gita berteriak histeris pada dua cowok
yang tidak sedikitpun menunjukkan rasa bersalah. Keduanya malah
menampilkan seringai puas, seakan-akan baru pulang dari Dufan dan
berhasil mencoba seluruh wahana yang tersedia tanpa harus mengantri. Angga malah membutakan hati dan telinganya.
"Apa yang kalian lakuin bukan pembalasan dendam. Bukan..." Gita
mendesis marah. "Ini tuh kriminal!! Lo semua bisa dipenjara karna hal
ini!" Gita memalingkan wajahnya untuk langsung menatap Angga. "Lo
pikir Kirana bakal seneng dengan pembalasan yang seperti ini"! Yang
ada malah dia bakal benci sama lo, SELAMANYA!"
"CUKUP!!!" Disingungnya nama Kirana berhasil membuat emosi yang sengaja ia
tahan agar tidak kalap pada saudaranya sendiri, akhirnya bangkit.
Bahkan, sampai hati ia menampar sepupu kesayangannya itu, dua kali!
"Jangan coba-coba nasehatin gue lagi!"
Gita terkesiap, sorot matanya nampak terluka. Bukan karena
tamparan Angga, tapi karena kecewa. Sama sekali tidak menyangka
bahwa sepupu kesayanganya, panutannya sejak kecil, telah berubah
menjadi monster pembunuh akibat rasa dendam yang ia pendam
selama bertahun-tahun. "Baik. Nggak akan. Ini yang terakhir kalinya."
Gita berjalan lemah meninggalkan Angga dan Bram. Saat itulah
baru Bram bersuara, menanyakan tujuan Gita.
"Ke tempat dimana ada hati yang lebih manusiawi serta lebih
terbuka menerima pertolongan."
* Di pojok ruangan, di tempat yang terpisah dari teman-temannya.
Disitulah Ata berada. Ata sedang mencerna seluruh kejadian yang
terjadi hari ini dengan hati yang luar biasa sakitnya sehingga ia berpikir
bisa mati karenanya. Ia sengaja tidak mendekat. Ia tidak berani
mendekat. Bukan, ia bukannya takut dengan kecaman seluruh orang.
Bahkan kalau itu membantu, ingin sekali ia dihajar " siapa saja boleh,
dengan sangat brutal, agar ia merasakan sakit yang sama. Tapi
bagaimanapun hebatnya ia dihajar" ia tahu, tidak ada yang bisa
menghilangkan perasaan berdosa ini darinya.
Apa yang sudah ia lakukan" Menyetujui adiknya melakukan balapan
dengan Angga, yang ternyata menyimpan dendam bukan kepada Ari
secara khusus, namun kepada dirinya"
Apa yang telah Ata perbuat" Menggulingkan Ari dari tahtanya di
SMA Airlangga, merebut semua yang Ari miliki disana, namun... Ari
tetap mengisi tempatnya dalam pembalasan dendam yang Angga
rencanakan" Kakak macam apa" Saudara macam apa" Yang tega menyeret
adiknya ke dalam permasalahan yang bahkan menyangkut nyawa
seperti ini! Ata menyesal. Lebih dari itu, ia... Ia merasa kotor. Baru saat ini ia
benar-benar menyadari kesalahannya.
Ari saja bisa dengan ikhlas melupakan kesalahan dan kekejaman
yang Ata lakukan terhadapnya beberapa bulan terakhir ini. Ari bahkan
rela meninggalkan semuanya demi Ata. Ari bahkan tidak menyebutnyebut semuanya! Ia lakukan itu dalam diam, tanpa pernah diungkit ke
permukaan. Sedangkan Ata" Ya, ia pamrih. Ya, ia tidak ikhlas. Ya, ia
menjalani semuanya dengan perasaan tertekan. Kenapa"
Kali ini, kejatuhan yang dialami oleh Ari... menjatuhkannya juga
dengan sempurna. Tuhan... jika masih pantas aku meminta, tolong... Tolong
selamatkan nyawa orang yang telah merelakan segalanya demi
keserakahanku... * Sudah seminggu. Seminggu yang meletihkan. Seminggu yang penuh
dengan perasaan harap-harap cemas. Seminggu menunggu sosok
matahari yang saat ini terbaring di rumah sakit untuk bersinar lagi.
Seminggu yang menyesakkan. Ari masih saja tertidur, koma,
membuat perasaan kalut tidak dapat dihilangkan dari hati tiap orang
yang menyayanginya. Mama, yang setiap hari, setiap detik, berada di samping Ari.
Hampir tak pernah melepas tangan anak bungsunya itu, seakan
menyalurkan kekuatannya melalui genggaman tangan. Mama, setelah
histerianya hari pertama, tidak pernah lagi menangis. Beliau Nampak
sangat pasrah. Duduk di samping Ari, terkadang di sebelah telinganya,
beliau melafadzkan doa yang tidak putus-putus.
Papa, yang melepaskan segala urusan kantor dan memutuskan
untuk selalu berada di rumah sakit. Berdua dengan mantan istrinya, ia
menunggui putranya yang sedang terbaring koma. Papa tidak berbicara
apa-apa, tidak melakukan apa-apa. Hanya saja, setiap malam, ketika
semua orang sudah terlelap tidur, isaknya mengalun pelan.
Ridho dan Oji, yang ikut berjaga di rumah sakit, kecuali saat-saat
mereka harus ke sekolah atau bimbel. Mereka duduk di sebelah Ari,
bercerita tentang kejadian di sekolah dan kegiatan mereka hari itu,
bercerita tentang berita apa saja, dari mana saja, seolah-olah
sahabatnya itu ikut bergabung dengan kehebohan mereka. Berusaha
agar segalanya nampak normal meski mata mereka tidak dapat
menyembunyikan rasa pilu.
Fio mungkin posisinya lebih tepat disebut sebagai penjaga Tari
dibanding menunggui Ari. Gadis itu selalu menjadi penopang teman
sebangkunya di sekolah, karena dilihatnya kondisi Tari yang sangat
tidak stabil. Walau begitu, Fio tetap melantunkan doa-doa yang tulus
di telinga Ari setiap ia memasuki ruangan perawatan.
Tari, yang nyaris tidak pernah meninggalkan rumah sakit " bahkan
untuk sekolahpun tidak " dan menolak untuk meninggalkan ruang
perawatan Ari meski tidak masuk ke dalam sama sekali. Aneh,
memang. Tapi Tari sama sekali tidak menangis. Hanya saja, ia harus
diseret untuk istirahat dan harus disuap Fio agar mau makan dan
minum. Keadaannya jauh lebih memprihatinkan dibanding menjadi
manusia slang air tempo hari.
Namun, diantara semua keadaan, tidak ada yang dapat menandingi kegetiran Ata. Ata memandangi Ari yang pada tubuhnya
terdapat banyak selang dan kabel yang menempel. Pada tubuh yang
diam itu, Ata... mengakui kesalahannya. Selalu. Setiap hari. Pertahanannya runtuh. "Maafin gue..." Selalu itu yang dia ucapkan. "Lo selalu jadi adik
yang sempurna. Lo selalu jadi anak yang bersikap manis. Kalo sampe lo
kenapa-napa sekarang, itu... sudah dapat dipastikan kalo itu salah
gue..." Ari tetap tidak bereaksi. Ata paham. Mungkin Ari butuh waktu
untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya lebih lama lagi. Karena
dalam komanya ini, Ata melihat wajah Ari sangat tenang, damai, tidak
tertekan seperti sejak kedatangannya. Wajah itu... seperti tidak
memiliki beban. Ata teringat percakapannya dengan Papanya kemarin, saat Ari
akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan.
"Sudah puas, Nak?" Papa berujar pelan. Nada kecewa tidak dapat
dihilangkan dari suaranya. "Sekarang, kembaranmu sedang terkapar,


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berjuang mempertahankan apa yang masih tersisa dalam dirinya.
Nyawa. Yang sewaktu-waktu nggak bisa kita ketahui, apakah nyawa itu
dapat bertahan atau juga pergi. Hanya, saja... Papa berharap agar
nyawa itu tetap tinggal disana. Seperti sahabat-sahabatnya yang
sempat kamu jauhkan dari Ari, yang akhirnya kembali. Papa harap
kamu juga menemukan jalan untuk hatimu kembali seperti dulu, Nak.
Ata yang jagoan. Ata yang melindungi dan menyayangi Ari. Ata... anak
kebanggaan Papa dan Mama..."
Ata dapat mengerti kekecewaan Papa. Juga tatapan Mama
padanya. Walau Mama tidak mengatakan apa-apa, namun Ata
mengetahui artinya. Karena dulu, sebelum mereka pindah ke Malang,
Mama pernah mengatakannya.
"Ata dan Ari... dua-duanya anak kebanggaan Mama. Sampai
kapanpun, Mama nggak akan pernah bisa memilih kalian. Kasih sayang
Mama untuk kalian... seutuhnya."
Ata sudah pernah mendengarnya, namun kenapa ia masih saja
merasa wajib untuk mengisi tempat Ari, yang berujung pada
ketidakikhlasan hatinya dalam melakoni peran sebagai seorang anak"
"Maafin gue...."
Ata kembali terisak pilu.
* Seorang ibu adalah penjaga paling setia. Yang ia serahkan bukan
hanya tenaganya, namun juga kesungguhan dalam berdoa. Berharap
agar anaknya sembuh kembali. Berharap agar anaknya dapat berbahagia kembali. Berharap semua kepedihan yang menimpa
keluarganya, saat ini... benar-benar usai.
Mama megengangi tangan Ari, mengusapnya dengan saputangan
basah yang sudah disiapkan untuk membersihkan tubuh anaknya.
Hatinya terasa sakit saat melihat ketidakberdayaan Ari ini. Sungguh,
kalau memang bisa... Ingin rasanya ia menggantikan posisi Ari. Namun,
mana mungkin hal seperti itu terjadi...
"Ari... Cepat bangun ya, Sayang. Ari nggak kangen sama Mama"
Ata" Ata sekarang selalu menunggui Ari di rumah sakit, Nak..."
Seperti itu. Mama sering melakukan monolog, untuk "memanggil"
Ari kembali. Mungkin... Monolog kali ini membuahkan hasil. Jari yang sedang
beliau usap saat ini... Jari itu bergerak lemah! Cepat-cepat mama
mengedarkan pandangannya pada wajah Ari.
Mata itu... sedang berusaha membuka.
"ARII"!" Pekik Mama histeris. "Ariii... Kamu sadar, Nak"!"
Pekikan sang mama yang begitu keras membuat Ata, Ridho, Oji
dan Fio tersentak. Cepat-cepat mereka masuk ke dalam ruangan.
* Angga tetap mengeraskan hatinya. Namun, tak urung ia penasaran.
Seminggu lebih Ari terbaring di rumah sakit tanpa ada perkembangan
yang berarti, begitu kata Gita setengah mengecamnya. Seminggu lebih
juga Tari tetap setia di rumah sakit, namun tidak berani masuk ke
dalam. Tidak berani melihat Ari yang ada tubuhnya ditempeli berbagai
macam selang dan kabel. Ketika Angga menanyai kondisi gadis itu lebih
detail lagi, Gita hanya mendesah lemah.
"Datang dan liat sendiri, kalo emang lo bener-bener peduli."
Disinilah Angga sekarang. Memerhatikan Tari, walau hanya dari
jauh. Melihat dengan jelas, apa yang sepupunya suruh untuk ia lihat
sendiri. Gadis yang saat ini sedang ia amati... tidak lagi terlihat seperti
apa yang tersisa dari memorinya. Jingga Matahari yang ia kenal adalah
gadis yang enerjik, pemberani, dan gampang tertawa. Sedangkan gadis
yang ia lihat sekarang... Lebih mirip seperti mayat hidup. Bahkan
matanya kosong, tidak menunjukkan cahaya apapun berkaitan dengan
kehidupan. "Tari, Kak Ari sadar!"
Pekikan Fio yang mengoncang-goncangkan tubuh Tari membuat
Angga menegang. Cowok itu... berhasil bertahan. Angga memanjatkan doa dalam
hatinya dengan sungguh-sungguh. Mengharapkan kesembuhan rivalnya
yang telah ia jatuhkan dengan cara curang. Kesembuhan yang...
semoga saja bisa membuat gadis yang ia cintai kembali menjadi
secerah matahari. * Ari mengerjapkan matanya lemah, berusaha beradaptasi dengan
sinar dari luar matanya. Wajah pertama yang ia lihat adalah... Wajah
Mama yang penuh dengan air mata. Ari berusaha tersenyum.
Wajah kedua yang ia lihat adalah wajah para sahabatnya, Ridho
dan Oji. Keduanya berangkulan erat, menampilkan senyum sumringah
serta puji-pujian terima kasih atas "kembali"nya Ari dari tidur
panjangnya. Wajah selanjutnya yang ia lihat adalah... Wajah yang serupa
dengan dirinya. Ata. Tanpa peringatan sebelumnya, Ata langsung melesat memeluk
kembarannya itu. Ari tidak bisa balas memeluk. Tenaganya bahkan
belum cukup kuat untuk tersenyum lebih lebar lagi.
Namun, Ari merasa ada yang kurang. Ada wajah yang belum ia
lihat. Wajah milik... "Tari mana?" Suaranya yang pelan terdengar sangat jelas di telinga orang-orang
yang berada di ruangan tersebut. Lantas, semuanya memandang pada
satu titik: pintu masuk ruangan tempat Ari dirawat.
Disana, Tari berdiri goyah. Antara sadar tidak sadar, antara
percaya tidak percaya. Ia takut semua ini hanya fatamorgana. Ia takut
bahwa ia hanya membayangkan kesadaran Ari saja.
Ari merasa pilu. Gadisnya" sangat kacau. Dipanggilnya gadis itu
dengan suara pelan. Gadis itu masih terpaku. Disamping gadis itu, Fio
berbisik, membujuk Tari pelan untuk menghampiri Ari. Disana, tangan
gadis itu gemetar seakan menahan gejolak di dadanya. Perlahan, gadis
itu mendekati ranjang tempat Ari saat ini terbaring dan duduk disana,
di tempat paling ujung. Seakan paham, kini ruangan itu hanya diisi oleh mereka berdua,
sementara yang lain dengan kesepakatan yang tak disuarakan, langsung
berjalan meninggalkan mereka.
Keduanya butuh privasi, keduanya butuh penawar. Dan yang
satu... jelas merupakan penawar bagi yang lain.
"Hei..." Suara itu menyapa lemah, dengan tak lupa menyertakan sebentuk
senyum. Tari masih tidak dapat bereaksi. Otaknya sedang benar-benar
memastikan bahwa ini... Orang ini, sepenuhnya telah kembali.
Lebih dari sekedar kesadaran fisik.
"Lo nggak seneng... gue sadar?"
"Kesadaran seperti apa?" Akhirnya Tari mampu menyuarakannya.
Ari paham. Diisyaratkannya Tari untuk merebahkan kepalanya di
pundak cowok itu. Tari menurut.
"Lo pasti udah ngelewatin hari-hari yang sangat sulit."
Itu pernyataan. Bukan pertanyaan. Tari menggeleng lemah,
membantah. "Nggak... nggak sesulit yang Kak Ari lalui."
Beberapa saat yang sunyi. Tangan Ari tetap bermain di puncak
kepala gadis itu, mengelusnya lembut. Sebentuk kecil dari berbagai
macam kebiasaan Ari yang sangat gadis itu rindukan.
"Apa kabar, Tar" Lo keliatan kurus."
Tangis gadis itu akhirnya pecah. Perhatian itu... itulah yang dia
inginkan. Itulah yang ia rindukan. Sebentuk perhatian kecil dari Ari!
"Lo selalu jahat kalo udah di rumah sakit, ya," kata Tari sambil
terisak, "Kenapa selalu tidur lama-lama, sih" Seneng liat orang kuatir"!
Sebel!" Demi untuk menenteramkan hati gadisnya, Ari kembali mengelus
lembut kepala gadis itu. "Maaf..." "Selalu minta maaf!" tukas Tari keras. "Gue butuh tindakan
nyata..." "Iya, gue tau..." Ari memegang lembut dagu Tari, sehingga bisa
dilihatnya wajah manis gadis itu dari dekat. "Nggak akan ada lagi kata
menyerah. Nggak ada lagi yang meninggalkan, baik ikhlas maupun
nggak ikhlas. Yang ada hanya menetap."
Tari tersenyum lega. Memang itulah jawaban yang ia butuhkan.
Menetap. Sebentuk senyum akhirnya tergambar di wajah Tari.
Sebentuk senyum menggemaskan itu... menggoda Ari untuk
mengunci senyuman itu dengan bibirnya. Dikecupnya senyuman itu
dengan lembut. Kecupan kali ini... Bukan seperti sebelumnya. Kecupan kali ini
seakan menyatukan perasaan untuk waktu yang tak terhingga. Simbol
penyatuan hati yang... semoga saja abadi.
EPILOG Tari gelisah, mondar mandir di ruang tamu, sesekali matanya
melirik jam tangan. Gimana, sih! Tumben-tumbenan tuh orang telat!
Rutuknya dalam hati. Ketika akhirnya didengar suara klakson mobil,
Tari terlonjak. Dengan sekali lagi memastikan ikatan rambutnya sudah
terlihat rapi, pin mataharinya sudah terpasang di cardigan oranye yang
dipakainya, serta lipatan rok yang tidak salah jalur, Tari menyambar
tas selempangnya dan pamit pada Mama. Mama hanya tersenyum,
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak gadisnya itu.
"Buruaaan!!" Tari terpana, yang tadinya ingin langsung mengomel, tapi seketika
semuanya teredam. Di hadapannya sekarang telah berdiri seorang
cowok yang... baru disadarinya kalo cowok itu sangat tampan.
Matahari Senja. Bagaimana mungkin Tari tidak pernah menyadari bahwa Ari
ternyata sekeren ini" Yah... Pernah, sih. Saat pertama kali mereka
bertemu. Itu juga sebelum drama mereka dimulai. Namun akhir-akhir
ini, ketika posisinya sebagai perempuan satu-satunya yang bisa berada
di sekitar Ari, yang bisa melakukan apapun, yang bisa melakukan
tugasnya sebagai kekasih yang baik... Tari tidak pernah benar-benar
memerhatikan penampilan Ari.
Ari menjentikkan jarinya di depan muka Tari. Gadis itu langsung
terlonjak dan kembali memasang muka judesnya. Iya sih, ni orang
emang cakep, bersih, tinggi. Sempurna, deh! Asal sikap seenaknya itu
diilangin aja, sempurna banget, deh! Tari menggerutu dalam hati.
Kesal karena hari ini Ari terlambat menjemputnya.
Dengan dorongan lembut dari kedua tangan Ari yang nongkrong di
bahunya, Tari berjalan memasuki sedan hitam milik cowok itu, satu hal
lagi yang membuatnya kesal di pagi ini. Pantesan telaaat!
"Udah... Jangan cemberut gitu, dong. Kan yang punya kepentingan gue. Kenapa jadi lo yang sewot?" ujar Ari menenangkan.
Tari tetap melancarkan aksi bungkam, namun dengan kelegaan lain
yang menyergapi hatinya. Pada kesembuhan Ari yang datang bagai mukjizat, Tari merasa
sangat bersyukur. Pada sikap seluruh warga SMA Airlangga " baik itu
para siswa, para guru, para penjual makanan di kantin, sampai para
satpam dan cleaning services " Tari juga sangat terharu karena
semuanya memperlakukan Ari dengan sikap hangat. Termasuk... Ata.
Tari bersyukur. Segalanya kembali berjalan normal sebagaimana
mestinya. Walau belum sempurna, walau butuh proses... Yang pasti,
semuanya terpuaskan. Semuanya lega. Segala beban hati yang rasanya
berat telah terangkat, membuat hati yang hitam menjadi putih. Dan
keikhlasan, pelan namun pasti, menyelimuti tiap-tiap jiwa yang pernah
tersesat. "Iya, buruan jalan, yuk. Berdoa aja nggak kena macet!"
Ari tertawa geli. Digenggamnya tangan gadisnya itu dengan hati
yang hangat. Penopangnya, yang selalu setia menuntunnya untuk
kembali bersinar. * Pagi yang sangat cerah. Matahari memancarkan sinar keemasan
yang hangat, langsung menerpa wajah Ata yang sedang berdiri di
depan pintu gerbang Universitas Sagadharma pagi ini, memandangi
gadis yang sedang mondar-mandir gelisah di dekatnya dengan cemas.
Ini hari kuliah perdananya! Bisa-bisa ia terlambat karena gadis ini
keukeuh menunggu seseorang.
"Udahlah, Git" nanti juga ketemu di kampus, kan."
Mata Gita melebar, seakan Ata menyuruhnya menelan jamu
brotowali. "Kita ini udah janjian, Kak Ataaa?"
Ata hanya bisa mengerucutkan bibirnya, menurut saja agar
gadisnya tidak berubah menjadi hulk.
Gadisnya" Ata tersenyum. Dengan bangga, Ata sekarang dapat
menyebut Gita sebagai gadisnya. Setelah beberapa waktu menjalin
hubungan secara de facto, akhirnya Ata memutuskan untuk meresmikan hubungan dengan gadis yang telah menjadi lentera
untuknya. Seperti Tari untuk Ari, begitulah arti Gita untuknya.
Hubungan itu jelas saja membuat Angga hampir terkena serangan
jantung. Namun setelah Gita berbicara pada kakak sepupunya itu "
yang Ata yakini bahwa Gita memainkan sifat manipulatifnya " akhirnya
Angga mengeluarkan keputusan terserah lo aja.
Selama hubungan itu berlangsung, Ata mempelajari bahwa
sebenarnya Gita ini sangat galak. Jenis pacar cerewet yang memperhatikan detil-detil tertentu. Jenis pacar yang langsung
melemparkan tatapan membunuh pada lawan jenis yang ganjen.
Namun Ata tidak mengeluh. Kecerewetan Gita adalah bentuk perhatian
nyata dan berkat Gita yang over protective, tidak ada cewek seagresif
Vero yang berani mendekatinya. Ata tidak mengeluh.
Bagaimana mungkin Ata akan mengeluh, jika ia mengingat bahwa
gadis itulah yang telah membuat hatinya menemukan jalan pulang"
Jika gadis itu, bersama-sama dengan Tari, selalu mengupayakan segala
macam bentuk perdamaian dan usaha untuk mendekatkan dirinya
kembali dengan bayangannya, dengan cerminnya"


Jingga Untuk Matahari Karya Esti Kinasih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ata tersenyum samar, ungkapan tulus rasa bersyukurnya atas
kehadiran hal-hal baik dalam kehidupannya akhir-akhir ini.
Tak berapa lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan
mereka. Oji membuka kaca helmnya sembari nyengir untuk menyapa
Ata dan Gita. "Kak Oji nggak liat tuh anak dua?" Tanya Gita, tanpa membiarkan
Oji mengucapkan salam terlebih dahulu.
Oji mengangkat bahu. "Entahlah. Keberadaan mereka saat ini, siapa yang tahu" Mungkin
saja mereka tertinggal di belakang. Mungkin saja mereka berhenti
sejenak, menikmati pemandangan padatnya jalanan Jakarta sebagai
suatu mahakarya indah. Entahlah. Saya berjalan terlebih dahulu, di
tengah deru mobil, berdua bersama motor di samping saya ini.
Bergerak menyongsong mentari pagi."
Gita langsung mencubit lengan Oji sedangkan Ata tertawa
terbahak-bahak mendengar Oji bersyair. Memang, semenjak diterima
di jurusan Sastra Indonesia, Oji jadi gemar bersyair.
Tak butuh waktu lama untuk Oji pamit pergi akibat cubitan Gita
memberikan efek yang sangat dahsyat. Hanya sepersekian detik, giliran
sedan putih Ridho yang berhenti di depan Ata dan Gita. Ridho tidak
turun, hanya membuka kaca jendela.
"Oji tadi bersyair lagi?" Tanya Ridho geli, yang dijawab dengan
suara tawa milik Ata serta wajah merengut milik Gita. Sembari
menggeleng seakan malu mempunyai teman seperti Oji, Ridho langsung
pamit untuk pergi. Dilambaikannya KUHP yang sepanjang perjalanan
menuju kampus selalu ia pangku.
"Astaga" itu mereka!" pekik Gita histeris. Tangannya menunjuk
sepasang kekasih yang baru saja turun dari bus. Terdengar suara
omelan dari gadis itu sedangkan muka si lelaki nampak pasrah dengan
omelan ceweknya. Gita dan Ata sama-sama menggeleng melihat pemandangan yang
tersaji di hadapan mereka dan memutuskan untuk pura-pura tidak
mendengar apapun. Lambaian tangan Gita pada mereka berdua
membuat si cewek sejenak menghentikan omelannya, balas melambai
dan berlari menghampiri Ata dan Gita.
Ari dan Tari berlari hingga sampai di tempat Ata dan Gita berdiri.
Setelah mengatur napas, Tari lanjut mengomeli cowok yang tadi
berlari bersamanya. "Kan tadi udah dibilang jangan bawa mobil, pasti macet. Nggak
percaya, sih!" "Lho, kan udah gue bilang juga kalo motor gue masih di bengkel!"
"Kan tadi udah mau manggil ojeeek!"
"Ya ampun, Jingga Matahariiii. Emangnya gue mau ke pasar"!" Ari
menjitak lembut kepala Tari. Gadisnya itu... terkadang idenya suka
ngawur! "Lho, mobil Kak Ari emang dimana?" Tanya Gita penasaran. Ari
hanya menjawab dengan cuek.
"Gue tinggalin aja di pinggir jalan. Udah nelepon Raka, sih, buat
ambil." Dasar orang kaya! Rutuk Tari kesal. Pandangan matanya kemudian
menatap Ata, yang sedang tertawa geli melihat kejadian di depannya.
Ari juga melihat sebentuk tawa itu, yang akhirnya turut menyumbang
senyum di wajahnya. Hari yang baru. Kehidupannya sebagai saudara yang saling
menjaga dan melindungi... perlahan disongsongnya kehidupan itu.
Memang tidak mudah pada awalnya menyatukan kembali hati yang
telah usang. Perlu ada perbaikan disana-sini.
Namun, Ata dan Ari percaya... Lambat laun, keduanya akan
kembali utuh seperti masa sepuluh tahun silam.
Seperti menghilang janji matahari beberapa saat, di langit senja. walaupun Walaupun sempat membuat sempat gelap sekeliling, namun kedatangannya untuk kembali menyinari bagian
tergelap itu pasti. Sepasti kebahagiaan baru yang datang dalam
kehidupan kedua matahari kembar tersebut.
Seraya melemparkan senyum perdamaian, Ata dan Ari berjalan
memasuki gerbang kampus diiringi dengan gadisnya masing-masing,
Gita dan Tari. _ PRINCESS, FLOWER AND STORY_
TAMAT Golok Bulan Sabit 8 Jaka Sembung 9 Membabat Kiyai Murtad Hancurnya Istana Darah 3
^