Pencarian

Bidadari Menara 2

Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar Bagian 2


dari Yang Tidak Tercipta. Kebersamaan dalam situasi yang
damai itu juga sempat menghanyutkan hati pak Budi, kini
bertambahlah keyakinan hatinya.
"Yai, bagaimana selanjutnya musyawarah kita. Sepertinya
kita sudah lengkap dalam membentuk kepanitiaan pembangunan masjid dan pondok pesantren ini." Ujar Haji
Saiful yang sejak tadi memperhatikan situasi dan kondisi yang
semakin membaik di Langgar Wetan itu.
"Baiklah bapak-bapak sekalian, apakah kita sepakat kalau nak
candra ini kita mintai bantuannya untuk membuatkan desain
50 bangunan untuk masjid dan pondok pesantren?" kyai Farid
meminta pandangan dari jamaah yang ada di langgar itu.
Sebagian besar jamaah menyetujui tawaran tersebut, dan haji
Romli yang sepertinya kurang berkenan dengan usulan itu.
"Maaf yai memang benar dek candra itu merupakan arsitek
ternama yang tidak diragukan lagi hasil kerjanya dikota-kota
besar maupun di daerah kita ini. Tapi, apakah dek candra
pernah sebelumnya membuat desain sebuah masjid yang
merupakan tempat ibadah kita?"
"Bagaimana nak Candra?" kyai Farid melemparkan pertanyaan tersebut pada orang yang bersangkutan.
"Betul sekali yang dikatakan oleh pak Haji Romli, Yai. Saya
sendiri belum pernah membuat desain untuk masjid dan
pondok pesantren, jika mendesain Pure, rumah, perkantoran
dan juga pusat perbelanjaan itu sudah sering saya lakukan.
Jika saya diperkenankan, saya akan membuat desainnya dulu
kira-kira dalam jangka waktu satu minggu. Dan desain
tersebut akan saya perlihatkan, jika berkenan dengan desain
saya itu maka desain itu dapat dipergunakan lebih lanjut.
Namun, jika seandainya desain itu tidak di setujui saya juga
tidak keberatan jika pak Yai dan saudara-saudara yang lain
mendatangkan arsitek yang lainnya dengan desain yang lebih
bagus dan sesuai." Kata I gusti candra dengan penuh
kerendahan hati. 51 "Bagaimana saudara-saudara sekalian, apakah kita setuju
dengan pernyataan nak Candra?"
"Kami setuju, Yai." Jawab Haji Romli disertai dengan
anggota yang lainnya. Mendengar kesepakatan itu kyai Farid berfikir sejenak. Ada
sesuatu yang masih mengganjal di benaknya, lalu kata beliau,
"Nak candra, kami memiliki dana sebesar sembilan ratus lima
puluh juta rupiah. Bagaimana dengan dana tersebut dan
berapa upah yang nak Candra minta untuk desain itu?" kyai
Farid mecoba menebar pandangannya, lalu beliau juga
memandang pada pak Budi menandakan pertanyaannya itu
ditujukan juga kepadanya.
"Masalah berapa upah yang akan diberikan tidak usah
dipikirkan pak Yai, asalkan ada secangkir Teh dan sepotong
pisang goreng untuk mengganjal perut saya saja itu sudah
lebih dari cukup. Biarlah selebihnya Tuhan yang membalasnya." Ujar Candra dengan mantap.
"Benar pak Yai, dengan kebersamaan kita yang damai ini itu
sudah merupakan upah terbesar yang kami peroleh. Semoga
niat kebaikan ini dapat bermanfaat bagi semuanya."
"Alhamdulillah!" ujar kyai Farid beserta anggota musyawarah
yang lainnya. Perasaan damai itu kini terasa menyejukkan hati, tidak ada
perpecahan lagi di antara mereka dengan mengatas namakan
52 Tuhan, kebenaran dan kesalahan. Yang ada hanyalah rasa
saling menghormati dan ikhlas menerima kehendak Sang
Pencipta pada diri mereka. Memahami segala kondisi yang
ada tidak semata-mata dengan pengetahuan dan ilmu,
melainkan lebih cenderung pada nurani. Hanya orang-orang
yang belum diberi pemahaman oleh-Nya saja yang masih
tetap berada di dalam medan kebenaran dan kesalahan yang
sejatinya bukan tujuan dari jiwa-jiwa itu sendiri. Dalam
musyawarah itu juga telah diputuskan bahwasanya nama dari
pondok pesantren yang akan dibangun adalah "pondok
pesantren Hidayatullah". Usulan nama tersebut sebelumnya
disampaikan oleh bapak Budi "hidayah" dan ditambahkan oleh
kyai Farid menjadi "Hidayatullah". Setelah semuanya dirasa
cukup, majelis itupun ditutup dengan menyisakan harapan
kepada I gede candra yang diberi sebuah tanggung jawab
untuk membuat desain masjid dan pondok pesantren.
53 BAGIAN 4 Sore itu ada kondisi kurang harmonis terjadi dirumah candra,
tantenya yang selama ini membesarkannya tidak sependapat
dengan yang sudah dilakukan kemanakannya. "Tante tidak
mengerti jalan pikiran kamu Candra, kamu tante sekolahkan
tinggi-tinggi tapi tidak juga paham-paham dengan keadaan
kita. Kamu buang-buang duit saja untuk kepentingan agama
lain, lebih baik kamu menjadi dermawan untuk pembangunan
pure daripada rumah ibadah untuk orang Islam itu," Tantenya
pun berhenti sejenak, lalu katanya, "apa kamu sudah lupa
bagaimana tindakan orang-orang muslim itu dimasa lampau
sampai-sampai para Brahmana harus tersingkir dari tanah
jawa ini" Apa kamu sudah lupa leluhur kita sudah banyak
yang menjadi korban kebengisan penganut agama itu"
Sungguh aneh sikapmu candra. Malah saat ini kamu ingin
menambah catatan sejarah kejayaannya di tanah Jawa ini. Apa
kamu lupa kalau yang menghancurkan kota bali dengan
bomnya yang dahsyat itu adalah ulah orang- orang islam itu
dengan mengatas namakan Tuhan dan agama mereka. Apa
kamu lupa kalau Ayahmu yang kebetulan ada keperluan bisnis
di hotel itu harus meninggal karena kebengisan ummat Islam
itu" " Kata tantenya dengan nada yang menusuk hati.
54 "Tante, tidak semua perbuatan itu harus dinilai dengan materi.
Dan satu hal yang perlu tante pahami, Tidak ada agama yang
mengajarkan penganutnya untuk saling membunuh dan untuk
menindas manusia satu sama lain. Jika ada perbuatan
penganutnya yang meresahkan penganut agama lain, itu
dikarenakan tidak memahami inti ajaran agama itu sendiri.
Mereka salah kaprah memaknai sebuah wadah kebenaran itu,
sehingga hatinya menjadi gelap dan tidak memaknai arti
hidup yang sebenarnya. Mereka terlalu tamak untuk dapat
menguasai kebahagiaan Nirwana, dan tidak mau sengsara.
Mereka terlalu dikuasai oleh rasa nikmat dan pedih sehingga
mereka lupa pada Sang Hyang Widhi."
"Jika pandangan tante salah, biarlah salah. Memang dunia ini
terbalik, apa kata dunia jika Brahmana membangun masjid
untuk tempat ibadahnya orang Islam" Kamu itu yang terlalu
lemah dengan keadaan Candra. Masih banyak orang miskin
penganut Hindu yang mesti kamu bantu, dariapada kamu
harus membantu teroris-teroris kejam itu."
"Dan masalah kematian ayah janganlah disesalkan, karena
sebenarnya ayah tidak mati. Apakah tante lupa diajarkan Sri
Kresna pada kita" Orang yang menganggap bahwa makhluk
hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak
memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan
tidak dapat dibunuh. Tidak ada kelahiran maupun kematian
55 bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada
masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan
dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia
tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi.
Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh. Pahamilah itu
tante." Ujar candra dengan nada yang lembut.
"Terserahlah engkau Candra, tante harus mengakui kalau
kamu sudah dewasa. Kamu berhak menentukan jalan
hidupmu. Maafkan tante, mungkin tante berpikiran kolot. Tapi
percayalah niatan tiada lain hanya untuk kebaikanmu."
"Terimakasih tante atas perhatiaannya, saya tau betapa
sayangnya tante sama saya. Saya melakukan ini karna saya
memahami bahwasanya Tuhan yang mereka sembah dan yang
kita sembah itu sama, yaitu Tuhan yang menciptakan kita.
Orang bijak itu menyeru pada Satu Tuhan dengan menyebut
nama-namanya yang banyak. Lantas apa artinya pertentangan
bagi orang-orang yang mau berfikir dan memahami." Candra
pun mencium tangan tantenya. Perasaan bangga dan haru kini
menyelinap dalam lubuk hati tantenya. Sejak peristiwa bom
bali itu dialah yang mengasuh dan memenuhi kebutuhan
candra untuk kuliah. Kakaknya meninggal saat akan
melakukan pertemuan bisnis pernak-pernik ukiran bersama
investor asing. Alangkah malangnya, bukan nafkah untuk
putranya yang ia berikan. Namun, sebuah nama yang tetap
56 melekat di hati dan hanya itu yang ia sisakan. Syukur saja
Candra masih memiliki tante, adik kandung ayahnya. Dialah
yang membanting tulang untuk membiayai sekolah dan kuliah
candra selama ini. Sampai pada akhirnya dia bisa mandiri.
Mega telah mengembangkan sayapnya di ufuk barat. Bintang
senja telah lama memancarkan sinarnya yang teduh. Suara
kelelawar yang beterbangan di atas pohon Randu nampak riuh
bagai pasar malam yang menyajikan segala keindahan alami.
Semilir bayu yang membelai rumpun bambu memmbuatnya
melambai. Namun, keadaan yang mendamaikan hati itu
dirasakan bagai sekam yang menyala di hati Candra.
Bagaimana tidak, sudah dua hari ini dia belum mendapat
inspirasi dalam pembuatan desain bangunan untuk masjid dan
juga pondok pesantren. Sedikit rasa gelisah menghinggapi
batinnya dan itu membuyarkan konsentrasinya untuk memulai
mengerjakan tugas yang sudah dia sepakati. Tanpa dirasa
tibalah waktu sembahyang bagi Ca
ndra, ia pun melangkahkan
kakinya menuju kamar mandi untuk melakukan ritual Asuci
Laksana atau membersihkan diri. Setelah itu Candra
mengenakan pakaian yang yang bersih dengan memakai ikat
kepala yang biasa dia kenakan.
Usai melakukan melukat atau memercikkan air ke tubuhnya
dengan makna penyucian diri Candra pun memasuki Pure
melewati pintu sebelah kiri. Setelah itu ia melakukan Puja
57 Trisandya dengan posisi Padmasana atau duduk bersila.
"Mantra: Om suddha mam svaha, Om ati suddha mam svaha,"
ia menyucikan kedua tangannya. Lalu ia mulai membaca
mantram Trisandya, " Om, Om,Om, bhur bhuwah swah. Tat
sawitur warenyam. Bhargo dewasya dhimahi. Dhiyo yo nah
prachodayat. Om narayanad ewedam sarwam. Yad bhutam
yasca bhawyam. Niskalo nirlano nirwikalpo. Nlraksatah
suddho dewo eko. Narayana nadwityo asti kascit.
Om twam siwah twam mahadewah. Iswarah parameswara.
Brahma wisnusca rudrasca. Purusah parikirtitah. Om
papo'ham papakarmaham. Papatma papasambhawah. Trahi
mam pundarikaksah. Sabahyabhyantara sucih. Om ksama
swamam mahadewa. Sarwaprani hitangkarah. Mam mocca
sarwapapebhyah. Palayaswa sadasiwa. Om ksantawya kayika
dosah. Ksantawyo wacika mama. Ksantawya manasa dosah.
Tat pramadat ksamaswa mam. Om santi, santi, santi om."
Dengan konsentrasi penuh dan mengatur jalan nafasnya ia
melakukan Puja Trisandya. Usai melakukan Puja Trisandya
iapun melanjutkan ritualnya dengan Panca Kramaning
Sembah atau lima sembah yang diawali dan diakhiri dengan
sembah tangan kosong tanpa bunga atau wewangian. Setelah
semua ritual persembahyangannya itu selesai, Candrapun
memutuskan untuk berkeliling kota probolinggo untuk
melihat-lihat bangunan masjid. Akhirnya dia menarik gas
58 motornya untuk menuju ke sebuah masjid dan mencari
inspirasi mengenai desain bangunan masjid.
Suara adzan isya telah berkumandang di puncak-puncak
menara, puji-pujian pada keagungan Sang Pencipta mulai
dilantunkan. Suasana yang damai terasa sampai di puncak
kepala. Banyak orang yang rukuk dan sujud pada Pencipta
alam semesta, namun tak jarang dari mereka hanya sujud dan
rukuk pada bayangan yang melintas di benak mereka. "Duh,
Sang Hyang Widhi! Alangkah damainya bumi yang Kau
ciptakan jika manusia ciptaanmu mengerti dan memahami
setiap ajaran yang Kau turunkan." Gumam Candra dalam
hatinya. Dan dengan mendorong sepeda motornya ia
memasuki tempat parkir yang disediakan di halaman masjid
Jami" yang kira-kira jaraknya tiga kilo meter dari pusat kota
Probolinggo. Ia mengedarkan pandangannya kesegenap
penjuru bangunan masjid yang besar itu. Ia pun melihat-lihat
ritual wudhu yang dilakukan seseorang yang hendak
melaksanakan sholat magrib di masjid tersebut. Setelah
sedikit mendapatkan gambaran tentang desain masjid, Candra
pun melepas lelah dengan duduk di teras masjid. "Duh Sang
Hyang Widhi, berilah hamba petunjuk untuk dapat melaksanakan tugas ini dengan baik." Gumamnya dalam hati.
"Tidak ikut sholat, nak?" ujar seorang kakek yang kebetulan
sudah selesai menjalankan ibadahnya.
59

Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Maaf kek, saya bukan muslim. Jadi tata cara beribadah saya
pada Sang Hyang Widhi berbeda dengan muslim di masjid
ini. Hanya kebetulan saja saya mampir di masjid ini karena
saya ingin melihat-litah konstruksi bangunannya." Ujar
Candra dengan penuh penghormatan.
Kakek tersebut tersenyum, lalu katanya, "Setiap jiwa
memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana cara
beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena yang
terpenting bukan bagaimana cara beribadah yang dia lakukan,
tapi apa yang terjadi setelah dia melakukan ibadah tersebut.
Bagaimana kondisi tingkah lakunya, bagaimana kondisi
rohaniahnya." "Betul kek, saya sepakat mengenai hal itu. Oh ya kek, nama
saya I gusti candra." Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Nama saya, Sukarman. Biasa orang-orang disini memanggil
saya kakek Karman." Balas kakek itu dengan senyum
simpulnya yang khas. Kakek tersebut adalah salah satu
jamaah yang hampir tidak pernah telat mengisi shaf ketika
adzan dikumandangkan. Meskipun dalam keadaan sakit pun ia
masih mengusahakan untuk tetap mengikuti jamaahnya.
Setelah merasa cukup untuk mendapatkan gambaran tentang
bangunan masjid, Candra pun pamit kepada kakek Karman
untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah kurang lebih satu
jam mengendarai motor, akhirnya sampailah ia di sebuah
60 pondok pesantren. Namun, kali ini dia hanya melihat-lihat
dari pos penjagaan saja sambil mencari keterangan dari santrisantri yang kebetulan berjaga di pos tersebut. Usai melakukan
pengamatan dan diskusi Candra pun meminta diri. Setelah
sampai di rumah tantenya, ia beristirahat sejenak dan
kemudian makan malam. Perlahan ia mencoba mengingat-ingat konstruksi bangunan
masjid dan pondok pesantren. Dengan penuh semangat ia pun
menuangkan pikirannya di atas sebuah kertas gambar. Mulamula ia membuat desain bangunan untuk pondok pesantren,
karena hal itu lebih mudah ia lakukan ketimbang membuat
desain untuk sebuah masjid.
Detik demi detik telah berganti hari, waktu yang tersisa untuk
membuat desain yang diberikan kepadanya tinggal tiga hari
lagi. Sementara desain untuk bangunan masjid belum sama
sekali terjamah oleh Candra. Masih ada beberapa hal yang
mengganjal pikirannya, ia khawatir jika desain masjid yang ia
buat menuai protes dari panitia karena tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah keagamaan. Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari, namun
matanya belum terpejam sama sekali. Pikirannya melayang
mencari inspirasi untuk pembuatan desain tempat ibadah itu.
Berbagai gambaran telah ia dapatkan tapi keraguan masih saja
selalu hinggap di benaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk
61 segera istirahat dan membawa desain pondok pesantren
kepada kyai Farid di pagi harinya.
Malam bersama kabutnya telah menyelinap kedalam mimpi
setiap jiwa yang terlelap. Hawa dingin telah merayap
menghampiri tubuh yang tak berselimut. Suara kelelawar dan
pungguk bak nyayian alam yang menenangkan kegundahan
hati. Di sudut sana di antara orang-orang yang terlelap,
sesosok hamba terbangun dari tidurnya. Menyucikan jasad
dalam dinginnya malam. Menyucikan batin dalam pekatnya
malam. Dalam gema takbiratul ikhram dia menata hati
menghadap sang Ilahi, dengan segenap penyerahan diri dia
menyembah Dzat Yang Maha Suci. Dengan kedamaian jiwa
dia kembali pada ketetapan hati, dan dengan kesadaran rohani
dia bersatu dengan tingkah laku yang ada di alam semesta.
Menjelang pagi buta, Candra terbangun oleh suara adzan
subuh. Kali ini matanya tak dapat terpejam lagi, tak seperti
biasanya. Tidurnya yang hanya beberapa jam saja masih
menyisakan hawa kantuk yang luar biasa, namun pikirannya
memaksanya untuk terjaga demi sebuah tugas dan tanggung
jawab terhadap sesama sampai sang surya sedikit demi sedikit
mulai pecah di ufuk barat.
Usai melakukan ritual sembahyang di Pure Candra pun
berniat untuk segera menemui kyai Farid. Setelah beberapa
menit mengendarai sepeda motornya, sampailah dia di
62 halaman langgar wetan dan kebetulan kyai Farid dan Tantri
berada di teras langgar. "Selamat pagi pak kyai." sapa Candra.
"Pagi juga nak Candra, bagaimana perkembangan desain yang
nak Candra buat?" "Itulah maksud kedatangan saya kemari pak kyai. Saya
berniat memperlihatkan desain pondok pesantren beserta
material yang dibutuhkan dengan prakiraan harganya. Dalam
desain ini juga sudah ada kelas-kelas, ruang pengurus, dan
ruang istirahat bagi santri. Ada beberapa hal yang mungkin
harus mendapatkan persetujuan pak Kyai. Mungkin langgar
ini akan di rubah konstruksinya menjadi langgar yang
permanen. Dan di langgar ini akan digunakan sebagai tempat
kegiatan santriwati. Bagaimana pak Kyai?" ujar Candra
dengan sedikit keraguan. Kyai Farid merenung sejenak, beliau mencoba menganalisa
segala kemungkinannya termasuk biaya yang akan dipergunakan untuk pembangunannya. "Nak Candra, berapa
total biaya yang akan digunakan untuk pembangunan pondok
pesantren ini?" "Jujur saja pak Kyai, untuk membangun gedung-gedung
pondok pesantren ini menelan biaya kurang lebih lima ratus
juta rupiah. Dan itu sudah termasuk dengan ongkos tukangnya
pak Kyai dengan perkiraan harga material yang tinggi di
pasaran dan perkiraan biaya-biaya tak terduga."
63 "Oh ya nak Candra, kemarin saya kedatangan tamu dari kota
Malang. Beliau adalah kawan saya sewaktu masih muda.
Beliau menawarkan bantuan untuk penggunaan semen dan
keramik yang akan digunakan dalam pembangunan masjid.
Berapapun rincian bahan-bahan tersebut Beliau akan dengan
senang hati membantu. Kebetulan Beliau sekarang memiliki
usaha dibidang industri makanan yang sudah berkembang
sampai ke luar pulau jawa ini. Beliau keturunan Tionghoa dan
menganut Ajaran Kong Hu Cu. Untunglah dia adalah ummat
yang taat pada nuraninya sehingga dia tidak melihat segalanya
ini hanya dari aspek lahirian saja. Sehingga Beliau dapat
memaknai apa yang ada dibalik pembangunan tempat ibadah
dan sarana pendidikan ini." Ujar kyai Farid dengan
senyumnya yang khas. "Syukur Alhamdulillah Abah, memang agama itu sendiri
bukan sebuah tujuan hidup. Tetapi hanya sebuah sarana
peribadatan yang akan mengantarkan rohani menuju kesempurnaan hati yang nantinya akan melahirkan tingkah
laku yang dapat menjadikan bumi ini damai. Hanya saja
pemahaman yang salah mengenai agama cenderung menimbulkan perpecahan. Padahal jika kita maknai segala
sesuatunya berasal dari Dzat Yang Maha Tunggal itu. Agama
juga bukan komoditas yang harus diperjual belikan karena
menyangkut hak individu, kedamaian yang dirasakan
64 individu. Kita sebagai penganut agama hanya mencari apa
yang sudah dinikmati oleh seorang Resi, apa yang sudah
dinikmati sang Yogawan, apa yang sudah dinikmati Buddha.
Kita juga hanya berusaha mencari apa yang sudah dinikmati
oleh Arif Billah dalam setiap desah nafas maupun tingkah
lakunya. Pencapaian-pencapaian tersebut hanya nurani yang
mampu merasakannya, bukan dengan kata maupun penjelasan-penjelasan. Yang saya pahami agama itu hanya
sebagai sarana bukan sesuatu yang mesti dipertuhankan.
Karena tujuan setiap umat beragama itu adalah Dia Yang
Menciptakan Alam Semesta, Yang Memeliharanya dan juga
Yang Akan Meniadakannya kembali." Ujar Tantri ditengahtengah pembicaraan Abahnya dan Candra.
Kyai Farid tersenyum mendengar penuturan puterinya itu.
Lalu ujar beliau, "Ya Betul, tapi jangan menyampaikan
sesuatau pada orang yang belum siap untuk menerimanya
karena itu hanya akan membuatnya bertambah bingung di atas
kebingunannya sendiri."
"Apa yang pak Kyai sampaikan dan juga yang dek Tantri
utarakan itu saya juga sepakat. Itulah inti yang di ajarkan Sri
Kresna pada Arjuna dalam perang di medan kurusetra."
Candra menambahkan. "Oh ya nak Candra, bagaimana dengan desain bangunan
Masjidnya?" tanya kyai Farid.
65 "Jujur pak Kyai, sebelumnya saya sudah melihat-lihat desain
masjid di kota Probolinggo hanya saja saya masih sedikit ragu
dengan desain seperti itu. Tapi setelah kita melakukan
pembicaraan-pembicaraan kecil ini saya sudah menemukan
gambaran desain yang akan saya buat nanti dan semoga dapat
diterima." "Tidak ada desain khusus dalam pembangunan masjid, nak.
Yang terpenting adalah posisi bangunannya itu harus sesuai
dengan arah kiblat. Apa nak candra sudah paham masalah
itu?" "Masalah kiblat yang pak Kyai maksudkan, nanti bisa di lihat
dari peta karena setahu saya orang muslim itu berkiblat pada
Ka"bah. Dan posisi masjidnya juga bisa disesuaikan
bagaimana penempatannya."
"Baiklah nak Candra, kalau begitu nak Candra lanjutkan saja
desainnya. Mudah-mudahan desain yang nak Candra buat itu
dapat disepakati sehingga tidak akan muncul perselisihan
lagi." "Baiklah pak Kyai, semoga
saja demikian adanya." Candrapun mengembangkan senyumnya, dan tak lama
kemudian ia berpamitan untuk segera menyelesaikan desain
masjid yang dijanjikan. Hari itu adalah hari yang sangat berkesan bagi Candra, ide
yang selama ini ia cari tanpa disengaja ia dapatkan dari
66 pembicaraan-pembicaraan kecil bersama kyai Farid dan
Tantri. Sesampainya dia mulai menuangkan idenya tersebut
kedalam sebuah desain. Tangannya mulai menari di atas
kertas A3, sebuah kalkulator yang akan digunakan untuk
menghitung dimensinya sudah siap di atas meja kerja yang
berada di samping ranjang tidurnya. Mula-mula candra
membuat desain menara yang di ujungnya terdapat kubah.
Usai menghitung material yang dipergunakan dalam pembuatan satu menara tersebut, ia melanjutkan dengan
membuat desain pondasi masjid. Setelah itu ia membuat
potongan-potongan dimensinya untuk dapat diketahui berapa
volume dari pondasi tersebut dan juga material yang
dibutuhkan. Beberapa saat kemudian desain menaranya pun
sudah tampak sempurna sekaligus dengan rincian biayabiayanya.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima sore dan
kelelahan juga sudah menghampirinya. Candra pun memutuskan untuk beristirahan sejenak sambil menikmatai
secangkir teh dengan aroma melati yang khas. Secara
perlahan ia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil
mencoba memejamkan matanya. Dan ia pun tenggelam di
antara buaian mimpi dan kelelahan.
Senja mulai merapat pada kegelapan. Lukisan mega di langit
itu nampak kian pudar menjadi semakin kelam. Burung
67 Prenjak yang telah lama pulang ke singgasananya sesekali
bersiul menyambut lantunan Adzan magrib. Entahlah,
mungkin burung itu juga mengingati Tuhan semesta alam
tanpa mengenal waktu , karena ada tertulis : Maka apakah
mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit
dan di bumi baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya
kepada Allahlah mereka dikembalikan.
Raka"at demi raka"at telah dijalankan, do"a dan puji-pujian
pada Tuhan semesta alam dilantunkan disetiap rumah ibadah.
Setiap jiwa kembali berserah diri, dengan penyerahan yang
utuh tanpa ada rasa tinggi hati dan kesombongan. Jantung dan
aliran darah ikut mengingati-Nya dengan caranya sendiri, tiap
sendi-sendi juga tunduk kepada-Nya dengan caranya yang tak
dapat kita pahami hanya dengan ilmu yang sedikit ini. Sebuah
cara yang tak perlu dipertentangkan lagi karena unsur-unsur
itu tunduk pada Sang Pencipta alam semesta dan mengetahui
sesuatunya berdasarkan apa yang telah di ajarkan kepadanya.
Waktu telah berganti, tak terasa bumi beredar seakan-akan
lebih cepat dari biasanya. Kecerahan tampak tergambar di
wajah-wajah para anggota rapat pembangunan pondok
pesantren itu. Di dalam Langgar Wetan telah ada Haji Romli


Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan kyai Farid. Lucas, pak Budi dan Haji Saiful juga telah
sejak awal datang ke langgar itu. Tiap-tiap yang menghadiri
68 rapat itu mendapatkan jatah segelas teh manis beraroma
melati. Jajanan beraneka ragam juga telah sejak awal
disuguhkan. "Yai, apakah kita masih harus menunggu lagi" Sudah satu jam
lebih kita menunggunya, baiknya kita mulai saja rapat ini
sambil menunggu kedatangannya." Ujar Haji Romli dengan
penuh pengharapan. "Baiklah Haji Romli, ini ada desain yang sudah diberikan oleh
nak Candra tempo hari. Bisa di perlihatkan kepada anggota
rapat." Jawab kyai Farid sambil membuka lembaran kertas
hasil print out. "Tapi Yai, bukankah saudara Candra berjanji akan membuatkan desain masjidnya juga?"
"Itulah mengapa saya menyarankan untuk menunggunya
terlebih dahulu," kyai Farid berhenti sejenak. Ia pun
mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang. Lalu
ujarnya, "Jalal, coba kau jemput nak Candra di rumahnya.
Katakan pada dia rapat sudah dimulai dan kami semua
menunggu kedatangannya."
"Baik Yai," ujar pemuda yang bertubuh gemuk di samping
Lucas. Pemuda itu pun minta diri untuk memenuhi perintah kyainya.
Dengan menggunakan sepeda kumbang dia melaju menyusuri
pematang-pematang sawah. Pematang sawah itu merupakan
69 jalan alternatif terdekat munuju dusun sebelah. Sesampainya
di penghujung sawah ia melewati jalan setapak dan menikung.
Beberapa puluh meter dari tikungan tersebut sudah tampak
pintu gerbang dusun tempat tinggal Candra. Setelah bertanya
pada beberapa orang yang ada di pinggiran jalan, Jalal pun
kembali mengayuh sepedanya menuju rumah yang menjadi
tujuannya. Perlahan sepeda kumbangnya memasuki halaman rumah
tersebut. Namun, kedatangan Jalal hanya disambut oleh Pure
yang berdiri kokoh tanpa ada seorangpun yang dapat ditemui.
Setelah mengetuk pintu berulang-ulang dan tak juga ada
jawaban, maka Jalal pun memutuskan untuk kembali ke
langgar. "Yai, untuk apa kita harus percaya pada janji orang kafir
seperti Candra yang jelas-jelas sudah ketahuaun sifat
munafiknya?" kata Gufron dengan nada raut wajah yang sinis.
"Betul yai, bagaimana jika desain masjidnya menggunakan
desain yang telah kami buat" Daripada kita mesti harus
menunggu orang munafik itu." Jabir menambahkan.
Semua yang hadir dalam rapat itu terdiam membisu, dalam
hati mereka mulai ada keraguan yang mengendap. Melihat
situasi demikian Gufron dan Jabir semakin bersemangat.
Beberapa orang yang menghadiri rapat itu saling berpandangan saling meminta pendapat mengenai tawaran
70 Jabir. Sebagian di antara mereka ada yang sepakat , namun tak
sedikit dari mereka yang memutuskan untuk menunggu desain
yang akan diberikan oleh Candra.
"Assalamu"alaikum," Jalal memasuki langgar itu dengan
peluh yang membasahi bajunya.
"Wa "alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh." Jawab
kyai Farid berserta yang lainnya hampir bersamaan.
"Bagaimana Jalal?"
"Mohon maaf Yai, saya sudah sampai di rumahnya tapi rumah
saudara Candra kosong tak berpenghuni. Saya juga sudah
menanyakan pada tetangga-tetangganya dan merekapun tidak
tahu." "Baiklah kalau begitu, terimakasih Jalal atas informasinya."
Ujar kyai Farid kemudian. Ada beberapa hal yang mengganjal
hatinya, namun beliau tak dapat memahami hal tersebut
hingga akhirnya beliau menyetujui usulan Jabir.
"Jabir, apakah kamu benar sudah membuat desain untuk
masjid kita?" "Benar Yai, saya dibantu oleh Gufron membuat desain
tersebut dan lengkap dengan rincian biayanya. Dan untuk
rincian biayanya Gufronlah yang merincinya yai." Kemudian
Jabirpun mengeluarkan tiga lembar kertas A3 dari map
plastik. 71 "Yai, ini desainnya. Kubahnya sengaja saya buat terpisah agar
mudah dalam merinci material yang dibutuhkan."
Kyai Farid dan Haji Romli meneliti desain yang dibuat oleh
Jabir dan Gufron. Dilihat dari bentuk pondasinya bisa
diperkirakan bahwasanya masjid yang akan dibangun
memiliki dinding yang berbentuk segi enam dengan enam
buah menara di tiap sudutnya laksana tiang penyangga
bangunan tersebut. Kubahnya di buat seperti sepertiga
cangkang telur dan di puncaknya diberi lambang bulan sabit.
"Jabir, apakah untuk kubahnya tidak dapat dirubah lagi?" haji
romli dengan wajah yang sedikit tegang menatap Jabir.
"Apa kurang bagus, pak Haji. Itu adalah karya saya yang
sudah maksimal dan butuh waktu satu minggu untuk
menyelesaikannya. Kalau harus dirubah lagi berarti saya
butuh waktu lagi untuk menyelesaikannya."
"Bukan begitu nak Jabir, kami tau nak Jabir pernah sekolah di
SMK. Jadi tidak diragukan lagi hasil kerjanya, hanya saja
disini jika kita menggunakan desain kubah seperti yang nak
Jabir buat ini kita akan minus tiga ratus juta dari anggaran
yang sudah tersedia." Haji romli memandang kyai Farid
meminta pertimbangan, lalu melemparkan masalah tersebut
pada anggota yang ada. "Bagaimana kalau sambil menunggu
desain masjidnya kita mengerjakan dulu desain yang sudah
72 ada jadi biar cepat terlaksana." Salah seorang anggota rapat
yang berada di sudut mengemukakan pendapatnya.
Anggota rapat yang lainnya pun sepakat dengan keputusan
tersebut. Setelah membagi-bagi tugas sesuai yang ada di
struktur anggota rapat mulai membuat renca-rencana mingguan dan bulanan. Sesuai rencana pemesanan material
dilakukan sehari setelah musyawarah tersebut. Setelah
musyawarah ditutup, Jabir dan Gufron buru-buru pulang.
Mereka mulai menyiapkan apa yang sudah ditugaskan oleh
Haji Romli. Kali ini mereka memutar otak habis-habisan,
mereka bingung untuk menutupi rincian biaya yang minus
tersebut. Jabir pun memainkan pensil berpadu dengan
penggaris dan juga busur derajat. Telah puluhan kertas yang
berserakan di lantai kamarnya, namun desain masjid itu masih
belum sempurna. Beberapa macam kubah telah dia bentuk,
tapi desain itu masih belum mengena di hatinya. Akhirnya ia
pun memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk melepas
lelah yang menggerayangi tubuhnya. Ia pun membaringkan
tubuhnya di atas kasur empuknya, secara perlahan ia pun
mulai memejamkan matanya. Dan tak lama kemudian
tenggelamlah ia bersama mimpinya. Kelelahan yang membalut tubuhnya langsana belenggu yang tak dapat
dilepaskan dengan sisa-sisa tenganya. Dan malampun kembali
mencekam dalam balutan hawa dingin yang menusuk tulang.
73 BAGIAN 5 Sang surya sudah terasa panas menyengat kulit, material
bangunan sudah sejak kemarin berdatangan . Telah sejam
yang lalu kyai Farid meletakkan batu pertama pada
pembuatan bangunan untuk pondok pesantren itu, sementara
Gufron dan Jabir belum muncul sejak pagi tadi. Sepertinya
pekerjaan merubah bentuk kubah dengan disesuaikan
anggaran yang ada sangat mengura otak, tenaga dan
waktunya. "Tantri, coba tanyakan pada Umi apa makan siang untuk
tukang dan yang lainnya sudah mulai disipkan?" ujar kyai
Farid pada puterinya. "Baik Abah." Tantri pun segera berjalan menuju dapur, sejak pagi dia telah
menyiapkan hidangan untuk sarapan orang-orang yang
membuat pondasi bangunan. Dengan adanya gotong royong
tersebut tak terasa sudah hampir seperempat pondasi yang
sudah dikerjakan. Semangat pak Budi yang membara tersebut
menjadi teladan bagi ummat muslim dusun Kencana Wungu
tersebut. Mereka saling bahu membahu dengan niatan tulus
tanpa pamrih dan keegoisan yang tak beralasan.
"Abah, umi tadi berpesan agar Abah pulang dulu sebentar."
Ujar Tantri dengan wajah yang beseri-seri.
74 "Ya sudah kalau begitu kamu bereskan dulu kertas-kertas
rincian barang ini. Abah akan menemui Umi." Kyai Farid lalu
melangkahkan kakinya untuk pulang. Sesampainya di
halaman rumah beliau tertegun melihan dua belas ekor
kambing jantan dan betina. Dan seratus ekor ayam kampung
yang sudah berada dalam kurungan.
"Umi, darimana ayam dan kambing-kambing ini?" kyai farid
dengan sedikit keheranan memandang pada isterinya.
"Alhamdulillah Abah, tadi Pastor Julius datang kemari dan
menyumbangkan semua ini untuk hidangan orang-orang yang
membangun pesantren dan masjid katanya." Umi Siti Hajar
sambil tersenyum. "Alhamdulillah ya Robb." Kyai Farid pun mengusapkan
kedua tangan ke wajahnya.
Hari itu bertambahlah kebahagiaan warga dusun Kencana
Wungu. Kepedulian masyarakat yang begitu besar terhadap
pembangunan rumah ibadah dan sarana pendidikan agama
tersebut menjadikan sungai-sungai kedamaian mengalir
kembali dari batu-batu cadas yang menyelimuti hati.
Kokohnya perbedaan sedikit demi sedikit terkikis oleh badai
keikhlasan yang memancar dari pemahaman dan hidayah
yang diberikan Tuhan semesta alam. Kidung penyerahan diri
dan kedamaian senantiasa mengalun merdu di antara
75 hembusan angin yang menerpa wajah-wajah yang gembira
tersebut. Tuhan, betapa besar rahmat-Mu
Sampai-sampai mataku ini silau karena cahaya rahmat itu,
Tak ada satupun mahluk yang luput dari karuniamu,
Meski mereka kufur sekalipun kepada-Mu.
Tuhan, Engkau merahmati mahluk-Mu dengn cara yang
Engkau tentukan, Dengan sesuatu yang Engkau halalkan dalam kitab-kitab-Mu,
Dan juga dengan yang Engkau haramkan darinya.
Tuhan, aku memahami sedalam yang Engkau ajarkan,
Tak ada yang sia-sia dari segala rencana-Mu,
Tak ada yang hina dari segala ciptaan-Mu,
Kecuali perbandingannya adalah Engkau,
Duhai dzat Yang Maha Suci dan tak tertandingi.
Tuhan, aku tau seluruh isi bumi dan langit tunduk pada-Mu
Termasuk ulat-ulat yang Engkau rahmati dari bangkaibangkai
pasti berserah diri pada-Mu,
entah dengan terpaksa atau dengan ikhlas,
karena ku mengerti, tak bergerak sesuatupun di semesta alam
ini kecuali atas izin dan ridho-Mu.
76 "Jalal, panggillah teman-temanmu yang lain dua orang. Ada
tugas khusus yang akan aku berikan padamu dan juga
mereka." "Baik yai, saya mohon diri."
Tak lama kemudian dua orang yang diminta kyai Farid datang
menghadap, "Yai, apa ada tugas yang begitu penting sampai
yai membutuhkan kami bertiga?"
"Betul Rohman, ada tugas untuk kalian bertiga. Alhamdulillah
ada donatur yang menyumbangkan kambing dua belas ekor
dan seratus ekor ayam yang di amanatkan untuk konsumsi
selama kegiatan pembangunan pondok pesantren dan masjid
ini berlangsung." "Alhamdulillah yai, tapi siapa yang mau berbaik hati
menyumbangkan itu yai?"
"Pastor Julius." Jawab kyai Farid mantap.
Jalal dan kedua temannya nampak saling berpandangan, "Yai,
apa tidak ada maksud-maksud lain di balik ini semua. Kita
kan tau selama ini bagaimana peranan orang-orang nasrani itu
pada perang-perang salib yang pernah menjadi sejarah besar
itu?" ujar Rohman dengan wajah yang serius.
"Rohman, jangan pernah engkau menghakimi sesuatu yang
belum engkau mengerti. Niat itu ada dalam hati, dan biarlah
Allah yang mengatur segalanya tugasmu sekarang hanya
77 ikhlas menerima kehendak Yang Maha Agung Itu. Dan tugas
yang lain sudah menantimu."
"Apa itu Yai?" "Merawat kambing-kambing itu." Ujar kyai Farid sambil
tertawa dan menepuk-nepuk pundak Rohman.
Jalal dan kedua temannya pun segera membawa kambingkembing tersebut ke belakang rumah kyai Farid. Di belakang


Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rumah itu terdapat kandang sapi yang sudah tidak
dipergunakan lagi. Sesui instruksi kyai Farid, kambingkambing itu sementara di tempatkan di tempat itu.
"Jalal, kenapa seharian ini Jabir dan Gufron tidak nampak
batang hidungnya?" "Entahlah Man, mungkin mereka sibuk dengan membuat
desain kubah yang beberapa hari lalu tidak disetujui."
"Lha masak hanya membuat desain kubah saja kok sampai
tiga hari ini belum selesai-selesai?" dengan sedikit ketus
Rohman menepis pembelaan Jalal sambil tangannya menambatkan tali pengikat kambing-kambing itu. Lalu
ujarnya lagi, "Aku jadi sangsi Lal, mungkin saja itu bukan
hasil karya Jabir sendiri. Karena setauku dulu sewaktu di
kelas dia tidak hebat-hebat amat kalau ada tugas membuat
rancangan bangunan. Tapi tiba-tiba sekarang dia sudah
membuat desain masjid yang unik, elegan dan yang jelas
sangat indah." 78 "Hus! Jangan suudzon sama orang."
"Aku kan bicara apa adanya." Rohman membela diri. Tak
terasa tugas mereka telah selesai, dan kini giliran mereka
mengambil rumput untuk makanan kambing-kambing tersebut. Tapi sebelumnya mereka kembali ke Langgar Wetan
untuk mengisi perut mereka yang sudah berpantun ria.
Mereka pun menikmati hidangan yang alakadarnya itu dengan
penuh rasa syukur. Usai menikmati hidangan makan siang,
merekapun istirahat sejenak dan kembali ke rumah masingmasing untuk membersihkan diri dan sholat dzuhur. Namun,
beberapa orang yang memang telah menyiapkan pakaian ganti
langsung mandi di sumur dan melaksanakan sholat jamaah di
langgar. "Pak budi belum makan ya?" tanya jalal yang tidak melihat
pak Budi makan bersama-sama tadi.
"Belum dek, tidak apa-apa nanti saja."
"Lho kenapa tadi tidak ikutan makan pak Budi" saya kira
bapak tadi sudah duluan." Dengan sedikit terkejut Lucas
memandang pak Budi. "Maaf pak, persediaan lauknya sudah habis. Yang tersisa
hanya sebakul nasi saja. Bagaimana ini pak?" dengan wajah
yang sedikit memelas Jalal memberitahu keadaannya.
79 "Bagaimana kalau saya belikabn saja roti pak" Saya yakin
bapak pasti lapar karena pekerjaan tadi memang menguras
tenaga." Sambut Lucas.
Pak budi hanya tersenyum, diambilnya sebatang rokok dari
jepitan telinganya. Rokok tersebut disulutnya, lalu katanya,
"Lucas, bukankah ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti
saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari ucapan Tuhan."
Lucas pun tersenyum mendengar jawaban pak Budi, "Betul
pak saya tidak bisa komentar apa-apa kalau sudah
menyangkut masalah itu."
Beberapa saat kemudian muncul Tantri dengan membawa
senampan jajanan. Beberapa saat kemudian muncul pula
santriwati membawa semangkuk sup dan sepiring daging
ayam. Ternyata bukan hanya Jalal saja yang memperhatikan
kalau pak Budi sedari tadi belum makan, namun kyai Farid
pun memperhatikannya. "Silahkan dinikmati pak." Tantri mempersilahkan pak Budi
untuk menikmati hidangan makan siangnya.
"Terimakasih nak Tantri, kok tau kalau bapak belum makan?"
ujar pak Budi sambil melemparkan senyumnya.
"Abah tadi yang menyuruh saya menyiapkannya, karena abah
tadi melihat pak budi tidak makan bersama yang lainnya."
"Sampaikan ucapan terimaksihku pada pak kyai."
80 "Insya Allah pak Budi nanti akan saya sampaikan." Tantri pun
bergegas meninggalkan teras langgar itu dan segera
membantu Umi dan ibu-ibu yang lainnya di dapur.
Tak terasa jarum jam telah bergeser menunjukkan angka
empat, pembuatan pondasi di tanah yang diwakafkan oleh
kyai Farid telah hampir selesai. Jalal dan dua orang temannya
segera menyelesaikan tugas-tugas khusus dari kyanya.
Mereka pun menyusuri pematang sawah sambil menjinjing
keranjang. Tangan-tangan yang lincah tersebut dengan mudah
menyabit rumput di tepi-tepi pematang sawah. Mendung yang
berarak dari arah barat ke timur membawa keberkahan
tersendiri bagi mereka. Sengatan panas matahari yang masih
terik untuk sementara waktu dapat terhalang oleh awan-awan
tersebut. Setelah keranjang-keranjangnya penuh dengan suka
cita mereka pulang untuk memberi makan kawanan kambing.
"Jalal, habis ngaji nanti coba kamu ke rumah Jabir atau
Gufron mudah-mudahan mereka ada. Saya ingin bangunan
yang pertama-tama diselesaikan adalah masjid." Ujar kyai
Farid pada santrinya yang sedang memberi makan kawanan
kambing. "Insya Allah Yai," santri itu diam sejenak. Lalu katanya,
"Yai, orang-orang banyak yang membicarakan masalah mas
Candra. Dan sebagian besar dari mereka sudah sangat
membenci orang hindu yang tidak tepat janji itu. Dan sempat
81 saya dengar juga mereka tidak segan-segan untuk menghajar
mas Candra jika datang nanti."
"Itu sikap yang terlalu terburu-buru dan tidak sesuai apa yang
sudah di ajarkan baginda Nabi SAW. Kamu sebagai santri
yang baik hendaknya tidak ikut campur dengan mereka.
Segala sesuatu itu mesti dipikirkan, diyakini lalu diucapkan
jalal. Tapi jika dalm hati masih ada keragu-raguan jangan
sekali-kali mengatakannya. Karena biasanya akan timbul
fitnah yang luar biasa." Jawab kyainya. Jalal dan kedua
temannya pun segera menyelesaikan tugasnya itu dan pamit
kepada kyainya untuk pulang.
Malam harinya sepulangnya dari langgar Jalal memenuhi
perintah kyainya. Seperti biasa dia mengambil jalan pintas,
tapi kali ini dia menyusuri pinggiran sungai untuk sampai ke
rumah Jabir. Setelah sampai di penurunan tanpa pikir panjang
lagi dia langsung berbelok ke jalan setapak dan menerobos
pekarangan rumah Jalal dengan berbekal senter. Sebelum
memasuki rumah Jabir ia terlebih dulu mencuci kakinya di
sumur yang letaknya di belakang rumah tersebut.
"Apa dia tidak akan melaporkan masalah ini pada Yai?" ujar
seorang dari mereka yang ada di dalam rumah itu dengan
wajah sedikit kusut. "Kurasa tidak, karena aku sudah mengancam akan membunuh
orang kafir itu jika sampai dia mengadu." Jawab temannya
82 itu. Setelah sempat mendengar pembicaraan itu begitu lama
Jalal pun tak jadi masuk. Ia segera kembali menyusuri tepian
sungai dan membelok ke arah yang berlawanan dari arah
sebelumnya. Dengan hati yang berdebar-debar dia menyusuri
pematang sawah. Dengan langkah sedikit di percepat ia
melewati jalan setapak yang menikung. Jalannya semakin
dipercepat sampai-sampai ia tak menghiraukan orang-orang
yang juga menggunakan jalanan itu.
Pure itu tetap saja kokoh seperti waktu dia datang beberapa
hari lalu. Rumah itu sudah terbuka namun tampak sepi.
"Selamat malam," ujar Jalal sambil mengetuk pintu.
"Ya selamat malam, adek mencari siapa?" ujar wanita
tersebut dengan logat bali yang terdengar masih kental.
"Apa saya bisa bertemu dengan, mas Candra tante?" ujar
lelaki yang bertubuh gemuk itu sedikit memohon.
"Adek dari mana?"
"Saya dari Langgar Wetan."
Mendengar nama tersebut disebutkan, emosi wanita setengah
baya itu memuncak. "Hei teroris-teroris yang berwajah
malaikat. Apa golonganmu tidak puas setelah meledakkan
pulau bali an menciptakan perang di sana-sini" Kenapa sih
orang seperti kalian tidak bisa membuat hati tetanggatetangga kalian menjadi damai" Apa itu yang di ajarkan oleh
nabi kalian, setau saya nabi kalian belum pernah membunuh
83 lawannya meskipun dalam perang. Tapi kenapa ummatnya
yang seperti kalian ini tega berbuat nista?" dengan menunjuknunjuk wajah pemuda itu wanita tersebut memaki.
"Maaf tante, apa maksud tante saya benar-benar tidak
mengerti?" "Sudahlah, sampaikan saja salamku pada kyaimu. Jangan
pernah menyebut agama islam itu jalan yang lurus selama
ummatnya tidak menunjukkan jalan kedamaian dan selama
ummatnya belum berhenti menciptakan malapetaka di penjuru
bumi ini." Wanita setengah baya itu langsung menutup pintu
keras-keras sampai jantung pemuda itu berdegup kencang.
Tapi yang lebih menggetarkan jantungny ialah kata-kata
wanita setengah baya itu dan pembicaraan yang sudah ia
dengar sebelumnya. Pemuda itu pun memutuskan untuk
kembali ke rumahnya tanpa mempedulikan kata-kata kyainya.
Ke esokan harinya Jalal dan
Gufron datang dengan membawa desain kubah yang sudah selesai di buat.
Berdasarkan desain tersebut bentuk kubahnya tetap seperti
sedia kala hanya ukurannya saja yang diperkecil sehingga
otomatis memperkecil biaya pembuatannya. Kali ini giliran
Jalal yang tidak hadir dalam kegiatan tersebut, "Jabir, bawa
desain ini kepada Haji Romli dan pak Budi biar mereka
membicarakan lebih lanjut. Karena aku ingin yang terlebih
dahulu diselesaikan adalah pembuatan masjidnya."
84 "Baiklah Yai, kami mohon diri." Lalu Jabir dan Gufron
membawa desain tersebut kepada Haji Romli dan pak Budi
sesuai anjuran kyainya. "Bagaiman pak Haji Romli dengan desain seperti ini?" ujar
Gufron. "Tapi sepertinya desain kubahnya kurang serasi nak Jabir
dengan menara-menara ini. Apa tidak sebaiknya menara ini
ditiadakan saja dan dibuat satu buah menara besar di samping
bangunan masjid ini seperti di daerah-daerah lain,"
"Pak haji Romli, kyai Farid berpesan agar yang terlebih
dahulu diselesaikan adalah pembangunan masjid ini. Bukankah Allah juga sudah menyediakan seluruh permukaan
bumi ini dapat digunakan sebagai tempat sujud" Yang
terpenting adalah kita bisa sujud bukan masalah tempat
sujudnya. Apa pak Haji Romli sendiri mau menunggu janjijanji orang kafir itu untuk membuatkan desain masjidnya,
sementara kita semua telah mengetahui kalu dia itu munafik.
Bisa-bisa bangunan-bangunan ini hanya akan terbengkalai
pengerjaannya. Apa pak Haji Romli mau mengecewkan para
donatur yang telah menymbangakan harta mereka untuk
pembangunan masjid dan pesantren ini. Jika pembangunannya
terbengkalai apa kata mereka nanti?" ujar Jabir dengan nada
agak jengkel. 85 "Betul pak Haji dan pak Budi, kita juga harus memikirkan
orang-orang yang sudah menyumbangkan hartanya untuk
pembangunan masjid dan pondok ini. Kalau sampai
pembangunannya terbengkalai dengan masalah sepele seperti
ini mungkin tanggapan mereka kita tidak becus mengurusi
dana pembangunan ini. Bisa-bisa mereka beranggapan kalau
kita turut memakan uang-uang mereka." Kata gufron
meyakinkan. Setelah beberapa saat mereka saling berembuk akhirnya
dengan terpaksa Haji Romli dan pak Budi menyetujui desain
tersebut. Seperti biasa kyai Farid bertugas untuk meletakkan
batu pertama dalam pembuatan pondasi setiap bangunan yang
akan dibuat. Namun, kali ini perasaan kyai Farid tidak tenang
dalam melaksanakan tugasnya. Kyai Farid pun mengambil
sebuah batu kali yang agak bulat dan berwarna cerah dan
berjalan ke arah galian pondasi. Tiba-tiba dari arah yang
berlawanan muncul Jalal smbil menyibak kerumunan orangorang. Lalu dengan keras ia berseru, "Tunggu Yai! Jika yai
meletakkan batu pertama sekarang mungkin masjid ini hanya
akan menjadi sumber mala petaka dan kemudharratan saja
nantinya. Langgar kecil dengan dinding dari bambu dan atap
genting yang sudah berlumut itu masih jauh lebih baik
daripada masjid besar yang pendiriannya tidak didasari
dengan keikhlasan dan ketakwaan. Langgar dengan tiang86
tiang bambu yang sudah mulai rapuh itu jauh lebih baik dari
masjid yang bertiang beton ini tetapi di dalamnya tersembunyi
sejuta kebusukan dan kedzaliman."
"Apa maksudmu Jalal, apa kamu mau menggurui Kyaimu?"
Ujar Haji Saiful yang kebetulan ada di tempat itu juga.
"Katakanlah apa maksud dari ucapanmu itu Jalal." Kata kyai
Farid sambil meletakkan batu yang baru saja diambilnya ke
tanah di sampingnya berdiri. Kerumunan orang-orang tersebut
menjadi terkejut dengan kehadiran Jalal tersebut. Apalagi
Jalal selama ini termasuk orang yang sangat hormat kepada
kyainya dan belum pernah berkata lantang saat berbicara pada
kyainya. "Maafkan kelancangan saya kyai, tapi desain masjid yang ada
di tangan pak Haji Romli sekarang ini bukanlah Jabir
yang membuatnya." Orang-orang yang ada di tempat itu semua terkejut
mendengarnya. "Kamu jangan asal bicara Jalal. Apa kamu
tidak tau kalau Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan?"
ujar Jabir naik pitam. "Apa kamu lupa pesan kyai Jabir, menguping pembicaraan
saja kita tidak boleh jika itu bukan hak kita," Jalal tidak
melanjutkan kata-katanya. Ia berusaha menenangkan diri
terlebih dahulu sambil menghela nafas dalam dalam. Lalu
87

Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

katanya, "apalagi kalau sengaja mencuri milik orang lain
dengan mendzalimi pemiliknya."
Jabir terdiam seribu bahasa, di pihak lain Gufron mengepalkan tangannya hendak memukul Jalal. Tapi kyai
Farid yang mengetahui hal itu segera menepuk bahu Gufron
dan Gufronpun seketika mengurungkan niatnya. "Jelaskan apa
yang engkau ketahui Jalal!"
"Yai, sekarang ini mas Candra berada dirumah sakit. Dia
mengalami patah tulang iga dan lutut kanannya cedera yai.
Tapi sayangnya pelakunya masih belum diketahui siapa."
Jabir dan Gufron sedikit lega dengn ucapan tersebut, tapi
dalam hatinya masih ada sedikit kekhawatiran. Apalagi saat
tatapan mata Jalal selalu mengarah pada mereka berdua. "Tapi
untunglah kemarin Yai menyuruh saya untuk kerumah Jabir
dan saya sempat mendengar pembicaraannya dengan Gufron.
Dan setelah itu saya memutuskan untuk tidak melanjutkan apa
yang Yai perintahkan dan saya langsung ke rumah mas
Candra. Namun, makian yang saya dapatkan. Tapi setelah
saya mengetahui alasannya memaki, saya menjadi sadar
sesadar-sadarnya ternyata yang merusak citra agama islam itu
bukan dari golongan lain. Tetapi dari ummat yang mengaku
beragama islam itu sendiri."
"Jalal, terangkan yang jelas jangan bertele-tele seperti itu."
Ujar Haji Romli tidak sabar.
88 "Jabir dan Gufron sudah mencuri desain masjid yang belum
selesai itu bapak-bapak sekalian. Dan desain kubah yang
sesuai dengan bangunan masjidnya sekarang berada di tangan
mas Candra. Itulah sebabnya kemarin saat Jabir menawarkan
desain masjidnya pembuatan kubahnya membuat minus
anggaran yang ada." "Apakah benar Jabir?" ujar kyai Farid dengan tegas dan
ucapan tersebut menggetarkan perasaan semua orang yang
ada di tempat itu. Jabir dan Gufron sontak saja membisu, keringat dingin
mengucur dari tubuhnya. "Maafkan saya kyai." Ujar Jabir
sambil menunduk, Gufron yang melihat kejadian itu berniat
melarikan diri. Tapi naas dia tertangkap dan menjadi bulanbulanan masa. Kejadian tersebut menjadi pukulan terberat
bagi kyai Farid dan yang lainnya. Oleh karena itu peletakan
batu pertama pembangunan masjid itu untuk sementara waktu
ditunda. Sore harinya kyai Farid dan juga Haji Romli berikut Jalal dan
Haji Saiful membesuk Candra di Rumah sakit. Kedatangan
mereka mula-mula disambut ketus oleh tantenya, namun
setelah kyai Farid menjelaskan duduk perkarannya dan
mengatakan jika pelakunya sudah diserahkan kepada pihak
yang berwajib tantenya dapat memaklumi.
89 "Nak Candra, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas
kejadian ini. Mungkin sayalah yang harus di persalahkan
dengan kejadian ini karena saya tidak berhasil mendidik
santri-santri saya dengan benar. Dan semoga nak Candra
cepat sembuh." Ujar kyai Farid sambil memegang pundak
Candra yang sedang terbaring lemah.
Candra pun hanya tersenyum mendengar ucapan kyai Farid.
Dengan bersusah payah dia berusaha merogoh kantung
belakang celanya. Di keluarkannya sebuah lipatan kertas dan
diserahkannya lipatan kertas itu kepada kyai Farid. Lalu
katanya, "Inilah desain kubah yang sesuai dengan bangunan
masjidnya pak Kyai. Masalah Jabir dan Gufron tidak perlu
diperpanjang lagi, saya sudah memaafkan mereka. Tugas pak
kyai hanya mengajarkan ilmu untuk sampai kepada kedamaian itu dan selebihnya adalah tugas Tuhan untuk
menentukan kehendak-Nya sendiri dan kita tidak perlu turut
campur tangan karena Dia Maha Bisa untuk melakukan
kehendak-Nya." "Subhanallah, desain kubahnya sangat serasi Yai dengan
bangunannya. Bentuknya pun sangat elegan dan terlihat
mewah. Serasi dengan enam menara yang mengelilinginya."
Ujar Haji Romli dengan hati yang berbunga-bunga.
Kyai Farid pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya
berulang-ulang kali. "Nak Candra, kenapa nak Candra
90 membuat menaranya enam buah dan tidak satu saja atau dua
di sisi kanan dan kirinya, sebuah desain yang tidak pernah ada
di negeri tercinta ini." Ujar kyai Farid tertarik dengan hal-hal
yang tidak disadari oleh yang lainnya.
Candra pun tersenyum mendengar pertanyaan kyai Farid
tersebut. "Kyai, sebenarnya masjid itu tidak memiliki enam
menara seperti yang kyai katakan. Tetapi ada tujuh menara
dan satu menaranya lagi ialah bangunan masjid itu sendiri.
Coba pak Kyai perhatikan lebih dalam, bukankah desain
masjidnya mirip dengan keenam menara-menara itu" Hanya
saja saya membuatnya lebih rendah dan lebar daripada
keenam menara tersebut. Desain ini terinspirasi dari seorang
bidadari menara ketujuh."
Kyai Farid dan yang lainnya kembali mengamati desain
masjid tersebut. Memang benar, desain masjid itu jika dilihat
sepintas seperti masjid-masjid lain yang memiliki menara.
Tapi jika dicermati lebih dalam bentuk masjid dan menaranya
mirip. Seperti menara yang lebar dan rendah sehingga
didalamnya memiliki ruang kosong yang luas dan ruang itulah
yang akan dipergunakan untuk beribadah. Seluruh orang yang
ada diruangan rumahsakit itupun menggumam setelah
memahami desain masjid yang indah tersebut. "Nak Candra
tadi nak candra menyebut desain masjid ini terinspirasi dari
seorang bidadari menara ketujuh, apa maksud di balik desain
91 masjid yang sedemikian rupa ini" Adakah makna lain yang
bertentangan dengan kaidah-kaidah agama islam yang saya
anut." Haji Romli nampak penasaran dengn kata-kata terakhir
Candra. Candra pun memalingkan pandangannya ke atas langit-langit
ruangan rumah sakit itu itu. Seperti serang yang sedang
mengingat sebuah peristiwa dia sesekali tersenyum. Lalu
katanya, "Menara itu saya buat enam dengan menara
ketujuhnya yang menjadi menara utama bukan tanpa makna.
Menara ketujuhnya itu adalah menara terakhir dan juga bisa
juga dikatakan sebagai menara permulaan tergantung bagaimana seseorang memahaminya. Saya membuat enam
menara itu sebagai simbol dari enam agama yang disahkan
oleh pemerintah di negeri tercinta ini. Sementara di tengahnya
ada sebuah menara yang rendah sebagai simbol asal muasal
enam buah menara itu. Jadi dengan kerendahan hati dan
keikhlasan serta pemahaman yang luas dari enam agama
itulah yang dapat menyatukan perbedaan-perbedaan yang
selama ini terjadi. Dimana kita ketahui selama ini setiap
penganut agama dengan bangga dan tinggi hati mengklaim
bahwasanya agamanya itu sebagai jalan kebenaran. Tetapi
disatu sisi mereka melupakan bahwasanya agama bukan
tujuan mereka hidup, tetapi Tuhan semesta alamlah yang
menjadi tujuan utama. Seperti halnya saat bapak-bapak sholat
92 nanti bukan keenam menara itu tempat sholatnya. Tetapi di
dalam menara utama ini yakni masjid itu sendiri sebagai
tujuan tempat beribadah yang nyaman, tenang dan penuh
kedamaian hati saat bapak-bapak mulai menjalankan ritual
sembahyang." Mendengar kata-kata keponakannya, wanita setengah baya
tersebut mencucurkan air mata. Begitu juga dengan Haji
Romli dan Haji Saiful, hati mereka semakin terbuka dengan
kata-kata tersebut. Kyai Farid juga tampak terharu mendengar
ucapan Candra, "Nak Candra! betul sekali yang baru saja nak
candra sampaikan. Oh ya siapakah bidadari menara ketujuh
yang nak Candra maksudkan itu" Beruntunglah orang yang
memiliki bidadari itu"
"Bidadari menara ketujuh tersebut adalah seoarang wanita
yang hatinya telah mencapai kesempurnaan dan telah
memahami hakekat Tuhan semesta alam. Dimana ia tidak lagi
diliputi oleh obyek-obyek yang hadir karena inderanya.
Bidadari itu juga telah dapat menyatukan keenam menara
yang saya gambar itu kedalam menara ketujuh yang lebih
besar dan luas. Bidadari itu juga sudah memahami
bahwasanya keenam menara itu pada dasarnya tidak ada, yang
ada hanya menara ke tujuh yang lebih besar dan luas. Dan
untuk dapat melakukan hal itu mesti dengan kerendahan hati
dan juga keikhlasan yang tinggi dengan keyakinan yang kuat
93 kepada Pencipta Alam Semesta. Bidadari itu adalah Tantri,
yang sudah merubah pandangan saya setelah melakukan
perbincangan-perbincangan kecil bersama kyai Farid tempo
hari saat saya menyerahkan desain bangunan untuk pondok
pesantrennya." Ujar Candra dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Suasana di dalam ruangan itu terasa
damai seolah mendapat sebuah pencerahan masalah yang
hakiki. Tak ada lagi perbedaan yang membekas dalam hati,
jiwa-jiwa telah mulai melangkah pada jalan yang lurus sesuai
dengan keyakinan yang menyertainya.
Seminggu kemudian dokter menyatakan jika kesehatan
Candra sudah semakin membaik. Hanya saja dia masih harus
mengenakan penopang tubuh saat berjalan. Keadaan tersebut
sangat menggembirakan hati kyai Farid dan yang lainnya.
Sesuai dengan keputusan musyawarah yang dilakukan di
Langgar Wetan, maka donatur-donatur pembangunan masjid
dan pondok pesantren tersebut akan diundang dalam acara
peletetakan batu pertama. Dan sesuai kesepakatan kyai Farid
sebagai penasehat dan sekaligus pengasuh pondok pesantren
Hidayatullah itulah yang akan meletakkan batu pertama.
"Jalal, jemputlah Candra di rumahnya. Kita akan sama-sama
menyaksikan peletakan batu pertama untuk masjid yang akan
dibangun." Ujar kyai Farid pada santrinya itu.
"Insya Allah Yai."
94 Jalal pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh
kyainya, tapi kali ini dia mengendarai sepeda motor milik kyai
Farid. Dengan perasaan yang berbunga-bunga Jalal menuju
rumah Candra dan berbeda dengan sebelumnya dia tidak
melewati lagi pematang sawah. Sementara Tantri dan Umi
Siti hajar serta ibu-ibu yang lainnya sibuk menyiapkan
hidangan untuk acara peletakan batu pertama tersebut. Dan
seekor kambing jantan yang disumbangkan oleh pastor Julius
sudah dipotong pagi harinya siap melengkapi menu hidangan
tersebut. Para undangan sudah datang. Candra dan Jalal juga sudah
berada di tempat itu. Sementara kyai Farid mengambil sebuah
batu kali sebesar kepala kambing. Beliau memilih sebuah batu
yang bulat dan warnanya lebih cerah dibandingkan batu-batu
lainnya. "Hadirin sekalian yang sama-sama berhagia, hari ini
adalah hari peletakan batu pertama untuk pembangunan
masjid. Dan saya juga memutuskan untuk memberi nama
masjid ini"Assalam" semoga kita semua dapat memetik
hikmah dibalik pembangunan masjid ini agar kita sama-sama
selamat sampai pada tujuan hidup kita nanti. Semoga
pendirian masjid ini dapat bermanfaat untuk masyarakat
umum yang mencari kedamaian hati dan juga ketengan batin.
Insya Allah." Kyai Farid pun melepas surbannya lalu
membentangkan surbannya di atas tanah. Melihat yang
95 dilakukan kyai Farid tersebut orang-orang yang lainnya
menjadi heran. Namun, yang lebih mengherankan kyai Farid
meletakkan batu yang sudah dipilihnya itu di atas surban
tersebut. "Karena selama ini yang sudah berperan dalam pembangunan
masjid ini bukan hanya dari kaum saya saja, saya meminta
kesediaan nak Lucas, nak Candra, bapak P
astor Julius, pak Budi dan saudara saya A liong untuk membantu saya juga
dalam pelatakan batu pertama." Ujar kyai Farid dengn penuh
pengharapan. Orang-orang yang menghadiri acara itu pun berdecak kagum
atas kebijaksanaan kyai Farid tersebut. Orang-orang tersebut
masing-masing memegang sisi surban kyai Farid untuk
mengangkat batu yang sudah dipilih tersebut ke lubang
pondasi yang sudah disediakan. Kemudian dengan membaca
Bismillah kyai Farid meletakkan batu pertama dan
mengucapkan Hamdalah setelah selesai. Debar-debar kebahagiaan senantiasa mengguncang jiwa-jiwa yang hadir
saat itu. Dengan semangat yang tinggi mereka mulai
membangun masjid berdasarkan konsep desain yang sudah
dibuat oleh Candra. Beberapa bulan kemudian nampak masjid itu sudah berdiri
kokoh dengan menara-menara indah yang menghiasi. Jamaah
dimasjid itupun tak pernah sepi. Santriwan dan santriwati
96 pondok pesantren Hidayatullah juga semkin hari semakin
bertambah. Tak terkecuali dengan Tantri, hampir tiap malam
dia terbangun dan bersujud di masjid dalam penyerahan
kepada Sang Pencipta alam semesta. Jiwanya yang teduh
selalu berada dalam mahligai keikhlasan yang tinggi dengan


Bidadari Menara Ketujuh Karya Yasmi Munawwar di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berpadu jasmani yang tetap bersyariat. Masjid dan majelis
ilmu itu juga senantiasa ramai oleh jiwa-jiwa pengembara
yang baru dengan harapan mewujudkan pribadi yang
rahmatan lil alamin dengan penyerahan batin secara kaffah.
97 Nama pengarang : Yasmi Munawwar Agama : Islam Tempat, tanggal lahir : Wakobalu Agung, 14 Januari 1988
Alamat : Jl. Kemuning No. 5b, Wakobalu Agung, Kabangka, Desa Kecamatan Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (93661)
No Hp : 081935381602 Email : yasmimunawwar@rocketmail.com
Saya putra berusia 23 tahun dari seorang ibu bernama
Hamimatul Hoiroh dan ayah bernama Muhammad Yasir, saya
tamatan SMAN 1 KABAWO, Kab. Muna, Sulawesi Tenggara
tahun 2006. Tamat pendidikan Multi Provesi satu tahun di
Sticom Elrahma Jember tahun 2007. Setelah itu saya bekerja
di puskesmas Kabangka Kab. Muna selama satu tahun. Dan
sekarang bekerja di perusahaan Tambang Mineral Logam
Emas. Sejak SMP saya sudah suka bergelut dengan dunia
sastra, walaupun hanya iseng. Dan sejak SMA kelas dua SMA
saya sering minta kertas sama teman-teman untuk menulis
cerpen dan puisi. Dan akhirnya saya memberanikan diri untuk
berkarya dan ini merupakan karya ke tiga saya dimana karya
pertama saya itu berjudul Purnama Yang Tenggelam dan di
susul dengan Burdah Hitam Yang Lusuh. Namun, jujur saja
98 karya-karya itu masih seperti Azimat yang saya tidak tau
harus dikemanakan. Semoga Novel Saya Ini dapat bermanfaat
untuk membangun istana Ruhani.
99 Pengusung Jenazah 2 Mantra Penjinak Ular Karya Kuntowijoyo Dendam Empu Bharada 12
^