Pencarian

I For You 4

I For You Karya Orizuka Bagian 4


Cessa melangkah ke arah papan tulis, lalu mengambil spidol yang ada di
sana. Setelah menatap papan itu ragu untuk beberapa saat, Cessa mulai
menulisinya. Benji yang membaca tulisan itu kata demi kata dari bangkunya,
segera mengalihkan pandangan keluar jendela begitu sadar kalau air matanya
sendiri sudah merebak. Setelah selesai menulis, Cessa terisak di depan papan tulis, menangisi
hatinya. Ia tahu, ia adalah seorang pengecut karena tidak berani mengatakan
semua ini langsung pada teman-temannya. Namun, ini adalah kesempatan
terakhirnya. Cessa baru jatuh berjongkok saat Surya muncul dari pintu kelas. Surya
menatap bingung Cessa, lalu menengok kepada Benji yang masih bersikeras
menatap keluar jendela. Penasaran, Surya menghampiri Cessa dan menyadari bahwa anak
perempuan itu sedang memegang spidol yang masih terbuka. Surya menoleh
ke kanannya, dan matanya melebar saat membaca papan tulis itu.
"Teman-teman, maaf karena sudah banyak menyusahkan. Maaf karena gue
nggak kuat seperti kalian. Maaf karena gue sama sekali nggak berguna dan
malah jadi beban. Semangat untuk Ujian Nasional, gue tahu kalian semua bisa.
Terima kasih untuk semuanya, dan sekali lagi gue minta maaf. Cessa."
Perlahan, Surya menoleh kepada Cessa yang masih terisak. Mendadak, ia
teringat soal foto bersama tadi pagi. Ia pun paham.
"Lo" mau keluar sekolah?" tanya Surya, suaranya tercekat.
Cessa mengangkat kepala, lalu menatap Surya dengan kedua matanya yang
berlinang air mata. Ia sama sekali tidak tahu kalau Surya masih belum pulang.
Walaupun ingin, Cessa tidak bisa menjawab. Isakannya malah semakin
menjadi-jadi saat mendengar pertanyaan Surya. Benji malah sudah melangkah
keluar kelas dan terduduk di samping pintu dengan mata menerawang, tak
tahan lagi mendengar isakan Cessa.
"Kenapa?"" tanya Surya tak mengerti. "Kenapa harus sampe keluar?"
Cessa menggelengkan kepala, tidak bisa menjawabnya. Surya sendiri jadi
tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Ia
pikir, walaupun ia dan Cessa sudah tidak bersama, ia masih tetap bisa
melihatnya setiap hari. Sekarang, kalau ia keluar dari sekolah ini, bagaimana
Surya akan melihatnya lagi"
Selama sepuluh menit, Surya menunggu Cessa menangis. Setelah tenang,
Cessa bangkit, lalu menatap Surya.
"Surya," kata Cessa dengan suara serak. "Soal permintaan lo yang dulu itu,
gue mau sanggupin. Tapi lo harus kabulin permintaan gue dulu."
Surya mengerjap. "Apa?"
"Let"s go on a date." Cessa memaksakan senyum. "Yang pertama dan
terakhir. Setelah itu, gue janji nggak akan ganggu lo lagi."
Surya menatap Cessa tanpa berkedip, lalu akhirnya mengangguk. Ia sendiri
tahu, ia menginginkan hal itu. Ia mau berpisah dengan Cessa tanpa penyesalan.
Ia mau merasakah kebahagiaan dengan anak perempuan itu walau hanya
sedetik saja. Senyuman Cessa segera mengembang saat melihat anggukan Surya. Sambil
menghela napas, Cessa menatap kea rah tiga puluh bangku di depannya.
"Rasanya baru kemarin gue masuk kelas ini untuk pertama kalinya," kenang
Cessa. "Ketemu lo untuk pertama kalinya."
Surya menatap Cessa. Air mata sudah kembali mengalir dari sepasang mata
cantiknya. Mata hazel yang selama ini selalu dikagumi Surya. Mata yang
menyihirnya dan membuatnya jatuh cinta. Mata yang sekarang tampak
terluka. Tak tampak lagi binar ceria dari sana.
"Goodbye." Setelah mengatakannya, air mata Cessa kembali menitik. Surya tak bisa
melakukan apa pun untuk menghiburnya. Surya tak tahu bagaimana harus
melakukannya. Setengah mati, ia menahan diri untuk tidak berkata "jangan pergi".
BAB 19 Over time, when the time passes by.
It will be a heartache in the memory.
There is no need to forget, since it will just all fade away.
[Baek Ji Young"Over Time]
Siang ini matahari bersinar sangat cerah. Cessa menatap ke luar jendela
mobil, mendapati langit biru tanpa awan sedikit pun. Sepertinya, hari ini Tuhan
mengizinkannya untuk berkencan. Kencan pertama dan terakhirnya.
Cessa pun sudah merasa segar setelah hampir sebulan terbaring di ranjang
karena sedih berkepanjangan. Tubuhnya terus mengingat bagaimana ia harus
bangun di pagi hari, mengenakan seragam putih abu-abu dan membereskan
buku sesuai dengan pelajaran hari itu. Setelah beberapa lama, Cessa baru bisa
menerima kenyataan bahwa ia tak lagi bersekolah di sana.
Sekarang, setelah ia merasa lebih baik, ia siap untuk pergi kencan dengan
Surya. Kencan pertama dan terakhirnya.
Cessa melirik Tarjo, sopir Dirga yang hari ini mendapat tugas untuk
menjaganya. Awalnya, Cessa ingin pergi sendiri, namun Dirga menolak dengan
keras. Cessa pun balas menolak saat Dirga menyuruh Benji yang
melakukannya. Pada akhirnya, Tarjo-lah yang terpilih.
Mobil berbelok ke dalam kompleks Ancol. Tak berapa lama, mereka sampai
di area parkir pantai Marina Ancol. Cessa melangkah keluar, menyambut terik
matahari yang langsung terasa membakar kulitnya.
"Pake sweaternya, Non." Tarjo buru-buru menyodorkan sweater Cessa yang
masih tersandar di jok. "Terus ini, topi juga."
Sambil mengenakan sweater, Cessa melirik topi yang diambil Tarjo dari jok
belakang. Di saat semua orang mengenakan pakaian minim ke pantai, ia harus
tampil serba tertutup seperti ini.
"Makasih, Pak." Cessa menerima topi anyam lebar itu, lalu mengenakannya.
Tarjo mengangguk, lalu menutup pintu mobil dan menguncinya. "Ayo, Non."
"Pak," panggil Cessa sebelum Tarjo melangkah. "Aku... aku bisa pergi sendiri.
Bapak tunggu di mobil aja."
"Aduh Non, saya nggak berani!" seru Tarjo segera. "Tadi Pak Dirga sudah
suruh saya terus awasin Non Cessa."
"Masak Bapak nemenin aku jalan sama cowokku sih Pak?" Cessa merajuk.
"Emangnya dulu waktu Bapak jalan sama pacar Bapak, ditemenin orang tua?"
Tarjo tampak berpikir sejenak. "Enggak sih, Non."
"Makanya, Bapak tunggu di mobil aja," bujuk Cessa lagi. "Kan aku cuma
jalan-jalan di pinggir pantai doang."
Tarjo menatap Cessa ragu, lalu akhirnya mengangguk. "Oke deh, Non. Tapi
jangan jauh-jauh ya?"Cessa segera mengangguk. "Beres, Pak!"
Setelah berhasil membujuk Tarjo untuk tetap tinggal di mobil, Cessa mulai
melangkah ke arah pantai. Aroma laut yang khas sekarang sudah memenuhi
paru-parunya. Ia suka laut. Ia selalu berandai-andai untuk berkencan dengan
kekasihnya di pinggir pantai sambil memandang matahari tenggelam. Hari ini,
ia akan mewujudkan mimpi itu.
Dengan hati berdebar, Cessa menyusuri pantai yang berkilau tertimpa
cahaya matahari. Walaupun kemarin Surya menyanggupi, Cessa takut ia tidak
datang. Mungkin saja selama di rumah, anak laki-laki itu berubah pikiran.
Langkah Cessa terhenti saat ia mengenali bayangan seseorang di dermaga
tak jauh di depannya, sedang menatap jauh ke laut lepas. Surya datang. Ia
menepati janjinya. Surya sendiri baru menghela napas saat tahu-tahu ia menyadari kedatangan
Cessa. Ia menatap Cessa lama, lalu mulai menghampirinya. Hari ini, Cessa
tampak luar biasa cantik. Ia menggunakan gaun putih selutut dan sweater pink
fuschia, rambutnya yang indah dibuat bergelombang dan dihias oleh topi
anyam lebar. Surya pun menyadari anak perempuan itu mengenakan sedikit
blush on dan lipstick merah muda, membuatnya semakin menyilaukan.
"Nunggu lama ya?" tanya Cessa kepada Surya yang masih dalam balutan
seragam. Surya menggeleng, lalu menghampirinya. "Baru aja kok."
"Gue pikir lo nggak akan dateng," kata Cessa setelah mereka hanya berjarak
satu meter. "Pesannya sampai ya?"
Surya mengangguk. Tadi siang, Surya dipanggil ke lobi sekolah. Ternyata,
Cessa mengirimkan pesan melalui telepon sekolah tentang kencan ini. Selama
sebulan terakhir, Surya hampir gila karena menunggu kabar itu dan menyangka
mereka tidak akan jadi berkencan, tetapi sekarang ia ada di sini.
"Lo apa kabar?" tanya Surya, merindukan wajah cantik itu.
"Baik," jawab Cessa sambil tersenyum, membuat lesung pipi yang lama tidak
dilihat Surya muncul. Surya mengangguk-angguk pelan, lalu mengedarkan pandangan ke
sekeliling, bermaksud mencari anak laki-laki bertampang bule. Mungkin saja
anak itu sedang menyamar jadi salah satu pohon kelapa yang ada di sana.
"Benji nggak ikut." Cessa seolah mengerti isi kepala Surya. "Hari ini, cuma
ada kita." "Oya?" komentar Surya, dalam hati merasa senang. Surya lalu berdeham.
"Jadi, sekarang kita ke mana?"
Cessa tak punya ide. Dalam kepalanya, ia hanya ingin melihat matahari
tenggelam bersama Surya, namun masih ada beberapa jam hingga hal itu
terjadi. "Hm... gimana kalo kita lihat atraksi singa laut?" usul Surya, yang tadi
mendapat selebaran begitu masuk di pintu Ancol.
"Atraksi singa laut?" Cessa segera tertarik, lalu mengangguk.
***** Selama pertunjukan singa laut, Cessa tak henti-hentinya bertepuk tangan.
Mulutnya terbuka lebar, matanya pun berbinar saat melihat hewan pintar itu
berdiri di atas dua siripnya sambil memainkan bola voli dengan ujung hidung.
Sekarang, sang pelatih sedang merajuk karena si singa laut tak mau
mengambil bola. Ia pun dengan lucunya mengikuti sang pelatih sambil
mengaing-ngaing seperti merayunya.
"Singa laut punya penglihatan tajam dan bisa melihat dengan sangat baik di
darat maupun laut." Surya tahu-tahu bicara saat sang pelatih melempar ikan ke
dalam kolam dan sang singa laut segera menceburkan diri.
Cessa berhenti bertepuk tangan, lalu perlahan menoleh pada Surya.
"Pendengarannya dan penciumannya juga sangat baik. Mereka hewan yang
sangat pintar." Sebisa mungkin, Cessa berusaha untuk tidak menangis. Ia akan sangat
merindukan semua pengetahuan itu, jadi hari ini, ia akan mendengar baik-baik.
"Mereka bisa menyelam sampai kedalaman 500 meter," lanjut Surya sambil
menatap sang singa laut yang sudah kembali ke darat, menutup mata dengan
sirip kanannya, tampak malu. "Mereka juga tahan di bawah air sampai empat
puluh menit." "Hm..." gumam Cessa sambil mengangguk-angguk. Air mata sudah
menggenang hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas sang singa laut yang
melambaikan tangan, tanda pertunjukan sudah usai.
"Habis ini ke mana?" tanya Surya lagi.
Cessa segera mengalihkan pandangan supaya Surya tidak melihatnya. "Ke
mana ya?" "Mau naik gondola?"Cessa menelengkan kepala. "Gondola?"
Alih-alih menjawabnya, Surya malah mengulurkan tangan. Cessa menatap
tangan itu ragu, lalu meraihnya. Rasa hangat dari tangan yang digenggam
Surya sekarang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Walaupun Cessa tak ingin cepat berakhir, tetapi perjalanan menuju stasiun
gondola terasa sangat cepat. Cessa tidak tahu apa yang membuat Surya
menolak melepaskan tangannya. Saat mereka naik ke atas gondola, baru Surya
melepasnya. Surya menatap Cessa yang tampak takjub pada pantai yang berkilauan di
bawah sana. Sebulan lalu, saat anak perempuan itu mengatakan akan keluar
sekolah, Surya benar-benar terkejut. Namun, Surya juga tidak bisa melakukan
apa pun untuk mencegahnya. Mungkin, itu keputusan yang tepat. Mungkin,
seperti kata Benji, mereka tidak seharusnya berada di sekolah itu.
"Lima puluh sampai delapan puluh persen kehidupan di bumi ini ada di laut."
Cessa menoleh kepada Surya yang juga sudah menatap ke arah laut dengan
mata menerawang. "Tapi baru sepuluh persen yang berhasil dieksplor manusia," lanjut Surya,
tak sadar kalau mata Cessa sudah kembali berkaca-kaca.
Sepanjang perjalanan gondola, Surya terus memberikan fakta-fakta menarik
soal lautan. Cessa mendengarkan dengan saksama, berusaha merekam suara
itu dalam otaknya, supaya ia bisa mengingatnya lagi kapanpun ia mau.
Sekarang, mereka sudah turun dari gondola dan berjalan kembali ke pantai.
Sudah paham dengan langkah Cessa yang pelan, Surya mengikutinya dari
belakang, sesekali berhenti dulu supaya ia tak menyusul anak perempuan itu.
Entah mengapa, Cessa merasa kesepian. Surya membuatnya merasa ingin
menjadi normal. Membuatnya ingin berjalan dengan kecepatan manusia pada
umumnya walaupun tahu itu akan menyakiti lututnya.
Tahu-tahu, tangan Cessa diraih Surya. Surya sekarang ada di sampingnya,
menatapnya cemas. "Nggak usah cepat-cepat," kata Surya, menyadarkan Cessa.
Cessa memaksakan senyum, lalu mengangguk dan mulai melangkah lagi.
Alih-alih berjalan di belakangnya, sekarang Surya ada di sampingnya,
menyejajari setiap langkahnya.
Matahari sekarang sudah tergelincir ke barat. Awan mulai mengeluarkan
semburat jingga, membuat Cessa merasa waktunya sebentar lagi habis. Seperti
putri duyung, ia harus mengakhiri semuanya dan kembali ke istana dasar
lautan. "Indah sekali ya..." Cessa bergumam, menatap laut yang sekarang sudah
berbayang jingga. "Maaf ya." Perlahan, Surya menoleh kepada Cessa yang tampak menahan tangis.
"Maaf kalo gue masih egois sampe terakhir." Cessa menatap Surya. "Gue
cuma mau pergi tanpa penyesalan. Gue minta maaf kalo jadi beban buat lo
lagi." Surya meneguk ludah. "Nggak apa-apa."
Cessa kembali menatap matahari yang mulai menghilang di balik laut luas.
"Maaf karena gue bikin lo kehilangan beasiswa lo."
"Itu..." Surya membasahi bibir. "Itu bukan salah lo. Gue pasti bisa tanpa
beasiswa itu." Cessa menatap Surya nanar. "Kalo gue bukan anak orang kaya... kalo gue
nggak lemah. Ceritanya akan berbeda kan?"Selama beberapa saat, yang
terdengar hanya suara ombak yang berdebur ke bibir pantai.
"Gue nggak menyesal semua ini terjadi," kata Surya akhirnya. "Jadi lo
seharusnya juga jangan. Karena semu
a ini memang seharusnya terjadi."
Cessa mengangguk. "Gue nggak menyesal, kok. Lo salah satu hal terbaik
yang pernah terjadi dalam hidup gue. Gue seneng bisa ketemu sama lo."
Surya menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk mengembalikan diri.
Selama ini, Surya berusaha untuk tidak menyangsikan kata-kata Cessa. Jika
melihat matanya, Surya tahu anak itu tulus. Namun, hubungan ganjilnya
dengan Benji menghalangi mereka. Tadinya, Surya mau menutup mata sampai
ia melihat kalung bertuliskan nama Benji yang Cessa kenakan saat di
perpustakaan. Itulah titik baliknya. Ia tak tahu, dan ia tak mau tahu lagi.
"Selamat tinggal."
Surya mendengar Cessa berkata, jadi ia menoleh. Anak perempuan itu sudah
menatapnya dengan air mata merebak.
"Gue harap lo bisa meraih cita-cita lo. Gue yakin lo pasti bisa."
Sedapat mungkin, Surya berusaha untuk tidak menarik Cessa ke dalam
pelukannya, berteriak supaya ia tidak mengatakan hal-hal seperti itu.
Namun, Surya tidak melakukannya. "Lo juga, Cess. Jaga diri lo baik-baik."
Air mata Cessa menetes saat ia mengangguk. Cerita cinta pertamanya
berakhir sedih. Tidak ada 'dan mereka pun hidup bahagia selamanya'. Yang ada
hanya kata perpisahan dengan air mata perih, seperti Putri Duyung dan
pangerannya. Tangan Surya sudah terangkat, namun terhenti di udara sebelum
menyentuh puncak topi Cessa yang berguncang. Ia lantas mengurungkan
niatnya. Saat mereka sudah sama-sama mengucapkan kata perpisahan,
harusnya mereka bisa benar-benar berpisah dengan baik. Tidak ada
penyesalan. Hidup semua orang akan kembali berjalan seperti seharusnya.
Namun, harusnya ia tahu, hidup kadang tak berjalan sesuai yang mereka
inginkan. BAB 20 Cessa melangkah pelan menuju lapangan parkir sementara Surya masih
setia mengikutinya. Walaupun tak ingin, matahari akhirnya tenggelam juga,


I For You Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengakhiri kencan pertama dan terakhir mereka.
Surya mengawasi punggung Cessa yang tampak kecil dan rapuh. Langkah
anak perempuan itu tampak sudah tidak stabil, mungkin karena terlalu lelah
berjalan. Mungkin selama ini Surya yang berlebihan. Mungkin selama ini Cessa
jauh lebih lemah daripada yang ia pikir.
Surya baru akan mengajak Cessa untuk beristirahat saat tahu-tahu anak
perempuan itu tersandung batu. Sebelum Surya sempat menolongnya, Cessa
jatuh dan menabrak bangku beton yang ada di pinggir trotoar.
"CESSA!!!" Surya segera menghampiri Cessa. "Lo nggak apa-apa?"
Surya meraih bahu Cessa, lantas terperanjat saat melihat dahi anak
perempuan itu sudah sobek dan berdarah. Rupanya tadi kepala Cessa
terbentur pinggiran yang tajam dengan cukup keras. Selama beberapa detik,
Surya tak melakukan apa pun. Refleks, dia membiarkannya menunggu reaksi
Cessa untuk memanggil Benji, dan menyangka anak laki-laki itu akan muncul
dari suatu tempat untuk menolongnya. Namun, Cessa tak melakukan apa pun.
Ia hanya berusaha menutup lukanya dengan tangan yang gemetar.
"Sebentar." Surya segera melepas topi Cessa, lalu mengeluarkan saputangan
dari saku celananya. Detik berikutnya, ia menatap Cessa ragu, teringat saat
terakhir kali Cessa menolak bantuannya.
Cessa sendiri berusaha untuk terlihat tenang walaupun hatinya merasa
takut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa hari ini, apa pun yang
terjadi, ia tidak akan memanggil Benji. Ia tidak ingin membuat Surya jadi lebih
kecewa lagi. "Ini, tekan pakai ini." Surya menempelkan saputangan itu pada dahi Cessa
begitu tidak melihat penolakan dari anak perempuan itu. "Nanti kita ke klinik
terdekat." Cessa mengangguk, menekan saputangan itu sekuat tenaga ke lukanya.
Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Surya pun bangkit. "Lo bisa jalan?"
Sambil menggigit bibir, Cessa berusaha bangkit. Namun, badannya segera
oleng dan ia berhasil ditangkap Surya sebelum kembali terjatuh. Surya
menatap Cessa yang tampak pucat, lalu melepas ransel, mengenakannya di
depan dan segera memutar badan.
"Naik," perintah Surya sambil membungkuk.
Setelah menatap punggung Surya selama beberapa saat, Cessa naik ke
atasnya. Surya mengangkatnya, lalu mulai melangkah. Cessa merengkuh bahu
Surya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya terus menekan luka
yang sama sekali tidak terasa nyeri. Aroma tubuh Surya seperti bius yang
membuatnya tak merasakan apa pun selain rasa nyaman.
Surya sendiri sibuk dengan pikirannya. Tubuh Cessa tidak lebih ringan dari
ranselnya. Dan tangan yang sekarang terkalung di lehernya membuatnya sesak
napas. Bukan karena eratnya rengkuhan Cessa, namun karena tangan itu sudah
bukan miliknya lagi. "Maaf ya, Surya."
Surya mendengar Cessa bergumam di telinga kanannya.
"Maaf, sampai terakhir gue masih jadi beban buat lo," gumam Cessa lagi.
Surya menghela napas. "Gue yang minta maaf. Ini bukti kalo Benji benar.
Kalo gue nggak becus jagain lo."
Cessa menggeleng kuat-kuat. "Gue harusnya berterima kasih lo mau pergi
sama gue hari ini." Kawasan Ancol tampak semakin gelap. Lampu-lampu taman dan trotoar
sekarang menyala, mempertunjukkan kilau indah yang membuat pandangan
Surya mengabur. "Makasih Ya, untuk hari ini," gumam Cessa lagi. "Makasih untuk semuanya."
Surya menarik napas dalam-dalam supaya air matanya tidak jatuh. Ia tidak
pernah tahu, cinta pertamanya akan semenyakitkan ini. Selama ini, ia selalu
menganggap cinta adalah hal yang tidak berguna, yang membuat orang jadi
lemah. Ia benar, namun di sisi lain, cinta membuatnya jadi manusiawi.
"Princessa Setiawan..."
Entah mengapa, Surya ingin mengatakannya. Menyebut nama Cessa selalu
membuatnya merasa ingin melepaskan semuanya demi anak perempuan itu.
Tahu-tahu, Surya merasakan rengkuhan Cessa mengendur. Saat
saputangannya jatuh ke trotoar, Surya menghentikan langkah. Surya baru
mengernyit ke arah saputangan yang sudah berubah merah itu saat tetesan
darah lain menitik ke atasnya.
Secepat kilat, Surya menoleh. Matanya segera melebar penuh horor saat
melihat darah yang mengalir dari balik rambut Cessa.
"Cessa!" serunya, lalu melepaskannya dari gendongan dan
membaringkannya di trotoar. Anak perempuan itu tampak sudah tak sadarkan
diri, darah terus mengalir dari dahinya. Surya mengambil saputangannya,
namun percuma. Surya menatap saputangan di tangannya yang gemetar
hebat. Dalam hidupnya, tak sekalipun ia pernah melihat darah sebanyak ini.
Sementara itu, darah yang menetes dari dahi Cessa sudah mulai membasahi
rambut panjangnya. Surya hanya bisa membeku melihat pemandangan itu.
Otaknya menolak untuk diajak berpikir, digantikan oleh trauma dahsyat dari
tangan yang bersimbah darah dan bau anyir yang memenuhi udara.
"NON CESSA!!!!"
Surya tersadar oleh teriakan seseorang. Tarjo muncul dari belakangnya,
berlari sekuat tenaga ke arah mereka. Surya terhempas begitu Tarjo
mendorongnya. "Ya Allah, Non!!!" seru Tarjo, segera mengeluarkan saputangan miliknya dan
menutup luka Cessa. Tarjo mendelik kepada Surya yang masih terpaku. "Kamu
ngapain aja! Bantu saya bawa Non Cessa ke mobil!"Surya mengangguk kaku,
lalu berusaha bangkit dengan lutut yang masih lemas. Sementara Tarjo
menggendong Cessa, ia membantu menekan lukanya dengan saputangan. Ia
pun duduk bersama Cessa di jok belakang sementara Tarjo menyalakan mobil
dan membawa mereka ke luar kawasan Ancol.
Sementara itu, saputangan Tarjo pun sudah mulai basah. Surya menatap
panik Cessa yang masih terpejam. Wajahnya sudah sepucat salju. Rambutnya
pun sudah lengket oleh darah. Saat Surya sedang mencari-cari kain untuk
menahan luka Cessa, matanya melihat gundukan plastik di ujung jok. Surya
meraih dan buru-buru membukanya"bermaksud menjadikan isinya lap"
namun saat ia mengeluarkan benda itu, matanya mendadak melebar.
Ia sedang memegang jaketnya sendiri, yang sudah dicuci dan harum
pewangi pakaian. Alih-alih menggunakannya untuk lap, Surya menyelimuti
tubuh Cessa dengan jaket usang itu. Surya lalu mengambil tisu banyak-banyak
dan menekannya di atas saputangan.
"Cari telepon Non Cessa, tekan nomor 1 yang lama!" perintah Tarjo sambil
mengklakson barisan angkutan umum yang menghalangi jalannya.
Surya segera mencari ponsel Cessa dan mendapatkannya dari saku gaun. Ia
menekan nomor satu dan pada layarnya tertulis 'Benji'. Sambil meneguk ludah,
Surya menempelkan ponsel itu ke telinga."Ya, Cess?"
Suara Benji membuat perut Surya seperti dipenuhi es batu. Ia tak tahu
bagaimana harus memulai. "Ini... gue." Surya berhasil bicara walaupun tercekat. "Tolong Cessa, Ben."
Selama beberapa detik, tak terdengar apa pun dari ujung sana.
"Buka lemari pendingin sebelah lo, ambil tumbler yang ada di sana."
Surya bisa mendengar suara dingin Benji. Anak laki-laki itu seperti tahu apa
yang terjadi walaupun Surya belum mengatakan apa pun. Surya segera
melakukan perintahnya dan membuka lemari pendingin yang tertempel di
badan mobil. Sesaat, Surya terpaku melihat segala peralatan medis dan obatobatan yang ada di dalam tumbler yang pernah dilihatnya di dalam lemari
pendingin kantin sekolah.
"Buka plastik yang berwarna putih, yang tulisannya 'hemostatic gauze' dan
tempelin di lukanya."Surya menggapai plastik itu, lalu berusaha membukanya
dengan kedua tangan yang lengket dan gemetar. Karena tak kunjung berhasil,
ia menyobeknya dengan gigi dan mengeluarkan kain kasa.
"Masih terus keluar darahnya?" tanya Benji.
Surya memperhatikan kasa yang segera terembes darah. "Sepertinya
masih." Benji terdiam sesaat. "Ganti kasanya, tekan pelan di lukanya."
Surya melakukan perintah Benji, lalu perlahan, darah yang keluar dari dahi
Cessa berkurang sedikit demi sedikit. Surya menyandarkan punggung ke jok
sambil menghela napas lega.
"Jangan lega dulu. Kalo luka itu ada di kepala dia, sampai mati pun lo nggak
akan gue maafin." Punggung Surya kembali menegak saat mendengar kata-kata Benji. Surya
lantas melirik Cessa yang masih terpejam, dan mendadak Surya menyadari
kepala anak itu sudah membesar. Darahnya mungkin berhenti, namun sebagai
gantinya, daerah sekitar luka itu menjadi bengkak.
"Memangnya ap?"
"Pak Tarjo tahu harus pergi ke rumah sakit mana. Kita ketemu di sana."
Sambungan telepon terputus begitu saja. Surya terpaku lama, lalu kembali
menatap Cessa yang tergolek lemah di pangkuannya. Ia merasa, sebentar lagi,
ia akan mendapat jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.
Tentang mengapa Cessa tidak sama dengan yang lain.
***** Surya hanya bisa menatap nanar saat Cessa ditandu menuju ranjang dorong
di depan gedung unit gawat darurat sebuah rumah sakit besar di barat Jakarta.
Suasana malam membuatnya semain terasa mencekam. Bunyi ranjang dorong
yang berderit saat meluncur di koridor pun membuat hati Surya terasa ngilu.
"Siapa nama pasiennya, Mas?" Seorang perawat bertanya pada Surya,
membuatnya sadar. "Cessa," jawab Surya ling-lung.
"Mas-nya nggak kenapa-napa?" tanya perawat itu lagi sambil menatap
cemas serama Surya yang bersimbah darah.
"Saya nggak kenapa-napa. Tolong Cessa, Sus," pinta Surya, membuat
perawat tadi mengangguk, lalu mengejar ranjang dorong yang sudah berbelok
dalam ruang penanganan. "Mbak Cessa! Mbak Cessa dengar saya?"
Surya bisa mendengar teriakan perawat yang sedang memeriksa kadar
kesadaran Cessa. Surya segera tersaruk ke ruangan itu, lalu menatap kosong
dari depan pintu, melihat Cessa dikelilingi oleh beberapa perawat yang sibuk
menyiapkan segala peralatan medis.
"Tunggu!" seru seorang perawat, membuat para koleganya berhenti
bergerak. Perawat itu menarik keluar tanda pengenal medis yang dikenakan
Cessa, wajahnya memasi saat membaca tulisan yang ada di sana. "Pasien von
Willebrand Disease. Golongan darah AB rhesus negatif."
Jeda yang terjadi selama beberapa detik terasa sangat menegangkan. Semua
orang di ruangan itu mendadak bingung, sibuk mencerna informasi baru itu
dan berusaha mengingat-ingat dari buku yang pernah mereka pelajari. Tidak
semuanya pernah mendengar nama penyakit itu.
"Segera panggil dokter Harko!" Surya mendengar seseorang berteriak.
"Hubungi bank darah, minta darah AB negatif."
Seorang perawat muda segera bergerak keluar ruangan sambil bergumam
panik. "AB negatif... emang ada stoknya?"
Saat mendengar gumaman itu, Surya merasa lututnya lemas. Sedikit banyak,
ia tahu tentang golongan darah. Ia tahu golongan darah AB adalah golongan
darah paling sedikit di dunia dan rhesus negatif membuatnya semakin langka.
"Sebentar, ada tulisan lain." Perawat tadi membalik tanda pengenal medis
Cessa. "Benjamin Andrews. Donor panggilan AB negatif. Dan, nomor
teleponnya." "Akan segera saya telepon." Seorang perawat segera menawarkan diri.
"Dia sedang dalam perjalanan ke sini!!"
Surya bisa mendengar suaranya sendiri. "Saya sudah menelepon Benjamin
Andrews. Dia sedang ke sini. Apa... ada yang bisa saya bantu?"
"Golongan darah Anda?" Perawat tadi bertanya.
"O." Surya menjawab, merasa menjadi orang paling tidak berguna. "Positif."
"Kalau begitu, silakan tunggu di luar." Perawat tadi mendorong Surya keluar,
lalu menutup pintunya. Surya melangkah mundur hingga membentur dinding, lalu perlahan merosot
ke lantai. Matanya menatap nyalang ke arah pintu UGD. Ia tak pernah tahu apa
yang terjadi dengan Cessa. Ia bahkan baru pertama kali mendengar
penyakitnya. Von Willebrand Disease. Penyakit macam apa itu" Bukankah pendarahan
seperti itu biasanya dialami oleh pasien hemofilia"
Namun, melihat gejalanya, Cessa mirip penderita hemofilia. Darahnya tak
kunjung berhenti, padahal luka itu hanya sekitar 3 cm. Cessa pun seperti cepat
lelah dan ia pernah tidak masuk sekolah setelah bermain basket.
Mendadak, Surya teringat saat Cessa mengatakan kalau ia suka makan
bubur bayi. Saat mereka makan malam di rumahnya, Benji pun melarang Cessa
makan emping. Sekarang, Surya tahu alasannya. Cessa tidak bisa makan
sesutau yang keras karena takut melukai mulutnya. Jika itu terjadi, Cessa pasti
mengalami pendarahan seperti saat terbentur siku Friska. Dan, titik menghitam
di punggung tangan Cessa itu pasti tanda yang tertinggal setelah sekian kali
diinfus. Satu per satu, benang yang selama ini kusut di otaknya mulai terurai.
Namun, semakin semuanya jelas, semakin Surya merasa ia orang paling tak
berguna di dunia. Orang paling bodoh.
Seorang pria berjas putih berderap ke arahnya dan menghilang ke dalam
ruangan. Pintu terbuka sedikit, membuat Surya bisa mengintip ke dalam.
"Cessa!" seru dokter itu, rupanya mengenali Cessa.
"Darahnya sedang diambil, Dok!" lapor perawat yang tadi. "Tapi golongan
darahnya?" "AB negatif, saya tahu." Dokter Harko memeriksa luka Cessa. "Dia harus
segera di-CT scan. Mungkin pendarahan dalam."
Derap langkah lain sekarang memenuhi koridor. Surya menoleh dan
mendapati Benji sedang berlari ke arahnya bersama Tarjo. Surya segera
bangkit, namun Benji menahan bahunya dan mendorongnya kembali ke lantai.
"Stay here," perintah Benji dingin, lalu masuk ke ruangan. Tarjo tinggal di
depan pintu, menemani Surya yang kembali terduduk lemas di lantai.
"Benji! Syukurlah kamu segera datang." Dokter Harko meraih Benji dan
segera membuatnya duduk di ranjang samping Cessa. "Kamu sekarang cek
hemoglobin. Kalau bagus, harus segera bersiap kalau Cessa butuh ditransfusi
darah. Dia mungkin akan dioperasi."
Benji mengangguk, matanya masih menatap tak percaya Cessa yang
terbaring dengan kepala membengkak. Orang yang selama ini dilindunginya
dengan sekuat tenaga... apa harus berakhir seperti ini" Di sini"
"Dok, ambil sebanyak yang dokter perlu, saya nggak peduli." Benji
menggulung lengan jaketnya tak sabar.
Dokter Harko menatap Benji simpati, lalu menepuk pundaknya dan kembali
memeriksa Cessa sementara beberapa perawat sudah berdiri di sampingnya
dengan peralatan medis. Sementara itu, Surya hanya mendengar pembicaraan itu di luar ruangan.
Akhirnya, Surya pun tahu apa yang membuat Cessa tak bisa lepas dari Benji.
Ia memang bodoh. ***** Dua jam berlalu semenjak Cessa dipindahkan ke ruang operasi. Setelah
dipindai dengan CT scan, Cessa diketahui mengalami pendarahan dalam. Benji
pun masih berada di dalam ruangan lain, beristirahat setelah mendonorkan
darahnya, walaupun pihak PMI sudah mengirim satu kantong darah AB rhesus
negatif yang stoknya memang sangat jarang.
Surya sendiri masih setia menunggu di luar. Dua jam ini adalah dua jam
paling lama dan menegangkan dalam hidupnya. Walaupun awam, Surya tahu
pembedahan adalah hal gila untuk penderita kelainan darah seperti Cessa. Ia
bisa kehilangan darah lebih banyak lagi karena luka yang terbuka. Dan ini
kepada yang sedang dipertaruhkan, di mana di dalamnya terdapat otak, pusat
dari sistem saraf. Bintang paling terang itu paling cepat mati.
Tiba-tiba, Surya mengingat kalimat menyakitkan yang pernah ia katakan
pada Cessa. Sekarang, ia menyesal setengah mati telah mengatakannya.
Surya menempelkan kepalan tangannya pada dahi, lalu menyadari bahwa ia
masih menggenggam ponsel Cessa. Surya menatap nanar foto yang menjadi
latar ponsel itu. Foto saat mereka selesai praktik Biologi di taman depan
perpustakaan. Di sana, tak ada seorang pun yang tersenyum. Semuanya
bertampang kusut, seolah bertanya-tanya mengapa tiba-tiba berfoto setelah
bermain dengan kompos. Jika saja mereka tahu... "Kak Surya." Perlahan, Surya menoleh dan mendapati Bulan sudah ada di sampingnya,
menatapnya cemas dengan napas terengah. Saat melihat darah di seragam


I For You Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Surya, mata Bulan segera terbelalak.
Bulan berlutut di depan Surya, memeriksanya. "Kakak nggak kenapa-napa?"
"Ini... darah Cessa." Surya bergumam, kepalanya terasa semakin nyeri saat
mengucap nama itu. Bulan menatap Surya bingung. Saat Surya meneleponnya dan memberi tahu
bahwa ia sedang berada di rumah sakit, Bulan segera pergi begitu saja. Tak
sempat mendengar penjelasan Surya.
"Kak Cessa?" tanya Bulan. "Dia kenapa?"
Tepat saat Bulan selesai bertanya, pintu sebuah ruangan di seberang ruang
operasi terbuka. Benji tersaruk ke luar, wajahnya sepucat salju. Bulan dan
Surya bangkit bersamaan, menatap ngeri lengannya yang tertempel kasa putih.
"Gimana?" Sebelum Surya sempat menyelesaikan pertanyaannya, Benji melayangkan
tinju yang mendarat di pelipis Surya. Tinjuan itu sama sekali tak bertenaga,
namun tetap membuat Surya jatuh terduduk. Benji sendiri melayang oleng,
tetapi sempat ditangkap oleh Bulan sebelum ia jatuh.
"Kakak kenapa?" tanya Bulan panik, bingung melihat dua anak laki-laki itu.
"Gue pernah bilang kalo lo nggak akan bisa jaga dia." Perhatian Benji saat ini
hanya ada pada Surya. "Susah payah selama ini gue ngejaga dia supaya nggak
terluka sesenti apa pun... tapi semuanya rusak setelah ketemu lo."
Surya meneguk ludah. "Gue... maaf."
"Ternyata, gue sama aja kayak lo." Benji mulai menjambak rambut penuh
penyesalan. "Gue nggak berguna."
"Itu nggak benar," tandas Surya, matanya menerawang.
Benji menggeleng. "Darah lo bisa menyelamatkan dia, kan?" Surya menatap Benji dengan mata
yang sudah berkaca-kaca. "Gue bisa apa?"
Benji balas menatap Surya, lantas tenggelam dalam air matanya. Hanya
tinggal Bulan yang menatap bingung dua anak laki-laki yang sekarang sudah
sama-sama menangis itu. "Kalian kenapa?" tanya Bulan lagi, hatinya sakit melihat dua orang
terpenting dalam hidupnya kacau seperti ini. "Kak Cessa kenapa?"Pintu ruang
operasi di depan mereka terbuka. Dokter Harko keluar dari sana dengan
senyum lemah. "Kita berhasil. Cessa sudah stabil."
BAB 21 I didn't think that love was painful, that love was this sad.
Truthfully, I only thought about you.
[HY"366 Days] Sudah 2 minggu, Cessa terbaring koma di rumah sakit. Walaupun lukanya
sudah menutup dan pendarahannya sudah berhenti, namun kesadarannya
belum kembali. Seantero sekolah sudah mendengar tentang hal itu, dan
sekarang semua orang mulai merasa bersalah pernah menyangka yang tidaktidak tentang Cessa.
Penyakit Cessa yang jarang didengar pun menjadi bahan pembicaraan. Tak
seorang pun pernah mendengar nama von Willebrand sebelumnya. Setelah
melakukan pencarian di internet, barulah orang-orang mengetahui bahwa von
Willebrand Disease merupakan penyakit kelainan platelet darah saat luka tak
bisa lekas menutup seperti kebanyakan orang normal. Kekurangan faktor von
Willebrand dalam darah Cessa membuat darahnya sukar membeku. Gejalanya
mirip dengan hemofilia, tetapi penyakit ini lebih banyak ditemukan pada kaum
wanita. Semua orang pun mulai memahami, bahwa penyakitnya-lah yang selama ini
membuat Cessa tampak kelewat manja. Keberadaan Benji di sampingnya pun
masuk akal. Selain memiliki golongan darah yang sama, Benji juga menjaga
Cessa dari hal-hal yang bisa membahayakannya. Karena jika ia mengalami
pendarahan, lukanya akan susah menutup. Jika ia menggunakan sendinya
untuk hal-hal yang terlalu berat, darah bisa menggumpal dan ia bisa saja cacat
selamanya. Herman sekarang sedang mengisi kelas. Suasana mencekam yang
ditimbulkan dari 2 bangku kosong di antara mereka membuat kelasnya tidak
nyaman selama dua minggu ini. Ia masih ingat bagaimana kelas ini dihebohkan
dengan pesan Cessa di papan tulis sehari sebelum kepindahannya. Sebulan
setelahnya, anak perempuan itu mengalami kecelakaan yang membuatnya
koma. Tak seorang pun di kelas ini yang tidak menyesal karena telah begitu
buruk memperlakukan Cessa.
"Sebentar lagi, kalian akan menghadapi Ujian Nasional." Herman membuat
perhatian kelas kembali padanya. "Bapak yakin kalian pasti bisa, sesuai pesan
Cessa." Semua anak sekarang menatapnya nyalang. Hanya Surya yang tampak
tertunduk, berpura-pura membaca buku cetak. Seluruh sekolah juga sudah
tahu bahwa Surya ada di samping Cessa saat kecelakaan itu terjadi, dan ia
sudah sebisa mungkin menolong Cessa. Namun, Surya tak bisa berhenti
menyalahkan dirinya sendiri.
Herman menatap anak-anak muridnya. Selama ini, ia tidak pernah
menyangka bahwa Cessa memiliki penyakit itu. Cessa dan orangtuanya hanya
memberi tahu kepala sekolah dan guru olahraga, sementara guru-guru lain
hanya diinstruksikan untuk tidak memisahkan Cessa dan Benji dalam kelompok
macam apa pun. Ia pikir, itu sekadar permintaan egois dari donatur, ternyata ia
salah. "Kalian harus tahu bahwa?"
"PAK!!" Syahrul tahu-tahu bangkit dari bangkunya, menunjukkan ponsel
yang tampak menyala. "Syahrul, jangan main hap?"
"Cessa udah sadar!!" serunya, membuat semua orang serentak menoleh
padanya, termasuk Surya. "Tadi saya iseng SMS Benji, dan barusan dia balas!"
"Alhamdulilah!!!" seru Sasha, tangisnya segera pecah. Dan seperti efek
domino, semua anak perempuan sekarang sudah ikut menangis.
Surya sendiri sudah menghempaskan punggung ke sandaran bangku. Kabar
itu membuatnya kembali bisa bernapas normal setelah dua minggu yang berat.
Ia merasa lega, tetapi di saat yang sama, seluruh tubuhnya terasa lemas.
"Kita jenguk, yuk!" ajak Friska yang disambut dengan anggukan mantap oleh
teman-temannya. Surya menatap pemandangan itu, lalu teringat pada latar
ponsel Cessa. Anak perempuan itu pasti akan sangat gembira.
***** Koridor rumah sakit dipenuhi oleh suara berisik anak-anak XII IPA 2 SMA
Pelita Kita. Herman menggiring mereka semua ke dalam satu barisan dan
menyuruh untuk tidak ribut, namun percuma. Mereka sudah begitu
bersemangat untuk bisa melihat Cessa lagi.
Surya menatap mereka semua dari belakang sambil tersenyum simpul.
Anak-anak ini pasti merupakan kado yang indah untuk Cessa yang baru saja
membuka mata setelah dua minggu tertidur.
Dari arah berlawanan, Benji berjalan dengan minuman ringan di tangannya.
Langkahnya terhenti saat melihat rombongan itu. Matanya terbelalak, tak
percaya pada apa yang dilihatnya.
"Hai, Ben!" Sasha segera melambai dan menghampiri Benji yang masih
bengong. "Apa kabar?"
"Baik," jawab Benji ragu, lalu menatap semua anak yang nyengir senang.
Detik berikutnya, Benji tersenyum. "Cessa pasti senang banget bisa lihat kalian
lagi." Sekilas, pandangan Benji menangkap Surya yang berusaha untuk tidak
terlihat di belakang Herman. Semua perhatian segera teralih padanya.
"Ah, harusnya Surya duluan yang ketemu Cessa!" seru Sasha, disambut
meriah oleh anak-anak. Semua mendorong Surya hingga anak laki-laki itu
sekarang berhadapan dengan Benji.
Benji tersenyum kaku, lalu mengangguk. "Ayo."
Harusnya, Surya bersyukur karena Benji masih memperbolehkannya
bertemu Cessa. Benji benar-benar anak yang baik. Tidak seharusnya Surya
berpikir aneh-aneh tentangnya dulu.
Dengan hati berdebar kencang, Surya melangkah masuk ke ruangan
berpendingin udara itu. Cessa tampak sedang menonton televisi, kepalanya
dibalut perban cokelat. Mendadak, dada Surya terasa sesak. Ia tak pernah
merasa sebahagia ini melihat Cessa. Bayangan Cessa tergolek berlumur darah
di pangkuannya masih memenuhi otaknya.
"Cessa, lihat siapa yang dateng."
Cessa menoleh saat mendengar suara Benji. Ia menatap Benji, lalu terbelalak
saat melihat kerumunan orang di belakangnya.
"Halo, Cess," sapa Surya, setengah mati berusaha supaya tak terdengar
gugup. Namun, mata Cessa sudah menghipnotisnya seperti dulu.
Mata hazel itu menatapnya lama sebelum akhirnya kembali beralih kepada
Benji. "Siapa, Ben?" tanyanya, lalu kembali menatap Surya polos. "Apa kita
kenal?"Jika ada lelucon yang sama sekali tidak lucu, maka inilah tepatnya.
Mendadak, Surya merasa seperti sedang syuting sinetron. Sebentar lagi pasti
ada sutradara yang berteriak 'cut' dan memarahinya karena akting terkejutnya
kurang maksimal. Surya menatap Benji yang seperti sama terkejutnya. Mulut anak laki-laki itu
membuka dan menutup, seolah mencari momen yang tepat untuk
mengatakan 'jangan bercanda'. Namun, Cessa tidak seperti sedang bercanda.
Anak perempuan itu tampak benar-benar bingung.
"Cessa, mereka... teman sekelas kita." Benji tersadar dari kekagetannya.
"Kamu nggak ingat?"
"Teman sekelas?" Cessa kembali menatap Surya, lalu menelengkan kepala.
"Memangnya kita pernah sekolah?"
Seketika, semua orang saling tatap ngeri. Surya sendiri hanya bisa menatap
Cessa nanar, berkali-kali meyakinkan diri bahwa amnesia hanyalah penyakit
yang ada di sinetron saat mereka butuh memanjangkan episode. Penyakit yang
tidak terjadi di kehidupan nyata.
Namun, ini terjadi. Ini terjadi pada orang yang sangat disayanginya.
Pada Cessa. ***** Menurut dokter Harko, otak Cessa mengalami trauma. Ia mengalami
amnesia sebagian, ingatannya terhenti pada tiga tahun lalu. Itu sebabnya ia
bisa mengenali Benji, tetapi tidak teman-temannya.
Ini sungguh ironis. Di saat semua temannya mendekatinya, ia malah
menjauh. Benji benar-benar tidak pernah berpikir ini yang akan terjadi. Ia
sudah begitu senang Cessa bisa sadar, rupanya anak perempuan itu masih
harus mengalami musibah lain. Kadang, Benji merasa, hidup ini benar-benar
tidak adil padanya. Ponsel di sakunya tahu-tahu bergetar. Benji mengeluarkannya, lalu
membaca pesan singkat yang muncul di sana.
We're on our way there. Benji mendesah membaca pesan dari ayahnya. Kedua orangtuanya akhirnya
sampai di Indonesia. Mereka sudah mendengar semuanya dari Dirga. Benji
harusnya bersyukur mereka tidak menyalahkannya, malah menganggapnya
sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi Cessa. Namun, Benji tidak
merasa demikian. Ia merasa seperti seorang laki-laki yang gagal menepati
janjinya sendiri. Sebuah botol air mineral tahu-tahu masuk ke pandangan Benji. Benji
menatap botol itu, lalu mendongak. Bulan ada di hadapannya, masih
mengenakan seragam sekolah.
"Kayaknya Kakak nggak sempat minum." Bulan memperhatikan wajah Benji
yang kusam dan bibirnya yang pecah-pecah.
Benji menerima botol itu, lalu tersenyum lemah. "Thanks."
Masih sambil menatap Benji, Bulan duduk di sampingnya. Saat ini, mereka
berada di taman rumah sakit. Tadi, saat Bulan hendak menjenguk Cessa, ia
melihat Benji di sini, sedang termenung menatap air mancur di tengah taman.
"Kakak baik-baik aja?" tanya Bulan khawatir.
Benji menatap Bulan, lalu tersenyum. "Nggak apa-apa. Jangan khawatir."
Setelah mengatakannya, Benji kembali menatap kosong air mancur yang
menari-nari. Hati Bulan terasa sakit saat melihatnya. Semua kejadian ini
membuatnya sadar, kalau selama ini anak laki-laki itu menanggung beban yang
teramat berat seorang diri. Sekarang setelah Bulan tahu, ia ingin Benji
membagi beban itu padanya. Namun, Bulan tak tahu harus mulai dari mana.
"Cessa dan gue sama-sama lahir di rumah sakit ini." Benji tahu-tahu bicara,
seolah paham isi hati Bulan. "Dia lahir lebih dulu. Waktu itu, dokter menyadari
keanehan dalam diri Cessa dan menemukan penyakitnya."
Bulan mendengarkan cerita Benji dengan seksama.
"Orangtua gue dan orangtua Cessa bersahabat sejak lama. Orangtua gue
yang ngasih tahu orangtua Cessa tentang dia. Orangtua Cessa yang memang
belum dikaruniai anak, langsung jatuh hati sama Cessa dan ingin mengangkat
dia sebagai anak. Mereka sama sekali nggak peduli sama penyakit dan
sejarahnya." "Beberapa minggu setelahnya, gue lahir dengan golongan darah yang sama
langkanya. Semenjak itu, orangtua kami menyiapkan masa depan kami. Kami
akan dibesarkan bersama, supaya bisa berakhir bersama. Cessa adalah putri,
dan gue pangerannya. Gue akan selalu ada untuk Cessa," lanjut Benji.
Mata Bulan melebar, hampir tak memercayai cerita Benji. "Orangtua Kakak
kan bisa donor juga untuk Kak Cessa. Kenapa harus Kakak?"
Benji menggeleng. "Sayangnya, golongan darah orangtua gue A dan B
negatif. Mereka sama sekali nggak nyangka kalo golongan darah gue bakal AB
negatif, makanya mereka merasa kalo gue dan Cessa... berjodoh."
Bulan ikut menatap kosong air mancur, bingung dengan segala informasi
baru itu. "Tapi... bukannya AB itu bisa didonor sama semua golongan darah?"
"Itu teorinya, tapi sekarang udah nggak relevan," jelas Benji, membuat Bulan
mengangguk-angguk pelan. "Ternyata... rumit sekali ya," gumamnya, sama sekali tak menyangka ini
alasan di balik semuanya.
"Sebenarnya... gue nggak ada masalah dengan semua ini. Gue sayang sama
Cessa. Dia kayak saudara yang nggak pernah gue punya. Dia pun begitu.
Sampai akhirnya... kami masuk sekolah itu." Benji tersenyum pahit. "Sampai
akhirnya kami menemukan kebahagiaan kami masing-masing."
"Kenapa..." Bulan mengambil jeda sejenak. "Kenapa kalian nggak terus
terang?" Benji mendesah. "Seumur hidupnya, Cessa cuma tahu kalo dia spesial. Dia
cuma lihat apa yang namanya teman dari film. Saat dia mencoba mencari
teman dengan masuk sekolah formal, dia jadi tahu, kalau satu-satunya cara
untuk punya teman adalah dengan menjadi normal. Kata 'spesial' berbalik
menyerang dia. Gara-gara nggak ikut ospek dan nggak pernah olahraga, dia
jadi dianggap tuan putri dan nggak seorang pun berani mendekati dia dari awal
sekolah." Benji mengambil jeda sejenak. "Cessa terlanjur punya image itu, dan dia
takut kalau orang tahu kondisinya, mereka malah akan menganggapnya aneh.
Makanya Cessa nggak berusaha mencari teman lagi dan lupa soal itu, sampai
dia ketemu sama kakak lo. Setelah kenal sama Surya, sedikit demi sedikit Cessa
jadi ingat lagi tujuan utamanya masuk sekolah itu. Dia jadi kembali pengin
terlihat normal, tapi lo tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Bulan mengangguk-angguk pelan, teringat saat Cessa menjadi bulan-bulanan
saat tidak masuk sekolah selama beberapa hari setelah mencoba berolahraga.
"Nggak ada yang mau berteman dengan orang lemah yang selalu butuh
bantuan. Pada akhirnya, Cessa cuma akan terus-menerus ingat kalau dia punya
penyakit," kata Benji lagi.
"Tapi... kalian kan bisa terus terang sama aku dan Kak Surya" Kami nggak
akan pernah menganggap Kak Cessa aneh kalau tahu yang sebenarnya!"
"Lo pernah liat tuan putri nangis darah" Literally?" tanya Benji, membuat
Bulan terdiam. "Exactly. Cessa terlalu takut Surya akan merasa jijik dan mundur
kalau tahu kondisinya. Selain itu, Cessa juga takut dia malah jadi beban untuk
Surya yang lagi belajar."Bulan menatap Benji lama. "Kalo Kakak" Kenapa nggak
kasih tahu aku?" "Sori Lan," sesal Benji. "Gue pengin ngasih tahu lo dari lama, tapi gue nggak
bisa melakukannya tanpa persetujuan Cessa dan ayahnya."
BAB 22 Bulan menunduk. Ia sama sekali tidak tahu masalahnya sepelik ini. Yang ia
tahu, Benji dan Cessa adalah pasangan bangsawan di sekolahnya, yang tidak
mau bergaul dengan siapa pun. Ia tidak pernah menyangka ada alasan
menyedihkan di baliknya. Orang kaya memang sombong, harusnya itu sudah
cukup menjadi alasan. "Seharusnya memang kami nggak pernah masuk ke sekolah itu." Benji mulai
menjambak rambut. "Seharusnya kami tetap pada takdir kami. Cuma
mengenal satu sama lain."


I For You Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Begitu?" Bulan mendengar suaranya sendiri yang bergetar. "Kakak
menyesal?" Benji menatap Bulan lama, lalu menggeleng. "Gue nggak tau lagi."
Saat ini, isi kepala Benji seperti terbagi menjadi dua. Ia menyesal masuk
sekolah itu karena membahayakan Cessa, namun di sisi lain, ia tidak menyesal
karena masuk sekolah itu mempertemukannya dengan Bulan.
"Kakak bisa mengambil hikmah dari musibah ini," kata Bulan, membuat
Benji kembali menatapnya.
"Kalau Cessa meninggal, hikmah apa yang bisa gue ambil?" tanya Benji
tajam. "Kakak bisa mulai dengan bersyukur." Bulan tersenyum lembut. "Kak Cessa
masih hidup. Dan dia sekarang punya teman-teman yang mau menerimanya."
Benji menatap Bulan lama, lalu kembali menerawang pada air mancur.
Kemarin, teman-temannya dengan sabar memperkenalkan diri kepada Cessa.
Tak satu pun di antara mereka yang tampak tidak ikhlas. Semuanya tersenyum
ceria walaupun Cessa sama sekali tak mengingat mereka. Mungkin, apa yang
selama ini Benji dan Cessa percayai tentang teman-temannya salah. Mungkin,
Benji dan Cessa telah meremehkan teman-temannya.
Benji menyandarkan punggung, lalu menengadah. Langit sore ini tampak
cerah. Hujan tidak akan turun dalam waktu dekat. Ia tidak bisa menangis.
"Kakak benar-benar baik." Bulan menatap Benji. "Kenapa bisa ada orang
sebaik Kakak?" Air mata Benji mengalir juga. Bulan salah. Ia bukan orang baik. Ia hanya anak
laki-laki bodoh yang mengacaukan segalanya. Dan di antara segala kekacauan
ini, ia masih mengharapkan hal-hal egois.
Ia bukan orang baik. ***** Surya melangkah ke arah kamar Cessa dengan perasaan senang. Seikat
mawar merah segera tergenggam di tangannya. Tadi siang, ia mendapatkan
kabar baik dari Abdul. Para donatur sepakat untuk memberikan beasiswa bagi
kedua siswa yang membutuhkan. Itu artinya, Surya mendapatkan kesempatan
kedua. Walaupun Cessa tak akan ingat soal hari ini, namun Surya akan
membantunya. Hari ini, Surya akan membantu anak perempuan itu mengingat
dirinya dan apa yang pernah mereka jalani bersama.
Dada Surya terasa berdebar saat ia tiba di depan pintu kamar Cessa. Rasanya
seperti memulai semuanya dari awal. Namun, Surya tak akan keberatan. Surya
akan melakukan apa pun supaya anak perempuan itu bisa mengingatnya.
Tangan Surya sudah terangkat, bermaksud mendorong pintu itu, saat
pintunya terbuka. Begitu melihat siapa yang keluar dari ruangan itu, Surya
melangkah mundur. Dirga menatap Surya bingung, lalu detik berikutnya, ia paham. Benji sudah
menceritakan semua tentang Surya. "Saya..." Surya tergagap. "Saya minta
maaf, Pak. Karena saya, Cessa..."
"Kamu tidak bersalah. Kamu tidak tahu apa-apa," kata Dirga, membuat
Surya menatapnya. "Kamu tidak tahu apa-apa soal Cessa. Ini semua kesalahan
saya. Sebagai ayah, saya tidak becus menjaganya. Kamu jangan pernah merasa
bersalah." Surya menatap Dirga lama, lalu menurut saat pria itu menarik lengannya dan
membuatnya duduk di bangku tunggu.
Dirga duduk di sampingnya, lalu mendesah. "Dulu, saya sudah melakukan
kesalahan dengan menimpakan tanggung jawab besar ke pundak anak laki-laki
kecil. Saya begitu yakin anak laki-laki itu bisa menjaga Cessa, hingga saya
memercayakan Cessa sepenuhnya padanya. Saya sangat berdosa."
Mata Surya melebar, tahu Dirga sedang membicarakan Benji. Bulan sudah
menceritakan semuanya semalam.
"Sekarang, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Saya akan
menjaganya," kata Dirga lagi, lalu menatap Surya dengan mata teduhnya.
"Saya yakin kamu sudah tahu tentang keadaan Cessa saat ini?"
"Ya, Pak," jawab Surya, tak berani menatap Dirga.
"Kalau begitu, biarkan semua tetap seperti ini."
Surya segera mengangkat kepala, menatap Dirga yang telah menatapnya
serius. "Maksud Bapak?"
"Biarkan dia mengingat hal-hal yang seperlunya saja." Dirga berucap lagi,
membuat Surya menganga. "Kamu paham maksud saya, kan?"
Mendadak, Surya merasa lemas. Otaknya bisa mencerna perkataan Dirga,
namun hatinya menolak untuk memercayainya.
"Saat ini, otaknya tidak bisa mengingat hal-hal yang berat. Dia tidak bisa lagi
mengalami stres." Dirga melanjutkan. "Jika dia dipaksa mengingatmu, dia akan
kembali sedih." Surya menatap mawar di tangannya kosong.
"Ini bukan soal kaya atau miskin. Ini soal kesehatannya." Dirga menepuk
bahu Surya. "Dan, saya dengar kamu juga sedang mengejar cita-cita kamu. Itu
yang penting untuk kalian sekarang. Masa depan."
Cengkeraman Surya pada batang mawar semakin erat. Dirga memang benar.
Yang paling penting sekarang adalah masa depannya.
Namun, ia tidak tahu, apa ia menginginkan masa depan yang tanpa Cessa.
***** Cessa mengalihkan pandangan dari televisi saat melihat pintu kamar yang
terbuka. Surya muncul dari sana dengan senyuman. Cessa mengerjap beberapa
kali."Halo, Cess. Boleh gue masuk?"
Walaupun masih tampak bingung, Cessa mengangguk. Surya menarik kursi,
lalu duduk di sampingnya.
"Gimana keadaan lo?" tanya Surya.
"Masih sedikit pusing," jawab Cessa, lantas mengernyit, seperti berusaha
mengingat. "Lo..."
"Surya." Surya buru-buru menjawab. "Teman sekelas lo."
"Ah." Cessa mengangguk-angguk, lalu mengamati seragam dan ransel Surya.
"Lo sekolah di sekolah elite itu?"
Senyum Surya mengembang, merindukan Cessa yang naif seperti ini.
Namun, tidak seperti saat awal mereka berjumpa, Surya tidak sakit hati
mendengarnya. "Iya. Aneh?" Surya bertanya.
"Lo pasti anak genius," komentar Cessa, membuat Surya mendengus geli.
Cessa lantas menatap ke arah pintu. "Yang lain mana?"
"Yang lain nyusul," jawab Surya segera. "Gue ke sini duluan karena... gue
mau buru-buru pulang dan belajar. Mereka ribet banget beli ini-itu dulu."
Cessa mengangguk-angguk sambil mengamati tangan Surya. "Lo nggak bawa
apa-apa?" "Gue kan miskin." Surya nyengir. "Nggak ada duit buat beliin lo apa-apa. Gue
bawa doa aja." Cessa tersenyum. "Makasih."
Setelah merekam senyum itu dalam ingatannya, Surya membasahi bibir dan
bangkit. "Oke deh. Gue balik dulu. Sebentar lagi Ujian Nasional, gue nggak
boleh santai-santai."
"Good luck," kata Cessa, masih memamerkan dua lesung pipinya yang
dalam. Surya mengangguk, berusaha mengindari kecantikan itu. "Cepet sembuh ya,
Cess." "Iya, makasih."
Surya mulai melangkah ke arah pintu. Setiap langkahnya terasa amat berat,
seolah terikat pada bongkahan batu seberat satu ton. Ia tahu, ini adalah akhir
dari segalanya. Setelah ini, ia tak akan bertemu Cessa lagi.
"Surya," panggil Cessa sebelum Surya sempat keluar ruangan. Surya
menoleh, lalu menatap Cessa. "Semangat ya. Lo pasti bisa."
Surya mengangguk, lalu melangkah ke luar dan menutup pintu sambil
menghela napas berat. Dadanya terasa sesak mengingat bahwa mereka
berpisah dengan cara yang kejam seperti ini. Cessa sudah melupakan
kenyataan bahwa mereka memiliki perasaan satu sama lain. Takdir
membuatnya harus melupakan segala kenangan yang pernah mereka buat
bersama. Surya meneguk ludah, lantas tersadar bahwa Benji sudah ada di
sampingnya. Tangannya menggenggam kopi kaleng.
Surya menatap Benji penuh penyesalan. "Sori Ben, atas segalanya."
"Nggak masalah." Benji menepuk pundak Surya. "Kalo lo masih ngerasa
bersalah juga, bayar dengan Ujian Nasional."
Surya mengernyit, tak mengerti.
"Kalo lo berhasil lulus dengan nilai paling tinggi, baru gue maafin."
Surya mendengus mendengar kata-kata Benji. "Itu sama aja dengan lo
maafin gue sekarang."
Senyum terkembang di bibir Benji. Ia tahu, Surya pasti akan lulus dengan
nilai terbaik. "Semoga berhasil," kata Benji lagi. "Gue tau lo bisa."
Surya mengangguk, lalu mulai melangkah pergi dengan langkah beratnya.
Surya tahu Benji masih mengawasi punggungnya.
"Ben." Surya berhenti melangkah, lalu menoleh kepada Benji. "Gue tahu
permintaan gue aneh. Tapi... tolong jaga Cessa. Cuma lo satu-satunya yang
bisa. Gue percaya sama lo."
Benji mengangguk. Walaupun Surya tidak memintanya, ia akan menjaga
Cessa. Itu adalah tugasnya. Setelah Surya menghilang di koridor sebelah, Benji
mendorong pintu kamar Cessa. Sepintas, ia melihat buket mawar segar di
tempat sampah depan kamar anak perempuan itu.
"Cess, tadi..."
Kata-kata Benji terhenti saat ia melihat Cessa. Anak perempuan itu sedang
terisak hebat. Benji segera berderap ke arahnya.
"Cess, kamu nggak apa-apa?" tanyanya panik. "Kepalanya sakit?"
Cessa menggeleng di tengah isakannya. Tangannya mencengkeram baju
pasien di bagian dada. Benji menatap anak perempuan itu bingung. Cessa tidak
pernah menangis saat ia kesakitan secara harfiah. Ia hanya pernah menangis
seperti ini saat hatinya yang sakit.
Benji menoleh ke arah pintu. Apa mungkin...
"Cess... kamu... udah ingat?"
Tangis Cessa semakin menjadi-jadi. Benji segera memeluknya, pening sendiri
dengan pemikirannya. "Ben..." isak Cessa pilu.
Semalam, saat Cessa mendadak demam tinggi, Cessa bermimpi. Sebagian
demi sebagian ingatannya tentang Surya kembali. Dan saat Cessa akhirnya
terjaga di tengah malam dengan sebagian kenangan itu, Cessa memutuskan.
Ia akan membiarkan Surya menyangka ia lupa. Supaya Surya tidak merasa
bersalah. Supaya Surya bisa meneruskan hidupnya dan meraih masa depannya
dengan tenang. Seperti inilah Cessa akan mengganti apa yang telah ia
hancurkan dulu. Cessa tak peduli kalau ia sendiri yang harus merasa sakit.
BAB 23 Because you meant everything to me,
I refrain from holding you back,
so as not to be a burden to you.
[Loveholic"If Only I Have You]
Hari pertama Ujian Nasional, semua anak kelas dua belas sibuk bukan
kepalang. Sebagian mulut berkomat-kamit menghafal isi buku cetak sementara
yang lain merapal doa. Hanya Surya yang tampak tenang di bangkunya,
menyerut pensil yang sudah tajam.
Walaupun tampak tenang dari luar, sebenarnya Surya sedikit gugup.
Walaupun ia yakin usahanya selama ini akan berbuah manis, kali ini ia berjuang
bukan hanya untuknya sendiri. Ia berjuang untuk Cessa, yang telah menaruh
harapan besar padanya walaupun anak perempuan itu mungkin tidak ingat. Ia
ada di sini sekarang, dengan tekad seperti ini, dengan mengorbankan seorang
Cessa. Ia tak akan membiarkannya kecewa.
Ingatannya lantas terbang pada kejadian seminggu lalu. Sepulang dari rumah
sakit, Surya segera masuk kamar dan menangis habis-habisan. Apa yang Dirga
katakan benar-benar menyadarkannya. Ini adalah kesempatan bagi Cessa
untuk memulai hidup baru, di mana tidak ada seorang berengsek seperti Surya
di dalamnya. Anak perempuan itu tidak mengalami jatuh cinta, jadi ia tidak
akan sakit hati. Ia mungkin tidak akan tertawa, namun ia juga tidak akan
menangis. Surya akan menanggung semua beban ini sendiri. Ia akan membiarkan Cessa
tidak ingat tentang mereka. Yang harus Surya lakukan sekarang adalah
meneruskan hidupnya dan kembali menggapai cita-citanya. Ia akan menjadi
orang yang bisa berdiri di depan Cessa dengan bangga.
Dua orang pengawas yang masuk kelas menyadarkan Surya. Salah satu
pensilnya sekarang nyaris habis tak bersisa. Surya menarik napas panjang, lalu
menghela napas. Tiga tahun SMA-nya adalah untuk saat ini.
***** "Selamat ya Kak, udah selesai UN-nya."
Surya menatap Bulan yang datang membawa secangkir jahe hangat, lalu
tersenyum. "Makasih."
Sambil menatap Surya menyeruput jahe buatannya, Bulan mengamatinya.
Selama beberapa minggu ini, ia sama sekali belum menyinggung soal Cessa. Ia
takut hal itu akan membuat Surya kehilangan fokus pada Ujian Nasional.
"Kak, katanya Kak Cessa udah mulai bisa jalan."
Surya nyaris tersedak saat mendengar nama itu, namun segera berlagak
tenang. "Oh ya" Syukurlah."
"Kakak nggak mau jenguk dia?" tanya Bulan. Terakhir Surya menjenguk
Cessa, kakaknya pulang dalam keadaan kacau. Bulan tahu ia menangis
semalaman, lalu berakhir dengan belajar hingga pagi. Setelah itu, Surya
menjadi lebih giat daripada yang sudah-sudah. Tak sedetik pun waktunya
terbuang dengan tidak memegang buku.
"Kak Cessa mungkin nggak ingat sama Kakak yang dulu." Bulan berkata lagi.
"Tapi dia akan kenal Kakak yang sekarang. Mungkin dia akan senang kalo Kakak
cerita soal sekolah dan UN."
Surya menatap kosong gelas di genggamannya. Ia sudah membuat janji pada
Dirga untuk tidak menemui Cessa lagi. Lagi pula, ia tidak yakin apa ingin anak
perempuan itu melihatnya lagi. Mungkin saja Cessa merasa tidak nyaman
berada dekat orang asing sepertinya.
'Orang asing'. Hati Surya mendadak terasa nyeri.
"Kamu sendiri?" Surya membelokkan topik. "Kamu masih berhubungan
sama Benji?" Bulan segera salah tingkah. "Aku... cuma telepon sekali tadi pagi."
Surya menatap Bulan penuh selidik.
"Aku tanya kabar Kak Cessa, kok," kilah Bulan. "Beneran."
Surya menghela napas lalu menyandarkan punggung. Walaupun ia dan
Bulan sudah tahu tentang Cessa dan Benji, namun tetap saja mereka tidak
punya kesempatan. Cessa dan Benji tidak bisa dipisahkan. Kalau ingin bersama
Benji, maka Bulan harus menerima Cessa. Itu artinya tidak ada kencan berdua.
Jika pun ada, Bulan harus terima jika Benji mendapat panggilan dari Cessa.
Sampai kapan pun, Bulan tidak akan pernah menjadi prioritas bagi Benji.
"Kamu tahu gimana keadaan mereka, kan?" tanya Surya. "Kamu terima?"
"Aku..." Bulan menggigit bibir. "Aku tahu pasti berat. Tapi aku akan berusaha
ikhlas." Saat melihat Benji kemarin, Bulan sudah memutuskan. Ia akan berada di
samping Benji kapan pun ia membutuhkan. Ia berjanji akan memberi Benji
keleluasaan untuk selalu menjaga Cessa. Ia tahu ia bisa memercayai Benji.
"Kamu sudah besar." Surya mengacak rambut Bulan. "Kamu bisa
memutuskan sendiri mana yang baik buatmu."
Bulan menatap Surya, lalu mengangguk dengan senyum. "Kakak sendiri?"
"Aku" Kamu tahu aku bisa apa." Surya mengela napas. "Aku bisa dilupakan."
Selama beberapa saat, Bulan menatap kakaknya yang seperti kehilangan
energi. Bulan juga baru sadar, tubuh kakaknya semakin kurus. Beberapa
minggu terakhir, ia terlalu banyak belajar hingga kurang tidur.
"Kak, aku yakin Kakak pasti menemukan kebahagiaan Kakak. Suatu saat
nanti." Surya menatap Bulan, lalu mengangguk.
Suatu saat nanti. ***** Benji membuka pintu kamar Cessa. Anak perempuan itu tampak sudah rapi,
duduk di ranjang sambil memandang keluar jendela. Benji melangkah masuk
sambil menarik sebuah koper. Hari ini, Cessa akan keluar dari rumah sakit.
Semua sesi terapinya sudah selesai dan ia diperbolehkan untuk kembali
beraktivitas. "Cess, sudah siap" Aku beresin barang-barang dulu ya."


I For You Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Benji membuka lemari dan mengeluarkan barang-barang Cessa. Sementara
ia melakukan itu, Cessa memperhatikannya.
"Ben, kita perlu ngomong," kata Cessa pelan.
"Benji mendengus, geli. "What" Are you gonna dump me or something?"
Cessa tidak menjawab, jadi tangan Benji berhenti bekerja. Ia menoleh dan
mengernyit kepada Cessa yang sudah menatapnya sedih.
Sadar ada sesuatu yang benar-benar serius, Benji bangkit dan menghampiri
Cessa. "Ada apa?"
"Benji," ucap Cessa pelan. "Selama 17 tahun ini, pasti berat kan?"
Mata Benji melebar. "Ngomong apa kamu?"
"Aku baru sadar, kalau selama 17 tahun ini, kamu selalu ada di sisi aku." Air
mata sudah menggenang di mata Cessa. "Selama itu juga, aku menganggap
keberadaan kamu sebagai sesuatu yang wajar. Sesuatu yang memang
seharusnya aku punya. Padahal, sama sekali nggak begitu."
Benji hanya bisa terdiam menatap Cessa.
"Aku egois banget, kan?" tanya Cessa, setetes air matanya jatuh. "Aku orang
paling egois di dunia. Aku mengambil hak kamu sebagai manusia. Aku
mengambil kebebasan kamu."
Benji menggeleng. "Nggak, Ces..."
"Nggak pernah sekalipun aku mikirin perasaan kamu. Mikirin apa yang kamu
mau perbuat dalam hidup kamu. Karena selama ini seluruh hidup kamu adalah
tentang aku." Benji menatap ke arah lain, berusaha menahan emosi.
"Setelah semua kejadian ini, aku baru sadar, kalau selama ini aku udah
membuat kamu mengorbankan segalanya." Tanpa sadar, Cessa meraba tanda
pengenal yang masih ia pakai. "Maaf aja nggak cukup, kan Ben?"
"Jangan minta maaf, Cess. Kamu nggak salah apa-apa. Ini memang tanggung
jawabku. Aku yang bersedia menjaga kamu."
Cessa menggeleng. "Kamu harusnya menjaga perempuan yang kamu cintai,
dan orang itu bukan aku. Dan aku benci diriku sendiri yang membuat kamu
nggak bisa melakukannya."
"Jangan bilang begitu..."
"Ben. Aku nggak bisa menahan kamu selamanya," lanjut Cessa, membuat
Benji menatapnya. "Udah saatnya aku melepas kamu."
Selama beberapa saat, Benji terdiam. Ia tak tahu apa Cessa hanya sedang
labil, atau ia benar-benar mengatakannya. Apa yang dikatakan Cessa adalah
sesuatu yang selama ini ia anggap mustahil. Ia bahkan tidak pernah berani
memimpikannya. "Nggak." Benji akhirnya berkata. "Walaupun kamu maksa, aku nggak bisa.
Cuma aku yang bisa jaga kamu, Cess."
Cessa menggeleng. "Ayah bisa."
"Tapi?" "Aku sudah membicarakan hal ini dengan Ayah juga orangtua kamu, dan
kami sudah sepakat. Aku dan Ayah akan pindah ke Amerika," kata Cessa,
membuat mata Benji terbelalak. "Di sana ada lebih banyak donor AB negatif
dan faktor lebih mudah didapat dibanding di sini. Penanganan von Willebrand
pun lebih tanggap. Kamu nggak perlu khawatir lagi tentang aku. Aku juga akan
sekolah desain di sana."
Benji masih tak memercayai pendengarannya. "Kamu... mau pindah?"
Cessa mengangguk. "Kamu bisa bebas menentukan jalan kamu sendiri, dan
tentunya kamu bisa bebas mencintai orang yang kamu pilih."
Seumur hidupnya, Benji tak pernah menyangka ini akan terjadi. Ia sudah siap
jika pun harus bersama dengan Cessa selamanya. Sekarang, saat Cessa
mengatakan akan melepasnya, Benji tidak merasa senang. Ia memang sedikit
merasa lega, tetapi sebagian besar dari dirinya mengkhawatirkan Cessa. Ia
takut anak perempuan itu tidak bisa hidup tanpanya.
Cessa melepas kalung yang selama ini ia kenakan, lalu menyerahkannya
kepada Benji. "Dengan ini, aku secara resmi melepas kamu."Benji menatap
nanar kalung itu. Kalung yang sudah dikenakan Cessa sejak lama. Tangan Benji
yang gemetar menggapainya, dan begitu ia menggenggam kalung itu, seluruh
kenangan berkelebat cepat di benaknya, membuat tangisnya pecah begitu
saja. "Maaf, Ben..." Cessa pun ikut terisak.
Benji segera menarik Cessa ke pelukannya. Cessa adalah saudara
perempuan yang tak pernah ia punya. Salah satu dari sedikit hartanya. Saat
Cessa melepasnya pergi, ada bagian dari dirinya yang ikut pergi juga. Benji
tidak bisa menerima penawaran itu tanpa merasa terluka.
"Maaf..." Tak bisa menjawabnya, Benji memeluk Cessa semakin erat. Cessa adalah
bagian penting dari hidupnya, dan selalu akan seperti itu.
"Kapan pun kamu membutuhkan aku, kamu tahu apa yang harus kamu
lakuin," kata Benji di sela isaknya.
Cessa mengangguk. Sampai kapan pun, nomor Benji selalu akan menjadi
nomor satu di ponselnya. Sampai kapan pun. BAB 24 Why did I end up falling for you"
No matter how much time has passed,
I thought that you'd always be here.
But you have chosen a different road.
[Tohoshinki"Why did I end up falling for you]
Bulan menatap kol yang sudah tercacah berantakan di atas talenan. Hari ini,
ia bermaksud membuat sop ayam, namun pikirannya yang kusut membuatnya
salah memotong kol. Bulan meletakkan pisau, lalu menghela napas. Melihat kol yang tercacah ini
membuatnya teringat kepada Benji saat pertama kali datang ke rumahnya.
Saat itu, Benji masih terlihat seperti remaja kaya kebanyakan yang tak memiliki
banyak masalah. Dalam waktu beberapa bulan, semua orang berubah.
Semuanya menjadi dewasa. Mungkin, hanya Bulan sendiri yang belum. Kemarin saat berniat untuk
menjenguk Cessa, ia tak sengaja melihat Cessa dan Benji berpelukan sambil
menangis. Pemandangan itu begitu menyesakkan baginya, membuatnya
berpikir ulang tentang keputusannya. Ia tidak bisa dinomorduakan. Hatinya
terlalu sakit melihat Cessa dan Benji bersama. Seperti, ia bukan berada di dunia
yang sama dengan kedua orang itu. Selamanya ia tak akan bisa memasuki
dunia itu. Tahu-tahu, terdengar suara ketukan di pintu. Bulan tersadar dari
lamunannya, lalu segera melangkah menuju pintu dan membukanya. Mulut
Bulan segera ternganga saat melihat siapa yang sekarang berdiri di
hadapannya. "Halo, Lan," sapa Benji sambil tersenyum lebar. Sudah terlalu lama Bulan
tidak melihat senyum itu.
"Kak Benji?" Bulan segera linglung. "Kenapa...?"
"Boleh gue masuk?" tanya Benji, membuat Bulan segera mengangguk dan
menyilakannya masuk. "Kakak... mau minum apa" Aku buatin jahe ya?"
Tanpa menunggu jawaban Benji, Bulan buru-buru melangkah ke arah dapur,
tanpa benar-benar bermaksud untuk membuatkan minum. Setelah apa yang ia
lihat kemarin, ia tidak tahu harus bagaimana di depan anak laki-laki itu.
Dengan kepala penuh akan kata-kata apa yang harus ia ucapkan kepada
Benji, Bulan mengambil gelas dan menuangkan bubuk jahe. Dulu, saat ia
memberi Benji minuman ini, Benji sangat menyukainya. Sebenarnya, kemarin
Bulan juga membawakan Benji jahe di dalam termos, namun ia tak jadi
memberikannya dan meletakkannya begitu saja di kursi depan kamar Cessa.
Termos itu tahu-tahu muncul di meja sampingnya. Bulan menatap termos
itu kaget, tetapi sebelum ia sempat bertanya, tangan Benji memeluknya dari
belakang. Mendadak, Bulan merasa kesulitan bernapas.
"Maaf, Lan, karena selama ini gue udah memperlakukan lo dengan buruk."
Bulan tak bisa berkata apa pun. Detak jantungnya sekarang mengalami
percepatan gila-gilaan hingga membuat dadanya berdentum-dentum.
"Sekarang, lo nggak harus mengkhawatirkan apa pun lagi." Benji
mempererat rengkuhannya. "Satu-satunya orang yang akan gue jaga sekarang
adalah lo." "Kak Cessa...?" tanya Bulan bingung.
"Cessa... udah ngelepasin gue," jawab Benji, membuat mata Bulan melebar.
"Dia pindah ke Amerika bareng ayahnya, tempat dia bisa hidup lebih nyaman
dibandingkan di sini. Di sana, dia nggak membutuhkan gue."
Bulan memutar badan, lalu menatap Benji tak percaya. "Kakak... serius?"
Benji mengangguk. "Sekarang, gue nggak akan pergi tiba-tiba lagi. Waktu
gue semua buat lo." Alih-alih senang, Bulan merasa khawatir. "Kakak nggak apa-apa dengan ini?"
"Gue tadinya ragu, Lan. Gue nggak mau ngerasa bahagia sendiri. Nyaman
sendiri. Tapi, setelah gue pikir-pikir, gue yakin ini yang terbaik buat gue dan
Cessa." Benji menatap Bulan. "Juga buat kita."
Selama beberapa saat, Bulan hanya menatap Benji, mencari kebenaran
melalui matanya. Bulan ingin percaya, namun kata-kata Benji terlalu sulit untuk
dipercaya. Benji sendiri merasa inilah hal yang paling benar untuk dilakukan.
Satu-satunya orang yang muncul di kepalanya saat Cessa melepaskannya
adalah anak perempuan didepannya ini.
"Lo boleh percaya gue sekarang." Benji tersenyum, tangannya terangkat
untuk membelai kepala Bulan lembut. "I'm all yours."
Alih-alih bahagia, Bulan malah mendengus, geli mendengar kata-kata
gombal itu. Setelah semua yang terjadi, akhir yang indah seperti ini begitu tak
terduga. Bulan mencoba untuk tidak mencubit pipinya sendiri di depan Benji.
Mendadak, Bulan teringat sesuatu.
"Kakak bilang, Kak Cessa pindah ke Amerika?" tanya Bulan, membuat Benji
mengangguk. "Dia udah pindah?"
Benji tahu arah pembicaraan ini. "Udah tadi pagi."
Senyum bahagia di wajah Benji dan Bulan perlahan memudar. Mereka saling
tatap, tahu bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya merasakan kebahagiaan
walaupun ingin. Mereka tidak bisa membaginya pada dua orang yang mereka
sayangi. Karena tidak seperti mereka, dua orang itu tidak memiliki akhir yang indah.
***** Surya melangkah mantap menuju kamar Cessa. Setelah semua ujian selesai,
ia ingin membaginya dengan anak itu. Bulan benar. Walaupun Cessa tak
mengingat dirinya yang dulu, setidaknya ia bisa bertemu dengannya sebagai
seorang teman. Hati Surya terasa sakit setiap mengingat kenyataan bahwa sekarang ia
sebatas 'teman sekelas'. Namun, Surya bertekad untuk membiarkan Cessa
melupakannya, supaya semuanya lebih mudah untuk anak perempuan itu
jalani. Ia tak harus mengingat perpisahan dan kata-kata menyakitkan yang
pernah Surya keluarkan. Langkah Surya terhenti saat ia sampai di depan pintu kamar Cessa. Tangan
dan kakinya terasa dingin, jantungnya pun berdebar keras. Sudah terlalu lama
ia tidak melihat anak perempuan itu. Rasa rindu terlalu membuncah hingga
menyesakkan dadanya. "Cari siapa, Mas?"
Tangan Surya yang sudah terangkat untuk meraih kenop pintu segera turun.
Surya menoleh, lalu mendapati seorang perawat di sampingnya.
"Cessa, Sus." "Ah, Cessa sudah pulang dari beberapa hari lalu," kata perawat itu,
membuat Surya mengangguk-angguk, baru tahu. "Dia sudah selesai terapi.
Sudah sehat lagi. Ingatannya pun sudah pulih."
Jantung Surya terasa mencelos. "A-apa, Sus" Ingatannya sudah kembali?"
Perawat itu mengangguk. "Sehari setelah ia sadar, ingatannya langsung
kembali, kok." "Sehari...?" Surya bergumam, berusaha mengingat pertemuan terakhirnya
dengan Cessa. Namun sekeras apa pun ia berusaha meyakinkan diri, hari di
mana ia hanya berdua dengan Cessa adalah hari kedua setelah ia sadar.
"Jadi..." "Saya dengar dia sudah berangkat ke Amerika," kata perawat itu lagi. "Dia
sama ayahnya pindah ke sana. Katanyya sih mau sekolah."
Surya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Setiap kata yang keluar dari mulut
perawat itu seperti menamparnya keras-keras. Ia bahkan tidak tahu harus
lebih terkejut dengan kenyataan mana: Cessa berpura-pura lupa atau
meninggalkannya ke Amerika.
"Memang Cessa nggak bilang sama teman-temannya, ya?" Perawat itu
bersimpati melihat Surya yang tampak benar-benar terpukul.
Surya menggeleng pelan. "Eh, Benji. Ada yang ketinggalan?"
Surya segera memutar kepala begitu perawat itu menyebut nama Benji.
Anak laki-laki itu ada di belakangnya, menatapnya kosong.
Menyadari suasana yang jadi tidak enak, perawat tadi buru-buru pergi.
Surya masih menatap Benji geram, kedua tangannya terkepal di samping paha.
"Silakan lo pukul gue semau lo." Benji membuka mulut. "Tapi ini semua
keinginan Cessa. Dia nggak mau jadi beban siapa-siapa lagi."
"Lo tau kalo Cessa pura-pura nggak inget gue?" tanya Surya dengan suara
bergetar. "Sori," sesal Benji. "Tapi itu yang terbaik. Cessa nggak mau lo ngerasa
bersalah." "SIALAN!" Surya meninju tembok di sampingnya, berusaha menumpahkan
segala emosi yang memenuhi dadanya. "Kenapa?""
"Lo tau, orang-orang biasanya tumbuh dewasa secara perlahan-lahan," kata
Benji. "Dia cuma dalam waktu beberapa hari."
Surya menatap Benji nanar.
"Dia pergi ke Amerika supaya bisa ngelepasin gue," lanjut Benji. "Di sana, dia
nggak akan memerlukan gue. Nggak seperti di sini, di sana banyak donor AB
negatif dan penanganan von Willebrand sangat tanggap."
Surya memejamkan mata, lalu menghela napas, berusaha untuk mengerti
jalan pikir Cessa. Mungkin apa yang dikatakan Benji benar. Kejadian ini sudah
mendewasakan anak perempuan itu, lebih cepat daripada apa pun. Namun,
apa itu artinya ia sudah melepaskan Surya juga"
"Dia pergi supaya bisa belajar mandiri, nggak tergantung sama orang lain.
Setelah ketemu lo, dia juga jadi sadar cita-citanya, dan dia di sana mau sekolah
fashion," kata Benji lagi. "Jadi jangan pikir kalo dia pergi karena pengin
ninggalin lo. Karena dia nggak bisa membebani lo, jadi inilah satu-satunya cara
supaya dia terus mengingat lo. Mengejar cita-citanya sendiri."
Surya menggeleng-geleng, masih belum bisa menerima. "Kenapa... dia harus
menjalani ini sendirian" Kenapa dia yang harus menanggung semua
bebannya?" "Mungkin karena selama ini dia merasa jadi beban semua orang," jawab
Benji, membuat Surya melotot. "Ini saatnya dia melepas beban itu."
Surya menatap Benji lama, lalu mendesah. Sampai beberapa minggu lalu,
Cessa yang dikenalnya adalah anak perempuan kaya yang manja dan polos.
Apa yang ia lakukan sekarang benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Kalau pengin dia bahagia, lo harusnya jangan menyesali keputusan dia,"
kata Benji. "Sebaliknya, lo harus mendukungnya supaya bisa berdiri di atas
kakinya sendiri. Bukan begitu?"
Surya melempar pandangan ke arah taman rumah sakit yang hijau. Ia tahu,
apa yang dikatakan Benji benar. Saat ini, Cessa sedang berusaha hidup dengan
caranya sendiri. Cessa pasti memiliki alasan untuk tidak memberi tahunya, dan
Surya akan menghormati keputusan itu.
Namun, Surya pun akan berjuang dengan caranya sendiri.
BAB 25 If I only knew how to reach you,
I'd grab your hand and take you where you belong.
Here inside my arms. [David Choi"Something to Believe]
"That's it for today. I'll see you again tomorrow."
Para mahasiswa Columbia University jurusan Ilmu Komputer segera bangkit
begitu Profesor Jenkins menutup kelas hari ini. Surya sendiri segera
membereskan buku, lalu menyusul pria tua dengan wajah penuh noda
kecokelatan itu. "Professor," panggil Surya, berhasil membuat Profesor Jenkins menoleh.
"About the scholarship..."
"You're going to get it. I've already written the recommendations." Profesor
Jenkins menepuk bahu Surya, sudut bibirnya yang keriput tertarik ke atas. "You
deserve it." Mata Surya segera melebar. "Thank you, Professor! I really do!"


I For You Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Profesor Jenkins melambai, lalu kembali melangkah renta di antara para
mahasiswa yang setinggi pohon kelapa. Surya menatap punggung itu hingga
menghilang di balik koridor, lalu menghela napas lega. Saking leganya, ia bisa
saja jatuh terduduk di lantai kampus, namun tak dilakukannya karena ia tak
ingin terinjak. Setelah hampir setahun mengikuti program pertukaran pelajar, Surya
akhirnya mendapatkan jalan terang bagi masa depannya. Profesor Jenkins
menulis surat rekomendasi secara pribadi untuk beasiswa program master-nya
nanti di universitas ini.
Tiga tahun lalu, saat Surya masuk ke kampus impiannya, ia mengetahui
bahwa donatur yang membuatnya kembali mendapatkan beasiswa itu tak lain
adalah Dirga. Dari Benji, Surya juga tahu bahwa Cessalah yang khusus meminta
pada ayahnya untuk memberi beasiswa itu setelah ia sadar dari koma.
Dari sana, Surya memiliki tekad baru. Ia merencanakan kembali masa
depannya. Ia akan memastikan diri untuk masuk ke program pertukaran
pelajar ke Amerika, dan saat berada di sini, ia akan berusaha sekuat tenaga
untuk mencari beasiswa untuk program master-nya. Dan hari ini, ia sudah
semakin dekat dengan masa depan yang ia inginkan itu.
Doa dan usahanya selama ini berbuah manis. Bahkan di universitas sekelas
Columbia University pun, Surya menjadi anak yang cemerlang. Ia menjadi
favorit para profesor setelah berhasil memecahkan kode yang diberikan oleh
Profesor Jenkins"sang ahli Artificial Intelligence"di bulan pertama program
pertukaran pelajarnya. "Surya!" Surya menoleh, lalu mendapati Reid, teman satu kamarnya sedang
melangkah ke arahnya sambil menenteng tas biola. Jurusan musik yang sedang
digelutinya membuat penampilannya tampak jauh berbeda dengan Surya.
"Finally man, long weekend! What are you up to?" tanyanya. "I heard Kev is
having a party..." "Sorry man, I've got a date," potong Surya, membuat Reid melotot.
"You've got WHAT" With who?" serunya, merasa dikhianati. Selama ini,
Surya tak pernah terlihat bersama siapa pun. Ia selalu berada di kamarnya,
mengutak-atik komputer dengan buku-buku tebal berserak di atas meja. Ia pun
tak pernah mau diajak keluar bahkan hanya untuk menonton pertandingan
baseball. Surya tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum, kepalanya sudah
dipenuhi oleh rencana liburan Thanksgiving yang sudah dibuatnya berbulanbulan lalu.
Satu langkah lagi menuju masa depannya yang sempurna.
***** Surya menatap gedung minimalis berdinding kaca bertuliskan Parsons the New
School for Design. Akhirnya, ia berhasil mengumpulkan keberanian untuk
datang ke sini, ke tempat di mana orang yang ia sayangi berada. Surya
memperhatikan anak-anak muda New York yang tampak asyik mengobrol di
depan kampus itu. Mereka terlihat sangat stylish, seperti siap untuk menjadi
calon-calon penerus Donna Karan dan teman-temannya.
Setelah menghela napas mantap, Surya melangkah masuk kampus itu dan
melihat-lihat. Di dalam kampus yang tertata apik dan minimalis, ternyata
terdapat lebih banyak lagi mahasiswa yang mondar-mandir sambil membawa
baju dan bahan. Sebagian dari mereka terlihat panik, lainnya terlihat
berambisi. Di sisi lain, Surya melihat beberapa mahasiswa yang terlihat santai,
duduk-duduk di atas sofa bundar dekat kaca. Betapa Surya ingin melihat Cessa
di antara mahasiswa yang santai itu, tidak bisa memikirkannya berlari-lari
membawa gulungan kain yang berat dan harus mengguntingnya sendiri.
Namun, Surya paham, sekolah ini adalah satu dari sekolah fashion terbaik di
Amerika. Dari apa yang ia dengar, berkuliah di Parsons adalah tentang
persaingan ketat untuk menampilkan yang terbaik. Para mahasiswanya biasa
melupakan pesta, tidur, bahkan makan sekalipun. Surya benar-benar berharap
Cessa tidak memaksakan diri.
Surya mendengus, geli pada pemikirannya sendiri. Cessa tidak berambisi
seperti dirinya. Cessa memiliki kecepatannya sendiri. Anak perempuan itu pasti
menyadarinya dan tidak akan melakukan hal-hal bodoh.
Selama 15 menit, Surya puas melihat-lihat bagian dalam kampus jurusan
fashion itu. Namun, Cessa tidak terlihat di mana pun. Surya sadar bahwa
Manhattan memiliki sejuta lebih penduduk. Ia tidak pernah berharap akan bisa
menemukan Cessa di percobaan pertamanya ke sini, jadi ia akan mencoba lagi
esok hari. Sambil merapatkan mantel, Surya menyeberang 7th Avenue yang padat.
Sebelum kembali ke asrama, ia akan berjalan-jalan sebentar. Selama berada di
New York, ini kali pertamanya ke bagian lain Manhattan. Hidupnya hanya
seputar kampus dan asrama.
Sebagai kota metropolitan, New York memiliki kepadatan yang luar biasa.
Selain menjadi pusat fashion, kota ini juga merupakan pusat perdagangan,
keuangan, seni, budaya dan banyak lagi. Penduduknya pun beragam dan
datang dari berbagai bangsa di dunia. Jika di Indonesia, New York tak ubahnya
Jakarta. Hanya saja, tak ada istana negara di kota ini karena pusat
pemerintahan Amerika berada di Washington, D.C.
Kaki Surya membawanya ke arah Bryant Park, area terbuka publk yang berada
di antara 5th dan 6th Avenue. Surya disambut oleh sebuah air mancur yang
menari-nari indah. Di tengah-tengah gedung-gedung pencakar langit, area
terbuka yang hijau seperti ini benar-benar menyejukkan. Tak heran banyak
orang yang menghabiskan waktu di sana, hanya untuk sekadar mengobrol atau
membaca buku. Sambil melangkah lebih jauh, Surya menatap booth makanan dan minuman
serta meja dan kursi yang tersebar di sekeliling taman. Langkahnya mendadak
terhenti saat ia melihat penjual hotdog. Di luar kesadaran, ia mengelus perut.
Ia belum makan apa pun sejak pagi.
Surya menghampiri penjual hotdog, lalu memesan satu. Sambil menghela
napas, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari tempat duduk untuk
meikmati hotdog-nya nanti. Di tengah keramaian itu, tahu-tahu matanya
menangkap sesosok yang sangat familiar baginya. Seketika, jantung Surya
terasa mencelos. Sepuluh meter di depannya, seperti mimpi, Cessa tampak sedang duduk
tenang di bangku, tenggelam dalam buku sketsa. Rambut cokelat panjangnya
tergerai indah dan disapu lembut oleh angin, membuatnya semakin kentara di
antara orang-orang yang duduk di sekitarnya.
"Here's your hotdog."
Tak memedulikan hotdog yang disodorkan si penjual, Surya tersaruk ke arah
Cessa. Ke arah perempuan yang paling ingin dilihatnya saat ini. Perempuan
yang membuatnya terbang sejauh ribuan mil.
Cessa masih sibuk mencoret-coret buku sketsa-nya, sama sekali tak menyadari
kehadiran Surya. Sebentar lagi ujian, dan ia harus memiliki satu desain yang
berbeda dari yang lain jika mau lulus. Desain yang kemarin ia ajukan pada
pengajar ditolak mentah-mentah.
"Is this seat taken?"
"No, please." Cessa mempersilakan tanpa mengangkat kepala. Desain ini sudah
benar-benar menyita perhatiannya.
Selama beberapa saat, Surya memperhatikan Cessa yang masih asyik
mendesain. Anak perempuan itu masih cantik seperti dulu. Kalaupun ada yang
berubah, sekarang ia terlihat lebih mandiri. Auranya lebih terang dan jika Surya
tidak salah mengerti, anak perempuan itu jadi terlihat berambisi. Ia tidak
pernah menggambar dengan dahi mengerut seperti ini.
"Hm..." Cessa masih merasa desain itu belum sempurna. Masih terlalu banyak
detail yang tidak perlu. Masih sambil mengamati desain, Cessa menggapai, bermaksud untuk
mengambil cokelat hangatnya. Namun, ia tak kunjung menemukannya. Tahutahu, gelas itu melayang ke tangannya.
"Thanks." Cessa berterima kasih pada siapa pun yang tadi membantunya.
"Cokelat panas bagus untuk menghilangkan stres," kata Surya kalem. "Tapi teh
hijau hangat jauh lebih bagus."
Selama beberapa saat, Cessa membatu, merasa mengenali suara itu. Perlahan,
Cessa menoleh. Gelas yang dipegangnya terlepas begitu saja dan jatuh ke
lantai Bryant Park begitu ia menyadari siapa yang sedang duduk di
sampingnya. Surya tersenyum hangat saat akhirnya menatap mata hazel itu lagi. "Do you
still remember me?" Detik berikutnya, Cessa segera tersadar. "Ah! Teman sekelas gue dulu kan, ya"
Mm... Surya?" Senyum Surya semakin lebar. "Nice try."
Mulut Cessa sekarang membuka dan menutup, salah tingkah. Dalam hati, ia
segera mengutuk Benji. Anak laki-laki itu tak pernah mengatakan apa pun soal
Surya yang telah mengetahui semuanya. Setiap kali Cessa menelepon, yang
keluar dari mulutnya selalu Bulan dan betapa Benji senang dengan kuliah
arsitekturnya. "Lo... udah tau?" Cessa meneguk ludah. "Maaf."
"It doesn't matter now." Surya menatap Cessa lekat. "Karena gue sekarang ada
di sini." Cessa balas menatap Surya tak percaya. Surya sendiri sudah meraih tangan
Cessa dan mengelus lembut titik hitam yang semakin jelas pada punggung
tangan itu"tanda bahwa Cessa sudah sekian kali diinfus faktor.
Surya menaikkan pandangannya kembali pada kedua mata Cessa. "Kalo di sini,
gue bisa menjaga lo, kan?"
Cessa menundukkan kepala, masih tak memercayai Surya yang ada di sini, di
sampingnya. Setelah bertahun-tahun merindu, akhirnya mereka bertemu juga.
"Kenapa... kenapa lo bisa nemuin gue?"
"Karena lo yang paling terang di antara mereka semua," jawab Surya,
membuat Cessa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Di antara sejuta
lebih penduduk Manhattan, lo yang paling terang. You're literally, one in a
million." Cessa membekap mulutnya sendiri, menahan tangis yang sudah tumpah.
Dadanya sekarang terasa sesak, namun karena terlalu bahagia. Selama tiga
tahun ini, ia berusaha untuk hidup mandiri. Ia berlatih memasang infus dan
menyuntikkan faktornya sendiri. Setiap sendi bengkak dan kulit lebam yang
kadang ia dapat selalu ia hadapi dengan tegar. Mimisan dan tangis darah yang
kadang muncul saat ia mendapat terlalu banyak tugas pun ia lewati walaupun
tetap menakutkan. Ia tak bisa mengeluh pada ayahnya karena ialah yang
meminta untuk pergi. Walaupun ayahnya selalu ada untuknya, ia harus
bertanggung jawab pada keputusannya dan atas dirinya sendiri.
Sekarang, seorang Surya ada di sampingnya, siap untuk melindunginya. Cessa
tidak bisa meminta lebih lagi dari ini. Surya adalah orang yang paling ia
inginkan untuk menjadi pangeran pelindungnya.
Surya berlutut di samping Cessa, membelai rambutnya lembut, lalu
menariknya ke dalam pelukan. Penantian dan kerja kerasnya selama ini
berbuah manis. Mulai saat ini, ia akan selalu ada untuk Cessa, kapan pun saat
anak perempuan itu membutuhkannya.
Karena Cessa adalah satu dari sejuta. Dan karena Surya adalah pangeran
untuknya. " THE END " Dendam Iblis Seribu Wajah 10 Bentrok Rimba Persilatan Karya Khu Lung Putri Putri Kesunyian 1
^