Pencarian

That Summer Breeze 2

That Summer Breeze Karya Orizuka Bagian 2


"Bohong," kata Reina tegas. "Kamu sebenarnya sangat butuh bantuan. Aku mau bantu kamu."
"Lo ngomong apa sih, Rei" Gue nggak butuh bantuan apa pun, apalagi dari seseorang yg nggak
berarti buat gue," sahut Ares ketus lalu meninggalkan Reina.
"Res, gue mau ngomong."
Ares menoleh ke arah Orion yg menyambutnya di pintu, lalu bersikap seolah menunggu Orion
berbicara. "Nggak di sini," kata Orion lagi, lalu berjalan ke pintu depan menuju teras. Ares mengikutinya.
"Apaan?" tanya Ares yg berjalan di belakang Orion.
Mendadak, Orion berbalik dan dengan secepat kilat meninju wajah Ares. Ares yg tak sempat
mengelak terhuyung ke belakang, lalu bergerak dengan buas ke arah Orion. Ares sudah
mengunggu begitu lama untuk melakukannya, sekarang kesempatan itu datang. Kesempatan
untuk menghajar Orion. Ares menarik kaus Orion, lalu meninju perutnya. Orion tak pernah bisa berkelahi dengan Ares.
Orion tidak sekuat Ares. Setelah meninju perut Orion, Ares meninju wajahnya.
Ares terengah-engah menyaksikan Orion terjatuh. Orion menatap Ares sengit.
"Kenapa lo, banci?" sahut Ares sambil menyeka darahnya dengan punggung tangan, lebih karna
luka semalam terbuka lagi daripada kerasnya tinjuan Orion.
"Kalo lo mau ngerebut Reina, jangan pake cara licik!" sahut Orion tanpa bisa bangkit karna
perutnya terasa kram. "Sok-sok pake masalah lo biar dia kasian!" Ares terdiam sesaat saat
menyadari kebenaran dari perkataan Orion. Reina kasihan terhadapnya karna dia adalah si anak
yg terbuang, anak yg bermasalah, anak yg butuh pertolongan, bukan anak yg keren, berbakat,
dan mempunyai dunia di tangannya. "Bangun lo," Ares menarik kaus Orion dan mengangkatnya
dengan sekali hentakan. "Kalo lo mau Reina, ambil aja. Gue nggak tertarik," kata Ares lagi
sambil mengempaskan Orion sehingga dia kembali terduduk di lantai teras. Ares menatap Orion
benci, lalu berbalik, bermaksud kembali masuk ke rumah. Tapi, dia mendapati Reina di ambang
pintu, sedang menatapnya kecewa. Ares membalas tatapan itu sebentar, lalu memutar haluan,
melewati Orion, kemudian menghilang di balik pagar. Reina menatap punggung Ares sampai
menghilang, lalu menghampiri Orion yg tampak kepayahan. "Kamu nggak apa2, Ri?" tanya
Reina sambil membantu Orion berdiri. "Nggak apa2," kata Orion sambil meringis. "Aku juga
salah, pake acara mukul dia. Jelas aja dia bisa bunuh aku." "Kenapa kamu pukul dia?" tanya
Reina heran. "Karna dia adalah dia," jawab Orion. "Apa kamu nggak pengen mukul dia sekali
aja?" Sebenarnya, Reina ingin memukul Ares karna perkataannya tadi. Ares mengatakan bahwa
dia tidak tertarik kepada Reina dan menyeragkannya begitu saja kepada Orion. Padahal,
semalam Reina yakin Ares sudah kembali menjadi Ares sepuluh tahun yg lalu.
Bab 4 Have a Little Faith REINA memerhatikan kalau setelah perkelahian itu, hubungan Ares dan Orion semakin buruk.
Mereka tak pernah bicara satu sama lain. Reina bahkan menyaksikan apa mereka memang
pernah berbicara. Reina mengamati Ares yg sedang mengambil baju di lemari. Semalam, Reina sempat berpikir
untuk menyerah tentang Ares, tapi tak bisa dilakukannya.
"Res, kenapa kamu nyerahin aku sama Orion?" tanya Reina tiba2, membuat Ares menghentikan
kegiatannya. "Ngomong apa sih lo?" kata Ares sambil meneruskan pekerjaannya memindahkan baju. Ares
memutuskan untuk memasukkan semua bajunya ke koper sehingga dia tidak harus masuk
kamar ini lagi selama Reina masih di sini.
"Kemaren kamu bilang kalo Orion mau aku, dia tinggal ambil aja. Apa maksudnya" Apa kamu
pikir aku ini barang" Aku berhak milih, Res!" sahut Reina.
"Trus, lo emangnya mau milih gue" Lo udah gila?" kata Ares dengan nada mencemooh.
"Ya, aku gila! Aku milih kamu! Emangnya kenapa aku balik lagi ke sini" Aku mau ketemu kamu!"
sahut Reina tegas. Ares menutup lemari, lalu menatap tajam mata Reina. Sepertinya gadis itu bersungguh-sungguh,
tapi Ares tak peduli. Tak ada seorang pun yg pernah memilihnya.
"Amerika ternyata udah ngubah lo jadi perayu ulung ya" Ck, ck... liat lo sekarang, Rei," sindir
Ares. Reina menggeleng. "Res, kamu tuh cuma skeptis! Kamu anggap aku sama dengan yg lain! Aku
beda Res, aku bener2 peduli sama kamu!"
"Rei, apa bedanya sih lo sama orang lain" Lo sama, lo khianatin gue juga!" seru Ares.
"Res, aku ngaku salah, aku lupa alamat rumah kamu, aku lupa nomor telepon kamu, selama
sepuluh taun aku berusaha nyari tapi bahkan papa-mamaku juga nggak inget! Pas tanggal 14
Februari, aku sampe nangis gara2 nggak tau mau ngapain! Aku kangen banget sama kamu,
Res," Reina mulai terisak. "Baru pas sebulan setelahnya, aku liat nama Orion di internet, setelah
itu baru aku nemu titik terang! Aku seneng banget waktu liat dia di sana. Dengan begitu aku bisa
dapet alamat kalian lagi, trus bisa ketemu kalian lagi!"
Ares sangat ingin memercayai cerita Reina, tapi entah mengapa Ares tidak ingin menerima
alasan itu begitu saja. "Res, please... Waktu di The Club, aku pengen cerita. Sebenernya, begitu nyampe sini aku udah
pengen cerita. Tapi karna kamu nggak pernah mau liat aku, kamu juga nggak keliatan seneng
ngeliat aku, aku jadi ragu. Aku sedih banget waktu Orion bilang kamu udah ngelupain aku..."
Ares menatap Reina yg sekarang sudah berhenti menangis.
"Res, kamu tuh cuma takut, ya kan" Kamu takut memercayai orang. Aku salah Res, aku pernah
sekali ngekhianatin kamu, tapi waktu itu aku masih kecil! Dan sumpah mati, aku nggak akan
ngelakuin itu lagi!" sahut Reina dengan seluruh sisa tenaganya.
Reina sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa tentang seorang anak laki2 yg sudah
kehilangan kepercayaan kepada semua orang ini. Ares terlalu menarik diri sehingga Reina tidak
bisa lagi menggapainya. Ares menatap Reina lama. Ares tahu, Reina benar. Ares suah terlaku takut untuk memercayai
siapa pun lagi. Ares takut jika dia memercayai Reina, dan jika Reina mengkhianatinya sekali lagi
maka Ares akan benar2 hancur.
"Res, all you have to do is have a little faith in me," kata Reina pelan.
Ares masih bergeming. Reina akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya pasrah.
"Ya udah kalo kamu masih nggak yakin. Kamu mau kuliah kan" Ntar, habis kuliah, kamu cepet
pulang ya. Aku mau buktiin kamu satu hal," Reina lalu tersenyum. "Buktinya cukup kuat lho,"
sambungnya lagi sambil mengedipkan mata lalu menghilang di balik pintu.
Selama beberapa saat Ares terdiam karna otaknya terasa membeku, lalu lanjut mengepak
bajunya. Ares tak pernah merasa ingin pulang secepat ini. Perkataan Reina tadi siang berhasil
membuatnya tidak berkonsentrasi pada perkuliahannya. Entah mengapa, Ares membiarkan
perasaan itu terus memenuhi hatinya. Perasaan yg tak pernah dirasakannya lagi semenjak
Reina pergi. Perasaan senang. Berbunga-bunga.
Ares melangkahkan kakinya ke atap untuk bersantai sejenak sebelum mengikuti kuliah
selanjutnya. Ares mengeluarkan sebatang rokok, memandangnya, lalu teringat kepada bekas
luka di telapak tangan Reina. Ares segera membuang rokok itu ke lantai semen.
Merasa sedikit bangga dengan dirinya sendiri, Ares menghela napas mantap dan melempar
pandangannya ke arah lapangan bakset. Lagi2, dia melihat Orion. Si banci itu sedang bertanding
di lapangan yg dikerubuti gadis2. Ares mendengus keras.
Mendadak, Ares mendapati Reina di bangku penonton, sedang berteriak-teriak menyemangati
Orion. Ares terdiam, tangannya terkepal keras sementara darahnya mendidih di kepalanya. Ares
bangkit sambil mengisap rokok itu dalam2.
Ares akhirnya kembali pada satu kesimpulan. Reina sama saja dengan orang lain.
"Hei, akhirnya pulang juga," Reina menyambut dengan wajah ceria saat Ares menampakkan diri
di pintu. Ares menatapnya datar, lalu melangkah masuk dan melewatinya begitu saja. Reina menatapnya
heran. "Res, dari mana aja sih" Tadi Orion menang lho," kata Reina polos.
Ares berusaha untuk tak memedulikannya. Dia bergerak menuju lemari es dan mengeluarkan jus
jeruk, lalu meneguknya langsung dari karton sampai habis.
"Res?" tanya Reina lagi setelah tak mendapatkan tanggapan. "Kamu kenapa" Ayo, aku tunjukin
bukti yg aku bilang itu. Orion udah nunggu."
Ares tak habis pikir betapa riangnya Reina menyebutkan nama Orion di depannya. Tapi Reina
sepertinya tidak sadar, karna dia sekarang sudah menarik tangan Ares dan membawanya ke
taman tempat dulu Ares, Orion, dan Reina memiliki perjanjian.
Orion sudah menunggu, duduk di bawah pohon akasia sambil memainkan bola basketnya. Ares
menatapnya sengit, yg langsung dibalas sama sengitnya oleh Orion. Reina melangkah menuju
pohon itu dengan riang, lalu menatap Ares.
"Sekarang, ayo kita buka surat permohonannya!" sahut Reina, membuat Ares terkejut.
Orion dan Reina seolah tak mengetahui keterkejutan Ares. Mereka sama2 menggali tanah tepat
di bawah pohon itu, lalu mengeluarkan kaleng biskuit yg dulu mereka kubur. Semua kenangan
itu berkelebat di otak Ares dengan cepat sehingga membuatnya pusing.
"Ini dia!" sahut Reina gembira sambil mengacungkan kaleng kotor itu, disambut cengiran Orion.
"Ayo, Res, kita sama2 baca!"
"Konyol banget," komentar Ares dingin, membuat senyuman Reina mendadak lenyap.
"Apanya yg konyol?" tanya Reina.
"Ya ini. Semua ini," kata Ares dengan nada mencemooh.
"Jadi kamu anggep perjanjian kita konyol?" seru Reina, tersinggung.
"Semuanya udah lewat, Rei! Kita bukan anak kecil lagi!" sahut Ares emosi.
Reina memandang Ares tidak percaya. "Nggak apa2 kalo kamu nggak mau baca surat
permohonan kita. Nggak apa2 kalo kamu anggep aku anak kecil. Tapi aku tetep bakalan buka
surat permohonan ini," kata Reina, lalu meletakkan kaleng itu di tanah untuk dibuka.
"Res, ini Reina," Orion tiba2 menghampiri Ares dan menatapnya tajam. "Ini bukan siapa pun yg
bisa seenaknya lo sakitin. Ini Reina. Gue nggak bakal ngebiarin lo nyakitin dia. Baca surat
permohonan lo." Ares merasa Orion terdengar sangat lucu saat mengatakannya. Seolah selama ini hanya Ares
saja yg menyakiti orang lain.
"Kalo nggak, kenapa?" tantang Ares.
"Baca aja," Orion menyurukkan gulungan kertas bernama Ares yg diambilnya dari dalam kaleng
ke tangan Ares. "Baca, Ri," kata Reina pelan setelah membuka gulungan kertasnya sendiri.
Orion menurut, lalu membuka kertasnya. Tulisannya: 'Aku pengen jadi arsitek!'. Orion tersenyum
sendiri, mengingat betapa polosnya dirinya dulu.
"Aku pengen jadi arsitek!" seru Orion, lalu tertawa.
Reina ikut tertawa kecil, kemudian menatap Ares. "Res?"
Ares mendengus sebentar, menggelengkan kepala, lalu membuka gulungan kertasnya.
Tulisannya: 'Aku pengen pegi ke bufan masa Ayah dan Ibu'. Ares menatap nanar kertas di
tangannya dengan perasaan yg campur aduk. Selama beberapa detik, Ares hanya membisu.
"Bukan apa pun yg penting," jawab Ares sambil meremas kertas di tangannya.
Orion dan Reina menatapnya bersamaan. Ares sendiri berusaha sebisa mungkin mengendalikan
emosinya. "Res, udah gue bilang lo jangan nyakitin Reina," kata Orion serius. "Lo pikir gue takut sama lo"
Jangan mentang2 lo preman, gue jadi takut sama lo!"
"Mau lo apa sih?" balas Ares. Mood-nya benar2 jelek hari ini. "Atlet yg serba bisa" Kebanggaan
keluarga" Cowok populer?"
"Sialan lo!" Orion menyerbu Ares -yg segera saja sigap dan menepis tinjuannya. Reina menekap
mulutnya. "Ares! Orion! Berhenti!" sahutnya sambil berusaha memisahkan Ares dan Orion. "Please, jangan
berantem! Aku jadi sedih, nih!"
Orion berhenti menyerang Ares. Ares menatap Orion benci. Orion tidak memedulikannya, lalu
berpaling kepada Reina. "Sori Rei. Sekarang apa keinginan kamu?" tanya Orion.
Reina terdiam, lalu membuka gulungan kertasnya. Dia menutupnya lagi, lalu memandang Orion
dan Ares bergantian. "Aku mau kalian berdamai," kata Reina pelan, disambut tawa Ares yg membahana.
"Apa lo bilang" Lo sama aja minta gue cium dia!" sahut Ares. Reina menatap Ares yg sekarang
sudah tertawa lagi. "Lo tau" Udah gue bilang ini konyol," kata Ares lagi, lalu melangkah pergi.
"Rei," Orion memegang pundak Reina. "Aku minta maaf, tapi permohonan kamu emang nggak
mungkin." Reina memandang sedih Ares yg sudah menghilang di balik tanaman.
Ares mengisap rokoknya dalam2 hingga dadanya terasa sakit. Setelah makan malam, dia
segera keluar dari rumah untuk menghindari interaksi lebih lanjut dengan semua orang. Ares
hampir saja tidak bisa mengendalikan emosinya ketika melihat Ayah dan Ibu saat makan malam
tadi. 'Aku pengen pegi ke bufan masa Ayah dan Ibu'
Ares mengisap rokoknya lagi, menahan segala keinginannya untuk menangis.
"Sialan!" serunya sambil melemparkan batu ke lapangan basket.
Ares membenturkan belakang kepalanya ke pohon akasia. Saat ini, dia sedang berjongkok tepat
di atas galian kaleng tadi sore. Seharusnya Ares tak pernah menjadi bagian dari surat
permohonan ini. Saat menulis surat itu, Ares masih mengalami gangguan menulis yg parah.
Membacanya sekarang benar2 membuka luka lama.
"Res?" Ares tidak perlu menunduk untuk mengenali suara itu. Jadi, Ares kembali mengisap rokoknya
dan bisa mendengar Reina berjalan mendekatinya. Ares masih tidak mau melihatnya bahkan
ketika Reina sudah berjongkok tepat di depannya.
"Kenapa kamu jadi ngerokok lagi, sih?" tanya Reina pelan sambil mencabut rokok dari tangan
Ares. Ares menundukkan kepalanya, dan mendapati wajah cantik Reina hanya berjarak dua jengkal
darinya. Reina menatap Ares dengan cermat, sementara Ares langsung mengalihkan
pandangannya. "Udahlah Rei, nggak perlu susah payah lagi," kata Ares lelah. "Gue bukan tipe orang yg ngasih
kesempatan kedua. Itu berlaku buat orang lain. Kenapa dengan lo harus beda?"
"Karna aku sayang sama kamu," kata Reina jujur.
Ares menatapnya sebentar, lalu tertawa. Reina dapat mencium bau rokok dari napas Ares.
"Res, aku nggak bohong," kata Reina serius sehingga Ares menghentikan tawanya. "Aku sayang
banget sama kamu." "Kayak lo sayang sama Orion?" sambar Ares cepat. "Kalo gitu, simpen aja rasa sayang lo buat
dia. Gue nggak perlu."
"Nggak sama," kata Reina pelan. "Dulu, aku pikir, aku sayang sama kalian berdua. Tapi setelah
beranjak dewasa, aku sadar kalo aku lebih sayang sama kamu. Dari kecil aku suka sama kamu.
Kalo sama aku, kamu baik banget, sementara kamu nggak baik sama semua orang. Aku
ngerasa spesial kalo deket kamu, Res. Sepuluh taun ini, aku tumbuh dengan bayang2 kamu tiap
aku mau deket sama cowok. Kamu boleh tanya papa-mamaku, I was like dying to meet you."
Ares memberanikan diri kembali menatap Reina. Ares tiba2 memiliki ide gila untuk merekam
semua kata2 indah Reina. Walaupun demikian, Ares masih belum ingin percaya.
Reina mendesah. "Aku ngamuk2 minta beiliin tiket ke sini, tapi papa-mamaku bilang aku nggak
boleh pergi karna aku nggak tau alamat kamu. Aku bilang aku berani cari sendiri setelah sampe
di sini, tapi mereka tetep nggak ngebolehin. Aku bisa apa, Res?"
Ares tetap bergeming, sibuk mencerna segala ucapan Reina. Hati dan otaknya mulai bergulat. Di
satu sisi Ares ingin memercayai kata2 Reina, tapi di sisi lain Ares takut untuk memercayainya.
"Res, kalo itu belum cukup bukti, ini bukti aku yg terakhir," Reina menyerahkan gulungan kertas
yg diyakini Ares sebagai surat permohonan mereka. Ares mengernyit heran. "Kalo ini juga nggak
bisa ngeyakinin kamu, aku nyerah," sambung Reina.
Ares tak mengerti dengan sikap Reina. Bukankah tadi gadis itu sudah membukanya, isinya
supaya Ares dan Orion berdamai" Walaupun tak mengerti, Ares tetap membukanya juga.
Seketika, dia tertegun. Tulisan itu tulisan tangan Reina sepuluh tahun yg lalu. Besar2, tegak bersambung, dan
berantakan. Tulisannya: 'Reina pengen selalu bersama Ares, habis Reina suka sama Ares!'.
Ares tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin melonjak setinggi-tingginya. Dia ingin lari sejauhjauhnya. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi, dia tidak melakukannya. Ares hanya
membeku di tempat, terlalu terkejut atas perubahan besar dalam hidupnya.
Seseorang mengharapkannya. Seseorang memilihnya. Seseorang ingin selalu bersamanya.
Seseorang suka padanya. Seseorang itu bernama Reina, gadis yg selama sepuluh tahun ini memenuhi mimpi-mimpinya.
Gadis yg sangat diinginkannya lebih dari apa pun di dunia ini. Dan sekarang, gadis itu ada tepat
di depannya. "Res?" kata Reina menyadarkan Ares.
Ares menatap mata Reina lekat2, tapi tak menemukan setitik pun kebohongan di sini. Walaupun
ada, Ares tidak mau tahu. Saat ini, Ares akan mengambil risiko. Ares tidak pernah mendapatkan
kebahagiaan untuknya sendiri.
Ares membenturkan kepalanya lagi ke pohon, tanpa melepaskan pandangannya dari Reina.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada lelah.
Reina tersenyum simpul. "Karna kamu adalah kamu."
Sepanjang hidupnya, Ares tidak pernah mendapatkan jawaban sememuaskan itu. Jadi, Ares
tersenyum kepada Reina. Baru kali itu Ares tersenyum kepada orang yg tepat, dan Reina adalah
orang yg tepat. Reina ikut tersenyum, penuh kelegaan. Akhirnya, Reina bisa menemukan Ares yg dulu. Ares yg
dicintainya. Ares yg peduli padanya. Reina sangat bahagia sampai2 ingin menangis.
"Nih," Ares tiba2 menyerahkan sebungkus rokok kepada Reina yg langsung bengong. "Boleh
kamu apain aja. Aku nggak bakal ngerokok lagi." Sekarang, Reina sudah benar2 menangis. Ares
sampai bingung dibuatnya.
Ares terbangun mendadak di esok harinya. Dia ketiduran. Semalam, Ares berjanji kepada dirinya
sendiri untuk tidak jatuh tertidur. Ares takut semua yg terjadi semalam hanya mimpi. Namun,
ketakutan Ares berlebihan karna begitu bangun, Reina ada di dapur, membantu Ibu menyiapkan
sarapan. Ares menghela napas, menyeka keringatnya, lalu melihat Reina sekali lagi. Ini bukan mimpi.
Reina tersenyum manis ke arahnya. Ares terlalu kaget sehingga tak membalas senyuman itu.
Dia malah bangkit, mencuci muka, lalu kembali terduduk di sofa. Reina masih di sana, wajahnya
berubah khawatir. Ares sendiri menatap Reina bimbang. Walaupun Reina ada di sana, tidak berarti semua yg
terjadi semalam adalah kenyataan.
"Res, sarapan dulu," kata Ibu sambil mengoleskan selai pada roti yg akan diberikannya pada
Orion.

That Summer Breeze Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ntar aja. Mau nonton berita," kata Ares tanpa melepaskan pandangan dari Reina yg balas
memandangnya heran. "Aku juga nonton berita ah," Reina membawa beberapa tangkup roti, lalu duduk di samping
Ares. Sementara Ares menatapnya bingung, Reina tersenyum jail, lalu menggenggam tangan Ares
dan menyembunyikannya di balik bantal. Ares hanya bisa bengong.
Reina menyerahkan setangkup roti berisi telur pada Ares. "Sarapan, Res."
Ares memerhatikan roti isi itu, merasakan tangan Reina yg hangat, lalu menerima rotinya
dengan tangannya yg bebas. Ares memakan roti itu tanpa banyak bicara, karna dia kesulitan
hanya untuk menelannya. Dari dapur, Orion memerhatikan Ares dan Reina. Ada sesuatu yg tak diketahuinya, Orion tahu
betul itu. "Rei?" panggil Orion membuat Reina menoleh sedikit. "Jangan lupa lho, ada pertandingan lagi
ntar siang." "Oh, iya," jawab Reina seadanya.
Sebenarnya, Reina tak mendengar sepatah pun perkataan Orion -juga perkataan si pembawa
berita. Reina terlalu senang karna sekarang tangan Ares sedang menggenggam tangannya erat.
"Hei, hari ini kamu ada acara nggak?" tanya Reina setelah ruang keluarga sepi. Ayah pergi ke
kantor, Ibu ke supermarket, sedangkan Orion sudah berangkat kuliah.
"Nggak ada," jawab Ares singkat. Hari ini, dia memang tidak punya jadwal kuliah.
"Kalo gitu, ayo bergerak!" sahut Reina sambil menarik tangan Ares sehingga Ares bangkit.
"Bergerak?" tanya Ares tak mengerti.
"Jalan!" sahut Reina ceria.
Ares tahu ini akan menjadi hari yg terpanjang dalam hidupnya.
"Kita ke mana dulu, ya?" kata Reina riang.
Saat ini, Ares dan Reina sudah berada di mal. Reina tadi menarik paksa Ares ke luar rumah.
Ares sendiri tak begitu menyukai mal dan hanya pernah beberapa kali saja ke mal seumur
hidupnya. Sekali saat mengantarkan Lala ke toko buku, sekali lagi saat Dipo mengajaknya
makan2 dari hasil usaha mereka yg pertama.
Ares berjalan tanpa semangat. Reina menatapnya bingung.
"Res" Kamu baik2 aja?" tanyanya, dan Ares mengangguk pelan tanpa suara.
Reina ikut mengangguk-angguk, tapi tampak bimbang. Mereka kembali berjalan, beberapa
pasang melewati mereka sambil bergandengan mesra. Reina memandang mereka iri.
"Res" Kamu tau" Biasanya kalo ke mal cowok ngegandeng tangan ceweknya, lho," kata Reina.
"Oh ya?" tanya Ares sambil memerhatikan beberapa pasangan yg lewat, tanpa mengeluarkan
kedua tangannya dari saku celananya.
Reina menatap Ares tak percaya. Ares berhenti saat menyadari kalau Reina ternyata sudah
lama berhenti. Ares memutar badan, lalu memandang Reina heran.
"Kenapa kamu" Capek?" tanya Ares tak berperasaan.
Reina mengangakan mulutnya, mendengus kesal sebentar, lalu berjalan cepat ke arah Ares
untuk mengeluarkan kedua tangan dari sakunya secara paksa. Ares bengong melihat kelakuan
Reina. Setelah berhasil mengeluarkan tangan Ares, Reina menggandeng tangan kanannya, lalu
menarik Ares untuk melanjutkan perjalanan.
Ares merasa malu atas kelambatan berpikirnya. Tapi, dia lebih merasa malu karna sekarang dia
menggandeng seorang gadis di tempat umum. Keadaan dan waktu memang sudah membuat
Ares menjadi buta dalam hal memperlakukan gadis.
Walaupun demikian, Reina tak mempermasalahkannya. Reina sudah sangat senang karna bisa
bersama Ares. Reina membelikan beberapa kaus untuk Ares. Awalnya Ares selalu menolak dan
mengembalikan semua kaus ke tempatnya semula, tapi saat Ares lengah, Reina langsung
mengamailnya kembali dan membayarnya.
Sudah sekitar dua jam Ares dan Reina mengitari mal, dan Ares sudah cukup lelah. Tapi
sepertinya Reina tidak memiliki tanda2 itu. Ares memerhatikan Reina yg sedang asyik memilihmilih sepatu.
Ares masih belum memercayai ini. Reina sedang bersamanya. Sebelumnya, Ares hanya pernah
membayangkannya saja. Tapi saat ini benar2 terjadi, Ares tak bisa melakukan apa pun
terhadapnya. Ares terlalu gugup hingga otaknya terasa kosong.
"Res" Bengong mulu. Ayo jalan lagi," Reina kembali meraih tangan Ares.
Ares hanya mengikutinya pasrah. Karna tak pernah berolah raga, kaki Ares terasa kram setiap
kali melangkah. Tahu2, Reina melihat boks foto. "Res, kita foto yuk!" ajaknya.
"Ah, nggak pake!" sahut Ares, tak sengaja menyentak tangan Reina. Seumur hidupnya, Ares tak
pernah difoto, kecuali untuk keperluan sekolah.
Reina langsung pasang ekspresi merajuk. Ares berdecak. Ares tak menyukai hal2 seperti ini.
Menurutnya, ini hanya membuang-buang waktu, juga uang.
"Ayolah Res... Masa kita nggak punya foto" Sekali... aja. Ayo dong!" sahut Reina memohon.
Ares menatapnya kesal sejenak sebelum akhirnya luluh oleh tatapan mata Reina.
"Ya udah. Sekali aja ya," kata Ares membuat Reina melonjak gembira.
Reina segera menghampiri penjaga counter foto, lalu menarik Ares memasuki boks seukuran
satu kali satu setengah meter itu. Ares mengikutinya dengan ogah-ogahan.
"Res, senyum ya, please... senyum buat aku, oke?" pinta Reina.
Ares tak mengatakan apa pun. Ares hanya menatap pantulan wajah di layar depannya. Wajah
yg persis dengan orang yg dibencinya. Inilah tepatnya yg menyebabkan Ares tak pernah mau
berhubungan dengan apa pun yg menyangkut wajahnya.
"Res?" sahut Reina membuat Ares sadar.
Ares menatap Reina dengan pandangan memohon untuk tiak jadi berfoto. Reina langsung
paham. Reina mengacak rambut Ares sehingga rambut ikalnya jatuh di depan matanya.
"Udah nggak mirip Orion lagi, kok," kata Reina, lalu mengecup dahi Ares cepat.
Ares membatu beberapa saat, merasakan saraf-sarafnya tiak dapat berfungsi lagi. Reina sendiri
tersenyum nakal dan mulai mengoperasikan mesin foto setelah beberapa saat mempelajarinya.
"Senyum ya Res," pinta Reina lagi, dan mesin mulai mengeluarkan aba2.
Ares tidak punya kesulitan untuk tersenyum lagi.
"Wah, Ares cute deh," komentar Reina sambil mengamati hasil foto boks tadi. Wajah Ares
seketika memerah. "Tambah cinta jadinya," sambung Reina lagi.
Ares tahu berhasil tidak membuat es krim di mulutnya menyembur ke mana2 walaupun
telinganya memanas. Reina tertawa kecil melihat ekspreri Ares, lalu mulai menyendok es krim dan memasukkan ke
mulutnya. Tapi dia tidak berhati-hati sehingga es krim itu belepotan di sekeliling mulutnya. Reina
tampaknya tidak sadar, sementara Ares sudah ingin tertawa.
"Rei, itu," kata Ares. "Mulut kamu belepotan."
Reina menatap Ares sebal. "Res, nggak sopan ngomong kayak gitu ke perempuan. Kamu
harusnya ngebersihin," Reina menyerahkan tisu kepada Ares yg jelas kebingungan. "Ayo,
bersihin. Aku kan nggak bisa liat," katanya lagi sambil menyodorkan wajahnya.
Ares menatap Reina ragu2 sebentar -merasakan gejolak hebat dalam hatinya, juga gemetar yg
hebat pada tangannya- lalu akhirnya menyerahkan kembali tisu itu kepada Reina.
"Kamu aja deh. Takut nyolok mata," kelit Ares cepat.
Reina menghela napas kesal, lalu mengambil tisu itu dan mengelap es krim di bibirnya.
"Emangnya kamu kenapa" Buta?" sindirnya, membuat Ares hanya tersenyum simpul.
Setelah itu, Reina memerhatikan Ares yg tampak tenang memakan es krimnya. Reina benar2
jatuh cinta kepada laki2 ini. Dia tak seperti laki2 lain yg pernah dijumpai Reina. Ares terlihat
sangat dewasa di luar segala permasalahannya, sekaligus terlihat seperti anak kecil yg sangat
butuh perhatian. Tanpa sengaja, Ares menyenggol es krimnya sehingga es berwarna putih itu menghiasi pipinya.
Reina dengan sigap membersihkannya, tapi tanpa menggunakan tisu. Reina malah menjilat
jarinya yg belepotan es krim dari pipi Ares, membuat Ares mengangakan mulutnya lebar2.
"American," komentar Ares sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Idiot," balas Reina, lalu tertawa renyah.
Orion menatap jam dinding. Pukul lima tiga puluh sore, dan Reina masih belum tampak. Tadi
siang, Reina tidak menepati janjinya. Reina tidak datang untuk menyemangati Orion.
Mendadak pintu depan terbuka, membuat Orion tersadar. Reina memasuki rumah, diikuti Ares.
Orion memandang mereka penasaran. Ares membawa begitu banyak kantung belanjaan dengan
berbagai merek. Orion menduga Reina baru saja pergi ke mal dengan Ares.
"Oh, hai, Ri," sapa Reina ceria begitu melihat Orion.
Orion menatap Reina tak percaya. Bisa-bisanya gadis itu mengucapkan 'hai' saat dia baru
mengingkari janjinya. Ares melewati Orion dan meletakkan belanjaan Reina di samping sofa. Tanpa memedulikan
ekspresi Orion yg terlihat marah, dia mengambil jus jeruk dari lemari es dan meneguknya sampai
habis. Setelah itu, dia membawa sepotong brownies keluar rumah menuju gazebo. Reina baru
saja hendak mengikuti Ares, tapi Orion mendengus keras.
"Aku nggak percaya ini," kata Orion geram.
"Apa?" tanya Reina polos sambil menatap Orion bingung.
"Apa" APA" Reina, pertandingan?" sahut Orion. Reina segera menepuk dahinya.
"Ya ampun!" sahut Reina, lalu segera menghampiri Orion. "Ri, sori! Sori banget! Aku lupa!"
Orion mengangguk-angguk skeptis. "Kamu abis jalan sama Ares?" tanyanya dingin.
"Iya," jawab Reina dengan nada bersalah. "Tapi aku nggak ada maks-"
"Jadi jalan sama Ares lebih penting dari pertandinganku," kata Orion, lalu melangkah gontai
menuju kamarnya. "Aku ngerti."
Orion menghilang di balik pintu kamarnya. Reina menjambak rambutnya, lalu terduduk di sofa
menyesali kecerobohannya. Reina jadi membenci dirinya sendiri, dan dia tidak bisa membiarkan
ini berkelanjutan. Jadi, Reina bangkit dan melangkah ke kamar Orion. Dia mengetuk pintunya.
"Ri, maafin aku ya" Aku janji nggak bakal lupa lagi deh," kata Reina sambil mengetuk pintunya
lagi. "Ri" Rion" Please, don't do this to me... Besok aku tonton deh..."
"Besok nggak ada pertandingan," balas Orion dari dalam kamar.
"Ya udah, pokoknya, pas ada pertandingan lagi, aku pasti dateng! Aku janji!" sahut Reina lagi.
Orion terdiam sebentar, lalu membuka pintunya. "Rei, tadi aku kalah," katanya pelan. "Aku nyari
kamu di bangku penonton, kamu nggak ada. Aku jadi nggak konsen takut ada apa2 terjadi sama
kamu. Tapi kamu malah jalan sama Ares."
"Ri, sori banget," sesal Reina dengan pandangan memohon. "Ri, please, maafin aku... Aku lupa
banget... Nggak lagi2 deh! Janji!" sambungnya, lalu mengacungkan jari kelingkingnya.
Orion menatap Reina sejenak, lalu tersenyum. "Aku pegang janji kamu," katanya sambil
mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Reina.
Sementara itu, Ares melempar mereka tatapan tajam sebelum masuk ke kamar mandi.
"Res! Tunggu!" sahut Reina begitu Ares sampai di pagar.
Pagi itu, Ares akan berangkat kuliah. Reina berlari-lari kecil menyusulnya. Ares menatapnya
heran sesaat, lalu membuka pagar dan meneruskan berjalan. Reina mengikutinya.
"Mau ngapain kamu?" tanya Ares akhirnya.
"Mau ikut kamu ke kampus," jawab Reina.
Ares mengernyitkan dahi, lalu kembali berjalan tanpa menunggu Reina. "Aku jalan kaki," kata
Ares lagi. "Nggak apa2," Reina mencoba menyamakan langkahnya dengan Ares, tapi langkah Ares terlalu
besar. "Aku naik angkutan umum," kata Ares lagi, takut Reina tidak mengerti maksudnya. "Bus umum.
Kamu tau kan?" "Tau," Reina menjawab dengan ekspresi bingung, tak mengerti apa yg dipermasalahkan Ares.
Ares mulai kesal. "Kenapa kamu nggak ikut Orion aja sih" Dia kan naik motor."
"Tapi aku maunya bareng kamu," kata Reina manja sambil memeluk tangan Ares.
Ares tak punya pilihan lain selain membiarkannya.
Ares menghela napas lega. Akhirnya, mereka bisa juga sampai dengan selamat di kampus,
setelah tadi di bus Reina hampir dikerjai beberapa laki2 brengsek. Begitu naik bus yg penuh
sesak, Reina langsung menjadi pusat perhatian. Ares harus berjuang keras untuk
melindunginya. Ares juga sempat memarahi Reina karna memakai rok mini yg membuat
beberapa tangan usil ingin menjawilnya -walaupun tak pernah kesampaian karna Ares selalu
menampar tangan-tangan itu.
Reina menoleh dan berjalan mundur tepat di depan Ares. "Ares! Ayo cepet dikit! Lambat, ah!"
serunya sambil melambaikan tangan.
Ares menganggapnya sebagai pemandangan yg indah. Rambut Reina yg panjang tertiup angin
sehingga melayang lembut. Senyuman indah yg terlukis di wajah Reina membuat Ares tak ingin
berhenti menatapnya. "Res, ntar selama kamu di kelas, aku liat Orion latihan ya," kata Reina, membuat khayalan indah
Ares seketika terbang tertiup angin.
"Terserah," kata Ares dengan ekspresi datar.
Reina tertawa kecil, lalu berbalik dan berlari meninggalkan Ares. Entah kenapa Ares merasakan
sesuatu akan terjadi saat Reina berpaling.
Sesuatu yg buruk. Setelah selesai kuliah, Ares mencari sosok Reina. Selama di kelas, Ares tak bisa berhenti
memikirkan perasaan aneh yg tadi timbul saat melihat Reina pergi. Ares terlalu takut
meninggalkannya dengan Orion. Ares takut Orion akan kembali mengambil satu-satunya
miliknya. Ares melangkah cepat ke arah lapangan basket dan mendapati Orion sedang duduk di bangku
penonton, tapi Ares tidak mealihat Reina. Ares mengedarkan pandangannya ke seluruh taman,
tapi Reina tidak ada di mana pun.
"Lo liat Reina?" tanya Ares pada Orion.
Orion tampak terkejut, tapi langsung membuang muka. "Tadi katanya pengen nyari minuman."
Ares menatap Orion benci, lalu mengalihkan pandangan ke arah lapangan basket. Raul ada di
seberang lapangan bersama kroco-kroconya, sedang mengawasi Ares dan Orion.
Tiba2, perasaan itu muncul lagi. Ares memicingkan matanya ke segala arah dengan panik.
Beberapa saat kemudian, terdengar keributan dari arah depan kampus. Ares dan Orion
berpandangan sebentar, lalu berlari bersama-sama ke luar kampus.
Ares berlari dengan sekuat tenaga, tapi dengan cepat dia kehabisan napas. Rokok telah
membuat napasnya jauh lebih pendek. Orion telah mendahuluinya, dan Ares baru sampai di
depan kampus beberapa menit setelahnya.
Di depan kampus ternyata sedang terjadi tawuran antar SMA. Ramai sekali sehingga Ares
kehilangan Orion. Satpam kampus segera mengunci pagar supaya anak2 SMA yg brutal itu tidak
memasuki wilayah kampus. Ares berlari ke pagar tanpa memedulikan larangan semua orang,
lalu mulai mencari sosok Orion.
Orion tidak bisa berkelahi. Walaupun badannya besar dan bertenaga, Orion selalu kalah dalam
berkelahi. Ares mencari-cari dalam keramaian, tapi dia tidak bisa menemukan Orion.
"Res!" Terdengar suara Orion dari belakangnya.
Ares menoleh, ternyata Orion baik2 saja. Dia ada di wilayah kampus, tapi wajahnya menyiratkan
kepanikan yg luar biasa. Baru saja Ares akan menarik napas lega, Orion kembali berteriak.
"Res! Reina di sana!" sahut Orion sambil menunjuk ke arah keramaian.
Ares menolehkan kepalanya, lalu mendapati Reina sedang menunduk ketakutan di seberang
jalan. Dia berteriak-teriak minta tolong, tapi tak seorang pun menolongnya. Ares merasakan
darahnya mendidih, lalu mulai menggoyang-goyangkan pagar agar terbuka.
"Ares! Sedang apa kamu"!" sahut satpam panik.
"Buka pagarnya, Pak! BUKA SEKARANG!" sahut Ares kalap.
Satpam tidak mau melakukannya sehingga Ares nekat memanjat pagar dan meloncat ke luar.
Dia menyeruak di antara kerumunan yg membawa batu dan balok kayu, lalu berlari sekuat
tenaga ke arah Reina yg menunduk sambil melindungi kepalanya. Tubuhnya tampak gemetar.
"Rei!" sahut Ares membuat Reina mendongak.
Reina sangat senang melihat Ares. Tadi, dia hanya keluar sebentar untuk membeli minum, tapi
tak menyangka akan terjadi tawuran.
"Kamu nggak apa2, Rei?" sahut Ares lagi sambil melindungi kepala Reina dari serangan
berbagai benda terbang. "Ayo masuk kampus!"
Reina baru akan berdiri ketika dia melihat sebuah batu melayang tepat ke arah mereka.
"Awas Res!" sahut Reina, dan Ares segera merunduk tepat di atasnya.
Ares merasakan sesuatu telah menghantam kepalanya, dan seketika bagian belakang
kepalanya menjadi hangat. Reina menekap mulutnya, sementara Ares merasa tak ada waktu
untuk terkejut. Ares segera menarik Reina menyebrangi jalan, lalu melindunginya sementara
Reina memanjat pagar kampus.
Beberapa anak SMA berusaha memukuli Ares tanpa alasan yg jelas. Ares terpaksa memukul
beberapa di antara mereka, untuk melindungi dirinya sendiri agar tak celaka. Ares tak menyadari
betapa dia sudah terlibat begitu jauh dalam perkelahian itu. Dia tak mendengar ketika sirine
polisi berbunyi. Yg berikutnya dia tahu, dia sudah berada di dalam truk menuju kantor polisi.
Ares menyandarkan kepala ke dinding sel. Kepalanya terasa sangat sakit dan berdenyut hebat.
Darahnya sudah mengering, tapi Ares tak begitu peduli. Ares sedang memikirkan bagaimana
nasib Reina. "Antares?" sahut seorang polisi muda. Ares menoleh. "Kamu boleh keluar. Orangtua kamu
sudah menjemput." Dengan terhuyung, Ares bangkit lalu berjalan dengan gontai. Ayah sudah menunggunya di
depan kantor polisi, ekspresi wajahnya mengeras saat melihatnya muncul. Dengan segera, Ares
tahu bahwa ini akan menjadi akhir hidupnya.
Seharusnya Ayah tak usah menjemputnya saja.
"BERAPA KALI AYAH BILANG, JANGAN BIKIN MASALAH LAGI!" sahut Ayah setelah
menempeleng Ares untuk kesekian kalinya.
Ares ambruk ke lantai dengan posisi berlutut. Ares berusaha keras meredam emosinya yg
membuncah. "IKUT TAWURAN! MASUK KANTOR POLISI! MAU KAMU APA SIH"! BELUM CUKUP KAMU
BUAT AYAH MALU?"" sahut Ayah sambil menampar Ares sekali lagi. Ares bergeming.
"SELALU BIKIN MASALAH! SELALU BERKELAHI! KAMU PIKIR KAMU HEBAT, APA"! KAMU
MAU NANTANG AYAH, HAH?"" Ayah menarik kerah baju Ares, lalu mengangkatnya sampai
Ares berdiri. "AYO! PUKUL AYAH! KAMU HEBAT, KAN" KAMU JAGOAN, KAN" AYO!"
Ares hanya menatap Ayah tanpa ekspresi sementara kedua tangannya terkepal erat2. Sekuat
tenaga, dia menahan diri. Ares tak mau berbuat khilaf dengan memukul Ayah.
Ayah mengempaskan Ares ke lantai sehingga kembali berlutut, lalu terduduk di sofa ruang
keluarga sambil memegang dadanya erat2. Jantungnya pasti kambuh lagi.
"Kamu ini Res, apa sih yg ada di otak kamu" Apa cuma berkelahi" Apa kamu nggak bisa
membuat Ayah bangga" Apa kamu bahkan nggak bisa membuat Ayah merasa punya seorang
anak, bukannya preman?" keluh Ayah dengan volume yg jauh lebih kecil. "Apa yg bisa membuat
kamu berhenti berkelahi, hah" Apa" Kematian" Apa kamu baru bisa berhenti setelah kamu


That Summer Breeze Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bunuh anak orang atau kamu mati" Apa Res?"
Ares tak menjawab. Hatinya terasa terlalu sakit. Kalau Ares bicara sekarang, Ares pasti akan
berteriak, atau malah menangis.
Ayah mendesah pelan, lalu bangkit sambil memegangi dadanya. Sebelum pergi, dia melirik
Ares. "Ayah nggak akan heran kalau suatu saat kamu yg menyebabkan kematian Ayah," kata Ayah
lelah, lalu terseok ke dalam kamarnya.
Selama beberapa menit, Ares terduduk dalam diam. Matanya nyalang menatap sofa tempat tadi
Ayah duduk, pikirannya berkecamuk. Tak lama, Orion masuk ke rumah dan menatap Ares
kasihan. Ibu muncul setelahnya, juga dengan tatapan yg sama. Reina, yg masuk terakhir,
tampak berlinang air mata. Dia menekap mulutnya lalu segera berlari ke dapur.
Orion mengamati Ares, bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi, dia urung
melakukannya dan masuk ke kamar setelah menggelengkan kepala. Ibu baru saja akan
menghampiri Ares ketika Ayah berteriak dari dalam kamar meminta obat jantungnya. Ibu segera
tergopoh-gopoh mencarikan obat untuknya, lalu masuk kamar.
Reina kembali dengan baskom penuh air, lap, dan beberapa balok es. Reina membantu Ares
naik ke sofa. Ares tampak sangat kacau. Bagian belakang kepalanya berdarah, sedangkan
pelipis serta mulutnya robek.
Ares hanya menunduk. Dia tidak berani membalas tatapan Reina. Hatinya begitu hancur.
Reina memasukkan lap ke air yg sudah diberi es batu, memerasnya lalu mulai membersihkan
luka pada pelipis Ares. Reina memegang pipi Ares, lalu menariknya sehingga Ares mau tak mau
berhenti menunduk dan melihat Reina. Reina dengan sabar mengelap darah pada luka Ares.
Reina tampak berusaha menahan tangis, tapi air matanya tetap mengalir dari kedua matanya.
Reina berhenti mengelap, lalu menatap kedua mata Ares. Reina mengerti kesedihan Ares yg
mendalam hanya dengan melihat matanya.
Ares pun tak bisa menahannya lagi. Air mata mulai menetes dari matanya. Reina mengusap
kepala Ares, lalu menariknya ke pelukannya.
Untuk beberapa lama, Ares menangis di pelukan Reina seperti anak kecil. Dia meredam isaknya
dengan membenamkan kepalanya dalam2 ke bahu Reina sementara Reina hanya bersabar
menunggu, sambil mengusap kepala Ares yg bocor dan dipenuhi darah kering. Setelah tangis
Ares mereda, Reina kembali membersihkan darah pada luka2 Ares. Ares memerhatikan Reina
yg sibuk bekerja. "Sakit, Res?" tanya Reina lirih saat Ares sedikit berjengit saat luka di kepalanya dibersihkan.
"Nggak seberapa," jawab Ares pelan.
Reina sangat mengerti apa yg dimaksudkan Ares. Luka di hati Ares pasti terasa jauh lebih
menyakitkan dibandingkan luka luar mana pun yg pernah diderita Ares.
Setelah selesai membersihkan kuka, Reina segera membalutkan perban ke kepala Ares,
memberi obat pada luka di pelipisnya, dan akhirnya memberikan obat pereda nyeri. Ares
menelan pil itu tanpa banyak bicara.
Ares memerhatikan Reina yg sibuk membereskan alat-alatnya. Ares beruntung masih memiliki
Reina. Jika Reina tiak ada, Ares pasti sudah berpikiran untuk bunuh diri sekarang. Ares tidak
sekuat itu. Selama ini, Reina lah yg menjadi alasannya hidup.
Reina kembali dari dapur dan duduk di samping Ares. Reina menoleh, menghela napas, lalu
menatap kedua mata Ares. "Jadi" Mau cerita sesuatu?" tanyanya lembut, membuat Ares tiba2 merasa aman untuk pertama
kalinya. Semuanya keluar dari mulut Ares begitu saja. Ares menceritakan kepada Reina tentang
ketidakadilan yg diterimanya semenjak kecil, tentang dirinya yg selalu dibandingkan dengan
Orion, tentang dirinya yg bahkan tidak pernah menjadi prioritas kedua, tentang dirinya yg selalu
disalahkan atas apa yg tidak dilakukannya, semuanya mengalir bagaikan air. Reina
mendengarkannya dengan saksama, sesekali menekapkan mulut, tidak percaya atas cerita
Ares. "Orion yg pinter, Orion yg atlet, Orion yg kelas aksel, Orion yg dapet beasiswa, Orion yg anak
baik2, semua selalu tentang dia," kata Ares emosi. "Tapi begitu menyangkut aku, semua diam.
Bahkan banyak temen Ayah yg nggak tau dia punya anak kembar. Ayah begitu malu punya anak
kayak aku! Anak yg nggak bisa diandelin! Anak yg bahkan nggak bisa baca tulis!"
Reina menatap Ares bingung. Ares pun sadar kalau dia belum memberitahu Reina bahwa dia
menderita disleksia. "Rei, aku disleksia," kata Ares pelan sambil menyerahkan kertas dari kaleng biskuit yg selalu
dibawanya ke mana2 kepada Reina. Dapat ditebak, reaksi pertama Reina adalah terkejut saat
membacanya. "Jangan kasihanin aku," sambung Ares kesal. "Aku nggak butuh itu."
"Nggak," kata Reina cepat, lalu mengalihkan pandangannya dari kertas kumal itu. "Kamu tau,
Res" Aku malah kagum sama kamu. Aku nggak tau kamu disleksia. Kamu hebat banget bisa
nyembunyiin itu sampe sekarang. Kamu pasti udah berusaha mati-matian."
"Kamu nggak tau gimana rasanya," Ares memegangi kepalanya. "Aku harus belajar di tengah
malam sampe subuh setiap mau ulangan. Aku baca semua buku itu sampe termuntah-muntah.
Aku hampir putus asa."
"Tapi kamu berhasil," Reina tersenyum penuh rasa bangga. "Kamu hebat. Kamu orang terhebat
yg pernah aku temuin. Kamu mungkin bukan atlet, kamu mungkin bukan penerima beasiswa,
tapi yg membuat kamu lebih, kamu menang dari diri kamu sendiri. Banyak atlet yg nggak bisa
ngelakuin itu." Ares menatap Reina yg sudah lebih dulu menatapnya.
"Apa kamu pikir begitu" Apa yg aku lakuin itu kamu anggep hebat" Karna aku ngelakuin itu
cuma supaya keberadaanku diakui," kata Ares pelan. "Cuma bias semua orang nyangka aku
masih cukup normal. Tapi pada akhirnya, semua orang menganggap aku bego, karna sekuat
apa pun aku berusaha, aku selalu ada di balik bayang2 Orion." "Kamu hebat," Reina menatap
Ares lekat2. "Walaupun orang lain nggak liat itu, tapi aku liat. Aku bukan orang lain." Ares balas
menatap Reina, tak pernah merasa selega ini dalam hidupnya. Akhirnya, dia menemukan tempat
untuk berbagi. Selama ini, hatinya nyaris tak muat untuk menerima penderitaan apa pun lagi.
Tapi sekarang, sepertinya Tuhan telah mengirim seorang Reina untuk menolongnya keluar dari
semua masalah ini. "Kamu tau," kata Ares dengan suara serak. "Cuma kamu satu-satunya
hartaku. Satu-satunya yg pernah aku miliki di dalam hidup aku." "Res," Reina meraih tangan
Ares dan menggenggamnya. "Walaupun seluruh dunia udah berpaling dari kamu, kamu harus
yakin, kamu bakal nemuin aku sebagai satu-satunya orang yg masih menghadap kamu." Ares
menganggukkan kepalanya lemah, merasakan obat tadi mulai bekerja pada tubuhnya, lalu
terlelap dengan senyuman di wajahnya.
Bab 5 Dreams ARES terbangun dengan rasa sakit luar biasa menyerang kepalanya. Perlahan, Ares membuka
mata, lalu melihat ruang keluarga yg sepi. Ares berjalan limbung ke arah meja makan dan
menemukan surat di sama. Dari Reina.
Dear Ares, Aku ke kampus bareng Orion, mau nonton pertandingan.
Trust me, would you"
Love, Reina. Ares melipat surat itu, lalu meletakkannya kembali ke meja. Ares duduk di kursi makan dan
mencomot sepotong sosis, tapi mulutnya terlalu sakit untuk dibuka. Ares melempar sosis kesal
lalu kembali berjalan ke sofa dan memutuskan untuk menonton saja. Kepalanya sudah sangat
sakit. Mungkin setelah ini dia akan ke rumah sakit, karna sepertinya dia butuh beberapa jahitan.
"Ayo Ri! Semangat!" seru Reina sambil melonjak-lonjak di bangku penonton.
Reina sedang menyaksikan pertandingan perempat final dari turnamen yg diikuti oleh tim Orion.
Reina tidak menyadari bahwa sedari tadi, Lala mengawasinya dari sisi berseberangan.
Ketika Lala bermaksud mendekati Reina, pertandingan berakhir. Lala melihat Orion melangkah
ceria ke arah Reina. "La." Suara Raul terdengar sayup2, tapi Lala tidak mendengarkan. Dia masih memerhatikan Orion yg
sekarang sudah terta wa-tawa bersama Reina. "Lala," kata Raul lagi, kali ini sambil mengguncang-guncang Lala.
Lala mendelik pada Raul. "Apa sih?"
"Gue menang," Raul memberitahu dengan senyum lebar.
"Oh," komentar Lala tak peduli, lalu kembali mengawasi Reina dan Orion. "Bagus."
Raul mengikuti arah pandang Lala, lalu mengernyitkan dahinya tak suka. Orion. Bocah tengik itu
lagi. Setelah merebut posisi kapten miliknya, sekarang Lala juga sudah kembali memerhatikan
Orion. Raul mengepalkan kedua tangannya kuat2. Tanpa diketahui Lala, Raul sudah memutar
rencana di dalam otaknya.
Lala sendiri sudah memutuskan untuk mendekati Orion dan Reina. Lala memaksakan senyum
kepada mereka berdua. "Ri, selamat ya," kata Lala.
Orion nyengir lebar. "Wuah, thanks, La."
Lala tersenyum, lalu melirik Reina tajam. Reina jadi segera salah tingkah. Orion memandang
mereka bergantian, lalu merangkul Reina. Lala memandang Orion penuh tanda tanya.
"Ares mana, Ri?" tanya Lala lagi, dan dia menangkap ekspresi Reina yg sepertinya ingin tahu.
"Di rumah," jawab Orion ringan. "Ngapain juga lo tanya2 soal dia" Dia kan nggak bakal dateng
ke pertandingan gue."
"Pengen tanya aja," kata Lala. "Soalnya ada yg pengen gue omongin sama dia."
Lala menatap Reina puas sebentar, lalu berbalik dan memutuskan untuk ke rumah Ares. Lala
benar2 ingin meluruskan sesuatu.
"Ri," kata Reina setelah Lala tidak terlihat lagi. "Emang, Lala itu siapanya Ares sih?"
Orion bengong sebentar atas pertanyaan Reina, lalu tersenyum. "Mereka dulu pernah
sahabatan." Reina merasakan sesuatu menusuk hatinya. Ares pernah bersahabat dengan orang lain. Berarti
Reina tidak sespesial yg pernah dikiranya.
Lala mengintip melalui jendela rumah Ares, lalu memutuskan untuk mengetuk pintunya.
Beberapa saat kemudian, Ares sendiri yg membuka pintu. Lala terkesiap begitu melihat wajah
Ares babak belur. Sama halnya dengan Lala, Ares juga terkejut melihat Lala di depan pintu rumahnya. Lala tidak
pernah datang lagi semenjak Ares melarangnya.
"Res! Lo kenapa" Ya ampun... apa Raul lagi?" jerit Lala begitu melihat Ares dengan kepala
terbalut perban. Ares segera menangkis tangan Lala yg berusaha menggapainya.
"Bukan," tukas Ares dingin. "Mau apa lo di sini?"
Lala terdiam sesaat, lalu menatap Ares serius. "Res, ada yg harus gue omongin."
Ares terdiam. "Udah gue bilang, nggak ada lagi yg har-"
"Ini tentang Reina," sambar Lala cepat. "Apa dia cewek yg sepuluh tahun lalu itu?"
Ares terdiam lagi, tapi sejurus kemudian, dia mengangguk tanpa melihat Lala. Lala mendesah
pelan. "Res," desak Lala. "Kalo aja gue nggak berbuat kesalahan, kalo aja gue nggak pacaran sama
Orion, lo bakal pilih siapa?"
"La, nggak ada yg namanya 'kalo aja'. Semua udah terjadi," kata Ares lelah. Kepalanya sekarang
sudah kembali terasa nyeri.
"Res, kalo gue bilang gue pacaran sama Orion cuma pengen bikin lo cemburu, lo bakal
percaya" Kalo gue bilang gue marah karna lo nggak pernah jujur soal perasaan lo sama gue, lo
bakal percaya?" sahut Lala, membuat Ares membeku.
Detik berikutnya, Ares mendengus geli. "Gue nggak percaya."
Namun Ares segera terdiam ketika melihat ekspresi Lala. Dari matanya, Ares tahu betul Lala
tidak sedang berbohong. Hanya saja, Ares tak mau memercayainya. Bagi Ares, segalanya lebih
mudah jika Lala emang berpacaran dengan Orion tanpa ada maksud lain.
Ares menghantam tembok di sebelahnya dengan buku2 jarinya. Lala hanya terisak di samping
Ares. "Gue pikir," kata Lala di sela isakannya. "Lo bakal cemburu dan berusaha ngerebut gue dari
tangan Orion. Nggak taunya, lo malah pergi dari gue. Gue nggak tau harus ngapain lagi."
Ares ingin menyumbat telinganya dengan apa saja. Dia tak ingin mendengarkan Lala.
"Gue tau gue salah, dan gue pikir gue bisa ngeyakinin lo, tapi gue terlambat. Orang itu tiba2
dateng, dan jelas, lo nggak bakal pilih gue," isaknya lagi.
Ares menatap Lala, gadis yg dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Gadis yg pernah
disayanginya. Lala menggeleng-geleng pelan. "Gue sering bertanya-tanya, apa sih bagusnya gue" Tapi,
sebagus apa pun gue, walaupun gue nggak berbuat kesalahan apa pun, lo pasti tetep milih dia,
kan?" Tanpa pikir panjang, Ares segera menarik tubuh mungil itu dan mendekapnya erat2. Tangis Lala
segera saja lepas tanpa kendali.
Ares sadar, dia sedang berada dalam situasi yg pelik. Ares mungkin bisa lebih mudah
memutuskan, kalau saja tidak ada yg berubah. Dia bisa saja berpura-pura tidak memercayai
Lala, tapi dia tidak bisa. Ares tidak bisa tidak menghiraukan Lala. Ares tidak ingin Lala
merasakan ketidakadilan yg pernah dirasakannya.
"Res?" Ares segera mengetahui bahwa hidupnya mulai sekarang akan bertambah sulit begitu
mendengar suara Reina. Ares mendongak, lalu mendapati Reina dan Orion di pagar. Lala
melepaskan diri dari pelukan Ares, lalu memutar tubuhnya.
Reina menatap Ares dan Lala bergantian, meminta penjelasan. Orion juga memandang Ares.
"Lo udah kasih tau dia ya, La?" tanya Orion hati2.
Dulu, Orion menyanggupi permintaan Lala untuk berpacaran, semata-mata karna Lala meminta
bantuannya. Lala sering mengeluh tentang Ares yg tidak pernah menyatakan perasaannya.
Orion sebenarnya menyayangi Lala, tapi Lala sudah memutuskan untuk siapa hatinya akan
diberikan, dan Orion tak bisa berbuat apa pun selain membantunya.
Mendengar pertanyaan Orion, Ares merasa darahnya mendidih. Dia bergerak maju dan
menyerbu Orion. Ternyata, selama ini Orion juga menyembunyikannya.
Entah apa yg membuat Reina begitu berani, tetapi dia menempatkan dirinya di depan Orion
sehingga Ares tak bisa memukulnya. Ares menatap Reina sebentar, menarik napas, lalu segera
berderap keluar rumah. Reina terdiam. Jelas sekali Ares dan Lala tidak hanya bersahabat. Ternyata, keputusannya
untuk kembali adalah salah.
Ares memukul pohon akasia keras2 sampai tangannya berdarah. Ares tidak peduli. Ares terlalu
kacau dan butuh pelampiasan. Setelah lima belas menit menjadikan pohon sebagai karung
samsak, Ares akhirnya terduduk kelelahan. Belakang kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan,
rasanya seperti mau pecah. Suara denging memenuhi kepalanya.
Di antara dengingan itu, terdengar bunyi langkah seseorang. Ares bersumpah demi Tuhan tidak
ingin bertemu dengan siapa pun saat ini, tapi, yg muncul malah yg sedang dipikirkannya.
"Aku udah denger dari mereka berdua, Res," kata Reina pelan.
Ares tak berani memandangnya. Ares telah berbuat kesalahan karna menyukai gadis lain selain
Reina. Dan ini bahkan bukan kesalahan Reina, sebagaimana yg bertahun-tahun ini Ares sangka.
"Tapi belum dari kamu," sambung Reina.
"Apa yg kamu denger dari mereka udah cukup," kata Ares. "Aku memang deket sama Lala
setelah kamu pergi. Waktu itu cuma dia yg peduli sama aku."
Reina menatap Ares sambil menggigit bibirnya. Ares memang pernah menyukai Lala.
"Res, aku nggak sebaik yg kamu pikir," kata Reina sambil menghapus air matanya yg mulai
menetes. "Jangan kamu pikir aku nggak marah. Jangan kamu pikir aku bisa begitu aja nyerah."
Ares menatap Reina sedih. "Rei, aku nggak cukup baik buat kamu. Dari awal emang harusnya
bukan aku yg kamu pilih," kata Ares pelan. Ares ingin sekali memeluk Reina. Tapi Ares harus
menahan segala keegoisannya.
"Kenapa" Kenapa kamu ngomong kayak gitu" Bukannya itu hak aku buat milih" Sekarang kamu
yg harus milih! Kamu harus tegas, Res!" sahut Reina. "Apa kamu mau egois dengan
memperlakukan aku kayak gini" Atau... kamu malah pengen ngelepasin aku?"
Ares tak menjawab Reina dan hanya menatapnya lama. Reina pun segera mengetahui
jawabannya. Jadi, Reina segera menangis.
Ares menundukkan kepalanya, tak tahu harus berbuat apa. Ternyata, memiliki dua hal tidak
selalu bagus. Ares sekarang malah merindukan keadaannya dulu, saat dia tidak pernah memiliki
apa pun. "Res." Ares kembali mendongakkan kepalanya. Satu orang lagi gadis yg butuh penjelasan muncul, dan
berdiri tepat di sebelah Reina. Ares merasa dunianya akan hancur dalam hitungan detik.
"Gue nggak pernah meminta lo untuk memilih," kata Lala sambil tersenyum getir. Tangannya
merangkul Reina yg terlihat bingung. "Lo tau gue nggak akan buat lo menderita lagi."
Ares menatap Lala bimbang, tak mengerti dengan perkataannya.
"Res, gue nggak menuntut apa pun. Masa sih, gue ngak bahagia liat lo bahagia" Gue cuma
pengen kita balik kayak dulu lagi, bersahabat. Kalo yg itu boleh kan Rei?" tanya Lala, lalu
tersenyum kepada Reina. Mendadak, Ares merasakan kelegaan yg luar biasa pada hatinya. Ternyata hal ini bisa juga
diselesaikan tanpa bunuh diri. Padahal, hal itu sempat terbesit dalam pikiran Ares.
"Thanks, La," kata Ares tulus. Lala bergerak ke arah Ares yg masih terduduk, lalu memeluk Ares.
"That's what friends are for," gumamnya. Perlahan, senyum Ares terkembang. Dia menatap
Reina yg juga tersenyum. Ares merasa, setelah ini, tidak akan ada lagi masalah yg bisa
menimpanya. Ares sudah memiliki Reina, dan sekarang, dia mempunyai tambahan seorang
teman. Ares tak bisa lebih bahagia dari ini.
"Ngaku aja, kamu tadinya udah pengen ngelepasin aku, kan?" tanya Reina malamnya di taman.
Reina benar2 berterima kasih Lala mau melepaskan Ares.
"Aku udah pengen ngelepasin kalian berdua," jawab Ares. "Jujur aja, nggak punya apa pun
ternyata jauh lebih baik daripada punya dua sekaligus."
Reina menatap Ares lama. "Jadi, kalo tadi Lala nggak ngelepasin kamu, kamu bakal ngerelain
aku?" "Aku mohon Rei, jangan minta aku jawab itu. Aku nggak mau kehilangan kamu, tapi aku juga
nggak bisa mengabaikan Lala begitu aja. Dia yg selalu ada buat aku kalo aku lagi susah," kata
Ares pelan. "Dan aku nggak nyangka dia berbuat kayak gitu. Jujur, aku tadi sempet ngerasa kalo
lebih baik dia dulu emang bener ngekhianatin aku."
"Trus?" tanya Reina lagi.
"Untungnya aku cepet sadar, kalo aja Lala nggak ngaku, kami pasti bakal terus-terusan salah
paham," kata Ares. "Untuk sesuatu yg dia tanggung sendiri."
Memikirkan kata2 Ares, Reina terdiam. Reina dapat membaca dengan jelas bahasa tubuh Ares
yg terlihat lelah. Reina memang sakit hati dengan kejadian tadi, tapi ini tidak membuat perasaan


That Summer Breeze Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Reina berubah. "Aku nggak minta kamu untuk mengerti aku," Ares menoleh kepada Reina dan menatapnya
dalam2. "Jadi, kalo kamu merasa aku nggak adil, aku nggak akan nyalahin kamu kalo kamu
ninggalin aku. Ini semua salahku."
Reina membalas tatapan Ares yg benar2 memohon. Sesaat Reina merasa bimbang, tapi
kemudian ditepisnya perasaan itu. Selama ini Ares sudah cukup menderita. Seharusnya, Reina
berterima kasih lebih banyak kepada Lala, karna sudah membuat Ares setidaknya tetap hidup
sampai bertemu dengan Reina.
"Aku ngerti." Reina meletakkan kepalanya ke bahu Ares. "Tadi, aku seharusnya nggak
mendesak kamu buat milih. Maafin aku, Res."
Ares benar2 tidak percaya. Ares pikir, Reina akan meninggalkannya. Ares pikir, dia tidak akan
punya kesempatan lagi. "Kamu tau," kata Reina sambil menatap Ares. "Mulai sekarang kamu harus ngasih kesempatan
kedua, karna semua orang butuh itu."
Reina kembali meletakkan kepalanya pada bahu Ares. Reina dapat merasakan Ares bahu Ares
yg turun naik karna napasnya. Reina akan melupakan semua masalah ini, karna bukan
sepenuhnya salah Ares. Bagaimanapun juga, Reina memiliki andil. Kalau saja Reina sempat
mencatat alamat rumah atau telepon Ares, pasti tidak akan begini jadinya.
"Jangan ngertiin aku karna kamu ikut-ikutan Lala," kata Ares kemudian. "Tadi kamu sempet
bilang kan, kalo kamu nggak sebaik yg aku pikir."
"Emang, tapi rasa sayang aku buat kamu melebihi rasa cemburu aku," kata Reina membuat
Ares terkekeh. "Kalo gitu, aku bisa terus-terusan selingkuh dong," canda Ares.
Reina mendelikinya. "Coba aja kalo berani."
Ares tertawa kecil, merengkuh Reina, lalu mencium lembut puncak kepalanya.
Ares bukannya tidak berani. Ares tidak akan pernah meninggalkan Reina demi wanita mana pun.
Tidak akan terbesit sebuah niat pun.
Tak terasa, sudah hampir dua minggu Reina berada di Indonesia. Reina sangat menyesali waktu
yg terbuang begitu cepat. Andai saja Reina bisa tinggal lebih lama, atau bahkan tinggal
selamanya di Indonesia, pasti akan sangat menyenangkan baginya.
Sekarang, hanya tinggal sepuluh hari lagi waktu yg tersisa untuk bersama Ares. Walaupun
demikian, Reina belum pernah menyinggung masalah ini dengan Ares karna tak mau membuat
Ares memikirkannya. Reina hanya ingin bersama Ares selama yg dia bisa.
Reina berjalan gontai ke arah meja belajar Ares, lalu menemukan fotonya dan Ares saat di mal
tertimpa CD-CD. Reina mengernyit sebal, lalu membawa foto itu ke luar kamar. Ares sedang
berdiri di depan meja makan, mulutnya penuh roti isi dengan mata terpancang ke TV. Dia hanya
mengerjapkan mata saat melihat Reina.
Reina menatap Ares sebal, kalu memberi sinyal agar Ares mengikutinya ke gazebo. Ares
menatap Reina heran sebentar, lalu melirik kedua orangtuanya yg sepertinya tidak menyadari
apapun. Ares pun mengikuti Reina.
"Kenapa?" tanya Ares polos setelah mereka sampai di gazebo.
"Kenapa" Aku yg mestinya tanya kenapa!" sahut Reina berang, membuat Ares bingung.
"Kenapa kamu nelantari foto kita?"
Ares menatap fotonya dan Reina yg sekarang sudah diacung-acungkan gadis itu tepat di depan
wajahnya. "Oh, itu doang. Kirain apaan, heboh amat," komentar Ares, lalu duduk di gazebo.
"Itu doang" Ini bukan 'itu doang'! Kamu nelantarin foto kita satu-satunya! Maksudnya, duaduanya!" tambah Reina, karna foto itu terdiri dari dua pose berbeda. "Kenapa nggak dirawat
sih?" "Dirawat?" gumam Arer semakin bingung. "Rei, itu cuma foto, bukan bayi. Santai aja."
"Tapi Ares, harusnya kamu masukin pigura atau apa!" sahut Reina lagi.
Ares terdiam lalu memandang Reina sebal. "Apa aku keliatan kayang orang yg biasa punya
pigura?" tanyanya sinis.
Reina menghela napas. Benar juga. Ares pasti tak pernah punya pigura. Bahkan Reina sangsi
apa Ares punya foto lain.
"Ya udah. Dompet," perintah Reina sambil menadahkan tangannya, sementara Ares bingung.
"Dompet kamu! Keluarin," kata Reina lagi.
Ares mengeluarkan dompetnya yg sudah tak jelas lagi bentuknya. Itu adalah dompet yg dimiliki
Ares semenjak SD, berwarna merah marun dan bergambar Saint Seiya. Ares dapat melihat
keheranan di wajah Reina, tapi tak berlangsung lama. Reina segera menyambar dompet Ares
lalu membukanya. "Ya ampun, ini kan tempat foto! Kenapa malah diisi KTP," keluh Reina sambil memindahkan
KTP itu dan menggantinya dengan foto mereka. "Gini baru normal."
Reina mengembalikan dompet Ares, lalu duduk di sebelahnya. Reina masih mengamati dompet
itu saat diselipkan ke saku celana Ares.
"Kenapa" Jelek?" tanya Ares.
"Nggak. Antik," jawab Reina sambil nyengir, lalu bersandar pada Ares.
Ada satu hal yg sedari dulu ingin diceritakannya kepada Ares. Kehidupannya selama sepuluh
tahun ini. "Rei, gimana, asyik2 aja selama tinggal di Indonesia?" tanya Ayah kepada Reina saat makan
malam. Reina mengangguk gembira seperti anak kecil, sambil sesekali melirik Ares. "Asyik banget Om,"
jawab Reina. "Udah ketemu apa yg dicari?" tanya Ayah lagi.
"Udah," kata Reina mantap.
Orion sudah mengetahui hal ini sejak lama. Hal bahwa Reina kembali demi Ares. Tapi entah
mengapa, seluruh tubuh Orion berusaha mati-matian menolahknya. Jadi, Orion menatap Ares
sebal. Ares langsung membalas tatapannya dengan jauh lebih menyebalkan.
Ares sudah mengambil Lala. Dulu, Orhon harus menahan semua perasaannya saat Lala
memintanya untuk memantunya. Ares bahkan sudah lebih dulu mengambil Reina. Reina hidup
selama sepuluh tahun dengan bayang2 Ares. Orion kalah total. Orion bahkan tidak tahu apa yg
membuat Ares sebegitu hebat sampai semua yg disayangi Orion berpindah ke tangannya.
"Ri!" tegur Ayah membuyarkan lamunan Orion.
"Kenapa Yah?" tanya Orion segera.
"Gimana kuliah kamu?" tanyanya, sedikit heran melihat Orion yg kurang berkonsentrasi.
"Bagus, Yah," jawab Orion. "Semua tugas udah kukerjain."
Ayah mengangguk-anggukkan kepala, lalu pandangannya beralih kepada Ares yg sudah terlihat
menantang. "Kalo kamu?" tanya Ayah, terdengar enggan bagi Ares. Mungkin hanya formalitas karna Reina
ada di sini. "Begitu2 aja," jawab Ares malas.
Ayah mendengus. "Harusnya Ayah nggak tanya," katanya, membuat suasana berubah suram.
"Biasanya juga nggak pernah," balas Ares, kehilangan selera makannya.
"Makanya sekarang Ayah coba2 tanya. Siapa tahu ada perubahan," tukas Ayah, membuat Ares
terdiam dan tak berani menatapnya. "Padahal, Ayah sangat berharap," katanya lagi, lalu
meninggalkan meja makan. Malam itu, Ares tak dapat tidur, memikirkan kata2 Ayah. Dia memiliki tugas untuk kuliahnya
besok, dan sebelumnya, Arer tidak pernah memiliki niat untuk mengerjakannya. Entah mengapa
akhir2 ini Ares sangat malas belajar. Mungkin karna penghargaan yg didamba-dambakan Ares
tak kunjung muncul, segiat apa pun usahanya.
Ares bangkit, lalu membuat secangkir kopi. Dia membuka ransel, lalu mengeluarkan diktat2
kuliahnya. Ares segera saja merasa pusing saat melihat tulisan2 kecil pada diktatnya. Tapi Ares
tak menyerah, sama seperti malam2 sebelumnya. Ares melakukan hal yg sudah seumur
hidupnya dilakukannya. Membaca dan membaca sampai termuntah-muntah.
Ares mengambil posisi enak untuk membaca, lalu mulai membaca. Ares harus mengulang satu
paragraf sebanyak lima kali sampai dia betul2 mengerti, dan segera saja Ares merasa mual.
Ares merangkum buku itu sambil meminum pil pereda sakit kepala, sambil sesekali mengecek
pekerjaannya secara gramatikal. Terkadang, Ares masih belum bisa menulis kalimat yg benar
secara otomatis, terutama kalau dia sedang lelah.
Setelah lima jam membaca dan merangkum, Ares memutuskan untuk istirahat sejenak. Tahu2,
matanya tertumbuk pada sebuah amplop berwarna putih yg menyembul dari ranselnya. Ares
menggapai amplop itu, lalu membukanya.
Deraya Flying School. Ares mendapatkan brosur ini dari salah seorang teman sekelasnya di
kampus. Sedari dulu, Ares menginginkan untuk menjadi pilot dan menerbangkan sebuah
pesawat jet. Tapi mimpi ini mendadak sirna begitu mengetahui bahwa dirinya seorang penderita
disleksia. Ares memang sudah berkembang ke arah yg lebih baik. Ares sudah mahir berbicara karna terus
berlatih. Ares juga sudah lebih lancar membaca dan menulis, walaupun masih kesulitan dalam
membaca tulisan2 kecil dengan spasi yg terlalu dekat. Ares pun sudah bisa membaca jarum jam.
Ares tidak punya masalah dengan bahasa Inggris karna selain perkuliahannya memaksa Ares
mengerti bahasa Inggris, lagu2 yg sering didengarnya juga kebanyakan berbahasa Inggris.
Walaupun tidak banyak, Ares punya tabungan karna dia nyaris tak pernah membeli apa pun
seumur hidupnya, kecuali sebuah gitar yg dibelinya dari Dipo.
Ares membaca perlahan syarat2 yg ada pada brosur tersebut. Ada satu syarat yg tak bisa
dipenuhinya. Tanda tangan orangtua. Ayah pasti akan tertawa terbahak-bahak begitu Ares
meminta izin. Ares menyandarkan kepalanya ke sofa. Dia harus mencari jalan keluar. Bukan
Orion saja yg bisa membuat Ayah bangga. Ares benar2 penasaran melihat bagaimana ekspresi
bangga Ayah terhadapnya "Hai," sapa Lala begitu melihat Ares di kampus, tapi langsung memekik ketika benar2 melihat
wajah Ares. "Kenapa lo?" sahutnya panik.
"Nggak apa2," jawab Ares pelan. "Cuma begadang."
Lala memerhatikan Ares yg berjalan gontai, tersaruk ke antara semak2. "Res! Lo nggak apa2
kan?" "Duit," gumam Ares, mulai berhalusinasi. "Gue butuh duit. Kurang nih."
Lala segera menangkap Ares yg kelihatan hendak ambruk, lalu mendudukkannya ke kursi
taman. Lala menatap Ares cemas. Wajah Ares sangat pucat dan matanya terlihat lebam.
"Res, lo nggak sakau kan?" tanya Lala hati2.
Ares menoleh dan menatap Lala geli. "Gue udah kekurangan duit, buat apa gue sakau"
Udahlah, tenang aja, gue cuma pusing berat."
"Lo abis ini ada kelas nggak?" tanya Lala, dan Ares menggeleng. "Kalo gitu, tunggu bentar ya,
gue cari es." Lala segera berlari menuju kantin dengan mata terus mengawasi Ares. Ares punya banyak
musuh di kampus ini, dan mudah saja bagi mereka untuk menyerang Ares di saat dia lemah
seperti ini. Setelah mendapatkan esnya, Lala cepat2 kembali kepada Ares.
Lala menyerahkan esnya pada Ares. "Nih, lo kompres deh kepala lo."
"Thanks," Ares menerimanya, lalu menempelkan es itu pada kepalanya yg hampir meledak.
"Duit buat apa sih Res?" tanya Lala hati2.
"Emang tadi gue bilang soal duit, ya?" tanya Ares bingung.
"Iya, lo bilang duit lo masih kurang. Emang lo mau ngapain?" tanya Lala lagi.
"Nggak ngapa-ngapain. Anggep aja tadi gue ngigau," kata Ares sambil kembali menempelkan es
pada kepalanya. Lala mengangguk-angguk kecil. Ares menatapnya, lalu mengetuk kepalanya.
"Nggak usah pasang tampang kayak gitu," kata Ares. "Ntar juga lo tau," sambungnya, lalu
tersenyum memandang pesawat yg tiba2 lewat di atas mereka.
Lala ikut memandang pesawat itu heran.
"Orion! Lo niat nggak sih"! Konsentrasi!" sahut Reno, pelatih basket tim kampus Orion.
Orion berhenti berlari, menyeka keringatnya, lalu kembali menjaga Raul yg sedang berperan
sebagai lawannya. Tapi berulang kali, Raul bisa lolos dari pengawalan Orion.
"Orion!" sahut Reno lagi. "Lo pikir, kita lagi main2" Dua hari lagi kita final!"
"Kenapa gue dipindah ke guard?" protes Orion kepada Reno.
"Kenapa" Kenapa, lo bilang" Coba lo pikir kenapa! Lo pikir, gue mau nempatin lo di forward trus
ngebiarin kita kalah dengan mudah"!" teriak Reno emosi.
"Tapi kemaren kita menang pas gue di forward!" sahut Orion lagi.
"Lo masih belum ngerti juga, ya" Beberapa hari terakhir ini lo nggak bisa konsentrasi! Selalu
gagal shoot, walau lay up sekali pun! Sekarang, masih berani lo minta posisi?" seru Reno.
Orion diam walaupun emosi. Dia sadar perkataan Reno ada benarnya.
"Sekarang, gue taro lo di guard lo malah ngelolosin semua lawan! Kalo lo terus-terusan kayak
gini, lo nggak akan gue turunin di final nanti! Inget itu!" sahut Reno lagi, lalu menoleh ke timnya
yg menonton. "Latihan sampe di sini dulu. Dan buat lo Ri, kalo besok lo masih kayak gini, lo tau
apa risikonya." Reno meninggalkan lapangan sambil menendang apa pun yg dilihatnya. Orion sendiri
mengepalkan tangannya keras2, mengambil bola basket, lalu membantingnya sampai memantul
tinggi ke udara. "Kenapa lo?" sahut Raul mengejek. "Udah ilang semua rupanya mantra2 lo. Sekarang lo balik
lagi jadi upik abu."
Orion menatap Raul tajam, yg dibalas kekehan oleh Raul.
"Nggak usah sok-sokan deh, Capt," kata Raul lagi. "Ups, kayaknya sang kapten nggak bakalan
diturunin pas final, ya" Jadi, siapa dong kaptennya sekarang?"
"Elo!" seru teman2 Raul serempak.
Raul terkekeh lagi, lalu berjalan ke arah Orion. "Udah deh, terima aja kalo lo nggak lebih baik
dari gue," Raul menepuk bahu Orion. "Nikmatin aja gelar kapten lo selama belum dicabut. Gue
ikhlas kok. Dah," kata Raul, disambut tawa oleh pengikutnya.
Orion menahan dirinya untuk tidak memukul Raul. Orion tidak mau menambah masalah dengan
dikeluarkan dari tim. Orion sangat menginginkan final ini. Orion sangat menginginkan gelarnya
sebagai MVP. "Ada apa sih, bro?" tanya Odi prihatin. Sedari tadi dia hanya bisa diam di samping Orion
sementara dia dimarahi Reno. "Kalo ada masalah, lebih baik lo selesain dulu. Inget Ri, lo pengen
banget final ini. Kapan lagi?"
Orion tidak menjawab. Dia tahu, Odi benar. Tapi masalahnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan
begitu saja. Masalah ini sudah menjadi masalah menahun. Masalahnya dengan Ares, kakak
kembarnya. Masalah yg melibatkan Reina.
Orion tidak langsung pulang begitu selesai latihan. Orion kembali bermain basket di taman
kompleks, walaupun saat itu sedang gerimis.
Begitu banyak hal yg sedang dipikirkannya. Setelah mengetahui dengan jelas bahwa Reina
sekarang milik Ares, Orion tidak baik2 saja. Kemampuan belajarnya menurun drastis, dia pun
tidak bisa berkonsentrasi dalam berlatih basket.
Beberapa kali Orion melakukan shoot, beberapa kali itu pula bolanya tidak masuk. Orion
membanting bola itu kesal.
"Kenapa, Ri?" Orion kaget, dan mendapati Reina sedang berdiri di samping lapangan basket di bawah
lindungan payung. Hari ini, dengan gaun selutut berwarna pink, dia tampak manis sekali.
Orion menghela napas. Semua itu percuma saja. Reina sudah tidak bisa diperjuangkannya lagi.
Orion kembali melemparkan bola ke arah ring, tapi meleset lagi. Saking kesalnya, Orion sampai
sempat berpikiran bahwa apa yg dikatakan Raul benar -tentang Orion yg hanya kena suatu
mantra sihir sampai bisa bermain basket dengan baik beberapa bulan terakhir.
"Ujan lho," Reina mengingatkan sambil menatap Orion yg sekarang sudah basah. "Nanti sakit."
"Apa peduli kamu, sih?" sambar Orion kesal. Orion tidak bermaksud begitu keras pada Reina,
tapi kekesalannya sudah memuncak.
"Ya peduli dong," jawab Reina. "Kamu kenapa sih, Ri" Ada masalah?"
Orion berhenti melempar bola lalu memusatkan perhatiannya kepada Reina. Mengapa dia masih
bertanya hal2 semacam itu" Bukankah seharusnya Reina tahu apa masalahnya"
"Ri, aku sama Ares udah..."
"Aku tau," tandas Orion, tak ingin mendengar lebih.
"Maafin a-" "Kenapa?" sambar Orion cepat. Ternyata, Orion menginginkan penjelasan. Orion tidak terima
begitu saja. Harus ada alasan yg tepat mengapa Reina malah memilih Ares dan bukan dirinya.
Reina menatap Orion yg basah kuyup. "Karna Ares adalah Ares," jawab Reina ragu, tak yakin
Orion bisa mengerti. "Apa maksud kamu?" sahut Orion. "Kenapa Ares" Kenapa bukan aku?"
Reina tak bisa menjawab. Air matanya mengalir begitu Orion bergerak menjauh. Orion sekarang
terlihat begitu defensif, padahal Reina ingin sekali memeluknya.
"Kenapa dia" Padahal, kami kembar. Muka kami sama. Kami kenal kamu di saat yg sama.
Kenapa kamu malah pilih dia" Apa karna dia banyak masalah" Apa karna dia pinter berkelahi"
Apa karna dia lebih kuat dari aku?" seru Orion lagi.
Reina menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terisak. Saat ini, Orion yg dikenalnya, yg
berkepala dingin, sedang berada di luar kendali.
"Kenapa, Rei" Apa karna di mata kalian para cewek, Ares itu keren" Iya" Apa Ares itu
semacem, apa, magnet cewek2" Padahal, dia di kampus nggak begitu ngetop! Jadi, dia cuma
jadi magnet buat cewek2 yg aku sukain! Kenapa bisa begitu ya?" sahut Orion, lalu tertawa miris.
"Aku kurang apa ya, Rei" Bisa dibilang, aku malah lebih segalanya dari Ares! Iya, kan" Aku lebih
pinter, aku berprestasi, aku jago basket, aku lebih segalanya! Dan kamu tau Rei, kenapa aku
berusaha mati-matian untuk mendapatkan itu semua" Ya, ya, kamu bener! Aku berusaha
membuat kamu terkesan! Aku berusaha jadi orang buat kamu!"
Isakan Reina semakin keras. Dia tak mampu menghentikan Orion yg semakin lama semakin liar.
Orion sendiri tak peduli. Dia harus mengungkapkan semua perasaan yg selama ini terpendam
dalam hatinya. "Tapi apa, Rei" Ya, kamu bener lagi! Kamu malah milih Ares, sama kayak Lala milih Ares! Ares
yg bermasalah, Ares yg bego, Ares yg nggak ada apa-apanya! Apa masalah lebih menarik buat
kamu, Rei" Apa kamu kasihan sama dia?" sahut Orion lagi.
Reina menggeleng. "Nggak," jawab Reina di sela isakannya. "Bukan karna aku kasihan. Aku
emang sayang sama dia, Ri. Dari awal, aku emang sayang sama dia melebihi apa pun di dunia
ini." Orion terdiam sebentar mendengar jawaban Reina, lalu terbahak. "Kamu udah memilih dari
sejak kamu kenal sama kami," kata Orion, berhenti tertawa dan memandang nanar ke arah
langit. "Dan sial banget aku, nggak kepilih cuma karna... Rei, aku butuh satu alasan," kata Orion
lagi. "Alasan yg logis."
Reina menatap Orion yg tampak sudah mulai tenang.
"Ri, satu-satunya alasan kenapa aku sayang sama Ares, yaitu karna Ares adalah Ares. Kalo aja
dia orang lain, aku nggak bakal sayang sama dia. Cuma dia yg aku mimpiin, cuma dia yg selalu
ada di pikiran aku, cuma dia satu-satunya orang yg bisa bikin aku lupa bernapas. Cuma dia satusatunya alasan aku bertahan," kata Reina sungguh2. "Dulu kamu pernah bilang, kan, kalau
kamu mau mukul Ares karna dia adakah dia. Perasaan itu juga yg ada dalam hati aku. Aku


That Summer Breeze Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sering kepikiran untuk membina hubungan dengan orang lain waktu di Amerika, tapi aku selalu
terhenti dengan kata2 'orang ini bukan Ares'. Walaupun kedengarannya konyol, tapi sosok Ares
terus tumbuh dalam pikiran aku," lanjut Reina.
Orion tak bisa mengatakan bahwa pemikiran Reina adalah hal yg konyol. Nyatanya, Orion
melakukan hal yg sama. Sosok Reina juga tumbuh dari hari ke hari dalam benaknya.
"Aku tau, sangat susah buat kamu untuk ngertiin hal ini, mengingat kamu sama Ares udah
berantem seumur hidup kamu. Aku nggak akan meminta kamu untuk ngertiin aku," kata Reina
lagi. "Emangnya aku punya pilihan lain, Rei?" sahut Orion sinis. "Apa aku harus hidup dengan pura2
nggak tau kalo kalian pacaran" Lagian apa ada bedanya kalo aku ngertiin kamu atau nggak"
Kalian bakal terus bareng, kan?"
Reina menatap Orion sedih.
"Kenapa harus dia sih Rei" Kenapa bukan orang lain" Kenapa harus kakak kembar aku"
Kenapa harus orang yg paling aku benci di seluruh dunia ini?" sahut Orion. "Nggak usah
dijawab," lanjut Orion sebelum Reina membuka mulutnya. "Karna Ares adalah Ares. Aku tau."
Reina dan Orion sama2 terdiam selama beberapa menit. Orion membiarkan air hujan
membasahi wajahnya, juga tubuhnya.
"Bukan berarti aku nggak sayang sama kamu, Ri," kata Reina, membuat Orion mendengus.
"Nggak usah pake kasian segala, Rei. Simpen aja-"
"Aku bukan kasian sama kamu!" sambar Reina. "Tapi aku sayang sama kamu! Kamu pikir, karna
aku cinta sama Ares terus aku benci sama kamu" Nggak, Ri. Kamu udah aku anggep sebagai
kakak aku sendiri." Orion menatap Reina. Orion bukannya tidak tahu kalau gadis itu menyayanginya, tapi Orion
masih belum bisa menerimanya. Tidak sebagai kakak.
"Kamu nggak terbiasa kalah," gumam Reina seolah bisa membaca pikiran Orion.
Orion memalingkan wajahnya. "Jadi, sekarang kamu mau bikin aku ngerasa kalah?"
"Bukan gitu," kata Reina tenang. "Aku tau, sebenernya kamu udah bisa nerima kenyataan ini,
cuma kamu masih terlalu gengsi untuk menerima kekalahan. Kamu udah menang seumur hidup
kamu. Kamu nggak bisa kalah dari kakak kamu yg kurang segalanya dari kamu."
Orion menatap Reina. Dia tahu gadis itu benar.
"Ares itu," gumam Orion sambil menjambak rambutnya. "Orang yg beruntung."
Reina menghampiri Orion, lalu memayunginya sambil tersenyum lembut. "Kamu tau, Ri" Kamu
nggak bisa bilang begitu. Ares masih butuh pertolongan."
"Pertolongan" Pertolongan macem apa yg kamu maksud" Ares bukan jenis orang yg butuh
pertolongan," kata Orion, alisnya bertaut. "Ares tuh orang paling keras yg pernah aku liat. Dia
nggak pernah mau dibantu, dia selalu aja ngelawan semua orang."
"Itu bukan mau dia," kata Reina sabar. "Di dalam hatinya, dia kesepian, Ri."
"Kalo dia kesepian, kenapa dia nggak membuka diri" Kenapa dia malah jadi anak yg bandel,
nggak pernah nurut kata orangtua, dan nggak pernah belajar" Kenapa dia berusaha untuk jadi
yg terburuk" Apa itu cara dia untuk cari perhatian?"
Reina hampir saja akan membeberkan rahasia Ares kalau tidak ingat bahwa itu bukan haknya.
"Ri, ada sesuatu hal yg membuatnya begitu. Yg jelas, dia nggak pernah pengen bego, dia nggak
pernah pengen dimarahin orangtua kamu, dia nggak pernah pengen diremehin semua orang.
Dan kamu bener, dia berkelahi di sana-sini cuma untuk nyari perhatian orangtua kamu yg udah
tersedot habis buat kamu," jelas Reina miris. "Lagi pula, kamu tau dia berkelahi untuk apa."
"Jadi, apa yg bikin dia kayak gitu?" tanya Orion penasaran.
"Bukan hak aku untuk ngasih tau kamu," kata Reina. "Yg kamu harus tau, selama ini Ares
menderita, dan ini sama sekali bukan keinginannya."
Orion terdiam memikirkan kata2 Reina. Di satu sisi, Orion merasa ini bukan waktu yg tepat untuk
membicarakan orang yg baru saja kembali merebut gadis yg disukainya. Tapi di sisi lain, Orion
juga ingin tahu apa yg menyebabkan Ares selama ini menjadi orang yg begitu menyebalkan.
Kalau Orion boleh jujur, selama ini Ares membuat semuanya menjadi mudah. Orion tidak perlu
belajar susah payah, karna dia tidak akan dimarahi, toh sudah ada Ares yg masih belum lancar
mengeja. Nilai2 ulangan Ares pun begitu buruk sehingga nilai Orion yg tidak begitu bagus tidak
terlalu kentara. Saat itu, semua perhatian orangtuanya hanya tertuju pada Ares seorang.
Namun, semakin hari Ares semakin berkembang, membuat Orion tidak mau kalah. Orion
mengejar semua peringkat, sementara Ares tertinggal di belakang. Hal ini membuat orangtuanya
menyerah mengajar Ares yg bodoh, lalu memutuskan untuk hanya memerhatikan dan
membanggakan Orion yg selalu juara kelas.
Orion merasa bersalah bila mengingat itu semua, tapi ini bukan sepenuhnya salah Orion. Salah
Ares mengapa dia dulu tak mau berusaha lebih keras. Salah Ares mengapa dulu dia begitu
malas. Salah Ares mengapa dulu dia tidak belajar segiat Orion. Dan sampai sekarang, Orion
tidak mengetahui penyebabnya. Mungkin Ares hanya menyerah.
"Ri, aku mohon, jangan anggap remeh kakakmu lagi," kata Reina.
"Kenapa aku harus peduli sama orang yg nggak pernah peduli sama aku?" tanya Orion.
"Dia peduli sama kamu," kata Reina pelan. "Kamu harus yakin itu. Dia kakak kamu. Nggak
mungkin dia nggak peduli sama kamu. Kamu inget" Dulu waktu kita kecil, waktu kamu
digangguin, dia langsung belain kamu dan pukul habis semua orang yg ngejek kamu. Kamu
udah lupa, Ri?" Orion tidak pernah lupa. Hanya saja, kejadian menyenangkan itu sudah tidak pernah terjadi lagi.
Bab 6 Never Too Late SABTU pagi, semua orang kecuali Ayah sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Ares
yg biasanya bangun siang pun tampak sudah rapi dan wangi.
Orion mengamati Ares yg dengan seenaknya menjejalkan segala macam hal di meja makan selada, tomat, mayones, telur, saus tomat- ke dalam rotinya. Setelah pembicaraannya dengan
Reina kemarin, Orion merasakan sesuatu terhadap Ares, entah apa. Sepertinya Orion merasa
Ares memang sedang membutuhkan pertolongan, tapi Orion tak tahu harus berbuat apa. Ares
lah yg dulu selalu membantunya.
Ares dapat merasakan tatapan Orion. Jadi, Ares balas menatapnya, mengira Orion jijik terhadap
racikan roti isinya, lalu menggigit roti itu dengan buas. Reina terkikik melihat kelakuan Ares.
Tak lama kemudian, Ayah keluar dari kamar dan bergabung ke meja makan. Ayah keheranan
melihat Ares yg biasanya masih tergeletak di sofa, sekarang sudah berdiri dengan pakaian
lengkap. "Mau ke mana kamu?" tanya Ayah.
Ares menatap Ayah sebentar, salah tingkah. "Hm... keluar, Yah," jawab Ares tak jelas.
"Kamu pikir Ayah bodoh ya?" sahut Ayah dengan nada tinggi, membuat kegiatan di ruang makan
terhenti. Mendadak, semua orang merasa tegang.
Ares menatap Ayah tajam. Ares tidak bisa mengatakan padanya bahwa dia akan berangkat kerja
paruh waktu untuk menambah biaya kuliah penerbangannya nanti. Ini sebuah kejutan, dan tidak
akan mengejutkan jika diberitahu sekarang.
"Kamu ini kerjaannya main melulu," komentar Ayah, tapi sudah lebih tenang. Dia duduk di kursi
makan. "Kalau nggak ngacau, berantem. Pulang2 pasti bonyok, bikin malu keluarga saja."
Ares terdiam menahan semua emosinya. Roti isinya seperti menyangkut di tenggorokan. Dia
dapat merasakan tangan dingin Reina menggenggam tangannya.
"Mau jadi apa sih kamu ini?" tanya Ayah lagi, sementara semua orang masih bergeming.
"Jangan2 selama ini kamu ngobat juga ya?"
Ares merasa darahnya menggelegak dan naik ke kepalanya. Dia sudah tak tahan lagi. Tapi
tangan Reina membantunya untuk tetap tenang.
"Aku kerja, Yah," kata Ares tegas.
Reaksi Ayah begitu keras. Mata dan mulutnya melebar. Ares menatapnya gentar. Tak berapa
lama, Ayah malah tertawa terbahak-bahak.
"Kerja" Kamu" Bisa apa kamu?" sahutnya sinis.
"Apa aja," balas Ares mantap. "Kerja di bengkel, di restoran, di mana aja."
Mendengar jawaban Ares, Ayah terdiam sebentar. Dia lalu memukul meja keras2, membuat
semua orang berjengit di tempat masing2.
"Kamu mengejek Ayah ya" Kamu pikir Ayah sudah nggak sanggup membiayai kamu" Kamu
meremehkan Ayah"!" sahutnya dengan suara menggelegar.
Ares tak menjawab. Dia tahu bahwa tak ada yg harus dijawab.
"Memang kamu anak kurang ajar!" sahut Ayah lagi. Sekarang dia sudah bangkit, rotinya
dilempar begitu saja. Ares sendiri sudah siap menerima apa pun darinya. Tapi, Ayah tak memukul ataupun
menampar. Dia malah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak tau kamu mau jadi apa... Ayah sudah pasrah...," gumamnya sambil meninggalkan ruang
makan menuju gazebo. Ares sempat berpikir untuk melupakan semua cita-citanya. Tapi kalau dia melakukannya, tak
akan ada satu pun perubahan pada dirinya. Dan Ares tak mau itu terjadi.
"Res," kata Ibu pelan. Wajahnya terlihat sangat lelah. "Kenapa sih, kamu sampai kerja segala?"
"Bu, ada sesuatu yg pengen Ares beli. Dan Ares nggak mau nyusahin Ayah sama Ibu," Ares
meraih ranselnya. "Ares pergi dulu."
Dengan langkah berat, Ares bergerak ke luar rumah.
"Bagus!" seru Reno saat melihat Orion baru saja berhasil mencetak three points.
Orion berlari-lari kecil mendekati pelatihnya sementara di tengah lapangan, Raul menatapnya
bengis. "Sepertinya lo udah berhasil nyelesaiin masalah lo," Reno menepuk-nepuk punah Orion. "Lo
udah balik kayak dulu. Kalo gini, lo bisa dapetin posisi lo balik."
Orion hanya tersenyum sambil menyeka keringatnya dengan handuk. Walaupun masalahnya
dengan Ares belum selesai, setidaknya beban Orion tidak seberat sebelumnya. Reina sudah
dengan tegas menolaknya, dan tak ada yg bisa Orion lakukan tentang itu. Orion sudah
memutuskan untuk menghilangkan masalah itu dari benaknya dengan berkonsentrasi penuh
pada basket. Orion tidak menyadari kehadiran Raul. Anak itu dan teman-temannya sekarang sudah
mengelilingi Orion sementara Reno kembali ke tengah lapangan. Orion menatap mereka
bingung. "Ada apaan nih?" tanya Orion heran.
"Serahin posisi lo ke gue," kata Raul tegas.
"Apa?" tanya Orion, takut salah dengar.
"Lo nggak budek, kan" Gue bilang, serahin posisi lo ke gue," kata Raul lagi.
Orion menatap Raul sebentar seakan Raul hanya bercanda, lalu terbahak. "Sejak kapan sih lo
jadi banci begini?" tanya Orion di sela2 tawanya. "Kenapa, lo udah nggak bisa bersaing sama
gue?" Raul menatap Orion sengit. Orion membalasnya dengan tak kalah sengit.
"Serahin posisi lo waktu turnamen nanti," Raul tak memedulikan kata2 Orion. "Kalo nggak, lo
tanggung sendiri akibatnya. Dan jangan bilang gue nggak pernah ngasih peringatan ke elo,"
tambahnya sebelum berlalu diikuti teman-temannya.
Orion menatap bimbang kepergian Raul. Orion bukannya takut. Dia tahu betul bagaimana Raul.
Dia bisa menyakaiti orang lain tanpa merasa bersalah. Raul orang yg bisa menghalalkan segala
cara untuk mencapai tujuannya.
Orion lalu tertawa kecil. Ini hanya turnaman basket. Apa sih yg begitu serius"
Tapi begitu mengingat rumor bahwa pada saat turnamen nanti banyak manajer tim2 basket
nasional berdatangan, Orion menghentikan tawanya dan sibuk berpikir.
"Ares!" Sahutan Reina membuat kepala Ares terbentur kap mobil yg sedang diperbaikinya. Ares
menoleh dan mendapati Reina sedang nyengir lebar dan melambai ke arahnya. Ares menatap
bimbang mobil itu sesaat, lalu memutuskan untuk meninggalkannya sebentar.
"Bos!" sahut Ares kepada laki2 setengah baya yg sedang duduk sambil merokok di depan
sebuah Nissan Terrano. Laki2 bernama Juanda yg merupakan bos dari Ares itu menoleh. Ares memberi isyarat padanya
untuk minta waktu sebentar. Juanda melirik ke arah Reina yg segera tersenyum, lalu kembali
menatap Ares. Jari kelingkingnya melambai-lambai sambil mengedikkan kepala, meminta
jawaban atas status Reina. Ares garuk2 kepala sebentar, lalu mengangguk malas. Juanda
menilai Reina sesaat, lalu segera membentuk jari telunjuk dan jempolnya seperti lingkaran
sambil memainkan alisnya. Ares melambaikan tangannya sebagai tanda terima kasih, lalu
segera menghampiri Reina.
"Apaan tuh?" tanya Reina geli.
"Apaan apa?" Ares balas bertanya sambil duduk di atas tumpukan ban. Reina hampir saja ikut
duduk juga kalau tidak dicegah Ares.
"Tadi, kode2 tadi," kata Reina.
"Oh," Ares mengeluarkan lap dari kantong celananya, meletakkannya di atas ban, lalu menyuruh
Reina duduk di atasnya. "Jangan dipeduliin. Cuma kode antar montir."
"Kode antar montir?" sahut Reina lagi, sekarang sudah tertawa.
"Jadi, kenapa kamu bisa tau aku kerja di sini?" tanya Ares. Reina hanya tersenyum jail. "Oh,
jangan ngomong," kata Ares lagi. "Kamu ngikutin aku, kan?"
Reina nyengir. "Yep."
Ares hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. Reina menatapnya
lekat2. "Res, kenapa sih kamu kerja" Apa sih yg mau kamu beli?" tanya Reina akhirnya.
Ares balas menatap Reina yg sepertinya tampak sangat ingin tahu. Selama beberapa saat, Ares
bimbang untuk memberitahunya. Ares merasa lebih baik menyimpannya sendiri sampai saatnya
tiba. "Itu buat kejutan, Rei," kata Ares. "Aku belum kasih tau siapa pun."
"Tapi aku kan bukan 'siapa pun', Res," rayu Reina.
Ares menatap Reina yg sekarang wajahnya sudah seperti 'anak anjing yg minta susu', lalu
tersenyum. Ares memang tidak bisa menyimpan rahasia apa pun darinya.
"Aku cuma mau mewujudkan cita-citaku, Rei," kata Ares sambil berusaha membersihkan
tangannya yg belepotan oli. "Kamu tau kan, cita-citaku?"
Reina sibuk berpikir sebentar, lalu memandang Ares seolah tak percaya.
"Res! Dulu kamu pernah bilang mau jadi pilot kan?" tanya Reina histeris dengan tangan
menekap mulutnya. Ares cuma mengangguk.
"Bener. Aku sekarang ngumpulin duit untuk daftar di salah satu sekolah penerbangan," kata Ares
sambil menerawang. Reina menatap Ares yg tampak benar2 berbeda. Baru kali ini Reina melihat Ares yg penuh
harapan dan percaya diri. Reina tahu tidak mudah bagi seorang Ares untuk melakukannya.
"Tapi Res, kenapa tadi pagi kamu nggak bilang sama Om?" tanya Reina lagi.
"Udah aku bilang, ini kejutan," jawab Ares santai.
"Tapi kamu jadi kena marah-"
"Jangan khawatir soal itu," Ares memotong kata2 Reina. "Aku udah terbiasa. Aku nggak akan
nyerah hanya karna kena marah Ayah."
Reina memandang Ares khawatir. "Res, ada sesuatu yg harus aku omongin ke kamu. Tapi janji
ya, jangan marah" Ini soal ayah kamu."
"Ngomong aja," kata Ares penasaran.
"Res, mungkin kamu memang udah terbiasa kena marah. Mungkin kamu tau kamu kena marah
bukan karna kesalahan kamu. Tapi apa ayah kamu tau" Apa kamu nggak ngerasa kalo selama
ini ayah kamu juga menderita karna selalu marahin kamu?" tanya Reina. "Apa kamu
mempertimbangkan kesehatannya" Dia udah tua, Res," kata Reina lagi.
Ares terdiam. Reina benar. Ares tak pernah melakukannya.
"Capek, Ri?" tanya Ibu begitu melihat Orion masuk dari pintu depan.
"Banget, Bu," Orion membanting tubuhnya ke sofa. "Si Reina ke mana, Bu?"
"Katanya sih mau ke tempat kerjanya Ares," kata Ibu sambil menyuguhkan segelas es cokelat
untuk Orion. Orion mengernyitnya tak suka.
"Bu, aku udah gede," kata Orion sebal. "Jangan perlakuin aku kayak anak kecil lagi dong."
"Masa sih?" tanya Ibu genit. "Aduh... padahal rasanya baru kemarin Ibu nganterin kamu ke TK..."
Orion memasang tampang masam. Ibu selalu melakukan semua untuknya. Ibu tak pernah
membiarkan Orion mengambil nasinya sendiri, menyiapkan sarapannya sendiri, ataupun bangun
sendiri. Di umurnya yg sudah dua puluh ini, Orion masih merasa diperlakukan seperti anak umur
lima tahun. "Malu, ah, Bu. Mulai besok2 nggak usah kayak gini lagi," kata Orion lagi.
"Besok2 aja ya?" sahut Ibu dari dapur. "Kamu rela Ibu nggak ada kerjaan lagi?"
"Kenapa sih Ibu cuma manjain aku" Kenapa ke Ares nggak pernah?" tanya Orion, membuat Ibu
menjatuhkan piring kesukaannya.
Orion terkejut dengan suara itu, jadi dia segera melompat ke dapur. Orion melihat Ibu sedang
memungut pecahan2 piring.
"Adah... Ibu ngapain sih?" Orion membantu Ibu yg sudah berlinang air mata.
"Bu! Ibu kenapa" Ada yg luka?" sahut Orion panik sambil memeriksa jemari Ibu. Tapi, tak satu
pun terluka. "Udah terlambat, Ri," kata Ibu di tengah isaknya.
Orion menatap Ibu tak mengerti.
"Ares udah terlalu marah sama Ibu... Ibu udah nggak bisa berbuat apa2 lagi sama dia..." Orion
pun paham. Bertahun-tahun Ibu mendapat kesempatan untuk memberi Ares perhatian yg lebih,
tapi tak dilakukannya. Semua orang tak melakukannya. Dan sekarang sudah terlalu terlambat
bahkan untuk memulainya. Makan malam hari ini tidak dihadiri Ayah. Ares sebenarnya ingin bertanya keberadaannya pada
Ibu, tapi dia sangat enggan melakukannya. Reina mengetahui maksud Ares.
"Tante, Om ke mana?" tanya Reina.
"Oh, Om lagi dinas ke Bandung selama dua hari," jawab Ibu.
Ares mendadak tak bernapsu makan. Tadinya dia sudah membulatkan tekad untuk meminta
maaf pada Ayah, tapi ternyata bahkan takdir pun menentang keinginan mulia Ares.
Reina menepuk pundak Ares pelan, berusaha memberi semangat.
"Emang kenapa?" tanya Ibu heran.
"Nggak apa2," jawab Ares, dan detik berikutnya dia menyesal telah menjawab, karna sekarang
mata Ibu dan Orion mengarah padanya.
Tapi rupanya Orion dan Ibu tidak mengambil pusing karna sekarang Ibu sudah menyodorkan
nasi kepada Orion. Orion menolaknya, lalu mengedikkan kepalanya tanpa kentara ke arah Ares.
Ibu memandang Ares bimbang sesaat.
"Res," Ibu menyodorkan secentong penuh nasi ke piring Ares.
Ares bengong sesaat, tidak memercayai penglihatannya. Setelah Reina menyikutnya, baru Ares
tersadar. "Oh, eh, iya," kata Ares kikuk sambil menyodorkan piringnya sehingga Ibu bisa menaruh nasi di
atasnya. "Mm... makasih," gumam Ares pelan setelah piringnya terisi penuh.
Orion dan Reina berpandangan sebentar, lalu saling melempar senyum penuh arti. Sementara
Ares mengamati nasinya, Ibu bangkit dan berjalan ke dapur.


That Summer Breeze Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tante mau ke mana?" sahut Reina.
"Ng... ke dapur, ngecek sayur!" sahut Ibu dari dapur.
Ibu tidak mengecek sayur, Orion tahu betul. Ibu pasti sedang menangis lagi.
"Yg semalem itu, lucu banget ya?" kata Reina kepada Orion besok siangnya.
Orion mengangguk sambil tersenyum simpul. Mengingat wajah Ares yg tampak luar biasa salah
tingkah saat Ibu menyendokkan nasi untuknya semalam, sangat membuat Orion geli. Tapi begitu
mengingat wajah Ibu yg luar biasa terharu, Orion membatalkan niatnya untuk tertawa.
"Nggak nyangka, Ares bisa begitu salah tingkah," kata Reina, juga masih dengan senyum
tersungging di wajah. "Lucu banget."
"Aku rasa dia udah mulai ngebuka hatinya," kata Orion.
"Bener banget," Reina setuju. "Dan aku rasa, di sini ada seorang lagi yg harus berbuat sama."
Orion memandang Reina sebentar. "Kamu tau" Itu nggak akan mudah-"
"Jangan bilang gitu dulu sebelum mencoba," Reina menepuk pundak Orion. "Just give it a shot."
"Dalam arti sebenarnya, boleh juga," kata Orion disambut tawa Reina.
"Eh, kamu tau" Ada yg bisa kita lakuin. Mm... sebenernya sih, udah mau aku lakuin sejak tidur di
kamarnya Ares. Aku mau pasang poster di langit-langitnya! Kamu bantuin, ya?" tanya Reina.
"Kamu kayak nggak ada kerjaan aja," kata Orion heran. "Bukannya dilepasin, malah mau
dibanyakin. Kamarnya tuh udah kayak sarang rock star!"
"Justru itu," Reina memainkan alisnya. "Ayolah Ri... Aku pengen banget pasang poster gedenya
Mick Jagger di atas tempat tidurnya. Pasti shock berat!"
"Oh yeah," komentar Orion sinis. "Shock banget pasti."
"Ayo dong Ri... Katanya kamu mau memperbaiki hubungan kamu sama Ares" Ntar aku deh yg
bilang kalo yg masang poster itu kamu!" rayu Reina lagi.
"Iya, iya!" sahut Orion akhirnya. "Tapi nggak usah repot2! Bilang kamu aja yg pasang."
"Iya deh..." kata Reina lagi. "Orion baek deh... Eh, masuk yuk" Kita kerjain sekarang. Lagian,
kayaknya udah mau ujan."
Orion mengikuti Reina yg melangkah riang ke dalam rumah. Entah mengapa Orion merasakan
firasat buruk. Tapi mungkin itu karna dia hendak memasuki kamar Ares.
"Ri, pegang aku erat2 ya! Jangan sampe jatoh!" sahut Reina yg sekarang sudah duduk di
pundak Orion. Kedua tangannya memegang poster besar Mick Jagger.
"Iya, iya! Berisik banget sih! Berat tau!" seru Orion sambil berusaha menjaga keseimbangan
tubuhnya di atas kasur. "Jangan goyang2!" sahut Reina lagi. "Miring nih Mick-nya!"
"Emangnya aku peduli!" balas Orion. "Cepetan dong! Kram nih kakiku!"
Reina tak bisa menempelkan posternya dengan benar karna Orion selalu bergoyang-goyang.
Saat akhirnya kaki Orion tak kuat lagi menopang tubuh mereka, Reina terjatuh dan menimpa
Orion yg sudah lebih dulu terjatuh ke kasur.
Reina dan Orion tergelak-gelak menertawakan kebodohan mereka.
Hari ini Ares bekerja dengan giat. Terlalu giat, mungkin. Ares merasakan seluruh tubuhnya
lumpuh total setelah mengerjakan dua mobil mogok sekaligus.
Ares memasuki rumahnya tanpa semangat, lalu berjalan gontai menuju sofa, bermaksud
membanting dirinya ke sana. Tapi begitu mendengar gelak tawa Reina dan Orion dari kamarnya,
Ares memaksakan tubuhnya bergerak ke arah kamarnya dan membukanya.
Reina dan Orion sedang... entahlah. Ares tidak bisa menebaknya. Hanya saja, jelas bukan hal
yg baik jika melihat posisi mereka berdua. Reina berada tepat di atas tubuh Orion, dan mereka
berdua sedang tertawa riang.
Ares dapat merasakan seluruh ototnya mengejang, dan darahnya mendidih dalam hitungan
detik. Saat menyadari Ares di ambang pintu, Reina dan Orion berhenti tertawa, lalu segera
memisahkan diri. Ares mengepalkan kedua tangannya. Tepat pada saat ini, Ares ingin membunuh mereka berdua.
Tapi hati kecil Ares mencegahnya mati-matian.
Ares bisa melihat Reina berusah menjelaskan sesuatu, tapi tak ada sedikit pun yg bisa terdengar
oleh Ares sekarang. Telinganya berdenging keras, seperti ada sesuatu yg telah mengganjalnya.
Reina bergerak mendekati Ares, tapi Ares tak akan membiarkannya. Ares tak akan membiarkan
gadis ini mendekatinya lagi. Tidak sekali pun lagi dalam hidupnya.
"Minggir lo!" sahut Ares sambil menepis tangan Reina sehingga Reina terjatuh.
Orion segera berlari menuju Reina dan membantunya berdiri. Ares sungguh muak melihat
mereka. Jadi, Ares segera menyingkir dan berlari sekuat tenaga ke luar rumah, menembus
lebatnya hujan yg tiba2 turun.
Ares sudah tidak memedulikan keletihannya. Yg Ares inginkan sekarang hanyalah mati. Ares
selalu tahu bahwa hidupnya tak akan semulus yg dia kira. Tidak mungkin bisa semulus ini.
Ares berteriak sekuat tenaga, melepaskan amarahnya.
"Ares!" sahut Reina di belakangnya. Ares tak mempunyai keinginan untuk menoleh. "Ares, kamu
harus dengerin aku!"
Ares bisa merasakan air matanya sudah berbaur bersama air hujan. Ares merasa tak perlu
mendengar apa pun lagi. Ares sudah terlalu lelah berusaha. Pada akhirnya, dia akan kehilangan
semuanya. "Ares, please..."
"Lo bilang semua orang butuh kesempatan kedua," gumam Ares dingin. "Dan gue udah ngasih
lo dua kali. Trus apa yg membuat lo berpikiran kalo gue bakal kasih lo sekali lagi?"
Reina terisak hebat. "K-kamu ha-harus denger..," suara Reina yg gemetar tenggelam dalam
derasnya hujan. "Elo tuh," Ares menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Lo tuh dari luar manis banget.
Tapi, di dalem lo tuh ancur!"
Reina tak bisa menjawab karna sudah sangat kedinginan, ditambah lagi isakannya yg
menghebat. "You know, I thought I knew you, but somehow I was wrong," kata Ares lagi. "You're the
sweetest little... witch I ever knew."
Isakan Reina berhenti begitu saja saat mendengar kata2 itu keluar dari mulut Ares. Reina
menatap Ares yg juga sedang menatapnya tajam. Walaupun kulitnya terasa dingin, Reina
merasa hatinya panas setelah Ares mengatainya.
"Jelas banget kalo kamu nggak pernah kasih aku sedikit pun kepercayaan," kata Reina. "Kamu
berani-beraninya ngatain aku. Berani-beraninya! Aku sayang banget sama kamu, Res! Kenapa
kamu nggak mau dengerin aku"!"
Ares menatap bimbang Reina yg menggigil. Kepala Ares dipenuhi berbagai hal yg belum selesai;
pekerjaannya, kuliahnya, orangtuanya. Ares mengira salah satu masalahnya yaitu Reina sudah
selesai. Tapi ternyata belum. Apa yg dilihat Ares tadi sudah cukup untuk menjelaskan.
"Kenapa lo nggak ngebiarin gue sih Rei" Kenapa sih lo harus bikin gue gila?" tanya Ares lelah.
"Res, kamu salah..." jerit Reina putus asa. "Tadi itu, poster Mick..."
Ares tak mau mendengar lagi. Sekarang Reina malah mengigau soal sesuatu yg tak masuk akal.
Ares menjambak-jambak rambutnya, lalu berbalik berjalan menjauh, meninggalkan Reina yg
terduduk di jalan. Reina bisa mendengar raungan Ares, seperti serigala yg sedang terluka.
Reina tak bisa berbuat apa2. Untuk membuat Ares percaya pertama kali saja sudah
membutuhkan usaha Reina yg setengah mati, dan sekarang Reina hampir tidak punya sisa
tenaga lagi untuk membuatnya kembali percaya.
Reina kembali terisak. Hatinya sakit mengingat perkataan Ares tadi.
Dipo dan Wanda berpandangan cemas, tapi membiarkan Ares mengamuk di gudang tempat
mereka biasa berlatih. Ares menendang apa pun yg dilihatnya. Wanda segera menahan tubuh
Ares saat dia mengincar drum milik Wanda. Dipo segera turun tangan membantunya.
"Res, tenang!" sahut Dipo yg bersusah payah mencegah Ares menghancurkan speaker.
Ares tak mendengar apa pun. Dia hanya mendengar dengingan keras di kepalanya, yg
membuatnya pusing berat, dan ingin menghancurkannya.
"Res, berhenti! BERHENTI!" teriak Wanda, lalu memegangi kedua tangan Ares yg telah
memukul-mukuli kepalanya sendiri dengan kalap.
Ares tidak berhenti menggeliat dan berusaha melepaskan diri dari kedua temannya. Ares tak
tahu lagi harus melakukan apa selain bunuh diri. Untuk sesaat selama beberapa hari yg lalu,
Ares menemui kenyataan bahwa tak ada setitik pun kebahagiaan yg ditakdirkan padanya.
"RES!" sahut Wanda lagi, lalu detik berikutnya merasakan pelipisnya terhantam keras. Wanda
barusan memukulnya, napasnya terengah-engah.
Ares terdiam sebentar, memegangi pelipisnya yg terasa berdenyut-denyut, lalu terduduk lemas
di atas speaker. Matanya kosong. Pikirannya menerawang entah ke mana.
"Gue bener2 bego... Gue pikir, gue pikir, untuk sekali aja dalam hidup gue, gue akhirnya bisa
bahagia... Bisa nyenengin orang... bokap gue... tapi apa gunanya sekarang, hah, apa" Nggak
ada yg pernah ngehargain gue... nggak ada satu orang pun yg bisa ngertiin gue..."
Dipo dan Wanda saling pandang, heran sekaligus cemas. Mereka kembali menatap Ares yg
seakan berbicara sendiri.
"Bahkan... orang2 yg paling gue sayangin di dunia ini... ternyata nggak pernah sekali pun
ngebalas perasaan gue... Gue nggak lebih dari seonggok sampah... Sampah yg nggak
berguna... yg nggak menarik perhatian siapa pun... yg bagusnya cuma diludahin... dilecehin...
ditinggalin..." "Res, jangan berlebihan kayak gitu," kata Dipo, setengah ngeri mendengarkan kata2 Ares.
Ares mendelik kepada Dipo, lalu mendadak bangkit dan mencengkeram kerah bajunya.
"Tau apa lo?" tanya Ares bengis. "Tau apa lo soal gue" Lo bilang gue berlebihan" Lo nggak tau
apa2!!" teriaknya lagi lalu sebuah pukulan melayang pada wajah Dipo.
Wanda segera bergerak memisahkan Ares dan Dipo yg sekarang sudah terduduk dengan bibir
yg sobek. Dipo menyeka darah yg menetes dari mulutnya lalu memandang Ares geram. Ares tak
peduli. "Res, emangnya salah siapa selama ini kita nggak tau apa2?" teriak Dipo kesal.
Ares menatap Dipo sejenak, lalu beralih ke Wanda yg sudah memandangnya lebih dahulu.
"Res, Dipo bener. Selama beberapa tahun ini lo nggak pernah cerita apa pun sama gue dan
Dipo. Trus kenapa sekarang kita harus ngertiin lo?" kata Wanda tenang. "Kalo lo belum sadar
juga, kita udah bertemen dari SMA, tapi ternyata lo terlalu sibuk dengan pikiran lo-nggakdisayang-sama-siapa-pun lo! Lo nggak sadar dengan siapa lo empat tahun ini bergaul"!"
Ares bengong, menatap Dipo dan Wanda bergantian. Seakan baru tersadar dari mimpi yg
panjang, Ares mundur beberapa langkah sambil menjambak-jambak rambutnya yg ikal.
"Sori," kata Ares setelah ia kembali terduduk lemas. "Sori. Gue bener2... bego."
Wanda dan Dipo berpandangan, lalu bersama-sama menghampiri Ares. Dipo mengempaskan
dirinya ke sebelah Ares, lalu menghela napas.
"Jadi, man, apa masalah lo?" tanyanya tanpa memandang Ares.
Wanda tersenyum menatap kedua temannya itu, lalu ikut mengambil tempat di samping Ares.
Wanda melirik arlojinya. "Masih ada beberapa jam sebelum manggung," kata Wanda. "Semoga permasalahan lo bisa
dipadetin jadi beberapa jam aja."
Ares menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menatap kedua temannya, lalu menggeleng-gelengkan
kepalanya pelan. "Gue rupanya dulu bener2 bego," sesalnya.
"Terima kasih, Tuhan," kata Dipo segera sambil mengelus ujung bibirnya. "Ternyata si bego ini
akhirnya menyadari kebegoannya... walaupun membutuhkan sedikit pengorbanan..."
Wanda dan Ares berpandangan geli.
"Rei, udah dong, jangan nangis terus," Orion berusaha sekuat tenaga menghibur Reina yg
sudah menangis semalaman. "Ibu nanyain terus tuh."
Reina tidak menjawab. Dia tetap menangis tanpa suara sambil memandang ke luar jendela,
berharap Ares memanjat jendela itu dan tersenyum kepadanya. Orion menggeleng putus asa.
"Rei, kamu harus makan. Kamu udah semaleman nggak makan. Ntar kamu sakit," kata Orion
lagi sambil menyodorkan sepiring nasi bistik kepada Reina.
Reina bergeming, membuat Orion semakin putus asa. Semalam Ares tak pulang, dan yg
dilakukan Reina hanyalah menangis sambil menatap jendela seperti ini. Orion menghela napas.
"Rei," Orion menarik dagu Reina sehingga menghadapnya. Orion terkejut melihat wajah Reina
yg pucat dan matanya yg bengkak. Tubuh Reina juga terasa seperti bara. Reina demam.
Reina menatap kosong Orion sebentar -membuat hati Orion pedih- lalu kembali menatap
jendela. Orion bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah besar2 menuju motornya setelah
memberitahu Ibu soal keadaan Reina.
Hanya satu tempat Ares biasa bersembunyi. Dan Orion bersumpah akan mengakhiri ini
sekarang juga. "Duitnya mau lo pake apaan sih, Res?" tanya Dipo saat mereka menghitung bayaran yg mereka
terima setelah manggung semalam.
Ares sadar bahwa dia belum memberitahu Wanda dan Dipo perihal sekolah penerbangannya.
Setelah menerima pandangan curiga dari kedua temannya, Ares memutuskan untuk
memberitahu mereka. "Wuah, keren amat!" sahut Dipo bersemangat. "Lo kumpulin duit sendiri?"
Ares mengangguk sementara Dipo bersorak lagi mengagumi Ares.
"Lo belum kasih tau orangtua lo?" tanya Wanda.
"Mereka pasti ngetawain gue," kata Ares skeptis.
"Pantesan lo selama ini giat banget nyari order!" sahut Dipo, rupanya tak mendengar
Pembalasan Ratu Mesum 2 Pendekar Bloon 16 Rahasia Pedang Berdarah Iklan Pembunuhan 3
^