Pencarian

Meet Sennas 3

Meet The Sennas Karya Orizuka Bagian 3


Logan menatapku heran,lalu mendengus mengejek."Kenapa" Lo enggak bisa" Terlalu susah?"
"Udah gue kerjain semua," sahutku dengan nada tak wajar.Kenapa sih dia harus datang saat
semalam aku baru saja pingsan"
Logan menatapku lagi,kali ini dengan wajah tak percaya."Lo bercanda,kan?"
"Gue udah enggak punya keinginan lagi buat bercanda," tukasku ketus.
Tatapannya menajam,lalu dia membuka-buka buku latihan Ujian Nasional-ku.Aku tak heran
melihatnya tidak mengeluarkan ekspresi apa pun.
"Lo punya kunci jawabannya,ya?" tanyanya setelah beberapa saat,membuatku naik pitam.
"Enak aja lo main tuduh! Semua kunci jawaban kan ada di elo! Samain sana kalo masih enggak
percaya!" jeritku histeris,lalu bangkit.
Cukup sudah semua penghinaan ini.Aku akan menemui Ayah dan memintanya untuk memecat
Logan.Namun,kemudian aku sadar sesuatu: Ayah tidak di ruang kerjanya.Semua pasti sudah
berkumpul di ruang sidang.Gara-gara si jelek Logan,aku melupakan satu hal yang sangat
penting: hari ini adalah hari penghabisan Dalas.
Aku segera berlari ke ruang sidang,yang ternyata malah kosong.Dengan dada
berdebar,akumelangkah ke ruang tamu.Ternyata semua anggota keluargaku,kecuali Ayah ada di
sana,sedangmengintip melalui jendela.
Aku menyeruak di antara Dennis dan Zenith,lalu segera membekap mulutku sendiri saat melihat
siapa yang duduk di teras depan.Dalas datang.Dia benar-benar datang.Ya,Tuhan,rasanya aku
mau menangis.Namun,ini belum seberapa.Dia masih dalam tahap percobaan awal.
Saat ini,Dalas sedang ditantang Ayah untuk bermain catur.Kata Dennis,ini sudah ujian yang
kedua.Sebelumnya,dia sudah disuruh mengisi formulir berisi segala hal yang tak masuk akal
tentangnya.Di pojok ruangan,Nenek dan Bunda sedang meneliti formulir itu sambil sesekali
terkikik.Aku menghampiri mereka dan merebut formulirnya.
Pertanyaan pertama masih umum karena menanyakan biodatanya (walaupun tentang ukuran
sepatu dan celana terasa janggal).Pertanyaan kedua tentang keluarganya.Pertanyaan ketiga
tentang kesehariannya di sekolah.Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya sangat konyol: kenapa dia
suka aku,apa warna kesukaanku,apa yang tidak disukainya dariku,pokoknya pertanyaanpertanyaan bodoh semacam itulah.Bahkan ada pertanyaan apa Dalas akan rela mati
untukku.Pertanyaan macam apa sih ini?" Mana ada cowok zaman sekaranga yang-oke,mungkin
Dalas.Dia menjawab "ya" di formulirnya.Aku tak bisa menyangkal,Dalas mungkin cowok paling
romantis sedunia.Atau penggombal.Namun,setelah melihat perjuangnnya,aku yakin dia serius.
"Romantis bener," goda Bunda sambil menyikutku-ternyata tahu apa yang sedang kupikirkan.
Aku hanya mengedikkan bahu,berharap Dalas tak sepenuhnya serius,karena seperti yang sudah
kubilang,aku sama sekali tak berharga dibandingkan nyawanya.
Tiba-tiba,seakan semua belum cukup buruk,Logan menampakkan dirinya.Ekspresinya wajahnya
heran saat melihat semua anggota keluargaku berkumpul di ruang tamu,dengan kompaknya
melongokkan kepala ke luar jendela.
"Ada ap-" "Eh,Lo!" sahut Dennis yang menyadari kehadiran Logan."Lihat sini,deh! Ada tontonan seru!"
Tontonan seru.Seakan Dalas adalah matador bego yang sedang dikejar-kejar banteng dan dijejali
seember steroid saja. Logan baru mengernyitkan dahinya,tetapi Dennis sudah menyeretnya ke jendela.Oh,tidak.Logan
melihatnya.Pasti sebentar lagi dia berpikiran bahwa aku adalah seorang idiot bahkan Dalas jauh
lebih idiot lagi karena suka kepadaku yang idiot.
"Itu cowoknya Daza,lho! Dan dia bakal diuji habis-habisan sama kita! Tenang aja,dia enggak
bakalan lulus ujian!" seru Zenith.
Halo" Zenith,kau tidak waras,ya?" Apa peduli Logan kalo itu cowokku yang sedang disiksa di
luar sana?" Dan,apa maksudnya kata-kata "tenang aja" itu?"
Logan hanya mengangguk-angguk kecil setelah mendengar kata-kata Zenith,lalu meloleh ke
arahku dan memberiku tatapan menusuk.Mungkin dia sedang menertawaiku dalam hati atau
malah cem-baiklah.Dia tak mungkin cemburu.Masalah Dalas dan keluargaku ini benar-benar
membuat otakku kehilangan fungsinya.
"ARGHHH!!!" seru seseorang-yang terdengar mirip sekali dengan suara Ayah.
Buru-buru,aku kembali menyeruak diantara kerumunan itu dan mendapati bahwa Dalas baru saja
men-skakmat Ayah.Dia tersenyum penuh kemenangan,lalu melambai riang kearahku-yang tidak
bisa kubalas karena aku masih shock berat.
Ayah pasti lebih shock dari aku.Seumur hidupnya,belum pernah sekalipun dia kalah dalam
permainan catur.Dan sekarang,dia dikalahkan oleh bocah tujuh belas tahun,calon pacar
anaknya.Aku yakin Ayah pasti tak akan menyentuh kotak caturnya lagi-paling tidak selama tiga
bulan. "Gila,hebat bener itu anak," gumam Dennis-yang sudah menghabiskan sembilan belas tahun
hidupnya untuk mengalahkan Ayah dan tak pernah berhasil-kagum.
Semua anggota keluargaku yang lain juga tampaknya masih belum percaya.Jadi,akumemberi
mereka tatapan itu-cowokku-yang-baru-mengalahkan-Ayah dan nyengir penuh kemenangan.
Sepuluh menit kemudian,keluargaku berbaris masuk ke ruang sidang.Aku sempat melihat Ayah
lewat dengan langkah gontai.Aku bertanya-tanya,ada ujian apa lagi setelah ini,mengingat belum
pernah ada yang mengalahkan Ayah.
Mereka melarangku untuk menemui Dalas (yangmenunggud di teras depan) dan tega
meninggalkanku dengan Logan di ruang tengah.Logan duduk di sofa seberangku,sambil
mengamatiku dengan tatapan yang tak kupahami.Aku sangsi apa bisa memahaminya,walaupun
aku hidup seribu tahun lagi.
Tiba-tiba dia mendengus."Konyol banget," komentarnya,terlihat jelas sedang menahan tawa.
Sebenarnya dia bisa tertawa kalau dia mau,karena aku sudah tidak bisa disakitinya dengan cara
apa pun lagi. "Oh ya" Apa yang konyol" Permainan ini" Permainan cowok-harus-ngejalanin-ujian-yang-luarbiasa-berat-sebelum-bisa-pacaran-sama-cewek-bego-kayak-gue ini" Asal lo tahu ya,gue enggak
pernah minta yang kayak begini! Dan,gue juga enggak minta pendapat lo! Lagian,lo enggak akan
pernah jadi bagian dari permainan ini.Jadi,gue minta lo jangan ikut campur!" sahutku panas,lalu
berderap ke pintu. Masa bodoh dengan laranga keluargaku.Berada seruangan dengan serigala ini membuatku
sangan frustasi.Saat mencapai pintu depan,langkah kakiku tiba-tiba terhenti.Aku
berbalik,menatap begis Logan yang sudah tidak tersenyum.
"Oh ya,satu lagi.Kalo lo anggap permainan ini konyol,berarti lo anggap keluarga gue
konyol.Lagi pula,permainan ini buat nguji kadar cinta Dalas buat gue.Sekarang terbukti kalo
ternyata ada cowok yang benar-benar sayang sama gue apa adanya.Gue-yang-bukan-tipe-ceweklo," sahutkku sebelum menutup pintu keras-keras.
Ya,Tuhan.Apa yang baru kukatakan tadi" Bukannya itu sama saja dengan menyatakan cinta
kepada Logan" Maksudku,kalau aku tadi marah-marah karena aku bukan tipe cewek yanng
disukai Logan,berarti aku berharap Logan menyukaiku,kan?"
Ah,Logan kan sudah tahu bagaimana perasaanku kepadanya.Dia pernah membaca diary sialanku
itu. "Daze" Lo kenapa?"
Suara Dalas membuatku tersadar.Dia masih duduk di kursi teras.Dahinya berkerut,tetapi
setidaknya dia masih tampak waras..
Baiklah.Dulu aku memang berharap Logan menyukaiku.Namun,sekarang sudah ada seorang
Dalas yang nyata,yang menyayangiku,yang mau mengikuti ujian-ujian konyol demi aku,juga
bersedia mati untukku.Kurang apa lagi" Kenapa aku masih saja membandingkannya dengan
Logan yang jelas-jelas tidak memperhatikan aku,yang selalu membentakku,yang mengatakan
aku bukan tipe ceweknya,dan yang akan memilih bunuh diri daripada menjawab pertanyaan apa
dia rela mati untukku" Kurasa aku sudah berlaku tiak adil terhadap Dalas.Mulai sekarang,aku
berjanji akan memperbaikinya.
"Enggak kenapa-napa," jawabku ambil mengusahakan tersenyum.
Dalas balas tersenyum,lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.Dia mengembuskan napasyang sepertinya sudah tertahan dari tadi.Kurasa,dia kelelahan karena terus menegakkan badan
sepanjang pertandingan catur tadi.
"Kenapa?" tanyaku penuh simpati."Kenapa kamu mau ngelakuin semua ini?"
Dalas menoleh ke arahku dan menatapku lembut.Senyumnya kembali terbit."Karena aku sayang
sama kamu.Harus berapa kali sih aku bilang?"
Meskipun masih merasa sedikit geli setiap mendengar kata-kata manisnya,aku harus
mengakui,aku sangat bahagia mendengar pernyataannya itu.Aku tak pernah merasakan kasih
sayang yang sesungguhnya dari siapa pun,termasuk keluargaku.
"Las,aku kasih tahu aja dari sekarang.Masih banyak ujian dari keluargaku dan itu bakalan
semakin berat.Kamu masih mau terus?"
"Terus dong," jawab Dalas,lalu tersenyum renyah."Kamu kayak pemandu kuis aja."
Au ikut tertawa.Sudah lama aku tidak tertawa hingga otot pipiku terasa aneh.
"Ngomong-ngomong,kamu hebat lho,tadi." Aku mendadak teringat kejadian tadi."Kok,kamu
bisa sih ngalahin Ayah" Padahal dia enggak pernah dikalahin siapa pun."
"Aku juga enggak tahu.Padahal aku baru sekali itu lho,bener-bener main catur," balas Dalas
membuatku bengong. "Kamu bercanda,kan?" tanyaku,berharap dia bilang "tapi bohong" atau apa.
"Serius.Aku Cuma tahu dasarnya aja.Pion jalannya kemana,kuda jalannya kemana,yah,gitu-gitu
aja.Aku enggak tahu taktik atau apanya.Tadinya sempet kepikiran juga bakal kalah ... tapi karena
tekadku kuat,menang,deh.Kayaknya ini kekuatan cinta ..."
Baiklah.Ayah bisa kena serangan jantung kalau tahu yang baru saja menngalahkannya hanya
tahu apa jalan ke mana.Aku tertawa keras-keras sampai perutku terasa sakit.Dalas memang
benar-benar menghibur. *** Selama sekitar 10 menit,aku mengobrol dengan Dalas tentang hal-hal kecil,dan itu membuatku
benar-benar nyaman.Bermaksud mengambil soda,aku kembali masuk ke rumah dan mendapati
Logan masih diposisi yang sama.Aku mengernyit kepadanya yang balas menatapku datar.Aku
sudah bertekad akan sebisa mungkin bersikap cool seakan tidak pernah terjadi apa-apa.Aku juga
harus melupakannya. "Ngapain lo masih di sini?" tanyaku ketus.Jangan-jangan tadi dia mengintipku dengan Dalas ...
Ya ampun,Daza,memangnya kenapa kalau dia mengintip?" Lupakan dia!
"Kalo bukan bokap lo yang mau ngomong sama gue,udah dari tadi gue cabut dari sini,"
jawabnya dengan nada malas.
Setelah melemparnya tatapan sengit,aku segera melengos,bermaksud mencari Ayah dan
menanyakan apa yang mau dibicarakannya dengan Logan.Bisa jadi Ayah mau memecatnya,dan
bila itu terjadi,aku berjanji akan mendapatkan ranking satu di kelas.Yah,agak berlebihan
sih,tetapi intinya dia harus tahu kalau aku serius.
Pintu ruang sidang tampak terbuka sedikit.Aku bermaksud untuk membukanya ketika suatu
pembicaraan menarik terjadi.Akumengurungkan niatku dan memasang telinga baik-baik.
Terdengar suara Bunda."... apa lagi yang bisa kita ujikan ke dia?"
"Ntar aku lomba renang sama dia," usul Dennis yang kemudian disetujui oleh seluruh
keluargaku. "Terus,kalo dia menang juga?" tanya Tante Amy,mewakili pertanyaanku.
Seluruh keluargaku terdiam.Ya,Tuhan,keluargaku terdiam.Separah inikah masalahku dengan
Dalas" Sampai seluruh keluargaku yang heboh itu diam dan mengerahkan seluruh tenaga dan
pikirannya untuk berpikir?"
"Pokoknya,Dalas harus berhasil kita jatuhkan," kata Ayah.
APA" APA KATANYA?" Aku seperti mendengar "Dalas harus kita jatuhkan" atau aku cuma
salah dengar?" "Ya.Kita enggak boleh membiarkan anak itu jadi cowoknya Daza," timpal Kakek.
Jadi,ini maksudnya semua ujian-ujian selama ini" Bukan untuk menguji apa cowok itu benarbenar menyayangiku atau tidak,tetapi supaya aku tidak akan pernah mendapatkan cowok"
Jadi,percuma saja cowok itu sayang aku,kalau pada akhirnya dia akan dijatuhkan dengan segala
cara! Cowok macam Dalas pun akan tumbang juga.
"Kejam!" Aku berseru emosi sambil mendorong pintu keras-keras.Kurasa aku baru saja
mendobraknya karena sekarang seluruh keluargaku menatapku ngeri."Apa maksud kalian Dalas
harus dijatuhkan,hah?""
"Tenang dulu,Daze ..."
"Tenang gimana?"" sambarku sebelum Tante Amy sempat bicara banyak."Kalian ngerencanain
supaya Dalas gagal,kan" Ayo jawab!"
"Duduk dulu,Daze ..."
"Duduk" DUDUK?" Ayah nyuruh aku duduk?" Aku mau kabur lagi dari rumah ini!" sahutku
serius.Seluruh keluargaku juga ternyata menganggapku serius karena Om Sony langsung
tanggap dan menghalangi jalan keluar.
"Daza,kami ngelakuin ini juga demi kebaikan kamu ..."
"Kebaikan" Kebaikan yang kayak gimana maksud Kakek" Ngebiarin aku terus-terusan jomblo
sampe aku tua?""
"Yah,paling enggak,sampai kamu lulus SMA ..."
"HAH?"" "Daze." Ayah menghampiriku yang segera kuhindari.Dia sudah membuatku kehilangan masamasa SMA yang seharusnya indah."Ayah dan semua keluarga ini udah nyiapin yang terbaik buat
kamu.Kamu enggak usah khawatir.Ayah Cuma pengin kamu lulus SMA dengan baik dulu,baru
setelah itu kamu boleh ... dekat sama cowok."
Aku tak percaya.Aku benar-benar tak percaya.Keluarga ini sudah benar-benar sudah membuatku
hilang akal. "Apa ..." kataku geram,"apa hal terbaik buat aku yang udah kalian siapin?"
"Ng ... kalo itu,Ayah enggak bisa bilang dulu.Pokoknya kamu harus lulus dulu."
"Jadi,kalian merasa kalian bisa ngatur aku" Coba aja kalo bisa!" sahutku keras,lalu segera
berbalik.Namun,Om Sony berhasil menangkap lenganku,seolah aku cewek nakal yang terjaring
operasi.Keluarga macam apa sih yang aku punya ini"
"Daze," kata Ayah lirih.Suara sedihnya membuatku tak jadi memukul perut Om Sony untuk
meloloskan diri.Aku memutar tubuh dan mendapati keluargaku memasang eksperi
murung.Nenek malah sudah mengalirkan air mata."Kasih kami kesempatan sampai kamu lulus
SMA.Setelah itu,kamu bisa bebas menentukan pilihan."
Messkipun aku masih marah dan sebagainya,tawaran ini jelas menggiurkan.Setelah aku lulus,aku
bisa bebas.Bebas.Kata yang tidak pernah terlintas dalam benakku selama tujuh belas tahun
ini.Bebas dari segala aturan konyol keluarga ini.
Namun,bagaimana dengan Dalas" Cowok itu menyayangiku.Cowok itu akan melakukan apa pun
untukku,termasuk ujian-ujian konyol ini.Sekarang,apa yang harus kukatakan kepadanya" Bahwa
dia harus menunggu sampai aku lulus SMA"
Benar.Aku harus mengatakannya,daripada membiarkannya mengikuti ujian-ujian ini.Karena
pada kenyataannya,ujian-ujian ini tak akan pernah berakhir sampai Dalas mati kelelahan atau
sampai keluargaku kehabisan ide.
"Daza,kamu harus yakin kalau kami ngelakuin ini demi kebaikan kamu.Nantinya,kamu akan
berterimakasih sama kami."
Aku mendengus sekeras yang aku bisa.Aku tak akan pernah berterimakasih atas semua
penderitaan yang sudah kualami selama ini.Sekarang,aku hanya harus menjaga diri supaya tetap
waras sampai semua ini berakhir.
Aku melepaskan diri dari Om Sony dan melangkah ke pintu."Oh ya,Yah," kataku sebelum
membuka pintu,"Pecat tuh,si Logan."
"I"m afraid I can"t," tolak Ayah membuat mulutku ternganga."Dia tetap jadi tutor kamu sampai
kamu selesai ujian."
God,ada apa sih dengan keluarga ini?"
*** Jadi,begitulah.Aku mendapat jaminan kebebasan asal aku lulus SMA.Karena itu,aku harus
menyakiti perasaan Dalas.Aku sudah menyampaikan soal itu kepadanya kemarin malam,tepat
setelah keluar dari ruang sidang.Tentu saja,aku tak menyinggung-nyinggung soal kebebasan,aku
hanya mengatakan bahwa kami bisa membicarakan kembali hubungan kami setelah aku lulus
SMA.Dalas sempat membuatku kehabisan napas saat
dia memandangku denngan tatapan jadi-
untuk-apa-segala-ujian-yang-menyusahkan-ini,tetapi akhirnya akumenjawab dengan jujur,bahwa
keluargaku tak ingin Dalas mengganggu konsentrasi belajarku.Aku cepat-cepat menambahkan
bahwa keluargaku kagum dengan semangatnya untuk mendapatkan aku.Jadi,sepertinya tidak
akan masalah kalau kami pacaran setelah aku lulus.
Untungnya,Dalas menanggapinya dengan baik,walaupun aku tahu dia agak kecewa.Dan
manisnya,dia berjanji akan menungguku sampai aku lulus SMA.Aku bilang,aku tak akan
memaksanya dan tidak keberatan kalau dia pacaran dengan cewek lain,tetapi Dalas bersikeras
akan menungguiku.Ya,Tuhan,aku telah menyia-nyiakan seorang pangeran yang bersedia
melakukan apa pun untukku.
Sekarang,di sinilah aku,di kantin,kembali sendiri dan kesepian.Bahkan,Rinda tidak ada di
sini.Aku ingin sekali bercerita tentang segala sesuatu kepadanya,tetapi dia tidak masuk hari
ini.Aku akan menengoknya sepulang sekolah nanti.Mungkin sondrom-Om-Sony berpengaruh
besar bagi kesehatannya. Tiba-tiba,akumendengar suara gelak tawa dari meja seberang.Dalas dan teman-temannya tampak
asyik bersenda gurau sambil saling melempar sumpit.Aku bersyukkur dia memutuskan untuk
melanjutkan hidupnya,bukannya malah menentang keluargaku dan berbuat apa pun yang intinya
memperjuangkan kau. Dalas menangkap tatapanku,tersenyum sambil sekilas melambaikan tangan,lalu kembali
bercanda dengan teman-temannya.Aku balas tersenyum,lalu kembali kedunia nyata,di mana
Logan sudah membekaliku dua buah buku persiapan UN yang harus diisi karena aku kabur
kemarin.Oh,dan soal Logan,semalam Ayah membicarakan sesuatu yang sangat serius
denganyakarena mereka berbicara di ruang kerjanya dengan pintu tertutup rapat.Mungkin,raja
tega itu mengadukan kelakuanku yang buruk atau otakku yang isinya cairan lambung
melulu,tetapi masa bodoh.Aku hanya harus bertahan sampai lulus SMA,setelah itu aku akan
bebas! Meskipun sekarang aku sudah kembali ke kondisi seperti saat belum terjadi apa pun antara aku
dan Dalas,hubunganku denngan Logan jadi sangat buruk.Aku tak mau bicara apa pun lagi
dengannya saat les Matematika,ataupun saat-saat apa pun.Dia sudah sangat menyakiti hatiku.
Berkali-kali. *** "Kanker otak?""
Aku menjerit heisteris begitu mendengar ucapan Rinda yang sedang terbaring lemah di
ranjangnya.Siang ini,akumemutuskan untuk menjenguknya.Tadinya aku beranggapan dia pilek
atau apa,tetapi sekarang rasanya lututku lemas.
"Kalo iya,gimana?" kata Rinda membuatku melongo.
"Bego!" Aku berusaha keras menahan godaan untuk membekap wajahnya dengan bantal."Yang
ada,penyakit lo itu sakit jiwa!"
Dasar cewek gila.Mana ada orang yang mengandaikan dirinya sendiri terkena kanker otak"
Rinda benar-benar tahu caranya membuatku mati muda karena jantungan.
"Kalo Mas Sony denger gue kena kanker otak,gimana?" Dia kembali bertanya dengan wajah
penuh bintik-bintik merah.Aku tak percaya,zaman sekarang masih ada yang bisa terkena cacar


Meet The Sennas Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

air. "Kalo Om Sony denger lo kena kanker otak,dia bakaln terinspirasi buat nulis lagu judulnya
Goodbye,Psycho! Dan,semua yang denger lagu itu bisa kena kanker otak!"
Aku tahu akukejam,tetapi Rinda jauh lebih kejam dariku.Rinda terdiam beberapa saat,lalu ketika
aku baru mau meminta maaf dan menghiburnya,dia malah bangun dan terduduk.
"Bilang aja ke dia gue udah parah ... dan permintaan terakhir gue adalah nge-date sama dia ..."
Jelas-jelas dia tidak mendengarkan kata-kataku sebelumnya.Sepertinya,virus-virus cacar air itu
sudah benar-benar menngacaukan metabolisme tubuhnya,terutama otaknya.
Tepat ketika aku baru memutuskan untuk pulang,Tante Dian,ibu Rinda,menyuruhku keluar
supaya tak tertulat.Aku sungguh sangat senang berpisah dengan Rinda,juga kuman-kuman
sintingnya. Ternyata semua orang disekitarku sudah jadi gila.Untung saja,aku berhasil menyelamatkan satu
orang. Dalas,maksudku. *** Setelah kejadian dengan Dalas,hubunganku dengan keluargaku jadi tak seperti dulu
lagi.Semuanya terasa semakin tak nyaman.Mungkin ini gara-gara aku sempat kehilangan kendali
di ruang sidang.Meskipun semua orang berusaha besikap biasa,aku tahu mereka menghindariku.
"Kayaknya semua orang menghindar,ya?" kataku begitu mendapati Tante Amy di gazebo.
Saat duduk di sampingnya,aku baru sadar kalau ternyata kandungannya sudah sangat besar.Aku
benar-benar keponakan yang buruk,karena kenyataannya aku sekarang menghitung-hitung usia
kandungannya.Mungkin delapan bulan,atau sembilan.Entahlah.
"Enggak kok,mungkin Cuma perassan kamu aja," katanya lembut.
Tunggu dulu.Ada yang aneh di sini.Tante Amy tidak pernah lembut-lembut seperti ini.
Tante Amy ternyata menangkap ekspresi
menyeringai."Jelek banget ya,akting Tante?"
tak percayaku karena berikutnya dia "Sangat," kataku setengah lega,setengah kesal.Tante Amy sangat tak berbakat dalam bidang itu.
"Ng ... ngomong-ngomong,sebentar lagi bayinya lahir,ya," ucapku hati-hati,bermaksud mengejar
ketertinggalan informasi tentangnya dan bayinya.
"He-eh," gumam Tante Amy,sama aekali tak membantu.
"Terus?" pancingku.
"Kok,kamu tiba-tiba peduli?" tanya Tante Amy,membuatku tak bisa berkata-kata.
"Karena Tante tanteku?" jawabku seadanya,tetapi Tante Amy langsung pasang tampang
curiga."Oh,oke.Akhir-akhir ini aku banya urusan.Tante tahu,kan?" tambahku.
Tante Amy akhirnya melepaskan pandangannya dan mengangguk-angguk kecil dengan tatapan
ke arah kolam renang."Tante baru pertama kali lihat kamu hilang kendali kayak kemarin," kata
Tnate Amy serius."Kayaknya,kamu udah enggak tahan lagi tinggal di sini,ya?"
"Bukannya gitu," sanggahku cepat."Hanya aja ... coba kalo keluarga ini normal,kayak keluargakeluarga kebanyakan."
Tante Amy memberiku tatapan simpati.Rasanya dia tampak jauh lebih dewasa dari yang terakhir
ku ingat."Keluarga ini baik-baik aja.Keluarga ini berusaha memberi kamu yang terbaik.Kamu
pasti akan tahu suatu saat nanti."
Aku menatap Tante Amy lama,lalu mendengus."Tante Amy becanda lagi,kan?"
Tante Amy mengerjap beberapa kali,lalu ikut tertawa."Kayaknya Tante harus ngelupain tawaran
main sinetron,nih." Aku menertawainya selama beberapa saat,lalu segera berhenti begitu ingat kalau Tante Amy
harus mengorbankan banyak hal begitu bayinya lahir.Di luar keinginanku,aku menatap lekat
perutnya yang buncit. "Jadi single parent enggak sudah,kok,Daze," katanya kemudian dengan wajah ceria,seolah
mengetahui isi kepalaku. Oke.Jadi,semuanya sudah melanjutkan hidup.Aku benar-benar ketinggalan informasi.
*** Meskipun semalam Tante Amy mengatakan hal-hal positif,aku tahu dia belum sepenuhnya
melupakan dokter Rino.Aku pernah memergokinya sedang memandangi ponselnya,dan aku
segra tahhu kalau dia sedang menimbang-nimbang untuk menelepon dokter Rino atau tidak.Ego
Tante Amy jauh lebih besar daripada siapa pun.Jadi,aku cukup yakin dia tidak
meneleponnya.Namun,entahlah.Tahukan
kekuatan cinta.Tak ada yang bisa menandinginya.Makanya Dalas menang pertandingan catur tempo hari.
"Udah selesai?"
Suara Logan menyadarkanku.Kumohom.Logan,kumohon,jangan mengatakan sesuatu kepadaku
dengan nada yang biasa saja seperti itu.Kumohon,bentak saja aku!
"Heh! Udah selesai,belom?" bentaknya,membuatku kembali bernapas lega.Dia Logan yang
dulu.Logan yang bisa dengan mudah kubenci.Juga kusukai.
Aku menyodorkan bukuku tanpa mengeluarkan suara.Selama beberapa minggu ini,pita suaraku
seakan menghilang bila bertemu dengan Logan.Logan menatapku selama beberapa
saat,menghela napas,lalu menyambar bukuku.
"Lo udah banyak kemaj-"
"AHHHH!!" seruku sekeras mungkin.Aku tahhu Logan terlonjak karena kaget.
"APAAN,SIH?" Logan balas berseru.
Aku tahu buku itu bisa saja melayang ke kepalaku,tetapi aku tak mau dia memujiku atau
mengatakan yang baik-baik tentangku.Tidak boleh.Aku tidak boleh jatuh cinta lagi
kepadanya.Tidak boleh.TER-LA-RANG.
Logan masih menunggu alasanku dengan dahi mengernyit.Aku membasahi bibirku,mencoba
mengulur waktu untuk mencari alasan.
"Gue ... haus!" sahutku cepat,lalu segera melangkah kaku ke tangga.Kuharap aku tidak berjalan
dengan kaki dan tangan kanan sama-sama maju.
Aku tahu,Logan pasti sudah menganggapku cewek yang luar biasa aneh,tetapi aku tak
peduli.Aku benar-benar suka kepadanya.
Ya,Tuhan,aku tak percaya ini.Aku benar-benar suka kepada guru-les-privatku-yang-super-galakdan-sering-menyakiti-perasaanku.Namun,aku tak boleh.Tak seharusnya aku punya perasaan
seperti itu.Dia kan membenciku!
Untuk apa suka kepada orang yang tak akan pernah membalas perasaanku"
*** Saat ini,aku berada di perjalanan ke rumah sakit.Bukan apa-apa,hanya saja mulutku ini ternyata
masih terlalu banyak bicara saat sarapan.Aku bercerita kepada Bunda bahwa kemarin
akumenengok Rinda yang cacar air.Detik berikutnya,dia menjerit histeris dan memasukkanku ke
mobil.Barusan dia menelepon,katanya dia sudah membuat janji dengan dokter dan aku bisa
langsung diperiksa sesampainya aku di rumah sakit.Hebat banget.
Aku melangkah gontai ke dalam rumah sakit setelah Bang Rusli memarkir
mobil.Sebenarnya,aku takut disuntik,tetapi aku pasrah karena sudah pasti aku akan di ambil
darah.Memangnya,bagaimana lagi cara mengecek apa ada virus atau tidak di dalam tubuhku"
Setelah mendaftar ke informasi,aku duduk di ruang tunggu.Belum sampai beberapa detik
pantatku menyentuh kursi,suster memperbolehkan aku masuk ke ruang praktik dokter
umum.Aku harus nyengir kaku ke arah beberapa pasien lain yang menatapku sinis.
Dokter bertanya apa ada gejala-gejala seperti panas atau sebagainya dan aku menjawab tidak.Tak
berapa lama,dia dengan mudahmengatakan bahwa aku sehat walafiat.Well,memang seharusnya
begitu.Aku sudah punya terlalu banyak urusan,tidak perlu menambahnya dengan penyakit tidak
kece seperti cacar air segala.
Saat aku pulang,aku disambut kabar yang bisa dibilang baik.Dennis tidak gay.Kakakku itu
ternyata sudah menyukai Nanda dari awal kuliah,dan selama ini dia menyiapkan sebuah
teropong bintang untuk dihadiahkan kepada Nanda.Dia shock berat saat mengetahui bahwa
cewek yang mau ditembaknya tiba-tiba jadi sering diundang makan malam semenjak
menyelamatkan Bunda. Sekarang,semuanya jadi jelas.Nanda menerima dengan senang hati teropong bintang setengah
jadi yang dihadiahkan Dennis,bahkan berjanji untuk menyelesaikannya bersama.Ya
ampun,mengapa sih,Nanda harus membubuhi kata "berjanji" saat dia menceritakannya"
Membuatku sakit perut saja.
Meskipun demikian,aku tidak bisa menyangkal,Dennis mungkin cowok yang romantis.Teropong
bintang bukannya burung-burungan kertas yang bisa dubuat dalam waktu sehari.Sekarang,aku
tahu apa yang membuatnya terkurung sedemikian lama di kamar tanpa mengindahkan cewekcewek lain.Aku pun jadi tahu apa yang dilakukan Logan saat sedang bersamanya di
kamar.Logan ternyata sangat membantu pekerjaan teropong itu.
Tanggapan keluargaku sangat heboh tentang ini.Mereka sampai menyiapkan pernikahan
segala.Kurasa mereka masih agak kecewa pada pernikahan Tante Amy yang gagal.Aku sih
senang-senang saja,karena dengan begitu aku akan punya kaka cewek yang baik dan manis.
Dan,setidaknya normal. *** "Baik,saya akan membagikan latihan-latihan UN yang sudah saya nilai.seperti yang sudah saya
katakan,hasil ini merupakan nilai ulangan selama semester dua.Ditambah tiga ulangan
terdahulu,lalu dibagi enam,dan itulah nilai rapor kalian.Baik,yang saya panggil,silakan maju."
Kata-kata Pak mulyono barusan terdengar seperti kutukan bagiku.Kalau tiga ulangan ini sama
buruknya,berarti aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada kebebasanku.Memang,aku
merasa ulangan-ulangan ini mudah,tetapi kadang lebih baik merasa gagal dulu daripada senang
tak keruan,tetapi tetap gagal di akhir.Entahlah,otakku sekarang sedang kacau.
" ... Dazafa." Kenapa aku harus dipanggil terakhir,sih" Mengingat dulu aku sudah mempermalukan diriku
sendiri ketika bersenang-senang dengan ulangan orang lain,sekarang teman-temanku menatapku
lekat-lekat.Senang melihat orang lain menderita,rupanya.
"Bagus," komentar Pak Mulyono-atau setidaknya kata itulah yang kudengar.Mungkin aku hanya
berkhayal,karena wajahnya benar-benar datar saat mengatakannya tadi.
Aku mengambil kertas-kertas itu dari tangan Pak Mulyono,tetapi tak berani mebaliknya.Setelah
Pak Mulyono berdeham,akhirnya kubalik juga.
Well,kurasa aku sudah pingsan,karena selanjutnya aku terbangun dan mendapati diriku terbaring
di UKS.Aku mencoba untuk duduk,tetapi kepalaku terasa sangat berat.Jadi,aku harus puas
dengan bantal keras ini. "Kenapa lo?" tanya seseorang membuatku menoleh.Ternyata ada Dalas di sampingku,sedang
duduk dengan cengiran jail.Dahinya tertempel plester.
Mulutku mencoba untuk mengatakan sesuatu,tetapi tak ada suara yang keluar.Dalas malah
tertawa melihatku seperti itu.
"Gue baru bermimpi indah," racauku akhirnya."Gue mimpi dapet nilai bagus buat
Matematika.Sepuluh dua kali,sama sembilan setengah sekali."
"Yang kayak gini,bukan?" Dalas menyodorkan ketiga kertas ulanganku.
Aku meraihnya dengan tangan gemetar.Aku tak percaya ini.Aku benar-benar tak percaya.Semua
ini milikku.Dazafa Senna.Absen lima.Sepuluh.Sepuluh.Sembilan koma lima.Semua ini milikku!
HORE!! Namun,rupanya tidak hore bagi Logan,karena dia menyahut,"Jangan bangga dulu!" Begitu aku
dengan gembira menunjukkan ketiga ulanganku itu.Dalam sekejap,aku terdiam.
Apa maksudnya,sih" Apa belum cukup aku mendapatkan dua nilai sepuluh dan satu sembilan
setengah" Apa aku harus dapat tripel sepuluh untuk memuaskannya"
"Ini baru nilai rapor.Itu juga baru enam.Lo harus bagus di nilai UN," katanya tanpa sekali pun
melirik lagi ketiga ulangan indahku yang tergeletak di atas meja.
Aku mulai meradang."Tapi,boleh kan gue seneng?"
"Boleh-boleh aja.Tapi,jangan harap gue bakal ngasih kelonggaran buat lo.Kalo nilai Un lo kayak
gini,baru lo boleh bangga."
Aku akan membunuhnya tepay setelah UN berakhir.
The Power Of Love Hari ini benar-benar hari yang sibuk.Tante Amy mengalami kontraksi sehingga membuatnya
harus dilarikan ke rumah sakit.Setelah mengalami proses persalinan yang panjang,sepupuku
akhirnya lahir dengan normal.Kami semua sampai ikut menangis begitu mendengar tangisan
pertamanya. Sekarang,semua orang-termasuk Logan,jangan tanya kenapa-sedang berada di luar kamar
bersalin Tante Amy,kecuali Kakek dan Nenek yang masih menemani Tante Amy di dalam.
"Sayang,kamu pulang duluan deh,udah malem.Biar Logan yang anterin kamu," kata
Ayah,membuatkumelirik Logan yang tampak lesu,entah kenapa."Logan?"
Logan tampak tersadar."Oh" Eh,iya,Om," katanya linglung.
Setelah berpamitan dengan semua orang,Logan mulai melangkah tampa banyak bicara lagi.Aku
mengikutu langkahnya yang besar-besar,berhati-hati untuk tidak menginjak bayangannya yang
dipantulkan lampu-lampu di koridor.Logan berhenti dan menungguku tiap kali aku tertinggal
sejauh 5 meter.Aku masih mempertanyakan alasannya berada di sini malam ini.Maksudku,Tante
Amy kan bukan siapa-siapanya.Namun kemudian,sebuah jawaban muncul di kepalaku: dia
hanya berusaha terlihat baik di hadapan Ayah.Jadi,aku menelan kembali pertanyaan itu.
Logan mendadak berhenti dan membalik badannya.Aku tidak menabraknya karena aku terus
menjaga jarak sepanjang bayangannya.
"Ng ... lo tunggu sebentar,ya.Gue mau ke kamar nyokap gue dulu." Kata Logan,wajahnya
tampak kuyu.Aku asal mngiyakan dan baru mencerna kata-katanya setelah dia melewatiku.
Begitu sadar,aku segera mengikutinya.Dia terlihat masuk ke kamar di sebuah lorong di sebelah
lorong kamar Tante Amy.Aku coba mengintip ke dalam dari pintu yang terbuka sedikit.
"Hi,Mom," katanya kepada ibunya yang tampak lelap."It"s me,Logan.Remember?"
Apa maksudnya,sih" "Of course you don"t.It"s okay.I"ll be waiting ... until the time," katanya lagi,lalu mengecup dahi
ibunya. Aku masih berdiri di depan pintu,dengan kepala penuh tanya soal kejadian aneh barusan,ketika
Logan membuka pintunya.Dia menatapku tajam,tetapi aku balas menatapnya berani.
"Gue tahu," sambarku sebelum Logan sempat berkata apa pun."Bukan urusan gue.Lo enggak
suka gue ikut campur urusan lo.Jangan harap gue bisa tahu apa urusan lo," kataku sambil
berbalik."Gue ngerti."
Aku mulai melangkah dan Logan hanya mengikutiku dalam siam.Biar saja.Aku toh,sudah cukup
punya masalah tanpa harus ikut campir dalam masalahnya.
"Nyokap gue habis kecelakaan." Logan berkata tanpa diminta,membuatku memutar tubuh dan
mendengarkannya."Dia jadi lumpuh sekaligus hilang ingatan."
Aku menatapnya tak percaya."Tapi waktu itu ... dia kenal lo.Kenal Dennis segala ..."
"Itu karena gue kasih tahu dia." Logan duduk di kursi panjang dan mulai menjambaki
rambutnya."Gue ngenalin diri begitu dia membuka mata."Hey,Mom! It"s me,Logan,your son!"
Aku tahu Logan sangat menderita saat mengatakannya.Itu terlihat dari wajahnya yang jelas-jelas
menahan emosi dan suaranya yang mulai terdengan bergetar.
"Dia Cuma bisa menerima keadaan kalo gue anaknya,tanpa benra-benar ngerasa kalo gue
anaknya.Tanpa tahu dulu gue kayak gimana,apa yang udah kita alami bareng-bareng ..."
Ingin rasanya aku menyentuh kepalanya dan membelai rambutnya,tetapi aku Cuma bisa berdiri
canggung di sini,2 meter dari tempatnya berada.
"Jangan nyerah.Mungkin suatu saat aka ada keajaiban yang bisa ngembaliin ingatan nyokap lo,"
hiburku.Logan mentapku sebentar,lalu mengalihkan pandangannya sambil menggeleng pelan.
"Mungkin,sebaiknya dia tetap kehilangan ingatan," kata Logan,membuatku terkejut setengah
mati."Dengan begitu,dia bisa mengulain semua kelakuan bokap gue dan penderitaan yang dulu
pernah dia terima." Aku menatapnya nanar.Meskipun aku merasa senang karena akhirnya bisa mengetahui sedikit
rahasia Logan yang selama ini tertutup rapat di balik dinding beton yang dia ciptakan,rahasia itu
benra-benar menyesakkan.Tante Amy yang baru saja melahirkan mungkin mengingatkannya
kepada ibunya sendiri dan membuatnya emosional.Sial baginya,orang yang ada di sampingnya
saat dia sedang dalam keadaan lemah adalah aku.
Entah bagaimana,aku tahu,hal ini tak akan pernah terjadi lagi.
"Lo," kataku pelan."Besok lo bakal balik lagi kayak biasa,kan?"
Logan tak menjawab pertanyaanku.
*** Seperti yang sudah kuduga,sikap Logan tidak berubah.Dia masih menyebalkan seperti
dulu.Masih membentakku kalau kau melamun,masim melempar bukuku jika ada jawabanku
yang salah,dan maasih tidak ingin dicampuri urusannya jika sekali-sekali ponselnya
berdering.Aku harus berusaha melupakan bagaimana dia kecolongan mencurahkan perassannya
kepadaku saat sedang kacau.Seharusnya,dia tidak bercerita apa-apa.Seharusnya,dia konsisten
pada karakternya sebagai mutan serigala yang misterius.Kalau sudah begini,bagaimana aku bisa
melanjutkan hidupku"
"Lo kenapa sih salah melulu soal yang ini?" sahut Logan sambil mengembalikan buku
latihanku."Tahu enggak,kesalahan utama lo di mana?"
"Enggak," jawabku jujur.
"Lo tuh,ceroboh!" sembur Logan seolah aku idiot."Masa lima dikali lima sama dengan sepuluh!
Lo yang bener,dong! Anak SD bisa ketawa lihat jawaban lo!"
"Anak SD mana ngerti persamaan!" balasku tak mau kalah.
Logan sepertinya menganggap kata-kataku barusan sebagai angin lalu."Denger ya,gue enggak
pengin lo enggak lulus UN cuma karena hal sepele kayak begini!"
"Kenapa sih lo ngotot banget gue lulus" Lo digaji berapa sih sama bokap gue?" sahutku kesal.
Logan terdiam sesaat,lalu kembali menyolot,"Masalahnya bukan duit,tapi reputasi! Mau ditaro di
mana muka gue kalo lo enggak lulus?"
Meskipun alasannya berbeda,tetapi seperti yang sudah kuduga,semua ini menyangkut
kepentingan perseorangan.Aku menarik bukuku,lalu segera menghapus jawaban yang salah dan
mulai membetulkannya.Apa Logan mengalami masalah lagi hari ini" Apa ibunya masih belum
bisa mengingatnya" Otakku seperti mengalami korsleting karena selanjutnya aku malah membuka mulut dan
berkata."Lo,gimana nyoka-"
"Denger." Logan menyambar omonganku."Masalah kemaren itu,gue enggak tahu kenapa gue
malah ngomong yang enggak-enggak sama lo.Lupain aja semua yang gue omongin tadi
malem.Lo enggak usah ngurusin masalah gue."
Seharusnya aku tahu.Seharusnya,aku tahu kalau Logan tak akan pernah bersikap baik
kepadaku.Aku tak akan pernah diberi kesempatan untuk mengkhawatirkannya.Dia hanya
mempermainkanku dengan memberi umpan dan memaksaku memuntahkannya tepat setelah aku


Meet The Sennas Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memakannya. "Gue benci lo!" sahutku sambil melemparkan bukuku.
Logan tidak terpancing oleh kemarahanku,walaupun
mengembalikan bukuku ke meja,lalu menghela napas.
dadanya tertampar buku.Dia "Bagus kalo lo benci gue.Lo mempermudah gue."
APA MAKSUDNYA,SIH?" *** Aku betul-betul membenci Logan.Sikapnya yang seperti bunglon itu membuatku sangat
muak.Kenapa sih dia harus memberi tahuku kalau dia masih menganggapku cewek tak berguna
yang tidak boleh mencampuri urusannya"
"Hei,kok cemberut terus" Kita mau jenguk tantemu,nih."
Suara Nenek menyadarkaku.Aku menoleh ke arahnya,lalu tersenyum.Benar.Masalah Logan
tidak perlu dipikirkan.Saat ini,aku sudah di rumah sakit,hendak menemui tante dan sepupu
mungilku. Begitu sampai di depan kamar Tante Amy,kami mengenakan baju khusus pembesuk dan
masuk.Lima anggota keluargaku yang lain sudah hadir di sana.Wajah Tante Amy yang berseriseri menyambut kami.
"Daza!" serunya begitu melihatku.
Aku segera menghambur kepelukannya,tetapi begitu dia merintih kesakitan,aku melepasnya.
"Ups," sesalku."Sori,sori.Habis,kangen berat!"
"Enggak apa-apa," kata Tante Amy sambil meringis.Tangannya menggenggam erat
tanganku."Tante juga kangen sama kamu."
Tak berapa lama kemudian,seorang suster memasuki kamar.Dia mendorong kereta bayi,tempat
sepupu mungilku diletakkan.
"Waktunya disusui,Bu," kata suster sambil mengangkat bayi itu dan menyerahkannya kepada
Tante Amy.Tante Amy merengkuh bayinya dengan sangat hati-hati,sementara kami semua
menyaksikannya dengan penuh rasa haru.
Setelah keluargaku pulang,aku tetap tinggal dan megobrol dengan Tante Amy.Dia menyarankan
agar aku tidak menyerah untuk mendapatkan Logan.LOGAN.L-O-G-A-N.Siapa sih yang
memberi tahu kalau aku menyukai Logan?" Namun,Tante Amy bilang kalau dia bisa
mengetahuinya dari gerak-gerikku,kata-kataku,dan
caraku memandang Logan.Memangnya,dengan cara apa aku memandang Logan" Dengan mata terbelalak,kan"
Memang ada cara apa lagi"
Oh ya,dan Ruben Senna itu nama si bayi.Ruben dari nama penyanyi kesukaan Tante Amy,Ruben
Studdard,dan Senna dari,yah,nama keluargaku.Dan,tahu tidak,nama itu hasil rembukan selama 2
jam di ruang sidang.Maksudku,namanya kan Cuma dua kata! Dan,artinya tidak rumit-rumit
amat! Benar-benar keluarga payah.
*** "Yang bener!" sahut Rinda begitu aku menceritakan tentang Tante Amy.
Saat ini,kami sedang berada di kantin.Rinda sudah sembuh dari penyakitnya,tepat sebelum ujian
praktik dimulai.Rencana bilang-Om-Sony-bahwa-aku-kanker-otak-nya tidak berjalan mulus
karena aku dengan senanga hati menolak untuk membantunya.
"Hei,ada apa,nih?" Dalas tahu-tahu muncul,lalu duduk begitu saja dis ebelah Rinda."Whoa,Rin!
Muka lo kenapa?" Rinda langsung memalingkan wajah dan mendengus keras-keras tanda dia merajuk.
Dalas nyengir bersalah."Sori deh,Rin ... Hai,Daze."
Aku membalas sapaan Dalas dengan cengiran,lalu memberi
Amy.Bagaimanapun,Dalas berhak tahu setelah ujian bodoh itu.
tahunya soal Tante "Wah,selamat!" sahhut Dalas senang,walaupun aku tak pernah mengenalkannya dengan Tante
Amy. Setelah itu,suasana menjadi canggung.Aku tak tahhu harus membicarakan apa dengan
Dalas,ditambah lagi,ada Rinda yang sama sekali belum kuberi tahu soal kami.Dia menyikutku
dan menendangku berkali-kali,lalu setelah beberapa kali percobaan gagal,akhirnya dia sadar ada
sesuatu yang salah.Dia memandang kami heran bergantian.
"Ini ada apaan,ya?" tanya Rinda akhirnya.
*** "Lo udah gila,ya?" sahut Rinda setelah aku menceritakan semuanya dari awal sampai
akhir.Capek juga sih,tetapi ini demi tersambungnya komunikasi yang baik antara kami.Aku tak
bisa membiarkannya terus-menerus berusaha menciptakan kesempatan berduaan antara aku dan
Dalas,sementara kami bahkan sudah putus.
Aku membekap mulutnya."Lo jangan berisik,dong! Ntar Pak Mulyono nyetrap kita,lagi!"
Saat ini,kelas sedang lumayan tenang karena kami sedang diberi latihan UN oleh Pak
Mulyono.Begitu melihat Rinda heboh,Pak Mulyono langsung berbaik hati memberikan tatapan
jangan-ribut-atau-nilai-dikurangi kepada kami.
"Maksud lo,lo sama Dalas bakalan pacaran lagi kalo lo udah lulus SMA,gitu?" Rinda
berbisik,sambil pura-pura menggerakkan pensilnya untuk mengalihkan perhatian Pak Mulyono.
"Ya,belom jelas juga sih soal itu." Aku tentu saja tak bisa bilang kalau sampai sekarang aku
masih mengharapkan Logan.
"Ah,bilang aja lo naksir sama guru les privat lo yang cakep itu," kata Rinda membuatku shock
setengah mati.Pensilku sampai terlempar ke seberang meja.
"Kok,lo ..." "Jangan remehin kekuatan membaca pikiran Rinda," kata Rinda angkuh.
"Oh ya?" tanyaku sangsi."Jadi,Ibu peramal,sekarang,gue lagi mikirin apa?"
"Lima hurup.L,O,G,A,N," jawab Rinda santai.
Sialan.Tentu saja aku sedang memikirkan cowok itu.Menghadapi soal Matematika sama saja
memikirkan wajah galaknya saat aku bilang aku tidak bisa mengerjakannya.Daripada Rinda
semakin menjadi-jadi,aku mencoba untuk berkonsentrasi pada soal-soal di hadapanku.
"Eh,Daze,nomor satu ini giman-AAAARGHHH!!!"
Semua teman sekelas dan Pak Mulyono ikut terlonjak begitu mendengar jeritan Rinda.Aku
sendiri nyaris terkena serangan jantung.Sebagai kompensasi,aku memukul kepalanya dengan
tempat pensilku yang beratnya mencapai 2 kilo.
"Sialan! Apaaan sih,lo" Ngagetin-ngagetin gue!" sahutku kesal.
Rinda masih menatapku dengan tatapan ngeri.Heran,apa sih yang membuatnya sehiateris itu"
"Lo-lo-lo ...," katanya tergagap."Lo ... lo udah nomor dua belas! Semuanya dikerjain,lagi!"
Baiklah.Sepertinya aku harus bercerita lebih banyak kepada cewek satu ini.Sudah terlalu banyak
yang dilewatkannya. *** "Kekuatan cinta,got it," kata Rinda sepulag sekolah.Dia sudah tenang dari histerianya tadi siang.
"Apanya yang kekuatan cinta" Itu sama aja diktatorisme! Atau anarkisme! Atau naziisme! Atau
apalah! Yang jelas itu penindasan,bukan kekuatan cinta!" tampikku setelah capek menjelaskan
bagaimana aku bisa mengerjakan semua soal itu kepadanya.
Cewek bwgo di depanku ini malah menatapku penuh arti."Enggak usah ngelak,deh."
"Gue enggak ngelak! Kenyataannya kayak begitu,kok!" sahutku lagi.
"Eh,duduk dulu,deh." Rinda menarikku ke kursi taman dan memaksaku duduk di
sana."Gini.Masa sih dia enggak nunjukkin ketertarikannya sama lo" Apa kek ngelihatin lo,kek"
Atau apa" Apa pun yang menurut lo merupakan sinyal?"
Tawaku langsung menyembur.Rasanya,aku tak pernah tertawa segeli ini.Membayangkan Logan
mencuri-curi pandang ke arahku,atau mengirim sinyal dalam bentuk apa pun itu,membuatku bisa
kena geli menahun. "Heh,lo kok malah ketawa,sih" Apa segitu enggak pernahnya?"
"Segitu enggak pernahnya," jawabku mantap.Rinda memandangku kasihan.Yap,aku memang
pantas dikasihani. Rinda mengangguk-angguk."Ah,oke.Berarti dia benar-benar enggak suka sama lo."
"Eh,makasih lho,kesimpulannya," ujarku sewot."Bisa lo ngomong sesuatu yang enggak gue
tahu?" "Sori deh,Daze.Tapi,saran gue sih don"t ever give up," katanya serius.
"I don"t think i need to hear that from you," balasku,sama seriusnya.
Rinda mendadak terdiam sehingga aku ikut terdiam.Sepertinya,aku baru menyinggung sesuatu
yang sangat sensitif. "Lo tahu,Daze" Life goes ..." Aku menunggu kata "on" dari Rinda,tetapi dia tak kunjung
mengatakannya.Ekspresinya malah jadi kaku.Saat aku mau bertanya,dia malah memalingkan
muka. "Rin" Gue masih nungggu lo ..."
"Daza," panggil seseorang dibelakangku.Aku menoleh,dan langsung mengetahui alasan
perubahan sikap Rinda yang tiba-tiba itu.
Om Sony.Di sekolahku. "Om,lagi ngapain?"" tanyaku sedikit terkejut.
"Jemput kamu," jawab Om Sony sambil melirik Rinda yang masih pura-pura tertarik pada
sekumpulan bunga bakung. "Jemput aku" Bang Rusli mana?"
"Dia sibuk di rumah sakit," jawab Om Sony lagi.
"Oh," gumamku dan suasana jadi agak canggung."Oke deh,gue balik dulu ya,Rin," kataku
akhirnya.Rinda hanya mengangguk tanpa menatapku maupun Om Sony.Aku segera menggiring
Om Sony pergi. "... mukanya?" tanya Om Sony hati-hati setelah kami berada di luar gerbang sekolah.
"Cacar air," jawabku pendek,walaupun sempat tergoda untuk mengatakan "kanker otak".
*** Oke.Jadi,aku baru saja mendengar salah satu kabar terburuk yang pernah kudengar sepanjang
hidupku: Om Sony akan merilis album pertamanya.Aku sampai serasa mati suri saat mendengar
ceritanya di jalan tadi. Sepertinya kehidupanku malah semakin berat,bukannya terselesaikan seperti anggapanku yang
sebelumnya.Sebentar lagi aku akan menghadapi UN yang merupakan penentuan nasibku
selanjutnya,ditambah lagi peluncuran album Om Sony yang sebisa mungkin harus dicegah demi
kebaikan umat manusia. Terlintas di otak udangku adalah Logan.Aku segera membuka mata.Ya,Tuhan,kenapa sih selalu
dia" Bukannya membuang jauh-jauh,aku malah kembali mengingat-ingat perkataannya kemarin.Saat
aku mengatakan aku membencinya,dia malah senang.Katanya,dia senang aku membencinya
karena itu mempermudahnya.Mempermudah apa?" Bicara yang jelas,serigala bodoh!
Karena memikirkan Logan membuatku pusing,aku menggapai-gapai tas sekolahku dan mulai
mengerjakan soal-soal Matematika.Lagi.Rinda bisa-bisa mati kaku melihatku sekarang ini.
*** "Bisa enggak sih lo enggak ngelamun waktu belajar?"
Aku melirik Logan yang baru saja membentakku untuk yang kesekian kalinya.Dasar bebal.Tidak
tahu apa,kalau aku sedang melamunkanmu?"
Setelah memberinya tatapan sengit,aku kembali menekuni bukuku.Soal-soal ini terasa sangat
mudah bagiku,dan aku bertanya-tanya apa Logan sedang mencoba untuk mengejekku.
"Oh,ya,ini ada buku lagi,dari SNMPTN tahun lalu ..."
"Lo," sambarku cepat."Lo pikir UN itu Cuma matematika,ya" Besok gue ada ujian praktik dan
gue enggak akan bisa lullus kalo yang gue lakuin siang-malem Cuma belajar matematika!"
Logan menatapku kosong sesaat."Enggak ada yang nyuruh lo belajar matematika siang-malem."
"Emang enggak ada,tapi kalo lo nyodorin gue buku-buku Matematika dan nyuruh gue
ngerjainnya terus-terusan,gimana enggak siang-malem" Gue bukannya elo,yang punya IQ lebih
dari 140,yang ngerjain soal cuma sekali kedipan mata!" sahutku emosi.
"Gue enggak pernah nyuruh lo ngerjain semua buku yang gue kasih.Gue Cuma ngasih,that"s
it.Lo yang ngerjain sendiri," balas Logan menyebalkan.
"Enggak pernah nyuruh",katanya" Omong kosong.
"Jadi,gue boleh enggak ngerjain buku-buku itu?" tanyaku dengan pernuh harap.
"Terserah.Yang penting,menjelang UN semuanya beres di tangan gue."
B-E-R-E-N-G-S-E-K. *** Beberapa hari ini,aku kurang tidur.Badanku pegal-pegal karena serangkaian ujian
praktik,sehingga otakku tak sanggup dimasuki informasi apa pun lagi.Ngomong-ngomong soal
ujian praktik ini,aku melaluinya dengan agak memaksakan diri.Aku sama sekali tidak belajar
biologi,sehingga semua daun tampak sama,begitu juga dengan preparat-preparatnya.Parahnya
lagi,aku tidak bisa membedakan mana yang lugol mana yang fenolftalein-ya,ampun,memangnya
aku peduli" Yang mana pun itu,aku tak akan pernah menggunakannya di kehidupan nyata!
Kemudian,saat ujian praktik olahraga,aku menyalahi segala rumus gravitasi saat melakukan
gerakan back roll yang aku yakin hanya aku yang bisa melakukannya.Kurasa pinggangku
keseleo.Kemudian,ujian seni musik berhasil membuatku yakin kalau aku memang bertalian
darah dengan Om Sony.Sisa ujian praktikku yang lain juga sama parahnya,sehingga aku malas
mengingatnya lebih lanjut.
Mataku terasa berat saat sarapan dan aku hampir tertidur di atas omeletku.Bunda bertanya apa
aku baik-baik saja dan langsung menyarankan agar aku tidak masuk sekolah,tetapi aku segera
menolaknya dengan alasan ada ujian sekolah yang ikut menentukan nasibku.
Semalam,aku sibuk membuka-buka buku biologi dan berusaha membacanya,memarahi Om Sony
yang membuat kebisingan,membuka-buka buku kimia dan mencoba mengerjakan soalsoalnya,membuat secangkir kopi,membuka-buka buku sejarah dan berusaha mengingat-ingat
tanggal-tanggal,lalu akhirnya jatuh tertidur pukul setengah lima pagi.Aku tak tahu kehidupan
SMA bisa seberat ini. Namun,aku bisa sedikit menghela napas lega karena mampu mengerjakan semua soal ujian
sekolahku dengan sukses.Rinda setengah mati keheranan dengan karakter baruku ini.
"Si Logan juga ngajarin pelajaran selain matematika,ya?" tanyanya saat jam istirahat.
"Enggak.Ini hasil SKS yang agak-agak maksa," balasku dengan mata setengah tertutup dan
terkulai berbantalkan roti sobek.
*** "Gue enggak kuat," keluhku kepada Logan saat les hari ini dimulai.Kepalaku terkulai lemah di
meja,kelopak mataku seperti tertekan lem besi.
"Lo habis ngapain?" tanya Logan.Sesaat,kupikir dia perhatian kepadaku,sampai dia
menambahkan,"Bisa-bisanya ngantuk di les gue."
Oke.Aku harusnya memukul kepalaku sendiri.
"Gue habis begadang dan ujian sekolah!" sahutku berang,lalu segera menempelkan dahiku ke
lengan.Kepalaku berdenyut karena terlalu keras menyahut.
"Jadi,lo enggak mau les?" tanya Logan membuatku mengangkat kepala dan menatapnya dengan
mata berbinar-binar pennuh harap.
Logan memandangku jijik sesaat,lalu memalingkan muka."Jelas aja lo bakal bilang iya,bego
bener gue pake nanya segala." Logan berkata sinis sambil membereskan buku-bukuku.
Aku sangat mengantuk,sungguh.Aku tidak tahu Logan bicara apa lagi,karena hal yang terjadi
selanjutnya adalah aku terbangun saat tengah malam karena lapar.Aku mengernyit bingung saat
menatap langit-langit kamarku.Apa aku tadi bermimpi les Matematika dengan Logan" Ataukah
... Logan mengangkatku ke kamar?"
Ah,baiklah.Kemungkinan bagi pilihan kedua untuk terjadi benar-benar nol.Jadi,aku lebih baik
berpikiran bahwa sepulang sekolah tadi aku tertidur dan bermimpi soal Logan.Aku memutuskan
untuk membuat sereal dan membuka pintu kamarku,tetapi langkahku terhenti saat melihat
sesuatu. Aku menemukan buku-buku lesku di meja ruang TV.Ini berarti les itu terjadi,kam" Jadi,Logan
..." *** "Heh! Jangan bengong melulu!" sahut Rinda besoknya."Pake cengar-cengir,lagi!"
Aku segera menutup mulutku,tetapi tak bertahan lama.Detik berikutnya aku menceritakan
semuanya tentang semalam kepada Rinda.
"Lo harusnya belajar dari pengalaman," komentar Rinda."Lo harusnya enggak boleh terlalu geer dulu."
Bicara kepada Rinda ternyata tak semenyenangkan dulu.Rinda sekarang jadi lebih kejam dan
kata-katanya menyakitkan semenjak Om Sony menolaknya.Dia mengingatkan aku kepada
seseorang bebrapa waktu lalu ...
Meskipun begitu,Rinda ada betulnya.Seharusnya,aku tidak boleh terlalu banyak berharap
lagi.Bisa saja,kemarin Logan memberi tahu Dennis atau Zenith bahwa aku tertidur,lalu mereka
menyeretku ke kamar.Yah,itu mungkin terjadi.Oke,itu sangat mungkin terjadi.
Dulu,Logan pernah satu kali menggendongku,tetapi itu karena memang tak ada siapa pun lagi di
sana.Ya,Tuhan,kenapa sih aku bisa selemah ini"
Aku kan cewek tough! *** Siang ini,aku sudah berada di rumah sakit untuk menemui tante dan sepupuku.Sudah lama aku
tidak menengok mereka karena terlalu sibuk dengan segala urusan ujian ini.Mungkin,aku juga
akan memeriksakan diri ke dokter karena sudah beberapa minggu terakhir rambutku rontok
dengan hebatnya.Aku bahkan sempat menjerit histeris saat suatu pagi mendapati puluhan helai
rambut di atas bantal,menyangka aku sudah kedatangan Sadako selama tidur.
"Halo," sapaku begitu melihat wajah Tante Amy yang lebih cerah dari biasanya.Dia sedang
meggendong Ruben yang tampak superimut dengan dua pipi kemerahannya.
"Hai!" seru Tante Amy."Ruben,itu Tante Daza ..."
"APA?" Aku enggak mau dipanggil tante!" sahutku cepat.Apa-apaan itu,itu kan sama saja
menyalahi aturan pohon keluarga.
Tante Amy hanya tertawa melihat kengerian yang terlihat jelas di wajahku."Jadi,gimana?" tanya
Tante Amy yang membuatku mengernyit."Logan?"
"Oh." Bahuku segera melorot."Ya gitu,deh.Masih enggak jelas.Masih hobi ngebentak."
Sesaat,aku ingin menceritakan kejadian semalam kepada Tante Amy,tetapi aku segera menarik
pikiranku.Aku pasti akan mempermalukan diriku sendiri.
"Daze,tolong Tante,dong," kata Tante Amy tiba-tiba.Aku segera menghampirinya,mengira dia
mau minta tolong untuk diambilkan minuman atau apa."Tolong beliin Tante semangka.Tante
pengin banget,nih." Aku melongo."Kok,Tante ngidamnya telat,sih?" Anaknya udah keluar,tuh!" sahutku geli.Tante


Meet The Sennas Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Amy ikut tertawa lepas.Senang rasanya melihat tanteku kembali ceria seperti ini.
Aku bangkit,mencium sepupu kesayanganku di dahi,lalu segera berangkat untuk mencari
semangka,walaupun tak yakin harus mencarinya ke mana.Ada-ada saja tanteku satu itu.
Aku sedang berjalan riang di koridor,ketika melihat ibunya Logan yang sedang duduk di taman
belakang rumah sakit.Aku menghentikan kangkahku,lalu berbelok ke arahnya.Aku benar-benar
tidak tahu apa yang sedang kulakukan.Logan pasti akan membunuhku kalau dia tahu.
Aku menarik napas sebentar,mengembuskannya,lalu menghampirinya mantap.
"Goo afternoon,Ma"am," sapaku sambil tersenyum kepadanya."Do you still remember me?"
Perempuan cantik berdarah Hispanik itu balas tersenyum."Of course I do.You are Logan"s
pupil,Dennis"s sister.How can I forget" You"re such a cute girl."
Aku benar-benar terharu mendengar jawaban ibunya Logan.Logan benar-benar tidak mirip
ibunya. "Thank you," kataku,lalu duduk di sampingnya."Has Logan come today?"
"Oh,yes,he has.This morning at eight.He;s very busy recently.He"s taking care of you,isn"t he?"
Aku tidak tahu apa bahasa inggrisku yang kurang bagus atau aku salah mendengar,tetapi yang
baru saja kutangkap adalah: ibu Logan menanyakan atau malah menekankan apa Logan
menjagaku atau tidak.Jelas tidak!
Baru ketika aku akan menjawabnya,seorang cewek berambut panjang yang tampak familier
menghampiri kami. "Hi,Aunt Carrie!" sahut cewek itu,lalu mencium kedua pipi ibunya Logan.
"Hi,dear," balas ibunya Logan sambil tersenyum."Oh,have you met Daza" She"s Logan"s pupil."
Tentu saja aku sedah bertemu dia.Dia Sandra,ceweknya Logan.
"Oh,hai." Sandra menyapaku dengan tatapan sinis."Bisa kita bicara bentar,Daza?"
Oke.Tentang apa pun ini,pasti tidak akan bagus.
*** "Daza,lo udah tahu kan siapa gue" Logan sering cerita kan tentang gue?"
Sandra segera mencecarku setelah kami memisahkan diri dari ibunya Logan.Akumenatapnya
lekat-lekat,berusaha mencari ketidaksempurnaan yang mungkin dia miliki.Selain poninya yang
terbelah sedikit karena tertiup angin,aku tidak menemukan apa-apa.
"Ng ... enggak pernah,tuh.Dia enggak pernah ngomongin hal pribadi sama gue."
Oke.Aku menggali kuburanku sendiri.Dengan begini Sandra pasti merasa menang-
"Apa" Jadi,dia enggak pernah kasih tau lo tentang gue" Ya,ampun,anak itu ..." Sandar
menggeleng-gelengkan kepala,seulas senyum tipis muncul di wajahnya yang cantik.
Caranya mengatakan "anak itu" membuatku muak.
"Memangnya,lo siapa?" tanyaku malas,juga ingin segera menyudahi percakapan yang sudah
kutahu arahnya ini. Senyum di wajah Sandra hilang,digantikan oleh tatapan menusuk yang membuatku nyaris ngeri.
"Gue,adalah sahabatnya.Gue,adalah cinta pertamanya.Gue,adalah cinta sejatinya."
Kurasa,tadi seharusnya aku tidak bertanya.
Best Moments Kata-kata Sandra kemarin benar-benar memengaruhi kesehatan psikisku.Sandra adalah sahabat
Logan.Sandra adalah cinta pertama Logan.Sandra adalah cinta sejati Logan.Bagian yang terakhir
ini yang aku tidak rela.Semua orang pernah mempunyai cinta pertama,tetapi tidak semua
berjalan mulus.Namun,cinta sejati" Terdengar seperti kata "menikah" begitu.
Lagu Wish You Were Here milik Avril Lavigne mengalun di kamarku.Aku terbaring di tempat
tidur,meresapi liriknya sambil menatap langit-langit kamarku lekat-lekat.Bayangan wajah Logan
yang kejam dan Sandra yang bawel segera terlukis di sana.Dengan sekuat tenaga,aku melempar
boneka babiku tepat diantara mereka.
Aku terduduk dengan napas terengah-engah.Melempar si babi yang beratnya lebih dari 2 kilo
benar-benar membuatku kehabisan tenaga.
Apa sih bagusnya cewek centil itu"/ Well,yang jelas,secara fisik dia lebih bagus
dariku.Tubuhnya tinggi dan sintal,rambutnya panjang dan hitam pekat berkilau,kulitnya mulus
tampa cacat sedikit pun,,wajahnya pun sangat licin berkilau hingga tak seekor lalat pun mau
mendarat di sana karena bisa terpeleset ... Oke,oke.Dia BAGUS BANGET.
Tuhan,aku bahkan tak sanggup memikirkan kelebihannya yang lain.Aku pernah bertanya kepada
Nanda apa dia kenal Sandra,dan Nanda malah mengatakan dengan polos: oh-dia-cewek-supercantik-dan-satu-satunya-cewek-yang-pernah-mengobrol-dengan-Logan-dan ngomong-ngomongdia-teman-sekelasku.Aku hampir saja tergoda untuk berkata kepada Nanda agar membunuhku
sekalian. Cewek itu sudah cantik,pintar pula! Kenapa sih semua kebaikan ada di astu orang dan orang itu
bukan aku?" Aku segera bangkit dan mematut diriku di cermin.Aku masih cewek-gendut-dengan-rambutMedusa yang dulu.Aku tak punya kelebihan apa pun yang bisa dibanggakan.Memang sih,Tante
Amy pernah mengatakan aku sebenarnya cantik,hanya agak berisi,tetapi apa artinya sih
dibandingkan benar-benar cantik sekaligus seksi"
Tante Amy juga bilang aku punya mata yang indah,tetapi aku yakin Logan tak pernah benarbenar menatap mataku.Logan adalah tipe orang yang menyatakan semua mata adalah
sama,sama-sama terdiri atas kornea,iris,retina,dan lain sebagainya.
Aku menyentuh rambutku yang tampak acak-acakan karena tidah terawat.Aku baru sadar kalau
aku sudah tak terlalu jijik kepadanya,karena disibukan oleh segudang pelajaran yang harus
kupelajari,belum lagi tugas-tugas tambahan dari Logan.
Logan.Kenapa sih nama itu membuatku jadi tidak bisa berpikir tentang yang lainnya?"
*** Saat ini,orang yang selama ini memenuhi otakku sedang duduk tepat dihadapanku.Hari ini,dia
tampak luar biasa ganteng,memakai sweter berwarna krem dan jeans biru pudar,plus sepatu
putihnya yang membuatku jatuh cinta.Aku sudah pernah bilang kan kalau aku suka cowok yang
memakai sepatu putih.Apalagi,kalau cowok itu ganteng setengah mati.
"Ada sesuatu di muka gue?" tanya Logan,ternyata sadar kalau aku kelewat memperhatikannya.
Oh,ya,jelas saja ada sesuatu di wajahnya Tulisan "MENIKAH" tertato besar-besar di
dahinya.Aku menghela napas,lalu menggeleng.Perkataan Sandra kemarin terus terngiang-ngiang
di telingaku. "Lo niat belajar enggak,sih?" tanya Logan lagi.
"Niat." Aku menjawab pelan sambil mengerjakan soal dari buku milik Logan terdahulu.Buku itu
sudah penuh dengan coretan-coretannya.Kalau bisa,aku mau menyimpan buku itu untukku
sendiri.Oke,aku menyedihkan.
Aku bisa merasakan Logan memandangiku,tetapi aku tak berani membalasnya.Tiba-tiba,aku
teringat akan kejadian tempo hari,saat aku tertidur ketika les dan terbangun di kamarku.Sampai
sekarang,aku masih belum tahu siapa yang mengangkutku ke kamar.
"Lo sakit?" tanya Logan untuk yang kesekian kalinya.
Aku tahu dia akan bertanya seperti itu,karena nyatanya wajahku sekarang sudah
memerah.Telingaku mungkin sudahmengeluarkan asap.Membayangkan Logan memboyongku
masuk ke kamar seperti layaknya pengantin baru,lalu menyelimutiku,dan mengecup dahiku
sebelum pergi ... DAZAFA SENNA! Aku menggeleng lagi,kali ini sangat kencang sehingga Logan bisa saja menganggapku sudah
terkena gangguan otak atau apa.
Logan sendiri menghela napas,lalu bersedekap dengan tatapan kasihan."Mau terbang lagi?"
Sesaat aku bingung dengan maksud perkataannya,tetapi aku teringan kepada gaya Supermanterbang-ku saat Logan minum dari gelasku.Kenapa dia ingat hal-hal memalukan seperti itu,sih?"
Tahu-tahu,ponsel Logan berdering.
"Gue boleh angkat,ya?" tanya Logan penuh harap,membuat mulutku ternganga."Soal nyokap
gue.Gue takut ada apa-apa."
Aku mengangguk pelan,tak sanggup berkata-kata.Sesaat tadi,dia tampak manis sekali.Aku tak
menyangka,seorang Logan akan meminta izin kepadaku terlebih dahulu untuk mengangkat
telepon. "Halo" Kenapa,San?"
SANDRA.Si cewek cntil yang mengaku-ngaku sebagai cinta sejatinya Logan.Atau
yang,yah,benar-benar cinta sejatinya,hanya saja aku tak rela.Kalau tahu dia yang menelepon,aku
tak akan mengizinkan Logan mengangkatnya.
"Mom gimana" Is she okay?" tanya Logan lagi.
Oke.Yang jelas aku tahhu Logan tidak melenceng dari niatnya semula.Mungkin saja Sandra yang
terlalu genit san sengaja mau mengcaukan soreku bersama Logan.Sandra kan sudahmengetahui
jadwal lesku dan dia membenciku.Seakan Logan mau dengan rela saja pergi dari sisinya untuk
pacaran denganku.Kalau itu terjadi,aku pasti akan-baiklah,itu tak akan terjadi.Ampun,deh,Daza,bangun!
"Apa" San,gue kan lagi ngajar ..." Logan terdiam sejenak dan aku berani sumpah,tadi dia
melirikku,walaupun cuma beberapa saat."Emangnya penting banget" Soal Mom?"
Entah mengapa,aku senang dengan cara Logan menyebutkan "Mom".Kesannya,Sandra adalah
adik kecilnya yang bertugas menjaga ibu mereka.Namun,di sisi lain,rasa cemburu membakar
dadaku melihat Logan tampak begitu akrab dan santai saat berbicara dengan Sandra,sementara
harus selalu mengernyit dan menggunakan suara tajam saat berbicara denganku.
"Oke,oke,tapi nanti,setelah gue selesai ngajar-don"t act like a child,Sandra.Setelah gue
ngajar,gue ke apartemen lo.Bye."
Apartemen.Sesaat tadi aku seperti mendengar Logan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti
apartemen. APARTEMEN" Mau apa Logan ke apartemen Sandra?"
Cukup sudah.Semua ini bukan tentang ibunya.Dia meminta izinku untuk berbicara dengan
kekasihnya,bahkan mengatakan tepat di wajahku kalau dia mau ke apartemen kekasihnya.Lain
kali,aku akan membanting ponselnya jika berdering lagi.
Aku bangkit dengan kasar,lalu berjalan menuju pintu kamar,bermaksud pergi dari situ karena
sekarang darahku sudah mendidih dan naik ke kepala.
"Eh,tunggu!" sahut Logan membuatku berbalik.
"Apa?" Aku balas menyahut.
"Kita belum selesai," kata Logan dengan wajah menegang."Duduk."
Aku menatapnya tak percaya."Kenapa gue harus duduk?" tanyaku emosi.
"Karena gue yang nyuruh," kata Logan lagi.
"Dan kenapa gue harus denger apa yang lo suruh?" balasku.
"Karena kita punya perjanjian.Lo bakal lakuin apa yang gue surus selama masih dalam jam les."
"Dan apa itu juga berarti lo bakal ngelarang gue kalo gue mau buang air?" semburku sengit.
"Lo enggak mau buang air." Logan masih bersikap tenang,tetapi pandangannya menusuk
kulitku. "Oh,gitu" Dari mana lo tahu kalau gue enggak mau buang air,hah" Jadi,sekarang lo punya
kemampuan khusus,punya penglihatan x-ray buat melihat kandung kemih gue,gitu?" Aku sudah
setengah menjerit. "Pokoknya,gue tahu lo enggak mau buang air."
Aku mendengus."Apa sih maksud lo?"
"Lo tahu persis apa maksud gue.Sekarang,duduk dan kita bicarain."
Aku memandangnya bimbang,lalu akhirnya mengempaskan diri di sofa sebrangnya.Apa maksud
perkataannya" Aku sama sekali tak mengerti.Apa yang mau dia bicarakan"
Logan menatapku sebentar,lalu menghela napas dan mengalihkan pandangannya.
"Look,gue tahu perasaan lo terhadap gue," katanya membuatku tercengang gila-gilaan."Gue tahu
betul.Tapi,gue enggak bisa ngebales perasaan lo itu."
Mendadak,aku mati rasa.Jangankan berbicara,menggerakan satu jari pun aku tak sanggup.Logan
tahu betul cara untuk melumpuhkanku.Setelah beberapa menit keheningan yang
menyesakkan,akhirnya aku sanggup membuka mulutku.
"Kenapa?" tanyaku lirih."Apa karena gue beg-"
"Buka itu," sambar Logan cepat."Bukan karena masalah-masalah ... seperti itu.Cuma aja ..."
"Sandra?" Kali ini aku yang memotong kata-katanya.
Logan menatapku bingung ,seolah tertangkap basah.
"Gue udah tahu yang namanya Sandra.Dia sahabat lo.Dia cinta pertama lo.Dia ... cinta sejati lo,"
kataku susah payah,karena di saat yang sama,aku ingin menangis.
"Dia ngomong begitu?" tanya Logan lagi.
Tolong,Logan,tolong,katakan kalau semua itu tidak benar ...
"Well,dia ada benarnya,sih ..."
Bahuku melorot.Jadi,semua yang dikatakan Sandra itu benar.Cewek itu tidak berbohong.Jadi,dia
adalah cewek-super-cantik-juga-pintar-yang-adalah-cinta-pertama-juga-sejatinya-cowok-galaktapi-ganteng-yang-mana-adalah-cowok-pujaanku.
"Lo,gue boleh tanya" Untuk terakhir kalinya untuk soal masalah pribadi lo." Aku setengah mati
berusaha tegar,dan entah mengapa,berhasil.
Logan menatapku tajam,lalu mengedikkan bahunya.Aku anggap itu izin darinya.
"Apa maksud lo waktu itu,waktu lo bilang gue udah mempermudah lo?"
Logan terdiam sesaat,lalu mendesah."Kita ini tutor dan murid,dan enggak akan berhasil kalau
ada semacam,yah,katakan aja hubungan atau perasaan apa pun itu.Kalo lo benci sama gue,itu
jelas bakal mempermudah semuanya.Lo bisa belajar serius tanpa ada hal-hal yang ,yah,bisa
mengganggu konsentrasi lo."
Yang benar saja.Bagaimana aku bisa berkonsentrasi sementara ada makhluk seperti dia di
hadapanku?" Dia bahkan lebih kejam dari Hannibal waktu dia memintaku untuk berkonsentrasi
saat dia mengajar! "Oke,kalo gitu," kataku sambil berdiri."Gue harus benar-benar harus ke kamar sekarang.Kecuali
kalo lo pengin lihat gue ngompol."
Tanpa memedulikan Logan yang masih mengawasiku,aku melangkah menuju pintu
kamarku,membukanya,masuk,menutupnya,lalu berlari sekuat tenaga ke kamar mandi-sebisa
mungkin tidak membuat bunyi sekecil apa pun-dan menangis sejadi-jadinya.
Sepuluh menit kemudian,akumerasa sangat bodoh karena sudah membuarkan diriku sendiri
menangis.Wajahku sekarang benar-benar kacau.Aku mengahbiskan sebotol penuh Insto untuk
menghilangkan merah di mataku,tetapi tak berhasil menghilangkan lingkaran hitam di
sekelilingnya.Aku segera bertindak cepat dengan menggapai-gapai tas berisi kosmetik yang
pernah dibelikan Nenek,tetapi aku cuma bisa takjub begitu melihat isinya.Sebelumnya,aku tak
pernah membuka-buka tas itu,dan sekarang,tempat tidurku dipenuhi oleh segala macam botol
dan kotak.Demi Tuhan,aku tak dapat membedakan mana yang concelear dan mana yang
foundation.Buat apa saja sih benda-benda ini?"
Akhirnya,setelah membaca kira-kira lima belas botol dan kotak satu per satu,aku menemukan
sesosok tabung bertuliskan Flawless Skin Protecting Concealer dari The Body Shop.Kurasa,aku
harus berterima kasih kepada Nenek karena sudah memborong semua produknya sesuai saran
Tante Amy. Aku segera mengaplikasikannya dan setelah mataku terlihat sedikit lebih baik,aku keluar dan
mendapati Logan sudah membuka sweternya sehingga tampak kaus hitam bertuliskan Open
Recruitment.Apanya yang Open Recruitment?"
Logan menatapku dengan pandangan lama-banget-pasti-buang-air-besar,tetapi tak bertanya apaapa.Aku pun bisa bernapas lega karena dia sama sekali tak menyadari mataku yang
bengkak.Produk itu jelas sukses besar,karena dapat mengelebui mata serigala.
Setelah aku duduk dan (pura-pura) Fokus pada buku latihanku,Logan memutuskan untuk
berhenti memperhatikan gerak-gerikku dan mengambil sebuah buku yang kemarin sudah
kukerjakan dan mulai memeriksanya.Kurasa,tadi dia cuma mau meyakinkan diri kalau aku
kembali belajar,bukannya tidur.
Saat Logan lengah,aku mulai mengamatinya.Cowok ini benar-benar mempunyai daya hipnotis
yang besar.Aku bisa menghabiskan waktu selamanya untuk memandangi rambut ikalnya yang
jatuh di dahi yang sedikit berkerut (kuharap tato itu tidak ada di sana),matanya yang setajam
elang,garis rahangnya yang tegas,tangannya yang besar dan tampak kuat,lengan yang terpasang
gelang tipis berwarna hitam (semoga bukan dari Sandra),bahunya yang tegap,dadanya yang
bidang ... Dalam hati aku berharap,benar-benar berharap,bahwa dia adalah Logan yang
lain.Logan yang baik,Logan yang perhatian,Logan yang menyukaiku ...
Apa sih yang ada di otakku saat dia menganggap aku bisa lulus ujian dengan ssemua penderitaan
ini" Dia kan sudah menolakku berulang-ulang,bagaimana mungkin aku melewati ujian dengan
hati terluka parah" Bukannya aku malah bisa stres atau malah ingin bunuh diri"
Kalau Logan merasa aku tak punya cukup nyali untuk itu,dia jelas salah.Aku sudah berkali-kali
ingin mencobanya dengan berbagai alasan,tetapi tidak pernah berhasil karena alasan bodoh
lainnya.Contohnya,saat aku makan berkilo-kilo brownies untuk membuatku mati
overweight,Bunda menggagalkannya dan menyodorkan terapi diet beserta instruktur yang galak
bukan main (tetapi tidak ganteng).Oke,bukan contoh baik,tetapi percayalah,waktu itu aku benarbenar berniat bunuh diri.
Kenyataannya,aku bukan cewek tough.Namun,demi Tuhan,aku berusaha.Sekarang aku
menyerah tentang Logan hanya karena dia sudah punya cewek.Aku sudah menyerah seumur
hidupku.Aku tak akan menyerah kali ini.Tidak akan lagi.
Aku sadar kalau aku tidak membencinya.
"Lo?" Logan menoleh dan menatapku lekat-lekat tanpa ekspresi.Aku mengeluarkan senyuman yang
paling tegar. "Cinta itu enggak bisa dipaksain,kan?" kataku lancar,padahal aku grogi berat saat beradu
pandang dengan mata gelap itu."Gue enggak peduli lo suka atau enggak.Enggak pedulli lo udah
punya cewek atau belum.Yang penting,jangan paksa gue untuk benci sama lo."
Logan bengong setelah mendengar pernyataan-cintaku-yang-sumpah-memalukan itu .Beberapa
detik kemudian,dia terlihat seperti salah tingkah dan kembali menekuni buku.Atau mungkin aku
yang salah lihat. "Selama lo terus belajar dan lulus," katanya tanpa melepaskan matanya dari buku.
Mendengar kata-katanya barusan,tiba-tiba pernyataan cintaku tadi tak terasa memalukan
lagi.Kurasa,aku baru saja melakukan hal paling benar yang pernah kulakukan sepanjang
hidupku. "Semangat!!" sahutku tiba-tiba,lengkap dengan tangan teracung,sementara Logan hanya
mengernyit. Logan sekarang menggeleng-gelengka kepalanya pelan,membuatku ingin mencubit gemas kedua
pipinya karena itu hal manis pertama yang pernah dia lakukan.
Menggelengkan kepala termasuk manis kalau Logan yang melakukannya.
*** Hari ini mungkin hari keberuntunganku.Logan makan malam di rumah.Nanda juga
diundang.Aku nyaris melonjak dan mencium Bunda saat dia muncul di tangga dan meminta
Logan untuk makan malam bersama.
Jujur saja,aku tak pernah merasa bersemangat seperti ini.Tidak bahkan saat aku pertama bertemu
Logan.Sekarang,perasaanku senang,sangat senang hanya karena Logan mengizinkan aku untuk
menyukainya.Setidaknya,sekarang aku punya alasan untuk tetap hidup,yaitu menunggu Logan
sampai dia putus dari Sandra atau membuka hatinya untukku-yang mana kurasa tak akan pernah


Meet The Sennas Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terjadi.Meskipun demikian,aku tak peduli.Yang penting,aku bisa melihat Logan dan terus
menyukainya,apa pun statusnya.
"Makan sambil bengong itu bisa ditindak pidana,lho," kata Kakek membuyarkan
lamunanku.Begitu aku sadar,yang tertangkap mataku adalah sosok Logan yang tampak
heran,tetapi langsung memalingkan wajah.
"Bisa masuk penjara juga," kata Kakek lagi,sekarang suaranya terdengar kesal.
"Eh,iya." Aku kembalimenekuni piring yang masih dipenuhi oleh steak dan wortel.
"Jadi." Kakek sekarang menoleh ke arah Om Sony yang sedang makan dengan bersik."Kapan
launching album kamu?"
Aku tersedak tepat setelah Kakek mengatakan itu.Bunda langsung mengusap-usap
punggungku,lalumengambilkan minum untukku.Semua orang sekarang menatapku heran.
"Kakek udah tahu ... soal album?" kataku di tengah batukku.
"Udah," jawab Kakek tenang,dan dari nadanya aku tahu bahwa tak ada pertumpahan darah yang
melibatkan nama baik perusahaan saat Om Sony mengatakan rencana penghancuran,maksudku,peluncuran album itu.
"Semua udah tahu." Om Sony nyengir lebar."Besok pemotretan buat jacket albumnya,lho.Kamu
mau ikut?" Aku nyaris tidak perlu waktu untuk berpikir dan segera menggelengkan kepala dengan mulut
penuh air.Dia harus yakin kalau aku lebih memilih ditabrak Transjakarta ketimbang menonton
pemotretannya. "Wah,sayang kamu enggak mau ikut,padahal di sana ada Petra Sihombing juga,lho," kata Om
Sony lagi."Kamu kan maksir berat sama dia."
Mengatakan aku naksir berat kepada Petra Sihombing di depan seseorang yang kutaksir di dunia
nyata bukanlah keputusan yang cerdas.Aku melirik Logan,khawatir akan pendapatnya,tetapi
ternyata dia memilih untuk meneguk jus jeruknya dalam diam.
Aku ini bodoh atau apa" Siapa yang peduli kalau aku suka Petra Sihombing" Bahkan,Logan tak
peduli saat aku suka kepada seseorang yang lebih nyata seperti Dalas dan dirinya sendiri!
"Oh," kataku,berusaha menjaga image."Biasa aja."
"Apanya yang biasa aja" Dulu tiap mau tidur lo nyiumin foto Petra,kan" Norak bannget,deh,"
kata Zenith membuatku serasa ingin hilang ditelan bumi.
Sekarang Logan bereaksi,tetapi jelas-jelas bukan reaksi yang kuharapkan.Dia menatapku seolah
aku orang gila,dan aku tahu dipikirannya pasti terlintas mending-mati-daripada-pacaran-dengancewek-abnormal-yang-bakal-menciumi-fotoku-tiap-malam.
Aku memelototi Zenith selama yang aku bisa,tetapi beberapa detik kemudian mataku terasa luar
biasa pedih.Akibatnya,mataku sekarang berkaca-kaca seperti hendak menangis.
"Enggak apa-apa,kok,Daze.Aku juga naksir sama Petra.Dia kan cakep." Nanda salah
mengartikan air mataku,membuatnya langsung dipelototi Dalas.
Aku lupa.Sekarang aku sudah punya pelindung cantik dan baik hati yang mungkin akan jadi
kakakku.Aku melemparkan senyum terima kasih kepada Nanda.Saat ini kami seperti punya
tangan gaib yang saling ber-high five di udara.Menyenangkan sekali.
"Jadi,gimana persiapan UN kamu?" tanya Ayah tiba-tiba,membuat napsu makanku
hilang.Well,sebenarnya sudah hilang sejak beberapa saat lalu,tetapi kali ini Ayah
melengkapinya. "Ya gitu,deh," jawabku sekenanya.
" "Ya gitu,deh" itu jrlrk atau bagus?" tanya Ayah lagi.
"Ada pilihan lain?" kelitku.
"Ah,bilang aja lo mau ngehindar," tukas Zenith,membuatku menyesal kenapa dulu aku
memperbolehkan Bunda untuk punya anak lagi.
Ayah menatapku-baiklah,semua orang menatapku-lekat untuk menunggu jawaban yang
pasri.Apa jawaban yang pasti" Aku sendiri tidak tahu.
"Yah,lihat aja nanti," kataku kahirnya.Aku benar-benar tidak bisa menjanjikan apa pun saat ini.
"Ya udah.Janji sama Ayah,kamu mau ngusahain yang terbaik,oke?"
Ayah tahu benar bagaimana caranya untuk menambah bebanku.
*** Setelah acara makan malam selelsai,aku membantu Bi Sumi mengangkati piring-piring
kotor.Semua orang sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing; Ayah dan Kakek
kembali ke ruang kerja untuk memelototi notebook mereka,Bunda bertelepon ria dengan teman
arisannya,Zenith bermain PS3,Nenek mengoles-ngoles wajahnya dengan krim malan anti
kerut,Om Sony mengacau dengan gitarnya,Dennis dan Nanda entah di mana-aku sama sekali
tidak mau tahu-dan Logan bersiap-siap untuk pulang.Aku mengamatinya mengenakan ransel,lalu
melambai saat dia berbalik untuk pulang.Dia,tentu saja,tidak balas melambai dan pergi tanpa
sekali pun menoleh lagi. Memengnya,apa yang kuharapkan"
Karena tidak kunjung berhasil melupakan punggung Logan,aku memutuskan untuk belajar di
gazebo supaya mendapat sedikit penyegaran.Kali ini,aku membawa buku biologi.Menghapal
segala masalah kromosom-kromosom konyol ini memang membuat mengerjakan soal-soal
Matematika terasa jauh lebih baik,tetapi UN tidak cuma matematika.Sayang sekali.
Langkahku terhenti begitu aku membuka pintu kamar dan melihat dua kepala menyembul dari
sofa.Dennis dan Nanda.Kepala mereka berbenturan,membuat Nanda berteriak "dasar bodoh"
sambil mendorong Dennis dan tertawa lepas.Aku sedang mencoba untuk tiarap dan merayap ke
tangga,tidak mau tahu mereka sedang apa,saat Nanda memergokiku.
"Eh,Daze! Sini! Mau ikutan,enggak" Kami lagi main monopoli,nih."
Bermain monopoli.Dua mahasiswa Teknik Sipil UI berumur sembilan belas tahun sedang
bermain monopoli.Atau mungkin ada sesuatu yang begitu cerdas tentang monopoli yang tidak
aku ketahui" Aku menatap kosong berlembar-lembar uang warna-warni di atas papan dengan berbagai kota di
dunia itu,lalu meringis ke arah mereka.Dennis membalasnya dengan tatapan ngapain-di-sinipergi-sana kepadaku.
"Ah,gue pergi aja,deh," kataku cepat,tapi Nanda lebih cepat lagi.Dia menarik tanganku,sehingga
aku terduduk di sampingnya,sementara Dennis pasti sudah ingin mencekikku kalau dilihat dari
pipinya yang berkedut. "Aku mau mabil minum dulu bentar,kamu mainin dulul ya," kata Nanda,lalu bangkit dan
meninggalkan kami berdua sebelum kami sempat mencegahnya.Ini agak canggung,mengingat
selama hidupku aku sudah menganggapnya sebagai gay tulen.
Kami cuma memandangi papan monopoli selama 5 menit pertama.Aku tak punya minat sama
sekali untuk mengajaknya bicara lebih dulu maupun mengocok dadu.Dennis akhirnya berdehem
pelan. "Lo suka sama Logan,ya?"
Aku langsung merosot dari sofa.Kenapa sih keluarga ini suka sekali mengatakan hal-hal yang
bisa membuatku mati terkena serangan jantung?"
"Ap-apa ... dari mana ...?"
"Enggak perlu jadi peramal buat tahu lo suka sama dia apa enggak.Dia kan ganteng."
Perkataan Dennis seperti mengatakan bahwa aku menyukai Logan hanya dari
tampangnya.Namun,dia ada benarnya juga.Logan tak memiliki sifat apa pun yang membuatku
bahagia.Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya.Apa aku hanya menyukai seseorang dari
tampangnya" Tidak mungkin kan aku termasuk cewek yang seperti itu"
"Kenapa sih cewek suka sama cowok dari tampangnya doang?" keluh Dennis,membuatku sebal.
"Kayak cowok enggak ngelihat cewek dari body-nya doang!" sahutku emosi.Dennis menatapku
tanpa ekspresi,lalu mendesah.
"Logan bukan tipe orang yang ngelihat cewek dari fisiknya,kok," kata Dennis dengan tampang
sok berjasa,seolah-olah dia baru mengatakan sesuatu yang bisa membuatku merasa terhibur.
Namun,aku tak merasa terhuibur."Oh,ya" Gitu,ya"
Terus,kenapa dia sekarang pacaran sama cewek seksi?"
Dennis mengerutkan dahinya."Siapa maksud lo?"
"Siapa lagi" Sandra!" sahutku setengah menjerit.
"Memangnya,ada yang bilang Sandra ceweknya Logan?" tanya Dennis lagi,membuatku bingung.
"Kurang bukti apa lagi,sih" Kata Nanda,dia satu-satunya cewek yang pernah ngobrol sama
Logan!" "Ya ... iya sih,tapi bukan berarti dia ceweknya,kan ...?"
"Logan ngomong sendiri," potongku ketus."Dia ngomong sendiri tepat di depan muka gue."
Dennis memandangku dengan tatapan iba.Aku tahu aku pantas dikasihani.
"Tapi,setahu gue,Logan sama Sandra-"
"Den,kalo lo ppikir pengetahuan lo bisa ngehibur guemlo enggak usah repotrepot,deh.Lagian,gue udah bertekad enggak akan nyerah soal Logan.Enggak akan." Aku
menutup percakapan,lalu bangkit dan meninggalkannya.
"I"m just trying to do my job," kata Dennis lagi,membuatku menengok ke arahnya."You know,as
a brother." Aku menatapnya nanar sejenak,lalu meneruskan langkahku ke dalam rumah.Sudah sangat
terlambat untuknya menjadi seorang kakak.
Sialan.Dia membuatku hampir menangis.
*** "Lo bener-bener top."
Dalas mengacungkan dua jempolnya saat melihatku mengerjakan soal-soal Matematika di
kantin.Ujian Nasional sudah sangat dekat dan aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan
memakan siomay tanpa melakukan apa pun.
"Thanks," gumamku.Aku sungguh-sungguh tak bisa melepaskan konsentrasiku dari soal tentang
integral.Logan memberiku soal-soal ekstra tentang integral karena aku sangat lemah di sini.
"Bisa lo tinggalin itu sebentar?" Suara Dalas tiba-tiba berubah serius,tetapi aku menggeleng
cepat."Please" Penting,nih."
Akhirnya,aku mengangkat kepala.Sia-sia sudah pekerjaan yang selama 5 menit kukerjakan.Apa
sih yang sebegitu penting" Aku menatapnya lama,tetapi dia tidak kunjung bicara.
"Enggak bisa diomongin di sini.Kita ke belakang gedung olahraga,ya?" bujuknya lagi.
Karena aku sedang benar-benar tak punya waktu,aku segera bangkit dan menariknya ke belakang
gedung olahraga.Apa pun masalahnya,aku ingin semua cepat selesai supaya aku bisa kembali
mengerjakan latihan soal.
"Ada apaan?" tanyaku tanpa memedulikan wajah Dalas yang tampak heran karena malah aku
yang antusias. Dalas menatapku sebentar,mengambil napas,lalu tampangnya kembali serius."Daze.Gue mau
tanya sesuatu,tapi gue mohon lo jawab yang jujur,oke?"
"Oke," sahutku cepat-malah kurasa agak terlalu cepat.Untung saja Dalas tak tampak tersinggung.
Dalas menarik napas lagi."Daze,sebenarnya lo suka enggak sih sama gue?"
Pertanyaannya membuatku beku seketika.Darahku serasa berhenti mengalir.Aku tak tahu harus
menjawab apa.Kenapa Dalas tiba-tiba menanyakan ini kepadaku"
"Selama kita pacaran,pernah enggak,lo suka sama gue?" tanyanya lagi.
"Suka! Maksud gue,pernah! Lo kenapa sih kok tiba-tiba-"
"Gue kok ngerasa lo enggak pernah pernah perhatian sama gue,ya" Selama ini,gue merasa gue
bertepuk sebelah tangan.Kayaknya,selalu aja ada sesuatu di pikiran lo."
"Gue emang banyak pikiran,Las,tapi-"
"Guru privat lo itu,kan?" sambat Dalas membuatku tersentak.Dari mana dia tahu"Enggak perlu jadi peramal buat tahu kalo lo suka sama dia," lanjut Dalas lagi,membuatku
menganga. Sebegitu jelasnyakah?" Apa aku sebegitu bisa di tebaknya sampai semua orang merasa tidak
perlu menjadi peramal untuk memahamiku?"
"Harusnya gue tahu," keluh Dalas sambil mengangguk-angguk."Dari awal,hubungan kita
memang berjalan searah."
Ya,Tuhan,dari mana sih Dalas mendapatkan kata-kata seperti ini" Kata-kata yang membuatku
tidak enak hati sampai sesak napas.
"Las,gue minta maaf ...," kataku kahirnya.
Dalas tersenyum miris."Enggak apa-apa,kok."
"Gue sebenernya enggak enak kalo harus ngebuat lo nunggu gue sampai lulus ..." Aku mencaricari alasan."Enggak adil aja buat lo."
"Jangan banyak alesan,deh," tampik Dalas,membuatku bakal mengira dia marah,kalau saja
selanjutnya dia tidak terkekh."Gue tahu kok,lo naksir sama guru les lo."
Aku menggigit bibir bawahku."Sori banget,Las."
"Enggak apa-apa,kok.Ntar juga gue dapet cewek lagi," katanya,lalu tertawa renyah.Aku jadi akut
tertawa,campuran lega dan senang.
Namun,setelah tawa itu,suasana jadi canggung.Aku tahu,tak akan semudah ini menyelesaikan
komitmen dengan seseorang.Aku cukup yakin hubunganku dengan Dalas tidak akan bisa sebaik
dulu lagi.Padahal,Cuma dia satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa.
"Las," kataku,memecah keheningan."Apa sih yang lo suka dari gue" Gue kan enggak
cantik,enggak seksi,bego lagi ..."
Dalas mendengus saat aku mengatakan "seksi"."Gue enggak lihat fisik,kok.Kalo anaknya asyik
dan nyambung,ya gue suka aja.Cantik dan seksi itu enggak bertahan lama,yang ada malah bikin
repot.Lagian,lo enggak bego kok,Daze."
Aku mengangguk-angguk,entah apa yang kusetujui.Nyatanya,aku baru saja melepas seorang
cowok yang jelas-jelas memilih kepribadian daripada fisik demi seorang cowok yang sudah
mempunyai cewek yang sudah pintar,superseksi pula.
Hening lagi selama 5 menit.Aku tak tahu harus berkata apa.Aku sangat merasa bersalah,tetapi
entah mengapa,aku tak merasakan adanya penyesalan.
Demi Tuhan,aku sayang cowok satu ini.Dia benar-benar mengerti perasaanku,dan yang paling
penting,dia selalu ada untukku.Hanya saja,aku tak pernah menggunakan kesempatan itu untuk
bercerita apa pun kepadanya.
Kalau Logan tak pernah muncul,mungkin aku sudah bahagia bersama Dalas.Namun,mungkin
Tuhan menakdirkan agar aku dan Dalas bersama ... sebagai sahabat.Ya,sahabat.
Aku menatap Dalas,yang ternyata juga sedang menatapku.
"Semoga berhasil sama ujiannya." Dalas mengacak rambutku."Mm ... sama Logannya juga."
Aku tertawa lepas."Doa lo harus lebih kenceng."
"Logan itu cowok goblok kalo enggak suka sama lo," kata Dalas lagi.
Cowok ini BENAR-BENAR tahu cara menghiburku.
*** Aku tak pernah merasa empat bulan secepat ini.Emapat bulan itu aku hitung semenjak Logan
menjadi guru les privatku,praktis juga semenjak aku mulai menyentuk matematika.Sekarang,UN
sudah di depan mataku,persisnya satu minggu lagi.Karena itulah,aku tak pernah sedetik pun
lepas dari buku. Logan menatapku khawarir,mungkin sekaligus kasihan yang melihat aku seperti sudah
kerasukan arwah Einstein atau siapa.Memangnya kenapa kalau aku rajin" Bukannya itu yang dia
mau" "Ah! Buku yang satunya ketinggalan di kamar!" sahutku,lalu bangkit dengan penuh semangat.
Secara ajaib,sebuah tempat pensil muncul di depan kaki kananku tepat pada saat aku
melangkah.Aku kehilangan keseimbangan karena menginjaknya,tetapi kali ini aku tidak
langsung membentur lantai.Bukan juga menimpa permadani atau sofa,tetapi menimpa
Logan.Menimpa guru privat Matematikaku yang superganteng dan kutaksir matimatian.Sekarang,posisi kami cukup untuk membuat semua orang di rumahku salah paham dan
menikahkan kami. "Mau sampe kapan?" tanya Logan setelah beberapa saat."Berat,nih."
Aku buru-buru menyingkir dari tubuh tegapnya yang tadi dengan sukses kutindihi.Sekarang
wajahku lebih merah daripada yang sudah-sudah.Seharusnya ini tak terjadi.Well,boleh saja
terjadi,kalau berat badanku sudah berkurang 15 kilo atau apa.Tadi,sepertinya Logan shock berat
dan mati-matian menahan napas agar isi peutnya tidak keluar.Sama sekali tidak romantis.
"Ah! Buku!" sahutku cepat,lalu segera menghambur ke kamar.Sialan.Itu tadi kejadian paling
memalukan seumur hidupku.Di sisi lain,Logan tidak tampak malu atau apa pun itu.
Astaga,Daza! Apa sih yang kuharapkan dari seorang cowok yang tertimpa buntalan hidup
sebesar 55 kilo" MALU-MALU?" Harusnya aku bersyukur Logan masih hidup!
Aku keluatr dari kamar dengan membawa buku Matematika milik Logan,lalu duduk
dihadapannya dengan gugup.Aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga,membetulkan
posisi duduk,batuk-batuk kecil,lalu ... entah apa lagi.Pokoknya aku melakukan hal-hal aneh
lainnya,yang tidak ada hubungannya dengan matematika.Aku baru berhenti saat mendengar
Logan menghela napas. "Ini yang gue takutin," kata Logan sambil memberiku tatapan kesal."Lo enggak bisa
konsentrasi." Aku mendongak dan menatapnya tak terima."Gue bisa konsentrasi,kok!"
"Oh,ya" Coba tunjukkin," tantang Logan.Aku segera mengerjakan soal-soalitu dengan wajah
serius,tak mau Logan menganggapku main-main.Namun,nyatanya,aku masih grogi akibat
kejadian tadi.Tangan kananku terasa lemas hingga pensil yang kupegang bergoyang-goyang
lunglai. Saat aku sedang berupaya menggenggam pensil dengan benar,Dennis muncul.Memang sih tak
ada jalan lain untuk ke kamarnya selain dari ruangan ini,tetapi biasanya tak ada seorang pun
yang boleh melewatinya dari pukul 05.00 sampai pukul 07.00 atau sampai aku selesai les.Dennis
ternyata tidak langsung ke kamarnya dan malah memanggil Logan.Setelah saling lempar
pandang-aku tidak paham artinya,mungkin semacam kode antar anak Teknik Sipil UI-dia dan
Logan langsung naik ke kamarnya.Aku menganggu saat Logan meminta izin,tetapi tetap
penasaran hal sepenting apa yang perlu dikatakan Dennis sampai harus mengganggu jam lesku.
Sepuluh menit kemudian,mereka kembali dengan tampang yang sama-sama tak bisa
ditebak.Dennsi segera turun tampa melihatku.Terus terang saja,aku masih merasa bersalah
karena mengabaikannya saat dia mencoba meyakinkanku kalau Logan dan Sandra bukan
sepasang kekasih,tetapi aku sendiri tidak biasa mendapat perlakuan baik darinya.
Logan duduk di hadapanku,lalu mendesah.Aku sangat ingin bertanya apa yang mereka baru saja
bicarakan,tetapi lalu aku ingat Logan tidak suka masalah pribadinya dicampuri.Ngomongngomong,selama beberapa minggu terakhir,Logan sudah sangat jarang memarahiku.Mungkin,dia
pikir,itu akan mengurangi rasa depresiku menjelang ujian.Dan itu berhasil.
"Sandra itu bukan cewek gue," kata Logan tiba-tiba,membuat pensilku terlempar hingga
mengenai dahiku. "Ap-?" "Lo jangan suka bikin pernyataan enggak jelas,ya.Dia memang pernah jadi cewek gue,tapi
sekarang enggak lagi."
Mulutku sekarang menganga.Logan mengernyit tak suka.
"Lo jelek banget,tahu.Tutup mulut lo."
Biar aku rinci satu per satu: Aku menimpa tubuhnya,tetapi dia tidak membentakku,dia
mengkarifikasi bahwa dia dan Sandra sud


Meet The Sennas Karya Orizuka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ah tidak bersama lagi,dia bahkan mengatakan aku
jelek,yang harusnya sudah dia katakan sejak awal melihatku!
Ke mana perginya Logan yang dulu" Ke mana bentakan galaknya,ke mana jangan-campuriurusanku-nya" Ke mana?"
"Lo ... kenapa,Lo" Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gini?" tanyaku bingung."Ke mana lo yang
dulu enggak pernah ngebolehin gue nyampurin urusan lo?"
Sesaat Logan seperti terlihat salah tingkah.Atau mungkin hanya perasaanku saja .Entahlah.Aku
terlalu kewalahan menata hati dan pikiranku saat ini.
"Dennis tadi ngomong kalo lo bilang gue pacaran sama Sandra.Itu fitnah.Lo nyebarin yang
enggak-enggak tentang gue."
Tetap saja itu bukan alasan yang masuk akal.Yang masuk akal bagiku adalah kalau dia tak mau
aku salah paham ... tetapi aku tak peduli apa pun alasannya.Yang harus aku pedulikan sekarang
adalah fakta bahwa dia bukan pacar Sandra lagi.
"Jadi,lo udah enggak sama Sandra lagi?" Aku menekankan dengan nada tinggi.Logan
mengangguk malas."Enggak sama siapa-siapa?" tanyaku lagi.Logan kembali mengangguk,kali
ini dengan tatapan curiga."HORREEEE!" jeritku senang,tanpa memedulikan Logan yang
terlonjak kaget. "Hore?" ulang Logan sambil memandangku sinis.
Aku sendiri sudah sibuk dengan hatiku yang berbunga-bunga.Aku berjanji akan bersemangat
dalam hal apa pun,belajar,juga mengejar Logan si cowok-dingin-tapi-ganteng-banget ini!
Aku menari-nari selama beberapa saat,lalu kembali duduk dan fokus pada soal-soal setelah
kesadaranku kembali.Logan cuma bisa menatapku sambil menggaruk-garuk belakang
kepalanya,mungkin terlalu pusing atau bingung melihat kelakuanku.Oke,kurasa putus asa adalah
kata yang paling tepat. "Ah!" Aku kembali menyahut,membuat Logan sekali lagi berjengit."Gimana kalo kita taruhan?"
"Taruhan apa?" tanya Logan-walaupun nadanya masih datar,tetapi aku bisa melihat binar di
matanya. "Kalo gue lulus dengan nilai bagus,gimana kalo lo kasih gue kesempatan?" tawarku.
Logan menatapku penuh pertimbangan."Kalo nilai Matematika lo sepuluh,mungkin gue
pertimbanngkan." Nilai Matematika sepuluh,baru dia pertimbangkan.Aku heran dia ini masih manusia atau
drakula.Kenapa bisa kejam banget begini,sih"
Oh,ya,ampun,dia kan manusia serigala.
"Gue enggak takut," kataku mantap.Aku sendiri bahkan tak tahu dengan suara siapa aku
berbicara."Gue terima penawaran lo."
Sesaat Logan bengong,tetapi kemudian dia mendengus."Mana mungkin," katanya sangsi.
"Lo enggak tahu apa yang bakal terjadi." Aku mengakhiri pembicaraan hari itu secara
misterius,lalu kembali menekuni buku dengan sudut bibir terangkat ke atas.
Hari ini adalah hari terbaik selama aku leas privat dengan Logan.
The Strom Is Here Enam hari menuju Ujian Nasional.
Rinda sudah mengantisipasinya dengan menghitung-hitung posisi duduknya dan melobi orangorang yang malang yang duduk di sekelilingnya untuk memberinya jawaban.Dan tebak siapa
yang sial" Benar,si Iman yang mahapintar itu.Dia duduk tepat di belakang Rinda,(nama depan
Iman adalah Muhammad dan nama lengkap Rinda adalah Meylina Arinda) dan Rinda sudah
melobi-oh,baiklah,mengancamnya-untuk memberitahukan jawaban-jawaban saat UN
nanti,terutama matematika.Iman hanya bisa pasrah menerima sogokan berupa voucher
Levi"s.Iman bahkan tidak memakai jeans.
Sebenarnya aku bisa saja berbuat sama,tetapi sekarang aku sedang tidak membutuhkan nilai
yang cukup atau sekedar lulus.Aku membutuhkan nilai sempurna di ujian Matematikaku untuk
mendapatkan pertimbangan Logan.Well,sebenarnya bukan hanya itu.Aku juga ingin
mendapatkan kepercayaannya.Aku ingin menunjukkan bahwa aku bukan lagi cewek bodoh
seperti yang dulu dia kenal.Memang sih ini hal paling mustahil yang pernah aku
lakukan.Namun,aku sudah bertekad akan melakukannya.Dan aku yakin aku bisa,kalau aku punya
tekad yang kuat. "Daze" Sekedar info,kita punya banyak pelajaran lain selain matematika," kata Rinda pagi
ini.Dia sendiri sedang belajar bahasa Inggris.Sedang makan kuaci dengan buku bahasa Inggris
yang terbuka sebagai alasnya,lebih tepatnya.
"Ntar gue tanya lo deh,yang lainnya.Sekarang lo jangan berisik dulu," kataku sambil berkutat
dengan soal tentang parabola.
Sementara itu,keadaan rumahsedang ceria karena Tante Amy sudah pulang dari rumah
sakit.Selama beberapa hari yang lalu,dia harus tinggal lebih lama karena ada masalah dengan
jahitannya.Sekarang,dia bahkan sudah mampu makan bersama kami di meja makan.Si kecil
Ruben sedang tidur di kamarnya.Untunglah,karena kalau aku mendengar suara tangisannya,aku
tidak akan bisa berkonsentrasi.
Aku betul-betul harus memenangkan pertandingan itu.
*** Lima hari menuju Ujian Nasional.
Aku tidak lagi menghabiskan waktuku di kantin,melainkan di perpustakaan karena kehabisan
buku latihan.Bukan hanya perpustakaan sekolah,aku juga pergi ke perpustakaan-perpustakaan
terdekat karena sudah bosan mengerjakan soal yang itu-itu saja.Di sepanjang jalan ke
perpustakaan,Rinda terus-terusan menggumam bahwa aku sudah gila sementara aku berusaha tak
mengacuhkan suara cemprengnya.Setelah beberapa kali berkeliling di Perpustakaan
Nasional,aku menemukan sebuah buku yang belum pernah kulihat sebelumnya,yang lalu
kupinjam bersama beberapa buku rumus-rumus.
Sorenya,Logan mengatakan kalau buku itu ternyata berisi tentang aljabar yang biasa dipakai oleh
anak-anak Teknik.Dia juga menambahkan aku bisa terkena penyakit saraf kalau aku nekat
mengerjakan soal dari buku itu,jadi aku memutuskan untuk menyingkirkannya sebelum aku
benar-benar lumpuh. *** Empat hari menuju Ujian Nasional.
Aku mendapat nilai sempurna di beberapa latihan terakhir diberikan Pak Mulyono.Sikapnya
berubah total semenjak aku mendapatkan nilai bagus pada tiga ulangan terakhir.Dia tidak lagi
memandangku sebelah mata.
Aku juga mulai membaca buku-buku pelajaran lain,karena Rinda berbaik hati mengingatkan
bahwa aku bisa tidak lulus kalau mendapatkan nilai sempurna pada Matematika,tetapi tidak pada
pelajaran Bahasa Indonesia,misalnya.Halo" Mana ada sih yang tidak lulus gara-gara bahasa
Indonesia?" Namun,ternyata aku harus waspada karena ulangan Bahasa Indonesiaku yang terakhir bernilai
lima koma lima.Sial.Aku ternyata tidak se-Indonesia yang kubayangkan.
Di rumah,orang-orang pun mulai menunjukkan gejala-gejala aneh.Aku tak tahu apa ini hanya
perasaanku,tetapi mereka jadi lebih sering terkikik.Meskipun demikian,merreka berusaha
membantuku dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,juga saling lempar
pantun kapan pun mereka sempat.Sumpah mati aku malas merasa terganggu.
Sementara itu,Om Sony sudah menyelesaikan albumnya dan bermaksud mengadakan launching
tepat setelah aku ujian.Katanya,itu untuk hadiah kelulusanku-yang tentunya aku tolak dengan
sekuat tenaga.Saat ini,dia sedang menyiapkan video klip dan,demi Tuhan,aku harap tidak ada
cewek-cewek berbikini yang terlibat.
*** Tiga hari menuju Ujian Nasional.
Aku memenangkan lomba cepat-cepat matematika yang diadakan oleh kelasku.Aku lawan
Iman,si mahapintar itu! Jadi,siapa yang genius sekarang?"
Setelah kemenangan fenomenalku,seluruh sekolah jadi gempar: Dalas mendatangi kelasku dan
bertanya apa aku memakan habis semua buku-bukuku,semua anak kelas sepuluh memandangku
seolah aku dewa atau apa,guru-guru jadi menyayangiku ... Seakan itu belum cukup membuatku
berkilau,tersebar gosip bahwa aku jadi salah satu kandidat utama pemegang nilai Ujian Nasional
tertinggi di sekolah ini.Well,jujur saja,aku menikmatinya.Ternyata,seperti ini rasanya jadi orang
pintar. Seperti yang sudah kusangka,Logan sama sekali tak tertarik mendengar ceritaku.Aku tak
mengambil hati.Aku sedang dalam usaha mendapatkannya,sekaligus gelar peringkat pertama di
sekolah.Toh,nanti juga dia akan terkesan padaku.
*** Dua hari menuju Ujian Nasional.
Sekolah diliburkan untuk persiapan UN.Hari ini,semua murid kelas dua belas diharapkan untuk
bisa mengejar seluruh ketertinggalannya.
Hari ini,sekaligus menjadi hari terakhir Logan mengajarku.Sebetulnya,beberapa minggu terakhir
dia hanya menemaniku belajar.Aku sudah tak pernah meminta bantuannya lagi karena tanganku
sudah bergerak dengan sendirinya,bahkan sebelum dia sempat menyuruh apa-apa.Bunda
mengadakan pesta kecil untuk merayakan perpisahan dengannya,tetapi aku menolaknya.Siapa
sih yang mau berpisah dengan Logan" Lagi pula,berpesta disaat lusa adalah hari penentuan nasib
kisah cintaku" Maaf saja,tetapi TIDAK.
Meskipun demikian,aku tetap harus menghadiri pesta konyol itu karena Bunda dengan cerdik
mengatur agar waktunya bertepatan dengan makan malam.Jelas saja aku akan hadir
karena,walaupun sangat sibuk belajar,aku tetap butuh makan.
Logan jelas terkejut saat turun dan mendapati semua orang menyambut dan menggiringnya ke
ruang makan.Meja panjang di runga makan dipenuhi berbagai mcam makanan hingga taplaknya
tak telihat lagi.Kurasa,keluargaku terlalu berlebihan.Mereka menyiapkan segala makanan-yang
bahkan tak kudapat saat aku berulang tahun-dalam rangka kepergian Logan.Ini jelas
menyedihkan. Setelah setengah jam,akhirnya kami selelsai makan.Aku bermaksud segera kembali ke
kamar,tetapi Bunda melarangku dan menyuruhkuk meminta doa restu kepada Logan.Doa restu
apaan,sih" Memanngnya aku mau menikah"
Jadi,sekarang kami dibiarkan berdua di runng tamu.Suasana ruangan yang remang-remang dan
tubuh Logan yang hanya berjarak beberapa senti dariku membuatku sedikit
grogi.Bagaimanapun,aku hanya akan siap kalau aku sudah mendapat nilai sepuluh di ijazahku.
"Well,kalo gitu,selamat ujian aja," kata Logan setelah beberapa
canggung.Kemudian,dia melangkah ke pintu tanpa menatapku sedikit pun.
"Lo lihat aja nanti." Akku berkata mantap."Gue pasti bakal dapet sepuluh."
menit yang Tanpa kuduga,Logan berbalik."Ng,soal itu," katanya dengan wajah melunak,"lo jangan terlalu
maksain diri." "Oke," balasku,lalu melangkah ke dalam dengan langkah ringan,bermaksud belajar lagi.
Soal perkataannya tadi,aku menganggapnya sebagai ejekan,berhubung Logan tak pernah
memberikan perhatian kepadaku.Aneh sekali rasanya kalau sekarang dia tiba-tiba khawatir aku
memaksakan diri.Aku tak akan terkecoh lagi dan akan berusaha untuk mendapatkan
perhatiannya dengan mendapatkkan nilai sempurna di ujian Matematika.
Aku akan sabar menunggu sampai Ujian Nasional berakhir.
*** Satu hari menuju Ujian Nasional.
Aku panik.Aku tertekan.Aku mau mati saja.Tolong bunuh aku.
Tidak,tidak.Jangan dulu.Jangan sekarang.Logan menunggu.Aku tidak boleh menyerah.Akku
cewek tough! Saat ini,aku sedanng mati-matian belajar Bahasa Indonesia,yang seingatku sudah kutinggalkan
selama beberapa abad.Entah mengapa aku merasa tidak betah dengan semua hafalan ini.Aku
jauh lebih suka menghitung,tetapi aku akan tetap berjuangSial.Aku mulai mengantuk.Di mana kopi?"
*** Delapan jam menuju Ujian Nasional.
Aku masih berkutat dengan buku Bahasa Indonesiaku.Belajar tentang majas-majas dan pantun
apalah itu.Membosankan. *** Lima jam menuju Ujian Nasional.
Mataku tidak bisa tertutup! Kopi ini benar-benar ampuh! Seseorang,tolong hapis semua majasmajas sialan itu dari langit-langit kamarku!
*** Tiga jam menuju Ujian Nasioanl.
Aku bisa pingsan besok pagi kalau begini caranya! Ya,Tuhan ... kunohon,buat aku supaya tidur
... *** Pada akhirnya,aku tidak bisa tidur sama sekali.Sekali lagi,aku menggunkan jasa concealer
setelah menemukan panda berambut medusa di ceermin kamar mandi.Aku tak mau membuat
Bunda kena serangan jantung dan memaksaku pergi ke rumah sakit di hari yang sangat penting
bagiku ini. Setelah sarapan dengan roti yang terasa seperti karet,aku berangkat dengan perasaan yang tidak
bisa dilukiskan.Campuran antara tegang,grogi,bersemangat,mulas,ingin muntah,dan entah apa
lagi. Rinda sudah menunggu di kelas.Dia bahkan tidak berani menyetir mobilnya selama ujian karena
takut menyeruduk bajaj atau apa.Dia menyambutku dengan cengiran kaku,menandakan dia sama
gugupnya denganku.Saat dia sudah sedikit llebih tenang karena kehadiranku,dia mulai
melemparkan lirikan-lirikan maut kepada Iman.
Dan,terjadi juga.Awalnya aku benar-benar tegang,sama sekali tak bisa mengingat satu hal pun
yang kubaca tadi malam dan Cuma bisa memandangi kalimat demi kalimat di lembar
soal.Namun kemudian,aku menarik napas,mengembuskannya perlahan,lalu mulai membaca soalsoal itu sekali lagi.Dan,ternyata cukup mudah.Segala majas yang kubaca dan pantun yanng
keluargaku lemparkan tampaknya berguna.
Setelah Bahasa Indonesia,aku melalui ujian Bahasa Inggris dan Fisika di hari berikutnya tanpa
kesulitan berarti.Begitu ujian di hari kedua selelsai,aku segera memegang buku Matematika.Aku
tidak percaya betapa aku merindukan matematika.Aku yang dulu pasti sudah termutah-muntah.
Bagiku,besok adalah hari yang paling menentukan.Aku harus mempersiapkan diriku sebaik
mungkin agar kisah cintaku tidak berakhir menyedihkan.
*** Namun,ya Tuhan,aku tertidur.Tertidur pada malam dimana keesokan harinya adalah hari yang
paling esensial dari keseluruhan ujianku! Oh,tidak,keseluruhan hidupku!
Semalam aku ... aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi semalam,karena sepertinya aku pingsan
semenjak pulang sekolah.Yang aku ingat,saat itu kepalaku terasa berputar dan tubuhku seperti
Minyak Darah Malaikat 3 Pendekar Slebor 39 Pulau Kera Sang Pembunuh 1
^