Pencarian

The Devil In Black Jeans 5

The Devil In Black Jeans Karya Aliazalea Bagian 5


please call me. Kita bisa membicarakannya,apa pun itu.
W0.34 AM Dara baru saja akan menelpon jo ketika HPnya sekali lagi berdering. Nama jo berkedip kedip di layar.
"Halo,"ucap dara sambil memaksa dirinya pada posisi duduk di tempat tidur.
"Oh, thank god,"suara jo terdengar putus asa. "Dara,apa kamu baik baik aja?"
"Iya,saya baik baik aja,jo."
"Jadi kenapa kamu nggaka ngkat telepon dari tadi pagi?"Teriak jo agak ganas.
Merasa kesal karena jo mengomelinya ketika dia baru bangun dan bahkan belum sempat ke kamar
mandi,dara membalas dengan tidak kalah ganasnya," karena saya baru bangun."
"Sekarang sudah jam 11.00 lewat,dara,bagaimana kamu bisa tidur selama ini?"
Sekali lagi merasa bahwa jo sudah mencurigainya akan sesuatu yang tidak jelas,dara berkata dengan
nada tersinggung, "Karena saya kecapean. Saya bahkan nggak denger bunyi HP sama sekali."
Kata kata itu berhasil membuat jo terdiam. Ketika jo berkata kata lagi,nadanya terdengar seperti dia
sedang tersenyum."I'm sorry. Saya sudah berpikiran yang tidak tidak. Saya pikir kamu menghindari saya
lagi." "Kenapa kamu berpikir seperti itu."
Jo tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah justru mengajuk pertanyaan lagi,"Can I see you today?"
"Why" Apa blu memerlukan
saya?"Tanya dara. Ini adalah minggu pertama dara bisa mengambil cuti tiga hari berturut turut. Dan betapa dia mencium
blu,dia betul betul memerlukan cuti ini.
"No. Bukan blu yang perlu ketemu kamu,tapi saya. Ada hak penting yang perlu saya bicarajan dengan
kamu," jawab jo dangan nada sedikit tersipu sipu.
Dara tidak bisa berkata kata selama beberapa detik. Dia mencoba memutuskan apakah dia merasa
senang jo ingin bertemu dengannya lagi hari ini,yang berarti bahwa tadi malam bukanlah sekedar one
night stand,atau khawatir,karena mungkin jo perlu bertemy dengannya untuk memutuskan "hubungan"
mereka. Merasa bodoh karena dia baru saja menyembunyikan apa yang terjadi tadi malam antara dirinya dan jo
sebagai suatu"hubungan" bukannya hanya seks,dara memutuskan untuk menelan peluru yang sudah
ditembakan padanya dan bertanya,
"Apa hal ini berhubungan dengan semalam"
"Iya." Jawaban jo ini langsung membuat jantung dara jatuh kelantai dan perutnya mual. Oh, jo betul betul akan
memutuskan hubungan mereka. Dia akan mengatakan bahwa tadi malam adalah suatu
kesalahan,meminta maaf,kemudian memintanya untuk tidak pernah menyingguing nyinggung hal itu sama
sekali kepada siapa pun. Bastard! Baiklah,kalau itu memang cara jo memperlakukan wanita yang dia sudah tiduri,dara juga bisa
melakukannya. Sebelum berpikir lagi,dara sudah berkata," Kamu nggak usah khawatir tentang kejadian
tadi malam. Saya nggak akan ngomong ke siapa siapa tentang itu. Rahasia kamu aman dengan saya."
"What"kamu nih ngomong apa sih?"
"Saya tau kamu mungkin khawatir saya akan mengajukan tuduhan sexual harassment kepada kamu,tapi
kamu nggak usah khawatir tentang itu. Saya nggak ada rencana untuk melakukan itu sama sekali."
Kamu pikir saya menghubungi kamu untuk minta kamu tutup mulut tentang apa yang terjadi tadi malam"
Kalau saya mau melakukan itu,kenapa saya susah susah ngirimin SMS ke kamu yang pada dasarnya
mengatakan...." Kata kata jo ini terputus oleh bunyi klakson yang cukup keras dan suara jo yang ngomel,
"Son of a bitch. GET OUT OF MY WAY!!!!"
Omel jo itu diiukuti oleh bunyi beberapa klakson lagi. Samar samar dara bisa mendengar bunyi gengungan
mesin,kemungkinan besar adalah mesin mobil. Kini dara sadar jo sedang ada di jalan ketika
menelponnya. "Jo?"Tanya dara khawatir.
"God,kalau sekali lagi saya lihat orang memengang HP sambil nyetir,sumpah,saya akan melemparkan
kunci ban ke kaca mobil mereka. Apa mereka nggak pernah dengar yang namanya hands free?" Geram
jo. "Jo,kamu lagi ada di mana?"
"Di jalan,baru masuk tol,"balas jo dengan suara lebih tenang.
"Apa ibu kamu ada di rumah hari ini?"
Dara memerlukan waktu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan jo yang terdengar sangat tidak
televen dengan percakapan mereka sebelumnya.
"I don't know. Memangnya kenapa?" Dara beranjak bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Di
betul betul perlu mencuci muka untuk menyegarkan pikirannnya.
"Just checking. Saya sampai di rumah kamu sekitar dua puluh menit lagi. Jangan kaget kalau ada yang
membunyikan bel. Oke?" Kemudian jo memutuskan sambungan telepon itu. Meninggalkan dara bingung menatap HP nya. Apa dia
tidak salah dengar" Jo akan ke rumahnya" Lagi" Whaaattt"Why" Kemudian dia sadar dia masih belum
mandi,dan jo akan sampai di rumahnya dalam sembilah belas menit. Dara buru buru ngacir ke kamar
mandi. Jo menekan bel rumah dara. Rumah ini kelihatan sepi. Oh God jangan bilang dara tidak ada di rumah. Hal
tersebut bahkan tidak terlintas di kepalanya. Dara hanya bilang bahwa dia baru saja bangun,tapi tidak
pernah bilang di mana. Jo hanya menyangka bahwa itu di rumahnya. Bagai mana kalau tersnyata dara
tidak tidur di rumahnya tadi malam" Bahwa dia tidur di rumah....laki laki itu,dengan laki laki itu. Ugh!!! Jo
bahkan tidak mau memikirkan hal itu. Tidak. Dara tidak seperti itu.
Ketakutan dengan pikirannya sendiri,jo menekan bel rumah itu beberapa kali lagi dengan tidak sabar.
Kompleks perumahan tempat dara tinggal kelihatan lengang. Mungkin karena ini hari kamis,semua orang
masih ada di kantor atau sekolah pada jam segini. Jo bersyukur karena sejujurnya dia tidak mau diserang
oleh tetangga dara ketika dia sedang berdiri di depan rumahnya seperti ini. Ketika dia baru saja akan
menekan bel untuk yang kelima kali,pintu rumah terbuka dara muncul dengan celana pendek,tank to,dan
handuk yang melibat rambutnya.
Wajahnya kelihatan agak kesal,tapi jo tidak bisa menahan diri menghembuskan napa lega ketika
melihatnya. She's here. Dia hanya baru selesai mandi,makannya agak lama membuka puntu,ucapnya dalam hati.
Semalam jo tidak bisa tidur sama sekali,pikirannya penuh dengan dara. Betapa dia menyesali
keputusannya untuk mengantar dara pulang. Kenapa dia tidak berkeras agar dara bermalam dengannya.
Tentu saja di mengerti alasan dara yang tidak ingin dilihat oleh blu atau bi uti. Sebebas bebasnya wanita
Asia,tidur dengan laki laki yang bukan suaminya adalah tebu. Akhirnya menunggu hingga pukul 6.00
sebelum mengantar blu ke sekolah.jo menelepon dara,tapi sayangnya telepon itu tidak di jawab. Dia
hanya menunggu beberapa menit sebelum mengirim SMS pertamanya. Ketika dia tiba kembali di rumah
dan dara masih belum menghubunginya,dia hanya menunggu beberapa menit sebelum mencoba
menelepon dara lagi,dan usaha itu pun gagal. Dan dia mengirimkan SMS nya yang kedua. Dia sempat
meringis ketika membaca ulang SMS itu yang terdengar sedikit putus asa,tapi dia mengirimkannya juga.
Menolak untuk kelihatan super putus asa,untuk berbicara dengan dara,jo memutuskan untuk mandi. Tapi
ketika dia keluar dari kamar mandi dan masih tetap tidak ada missed call juga,dia mulai khawatir. Alhasil
dia menelepon lagi,diikuti oleh SMS nya yang ketiga dan ke empat.
Akhirnya pada jam 10.30 dan dara masih juga belum menelponnya balik,rasa waswas bahwa dara sudah
menyesali apa yang terjadi tadi malam menyerangnya. Hatinya akan remuk kalau dara menilai tadi
malam,yang merupakan the best night of his life,sebagai suatu kesalahan. Jo tidak pernah merasa begitu
dekat dengan orang lain,seperti dia merasa dekat dengan dara.
Berbagi cerita tentang masa kecilnya yang pernah dia ceritakan kepada siapa pun juga tidak pernah dia
ceritakan kepada siapa pun juga dan tidak takut dinilai yang tidak tidak karenanya. Dia betul betul
menurunkan semua benteng pertahanannya untuk dara. Dia membiarkan dara melihat segalanya.
Dengan segala ketakutan yang menyelimuti pikirannya karena aka kemungkinan dara akan
menelantarkannya,jo menghubungi dara untuk yang terakhir kalinya dan selama menunggu hingga
telepon itu diangkat,jo meraih kunci mobilnya. Dia sudah duduk di belakang setir mobilnya ketika dia
mengirimkan SMS kelima. God,dia pasti kelihatan seperti orang idiot berada di depan rumah dara
layaknya seperti anjing hilang.
Dara melangkah ke samping untuk mempersilahkannya masuk. Jo menahan diri agar ridak menarik dara
ke dalam pelukannya dan mengubur hidungnya di rambutnya yang sayangnya tertutup oleh handuk kecil
ketika dia mencium aroma lily. Setelah tadi malam.dia tahu bahwa segala bagian tubuh dara dari ujung
rambut hingga ujung kaki beraroma lily,tapi yang paling kuat adalah pada rambutnya,yang membuatnya
hampir gila tadi malam. Dara menunggu hingga pintu tertutup sebelum berkata kata lagi." Sori,kamu harus nunggu agak lama di
luar. Saya baru selesai mandi.
Pada saat itu jo sadar bahwa dara seperti menjaga jarak dengannya. Jo hanya bisa
mengangguk,mencoba membaca mood dara yang kini sedang menatapnya dengan tidak pasti. Dalam hati
jo memohon,Dear God. No. No. No. No this again.
Bab 25 HEARTBREAK Kamu mau minum apa?"Tanya dara,mencoba mengisi ketidaknyamanan yang datang tiba tiba di antara
mereka. "Red bull kalau ada,"jawab jo.
Dara memutar bola matanya," Air putih kalau begitu,"ucap nya dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
Jo mengikuti dara." Kamu sendirian aja di rumah?"Tanyanya.
"Yep,"ucap dara sambil mengambil gelas dari rak dan membuka lemari es untuk mengambil botol ait putih
dan menuangkannya ke dalam gelas.
Melihat bahwa dara tahu cara dia minum air putih,selalu dingin,tapi tidak pakai es,membuat jo tidak bisa
menahan diri lagi untuk bertanya," apa kamu menyesali kejadian tadi malam?"
Dara berhenti dari menuangkan air putih ke dalam gelas dan menatap jo terkejut. Dia tidak percaya jo
akan menanyakan hal ini padanya. Baru pada saat itu dia betul betul melihat keraguan dan kepanikan di
wajah jo. "Nggak sama sekali. Kamu?" Jawab dara dengan hati hati dan dia tersenyum ketika melihat jo
menghembuskan napas lega atas jawabannya itu.
Jo memberikan jawabannya dengan menggeleng. Kemudian dara melihatnya nyengir. Ekspresi itu
menghangatkan hatinya,lebih daripada yang mau dia akui,dan membuat apa yang dia akan katakan
selanjutnya semakin sulit.
"Tapi kita nggak boleh melakukan itu lagi,jo," ucap dara dan dia hampir saja ingin menarik kata katanya
kembali ketika melihat cengiran di wajah jo menghilang,digantikan dengan kebingungan dan kemudian
kemarahan. Tadi malam ketika dia duduk sendirian di kamarnya setelah di antar pulang oleh jo dan waktu yang
dihabiskannya untuk mempersiapkan diri sebelum kemunculan jo di rumahnya sudah cukup baginya untuk
mengambil keputusan. Dia sudah terlalu terbawa perasaan tadi malam dan membiarkan apa yang telah
terjadi,terjadi. Dia memang tidak bisa menariknya kembali,tapi dia bisa menghentikannya dari terjadi lagi.
Dia mencintai panji,dan dia tidak akan membuang hubungan yang sudah mereka jalani selama dua tahun
dan pernikahan yang sudah terencana dengan baik hanya karena satu malam bersama jo. Dara hanya
berharap jo bisa melihat keadaan ini,seperti apa adanya,bahwa tadi malam adalah kesalahan.
"Tadi malam adalah kes...."
Jangan bilang ke saya bahwa itu kesalahan,"potong jo.
"Itu memang...."
"Just don't,potong jo lagi.
Dara menatap jo yang sekarang sedang menatapnya seperti ingin mencekiknya dan dia mengomelidirinya
sendiri ketika merasakan kupu kupu harapan muali terbang di dalam perutnya. Apakah mungkin jo betul
betul serius dengannya" Sejujurnya,kalau dia mau menggali bagian hatinya yang paling dalam,harus dia
akui bahwa tadi malam berarti sesuatu juga untuknya. Bahwa kalau saja dia memberi jo kesempatan,dia
bisa mencintainya,dan itu membuatnya takut setengah mati.
Stop it,dara. Just stop! Dia menyesali kenapa sudah memperbolehkan jo masuk ke rumahnya ketika dia
sedang sendirian. Dia juga ingin menyalahkan panji yang sedang ada di luar kota,jadi tidak bisa
menjemputnya tadi malam. Kalau saja panji menjemputnya,kejadian tadi malam tidak akan terjadi. Makan
dia tidak akan sebingung ini sekarang.
Oh!!! Dia harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan tadi malam. Tidak ada yang
menodongkan pistol kekepalanya ketika dia memutuskan untuk tidur dengan jo.
Keputusan itu dibuatnya ketika dia sadar seratus persen.
"Jo,saya minta maaf karena sudah memberikan sinyal yang salah kepada kamu. Saya sama sekali nggak
bermaksud melakukan itu. Saya sudah bertunangan dengan panji...."
"Kamu kelihatannya lupa sama sekali tentang fakta itu tadi malam. Apa kamu memikirkan dia waktu
bersama saya" Apa wajah dia terlintas di kepala kamu waktu kamu meneriakkan nama saya berkali kali?"
"Stop being such an asshole,"geram dara.
"Kalau gitu berhenti membuat saya marah," bentak jo.
Selama beberapa detik mereka hanya saling tatap penuh kemarahan. Dara bertolak pinggang dan jo
mengepalkan kedua tangannya. Kata kata jo selanjutnya membuat darah di sekujur tubuh dara menjadi
dingin. "Saya bertanya tanya,apa pendapat tunangan kamu begitu dia tahu kamu sudah bersama saya."
"Panji nggak akan pernah tahu tentang kejadian tadi malam,karena saya nggak akan bilang apa apa ke
dia." Kamu lupa bahwa kejadian tadi malam melibatkan satu orang lagi,yaitu saya. Dan saya nggak ada
masalah untuk menceritakan apa yang kita sudah lakukan tadi malam kepada tunangan kamu,dengan
detail." Dara sadar bahwa jo tidak pernah sekali pun menyebut nama panji,dia selalu menggunakan kata" dia".
Entaj kenapa,tapi hal ini membuatnya sedikit khawatir.
"Kamu nggak akan pernah melakukan itu,"ucap dara dengan keyakinan yang tidak dia rasakan.
"Wanna bet on that?"Tanya jo sinis.
Dari cara jo mengatakannya membuat dara yakin bahwa bukanlah ide yang baik baginya untuk menerima
tantangan itu. Dara menarik napas,mencoba menenangkan diri. Dia harus tetap berpikir jernih dalam
menangani masalah ini. "Do you even love him?"
Pertanyaan jo yang tiba tiba ini membuat dara mendelik,merasa tersinggung karena cintanya kepada panji
sedang di pertanyakan. "Of course I love him,"jawab dara.
"Apa yang membuat kamu cinta sama dia?"
"Hah?" "Saya mau tahu apa yang membuat dia begitu menarik untuk kamu sampai kamu ngotot mau
menikahinya,"jelas jo.
"Saya nggak perlu menjelaskan apa apa...."
"Just answer the damn question,dara,"bentak jo.
Dara mempertimbangkan melemparkan gelas yang sedang digenggamnya kepada jo,tapi dia tahu bahwa
itu hanya akan membuat jo semakin marah. Perlahan lahan dia menjawab pertanyaan jo ini.
"Dia mapan,dewasa,penuh pengertian...."
"Penuh pengertian" Dia bahkan nggak ngebolehin kamu memilih karier yang kamu sukai. Kalau menurut
saya dia nggak penuh pengertian sama sekali,"potong jo.
"Berani beraninya kamu menilai panji. Kamu bahkan nggak mengenal dia."Omel dara.
Saya mungkin memang nggak mengenal dia,tapi saya mengenal kamu. Kamu nggak akan bahagia
bersama dia." Dara menatap jo tidak percaya. Ini memang bukan topik baru,karena toh dia sudah membicarakannya
dengan ketiga sobatnya. Tapi dia mungkin bisa menerima komentar komentar sobatnya tentang
kehidupannya dengan tangan terbuka,namun tidak dari jo. Yang dia inginkan adalah memaki maki jo,tapi
saking marahnya dia hanya bisa megap megap tanpa bisa berkata kata. Jo mengambil kesempatan ini
untuk melanjutkan. "Kamu perlu seseorang yang membiarkan kamu bebas melakukan apa aja yang kamu mau. Seseorang
yang bisa menghargai kamu apa adanya. Dia nggak akan bisa memberikan itu semua. Cepat atau lambat
dia akan membuat kamu tidak bisa bernafas karena dia hanya akan mencekik kehidupan kamu."
Jo terdiam sejenak,seperti membiarkan dara menelan semua kata kata itu,kemudian dia menambahkan,"
dia bukan orang yang tepat untuk kamu,dara."
"Dan kamu pikir kamu orang yang lebih tepat untuk saya?"
Sindir dara. "Definitely." "You don't know what you're talking about."
"Yea,I do." Dara mendengus. "Itu juga yang dikatakan semua laki laki pada awalnya,tapi begitu mereka sadar apa
yang mereka harus hadapi,mereka lari."
"Then they're idiots."
Jawaban jo yang penuh kemarahan ini membuat dara terdiam. Dia tidak mengerti kenapa atau untuk apa
jo mengatakan ini semuaam apa dia sebegitu tidak bisa menerima penolakankah hingga harus menjelek
jelekan panji" Apa dia hanya ingin balas menyakitinya karena dara sudah tanpa sengaja menginjak injak
egonya dengan mengatakan bahwa dia tidak ingin mengulang kejadian tadi malam"
"Why are you doing this to me?" Tanya dara pelan.
"BECAUSE I'M BLOODY IN LOVE WITH YOU!" Teriak jo dengan mata berapi api dan kedua tangannya
sudah menggenggam sandaran salah satu kursi makan.
Dara menatap jo tidak percaya." Hanya setelah tadi malam?"
Tanyanya. "Setelah saya datang ke rumah kamu menawarkan pekerjaan kamu kembali dan kamu memanggil saya
asshole,goddamn it,"teriak jo lagi.
Whaaattt" Teriak dara dalam hati. Dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya untuk beberapa detik.
Tapi akhirnya dia bisa melonggarkan otot lehernya dan berkata," Hah?"
Bukan apa atau kenapa,hanya" Hah".
Jo tidak percaya dia harus menyatakan citanya kepada dara dalam situasi seperti ini. Dan dia lebih tidak
percaya lagi ketika mendengar reaksi dara atas kata katanya itu. Ini pertama kalinya dia mengatakan cinta
kepada siapa pun di luar blu dan mama dan selam ini dia selalu membayangkan bahwa kalau dia
mengucapkannya,wanita tersebut akan mengatakan hal yang sama dan lari ke pelukannya. Tapi
bayangan memang tidak pernah mewakili kejadian yang sebenarnya,itu sebabnya itu disebut bayangan.
Meskipun begitu,dia tidak akan menarik kembali kata katanya itu.
"You are not in love with me. You can't be in love with me."
Ucap dara sambil menggeleng.
"Why not?" Tanya jo,kesal karena perasaannya sedang dipertanyakan.
Dara menatap jo tidak percaya," karena kita lebih sering berantem daripada akurnya."
Jo berfikir sejenak kemudian mengangkat bahu,seperti tidak peduli." So" Berantem sini sana itu normal di
dalam suatu hubungan," tegasnya.
"HUBUNGAN"! Kita nggak punya hubungan," teriak dara.
"Setelah tadi malam saya rasa saya harus berbeda pendapat dengan kamu,"balas jo tenang.
"You're crazy,"teriak dara lagi sambil mengambil beberapa langkah mundur ketika mengatak ini. Matanya
terbelalak dan wajahnya memucat.


The Devil In Black Jeans Karya Aliazalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pretty much dan itu semua gara gara kamu," jo mengambil beberapa langkah mendekati dara.
"Stop,stop. Jangan dekat dekat. Saya nggak bisa berfikir kalau kamu terlalu dekat,"ucap dara sambil
mengangkat tangannya mencoba menghentikan langkah jo.
"Good,setidak tidaknya sekarang saya nggak merasa seperti seorang idiot karena merasa hal yang
sama,"ucap jo tanpa menghentikan langkahnya."Setiap saya ngeliat kamu,saya nggak bisa bernapas.
Setiap saya mencium aroma kamu,yang mau saya lakukan adalah memeluk kamu. Saya nggak suka
kalau kamu menyebutkan nama panji,karena itu membuat saya mau melakuka hal hal yang saya yakin
akan membuat saya masuk penjara. Memikirkan bahwa kamu akan memberikan diri kamu kepadanya
membuat saya mau gila."
"Oh my God,stop it," pinta dara masih mengambil langkah mundur.
"I'm not done. Not even halfway,dan kamu akan mendengar semua yang saya harus katakan walaupun
saya harus mengikat kamu ke kursi. Paham?"Ancam jo.
Mata dara terbelak mendengar ancaman ini dan jo tahu bahwa dia sudah siap lari,karena itu jo terkejut
ketika dara justru berhenti mundur dan berkata," Oke,saya akan mendengarkan apa yang mau kamu
katakan." Kata kata dara membuat jo kehilangan jejak argumentasinya selama beberapa detik,tapi kemudian dia
menarik napas,menganggukan dan melanjutkan.
"Saya perlu kamu mengerti bahwa saya mencintai segala sesuatunya tentang kamu. Nggak ada satu hal
pun dari diri kamu yang mau saya ubah. Kamu membuat sata merasa diperhatikan dan dipedulikan.
Selama ini saya bahkan nggak pernah tahu bahwa dua hal itu penting di dalam hidup saya. Kamu sudah
membuat hidup saya berantakan,dan mungkin saya seharusnya marah pada kamu,tapi yang ada dipikiran
saya adalah saya nggak peduli kalau hidup saya jadi jungkir balik selama ada kamu di dalamnya."
Dara masih tidak bereaksi dan dengan hati hati jo mengambil langkah terakhir yang membuatnya bisa
menyentuh dara. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut dara dan menyadari bahwa rambut
wanita itu masih ditutupi handuk. Dia melihat dara menyipitkan matanya,curiga dengan aksi selanjutnya.
Dengan satu gerakan jo menarik handuk itu dan rambut dara yang hitam kelam dan sedikit basah tergerai
seperti sutra mengelilingi wajahnya dan bahunya. Aroma lily yang kuat langsung menyerang indra
perciuman jo. "I love you hair. Mengingat saya tentang sem......"
Tanpa jo sangka sangka dara menutupi mulutnya dengan tangannya." Jangan pernah kamu sebut sebut
soal itu,"geram dara.
Kini giliran jo yang menyipitkan matanya. Tingkah laku dara mulai membuatnya kesal. Dengan sedikit
kasar dia menarik tangan dara dari mulutnya dan berkata," apa sih tentang tadi malam yang membuat
kamu takut setengah mati?"
"Nothing,"jawab dara dan menarik tangannya dari genggaman jo.
"Reaksi kamu menunjukkan bahwa itu' something'. Saya mau tahu apa,"geram jo.
Ketika dara masih juga tidak menjawab,jo akhirnya harus bertanya," apa kamu mendapati kejadian tadi
malam.... Traumatis" Apa saya menyakiti kamu?"
Semua pertanyaan itu dijawab dengan gelengan dara. Jo menghembuskan napas lega,tapi kesabarannya
yang sudah habis membuatnya berteriak," Then,what is it goddamn it" Tell me!!!!!"
"You're not good for me," jawab dara pelan.
Horor memasuki pikiran jo,tidak menyangka bahwa performanya tadi malam sebegitu buruknya. Dia tidak
tahu apa dia harus minta maaf atau tersinggung mendengar kata kata dara.
"I can do better next time,"ucap jo akhirnya.
Selama beberapa detik dara kelihatan bingung,tapi kemudian pemahaman muncul di wajahnya dan dia
berkata secepat mungkin," Oh no no no no.....maksud saya bukan tentang tadi malam.
Tadi malam kamu....kita...semuanya....."
Dara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya sudah kebakaran dan jo menyelesaikan kalimatnya.
Wajahnya sudah kebakaran dan jo betul betul ingin mengasihaninya tapi dia justru mendapati dirinya
bertanya," semuanya apa,dara?"
"Semuanya....sempurna," bisik dara,dan dia menggigit bibirr bawahnya dengan senewen. " Oh,my
God,saya nggak percaya saya baru mengucapkan itu. Entah apa yang kamu pikirkan tentang saya
sekarang." "Yang ada di pikiran saya sekarang adalah betapa menggemaskannya kamu ini," ucap jo sambil tertawa
dan membelai rambut dara.
Dara menutup matanya,seakan ingin menyerap sentuhan jo,tapi kemudian dia membuka matanya dan
berkata," kamu nggak baik untuk saya."
Dan jo merasa seperti semua udara sudah ditarik dari dalam paru parunya . Dia tidak bisa bernapas.
"What" Why?"
"Saya selalu tertarik pada laki laki seperti kamu. Charming,lucu,dan awalnya sepertinya menerima saya
apa adanya,tapi semua akhirnya pergi,ninggalin saya. Nggak ada yang mau tahan dengan saya. Sudah
terlalu banyak waktu yang saya habiskan dengan laki laki yang salah dan waktu saya sudah habis. Semua
wanita seumur saya sudah settlen down dan saya juga menginginkan hal yang sama."
"Kalau begitu,settle down dengan saya."
Jo tahu dia terdengar putus asa dengan pertanyaannya ini,tapi dia tidak peduli. Dia sudah kehabisan
argumentasi untuk menyakinkan dara.
"Kamu belum siap settle down,jo. Kalau kamu siap,kamu nggaka akan mutusin kayla."
"Saya mutusin kayla karena saya nggak bisa membayangkan menghabiskan seluruh hidup saya dengan
dia." "No, kamu memutuskan hubungan kamu dengan kayla karena kamu takut berkomitmen."
"Saya nggak takut berkomitmen,"omel jo.
+h,my God! Bisa nggak sih dara berhenti mengasumsikan apa yang akan atau tidak akan dilakukannya"
Jo bukan anak kecil lagi,dia laki laki dewasa yang tahu kemampuan dan batasannya.jo ingin mengomel.
"Yes,you do. Every men do," teriak dara dan menjauhkan dirinya dari jo.
"Bisa nggak sih kamu nggak menyamakan saya dengan semua laki laki brengsek dari masa lalu kamu"
Saya bukan mereka,dara, dan saya nggak akan jadi mereka. Kapan kamu akan bisa melihat itu?"
Dara menarik napas,menguatkan hatinya. Hanya ada satu cara baginya untuk membuat jo berhenti
mencoba mengubah pikirannya. Dan ini mungkin hal paling menyakitkan yang akan pernah dia lakukan
karena hati kecilnya sejak tadi sudah meneriakkan untuk memeprcayai jo,tapi dia perlu melakukannya.
Dara menarik napas dan berkata," kamu nggak bisa memberikan apa yang saya butuhkan. Hanya panji
yang bisa." Jo mengambil satu langkah mundur ketika mendengarnya. Mulutnya ternganga seperti tidak percaya.
Rasa sakit hati,pengkhianatan,kekecewaan,dan kekalahan terlihat jelas di matanya.
"Jadi kamu akan kembali kepada dia?" Tanya jo pelan.
Dara menelan ludah dan membalas," saya nggak pernah meninggalkan dia,jo."
Jo kelihatan seperti ada boldoser yang baru saja melindasinya.
Sebelum dia menutup matanya dan menunduk,bahunya membungkuk seperti orang kalah perang dan
untuk kedua kalinyA dalam satu jam dara ingin memeluknya. Ketika jo masih juga tidak bereaksi setelah
beberapa menit,dara mulai khawatir.
Dara baru saja akan melangkah mendekati ketika jo mengangkat kepalanya dan menatapnya. Tatapan itu
dingin,seperti gunung es,dan dara langsung menggigil. Tapi tatapan itu tidak sedingin dengan kata kata
selanjutnya. "Terima kasih atas penjelasannya. Semoga kamu puas dengan keputusan kamu ini. Saya nggak akan
mengganggu kamu lagi."
Sebelum dara bisa betul betul mencerna kata kata jo,laki laki itu sudah melangkah pergi dari hadapannya.
Dan yang dara inginkan adalah menangis sekeras kerasnya.
Bab 26 TRUTH Jo memasuki rumah sakit dengan langkah berat. Kalau bukan karena revel,dia mungkin akan berada di
studio,mengebuki drumnya habis habisan. Revel tentunya akan ngamuk kalau jo sampai memecahkan
simbal atau bass drum,tapi pada keadaannya saat ini,dia rasa dia akan menyambut amukan itu yang
setidak tidaknya akan mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu dari rasa sakit yang ada di
hatinya. Untuk pertama kalinya dia menyesali karena tidak pernah menjadi seorang peminum seperti
papa. Setidak tidaknya seorang peminum memiliki pilihan untuk menenggelamkan kesedihan dengan
botol botol alkhohol. "Mas,sebelah sini." Suara blu menarik perhatian jo kepada adiknya yang sedang menuju meja informasi di
sebelah kiri pintu masuk.
Jo melihat beberapa orang langsung berhenti melangkah dan menunjuk nunjuk kepada blu yang tidak
menghiraukan mereka, sebelum kemudian menganga ketika melihatnya. Jo mengikuti adiknya dan tidak
menghiraukan beberapa orang tidak dikenal yang memanggil menggil namanya. Dia bahkan tidak berhenti
untuk memberikan senyuman atau lambaian tangan kepada mereka. Untuk hari ini dia tidak mau menjadi
jo Brawijaya,drummer kawakan Indonesia yang selalu rela dikejar kejar orang. Yang dia inginkan adalah
menjadi jo,laki laki yang sedang patah hati karena satu satunya wanita yang pernah membuatnya
mengucapkan kata cinta,sudah menolaknya mentah mentah untuk laki laki lain.
Dia seharusnya tidak pernah mengucapkan kata kata itu kepada dara.dia sudah tahu dari dulu bahwa
tidak ada orang di dunia ini yang peduli dengannya,yang mencintainya.... Kenapa dia bisa berpikir bahwa
dara akan berbeda dari yang lainnya"
He is such an idiot karena sudah menumpahkan semua perasaannya kepada dara,membuat dirinya lemah
dan terbuka untuk menerima serangan. Untuk mendengar kata cinta diucapkannya dilemparkan kembali
kepadanya seakan kata itu tidak berarti sama sekali.
Selama perjalanan menuju rumah sakit ,jo mencoba memikirkan apa kelebihan panji dari dirinya dan dia
tidak bisa menemukan satu hal pun. Blu yang menyadari mood nya tentunya mengomentarinya.
" Mas kok diam aja sih dari tadi?"Tanya blu.
Jo hanya menoleh dan mencoba sedaya upaya untuk tersenyum sebelum berkata," sori,mas lagi mikir
sesuatu." "Oh"lagi mikirin apa?"
"Mikirin tentang mas ingin membakar hidup hidup asisten kami itu" adalah uang ingin dikatakannya,tapi
tentu saja dia tidak bisa mengatakan itu kepada blu. Akhirnya dia hanya berkata," Nothing important."
"Oh,aku pikir mas lagi mikirin mbak dara,"ucap blu santai dan mengulurkan tangannya untuk menaikkan
volume radio. Kepala jo langsung menoleh ketika mendengar kata kata blu.
"Kenapa kamu pikir mas lagi mikirin dia?"
"I don't know,"jawab blu sambil mengangkat bahu." Mungkin karena meskipun tas mbak dara masih
ada,aku nggak bisa menemukannya di mana mana tadi malam waktu aku keluar untuk mengambil minum.
Mungkin karena pintu kamar tidur Mas tertutup,dan Goldie masih ada di ruang TV. Atau mungkin karen
a Mbak dara baru keluar rumah lewat tengah malam dan mas jo mengantarkannya pulang."
Selama beberapa menit jo tidak bisa berkata kata. Dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya bekali
kali seperti ikan maskoki. Jo merasakan wajahnya mulai memerah dan dia harus mengalihkan
perhatiannya dari tatapan blu.
"Mas dan mbak dara hanya......"
"Main catur?"Ledek blu.
Mau tidak mau jo terkekeh. Dia seharusnya tahu blu terlalu pintar untuk dibohongi
"Well,not exactly,"ucap jo tersipu sipu.
Man,bagaimana mungkin dia membicarakan sex life nya dengan adiknya yang berumur enam belas tahun
ini" "Aku harap mas setidak tidaknya pakai protection,"lanjut blu .
What"! Jo mencoba memutuskan apakah dia harus merasa bersyukur karena setidak tidaknya para guru
SMA sudah mendidik murid murid mereka tentang safe sex,atau khawatir bahwa mereka tahu tentang
seks terlalu dini. " Apa kamu nggak terlalu kecil untuk bicara tentang seks?"
"Oh,please.....aku ini sudah enam belas tahun. Sekarang waktu yang tepat bagi para remaja dengan
hormon mereka yang meledak ledak untuk tahu tentang seks dan segala tetekbengeknya. Aku malah lagi
mikir mikir mau jadi advokat kampanye' Say no to sex' disekolah. Menurut mas gimana?"
Jo mendengus mencoba menahan tawa,tapi gagal. Akhirnya dia melepaskan tawanya. Ah,betapa dia
mencintai adiknya yang bisa membuatnya tertawa ketika hatinya sedang hancur berkeping keping.
"Menurut mas,ide yang baik,kamu mau terlibat dalam kampanye seperti itu. Mas dukung seratus persen.
Penduduk indonesia sudah terlalu banyak,kita nggak perlu menambahnya dengan anak di luar nikah yang
hanya akan ditelantarkan orang tuanya."
Blu tersenyum senang,lalu senyumnya perlahan laha menghilang,diganti dengan tatapan khawatir.
"So,what happened dengan mbak dara?"
Jo menarik napas dan akhirnya berkata," mas bilang bahwa mas cinta sama dia."
"Really" Ooohhh....that is sooo.....sweet,"teriak blu gembira sambil menemelkan tangannya di dada."
Terus....terus... Mbak dara bilang apa?" Sambung blu semangat.
"Dia bilang mas nggak akan bisa memberikan apa yang dia butuhkan. Dia menolak mas,"tandas jo.
Kini giliran blu yang kelihatan seperti ikan maskoki." What" No way. Are you serious" I thought... Tunggu
sebentar. Ini nggak masuk akal sama sekali. Apa coba yang mas nggak punyai" Mas kan
ganteng,berpenghasilan tetap,baik,dan lucu lagi."
Jo hampir saja tertawa terbahak bahak melihat usaha blu membela harga dirinya.
"Yeah,well...sepertinya mbak dara memerlukan lebih dari itu semua."
"Like what?" "I don't know. Kamu kan perempuan,begitu kamu bisa memikirkan apa itu,let me know. Karena sampai sekarang mas
masih bingung mikirin soal itu juga."
Mereka terdiam,membiarkan suara lalu lintas dan iklan di radio mengisi kekosongan. Kemudian jo
mendengar Rihanna menyanyikan tentang menemukan cinta" in a hopeless place."
Lagu itu betul betul menggambarkan kisah cintanya terhadap dara. Cinta yang sudah putus harapan dan
membuat hatinya hancur berkeping keping. Jo langsung mengulurkan tangannya dan mematikan radio
dengan sedikit ganas. Dari sudut matanya dia melihat blu sedang memperhatikannya dengan ingin
tahu,tapi tidak mengatakan apa apa.
Blu tidak berbicara lagi hingga bangunan rumah sakit sudah kelihatan." Apa mas mau akau menanyakan
ke mbak dara?" "Menanyakan apa?"
"Tentang apa yang mbak dara perlukan dari mas,"ucap blu nggak sabar.
"No, no, no, mas nggak mau sama sekali kamu membicarakan hal ini dengan dia. Ditolak satu kali sudah
cukup,nggak perlu pakai dua kali."
"Tapi....." "Nggak pakai tapi tapi. Janji kamu nggaka kan ngomong apa apa ke mbak dara."
"Tapi aku cuma mau bantu."
"Janji sama mas,blu,"geram jo.
"Fine. Aku nggak akan ngomong apa apa ke mbak dara," gerutu blu sambil menyedekapkan tangannya
dan cemberut. Mereka tidak berbicara lagi sampai mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Jo berhenti di meja
informasi,mencoba mencari tahu di mana ina dirawat. Sekitar sejam yang lalu ketika sedang menunggu di
depan gerbang sekolah blu,jo menelepon revel untuk menanyakan dia mana sobatnya itu berada,revel
memeberitahu jo bahwa dia sedang dirumah sakit karena air ketuban ina sudah pecah. Begitu blu masuk
ke dalam mobil,jo langsung menuju rumah sakit. Revel hanya memberitahukan rumah sakit tempat ina
dirawat,tapi saking paniknya tidak memberitahukan lokasi persisnya sebelum meutup telepon.
Mata mbak mbak di meja resepsionis sudah hampir meloncat keluar ketika melihat jo,dan jo menahan diri
untuk tidak memutar bola matanya. Hari ini dia betul betul tidak menikmati dipelototi oleh para wanita
seolah dia hanyalah sepotong daging dengan wajah ganteng yang tidak memiliki perasaan. Tanpa perlu
menanyakan identitasnya,petugas resepsionis itu langsung memberikan informasi tentang lokasi ina. Jo
segera menggandeng setengah memeluk blu dan lari menuju lift setelah mengucapkan terima kasih. Dari
sudut matanya dia melihat beberapa orang sudah mulai mengikuti mereka.
Apa orang orang ini tahu bahwa revel juga ada di rumah sakit" Mungkin kalau mereka tahu itu,mereka
akan mengalihkan perhatian kepada revel. No, jo tidak akan melakukan hal sejahat itu kepada sobatnya
yang dia yakini sudah cukup pusing memikirkan kelahiran anak pertamanya tanpa perlu lagi perhatian
khalayak ramai. Ketika pintu lift terbuka di hadapannya,jo langsung masuk dan untungnya pintu lift
langsung tertutup sebeluma ada yang bisa mengikuti mereka.
Jo menemukan revel di ruang tunggu sedang mondar mandir dengan wajah pucat. Dia tidak pernah
melihat sobatnya seperti ini dan itu membuatnya melupakan masalahnya sendiri untuk sementara waktu.
Jo memanggil revel dan sobatnya itu kelihatan agak terkejut ketika melihatnya.
"Hey,man,are you okay?" Tanya jo ketika dia sudah berdiri di hadapan revel.
"Yeah,just freaking out a little bit," ucap revel dan melarikan tangannya pada rambutnya." Thanks for
coming," lanjutnya sambil tersenyum kepada blu.
Ketika mendengar itu jo tahu bahwa revel memang betul betul menghargai kehadirannya dan blu.
"So,ina di dalam?" Tanya jo sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang tersedia di ruang tunggu
yang kosong itu. Revel mengikutinya sebelum mengangguk,tapi tidak mengatakan apa apa. Matanya penuh kekhawatiran.
"Bukannya elo seharusnya ada di dalam selama dia kontraksi gitu?"Ledek jo.
"Gue nggak bisa...." Revel berhenti,seakan mengalamai masalah mengekspresika perasaannya dan sekali
lagi melarikan tangannya pada rambutnya.
"Gue nggak tega ngelihat dia kaya gitu,"ucap revel akhirnya.
"Suster di dalam nyuruh gue keluar karena bikin ina panik."
Jo terkekeh dan harus berhenti ketika melihat tatapan revel padanya. Dia mengangkat kedua tangannya
tanda menyerah dan mengucapkan kata maaf.
"God,what was I thinking,getting her pregnant. She's in so much pain right now because of me," bisik revel
sambil menguburkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Blu yang duduk berdekatan dengan mereka mengangkat alisnya,bingung melihat produsernya yang
biasanya super cool,hari ini tidak menggambarkan kata itu sama sekali. Jo hanya tersenyum kepada blu
yang memutuskan untuk mengeluarkan iPod dan sebuah buku pelajaran dari dalam tas sekolahnya.
Semenit kemudian dia sudah tenggelam di dalam dunianya sendiri.
"I'm sure she'II be fine. Ina itu lebih kuat daripada yang elo pikir,"jo mencoba menenangkaN.
Dan usahanya sepertinya berhasil karena revel mengangkat kepalanya dan menatapnya. "Gue sebaiknya
nelepon keluarganya. Cue nggak mau mereka harus mendengar ini dari media. Mereka akan mencincang
gue kalau mereka tahu media tahu lebih dulu tentang ini daripada mereka,"ucap revel dan mengeluarkan
HPnya. Mendengar itu jo meringis dan revel menaikkan alisnya penuh tanda tanya.
"Kemungkinan besar mereka sudah tahu karena tadi banyak orang yang negliat gue dan blu di bawah
waktu gue minta informasi tentang ina."
Dan revel menyumpah sambil meluncurkan jempolnya pada layar iPod nya. Ketika dia melakukannya,jo
menyadarkan tubuhnya pada sofa.
"You look like hell,by the way," komentar revel yang kini sedang memasukan HP nya kembali ke kantong
celananya. Jo membuka matanya,dia bahkan tidak sadar bahwa dia sudah tertidur. Sambil mencoba mengusir kantuk
dan memfokuskan tatapanya pada sobatnya,dia berkata," Dude, I am in hell."
Dara menyerahkan surat pengunduran dirinya pada hari pertama dia kembali bekerja setelah cutinya dan
dia tidak melihat jo sama sekali selama dua minggu ke depan. Bahkan tidak ketika dia harus menjemput
tante poppy dari bandara atau ketika dia membantu blu membereskan barang barangnya untuk
dipindahkan dari rumah o kerumah tante poppy. Blu kelihatan agak dingin terhadapny,dan tidak tahu
kenapa. Awalnya dara berpikir blu tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di antara dirinya dan jo,tapi dia


The Devil In Black Jeans Karya Aliazalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membuang jauh jauh dugaan itu ketika sadar bahwa blu adalah orang terkahir yang akan diceritai jo
tentang apa yang terjadi di antara merek.
Dara tahu bahwa dia tidak ada urusan untuk ingin berbicara atau bertemu jo lagi, tidak setelah apa yang
sudah dia katakan kepada lelaki itu terakhir kali mereka bertemu. Meskipun begitu,itu tidak
menghentikannya dari menginginkannya untuk bertamu,setidak tidaknya sekali saja sebelum kontrak
kerjanya berakhir. Dia ingin memastikan jo baik baik saja. Namun pada hari terakhir dia harus bekerja,jo
masih tidak kelihatan. Dara sedang duduk di sofa,sendirian,pada pesta perpisahannya setelah sita permisi ke toilet ketika tante
poppy meghampirinya. Harus diakuinya bahwa dia menykai tante poppy yang menurutnya superrileks dan
sangat terbuka sebagai orang tua,berbeda sekali dengan jo superketat. Hanya ada tiga batasan yang
diberikan tante poppy kepada blu,yaitu jangan pernah menyentuh narkoba,jangan mencoba seks
bebas,dan barus menelepon kalau dia mau pulang lewat jam malam.
"Lagi nyariin siapa,dara?" Tanya tante poppy ketika sadar dara sedang celingkukan.
"Nggak nyariin siapa siapa,"jawab dara cepat.
Tante poppy tersenyum dan duduk di sebelah dara." Dia berangkat ke phuket tadi malam."
"Siapa yang ke phuket?"Tanya dara.
"Jo," jawab tante poppy pendek dan dengan susah payah dara mencoba untuk tidak menganga.
"Bagaimana...dari mana...." Dara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Blu cerita ke saya tentang hubungan kamu dengan jo selama saya nggaka da. I've been kicking my self
because I messed it. I would have love to see that."
"See what?" "Jo....in love...with you,"ucap tante poppy dan dia terkekeh.
Mata dara langsung melebar mendengar kata kata tante poppy. Pertama karena dia tidak menyangka blu
tahu akan itu,kedua bahwa blu menceritakannya ke tante poppy,ketiga karena tante poppy sekarang
sedang membicarakannya dengannya.
Oh! Siapa lagi yang tahu tentang ini"
"Omong omong,saya mengerti kenapa kamu menolak dia. Kamu sudah punya tunangan yang akan kamu
nikahi sebelan lagi. Lagi pula,hal ini mungkin bisa jadi pelajaran bagi jo bahwa nggak semua wanita mau
sama dia." Dara mengerutkan keningnya,tidak mengerti arah pembicaraan tante poppy.
"Kamu mungkin nggak tahu ini,tapi jo adalah orang paling insecure yang saya tahu. Kamu seharusnya
lihat dia waktu masih belasan tahun. Saya nggak pernah liat anak laki laki yang bagitu menyendiri dan
tertutup. Dia seperti membangun benteng di sekelilingnya, mencoba menghalangi orang untuk mendekat.
That really broken my heart,melihat dia s eperti itu. Saya belum sempat melakukan apa apa untuk
membantunya sebelum papanya mengirimnya ke Singapura. Kami hilang kontak selama hampir sepuluh
tahun,sampai papanya meninggal dan jo terpaksa kembali ke jakarta."
Dara hanya berdiam diri,karena dia tahu tante poppy masih jauh dari kata selesai.
"Di surut wasiat papanya memintanya untuk menjaga blu,dan di luar dugaan saya,dia menerima tanggung
jawab itu. Sampai hari ini saya suka bertanya tanya kenapa dia melakukannya. Dia nggak perlu
melakukannya,karena tuhan tahu dia nggak berutang apa apa kepada saya dan blu. Tapi harus saya akui
bahwa saya berterima kasih akan kehadiran jo,karena blu setidak tidaknya memiliki figur seorang laki laki
di dalam kehidupannya. Jo memang jauh dari kata perfect,tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk blu.
Selama bebrapa tahun inilah saya jadi lebih mengenal anak tiri saya itu."
Tatapan tante poppy kelihatan menjauh$ secara fisik beliau memang masih berada di sampaing dara,tapi
pikirannya sudah tenggelam ke masa lalu.
"Ternyata segala insecurities yang dia miliki waktu remaja justru semakin parah setelah dia dewasa. Entah
gimana dia mendapatkan ide di kepalanya bahwa nggak ada orang yang peduli pada dia. Bahwa nggak
ada orang yang mencintainya,tidak peduli beberapa banyak orang di sekitanya yang mengantakan
sebaliknya." Tante poppy menggeleng dengan sedih sebelum menambahkan," saya menyalahkan kepada almarhum
suami saya dan ekspektasinya yang terlalu tinggi terhadap jo tanpa menghabiskan banyak waktu dengan
anaknya sendiri dan membantunya mencapai ekspektasi tersebut. Yang jo nggak tahu adalah bahwa
papanya betul betul bangga padanya,meskipun suami saya lebih baik memotong lidahnya sendiri
daripada mengatakannya di depan jo. Dia betul betul kecewa ketika jo menolaknya untuk membiayai
kuliahnya,lebih memilih pergi ke jerman karena kuliahnya gratis."
Di dalam kepalanya dara mengatakan" Ooo." Selama ini dia memang selalu bertanya tanya kenapa jo
memilih jerman dari pada negri lain untuk menekuni musik. Kini dia tahu jawabannya.
"Papa jo selalu berpendapat bahwa anak laki laki harus dikerasin,nggak boleh di manja,karena kalau di
manja nggak aka jadi apa apa. Alhasil beliau mendidik jo seperti bangga sparta mendidik anak
mereka,sangat keras dan terkesan tidak peduli."
Tante pippy mendesah panjang sebelum menoleh," itu sebabnya ketika jo dengan rela menunjukkan rasa
cinta dan mengucapkan kata cintanya kepada kamu adalah sesuatu yang sangat penting untuk
saya,blu,dan semua orang yang peduli pada jo,karena itu betul betul langka."
Mata dara membelalak,dan seperti membaca pikiran dara. Tante poppy melanjutkan." Kamu sekarang
mungkin berpikir bahwa semua ini hanya bullshit,karena jo selalu menunjukkan bahwa dia tidak
bermasalah gonta ganti wanita secepat dia mengganti pakaian. Well,saya bukan psikologi,jadi ini mungkin
perasaan saya saja,tapi satu satunya penjelasan yang saya bisa kasih ke kamu kenapa dia begitu adalah
karena dia sedang mencoba mencari orang yang bisa mencintainya. Bukan jo sang selebritis,tapi jo,laki
laki dengan masa kecil yang berantakan dan masalah emosi yang berjibun. Sayangnya selam ini
sepertinya dia mencarinya di tempat yang slaha."
Dara tidak perlu menjadi seorang genius untuk tahu bahwa tante poppy sedang mengatakan bahwa beliau
mengatagorikan dara ke dalam" yempat yang salah," dan entah kenapa itu membuatnya ingin
membantahnya. Sesuatu yang tidak bisa dia lakukan kalau dia masih berniat menikahi panji. Akhirnya
Akhirnya dara hanya bisa bertanya," apa ada yang bisa saya lakukan untuk jo?"
Dia baru menyadari bagaimana pertanyaan ini mungkin terkesan tidak pada tempatnya ketika dia melihat
senyuman yang diberikan tante poppy padanya. Senyuman itu penuh pengertian,kekecewaan,dan sedikit
kesedihan. Kemudian beliau menggeleng.
"Jo hanya perlu waktu untuk menerima keadaan ini. Kita semua harus mengalami patah hati untuk betul
betul mengerti arti cinta,kan" Saya hanya bisa berdoa semoga sesuatu hari dia bisa menemukan
seseorang yang bisa mencintainya sedalam dia mencintai orang tersebut."
Dara merasa seperti ada orang baru saja melayangkan kapak ke dadanya. Mengoyok dadanya dengan
paksa dan mengeluarkan jantung serta hatinya kemudian membakarnya,sementara dirinya menonton
selama semua itu berlangsung. Dia tidak bisa bernapas,tatapannya mulai berkunaang kunang dan hatinya
remuk. Remuk untuk jo,juga untuk dirinya yang sudah melepaskan jo.
I'm an idiot, I'm an idiot,I'm an Idiot.
"Saya rasa itu sebabnya dia harus keluar dari jakarta untuk sementara waktu."
Kata kata tante poppy,yang sama sekali tidak sadar akan efek dari kata katanya,menyadarkan dara."
Berapa lama jo akan berada di phuket?" Tanya dara dengan susah payah.
"Bisa sehari,seminggu,atau sebulan,tergantung pada...."
"Pada apa?" Tante poppy tidak sempat menjawab pertanyaan dara ketika sita muncul kembali dan menarik dara dari
sofa. Selama sisa acara itu dara mencoba berbicara lagi dengan tante poppy,tapi tahu tahu acara sudah
berakhir dan tante poppy mengatakan bahwa mereka akan bertemu lagi pada hari pernikahan dara lalu
menghilang bersama blu. Malam itu dara pulang dengan perasaan berat. Pikirannya penuh dengan kata kata tante poppy dan
pikirannya sendiri. Dia mempertimbangkan untuk menelepon jo. Dia sudah hampir menekan tombol" call"
ketika dia mengurungkan niatnya. Dia nggak bisa berbicara dengan jo sekarang. Dia harus meluruskan
kepalanya terlebih dahulu. Untuk mempertimbangkan segala skenario dan kensekuensi sebelum dai bisa
mengambil keputusannya Bab 27 BITTER PILL "This better be good. Aku sudah membatalkan meeting penting dengan klien untuk kamu,"ucap panji yang
sedang menarik dasinya dengan sedikit ganas.
Dara meneleponnya sejam yang lalu,memintanya untuk datang menemuinya di rumahnya. Untuk pertama
kalinya dara tidak peduli bahwa dia telah mengganggu jadwal kerja panji. Dia sudah mengambil keputusan
dan harus memberitahu panji secepatnya serta menerima apa pun konsekuensi tindakannya ini. Tidak ada
gunanya menunda lagi. Selama beberapa bulan ini sudah ada banyak situasi yang menindikasinya bahwa
dia tidak akan pernah bisa betul betul bahagia bersama panji,yang dia abaikan karena laki laki itu terlalu
keras kepala dan meolak membuka mata. Tidak lagi. Kini,membayangkan dirinya terikat dengan panji
untuk dua puluh tahun kedepan membuat dara panas dingin.
Mungkin dia harus berterima kasih kepada jo yang secara tidak langsung telah membantunya menyadari
semua ini. Walau bagaimanapun,kini dia tahu panji berhak tahu segalanya. Tentang apa yang sudah
terjadi antara dirinya dan jo. Dara tahu panji akan marah besar dan kemungkinan tidak akan
memaafkannya,tapi itu the right thing to do. Kejujuran akan membuatnya merasa lebih baik keika
mengakhiri hubungannya dengan panji dan dia bertekad melakukannya. Satu hal yang dia sesali adalah
bahwa dia baru bisa melakukan ini sekarang,sebulan sebelum mereka menikah.
Untung saja siang ini ibu dan papa sedang keluar dan krisna pergi entah ke mana,jadi rumah kosong.
Dara yakin dia harus melakukannya sekarang,siapa tahu panji memutuskan untuk membentak bentaknya
begitu mendengar penjelasannya. Dia lebih memilih dibentak ketika sedang sendiri daripada di hadapan
keluarganya. Panji yang melihat ekspresi wajah dara langsung waswa.
"What's going go?"Tanyanya.
"Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengan kamu. Sebaiknya kamu duduk,"ucap dara dan
mempersilahkan panji duduk.
Panji mengangkat alisnya ketika sadar dara mempersilahkannya duduk diruang tamu,bukan di kamar
tidurnya seperti biasa. Setelah panji duduk,tanpa ancang ancang lagi dara langsung berkata," Aku mau
membatalkan pernikahan kita."
Panji kelihatan bingung sejenak,tidak betul betul memahami kata kata dara.
"Maksud kamu menunda?"
"No,nggak menunda. Maksud aku batal,alias aku nggak mau menikahi kamu."
"APAAA"!" Teriak panji dan berdiri.
"Kalau kamu mendengar penjelasanku,aku rasa kamu juga nggak akan mau menikahi aku lagi. Bisa
tolong kamu duduk" Aku nggak mau harus mendingak selama menjelaskan,"pinta dara.
Panji kelihatan semakin bingung dan dara tidak menyalahkannya. Untungnya panji kemudian kembali
duduk. Dara memutar tubuhnya agar berhadapan dengan panji.
"Aku sudah melakuka sesuatu yang seharusnya nggak aku lakuka. Dan demi tuhan akau menyesalinya
karena aku tahu itu akan menyakiti kamu. Aku seharusnya bilang ke kamu sebelum ini,tapi aku belum siap
atau terlalu pengecut untuk menghadapi kensekuensi tindakan aku itu."
"What did you do?" Tanya panji curiga.
Dara menarik napas." Beberapa bulan yang lalu aku sudah memb iarkan jo menciumku,"ucap dara.
You did what?" Saking terkejutnya panji hanya bisa membIsikkan kata katanya ini daripada
meneriakkannya. Dara mengambil kesempatan keterkejutan panji ini dengan melanjutkan," Bebrapa bulan kemudian dia
menciumku lagi waktu kami di Singapura,tapi lain dengan sebelumnya,kali ini aku membalas ciuman itu."
Kini panji hanya bisa menganga melihat dara. Dia jelas jelas tidak pernah menyangka dara akan berani
melakukan ini kepadanya. Sekali lagi dara menarik napas,mengumpulkan keberanian untuk mengatakan
yang selanjutnya." That not the worst pasrt."
Mata panji sudah terbelak,tapi dara menolak mundur dan dengan cepat dia berkata," beberapa minggu
yang lalu kami sudah tidur sama sama."
"As in...." Panji tidak perlu menyesali pertanyaannya,dara tahu apa yang dimaksud olehnya." Yes,"jawab dara.
"THAT MOTHERFUCKER. I'M GOING TO KILL HIM,' geram panji dan dengan penuh kemarahan
langsung bangun dari sofa menuju pintu depan.
Sekuat tenaga dara mencoba menarik lengan panji." Ji,kalau kamu mau menyalahkan orang,salahkan
aku. Aku seharusnya lebih bisa menahan diri. Aku yang sudah bertunangan,dia masih single. Ini semua
salah aku. "Oh,setelah aku membunuh dia,aku akan kembali untuk berurusan dengan kamu,bentak panji dan dengan
kasar menarik lengannya dari genggaman dara." How could you do this to me?"
Dara melepaskan lengan panji setelah yakin laki laki itu tidak akan lari keluar rumah. " Aku tahu aku salah
dan aku minta maaf. Tapi sekarang kamu tahu kenapa aku nggak bisa menikahi kamu."
"Like hell kamu nggak akan menikahi aku. Kita akan tetap menikah,"teriak panji.
"What"! Ji,apa kamu nggak mendengar apa yang baru aku katakan" Aku sudah selingkuh dan....."
"Aku dengar semuanya. Kamu nggak perlu mengulanginya lagi. Tapi aku nggak akan mempermalukan
diriku dan keluargaku dengan membiarkan kamu membatalkan pernikahan ini sekarang. Kita akan tetap
menikah dan aku akan membuat kamu membayar apa yang sudah kamu lakukan kepadaku."
Selama bebrapa detik dara hanya bisa menatap panji,mencoba mencerna kata katanya." Ji,aku nggak
bisa menikahi kamu,"ucap dara setenang mungkin.
"Kamu bisa dan kamu akan menikahi aku," omel panji sambil mencengkeram lengan atas dara.
"No, I won't,"balas dara tegas.
"Yes.....you....will,"teriak panji dan mulai mengguncangkan tubuh dara seakan dia boneka.
"Ji,lepasin aku. You're hurting me!" Teriak dara mulai panik. Dia tidak suka tatapan panji padanya. Panji
kelihatan seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat.
Seperti baru sadar akan apa yang dia sedang lakukan,panji melepaskan dara dengan tiba tiba,membuat
dara hampir saja kehilangan keseimbangannya. Dia kemudian memutar tubuh nya membelakangi dara.
Bahunya naik turun dan dara tahu panji sedang mencoba mengontrol emosinya. Dara memutuskan untuk
memberinya sedikit ruang untuk melakukan itu tanpa mengatakan apa apa. Dengan hati hati dia
mengusap lengan atasnya yang dia yakini akan memar besok karena cengkraman panji.
"Jawab satu pertanyaan,dara. Apa kamu membatalkan pernikahan kita untuk bisa sama sama
dengan.....dia" Apa kamu meninggalkan aku untuk ....jo" "Tanya panji setelah beberapa menit dalam
keheningan. Entah kenapa,pertanyaan itu membuat rasa sakit yang tidak terkira kedalam hati dara. Jo jelas jelas tidak
akan meniginginkannya lagi setelah apa yang sudah dilakukannya. Kesedihan menyerangnya dengan tiba
tiba dan dengan susah payah dia menelan tangis untuk berkata," Nggak. Aku melakukan ini untuk diriku
sendiri." Mendengar ini panji memutar tubuhnya sambil menggumam," ini sama sekali nggak masuk akal. Apa yang
membuat kamu selingkuh dari aku" Apakah yang sudah aku lakukan kepada kamu isn't right" Aku sudah
memberi kamu segalanya."
Semua itu diutarakan panji dengan penuh keputusaa,dan tanpa dara sadari,dia sudah mulai menjelaskan.
"Kamu laki laki yang sempurna. Kamu memiliki segala karakteristik untuk menjadi seorang suami. Kamu
stabil,punya pekerjaan mapan,dan ambisius di segala aspek kehidupan kamu. Kamu tahu apa yang kamu
mau dan nggak mengenal kata kompromi. Aku selalu menghargai semua hal tentang kamu ini."
Panji menatapnya penuh tanda tanya,dan dara melanjutkan,
"Tapi kamu juga suka sekali mengontrol segala sesuatu di sekitar kamu,termasuk aku. Kamu memiliki ide
tentang bentuk istri yang kamu inginkan dan kamu mencoba mencetak aku jadi seperti itu. Selama ini aku
sudah jungkir balik mengubah diriku untuk memenuhi keinginan kamu,tapi aku nggak bisa melakukannya
lagi. Aku ngerasa kamu sudah mencekik kehidupan aku,ji. Aku bahkan sudah nggak tahu siapa diri aku
lagi." Panji terdiam,seakan mencoba memproses semua informasi ini. Dara lega karena setidak tidaknya dia
cukup tenang ketika melakukannya.
"Kamu bilang kamu sudah jungkir balik mengubah diri kamu untuk aku. Hal hal apa aja yang sudah kamu
lakukan?" Tanya panji setelah beberapa menit.
Panji menatap dara ketika menanyakan ini dan dara menarik napas,mempersiapkan diri akan luapan
perasaan yang dia sudah coba kubur selama dua tahun ini.
"Kalau boleh memilih,aku lebih suka rambut pendek,paling panjang sebahu supaya nggak ribet
ngurusnya,tapi aku memanjangkan rambut karena aku tahu kamu suka wanita berambut panjang. Aku
sama sekali nggak suka makan sayur,tapi lebih dari apa pun juga aku paling benci wortel. Dan aku nggak
tahan kalau ngeliat kamu makan wortel mentah. Yuck!" Dara bergidik dan meringis sebelum melanjutkan,"
aku senang pakai sendal dan paling sebal pakai sepatu berhak tinggi,tapi aku selalu mencoba
mengenakan sepatu hak kalau keluar dengan kamu karena aku tahu kamu suka kaki aku kalau pakai
sepatu hak. Aku orangnya mandiri,tapi selama ini aku selalu nelepon kamu meminta bantuan,karena aku
tahu itu membuat kamu merasa di butuhkan. Aku punya opini tentang banyak hal,tapi aku selalu mengikuti
opini kamu karena kamu nggak suka kalau aku membantah. Aku juga....m"
"Masih ada lagi?" Potong panji dengan mata melebar.
Dara mengangguk. Oh,kalau panji sampai tahu berapa banyak dari dirinya yang sudah dia ubah untuk
mengakomodasikannya,panji akan sadar bahwa dia tidak mengenalnya sama sekali. Dara baru saja akan
melanjutkan penjelasannya ketika panji mengangkat tangannya untuk menghentikannya.
"Kalau kamu sebegitu nggak puasnya dengan aku,kenapa kamu nggak pernah membicarakannya dengan
aku sebelum ini?" "Karena selama ini aku bisa menoleransinya,tapi kemudian jo...." Dara menghentikan dirinya yang sudah
membawa bawa nama jo ke dalam diskusi mereka ini. Suatu kesalahan besar kalau dilihat dari reaksi
panji yang kini sedang menatapnya dengan tajam.
"Dia memberikan segala hal yang nggak bisa aku berikan ke kamu. Itu sebabnya kamu lari ke dia." Panji
menutup kalimat dara." Aku seharusnya nggak pernah memeperbolehkan kamu mengambil pekerjaan
kamu kembali,nngak peduli bayarannya. Kalau aku tegas dengan pendiriaNku,kamu nggak akan pernah
tergoda oleh jo. Aku sudah tahu jelas laki laki seperti apa dia,dan aku masih melepaskan kamu di sekitar
dia." "Ji,berhenti menyalahkan diri kamu. Kamu orang terakhir di dalam situasi ini yang bisa disalahkan. Dan
seperti yang sudah aku bilang,aku memang memutuskan pertunangan kita,tapi bukan berarti aku akan lari
ke jo. Aku perlu waktu sendiri. Untuk menemukan dan mencintai diri aku lagi."
"Berapa lama yang kamu perlukan untuk melakukan itu" Sebulan" Enam bulan" Setahun" Berapa
lama,dara?" Desak panji.
"I don't know."
Selama beberapa menit panji tidak membalas,sepertinya sedang mencerna kata kata itu." Apa kamu
masih cinta sama aku?"Tanya panji,suaranya sangat pelan sehingga dara hampir saja tidak
mendengarnya. "Of course. Always. Aku sudah menghabiskan lebih dari dua tahun hidupku bersama kamu."
Tapi nggak cukup untuk membuat kamu menikahi aku?" Kekecewaan muncul diwajah panji dan dara
merasa betul betul bersalah akan apa yang sudah dia lakukan kepada panji,tapi dia hanya akan
membohongi dirinya sendiri kalau sampai mengatakan" iya" dan dia menolak untuk berbohong lagi.
Dara menggeleng." I'm sorry."
"Kalau aku akan berusah untuk berubah dengan nggak terlalu mengontrol kamu lagi,apa kamu akan
mempertimbangkan kembali keputusan kamu" Kalau kamu minta aku untuk menunggu,aku akan
menunggu. Kita nggak perlu menikah dekarang. Aku akan kasih kamu waktu untuk berpikir kalau itu yang
kamu butuhkan." Dara tidak pernah melihat panji seputus asa ini terhadapnya,sebab itu selama beberapa menit dia hanya
bisa menatapnya. Baru ketika dia mendengar panji memanggil namanya,dara membalas." Kalau kamu
melakukan itu,kamu akan jadi aku. Buntut ceritanya akan sama saja. Ada satu pihak di dalam hubungan
kita yang nggak bahagia. Apa kamu mau hubungan yang seperti itu?"
"Point kedua,"ucap panji,lalu mengambil napas dalam dalam dan menghembuskannya. Dia lalu


The Devil In Black Jeans Karya Aliazalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menguburkan kepalanya di kedua telapak tangannya.
"Dan kamu nggak sepantasnya menunggu aku,ji. Aku sudah menyakiti kamu,melanggar kepercayaan
kamu. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku,yang nggak pernah
melakukan hal hal yang sudah aku lakukan terhadap kamu."
Panji masih menguburkan kepalanya di kedua telapak tangannya,membuat dara khawatir.
"Ji,are you okay?"Tanya dara.
"Fuck no,I'm not okay. Tunanganku seorang pembohong yang sudah dengan gampangnya tidur dengan
laki laki lain. Aku nggak percaya sudah menghabiskan dua tahun hidup aku untuk kamu,"geram panji.
Dara hanya bisa terdiam,sedikit shock dan sakit hati mendengar kata kata panji. Ini adalah sisi panji yang
tidak pernah dia lihat sebelumnya. Panji mungkin memang suka mengontrol,tapi nggak pernah kasar atau
kurang ajar terhadapnya. Hal ini membuatnya sedikit takut. Kemudian dara melihat panji mengangkat
wajahnya dan apa yang dia lihat di mata laki laki itu membuatnya mundur beberapa langkah.
"Ji..." "Karena kamu adalah pihak yang sudah membatalkan pernikahan ini,kamulah yang harus bertanggung
jawab atas semuanya. Kamu yang harus memberitahu keluargaku tentang ini,kamu yang harus
membatalkan katering dan gedung,dan aku minta ganti rugi untuk semua uang yang sudah aku keluarkan
untuk pernikahan ini."
Semua hal itu dikatakan dengan begitu dingin oleh panji sehingga dara mengigil,tapi dia memaksa
kepalanya mengangguk. Jo berjalan menyisiri pantai patong,sesuatu yang biasa dilakukannya semenjak dia sampai di sini hampir
sebulan yang lalu. Dia tahu cepat atau lambat bisa turisnya akan habis dan dia harus kembali ke jakarta,tapi dia masih ada
waktu beberapa hari untuk menentukan pilihannya dan dia menolak memikirkannya sampai dia harus
melakukannya. Dia tahu" liburan"nya ini betul betul akan membolongi kantongnya,tapi dia terlalu patah
hati untuk peduli. Dia selalu bisa mencari uang lagi nanti setelah selesai mengiasi dirinya. Dia
mempertimbangkan untuk meneruskan liburannya ke panang atau mungkin kw Cebu. Di mana saja
asalkan jauh dari dara,bisa dicapa pesawat terbang,dekat dengan pantai,dan tidak memerlukan visa.
Selama ini jo tidak pernah menghargai pantai yang selalu membuatnya merasa kesepian,tapi kini dia
mendapatkan suara debur ombak mendamaikan hatinya yang sakit. Samar samar dia mendengar suara
perempuan berteriak teriak gembira dan dia melihat sebuah banana boat berlalu cepat membawa empat
wanita berbikini di atasnya. Dia menarik bagian bawah kemeja linen yang dikenakannya,yang melambai
tertiup angin dan mempertontonkan perutnya sebelum melanjutkan perjalanannya.
Harus diakuinya bahwa dia menghargaI kebebasannya untuk bisa muncul di muka public tanpa di kejar
kejar orang yang ingin mengambil fotonya,meneriakkan namanya,dan menyentuhnya. Meskipun begitu,dia
merindukan set drumnya,mobilnya,dan tempat tidurnya di rumah. Tapi lebih dari apa pun juga,dia
merindukan blu dan bi uti.
Rumahnya kini kembali kosong. Tidak ada lagi yang meneleponnya kalau dia pulang
terlambat,menyambutnya dengan makan malam kalau dia pulang,mengisi segala isi rumahnya dengan
pernak pernik kewanitaan. Kini di rumah hanya ada goldie,dan meskipun goldie menyambutnya kalau dia
pulang,itu tidak sama. Dia menginginkan,no...dia membutuhkan kehangatan sentuhan manusia di dalam
hidupnya. Blu,bi uti,dan dara sudah membiarkannya mencicipi rasa itu dan membuatnya ketagihan. Tapi
kini dia sudah seperti seorang pecandu dengan paksa,membuatnya withdrawal besar besaran.
Dia tahu dia hanya memeprlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan hidup tanpa itu semua lagi,yang
dia tidak tahu adalah berapa lama. Mungkin inilah yang terbaik baginya. Jauh dari segala sesuatu yang
bisa menggodanya untuk menurunkan benteng pertahamammya lagi. Toh sebelum mereka masuk ke
dalam kehidupannya,dia bisa hidup dengan damai tanpa mereka. Jadi akan dia pastikan dia bisa dan
akan melakukannya lagi. Lima belas menit kemudian,yakin bahwa tubuhnya sudah menyerap cukup vitamin D,jo menyusurkan
langkahnya kembali ke hotel. Dua wanita bule yang berpapasan dengannya menatapnya dari atas sampai
bawah dan jo melihat ketertarikan di mata mereka,tapi jo hanya mengangguk dan berlalu. Seks tidak akan
menyelesaikan masalahnya,dan dari cara dua wanita itu mentapanya. Dan dia akan menembak dirinya
terlebih dahulu sebelum melakukan meaningless sex dengan meaningless strangers. Tidak sekarang
setelah dia mengerti bahwa kalau dia melakukannya dengan orang yang tepat,seks tidak akan pernah jadi
meaningless lagi. Mengingat wajah dara cukup untuk membuat jo lari memasuki lobi hotel,menaiki tangga karena tidak
sabar menunggu lift.,memasuki kamarnya,menanggalkan semua pakaiannya,menyalakan shower,dan
berdiri di bawahnya,membiarkan seluruh tubuhnya dibasuhi air dingin.
Stop thinking about her. Stop dreaming about her. Just stop....everything about her.
She doesn't choose you. She doesn't need you. She doesn't love you.
Setelah beberapa menit tubuhnya sudah mulai rileks dan jo bisa bernapas lega. Betapapun dia sudah
mencoba menghapuskan dara dari dalam pikirannya,wanita itu sepertinya menolak meninggalkannya.
Semakin dia mencoba melupakan dara,semakin sering wajahnya,suara tawanya,tatapannya,dan
sentuhannya menghantuinnya. Dia harus menghentikan ini semua kalau dia tidak mau jadi gila.
Jo menarik napas dan hampir menyumpah ketika samar samar dia bisa mencium aroma bunga lily.
Menyadari bahwa aroma itu datang dari sabun itu ke dalam tempat sampah dan mandi menggunakan
sampo. Setidak tidaknya samponya tidak mengingatkannya pada dara.
Bab 28 WAKE-UP CALL Ketika menyeka tubuhnya dengan handuk,jo mendengar HP nya berdering dan ketika melihat nama
blu,dia langsung mengangkatnya.
"Hai,mas,lagi ngapain?" Suara blu yang ceria menyambutnya.
"Hei,you,mas ba Ru abis mandi,"ucap jo sambil tersenyum dan melangkah keluar kamar mandi.
Dia berjalan menuju laci tempatnya menyimpan kaus dan pakaian dalamnya. Matahari akan terbenam
sebentar lagi dan angin yang berhembus membantu mendinginkan suhu panas pantai.
"Malam ini ada rencana mau ke mana?" Tanya blu.
"I don't know. Mungkin nonton Thai Boxing." Jo meletakan HPnya di atas meja setelah mengaktifkan
speaker agar dia masih bisa mendengar blu sementara dia berpakaian.
"Ugh...how can you watch that.it's so violent,"ucap blu.
Jo terkekeh. "Well,pilihannya kalau nggak nonton itu ya pergi nonton show banci. Dan mas nggak akan
pernah ketangkap basah nonton begituan."
Blu terkekeh." Apa mas akan pergi dengan seorang teman kencan,setidak tidaknya?"
"Yeah,two of them. They're twins,"canda jo.
Blu yang tersenyum tidak mengerti candaan jo ini berkata,
"Really?" Dengan antusias,membuat jo tertawa terbahak bahak.
Jo selesai berpakaian dan meraih HP nya. Dia lalu berjalan menuju pintu geser yang menghadapi ke
pantai,membukannya,dan duduk di salah satu kursi taman yang tersedia di balkon.
Dia akan menunggu hingga matahari betul betul terbenam sebelum keluar.
"Omong omong,kamu sudah memutuskan penjurusan yang akan kamu pilih?" Tanya jo, mengalihkan
pembicaraan mereka. Terakhir kali mereka membicarakan hal ini blu masih bingung antara IPA atau IPS. Para guru di
sekolahnya yang melihat nilainya menyarankan agar dia mengambil IPA,tapi blu bilang dia benci setengah
mati sama yang namanya fisika. Tentunya itu membawa diskusi panjang lebar tentang bagaimana
penjurusan ketika SMA memengaruhi persaingan masuk universitas.
Jo sendiri tidak bisa mengusulkan apa apa kepada blu karena pilihannya waktu SMA cukup gampang. Dia
mengambil jurusan arts,karena nilainya terlalu parah untuk mengambil science.
"Yep. Aku akan masuk IPS,"ucap blu gembira.
"Congratulations,"teriak jo.
"Mas nggak masalah dengan pilihan aku ini?"
Mendengar nada khawatir blu,jo terkekeh," mas akan setuju sengan apa saja yang kamu pilih selama
kamu yakin dan bertanggung jawab atas pilihan kamu."
"Aku yakin dengan pilihan aku."
"Them I'm happy."
Mereka menghabiskan sekitar dua puluh menit membicarakan hal hal lainnya sampai jo mendengar suara
poppy yang meminta blu menyerahkan telepon kepadanya karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan
dengan jo. "So,kapan mas akan kembali ke jakarta?"
Jo mendengar nada penuh harap pada pertanyaan blu ini dan dengan berat hati dia menjawab,"soon."
"Good,"ucap blu,adiknya ini terdiam sekejap sebelum menambahkan," I miss you."
Jo tersenyum dan membalas." I miss you too,kiddo."
Blu lalu berpamitan dan tidak lama kemudian jo mendengar suara poppy.
"Hei,jo,aku dengar kamu mau pergi nonton Tiger show nanti malam.jangan lupa foto foto nya. Aku mau
lihat. Banyak yang bilang katanya mereka cantik cantik lho,"ucap poppy antusias.
Jo memutar bola matanya. Poppy memang senang dekali menggodanya tentang banci,karena dia tahu
betapa jo takut setengah mati sama yang nama nya banci,jo tidak mengalami masalah dengan
keberadaan mereka selama mereka tidak dekat dekat. Pengalaman siderang fans banci sekali seumur
hidupnya ketika dia sedang manggung sudah cukup,nggak pakai dua kali.
"Gimana kalau kamu dan blu kapan kapan ke sini dan nonton sendiriv" balas jo datar.
Poppy tertawa terbahak bahak. Samar samar jo bahkan mendengar tawa blu di belakang. Setelah tawa
poppy dan blu reda,jo bertanya," goldie gimana kabarnya?"
"Oh,she's fine. She misses you,though. Setiap hari dia nunggu di pintu depan sampai lewat malam.
Nungguin kamu. Aku rasa dia merasa agak di terlantarkan."
Jo menarik napa,tahu apa yang poppy akan katakan selanjutnya. Poppy selalu menanyakan hal yang
sama,setiap kali menelepon,dan jo selalu membalas dengan jawaban yang sama.
"Are you okay over there?"
Dan jo tersenyum,menyadari betapa rutinnya pembicaraan telepon merek.
"I'm fi...." "Goddamn it,jo. Berhentilah bilang kamu fine. Kamu nggak fine. Kalau kamu baik baik aja,kamu akan ada
di jakarta sekarang,bukannya ngumpet di negara orang."
"I'm fine. Aku cuma perlu liburan dari semua ingar bingar jakarta," balas jo,bertekad untuk meyakinikan
poppy dan juga dirinya bahwa inilah yang dia rasakan,tidak peduli bahwa itu bukan yang dia rasakan.
Poppy menghembuskan napas keras,tidak bisa menerima jawaban ini tapi tahu bahwa segala
argumentasi yang dia lemparkan hanya akan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Mereka berdiam diri
selama beberapa detik. "Well,not that you would care,tapi aku cuma mau kasih tahu bahwa dara membatalkan pernikahannya."
Lutut jo langsung terasa lemas dan dia bersyukur dia sedang duduk karena kalau tidak dia bisa jatuh
tersungkur." Dibatalkan"
Maksud kamu di tunda?"Tanya jo untuk mengonfirmasi pendengarannyam
"Nggak. Nggak di tunda,batal sama sekali. Dia telepon untuk kasih tahu kemarin sore. Aku nggak tahu deh
berapa ganti rugi..."
Jo tidak lagi mendengar kata kata poppy selanjutnya. Pikirannya sudah ke mana mana. Dara
membatalkan pernikahannya"!
Merasakan semua darah mengalir ke kepalanya dan membuatnya pusing,jo langsung mengangkat tangan
kirinya untuk memijit pelipisnya. Berbagai macam perasaan bergejolak di hatinya dan beribu ribu
pertanyaan muncul di kepalanya. Satu detik dia ingin berteriak gembira akan berita ini,detik selanjutnya
keraguan muncul,menahannya dari menunjukkan emosi apa apa.
Pertayaan seperti kenapa dara membatalkan pernikahannya,hingga apakah dia membatalkan pernikahan
untuknya,memenuhi kepalanya.
"Jo,are you there?"
Pertanyaan poppy membuat jo hampir loncat dari kursinya.
Dia lupa poppy masih fi telepon. Buru buru dia berkata,"yeah I'm here."
"Apa kamu akan melakuka sesuatu setelah mendengar berita ini?" Tanya poppy.
"Like what?" "I don't know. Mungkin minta ganti rugi karena dara sudah membuat kamu menghabiskan waktu sebula ini
mencoba melupakan dia dengan menghamburkan hamburkan uang menginap di resor di ThAiland .
Sumpah deh,jo,lain kali bisa nggak sih kamu ngambeknya di tempat yang lebih murah?"
Sebelum bisa menahan diri jo sudah terkekeh dan tak lama kemudian sudah terbahak bahak.
"Ah,it's nice to hear you laugh again,"ucap poppy pelan setelah tawa jo reda. Lalu dengan nada memohon
dia berkata," can you please come home" We all miss you. Jangan menjauh dari kami hanya karena
dara,oke" Masih banyak orang yang menyayangi kamu di jakarta selain dia,you know."
Jo tersenyum dan untuk pertama kalinya memutuskan untuk menuruti permintaan poppy.
"Oke,ucap jo akhirnya.
Enam bulan berlalu semenjak dara membatalkan pernikahannya dengan panji dan dia mendapati dirinya
mempertimbangkan undangan yang dikirimkan tante poppy lewat email kepadanya.
Tante poppy akhirnya akan menggunakan ijazah yang dimilikinya dari Le Cordon Blue untuk membuka
restoran pertanyannya dan beliau mengundang dara datang ke acara pembukaan restoran tersebut. Dara
merasa gembira untuknya. Dia tidak tahu kenapa tante poppy dan blu( yang sikap dinginnya pada hari hari
terakhir dara bekerja untuknya kini sudah meleleh) mengundangnya,karena sejujurnya dia hanyalah
seorang mantan pegawai,bukan siapa siapa. Dan meskipun ingin bertemu dengan jo lagi,yang menurut
tante popy sudah kembali ke jakarta,dara agak ragu melakukannya. Dia tidak tahu bagaimana jo akan
bereaksi ketika melihatnya lagi. Apa jo akan mengusirnya dari acara tersebut" Definitely.
Oh,stop it, dara. Jangan jadi seorang pengecut. Kalau memang jo mengusir kamu,kamu selalu bisa
berkata bahwa kamu datang ke acara ini atas undangan tante poppy dan hanya tante poppy yang bisa
mengusir kamu. Dan dengan keyakinan seperti itu,dara membalas email itu sengan mengatakan bahwa dia akan
menghadirinya. Acara itu akan di adakan dua minggu lagi. Masih banyak waktu baginya untuk mundur
kalau perlu. Selesai membalas email,dara kembali pada tugasnya,yaitu merncanakan pernikahan krisna. Ibu dan papa
akhirnya memperbolehkan krisna melangkahi dara setelah adiknya itu berkata bahwa kalau sampai
mereka tidak memperbolehkannya menikahi arman sekarang, dia akan kawain lari. Dara mengambil
kesempatan ini untuk menawarkan bantuannya merencanakan pernikahan tersebut,karena dia masih
memiliki semua informasi yang diperlukan.
Dia ingat betul hura hara yang dibuatnya ketika dia meminta pertemuan keluarga untuk diadakan agar
bisa menyampaikan beritanya.
Teriakan,"how can you do this to me?" Dari krisna masih membuat dara meringis,bahkan hingga hari ini.
Dan tuduhan, "Apa yang sudah kamu lakuka?" Dari ibu masih membuat hati nya sakit.
Dara hanya menerima ini semua seperti dia menerima obat cina yang biasa ibu berikan kalau dia sedang
sakit waktu kecil. Awalnya memang pahit,tapi semuanya akan berlalu dan dia akan merasa lebih baik di
kemudian hari. Dara bersyukur akan pesangon yang diberikan tante poppy kepadanya ketika dia berhenti bekerja,karena
dengan uang itu dia bisa membayar ganti rugi kepada panji. Tentu saja sampai sekarang panji dan
keluarganya menolak beebicara dengannya.
Dara tidak tahu akapakah panji menceritakan kepada mereka tentang alasan utama pernikahan itu
batal,karena dara terlalu sibuk menghindari peluru yang ditembakan oleh keluarganya dengan
panji,meskipun dia mengerti kenapa panji melakukan nya dan dara tidak bisa menyalahkannya.
Dara sudah memutuskan untuk mulai mencari kerja menjadi asisten artis lagi setelah pernikahan krisna
selesai,tapi untuk sementara waktu dia memutuskan untuk mengambil cuti. Tante poppy menawari dara
agar melanjutkan pekerjaannya menjadi PA blu,tapi dara menolaknya karena dia tidak yakin bisa bekerja
di tempat ada kemungkinan dia harus bertemu dengan jo hampir setiap hari.
Merencanakan pernikahan krisna cukup memakan waktunya dan dia menghargai ini karena dengan
kesibukannya dia tidak lagi memikirkan jo. Tiga bulan setelah dia memutuskan hubungannya dengan panji
dan kekacauan di dalam hidupnya gara gara pembatalan pernikahannya reda,dara memiliki banyak waktu
untuk berpikir. Dia menyadari bahwa dalam masa ini tidak sekali pun panji terlintas di kepalanya. Yang
ada,dia tidak bisa berhenti memikirkan jo. Dia betul betul merindukan lelaki itu dengan segala sesuatu
yang berkaitan dengannya. Dia ingin melihat senyuma jo yang bandel,matanya yang berbinar binar kalau
sedang tertawa,dan suaranya yang dalam dan sangat maskulin. Tapi lebih dari itu semua,dia ingin ngobrol
dan bercanda dengannya lagi. Untuk menghabiskan hari harinya dengannya dan blu seperti dulu lagi.
Sejujurnya kini kalau dipikir pikir lagi,dara tidak tahu kenapa dia sangat terobsesi untuk menolak jo hanya
karena dia pikir jo sama saja dengan laki laki sebangsanya. Karena kalau dia mengingat kembali setiap
saat yang dihabiskannya bersama jo,jo sangat berbeda dengan skema yang dimilikinya. Dara mengakui
kesalahannya karena sudah menilai seseorang seperti itu,yaitu dengan memasukkan mereka ke dalam
boks yang sudah diberi label tertentu. Dan tidak peduli apa yang orang tersebut lakukan,dia menolak
memindahkannya dari boks berlabel tersebut.
Ah,tapi itulah kehidupan. Tidak akan pernah sempurna,dan kita akan membuat kesalahan di sini dan di
sana,tapi kita harus mampu belajar dari semua kesalahan itu agar tidak membuat kesalahan yang sama
dikemudian hari. Dan dara bertekad untuk berbicara dengan jo lagi untuk menjelaskan kepadanya apa
yang sebetulnya terjadi. Ini satu kesalahan yang harus dia perbaiki. Karena hanya dengan ini dia bisa
melanjutkan kehidupannya dengan keyakinan bahwa dia sudah melakukan segala sesuatu yang perlu dia
lakukan. Jo memasuki bleu,restoran milik poppy,yang dipenuhi oleh sekitar lima puluh orang. Beberapa dari
mereka dia kenali,seperti revel dan ina,oom danung,dan tentunya blu. Poppy tidak kelihatan di mana
mana. Beberapa orang dari media yang dia kenal dan dia sukai menyapanya,dan dia meluangkan waktu
untuk membicarakan beberapa kalimat yang bisa dimuat di media cetak. Blu yang berdiri di sampingnya
lalu menariknya menuju dapur,dan di sana dia melihat poppy--- yang mengenakan pakaian koki----sedang
meneriakkan perintah kepada beberapa orang sekaligus. Dapur itu kelihatan sibuk tapi teratur,semua
oranf tahu tugas masing masing. Jo merasa seperti sedang menonton Hell's Kitchen.
Tidak mau mengganggu poppy,yang pastinya nervous memberi makan tamu tamunya pada acara
pembukaan restorannya,jo meninggalkan dapur dan menuju dining room. Seorang pelayan berseragam
hitam putih langsung menanyakan pesanan minumannya. Jo sebetulnya ingin memesan Vodka on the
rocks untuk menenangkan jantungnya yang berdebar debar karena ikut panik melihat poppy,tapi dia tahu
blu akan memelototinnya kalau dia sampai memesan alkohol. Akhirnya dia memesan sebotol perrier
dingin. Pelayan itu berlalu samnil menaikan alisnya,tidak percaya jo baru saja memesan air putih.
Jo melihat ke sekelilingnya dan menemukan ina dan revel sedang tenggelam dalam percakapan seru
dengan seorang wanita berambut bob pendek yang membelakanginya sehingga dia tidak bisa melihat
wajahnya. Wanita itu memiliki kai panjang dan langsing yang ditutupi jins gelap,dan meskipun hanya
mengenakan sepatu flat,dia masih cukup tinggi sehingga tidak perlu terlalu mendongak ketika berbicara
dengan revel. "Ah,great. Mbak dara sudah sampai,"ucap blu yang membuat jo langsung menoleh.
"Di mana?" Tanya jo dengan suara sedikit bergetar.
Dia tidak tahu poppy mengundang dara. Kalau dia tahu,mungkin dia tidak akan datang ke acara ini. Dia
bahkan tidak tahu poppy masih berhubungan dengan dara. Poppy tidak pernah mengatakan apa apa
kepadanya. Tapi kalau dipikir pikir,memangnya poppy harus memberitahukan tentang segala aktivitasnya"
"Tuh di sana,lagi ngobrol sama mas revel dan mbak ina,"jelas blu sambil menarik jo menuju ina dan revel.
Tatapan jo kembali kepada revel dan ina. Dia masih tidak melihat seorang pun yang mirip dengan dara
berdekatan dengan ina dan revel. Yang ada hanya wanita berambut pendek itu. Pada detik itu revel
mengatakan sesuatu kepada wanita berambut pendek tersebut,yang membuatnya memutar tubuhnya dan
jo langsung memelankan langkahnya.
Bab 29 SECOND CHANCES

The Devil In Black Jeans Karya Aliazalea di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Oh,my God! Teriak jo dalam hati.
Itu memang dara,dengan rambut superpendek dan sedang tersenyum pada blu. Tatapan dara kemudian
jatuh kepada jo dan senyum itu berkurang lebarnya,berubah menjadi ragu. Berpikir bahwa jo terlalu
lambat,blu melepaskan tangannya dan berlari menuju dara yang membuka kedua lengannya untuk
memeluk blu. Dara memejamkan matanya ketika memeluk blu dan jo bisa melihat kebahagiaan yang
terpancar di wajah itu. Dara lebih seperti sedang memeluk seorang adik yang sudah lama dia tidak
temui,bukannya mantan bosnya,tapi entah kenapa hal itu membuat jo merasa senang. Namun kemudian
jo merasa jengkel karena menyadari selama beberapa detik ini pikirannya terfokus pada dara.
Jo mengangkat kepalanya,memasang topeng tidak peduli di wajahnya dan melangkah mendekati
kumpulan itu. Dara sudah melepaskan blu dan sedang menertawakan sesuatu yang di katakan blu ketika
dia menyadari kehadiran jo. Dia langsung berhenti tertawa dan menatap jo khawatir. Jo menatap dara
dengan seksama,mencoba membiasakan diri dengan rambut pendek dara yang pendek. Harus dia akui
dara kelihatan lebih muda dan cute as hell dengan potongan rambut ini. Potongan rambut itu membuat
tulang pipinya kelihatan tinggi dan menarik sudut matanya keatas,membuatnya kelihatan eksotis. Hari ini
dara mengoleskan make-up dan lipgloss pink di bibirnya dan yang di inginkan jo adalah merasakan vivir
itu. Do menarik napas dalam dalam.ketika dia menyadari bahwa dia sedang mencari aroma lily,dia buru
buru menghembuskan napasnya.
Merasa bodoh karena masih membiarkan dara membuatnya merasa seperti ini setelah berbulan bulan,jo
berkata," Ngapain kamu di sini?"
Jo mendengar ina menarik napas,revel mengucapkan nama nga dengan nada memperingatkan,dan blu
mengerutkan keningnya ketika mendengarnya. Sekilas jo melihat keterkejutan dan sakit hati di mata
dara,dan hal ini membuatnya ingin menendang dirinya sendiri. Dia tidak berhak menanyakan hal itu.acara
hari ini adalah acaranya poppy dan dia bisa mengundang siapa saja yang dia mau. But damn it all to hell.
She should've ask him first.
" Saya ke sini atas undangan tante poppy dan untuk menunjukkan support saya."
Kata kata dara membangunkan jo dari pikirannya dan dia menatap dara yang kini sedang tersenyum
padanya. Meskipun senyuman itu tidak mencapai matanya yang masih kelihatan sedih. Pada saat itu
sebuah suara terdengar jelas dari aound system,mengucapkan selamat datang kepada para undangan.
Tatapan semua orang langsung terpaku kepada wanita pendek dengan kecamata berbingkai hitam yang
berdiri di sudut ruangan. Serena,itulah namanya,memperkenalkan dirinya sebagai manajer restoran dan
melanjutkan dengan menceritakan sedikit tentang sejarah blue dan poppy sebagai shef. Nama blue di pilih
oleh poppy buka saja untuk menghormati tempat dia mendapatkan ijazahnya,tapi juga karena nama itu
mirip dengan nama blu,meskipun pengucapannya sedikit berbeda.
Pelayan yang tadi menerima pesanan minuman jo muncul dan memberikan sebotol perrier dingin
kepadanya. Jo memutar penutup botolnya dan menelan beberapa tegukan,mengharapkan itu adalah
vodka. Poppy muncul tidak lama kemudian untuk mengucapkan terimakasih kepada para
undangan,pengkritikan makanan,dan media yang sudah datang. Poppy melambaikan tangan pada jo
ketika melihatnya sebelum berseloroh mengatakan bahwa kalau para tamu mendapatkan makanannya
tidak enak,diharapkan mereka menunggu hingga akhir acara sebelum mulai menyerukan" huuu" padanya.
Poppy lalu menghilang kembali kedapur san serena mempersilahkan semua orang untuk duduk di meja
yang sudah disediakan agar makanan bisa mulai disajikan.
Jo hanya bisa mendesah ketika menyadari bahwa tempat duduknya di sebelah dara. Kalau bukan karena
poppy dan media yang akan mengataka yang tidak tidak kalau dia meninggalkan acara sebelum mencoba
makanan,jo akhirnya duduk dikursi yang sudah disediakan.
Sepanjang satu jam ketika makanan di sajikan dara berusaha sedaya upaya untuk membuka pembicaraan
dengan jo,tapi lelaki itu sepertinya bertekad untuk tidak menghiraukannya. Revel,ina,dan oom danung
yang duduk satu meja dengannya memberikan tatapan kadihan padanya. Blu yang duduk di samping jo
dan kelihatan tidak menyadari hawa dingin di antara mantan asistennya dan jo terus nyerocos tentang
segala macam hal. Mulai dari memjui semua makanan yang disajikan hingga kegiatan seksulnya. Dara
baru saja akan menyerah untuk berbicara dengan jo dan pamit pulang ketika jo bangun dari kursinya dan
berjalan menuju restroom. Setelah beberapa menit,dara pun bangun dari kursinya untuk melakukan hal
yang sama. Dara berpapasan dengan jo di depan restroom dan dia langsung berkata," boleh saya bicara sebentar
dengan kamu?" "Saya hanya minta lima menit."
Jo kelihatan celingukan sebelum menarik dara ke dalam restroom laki laki. Sebelum dara bisa bereaksi,jo
sudah mengunci pintu dan menghadapnya sambil menyedakapkan tangannya.
"What?"Ucapnya dengan sangar.
Dara memperhatiak sekelilingnya. Karena restoran itu masih baru dan kelas atas,restroom kelihatan
sangat bersih. Semuanya serbahitam,perak,dan sangat maskulin. Membuatnya bertanya tanya apakah
restroom wanita juga kelihata seperti ini.
"Kamu mau bicara dama saya atau mengagumi interior restroom ini?"
Suara jo menyadarkan dara dari obervarsinya. Buru buru dia mengucapkan kata maaf dan berkata," saya
tahu kamu marah sama saya dan nggak mau saya di sini."
"Good observation,"ucap jo sinis.
Dara menarik napas,mencoba menenangkan diri. Tidak ada gunanya mengomel kepada jo sekarang. Toh
jo memang berhak marah. Lsaya mau minta maaf atas kata kata saya wantu itu. Saya nggak pernah bermaksud menghina kamu
dengan mengatakan bahwa kamu nggak bisa memberikan apa yang saya butuhkan. Waktu saya
mengatakan'kamu' saya nggak bermaksud'kamu' sebagai hanya 'kamu',tapi juga semua laki laki seperti
kamu." Jo menaikkan alisnya dan berkata," kalau kamu mencoba minta maaf,caranya nggak begini."
Dara menelan ludah." Yang saya maksud adlah bahwa selama ini saya selau punya skema tentang
semua orang. Dan skema kamu adalah:anak band,nggak akan serius,dan bukan kriteria calon suami yang
baik. Dan skema saya ini susah diubah,nggak peduli apa yang sudah kamu lakuka untuk menunjukan hal
sebaliknyam." Mata jo langsung menggelap dan dara berpikir lelaki itu akan mengilang dari hadapannya sambil
membanting pintu,tapi jo hanya menatapnya tanpa berekdip dan dara memberanikan diri untuk
melanjutkan. "Saya selalu mengira laki laki seperti kamu pasti sering ngebullshit dengan mengucapkan kata cinta
kepada siapa aja,bahwa kata itu tidak berarti untuk kamu,tidak seperti untuk saya."
Dara mundur selangkah ketika jo menurunkan tangannya dan memasukkannya kedalam kantong celana
jinsnya. Dengan sisa keberaniannya yang dia miliki,dara berkata," tante poopy lah yang kemudian
menjelaskan kepada saya semuanta. Bahwa saya sudah salah menilai kamu. Bahwa kata cinta mungkin
lebih berarti untuk kamu daripada untuk saya."
Jo menatap dara sambil menyeritkan dahi,seakan mempertimbangkan apakah dia ingin mencekik poppy
karena sudah membuka rahasianya atau dara yang sekarang juga tahu tentang rahasia itu.
"Jangan salahakan tante poppy,beliau hanya mau membantu kamu,karena beliau,blu,revel,ina,oom
danung,sita,dan,,,saya,,,,"
Dara terdiam sejenak,tidak mampu mengatakan kata kata selanjutnya. Takut mengatakannya. Takut kata
kata itu akan di lemparkan kembali kepadanya oleh jo dan dia yakin dia akan menangis tersendu sendu
kalau itu sampai terjadi. Dia sudah capek menyembunyikan rasa ini,rasa yang sudah ada semenjak
melihat jo mencuci piring dirumahnya dan semakin berthana saat dia semakin sering menghabiskan waktu
dengannya. "Kami semua menyayangi dan mencintai kamu. Saya...mencintai kau,"ucap dara akhirnya.
Jo masih berdiam diri,hanya menatapnya tanpa ekspresi dan perlahan lahan hati dara mulai hancur
berkeping keping,tapi dia memaksakan dirinya untuk mengatakan kata kata selanjutnya.
"Enam bulan yang lalu saya sudah siap menikah dengan panji. Dia laki laki sempurna yang memenuhi
semua kriteria yang saya butuhkan,tapi tidak saya inginkan. Saya menginginkan kamu.
Dan saya sadar saya akan melakukan kesalahan terbesar dalam hidup saya kalau saya menikai panji."
Dara melirik jo,mencoba membaca reaksinya,tapi jo hanya menatapnya kaku.
"Saya menghabiskan enam bulan ini untuk memikirkan perasaan saya kepada kamu. Dan saya sadar
bahwa saya bukan hanya mengingikan kamu,tapi juga membutuhkan kamu. Saya butuh mendengar suara
kamu,tawa kamu kalau kamu lagi bercanda dengan blu atau goldie. Saya butuh duduk bersebrangan
dengan kamu di meja makan. Tapi lebih dari apa pun juga,hari hari saya rasanya kurang kalau saya nggak
ngeliat kamu." Dara terdiam ketika menyadari jo masih tidak mengatakan apa selama beberapa menit ini. Hal ini
membuatnya merasa bodoh karena sudah menumpahkan segala perasaannya dengan harapan jo akan
membalasnya. "Saya mengerti kalau kamu nggak merasakan hal yang sama,tidak setelah..." Dara menelan ludah dan
mengganti argumentasinya," saya hanya berharap kamu setidak tidaknya mau memberi saya kesempatan
untuk bertemu dengan kamu. Untuk...hangout dengan kamu lagi,kalau boleh?"
"Kamu mau berteman dan hangout sama saya?" Tanya jo,untuk pertama kalinya bersuara setelah
beberapa menit ini. Dara segera mengangguk. Untuk saat ini dia akan mengambil apa saja yang ditawarkan jo.
"No,"ucap jo datar.
Selama beberapa detik dara hanya bisa menganga. Mencoba mencerna kata itu. Ketika dia sadar apa
yang dikataka jo,rasa sakit hati dan kekalahan mengisi hatinya. Dia tidak pernah menyangka satu kata
bisa begitu menyakitkan. "Oke,saya mengerti,"ucap dara sambil mengangguk. Menyadari bahwa dia masih berdiri di hadapan jo,dia
berkata,"I'm gonna go." Dan sambil menunduk dia berjalan melewati jo menuju pintu.
Dia harus keluar dari restroom ini secepatnya sebelum air matanya banjir keluar. Dia baru saja
mengulurkan tangannya untuk membuka kunci pintu ketika tiba tiba dia merasakan tubuhnya di tabrak dari
belakang dan sesuatu yang besar dan berat menyerangnya,membuatnya tidak bisa bernapas. Ketika
kepanikannya sudah berlalu,dia menyadari bahwa sesuatu yang besar dan berat yang mengimpitnya itu
adalah tubuh jo. "What the hell do you think you're doing?"Teriak jo.
"Jangan main main dengan perasaan saya,dara." Suara jo terdengar dingin di daun telinganya.
Dengan paksa dara mendorong tubuh jo dari punggungnya dan memutar tubuhnya untuk menatap jo."
Saya nggak sedang mempermainkan perasaan kamu,"ucapnya dengan sedikit tersedak.
"Jadi kenapa satu detik kamu bilang kamu cinta sama saya,dan detik selanjutnya kamu bilang hanya mau
berteman dan hangout dengan saya?"Geram jo.
Kedua telapak tangan jo yang diistirahatkan pada daun pintu mengurung kepala dara,membuat dara
sedikit panik. Hidung dara yang satu level dengan leher jo bisa mencium aroma cologne jo. Keinginan
untuk menguburkan hidungnya di leher itu sangat kuat,tapi dara mencoba melawannya.
"Saya nggak...." Dara mencoba menjelaskan,tapi dipotong oleh jo dengan nada keras.
Saya orangnya egois,dara. Kalau kamu nggak mau memberikan semua bagian diri kamu kepada
saya,saya nggak mau sebagaian pun. Saya nggak mau harus berbagi kamu dengan siapa pun. Kamu
pikir hanya kamu yang menginginkan dan membutuhkan saya" Kamu nggak tahu betapa saya
mengingikan dan membutukan kamu."
Mata jo sudah mengilat ketika mengataka itu semua,dan demi tuhan dara tidak bisa memalingkan
wajahnya meskipun kakinya sudah seperti kebakaran.
" I was in love with you. Still in love with you. Berbagai macam cara sudah saya coba untuk melepaskan
kamu,beribu ribu kilo meter saya tempuh untuk menjauh dari kamu,tapi saya nggak bisa. Kamu masih ada
di sini." Jo mengusap dada sebelah kirinya tempat jantungnya berada.
"Di sini." Jo menunjuk pelipisnyam
"Di sini,"bisik jo sambil menyentuh bibirr dara.
Perlahan lahan jo mendekatkan bibirnya kepada dara,seakan memberika dara kesempatan untuk
menolaknya kalau dia mau.
Dara langsung menarik kepala jo dan mengecup bibirr jo sebelum jo bisa berkata kata lagi. Jo membalas
ciuman itu dengan menarik pinggang sara ke dalam pelukannya.
"Oh,God,I love you. Aku minta maaf atas semuanya,"ucap dara ketika dia menarik bibirnya untuk menarik
napas. "Jangan pernah lari dari saya lagi,dara. Kalau kamu ada masalah,apa pun itu,kamu harus
membicarakannya dengan saya. Hidup saya beberapa bulan ini....," jo menggeleng,"hancur lebur,saya
nggak bisa mikir. Saya marah marah nggak jelas pada semua orang,bahkan pada revel,"balas jo sambil
menyentuhkan hidungnya yang mancung ke hidung dara.
Dara mengangguk sambil melarikan jari jarinya pada wajah jo. Sekejap jo memejamkan mata,seakan
mencoba menyerap sentuhan itu.
"This is it, dara. Apa kamu betul betul mau saya?"
"Seharusnya saya yang menanyakan hal itu kepada kamu."
Melihat wajah bingung jo,dara menjelaskan," saya bukan orang yang baik,jo. Saya sudah tidur dengan
seorang laki laki waktu saya masih bertunangan dengan laki laki lain."
"Saya tahu bahwa saya seharusnya merasa khawatir akan itu,tapi saya nggak bisa. Karena laki laki yang
sudah tidur sama kamu itu saya. Dan kalau kamu nggak melakukannya,mungkin kita nggak akan pernah
sampai di sini sekarang."
"Apa kamu nggak takut saya akan melakukan hal yang sama dengan kamu?"
"Apakah kamu akan melakukannya?" Suara jo terdengar tajam.
"No, I mean... I don't know.... I hope not. Tapi seperti banyak orang bialng,once a cheater,always a
cheater." "Dara,apa kamu sedang mencoba untuk lari dari saya dengan mengatakan semua ini?"
Dara menunduk dan menempelkan keningnya di dada jo.
"Nggak. Saya hanya nggak mau memberikan kesan yang salah kepada kamu. Saya mau kamu tahu
segala hal yang rusak dan bermasalah dengan saya sebelum kamu memutuskan untuk bersama saya."
"Dara,look at me."
Perlahan lahan dara mengangkat wajahnya dan jo menggenggam wajahnya." I love you. Semuanya dari
kamu,bahkan yang rusak dan bermasalah. Dan akan saya pastikan bahwa kamu nggak akan pernah
melirik laki laki lain selama kamu sama saya.
Oke?" "Oke." Dan dara membiarkan dirinya dipeluk oleh jo lagi yang kini menatapnya seperti dia baru saja menang
lotre. EPILOG Jo berdiri di kaki makam papa dan mama dengan perasaan campur aduk. Terakhir kali dia berada di sini
adalah pada hari pemakaman paap,saat prosesi tersebut lebih mirip sirkus karena kehadiran media. Kini
makam tersebut sudah ditutupi hiaju yang terpotong rapi dan ada bunga di dalam vas di kepala makan. Jo
tahu poppy dan blu selalu datang mengunjungi makam ini secara rutin,itulah cara mereka untuk
mengatakan bahwa papa masih ada di dalam ingatan mereka dan penghormatan kepada mama. Keluarga
papa dan mam juga terkadang datang untuk memastikan penjagaan makam tersebut,hanya dirinyalah
yang tidak pernha mengujungi makam ini.
Jo duduk di batu granit di kaki makam. Kesedihan menyerangnya. Dia mengulurkan tangan kananya untuk
menyentuh rumput yang menutupi makam mama, rumput itu terasa dingin di bawah telapak
tangannya,menenangkan hatinya.
"Hei,mam,pap,apa kabar" Sori karena sudah lama nggak berkunjung. I hope you gays are okay,wherever
you are. Aku sudah menikah,instriku namanya dara. Dia baik,dan I dont't know why,tapi dia sepertinya
cinta sama aku. You would love her,mam. Anyway,dia yang mendorong aku datang ke sini. So,her I am."
Jo terdiam tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Terlalu banyak yang ingin dikatakannya sehingga
dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia merasakan seorang meremas tangan kirinya dan dia menoleh.
Wajah dara yang sedang tersenyum memberinya keberanian untuk melanjutkan.
"Pap, I guess I shoild let you know.blu berakhir menjadi penyanyi opera indonesia yang cukup terkenal.
Can you imagine that" Nggak tahu dia dapat bakat dari mana,karena aku tahu papa nggak bisa nyanyi."
Jo terkekh dengan leluconnya sendiri.
"Selain nyanyian dia juga sibuk sekolah. Dia akhirnya mengambil jurusan IPS dan kelihatannya happy
dengan pilihannya itu. Aku berusaha sebisa mungkin memberikan semua yang diinginkan blu,seperti apa
yang papa minta. She's a good kid though,nggak banyak permintaannya. Cukup mandiri dan dewasa
untuk anak seumurnya. Wish you were here to see her,pap."
Jo menunduk selama beberapa detik.tangan dara yang mengusap punggungnya dengan penuh dukungan
membuatnya mengangkat kepalanya dan berkata," I guess that's it. Aku janji untuk datang lebih sering lagi
ke sini." Jo terlalu beranjak berdiri untuk meletakan dua tangkai mawar yang dibawanya di makam mama dan
papa. Kemudian dia meraih tangan dara dan perlahan lahan berjalan menuju mobil. Dara memang
benar,hati jo terasa lebih ringan setelah melakukan ini.
"Are you okay?"Tanya dara.
Jo menoleh dan memberikan senyum terbaiknya."Yeah. Better that okay. Makasih karena sudah membuat
aku melakukan ini." "Kamu tahu kan,kalau aku akan melakukan apa aja untuk kamu?"
Jo memejamkan mata,mencoba menyerap kata kata dara.
Semenjak menikah sebulan yang lalu,mereka tidak lagi menggunakan kata"saya" ketika berbicara dengan
satu sama lain sam siapa yang sangka pergantian satu kata dari"saya"ke"aku" bisa begitu bermakna.
Mereka memang tadinya berencana menikah setelah enam bulan berpacaran,tapi buntutnya harus
menundanya hingga hampir setahun karena dara,yang sudah mengambil alih tugas oom danung menjadi
manajer blu,terlalu sibuk mengurus kehidupan adik iparnya itu. Jo menyadari bahwa hubungan mereka
bukan hanya melibatkan dirinya dan dara,tapi juga blu.
Me,you and blu adalah cara dara menggambarkan kehidupan mereka dan mungkin seharusnya jo merasa
khawatir bahwa perkawinannya berisi tiga orang,bukannya dua,tapi dia tahu bahwa tanpa blu,dia tidak
akan pernah bertemu dara.
"Yeah,I know. Karena kamu cinta sama aku,"ucap jo sebelum memeluk dara dengan lebih erat dan
menariknya menuju mobil. Pendekar Penyebar Maut 25 Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru Jago Kelana 14
^