Pencarian

Petualangan Tom Sawyer 3

Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain Bagian 3


186 reka mencoba lagi dengan hasil gemilang, maka malam itu dilalui dengan kegembiraan yang melimpah. Mereka lebih bahagia mencapai hasil ini daripada dalam mengalahkan dan menguliti semua suku Indian dari Enam Bangsa. Mereka kita tinggalkan merokok dan membual, sebab saat ini mereka tak kita perlukan lagi.
187 Bab XVII MENGHADIRI UPACARA PENGUBURAN SENDIRI
TAK ada kegembiraan di kota kecil St. Petersburg pada Sabtu sore yang tenang itu. Keluarga Harper dan keluarga Bibi Polly semua memakai pakaian berkabung, dengan kedukaan yang besar dan air mata melimpah. Kesepian yang luar biasa menguasai desa, walaupun biasanya desa itu sudah cukup sepi. Para penduduk bekerja tanpa banyak suara, tapi sering mengeluh. Libur hari Sabtu malah bagaikan beban untuk murid-murid sekolah. Mereka tak berminat untuk bermain-main.
Sore itu tanpa disadari, Becky Thatcher dengan murung berjalan-jalan di halaman sekolah yang sunyi. Hatinya sangat sedih dan tidak bisa menemukan sesuatu untuk menghibur hatinya. Ia menahan tangis: "Oh, bila aku masih memiliki tombol kuningan itu! Kini aku tak punya apa-apa untuk mengenangkan dia." Kemudian dia berhenti dan berkata lagi, "Di sinilah! Bila hal itu bisa diulangi kembali, tak akan aku katakan kata-kata dulu itu, walau diupah apa pun juga. Tapi kini ia telah pergi, dan aku tak akan bisa melihatnya
188 lagi." Pikiran ini menghancurkan hatinya, Becky menjauhi sekolah itu dengan air mata membasahi pipi. Sekelompok murid-murid lelaki dan perempuan -teman-teman Joe dan Tom - datang ke tempat itu. Mereka berdiri memperhatikan halaman sekolah. Dengan khidmat mereka membicarakan tingkah laku Tom dan Joe pada saat terakhir mereka melihat keduanya. Kejadian
-kejadian kecil yang tak pernah mereka duga akan meramalkan kejadian ini. Setiap pembicara menunjukkan tempat yang tepat di mana kedua anak yang hilang itu berdiri, kemudian menambahkannya dengan berkata, "... dan aku berdiri begini, di sini - seperti umpamanya kau: dia, dan aku seperti saat ini - aku sedekat ini, dan ia tersenyum - dan kemudian ada yang aneh terasa olehku - mengerikan dan waktu itu tak terpikir olehku artinya, dan baru kini kutahu!"
Terjadi sedikit pertentangan tentang siapa yang melihat kedua anak yang hilang itu paling akhir. Banyak yang memperebutkan dengan mengajukan bukti-bukti yang ditambah serta dikurangi; sampai akhirnya dapat ditentukan seorang anak yang benar-benar paling akhir melihat Tom dan Joe. Anak yang ditentukan itu merasa sangat penting karenanya anak-anak lain mengagumi serta iri kepadanya. Seorang anak yang tak punya bukti-bukti yang bisa diajukan berkata dengan bangga, "Tom Sawyer pernah memukul aku."
Tetapi pernyataan itu gagal. Hampir semua anak
189 bisa berkata begitu, maka pernyataan semacam itu tidak ada harganya. Kelompok itu berlalu, membicarakan kenang-kenangan tentang para pahlawan yang hilang itu dengan rasa penuh hormat.
Keesokan harinya. Selesai sekolah Minggu, lonceng gereja tidak berdengung seperti biasa, tetapi dibunyikan dengan jarak tempo dentangan yang agak lama. Suara lonceng berkabung itu menambah kesunyian hari Minggu. Para penduduk desa mulai berduyun, berdiri di depan gereja tak terdengar suara bisik-bisik pun, selain gemersik gaun wanita yang akan duduk. Gereja penuh sesak, lebih penuh dari biasa. Kemudian terasa suasana menunggu. Kesepian lebih terasa dan masuklah Bibi Polly, diiringi oleh Sid dan Mary, disusul oleh keluarga Harper, semua berpakaian serba hitam yang menyatakan berkabung. Semua jemaat termasuk pendetanya berdiri menghormat sampai orang-orang yang sedang berkabung itu duduk di deretan kursi paling depan. Terasa kesunyian lagi, yang terpecahkan oleh bunyi suara sedu-sedan. Sang pendeta membentangkan tangan, mengajak jemaat untuk berdo'a. Selesai berdoa sebuah lagu pujian yang mengharukan dinyanyikan dengan disusul oleh khotbah yang berjudul: 'Akulah Kebangkitan dan Kehidupan'.
Khotbah berlangsung, sang pendeta memberi gambaran tentang tingkah laku yang baik, serta masa depan yang bisa dicapai oleh anak-anak yang hilang. Begitu indah gambaran yang dibawakan
190 sang pendeta, hingga semua jemaat bisa mengenang hanya hal-hal yang baik dari para almarhum, yang tak mereka lihat sebelumnya karena kebutaan hati.
Pendeta bercerita banyak tentang kejadian-kejadian yang mengharukan dalam kehidupan para almarhum, yang melukiskan sifat mereka yang menarik. Semua kini bisa melihat, betapa manisnya semua kejadian itu, dengan sedih. Mereka teringat, semua kejadian itu dulu mereka golongkan sebagai kenakalan. Para jemaat makin lama makin terharu oleh ceritera penuh perasaan itu, hingga akhirnya seluruh isi gereja mengikuti orang-orang yang sedang berkabung mencucurkan air mata. Terdengar sedu-sedan yang menyedihkan. Bahkan pendeta sendiri turut menangis di mimbar.
Terdengar suara gemersik di balkon belakang yang tak pernah terpakai lagi. Tak ada yang memperhatikan suara gemersik itu. Sesaat kemudian pintu gereja berderit terbuka. Pendeta mengangkat matanya yang penuh air mata, melihat lewat atas sapu tangannya, dan tertegun membelalak! Mula-mula satu, kemudian pasangan mata lain mengikuti arah pandangan sang pendeta, akhirnya seluruh jemaat berdiri melongo melihat ketiga "almarhum" berjalan ke depan di antara kursi-kursi gereja itu. Tom paling depan, kemudian Joe, terakhir Huck dengan pakaian compang-camping kemalu-maluan. Mereka bertiga bersembunyi di balkon dan mendengarkan khotbah penguburan mereka!
Bibi Polly, Mary dan keluarga Harper menubruk,
192 memeluk dan mencium mereka yang baru kembali sambil terus-menerus mengucapkan syukur pada Tuhan. Huck malu dan gelisah, tak tahu apa yang akan dikerjakan dan di mana ia harus menyembunyikan diri dari pandangan mata orang banyak yang tak menunjukkan rasa persahabatan. Ia sudah akan menyelinap pergi, tapi Tom mera
ih tangannya dan berseru, "Bibi Polly, harus ada orang yang merasa gembira untuk melihat Huck kembali."
"Memang. Aku sangat gembira melihatnya kembali, anak piatu yang malang!" dengan penuh kecintaan Bibi Polly memeluk dan mencium gelandangan itu berkali-kali hingga membuat Huck malah makin merasa tak enak.
Tiba-tiba pendeta berseru dengan keras, "Puji Tuhan dari mana segala berkat membanjir - BERNYANYILAH! - sepenuh hati!"
Jemaat betul-betul bernyanyi sepenuh hati. Si Seratus Tua dinyanyikan dengan gegap gempita hingga atap gereja bergetar. Tom Sawyer, si Bajak Laut melihat sekeliling pada kawan-kawannya yang iri padanya. Saat ini betul-betul saat yang paling membanggakan dalam hidupnya.
Jemaat yang tertipu itu pulang dari gereja dengan gembira dan berkata, mau mereka ditipu sekali lagi untuk bisa mendengar nyanyian yang dinyanyikan begitu gegap gempita dan bersemangat.
Hari itu Tom mendapat tamparan dan ciuman - menurut perubahan perasaan hati Bibi Polly - lebih banyak dari yang didapatnya dalam waktu
193 setahun. Dan ia tak tahu, yang mana yang menyatakan rasa terima kasih pada Tuhan dan rasa cinta pada dirinya.
194 Bab XVIII TOM MENCERITAKAN MIMPINYA
ITULAH rahasia besar Tom - rencana untuk pulang dengan para bajak lautnya tepat pada saat upacara penguburan mereka sendiri. Dengan menaiki sebatang kayu mereka berdayung ke pantai Missouri di senja hari Sabtu, mendarat lima atau enam mil di sebelah hilir. Mereka tidur di hutan hingga hampir fajar. Kemudian dengan melalui jalan-jalan sepi mereka pergi ke gereja, tidur di balkon belakang di antara tumpukan kursi dan bangku yang telah rusak.
Pada waktu sarapan pagi di hari Senin, Bibi Polly dan Mary sangat memperhatikan Tom, meluluskan segala permintaannya dengan kasih sayang. Percakapan luar biasa panjang lebarnya. Dan di tengah-tengah percakapan itu Bibi Polly berkata, "Tom, Bibi tidak mau mengatakan apa-apa, tetapi kelakuanmu sudah membuat semua orang menderita selama hampir seminggu, sedang kalian bersenang-senang. Sungguh mengecewakan, engkau begitu keras hati untuk membuatku menderita.
195 Bila kau bisa berkayuh dengan sebatang kayu untuk pergi ke upacara penguburan, mengapa kau tak bisa datang dan memberi isyarat kepadaku, bahwa sebenarnya engkau tak mati tapi hanya lari""
"Ya, kau bisa berbuat begitu, Tom," kata Mary, "dan aku tahu, kau mau berbuat begitu, bila terpikir olehmu."
"Kau mestinya mau, bukan, Tom"" tanya Bibi Polly dengan sedih. "Katakan sekarang, Tom, kalau terpikir olehmu, bukankah kau mau mengerjakannya""
"Aku... hm, aku tak tahu, Bi, itu akan merusak rencana," jawab Tom.
"Oh, Tom, tak kukira hanya begitu cintamu padaku," kata Bibi Polly dengan sedih, membuat Tom merasa tak enak, "betapa" senangnya, jika kau cukup sayang padaku untuk memikirkan hal itu, walaupun kau tak bisa mengerjakannya."
"Bibi, jangan disedihkan hal itu," kata Mary, "itu hanya disebabkan oleh tabiat Tom yang suka tergesa-gesa, hingga tak sempat memikirkan apa pun."
"Lebih sayang bila begitu. Sid akan sempat berpikir dan datang ke mari untuk mengerjakannya. Tom, suatu waktu kau akan mengenangkan masa lalu, tetapi sudah terlambat, menyesali dirimu karena terlalu sedikit merasa sayang padaku."
"Bibi, Bibi tahu bahwa aku juga sayang pada Bibi."
196 "Aku akan mengetahuinya lebih jelas bila kata-katamu itu terbukti, Tom."
"Oh, aku sangat menyesal, karena tak sejauh itu pikiranku," kata Tom menyesal, "betapapun, aku telah bermimpi tentang Bibi. Cukup bukti, aku telah memikirkan Bibi, bukan""
"Tidak, Tom - kucing pun bisa berbuat seperti itu - tapi, yah, lebih baik daripada tidak sama sekali. Apa yang kau impikan""
"Hm, Rabu malam aku bermimpi, Bibi duduk di tempat tidur itu, Sid duduk di peti kayu dan Mary di sebelahnya."
"Memang begitu. Bukankah kita selalu duduk-duduk begitu" Aku gembira, impianmu mau berbuat bersusah payah begitu rupa untuk kami."
"Dan kuimpikan, malam itu ibu Joe Harper juga di sini."
"Astaga, betul juga dia di sini waktu itu. Apa lagi yang kauimpikan""
"Banyak. Tapi kini sudah kabur."
"Cobalah ingat-ingat, Tom."
"Kurasa... seakan-akan angin malam itu meniup - meni
up - hem, meniup ..."
"Ingat baik-baik, Tom! Angin meniup setiap malam. Ingat baik-baik!"
Tom menekankan jarinya ke dahi dan berpikir sejenak penuh ketegangan, baru kemudian berkata, "Aku ingat kini! Angin meniup lilin!"
"Masya Allah, teruskan, Tom, teruskan!"
"Dan kuingat Bibi berkata, 'kukira pintu itu'..."
197 "Teruskan, Tom!"
"Biarlah aku berpikir sesaat - sebentar. Oh, ya, Bibi berkata bahwa pintu terbuka."
"Masya Allah, tepat sekali! Bukankah memang begitu, Mary" Ayo, Tom, teruskan!"
"Dan kemudian - kemudian - hm, aku tak begitu yakin, tapi agaknya Bibi menyuruh Sid untuk..."
"Apa" Apa" Apa yang kusuruh pada Sid, Tom" Dia kusuruh apa""
"Dia Bibi suruh... Bibi ... oh, aku ingat! Bibi menyuruh Sid menutup pintu."
"Ya, Tuhan! Belum pernah kudengar hal semacam ini! Jangan katakan, bahwa impian hanya kembangnya tidur! Sereny Harper harus mendengar hal ini sebelum umurku bertambah satu jam. Kuingin tahu apa pendapatnya tentang impian ini, ia yang sama sekali tak percaya akan tahayul. Teruskan, Tom!"
"Oh, kini semua jelas bagiku. Bibi berkata, sebenarnya aku tidak bertabiat buruk, hanya nakal saja dan banyak tingkah, dan tak boleh dikatakan harus bertanggung jawab seperti... seperti... seperti seekor anak kuda tak bisa diminta pertanggungan jawabnya. Entah anak kuda atau anak apa."
"Benar, anak kuda. Teruskan, Tom!" "Dan Bibi mulai menangis." "Betul! Aku menangis. Dan bukan untuk pertama kali."
198 "Kemudian Nyonya Harper juga menangis dan mengatakan, bahwa Joe seperti aku. Dan ia menyesal telah memukuli Joe dengan tuduhan mencuri
sari susu, padahal sari susu itu dibuangnya sendiri..."
"Tom! Kau dilindungi Ruh Suci! Kau bernubuat - ya, itulah yang kaukerjakan! Masya Allah! Teruskan, Tom!"
"Kemudian Sid berkata - ia berkata -."
"Aku tak berkata apa-apa," tukas Sid.
"Ya, kau memang berkata sesuatu, Sid," kata Mary.
"Tutup mulut kalian!" bentak Bibi Polly, "biar Tom meneruskan ceriteranya. Apa kata Sid, Tom""
"Ia berkata ... kupikir ia berkata aku mendapat tempat yang layak, tetapi bila aku berbuat baik sebelumnya..."
"Nah, kaudengar itu" Betul itu kata-katamu, Sid!"
"Dan dia Bibi suruh menutup mulut."
"Tepat sekali! Pasti ada malaikat di pulau itu. Pasti ada malaikatnya, entah di mana."
"Dan Nyonya Harper berceritera tentang Joe yang mengejutkan dengan petasan. Bibi berceritera tentang Peter dan obat Penghapus Sakit..."
"Memang begitu!"
"Kemudian terjadi percakapan panjang lebar tentang pencarian mayat kami di dalam sungai, tentang upacara penguburan di hari Minggu. Kemudian Bibi dan Nyonya Harper saling peluk dan
199 menangis. Nyonya Harper terus pulang."
"Betul demikian kejadiannya! Tepat sekali, semua terjadi seperti yang kaukatakan itu, seakan-akan kau sendiri datang melihat kami. Kemudian bagaimana" Teruskan, Tom!"
"Kemudian kupikir Bibi berdo'a untuk aku, seakan aku bisa melihat dan mendengar setiap kata yang Bibi ucapkan. Bibi kemudian pergi tidur, aku begitu menyesal sehingga kucari kulit kayu Sycamore dan kutulis, 'Kami tidak meninggal dunia - kami hanya melarikan diri untuk menjadi bajak laut'. Dalam impian itu kuletakkan kulit kayu itu di meja dekat lilin. Kulihat Bibi tidur nyenyak, manis sekali dan dalam mimpi aku membungkuk mencium bibir Bibi."
"Oh, betulkah, Tom, betulkah" Kuampuni semua kesalahanmu." Bibi Polly memeluk Tom erat-erat hingga terasa sakit dan membuat Tom merasa sebagai penjahat nomor satu di desa itu.
"Baik sekali hatimu, walaupun itu hanya impian," gumam Sid, tapi cukup jelas untuk didengar.
"Tutup mulutmu, Sid! Apa yang dikerjakan seseorang dalam mimpi pasti bisa dikerjakannya, bila ia dalam keadaan sadar. Ini, Tom, apel Milum besar yang kusimpan hanya untukmu, bila kau diketemukan - nah, kini pergilah ke sekolah. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan Yang Pemurah serta Bapa kita atas kepulanganmu dengan selamat. Aku berterimakasih pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun pada siapa saja yang
200 percaya padaNya serta menuruti segala peraturan-Nya, walaupun sebetulnya diriku tak layak untuk menerima berkatNya. Tetapi bila hanya orang yang layak saja menerima berkatNya dan pertolongan-N
ya dalam masa kesukaran, akan sedikit sekali terlihat senyum di dunia ini dan hanya sedikit yang bisa memasuki tempat istirahatNya bila malam panjang tiba. Cepat pergi, Sid, Mary, Tom, pergilah! Kalian sudah terlalu lama mengganggu aku!"
Anak-anak itu berangkat ke sekolah, sedang si Nyonya Tua pergi ke Nyonya Harper untuk menaklukkan ketidakpercayaan Nyonya itu terhadap tahyul dengan bersenjatakan impian Tom yang luar biasa itu. Pada saat meninggalkan rumah Sid berpikir, "Hampir tak bisa dipercaya, impian itu betul-betul tanpa kesalahan sedikit pun!" Tapi ia bijaksana tidak mengucapkan kata-kata itu.
Betapa megahnya Tom menjadi pahlawan. Ia tidak bermain loncat-loncatan lagi atau berkejar-kejaran, tetapi berjalan dengan gaya agung dan berwibawa sebagai layaknya bagi seorang bajak laut yang yakin bahwa mata umum sedang memperhatikannya. Dan memang demikian. Ia seolah-olah tak melihat atau mendengar suara-suara kekaguman tentang dirinya sementara ia berjalan, tapi semua itu makin memperbesar kebanggaan hatinya. Anak-anak yang lebih kecil mengikutinya ke mana ia pergi. Mereka merasa bangga bisa terlihat di dekat Tom Sawyer. Tom tak mengusir mereka, maka ia bagaikan seorang pemukul genderang di kepala
201 barisan atau seekor gajah yang memimpin sirkus masuk kota, begitu banyak anak-anak kecil yang berbaris tak teratur di belakangnya. Anak-anak yang sebaya dengan dia berpura-pura tak tahu bahwa ia telah pergi, tetapi sebenarnya betapa iri mereka. Apa yang tak akan mereka kerjakan untuk bisa mendapatkan kulit terbakar matahari seperti kulit Tom itu dan kemasyhurannya. Dan Tom pun tak sudi menukarkan keduanya dengan sebuah sirkus.
Di sekolah, anak-anak terang-terangan memperlihatkan kekaguman mereka terhadap Tom dan Joe, hingga hampir meledak dada kedua pahlawan itu karena bangganya. Mereka pun mulai menceritakan pengalaman mereka pada para pendengar yang haus akan petualangan itu - tapi mereka hanya memulai saja; agaknya ceritera mereka tak akan kunjung habis dengan daya khayal mereka yang terlalu besar untuk dijadikan gudang bahan cerita. Dan akhirnya ketika keduanya mengeluarkan pipa dan dengan tenang merokok sambil berjalan perlahan-lahan puncak kemenangan mereka tercapai sudah.
Tom memutuskan, kini ia bisa bebas dari Becky. Kemasyhuran sudah cukup baginya. Ia hanya hidup untuk kemasyhuran itu. Kini setelah ia menjadi orang ternama, pasti Becky akan menginginkannya kembali. Hm, biarlah - Becky akan tahu, bahwa ia bisa pula bersikap acuh tak acuh seperti orang lain. Segera juga Becky muncul, tapi Tom berpura-pura
202 tak mengetahui hal itu. Ia menghindar untuk ikut berkumpul-kumpul dengan anak-anak lain dan berceritera lagi. Dari sudut matanya Tom melihat Becky dengan amat gembira bermain kejar-kejaran, menjerit dan tertawa, bila berhasil menangkap buruannya. Tapi Tom memperhatikan pula, bahwa Becky hanya mengejar anak-anak yang di dekat Tom dan agaknya sekali-sekali gadis itu melirik penuh perhatian kepadanya. Hal itu mengobarkan sifat jual mahal pada Tom, dan membuat Tom makin berpura-pura tak tahu akan kehadiran Becky. Tak lama Becky merasa lelah berkejar-kejaran, ia berjalan ke sana ke mari tak menentu, mengeluh dan mengeluh lagi dan melemparkan pandangan sedih kepada Tom. Kemudian diperhatikannya Tom kini berbicara lebih sering kepada Amy Lawrence daripada kepada anak lain. Becky merasakan hatinya bagai ditusuk-tusuk, dan ia menjadi amat gelisah. Ia ingin pergi menjauh namun kakinya terasa berat; kaki itu malah membawanya mendekati kelompok yang berdiri di samping Tom. Becky berseru pada seorang gadis yang berdiri di samping Tom dengan kegembiraan palsu, "Hai, Mary Austin! Kau sungguh nakal, mengapa kau tak datang ke Sekolah Minggu""
"Siapa bilang" Aku datang, tidakkah kau melihat aku""
"Tidak. Betulkah kau datang" Di mana kau duduk""
"Di kelas Nona Peters seperti biasa. Aku me-
203 lihatmu." "Betul" Aneh, aku tak melihatmu. Aku ingin berkata padamu tentang piknik."
"Oh, betapa senangnya, siapa yang akan mengadakan piknik itu""
"Ibuku." "Sedap! Mudah-mudahan ibumu memperbolehkan aku ikut."
"Tentu. Piknik itu untuk aku.
Siapa pun boleh ikut, termasuk engkau."
"Bagus! Kapan""
"Sekitar liburan."
"Oh, alangkah gembiranya! Kau akan ajak semua kawan kita""
"Ya, semua sahabatku atau yang ingin bersahabat dengan aku," lirik Becky dengan penuh arti pada Tom, tapi Tom sedang sibuk berceritera pada Amy Lawrence tentang taufan di pulau Jackson, bagaimana taufan itu menghancurluluhkan pohon sycamore pada saat ia hanya tiga kaki dari pohon itu.
"Oh, bolehkah aku ikut"" tanya Gracie Miller. "Ya."
"Aku juga"" kata Sally Rogers. "Dan aku"" Susy Harper ikut bertanya, "Juga Joe"" "Ya."
Dengan bertepuk-tepuk riang seluruh kelompok itu minta diajak piknik, kecuali Tom dan Amy. Kemudian Tom berpaling dan pergi sambil meng-
204 gandeng Amy, berceritera terus. Kaki Becky gemetar, air mata menggenang. Secepat keadaan memungkinkan ia pergi dari kelompok itu, menyembunyikan diri dan menangis sepuas hati. Puas menangis Becky termenung, hatinya sakit. Lonceng tanda masuk berbunyi. Becky bangkit, dengan cahaya mendendam di matanya. Sambil mengibaskan untaian rambutnya, Becky berkata dalam hatinya, ia tahu, apa yang akan diperbuatnya untuk membalas dendam.
Waktu istirahat Tom melanjutkan berpacaran dengan perasaan puas. Ia berjalan-jalan berdua untuk mencari Becky dan mengoyak-ngoyak hati gadis itu dengan pertunjukannya. Akhirnya Tom melihat Becky tapi hatinya sendiri yang hancur dengan tiba-tiba. Enak sekali Becky duduk di bangku kecil di belakang rumah sekolah, melihat buku bergambar bersama AIfred Temple. Begitu asyik mereka hingga kedua kepala merapat dan agaknya mereka tak sadar akan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Seluruh urat tubuh Tom dijalari rasa cemburu yang panas membakar. Ia membenci kepada diri sendiri, yang telah membuang kesempatan yang diberikan Becky kepadanya untuk berbaik kembali. Ia menamakan dirinya orang tolol dan sebutan-sebutan lain yang terpikir olehnya. Ingin rasanya ia menangis, karena sakit hati. Amy yang tak sadar akan perubahan suasana terus saja berceloteh dengan gembira, sebab hatinya seakan-akan bernyanyi-nyanyi. Tapi lidah Tom merasa
205 kelu. Ia tak mendengar apa kata Amy, dan bila Amy berhenti berbicara ia hanya bisa mengia dengan gagap dan kaku, panggilan yang sering tidak pada tempatnya. Ia selalu kembali melangkah ke belakang sekolah, berkali-kali, untuk membakar matanya dengan pemandangan di tempat itu. Tak bisa ia menahan kakinya. Dan seolah gila ia melihat bagaimana Becky Thatcher tak memperhatikan di dunia ini ada seorang yang bernama Tom Sawyer, yang mondar-mandir di depannya. Sebetulnya Becky tahu tingkah laku Tom, dan ia pun tahu bahwa kini kemenangan di pihaknya, maka ia gembira karena Tom menderita seperti juga ia pernah menderita.
Kicauan Amy tak tertahankan oleh Tom. Berkali-kali Tom menyindirkan tentang hal-hal yang harus dikerjakannya dan tentang waktu yang cepat berlalu. Tapi semua tak berhasil, Amy terus mengoceh, Tom berpikir, "Semoga mati tergantung dia, apakah aku akan selalu harus lekat padanya"" Akhirnya dengan tegas Tom menyatakan ia harus mengerjakan soal-soal tadi sekarang juga, baru Amy mau ditinggalkan. Tapi sempat juga gadis itu tanpa tedeng aling-aling mengkait Tom dengan janji untuk bertemu selesai sekolah. Tom cepat-cepat meninggalkan Amy dengan kebencian membara pada anak itu.
"Biarlah, bila dengan anak lain," pikir Tom menggertakkan gigi dengan mengenangkan Becky dan Alfred di belakang sekolah. "Biarlah dengan
206 anak mana pun di kota ini, asal jangan pesolek dari St. Louis yang selalu berdandan rapi dan menganggap dirinya bangsawan itu. Oh, baiklah, kau telah kuhajar waktu pertama kali tiba di kota ini, dan kau akan kuhajar lagi! Tunggu saja sampai kau tertangkap olehku, kau akan ku ..."
Dan Tom dengan sengit berkelahi melawan seorang anak yang hanya ada dalam khayalnya, meninju, menendang ke sana ke mari. "O, kau merasa telah cukup. He" Kau meneriakkan cukup, he" Nah, biarlah itu jadi pelajaran yang tak terlupakan bagimu." Perkelahian dalam khayal itu selesai dengan memuaskan.
Istirahat tengah hari Tom lari pulang. Hati kecilnya tak tahan melihat kebahagiaan Amy dan kecemburuannya juga
tak tertahankan. Becky kembali memeriksa gambar-gambar dalam buku bersama Alfred. Menit demi menit berlalu dan Tom tak tampak untuk disiksa. Kemenangannya mulai menipis, ia kehilangan minat untuk melihat gambar. Murung dan melamun menyusul, diikuti oleh kesedihan. Dua atau tiga kali serasa ia mendengar langkah kaki, tetapi ternyata bukan. Tom tak muncul juga. Kesedihannya makin berkobar, ia kecewa dan menyesal telah begitu bersungguh-sungguh menjalankan pembalasan dendamnya. Alfred yang malang segera sadar, bahwa Becky tak tertarik lagi padanya, entah mengapa. Berkali-kali Alfred berseru, "Oh, lihat ini, betapa bagusnya!" Seruan itu malah membuat Becky marah
207 dan berkata, "Jangan ganggu aku! Aku tak peduli pada gambar-gambar itu!" Air mata tercurah dan ia bangkit pergi.
Alfred mengejarnya untuk menghibur, namun Becky membentaknya, "Pergilah! Jangan ganggu aku lagi! Aku benci padamu!"
Alfred tertegun, bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah diperbuatnya hingga Becky bersikap demikian. Becky telah berjanji untuk melihat gambar-gambar itu bersama dia selama istirahat tengah hari. Tetapi dia meninggalkannya, sambil menangis. Termenung Alfred berjalan pelahan masuk ke ruang sekolah yang kosong. Ia merasa dihina dan marah. Dengan mudah terpikir olehnya sebab-sebab sebenarnya: Becky telah memperalat-nya untuk melampiaskan kemarahan pada Tom Sawyer. Kebenciannya pada Tom tak berkurang dengan timbulnya pikiran ini. Betapa senangnya ia, bila bisa dicarinya jalan untuk mencelakakan anak itu. Pandangannya jatuh pada buku ejaan Tom. Inilah kesempatan bagus. Dengan lega dibukanya bagian pelajaran untuk sore nanti dan tanpa berpikir lagi menuangkan tinta pada halaman yang diperlukan itu.
Pada saat itu Becky yang di luar gedung sekolah melihat ke dalam melalui jendela di belakang Alfred, hingga sempat melihat perbuatan itu tanpa diketahui oleh Alfred. Becky berjalan terus, pulang, dan timbul maksud di hatinya untuk memberitahu-
208 kan kepada Tom tentang kejadian ini tadi. Tom akan berterimakasih sehingga perselisihan mereka akan selesai. Tapi belum setengah perjalanan pulang ditempuhnya, pikiran Becky berubah lagi. Ingat bagaimana perlakuan Tom terhadapnya waktu ia membicarakan tentang piknik, hatinya jadi panas serta malu. Becky tetap hatinya untuk membiarkan Tom mendapat cambuk atas kerusakan pada buku ejaannya, dan membencinya selama-lamanya sebagai tambahan.
209 Bab XIX TOM BERTERUS TERANG
TOM tiba di rumah dengan hati sedih, dan sambutan bibinya menyatakan, bahwa kesedihannya tak mendapatkan sambutan yang layak.
"Tom, ingin aku mengulitimu hidup-hidup!"
"Bibi, apakah salahku""
"Banyak sekali! Bagaikan orang gila aku ke rumah Sereny Harper dengan harapan ia akhirnya bisa percaya akan arti impian. Tetapi ternyata ia telah mendengar dari Joe, bahwa kau betul-betul telah datang ke mari dan mendengarkan semua percakapan kami. Tom, aku tak bisa bayangkan apa jadinya anak yang berkelakuan seperti engkau ini, Sedih hatiku, Tom, memikirkan betapa tega kau membiarkan aku pergi ke Sereny Harper bagaikan orang linglung, tanpa mengatakan apa-apa."
Kejadian ini tak pernah terpikirkan oleh Tom. Kecerdikannya pagi tadi tampaknya seperti sesuatu lelucon yang baik bagi Tom. Tetapi kini tampak kekotoran dan kelicikan akal itu. Tom menunduk-
210 kan kepala, sesaat ia tak tahu harus berkata apa.
"Bibi, aku sangat menyesal, sama sekali tak pernah kupikirkan akan begini jadinya."
"Kau memang tak pernah berpikir. Tak pernah kau berpikir apa pun, kecuali tentang kepentingan dirimu sendiri. Kau bisa berpikir untuk datang ke mari dari pulau Jeckson buat mentertawakan kesedihan kami. Kau bisa berpikir menipuku tentang impian, tapi tak terpikir olehmu untuk mengasihani kami dan menolong kami dari kesedihan."
"Bibi, aku tahu, perbuatanku sangat buruk, tapi aku tak bermaksud untuk berbuat buruk. Betul-betul tidak. Dan lagi, malam itu aku datang ke mari bukan untuk mentertawakan Bibi."
"Untuk apa kalau begitu""
"Untuk mengatakan agar Bibi tak perlu gelisah, bahwa sebenarnya kami tidak terbenam."
"Tom, Tom, aku akan menjadi orang yang paling berterima kasih
, kalau aku bisa percaya, bahwa kau mempunyai pikiran sebagus itu. Tapi kau tahu sebenarnya kau tak pernah berpikir begitu, dan aku juga tahu, Tom."
"Sungguh mati memang demikian, Bi, sungguh mati!"
"Oh, Tom, jangan berdusta - jangan. Dustamu akan membuat keadaan menjadi seratus kali lebih buruk."
"Aku tidak berdusta, Bi, tidak. Aku ingin mencegah, agar Bibi tidak berduka terus - itulah
211 yang mendorong aku untuk datang ke mari."
"Bila kata-katamu bisa kupercaya, Tom, hal itu akan merupakan imbalan untuk menebus dosa. Untuk itu saja aku bisa girang, biarpun kau telah melarikan diri dan berlaku buruk. Tetapi itu tak masuk akal, lantaran kau tidak menceritakan kepada Bibi."
"Dengar, Bi, waktu Bibi berbicara tentang upacara penguburan, pikiranku hanya tertuju pada rencana untuk bersembunyi di gereja. Tak bisa aku memikirkan untuk membatalkan rencana itu. Karena itu kumasukkan kembali kulit kayu yang kukatakan tadi pagi dan menutup mulut tentang itu."
"Kulit kayu yang mana""
"Kulit kayu yang kupakai untuk menulis surat, bahwa kami pergi untuk menjadi bajak laut. Sungguh menyesal, Bibi tidak terbangun waktu kucium."
Garis-garis sedih menghilang dari wajah Bibi Polly, matanya memancarkan cahaya dengan tiba-tiba.
"Betulkah kau menciumku, Tom"" "Tentu saja, Bi."
"Kau yakin, kau telah menciumku"" "Yakin seyakin-yakinnya." "Mengapa kau menciumku, Tom"" "Karena aku mencintai Bibi, dan Bibi tidur dengan berkeluh kesah hingga hatiku sedih." Kata-kata Tom bernada kebenaran. Nyonya Tua
212 itu tak bisa menyembunyikan getaran dalam suaranya, ketika berkata:
"Ciumlah lagi aku, Tom dan pergilah sekarang ke sekolah, jangan kau ganggu lagi aku!"
Begitu Tom pergi, Bibi Polly berlari ke sebuah lemari, mengeluarkan jaket compang-camping yang dipergunakan oleh Tom untuk menjadi bajak laut. Tapi ia tertegun, menimang-nimang jaket itu sambil berkata sendiri, "Tidak, aku tak berani. Anak malang, pasti ia berdusta lagi tapi dustanya dusta yang diberkati Tuhan sebab dengan dusta itu hatiku jadi terhibur. Kuharap Tuhan - aku tahu pasti Tuhan akan mengampuninya, sebab betul-betul baik hatinya untuk menceriterakan ini semua padaku. Tapi aku tak ingin membuktikan, bahwa kali ini ia pun berdusta. Tak akan kulihat."
Jaket itu dimasukkannya kembali. Sesaat ia termenung. Dua kali tangannya terulur untuk mengambil jaket tadi dan dua kali pula gagal. Sekali lagi dicobanya, memperkuat hatinya dengan berpikir, "Itu tadi suatu dusta yang baik - dusta yang baik - tak kubiarkan dusta itu menyedihkan hatiku." Ia mengeluarkan semua isi saku jaket. Sesaat kemudian dengan air mata berlinang ia membaca surat Tom yang tertulis di kulit kayu itu dan katanya, "Kini aku bisa mengampuni anak itu. Kuampuni dia, walaupun dia telah berbuat sejuta dosa."
213 Bab XX "TOM, BETAPA MULIA HATIMU!"
KEDUKAAN hati Tom lenyap oleh ciuman Bibi Polly yang dilakukan dengan penuh rasa sayang dan membuat hatinya gembira serta bahagia lagi. Ia berangkat ke sekolah, dan beruntung bertemu dengan Becky Thatcher di Meadow Lane. Perasaan Tom selalu menentukan tindakannya. Tanpa berpikir panjang ia berlari mendekati Becky dan berkata, "Hari-hari ini aku telah memperlakukanmu tidak baik, Becky, maafkan aku. Aku berjanji tidak berlaku demikian lagi selama-lamanya, seumur hidupku. Mari kita berbaik kembali."
Becky berhenti, menatap wajahnya dengan marah dan menyahut, "Terima kasih, Tuan Thomas Sawyer, lebih baik kalau kau tak berteman lagi dengan aku. Aku tak sudi bicara denganmu."
Dengan membuang muka Becky meninggalkan Tom. Tom begitu tercengang oleh sambutan itu, hingga tak terpikir olehnya untuk berkata, "Siapa yang peduli Nona Sok Aksi!" sampai waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu lewat. Maka ia tak
214 berkata apa-apa lagi. Namun ia betul-betul marah. Ia merengut masuk ke halaman sekolah. Betapa senangnya, bila Becky menjadi seorang anak laki-laki, hingga ia bisa menghajarnya habis-habisan. Segera juga ia bertemu dengan Becky, dan Tom melontarkan olokan yang menyakitkan hati. Dengan cekatan Becky membalas hingga perselisihan mereka sempurna sudah. Dalam kemarahannya, Becky tak sabar menu
nggu sekolah dimulai, agar ia bisa melihat Tom dicambuk untuk kesalahan merusakkan buku ejaan. Jika tadi ada sedikit keinginan untuk mengadukan perbuatan Alfred Temple, keinginan itu kini lenyap.
Gadis malang, dia tak tahu, bahwa dia sedang di tepi jurang kesulitan. Tuan Dobbins, guru sekolah itu, mencapai usia setengah umur dengan cita-cita yang tak tercapai. Keinginannya menjadi dokter, namun karena kemiskinan, dia tidak lebih tinggi daripada seorang guru sekolah desa. Setiap hari diambilnya sebuah buku dari mejanya. Pada saat tak ada kelas yang mendapat pelajaran menghapal, Tuan Dobbins tenggelam dalam buku yang penuh rahasia itu. Ia selalu mengunci laci tempat buku itu disimpan. Setiap anak di sekolah itu ingin tahu apa sebenarnya buku itu, tapi mereka tak pernah mendapat kesempatan. Setiap anak mempunyai pikiran, apa kiranya isi buku itu. Pikiran-pikiran itu saling bertentangan dan tak ada jalan untuk membuktikan kebenarannya.
Hari itu, waktu Becky melewati meja guru di
215 dekat pintu masuk, dilihatnya kunci laci masih tergantung di lobang kunci. Kesempatan yang luar biasa. Becky melihat ke sekeliling, hanya dia sendiri di ruang sekolah yang sepi. Cepat diambilnya buku Tuan Dobbins. Judulnya Anatomi, karangan Profesor Anu. Nama itu tak memberi keterangan apa-apa kepadanya, maka dibuka-buka-nyalah halaman buku itu. Pada halaman pertama, terdapat sebuah gambar berwarna indah, gambar tubuh manusia telanjang bulat. Tepat pada saat itu bayangan jatuh di halaman buku itu, dan Tom Sawyer masuk. Selintas ia melihat buku di tangan Becky. Becky gugup merenggut buku itu dan menutupnya. Dasar sial karena gugup halaman pertama terobek sampai ke tengah halaman. Dilemparkannya buku rahasia itu, ke dalam laci, dikuncinya sambil menangis. Dengan malu dan gusar berkatalah dia, "Tom Sawyer, betapa rendah budimu untuk menyelinap -dari belakang dan mengintip, apa yang sedang kuperhatikan."
"Bagaimana aku tahu bahwa kau sedang memperhatikan sesuatu""
"Kau harus malu, Tom Sawyer. Kau tahu, kau akan mengadukan aku, dan oh, apa jadinya dengan diriku! Aku pasti akan dicambuk, belum pernah aku dicambuk di sekolah!" Becky menghentakkan kakinya yang mungil. "Berbuatlah sekejam yang engkau kehendaki! Aku tahu sesuatu yang akan terjadi. Tunggu sajalah, dan lihat nanti. Benci! Benci! Benci!" Becky lari ke luar dengan tangis yang
216 menjadi-jadi. Tom tertegun, bingung oleh serangan ini. Segera ia berkata pada diri sendiri, "Aneh betul anak perempuan ini. Belum pernah dicambuk di sekolah! Bah! Apa arti cambukan. Tapi begitulah anak perempuan; kulit mereka tipis, hati mereka mudah kuncup. Tentu saja aku tak akan mengadukannya kepada si Tua Dobbins. Banyak jalan yang tak begitu keji untuk menyakiti si tolol kecil ini, tetapi apa gunanya" Dobbins tua itu pasti tahu, bukunya robek. Pasti ia menanyakan, siapa yang merobeknya. Tak akan ada yang menjawab. Kemudian ia akan menggunakan cara kebiasaannya, menanyai semua murid dan bila ia sampai pada gadis yang berkepentingan, pasti ia akan mengetahuinya. Wajah anak-anak perempuan mudah dibaca. Mereka tak bisa menyembunyikan perasaan. Sungguh sulit persoalan Becky, ia pasti akan dihukum, tak ada jalan untuk menghindarkannya." Tom berpikir sesaat dan menambahkan, "Baiklah, agaknya ia melibatkan aku dalam persoalan ini. Biarlah ditanggungnya sendiri."
Tom keluar dan ikut bermain dengan teman-temannya di halaman. Beberapa saat kemudian tuan Dobbins tiba dan pelajaran dimulai. Tom tak menaruh minat pada pelajaran. Sesekali ia melirik ke tempat anak-anak wanita. Wajah Becky membuat kacau pikirannya. Bila ia mempertimbangkan suasana hubungan mereka, sebetulnya ia tak perlu merasa kasihan pada Becky. Tapi ia tak
217 bisa menekan perasaan itu. Ia sama sekali tak bisa gembira melihat Becky sedih. Pikiran tentang Becky itu segera lenyap, sebab ia sendiri mendapat kesulitan. Tuan Dobbins menemukan kerusakan pada buku ejaannya. Becky melupakan kesedihannya, menunjukkan perhatian pada pemeriksaan atas diri Tom yang dituduh merusakkan buku itu. Becky tahu, Tom tak bisa menghindarkan diri dari hukuman. Makin sengit Tom men
yanggah tuduhan, makin murkalah sang guru. Tadinya Becky mengira ia akan merasa gembira melihat Tom dimarahi, tetapi pada saat itu ia tak merasa yakin lagi. Ketika ternyata Tom akan mendapat hukuman berat, hampir saja Becky berdiri untuk menerangkan bahwa yang bersalah adalah Alfred Temple. Tetapi dipaksakannya dirinya untuk diam saja, sebab ia berpendapat, bahwa nanti Tom akan mengadukan dirinya. Apa gunanya menolong Tom.
Tom menerima cambukan dan kembali ke bangkunya dengan pikiran kacau, sebab terpikir olehnya mungkin ia telah menumpahkan tinta tanpa sengaja waktu sedang berkejar-kejaran. Ia menolak tuduhan hanya untuk memenuhi kebiasaan saja dan tetap pada penolakan itu berdasarkan pendiriannya.
Sejam penuh berlalu. Udara ruangan sekolah diisi oleh keriuhan anak-anak belajar. Guru mulai terkantuk-kantuk di kursinya. Akhirnya Tuan Dobbins berdiri menggeliat, menguap, membuka kunci laci. Buku dipegangnya, tapi agaknya masih ragu, apakah ia akan membukanya atau tidak.
218 Hampir semua murid acuh tak acuh, tetapi dua pasang mata mengikuti setiap gerak Tuan Dobbins dengan penuh perhatian. Tuan Dobbins seakan tak sadar meraba-raba buku itu dan sebentar kemudian buku itu dibawanya ke kursi untuk dibaca! Tom melirik pada Becky. Wajah Becky bagaikan seekor kelinci yang sedang diburu dan sadar, bahwa laras bedil telah tertuju ke kepalanya. Seketika itu lenyaplah perasaan bermusuhan di hati Tom. Cepat! Sesuatu harus segera dilakukan untuk menolong Becky! Harus dilakukan secepat kilat! Tetapi besarnya bahaya untuk keadaan gawat itu membuat pikirannya seakan lumpuh. Bagus! Ia mendapat akal. Ia akan lari merenggut buku itu, melompat ke luar pintu dan kabur. Baru saja ia memikirkan keputusan itu, kesempatannya lenyap. Tuan Dobbins telah membuka bukunya! Asal saat yang hilang itu bisa didapatnya kembali! Terlambat. Becky tak bisa tertolong lagi. Tuan Dobbins telah menatap seluruh kelas. Semua menundukkan kepala tak kuat menahan pandangan itu. Pandangan yang menanamkan rasa takut, bahkan pada anak-anak yang tak punya kesalahan. Sunyi senyap selama kira-kira sepuluh hitungan, sang guru mengumpulkan semua kutuk, baru bertanya, "Siapa yang merobek buku ini""
Tak ada yang bersuara. Bila ada jarum jatuh, pasti akan terdengar. Kesunyian itu berlangsung pada waktu sang guru menyelidiki wajah demi wajah untuk mencari yang bersalah.
219 "Benyamin Rogers, kaukah yang merobek buku ini""
Suatu sanggahan. Sunyi lagi.
"Joseph Harper, kaukah""
Sanggahan lagi. Kegelisahan Tom menjadi-jadi oleh penyiksaan dari tata cara ini. Sang guru memperhatikan murid-murid lelaki, berpikir dan berpaling pada murid perempuan.
"Amy Lawrence""
Geleng kepala. "Gracie Miller""
Tanda yang sama. "Susan Harper, apakah kau yang merobek""
Sanggahan lagi. Gadis berikutnya adalah Becky Thatcher. Tubuh Tom gemetar, karena kuatir dan suasana putus asa yang mencengkam hati.
"Rebecca Thatcher," (Tom memperhatikan wajah Becky, pucat pasti ketakutan,) "kaukah yang... tunggu, lihat aku, lihat kepadaku," (tangan Becky terangkat seakan minta ampun) "apakah kau yang merobek buku ini""
Suatu pikiran melintas di otak Tom. Ia melompat berdiri dan berteriak, "Saya yang merobeknya!"
Seluruh isi sekolah ternganga keheranan atas ketololan yang tak masuk akal ini. Tom berdiri sesaat, menetapkan hati. Pada waktu ia maju ke depan kelas untuk menerima hukuman, ia melihat pandangan mata Becky. Pandangan itu penuh keheranan, terimakasih dan pujaan. Ini sudah cukup untuk menghapuskan rasa sakit karena
220 seratus kali cambukan. Diilhami oleh keagungan tindakannya sendiri, ia sama sekali tak mengeluarkan suara kesakitan menerima cambukan yang paling keras yang pernah diberikan oleh Tuan Dobbins. Juga dengan acuh tak acuh diterimanya hukuman tambahan berupa keharusan untuk tinggal di sekolah dua jam setelah sekolah usai, sebab ia tahu bahwa Becky akan menunggunya di luar sekolah sampai hukuman itu selesai. Maka waktu dua jam tidak terbuang percuma.
Malam itu Tom tidur dengan merancangkan pembalasan dendam untuk Alfred Temple. Dengan perasaan malu dan menyesal Becky telah men-ceriterakan segala-galany
a, tak lupa menceriterakan pula penghianatannya sendiri. Tapi keinginannya untuk membalas dendam jadi kabur oleh kenangan-kenangan manis, dan Tom tertidur dengan kata-kata Becky yang terakhir, yang masih terngiang-ngiang di telinganya:
"Tom, betapa mulia hatimu!"
222 Bab XXI DENDAM MURID-MURID TERBALAS
LIBUR panjang makin dekat. Guru sekolah, yang biasanya bersikap keras, makin memperkeras sikap dan makin teliti. Ia ingin agar semua muridnya menunjukkan hasil yang baik pada hari 'Ujian'. Tongkat pemukul dan cambuknya jarang diam - setidak-tidaknya di antara murid-murid yang masih kecil. Murid-murid besar, yang berumur antara delapan belas dan dua puluh tahun, tak pernah dihukum badan. Cambuk Tuan Dobbins sangat kuat, walaupun di bawah rambut palsunya ia berkepala botak namun ia masih setengah umur, tanpa tanda-tanda kelemahan di ototnya. Makin dekat hari "Ujian', makin kejam ia, bahkan kesalahan-kesalahan yang paling kecil dihukum dengan hukuman berat. Akibatnya, hari-hari siang dilalui dengan ketakutan oleh murid-murid kecil dan malam harinya mereka menghabiskan waktu merancang-rancang pembalasan dendam. Tetapi sang guru selalu bisa menghindarkan diri dari segala macam pembalasan. Hadiah untuk usaha-
223 usaha pembalasan yang berhasil selalu merupakan hukuman dahsyat yang menggetarkan hati, hingga anak-anak itulah yang kalah. Akhirnya semua murid berkumpul untuk merencanakan pembalasan dan rencana itu segera terwujud. Anak seorang pelukis papan diajak oleh mereka, dan mendapat sebagian tugas untuk melaksanakan rancangan. Anak itu segera menyatakan kesediaan untuk membantu anak-anak lain karena dia sendiri gembira, disebabkan tuan Dobbins menyewa kamar di rumah keluarga ayahnya, dan ia benci kepada guru itu. Nyonya Dobbins akan pergi ke pedalaman dalam beberapa hari lagi, jadi tak akan ada rintangan untuk melaksanakan rencana. Tuan Dobbins selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kejadian itu dengan minum minuman keras sebanyak-banyaknya. Tugas si anak pelukis itu akan dikerjakan di sore hari menjelang perayaan di sekolah. Waktu itu sang guru mendengkur di kursinya, dan minta dibangunkan, bila waktu berangkat telah tiba.
Saat yang dinanti-nantikan itu tiba. Pukul delapan malam, rumah sekolah terang-benderang oleh cahaya lampu, dihias dengan bunga-bunga dan kertas berwarna-warni. Sang guru duduk megah di kursi tinggi yang diletakkan di atas panggung, membelakangi papan tulis. Ia tampak setengah mabuk. Di kanan kirinya terdapat tiga baris bangku dan di depannya enam baris bangku, semua untuk tempat para tokoh dan orang-orang tua murid. Di sebelah kiri, di belakang tempat duduk para tamu,
224 dibuat sebuah panggung untuk para murid yang akan ambil bagian dalam perayaan malam itu. Panggung diisi oleh anak-anak kecil yang telah mandi serta berpakaian berlebih-lebihan hingga mereka merasa tak enak badan, pemuda-pemuda jangkung dan anak-anak serta gadis-gadis yang berpakaian serba putih. Gadis-gadis yang selalu memperhatikan lengan-lengan mereka sendiri yang tak tertutup, perhiasan-perhiasan kuno nenek-nenek mereka, serta pita-pita dan bunga-bunga di rambut mereka. Tempat kosong lainnya diisi oleh murid-murid yang tak ikut ambil bagian.
Upacara dimulai. Seorang anak yang sangat kecil naik ke panggung dan berpidato dengan malu-malu, "Para hadirin pasti tak akan mengira, bahwa anak sekecil ini berani berbicara di panggung di hadapan orang banyak," dan sebagainya. Pidato itu diiringi dengan gerakan-gerakan kaku seperti gerakan sebuah mesin - sebuah mesin yang telah rusak. Tetapi si anak menyelesaikan tugasnya dengan selamat, walaupun dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia mendapat tepuk tangan gemuruh waktu membungkuk dan mundur.
Seorang gadis cilik dengan w ajali malu membisikkan sajak 'Mary punya seekor anak domba' dan seterusnya. Pada akhir sajak ia menunjukkan sembah hormat yang menimbulkan rasa kasihan dan mendapatkan hadiah tepuk tangan. Duduklah ia kembali dengan wajah kemerah-merahan, tetapi bahagia.
225 Tom Sawyer maju dengan gagah dan penuh keyakinan, mengucapkan kembali pidato 'Beri daku kemerdekaan atau beri daku kemati
an'. Pidato bersejarah yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan itu, diucapkan dengan semangat berkobar-kobar. Tetapi di tengah pidato yang berapi itu Tom lupa bagaimana lanjutnya. Rasa takut akan penonton tiba-tiba mencekam hatinya, kakinya gemetar, kerongkongannya rasa tersumbat. Semua ingatan tentang pidato itu lenyap. Memang, para penonton menunjukkan rasa simpati padanya - tapi mereka tidak menolong, maka suasana jadi senyap seketika. Kesenyapan ini lebih berat terasa oleh Tom, menghapuskan rasa simpati yang diberikan kepadanya. Sang guru mengerutkan kening, yang menghancurkan hati Tom. Sesaat Tom mencoba lagi, namun terpaksa mundur menyerah kalah. Terdengar sedikit tepuk tangan, tapi segera lenyap.
Ia digantikan oleh seorang anak yang mendeklamasikan 'Anak yang berdiri di geladak terbakar' disusul oleh 'Orang-orang Assyria menyerbu datang' dan sajak-sajak termasyhur lainnya. Acara setelah itu latihan membaca dan pertandingan mengeja. Kelas bahasa Latin yang berisi beberapa gelintir murid menjuarai acara pidato. Dan kini tibalah saat acara utama malam itu yaitu pembacaan 'karangan-karangan asli' oleh gadis-gadis remaja. Setiap gadis maju ke depan ke pinggir panggung, mendeham, membuka naskahnya (yang
226 diikat indah dengan pita) dan dimulailah membaca. Mereka membaca dengan sangat memperhatikan lagu baca dan perubahan air muka yang sesuai dengan 'perasaan' bacaan. Isi karangan yang dibawakan, kebanyakan sama dengan karangan-karangan yang dibawakan oleh ibu mereka dahulu, bahkan sama dengan karangan nenek mereka dan tak ragu lagi sama dengan karangan nenek moyang mereka dari jaman perang salib. Misalnya saja karangan 'Persahabatan', 'Kenangan Jaman Lalu', 'Agama Dalam Sejarah', 'Tanah Impian', 'Paedah Kebudayaan', 'Perbandingan Bentuk Politik Pemerintahan', 'Kesedihan', 'Cinta Kanak-Kanak', 'Kegiatan Hati', dan sebagainya.
Karangan-karangan ini penuh diliputi kesedihan. Di samping itu kata-kata indah dipaksakan beberapa patah kata dan ungkapan yang sedang populer, yang membuat kita bosan. Keistimewaan dalam setiap karangan ialah menyumpalkan khotbah-khotbah yang telah berurat berakar serta tak bisa ditinggalkan. Apa pun juga pokok karangannya, untuk khotbah-khotbah itu dipaksakan agar kesusilaan dan keagamaan berjalan bersama dengan pembangunan. Ketidakjujuran yang nyata pada khotbah-khotbah ini ialah, tak ada kekuatan untuk menghapuskan kebiasaan ini di sekolah-sekolah, bahkan untuk sekolah-sekolah masa kini pun masih belum cukup. Mungkin tak akan bisa dianggap cukup selama dunia masih berkembang. Tak ada sebuah sekolah pun di negara kita, di mana
227 para gadis tidak merasa wajib untuk menutup karangannya dengan khotbah. Dan anda akan mendapatkan, bahwa gadis yang paling dangkal pikirannya dan paling tidak taat kepada agama, khotbahnya selalu paling panjang dan paling alim. Tapi cukuplah ini. Kebenaran yang paling sederhana sekalipun, terdengarnya tak pernah sedap.
Marilah kembali pada 'Hari Ujian' itu. Karangan pertama yang dibacakan malam itu berjudul 'Kalau begitu, inikah Hidup"' Mungkin pembaca cukup tahan untuk sebagian karangan itu:
Di dalam perjalanan hidup, betapa penuh nikmat pikiran remaja dalam menunggu-nunggu kegembiraan yang telah direncanakan! Seluruh daya khayal dikerahkan untuk menggambarkan berbagai keindahan kegembiraan. Dalam khayal, pengabdi demi mode yang panjang hidup dengan sepenuh hati, mengabdi kepada panggilannya, membayangkan diri di tengah-tengah keramaian pesta untuk menjadi pusat segala perhatian! Tubuhnya yang indah semampai, dibalut oleh gaun putih bak salju, berputar-putar menembus para penari yang sedang bersuka cita. Matanya cemerlang, langkahnya ringan di antara semua para penari yang ada.
Dalam khayal yang begitu indah dan nikmat, waktu berlalu dengan cepat, maka tibalah saat bagi sang remaja untuk memasuki dunia kedewasaan yang telah lama diimpi-impikan. Betapa semua benda di dunia baru itu diimpikannya bagaikan benda-benda surgawi. Setiap adegan baru lebih indah daripada adegan yang mendahuluinya. Tetapi setelah beberapa lama, ternyatalah di bawah kulit yang indah
itu tersembunyi kekosongan: pujian yang dahulu merdu membelai jiwa, kini terdengar sakit di telinga; lantai dansa tak lagi menarik hati; dan dengan membuang percuma nafas serta kesehatan, ia berpaling dengan kesimpulan, bahwa kesenangan duniawi tidak bisa memuaskan kerinduan jiwa!
Dan seterusnya dan seterusnya. Sepanjang waktu
228 terdengar bisik pujian dari penonton, dan seruan-seruan lembut.
"Betapa indahnya!", "Betapa trampilnya!", "Betapa betul!", dsb. Dan setelah karangan itu ditutup khotbah yang menyedihkan yang ganjil terdengar, gemuruhlah tepuk tangan.
Kemudian bangkitlah seorang gadis ramping berwajah sedih; wajahnya pucat menarik, akibat pel-pel dan sakit pencernaan. Ia akan membaca sebuah 'syair'. Dua bait saja dari syair ini rasanya cukup:


Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

KATA PERPISAHAN SEORANG GADIS MISSOURI KEPADA ALABAMA
Alabama, selamat tinggal! Kucinta dikau sungguh!
Tapi sementara terpaksa kutinggalkan dikau kini! Sedih, ya, pikiran sedih mengisi hatiku penuh,
Kenangan menggores membakar berdesakan di dahi! Sebab di hutanmu penuh bunga pernah aku mengembara;
Menjelajah dan membaca dekat sungai Tallapoossa Pernah kudengar sungai Tallasee membanjir murka,
Pernah ku bercinta dekat Coosa di cahaya Aurora. Aku tak kan malu membawa hati penuh susah
Aku tak kan berpaling menyembunyikan mata basah; Bukan dari tanah asing aku harus berpisah,
Bukan untuk orang asing kuucapkan keluh kesah, Persahabatan dan rumah, milikku di negara bagian ini,
Yang lembah dan gunungnya kujauhi kini; Dan dinginlah mataku, dan hati, dan kemesraan.
Bila orang berbicara dingin tentang dirimu, Alabama sayang!
Di antara hadirin, amat sedikit yang mengerti apa arti kemesraan sebenarnya. Tetapi betapapun, sajak itu dianggap berhasil dengan memuaskan.
Seorang gadis remaja berkulit agak hitam, beram-
229 but dan bermata hitam menggantikan pembacaan syair di atas. Ia berhenti agak lama untuk menimbulkan kesan sedih, kemudian membaca dengan irama yang bernada sedih:
SEBUAH IMPIAN Malam gelap dan berbadai. Di sekitar tahta ketinggian tak sebutir pun bintang bercahaya; tapi bunyi guruh sabung-bersabung di telinga; halilintar marah mengerikan di antara mcga-mega di langit, seakan mengejek kekuatan Franklin yang tersohor itu! Bahkan angin yang selalu ribut serta-merta keluar dari rumah mereka yang penuh rahasia, menghardik ke sana, menghardik ke sini seolah untuk lebih meributkan suasana.
Di saat-saat itu, begitu gelap, begitu suram, jiwaku mengeluh; tetapi daripada itu,
Sahabatku tercinta, penasehatku, penghiburku dan panduku -keriaan dalam dukaku, kebahagiaan dalam sukaku, datanglah ke sisiku.
Ia bergerak bagaikan mahluk indah yang digambarkan di taman Firdaus yang cerah dan cantik seperti digambarkan oleh para remaja dan orang-orang yang penuh perasaan. Dialah ratu kecantikan, tak berhias, kecuali karena kecantikannya sendiri. Begitu lembut langkahnya, sampai tak membuat suara. Bila sentuhan ramahnya tak melepaskan getaran gaib, seperti juga orang-orang cantik yang selalu bersikap wajar, ia akan melayang lalu tak diperhatikan tak dicari. Kesedihan menghias wajahnya, bagaikan air mata dingin di jubah bulan Desember, waktu ia menunjuk pada pertempuran antara kekuatan-kekuatan alam di luar itu, dan meminta agar aku mempertimbangkan kedua unsur yang ada.
Demikianlah seterusnya, impian buruk ini mengisi kira-kira sepuluh halaman naskah dengan diakhiri oleh sebuah khotbah yang menghancurkan semua harapan untuk mereka yang tak pernah mengunjungi gereja. Maka karangan itu mendapat hadiah pertama. Karangan itu dianggap yang paling baik
230 untuk malam itu. Waktu menyerahkan hadiah kepada pengarangnya, walikota mengucapkan pidato hangat yang isinya menyatakan, bahwa karangan itu adalah karangan yang paling 'fasih' yang pernah didengarnya dan Daniel Webster sendiri bisa bangga akan karangan itu.
Sepintas lalu bolehlah diketahui, bahwa jumlah karangan yang menggunakan secara berlebih-lebihan kata 'cantik, indah' dan pengalaman manusia yang diungkapkan sebagai 'halaman buku kehidupan' mencapai jumlah rata-rata yang biasa.
Kini sang guru, sudah melampaui batas mabuknya, menyingkirkan kursi
nya, membelakangi hadirin dan mulai menggambarkan peta Amerika di papan tulis untuk menguji kecakapan ilmu bumi murid-murid. Tetapi tangannya begitu gemetar, hingga hasil karyanya menjadi buah tawa hadirin, ia tahu, apa yang menyebabkan tertawaan itu dan segera gambarnya diperbaiki. Dihapusnya garis-garis dan ia memulai lagi. Tetapi garis-garis itu malah tak keruan jadinya dan tertawaan makin ribut. Kini seluruh perhatian dicurahkannya pada pekerjaannya, seakan menetapkan hati untuk tidak dikalahkan oleh tertawaan itu. Menurut pikirannya, kini hasil karyanya cukup baik, tetapi tertawaan tak berhenti-henti. Malah makin keras. Dan memang seharusnya begitu.
Sebenarnya kini sasaran tawa bukan pada si guru. Di sebelah atas ruang itu terdapat sebuah loteng. Tepat di atas kepala sang guru terdapat sebuah
232 tingkap kecil di langit-langit yang merupakan lantai loteng. Tingkap itu terbuka, seekor kucing turun dengan kaki belakang terikat tali kecil, kepala dan mulutnya terbungkus kain untuk mencegah, agar binatang itu tak bersuara. Tali terulur, kucing turun, sekali-sekali meliuk ke atas untuk meraih tali yang mengikatnya, kemudian meraih-raih mencari pegangan di udara. Suara tawa para hadirin makin ribut. Kucing itu tinggal sepuluh senti lagi di atas kepala Tuan Dobbins yang sedang memusatkan pikiran untuk gambarnya. Kucing makin lama makin ke bawah hingga akhirnya kaki depannya yang bebas meraih dan mencengkeram rambut palsu Tuan Dobbins. Seketika itu juga sang kucing ditarik cepat ke atas, dengan membawa rampasannya rambut palsu. Botak kepala Tuan Dobbins tampak cemerlang - rupanya si anak pelukis itu telah mencatnya dengan cat emas!
Pertemuan bubar seketika. Dendam anak-anak terbalas. Libur panjang tiba.
CATATAN - 'Karangan-karangan' yang dikutip dalam bab ini diambil tanpa perubahan sedikit pun dari sebuah buku berjudul "Prosa dan Puisi oleh Seorang Puteri Daerah Barat" - dikutip sewajarnya menurut penulisan gadis-gadis sekolah. Kutipan dan buku itu lebih tepat daripada karangan semata-mata.
233 Bab XXII DISAMBUT DENGAN AYAT-AYAT KITAB SUCI
TOM menggabungkan diri pada Kadet Orang-orang Alim, karena tertarik oleh seragamnya yang sangat menyolok. Ia harus berjanji dahulu tidak akan merokok, tidak akan mengunyah tembakau dan tidak akan memaki-maki selama ia menjadi anggota. Sekarang dia menemukan bahan pemikiran baru yaitu, berjanji tidak akan mengerjakan sesuatu adalah justru membuat orang ingin melakukan yang terlarang itu. Tom merasa tersiksa ingin minuman keras dan memaki-maki. Hanya karena ingin bisa mempertontonkan diri dengan pakaian seragam itu dia dapat menahan diri. Tanggal empat Juli sudah dekat, tetapi mungkin ada kesempatan lain yang lebih cepat untuk memakai seragam di muka umum. Harapan untuk mengenakan pakaian itu di Hari Kemerdekaan dilepaskannya, padahal ia baru saja empat puluh delapan jam dalam perkumpulan itu. Harapannya kini ditujukan pada Hakim Frazer, yang menurut desas-desus sudah dekat pada ajalnya dan akan
234 dikubur dengan upacara besar-besaran, sebab ia seorang pejabat tinggi. Tiga hari Tom memperhatikan berita tentang keadaan hakim Frazer. Kadang-kadang harapannya begitu besar, hingga ia mencoba mengenakan pakaian seragamnya itu di depan kaca. Tapi Hakim Frazer agaknya gemar membuat orang berdebar-debar; kadang-kadang kesehatannya sangat buruk, tapi cepat juga menjadi baik lagi. Akhirnya tersiar berita, bahwa sang hakim telah sembuh berangsur-angsur, makin hari makin baik. Tom kecewa, hatinya luka. Seketika itu juga ia minta berhenti dari keanggautaannya - dan malamnya sang hakim sakitnya kambuh, meninggal dunia seketika. Tom memutuskan untuk tidak menaruh kepercayaan pada orang yang bertingkah seperti hakim itu.
Upacara penguburannya sangat mengesankan. Para Kadet berbaris dengan gaya yang diperhitungkan bisa membunuh anggauta yang baru keluar itu. Tetapi Tom menjadi bebas lagi, dan ada keuntungannya dalam kebebasan itu. Ia kini boleh merokok dan memaki, namun heran ia tak ingin mengerjakannya. Dengan diperolehnya kebebasan dapat merokok dan memaki itu, keinginannya menjadi lenyap.
Tom mulai merasa, libur besarnya malah hanya akan memberatkan hatinya saja.
Ia mencoba membuat sebuah catatan harian namun tak ada yang luar biasa terjadi selama tiga hari. Maka usahanya gagal di tengah jalan.
235 Rombongan penyanyi berkeliling Negro tiba, dan mendapat perhatian penuh dari penduduk. Tom dan Joe Harper membuat sebuah perkumpulan pertunjukan, dan selama dua hari hatinya bahagia.
Bahkan Hari Kemerdekaan, tanggal empat Juli, telah mengecewakan. Hujan turun dengan lebatnya hingga arak-arakan tak jadi dilangsungkan. Orang terbesar di dunia ini (begitulah dugaan Tom), Tuan Benton, seorang senator Amerika Serikat, ternyata
juga membuatnya kecewa, sebab senator itu hanya orang biasa, tingginya tak sampai dua puluh lima kaki, bahkan mendekati ukuran itu pun tidak, seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya. Datanglah sebuah sirkus. Anak-anak membuat
sirkus pula setelah itu. Tiga hari mereka bermain
sirkus dalam tenda yang dibuat dari permadani
yang tak terpakai. Dengan bayaran tiga peniti
untuk anak lelaki dan dua untuk anak perempuan,
sirkus itu pun akhirnya membosankan.
Seorang ahli ilmu tengkorak dan seorang ahli
ilmu gaib tiba - dan pergi lagi, meninggalkan desa
itu makin sunyi dan suram.
Pesta-pesta untuk muda-mudi dilangsungkan,
pesta-pesta yang menggembirakan, namun hanya
sedikit dan jarak waktunya berjauhan, hingga kesal
menunggunya. Becky Thatcher pergi ke Constantinople untuk
beristirahat dengan orang tuanya selama liburan.
Maka tak adalah kegembiraan hidup di mana pun
juga. 236 Rahasia pembunuhan merupakan penyakit parah yang sering kambuh bagi Tom, yang selalu membuatnya merasa ngeri.
Kemudian Tom diserang penyakit campak.
Selama dua minggu Tom terpaksa berbaring, tak mengetahui bagaimana perkembangan dunia. Ia amat sakit, ia tak menaruh perhatian pada apa pun. Waktu ia sembuh dan lemas berjalan-jalan, dilihatnya betapa bertambah sunyi keadaan sekeliling. Rupanya waktu ia sakit diadakan penyebaran dan pengukuhan agama dan semua orang menjadi sangat alim. Bukan saja orang-orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Tom berjalan dengan harapan akan bertemu dengan sebuah wajah yang mengandung dosa, tetapi di mana-mana ia dikecewakan. Ditemuinya Joe Harper sedang mempelajari kitab suci. Tom segera berlalu dari pemandangan yang menyedihkan hatinya itu. Dicarinya Ben Rogers, yang sedang mengunjungi orang-orang miskin dengan membawa surat selebaran keagamaan. Dicarinya Jim Hollis, yang setelah bertemu mengingatkan dia, bahwa penyakit campaknya merupakan suatu peringatan atas dosa-dosanya. Setiap orang yang dijumpainya menambah berat penderitaan hatinya. Dalam rasa putus asa ia mencari Huckleberry Finn, yang menyambutnya dengan ayat-ayat kitab suci. Hancurlah hati Tom. Dengan kepala tertunduk ia pulang, tidur, dengan menarik kesimpulan bahwa hanyalah dia yang tersesat jiwanya di seluruh kota. Malam itu, badai besar. Hujan lebat, kilat dan
237 guntur sabung-menyabung. Tom menutupi kepalanya dengan sprei, penuh ketakutan menanti datangnya hukuman, sebab pastilah huru-hara ini terjadi karena dia. Ia percaya, bahwa ia telah membuat Tuhan kehilangan rasa sabarnya, dan inilah akibatnya. Mungkin juga dia berpendapat, sungguh membuang-buang mesiu dan kebesaran untuk menghancurkan seekor kumbang aengan mempergunakan sepasukan meriam. Tapi tampaknya tak ada yang aneh untuk membangkitkan badai, yang demikian hebat guna menghancurkan serangga semacam dirinya.
Lama-kelamaan badai itu reda dan menghilang tanpa mencapai tujuannya. Perasaan pertama dalam diri Tom adalah terimakasih dan janji untuk merubah kelakuannya. Perasaan ini disusul oleh Keputusan untuk menunggu dulu - siapa tahu, mungkin badai itu tak terulang lagi.
Pada hari berikutnya dokter-dokter datang lagi; Tom telah bertambah parah penyakitnya. Dalam tiga minggu yang rasanya seabad, ia harus berbaring. Ketika akhirnya ia sembuh dan boleh keluar, hampir tak ada terimakasih di hatinya telah lolos dari bahaya maut, sebab seperti dulu ia akan merupakan anak terasing di antara anak-anak lainnya dengan tak berkawan. Ia berjalan tak menentu dan ditemuinya Jim Hollis sedang memimpin pen
gadilan anak-anak, memutuskan perkara pembunuhan atas seekor burung oleh seekor kucing. Ditemuinya Joe Harper dan Huck Finn
23S di sebuah gang kecil, sedang makan semangka curian. Anak-anak malang. Seperti juga Tom, mereka telah kambuh penyakitnya.
239 Bab XXIII MUFF POTTER DIADILI
AKHIRNYA terangkatlah suasana mengantuk yang meliputi desa itu - digoncangkan oleh pemeriksaan pengadilan yang akan dimulai untuk memeriksa peristiwa pembunuhan terhadap Dokter Robinson. Berita itu segera menjadi pusat pembicaraan seisi desa. Mau tak mau Tom merasa terlibat. Setiap pembicaraan tentang pembunuhan itu membuat hatinya berdebar, sebab hati kecilnya selalu gelisah dan takut dicurigai, karena dirasanya seakan pembicaraan-pembicaraan itu sengaja dilakukan di dekatnya untuk memancing-mancing rahasia. Ia tahu, tak mungkin orang curiga kepadanya, namun ia selalu tak senang di tengah pembicaraan itu. Keringat dingin mengalir. Diajaknya Huck ke tempat sepi untuk berbicara. Sungguh lega, bila ia bisa membuka mulut dengan bebas, membagi beban penderitaan dengan orang lain. Lagi pula ia ingin tahu dan ingin meyakinkan, bahwa Huck belum pernah membuka rahasia.
"Huck, pernahkah kau berbicara pada orang lain
240 tentang itu"" "Tentang apa"" "Kau tahu maksudku." "Oh, tak pernah." "Tak sepatah kata pun"" "Tak sepatah kata pun. Kenapa kau bertanya"" "Hm, aku takut."
"Tom Sawyer, tak mungkin kita bisa berkeliaran sampai dua hari, kalau rahasia kita diketahui orang. Kau tahu."
Tom agak tenang. Setelah sejenak, "Huck, bukankah tak ada orang yang memaksamu untuk berbicara tentang ini""
"Memaksa berbicara" Wah, bila kuingin agar Iblis itu membenamkan diriku, baru aku membuka rahasia. Tak ada jalan lain!"
"Baguslah, kalau begitu. Kukira, kita akan selamat selama mulut tertutup. Tapi betapapun, marilah kita bersumpah lagi. Biarlah tambah pasti."
"Aku setuju." Dengan upacara penuh keduanya bersumpah.
"Apa kabar yang kaudengar, Huck" Kudengar banyak sekali."
"Kabar" Yang terdengar hanyalah Muff Potter, Muff Potter, Muff Potter. Ini membuatku selalu berkeringat, sehingga ingin aku bersembunyi."
"Begitu juga aku. Kupikir, pastilah Muff jadi korban. Apakah kadang-kadang kau tak merasa kasihan kepadanya""
"Selalu; selalu. Memang, ia bukan orang baik,
241 namun belum pernah menyakiti orang. Menangkap ikan sedikit untuk membeli minuman keras - dan bergelandangan; Tuhanku, semua orang mengerjakan itu, setidak-tidaknya sebagian besar dari kita, misalnya pendeta dan sebangsanya. Tetapi Muff berhati baik, pernah diberinya aku ikan separuh, padahal baginya sendiri tak cukup. Dan sering dia menolong aku, kalau aku sedang sial."
"Ya, sering ia memperbaiki layang-layangku, Huck, dan memperbaiki mata kailku. Betapa senangnya, bila kita bisa membuat dia bebas,'
"Wah, kita tak akan bisa membebaskannya, Tom, lagi pula suatu waktu ia akan ditangkap lagi."
"Ya, memang demikian. Namun benci aku mendengar orang-orang yang menghinanya, sedang sebenarnya ia tak bersalah."
"Aku pun begitu, Tom. Tuhan, orang-orang malah berkata, bahwa dialah penjahat yang paling kejam di desa ini dan mereka bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia tak ditangkap lebih dahulu."
"Ya, aku pun mendengar. Kudengar pula, andai kata dia bebas, orang-orang akan menggantungnya tanpa diadili lagi."
"Pasti akan mereka kerjakan!"
Lama kedua anak itu bercakap-cakap, tetapi percakapan itu tidak banyak menghibur hati mereka. Senja turun. Tanpa disadari keduanya berdiri dan berjalan ke penjara yang terpencil di pinggir desa. Mungkin dengan harapan, bahwa sesuatu akan terjadi untuk menghilangkan kesulitan mereka.
242 Tapi tak ada sesuatu yang terjadi, agaknya tak ada malaikat yang punya perhatian terhadap tawanan yang malang itu.
Seperti yang selalu mereka lakukan sebelumnya, kedua anak itu pergi ke jendela berterali, tempat Muff Potter ditahan untuk memberikan sedikit tembakau dan korek api. Sel tahanan Muff Potter terletak di lantai pertama dan tak ada penjaganya.
Rasa terima kasih Muff Potter akan pemberian-pemberian mereka selalu menambah kesedihan mereka - dan kali ini menggores lebih dalam dari biasa. Mereka mer
asa menjadi pengecut kelas wahid, ketika Muff Potter berkata, "Kau berdua sangat baik, teman-teman, lebih baik dari siapa pun juga. Aku tak akan lupa, tidak. Sering aku berkata pada diriku sendiri. Kataku, "acap aku perbaiki layang-layang dan benda-benda lain kepunyaan teman-teman, sering kutunjukkan tempat-tempat mengail yang baik, kutemani mereka bila aku bisa, dan semua kini mereka melupakan Muff Potter yang sedang sengsara. Tapi Tom tak lupa, begitu juga Huck, keduanya tak lupa padaku," kataku, "dan aku tak akan lupa pada mereka. Nah kawan-kawan, apa yang kukerjakan sangat jahat. Waktu itu aku mabuk dan gila, begitulah dugaan satu-satunya mengapa kekejian itu bisa kulakukan. Aku akan digantung, kukira itu hukuman terbaik. Terbaik dan tepat, kukira. Setidak-tidaknya begitulah harapanku. Nah, baiklah, tak akan kita bicarakan lagi hal itu. Apa yang ingin
243 kukatakan, janganlah sekali-sekali kausentuh minuman keras, kalau kau ingin menghindari tempat seperti ini. Berdirilah agak ke sebelah Barat - nah - begitulah. Sungguh membuat hatiku tenteram melihat kawan-kawan dalam kesulitan serupa ini. Dan tak ada orang lain yang datang ke mari, kecuali kalian. Teman-teman baik dan bersahabat. Cobalah bergantian, kalian naik punggung masing-masing, agar aku bisa menyentuh kalian. Nah, begitulah. Mari berjabat tangan, tanganmu bisa masuk lewat terali ini, tanganku terlalu besar. Tangan-tangan kecil dan lemah, namun tangan-tangan ini telah menolong Muff Potter banyak sekali. Bila bisa, pasti akan lebih banyak pertolongannya."
Tom pulang dengan hati kacau dan sedih, impiannya penuh dengan hal-hal yang menakutkan. Hari berikutnya dan berikutnya lagi, ia berputar-putar di sekitar gedung pengadilan. Seolah ada sesuatu kekuatan yang menariknya ke sana tapi ia hanya bisa berputar-putar saja di luar. Huck juga mempunyai pengalaman yang sama. Mereka berdua dengan hati-hati menghindarkan diri bila bertemu. Masing-masing menjauhi gedung pengadilan. Namun selalu kekuatan tak terlihat itu menarik mereka kembali. Tiap ada orang keluar dari ruang pengadilan, Tom memasang telinga, namun berita yang didengarnya selalu sama - makin lama makin ternyata kesalahan Muff Potter. Di akhir hari kedua, tersiar berita bahwa kesaksian Indian Joe
244 teguh tak berubah dan tak ragu lagi akan keputusan hakim siapa yang bersalah.
Malam itu Tom pulang larut sekali; masuk kamar dengan lewat jendela. Perasaan hatinya tak keruan. Berjam-jam kemudian baru ia bisa tidur. Keesokan harinya seluruh penduduk desa berkumpul di pengadilan, sebab itulah hari yang telah lama mereka tunggu. Pria dan wanita memenuhi ruangan. Setelah agak lama baru para juri masuk, duduk di tempat masing-masing. Segera setelah itu Muff Potter dibawa masuk, pucat dan kumal, malu dan tak punya harapan, tangan dirantai, didudukkan di tempat di mana seluruh hadirin bisa memperhatikannya. Indian Joe yang bermuka dingin juga mendapat perhatian besar. Sesudah agak lama menunggu, masuklah hakim dan sidang dibuka oleh sheriff. Seperti biasa hakim-hakim berbisik dan kertas-kertas dikumpulkan, yang menambah suasana bertambah tegang.
Seorang saksi dipanggil. Ia menyatakan telah menemui Muff Potter mandi pagi-pagi di anak sungai pada waktu pembunuhan terjadi, dan terlihatlah si tertuduh menyelinap pergi. Setelah beberapa pertanyaan, jaksa penuntut umum berkata, "Periksalah saksi itu."
Tertuduh mengangkat kepala, tapi menunduk lagi sementara pembela menyahut, "Saya tak punya pertanyaan."
Saksi kedua membuktikan penemuan pisau dekat
245 mayat korban. Jaksa penuntut umum berkata, "Silahkan periksa saksi ini."
"Saya tak punya pertanyaan," sahut pembela Potter.
Saksi ketiga bersumpah, ia sering melihat pisau itu di tangan Muff Potter.
"Silahkan memeriksa saksi!"
Pembela Muff Potter menolak untuk menanyai saksi. Hadirin mulai menunjukkan rasa tak puas. Apakah pembela akan menyerahkan nyawa tanpa berusaha menolong sama sekali"
Beberapa orang saksi menyatakan tingkah laku Potter, ketika ia dibawa ke tempat pembunuhan. Saksi-saksi ini pun tak diperiksa oleh pembela.
Setiap segi keadaan yang merusakkan nama Potter ya
ng terjadi di pekuburan di pagi hari yang diingat baik-baik oleh para hadirin diungkapkan dengan meyakinkan oleh para saksi, tapi tak seorang pun di antara mereka diperiksa oleh pembela Potter. Kekacauan dan rasa tak puas para hadirin dinyatakan oleh gerutu mereka yang begitu keras hingga terpaksa diperingatkan oleh hakim. Jaksa penuntut umum kini berkata, "Demi sumpah para penduduk yang kata-katanya sama sekali bisa dipercaya, kami telah menentukan tindak kejahatan ini, tanpa keragu-raguan lagi dengan kesalahan sepenuhnya pada si tertuduh. Tugas kami selesai."
Muff Potter mengeluh berat; ditutup mukanya dengan kedua belah tangan, tubuhnya bergoyang ke kiri. Tiba-tiba ruang pengadilan sunyi senyap.
246 Banyak pria yang terharu, tak sedikit kaum wanita yang mencucurkan air mata. Pembela Muff Potter berdiri dan berkata, "Yang mulia, dalam sambutan kami di pembukaan perkara ini, telah kami majukan maksud kami untuk membuktikan, bahwa nasabah kami melakukan tindakan yang mengerikan itu di bawah pengaruh minuman keras, hingga ia sama sekali tak bisa menguasai dirinya. Namun pikiran kami berubah. Kami tak akan mempergunakan itu sebagai alasan permohonan ampun." (Kepada juru tulis), "Panggil Thomas Sawyer!"
Semua air muka terangkat heran, tak terkecuali air muka Muff Potter. Setiap mata tertuju pada Tom Sawyer yang bangkit berjalan ke tempat saksi. Anak itu tampak sangat liar, sebab ia sedang dilanda ketakutan yang amat sangat. Tom segera mengangkat sumpah.
"Thomas Sawyer, di mana engkau pada tanggal 17 Juni sekitar tengah malam""
Tom melirik pada Indian Joe yang bermuka keras. Lidahnya terlalu kelu. Hadirin menahan napas, mendengarkan, namun tak separah kata pun terdengar. Setelah beberapa saat Tom mendapat kekuatan sehingga ia bisa bersuara sedikit, hadirin bisa mendengar, "Di kuburan."
"Harap berbicara agak keras. Jangan takut. Kau ada di..."
"Di kuburan." Senyum mengejek melintas di wajah Indian Joe. "Apakah kau di dekat kuburan Horse William""
247 "Ya, Tuan." "Keras sedikit. Berapa kira-kira jaraknya""
"Sejauh,Tuan dari saya."
"Apakah kau bersembunyi ataukah tidak""
"Bersembunyi." "Di mana""
"Di belakang pohon-pohon elms di tepi kuburan."
Hampir tak terlihat perubahan wajah Indian Joe. "Kau berteman""
"Ya, tuan, saya ke tempat itu dengan ...
"Tunggu, tunggu sebentar. Jangan ucapkan nama temanmu itu. Akan kami panggil nanti bila saatnya tiba. Apakah yang kaubawa waktu itu""
Tom ragu, tampak bingung.
"Katakan, anakku - jangan malu. Kebenaran selalu terhormat. Apa yang kaubawa waktu itu""
"Hanya se ... ekor bangkai kucing."
Terdengar tawa, yang segera dihentikan oleh sidang.
"Kami akan memperlihatkan kerangka kucing itu nanti. Kini anakku, katakan semua yang telah terjadi - katakan dengan caramu sendiri - jangan lewatkan sedikit pun dan jangan takut."
Tom mulai berceritera. Mula-mula tertegun-tegun, tetapi makin lama makin lancar. Dalam beberapa saat yang terdengar hanya suaranya sendiri. Hadirin mengikuti setiap kata yang keluar dari bibir Tom dengan ternganga dan sambil menahan napas. Semua lupa keadaan sekelilingnya,
248 terpukau oleh cerita yang seram itu. Ketegangan mencapai puncaknya pada waktu Tom berkata, "...dan pada saat itu Dokter Robinson memukul Muff Potter dengan papan hingga roboh, Joe si
249 Indian melompat dengan pisau teracung, dan..." Brang! Secepat kilat si peranakan Indian itu melompat jendela, menerobos semua yang menghalanginya dan kabur!
250 Bab XXIV HARI-HARI INDAH DAN MALAM-MALAM SERAM
SEKALI lagi Tom menjadi pahlawan gemilang -buah bibir orang-orang tua dan sasaran anak-anak muda yang iri hati. Namanya bahkan diabadikan dengan cetakan, sebab surat kabar desa ikut memuja-mujanya. Banyak orang berpendapat bahwa Tom mungkin bisa menjadi presiden kelak, jika saja nyawanya tak putus oleh hukuman gantung.
Sebagaimana biasa, dunia yang penuh tingkah dan tak berpikiran sehat menerima dan memanjakan Muff Potter dengan berlebih-lebihan, seperti dulu ia diejek dan dihina dengan berlebih-lebihan pula. Tetapi tingkah semacam itu memang adat dunia, jadi tak bisa kita salahkan.
Berhari-hari Tom penuh dengan kege
milangan dan kegembiraan. Tapi malam-malam hari ia diganggu mimpi buruk. Joe si Indian termimpi-mimpi, lengkap dengan napsu membunuh di matanya. Dengan upah apa pun Tom akan menolak untuk keluar malam. Huck yang malang juga mengalami
251 yang sama, takut dan menderita sebab malam sebelum hari pengadilan itu Tom telah menceritera-kan segala-galanya pada pembela Muff Potter, Huck setengah mati takut kalau-kalau peranannya dalam peristiwa itu bocor, tak peduli bahwa kaburnya Joe si Indian menyebabkan ia lolos dari penderitaan untuk menjadi saksi di ruang pengadilan. Anak malang itu telah mendapat janji dari pembela, bahwa namanya akan tetap dirahasiakan. Tapi apakah gunanya janji itu" Bukankah Tom, yang telah terikat oleh sumpah yang paling seram dan luar biasa masih juga terpaksa membuka rahasia, karena desakan hati nuraninya" Kepercayaan Huck pada anak turunan Adam hampir-hampir lenyap.
Di siang hari, rasa terima kasih Muff Potter yang amat besar membuat Tom merasa gembira ia telah membuka rahasia, tapi bila malam tiba ia sangat menyesal sudah membuka mulut.
Di samping merasa takut jika Joe si Indian tak segera tertangkap, Tom merasa khawatir pula, bila buronan itu tertangkap. Ia yakin bahwa ia tak akan bisa lagi bernapas dengan senang sebelum Joe si Indian mati dan ia menyaksikan mayatnya.
Diumumkanlah hadiah untuk menangkap Joe, seluruh daerah diselidiki, namun Joe betul-betul telah lenyap. Salah satu dari orang-orang yang maha tahu dan tumpuan kekaguman, yaitu seorang detektif, datang dari St. Louis, menyelidiki ke sana ke mari, menggelengkan kepala. Dengan wajah
252 pintar ia menyatakan telah berhasil mendapat jejak, sesuatu yang gemilang yang selalu didapat oleh anggota-anggota dari pekerjaan semacam itu. Ia telah mendapatkan suatu "kunci pembuka rahasia" hilangnya Joe si Indian. Namun orang tak bisa menggantung "kunci pembuka rahasia" untuk menghukum seorang pembunuh. Maka setelah itu detektif tadi pulang meninggalkan tempat itu. Tom merasa tidak aman seperti sebelum kedatangan
sang detektif. Hari-hari berlalu dengan lambat. Akan tetapi semakin berkuranglah ketegangan di hati Tom.
253 Bab XXV MENCARI HARTA KARUN
DALAM kehidupan seorang anak lelaki pada suatu saat pastilah akan timbul keinginan untuk pergi ke suatu tempat dan menggali harta karun. Pada suatu hari keinginan semacam itu timbul pula di hati Tom. Dicarinya Joe Harper, tetapi tak berhasil. Kemudian dicarinya Ben Rogers; Ben telah pergi mengail. Segera juga dijumpainya Huck Finn si Tangan Merah. Huck setuju. Huck selalu setuju untuk ikut dalam usaha yang akan memberikan keuntungan tanpa modal, sebab ia mempunyai waktu banyak sekali, tetapi uang tidak ada. Waktu bukanlah uang baginya.
"Di mana kita akan menggali"" tanya Huck.
"Oh, di mana saja."
"Wah, apakah harta karun itu terpendam di mana saja""
"Memang tidak. Harta itu terpendam di tempat-tempat istimewa, Huck - kadang-kadang di sebuah pulau, kadang-kadang di kotak tua yang terpendam di bawah akar pohon tua, tempat di mana bayang-
254 bayangnya jatuh di tengah malam. Kebanyakan di bawah lantai rumah-rumah hantu."
"Siapa yang menyimpannya di sana""
"Siapa lagi kalau bukan perampok" Mungkin pengawas umum Sekolah Minggu""
"Aku tak tahu. Bila harta itu milikku, tak akan kupendam, tetapi akan kupakai bersenang-senang."
"Aku begitu juga. Tetapi perampok mempunyai kebiasaan sendiri. Mereka selalu memendam harta."
"Apakah mereka tak kembali untuk mengambilnya""
"Maksudnya sih begitu. Tetapi biasanya mereka lupa akan tanda-tanda tempat persembunyian atau mereka terburu mampus. Betapapun, harta itu terpendam sampai bertahun-tahun dan berkarat. Seseorang menemukan sehelai kertas kuning yang menyatakan, bagaimana mencari tanda-tanda tempat persembunyian harta itu - sehelai kertas yang harus dipecahkan rahasianya dalam waktu ber-minggu-minggu sebab biasanya yang terdapat hanya tanda-tanda dan hyroglyphics."
"Hyro - apa""
"Hyroglyphics - gambar-gambar dan sebagainya, kau tahu, yang seperti tak punya arti apa-apa."
"Apakah kau mempunyai kertas serupa itu, Tom""
"Tidak." "Bagaimana kau bisa menemukan tanda-tanda temp
at persembunyiannya""
"Aku tak memerlukan tanda-tanda. Mereka se-
255 lalu menanam hartanya di bawah rumah hantu atau di sebuah pulau atau di bawah pohon mati, yang akarnya mencuat ke luar. Kita telah mencoba menggali sedikit di pulau Jackson, kapan-kapan kita coba lagi. Ada rumah hantu tua di atas simpangan Still-House dan banyak sekali pohon-pohon mati - banyak sekali."
"Semua ada harta karunnya""
"Tolol! Tentu saja tidak."
"Lalu, bagaimana kau bisa memilih yang mana yang akan kaugali""
"Kita gali semua!"
"Tom! Itu akan memakan waktu berbulan-bulan."
"Jadi" Bayangkan, bila kau menemukan sebuah guci kuningan dengan uang seratus dollar emas atau sebuah peti penuh dengan intan, bagaimana""
Mata Huck bersinar-sinar.
"Hebat, Tom. Lebih senang bila kauberikan yang seratus dollar itu padaku, aku tak menginginkan intan."
"Baiklah, tapi aku berani bertaruh aku tak akan membuang intan itu begitu saja. Beberapa butir intan berharga dua puluh dollar sebutirnya, itu sangat jarang, biasanya berharga enam ketip atau sedollar."
"Betulkah""
"Setiap orang akan berkata begitu. Kau tak pernah melihat intan, Huck"" "Belum pernah."
256 "Para raja mempunyainya bertumpuk-tumpuk."
"Aku belum pernah melihat raja, Tom."
"Kukira memang begitu. Tapi bila kau pergi ke Eropa, kau akan melihat banyak raja berlompatan di sekelilingmu."
"Apakah mereka berlompatan""
"Berlompatan" Nenekmu! Tentu saja tidak."
"Kalau begitu, mengapa kaukatakan mereka berlompatan""
"Bah, maksudku, kau mudah sekali melihat mereka, tidak berlompatan tentunya, untuk apa mereka berlompatan" Maksudku kau akan sering melihat mereka - berkeliaran ke mana-mana, kau tahu" Seperti si bongkok tua Richard itu."
"Richard" Siapa nama keluarganya""
"Ia tak punya nama lain. Raja hanya mempunyai nama depan saja."
"Hanya itu saja""
"Ya, hanya itu saja."
"Bila mereka senang, biarlah, Tom, tapi aku tak ingin menjadi raja kalau begitu, masa harus mempunyai sebuah nama saja seperti orang-orang Negro. Tapi, di mana akan kaumulai menggali""
"Aku tak tahu. Bagaimana, kalau kita mulai dengan menggali di bawah pohon mati di bukit seberang simpang Still-House""
"Aku setuju." Keduanya membawa sebuah singkup dan sebuah beliung tua, menempuh tiga mil menuju ke tempat yang dimaksud. Perjalanan itu membuat tubuh
257 mereka panas dan terengah-engah. Begitu tiba, mereka merebahkan diri di bawah pohon, beristirahat dan merokok.
"Senang aku seperti ini," kata Tom.
"Aku juga." "He, Huck, bila kita mendapatkan harta karun di sini, apa yang akan kauperbuat dengan bagianmu""
"Hm, akan kubeli kue dan segelas soda tiap hari, dan aku akan menonton setiap sirkus yang datang di kota kita. Aku bertaruh, aku akan bersenang-senang terus tiap hari."
"Apakah kau tak bermaksud untuk menabungnya sebagian""
"Untuk apa""
"Untuk hidupmu, tentu."
"Tidak perlu. Bapakku pasti datang kembali ke kota ini dan akan merampas uang tabunganku, bila aku tak segera menghabiskannya. Percayalah, ia akan menghabiskannya sendiri dengan cepat. Apa yang akan kaukerjakan dengan bagianmu, Tom""
"Aku akan membeli sebuah gedung baru, sebilah pedang bukan tiruan, dasi merah, seekor anjing, dan kawin."
"Kawin!" "Ya, benar." "Tom, kau - wah, betul-betul kau sudah gila." "Tunggu, lihat saja nanti" "Perbuatan yang paling tolol yang bisa kaukerjakan. Lihat saja bapak dan ibuku. Bertengkar terus!
258 Tak ada pekerjaan lain daripada berkelahi. Aku teringat hal itu."
"Itu bukan apa-apa. Gadis yang akan kukawini tak akan mau berkelahi."
"Tom, aku yakin semua betina sama. Mereka akan menjadi duri dalam hidupmu. Pikirkan sekali lagi, nasehatku, pikirlah sekali lagi. Siapa nama betina itu""
"Bukan betina, Huck, gadis."
"Ah, sama saja, ada yang menamai mereka gadis, ada pula betina - keduanya benar. Betapapun, siapakah namanya""
"Akan kukatakan padamu kapan-kapan - tidak sekarang."
"Baiklah cukup. Hanya, bila kau kawin, aku akan lebih kesepian."
"Tak mungkin. Kau tinggal di rumahku nanti. Nah, sudahlah, mari kita menggali."
Selama setengah jam mereka bekerja keras, tapi tidak menemukan apa-apa. Setengah jam lagi bekerja. Tetapi tak ada hasil. Huck bertanya, "Apaka
h mereka selalu menanam barangnya sedalam ini""
"Kadang-kadang - tidak selalu. Tidak seperti biasa. Kukira, ini bukanlah tempat yang tepat."
Mereka memilih tempat baru dan mulai menggali lagi. Kini mereka bekerja agak lambat, tapi hasilnya cukup lumayan. Beberapa saat mereka menggali tanpa berbicara. Akhirnya Huck bertopang pada singkupnya, mengusap peluh dari alisnya dengan
259 lengan baju dan berkata, "Ke mana kau akan menggali lagi setelah tempat ini""
"Kukira, kita akan menggarap pohon tua di balik bukit Cardiff itu, di belakang rumah Nyonya Janda."
"Tempat yang cukup bagus. Tetapi Tom, apakah Nyonya Janda tak akan merampas harta itu dari kita, karena kita menemukan di tanahnya""
"Dia merampas dari kita! Coba saja, jika berani. Siapa pun yang menemukan dialah pemilik syah dari harta karun itu. Tak peduli di mana, ia menemukannya."
Keterangan itu memuaskan. Pekerjaan terus berjalan. Setelah agak lama Huck berkata, "Bangsat! Mungkin ini bukan tempat yang tepat pula. Tom. Bagaimana pendapatmu""
"Aneh sekali, Huck, aku tak mengerti. Mungkin ada tukang tenung yang ikut campur. Mungkin itulah sebabnya kita tak mendapat apa-apa."


Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bah, tukang tenung tak berdaya siang hari."
"Ya, memang. Tak terpikir olehku. Oh, aku mengerti kini. Alangkah tololnya kita. Kita harus mencari tempat persembunyian harta itu dengan melihat jatuhnya bayangan pohon di tengah malam!"
"Tolol, kalau begitu kita membuang tenaga saja. Betul-betul sial, kita harus datang kembali malam nanti. Tempat ini cukup jauh. Bisakah kau keluar""
"Kukira, bisa. Kita harus mengerjakannya malam ini, sebab bila ada seseorang melihat lobang-lobang
260 ini pastilah mereka tahu, apa yang terpendam di sini dan ikut mencari."
"Nah, baiklah, nanti malam aku ke rumahmu dan memeong."
"Baik. Kita sembunyikan alat-alat ini di semak-semak."
Malam itu, kedua anak tersebut berada di tempat yang ditentukan, pada saat yang tepat. Mereka duduk di bayang-bayang pohon, menunggu. Suasana sunyi, waktunya pun dianggap keramat oleh tata cara kuno. Hantu-hantu bagaikan berbisik di antara daun-daun, bersembunyi di tempat-tempat gelap. Di kejauhan terdengar salak anjing, yang dijawab oleh suara burung hantu. Keseraman ini menekan hati kedua anak, sehingga mereka berbicara hanya sepatah dua patah kata saja. Akhirnya mereka menduga hari telah pukul dua belas malam. Ditandailah oleh mereka tempat jatuh bayangan pohon dan mulailah mereka menggali. Harapan mereka membubung tinggi. Minat mereka bertambah kuat dan karena itu kerja mereka makin giat. Lobang galian makin lama makin dalam, tapi tiap-tiap kali harapan mereka melonjak karena beliung mengenai sesuatu, mereka selalu mendapat kekecewaan. Beliung itu hanya mengenai batu atau kayu.
Akhirnya Tom berkata, "Tak ada gunanya, Huck, kita salah lagi."
"Bagaimana bisa" Kita tandai bayang-bayang itu tepat sekali."
261 "Aku tahu, tapi ada hal-hal lain." "Apa itu""
"Waktunya hanya dikira-kira. Mungkin terlalu cepat, mungkin terlalu lambat."
Huck menjatuhkan singkupnya.
"Itulah! Itulah yang menjadi penghalang kita. Kita tak akan bisa menentukan waktu yang tepat. Lagi pula keadaannya begini seram, waktu ini adalah waktu para hantu dan tukang-tukang tenung berkeliaran. Aku merasa sesuatu berada di belakangku terus-menerus, dan aku takut untuk berpaling sebab bila aku berpaling siapa tahu di depanku telah ada pula yang lainnya siap untuk bertindak. Badanku gemetar sejak aku di sini."
"Aku demikian juga, Huck. Biasanya di atas harta karun itu diletakkan mayat seorang manusia. Sebagai penjaganya."
"Ya, Tuhan!" "Begitulah. Begitulah apa yang kudengar."
"Tom, aku tak ingin berkeliaran di dekat orang mati. Seseorang pasti akan mendapat kesulitan dengan mereka, pasti."
"Aku pun tak ingin membangunkan mereka. Bayangkan, bila tiba-tiba yang berada di sini menjulurkan kepalanya."
"Jangan, Tom! Ngeri!"
"Tetapi begitulah keadaannya, Huck. Aku tak merasa senang sedikit pun."
"Tom, lebih baik kita biarkan saja tempat ini dan mencari tempat lain."
262 "Baiklah, kukira itulah yang sebaik-baiknya." "Di mana sekarang""
Tom berpikir beberapa saat dan menjawab, "Di rumah hantu
! Di situ pasti ada!"
"Tolol, aku tak senang pada rumah-rumah hantu. Mereka lebih buruk daripada orang-orang mati. Orang mati mungkin bisa berbicara, tetapi sedikitnya mereka tak mau menakut-nakuti seperti hantu, muncul dengan tiba-tiba di sisimu dengan ber-bungkus kain kafan, menjenguk lewat bahumu dan menggertakkan giginya. Aku tak tahan menanggung ketakutan seperti itu, Tom, tak akan ada orang yang tahan."
"Benar, Huck, tapi hantu hanya berkeliaran di malam hari. Mereka tak akan menggoda kita di siang hari, waktu kita menggali di rumah itu."
"Benar. Tapi kau sendiri tahu, tak ada orang yang berani memasuki rumah itu, baik siang maupun malam."
"Hm, itu disebabkan karena orang tak pernah mau pergi ke tempat di mana pernah terjadi pembunuhan. Tetapi betapapun tak pernah ada sesuatu terlihat di sekitar rumah itu kecuali di malam hari, kadang-kadang terlihat cahaya biru di jendela. Bukan hantu biasa."
"Tom, di mana pun kau lihat cahaya biru berkelip-kelip, di belakang cahaya itu pasti ada hantunya. Sebab kau tahu, hanya hantu-hantulah yang menggunakan cahaya seperti itu."
"Ya, memang. Bagaimanapun, hantu tak ber-
263 keliaran di siang hari, jadi untuk apa kau takut""
"Nah, baiklah, kita garap rumah hantu itu bila kau kehendaki - tapi kukira ada juga bahayanya."
Sambil berbicara, mereka berjalan menuruni bukit. Di sana, di tengah lembah yang diterangi cahaya bulan, tampaklah 'rumah hantu' itu, terpencil, pagarnya telah roboh, halaman ditumbuhi rumput liar sampai ke pintunya, cerobong asap hancur, bingkai jendela tiada lagi, atapnya pun ujungnya rebah. Kedua anak memperhatikan rumah itu, berharap bisa melihat kelipan cahaya biru melintas di jendela. Sambil berbicara dengan nada rendah, sesuai dengan keadaan, mereka membelok ke kanan, mengitari rumah itu dalam jarak yang jauh, kemudian pulang menembus hutan yang menghiasi bagian belakang bukit Cardiff.
264 Bab XXVI DALAM RUMAH HANTU
MENJELANG tengah hari keesokan harinya, kedua anak itu tiba di pohon mati untuk mengambil alat-alat. Tom tak sabar untuk pergi ke rumah hantu; Huck begitu juga, namun tiba-tiba ia berseru, "Hai, Tom, tahukah kau hari ini, hari apa""
Tom menghitung-hitung hari, dan tiba-tiba matanya menyinarkan rasa terkejut.
"Astaga! Tak pernah kupikirkan tentang harinya Huck!"
"Aku juga, tapi mendadak saja aku ingat, hari ini hari Jum'at!"
"Tolol! Bagaimana kita bisa begini ceroboh. Kita bisa mendapatkan bencana mengerjakan hal seperti ini di hari Jum'at!"
"Bisa" Lebih baik katakan pasti! Mungkin pada hari-hari lain mendatangkan untung, tapi hari Jum'at...""
"Setiap orang tolol tahu hal itu, Huck. Kukira bukan kaulah yang pertama kali menemukan hal itu."
265 "Aku tidak menyatakan bahwa akulah penemu nya. Dan bukan hanya karena hari Jum'at saja, tadi malam aku bermimpi buruk, mimpi tentang tikus."
"Masya Allah. Pasti akan ada bahaya! Apakah tikus-tikus itu berkelahi""
"Tidak." "Bagus. Bila tak berkelahi, berarti, ada bahaya mengancam, tapi tak sampai mengenaimu. Kau tahu. Kita harus waspada. Biarlah hari ini kita tidak menggali, kita bermain-main saja. Tahukah kau Robin Hood, Huck""
"Tidak. Siapakah Robin Hood itu""
"Wah, dialah orang terbesar di Inggris. Dan yang terbaik juga. Ia seorang perampok."
"Busyet! Senang sekali, bila aku bisa menjadi dia. Siapa yang dirampoknya""
"Komisaris, uskup, orang-orang kaya dan raja:, raja, serta sebangsanya. Ia tak pernah mengganggu orang miskin. Ia mencintai orang-orang miskin. Hasil rampokannya dibagikannya kepada orang-orang miskin."
"Baik sekali hatinya."
"Berani bertaruh, memang demikianlah Huck. Dialah orang yang termulia hatinya. Kini tak ada lagi orang-orang semacam dia, percayalah. Ia bisa mengalahkan setiap jagoan di Inggris dengan tangan sebelah diikat di punggungnya. Dengan busur yew-nya ia bisa memanah tepat sebuah mata uang ketip sejauh setengah mil." ,
"Apakah busur yew itu""
266 "Aku tak tahu. Semacam busur tentunya. Dan bila anak panahnya hanya mengenai pinggiran mata uang itu, ia akan jatuh terduduk, menangis dan memaki-maki. Tapi, marilah kita bermain Robin Hood. Pasti menyenangkan. Kuajari engkau."
"Baiklah ." Maka mereka berdua bermain dengan Robin Hood sepanjang hari, sesekali melemparkan pandangan ke rumah hantu di bawah bukit dengan penuh keinginan, sambil membicarakan apa yang kira-kira mereka temui di rumah itu besok. Ketika matahari mulai terbenam, keduanya pulang melewati bayang-bayang panjang pohon-pohon di hutan dan segera lenyap dari pandangan.
Pada hari Sabtu, lewat sedikit tengah hari, kedua anak kembali pula ke pohon mati. Sebentar mereka merokok dan bercakap-cakap, kemudian menggali lobang yang terakhir. Bukan karena menaruh harapan, tapi menurut Tom sering terjadi, bila seseorang menghentikan menggali tanpa hasil dan meninggalkannya, tak tahunya ketika orang lain meneruskan galian itu sedalam enam inci lagi terdapatlah harta karun itu. Betapapun, kali ini gagal lagi, maka kedua anak memanggul alat-alatnya dengan perasaan bahwa mereka telah bekerja sekeras-kerasnya, jadi bukan merentang nasib.
Mereka tiba di rumah hantu. Sesaat mereka tak berani masuk, rumah itu diliputi kesuraman yang mengerikan dengan kesunyian yang mencekam di bawah terik matahari. Tempatnya pun begitu sepi
267 dan terpencil. Perlahan mereka masuk, gemetar mengintai ke dalam. Terlihatlah oleh mereka sebuah kamar tanpa lantai. Lantainya ditumbuhi rumput liar, dinding tak berlapis, perapian kuno, jendela tak bertutup, tangganya bobrok. Di mana-mana terlihat jaringan sarang laba-laba. Dengan denyut nadi makin cepat, mereka masuk, berbisik-bisik, telinga dipertajam untuk mendengarkan suara yang paling kecil, otot-otot siap untuk melarikan diri.
Setelah agak lama, ketakutan mereka berkurang. Diselidikinya kamar itu penuh gairah; sementara itu dalam hati, mereka memuji-muji keberanian sendiri. Kemudian mereka ingin melihat ke atas. Kalau ke atas, mereka berpendapat, jalan untuk lari seakan-akan terputus, tapi setelah saling menantang, mereka menaiki tangga. Akhirnya hanya ada satu akibatnya - mereka naik setelah membuang alat di sudut ruangan. Di atas terlihat jelas tanda-tanda kehancuran, seperti juga di bawah. Di sebuah sudut terlihat sebuah lemari yang agaknya mengandung rahasia. Tapi harapan itu sia-sia, tak ada apa-apa di dalamnya. Kini keberanian mereka betul-betul timbul. Mereka sudah akan turun untuk mulai bekerja ketika tiba-tiba Tom berbisik, "Sssh!"
"Ada apa"" tanya Huck, pucat ketakutan.
"Sssh...! Kaudengar""
"Ya ...! Oh, astaga! Mari kita lari!"
"Diam! Jangan bergerak! Mereka datang ke pintu!"
Kedua anak itu berbaring menelungkup di lantai
268 loteng, dengan mata di lobang papan, melihat ke bawah, menunggu dengan ketakutan.
"Mereka berhenti... Tidak, datang ke mari... Itu mereka. Jangan berbisik, Huck, masya Allah, bagaimana aku bisa terlibat hal ini!"
Dua orang lelaki masuk. Anak-anak itu berkata dalam hati, "Itu orang tua Spanyol yang bisu tuli, yang pernah datang ke kota, satu dua kali. Yang lain belum pernah aku lihat."
'Yang lain' itu berpakaian compang-camping, tubuhnya tak terurus, mukanya sama sekali tak menyenangkan. Si orang Spanyol memakai selimut lebar, berkumis putih lebat, rambut putih terjurai dari bawah topinya yang lebar, memakai kaca mata hijau. Waktu masuk 'yang lain' itu berbicara dengan nada rendah. Mereka duduk di tanah, bersandar ke dinding menghadap pintu, yang berbicara meneruskan pembicaraannya, sikapnya mulai kurang waspada dan suaranya terdengar jelas:
"Tidak, telah kupikirkan baik-baik. Aku tak menyukainya. Terlalu berbahaya."
"Bahaya!" gerutu orang Spanyol yang 'bisu tuli' itu, membuat kedua orang anak di loteng sangat terkejut, "Ingusan!"
Suara ini membuat tubuh Tom dan Huck gemetar. Suara Joe si Indian! Joe berkata lagi, "Tak lebih berbahaya dari pekerjaan kita di atas itu - dan tak terjadi apa-apa pada diri kita."
"Berbeda sekali. Pekerjaan yang baru kita selesaikan itu tempatnya sangat jauh di hulu sungai,
269 terpencil tak ada tetangga. Tak akan diketahui bahwa kita telah mencobanya, sebab kita tidak berhasil."
"Hm, bukankah lebih berbahaya kita datang ke sini di siang hari! Setiap orang bisa mencurigai kita."
"Aku tahu, tapi tak ada tempat lain yang lebih sesuai setelah kita melakukan pekerjaan to
lol itu. Aku ingin pergi dari gubuk ini. Kemarin pun aku ingin pergi tapi tak ada gunanya pergi dari sini dengan kedua orang anak terkutuk itu bermain-main di puncak sana memperhatikan tempat ini."
'Kedua orang anak terkutuk' di atas loteng itu bergetar mendengar pernyataan ini, memikirkan betapa untungnya kemarin mereka ingat, bahwa kemarin hari Jum'at dan menunggu sehari untuk masuk rumah itu. Alangkah senangnya bila mereka bisa menunggu setahun.
Di bawah, kedua orang itu mengeluarkan makanan untuk makan siang. Setelah agak lama dalam kesunyian Joe si Indian berkata, "Dengarlah; pulang ke udik, tunggu sampai kuberi kabar. Akan kucoba untuk sekali lagi masuk kota ini. 'Pekerjaan berbahaya' itu akan kita kerjakan setelah aku melihat-lihat keadaan. Kemudian kita pergi ke Texas bersama-sama."
Usul itu disetujui. Kedua orang mulai menguap, dan Joe si Indian berkata, "Aku ngantuk. Giliranmu berjaga."
Ia berbaring melingkar di rumput dan segera
270 jatuh mendengkur. Rekannya menggoncang tubuhnya sekali dua hingga suara dengkur itu hilang. Segera si penjaga mulai terkantuk-kantuk, kepalanya makin lama makin tunduk dan akhirnya kedua orang itu sama-sama mendengkur.
Di loteng, Tom dan Huck lega menarik napas.
Tom berbisik, "Inilah kesempatan kita - ayoh!"
"Tak bisa - aku akan mati bila mereka bangun," sahut Huck.
Tom mendesak, tetapi Huck tetap menolak. Akhirnya Tom bangkit perlahan, melangkah sendiri. Namun baru saja ia maju selangkah, lantai yang diinjaknya berderak, hingga cepat-cepat ia duduk lagi, hampir mati ketakutan. Ia tak berani mencoba lagi. Kedua anak berbaring menghitung-hitung waktu yang berlalu lambat sekali, sampai mereka merasa, bahwa waktu tidak berjalan lagi. Dengan rasa terima kasih, mereka melihat, matahari akan terbenam.
Dengkur yang seorang berhenti. Joe si Indian bangkit, memperhatikan rekannya yang duduk tertidur dengan senyum dingin. Dengan kaki di-bangunkannya rekan itu dan berkata, "He! Bagusnya kau berjaga! Untung saja tak ada apa-apa."
"Wah, apakah aku tertidur""
"Oh, sedikit tertidur, mungkin. Sekarang kita berangkat, kawan. Apa yang kita kerjakan dengan sisa uang kita""
"Aku tak tahu - simpan saja di sini seperti biasa kita lakukan. Tak ada gunanya kita membawanya
271 sebelum kita lari ke Selatan. Enam ratus lima puluh dollar dalam uang perak, beban yang cukup berat untuk dibawa-bawa."
"Baiklah, tak apa untuk datang ke mari sekali lagi."
"Benar, tapi lain kali baiklah kita ke mari di malam hari seperti biasanya."
"Ya, tapi dengar. Mungkin agak lama baru bisa kudapat waktu yang tepat untuk mengerjakan pekerjaan itu. Sementara itu segalanya bisa terjadi. Tempat ini bukan tempat yang terbaik, karena itu lebih baik kita tanam uang kita, dalam-dalam."
"Bagus," jawab rekannya, yang segera pergi ke perapian, berlutut, mengangkat salah satu batu di bagian belakang perapian dan mengambil sebuah kantong yang berdencing merdu. Dari kantong itu dikeluarkan dua puluh atau tiga puluh dollar untuk dirinya dan jumlah uang yang sama untuk Joe si Indian. Kemudian diberikannya kantong itu kepada Joe, yang sedang menggali tanah di sudut dengan mempergunakan pisau bowienya.
Seketika itu juga semua ketakutan dan siksaan batin kedua orang anak di loteng itu lenyap. Dengan tamak, mereka memperhatikan setiap gerakan di bawah. Untung! Perasaan keuntungan mereka sama sekali tak bisa digambarkan. Enam ratus dollar cukup kaya untuk membuat enam orang anak kaya raya! Inilah pencarian harta karun yang termudah! Tak ada lagi keraguan di mana harus menggali. Setiap saat kedua orang anak itu
272 saling menggamit. Gamitan lembut yang mudah dimengerti:
"Oh, tidak senangkah kau kini, bahwa kita pergi ke sini""
Di bawah, pisau Joe mengenai sesuatu.
"Hallo!" serunya.
"Ada apa"" tanya rekannya.
"Papan busuk - oh, bukan, sebuah kotak agaknya. Kemarilah - tolong bantu aku, dan kita lihat apa isi kotak ini. Tak usah, aku telah membuat sebuah lobang." Ia memasukkan tangannya, dan menariknya ke luar, berseru, "Astaga! Uang!"
Kedua orang itu memperhatikan uang logam di genggaman Joe. Uang emas! Kedua orang anak di loteng segembira mereka juga
. Rekan Joe berkata, "Cepat kita keluarkan. Tadi kulihat sebuah beliung berkarat di rumput dekat perapian. Biar kuambil." Ia berlari, mengambil alat-alat Tom dan Huck. Joe mengambil beliungnya, memeriksa dengan penuh perhatian, menggelengkan kepala dan menggerutu, tapi akhirnya alat itu dipergunakannya. Kotak tadi segera terangkat ke luar. Tak begitu besar, terikat oleh lempeng besi, tadinya sangat kuat tapi telah termakan oleh waktu. Dengan kesunyian gembira kedua orang itu memperhatikan harta yang baru mereka temui.
"Kawan, ada ribuan dollar di peti ini," kata Joe.
"Kata orang, gerombolan Murrel pernah berkeliaran di sini pada suatu musim panas," sahut temannya.
274 "Aku tahu dan inilah harta mereka agaknya."
"Kini kau tak usah mengerjakan pekerjaan itu."
Si peranakan Indian itu mengerutkan kening dan berkata, "Kau belum kenal aku. Sedikitnya kau tak mengetahui seluk beluk pekerjaan itu. Sama sekali bukan perampokan, tetapi pembalasan dendam!"
Cahaya dendam bersinar di mata Joe. "Aku memerlukan bantuanmu. Bila selesai - kita ke Texas. Pulang ke Nancemu dan anak-anakmu, tunggu kabar dariku."
"Nah, baiklah. Lalu akan kita apakan ini" Menanamnya kembali""
"Ya. (kegembiraan meluap di atas) Tidak! Demi Sachem agung, tidak! (kesedihan mendalam di atas) Hampir aku lupa. Beliung itu ada bekas-bekas tanah baru. (Sesaat anak-anak itu dicengkam ketakutan). Bagaimana sebuah beliung dan sebuah singkup bisa di sini" Bagaimana bisa keduanya mempunyai bekas-bekas tanah baru" Siapa yang membawanya ke mari" Dan ke mana mereka pergi" Apakah kau melihat seseorang - mendengar seseorang" Apa! Menanam lagi di sini hingga pemilik kedua benda itu melihat bekas galian" Tidak! Tidak! Kita bawa ke sarangku."
"Oh, tentu. Mengapa tak terpikirkan olehku. Kaumaksud Nomor Satu""
"Tidak - Nomor Dua - di bawah tanda silang. Tempat yang satunya itu tak baik. Terlalu umum."
"Baiklah. Sudah hampir gelap, waktu untuk
275 berangkat." Joe si Indian bangkit, pergi dari satu jendela ke jendela lain, hati-hati mengintai keluar. Segera ia berkata, "Siapa kira-kiranya yang membawa alat-alat itu ke mari" Mungkinkah mereka masih di atas""
Kedua anak itu tak berani bernapas. Joe si Indian memegang pisaunya, berhenti sesaat, ragu, kemudian bergerak ke tangga. Kedua anak itu memikirkan lemari tadi, tapi kekuatan mereka serasa terbang. Terdengar langkah Joe berderik di tangga - kengerian yang tak tertahankan lagi itu me nimbulkan nekad pada anak-anak - mereka sudah akan melompat untuk bersembunyi di lemari ketika tiba-tiba terdengar derakan kayu busuk dan Joe jatuh di antara serpihan-serpihan tangga. Ia bangkit, memaki-maki.
Kawannya berkata, "Apa gunanya semua itu" Jika ada orang di atas, peduli apa" Bila mereka ingin melompat turun dan mendapatkan kesulitan, siapa berkeberatan" Dalam lima belas menit lagi hari akan gelap, bila mereka mau, biarlah mereka mengikuti kita aku bersedia menunggu mereka. Menurut pendapatku, siapa pun yang membawa kedua benda itu telah melihat kita dan mengira bahwa kita adalah hantu atau setan. Aku berani bertaruh mereka telah melarikan diri."
Joe menggerutu, kemudian setuju dengan pendapat temannya, bahwa waktu yang masih ada cahaya harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk
276 berkemas-kemas. Di kesuraman senja mereka berdua menyelinap ke luar, ke arah sungai dengan membawa peti.
Tom dan Huck bangkit, lemah tapi lega, mengintai kedua orang dari antara tiang loteng. Mengikuti keduanya" Tak sudi. Mereka puas untuk mencapai tanah tanpa leher patah, dan pulang dengan melintasi bukit. Sedikit sekali mereka berbicara. Mereka benci kepada nasib sendiri, yang telah meninggalkan beliung serta singkup. Kalau bukan karena kedua benda itu sudah pasti Joe si Indian tak akan menaruh curiga. Joe akan menyembunyikan perak bersama emas itu dan menunggu hingga 'dendamnya* terbalas. Kemudian akan didapatinya, bahwa simpanannya hilang lenyap. Betul-betul nasib jelek membawa alat-alat itu ke sana!
Tom dan Huck memutuskan untuk mengawasi orang Spanyol itu bila ia datang ke kota untuk memata-matai keadaan bagi pembalasan dendamnya, dan mengikutinya ke 'Nomor Dua'
di mana pun dia berada. Muncullah pikiran yang mengerikan di otak Tom.
"Pembalasan dendam" Bagaimanakah, kalau yang dimaksudkannya adalah kita, Huck""
"Oh, jangan!" Hampir saja Huck pingsan.
Mereka terus membicarakannya dan ketika mereka memasuki kota, mereka mufakat yang menjadi sasaran Joe adalah orang lain. Setidak-tidaknya, mudah-mudahan bukan Tom, sebab hanya Tomlah
277 yang bersaksi di pengadilan.
Sedikit sekali kesenangan yang diperoleh Tom dalam menghadapi sendiri bahaya. Alangkah senangnya, jika ia mempunyai teman.
278 Bab XXVII MENGHILANGKAN KERAGUAN
PENGALAMAN hari itu menyiksa Tom dalam impian di malam harinya. Empat kali tangannya menyentuh harta karun dan empat kali harta itu lenyap. Kalau ia sadar, teringatlah betapa sial dia. Di pagi hari ia berbaring, mengingat-ingat kehebatan pengalamannya. Tetapi pengalaman itu kabur dan jauh, seakan-akan terjadi di dunia lain. Timbul keyakinannya, semua itu hanyalah mimpi. Ada bukti yang kuat untuk keyakinan ini - yaitu, jumlah uang logam yang dilihatnya terlalu banyak untuk bisa dianggap betul-betul terjadi. Belum pernah ia melihat uang lebih banyak dari lima puluh dollar. Seperti anak-anak lain, ia menganggap, 'ratusan' dan 'ribuan' dollar hanya dalam percakapan saja, tetapi jumlah sebanyak itu tak ada di dunia ini. Belum pernah terbayangkan olehnya uang logam seratus dollar bisa ditemukan dalam milik seseorang. Bila gambaran tentang harta karunnya diselidiki, akan kedapatan bahwa bayangan tentang harta karun itu terdiri dari segenggam ketip
279 yang nyata serta setumpuk uang dollar yang tak dapat diraih.
Namun makin dipikirkan, makin nyata, pengalamannya itu makin terbayang dalam pikirannya, hingga lebih mendekati kenyataan daripada impian. Keragu-raguan ini harus segera dilenyapkan; ia harus cepat-cepat sarapan dan mencari Huck.
Didapatinya Huck sedang duduk di tepi sebuah perahu, kakinya terjuntai ke dalam air dan nampaknya sedih. Tom memutuskan untuk membiarkan Huck memulai persoalan itu. Bila ia tak memulai percakapan tentang harta karun, berarti semua pengalamannya betul-betul suatu impian.
"Hallo, Huck!" "Hallo, kau sendiri""
Diam, selama satu menit. "Tom, bila alat-alat itu kita tinggalkan di pohon mati, pasti harta itu sudah jadi milik kita! Sial!"
"Jadi itu bukan mimpi! Bukan mimpi! Hampir-hampir aku berharap itu semua mimpi, Huck. Betul!"
"Apa yang bukan mimpi""
"Kejadian kemarin. Kupikir itu semua mimpi."
"Mimpi" Jika tangga itu tidak patah, Tom, akan kaurasakan apakah itu semua mimpi atau bukan. Tadi malam aku mimpi banyak dan dalam impian itu setan Spanyol yang bertutup mata itu mengejar-ngejar aku. Semoga mampus dia!"
"Jangan, jangan mampus. Kita harus mencarinya. Kita cari uang itu."
280 "Kita tak akan bisa menemukannya, Tom. Hanya ada satu kesempatan bagi seseorang untuk melihat tumpukan uang sebanyak itu. Dan kesempatan itu telah lenyap. Lagi pula aku akan gemetar setengah mati, bila bertemu kembali dengan dia."
"Aku juga, tapi aku ingin melihat dia kembali, mencari jejaknya ke Nomor Dua."
"Nomor Dua - ya, itulah. Aku mencoba memecahkan hal itu. Tapi aku tak tahu apa artinya. Apa dugaanmu""
"Aku tak tahu, Huck, terlalu sulit. He, Huck -mungkin itu nomor rumah!"
"Benar...! Tidak, Tom. Bila betul nomor rumah, tak mungkin di kota kecil ini. Di sini rumah-rumah tak bernomor."
"Hm, memang begitu. Biar kupikir lagi. Nah, - itu adalah nomor dari kamar - di penginapan, misalnya."
"Tepat! Di sini hanya ada dua buah penginapan. Bisa kita ketahui dengan cepat."
"Tunggu di sini, Huck, sampai aku tiba."
Tom segera berangkat. Ia tak ingin terlihat di tempat umum bersama Huck. Ia pergi selama setengah jam. Di penginapan yang terbaik kamar nomor 2 ditempati oleh seorang ahli hukum muda, sudah sejak lama ia tinggal di situ. Di penginapan yang kurang megah, No, 2 diliputi oleh rahasia. Kata anak pemilik penginapan, kamar nomor 2 selalu tertutup pintunya. Tak pernah ia melihat
Pewaris Keris Kiai Kuning 2 Pendekar Cambuk Naga 9 Iblis Pulau Keramat Jawaban Answer 2
^