Pencarian

Petualangan Tom Sawyer 2

Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain Bagian 2


Tetapi hati muda yang masih kembang tak bisa ditekan untuk waktu yang lama. Tom mulai memikirkan kehidupannya. Bagaimana kalau ia menghilang dari desa" Bagaimana kalau ia pergi jauh, jauh sekali, ke negara-negara yang belum diketahuinya di seberang lautan dan tak akan kembali lagi" Biar dirasakan oleh Becky! Pikiran untuk menjadi badut sirkus timbul dan dibuangnya dengan penuh kebencian. Kegembiraan, senda gurau dan celana kembang berbelang-belang tak patut dipikirkan, bila seseorang sedang memikirkan yang romantis. Tidak, lebih baik ia menjadi prajurit, kemudian kembali penuh pengalaman perang dan bintang jasa. Tidak lebih baik, jika ia ikut orang-orang Indian, berburu bison dan berperang di
pegunungan serta di padang rumput di daerah Barat, kemudian kembali sebagai kepala suku, dengan pakaian bulu burung, serta cat perang ia akan masuk ke Sekolah Minggu musim panas yang tenang. Ia akan meneriakkan pekik perang dan membuat semua kawan iri hati. Tunggu, ada yang lebih hebat. Ya, ia akan menjadi seorang bajak laut! Benar! Tetap sudah pilihannya untuk masa depan. Masa depannya kini gilang-gemilang penuh kejayaan. Betapa namanya akan masyur dan ditakuti oleh seluruh dunia. Betapa megahnya ia, menjelajahi lautan dengan perahu layarnya Semangat Taufan, dengan bendera mengerikan berkibar di tiang agung. Pada puncak kemasyhurannya ia akan muncul ke desanya, masuk gereja dengan pakaian bajak laut: baju dan celana ketat dari beledu hitam, sepatu lars, kain pinggang merah, ikat pinggang dengan pistol besar-besar terselip, pedang penuh darah kejahatan di samping, topi lebar dengan jumbai-jumbai panjang, benderanya ditebarkan, bendera hitam dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang; dadanya pasti akan meledak karena bangga bila mendengar bisik semua orang, "Itulah Tom Sawyer, si Bajak Laut... Si Pembalas Dendam dari armada Spanyol!"
Yah, sudah beres, masa depannya telah pasti. Ia akan melarikan diri dan mewujudkan cita-citanya. Mulai besok pagi. Maka sekarang ia harus bersiap-siap, akan mengumpulkan semua harta bendanya. Tom menghampiri sebatang kayu yang
98 roboh di dekatnya. Dengan pisau Barlow ia menggali tanah di bawah. Pisaunya tertumbuk kepada kayu yang tampaknya berongga. Tom meletakkan tangan di kayu itu dan membaca mantera dengan penuh keyakinan:
"Apa yang belum datan
g, datanglah! Apa yang telah ada, tinggallah!"
Tanah-tanah disingkirkan, tampaklah selembar genting sirap dari kayu pinus. Genting itu diambil, terbuka sebuah tempat penyimpanan harta yang dasarnya terbuat dari genting-genting sirap pula. Di situ terdapat sebutir kelereng. Tom tercengang, garuk-garuk kepala kebingungan dan menggerutu, "Bagaimana ini bisa terjadi""
Dengan gusar dilemparkannya kelereng itu jauh-jauh dan Tom berdiri berpikir. Anak-anak percaya, bila seseorang memendam sebutir kelereng dengan disertai mantera-mantera, dan meninggalkannya selama dua minggu, kemudian pendaman itu dibuka dengan mantera pula, maka di lubang pendaman akan ditemui kelereng yang pernah hilang, walaupun hilangnya tersebar berjauhan. Tetapi ternyata percobaan Tom gagal total. Kepercayaan Tom goncang sampai ke dasarnya. Tak pernah ia mendengar ceritera tentang kegagalan mantera itu, semuanya berhasil. Sebelum ini memang ia pernah mencobanya berkali-kali, namun tak bisa dinilai gagal atau tidak, sebab ia selalu lupa tempat ia memendamkan kelerengnya. Lama Tom berpikir, akhirnya ia mendapat kesimpulan, seorang tukang
99 tenung telah ikut campur dan mencabarkan mantera sakti itu. Dia harus mendapatkan kepastian tentang itu; maka ia mencari-cari sampai diketemu-kannya tempat berpasir dengan lubang berbentuk corong. Tom membungkuk hingga mulutnya dekat kepada lubang itu dan berseru, "Undur-undur, undur-undur, katakan apa yang ingin kuketahui!"
Pasir bergerak, seekor binatang mirip kumbang kecil muncul, tapi lari kembali masuk ke dalam pasir dengan ketakutan.
"Ia tak berani berkata! Tak ragu lagi pastilah manteraku diganggu oleh tukang tenung seperti yang kukira!"
Ia tahu, sia-sia melawan kekuatan tukang tenung, maka ia tak melanjutkan usahanya. Tapi terpikir olehnya untuk mencari kelereng yang telah dilemparkannya. Dengan tekun dicarinya kelereng itu. Sia-sia. Ia kembali ke tempat ia berdiri, waktu melemparkan kelereng itu. Diambilnya sebutir kelereng dari sakunya dan dilemparkannya seperti tadi sambil berkata, "Pergi dan temuilah saudaramu!"
Diperhatikannya di mana kelereng kedua itu jatuh, dan di tempat itulah ia mencari kelereng yang pertama. Agaknya lemparannya terlalu jauh atau mungkin terlalu dekat, kelereng pertama tak diketemukannya. Ia mencoba lagi dua kali. Pada kali terakhir kelereng pertama diketemukannya hanya berjarak satu kaki dari kelereng kedua.
Tepat saat itu terdengar suara terompet mainan
100 sayup-sayup dalam hutan itu juga. Tom membuka jaket dan celana dengan segera, seutas tali celana dijadikannya ikat pinggang, dari balik semak-semak dekat pohon tumbang tempat ia memendam kelereng tadi dikeluarkannyalah sebuah busur beserta anak panahnya, pedang mainan dan terompet dari kaleng. Begitu selesai mengambil ini semua, Tom berlompat-lompatan dengan baju berkibar, bertelanjang kaki. Di bawah sebatang pohon yang besar ia berhenti, meniup terompetnya, dan dengan sangat berhati-hati bergerak maju, berbisik pada serombongan kawan yang hanya dalam khayalannya, "Hati-hati kawan-kawan, bersembunyilah sampai kutiup terompetku."
Muncul Joe Harper, pakaian dan persenjataannya seperti Tom. Tom berseru, "Berhenti! Siapa yang berani memasuki rimba Sherwood tanpa ijinku""
"Guy dari Guisborne tak membutuhkan ijin dari siapa pun. Siapa engkau yang ... yang ..."
"Yang berani menyapaku demikian," Tom memberi petunjuk, sebab keduanya bercakap menurut cerita dalam buku.
"Siapa engkau yang berani menyapaku demikian""
"Mengapa tak berani" Akulah Robin Hood, seperti yang akan dibuktikan nanti oleh bangkaimu."
"Ha, jadi kaulah penjahat yang termasyhur itu" Girang aku bisa bertengkar denganmu tentang ijin
101 di rimba ini. Awas!"
Keduanya mencabut pedang, melemparkan benda-benda lain dan memasang kuda-kuda untuk bermain anggar. Mereka adu pedang dengan hati-hati, dua di atas dua di bawah sampai Tom berseru, "Ayuh, bila kau telah panas, mari lebih seru!" Mereka bertanding lebih seru, sampai terengah-engah dan bermandikan keringat. Akhirnya Tom berteriak, "Roboh! Kamu roboh! Mengapa kamu tak roboh"" roboh""
"Tidak. Mengapa tidak kau sendiri yang rob
oh" Kau yang kalah!"
"Aku tak bisa roboh! Itu menyalahi buku. Di buku disebutkan 'Kemudian dengan sebuah pukulan back hand dirobohkannya Guy dari Guisborne itu.' Nah, kau harus berpaling untuk kupukul punggungmu."
Peraturan tetap peraturan, Joe berpaling, dipukul punggungnya dan roboh.
"Nah," Joe bangkit, "kini giliranmu untuk kubunuh baru adil."
"He, tak tertulis semacam itu di buku."
"Kalau begitu tak adil."
"Dengar, Joe, kau bisa jadi Pendeta Tuck, atau Much anak penggiling gandum, dengan, begitu kau bisa memukulku dengan tongkat; atau biarlah aku jadi Sheriff dari Nottingham dan kau jadi Robin Hood sebentar, dengan begitu kau bisa membunuh aku."
102 Usul itu disetujui, dan adegan tersebut dimainkan. Kemudian Tom jadi Robin Hood lagi yang hampir mati karena dikhianati oleh seorang rahib wanita yang membiarkan luka Robin Hood terus berdarah. Joe, memerankan seluruh pasukan penjahat, datang dengan menangis, dan menyeret pergi Tom, kemudian menempatkan busurnya pada tangan 'Robin Hood' yang gemetar.
"Di mana anak panah ini jatuh, di situ kuburkan-lah tubuh Robin Hood ini, di bawah sebatang pohon kayu hijau," kata Tom, melepaskan anak panahnya. Setelah memanah ia roboh dan sesungguhnya langsung mati, tapi ternyata ia jatuh ke dalam semak-semak berduri sehingga terpaksa ia melompat lagi, terlalu tangkas bagi sebatang mayat.
Kedua anak berpakaian kembali, menyimpan alat-alatnya dan berjalan pulang. Dalam hati, mereka merasa sedih karena jaman Robin Hood telah lewat. Dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang bisa diberikan oleh peradaban modern untuk menggantikan jaman yang hilang itu. Mereka berkata, lebih baik jadi anak buah Robin Hood setahun, daripada jadi presiden Amerika Serikat seumur hidup.
103 Bab IX PERKELAHIAN DI KUBURAN PUKUL setengah sepuluh malam itu, Tom dan Sid disuruh tidur seperti biasa. Keduanya mengucapkan do'a dan Sid segera tertidur. Tom masih jaga, gelisah. Ketika jam berbunyi pukul sepuluh, baginya hari telah mendekati pagi. Betul-betul membuatnya putus asa. Kalau bisa, pasti ia berguling-guling namun ia takut, kalau Sid terbangun. Ia terlentang saja, menentang kegelapan. Makin malam, bunyi-bunyi yang tadinya senyap' mulai terdengar. Mula-mula detak lonceng. Balok-balok kayu tua berdetak. Tangga berderik perlahan. Tak salah lagi, pastilah hantu-hantu bergentayangan. Dari kamar Bibi Polly terdengar dengkur. Suara jengkerik tak habis-habisnya. Disusul oleh suara ketik-ketik menakutkan dari kumbang maut di dinding dekat ujung atas tempat tidur yang membuat Tom gemetar - suara itu menandakan bahwa seseorang akan menemui ajalnya. Anjing melolong di kejauhan membelah kesunyian malam disambut anjing lain. Tom merasa tersiksa. Akhirnya ia merasa
104 waktu berhenti berjalan dan kekekalan dimulai. Tidak disadarinya ia merasa pulas. Lonceng berbunyi sebelas kali tak didengarnya. Kemudian samar-samar terdengar suara kucing yang panjang dan menyedihkan. Tetangga ribut membuat ia terbangun oleh seruan, "Kucing bangsat! Pergi!"
105 diiringi oleh botol yang pecah di tumpukan kayu. Sesaat kemudian ia keluar dari jendela, merangkak di atas atap. Ia mengeong pula, melompat ke atap gudang dan dari sana ke tanah. Huckleberry Finn menanti dengan bangkai kucing. Kedua anak itu lenyap ditelan kegelapan malam. Setengah jam kemudian mereka tiba di antara rumput-rumput tinggi di pekuburan.
Kuburan kuno itu letaknya di puncak bukit atau setengah mil dari desa. Pagarnya, pagar papan yang tidak terurus lagi, ada yang condong ke dalam, ada yang condong ke luar, tak ada yang tegak. Rumput dan belukar tumbuh dengan suburnya. Kuburan-kuburan tua telah terbenam, tanpa nisan untuk menunjukkan tempatnya; yang tampak hanya tonggak-tonggak kayu dengan papan yang telah dimakan bubuk, hampir habis. Tadinya di papan-papan itu tertulis "Untuk Mengenang Anu", tetapi kini kebanyakan tulisan-tulisan itu tak terbaca lagi, biarpun pada siang hari.
Terdengar angin berdesau di antara pohon-pohonan. Bagi Tom seolah-olah penghuni-penghuni kuburan mengeluh, karena daerahnya dimasuki mereka. Kedua anak itu cuma berbisik-bisik, sebab waktu, tempat, suasa
na serta kesunyian amat menekan jiwa mereka. Segera mereka temui kuburan baru yang mereka cari. Tom dan Huck menyembunyikan diri di balik tiga batang pohon elm yang tumbuh berdekatan dengan kuburan itu. Rasanya seperti berabad-abad dan mereka me-
106 nunggu dengan sabar. Yang terdengar hanya bunyi burung hantu dari kejauhan. Tom tak tahan lagi, ia berbisik pada Huckleberry, "Hucky, kau kira, senangkah orang-orang mati ini tempatnya dikunjungi""
"Aku juga ingin tahu," Huckleberry berbisik pula, "sangat sepi, bukan"" "Memang."
Keduanya diam, masing-masing memikirkan persoalan yang sedang mereka hadapi. Kemudian Tom berbisik lagi, "Eh, Hucky... kau pikir bisakah Hoss Williams mendengar kita berbicara""
"Tentu saja, sedikitnya nyawanya bisa mendengar kita."
Setelah diam sesaat Tom berkata, "Oh, seharusnya aku memanggilnya Tuan Williams. Tapi aku tak bermaksud mengejek, semua orang memanggilnya Hoss."
"Kita harus berhati-hati, bila membicarakan tentang orang-orang yang telah mati, Tom."
Pernyataan Huckleberry ini mematikan nafsu untuk berbicara. Namun Tom mendadak memegang lengan temannya dan berkata, "Sssh!"
"Ada apa, Tom!" Tak terasa kedua anak saling berpelukan dengan dada berdebar-debar.
"Sh! Lihat! Kaudengar""
"Aku ..." "Itu! Kini kau mendengarnya."
"Tuhan, Tom, mereka ke mari! Mereka ke mari,
107 betul-betul ke mari! Apa yang kita kerjakan""
"Aku tak tahu. Mungkinkah mereka bisa melihat kita""
"Oh, Tom, mereka bisa melihat di kegelapan seperti kucing. Betapa senangnya kalau aku tak datang ke sini."
"Jangan takut. Aku tak percaya mereka akan mengganggu kita. Kita pun tak mengganggu mereka. Bila kita tak bergerak, mungkin mereka tak tahu kita di sini."
"Aku ingin diam, Tom, tapi, Tuhan, badanku gemetar!"
"Dengar!" Kedua anak itu menundukkan kepala, hampir-hampir tak bernapas. Dari ujung lain sayup-sayup terdengar suara mendekat.
"Lihat! Lihat!" bisik Tom, "Apakah itu""
"Itu api setan! Oh, Tom, ngeri!"
Beberapa bayangan muncul dari kegelapan, membawa sebuah lentera kuno yang menyebarkan cahaya di tanah. Segera Huckleberry berbisik pada Tom, "Betul-betul setan yang datang. Tiga! Ya, Tuhan, Tom, celaka kita. Bisa kau berdoa""
"Akan kucoba, tapi jangan takut. Mereka tak akan mengganggu kita. Kini kubaringkan diriku, aku ..."
"Sst!" "Ada apa, Huck"" .
"Mereka itu, manusia! Sedikitnya satu di antara mereka, kudengar suara Muff Potter!" "
108 "Tidak ... oh, bagaimana bisa""
"Benar, tak salah lagi. Jangan bergerak kau. Matanya tak begitu tajam untuk bisa melihat kita. Paling-paling ia sedang mabuk seperti biasanya."
"Baik. Aku tak akan bergerak. Lihat mereka sedang bingung, tak tahu jalan. Nah, mereka bergerak lagi. Bergerak. Diam. Bergerak lagi. Bergerak cepat. Agaknya sekarang mereka mengetahui arah yang benar. He, Huck, aku tahu suara lainnya, suara Joe, si Indian!"
"Betul! Peranakan Indian yang kejam itu! Aku lebih takut olehnya daripada oleh setan. Apakah yang akan mereka kerjakan""
Bisik-bisik itu lenyap. Ketiga orang tadi berdiri di dekat kuburan Hoss Williams, hanya beberapa meter dari tempat persembunyian kedua anak itu.
"Ini dia," kata yang ketiga. Seorang mengangkat lenteranya, dan tampaklah wajah Dokter Robinson, seorang dokter yang masih muda.
Potter dan Joe, si Indian mendorong sebuah gerobak dengan dua buah sekop di dalamnya. Mereka berhenti dan mulai menggali kuburan baru itu. Dokter Robinson meletakkan lenteranya di bagian kepala kuburan, membelakangi pohon-pohon. Dokter itu begitu dekat, hingga punggungnya bisa disentuh oleh Tom dan Huckleberry.
"Lekas!" kata dokter itu berbisik, "bulan bisa muncul setiap saat."
Potter dan Joe, si Indian hanya menggeram, kemudian menggali. Hanya suara sekop yang ter-
109 dengar, menggali serta membuang tanah dan batu. Akhirnya terdengar suara sekop terbentur pada peti mayat dan sesaat kemudian kedua orang itu telah mengangkat peti mayat Hoss Williams. Dengan sekop mereka membuka peti mayat itu dan dengan kasar melemparkan isinya ke luar. Bulan muncul dari balik awan menyinari mayat, yang pucat. Gerobak disiapkan, mayat ditaruh di dalamnya, ditutupi selimut dan diikat erat-erat.
Potter mengeluarkan sebilah pisau lipat yang besar untuk memotong tali yang terlalu panjang dan berkata pada Dokter Robinson, "Nah, benda terkutuk ini sekarang siap, Dokter. Dan cepat keluarkan lima dollar lagi, kalau tidak, mayat itu tidak akan diangkat."
"Benar," kata Joe, si Indian.
"Apa, katamu"" tanya Dokter Robinson, "Kalian minta dibayar di muka, padahal kalian telah kubayar."
"Ya, lebih dari itu," Joe, si Indian, mendekati Dokter Robinson, yang kini berdiri. "Lima tahun yang lalu, pada suatu malam kau usir aku dari dapur ayahmu, ketika aku minta sedikit makan. Kau tuduh aku berbuat jahat. Ketika itu aku bersumpah akan membalas perbuatanmu, walaupun aku harus menunggu seratus tahun. Ayahmu memenjarakan aku dengan tuduhan bahwa aku seorang gelandangan. Kau kira aku lupa" Bukan percuma darah Indian mengalir di tubuhku. Dan kini kau dalam kekuasaanku. Kau harus membayar hutang!"
Sambil berbicara itu, Joe, si Indian, mengancam sang dokter dengan mengacung-acungkan tinjunya. Dokter Robinson tiba-tiba menghantam orang kasar itu hingga terjatuh. Potter membuang pisaunya sambil berteriak, "Hai, jangan kaupukul, sahabatku!"
Sesaat kemudian ia bergulat dengan Dokter Robinson, saling mengerahkan kekuatan. Sementara itu Joe, si Indian, melompat berdiri, matanya bersinar marah, menyambar pisau Potter, bagaikan kucing merunduk mengelilingi kedua orang yang sedang berkelahi. Sesaat Dokter Robinson berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Potter, menyambar papan peti mati Hoss Williams dan menghantam Potter dengan papan itu hingga roboh. Pada saat yang sama Joe, si Indian, melompat ke depan, menusukkan pisau ke dada dokter itu. Dokter Robinson terhuyung, jatuh ke tubuh Potter, membasahinya dengan darah. Saat itu bulan tertutup awan, menjadi gelap gulita. Saat itu Tom dan Huckleberry lari meninggalkan tempat itu dalam lindungan gelap.
Ketika bulan muncul kembali, Joe, si Indian, memperhatikan mayat Dokter Robinson dan tubuh Muff Potter. Peranakan Indian itu menggerutu, "Kini hutangku sudah lunas, engkau yang terkutuk."
Cepat-cepat diambilnya barang-barang berharga dari tubuh dokter itu, kemudian diletakkannya
pisau yang baru saja memutuskan nyawa orang tersebut di tangan Muff Potter yang terbuka. Joe, si Indian, tenang menunggu di peti mayat Hoss Williams. Tiga, empat, lima menit berlalu, Potter mulai bergerak dan mengerang. Tangannya menggenggam, hingga tergenggam olehnya pisau itu. Potter mengangkat tangannya, memperhatikan pisau itu, membiarkan jatuh dan tubuhnya bergetar. Kemudian ia bangun, mendorong tubuh dokter yang menindihnya, melihat ke sekitar dengan bingung. Matanya bertemu pandang dengan Joe, si Indian.
"Tuhan, apa yang telah terjadi, Joe"" tanya Potter.
"Busuk sekali, Muff," jawab Joe tanpa bergerak, "untuk apa ia kaubunuh""
"Aku! Bukan aku yang membunuhnya!"
"Dengar! Sangkalanmu itu tak ada gunanya."
Potter gemetar, wajahnya pucat seketika, "Mestinya aku tak boleh mabuk. Untuk apa sebenarnya aku minum malam ini. Tak terpikir olehku waktu itu... kini lebih buruk lagi dari sebelum kita ke mari. Aku bingung, tak ingat sama sekali. Katakan, Joe, katakan sejujurnya, sobat baik, betulkah aku yang membunuhnya" Demi jiwa dan kehormatanku, sama sekali aku tak bermaksud menyakitinya, betul-betul tidak, Joe. Katakan apa yang terjadi, Joe. Oh, ngeri betul, ia masih muda dan mempunyai masa depan gemilang."
"Kalian berkelahi hebat, dia menghantammu
112 dengan papan peti mati, hingga kau roboh. Kau melompat bangun, terhuyung mengambil pisau dan menusuknya, tepat pada saat ia memukulmu lagi dengan keras. Kau jatuh lagi, pingsan sampai lama."
"Oh, aku tak tahu apa yang kukerjakan, sungguh mati! Ini semua karena pengaruh wiski, dan karena perkelahian tadi, mungkin. Aku tak pernah mempergunakan senjata selama hidupku, Joe. Aku sering berkelahi, tapi tanpa senjata. Semua orang tahu, Joe, jangan ceriterakan kejadian ini pada siapa pun, berjanjilah, Joe, sobat baik. Aku selalu menyukaimu, Joe, dan aku selalu membelamu. Tidak ingatkah kau, Joe" Berjanjilah, tidak akan membuka rahasia ini, Joe, kau mau, bukan"" Orang yang malang itu berl
utut di depan kaki si Pembunuh yang tenang-tenang saja. Potter mendekap tangan Joe, si Indian, memohon.
"Benar, kau selalu jujur dan adil terhadapku, Muff Potter, dan aku tak akan menghianatimu. Nah, bukankah itu janji yang cukup baik bagimu""
"Oh, Joe, kau betul-betul seorang malaikat! Kuberkati kau untuk ini selama aku masih hidup." Potter mulai menangis.
"Ayolah, sudah cukup. Ini bukan waktunya untuk menangis. Pergilah lewat jalan itu, dan aku lewat jalan ini. Ayo cepat, dan jangan meninggalkan jejak sedikit pun."
Potter berangkat, mula-mula berlari-lari kecil kemudian makin lama makin cepat. Si peranakan Indian memperhatikannya, sambil bersungut-sungut:
"Mudah-mudahan pikirannya tidak beres oleh pukulan dokter itu dan karena minuman keras. Setelah jauh baru ia akan teringat akan pisaunya dan saat itu ia akan merasa takut kembali ke sini seorang diri - hh, pengecut!"
Dua atau tiga menit kemudian mayat yang terbungkus, peti yang tak tertutup dan lobang yang ternganga itu hanya ditemani oleh sinar bulan.
Suasana menjadi sunyi kembali.
114 Bab X ANJING MELOLONG YANG MENGERIKAN
KEDUA anak itu berlari terengah-engah sampai tidak bisa berbicara, karena ketakutan. Berkali-kali mereka menoleh ke belakang, ketakutan akan dikejar. Setiap batu nisan yang muncul bagaikan manusia dan musuh, menjadikan jantung mereka berhenti berdetak. Rumah-rumah di pinggir desa telah mereka lalui. Karena gonggong anjing penjaga, mereka lari lebih cepat.
"Asal kita bisa mencapai tempat menyamak, sebelum roboh!" bisik Tom terengah-engah, "Aku tak tahan!"
Huckleberry kekurangan napas untuk menjawab. Kedua anak memusatkan pandang pada tujuan mereka dan menambah kekuatan untuk segera mencapainya. Dengan cepat mereka makin mendekati tujuan itu, dan akhirnya mereka melemparkan diri lewat pintu tempat penyamakan dan dengan penuh rasa terimakasih serta lelah, mereka berbaring di lantai diselubungi kegelapan.
Beberapa lama kemudian napas mereka kembali
l15 biasa dan Tom berbisik, "Huckleberry, bagaimana peristiwa ini akan berakhir""
"Bila Dokter Robinson mati, pembunuhnya pasti digantung."
"Betulkah""
"Pasti, Tom." Tom berpikir sejenak dan bertanya, "Siapa yang akan memberi tahu kepada pengadilan" Kita""
"Tolol! Coba, bila sesuatu terjadi dan Joe, si Indian, lolos dari hukuman gantung" Bukankah ia akan membunuh kita""
"Itu pulalah yang kupikirkan, Huck."
"Biarlah Muff Potter saja yang menjadi saksi. Ia cukup tolol untuk berani berbuat demikian. Ia selalu mabuk."
Tom diam, berpikir. "Huck, Muff Potter tak mengetahui kejadian itu, bagaimana bisa ia bersaksi""
"Bagaimana kau tahu, ia tak mengetahui""
"Ia dipukul oleh dokter itu, ketika Joe, si Indian, bertindak. Kau kira, ia bisa melihat" Kau kira, ia mengetahui""
"Masya Allah! Betul juga, Tom!"
"Dan lagi, dengar, mungkin Muff Potter juga mati oleh pukulan itu""
"Tak mungkin, Tom. Ia baru minum-minum, bisa kulihat itu; ia selalu mabuk. Nah, bila bapakku penuh minuman keras, walaupun tertimpa sebuah gereja ia tak akan merasa. Ia sendiri yang berkata. Begitu juga dengan Muff Potter. Kalau orang tidak
116 mabuk kena pukulan semacam itu, mungkin ia tewas seketika."
Setelah diam sejurus, Tom berkata, "Hucky, kau pasti bisa menutup mulut""
"Tom, kita harus menutup mulut. Kau tahu, setan Indian itu tak akan segan-segan menenggelamkan kita bagaikan menenggelamkan dua ekor kucing, bila kita berani membuka rahasianya dan ia akan lolos dari hukuman. Kini, dengar, Tom, marilah kita bersumpah pada diri kita masing-masing - itu tindakan yang paling jitu - bersumpah untuk menutup mulut."
"Bagus, aku setuju. Ayo, angkat tanganmu dan bersumpah, bahwa ..."
"Oh, tidak, sumpah semacam itu tak berlaku untuk hal penting seperti ini. Itu hanya untuk yang kecil-kecil, terutama untuk perempuan, sebab akhirnya mereka akan melanggar sumpah itu, dan mengobral omongan, bila mereka mendapat kesempatan. Untuk sumpah besar harus tertulis. Juga diperlukan darah."
Tubuh Tom bergetar gembira oleh usul ini. Sungguh seram dan mengerikan waktunya, keadaannya, tempatnya, semua serasi. Tom mengambil sebuah genting sirap yang tergeletak di cahaya
bulan, lalu diambilnya sepotong karang merah dari sakunya dan mulai menulis dalam terang rembulan. Lidahnya terulur di antara giginya, Tom menulis hati-hati, tiap garis yang turun diberi tekanan dan yang naik tekanannya dikurangi.
117 Huckleberry kagum akan tulisan Tom dan keindahan bahasanya. Segera diambilnya sebuah peniti dari leher bajunya dan akan dicucuknya jarinya dengan peniti, ketika Tom mencegahnya.
"Jangan! Penitimu kuningan, mungkin ada karat tembaganya."
"Apa itu karat tembaga""
118 "Racun, karat tembaga itu racun. Kau telan sedikit saja dan tahu rasa."
Tom mengambil jarum, membuka benang dan mereka menusuk empu jari, kemudian darahnya dipijit ke luar. Setelah berkali-kali memijit Tom menuliskan huruf singkatan namanya, kelingkingnya sebagai pena dan darah dari jempolnya sebagai tinta. Ia mengajari Huckleberry bagaimana melukiskan H dan F, dan sempurnalah sumpah itu. Dengan upacara dan doa-doa seram, mereka mengubur genting sirap itu di dekat dinding. Dengan begitu mereka menganggap mulut dan lidah mereka terkunci, dan kuncinya telah mereka buang jauh-jauh.
Sebuah bayang-bayang manusia merayap di kegelapan dan masuk di ujung lain dari bangunan yang tak terpakai itu. Tom dan Huck tak memperhatikannya.
"Tom," bisik Huckleberry, "apakah ini membuat kita menutup mulut untuk selama-lamanya""
"Tentu. Apa pun yang terjadi, kita harus bungkam. Bila tidak, kita akan mati seketika, tahukah kau""
"Kukira begitu."
Untuk beberapa lama, mereka berbisik-bisik, sampai tiba-tiba seekor anjing melolong panjang mengerikan, kira-kira tiga meter dari tempat mereka berbaring. Kedua anak saling berpelukan, gemetar ketakutan.
"Siapa di antara kita berdua yang dimaksud""
119 bisik Huckleberry terengah-engali.
"Aku tak tahu; intai dari lubang itu. Cepat!" "Kau saja, Tom!"
'Tidak ... aku tak bisa, Huck!" "Ayolah, Tom, dengar, ia melolong lagi!"
"Ya, Tuhan, syukur!" bisik Tom, "aku tahu suara itu. Itu Bull Harbison."*)
"Oh, bagus kalau begitu... dengar Tom, betul-betul aku hampir mati ketakutan, tadi aku merasa yakin, itu anjing liar."
Anjing melolong lagi, kembali hati kedua anak itu penuh ketakutan.
"Wah, itu bukan suara Bull Harbison!" bisik Huckleberry, "Lihat, Tom!"
Tom gemetar ketakutan, mengintai melalui lubang di dinding. Suaranya hampir tak terdengar waktu ia berbisik, "Oh, Huck, itu anjing liar!"
"Cepat, Tom! Cepat! Siapa yang dimaksudnya""
"Huck, yang dimaksudnya pasti kita berdua... kita di sini bersama-sama!"
"Oh, Tom, kita pasti akan segera mati, kalau begitu. Kukira aku tahu pasti ke mana aku akan pergi, dosaku terlalu banyak!"
"Aku juga. Pasti ini disebabkan oleh terlalu seringnya aku membolos dan melanggar larangan. Sesungguhnya aku pun bisa menjadi anak baik
*) Bila Tuan Harbison mempunyai budak bernama Bull, maka Tom akan memanggilnya, "Bull milik Harbison". Tetapi anak atau anjing tuan Harbison dipanggilnya, "Bull Harbison".
120 seperti Sid, tapi tidak,'aku tak mau. Kalau aku bisa lolos dari keadaan ini, aku berjanji untuk menjadi anak terbaik di Sekolah Minggu." Tom terisak-isak.
"Kau merasa jahat"" Huckleberry juga mulai terisak-isak. 'Terkutuk! Tom Sawyer, dibandingkan dengan aku kau malaikat. Oh, Tuhan, Tuhan, Tuhan, betapa senangnya, bila aku separuh saja mendapat kesempatan.'
Tom tertegun dan berbisik, "Lihat, Hucky, ia membelakangi kita!"
Hucky menengok ke luar, dan hatinya meledak kegirangan:
"Betul! Demi yingo! Apakah tadi ia juga begitu""
"Ya, memang. Alangkah tololnya aku tadi tak memperhatikannya. Sompret, siapa kini yang dimaksudkannya""
Lolongan anjing itu berhenti, Tom memasang telinga.
"Ssst, apa itu"" bisiknya.
"Seperti suara... babi mendengkur... tidak ... itu dengkur manusia, Tom!"
"Benar! Di mana, Huck""
"Kukira di ujung sana. Kedengarannya begitulah. Bapakku kadang-kadang tidur di sana bersama babi, tapi Tuhanku, bila ia mendengkur, maka semua benda pasti beterbangan. Lagi pula ia tak pernah datang lagi ke kota ini."
Jiwa petualangan kedua anak itu timbul lagi.
"Hucky, maukah kau ke sana, jika aku yang berjalan di depan""
121 "Tidak mau, Tom. Siapa tahu, mungkin itu Joe, si Indian."
Hilang keb eranian Tom. Tapi sebentar kemudian rasa ingin tahu mereka memuncak lagi, dan kedua orang anak itu setuju untuk memeriksa sumber dengkur itu dengan perjanjian, mereka akan lari, bila suara dengkur berhenti. Hati-hati mereka berjalan di ujung kaki, beriringan. Waktu mereka lima langkah lagi dari yang mendengkur, Tom menginjak ranting kayu yang patah. Orang yang sedang mendengkur itu menggeliat menoleh ke arah cahaya bulan. Muff Potter. Kedua anak itu merasa, nyawa mereka telah terbang, ketika Potter bergerak. Namun setelah ternyata bahwa itu Muff Potter, ketakutan mereka lenyap.
Tanpa bersuara keduanya keluar dari gedung rusak itu, berhenti agak jauh dari tempat itu untuk mengucapkan kata-kata perpisahan. Lolongan anjing yang panjang dan menyeramkan itu terdengar lagi. Tom dan Huckleberry berpaling, terlihat anjing itu berdiri dekat tempat Potter berbaring, menghadap Potter dengan hidung ke langit.
"Masya Allah! Itulah dia!" teriak kedua anak itu serentak.
"He, Tom; kata orang, dua minggu yang lalu ada anjing melolong-lolong mengelilingi rumah Johnny Miller. Pada malam itu juga seekor burung hantu hinggap di atap tetangganya dan berbunyi. Tetapi di rumah itu tak ada seorang pun yang meninggal dunia."
122 "Hm, aku pun tahu tentang hal itu. Betul, belum ada orang yang meninggal, tetapi bukankah Gracie Miller jatuh ke dalam api, mendapat luka terbakar, tepat pada hari berikutnya""
"Ya, tetapi ia tidak meninggal, bahkan kini berangsur baik."
"Tunggu sajalah. Gracie pasti akan meninggal dunia, seperti juga Muff Potter akan mengalami nasib yang sama. Demikianlah kepercayaan orang Negro, dan mereka tahu betul tentang hal-hal seperti ini, Huck."
Kemudian mereka berpisah, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri. Ketika Tom masuk kamar tidur lewat jendela, malam hampir berakhir. Dengan hati-hati Tom berganti pakaian, terus tidur, gembira karena tak ada yang mengetahui tentang pelariannya. Ia sama sekali tak tahu, bahwa Sid yang mendengkur sebenarnya telah bangun, sebelum Tom masuk.
Ketika Tom bangun pada pagi harinya, dilihatnya Sid telah tiada. Hari telah siang, jelas ia kesiangan. Tom terkejut. Mengapa ia tak dibangunkan dan ditanya seperti biasa" Berbagai pikiran memenuhi otaknya. Dalam waktu lima menit ia telah berpakaian dan turun dari tangga. Tubuhnya terasa sakit dan ngantuk. Keluarga Bibi Polly masih di sekitar meja makan, tetapi mereka telah selesai sarapan. Tak ada yang memarahinya, tetapi semua menghindari pandangan matanya. Suasana dingin dan sunyi membekukan hati. Tom mengambil
123 tempat dan seolah-olah gembira, tapi sukar. Tak ada yang tersenyum, tak ada yang menyambut dan akhirnya ia pun diam dengan hati yang makin berat.
Setelah selesai sarapan, Bibi Polly membawanya ke samping. Tom agak gembira dengan harapan, ia akan mendapat cambukan. Tetapi tidak demikian. Bibi Polly hanya menangis dan menanya mengapa Tom selalu membikin hatinya sakit. Maka disuruhnya, biarlah Tom meneruskan tabiatnya yang akan menghancurkan dirinya sendiri dan membuat Bibi Polly mati kesedihan. Sebab, menurut Bibi Polly tak ada gunanya ia memperbaiki kehidupan Tom. Bagi Tom semua itu lebih pedih daripada seribu cambukan dan kini hati Tom lebih sakit dari badannya. Ia menangis, mohon ampun dan berjanji akan menjadi baik. Semua itu diucapkannya berkali-kali dan akhirnya ia diperbolehkan pergi. Tetapi ia sadar, ampun yang didapatnya tidak diberikan suka rela serta kepercayaan atas janjinya sangatlah tipis.
Begitu kacau pikirannya, sehingga ia tak bisa berpikir untuk membalas dendam pada Sid. Maka tidaklah ada gunanya Sid lari lewat pintu belakang. Dengan merengut ia pergi ke sekolah, menerima cambukan bersama Joe Harper, karena membolos kemarin sore. Cambukan itu tak dirasanya, sebab hatinya penuh duka cita, yang lebih besar dari cambukan. Ia bertopang dagu merenungi dinding, seorang yang telah mencapai batas daya tahan untuk
124 menanggung penderitaan, dan tak sanggup menanggung penderitaan lebih banyak. Sikunya menyentuh sebuah benda keras. Setelah agak lama ia berganti sikap duduk dan diambilnya benda itu dengan mengeluh. Benda i
tu terbungkus kertas, lalu dibukanya. Keluhannya amat panjang; hatinya betul-betul hancur. Benda itu tombol kuningan yang pernah diberikannya kepada Becky.
Penderitaan yang ditanggungnya menjadi melewati batas.
125 Bab XI HATI NURANI YANG MENGEJAR-NGEJAR
MENJELANG tengah hari, seluruh isi desa gempar oleh berita yang menyeramkan. Pada waktu itu berita kawat diimpikan saja belum, akan tetapi tidak perlu. Berita itu menjalar dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok, dari rumah ke rumah dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan telegrap. Dengan adanya berita itu tentu saja guru membebaskan para muridnya untuk pelajaran sore, kalau tidak, pasti seluruh penduduk akan berpikir, bahwa ia mempunyai pikiran aneh.
Sebilah pisau berdarah diketemukan dekat mayat Dokter Robinson, dan seseorang mengenal pisau itu sebagai milik Muff Potter - begitulah menurut ceritera. Dikatakan pula, bahwa seorang penduduk yang pulang kemalaman memergoki Muff Potter sedang mandi di anak sungai, kira-kira pukul satu atau dua tengah malam. Waktu itu Potter segera menyelinap pergi. Suatu hal yang sangat mencurigakan, apa lagi kalau diingat, bahwa Muff Potter jarang mandi. Kota kecil itu telah digeledah dengan
126 teliti untuk mencari si pembunuh tetapi tidak berhasil. Masyarakat cepat sekali dalam hal menyaring bukti-bukti dan memutuskan, siapa yang bersalah dalam hal seperti ini. Pencarian dilakukan pula dengan menyebarkan orang-orang berkuda ke segala arah dan sheriff (kepala petugas keamanan daerah) merasa pasti, bahwa Potter akan segera tertangkap sebelum malam tiba.
Seluruh penduduk datang ke kuburan. Kesedihan hati Tom lenyap, ia mengikuti rombongan orang banyak itu. Sebetulnya seribu kali lebih suka ia pergi ke tempat lain, namun sesuatu daya tarik yang tak diketahuinya menariknya ke sana. Di kuburan, tubuhnya yang kecil cekatan sekali melalui orang-orang yang penuh sesak, hingga ia bisa menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Dalam perasaannya ia berabad-abad di sana. Seorang mencubit lengannya. Ia menoleh dan matanya bertemu dengan mata Huckleberry Finn. Seketika itu juga masing-masing melengos, dan bertanya-tanya dalam hati, apakah ada orang yang mencurigai mereka" Tetapi semua orang sibuk berbicara dan hanya memperhatikan pemandangan yang mengerikan di depan mereka.
"Malang dia!" "Orang muda yang malang!" "Biarlah ini menjadi pelajaran bagi para pencuri mayat!" "Muff Potter pasti akan dihukum gantung, bila tertangkap!" Ini semua pembicaraan yang terdengar, sementara pendeta berkata, "Inilah keadilan; tanganNya telah bekerja di sini."
127 Tubuh Tom gemetar tak keruan, terlihat olehnya-air muka Joe, si Indian yang dingin. Saat itu orang banyak gelisah, dan berseru, "Itu dia! Itu dia! Dia datang sendiri!"
"Siapa" Siapa"" dua puluh buah mulut bertanya.
"Muff Potter!" "Dia berhenti! - Awas, ia berpaling! Jangan biarkan dia pergi!"
Orang-orang di dahan pohon di atas Tom berkata, bahwa Muff tak bermaksud untuk pergi - tetapi ia tampak bingung.
"Tak tahu malu!" seru seseorang. "Agaknya ia ingin melihat hasil pekerjaannya. Kukira ia tak menduga, di sini banyak orang."
Orang banyak bersibak untuk memberi jalan pada sheriff yang dengan megah menuntun Muff Potter ke tempat itu. Muff Potter berdiri di depan yang terbunuh, tubuhnya bergoyang bagaikan lumpuh tiba-tiba. Ia menangis tersedu-sedu, menutup muka dengan kedua belah tangannya.
"Bukan aku yang mengerjakannya," katanya sambil tersedu-sedu, "demi kehormatanku, bukan aku yang membunuhnya."
"Siapa yang menuduhmu"" orang berseru.
Pertanyaan ini tepat mengenai sasarannya. Potter mengangkat muka, melihat berkeliling dengan ke-putusasaan di matanya dan terlihatlah olehnya Joe, si Indian, dan berteriak, "Oh, Joe kau telah berjanji, kau tak akan ..."
"Apakah ini pisaumu"" tanya Sheriff menyodor-
128 kan pisaunya. Bila tidak disambut oleh beberapa orang, pastilah Potter roboh. Ia didudukkan di tanah dan berkata, "Sesuatu mengatakan padaku, bila aku tak kembali dan mengambil..." tubuhnya menggeletar, tanpa harapan ia melambaikan tangannya lemas, berkata pada Joe, "Joe, katakan pada mereka, ka
takan semua, tak guna disembunyikan lagi." Huckleberry dan Tom bagaikan bisu ternganga
129 mendengarkan kisahnya. Kedua anak itu menunggu-nunggu halilintar hukuman Tuhan dan bertanya-tanya, mengapa halilintar itu tak kunjung tiba. Sampai selesai si pembunuh sebenarnya berceritera, dengan nyawa dan tubuh tidak terganggu, yang menyebabkan keinginan mereka untuk menyalahi sumpah mereka dan menolong jiwa si tertuduh buyar seketika. Sebab, kini jelas bahwa si jahat itu telah menjual jiwanya kepada setan yang sangat membahayakan untuk ikut campur dalam urusan gaib yang begitu dahsyat.
"Mengapa kau tak melarikan diri" Untuk apa kau datang ke mari"" Seseorang bertanya.
"Aku tak mengerti - aku tak mengerti," keluh Muff Potter, "ingin aku melarikan diri, tapi tak bisa, kecuali ke mari." Ia menangis lagi tersedu-sedu.
Beberapa menit kemudian diadakan penyelidikan resmi. Di bawah sumpah, Joe, si Indian, kembali menceriterakan kisahnya setenang tadi. Makin percaya kedua anak itu, bahwa Joe telah menjual nyawanya kepada setan, sebab halilintar hukuman kali ini pun tak tiba. Bagi mereka kini Joe, si Indian, merupakan hamba iblis paling besar yang pernah mereka lihat. Tak bisa mereka mengangkat mata dari mukanya.
Dalam hati Huck dan Tom berjanji untuk selalu mengawasi Joe, si Indian, terutama di malam hari bila ada kesempatan dengan harapan bisa melihat, walau sekilas, tuannya yang menyeramkan itu.
130 Joe, si Indian, turut mengangkat si terbunuh itu ke atas gerobak untuk dibawa pergi. Tersiar desas-desus, luka di mayat itu memancarkan darah sedikit. Anak-anak merasa gembira, pertanda ini akan membelokkan arah kecurigaan pada arah yang benar. Tetapi mereka kecewa lagi, karena penduduk memberikan tanggapan:
"Darahnya memancar dalam jarak kurang dari semeter di dekat Muff Potter!"
Seminggu setelah kejadian itu Tom selalu terganggu tidurnya oleh rahasia yang mengerikan serta hati nurani yang mencekam. Suatu pagi Sid berkata, "Tom. tidurmu gelisah dan kau terlalu sering mengigau, sehingga aku tak bisa tidur."
Tom tertegun, menundukkan kepala.
"Pertanda buruk," kata Bibi Polly sungguh-sungguh. "Apa yang kaupikirkan, Tom""
"Bukan apa-apa, setahuku bukan apa-apa, Bi." Namun tangannya gemetar, hingga kopinya tumpah.
"Dan betapa mengerikan kata-katamu," kata Sid, "tadi malam kau berkata Ttu darah! Itu darah!' berkali-kali. Juga kau berkata 'Jangan siksa aku, aku mengaku!' Mengaku apa" Apa yang akan kauakui, Tom""
Bagi Tom semua seakan-akan timbul di ruang matanya. Tak bisa dikirakan apa yang akan terjadi, tetapi untunglah kekhawatiran menghilang dari wajah Bibi Polly dan tak disadarinya, ia membantu Tom dengan berkata, "Oh, begitu! Pasti pem-


Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

131 bunuhan, yang mengerikan itu. Hampir tiap malam aku memimpikannya. Kadang-kadang aku bermimpi, seolah-olah akulah yang melakukan pembunuhan itu."
Mary berkata, ia pun terpengaruh dengan cara yang hampir sama. Sid agaknya puas. Tom pergi ke luar cepat-cepat dan mulai saat itu ia membebat rahangnya setiap akan tidur dengan alasan giginya sakit.
Selama seminggu ia berbuat demikian. Tidak diketahuinya, setiap malam Sid bangun dan membuka bebatan rahang Tom, mendekatkan telinga ke mulutnya untuk mendengarkan apa yang diigaukan Tom. Setelah seminggu kekacauan dalam pikiran Tom mereda sakit giginya dihentikan. Bila Sid berhasil mengambil kesimpulan atas igauan Tom yang terputus-putus, kesimpulannya disimpannya sendiri.
Tom seakan-akan tak bosan-bosannya melihat teman-temannya bermain pengadilan, mengadili kematian kucing-kucing. Pemeriksaan bangkai-bangkai kucing sebagai korban pembunuhan itu mengingatkan Tom akan kesusahannya sendiri. Dalam permainan pemeriksaan mayat kucing itu Tom tak pernah memegang peranan pemeriksa mayat, walaupun sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu memegang peranan utama dalam permainan-permainan baru.
Ini dicatat dalam hati oleh Sid, yang juga memperhatikan bahwa Tom tak pernah berperan sebagai
132 saksi - suatu keanehan yang lain. Jelas Tom menunjukkan keengganan, dalam permainan-permainan itu, dan selalu menghindarkan diri bila dapat. Sid heran, tapi tak berkata-kata. Bagaimana p
un musim permainan pemeriksaan mayat berlalu dan berhentilah siksaan bagi Tom.
Dalam masa kesedihan ini, jika ada kesempatan, Tom menyelundupkan beberapa benda kecil melalui terali jendela penjara untuk si 'pembunuh'. Rumah penjara itu kecil, berdinding bata, di tengah rawa di tepi desa, tak dijaga dan jarang ada yang ditahan. Pemberian-pemberian ini banyak meringankan penderitaan Tom.
Penduduk desa mempunyai keinginan kuat untuk melumuri tubuh Joe, si Indian, dengan ter, membubuhinya dengan bulu-bulu ayam dan mengaraknya keliling kota sebagai hukuman, karena ikut campur dalam perkara pencurian mayat. Tapi begitu luar biasa wataknya, hingga tak seorang pun berani memimpin untuk melaksanakan maksud itu. Maksud itu akhirnya dilupakan orang. Joe, si Indian, berhati-hati dengan keterangannya dalam pemeriksaan pendahuluan, yang menceriterakan tentang perkelahian. Dia pun tidak mengakui ikut dalam pencurian mayat yang mendahului perkelahian itu. Maka dianggaplah sangat bijaksana untuk tidak mengadili perkara itu di pengadilan saat ini.
133 Bab XII KUCING DAN OBAT YANG MUJARAB
SALAH satu sebab, mengapa pikiran Tom menjauhi kesusahannya yang penuh rahasia itu adalah karena ada yang lebih penting untuk dipikirkan. Becky Thatcher lama sekali tak masuk sekolah. Tom telah berjuang untuk membuang kesombongannya jauh-jauh. Tak disadarinya, sering ia berkeliaran di sekitar rumah Becky di malam hari dengan hati sedih. Menurut kabar Becky sedang sakit. Bagaimana kalau ia meninggal" Tom menjadi kacau. Ia tak menaruh perhatian lagi pada peperangan. Bahkan menjadi bajak laut tak menarik hatinya lagi. Keindahan hidup lenyap; yang tinggal hanya kesuraman. Benda-benda permainannya dimasukkan dalam tempat yang tersembunyi. Benda-benda itu tak menghiburnya lagi. Bibi Polly mengkhawatirkan kesehatan Tom. Segala macam obat dicobakannya. Bibi Polly adalah salah seorang yang paling percaya terhadap obat-obatan paten dan cara-cara baru untuk memelihara kesehatan. Bila ada obat paten baru, Bibi Polly
134 bagaikan gila ingin mencobanya, bukan untuk dirinya, sebab ia tak pernah sakit, tapi untuk orang lain. ia berlangganan semua majalah 'Kesehatan' dan semua surat selebaran tentang ilmu tulang. Semua iklan berselubung 'ilmu' dan bacaan semacam itu merupakan candu bagi Bibi Polly. Dia betul-betul percaya tentang ventilasi, tentang bagaimana cara yang baik untuk tidur, bagaimana harus bangun, makan dan apa yang harus dimakan dan diminum, bagaimana harus berolahraga, cara berpikir yang baik, pakaian yang cocok untuk kesehatan. Majalah-majalah itu semua merupakan kitab suci baginya. Tak pernah diperhatikannya, bahwa yang dianjurkan oleh majalah-majalah itu dalam satu bulan bertentangan dengan anjuran-anjuran dalam bulan berikutnya. Bibi Polly seorang yang berhati jujur, maka ia merupakan mangsa yang empuk. Bacaan-bacaan serta obat-obat paten itu dikumpulkannya dengan rajin, begitulah ia mempersenjatai diri untuk menghadapi maut. Tak pernah terpikir olehnya, sebenarnya ia bukanlah malaikat yang pandai menyembuhkan, malah sebaliknya para tetangga dijadikannya korban percobaan..
Pengobatan dengan air merupakan barang yang baru. Berkurangnya kesehatan Tom merupakan 'berkat Tuhan' bagi Bibi Polly. Pagi-pagi sekali Tom disuruhnya berdiri di gudang kayu, disiramnya dengan air dingin berember-ember. Kemudian Tom digosok keras-keras dengan anduk, diselimutinya rapat-rapat dengan selimut basah, supaya jiwanya
135 jadi putih-bersih. Kata Tom sendiri "kotorannya keluar kekuning-kuningan lewat pori-pori kulit, kotoran jiwa."
Dengan pengobatan ini Tom tak sembuh, ia makin pucat. Maka ia dimandikan air panas, mandi sambil duduk, mandi dengan air mancur dan mandi dibenamkan. Semua tak berbekas, Tom tetap semuram peti mati. Sesudah mandi dengan air panas, Tom harus makan tepung gandum dan tubuhnya dibalur dengan pupuk. Agaknya bagi Bibi Polly Tom itu semacam guci, dan tiap hari mengisinya dengan berbagai macam obat-obatan yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit.
Lama-kelamaan Tom menjadi acuh tak acuh kepada cara-cara pengobatan bibinya. Bibi Polly merasa khaw
atir. Sikap acuh tak acuh itu harus segera diberantas dengan cara apa pun. Pada saat itu Bibi Polly mendengar obat ajaib yang bernama Penghapus Sakit. Segera Bibi Polly memesan obat itu sebanyak-banyaknya. Dicobanya sedikit, dan jiwanya dipenuhi oleh rasa terimakasih. Penghapus Sakit itu betul-betul bagaikan api cair. Diberinya Tom sesendok dan diperhatikanlah akibatnya. Kekhawatirannya segera lenyap, kedamaian mengisi jiwanya; sikap acuh tak acuh Tom lenyap seketika. Walaupun misalnya Bibi Polly membuat api unggun di bawah Tom, akibatnya tak akan sehebat itu.
Tom merasa, saatnya tiba untuk bangun; kehidupannya selama ini cukup romantis dalam
136 keadaan yang terkutuk, tetapi makin lama makin banyak perubahan yang membuyarkan pikiran dan makin sedikit perhatian pada perasaan hatinya. Maka ia merancang rencana untuk membebaskan diri dari semua ini dan akhirnya ia berbuat seolah-olah suka kepada obat Penghapus Sakit itu. Ia meminta obat itu begitu sering, hingga merepotkan bibinya, yang kemudian menyuruhnya untuk mengambil sendiri bila perlu. Kalau yang mempergunakan obat itu Sid, Bibi Polly tak akan menaruh curiga, tapi kecurigaannya itu hilang setelah melihat, obat itu makin lama makin berkurang. Tak pernah terpikir olehnya, sebetulnya obat itu bukan digunakan oleh Tom untuk keperluannya sendiri, melainkan untuk dituangkan dalam sebuah lobang
137 di lantai ruang duduk. Pada suatu hari, sedang Tom menuangkan obat Penghapus Sakit itu ke dalam lobang di lantai, kucing Bibi Polly datang menjilat obat itu.
"Jangan, Peter, kalau kau tak sungguh-sungguh menginginkannya," kata Tom kepada Peter, kucing itu. Tapi Peter memperlihatkan, ia betul-betul menginginkannya.
"Betul-betulkah""
Peter merasa yakin. "Nah, kau sendiri yang meminta dan kuluruskan permintaanmu. Aku orang pemurah. Tapi bila terbukti, obat ini tak baik bagimu, salahmu sendiri, bukan salahku."
Peter setuju. Tom membuka mulut Peter dan obat Penghapus Sakit itu dituangkan ke dalam mulut kucing. Seketika itu juga Peter melompat ke udara, meneriakkan pekik peperangan dan berlari-lari mengelilingi ruangan, menubruk perabot-perabot, menggulingkan pot-pot bunga, membuat keributan besar. Setelah itu ia berdiri pada kedua kaki belakangnya, menari berputar-putar, bagaikan gila karena kegembiraan, kepalanya di bahu meneriakkan kebahagiaan yang sedang dinikmatinya. Kemudian ia berputar-putar menghancurkan segala benda yang merintanginya. Bibi Polly tergopoh-gopoh masuk mendengar keributan itu, melihat Peter berjumpalitan dua kali di udara, meneriakkan pekikan yang paling hebat dan melompat ke luar jendela yang terbuka dengan membawa pot-pot
138 bunga yang masih berdiri. Bibi Polly terpukau, matanya terbelalak. Tom terpingkel-pingkel sampai lemas.
"Tom! Kenapa kucing itu"" "Aku tak tahu, Bi," jawab Tom terengah-engah. "Belum pernah kulihat dia seperti itu. Apa sebabnya""
"Betul aku tidak tahu, Bi, kucing suka begitu, kalau sedang gembira."
"Betulkah"" kata Bibi Polly, membuat Tom khawatir.
"Ya, Bi, kukira begitulah."
"Kau cuma mengira."
"Ya, Bi." Nyonya tua itu membungkuk, Tom memperhatikan dengan perasaan khawatir. Terlambat ia sadar akan maksud bibinya. Sendok untuk minum obat terlihat di bawah sprei. Bibi Polly mengambil sendok itu dan memperhatikannya. Tom menundukkan kepala. Bibi Polly menjiwir telinganya, dan mengetuk kepalanya.
"Nah," desis Bibi Polly, "sekarang terangkan, untuk apa kau siksa binatang tak berdosa itu""
"Karena aku kasihan padanya, Bi, ia tak mempunyai Bibi."
"Tak mempunyai Bibi! Apa hubungannya itu dengan siksaan tadi""
"Banyak, Bi. Bila ia mempunyai Bibi, tentu bibinya sendiri yang akan membakarnya. Bibi itulah yang akan memanggang isi perutnya seperti
139 manusia juga." Rasa sesal menghantam Bibi Polly. Matanya terbuka kini; apa yang dianggapnya kekejaman pada seekor kucing merupakan kekejaman pula bagi seorang anak. Ia menyesal. Matanya berkaca, pelahan ia meletakkan tangan di kepala Tom.
"Aku hanya ingin membikin kau sembuh, Tom, aku bermaksud baik dengan obat itu."
Tom memandang muka bibinya, sinar nakal terpancar dari matanya.
"Aku tahu, Bibi bermak
sud baik, begitu juga aku bermaksud baik bagi Peter. Belum pernah kulihat ia segembira itu ..."
"Pergilah, Tom, sebelum kau memberi kesukaran padaku lagi. Dan kali ini cobalah untuk menjadi anak baik-baik, dan kau tak usah minum obat itu lagi."
Tom tiba di sekolah jauh sebelum pelajaran dimulai. Keanehan ini terjadi juga pada hari-hari sebelumnya. Seperti hari-hari sebelumnya Tom tidak bermain-main dengan kawan-kawannya, melainkan berdiri-diri saja di dekat pintu pagar. Tampaknya ia sakit. Ia berbuat seolah-olah melihat ke sana ke mari, tetapi perhatian sebenarnya ke ujung jalan. Ketika Jeff Thatcher muncul, Tom menjadi gembira. Tapi hanya sesaat; ia sedih lagi. Ketika Jeff tiba, dengan hati-hati Tom bertanya tentang Becky. Pertanyaan-pertanyaan itu membingungkan Jeff, karena ditanyakan tidak langsung, sehingga yang diharapkan Tom tak tercapai. Kem-
140 bali Tom memperhatikan ujung jalan; seorang murid perempuan terlihat dan timbullah harapannya. Betapa bencinya ia setelah ternyata si gadis itu bukan yang diharapkannya. Akhirnya tak ada lagi murid perempuan yang kelihatan dan ia menjadi putus asa. Berjalan gontailah ia masuk ruang sekolah yang kosong, duduk termenung.
Kemudian sebuah gaun kembali melenggang melewati pintu pagar. Seketika itu juga Tom melompat, berlari ke luar bagaikan seorang Indian gila; berteriak-teriak, tertawa-tawa, mengejar semua anak lelaki, melompati pagar dengan melawan kemungkinan jatuh patah kaki, berjalan terbalik dengan tangan, mengerjakan segala macam keberanian yang terpikir olehnya dan sementara itu matanya melirik ke arah Becky Thatcher, melihat apakah si dia memperhatikannya. Tetapi tampaknya Becky tak memperhatikan kelakuannya tadi, sama sekali tak melihat ke arahnya. Tom mengalihkan daerah main gilanya makin mendekati Becky; berlari-larian berkeliling sambil menjerit-jerit, merampas topi seorang kawan dan melemparkannya ke atap sekolah, menubruk murid-murid lelaki hingga mereka jatuh tunggang-langgang. Dia sendiri jatuh di depan kaki Becky, hampir saja menubruknya. Becky membuang muka, berpaling sambil berkata, "Uh, ada orang yang mengira dirinya sendiri sangat cakap - selalu jual tampang!"
Pipi Tom serasa terbakar. Ia berdiri dan berlari ke luar halaman sekolah dengan hati yang hancur.
141 Bab XIII BAJAK-BAJAK LAUT BERLAYAR
PIKIRAN Tom bulat sudah. Dia putus asa. Ia seorang anak yang dilalaikan dan tak berteman, tak seorang pun yang mencintainya. Mungkin semua orang akan menyesal, bila kelak mereka mendapatkan sesuatu yang mereka paksakan atas dirinya. Ia telah berusaha untuk mengikuti kehendak mereka dan berbuat baik, tetapi itu belum cukup bagi mereka. Tampaknya mereka tak akan puas sebelum ia lenyap, jadi biarlah itu terjadi. Pasti mereka akan menyalahkannya, karena ia mengambil ke-putusan ini. Tapi biarlah, memang itu kebiasaan mereka. Apa hak seseorang yang tak berteman untuk mengeluh" Ya mereka memaksanya untuk mengambil jalan ini, ia akan memasuki dunia kejahatan. Tak ada jalan lain.
Saat itu ia jauh di ujung Meadow Lane. Sayup-sayup didengarnya suara lonceng masuk sekolah. Tom tersedu memikirkan, ia tak akan mendengar lagi suara itu - sungguh berat, tetapi ini dipaksakan padanya. Ia didorong keras untuk memasuki dunia
142 yang dingin, jadi terpaksa ia menyerah. Tetapi ia memaafkan orang-orang itu. Sedu sedannya makin berat.
Pada saat itu ia bertemu dengan sahabat karibnya, Joe Harper, yang juga menangis bermata merah, dan agaknya juga mempunyai rencana besar di hatinya. Jelas mereka berdua adalah 'dua jiwa dengan satu hati'. Tom menghapus air mata dengan lengan bajunya, terisak-isak menyatakan niatnya untuk melarikan diri dari perlakuan kasar dan tak ada perhatian di rumah dengan mengembara di luar negeri, di dunia yang luas ini dan tak akan kembali. Pernyataan itu diakhiri dengan permintaan, semoga Joe tak melupakannya.
Tetapi Joe juga ingin menyampaikan hal yang sama kepada Tom. Ibunya telah memukulnya dengan tuduhan bahwa ia telah meminum sari susu, padahal tahu saja ia tidak. Kesimpulannya, ibunya telah bosan kepadanya dan menghendaki ia pergi. Jika itu maksud ibunya, bai
klah; mudah-mudahan ibunya akan berbahagia dan tak menyesal telah mengusir anaknya ke dunia yang tak kenal belas kasihan ini.
Tom dan Joe berjalan bersama-sama, tenggelam dalam kesedihan, memperbaharui sumpah, bahwa mereka akan saling tolong, menjadi saudara dan tak akan berpisah sebelum maut meringankan penderitaan mereka. Kemudian keduanya saling membeberkan rencana. Joe bermaksud untuk menjadi pertapa, hidup di gua hanya makan remah-remah roti dan
143 akan mati kedinginan, kelaparan dan kesedihan. Tapi setelah mendengarkan rencana Tom, ia mengaku, bahwa kehidupan di alam kejahatan lebih menarik, maka ia setuju untuk menjadi bajak laut.
Beberapa kilometer sebelah hilir St. Petersburg, di mana Sungai Mississippi lebarnya lebih dari satu kilometer, terdapat sebuah pulau panjang yang sempit, berhutan lebat. Tempat itu dianggap paling baik untuk tempat pertemuan rahasia. Pulau itu tak berpenghuni; letaknya lebih dekat ke pantai seberang sungai, bersampingan dengan pantai sungai yang berhutan lebat, serta tak berpenghuni pula. Bulat sudah, pulau Jackson terpilih. Siapa yang akan menjadi korban mereka, soal belakang. Keduanya mencari Huckleberry Finn yang juga menyetujui untuk ikut dengan mereka, sebab semua pekerjaan sama bagi Huck; semua disukainya. Ketiganya berpisah dengan janji untuk berkumpul di suatu tempat sepi di tepi sungai, pada waktu yang menjadi kegemaran mereka, yaitu tengah malam. Ada sebuah rakit di tempat itu, yang akan mereka rampas. Masing-masing harus membawa mata kail lengkap dengan talinya, bahan makanan yang bisa dicuri dengan cara yang paling rahasia - sebagai kebiasaan para penjahat.
Dan sebelum sore, ketiganya berhasil menikmati kebanggaan menyebarkan desas-desus, bahwa dalam waktu dekat seluruh penduduk akan mendengarkan 'sesuatu'. Siapa pun yang mereka beri tahu tentang ini mereka minta untuk tutup mulut dan tunggu.
144 Menjelang tengah malam, Tom berhenti di semak-semak di atas jurang kecil yang menyembunyikan tempat pertemuan malam itu dengan membawa sepotong besar paha rebus dan beberapa alat kecil. Langit hanya diterangi oleh cahaya bintang. Sunyi. Sungai raksasa mengalir tenang bagaikan samudera yang teduh. Tom mendengarkan dengan teliti, tak satu pun suara terdengar. Ia bersiul rendah, tapi terang. Dari bawah tubir terdengar siul jawaban. Tom bersiul dua kali dan dijawab dengan cara yang sama. Dengan hati-hati ada suara bertanya, "Siapa di situ""
"Tom Sawyer, Pembalas Dendam Hitam dari armada Sepanyol. Sebutkan nama kalian!"
"Huck Finn si Tangan Merah dan Joe Harper, Hantu Samudera," Tom melengkapi kedua kawannya dengan gelar-gelar tersebut, yang diambilnya dari buku yang paling digemarinya.
"Bagus! Sebut kata sandi!"
Dan suara serak mengucapkan kata seram, serentak di kesunyian malam:
"DARAH!" Tom melemparkan bawaannya ke bawah, kemudian tubuhnya, menerobos semak-semak hingga baju dan kulitnya koyak-koyak. Sesungguhnya ada jalan yang lebih aman untuk turun, namun jalan itu tak masuk hitungan, sebab terlalu mudah dan tak berbahaya, dua hal yang jadi pantangan bajak laut.
Hantu Samudera berhasil mencuri sepotong besar lemak babi yang membuatnya hampir mati ke-
145 lelahan untuk membawanya ke tempat itu. Finn si Tangan Merah telah mencuri sebuah tempat penggorengan dan tembakau yang setengah matang. Juga ia membawa beberapa bongkol jagung untuk pembuat pipa. Tapi tak seorang pun dari kedua rekannya yang merokok. Pembalas Dendam Hitam dari armada Sepanyol berkata, bahwa tanpa membawa api mereka tak mungkin bisa mengerjakan cita-citanya. Pikiran yang bijaksana; korek api hampir boleh dikatakan belum dikenal di waktu itu. Seratus meter dari tempat itu, di atas sebuah rakit, tampak api membara. Dengan hati-hati mereka merangkak ke tempat itu, mencuri bara. Mencuri itu bagi mereka suatu petualangan yang penuh bahaya dan sesekali mereka berbisik, "Awas!" Tanda diberikan dengan jari di bibir dan tangan meraba hulu pisau khayal. Perintah-perintah seram dibisikkan untuk 'menghujamkan pisau sampai ke hulunya' bila 'si musuh' bergerak, sebab 'orang mati tak kan bisa berceritera lagi'. Mereka tahu dengan
pasti, bahwa para pemilik rakit sedang di desa, tidur di toko-toko atau sedang bersenang-senang, tetapi itu bukan alasan untuk mengerjakan pencurian itu tanpa mengikuti cara yang biasa dijalankan oleh para bajak laut.
Mereka berhasil mencuri rakit menurut rencana dan segera meninggalkan pantai dengan Tom sebagai komandan, Huck memegang pendayung belakang Joe pendayung depan. Tom berdiri di tengah 'kapal' berwajah keren, tangan bersilang di dada,
146 memberikan perintah dengan suara rendah penuh wibawa:
"Berlayar, hadapkan ke angin!"
"Baik, baik, Tuan!"
"Tetapkan haluan, tetaaaaap!"
"Sudah tetap, Tuan!"
"Belokkan ke kanan satu derajat!"
"Satu derajat, Tuan!"
Sementara anak-anak itu tanpa banyak tingkah mendayung rakit ke tengah sungai. Tidak dapat diragukan lagi, perintah-perintah itu diberikanlah untuk 'gaya' saja dan tak berarti sedikit pun.
"Layar apa yang dinaikkan""
"Penentu arah, layar puncak dan layar terbang, Tuan!"
"Suruh naikkan layar terbesar! Ayo, naik, enam orang, hai, kau! Tiang agung depan! Cepat! Ayo!" "Baik, baik, Tuan!"
"Tebarkan layar tiang kedua itu! Layar dan kait! Ayo, cepat, anak-anak!" "Baik, baik, Tuan!"
"Bagi rata, oi! Belokkan ke kiri! Siap untuk menempuhnya! Kiri! Kiri! Ayo, semua! Kerahkan kekuatan! Bagi rata, oi!"
"Bagi rataaa, oi!"
Rakit telah melampaui pertengahan sungai; anak-anak itu mengarahkan haluan rakit ke kanan dan mengangkat dayung-dayung mereka. Air sedang surut, arus hanya berkecepatan dua atau tiga mil per jam. Hampir tak terdengar kata-kata selama
147 tiga per empat jam berikutnya. Rakit melampaui kota, yang kini telah jauh. Dua atau tiga buah kerdipan lampu menunjukkan letak kota yang kini tidur dengan damai di seberang keluasan air yang memantulkan kerlipan bintang-bintang, sama sekali tak menduga akan peristiwa maha hebat yang sedang terjadi. Si Pembalas Dendam Hitam masih berdiri sambil melipat tangan, melemparkan pandangan pada permulaan hidupnya dan penderi-taan-penderitaan pada akhirnya. Betapa senangnya bila 'dia' juga menyaksikan keberangkatannya menghadapi amukan samudera, menentang maut dengan hati teguh, menyambut kebinasaan dengan senyum dingin di bibir. Mudah saja baginya untuk membuat pulau Jackson menjadi tempat yang tak bisa dipandang dari St. Petersburg dengan hati hancur, tapi puas. Kedua bajak laut yang lain juga memandang untuk terakhir dan mereka begitu lama termenung, hingga hampir saja mereka dibawa arus, lepas dari daerah pulau tujuan mereka. Untunglah mereka segera sadar akan bahaya ini dan membuat perubahan arah untuk menghindarinya. Kira-kira jam dua subuh rakit terdampar di pasir dua ratus meter dari pulau. Para bajak mengarungi gosong itu pulang pergi untuk mendaratkan barang-barang. Sebagian barang-barang yang telah di atas rakit, termasuk sehelai layar tua, mereka ambil juga. Layar itu mereka tebarkan di atas suatu tempat di semak-semak untuk melindungi barang-barang yang lain. Mereka
148 sendiri akan tidur di alam terbuka sebagai kebiasaan para penjahat.
Mereka membuat api terlindung di sisi sebatang pohon besar yang rebah dua puluh atau tiga puluh
149 langkah di dalam hutan, kemudian memasak lemak babi di penggorengan untuk makan malam, menghabiskan hampir setengah dari persediaan jagung yang mereka bawa. Rasanya senang sekali untuk berpesta pora secara liar dan bebas di hutan, perawan dari suatu pulau yang belum pernah diselidiki dan tak berpenduduk, jauh dari masya-, rakat manusia dan mereka berjanji tidak akan kembali ke dunia peradaban. Api yang berkobar-kobar menerangi wajah mereka, melemparkan cahaya merah pada pohon-pohon besar yang bagaikan pagar mengitari tempat itu diseling oleh semak-semak dan berbagai tumbuhan yang merambat.
Ketika goreng babi dan jagung habis terganyang, anak-anak itu berbaring di rumput sekitar api unggun dengan perasaan puas. Mereka bisa berbaring di tempat yang lebih sejuk, tetapi mana mungkin mereka meninggalkan keindahan api unggun yang bagai membakar diri mereka itu.
"Menggembirakan bukan"" kata Joe.
"Sedaaap!" sahut Tom, "Apa kata kawan-kawan kita bila mereka melihat kita saat ini""
"Kata mereka" Hm, mati pu
n mereka mau asal saja mereka bisa ikut serta dengan kita di sini. Bukan begitu, Hucky""
"Begitulah kira-kira," jawab Huckleberry, "betapa pun ini sangat cocok untukku. Aku tak ingin yang lebih baik dari ini. Biasanya aku tak bisa makan sampai cukup kenyang - dan di sini tak
150 akan ada yang mengganggu serta mengusirku."
"Inilah hidup yang paling cocok untukku," kata Tom, "Kita tak usah bangun pagi-pagi, tak usah pergi ke sekolah dan mandi dan segala tetek bengek tolol. Kau tahu, seorang bajak laut tak usah mengerjakan apa pun, Joe, bila sedang di darat, sedang seorang pertapa harus selalu berdo'a sepanjang hari, tanpa bisa menikmati kegembiraan hidup, selamanya seorang diri."
"Oh, ya, memang begitu," jawab Joe, "tak pernah terpikir olehku hal itu. Aku akan lebih suka menjadi seorang bajak laut, setelah mencobanya."
"Kau tahu," kata Tom lagi, "kini pertapa tak seberapa dihormati seperti di masa lalu. Tetapi bajak laut tetap dihormati. Dan lagi seorang pertapa harus tidur di tempat yang paling kasar, memakai pakaian dari karung serta menaburkan abu di kepalanya, berdiri di hujan dan ..."
"Untuk apa ia menaruh abu di kepala"" tanya Huck.
"Tak tahu. Tetapi itu suatu keharusan. Pertapa selalu begitu. Harus kaukerjakan, bila kau seorang pertapa."
"Bagaimana bisa aku mengerjakannya"" sahut Huck.
"Lalu apa yang akan kaukerjakan"" "Aku tak tahu. Tapi aku tak mau mengerjakan-nya.
"Itu suatu kewajiban, Huck, bagaimana kau bisa" menghindarkan diri""
151 "Aku akan melarikan diri. Tak tahan harus berbuat begitu."
"Melarikan diri! Betapa bagusnya kau kalau jadi pertapa, Huck, kau pasti mencemarkan semua nama pertapa!"
Si Tangan Merah tak menjawab lagi, sebab ia sudah mengerjakan hal yang lebih penting. Ia telah selesai mengorek isi tongkol jagung dan kini melengkapinya dengan tangkai rumput. Tongkol jagung yang telah berlubang itu diisinya dengan tembakau, diambilnya segumpal bara, ditekankan pada tembakau itu, maka mengepullah asap dari mulutnya, yang dirasakannya sebagai kenikmatan luar biasa. Kedua bajak yang lain mengawasinya, masing-masing berjanji untuk menguasai kepandaian ini secepat mungkin.
Akhirnya Huck bertanya, "Apa yang dikerjakan oleh bajak laut""
"Wah, menyenangkan sekali," jawab Tom, "merampas kapal, membakar, merebut uangnya serta menyembunyikannya di pulau yang menjadi sarangnya, di mana hantu-hantu menjaga uang itu. Membunuh isi kapal - menyiksa mereka dengan menyuruhnya berjalan lewat sebilah papan."
"Semua wanita mereka bawa pulang ke sarang," tambah Joe, "bajak laut tak membunuh wanita."
"Benar, wanita-wanita tak dibunuh," angguk Tom, "wanita-wanita itu biasanya bangsawan, berwajah cantik."
"Mereka selalu berpakaian indah, penuh dengan
152 perhiasan," kata Joe gembira.
"Siapa"" tanya Huck.
"Para bajak laut itu, tentu!"
Huck memperhatikan pakaiannya dengan sedih. Berkatalah dia dengan menyesal, "Kupikir pakaianku tak pantas untuk seorang bajak laut. Tetapi hanya ini yang kupunyai."
Kedua kawannya mengatakan, pakaian indah itu akan segera dipunyainya setelah petualangan dimulai. Dalam keyakinan mereka, pakaian yang compang-camping itu cukup untuk memulai kehidupan bajak laut, meskipun pada umumnya bajak laut yang kaya memulai petualangannya dengan pakaian yang sesuai.
Lama-kelamaan percakapan mereka makin berkurang, rasa kantuk memberati pelupuk mata. Pipa si Tangan Merah jatuh tak terasa dari jari-jarinya; ia pun jatuh tertidur dengan amat nyenyak. Hantu Samudera serta si Pembalas Dendam Hitam dari armada Sepanyol agak sukar untuk tidur. Mereka mengucapkan sembahyang sambil berbaring, sebab tak ada orang yang memerintahkan mereka untuk berlutut. Sebetulnya mereka tidak ingin sembahyang, tetapi mereka tak berani untuk berbuat dosa sejauh itu, takut kalau-kalau mereka mendapat hukuman dari langit. Mereka terkatung-katung di daerah tidur; namun terganggu lagi, sehingga mereka tak tertidur. Yang mengganggu itu bisikan hati kecil. Mereka mulai merasa takut, mereka telah berbuat dosa besar dengan melarikan diri dan
153 dengan mencuri daging. Pikiran itu sungguh menyiksanya. Mereka mencoba menghibur diri, bahwa sebelum
nya mereka pun telah sering menyikat gula-gula serta apel; tetapi hati kecil mereka tak mau menerima pembelaan lemah itu, seakan menekankan bahwa mengambil permen dan apel itu hanyalah mencopet, sedang mengambil daging serta barang-barang lainnya sudah jelas mencuri, dan untuk pencurian tegas-tegas disebutkan hukumannya dalam kitab suci. Maka di dalam hati masing-masing mereka berjanji, selama mereka menjadi bajak laut mereka tak akan melibatkan diri dengan kejahatan pencurian. Hati nurani mereka agaknya bersedia mengadakan gencatan senjata, dan para bajak laut yang punya janji luar biasa ini akhirnya tertidur pulas.
154 Bab XIV KEHIDUPAN DI PERKEMAHAN KETIKA Tom bangun di pagi hari, mula-mula ia bingung di mana dia. Ia duduk, menggosok mata dan melihat berkeliling. Kemudian ia sadar. Fajar abu-abu dan dingin, menyebarkan rasa kedamaian dan kesegaran dalam suasana tenang serta sunyi yang menguasai rimba. Tidak ada daun bergerak; tak ada suara mengganggu kesenyapan alam. Embun bergantungan di ujung daun dan rerumputan. Api unggun ditutup abu putih, hanya ditandai oleh asap tipis mengalun ke langit. Joe dan Huck masih tidur nyenyak.
Kini, jauh di depan rimba, terdengar seekor burung; dijawab oleh yang lain. Segera terdengar pula detak burung pelatuk. Langit memutih, dan suara-suara mulai banyak terdengar. Di depan mata Tom tampak keajaiban alam sedang meninggalkan mimpi untuk bekerja. Seekor ulat mengangkat tubuhnya ke udara sambil terus maju, agaknya ia sedang mengukur jalan, pikir Tom. Ketika ulat itu mendekatinya, Tom berdiam bagai batu. Harapan-
155 nya turun-naik sesuai dengan gerakan ulat itu yang masih ragu-ragu dalam menentukan arah. Ketika akhirnya ulat itu naik di kaki Tom, hati Tom sangat gembira, apalagi setelah ulat itu naik di sepanjang tubuhnya. Ini berarti ia akan mendapat sepasang pakaian baru. Tak salah lagi seperangkat pakaian bajak laut yang indah. Entah dari mana sepasukan semut muncul, mulai bekerja; seekor semut dengan mengerahkan tenaga mengangkat seekor bangkai laba-laba yang lima kali sebesar tubuhnya, menaiki batang pohon. Seekor kumbang berbintik-bintik coklat memanjat rumput yang tinggi sekali. Tom membungkuk di dekat kumbang itu dan berkata, "Kumbang, kumbang, cepat pulang, rumahmu kebakaran, anakmu sendirian," dan si kumbang terbang untuk melihat rumahnya. Hal ini tak mengherankan Tom sebab kumbang semacam itu memang mudah percaya tentang kebakaran besar, dan Tom sudah sering menipunya. Seekor kumbang lain datang, susah mengangkat perutnya yang tambun. Tom menyentuh binatang itu, yang menarik semua kakinya ke tubuh dan berbaring pura-pura mati. Sementara itu burung-burung sudah riuh. Seekor beo hinggap di dahan di atas kepala Tom, dan meniru segala nyanyian burung di sekitar tempat itu dengan gembira. Seekor burung biru berteriak nyaring, hinggap dekat tangan Tom, menelengkan kepala dan penuh perhatian memperhatikan mahluk yang agaknya asing baginya. Seekor tupai kelabu dan seekor
156 rubah melintas di tempat itu, berhenti untuk mempercakapkan anak-anak itu. Binatang-binatang liar ini belum pernah melihat manusia dan tak tahu apakah harus takut atau tidak. Semua isi alam bangun dan bergerak, sinar matahari menembus rimba, beberapa ekor kupu-kupu datang beterbangan.
Bajak-bajak laut yang lain dibangunkan Tom, kemudian dengan bersorak mereka bertiga berlari ke pantai, berkejaran di kedangkalan pasir putih, sebentar-sebentar saling menjatuhkan. Mereka sama sekali tak memikirkan lagi desa kecil yang masih tidur di seberang sungai raksasa itu. Agaknya semalam pasang naik, dan menghanyutkan rakit mereka, tetapi ini malah membuat mereka berterima kasih, sebab dengan hilangnya rakit itu putus sudah hubungan mereka dengan masyarakat beradab.
Mereka kembali ke perkemahan dengan segar bugar, gembira dan lapar. Api unggun dinyalakan kembali. Huck menemukan mata air kecil yang airnya sangat jernih dan sejuk. Anak-anak itu membuat mangkuk dari daun kayu dan sebagai kopi dibikinnya bumbu-bumbu hutan. Sementara itu Joe akan memotong daging babi, tapi dicegah oleh Tom dan Huck, disuruhnya untuk menunggu sebe
ntar. Mereka pun melemparkan kail. Segera kail mereka ada yang menyambut dan ketika diangkat ikan-ikan bergantungan. Joe tak merasa kesal menantikan Tom dan Huck, yang membawa
157 banyak ikan cukup untuk satu keluarga. Digoreng-lah ikan-ikan itu dengan daging babi dan tercengang mereka merasakan nikmat ikan-ikan itu. Mereka tak tahu semakin cepat ikan air tawar dimasak setelah tertangkap, semakin enak rasanya. Mereka pun tak memperhitungkan, tidur dan bermain-main di udara terbuka, berenang dan rasa lapar menambah perasaan enak itu.
Setelah sarapan mereka berbaring di keteduhan, dan Huck menghisap rokoknya. Kemudian mereka berangkat untuk menyelidiki hutan itu. Gembira mereka melompati batang-batang kayu busuk, menerobos semak-semak berduri, di antara kayu-kayu raksasa rimba yang ditumbuhi oleh sulur-suluran. Mereka menemui tempat-tempat nyaman dengan rumput lembut dengan bunga-bunga beraneka warna.
Banyak penemuan yang membuat mereka gembira, tapi tak ada yang membuat mereka heran. Menurut mereka, pulau itu panjangnya tiga mil dan lebarnya seperempat mil. Pantai sungai yang terdekat jauhnya dua ratus meter, bukan pantai desa tempat mereka. Hampir setiap jam sekali mereka berenang-renang dalam sungai, dan baru sesudah sore mereka kembali ke perkemahan. Mereka terlalu lapar untuk mengail, maka mereka obral daging babi dingin. Selesai makan, kembali mereka berbaring di keteduhan untuk bercakap-cakap. Tetapi tidak berapa lama percakapan mereka habis. Kesunyian, keagungan rimba menekan jiwa. Mereka
158 mulai berpikir. Perasaan rindu memenuhi dada, dan perasaan itu makin lama makin nyata, rindu akan rumah dan kampung halaman. Malahan Finn si Tangan Merah juga merindukan ambang pintu serta tong-tong kosong tempat ia tidur. Tetapi mereka malu untuk menunjukkan kelemahan hati masing-masing, tak ada keberanian untuk mengucapkan isi hati mereka.
Anak-anak itu sebenarnya sudah agak lama mendengar suara aneh di kejauhan, namun mereka tak sadar akan hal itu, seperti juga orang tak akan memperhatikan detak-detak lonceng, bila mereka tak memperhatikannya. Tetapi kini suara aneh itu makin keras, memaksa perhatian. Ketiga orang anak itu tertegun, saling pandang, mendengarkan dengan teliti. Sunyi; kemudian terdengar dentaman dari jauh.
"Apa itu"" seru Joe ketakutan.
"Entahlah," bisik Tom.
"Bukan guruh," kata Huck membelalakkan mata, "sebab guruh ..."
"Dengar!" tukas Tom, "dengarkan, jangan bicara!"
Mereka menunggu. Rasanya seabad, kemudian suara dentuman berat itu terdengar lagi. "Mari kita lihat!"
Ketiganya berlari ke pantai yang menghadap kota mereka di kejauhan. Semak-semak mereka kuakkan untuk mengintai. Tampak perahu tambang kecil hanyut mengikuti arus. Geladaknya penuh
159 oleh penumpang sedang di sekitarnya perahu-perahu kecil. Tetapi anak-anak itu tak bisa mengira-ngira, apa yang diperbuat oleh orang-orang itu. Asap putih menyembur dari sisi perahu dan sementara asap itu menjadi bertambah besar, suara dentuman sampai ke telinga anak-anak yang bersembunyi di semak-semak itu.
"Sekarang aku tahu!" seru Tom, "ada orang terbenam!"
"Benar!" sahut Huck. "Dalam musim panas yang lalu ketika Bill Tunner tenggelam, mereka menembakkan meriam di atas air, yang menyebabkan mayatnya mengapung. Ya, dan mereka juga menghanyutkan beberapa potong roti yang diberi air rasa. Roti itu akan berhenti tepat di atas tempat mayat orang terbenam itu."
"Ya, pernah kudengar," kata Joe, "apa kira-kira yang membuat roti itu bisa menunjukkan tempat mayat terbenam tadi""
"Oh, yang penting bukan rotinya," sahut Tom, "yang membuat roti itu berhenti hanyut, yalah doa-doa yang diucapkan waktu membuangnya."
"Tetapi mereka tak mengucapkan apa-apa waktu membuang roti," kata Huck, "aku pernah menyaksikan."
"Aneh, kalau begitu," Tom menggelengkan kepala, "tetapi doa-doa itu tentu diucapkan dalam hati. Begitulah. Semua orang tahu."
Kedua anak yang lain setuju, ada benarnya perkataan Tom, sebab tak mungkin, sepotong roti, tanpa
160 mantera bisa berhenti hanyut begitu saja.
"Betapa senangnya, bila aku bisa di dalam perahu itu," kata Joe.
"Aku juga," angguk Huck, "ingin aku ta
hu, siapa yang terbenam." Anak-anak itu masih mendengar dan memperhatikan terus. Tiba-tiba timbul pikiran dalam otak Tom dan ia berseru, "Aku tahu, siapa yang terbenam - kita!" Seketika itu juga ketiganya merasa sebagai pahlawan. Inilah suatu kemenangan besar. Orang-orang desa telah kehilangan mereka, merindukan mereka, menangisi mereka. Perlakuan yang tak baik terhadap anak-anak yang hilang memberat di hati, sesal dan duka cita membanjir; dan yang terutama adalah ketiga orang anak itu pasti jadi bahan pembicaraan seluruh kota, anak-anak menjadi iri hati, dan kemasyhuran itu dipakai sebagai ukuran. Bagus sekali. Ada harganya juga untuk menjadi bajak laut.
Ketika senja tiba, perahu itu kembali pada tugasnya sehari-hari, sedang biduk-biduknya lenyap. Para bajak laut pulang ke sarang. Mereka bersorak sorai dengan kebanggaan atas kemenangan yang baru mereka capai. Lalu mereka menangkap ikan, dan makan. Kemudian mereka menduga-duga apa yang dibicarakan oleh orang-orang di desa tentang mereka, apa yang dipikirkan orang. Gambaran mereka, kira-kira bagaimana penduduk sedih membuat mereka makin gembira. Tetapi ketika malam tiba, pembicaraan mereka makin berkurang. Ke-
161 tiganya mengecilkan api, pikiran mereka terbang tak keruan. Kegembiraan lenyap, Tom dan Joe terpaksa memikirkan beberapa orang di desa, yang tak ikut menikmati kegembiraan mereka. Perasaan waswas datang, mereka gelisah dan sedih. Tanpa disadari terdengar napas panjang mengeluh. Akhirnya Joe tak tahan lagi, berbelit-belit bertanya pada kawan-kawannya, bagaimana pandangan mereka kalau kembali ke dalam masyarakat ramai; tidak saat itu, tapi...
Tom menyerang Joe habis-habisan dengan ejekan! Huck yang waktu itu belum kejangkitan penyakit Joe membantu Tom sehingga si hati lemah cepat-cepat 'menerangkan' dan merasa girang berhasil membuang jauh-jauh kerinduannya akan rumah. Pemberontakan Hantu Samudera bisa dipadamkan untuk sementara waktu.
Malam makin kelam. Huck terangguk-angguk dan kemudian jatuh mendengkur. Ia diikuti oleh Joe. Tom menelungkup memperhatikan keduanya untuk beberapa lama. Akhirnya ia bangkit, me-rangkak-rangkak, mencari-cari di antara rerumputan dan kilatan cahaya oleh kelipan api unggun. Ia mengambil dan memeriksa beberapa kulit putih pohon sycamore yang tersebar di tempat itu dan akhirnya memilih dua keping yang cocok untuk maksudnya. Ia berlutut dekat api, dengan sukar menulis pada potongan kulit kayu itu dengan mempergunakan karang merahnya. Sekeping digulung, dimasukkan ke dalam jaketnya, kepingan
162 yang lain ditaruh di topi Joe dan memindahkan tempatnya agak jauh dari pemiliknya. Dalam topi itu juga ditaruhnya beberapa macam harta benda yang baginya sangat berharga - di antaranya segumpal kapur tulis, sebuah bola karet, tiga mata kail, dan sebutir kelereng kristal. Sambil berjengket ia meninggalkan perkemahan tanpa bersuara di antara pepohonan, sampai ia di luar pendengaran kawan-kawannya. Kemudian ia berlari ke arah gosong pasir.
163 Bab XV TOM MENGINTAI DAN MEMPELAJARI KEADAAN
BEBERAPA menit kemudian Tom telah mengarungi gosong pasir ke arah sungai, bagian Illinois. Sebelum air mencapai pinggangnya ia telah di tengah-tengah sungai antara pulau Jackson dan tepi sungai yang ditujunya. Arus tak memungkinkannya untuk mengarung lagi; tiada ragu Tom berenang serong ke arah mudik. Tetapi arus lebih keras dari dugaannya, hingga ia dihanyutkan ke hilir. Akhirnya ia mencapai tepi sungai, menghanyutkan diri hingga ia menemukan tempat yang memudahkan untuk naik ke darat. Diperiksanya gulungan kulit pohon di sakunya, gulungan itu selamat, tulisannya tak hilang. Tom menyusuri pantai di antara pohon-pohon dengan pakaian basah kuyup. Sebelum pukul sepuluh ia telah mencapai tempat tambangan di seberang desa. Perahu tambang kecil tadi siang tertambat di bawah bayang-bayang tebing pantai. Di bawah kerdipan bintang-bintang sunyi semuanya. Ia merangkak di bawah tebing, mengawasi sekelilingnya dengan teliti, masuk ke dalam air,
164 berenang tiga atau empat kali rengkuhan dan menaiki biduk yang mengiringi kapal tambangan. Ia berbaring di bawah bangku dalam pera
hu dan menunggu dengan napas kembung-kempis, kelelahan.
Segera terdengar bunyi lonceng dan perintah untuk berangkat. Tidak lama kemudian biduk kecil itu mendongak di jalur perahu tambang yang menariknya. Perjalanan dimulai; Tom sangat gembira, karena ia tahu, itu perjalanan kapal tambang yang terakhir malam itu. Dua belas atau lima belas menit lagi, roda-roda pendayung berhenti berputar, Tom meluncur ke luar dari biduk masuk ke sungai, berenang dalam kegelapan pantai, mendarat kira-kira lima puluh meter sebelah hilir tempat tambangan untuk menghindari pertemuan-pertemuan yang tak terduga-duga.
Ia berlari lewat gang-gang sepi dan akhirnya tiba di pagar belakang rumah bibinya. Dipanjatnya pagar itu, didekatinya rumah bibinya, mengintai ke jendela ruang duduk, sebab lampu masih menyala di dalam ruangan itu. Bibi Polly, Sid, Mary dan ibu Joe Harper sedang bercakap-cakap. Mereka duduk di dekat tempat tidur yang terletak di antara mereka dan pintu. Pelahan Tom mengangkat kancing pintu, ditekannya pintu itu sedikit, hingga terbuka. Didorongnya pintu itu perlahan-lahan. Ia gemetar, tiap kali pintu itu berderak. Akhirnya pintu terbuka cukup lebar untuk tubuhnya masuk dengan merangkak. Ia memasukkan kepala-
165 nya dan melangkah lagi, penuh kewaspadaan.
"Mengapa lilin itu apinya bergoyang-goyang"" terdengar suara Bibi Polly. Tom mempercepat geraknya. "Mungkin pintu terbuka. Wah, benar juga. Heran, telah kukancing tadi, Sid, tutup pintu."
Hampir saja Tom ketahuan. Cepat-cepat ia bersembunyi ke bawah tempat tidur. Beberapa saat diaturnya napasnya dan ia merangkak lagi, hingga kini ia dekat kepada kaki bibinya.
"Tetapi seperti kataku tadi," kata Bibi Polly, "ia bukan anak jahat - hanya nakal. Memusingkan kepala, serta gemar membuat kekacauan. Ia serupa seekor anak kuda, tak boleh dianggap bertanggung jawab atas perbuatannya. Tak pernah ia bermaksud buruk, dia anak yang paling baik yang..." Bibi Polly terisak-isak.
"Begitu juga dengan Joeku. Luar biasa nakalnya. Namun sebenarnya ia berhati baik, tak mau mementingkan diri sendiri, semoga Tuhan mengam-puniku, aku telah menghukumnya mencuri sari susu; sama sekali tak teringat olehku, bahwa sari susu itu telah kubuang karena basi. Dan kini, tak akan kulihat lagi anak itu, betapa malang nasibnya," Nyonya Harper menangis dengan hati hancur luluh.
"Kuharap Tom mendapatkan tempat yang layak," kata Sid. "Tetapi bila selama ini ia agak berkelakuan sedikit lebih baik ..."
"Sid!" Tom bisa merasakan mata bibinya yang melotot, walaupun ia tak bisa melihatnya. "Tak
166 boleh seorang pun mengatakan yang tak baik tentang Tom setelah ia tiada lagi. Tuhan yang akan melindunginya, Sid, dan kau tak usah ikut campur. Oh, Nyonya Harper, tak tahu aku bagaimana harus kutanggung penderitaan ini. Tak tahu aku, bagaimana harus menanggung kehilangannya. Ia selalu menghiburku, walaupun hampir setiap hari menyiksaku dengan kenakalannya."
"Apa yang diberikan Tuhan, harus kita kembalikan dengan rela padaNya. Terpujilah nama Tuhan. Tetapi betapa pedihnya! Oh, sangat pedih! Baru Sabtu yang lalu, Joe meledakkan beberapa buah petasan tepat di bawah hidungku, dan kupukul ia hingga jatuh tunggang langgang. Sama sekali tak kuduga, betapa cepatnya ia meninggalkanku... Oh, bila saja ia bisa meletuskan lagi petasan itu, akan kupeluk serta kuberkati dia!"
"Ya, ya, ya, aku tahu perasaanmu, Nyonya Harper, aku tahu perasaanmu. Tak lebih dari kemarin siang, Tomku mengisi perut si Peter kucing kesayanganku dengan obat Penghapus Sakit dan saat itu kukira kucing itu akan merobohkan rumah ini. Semoga Tuhan mengampuniku, telah kuketuk kepalanya. Anak malang, anak malang. Tapi kini ia tak merasakan kesukaran lagi. Dan kata-katanya yang terakhir telah menyesaliku karena ..." Kenangan itu terlalu berat bagi si Nyonya Tua, tangisnya menjadi-jadi. Tom juga meneteskan air mata, lebih menyedihkan dirinya sendiri daripada orang lain. Ia bisa mendengar Mary menangis serta
167 berkali-kali mengatakan yang baik tentang dirinya. Kini Tom punya anggapan yang lebih baik daripada sebelumnya tentang dirinya. Betapapun, ia sungguh terharu mendengarkan k
esedihan bibinya dan merasa ingin keluar dari bawah tempat tidur dan membuatnya kegirangan - sifat yang sangat dramatis dari tindakan itu sungguh menarik hatinya, namun ia menahan diri dan berbaring diam.
Dari berbagai pembicaraan yang tertangkap olehnya, orang menduga bahwa Tom, Joe dan Huck telah tenggelam di dalam sungai ketika berenang. Kemudian rakit kecil yang hilang diketemukan dan beberapa anak bersaksi, bahwa anak-anak yang hilang itu pernah mengatakan pada waktu dekat penduduk desa akan mendengarkan sesuatu. Dengan menghubungkan semua ini para cendekiawan desa mengambil kesimpulan, bahwa anak-anak itu hanyut ke hilir dengan naik rakit dengan maksud akan mendarat di kota terdekat di sebelah hilir. Tetapi menjelang tengah hari rakit itu diketemukan di pantai daerah Missouri, lima atau enam kilometer di sebelah hilir St. Petersburg. Lenyaplah segala harapan. Ketiga anak itu pasti terbenam. Kalau tidak, sudah pasti mereka akan kelaparan dan pulang pada malam harinya. Pencarian mayat tak berhasil, sebab diperkirakan ketiganya terbenam di tengah terusan. Kalau tidak, ketiga anak yang sangat pandai berenang itu pasti selamat ke tepi. Hari ini hari Rabu. Bila hari Sabtu mayat-mayatnya tak diketemukan, tak ada gunanya untuk mencari
168 mereka. Pagi hari Minggu itu akan diadakan upacara kebaktian penguburan. Mendengar itu Tom bergetar.
Nyonya Harper mengucapkan selamat malam dengan tersedu-sedu. Kedua wanita tua yang berduka cita tersebut saling memeluk dan menangis menjadi-jadi. Baru kemudian mereka berpisah. Bibi Polly lembut sekali sikapnya, lebih dari biasa, waktu mengucapkan selamat malam pada Mary dan Sid. Sid terisak sedikit dan Mary meninggalkan tempat itu dengan menangis sepenuh hati.
Bibi Polly berlutut, berdo'a untuk Tom dengan do'a yang mengharukan dan dengan cinta yang tak terbatas pada tiap kata. Nada suaranya gemetar, hingga pipi Tom basah oleh air mata jauh sebelum bibinya berdo'a.
Lama setelah Bibi Polly berbaring, Tom masih belum berani bergerak, sebab tak henti-hentinya Bibi Polly berkeluh kesah. Akhirnya ia tidur juga, tapi masih mengeluh dalam mimpi. Kini Tom keluar, bangkit perlahan-lahan dekat tempat tidur, menghalangi cahaya lilin dengan tangan untuk memperhatikan bibinya. Tom mengeluarkan gulungan kulit pohon sycamore dan meletakkannya di dekat tempat lilin. Tetapi sesuatu terpikir olehnya, dan ia menimbang-nimbang. Wajahnya bercahaya akan keputusan yang diambilnya. Ia membungkuk untuk mencium bibir bibinya yang telah keriput, dan tanpa berpaling lagi ia mengundurkan diri dengan berhati-hati, mengunci pintunya.
169 Tom berjalan hati-hati ke tempat kapal tambang dan menaiki kapal tersebut tanpa bersembunyi-sembunyi, sebab ia tahu, kecuali seorang penjaga yang tidur mendengkur, semua isi kapal turun ke darat. Tom melepaskan ikatan biduk di buritan kapal, masuk ke dalamnya dan mendayunglah ia ke arah udik. Setelah mencapai kira-kira sejauh satu kilometer dari desa, ia mengarahkan perahunya menyerong ke seberang. Tepat sekali ia melabuhkan perahunya di tempat tambangan di seberang sungai itu, sebab ini adalah pekerjaan biasa baginya. Ia sudah gatal-gatal untuk mencuri biduk itu, sebab biduk itu bisa dianggap sebagai kapal, jadi mangsa yang syah bagi seorang bajak laut. Tetapi ia tahu, biduk itu akan dicari dengan teliti nantinya, yang mungkin akan membuat rahasia terbongkar.
Jadi ditinggalkannya biduk itu tertambat di pelabuhan kapal tambang dan ia masuk ke dalam hutan.
Ia duduk beristirahat, memaksa dirinya untuk tetap bangun dan menatap pulau sarangnya di kejauhan. Malam telah hampir habis. Tom mulai berjalan. Fajar telah menyingsing, ketika ia mencapai tempat di seberang pulau. Ia beristirahat lagi sampai matahari timbul menyinari sungai dengan cahaya gemilang. Kemudian ia terjun ke dalam sungai. Sesaat kemudian ia telah beristirahat, basah kuyup, dekat di daerah sarang. Didengarnya Joe berkata, "Tidak, Tom kawan setia, Huck, pasti ia kembali. Ia tak akan meninggalkan kita. Ia tahu hal
170 itu akan merupakan tindakan yang sangat memalukan bagi seorang bajak laut, dan Tom sangat menghargai hal-hal
semacam itu. Ia sedang merencanakan sesuatu. Entah apa."
"Baiklah, tapi barang-barang ini jadi milik kita, bukan""
"Hampir, Huck, tapi belum. Tulisan itu menyatakan barang-barang ini jadi milik kita, bila ia tak muncul pada waktu sarapan."
"Dan ia telah tiba!" seru Tom tiba-tiba, melangkah bangga ke perkemahan.
Sarapan mewah terdiri dari daging babi dan ikan sungai, segera dihidangkan. Sambil makan Tom menceritakan pengalamannya (lengkap dengan bumbu-bumbunya). Ketiga anak itu menjadi sombong dan penuh lagak, ketika ceritera itu selesai. Kemudian Tom menyembunyikan diri di sebuah tempat terlindung dan rindang untuk tidur hingga tengah hari, sementara bajak-bajak laut lainnya bersiap untuk mengail dan menyelidiki pulau.
171 Bab XVI BAJAK-BAJAK LAUT BEROLEH PELAJARAN
SELESAI makan siang para bajak laut itu mencari telor penyu di dalam pasir. Mereka berkeliaran menusuki pasir dengan tongkat dan bila ada tempat yang lembut mereka berlutut menggalinya dengan tangan. Kadang-kadang mereka berhasil mendapatkan lima atau enam puluh telur dalam sebuah lubang. Telur-telur itu bundar, lebih kecil dari buah kenari Inggris. Mereka mengadakan pesta telur goreng malam itu. Juga pada Jum'at pagi, esok harinya.
Selesai sarapan mereka kejar-kejaran, sambil berteriak-teriak, berlari di pasir dengan menanggalkan pakaian satu per satu hingga akhirnya mereka telanjang. Mereka terus berkejar-kejaran di gosong pasir, di mana arusnya keras dan membuat mereka jatuh tunggang langgang. Sekali-sekali membuat lingkaran, saling mendekat sambil menampar air hingga air terlontar keras ke muka lawan. Mereka maju terus, memalingkan muka menghindari semburan air yang menyakitkan. Akhirnya mereka be-
172 gitu dekat saling mencengkeram, saling membenam kan. Ketiganya lenyap dibawa air, kaki tangar menggelepar-gelepar kacau.
Mereka muncul lagi ke permukaan air megap-megap mencoba bernafas, menyembur dan tertawa pada waktu yang sama.
Bila mereka lelah, mereka berbaring di pasir yang panas. Berbaring menimbuni diri, kemudian kembali terjun ke air. Akhirnya mereka melihat tubuh mereka yang telanjang menampakkan bagian-bagian yang berwarna muda, persis celana ketat seorang pemain sirkus. Maka mereka pun membuat lingkaran di pasir dan bermain sirkus dengan tiga orang pelawak, sebab tak ada di antara ketiganya mau melepaskan peranan yang paling terhormat ini. Bosan bermain sirkus mereka bermain kelereng sampai bosan pula. Huck dan Joe kembali berenang-renang, tapi Tom tak berani ikut. Ia baru sadar bahwa jimatnya yang berupa rangkaian ujung ekor ular kelontong yang diikatkan di pergelangan kakinya hilang waktu menanggalkan celana sambil berlari. Ia heran, mengapa sampai saat itu ia tak menderita kejang otot tanpa perlindungan jimat. Ia tak berani masuk air lagi sampai jimat itu diketemukannya kembali, dan pada saat itu kawan-kawannya telah lelah dan hendak beristirahat. Tak berapa lama mereka berpisah, berjalan tak menentu, masing-masing kejangkitan perasaan rindu ke rumah, menatap desa yang jauh di seberang sungai. Tanpa disadari-
173 nya Tom menulis kata 'BECKY' di pasir dengan ibu jari kakinya; cepat pula dihapusnya dengan menyesali diri, menyesali hatinya yang lemah. Tapi kemudian ia menulis nama itu lagi, tak bisa menahan diri. Dihapusnya lagi dan menghindarkan godaan dengan jalan mengumpulkan kawan-kawannya.
Semangat Joe yang hampir padam tidak tertolong. Ia begitu rindu, hingga tak tertahan lagi matanya mulai basah. Huck juga termenung. Tom merasa sedih, tapi ia berusaha keras untuk menyimpan perasaannya. Ia mempunyai sebuah rahasia yang belum waktunya untuk dikatakan. Tetapi bila keadaan kawan-kawannya tak segera dapat dikuasai, rahasia itu terpaksa dibukanya. Dengan berpura-pura gembira Tom berkata, "Kawan-kawan, aku yakin pulau ini dahulu betul merupakan sarang bajak laut. Marilah kita selidiki lagi. Pasti mereka menyembunyikan harta di suatu tempat. Tidak inginkah kalian menemukan sebuah kotak penuh berisi uang, emas dan perak""
Tetapi usul itu hanya mendapat sedikit sambutan, yang kemudian padam tanpa jawaban. Tom mencoba dengan bujukan lain, tapi gaga
l semua. Sungguh pekerjaan yang membuat jera. Joe men-cucuk-cucuk pasir dengan tongkat, wajahnya muram dan akhirnya ia berkata, "Kawan-kawan. Marilah kita bubar saja. Aku ingin pulang. Aku merasa kesepian di sini."
"Jangan Joe, sebentar lagi kau akan merasa


Petualangan Tom Sawyer Karya Mark Twain di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

174 gembira pula," bujuk Tom, "coba pikirkan, bagaimana mudahnya mengail di sini."
"Aku tak ingin mengail lagi, aku ingin pulang."
"Tetapi Joe, di mana bisa kaudapati tempat berenang sebaik ini""
"Berenang juga aku tak suka. Rasanya tak menyenangkan, berenang tanpa dilarang. Aku tetap ingin pulang."
"Anak bayi! Tentu kau ingin melihat Ibu, he""
"Aku memang ingin menemui ibuku dan kau pasti akan merasa ingin juga, kalau kau mempunyai ibu. Jika aku anak kecil, kau anak kecil pula."
"Nah, biarlah bayi anak kecil ini pulang untuk menyusu, Huck! Anak malang, hampir mati ia merindukan ibunya. Biarlah ia pergi. Kau suka tinggal di sini bukan, Huck" Kita akan tinggal di sini berdua, bukan""
"Y... a... a..." Huck menjawab separuh hati.
"Aku tak mau bercakap-cakap dengan engkau seumur hidup," kata Joe berdiri, "nah, begitulah!" Dengan termenung ia berpakaian.
"Siapa perduli," ejek Tom, "tak seorang pun menginginkanmu. Pulanglah dan biarlah kau jadi tertawaan orang banyak. Oh, betapa cakapnya kau sebagai bajak laut. Huck dan aku bukan anak-anak cengeng. Kita akan tinggal di sini bukan, Huck" Biar dia pulang bila itulah keinginannya. Kukira, kita tak akan mati ditinggalkan olehnya."
Tom merasa gelisah, melihat Joe berpakaian
175 dengan merengut. Bertambah gelisah lagi, ketika dilihatnya Huck memperhatikan Joe dengan mata murung. Akhirnya, tanpa pamitan Joe mengarungi gosong ke arah pantai Illinois. Hati Tom kacau. Huck tak tahan melihat Joe pergi dan dengan menundukkan kepala ia berkata, "Aku ingin pergi juga, Tom. Makin sepi di sini; tanpa Joe, keadaan akan lebih buruk. Marilah kita pulang, Tom."
"Aku tak mau! Pergilah bila kau suka. Aku tetap tinggal di sini."
"Tom, lebih baik aku pergi."
"Pergilah, tidak ada yang menghalangimu."
Huck memungut pakaiannya yang tersebar.
"Tom, alangkah senangnya kalau engkau pergi pula bersama-sama. Pikirkanlah, Tom. Akan kami tunggu kau di pantai."
"Kau akan menunggu berabad-abad, Huck!"
Dengan sedih Huck berjalan meninggalkan Tom. Tom memperhatikannya, suatu keinginan besar merenggut-renggut hatinya untuk mengikuti Huck dan Joe. Keangkuhannya tak memperbolehkannya. Ia mengharap, mudah-mudahan kedua kawannya akan berhenti, namun mereka terus saja mengarungi kedangkalan gosong. Tiba-tiba terasa oleh Tom, betapa sepi keadaan sekelilingnya. Untuk terakhir kalinya ia berjuang melawan keangkuhannya dan akhirnya ia berlari menyusul kedua kawannya serta berkata, "Tunggu! Tunggu! Ada yang akan kukatakan!"
Joe dan Huck berhenti, berpaling. Setelah dekat,
176 Tom mulai membeberkan rahasianya. Kedua kawan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sampai mereka mengerti akan titik sasaran dari rencananya itu. Kedua anak itu serentak meneriakkan pekik peperangan sekeras-kerasnya, sambil berseru, "Bagus sekali!" Mereka berkata, kalau Tom menceritakan rahasia itu lebih dahulu, niscaya mereka tidak akan pergi. Tom membuat sebuah alasan yang bisa diterima. Tetapi alasan sebenarnya adalah ketakutan, kalau-kalau rahasia itu tak bisa menahan mereka berdua. Maka disimpannya rahasia itu untuk dipergunakan sebagai bujukan yang terakhir.
Anak-anak itu kembali menikmati permainan-permainan sepenuh hati, memperbincangkan kehebatan rencana Tom dan mengaguminya. Setelah makan siang lezat yang terdiri dari telur dan ikan, Tom berkata ingin belajar merokok. Joe menyatakan keinginan yang sama. Huck setuju. Disiapkannya pipa-pipa dan diisinya dengan tembakau. Kedua pelonco ini belum pernah merokok, kecuali mengisap rokok-rokokan dan batang anggur. Rasanya "menggigit" lidah, dan samasekali tidak termasuk perbuatan jantan.
Mereka kini berbaring dan mulai menghisap dengan hati-hati dan dengan sedikit kepercayaan kepada diri sendiri. Rasanya tidak enak dan juga mereka mulai batuk-batuk, tetapi Tom berkata, "Wah, mudah sekali! Bila kutahu betapa mudahnya merokok, tentu sudah kupelajari
dahulu!" "Benar," sahut Joe, "tak ada susahnya."
177 "Betapa sering aku memperhatikan orang merokok. Tapi belum pernah kupikir, bahwa aku juga bisa."
"Seperti itu pula aku, bukankah begitu, Huck" Bukankah sudah sering aku berkata begitu" Huck jadi saksiku," kata Joe.
"Ya, sering," Huck mengangguk.
"Aku juga," Tom tak mau kalah, "oh, beratus kali kukatakan pada Huck. Sekali dekat rumah pembantaian. Ingat, Huck" Bob Tanner ada waktu itu, juga Johnny Miller dan Jeff Thatcher. Tidak ingatkah kau, Huck, bahwa aku pernah berkata begitu""
"Ya, memang," Huck mengiakan, "aku ingat, sehari setelah aku kehilangan kelereng pualamku. Tidak, sehari sebelumnya."
"Nah, apa kataku," kata Tom, "Huck masih ingat."
"Aku yakin aku bisa mengisap pipa ini sepanjang hari tanpa sakit," bual Joe.
"Aku pun bisa," sahut Tom, "aku bisa merokoknya sepanjang hari. Tapi pasti Jeff Thatcher tak akan kuat."
"Jeff Thatcher! Wah, dua kali isapan saja ia pasti roboh. Suruh dia mencobanya sekali. Biar tahu rasa."
"Pasti. Dan Johnny Miller - ingin sekali kulihat Johnny Miller merokok."
"Oh, dia"" kata Joe, "Aku berani bertaruh ia tak akan bisa mengisap. Sekali isap saja bisa
178 membuatnya mampus!" "Benar, Joe. Dengar - aku ingin sekali kawan-kawan kita bisa melihat kita saat ini."
"Aku juga." "Dengar kawan-kawan, jangan sekali-sekali kalian katakan tentang kepandaian kita merokok ini. Tunggu sampai mereka berkumpul dan kalian bersama mereka. Nanti aku datang dan berkata, 'Joe, kau bawa pipa" Aku ingin merokok.' Dan kau akan menjawab tak acuh seakan bukan apa-apa, 'Ya, kubawa pipaku yang lama serta sebuah lagi, tetapi tembakauku tak begitu baik.' Dan aku akan berkata, Tak apa, asal cukup keras, jadilah.' Dan kau keluarkan pipamu, dan kita akan merokok dengan tenang. Bayangkan, bagaimana mereka akan tercengang!"
"Bagus, Tom, oh, betapa senangnya bila hal itu bisa kita lakukan sekarang!"
"Aku juga. Dan bila kita katakan, bahwa kita belajar merokok waktu kita menjadi bajak laut, pasti mereka sangat menyesal karena tak ikut dengan kita!"
"Aku berani bertaruh mereka pasti sangat menyesal!"
Begitulah, percakapan makin melantur-lantur. Namun segera juga percakapan itu jadi lamban dan tak keruan lagi. Kesunyian makin lama makin panjang; secara luar biasa mereka makin sering meludah. Seakan-akan setiap pori di bagian dalam pipi menjadi sumber air. Mereka hampir tak bisa
180 cukup cepat menguras ke luar cairan di bawah lidah mereka untuk menghindari banjirnya mulut. Sebagian dari cairan itu masuk tenggorokan walaupun mereka tahan sekuat tenaga diikuti oleh jeluak setiap saat. Kedua orang anak itu tampak pucat dan menyedihkan. Pipa Joe jatuh dari jari yang tak bisa merasa lagi. Tom juga. Mereka lebih sering lagi meludah. Gemetar Joe berkata, "Aku kehilangan pisau. Kukira, lebih baik aku segera mencarinya."
Tom menyahut dengan bibir bergetar dan suara lemah tertegun-tegun, "Akan kubantu engkau, Joe. Kau pergi ke sebelah sana dan aku akan mencari di sekitar sumber air. Tidak, tak usah kau ikut mencari Huck, kami pasti bisa segera menemukan pisau itu."
Huck kembali duduk dan menunggu hingga sejam. Ia merasa kesepian, bangkit mencari kedua orang kawannya. Mereka terpisah jauh di hutan, keduanya pucat, keduanya tidur nyenyak. Sesuatu mengatakan pada Huck, bila mereka berdua kena penyakit, penyakit itu kini lenyap.
Tak banyak cakap mereka waktu makan malam. Mereka tampak kemalu-maluan, waktu Huck menyiapkan pipanya sesudah makan dan bermaksud untuk menyiapkan dua buah pipa lagi. Tetapi Tom dan Joe menolak untuk merokok, dengan alasan badan mereka tak enak - mungkin disebabkan oleh makan.
Sekitar tengah malam Joe terjaga dan membangunkan kawan-kawannya. Terasa suasana ke-
181 tenangan yang menekan di udara yang seakan meramalkan sesuatu. Anak-anak itu duduk rapat-rapat menghadapi unggun api yang tampak bersahabat, walaupun rasa panas dan udara yang tak bergerak itu menyesakkan dada. Mereka duduk diam-diam, penuh kesungguhan dan menunggu. Kesunyian makin menekan. Di luar batas cahaya api, segala ditelan oleh kegelapan hitam. Segera terlihat cahaya bergetar yang samar menerangi
daun-daunan. Tak lama kemudian terlihat lagi yang lainnya, makin kuat kini. Terlihat lagi. Kecohan terdengar berdesau lewat dahan-dahan kayu rimba yang anginnya meniup tengkuk dan pipi. Mereka bergetar ketakutan, menduga hantu malam lewat. Sunyi lagi. Petir maha dahsyat tiba-tiba terdengar menggeletar membuat malam jadi terang-benderang bagai siang, membuat semuanya terlihat nyata, bahkan setiap lembar rumput. Terlihat pula, ketiga wajah terkejut menjadi pucat pasi. Guntur menggelegar seakan sebuah bola maha dahsyat berguling-guling di langit dan lenyap ditelan geramannya sendiri. Angin dingin menggeletarkan daun-daunan serta menebarkan abu di sekitar api unggun. Lecutan cahaya terlihat lagi, disusul oleh dentuman yang seakan menghancurkan semua puncak pohon. Sangat ketakutan mereka saling berpelukan di kegelapan yang menyusul kilat terang benderang itu. Beberapa titik air hujan berjatuhan di daun-daunan.
"Cepat, kawan! Masuk tenda!" teriak Tom.
182 Mereka melompat, jatuh terkait kena akar dan tumbuh-tumbuhan menjalar, masing-masing mengambil arah sendiri-sendiri. Semburan dahsyat cahaya menggeram di antara pepohonan, membuat semua benda bergetar hebat. Kini petir dan kilat sambung-menyambung, diikuti oleh dentuman guntur yang memekakkan telinga berganti-ganti. Air bagai tercurah dari langit, taufan yang baru tiba mendorong air hujan itu keras ke bumi. Anak-anak saling berteriak, tetapi angin yang meraung-raung serta dentuman-dentuman halilintar menekan suara mereka. Betapapun, mereka seorang demi seorang berhasil mencapai naungan tenda, basah kuyup, kedinginan dan ketakutan. Tetapi untuk mempunyai teman dalam kemalangan adalah suatu hal yang patut untuk merasa terima kasih. Mereka sama sekali tak bisa berbicara, tenda kain layar itu terkepak-kepak, menambah keriuhan suasana. Taupan itu makin lama makin besar hingga tenda mereka terlepas, terbang dibawa angin. Anak-anak itu saling pegang dan lari tunggang-langgang untuk berlindung di bawah batang pohon raksasa di tepi sungai. Kini pertempuran alam itu makin sengit. Petir menyambar-nyambar membakar langit, menerangi semua yang ada di bumi: pohon-pohon meliuk-liuk, sungai mengamuk, buih air terlempar kesana-kemari, bayangan garis sungai di seberang, kadang-kadang tampak di antara tirai hujan yang tebal. Sekali-sekali sebatang pohon raksasa menyerah kalah, roboh menghancurkan pohon-pohon
183 kecil di bawahnya. Sambaran-sambaran halilintar makin sering dan makin memekakkan telinga. Kekuatan badai mencapai puncaknya serupa akan menghancurkan pulau itu, membakar, membenamkan atau menerbangkannya serta menulikan semua mahluk di pulau itu pada saat yang sama. Betul-betul malam yang sangat buas bagi ketiga orang anak yang tak berumah itu.
Tetapi akhirnya pertempuran itu selesai, kekuatan-kekuatan yang selalu beradu mundur, makin lama makin lemah, menggerutu di kejauhan dan akhirnya ketenangan kembali berkuasa. Ketiga orang anak itu kembali ke perkemahan dengan hati yang berat. Tetapi mereka ternyata punya alasan untuk berterima kasih juga, karena pohon sycamore raksasa yang meneduhi tempat tidur mereka telah hancur tersambar halilintar. Untung mereka tidak di bawah pohon itu ketika peristiwa itu terjadi.
Semua benda di perkemahan basah kuyup, api unggun padam, sebab ketiga orang anak itu ceroboh, seperti juga turunan mereka di kemudian hari, dan sama sekali tak mempunyai persiapan untuk melawan hujan. Ini menggentarkan hati mereka yang menggeletar kedinginan. Agaknya kesengsaraan mereka tumpah ruah, tetapi segera juga mereka menemukan, bahwa api unggun mereka telah terlalu jauh memakan batang kayu yang melindunginya, hingga ada bagian kayu selebar tapak tangan yang termakan api dan terhindar dari air. Dengan sabar mereka mencoba menghidupkan
184 kembali api itu, mengumpulkan serpih-serpih kayu dan kulit pohon yang terlindung dari air. Usaha mereka sedikit demi sedikit berhasil. Dikumpulkan-lah oleh mereka dahan-dahan kering, hingga api unggun berkobar kembali, dan hati mereka riang lagi. Mereka mengeringkan daging rebus dan berpesta, selesai makan membicarakan dan membesar-besark
an pengalaman yang baru dialaminya hingga pagi, sebab tak ada satu tempat pun yang bisa dipakai untuk tidur.
Ketika matahari terbit, rasa kantuk tak tertahankan lagi. Ketiga orang anak itu berbaring di pasir dan tertidur, mereka terpaksa bangun setelah matahari terasa panas. Dengan bersungut-sungut mereka menyiapkan sarapan pagi. Selesai makan, tubuh mereka terasa sakit, dan rasa rindu ke rumah timbul kembali. Melihat gejala-gejala tak baik ini, Tom mencoba menggembirakan para bajak lautnya dengan berbagai cara. Tapi mereka tak berminat lagi untuk bermain kelereng, sirkus, berenang atau apa saja. Baru setelah Tom mengingatkan tentang rencana rahasianya, kedua kawan bersorak gembira. Sementara itu mereka memikirkan permainan baru. Mereka akan berhenti menjadi bajak laut untuk beberapa waktu, dan menjadi orang-orang Indian. Usul ini diterima dengan baik. Segera ketiganya mencoreng-moreng diri mereka yang telanjang bulat dengan lumpur hitam bagaikan kuda sebra - ketiga orang itu semua menjadi kepala suku dan mereka menyerbu ke semak-semak, menyerang tempat-
185 tempat perkampungan orang Inggris.
Kemudian mereka berpisah menjadi tiga suku Indian, yang saling bermusuhan. Mereka saling menyerang dengan pekik peperangan yang menyeramkan, membunuh dan menguliti kepala musuh dalam jumlah ribuan. Banjir darah benar-benar hari itu. Pertempuran antara suku-suku Indian itu berakhir dengan memuaskan.
Menjelang makan malam mereka berkumpul di perkemahan, lapar dan bahagia. Tetapi muncul suatu kesulitan - suku-suku Indian tak akan mau makan bersama dengan damai tanpa lebih dahulu mengadakan upacara perdamaian, dan ini sama sekali tak mungkin tanpa mengisap pipa perdamaian. Tak ada jalan lain yang pernah diketahui mereka selain itu. Dua di antara suku-suku liar itu menyesal telah menjadi Indian dan tidak tetap saja menjadi bajak laut. Bagaimana pun tak ada jalan untuk menghindarkannya. Maka dengan berpura-pura gembira mereka meminta pipa dan selama pipa itu diedarkan, mengisapnya seperti yang dikehendaki oleh peraturan.
Dan betapa gembiranya mereka kini karena menjadi suku liar, sebab ternyata mereka mendapatkan sesuatu. Mereka mendapatkan, bahwa mereka bisa merokok dengan baik, tanpa harus mencari-cari pisau yang hilang. Mereka masih merasa sakit, tetapi cuma sedikit dan bisa diabaikan. Kesempatan ini tak akan mereka sia-siakan tanpa berusaha. Tidak, setelah selesai makan me-
Bocah Sakti 8 Gento Guyon 22 Iblis Penebus Dosa Kisah Tiga Kerajaan 17
^