Pencarian

The Iron King 2

The Iron Fey 1 The Iron King Karya Julie Kagawa Bagian 2


Lalu aku menyadari satu hal, sesuatu yang membuatku tak bisa bernapas, heran kenapa tak terpikir olehku sejak tadi. Dad. Jantungku berdebar, mengingat mimpi-mimpi yang tak begitu jelas, ketika ayahku lenyap di kolam dan tak muncul lagi. Bagaimana jika dia juga diculik faery" Aku bisa menemukan Ethan dan ayahku, dan membawa pulang mereka berdua!
Ayo, ajakku, menatap mata Robbie. Cepat, kita sudah membuang-buang waktu di sini. Jika kita akan melakukannya, ayo selesaikan saja.
Rob mengerjap, ekspresi aneh melintas di wajahnya. Sesaat dia seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tapi kemudian dia mengguncangkan tubuh, seperti baru sadar dari trance, dan momen itu pun lenyap.
Baiklah. Jangan bilang aku tak memperingatkanmu. Dia tersenyum dan kilauan di matanya semakin cemerlang. Satu demi satu dulu. Kita harus menemukan pintu masuk ke Nevernever, itu tempat yang kau sebut Faeryland. Kau tidak bisa masuk begitu saja, pintunya selalu tersembunyi. Untungnya aku punya ide di mana kira-kira pintunya berada. Dia tersenyum lebar lalu mengetuk pintu kamar Ethan. Tok, tok! serunya dengan suara nyaring dan monoton.
Hening sesaat. Lalu terdengar bunyi benturan dan barang pecah, seperti ada sesuatu yang berat dilempar ke pintu. Pergi! Terdengar geraman dari dalam.
Ah, tidak. Bukan begitu cara bermainnya, balas Rob. Aku bilang tok, tok, dan kau harus menjawab siapa di luar"
Enyah kau, bangsat! Bukan, masih tetap salah. Robbie tetap tenang. Sementara aku ngeri mendengar makian Ethan, meskipun aku tahu itu bukan dirinya. Begini, lanjut Rob dengan ramah, Aku akan ulang dari awal, jadi kau sudah tahu harus bagaimana. Dia berdeham dan mengetuk pintu lagi. Tok, tok! serunya. Siapa di luar" Puck! Puck siapa" Puck yang akan mengubahmu menjadi babi yang menguik-nguik dan menjejalkanmu ke dalam oven kalau kau tidak menyingkir dari situ" Dan Rob mendobrak pintu sampai terbuka.
Makhluk yang mirip Ethan itu berdiri di tempat tidur, ada buku di kedua tangannya. Sambil mendesis dia melemparnya ke ambang pintu. Robbie menunduk, tapi salah satu buku mengenai perutku dan aku mengaduh.
Astaga, aku mendengar Robbie menggumam, lalu ada getaran merambat di udara. Tiba-tiba semua buku di kamar mengepak-ngepakkan sampul, melayang dari lantai dan rak, lalu mulai menukik ke arah Ethan seperti segerombolan burung camar yang mengamuk. Aku hanya bisa terkesima, merasakan hidupku semakin terasa tidak nyata saja. Ethan palsu mendesis dan menggeram, menepis buku-buku yang mengelilinginya, sampai salah satunya menghantam wajahnya dan membuat terjatuh dari tempat tidur. Meludah marah, dia melesat ke bawah kasur. Aku mendengar cakarnya menggores lantai kayu ketika kakinya lenyap dalam relung sempit itu. Makian dan geraman terdengar dari kegelapan.
Robbie menggeleng. Dasar amatir. Dia mendesah sementara buku-buku yang beterbangan berhenti mendadak dan berjatuhan di lantai dengan bunyi nyaring. Ayo, Putri.
* * * AKU tersadar dan melangkah dengan hati-hati di antara buku-buku yang berjatuhan, bergabung dengan Robbie di tengah ruangan. Jadi, kataku, berusaha terdengar santai, seakan buku terbang dan faery adalah hal yang sering kulihat. Di mana jalan masuk ke Faeryland" Apa kau harus menggunakan cincin ajaib atau merapal mantra atau apa"
Rob menyeringai. Tidak seperti itu, Putri. Kau membayangkannya terlalu rumit. Pintu masuk ke Nevernever biasanya berada di tempat yang dipenuhi keyakinan, kreativitas, atau imajinasi. Kau sering menemukannya di lemari atau di bawah tempat tidur dalam kamar anak-anak.
Floppy takut pada laki-laki di dalam lemari. Aku merinding, meminta maaf dalam hati pada adikku. Jika bertemu dengannya lagi, aku akan bilang kalau aku juga percaya pada monster.
Lemari kalau begitu, gumamku, melangkahi buku-buku dan mainan untuk menghampir
i lemari. Tanganku agak bergetar ketika meraih gagangnya. Tak bisa mundur lagi sekarang, kataku pada diri sendiri lalu membuka pintunya.
Sesosok tubuh kurus tinggi dengan wajah sempit dan mata cekung menatapku ketika pintu terbuka. Setelan jas hitam menggantung di tubuhnya yang kurus, dan topi bowler bertengger di kepalanya yang panjang. Makhluk itu membelalak, menatapku, bibir pucatnya tertarik membentuk seringai, memamerkan gigi-gigi kecil dan runcing. Aku melompat mundur sambil menjerit.
Lemariku! desisnya. Tangan yang mirip laba-laba muncul lalu mencengkeram gagang pintu. Lemariku! Milikku! Dan makhluk itu membanting pintu dengan keras.
Robbie menghela napas kesal ketika aku lari bersembunyi ke balik tubuhnya, jantungku menghantam tulang rusuk seperti tongkat bisbol. Dasar bogey, gumamnya, menggelengkan kepala. Dia melangkah ke lemari, mengetuknya tiga kali dan membukanya.
Kali ini, lemari itu kosong, kecuali pakaian yang tergantung, tumpukan kotak, dan selazimnya isi lemari. Robbie menggeser baju-baju ke samping, berkelit di antara kotak-kotak, dan meletakkan tangan di belakang lemari, jarinya menyusuri dinding lemari. Penasaran, aku mendekat.
Di mana kau" gumamnya, meraba-raba dinding lemari. Aku menghampiri pintu dan mengintip dari balik bahunya. Aku tahu kau di sini. Di mana &aha.
Membungkuk, Robbie menghela napas dan meniup dinding. Debu beterbangan, mengepul di sekitarnya seperti serbuk oranye yang berkilauan.
Ketika dia menegakkan badan, aku melihat gagang pintu berwarna emas di dinding belakang lemari, dan garis samar berbentuk pintu, cahaya pucat menerobos dari celah di bawahnya.
Ayo, Putri, Rob berbalik menyuruhku maju. Matanya bersinar hijau dalam kegelapan. Ini kendaraan kita. Tiket satu kali jalan ke Nevernever.
Aku bimbang, menunggu detak jantungku kembali normal. Tapi tidak bisa. Ini semua gila, bagian diriku yang ketakutan berbisik. Siapa yang bisa menduga apa yang menunggu di balik pintu itu, kengerian apa yang bersembunyi dalam bayangan" Aku mungkin tak bisa pulang. Ini kesempatan terakhirku untuk mundur.
Tidak, kataku pada diri sendiri. Aku tidak boleh mundur. Ethan ada di luar sana, di suatu tempat. Ethan mengandalkanku. Aku menghela napas dalam-dalam dan maju selangkah.
Satu tangan keriput muncul dari bawah tempat tidur, memegang pergelangan kakiku. Tangan itu menarik kakiku dengan kuat hingga aku nyaris terjatuh bersamaan dengan suara geraman menggema dari dalam relung gelap itu. Sambil menjerit, aku menendang lepas cakar yang menggapai-gapai itu, berlari cepat ke dalam lemari, dan membanting pintu di belakangku.
BAB LIMA Nevernever Dalam kegelapan lembap di dalam lemari Ethan, aku meletakkan tangan di dada, sekali lagi menunggu jantungku kembali normal. Kegelapan menyelimutiku, hanya ada cahaya samar berbentuk persegi yang berasal dari dinding belakang lemari. Aku tak bisa melihat Robbie, tapi aku bisa merasakan tubuhnya di dekatku, mendengar tarikan napasnya di telingaku.
Siap" bisiknya, napasnya terasa hangat di kulitku. Sebelum aku menjawab, dia membuka pintu, memperlihatkan Nevernever.
Cahaya pucat keperakan membanjiri ruangan. Padang luas di balik pintu dikelilingi pepohonan yang begitu besar dan rimbun sehingga aku tak dapat melihat langit melalui ranting-rantingnya. Kabut bergulung-gulung merayap di tanah, tempat itu gelap dan sepi, seakan hutan itu terperangkap dalam senja abadi. Di sana sini ada secercah warna terang yang menonjol di antara suasana serba kelabu. Serumpun bunga, kelopaknya yang berwarna biru elektrik, berayun pelan di antara kabut. Sulur-sulur pohon anggur melilit pohon ek yang sekarat, duri merahnya yang panjang sangat kontras dengan pohon yang dibunuhnya.
Udara hangat berembus ke dalam lemari, membawa serta aroma yang seharusnya tidak bercampur di satu tempat. Dedaunan remuk dan kayu manis, asap dan apel, tanah, lavender, samar-samar ada bau memualkan dari sesuatu yang membusuk. Sekilas tercium aroma tajam logam dan tembaga, menyelubungi bau busuk itu, tapi aroma itu lenyap dalam satu tarikan napas berikutnya. Serangga beterbangan, dan jika memasang
telinga baik-baik, aku hampir bisa mendengar nyanyian. Awalnya hutan itu tampak sepi, tapi kemudian aku melihat ada yang bergerak jauh di dalamnya, dan mendengar gemeresik dedaunan di sekitar kami. Mata yang tak tampak seolah sedang mengawasi dari segala penjuru, terasa menusuk-nusuk kulitku.
Robbie, yang rambutnya sewarna nyala api, melihat sekeliling dan tertawa. Rumah, dia mendesah, merentangkan tangan seperti ingin memeluk tempat itu. Akhirnya aku pulang. Dia berputar-putar, dan sambil tertawa menjatuhkan diri dalam kabut, seperti ingin membuat malaikat salju, lalu lenyap.
Aku menelan ludah, dan melangkah dengan hati-hati. Kabut menyelimuti pergelangan kakiku, seperti makhluk hidup, membelai kulitku dengan jari-jari lembapnya. Rob"
Keheningan mengejekku. Di sudut mataku, sesuatu yang besar dan putih mirip sosok quicksilver dalam komik melesat di sela pepohonan. Rob" seruku lagi. Di mana kau" Robbie"
Boo. Robbie muncul di belakangku, bangkit dari kabut seperti vampir keluar dari peti mati. Mengatakan bahwa aku berteriak ketakutan sama sekali tidak melebih-lebihkan.
Gampang gugup hari ini, ya" Robbie tergelak dan mengelak dengan cepat sebelum aku bisa membunuhnya. Sebaiknya kau minum kopi tanpa kafein saja, Putri. Jika kau menjerit setiap kali ada bogey yang muncul dan berkata boo, kau akan kehabisan tenaga sebelum kita sampai di tepi hutan.
Dia telah bertukar pakaian. Celana hijau-pemburu dan baju cokelat bertudung tebal menggantikan celana jins dan kaus kumalnya. Aku tak bisa melihat kakinya karena kabut, tapi sepertinya dia juga telah menukar sepatu ketsnya dengan sepatu bot kulit. Wajahnya tampak lebih tirus, lebih keras dengan garis-garis tajam dan tegas. Dikombinasikan dengan rambut merah dan mata hijau, dia mengingatkanku pada rubah yang menyeringai.
Tapi perbedaan paling mencolok adalah telinganya. Panjang dan lurus, mencuat di kedua sisi kepalanya, seperti &yah, elf. Dan semua ciri-ciri Robbie Goodfell lenyap. Anak laki-laki yang aku kenal hampir seumur hidupku telah hilang, seperti tidak pernah ada, dan yang tertinggal hanyalah Puck.
Ada apa, Putri" Puck menguap, meregangkan lengan panjangnya. Apakah hanya imajinasiku ataukah dia memang menjadi lebih tinggi" Kau seperti kehilangan sahabatmu.
Aku mengabaikan pertanyaannya, tak ingin membahasnya. Bagaimana kau melakukan itu" tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Bajumu, maksudku. Berbeda. Dan caramu membuat buku beterbangan di kamar. Apakah itu sihir"
Puck menyeringai. Glamour, jawabnya seakan aku memahami ucapannya. Aku mengernyit, dan dia mendesah. Aku tak sempat ganti baju sebelum ke sini, dan tuanku Raja Oberon tidak suka melihat pakaian mortal di istananya. Jadi aku menggunakan glamour untuk membuat diriku berpenampilan pantas. Sama seperti aku memakai glamour untuk membuat diriku tampak seperti manusia.
Tunggu sebentar. Aku teringat percakapan antara Robbie dan perawat yang kukira hanya mimpi. Apa ada faery lain seperti &dirimu, berkeliaran di dunia kami" Tepat di depan mata kami"
Senyum Puck membuatku merinding. Kami ada di mana-mana, Putri, katanya tegas. Di bawah tempat tidurmu, di lotengmu, berpapasan denganmu di jalan. Senyumnya melebar, semakin mirip serigala. Glamour mendapat energi dari mimpi dan imajinasi para mortal. Penulis, seniman, anak kecil yang suka berpura-pura menjadi jagoan para fey tertarik pada mereka seperti laron tertarik pada cahaya. Menurutmu kenapa banyak anak kecil memiliki teman khayalan" Bahkan adikmu pun punya. Adikmu menamainya Floppy, meskipun itu bukan nama aslinya. Sayang sekali changeling membunuhnya.
Perutku menegang. Dan &tidak ada yang bisa melihat kalian"
Kami tidak tampak, atau kami memakai glamour untuk menyembunyikan wujud asli kami. Puck bersandar di pohon, meletakkan tangan di belakang kepala, seperti kebiasaan Robbie. Jangan kaget begitu, Putri. Mortal telah menyempurnakan keahlian tidak melihat apa yang tidak ingin mereka lihat. Meskipun, ada manusia langka yang bisa melihat menembus Kabut dan glamour. Biasanya mereka individu yang istimewa tak berdosa, pemimpi dan para f
ey bahkan lebih tertarik pada mereka.
Seperti Ethan, gumamku. Puck menatapku aneh, satu sudut mulutnya terangkat. Seperti dirimu, Putri. Dia seperti ingin mengatakan hal lain, tapi kemudian terdengar bunyi ranting patah di suatu tempat di kegelapan yang tak berujung itu.
Dia meluruskan badan dengan cepat. Ups, saatnya pergi. Berbahaya sekali berada di satu tempat terlalu lama. Kita akan menarik perhatian yang tak kita inginkan.
Apa" seruku saat dia melintasi padang, bergerak seanggun rusa. Aku kira tadi kau bilang ini adalah rumahmu.
Nevernever adalah rumah bagi semua bangsa fey, kata Puck tanpa menoleh. Dibagi menjadi beberapa teritorial, atau resminya disebut, Istana. Istana Terang adalah wilayah kekuasaan Oberon, sedangkan Mab memerintah Istana Gelap. Bila berada di teritorial Istana, biasanya dilarang untuk menyiksa, melukai, atau membunuh fey lain tanpa izin dari penguasanya.
Tapi, lanjutnya, menoleh ke arahku, saat ini kita berada di teritorial netral, rumah para fey liar. Di sini, dalam istilah manusia, semua perjanjian tak berlaku. Makhluk yang mendekati kita mungkin saja kawanan satyr yang akan membuatmu berdansa sampai kelelahan, lalu satu demi satu memerkosamu, atau sekelompok serigala yang akan mencabik-cabik kita. Apa pun itu, kurasa kau tak ingin tetap di sini.
Aku merasa takut lagi. Sepertinya aku selalu ketakutan. Aku tak ingin berada di sini, di hutan yang menyeramkan ini, bersama orang yang tadinya aku kira aku kenal. Aku ingin pulang. Hanya saja, rumah juga telah menjadi tempat yang menakutkan, hampir seperti di Nevernever. Aku merasa tersesat, dikhianati, canggung berada di dunia yang penuh bahaya.
Ethan, aku mengingatkan diriku. Kau lakukan ini demi Ethan. Begitu menemukannya, kau bisa pulang dan semua akan kembali seperti sedia kala.
Bunyi gemeresik semakin nyaring, dan terdengar ranting patah ketika entah makhluk apa pun itu mendekat. Putri, bentak Puck, tepat di sisiku. Aku menjengit dan menahan jeritan ketika dia mencengkeram pergelangan tanganku. Makhluk jahat yang tadi kuceritakan telah mencium aroma kita dan sedang mendekat. Meskipun suaranya terdengar santai, aku bisa melihat ketegangan di matanya. Jika tak ingin hari pertamamu di Nevernever menjadi hari terakhirmu, aku sarankan kita segera bergerak.
Aku menoleh dan melihat pintu yang tadi kami lewati berdiri tegak di tengah padang. Apa kita bisa pulang lewat pintu itu" tanyaku ketika Puck menarikku pergi.
Tidak bisa. Ketika aku menatapnya ngeri, dia mengangkat bahu. Well, kau tak bisa mengharapkan pintu tetap berada di satu tempat, Putri. Tapi jangan khawatir. Ada aku, ingat" Jika tiba waktunya, kita akan menemukan jalan pulang.
Kami berlari ke sisi seberang padang, langsung menuju ternak lebat yang duri-duri kuningnya sepanjang jempolku. Aku berhenti melangkah, yakin kami akan tersayat-sayat, tapi ketika mendekat, cabang-cabangnya bergetar dan bergelung menjauhi kami, memperlihatkan jalan sempit menembus sela-sela pepohonan. Setelah kami melewatinya, semak-semak itu merapat lagi, menyembunyikan jalan setapak dan melindungi jejak pelarian kami.
Kami berjalan berjam-jam, setidaknya aku merasa begitu. Puck berjalan dengan langkah teratur, tidak terburu-buru, tidak juga melambat, dan akhirnya suara pengejar kami menghilang. Terkadang jalan setapak itu membelah, menunjukkan arah yang berbeda, tapi Puck selalu memilih jalan tanpa ragu. Sering kali aku melihat gerakan di sudut mata sekelebat warna di semak-semak, siluet sesosok tubuh di antara pepohonan tapi ketika aku menoleh, tak ada apa pun di sana. Kadang-kadang aku berani bersumpah mendengar nyanyian atau musik, tapi tentu saja semua itu lenyap ketika aku memusatkan perhatian. Cahaya remang-remang memuakkan dalam hutan ini tak pernah meredup atau semakin terang, ketika aku bertanya pada Puck kapan malam akan tiba, dia mengangkat alis dan menjawab malam akan tiba jika sudah waktunya.
Merasa sebal, aku melihat jam tangan, ingin tahu berapa lama kami telah berjalan. Aku mendapatkan kejutan tak menyenangkan. Jarum jam tidak bergerak. Entah baterainya habis, atau ada
sebab lain. Atau mungkin karena waktu tak berjalan di tempat ini. Entah kenapa aku merasa terganggu dengan fakta ini.
Kakiku sakit, perutku perih, dan betisku serasa terbakar saking letihnya ketika cahaya senja akhirnya meredup. Puck berhenti melangkah, menatap langit, bulan yang begitu besar bersinar redup di puncak pepohonan, begitu dekat sehingga lubang-lubang dan kawah yang menghiasi permukaannya bisa terlihat.
Kurasa kita bisa beristirahat sekarang. Puck terdengar enggan. Dia memberiku senyuman miring ketika aku terduduk di batang pohon berjamur. Kita tidak ingin kau tersandung gundukan tanah, atau mengikuti kelinci ke liang gelap. Ayo, aku tahu satu tempat tak jauh dari sini, kita bisa tidur dengan aman.
Dia meraih tanganku, menarikku berdiri. Tubuhku menjerit-jerit protes, dan aku hampir duduk lagi. Aku letih, kesal, dan hal terakhir yang kuinginkan adalah berjalan lebih jauh lagi. Melihat sekeliling, aku melihat ada kolam kecil indah dari sela-sela pepohonan. Airnya berkilau di bawah cahaya bulan, dan aku berhenti melangkah, menatap permukaan kolam. Kenapa tidak di sana saja" tanyaku.
Puck menatap kolam itu, mengerutkan hidung, dan menarikku pergi. Ah, tidak, katanya cepat. Terlalu banyak makhluk jahat bersembunyi di air kelpies, glaistigs, putri duyung dan banyak lagi. Lebih baik kita jangan mengambil risiko.
Aku menoleh dan melihat sosok gelap memecah permukaan kolam yang sempurna, menciptakan riak di air yang tenang. Berkepala kuda, sehitam batu bara dan licin seperti anjing laut, mengawasiku dengan mata putihnya yang keji. Tersentak kaget, aku buru-buru menjauh.
Tidak lama kemudian kami tiba di sebuah pohon raksasa dengan cabangnya yang bengkok meliuk-liuk. Kulit kayunya berbonggol-bonggol dan kasar sehingga aku seperti melihat ada wajah-wajah mengintip. Pohon itu mengingatkanku pada laki-laki tua keriput, berdiri bertumpuk-tumpuk dan melambai-lambaikan tangan bengkoknya dengan marah.
Puck berlutut di antara akar dan mengetuk batangnya. Aku mengintip dari balik bahu Puck, terheran-heran melihat pintu kecil yang tingginya tidak sampai setengah meter di bagian dasar pohon. Aku masih tercengang ketika pintu itu terbuka, dan satu kepala mengintip keluar dengan curiga.
Eh" Siapa di sana" Suara kasar, melengking, sementara aku menatapnya takjub. Kulit laki-laki kecil itu sewarna walnut; rambutnya tampak seperti ranting yang tumbuh di kepala. Dia mengenakan tunik dan celana ketat cokelat, mirip tongkat yang bernyawa, hanya saja matanya menonjol, hitam dan berkilau seperti kumbang.
Selamat malam, Twiggs, sapa Puck sopan.
Laki-laki kecil itu mengerjap, menyipitkan mata saat menatap sosok yang menjulang di atasnya. Robin Goodfellow" Akhirnya dia berkata. Sudah lama tak melihatmu di sekitar sini. Apa yang membawamu ke pohonku yang sederhana ini"
Layanan pengawalan, jawab Puck, agak bergeser agar Twiggs bisa melihatku dengan jelas. Mata manik-maniknya terpaku padaku, mengerjap-ngerjap bingung, lalu membesar dan menatap Puck lagi.
Apa &apa itu & Benar. Apa dia &" Tidak. Oh, ya ampun. Twiggs membuka pintu lebar-lebar, memberi isyarat dengan lengan kurusnya yang seperti tongkat. Ayo masuk. Cepat. Sebelum dryad melihatmu, dasar tukang gosip. Dia lenyap ke dalam pohon, dan Puck menoleh ke arahku.
Aku takkan muat, kataku sebelum dia bicara. Mana mungkin aku bisa masuk, kecuali kau punya jamur ajaib yang akan membuatku mengecil seukuran lebah. Dan aku juga takkan sudi memakannya. Aku sudah menonton Alice in Wonderland, kau tahu.
Puck tersenyum lebar dan meraih tanganku.
Tutup matamu, katanya, dan melangkah.
Aku melakukannya, setengah menduga akan menabrak pohon, terkena keisengan Robbie lagi. Ketika itu tidak terjadi, aku hampir mengintip, tapi berubah pikiran. Udara berubah hangat, dan aku mendengar pintu dibanting di belakangku, ketika Puck bilang aku boleh membuka mata lagi.
Aku berdiri dalam ruangan bundar yang nyaman, dindingnya dari kayu merah halus, lantai dilapisi karpet lumut. Sebuah meja dari lempengan batu disangga tiga tunggul kayu berada di tengah ruangan, memamerkan buah beri s
eukuran bola sepak. Tangga tali menggantung di dinding seberang, dan ketika pandanganku mengikuti arah tali itu, aku hampir pingsan. Lusinan serangga merayap di dinding atau mengambang di udara jauh di atas kami karena pohon ini menjulang tinggi jauh di luar jangkauan pandangku. Setiap serangga seukuran anjing cocker spaniel, dan bagian belakang tubuh mereka memancarkan cahaya kuning-hijau samar.
Kau sudah merenovasi tempat ini, Twiggs, kata Puck, duduk di tumpukan bulu yang berfungsi sebagai sofa. Aku mengamati dan melihat kepala tupainya masih ada, aku lalu memalingkan muka. Tempat ini hanya lubang di dalam pohon, terakhir aku melihatnya.
Twiggs terlihat bangga. Dia setinggi kami sekarang sebenarnya, aku menduga kamilah yang setinggi dirinya dan dari dekat dia beraroma kayu cedar dan lumut.
Ya, aku suka di sini, balas Twiggs, menghampiri meja. Dia mengambil pisau dan membelah buah beri menjadi tiga, meletakkannya di piring-piring kayu. Tapi aku mungkin harus segera pindah. Para dryad berbisik padaku, memberitahu hal-hal mengerikan. Mereka bilang sebagian wyldwood sedang sekarat, tiap hari ada saja pohon yang mati. Tak ada yang tahu penyebabnya.
Kau tahu penyebabnya, kata Puck, menghamparkan ekor tupai di pangkuannya. Kita semua tahu. Itu bukan berita baru.
Bukan, Twiggs menggeleng. Ketidakpercayaan mortal memang agak memengaruhi Nevernever, tapi tidak seperti ini. Ini berbeda. Sulit dijelaskan. Kau akan mengerti maksudku jika kau berjalan lebih jauh nanti.
Dia memberi kami masing-masing satu piring berisi sepotong besar buah beri merah, separuh biji ek, dan setumpuk sesuatu yang mirip larva kukus. Meskipun mengalami hari yang aneh, aku kelaparan setelah berjam-jam berjalan kaki. Buah berinya lembut dan manis, tapi aku tak sudi menyentuh benda yang mirip ulat itu, jadi aku berikan kepada Puck. Setelah makan malam, Twiggs membuatkanku tempat tidur dari kulit tupai dan bulu cerpelai, dan meskipun merasa agak jijik, aku langsung terlelap.
* * * MALAM itu aku bermimpi. Dalam mimpiku, rumahku gelap dan sunyi, ruang tamu diselimuti bayang-bayang. Sekilas jam dinding menunjukkan pukul 3:19 dini hari. Aku melewati ruang tamu, dapur, lalu menaiki tangga. Pintu kamarku tertutup, dan aku mendengar dengkuran Luke yang mirip beruang grizzly dari kamar utama, tapi di ujung koridor, kamar Ethan agak terbuka. Aku menyusuri koridor, dan mengintip dari celah pintu.
Ada orang asing di dalam kamar Ethan, tubuhnya tinggi, ramping berpakaian serba perak dan hitam. Seorang pemuda, mungkin sedikit lebih tua dariku meskipun tak mungkin tahu umurnya dengan pasti. Tubuhnya belia, tapi sikap tenangnya mengindikasikan sesuatu yang jauh lebih tua, sesuatu yang sangat berbahaya. Aku terkesiap ketika mengenalinya sebagai pemuda berkuda yang mengawasiku dari dalam hutan waktu itu. Mau apa dia di sini, di rumahku" Bagaimana dia bisa masuk" Aku hendak bertanya padanya, tahu kalau ini hanya mimpi, saat aku menyadari sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat darahku membeku. Rambut tebal, sehitam bulu raven, yang terurai di bahunya, tidak menutupi telinga rapuh dan lancip.
Dia bukan manusia. Dia salah satu dari mereka, salah satu fey. Di rumahku, di kamar adikku. Aku merinding dan melangkah mundur.
Dia menoleh, tatapannya menembusku, dan aku akan tersentak jika bisa bernapas. Dia tampan. Lebih dari tampan, dia rupawan. Seperti bangsawan, serupawan pangeran-dari-negeri-asing. Jika dia melangkah masuk ke kelasku, murid dan guru akan bersujud di kakinya. Namun itu keindahan yang beku, keras, bagai patung marmer, tidak manusiawi, seperti bukan dari dunia ini. Di bawah poni panjang tak beraturan, matanya yang sipit berkilauan bagaikan sebilah baja.
Si changeling tak tampak di mana-mana, tapi aku dengan suara samar dari bawah tempat tidur, debaran jantung yang berdenyut kencang. Pemuda fey itu seperti tidak menyadarinya. Dia berpaling, meletakkan satu tangan di pintu lemari, jemarinya menyusuri kayu kusam itu. Senyum samar tersungging di bibirnya.
Dalam satu gerakan mulus, dia membuka pintu dan melangkah masuk. Pintu tertutup pelan di belakangn
ya, dan dia pun lenyap. Dengan hati-hati kudekati pintu lemari, tetap mewaspadai relung di bawah tempat tidur. Aku masih mendengar detak jantung teredam, tapi tak ada yang keluar menyergapku. Aku melintasi kamar tanpa insiden. Sepelan mungkin aku genggam gagang pintu lemari, memutar, dan menariknya sampai terbuka.
Lemariku! protes laki-laki bertopi bowler, menerjangku. Milikku!
* * * AKU menjerit dan terbangun.
Mataku nyalang menatap sekeliling ruangan, tak tahu di mana aku berada. Jantungku berdebar kencang, dan keringat dingin membuat dahiku lembap dan licin. Kejadian dalam mimpi buruk itu begitu jelas menari-nari dalam kepalaku. Ethan menyerangku, Robbie membuat buku-buku beterbangan di kamar, sebuah portal menuju dunia lain yang menyeramkan.
Dengkuran keras membuatku menoleh. Puck tidur telentang di sofa di seberangku, satu tangannya menutupi mata, dadanya ditutupi selimut dari kulit tupai.
Jantungku mencelus ketika teringat semua yang terjadi. Ini bukan mimpi buruk. Aku tidak bermimpi. Ethan hilang, sesosok monster telah menggantikannya. Robbie adalah faery. Dan aku berada di Nevernever untuk mencari adikku, meskipun tidak tahu harus mencari ke mana.
Aku berbaring, gemetar. Rumah Twiggs gelap, kunang-kunang atau apa pun itu telah berhenti bekerlip dan kini menempel di dinding, sepertinya tertidur. Satu-satunya penerangan berasal dari cahaya oranye bekerlip di luar jendela. Mungkin Twiggs punya lampu teras atau semacamnya.
Aku terduduk. Cahaya itu rupanya berasal dari lilin, dan di atasnya, seraut wajah mengintip ke dalam. Aku baru saja membuka mulut untuk membangunkan Puck ketika mata biru itu menatapku, dan wajah yang sangat kukenal itu pun lenyap ditelan malam.
Ethan. * * * AKU bangkit dari tempat tidur, berlari menyeberangi ruangan, tidak repot-repot memakai sepatu dulu. Puck mendengus, menggeliat di bawah gundukan bulu, tapi aku mengabaikannya. Ethan ada di luar sana! Seandainya bisa aku kejar, kami bisa pulang dan melupakan semua kekacauan ini.
Aku membuka pintu dan melangkah keluar, memperhatikan hutan mencari adikku. Baru setelahnya aku sadar tubuhku kembali ke ukuran normal, dan pintu itu tingginya tetap kurang dari setengah meter. Yang kupikirkan hanyalah membawa Ethan pulang, membawa kami berdua pulang.
Kegelapan menyambutku, tapi jauh di depan sana aku melihat cahaya oranye bekerlip naik turun, semakin menjauh. Ethan! panggilku, suaraku memecah keheningan. Ethan, tunggu!
Aku berlari, kaki telanjangku menginjak dedaunan dan ranting patah, terpeleset oleh bebatuan dan lumpur. Jari kakiku menabrak sesuatu yang tajam, yang seharusnya menyakitkan, tapi otakku tidak merasakannya. Aku bisa melihat Ethan di kejauhan, tubuh kecil yang menyelinap di antara pepohonan, memegang lilin di depannya. Aku berlari sekencang-kencangnya, ranting-ranting menggores kulitku, tersangkut di rambut dan bajuku, tapi sepertinya dia tetap berada di jarak yang sama jauhnya dariku.
Kemudian dia berhenti, menoleh ke belakang dan tersenyum. Wajahnya tampak menyeramkan diterangi cahaya lilin yang bekerlip. Aku menambah kecepatan, dan hanya tinggal beberapa langkah lagi ketika kakiku kehilangan pijakan. Aku memekik, terjatuh seperti batu, tercebur ke dalam air sedingin es yang menenggelamkan kepalaku, membanjiri hidung dan mulutku.
Terengah-engah, aku naik ke permukaan, wajahku serasa ditusuk-tusuk, dan badanku kaku. Terdengar gelak tawa, dan sebuah bola cahaya mengambang di atas kepalaku. Cahaya itu berayun-ayun sejenak, seperti menikmati rasa malu diriku, lalu lenyap di balik pepohonan, meninggalkan suara tawa melengking di belakang.
Mengapung di air, aku melihat sekeliling. Dinding sungai yang berlumpur ada di atasku, licin dan berbahaya. Ada beberapa batang pohon tua yang dahannya menjuntai di atas air, tapi terlalu tinggi untuk kuraih. Aku berusaha mencari pegangan di dinding sungai untuk menarik tubuhku keluar, tapi kakiku terpeleset di lumpur. Tanaman yang kutarik tercabut dari tanah, membuatku terlempar kembali ke dalam danau disertai bunyi ceburan keras. Aku harus mencari cara lain.
Lalu aku mendengar cipratan air,
agak jauh dariku, dan sadar kalau aku tidak sendiri.
Cahaya bulan menyinari permukaan air, membuat semuanya bagaikan pahatan relief berwarna perak dan hitam. Selain dengungan serangga, malam sangat sepi. Di seberang danau, kunang-kunang menari dan berputar-putar di permukaannya, beberapa memendarkan cahaya merah muda dan biru, alih-alih kuning. Mungkin aku hanya membayangkan telah mendengar suara. Sepertinya tak ada yang bergerak kecuali batang kayu tua yang hanyut ke arahku.
Aku mengerjap lalu mengamati lagi. Batang pohon itu kini mirip kepala kuda, jika kuda bisa berenang seperti alligator. Lalu aku melihat mata putih yang menyeramkan, gigi runcing berkilauan, dan rasa panik membuncah dalam diriku seperti tumpahan minyak mentah.
Puck! teriakku, mencakar-cakar dinding sungai. Gumpalan lumpur berhamburan, aku menemukan pegangan, tapi terpeleset lagi. Aku bisa merasakan makhluk itu mendekat. Puck, tolong aku!
Aku menoleh. Makhluk mirip kuda itu sudah sangat dekat, menjulurkan lehernya dari dalam air, memamerkan giginya yang seruncing jarum. Oh Tuhan, aku akan mati! Makhluk itu akan memakanku! Siapa saja, tolong aku! Aku mencakar-cakar panik dinding sungai dan merasakan ada dahan kokoh di bawah jemariku. Aku mencengkeram dan menarik sekuat tenaga, merasakan dahan itu mengangkatku keluar dari air, tepat ketika monster kuda itu meraung, menerjangku. Hidungnya yang basah dan seperti karet mengenai telapak kakiku, rahangnya mengatup dengan bunyi yang mengerikan. Akhirnya dahan itu melentingkan aku yang terengah-engah dan menangis ke tepi sungai. Monster itu menyelam kembali.
Puck menemukanku beberapa menit kemudian, meringkuk seperti bola beberapa meter dari tepian sungai, basah kuyup dan menggigil kedinginan. Matanya memancarkan simpati sekaligus rasa jengkel saat membantuku berdiri.
Kau tak apa-apa" Dia meraba tanganku, memastikan kalau aku masih utuh. Masih sadar, Putri" Bicaralah.
Aku mengangguk, gemetaran. Aku melihat &Ethan, kataku dengan terbata-bata, berusaha untuk memahami semua ini. Aku mengikutinya, tapi dia berubah menjadi cahaya dan terbang menjauh, lalu monster kuda ingin memangsaku & Aku berhenti bicara. Itu bukan Ethan, ya" Itu pasti faery, mempermainkan perasaanku. Dan aku terpancing.
Puck mendesah, membimbingku ke jalan setapak. Ya, gumamnya sambil menatapku. Wisp memang seperti itu, membuatmu melihat apa yang ingin kau lihat sebelum membuatmu tersesat. Tapi yang satu ini tampaknya cukup jahat, memancingmu ke kolam kelpie. Seharusnya aku bilang agar kau tidak boleh keluar sendirian, tapi kurasa itu hanya membuang-buang napas saja. Oh, biarlah. Dia berhenti, berbalik, menghentikan langkahku. Jangan pergi sendirian, Putri. Dalam situasi apa pun, mengerti" Di sini kau dianggap mainan atau camilan. Jangan lupa itu.
Ya, gumamku. Aku tahu sekarang.
Kami menyusuri jalan setapak. Pintu di pohon berbonggol itu telah lenyap, tapi ransel dan sepatu ketsku tergeletak di luar, isyarat jelas bahwa kami tak lagi diterima. Menggigil, aku memakai sepatu di kakiku yang berdarah, membenci hutan ini dan semua yang ada di dalamnya, hanya ingin pulang.
Nah, kata Puck ceria, kalau kau sudah selesai bermain dengan will-o -the-wisp dan kelpie, kurasa sudah saatnya kita lanjutkan perjalanan. Oh, tapi beritahu aku jika lain kali kau ingin minum teh dengan ogre. Aku akan membawa tongkat pemukul juga.
Aku menatapnya marah. Dia hanya tersenyum lebar. Langit yang berwarna abu-abu muram, sunyi dan hening seperti kematian, mengiringi langkah kami semakin dalam ke Nevernever.
BAB ENAM Perburuan Liar Kami belum berjalan terlalu jauh ketika sampai di zona kematian di tengah hutan.
Wyldwood adalah tempat yang sepi, menyeramkan, tapi ada kehidupan. Pepohonan tua yang berdiri tegak, tanaman berbunga, dan secercah warna cerah di antara warna serba kelabu menandakan adanya kehidupan. Hewan berkeliaran di antara pepohonan, dan makhluk aneh bergerak di balik bayang-bayang; kau tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi tahu kalau mereka ada di sana. Kau bisa merasakan mereka mengawasimu.
Lalu tiba-tiba saja pohon-pohon mengh
ilang, dan kami berdiri di tepi padang gersang.
Rumput yang masih hidup berwarna kuning dan nyaris mati. Beberapa pohon tersebar di sana-sini, tapi tampak aneh, tak berdaun dan menghitam. Dari kejauhan, dahannya mengilap, bengkok-bengkok dan tajam, seperti patung logam berbentuk aneh. Angin panas berembus membawa aroma tembaga dan debu.
Puck menatap hutan yang mati itu cukup lama. Twiggs benar, gumamnya, menatap pohon yang layu. Dia mengulurkan tangan seakan ingin menyentuh salah satu dahan, tapi kemudian berubah pikiran. Ini tidak normal. Ada yang meracuni wyldwood.
Aku menyentuh salah satu dahan yang mengilap, dan menariknya lagi sambil memekik. Aduh!
Puck berbalik ke arahku. Ada apa"
Aku memperlihatkan tanganku. Darah mengalir dari goresan di jariku, tipis seperti tergores kertas. Pohon itu melukaiku.
Puck mengamati jariku dan mengerutkan dahi. Pohon metalik, katanya geli, mengambil saputangan dari saku dan melilitkannya di jariku. Ini hal baru. Jika kau melihat dryad baja, jangan lupa memberitahuku agar aku bisa lari sambil menjerit.
Aku merengut, menatap pohon itu. Setetes darah terlihat berkilau di dahan yang melukaiku sebelum menetes di tanah yang retak-retak. Ujung rantingnya mengilap, seolah-olah diasah menjadi pisau tajam.
Oberon harus tahu hal ini, gumam Puck, membungkuk untuk mengamati serumpun rumput kering. Twiggs bilang hal ini menular, tapi dari mana asalnya" dia bangkit, agak oleng, merentangkan tangan untuk menyeimbangkan tubuh. Aku meraih tangannya.
Kau tidak apa-apa" tanyaku.
Aku baik-baik saja, Putri. Dia mengangguk dan tersenyum pahit. Agak gelisah melihat keadaan ini, tapi apa yang dapat kulakukan" Dia terbatuk, dan mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, seperti mencium sesuatu yang menjijikkan. Udara di sini membuatku mual, ayo kita pergi dari sini.
Aku mengendus-endus, tapi tak membaui sesuatu yang buruk, hanya debu dan aroma tajam logam, seperti karat. Tapi Puck sudah berlalu, alisnya berkerut karena marah atau rasa sakit, dan aku buru-buru mengejarnya.
* * * LOLONGAN dimulai beberapa jam kemudian.
Puck berhenti melangkah begitu tiba-tiba sehingga aku hampir menabraknya. Dia mengangkat tangan untuk menyuruhku diam sebelum aku bertanya apa yang terjadi.
Terdengar gonggongan dan lolongan menyeramkan di belakang kami. Jantungku berdebar kencang, dan aku merapatkan diri pada teman seperjalananku.
Apa itu" Perburuan, jawab Puck, menatap ke kejauhan. Dia meringis. Kau tahu, aku baru saja berpikir kita harus berlari seperti kelinci dan tercabik-cabik. Hari belum lengkap tanpa ada yang berusaha membunuhku.
Tubuhku membeku. Ada yang mengejar kita"
Kau belum pernah menyaksikan perburuan liar. Puck mengerang, menyisirkan jari-jari di rambut. Sial. Wah, ini membuat semua jadi rumit. Aku ingin mengajakmu berkeliling melihat-lihat Nevernever, Putri, tapi kurasa itu harus kita tunda dulu.
Gonggongan semakin dekat, lolongan berat, menggelegar. Apa pun yang menghampiri kami, pasti itu mengerikan. Apakah kita harus lari" bisikku.
Kau pasti kalah cepat, kata Puck, melangkah mundur. Mereka sudah mencium aroma kita, dan tak ada mortal yang selamat dari perburuan liar. Dia mendesah, dengan dramatis menutup mata dengan tangan. Kurasa mengorbankan harga diriku adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kita. Hal-hal yang kulakukan demi cinta. Dewi-dewi takdir akan menertawai penderitaanku.
Kau bilang apa" Puck tersenyum tipis dan mulai berubah.
Wajahnya meregang, semakin panjang dan tirus, lehernya seakan memanjang. Lengannya mengejang, jari-jari menghitam berubah menjadi kaki belah. Dia melengkungkan punggung, tulang belakangnya memanjang sementara kakinya berubah menjadi kaki belakang yang berotot. Bulu menutupi kulitnya saat dia berdiri dengan empat kaki. Dia bukan lagi seorang pemuda tapi seekor kuda kelabu yang gagah dengan surai panjang. Perubahan itu memakan waktu kurang dari sepuluh detik.
Aku mundur karena takut, teringat pertemuanku dengan monster di air, tapi kuda berbintik-bintik ini mengentakkan kaki depan dan mengibas-ngibaskan ekornya tak sabar.
Aku menatap matanya yang bersinar seperti zamrud di sela-sela surai yang menjuntai ke depan, dan entah kenapa rasa takutku mereda.
Lolongan itu semakin dekat, semakin bersemangat dan semakin panik. Aku berlari menuju kuda-Puck dan menghempaskan diri ke punggungnya, mencengkeram surainya untuk membantuku naik ke atas. Meskipun tinggal di peternakan, aku hanya pernah satu atau dua kali menunggang kuda, butuh beberapa kali percobaan sebelum berhasil menaikinya. Puck mendengus dan menggelengkan kepala, sebal melihat ketidakahlianku dalam berkuda.
Berusaha duduk tegak, aku cengkeram surainya erat-erat dan melihat Puck memutar bola matanya ke arahku. Mengangkat kedua kaki depannya, kami melompat ke semak-semak dan melarikan diri.
Menunggang kuda tanpa sadel tidaklah menyenangkan, apalagi jika kau tak bisa mengendalikan tungganganmu atau menentukan tujuan. Dengan jujur aku mengatakan inilah perjalanan yang paling mengerikan dalam hidupku. Pohon-pohon yang kami lewati terlihat buram, dahan-dahan menghantam tubuhku, kakiku serasa terbakar karena menjepit tubuh kuda dengan kedua lututku. Jari-jariku terkunci di surainya, tapi tetap saja tak mencegahku merosot turun setiap kali Puck mengubah arah. Angin menderu di telingaku, tapi aku masih bisa mendengar gonggongan menakutkan dari pengejar kami yang sepertinya tepat di belakang. Aku tak berani menoleh.
Aku tak menyadari berlalunya waktu. Puck tak pernah melambat atau kehabisan napas. Keringat membuat tubuh Puck menjadi lebih gelap dan menjadikan tempat dudukku licin dan lebih menakutkan. Kakiku sudah mati rasa, dan tanganku terasa seperti milik orang lain.
Kemudian makhluk hitam besar muncul dari rumpun pakis di sisi kanan dan menerjang kuda-Puck. Muncul juga seekor anjing pemburu yang jauh lebih besar daripada yang pernah kulihat, matanya sebiru api. Puck melompat ke samping untuk menghindar dan mengangkat kaki ke depan, hampir menjatuhkanku ke tanah. Ketika aku menjerit, satu kaki depannya teracung, menendang dada anjing yang sedang melompat. Anjing itu mendengking lalu kabur.
Semak-semak tersingkap, dan lima ekor anjing raksasa melompat ke jalan. Mereka mengepung kami, menggeram dan melolong, menggigit kaki Puck dan melompat mundur ketika Puck berusaha menendang mereka. Tubuhku membeku, berpegangan erat di punggung Puck, hanya bisa melihat ketika rahang lebar itu mengatup hanya beberapa senti dari kakiku yang menggantung.
Lalu, dari sela-sela pepohonan, aku melihat sosok langsing yang menunggang kuda hitam besar. Pemuda dalam mimpiku, pemuda yang pernah kulihat dari bus. Wajah malaikatnya yang kejam tersenyum ketika menarik busur besar, sebatang anak panah berkilau di ujungnya.
Puck! pekikku, sadar semua sudah terlambat. Awas!
Dedaunan di atas si pemburu bergemeresik, lalu sebatang dahan cukup besar jatuh, mengenai tangan pemuda itu tepat sebelum dia melepas tali busur. Aku dengar bunyi mendesing ketika anak panah melesat melewati kepalaku dan menancap di batang pinus. Bunga es seperti sarang laba-laba berhamburan terkena anak panah, dan kepala kuda Puck menoleh ke arah si pemanah. Pemuda itu memasang anak panah lagi di busur. Sambil meringkik Puck mengangkat kaki depan, melompati anjing-anjing itu, entah bagaimana menghindari gigi-gigi mereka. Ketika kaki kudanya menyentuh tanah lagi, dia berderap kencang, anjing-anjing menggonggong dan mengejarnya.
Sebatang anak panah melesat lagi, aku menoleh, melihat kuda yang mengejar kami dari sela pepohonan, penunggangnya bersiap membidik lagi. Puck mendengus dan mengubah arah, nyaris menjatuhkanku, melompat semakin jauh ke dalam hutan.
Pohon-pohon di sini sangat besar dan tumbuh begitu rapat sehingga Puck harus meliuk-liuk agar bisa melewatinya. Anjing-anjing itu tertinggal, tapi masih terdengar gonggongannya dan sesekali tubuh hitam ramping mereka terlihat, meluncur di sela pepohonan. Si penunggang tak kelihatan, tapi aku tahu dia masih mengikuti, anak panahnya yang mematikan siap dilepaskan menembus jantung kami.
Saat lewat di bawah dahan besar sebuah pohon ek raksasa, Puck berhenti mendadak. Dia lalu melonjak-lonjak liar sehingga
aku terlempar, cengkeramanku terlepas dari surainya. Aku melayang melewati kepalanya, isi perutku sudah naik sampai ke tenggorokan. Aku mendarat dengan keras di atas semacam balok yang terbuat dari dahan-dahan yang saling melilit. Napas terdorong keluar dari paru-paruku, rasa sakit menghunjam tulang rusukku membuat mataku berair. Sambil mendengus, Puck melonjak pergi, anjing-anjing mengikutinya masuk dalam kegelapan hutan.
Tak lama kemudian kuda hitam dan penunggangnya melintas di bawah pohon.
Dia berhenti sejenak, aku menahan napas, yakin dia akan menengadah dan memergokiku. Lalu lolongan anjing-anjing yang bersemangat terdengar di udara, dan dia memacu kudanya lagi, mengikuti buruannya ke sela-sela pepohonan. Sekejap saja suara-suara itu menghilang. Suasana sepi menyelimuti tempatku berada, aku sendirian.
Wah wah, ada yang berkata, sangat dekat. Tadi itu menarik.
BAB TUJUH Goblin and Grimalkin Kali ini aku tak menjerit, tapi sudah nyaris melakukannya. Dan aku nyaris terjatuh dari pohon. Memeluk satu dahan, aku menatap sekeliling, berusaha menemukan pemilik suara itu, tapi aku tak melihat apa pun selain dedaunan dan cahaya abu-abu muram yang bersinar di sela-sela ranting.
Di mana kau" Aku terengah-engah. Tunjukkan dirimu.
Aku tidak bersembunyi, gadis kecil. Suara itu terdengar geli. Mungkin &jika kau buka mata lebih lebar. Seperti ini.
Tepat di hadapanku, tidak sampai dua meter, sepasang mata lebar muncul entah dari mana, dan aku tengah menatap seekor kucing abu-abu raksasa.
Nah begitu, makhluk itu mendengkur, menatapku dengan mata kuningnya. Bulunya panjang dan halus, menyatu sempurna dengan pohon dan lingkungan di sekitarnya. Sudah bisa melihatku sekarang"
Kau itu kucing, kataku bodoh, dan aku berani sumpah makhluk itu mengangkat alis.
Meskipun kata itu sangat kasar, aku rasa kau bisa menyebutku demikian. Makhluk itu bangkit, melengkungkan punggung, sebelum kembali duduk, menyelipkan buntutnya yang berbulu tebal di sela kakinya. Setelah kekagetanku hilang, aku menyadari dia kucing jantan, bukan makhluk itu . Yang lain memanggilku Cait Sith, Grimalkin, dan Kucing Setan, tapi karena artinya sama saja, kurasa kau benar.
Aku ternganga, tapi rasa sakit di rusuk mengingatkan aku pada hal lain. Misalnya Puck, yang meninggalkan aku sendirian di dunia yang menganggapku sebagai camilan, dan aku tak tahu bagaimana mempertahankan diri di sini.
Semula aku terguncang dan marah Puck meninggalkan aku, untuk menyelamatkan diri dan setelah itu rasa takut menyusul, begitu nyata dan menakutkan sehingga aku harus menahan diri agar tidak memeluk pohon dan menangis tersedu-sedu. Kenapa Puck tega melakukan ini padaku" Aku takkan bisa bertahan sendirian. Aku akan berakhir sebagai makanan pencuci mulut monster kuda karnivora, dicabik-cabik kawanan serigala, atau tersesat berpuluh-puluh tahun, karena aku yakin di sini tak ada konsep waktu, maka aku akan terjebak selamanya di tempat ini.
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Tidak, Robbie takkan melakukan ini padaku. Aku yakin. Mungkin dia hendak memancing si pemburu ke arah lain, untuk memastikan mereka mengikutinya dan membiarkan aku. Mungkin dia berniat menyelamatkan hidupku. Mungkin dia telah menyelamatkan hidupku. Tapi jika itu yang terjadi, aku harap dia segera kembali, kurasa aku takkan bisa keluar dari Nevernever tanpa dirinya.
Grimalkin, atau siapalah namanya tadi, masih mengamatiku seolah-olah aku sejenis serangga yang menarik. Aku menatapnya dengan curiga. Memang dia mirip kucing rumah yang besar dan agak gemuk, tapi kuda juga seharusnya bukan pemakan daging, dan di hutan normal tidak ada laki-laki kecil hidup di dalamnya. Kucing ini mungkin saja berniat menjadikan aku santapannya. Aku menelan ludah, menatap matanya yang cerdas dan menyeramkan.
A-pa yang kauinginkan" tanyaku, bersyukur suaraku hanya sedikit bergetar.
Kucing itu tak berkedip. Dasar manusia, katanya, dan jika seekor kucing bisa terdengar mencela, yang satu ini jelas berhasil, pikirkan betapa konyolnya pertanyaan itu. Aku sedang bersantai di pohonku, mengurusi urusanku send
iri dan berpikir apakah akan berburu hari ini ketika kau melayang seperti bean sidhe dan menakuti semua burung sejauh bermil-mil dari sini. Dan kau masih berani bertanya apa yang aku inginkan. Dia mendengus dan memberi tatapan meremehkan yang sangat khas kucing. Aku tahu mortal biasanya kasar dan barbar, tapi tetap saja ini tidak pantas.
Maaf, gumamku otomatis. Aku tak berniat membuatmu tersinggung.
Grimalkin mengibas-ngibaskan ekor, lalu berbalik membersihkan kaki belakangnya.
Um, lanjutku setelah diam sejenak. Aku ingin tahu apa mungkin &kau bisa menolongku.
Grimalkin berhenti menjilat, lalu meneruskannya lagi tanpa menoleh. Dan kenapa aku mau melakukannya" tanyanya, bicaranya tetap jelas meskipun sedang menjilati kaki. Dia tetap tak menatapku.
Aku sedang mencari adikku, jawabku, terluka karena penolakan Grimalkin yang acuh tak acuh. Dia diculik oleh Istana Gelap.
Hmm. Sungguh tidak menarik.
Kumohon, pintaku. Tolong aku. Beri aku petunjuk, atau tunjukkan saja jalannya. Apa saja. Aku akan membayarnya, aku bersumpah.
Grimalkin menguap, memamerkan taring panjang dan lidah merah muda, lalu menatap mataku.
Apa kau berkata kau berutang padaku"
Ya. Bagaimana pun aku akan membalas budimu, aku janji.
Telinganya bergerak-gerak, dia tampak geli. Hati-hati bila mengucapkan kata-kata itu, dia memperingatkan. Melakukan ini akan membuatmu berutang budi padaku. Apa kau yakin mau melakukannya"
Aku sama sekali tak memikirkannya. Aku begitu putus asa mencari pertolongan, aku akan menyetujui apa pun. Ya! Kumohon, aku harus menemukan Puck. Kuda yang kutunggangi ketika dia melemparku. Dia sebenarnya bukan kuda, kau tahu. Dia
Aku tahu siapa dia, ucap Grimalkin pelan.
Sungguh" Oh, bagus sekali. Apa kau tahu ke mana dia pergi"
Dia menatapku tak berkedip, lalu mengibaskan ekor. Tanpa berkata, dia bangkit, melompat dengan anggun ke dahan yang lebih rendah, dan turun ke tanah. Dia meregangkan tubuh, ekornya yang lebat berdiri tegak, lalu lenyap ke dalam semak-semak tanpa menoleh.
Aku memekik, tergopoh-gopoh melepaskan diri dari belitan dahan, meringis merasakan sakit di tulang rusukku. Bisa dibilang aku jatuh dari pohon, mendarat keras dengan punggung, mengucapkan satu kata yang bisa membuat Mom menghukumku. Sambil menepis kotoran dari belakang tubuhku, aku mencari-cari Grimalkin.
Manusia. Dia muncul seperti hantu kelabu yang meluncur dari dalam semak-semak, mata besarnya berkilau, satu-satunya pertanda dia ada di sana. Ini perjanjian kita. Aku akan membawamu menemukan Puck-mu, dan kau akan melakukan sesuatu untukku sebagai gantinya, setuju"
Caranya mengatakan perjanjian membuatku merinding, tapi aku mengangguk.
Baiklah. Ikuti aku. Dan berusahalah agar tidak ketinggalan.
* * * MUDAH diucapkan daripada dilakukan.
Jika kau pernah mencoba mengikuti kucing melintasi hutan lebat dipenuhi akar besar, semak-semak, dan belukar lebat, kau akan tahu betapa mustahilnya itu dilakukan. Aku tak tahu berapa kali aku kehilangan jejak Grimalkin, dan menghabiskan beberapa menit yang menegangkan untuk mencarinya, berharap melangkah ke arah yang benar. Aku selalu lega setiap kali berhasil melihat sekilas tubuhnya menyelinap di antara pepohonan di depan sana, hanya untuk mencarinya lagi beberapa menit kemudian.
Ditambah lagi aku terus memikirkan apa yang terjadi pada Puck. Apakah dia sudah tewas, dipanah pemuda fey jahat itu dan dicabik-cabik anjing pemburu" Atau dia benar-benar kabur, memutuskan takkan mencariku lagi, dan merasa aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri"
Rasa takut dan marah membuncah, dan pikiran-pikiran muramku beralih pada penunjuk jalanku yang baru. Grimalkin sepertinya tahu arah yang kami tuju, tapi bagaimana dia tahu di mana Puck berada" Kenapa aku mau memercayainya" Bagaimana jika kucing licik itu menjebakku"
Sementara aku berkubang dalam pikiran-pikiran buruk itu, Grimalkin menghilang lagi.
Sialan, aku akan mengikat lonceng di leher hewan sialan itu jika dia tak berhenti melakukannya. Cahaya sudah meredup, dan hutan semakin kelabu. Aku berhenti, menyipitkan mata ke arah semak-semak, mencari kucin
g misterius itu. Jauh di depan, semak-semak yang bergemeresik membuatku kaget. Sebelum ini Grimalkin tak pernah bersuara.
Manusia! bisik suara yang kukenal dari suatu tempat di atasku. Sembunyi!
Apa" tanyaku, tapi sudah terlambat. Ranting patah, semak-semak tersibak, dan segerombol makhluk aneh muncul di hadapanku.
Makhluk itu kecil, jelek, tingginya sekitar setengah sampai satu meter, kulit berbonggol-bonggol kuning kehijauan dan hidung bulat. Telinganya besar dan lancip. Mereka mengenakan pakaian compang-camping dan menggenggam tombak bermata tulang. Wajah mereka keji dan ganas, dengan mata menonjol dan mulut penuh gigi patah, tak beraturan.
Mereka berhenti melangkah, berkedip kaget. Lalu semuanya menjerit, menyerbu ke depan, menusuk-nusukku dengan tombaknya.
Apa ini" Apa ini" bentak yang satu, sementara aku mengerut ngeri menjauh dari ujung tombak. Tawa dan cemoohan memenuhi udara ketika mereka mengerumuniku.
Itu elf, desis yang lain, memamerkan giginya padaku. Mungkin elf yang kehilangan kuping.
Bukan, itu gadis-kambing, jerit yang ketiga. Enak dimakan, mereka itu.
Dia bukan kambing, bodoh! Coba lihat, dia nggak punya kaki kambing!
Aku gemetaran, celingukan mencari jalan untuk kabur, tapi ke mana pun aku berpaling, ujung tombak tajam itu disodokkan ke arahku.
Bawa dia ke bos, ada yang memberi saran. Bos pasti tahu dia itu apa, dan apakah dia aman bila dimakan.
Betul! Bos pasti tahu! Beberapa dari mereka mendorongku dari belakang, dan aku merasakan pukulan di belakang lututku. Aku terjatuh dan menjerit, sementara gerombolan itu menyerbu, memekik dan berteriak-teriak. Aku memekik dan menendang, tanganku memukul-mukul, menggeliat-geliat tertimpa oleh tubuh mereka. Beberapa melayang masuk ke dalam semak, tapi mereka segera kembali dengan jeritan melengking dan menerjang lagi. Darah mengalir dari tubuhku.
Lalu kepalaku dipukul dari belakang, mataku berkunang-kunang, dan aku tak sadarkan diri.
* * * AKU siuman disertai rasa sakit di kepala. Tubuhku dalam posisi duduk, dan ada sesuatu yang mirip tangkai sapu menekan punggungku. Sambil mengerang, aku memeriksa kepala, mencari apakah ada yang retak atau terluka. Tapi selain sebuah benjolan besar sedikit di atas garis rambutku, semuanya tampak utuh.
Ketika yakin tubuhku masih utuh, aku membuka mata.
Dan langsung menyesalinya.
Aku berada di dalam kandang. Kandang yang sangat kecil, terbuat dari dahan-dahan pohon yang disatukan dengan tali kulit. Nyaris tak ada ruang untuk menegakkan kepala, dan ketika aku bergerak, sesuatu yang tajam menusuk lenganku hingga berdarah. Aku mengamati lebih teliti dan melihat bahwa sebagian besar dahan itu memiliki duri sepanjang tiga senti.
Di balik jeruji ada beberapa pondok dari lumpur berdiri dalam posisi tak beraturan mengelilingi api unggun besar. Makhluk kecil bungkuk dan jelek berkeliaran di sekitar kamp, berkelahi, bertengkar, atau mengunyah tulang. Beberapa dari mereka duduk mengelilingi ranselku, mengeluarkan isinya satu demi satu. Pakaian cadanganku langsung mereka campakkan di tanah, tapi keripik dan botol aspirin mereka buka, dicicipi dan bertengkar karenanya. Salah satunya berhasil membuka kaleng soda dan menyemprotkan cairan berdesis ke segala arah, yang menyebabkan teriakan marah dari teman-temannya.
Satu di antara mereka, lebih kecil dari yang lain dan mengenakan rompi merah berlumpur, melihatku sudah sadar. Dia mendekati kandang, mendesis, dan menusukkan tombak lewat sela-sela jeruji. Aku menghindar, tapi tak ada tempat untuk mengelak; duri melukai kulitku sementara ujung tombaknya menusuk betisku.
Aduh, hentikan! Jeritanku yang malah membuatnya kian bersemangat. Dia terkekeh-kekeh, menusuk dan mendesakku sampai akhirnya aku membungkuk dan mencengkeram ujung tombaknya. Sambil menggeram dan memaki, makhluk itu berusaha menariknya kembali, dan kami tarik-menarik tombak cukup lama sampai ada goblin lain melihat apa yang kami lakukan. Dia menghampiri kami dan menusukku dari sela jeruji dari arah berlawanan, dan aku melepaskan tombak yang kupegang sambil memekik.
Greertig, jangan tusuk-tusuk makanan, be
ntak makhluk kedua yang lebih tinggi. Nanti tidak enak kalau darahnya habis.


The Iron Fey 1 The Iron King Karya Julie Kagawa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Puih, aku cuma memastikan dagingnya empuk. Kata yang lain, mendengus dan meludah di tanah, lalu memelototiku dengan mata merah tamak. Kenapa kita harus tunggu" Ayo kita makan sekarang.
Bos belum pulang. Makhluk yang lebih tinggi menatapku, dan dengan ngeri aku melihat air liur mengalir deras di dagunya. Bos yang memutuskan apakah dia aman untuk dimakan.
Mereka menatapku kepingin, lalu melangkah kembali ke api unggun, bertengkar dan saling meludahi. Aku menarik lutut ke dada, berusaha mengendalikan getaran tubuhku.
Kalau mau menangis, lakukan diam-diam, terdengar gumaman yang familiar di belakangku. Goblin bisa takut. Mereka hanya akan menyiksamu lagi kalau kau memberinya alasan.
Grimalkin" Aku celingukan, menggeliat di dalam kandang untuk mencari kucing abu-abu yang nyaris tak terlihat menunduk di salah satu sudut. Matanya menyipit penuh konsentrasi, dan giginya yang kokoh dan tajam mengunyah-ngunyah salah satu tali kulit yang mengikat jeruji.
Bodoh, jangan melihatku! Dia meludah, dengan cepat aku berpaling darinya. Kucing itu mengerang, menarik-narik salah satu batang jeruji. Goblin tidak terlalu pintar, tapi mereka pasti sadar kalau kau ketahuan bicara sendiri. Duduk diam-diam dan aku akan mengeluarkanmu dalam satu menit.
Terima kasih telah mencariku, bisikku, menatap dua goblin yang berkelahi memperebutkan tulang rusuk seekor hewan yang malang. Perkelahian itu berakhir saat satu goblin menghantam kepala lawannya dengan tongkat dan pergi membawa hadiahnya. Goblin satunya terkapar sesaat, lalu bangkit untuk mengejar lawannya.
Grimalkin mendengus dan mulai mengunyah-ngunyah tali pengikat lagi. Jangan menambah utangmu lagi, katanya dengan mulut penuh tali kulit. Kita sudah punya kontrak. Aku telah berjanji membawamu pada Puck, dan aku selalu menepati janji. Sekarang, tutup mulutmu dan biarkan aku bekerja.
Aku mengangguk lalu diam, tapi mendadak terdengar jaritan nyaring. Para goblin melompat berdiri, mendesis dan berlarian ketika sesosok makhluk besar keluar dari hutan dan melangkah ke kamp.
Makhluk itu juga goblin, hanya lebih besar, tubuhnya lebar, dan tampangnya lebih kejam daripada yang lain. Dia mengenakan baju berwarna merah darah dengan kancing tembaga, lengannya digulung, dan buntut bajunya terseret di belakang. Dia juga membawa pisau melengkung dari perunggu yang sudah karatan dan gompal. Goblin itu menggeram dan melangkah angkuh memasuki kamp, goblin yang lain menjauh, dan aku tahu dia pastilah pemimpin mereka.
Diam, anjing berisik, si pemimpin meraung, mengayunkan tinju pada beberapa goblin yang kurang cepat menyingkir dari jalannya. Tidak berguna, kalian semua! Aku kerja keras, menyerang perbatasan, dan apa yang kalian lakukan untukku, hah" Tak ada! Bahkan kelinci rebus pun tidak ada. Kalian bikin aku muak.
Bos, bos! teriak beberapa goblin serempak, melompat-lompat dan menunjuk. Lihat, lihat! Kami tangkap sesuatu! Kami bawa dia untukmu!
Eh" Si pemimpin menatap ke seberang kamp, mata jahatnya tertuju padaku. Apa itu" Kalian yang udik menyedihkan bisa juga menangkap elf"
Dia melangkah menuju kandang. Aku tak kuasa menahan diri melirik ke arah Grimalkin, berharap dia sudah pergi. Tapi Grimalkin tak terlihat.
Menelan ludah, aku menengadah, menatap mata merah bulat si pemimpin.
Demi Pan, apa ini" Pemimpin Goblin itu mendengus. Ini bukan elf, bego. Kecuali dia sudah menukar kupingnya! Lagi pula dia mengendus-endus, mengerutkan hidungnya yang beringus. baunya lain. Hei, makhluk mirip-elf. Dia memukul kandang dengan sisi pedang, membuatku terlonjak. Kau itu apa"
Aku menghela napas panjang ketika para goblin lain berkerumun di sekeliling kandang, mengawasiku, ada yang penasaran, tapi kebanyakan terlihat lapar. Aku &faery otaku, jawabku, diikuti ekspresi heran dari si pemimpin dan ekspresi bingung dari pengikutnya. Suara bisik-bisik mulai terdengar di dalam kerumunan, makin lama makin ramai.
Apa" Tak pernah dengar. Enak tidak" Bisa kita makan" Si pemimpin mengerutkan dahi. Aku tak pernah
bertemu faery otaku, geramnya menggaruk-garuk kepala. Ah, tapi tidak penting. Kau kelihatan muda dan berisi, cukup buat makanan anak buahku selama beberapa hari. Jadi, apa yang kau suka, otaku" Dia menyeringai dan menghunus pedang. Direbus hidup-hidup, atau dipanggang di api"
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat agar berhenti gemetar. Apa saja tidak masalah buatku, kataku, berusaha terdengar santai. Besok semuanya tak ada artinya lagi. Ada racun mematikan dalam darahku. Jika kau memakanku meskipun hanya satu gigitan, darahmu akan mendidih, organ dalammu meleleh, dan tubuhmu akan hancur menjadi tumpukan kotoran berasap. Suara desisan terdengar dari kerumunan; beberapa goblin memamerkan gigi dan menggeram. Aku menyilangkan lengan di dada, mengangkat dagu, lalu menatap pemimpin goblin itu. Jadi, silakan saja makan aku. Besok kau akan menjadi genangan lengket, meresap ke dalam tanah.
Lebih banyak goblin yang mundur, tapi si pemimpin bergeming. Tutup mulut, penakut! Dia membentak para goblin yang gugup. Menatapku masam, dia meludah. Jadi kami tak bisa memakanmu. Dia terdengar tidak terkesan. Sayang sekali. Tapi jangan pikir kau akan selamat. Meskipun kau beracun, aku tetap akan membunuhmu, lalu mengeluarkan darahmu pelan-pelan, jadi darah racunmu tak membuatku celaka. Lalu aku kuliti kau dan kulitmu kugantung jadi penutup pintu, memakai tulangmu jadi mata panah. Seperti kata nenekku, jangan sia-siakan apa pun.
Tunggu! jeritku ketika dia maju sambil mengangkat pedang. Sa-sayang sekali jika aku dibuang-buang seperti itu, kataku terbata-bata sementara dia menatapku curiga. Ada cara untuk menghilangkan racun dari darahku sehingga aman untuk dimakan. Jika aku harus mati, lebih baik aku dimakan daripada disiksa.
Pemimpin goblin itu tersenyum. Aku tahu kau mengerti, katanya bangga. Menoleh pada pengikutnya, dia menepuk-nepuk dada. Lihat kan, anjing" Bosmu ini selalu mengurus kalian! Kita pesta malam ini!
Sorak-sorai terdengar nyaring, dan si pemimpin berpaling padaku lagi, menudingkan pedang di depan wajahku. Jadi bagaimana, otaku" Apa rahasianya"
Aku berpikir cepat. Untuk membersihkan racun dari darahku, kau harus merebusku dalam panci besar berisi beberapa bahan untuk memurnikan. Airnya berasal dari air terjun, sebutir biji ek dari pohon ek paling tinggi, jamur biru, dan &um &
Jangan bilang kau lupa, kata si pemimpin dengan nada keji, dan menusukkan ujung pedang melalui sela jeruji. Aku bisa membantumu mengingat.
Debu pixie! kataku putus asa, membuatnya berkedip. Dari pixie hidup, tambahku. Tidak mati. Jika mati, resepnya takkan manjur. Aku berdoa ada pixie di dunia ini. Jika tidak, aku sudah pasti mati.
Huh, omel si pemimpin, dan berbalik ke anak buahnya yang menunggu. Baiklah, bodoh, kalian sudah dengar! Aku mau semua bahan itu ada di sini sebelum subuh! Siapa yang tidak bekerja, jangan makan! Sekarang, pergi semua.
Gerombolan itu berpencar. Sambil mendesis, mengomel, dan saling memaki, mereka lenyap ke dalam hutan hingga hanya tinggal satu pengawal yang berjaga, bersandar pada tombak bengkok.
Si pemimpin menatapku waspada dan menudingkan pedangnya dari sela jeruji.
Jangan pikir kau bisa menipuku dengan memberikan resep palsu, ancamnya. Aku akan potong jarimu, melemparnya dalam rebusan, lalu menyuruh anak buahku memakannya. Jika dia mati, atau meleleh jadi kubangan, kematianmu akan lama dan menyakitkan. Mengerti"
Menggigil, aku mengangguk. Aku tahu tak ada goblin yang akan mati, karena cerita darah beracun dan resep untuk ramuan itu tentu saja hanya omong kosong. Tetap saja, aku tak senang kehilangan satu jariku. Ketakutan lebih tepatnya.
Si pemimpin meludah dan melihat sekeliling kamp yang hampir kosong. Bah, tak satu pun anjing-anjing itu yang tahu cara menangkap pixie, gumamnya sambil menggaruk-garuk telinga. Mereka pasti akan memakannya jika bisa menangkapnya. Argh, lebih baik aku cari sendiri. Bugrat!
Beberapa meter jauhnya, satu-satunya penjaga yang tinggal langsung waspada. Ya, bos"
Jaga makan malam kita, perintah si pemimpin, menyarungkan pedang. Jika dia mau kabur, po
tong kakinya. Baik, bos. Aku mau berburu. Si pemimpin memberiku tatapan memperingatkan sekali lagi sebelum menghilang ke dalam semak belukar.
Pintar sekali, gumam Grimalkin, seperti enggan mengakui bahwa dia terkesan.
Aku mengangguk, tak punya napas untuk menjawab. Beberapa saat kemudian, bunyi kunyahan kembali terdengar.
Hal itu berlangsung beberapa lama, sementara aku menggigit bibir, meremas-remas tangan, dan menahan diri untuk tidak melihat sampai di mana kemajuan Grimalkin setiap dua puluh detik. Menit demi menit berlalu, aku menatap pepohonan dan hutan dengan cemas, khawatir si pemimpin atau anak buahnya tiba-tiba datang. Si penjaga yang sendirian berpatroli keliling kamp, menatapku benci ketika melewati kandang dan membuat Grimalkin menghilang. Akhirnya setelah putaran kedelapan atau sembilan, suara Grimalkin terdengar setelah penjaga itu lewat.
Sudah. Kurasa kau bisa melewainya sekarang.
Aku berbalik dengan hati-hati. Mengamati jeruji, melihat beberapa pengikatnya sudah lepas, pembuktian kuatnya rahang dan tajamnya gigi Grim.
Ayo, ayo, cepat pergi, desis Grimalkin, mengibaskan ekor. Kau boleh terkagum-kagum nanti mereka kembali.
Semak-semak bergemeresik di sekitarku, tawa kasar menggema di udara, semakin dekat. Jantungku berdebar kencang, aku memegang jeruji, berhati-hati agar tak terkena duri, dan mendorong. Jeruji itu bergeming, masih tertahan oleh satu dahan yang dipasang melintang, aku mendorong lebih kuat. Rasanya seperti mendorong semak belukar lebat; jerujinya bergeser sedikit, menggodaku dengan kebebasan, tapi hanya bergerak sedikit.
Pemimpin goblin muncul dari balik pepohonan, diikuti tiga goblin lain. Dia mencengkeram sesuatu yang kecil dan menggeliat-geliat, dan tangan pengikutnya penuh dengan jamur ajaib biru pucat.
Cari jamur paling gampang, dengus si pemimpin, menatap remeh goblin di belakangnya. Orang idiot juga bisa mengumpulkan tanaman. Kalau aku suruh anjing-anjing ini menangkap piskie, kita tidak dapat apa-apa selain tulang sebelum sempat
Dia terdiam, tatapannya terpaku padaku. Sejenak dia hanya berdiri diam, berkedip-kedip, lalu matanya menyipit dan mengepalkan tinju. Makhluk dalam genggamannya menjerit melengking ketika goblin itu meremasnya sampai mati dan melemparnya ke tanah. Dia menghunus pedang dengan raungan marah. Aku menjerit dan mendorong jeruji kandang sekuat tenaga.
Bagian belakang kandang terbuka, disertai bunyi patahan ranting dan duri, dan aku pun bebas.
Lari! teriak Grimalkin, dan aku tak perlu disuruh lagi. Kami melesat masuk hutan, diiringi jeritan marah para goblin di belakang kami.
BAB DELAPAN Padang Cahaya Bulan Aku berlari menerobos hutan, ranting dan dedaunan menampar-nampar wajahku. Aku mengikuti kelebatan tubuh Grimalkin dengan segenap tenaga. Di belakang terdengar bunyi ranting patah, geraman, dan makian marah pemimpin goblin yang kian nyaring terdengar. Napasku tersengal-sengal, paru-paruku terbakar, tapi aku memaksa kakiku terus bergerak, menyadari jika sampai tersandung atau jatuh, aku akan mati.
Lewat sini! Grimalkin berseru, melesat ke semak berduri. Jika bisa mencapai sungai, kita akan selamat! Goblin tak bisa berenang!
Aku menyusulnya memasuki belukar, menyiapkan diri menghadapi onak dan duri yang akan menggores kulitku dan merobek pakaianku. Tapi semak itu tersibak dengan mudah, seperti ketika aku melewatinya bersama Puck, dan aku lolos dengan hanya sedikit goresan. Ketika aku keluar dari sana, bunyi sesuatu terjatuh menggema di belakangku, diikuti pekikan dan makian nyaring. Rupanya, tidak seperti aku, para goblin tidak semudah itu melewati semak berduri, dan sambil terus berlari, aku berterima kasih kepada kuasa apa pun yang mengaturnya.
Selain raungan goblin dan napasku yang terengah-engah, aku mendengar gemercik air. Ketika aku berjalan sempoyongan keluar dari sela pepohonan, tanah menurun menjadi pematang berbatu. Ada sungai besar mengalir di depanku, sekitar seratus meter lebarnya, tak ada jembatan maupun rakit. Aku tak bisa melihat apa yang ada di seberang karena kabut bergulung-gulung di permukaan air, terentang sejauh mata m
emandang. Grimalkin berdiri di tepinya, nyaris tak terlihat karena kabut. Dia mengibaskan ekor dengan tidak sabar.
Cepat! perintahnya ketika aku terhuyung-huyung melangkah menyusuri tepian sungai, keletihan membakar kakiku. Teritorial Erlking ada di seberang sungai. Kau harus berenang, cepat!
Aku ragu. Jika monster kuda berlindung di danau yang tenang, apa yang disembunyikan sungai hitam besar ini" Ikan raksasa dan monster laut terbayang dalam benakku.
Ada yang melesat melewati lenganku, membuatku kaget, dan mendarat di batu dengan bunyi gemerencing. Tombak goblin, mata tulangnya bercahaya di atas batu. Darah seakan berhenti mengalir di wajahku. Aku bisa memilih tinggal dan dipanggang, atau mencoba peruntunganku di sungai.
Bergegas menuruni tepian sungai, aku masuk ke dalam air.
Dinginnya air sungai membuatku kaget. Aku tersentak, berjuang melawan arus yang menarikku ke hilir. Aku perenang yang cukup baik, tapi tubuhku terasa seperti jeli, dan paru-paruku megap-megap kekurangan oksigen. Aku timbul tenggelam, air masuk ke hidung, membuat paru-paruku menjerit. Arus membawaku menjauh, aku berjuang melawan rasa panik.
Satu lagi tombak melewati kepalaku. Aku menoleh dan melihat para goblin mengikutiku di sepanjang tepian, melangkah susah payah di bebatuan, melontarkan tombak. Rasa takut memberiku kekuatan ekstra. Aku berenang ke seberang, tangan dan kaki mengayuh kesetanan, melawan arus sekuat tenaga. Lebih banyak lagi tombak melayang ke arahku, untung saja bidikan goblin menyamai intelegensi mereka.
Ketika mendekati tembok kabut, sesuatu menghunjam bahuku dengan keras, mengirimkan sentakan rasa sakit di punggungku. Aku terkesiap, mulai tenggelam. Rasa sakit melumpuhkan lenganku, dan ketika arus bawah menarikku, aku yakin aku akan mati.
Ada yang meraih pinggangku, dan aku merasakan tubuhku ditarik ke atas. Kepalaku muncul ke permukaan air, dan aku menghela napas untuk mengisi udara di paru-paru, melawan kegelapan di sudut penglihatanku. Aku tahu ada yang menarik tubuhku dari dalam air, tapi aku tak bisa melihat apa-apa karena kabut. Lalu kakiku menyentuh tanah padat, dan hal berikutnya yang kuingat adalah aku terbaring di rerumputan, matahari bersinar hangat di wajahku. Mataku tertutup, dan aku membukanya dengan perlahan.
Seraut wajah seorang gadis hanya beberapa senti di atas wajahku. Rambut pirangnya menyapu pipiku, mata hijau lebar bersinar menyiratkan rasa ingin tahu sekaligus penasaran. Kulitnya sewarna rumput musim panas, di lehernya ada sisik kecil perak berkilap. Dia menyeringai, dan giginya berkilau setajam dan seruncing gigi belut.
Jeritan terkumpul di tenggorokanku, tapi aku menahannya. Gadis &ini &baru saja menyelamatkan hidupku, meskipun mungkin karena dia ingin menyantapku. Kasar sekali jika aku menjerit di depan wajahnya, lagi pula satu gerakan mendadak mungkin saja memancing tindakan agresif darinya. Aku tak boleh memperlihatkan rasa takut. Sambil menghela napas dalam-dalam, aku berusaha duduk, mengernyit saat merasakan sengatan sakit di bahuku.
Um &halo, aku terbata-bata, melihatnya mundur dan matanya mengerjap heran. Aku kaget melihat dia punya kaki alih-alih ekor ikan, sekalipun sela-sela jari tangan dan kakinya berselaput, dan cakarnya amat tajam. Gaun putih pendek menggantung di tubuhnya, ujungnya masih meneteskan air. Aku Meghan. Siapa namamu"
Dia menelengkan kepala, mengingatkanku pada kucing yang tak bisa memutuskan apakah akan memakan tikus atau menjadikannya mainan. Kau tampak aneh, katanya, suaranya berdesir seperti air menerpa berbatuan. Kau itu apa"
Aku" Aku manusia. Saat mengatakan itu, aku berharap tidak melakukannya. Dalam dongeng, yang kini makin teringat olehku, manusia selalu menjadi makanan, mainan, atau korban kisah cinta tragis. Dan pengalamanku selama di sini membuktikan kalau penghuni dunia ini tak ragu membunuh dan memakan makhluk yang bisa bicara. Dalam rantai makanan, aku berada di tempat yang sama dengan kelinci atau tupai. Hal itu terasa menakutkan, alih-alih menenangkan.
Manusia" Gadis itu menelengkan kepala ke arah berlawanan. Aku melihat sekilas insang merah muda di
bawah dagunya. Kakakku sering bercerita tentang manusia. Mereka kadang-kadang bernyanyi untuk memancing manusia ke dalam air. Dia menyeringai, memamerkan gigi runcing-tajamnya. Aku sudah berlatih. Mau dengar"
Tidak, tentu saja dia tidak mau. Grimalkin muncul dari sela rerumputan, ekor sikat botolnya terangkat tinggi. Kucing itu basah kuyup, air menetes-netes deras dari bulunya, dan dia tak tampak senang.
Huss, pergi sana, dia menggeram ke arah si gadis yang mundur, mendesis dan memamerkan giginya. Grimalkin seperti tak terkesan. Pergi. Aku sedang tak ingin bermain dengan nixie. Sekarang, enyah kau!
Gadis itu mendesis sekali lagi lalu pergi, meluncur ke dalam air seperti anjing laut. Dia memelototi kami dari tengah sungai, lalu menghilang di antara kabut.
Siren menyebalkan, omel Grimalkin, berpaling memelototiku, matanya menyipit. Kau tidak menjanjikan apa-apa padanya"
Tidak. Kataku cepat. Aku senang melihat kucing itu lagi, tentu saja, tapi tidak suka dengan sikapnya. Bukan salahku hingga dikejar goblin. Jangan menakutinya seperti itu, Grim. Dia menyelamatkan hidupku.
Kucing itu menggerakkan ekor, mencipratkan air ke arahku. Satu-satunya alasan dia menarikmu dari dalam sungai adalah rasa penasaran. Jika aku tidak datang, dia pasti sudah menyanyi agar kau masuk ke dalam air dan tenggelam, atau memakanmu. Untung saja, nixie biasanya pengecut. Mereka lebih suka berkelahi di dalam air di mana mereka memiliki keunggulan. Sekarang, sebaiknya kita mencari tempat lain untuk beristirahat. Kau terluka, dan aku capek sehabis berenang. Jika kau bisa berjalan, kusarankan kau segera melangkah.
Mengernyit menahan sakit, aku berusaha berdiri. Bahuku seperti terbakar, tapi jika aku melipat lengan di dada, rasa sakitnya berkurang. Aku mengikuti Grimalkin sambil menggigit bibir, menjauh dari sungai dan memasuki wilayah teritorial Erlking.
* * * MESKIPUN basah, letih, dan kesakitan, aku masih sanggup terkagum-kagum. Segera saja mataku terus membesar dan bengkak akibat terlalu lama menatap tanpa berkedip. Wilayah di sisi seberang sungai ini jauh berbeda dengan hutan kelabu menyeramkan tempat para fey liar. Alih-alih warna suram dan pudar, semuanya terlalu hidup dan nyata. Pohon-pohonnya terlalu hijau, bunga berwarna-warni. Daunnya bersinar menyilaukan karena ditimpa cahaya, dan kelopak bunga bekerlip seperti permata ketika terkena cahaya matahari. Semua sangat menakjubkan, tapi aku tak bisa mengusir perasaan khawatir. Semuanya terasa begitu &palsu, entah kenapa, seakan-akan ini hanyalah selubung yang disampirkan di atas kenyataan, seolah-olah aku tak sedang menatap dunia nyata.
Bahuku seperti terbakar, dan kulit di sekitarnya terasa membengkak dan panas. Semakin siang, panas semakin menyengat lenganku, menyebar di punggungku. Keringat membasahi wajahku, membuat mataku perih dan kakiku gemetar.
Akhirnya aku terkapar di bawah pohon pinus dengan terengah-engah, badanku terasa panas sekaligus dingin. Grimalkin berjalan mondar-mandir, ekornya terangkat tinggi. Aku melihat dua Grimalkin, namun setelah menghapus keringat di mataku, hanya ada satu kucing.
Ada yang salah denganku, kataku pada si kucing yang menatapku tenang. Matanya tiba-tiba melayang lepas dari wajahnya, mengambang di udara di antara kami. Aku mengerjap, dan mata itu normal lagi.
Grimalkin mengangguk. Racun Renda-Mimpi, katanya, membuatku bingung. Goblin meracuni ujung tombak dan anak panahnya. Ketika halusinasi mulai terjadi, kau tak punya banyak waktu.
Apa ada obatnya" bisikku, mengacuhkan rumpun pakis yang merayap ke arahku seperti laba-laba. Atau yang bisa mengobati"
Kita sedang menuju ke sana. Grimalkin bangkit, menoleh padaku. Tidak jauh lagi, manusia. Pandang aku terus, dan berusahalah mengabaikan yang lain, apa pun yang kau lihat.
Butuh tiga kali usaha sebelum aku bisa berdiri, tapi akhirnya aku berhasil dan mempertahankan keseimbangan cukup lama untuk berjalan satu langkah. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Aku mengikuti Grimalkin sejauh bermil-mil, atau rasanya seperti itu. Setelah pohon pertama menerjangku, rasanya sulit sekali untuk m
emusatkan perhatian. Beberapa kali aku hampir kehilangan Grimalkin, karena lanskap berubah menjadi aneh menakutkan, meraihku dengan jari-jari rantingnya. Di kejauhan, bayang-bayang terus memanggil-manggil namaku. Tanah berubah menjadi lautan laba-laba dan kaki seribu merayap di kakiku. Seekor rusa mengadang di tengah jalan, menelengkan kepala, dan menanyakan jam.
Grimalkin berhenti. Melompat ke atas batu, mengabaikan teriakan prostes si batu yang menyuruhnya turun, dia berpaling padaku. Kau sekarang sendirian, manusia, katanya, atau setidaknya itu yang aku dengar di antara jeritan si batu. Terus berjalan sampai dia menampakkan diri. Dia berutang padaku, tapi punya kecenderungan tidak memercayai manusia, jadi peluang dia menolongmu sekitar lima puluh-lima puluh. Sayangnya, hanya dia yang bisa menyembuhkanmu saat ini.
Aku mengerutkan dahi, berusaha memahami ucapannya, tapi kata-kata itu berdengung seperti lalat yang tak bisa kutangkap. Apa maksudmu" tanyaku.
Kau akan mengerti bila bertemu dengannya, jika kau menemukannya. Kucing itu memiringkan kepala, menatapku dengan pandangan menilai. Kau masih perawan, kan"
Aku memutuskan kalimat terakhir itu hanyalah bagian dari halusinasiku. Grimalkin menyelinap pergi sebelum aku sempat bertanya lagi, meninggalkan diriku dalam keadaan bingung dan tak tahu arah. Mengibaskan tangan menepis rombongan lebah yang mengitari kepalaku, aku tersaruk-saruk mengikutinya.
Sebuah sulur tanaman muncul dan melilit kakiku. Aku jatuh, menggelinding di tanah dan mendarat di hamparan tanaman berbunga kuning. Wajah kecil mereka berpaling ke arahku dan menjerit, memenuhi udara dengan serbuk sari. Aku duduk, dan mendapati diriku berada di padang cahaya bulan, dataran yang ditutupi hamparan bunga. Pepohonan menari, bebatuan menertawaiku, dan cahaya-cahaya kecil melesat di udara.
Tubuhku mati rasa, aku merasa sangat letih. Kegelapan merayap di sudut mataku. Aku bersandar pada sebatang pohon dan menatap cahaya yang mengeriap di udara. Samar-samar sebagian diriku menyadari kalau aku berhenti bernapas, tapi bagian diriku yang lain tidak peduli.
Seberkas cahaya bulan yang menyinari pepohonan memisahkan diri dan meluncur ke arahku. Aku memandanginya tanpa minat, merasa itu hanya halusinasi. Semakin dekat, cahaya itu berpendar dan berubah wujud, kadang berupa rusa, lain kali menjadi kambing atau kuda poni. Sebuah tanduk cahaya muncul di kepalanya ketika dia menyapaku dengan mata emasnya yang terlihat sangat tua.
Halo, Meghan Chase. Halo, balasku, meskipun bibirku tak bergerak. Apa aku sudah mati"
Tidak juga. Makhluk cahaya bulan itu tertawa pelan, mengibaskan surainya. Kau tak ditakdirkan mati di sini, Putri.
Oh. Aku memikirkan ucapannya, otakku berputar-putar tanpa arah dalam kepalaku. Bagaimana kau tahu siapa aku"
Makhluk itu mendengus, mengibaskan ekornya yang mirip ekor singa. Kaum kami yang mengamati langit telah meramalkan kedatanganmu sejak dulu, Meghan Chase. Katalis selalu bersinar terang, dan aku tak pernah melihat cahaya yang bersinar seperti cahayamu. Pertanyaannya adalah, jalur mana yang akan kau pilih, dan bagaimana caramu memerintah.
Aku tidak mengerti. Kau tidak seharusnya mengerti. Makhluk cahaya-bulan itu melangkah ke depan dan mengembuskan napas. Udara perak menyelubungiku, kelopak mataku menutup. Tidurlah, Putri. Ayahmu telah menunggu kedatanganmu. Dan beritahu Grimalkin kalau aku menolongmu bukan karena membayar utang padanya, aku punya alasan sendiri. Lain kali dia datang padaku adalah yang terakhir.
Aku tak ingin tidur. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benakku, mendengung tak mau pergi. Aku membuka mulut ingin bertanya tentang ayahku, tapi tanduk makhluk itu menyentuh dadaku, mengirimkan sensasi panas ke seluruh tubuhku, aku terkesiap dan membuka mata.
Padang bulan telah lenyap. Aku berada di padang rumput yang bergoyang tertiup angin, cahaya merah muda samar terlihat di cakrawala. Sisa-sisa mimpi aneh tadi berkecamuk di benakku: pohon yang bergerak, rusa berbicara, makhluk yang tercipta dari embun dan cahaya bulan. Aku bertanya-tanya mana yang nyata, dan
mana yang merupakan halusinasiku. Aku merasa sehat sekarang lebih dari sehat. Pasti di antara semua itu ada kejadian yang benar-benar terjadi.
Lalu rerumputan berdesir, seolah ada sesuatu yang mengendap-endap di belakangku.
Aku membalikkan badan dan melihat ranselku terletak beberapa meter dariku, warna oranye cerahnya kontras di antara lingkungan yang serba hijau. Aku lalu menyambar dan membukanya. Makanan sudah lenyap, tentu saja, begitu juga senter dan aspirin, tapi pakaian cadangan masih ada, menggumpal seperti bola dan basah kuyup.
Aku menatap ransel itu dengan bingung. Bagaimana benda itu sampai ke sini, dari kamp goblin" Menurutku, Grimalkin tak mungkin kembali untuk mengambilnya, apalagi itu artinya dia harus menyeberangi sungai. Tapi, di sinilah dia berlumut dan basah. Setidaknya pakaian bisa kering.
Lalu aku teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatku meringis.
Membuka kantong sampingnya, aku mengeluarkan iPodku yang terendam dan meneteskan air.
Sial. Aku mendesah, mengamatinya. Layarnya buram dan melengkung, benar-benar parah, tabungan setahun lenyap dalam sekejap. Aku menggoyang-goyangkannya dan mendengar bunyi air di dalamnya. Agar lebih yakin, aku menancapkan headphone dan menyalakannya. Tidak terdengar apa-apa. Dengungan pun tidak. Benda itu rusak total.
Aku meletakkannya kembali ke kantong ransel dengan sedih. Gagal sudah rencana untuk mendengarkan lagu Aerosmith di Faeryland. Aku baru saja ingin mencari Grimalkin ketika suara tawa dari atas kepalaku membuatku menengadah.
Ada sesuatu menunduk di dahan. Sesuatu yang kecil dan aneh, mengawasiku dengan mata hijau yang bersinar. Aku melihat siluet tubuh berotot, lengan panjang dan kurus, dan telinga goblin. Hanya saja itu bukan goblin. Terlalu kecil, dan yang lebih mengganggu, makhluk itu terlihat lebih cerdas.
Monster itu melihatku sedang mengamati dirinya, dia tersenyum. Tepat sebelum menghilang, dia memperlihatkan giginya yang runcing dan setajam silet, berkilau laksana api biru-neon. Makhluk itu tidak pergi, atau memudar seperti hantu. Dia bekerlip hilang dari pandangan, seperti citra di layar komputer.
Seperti makhluk yang kulihat di lab komputer.
Benar-benar sudah waktunya pergi.
Aku menemukan Grimalkin sedang berjemur di atas batu. Matanya terpejam, dan mendengkur. Dia membuka mata dengan malas ketika aku menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Kita pergi, kataku sambil menyandang ransel. Kau akan membawaku ke Puck, aku akan menyelamatkan Ethan, dan kami akan pulang. Dan aku tak ingin melihat goblin, nixie, cait sith atau apa pun, sampai kapan pun.
Grimalkin menguap. Dia bangkit berlama-lama, meregangkan badan, menguap, menggaruk-garuk kuping, dan memastikan setiap bulunya ada di tempatnya menyebalkan sekali. Aku berdiri, nyaris menari-nari saking tak sabarnya, ingin memegang tengkuknya lalu membawanya pergi, meskipun aku tahu pasti bakal kena cakar.
Arcadia, Istana Musim Panas sudah dekat, kata Grimalkin ketika akhirnya dia memutuskan untuk berangkat. Ingat, kau berutang padaku jika kita menemukan Puck-mu. Dia melompat dari atas batu, menatapku tenang. Aku akan menagihnya begitu kita bertemu dengannya. Jangan lupa.
Kami berjalan berjam-jam, melewati hutan yang sepertinya terus mendekati kami. Dahan, dedaunan, bahkan batang pohon seakan bergerak menghampiriku. Kadang-kadang aku melewati sebatang pohon atau semak, hanya untuk melihatnya lagi di depanku. Gelak tawa menggema dari kanopi di atas kepala, dan cahaya aneh bekerlip naik turun di kejauhan. Ada seekor rubah mengintip dari balik pohon tumbang, tengkorak manusia bertengger di kepalanya. Tak satu pun dari hal itu yang mengusik Grimalkin, yang berderap di jalan setapak dengan ekor terangkat, tak sekali pun menoleh untuk mencari tahu apakah aku ada di belakangnya.
Malam semakin larut, dan bulan biru besar sudah di atas kepala ketika Grimalkin berhenti melangkah lalu merapatkan telinga. Dia keluar dari jalan setapak sambil mendesis dan menghilang ke dalam rumpun pakis. Terperanjat, aku mengangkat wajah dan melihat beberapa pengendara kuda mendekat, bersinar terang dalam kegelapan. Tunggangannya b
erwarna abu-abu dan perak, kaki-kakinya tidak menyentuh tanah ketika berderap, tepat ke arahku.
Aku bergeming ketika mereka mendekat. Tak ada gunanya mencoba kabur dari pemburu berkuda. Ketika sudah dekat, aku melihat para penunggangnya: tinggi dan elegan, dengan garis wajah tajam dan rambut merah tembaga diikat ke belakang. Mereka mengenakan baju zirah perak yang berkilauan di bawah cahaya bulan, dan menyandang pisau belati panjang di pinggangnya.
Kuda-kuda itu mengelilingiku, uap keluar dari hidungnya, udara dari napas mereka menggantung di udara seperti awan. Dari atas tunggangan, para prajurit itu menatapku dengan ketampanannya yang tidak alami, wajah mereka terlalu indah dan rupawan untuk menjadi nyata. Kau Meghan Chase" Salah satu dari mereka bertanya, suaranya tinggi dan bening seperti flute. Matanya berkilat, sewarna langit musim panas.
Aku menelan ludah. Ya. Ikut dengan kami. Yang Mulia Raja Oberon, Pemimpin Istana Musim Panas, ingin bertemu denganmu.
BAB SEMBILAN Di Istana Terang Aku menunggang kuda bersama prajurit elf, satu lengannya memeluk pinggangku agar tidak jatuh sedangkan lengan satunya lagi memegang tali kendali. Grimalkin terlelap di pangkuanku, hangat, berat. Dia menolak bicara denganku. Para prajurit itu juga tak mau menjawab pertanyaanku: ke mana tujuan kami, apakah mereka kenal Puck, atau kenapa Raja Oberon ingin menemuiku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku ini tawanan atau tamu, meskipun kurasa aku akan segera mengetahuinya. Kuda-kuda melaju melintasi hutan, dan deretan pohon mulai menipis.
Kami melewati batas hutan, di mana tampak sebuah bukit raksasa. Hijau menjulang di hadapan kami dengan keanggunan purba, puncaknya seakan menyentuh langit. Pepohonan dan semak berduri tumbuh di mana-mana, terutama di dekat puncaknya sehingga terlihat seperti kepala besar berjanggut. Di sekitarnya tumbuh pagar tanaman yang juga berduri, bahkan durinya ada yang lebih panjang dari lenganku. Para prajurit itu memacu kuda menuju pagar tanaman yang paling lebat. Aku tidak heran ketika semak-semak itu memberi jalan bagi mereka, membentuk gerbang melengkung, sebelum kembali menutup jalan dengan bunyi berderak yang nyaring.
Aku menjadi terheran-heran saat kuda melaju tepat ke arah bukit tanpa mengurangi kecepatan. Aku mencengkeram Grimalkin erat-erat, membuatnya menggeram protes. Bukit itu tidak terbuka, tidak juga menyingkir dari jalan kami, kami berkuda menuju bukit dan menembusnya, membuatku gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Mengerjap-ngerjapkan mata, aku melihat sekeliling dengan takjub.
Halaman luas terbentang di hadapanku, sebuah platform melingkar dengan pilar gading, patung marmer, dan pohon-pohon berbunga. Air mancur menyemprotkan air ke udara, lampu warna-warni menyala di atas kolam renang, dan bunga-bunga berwarna pelangi mekar di mana-mana. Melodi musik mengalun di telingaku, perpaduan harpa dan drum, biola dan flute, lonceng dan peluit, entah bagaimana terasa hidup dan melankolis di saat bersamaan. Mataku berkaca-kaca, dan tiba-tiba, satu-satunya hal yang kuinginkan adalah turun dari kuda dan berdansa sampai musik menelanku dan aku terlarut di dalamnya. Untung saja Grimalkin menggumamkan sesuatu seperti Kendalikan dirimu dan menusukkan cakarnya di pergelangan tanganku, membuatku tersadar.
Faery ada di mana-mana, duduk di anak tangga marmer atau bangku; berdansa dalam kelompok kecil, atau hanya berjalan-jalan. Mataku tak sempat melihat semuanya. Seorang laki-laki bertelanjang dada dengan kaki kambing berbulu mengedipkan mata kepadaku dari bawah naungan semak-semak. Seorang gadis langsing berkulit hijau transparan keluar dari dalam pohon, mengomeli bocah yang bergelantungan di dahan. Anak laki-laki itu menjulurkan lidah, mengibaskan ekor tupainya, dan melesat lebih tinggi ke balik dedaunan.
Aku merasakan sentakan di rambut. Sesosok makhluk kecil terbang di dekat bahuku, sayap halusnya mendengung seperti burung kolibri. Aku terperanjat, tapi prajurit yang memegangiku bahkan tak meliriknya. Dia tersenyum lebar, mengulurkan sesuatu yang mirip anggur, yang kulitnya berwarna biru terang da
n berbintik-bintik oranye. Aku tersenyum sopan dan mengangguk, tapi dia mengerutkan dahi dan menunjuk tanganku. Meski bingung, aku mengulurkan tangan. Dia menjatuhkan buah itu di tanganku, tergelak puas, lalu terbang menjauh.
Hati-hati, geram Grimalkin ketika aroma menggoda menguar dari buah kecil itu, membuat mulutku berair. Makan atau minum di Faeryland bisa menimbulkan konsekuensi tidak menyenangkan bagi orang sepertimu. Jangan makan apa pun. Meskipun kita sudah bertemu dengan Puck-mu, jangan bicara dengan siapa pun. Dan apa pun yang kaulakukan, jangan terima hadiah apa pun. Ini akan menjadi malam yang panjang.
Aku menelan ludah. Aku menjatuhkan buah itu ke salah satu air mancur yang kami lewati, melihat ikan besar berwarna emas-dan-hijau mengerubunginya dengan mulut terbuka lebar. Para prajurit membuat faery menyingkir ketika kami melintasi halaman luas itu menuju tembok batu tinggi dengan sepasang pintu gerbang perak di depannya. Dua makhluk raksasa, masing-masing setinggi tiga meter, berkulit biru dan bertaring panjang mengawal gerbang. Mata mereka kuning menyala di balik rambut hitam gimbal dan alis tebal. Meskipun berpakaian, lengan dan dada mereka menonjol dari balik baju seragam merahnya, membuat kancingnya seperti akan terlepas. Troll, gumam Grimalkin sementara aku menempel ke tubuh tegap prajurit elf. Bersyukurlah kita berada di wilayah Oberon. Istana Musim Dingin mempekerjakan ogre.
Prajurit itu menghentikan kuda lalu menurunkan aku beberapa meter dari gerbang. Bersikaplah sopan saat berbicara dengan Erlking, Nak, kata prajurit yang menunggang kuda bersamaku, lalu memacu kudanya menjauh. Aku ditinggalkan untuk menghadapi dua troll raksasa tanpa apa pun selain seekor kucing dan ransel.
Grimalkin menggeliat dalam pelukanku, dan aku menjatuhkannya di lantai batu. Ayo. Si kucing mendesah, mengibaskan ekornya. Ayo kita temui Lord Berkuping Lancip dan menyelesaikan semuanya.
Kedua troll berkedip ketika si kucing tanpa rasa gentar mendekati gerbang, tampak seperti serangga abu-abu merayap di antara kaki bercakar mereka. Salah satu dari mereka bergerak, dan aku menguatkan diri, mengira dia akan menginjak Grimalkin menjadi bubur kucing. Tapi si troll hanya mengulurkan tangan dan membuka gerbang sementara troll yang satunya juga melakukan hal yang serupa. Grimalkin menoleh dan menatapku, menggoyangkan ekornya, lalu menyelinap melintasi gerbang. Aku menghela napas panjang, merapikan rambut kusutku, dan mengikutinya.
Hutan lebih lebat di sisi gerbang ini, sepertinya dinding dibangun untuk memastikannya tetap aman. Terowongan yang terbuat dari pepohonan berbunga serta cabang-cabangnya memberiku jalan, semua bunga sedang mekar, aromanya begitu tajam sehingga kepalaku terasa pusing.
Ujung terowongan yang ditutupi tirai dan sulur-sulur tanaman itu mengarah ke padang luas yang dikelilingi pepohonan raksasa. Batang-batangnya yang sangat tua dan cabang-cabang yang saling bertaut membentuk semacam katedral, sebuah istana dengan pilar-pilar raksasa dan langit-langit berbentuk kubah dari dedaunan rindang. Meskipun berada di bawah tanah, dan di luar sana sudah malam, di sini cahaya matahari menerobos masuk melewati celah-celah kecil di kanopi. Bola-bola cahaya menari di udara, dan sebuah air terjun mengalir pelan ke dalam kolam di dekatnya. Warna-warna di sini sungguh memesona.
Ratusan faery berkumpul di sini, mengenakan busana indah berwarna cemerlang. Dari dandanannya aku menduga mereka itu bangsawan istana. Rambut mereka terurai panjang dan lurus, atau ditata dengan gaya yang rumit. Satyr, mudah dikenali dari kaki kambing berbulunya, dan laki-laki kecil berbulu berjalan ke sana kemari, menyajikan minuman dan makanan. Anjing-anjing pemburu ramping berbulu hijau-lumut berkeliaran, berharap mendapat remah-remah makanan yang terjatuh. Para prajurit elf berbaju zirah dari jalinan rantai sedang berdiri tegak di sekeliling ruangan, beberapa memegang elang atau bahkan naga kecil.
Di tengah keramaian terdapat sepasang kursi singgasana yang tampak seperti tumbuh di tanah, diapit dua centaur berseragam. Satu singgasananya ko
song, hanya ada seekor raven dalam kandang di salah satu lengan kursi. Burung hitam besar itu berkaok-kaok, memukul-mukulkan sayap di penjaranya, mata bulatnya hijau cemerlang. Di atas singgasana di sebelah kiri &
Raja Oberon, kuasumsikan itu dirinya, duduk dengan jari-jari bertaut, menatap keramaian. Seperti bangsawan fey lain, dia tinggi dan ramping, berambut perak sepinggang dan mata hijau sedingin es. Sebuah mahkota dari tanduk hewan di kepalanya, menciptakan bayangan panjang di ruangan ini, seperti cakar yang mencengkeram. Aroma kekuasaan menguar darinya, sejelas hujan badai.
Melalui lautan warna-warni busana para bangsawan, tatapan kami bertemu. Oberon mengangkat satu alisnya yang seanggun lengkungan sayap elang, tapi tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Pada saat itulah semua faery menghentikan kegiatannya dan menatapku.
Bagus, gumam Grimalkin, terlupakan di sebelahku. Sekarang mereka semua tahu kita ada di sini. Ayo, manusia. Mari kita beramah-tamah dengan para bangsawan.
Kakiku gemetar, mulutku kering, tapi aku memaksakan diri untuk melangkah. Bangsawan fey, baik yang laki-laki maupun wanita memberiku jalan, entah karena respek atau jijik. Mata mereka yang dingin tidak menyiratkan apa pun. Seekor anjing faery hijau mengendusku dan menggeram ketika aku lewat, tapi selain itu, tempat itu hening.
Apa yang kulakukan di sini" Aku pun tidak tahu. Grimalkin seharusnya membawaku kepada Puck, tapi kini Oberon ingin bertemu denganku. Sepertinya aku semakin jauh dari tujuanku untuk menyelamatkan Ethan. Kecuali, tentu saja, jika Oberon tahu di mana Ethan berada.
Kecuali Oberon-lah yang menyanderanya.
Aku sampai di kaki singgasana. Dengan jantung berdebar, tak tahu harus berbuat apa, aku berlutut dengan satu kaki, dan membungkuk hormat. Aku merasakan tatapan Erlking di tengkukku, tatapan setua hutan yang mengelilingi kami. Akhirnya dia bicara.
Bangkitlah, Meghan Chase.
Suaranya lembut, tapi ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku teringat akan lautan bergelora dan badai mengamuk. Tanah bergetar di bawah kakiku. Aku berdiri, mencoba mengendalikan rasa takut, lalu menatapnya. Ada sesuatu berkelebat di wajahnya yang seperti topeng. Bangga" Geli" Semua itu lenyap sebelum aku bisa mengamatinya.
Kau menerobos wilayah kami, katanya, membuat para faery berbisik-bisik. Kau tak ditakdirkan untuk melihat Nevernever, tapi kau memperdaya anggota istana ini agar membawamu menyeberangi perbatasan. Kenapa"
Tak tahu harus berbuat apa lagi, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku sedang mencari adikku, Tuan. Ethan Chase.
Dan kau punya alasan dengan menganggap kalau dia berada di sini"
Aku tidak tahu. Aku menatap putus asa ke arah Grimalkin, yang sedang menjilati kaki belakang, tak menaruh perhatian padaku. Temanku Robbie &Puck &mengatakan bahwa Ethan diculik oleh faery. Bahwa mereka menukarnya dengan changeling.
Begitu. Oberon agak menelengkan kepala, berbicara pada burung dalam sangkar di singgasananya. Dan itu satu lagi pelanggaran, Robbie.
Aku ternganga, mulutku terbuka lebar. Puck"
Raven itu menatapku dengan mata hijau cemerlangnya, berkaok pelan, dan sepertinya mengedikkan bahu. Aku menatap marah Oberon. Apa yang Anda lakukan padanya"
Dia diperintahkan untuk tidak membawamu ke wilayah kami. Suara Oberon tenang tapi tak kenal ampun. Dia diperintahkan menjagamu agar tidak mengetahui tentang kami, kehidupan kami, keberadaan kami. Dia dihukum karena ketidakpatuhannya itu. Mungkin aku akan mengubah wujudnya kembali dalam beberapa abad mendatang, agar dia punya waktu untuk memikirkan pelanggarannya.
Dia hanya berusaha menolongku.
Oberon tersenyum dingin, kosong tanpa perasaan. Kami makhluk abadi tidak berpikiran sama seperti manusia. Puck seharusnya tak menyelamatkan anak manusia, terutama jika bertentangan dengan perintahku. Melihatnya memenuhi permintaanmu menunjukkan kalau dia mungkin tidak menghabiskan waktu terlalu lama dengan mortal, mempelajari cara hidup dan emosi mereka yang labil. Sudah saatnya dia mengingat seperti apa rasanya menjadi fey.
Aku menelan ludah. Bagaimana dengan Ethan"
Aku tidak tahu. O beron bersandar, mengangkat bahu. Dia tidak di sini, di wilayah kekuasaanku ini. Aku bisa pastikan itu.
Rasa putus asa mengimpitku seperti beban seberat sepuluh ton. Oberon tidak tahu di mana Ethan, dan lebih buruk lagi, dia tak peduli. Sekarang aku juga kehilangan Puck sebagai penunjuk jalan. Kembali ke awal lagi. Aku harus menemukan istana lain Istana Gelap menyelinap masuk dan menyelamatkan adikku, sendirian. Itu juga bila aku bisa sampai di sana dengan selamat. Mungkin Grimalkin mau membantu. Aku menatap si kucing yang menjilati ekor dengan penuh perasaan, dan hatiku mencelus. Mungkin tidak. Yah, baiklah. Aku sendirian.
Aku terbayang beratnya tugas yang harus kulakukan, dan aku menahan air mata. Ke mana aku harus pergi" Bagaimana aku bisa bertahan"
Baiklah. Aku tak bermaksud terdengar merajuk, tapi aku sedang merasa tidak begitu positif saat ini. Aku pergi sekarang. Jika Anda tak mau membantu, aku akan terus mencari.
Aku khawatir, kata Oberon, aku tak bisa membiarkanmu pergi saat ini.
Apa" Aku meringis ngeri. Kenapa"
Sebagian besar penghuni wilayah ini sudah mengetahui kalau kau ada di sini, sang Erlking melanjutkan. Ada banyak musuhku di luar istana ini. Sekarang, kau berada di sini, kau sudah mengetahui, mereka akan menggunakanmu untuk menghancurkanku. Aku khawatir tak bisa membiarkan itu terjadi.
Aku tidak mengerti. Aku melihat sekeliling ke arah bangsawan fey, sebagian besar tampak cemberut, tak bersahabat. Tatapan mereka padaku kini diwarnai rasa tak suka. Aku berpaling ke arah Oberon, memohon. Kenapa mereka menginginkan aku" Aku hanyalah manusia biasa. Aku tak punya urusan dengan kalian. Aku hanya ingin adikku kembali.
Sebaliknya. Oberon mendesah, dan untuk pertama kalinya jejak usia terlihat pada dirinya. Dia tampak tua; masih mematikan dan luar biasa berkuasa, tapi sangat tua dan letih. Kau terhubung dengan dunia kami lebih dari yang kau tahu, Meghan Chase. Begini, kau adalah putriku.
BAB SEPULUH Anak Perempuan Erlking Aku menatap Oberon ketika dunia runtuh menimpaku. Sang Erlking balas menatapku, ekspresinya dingin dan tenang, matanya kembali kosong. Keheningan di sekitar kami terasa nyata. Aku tak melihat siapa pun kecuali Oberon: seluruh anggota istana memudar menjadi bayang-bayang di latar belakang, hanya ada kami berdua di dunia ini.
Puck berkaok memperingatkan, mengepak-ngepakkan sayap ke jeruji kandang.
Aku tersadar. Apa" Aku tercekik. Sang Erlking bahkan tak berkedip, membuatku semakin berang. Itu tidak benar! Mom menikah dengan ayahku. Dia bersamanya hingga Dad menghilang, dan dia menikah lagi dengan Luke.
Itu benar, Oberon mengangguk. Tapi laki-laki yang itu bukan ayahmu, Meghan. Itu aku. Dia berdiri, jubah istananya melambai-lambai di tubuhnya. Kau separuh fey, separuh darahku. Memangnya kau kira kenapa Puck mengawalmu, menjagamu agar tidak melihat dunia kami" Sebab hal itu adalah kemampuan alami bagimu. Sebagian besar mortal itu tak dapat melihat, tapi kau bisa menembus Kabut sejak awal.
Aku teringat masa-masa aku merasa seperti melihat sesuatu, di sudut mataku, atau siluet di antara pepohonan. Kilauan sesuatu yang tidak begitu jelas. Aku menggeleng. Tidak, aku tidak percaya. Ibuku mencintai ayahku. Dia takkan Aku berhenti bicara, tak ingin memikirkan implikasi dari semua ini.
Ibumu wanita yang cantik, lanjut Oberon lembut. Dan sedikit tidak biasa untuk seorang mortal. Orang-orang yang menyukai seni selalu bisa melihat sekilas dunia fey di sekitar mereka. Dia sering pergi ke taman untuk melukis dan menggambar. Di tempat itulah, di dekat kolam, kami pertama kali bertemu.
Hentikan. Aku menggertakkan gigi. Anda bohong. Aku bukan salah satu dari kalian. Itu tidak mungkin.
Hanya separuh, kata Oberon, dan dari sudut mata aku melihat tatapan jijik dan menghina dari para bangsawan istana. Tetap saja, sudah cukup bagi musuh-musuhku untuk berusaha menguasaiku melalui dirimu. Atau bahkan membuatmu menentangku. Kau lebih berbahaya dari yang kau tahu, anakku. Karena hal itulah, kau harus tetap di sini.
Duniaku seakan runtuh di sekitarku. Berapa lama" bi
sikku, memikirkan Mom, Luke, sekolah, semua yang kutinggalkan di duniaku. Apa aku sudah kehilangan mereka" Apakah ketika kembali nanti aku akan mendapati seratus tahun telah berlalu dan semua yang aku kenal sudah lama mati"
Eng Djiauw Ong 1 Pendekar Gila 37 Petaka Seorang Pendekar Badai Di Keraton Demak 2
^