Pencarian

Jeritan Terkeras 1

Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 Bagian 1


Bab 1 "DIERDRE, awas!" Robin Fear merenggut lengan Dierdre
Bradley dan menariknya. Dierdre berseru tertahan, terkejut.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu," kata Robin.
"Kau hampir menginjak genangan lumpur."
Dierdre menengok ke bawah, ke genangan air berwarna cokelat
keruh yang hanya beberapa senti dari kakinya. "Terima kasih, Rob,
aku tidak lihat." "Pantas saja." Robin menepuk lengan gadis itu perlahan. Mata
hijau Dierdre tidak sebersinar biasanya. Rambutnya yang lurus,
panjang, berwarna cokelat, tergantung lemas. Wajahnya diliputi duka.
Robin mengikuti arah pandangan Dierdre. Mereka berdua
berdiri di Pemakaman Shadyside, tempat jenazah Paul Malone, pacar
Dierdre, baru saja dimakamkan.
Upacara pemakaman sudah selesai. Hampir semua orang sudah
pergi. Kabut melayang melalui pepohonan dan menyelimuti batu-batu
nisan bagaikan asap. Setetes air menjatuhi kepala Robin, membuatnya
menengok ke atas. Awan kelabu tebal menutupi langit. Hujan sudah
berhenti saat itu. Tapi tanah sudah becek, dan air masih menetes dari
dedaunan. "Rasanya aku seperti sedang mimpi buruk," kata Dierdre. "Aku
masih belum percaya Paul sudah meninggal."
Robin merasakan gemetar tubuh Dierdre. Ia melingkarkan
lengannya ke bahu gadis itu dan menariknya menjauhi makam yang
masih baru tersebut. "Ayo kita pergi," ajaknya. "Kelihatannya sudah
mau hujan lagi." "Aku tidak tahu apa yang akan kuperbuat tanpa kau, Rob,"
Dierdre menyandarkan tubuh ke cowok itu saat mereka berjalan
bersama. "Ah, aku kan tidak melakukan apa-apa," kata Robin.
" lidak, kau melakukan banyak untukku. Dengan menemaniku
saja sudah berarti banyak bagiku." Bibir Dierdre bergetar. "Aku masih
belum percaya dia sudah pergi. Dan cara matinya..." Seluruh tubuh
Dierdre gemetar. Robin meremas bahu Dierdre, tapi tidak menimpali. Di
benaknya ia membayangkan Paul seperti terakhir kali ia melihatnya.
Remuk di bawah roda kincir raksasa.
Kepalanya terpisah dari tubuhnya. Tungkainya terpelintir
menyamping, bergerak menyentak-nyentak setiap kali sebuah kabin
penumpang kincir raksasa lewat membentur tubuhnya yang tak
bernyawa. Robin menghela napas. Ia takkan pernah bisa melupakan
pemandangan itu. "Aku tahu bagaimana perasaanmu," gumamnya pada Dierdre.
"Tapi cobalah membuang itu dari pikiranmu."
"Tidak bisa!" tangis Dierdre. "Setiap kali aku memejamkan
mata, aku melihat dia terbaring di sana." Gadis itu menggigil dan
menyandarkan tubuh lebih rapat pada Robin. "Aku tidak tahu apakah
aku bisa menikmati Fear Park."
"Aku tidak menyalahkanmu," kata Robin perlahan.
"Begitu banyak kejadian mengerikan sejak keluargaku
memutuskan untuk membangun taman hiburan di situ," kata Dierdre.
"Kakekku tewas. Lalu anak-anak yang bekerja membersihkan lahan
dari tunggul-tunggul kayu menjadi gila dan saling membacok dengan
golok mereka. Kecelakaan aneh dengan tangga yang menewaskan
para tukang cat. Lalu Paul tewas, dan entah apa lagi yang akan terjadi
setelah ini!" "Aku juga bingung," kata Robin. "Kau tahu, ada cerita lama
bahwa Nicholas Fear menciptakan kutukan di tanah ini."
"Kutukan?" Robin menggeleng. "Aku tahu itu kedengarannya tidak masuk
akal, tapi mungkin saja benar. Mungkin semua tragedi itu semacam
peringatan bahwa kutukan itu benar-benar ada."
Ia melirik Dierdre. Apakah Dierdre percaya pada kisah kutukan
itu" Sulit menebaknya. "Itu membuatku berpikir apakah bijak untuk
tetap membuka Fear Park," katanya menambahkan.
Dierdre berhenti berjalan dan menatapnya. "Maksudmu jangan
membukanya" Sama sekali?"
"Rasanya itu maksudku," Robin mengakui. "Bagaimana
menurutmu?" ''Entahlah, tapi tidak penting apa yang kupikirkan," kata
Dierdre. "Ayahku yang memutuskan."
Robin mengerutkan kening. "Dan dia akan tetap pada
rencananya, membuka taman hiburan, setelah apa yang terjadi pada
Paul?" Dierdre mengangguk. "Dia juga merasa terpukul, tentu saja.
Tapi dia tetap akan membuka taman hiburan ini."
Tangan Robin terkepal. Taman hiburan tetap akan dibuka! Ia
tak bisa percaya! Lebih dari enam puluh tahun yang lalu, seorang Bradley
pertama kali punya ide tentang Fear Park"sebuah taman hiburan
besar yang akan dibangun di Hutan Fear Street.
Tapi seorang Fear"Nicholas Fear"menyatakan bahwa Hutan
Fear Street adalah milik keluarga Fear. Dan ia menentang ide taman
hiburan itu. Dengan keras. Dewan kota memutuskan untuk mendukung ide itu dan
memenangkan Bradley. Dan sekarang, enam puluh tahun kemudian, Jason Bradley"
ayah Dierdre"merencanakan akan membuka taman hiburan itu
beberapa hari lagi. Tangan Robin bergetar keras menahan marah. Tapi ia memaksa
dirinya untuk tenang. Ia menarik napas panjang berkali-kali, sampai ia
yakin Dierdre tak akan mendengar nada marah dalam suaranya.
"Mungkin kau bisa bicara dengan ayahmu," sarannya. "Katakan
padanya bagaimana perasaanmu. Minta dia mengurungkan
rencananya." "Lupakan saja," sahut Dierdre. "Daddy tak akan membiarkan
apa pun menghalanginya membuka taman hiburan itu. Dan aku tidak
menyalahkannya. Maksudku, dia sudah lama bekerja untuk
menjadikan taman itu suatu kenyataan. Itu impiannya, Rob."
Ya, pikir Robin. Fear Park adalah impian Jason Bradley.
Sayang sekali. Karena impian itu akan menjadi mimpi buruk kalau taman
hiburan tidak ditutup selamanya.
Aku akan memastikan hal itu.
Aku akan melakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk
mengacaukan rencana Jason Bradley. Untuk membuat hidupnya
sengsara. Kalau perlu, aku akan membunuh orang lagi.
Toh aku sudah membunuh Paul. Dan anak-anak pada tahun
1930-an itu. Apa susahnya membunuh orang lain lagi"
Bibir Robin membentuk senyum kecil, senyum puas. Ia
membunuh Paul untuk menciptakan kesulitan pada keluarga Bradley.
Dan ia akan membunuh lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Apa pun yang perlu dilakukan, pikirnya dalam hati.
Ia menoleh ke Dierdre yang masih bersandar padanya.
Dierdre sungguh mudah memercayai orang, Robin mencemooh
dalam hati. Dia tidak mengira aku yang bertanggung jawab atas
kematian Paul yang mengerikan. Dia mengira aku temannya. Dia
mengira aku lebih dari sekadar teman.
Ketika mereka melangkah melewati gerbang pemakaman,
Dierdre menghela napas lagi. "Rasanya kau benar, Rob. Aku harus
mencoba melupakan keadaan Paul waktu dia... mati. Bukan itu yang
ingin kuingat tentang Paul."
"Betul," Robin setuju. "Cobalah menghapusnya dari
ingatanmu." Ia meremas bahu Dierdre, sambil berpikir. Mungkin ia
membuang waktu saja mengenai Paul. Karena ternyata Paul tidak
terlalu berarti bagi ayah Dierdre.
Tapi Dierdre lain. Dierdre adalah jantung hati ayahnya.
Mungkin ia harus mambunuh Dierdre. Akan sangat
menyenangkan melihat bagaimana Jason Bradley meratapi kematian
anak perempuannya tersayang. Robin perlu memikirkan rencana ini.
"Paul sangat penuh gairah hidup." Dierdre menghela napas,
memutus rantai pikiran Robin. "Dia memang punya beberapa
kekurangan. Dia sering menyombongkan diri. Tapi dia sangat aktif."
Tidak lagi, pikir Robin. "Dan dia sangat atletis," Dierdre meneruskan sambil tersenyum
sedih. "Basket, berenang, lari. Semua bisa dia lakukan dengan baik."
"Mmm," gumam Robin. Ia berharap Dierdre berhenti bicara.
Paul Malone tinggal sejarah. Robin bosan mendengar Dierdre bicara
tentang Paul. "Aku ingat waktu dia ikut lomba lari cross country melawan
Waynesbridge High," suara Dierdre mulai terdengar agak riang.
"Beberapa dari kami menunggu di garis finis. Lalu kami mendengar
suara teriakan keras. Aku menoleh, dan kulihat Paul. Dia jauh
mendahului pelari-pelari lain."
Sekarang pun juga, pikir Robin sambil mengejek dalam hati.
Yang lain masih hidup. "Dan dia bahkan tidak terlihat lelah," kata Dierdre. "Dia
menyeringai, tersenyum lebar..."
Dierdre berhenti bicara dengan tiba-tiba. Robin merasakan
tubuh Dierdre berubah tegang. "Itu dia!" seru Dierdre. "Itu"itu Paul!
Dia datang! Itu Paul!"
Kepala Robin tersentak. Tubuhnya menjadi dingin ketika ia
mengikuti arah tatapan Dierdre.
Seorang anak lelaki berjalan dengan langkah cepat ke arah
mereka. Tinggi, dengan bahu lebar. Rambut pirang tua berombak.
Sebuah cincin perak berkilauan di telinganya.
Paul Malone. Bab 2 JANTUNG Robin berdebar keras. Ia bertahan untuk tidak
menjerit. Ini tidak mungkin! otaknya menjerit. Tidak mungkin! Paul
sudah mati. Aku tahu persis. Aku yang membunuhnya.
Pasti ada yang salah. Amat sangat salah.
Robin merasakan tangan Dierdre yang dingin mencekal
tangannya. Robin memperhatikan saat Paul Malone melangkah mendekati
mereka, dasi hitamnya bergerak-gerak tertiup angin. Matanya
menyipit. Lebih dekat. Sudah dekat. "Oh!" Dierdre kembali berseru tertahan. Ia meremas tangan
Robin. Robin memejamkan mata. Mempersiapkan mentalnya.
Lalu Dierdre tertawa pendek.
Robin menoleh menatap Dierdre. Kenapa dia malah tertawa"
Apakah Dierdre jadi gila"
"Oh, wow!" seru Dierdre. "Itu bukan Paul. Itu Jared."
Robin menjilat bibirnya. "Siapa Jared?"
"Adik Paul," Dierdre menjelaskan. "Dia satu tahun lebih muda.
Sangat mirip. Mereka bisa dikira kembar, ya?"
Seorang adik. Seorang adik, yang sangat mirip. Rasa lega
bagaikan membanjiri Robin. "Ya, memang," sahutnya. "Mereka
memang seperti kembar."
Tapi tidak. Paul sudah mati. Dengan perasaan sudah kembali tenang, Robin memandang
menembus kabut mengamati Jared Malone.
"Jared lebih liar," gumam Dierdre. "Dia sering mendapat
kesulitan. Paul pernah cerita bahwa Jared pemarah. Kau lihat ketiga
anak laki-laki di belakangnya?"
Robin mengangguk. Tiga anak lelaki, agak canggung dengan
pakaian berkabung resmi berwarna hitam, bersandar di pagar
kompleks pemakaman, memperhatikan Jared.
"Mereka teman-temannya. Yang pendek itu Joey. Yang
rambutnya buntut kuda Steve, dan yang badannya besar berotot itu
Kevin. Mereka bahkan lebih liar daripada Jared." Dierdre meremas
tangan Robin lagi. "Paul sudah berusaha agar Jared meninggalkan
teman-temannya itu. Tapi Jared tidak mau. Dia memang keras
kepala." Saat itu, Jared tidak saja terlihat keras kepala, tapi juga berang.
Dagunya yang persegi tampak keras. Dan ketika cowok itu berhenti di
depan mereka, mata birunya menatap penuh amarah pada Dierdre.
"Jared, ada apa?" tanya Dierdre. "Mengapa kau menatapku
seperti itu?" "Memangnya kaukira kenapa?" geram Jared. "Kakakku mati.
Kita baru saja menguburnya. Dan menurutmu itu salah siapa?"
Dierdre menggelengkan kepala. "Bukan salah siapa-siapa. Itu
kecelakaan menyedihkan."
"Ya, memang," bibir Jared tertekuk mengejek. "Harusnya aku
sudah mengira kau akan berkata begitu. Harusnya aku sudah tahu
bahwa kau akan membela ayahmu."
"Apa maksudmu?" seru Dierdre.
"Ah, jangan pura-pura tidak tahu!" sentak Jared. "Maksudku
Paul tidak akan mati kalau ayahmu tidak terlalu mementingkan taman
hiburannya yang konyol itu!"
Rasa senang menjalar di hati Robin. Jadi Jared menyalahkan
keluarga Bradley atas kematian Paul. Bagus! Beberapa kematian dan
bencana lagi, dan semua orang akan memaksa Bradley menutup taman
hiburan. "Hanya taman hiburan yang dipikirkannya," Jared masih terus
bicara. "Baginya yang penting taman hiburan dibuka. Dan kalau ada
yang mati karena ayahmu terlalu malas atau terlalu kikir untuk
memastikan semua peralatan berjalan baik... yah, apa boleh buat!
Maksudku, apalah artinya kematian satu orang" Yang penting kita
masih punya Fear Park!"
"Itu tidak betul!" pekik Dierdre. "Ayahku sangat terpukul atas
kematian Paul. Dia menyuruh orang memeriksa dan memeriksa lagi
kincir raksasa itu berkali-kali. Kincir itu berjalan baik! Paul yang dia
pekerjakan untuk menjalankan kincir itu. Dan Paul pasti akan
memberitahunya kalau ada yang tidak beres!"
Mata Jared berkilat membara. "Oh, jadi itu salah Paul, hah?"
"Bukan itu maksudku dan kau tahu itu!" Dierdre balik
membentak. "Itu bukan salah siapa-siapa."
"Salah." Jared menggelengkan kepala kuat-kuat. "Itu kesalahan
seseorang. Kau tahu apa yang kupikirkan" Kupikir mungkin aku harus
bicara dengannya tentang hal ini."
"Dengan... dengan ayahku?"
"Ya. Harus ada orang yang memberitahu dia bahwa dia
pembunuh!" teriak Jared. Ia berbalik dan berlari ke arah temantemannya menunggu.
Dierdre menoleh ke Robin. "Aku tidak percaya ini!" serunya,
wajahnya prihatin dan takut. "Kalau dia benar-benar bicara seperti itu
pada ayahku, pasti akan jadi keributan besar."
Bagus, pikir Robin. Semakin banyak masalah bagi Bradley,


Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

semakin bagus. "Jared cuma sedang sedih," katanya pada Dierdre, nada
suaranya halus membujuk. "Rasanya dia butuh pelampiasan, dan dia
melakukannya padamu. Sekarang pasti dia sudah tenang."
"Mungkin. Tapi dia membuatku takut, Rob." Dierdre menggigil
saat mereka melanjutkan perjalanan. "Aku takut dia begitu marah
sampai melakukan sesuatu yang keterlaluan."
"Menurutku ucapannya hanya di mulut saja," Robin
menenangkan Dierdre. "Ayo, kuantar kau ke rumah. Kau akan merasa
lebih nyaman begitu kau hangat dan kering."
Robin melingkarkan lengannya ke bahu Dierdre, dan gadis itu
menyandarkan tubuh kepadanya. Robin tersenyum, mengingat betapa
besar pengaruhnya terhadap Dierdre.
Ketika mereka melewati sebuah mobil yang sedang parkir,
senyum Robin mendadak membeku.
Wajah itu! Wajah yang terpantul dari kaca mobil!
Separuhnya adalah wajahnya. Wajah muda Robin Fear yang
kepucatan. Rambut lurus berwarna cokelat. Mata serius berwarna
gelap. Yang separuhnya lagi wajahnya juga. Tapi melihat wajah itu
membuatnya menggigil bagaikan tersiram air es.
Keriput-keriput, bagaikan selokan-selokan dalam, terlihat
berkelok-kelok di sela-sela daging pipinya yang menggelayut.
Garis-garis dalam, di sudut-sudut mata dan mulutnya, bagaikan
irisan pisau. Tulang pipinya menonjol dari bawah kulitnya. Matanya
tenggelam di balik tulangnya.
Dan kulitnya! Warnanya biru kehitaman bagaikan babak belur,
kulitnya menggelayut dan berlipat-lipat seakan hampir lepas dari
tulang belulangnya. Waktu menatap bayangan di kaca mobil itu, Robin hampirhampir bisa mencium bau daging mulai membusuk.
Robin menahan napas. Apakah Dierdre sempat melihat" Apakah dia telah melihat
separuh wajahku yang mulai membusuk"
Apakah aku harus membunuhnya sekarang juga"
Bab 3 ROBIN cepat-cepat memalingkan wajahnya dari Dierdre.
Gadis itu sedang menatap lurus ke depan, keningnya berkerut.
Mungkin masih memikirkan Paul, pikir Robin. Atau
mengkhawatirkan Jared. Tidak penting.
Yang penting adalah bahwa Dierdre belum sempat melihat
wajahnya. Tapi Robin harus cepat-cepat pergi meninggalkan Dierdre
sekarang juga. Sebelum Dierdre sempat melihat separuh wajahnya
yang membusuk. Diturunkannya tangannya dari bahu Dierdre, lalu dihentikannya
langkahnya dengan tiba-tiba. Ia menoleh ke samping,
menyembunyikan bagian wajahnya yang membusuk dengan tangan.
"Rob, kau kenapa?" tanya Dierdre. "Ada apa?"
Robin mengerang perlahan. "Kepalaku," gumamnya. "Migrain
ini kadang-kadang datang begitu saja. Kepalaku tiba-tiba sakit sekali."
"Rasanya aku punya aspirin di tas," kata Dierdre. "Coba
kulihat..." "Jangan, percuma saja." Robin menghirup udara melalui celahcelah giginya. "Aspirin takkan mempan. Satu-satunya yang bisa
membantu adalah bila aku berbaring di kamar yang gelap. Dierdre,
aku harus cepat-cepat pulang. Kau tidak apa-apa, kan" Maksudku, aku
ingin mengantarmu pulang, tapi..." Robin tidak menyelesaikan katakatanya, dan mengerang lagi.
"Jangan takut," kata Dierdre. "Lagi pula aku masih belum ingin
pulang. Aku masih ingin jalan-jalan sendirian sambil mengenang
Paul." Dierdre meletakkan tangannya di bahu Robin dan
mengusapnya. "Pulanglah, Rob, dan terima kasih untuk semuanya."
Robin mengangguk, pura-pura terlalu sakit untuk bicara. Ia
mengerang perlahan dan berjalan pergi. Ketika sampai di sudut jalan
di ujung blok, ia memberanikan diri menengok ke belakang.
Dierdre sudah tak terlihat lagi.
Robin berlari membelok. Melewati satu blok lagi. Hujan mulai
turun lagi, tetes-tetesnya yang dingin menjatuhi kepala dan wajahnya.
Wajahnya! Robin mengangkat tangan menyentuh wajahnya.
Pembusukannya lebih parah lagi sekarang. Tangannya memegang
daging busuk, lembek berlendir, seperti lintah. Ia gemetar dan menarik
tangannya. Apa yang salah"
Akhirnya ia sampai di Fear Street. Rumah besar ayahnya
mencuat dari balik kabut. Di belakang rumah itu tampak menjulang
pucuk-pucuk pohon Hutan Fear Street. Dan agak jauh di belakang"
tapi masih terlalu dekat" Robin bisa melihat bagian atas kincir
raksasa Fear Park. Jangan pikirkan itu sekarang! Nanti kau juga bisa mengatasi
taman hiburan itu. Tapi sekarang yang penting kau urus dirimu dulu!
Ia berlari cepat menyeberangi halaman rumah. Lalu
menghambur masuk melalui pintu samping.
Sambil beberapa kali menarik napas dalam-dalam, menghirup
udara pengap rumah besar itu, ia bergegas menuju perpustakaan.
Cahaya kelabu menembus masuk melalui celah-celah tirai beludru
tebal. Sebuah perapian besar menyita seluruh tempat di depan salah
satu dinding. Rak-rak buku setinggi langit-langit menempati ketiga
dinding lain. Robin berlari di atas karpet menuju ke dinding paling jauh, dan
dengan menggunakan tangga mencapai buku-buku di rak bagian atas.
Sekumpulan buku kuno bersampul kulit berdiri di antara dua
sandaran buku terbuat dari marmer. Buku-buku sihir dan ilmu hitam.
Jari-jari Robin menelusuri punggung buku bertuliskan huruf-huruf
emas, mencari buku yang diperlukannya.
Mana buku itu" Mana buku itu"
Itu dia! Robin menggenggam buku mantra dan jampi-jampi
dengan jari-jari gemetar dan menariknya keluar. Ia turun dari tangga
dan melangkah ke dekat perapian.
Sebuah jambangan perak berhiaskan batu-batu berharga berdiri
di atas perapian. Lehernya yang ramping melebar ke atas dan
membentuk rahang terbuka seekor singa sedang mengaum. Robin
mengepit buku itu di ketiaknya dan membawa buku serta jambangan
itu ke meja perpustakaan di seberang ruangan.
Dibukanya tutup jambangan itu. Aroma pahit-manis merebak
saat ia membuka-buka halaman buku.
Itu dia"mantra hidup abadi. Mantra yang telah digunakan
Robin sejak tahun 1935 untuk membuatnya tetap berusia tujuh belas
tahun. Mantra yang membuatnya tetap hidup, muda, dan kuat.
Robin memejamkan mata dan mulai membaca mantra itu.
Asap ungu mulai melayang-layang mengitari ruangan. Mulamula tipis, semakin lama semakin tebal sehingga akhirnya membentuk
kabut tebal yang berpusar-pusar memenuhi ruangan.
Mantra itu memang sangat ampuh.
Robin mencelupkan jarinya ke jambangan.
Perlahan-lahan dioleskannya krim kental beraroma pahit-manis
itu ke telapak tangannya.
Sambil terus membaca mantra, ia mengambil krim lebih banyak
lagi dan mengoleskannya ke wajahnya. Rasanya perih sekali ketika
krim itu mengenai daging yang membusuk. Tapi Robin mengabaikan
rasa sakitnya. Rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan
kehidupan abadi. Sedikit demi sedikit Robin merasa kulitnya mulai mengencang.
Keriput-keriput dan garis-garis di wajahnya mulai hilang. Tulang yang
menonjol keluar sudah masuk kembali ke balik daging muda seorang
remaja. Robin menyelesaikan mantranya dan menarik napas panjang.
Bau daging busuk sudah lenyap. Ia membuka mata. Asap ungu mulai
menipis. Hanya tinggal sedikit di sana-sini, melayang-layang perlahan
mengitari ruangan, lalu asap itu pun lenyap.
Mantra kehidupan abadi itu sekali lagi membuktikan
keampuhannya. Robin tersenyum. Lalu ia membeku. Apa itu" Suara yang tidak seharusnya ada di
sini. Ia mendengarnya lagi! Suara berkerisik di pintu ruang
perpustakaan. Jantung Robin berdegup kencang. Ia membiarkan pintu ruangan
terbuka tadi. Ia sangat terburu-buru sehingga lupa menutup pintu.
Seseorang telah melihatnya menggunakan mantra hidup abadi.
Melihat asap ungu dan mendengar ia membaca mantra. Melihat
wajahnya berubah dari kebusukan kematian menjadi daging segar
anak muda. Ia tidak sendirian. Seseorang telah menyelinap masuk ke rumah.
Perlahan-lahan, ia berbalik ke arah pintu.
Bab 4 SEORANG gadis berdiri di pintu.
Rambut panjang berombak berwarna merah menghiasi wajah
muda penuh senyum Meghan Fairwood.
"Jangan mengendap-endap di belakangku seperti itu!" tegur
Robin. "Aku bahkan tidak tahu kau ada di situ. Kau mengejutkanku!"
"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu, Robin." Senyum
Meghan meredup sedikit. Tapi kemudian ia mengibaskan rambut
merahnya ke belakang dan melangkah masuk ke ruangan. Matanya
memandang jambangan dan buku mantra sihir. "Kenapa mantra itu
baru kaupakai sekarang" Aku kira sudah minggu lalu kaulakukan."
"Harusnya, tapi aku lupa," aku Robin. "Separuh wajahku
sempat membusuk. Hampir-hampir aku tidak sempat sampai ke rumah
pada waktunya!" "Oh, Robin! Jangan menunggu terlalu lama!" seru Meghan.
"Bagaimana kalau kau sampai terlambat menggunakan mantra itu"
Bagaimana dengan diriku kalau itu sampai terjadi?"
Mata Meghan bergenang air mata. Ia lari memeluk Robin.
Rambutnya yang halus bagaikan sutra menempel di pipi Robin.
Rambut Meghan bau wangi bunga. Bau itu berasal dari sampo
Meghan, Robin tahu. Sampo yang selalu dipakai gadis itu sejak
pertama kali Robin mengenalnya.
Sejak mereka sama-sama remaja"tahun 1935.
Meghan satu-satunya orang yang kuajak hidup abadi, pikir
Robin. Setelah puluhan tahun ini kami masih bersama-sama. Sulit
dipercaya. Sambil mempererat pelukannya di leher Robin, Meghan
merapatkan tubuhnya ke tubuh Robin dan menciumi leher anak muda
itu. Lalu ia menjauhkan wajahnya dan menatap Robin dengan
pandangan penuh cinta. "Syukurlah kau sudah kembali," kata Meghan. "Aku kesepian
sekali bila kau tidak ada."
"Banyak yang harus kukerjakan, Meghan. Kau tahu sendiri."
"Oh, ya, tentu saja... aku tahu!" Meghan bersandar di meja dan
memperhatikan Robin menyimpan lagi buku dan jambangan di
tempatnya. "Jadi, bagaimana perkembangannya" Apakah kau berhasil
melindungi keluarga Bradley dan Fear Park satu hari lagi?"
Robin menghela napas lelah. "Melawan kutukan ayahku
terhadap taman itu ternyata bukan main beratnya," katanya sambil
menaiki tangga untuk menaruh lagi buku mantra sihir tadi. "Tapi aku
masih berhasil lagi melakukannya hari ini. Keluarga Bradley dan
taman masih aman." Robin ingin tertawa. Meghan mudah sekali ditipu!
"Bagus," kata Meghan. "Aku mulai khawatir tadi waktu kau
belum pulang-pulang juga. Aku takut ada sesuatu yang mengerikan
terjadi. Sesuatu yang seburuk bacok-membacok dengan golok." Ia
merinding. "Aku masih suka membayangkannya, Robin. Semua
teman-temanku, saling membacok sampai mati. Mengerikan sekali.
Masih jelas sekali dalam ingatanku, seperti baru kemarin
kejadiannya." "Sama, aku juga." Tentu saja aku ingat, pikir Robin. Bagaimana
aku bisa lupa" Bagaimana aku akan lupa sesuatu yang begitu sempurna"
Ketika Robin memandang rak buku, deretan buku berubah
menjadi samar-samar, dan ia seakan melihat lagi adegan mengerikan
itu. Puluhan remaja"tertawa-tawa, bercanda, menyanyi-nyanyi"
berkumpul di hutan. Semua memakai pakaian kerja dan sepatu bot.
Dan semua memegang golok.
Dewan kota mempekerjakan mereka, dengan bayaran satu dolar
sehari, untuk membersihkan lahan dari tunggul-tunggul kayu bekas
penebangan. Membuka lahan untuk membangun Fear Park.
Meghan ada di sana dengan teman-temannya. Termasuk
pacarnya waktu itu, Richard Bradley. Richard Bradley, anak Jack
Bradley yang memerintahkan pembukaan lahan hutan untuk dibangun
menjadi taman hiburan Fear Park.
Robin ada di sana juga, pura-pura mau membantu. Ia berkata
kepada Meghan bahwa ia menyelinap pergi tanpa setahu ayahnya agar
bisa bersama-sama gadis itu.
Meghan khawatir waktu itu. "Kau yakin kau betul-betul ingin
ke sini, Robin?" tanyanya. "Aku punya firasat buruk tentang ini."
"Jangan takut," kata Robin. "Aku bisa menjaga diri."
Dan aku juga bisa mengurus Fear Park, pikirnya. Tunggu saja.
Kaukira kau mendapat firasat buruk sekarang. Tunggu sampai kau
lihat apa yang akan terjadi!
Para pekerja remaja mulai mengayunkan golok mereka,
membacok tunggul kayu. Saat itu negara sedang berada dalam krisis
ekonomi, dan satu dolar sehari sangat banyak bagi anak-anak itu.
Mereka bekerja dengan riang sambil tertawa dan bersenda gurau.
Lalu Richard Bradley melihat Robin. Cemburu karena Meghan
suka pada Robin, Richard memulai perkelahian. Robin tidak perlu
melakukan apa pun. Ia hanya berdiri ketika rasa marah Richard
memuncak. Karena lepas kendali, Richard mengayunkan golok, kepala
Robin yang jadi sasarannya" tapi meleset.
Richard mengayunkan goloknya lagi. Mata golok yang berkilau
keperakan memapas udara"dan menebas leher seorang anak lain.
Jerit dan pekik ngeri memekakkan telinga.
Ayunan golok Richard yang berikutnya menyelesaikan
pekerjaan itu. Kepala anak itu melayang putus.
Darah muncrat bagaikan air mancur dari leher anak yang sudah
tak berkepala itu. Kepalanya menggelinding ke tengah-tengah
tumpukan daun dan serpihan kayu.
Jeritan memenuhi hutan. Asap ungu tebal mulai melayang-layang di udara.
Sebuah golok lain menebas udara. Lalu sebuah lagi, dan sebuah
lagi. Anak-anak menjerit-jerit, mengamuk, mengayunkan golok
mereka, dan saling membacok.
Darah dan serpihan daging berhamburan, cipratannya
membasahi tunggul-tunggul kayu, tanah, serta wajah dan lengan
semua orang di situ. Salah satu mata golok yang berkilau tajam itu menghunjam
dalam di punggung Richard Bradley. Sambil mengerang keras ia jatuh


Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ke tanah. Darah merah mengalir dari lukanya dan meresap ke tanah.
Asap ungu aneh itu mengambang naik, berpusar-pusar dan
melayang-layang di atas lahan bekas penebangan itu.
Meghan menjerit ketika sebuah golok melesat berkilauan dekat
sekali ke kepalanya. Robin menyambar tangannya dan menariknya ke
tempat aman di pinggir daerah yang pohonnya sudah ditebangi itu.
"Robin, bagaimana ini bisa terjadi?" teriak Meghan.
"Aku tidak tahu. Mereka semua sudah gila!" Ia mendorong
bahu Meghan. "Lari, Meghan! Lari pulang dan telepon polisi! Cepat!"
Meghan berlari melewati pepohonan, dan Robin berbalik
memandang lagi ke adegan di antara tunggul-tunggul kayu.
Saling bunuh masih terus berlangsung.
Sambil melihat pemandangan mengerikan itu, sebentuk senyum
muncul di wajah Robin. Aku berhasil! pikirnya bangga. Aku berhasil membuat mereka
saling membunuh! Anak-anak itu saling menebas sampai tubuh
mereka tercerai-berai. Taman hiburan tak akan dibangun sekarang! Tak akan pernah!
Itulah yang dipikirkan Robin saat itu, enam puluh tahun yang
lalu. Tapi sekarang, sambil berdiri di atas tangga perpustakaan,
Robin mengertakkan gigi dan menghela napas penuh frustrasi.
"Robin, kau baik-baik saja?" suara Meghan menyusup masuk
ke alam pikirannya. "Maaf aku menyebut-nyebut lagi soal bacokmembacok itu. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan kejadian
mengerikan itu." "Tidak apa-apa." Robin mengatur ekspresi wajahnya sehingga
terlihat serius dan prihatin, lalu turun dari tangga. "Aku juga tidak
pernah bisa melupakan kejadian itu," katanya sambil menghela napas
lagi. "Dan pikiranku sama denganmu. Aku selalu khawatir kalau-kalau
kejadian seperti itu akan terulang lagi."
"Kalau begitu... boleh kan, aku membantumu?" seru Meghan.
"Pasti ada yang bisa kulakukan! Maksudku, kau telah membuat kita
berdua berumur panjang dan tetap muda sehingga kita bisa mencegah
tragedi seperti itu terjadi lagi. Tapi selama ini kau selalu
melakukannya sendirian, dan itu tidak adil. Izinkan aku membantumu
melawan kutukan ayahmu!"
Robin dengan tegas menggelengkan kepala. "Tidak, Meghan.
Aku tahu kau ingin membantu, tapi aku tidak bisa mengizinkanmu.
Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu."
"Tapi..." "Tidak!" Robin mengulangi. "Kau sudah kehilangan terlalu
banyak karena taman hiburan itu. Rumahmu. Semua temanmu.
Segalanya. Aku tidak bisa membiarkan kau mengambil risiko lagi
setelah apa yang terjadi."
"Aku hanya berharap ada yang bisa kulakukan untuk
membantumu," Meghan masih mendesak.
Robin melangkah ke samping Meghan, merangkulnya. "Kau
sudah sangat membantu," katanya lembut, sambil menaruh dagunya di
atas kepala Meghan. "Sudah cukup bagiku kau ada di sini
menungguku pulang. Itu sudah lebih dari cukup. Itu yang membuatku
tidak pernah menyerah."
Ketika Meghan menyandarkan tubuh padanya, Robin
tersenyum sinis. Meghan tidak pernah tahu bahwa aku yang
bertanggung jawab atas kematian semua temannya puluhan tahun
yang lalu, pikir Robin. Dan dia tidak boleh tahu bahwa tujuanku
mempelajari ilmu sihir keluarga Fear adalah untuk mempertahankan
tanah ayahku. Dia pikir aku mempelajari itu agar bisa melindungi keluarga
Bradley. Tapi dia salah. Aku justru akan menghancurkan semua
rencana mereka. Tak peduli apa pun yang perlu kulakukan. Tak peduli
siapa pun yang harus kubunuh.
Memikirkan apa yang akan dikerjakannya, bagaimana dia akan
membalas dendam, Robin memeluk Meghan erat-erat.
"Kau memang baik sekali, Robin," gumam Meghan. "Hidupku
tidak pernah normal lagi sejak kau membuat kita tidak bisa mati.
Tanpa teman. Menyembunyikan diri dari para tetangga sehingga
mereka tidak menyadari bahwa kita tidak bertambah tua. Tapi aku
tidak menyesal. Yang penting kita tetap bersama."
Sambil berkata, Meghan mengulurkan tangannya menyentuh
wajah Robin. Dengan lembut jemarinya mengusap pipi Robin, lalu
berhenti di satu titik. Kemudian tiba-tiba ia menarik tangannya.
"Ada apa?" tanya Robin.
"Tidak." Meghan mencium pipi cowok itu. "Kau hanya
melewatkan satu bintik kecil. Itu saja."
Sambil menarik napas tertahan, Robin melepaskan diri dari
pelukan Meghan dan berlari ke depan cermin. Meghan benar. Sebuah
bintik ungu, warna daging yang membusuk, masih terlihat sedikit di
atas sudut kiri mulutnya.
Robin bergegas memanjat tangga dan mengambil lagi buku
mantra tadi. Disambarnya jambangan dan ditaruhnya di atas meja.
Setelah membuka buku, ia mulai membaca mantra-mantra umur
panjang. Meghan meninggalkan ruang perpustakaan dan menutup
pintunya perlahan-lahan. Robin memejamkan mata dan meneruskan membaca mantramantranya.
Asap ungu mengambang berpusar-pusar lambat di ruangan.
************* Dierdre menaiki tiga anak tangga yang menuju kantor ayahnya,
sebuah trailer biru di gerbang depan Fear Park. Trailer itu kosong.
Ia duduk di sebuah kursi kulit dan mengerutkan kening
memandang tumpukan map dan kontrak di atas meja. Semuanya
bertuliskan FEAR PARK. Dad tidak pernah menyerah, pikirnya sambil menghela napas.
Pemakaman Paul berlangsung kemarin. Tapi itu pun tidak
mampu mengubah tekad Dad untuk meneruskan rencananya
membuka taman hiburan. Dierdre tahu betapa besar arti taman hiburan itu bagi ayahnya.
Dan ia mendukung sepenuhnya. Tapi barangkali Rob benar juga.
Haruskah ayahnya melupakan taman hiburan itu dan mencari proyek
lain" Proyek yang lebih aman"
Bukan hanya kematian Paul yang membuat Dierdre berpikir.
Tapi juga sejarah tempat itu. Sejarah yang dipenuhi kebencian.
Dipenuhi darah. Dan kematian mengerikan.
Dierdre menggigil. Sejarah itu sangat kuat, ia takut itu akan
mengalahkan semua kebaikan yang ingin dilakukan ayahnya.
Dierdre memutuskan untuk membicarakan hal itu dengan
ayahnya. Setidaknya ia bisa melakukan itu demi Paul.
Gadis itu melirik jam tangannya. Jam dua belas siang. Ia berdiri
dan berjalan ke lemari es kecil. Di rak di dalam lemari es itu
dilihatnya sepotong sandwich tuna terbungkus plastik di samping
sebuah apel dan sekotak susu.
Makan siang Daddy, pikirnya. Dan sebentar lagi dia akan
datang ke sini untuk makan siang. Mungkin aku bisa mencoba bicara
dengannya waktu dia datang nanti.
Ketika Dierdre menutup pintu lemari es itu, pintu kantor dibuka
orang. Mengira ayahnya yang membuka pintu, Dierdre menoleh
sambil tersenyum. Di ambang pintu berdiri Jared Malone.
Senyum Dierdre lenyap seketika. "Apa yang kaulakukan di
sini?" tanyanya. Jared menebar tatapan gugup ke sekeliling ruangan. Tanpa
menyahut, ia melangkah cepat dan menyambar lengan Dierdre.
Dierdre mencoba melepaskan lengannya, tapi genggaman Jared
sangat kuat. Jari-jarinya mencengkeram semakin kencang.
"Jared!" Dierdre menjerit. "Apa yang kaulakukan?"
Bab 5 "KENAPA" Kau takut aku menyakitimu?" Jared balas bertanya.
Ia melepaskan lengan Dierdre dan tersenyum. "Aku hanya ingin bicara
denganmu." Dierdre melangkah mundur, jantungnya berdebar. "Bagaimana
kau bisa masuk ke taman?"
"Seseorang yang mengenal Paul membolehkan aku masuk. Aku
hanya ingin bicara," Jared mengulangi. "Aku... aku perlu minta tolong.
Pada ayahmu." "Apakah aku tidak salah dengar?" sahut Dierdre. "Setelah yang
kaukatakan kemarin, bukannya dia orang terakhir yang akan
kaumintai tolong?" Jared menggeleng. "Sebetulnya banyak ucapanku yang tidak
sungguh-sungguh. Aku sedih memikirkan Paul. Kau tidak bisa
menyalahkanku karena itu, kan?"
Suaranya terdengar sedih dan menyesal. Kalau ia bisa menarik
Dierdre ke pihaknya, semua yang ia rencanakan akan lebih mudah.
Dierdre menatapnya sebentar. "Tidak, rasanya aku tidak bisa
menyalahkanmu," katanya. "Pertolongan apa yang kaubutuhkan"
Mungkin aku bisa membantu."
Bagus! pikir Jared, sambil menganggukkan kepala. "Ya,
rasanya kau bisa membantu," katanya. "Rasanya kau bisa membantu
memperlancar jalannya."
"Memperlancar jalan untuk apa?"
Oke, kata Jared dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Aku perlu pekerjaan, Dierdre. Aku ke sini untuk minta pekerjaan
pada ayahmu." Dierdre mengedipkan mata, hampir tidak memercayai
pendengarannya. "Maksudmu pekerjaan di Fear Park?" tanyanya.
"Ya, betul," sahut Jared. "Aku pikir-pikir, aku bisa
menggantikan Paul. Menjalankan kincir raksasa, dan pekerjaan lain
yang menjadi tugasnya."
Bukan berarti tempat Paul bisa digantikan orang lain, pikir
Jared. Tapi kalau aku bisa mendapat pekerjaan di sini, aku akan
berada di dalam. Tempat terbaik untuk menimbulkan masalah.
Masalah besar bagi Jason Bradley.
"Dengar, Jared?" Dierdre mulai bicara.
"Aku tahu aku bisa mengerjakannya," Jared memotong. "Aku
terampil menjalankan peralatan mekanis. Mobil, mesin potong
rumput, VCR, dan segala macam mesin. Apa susahnya kincir
raksasa?" Dierdre membungkam. Jared tidak tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia
menundukkan matanya dan bicara perlahan. "Itu akan berarti banyak
bagiku, menggantikan tempat Paul."
Kalau itu tidak bisa melunakkan hati Dierdre, tidak akan ada
lagi yang bisa, pikir Jared.
Ia meneliti wajah Dierdre. Bibir gadis itu gemetar seperti akan
menangis. Hebat! Dia termakan sandiwara sedihku!
"Ayolah, Dierdre," Jared memohon. "Aku hanya minta diberi
kesempatan. Tolonglah, bicarakan dengan ayahmu."
"Kenapa tidak kau sendiri saja yang langsung minta padaku?"
sebuah suara bertanya. "Daddy!" seru Dierdre. Ia berjalan memutari Jared,
menyongsong ayahnya. Jared berdiri di tempatnya, menatap lelaki pendek, gemuk,
berambut awut-awutan itu. Lelaki yang dia salahkan sebagai penyebab
kematian Paul. Bukan, bukan sekadar penyebab kematian, tapi
pembunuh. Jason Bradley menatap bergantian dari wajah Dierdre dan
Jared. "Ada apa, Dee" Kau kelihatan bingung."
"Tidak, aku tidak apa-apa," sahut Dierdre. "Dad, kau sudah
kenal Jared Malone" Adik Paul."
Wajah Mr. Bradley melunak. "Tentu saja. Jared, aku ingin
katakan sekali lagi bahwa aku pun sangat berdukacita atas kematian
Paul." Jared tidak menjawab. Baru melihat wajah Bradley saja sudah
membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Ia mengatupkan
rahangnya rapat-rapat, menahan diri untuk tidak berteriak.
Tenang, pikirnya pada diri sendiri. Jangan merusak rencana
sendiri. "Kita semua sangat kehilangan dia," Mr. Bradley melanjutkan.
"Dia?" "Oke, terima kasih," Jared memotong. "Tapi aku datang ke sini
bukan untuk membicarakan kakakku. Aku ke sini untuk mencari
pekerjaan." "Dia ingin menggantikan tempat Paul," Dierdre menjelaskan.
"Betul," Jared membenarkan. "Aku sudah katakan pada Dierdre
bahwa aku terampil menangani mesin. Aku bisa menjalankan kincir
raksasa dan peralatan lain, sama baiknya dengan Paul."
"Oh, sayang sekali," jawab Bradley. "Aku sudah mendapatkan
pengganti Paul. Namanya Rob Fear. Kau kenal dia?"
"Tidak." Bradley mungkin sudah menentukan siapa pengganti
Paul bahkan sebelum jenazah Paul dingin, pikir Jared marah. "Tapi
tidak apa-apa. Bagaimana kalau pekerjaan lain?" ia cepat-cepat
memberikan usul. "Aku bisa menjual karcis, barangkali, atau menjaga
stand es krim. Apa saja!"
Mr. Bradley masih menggeleng-gelengkan kepala. "Semua
pekerjaan sudah ada orangnya saat ini. Dan masih ada daftar pelamar
yang menunggu. Mungkin baru ada lowongan musim panas nanti."
"Tapi itu masih lama sekali!" seru Jared.
"Aku sungguh menyesal," kata Bradley.
Jared akhirnya tak bisa mengendalikan diri. "Oh, ya?"
sentaknya. "Kalau kau memang sungguh-sungguh menyesal, kenapa
kau bisa menentukan pengganti Paul begitu cepat, hah" Aku tahu
kenapa. Karena kau sesungguhnya tidak peduli padanya. Yang
kaupedulikan hanya taman hiburan brengsek ini!"
"Tunggu dulu!" seru Bradley.
"Sudah! Lupakan saja!" teriak Jared. "Tidak perlu bikin alasan.
Semuanya pasti cuma alasan bohong!"
Mata Jason Bradley menyipit. "Rasanya lebih baik kau pergi,
Nak." "Itu ide bagus! Lagi pula aku tidak tahan bau tempat ini!"
Dengan marah Jared pergi ke pintu. Sambil lewat ia mendorong
Bradley ke samping, lalu keluar dari pintu.
Di belakangnya, ia mendengar Bradley berteriak. Tapi ia tidak
peduli. Rasa marahnya semakin membara saat ia bergegas menuruni
anak tangga menuju ke tempat teman-temannya menunggu.
"Hei," seru Steve, "apa yang terjadi?"
"Sudah, lupakan saja!" tukas Jared.
"Kelihatannya Bradley tidak mau menerimamu, ya?" tanya
Kevin. "Aku sudah bilang, lupakan saja!" Jared mengambil sebongkah
batu dari tanah dan menggenggamnya keras-keras. "Itu ide buruk,
oke?" Joey mengerutkan kening. "Lalu apa yang akan kaulakukan
sekarang, Jared?" Jared berjalan cepat, sambil menggeleng-gelengkan kepala,
terlalu marah untuk bisa berkata-kata.
Jason Bradley! pikirnya. Orang itu bisa dibilang sebagai
pembunuh Paul, dan dia tidak mau memberi pekerjaan padaku!
Katanya dia sangat menyesal, tapi dia tidak mau menolongku. Bahkan
tidak mau memberikan pekerjaan sebagai penjaga stand es krim!


Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Rasa marah Jared memuncak sampai ia menjadi kalap. Ia ingin
menghajar sesuatu! Sampai hancur berkeping-keping!
Di puncak rasa marahnya itu, ia mengayunkan tangannya dan
melemparkan batu yang digenggamnya sekuat tenaga.
"Hei, awas, hati-hati!" teriak Joey.
Terlambat. Jerit kesakitan membelah udara.
Bab 6 JERITAN itu melengking tinggi di taman hiburan yang saat itu
sepi. Jared memejamkan mata.
Siapa yang terkena lemparanku" Seorang anak"
Ia membuka mata. Di ujung jalan ada sebuah papan bertuliskan CAGAR
MONYET. Batu yang ia lemparkan tadi tergeletak di kaki sebatang pohon
di dalam pagar. Di salah satu cabang pohon itu bertengger seekor
monyet kecil. Darah merah mengalir dari luka di sisi kepalanya,
membasahi bulunya. Mata monyet kecil itu terbelalak ketakutan,
seakan mengira akan ada batu melayang lagi entah dari mana.
Seekor monyet, pikir Jared. Bukan seorang anak. Tapi tetap saja
Jared menyesal. Ia tidak bermaksud melempar ke monyet kecil itu. Ia
tidak bermaksud melempar ke siapa pun.
Ketika Jared mendekat ke pagar untuk melihat lebih jelas,
seorang lelaki tinggi tegap memakai seragam Fear Park berwarna
cokelat-emas, berlari mendatangi dari jalan samping. Dua orang lelaki
lain, berseragam sama, ikut berlari di belakangnya.
"Hei, kau!" orang pertama berseru marah. Ketika dia sudah
dekat, Jared bisa membaca kata-kata S. GUNTHER, MANAJER
CAGAR di label nama di dadanya. "Kau yang melemparkan batu itu"
Pergi kau dari sini!"
Sebelum Jared sempat mengucapkan sepatah kata pun, Gunther
sudah mendorongnya keras-keras dari pagar.
Jared terhuyung-huyung, menabrak Steve. Ia mengulurkan
tangannya, dengan telapak tangan ke atas. "Hei, maaf!" katanya pada
Gunther. "Aku tidak bermaksud melemparnya. Aku tidak sengaja!"
"Coba saja katakan pada monyet itu!" Mata Gunther yang
berwarna cokelat membara karena rasa marah. Ia mendorong Jared
lagi. "Hei!" Jared jadi naik pitam. "Aku kan sudah bilang maaf!"
"Ya, jangan terlalu mendesak dia!" seru Kevin, sambil
menonjolkan otot-ototnya di balik kaus ketatnya.
"Sudah untung kalian tidak ditangkap" setidaknya untuk kali
ini," kata Gunther. Ia melambaikan tangan pada kedua anak buahnya
yang segera melangkah maju. "Usir keempat berandal ini dari Fear
Park," perintahnya. "Kau tidak bisa melakukan itu!" seru Jared.
"Oh, ya, pasti bisa." Gunther tersenyum dingin padanya. "Aku
beri kalian dua pengawal kehormatan untuk keluar dari sini. Kami
berikan itu pada semua tamu VIP"Very Important Punks!"
Salah seorang anak buah Gunther memegang lengan Jared.
Mereka bersitegang. Berkelahi pada saat ini bagus juga untuk
menyalurkan kekesalan hati, pikir Jared.
Kami berempat dan mereka hanya bertiga" Gunther tampaknya
kokoh, tapi kedua anak buahnya lembek. Kami bisa kalahkan mereka
dengan mudah. "Jangan berpikir ke situ, punk," Gunther memperingatkan,
seakan bisa membaca pikiran Jared. "Sekali saja kau atau temantemanmu mengayunkan tinju, dalam waktu kurang dari satu menit kau
akan berhadapan dengan seluruh anggota keamanan Fear Park."
Jared merasakan wajahnya panas karena marah yang tertahan
dan rasa malu. Ia benci dipaksa. Tapi Gunther jelas sekali akan
memanggil seluruh pasukan. "Tidak usah repot-repot," katanya pada si
manajer cagar. "Kami bisa keluar sendiri dari sini sekarang juga!"
Ia menatap Gunther, lalu menarik lengannya dari pegangan
anak buah Gunther dan berjalan pergi.
************ Dari sebuah tikungan, Robin Fear memperhatikan ketika Jared
dan teman-temannya diusir menuju pintu keluar. Kedua anak buah
Gunther mengikuti dari jarak beberapa langkah di belakang mereka,
untuk memastikan mereka betul-betul keluar.
Robin keluar dan mulai mengikuti mereka. Ketika melewati
Gunther, ia tersenyum ramah. "Apa kabar, Mr. Gunther?"
Gunther hanya mengangguk sedikit, lalu berjalan menuju Cagar
Monyet. Robin tidak heran melihat Gunther mengusir Jared dan temantemannya keluar. Manajer cagar itu memang senang menjadi Raja
Gunung. Selalu ingin menguasai dan mengendalikan.
Tapi Jared Malone lain lagi, pikir Robin. Omong-omong soal
lepas kendali, anak itu bagaikan bom waktu!
Dan aku mungkin bisa memanfaatkan sifat pemarahnya untuk
membuat kekacauan di sini.
Jared dan teman-temannya sudah keluar dari Fear Park
sekarang. Robin mempercepat langkahnya menjadi lari-lari kecil.
"Jared!" panggilnya. "Hei, Jared, tunggu sebentar!"
Jared berhenti dan menoleh ke belakang, keningnya berkerut
ketika melihat siapa yang memanggilnya. "Mau apa kau?" tanyanya
ketus. "Mau marah karena aku membentak-bentak Dierdre kemarin?"
Robin menggeleng. "Tidak, itu urusanmu dengan dia," kata
Robin. "Aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu yang lain."
"Apa?" "Gunther," kata Robin. "Aku lihat apa yang terjadi di Cagar
tadi." Jared merengut. "Lalu" Kau mau bikin urusan tentang itu?"
"Tidak!" Robin melebarkan mata pura-pura terkejut. "Kau
bercanda" Aku di pihakmu. Gunther memang brengsek."
Steve berdecak. "Persis."
Rengutan Jared semakin dalam. "Seharusnya tidak kubiarkan
dia memaksaku seperti tadi."
Kevin mengangguk. "Ya. Kau mau balik menghajar dia
sekarang, Jared" Menyergap dia sebelum dia sempat memanggil anak
buahnya?" "Aku punya ide yang lebih baik," kata Robin. "Jauh lebih baik."
"Apa lagi yang lebih baik daripada menyergap orang itu?" tanya
Kevin. "Menakut-nakuti dia," sahut Robin. "Dan maksudku sampai dia
benar-benar ketakutan" sangat ketakutan sampai dia menangis
memanggil-manggil ibunya."
Teman-teman Jared tertawa membayangkan itu.
"Jadi apa idemu?" tanya Jared.
"Ayo. Aku tunjukkan." Robin berjalan ke sepanjang jalan kecil
yang menyusuri bagian dalam pagar Fear Park. Jared dan temantemannya mengikuti di belakangnya. Bagaikan tikus-tikus yang
mengendus-endus dan takut masuk perangkap, pikir Robin. Kalau saja
aku bisa membuat mereka menggigit umpannya.
Jalan kecil itu mendaki, menuju puncak sebuah bukit. Dari sana,
mereka bisa melihat ke bawah, ke pepohonan dan perbukitan yang
merupakan bagian dari Cagar Satwa Liar Fear Park.
"Kalian lihat tebing batu di sana itu?" tanya Robin.
"Ya." Steve mengangkat bahu. "Memangnya kenapa?"
Robin mengabaikan Steve dan bicara pada Jared. "Tebing batu
itu menjorok ke atas tempat singa. Dan setiap malam jam setengah
sepuluh"selalu tepat waktu"Gunther pergi ke sana menjatuhkan
potongan-potongan daging untuk makanan singa-singa itu." Ia
menjilat bibir. "Singa-singa itu pun lapar. Mereka menunggu di bawah
dengan mulut terbuka lebar!"
"Oke, aku bisa membayangkannya. Lalu apa idemu?" tanya
Jared lagi, melihat ke tebing itu.
"Fear Park akan dibuka besok," Robin memberitahu. "Beberapa
orang akan bekerja malam ini, untuk persiapan terakhir. Tapi tidak
terlalu banyak. Jadi kalian datanglah ke sini nanti malam."
Ia merendahkan suaranya. "Kemudian kalian berempat
mengendap-endap di belakang Gunther, lalu kagetkan dia. Tahu
maksudku" Supaya dia mengira kalian akan mendorongnya ke bawah
tebing"langsung ke mulut singa-singa itu!"
Steve dan Kevin tertawa dan saling menepukkan telapak tangan
mereka di udara. "Dia pasti kapok berurusan dengan kita!" seru Joey.
"Benar, Jared?"
"Ya," Jared setuju. "Tapi kita sudah dilarang ke sini. Bagaimana
kalau kita ketahuan?"EBUKULAWAS.BLOGSPOT.COM
"Tidak akan," Robin meyakinkannya. "Aku akan memastikan
bahwa salah satu gerbang tidak akan terkunci dan akan kutunjukkan
jalan kecil di belakang taman. Kalian bisa menggunakan jalan masuk
itu tanpa ketahuan. Lagi pula, kalau ada yang melihat kalian, katakan
saja kalian pekerja yang sedang memeriksa daerah itu."
"Lalu kita mengendap-endap di belakang Gunther, ya kan?"
tanya Joey bersemangat. "Dan kita takut-takuti dia!"
"Ya," kata Jared sambil berpikir. "Tapi masalahnya, Gunther
sepertinya bukan orang yang gampang ditakut-takuti."
Robin tersenyum. "Percaya atau tidak, Gunther sebetulnya takut
pada singa-singa itu. Memangnya kaukira kenapa dia memberi makan
singa-singa itu dari atas tebing" Begitu dia mengira kalian akan
sungguh-sungguh mendorongnya ke bawah tebing, dia akan
menyembah-nyembah minta ampun."
Bibir Kevin mencibir. "Kita lakukan saja!"
Jared tertawa. Tapi kemudian ia memandang ke tebing batu itu
lagi dengan kening berkerut, sambil menggigit-gigit bibir.
Jangan biarkan dia berpikir terlalu lama, bisa-bisa akhirnya dia
tidak mau, kata Robin dalam hati. "Ini kesempatan untuk melakukan
pembalasan yang setimpal," gumamnya, melangkah mendekati Jared.
"Bayangkan, Gunther, lututnya gemetar, wajahnya pucat ketakutan,
matanya membelalak."
Jared menoleh ke Robin, lalu kembali menatap tebing.
"Bagaimana?" tanya Robin. "Mau?"
Bab 7 MATA Jared menebar pandang ke sepanjang jalan kecil yang
berkelok-kelok. Bulan purnama mencetak bayang-bayang aneh di
tanah. Angin malam membuat dedaunan menimbulkan suara-suara
yang tidak kalah anehnya.
Jantungnya berdegup kencang ketika ia perlahan-lahan
merayapi jalan kecil bersama teman-temannya. Sebuah ranting
berderak, tidak jauh dari mereka, bunyinya bagaikan suara petasan di
telinga Jared. "Apa itu?" bisiknya. "Ada yang lihat sesuatu?"
"Tidak," gumam Steve. "Mungkin burung atau tupai."
Jared menyipitkan matanya dan mengintai ke depan. Yang
terlihat olehnya hanya kegelapan. Jalan kecil di depan mereka
kelihatannya kosong. "Jangan-jangan ada penjaga malam melihat kita?" tanya Joey,
memandang khawatir berkeliling.
"Tidak. Kan Rob Fear sudah bilang mereka tidak berpatroli di
daerah ini sampai Fear Park dibuka," sahut Kevin. "Mungkin itu cuma
rakun. Ayo, kita terus."
Sementara mereka meneruskan perjalanan, Jared agak tertinggal
di belakang, berpikir. Ia hampir yakin bahwa suara yang didengarnya
tadi adalah suara langkah kaki orang. Bagaimana kalau Rob Fear salah
dan ternyata penjaga malam memergoki kami" Setelah kejadian di
kantornya tadi siang, Jason Bradley mungkin akan membuatku masuk
penjara. Tiupan angin semakin kencang, membuat dedaunan dan
ranting-ranting pohon semakin berisik. Setiap suara berderak dan
gemeresik membuat Jared semakin tegang. Masih belum terlambat
untuk mengurungkan ini, pikirnya. Gunther tidak akan ke mana-mana.
Aku bisa membalasnya kapan saja, tidak harus sekarang.
Tapi tidak akan terlalu mudah kalau Fear Park sudah dibuka,
dan besok upacara pembukaannya. Setelah resmi dibuka, tempat ini
akan penuh setiap malam. Tidak akan banyak kesempatan mendapati
Gunther memberi makan singa-singa sendirian saja.
Berpikir tentang Gunther, Jared mengertakkan gigi. Orang itu
harus diberi pelajaran karena memperlakukanku seperti tadi, pikirnya.
Dan ide Rob Fear memang bagus. Kepung manajer cagar itu waktu
dia sedang memberi makan singa sendirian, dan bikin dia ketakutan
setengah mati! Beri dia pelajaran yang tak akan dia lupakan seumur
hidup! Jared mempercepat langkahnya, menyusul teman-temannya.
Jalan kecil itu berliku-liku melewati rimbunan pohon sepanjang kirakira lima puluh meter lagi, lalu mulai mendaki, seperti yang dikatakan
Rob. "Ini dia!" bisik Jared. "Kira-kira dua puluh meter lagi kita
sampai di puncak. Mulai sekarang, kita sama sekali jangan membuat
suara." "Ya," kata Kevin. "Kita tidak ingin merusak kejutan buat
Gunther!" Jalan kecil itu makin menyempit. Jared berjalan paling depan
lagi, anak-anak itu berjalan beriringan satu per satu.
Menjelang puncak pendakian, Jared berhenti dan mengangkat
tangannya. Yang lain berhenti di belakangnya. Mereka semua berdiam
diri, mendengarkan. Jared mendengar suara burung malam. Dua kali. Lalu... sunyi.
Jared merayap ke puncak. Di tempat itu tanahnya rata dan
terbuka. Ia bisa melihat pagar setinggi pinggang di sepanjang tepi
tebing. Tidak terlihat tanda-tanda adanya Gunther.
Jared melihat jamnya. Setengah sepuluh kurang tiga menit.
Kalau Rob Fear benar, Gunther akan datang dari arah lain sebentar
lagi. Jared kembali berkumpul dengan teman-temannya. Mereka
merayap tanpa bersuara ke balik sekumpulan pohon dan menunggu.
Penantian mereka tidak berlangsung lama.
Jared hampir berseru kecil ketika mendengar suara memecah
kesunyian malam. Mula-mula terdengar jauh dan sayup-sayup, makin
lama makin dekat dan semakin jelas. Tidak lama kemudian Jared bisa
mendengar langkah-langkah kaki, dan suara orang bersiul-siul.
Segera suara langkah kaki itu berhenti, tapi suara siulan tetap
terdengar. Jared bertukar senyum dengan teman-temannya. Ia
mengayunkan lengannya mengajak mereka keluar dari balik
pepohonan. "Ayo!" bisiknya.
Dengan hati-hati keempat anak itu mengendap-endap ke puncak
dan mengintai. Gunther berdiri di dekat pagar, bersiul-siul sambil mengenakan
sarung tangan plastik. Dua ember besar ada di tanah di sampingnya.
Setelah memakai sarung tangan, Gunther mengambil sebongkah
besar daging dari ember. Gajihnya terlihat putih di bawah cahaya
bulan. Darah merah mengalir dari sela-sela jemari Gunther yang
tertutup sarung tangan plastik dan menetesi sepatu botnya. Dia tetap
bersiul-siul. Mungkin dia sendiri makan daging mentah itu, pikir Jared. Lalu
kulitnya terasa merinding ketika suara geraman terdengar dari arah
bawah tebing. Para singa, lapar menunggu makan malam mereka.
Sambil mengayunkan tangan, Jared memimpin teman-temannya
ke lapangan terbuka di puncak bukit. Seperti yang sudah mereka
rencanakan, Joey dan Steve menyeberang ke kanan untuk menutup


Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jalan Gunther ke arah lain. Kevin bergerak ke kiri.
Tetap berada di tengah, Jared melangkah cepat menyeberangi
tanah lapang sampai ia berada hanya beberapa langkah di belakang
Gunther. Ia melihat Gunther membungkuk lagi ke ember.
"Hei, Gunther!" tegur Jared dengan suara keras. "Sedang makan
makanan kecil?" Gunther menegakkan tubuh dengan terkejut. Rasa kaget di
wajahnya segera berubah menjadi rasa marah ketika ia melihat Jared.
"Apa yang sedang kaulakukan di sini?" tegurnya.
"Kauusir aku dari Park tadi, ingat?" sahut Jared. "Harusnya kau
tidak melakukan itu."
Bibir Gunther mencibir menghina. "Pergi cepat-cepat, Nak,
kalau tidak kau akan kulemparkan lagi keluar dari Park. Dan kali ini
kupastikan kau takkan ingin kembali ke sini lagi."
Joey terkekeh dari sebelah kanan. "Rasanya tidak akan terjadi!"
"Ya," sambung Kevin dari sebelah kiri. "Kali ini kau sendirian."
"Tidak bisa memanggil pasukanmu malam ini," Steve
melengkapi. Gunther menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan anakanak itu. Lalu kembali memandang ke arah Jared. "Apa yang kalian
inginkan?" Jared tersenyum dingin dan maju mendekat. "Kami berpikir
untuk membantumu memberi makan singa."
"Tidak. Pergi saja kalian dari sini," kata Gunther.
Dari bawah tebing, geraman singa terdengar semakin keras.
Mereka sudah semakin lapar.
"Mereka ingin daging segar. Bukan daging busuk yang
kaubawa!" kata Steve.
Jared maju selangkah lagi ke arah Gunther.
Teman-temannya juga maju mendekat.
Jared menyeringai. "Jadi, yang kami pikir, adalah memberi
mereka makanan yang tak akan mereka lupakan"kau!"
"Kau akan jadi makanan singa!" ancam Steve.
Gunther bergeming. Tapi pipinya agak gemetar.
Senyum Jared melebar. Si brengsek ini mulai gelisah, pikirnya.
Bagus. Biar dia berpikir kami akan benar-benar melemparkannya ke
bawah tebing. Tunggu sampai dia berlutut memohon-mohon ampun.
Baru kita pergi. Gunther kembali memandang Jared. "Jangan maju selangkah
lagi," ancamnya, tapi suaranya bergetar. "Kau dan berandal-berandal
temanmu, pergi dari sini sebelum aku?"
"Sebelum kau apa?" tukas Jared.
Jared tetap melangkah maju. Begitu juga ketiga temannya
sampai mereka membentuk setengah lingkaran mengepung Gunther.
Di bawah, para singa mengaum-aum.
Gunther menoleh gelisah ke belakang.
"Mereka menunggu, Gunther," kata Jared. "Dan mereka
kedengaran sangat lapar!"
Perlahan-lahan keempat anak itu melangkah maju.
Gunther mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Sekarang
punggungnya sudah menyentuh pagar.
"Oke, Gunther," Jared mulai bicara. Tapi berhenti ketika Kevin
menyodok pinggangnya. "Apa itu?" tanya Kevin, menunjuk ke tepi tanah lapang.
Jared menoleh dan mengerutkan kening. Segumpal asap
melayang-layang di atas tanah ke arah mereka.
Ada api" pikir Jared. Tidak. Ia tidak mencium bau barang
terbakar. Lagi pula asap ini aneh warnanya"ungu pucat. Ia tidak
pernah melihat asap seperti itu.
"Makin tinggi!" seru Joey.
Jared menahan napas. Joey benar. Asap itu semakin tebal
sehingga menyembunyikan pepohonan di belakangnya. Asap itu
melingkar-lingkar, bergerak-gerak seakan-akan benda hidup, berputarputar di atas tanah dan menjulang ke langit. Warnanya berubah
menjadi ungu tua. "Ayo kita pergi!" desak Joey. "Aku jadi ngeri!"
Jared mengangguk dan baru akan melangkahkan kaki ketika
sebuah suara membuatnya berhenti. Ia menoleh.
Di depannya, Gunther menjatuhkan dua potong daging yang
tadi dipegangnya ke tanah. Wajahnya kosong, matanya juga menatap
kosong. "Kenapa dia?" tanya Kevin. "Kenapa dia jadi seperti zombie?"
"Peduli amat," sahut Joey. "Ayo, kita pergi saja!"
"Ya," Jared setuju. "Hei, Gunther, hari ini kau masih mujur.
Kami pergi dari sini."
Gunther tidak menjawab. Ia berbalik memunggungi anak-anak
itu dan memanjat pagar. "Salah jalan, Gunther!" teriak Kevin.
Gunther tidak berhenti. "Hei!" teriak Jared. "Gunther! Kenapa kau" Kau mau?" ia
berhenti bicara dan mengejar Gunther.
Terlambat. Gunther mengayunkan tubuhnya melompati pagar dan sekaligus
melewati pinggiran tebing.
Bab 8 "TIDAK!" jerit Jared. Ia melongok ke bawah tebing. "Tidaaak!"
Suara tulang-tulang patah membentur batu karang terdengar
menembus tirai asap ungu.
Disusul kesunyian yang mencekam.
Lalu seekor singa mengaum. Auman garang.
Jared berlutut di tanah dan menutup kedua telinganya.
Tapi ia tidak bisa mencegah suara-suara itu menyusup ke
telinganya. Di balik suara geraman, ia bisa mendengar suara daging
dicabik-cabik ketika singa-singa itu menyantap makan malam mereka.
"Jared!" Kevin merenggut lengan Jared. "Kenapa kau" Kita
harus cepat-cepat pergi dari sini!"
Jared tidak bergerak. "Kau lihat dia tadi" Dia memanjat pagar
itu seperti robot." "Ya, aku lihat." Kevin menarik lengan Jared lagi. "Ayo! Kita
harus pergi!" Malam telah diliputi kesunyian lagi.
Geraman dan gerungan dari bawah telah berhenti.
Jared berdiri dengan lutut gemetar. Lalu ia melongok ke bawah
tebing. "Tidak!" ia mengerang. "Oh, tidak!"
Di bawah sinar bulan, bebatuan di bawah tebing berkilau
dengan sesuatu yang kelihatan seperti cat tebal dan gelap.
Itu bukan cat, pikir Jared.
Itu darah. Darah Gunther. Bercipratan ke batu-batu karang itu.
Dan tubuh Gunther, atau sisa-sisanya, tidak terlihat seperti
bentuk manusia lagi. Dagingnya sudah terobek-robek, terkepingkeping, seperti potongan-potongan daging mentah yang masih
bersimbah darah. Salah satu matanya memandang ke langit tanpa
melihat. Perut Jared terasa mual. Ia membungkuk, memegang pinggangnya, dan muntah.
Rasa mual bergelombang menyerangnya, sampai otot perutnya
terasa sakit dan tidak ada lagi isi perut yang bisa dimuntahkannya.
"Jared, kau tidak apa-apa?" bisik Joey, suaranya terdengar
ketakutan. "Kita harus pergi. Kau bisa jalan?"
Jared menyapu mulutnya dengan punggung tangan dan
mengangguk. Ia mencoba berjalan. Tapi lututnya terasa lemas sekali,
dan ia mulai tersuruk. Kevin dan Steve memegangnya sebelum ia jatuh ke tanah.
"Ayo. Kami bantu kau," kata Steve. Dengan Joey memimpin di depan,
keempat anak itu meninggalkan tebing batu dan berjalan menuruni
jalan setapak. "Bagaimana tadi itu bisa terjadi?" Jared bergumam sambil
menggelengkan kepala. "Kita tidak menyentuhnya sedikit pun."
"Aku tidak tahu," kata Kevin. "Sudahlah, jangan pikirkan itu
lagi, oke?" Tapi Jared tidak bisa berhenti memikirkan itu. Tidak bisa
berhenti membayangkan pandangan mata kosong Gunther. Dan
bagaimana dia melompat sendiri ke bawah tebing, menemui
kematiannya. "Kenapa bisa begitu?" Jared bergumam lagi. "Kita sama sekali
tidak menyentuhnya. Tidak ada yang menyentuhnya sedikit pun!"
Steve mengangkat bahu. "Dia memang gila, barangkali."
"Sebelumnya dia tidak begitu," bantah Jared. "Apa yang terjadi"
Kita tidak menyentuhnya. Kita tidak pernah menyentuhnya!"
"Ya, itu bukan salah kita," Joey setuju.
"Betul. Kita tidak salah dalam hal ini." Mengencangkan
pegangannya di lengan Jared, Kevin membantunya mengikuti
tikungan terakhir jalan setapak.
"Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?" Jared masih
mengulang-ulang kata-katanya ketika mereka melangkah ke salah satu
jalan utama Fear Park. "Bagaimana?"
Tak seorang pun menjawabnya.
"Kita tidak menyentuhnya," Jared mengulang-ulang sendirian.
"Sama sekali tidak! Tidak pernah!"
Tiba-tiba Jared berhenti. Ia harus kembali ke sana. Ia tidak tahu
kenapa. Mungkin kalau ia melakukannya, ia akan mendapati bahwa
semua itu hanya mimpi buruk.
Ia berbalik. Dan membeku. Dua petugas keamanan berlari mendatangi mereka dengan
wajah muram. Sudah terlambat untuk lari.
Bab 9 "OH, tidak," erang Joey.
"Ayo, Jared!" Kevin menarik lengan Jared keras-keras. "Ayo!
Kita bisa lari lebih cepat dari mereka!"
Jared hanya menggeleng. Tidak bisa lari, pikirnya. Lagi pula,
sudah terlambat. Kedua petugas keamanan itu lari terengah-engah ke arah
mereka. Yang laki-laki pendek gemuk, mukanya bulat. Yang
perempuan tinggi dan kelihatan tegap.
Mereka berdua melekatkan pandang mereka ke Jared.
"Berhenti!" seru yang laki-laki.
Jared mencoba memantapkan hatinya. Tapi kakinya lemah
lunglai. Kalau teman-temannya tidak memeganginya, ia pasti sudah
jatuh ke tanah. "Apa yang harus kita lakukan?" bisik Kevin. Jari-jarinya
mencengkeram keras sampai membuat lengan Jared terasa sakit. "Apa
yang akan kita katakan?"
Jared hanya menggeleng. Ia tidak punya jawaban atas
pertanyaan itu. Kedua petugas keamanan berhenti di depan mereka. Sambil
bertolak pinggang, yang perempuan agak membungkuk dan menatap
wajah Jared. "Kau tidak kenapa-kenapa, Nak?"
Jared mengedipkan mata, bingung mendengar nada suara
petugas keamanan itu. Petugas keamanan itu kedengaran khawatir
akan keadaannya. "Apa?" Jared balik bertanya, tidak yakin apa yang
didengarnya. "Aku tanya apa kau baik-baik saja." Wanita itu mengerutkan
kening, tapi kerut kening rasa prihatin, bukannya marah atau curiga.
Temannya, petugas yang laki-laki, mengangguk. "Kami lihat
teman-temanmu membantumu berjalan. Ada apa?"
"Kau sakit?" tanya yang perempuan.
Jared merasakan gelombang rasa lega. Para petugas keamanan
belum menemukan Gunther. Mereka tidak mencurigai Jared. Mereka
bahkan mengkhawatirkannya!
"Ya, aku agak tidak enak badan," katanya pada mereka.
Suaranya gemetar dan lemah. "Aku... aku terlalu banyak makan harum
manis, rasanya." "Ya, kami bekerja di salah satu stand makanan," Joey
menambahkan bualan Jared. "Menyiapkan untuk besok. Kami sudah
memperingatkan dia agar jangan terus-terusan mengambil harum
manis itu. Tapi dia tidak mau dengar, dan tidak henti-hentinya
makan!" "Aku juga susah berhenti kalau sudah makan harum manis,"
kata si petugas laki-laki sambil berdecak dan menepuk perutnya yang
buncit. Jared memaksakan senyum. "Kau masih kelihatan lemah," kata si petugas perempuan. "Bisa
kami bantu pulang ke rumah?"
"Tidak usah, terima kasih," sahut Jared. "Betul. Teman-temanku
bisa membawaku pulang."
"Baiklah. Hati-hati," kata si petugas yang perempuan. "Dan lain
kali jangan banyak-banyak makan yang manis-manis seperti itu."
"Pasti. Terima kasih." Jared tersenyum lagi. Lalu ia berbalik,
bersandar ke lengan teman-temannya. Ia ingin lari, tapi tidak berani.
Ia masih merasa kedua petugas keamanan itu ada di belakangnya,
memperhatikannya. "Hampir tidak percaya, ya?" bisik Kevin begitu mereka berada
di luar jarak pendengaran. "Nasib baik memang sedang berada di
pihak kita malam ini!"
Ya, pikir Jared. Yang jelas tidak di pihak Gunther.
************* Dierdre meremas tangan Rob saat mereka berjalan menuju
Cagar Satwa Liar. "Indah sekali malam ini," gumam Dierdre,
memandang bulan yang bersinar terang di langit. "Dan sangat tenang.
Rasanya susah percaya bahwa besok malam tempat ini akan hirukpikuk. Dengan semua wahana, tenda, orang banyak, dan lampulampu. Pasti riuh sekali."
Robin balas meremas tangan Dierdre, tapi tidak mengatakan
apa-apa. Dierdre menatap Robin. "Kau juga sangat pendiam malam
ini, Rob. Apa yang sedang kaupikirkan?"
Robin tersenyum sekilas. "Aku hanya sedang berharap
semuanya akan lancar-lancar saja besok malam," sahutnya.
"Aku juga." Dierdre mengembuskan napas lega. Demi ayahnya,
ia betul-betul berharap semuanya berjalan lancar. Tapi untuk dirinya
sendiri" Entahlah, aku sendiri tidak tahu, pikirnya. Begitu banyak
kejadian yang tidak diharapkan. Ia merinding dan merasakan lengan
Rob melingkari pundaknya.
"Dingin?" tanya Rob.
Dierdre sudah akan menggeleng, tapi lalu berubah pikiran. "Ya,
sedikit," sahutnya. Padahal malam itu sebetulnya hangat. Gemetar
tubuhnya tidak ada hubungannya dengan cuaca.
Tapi ia suka merasakan lengan Rob di pundaknya.
Ia senang berada di dekat Rob.
Ia bahkan sudah menyukai itu sejak Paul masih hidup.
Ia cinta pada Paul. Tapi ada sesuatu pada Rob Fear. Sesuatu
yang sangat menarik. Bukan wajahnya, otaknya, atau sesuatu yang bisa ia sebutkan.
Aku tidak tahu apa itu, pikir Dierdre.
Aku hanya tahu itu sesuatu yang sangat kuat.
Dan aku tidak mampu membendungnya.
Sambil mengembuskan napas lagi, Dierdre merapatkan
tubuhnya ke Rob. Rob mempererat rangkulannya dan Dierdre
merasakan pipi Rob di kepalanya. Tapi cowok itu masih belum bicara.
Dia pasti betul-betul mengkhawatirkan Fear Park juga, pikir


Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dierdre. Mungkin itu sebabnya kenapa aku begitu suka padanya"
karena dia sangat memedulikan aku dan Dad.
Dierdre tersenyum sendiri, lalu mendadak berhenti. "Kau
dengar itu?" tanyanya.
"Apa?" "Dengar!" Ia melepaskan rangkulan lengan Rob dan berdiri
diam, menunggu. "Itu!" serunya. "Kau tidak dengar?"
Rob mengerutkan kening. "Yang kudengar hanya geraman.
Mungkin singa-singa."
"Aku tahu. Tapi kedengarannya aneh," kata Dierdre. Ia
mendengarkan lagi. "Tidakkah kau mendengarnya" Mereka terdengar
beringas." "Mereka memang binatang buas," Rob mengingatkan.
Dierdre terlompat ketika sebuah raungan ganas menyayat
keheningan. "Jangan-jangan mereka saling berkelahi."
"Mungkin mereka sedang bermain-main," kata Rob. "Ayo,
Dierdre. Kita cari makanan dulu."
Sebuah auman berat terdengar lagi. Dierdre menggelengkan
kepala. "Aumannya terdengar tidak seperti biasa," katanya. "Ayo kita
lihat." "Aku yakin tidak ada apa-apa," Rob mencoba meyakinkan
Dierdre. "Dan aku lapar sekali, kau tidak lapar?"
"Ayolah, Rob." Dierdre mengulurkan tangan. "Mungkin kau
benar. Tapi aku ingin melihat sendiri."
Rob menyambut tangan Dierdre dan tersenyum. Senyum yang
menghidupkan mata hitamnya dan membuat Dierdre tergetar karena
rasa senang. "Aku akan melakukan apa pun untukmu," kata Rob
lembut. Sambil berjalan menuju tebing di atas cagar singa, Dierdre
tertawa perlahan. "Begini saja. Karena kau sudah mau kuseret jauhjauh ke atas sini, nanti kau kubelikan es krim...," ucapannya terputus
tiba-tiba. "Rob, lihat"itu Daddy! Kenapa dia di sini?"
Tanpa menunggu jawaban, Dierdre melepaskan tangannya dari
pegangan Rob dan berlari menyeberangi tanah kosong di puncak.
Jason Bradley sedang melongok ke bawah tebing. Tapi ketika
mendengar langkah kaki Dierdre, ia langsung berbalik.
Ada yang tidak beres! pikir Dierdre. Ada sesuatu yang sangat
tidak beres! Ayahnya mengangkat kedua telapak tangan. "Stop, Dierdre!"
serunya. "Jangan mendekat ke sini."
Dierdre tetap berlari mendekati. "Ada apa, Dad" Kenapa singasinganya?"
"Stop!" teriak ayahnya. "Kau tak ingin melihatnya, percayalah
padaku!" "Melihat apa" Daddy, ada apa sih?" sambil membungkuk,
Dierdre lari menerobos rentangan tangan ayahnya dan melongok ke
bawah tebing. Mulanya yang dilihatnya hanya sekelompok pekerja Fear Park
berseragam, berdiri berkumpul di bawah tebing. Mereka kelihatan
seperti kebingungan sambil menengok ke sana kemari.
Lalu Dierdre melihat sebuah benda berbentuk bundar ditutupi
selembar kain bernoda. Di dekatnya ada segumpal besar daging.
"Benar, Dad," gumamnya. "Aku tidak ingin melihat gumpalan
daging itu"menjijikkan. Tapi kenapa para pekerja berada di sana"
Dan kenapa kau kelihatan sangat terganggu?"
"Karena itu bukan segumpal daging, Dierdre. Itu..." Bradley
terhenti sebentar. "Itu sisa-sisa Gunther!"
"Gunther" Tapi..." Dierdre berhenti ketika menyadari arti katakata ayahnya. "Tidak!" bisiknya. "Oh, tidak!"
Ketika melangkah menjauh dari pinggiran tebing, Dierdre
merasa seakan-akan seluruh darah mengalir pergi dari wajahnya.
Kegelapan meliputi pandangan matanya, langkahnya terseok-seok.
Lalu ia merasakan lengan Rob merangkul pinggangnya. Lengan Rob
yang kuat, memeganginya agar tidak jatuh.
"Ayo, Dierdre," bisik Rob. "Aku antar kau pulang."
"Tidak." Dierdre menarik napas dalam-dalam dan membuang
bayangan pemandangan mengerikan di bawah tebing itu dari
benaknya. "Aku ingin tahu apa yang terjadi. Ceritakan padaku, Dad."
Bradley menggelengkan kepala. "Kami tidak tahu persis,
Sayang. Kelihatannya kecelakaan."
"Apa maksud Dad?" tanya Dierdre.
"Mungkin dia berdiri terlalu dekat ke pagar waktu melempar
daging makanan singa ke bawah. Barangkali dia kehilangan
keseimbangan dan jatuh."
"Pertama Paul, sekarang Gunther," gumam Dierdre.
Bradley mengangguk muram. "Menyedihkan... benar-benar
menyedihkan." Dierdre menatap sedih ke ayahnya. Ayahnya terlihat pucat dan
terguncang. Tentu saja! Dia sudah bekerja keras untuk taman hiburan
ini, dan hal-hal mengerikan terjadi berulang-ulang begitu saja.
"Kasihan Daddy," katanya pada ayahnya. "Ada yang bisa kulakukan,
Dad?" "Jangan mengkhawatirkan aku, Sayang." Ia menepuk pundak
putrinya. "Aku masih punya kau. Dan aku masih punya proyekku."
"Jadi pembukaan besok masih tetap akan dilangsungkan?"
tanya Dierdre. "Tentu saja," tegas ayahnya. "Kenapa tidak?"
"Aku hanya berpikir kejadian-kejadian itu... kecelakaankecelakaan yang mengambil korban nyawa manusia, mungkin
membuat Dad berubah pikiran." Dierdre ragu-ragu sejenak. "Jadi Dad
masih ingin meneruskan rencana walaupun ada kejadian-kejadian
itu?" "Ini impianku, Dierdre," kata Bradley. "Aku tidak boleh
menyerah hanya karena ada hal-hal yang tidak diharapkan."
"Tapi tidakkah Dad merasa khawatir?" tanya Dierdre.
"Maksudku, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lain" Sesuatu yang
jauh lebih buruk?" "Apa lagi yang lebih buruk daripada dua kematian
mengerikan?" jawab ayahnya.
"Aku tidak tahu!" seru Dierdre. "Aku hanya punya perasaan
buruk bahwa Fear Park dihantui roh jahat atau semacam itu." Ia
menoleh ke Rob. "Bagaimana menurutmu, Rob?"
Bradley menukas sebelum Rob sempat menjawab, "Omong
kosong, Dee. Kedua kematian itu murni kecelakaan. Tidak ada
hubungannya dengan taman hiburan. Tidak ada roh jahat di sini. Atau
di mana pun! Kau terlalu percaya takhayul, Sayang."
"Rasanya kau benar," Dierdre mengakui. Ia memeluk ayahnya.
"Maafkan aku, Daddy. Aku hanya sedang terguncang."
"Tentu saja. Aku juga." Ia membalas pelukan anaknya erat-erat.
"Ingat saja bahwa tempat ini adalah impianku," ia mengulangi dengan
suara tegas. "Aku tak akan menyerah. Tidak akan pernah. Siapa pun
harus lebih dulu menembakku dan mengangkutku keluar dari sini
sebelum aku menyerah!"
Bradley memeluk Dierdre beberapa saat lagi, lalu berjalan
menuju tebing. Dierdre berbalik ke Rob. Tepat ketika itu terdengar letusan nyaring bergema di tengah
keheningan malam. Dierdre menjerit. Ia mengenali suara itu.
Suara tembakan. Bab 10 TERDENGAR lagi suara tembakan. Dierdre menjerit lagi. Dad!
pikirnya. Satu letusan senapan lagi.
"Dad!" jerit Dierdre.
Ia berbalik. Ayahnya masih berdiri seperti tadi, memperhatikan
bawah tebing. "Apa yang terjadi?" jerit Dierdre. "Dad! Ada apa" Kenapa
orang menembak-nembak?"
"Aku memanggil petugas satwa liar," kata Bradley. "Singasinga itu mengamuk seperti gila. Jadi mereka menembaknya dengan
panah bius agar tenang!"
"Kenapa singa-singa itu jadi seperti itu?" tanya Dierdre.
Ayahnya sepertinya tidak mendengar pertanyaannya.
Rob menyentuh lengan Dierdre. "Karena daging itu," katanya
menjawab pertanyaan Dierdre tadi. "Daging manusia. Sekarang
setelah mereka tahu rasanya daging itu, mereka ingin lagi."
"Oh!" Dierdre menggigil saat bayangan tubuh Gunther yang
terkoyak-koyak melintas di benaknya. "Ayo, Rob. Kita pergi dari
sini!" ************* "Menurutmu itu tadi kecelakaan?" tanya Robin ketika mereka
berjalan pergi dari sana.
"Apa maksudmu?" tanya Dierdre. "Kau tidak berpikir ada orang
yang mendorong Gunther ke bawah tebing, kan?"
"Aku tidak tahu harus berpendapat apa," kata Robin. "Tapi aku
jadi berpikir tentang kutukan Fear."
"Ya, memang. Itu juga yang terpikir olehku ketika kukatakan
tentang roh jahat pada Dad tadi," kata Dierdre.
"Setelah apa yang terjadi pada Gunther, aku punya perasaan
aneh, seakan-akan benar-benar ada kutukan di taman hiburan ini,"
Robin melanjutkan. "Tadinya aku selalu menertawakan hal itu sebagai
sekadar desas-desus keluarga. Tapi sekarang aku mulai
memercayainya." "Jangan," kata Dierdre. "Jangan percaya, Rob. Kutukan itu tidak
ada." "Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Robin. "Kau sendiri bilang
itu yang kaupikirkan ketika kau melihat apa yang terjadi pada
Gunther." Dierdre menggelengkan kepala. "Aku tidak akan membiarkan
diriku terpengaruh takhayul dan percaya pada segala macam kutukan.
Dad benar," katanya. "Semua yang terjadi itu kecelakaan."
Robin mengangguk dan diam-diam mengertakkan gigi karena
frustrasi. Percuma menakut-nakuti Dierdre dengan kutukan.
Tapi setidaknya aku berhasil membuat susah Bradley. Aku
berhasil membuat Jared si otak kerdil dan teman-temannya berbuat
persis seperti yang kuinginkan. Tanpa menyadari, mereka telah
menjalankan peran dalam drama kecilku. Dan mereka semua
menjalankan peran mereka dengan sangat sempurna.
Semua orang. Kecuali Jason Bradley. Reaksi Bradley sama sekali tidak diduga Robin. Ia mengira
Bradley akan jauh lebih terguncang. Apa yang bisa mematahkan orang
ini" pikir Jason. Ah, tidak penting. Aku masih punya banyak taktik.
Masih banyak "kecelakaan" lagi.
Robin mengetatkan rangkulannya di bahu Dierdre.
Dierdre mengangkat kepala, menatapnya dengan pandangan
prihatin. "Kau sudah tidak memikirkan kutukan itu lagi, kan?"
Robin mengangkat bahu. Sesungguhnya ia sedang berpikir
kerusakan apa lagi yang bisa ditimbulkannya. "Masih sih, sedikit," ia
berbohong. "Coba kita lihat dari sisi ini," saran Dierdre. "Kalau memang
ada kutukan, tidak ada apa pun yang bisa kita lakukan. Betul?"
"Rasanya begitu."
"Betul, jadi kita lupakan saja." Dierdre melingkarkan lengan ke
pinggang Rob. "Lagi pula, tidak ada kutukan. Dan aku punya perasaan
semua akan berjalan lancar mulai sekarang."
"Aku harap kau benar."
"Pasti," kata Dierdre. "Aku yakin."
Robin mengangguk dan memandang berkeliling.
Mereka di salah satu jalan utama saat itu, tapi daerah itu sedang
sepi. Para pekerja sebagian sudah pulang, sebagian berada di Cagar
Satwa Liar untuk membantu menenangkan para singa.
Beberapa langkah di depan mereka ada sebuah bangunan kecil
tempat para pekerja menyimpan peralatan. Sebuah lampu kecil
menyala di atasnya. Di bangku di depan gudang kecil itu Robin melihat sebuah palu.
Seseorang telah meninggalkan sebuah palu besar dan bagus,
berkepala baja berkilauan.
Robin menyeringai. Palu itu sangat cocok untuk memecahkan
tengkorak kepala. Ketika ia dan Dierdre berjalan melewati gudang kecil itu, diamdiam ia mengulurkan tangannya yang bebas. Digenggamnya tangkai
palu itu dan tanpa menimbulkan bunyi diangkatnya dari bangku.
Bagus, pikirnya, memegang palu itu di samping kakinya.
Tangkainya berlapis kulit. Jadi tidak licin. Tidak akan meleset waktu
diayunkan. Ia melirik Dierdre. Gadis itu tidak tahu ia mengambil palu itu.
Sebentar lagi, Dierdre tidak akan tahu apa pun.
Apa pun juga. Beberapa langkah lagi, dan mereka sudah melewati bangunan
kecil itu. Jalan yang mereka lalui sekarang kembali gelap.
Untuk mendapatkan jarak yang baik, Robin melepas
rangkulannya dari bahu Dierdre. Ia pura-pura menguap dan
mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seakan-akan sedang
meregangkan otot-otonya. Dierdre satu langkah di depannya sekarang.
Lakukan sekarang sebelum gadis itu menoleh!
Robin berhenti. Sambil menggenggam tangkai palu erat-erat, ia
mengayunkan lengannya ke belakang.
Lalu mengayunkannya sekuat tenaga ke arah kepala Dierdre.
Bab 11 PALU itu membelah udara, menimbulkan bunyi bersiut.
Kepala Dierdre akan pecah berantakan bagaikan buah
semangka! pikir Robin. Bibirnya tersenyum seram.
Ia bersiap menahan getaran balik sewaktu palu menghantam
kepala. Dierdre berteriak. Terlambat, Dierdre! pikir Robin. Ia menunggu suara berderak
palu membelah kepala. Palu menyelesaikan lengkung gerakannya.
Dan hanya menghantam udara.
Robin terhuyung, terbawa ayunan palu.
Tanpa sadar, ternyata Dierdre mendadak lari ke depan.
"Lihat, Rob!" panggilnya. "Lihat si kecil malang ini!"
Robin cepat-cepat menyembunyikan palu di belakangnya, dan
menegakkan berdirinya. Dierdre sudah berlutut di dekat pagar Fear Park. "Oh, kasihan
sekali kau!" gumamnya.
Rob bergeleng, mencoba menjernihkan kepalanya. Dengan
siapa Dierdre bicara"
"Lihat, Rob!" Dierdre mengulangi panggilannya sambil
menunjuk. Seekor anjing kecil berbulu cokelat terjepit di sela-sela kawat
pagar, mendengking-dengking.
Anjing! pikir Robin jengkel. Semua sudah berjalan seperti
direncanakan, dan pada saat-saat terakhir seekor anjing kecil tolol
merusak rencananya! Dierdre menyelipkan tangannya di sela-sela kawat pagar dan
menepuk-nepuk kepala anjing itu. "Aku bantu kau keluar, anjing
manis," katanya.

Fear Street Jeritan Terkeras Loudest Scream Fearpark 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Anjing itu menjilati tangannya.
Dierdre tertawa. Aku bunuh mereka berdua, sekarang juga, pikir Robin. Pertama
Dierdre, lalu anjing brengsek itu. Biar dia tahu akibatnya kalau
merusak rencanaku. "Tolong bantu aku, Rob," pinta Dierdre, sambil mencoba
melepaskan anjing itu dari jepitan kawat.
"Baik." Robin mengangkat palunya lagi dan memandang cepat
berkeliling. Dan membeku. Tiga orang pekerja berjalan menuju bangunan kecil tadi.
Dierdre juga melihat mereka. "Robin, tolong tanyakan pada
mereka, barangkali mereka punya pemotong kawat atau alat lain."
"Baik." Robin tahu ia tak punya pilihan. Ia cepat-cepat berjalan
kembali ke gudang kecil dan menaruh lagi palu itu di atas bangku.
Ketika ketiga pekerja itu sampai, ia sudah bisa tersenyum dan
bercerita kepada mereka tentang anjing yang tersangkut kawat.
Tapi hatinya terasa panas membara karena frustrasi.
Sudah hampir, sudah dekat sekali.
Tapi tidak seluruhnya gagal. Ia masih punya kesempatan lain
terhadap Dierdre. Dan taman hiburan rencananya akan dibuka besok. Tempat ini
akan penuh sesak oleh pengunjung.
Robin menyeringai. Ia bisa punya banyak kesempatan melakukan hal-hal yang
menyenangkan di tengah keramaian taman hiburan.
************* Sendirian di rumah besar di Fear Street, Meghan berjalan
mondar-mandir di ruang perpustakaan. Setiap beberapa detik, ia
menoleh ke jam hias berwarna hitam di atas rak.
Hampir setengah delapan. Sudah satu jam yang lalu Robin
berangkat ke Fear Park. Meghan sudah memintanya untuk tidak pergi.
"Ini malam pembukaan, Meghan," kata Robin waktu
menciumnya sebelum pergi tadi. "Aku punya perasaan kuat bahwa
sesuatu yang tidak diharapkan bisa terjadi. Aku ingin ada di sana
untuk melindungi Bradley, anak perempuannya, dan taman hiburan itu
dari kutukan Fear. Hanya aku yang bisa."
Meghan tahu Robin benar. Tapi itu tidak menghentikan
kekhawatirannya. Robin telah melindungi keluarga Bradley begitu
lama. Berapa lama lagi ia akan sanggup melakukannya"
Robin memang orang baik. Orang paling baik yang pernah
dikenal Meghan. Tapi dia hanya sendirian dalam perjuangan ini. Dia
tidak membolehkan Meghan membantunya. Dia ingin melindungi
Meghan juga. Meghan mengusap-usapkan kedua telapak tangannya melawan
rasa dingin dan menengok ke jam lagi. Perasaan bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi semakin bertambah kuat dari detik ke detik.
Kutukan Fear begitu kuatnya! pikirnya. Robin tidak bisa
melawannya sendirian saja. Tidak mungkin dia bisa terus-terusan
melindungi keluarga Bradley dan taman hiburan sendirian saja tanpa
dibantu! Ketika jam membunyikan tanda waktu setengah jam, Meghan
berlari dari ruang perpustakaan menuju pintu samping. Rasa takut
mencekamnya ketika ia menarik pintu itu hingga terbuka. Hanya
beberapa kali ia pernah keluar dari rumah besar itu sejak Robin
membuatnya hidup abadi. Dan beberapa kali itu pun tidak pernah
sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu"
Kau harus pergi, Meghan berkata pada dirinya sendiri. Kau
harus bersama Robin malam ini!
Berusaha sekuat tenaga melawan rasa takutnya, Meghan
meninggalkan pekarangan rumah besar dan berjalan cepat sepanjang
Fear Street, menuju taman hiburan.
Orang-orang, baik yang berjalan kaki maupun yang
berkendaraan, memenuhi jalan dan trotoar. Remaja, keluarga dengan
anak-anak kecil, orang-orang tua, berjalan sambil bergandengan
tangan. Meghan memandang ke sekelilingnya. Semua sudah sangat
berubah. Mobil-mobil lebih ramping dan lebih cepat, dan begitu
banyak anak perempuan memakai jins atau gaun di atas lutut. Anak-
anak laki justru banyak yang rambutnya model buntut kuda dan...
pakai anting-anting! Dan semua orang kelihatannya pakai sepatu
karet, termasuk orang-orang tua!
Mereka semua kelihatan riang, pikir Meghan sambil bergegas
berjalan di trotoar. Sangat riang dan senang pergi ke Fear Park.
Mereka tidak tahu tentang kutukan Fear. Mereka tidak sadar bahwa
sesuatu yang sangat buruk bisa terjadi malam ini.
Antrean di loket panjang sekali, rasanya bagaikan berkilometerkilometer. Sambil mengantre, Meghan memperhatikan orang-orang di
taman hiburan, berharap bisa melihat Robin.
Tapi Robin tidak terlihat. Dan juga tidak terlihat tanda-tanda
adanya bencana, syukurlah.
Akhirnya ia sampai di depan loket dan membeli karcis masuk.
Mulutnya terasa kering dan jantungnya berdebar kencang sampaisampai terasa sakit saat ia cepat-cepat masuk melalui pintu gerbang.
Tempat ini bagus sekali! Alangkah senangnya kalau ia ke sini untuk menikmati tempat
ini seperti orang-orang lain. Badut-badut berkeliaran di jalan-jalan,
membagikan balon gratis. Aroma hot dog dan harum manis memenuhi
udara. Sebuah komidi putar dengan kuda-kuda kayu yang cantik
berputar dan berputar tanpa henti. Meghan berhenti sebentar
menonton wahana itu. Lampu-lampunya yang gemerlapan dan
musiknya yang riang membuatnya tersenyum. Sejak dulu ia memang
suka sekali komidi putar.
Tiba-tiba terdengar jeritan melengking mengatasi suara-suara
lain, dan Meghan terlonjak, jantungnya berdebar kencang.
Tapi ternyata hanya sekelompok anak-anak, berebutan naik
kereta yang akan membawa mereka masuk ke Terowongan Cinta.
Meghan cepat-cepat pergi meninggalkan komidi putar. Ia tidak
bisa membuang-buang waktu. Ia harus cepat-cepat menemukan
Robin. Sambil berjalan meliuk-liuk di tengah ramainya pengunjung,
Meghan bergerak secepat mungkin ke arah Kincir Bianglala, tempat
Robin bertugas. Kincir itu menjulang tinggi ke langit, terlihat dari
jauh, sehingga mudah mencarinya.
Mudah-mudahan Robin baik-baik saja, pikir Meghan. Mudahmudahan semuanya baik-baik saja!
Antrean panjang terlihat di depan wahana Kincir Bianglala.
Meghan berjinjit, menjulurkan leher untuk melihat bilik kecil tempat
Robin bekerja mengendalikan kincir raksasa itu.
Tapi orang lain yang ada di sana. Bukan Robin. Meghan
mengamati orang banyak, mencari-cari Robin. Dia seharusnya ada di
sini. Dia tak boleh pergi ke mana-mana.
Rasa dingin sedingin es serasa merambati tulang punggung
Meghan. Robin tak akan meninggalkan Kincir Bianglala.
Kecuali ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi!
Pasti itu sebabnya, pikir Meghan panik. Sesuatu telah terjadi.
Robin dalam kesulitan! Aku harus menemukan dia!
Tangan Meghan mulai gemetar. Ia membenamkan kedua
tangannya ke dalam saku gaunnya lalu meninggalkan Kincir
Bianglala. Tiba-tiba dilihatnya Robin berdiri di seberang jalan.
Meghan membuka mulutnya untuk memanggil.
Tapi nama Robin tidak terucap olehnya.
Yang keluar justru jeritan terkejut.
Bab 12 "HEI, kau baik-baik saja?" seorang laki-laki bertanya,
mendengar jeritan Meghan.
"Tidak apa-apa. Terlalu banyak naik komidi putar," Meghan
berbohong. Cepat-cepat ia berjalan meninggalkan orang itu. Matanya
tetap mengawasi Robin, tapi tidak mendatanginya.
Robin sedang sibuk. Sibuk mencium seorang gadis.
Sambil mengelus rambut gadis itu. Dan memeluknya rapatrapat.
Darah Meghan serasa mendidih melihat adegan romantis itu.
Tangannya mulai gemetar lagi, kali ini karena marah. Air matanya
menetes dan mengalir ke dagunya.
Robin mencium gadis itu lagi.
Meghan tidak sanggup melihatnya lebih lama.
Dengan tubuh gemetar menahan marah, ia mendesak melewati
orang banyak dan berlari pulang.
Rumah! pikirnya pahit sambil berlari. Itu bukan rumahku"itu
penjaraku! Dan Robin Fear adalah si penjaga penjara.
Hanya aku yang bisa melawan kutukan atas taman hiburan itu,
kata Robin berulang-ulang. Hanya aku yang bisa melindungi keluarga
Bradley. Pembohong! Pantas saja dia tidak ingin Meghan membantu.
Rupanya dia punya pacar baru! Tentu saja dia tidak ingin pacar
Piala Api 12 Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen Dating With Dark 4
^