Pencarian

The Second Horror 2

Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror Bagian 2


katanya. "Pernah menyelamatkan nyawaku sekali."
"Bagaimana?" Brandt ragu-ragu. Kenapa harus menceritakannya pada Jinny"
Sebenarnya ia tak ingin menceritakannya. Ia tidak suka
menceritakannya. "Sudahlah," katanya sambil tersenyum. "Kalau kuceritakan, kau
pasti mengira aku percaya takhayul."
"Ya sudah." Jinny mengangkat bahu.
Brandt mengambil buku kimia. "Sudah baca daftar
percobaannya?" tanyanya.
Jinny mengangguk. "Kau mau coba yang mana?"
"Aku belum membacanya," jawab Brandt, meneliti halaman itu.
"Aku haus," kata Jinny. "Bolehkah aku turun mengambil
minum sementara kau membacanya?"
"Ya, silakan," sahut Brandt. "Ada Coke dan minuman soda lain
di kulkas." "Kau mau apa?" tanya Jinny.
"Tidak, trims." Ia mendengar Jinny menuruni tangga.
Ia sungguh menawan, pikirnya, matanya menerawang dari
rumus-rumus di buku kimianya.
Cobalah berkonsentrasi pada bukumu barang lima menit saja, ia
menghardik dirinya. Jinny pasti jengkel kalau kau belum juga
membaca daftar percobaan yang membosankan ini!
Ia sedang membaca daftar itu ketika mendengar jeritan.
Buku itu terjatuh dari tangannya.
"Jinny?" Terdengar jerit ketakutan lagi.
Ia lari keluar kamar, melompati anak-anak tangga. Menuju
dapur. Banyak sekali darah. Banyak sekali darah segar.
BAB 13 SEPATU karet Brandt bergemeretak menginjak pecahan gelas
ketika hendak menolong Jinny.
"Hentikan!" jerit Jinny, matanya membelalak ketakutan.
"Hentikan"tolong!"
Jinny mengulurkan kedua lengannya. Tangannya bersimbah
darah. Darah itu menetes dari pergelangan tangannya, membasahi
sweatshirt dan jeans-nya.
Brandt merenggut kain serbet dari lemari dan berusaha
membalut pergelangan tangan Jinny.
"Hentikan! Hentikan!" teriaknya.
"Aku akan membalut kedua tanganmu," kata Brandt, matanya
mencari-cari serbet lain.
"Hentikan! Hentikan!" Mata Jinny mulai nanar. Entah
bagaimana, mukanya pun terciprat darah.
Ia benar-benar kaget, pikir Brandt.
Apa yang terjadi" Ia menarik tisu dan mulai membebat pergelangan tangan Jinny.
"Hentikan! Tolong"hentikan!" jeritan Jinny semakin nyaring,
amat ketakutan. Ketika Brandt sedang membebat erat-erat pergelangan tangan
Jinny, orangtuanya masuk dapur lewat pintu belakang. Sungguh
mengejutkan, Brandt sama sekali tak mendengar mobil mereka yang
memasuki halaman rumahnya.
"Oh, Tuhan!" Mrs. McCloy menjerit, menutupi wajahnya
dengan tangan. "Apa?"
Ia melemparkan dompetnya di meja dapur dan bergegas
menolong Jinny. "Brandt! Apa yang terjadi?"
"Bagaimana ia bisa terluka?" tanya ayah Brandt.
"Hentikan! Hentikan!" jerit Jinny.
Mrs. McCloy menarik lebih banyak lagi tisu gulung dan
membalut lengan kiri Jinny erat-erat.
"Aku akan mengambil perban." Mr. McCloy bergegas ke lemari
obat. "A"Aku tak tahu kenapa bisa begini," ujar Brandt bergetar. Ia
melihat dirinya, kemeja dan jeans-nya kena percikan darah.
"Gelas itu"melompat sendiri dari tanganku!" jerit Jinny,
matanya mulai terlihat normal. "Ia pecah di udara. A"A"aku?"
Mrs. McCloy merangkul bahu Jinny. "Kurasa perdarahannya
sudah berhenti." Ia meletakkan tisu gulung dan memeriksa
pergelangan tangan Jinny. "Lukanya tidak terlalu dalam. Kau mungkin
tidak perlu dijahit."
"Tapi gelas itu terbang sendiri!" teriak Jinny, seolah tak
mendengar kata-kata ibu Brandt. "Seolah ada yang menariknya. Lalu
pecah. Tampa sebab apa pun!"
Brandt menahan napas. Tiba-tiba ia teringat Ezra. Tombak itu
seperti dicabut dari tangannya. Kemudian menghunjam ke tubuh
kucingnya. Dan sekarang, gelas itu...
"Kami akan membawamu ke rumah sakit," ujar Mrs. McCloy,
tangannya masih memeluk Jinny. "Perdarahan itu sudah hampir
berhenti. Tapi dokter harus memeriksa lukamu."
"Gelas itu pecah," ulang Jinny, masih kebingungan. "Pecah di
udara." ********** Dokter di Rumah Sakit Shadyside membalut pergelangan
tangan Jinny. Lukanya tak perlu dijahit. Jinny sudah merasa lebih baik
ketika diantar pulang oleh Brandt dan orangtuanya.
Brandt membimbingnya ke pintu rumahnya. "Belajar bersama
yang mengesankan, ya," gumam Jinny, melihat perbannya.
"Sori," sahut Brandt perlahan.
"Lain kali, belajar di rumahku saja, ya," kata Jinny. Lalu ia
bergegas masuk. Orangtua Brandt menunggu di mobil. Tapi Brandt ingin pulang
jalan kaki. "Aku benar-benar butuh udara segar."
"Tapi pakaianmu ternoda darah," protes Mrs. McCloy.
"Cuma sepuluh menit dari sini kok," tegas Brandt. "Aku akan
ganti pakaian begitu tiba di rumah."
Ia melihat mobil orangtuanya mundur meninggalkan rumah
Jinny. Lalu, dengan tangan di saku jeans-nya, ia mulai berjalan pulang
pelan-pelan. Sore itu awan kelabu menggantung. Cuaca dingin dan berkabut.
Ia sudah berbelok ke Fear Street, ketika sudut matanya
menangkap sesuatu yang bergerak di sepanjang pagar tanaman. Ia
berbalik. Tak ada orang. Brandt memperlambat langkahnya. Lampu jalan sudah
menyala, menimbulkan bayangan di jalan.
Brandt yakin ada yang mengikutinya. Ia berhenti dan
mendengarkan. Sunyi. Ia menoleh. Ada bayangan orang yang mendekatinya.
Brandt gemetar. "Tidak!" teriaknya. "Biarkan aku sendirian!" Ia
mulai berlari. Bayangan itu melayang mendekat, gerakannya pelan, tanpa
tenaga, seolah dibawa angin.
Tenggorokan Brandt tercekat. "Pergi!" ia berusaha berteriak.
Tapi bayangan itu, tampak lebih gelap dari semua bayangan,
mendekatinya. Lebih dekat lagi. Brandt memaksa kakinya berlari lebih cepat. Rumahnya sudah
tampak. ebukulawas.blogspot.com
Ia merasakan tiupan angin dingin di tengkuk. Sentuhan dingin
bayangan asing itu. "Tidak!" jerit Brandt melengking. Dengan mengerahkan
segenap tenaga, ia berlari.
Tapi angin dingin itu masih menyapu punggungnya.
Sepatu karetnya bergema di trotoar. Ia menikung tajam.
Memasuki halaman rumahnya yang penuh rerumputan tinggi.
Aku pasti aman kalau berada di dalam rumah, pikirnya.
Aman dari bayangan asing yang dingin itu.
Aman... Ia tersandung akar pohon. Terjerembap ke tanah.
Jatuh tengkurap di rumput yang tinggi dan lembap.
Menunggu dengan takut saat bayangan itu menyapunya habis.
BAB 14 "HEI"Brandt?"
Brandt menengadah ketika mendengar seseorang
memanggilnya. "Brandt"kau baik-baik saja?"
Abbie. Brandt berbalik, matanya melihat rerumputan.
Bayangan itu sudah menghilang.
Siapa dia" Apakah dia" Ia tak sempat memikirkannya. Abbie
sedang menghampirinya, melintasi rumput tinggi, ekspresi wajahnya
cemas. Merasa malu, Brandt langsung berdiri dan membersihkan jeansnya. "Aku baik-baik saja kok," katanya meyakinkan Abbie. "Aku lari
dan..." Suaranya tercekat.
"Dan kau jatuh terjerembap?" Abbie meledak tertawa.
"Nggak lucu," gumam Brandt.
Abbie menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Sori. Aku
tadi melihatmu dan?"
"Mau mampir untuk ngobrol sebentar?" ajak Brandt.
Abbie melirik rumah Brandt yang gelap dengan takut-takut.
"Jujur saja, rumahmu agak membuatku takut."
"Kalau begitu kita duduk di beranda saja," saran Brandt.
Abbie mengangguk, lalu mengikutinya. Tiba-tiba ia
menghentikan langkah, ekspresi wajahnya berubah. "Apa itu?" ia
menunjuk bercak darah yang sudah menghitam di sweater dan jeans
Brandt. "Lumpur?"
"Yeah. Kurasa," sahut Brandt. Ia tak ingin menceritakan yang
sebenarnya. "Aku betul-betul kikuk hari ini."
"Aku juga pernah begitu," sahut Abbie, memperhatikan Brandt
dengan teliti. Mereka duduk di undakan beranda. "Abbie," Brandt tampak
merenung, "apa lagi yang kau tahu tentang rumah ini" Maksudku, apa
lagi yang pernah terjadi sebelum aku pindah kemari?"
"Hei, aku bukan tukang intip," tegas Abbie. "Aku tidak tahu
banyak." "Ayolah," bujuk Brandt. "Kau pasti mendengar sesuatu"cerita
seram lainnya. Atau siapa tahu kau malah pernah menyaksikannya
sendiri." Abbie menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Bagaimana dengan cewek yang mati itu" Tahukah kau
bagaimana kejadiannya?"
Abbie mengerutkan hidung. "Kenapa kau menanyakan itu
padaku?" Brandt menyadari pertanyaannya telah membuat Abbie takut"
dan ia memang tak bisa membantu. Tiba-tiba ia ingin berada di suatu
tempat yang aman dan hangat. Dan ia tak ingin sendirian.
"Abbie," katanya, berusaha bersikap biasa. "Kau sibuk malam
ini" Nonton yuk."
"Kuharap aku bisa," sahut Abbie. "Tapi aku tidak bisa keluar
malam ini. Bagaimana kalau besok siang?"
Brandt hendak mengiyakan, tapi segera menahan diri. Ia ingat
sudah punya janji dengan Meg.
"Besok tidak bisa. Kau benar-benar nggak bisa keluar malam
ini?" desaknya. "Kita nonton film komedi yang bagus dan lucu di
mana tak ada orang yang mati atau dipotong-potong."
Abbie tertawa. "Sori," katanya. "Kapan-kapan deh."
"Uh, susah sekali ya, mau jalan bareng kau?" keluh Brandt.
"Hei, nggak kok," Abbie meyakinkan. "Kapan-kapan pasti bisa.
Kita kan bertetangga." Ia berdiri. "Sudah mulai dingin. Dan gelap.
Lebih baik aku pulang. Sampai jumpa."
"Ya, sampai jumpa."
Begitu Brandt membuka pintu, ayahnya memanggilnya dari
dapur, "Kaukah itu, Brandt?"
"Ya," sahut Brandt.
"Kemarilah. Ibumu dan aku ingin berbicara denganmu."
Brandt masuk ke dapur, berjalan perlahan-lahan. Rasanya ia tak
terlalu ingin mendengar apa yang akan dibicarakan ayahnya. Ia sudah
tahu dari nada bicara ayahnya yang kurang senang.
Mrs. McCloy berdiri di depan kompor, mengaduk sup di panci
besar. Mr. McCloy duduk di meja dapur memotong wortel untuk
salad. Bercak darah itu sudah dibersihkan, Brandt memperhatikan
dengan senang. Ketika Brandt masuk, Mr. McCloy segera meletakkan pisau dan
memandangnya. "Kelihatannya Jinny gadis yang baik," katanya. "Tapi
aku dan ibumu agak terkejut ketika melihatnya di sini."
"Kami sedang mempersiapkan praktikum kimia. Kami satu
kelompok," sahut Brandt pendek.
"Kenapa kau tak memberitahu kami bahwa kau
mengundangnya kemari, Brandt?" tanya ibunya. "Apakah kau sengaja
menunggu kami pergi, lalu mengundangnya kemari?"
"Tidak," Brandt menyahut cepat. "Tak terpikir olehku kenapa
harus melaporkan semua hal kecil pada Mom dan Dad," tutur Brandt.
"Aku boleh mengundang temanku kemari, kan?"
Ibunya cemberut, tersinggung. Lalu kembali menghadap
kompor. "Tentu saja boleh," ujar Mr. McCloy. Ia mengubah nada
bicaranya, berusaha terdengar ramah, tidak gusar. "Kami cuma"well,
kami bertemu Abbie kemarin, lalu hari ini Jinny. Kami cuma tidak
ingin kau bertindak berlebihan."
"Berlebihan apa?" sergah Brandt, meski ia tahu betul maksud
mereka. Ia pernah mendengar yang seperti ini.
"Kau tahu," sahut Mrs. McCloy, "terlalu banyak cewek.
Mungkin berlebihan untukmu. Lihat saja kejadian hari ini. Luka Jinny
bisa jadi serius." "Tapi itu kan bukan salahku!" protes Brandt. "Itu kecelakaan."
"Ya, kami setuju, Brandt," ayahnya sependapat. "Tapi apa yang
terjadi kalau kami tidak cepat pulang" Bisa menyusahkanmu?"
"Sudah, sudah. Aku tak mau lagi berdebat," gumam Brandt.
"Panggil aku kalau makan malam sudah siap."
Ia keluar dapur sambil mengentakkan kaki.
********** Kriut, kriut, kriut. Brandt berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit-langit
kamarnya yang gelap. Kriut, kriut, kriut. Terdengar suara langkah kaki. Di loteng.
Apa lagi ini" Siapa yang di atas" Siapa yang membuat suara
misterius itu" Kali ini Brandt berusaha mengabaikannya. Ia mengambil napas
dalam-dalam dan memejamkan mata.


Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kriut, kriut, kriut. Matanya terbuka. Tak berhasil. Ia tak mungkin bisa tidur.
Sepertinya ada yang mondar-mandir di atas. Mondar-mandir tepat di
atas tempat tidurnya. Sekali lagi, pikirnya. Aku akan menyelinap ke atas sepelan
mungkin. Mungkin kali ini aku bisa memergoki siapa yang di atas.
Ia turun dari tempat tidur dan menaiki tangga loteng.
Sunyi. Ia menyalakan lampu. Tak ada orang.
Tapi, di tengah-tengah lantai, tergeletak buku harian.
Ada yang mengubah posisinya.
Brandt mendekatinya. Buku kecil itu terbuka.
Dengan bingung, Brandt membungkuk dan mengambil buku
harian itu. "Hah?" Ia memekik pelan ketika melihat kalimat yang baru
ditulis. Di halaman baru. Ada yang menulis di halaman baru.
Tangannya gemetar dan matanya membelalak ketika
membacanya, tulisan rapi dengan tinta biru.
Aku telah membuat Jinny terluka.
Abbie giliran berikutnya.
BAB 15 BRANDT menjatuhkan buku harian itu seolah terbakar api.
Aku tak percaya! pikirnya.
Badannya gemetar. Siapa yang menulis di halaman baru ini" Siapa yang telah
menuliskannya" Ia mengambil buku harian itu dan membalik-balik halaman
sebelumnya. Semuanya ditulis dengan tinta biru.
Tulisan tangan yang sama.
Tulisan tangan Cally Frasier!
Tapi bagaimana mungkin Cally Frasier menulis di buku
hariannya" Ia sudah mati!
Dengan gemetaran, Brandt membaca lagi kalimat yang baru itu.
Aku telah membuat Jinny terluka.
Abbie giliran berikutnya.
Kalimat yang dingin, bengis.
Apakah ini semacam lelucon" Brandt berpikir. Apakah ada
orang yang berusaha menakut-nakutinya"
Tidak. Tak ada orang yang pernah ke loteng ini. Tak ada.
Jadi apa maksudnya" Benarkah ini rumah setan" Hantu Cally Frasier"
Apakah hantu yang menulis kalimat seram ini"
Apakah hantu yang telah membunuh Ezra dan melukai Jinny"
Dan apakah hantu itu juga ingin mencelakai Abbie"
Brandt menutup buku harian itu dan melemparkannya ke
dinding. Tiba-tiba ia teringat bayangan yang mengejarnya di halaman
depan rumahnya. Mungkin itulah hantunya!
Hantu itu ada di luar. Hantu itu mengejarku ke rumah. Jadi ada
hantu di luar"dan di dalam rumah.
Sinting, pikirnya. Benar-benar sinting.
Ia berdiri. Tapi kalau ini sungguhan, aku sanggup
menghentikannya. Tapi, apa pun dia, siapa pun dia"aku tak boleh
membiarkan Abbie terluka.
"Aku tahu ada roh jahat di rumah ini," gumamnya, bertanyatanya apakah hantu itu bisa mendengarnya. "Tapi kalau ada yang bisa
mengalahkannya, akulah orangnya."
*********** Brandt bangun lebih awal dan bergegas menelepon Abbie.
Ia memegang gagang telepon"dan menyadari bahwa ia tak
punya nomor teleponnya. Atau nama belakangnya.
Pernahkah Abbie memberitahu nama belakangnya" ia berusaha
mengingat-ingat. Ia meletakkan telepon dan berjalan ke pintu depan. Sambil
menembus pagi yang berangin kencang menjanjikan hujan, ia menuju
jalan di depan rumahnya. Yang mana rumah Abbie" pikirnya, menengok ke kiri dan ke
kanan. Bukankah Abbie pernah bilang ia tinggal di seberang jalan"
Semua rumah itu kelihatan gelap. Sekarang baru jam delapan
lewat tapi tak ada satu pun lampu yang menyala.
Aku harus memperingatkan Abbie, tekad Brandt. Ia mungkin
menganggapku sinting. Tapi aku harus memperingatkannya.
Ketika berbalik dan berjalan susah payah kembali ke rumahnya,
ia bersumpah akan memperingatkan Abbie begitu ketemu dengannya.
Jika perlu, aku akan mencarinya dari rumah ke rumah, batinnya.
Aku tak akan membiarkan Abbie celaka. Tak akan.
********** "Benar-benar cerita paling aneh yang pernah kudengar," ujar
Meg. Brandt baru menceritakan tentang buku harian itu. Ia harus
menceritakannya pada seseorang. Dan Meg terbukti menjadi
pendengar yang baik. Meg duduk bersimpuh di sebuah sofa pendek. Brandt duduk
bersila di lantai, punggungnya bersandar ke sofa.
Brandt berkali-kali menguap. Ia mengantuk sekali karena tadi
malam nyaris tidak tidur. Tapi ia tak ingin membatalkan janji
kencannya dengan Meg. Meg menyewa film. Ia menekan tombol Pause dan baru berdiri
untuk mengambil popcorn lagi ketika dilihatnya betapa lelahnya
Brandt. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Kemudian Brandt menceritakan tentang langkah kaki di
loteng"dan buku harian Cally Frasier.
"Ada orang yang membuat lelucon kejam," kata Meg. "Apa
lagi?" "Tapi siapa" Bagaimana caranya?" tanya Brandt lantang. "Dan
mengapa" Rasanya tak masuk akal."
Meg menatapnya, berpikir keras. "Kurasa Jon," katanya
kemudian. Brandt tertawa. "Kau selalu menuduh Jon."
Meg tersinggung. "Aku serius." Ia menepiskan rambutnya dari
dahinya. "Kau belum kenal Jon. Ia cemburu padamu, Brandt. Dia?"
"Jon mungkin memang curang di lapangan basket. Tapi ia tak
mungkin menyelinap ke lotengku dan meniru tulisan tangan Cally
Frasier," Brandt memprotes keras.
Meg duduk kembali di kursinya, keningnya berkerut.
Pintu lemari tiba-tiba terbuka dengan suara berderit.
Brandt terperangah, memandang pintu dengan ketakutan.
"Itu Lulu," kata Meg. Seekor kucing berbulu putih menyelinap
keluar dari lemari dan melingkar di pangkuan Meg. "Whoa. Hari ini
kau gugup sekali." Pelan-pelan Brandt mengembuskan napas panjang. Aku
mengira akan melihat hantu yang akan menyergapku ke mana pun aku
pergi, pikirnya. Aku tak boleh lengah sedetik pun.
Ia tak ingin bercerita tentang asap putih bagai awan yang
mencekiknya, yang keluar dari lemarinya. Atau bayangan yang
mengejarnya ketika pulang ke rumah.
Ia akan berpikir aku ini gila! pikirnya.
Kemudian, melintaslah sebuah gagasan" Mungkin aku
memang gila. Meg menurunkan kucing itu, menyeberangi ruangan, duduk di
lantai di sebelah Brandt. "Tenanglah," katanya pelan. "Cobalah
melupakannya sebentar."
Meg condong ke depan dan menciumnya.
Brandt merangkul dan menciumnya. Bibir Meg terasa lembut
dan hangat. Brandt ingin dicium. Ia perlu dicium. Ia menciumnya
dengan bergairah. "Hei!" Ada yang menusuk kakinya. Sesuatu yang tajam.
Brandt menjerit dan menjauh dari Meg. "Apa ini?"
Meg meraih ke belakangnya dan menarik Lulu ke arahnya.
"Kucing tolol," katanya. "Dia mencakarmu, ya" Sori."
Brandt tersenyum tegang. "Oh." Ia kembali merengkuh Meg
dan menciumnya lagi. Bel pintu berbunyi. Meg mengeluh. "Sebentar, ya." Ia berdiri dan melewati kamar
tamu menuju pintu. Brandt bisa melihat pintu dari tempatnya duduk.
"Hei, Megster." Brandt mengenali suara Jinny.
Uh-oh, pikir Brandt, merapikan rambutnya dengan jari. Ia
pindah duduk ke sofa, mengatur duduknya agar terlihat"wajar.
Jinny, memakai jeans hijau tua dan sweater kuning pucat,
masuk ke rumah. Meg membuntutinya. "Aku mampir sebentar
untuk?" Ketika melihat Brandt di sofa, mulutnya menganga terkejut.
Wajahnya memerah, tapi ia segera bersikap biasa. "Oh, hai, Brandt.
Apa yang kaukerjakan di sini?"
"Kami habis belajar," Meg menyahut.
"Tanpa buku?" suara Jinny tinggi melengking. Matanya melihat
TV lalu berkata, "Sambil nonton film?"
"Mau ikutan?" tanya Brandt riang. Ia menepuk sofa di
sebelahnya. "Uh"Meg, boleh aku bicara sebentar di tempat lain?" pinta
Jinny. Tapi permintaannya itu lebih terdengar seperti perintah.
Meg mengikuti Jinny ke kamar tamu. Brandt mendengar
mereka saling berbisik tajam dan marah.
"Hei, jangan berantem gara-gara aku!" seru Brandt riang.
"Masih banyak cowok lain seperti aku!"
Mereka tak menggubrisnya dan tetap berbisik-bisik tajam.
Beberapa saat kemudian ia mendengar pintu depan dibanting.
Meg kembali ke ruang TV, pipinya memerah. "Apa sih masalah
Jinny?" ujarnya. "Ia kan sudah punya pacar?"
*********** Tak lama kemudian Brandt pulang. Acara siang itu menjadi
kacau gara-gara kedatangan Jinny. Brandt senang dengan gagasan ada
dua cewek yang memperebutkannya. Tapi ia terlalu capek dan
tertekan untuk meladeni mereka.
Orangtuanya sedang pergi ketika ia tiba di rumah. Rumahnya
tampak gelap dan sunyi, misterius dan menyimpan banyak rahasia.
Brandt ragu-ragu sebentar, merasa letih dan terkuras"dan
takut. Setelah mengambil napas dalam-dalam, ia menaiki tangga ke
loteng. Ia harus melihat buku harian itu.
Apakah masih tetap di tempatnya" Apakah ada tulisan baru
lagi" Ia memasuki loteng. Seberkas cahaya suram menerobos dari
jendela loteng, memperlihatkan debu di sekitar buku harian itu.
Brandt bersimpuh. Dengan tangan gemetar ia membalik
sampulnya. Kemudian ia membalik halaman terakhir.
Apakah ada tulisan baru"
Ia memegang buku harian yang terbuka itu, membaca halaman
terakhirnya"dan terkesiap ngeri.
BAB 16 Aku telah membuat Jinny terluka.
Abbie giliran berikutnya.
Brandt, kau tidak bisa menolong Abbie.
"TIDAK!" teriak Brandt lantang. Ia menutup buku harian itu
kuat-kuat, memegangnya erat-erat, meremasnya hingga tangannya
sakit. "Cally Frasier"kau dengar aku?" panggilnya.
Sunyi. "Cally, kaukah yang menulis ancaman di dalam buku harian
ini?" tanya Brandt dengan suara bergetar.
Sunyi. "Aku akan mengambil buku harianmu!" teriaknya. "Akan
kuambil dan kusembunyikan, Cally! Kau tak akan bisa mengancam
lagi!" Ia bergegas ke tangga, buku harian masih dipegangnya erat-erat.
Apakah aku sudah benar-benar gila" Apakah aku yang
berteriak-teriak pada hantu di atas tadi"
Ia susah payah menuruni tangga.
Ke kamarnya. Kalau buku harian itu tak ada, apakah rencana jahat itu akan
tetap terjadi" ia bertanya-tanya.
Dapatkah Abbie kuselamatkan dengan menyembunyikan buku
harian ini" Ia melihat sekeliling kamarnya, mati-matian mencari tempat
untuk menyembunyikannya. Lemari" Jangan. Ia teringat cairan hijau, cahaya putih yang
menyerangnya dari dalam lemari.
Buku harian itu tidak akan aman di situ.
Ia menarik laci terbawah lemarinya dan meletakkan buku harian
itu di bawah tumpukan T-shirt. Aman.
Ketika menutup laci, Brandt mendengar suara.
"Mom" Dad?" serunya. "Kalian sudah pulang?"
Tak ada jawaban. Ia bergegas ke jendela dan melihat jalur masuk mobil. Tidak
ada tanda-tanda orangtuanya sudah pulang.
Ia mendengar suara lagi. Samar-samar. Jauh sekali.
"Cally" Kaukah itu" Apakah kau datang mencari buku
harianmu?" teriaknya, matanya memeriksa kamarnya.
Suara samar. Di luar ruangan.
Ia keluar dan mendengarkan.
Tangisan" Ada orang menangis"
"Halo?" panggilnya. "Ada orang di sini?"
Tangisan itu terdengar lebih jelas. Dengkingan anjing" Suara
anak kecil" Tapi di mana" Dari mana asal suara itu"
Dicekam ketakutan, Brandt memaksa kakinya melintasi lorong
yang remang-remang. Suara itu seperti berasal dari salah satu kamar
yang kosong. Ia berhenti di pintu dan mendengarkan. "Ada orang di
dalam" Dapatkah kau mendengar aku?"
Ketika memasuki kamar kosong itu, ia mendengar tangis
ketakutan anak laki-laki. "Mommy, ini aku! Kaukah itu, Mommy?"
"S"Siapa kau?" Brandt gemetar. "Di mana kau?"
"Tolong aku, Mommy! Tolong! Kemarilah, Mommy. Di sini
gelap. Tolong aku! Ini aku" James!"
BAB 17 SUARA tangis anak lelaki kecil yang lemah dan ketakutan itu
membuat Brandt bergidik. "Mommy! Mommy! Di mana kau?" jerit suara itu. "Cepat
tolong aku, Mommy! Please!"
Brandt menyalakan lampu. Satu-satunya lampu menyala.
Pandangannya menyapu kamar dengan panik. Tak ada orang di
situ. "Mommy!" suara itu memelas. "Tolong aku! Di sini gelap


Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali!" Tidak, pikir Brandt. Tidak mungkin.
Suara itu seperti terdengar dari dalam tembok.
Brandt terpaku, tak sanggup berbuat apa-apa. Dengan menarik
napas dalam-dalam, ia memaksa diri mendekati tembok dan
menekankan telapak tangannya pada tembok.
Adakah pintu rahasia" Semacam jalan rahasia" Tangannya
meraba tembok, mendorongnya kuat-kuat. Tapi tembok itu amat
kokoh"diplester. "Bawa aku pulang, Mommy! Ini aku, James! Mommy, di mana
kau?" James. James. Kenapa nama itu seperti tak asing" batin Brandt.
Buku harian itu, ia teringat. Cally menulis tentang adiknya, adik
laki-laki bernama James. Ia menulis cerita yang mengerikan. Tentang
James dan anjingnya yang menghilang"dan tidak berhasil ditemukan.
Tapi keluarga Cally mendengar James terus memanggilmanggil mereka. Memanggil dari dalam tembok.
Mungkinkah anak laki-laki kecil itu masih hidup" Brandt
berpikir, menatap tembok yang berplester putih.
Tidak. Tidak mungkin. Rumah ini kosong lebih dari setahun.
"Mommy, aku takut! Di sini gelap sekali! Aku kesepian!
Keluarkan aku, Mommy!"
"Aku akan menolongmu, James!" teriak Brandt. "Jangan takut.
Aku akan menolongmu!"
Tapi bagaimana caranya"
Ia harus membongkar tembok itu.
"Please, jangan tinggalkan aku, Mommy! Jangan tinggalkan aku
di sini!" "Tunggu sebentar, James," seru Brandt. "Aku akan segera
kembali." Ia bergegas menuruni tangga dan dengan panik mencari karton
berisi perkakas di kamar makan. Ia tahu ayahnya telah mengepak
peralatannya di salah satu karton itu.
Tak lama, ia kembali ke kamar itu sambil membawa godam
kayu yang besar. "James?" panggil Brandt. "Kau masih di situ?"
"Mommy! Keluarkan aku!" jerit anak laki-laki itu.
"Baik," ujar Brandt dengan suara menenangkan. "Di mana pun
kau, James, menjauhlah dari tembok!"
Brandt menunggu sebentar. Kemudian memukulkan godam
yang berat itu ke tembok. Godam itu melubangi plester tembok.
Brandt mengintip ke lubang itu.
Tak ada apa-apa. Tak ada anak laki-laki.
"James?" panggil Brandt.
Sunyi. Kemudian, "Mommy! Aku ingin pulang! Please, Mommy!"
"Sabar, James!" Brandt terengah-engah. Ia mengambil godam
yang besar itu"dan memukulkannya lagi. Lagi. Lagi.
Plester itu retak. Lubangnya membesar.
Brandt menahan napas. Bau busuk menyergap hidungnya. Ia
langsung tersadar"ini bau yang sama dengan yang di kamarnya
beberapa hari lalu. Bau bangkai, daging yang membusuk.
Sekali lagi pukulan godam, dan runtuhlah temboknya.
"Ohhh," Brandt bergumam jijik. Godam terlepas dari tangannya
dan jatuh mengenai kakinya.
Ia melihat pemandangan paling mengerikan yang pernah
dilihatnya" BAB 18 KETIKA Brandt terbelalak ngeri, kerangka anak itu terjatuh
dari dalam tembok. Tangannya yang tinggal tulang menggendong
kerangka anjing. Sambil menahan napas karena bau busuk itu, Brandt memaksa
diri untuk melihat. Tubuh mungil itu telah membusuk.
Jeans dan kemeja yang telah robek-robek masih melekat di
kerangka anak laki-laki itu.
Tulang-tulang itu jatuh teronggok di lantai.
Brandt menjauh, berjuang mengatasi rasa mual.
Kamar itu sunyi sekarang. Suara tangis yang memelas itu sudah
berhenti. Brandt memandang tengkorak kecil dengan beberapa helai
rambut merah yang masih menempel. Anak laki-laki ini yang
memanggilnya, pikir Brandt. Itulah suara yang ia dengar.
Tapi bagaimana" Ucapan Abbie terngiang di kepalanya. Ini rumah setan.
Ini rumah setan. Mungkin, pikir Brandt. Atau rumah ini dihantui"oleh hantu James.
************* Orangtua Brandt pulang ke rumah satu jam setelah Brandt
menemukan kerangka itu. Mrs. McCloy tersentak kaget ketika melihatnya. Tapi ayah
Brandt melihat kedua kerangka itu dengan penuh minat. "Ini bisa
membuktikan keanehan-keanehan yang terjadi di rumah ini," katanya
pada Brandt. "Suara-suara yang kaudengar, perasaanmu bahwa ada
orang di kamarmu?" Ia berhenti.
"Ini bukan kasus klasik," lanjutnya. "Tapi kupikir kita telah
menemukan poltergeist."
"Tulang-tulang ini mau kita apakan?" Mrs. McCloy mengeluh.
"Bagaimana kau bisa membicarakan poltergeist ketika ada kerangka
anak lelaki di lantai rumah kita?"
"Poltergeist adalah hantu anak-anak," lanjut Mr. McCloy,
menatap tumpukan tulang. "Mereka nakal, tapi jarang mencelakai
orang. Tak ada yang dicelakai di rumah ini, kan?"
"Bagaimana dengan Jinny?" tanya Brandt. "Dan Ezra yang
malang?" "Hmmmm." Mr. McCloy mengusap dagunya, berpikir.
"Nakal tidak mencerminkan apa yang kurasakan di rumah ini,"
ujar Brandt marah. "Lebih seperti"roh jahat."
"Karena ia membuatmu takut," Mr. McCloy menegaskan.
"Karena kau tak tahu penyebabnya, semua jadi misterius."
Ruangan itu sunyi ketika ketiganya menatap kerangka James
dan anjingnya. Anak malang, pikir Brandt. Suaranya amat ketakutan, kesepian.
Bagaimana ia bisa terkurung di dalam tembok"
Kenapa ia bisa memanggil mereka setelah setahun lebih
meninggal" Benak Brandt penuh dengan berbagai pertanyaan. Banyak
sekali. Mr. McCloy memecah kesunyian.
"Sebaiknya kita panggil polisi. Mereka pasti tahu apa yang
harus dilakukan dengan kerangka ini. Mereka akan menghubungi
keluarganya." Ketika menuju ke bawah, Mr. McCloy merangkul Brandt.
"Barangkali rumah ini akan tenang sekarang," hiburnya. "Anak lakilaki itu akan dikubur dan beristirahat dengan tenang."
Brandt mendesah. "Semoga, Dad. Semoga begitu."
*********** James yang malang, pikir hantu Cally sewaktu melihat wajah
muram polisi yang membawa pergi tulang-belulang adiknya.
Adikku James yang malang.
Kau anak kecil yang lucu. Sangat manis. Sangat tampan.
Lihatlah dirimu sekarang.
"Oh!" salah satu polisi itu memekik kaget ketika terasa licin dan
tengkorak anjing itu terjatuh ke lantai: Menggelinding dan berhenti di
dekat kaki Cally. Cally melayang mundur. Selamat jalan, James, pikirnya. Selamat jalan. Semoga kau
beristirahat lebih tenang daripada aku.
Ia sadar ia tak merasakan kesedihan. Amarahnya begitu kuat
hingga menutupi perasaan lembutnya.
Sudah terlambat, James, pikirnya saat dilanda kegetiran.
Sudah terlambat untukmu. Juga untukku.
Ia melayang mendekati Brandt, yang berdiri mengawasi polisi
yang tengah melakukan pekerjaan tidak menyenangkan itu.
Jangan terlalu senang, Brandt, Cally memberitahu dalam diam.
Karena masalahmu belum tuntas.
Sudah terlambat buat James. Juga buatku.
Dan"akan terlambat juga buatmu.
BAB 19 SABTU pagi itu Brandt keluar untuk mengambil koran. Ia
membuka pintu dan menemukan Abbie berdiri di beranda, siap
membunyikan bel. "Hai," sapanya riang.
"Hai"Abbie!" seru Brandt senang. "Kau cantik sekali!"
Ia tampak menarik dengan jeans belelnya, kemeja putih, dan
rompi biru pucat. Abbie tersenyum. "Sibuk?"
Brandt membungkuk dan mengambil koran. "Tidak. Masuk
yuk?" Tiba-tiba ia ingat peringatan di dalam buku harian itu: Abbie
giliran berikutnya. Haruskah ia memperingatkannya"
Tidak, batinnya. Ancaman itu sudah tidak berlaku. Kerangka
anak laki-laki kecil itu sudah dipindahkan hampir seminggu yang lalu.
Dan sejak itu tak ada kejadian aneh atau menakutkan di rumah ini.
Tak ada alasan untuk membuat Abbie takut, pikir Brandt. Tak
perlu membuatnya berpikir aku ini paranoid gila.
Abbie masuk. Brandt ke dapur untuk memberikan koran pada
ibunya. Ibunya sedang mencuci piring-piring bekas sarapan.
Ia menemukan Abbie di ruang tamu, tengah memandangi
senjata-senjata ayahnya yang digantung di tembok.
"Apa ini?" tanyanya. "Sangat aneh dan primitif."
"Ini koleksi senjata dan baju baja milik ayahku," jelas Brandt.
"Ia tergila-gila pada barang-barang dan senjata-senjata peninggalan
purbakala." "Bagaimana ia memperolehnya?" tanya Abbie. Ia memandangi
anak-anak panah yang tipis dan berbulu itu dengan kagum. "Beli, ya?"
"Tidak. Kami pernah tinggal di pulau terpencil di Pasifik
selama dua tahun," tutur Brandt. "Penduduk di sana memiliki bendabenda aneh. Mereka punya berbagai adat istiadat dan upacara."
"Seperti apa?" tanya Abbie.
Brandt berhenti, mengingat-ingat. "Well, mereka menggunakan
berbagai macam daun, mencampurnya menjadi jamu pemikat dan
semacamnya. Mereka percaya pada roh dan hantu."
"Wow," ujar Abbie. "Pasti asyik tinggal di sana."
"Menarik," Brandt mengakui. "Tapi juga sulit. Cara berpikir
mereka berbeda dengan kita. Misalnya, mereka percaya bahwa
binatang dan manusia itu punya dua roh, bukan satu."
"Maksudmu, mereka berkepribadian ganda?"
"Bukan," jelas Brandt. "Satu roh adalah kepribadianmu. Itu
yang membuatmu berbeda dengan orang lain. Roh yang satunya
merupakan semacam kekuatan yang membuatmu hidup. Karena itu
mereka mengurbankan binatang dan meminum darahnya."
"Aku tak mengerti," kata Abbie.
"Mereka pikir darah itu mengandung kekuatan yang
menghidupkan binatang"kalau mereka meminumnya, maka daya
hidup mereka bertambah."
"Lalu roh yang satunya"roh kepribadian?" tanya Abbie.
"Roh itu akan menjadi hantu. Roh kepribadianmu dapat
menghantui orang kalau mau."
Abbie memandang tembok, berpikir. "Kau pernah melihat hantu
di sana?" tanyanya. "Tidak," sahut Brandt. "Tidak pernah."
Abbie mendekat ke tembok, mengamati tombak. Brandt
mendengar telepon di dapur berdering. Sebentar kemudian ibunya
memanggilnya, "Brandt! Telepon!"
"Sebentar," katanya pada Abbie. Ia bergegas ke dapur. Ibunya
memberikan gagang telepon lalu menjauh, mengelap meja.
"Halo?" "Hai, Brandt. Ini Jinny."
Brandt tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Jinny"
hai!" serunya. "Hampir seminggu ini aku tak mengobrol denganmu.
Kupikir?" Brandt tak meneruskan kalimatnya. Dari ruang tamu terdengar
suara berkelontang keras.
Ia menjatuhkan gagang telepon ketika mendengar jerit
ketakutan. Jeritan Abbie. BAB 20 JERITAN Abbie terdengar nyaring melengking.
Brandt berteriak terkejut dan lari keluar dapur.
"Abbie?" Ia menemukan Abbie tergeletak di lantai, tertindih
baju baja yang berat. "Tolong!" teriak Abbie. "Aku tak bisa bergerak!"
"Oh, Tuhan!" jerit Mrs. McCloy di sebelah Brandt. "Kok bisa
begini?" Brandt berusaha memindahkan baju baja yang menindih Abbie.
"T"Tak bisa dipindahkan!" gumamnya.
Abbie mengerang dan berusaha menggerakkan lengannya.
"Cepat," pintanya. "Aku tak bisa bernapas. Berat sekali."
Brandt berusaha mengangkat baju baja itu. Ibunya melangkah
ke sisinya dan membungkuk untuk menolongnya. Mereka berhasil
mengangkatnya sedikit, sehingga Abbie bisa merangkak keluar dari
bawahnya. "Kau tak apa-apa?" tanya Brandt. "Tulangmu tak ada yang
patah?" Abbie duduk di lantai, ekspresinya bingung. Ia meraba
tangannya. "Ia"ia melompat dari tembok," gumamnya. "Aku sedang
melihatnya"dan ia melompat dari tembok. Tidak terjatuh, Brandt.
Tapi terbang!" "Benda itu digantungkan dengan kuat," kata Mrs. McCloy,
kebingungan. "Aku yakin karena kami telah tiga kali mengecek
kaitannya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya."
Brandt membantu Abbie berdiri. Ia menuntunnya ke sofa. Mrs.
McCloy bergegas ke dapur untuk mengambil segelas air.
Brandt duduk di sebelah Abbie. "Aku tak tahu bagaimana harus
menceritakannya padamu," katanya. "Tapi seseorang tahu kau akan
mendapat musibah. Orang itu yang meramalkannya."
"Hah?" Abbie duduk tegak. "Siapa" Siapa yang meramalnya?"
"Aku tidak tahu," Brandt menyahut dengan susah payah. "Salah
seorang dari si kembar yang pernah tinggal di sini"namanya Cally"
ia menyimpan buku hariannya. Aku menemukannya di loteng. Tapi
ketika membacanya?" Ia ragu-ragu.
"Apa?" tanya Abbie. "Lanjutkan, Brandt."
"Ada kalimat baru," tutur Brandt. "Ini pasti kedengaran sinting.
Tapi ada yang menulis di buku harian itu. Dan, kalimat yang terakhir
meramalkan bahwa kau akan dapat celaka."
"Sudah kubilang ini rumah setan!" jerit Abbie, mengusap air
matanya. Brandt merangkulnya, berusaha menenangkannya. "Mungkin
itu tadi cuma kecelakaan," ujarnya menghibur, meski ia sendiri tidak


Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yakin. "Atau cuma kebetulan."
"Tidak," seru Abbie. "Aku tahu tidak begitu."
"Apa pun, pokoknya kau tak apa-apa," kata Brandt. "Kau tidak
terluka, kan?" Abbie menyedot hidung. "Ya. Tapi ada yang ingin
mencelakakanku, Brandt. Cerita tentang rumah ini pasti benar."
Brandt merangkulnya tanpa berkata-kata.
Bisa saja itu tadi kecelakaan, batinnya.
James sudah dikubur. Hantunya sudah pergi.
Rumah ini tidak lagi berhantu.
Betul, kan" ************* Brandt berdiri ketika bel pulang sekolah berbunyi. Ia mengusap
matanya. Dengan perlahan ia mengikuti murid-murid lain keluar
kelas. Well, aku berhasil melalui hari ini, pikirnya. Tapi kalau tidak
segera tidur cukup, aku akan tertidur di kelas.
Ia tak bisa tidur lagi semalam. Langkah kaki di loteng kembali
terdengar. Ia berbaring menatap langit-langit, memegang selimutnya
erat-erat, mendengarkan. Mendengarkan sepanjang malam.
Sambil mengeluh kecapekan, ia berdiri di depan lokernya,
melamun. Ia mendengar suara bola basket yang dipantulkan di lantai.
"McCloy. Aku mau bicara denganmu."
Brandt melebarkan matanya dan melihat Jon Burks di
sebelahnya. "Dengar, Jon," Brandt berkata, "aku tidak punya waktu"
" Jon memainkan bola basket dengan satu tangan dan menepuk
bahu Brandt dengan tangan lainnya. "Bagaimana, man?" tanyanya,
nyengir. "Baik-baik saja," sahut Brandt, mau beranjak pergi. "Aku mau
pulang, Jon." Brandt memandang ke koridor, kelihatannya semua anak
sudah pulang. "Bagaimana bahumu?" tanya Jon, mengabaikan ketidaksabaran
Brandt. Ia menepuk bahu Brandt. "Bagaimana rasanya" Sudah tidak
sakit?" Seringainya membeku di wajahnya.
"Sampai jumpa," gumam Brandt. Ia berbalik dan
meninggalkannya. Tapi Jon membuntutinya. "Hei, ada apa dengan kau dan Jinny?"
Brandt berhenti sebentar. "Kenapa tidak kautanyakan langsung
padanya?" semburnya.
Wajah Jon berubah merah. Ia memandang Brandt dengan
sengit. "Jangan macam-macam denganku," gumamnya. Ia mendorong
bahu Brandt dengan keras.
Brandt sadar ia harus segera mundur. Tapi ia tak ingin
menyerah dengan mudah. "Jangan bermain curang, Jon," ancamnya.
Wajah Jon semakin merah. "Jinny dan kau"tak akan
kubiarkan," katanya pelan. Ia melemparkan bola ke tembok, nyaris
mengenai kepala Brandt. Lalu ia melemparkannya lagi. "Kau harus
ingat satu hal," katanya, kembali menyeringai. "Kau mudah sekali
memar." Brandt tidak menyahut. Matanya memandang melalui bahu Jon.
Ia melihat sesuatu di koridor yang kosong itu.
Sosok yang gelap. Bayangan. Berada di belakang Jon. Kelihatannya Jon tak tahu di
belakangnya ada sesuatu. Tapi Brandt melihatnya. Ia membelalak
ketakutan. Ia kembali lagi, Brandt menyadarinya. Siapa pun dia"apa pun
dia"selalu mengikutiku.
Ancaman Jon tak berarti lagi bagi Brandt sekarang. Bayangan
itu lebih berbahaya daripada Jon.
Aku tak boleh membiarkan Jon pergi meninggalkanku, pikir
Brandt. Aku harus terus dekat dengannya sampai bayangan itu pergi.
"Mungkin kau juga mudah memar," katanya mengejek Jon.
"Mau coba" Mau lihat siapa yang memar duluan?"
Mata Jon melebar, terkejut. "Hah" Tidak. Tidak. Aku tak mau
berantem denganmu. Aku tak mau membunuh orang dengan
tanganku." "Hei, jangan jadi pengecut," Brandt menantang. "Ayo, Jon. Ayo
mulai. Di sini." Brandt mendorong bahu Jon. Jon tidak bergerak. Ia hanya
memandang Brandt, terkejut. "Yang benar saja," gumam Jon.
Brandt mendorongnya lagi.
"Kau tak sadar apa yang kaulakukan," Jon memperingatkannya.
"Kau tak bisa melawanku."
"Kau takut?" ejek Brandt. "Kau takut, Jon?"
Jon menepis tangan Brandt. Ia menggeleng. "Kau orang paling
aneh yang pernah kukenal," ujarnya. Ia berbalik, lalu menyusuri
koridor. Brandt panik. Sosok bayangan itu terlihat di belakang Jon.
"Jon"tunggu!" Brandt memanggilnya dengan panik. "Kau mau
latihan basket?" Jon terus berjalan. Tidak menyahut.
Brandt melihat bayangan itu, bergerak mendekatinya"lalu ia
bergegas mengejar Jon. "Kupikir, aku mau ikut dan menonton,"
katanya. "Bisakah tim kita bertahan tanpa aku?"
Jon memandang Brandt seolah ia sinting. "Kau punya masalah,
McCloy," katanya, mendelik. "Masalah besar."
Aku tahu, pikir Brandt, melihat ke belakang.
Bayangan itu sudah berhenti mengejarnya, menghilang di
tikungan. Apa itu" pikir Brandt, mendesah lega. Kenapa ia terus
mengikutiku" Sampai kapan aku bisa menghindar"
BAB 21 BUKU harian itu. Jawabannya ada di dalam buku harian itu, pikir Brandt.
Ia terus berjalan bersama Jon ke lapangan basket, takut
bayangan itu menunggunya di luar sekolah.
Tapi ia sudah tidak mengikutinya lagi. Sudah menghilang.
Brandt harus berlari sepanjang perjalanan pulang.
Aku harus melakukan sesuatu, batin Brandt, menutup dan
mengunci pintu kamarnya. Aku harus berbuat sesuatu"sebelum
bayangan itu berhasil menangkapku. Sebelum ia mencoba mencelakai
Abbie lagi. Ia mengunci diri di kamarnya. Dengan bersemangat ia
membaca buku harian Cally, mencari petunjuk, atau apa saja yang
bisa menjelaskan tentang bayangan yang terus mengejarnya.
Tadinya Cally anak yang baik, pikirnya sedih ketika membaca
buku hariannya. Lucu. Pasti menyenangkan kalau jadi temannya.
Aku pasti menyukainya. Aku yakin.
Tapi apa yang telah terjadi padanya"
Benarkah ia sudah meninggal" Diakah yang menghantui rumah
ini" Diakah yang menulis kalimat baru di dalam buku harian itu dan
mencelakai teman-temanku"
Cally-kah bayangan yang selalu mengikutinya"
Pertanyaan-pertanyaan. Hanya pertanyaan. Tak ada jawaban.
Brandt menutup buku harian itu dan membawanya ke kamar
kerja ayahnya. Buku-buku berderet di rak dinding kamar kerja itu, tapi
separonya masih kosong. Karton-karton yang belum dibuka masih
bertumpuk di lantainya. Brandt memeriksa rak buku, mencari sebuah judul buku yang
mungkin bisa menolongnya. Ia melihat buku-buku berbahasa kuno
yang berdebu, dan sama sekali tidak dimengertinya. Mr. McCloy
adalah kolektor buku antik tentang mantra dan ritual.
"Bukan ini, bukan ini, bukan ini," gumam Brandt, membaca
punggung buku. "Kecuali aku bisa berbahasa Latin."
Ia berhenti memeriksa buku-buku di rak dan mulai mencari-cari
di dalam karton. Ia menarik buku yang berjudul Reinkarnasi di Mesir, Ilmu Gaib
di San Francisco, Racun, Ramuan, dan Dewa-dewa Sumeria. Sambil
menggeleng ia meletakkan buku-buku itu di lantai.
Akhirnya ia menemukan sebuah buku yang menarik: Sifat
Dasar Roh Jahat. Ia memeriksa halaman-halamannya, mencari sesuatu
yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Roh jahat tidak pernah mati," kata penulisnya. "Orang yang
melakukan pekerjaan jahatnya mudah dikuasai. Tapi roh jahat itu
sendiri tak pernah bisa dimusnahkan. Ia hanya mencari raga baru.
"Setiap orang bisa menjadi korban roh jahat. Meski orang itu
berhati baik, lemah lembut, roh jahat itu tidak kenal ampun."
Itulah yang terjadi pada Cally Frasier, pikir Brandt.
Sesuatu yang jahat telah menguasainya" dan mengubahnya.
Sesuatu di rumah ini. Ia ingat kejadian di loteng. Suara-suara di loteng, dan suara
langkah kaki. Loteng ini menyimpan barang-barang keluarga Frasier yang
ditinggalkan ketika mereka buru-buru pindah dari sini. Mungkin
barang-barang itu bisa memberinya petunjuk, pikirnya.
Petunjuk mengenai apa yang telah menimpa Cally. Dan
bagaimana cara aku mencegah kejadian yang sama menimpaku.
Sambil membawa buku harian itu ia bergegas ke loteng.
Ia menyalakan lampu. Bohlam yang telanjang itu menghasilkan
bayangan suram di ruangan.
Dengan bersemangat Brandt memeriksa kotak-kotak milik
keluarga Frasier yang berdebu. Ia menemukan buku cerita anak-anak.
Boneka beruang yang salah satu matanya sudah hilang, dan pakaian
usang. Kemudian ia menemukan foto berbingkai kayu. Ia
mengambilnya dengan tangan gemetar. Kacanya sudah pecah,
gambarnya sudah pudar. Foto itu memperlihatkan dua anak perempuan berambut pirang
berumur dua belas atau tiga belas tahun sedang berpose di depan
gedung apartemen. Kedua anak perempuan itu tersenyum dan
berangkulan. Seorang anak lelaki kecil berambut merah berdiri di
depan mereka, tertawa lebar. Salah satu gigi depannya ompong.
Anak-anak perempuan. Kembar. Dan adik laki-laki mereka.
Foto Cally, Kody, dan James.
Foto itu pasti diambil sebelum mereka pindah ke sini, pikir
Brandt. Mereka kelihatan bahagia.
Sebelum segala kejadian yang terjadi di sini. Sebelum mereka
dipisahkan. Sebelum James dan Cally meninggal.
Ia memasukkan foto itu ke dalam kotak.
Hal ini tidak akan terjadi padaku, janjinya.
Tidak akan terjadi pada Abbie atau Jinny atau Meg juga. Aku
tak akan membiarkannya terjadi.
Ada suara memecah kesunyian.
Tubuh Brandt menegang. Apa itu"
Kedengarannya seperti suara tawa.
Brandt berusaha keras mendengarkan. Suara tawa. Tawa pelan.
Tawa anak perempuan. Dari mana asalnya" Dari lantai bawah"
Ia bergegas menuruni anak tangga loteng dan berdiri di lorong
lantai dua. Suara tawa itu terdengar lebih keras. Ia menengok ke kiri dan ke
kanan. Sepertinya dekat. "Hei!" teriaknya. "Siapa itu" Di mana kau?"
Tawa yang dingin. Tawa jahat. Tawa yang mencemooh.
Lebih keras. Melengking. Menciut-ciut.
Tawa yang parau dan tidak menyenangkan. Tawa setan.
"Di mana kau" Siapa kau?" teriaknya.
Menutupi telinganya dengan tangan, ia berlari dari kamar ke
kamar, panik mencari-cari asal tawa anak perempuan itu. "Stop!
Stop!" teriaknya. Menutupi telinganya dengan tangan ternyata tidak membawa
hasil. Tawa yang jahat itu seperti bergema di dalam kepalanya. Keras.
Keras sekali. Tawa anak perempuan yang menjadi gila.
Berusaha menghindari suara yang menakutkan itu, Brandt
menuju kamarnya dengan limbung, lalu menutup pintu. Tawa serak
menjengkelkan itu terus mengikutinya, mengiang-ngiang, keras,
semakin keras. "Stop! Tolong"aku sudah tidak tahan!" Ia tak bisa mendengar
teriakannya sendiri di antara tawa yang meraung-raung itu.
Ia memutar radio. Musik heavy metal terdengar berdentamdentam. Ia membesarkan volume radio hingga penuh.
Tapi suara tawa itu terus terdengar di telinganya, lebih keras
dari suara musik yang paling keras.
"Stop! Stop!" Lebih keras dan lebih keras lagi, bergema dan meraung"
sampai tubuh Brandt seperti mau remuk.
Kepalaku nyaris pecah! pikir Brandt.
Suara tawa itu"bisa membunuhku!
BAB 22 BRANDT membuka pintu kamarnya, lalu lari keluar. Suara
tawa dan musik yang berdentam-dentam terus mengikutinya ketika ia
menuruni tangga. Kabur. Cepat kabur! Ia membuka pintu rumahnya. Dan lari keluar. Ia terus lari
sampai tiba di tepi jalan.
Telinganya bergetar. Seluruh tubuhnya berdenyut dan
gemetaran seperti habis kesetrum listrik tegangan tinggi.
Tapi suara tawa itu sudah berhenti.
Brandt berhasil lari. Berusaha mengatur napasnya, ia menunggu sampai bunyi
mendenging di telinganya berhenti, lalu ia kembali menyusuri
halaman rumahnya yang gelap.
Bisakah aku masuk ke rumah lagi" pikirnya.
Apa lagi yang akan menungguku"
********* Hantu Cally Frasier mengawasi Brandt dari jendela loteng.
Senyum jahat menghiasi wajahnya yang pucat ketika dilihatnya
Brandt kebingungan di pinggir jalan, menutupi telinganya.
Kenapa, Brandt" tanyanya dalam kebisuan. Kau tidak suka
mendengar tawa anak perempuan"
Aku yakin kau suka mendengar tawa Jinny. Dan Meg. Dan
Abbie. Kenapa kau tidak suka tawaku"
Cally mendesah. Lelucon tolol itu sudah tidak menarik lagi,
pikirnya. Terlalu mudah menakut-nakuti Brandt. Terlalu
membosankan. Brandt dan aku akan hidup bersama-sama, hingga waktu yang
lama, batinnya. Pasti lebih mengasyikkan kalau Brandt mati juga.
Ia melihat Brandt sedang memandangi rumahnya.
Pasti lebih asyik kalau kita bisa tertawa bersama, Brandt,
tuturnya tanpa suara. Aku jadi tidak sabar.
Pertama aku akan membereskan teman-temanmu.
Lalu aku akan membereskanmu.
BAB 23

Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

BRANDT terkejut ketika mendengar bel rumahnya berbunyi di
Rabu siang sepulang sekolah. Ia tidak sedang menunggu seseorang.
Ibunya pergi belanja, ayahnya sedang menggergaji dahan pohon
di halaman samping. Mr. McCloy tidak mengajar pada hari Rabu.
Bel berbunyi lagi. Brandt berjalan pelan-pelan ke depan dan
mengintip lewat jendela. Jinny dan Meg. Brandt membuka pintu. Kedua cewek itu tersenyum. Meg
memegang piring yang ditutup kertas aluminium. "Selamat ulang
tahun!" seru Jinny, tertawa.
"Aku tidak berulang tahun," bantah Brandt.
Tentu saja kau berulang tahun," tegas Jinny. Ia memberikan
piring itu. "Isinya brownies," jelas Meg. "Kami membelinya dari bazar
kue minggu lalu. Kami yakin kau suka kue ini."
"Kue ini belum basi," tambah Jinny. "Cuma sebentar lagi."
"Tapi aku tidak ulang tahun," tegas Brandt.
"Itulah sebabnya kami tidak membawakanmu kue ulang tahun!"
ujar Meg. Kedua cewek itu pun tertawa.
Wajah Jinny berubah serius. "Kami dengar Jon cari gara-gara
lagi denganmu," katanya. "Sori, ya."
"Nggak apa-apa," sahut Brandt. "Akulah sebetulnya yang cari
gara-gara." "Ya, kami tahu," kata Jinny. "Ia bilang pada kami ia tak ingin
mencelakaimu. Kurasa ia memang tidak brengsek-brengsek amat."
"Jinny pacaran sama dia lagi," lapor Meg.
"Hus!" Jinny membentaknya, mendorong Meg dari beranda.
"Silakan masuk," desak Brandt. "Kau juga boleh mencicipi kue
basi ini." Kedua cewek itu bertukar pandang. Brandt menangkap rasa
takut di mata mereka. "Hei"kalian tidak takut, kan?" goda Brandt.
Jinny mengangkat tangannya. Ada bekas luka di kedua
pergelangan tangannya. "Aku bahkan belum pulih dari kejadian yang
menimpaku di sini!" jelasnya.
"Ayolah, Jinny," desak Meg. "Sebentar saja. Apa yang bisa
terjadi?" "Oke," sahut Jinny tegang. "A"Aku sudah janji... Maksudku,
ibuku meyakinkan... Ingat kejadian dengan gelas itu. Itu karena
kecelakaan, kan" Maksudku, bukan karena sebab lain, kan?"
Brandt menepi untuk memberi jalan. "Kita harus hati-hati
sekarang," katanya. Hampir saja ia menjatuhkan piring brownies"
hingga mereka menertawakannya.
Ia mengajak mereka ke ruang tamu. Kotak-kotak karton Mr.
McCloy sudah banyak yang dibongkar, hingga ruangan itu kelihatan
lebih rapi. Brandt meletakkan piring di meja dan membuka
pembungkusnya. Di luar jendela, ia mendengar ayahnya yang sedang
menggergaji dahan. "Silakan," katanya.
"Kami tak ingin makan," sahut Meg. "Karena itulah kami
langsung membawanya kemari. Jadi kami tidak harus
menghabiskannya." "Aku mau satu," ujar Jinny. Ia mengambil sepotong dan
menggigitnya. Lalu ia melihat ke dinding dan menunjuk sebuah anak
panah yang warna-warni. "Kau pernah lihat yang seperti itu, Meg?" tanyanya.
"Belum," sahut Meg. "Apa itu?"
"Anak panah," kata Jinny. "Betul, kan, Brandt?"
"Betul," sahut Brandt. "Menembakkannya harus dengan
sumpitan." Brandt melihat tembok, mencari sumpitan untuk
ditunjukkan pada mereka. Lalu ia berjalan ke meja di sudut ruangan
dan menarik sebuah laci. "Ini sumpitannya," Brandt mengambil sebuah tabung pendek
dari kayu. "Mari kutunjukkan cara menggunakannya."
Ia melihat ayahnya melalui jendela. Mr. McCloy masih sibuk
bekerja. Kelihatannya ia masih belum berhasil memotong dahan itu.
Jinny mengambil sumpitan dan mengamatinya. Sumpitan itu
berlubang, terbuat dari kayu cokelat, dan dihiasi simbol-simbol
berwarna merah dan kuning.
"Simbol merah adalah simbol kematian," jelas Brandt. "Kurasa
simbol kuning berarti reinkarnasi."
"Mereka membunuh orang dengan sumpitan ini?" tanya Jinny.
"Hebat. Padahal kecil sekali, ya."
"Mau kuajari cara menggunakannya?" tanya Brandt.
Kedua cewek itu mengangguk.
Dengan hati-hati Brandt mengambil anak panah dari tembok.
"Letakkan anak panah ini di lubangnya," tuturnya, memasukkan anak
panah ke lubang di salah satu ujung sumpitan itu. "Pastikan ujungnya
terletak di tempat yang benar. Dan pastikan kau tidak menyedotnya!"
Kedua cewek itu tertawa. "Letakkan bibirmu di ujungnya dan tiuplah." Brandt
menggembungkan pipinya, pura-pura meniup ke dalam senjata itu.
"Kau harus meniupnya kuat-kuat agar anak panah ini bisa
melesat jauh," ujar Meg.
"Penduduk pulau itu punya trik khusus," jelas Brandt. "Mereka
cuma meniupnya sedikit, dan anak-anak panah itu pun melesat
puluhan meter jauhnya. Hebat betul."
"Brandt!" Mr. McCloy memanggilnya.
Brandt bergegas ke jendela. Ayahnya tampak berpeluh. Tapi
dahan yang hendak dipotongnya masih tergantung di pohon mati itu.
"Bisakah kau menolongku sebentar?" teriaknya.
Brandt mengangguk dan berpamitan pada cewek-cewek itu.
"Sebentar," katanya.
"Mudah-mudahan kami tidak menghabiskan brownies ini," kata
Jinny, mencomot potongan yang kedua.
Brandt memakai sweater-nya dan bergegas keluar untuk
menolong ayahnya. "Lihatlah ini, Brandt," tutur Mr. McCloy cerewet. "Pernahkah
kau melihat kayu yang seperti ini?"
Brandt memeriksa kayu yang sedang ditebang ayahnya.
Kayunya tidak berwarna cokelat tua seperti kayu yang mati, tapi
berwarna merah tua. Seperti darah.
"Kayu apa ini?" tanya Brandt.
"Entahlah," jawab ayahnya. "Kalau aku harus memberinya
nama, akan kunamai pohon ini kayu darah. Ini kayu terkuat yang
pernah kupotong. Aku tak tahu bagaimana kalau kayu ini dibakar."
Brandt mengambil gergaji dari tangan ayahnya dan menggergaji
dahan itu beberapa saat. Ia mencoba meneruskan menggergaji dahan
yang sudah setengah terpotong itu.
"Hampir patah," kata ayahnya. Ia mengambil kembali
gergajinya dan mulai bekerja lagi, setiap gerakannya diikuti suara
erangan. Akhirnya, dahan itu terpotong juga dan jatuh ke tanah. Getah
merah keluar dari permukaan yang bekas dipotong.
"Aneh," Brandt memeriksanya. "Getahnya seperti darah."
"Ya, betul," Mr. McCloy sependapat. "Aku tidak mau
memotongnya lagi. Akan kutelepon Mr. Hankers untuk menanyakan
apakah ia sanggup menebangnya. Aku sudah terlalu tua untuk ini. Dan
kau?" Ayahnya terdiam, tapi Brandt bisa menebak apa yang sedang
dipikirkannya. Kondisiku, pikirnya jengkel. Aku tak bisa menebang kayu
karena kondisiku. "Kau boleh masuk sekarang," kata Mr. McCloy. "Aku akan
membersihkan sampahnya."
"Baik." Brandt berjalan memutar lewat pintu belakang.
"Hei, Jinny, Meg!" Brandt memanggil mereka dari koridor.
"Moga-moga kalian masih menyisakan brownies untukku!"
Tak ada yang menyahut. Aneh, pikirnya. Mereka tidak pernah diam kalau sedang
bersama. Mungkin mereka bosan menunggunya, lalu pulang, pikir Brandt
kecewa. ebukulawas.blogspot.com
"Meg" Jinny?" panggilnya sambil berjalan ke ruang tamu.
Tetap tak ada jawaban. Brandt masuk ke ruang tamu. "Hei!"
Ia melihat sumpitan yang tergeletak di lantai.
Tak jauh dari situ Meg dan Jinny tergeletak di lantai.
Mata mereka terbuka, pandangannya kosong. Mulut mereka
menganga ngeri. Sebatang anak panah tersangkut di leher masing-masing.
BAB 24 "MEREKA beruntung masih hidup," kata Dr. Morgan.
Brandt dan ayahnya berdiri sambil mendengarkan di ruang
tunggu Unit Gawat Darurat di rumah sakit. Dokternya, seorang
perempuan setengah baya, bertubuh tinggi, berambut cokelat pendek,
telah mengeluarkan anak panah dari leher Meg dan Jinny. Sambil
memasukkan tangan ke saku jas putihnya, ia memberi penjelasan
kepada orangtua kedua gadis itu.
"Keduanya harus dirawat intensif di sini selama beberapa hari,"
lanjut Dr. Morgan. "Sebagian saraf mereka terluka dan mereka
mengalami syok berat. Mereka belum siuman."
"Tapi apakah mereka akan baik-baik saja?" tanya ibu Jinny.
"Maksudku, kapan mereka akan siuman?"
Dokter itu mendesah. "Kami tak bisa memastikan," sahutnya
pelan. "Tapi mereka akan pulih. Mereka akan baik-baik saja."
Tak lama kemudian Mr. McCloy mengajak Brandt
meninggalkan ruang UGD untuk pulang ke rumah. "Kau yakin tak ada
orang lain yang masuk ke rumah kita?" Puluhan kali ia menanyakan
itu pada Brandt. "Tidak ada, Dad, sumpah," sahut Brandt. "Pintu depan dikunci.
Dan kita pasti melihat kalau ada orang masuk lewat pintu belakang."
Ayah Brandt mengemudikan mobil tanpa bicara, matanya
menyipit memperhatikan jalan. "Mungkin tak seharusnya aku
menyimpan benda-benda berbahaya itu di dalam rumah," gumamnya.
"Tapi aku tak pernah mengira ada orang yang benar-benar ingin
menggunakannya." "Dad, hantu di rumah kita?" Brandt memulai.
Ayahnya mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata
Brandt. "Jangan sekarang, Brandt. Jangan omong soal hantu
sekarang." Brandt bersandar dan menutup matanya.
Ia terus teringat kedua cewek yang tergeletak di lantai dengan
anak panah tersangkut di leher. Dan ia terus memikirkan hantu itu.
Buku harian itu, pikirnya. Apakah sudah ada kalimat baru di
dalamnya" Apakah hantu itu kembali meninggalkan pesan untuknya"
Begitu Mr. McCloy memarkir mobilnya, Brandt keluar dari
mobil dan lari masuk rumah. Ia langsung naik ke kamarnya.
Ia menghampiri lemari laci, menarik laci yang paling bawah.
Lalu ia meraba-raba mencari buku harian itu.
T-shirt bersih, kaus kaki yang keliru pasangannya, sehelai surat
lama... "Hei"di mana buku harian itu?" teriaknya.
Buku harian itu hilang. Ia mencari-cari lagi. Lalu ia berdiri.
Itu dia. Di lantai. Di sebelah lemari. Dalam keadaan terbuka.
Brandt mendekatinya dengan hati-hati. Ia berdiri di atas buku
itu, memandang ke bawah. Buku harian itu terbuka pada halaman baru. Dari tempatnya
berdiri, Brandt bisa membaca tulisannya yang jelas tertulis dengan
tinta biru: Jinny dan Meg sudah dibereskan.
Berikutnya Abbie yang akan mati.
BAB 25 ABBIE. Aku harus memberitahu Abbie, gumam Brandt.
Aku harus mencarinya. Aku harus memberitahu dia. Ia betulbetul dalam bahaya. Entah bagaimana caranya, aku harus membuatnya
percaya padaku. Ia hendak keluar kamar. Tapi terhenti di pintu.
Abbie berdiri di situ. "Hah?" teriaknya kaget. "Kau ada di sini?" Ia amat terkejut
karena melihat Abbie ada di situ.
Ia mendekati Abbie dan memegang pundaknya. "Abbie! Aku
senang kau ke sini. Apakah orangtuaku yang menyuruhmu masuk?"
Abbie mengangguk. "Ya. Ada apa, Brandt?"
"Abbie"A"Aku mau mencarimu. Kau benar-benar dalam
bahaya!" ujar Brandt.
Wajah Abbie tampak kebingungan. "Bahaya?" ulangnya.
"Ya," Brandt menyahut terengah-engah. "Abbie, kau betul. Ini
rumah setan. Kau harus cepat keluar dari sini"dan jangan pernah
kembali lagi!" Brandt menatapnya, mengamati wajahnya, menunggu
reaksinya. Apakah Abbie mempercayainya"
Harus! Abbie berdiri mematung selama beberapa saat.
Lalu ia mengibaskan rambut pirangnya dan tertawa.
"Abbie!" seru Brandt. "Aku tidak bercanda. Aku serius. Kau
harus mendengarkan aku. Jinny dan Meg"dua teman sekolahku"
mereka nyaris mati di sini tadi siang. Dan kau" kau akan jadi korban
berikutnya!" Senyum Abbie menghilang. Matanya yang biru bersinar. "Wah,
Brandt," ujarnya, "kau membaca buku harianku, ya?"
BAB 26 BRANDT menatapnya. Ia membuka mulut tapi tak bisa
bersuara. "Buku harianmu?" katanya tergagap-gagap.
Abbie kembali tersenyum. "Ya, buku harianku," sahutnya.
"Kuharap kau tertarik, Brandt."
Sebelum Brandt sempat menjawab, Abbie mulai berubah.
Brandt melongo ketika tubuh Abbie yang kecil bertambah tinggi,
rambut pirangnya memanjang, dan wajahnya yang manis berubah
menjadi wajah yang penuh kebencian dan amarah hingga menjadi
topeng setan. Ia membeku ketakutan ketika di hadapannya berdiri orang yang
benar-benar berbeda. Abbie sudah tidak ada. "Yang kutulis di buku harianku telah menjadi kenyataan," kata
gadis itu. "Abbie sudah mati. Ia cuma samaranku."
Brandt mencoba bicara. Tapi yang keluar cuma erangan
ketakutan. "Aku Cally," tutur cewek itu, mata birunya yang dingin
membuat Brandt terpaku. "Hantu Cally Frasier."
Brandt berpaling. Ia mundur ke tembok, berusaha mencari
sandaran untuk tubuhnya yang gemetaran.
Ia dulu cantik sekali, itu sudah pasti. Tapi sekarang wajahnya
mengerikan. Matanya membara oleh kejahatan, bibirnya yang merah
menyeringai.

Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ketika Brandt menoleh lagi, dilihatnya Cally tengah melayang
mendekatinya. Brandt mundur ke dinding. "Apa yang akan kaulakukan
padaku?" tanyanya. Cally mendekat, tangan di belakang punggungnya. "Jangan
takut, Brandt. Aku tak akan mencelakaimu. Aku sangat
memperhatikanmu. Tidakkah kau tahu itu?"
Ketika bicara, napasnya terasa dingin mengenai wajah Brandt.
Dingin karena sudah mati. Brandt merinding.
"Aku tak akan mengganggumu, Brandt. Tak akan. Aku akan
menjagamu," Cally meyakinkannya sambil tersenyum dingin. "Aku
sangat kesepian, Brandt. Keluargaku meninggalkanku di sini. Lalu
kau pindah kemari, dan aku tidak lagi sendiri."
"Cally, please?" pintanya.
Ia melayang mendekati Brandt, mengabaikan permintaannya.
"Aku ingin menahanmu di sini, Brandt. Selamanya. Kalau kau ada di
sini, aku tidak kesepian lagi."
"Tidak, jangan!" tukas Brandt memelas. "Kami akan segera
pindah dari sini. Aku janji! Kami akan pindah malam ini juga!"
teriaknya putus asa. "Tidak, Brandt, kurasa tidak," bisik Cally, napasnya dingin
membeku. "Kalau mau, orangtuamu boleh pindah. Aku tak peduli.
Tapi kau tak boleh pergi. Kau akan jadi milikku selamanya."
Ia mengulurkan tangan kanannya. Tangan itu memegang kapak
kayu kecil yang berukir. Brandt mengenalinya. Kapak itu salah satu koleksi ayahnya.
Cally mengayunkan kapak itu ke kepala Brandt.
"Jangan?" pinta Brandt, melindungi kepala dengan kedua
tangannya. "Cally, please?"
"Kau akan merasa sakit sebentar," ujar Cally. "Lalu kita akan
bersama." Cally mengangkat kapak itu setinggi-tingginya dan
mengayunkannya kuat-kuat.
Kapak itu menancap di tengkorak Brandt dengan suara
berderak. BAB 27 BRANDT bersandar ke tembok. Kapak menancap di kepalanya.
Ia balas memandang Cally, yang melihatnya dengan terkejut.
Brandt tidak bergerak. Tidak jatuh. Tidak berdarah.
Cally melayang mundur, mata birunya yang dingin melebar
kebingungan, mulutnya melongo karena terkejut. Ia memegang
wajahnya dengan kedua tangan. "Brandt?" jeritnya.
Brandt tidak bergerak. "Brandt" Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara bergetar.
Ia mengitari Brandt dengan panik, tangannya masih memegang
pipinya. Ekspresi wajahnya berubah dari bingung menjadi marah.
"Mati!" teriaknya. "Aku telah membunuhmu, Brandt! Aku telah
membunuhmu!" Tak ada yang bergerak atau bicara.
Lalu Brandt menggerakkan tangannya pelan-pelan.
Mata Cally melebar. Tangan Brandt terangkat ke atas. Mencabut kapak dari
tengkorak kepalanya. Dan menjatuhkannya ke lantai.
Kini giliran Brandt yang tersenyum.
Ketika senyumnya semakin melebar, wajah Cally diselubungi
kemarahan. "Kenapa begini?" tanyanya. "Kenapa kau tidak berdarah"
Kenapa kau tidak mati?"
"Kondisiku?" Brandt memulai.
"Kondisi" Kondisi apa?" tanya Cally tak sabar.
"Kau tak bisa membunuhku," kata Brandt. "Aku sudah mati."
BAB 28 CALLY melongo saking terkejutnya. Ia menggelengkan kepala
seolah tidak ingin mempercayai kata-kata Brandt. "Kau bohong,"
Cally menuduhnya. Ia mengulurkan tangan, menekan lengan Brandt,
mencengkeramnya kuat-kuat dengan jari-jarinya yang dingin. "Kau
belum mati," tegasnya. "Kau masih punya raga. Kau bukan hantu."
"Aku memang bukan hantu. Tapi aku sudah mati," sahut
Brandt. "Bagaimana"bagaimana kau mati?" tanya Cally dengan
marah, menantangnya. Brandt membungkuk, mengambil kapak. Ia menggenggamnya
sambil bercerita. "Aku sudah mati dua tahun yang lalu," akunya.
"Bagaimana?" ulang Cally, matanya memandang Brandt
dengan skeptis. "Aku diracuni," jelas Brandt. "Aku dan orangtuaku pernah
tinggal di Pulau Mapolo. Ayahku bekerja di sana, mempelajari senjata purbakala sukusuku di situ."
Ia mulai bercerita, seperti yang dialaminya sendiri dan yang
diceritakan orangtuanya padanya. Brandt telah mengingat-ingat cerita
itu, pada malam-malam ia terbaring dengan mata terbuka. Ia berusaha
mencari petunjuk, atau makna segala sesuatu yang dialaminya di 99
Fear Street. Ia menjatuhkan kapak itu ketika memulai ceritanya. "Kami
tinggal di sebuah pulau kecil bernama Mapolo," katanya. "Di situlah
ayahku mendapatkan anak-anak panah itu."
"Anak panah itukah yang telah membunuhmu?" tanya Cally
ingin tahu. "Kau dipanah?"
"Tidak," sahut Brandt. "Aku tidak sengaja mati. Biar
kuceritakan semuanya. Jangan disela."
Mata Cally berkilas marah, tapi ia diam juga.
"Penduduk Mapolo menganut kepercayaan aneh," lanjut Brandt.
"Mereka memakai ramuan dan jamu, mantra dan upacara agama
dalam kehidupan sehari-hari.
"Ayahku membeli anak-anak panah itu dari seorang ksatria
muda yang kemudian menganggap Dad telah menipunya. Ksatria itu
mendatangi rumah kami pada malam hari dan menyebarkan bubuk
racun di anak tangga depan rumah kami. Lalu ia meraung bagai macan
kumbang, memancing Dad agar keluar rumah. Ia pikir ayahku yang
akan keluar duluan, satu-satunya orang yang bakal menginjak bubuk
racunnya. "Tapi raungan itu ternyata membangunkan aku lebih dulu. Aku
lalu keluar. "Ketika kakiku menyentuh bubuk itu, kupikir cuma pasir. Tapi
kemudian telapak kakiku seperti terbakar. Sakitnya luar biasa.
"Aku menjerit kesakitan. Kakiku bagai dipanggang di atas bara
api. Rasa panas itu menjalar ke tungkai, ke seluruh tubuhku, sampai
ke jantungku. "Ketika racun itu menyerang jantungku, aku terkapar di tanah.
Mati. Setelah itu yang kutahu adalah seperti yang diceritakan orangtuaku," kata Brandt. "Penduduk Mapolo merasa iba pada orangtuaku.
Mereka memasukkanku ke dalam peti mati dan menguburku."
Brandt mengusap bekas luka kecil di pipinya, katanya, "Luka
ini karena paku yang ditancapkan di peti matiku."
Cally mengusap bekas luka itu, seolah ingin memastikannya.
"Tapi ibuku tak percaya aku sudah mati," lanjut Brandt. "Ia
tidak imu percaya. Menurutnya itu hanya kekeliruan.
"Maka ayahku mencari dukun di dusun. Ia seperti tabib. Ia ahli
sihir terbaik di pulau itu. Ia biasa memberi orang jamu dan obatobatan. Mungkin dia juga yang membuat racun yang membunuhku
itu. "Dukun itu bilang pada orangtuaku, 'Kematian anak laki-lakimu
bisa ditangguhkan. Ia hanya kehilangan satu rohnya"roh kehidupan.
Roh itu sudah diambil darinya. Tapi aku bisa menggantinya dengan
roh yang lain.'" Cally bertanya, "Bagaimana caranya?"
"Dukun itu dan ayahku menggali kuburanku. Mereka membawa
peti matiku ke pondoknya.
"Dukun itu meletakkan peti matiku di sudut. Ia menyuruh ibuku
menjaganya siang-malam. 'Jangan sampai ada yang mendekatinya',
pesannya. "Lalu dukun itu pergi ke jalan utama di pulau itu. Malam tiba.
Ia berdiri di pinggir jalan dan mengawasi orang-orang yang lewat.
Para nelayan yang membawa pulang hasil tangkapan, buruh
perempuan yang membawa pulang buah-buahan.
"Kemudian lewatlah seorang asing. Seorang gelandangan. Ia
melintas di jalan itu, berpakaian compang-camping dan lusuh.
"Dukun itu memanggilnya. 'Kau tampak lapar sekali. Aku mau
pulang sekarang. Ikutlah ke pondokku, kau akan kuberi makan. Kau
boleh menginap di pondokku, kalau mau.'
"Gelandangan itu ingin sekali ikut ke rumah si dukun, tapi raguragu. Ia sadar penduduk Mapolo bisa sangat berbahaya.
"Dukun itu berkata, 'Di Mapolo, jangan pernah tidur di luar
pondok. Di pulau ini banyak macan kumbang. Salah satu macan itu
akan menyerangmu sebelum subuh.'
"Maka gelandangan itu pun bersedia ikut si dukun. Mungkin ia
tidak punya pilihan lain."
Brandt berhenti bercerita. Mata Cally memandang kantong kulit
yang dipakainya. "Betul, Cally," Brandt meyakinkannya dengan menyentuh
kantongnya. "Lanjutan ceritaku ada kaitannya dengan kantong ini."
"Dukun itu membawa si gelandangan ke pondoknya dan
memberinya sejenis ramuan. Ramuan itu membiusnya. Setelah
beberapa menit, gelandangan itu tertidur seolah sudah mati.
"Dukun itu menyuruh ayahku membuka peti mati. Ia
mengamati mayatku. Aku baru mati sehari. Tubuhku belum
membusuk." Brandt berusaha keras untuk meneruskan. Aneh rasanya
bercerita tentang dirinya sendiri.
"Orangtuaku mengawasi dukun itu bekerja. Ia mencopot
pakaian si gelandangan dan memberikannya pada ayahku. Ia
menyuruh ayahku mengenakan pakaian gelandangan itu padaku.
"Lalu dukun itu memotong rambut si gelandangan. Memotong
kuku jarinya. Ia memasukkan rambut dan potongan kuku itu ke
sebuah kantong kecil. Kantong ini."
Brandt menyentuh kantong kulit itu lagi.
"Ia mengalungkan kantong ini di leherku. Aku pun mengenakan
pakaian gelandangan itu, dan rambut dan kuku jarinya terkalung di
leherku. Tapi aku masih mati. Gelandangan yang terkapar di tanah itu
masih bernapas. "Dukun itu dan ayahku memindahkan mayatku ke sebelah si
gelandangan. Lalu orangtuaku duduk di sudut, melihat si dukun
melakukan upacara aneh. "Ia menyalakan obor dan menari mengitariku dan si
gelandangan. Ia menyanyikan lagu berbahasa asing yang belum
pernah didengar ayahku. Lalu ia menggerakkan obornya ke atas
mayatku, ke atas tubuh si gelandangan, berulang kali, sambil
menyanyikan lagu berbahasa aneh.
"Upacara itu berlangsung hingga dini hari. Sampai ayahku
mendengar ayam jantan berkokok. Pada saat itu, ia melihat tubuh
gelandangan itu gemetar. Lalu ia tidak pernah bernapas lagi.
"Kemudian ayahku memandangku"dan melihat dadaku yang
naik-turun. "Ibuku menjerit gembira. Ia juga melihatku bernapas lagi.
"Aku hidup lagi! Aku sudah mati"tapi sekarang hidup lagi!
Aku bangun, membuka mata. Aku hidup"tapi gelandangan itu mati.
Dukun itu telah mencuri roh kehidupannya"dan
memberikannya padaku."
Brandt kembali bersandar. Ceritanya sudah selesai.
Cally melayang ke dekatnya. "Brandt," bisiknya, "ini lebih baik
dari yang kuharapkan. Kau sudah mati tapi tidak mati. Kau tidak
mati!" Ia merangkul Brandt. "Kita akan berbahagia, Brandt. Kau dan
aku. Kita akan menjadi hantu di rumah ini"selamanya!"
Ia mendekatkan wajahnya, mencium Brandt.
Tapi ada bayangan yang mendekati Brandt.
Brandt memandangnya"melihat sosok bayangan yang selalu
mengikutinya. "Siapa"Siapa kau?" teriak Brandt.
BAB 29 BAYANGAN itu mendekatinya, membuat koridor gelap ketika
ia bergerak. "Aku mau mengambil rohku!" serunya.
Brandt terperangah memandangnya. "Kau!" desisnya.
Ketika Brandt memandang bayangan gelap yang sedang
mendekatinya, sosok di dalamnya mulai terbentuk. Semakin terlihat
jelas, lebih jelas, bagai lensa kamera yang difokuskan.
Bayangan itu sudah lenyap, menghilang.
Brandt kini memandang seorang laki-laki. Sulit menduga
umurnya. Rambutnya habis, nyaris botak. Ia bertubuh pendek dan
kurus. Kepalanya cuma setinggi dagu Brandt.
Ia mengenakan celana dan kemeja katun. Pakaiannya tampak
terlalu besar di tubuhnya, kedodoran. Manset kemejanya menutupi
tangannya. Keliman celananya menyapu lantai.
Matanya yang hitam bulat tak bersinar, kosong, hampa. Tak ada
kehidupan. Kenyataan itu membuat tubuh Brandt dingin dan gemetaran
hebat. Inilah bayangan yang selalu mengejarnya"bayangan itu
ternyata bukan Cally Frasier.
"Aku mau mengambil rohku," gelandangan itu berbisik kering,
bagai gemersik daun-daun kering yang berasal dari lubang mulutnya.
"Tidak! Menjauhlah dariku!" teriak Brandt, mundur dengan
ketakutan. "Pergi!"
Dengan cepat tangan lelaki yang kurus itu terulur dan
merenggut kantong di leher Brandt.
"Tidak! Jangan?" protes Brandt, suaranya mulai melemah.
Sambil memegangi kantong, bayangan itu berubah menjadi
nyata. Sosoknya sudah berwujud dan tampak jelas di bawah lampu
koridor yang temaram. Kulit dan matanya menyinarkan kehangatan.
"Jantungku berdenyut!" seru gelandangan itu gembira. "Aku
hidup!" Ia menuruni tangga, lalu menghilang.
"Please...," Brandt berbisik putus asa. Napasnya tercabut dari
raganya. Ia berusaha bernapas, mengisap udara ke dalam paruparunya.
Tapi ia tak punya kekuatan lagi.
"Brandt?" Cally memandangnya sambil menyipitkan mata.
"Kau baik-baik saja?"
Brandt menyahut dengan erangan lemah. Ia merasa mulutnya
mengerut. Begitu membukanya, beberapa giginya rontok.
Ia memandang ke bawah, dan melihat tangannya mengerut.
Kulitnya menjadi hijau, mengerut, kemudian terlepas dari tulangnya.
Ia melihat Cally memandanginya dengan ngeri. Ia melihat
mulut Cally komat-kamit. Tapi ia tak bisa mendengar suara Cally. Ia
meraba telinganya"dan menyadari telinganya sudah tidak ada.
Ia melihat Cally menjerit. Tapi kemudian bola matanya
terbenam ke dalam tengkorak kepalanya, dan ia tak bisa melihat apaapa lagi.
"Tidak!" jerit Cally. "Brandt! Jangan tinggalkan aku!"
Tubuh Brandt sudah mengerut dan membusuk di depan
matanya. Kerangkanya teronggok di lantai.
Lolongan Cally yang marah dan putus asa menggema di seluruh


Fear Street Rumah Setan 2 The House Of Evil The Second Horror di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rumah, sepanjang malam itu.
Cally merasa seolah-olah roh jahat di rumah ini kembali
menaklukkannya. Ia sendirian lagi. Epilog "MEREKA pergi," Cally bergumam sendirian. "Aku
ditinggalkan lagi." Ia melayang ke tempat biasanya, memandang lewat jendela
loteng. Ada sarang labah-labah di atasnya. Tikus-tikus berseliweran di
lantai yang berdebu, mencari makanan.
Di jalan di depan rumah, Cally melihat sebuah mobil jenazah
yang hitam panjang. Empat pria keluar dari rumah dan berjalan
perlahan membawa peti mati.
"Lihat," kata Cally sambil menunjuk ke luar. Ia seolah bicara
pada temannya"padahal ia tidak punya teman. "Mereka pergi. Peti
mati Brandt sudah dibawa pergi."
Mr. dan Mrs. McCloy berjalan di belakang peti mati,
mengiringinya dengan wajah muram. Mr. McCloy mengenakan
setelan hitam. Mrs. McCloy mengenakan pakaian hitam dan kerudung
hitam. Di balik kerudungnya, ia menangis, kepalanya menunduk,
wajahnya ditutupi dengan saputangan.
"Orangtua Brandt," kata Cally dengan jijik. "Aku tak pernah
menyukai mereka. Mereka itu tolol. Tidak pedulian. Mementingkan
diri sendiri. Aku senang mereka pergi. Aku tak sabar menunggu
mereka pindah. "Keluar dari rumahku!" raungnya.
Tentu saja mereka tak bisa mendengarnya.
Pengurus pemakaman membuka bagian belakang mobil
jenazah. Lalu ia menghidupkan mobil.
Cally gemetar oleh amarah dan duka cita. "Tidak!" teriaknya.
"Brandt tinggal di sini bersamaku! Jangan bawa dia pergi!"
Tapi, mobil jenazah yang hitam panjang itu meluncur
menyusuri Fear Sreet hingga tidak tampak lagi.
Cally mengeluarkan lolongan panjang seperti binatang.
Menggema ke seluruh rumah kosong itu.
Wajah Cally mengeras. Mata birunya yang dingin
memancarkan kebencian. "Aku tak akan sendirian di sini selamanya," gumamnya sambil
mengertakkan gigi. "Akan ada orang yang pindah kemari.
"Cepat atau lambat, akan ada korban baru lagi."
Ia mencibir sengit, memikirkan kejahatan yang akan
dilakukannya"lain kali.
"Harus ada yang membayar ketidakbahagianku," janjinya.
"Orang berikut yang datang kemari akan menyesal karena
berani pindah ke 99 Fear Street."
BERSAMBUNG... Playboy Dari Nanking 12 Sapta Siaga 14 Membela Teman Pendekar Harpa Emas 1
^