Pencarian

Biarawan Tak Berkepala 1

Sherlock Holmes - Petualangan Biarawan Tak Berkepala Bagian 1


Sherlock holmes Kumpulan Kasus Seru Jilid 2
Petualangan Biarawan Tak Berkepala
Sherlocked.org - 2012 - Petualangan Biarawan Tak Berkepala
MENUJU akhir bulan November tahun 1896, kabut kuning tebal turun di London. Hampir selama sebulan tak mungkin, dari ruang kami di Baker Street, melihat garis tepi rumah di hadapan kami. Saat itu sangat menekan bagi Holmes dan aku sendiri. Seringkali, bila aku tidak mengerjakan cerita tentang temanku Holmes, aku akan memikirkan kembali kejadian-kejadian di London Times. Seakan-akan seluruh kota berdiri diam, kabut tak pernah menipis, siang maupun malam.
Menurutku, saat itu amat berat bagi temanku Holmes, karena ia selalu punya sifat tak bisa diam, terus-menerus bergerak, dan menjadi begitu terjebak di rumahnya sendiri adalah sama seriusnya dengan terpencil dari dunia penyelidikan kejahatan yang begitu dicintainya.
Hari pertama kabut turun, Holmes menghabiskan waktu mengindeks silang buku referensi kriminalnya yang besar. Pada hari kedua dan ketiga ia mencoba dengan sabar menyibukkan diri dengan subyek yang baru-baru ini menjadi hobinya, musik Abad Pertengahan. Tapi, pada hari keempat, ketika, telah mendorong mundur kursinya setelah sarapan, ia melihat kabut tebal itu, dihiasi debu pabrik berputar-putar melewatinya, kesabaran Holmes dan sifatnya yang aktif tak dapat lagi menahan diri terhadap benda membosankan itu.
Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang duduk kami, menyindir keadaan tak bisa bertindak. Setelah beberapa menit pembukaan ini, ia menghadapiku dan berbicara.
"Kurasa tak ada yang menarik di koran, Watson"" katanya tegang.
"Ada kabar bahwa mungkin terjadi revolusi, dan suatu perubahan yang akan datang di pemerintahan. Namun tak ada yang menarik bagimu. Tak ada kejahatan sekecil apa pun."
"Tampaknya penjahat London jelas orang yang membosankan dan tak mau berusaha belakangan ini. Lihat keluar jendela, Watson. Lihatlah ke bawah, bagaimana sosok manusia menjulang, terlihat samar dan kemudian sekali lagi hilang di balik kabut. Sungguh hari yang tepat untuk pencurian dan pembunuhan! Ia dapat menjelajah London seperti harimau menjelajah hutan, tak terlihat hingga ia menerkam, bukti yang terlihat hanya oleh korbannya."
"Pikiran yang sungguh ceria," kataku berkelakar.
Saat itu, Holmes dan aku dapat mendengar bel pintu di bawah.
"Halo, aku ingin tahu siapa itu" Kau mengharapkan seseorang, Holmes""
"Tidak. Itu mungkin tamu Mrs. Hudson, atau mungkin tukang pipa lokal akhirnya berkenan merendahkan diri untuk memperhatikan semburan gas bocor di lorong kita."
"Kurasa kau salah dalam keduanya," aku menyela. Aku bisa mendengar suara kaki Mrs. Hudson di tangga. Sesaat kemudian Mrs. Hudson mengetuk pintu kami dan masuk. Ia mengumumkan bahwa seorang pria ingin menemui Holmes.
Ia menyerahkan kartu nama pria itu, yang dilirik Holmes dengan cepat, sebuah senyum keterkejutan tampak di wajahnya.
"Mortimer Harley, hah" Antarkan orang itu ke atas, Mrs. Hudson."
"Baik, sir," jawabnya kemudian pergi menjemput Mr. Harley.
"Mortimer Harley, dan siapa itu, Holmes""
"Aku belum pernah bertemu dengannya secara pribadi, tapi aku cukup akrab dengan reputasi ilmiahnya."
"Nah, jangan membuat aku tegang, Holmes, beri tahu aku siapa dia. Dalam hal apa spesialisasinya""
"Kurasa orang menyebutnya sebagai salah satu orang yang sangat berkuasa pada segala hal yang menyangkut ilmu gaib."
"Maksudmu pria itu terjun dalam hal-hal supranarural, dan yang semacamnya"" tanyaku, keingintahuanku berbicara.
"Maksudku, Watson yang baik, Mortimer Harley adalah pria yang sangat pandai dengan pengetahuan ilmiah yang sangat komprehensif dalam bidangnya, dan sangat percaya pada keberadaan kekuatan supranatural."
Holmes baru menyelesaikan kata-katanya padaku ketika Mr. Harley diantarkan masuk ruangan kami. Dalam beberapa saat singkat yang diperlukan Mrs. Hudson untuk meninggalkan kami sendirian dengan klien prospektif ini, aku mendapat kesempatan mengamati pria ini. Ia berbadan kecil, berpakaian tak bercela, dan walaupun berusia tua, tampak sehat bagi usianya.
"Anda Sherlock Holmes"" katanya,
dalam suara yang tenang dan sangat terdidik.
"Ya, dan ini kolega saya, Dr. Watson."
"Apa kabar, Mr. Harley, silakan duduk." Kataku menggerakkan tangan pada sebuah kursi. Ia duduk di hadapan Holmes dan aku, dengan hati-hati mengatur bajunya sebelum berpaling pada kami.
"Nah," katanya, "Anda mungkin bertanya-tanya siapa saya dan, apa yang membawa saya ke
sini." "Kami tidak bertanya-tanya siapa Anda, Mr. Harley," kataku. "Teman saya Holmes baru saja menceritakan kemashyuran ilmiah Anda."
"Saya sangat tersanjung Anda mengenali saya, Mr. Holmes; namun begitu, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya ke sini."
"Tolong, beri tahu kami apa masalah Anda," kata Holmes, bersandar di kursi favoritnya dan dengan santai menyalakan pipa.
"Mr. Holmes, pernahkah kau dengar tentang Biarawan Tak Berkepala di kapel Trevenice""
"Ya, pernah, Mr. Harley. Penampakan yang terhitung sebagai harta karun nasional yang tak kelihatan," komentar Holmes dengan sarkasme dalam suaranya.
"Saya menyesal terdengar begitu bodoh, tuan-tuan, tapi saya tak pernah mendengar tentang Biarawan Tak Berkepala dari kapel bernama-entah-apa itu."
"Nah, kalau begitu, biarkan saya memberitahu Anda, dokter. Trevenice manor, di Cornwall, dulunya sebuah biara."
"Biara itu dijadikan milik pribadi selama pemerintahan Henry Kedelapan, dan beberapa biarawan dibunuh dalam kesulitan kecil yang menyertai tindakan semacam itu. Tapi satu biarawan yang terbunuh, bernama Frater Hugh, pemain orgel kapel, tetap berkeras. Ia masih menghantui kapel hingga hari ini, dan masih memainkan orgel itu. Dan karena ia mati dipenggal, ia selalu muncul tanpa kepala."
"Cerita yang menarik, Mr. Harley," kataku, merasa geli, "tapi Anda tidak mengharapkan kami percaya apa pun kecuali itu sebuah legenda, tentunya,"
"Ah, seorang skeptis, ah" Bagaimana dengan Anda, Mr. Holmes""
"Saya sangat ingin tahu mengapa Anda datang menemui saya, Mr. Harley."
"Saya beri tahu kenapa. Saya jarang mendapat kesempatan untuk menyelidiki fenomena itu. Anda tahu, putra teman lama saya, seorang pemuda bernama Leonard Miles, adalah sekretaris pemilik Trevenice manor itu. Pemuda inilah yang meminta saya tinggal di sana, dan saya merasa undangan ini tak dapat ditolak. Terutama karena fenomena itu telah meningkat secara aneh akhir-akhir ini, Mr. Holmes. Seakan beberapa, yah, agen manusia telah memotivasi penampakannya."
"Sekarang saya mengerti kenapa Anda datang pada saya, Mr. Harley."
"Saya tahu Anda akan mengerti, Mr. Holmes. Anda lihat, saya menyukai teman baik sekaligus teman penyelidik saya, Tarnacci. Saya percaya untuk bersiap-siap menemui fenomena itu pada bidang natural atau supernatural. Bila fenomena itu benar, mereka termasuk secara hukum dalam bidang saya."
"Bila tidak," potong Holmes, "karena saya yakin Anda mencurigai penampakan itu dibuat oleh kekuatan manusia, maka Anda berpikir itu lebih cocok dengan bagian saya."
"Tepat." "Bagaimana menurutmu, Holmes," aku menyela dengan bergairah. "Perjalanan singkat ke Cornwall akan menyediakan beberapa hari yang indah. Kita mungkin bisa melarikan diri dari kabut sialan di sini!"
"Persetan dengan cuaca, Watson, aku lebih tertarik dengan kabut yang mengeliling penampakan biarawan Tak Berkepala di Kapel Trevenice. Mr. Harley, saya menerima undangan Anda, dengan senang hati! Masih ada waktu naik kereta ekspres ke Cornish, dan kita akan tiba di Trevenice Manor sebelum malam!"
Tak memberi kami kesempatan untuk menjawab, Holmes sudah bergegas ke kamar tidurnya dan menarik mantel Inverness-nya dan topi pemburu rasa.
"Watson, pastikan kau membawa tas obat-obatan. Kita mungkin memerlukannya. Cepatlah, permainan dimulai!"
Holmes tahu bahwa aku mensyukuri perjalanan keluar dari London pada setiap kesempatan, terutama bila ada kasus. Aku hampir tak punya waktu mengepak tasku sebelum kudapati diriku dan Mr. Harley didorong keluar oleh Holmes dan menuruni tangga. Beberapa kata singkat pada Mrs. Hudson menjelaskan apa yang hendak kami lakukan, kemudian keluar dari pintu depan saat Holmes menghentikan sebuah delman.
Dalam beberapa menit kami melihat stasiun Victoria
menjulang di antara kabut yang berputar-putar. Kami bertiga hanya sempat membeli tiket kami dan naik ke kereta.
Holmes, tentu saja, selalu benar. Bulan baru saja muncul saat kami bertiga berjalan menuju rumah manor itu. Mr. Harley mengisyaratkan kami agar mengikutinya waktu ia berputar menuju kapel.
"Tidakkah menurut Anda kita harus pergi ke rumah manor dulu, Mr. Harley"" tanyaku, bingung oleh tindakannya.
"Tidak, menurutku tidak, dokter. Kita akan melihat yang lainnya cukup sering nantinya. Aku hanya tak bisa menahan diri melihat kapel itu di bawah sinar bulan. Kau mengerti, bukan, Holmes""
"Ya, sangat mengerti. Aku harus mengakui kapel ini hasil karya arsitektur yang mengagumkan."
"Namun bangunan ini praktis runtuh," tambahku. "Aku tak membayangkan bangunan ini digunakan beberapa saat lalu."
"Akan tetapi bangunan ini sudah berdiri tegak selama lebih dari empat ratus tahun. Mari kita jelajahi bagian dalamnya, bagaimana"" kata Harley dengan nada bergairah.
Aku tiba-tiba berhenti satu kaki dari tangga batu besar yang menuju kapel, karena aku melihat apa yang tampaknya seperti sosok masif dan gelap bergerak menuju kami.
"Halo, apa ini yang datang ke arah kita""
"Bila aku tak mendengar suara kakinya," kata Harley, "aku yakin ini pasti manifestasi roh
halus." "Ia memang tampak seakan-akan datang dari kubur!"
"Siapa kalian, tuan-tuan"" kata pria itu menjulang di depan kami. "Ke mana kalian menuju""
"Misalkan Anda memberi tahu kami dulu siapa Anda," kataku, agak terkesan oleh ukurannya.
"Siapa saya" Saya David Pendragon, sir, itulah saya! Penjaga kandang di manor. Sekarang saya bertanya lagi pada tuan-tuan, kemana tujuan kalian""
"Kami hendak menginap di manor. Kami hanya hendak pergi melihat-lihat kapel," kata Harley meyakinkan.
"Oh, jangan melakukan itu, sir. Orang yang masuk ke sana jarang keluar lagi, sir. Jangan melakukan itu, tuan-tuan!"
"Apa yang Anda bicarakan, orang baik"" kataku.
"Saya membicarakan setan, hantu, dan musik orgel yang keluar entah dari mana." "Kau . . . kau mendengarnya," kata Harley bergairah.
"Tentu saja saya mendengarnya, sir. Tepat seperti saya melihat biarawan malang itu berjalan ke sana kemari tanpa kepalanya!"
"Bawa kami ke dalam kapel, maukah Anda, dar tunjukkan pada kami di mana Anda melihat sosok itu."
"Ah, itu tak akan kulakukan, sir, tidak bahkan untuk semua emas di Porthcall saya mau kembali dan mengambil resiko melihat lagi jiwa malang yang tersesat berkeliaran tanpa kepalanya! Bila tuan-tuan tahu apa yang baik bagi Anda, Anda tidak akan pergi ke sana pula! Perhatikan kata-kataku! Jangan pergi ke kapel!"
Ia berbalik dan berjalan pergi, sosoknya yang besar dan kokoh membayangi kami. Malam sudah benar-benar tiba dan angin dingin yang menusuk bertiup.
"Sungguh orang yang luar biasa. Tampaknya benar-benar ketakutan oleh tempat ini!"
"Ya," kata Harley, "tapi itu kepercayaan membuta lebih merupakan sebab keengganannya. Mari masuk ke dalam, bagaimana, dokter""
Saat kami bergerak masuk ke kapel, kami mendapati diri kami dikelilingi oleh bayang-bayang gelap dan hitam. Walaupun di luar gelap, di dalam kapel lebih gelap lagi, dan butuh waktu sesaat bagi mata kami untuk terbiasa dengan sedikit cahaya yang dipancarkan bulan melalui jendela kaca berwarna. Tiba-tiba, suara sebuah orgel memenuhi ruangan, menghentikanku tiba-tiba.
"Ya Tuhan," kataku, "dengarkan itu! Hantu itu sedang memainkan orgel!"
"Kita sangat beruntung. Manifestasi roh halus segera setelah kita memasuki kapel!"
Saat itulah, di tengah cahaya redup, aku memperhatikan orgel itu dan sosok yang memainkannya.
"Manifestasi roh halus . . . omong kosong!" teriakku, menjadi santai. "Lihat siapa yang duduk memainkannya. Itu Holmes!"
Kami bergegas maju hingga kami berdiri di sebelah orgel. Holmes memainkan tutsnya dengan
lembut. "Holmes, kau membuat kami takut setengah mati. Betul tidak, Harley""
"Bagiku sendiri, dokter, ia mengecewakanku. Kupikir ini benar-benar fenomena asli."
"Menurutmu apa yang kau lakukan, Holmes" Aku sedang bertanya-tanya ke mana kau pergi. Kupikir kau masih berada di belakang kami."
"Aku menyesal membuatmu takut, Watson. Aku hanya ingin tahu tentang orgel ini, jadi aku menyelinap lewat pintu samping di depanmu dan mencoba instrumen ini. Alat ini dalam kondisi yang sangat bagus bagi kapel yang sudah tak digunakan lagi, tidakkah begitu menurutmu, Harley""
"Ya, aku setuju, Holmes."
"Seseorang bisa mengasumsikan bahwa seseorang merawatnya dengan hati-hati, Malahan, aku akan bertindak lebih jauh lagi dan berkata-"
"Siapa Anda" Apa yang Anda kerjakan di sini!" terdengar suara seorang wanita di kegelapan. Holmes berbalik ke arah suara itu berasal, matanya mencoba menembus bayang-bayang gelap mencari suatu tanda pemilik suara itu.
"Kami tamu rumah manor, dan kami memutuskan untuk mengunjungi kapel sebelum kami mengunjungi tuan rumah kami."
"Oh," jawab suara itu, saat dari kegelapan keluar seorang wanita muda berbadan ramping berpakaian rapi yang cantik. "Ayah sayalah tuan rumah Anda. Saya Dorothy Brownlee."
"Apa kabar. Nama saya Holmes, dan tuan-tuan adalah Dr. Watson dan Mr. Harley."
Wanita itu membungkuk pada kami, kemudian berpaling lagi pada Holmes.
"Saya mendengar musik orgel itu dan saya sangat ketakutan. Anda pasti sudah mendengar legenda itu, kukira""
"Maksud Anda tentang Biarawan Tak Berkepala dan musik organ hantu itu, Miss Brownlee""
kataku. "Ya, dokter. Dan itu lebih dari sekedar legenda, saya yakinkan Anda. Itulah kenapa saya bergegas kesini begitu saya mendengar musiknya. Suara itu pastilah telah menakut-nakuti semua pelayan yang berada dalam jarak dengar. Kenapa Anda memainkan orgel itu""
"Saya ingin tahu apakah barang ini masih dalam keadaan baik."
"Jelas ya, Mr. Holmes. Nah, ayah saya dan sekretarisnya, Mr. Miles, sedang mengharapkan Anda, saya tahu itu. Mari berjalan menuju rumah, oke" Saya yakin Anda sudah cukup melihat kapel malam ini."
Aku senang sekali berjalan keluar dari angin dingin menusuk dan masuk ke rumah yang hangat. Ayah Dorothy berdiri di sebelah perapian, sikapnya menunjukkan ia pria yang kuat, bangga akan keadaan kehidupannya.
Kami semua diperkenalkan pada Mr. Brownlee yang pada gilirannya, memperkenalkan kami pada sekretarisnya, Leonard Miles, seorang pria tinggi dengan sifat pendiam, dan berwajah cukup tampan. Setelah formalitas biasa, kami bersantai dan duduk di dekat perapian tempat kami dapat menyingkirkan rasa dingin dari diri kami yang menembus hingga ke tulang.
"Saya khawatir Mr. Brownlee agak marah pada saya. Saya belum memberitahunya bahwa Anda ahli di bidang fenomena roh halus, Mr. Harley," kata Mr. Miles, yang pertama membuka percakapan.
"Saya tak bisa melihat mengapa pengetahuan saya atas fakta itu membuat Anda marah, Mr. Brownlee."
"Saya tidak ingin Anda menguber-nguber ke sana kemari tentang masalah hantu ini. Sudah ada cukup banyak masalah! Hampir tak mungkin mempertahankan pembantu, dan orang-orang Cornish ini amat percaya takhayul."
Aku sudah melirik Holmes yang dengan teliti mengamati semua anggota kelompok kami. Ia berpaling pada Mr. Brownlee dengan tersenyum, menarik pipanya dari mantel Inverness. "Pernahkah Anda sendiri melihat hantu itu, Mr. Brownlee"" tanya Holmes. "Tentu tidak," katanya tak suka, "di sini tak ada hantu saya beri tahu Anda!" "Kalau begitu pernahkah Anda mendengar orgel misterius dimainkan"" lanjut Holmes. "Tidak, belum pernah. Dan saya tidak ingin membicarakan ini lagi!"
Salah satu pelayan masuk dan memberi tahu Mr. Brownlee bahwa David Pendragon berada di pintu dan ingin berbicara dengannya. Aku telah mengeluarkan buku catatanku dan mencoretkan beberapa komentar sehubungan dengan sifat seluruh urusan ini tepat sebelum Pendragon diantarkan masuk. Aku siap mencatat informasi yang berkaitan yang tersedia.
"Ia pria yang kita temui di luar kapel, bukan"" kataku pada Harley.
"Ya, karakter yang cukup menarik."
"Sebaliknya," kata Mr. Brownlee, "ia orang bodoh yang percaya takhayul bila Anda bertanya pada saya. Tapi, harus saya akui, ia pengurus kuda yang baik." Saat itulah Pendragon masuk berdiri di depan tuannya.
"Mohon maaf, sir, tapi ada masalah lagi di kapel malam ini. Saya berkata pada diri saya sendiri: David, ini t
ugasmu untuk pergi ke tuan dan saya berada di sini. Waktu bulan tergantung rendah malam ini, sir, saya mendengar orgel berbunyi lagi."
"Tapi itu Mr. Holmes, orang baik," potongku.
"Oh ya, itulah yang dikiranya, mungkin. Kemudian saya berkata pada diri saya sendiri, 'Apa yang membuat ia memainkan orgel itu"' Lalu, malam ini juga, saya melihat Biarawan Tak Berkepala itu. Dengan mata saya sendiri saya melihat jiwa malang itu dengan kepalanya hilang, berkeliaran di bawah sinar bulan. Saya melihatnya, sir, dengan mata saya sendiri!"
"Keluar dari sini kau orang bodoh!" teriak Mr. Brownlee. "Dan kuperingatkan kau, bila aku mendengar lagi omong kosong tentang hantu ini, kau akan kehilangan pekerjaanmu, kau mengerti" Sekarang pergi!"
Ketakutan, Pendragon tua, walaupun besar, berbalik ketakutan dan cepat-cepat pergi. Mr. Brownlee menenangkan dirinya lagi sebisa mungkin dan berbalik pada kami.
"Mari, tuan-tuan, ke ruang tamu tempat saya paling tidak bisa menawarkan minuman pada
Anda." Brownlee, bersama anak perempuannya dan Leonard Miles, bergerak ke ruang tamu di depan kami, memberiku kesempatan berbisik pada Holmes.
"Holmes, Mr. Brownlee tampaknya betul-betul marah pada masalah hantu ini."
"Ya, mencurigakan. Aku ingin tahu apa yang ingin ia coba sembunyikan""
"Apa pun itu, kurasa ia tak akan berhasil," tambah Harley. "Dalam profesimu, Holmes, kau tahu pembunuhan akan ketahuan. Itu juga benar dalam profesiku. Cobalah menutupinya sebisa mungkin, tuan-tuan, hantu akan ketahuan!"
Tak ada lagi yang dibicarakan tentang kejadian itu saat tuan rumah kami menuang minuman bagi kami dan menjamu kami hingga, hangat dan nyaman, kami semua tidur malam itu.
Setelah sarapan, Holmes dan aku, ditemani oleh Mr, Harley, mendapati diri kami berjalan-jalan santai sepanjang tanah rumah Manor. Angin sudah agak mereda, dan, walaupun langit dipenuhi awan, matahari berhasil mengirimkan sinarnya di sana sini, membuat tanah itu bertitik-titik oleh kecemerlangan yang membantu membuat hari itu terlihat lebih ceria.
"Nah, Holmes, tempat ini mungkin berhantu, tapi aku bersumpah aku tak pernah menghabiskan suatu malam yang lebih baik daripada ini di manapun!"
"Dan aku tak pernah makan sarapan yang lebih lezat, Watson!"
"Kudengar kau bergerak-gerak sampai larut. Apakah kau pergi keluar, Holmes""
"Ya, tuan-tuan, aku berbicara lagi dengan David Pendragon," katanya dengan nada berbisik, "begitu juga dengan pelayan yang lain. Hasilnya cukup memberi pencerahan."
"Saya bangun siang pula, dokter," kata Harley "Kuputuskan untuk mengabaikan ancaman tersembunyi Mr. Brownlee, dan dengan demikian aku melakukan penyelidikan kecil di kapel."
"Dan apa hasil penyelidikanmu, Mr. Harley"" tanya Holmes.
"Yah, tak ada manifestasi roh halus, kau mengerti. Tapi aku yakin akan satu hal... kapel itu jahat. Jahat hingga batu-batunya. Dan aku bersumpah kejahatan tidak bermula dari biarawan malang yang dibunuh di situ."
"Kau telah mengkonfirmasi kecurigaan tertentu yang timbul dari penyelidikanku sendiri kemarin malam. Ada kejahatan di sini, Harley, dan aku yakin aku tahu asalnya. Kecuali aku salah mengartikan setiap tanda dan reaksi, seseorang telah memperkenalkan penduduk lokal pada kejahatan Misa Hitam(Ritual magis penyembahan pada setan/iblis)!"
"Misa Hitam" Ya Tuhan, itu pikiran yang mengerikan," kataku, ketakutan oleh kabar tak terduga ini.
"Sensasiku kemarin malam mengkonfirmasi teorimu, Holmes. Ada kelompok jahat di sini, aku bersumpah! Menyembunyikan praktek cabulnya di balik topeng hantu," kata Harley.
"Itu kedengarannya dapat dilakukan," tambahku. "Lagi pula, orang-orang begitu percaya takhayul sehingga mereka dapat dijauhkan sejauh mungkin dari kapel ketika mereka mendengar orgel berbunyi."
"Masalah ini berada dalam bidang kita berdua, Harley," jawab Holmes tersenyum. "Praktek ilmu hitam adalah tindakan kriminal."
"Mungkin sebaiknya hukum lama yang menentang ilmu sihir masih bekerja."
"Kurasa, Harley, kau punya metodemu sendiri untuk melawan kekuasaan yang kita hadapi ini""
"Oh ya, Holmes. Walaupun metodeku tak berhubungan dengan aspek legal kasus ini.
" "Bolehkah aku bertanya apa yang ingin kau kerjakan, sir"" tanyaku saat kami melanjutkan jalan-jalan kami.
"Yah, aku perlu melakukan beberapa persiapan rumit, dokter. Akan memakan hampir seharian, kurasa. Bagaimanapun, aku akan menjelaskannya pada kalian semua setelah makan malam nanti."
Kelihatannya tak ada alasan lebih jauh untuk meneruskan pembicaraan kami di titik ini, dan kami menyingkirkan segala kejadian luar biasa ini untuk bersantai dan menikmati pemandangan desa. Hari itu lewat dengan cepat dan menyenangkan dan tidak lama kemudian kami duduk di meja makan dengan hidangan burung puyuh dan menghabiskan waktu membicarakan musik, seni, dan kegemparan politis yang muncul di dunia kami yang bermasalah. Pada waktunya, pelayan membereskan meja, dan kami bersandar menikmati sore hari.
"Sangat menyenangkan duduk di sini," kataku puas, setelah makan malam yang enak dengan brendi super di siku dan mendengarkan piano yang dimainkan dengan begitu mempesona.
"Anda sangat baik, dokter," kata Dorothy. "Tidakkah Anda mau memainkan lagi, Miss Brownlee"" tanya Holmes saat ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang nyaman, pipa di tangan.
"Apakah Anda menikmati hari-hari Anda di sini, Mr. Holmes"" tanya Mr. Brownlee, ia sendiri duduk dengan nyaman di depan perapian.
"Sangat, terima kasih. Baik Mr. Harley dan saya mendapati cerita rakyat lokal sangat menarik." "Menurut saya," kata Leonard Miles muda, "Anda sekalian tidak menyelidiki masalah kapel berhantu itu lagi, bukan""
Mr. Brownlee berdiri tiba-tiba, tangannya terkepal marah.
"Sekarang lihat, bila Anda melakukannya, saya akan sangat marah! Ini memanfaatkan keramahan saya! Saya jelas-jelas memberi tahu Anda bahwa saya tak ingin ada pembicaraan lagi tentang hantu!"
"Silakan duduk," kata Harley, "karena kami tidak membicarakan hantu, Mr. Brownlee. Saya telah menemukan sesuatu yang lebih penting yang harus saya lawan sekarang. Mungkin agak sukar membayangkan saya sebagai prajurit perang salib; saya, seorang pria kecil di antara kalian, sekelompok pria tinggi menjulang yang pernah saya temui. Namun saya Santo Gregorius Anda."
"Apa yang Anda bicarakan, sir!" kata Mr Brownlee, kemarahannya semakin memuncak.
"Saya beri tahu Anda sesuatu yang bersifat rahasia," lanjut Mr. Harley. "Ini tidak boleh terdengar oleh penduduk desa. Saya menyebut diri saya Santo Gregorius karena saya pergi untuk menghapus seluruh kejahatan yang ada di tengah kalian. Naga modern yang hidup."
Dorothy berhenti memainkan piano, berbalik pada kami dengan ketakutan.
"Oh tolong, Mr. Harley, itu kedengarannya menakutkan!"
"Dan untuk membebaskan Anda dari segala kejahatan ini," ia meneruskan, mengabaikan gadis yang ketakutan itu, "saya harus membersihkan kapel itu! Memurnikannya! Mengusir roh jahat! Menghilangkan bekas kejahatan roh halus. Itu, tuan-tuan, adalah misi saya malam ini!"
Saat itulah Dorothy, tak mampu menerima kata-kata Harley, jatuh pingsan. Aku berada di sisinya dalam sekejap.
"Ambilkan garam hirup dari tasku, siapa pun. Sekarang!"
Holmes, tak terpengaruh, masih duduk di kursinya menghembus pipanya.
"Saya khawatir Anda terlalu jelas melukiskannya pada wanita ini, Mr. Harley," katanya dengan nada santai. Mr. Harley berdiri, merapikan bajunya, kemudian membungkuk sedikit pada tuan rumahnya.
"Saya menyesal bila saya menakuti nona muda ini, tapi saya yakin setelah malam ini ia tak akan punya dasar ketakutan lagi terhadap kapel Trevenice.
Ia berbalik dan pergi menuju kamarnya. Mr. Brownlee tak dapat menguasai dirinya karena marah, menatap lelaki kecil itu yang telah berbicara dengan begitu berani, sementara aku dan Leonard Miles mengurus wanita muda yang membutuhkan pertolongan itu. Holmes menyilangkan kakinya, menghisap dalam-dalam pipanya, dan tersenyum pada kami semua.
Aku sudah tertidur beberapa lama ketika diguncangkan hingga benar-benar terbangun oleh Holmes. "Ayo, teman lama, kita punya pekerjaan," katanya dengan nada berbisik lembut. "Berpakaianlah cepat-cepat dan ikuti aku."
"Apa . . jam berapa sekarang""
"Hampir tengah malam. Kita harus pergi ke kapel."
Hawa dingin menembus bawah baju tebalku saat kami meringkuk tak jauh dari kapel. Kabut yang semakin tebal berputar di sekeliling kami, terdorong ke depan oleh angin. Kabut sepertinya merangkak di atas tanah seperti jari-jari panjang, bergulung-gulung di atas tangga dan menempel di tembok kapel.
"Holmes," bisikku.
"Ya, teman lama"" "Kau dengar sesuatu""
"Tak ada apa pun kecuali burung hantu dan jam di manor yang menunjukkan tengah malam." Kesunyian tampaknya terus berlangsung.
"Aku menjadi amat mudah terkejut. Menurutmu apa yang direncanakan Harley""
"Aku bisa membayangkan prosedurnya," kata Holmes. "Tengah malam, waktu yang penting dalam usahanya. Kuharap ia berhasil. Rencanaku tidak sejelas itu, sayangnya. Aku merasa kekuatan yang membimbingku di sini sehingga... "
"Ada sesuatu, Holmes! Dengar!"
"Ya Tuhan, itu orgel di kapel!"
"Dan Harley berada di sana sendirian!" teriakku.
"Tidak sendirian! Dengar orgel itu menyemburkan kegilaan, Ayo, Watson! Sesuatu yang sangat salah telah terjadi!"
Begitu kami mendengar musik orgel setan itu, Holmes dan aku bergegas maju dan berlomba-lomba di sepanjang jalan menuju reruntuhan kapel itu. Waktu kami tiba di pintu masuknya, musik orgel sudah berhenti, dan sosok tinggi, kurus David Pendragon maju ke depan, berdiri di tengah-tengah jalan kami.
"Apa yang tuan-tuan inginkan di saat seperti ini"" "Tak usah pedulikan itu. Apa yang kau lakukan di sini""
"Saya" Saya ada di sini karena tuan itu memberi saya lima shilling untuk berdiri di sini dan memastikan tak ada orang mengganggunya. Itulah kenapa saya di sini. Dan tak ada orang yang masuk ataupun keluar. Ia masih di sini, ia masih di sini."
"Waktu kau dengar suara musik orgel itu kenapa kau tidak masuk""
"Musik orgel" Saya tidak mendengar musik orgel."
Dengan jijik, Holmes mendorong pria tinggi itu ke samping.
"Ayo, Watson!" Kami bergegas masuk ke kapel, mencoba melihat menembus kegelapan di sekitar kami. "Ya Tuhan, lihat dia!" kataku saat kulihat Harley.
"Kita terlambat, setan malang! Pisau menembus jantungnya. Jelas siapa yang melakukannya, Holmes. Pendragon itu. Aku akan pergi dan menangkapnya sebelum ia melarikan diri!" Holmes menahan gerakanku.
"Tidak, tidak, Watson. Ia bukan orang yang kita maksud. Pembunuhan ini direncanakan dengan kelicikan setan."
Kejadian aneh. Tak ada tanda-tanda pergulatan sama sekali, komentarku saat aku memeriksa tubuh teman kami. Tampaknya ia hanya berdiri saja dan membiarkan dirinya ditusuk.
"Perhatikan tanda-tanda kapur yang mengelilingi tubuh ini, Watson. Ini dikenal sebagai pentagram, yang digunakan untuk mengusir kejahatan. Ia mengira pentagram itu akan melindunginya dari kekuatan supranatural."
"Pria malang, sekali ini penelitiannya terlalu jauh."
"Ya, karena berurusan bukan saja dengan dunia supranatural, tapi juga dengan kejahatan biasa. Dan ingat, Watson, bahwa tiga orang selain kita sendiri dan David Pendragon tahu rencana jaga malam
ini." "Maksudmu Brownlee, anak perempuannya dan Miles muda, sekretarisnya."
"Tepat. Kembalilah ke rumah, dan bawa mereka ke sini! Mungkin kita dapat mengistirahatkan hantu dengan menjebak seorang pembunuh!"
Tak lama kemudian aku telah membangunkan seisi rumah dan membawa mereka ke kapel. Holmes langsung mulai menanyai mereka, karena sekarang adalah waktu yang baik untuk menangkap mereka selagi tak siap.
"Tapi itu saja yang saya tahu, Mr. Holmes," kata Leonard Miles.
"Kau tak mendapatkan apa pun sejauh ini. Holmes," kataku, "mereka bertiga bersumpah mereka tertidur dan tak mendengar suara orgel itu."
"Betul," tambah Mr. Brownlee, "dan Anda tak dapat membuktikan sebaliknya, Holmes!"
"Kurasa saya dapat membuktikan bahwa bukan saja salah satu dan kalian tidak tidur, tapi juga membunuh Mortimer Harley!"
"Tapi kenapa salah satu dari kami ingin pria malang itu mati, Mr. Holmes"" kata Dorothy dengan nada gelisah.
"Dalam kasus Anda, nona muda, saya akui saya susah mendapatkan motif."
"Artinya Mr. Brownlee dan saya mungkin punya motif""
"Yah, Mr. Miles," aku menyela, "Anda harus mengakui bahwa Anda bertanggung jawab atas kedatangan Mr. Harley."
"Dan Anda, Mr. Brown
lee, harus mengakui bahwa Anda melakukan segala yang Anda bisa untuk mencegah pria yang meninggal itu meneruskan penyelidikannya. Kenapa" Apa yang ingin Anda coba sembunyikan""
"Tak ada, Mr. Holmes, hanya saja saya ingin menjual rumah Manor. Segala pembicaraan tentang hantu ini memberi tempat ini nama buruk. Dan bila itu diteruskan, saya tak akan pernah dapat menjual tempat ini."
"Yah, spekulasi tak membawa kita ke manapun," kata Holmes dengan ketetapan muram. "Mari lihat faktanya. Apakah ada pintu masuk lain ke kapel ini selain pintu depan dan samping"" "Tak ada," jawab Mr. Brownlee langsung.
"Ada goa penyelundup yang menembus dekat serambi orgel, tapi ayah menyuruh orang menemboknya beberapa tahun lalu. Saya harus melakukan itu, para turis terus-menerus merangkak masuk!"
"Pergi dan periksa jalan masuk itu, maukah kau, Watson""
Kulakukan yang diminta Holmes, tapi aku memeriksanya sepelan mungkin sehingga aku masih dapat mendengar percakapan yang bergema di dinding kapel.
"Bila Anda tak keberatan saya mengatakannya, Mr. Holmes," kata Miles muda, "tampaknya jelas siapa yang melakukan pembunuhan ini."
"Anda memberi tahu kami David Pendragon mengaku bahwa tak ada orang masuk atau keluar saat ia berdiri berjaga," tambah Mr. Brownlee. "Ia pasti melakukannya sendiri! Saya bisa tahu orang itu bodoh dan-"
"Dan percaya takhayul. Ia mungkin membunuh Mr. Harley karena ia mencoba berurusan dengan hantu."
"Dan kemudian memainkan orgel untuk merayakan kesempatan itu"" kata Holmes sarkastis. "Saya rasa Anda terlalu menganggap tinggi kemampuan David Pendragon, Miss Brownlee. Mr. Miles Pendragon sedang menunggu di luar. Maukah Anda berbaik hati memintanya datang ke sini sebentar,
tolong"" "Tentu saja." Saat Miles pergi untuk membawa masuk Pendragon, aku kembali, menyapu debu dan kotoran dari bajuku.
"Apa yang kau temukan, Watson""
"Yah, mudah diketahui di mana tembok itu dibangun. Tembok itu sekarang kokoh; tak ada orang bisa masuk lewat situ."
"Tapi bila tak ada orang masuk atau keluar," tanya Mr. Brownlee, siapa lagi yang dapat membunuh Harley kecuali Pendragon!"
"Hantu itu," jawab Holmes, "atau lebih tepatnya orang yang menyamar sebagai hantu. Pria yang gagal itu mengharapkan manifestasi roh halus. Ketika ia melihat apa yang menurutnya hantu datang ke arahnya, ia tak melawan. Anda dapat lihat tak ada pergulatan yang terjadi bila Anda memeriksa dengan cermat debu di lantai di sini. Harrley percaya bahwa pentagram magis dapat melindunginya . . . Ah, ini dia, Pendragon."
"Ya, saya di sini, sir. Tapi saya tak tahu lebih banyak lagi dari yang saya ceritakan pada Anda." "Jangan takut, Pendragon," kata Holmes meyakinkan, "yang kita inginkan hanya kebenaran." "Itulah yang saya ceritakan pada Anda, sir."
"Ketika kau berkata tak ada orang masuk kapel malam ini, maksudmu TAK ADA MANUSIA HIDUP yang masuk, benar kan""
"Memang, sir. Tetapi bagaimana saya bisa berkata saya melihat hantu ketika Mr. Brownlee ini memberi tahu saya bahwa saya akan kehilangan pekerjaan bila membicarakan hantu lagi."
"Jadi kita mencapai sesuatu," kataku. "Jadi kau melihat hantu""
"Itu saya lihat, sir. Jiwa malang itu berjalan di bawah cahaya bulan tanpa kepala!" "Kau melihatnya dengan jelas"" tanya Holmes tegas. "Sejelas saya melihat Anda sekarang, sir." "Seberapa tinggi hantu itu""
"Ia ... maukah Anda berdiri menempel tembok sir""
Holmes berdiri menempel tembok saat Pendragon memandangnya dengan hati-hati sebelum berbicara.
"Ia sama tinggi dengan . . . yah, bahunya berada tepat di tempat bahu Anda sekarang, sir." "Seorang pria yang tinggi, kalau begitu. Jadi kita menyempitkan jumlah tersangka menjadi antara Anda dan, Mr. Brownlee, atau Anda dan Mr. Miles," kataku. "Ini benar-benar tak masuk akal!" teriak Mr. Brownlee.
"Sebaliknya, tuan-tuan, kasus ini terpecahkan!" kata Holmes penuh kemenangan saat ia menyalakan pipanya.
"Yang mana dari mereka, Holmes"" kataku berharap.
"Bukan kedua-duanya! Ingatlah hantu itu tak berkepala. Ini artinya penipu itu harus membuat bahu palsu yang menutup kepalanya. Bagi kedua pria ini, itu berarti membuat bahu mere
ka sama tinggi dengan kepalaku."
"Holmes," kataku heran, "kau bermaksud bahwa-"
Tiba-tiba kapel dipenuhi oleh tawa yang menggema. Kami semua berpaling menghadap Dorothy Brownlee, wajahnya menjadi topeng kemarahan kebencian.
"Bravo, Mr. Holmes, aku tak mengira Anda akan menangkapku!" "Miss Brownlee saya harus memperingatkan Anda bahwa-"
"Mundur, jangan ada yang mendekatiku! Seperti yang kau lihat, aku membawa revolver!" "Dorothy," teriak Mr. Brownlee keheranan, "Demi Tuhan!"
"Jangan berbicara padaku tentang Tuhan! Kau berpikir aku anak gadis kecil yang manis, bukan Ayah" Kau tidak tahu anak perempuanmu tersayang, yang sopan ini dapat membunuh seorang pria,
bukan!" "Kenapa kau membunuh Mortimer Harley""
"Karena ia tukang ikut campur, Mr. Holmes. Selama berbulan-bulan aku mempraktekkan ilmu hitam di sini. Selama berbulan-bulan aku membangun legenda Biarawan Tak Berkepala dan musik orgel itu. Legenda itu membuatku dengan benar-benar sendirian, begitu bebas mempraktekkan ritual!"
Aku berdiri di sana mendengarkan dengan ngeri wanita muda yang dulunya pendiam ini sekarang berteriak-teriak dan mengoceh, matanya membara dengan api kegilaan yang menyala. Aku tak dapat bergerak. Holmes berdiri di sebelahku, badannya tegang, mendengarkan secermat diriku.
"Dan kemudian, Harley datang," ia melanjutkan. "Aku membiarkannya hidup pada malam pertama karena kupikir ia orang bodoh! Tapi pada malam kedua, ketika ia berkata ia hendak mengusir roh jahat dari kapel ini, untuk memurnikannya katanya, ia menandatangani surat kematiannya! Bila kau dapat melihat wajahnya. Bila kau dapat melihat wajah bodohnya yang terkejut saat aku menusukkan pisau ke tubuhnya. Ia berdarah dengan begitu indah!"
"Holmes!" teriakku, "Ia gila! Apa yang harus kita lakukan""
"Miss Brownlee, berikan revolver itu padaku!"


Sherlock Holmes - Petualangan Biarawan Tak Berkepala di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dan membiarkanmu membawaku ke penjara atau rumah sakit jiwa, Mr. Holmes" TIDAK! Kau takkan pernah menangkapku!"
Ia mulai menaiki tangga yang menuju serambi orgel, tawa maniaknya berdering di seluruh
kapel. "Dorothy, Dorothy, kembali!" teriak Mr. Brownlee sedih saat ia memandang putrinya yang gila melarikan diri.
"Hati-hati... susur tangga di belakangmu!" teriak Holmes, akhirnya bergerak maju. Miss Brownlee mengarahkan pistolnya, membidik tepat pada Holmes. Ia langsung berhenti.
"Apa, Mr. Holmes," teriaknya, "dan memalingkan kepalaku darimu sehingga kau dapat mencoba menghentikanku" Tidak, aku-"
Ia tak pernah menyelesaikan kata-katanya saat berat tubuhnya mendorong susur tangga, menyebabkan stukturnya yang sudah lapuk runtuh. Dengan ketakutan di matanya, ia terjatuh sambil berteriak dan jatuh berdebam di lantai batu di rawahnya. Bahkan saat ia berguling ke posisi diam, aku dapat melihat dari tempatku berdiri bahwa ia telah mematahkan lehernya tepat saat ia menghantam lantai.
Dengan berduka Mr. Brownlee lari maju memeluk anak gadisnya. Tapi sudah terlambat. Ia sudah dengan murah hati terbunuh di tempat ilmu hitamnya berkuasa.
Holmes mendekati Mr. Brownlee yang tersedu-sedu, berdiri di sebelah sosoknya yang berlutut. "Mr. Brownlee," katanya lembut, "kekuatan kejahatan bisa sangat menakutkan. Anda harus menyadari dan menerima bahwa anak perempuan Anda telah membunuh satu orang dan mungkin bisa membunuh lebih banyak lagi. Ia tak waras. Benar-benar tak waras."
Tak ada yang dapat kami lakukan. Holmes memberi isyarat padaku.
"Watson, berbaik-hatilah membantu Mr. Brownlee kembali ke rumah manor begitu ia bisa melakukannya. Akan kukirim Pendragon menjemput polisi sehingga kita bisa menjelaskan detail yang masih ada dalam kasus ini. Bila kau sudah selesai, beri tahu aku. Kupikir ini waktunya kita meninggalkan tempat yang menyedihkan ini."
Saat kami duduk di kompertemen kereta ekspres Cornish yang membawa kami kembali ke London, baik aku maupun Holmes amat menyadari ketidakhadiran Mortimer Harley. Kami duduk diam untuk waktu yang lama, hingga akhirnya, Holmes memecah kediaman kami.
"Kurasa ini yang terbaik, Watson, bila kita biarkan kasus ini tak tercatat. Mortimer Harley akan menginginkannya seperti itu."
"Tidak, Holmes, aku tak setuju. Wa
laupun kau dan dia punya pendekatan yang berbeda dalam kasus ini, ia tidak jauh dari sasaran. Kurasa ia akan menginginkan masyarakat tahu bahwa kejadian mengerikan seperti itu ada di dunia ini yang kita harapkan dan doakan menjadi tempat yang damai dan penuh kasih sayang. Harley orang yang baik. Aku ingin memberikan keadilan baginya dengan menulis kasus ini sehingga namanya tak akan dilupakan sama sekali."
"Yah, Watson yang baik, lakukan yang menurutmu pantas," katanya menghela nafas dalam-
dalam. Holmes kembali memandang jendela saat subuh tiba di atas pedesaan. Aku bersandar ke tempat duduk, kelelahan oleh petualangan ini, berkeputusan untuk bisa tidur sebelum mencapai London, ketika kudengar Holmes berbicara dalam suara lembut, yang hampir lebih lembut dari bisikan.
Ia berkata, "Beristirahatlah dalam damai, Mortimer Harley, beristirahatlah dalam damai."
Pedang 3 Dimensi 12 Jago Pedang Tak Bernama Bu Beng Kiam Hiap Karya Kho Ping Hoo Pendekar Pemanah Rajawali 28
^