Pencarian

Sembilan Bintang Biru 1

Goran Sembilan Bintang Biru Karya Imelda A. Sanjaya Bagian 1


Vida. planet dengan tiga matahari, dalam keadaan darurat. Pangeran Patritz yang menjadi penguasa sementara, karena Goran XXI sakit, ternyata berniat jahat. Demi melanggengkan kekuasaan, dia mengasingkan penduduk Vida yang menentangnya ke sebuah satelit. Dia juga hendak menghukum mati semua pemberontak.
Sementara itu, di dalam gua di seberang jurang magnet hiduplah sekelompok Theft Ryder, para pencuri dengan kendaraan terbang mereka. Diam-diam. mereka menyusun pemberontakan besar-besaran,sedangkan eksekusi terhadap seratus ribu orang pertama akan segera dilaksanakan. Namun, hanya dengan bantuan orang-orang yang disinarilah Planet Vida bisa merdeka dari penguasa jahat. Merekalah orang-orang yang memiliki BINTANG BIRU ...
Aniki Kodama. siswa SM A di Jepang. Malas gosok gigi dan tukang tidur di mana saja. Akhir-akhir ini, dia sering didatangi seseorang berjubah hitam yang misterius dalam mimpinya. Pasukan Jubah Merah yang menguasai perubahan dimensi pun mulai menyerangnya.
Orphann. Putra Mahkota Vida yang dibesarkan di Gua Hitam sebagai pencuri bersama ratusan remaja lainnya. Orphann memiliki kekuatan bisa mengembalikan serangan sebesar apa pun kekuatan serangan itu.
Xin Ai.putri bangsawan dari masa Dinasti Chingjago kungfu dan strategi perang, memiliki kekuatan melihat dalam jarak yang jauh dan mampu melihat menembus tembok setebal apa pun. Keahlian tersebut dimanfaatkannya untuk membantu Orphann, Aniki.dan Pasukan Jas Hujan Putih membebaskan para terpidana mati.
Dengan lorong waktu mereka berloncatan dari dimensi yang satu ke dimensi yang lain untuk menghindari kejaran Panglima Sam,yang diperintahkan oleh Kubilal Khan untuk mengumpulkan BINTANG BIRU demi menguasai dunia.Bukan hanya itu, di Planet Vida pun mereka harus berhadapan dengan Garda Goran, Pasukan Jubah Merah.dan beck yang setia pada Patritz dan borguic.
Berhasilkah mereka" G I T A menghidangkan kisah-kisah pilihan, fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur
" 2007, Imelda A. Sanjaya
Goran, karya Imelda A. Sanjaya, diterbitkan pertama kali oleh Serambi
Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha Pewajah Isi: Callysta Izmi Putri Aryani
PT. SERAMBI ILMU SEMESTA Anggota IKAPI Jl. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730 www.serambi.co.id; www.cerita-utama.serambi.co.id; info@serambi.co.id
Cetakan 1: Desember 2007 ISBN: 978-979-0240-06-3
saturn dreams Sinar biru yang datang dari langit geiap itu utuh, buiat penuh. Tidak menyebar, membias. Seperti laser dan jatuh lurus di depan kakinya. Ia ingin lari, tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Kepalanya terdongak menatap langit hitam tempat sinar biru itu datang. Tidak ada lubang di sana. Jadi dari mana sinar itu berasal" "BANGUUUUUN! SIANG!"
Ibu menggedor pintu kamarnya. Beruntun seperti senapan mesin. Aniki terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Mimpi itu lagi.
"Kau sudah tidak ingin sekolah!"
Itu bukan pertanyaan melainkan vonis. Aniki keluar dari kamarnya dan mencuci muka di wastafel. Sebenarnya keringat dari mimpi itu membuatnya gerah, tapi ini adalah pagi di akhir musim gugur. Cuma orang gila yang mandi di saat seperti ini.
Aniki duduk di meja makan, berusaha menelan nasi omelet khas buatan Ibu. Gosong dan asin. Ibu berdandan di depannya dengan terburu-buru.
"Kaulupa menggosok gigimu lagi."
Aniki berhenti mengunyah sebentar, menyadari bahwa itu benar, lalu kembali makan. "Tadi malam sudah, kok."
Ibu menggeleng-geleng sambil bergidik ngeri. Aniki merasa Ibu berlebihan dalam masalah kebersihan.
Sekali-sekali tidak menggosok gigi tidak akan membuat kita mati, kan"
"Ibu akan pulang agak malam. Kauhangatkan saja makanan di lemari es." Ibu lalu keluar dari rumah.
Aniki mengangguk. Ia membawa piringnya ke bak cuci piring dan mencucinya. Ia teringat sinar sebiru pepsi yang dilihatnya itu jatuh seperti air dari keran ini. Saat selesai mencuci (sambil melamun), ia baru menyadari sudah sepuluh menit terlambat ke sekolah.
Sekolah Menengah Unggul an Sakura Satu Jam Kemudian
"Setiap hari terlambat membuat kau terlatih menggosok toilet." Benar juga. Padahal, Aniki bahkan tidak ahli dalam menggosok giginya sendiri. Aniki melanjutkan hukumannya dengan cermat. Pak Voshimura kesal karena kalimatnya tidak ditanggapi.
"Kodama! Sikapmu itu tidak menghormati guru!"
Pak Voshimura meninggalkan Aniki dengan gusar dan melupakan tugasnya memastikan agar pekerjaan Aniki sempurna. Aniki menyiram dinding toilet dengan air dari selang sambil berusaha mencerna bagian mana dari tindakannya yang dianggap tidak menghormati Pak Yoshimura.
Ia berjalan mundur saat keluar dari toilet dan hampir menabrak Yuki Asano yang kebetulan melewatinya. Gadis itu terkejut tapi tidak menjerit.
"Kodama! Apa yang kaulakukan di sini""
Aniki melihat ke sikat dan selang air yang sedang dipegangnya. Apa lagi yang dilakukannya dengan dua
"'Nasi goreng khas Jepang yang dibungkus telur dadartipis.
benda ini selain ... "Ini toilet wanita!"
Aniki menoleh ke pintu toilet, melihat gambar orang gundul memakai rok dan baru menyadari ia menggosok toilet yang salah. Kenapa tadi Pak Yoshimura tidak mempermasalahkannya" Aniki mengangkat bahu dan berjalan kembali ke kelas setelah melemparkan sikat dan selang ke pojok halaman.
Yuki Asano masih menatap punggung kurus Aniki. Gadis itu selalu terkesan setiap kali bertemu dengan Aniki. Sengaja atau kebetulan. Entah mengapa laki-laki pendiam itu selalu membuatnya berpikir bahwa dunia normal yang mereka tempati sekarang terlalu ramai. Riuh.
* * * ANIKI MEMILIH meja paling pojok untuk makan. Tempat itu agak gelap tapi paling menyenangkan. Dari sana, ia bisa melihat pohon-pohon kastanye dengan jelas dan memang itu tujuan Aniki.
Aniki menghitung buah kastanye yang berjatuhan yang kemudian dipungut oleh beberapa gadis yang melakukannya sambil tertawa-tawa. Berisik sekali. Mengapa mereka tidak bisa melakukannya dalam diam" Aniki mengembalikan pandangannya ke meja dan baru menyadari bahwa ia tidak membawa bekal dari rumah dan belum membeli apa pun dari kantin.
Aniki masih berpikir apakah ia sebaiknya makan siang atau tidur saja saat Yuki Asano menghampiri mejanya dengan membawa baki penuh makanan. Ternyata gadis ini banyak juga makannya.
"Aku membawakan burger untukmu."
Yuki menyodorkan tidak hanya burger, tapi juga segelas cola dingin. Aniki mengangguk berterima kasih dan menggigit burgernya. Ia lebih suka sushi, tapi setidaknya ini lebih baik ketimbang omelet buatan Ibu.
"Pohon-pohon kastanye itu paling indah saat musim gugur begini, bukan"" Yuki bertanya. Yuki menatapnya sehingga Aniki terpaksa mengangguk lagi sekadar menanggapi. Yuki puas atas reaksi Aniki dan kembali menatap pohon kastanye dengan pikiran romantis memenuhi kepalanya.
"Kodama-san, bagaimana kalau kita ikut memunguti buah kastanye seperti yang dilakukan murid-murid lain""
Yuki menoleh lagi dan mendapati Aniki sudah tertidur dengan kepala tertelungkup di atas meja dan tangan kanannya masih menggenggam separuh burgernya. Yuki tersenyum. Ia tidak marah. "Mungkin lain kali."
* * * LAGI-LAGI, ANIKI berada di padang pasir berwarna ungu. Kali ini, ia bahkan bisa merasakan kelembutanpasir itu di kakinya. Dingin. Aniki melihat ke sekeliling dan mendapati keheningan yang disukainya. Tempat favoritnya ternyata ada di dalam mimpinya.
Sebuah suara melengking membuatnya menoleh. Seseorang berbalut jubah hitam sudah berada kira-kira tiga puluh meter di belakangnya. Orang itu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Atau seperti di film-film horor-mungkin sekali ia tidak punya wajah.
Suara melengking itu terdengar lagi. Aniki baru menyadari bahwa lengkingan itu bukan berasal dari jedi barusan, tapi dari belakangnya. Lengkingan itu terdengar
makin tinggi. Seperti suara siulan pada frekuensi yang tidak bisa dicapai manusia. Tajam .... Ia terbangun di pinggir lapangan sepak bola. Oda, kapten sepak bola klubnya menggeleng-geleng menatapnya. Di sekitar Oda, belasan rekannya yang lain ikut menatapnya dengan tatapan serupa dengan Oda: kau aneh!
"Apakah aku harus masuk menggantikan seseorang"" Aniki duduk dan menatap mereka semua.
"Aku meny uruhmu melakukan pemanasan sebelum menggantikan Nomo lima belas menit yang lalu. Terakhir kali aku melihatmu sedang berlari keliling lapangan dan sekarang kami menemukanmu dalam keadaan koma!"
Aniki melihat papan skor. Pertandingan sudah usai dan mereka-tim inti-kalah dari tim lapis tiga garagara ia ketiduran saat berlari melakukan pemanasan.
Aniki membenahi tasnya dan berjalan pulang. Oda menggumam, "Ia bahkan tidak bilang maaf kepada kita."
Sudah seratus meter keluar dari gerbang sekolah, Aniki baru ingat bahwa ia meninggalkan sepedanya di sekolah. Ia kembali ke kebun kastanye di sisi kantin tempatnya meninggalkan sepeda.
Sepi. Aniki menunduk sambil meniti langkahnya di atas daun-daun kering Jingga sampai ia mendengar langkah lain di depannya. Ia mengangkat wajahnya.
Di situ, di depan sepedanya seseorang berjubah hitam sedang memunggunginya, mengawasi sepedanya. Dia yang hadir dalam mimpinya tadi! Aniki langsung mengambil keputusan dalam hatinya: lari!
Tapi kakinya membeku, tidak mau diangkat. Ratusan helai daun kastanye di tanah seolah-olah sedang memegangi kakinya erat-erat. Ia seperti berada dalam pasir isap.
Perlahan, leher si jubah hitam berputar menoleh arahnya. Tepat di saat mereka harusnya berhadapan, Aniki merasakan dunia di sekitarnya berubah. Daun kastanye mengungu, pohon-pohon menjadi bukit batu dan langit menghitam. Si jubah hitam sepertinya mendapatkan latar belakang yang tepat untuk penampilannya. Hebat! Apakah sekarang Aniki bahkan bermimpi sambil berdiri"
"Kau mencariku"" Aniki mengeluarkan kata-kata begitu saja. Perlahan, si jubah hitam mengangkat wajahnya. Aniki kecewa. Ia mengharapkan melihat wajah bapak-bapak tua yang bijaksana atau wajah seram seekor monster, tapi si jubah hitam ternyata memakai topeng putih yang hanya berlubang di bagian matanya.
Jubah hitam mengangguk. Ia menatap Aniki dengan pandangan-yang entah mengapa jauh di dalam lubuk hati Aniki-terasa seperti mencerminkan kerinduan.
"Kita akan lebih sering bertemu nanti." Suara manusia! Jubah hitam mendongak ke atas dan seberkas sinar biru pepsi dari langit hitam jatuh menimpa tubuhnya. Ia menghilang dan dalam sekejap bukit batu kembali menjadi pohon dan daun kembali berwarna kuning dan cokelat. Langit kembali cerah sehingga Aniki bisa melihat sepedanya di bawah pohon dalam keadaan baik-baik saja.
* * * ANIKI MENGHANGATKAN mangkuk berisi ramen Hijau tabur daging sapi di dalam microwave. Rasanya tidak lebih baik daripada omelet tadi pagi, tapi Ibu sepertinya sudah sangat berusaha membuatny kenyang dan tumbuh normal seperti orang lain. Ia harus menghargainya.
Ibu memaksanya mandi dan menggosok gigi setiap
hari, memasoknya dengan makanan-makanan cepat saji, mendorongnya untuk sering-sering keluar dan berteman dengan banyak orang seperti yang anak-anak seumurnya biasa lakukan. Tapi Aniki tidak bisa melakukan hal terakhir. Komunikasi nol dengan makhluk lain membuatnya nyaman.
Aniki mencuci piringnya, lalu menghidupkan televisi. Ia memilih saluran berita dan bergelung di sofa. Dengan segera ia ketiduran dan melewatkan berita terbaru yang ditayangkan di televisi.
Pembaca berita menyebutkan bahwa sekitar pukul empat sore terjadi fenomena alam aneh di wilayah Shinjuku, Yoyogi, Kudanshita, dan Nagatacho. Selama beberapa menit, semua orang yang berada di wilayah tersebut melihat langit berwarna ungu.
* * * NYONYA KODAMA menyelimuti putra satu-satunya dengan rasa sayang. Ia sedih menghadapi kenyataan bahwa ia hanya bertemu dengan Aniki pagi hari dan malam hari di saat Aniki sudah tidur.
Aniki selalu tidur di sofa sebelum Nyonya Kodama membangunkannya untuk menyuruhnya pindah ke kamar. Anak itu seolah-olah selalu menunggunya pulang. Kali ini ia tidak tega membangunkannya. Wajah Aniki terlihat sangat damai dan lelah.
Aniki seharusnya bermain seperti anak-anak seusia-nya. Mungkin juga seharusnya sudah punya pacar, tapi sepertinya tidak. Aniki selalu tiba di rumah sebelum pukul
*Mie (biasanya kuning) kuah Jepang yang diberi naruto dan potongan tipis daun bawang. Orang Jepang juga menyebutnya chuka soba atau shina soba (mie cina).
lima dan itu berarti ia tidak punya cukup waktu untuk bermain dengan teman-temannya atau bertemu pacarnya.
Aniki tampak tidak membutuhkan hal itu. Ia bisa hidup nyaman hanya dengan menjalani rutinitas sehari-hari seperti robot. Ia masuk klub bola karena sekolah memintanya. Ia tidak pernah membolos karena ibunya melarangnya. Ia tidak pernah mengeluhkan makanan tidak enak yang dimasakkan untuknya. Ia juga tidak ikut les karena ia tidak membutuhkannya.
Aniki sering datang terlambat ke sekolah, sering tertidur di kelas, dan tidak pernah belajar. Tapi, ia selalu bisa mengerjakan semua ujian dengan benar dan sempurna. Keistimewaan Aniki mengingatkan Nyonya Kodama pada seseorang dan tadi sore ia makin teringat pada orang itu. Dari radio yang didengarnya di dalam taksi, ia mendengar berita tentang fenomena langit berwarna ungu sekejap yang terjadi di beberapa wilayah di Tokyo.
Dua puluh empat tahun yang lalu pada musim semi, fenomena itu pernah terjadi di Hokkaido. Ia sedang berada di jalanan, pulang kuliah dan bersepeda dengan Jiro Kodama, pacarnya-saat langit tiba-tiba berwarna ungu muda.
Semua orang di sekitarnya berlarian meneriakkan kata 'kiamat1. Ia dan Jiro hanya diam dan takjub memandang ke atas dan ke sekeliling. Ia bersumpah saat itu sedikit salju sisa musim dingin di atap-atap rumah berubah menjadi keperakan dan daun-daun hijau yang tersisa terlihat berwarna biru.
Saat ia mengembalikan pandangan ke jalan, dua puluh meter di depannya seseorang berdiri menatapnya dalam-dalam. Ia menarik-narik lengan baju Jiro.
"Jiro, orang itu ... tadi aku tidak melihat dia ..." Jiro menoleh dan lelaki bertubuh kurus itu melemparkan senyum tipis kepada mereka lalu pergi. Yang membuatnya tidak bisa melupakan hari itu adalah mengiringi kepergian laki-laki itu, langit sepetak demi sepetak kembali membiru, salju memutih dan daun-daun kembali menghijau.
* * * ANIKI TERBANGUN tengah malam karena lapar. Ia bangkit dari sofa dan menyeret langkah ke dapur. Aniki tidak menemukan apa-apa di dalam lemari dapur selain kepiting kalengan dan sarden. Ibu pasti lupa belanja bulanan, padahal ini sudah pertengahan bulan.
Aniki memilih sarden, memutar-mutar kalengnya beberapa saat untuk membaca keterangan pada kaleng. Sebenarnya, ia sudah hafal bahwa isi kaleng itu adalah ikan sarden dengan saus tomat yang encer.
Tiba-tiba Aniki merasa genggaman tangannya mengeras, kaleng sarden bergetar beberapa detik, lalu diam. Heh" Apakah pabriknya memasukkan ikan hidup ke dalamnya"
Aniki membuka kaleng dan mendapati ikan sarden di dalamnya hancur seperti bubur-menyatu dengan sausnya. Aniki baru saja berpikir mungkin ada kesalahan dari pabrik saat tiba-tiba bubur ikan itu perlahan berputar dan menggumpal seperti bola, terangkat keluar dari kaleng, lalu pecah dengan suara ledakan keras. Aniki terkejut.
Ibu tergesa-gesa masuk ke dapur dan mendapati dinding serta meja makan penuh dengan cairan merah-kelabu yang amis. Ia lalu menatap Aniki yang masih berdiri termangu memegangi kaleng sarden yang
terbuka. Wajah anak itu juga dipenuhi saus tomat.
"Kau tidak memasukkan kaleng sarden itu ke dalam microwave, kan"" Sambil bertanya Onatsu Kodama melirik microwave di sudut dapur yang tampak utuh dan baik-baik saja. "Tidak."
Ia tahu Aniki tidak berbohong. Apakah tadi ada yang menembak kaleng sarden putranya" Ia menenangkan dirinya sendiri dengan mengambil kesimpulan,
"Mungkin terlalu banyak udara di dalam kaleng tersebut." Padahal, ia sendiri menyadari seandainya seekor ikan buntal pun yang masuk ke dalam kaleng, tidak akan mungkin terjadi ledakan sedahsyat tadi.
Aniki mengangguk dan mengambil lap untuk membersihkan sisa ledakan sarden. Merasa iba, Nyonya Kodama merebut lap dari tangan putranya. Tangannya bersentuhan dengan tangan Aniki dan ia menyadari tangan Aniki bergetar dan panas.
"Aniki"" Aniki balik menatapnya dengan cemas. Nyonya Kodama melepaskan tangannya dan melihat lap di tangan Aniki tiba-tiba terlepas jatuh ke lantai, mengerut dan menggumpal lalu meledak di udara berbentuk serpihan halus.
Ada serpihan yang mengenai wajah Nyonya Kodama dengan cukup keras sehingga kulit wajahnya tergores. Tapi
bukan itu yang membuatnya khawatir, takut rahasia tentang Aniki yang ingin dikuburnya dalam-dalam datang lagi dan akan membuat Aniki pergi dari sisinya.
* * * SEKALI LAGI, Aniki bermimpi tentang sinar biru dan
padang pasir ungu. Kali ini di dalam mimpinya, ia melihat laki-laki berjubah sedang bercermin pada sebuah cermin besar berkaki di depannya. Tak ada bayangan dirinya di dalam cermin itu.
"Apa yang sedang kaulihat di situ""
Laki-laki berjubah hitam berbalik dan mata di balik topengnya menatap Aniki tajam.
"Temanmu." Aniki melangkah maju dan melihat bayangan pada cermin. Hanya bayangan dirinya. Tapi, lama-kelamaan bayangan itu memudar dan berganti dengan bayangan remaja laki-laki seusianya, berambut pirang, berkulit putih, dan bermata biru menatapnya. Tubuhnya kekar berisi, tidak kurus seperti dirinya.
"Dia bukan temanku."
"Belum. Dia orang yang akan kaujumpai saat kau menemukan petunjukmu."
"Di mana aku akan menemukan petunjukku""
Aniki berbalik dan laki-laki berjubah hitam sudah menghilang. Kehadirannya digantikan lengkingan yang memekakkan telinga.
Aniki terbangun dari tidur dengan telinga berdarah.
* * * YUKI ASANO adalah idola sekolah. Separuh murid laki-laki di sekolahnya pasti ingin menjadikannya pacar atau setidaknya berharap bisa pergi kencan sekali-dua kali dengannya.
Yuki yang ramah dan baik menanggapi semua perhatian penggemarnya dengan sopan, tapi hanya Aniki Kodama yang mampu membuatnya penasaran karena
kepribadian ganjilnya. Aniki sepertinya tidak membencinya, tapi juga jelas tidak peduli padanya. Hari ini saat mereka berpapasan di lorong berlantai formika, Aniki melewatinya seolah-olah tidak mengenalnya. Yuki membuat keputusan dengan cepat dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Aniki dengan terpaksa akan menoleh.
"Aku akan membuatkanmu cokelat untuk hari Valentine nanti!"
Setidaknya, selusin murid di sekitar mereka langsung terkesiap, lalu berbisik-bisik seru. Yuki akan membuatkan cokelat untuk Aniki pada Valentine! Ini bahkan masih bulan Oktober!
Aniki berbalik dan berjalan mendekati Yuki.
"Kauhilang cokelat ... apa""
"Apa kau tidak suka makanan manis""
Aniki mengangkat bahu lalu berbalik lagi. Tanggapan sedingin itu pasti membuat gadis-gadis biasa akan melempari kepala Aniki dengan sepatu tapi Yuki malah hampir pingsan karena senangnya. Aniki keren! Yeah!
Aniki meneruskan langkahnya melewati ruang pertunjukan. Tiba-tiba ia merasa tertarik. Mungkin, bangku penonton di dalam enak untuk tiduran. Ia mengintip dari kaca yang ada pada pintu dan memutuskan masuk.
Di dalamnya, beberapa murid yang mengambil ekskul drama. Beberapa sedang mendekor panggung dan sebagian lagi sedang menyiapkan kostum. Ia lalu duduk di bangku penonton dan mengawasi mereka dengan mata berat.
"KAU SALAH!" Aniki menoleh dan mendapati seorang siswi dibentak oleh seniornya. Di tangannya ada kostum jubah berwarna
kuning dan topi kerucut. "Seharusnya kautahu bahwa pakaian Penyihir Merlin adalah jubah biru dengan bintang-bintang kuning bukannya jubah kuning dengan bintang-bintang biru!"
Gadis muda itu menunduk ketakutan.
"Saya salah membuat. Maaf."
* * * ANIKI MENATAP kostum itu dengan setengah melamun dan tertidur. Kali ini, ia bermimpi berada di Cina pada masa lalu. Belasan gadis sedang menjahit pakaian-pakaian mewah dengan sulaman-sulaman emas memenuhinya.
Seorang nyonya tua dan kelihatan galak muncul dan membentak mereka.
"Putri akan menjadi perawan tua kalau kalian menjahit baju pengantinnya selama itu!"
Para gadis penjahit menunduk ketakutan dan meneruskan jahitan mereka. Seorang gadis bangkit dan berjalan ke sudut kamar mengambil benang emas sehingga Aniki bisa melihat tidak jauh di belakang kursi yang diduduki gadis tadi ada sebuah lukisan terpajang di dinding.
Lukisan seorang gadis bangsawan cantik bermata lancip sedang tersenyum manis. Di sudut lukisan terdapat dua huruf kanji yang serupa dengan kanji Jepang ditulis dengan gaya kaligrafi yang indah dan cermat. Artinya Cinta Baru.
Aniki terbangun dan mendapati latihan drama sedang berlangsung di atas panggung. Ceritanya adalah tentang kerajaan Camelot di Inggris Raya. Lalu apa
hubungannya dengan mimpinya barusan" Kelihatannya ia makin tidak
waras. Aniki berdoa dalam hati semoga ia tidak sungguhan menjadi gila.
* * * ANIKI SEDANG membongkar lokernya, memilih-milih buku pelajaran saat kerah bajunya ditarik dari belakang. Ryuu Tenmei dan Geng Kuda Hitamnya kini mengepung Aniki.
"Apa yang Asano katakan kepadamu""
Aniki menggeleng, ia sendiri tidak yakin. Sepertinya sesuatu tentang cokelat.
"Jangan bertingkah! Asano itu pacarku. Seumur hidup kau tidak akan bisa menjadi pacarnya. Kecuali ..." Tenmei melirik Aniki dengan mata dikejam-kejamkan,
"... kau mati."
Aniki bosan dengan ancam-mengancam seperti ini. "Lalu""
"Heh! Kau benar-benar ingin mati!" "Tenmei, kau sudah sering mengancamku sejak kita sama-sama SD."
"Ya. Gara-gara Megumi-chan, gara-gara nilai ulangan
ii "Jangan mulai lagi."
"Dan kau harus ingat aku sudah menghajarmu dua puluh kali sejak SD!"
"Ya. Tapi aku masih hidup," Aniki menanggapinya dengan kalem.
"Kali ini aku serius!" Ryuu tidak kalah sengit.
Aniki menutup pintu lokernya dengan bantingan. Empat orang anggota Geng Kuda Hitam terkejut dan langsung melompat mundur, bersembunyi di belakang Ryuu.
Aniki tersenyum miring, "Yuki Asano bahkan bukan pacarmu."
Kalimat itu membuat Aniki langsung dihajar bertubi-tubi. Ryuu dan empat orang pengikutnya memukul dan menendangi Aniki tanpa belas kasihan. Aniki bahkan tidak ingin melawan. Ia hampir tidak merasakan sakit lagi. Ia merasa tubuhnya mati rasa.
* * * ADA YANG harus ditanyakannya kepada Ibunya. Ia ingin tahu mengapa Ibu tidak cukup terlihat histeris menyaksikan peristiwa sarden dan lap dapur itu" Ia tahu Ibunya menganggap dirinya cukup aneh, tapi lap dapur terbang dan pecah menjadi bubuk katun pasti adalah hal teraneh yang pernah ditemui Ibunya. Kecuali, jika Ibunya pernah melihat yang lebih aneh lagi. Aniki menyadari sesuatu. Ibu pasti tahu sesuatu!
Aniki tahu jika ia menunggu Ibu pulang ke rumah, mereka pasti tidak akan punya banyak waktu untuk bicara. Mereka hanya bertemu saat Ibu menyelimutinya dan di waktu pagi saat Ibu mengomeli kebersihan tubuhnya.
Aniki mengayuh sepeda ke selatan Roppongi. Menitipkan sepedanya kepada petugas parkir dan masuk ke gedung besar tempat Ibu bekerja sebagai staf. Sudah dua puluh tahun, Ibu bekerja di perusahaan itu dan kalau tidak salah jabatannya hanya naik dua kali.
Aniki mendekati meja resepsionis.
"Maaf, aku ingin bertemu dengan Nyonya Kodama."
"Kodama" Yang mana""
"Onatsu Kodama."
Resepsionis menghubungi melalui telepon tapi tampaknya tidak berhasil.
"Kau siapanya Nyonya Kodama"" "Aku putranya." "Kautahu kantornya"" Aniki menggeleng.
"Kau harus naik lift keempat dari kanan dan naik ke lantai dua puluh."
"Baik. Terima kasih."
Aniki mengikuti instruksi tersebut dan tiba di ruangan-ruangan besar berdinding kaca. Semua staf sedang sibuk bekerja. Beberapa mondar-mandir dan saling menyapa. Mereka seperti ikan dalam akuarium.
Di 'akuarium' ketiga yang dilewatinya ia melihat seorang manajer sedang memarahi Ibu. Ibunya hanya menunduk pasrah dan mengangguk-angguk. Laki-laki itu bahkan melemparkan kertas-kertas laporan ke wajah Ibu.
Aniki mengamati dari kejauhan dalam diam. Ibu-entah kebetulan atau memang tahu-menoleh dan melihat Aniki sedang menatapnya. Manajernya ikut melihat, lalu berjalan dengan langkah-langkah cepat mendekati dinding dan menutup krei. Andai saja Aniki bisa melihat dan mendengar apa yang dikatakan kepada Ibunya.
Ibu menemuinya sepuluh menit kemudian.
"Apa yang kaulakukan di sini""
"Aku ingin bicara."
"Tidak bisa di sini. Aku sedang sibuk."
Di dalam hati Onatsu Kodama ingin menangis. Ia sibuk setiap saat, tapi hanya makian yang diterimanya. Aniki pasti sudah melihat 'kesibukannya'.
"Kalau begitu aku pulang."
Aniki memakai kembali tasnya yang sempat dilepaskannya dan bersiap pulang. Melihat kepatuhan Aniki, Onatsu menjadi tidak tega.
"Tunggulah di kantin di lantai dasar. Aku akan menemuimu di sana."
Aniki menunggu di sebuah meja tanpa memesan apa pun. Semua meja lain penuh dan banyak yang tak bisa duduk, tapi mereka segan menanyakan apakah boleh duduk semeja dengan Aniki. Ia terlihat terlalu m
enakutkan. Pelayan kantin juga tidak berani mengusir atau menanyakan keperluan Aniki. Tadi, ia sempat menawarkan menu dan hanya dibalas Aniki dengan tatapan mata beruang es.
Onatsu menghampiri meja itu dan duduk di seberang putranya.
"Apa yang ingin kaubicarakan""
Aniki tidak menjawab. Ia memain-mainkan lap di tangannya dan dalam beberapa detik Onatsu mengerti.
"Kalau kauingin menanyakan masalah semalam, Ibu tidak tahu jawabannya. Kaulah yang seharusnya tahu."
"Aku tidak tahu. Tapi Ibu pasti tahu. Ibu tidak pingsan melihat apa yang terjadi semalam."
"Aku terlalu lelah untuk pingsan."
"Ibu lelah karena terlalu keras bekerja."
"Harus, Aniki. Ayahmu meninggalkan kita dengan tabungan seadanya. Kau harus sekolah di sekolah terbaik, kuliah di tempat terbaik, bekerja di tempat terbaik ..."
"Ibu juga sekolah, kuliah dan bekerja di tempat terbaik, tapi Ibu bahkan tidak bisa beristirahat dengan baik." Sejenak suasana hening muncul. Aniki kembali bicara. "Aku tidak perlu kuliah jika Ibu harus dimarahi seperti
tadi." "Itu memang salahku ..."
"Manajer itu bahkan kelihatan lebih muda dari Ibu. Ibu lebih berpengalaman dan mungkin lebih pandai daripada dirinya, tapi ia memperlakukan Ibu seperti itu."
Aniki bicara dengan nada datar, tapi ia jelas sedang marah. Onatsu terkejut. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Aniki kepadanya.
Dulu, di saat Aniki berusia dua tahun ia bahkan sempat mengira Aniki bisu karena tidak juga mau bicara. Aniki baru bersuara setelah Jiro membelikan buku mewarnai yang dilengkapi huruf hiragana di bawah gambar benda hitam putih.
Aniki menunjuk gambar kucing dan menyebut kucing, melihat gambar orang dan menyebut kata orang dengan sempurna.
Jiro yang penasaran menyingkirkan buku bergambar tersebut dan menulis sebuah kalimat-bukan kata-pada kertas kosong dengan huruf hiragana. Onatsu tidak bisa melupakan momen itu. Aniki menatap Jiro dalam-dalam seolah berkata,
"Apakah kau sedang mengujiku""
Aniki lalu mengucapkan kalimat itu dengan tenang, benar, dan tidak cadel. Kemampuan Aniki saat itu membuat Onatsu dan Jiro bertekad menyekolahkannya setinggi-tingginya walaupun mereka harus mati untuk itu.
Onatsu bahkan masih mengingat kalimat tulisan Jiro yang diucapkan oleh Aniki saat itu : AKU ADALAH ANAK AJAIB YANG DIAM-DIAM SUDAH BISA MEMBACA TANPA SEPENGETAHUAN ORANGTUAKU.
* * * MEREKA MELANJUTKAN percakapan di rumah. Aniki sudah selesai dengan PR-nya dan seperti biasa berkomunikasi dengan televisi. Onatsu Kodama pulang lebih cepat dan duduk di sebelah Aniki.
"Kau tidak boleh tidak kuliah."
"Baiklah. Aku bisa menggunakan beasiswa."
"Aniki! Ibu masih sanggup membiayaimu dengan tangan Ibu sendiri. Tidak akan kuizinkan engkau kuliah dengan dana pas-pasan."
"Bagaimana jika aku yang tidak ingin kuliah""
"Kau genius, Aniki. Orang paling genius yang pernah Ibu kenal. Ibu tidak akan membiarkanmu menyia-nyiakan kemampuanmu hanya karena kau kebetulan melihat Ibu dimarahi manajer!"
"Kalau begitu carilah pekerjaan lain."
"Tolong, jangan ajari Ibu. Tugasmu hanya sekolah. Semasa hidup, itulah yang diinginkan Ayahmu." "Ayah" Dia sudah mati, Bu."
Aniki bangkit dari sofa dan masuk ke kamarnya. Onatsu masih termangu di tempatnya dengan dada terguncang. Tidak Aniki, Ayahmu masih hidup. Dan itu sebenarnya sudah menjawab pertanyaanmu tentang ledakan ikan sarden tadi malam.
Signs TOKYO SUDAH dihiasi suasana Natal walaupun itu masih sebulan lebih lagi. Ibu sudah memajang pohon Natal di dalam rumah walaupun mereka tidak akan merayakannya bersama. Ibu harus bekerja bahkan di malam Natal dan Aniki membenci perayaan.
Dulu, ia selalu merasa kesal saat Ayah dan Ibu merayakan ulang tahunnya dengan kado-kado istimewa, mengajaknya ke taman hiburan yang berisik atau sekadar mentraktirnya makan ramen di saat mereka tidak memiliki cukup uang.
Natal paling berkesan baginya adalah saat mereka sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Hokkaido. Saat itu umurnya enam tahun. Salju yang tebal menyebabkan mobil sewaan mereka terjebak di tengah jalan.
Ayah menyekopi salju di mulut mobil dan Ibu membersihkan salju di jalanan sebisanya. Diam-diam, Anik
i keluar dari mobil dan berjalan sendiri menuruni bukit salju, berhenti di sebuah padang salju yang luas dan menatap ke langit dengan rindu. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sana.
Waktu terasa berhenti sampai terdengar suarasuara orangtuanya memanggilnya. Itulah malam Natal paling indah untuk Aniki, tapi orangtuanya malah panik. Mengganggu sekali.
"Kau bisa membeku di sana!"
Aniki menoleh dan melihat Yuki Asano sedang
menghampirinya. "Astaga Kodama! Cuaca seperti ini dan kau berada di luar tanpa jaket!"
Aniki berbalik dan hendak pergi, tapi tangan Yuki menahannya.
"Temani aku belanja keperluan Natal sepulang sekolah, ya""
Aniki mengangkat bahunya dan benar-benar pergi. Yuki hanya tersenyum dan menganggap Aniki menjawab, ya.
* * * MEREKA MENGITARI mal dua kali, tapi Yuki akhirnya memutuskan membeli perlengkapan Natal di kaki lima. Ia memilih bermacam-macam ornamen yang di mata Aniki terlihat sama saja. Tiba-tiba, Yuki memilih suatu ornamen dan menyodorkannya kepada Aniki. "Kubelikan ini untukmu."
Tiba-tiba, Aniki merasa ada hal aneh yang mengitarinya. Ia berputar dan tidak melihat sesuatu atau seseorang yang mencurigakan. Hanya sebuah toko asing yang menjual barang-barang khas Amerika seperti marshmallow, daging asin dan topi koboi. Di atas pintunya terpasang bendera Amerika yang nyaris membeku. Bahan pewarnanya pasti jelek sehingga warna biru dan merahnya luntur dan membuat beberapa bintang lambang negara-negara bagian menjadi biru.
"Aniki!" Yuki menyodorkan ornamen yang sudah dibungkus penjualnya dengan kertas kado dan pita kepada Aniki. Aniki menerimanya dengan segan dan memasukkannya ke
saku mantel. "Kita pulang sekarang!" lagi-lagi Yuki yang mengambil keputusan. Aniki menurut. Sebelum mereka beranjak dari tempat itu, sekali lagi ia menoleh kepada bendera Amerika itu.
Bintang-bintang itu berwarna biru. Padahal, latar belakang merahlah yang paling dekat dengan gambar bintangnya. Kenapa lunturannya bukan berwarna merah melainkan biru"
* * * GURU SEDANG menerangkan tentang bahasa suku Ainu di kelas.
"Eh, ya, Kodama. Kudengar orangtuamu berasal dari Hokkaido. Apakah sedikit banyak kautahu mengenai bahasa itu""
Aniki menggeleng. Bahasa yang indah kata Ibunya, tapi Aniki belum pernah mendengarnya sendiri. Suku Ainu menganggap diri mereka titisan dewa dan sampai sekarang secara spiritual masih bersatu dengan dewa-dewa itu. Kata Ibu, itulah alasan mereka bicara satu sama lain dengan bahasa yang halus dan agung. Karena, mereka sedang berkomunikasi dengan sesama dewa.
Sang guru kecewa karena Aniki tidak membantu sama sekali. Ia kembali ke pelajaran dan Aniki kembali1 ke Hokkaido. Hokkaido dan sungainya yang hijau dan tenang, tebing-tebingnya yang mengesankan, lautnya yang biru dan dingin, serta langitnya yang memukau.
Aniki bangkit dari kursinya-lupa membawa tas-keluar dari kelas, dan langsung berlari ke sepedanya. Ia mengayuh sepeda ke kantor Ibu.
Tanpa bicara dengan resepsionis ia menaiki lift menuju pusat akuarium. Ia berhenti berlari di depan akuarium Ibunya dan melihat Ibu sedang dituding- tuding oleh manajer yang sama. Sang manajer menunjuk-nunjuk dahi Ibunya, lalu mencampakkan tumpukan kertas ke lantai dengan marah. Kali ini Ibu menangis.
Aniki ingin masuk ke dalam dan membawa Ibunya pergi, tapi ia hanya kuasa menatap pemandangan itu dari kejauhan. Beberapa karyawan yang kebetulan lewat langsung membuang muka, dan berjalan cepat-cepat, seolah tak pernah melihat penghinaan itu.
Manajer itu mengangkat tumpukan kertas lain di meja dan baru akan membantingnya saat kertas-kertas itu melambung ke udara dengan ringan seperti bola voli yang sedang diservis, berputar sejenak dan membentuk gumpalan, lalu pecah di udara dengan suara keras dalam bentuk tepung.
Kaca yang berfungsi sebagai dinding itu bergetar karena energi ledakan yang timbul. Tiga karyawan yang kebetulan lewat menjerit histeris. Manajer Ibu ternganga. Sebagian bubuk kertas yang berjatuhan di udara menimpa kepalanya dan sebagian lagi masuk ke mulutnya.
Hanya Ibu yang tidak panik. Ia lalu menoleh ke luar dinding kaca dan memastikan bahwa memang ada Aniki di sa
na. Satu-satunya orang yang paling mungkin berhubungan dengan peristiwa barusan. Sejenak Ibu dan anak itu saling bertatapan dalam diam.
Ledakan itu rupanya menimbulkan energi panas. Pemadam otomatis memancarkan air hanya di dalam ruangan Ibu. Di tengah keributan dan hirukpikuk, Ibu keluar dari ruangannya dengan tenang dan menghampiri


Goran Sembilan Bintang Biru Karya Imelda A. Sanjaya di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Aniki. Ia menampar pipi Aniki dengan keras, tapi Aniki bergeming.
"APA YANG KAULAKUKAN DI SINI!"
Aniki menatap Ibunya dengan tatapan sejuk.
"Bu, bawa aku ke kota kelahiranmu. Hokkaido."
Pulang SUDAH SATU jam berlalu sejak mereka tiba di Ashikawa. Mobil sewaan mereka tidak dilengkapi tape, tapi Aniki tampaknya tidak berkeberatan. Ia duduk tenang di kursinya tanpa merasa bosan. Ia bahkan kelihatan sangat gembira.
Jalan aspal di depan mobil lebih menarik baginya dibandingkan pemandangan kebun anggur yang sedang libur tanam dan pabrik anggur di kanan dan kiri jalan.
"Aniki ..." Aniki bahkan tidak menoleh, tapi Onatsu tahu putranya mendengar panggilannya.
"Kudengar dari gurumu, Nona Sakurai, kau mendadak menderita penyakit narkolepsi ..."
"... penyakit tiba-tiba tidur di sembarang tempat."
Onatsu menambah penjelasannya karena Aniki tampak tidak ingin tahu tentang definisi penyakitnya sendiri. Ia hanya diam dan memandang lurus ke jalan.
"Mengapa kau tidak mengatakannya pada Ibu""
Aniki baru menoleh dan menatap Ibunya. Terkadang, ia memang hanya bisa bereaksi dengan pertanyaan.
"Aku hanya lelah karena kurang tidur. Jadi, kadang-kadang aku tertidur di kelas. Anak-anak lain juga sering begitu."
"Anak-anak lain mungkin begadang tapi kau sudah tidur sejak pukul delapan sore dan baru bangun saat Ibu
meneriakimu." Aniki kembali menatap jalanan.
"Bu Sakurai bahkan mengatakan bahwa kau tertidur di kantin, toilet, lapangan bola. Dan di saat semua temanmu mengerjakan ujian, kau malah tidur di depan sepedamu."
"Aku sudah mengerjakan ujian susulan dan lulus."
"Ya. Tapi mengulang ujian karena tidur di tempat parkir sepeda rasanya sangat konyol."
"Ya." Pembicaraan sepertinya akan berakhir, tapi Onatsu belum menyerah.
"Kalau kaumau, sepulang liburan kita pergi ke dokter."
Aniki heran. Ibunya pusing dengan narkolepsi, tapi tidak meributkan ledakan-ledakan yang ditimbulkannya selama sebulan terakhir ini.
"Bu, paling-paling dokter hanya akan member obat psikotropika."
"Jika itu bisa menghentikan hobimu tidur di sembarang tempat ... astaga Aniki! Bagaimana seandainya kau mengantuk saat sedang bersepeda atau menyeberang jalan!" Onatsu tiba-tiba merasa khawatir.
Beberapa tahun lagi Aniki mungkin akan tidur sambil menyetir. Membayangkannya membuat Onatsu menggigil. Aniki melihat hal itu dan menutup jendela mobil yang dari tadi dibukanya.
"Ibu tidak kedinginan Aniki. Ibu lahir saat musim salju di Hokkaido. Kalau cuma badai es, belum bisa membekukan Ibu."
"Bukankah aku juga lahir di musim dingin" Tapi di Tokyo. Pasti aku tidak sehebat Ibu dalam hal menahan dingin."
Onatsu melirik Aniki yang hanya mengenakan kaus
oblong dan jins di dalam mobil tanpa penghangat di tengah angin Hokkaido yang kejam.
"Ya. Ibu melahirkanmu di rumah karena sudah tidak sempat lagi. Hanya ada beberapa wanita yang membantu Ibu."
"Di mana Ayah saat itu""
"Mmmmm ... dia sedang berada di kantor dan terjebak macet, jadi tidak bisa menyaksikan kelahiranmu."
Aniki mengangguk-angguk puas. Sudah lebih dua puluh kali Onatsu menceritakan peristiwa itu pada Aniki, tapi Aniki tidak pernah kelihatan bosan. Ia bereaksi seperti orang yang baru pertama kali mendengarnya. Di dalam hati Onatsu gugup. Apakah Aniki tidak pernah merasakan bahwa Onatsu menutupi sesuatu tentang kelahirannya"
* * * MEREKA SEGERA melupakan tentang penyakit narkolepsi dan kelahiran. Setelah melewati beberapa kebun lavender yang sedang membeku, mobil tiba di halaman rumah keluarga Eh, keluarga Onatsu.
Nenek menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Ia adalah wanita yang masih setia berkimono di masa sekarang, di mana itu terasa merepotkan bagi sebagian besar orang.
"Onatsu! Aniki!"
Ia memeluk Onatsu dengan rindu, lalu beralih ke Aniki dan menepuk-nepuk kepala cucunya dengan lembut. Ia tidak
tahu harus bagaimana bersikap kepada Aniki. Aniki biasanya akan menanggapi pelukannya dengan dingin.
Aniki mengangguk hormat. "Apa kabar, Nenek Eh""
Nenek Eri tertawa, "Ya, ampun, Ona-chan. Ia masih memanggilku dengan sebutan itu. Aniki, panggil Nenek saja, tidak
akan keliru dengan orang lain."
"Aku juga punya Nenek Kodama," Aniki mengoreksi. Nenek Eri langsung cemberut mendengar nama besannya disebut. Ia lalu mengajak mereka masuk di mana teh dan kue manju* hangat sudah menunggu.
* * * ANIKI TERBANGUN di atas kasur-yang menempel di lantai dingin-dengan tubuh basah oleh keringat. Mimpi itu lagi. Kali ini ia ketakutan karena ada bayangan hitam yang seolah menghalanginya mendongak untuk melihat asal sinar biru itu.
Aniki keluar dan mencari air di dapur. Air di keran membeku sehingga ia mengambil air dari termos listrik dan menuangnya ke gelas. Air itu panas bahkan uapnya masih mengepul-ngepul, tapi Aniki meminumnya tanpa merasa kebas.
Saat akan kembali ke kamarnya, Aniki melewati ruang tengah dan menyadari sesuatu. Tidak ada foto ayahnya di situ. Berbeda dengan rumah di Tokyo di mana foto Ayah ada di hampir setiap ruangan.
Aniki tahu Nenek Eri tidak begitu menyukai besannya, tapi itu bukan alasan untuk tidak memajang foto menantunya di rumah.
Aniki menoleh saat mendengar pintu geser terbuka dan melihat Nenek Eri keluar dari kamar.
"Ada apa, Aniki""
"Tidak ada foto Ayah di sini." Ia masih memerhatikan dinding ruang tengah.
"Bawalah satu dari Tokyo sehingga kau bisa memajangnya di sini."
Aniki berbalik dan menatap Nenek dengan pandangan heran.
"Mengapa" Kau bingung" Aniki, Ibumulah yang tidak pernah mengizinkan aku memasang foto perkawinannya atau foto Jiro di sini."
"Kupikir Ibu tidak membenci Ayah. Aku juga saying pada Ayah."
"Jiro orang yang baik. Mengapa Ibumu harus membencinya" Aniki, jika Ibumu mau menjelaskannya maka ia akan menjelaskannya padamu. Sekarang tidurlah yang nyenyak, tidak usah memikirkan untuk bangun pagi-pagi. Ibumu tadi bercerita bahwa kau terkena penyakit aneh."
* * * YANG PALING menyenangkan saat berlibur ke Hokkaido adalah memancing di atas es. Dulu Ayah biasa mengajaknya ke danau, membuat lubang di atas danau dengan gergaji dan duduk menunggu sampai seekor trout bisa ditarik keluar.
Tapi tanpa Ayah, Ibu tidak mengizinkan Aniki pergi. Tidak ada orang yang akan menemaninya. Menurut Ibu, itu sangat-sangat berbahaya.
Aniki menurut dan menemani Ibu berziarah ke makam Ayah. Ibu menangkupkan tangan, berdoa lalu menyiramkan air ke atas kuburan sehingga serpihan salju di atasnya berubah menjadi es.
"'Sejenis bakpao manis.
"Kami pergi merantau dari Hokkaido ke Tokyo dengan harapan bisa menjadi emas. Nyatanya, kami hanya kembali dalam bentuk abu," Ibu bergumam pelan.
"Setelah ini, kita ke rumah Nenek Kodama." Itu adalah tradisi tahunan sejak Ayah meninggal. Mereka berziarah, lalu mengunjungi keluarga Kodama.
Aniki menurut dan kembali mendapati kenyataan bahwa Neneknya yang ini justru bersikap dingin kepadanya dan Ibunya. Ibu tidak pernah jera dating untuk sekadar menanyakan kabar keluarga walaupun selalu dijawab hanya dengan jawaban-jawaban pendek yang dipaksakan.
Mereka berniat kembali ke rumah Nenek Eri dan di dalam mobil Aniki melihat Ibunya lebih muram dari sebelumnya.
"Aniki, mengapa kauingin ke Hokkaido""
"Keluarga Ayah dan Ibu di sini. Aku juga suka tempat
ini." Onatsu mengangguk, lalu tiba-tiba menoleh dan menatap Aniki tajam.
"Apakah kaumau pergi ke suatu tempat di Gunung Asahi""
* * * IBU MENELEPON Nenek Eri dan mengatakan bahwa mereka akan mampir ke suatu tempat sehingga baru akan kembali esok atau lusa. Ibu lalu mengarahkan mobil ke Gunung Asahi.
Sepanjang perjalanan Ibu hanya diam. Wajahnya tegang, tapi ia tidak terlihat cemas. Ia seperti marah akan sesuatu. Mungkin diam-diam ia marah pada mertuanya.
Jalan-jalan masuk resmi ke Gunung Asahi telah ditutup karena salju terlalu tebal. Jadi, gunung terlalu berbahaya bahkan bagi penduduk lokal. Tapi Ibu mengetahui jalan-jalan lain melalui perkampungan penduduk, kuburan, atau belakang sekolah.
Mereka berdua memilih melalui belakang perkampungan penduduk
. Desa An. sembilan puluh persen penduduk desa itu adalah suku Ainu. Ibu menyapa penduduk yang mereka jumpai di jalan dengan bahasa Ainu sepotong-sepotong bercampur bahasa Jepang khas Hokkaido.
Begitu mengetahui bahwa Aniki dan Onatsu akan mendaki gunung, para penduduk menghalangi. Terlalu berbahaya, kata mereka.
"Apakah kalian tidak melihat salju yang ada sudah begitu tebal dan masih juga turun hujan salju""
Tapi, Ibu berhasil meyakinkan mereka bahwa ia sering naik gunung ini di musim dingin. Penduduk desa itu tidak menghalangi lagi. Mereka memang begitu, kata Ibu kepada Aniki. Orang-orang bijak yang tidak akan memaksa. Mereka punya semacam keyakinan, jika seseorang memang harus mati karena salju maka orang itu bisa saja mendapatkannya di Kenya. Tapi, jika seseorang ditakdirkan hidup lebih lama, dikubur dalam gunung es pun tidak akan apaapa.
Jalan masuk yang harus dilalui saja sudah begitu terjal. Setiap beberapa puluh meter, mereka menemukan rumah penduduk di kanan atau kiri lereng.
Kelincahan Onatsu mengagumkan, tapi kemampuan adaptasi Aniki terhadap tempat itu luar biasa. Dengan tangkas, Aniki meraih semak atau batu besar untuk berpegangan, bukan ranting. Ia seolah tahu bahwa kedua
benda itu lebih kuat. Baru setengah jam berjalan Onatsu menemukan jejak yang membuatnya berhenti berjalan.
"Beruang ..."desisnya. Ia heran mengapa ada beruang yang belum tidur di musim ini.
Aniki mendekat dan menggamit lengan Ibunya, menariknya ke atas. Terdengar suara klutuk-klutuk kecil jauh di atas sana.
Onatsu menatap Aniki dalam-dalam.
"Kautahu apa yang sering terjadi di gunung ini sehingga mereka menghalangi kita naik""
Aniki menggeleng. Tiba-tiba, klutuk-klutuk kecil itu terdengar menjadi gemuruh besar. Refleks, Aniki menepi dan menarik Ibunya ke tepi, tapi wanita itu bergeming. Ia malah berdiri di tengah jalan seolah menyambut kedatangan asal bunyi itu.
Terlihat gumpalan bola salju besar lima puluh meter di atas mereka, dan bola itu semakin besar dan besar. Ibu tetap berdiri, membentangkan tangan dengan mata terpejam menyambutnya.
Aniki terpaku di tempatnya berdiri ....
* * * SUARA GELEGAR yang memekakkan telinga mengguncang gunung selama beberapa detik. Sejenak Semua bajing, burung, dan serangga berhenti bernapas.
Onatsu masih berdiri dengan tangan telentang dan tubuh basah kuyup. Ia membuka mata perlahan dan menoleh ke tempat Aniki berdiri. Aniki masih berada di bawah pohon pinus dengan tangan lurus dan telapak tangan terbuka ke arah Ibunya. Ia masih ternganga.
Onatsu menepiskan sisa air di wajahnya-yang membuat kulitnya mati rasa-sambil tersenyum.
"Kau baru saja meledakkan bola salju raksasa untukku."
Bukan. Bukan meledakkan. Ia tidak tahu apa istilah yang tepat untuk itu. Ia hanya ingat bola yang sudah sepuluh meter berada di depannya itu terangkat ke udara selama dua detik, mengerut dan mengembang, lalu pecah menjadi ribuan galon butiran air. Ia merinding mengingat jika Aniki meleset mengarahkan kekuatannya ke arahnya maka ialah yang akan menjadi molekul-molekul air.
Aniki tiba-tiba merasa marah. Ibu telah menipunya!
"Apa yang Ibu lakukan! Ibu hampir bunuh diri hanya untuk melihat aku meledakkan bola itu!"
Aniki berdiri dengan kaki gemetar karena murka. Onatsu mendekatinya dengan langkah tenang.
"Itu belum seberapa. Ikuti aku. Kau akan tahu mengapa kau selalu ingin pulang ke Hokkaido."
Onatsu berbelok ke kanan dan dengan langkah-langkah cepat menaiki lereng lain yang lebih landai. Ada jalan kecil menurun menuju sebuah sungai kecil yang sekarang sedang menjadi es. Aniki mengikutinya.
Mereka tiba di suatu tempat dengan pemandangan seperti dongeng. Sebuah bangunan yang menyerupai rumah-dikelilingi beech tree-berdiri di tepi jurang yang tidak dalam. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang membeku. Di musim panas tempat ini akan indah sekali.
Onatsu melangkah menuju rumah tersebut dengan sikap terbiasa, seolah telah mengenal tempat itu dengan sangat baik. Aniki bertanya-tanya dalam hati apakah Ibunya sering berkunjung kemari.
Onatsu mendorong pintu dan mendapati gubuk itu dalam keadaan baik. Cukup bersih. Ia sendiri heran
mengingat sudah belasan tahun ia tidak pernah datang.
Aniki menurunkan kepalanya agar tubuh jangkungnya tidak membentur bingkai pintu yang rendah, lalu memandang bingung seisi rumah.
"Aniki, Ibu selalu bercerita bahwa kau dilahirkan di rumah karena Ibu tidak sempat berangkat ke rumah sakit lagi ..." Onatsu melirik Aniki. Aniki masih diam.
"Itu benar. Ibu tidak mungkin berangkat dari rumah ke
rumah sakit dalam badai salju dan dari tempat sejauh ini ii
Aniki terkesiap. Rumah" Di sinikah ia lahir" Mengapa Ibu melahirkan aku di sini" Mengapa bukan di Tokyo atau setidaknya di rumah Nenek. Eri atau Kodama.
Aniki mengitari ruangan sempit dengan satu kamar dan perapian di tengah rumah. Begitu sederhana.
"Ibu melahirkan di sini dan Ayah terjebak macet di Tokyo""
"Yah, Jiro mungkin saja sedang terjebak macet di Tokyo saat kau lahir. Ibu melahirkanmu dibantu oleh beberapa wanita Ainu yang kebetulan sedang mencari kayu di sekitar sini."
"Kalau hanya karena itu, tidak mungkin aku bisa meledakkan benda-benda, kan""
"Tidak mungkin. Banyak manusia yang lahir saat badai, bahkan saat puting beliung. Tapi mungkin juga iya. Aku ... um tidak tahu."
Onatsu membuka salah satu jendela yang daunnya berderik, lalu memandang keluar. Dari situ tampak halaman di mana dulu ia memelihara ayam. Aniki bayi biasa duduk dalam buaian hasil anyaman orang Ainu sambil memandang sungai.
Beberapa kali Onatsu hampir terkena serangan jantung karena menemukan Aniki bermain dengan anak beruang atau tidur di dalam kehangatan pelukan serigala. Tapi, bukan itu yang membuatnya membawa Aniki ke Tokyo.
Aniki tiba-tiba merasa senang. Kemarahannya lima belas menit yang lalu menguap mendapati dia dilahirkan di tempat yang begitu istimewa.
"Kau senang, Aniki"" Onatsu bersandar pada dinding kayu sambil memerhatikan reaksi Aniki.
Aniki mengangguk lalu menatap Ibunya dengan lebih hangat. Ia mendekati Onatsu, lalu mengangguk hormat.
"Terima kasih telah bersedia melahirkanku di dalam badai salju. Tidak semua Ibu sanggup menjalaninya."
Onatsu mengusap pundak putranya dengan usapan
kuat, "Hari-harimu selama bersamaku sudah lebih dari cukup untuk membalas semuanya."
Aniki berjalan ke jendela yang terbuka dan melihat beberapa bajing bergelantungan di pohon kayu di luar sana.
"Tujuh belas tahun yang lalu aku lahir di sini ..."
Tubuh Onatsu menegang. Ia melirik Aniki dengan hati-hati. Tidak. Bukan tujuh belas, tapi delapan belas tahun yang lalu.
Malam itu mereka menginap di rumah kenangan itu. Mereka tidur di sebelah perapian yang menyala kecil dan beralas lantai dingin berdebu. Onatsu menemukan dua lembar selimut tua yang hampir habis dimakan ngengat untuk sekadar melindungi tubuh mereka. Onatsu lega melihat Aniki tertidur dengan senyum di bibirnya. Ia memejamkan mata dan berdoa semoga setelah ini tidak ada lagi perlu ia jelaskan kepada Aniki.
Di luar sana, sesosok bayangan gelap memandang sekali lagi ke arah rumah salju, menyeret kakinya di tumpukan salju-yang dalam-dari rumah salju. Angin dingin yang bertiup menyebabkan jubah hitamnya berkibar.
kepungan pedang es IBU AKHIRNYA mengizinkan Aniki pergi memancing di atas es ditemani Hotta, seorang pemuda desa An.Hotta masih memiliki sedikit darah Ainu dari ibunya, tapi ia hanya bisa bicara dalam dialek Ainu-Tshikishima sedikit-sedikit.
Hotta yang banyak bicara tidak bosan-bosannya bertanya tentang Tokyo, game center dan Ginza. Ia kelihatan betul penasaran dengan Tokyo, tapi ia juga sangat bangga dengan 'kedesaannya1.
Mereka pergi ke sebuah danau kecil di lereng gunung, tidak jauh dari rumah salju Onatsu. Hotta mengajari Aniki menggergaji lubang es dengan benar. Aniki patuh dan menghargai usaha Hotta walaupun menurut Aniki cara Hotta menggergaji tidak lebih baik daripada Ayah.
Mereka memancing selama beberapa jam. Hotta dan Aniki masing-masing mendapatkan setumpuk ikan amago yang cukup banyak. Bisa dimakan sampai dua atau tiga hari.
Hotta pamit pulang duluan. Ia harus mengantar ayahnya ke Sapporo sore itu. Aniki mengiyakan dan dengan segera menyukai kesendiriannya di situ.
Pancingnya belum bergoyang lagi sehingga Aniki berdiri untuk melemaskan lu
tutnya dan berjalan agak menjauh dari lubang pancingnya.
Aniki memasukkan tangan ke dalam mantel dan menemukan ornamen pemberian Yuki masih berada di situ.
Ia sedang membuka kertas pembungkusnya saat tiba-tiba terasa guncangan kuat. Gempa!
Terdengar suara kraak keras dari sisi kanannya. Aniki menoleh dan mendapati retak panjang pada lapisan es danau sampai ke tempatnya berdiri. Ia tidak sempat menghindar dan terlambat untuk berlari. Dalam hitungan detik Aniki tercebur ke dalam danau es.
* * * GELAP. SEPI. Aniki tidak berhasil meraih bongkahan es untuk naik ke atas. Ia berusaha naik, tapi melayang. Ia berusaha melayang, tapi malah tenggelam perlahan. Air danau yang dingin memasuki hidung, tenggorokan, kerongkongan, perut, dan paru-parunya.
Dengan cepat, rasa sakit mendera seluruh tubuhnya. Ngilu, kebas, dan sakit. Air es mengepung dan mempermainkan tubuh kurusnya. Rasanya seperti ditusuk ujung pedang Bushido yang tajam. Ribuan pedang. Bukan ... jutaan.
Kesadaran Aniki hampir hilang saat ia tiba-tiba teringat kostum Penyihir Merlin yang salah, warna pada bendera Amerika yang luntur dengan cara aneh. Ia membuka genggaman tangannya, melihat ornamen pemberian Yuki dan menemukan kesamaan dari semua pertanda itu: Bintang biru.
Ini konyol, pikirnya. Untuk apa semua pertanda itu kalau aku harus mati di sini tanpa tahu arti dari bintang biru" Tiba-tiba ia merasa cahaya di sekitarnya menjadi kuning, seolah-olah semua lapisan es sudah disingkirkan dan cahaya matahari masuk ke dalam air.
Ia merasa hangat. Mungkin ia mengalami hypothermia
gangguan karena berada di dalam suhu dingin dalam waktu lama-sehingga suhu tubuhnya kacau.
Sekarang mungkin ia mulai berkhayal karena ia merasa ada orang berdiri di atas sebuah lapisan es sedang melihat ke arahnya, lalu mengulurkan tangan kepadanya. Aniki mendorong tubuhnya dengan sisa tenaga terakhir ke atas dan menggerakkan tangan kirinya ke atas, berusaha meraih.
Ayah" Tiba-tiba ia terpikir begitu. Wajah orang itu lalu mendekat ke permukaan air sehingga Aniki bisa melihatnya. Bukan! Wajah itu bukan wajah ayahnya! Aniki menolak menerima uluran orang itu dengan alasan yang diakuinya bodoh, menarik tangannya kembali, melepaskan ornament Yuki.
Ornamen itu melayang jatuh ke dasar Dalam beberapa
detik, tubuh beku Aniki menyusul. Diam.
raja maling nomor dua "YUHUUUUUU!" Ladakh carp itu meluncur meliuk melewati kepala-kepala orang yang sedang meramaikan festival musim semi di kota Kootz.
"Hei! Itu orangnya!"
Sebuah teriakan membuat para pengunjung festival menoleh ke arah suara. Seorang beck-polisi Planet Vida-menunjuk ladakh carp yang masih mengapung di udara. Pengendaranya tersenyum jahil dan memandang ke arah beck dengan senyum penuh kemenangan.
Ladakh carp tersebut tiba-tiba berdengung.Si pengendara terkejut, lalu memaki pelan. Baterainya habis. Beck berbaju kuning itu tersenyum senang. Dan BUM!! Dalam sedetik ladakh carp itu melayang jatuh. Pengendaranya tiba di tanah duluan dengan suara berdebum disusul papan ladakh carp yang menimpanya.
Ia tidak sempat mengaduh. Segera ia meraih papan ladakh carp, bangkit, lalu kabur karena beck tadi meniup peluit sehingga serombongan beck lain muncul dan sekarang beramai-ramai mereka mengejarnya.
Apa aku akan tertangkap", pikirnya. Beck bisa sangat kejam terhadap penjahat. Teman-temannya yang tertangkap tidak pernah pulang lagi. Ia terus berlari menyeruak kerumunan orang yang masih hingar-bingar dengan festival, terus melaju ke tepi Danau Vaes yang
berwarna kuning, lalu mencebur ke dalamnya.
Sejenak para beck yang mengejar berhenti di depan danau. Seragam metal mereka terlalu berat untuk berada di dalam air. Beck terdepan menekan sebuah tombol di depan dadanya. Tindakannya diikuti para beck lainnya. Dua detik kemudian seragam metal mereka sudah dilengkapi tiga buah sirip. Sirip punggung dan dua sirip sisi. Sepatu mereka pun kini telah dilengkapi selaput metal.
Bersamaan dengan itu, program komputer pada chip di bagian dada telah mengubah hampir seluruh berat jenis metal yang mereka pakai menjadi lebih ringan. Kecuali di bagian pinggang.
Satu-persatu dan dengan ger
akan lincah mereka terjun ke dalam danau dan menyusul si pengendara ladakh carp dengan kecepatan menyelam yang memukau.
Si pengendara ladakh carp tiba di daratan lebih dulu dan langsung berlari menerobos rerumputan Jingga, mencapai hutan bambu berwarna merah. Sejenak, ia berhenti di depan bentangan hutan bambu untuk mengambil napas dan menoleh. Para beck sudah berada tepat di belakangnya.
Ia tahu mereka juga bisa terbang, jadi ia buruburu berlari menyelipkan diri di antara bambu-bambu berduri menerobos hutan dengan langkah kaki yang ringan dan sangat terlatih. Bambu-bambu merah itu terlalu rapat untuk dilewati para beck yang berbadan besar sehingga mereka segera mengganti formasi seragam dan sekarang melayang di udara dengan bantuan butt rockett, mengejarnya dari atas.
Hutan bambu berakhir. Si pengendara ladakh carp berhenti di depan sebuah jurang, melempar ladakh carp-nya ke arah hutan bambu di belakangnya, mundur
beberapa langkah dan berlari melompati jurang selebar tiga kali tinggi tubuhnya dengan mudah.
Para beck yang terlambat tiba berhenti di atas tepian hutan bambu. Mereka bahkan tidak berani mendekati bibir jurang. Si pengendara ladakh carp mengedipkan mata memberi ejekan untuk para beck dan berlari ke balik air terjun hitam yang sudah menantinya.
Para beck tersenyum kecut. Pengendara ladakh carp yang satu ini memang luar biasa cepat. Ia selalu mengalahkan mereka di saat-saat terakhir. Di tepi jurang magnet.
Ratusan remaja seusianya sudah menunggunya di dalam gua. Si pengendara ladakh carp melewati mulut gua dan berhenti sejenak, berpose di depan teman-temannya.
"Ayolah, Orphann!" jerit seseorang.
Pengendara ladakh carp yang dipanggil Orphann itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kumalnya. Sebuah tabung kecil bening berisi cairan berwarna emas yang berkilauan.
"HOOOOOOOIIII!" dalam sekejap sorak-sorai memenuhi gua. Stalaktit dan stalagmit dalam gua bergetar keras karena kuatnya gemuruh sorakan tersebut.
Seseorang berbaju cokelat kumuh maju, mendekatinya, dan meraih tabung tersebut. Ia tampak benar-benar kagum.
"Orphann, ini benar-benar fusee-e tube!"
Orphann tersenyum bangga.
"Mulai dari sini, kita tidak akan lagi kehabisan energi untuk semua ladakh carp kita!" Orphann berteriak.
Sorakan riuh kembali membahana. Lalu semua Theft Ryder-begitu mereka disebut-mengeluarkan papan ladakh carp mereka, modal utama untuk mencuri di dunia
borguic. Dan mencuri adalah profesi mereka.
Orang berbaju cokelat tadi mengeluarkan alat berben-tuk kotak yang dilengkapi dengan kumparan kabel trafo di kanan-kirinya dan alat pengubah fusi soarex menjadi energi. Soarex adalah cairan berwarna emas yang berada dalam tabung yang dibawa Orphann tadi.
Satu tetes soarex jika diolah dengan efisien bisa menghasilkan energi listrik dua gigawatt. Orphann berhasil membawa ratusan tetes soarex dan itu berarti mereka bisa menggunakannya seumur hidup.
Si baju cokelat nyengir, "Ehm, alat ini rancanganku sendiri ... jadi kalau tidak berhasil ..."
Kalimatnya dijawab dengan lemparan batu dari segala penjuru arah. Orphann tergelak.
Dengan tenang, si baju cokelat menyetel alat rancangannya itu, lalu memasukkan fusee-e tube ke dalam wadah yang agak kelonggaran untuknya. Sejenak suasana menjadi tegang. Bagaimana ini"
Si baju cokelat tidak kekurangan akal. Ia memungut salah satu batu yang dilemparkan kepadanya tadi, mengganjal fusee-e tube sehingga muat di dalam wadah dan mulai menyalakan dinamo asal jadi itu.
Hening sejenak. Ia sudah hampir dilempari batu lagi saat dinamo itu berdengung keras dan bergetar. Ia memutar alat pengontrol output energi dan menekan energi yang dikeluarkan soarex menjadi hanya beberapa ribu watt. Mereka harus berhemat.
Semua anggota Theft Ryder menarik napas lega dan mulai mengantre untuk men-charge ladakh carp mereka. Namun, ini tetaplah dunia Theft Ryder. Sulit untuk mengajari anak-anak pelaku kriminal agar disiplin. Beberapa mulai menyalip antrean hingga terjadilah
keributan dan baku hantam yang seru. Si baju cokelat dan Orphann mengacuhkan kejadian itu. Itu hal biasa di sini.
"Heh, kau sendiri tidak mengantre, Orph""
Orphann m engangkat bahunya segan, lalu menunjuk ke arah hutan bambu di balik air terjun dan di seberang jurang.
"Lagi-lagi kau buang di situ, ya""
Orphann mengangguk malas. Ia berputar-putar di dalam ruangan gua seolah-olah tanpa tujuan. Si baju cokelat sudah tahu itu adalah gaya pura-pura Orphann jika ia sedang mengambil ancang-ancang.
Perkiraannya benar. Orphann mengambil langkah mundur yang jauh lalu lari keluar menerobos air terjun hitam dengan cara dramatis. Ia seolah muncul dari lapisan dimensi lain.
Lompatannya kali ini dimaksudkan sampai menyeberangi jurang. Tubuhnya dengan ringan menukik seperti busur dan ... ia tidak berhasil!
"Akhh!" Orphann berhasil meletakkan tangan kirinya ke bibir jurang di seberang. Para Theft Ryder segera keluar dari balik gua dan menyaksikan rekan mereka sedang tergantung di bibir jurang magnet dengan sebelah tangan. Semua cemas termasuk si baju cokelat.
Bahunya terasa ngilu dan sakit. Begitu sakit sehingga ia berkeringat dan ingin menangis. Orphann mengangkat tangan kanannya yang tergantung di sisi tubuhnya dan menancapkan kuku-kuku kotornya pada tepi jurang. Dengan satu hentakan dan satu erangan, ia berhasil mengangkat setengah tubuhnya ke atas dan memanfaatkan momen itu untuk memindahkan seluruh tubuhnya
ke atas tanah. Tidak ada yang bersorak-sorai dari arah air terjun. Mereka lega Orphann selamat, tapi tetap saja tindakannya itu dianggap bodoh oleh para Theft Ryder. Untuk apa melompat dari jarak sejauh itu"
Orphann menyelinap ke dalam hutan bamboo dan menemukan papan ladakh carp-nya sedang dililit ular besar berwarna merah tua. Sialan!
"Ayo, Rose ..." sapanya pada ular itu.
Ular itu melotot pada Orphann. Dia tidak suka diganggu atau mungkin namanya bukan Rose. Orphann sembarangan memanggilnya begitu hanya karena warna kulit ular berkuping itu mengingatkannya pada kebun mawar di halaman belakang rumah seorang kaum borguic.
Si ular mendesis marah dan bersiap-siap menyerang.
Orphann bosan dengan semua pertempuran ini. Dikejar beck, digigit ular, ditendang kuda. Orphann merasai pasir cokelat di bawah telapak kaki telanjangnya. Perlahan, ia mengumpulkan pasir di kakinya. Si ular mengikuti gerakan Orphann dengan matanya. Orphann menendangkan pasir ke mata si ular dan segera melompat ke arahnya, mengambil ladakh carp-nya, secepat mungkin, dan ia berhasil. Si ular yang kelilipan marah dan mendesis kencang. Rupanya ia memanggil teman-temannya.
Suara desisan lain terdengar di balik puluhan ribu batang bambu. Ramai sekali. Orphann melirik dari sudut matanya dan menyaksikan ratusan ular merah berkuping keluar dari balik bambu dan sedang melata ke arahnya.
Ia mengendus papan ladakh carp-nya yang berlendir.
"Ah, kau bau. Kau tidak pantas bernama Rose!"
Setelah bicara ia lari sekencang-kencangnya kembali ke arah jurang.
"Soil!" panggilnya.
Si baju cokelat yang sedang melamun di tepi jurang di seberangnya mendongak.
Ia menyaksikan Orphann sedang berlari ke arahnya dan diikuti ratusan ular merah berkuping. Astaga! Kalau Orphann sampai digigiti ular sebanyak itu mereka tidak punya cukup penawarnya. Masa, sih Orphann akan melompat lagi ke sini"
Orphann mengerem mendadak di depan jurang lalu melemparkan ladakh carp-nya ke arah Si baju cokelat.
"Soil, aku pinjam punyamu!"
Soil menangkap papan ladakh carp Orphann dan melemparkan miliknya sendiri ke seberang. Orphann menangkapnya, melompat ke atasnya dengan cepat. Papan ladakh carp itu berdesing dan terbang rendah di atas ratusan ular yang memandang ke atas dengan gemas. Orphann meninggikan posisi terbangnya dan menambah kecepatannya. Ia akan pergi ke kota Kootz. Sebelumnya, ia harus mencuri sesetel pakaian yang agak bagus agar ia bisa berjalan di antara para borguic dengan leluasa.
ORPHANN SAMPAI di kebun belakang keluarga Yeero dengan sehelai pakaian bagus yang dicurinya di festival. Kebun itu hanya berbunga mawar saja dan pada musim semi seperti ini kebun keluarga Yeero adalah yang terindah di Kootz.
Tidak seperti keluarga lain yang menjual bungabunga mereka ke pasar, Yeero membiarkan bungabunga itu bersemi, lalu layu begitu saja di halaman karena mereka suka m
enikmatinya seperti itu dan kelihatannya mereka tidak butuh tambahan uang lagi. Mereka kaya-raya.
Orphann membuka baju kumalnya yang sudah dipakainya selama tiga bulan tanpa diganti. Di tengah rimbunan pohon mawar, ia menukarnya dengan 'baju barunya'. Seharusnya, ia hanya berada beberapa menit di sana untuk berganti baju dan melihat kebun mawar favoritnya, tapi wangi mawar merah yang juga berbatang dan berdaun merah itu membuatnya mengantuk dan ingin tinggal lebih lama.
Orphann membanting dirinya di atas mawar yang empuk. Tidak berduri. Dibantu embusan angin musim semi ia tertidur.
Ia bermimpi. Seseorang mengajaknya ke Gurun Dunn, di sebelah barat Kutub Vida. Hanya saja dalam mimpinya gurun Dunn berwarna ungu, bukan Jingga seperti yang biasa dilihatnya dalam kehidupan nyata.
Tempat itu begitu sepi sehingga menyesakkannya. Ia ingin pergi dari situ, tapi seseorang itu menunjuk sebuah bintang biru di atas langit kelam.
"Heh! Warna biru! Itu langka!" teriaknya.
Orang itu lalu menunjuk ke ujung gurun. Di sana tampak sebuah peti berkilauan. Warnanya hijau laut dan putih susu. Beberapa batu mulia menghiasi tepiannya.
Orphann tertarik dan mendekat. Tangannya terulur untuk menyentuh batu-batuan tersebut.
"Itu bukan untuk dicuri."
Sialan! Kenapa bahkan dalam mimpi ada yang menasihatinya seperti ini! Orphann pura-pura mengurungkan niatnya, tapi matanya tetap mengira-ngira berapa banyak makanan yang bisa dibeli untuk para Theft Ryder dengan batu-batu itu.
Orang itu menunjuk peti hijau-putih dan dengan perlahan tutup peti itu terbuka. Orphann melongok dan
melihat sesuatu yang membuatnya menjerit keras!
Begitu terkejutnya, sampai-sampai ia terjengkang ke belakang. Orphann tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meraih satu batu dari tepi peti dan berhasil ...!
"KAU MERUSAK BUNGAKU!"
Orphann terbangun dan melihat siluet aneh yang membelakangi salah satu dari tiga matahari Planet Vida sedang berdiri di hadapannya.
Perlahan, seiring dengan pulihnya kesadarannya, Orphann baru menyadari bahwa siluet itu adalah tubuh seorang gadis yang sedang berkacak pinggang kepadanya. Gadis itu lalu menunjuk-nunjuk tangan Orphann.
Orphann melihat tangannya. Sekuntum bunga sudah tercabut dari tangkainya. Kelopaknya berhamburan dalam genggaman tangan Orphann.
Orphann memandang telapak tangannya lalu ganti memandang gadis itu dengan bingung.
"Kau keluarga Yeero"" desisnya bingung.
"Ya! Aku Summa. Putri tertua Yeero. Kau siapa berani-beraninya tidur di atas kebun kami yang sempurna!"
"Kalau begitu aku pergi." Orphann bangkit dan membersihkan daun-daun mawar yang melekat di tubuhnya
"Hei! Kau bisa ditangkap karena masuk tanpa permisi. Setidaknya kau harus minta maaf, bukan""
Maaf" Kata-kata itu tidak pernah terlintas di benak Orphann selama hidupnya. Orphann tersenyum sinis, meraih ladakh carp milik Soil, lalu pergi meninggalkan kebun bunga itu begitu saja dalam satu desingan. Senang rasanya bisa membuat satu lagi orang borguic kesal.
Summa masih ternganga tak percaya di kebun
mawarnya. Mawarnya yang indah yang dijaga empat belas tukang kebun terbaik di Kootz (konon bahkan yang terbaik di planet Vida) berantakan.
Summa mendekat dan mengendus bau tidak sedap di tempat bekas Orphann tidur tadi. Va ampun! Bau sampah! Summa ingin muntah. Ada seonggok baju atau mungkin lap kumal di sela-sela mawar. Summa lalu mengeluarkan pelacak mini dari saku bajunya dan mendekatkan alat tersebut ke lap tadi. Alatnya menggonggong keras. Apa bau orang tadi begitu parahnya"


Goran Sembilan Bintang Biru Karya Imelda A. Sanjaya di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pelacak bau menunjukkan bahwa bau yang ditemukan adalah bau seorang buronan dan anggota Theft Ryder. Nama tidak diketahui. Tempat tinggal diperkirakan di balik air terjun hitam di sekitar Danau Vaes. Ia adalah Theft Ryder nomor dua yang paling dicari Beck kota Kootz. Data terakhir menunjukkan bahwa ia baru saja ketahuan mencuri soarex sebanyak satu fusee-e tube.
Dahi Summa mengernyit. Soarex di kota Kootz hanya diproduksi oleh pabrik milik keluarga Kann- kenalan keluarganya-yang kaya raya. Kehilangan satu tube saja bisa menyebabkan kerugian besar bagi pabrik karena untuk menghasilkan satu tube diperlukan baha
n baku soarex murni yang sangat mahal dan waktu setahun untuk proses sedimentasi dan perangsangan sel pasif.
Jika ia bisa mengembalikan tube itu, kesempatan keluarganya untuk menjadi partner di dalam perusahaan keluarga Kann akan terbuka lebar. Hanya tambang soarex yang menyebabkan keluarga Yeero sedikit kalah kaya dari Kann.
Summa tersenyum dan menekan tombol 'cari' pada pelacak mininya. Pelacak tersebut mendengking pelan dan melonjak-lonjak. Summa hampir tidak kuasa menahan
kuatnya lonjakan benda tersebut. Summa membiarkannya melayang di udara.
Summa lalu mengeluarkan rantai dari dalam sakunya dan memasangnya pada kait di hulu pelacak. Tanpa bisa dicegah, pelacak itu melesat cepat membawanya pergi ke arah timur. Arah di mana medan magnet terbesar di Vida berada.
* * * ORPHANN MENGGARUK-GARUK kepalanya yang gatal, tidak pernah keramas. Tubuh Orphann juga Cuma kena air jika terpaksa harus menyeberangi Danau Vaes seperti tadi siang. Rupanya tubuhnya cukup bau karena setiap borguic yang berpapasan dengannya buru-buru menutup hidung dan mengernyit dengan mata sombong mereka. Ia tiba di depan etalase sebuah toko. Menatap ke dalamnya. Di mana terpajang ratusan setelan pakaian kaum borguic yang mahal. Beberapa borguic kaya keluar dari toko sambil tertawa-tawa. Mereka langsung menuju Jet Carp mewah yang terparkir di luar toko dan melesat pergi.
Orphann tidak iri kepada mereka. Baginya, hidup seperti itu sangat membosankan dan melelahkan. Ia tidak bisa membayangkan harus bekerja keras seumur hidup hanya untuk membeli rumah, pakaian, jet cyclo atau bahkan jet carp, lalu saling pamer dengan kaum borguic lainnya. Begitu seterusnya sampai mati.
Semua Theft Ryder adalah pekerja keras, tapi mereka hidup untuk kelompok mereka bukan untuk diri sendiri. Siapa yang mendapat banyak juga harus memberi banyak. Tidak ada pemimpin di dalam Theft Ryder.
Orphann sedang mencungkil giginya di depan kaca
bening tersebut saat beberapa gadis borguic melewatinya. Mereka baru pulang dari sekolah. Gadis-gadis itu berbisik-berbisik sambil meliriknya. Orphann sungguh tidak peduli sampai ia mendengar bisikan mereka,
"Hei! Bukankah dia orang yang ada di dalam pengumuman itu""
"Ssst ...jangan keras-keras! Dia itu Theft Ryder."
"Beraninya dia berkeliaran di sini ..."
Orphann mengangkat alisnya dan memelototi mereka. Gadis-gadis itu berhamburan ketakutan. Mereka mengeluarkan ladakh carp mini mereka dan melesat pergi pada ketinggian yang lumayan. Sam- bil tersenyum jahil, Orphann menengadah ke atas. Gadis-gadis itu pakai rok mini.
Perlahan, Orphann membalikkan tubuhnya, menatap pusat kota. Betapa terkejutnya ia, melihat pada setiap layar yang tergantung di atas gedung tampak gambarnya beserta daftar terbaru kejahatan yang dilakukannya. Kalimat-kalimat yang bergerak di bawah gambar membujuk orang-orang melaporkan keberadaannya.
TANGKAP THEFT RYDER INI. HADIAH DUA MILIAR CROMME AKAN DIBERIKAN BAGI PEMBERI INFORMASI TERAKURAT. TIGA MILIAR UNTUK YANG MENANGKAP LANGSUNG DENGAN TANGANNYA SENDIRI ...
Orphann tersenyum senang. Tiga miliar untuk menangkapnya! Hidung Orphann sudah mengembang, tapi kembali mengempis bahkan nyaris hilang saat kalimat susulan tertera pada layar:
... RAJA MALING NOMOR DUA DI PLANET VIDA.
NOMOR DUA" Orphann menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia menendang ladakh carp ke udara sampai benda itu mengapung, bersalto untuk berdiri di atasnya, lalu
WUUUUUUUUZ ... melayang pergi untuk membuktikan bahwa SI NOMOR SATU itu sudah tidak ada apa-apanya
dibandingkan dirinya. jurang magnet JET CYCLO Summa tiba dengan selamat di tepi jurang magnet. Setelah itu ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Membawa cyclo menyeberang sama dengan bunuh diri. Jika ia melompat-itu pun belum tentu berhasil-maka ia harus menghadapi sesuatu yang mengerikan di balik air terjun hitam.
Summa menurunkan cyclo-nya, lalu turun dan mondar-mandir di pinggir jurang. Ia mengerti mengapa tidak ada beck yang sanggup menangkap para Theft Ryder itu. Di seberang jurang itu masih ada ratusan Theft Ryder yang tinggal di dalam gua. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang mereka mil
iki untuk melawan. Baru-baru ini saja mereka sudah mencuri fusee-e tube hanya untuk menyuplai energy bagi ladakh carp usang mereka.
Seberkas cahaya muncul dari balik Gunung Ka. Cahaya matahari ketiga yang baru terbit. Berarti giliran matahari di Kota Kootz yang terbenam.
Summa menoleh ke hutan bambu. Mengapa tidak ada beck yang memikirkan hal ini" Ia mengeluarkan gergaji mini yang merupakan bagian dari pisau lipat yang selalu dibawanya, lalu berjalan ke dalam hutan.
Gerak-gerik Summa diperhatikan oleh Soil yang sedang mencuci ladakh carp Orphann dengan air dari air terjun hitam. Ia tidak pernah melihat gadis secantik itu sebelumnya. Rambutnya merah menyala. Begitu juga dengan pakaian mahalnya. Kenapa ada gadis borguic kaya
di tempat seperti ini" Ini bukan tempat piknik. Tidak ada perempuan normal yang menyukai suasana muram dan seram yang dipancarkan oleh perpaduan Gunung Ka dan Danau Vaes.
Tiba-tiba, gadis itu muncul lagi membawa sebatang bambu merah panjang yang sudah ditebangnya. Rupanya ia berniat menggunakannya sebagai jembatan. Bodoh! Kalau hal itu bisa dilakukan, semua Theft Ryder tidak perlu berlatih melompati jurang sejak bayi.
Sepuluh detik sejak bambu itu terpasang di bibir jurang, terdengar suara berdesing yang panjang dan seperti yang Soil perkirakan sebelumnya bambu itu melengkung ke bawah, lalu melesak dan tersedot jatuh ke dalam jurang magnet.
Summa melongo. Bukankah yang dipasangnya itu bambu" Ia kembali mondar-mandir kebingungan.
Soil geli melihatnya. Semua tumbuhan di sekitar situ hidup dengan bergantung pada mata air hitam- termasuk juga air terjun hitam-yang mengandung logam. Jadi semua rumput di situ, semua bamboo bahkan burung yang minum air hitam tidak akan selamat melewati jurang magnet, karenanya bahkan tidak ada seorang pun Theft Ryder yang berani berkumur dengan air hitam.
Summa adalah gadis yang keras kepala. Ia mengambil langkah mundur, lalu dengan nekat melompati jurang magnet. Ia berhasil!
Bisa dibilang begitu karena kakinya berhasil menjejak tanah di tepian jurang di seberang. Tapi terlalu ke pinggir. Tanah itu rapuh dan ia terjungkal ke belakang. Summa menjerit.
Soil bahkan tidak tertarik untuk melongok ke dalam jurang. Soil menggores sebuah batu di dekat pintu gua
dengan pisaunya, menambah satu garis pada sembilan puluh sembilan garis yang telah dibuat sebelumnya. Dengan peristiwa ini maka gadis itu adalah borguic ke seratus yang sudah mengisi jurang magnet.
Baru saja Soil hendak beranjak masuk ke dalam gua, ia mendengar desingan yang dikenalnya. Suara ladakh carp miliknya. Soil menoleh dan mendapati Orphann menyeberangi jurang magnet dengan wajah kesal. Orphann sampai di seberang dan langsung merebut ladakh carp-nya yang sedang dipegang Soil.
"Ada apa, Orph""
"Mana si Nomor Satu""
"Maksudmu 'dia1" Sedang tidur di dalam, kurasa." "Aku ingin menantangnya." "Ada apa sebenarnya"" "Mereka, borguic menjulukiku nomor dua!" Sejenak Soil menatap mata Orphann dalam-dalam. "Borguic" Kau sendiri yang barusan menyebutnya Si Nomor Satu."
Orphann semakin kesal, "Aku yang memberi makan bayi-bayi Theft setahun belakangan ini. Aku yang mendapatkan fuseee tube. Dia tidak melakukan apa-apa selain makan, tidur, dan menendangi orang."
"Dia mengasuh kita sampai sebesar ini."
"Bukan dia, Soil. Tapi Kakaknya, yang mati di jurang magnet karena si Nomor Satu yang curang memasangi besi pada ladakh carp-nya."
"Mengapa kau begitu peduli pada penilaian orang borguic" Nomor satu atau bukan kita adalah maling. Kita semua maling! Dan di dalam gua Cuma itu yang penting." "HOOOOI! APAKAH ADA YANG BISA MENOLONGKU!"
Sejenak perdebatan terhenti. Orphann dan Soil saling berpandangan dengan heran. Soil baru teringat sesuatu.
"Oh! Ada borguic perempuan tercebur di situ tadi."
Orphann melongok ke dalam jurang sambil berjongkok. Gadis itu tidak tercebur. Ia masih bergantung dengan sebelah tangan pada sebuah ranting yang tumbuh mencuat di dinding jurang.
Samar-samar Orphann mengenalinya. Yeero!
"Hei! Bukankah kau Yeero muda yang ada di kebun bunga itu""
"Yep! Sekarang tolong aku."
Soil dan Orphann berpandangan, lalu tertawa keras
keras. Lucu sekali! "Buat apa aku menolong seorang borguic"" "Uang""
"Aku bisa mencurinya dari rumah ayahmu." "Aku tidak akan memberi tahu tempat ini kepada beck!"
"Semua beck di Vida sudah tahu keberadaanku!"
Summa sudah hampir putus asa. Dia menoleh ke bawah, ke lebih dari satu mil kedalaman jurang, melihat tumpukan ribuan jet cyclo, jet carp dan ... ya ampun! Sepertinya ada banyak tumpukan seragam beck yang mungkin sudah berkarat. Summa ngeri membayangkan dia harus mati pelan-pelan tergantung atau jatuh ke bawah dengan tubuh hancur. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Eh, apakah kau masih di atas sana""
"Aku tidak akan menolongmu!" suara Orphann.
"Tidak perlu. Di sekitarmu ada pelacak miniku. Dia tidak akan pulang tanpa aku. Berikan padaku. Setidaknya biarkan benda itu menamaniku sampai mati di sini."
Summa mendengar langkah-langkah kaki di atas sana. Mungkin Theft Ryder pirang itu sedang berkeliling mencari benda itu. Tidak berapa lama terdengar suara kaing-kaing dan gonggongan pelacak mininya. Tiba-tiba, kepala Orphann sudah muncul di mulut jurang.
"Aku menemukannya ..." Orphan menyeringai.
"Berikan kepadaku."
"Nona Yeero, aku ini pencuri ..." Orphann menunjuk ujung tali pelacak mini Summa yang sekarang dipegangnya sambil tersenyum licik.
Dengan satu tarikan napas, Summa bersiul kencang. Pelacak mini itu langsung melesat ke bawah menghampiri tuannya ... dan membawa Orphann serta!
Orphann terkejut. Tubuhnya terbawa jatuh ke dalam jurang. Ia pikir ia akan mati sebelum menghajar si nomor satu saat ia merasa tubuhnya tergantung. Ia mendongak ke atas dan tampak Summa berhasil menangkap pelacak mininya. Kini ia sedang memegangnya erat-erat dengan sebelah tangannya yang bebas. Mereka tergantung bertiga berurutan : Gadis Yeero itu, pelacaknya dan dirinya yang malang. Menyebalkan!
Gadis itu pasti merasa sangat kesulitan menahan tubuh Orphann dengan satu tangan saja. Orphann memaki pelan. Ia tertipu! Kini nyawanya tergantung belas kasihan gadis itu. Orphann melirik tali yang menjadi tumpuannya. Tali itu sudah meregang dan hampir putus. Orphann berteriak kencang,
"SOIL!" Soil muncul dan menatap Orphann dengan tatapan dingin.
"Ada apa""
"ADA APA" LEMPARKAN LADAKH CARP-KU KEMA- RI!!!"
"Hmmm ... kalau kau mati aku akan menjadi nomor dua." "Hei! Kau sendiri yang bilang penilaian borguic itu tidak ada artinya."
Soil berdiri bersidekap. Pura-pura berpikir. "Ayolah Soil! Apa yang kauinginkan akan aku curikan untukmu!"
"Berikan tangan kananmu padaku!" Percakapan itu membuat Summa merinding. Bagaimana bisa ada manusia hidup dalam dunia sekejam itu" Bukankah kedua orang itu seharusnya adalah teman" Summa berbisik pada Orphann.
"Hei ... jangan lupa aku juga diselamatkan. Aku, yang sedang memegangi talimu."
Soil rupanya mendengar bisikan itu. "Nona berambut merah! Aku mungkin tidak tertarik pada tanganmu, jadi lebih baik kau mati saja!"
Orphann tersenyum kecut pada Summa.
"Aku tidak mau kehilangan dua tangan untuk menyelamatkanmu. Kalau kau keberatan menolong- ku, lepaskan saja peganganmu pada pelacak minimu."
Summa berpikir, mengapa ada orang sebodoh dia"
Summa lalu menggeleng. "Aku tidak diajari ayahku membunuh. Lagi pula kau berutang satu bunga mawarku. Kalau kau mati, akan aku kejar sampai neraka untuk bunga itu."
Orphann teringat pada kebun bunga mawar merah itu, pada harumnya, empuknya. Tiba-tiba ia merasa belum ingin mati dan tidak ingin kehilangan tangannya.
"SOIL! MAAF AKU TIDAK BISA MEMBERIKAN TANGANKU!"
Soil kembali melongok, menatap Orphann agak lama.
Pandangan mata dinginnya membuat Orphann menggigil.
"Setelah dipikir-pikir, aku juga tidak tahu apa gunanya tanganmu yang jelek itu," Soil mengalah.
Sebuah ladakh carp tiba-tiba meluncur ke dalam jurang. Orphann melepaskan pegangannya pada tali dan melompat ke arah ladakh carp. Ia berhasil dan sekarang sudah berdiri di atas ladakh carp dengan santai.
Tubuh Summa yang masih tergantung tiba-tiba tertarik ke bawah. Astaga! Pelacak mininya! Ia ingat bahwa radar dan sebagian body alat itu mengandung besi. Summa menggenggam pelacaknya eraterat, tapi tarikan jurang magnet makin kuat. Sampa
i kapan ia bisa bertahan di sini"
Suara berdesing mendekat ke arahnya. Summa menoleh dan melihat Orphann sudah melayang di sebelahnya, lalu menariknya pindah ke atas ladakh carp. Summa menggeleng.
"Tidak. Pelacakku ... dia akan jatuh."
Orphann berkeras menarik Summa, "Hei, aku berutang satu mawar kepadamu, borguic!"
"Maaf, merepotkanmu. Bayar saja di neraka."
Summa melepaskan tangan satunya dan dengan cepat kedua tangannya memeluk pelacaknya eraterat. Tubuhnya melayang jatuh ke bawah dalam gerakan pelan. Summa pasrah dan memejamkan matanya.
BLEB! Ia merasa tubuhnya disambar seseorang. Ia kini berada di atas ladakh carp Orphann. Ladakh carp itu tidak bisa naik ke atas karena daya tarik magnet menyedot pelacak mininya.
"Demi Tuhan semua orang Vida! Lepaskan benda itu!" Orphann memaki.
Summa masih menggeleng saat ladakh carp makin
merosot ke bawah. Orphann merebut pelacak mini itu dengan kasar, lalu melemparkannya ke bawah. Ladakh carp langsung melesat ke atas dan sampai di bibir jurang.
Mereka tiba di atas dengan selamat. Summa beringsut dengan cepat ke bibir jurang dan melongok. Pelacak mininya melolong panjang seiring dengan jatuhnya ke dalam jurang. Summa menangis.
"Mengapa orang borguic begitu terikat pada benda" Itu kan cuma benda"" Orphann berkacak pinggang.
Summa menggeleng sedih, "Benda itu sudah menemaniku sejak aku lahir."
Orphann tidak bisa mengerti perasaan Summa. Ia bahkan baru saja berniat menghajar orang yang dikenalnya sejak lahir hanya demi gelar nomor satu. Summa menoleh kepada Orphann,
"Ngomong-ngomong ... terima kasih banyak. Tapi maukah kau menolongku sekali lagi" Aku perlu menyeberang ke sana." Summa menunjuk ke arah tempatnya datang.
Orphann menggeleng. Ia juga sudah kehilangan minat untuk menghajar Si Nomor Satu. Lain kali saja.
"Aku lelah. Tapi Soil sepertinya akan ke seberang untuk mencari makan. Kau bisa menumpang ladakh carp-nya."
Summa menoleh kepada orang yang dipanggil Soil. Soil tampak sedang menghapus sesuatu dari batu yang digoresnya tadi. Manusia berkepala plontos itu lalu menatapnya dengan pandangan beku.
Orphann masuk ke balik air terjun hitam meninggalkan dua orang itu di luar.
"Hai, aku Summa. Kau bisa membawaku ke seberang""
Soil mengacuhkan pertanyaan Summa. Ia tampaknya
lebih tertarik dengan rambut Summa. Ia menatap rambut itu dengan penuh minat.
"Rambutmu ... kau cantik."
Summa tersipu. Ia melihat kepala Soil lalu balas tersenyum,
"Tanpa rambut pun, kau bahkan lebih cantik daripada
aku." sebiru salju, seputih gigi beruang
IBU DAN seluruh penduduk Desa An menemukan retakan panjang di atas danau. Masih ada lubang pancing dan setumpuk ikan di tepinya yang sudah menjadi es. Ember dan termos air panas pun masih tergeletak di sana.
Tapi mereka tidak juga menemukan Aniki. Mereka sudah mengitari Gunung Asahi empat kali, ngubek-ngubek danau kecil itu puluhan kali, dan mereka tidak juga melihat keberadaannya.
Onatsu putus asa. Salahnya membiarkan Aniki pergi memancing. Sebenarnya, ia sudah melakukan kesalahan sejak membawa Aniki pulang ke Hokkaido. Natal di Hokkaido! Ah! Sekarang gagasan romantic itu kelihatan bodoh sekali.
Sekarang, ia bahkan tidak tahu bagaimana mengabari Ibunya tentang raibnya Aniki. Onatsu bertekad tidak akan menceritakan apa pun kepada Ibunya sebelum ia menemukan Aniki.
"Hai! Apakah ini miliknya""
Seorang pemuda suku Ainu yang sedang berdiri di sebelah Hotta melambaikan sebuah benda kepada Onatsu. Onatsu berjalan mendekatinya. Hotta menunduk saat Onatsu tiba di dekat mereka. Ia benar-benar kelihatan merasa bersalah.
"Um, Nyonya Kodama, salah saya meninggalkan..."
"Kau tidak bersalah, Hotta. Bahkan, seandainya kau masih berada di sini saat gempa itu terjadi, aku yang akan merasa bersalah karena mungkin saja kau juga ikut menghilang."
Hotta tidak kelihatan lebih lega, tapi ia menunjuk temannya.
"Dia menemukan sesuatu, Nyonya Kodama, tapi aku tidak ingat Aniki memakainya kemarin."
Pemuda di sebelah Hotta membuka telapak tangannya. Onatsu tercengang melihat benda itu. Sebuah kalung yang terbuat dari tali hitam yang sederhana. Di tengahnya tergantung semacam liontin dari gi
gi beruang. Ia menyerahkannya pada Onatsu.
"Bukankah ini gigi beruang"" tanyanya pada pemuda suku Ainu itu. Pemuda itu mengangguk. Onatsu bertanya lagi.
"Jadi,bukankah ini seharusnya milik suku kalian" Mungkin terjatuh saat kita mencari kemarin. "
Suku Ainu memuja beruang sebagai dewa dan terkadang menjadikan segala sesuatu yang bisa diambil dari tubuh binatang itu sebagai jimat. Pemuda itu menggeleng.
"Sudah lama tidak ada yang berburu beruang sejak peraturan perburuan ditetapkan. Lagi pula, ini baru mungkin milik kami jika ada anggota suku yang tenggelam di danau ini juga, sebab aku menemukannya di situ."
Ia menunjuk celah sempit bekas retakan es tidak jauh dari mereka. Onatsu melirik retakan es itu, lalu melihat kalung gigi beruang itu lagi. Benar, itu bukan gigi baru, tapi sudah lama.
Onatsu terkesiap setelah mengingat bahwa ia pernah
memberikan gigi beruang yang persis sama kepada seseorang di masa lalu. Mungkinkah itu benar-benar dia"
* * * ANIKI TERBANGUN dengan rasa sakit di dada yang luar biasa. Kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya terasa kesemutan.
Ia membuka matanya perlahan dan menyadari bahwa ia berada di dalam sebuah konen-rumah khas suku Ainu. Sendirian. Ada perapian menyala di tengah rumah beratap ilalang itu, menghangatkannya.
Aniki mengangkat tubuhnya dan mencoba menyapu semua yang bisa dilihatnya dengan matanya. Sebuah guci-mungkin guci air-terletak di pojok ruangan, lengkap dengan gayungnya. Ada ceret tanah yang sedang dijerang di atas perapian, dan sebuah mangkuk tembikar berisi sup di sampingnya. Masih mengepul.
Aniki menepiskan selimut dari anyaman daun shobu yang wangi yang dari tadi menutupi tubuhnya. Ia beringsut ke mangkuk sup, mengendusnya. Baunya amis sekali.
"Itu sup ikan yamame. Bagus untuk tubuhmu."
Aniki mengangkat kepalanya dan melihat orang itu lagi. Lengkap dengan jubah hitam bertudung dan topengnya, ia sudah berada di ruangan yang sama dengan Aniki. Aniki tidak merasa takut, nyaman malah.
"Kau yang menyelamatkanku."
"Sepertinya kau yakin sekali." Orang itu memaksa menyuapkan sesendok sup ikan ke mulutnya.
Pasti dia. Tidak ada siapa pun di tempat itu dan ia selamat. Kesimpulan yang mudah, bukan" Aniki mencoba
bangun dan berhasil. Dengan langkah-langkah kecil, ia bergerak ke jendela, mengintip.
Tidak ada apa pun selain hamparan salju. Tidak juga rumput. Sinar matahari dan warna langit membuatnya tampak seperti berwarna biru. Aniki berlari keluar dari satu-satunya pintu di konen itu.
Betapa tercengangnya ia melihat bahwa rumah itu berada di padang salju yang luas. Tidak ada bangunan atau tumbuhan lain di situ. Hanya konen itu. Ia merasa seolah seorang diri di dunia ini. Menakjubkan.
Aniki kembali berlari ke dalam, bertanya.
"Bagaimana bisa""
"Mengapa tidak bisa""
"Kenapa kau tidak menyerahkanku saja ke penduduk terdekat dari danau" Mengapa membawaku ke tempat sejauh ini""
"Mereka tidak akan bisa merawatmu. Jantung, hati dan ginjalmu membeku. "
"Mereka bisa ... um ... rumah sakit."
"Jaraknya belasan kilometer dari danau itu. Kau bisa mati sebelum sampai di kaki gunung."
"Terima kasih atas pertolonganmu, Tuan. Tapi aku harus segera pulang."
"Ini gunung Asahi, rumahmu."
"Sementara ini aku tinggal di rumah nenekku di Fu-rano."
"Dulu kau tinggal di bagian selatan gunung ini."
Bahkan penduduk Desa Waki yang menurut Ibunya adalah satu-satunya tetangga mereka dulu sudah tidak ada yang tinggal di tempat itu lagi. Mereka sudah berpencar dan tinggal di desa-desa lain. Jadi bagaimana orang ini bisa tahu "
"Aku harus pulang. Ibuku pasti mencemaskanku."
Sejenak si jubah bertopeng atau si topeng berjubah terdiam. Ia maju, mendekat ke Aniki. Dan sebelum Aniki bisa mencegah, ia menempelkan telunjuknya di pelipis Aniki. Tiba-tiba, Aniki merasa pusing dan tidak bisa mengingat apa pun selain kehangatan yang melingkarinya.
* * * MEREKA MENEMUKAN Aniki tertidur di bawah sebuah beech tree. Sebuah selimut tua dari kulit beruang menyelimuti tubuhnya. Tubuh kurusnya bagai berada di dalam buaian beruang. Ia tampak kering, hangat dan baik-baik saja.
Padahal, Onatsu merasa hampir gila dan hari itu ia sudah be
rencana melapor ke polisi. Saat seorang penduduk Desa An memanggilnya dan mengabarkan kabar gembira itu, Onatsu mengira bahwa ia bisa mati di tempat.
Tapi Aniki tidak tertidur. Ia tidak bisa dibangunkan bahkan dengan tamparan dan tendangan sekalipun. Seluruh penduduk mengelilinginya dengan bingung.
Onatsu membelai rambut putranya dengan penuh kasih. Ia ingin berdoa untuk putranya, tapi saat itu entah mengapa ia tidak bisa mengingat satu katapun dari kitab sutra. Ia lalu memandang penduduk Desa An satu-persatu, memohon.
"Tolong anakku ..."
Seseorang maju. Seorang nenek. Ia mulai bersenandung memuji Kim-un Kamui, Dewa Beruang dan Nusakoro Kamui, Utusan dan Perwalian para roh leluhur Ainu, ia membacakan Kamui Yukar untuk Aniki. Kamui Yukar adalah semacam nyanyian yang berisi cerita
tentang dewa-dewa Ainu. "Shineantota petetok un shinotash kush payeaskar, petek tok ta shine ponrupnekur neshko urai karkushu urakik neap kosanikkaukan punash punash ...oiii Kim-un Kamui.... Oiii nusakoro, Oi... Moshiikara kamui..."
Suaranya lirih dan nyanyiannya pedih menyayat.
Mungkin karena nyanyian itu, atau karena memang sudah saatnya ia bangun. Perlahan mata Aniki terbuka. Sedikit demi sedikit. Matanya mengerjap silau. Ada kilauan di sana. Ia menangis. Onatsu membelai kepala Aniki lagi. Aniki menatap ibunya dengan tatapan rindu.
"Ibu ..." Onatsu tersenyum. "Jadi ... kau sudah bertemu dengan Ayahmu""
Panglima Tingkat Menengah Sam
Sudah setengah hari rombongannya-termasuk semua unta dan kuda-beristirahat di tepi Danau Dalay. Mereka sudah kenyang, segar, dan sekarang mulai mengantuk.
Panglima Sam mondar-mandir di depan sebuah pohon dengan resah. Mengapa orang itu belum dating juga" Dengan kesal ia berteriak,
"KAMUCHUK!!! APAKAH BENAR KITA HARUS MENUNGGU DI SINI"!"
Yang dipanggil Kamuchuk tergopoh-gopoh menghampiri Panglima Sam. Ketakutan tampak terpancar di wajahnya.
"Benar, Tuan Panglima. Menurut Guru Xi Ben, di sinilah Kakek Gurunya biasa bertapa. Sebelah barat tepian danau. Tak salah lagi."
"Apa mungkin kita datang di waktu yang salah""
"Tidak mungkin salah. Ini benar bulan ketujuh hari keenam."
Inilah akibatnya jika Yang Mulia Kubilai Khan percaya habis-habisan pada guru Tao dari Cina itu. Guru Xi Ben meramalkan bahwa kegemilangan Mongolia di seluruh dunia akan tercapai jika Kubilai Khan bisa mengumpulkan setidaknya lima dari sembilan bintang biru.
Kubilai Khan tentu ingin menang pamor dari saudaranya, Hulagu Khan yang sudah menaklukkan bagian barat, bahkan sempat menguasai Baghdad. Ia memerintahkan sejumlah panglima menengah untuk berangkat dan menemukan seluruh bintang biru.
Tadinya Panglima Guay sudah berhasil mendapatkan dua tanda bintang biru di Turkistan dan Abbaside, tapi saat kembali ke Mongol ia malah mendapat makian dari Yang Mulia.
Panglima Guay hanya kembali membawa dua bintang tersebut tanpa membawa pemiliknya. Mereka sudah dibunuhnya saat ia merebut bintang-bintang tersebut. Padahal, Guru Xi Ben mensyaratkan bahwa bintang-bintang tersebut harus dibawa beserta pemiliknya. Jika tidak, maka tidak akan ada gunanya.
Menurut Guru Xi Ben, lambang bintang biru yang dimiliki oleh orang-orang istimewa ini hanyalah penanda yang menunjukkan si pemilik keistimewaan. Keistimewaan atau kekuatan dimiliki oleh mereka sendiri tanpa bergantung pada bintang tersebut.
Kubilai Khan kemudian menugaskan tiga panglima lain untuk melanjutkan tugas, termasuk Sam. Masalahnya, Sam belum tahu siapa mereka dan ke mana ia harus pergi mencari pemilik bintang itu. Semua informannya melempem saat diminta mencari keterangan tentang bintang biru.
Tapi kemudian, khusus untuk Sam ada keistimewaan,
Guru Xi Ben mengatakan bahwa hanya kakek gurunyalah yang mengetahui di mana dan siapa saja pemilik benda itu.
Panglima Sam sudah lelah dan bosan. Mungkin akan makan waktu berhari-hari menunggu Kakek Guru yang disebut-sebut sakti itu. Ia memerintahkan pasukannya mendirikan tenda. Terlalu repot jika harus menginap di desa terdekat.
Anggota pasukan sedang memancangkan pasak ke tanah saat tiba-tiba angin bertiup kencang. Pertama-tama cukup kencang sehingga banyak daun kering
yang terbang ke segala penjuru, kemudian terlalu kencang sehingga sebagian kuda dan unta mereka, bahkan pohon-pohon ikut terangkat. Beberapa anggota pasukan yang tidak bisa mempertahankan diri akhirnya ikut tertiup dan terbawa entah ke mana.
Panglima Sam terhuyung ke sana-kemari. Ia terpelanting ke pohon ini dan itu. Beberapa sempat dijadikannya pegangan tapi kemudian pegangan itu terlepas. Bahkan sebagian dari pohon-pohon tadi sudah beterbangan. Panglima Sam akhirnya tersangkut di semak-semak.
Angin kemudian berhenti mendadak. Pasukannya sudah kacau-balau dan Panglima Sam yang beruntung bisa selamat merasa tubuhnya sakit karena terbentur-bentur.
Beberapa saat kemudian, seorang tua tiba-tiba sudah berada di depan hidung Panglima Sam. Ia duduk bersila dan memejamkan mata. Rambut, janggut, alis, dan jubahnya berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas dengan kaku. Tidak ada sehelai pun yang tertiup angin. Luar biasa.
Semua anggota pasukan (yang masih tersisa) menganga karena kagumnya, kecuali Panglima Sam.
Dia jengkel setengah mati. Memangnya, orang ini tidak bisa muncul dengan cara yang tidak heboh apa" Menyebalkan sekali!
Tapi dia adalah kakek guru dari Guru Xi Ben orang Sung yang menjadi penasihat spiritual Yang Mulia Khan-sehingga meskipun mengacau, dia harus tetap dihormati. Panglima Sam memimpin seluruh pasukan yang masih mabuk darat untuk berlutut menghormat.
"Hormat kepada Guru Besar!"
"HORMAT KEPADA GURU BESAR!"
Orang tua itu masih memejamkan mata dan tidak bergerak sehingga sejenak Panglima Sam mengira ia sudah mati. Panglima Sam mendekat dan mengendus. Tiba-tiba, lehernya dicengkeram oleh sesuatu. Panglima Sam melirik karena mengira tangan sang guru yang mencekiknya, tapi kedua tangan kurus kering itu masih berada di atas lututnya. Ia dicekik oleh tangan tak terlihat!
Pedang 3 Dimensi 10 Pendekar Hina Kelana 8 Kembalinya Si Tangan Setan Utusan Dari Neraka 1
^