Pencarian

Jentera Bianglala 2

Jentara Bianglala Karya Ahmad Tohari Bagian 2


Seorang anak Dukuh Paruk melihat rombongan itu. Dari tepi pedukuhan anak itu memperhatikan mereka dengan mata curiga. Lalu dia lari terbirit sambil berseru berulang-ulang,
"Ada tentara! Ada tentara! Mereka sudah sampai di sawah. Ada tentara!" "He! Kamu bilang apa"" tanya Kartareja gugup.
"Ada tentara, Kek. Banyak. Lihat sendiri, Kek. Mereka sudah sampai di sawah!"
Kartareja berdiri beku dan kakinya gemetar. Wajahnya pasi seketika. Mungkinkah Rasus yang datang" Kalau benar mengapa banyak sekali temannya" Kartareja tidak percaya Rasus yang datang. Kemudian dia berjalan limbung ke sana kemari. "Kamu
tidak habis berbuat sesuatu" Kalian tidak habis berbuat kesalahan"" tanya Kartareja kepada setiap orang yang dijumpainya. Di depan pintu rumah Srintil, Kartareja berseru keras,
"Srintil! Kamu tidak lupa lapor ke markas""
"Apa, Kek" Lapor"" jawab Srintil ketika muncul di pintu. "Aku sudah bebas lapor. Ada apa""
"Ada tentara datang! Ingat baik-baik, kamu habis berbuat apa"" Wajah Srintil langsung pucat. Bibirnya gemetar.
"Ti... dak, Kek! Aku tidak berbuat apa-apa. Kemarin aku pergi ke pasar Dawuan membeli baju buat Goder."
Episode 18 "Nah! Boleh jadi mulutmu bocor di pasar."
"Oh, tidak, Kek. Untuk urusan semacam itu akulah yang paling berhati-hati."
Kartareja termenung. Dia bingung karena semua orang berkata tidak. Dukuh Paruk lengang. Semua orang bersembunyi di dalam gubuk masing-masing. Sakum yang sedang berada di luar, ditarik-tarik masuk oleh anaknya. Dukuh Paruk sungguh-sungguh hening sehingga desau angin ringan terdengar mendaulat suasana.
Akhirnya Kartareja pasrah. Dan dia tidak mera
sa perlu ikut bersembunyi. Muncul kesadarannya bahwa setelah Sakarya meninggal maka dialah orang yang dituakan di Dukuh Paruk. Dia merasa jadi anutan. Maka sambil bersedakap Kartareja berjalan ke tepi pedukuhan untuk meyakinkan diri siapakah tentara yang datang. Matanya menatap jauh. Dia dapat melihat jelas orang-orang yang hilir-mudik itu. Ada yang mengintip-intip melalui perkakas berkaki tiga. Ada yang memegang tongkat panjang yang ditegakkan dan ada pula yang mencatat-catat. Dan apa pun yang mereka lakukan Kartareja kemudian yakin bahwa mereka tidak sedang berjalan menuju Dukuh Paruk. Lalu Kartareja teringat suatu ketika di zaman Belanda. Kala itu ada priayi yang melakukan kegiatan seperti yang sedang diperhatikannya: pengukuran tanah!
"Anak itu bangsat! Anak itu asu buntung!" desis Kartareja seorang diri. "Mereka bukan tentara. Mereka priayi yang sedang mengukur tanah."
"He, Anak-anak. Kemarilah. Tidak ada apa-apa. Mereka bukan tentara. Mereka bukan sedang menuju kemari. Keluarlah kalian!"
Sepi, tak seorang pun berani muncul dari persembunyian. Baru beberapa menit kemudian satu-dua orang datang memenuhi panggilan Kartareja. Dan ternyata yang lain-lain muncul berbondong ke tepi pedukuhan. Anak-anak masih bergayut pada ujung kain emak masing-masing. Srintil datang dengan Goder di punggungnya.
"Lihat, mereka bukan tentara. Mereka sedang mengukur tanah. Kudengar sawah itu akan dilalui saluran pengairan. Bendungannya sedang dibangun di bukit sana."
Kartareja merasa mendapat kesempatan yang baik untuk menunjukkan kelebihan pengalamannya di depan sesama warga Dukuh Paruk. Dia menerangkan bahwa perkakas berkaki tiga itu bernama keker. Orang yang mengeker bernama mantri ukur. Tetapi Kartareja tidak tahu mengapa keker harus selalu dipayungi. "Entahlah, mungkin perkakas itu semacam jimat yang tidak boleh kena panas matahari," katanya.
"Dulu kita mengatakan mereka sedang klasiring ya, Kang"" kata Sakum. Bangga dia, karena bisa ikut menerangkan sesuatu kepada teman-temannya.
"Ya. Klasiring itu dilakukan untuk menentukan kelas dan sekaligus batas-batas tanah. Eh, mana anak yang tadi melolong-lolong ada tentara datang""
Mata Kartareja menatap berkeliling. Tetapi anak yang dicarinya berdiri agak menjauh dan tidak tahu dirinya sedang dicari. Dia sedang asyik memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk dengan alat-alat pengukur tanah.
Di tengah sawah, seratus meter di sebelah barat Dukuh Paruk, Bajus memimpin teman-temannya mengukur dan membuat pancang-pancang. Tamir pada teodolit, Kusen memegang payung serta Diding pada tongkat skala. Beberapa lainnya adalah pembantu yang mengurus pematokan-pematokan. Mereka bekerja mengikuti alur parit besar; bekas rencana saluran irigasi tersier yang pernah dibuat pada masa pendudukan Jepang namun gagal diselesaikan. Bajus dan teman-temannya dikirim langsung dari Jakarta untuk mengawali pembangunan sebuah bendungan yang akan mengairi dua ribu lima ratus hektar sawah yang sebagian besar terletak di kecamatan Dawuan.
Pukul sepuluh tiga puluh. Di tengah pedusunan mungkin sinar matahari belum terlampau terik. Tetapi di tengah sawah panas sudah demikian memanggang. Panas yang langsung jatuh dari atas dan panas yang memantul dari bumi. Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan berbinar seperti riak-riak panas pada telaga yang mendidih. Bajus melihat wajah para anak buahnya sudah memerah dan punggung mereka sudah basah. Kemudian dia menyuruh semuanya beristirahat.
"Mari kita kembali ke mobil. Kita mencari minuman di Dawuan," ajak Bajus. Kusen, Diding dan yang lain mengikuti perintah. Tetapi Tamir masih asyik meneropong dengan teodolitnya. Demikian asyik sehingga Tamir tak peduli bahwa teodolitnya sudah tak berpayung lagi.
"Tamir!" seru Bajus. "Kamu tak mendengar kataku""
"Nanti dulu, Pak. Ke sinilah kalau Pak Bajus mau lihat. Bukan main! Pak Bajus tidak akan percaya di daerah seperti ini ada barang bagus."
"Kamu ngomong apa, Tam""
"Lihatlah sendiri, Pak. Nanti dibilang aku ngecap."
Tamir surut ke belakang dan tempatnya digantikan oleh Bajus. Mandor ini memejamkan mata kirinya. Mata kanan tepat di belak
ang lensa teodolit. Titik fokus yang sudah dikunci oleh Tamir jatuh pada wajah seorang ibu muda yang sedang menggendong anak.
"Bagaimana, Pak. Hebat, kan""
"Iya, ya," jawab Bajus tanpa sedikit pun mengubah posisinya.
"Nah, aku bilang juga apa!"
"Periksa di peta, apa nama kampung itu."
"Aku sudah tahu," ujar Kusen dari belakang "Dukuh Paruk."
"Dukuh Paruk""
"Ya, kenapa, Pak Bajus""
Bajus tidak sempat menjawab karena perhatiannya sedang terpusat pada sebentuk wajah di tengah lensa teodolit. Dia melihat pesona klasik Jawa yang sudah jarang ditemui di kota-kota besar. Keseimbangan antara bahu dan leher serta kesempurnaan bentuk rahang. Dan rambut lebat yang sinomnya sedan diburai angin. Semuanya terbingkai keremajaan yan sedang berangkat menuju kematangan.
Sesekali mata itu tertuju lurus ke pusat lensa. Tetapi tentu saja subyek di sana tidak merasa dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Bajus melihat mata di sana lain. Mata yang dibekali daya tarik luar biasa, mata dunia perempuan. Tetapi pada saat yang sama Bajus merasakan sesuatu sedang menyaput pesona mata itu. Mata yang kehilangan harga diri, mata indah yang seperti menyimpan ketakutan.
"Pak Bajus!" seru Tamir cengar-cengir. "Mau istirahat, kan""
"Yaaah. Mari kita beristirahat."
"Bagaimana" Iya, kan""
Bajus hanya tersenyum. Dan dalam benaknya masih terbias wajah klasik yang menerobos masuk menembus lensa teodolit. Adakalanya lelaki terkesan oleh perempuan lantaran dia sedang berada di luar lingkungan kesehariannya seperti yang terjadi pada para pekerja pengukur tanah itu. Adakalanya lelaki tunduk kepada naluri pemberian alam; kecenderungan berpetualang. Adakalanya pula seorang perempuan memang dibekali kelebihan-kelebihan tertentu sehingga kehidupan memberinya tempat pada wilayah perhatian lawan jenis. Dalam ukuran ini Srintil belum tergeser oleh siapa pun, setidaknya untuk wilayah kecamatan Dawuan atau sekitarnya.
Episode 19 Maka serta-merta Srintil menjadi urusan pertama dalam setiap pembicaraan di antara para pekerja di bawah Bajus. Sering kali teodolit bukan mengarah pada tongkat skala
melainkan ke barisan manusia yang berjajar di tepi Dukuh Paruk. Fokusnya selalu saja jatuh ke wajah Srintil meski sedemikian jauh anak Dukuh Paruk itu belum tahu dirinya selalu menjadi pusat pengamatan. Tak kurang Bajus sendiri tidak bisa berbuat banyak bila bawahannya memainkan teodolit untuk tujuan yang bukan semestinya.
Pada hari ketiga ketika Bajus dan teman-temannya sedang berada di sebuah warung minuman di Dawuan, Tamir membuat pengakuan yang segar.
"Siapa yang percaya kepadaku ketika kemarin aku pergi ke Dukuh Paruk hendak buang hajat""
"Bajingan. Jadi apa perlumu ke sana" Menemui perempuan itu"" tanya Bajus.
"Jangan marah dulu, Pak. Pokoknya aku memperoleh info penting. Aku tahu namanya: Srintil."
"Srintil" Nama yang aneh."
"Tak apa, kan" Yang penting bagaimana orangnya."
"Lalu"" "Dia tidak punya suami. Ini!"
Semua diam seakan berita yang keluar dari mulut Tamir memerlukan kekhususan buat memahaminya. Dan Tamir cengar-cengir.
"Ya, andaikan benar dia tidak bersuami. Lalu kamu mau apa"" sela Diding.
"Ah berita apa pun memang tak penting bagimu kecuali berita pembayaran gaji. Namun siapa tahu Pak Bajus menyukai keteranganku. Siapa tahu, Pak."
"Hus! Aku memang perjaka lapuk. Aku memang yang tertua di antara kalian. Namun mestinya aku tidak harus menjadi sasaran untuk celoteh semacam ini."
Anehnya wajah Bajus memberi kesan yang berlawanan dengan makna kata-katanya. Senyumnya tersungging dan matanya berkilat.
"Nanti dulu, Mir. Mulutmu bisa nyinyir seperti itu, dari mana kamu mendapat keterangan"" tanya Kusen.
"Itu memang keahlianku yang boleh kamu cemburui. Tetapi baiklah. Ketika aku berpura-pura minta api, aku dilayani oleh seorang perempuan tua. Ramah sekali dia. Barangkali dia menangkap perasaanku karena aku sering melirik Srintil. Nah, kalau kamu tahu, perempuan itu langsung bocor mulutnya."
Tamir, Diding, Kusen dan yang lain tertawa. Hanya Bajus yang tetap diam karena dalam benaknya sedang terbias wajah Srintil.
"Eh, kedengarannya kalian semua sedang menggunjingkan Srintil""
kata pemilik warung sambil tersenyum. "Cantik, ya""
"Lho. Ibu mengenal dia""
"Di sini, siapa orangnya yang tidak mengenal Srintil. Bukan hanya karena cantiknya melainkan juga karena dia seorang ronggeng."
"Benar dia tidak bersuami""
"Benar." "Nah, aku heran. Orang seperti itu belum punya suami." "Karena dia ronggeng," jawab pemilik warung datar. "Bagaimana kalau aku... "
"Mengapa tidak. Dia ronggeng, kan" Sampean semua mengerti ronggeng, kan""
Semua tertawa lagi dan hanya Bajus pula yang tinggal diam. Dia hanya tersenyum ringan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Bajus juga tetap bungkam ketika melihat Tamir bangkit melangkah ke ruang kosong dan mulai berjoget. Rupanya dia memang mengerti ronggeng. Anak-anak bertepuk tangan dan Tamir makin bersemangat. Kembali ke tempat duduk, Tamir mendekati Bajus.
"Pak, malam ini aku tidak ikut pulang ke penginapan. Aku dan Diding."
"He" Mengapa aku"" sela Diding.
"Sudahlah, nanti uang makanku buat kamu."
"Kamu tidak ikut kembali ke Eling-eling""
"Satu malam saja, Pak. Ah, malah saya bisa bekerja gasik besok pagi. Percayalah,
Pak." "Mau ke Dukuh Paruk, kan" Bajul cilik kamu!" "He... he... he."
Malam hari, bulan yang hampir bulat berlatar langit kemarau. Biru kelam. Langit seperti akan menelan segalanya kecuali apa-apa yang bercahaya. Bintang berkelip-kelip seakan selalu berusaha membebaskan diri dari cengkeraman gelap. Hanya bulan yang tenang mengambang. Bulan yang makin anggun dan berseri karena kelam tak mampu mendaulatnya.
Langit di atas pesawahan Dukuh Paruk dalam tatapan biasa adalah contoh wujud kekosongan. Awang-uwung, hampa. Namun dengan tatapan yang sungguh langit dalam kegelapan malam sama seperti keadaan siang hari, penuh kehidupan. Matra dinamika
ekosistem sedang berlangsung dalam sunyi dan kekelaman. Berjuta serangga dari berbagai jenis terbang mengulang-ulang daur kehidupan kaumnya. Mereka akan menang atau akan kalah. Menang kalau mereka selamat bisa bertemu makanan dan kawin, kalah bila mereka bertemu pemangsa. Kelelawar beterbangan dengan lintasan yang berkelok-kelok tajam menangkap segala jenis serangga yang dijumpainya. Binatang mengirap ini bersaing dengan burung cabak yang terbang tidak kalah gesitnya. Rentang sayapnya yang membulat dan condong ke depan akan kelihatan sosoknya bila cabak terbang melintas garis pandang bulan.
Di bawah-sana tiga orang anak laki-laki merangkak-rangkak di tengah sawah diterangi sebuah obor. Anak-anak Sakum ini sedang mencari serangga. Belalang segala macam ditampung dengan bambu seruas. Juga jangkrik. Tetapi jangkrik sungu diistimewakan. Jantan jenis ini deriknya nyaring dan biasa dipelihara anak-anak. Siapa yang ingin memiliki jangkrik sungu tanpa harus kelayapan di malam hari boleh membelinya kepada Sakum besok pagi di pasar Dawuan. Dan belalang dalam ruas bambu itu besok akan disangrai dengan minyak jelantah dan garam. Pagi-pagi sarapan nasi thiwul dengan lauk sangrai belalang. Dukuh Paruk yang tidak pernah mengerti ilmu gizi mencukupi kebutuhan protein dengan belalang. Beri-beri dicegah dengan serangga.
Bagi anak-anak pada umumnya pekerjaan mencari jangkrik dan belalang adalah bagian dunia bocah semata, dunia permainan. Tidak demikian halnya bagi anak-anak Sakum. Ketiganya berada dalam kesadaran penuh bahwa jangkrik dan belalang adalah urusan perut bagi seisi rumah. Maka mereka bekerja, bukan bermain. Tekun dan bersungguh-sungguh. Mereka tak tertarik akan cantiknya bulan di atas kepala. Bahkan mereka tidak melihat dua orang yang melintas menuju Dukuh Paruk.
Episode 20 Tamir dan Diding melangkah makin dekat ke Dukuh Paruk. Dalam angan-angan Tamir, Dukuh Paruk pastilah semringah di malam hari, kesemringahan dan kemelaratan lokalisasi. Yang demikian ini Tamir sudah hafal, sangat hafal. Maka Tamir merasa tawar hati ketika memasuki Dukuh Paruk yang sepi, dan kering seperti sepah. Hanya derik puluhan jangkrik di gubuk Sakum. Lainnya, senyap. Biasanya di pemukiman yang melarat malam hari terdengar anak kecil menangis. Tetapi Dukuh Paruk tidak mempunyai anak kecil yang lahir sesudah geger 1965. Dukuh Paruk kehabisan daya semi.
"Mir! Ini ka mpung jin apa kampung orang" Kok seperti kuburan""
"Mau ramai" Nanti di Planet Senen atau Bongkaran Tanah Abang."
"Ah, susahnya ikut anak muda mata perempuan." "Sudah kubilang, uang makanku buat kamu."
"Bajingan!" "Hah"" "Aku yang bajingan, Mir. Aku selalu takut gaji tidak utuh bila pulang ke rumah. Jadinya aku rela menjadi anjingmu asal aku bisa memperoleh uang prei."
Kedua pekerja dari Jakarta itu langsung menuju rumah Nyai Kartareja; perempuan tua yang ramah, yang tanpa diminta telah memberikan keterangan banyak tentang Srintil kepada Tamir. Rumah itu tidak beda dengan gubuk-gubuk lain, sepi. Sebuah lampu minyak tergantung dengan nyala sekecil mungkin. Kulo nuwun Tamir lama tidak berbalas. Tetapi dari dalam terdengar suara berbisik-bisik. Nyai Kartareja sedang meyakinkan diri siapa yang datang. Setelah mengenal suara di luar perempuan itu membuka pintu gubuknya. Kemudian nyala lampu dibesarkan.
"E, lha sampean. Mari, mari masuk. Wah ada priayi mau berkunjung ke gubuk di Dukuh Paruk."
"Ah, kedatangan kami tidak mengganggu, Nyai"" "E, lha tidak. Dan ini teman sampean"" "Ya, Nyai."
"Nah, masuk dan duduklah."
Nyai Kartareja masuk menemui suaminya. Berbicara kecil, kemudian keluar seorang diri. Tamir menyalakan rokok dan Diding diam karena tidak merokok, dia harus bersikap sehemat mungkin agar aman bila pulang ke rumah.
"Malam-malam begini datang ke Dukuh Paruk yang gelap dan terpencil. Aku jadi ingin tahu apa kiranya hajat sampean berdua," ujar Nyai Kartareja dengan keramahannya yang khas. Tamir tidak menjawab dengan suaranya melainkan dengan senyumnya. Komunikasi dengan isyarat senyum berlangsung demikian efektif sehingga sungguh tak lagi diperlukan kata-kata. Apalagi yang menjadi nyonya rumah adalah Nyai Kartareja yang tetap seorang seniman mucikari.
Dan Nyai Kartareja teringat pengalaman beberapa waktu yang lalu ketika menyampaikan maksud Marsusi kepada Srintil. Maka dia merasa kecil hati. Tetapi masalahnya siapa tahu. Tamunya kali ini adalah orang Jakarta, muda-muda dan lumayan tampan. Siapa tahu. Persoalannya tinggal mencari cara mempertemukan Srintil dengan kedua pemuda itu. Memanggilnya hampir tidak mungkin karena Srintil sangat mungkin akan menolak datang. Memberitahunya lebih dulu lalu membawa pemuda-pemuda itu ke rumah Srintil memberi kemungkinan gagal karena Srintil bisa menghindar. Yang paling jitu adalah cara pendadakan.
"Jadi aku sudah tahu maksud kalian. Yah, Anak muda! Maka marilah kita bersama ke rumah Srintil."
"Jauh, Nyai""
"Hanya dua rumah dari sini."
Ah, rumah ilalang lagi. Tamir makin percaya diri. Tetapi pada saat yang sama pertanyaan itu berulang, mengapa seorang penghuni salah satu gubuk di Dukuh Paruk bernama Srintil. Bahkan Tamir percaya dirinya mampu menyediakan tempat yang lebih
layak bagi perempuan yang berkepatutan itu. Lalu pikiran Tamir melambung, hatinya bernyanyi-nyanyi.
Nyai Kartareja masuk dan memanggil Srintil. Ada jawaban dari dalam bilik. Srintil sedang ngeloni Goder. Mulutnya masih berdesis untuk mengantar Goder ke alam tidur. Kemudian bangkit dengan lembut. Disanggulnya rambut yang tergerai.
"Ada apa, Nyai"" tanya Srintil. Nyai Kartareja kelihatan menata diri.
"Ada tamu, Jenganten. Dua orang. Mereka sudah ada di luar. Mereka adalah priayi-priayi yang sedang mengukur tanah itu."
Hening, dan Srintil mendengar seekor nyamuk yang terbang di dekat telinganya. Suara jangkrik dari rumah Sakum terdengar jelas. Goder menggeliat tetapi matanya tetap tertutup. Srintil mengendurkan pundak dan menunduk.
"Mengapa Nyai membawa mereka kemari""
"Jenganten, aku tidak mengundang mereka datang. Tidak. Lalu mereka sekarang di sini. Apakah aku harus menyuruhnya pergi""
"Duh, Pengeran... Suruhlah mereka pulang, Nyai. Katakan..."
"E, lha jangan begitu, Jenganten. Tidak layak mengusir tamu sebelum kita berbicara kepada mereka. Ingat, Jenganten. Mereka adalah priayi dari Jakarta. Apa tidak salah bila kita tidak menghormati mereka""
Menyadari posisinya yang sudah menguntungkan Nyai Kartareja keluar meninggalkan Srintil yang terduduk dan mulai mengusap mata. Dengan suara yang sengaja ditinggikan agar Srintil
bisa mendengar Nyai Kartareja menyilakan Tamir dan Diding masuk. Sementara di dalam biliknya sendiri Srintil masih mengusap air mata meski tanpa isak tangis.
Tidak sekali-dua Srintil menyesal mengapa dirinya bereksis sebagai perempuan. Perempuan yang demikian adanya sehingga sulit mendaulat dirinya sendiri. Perempuan yang demikian adanya sehingga mau tidak mau dirinya banyak bergantung kepada kelelakian. Dan kelelakian itu, ketelanjangannya sudah dikenal Srintil melalui kedirian Rasus yang liar dan kenyal seperti anak kambing. Melalui Marsusi atau puluhan lelaki lain. Bahkan dalam kelelakian, Srintil mengenal sisi kemandulan Waras dari Alaswangkal. Atau kesejatian Kapten Mortir yang utuh dalam kepribadiannya. Di mata Srintil hanya ada satu kelemahan Kapten Mortir. Mengapa perwira komandan rumah tahanan itu tak mampu mencegah laki-laki lain yang sering mengambil Srintil dari tahanan lain membawanya ke tempat pelesiran" Ya, di tempat pelesiran itu Srintil bertambah kaya akan wawasan kelelakian. Bahwa dalam ketelanjangannya laki-laki, umumnya, adalah manusia biasa dengan naluri kambing jantannya, dengan naluri bayi yang merengek, dengan keblingsatannya yang kadang cuma sebagai pelampiasan rasa tak percaya diri. Ingin disebut kuasa hanya karena rasa kurang yakin akan guna keberadaannya.
Episode 21 Kini kelelakian muncul lagi dalam diri dua orang pemuda dari Jakarta. Duh, Pengeran! Aku belum tahu harus bagaimana menghadapi laki-laki meski dulu bertahun-tahun aku merasa bangga menjadi pemangku nalurinya.
Seperti tak terkendali oleh kesadarannya, Srintil bangkit perlahan. Ditatapnya wajah Goder yang lelap dan damai. Lalu diambilnya kebaya yang baik untuk menutup badan atasnya yang hanya terbungkus kutang. Kainnya juga diganti dengan yang masih baru. Termangu sejenak, kemudian Srintil jongkok. Pada titik yang amat dirahasiakan Srintil mencungkil tanah. Sebuah kantung kecil dikeluarkan. Dari kantung itu Srintil mengambil kalung, gelang, giwang, dan cincin. Hampir dua ratus gram emas serta-merta menghias badannya.
Tetapi Srintil kelibatan ragu. Dengan memamerkan hartanya Srintil ingin berkata bahwa sebenarnya dia tidak melarat. Bukan kemelaratan yang berada di bawah atap ilalang gubuknya. Atau Srintil ingin mencari sesuatu untuk membentuk keberanian menghadapi kelelakian. Emas itu. Namun apakah tindakannya tidak mengundang bahaya" Bukankah laki-laki di luar itu belum dikenalnya" Entahlah, dan Srintil merasa tak kuasa berpikir lebih panjang lagi. Maka setelah mengusap mata Srintil melangkah ke luar. Dua wajah mendongak serempak. Yang satu tertunduk kembali, tetapi Tamir bertahan.
Mata Tamir lurus ke depan. Garis-garis wajahnya baur antara gairah berahi dan kegagapan. Mulutnya terbuka antara tertawa dan melongo. Sementara kepalanya yang masih menyimpan pertanyaan: mengapa ada kemolekan di tengah kemelaratan, kini Tamir menghadapi pertanyaan baru: mengapa ada kegemerlapan di bawah atap ilalang. Hati Tamir berdesir tak menentu. Dan bimbang, mengapa ada keramahan diiringi mata yang berkaca-kaca.
"O, silakan," ujar Srintil dalam suara yang tersaring di tenggorokan. Dan duduk di samping Nyai Kartareja yang tak kurang rasa herannya melihat Srintil mengenakan seluruh perhiasan yang selama ini sangat dirahasiakannya. Tetapi Nyai Kartareja tersenyum ceria karena yakin penampilan Srintil adalah bukti kegairahan.
"Nah, yang ingin sampean temui sudah muncul," kata Nyai Kartareja kepada Tamir dan Diding. "Maka, silakan. Aku ada urusan di rumahku sendiri."
"Nyai! Nyai harus menemaniku di sini," pinta Srintil sungguh-sungguh. Digapainya pundak perempuan tua itu.
"E, lha. Bagaimana Jenganten ini. Kayak perawan sunthi saja."
"Aku bersungguh-sungguh, Nyai. Kalau Nyai keluar, aku ikut."
"E... Oh ya, baiklah. Aku mau ke belakang sebentar. Nanti aku kemari lagi."
"Betul lho, Nyai!"
"Aku bukan anak kecil. Percayalah, Jenganten."
Terdengar bunyi seleret pintu bambu sorongan. Nyai Kartareja melangkah ke luar dan kemudian melingkar demikian rupa sehingga dua menit kemudian dia berada hanya beberapa jengkal dari dinding rumah Srintil. Telinga dipasang bai
k-baik. Nyai Kartareja tidak ingin satu kata pun terlepas dari pendengarannya.
Yang berada di dalam masih belum berhasil memecah kebekuan yang mendadak menjebak mereka. Diding masih menunduk dan Tamir yang biasa amat cekatan bila berhadapan dengan perempuan malah duduk gelisah. Kalimat pertama untuk diucapkan ternyata menjadi barang yang sulit ditemukan. Srintil sengaja diam karena tidak ingin berkata apa pun sebelum Nyai Kartareja datang. Tetapi lima, bahkan sepuluh menit lamanya perempuan itu tidak muncul lagi. Kelihatan Tamir yang hendak mengawali pembicaraan, namun niatnya hanya sampai kepada mimik. Greget-nya diselewengkan menjadi gerak mengambil rokok dan terus menyulutnya.
"Jadi... jadi Adik berdua ingin bertemu saya. Nah, sekarang sudah terlaksana, bukan"" ujar Srintil tiba-tiba. Kemandekan serta- merta cair. Tamir tersenyum lebar. Diding mengangkat muka sekilas. Dan Tamir mendapat kesulitan baru ketika hendak menyambut kata-kata Srintil. Dia telah didahului disebut Adik. Mau membalasnya dengan Mbakyu atau Kakak" Ini sebuah rintangan psikologis bila dihubungkan dengan maksud kedatangan Tamir ke Dukuh Paruk. Atau inilah kemenangan kecil pertama yang dilakukan oleh Srintil atas kelelakian yang kini kembali menghadang.
"Ya... ya," jawab Tamir patah.
"Tetapi maafkan bila saya tak bisa menjamu Adik. Yah, beginilah keadaan saya. Adik melihat sendiri; sama sekali beda dengan keadaan kota, kan""
"Ya... ya. Oh, tak mengapa. Anu. Kami mendengar sampean seorang ronggeng. Masih suka meronggeng""
Pertanyaan Tamir yang tak terduga membuat jantung Srintil terpukul dan membuat dadanya menyesak.
"Anu, Dik. Itu dulu. Sekarang saya tidak lagi meronggeng. Dulu pun saya cuma ronggeng bobor, ronggeng yang jarang naik pentas."
"Jadi sampean sekarang tidak meronggeng lagi"" "Tidak."
"Ah, kenapa""
"Tidak. Tidak."
"Ya, tetapi mengapa""
"Pokoknya tidak."
"Ya... ya. Tetapi anu. Bagaimana bila... Maksudku, sampean bisa menduga kepentinganku datang kemari, kan""
"Ya, saya tahu."
"Bagai... " "Tidak, Dik." Tamir terhenyak ke belakang. Hatinya buntu. Pandangan matanya berpindah-pindah tak menentu. Cuping hidungnya bergerak-gerak.
Ti... dak. Kata-kata itu berulang-ulang terdengar dalam hati Tamir. Tidak. Menurut pengalaman anak Jakarta itu bila perempuan sudah berkata tidak, dan hanya tidak, maka susah. Lain bila 'tidak' itu masih diikuti kata-kata lagi, masih berbuntut. Maka buntut itu, apa pun bunyinya, adalah sekadar prasyarat, sebuah tantangan yang harus ditundukkan. Kalau hanya tidak dan tidak"
"Anu, Mbakyu," kata Diding dengan suara rendah dan mapan. "Kedatangan kami kemari terutama memang ingin berjumpa Mbakyu. Lainnya tentu nomor dua."
"Ya, benar," tukas Tamir tangkas. Si dungu Diding secara tak terduga telah membantu melepaskannya dari kebuntuan. "Diding memang benar, kami terutama hanya ingin berjumpa. Soalnya siapa tahu kami harus minta bantuan sesuatu kepada warga Dukuh Paruk. Kami masih bekerja beberapa hari lagi di sekitar sini."
"Oh, Dik. Kali ini saya tak perlu berkata tidak. Namun apa kiranya yang bisa kami berikan" Kami tak punya apa-apa."
"Sekadar tempat berteduh pun jadilah. Di tengah sawah panasnya bukan main."
"O, ya. Kalau soal itu, bisa. Dukuh Paruk masih punya kerimbunan rumpun bambu, pohon nangka, pohon bungur dan banyak lagi. Silakan, Adik, silakan."
Episode 22 "Terima kasih, Mbakyu," sahut Diding. Tamir hanya tersenymn, menunduk dan menggelengkan kepala. Tawar. Keluhnya tersamar dalam desah napas yang panjang.
Melangkah di halaman Tamir dan Diding disambut oleh suara mencecet burung bence yang terbang cepat di udara. Di tepi dukuh mereka berpapasan dengan anak-anak Sakum yang baru pulang mencari serangga di sawah. Mereka ketakutan dan lari. Obornya membuat suara gemuruh.
Sampai di tengah sawah Diding tak kuasa lagi menahan tawanya. Moralnya naik sementara moral Tamir kacau-balau. Tamir tak bisa membuka mulut mendengar seloroh temannya.
"Mampus kamu, Mir. Menginap semalam di Dukuh Paruk" Bisa, bisa. Tetapi di rumah Nenek Kartareja!"
"Bajingan!" "Tetapi jangan lupa, Mir. Uang makanmu sudah menjadi milikku."
"Ambil semu a, Kere!" "E,jangan sewot, Bung. Malah saya minta tambah. Itu uang yang semula kamu sediakan buat Srintil. Wah, dia tidak butuh uangmu. Kamu lihat kalungnya" Gelangnya" Giwangnya""
"Sudah. Tengik kamu!"
Di tengah malam buta ada gelak tawa di tengah sawah. Ada kekalahan yang dibawa berjalan dalam gelap. Dan dua pemuda Jakarta itu punya masalah yang tak terduga, menginap di mana malam ini"
Empat orang anak Sakum adalah bocah-bocah yang paling gembira meskipun mereka bersarang dalam gubuk paling kecil di Dukuh Paruk. Kemarau memberi mereka kesempatan yang luas untuk berburu serangga di malam hari. Hasilnya adalah nasi thiwul dan sangrai belalang serta jangkrik. Kadang mereka juga berburu burung kedasih. Unggas yang gemuk dan berlemak ini tidur dalam rumpun kecipir di malam hari. Hanya dengan modal obor dan kemampuan bergerak hati-hati seperti kucing anak-anak Sakum sering kali bisa menangkap tiga-empat ekor burung dalam satu malam.
Pagi hari ketika anak-anak lain masih meringkuk di balai-balai atau berjongkok lesu di dekat kencing mereka, anak-anak Sakum sudah berkeliaran di pekarangan. Ranting-ranting bambu dikumpulkan untuk kayu bakar, buah salam sisa kalong dan kampret dipungut dan langsung dikulum. Kemarau juga memberi arena bermain yang menyenangkan. Tanah pekarangan kering, halaman memadat dan rata, baik sekali untuk berbagai permainan. Pada tempat yang teduh dan masih lembab permukaan tanah adalah lapisan lumut yang lembut berwarna hijau kekuningan. Mata anak-anak Sakum yang awas sangat pintar menangkap makna pertanda alam yang sering kali tersamar. Bila ada tanah merekah di batas pekarangan, mereka akan menggalinya dan secara pasti akan memperoleh jamur barat atau jamur siung yang belum mekar. Bila ada tahi burung berserakan di tanah, mereka tahu pada malam hari ada perkutut atau terkuku menginap di atasnya dan mereka menyiapkan alat penangkap, tali penjerat atau getah keluwih.
Pagi ini anak-anak Sakum sedang bermain di tepi dukuh sambil menunggu ayah mereka pulang menjual jangkrik di pasar Dawuan. Mereka baru saja berhasil gemilang menggantungkan sebuah ayunan bambu pada sebuah dahan yang tumbuh mendatar. Teriakan-teriakan gembira dan gelak tawa. Ayunan berderit-derit menggoyang pepohonan. Makin jauh mengayun makin riuh gelak mereka. Suka-ria di tepi dukuh menarik perhatian anak-anak lain. Goder menarik-narik tangan Srintil ingin melihat. Srintil mengikutinya dari belakang. Sementara Goder berbaur dalam tawa riang anak-anak Sakum, Srintil duduk memperhatikannya.
Ayunan terus berderit-derit. Anak-anak Sakum silih berganti mengayun dan diayun. Oh, ya, ayunan! Di tempat duduknya Srintil jadi teringat kakeknya, Sakarya, yang sudah meninggal. Sekali waktu Srintil mendengar kakeknya berkata kepada orang-orang Dukuh Paruk bahwa kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya. Padahal
nurani kehidupan tak pernah sekali pun bergeser dari kedudukannya di tengah. Apabila ayunan ke kanan bercorak hitam misalnya maka ayunan ke kiri dalam banyak hal adalah kebalikannya, putih.
Itu nasihat Sakarya kepada puak Dukuh Paruk. Tetapi pengetahuan semacam itu bagi orang Dukuh Paruk adalah ngelmu, bukan ilmu. Pemahamannya tidak pernah menjadikan orang di sana sampai kepada pengetahuan praktis. Tak pernah membumi dan selalu dibungkus dengan pandangan-pandangan mistik.
Maka Dukuh Paruk dan Srintil sendiri tidak akan mengerti bahwa mereka adalah korban yang jatuh ketika kehidupan mencapai puncak ayunan ke kiri dan kemudian hendak berbalik ke kanan. Ketika itulah terjadi pergeseran dan penjungkirbalikan nilai dan tatanannya. Andaikan nilai lama bisa bertahan bahkan menang maka ayunan ke kanan tertunda, Dukuh Paruk bisa selamat. Namun yang terjadi di tahun 1965 itu adalah kekalahan nilai dan tatanan lama. Nilai baru yang sesungguhnya selalu laten dan potensial muncul dengan gempita.
Atau Srintil tidak akan mampu mengerti bahwa kelimbungan luar biasa di dalam dirinya berakar pada kegempitaan nilai baru yang sedang sibuk menata diri di tengah kehidupan. Kesib
ukan yang penuh semangat sehingga suara nurani kehidupan tak terdengar lagi. Banyak kendali kecenderungan yang menantang nurani kehidupan melonggar. Kecenderungan laten yang akan segera melesat lari ketika kekang kendali mengendur.
Gejala ayunan kehidupan sebenarnya sudah lama merembes jauh ke pelosok. Srintil tidak mengerti bahwa makin banyaknya pesawat radio di Dawuan, atau kedatangan orang-orang Jakarta yang akan membangun sebuah bendungan adalah salah satu pertanda teriadinya ayunan itu. Pintu negeri yang semula terkunci bagi bantuan, modal serta banyak kultur luar kini terbuka lebar. Nilai-nilai kebangsaan yang dirumuskan dalam semangat swadaya serta konservasi kultur dan budaya sendiri, surut dalam sebuah pergulatan seru. Dan lagi-lagi nurani kehidupan sering terlangkahi.
"Mak!" seru Goder sambil menubruk pangkuan Srintil.
"E... ya" Apa, Nak"" jawab Srintil gagap.
"Bikin ayunan, Mak. Aku ingin punya ayunan."
"Ah, kau masih kecil, Nak. Nanti jatuh."
"Mak, bikin ayunan!" Goder mulai menuntut.
"Aku tidak bisa membuat ayunan bambu, Nak. Tetapi kalau ayunan kain Emak bisa." "Buaian, Mak" Ya, aku mau berayun-ayun di buaian. Aku mau, Mak." "Baik, Nak. Mari pulang, kita bikin buaian di rumah."
Ketika Goder berlari mendahului Srintil, yang kelihatan adalah citra kesegaran sebuah kecambah kehidupan. Goder melompat-lompat, kadang berbalik merangkul paha
Srintil dan lari lagi sambil bersorak kegirangan. Wajah Srintil yang semenit lalu masih keruh berubah jernih. Oh, Srintil selalu merasa sangat beruntung karena Goder yang hijau-segar adalah miliknya meski dia tidak keluar dari rahim sendiri. Miliknya!
Episode 23 Srintil masih agak jauh dari gubuknya ketika dia melihat seorang lelaki berdiri menunggu di halaman. Makin dekat dia tahu siapa yang berdiri di sana, seorang pamong desa. Dan di tangannya ada sehelai kertas terlipat. Mendadak langkah Srintil tertahan-tahan. Bibirnya memucat seketika. Ingatannya melayang ke rumah tahanan di kota Eling-eling.
"A... a... ada apa, Pak" Su... surat untuk saya""
"Ya, oh bukan. Untuk Goder," kata pamong desa Pecikalan yang wilayahnya meliputi Dukuh Paruk.
"Goder"" tanya Srintil masih gemetar.
"Ya. Tetapi mestilah sampean yang harus mewakilinya. Ini urusan tanah yang terkena jalur pengairan."
"Oh, ya. Saya memang punya tanah secuil yang saya atas namakan Goder. Jadi bagaimana, Pak""
"Pagi ini sampean harus berkumpul di balai desa Pecikalan. Ada rapat yang akan melaksanakan pembayaran ganti rugi. Nah, inilah suratnya. Eh, kenapa sampean gemetar""
"Ah, tidak, Pak. Tidak."
Pak Pamong tersenyum yang dibalas dengan senyum rendah diri seorang yang masih menyimpan sisa rasa menjadi aib kehidupan. Pamong tua menikmati senyum seorang yang masih saja cantik. Srintil menikmati senyum kehidupan yang sudah lama jarang dirasakannya. Tetapi Goder menarik-narik tangan Srintil dan masih menuntut dibuatkan sebuah ayunan.
"Cepat, ya. Orang lain sudah mulai datang di balai desa," kata pamong itu sambil melangkah pergi. "Ya. Ya, Pak. Aku segera ke sana." "Ayo, Mak. Bikin ayunan. Cepat, Mak."
"Kita tidak jadi membuat ayunan, Nak. Kamu dan aku akan pergi ke balai desa."
"Tidak jadi, Mak" Tidak jadi""
Bibir Goder bergerak-gerak hendak menumpahkan tangis. Air matanya sudah mengambang. Srintil cepat meraup tubuh kecil itu dan mengangkatnya ke dada. Goder diciuminya dengan lembut.
"Jangan menangis, Nak. Kamu akan memakai baju baru dan bersamaku akan pergi ke balai desa. Kamu satu-satunya anak Dukuh Paruk yang diundang. Kamulah satu-satunya anak yang punya sawah."
"Di balai desa ada jajanan, Mak""
"Ah, tidak. Tetapi kita bisa mampir ke pasar Dawuan. Kamu ingin apa"" "Meniran, Mak."
"Baik, nanti kita beli yang banyak."
"Ondol-ondol" "Ya, ya." "Balon, Mak. Balon." "Boleh."
"Anu, Mak. Anu, Mak. Jangkrik."
"Ah, jangkrik tinggal minta kepada Paman Sakum."
"Es!" "Nah, ayo kita cepat berdandan."
Selain di pasar Dawuan maka baru kali inilah Srintil berada di tengah rapat yang dihadiri banyak orang. Dulu ketika masih meronggeng orang banyak yang berkumpul semua tunduk di bawah pesonanya. Perasaan mereka, khayalan mereka, menjad
i bulan-bulanan alunan tembang dan lenggang-lenggok berahinya. Jantung mereka menjadi permainan lirikan mata dan pacak gulunya. Dan orang-orang terpenting yang sedang berkumpul di balai desa itu adalah mereka yang pernah merengek minta belas kasihnya.
Kini semuanya terbalik dengan semena-mena. Ketika Srintil memasuki balai desa banyak perempuan yang berpindah tempat duduk, menjauh. Banyak lelaki dengan gagahnya menipu diri dalam kepura-puraan, kecuali pamong yang tadi mengundang Srintil yang menyilakannya duduk. Lainnya hanya menatap dengan cara demikian rupa sehingga Srintil merasakan sebagai runcingnya ranting bambu yang menghunjam dada. Oh, tetapi di sana ada seorang priayi yang melihatnya dengan mata yang lunak. Srintil tahu dia adalah salah seorang yang sering dilihatnya mengukur tanah sawah di sebelah barat Dukuh Paruk.
Srintil duduk sambil memangku Goder. Terus menunduk, hampir tak pernah bergerak. Perasaan hati yang berpusar-pusar hanya bisa ditenangkan oleh kehangatan tubuh Goder yang sedang dipangkunya. Kain kebayanya sangat bersahaja. Srintil sama sekali tidak ingin keiihatan menonjol. Penampilan yang merendah hendaklah diartikan sebagai pengakuan atas sebuah kesalahan hidup yang terlanjur. Atan permohonan dalam kebisuan untuk dimengerti. Atau ucapan tanpa kata-kata bahwa hendaknya semua cukuplah sudah, jangan lagi ada tatapan mata yang mengiris hati, jangan lagi ada cibiran yang meremukkan jiwa.
Bajus duduk di samping lurah Pecikalan. Antara keduanya sudah terjadi beberapa kali pertemuan. Pertama, ketika Bajus baru hendak mulai mengukur tanah-tanah sawah yang terletak dalam wilayah desa Pecikalan. Kedua, di kantor kecamatan ketika keduanya kebetulan punya urusan dengan Pak Camat. Pertemuan ketiga sudah bersifat pribadi di rumah lurah. Waktu itu Bajus berterus terang masih bujangan, sambil tersenyum dan mata bercahaya.
Waktu itu lurah Pecikalan yang kuno mencoba menangkap makna kata dan suasana. Ada laki-laki tanpa diminta telah mengaku masih bujangan. Ada mata bersinar-sinar dan ada senyum yang menyimpan sesuatu. Lalu mengapa semua orang di wilayah Dawuan masih saja berpikir dalam pola lama bahwa di sana hanya ada satu lubuk di mana semua air mengalir ke sana. Sepanjang menyangkut petualangan berahi, Dukuh Paruk adalah lubuk dan Srintil adalah ikannya. Oh, ya. Bajus dan teman-temannya sedang mengukur tanah sawah yang dekat sekali dengan Dukuh Paruk. Mestinya dia sudah melihat ikan yang elok di lubuknya.
Lurah Pecikalan yang meski kuno tetapi kenal betul akan Srintil, kenal sosoknya dalam arti yang paling harfiah, hanya tersenyum. Dan seorang seperti lurah Pecikalan tidak bisa melepaskan diri dari sebuah nilai kuno bahwa seorang penguasa kecil wajib asok glondbong pengareng-areng kepada penguasa besar. Upeti. Apabila Bajus yang dianggapnya penguasa besar karena datang dari Jakarta mengaku bujangan maka lurah Pecikalan mengerti apa yang dikehendakinya. Dan lurah Pecikalan tidak mempunyai satu pun nilai yang bisa dijadikan pegangan untuk menyalahkan orang dari Jakarta itu.
Episode 24 Setelah semua pemilik sawah datang maka acara pembayaran ganti rugi dimulai. Lurah Pecikalan mengawalinya dengan pidato. Adalah kejayaan kekuasaan yang menyebabkan tak satu kali pun terdengar pertanyaan atau usulan tentang harga ganti rugi. Juga semua bungkam ketika lurah berkata bahwa uang ganti rugi akan dipotong sekian persen untuk biaya perbaikan balai desa, sekian persen untuk membeli seragam hansip, sekian persen biaya administrasi agraria, sekian persen lain-lain. Semuanya menjadi empat puluh persen. Sebelumnya sudah beredar bisik-bisik bahwa hanya mereka yang bersangkutan dengan geger 1965 akan menyanggah ketentuan itu.
Srintil sungguh tidak tertarik mendengar persen-persen itu, tidak juga jumlah uang yang akan diterimanya atas nama Goder. Yang amat diinginkannya adalah cepat keluar dan terbebas dari pandangan mata orang banyak, kembali ke Dukuh Paruk dan bersembunyi dalam dunia Goder. Tetapi panggilan untuknya tidak juga datang, bahkan ketika matahari sudah jauh tergelincir dan hanya tinggal dua orang yang belum mendapat
bagian. Akhirnya Srintil sadar dia akan mendapat giliran paling akhir. Tentu
saja, dari sekian banyak orang hanya akulah bekas tahanan. Itu pikiran Srintil dan itu pula nilai kecongkakan kenisbian masa.
Akhirnya tinggal Srintil bersama Goder. Lurah Pecikalan menyuruh tukang-tukang jagal uang ganti rugi membereskan hasil potongan di ruang lain. Sekali lagi, tentu saja. Seorang bekas tahanan tidak akan diperlakukan sama dengan orang lain. Maka Srintil akan diperlakukan secara khusus. Mungkin uangnya akan dipotong lebih banyak. Atau siapa tahu, Srintil akan dimintai keterangan macam-macam atau persyaratan macam-macam. Itu dugaan semua orang.
"Srintil," kata lurah Pecikalan lirih, lirih sekali. Toh Srintil terkejut bukan main. Wajahnya putih. Goder ditekan ke dadanya yang berdenyut hebat. Dan Pak Lurah malah terkekeh.
"Jangan takut seperti itu, Jenganten. Dengar. Aku dan Pak Bajus ini akan berbicara dengan kamu. Beliau ini jauh-jauh datang dari Jakarta. Mungkin saja, aku tidak tahu persis, beliau membutuhkan teman. Begitu, Pak Bajus" Oh, aku hampir lupa. Ini uang ganti rugi untuk tanah si Goder. Atas nasihat Pak Bajus uangmu tak dipotong apa pun." Bajus terbatuk. Memutar ke samping untuk memperlihatkan sasmita kepada lurah Pecikalan. Laki-laki tua itu tanggap lalu bangkit.
"Nah, aku minta kamu mematuhi Pak Bajus. Yah, tidak boleh tidak orang seperti kamu harus patuh. Silakan." Dan lurah Pecikalan melangkah ke luar.
Bajus kembali terbatuk. Cengar-cengir sebentar lalu menyuruh Srintil pindah ke kursi yang lebih dekat. Tangan Bajus mencubit pipi Goder. Kata pertama yang keluar sungguh di luar dugaan Srintil.
"Ini bukan anakmu, kan""
"Ya, Pak," jawab Srintil masih tetap menunduk.
"Aku sudah tahu banyak hal tentang kamu. Cobalah angkat mukamu. Kita berbicara seperti biasa."
"Ya, Pak." "Begini, Srin. Tadi Pak Lurah berkata seperti itu. Ada benarnya sepanjang tidak diartikan secara berlebihan. Aku memang ingin berkenalan dengan kamu. Jangan khawatir, aku belum punya istri. Bagaimana""
"Tetapi, Pak... "
"Bagaimana""
"Jadi Bapak... "
"Tidak usah sebut aku begitu. Mas!"
"Oh, Pak. Eh, Mas. Jadi Mas sudah tahu siapa aku. Aku takut, Mas. Dan Mas tidak pantas bergaul dengan seorang bekas tahanan."
"Sudahlah. Nah, kali ini cukup sekian. Besok atau lusa aku akan datang ke Dukuh Paruk. Boleh, kan""
"Untuk apa, Mas""
"Yang jelas bukan untuk menginap atau semacam itu. Percayalah. Bagaimana"" "Boleh, Mas. Tetapi aku takut berbuat salah."
"Ya, aku mengerti perasaanmu. Untuk ini akulah yang bertanggung jawab."
Ada sebuah titik keberanian terbit di hati Srintil. Seperti sebuah bintang kecil muncul di ufuk langit timur ketika alam yang terbentang adalah kegulitaan sempurna. Tetapi Srintil belum percaya. Maka ditatapnya wajah Bajus sejenak. Ada keramahan, ada pertanda pengakuan bahwa Srintil masih diakui sebagai warga kehidupan. Dan ada senyum, senyum kelelakian. Srintil ingin surut. Pengalaman dengan kelelakian yang telanjang adalah sejarahnya yang paling getir. Namun wajah Srintil cerah kembali ketika tangan Bajus lagi-lagi menggamit pipi Goder. Itu bukan sikap kelelakian telanjang, melainkan sepercik kemanusiaan yang betapapun kecilnya terasa amat mahal bagi Srintil.
Keluar dari balai desa Srintil berjalan cepat. Kalau bukan karena Goder menagih janji maka Srintil pasti akan langsung pulang. Tetapi karena Goder minta balon dan es maka Srintil mampir ke sebuah warung. Dari sana Srintil meneruskan perjalanan. Tiba-tiba saja dia kurang bernafsu melayani Goder yang berbicara macam-macam.
Sampai di rumah Srintil minum lalu duduk termangu. Goder dibiarkannya bersuka-ria seorang diri di halaman. Rekaman pertemuannya dengan Bajus berputar kembali dalam gambar yang demikian jelas. Dan Srintil masih kurang percaya bahwa peristiwa itu baru terjadi kurang dari satu jam yang lalu; pertemuan yang jauh lebih berharga daripada sejumlah uang yang masih berada di balik setagennya.
Duh, Pengeran, ada apa lagi dengan kelelakian. Besok atau lusa dia akan datang. Aku harus bagaimana" Bajus akan datang sebagai warga kehidupan atau mewakili dunianya sendiri" Entahlah. N
amun aku tidak percaya tak ada pamrih. Kemudian Srintil tertegun karena merasa telah berbuat sesuatu di luar wewenangnya; menjatuhkan vonis bersalah terhadap orang yang punya pamrih. Srintil cepat-cepat berusaha menghapus kecurigaannya terhadap maksud kedatangan Bajus. Namun pada saat yang sama timbul angan-angan baru yang sama-sama menakutkan. Yakni bila Bajus datang dengan tujuan yang sejati. Seorang lelaki bujangan ingin berkenalan dengan seorang perempuan tanpa suami; maka bila tidak ada maksud petualangan, tinggal satu makna yang bisa diterjemahkan. Dan Srintil merasa ngeri terhadap angan-angan indah yang sekejap melintas dalam hatinya. Nelangsa dan takut.
Nelangsa. Karena Srintil tak bisa membebaskan diri dari perasaan tidak berkelayakan menerima kesejatian. "Duh Pengeran, andaikan aku bukan seorang bekas tahanan." Srintil mengisak. Merebahkan diri ke samping dengan pinggul melintir karena kaki
Srintil masih dalam posisi ongkang-ongkang. Ketika pikiran terhenti dan tak mampu menembus ketidakberdayaan maka angan-angan tentang masa lalu, seribu kenangan, muncul silih berganti. Tentang rumah tahanan di kota Eling-eling, di mana resminya Srintil diberi tugas membantu bagian dapur. Tentang kuali raksasa yang digunakan untuk mengolah kangkung dan genjer hanya dengan bumbu garam untuk lauk grontol, rebus biji jagung. Atau sikap sesama tahanan perempuan yang iri hati sebab Srintil mempunyai handuk bagus, sabun mandi, dan di bawah tikar tempat tidurnya ada cermin serta pupur.
Episode 25

Jentara Bianglala Karya Ahmad Tohari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kemudian muncul bayangan Bajus. Oh, dialah orang luar pertama yang bersikap wajar. Ya. Srintil baru bisa memastikan sekarang bahwa yang dimintanya dari kehidupan ini adalah kewajaran yang bisa diterima secara umum dan mendasar. Tetapi mengapa kewajaran yang datang melalui penampilan Bajus jadi menakutkan"
Matahari melintas makin jauh ke barat. Angin mengalir membuat desah lembut ketika menyelinap celah atap ilalang. Derit ayunan bambu di samping rumah Sakum dan tawa riang Goder yang sedang bermain balon karet di halaman. Jasad dan jiwa Srintil yang lemah dan lelah menuntut istirahat. Sekejap saja Srintil sudah berada dalam alam antah-berantah. Kupingnya mendengar irama calung yang sangat bergairah. Di hadapannya terlihat beribu-ribu pasang mata yang menatap kagum. Srintil menantang mereka dengan lenggang-lenggok. Suaranya adalah sugesti berahi yang tersamar dalam tembang. Wakul kayu cepone wadhah pengaron, kapanane ketemu padha dhewekan... Tetapi entah mengapa kemudian penonton bubar kocar-kacir. Rentetan tembakan. Srintil lari meninggalkan arena pentas. Dan sebuah tangan besi mencekal tengkuknya. Dia ingin berteriak namun tangan besi itu mencekik lehernya kuat-kuat. Srintil hanya bisa meronta-ronta. Ketika terasa tangan besi itu mengendur Srintil melenguh seperti ternak dipotong.
"Eh, lha! Tidur siang kok mengigau. Bangun, Jenganten. Bangun. Lihat ini anakmu jatuh ke comberan. Ayo bangun."
Srintil menggelinjang. Bangun lalu duduk linglung. Terengah-engah. Matanya blingsatan masih menampakkan sisa ketakutan. Dahi dan tengkuknya basah.
"Ada apa, Jenganten, mimpi buruk" Eh, lha. Wong habis menerima uang kok malah mengigau. Ini lihat. Anakmu habis masuk comberan dan sudah saya basuh kaki dan tangannya."
Srintil masih linglung dan hanya sekejap melihat Goder yang sedang dibopong Nyai Kartareja. Tanpa berkata sepatah pun Srintil bangkit dan masuk ke dapur. Dengan gayung diciduknya air dari tempayan untuk membasuh muka. Segelas air di atas meja ditenggaknya habis.
"Sekarang katakan, Jenganten. Mimpi apa. Digigit ular barangkali"" tanya Nyai Kartareja sambil menyerahkan Goder kepada Srintil.
"Sudahlah, Nyai. Ketakutanku terbawa ke dalam mimpi."
"Takut" E, lha. Sampean masih saja berkata begitu. Zaman sudah aman, Jenganten. Jadi apa lagi yang sampean takutkan""
"Kapan-kapan dia mau datang kemari, Nyai. Aku takut. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Dia siapa"" "Pak Bajus."
"Pak Bajus yang suka memimpin orang mengukur tanah""
Srintil mengangguk. Dan Nyai Kartareja terpaksa percaya bahwa Srintil sedang menghadapi kebimbangan. Tak ada kepura-puraan p
ada wajahnya. "Eh, lha. Aku jadi tidak mengerti, Jenganten. Mengapa sampean sekarang takut dengan setiap lelaki yang datang. Sampean menolak Marsusi. Tamir juga sampean tolak. Lalu sekarang sampean takut menghadapi Bajus. Aku tidak mengerti, Jenganten."
"Aku juga tidak mengerti, Nyai. Namun untuk menjawab Marsusi atau Tamir, gampang saja. Tidak! Nah, Nyai. Aku tak sanggup berkata seperti itu kepada Pak Bajus. Entahlah, Nyai. Harus bagaimanakah aku ini."
"Kenapa begitu, Jenganten""
"Nyai, aku melihat, aku merasa, Pak Bajus tidak ingin main-main. Nyai..."
Nyai Kartareja memperhatikan dengan saksama garis-garis ekspresi pada wajah Srintil. Ada sesuatu yang berakar dari kedalaman jiwanya. Sedikit demi sedikit dibangunnya pemahaman tentang apa yang sedang menjadi angan-angan Srintil. Tidak sulit bagi Nyai Kartareja buat berpikir sampai kepada kesimpulan yang jitu. Tersenymn, kemudian digamitnya pundak Srintil.
"Wah iya, Jenganten. Sampean masih muda. Sampean baru dua puluh tiga tahun dan cantik. Sungguh tidak aneh bila ada lelaki menginginkan sampean."
"Dan Mas Bajus masih bujangan."
"Nah!" "Tetapi, Nyai. Aku bekas ronggeng. Aku bukan perempuan somahan, perempuan rumah tangga. Orang tidak akan percaya bahwa aku meski bekas seorang ronggeng akan mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nyai, siapa pun tidak akan percaya."
"Eh, lha belum tentu, Jenganten. Buktinya, Pak Bajus itu. Bila dia tak percaya sampean bisa menjadi perempuan somahan mengapa dia ingin bersungguh-sungguh dengan sampean""
"Entahlah, Nyai. Tetapi bisa saja sekarang dia percaya karena sesuatunya belum menghadapi ujian. Aku takut sekali waktu datang ujian aku harus menghadapi
kenyataan pahit, ketidakpercayaan itu. Bila sampai terjadi demikian, Nyai, sia-sialah semuanya. Aku bisa lebih sengsara daripada sekarang."
"Jenganten, andaikan aku adalah sampean, maka aku tidak akan berpikir sejauh itu. Aku hanya akan berpikir bagaimana menggunakan kesempatan yang mungkin amat langka ini. Pak Bajus bujangan dan priayi. Dia orang jauh sehingga sampean bisa menempuh kehidupan baru di tempat yang baru pula. Dan seperti kata sampean sendiri, Pak Bajus kelihatan bukan hendak bermain-main. Apa lagi, Jenganten""
"Ya, Nyai. Tetapi aku harus bagaimana""
Nyai Kartareja tertegun. Baginya Srintil adalah sebuah sosok tanpa aling-aling. Perempuan itu tahu segalanya, tahu bagaimana dulu Srintil menghadapi laki-laki, puluhan laki-laki yang ia sukai. Srintil pernah menjadi gowok bagi Waras dari Alaswangkal. Gowok adalah perempuan yang mengajari laki-laki tentang caranya menjadi lelaki. Maka Nyai Kartareja amat yakin bahwa mencari jawaban bagi pertanyam Srintil sama mudahnya dengan mengedipkan mata.
"Eh, lha. Sampean ini cantik. Sampean mempunyai pakaian yang bagus serta mempunyai perhiasan emas. Mandi keramas, matut salira secantik mungkin lalu bermanja kepada tamu yang akan datang itu. Masa iya nenek bangka ini harus mengulangi pelajaran yang kuberikan kepada sampean sepuluh tahun yang lalu""
Srintil melengos dengan sengit. Jawaban yang diucapkan oleh Nyai Kartareja sedikit pun tidak menyentuh kebimbangan dalam hatinya. Kenyataan yang pahit; seorang yang hingga menjadi nenek tetap hidup di Dukuh Paruk dan sekian tahun menjadi semang Srintil tak mampu menggapai akar kepelikannya. Srintil mengeluh dan mendesah. Dia ingin kembali merenung seorang diri. Dan dia tahu cara yang baik untuk menyuruh Nyai Kartareja menyingkir: selembar uang.
Episode 26 Dukuh Paruk sesudah geger komunis 1965 adalah Dukuh Paruk yang sudah dibakar dan hanya tersisa puing-puingnya. Apabila dulu beberapa rumah sudah beratap genting atau seng dengan penerangan lampu pompa maka sekarang semua rumah sama, gubuk beratap ilalang dengan penerangan pelita di malam hari. Tak ada tembang, tak ada calung, dan tak ada lelaki luar yang datang karena tak ada satu pun lelaki yang rela dikatakan berhubungan dengan ronggeng yang baru pulang dari tahanan. Boleh jadi Marsusi adalah kekecualian karena dia pernah berusaha menghubungi Srintil melalui Nyai Kartareja. Tetapi Marsusi tidak akan berani seperti dulu, membawa motornya masuk
ke Dukuh Paruk. Meskipun Dukuh Paruk selalu paling terbelakang namun dulu dia mandiri. Dia menyatu dengan ketenaran irama calung dan ronggeng. Dan ketika indang ronggeng ada pada diri Srintil semua orang di sana bangga disebut sebagai orang Dukuh Paruk. Lalu apa yang kemudian terjadi adalah bukti kebenaran kata-kata mendiang Sakarya. Bahwa zaman berjalan sambil mengayun ke kiri dan ke kanan. Setelah Dukuh Paruk mencapai puncak kebanggaan kini zaman mengayunkannya ke kurun yang membawa serba kebalikannya. Orang Dukuh Paruk merasa sukar berjalan dengan kepala tegak apalagi bila sedang berada di luar tanah airnya. Orang Dukuh Paruk tidak ingin berbuat sesuatu
yang bisa diartikan sebagai penampilan rasa bangga. Dalam segala urusan mereka ingin memberi kesan sedang meniti nasib dengan penuh penyesalan serta rasa bersalah. Bukan salah yang kepalang tanggung tetapi salah karena merasa seolah-olah ikut mengguncang kehidupan.
Apabila kebanyakan orang Dukuh Paruk mengidap perasaan demikian maka yang terjadi pada diri Srintil beberapa kali kelipatannya. Dia, inisalnya, dengan kesadaran penuh lebih suka bersarang di dalam gubuk kecil meskipun sebenarnya dia mampu membangun atau membeli sebuah rumah yang layak. Sebuah kalung atau salah satu gelangnya cukup untuk membeli sebuah rumah kayu beratap genting. Namun Srintil tidak akan melakukannya. Tatapan mata semua orang menuntut setiap manusia Dukuh Paruk memperlihatkan penyesalan dan keprihatinan.
Dulu Sakum sering bertembang di malam hari. Kalau perut seisi rumah kenyang Sakum akan bertembang lagu-lagu dolanan yang gembira dan kadang kocak. Kalau sehari tak ketemu makanan Sakum biasa membawakan kidung yang ngelangut menusuk dasar jiwa. Kini keadaan rumah Sakum hanya bisa diperbandingkan dengan kebun tembakau atau palawija di pelataran kali. Pada malam hari puluhan jangkrik berderik mengadu kekuatan suara. Jangkrik yang kecil bersuara kering nyaring menyakitkan gendang telinga, yang besar bersuara berat dan lebih enak didengar. Sementara itu penghuni gubuk, Sakum anak-beranak, meringkuk berdesakan seperti anak ayam kehujanan di emper rumah.
Di gubuk lain Srintil kelihatan sudah memejamkan mata tetapi sama sekali belum tidur. Ketika Goder sudah lelap Srintil merasa melayang-layang seorang diri dalam dunia tanpa pijakan. Besok atau lusa adalah hari-hari yang kedatangannya amat menggelisahkan. Kadang Srintil ingin kembali bisa merengek seperti bayi. Kadang ingin bisa berdendang lagu asmara seperti gadis muda. Tetapi kadang dia mendambakan menjadi bekicot yang sewaktu-waktu bisa bersembunyi dengan aman dalam rumah kapurnya yang keras. Lamban dan diam, asyik dengan dirinya sendiri, tak peduli dengan apa pun di sekitarnya karena yang terpenting adalah selamat dan tidak repot.
Burung celepuk menggeram dari pepohonan di atas makam Ki Secamenggala yang sudah lama tidak terawat. Gema suaranya membuat Srintil merasa kecil dan makin kecil. Dia meringkuk di bawah selimut kainnya. Srintil benar-benar ingin menjadi bekicot yang ingin mengundurkan diri ke dalam rumah labirin, melupakan segalanya dan tidur. Tetapi kebimbangan tak bisa diajak berdamai. Dia mengusik, terus mengusik. Srintil mengalah dan pelupuh bambu berderit ketika dia bangkit.
Ada kenangan bawah sadar yang menarik Srintil berjalan ke bilik sebelah. Membuka pintunya perlahan-lahan kemudian Srintil melangkah masuk dan berhenti tepat di pinggir balai-balai. Neneknya, Nyai Sakarya, sedang tidur. Kempis-kempis dan renta.
"Nek," ujar Srintil lirih sekali. Entah mengapa tiba-tiba hatinya diamuk nelangsa. Air matanya meleleh.
"Nek." "Oh, eh siapa" Srintil, kenapa engkau, Cucuku Wong Ayu""
"Nek." "Ya, Cucuku. Eh, engkau menangis""
"Nek. Aku mau tidur di sini bersama Nenek."
"Oalah. Mari, Cucuku, mari. Oalah eman, eman, Cucuku. Ada apa rupanya""
Srintil tidak menjawab tetapi langsung merebahkan diri, melipat tubuh sekecil mungkin dalam pelukan Nyai Sakarya yang ringkih dan apek. Ada setitik kesejukan. Srintil surut dua puluh tahun ke belakang kala dia selalu mencari perlindungan pada haribaan Nyai Sakarya bila hati sedang sedih dan nelangsa. Se
sungguhnya Srintil sadar neneknya tidak mampu memberikan sesuatu untuk menyelesaikan kebimbangannya, namun belaian tangan perempuan tua itu bisa meredam kegelisahan. Nyai Sakarya sendiri tidak mendesak Srintil mengutarakan perasaannya karena pertanyaan yang berulang-ulang hanya dijawab dengan sedu-sedan. Seorang perempuan yang sudah tujuh puluh tahun menjadi warga kehidupan; Nyai Sakarya mengerti ada keruwetan dalam hati cucunya. Dan pastilah keruwetan itu terjadi pada pusat wilayah pribadi Srintil sehingga Nyai Sakarya merasa tidak mampu berbuat sesuatu kecuali membelai rambut cucunya. Lama-lama Srintil berhenti mengisak. Beberapa kali terdengar desah panjang sebelum napas Srintil berubah lembut dan teratur. Seperti orang yang lama berjalan di bawah terik matahari lalu mencapai kerindangan sebuah pohon besar. Sejuk dan teduh-nyaman. Sejenak Srintil lepas dari kebimbangan. Berangkat tidur diantar oleh belaian nenek adalah tidur seorang cucu yang dimanjakan. Buat sementara Srintil terbebas dari kungkungan keberadaannya.
Pagi-pagi halaman dan tanah pekarangan di Dukuh Paruk berhias mosaik dedaunan yang jatuh semalam. Daun nangka luruh dengan warna kuning tua kemerahan. Tetapi daun ketapang benar-benar berwarna merah. Di bagian-bagian yang tidak terkena terik matahari lumut dan beberapa jenis rumput masih hidup memberi corak hijau lembut. Di bawah rumpun bambu berserakan daunnya yang gugur, cokelat dan kuning tua. Keremangan pagi memberi penyinaran yang tepat sehingga mosaik alam tampak demikian hidup. Dari hamparan daun-daun gugur itu sesekali terbias kilau embun. Kadang terlihat uap tipis mengambang dari pangkal batang pisang yang sudah ditebang.
Adalah keajaiban hati yang mampu menyimpan perasaan yang berubah-ubah. Bila malam hati Srintil masih dicekam kebimbangan maka pada pagi hari segala kegalauan rasa sudah mengendap. Barangkali Srintil tetap tidak merasa pasti apa yang harus dilakukannya. Namun dia sudah berbuat sesuatu yang ternyata membuat Nyai Kartareja tersenyum-senyum di belakang rumah. Srintil sedang membakar ikatan gagang padi buat keramas. Namun sebelum pergi ke pancuran Srintil kelihatan berjalan menuju rumah Sakum.
Episode 27 "Masih menjual jangkrik di pasar Dawuan, Kang"" tanya Srintil kepada Sakum yang sedang menata ruas-ruas bambu berisi dagangan, jangkrik.
"Lha iya. Mau apa lagi, Jenganten. Untung ada jangkrik!"
"Ya. Aku mau minta tolong, Kang. Belikan gula dan bubuk kopi yang bagus. Juga pepaya dan jeruk. Mau, Kang""
Sakum diam sejenak. Kedua matanya yang keropos bergerak-gerak. Sakum yang memiliki kepekaan luar biasa menangkap kelainan suasana. Memang bukan sekali-dua Srintil minta tolong dibelikan sesuatu tetapi biasanya kelepon atau ondol-ondol buat Goder. Kadang juga ketupat. Kali ini adalah gula, kopi, dan buah-buahan. Lebih dari itu Sakum merasa suara Srintil keluar dari jiwa yang dalam.
"Mau, Kang" Ini uangnya."
"Tentu saja mau, Jenganten," jawab Sakum yang cengar-cengir. "Ada tamu ya! Siapa"" "Kok kamu tahu, Kang""
"Ya! Sampean sudah kenal sejak bocah siapa Kang Sakum." "Benar, Kang. Ada orang mau bertamu ke rumahku." "He... he. Marsusi, ya"" "Salah. Orang Jakarta, Kang."
"Orang Jakarta" Ah, ya, di pasar Dawuan orang berkata sekarang ini banyak priayi Jakarta berdatangan. Nah, Jenganten, andaikan sampean masih meronggeng. Bukan main!"
"Aku tidak akan meronggeng lagi, Kang. Aku sudah tua."
"Iya! Si Sakum tahu sampean bukan lagi seorang ronggeng. Bukan karena sudah tua. Sampean masib muda. Tetapi si Sakum setiap hari mendengar suara sampean, bukan lagi suara ronggeng. Tidak bisa tidak sekarang Dukuh Paruk tanpa ronggeng."
Ada tekanan yang khas dan pasti pada kata-kata Sakum. Sekarang Dukuh Paruk tanpa ronggeng. Mula-mula Srintil agak terkejut mendengarnya. Matanya membulat dan kedua alisnya naik pertanda Srintil sedang berusaha keras memahami kata-kata si mata keropos. Memahami apa yang terucap dan apa yang tersembunyi di baliknya. Lalu Srintil maju selangkah dan berbisik di dekat telinga Sakum.
"Betulkah aku bukan lagi seorang ronggeng, Kang""
"Betul! Andaikan dipaksa meronggeng pun sampean b
akal tidak laku. Burung indang telah terbang dari kurungan. Indang ronggeng kini tidak ada pada tubuh sampean."
Kedua pundak Srintil jatuh. Napas lega berembus dengan bebas dan lepas. Kata-kata Sakum terdengar sebagai mantra sakti yang telah membebaskan Srintil dari beban moral yang teramat berat dan Srintil tak kuasa menahan air matanya.
"Lho, sampean menangis""
"Aku tidak menangis, Kang. Tidak."
"Jangan bohong. Aku mendengar napas orang menangis. Percuma, Jenganten. Jangan menangis. Ditangisi pun indang ronggeng takkan kembali."
"Jangan salah duga, Kang. Aku menangis bukan karena sedih tetapi karena senang."
"He... he. Lha iya. Lebih baik nrimo pandum saja. Dan bergembira karena akan ada tamu orang Jakarta."
"Kang"" "Eh, mana uangnya. Aku mau berangkat, nanti kesiangan."
Srintil menyerabkan uangnya. Lalu diperhatikannya Sakum yang berangkat menuju pasar Dawuan. Meski buta kedua matanya Sakum dapat mengenali jalan yang akan dilaluinya seperti dia mengenal setiap benda di ujung jari. Kemudian Srintil meneruskan maksudnya mandi di pancuran. Selama melangkah ke sana Srintil tidak mendengar suara anak-anak Sakum yang sudah heboh dengan ayunan bambunya. Tidak didengarnya suara burung-burung. Di dalam telinga Srintil hanya terdengar suara kecapi Wirsiter dan Ciplak, penjaja musik yang selalu membawakan asmara dahana.
Ketika sedang mandi kata-kata Sakum terus mengiang di telinga Srintil; dia bukan lagi ronggeng. Duh, Pengeran, alangkah enak didengar. Sekarang baru Sakum seorang yang mengatakan aku bukan ronggeng. Aku akan membuktikan diri sehingga nanti semua orang berkata sama seperti Sakum.
Dan masih di pancuran itu Srintil mulai membuktikan diri siapa dia sekarang. Ketika masih meronggeng Srintil selalu mandi telanjang dan tenang saja bila ada mata laki-laki mengintipnya, pura-pura tidak merasa sedang diintip atau bahkan sengaja demi mempermainkan jantung laki-laki. Itu dulu. Kini Srintil mandi dengan kain petelesan sehingga hanya dari dada ke atas yang terbuka. Dulu Srintil sering mandi sambil greyengan, sekarang dia mandi dengan tertib dan khidmat.
Citra seorang perempuan kebanyakan, itulah yang ingin digapai oleh Srintil sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Srintil sudah lama memikirkannya, lama sekali. Tetapi baru di pancuran itulah dia melaksanakan dalam tindakan setelah Sakum mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Srintil sudah ditinggal indang ronggeng.
Atau bahkan sebenarnya sudah lama Srintil mempertanyakan kembali konsep keperempuanannya yang sekian lama diyakini sebagai bagian dari kebenaran. Bahwa keperempuanan berada pada piring timbangan yang satu dan piring timbangan yang lain berisi kelelakian. Itu yang utama. Dan bahwa seorang perempuan tertentu adalah istri lelaki tertentu adalah nomor dua. Dalam pengertian ini Srintil merasa bangga menjadi ronggeng karena seorang ronggeng adalah dinginnya air bagi panasnya api kelelakian. Dia adalah pemangku naluri kelelakian, bukan hanya pemangku naluri seorang laki-laki. Urusan kelelakian seperti demikian adanya jauh lebih luas daripada urusan seorang lelaki. Maka dulu Srintil berpendapat tugas seorang ronggeng dalam kehidupan lebih mulia daripada tugas seorang istri.
Kemudian Srintil sendiri yang merasakan kepahitan sejarah hidup yang ditempuhnya sebagai perempuan milik umum. Dia ingin membalik pengertian semula; menjadi istri laki-laki tertentu adalah inti keberimbangan antara keperempuanan dan kelelakian. Maka tugas seorang istri lebih mulia daripada tugas seorang ronggeng. Dan pagi ini Srintil mendengar Sakum berkata bahwa dia bukan lagi ronggeng.
Pulang dari pancuran Srintil menengok Goder, ternyata masih tidur. Kemudian ke dapur. Mulai pagi ini Srintil akan mengambil- alih segala urusan dapur yang semula diserahkan kepada neneknya, Nyai Sakarya. Seorang perempuan somahan adalah perempuan yang mengerti dan mau mengurusi keperluan dapur. Srintil akan melakukannya dengan segala senang hati.
Di pasar Dawuan Sakum menarik perhatian orang karena berbelanja buah-buahan dalam jumlah yang banyak. Orang tidak percaya dari uang penjualan jangkrik Sakum bisa berbelanja s
ebanyak itu. Biasanya Sakum hanya membeli sedikit minyak kelapa, setengah botol minyak tanah, singkong, dan kelapa. Kali ini ada jeruk dan pepaya.
"Hayah, Kang Sakum," ujar Babah Gemuk dari tempat dagangannya, "kamu belanja-belanja. Kamu banyak duit sekalang. Dapat nomel buntut, ya""
"Buntut jangkrik, Bah"" Sakum balik bertanya dengan seloroh
Episode 28 "Nomel buntut. Apa olang Dukuh Paluk tidak doyan buntutan""
"Tidak, Bah. Orang Dukuh Paruk tidak punya uang."
"Nah, itu kamu belanja-belanja" Uang dali mana""
"Ini Srintil yang titip, Bah. Kalau aku, mana punya uang."
"E, iya. Hayah. Slintil sudah lama tidak kelihatan di pasal. Pagimana dia""
"Apa tidak tahu Srintil baru pulang dari tahanan""
"Saya tahu, saya tahu. Tetapi sekalang dia di lumah. Suluh kemali dia. Hayah. Saya ada balang bagus-bagus. Ada pupul dali Palis, ada gincu dali Hong Kong, ada tas dali Singapula. Hayah, banyak balang bagus."
"Ada jangklik dali Amelika!" jawab Sakum dengan tawa. Orang-orang yang mendengar ikut tertawa. "Aku tidak main-main. Suluh Slintil datang kemali. Dia masih cantik, kan""
"Cantik memang miliknya, Bah."
"Naaa. Apa aku kata. Katakan sama dia. Bila datang kemali ada hadiah dali Babah Gemuk. He... he... he..."
"Tidak bisa, Bah. Srintil akan menerima tamu orang Jakarta. Yang kubawa ini jeruk dan pepaya, akan digunakan Srintil untuk menyuguh tamunya." Sakum berlalu menjinjing bawaannya yang berat.
Babah Gemuk sudah lupa apa yang terjadi beberapa detik berselang. Dia mulai sibuk melayani pembeli. Tetapi para perempuan mulai berceloteh.
"Memang untung jadi orang cantik. Biar habis ditahan, biar tinggal dalam gubuk terpencil di Dukuh Paruk, masih ada saja lelaki yang mencarinya. Tamu Srintil kali ini malah orang Jakarta."
"Memang. Dan salahmu sendiri, Mbakyu, kenapa mau jadi orang tidak cantik. Bibir bergantungan dan hidung seperti buah salak."
"Iya. Untung suamiku bodoh sehingga aku sempat melahirkan anak-anak."
"Suamimu tidak bodoh, Mbakyu. Dia hanya melarat. Coba kalau dia punya uang. Pasti dia tidak sudi punya istri sampean."
"Lalu suamimu""
"Dia suamiku bila di rumah. Bila di luar saya tidak tahu."
"Iya. Aku sebenarnya juga tidak tahu apa yang dilakukan suami di rumah selagi aku di pasar begini. Tetapi aku tak pernah berpikir macam-macam. Aku tak mau sakit menahun."
"Dalam kehidupan ini, Mbakyu, ada perempuan-perempuan semacam Srintil. Entah mengapa."
"Iya, Boleh jadi enak jadi perempuan macam dia. Tidak pernah susah-susah bekerja tetapi dapat uang."
"Mbakyu iri, ya!"
"Kadang ya, kadang tidak. Iri bila sedang menghadapi kerepotan macam-macam dan suami banyak tingkah. Tetapi tidak iri bila aku sedang sadar awak ini buruk. Punya suami sudah untung!"
"Tetapi, Mbakyu, coba lihat tetangga kita penjual kain batik itu. Di pasar Dawuan ini pasti dialah yang paling kewes, anak orang kaya pula. Suaminya, Mbakyu. Sudah jelek, kerjanya cuma memikat burung perkutut. Kadang malah mengambil uang istrinya buat berjudi. Mbakyu, sampean mau berkata apa tentang perempuan seperti tetangga kita
itu"" "Gampang. Tentu saja dia perempuan bodoh. Karena dia tidak menyadari dirinya yang bisa bersanding dengan laki-laki yang lebih pantas. Misalnya aku... "
"Mbakyu, kok keluarga mereka tenang saja""
"Bila demikian maka yang diperlukan perempuan seperti itu hanya seorang lelaki yang menjadi ayah anak-anaknya. Itu saja. Tetapi bagaimanapun juga suaminya adalah lelaki asu buntung, mau enaknya saja!"
"Nah, Mbakyu. Bagaimana tentang seorang suami yang gagah, punya duit, tetapi istrinya royal""
"Itu perempuannya yang asu buntung!" "Wah! Jadi yang benar mana""
"Yang benar" Ya kita ini. Kita memang buruk tetapi punya suami dan anak-anak. Dan suami kita tidak nyeleweng karena mereka melarat. Lho iya! Kita beruntung karena kita nrimo pandum."
"Jadi sampean tidak iri dengan Srintil""
"Yah, tidak." "Tidak mengeluh karena sampean punya hidung seperti buah salak""
"Hus!" Cekikikan yang renyah terdengar dari sudut pasar. Renyahnya kehidupan bersahaja dan penuh kerelaan. Hidup ini dihayati seperti apa adanya.
*** Rasus bimbang ketika mendapat cuti tiga hari sebelum dia bersama
batalionnya diterbangkan ke Kalimantan Barat untuk bertugas di sana. Hampir semua temannya pulang kampung; yang sudah kawin pulang berpamitan kepada anak-istri, yang masih bujangan pulang hendak minta restu kepada orang tua. Rasus sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya mati termakan racun bongkrek ketika Rasus masih sangat bocah. Nenek yang terpaksa berperan sebagai satu-satunya orang tua sudah meninggal lebih dari dua tahun yang lalu.
Dalam suasana biasa sebetulnya Rasus sudah berhasil membangun simbol pengganti orang tua. Untuk menentramkan hati kadang Rasus meyakinkan diri bahwa orang tuanya adalah kehidupan di mana dia menjadi salah seorang warganya. Kadang dia meyakini bahwa ayahnya bernama Divisi ke-7 Diponegoro dan ibunya adalah Batalion PQR. Saudara-saudaranya adalah seragam hijau dan bedil bersama amunisinya. Namun ketika melihat teman-temannya bertebaran pulang ke rumah masing-masing, simbol yang dibangun sedikit demi sedikit mendadak mandul. Divisi ke-7 Diponegoro dan batalionnya adalah orang tua yang baru dikenal sejak Rasus masuk tentara. Dia tidak menyimpan kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang penuh tawa dan tangis. Divisi dan batalion tidak menyediakan daun gadung buat bermain layang-layang, tidak memberikan tanah teduh di bawah pohon nangka sebagai arena bermain.
Dukuh Paruk dan hanya Dukuh Paruk. Meski sudah tidak ada orang tua atau kakek-nenek di sana, namun Dukuh Paruk masih mengundang kerinduan. Dulu, demi
kesetiaan kepada Dukuh Paruk, Rasus rela dipukul komandan hingga pingsan. Demi Dukuh Paruk, Rasus pernah menempuh risiko besar dengan menerobos masuk rumah tahanan guna menemui seorang warga Dukuh Paruk yang sedang menjalani pengucilan. Bahwa dia yang dikucil bernama Stintil tidaklah utama. Tanah airnya yang kecil terpencil sudah diketahui Rasus dalam keadaan yang lebih merana. Bila dia kembali ke sana Rasus bukan hanya akan bertemu kumbang tahi yang beterbangan di pagi hari dan perut anak-anak yang cacingan. Rasus bukan hanya akan bertemu dengan wajah-wajah yang pucat serta serapah cabul. Kini Dukuh Paruk akan menyambutnya pula dengan atap-atap ilalang
Episode 29 Tetapi Rasus merasa tak mampu ingkar bahwa Dukuh Paruk adalah ibunya yang paling sah. Dukuh Paruk adalah sejarahnya sendiri yang paling pantas dibaca kembali ketika dia mendapat cuti tiga hari. Ke sanalah Rasus sedang melangkah setelah turun dari bus di Dawuan untuk berkangen-kangenan dengan pertiwinya yang kecil. Rasus ingin melihat rahim yang telah melahirkannya sebelum berangkat ke Kalimantan Barat entah untuk berapa lamanya.
Mencapai pematang panjang yang lurus menuju Dukuh Paruk, Rasus melihat seorang laki-laki berjalan jauh di depan. Dalam jarak beberapa puluh meter Rasus tidak bisa mengenali siapa laki-laki itu. Tetapi makin dekat makin kelihatan langkah kaki laki-laki itu meraba-raba.
"Kang Sakum, tunggu!"
Sakum serta-merta menghentikan langkah. Ingatannya bekerja untuk mengenali siapa pemilik suara yang memanggilnya. Laki-laki buta itu kelihatan ragu karena sudah lama tidak mendengar getar suara seperti yang baru didengarnya.
"Kang Sakum! Dari mana kau""
"Eh" Rasus, Mas Rasus""
"Iya, Kang." "Waduh, Pak Tentara. Sampean masih mau kembali ke Dukuh Paruk" Saya kira sudah lupa karena sampean sudah jadi tentara."
"Ah, masa begitu. Kucing saja tak pernah lupa di mana dia dilahirkan, apalagi saya."
"Syukur, kalau begitu, Mas. Sejuk hati orang Dukuh Paruk bila sampean pulang. Apalagi sekarang, Kang Sakarya sudah meninggal."
"Meninggal" Innalillahi. Kapan""
"Hampir seratus hari."
Rasus menggelengkan kepala dan sejenak tak bisa meneruskan bicaranya. Dukuh Paruk yang merana kini bahkan ditinggal oleh tetuanya.
"Dan sampean mendengar Srintii sudah kembali"" sambung Sakum. "Oh, jadi begitu" Syukurlah. Bagaimana dia sekarang""
"Bagaimana" Dulu sekali saya sudah bilang pada sampean. Ambillah dia menjadi istri sampean. Nah, hari ini rupanya Srintil mau punya tamu. Katanya orang Jakarta. Ini jeruk dan pepaya adalah titipan Srintil, saya kira untuk menjamu tamunya nanti."
"Oh, jadi begitu. Masih sering menerima tamu dia""
"T idak pernah, Mas. Kemarin dulu saya dengar ada tamu, juga orang dari Jakarta. Tetapi Srintil tidak melayaninya. Kali ini entahlah. Pokoknya, ambil saja dia, Mas!"
Rasus tersenyum karena tak bisa menanggapi kata-kata Sakum. Digelengkan kepalanya buat mengusir pikiran macam-macam. Lalu dipandangnya ruas-ruas bambu yang dibawa Sakum. Ada jalan keluar untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu berjualan jangkrik di pasar, Kang""
"Lha iya. Untung anak-anak saya sudah pintar mencari jangkrik. Kalau tidak entah apa jadinya. Calung tak ada lagi. Ronggeng juga tidak ada lagi. Srintil kini bukan ronggeng. Dia sudah tidak mungkin kembali meronggeng. Indangnya sudah terbang. Itu pasti. Sampean lihat sendiri nanti, suara Srintil bukan suara ronggeng seperti dulu. Mungkin juga perilakunya. Aku kan tidak bisa melihatnya. Sekarang ini aku tak pernah mendengar Srintil tertawa. Apalagi tembang ronggeng. Oh, kini tak ada orang Dukuh Paruk yang berani bertembang lagu-lagu ronggeng."
Sakum terus berbicara seakan ingin mengatakan segalanya tentang Dukuh Paruk, tentang Srintil. Tentang keris Kiai Jaran Guyang yang sudah lenyap. Keris itu yang suatu ketika diserahkan oleh Rasus kepada Srintil ternyata adalah pusaka para ronggeng Dukuh Paruk dari kurun ke kurun.
Ketika pembicaraan Sakum sampai kepada masalah Kiai Jaran Guyang ada kenangan menyentak masuk ke dalam hati Rasus. Dulu, keris itu diberikan Rasus kepada Srintil sebagai pernyataan kedekatan antara dua bocah Dukuh Paruk. Ketika itu Srintil yang baru menapaki pintu dunia ronggeng adalah segalanya bagi Rasus. Dia bukan hanya teman bermain. Pada diri Srintil, Rasus melihat bayang-bayang Emak yang tidak pernah dilihatnya sepanjang hidup. Emak yang lenyap entah ke mana sesudah dirawat di sebuah klinik setelah termakan racun tempe bongkrek. Emak yang mati kemudian mayatnya dicincang-cincang dalam suatu upaya penyelidikan racun bongkrek, atau Emak yang sembuh dan hidup tetapi kemudian dibawa lari oleh mantri yang merawatnya entah ke mana. Kedua versi cerita sama baurnya. Kedua-duanya dahulu membuat kekacauan luar biasa dalam jiwa Rasus muda; mala petaka jiwa yang hanya tawar oleh sosok dan perilaku Srintil. Kemudian jiwa Rasus mendapat bencana buat kali kedua setelah Dukuh Paruk menobatkan Srintil menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Rasus tak mungkin bisa melihat bayang-bayang emaknya pada diri seorang ronggeng. Rasus yang hancur minggat meninggalkan Dukuh Paruk karena dia merasa tak punya dunia lagi di sana. Srintil yang menjadi ronggeng adalah Srintil
yang berdaulat atas dunianya sendiri dan terhalang oleh jarak psikologis yang Rasus amat sulit menembusnya.
"Eh. Sampean diam saja, Pak Tentara""
"Ah, tidak, Kang. Ayolah kita terus. Aku sudah ingin segera sampai ke Dukuh Paruk."
Di rumahnya yang bertiang delapan potong bambu Srintil sudah kehabisan pekerjaan. Dapur sudah beres namun dia sungguh tidak ingin makan. Halaman sekitar rumah sudah disapu. Meja kursi bersahaja yang di sana-sini tersisa bekas terbakar sudah dilap. Neneknya sedang pergi ke rumah Tampi, menitipkan Goder. Seorang diri di rumah, Srintil berjalan hilir-mudik tak menentu. Kadang duduk sebentar lalu bangkit lagi. Beberapa kali Srintil menatap wajah sendiri dalam sebuah cermin kecil. Dia ingin selalu yakin bahwa bedak dan gincunya tidak berlebihan agar tidak dikatakan mirip ronggeng. Sanggulnya ditata meniru sanggul istri Kapten Mortir yang telah beberapa kali dilihatnya. Istri perwira itu cantik sekali, amat serasi bila sedang berjalan berdampingan dengan suaminya. Cara memakai kain pun meniru istri Kapten Mortir, tidak menyolok dalam hal pamer bentuk tubuh. Rapi. Srintil meninggalkan cara lama, memakai kain tinggi-tinggi agar betisnya berperan sebagai pemikat mata lelaki.
Setiap kali mata Srintil menatap lorong yang akan dilalui Sakum pulang dari pasar. Ketinggian matahari makin menggelisahkan hatinya. Dan Sakum tidak kunjung pulang. Apakah si buta itu terperosok ke dalam selokan" Atau celaka terlindas andong" Akhirnya Srintil duduk, pasrah dan rela menunggu apa saja yang paling pertama akan terjadi. Tetapi baru seje
nak duduk Srintil mendengar heboh anak-anak Sakum yang menyambut ayah mereka pulang. Srintil bangkit. Dan duh, Pengeran, siapa tentara yang berjalan di samping Sakum. Darah Srintit lenyap dari permukaan kulit. Matanya berkunang-kunang. Kesadaran pertama yang memercik dalam hati Srintil adalah dirinya akan kembali ditahan. Tentara itu datang untuk mengambilnya.
Episode 30 Tetapi mata Srintil terbuka lebar ketika melihat tentara itu berlaku amat santun terhadap anak-anak Sakum. Duh, Pengeran, Rasus. Tidak bisa salah anak kambing yang liar itu datang. Srintil berhenti bernapas, berdiri tanpa gerak. Wajahnya tegang. Matanya tak berkedip dan kedua tungkainya bergetar. Kemudian Srintil duduk kembali. Lemas. Pipinya bernoda garis basah dan turun sejajar.
Duh, Gusti. Srintil melihat tanpa daya Rasus yang berjalan gagah tetapi hanya menoleh sejenak ke arah gubuknya. Jeruji bambu menghalang pandangan Rasus atas seorang perempuan muda yang sedang duduk lemas. Atau Rasus sengaja tidak ingin melihatku" Duh, Gusti.
Tidak jauh dari rumah Srintil, Rasus disergap oleh suami-istri Kartareja. Oh, mereka kangen-kangenan dengan mesra. Nyai Kartareja menepuk-nepuk pundak Rasus.
"Eh, lha, Cucuku Wong Bagus. Tambah gagah saja sampean ini. Mari singgah dulu."
"Ya," sambung Kartareja. "Lagi pula mau ke mana lagi. Nenekmu sudah mati. Malah gubuknya hampir roboh."
Rasus tercengang. Tetapi sesaat kemudian dia tersenyum, tawar. Langkahnya tidak gagah lagi ketika Rasus meneruskan perjalanan.
"Nanti aku akan kemari lagi. Sekarang aku mau melihat gubuk Nenek, gubukku."
Semua mata di Dukuh Paruk menatap ke sana ketika Rasus berjalan makin lambat dan kemudian berhenti di depan gubuk neneknya. Dia tidak segera masuk. Ditatapnya gubuk itu sambil termangu. Atapnya sudah tertutup daun-daun bambu yang jatuh dan mengering lalu melapuk. Ada beringin kecil mulai tumbuh di pinggir atap, akarnya seakan siap meremas keseluruhan gubuk yang sudah condong itu. Galur rumah rayap naik dari tanah sampai ke bubungan. Dinding bambunya yang sudah bolong di sana-sini tersaput hijau lumut.
Pintu dorongan berderak patah ketika Rasus menyorongnya agar terbuka. Rumah rayap berhamburan jatuh. Rasus harus menyipitkan mata agar tanah dan serpih-serpih kecil tidak melumpuhkan pandangannya. Lantai rumah hijau oleh lumut serta berlubang-lubang oleh gangsir yang bersarang. Seekor si kaki seribu berjalan lambat di dekat tiang kayu yang mulai ringsek. Rasus membersihkan muka yang terjaring ramat ketika melangkah masuk.
Sebuah dunia kecil telah lama berakhir dan kini tinggal remahnya. Sebuah lincak yang dulu menjadi tempat tidur Rasus pun kini telah menjadi remah. Di atas pelupuhnya bertaburan segala tahi, dari tahi ngengat, tahi cicak sampai tahi tikus. Rasus mencoba membersihkannya dengan topi lapangan yang bertengger di kepala. Tidak bisa bersih sempurna, namun Rasus menurunkan ransel untuk diletakkan di atas lincak itu yang berderik hebat ketika Rasus menindih dengan tubuhnya.
Berbantal ransel Rasus berbaring menengadah. Matanya tertutup seakan tak kuasa lebih lama menatap sarang tua yang lebih lima belas tahun dihuninya, rahim yang telah menetaskannya menjadi warga kehidupan. Ada keresek kadal lari di atas atap yang penuh sampah kering. Sesaat kemudian terdengar kegaduban di kayu bubungan. Seekor tikus mencicit dan sia-sia membebaskan diri dari gigitan ular ubi yang mulai menggulungnya.
Rasus terus memejamkan mata. Boleh jadi demi menahan tetes air matanya. Atau demi seribu kenangan yang hidup kembali dengan jelasnya. Mungkin juga demi ingatannya kepada Srintil yang mendadak muncul di depan mata. Kemarin ketika berangkat dari tempat tugasnya Rasus tidak menduga akan bertemu Srintil di Dukuh Paruk karena menyangka dia masih dalam tahanan.
Anak-anak merasa heran ada tentara masuk bahkan tiduran di dalam gubuk suwung. Mereka datang dan berdiri berkeliling di halaman, berbisik-bisik dan ada yang mengintip ke dalam. Tetapi anak Sakum, yang terbesar di antara belasan anak itu dengan bangga menerangkan kepada teman-temannya siapa tentara yang berada di dalam itu. Semua tercengang hampir ta
k percaya bahwa Rasus sama seperti mereka, anak Dukuh Paruk yang sebenar-benarnya.
"Jadi Pak Tentara itu saudara kita juga. Dulu, inilah rumahnya," kata anak Sakum. Wajah semua anak berseri-seri.
Beruntung Rasus mendengar cakap anak-anak itu sehingga pikiran yang sedang mengawang perlahan-lahan mengendap kembali. Ya, anak-anak. Kasihan mereka tidak mengenal siapa aku, pikir Rasus. Dia bangun lalu berjalan ke luar dengan senyum. Tetapi semua anak hendak berlari dan baru berhenti ketika Rasus memanggil mereka berulang-ulang. "Kemarilah, Anak-anak. Aku ingin bicara dengan kalian."
Anak-anak berhimpun kembali. Dengan canggung mereka berbalik berjalan mendekati Rasus. Namun Rasus sendiri bimbang hendak berbicara tentang apa dengan anak-anak yang bertelanjang badan itu.
"Ah, begini, Anak-anak. Sekarang sedang musim permainan apa""
Tak ada yang menjawab. Tetapi seorang anak yang memegang layang-layang daun gadung menggerakkan tangannya.
"Ya, sekarang kemarau. Kalian suka main layang-layang""
"Ya, Pak." Rasus menghitung anak-anak itu. Lelaki ada delapan, perempuan tiga. Anak lelaki yang paling besar disuruh maju.
"Kamu lari ke Dawuan membeli delapan layang-layang dengan benangnya. Ini uang. Kalian yang perempuan suka main apa""
Tak ada jawaban. "Baik. Kalian boleh bermain bola karet. Belilah tiga buah, ini uangnya."
Ada kegembiraan luar biasa di halaman gubuk kosong itu. Anak-anak perempuan lari berlompatan setelah menerima uang dari tangan Rasus. Yang laki-laki berjingkrakan karena sebentar lagi mereka akan memiliki sebuah layang-layang kertas, bukan layang-layang daun gadung yang bertali rami batang pisang. Rasus masuk ke gubuk dan mengambil pisau tentara dari dalam ransel.
"Mari, Anak-anak, aku pun masih suka bermain. Lihatlah."
Mata Rasus berkeliling mencari bahan sasaran. Sebuah batang pisang kepok. Pisaunya dilempar ke sana, menghunjam masuk sampai ke gagangnya. Mata anak-anak terbeliak. Mulut mereka membentuk bulatan. Sedetik kemudian sorak-sorai mereka meledak. Rasus mengulang permainannya beberapa kali lagi. Kadang dia melemparkan pisaunya setelah lebih dulu membuat gerakan jungkir balik di udara. Anak-anak kelihatan menahan napas. Mereka sulit percaya balawa tentara yang tangkas itu benar-benar orang Dukuh Paruk. Terakhir Rasus memegang pisau pada ujungnya lalu menjatuhkannya lurus ke tanah. Pada saat terakhir kakinya mengayun menendang gagang pisau itu dengan sepatunya. Sekali lagi batang pisang kepok di sana merasakan tusukan yang keras dan jitu. Kali ini anak-anak membisu. Mulut mereka terkunci oleh rasa kagum. Anak-anak meminta Rasus meneruskan permainannya. Namun dengan halus Rasus menolak. Tiba-tiba saja semangatnya jatuh. Rasus teringat seorang teman
yang pernah bermain pisau seperti itu. Bedanya bukan batang pisang yang dijadikan sasaran, melainkan seorang manusia yang terikat kedua tangannya. Rasus memejamkan mata tanpa dimengerti oleh anak-anak yang mengelilinginya.
Episode 31 Anak Sakum yang berlari ke pasar Dawuan untuk membeli layang-layang telah kembali. Delapan layangan lengkap dengan benangnya diserahkan kepada Rasus.
"Bagi saja, seorang satu."
Rasus melepas sepatu dan bajunya lalu menggiring anak-anak ke sawah di utara pedukuhan. Angin kemarau bertiup dari tenggara, mengapungkan delapan layang-layang aneka warna tinggi di udara. Kegembiraan siang itu adalah ceria yang sudah sekian lama tidak terjadi di Dukuh Paruk. Rasus sendiri tidak ikut turun ke sawah. Dia berdiri bersilang tangan di tepi dukuh, menatap anak-anak dengan wajah berseri, menatap bagian masa lalunya yang paling mengesankan.
Satu-satu orang dewasa berdatangan, berdiri mengelilingi Rasus. Mereka terlarut dalam kekangenan dan keakraban yang menyatu ditambah dengan ceria anak-anak yang sedang bermain layang-layang di tengah sawah. Lama-kelamaan hampir semua orang Dukuh Paruk muncul di tepi pedukuhan itu. Dalam diam dan dengan pandangan mata mereka menyatakan bangga mempunyai Rasus yang masih tetap berhati Dukuh Paruk, terbukti dengan keakrabannya yang tanpa cela terhadap anak-anak itu.
Rasus memutar tubuh membelakangi sawah agar bisa mela
yani percakapan orang-orang sepuaknya. Dan dia tidak melihat Srintil. Hati ingin bertanya di mana dia, tetapi bibirnya tak mau bicara. Rasus hanya bisa menduga-duga, Srintil sedang menerima tamunya, orang Jakarta. Siapa tahu.
Tidak. Srintil masih duduk seorang diri. Dia sedang merasakan perihnya hati yang terbelah, ditarik oleh dua kekuatan yang saling berlawanan arah. Dari balik dinding berjeruji bambu Srintil melihat orang-orang yang berjalan hendak menemui Rasus. Bahkan sesudah menggeser kursinya Srintil dapat melihat Rasus sedang dikerumuni oleh orang-orang Dukuh Paruk. Di antara semua warga Dukuh Paruk akulah yang mempunyai catatan paling pribadi tentang Rasus. Dan mudah-mudahan dia pun tidak menghapus catatan itu di hatinya. Tetapi mengapa aku tetap di sini"
Sudah beberapa kali Srintil mencoba melepaskan diri dari kungkungan khayali agar dapat segera lari menjelang Rasus. Namun setiap kali hendak bangkit rasa takut menghenyakkannya kembali ke kursi. Diketahuinya Sakum telah mengatakan banyak hal kepada Rasus. Dan dia sudah tahu bahwa hari ini atau besok akan datang seseorang dari Jakarta ke rumah Srintil. Dalam kebimbangan hati Srintil sadar bahwa tanpa sengaja telah tercipta jarak tertentu antara dirinya dengan Rasus justru ketika keduanya sangat berdekatan.
Mengapa dalam kehidupan ini sering terjadi letupan di luar kendali kesadaran ketika suatu ketegangan telah mencapai titik kritisnya. Seperti letupan polong orok-orok kering menyebar biji, begitu mendadak sehingga sulit diterka waktunya secara tepat.
Tiba-tiba sebuah motivasi praktis menggugah Srintil bangkit. Entah kapan lagi aku dapat melihat anak liar itu kembali ke Dukuh Paruk. Aku harus menemuinya, sekarang! Srintil berdiri diam sejenak. Matanya mengambang dan bibirnya lurus rapat. Kemudian dia bergerak setengah berlari menuju orang-orang yang sedang mengerumuni Rasus. Beberapa pasang mata melihat kedatangannya. Beberapa mulut siap berkata sesuatu namun semuanya hanya berhenti sampai pada niat. Tentang sejarah hubungan antara Srintil dan Rasus, Dukuh Paruk sudah mengetahuinya. Bukan hanya tahu sosok lahir serta sifat hubungan itu, melainkan sampai pada rohnya. Dulu sebagian nilai Dukuh Paruk tidak menghendaki hubungan terjadi lebih lanjut antara Srintil dan Rasus karena perkawinan antara keduanya akan membahayakan sendi utama kehidupan pedukuhan itu: ronggeng.
Kini zaman telah membawa perubahan besar. Dukuh Paruk baru saja dihukum oleh sejarah sehingga kini dalam keadaan yang paling kocar-kacir. Dukuh Paruk telah kehilangan harga dirinya, kebanggaannya dan kamituanya. Dalam keguncangan seperti ini Dukuh Paruk hanya mempunyai sisa harapan pada Rasus. Dia tentara, dengan demikian sangat dekat dengan kekuasaan. Atau dalam wawasan Dukuh Paruk tentara adalah kekuasaan itu sendiri. Maka Rasus yang tentara adalah harapan perlindungan, dan panutan. Dan Rasus hanya bisa memenuhi harapan itu bila dia tetap tinggal di Dukuh Paruk. Kunci utamanya terletak pada kesetiaan Rasus kepada tanah airnya yang kecil itu.
Semua orang diam menunggu adakah pertanda kesetiaan Rasus terhadap Dukuh Paruk. Sikapnya terhadap Srintil adalah sasmita yang paling sah untuk mengukur sampai di mana rasa senasib-sepenanggungan Rasus terhadap puaknya yang sedang berada dalam puncak kesengsaraan. Karena Srintil adalah titik yang paling layak untuk menambat agar Rasus tetap berada di Dukuh Paruk untuk dijadikan pelindung dan pengayoman.
Jelas sekali Rasus tidak siap berhadapan dengan Srintil. Dia kelihatan gugup melihat Srintil yang melangkah makin dekat dengan mata sayu dan mulut sedikit terbuka. Tetapi tiba-tiba Srintil mengubah arah jalannya. Dia membelok menyerbu Tampi. Goder yang sedang berada di punggung Tampi didaulat kemudian dipeluknya erat-erat. Tangisnya tertahan-tahan.
Rasus tahu, Srintil tahu, semua orang tahu makna bahasa suasana. Tanpa sepotong kata pun semua mengerti siapa mengharap, siapa diharap, dan buat apa harapan. Mereka juga menyadari Srintil adalah duta Dukuh Paruk yang memikul tugas mempertahankan putra terbaiknya agar sebisa-bisa tidak pergi lagi meninggalkan puak. Duku
h Paruk sangat berharap kedua anak kesayangannya bermanis-manis lagi seperti ketika keduanya masih amat belia. Dan Dukuh Paruk sangat yakin Srintil lebih dari berkelayakan menjadi istri Rasus.
Sebuah rapat akbar yang penuh makna tetapi berlangsung bisu. Hanya ada pundak-pundak kaum telaki yang jatuh, serta kaum perempuan yang mengusap mata. Rasus yang berdiri beku dan Srintil yang terus mengisak sambil merapatkan Goder ke dadanya. Dukuh Paruk diam menanti peruntungan. Orangnya satu per satu pergi meninggalkan Srintil dan Rasus. Mereka ingin membantu proses lahirnya sebuah harapan dengan menciptakan suasana pribadi bagi dua anak manusia yang didamba mampu dan mau memangku kelestarian Dukuh Paruk. Orang Dukuh Paruk kemudian melihat dengan perhatian penuh ketika akhirnya Rasus bergerak. Srintil dibimbing
pada pundaknya. Keduanya berjalan lambat-lambat menuju rumah Srintil. Mulut mereka lestari rapat.
Sampai di rumah Rasus mendudukkan Srintil di atas lincak. Dia sendiri mengambil kursi lalu menjatuhkan diri tanpa semangat. Diperhatikannya Srintil yang masih sibuk dengan air matanya. Sosoknya yang sudah matang sempurna, cambang halus yang menghias kedua tepi pipinya, masih seperti delapan tahun yang lalu ketika Srintil baru enam belas tahun. Ketika itu beberapa malam Srintil dan Rasus tidur bersama di rumah Nenek yang kini sudah menjadi gubuk doyong. Srintil juga masih ingat betul waktu itu suatu pagi dia mendapati Rasus telah lenyap tanpa pamit.
Serpih-serpih kenangan yang melintas bersama dalam hati Srintil dan Rasus malah membuat keduanya makin tenggelam dalam diam. Boleh jadi kebisuan makin berkepanjangan bila Nyai Sakarya tidak muncul dari dalam.
Episode 32 "Kudengar si Rasus datang. Kaukah itu, Wong Bagus""
"Ah, ya, Nek. Aku Rasus."
"Mataku tidak awas lagi. Kau baik-baik saja""
"Beginilah, Nek. Aku sehat sehingga bisa kembali melihat Dukuh Paruk." "Mestinya kamu sudah gagah sekarang. Sudah punya istri"" "Ah, Nek. Belum. Aku belum bertemu jodoh rupanya."
"Bukan begitu, Wong Bagus. Kamu hanya tidak nrimo pandum. Sejak kanak-kanak kamu sudah dipertemukan dengan jodohmu. Dukuh Paruk sudah memberikan pertanda Srintil adalah jodohmu. Dan kamu tidak menyukai pepesthen ini""
"Nek!... " Srintil bangkit hendak menghentikan ucapan Nyai Sakarya. Namun gerakannya terhenti pada sikap setengah berdiri. Lalu duduk lagi dan tersedu lagi. Rasus pun terkejut sehingga sukar baginya menanggapi ucapan Nyai Sakarya. Dia hanya tercengang, menatap wajah nenek Srintil itu dengan mata tak berkedip. Rasus merasa seperti seekor laron yang terbang menabrak ramat laba-laba. Tidak. Rasus merasa seperti burung yang hinggap di atas cabang berlumur getah keluwih. Ah, tidak juga. Dia merasa seperti seorang anak yang berjingkat-jingkat membuat jalan pintas melalui kebun orang untuk menghindari jalan memutar yang lebih panjang. Tetapi tiba-tiba si empunya kebun menegurnya dari belakang dengan senyum sambil menunjukkan jalan benar yang harus ditempuhnya.
"Eh, Cucuku Wong Bagus dan Wong Ayu. Aku hanya mengutarakan perasaan seorang nenek tua. Rasa, Cucuku. Memang, rasanya kalian sudah diperjodohkan oleh Dukuh Paruk sendiri. Namun hendaknya kalian jangan salah mengerti. Sebab ternyata dalam kehidupan ini banyak orang yang tidak menyukai pandum."
"Nek, sudahlah. Aku malu, Nek," ujar Srintil di antara isaknya. "Lebih baik, Nek, tolong antarkan Goder ini ke rumah Tampi."
Nyai Sakarya menurut lalu mengambil Goder dari tangan Srintil. Wajahnya tenang sempurna, tak terlihat kesan dia baru saja berkata tentang perkara yang dalam sehingga mengguncang dua hati manusia. Rasus masih diam. Mata dan garis-garis wajahnya adalah gambar kebuntuan. Duduknya gelisah.
"Kang, maafkan nenekku, ya," kata Srintil lirih sekali. "Nenekku sudah tua sekali sehingga dia lupa bahwa seorang seperti aku ini harus gedhe rumangsane, harus tahu diri. Berangan yang bukan-bukan sungguh memalukan. Kang, aku malu kepadamu."
Rasus menggeleng-gelengkan kepala tanpa makna yang jelas. Senyumnya sama dengan gambar keseluruhan wajahnya; kebuntuan. Dan boleh jadi Rasus tidak sadar sepenuhnya ketika dia
bergumam, "Persoalannya hanya karena sampai hari ini aku belum pernah memikirkan tentang kawin, dan tentang siapa yang mungkin akan kukawini. Bahkan tentang dirimu, Srin. Aku baru tahu bahwa kau sudah kembali karena Kang Sakum mengatakannya kepadaku tadi pagi."
"Ya, Kang. Aku pun tidak akan berani berkhayal bahwa diriku bisa menjadi alasan kepulanganmu kemari. Sekarang ini apalah arti diriku, Kang."
"Ah, Srin. Sesungguhnya kau tak perlu terus berkata dengan nada seperti itu. Zaman memang selalu berubah-ubah. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Lebih baik kita bersyukur. Kita selamat dan kita sudah kembali ke rumah sendiri. Kemudian, Srin, aku minta diri. Aku belum mandi sejak kemarin sore."
"Kang"" "Aku masih sehari dan semalam di sini."
"Kang, nanti dulu. Aku punya jeruk dan pepaya."
"Jangan, jangan. Aku sudah tahu engkau punya jeruk dan pepaya. Tetapi aku mau mandi sekarang. Ke pancuran."
'Jeruk dan pepaya' malah membuat Srintil sulit berkata-kata. Dia hanya mampu membuka mulut ketika melihat Rasus melangkahi pintu. Pundaknya yang kokoh amat berkesan di hati Srintil.
"Kapan kau kemari lagi, Kang""
Rasus tak menjawab. Menoleh pun tidak. Dia sudah didaulat oleh Kartareja dan istrinya. Ada puting beliung berkisar-kisar dalam dada Srintil, runcing dan menukik menusuk jantungnya. Duh, Pangeran, kehidupan ini penuh manusia. Tetapi mengapa aku tinggal seorang diri"
Sementara Srintil masuk dan menelungkupkan diri di kamar, Rasus berjalan sambil menunduk menuju gubuk doyong. Sampai di halaman lagi-lagi Rasus berdiri buat menatap bekas sarangnya di masa kanak-kanak. Lalu masuk. Hanya dengan ketrampilan yang khas maka pintu gubuk itu tidak roboh ketika dibuka. Dikeluarkannya perlengkapan mandi dari dalam ransel kemudian Rasus keluar menuju pancuran.
Keadaannya masih utuh seperti dulu ketika Rasus mandi di pancuran itu sehari sekali, ketika sebagai anak-anak dia mulai belajar membedakan tubuh lelaki dan tubuh perempuan. Juga masih seperti dulu bila kemarau pancuran mengecil tetapi lebih bening. Batu besar dan pipih yang menjadi penumpu air pancuran mungkin tak tergeser semili pun. Air yang jatuh merupakan batang kristal lengkung. Tepat di permukaan batu kristal itu pecah menjadi ribuan percik air yang melompat divergen. Dan sinar matahari yang menembus celah pepohonan jatuh di atas ribuan percik lalu terbias menjadi bianglala.
Sayang jiwa Rasus berada dalam keadaan kurang peka terhadap keindahan di pancuran. Dia hanya ingin membersihkan diri dari daki yang membuat badannya terasa kurang segar. Ketika pulang ke gubuk Rasus melihat Nyai Kartareja sudah di sana. Ada dua piring, satu berisi nasi dan yang lain lauknya.
"Bila pulang ke Dukuh Paruk jangan khawatir soal makan. Sudah ada yang siap olah-olah, ngumbah-umbah, dan melumah. He... he. Ah, maafkan saya. Ini ada kiriman dari Srintil. Hanya dia yang sampai saat ini mampu menanak nasi. Dan jangan takut, karena tak ada apa-apanya. Aku tidak menaruh pekasih di situ."
"Ada pekasihnya pun akan saya makan, Nyai. Aku memang sudah lapar."
"Nah Srintil akan berhenti menangis bila sampean mau makan. Silakan. Aku mau mengambil airnya." Rasus tersenyum melihat ulah Nyai Kartareja berjalan cepat dan girang seperti anak kecil. Handuk disampirkannya pada pelepah pisang di halaman. Baju dan celananya diganti, dan menyisir rambut. Sebuah kain sarung digelar di atas tanah dekat lincak. Rasus bersembahyang.
Nyai Kartareja datang lagi bukan hanya membawa gelas dan teko, melainkan juga jeruk dan pepaya yang sudah dikupas.
"Yang ini juga tidak saya guna-gunai, dan Srintil akan menangis lagi bila sampean tak man memakannya."
"Nasi dan lauknya akan saya makan dengan segala senang hati. Tetapi jeruk dan pepaya akan saya makan dengan sungkan."
Episode 33 "Ah, aku tahu. Memang Srintil membeli buah-buahan ini semula bukan untuk sampean. Nah, soalnya dia tidak tahu sampean mau pulang hari ini. Bila tahu bisa jadi Srintil bahkan membeli juga sate dan gulai kambing khusus buat sampean. Siapa pun lainnya tidak lagi penting, tidak juga bakal tamunya orang Jakarta itu."
"Kau memang pintar bicara, Nyai. Baiklah. S
ekarang kembalilah ke rumah Srintil. Katakan kepadanya aku sangat berterima kasih."
Anak-anak masih bersuka-ria dengan permainan yang selama hidup baru mereka miliki, layang-layang kertas. Rasus seorang diri jongkok memperhatikan anak-anak Dukuh Paruk yang sedang menikmati kegembiraan. Badannya terasa segar sesudah mandi, apalagi dengan perut berisi sepiring nasi dan buah-buahan. Kegembiraan di tengah sawah mengimbas ke dalam hati Rasus; dia tersenyum bila melihat anak-anak bertingkah lucu karena riang. Kepala Rasus kadang memiring ke kiri atau ke kanan mengikuti lenggang-lenggok layangan di angkasa. Apabila angin mereda anak-anak tanpa aba-aba serempak berseru, simpe-simpe undangna barat gedhe, tak upahi banyu tape, ora entong nggo mengke. Iramanya tinggi dan datar. Karena anak-anak itu berseru berulang-ulang bibir Rasus komat-kamit mengikuti paduan suara. Ketika tersadar Rasus tersenyum. Lucu, seorang tentara merasa terlalu jauh masuk kembali ke dalam dunia anak-anak.
Rasus bangkit lalu berjalan ke barat tanpa tujuan yang pasti. Matanya menangkap tiga titik yang bergerak sepanjang pematang yang menuju Dukuh Paruk. Makin lama ketiga titik itu jelas menjadi sosok manusia. Yang terdepan mengenakan topi helm, baju dan celananya berwarna terang. Dua yang di belakang masing-masing memakai topi lapangan, berjaket. Sekilas Rasus bisa memastikan mereka adalah orang luar. Dan sekilas pula Rasus menduga mereka adalah laki-laki yang akan bertamu ke rumah Srintil. Dalam hati Rasus terasa ada garis batas hegemoni yang terlangkahi. Ada batas keakuan Dukuh Paruk yang terlintasi; suatu dorongan primitif yang mengusik harga diri seperti seekor binatang yang siap berlaga ketika wilayah pribadinya dijamah binatang lain. Lama sekali Rasus berdiri tegang, matanya menatap tajam ke depan. Napasnya makin pendek ketika kepastian makin jelas bahwa ketiga laki-laki itu menuju ke rumah Srintil. Tubuh Rasus bergoyang ingin bergerak ke depan. Tetapi tiba-tiba Rasus berbalik dan berjalan setengah berlari menuju sawah. Diambilnya tali layang-layang dari tangan seorang anak, lalu memainkannya penuh semangat. Kebimbangannya adalah lenggang-lenggok delapan layang-layang yang meliuk-liuk tinggi di angkasa. Anak-anak bersorai riuh. Rasus tersenyum. Senyum paling sulit yang dia lakukan selama dua puluh enam tahun usianya.
Bajus datang bersama Tamir dan Diding. Dengan datang bertiga Bajus ingin memberi tekanan kepada kata-katanya sendiri kemarin bahwa dia hanya ingin berkenalan dengan Srintil. Tamir yang mengucap salam dibalas oleh Nyai Sakarya. Dari dalam biliknya Srintil mendengar percakapan di luar. Dan tahu tamunya telah datang. Bantal dipeluknya makin erat dan tubuhnya makin menyatu dengan tikar pandan. Suara Nyai Sakarya terdengar galau di telinganya.
"Wong Ayu, bangun. Tamumu sudah datang." Srintil hanya menggerak-gerakkan kakinya.


Jentara Bianglala Karya Ahmad Tohari di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bangun, Cucuku. Itu lho, mereka sudah duduk di depan."
Terdengar keluh tertahan ketika Srintil menggeliat dan duduk di pinggir balai-balai. Matanya merah menatap kosong ke depan. Tanpa merapikan rambut yang tergerai ke depan Srintil berdiri dan melangkah. Geraknya seperti didorong oleh kekuatan di luar dirinya. Di depan ketiga orang tamunya Srintil berusaha tersenyum. Tetapi tiga laki-
laki itu pertama-tama menyambutnya dengan kernyitan alis. Mereka memperoleh kesan kuat, Srintil tidak siap menerima tamu.
"Selamat datang, Pak Bajus. Juga sampean berdua," suara Srintil parau.
"Terima kasih. Ah, tetapi nanti dulu. Engkau pucat sekali. Sakit"" kata Bajus.
"Hanya kurang enak badan, Pak. Boleh jadi karena kemarin saya berpanasan ketika pulang dari balai desa."
"Tetapi kamu sakit," kata Bajus sambil menyender ke belakang. Terlihat kesan dia kecewa.
"Begini, Pak," sela Tamir. "Nanti kita sekalian singgah ke dokter agar Mbakyu ini bisa berobat."
Diam. Bajus mengangguk-angguk kosong. Srintil kelihatan bingung mendengar ucapan Tamir. Dia merasa ada sebuah rencana yang melibatkan dirinya telah disusun oleh Bajus dan kedua temannya.
"Sebetulnya, Srin. Kami bertiga ingin mengajakmu berjalan-jalan ke kota Eling-eling. Mobilku cukup buat
kita berempat." "Ah, Pak... " "Hanya berjalan-jalan. Atau nonton film bila kamu suka. Kamu percaya akan kata-kataku kemarin, bukan""
"Yang bagaimana, Pak" Oh ya, aku ingat."
"Ya. Aku tidak bermaksud berbuat yang macam-macam. Bukan seperti Tamir ketika datang kemari beberapa hari yang lalu. Tengik dia. Tetapi bila bersamaku dia harus jinak."
"Benar, Mbakyu. Maafkan saya yang sembrono kemarin. Sekarang saya sudah jinak." "Terima kasih, Pak. Tetapi Bapak melihat sendiri saya tidak mungkin pergi." "Maksudku, bagaimana bila kita sekalian mampir berobat"" "Maaf, saya tidak biasa minum obat. Saya biasa minum jamu." "Nah, kita ke depot jamu," ujar Tamir.
"Tidak. Biarlah saya sendiri besok membelinya di pasar Dawuan. Badanku sungguh terasa tidak enak. Bila pergi jauh-jauh saya khawatir akan menjadi sakit sungguh-sungguh."
"Yah, bagaimanapun juga Srintil memang benar," kata Bajus. "Memang dia tidak sehat. Jadi kita tidak usah pergi ke mana pun. Kita ngobrol saja di sini."
Tamir nyengir, senyumnya pahit. Srintil juga tersenyum namun hanya kedua sudut bibirnya yang meruncing.
"Nanti sajalah bila semuanya baik, kita bisa pergi ke pantai selatan atau nonton. Kamu mau bukan, Srin""
"Anu, Pak. Entahlah. Saya takut. Ah, orang seperti saya ini harus tenang di rumah. Rumangsa!"
"Aku sudah mengerti mengapa demikian perasaanmu. Tetapi rasanya kamu tak perlu memperturutkan perasaan itu. Apalagi takut. Dan tentang perkenalanku dengan kamu secara tidak langsung aku sudah memberi tahu kepada camat dan polisi. Sudahlah, pokoknya aku tidak ingin membuatmu mendapat kesulitan apa pun."
"Setuju, Pak. Nah, sekarang, ketika Mbakyu Srintil ini sedang sakit apakah kita akan menyulitkan dia dengan cara mengajak ngobrol kosong"" kata Tamir dan tertawa lebar.
"Tentu saja tidak. Karena sudah kenal maka apa salahnya kita bercakap sebentar."
Episode 34 Namun ngobrol yang dikehendaki oleh Bajus tidak berjalan lancar. Hampir setengah jam lamanya Srintil hanya menjadi pendengar. Wajahnya lestari pucat dan matanya kuyu. Kegelisahan hatinya tidak bisa disembunyikan. Di mata ketiga tamunya Srintil benar-benar kelihatan sakit. Ketika tamu-tamunya minta diri Srintil mengantar mereka sampai ke pintu, tanpa basa-basi kecuali sebuah senyum tipis. Perilaku sederhana itu adalah ketidaksengajaan yang memperkuat pernyataan Sakum bahwa Srintil bukan lagi seorang ronggeng yang biasanya menggunakan senjata senyum untuk menundukkan hati laki-laki.
Malam hari Rasus berada di rumah Sakum setelah makan malam seadanya di rumah Kartareja. Gubuknya yang doyong ditinggalkan. Beruntung Rasus menemukan sebuah pelita tua, mengisinya dengan sedikit minyak di rumah tetangga lalu menyalakannya. Gubuk yang selalu gelap sejak kematian Nenek Rasus beberapa tahun yang lalu kini berisi cahaya kelip-kelip. Sakum hanya tinggal bersama istri dan anaknya yang paling kecil. Tiga orang anaknya yang lebih besar sedang mencari serangga di sawah. Tak ada meja-kursi. Rasus dan Sakum duduk di atas lincak. Kepala Sakum diliputi asap rokoknya yang mengepul tiada henti.
"Bagaimana, Mas Tentara. Sampean sudah pikirkan kata-kata saya kemarin"" tanya Sakum.
"Kawin"" "Ya. Kan sampean sudah cukup usia. Dan Srintil itu, lho!"
Rasus mendesah. Pertanyaan Sakum adalah masalah yang tiba-tiba saja menghadang sejak beberapa jam yang lalu. Rasus merasa tidak mudah menjawabnya atau menyingkirkannya begitu saja.
"Entahlah, Kang."
Rasus mendesah lagi. Mata Sakum yang keropos berkedip cepat. Dan aneh, Sakum kelihatan tidak terganggu oleh asap tebal yang mengelilingi wajahnya.
"Tetapi sampean sudah percaya bahwa Srintil bukan ronggeng lagi, bukan""
Sosok Srintil tiba-tiba muncul demikian jelas di mata Rasus. Srintil sekarang. Tubuh yang matang penuh dan kediriannya yang jelas sudah berubah. Srintil yang menangis karena tidak tahu lagi siapa dirinya dan Srintil yang kelihatan ingin meraih tempat yang paling sempit sekalipun di tengah kehidupan. Dan Srintil yang telah ikut berperan dalam membentuk sejarah Rasus sendiri. Mata Srintil yang telah kehilangan daya tantang; mataharinya telah berubah menjadi bulan yang redup. Senyumn
ya tidak lagi seperti lambaian berahi; kumbang yang liar telah berubah menjadi kupu-kupu yang jinak memelas.
"Ah, kok diam, Pak Tentara"" tanya Sakum mengetuk hati Rasus. "Ya, Kang Sakum. Aku tidak bisa bicara apa-apa." "Tidak bisa berkata apa-apa. Mengapa, Mas Tentara""
"Anu, Kang. Lusa saya akan berangkat tugas ke Kalimantan. Pokoknya saya tidak bisa apa-apa."
"Tetapi... " "Tidak ada tetapi. Aku mungkin lama di luar Jawa. Mungkin satu, dua, atau entah berapa tahun. Dengan demikian... "
"Mbok begini saja. Tugas ya tugas. Tetapi sampean harus merasa kasihan terhadap kami di Dukuh Paruk. Berjanjilah suatu saat nanti sampean akan mengawini Srintil. Yang demikian itu sudah lebih dari cukup buat membesarkan hati bukan hanya Srintil, melainkan semua orang Dukuh Paruk. Lagi pula apakah perasaanku salah bahwa sampean masih suka terhadap Srintil""
Siluman Pemburu Perawan 1 Sang Ratu Tawon Pendekar 4 Alis Seri 9 Karya Khulung Pendekar Aneh Naga Langit 42
^