Pencarian

Let Go 2

Let Go Karya Windhy Puspitadewi Bagian 2


"Denger, ya!" katanya dengan nada tinggi. "Aku nggak tahu, kamu menolak pertolonganku karena kamu pikir bisa mengerjakan ini semua atau karena kamu pikir aku mungkin cuma bakal mengacaukannya. Tapi, kalau aku nggak bantu, kamu bukan cuma bakal pulang malam, tapi kamu-bahkan-bakal pulang pagi!" Raka menatap Nadya. "Dan, kamu cewek!" tambahnya. "Toh, walaupun aku yakin kamu bisa jaga diri, kamu seharusnya jaga nama baikmu juga!"
Wajah Nadya memucat, sepertinya dia tidak menyangka akan diberi reaksi seperti itu. Raka menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan diri. Lalu, dia mengambil lagi tumpukan kertas yang tadi dia banting dan mulai mengetik. Setelah itu nggak ada satu pun dari mereka berdua yang bersuara.
"Aku..." kata Nadya kemudian dengan suara tercekat. "Aku pengin melakukan semuanya dan aku pikir, aku emang bisa melakukan semuanya."
Raka menoleh menatapnya. Mata cewek itu mulai berkaca-kaca.
"Awalnya, aku yakin aku bisa," katanya. "Tapi, sekarang, aku sadar, aku salah."
Dia tersenyum getir seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Ternyata, aku nggak sehebat yang kupikir," katanya lirih. "Ternyata, aku lemah. Mengerjakan hal-hal sepele aja aku nggak bisa... Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal hebat. Bodoh banget kalau aku ingin diakui sebagai orang yang hebat."
Raka menghela napas. "Kamu nggak lemah," katanya lalu tersenyum. "Kamu cuma lupa meminta tolong."
Begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan Raka, air mata Nadya langsung menetes. Raka menyodorkan tisu di atas me
ja. Melihat Nadya menangis, Raka teringat puisi yang dibuat oleh Sarah: "Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, tetapi karena dia sudah nggak sanggup berpura-pura kuat."
* * * - 9 - "Raka," kata sang Mama sebelum berangkat ke kantor. "Tahun ini, kamu mau, kan, ngunjungi papamu""
Raka tertegun. Roti yang sudah digigitnya tidak jadi tertelan.
"Sudah dua tahun, Raka," lanjut sang Mama. "Dan, kamu belum pernah menemuinya sejak dia pergi."
Raka masih bergeming. "Kali ini, anggap saja kamu melakukannya demi Mama."
Raka bangkit dari tempat duduknya, menyambar koran yang ada di meja makan.
"Aku akan menemuinya kalau aku sudah siap," kata Raka sambil pergi menuju tangga.
*** Saat sampai di tempat parkir sekolahnya, Raka mendapati Sarah sudah berdiri di sana dan langsung berlari menghampirinya.
"Ada apa"" tanya Raka sambil melepas helm.
Sarah menggeleng. "Nggak, aku cuma ingin kamu melihat ini."
Cewek itu menyodorkan beberapa lembar kertas.
"Ini apa"" tanya Raka bingung.
"Esai buat lomba yang udah diperbaiki Nathan," jawab Sarah dengan wajah berseri-seri. "Aku baru aja menyelesaikannya tadi malam dan aku nggak sabar nunjukin sama kamu."
"Kenapa"" "Eh"" Sarah tampak terkejut. Wajahnya tiba-tiba memerah.
"A-aku..." dia tergagap, "ka-karena kamu yang mendorongku, jadi a-aku mau kamu jadi orang pertama yang baca, sebelum aku kirim."
"Ooh..." Raka manggut-manggut. "Bukannya lebih baik kamu minta bantuan Bu Ratna dulu sebagai guru pembimbing""
"Be-benar juga, ya," kata Sarah sambil tersenyum kikuk.
"Aku baca sambil jalan ke kelas aja, ya."
Sarah mengangguk. Karena terlalu tenggelam dalam tulisan yang dibaca, hampir saja Raka melewati ruang kelasnya sendiri.
"Raka!" Sarah menarik tangan Raka. "Kelas kita di sini."
Raka menoleh. "Hah""
"Ke-kelas kita..." Sarah tidak meneruskan ucapannya, dia sepertinya kaget sendiri melihat tangannya menggenggam tangan cowok itu.
"Ma-maaf! Maaf!" katanya sambil melepaskan genggamannya. Wajahnya langsung berubah merah padam. "Aku nggak maksud..."
Melihat wajah cewek itu, Raka tidak bisa menahan tawa. "Mukamu lucu banget, sih!"
Sarah tidak mengatakan apa-apa, tapi wajahnya semakin memerah. Dia malu setengah mati.
"Sori, sori..." kata Raka setelah berhasil mencoba meredam rasa gelinya. Dia berdehem beberapa kali. "Ini masterpiece," katanya serius, sambil mengacungkan kertas-kertas yang berisi tulisan Sarah. "Aku yakin kamu bisa menang. Kalau kamu nggak menang, berarti tuh juri pasti perlu kacamata baru."
Sarah tersenyum. Wajahnya memerah, tapi kali ini lebih karena senang.
"Masih perlu pendapat kedua"" tanya Raka. "Soalnya, aku yakin kamu nggak akan percaya seratus persen apa pun yang keluar dari mulutku."
Sarah terkikik, lalu menggeleng.
"Sekarang..." katanya, "aku percaya, kok, apa pun yang Raka bilang."
Raka bersiul. "Kemajuan besar."
Sarah berbalik dan berjalan menuju mejanya dengan wajah yang masih tersipu.
*** "Ck-ck-ck... lady killer," komentar Dhihan begitu Raka mendekati meja.
"Maksudmu""
"Sarah suka sama kamu," kata Dhihan sambil menunjuk hidung temannya itu.
"Stop, ya," kata Raka, "jangan bikin aku jadi berharap."
"Lho, kamu suka juga"" tanya Dhihan antusias.
"Nggak tahu," jawabnya enteng.
Dhihan tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menghela napas. Nggak lama kemudian, tiba-tiba dia menegakkan badannya.
"Oh, ya!" serunya hingga Raka hampir terjatuh dari kursi.
"Apa"!" "Ada sesuatu yang aneh terjadi pagi ini," katanya serius. "Kamu mau tahu""
"Nggak," jawab Raka, tapi Dhihan tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan ceritanya.
"Pagi ini, tiba-tiba, Nadya nyamperin aku dan minta aku menjadi koordinator pelaksana buat acara ulang tahun sekolah kita nanti!"
Itu pasti halusinasi, batin Raka.
"Serius," kata Dhihan seakan-akan bisa membaca pikiran temannya itu. "It really happened!"
"Dan, kamu terima"" tanya Raka.
Dhihan mengangkat bahu. "Gimana lagi" Soalnya, dia minta tolongnya pake senyum segala, sih. Kakiku, kan,
langsung lemes." Raka manggut-manggut. "Ternyata, kalau senyum, Nadya manis banget, ya," lanjut Dhihan.
"Aku tahu," kata Raka tanpa sadar sambil membayangkan senyum Nadya yang sudah beberapa kali ditunjukkan cewek itu kepadanya.
"Hah"" Dhihan mengernyitkan dahi. "Kok bisa tahu" Kamu kan, nggak di sini tadi."
"Ah... oh... aku cuma ngebayangin aja."
Raka tidak habis pikir kenapa dia harus berbohong. Tapi, hati kecilnya berkata dia tidak ingin orang lain tahu kalau Nadya sudah memberikan lebih banyak senyuman kepadanya daripada ke yang lain. Dia merasa ini sangat pribadi dan ingin itu hanya jadi miliknya saja.
Dhihan mengalihkan pandangannya lurus ke depan, matanya menerawang. "Aku kayaknya jatuh cinta, deh."
"Sama Nadya""
Dia mengangguk. Raka mengernyitkan dahi. "Bukannya dulu kamu takut sama dia""
"Dulu, ya, dulu," kilahnya. "Apa yang terjadi barusan bikin aku sadar kalau ternyata dia manusiawi dan itu bikin dia menarik. Yah... juga karena pada dasarnya, dia emang cantik, hehehe..."
"Tapi, kayaknya, yang nge-fans sama dia bukan cuma kamu tuh," kata Raka sambil melirik ke meja Alfi.
"Hah"" Dhihan menelusuri sorot mata Raka dan melihat Alfi sedang memandangi Nadya dengan mata yang hampir tak berkedip.
"Waduh!" komentar Dhihan.
Raka tertawa. "Han," panggil Virgo.
"What"" Virgo menghampiri Dhihan. "Kapan nih, kita bikin tugas fisika"" tanyanya.
"Terserah kamu, deh," jawab Dhihan pasrah. "Nggak bikin juga nggak apa-apa."
"Penginnya, sih, juga gitu. Tapi, kamu mau nggak lulus"" sahut Virgo.
Dhihan mendesah. "Nasib... nasib..."
"Kalau habis latihan band gimana"" usul Virgo.
"Terserah kamu, deh..."
"Emangnya, kita udah mulai latihan"" tanya Raka.
"Iya, besok pukul setengah tujuh malam," jawab Dhihan. "Aku belum ngasih tahu, ya" Latihannya di studio deket rumahku, tapi kumpulnya di rumahku."
Raka menyipitkan mata. "Belum."
"Studio"" "Iya, ternyata tetanggaku punya studio baru. Baru perkenalan, dia ngasih pinjem studio itu gratis," jelasnya.
Raka langsung bersiul. "Eh, tugas fisika-mu udah selesai"" tanya Virgo.
Raka mengangkat bahu. "Tau! Aku sih, berharapnya Nathan udah ngerjain, berhubung otakku tiba-tiba menyusut kalau berhubungan sama angka."
"Mendingan kamu nanya Nathan, deh, daripada ternyata nggak ada yang bikin," usul Dhihan.
Dia mendesah, lalu bangkit. "Yes, Sir..."
Begitu sampai, Nathan hanya menoleh dan memandang Raka, tanpa berkata apa-apa.
"Tentang tugas fisika-"
"Kupikir, kamu nggak bakal nanya," kata Nathan sebelum Raka sempat meneruskan kalimatnya. "Besok, sepulang sekolah di rumahmu."
Raka langsung melongo. "Hah""
"Kita bikin berdua!" tegasnya.
"Kenapa mesti di rumahku""
"Karena, aku nggak mau bikin di rumahku," jawab cowok itu enteng.
Raka sudah bersiap protes.
"Atau, kamu ingin kita bikin sendiri-sendiri"" tanya Nathan yang membuat Raka tidak berkutik. "Dan, tentu aja dengan nilai sendiri-sendiri juga."
Raka terdiam seketika. Dia bisa membayangkan ada burung gagak yang terbang melintas di kepalanya seperti di komik-komik Jepang sambil berkaok-kaok, "Aho... Aho... Aho..." yang artinya, "Bodoh... Bodoh... Bodoh..."
* * * - 10 - Raka merasa pusing dan perutnya mual. Ulangan mendadak hari ini telah memperpendek umurnya.
"Waktunya tinggal lima menit lagi," kata Bu Sukma memecah konsentrasi. Seisi kelas sudah mulai gelisah, kecuali-tentu saja-Nathan dan Nadya. Mereka sudah selesai sejak tadi. Ada juga beberapa murid yang sudah selesai sejak tadi, tetapi mereka lebih murid yang tidak peduli dengan jawaban mereka. Bahkan, saat ini, mereka sudah menunggu di luar.
Tiba-tiba, Bu Sukma menepukkan tangannya sambil berkata. "Ya! Kumpulkan!"
Tunggu! Tunggu! Aku belum selesai! Masih dua nomor lagi! jerit Raka dalam hati. Dhihan sudah bangkit dari tempat duduknya.
"Kalian boleh pulang," kata Bu Sukma lagi.
Raka melihat sekeliling dan menghela napas lega setelah mendapati bukan hanya dia yang belum selesai. Ada sekitar sepuluh anak-termasuk dirinya-yang masih berusaha keras
menyelesaikan ulangan itu dengan semua tenaga yang hampir tak bersisa.
"Baiklah, Ibu tunggu sepuluh menit lagi di kantor," kata Bu Sukma kemudian. Raka langsung mendongak, tetapi ternyata kata-kata itu ditujukan pada Nadya yang sepertinya sedang berusaha meminta toleransi. Nadya tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih.
"Kelihatannya kamu masih lama," kata Nathan menghampiri Raka. "Setelah selesai, kita ketemu di lapangan parkir. Aku ada sedikit urusan dulu di lab fisika."
Oh, ya! Sialan, aku lupa! Hari ini, aku ada janji bikin tugas fisika sama orang itu. Sial (lagi!). Setelah itu, aku harus latihan band juga! Bahu Raka langsung merosot. WHAT A DAY!
Setelah selesai, Raka langsung menyambar tasnya dan buru-buru menuju lapangan parkir. Namun, ternyata Nathan belum datang. Hanya ada seorang cewek yang tampak sedang mencari-cari sesuatu di tanah.
"Hei, cari apa"" tanya Raka menghampiri cewek itu.
Cewek itu terkesiap. "Caraka!"
Sekarang giliran Raka yang kaget. "Hah" Kok tahu namaku"" tanyanya heran. "Kita saling kenal""
"Ki-kita sama-sama kelas X," jawab cewek itu kikuk. "A-aku kelas X-12. Namaku Nova."
"Oooh..." Raka manggut-manggut walaupun sebenarnya masih bingung. Jarak antara kelas X-1, kelasnya, dan kelas X-12 cukup jauh dan dia nggak mengenal cewek ini.
"Kamu lagi cari apa""
"Kunci motorku hilang," jawab Nova panik. "Aku udah nyari dari tadi, tapi..."
"Belum ketemu""
Nova mengangguk. Raka mengangkat bahu. "Gantungan kuncinya bentuknya gimana""
Nova menatap cowok di depannya tak percaya.
"Hei, gantungan kuncinya bentuknya gimana""
"A-apel! Bentuknya buah apel!" jawabnya. "Ma-makasih, ya, Caraka."
"Raka," ralat Raka, "aku agak risi dipanggil dengan nama lengkap dan you are welcome."
Nova tersenyum. "Caraka emang kayak yang dibilang teman-teman."
Raka menoleh. "Emangnya, apa yang teman-temanmu bilang tentang aku""
"Pokoknya, sesuatu yang baik," jawab Nova sambil tersenyum.
Raka tidak bertanya lebih lanjut. Tahu bahwa dia dibicarakan atas suatu hal yang baik itu sudah cukup baginya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, kunci motor Nova ditemukan tergeletak di dekat tempat sampah, sepertinya terjatuh ketika cewek itu hendak membuang sesuatu. Nova berulang-ulang mengucapkan terima kasih hingga Raka merasa agak risi.
"Kamu orang pertama yang nawarin bantuan setelah hampir satu jam aku nyari-nyari di sini," jelas Nova sebelum menyalakan motornya dan melaju meninggalkan sekolah.
Nathan masih belum datang sehingga Raka memutuskan menyusul cowok itu di lab fisika.
"Maaf." Suara Nathan terdengar samar-samar ketika Raka sudah mendekati ruang lab fisika.
"Udah, jangan nangis lagi," kata Nathan lagi. "Cari cowok yang lebih baik daripada aku."
Busyet! Lagi" Raka mengernyit.
"Kenapa"" tanya cewek itu.
Nathan terdiam sejenak. "Karena aku nggak suka kamu," jawab Nathan kemudian.
Sejenak tidak ada yang bersuara.
"Apa karena aku jelek"" tuntut cewek itu. "Itu alasannya kamu nggak mau sama aku" Aku emang jelek dan nggak punya kelebihan apa pun. Tapi, apa cuma karena itu kamu nggak mau jadi cowokku" Aku yakin kamu nggak sedangkal itu."
"Emangnya kamu merasa jelek"" tanya Nathan. "Dan, nggak punya kelebihan apa pun""
Cewek itu mengangguk. "Ya, aku nggak suka kamu karena alasan itu," kata Nathan sejurus kemudian, dia mengeluarkan kata-kata paling kejam untuk seorang cewek mana pun. "Mungkin aku emang sedangkal itu."
Cewek yang "nembak" Nathan itu langsung berlari keluar ruang lab sambil menangis. Raka yang tidak terima melihat bagaimana cara Nathan memperlakukan cewek langsung melabraknya.
"Kamu sudah sangat keterlaluan!" geramnya sambil mencengkeram kerah baju Nathan. "Kamu harus diberi sedikit pelajaran."
Nathan tampak tenang. "Sejak kapan kamu menguping""
"Cukup lama buat tahu kalau kamu harus diberi pelajaran bagaimana memperlakukan seorang cewek!" jawab Raka tanpa memedulikan sindiran Nathan yang menggunakan kata "menguping".
Nathan menatap kedua mata Raka dalam-dalam. "Bilang padaku, emangnya apa salahku""
Rak a melotot membalas tatapannya. "Kamu bilang kalau dia jelek dan nggak punya kelebihan! Itu keterlaluan!"
"Aku nggak pernah bilang begitu."
"Nggak usah mengelak!" bentak Raka. "Kamu mengiyakan kata-kata dia tentang itu!"
"Kata-kata dia," ulang Nathan dengan nada tenang, tetapi dalam. "Dia sendiri yang bilang. Dia sendiri yang merasa kayak begitu."
"Eh"" Raka mengendurkan cengkeramannya.
"Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, nggak akan pernah bisa menghargai orang lain," kata Nathan.
Mendengar ucapan terakhir Nathan, Raka melepaskan tangannya. Dia tertegun, kata-kata Nathan seperti sebuah palu godam yang dipukul ke kepalanya. Ternyata, itu yang Nathan pikirkan. Dia hanya ingin menyadarkan cewek itu agar lebih menghargai dirinya sendiri terlebih dahulu.
Raka langsung mengingat-ingat lagi, jangan-jangan yang dia lihat sebelum ini juga seperti itu maksudnya. Nathan menolak cewek itu secara tegas karena tidak ingin memberi harapan semu sedikit pun kepada si cewek. Dia tahu, memberi harapan, lalu menghempaskannya ke tanah pasti rasanya sangat menyakitkan-sesedikit apa pun harapan itu.
Nathan merapikan kerahnya, lalu mengambil tasnya dari meja.
"Ayo berangkat."
Raka tidak menjawab, hanya berjalan mengikuti teman sekelasnya itu. Kepalanya terasa kosong. Nathan telah menunjukkan kalau dia bukan orang yang dangkal dan itu membuat Raka merasa justru dirinyalah yang selama ini berpikiran sempit. Dalam hati Raka, lambat laun, tumbuh kekaguman pada cowok yang memunggunginya itu.
Ketika mereka mulai memasuki kompleks, tiba-tiba motor Raka mogok. Untungnya, tukang reparasi motor langganan Raka berada tidak jauh dari situ. Namun, karena kerusakannya berat, motor Raka harus ditinggalkan di bengkel.
Jalan kaki sejauh satu kilometer di siang hari lumayan jadi sebuah ujian tersendiri. Kalau tidak terbiasa, mungkin rasanya seperti sedang di gurun.
"Kamu nggak apa-apa"" tanya Raka khawatir melihat Nathan yang terlihat lemas-mau tidak mau, Raka jadi inget rumor penyakit yang diderita Nathan.
"Maksudmu""
"Kuat jalan nggak" Kamu nggak bakal kolaps atau apa, kan""
Nathan tersenyum mengejek. "Kamu mengkhawatirkanku""
"Ya, soalnya, kalau kamu kolaps, aku yang susah," balas Raka tajam.
Senyum di wajah Nathan langsung memudar.
"Jangan khawatir, aku lebih kuat daripada yang kamu bayangkan," katanya.
"Aku harap juga begitu."
Setelah itu, sepanjang perjalanan, mereka habiskan dalam diam. Dan, walaupun Nathan sudah mengatakan dia tidak apa-apa, Raka tidak bisa menahan diri untuk tidak sekali mencuri pandang ke arah cowok itu dan memastikan dia baik-baik saja.
Tinggal setengah kilometer lagi saat di depan mereka tampak segerombol anak-anak SMA lain sedang berkumpul di gardu jaga.
"Ngapain lihat-lihat"" tanya salah satu dari gerombolan itu. Dan, tak butuh waktu lama, yang lain berkumpul di belakangnya.
"Hah" Aku"" tanya Raka bingung.
"Ya! Kamu!" bentaknya. "Kamu mau cari masalah""
Tiba-tiba dua di antara mereka maju bebarengan dan menghujamkan pukulan ke arah Raka. Untung saja gerakan Raka lebih cepat sehingga berhasil menghindari keduanya, bahkan dia berhasil menjatuhkan satu orang sekali pukul. Begitu salah satu dari mereka tumbang, yang lainnya maju untuk menggantikannya. Korban keduanya memiliki nasib tak jauh beda. Sadar mereka tidak akan bisa mengalahkan cowok yang satu ini hanya dengan dua lawan satu-apalagi satu lawan satu-gerombolan itu memutuskan main keroyok.
"Keroyok dia!" Anak yang dari tadi bertindak sebagai juru bicara memberi aba-aba. Keempat orang yang tersisa langsung serempak menghujani Raka dengan pukulan dan tendangan dari segala arah. Tiba-tiba, seseorang menahan pukulan itu tepat pada waktunya.
"Nathan"" kata Raka tak percaya saat melihat tangan yang menahan pukulan itu.
Nathan hanya diam dan tetap berusaha menangkis pukulan serta tendangan apa pun yang ditujukan kepadanya. Rumor bahwa cowok ini cukup jago bela diri, ternyata bukan isapan jempol belaka. Dia bisa menjatuhkan lawan dengan mudahnya. Raka bangkit berdiri mencoba membantunya
membereskan ketiga orang yang tersisa walaupun sepertinya Nathan tidak begitu membutuhkan bantuan.
Keenam orang itu berhasil mereka kalahkan dalam waktu singkat. Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu diiringi umpatan-umpatan serta gertak sambal.
Saat Raka menengok ke arah Nathan, dia melihat mulut Nathan gemetar. Begitu juga badannya. Dan, sejurus kemudian, dia ambruk. Untung saja, Raka berhasil menahannya sebelum dia jatuh ke tanah.
"Hoi, Than!" Raka mulai panik. "HOI!"
*** "Aku di mana"" tanya Nathan lirih sambil berusaha untuk duduk.
Raka meletakkan buku yang dibacanya.
"Kamarku," jawabnya. "Kamu nggak apa-apa""
Nathan memegangi kepalanya, lalu menggeleng. "Nggak apa-apa. Kok aku bisa di sini""
"Guess!" kata Raka. "Dan, ternyata, walaupun dari luar badanmu kurus, ternyata kamu berat juga. Punggungku rasanya mau patah."
Nathan menatap Raka tak percaya. "Kamu menggendongku""
"Lebih tepatnya, memanggul," ralat Raka, "mau apa lagi" Mau aku seret juga nggak tega."
Nathan terdiam. "Mana kacamataku"" tanyanya kemudian.
Raka memberikan kacamata yang tadi tergeletak di meja.
Nathan memakainya, lalu mengamati setiap sudut kamar itu.
"Ada yang salah sama kamarku"" tanya Raka ingin tahu.
Nathan masih memperhatikan poster-poster film yang terpampang di dinding.
"Benar-benar di luar bayanganku," katanya.
"Emangnya, apa yang kamu bayangkan""
"Yang bukan kayak gini, tentu aja," katanya. Tiba-tiba, Nathan berdiri, lalu mendekati poster film Unforgiven yang tertempel di dekat pintu, lalu membalikkan badannya, mengamati poster berikutnya: The Godfather-nya Francis Ford Coppola. "Kamu tertarik sama film, ya""
Raka mengangkat bahu. "I have a dream..."
Nathan membalikkan badannya, menatap Raka sambil mengernyitkan dahi. "Kamu mau nyanyi lagunya Westlife atau mau baca pidatonya Martin Luther King""
"Aku cuma mau ngomong pake bahasa Inggris!" ujar Raka kesal.
"Ooh..." Nathan membalikkan badannya. "Ngomong-ngomong, aku heran kenapa kamu nggak nanya siapa Martin Luther King."
"Biar aku tebak, berikutnya, kamu pasti pengin tahu apa aku kenal sama Ratu Elizabeth II." Raka menghela napas. "Dan, jawabanku, aku nggak kenal. Aku nggak pernah punya kesempatan buat nanya nomor HP dia. Puas""
Nathan menoleh dan tersenyum sinis. "Aku lupa, pengetahuan sejarahmu emang nggak bisa diremehkan."
Cowok itu berjalan ke arah rak buku Raka, lalu mengamatinya satu per satu.
"Kayaknya, ucapanmu yang ngaku baca karya Pram bukan bohong, ya," katanya. "Aku nggak tahu kamu suka baca."
"Nggak ada yang pernah nanya!" dengus Raka kesal.
"John Grisham... Mitch Albom... Pramoedya Ananta Toer... Umar Kayam... Jostein Gaarder..." gumam Nathan, lalu mengambil salah satu buku.
"Edogawa Rampo," katanya sambil membolak-balik buku yang dipegangnya. "Aku nggak nyangka kamu, bahkan, punya bukunya."
"Nggak semua hal harus dikasih tahu, kan."
Nathan mengembalikan buku itu lagi ke tempatnya, lalu mulai mengamati. "Goenawan Mohamad... P. Soewantoro... Lho, kamu koleksi komik juga"" Nathan memperhatikan deretan komik yang berada di rak. "H2... Bleach... Samurai Deeper Kyo..." Sekarang, Nathan membaca judul-judul komik tersebut. "Hobi""
"Nggak ada buku yang begitu jelek-"
"Yang sedikit pun nggak bisa diambil pelajarannya," lanjut Nathan memotong alasan Raka. "Nullust Est Liber Tammalus..."
"Ut Non Aliqua Parte Prosit," Raka meneruskan sambil meringis. "Plinius Jr. di Epistolae."
Nathan terdiam sejenak menatap teman sekelasnya itu, lalu menggumam pelan. "Aku nggak nyangka."
"Eh, kamu beneran nggak apa-apa"" tanya Raka kemudian.
"Jangan khawatir, I'll survive," jawabnya mantap tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari buku-buku di depannya.
"Sakit apa, sih""
"Kanker otak," jawab Nathan santai.
"Hah"" Raka melongo. "Sori, bisa diulang lagi""
"Kanker otak." "Kamu bilang kanker otak"" ulang Raka.
"Kamu budek, ya"" sahut Nathan. Raka langsung terdiam. Selama ini, dia pikir, penyakit itu hanya ada di sinetron-sinetron. Namun, sekarang, dia sedang meli
hat dengan mata kepala sendiri salah seorang pengidapnya.
Jadi, ini penyebab tubuh kurus, wajah pucat, dispensasi olahraga, dan obat yang membuatnya tampak kepayahan itu" batin Raka. "Sejak kapan"" tanyanya.
"Apa pedulimu""
"Kok, rambutmu nggak rontok"" Raka mengernyit.
"Jangan khawatir, sebentar lagi, kalau itu bikin kamu senang," jawab Nathan.
Setelah itu, hening di antara mereka sampai terdengar suara pintu rumah dibuka.
*** "RAKA" KAMU DI KAMAR"" terdengar teriakan.
"YA, MA!" Raka balas berteriak.
"KAMU BELUM MASAK MAKAN MALAM, YA""
Sial! Aku lupa! umpat Raka dalam hati.


Let Go Karya Windhy Puspitadewi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Itu mamamu"" tanya Nathan.
Raka bangkit berdiri. "Ya."
"Papamu"" Nathan menunjuk foto di meja belajar.
"Begitulah... Ayo turun."
"Kudengar, kamu benci dia," kata Nathan sambil mengamati foto itu. "Tapi, kalau emang kamu benci dia, kenapa fotonya ada di sini""
Raka menatapnya tajam. "Bukan urusanmu."
Lalu, keduanya berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar.
"Kamu ngajak teman, ya"" tanya Mama ketika melihat Nathan.
"Yah..." Raka menggaruk-garuk kepala.
"Ya, ampun...!" pekik Mama panik, lalu menghampiri Nathan. "Kamu pucat sekali... Kamu nggak apa-apa"" tanya Mama khawatir sambil memegang dahi Nathan, yang kemudian ditepis cowok itu dengan halus.
Nathan tersenyum sopan. "Nggak apa-apa, Tante."
"Syukurlah kalau begitu," desah Mama lega, lalu menoleh ke arah Raka dengan mata melotot. "RAKA!"
Raka menelan ludah. "Kalau emang kamu nggak sempat bikin makan malam buat Mama, seenggaknya, bikin sesuatu buat temanmu ini!" sembur Mama marah. "Lihat! Dia sampai pucat begini. Pasti gara-gara kamu nggak ngasih apa-apa. Teman macam apa kamu ini""
"Hah" Lho... tapi..." Raka mencoba membela diri.
"Ini bukan salah Raka, Tante-" Nathan berusaha membela.
"Kamu nggak usah membela dia," potong Mama. "Tunggu, siapa namamu""
"Nathan." "Nathan..." Mama mengangguk-angguk. "Kamu nggak usah membelanya, Nathan." Mama mengambil dompet, lalu menyerahkan beberapa lembar uang.
"Sekarang, beli makanan buat makan malam kita bertiga," perintahnya ke Raka. "Dan, CEPAT!"
Raka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatakan apa pun. Dengan langkah gontai, dia pergi meninggalkan rumah menuju warung terdekat.
"Pukul delapan!" pekik Raka melirik jam tangannya sambil berjalan buru-buru. Bisa dipastikan Dhihan dkk. akan membunuhnya.
Sudah cukup buat hari ini, Raka menggelengkan kepala. Kalau setelah ini akan ada hal buruk lagi yang menimpa kepalaku, aku bunuh diri.
*** "Raka," panggil seseorang.
Raka menoleh. "Nadya" Ngapain kamu di sini""
"Emangnya, apa yang kamu lakukan di warung sate"" tanyanya balik.
Raka mengangkat bahu, lalu duduk di sebelah cewek itu. "Udah lama""
"Nggak juga, beberapa menit sebelum kamu," jawab Nadya.
"Oh..." "Banyak banget pesen satenya," komentar cewek itu. "Ada tamu""
"Iya, ada Nathan," kata Raka ogah-ogahan.
"Ada acara apa"" tanya Nadya heran. "Bukannya kalian nggak terlalu akrab""
"Takdir yang mengakrabkan kami," jawab Raka sekenanya. "Inget tugas fisika itu, kan" Nah, dia sekelompok sama aku. Hari ini, tadinya, aku sama dia mau ngerjain bareng-bareng."
"Itu... VCD apa"" tunjuk Raka ke tangan Nadya, mencoba mencairkan suasana lagi.
"Ini"" tanya Nadya sambil mengacungkan VCD di tangannya. "Radio. Aku baru aja pinjam."
Raka manggut-manggut. "Ed Harris dan Cuba Gooding Jr."
Nadya memandang Raka dengan antusias. "Kamu udah nonton""
Raka mengangkat alisnya. "Film bagus, menurut aku, sih, kayak gabungan antara Remember the Titans dan Rain Man."
"Remember the Titans"" Nadya mengerutkan kening. "Bagian mananya" Kalau Rain Man, sih, masih mirip."
"Setting tempat, setting waktu, football team, pelatih," jelas Raka. "Apanya yang nggak sama""
Nadya menghela napas, lalu tersenyum. "Kalau masalah film, kamu emang nggak bisa dilawan."
Raka meringis. "Wah, ternyata, kamu udah kenal aku."
"Benar-benar udah mantap jadi sutradara film, ya""
"Dibilang mantap, sih, nggak." Pandangan Raka lagi-lagi menerawang ke depa
n. "Tapi, dari dulu, aku yakin memang itulah yang pengin kulakukan."
"Film apa yang pengin kamu bikin""
"Dokumenter," jawab Raka yakin. "Aku pengin bikin film dokumenter tentang sejarah Indonesia."
"Kenapa"" "Menarik," jawab Raka yang tanpa sadar tersenyum sendiri. "Kamu tahu nggak, kalau Perang Puputan dibikin film, mungkin hasilnya nggak jauh beda sama The Last Samurai""
Nadya tertawa. "Masa, sih""
"Uhm," Raka mengangguk. "Nggak percaya""
"Aku percaya," kata Nadya sambil tersenyum, menatap dengan sorot mata kagum.
Melihat senyuman Nadya, tiba-tiba Raka merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Bahkan, dia kaget setengah mati saat tukang sate tiba-tiba menghampiri.
Setelah membayarnya, Nadya mengalihkan pandangannya ke Raka.
"Aku duluan, ya," katanya. "Dan, makasih, ini kali pertama aku ngobrol menyenangkan kayak tadi."
Raka tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk. Kalau saja cewek itu tahu, ini juga kali pertama bagi Raka bisa ngobrol dengan seseorang. Kali pertama dia merasa sangat nyaman menjadi dirinya sendiri.
*** "Aku pulang," kata Raka yang langsung disambut dengan mata melotot oleh sang Mama.
"Lama banget," kata Mama cemberut. "Mama sampai bikin mi buat Nathan, takut dia pingsan kelamaan nunggu."
"Ya, ampun, Ma, warung paling dekat tuh jaraknya 500 meter. Aku harus jalan kaki, soalnya motor lagi masuk bengkel." Raka membela diri.
"Ya, sudah, kamu terpaksa makan sendiri."
"Lho"" "Nathan udah nelepon rumahnya dan sebentar lagi dijemput," jelas Mama.
"Aku udah beli tiga puluh tusuk!" protes Raka.
Mama menelengkan kepala. "Raka, Mama yang melahirkanmu dan memberi makan. Jadi, aku tahu, 100 tusuk pun, kamu pasti sanggup menghabiskannya."
Nathan terkikik. "Jangan ketawa!" gerutu Raka.
"Tante, saya tunggu di luar saja," kata Nathan sambil bangkit dari kursi. "Terima kasih atas makan malamnya tadi."
"Aduuh... Tante jadi nggak enak cuma bisa buatin mi," keluh Mama.
"Nggak apa-apa, Tante," hibur Nathan. "Mi buatan Tante enak."
"Kamu benar-benar anak baik dan sopan. Kalau saja Raka kayak kamu."
"Ma, jangan percaya," Raka mendelik. "Apa yang baru aja Nathan bilang cuma basa-basi!"
Mama menyipitkan mata. "Jadi, maksudmu, kamu mau bilang kalau masakan Mama nggak enak""
Raka menelan ludah. Nathan yang berdiri di belakang Mama sekuat tenaga menahan tawa.
"Sudah, kamu temani Nathan di depan sampai dijemput," perintah Mama, lalu dia menoleh ke arah Nathan. "Kapan-kapan, main ke sini lagi, ya. Tante senang ngobrol sama kamu."
"Baik, Tante," jawab Nathan dan langsung tersenyum sopan.
RUBAH! DIA ITU RUBAH! teriak Raka dalam hati.
"Sebenarnya, kamu punya berapa kepribadian"" tanya Raka ketika dia dan Nathan sudah duduk di teras.
"Menurutmu"" Nathan balik bertanya.
Raka menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Maaf..." "Hah"" kata Raka langsung menegakkan punggungnya.
"Gara-gara aku, kamu jadi nggak ikut latihan sama yang lain," kata Nathan. "Dan, kita juga nggak jadi bikin tugas fisika."
"Nggak usah dipikirkan," desah Raka sambil menyandarkan tubuhnya lagi. "Besok, aku akan jelasin sama mereka, paling-paling juga aku disate atau dipaketin ke Timbuktu. Lagian, mendengar kamu yang sombong minta maaf, semuanya jadi terasa worth it."
Nathan tidak mengatakan apa-apa.
"Kapan lagi kita bisa ngerjain tugas fisika"" tanya Raka kemudian.
"Dua hari lagi," jawab Nathan.
"Emangnya, kenapa kalau besok""
"Aku harus ke rumah sakit."
Keduanya terdiam sesaat. "Tentang penyakitmu itu..."
"Aku nggak perlu belas kasihanmu," sahut Nathan. "Aku udah terbiasa sama keadaan yang sekarang. Jadi, jangan mengubahnya. Kamu juga udah kuberi tahu sejak awal, kuharap kamu menepati janjimu."
Raka terdiam. "Percayalah, ini lebih baik buat kita berdua," tambah Nathan tepat saat sebuah mobil mewah buatan Jerman tiba-tiba berhenti di depan pagar.
Nathan bangkit. "Itu jemputanku."
Dia menatap Raka beberapa saat sebelum membuka pintu. "Kamu ingin jadi sutradara, kan"" tanyanya setelah meminta sopirnya menyal
akan mesin. Raka mengangguk. "Itu mimpiku."
"Kamu yakin kamu bisa mewujudkannya""
"Aku nggak tahu."
"Kamu yakin dengan kemampuanmu sekarang kamu bisa jadi sutradara""
"Aku nggak tahu."
"Apa kamu sadar kalau mimpimu ini terlalu tinggi" Kamu nggak takut nggak bisa mencapainya dan bakal menyesalinya nanti""
"Aku nggak tahu."
Nathan menggeleng. "Kamu sedang berjudi dengan hidupmu."
"Mungkin," jawab Raka mantap. "Aku nggak tahu apa-apa. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Bahkan, aku nggak tahu bakal jadi apa aku nanti." Dia menatap cowok berkacamata itu. "Tapi... karena nggak tahu apa-apa itulah, esok hari jadi sesuatu yang layak ditunggu-tunggu, kan"" katanya kemudian sambil nyengir. "Lalu, tinggal kita lihat apa yang bakal terjadi."
Nathan tampak tertegun. "Kamu nggak apa-apa"" tanya Raka khawatir.
Dia menggeleng sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kamu ini emang orang bodoh yang menyebalkan," kata Nathan sebelum menutup pintu mobilnya. "Tapi, wajar kamu bisa bilang begitu, kamu nggak punya kelebihan yang kumiliki."
"Kelebihan"" tanya Raka bingung.
"Semua orang bisa aja bersikap seolah-olah mereka berumur panjang kayak kamu ini," kata Nathan sambil tersenyum sinis. "Tapi aku..." Dia berhenti sejenak.
"Aku bisa memperkirakan sisa waktuku. Jadi, aku nggak mau buang-buang dengan percuma."
Mobil pun melaju. * * * - 11 - "Ke mana aja kemarin"" tanya Dhihan dan yang lain hampir berbarengan begitu Raka datang.
"First of all," kata Raka setelah berdehem beberapa kali. "Bisa nggak kalian semua membiarkan aku duduk dulu""
"Boleh aja," kata Alfi ketus. "Tapi, apa alasanmu""
Raka menggelengkan kepala. "Ayolah... kalian kan, bisa latihan tanpa vokalis."
"Tapi, di panggung nanti, kita pake vokalis, dodol!" sembur Virgo. "Apa jadinya kalau musik sama penyanyinya nggak kompak."
"Oke, sori," kata Raka dengan nada menyesal. "Aku yang salah. Kemarin, aku nggak bisa datang gara-gara ada hal yang nggak terduga. Tapi, latihan berikutnya, aku pasti datang, I promise! I'll be there!"
"Yeah, you better should!" kata Alfi tajam sambil menunjuk dada Raka keras-keras.
Setelah yang lain kembali ke tempat duduknya masing-masing, Dhihan memberinya selembar kertas.
"Apa ini"" tanya Raka.
"Daftar lagu yang bakal kita nyanyiin."
Ada sekitar delapan lagu di daftar itu.
"Emangnya, kita mau bikin konser tunggal"" dengus Raka. "Nama band udah dibikin juga""
"Tentu aja!" seru Dhihan sambil meringis. "La Kepri."
Raka mengernyit. "La Kepri" Apa artinya" Bahasa Italia""
"Coba tambahin kata 'band' di belakangnya."
"La Kepri Band"" Raka masih tak habis pikir apanya yang aneh.
"Ulangi," perintah Dhihan.
"La Kepri Band... Lakepri Band..." Tiba-tiba, tersadar akan maksud kata-kata itu, Raka tertawa keras-keras. "LHA KEPRIBEN""
Semuanya tertawa berbarengan.
"Raka." Sarah berjalan dengan canggung ke arah mereka.
"Ya"" "Hari ini," kata Sarah tanpa berani menatap mata Raka, "ada rapat Veritas sepulang sekolah."
"Bukannya Nathan ada urusan""
"Dia bilang bakal datang setelah urusannya selesai."
Raka mengangkat alis. "Oke, kalo gitu."
Sarah mengangguk, lalu cepat-cepat pergi sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Believe me," kata Dhihan setengah berbisik setelah Sarah pergi, "she has a crush on you, man!"
Hari itu, Sarah bersikap sangat aneh, seolah-olah menghindari Raka. Namun, kadang-kadang Raka memergokinya mencuri pandang ke arahnya dengan tampang bersalah. Entah apa yang terjadi dengan cewek itu.
Sepulang sekolah, setelah menyelesaikan ulangan kimia dadakan yang membuatnya jadi orang terakhir berada di kelas, Raka buru-buru menuju Veritas.
"Hei," sambut Nadya.
DEG! Jantung Raka serasa berhenti beberapa saat. Ada apa denganku" Raka memegangi dadanya dengan heran. "Mana yang lain"" tanyanya setelah berhasil menguasai diri.
"Sarah ada perlu sebentar sama Bu Ratna. Nathan datang satu jam lagi," jawab Nadya sambil asyik mengetik di keyboard komputer.
Raka menjatuhkan diri di karpet dan menghela napas. "La
gi bikin apa"" tanyanya melihat Nadya sibuk mengetik sesuatu.
"Laporan pertanggungjawaban dana klub judo dan klub basket," jawab Nadya.
"Bukannya kamu ketuanya" Kenapa mesti kamu yang susah-susah bikin" Nggak ada bendaharanya""
"Ada," jawab Nadya. "Tapi, aku nggak mau merepotkan mereka, lagian aku mau melakukannya sendiri. Jadi, aku tahu dananya buat apa dan bisa jawab kalau ditanya pas rapat OSIS."
"Masih berusaha melakukan semuanya sendiri""
Nadya menoleh. "Sesekali, minta tolong nggak ada salahnya, kan"" kata Raka. "Kamu, toh, udah memulainya waktu minta tolong Dhihan ngurus acara kelas." Raka terdiam sejenak. "Lagian," lanjutnya, "itu bikin kamu kelihatan lebih manusiawi."
Nadya terdiam selama beberapa lama.
"A-akan kupikirkan," katanya kemudian sambil cepat-cepat mengalihkan tatapannya lagi ke layar komputer. Wajahnya memerah.
Raka memasang iPod-nya dan mulai mendengarkan "Can't Take My Eyes of You"-nya Muse.
Beberapa saat kemudian, Sarah muncul tergopoh-gopoh. "Maaf, lama nunggu, ya."
"Ada tugas dari Bu Ratna lagi"" tanya Raka sambil melepas iPod-nya.
"Ng-nggak," jawab Sarah dan lagi-lagi dia menghindari kontak mata dengan cowok itu.
Nadya turun dari kursinya dan duduk di dekat Sarah. "Kali ini, apa temanya""
"Olahraga." "Semua jenis olahraga"" tanya Raka.
"Seharusnya semua, tapi mungkin lebih baik-"
Kalimat Sarah terpotong oleh kedatangan Nathan yang entah kenapa memasang muka lebih dingin daripada biasanya.
"Sori telat," katanya sambil menjatuhkan diri di sebelah Raka.
"Gimana"" tanya Raka teringat Nathan baru saja dari rumah sakit.
Nathan melirik Raka, lalu tersenyum sinis. "Kamu peduli""
Raka memutar bola mata dan mendesah. "Sorry for caring."
"Eh... aku lanjutkan," ujar Sarah. "Gini, Than, Bu Ratna minta kita bikin Veritas dengan tema Olahraga. Seharusnya, sih, semua cabang olahraga ditampilkan, tapi buat liputan khususnya, cukup olahraga yang di sekolah kita ada klubnya kayak sepak bola, basket, vo-"
"Kata Bu Ratna, kamu batal ikut lomba esai itu, ya"" potong Nathan.
Mereka semua langsung terdiam.
"Lomba" Lomba apa"" tanya Nadya bingung.
Raka melongo sejenak, kemudian menatap Sarah. "Kamu membatalkannya" Kenapa""
Sarah tampak panik dan menolak membalas tatapan mata Raka.
"Kalau emang kamu nggak mau ikut, kenapa nggak sejak awal aja kamu batalkan," kata Nathan tajam. "Jadi, aku nggak perlu susah-susah bantu kamu. Dan, kamu juga nggak perlu susah-susah bikin."
Wajah Sarah memucat, mulutnya bergetar. Dia memandang Raka seakan-akan memohon bantuan supaya cowok itu membelanya. Namun, kali ini, Raka hanya diam dan membalas pandangan cewek itu dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Aku nggak peduli kalau kamu emang tipe orang yang mau susah-susah melakukan sesuatu, terus membuangnya seakan-akan itu nggak guna. Itu bukan urusanku," lanjut Nathan dengan tatapan sinis. "Tapi, aku bukan kayak gitu. Waktu, tenaga dan pikiranku sangat berharga. Karena itu, apa yang kamu lakukan ini bikin aku kesal. Aku udah menyediakan semua itu buat bantu kamu, tapi kamu malah buang begitu saja ke tempat sampah. Apa maksudmu""
"A-aku..." Sarah tergagap, lalu karena nggak bisa menjawabnya, dia buru-buru bangkit sambil mengambil tasnya.
"Kalau kamu emang orang yang selalu ingin menyenangkan hati orang lain, kenapa kamu nggak coba menyenangkan hati orang yang udah bantu kamu," desis Nathan tepat sebelum Sarah keluar.
Sarah terpaku selama beberapa saat, lalu berlari keluar ruangan.
Suasana hening. Nadya tampak bingung, hanya dia yang tidak mengerti apa yang terjadi. Raka mencoba menjelaskan sesingkat dan sejelas mungkin.
Nadya mengangguk-angguk. "Oh, begitu, lalu kenapa dia tiba-tiba membatalkannya""
Raka menatap Nathan. Mengerti maksud tatapan itu, Nathan langsung menjawab. "Jangan tanyakan padaku, aku cuma diberi tahu Bu Ratna kalau dia nggak jadi ikut lomba."
"Lalu, apa maksud kata-kata terakhirmu tadi-tentang coba menyenangkan hati orang"" tanya Raka.
Nathan tersenyum sinis, lalu sambil berdiri dan mencangklong ranselnya, di
a berkata, "Karena, meski aku nggak diberi tahu, aku udah bisa nebak alasannya dan kurasa kamu pun pasti juga tahu." Lalu, dia pergi meninggalkan ruang Veritas.
Nadya mendesah. "Kurasa, rapat akan dibatalkan hingga batas waktu yang nggak bisa ditentukan." Dia kembali duduk ke meja komputer dan mulai mengetik lagi. Nathan telah meninggalkan ruangan itu.
"Mau aku bantu"" Raka menawarkan diri.
"Nggak, terima kasih," jawabnya. "Aku aja nggak memercayai anggota klubku sendiri buat mengerjakannya, apalagi kamu."
"Hahaha, lucu sekali," dengus Raka. Dia sudah hendak memasang iPod-nya lagi ketika Nadya kemudian bertanya dengan heran.
"Kamu masih mau nunggu di sini""
"Aku nggak ada rencana ke mana-mana, lagian di rumah sepi. Nyokap baru pulang entar malam."
"Oh, iya, kamu cuma tinggal sama mamamu, ya""
Raka mengangguk. "Apa nggak apa-apa"" tanya Nadya.
"Apanya"" "Kalau nanti kamu kuliah, kamu nggak mungkin masih tinggal di situ, kan"" jelas Nadya. "Jarak IKJ sama rumahmu kan, lumayan jauh. Mamamu pasti kesepian."
"IKJ" Kenapa IKJ"" Raka mengernyit.
Nadya memutar bola matanya. "Karena cuma IKJ yang punya jurusan film. Jangan bilang kamu udah nggak tertarik lagi buat kerja di dunia film."
"Oh... aku lupa." Raka manggut-manggut merasa tolol. "Soalnya, aku niat ambil jurusan filmnya di luar negeri."
"Hah"" Nadya membelalakkan mata. "Serius" Nggak apa-apa tuh""
Raka menyipitkan mata. "Bahasa Inggris-ku lumayan bagus kali!"
"Bukan itu maksudku," sergah Nadya. "Mamamu nggak apa-apa kamu tinggal ke luar negeri" Kamu ke IKJ aja kayaknya bakal bikin mamamu kesepian, apalagi ke luar negeri."
"Iya, juga, ya..." kata Raka pelan lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi, justru Nyokap yang nyuruh aku kuliah di luar negeri, bahkan kayaknya dana pun udah disiapkan. Berarti, it's okay with her, kan""
"Oh, begitu..." sahut Nadya. Setelah terdiam selama beberapa saat, dia menatap Raka, lalu tersenyum. "Tentu aja, itu kan, mimpimu." Raka balas tersenyum. "Impian itu seperti sayap," lanjut Nadya. "Dia membawamu ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan, manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi."
Mendengar kata-kata Nadya, Raka terpana. "Hebaaat..." pujinya. "Dari mana kamu dapat kata-kata itu""
Nadya mengangkat bahu, tersenyum. "Yah... aku kan, nggak jadi juara lomba pidato gara-gara cuma keberuntungan."
"Kamu, apa mimpimu" Atau, apa cita-citamu" Kamu ingin jadi apa"" tanya Raka.
Nadya mengalihkan tatapannya lagi ke komputer. "Aku nggak tahu."
"Hah"" Raka mengerutkan kening. "Tapi, kamu kan, bisa segala hal, bukannya tinggal nyebut aja""
"Sungguh, aku nggak tahu," desahnya. "Kedua ortuku dokter, jadi kemungkinan besar, aku mengikuti jejak mereka. Aku tahu sekali bahwa inilah yang mereka inginkan, tapi aku nggak tahu apakah ini juga yang kuinginkan. Karena merasa bisa melakukan semuanya, aku jadi nggak tahu apa yang sebenarnya paling ingin kulakukan."
"Tapi, aku aja yang cuma bisa sejarah udah tahu aku mau jadi apa nanti," kata Raka masih tak percaya.
Nadya menatap cowok itu. "Bersyukurlah buat itu. Percaya, deh, buat hal yang satu itu, aku sangat iri sama kamu."
"Kadang-kadang, aku sampai frustasi mikir tentang ini," lanjutnya. "Tinggal dua tahun lagi buat menentukan aku mau jadi apa. Tapi, aku masih belum menemukan jawabannya."
"Masih dua tahun," ralat Raka. "Santai aja, nanti pasti ketemu, kok. Aku aja yang mikirnya udah kejauhan, hehehe."
Nadya mengangguk pada cowok itu.
"Tapi, aku baru sadar, ternyata setiap orang emang punya masalahnya masing-masing," kata Raka sambil bersiul.
"C'est La Vie," sahut Nadya sambil mulai mengetik lagi. "Begitulah hidup."
*** Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Nadya menyelesaikan kedua laporannya. Raka sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi cewek itu menolaknya dengan tegas.
Keluar dari gerbang sekolah, beb
erapa meter di depannya, Raka melihat Nadya sedang diganggu oleh dua orang laki-laki. Dia langsung memacu motornya dan berhenti di dekat cewek itu.
"CEPAT NAIK!" perintah Raka.
"Tapi..." "NAIK!!!!" Nadya tampak terkejut, tapi kemudian dia menurut. Selagi Nadya naik ke motor, Raka melotot ke arah kedua orang yang tadi mengganggu Nadya. Walaupun dari balik helm hanya matanya yang terlihat, orang-orang yang tadi mengganggu Nadya tampak ketakutan dan langsung cepat-cepat pergi.
"Sebenarnya, kamu nggak perlu repot-repot menolongku," kata Nadya dalam perjalanan. "Kalau mereka macam-macam, aku bisa menjatuhkan keduanya sekali serang."
Raka tidak mengatakan apa-apa.
"Ka"" "Aku lupa," jawabnya kemudian. "Aku lupa kamu juara judo. Yang ada di pikiranku, cuma kamu itu cewek, sisanya badanku bergerak sendiri. Sori kalau kamu tersinggung."
Nadya terdiam, tetapi kemudian Raka merasakan samar-samar tangan Nadya menyentuh punggungnya. Dadanya tiba-tiba serasa bergemuruh, sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan perlahan-lahan menyelimutinya malam itu.
*** "Ma, aku ingin tanya sesuatu." Raka membuka pembicaraan ketika dia dan mamanya menonton film Apocalypto-nya Mel Gibson.
"Uhm"" sahut Mama yang sedang asyik memakan keripik kentang.
"Kalau aku jadi kuliah ke luar negeri buat belajar tentang film, apa Mama nggak kesepian""
Mama tampak terkejut. Dia menoleh dan memandang Raka dengan heran.
"Kamu baru mikir itu sekarang"" tanya Mama tak habis pikir. "Padahal, hal itu udah kita omongin setahun lalu. Jadi, kamu baru peduli pada Mama akhir-akhir ini, ya""
Raka menghela napas. "Bukan itu intinya, Ma."
"Hohoho, terus kenapa kamu tiba-tiba nanya itu" Siapa yang memengaruhimu" Cewek, ya"" tanya Mama penuh selidik sambil meringis.
"Ma!!!" Mama tersenyum. "Kesepian... itu pasti," kata Mama dengan pandangan menerawang ke depan. "Sekarang, cuma kamu satu-satunya yang Mama punya. Tapi, kalau Mama melarangmu pergi, itu sama aja Mama membunuhmu pelan-pelan. Mama mau melihatmu berkembang," lanjutnya. "Dan, alasan paling utama Mama mendukungmu kuliah di luar negeri adalah..." Mama menoleh ke Raka, lalu memandang kedua mata anaknya itu dalam-dalam, "itu mimpimu."
Raka menelan ludah. Saat itu, semua perasaan bercampur aduk di dadanya. Tubuhnya mulai bergetar. Dia cepat-cepat memalingkan wajah dari sang Mama.
"Selain itu," lanjut Mama, "karena, kurasa papamu juga punya pikiran yang sama."
Raka langsung membatu dan tanpa berkata apa-apa, bangkit pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kapan kamu akan memaafkan papamu, Ka"" tanya Mama dengan nada yang terdengar pahit.
Langkah Raka terhenti, tapi tak ada jawaban yang keluar. Setelah termenung beberapa saat, Raka meneruskan langkahnya menaiki tangga.


Let Go Karya Windhy Puspitadewi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

* * * 12 - Hari ini, akan menjadi hari yang benar-benar sibuk bagi Raka. Sepulang sekolah, dia ada "kencan" dengan Nathan untuk menyelesaikan tugas fisika dan malamnya-tepat pukul tujuh-Alfi dkk. sudah menunggunya untuk latihan. Dia harus datang untuk menebus latihan pertama yang dilewatkannya.
Setelah memarkir motor, Raka bergegas menuju kelas karena jam pelajaran pertama akan dimulai lima belas menit lagi. Di depan ruang fisika di koridor yang tak jauh dari kelas, dia melihat Sarah tampak kikuk diajak bicara oleh tiga orang senior kelas XII. Semakin Raka mendekat, percakapan mereka pun mulai terdengar samar-samar.
"Aku sudah mendengarnya," kata salah satu senior itu. "Kamu udah membatalkan keikutsertaanmu di lomba itu. Thanks, ya!"
"Kamu harus ngerti peluang kami cuma saat ini," tambah yang lain. "Kamu kan, masih ada waktu dua tahun lagi buat ikut lagi. Kalau kamu ikut, sudah pasti kami nggak punya harapan menang."
"Tulisanmu emang bagus, Sar," tambah mereka. "Aku yakin kamu pasti menang tahun depan. Tahun ini nggak ikut, kan, bukan masalah."
Sarah mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Namun, matanya tidak bisa berbohong, dia tampak tertekan. Ketika melihat Raka, cewek itu langsung mengirimkan sinyal SOS.
Raka menghela napas, lalu berjalan ke arah cewek-cewek itu.
"S ar! Lagi ngapain" Pelajaran pertama udah mau mulai!" katanya sambil menarik tangan Sarah.
"Eh... oh... iya..." kata Sarah tergagap. "Ma-maaf, Kak, aku harus cepat-cepat ke kelas."
*** Setelah agak jauh, barulah Raka melepaskan tangan Sarah.
"Ini yang terakhir," katanya. "Lain kali, tolong diri kamu sendiri."
Sarah terdiam. "Ternyata, itu alasan kamu nggak jadi ikut lomba"" tanya Raka. "Gara-gara kamu nggak bisa nolak permintaan mereka""
Sarah masih tidak mengatakan apa-apa dan itu membuat Raka jengkel. Dia menghentikan langkahnya, lalu mendorong cewek itu ke dinding. Sarah terpekik kecil. Anak-anak yang ada di sekitar tempat itu langsung memperhatikan kedua orang itu dan mulai berbisik-bisik.
"Kamu mau ngapain"" tanya Sarah ketakutan.
Raka tidak mengatakan apa-apa, tetapi mulai mencondongkan tubuhnya. Ketika wajahnya dan wajah Sarah hanya tinggal beberapa senti, Sarah menjerit dan mendorong Raka kuat-kuat.
"NGGAK!" Raka hampir terjatuh, tetapi cowok ini puas. "Begitu," katanya sambil tersenyum, "begitu seharusnya kamu menolak mereka."
Sarah tampak terkejut dan tak menyangka tadi Raka hanya pura-pura.
"Kamu nggak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Sar," lanjut Raka. "Itu sebabnya kamu harus belajar bilang 'NGGAK'." Lalu, cowok ini berjalan meninggalkan Sarah, melewati kerumunan orang yang menonton kejadian tadi.
*** "Aku dengar, tadi pagi, kamu mencoba memerkosa Sarah," kata Nathan tiba-tiba ketika ia dan Raka mengerjakan tugas fisika di rumah cowok itu.
"Hah"" Raka langsung melongo.
"Tapi, aku nggak percaya," lanjut Nathan. "Kamu itu walaupun punya tampang penyerang, kayaknya lebih cenderung jadi yang diserang."
Raka menyipitkan mata. "Pujian""
Nathan mengangkat bahu. "Untukmu" Iya."
"Dari mana kamu dengar gosip itu"" Raka penasaran juga.
"Meski aku berusaha nggak dengar, seluruh kelas membicarakannya hingga masuk juga ke telingaku," jawab Nathan.
"Seluruh kelas"" ulang Raka. "Berarti Nadya juga tahu""
"Mungkin," kata Nathan. "Tapi, apa pedulimu""
"Eh"" Raka langsung tertegun. Setelah berpikir sebentar, dia menggeleng. "Nggak... nggak ada, cuma tiba-tiba aja pertanyaan itu muncul di otakku."
Nathan menatap Raka dengan pandangan yang tidak dapat ditebak.
"Apa lihat-lihat""
"Nggak apa-apa," kata Nathan sambil tersenyum. "Kayaknya, sebentar lagi, apa yang dulu pernah kubilang bakal jadi kenyataan."
"Kata-katamu dulu" Yang mana""
"Kalau waktunya tepat, akan kuingatkan," kata Nathan sok misterius.
Raka hanya mengangkat alis.
Tugas fisika kali ini benar-benar membuat Raka ingin bunuh diri atau setidaknya membunuh orang yang telah memberikan tugas ini atau orang yang menciptakan soal ini atau orang yang menemukan cabang ilmu FISIKA. Kepalanya sampai berkunang-kunang dan perutnya seperti dipukul-pukul.
Nathan sudah selesai mengerjakan bagiannya sejak satu setengah jam yang lalu dan dia melakukannya hanya dalam waktu lima belas menit!
Benar-benar bukan manusia, sakit saja begini, apalagi kalau sehat, batin Raka. Dia melirik ke arah jam dinding. Sekarang, sudah hampir pukul tujuh dan bagiannya masih belum selesai juga.
"Kenapa kamu nggak pulang saja, sih"" tanyanya pada Nathan.
"Aku khawatir sama tugas yang harus dikumpulkan besok pagi ini," jawabnya tegas. "Kalau aku pulang, aku yakin kamu nggak bakal menyelesaikannya."
"Jangan khawatir, aku bukan orang seperti itu," kata Raka agak menggerutu.
Nathan menghela napas. "Sudahlah, biar aku aja yang menyelesaikannya. Kamu ada latihan band, kan""
"Nggak!" tegas Raka. "Tanggung jawabmu, kan, udah selesai. Sekarang, aku akan selesaikan bagianku."
"Kalau kamu ngotot mau menyelesaikannya," kata Nathan, "aku yakin akan butuh waktu sekitar dua jam lagi."
Raka bergeming dan mulai meneruskan perjuangannya.
"Benar-benar..." desah Nathan, "batas antara keras kepala dan bodoh itu sangat tipis."
Selagi Raka "berjuang", Nathan melihat-lihat koleksi VCD dan mengambil salah satu yang terletak paling atas.
"Casablanca..." gumam Nathan. "Ini film favoritmu""
Raka m engangkat bahu. "Salah satunya."
"Iya, bagus." "Kamu nonton juga""
"Dialognya cerdas dan lucu," Nathan tak menggubris pertanyaan Raka.
"Nggak sembarang film hitam putih menarik buat ditonton sampai saat ini," tambahnya.
Raka tersenyum, tidak menyangka ternyata Nathan juga menggemari film. Dia membayangkan dia, Nathan, dan Nadya ngobrol bertiga tentang film.
"I think this is the beginning of a beautiful friendship."
Raka menjatuhkan pensilnya dan memandang Nathan tak percaya.
"Kamu pikir begitu"" tanyanya setengah terkejut-dan anehnya setengah senang.
"Aku cuma mengutip line terakhir di film itu, bodoh!" ujar Nathan.
"Oh," sahut Raka mulai meneruskan menyelesaikan tugasnya. Entah mengapa merasa agak kecewa.
"Sudah mau jam sembilan, dodol!" Nathan mengingatkan.
"Berisik!" "Mereka bakal membunuhmu besok."
"Udah, kamu pulang saja!"
Namun, Nathan tidak mau pulang, bahkan sampai mama Raka pulang. Dia memastikan Raka menyelesaikan tugas itu.
"Kenapa kamu melakukan ini"" tanya Raka saat mobil yang menjemput Nathan datang.
"Karena aku khawatir," jawab Nathan.
"Khawatir aku mangkir atau karena benar-benar mengkhawatirkanku""
"Sudah agak lama mengenalku, kamu masih belum paham""
"Yang pertama"" jawab Raka asal. Nathan nggak menjawab.
*** Esoknya, Dhihan dan yang lain sudah menunggu Raka di lapangan parkir dengan pandangan membunuh. Mereka langsung menghampiri Raka begitu dia turun dari motor.
"Sor-" Belum sempat Raka meneruskan kata-kata, Alfi sudah melayangkan pukulan ke wajah cowok itu.
"APA-APAAN KAU!" protes Raka marah sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"KAMU SUDAH JANJI, NYET!" balas Alfi emosi.
Raka berusaha meredam amarah karena dia tahu dia memang salah.
"Aku ngerjain tugas fisika bareng Nathan dan belum selesai sampe pukul sembilan." Dia memberi alasan.
Alfi mendorong dada Raka keras-keras.
"KAMI NGGAK BUTUH ALASAN, KA!" nada bicara Alfi semakin meninggi. "AKU NGGAK PEDULI KAMU NGGAK NGANGGAP PENTING LATIHAN BAND KITA INI! AKU NGGAK PEDULI SEKARANG KAMU LEBIH SUKA TEMENAN SAMA NATHAN KARENA DIA PINTAR, KAYA, ATAU APALAH ITU! TAPI, KAMU UDAH MENGIYAKAN BUAT JADI VOKALIS KITA, PEGANG KATA-KATAMU!"
Virgo dan Doni menepuk-nepuk pundak Alfi, mencoba menenangkannya.
Raka menelan ludah, merasa sangat bersalah. "Aku..."
Alfi mengibaskan tangannya, lalu pergi meninggalkan Raka diikuti yang lain, kecuali Dhihan.
"Pertunjukan band ini penting banget buat dia," kata Dhihan sambil merangkul bahu Raka. "Katanya, adik Alfi mau datang nonton. Kamu tahu sendiri, kan, sejak ortunya cerai, dia udah lama nggak ngelihat adiknya" Nah Alfi pengin bikin adiknya bangga ngeliat dia."
Raka termenung sejenak. "Aku..." katanya kemudian. "Apa kamu juga berpikir, aku berteman sama Nathan gara-gara dia kaya, populer, dan pintar""
"Kalau orang lain, mungkin aku percaya," jawab Dhihan. "Tapi, kalau kamu..." Dia menggeleng.
Raka menatap teman sebangkunya itu.
"Waktu SMP dulu," lanjut Dhihan, "waktu ayahku dituduh korupsi dan teman-teman menjauhiku, kamu satu-satunya orang yang masih mau temanan sama aku. Dan, aku ingat banget kata-katamu waktu itu: 'Orang nggak bisa milih siapa bapaknya, ibunya, sukunya, warna kulitnya, jenis kelaminnya, bahkan kadang-kadang agamanya. Jadi, konyol kalau aku ngejauhi orang gara-gara hal yang nggak bisa mereka pilih sendiri. Kayak orang bego aja'."
Raka mengangkat alis. "Aku pernah ngomong gitu, ya""
Dhihan mengangguk mantap. "Lagian, kalau kamu bisa dekat sama Nathan, dia pasti anak baik."
Raka mengernyit. "Gimana kamu bisa tahu""
"Soalnya, aku juga dekat sama kamu," jawabnya.
Kalau aku bilang, yang dekat sama kamu anak nggak bener, berarti aku juga, dong."
Raka mendengus, Dhihan tertawa.
"Terus apa yang harus aku lakukan buat minta maaf"" Raka menghela napas, bingung.
"Aku bakal minta temen-temen ngasih kamu satu kesempatan lagi," ujar Dhihan. "Dan, kali ini, kamu harus datang."
"Oke," sahut Raka lega.
Pulang dari sekolah, Raka membelokkan motornya ke Music
Store tak jauh dari kompleks rumahnya.
Matchbox 20... Garbage... The Used... Sugar Doni... dia membaca daftar penyanyi di bagian new release. Terlalu banyak CD yang ingin dibeli membuat Raka bingung. Sambil menentukan pilihan, dia menelusuri bagian lain dari toko tanpa arah pasti.
Raka membaca nama-nama yang tercantum di CD-CD yang terpampang di area itu. Mozart... Beethoven... Wagner... Chopin... Dahi Raka berkernyit. Saat dia mendongak untuk melihat papan yang terpampang di rak terbaca tulisan: MUSIK KLASIK.
"Ini boleh dicoba"" tanyanya pada penjaga toko sambil mengacungkan CD Mozart.
"Silakan," jawab penjaga itu.
Musik mulai mengalun melalui headphone di telinga Raka.
Piano "Sonata in C Major", dia membaca daftar di sampulnya. Lagu berikutnya "Symphony No. 40 in G Minor".
Setelah seluruh lagu dalam satu album itu selesai dimainkan, Raka memutar ulang lagi dan lagi hingga dia hafal lagu mana dengan judul apa. Saat akhirnya berhasil mengingat lagu-lagu itu, Raka tak habis pikir kenapa dia melakukan semua itu.
"Hei!" Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya.
Raka menoleh dan langsung terpekik kecil. "Nad!"
"Ya," Nadya menyipitkan mata.
"Ngapain di sini""
"Cari pertanyaan yang lebih cerdas, dong," jawab Nadya enteng sambil memilih-milih CD. "Sial... nggak ada..." keluhnya beberapa saat kemudian.
"Apa yang nggak ada"" tanya Raka.
Nadya menoleh. "Hoh, kamu masih ada di sini""
"Your wish is my command," ucap Raka sambil membalikkan badan. "Duluan, ya."
Belum sempat Raka melangkah, Nadya menarik ransel cowok itu. "Tunggu! Tunggu!"
"Aku nggak maksud ngusir kamu," katanya."
"Yeah... right."
"Itu cuma pertanyaan spontan," tambah Nadya.
"Oke, terima kasih penjelasannya," kata Raka. "Sekarang, bisa nggak kamu lepasin ransel aku" Aku mau pulang, nih."
"Oops!" Nadya melepaskan tangannya.
"Thanks!" "Tunggu!" sergahnya lagi.
"Apa lagi"!!" tanya Raka agak jengkel.
Nadya tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya berkata, "Ngg... mau nemanin minum""
Toko musik ini juga punya kafe di lantai bawah. Walaupun rasa makanannya tidak sesuai dengan harga yang harus dibayar, tetapi minumannya patut diacungi lima jempol. Bahkan, di tempat lain, belum ada cappucino seenak yang disediakan kafe di tempat ini.
Raka berpikir sebentar. "Boleh," jawabnya.
Nadya tersenyum. "Tapi, bayar sendiri-sendiri, ya," ujarnya setelah mereka menuruni tangga menuju kafe.
"HEIIII!!!!!!" protes Raka.
*** Lagu "Do You Realize"-nya Flaming Lips mengalun ketika mereka memilih tempat duduk. Satu kelebihan lagi dari kafe ini adalah suara musik selalu mengalun.
"Tadi, apanya yang nggak ada"" Raka memulai obrolan setelah pelayan mengantarkan minuman pesanan mereka.
"CD-nya George Gershwin," jawab Nadya sambil mengaduk-aduk strawberry frappucino-nya.
"Ooh..." Raka memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak mau terlihat bodoh. Dia tidak tahu sedikit pun siapa itu George Gershwin.
"Dia itu komposer dari Amerika yang lahir di akhir abad ke-19," lanjut Nadya.
Raka melongo. Cewek ini benar-benar bisa membaca pikirannya, ya"
"Aku dengar, katanya kamu mau ngapa-ngapain Sarah, ya""
"UHUK!!!" Raka hampir mati tersedak mendengar itu.
"Kamu percaya"" tanyanya.
Nadya mengangkat bahu. "Kalau lihat tampangmu... iya," sahutnya santai. "Tapi... itu kalau aku belum kenal kamu," tambahnya.
"Jadi, sekarang kamu udah kenal aku"" tanya Raka seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.
Nadya tersenyum. "Pernah di-skors dua kali gara-gara berantem, nggak peka, bodoh dalam segala hal yang berhubungan sama sains, selalu bertindak sebelum berpikir, suka ikut campur urusan orang lain..."
Nadya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Jago dalam sejarah, bercita-cita jadi sutradara film, peduli sama orang lain, baik sama siapa pun, dan berantem cuma gara-gara dia nggak tahu cara menyampaikan pikirannya lewat kata-kata."
Raka mengernyit. "Kamu lagi ngomongin siapa""
"Aku tahu kamu cuma nyoba menyadarkan Sarah," ujar Nadya, tak menggubris kata-kata Raka. "Kamu ma
u nolong dia, kan""
"Itu yang harus dilakukan." Raka mengangkat bahu.
"Hah... kamu emang terlalu baik, Ka," desah Nadya. "Pantas aja hampir semua cewek di kelas suka kamu."
"Hah"" "Kamu nggak tahu, ya""
"Nggak ada yang pernah ngomong ke aku."
Nadya memutar bola mata. "Tentu aja mereka malu, tolol. Mereka nunggu kamu ngomong duluan."
"Tapi, aku kan, nggak cakep, nggak pinter, nggak keren," ujar Raka masih tak percaya dan sedikit minder. "Apanya yang bisa disukai""
"Karena kamu nggak sadar kalau kamu keren itulah kamu jadi sangat keren," jawab Nadya. "Orang yang menyukai dirinya sendiri apa adanya dan nggak pernah berusaha jadi orang lain adalah orang yang sangat keren," jelas Nadya panjang lebar. "Sama kayak orang yang nggak malu ngaku bahwa dia suka musik klasik walaupun dia tahu beberapa orang akan ngejek dia," tambahnya.
"Tunggu, itu..." Raka menyipitkan mata. "Tentang apa yang bikin aku tampak keren. Itu pendapat mereka atau cuma pendapatmu sendiri""
Tiba-tiba wajah Nadya memerah.
"Ka-kayaknya, mereka juga berpendapat gitu," katanya tergagap, lalu cepat-cepat meminum minumannya sampai habis.
"Hohoho, jadi kamu pikir aku keren"" tanya Raka sambil tersenyum jail.
"Yah..." Nadya sudah dapat menguasai diri lagi. "Standarku tentang itu emang rendah."
Raka menggeleng-geleng, kecewa.
Nadya tertawa. "Tapi kamu emang baik, kok," katanya. "Aku lihat waktu kamu sama Nova."
Raka mengangkat alis. "Nova""
"Anak X-12 yang kamu bantu nyari kunci motor," jelas Nadya.
"Oh, itu" Lho, kamu lihat""
"He-eh, aku habis ngumpulin tugas di ruang guru."
"Aku heran," kata Raka. "Dia bilang dia udah sejam nyari kuncinya di situ, tapi kenapa nggak ada yang nolongin, sih" Bukannya banyak yang lewat situ""
"Pernah denger kisah tentang ulat dan kupu-kupu"" tanya Nadya, alih-alih menjawab pertanyaan cowok itu.
Raka menggeleng. "Kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari," jelas Nadya. "Tapi gimana kalau yang terperangkap adalah ulat yang belum jadi kupu-kupu" Orang tetap nolong nggak" Padahal, keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik supaya ditolong."
"Jadi, maksudmu, nggak ada yang nolong Nova gara-gara dia nggak cantik""
"Kasar, tapi emang begitulah kenyataannya," ujar Nadya. "Orang-orang yang lewat berpura-pura nggak lihat."
"Ada-ada aja, sih!" gerutu Raka tak habis pikir. "Emangnya ada yang kayak gitu" Kenapa harus cantik biar ditolong" Nggak masuk akal! Dangkal banget!"
Nadya tersenyum. "Ini yang kumaksud."
"Hah"" "Itu yang bikin kamu disukai cewek-cewek," lanjutnya. "Kamu nggak pernah milih antara ulat dan kupu-kupu."
Keduanya terdiam cukup lama.
*** "Kamu sering ke sini"" tanya Raka, mengalihkan omongan.
"Setiap Rabu," jawab Nadya. "Soalnya, cuma setiap Rabu, di sini diputar musik klasik."
Musik yang mengalun berganti menjadi musik klasik dengan dentingan piano yang ringan dan ceria.
"Iya, kan"" Nadya memejamkan mata, menikmati musik itu sambil tersenyum. "Mozart..."
Raka memandangnya dan tak sengaja mengucap. "Piano Sonata in A Major."
"Hah"" Nadya membuka mata dengan terpana. "Kamu tahu""
"He-eh, kalau cuma Mozart, aku cukup tahu." Raka menyeringai.
Nadya menggeleng. "Kamu ini emang selalu penuh kejutan, ya," katanya riang.
Raka meringis. Musik berganti lagi, kali ini bunyi horn seperti di perayaan-perayaan kerajaan.
"Horn Concerto No. 4 in E-Flat Major," kata Raka kemudian.
Nadya tampak terkesan dengan tebakan cowok itu. "Hebaaaaaat!!!!" pujinya. Dia tersenyum lebar. "Kamu benar-benar penuh kejutan."
Raka ikut tersenyum. Entah mengapa, melihat Nadya senang seperti itu, dia ikut merasa senang. Setelah itu, mereka berlomba adu cepat menebak judul lagu klasik yang dimainkan dan tentu saja Raka kalah telak. Setelah itu, mereka ngobrol lagi tentang film. Kali ini, film yang memainkan musik-musik klasik seperti The Witchess of Eastwick, Joy Luck Club, Apocalypse Now, Moonstruck, sampai The
Godfather. Dada Raka bergemuruh. Akhirnya, dia sadar kenapa tadi mati-matian menghafalkan semua lagu Mozart. Dia ingin bisa menikmati apa yang dinikmati Nadya, menyukai apa yang disukainya, tertawa bersamanya, tersenyum bersamanya. Dia sadar dia telah jatuh cinta.
"Kali lain, kita ulangi lagi, ya"" kata Nadya.
"Hah"" Raka tergagap.
Nadya menelengkan kepala. "Minum, ngobrol... Baru kali ini aku merasa nyaman ngobrol sama seseorang. Dan, aku nggak mau ini jadi yang terakhir."
Jantung Raka terasa sudah hampir terlontar dari tempatnya.
"TENTU AJA!!!" * * * - 13 - Pagi itu, Raka bertemu Dhihan di tempat parkir.
"Aku udah ngomong sama anak-anak," kata Dhihan menghampiri Raka. "Latihan lagi hari ini sepulang sekolah. Pastikan kali ini kamu datang!"
Raka mengangguk. "Alfi masih marah""
"Kita lihat waktu kamu datang latihan nanti," jawab teman sebangku Raka itu.
"Caraka!" Ketika dia dan Dhihan melewati ruang guru, tiba-tiba Raka mendengar seseorang memanggilnya.
Cowok itu berhenti dan melongok ke dalam ruangan.
"Raka!" Bu Ratna melambai-lambaikan tangannya.
"Oke, kalo gitu aku duluan," kata Dhihan.
"Sip!" *** "Ada apa, Bu"" tanya Raka sambil duduk di depan meja Bu Ratna.
"Ibu dengar, beberapa waktu lalu, kamu berniat berbuat jahat pada Sarah, ya""
Raka hampir jatuh terduduk mendengar hal itu.
"Bu! Saya..." Bu Ratna tertawa. "Ibu tahu, itu cuma salah paham."
Raka menghela napas lega. "Terima kasih, Bu."
"Ibu tahu, walaupun kamu bisa saja merampok, mencopet, mencuri, dan memeras, tapi kamu sama sekali bukan orang yang bisa memerkosa," tambah Bu Ratna.
"Bu Ratna," Raka menyipitkan mata. "Apa Ibu sadar Ibu sedang mengatakan hal itu pada MURID Ibu""
"Saya sadar saya mengatakan itu PADAMU," kata Bu Ratna diiringi tawa. "Oh, sudahlah," katanya kemudian setelah melihat wajah Raka yang menunjukkan rasa tidak senang. "Yang pasti, apa pun yang sudah kamu lakukan pada Sarah waktu itu, kamu membuatnya mengubah pikirannya lagi untuk ikut dalam perlombaan esai lingkungan hidup."
"Yang benar"" seru Raka tak percaya.
Bu Ratna mengangguk. "Dia menemui saya dua hari yang lalu, sekaligus menyerahkan tulisan dan semua persyaratan lombanya."
Raka tersenyum. "Batas lomba tinggal dua hari lagi," lanjut Bu Ratna.
"Lalu, apa hubungannya semua ini dengan saya, Bu"" Raka mengerutkan dahi.
"Ibu minta tolong padamu untuk memastikan supaya Sarah tidak mengubah pikirannya lagi dalam dua hari ini," pinta Bu Ratna.
"Kenapa saya""
"Karena, sepertinya dia hanya mendengar ucapanmu," jawab Bu Ratna.
Raka terdiam sejenak, lalu menggeleng.
"Saya tidak mau," jawabnya tegas hingga Bu Ratna tampak terkejut. Sepertinya, guru ini tidak menyangka permintaannya akan ditolak.
"Saya tidak mau menolongnya, dia yang harus menolong dirinya sendiri," jelas Raka. "Kalau dia mau mengubah pendiriannya lagi, itu urusannya. Dia yang harus membuat keputusan untuk dirinya, bukan Ibu, apalagi saya. Ini hidupnya. Jadi, tidak adil rasanya kalau orang lain yang memutuskan apa yang terbaik untuknya. Yang bisa dan telah saya lakukan hanya membantunya menjadi dirinya sendiri."
Bu Ratna menatap Raka tak percaya.
Raka bangkit dari tempat duduknya. "Kalau Ibu nggak keberatan, saya permisi dulu. Jam pertama sudah mau dimulai."
"Raka!" sergah Bu Ratna begitu cowok itu hendak keluar dari ruangan.
Raka menoleh. "Kamu sudah dewasa," katanya sambil tersenyum.
"Belum," Raka menggeleng. "Masih belum. Masih banyak yang nggak saya tahu dan nggak saya mengerti."
Bu Ratna tersenyum lagi. "Itulah yang dinamakan dewasa."
*** Keluar dari ruang guru, Raka bergegas ke toilet. Di sana, dia mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
"Hoi!!" panggilnya. "Kamu nggak apa-apa""
Tidak ada jawaban. Tidak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi.
Sial! gerutu Raka, tetapi dia tidak bisa membiarkan orang yang muntah-muntah itu begitu saja.
"Hoiiiii!!!!" Raka menggedor-gedor pintu. Dia mencoba memutar pegangan pintu untuk masuk dan ternyata tidak terkunci. Pin
tu terbuka dan dia melihat Nathan sedang berlutut di depan kloset.
"Kamu nggak apa-apa"" tanya Raka panik. Wajah Nathan pucat dan dia masih muntah-muntah.


Let Go Karya Windhy Puspitadewi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kamu kenapa lagi, Than" Obatmu" Kamu udah minum obatmu"" Raka merogoh sakunya. "Aku cuma punya Counterpain!"
Raka mulai meracau saking paniknya. Dia memegangi bahu Nathan dengan kencang, sedetik kemudian teman sekelasnya itu ambruk.
Sekolah sudah hampir selesai dan Nathan masih belum sadar juga. Raka menemaninya sepanjang hari karena dokter yang seharusnya berjaga di UKS menghilang entah ke mana.
"Kamu menungguiku dari tadi""
Raka menoleh. "Kamu udah bangun""
Nathan menatap ke arah jam dinding di ruangan itu. "Kamu menungguiku dari tadi"" ulangnya.
"Mau gimana lagi"" Raka mengangkat bahu. "Dokternya nggak tahu ke mana. Aku nggak bisa membiarkanmu sendirian di sini."
"Kenapa"" "Pertanyaanmu menjengkelkan, tahu nggak"" ujar Raka. "Emangnya, semua perbuatan baik harus ada alasannya""
"Biasanya, sih, begitu," akunya jujur sambil berusaha untuk duduk. Raka membantunya dan menyerahkan kacamatanya.
"Menyedihkan sekali dunia tempat kamu tinggal selama ini," kata Raka.
"Untung aja sebentar lagi aku bakal meninggalkannya," kata Nathan datar.
Raka terdiam. "Kenapa kamu bisa sesantai itu"" tanyanya.
Nathan menatapnya. "Emangnya kamu maunya aku gimana""
"Nggak tahu." Raka mengangkat bahu. "Murung, nangis. Mungkin, kamu teriak-teriak histeris, 'Kenapa harus aku" Kenapa harus aku"'. Atau, yang kayak gitu cuma di sinetron aja""
Nathan tersenyum sinis. "Masa itu udah lewat."
"Kapan kamu tahu tentang ini""
"SMP kelas IX."
Sejenak, hening di antara mereka.
"Kenapa kamu nggak istirahat di rumah aja"" tanya Raka, memecah keheningan.
"Emangnya ada bedanya"" Nathan balik bertanya. "Ini cuma masalah waktu. Aku nggak mau membuang-buang waktuku sia-sia, kayak yang pernah aku bilang."
"Kamu ini hebat juga," kata Raka. Kekagumannya pada Nathan bertambah. Cowok ini tahu, tidak semua orang bisa menghadapi penyakit mematikan itu seperti sikap Nathan ini.
"Yah... tapi..." tiba-tiba pandangan mata Nathan menerawang, "nggak juga..."
"Sudah stadium berapa"" tanya Raka ingin tahu.
"Apa pedulimu""
Raka hanya mengangkat bahu.
Nathan menghela napas. "Akhir."
Raka tertegun. Mulutnya ternganga.
"Kamu kasihan sama aku"" tanya Nathan sinis. setelah berhasil menguasai diri, Raka menggeleng.
"Aku kasihan sama orang-orang yang bakal kamu tinggalkan," katanya, lalu membantu Nathan berdiri. "Bilang padaku, kamu bersikap dingin pada orang-orang karena memang itu sifatmu atau karena kamu ingin mencegah lebih banyak orang yang bersedih atas kematianmu""
Nathan tidak berkata apa-apa.
Tiba-tiba, terdengar derap langkah seseorang berlari mendekat. Dan, tidak lama kemudian, Nadya muncul di ambang pintu dengan terengah-engah.
"Kalian masih di sini!" kata Nadya setengah berteriak, lalu menatap Nathan khawatir. "Kamu udah nggak apa-apa""
"Ya," sahut Nathan sambil memakai sepatunya.
"Ada apa"" tanya Raka.
"Begini," kata Nadya setelah berhasil mengatur napas. "Ada PR matematika yang harus dikumpulkan besok pagi." Dia menyodorkan soal-soal untuk PR itu kepada Raka.
"Sebanyak ini"" Raka melotot.
"Sebenarnya, itu tugas yang harus diselesaikan hari ini," jelas Nadya. "Tapi, gara-gara nggak ada yang selesai, dijadikan PR."
"Jadi, maksudmu, selain kami, semua anak di kelas udah bikin, seenggaknya, setengah dari soal-soal ini"" tanya Raka berusaha mencerna penjelasan Nadya karena perutnya mendadak merasa mual melihat soal matematika sebanyak itu.
Nadya mengangkat bahu dan memandangnya iba. "Sayangnya, iya."
Raka langsung terduduk di kursi. "Padahal, hari ini ada janji latihan sama anak-anak. Why God" Why""
"Uugh... buat soal matematika sebanyak ini, aku butuh waktu seharian!" gerutu Raka gusar sambil mengacak-acak rambut. Lalu, dia menoleh ke arah Nathan. "Kamu gimana""
"Lebih baik, kamu khawatirkan dirimu sendiri dulu sebelum khawatir buat orang lain," jawab cowok itu. "Aku bisa menyelesaikan semua soal
itu dalam waktu satu jam."
"Di saat seperti inilah, aku merasa hidup itu nggak adil," komentar Raka menanggapi kata-katanya.
"Ah, sudahlah!" Raka bangkit dan mengambil tasnya. "Que serra serra whatever will be, will be!" katanya sambil berlalu. Cowok ini menghentikan langkahnya sejenak ketika akan melewati Nadya. "Thanks."
Nadya mengangguk. "Kamu mau lihat jawabanku" Aku udah hampir selesai."
"Makasih, tapi aku benci diremehkan. Aku kerjakan sendiri dulu," tolak Raka.
Nadya menghela napas. "Batas antara keras kepala dan bodoh itu emang sangat tipis."
"Busyet!" seru Raka sambil memandangi Nadya dan Nathan secara bergantian sebelum dia keluar. "Kalian benar-benar mirip! Kalian sadar nggak""
*** Di koridor menuju tempat parkir, langkah Raka terhenti karena tak jauh di depannya, Sarah tampak dikerubungi para senior. Sepertinya, dia sedang dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya untuk mengikuti lomba esai lagi.
Sarah melihat Raka dan menatapnya dengan tatapan yang mengharapkan bantuan. Namun, kali ini, Raka hanya diam. Bahkan, malah melipat kedua tangannya dan menyandarkan diri ke dinding. Hanya memperhatikannya dari jauh.
Walaupun nggak bisa mendengar pembicaraan mereka, Raka tahu, para senior itu sedang mendesak Sarah untuk membatalkan keikutsertaannya lagi. Melihat wajah Sarah, Raka hampir mengira dia akan menyerah dan menuruti kemauan senior-seniornya, tetapi ternyata, yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan. Sarah memejamkan mata dan menutup kedua telinganya.
"NGGAK!" teriaknya.
Semua orang di sekitarnya tampak terkejut, bahkan senior-senior itu sampai mundur beberapa langkah.
"Maaf! Aku nggak mau!" katanya masih dengan nada tinggi, tetapi kali ini dia sudah membuka mata. "Aku emang bisa ikut lomba ini lagi tahun depan atau tahun depannya lagi, tapi aku mau ikut tahun ini. Kalau nggak, semuanya nggak akan sama lagi! Hari ini nggak akan sama dengan besok, tahun ini nggak akan sama dengan tahun depan!"
Dia berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Maaf, mungkin, ini cuma keegoisanku," lanjutnya. "Tapi, kalau aku mundur sekarang, aku merasa, sampai kapan pun aku nggak akan bisa maju. Aku nggak mau kalah sebelum bertarung. Sungguh! Aku berharap Kakak-Kakak memaklumi keegoisanku ini."
Sarah menunduk-nunduk. "Karena kalau menyangkut masalah mementingkan diri sendiri, kayaknya kalian lebih tahu daripada aku!" katanya sebelum kemudian bergegas pergi dan berlari menghampiri Raka. Senior-senior itu hanya bisa melongo melihatnya.
Raka tersenyum lebar menyambut Sarah.
"Sekarang, kamu mau nggak nolong aku" Ajak aku pergi secepatnya dari sini"" pinta Sarah dengan napas terengah-engah dan bibir gemetar.
"Sampai gerbang depan""
"Terserah," jawabnya.
"Oke!" Raka mengangkat bahu, lalu menarik tangan Sarah. Ketika melewati para senior yang masih nggak sanggup berkata apa-apa, Raka menatap tajam ke arah mereka dengan pandangan jangan-ganggu-dia-lagi. Orang-orang itu cepat-cepat menunduk dan menyingkir dari situ.
"Bagaimana rasanya"" tanya Raka sambil memakai helm.
Sarah menghela napas. "Lega..."
Raka menyalakan mesin motor. "Emang begitu seharusnya."
"Raka..." kata Sarah ketika mereka sampai di depan gerbang.
"Uhm"" "Makasih, ya..."
Raka mengangkat bahu. "You are welcome."
"Apa yang sudah kamu lakukan sangat berarti buatku," kata Sarah.
Sarah menatap Raka dengan tatapan yang lain dari biasanya. Raka tidak mau menduga-duga, tetapi dia punya firasat buruk tentang hal itu.
*** "Kita ulangi sekali lagi!" teriak Alfi.
"SERIUS"""" jerit Raka. Sudah lima jam lebih mereka berlatih hingga suaranya hampir hilang.
Alfi menatapnya tajam. "Protes""
Raka menghela napas. "Oke! Oke! Mau diulangi" Kita ulangi aja!"
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam dan dia sama sekali belum mengerjakan satu soal pun dari PR matematika yang harus dikumpulkan besok pagi.
"Sudahlah, Al, kasihan Raka." Dhihan mencoba membantu. "Dia juga belum ngerjain PR matematika-nya."
"Itu masalah dia!" kilah Alfi. "Siapa suruh dia pake acara neme
nin Nathan" Dan, siapa suruh dia nggak datang di dua kali latihan kita" Sampai aku bilang latihan ini selesai, kita akan terus latihan!"
Raka menepuk-nepuk bahu Dhihan dan mengangguk-angguk, menunjukkan dia tidak apa-apa. Dia sadar Alfi dan yang lainnya memang berhak marah kepadanya. Ini adalah konsekuensi yang harus dia tanggung.
"Oke! Sekarang lagu apa"" tanya Raka.
"The Verve - Bittersweet Symphony," jawab Virgo.
"Oke! One... two..." Doni memberi aba-aba dengan stick-nya. "One two three!"
Latihan baru selesai pukul sepuluh malam.
Raka sudah merasa hampir mati kelelahan, padahal yang dilakukannya hanya menyanyi. Dia menjatuhkan diri ke ranjang, tapi sejurus kemudian bangkit lagi, teringat soal-soal matematika yang belum diselesaikan. Dia menjatuhkan dirinya lagi dan mencoba bersikap seperti teman-teman yang lain yang menganggap tidak mengerjakan PR adalah hal biasa, tetapi matanya tidak bisa terpejam.
Come on Raka! Kamu toh bukan murid teladan, nggak akan ada yang peduli kamu mengerjakan PR atau nggak! umpatnya dalam hati.
Tidak berhasil. Dia bangkit dan turun ke dapur untuk membuat kopi. Akhirnya, dengan bantuan sepuluh gelas kopi, tepat pukul dua pagi, dia berhasil menyelesaikan semua soal itu, tak peduli apakah jawabannya benar atau salah. Dan, sedetik kemudian, dia langsung tertidur.
* * * - 14 - "WHOAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Tiba-tiba, hampir seisi kelas berteriak saat Raka datang keesokan paginya.
Saat cowok itu berjalan menuju mejanya, beberapa anak bersiul dan semua cewek di kelas tersenyum, lalu berbisik-bisik setiap kali dia melewati meja mereka.
"Ada apa, sih"" tanya Raka kebingungan pada Dhihan sambil menjatuhkan diri ke kursi.
Dhihan mengangkat bahu. "Gosip tentang kamu sama Sarah udah nyebar."
"Gosip aku yang nyoba memerkosanya"" Raka mendelik.
"Kamu nyoba memerkosa Sarah"" tanya Dhihan balik dengan nada tak percaya.
"Oh, jadi bukan itu, ya"" Raka berdehem beberapa kali. "Gosip apa lagi, sih""
"Banyak yang lihat kamu narik tangan Sarah dan ngajak dia pergi, mereka pikir kalian udah jadian," jawab Dhihan. "Tapi seriously, kamu benar-benar nyoba memerkosa dia""
"Stop, deh! Itu cuma salah paham!" gerutu Raka. "Tapi, ada gosip aku jadian sama dia""
Dhihan mengangguk mantap. "Benar, ya""
"Nggaklah!!" Raka hampir menjerit. "Emang Sarah nggak nyangkal atau apa gitu""
Dhihan menunjuk ke arah kerumunan cewek-cewek di meja, tak jauh dari meja mereka. "Lihat saja sendiri."
Di meja yang ditunjuk Dhihan, Sarah sesekali mencuri pandang ke arah Raka. Namun, kemudian, cepat-cepat mengalihkan pandangan dan tersenyum malu-malu saat cowok itu melihatnya. Teman-temannya yang mengerubungi ikut memperhatikan Raka sambil cekikikan.
Raka menghela napas. Ya, Tuhaaaan.
Tiba-tiba, Sarah bangkit dan berjalan menghampiri Raka, diikuti sorakan dari teman-teman satu kelas. Raka sambil menelan ludah ketika akhirnya-dengan wajah yang seperti udang rebus-Sarah berdiri di depannya.
"Na-nanti, kita rapat Veritas lagi," katanya dengan canggung.
"O-oke," jawab Raka tak kalah canggung. Wajahnya ikut-ikutan memerah.
Sarah mengangguk-angguk cukup lama, lalu berjalan cepat-cepat menuju mejanya lagi. Suara riuh-rendah kembali menghiasi kelas.
"I told you, dia benar-benar suka kamu," kata Dhihan setengah berbisik. "You break my heart, kamu seneng, kan""
Raka menggeleng tak percaya. "Percaya, deh, aku justru pengin banget bilang kamu lagi bercanda."
Raka nggak bisa berbohong bahwa dia senang. Ini kali pertama dia tahu ada seseorang yang menyukainya. Namun, dia akan jauh lebih senang kalau saja hal ini terjadi sebelum dia menyadari perasaannya pada orang lain.
Nadya! pekiknya dalam hati. Raka langsung mencari-cari sosok cewek itu. Nadya sedang membaca sesuatu di meja pojok depan. Sepertinya, Nadya sadar sedang diperhatikan karena kemudian dia menoleh. Walaupun sempat terkejut, dia tersenyum seakan-akan tidak terpengaruh dengan kehebohan yang baru saja terjadi. Kemudian, dia meneruskan membaca lagi. Anehnya, melihat Nadya sama sekali tidak terganggu dengan gosip
ini justru membuatnya sangat terganggu.
Kepala Raka yang terasa pusing karena kekurangan tidur sekarang terasa bertambah berat. Dan, saat pelajaran matematika baru berjalan 15 menit, dia sudah tidak sanggup lagi menahannya, lalu semuanya gelap.
*** "Caraka..." Samar-samar, Raka mendengar namanya dipanggil.
"Caraka..." "Uhm..." Raka hanya menggumam, berpikir paling-paling itu hanya suara dalam mimpinya saja.
"CARAKA !!!" Raka hampir terjatuh dari kursi saking kagetnya. Sambil berusaha mengumpulkan nyawa dengan mata masih mengerjap-ngerjap, dia melihat Pak Anung sedang berdiri di samping mejanya dengan mata melotot.
"Apa yang kamu lakukan"" tanya guru itu dengan intonasi tinggi.
"Sa-saya ketiduran, Pak," jawab Raka sambil mengucek-ngucek mata.
"Jangan memberi jawaban yang sudah jelas seperti itu," kata Pak Anung tajam.
"Saya tadi malam-"
"Sudah!" potong Pak Anung. "Bapak tidak butuh alasan! Yang saya tanyakan, bisa-bisanya kamu tidur di saat jam pelajaran saya""
Raka menelan ludah dan hanya diam. Dia tahu, mencoba menjawab dan memberi alasan lagi akan lebih memperburuk keadaan.
"Kamu pikir kamu itu siapa"" tanya Pak Anung retoris. "Einstein" Newton" Hingga kamu merasa kamu sudah tidak butuh mendengarkan pelajaran saya lagi" Kalau nilaimu bagus, sih, kamu berhak meremehkan pelajaran saya, tapi lihat nilaimu!"
Seisi kelas hening, tidak ada yang berani membuka suara. Bahkan, bernapas pun, mereka coba sepelan mungkin melakukannya.
"Kamu pikir, saya tidak tahu reputasimu"" lanjut Pak Anung. "Nilaimu di semua pelajaran sains parah semua, kamu sadar itu""
Raka mengangguk lemah. Ternyata, emosi Pak Anung masih belum reda.
"Dan, kamu masih mencoba menganggap enteng pelajaran saya"" ujarnya berapi-api. "Cuma bagus di sejarah, apa gunanya" Anak bodoh sepertimu tidak akan punya masa depan-"
"PAK!" Tiba-tiba, seseorang memecah keheningan yang sepertinya justru akan membawa keheningan berikutnya yang lebih mencekam karena dia berani memotong kata-kata Pak Anung. Hampir seisi kelas menoleh ke arah sumber suara yang entah berani atau bodoh itu.
"Ada apa, Nathan"" tanya Pak Anung sambil menatap tajam Nathan yang sekarang sedang berdiri.
"Saya keberatan dengan ucapan Bapak," jawabnya tenang. Tak terlihat sedikit pun rasa takut terpancar di wajahnya.
Pak Anung berjalan mendekati meja Nathan. "Kalau boleh saya tahu, kamu keberatan di bagian mananya""
"Saya keberatan dengan kata-kata Bapak yang bilang bahwa Caraka bodoh," tegas Nathan. "Apa Bapak sadar, Bapak adalah seorang guru dan Bapak mengatakan hal itu kepada murid Bapak""
Pak Anung terdiam, begitu juga seisi kelas. Tidak lama kemudian, dia berbalik menuju meja guru, lalu merapikan buku-bukunya.
"Saya tidak suka dibantah maupun dikoreksi tentang cara saya mengajar ataupun berkomentar," katanya sambil membereskan meja.
"Kalau Bapak seperti itu, bagaimana jadinya kami sebagai murid Bapak nanti"" tanya Nathan tajam.
Nathan sengaja menginjak granat! Dia sudah gila! pikir Raka.
Mata Pak Anung sampai hampir keluar karena melotot mendengar kata-kata Nathan. Anak-anak satu kelas pun menelan ludah dalam waktu hampir bersamaan karena suaranya terdengar jelas.
"Nathan," geram Pak Anung. "Hanya karena kamu menonjol dalam semua mata pelajaran, terutama matematika, bukan berarti kamu boleh berkata seperti itu kepada saya. Sepulang sekolah, kamu dan Caraka temui saya di kantor guru!"
Setelah itu, Pak Anung pergi dengan langkah cepat, kelihatan sekali dia sedang marah besar. Helaan napas saling bersahutan seiring dengan kepergiannya. Seisi kelas pun mulai ramai, berbisik-bisik sambil memandang Nathan. Sementara itu, yang menjadi pusat perhatian hanya diam saja dan membaca buku entah apa.
"Dia gila!" komentar Dhihan merujuk pada Nathan.
"Sangat," sahut Raka sambil menatap Nathan, tak habis pikir kenapa dia sampai membelanya seperti itu.
*** Pak Anung benar-benar marah besar. Kalau bukan karena Bu Ratna yang membela habis-habisan, mungkin Raka dan Nathan sudah di-skors dan itu akan menjadi rekor ter
sendiri, khususnya untuk Raka. Dia sudah familier dengan kata "skors" sejak SMP. Akhirnya, sebagai gantinya, kedua anak itu disuruh mengerjakan 100 soal ujian akhir matematika yang harus dikumpulkan hari itu juga.
"Melihatmu mengerjakannya, kayaknya kita butuh waktu satu tahun," sindir Nathan, mengomentari Raka yang dari tadi tidak juga beranjak dari soal nomor lima.
"Berisik!" gerutu Raka. "Kenapa kamu nggak pulang aja" Toh, kamu udah selesai!"
"Yang benar aja," sahutnya, "dan melepaskan kesempatan melihatmu menderita""
Raka mendongak untuk memastikan apakah Nathan serius dengan ucapannya. Nathan hanya menyunggingkan senyum mengejek, lalu mengalihkan pandangan ke jendela kelas. Mereka terdiam.
"Kenapa"" tanya Raka, membuka obrolan lagi.
"Apanya"" "Kenapa tadi kamu membelaku""
"Jangan ge-er," kata Nathan dingin. "Aku nggak lagi membelamu."
"Tapi, tadi, kamu bilang kamu keberatan dengan kata-kata Pak Anung yang nyebut aku bodoh!"
"Kamu kenapa, sih" Kamu pengin banget, ya, aku membelamu"" tanya Nathan.
DEG! Jantung Raka berhenti berdegup.
Benar juga, ada apa denganku" batin Raka. Seperitnya, dia memang ingin Nathan benar-benar membelanya.
"Ah... sudahlah..." Nathan menghela napas. "Karena aku nggak setuju dengan pendapatnya, karena aku tahu kamu nggak bodoh..."
Raka tertegun, tak menyangka Nathan berpikir seperti itu.
"Kamu ini hanya tolol," lanjutnya. Seketika, tubuh Raka serasa dihempaskan ke tanah dan langsung merasa bodoh.
Melihat perubahan air muka Raka, Nathan tertawa. "Aku bercanda, tampangmu lucu banget! Aku sampai pengin tahu apa yang ada di kepalamu."
"Tali, pistol, kapak, benda apa pun yang berguna buat membunuhmu," jawab Raka.
"Serius," kata Nathan, "aku memang berpendapat kalau kamu nggak bodoh."
"Tapi, tolol." Raka mendengus. "Berapa kali lagi kamu bakal bilang begitu""
Nathan menggeleng. "Orang yang baca banyak buku kayak kamu dan menguasai sejarah nggak mungkin bodoh. Kamu cuma sial hidup karena hidup di tempat dan waktu yang salah. Tempat dan waktu ketika kamu dianggap bodoh kalau kamu nggak pintar dalam hal yang namanya sains.
"Pemikiran sempit kayak gini yang sayangnya juga muncul di kepala Pak Anung dan bikin kesal," lanjutnya. "Walaupun kita hebat di musik, olahraga, seni, ataupun sastra, selama kita nggak menguasai sains, kita tetap nggak dianggap pintar. Sebenarnya, apa salahnya hebat dalam suatu bidang yang nggak berhubungan sama angka""
Raka terdiam. Nathan terlihat gusar, sepertinya dia memang benar-benar sebal dengan pemikiran Pak Anung.
"Itu sama aja menganggap Beethoven itu bodoh, Van Gogh itu idiot, Pele itu bego, dan Shakespeare itu tolol," gerutunya sambil melepas kacamata, lalu membersihkannya dengan lap yang dia ambil dari saku bajunya.
Setelah itu, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.
"Aneh..." gumam Raka kemudian.
"Apanya"" tanya Nathan.
"Buat orang yang bisa semuanya sepertimu," jelas Raka, "sangat aneh punya pemikiran kayak yang barusan kamu bilang."
Nathan termenung. "Aku..." dia diam sejenak. "Nggak tahu juga."
"Aku cuma nggak suka dengan pemikiran itu, kurasa begitu," katanya agak tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
"'Kurasa begitu'"" ulang Raka heran.
Nathan memakai kacamatanya lagi. "Udahlah! Kerjakan dulu soalmu!"
Raka mengerang. "Nggak perlu kamu ingatkan!"
*** Dua jam berlalu dan mungkin akan menjadi tiga jam kalau saja Nathan tidak membimbing Raka mengerjakannya. Bahkan, yang sangat mengherankan, dia bisa menjelaskan pada orang sebebal Raka setahap demi setahap tanpa kehilangan kesabaran.
"SELESAI!!" seru Raka setengah lega setengah kelelahan.
"Akhirnya... Kupikir, baru bisa selesai besok pagi," kata Nathan sinis.
"Terserah apa katamu," sahut Raka. "Tapi, thanks, Than! Kalau nggak kamu ajarin, mungkin emang baru selesai besok."
Nathan tampak menimbang-nimbang sesuatu, lalu menatap Raka dengan tatapan mata serius. "Aku akan membantumu menguasai semua mata pelajaran," katanya.
"Hah"" "Aku akan membantumu lulus dari sekolah ini."
"Kenapa"" tanya
Raka heran. Nathan mengangkat bahu. "Buat membungkam Pak Anung supaya dia nggak meremehkanmu."
"Itu dia!" kata Raka sambil memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas. "Supaya dia nggak meremehkan aku" Apa pedulimu""
Nathan menatap Raka beberapa saat. "Aku nggak tahu," katanya pelan. "Aku cuma merasa aku nggak bisa membiarkanmu begitu saja," katanya. "Anggap saja perbuatan baik sebelum aku mati."
Raka langsung terdiam, entah sejak kapan dia mulai tidak suka mendengar Nathan menyebut-nyebut tentang kematian.
"Berhenti ngomongin itu," kata Raka dingin.
"Kenapa" Aku akan ngomongin apa pun yang aku suka."
"Aku nggak suka mendengarnya," Raka menatap lurus pada Nathan. "Jangan berkata seolah-olah kamu udah nyerah."
Nathan tampak tertegun, lalu tersenyum samar. "Bahaya," gumamnya pelan.
"Bahaya" Apa maksudnya"" tanya Raka heran, tetapi Nathan tidak menjawab. Dia mengambil tasnya, lalu bergegas berjalan ke pintu keluar.
"Tunggu!" sergah Raka sambil berlari mengejarnya. "Kamu belum jawab pertanyaanku-"
Kata-kata Raka terpotong. Di depan kelas, Dhihan dan yang lainnya sedang duduk menunggu.
Raka menatap mereka dengan heran.
Kembalinya Sang Raja 4 Pendekar Rajawali Sakti 121 Rahasia Patung Kencana Pendekar Seribu Diri 6
^