Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 1

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen Bagian 1


Pendekar Pedang Sakti
(Bwee Hoa Kiam Hiap)
Saduran : Liong Pei Yen
Judul Lain : Munculnya Seorang Pendekar : Tjan ID
Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info/
Daftar Isi PENDEKAR PEDANG SAKTI
DAFTAR IS I JILID 1 JILID 2 JILID 3 JILID 4 JILID 05 JILID 06 JILID 07 JILID 08 JILID 09 JILID 10 JILID 11 JILID 12 JILID 13 JILID 14 JILID 15 JILID 16 JILID 17 JILID 18 JILID 19 JILID 20 JILID 21 JILID 22 JILID 23 JILID 24 JILID 25 JILID 26 JILID 27 JILID 28 JILID 29 JILID 30 JILID 31 JILID 32 JILID 33 JILID 34 JILID 35 JILID 36 JILID 37 JILID 38 JILID 39 JILID 40 JILID 41 JILID 42 JILID 43 JILID 44 JILID 45 JILID 46 (TAMAT)
PENUTUP Jilid 1 Pada saat ini adalah musim semi. Diluar kota Kun-beng,
digunung Ngo-hoa-san, salju melayang turun sangat
tebalnya, sehingga keadaan disekelilingnya putih bagaikan
ditabur oleh batu giok dan disana pohon Bwee tumbuh
dengan suburnya. Dikejauhan tampak puncak gunung itu
menjulang tinggi, se-akan2 hendak sambung-menyambung
dengan awan. Pohon2 Bwee yang sangat tinggi2 banyak
terdapat tumbuh disitu dengan sangat rapatnya. Puncaknya
yang tinggi2 itu menjulang kelangit seperti ingin
menjangkau awan putih yang melayang-layang diatasnya.
Pohon2 itu diantaranya sudah mencapai usia ratusan tahun
dan kerasnya seperti besi. Karena banyaknya pohon2 Bwee
ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus
secara langsung kebumi, sehingga disana sini tampak
keadaan sangat gelap. Pohon2 Bwee yang bertumbuhan
ditempat yang sangat indah pemandangannya itu berbau
amat harum semerbak tatkala ditiup angin sepoi2 basah.
Tiba2 dari tempat yang jauh sekali, diantara pohon2
Bwee itu terdengar suara helaan napas, tak lama kemudian
muncul keluar seorang pemuda berpakaian seperti anak
sekolah, datangnya entah dari mana.
Dengan tenang ia berjalan mengelilingi gunung yang
penuh diliputi salju yang berwarna putih itu. Jalan yang
telah dilaluinya tiada membekas jejak2 kakinya kemudian
ia berhenti di bawah sepohon Bwee sambil berpangku
tangan. Dengan penuh perhatian dia memandang pada
sekuntum bunga Bwee yang sedang mekar. Bajunya yang
berwarna putih itu tampak ber-kibar2 ditiup angin yang ber-
desir2 itu. Barang siapa yang melihatnya akan menduga orang itu
dewa yang baru saja turun dari kahyangan.
Pada saat itu dari jurusan lain ditempat yang jauh sekali,
terrdengar suara percakapan orang yang terbawa oleh
desiran angin. Suara itu kedengarannya perlahan sekali.
Muka pemuda yang berhenti dimuka pohon Bwee itu
berubah, mulutnya tersenyum mengejek. Dalam waktu
yang amat pendek dari jauh kelihatan beberapa sosok
bayangan yang samar2 mendatangi ketempat dimana
pemuda itu berada. Dalam waktu beberapa detik saja
mereka sudah sampai ditempat yang tidak jauh dari
pemuda itu berdiri. Kedatangan orang2 itu, yang begitu
cepat sekali sungguh mengejutkan bagi kebanyakan orang,
tapi pemuda itu melihat mereka, hanya tersenyum saja.
Dibalik senyum pemuda itu terbayang wajah asam se-akan2
ia tak senang atas kedatangan orang itu.
Bayangan2 orang itu tampak ber-putar2 disekeliling
puncak gunung itu, kemudian barulah secara langsung
menuju ketempat pemuda itu. Dengan suara perlahan
pemuda itu berkata pada dirinya sendiri : "Mengapa yang
datang hanya empat orang " Apakah barangkali kali ini aku
akan dikecewakannya lagi ......"
Ketika keempat orang itu tiba dihadapannya dalam
diarak beberapa puluh tombak, mereka lalu menahan
langkah mereka. Salah seorang yang mukanya merah
dengan tubuh yang tinggi besar adalah seorang Tojin
(kurang lebih sama dengan pendeta), setelah tertawa
nyaring sekali kemudian berkata : "Tuan sungguh seorang
yang dapat memegang janji, hanya disayangkan bahwa
.kedatangan kami terlambat sedikit."
Suara yang menggeledek itu berkumandang dipegunungan itu, lalu menggema dengan suara 'ung, ung,
ung'. Pemuda itu hanya mengeluarkan suara 'Hmmm' saja.
Dengan menggunakan matanya yang tajam ia lalu
memandang sebentar keempat orang itu. Pandangannya itu
terhenti pada seorang yang berbadan kurus, dan diantara
keempat orang itu dialah kelihatan paling tua umurnya.
Orang tua itu memakai baju yang terbuat dari sutera,
sedangkan dipunggungnya tampak tergantung sebilah
pedang yang panjang. Dahinya lebar, sedangkan matanya
tajam seperti mata burung elang, dan barang siapa yang
memandang orang tua itu pasti akan merasa jeri sekali.
Walaupun muka mereka tampak tersenyum-simpul, tapi
nyata senyuman mereka di-buat2 belaka dan tidak wajar
kelihatannya. Namun hal demikian tidak dapat menutupi
perasaan yang terkandung didalam hati mereka, yaitu
perasaan takut dan kuatir. Sikap demikian tampak jelas
pada salah satu dari keempat orang itu yang paling muda.
Ia tampak sedikit gemetar, sedangkan mukanya yang
tampan itu menunjukkan perasaan keputusasaan yang
dalam. Bayangan muka mereka itu tidak dapat mengelabui mata
pemuda yang seperti anak sekolah dengan mukanya yang
selalu masam itu. Sinar matanya berkilat memandang
keempat orang itu, kemudian dengan suara yang nyaring
dan lantang dia berkata : "Bagus, bagus, diantara kelima
Ciang-bun-jin (ahli waris) dari Bu-lim (rimba persilatan),
sekarang sudah sampai tiga orang, hal itu membuat aku
Bwee San Bin merasa girang sekali, tetapi ...." Disaat itu
mukanya berubah dan dari sinar matanya membayangkan
tegas sekali nafsu membunuh. Kemudian dengan tertawa
dingin dia berkata : "Kun-lun-pay Leng-kong-pouw-hie To
Teng dan Tiam-cong-pay Ciang-bun-jin Huy-hong-kiam Cia
Seng, mengapa sampai saat ini belum muncul juga, apakah
barangkali sengaja mereka tidak memandang sebelah mata
padaku orang she Bwee ?"
Tojin yang bermuka merah itu adalah ketua dari lima
partai terbesar. Dia adalah Ciang-bun-jin dari partai Bu-
tong, yaitu Cek Yang Too-tiang dan waktu dia mendengar
kata2 pemuda ini dengan tertawa ia membalasnya :
"Mendengar nama Tuan yang begitu terkenal, siapa
bilang mereka tidak berani datang, hanya ...." situa itu lalu
melanjutkan perkataan kawannya sambil tertawa sinis :
"Hanya ada seorang yang berkepandaian sepuluh kali
lipat tingginya dari kepandaian kau Bwee San Bin telah
mengundangnya,"
Mata Bwee San Bin terbelalak mendengar jawaban ini,
kemudian dengan pandangannya yang tajam ia menatap
muka situa kurus itu sambil berkata : "Orang itu siapa
namanya " Aku orang she Bwee ingin berkenalan
dengannya."
Orang kurus itu tersenyum, kemudian menyahut : "Jika
kau hisa menjumpai orang itu, aku Li Gok adalah orang
yang pertama kali merasa bergirang."
Muka Bwee San Bin berubah lalu bertanya : "Apa
maksudmu ?"
Cek Yang Tojin melanjutkan kata2nya : "Tuan jangan
lekas naik darah, Huy-hong-kiam Cia Tay-hiap bersama
Leng-kong-pouw-hie To Teng Tay-hiap beberapa bulan
yang lalu sudah pergi saling susul-menyusul sekalipun
mereka tidak dapat menepati janji untuk membalas dendam
yang telah dijanjikannya tiga tahun yang lalu dengan Tuan,
barulah ...." Perkataannya sampai disitu saja, lalu dengan
menggunakan jarinya dia menunjuk pada pemuda ganteng
disampingnya sambil berkata : "Dia adalah murid tingkat
ketujuh dari partai Tiam-cong-pay, dan keturunan Huy-
hong-kiam Cia Tay-hiap, bernama Lok-eng-kiam Cia Tiang
Kheng, hari ini dia datang mewakili ayahnya untuk
memenuhi janjinya."
Bwee San Bin lalu mengeluarkan suara ejekan dan
dengan matanya yang tajam dia memandang Li Gok yang
tengah tertawa dingin itu, kemudian pandangannya
dialihkan kepada Cia Tiang Kheng sambil berkata :
"Saudara Cia gagah sekali, tidak seperti kebanyakan
orang. Karena saudara sudah ada disini, hal itu
menggembirakan saya sekali. Mengenai urusan yang dulu
itu, baiklah kita selesaikan dengan baik, jika Cia Heng
(saudara Cia) tidak mempunyai sangkut-paut yang penting,
lebih baik kau jangan turut campur dalam urusan ini."
Dalam waktu yang pendek itu, apa yang terkandung
dalam hati Cia Tiang Kheng terasa olehnya sangat kacau.
Memang benar perkataan Bwee San Bin ini, karena apa
yang diucapkannya itu justeru bertepatan dengan jalan
pikirannya sendiri, karena dia dilahirkan dan dibesarkan
dalam kalangan dunia Kang-ouw, apa lagi sekarang ini dia
sudah menjadi ahli waris dari satu partai, dengan sendirinya
urusan bertambah banyak pula.
Sekalipun urusan2 itu sulit dia harus berusaha sendiri
menyelesaikannya, demi nama baik partai Tiam-cong, dan
demi kedudukannya sendiri dalam dunia Kang-ouw.
Dengan sekuat-tenaga dia berusaha untuk menekan
perasaannya sendiri, supaya jangan sampai terlihat oleh
lawannya. Dia memandang jauh kedepan, sambil berkata :
"Perkataan Tuan itu dapat diterima oleh akal kita, tapi
seorang ksatria tidak akan pernah menarik janjinya.
Ayahku pernah berjanji pada Tuan dan akulah yang
menerima perintah untuk menepati janjinya, jika aku kalah,
menang, hidup ataupun mati, hal itu adaiah diluar kuasa
kita manusia untuk dapat menentukannya."
Sambil tersenyum Bwee San Bin memanggutkan
kepalanya dan dalam hatinya, ia memuji keberanian
pemuda itu, lalu ia ber kata : "Tiap2 orang mempunyai
cita2nya sendiri2 dan siapapun tidak dapat menghalang-
halanginya. Jika Cia Heng berkemauan demikian, aku
orang she Bwee akan mengaguminya."
Selesai perkataan itu diucapkannya, bayangan mukanya
berubah menjadi dingin dan sungguh2. Lalu ia membalikkan mukanya memandang pada Cek Yang Tojin
dan kawan2 sambil berkata : "Tiga tahun yang lalu, kalian
dari lima partai pernah mengadakan pertemuan diatas
gunung Thay-san, dengan mengundang sahabat2mu yang
segolongan dan sama2 menuju kegunung Thay-san untuk
memperebutkan nama ahli pedang, bukan ?"
Sehabis mengucapkan perkataannya itu dia menengadahkan kepalanya, lalu ketawa keras. Begitu keras
sekali sampai bunga2 Bwee gugur berhamburan diatas salju.


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kemudian dengan suara yang tajam dia berkata :
"Seperti aku sendiri yang mendapat julukan Chit-biauw-sin-
kun, bagaimana aku ikut campur segala urusan tetek-bengek
itu dengan kalian. Sekalipun kalian suka akan hal itu, aku
rela membiarkan kalian berusaha untuk merebut sebutan
siapa yang paling ahli dalam menggunakan pedang
diseluruh dunia ini, hal mana tidak ada sangkut-pautnya
dengan aku. Akan tetapi apa yang aku tidak duga semula
ialah sejak kalian mendapat kedudukan sebagai pemimpin
dari partai kalian, kalian telah melakukan segala perbuatan
yang tidak patut serta menyeleweng sekali. Ini terbukti
dengan bersatunya kalian berlima pada perjanjian tersebut.
Beberapa waktu yang lalu kalian sampai melukai kawanku
Tan-kiam-toan-hun Gouw Ciauw In disalah satu tempat air
terjun ...."
Pundak Li Gok sedikit bergerak dan dia melangkah maju
kehadapan Bwee San Bin, lalu sambil berkata : "Sebaiknya
jangan terlampau besar bacotmu. Apa yang dialami oleh
Gouw Ciauw In adalah kemauannya sendiri. Bagaimana itu
bisa disesalkan orang lain. Hari ini aku dan kawan2ku dari
tempat yang jauh sekali datang kemari, dengan maksud
yang sudah lama terkandung dikalbu kami, yaitu ingin
menyaksikan sendiri kepandaian dari Chit-biauw-sin-kun.
Bagaimana lihaynya, boleh kau keluarkan saja segala
kepandaianmu itu, kami pasti bisa melayaninya satu per
satu." "Hanya dikuatirkan bahwa kalian masih belum
mempunyai cukup tingkat untuk menyaksikan kepandaianku yang 'tujuh' itu," menyahut Bwee San Bin.
Cek Yang Tojin yang mendengar perkataan Bwee San.
Bin menyindir mereka, lalu berkata : "Hal itu memang
wajar, Chit-biauw-sin-kun dengan kepandaiannya yang
'tujuh' itu ialah sebagai ahli : pedang, tenaga dalam, tenaga
kepalan, syair, pengetahuan, menggambar dan mmebedakan sesuatu adalah kepandaian yang sangat
istimewa sekali dalam dunia ini, seperti aku seorang yang
tidak begitu paham dan ahli dalam ilmu silat, bagaimana
dapat dibandingkan dengan kepandaian kau yang Bun-bu-
siang-coan (ahli dalam ilmu silat dan surat)."
Li Gok dari samping turut tertawa dingin dan
menyambung : "Apa lagi kepandaianmu yang terakhir itu,
kami berhasrat sekali ingin menyaksikannya."
Sambil gelak tertawa lalu Cek Yang Tojin berkata :
"Omongan Li Tay-hiap ini tepat sekali, kepandaian kau ini
kami beberapa gelintir kaum tua se-kali2 tidak dapat
menandinginya. Maka hari ini aku bersama Kam-sin- Li
Tay-hiap dari partai Kong-tong, Kouw-am-siang-jin dari
Go-bie. dan Lok-eng-kiam Cia Heng tee dari Tiam-cong
sengaja datang kemari untuk menepati janji kita tempo hari.
Kami hanya memikirkan untuk minta pangajaranmu dalam
ilmu pedang dan tenaga kepalan saja, jika sampai kami
dapat memenangkan pertandingan ini, yaitu masing2 sekali
dari pertandingan dua macam ini, barulah kami meminta
pula pengajaranmu dalam ilmu kepandaian tenaga dalam,
syair, pengetahuan, menggambar
dan membedakan sesuatu." Dengan senyuman pahit Bwee San Bin menjawab : "Hal
ini adalah yang paling baik, per-tama2 aku ingin minta
pengajaran dari ahli pedang nomor satu didunia yaitu
saudara Li Tay-hiap. Aku ingin sekali mengetahuinya
sampai dimana kepandaian istimewanya, yang membikin
dia sampai begitu berani menyombongkan dirinya. Jika
kalian mempunyai kepandaian yang istimewa, kupersilahkan kalian memperlihatkannya kini, aku orang
she Bwee, pasti tidak akan mengecewakan kalian. Dan
tepatlah hari ini orang2 yang memasuki lembah ini, jika
tidak dapat memenangkan aku orang she Bwee, jangan
memikirkan untuk bisa pulang kembali hidup2. Sebaliknya
jika sampai terjadi aku orang she Bwee jatuh ditangan
kalian alias kalah, akupun tidak memikirkan bahwa aku
akan hidup lebih lama lagi. Segala perkataanku sudah jelas,
dan kalianpun tidak usah mengucapkan segala perkataan
yang berlaku dalam kalangan Kang-ouw, maka aku
persilahkan kalian mengeluarkan kepandaian masing2
seperti yang kalian lakukan terhadap Gouw Ciauw In."
Sehabis berkata demikian, pemuda itu lalu melihaft
mereka dengan sekilas pandang. Mereka tampaknya
bertekad dengan penuh keyakinan akan berhasil. Rupanya
mereka ini siang2 sudah mengatur rencananya dengan
sempurna. Pemuda itu mulai agak curiga, tapi tiba2 berpikir :
"Walaupun mereka mempunyai tipu muslihat apapun,
masakan aku tidak dapat menandinginya " Sekalipun
mereka berlima turun tangan secara berbareng, juga masih
diragukan apakah mereka dapat melukaiku ?"
Sambil mengeluarkan suara ejekatinya Li Gok lalu
berkata : "Tuan sungguh seorang yang berpandangan luas
dan tajam, dan selalu suka berterus terang. Hal itu sungguh
cocok dengan perasaanku. Sekarang lebih baik kita jangan
terlampau banyak bicara yang bukan2. Baiklah kita
tetapkan cara bagaimana kita harus bertanding satu sama
lain." Lalu dia membuka kancing bajunya kemudian mengeluarkan sebilah pedang panjang. Dengan gesit sekali
dipermainkannya pedangnya itu, sehingga memancarkan
sinar berkeredepan menyilaukan mata. Kecepatannya
laksana hujan yang turun dari langit saja layaknya. Pedang
yang dipegangnya ternyata adalah pedang pusaka.
Sesudah meratakan sarung Pedangnya dengan tangannya
dia lalu menarik pedangnya dan sekali dorong saja sarung
pedang itu melayang lurus sekali lalu jatuh keatas batu
gunung yang menonjol disitu.
Bwee San Bin melihat Li Gok mempertontonkan
kepandaiannya dan didalam hatinya dia berkata, bahwa
orang yang telah mendapat julukan ini ternyata bukanlah
omong kosong belaka. Hari ini mereka bertemu yang berarti
mereka harus menentukan siapa yang sanggup mempertahankan dirinya sampai menang atau kalah dan
hidup ataupun mati. Keempat orang ini kecuali Cia Tiang
Kheng, adalah orang2 yang telah ternama dikalangan dunia
Kang-ouw, meskipun namanya juga sudah terkenal
diseluruh kalangan Knga-ouw, tapi bertempur bersama
kelima ahli waris dari masing2 partai ini adalah untuk
pertama kalinya.
Kouw-am-siang-jin tampak mengebutkan lengan bajunya
lalu dengan suaranya yang nyaring berkata : "Perkataan
Tuan benar sekali. Tapi pinceng (sebutan pendeta terhadap
dirinya sendiri) bukannya hendak berlagak, sekalipun aku
dan kawan2ku bukan ahli dikalangan Kang-ouw, dan
meskipun kami tidak berhasil tapi kami bukannya manusia2
yang bisa dibuat serampangan saja tegasnya kami bukannya
seperti kebanyakan orang2 Kang-ouw. Sekali kami turun
tangan tentu ada batas2nya dan menurut pandangan
pinceng, lebih baik kita tentukan cara yang se-baik2nya
untuk bertempur."
Kening Bwee San Bin nampak dikerutkan, lalu ia
menjawab : "Siang-jin (sebutan terhadap orang lain yang
menjadi pendeta) tentu mempunyai suatu pandangan.
Silahkan kau sebutkan saja."
Kouw-am-siang-jin menyahut : "Pertama kita bertanding
dalam ilmu pedang, tapi tidak perlu beradu dengan tangan."
Sambil berkata demikian, dia menunjuk kearah tempat yang
luas yang tertutup salju dan meneruskan perkataannya :
"Diatas salju ini kita membuat satu lingkaran. Aku bersama
Cek Yang, Li dan Cia berdua masing2 masuk berdiri dalam
satu kotak, dan bilamana dalam waktu setengah jam kami
keluar dari lingkaran tersebut, berarti kamilah yang kalah."
Bwee San Bin menganggukkan kepalanya sambil berkata
: "Begitu juga baik."
Kouw-am-siang-jinpun berkata : "Bila demikian silahkan
Tuan membuat sebuah lingkaran pula."
Bwee San Bin membalikkan tubuhnya lalu mematahkan
sebatang cabang pohon Bwee, yang terdapat banyak sekali
bunganya. Dan dengan cabang pohon Bwee yang ada
ditangannya. Bwee San Bin menyalurkan tenaga dalamnya
kedalam cabang pohon Bwee itu, sehingga dalam sekejap
mata saja bunga2 Bwee itu berjatuhan sekali gus dan masuk
kedalam lengan bajunya. Sambil tertawa dia berkata :
"Tidak disangka hari ini aku harus menjadi tamu yang
mesti menyebarkan bunga2." Sambil berkata lengan
bajunya dikibaskannya keatas, beberapa puluh bunga2
Bwee beterbangan diudara keluar dari lengan bajunya, lalu
me-layang2 dan jatuh diatas salju, sehingga membentuk
sebuah lingkaran., bunga2 Bwee yang berwarna merah
segar itu tertancap diatas salju putih merupakan sebuah
pemandangan yang sedap dipandang mata.
Menyaksikan kepandaian pemuda itu, secara diam2
Kouw-am-siang-jin merasa sangat kagum sekali. Tetapi apa
yang dikaguminya itu bukanlah kepandaiannya pemuda itu,
melainkan lingkaran yang kecil yang dibuat oleh Bwee San
Bin, sebab semakin kecil lingkaran itu orang yang berada
didalamnya semakin sulit untuk menerobosnya keluar.
Setelah melihat kepandaian pemuda itu, mereka tidak
berani memandang ringan lawannya ini, disamping memuji
keberaniannya. Dilain pihak merekapun tercengang dan kuatir atas sikap
Bwee San Bin ini, karena mereka yakin lawannya ini
mempunyai pegangan yang kuat dan bisa menjatuhkan
mereka. Badan Bwee San Bin tidak bergerak sedikitpun jua, tetapi
dengan penuh keheranan, ternyata lawan mereka sudah
berdiri didalam lingkarannya. Dengan suara yang nyaring
dia berseru : "Silahkan kalian maju mendekati aku.
Izinkanlah aku berkenalan dengan ilmu pedang kalian yang
sudah termasyhur dalam kalangan Kang-ouw itu."
Li Gok adalah orang pertama yang datang menyerbu.
Sambil berdiri dalam lingkaran disebelah selatan. Cek Yang
Tojin, Kouw-am-siang-jin bersama Cia Tiang Khengpun
masing2 memilih tempatnya sendiri2. Mereka kemudian
mencabut pedang masing2 dari punggung.
Cek Yang Tojin mengangkat pedangnya sambil berkata :
"Pertandingan pertama adalah adu pedang, silahkan Tuan
mencabut pedangmu."
Bwee San Bin masih tetap memegang cabang pohon
Bwee tadi yang kini sudah gundul karena bunga2nya sudah
berserakan diatas salju, lalu dia berkata : "Beberapa puluh
tahun yang lalu aku orang she Bwee belum pernah
mempergunakan segala senjata tajam, tapi hari ini karena
kalian adalah gembong2 yang terkemuka juga dalam dunia
Kang-ouw, terpaksa aku melanggar peraturanku sendiri,
yaitu aku akan menggunakan cabang pohon Bwee ini
sebagai ganti senjata tajam. Dengan cabang pohon Bwee ini
aku ingin meminta pelajaran dari kalian, silahkan kalian
turun tangan segera."
Mendengar perkataan pemuda ini wajah keempat orang
itu berubah. Bwee San Bin menengadah sambil tertawa, kemudian
berkata : "Kalian jangan terlalu memandang enteng pada
cabang pohon Bwee yang ditanganku ini. orang she Bwee
dapat mempergunakannya sebagai pedang dan tajamnya
bila dibandingkan dengan pedang yang sebenarnya tak ada
bedanya sedikitpun."
Cek Yang Tojin yang sudah kawakan dan berpengalaman luas, dalam tempo sekejap berubah
merahlah mukanya akhirnya berkata : "Jika Tuan berkata
demikian, aku akan menuruti perkataanmu itu." Baru saja
perkataannya selesai diucapkannya, keempat batang pedang
panjang itu seperti ular yang sangat lincah sekali, lalu
bergerak dalam bentuk mengurung. Sebelum keempat
pedang itu disambut oleh Bwee San Bin, mereka sudah
mengitarinya dari keempat penjuru angin membentuk satu
kurungan yang merupakan segundukan sinar yang
menyilaukan mata.
Bwee San Bin hanya merasakan dirinya sendiri seperti
terkurung dalam sangkar yang terbuat dari pecahan kaca
saja sedangkan diempat penjuru yang tampak hanya sinar
yang menyilaukan pandangannya saja.
Segala gerakan2 pedang itu dikenalnya, karena ia tahu
bahwa ilmu pedang itu tidak dapat digolongkan dari partai2
: Bu-tong, Go-bie, Tiam-cong, Kong-tong maupun dari


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

golongan partai lainnya, yang jelas ialah pedang itu terus
bergerak tak putus2nya merupakan serangkaian serangan
yang dahsyat sekali menyerang dirinya. Serangan itu tak
ubahnya seperti air sungai Tiang-kang yang mengalir tak
habis2nya. Walaupun ia berdiri diam tidak bergerak,
namun lawan mereka tidak dapat juga melukainya.
Sejak zaman dahulu kala, ilmu pedang dikalangan Kang-
ouw, jika tidak digunakan untuk menjaga diri, pasti dipakai
untuk melukai orang. Tapi ilmu pedang semacam itu, yang
bukan digunakan buat menjaga diri maupun untuk melukai
orang, sungguh jarang terdengar. Jika ia tidak bergerak,
maka ia pasti tidak dapat keluar dari dalam lingkaran itu,
jika ia berpikir untuk bergerak, maka keempat batang
pedang yang bersatu-padu itu mengurungnya se-rapat2nya,
sekalipun air sukar menembusinya. Walau bagaimanapun
sukar baginya untuk memecahkannya, jangankan orang,
rusa sekalipun yang dapat berlari cepat sekali bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya sulit untuk dapat keluar
dari kurungan itu.
Bwee San Bin berdiam diri sejenak dibawah ancaman
kurungan pedang2 lawannya itu. Kemudian ia mendapat
satu akal untuk memecahkannya dan dalam hati ia berkata :
"Tidak heran jika mereka menggunakan cara ini untuk
menghadapiku, ternyata mereka sudah berhasil menciptakan ilmu pedang yang sangat aneh ini, hal ini
memang berada diluar dugaanku semula sama sekali. Aku
berpikir jika mereka berempat turun tangan secara
berbareng, walaupun untuk memenangkan mereka dalam
waktu yang pendek agak sukar juga, tapi jika aku
memikirkan untuk keluar dari kurungan itu, gampang sekali
seperti juga orang membalikkan telapak tangannya, tapi
siapa duga ....?" Ia lalu memperhatikan permainan keempat
batang pedang lawannya itu, hanya kelihatan pedang
mereka keluar satu per satu dan terus sambung
menyambung, dengan demikian maka yang paling bagus
ialah mereka dapat saling mengisi kekosongan antara
serangan pedang yang pertama dengan pedang yang
berikutnya. Tanpa terasa, dalam hati Bwee San Bin merasa sedikit
menyesal dan dengan diam2 ia berkata pada dirinya sendiri
: "Jika aku membawa pedang 'Bwe-hoa' kemari, dalam
waktu singkat aku akan dapat menggunakan latihanku
beberapa puluh tahun yang lalu yaitu tipu Kiu-cie-kiam-sek
untuk membubarkan kurungan mereka, tapi sekarang yang
berada dalam genggaman tanganku hanyalah sebatang
cabang pohon Bwee saja, untuk dapat memecahkan
kurungan musuh2ku yang lihay2 itu tak mungkin lagi."
Berpikir sampai disitu, tiba2 ia lihat kedua pasang pedang
lawannya saling tempur satu sama lain. Suara benturan
pedang2 itu perlahan sekali, hanya mengeluarkan suara
'crang' yang amat lemah. Bwee San Beng tidak mempunyai
keyakinan lagi untuk dapat memecahkan kurungan
lawannya, tapi melihat beradunya kedua pasang pedang
lawannya sekali ini membuat dia berdiri tertegun.
Tapi dalam waktu seketika saja, tiba2 dari tempat yang
gelap-gelita memancar sekilas sinar terang, cabang pohon
Bwee yang berada ditangan Bwee San Bin lain
digunakannya untuk menyerang ketempat musuh yang
lowong itu, tangan kirinya diangkatnya se-cepat2nya,
sehingga mengeluarkan deru angin yang keras dan tajam
seperti golok, kemudian disabetkannya kedua pasang
batang pedang lawannya itu.
Ternyata ilmu pedang itu adalah ciptaan Kouw-am-
siang-jin yang digodok ber-sama2 sebagai hasil kerjasamanya dengan Cek Yang Tojin dan Li Gok dan
Huy-hong-kiam Cia Seng. Sebenarnya ilmu pedang itu
bukan diciptakan untuk menghadapi Bwee San Bin, tapi
adalah untuk dipakai berburu, menangkap burung tawon
'Hong Niauw', oleh karenanya ilmu pedang itu tidak
termasuk untuk menjaga maupun untuk menyerang, hanya
dipakai untuk mengurung burung saja sampai lelah, setelah
burung yang diburu itu lelah dengan sendirinya gampang
bagi mereka menangkapnya. Sampai Cia Seng meninggal,
merekapun tidak meneruskan usaha mereka untuk
menangkap burung Hong Niauw itu lagi. Kemudian
terciptalah ilmu
pedang berburu itu yang dapat dipertahankannya sampai kini.
Mereka berjanji sebelumnya untuk saling bertemu
dengan Bwee San Bin tiga tahun kemudian. Masa berjalan
semakin hari semakin dekat kemasa perjanjian.
(Oo=dwkz=oO) Bwee San Bin dikalangan Kang-ouw sangat terkenal
sebagai seorang yang berhati sangat kejam sekali. Acapkali
ia dalam ber-cakap2 dan ter-tawa2, tidak segan2nya
mengambil jiwa orang. Dengan kepandaiannya yang sangat
tinggi itu pula ia pernah mengembara dikalangan Kang-ouw
ber-tahun2. Dan selama pengembaraannya itu ia belum
pernah menjumpai lawan yang dapat bertahan sampai dua
puluh jurus terhadapnya.
Bwee San Bin adalah seorang yang istimewa, pikirannya
tajam dan cerdik sekali, dia dapat bertindak segera dengan
cepat dan tepat. Daya pemikirannya amat luar biasa jika
dibandingkan dengan orang lain.
Masa 3 tahun itu berjalan tanpa terasa, maka tibalah saat
ia mengadu kepandaian dengan Cia Tiang Kheng dan
kawan2 sebagai latihan gabungan. Dalam hal tenaga
maupun daya bertahan, yang paling lemah terletak ditangan
Cia Tiang Kheng seorang, dengan adanya kelemahan ini,
mereka tidak berhasil mengurung rapat yang membahayakan lawannya. Itulah sebabnya mengapa tadi
terdapat kelemahan2 yang menguntungkan Bwee San Bin.
Dalam pertarungan itu Cia Tiang Kheng hanya
merasakan pergelangan tangannya kesemutan, karena ada
semacam tenaga yang besar dan luar biasa yang
mendorongnya, sehingga badannya bergemetaran, menyebabkan pedang yang dipegang ditangannya, dengan
sendirinya menjadi agak terlambat gerakannya karena
terhenti sebentar dengan adanya serangan se-konyong2 tadi
itu, karenanya dia tidak mempunyai daya untuk
mempersatukan kembali ilmu pedangnya itu dengan
kawan2nya lagi. Dengan adanya cacat ini membuat
kurungan yang begitu rapat tadi, mendapat satu
kekosongan, dengan demikian pergerakan antara pedang
dengan pedang terdapat lowongan yang terbuka.
Dengan adanya kesempatan yang sudah terbuka itu,
Bwee San Bin mulai melancarkan serangannya ber-tubi2
menyerang tempat yang lowong itu, serangan dan kurungan
pedang lawannya menjadi kacau-balau.
Li Gok yang melihat adanya perubahan ini, lalu
mengangkat pedangnya sebagai tanda pada kawan2nya
supaya mundur dan kemudian mempersatukan kembali
daya rapat dari ilmu pedangnya itu. Dan dengan pedangnya
yang panjang itu ia melakukan gerak tipu Tiang-hong-keng-
thian (bianglala panjang melingkari langit). Dengan disertai
warna hijau yang ber-keredep2an, ia melangsungkan
serangan pedangnya yang ditusukkan kearah pundak terus
menuju kepinggang Bwee San Bin.
Bwee San Bin sendiri segera melompat mundur sedikit,
maka dengan demikian ia dapat menghindarkan serangan
pedang lawannya itu, lalu dengan menggunakan cabang
pohon Bwee dia balas menyerang .Tangannya ditekannya
agak kebawah, sedangkan ujung dari cabang pohon Bwee
itu menusuk pinggang pedang Cia Tiang Kheng. Ketika itu
ia hanya menggunakan tenaga yang sedikit sekali, tapi Cia
Tiang Kheng merasakan serangan lawannya itu bukan main
kuatnya, buru2 dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk
melawan serangan lawannya itu. Dalam waktu yang amat
pendek serangan pedang Li Gok jatuh ketempat yang
kosong, kemudian disusul dengan serangan selanjutnya,
dengan gaya Bwee-hoa-sam-long (nama lagu) serangan ini
dilakukan dengan, teriakan untuk mengacau pemusatan
pikiran lawannya.
Dengan siasatnya ia mempergunakan pedangnya
mencoba untuk menotok jalan darah Kian-ceng dan Ju-
coan ditubuh Bwee San Bin, serangan2nya itu diarahkannya ke-tempat2 yang berbahaya pada tubuh
lawannya, serangannya itu selalu disertai tenaga samberan
angin yang keras. Pukulan dan serangan itu hanya dapat
dilakukan oleh orang yang ahli tenaga dalam saja.
Kouw-am-siang-jin dan Cek Yang Tojin setelah melihat
barisannya menjadi kacau-balau, tanpa terasa lagi mereka
lalu bersatu padu kembali melakukan serangan berbahaya
yang se-konyong2 pada lawannya.
Karena melihat Bwee San Bin yang bertahan dalam
lingkaran kecil itu belum juga terubuhkan, maka sekali lagi
Kouw-am-siang-jin, Cek Yang Tojin dan Li Gok, ber-sama2
mengeluarkan serangan yang cukup dahsyat terhadap
lawannya, Bwee San Bin yang masih berdiri tetap dalam
lingkaran yang sangat kecil itu. Ia agak repot juga menerima
serangan lawannya yang dilakukan dengan sangat cepatnya.
Sebetulnya serangan yang semacam inilah yang di-
nanti2kan oleh Bwee San Bin. Sejurus kemudian dengan
tiba2 cabang pohon Bwee ditangannya menjadi kendor. Ia
menahan gerakannya sesaat untuk me-nanti2 suatu
lowongan yang terbuka. Dan dalam saat itulah dia akan
mengadakan serangan mendadak pada Cek Yang Tojin dan
Kouw-am-siang-jin.
Dengan serangannya ini, yang dilakukan dengan tenaga penuh, yang luar biasa besarnya
menyerang pedang lawannya, dia berhasil menghajar
pedang Li Gok, sehingga miring. Waktu keempat batang
pedang lawannya itu agak miring, buru2 ia melompat
seperti kilat cepatnya keluar dari dalam lingkaran tadi.
Ternyata Bwee San Bin telah berhasil berdiri jauh sekali
diluar lingkaran tadi sambil ter-tawa2.
Kemudian orang2 dipihak lawannyapun segera menarik
kembali pedangnya masing2. Kouw-am-siang-jin dengan
langkah yang lebar maju kemuka dan berkata : "Tuan
sungguh mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali,
pertempuran yang pertama ini sudah terang kami sekalian
mengalami kekalahan."
Dengan tertawa, Bwee San Bin menjawab : "Kalau
begitu pertempuran yang kedua kalinya dimana dan apabila
hendak dilakukan " Silahkan kalian menyebutkannya. Aku
pasti akan menerima dan menyambut baik usul2 kalian."
Kouw-am-siang-jin lalu berkata : "Pertempuran yang
kedua ialah antara Loo-lap (sebutan pendeta terhadap
dirinya sendiri) dengan Tuan untuk saling mencoba tenaga
telapak tangan masing2 saja."
Sehabis berkata, Kouw-am-siang-jin
menghampiri tempat yang baru saja dibuat lingkaran oleh Bwee San Bin
dengan bunga Bwee. Bila dibandingkan dengan tadi kali ini
Bwee San Bin membuat lingkaran jauh lebih indah.
Waktu Bwee San Bin menyebarkan bunga2 Bwee tadi
membuat lingkaran itu, ia tidak mengerahkan tenaga
sedikitpun juga tapi siapa tahu bahwa batang2 dan bunga2
Bwee ini menancap dengan eratnya didalam salju itu.
Kepandaian semacam ini sebenarnya jarang sekali dapat
dijumpai, diam2 Kouw-am-siang-jin berpikir pada dirinya
sendiri : "Ai, ternyata Bwee San Bin ini adalah seorang
tokoh yang luar biasa sekali dikalangan Kang-ouw. Melihat
pada umurnya belum seberapa tinggi, tapi tenaga dalamnya
demikian sempurna. Mengenai ini jika tidak dari siang2
sudah kuatur beres rencana2 yang akan kulakukan, maka
sebagai salah seorang pemimpin dari lima partai, aku tidak
akan sia2 menyerahkan nyawaku diatas gunung Ngo-hoa-
san ini ?"
Pada wajahnya tidak terbayang perasaan terkejutnya atas
kebisaan yang dimiliki Bwee San Bin. Dengan pura2
berlaku sangat tenang sekali dia lalu memungut bunga
Bwee tadi, kemudian berkata pada Bwee San Bin : "Tenaga
dalam Tuan, sebenarnya Loo-lap sering betul melihatnya.
Apa yang ingin Loo-lap lakukan sekarang ini agak berbeda
dengan kebanyakan yang dilakukan oleh orang2 dikalangan
Kang-ouw umumnya, tapi kukira permainan yang hendak
kuadakan ini mungkin amat remeh dalam pandangan
Tuan."

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan menggunakan jari telunjuk dan tengah ia
memungut bunga Bwee tadi, sesudah itu ia berkata : "Hari
ini beruntung sekali Loo-lap dengan tidak di-sangka2 dapat
bertemu dengan Tuan sebagai seorang tokoh terkemuka
disini, apalagi dapat saling mengadu kekuatan dengan Tuan
dilembah gunung yang sepi dan liar ini. Tampaknya
pertemuan kita ini bukannya secara kebetulan saja. Tapi
baiklah, dengan menggunakan kembang Bwee ini kita dapat
mengadu kekuatan."
Sehabis kata2nya lalu diletakkannya bunga Bwee itu
diatas telapak tangannya. Setelah memusatkan seluruh
perhatiannya, dengan per-lahan2 diulurkannya tangannya
kemuka Bwee San Bin. Bunga Bwee itu melekat dengan
eratnya diatas telapak tangannya, kemudian dengan
tenangnya ia berkata lagi : "Tuanpun harus berbuat seperti
yang kulakukan, yaitu menempelkan bunga Bwee ditelapak
tangan Tuan pula. Setelah itu kedua tangan kita lalu saling
ditempelkan, biarkan kedua bunga Bwee ini terjepit diantara
kedua telapak tangan kita, tapi bunga2 yang ada dalam
telapakan tangan kita ini tidak boleh sampai menjadi
hancur, kita harus dapat kalah mengalahkan. Jika sekali ini
Loo-lap sampai kalah lagi, aku bersama kawan2ku pasti
akan menurut segala perintah Tuan. Perintah mana pasti
akan kami laksanakan dengan se-baik2nya."
Dengan tertawa nyaring Bwee San Bin menjawab : "Jika
benar Siang-jin adalah seorang yang pandai, tentu saja
kepandaianmu tinggi sekali dan apa yang dihasilkan oleh
daya pikiranmu pasti hebat sekali. Aku yang rendah pasti
tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima segala
usul2mu itu."
Oleh sebab itu Bwee San Bin lalu memetik sekuntum
bunga Bwee. Kemudian bunga itu diletakkannya diatas
telapak tangan kanannya, hingga melekat. Dia menaruhkan
bunga itu sembarangan saja tidak tampak sedikitpun seperti
yang dilakukan Kouw-am-siang-jin yang begitu hati2. Lalu
dengan sembarangan pula ia berkata : "Dengan demikian
biarlah Lok-eng-kiam Cia Heng menjadi saksi, jika dalam
waktu satu jam ini tidak ada yang menang maupun kalah,
biarlah aku mengaku kalah."
Cia Tiang Kheng ketika mendengar perkataan itu air
mukanya terlukis kegembiraannya, buru2 ia berjalan
kesamping kedua orang itu, sedangkan Cek Yang Tojin
bersama Li Gok dengan rapat sekali berdiri dibelakang
Kouw-am-siang-jin. Bwee San Bin sedikitpun tidak
menaruh curiga terhadap gerak-gerik mereka ini, ia maju
dua langkah lagi, tangan kanannya dibengkokannya sedikit,
sedangkan Kouw-am-siang-jin sendiri lalu maju pula
selangkah. Bunga, Bwee dikedua tangan mereka sudah
melekat satu sama lainnya, sesudah itu memulai
persentuhan yang perlahan. Sesaat kemudian mereka
merapatkan telapak tangan mereka dengan kencangnya.
Begitu tangan Bwee San Bin beradu dengan telapak
tangan lawannya, ia merasa lega sekali, karena ia yakin ia
pasti akan memperoleh kemenangan yang gemilang dalam
pertarungan itu, sedangkan tenaga yang dikeluarkan oleh
Kouw-am-siang-jin dari telapak tangannya tidak begitu
kuat, diam2 ia berpikir dalam hatinya : "Orang pertama ini
sungguh mengeluarkan tipu yang akibatnya kelak aku
mencelakakan dirinya sendiri. Dalam waktu tidak sampai
setengah jam aku pasti akan dapat melumpuhkannya
dengan tipu Am-eng-pu-hiang (dengan diam2 melakukan
serangan yang se-konyong2 lagi pula daya serangannya ini
sangat hebat sekali). Tidak di-sangka2 orang yang begini
terkenalnya ini hanya mempunyai kepandaian yang
demikian rendahnya, ai, ternyata kaum Bu-lim sekarang ini
jika dibandingkan dengan kepandaian yang kumiliki,
berselisih jauh sekali."
Begitu pikiran ini terlintas dikepalanya tiba2 ia
merasakan tenaga yang menggencet telapak tangannya kian
bertambah kencang dan keras, ternyata serangan telapak
tangan lawannya pada waktu itu sudah bertambah satu kali
lipat lebih berat dari tadi, malahan serangannya sekali ini
luar biasa sekali kuatnya, pada saat ini dalam waktu yang
cukup pendek telapak tangannya terasa kesemutan,
hampir2 saja ia menjadi korban lawannya alias dia menjadi
keok. Buru2 dia memusatkan seluruh perhatiannya kepada
kekuatan lawannya itu. Begitu semangatnya terpusat, ia
mulai membalas serangan lawannya dengan mengerahkan
segala kekuatan ditelapakan tangannya.
Walaupun dia merasakan tenaga gencetan telapak
tangan dari Kouw-am-siang-jin sekali ini agak aneh dan luar
biasa, dalam waktu yang sekejap itu ternyata perubahannya
bertambah hebat, akan tetapi mana ia tahu, bahwa hal ini
adalah akal bulus yang telah diatur sempurna lebih dahulu
oleh lawan2nya. Ternyata diantara pemimpin kelima partai
di Tionggoan, tenaga dalam yang paling tinggi adalah yang
dimiliki oleh Li Gok. Ia bukan saja lihay dalam ilmu
pedangnya, tenaga kepalan tangannyapun sangat luar biasa
juga, malah ia telah berhasil melatih dirinya untuk
menggunakan tenaga lawannya dipakai menyerang kembali
tenaga lawannya itu, alias meminjam tenaga lawannya
untuk dipakai membalas menyerang lawannya itu.
Pada saat itu ia berdiri miring diantara tubuh Cek Yang
Tojin dan Kouw-am-siang-jin.
Tangan kirinya ditempelkannya ketangan kanan Cek Yang Tojin,
sedangkan tangan kanan yang belakangan ini dipakai untuk
menekan punggung Kouw-am-siang-jin, dengan tenaga
dalam yang disalurkan dari seorang ke seorang yang lainnya
kemudian disalurkannya ketubuh Kouw-am-siang-jin, lalu
dari telapak tangan Kouw-am-siang-jin barulah dilepaskan
kearah Bwee San Bin. Dengan demikian Bwee San Bin
menghadapi bukan saja satu tenaga Kouw-am-siang-jin,
melainkan juga tenaga dari Cek Yang Tojin dan Li Gok.
Tiga tenaga yang disatukan melawan satu tenaga, sekalipun
kepandaiannya lebih sempurna tentu ia tidak dapat
mempertahankan dirinya dengan baik. Kita maklum bila
dua orang yang mempunyai tenaga dalam yang sudah
mencapai tingkat tertinggi sedang mengadu kekuatan,
sedikitpun mereka tidak boleh berlaku lengah apa lagi untuk
melepaskan kekuatan itu, karena bila orang berbuat
demikian, maka orang yang pertama melepaskan diri itu
akan menderita luka2 berat didalam tubuhnya.
Tiada lama antaranya, diantara keempat kekuatan yang
sedang bergumul ini, masing2 pihak sama2 berkeringat,
mereka semuanya memusatkan segala perhatiannya pada
pergumulan ini, segala kekuatan, mereka pusatkan
ditelapak tangan mereka, sedangkan anggauta badan
lainnya se-akan2 menjadi saksi saja, maka pada saat yang
demikian ini, andaikata ada seseorang yang coba
mendorong mereka, maka mereka pasti akan terdorong
jatuh. Salju yang dibawah kaki mereka yang tadinya
membeku pada saat itu setelah mengalami tenaga dorongan
dari keempat ahli silat yang mempunyai tenaga dalam yang
luar biasa ini, salju itu mulai mencair kembali, sedangkan
cairan yang telah jadi air ini terus mengalir dan mengenai
sepatu dari Cia Tiang Kheng yang tengah menyaksikan
pertempuran itu dari samping.
Tapi Cia Tiang Kheng sendiri se-akan2 tidak
mengetahuinya, ketika matanya dipusatkan menyaksikan
pergumulan keempat orang ini, tiba2 hatinya berpikir :
"Haruskah aku berbuat demikian ?" Sekali lagi dia
memandang pada mereka yang sedang bertempur mati2an
ini, ternyata pada saat itu sudah mencapai tingkat yang
menentukan. Bwee San Bin walaupun melawan tiga orang,
tapi dia tetap berdiri tegak laksana gunung, tapi tangan
Kouw-am-siang-jin tampak sedikit dibengkokkan, ternyata
badannya dan tangannya mulai menggetar sedikit.
Mengenai usia Kouw-am-siang-jin sudah mencapai usia
yang tinggi juga, sudah tentu tidak sekuat waktu dia masih
muda sekalipun tenaga dalamnya sangat tangguh. Dalam
pada itu secara diam2 Cek Yang Tojin dan Li Gok
menyalurkan tenaga yang ribuan kati beratnya kepada
Bwee San Bin, detik demi detik ia mulai merasakan
badannya sedikit terdesak. Hal ini sudah sewajarnya.
Cia Tiang Kheng juga melihat kejadian ini, ia lalu
melihat kembali pada keempat orang yang tengah
bertempur ini, dalam hatinya ia kembali berpikir :
"Agaknya aku tak bisa tidak harus melakukan pekerjaan ini
walaupun hanya satu kali saja dalam masa mudaku ini.
Aku tidak ingin mati dengan demikian saja. Dipegunungan
ini tidak ada orang lain lagi. Sekalipun aku melakukan hal
ini, masih ada siapakah lagi orang yang dapat menyiarkan
peristiwa ini keluar " Tiap2 orang tentu harus menentukan
dirinya sendiri," pikirnya.
Dengan diam2 dan per-lahan2 dia mengisarkan kakinya
menuju ketempat keempat orang yang tengah bertempur
dengan dahsyatnya itu. Dan dengan masih tampaknya
segaris sinar yang agak ke-suram2an, membuat mukanya
yang tampan itu membayangkan kelicikannya. Dia maju
kesamping Bwee San Bin, lalu memandang pada dahi
pemuda yang lebar dan mukanya yang agak kurus itu
kemudian kepada kedua matanya yang bersinar tajam ini.
Air mukanya bila dipandang tampak amat sederhana sekali,
hal itu menunjukkan bahwa pemuda ini kecerdikannya
melebihi orang2 lainnya. Sesaat lamanya, sambil menggigit
kencang giginya, tampak sepasang tangannya bergerak
secara berbareng, dengan gerakan secepat kilat. Ternyata
dia telah menotok jalan darah Kian-ceng dan Cong-hay
yang merupakan jalan darah yang dapat mematikan
seseorang, pada tubuh Bwee San Bin, ternyata ilmu totokan
yang dikeluarkannya itu merupakan ilmu totokan terahasia
dari partai Tiam-cong yang bernama "Chit- coat-ciu-hwat".
Bwee San Bin yang sedang memusatkan seluruh
perhatiannya atas pergumulan ini, mulai terasa olehnya
bahwa telapak tangan lawannya mulai kehilangan
keseimbangannya. Serta-merta ia merasakan seluruh
badannya kesemutan dan kaku hingga tak dapat bergerak.
Begitu tangannya merasa lemas terus menjalar kejantungnya, hingga kemudian ia tak bertenaga lagi.
Pandangannya mulai ber-kunang2. Dalam pada itu
diotaknya terbayang beberapa peristiwa yang dialaminya
masa lampau sewaktu ia masih muda remaja, akhirnya ia
hilang ingatan.
Keadaan disekitar tempat itu berangsur gelap. Hawa
dingin me-nusuk2 kalbu. Dilembah ini, ketenangan kembali
seperti sedia kala, se-olah2 ditempat itu tidak terjadi
sesuatu. Cek Yang Tojin, Kouw-am-siang-jin, Li Gok dan Cia
Tiang Kheng dengan perasaan puas karena memperoleh
kemenangan lalu berangkat pulang, meninggalkan lawan
mereka dalam keadaan tak bernyawa lagi. Tapi didalam
sanubari mereka, mereka tetap merasa tidak enak, sebab
mereka telah melakukan satu kecurangan yang tidak patut
diperbuat oleh seseorang yang sudah tinggi ilmu
kepandaiannya. Dari celah2 gunung tiba2 berkelebat sesosok tubuh
berwarna putih. Ia adalah seorang pengemis yang masih
muda sekali. Dalam waktu singkat ia sudah sampai dimana
Bwee San Bin ter baring diatas salju, setelah ia sampai
disitu, ia lalu me-raba2 pernapasan dan denyutan ditangan
kiri Bwee San Bin. Kemudian ia menarik napas panjang. Ia
bermaksud hendak membawa mayat Bwee San Bin, tapi se-
konyong2 niatnya itu diurungkannya karena ia berpendapat
lebih baik mayat ini terbaring disitu, karena tempat itu
adalah sebuah tempat yang baik. Kemudian ia membiarkan
tubuh itu ditutupi oleh salju.
Pengemis muda itu lalu mengalihkan pandangannya
pada suatu benda yang tak jauh dari tempat itu. Benda itu
adalah sarung pedang Li Gok. Waktu dia melihat sarung
pedang Li Gok yang tertinggal diatas batu gunung itu,
hatinya ingin melihat benda itu dari dekat, maka dengan
sekali lompat saja ia sampai ditempat benda itu lalu
mengambil sarung pedang itu. Setelah itu badan pengemis
itu melesat pergi, berlari cepat keluar dari lembah gunung
itu. (Oo=dwkz=oO) Desa Lie-kee-cun yang terletak diluar kota Kun-beng
dipinggir gunung Ngo-hoa-san, ternyata adalah sebuah
kampung kecil, orang yang berdiam dikampung itu,
sebagian besar adalah orang2 she Lie, itulah sebabnya
mengapa kampung itu dinamakan kampung Lie-kee-cun.
Didalam propinsi Hun-lam, Kwie-ciu dan Kho-goan
kampung kecil itu sudah sangat terkenal.
Beberapa tahun yang silam, dikampung ini muncul dua
orang yang luar biasa sekali. Seorang laki2 dan seorang lagi
wanita, mereka ini merupakan sepasang suami-isteri. Sejak
kecil sampai dewasa mereka dibesarkan didalam kampung
tersebut. Keduanya bersaudara sepupu.
Yang laki2 bernama Lie Kim Kong sedangkan yang
wanita bernama Lie Hong, sejak kecil mereka selalu
bermain ber-sama2. Perasaan kasih sayang mereka tambah
hari tambah erat. Kemudian setelah mereka dewasa, secara
diam2 mereka sudah saling berjanji untuk mendirikan
sebuah rumah tangga yang bahagia. Pada saat itu peraturan
rumah tangga dan adat-istiadat didaerah itu masih dipegang
dengan teguh oleh rakyatnya. Perkawinan dengan saudara
sepupu didaerah ini suatu hal yang sangat terlarang.
Penduduk sekitarnya menganggap hal ini suatu peristiwa
yang hina. Tetapi perhubungan diantara kedua orang itu sudah
begitu mendalam. Mereka tidak akan merubah pendirian


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka terhadap niat sekalipun undang2 perkawinan
daerah itu sangat melarang.
Pada suatu hari dimusim semi, kedua orang muda-mudi
ini menghilang. Orang2 kampung tidak mengetahui kemana
mereka pergi, setelah lewat sepuluh tahun lebih, orang2
kampung sudah mulai lupa akan peristiwa ini. Pada suatu
hari Lie Kim Kong dan Lie Hong dengan se-konyong2
kembali lagi kekampung halamannya itu. Mereka membawa seorang anak laki2 yang kecil mungil yang
umurnya ketika itu ditaksir baru tujuh atau delapan tahun,
anak itu bernama Lie Siauw Hiong.
Tak lama sesudah Lie Kim Kong berada dikampung
halamannya ini, kedua orang tuanya meninggal dunia ber-
turut2. Lie Kim Kong kini terkenal sebagai seorang yang baik
hati dan pemurah. Seseorang yang datang berkunjung
padanya, sekalipun orang dikenalnya atau tidak, apabila
pamit hendak pulang tidak ada yang bertangan kosong. Ia
begitu hormat terhadap siapapun saja. Seringkali ia sendiri
mengantarkan tamunya sampai diluar pintu pekarangan
rumahnya. Pada umumnya sebagian besar penduduk dikampung
kecil ini sifatnya kikir, tapi bagi Lie Kim Kong tidak
demikian halnya, sehingga seluruh rakyat kampung itu
memujinya. Penduduk sekitar kota Kun-beng dan kampung Lie-kee-
cun hampir rata2 ahli dalam pekerjaan tangan, seperti
mengukir dan membuat alat2 rumah tangga yang terbuat
dari tembaga. Lie Kim Kong dan Lie Hong adalah ahli
pahat, kini sejak mereka kembali dari perantauan, hasil
ukirannya amat luar biasa banyaknya.
Waktu senggangnya dipergunakannya untuk mengukir
potret2 orang. Uang hasil ukirannya sering disedekahkannya pada orang2 kampung yang hidupnya
melarat. Oleh sebab itu penduduk kampung yang tamak sering
berkunjung kerumah Lie Kim Kong ini untuk meminta
hasil seninya. Lie Kim Kong tidak pernah menolak tamu2
yang bertandang ke rumahnya itu dan untuk tidak
mengecewakan tamunya itu, Lie Kim Kong selalu
memenuhi segala permintaan mereka.
Begitulah peristiwa itu berlalu sampai beberapa tahun
lamanya, penduduk yang berdekatan dengan kota Kun-beng
sudah pada mengetahui bahwa didalam kampung Lie-kee-
cun terdapat seorang yang sangat pandai sekali dalam ilmu
pahat, hingga akhirnya banyak sekali para pedagang yang
ingin mendapat keuntungan besar dari basil berdagang
ukiran2 itu kelak pada datang kekampung itu untuk
mengunjungi suami-isteri itu.
Pada mulanya suami-isteri ini tidak insyaf apa yang
menyebabkan ia semakin hari mendapat kunjungan makin
men-jadi2 dan apakah maksud kedatangan para tamunya
itu. Setelah mereka mendengar dari beberapa orang
kampung itu, bahwa namanya sangat tenar dalam hal
mengukir, ia dipuji oleh orang2 yang mengerti dan diberi
julukan 'ahli pahat malaikat', karena mereka terdiri dari
pedagang2 besar yang ingin mendapat keuntungan yang
banyak dari berdagang barang ukir2an. Lain halnya dari
kedatangan tamunya yang sudah2, yang se-mata2 meminta
pertolongan. Dalam pada itu tanpa disadari Lie Kim Kong, ia berada
di kampung halamannya sejak pulang dari perantauan
sudah lebih kurang empat tahun pula, selama itu pula
kampung Lie-kee-cun menjadi lebih ramai dari sebelumnya,
disamping tidak adanya kejadian apa2 yang luar biasa. Dan
dalam pada itu pula anak Lie Kim Kong yang bernama Lie
Siauw Hiong, telah mencapai usia dua belas tahun. Ia
sangat cerdik badannya bila dibandingkan dengan anak2
kampung lainnya jauh lebih sehat dan kuat.
Pada waktu bunga2 Bwee sedang mekar, Lie Kim Kong
suami-isteri mengundang orang2 tua dikampung itu untuk
makan minum. Setelah mereka makan minum arak se-
puas2nya barulah mereka pada bubaran, pulang kerumah
mereka masing2.
Pada hari itu Lie Kim Kong suami-isteri bukan main
girangnya, sesudah para tamunya pulang, lantas mereka
mengatur hidangan pada satu media, lalu mereka duduk
sekelilingnya, Siauw Hiongpun duduk pula disitu, mereka
makan minum sambil ter- tawa2. Ketika itu dari jauh
kedengaran suara kentongan, tandanya hari sudah mulai
larut malam. Waktu Lie Kim Kong mengangkat cangkir
araknya, ia berkata pada isterinya Lie Hong : "Selama
beberapa tahun ini, sungguh membuat aku merasa sengsara
sekali. Kini kita boleh dikatakan sudah hampir lima tahun
berada dikampung. Masa yang selama ini kita lalui dengan
aman dan tenteram. Dan tidak ada terjadi sesuatu hal yang
aneh." Sambil tertawa Lie Hong menjawab : "Semoga untuk
masa yang datang tidak terjadi sesuatu apa yang menimpa
diri kita dan akupun sudah tidak sudi menerjunkan diriku
kedalam dunia rimba persilatan lagi. Kini aku ingin hidup
tenang sebagai rakyat biasa saja. Aku sudah jemu dengan
pekerjaan membawa golok dan pedang seperti masa yang
silam itu."
Sambil tertawa Lie Kim Kong menjawab : "Sebaliknya
bagiku selama beberapa tahun ini, aku merasa amat
kesepian terkurung ...."
Dengan paras yang ber-seri2 Lie Hong memotong
perkataan suaminya : "Asal saja malam ini dapat kita
lewatkan dengan selamat dan tak kurang suatu apa, kitapun
sudah boleh merasa puas. Apakah mereka masih tidak mau
melepaskan kita juga ?"
Lie Kim Kong tertawa dan lalu berkata : "Hal itu tidak
mungkin Hay-thian-siang-sat walaupun hatinya kejam dan
bengis, tapi selama dua puluh tahun ini, apa yang kita
katakan pasti mereka laksanakan, asal saja dia berikan
waktu lima tahun. Setelah lewat lima tahun, sekalipun jika
aku bertemu muka dengan mereka ditengah jalan, mereka
pasti tidak akan menggangguku lagi."
Baru saja perkataannya habis diucapkan, tiba2 terdengar
suara orang yang tertawa dingin dan berkata dengan suara
nyaring : "Lie Lao Liok sesungguhnya orang kebanggaanku, baiklah aku turut perkataanmu. Aku Ciauw
Loo Toa akan mengantarkan kematianmu dengan segera !"
Mendengar kata2 itu, Lie Kim Kong suami-isteri jadi
kaget sekali, sehingga mereka berdiri terpaku.
Malam itu cuacanya sangat suram sedangkan hawanya
luar biasa dingin, disetiap penjuru tidak tampak bayangan
seorangpun. Wajah Lie Kim Kong menunjukkan perasaan
sangat terkejut. Dengan memberanikan diri dan dengan
suara yang lantang dia berseru : "Toa-ko, Jie-ko sudah pada
datang, mengapa tidak segera menampakkan diri ?"
Tak lama antaranya dikegelapan malam itu terdengar
lagi suara tertawa dingin yang menusuk perasaan bagi siapa
yang mendengar, katanya : "Betulkah kau ingin aku
menurunkan tanganku kepadamu dalam saat yang pendek
ini " Bila kau suami-isteri beserta anakmu tidak segera
membunuh diri, aku sangat kuatir kematian kalian pasti
akan lebih menyedihkan lagi !"
Muka Lie Kim Kong menjadi pucat dan seketika lalu
berkata : "Aku suami-isteri hanya membuat kesalahan pada
kalian berdua bersaudara, tentu saja aku rela untuk
diapakan saja, tapi aku mohon belas kasihan kalian berdua,
demi kebaikanmu, sudi apalah kiranya kalian mengampuni
anakku ini."
Sekali lagi terdengar suara tertawa menyeringai dan
kemudian berkata : "Aku baru saja mengatakan bahwa kau
adalah orang kebanggaanku, tapi aku tidak sudi lagi
mendengar saran2mu dan aku tidak sudi pula memberi
hidup pada keturunanmu itu !"
Mendengar hal itu, Lie Hong menjadi nekad dan dengan
geram sekali dia berseru : "Kalian berdua manusia2 yang
bercacat, mengapa kalian ingin memutuskan turunan orang
" Apakah kita tidak mempunyai kebebasan sama sekali jika
dibandingkan dengan seorang penjahatpun " Kalian harus
ketahui, kami Tian-kwie-siang-tiauw (sepasang rajawali dari
Hunlam dan Kwie-ciu) bukan orang yang gampang
menerima penghinaan. Kami suami-isteri ingin menyaksikan sebenarnya kepandaian kalian betapa hebatnya !"
Sehabis perkataannya diucapkan, lalu terasa berkesiurnya angin, ternyata dalam ruangan rumah mereka
sudah bertambah dua bayangan manusia, yang seorang
walaupun kaki tangannya serba lengkap, tapi mukanya
sangat pipih sekali. Ternyata dia tidak mempunyai hidung
maupun kuping, hidungnyapun berbulu, yang tampak
hanyalah kedua biji matanya yang seperti batu giok. Kedua
biji matanya ini memancarkan sinar yang amat tajam.
Sedangkan yang seorang lagi lebih aneh lagi. Kepala
maupun badannya, luar biasa besarnya, sedangkan kedua
kaki dan tangannya luar biasa halus dan pendeknya.
Tampaknya ia seperti seorang bocah yang baru berusia
enam atau tujuh tahun saja. Kedua orang ini memakai
pakaian yang berwarna abu2. Dalam gelap kedua orang ini
mirip sekali seperti setan, sama sekali tidak menyerupai
manusia. Kedua orang ini dikalangan Bulim terkenal
sebagai tokoh2 yang paling disegani orang dewasa itu.
Mereka berdua bukan lain daripada Hay-thian-siang-sat,
yaitu Thian-can Ciauw Hoa dan Thian-hui Ciauw Loo dua
saudara. (Oo-dwkz-oO) Jilid 2 Diantara sembilan jago dari Oey-hong-kwan, yang
menjadi pemimpin kalangan Liok-lim (rimba hijau) dewasa
itu adalah Hay-thian-siang-sat, Loo Toa dan Loo Jie,
sedangkan Lie Kim Kong dan Lie Hong sejak
meninggalkan Lie-kee-cun, terus saja mengembara kebarat
dan timur. Diluar dugaan pada suatu hari mereka bertemu
dengan seorang ahli yang sudah lama mengasingkan diri
yaitu Cui Ceng. Dari guru inilah mereka memperoleh
kepandaian yang sejati dan tinggi.
Lie Kim Hong suami-isteri yang selalu mendapat
perlakuan tidak baik dalam perantauan, akhirnya timbul
rasa sentimen dalam hati mereka. Maka setelah berhasil
dalam pelajaran mereka, lalu mereka menerjunkan diri
untuk menjajal kepandaian mereka dalam kalangan Kang-
ouw. Di-mana2 pekerjaan mereka hampir setiap saat
berkelahi dengan maksud menguji kepandaian lawannya se-
mata2, sehingga tiada berapa lamanya nama Tian-kwie-
siang-tiauw telah menjadi terkenal dikalangan Kang-ouw.
Dan bersamaan dengan itu, dikalangan Bu-lim lantas
muncul sepasang suami-isteri yang melakukan pekerjaan
begal tanpa pembantu. Mereka ini selain kepandaiannya
sangat tinggi, juga tak kenal ampun. Jarang musuh2nya
yang dapat hidup lagi setelah bertempur dengan mereka.
Kemudian sembilan jagoan yang dibentuk oleh Hay-
thian-siang-sat, tiba2 mati dua orang. Hay-thian-siang-sat
begitu mendengar nama Tian-kwie-siang-tiauw dan tertarik
dengan segala tindak-tanduk mereka, dengan lantas mereka
menariknya kedua orang suami-isteri itu kepihak mereka.
Sembilan jago dari Kwan-tiong adalah tokoh dari
golongan hitam, sedangkan Tian-kwie-siang-tiauw yang
baru saja kesohor itu, tidak ada alasan untuk tidak
menerima ajakan Hay-thiansiang-sat itu. Oleh karena itu,
merekapun dengan rela hati masuk menjadi anggota dari
sembilan jagoan itu.
Selama beberapa tahun ini Lie Kim Kong suami-isteri
entah sudah berapa kali melakukan perbuatan yang jahat
dan keji. Semenjak mereka memperoleh satu2nya anak
laki2 sebagai penyambung keturunan mereka, segala
tindakan mereka yang hendak dilakukan selalu mereka
pertimbangkan dahulu masak2. Sejak itu pula sifat2 mereka
sudah banyak berubah. Akhirnya Lie Kim Kong suami-
isteri menginsyafi, bahwa segala perbuatan mereka pada
masa2 yang lalu sangat terkutuk. Kini mereka hendak
merubah segala tindakan2nya kejalan yang benar. Tapi apa
saja peraturan kumpulan sembilan jagoan Kwan-tiong ini
sangat keras sekali, karena kecuali 'mati', siapapun tidak
diizinkan keluar dari kumpulan tersebut. Apa lagi masih
banyak sekali orang2 yang mempunyai kepandaian lebih
tinggi daripada Hay-thian-siang-sat, kedua orang ini tidak
berani turun tangan sembarangan. Setelah mereka menanti
ber-tahun2 dengan penuh kesabaran, akhirnya mereka


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjumpai juga ketika yang baik untuk melarikan diri.
Ketika Lie Siauw Hiong berusia kira2 tujuh tahun,
kebetulan Hay-thian-siang-sat
keluar menuju keluar perbatasan, sedangkan didalam kota Kwan-tiong hanya
tinggal jago ketujuh, yaitu Cu-bo-lie-hun-piauw Tan Kie
Tiauw bersama Lie Kim Kong suami-isteri. Dalam pada
inilah Lie Kim Kong suami-isteri mengambil kesempatan
membunuh Tan Kie Tiauw, kemudian mereka berdua
melarikan diri mereka jauh2.
Kemudian setelah Hay-thian-siang-sat kembali lagi ke
Kwan-tiong dan mendengar kejadian tersebut, mereka jadi
marah sekali. Lalu mereka menyiarkan berita pada kaum
rimba hijau, bahwa jika Tian-kwie-siang-tiauw tidak mau
menyerahkan diri selama lima tahun ini, maka pada akhir
tahun kelima Hay-thian-siang-sat akan mencabut nyawa Lie
Kim Kong sekeluarga dimana saja mereka bersembunyi.
(Oo=dwkz=oO) Lie Kim Kong merasa tidak ada satu tempatpun yang
aman untuk mereka menyembunyikan diri. Akhirnya
setelah mereka pertimbangkan masak2, mereka mengambil
keputusan untuk pulang kekampung halaman mereka
sendiri, Lie-kee-cun, yang terletak diluar kota Kun-beng
didekat gunung Ngo-hoa-san, karena mereka yakin, bahwa
mereka akan lebih aman bersembunyi disini daripada
tempat2 lain. Lie Kim Kong suami-isteri beserta anaknya Lie Siauw
Hiong lalu kembali kekampung halaman mereka untuk
menyembunyikan diri sekeluarga. Empat tahun lebih masa
mereka lalui dengan aman tanpa gangguan apa2. Tapi tak
di-sangka2 pada akhir tahun kelima Hay-thian-siang-sat
dapat menemukan jejak mereka.
Begitu Hay-thian-siang-sat tiba dirumahnya dengan
secara mendadak itu, ia baru mengetahui bahwa
kepandaian lawannya ini sungguh2 tinggi. Pada saat2 itu
Lie Kim Kong berpikir bahwa ia harus menerima
pembalasan sebagai pertanggunganjawab atas segala
perbuatan laknatnya pada masa lampau. Hanya saja ia
memohon pada lawannya, agar lawannya itu suka
mengampuni anaknya yang tidak berdosa ini.
Lie Hong sudah tidak dapat menahan sabar lagi, dengan
suara yang nyaring ia me-maki2. Hay-thian-siang-sat
memang saudara kembar, sejak dilahirkan, yang satu empat
anggota badannya tidak lengkap, sedangkan yang satunya
lagi adalah gagu dan tuli, walaupun mereka menamakan
diri mereka Thian-can (orang yang bercacat sejak lahir), dan
Thian-hui (orang yang tidak berguna) tapi mereka justeru
paling benci bila ada orang yang me-nyebut2 cacat2 mereka
ini. Maka waktu mereka mendengar suara makian Lie
Hong, menyebabkan napsu membunuh mereka semakin
bergolak. Sambil tertawa dingin Thian-can Ciauw Hoa berkata :
"Tidak disangka bahwa tulang Lie Kiu Nio jauh lebih keras
daripada tulang Lie Loo Liok. Bagus, bagus, aku berdua
bersaudara tidak membiarkan kalian mati dengan tenang,
maka sejak hari ini boleh dikatakan bahwa didunia rimba
persilatan tidak ada pula julukan Hay-thian-siang-sat ini!"
Dengan suara yang sedih sekali Lie Hong berkata : "Kim
Kong, belum juga maju untuk mengadu jiwa dengan
mereka ?" Sehabis berkata begitu, Lie Hong sudah segera loncat
dengan mementangkan sepasang tangannya menyerang
lawannya dengan gerak tipu Kie-eng-pok-touw (burung
elang yang kelaparan menubruk kelinci), dengan disertai
angin yang men-deru2, ia menyerang Ciauw Hoa,
serangannya itu memang cukup mengejutkan lawan.
Karena ia menyerang lawannya dengan perasaan penuh
kemarahan itu, sekali turun tangan saja ia telah melakukan
suatu kesalahan besar. Tipu Kie-eng-pok-touw ini,
sebenarnya hanya tepat untuk dipergunakan melawan
musuh yang kepandaian silatnya lebih rendah, sebaliknya
jika menjumpai lawan yang lebih tangguh, hal itu hanya
akan mendatangkan bahaya. Maka Lie Kim Kong yang
melihat Lie Hong mengeluarkan tipu tersebut, ia tahu
bahwa isterinya akan mendapat celaka, tapi sudah tidak
keburu lagi untuk memberi tahukan kepadanya. Ciauw Hoa
yang melihat Lie Hong dari sebelah atas melayang turun
hendak menubruk dirinya, buru2 dia miringkan badannya.
Badannya yang memang kecil itu, dengan pergerakan
tubuhnya menjadi lebih rendah dua sampai tiga meter, se-
akan2 badannya ini menempel dengan lantai saja, serangan
yang dilancarkan oleh Lie Hong itu adalah dengan sepenuh
tenaga. Waktu ia melihat lawannya tidak mengelitkan
badannya, ia dapat membayangkan bahwa pukulannya kali
ini pasti akan menemui sasarannya. Bila gagal ia harus
mengorbankan dirinya dan sama2 binasa dengan lawannya.
Siapa menduga ilmu meringankan badan dari Ciauw Hoa
ini sudah sampai dipuncaknya yang tertinggi, ditunggunya
ketika pukulan lawannya ini hampir menyentuh badannya,
sepasang tangannya dengan cepat sekali diulurkan untuk
menangkap tangan Lie Hong, kemudian dia menotok lawan
itu. Lie Hong merasa sakit bukan buatan ternyata sepasang
buku2 tangannya terlepas! Lie Hong menjerit sayu,
kemudian ia jatuh ketanah. Menyaksikan itu Lie Kim Kong
pecah nyalinya.
Dengan gerakan secepat kilat Ciauw Hoa sudah
melompat jauh sekali dan tiba disekeliling Lie Kim Kong
ayah dan anak, pergerakannya yang sedemikian cepatnya
ini, se-akan2 tidak dapat dilihat oleh mata orang biasa,
kemudian dengan berdiri disamping tubuh Lie Kim Kong ia
tertawa getir dan berkata : "Lie Loo Liok, jika kau dapat
menerobos dari lingkaran ini satu tindak saja, aku berdua
saudara akan mengurus isterimu dengan baik dan
sempurna, dan aku berdua bersaudara kali ini akan
melanggar peraturanku sendiri, yaitu kami akan mengampuni jiwa anakmu, bila tidak, jika kau ingin
menempur kami boleh juga, lihatlah bagaimana hasilnya
nanti !" Lie Kim Kong lalu melihat kebawah, ternyata lantai
yang begitu keras entah dengan ilmu apa ternyata Ciauw
Hoa telah menggariskan sebuah lingkaran, waktu dia
memandang pula pada Lie Siauw Hiong, ternyata anaknya
masih tetap duduk diatas kursi, mukanya tampak begitu
tenang dan tabah se-akan2 dia tidak takut suatu apapun.
Mata Lie Siauw Hiong tampak ber-kilat2 oleh airmata
memandang pada ibunya yang kini sudah terluka itu.
Tidak terasa lagi dalam hatinya Lie Kim Kong merasa
heran sekali, dia pikir anaknya yang baru berusia dua betas
tahun ini mempunyai ketenangan yang begitu mengagumkan sekali, selama tahun2 belakangan ini,
perhatiannya terhadap anaknya ini cukup besar, memang
dia sayang sekali terhadap anaknya ini, tapi baru sampai
hari ini, dia baru tahu yang anaknya berbeda sekali dengan
anak2 orang kebanyakan. Dia membayangkan bahwa kalau
dia dapat melatih anaknya dalam ilmu silat sampai dewasa,
pasti kelak dikemudian hari anaknya akan menjadi seorang
manusia yang luar biasa sekali. Ia lalu mengambil
keputusan untuk tidak membiarkan anaknya ini sampai
binasa oleh lawannya. Untuk itu dia bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Sekalipun Hay-thian-siang-
sat memperlakukan isterinya dengan kejam sekali, tapi dia
berpikir untuk berlaku sabar saja, karena ia yakin bahwa ia
akan menemui ajalnya ditangan lawannya.
Ciauw Hoa melihat Lie Kim Kong bersedia menjadi
bulan2-annya, dengan girang sekali ia tertawa, tapi sehabis
tawanya, sifat kejamnya lalu muncul. Ternyata dia ingin
memperlakukan dan menyiksa lawannya ini dengan kejam,
sehingga dia merasa puas.
Oleh karena itu lalu dia menolehkan kepalanya,
memandang pada saudaranya yang tengah berdiri diam.
Ciauw Loo juga merasa senang. Kedua orang ini lalu pada
tersenyum. Kadang2 senyuman kedua orang ini lebih
menakutkan daripada waktu mereka sedang murka, karena
senyumannya mereka itu berarti yang mereka segera akan
menurunkan tangan jahatnya pada lawannya, se-akan2
binatang buas yang hendak menerkam mangsanya saja.
Lie Hong yang semaput dan yang telah jatuh ditanah itu,
pada saat ini ia telah mendusin karena merasakan serangan
hawa dingin. Baru saja ia ingin bangun, tiba2 ia
mengeluarkan suara teriakan tertahan yang menyayat hati.
Mendengar suara itu Ciauw Hoa merasa puas sekali,
dengan sekali berkelebat saja ia telah sampai pada Lie Hong
dan menotoknya dengan totokan yang paling istimewa dari
Hay-thian-siang-sat, membuat orang tidak dapat bergerak,
tapi pikirannya tetap tidak berubah.
Sudah itu dia lalu manggut2kan kepalanya kepada
Ciauw Loo, dengan membungkukkan badannya dia lalu
menjambret baju Lie Hong. Dengan sekali sentak saja baju
mantel Lie Hong yang sangat tebal itu sudah sobek besar
sekali. Oleh karena itu badan Lie Hong menjadi telanjang.
Hawa dingin lebih leluasa merasuk kesumsum dan sekujur
badannya. Mata Hay-thian-siang-sat yang ber-kilat2
menyatakan kepuasannya. Melihat hal itu, hati Lie Kim
Kong menjadi sangat pilu sekali laksana di-iris2 oleh ribuan
pisau yang tajam, hingga timbul pikiran nekad hendak
menempur lawannya itu untuk menentukan hidup mati
mereka. Demi mengingat keselamatan anaknya, terpaksa
dia tidak bisa berbuat apa2, selain meng-gertak2kan giginya
saja, sehingga akhirnya mengeluarkan darah.
Pada. saat itu Lie Hong menerima penderitaan lahir-
bathin demikian hebat. Sukar untuk dilukiskan.
Sementara itu ia dengan segala daya-upaya tidak berhasil
bergerak barang sedikitpun. Ia ingin membuka mulutnya
untuk benteriak, tapi inipun tidak bisa, ia membayangkan
peristiwa yang lebih menakutkan akan tiba. Akhirnya ia
berdiam diri karena ia tidak dapat mengadakan perlawanan.
Pada saat bersamaan ia merasakan badannya sangat sakit,
ditambah pula oleh rasa dingin, malu, sedih dan keputus-
asaannya disebabkan badannya telah ditotok oleh musuh
itu, maka pada saat2 itu pula rasa benci terhadap suaminya
mencengkam dibenaknya, karena tidak mau membantunya,
oleh karena itu sambil memejamkan matanya dia berkata
seorang diri : "Sekalipun aku akan mati, aku akan menjadi
setan yang akan membalas sakit hatiku ini."
Lie Siauw Hiong yang baru berusia 12 tahun itu melihat
ibunya begitu menderita dan menerima hinaan yang begitu
hebat dari manusia yang seperti binatang buasnya ini,
sebaliknya ia melihat ayahnya suka menerima penghinaan
yang demikian besarnya untuk keselamatan dirinya sendiri.
Hatinya menjadi pilu, tapi apa hendak dikata, karena ia
yang masih sekecil itu tentu tak dapat berbuat apa2. Dia
hanya duduk terpekur disitu memandang pada Hay-thian-
siang-sat, tapi Hay-thian-siang-sat
sebaliknya jika mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh bocah ini, biar
bagaimanapun mereka pasti akan bertekad untuk membunuh anak ini.
Tapi Hay-thian-siang-sat bagaimana bisa memperhatikan
bocah ini, mereka hanya merasa bukan main puasnya atas
perbuatan mereka ini. Mereka menggunakan cara2 yang
diluar peri-kemanusiaan untuk menyiksa seorang wanita
yang lemah dan tidak berdaya. Kemudian Ciauw Hoa
dengan tangannya yang bengkok menunjuk kearah Lie Kim
Kong sambil berkata : "Baik, Lie Loo Liok, dengan adanya
kau disini, bukan saja anak ini jiwanya dapat kuampunkan,
juga jiwa anjingmu yang bergelora ditubuhmupun dapat
kuampunkan, asal saja kau masih suka menurut perintahku,
aku tetap akan memperlakukan kau seperti dulu2."
Lie Kim Kong lalu mengarahkan pandangannya pada
Lie Siauw Hiong. Tiba2 saja perasaan terharunya terbit dari
sanubarinya, kemudian dia memandang pada Ciauw Hoa
sambil berkata: "Apakah kau mau meluluskan, tidak akan
mencelakakan anakku ini dalam waktu sepuluh tahun yang
akan datang ?"
Ciauw Hoa manggut2 sambil berkata : "Aku Ciauw Loo-
toa, apa yang telah kuucapkan pasti kutepati, apakah kau
masih sangsi ?"
Lie Kim Kong lalu menjawab : "Bagus, bila demikian
halnya, maka akupun akan merasa senang sekali." Sehabis
ucapannya, ia lalu dengan per-lahan2 berjalan mendekati
belakang Ciauw Hoa, dimana tergeletak tubuh isterinya
yang tidak dapat pertolongan dari siapapun. Matanya jadi
ber-api2, lantas dengan kepalan tangannya ia menyerang
lawannya itu, dengan tipu Pie-ek-siang-hui (gerak burung


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terbang mengadu kekuatan terbang). Tangan kanannya,
sekaligus menyerang jalan darah Hian-cu dibelakang kuping
lawannya, sedangkan tangan kirinya dipakai menusuk
tenggorokan lawannya.
Gerak tipu Pie-ek-siang-hui ini, adalah salah satu tipu
dari ilmu Sin-tiauw-ciang-hoat (telapak tangan rajawali
sakti) yang sangat dibanggakannya. Lie Kim Kong
melakukan penyerangan sekali ini karena sedang diliputi
oleh kesedihan yang sangat memuncak, tenaganya tidak
seperti biasanya, apa lagi Ciauw Hoa yang sedang merasa
kepuasannya, dengan sendirinya tidak pernah terlintas
diotaknya bahwa Lie Kim Kong akan melakukan
penyerangan secara demikian nekadnya ini, sewaktu dia
insyaf pukulan lawannya itu sudah hampir menemui
sasarannya. Tapi Ciauw Hoa yang dapat menempatkan dirinya
sebagai salah satu jago yang ulung dikalangan Kang-ouw,
adalah bukan secara kebetulan, pukulan yang disertai
hembusan angin yang kencang dari Lie Kim Kong ini dapat
diketahuinya, maka Ciauw Hoa buru2 membungkukkan
kepalanya agak maju kemuka, dengan badan yang tetap
tidak berkisar dari tempatnya semula, kepalanya diangkatnya sedikit maka dengan berbuat demikian dia
telah berhasil memunahkan serangan lawannya.
Lie Kim Kong melakukan penyerangannya sekali ini
dengan penuh keyakinan bahwa dia akan berhasil, waktu
diketahuinya pukulannya jatuh ditempat kosong, kembali
jiwanya jadi terancam. Dengan perasaan putus asa, ia
hanya menantikan saat2 kematiannya, badannya segera
dibungkukkan sedikit, dengan gerak Peng-see-lok-ek
(kuncupkan sayap turun kepasir yang datar) dengan
sepasang tangannya dipukulkannya kearah dada musuh.
Ciauw Hoa dengan tertawa dingin lekas2 menotolkan
kakinya, dengan memiringkan badannya diulurkannya
tangannya untuk menotok jalan darah Cim-hiong, dengan
geraknya yang cepat ini se-akan2 dia telah melakukan tipu
yang berhasil, yaitu dari diserang lalu berbalik menjadi
pihak yang menyerang.
Lie Kim Kong kini hanya dapat menggigit bibir saja,
buru2 ditariknya kembali badannya, lalu dengan sepasang
tangannya dia menyerang lawannya kembali dengan tipu
silat latihan yang telah diyakinkannya beberapa puluh
tahun yang lampau, yaitu ilmu Sin-tiauw-ciang-hoat yang
terdiri atas 127 jurus, dengan melakukan penyerangan ini,
berarti dia sudah tidak menghiraukan dirinya lagi, dia
sudah bersedia untuk mati ber-sama2 lawannya. Penyerangan yang demikian dahsyatnya ini, baru dilakukan
terhadap seseorang musuh yang dibencinya sekali, apa lagi
dia yang sudah bersedia untuk mati ber-sama2 lawannya,
maka ia terpaksa mengeluarkan pukulannya ini, sebenarnya
dikalangan Kang-ouw jarang orang berani mengeluarkan
ataupun memakai pukulan macam demikian, bila keadaan
tidak terlalu memaksa, Ciauw Hoa sekalipun ilmunya
sudah mencapai taraf yang tertinggi, tapi waktu dihadapkan
dengan penyerangan yang nekad2an ini, diapun merasa jeri
juga. Mengenai tenaga dalam, Lie Kim Kong sudah
mencapai taraf yang tinggi juga, andaikata ia berniat
hendak melukai Ciauw Hoa, sukar dapat dilaksanakannya.
Selang sejurus lamanya, Lie Kim Kong merasakan
tenaganya sudah jauh berkurang, sedangkan barangsiapa
yang menggunakan cara berperang dengan ilmu tersebut
harus mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya.
Waktu dilihatnya Ciauw Hoa dengan gampang saja dapat
memunahkan tiap2 pukulannya. Malahan Ciauw Loo kini
waspada. Matanya tak luput memperhatikan Lie Kim
Kong. Bila dia turut membantunya, dirinya pasti dalam
waktu sekejap mata saja akan binasa, bahkan mungkin
kematiannya itu akan menyedihkan sekali. Walaupun
pekarangan rumah Lie Kim Kong tidak seberapa luas,
beberapa kali ia terpaksa untuk mengelitkan badannya dari
serangan lawannya. Selama pertarungan itu Lie Kim Kong
ber-kali2 lewat disisi Ciauw Loo, tapi Ciauw Loo tetap saja
berdiri dengan tenang, sedikitpun dia tidak berusaha untuk
menghalang-halanginya.
Seratus dua puluh tujuh jurus dari ilmu Sian-tiauw-ciang-
hoat sudah dipergunakannya, hanya yang belum ia
keluarkan ialah serangan berantai yang semuanya ada
duabelas macam, yaitu tipu Cie-ek-coan-in (burung terbang
menembusi awan), yang berikutnya harus dilanjutkan
dengan Sin-tiauw-tian-ek (rajawali sakti membentangkan
sayap), Lie Kim Kong melanjutkan serangannya dengan
serangan berantai. Walaupun ilmu silat Ciauw Hoa sangat
tinggi, diapun tidak berani berlaku semberono akan
serangan lawannya pada kali ini.
Baru saja Lie Kim Kong mencoba ilmunya ini,
badannya, sudah bergerak lagi mendekati tubuh Ciauw
Loo, dan dalam waktu yang sangat pendek ini, tiba2 sebuah
akal terlintas dikepalanya, lalu dia gerakkan sepasang
tangannya yang dipencarkan dengan tenangnya, se-akan2 ia
membuka pintu, tipu yang akan dilancarkannya ini
tampaknya gampang, tapi mengandung perubahan yang
tidak dapat disangka lawannya, melihat hal itu Ciauw
Hoapun tidak berani mencoba untuk menangkisnya.
Tapi secara se-konyong2 saja dia telah mengubah
serangannya ini, dengan memiringkan tubuhnya dia telah
menyerang tubuh Ciauw Loo, sepasang tangannya dengan
kencang sekali memeluk tubuh Ciauw Loo. Dengan
perbuatannya ini terang sekali menunjukkan kelicikannya,
Hay-thian-siang-sat sekalipun tidak pernah menyangka
yang lawannya akan berbuat demikian, waktu diri Ciauw
Hoa ditinggalkan begitu saja sebaliknya saudaranya yang
telah kena dipeluk lawannya, dia merasa tercengang sekali,
karena sedikitpun dia tidak pernah terpikir olehnya bahwa
lawannya dapat berbuat demikian.
Lie Kim Kong mengeluarkan seluruh tenaganya pada
kedua pasang tangannya ini, ia memeluk tubuh lawannya
dengan erat sekali seperti jepit dari besi. Ciauw Loo lebih
terkejut lagi ketika melihat Lie Kim Kong membuka
mulutnya dan hendak menggigit tenggorokannya.
Sebenarnya Ciauw Loo sangat mahir sekali dengan
tenaga kepalannya maupun dengan tenaga-dalamnya,
dibandingkan dengan Ciauw Hoa yang mempunyai
kepandaian tenaga dalam yang bersifat lemas, tentu saja
berbeda sekali, malahan ilmu melemaskan tulangnya jauh
melebihi kakaknya, dia dapat menggunakan tenaga-
dalamnya yang dapat disalurkan ketangan dan kekaki.
Baru saja tadi dia berpikir untuk berbuat demikian, tapi
dalam waktu sekejap saja, diapun tidak berdaya untuk
melaksanakan maksudnya itu. Dalam waktu yang pendek
dan singkat itu, leher Ciauw Loo hampir saja digigit
lawannya, sekalipun dia mempunyai kepandaian yang
tinggi, dia dapat binasa seketika itu juga, karenanya
bagaimana dia tidak menjadi kaget " Tapi dia adalah
seorang yang sudah berpengalaman luas sekali dalam
kalangan Kang-ouw, maka dalam waktu yang berbahaya
ini, dengan sendirinya dia dapat mengeluarkan kepandaiannya yang baik untuk menyambut serangan
lawannya. Sepasang tangannya segera diangkat sedangkan
kepalanya ditundukkan yaitu dengan gerak demikian dia
mencoba untuk menghindarkan lehernya agar lawannya
tidak sampai dapat menggigitnya. Lie Kim Kong baru saja
membuka mulutnya mau menggigit, dia hanya dapat
menggigit bagian antara mulut dan pelipis saja, dengan
penuh kemarahan Ciauw Loo sambil berseru dengan keras
meninju lawannya dengan sepasang kepalannya. Pukulannya itu adalah pukulan dari ahli tenaga-dalam,
kemudian dengan jarinya dia menotok jalan darah Lie Kim
Kong yang akan membinasakannya. Jalan darah yang kena
ditotok oleh Ciauw Loo itu tepat sekali mengenai
sasarannya, apa lagi hal itu dilakukan oleh seorang yang
ahli dalam hal tenaga-dalam.
Lie Kim Kong tanpa dapat mengeluarkan suara lagi
lantas roboh binasa.
Ciauw Loo lalu meraba pipinya yang keluar darah bekas
gigitan Lie Kim Kong tadi, dengan tertawa dingin ia lalu
memandang pada mayat lawannya yang sudah menggeletak
tak berdaya itu, mukanya tampak tidak berperasaan sama
sekali, se-akan2 di- dunia yang berlaku hanya hukum rimba
saja. Ciauw Hoa dengan tertawa pahit lalu berkata.:
"Sungguh menguntungkan dia saja, membiarkan dia mati
begitu enaknya." Se-konyong2 dia berpikir bahwa dalam
pekarangan itu tidak terdapat orang lainnya kecuali
saudaranya sendiri, dan disamping itu masih ada satu orang
lagi yang belum mati, yaitu Lie Siauw Hiong. Lie Siauw
Hiong tetap saja masih berduduk disamping meja, mukanya
penuh dengan bekas butir2 airmata, sedangkan sepasang
tangannya tampak dikepalkannya keras sekali. Dalam hati
Ciauw Hoa berpikir : "Anak itu begitu kecilnya, tapi
tampaknya sangat aneh sekali, apakah barangkali anak ini
termasuk bocah yang luar biasa " Dilihat dari romannya,
dia tampak tidak menunjukkan tanda2 yang istimewa, jika
ia seorang anak tolol tidak mengapa, tapi jika sebaliknya
bocah ini seorang anak yang sangat pintar, aku kuatir
dikemudian hari merupakan bencana besar bagi kita."
Sambil berpikir ia menghampiri Lie Sauiw Hong, dengan
per- lahan2 dia angkat tangannya, dia sudah berpikir untuk
sekali tepok saja untuk membinasakan anak itu supaya
dikemudian hari tidak merupakan bahaya baginya.
Bila pukulannya ini sudah jatuh kebadan anak kecil ini,
jangankan tubuh Lie Siauw Hiong yang terdiri dari darah
dan daging, sekalipun ia besi dapat juga dipukulnya
sehingga hancur lebur. Sesudah itu, dia memandang lagi
pada Lie Siauw Hiong, tapi anak itu dengan geramnya
memandang pula pada musuh orang tuanya itu. Tapi hati
Ciauw Hoa dan Ciauw Loo kedua orang ini sangat aneh
sekali, setiap dia menemukan sesuatu yang luar biasa, pasti
dia lekas tertarik. Kemudian ia teringat akan kata2 yang
pernah diucapkan, yaitu bahwa ia telah menjanjikan pada
Lie Kim Kong untuk tidak membunuh anaknya ini, tapi
bila aku membiarkan dia hidup, dikemudian hari aku sangsi
anak ini pasti merupakan lawan yang sangat berbahaya .....
Tangan kanannya yang telah diangkat itu, dengan ragu2
masih belum turun.
Dia ragu2, mestikah dia memukul anak ini atau tidak "
Pikirannya masih tetap bercabang, jiwa Lie Siauw Hiong
juga tergantung padanya. Bagi Lie Siauw Hiong sendiri
tentu saja dia tidak mempunyai daya apa2 dalam
menghadapi bahaya ini.
Malam itu hawanya sangat dingin sekali, tiba2 terbit
angin keras yang datang meniup, ternyata angin itu datang
dari pekarangan rumah Lie Siauw Hiong dari jalan kecil,
lalu disusul dengan terdengarnya suara tindakan kaki yang
berat sekali, tampaknya bukan seperti tindakan kaki
manusia. Tindakan yang begitu berat, terdengar dimalam
yang sepi begini tentu saja sangat mengagetkan. Ciauw Hoa
sewaktu mendengar hal itu merasa terkejut sekali. Dengan
melambaikan tangan sebagai tanda, kakak beradik ini sudah
memberi tanda pada masing2 bagaimana mereka harus
bertindak, dengan cepat mereka menyembunyikan diri
mereka ditempat yang gelap dalam pekarangan rumah
lawannya. Siapa menyangka bahwa yang keluar dari pekarangan itu
adalah seekor sapi jantan, tanpa diketahui apa sebabnya
tiba2 saja sapi jantan ini dapat keluar dari dalam
kandangnya. Melihat itu, Hay-thian-siang-sat hanya tertawa
getir. Sapi jantan itu tampaknya sapi peliharaan, karena
terbukti dengan badannya yang gemuk dan sehat,
sedangkan tanduknya mengkilat. Tampaknya sapi jantan itu
amat garang sekali, menampak kejadian ini, se-konyong2
hati Ciauw Hoa jadi ragu2, diam2 dia berpikir : "Apa yang
telah aku janjikan tadi terhadap lawanku ialah bahwa aku
berdua bersaudara tidak akan membunuh anaknya ini, tapi
aku tidak menyanggupinya kalau sapi jantan ini tidak
menyerangnya." Berpikir sampai disitu, mukanya tampak
bersenyum, se-akan2 urusan yang begitu berat sudah dapat
dia selesaikan dengan sempurna, dari hasil pemikirannya
ini memang sulit untuk dipikirkannya dari semula. Karena
hal itu terjadi dengan tidak disengaja.
Sapi jangan begitu sampai didalam pekarangan, lalu
mengangkat kepalanya sambil menguak, baru saja ia mau
masuk kembali dari mana ia datang, Ciauw Hoa lalu
menghadang dimuka sapi jantan itu.
Melihat dengan tiba2 orang yang menghadangnya sapi
jantan itu menjadi kaget, sepasang tanduknya ditundukkan,
ia bermaksud untuk segera menanduk orang yang
menghadang dimukanya itu, Ciauw Hoa dengan gerak
tangan yang cepat sekali lalu memegang tanduk sapi jantan
itu, tenaga yang memegang tanduk sapi itu adalah luar
biasa kerasnya, sapi itu berusaha untuk melepaskan dirinya,
tapi sedikitpun ia tidak dapat bergerak, ia hanya dapat me-


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nendang2 pasir dan tanah. sehingga beterbangan keudara.
Tangan kiri Ciauw Hoa tidak bergerak, dengan tangan
kanannya lalu dia memberi tanda pada Ciauw Loo.
Ciauw Loo lekas2 membuka pintu besar dari pekarangan
itu, secepat kilat dia telah kembali pula, dengan sekali
samber saja dia telah mengempit tubuh Lie Siauw Hiong
diketiaknya. Lie Siauw Hiong tidak gugup sedikitpun juga
dan tidak berontak, sebab dia tahu hal itu adalah percuma
saja, dia menyerahkan nasibnya pada dewata. Dalam
hatinya dia mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri,
dia yakin dan percaya bahwa pada suatu hari kelak, dia
akan dapat membalaskan sakit hati ayah-bundanya ini. Dia
tidak coba menggerakkan badannya, ketika ia dikempit dan
dibawa kemuka sapi jantan tersebut. Sapi yang sedang coba
be-rontak2 itu, begitu merasa tubuhnya diduduki Lie Siauw
Hiong, dia terpaksa memeluk kencang2 badan sapi tersebut,
supaya badannya jangan sampai terlempar jatuh. Walaupun
dia tidak tahu apa maksudnya dia didudukkan diatas sapi
itu, tapi dia mengerti hal itu tentunya bersangkut-paut
dengan keselamatan jiwanya.
Ciauw Loo setelah mendudukkan tubuh Lie Siauw
Hiong diatas sapi itu, dia lalu memegang salah satu tanduk
sapi itu yang kemudian dia lemparkan keluar, ternyata sapi
yang begitu besar tubuhnya dapat terputar oleh dorongan
tangannya ini. Setelah sapi jantan itu terputar satu kali
kelihatan dari tanduknya darah mengalir keluar.
Dalam kesakitan yang sangat sapi jantan itu jadi
mengamuk dengan hebatnya, sapi itu yang berada dibawah
pegangan orang tidak dapat maju maupun mundur, ia
hanya dapat mem-banting2kan badannya saja, sedangkan
Lie Siauw Hiong yang duduk diatas sapi itu merasakan
kecemasan yang sukar dilukiskan, dalam waktu yang
pendek dia merasa se-akan2 hendak muntah.
Tangan kiri Ciauw Hoa yang memegang tanduk kiri itu
dilepaskan, kemudian dia lalu menyodok tubuh sapi itu
dengan jari tangannya, sehingga kulitnya mengeluarkan
darah segar. Sapi itu menjadi lebih murkah. Begitu tangan
Ciauw Hoa dilepaskan, sapi itu dengan cepatnya segera lari
keluar dari pintu pekarangan dengan pesatnya.
Ayah dan ibu Lie Siauw Hiong walaupun mempunyai
kepandaian silat yang cukup tinggi, tapi sejak Lie Siauw
Hiong dilahirkan belum pernah mendapat pelajaran silat
dari kedua orang tuanya itu, karena pada saat ia berusia
empat tahun, kedua orang tuanya sangat membenci pada
orang2 kaum persilatan, maka mereka tidak mau
menurunkan kepandaiannya ini kepada anaknya, selain
hanya merawat. badan anaknya se-baik2nya, sehingga
tubuhnya menjadi sehat dan kuat luar biasa.
Sapi jantan itu mengamuk dan lalu lari se-kencang2nya
kedalam hutan belukar, Lie Siauw Hiong hanya merasakan
barang2 yang dilewatinya disampingnya seperti terbang
saja. Dengan larinya yang sangat gila ini, maka anak seperti
Lie Siauw Hiong mana dapat menahannya, beberapa kali
dia sudah berpikir untuk melepaskan saja tangannya dari
pegangannya diperut sapi itu untuk menjatuhkan tubuhnya
ketanah. Entah sudah berapa jam sapi jantan itu ber-lari2, dan
entah berapa jauh pula ia sudah lari. Pada saat itu haripun
sudah berangsur terang, tanpa disadarinya ia telah sampai
digunung Ngo-hoa-san. Sapi itu masih terus berlari dengan
lurusnya. Kemudian Lie Siauw Hiong merasakan sapi itu
yang tadinya lari dengan lurus, tiba2 larinya ber-putar2,
membuat kepalanya pening sekali. Sesudah ber-putar2, sapi
itu melompat dengan se-konyong2, sehingga tubuhnya
terlempar jatuh diatas salju. Sejurus lamanya Lie Siauw
Hiong tak sadarkan diri. Waktu ia siuman ia melihat
dihadapannya berdiri seorang yang bertubuh tinggi kurus.
Orang itu ternyata memakai baju yang sangat sederhana
sekali seperti anak sekolah saja layaknya. Tubuhnya
menggigil kena tiupan angin salju, tatkala dia melihat Lie
Siauw Hiong sudah sadar kembali, dibibirnya tersungging
sebuah senyuman penuh rasa kasih sayang yang mesra
sekali. Waktu Lie Siauw Hiong melihat senyumannya itu, ia
lupa seketika itu bahwa orang yang berdiri dimukanya
adalah seorang yang masih asing baginya, lalu dia berusaha
untuk duduk. Orang itu se-akan2 sudah mengetahui maksud Lie Siauw
Hiong, dengan perlahan lalu dia membuka mulutnya dan
berkata : "Jangan bergerak, beristirahatlah sebentar." Tapi
Lie Siauw Hiong tetap berusaha hendak duduk, sinar mata
orang itu menjadi bengis sekali, sedangkan mukanya yang
tampaknya sangat lesu itu kini terang menunjukkan muka
yang sangat berpengaruh sekali. Lalu dia ulurkan tangannya
mencegah Lie Siauw Hiong, kemudian tanpa terasa lalu
tubuhnya jatuh kembali keatas tanah.
Walaupun tidak seluruh tenaganya hilang. kecerdikan
Lie Siauw Hiong masih tetap ada, sambil memperhatikan
keempat penjuru disekitarnya. Dia dapat menyaksikan
pemandangan yang sangat indah dilembah gunung,
ditempat itu ia dapat menikmati bau yang harum semerbak
menyerang hidungnya. Ternyata disekitar itu tampak
bertumbuh pohon2 bunga Bwee, kemudian orang itu
berkata : "Kau ini bocah, mengapa bisa menunggang sapi edan
dan kabur sampai disini " Siapakah kau dan dimana
rumahmu ?"
Lie Siauw Hiong menjadi tertegun, pada air mukanya
terbayang kesedihan, tanpa terasa lagi air matanya menitik
turun ber-linang2. Waktu orang itu melihat dia menangis,
dengan suara yang lembut sekali dia berkata lagi :
"Kau jangan menangis, kau mengalami kesusahan apa "
Cobalah kau beritahukan kepadaku."
Sambil menangis, Lie Siauw Hiong menuturkan
peristiwa yang dialaminya, waktu dia menuturkan
riwayatnya itu hanya dilakukan dengan perasaannya saja,
sedikitpun dia tidak pernah menyangka yang dia dapat
menceriterakan sesuatunya itu dengan sempurna.
Ternyata orang yang mendengarkan ceritanya itu adalah
orang aneh nomor satu dikalangan Kang-ouw yang
bernama julukan Chit-biauw-sin-kun Bwee San Bin. Bwee
San Bin yang telah kena ditotok jalan darah Kian-ceng dan
Cong-hay oleh ahli waris tingkat ketujuh dari partai Tiam-
cong, yaitu Lok-eng-kiam Cia Tiang Kheng, kemudian
anggota sebelah dalam tubuhnya telah terluka pula oleh
Kouw-am-siang-jin, Cek Yang Tojin dan Li Gok. Jika
orang lain yang terkena salah satu macam pukulan tersebut,
sudah pasti hanya kematianlah bagiannya.
Tapi bagi Bwee San Bin yang mempunyai kecerdikan
dan kepandaian yang melebihi orang lain, belakangan iapun
telah berhasil dalam latihannya, kesemuanya itu bukanlah
suatu hal yang gampang yang dapat dicapai oleh setiap
orang dalam kalangan Kang-ouw.
Dengan latihannya yang sudah melampaui orang banyak
dengan rajin pula dia telah berhasil mencapai tingkat yang
tertinggi dengan ilmu dalamnya, tapi sekali ini dadanya
disebelah dalam yang dirasakan sangat sakit ini, setelah dia
berusaha dengan jalan menyalurkan pernapasannya dengan
teratur ternyata sia2 belaka. Diapun menginsyafi bahwa
sekali ini dia telah kena totokan yang lain dari yang lain.
Jika bagian sebelah dalam dari badannya tidak terluka,
barangkali dia masih ada harapan untuk menggunakan
tenaga-dalamnya akan membuka ilmu totokan lawannya,
tapi pada saat ini tidak mungkin agaknya dia melaksanakan
maksudnya itu. Tangan dan kakinya terasa lemas dan tidak bertenaga
sama sekali, sampaipun untuk menggerakkan jarinya saja
dia tidak dapat, malahan dia merasakan darah yang
mengalir dijantungnya perlahan sekali. Karena ternyata
dengan sisa tenaga yang masih ada padanya dia tidak bisa
berbuat apa2, hingga yang diharapkannya ialah agar dia
dapat lekas2 binasa saja daripada harus menderita dengan
penuh perasaan sakit yang sangat, atau suatu yang gaib
muncul atas dirinya.
Pada saat itu ternyata ia tengkurap diatas salju, hawa
dingin salju itu terus meresap kedalam tubuhnya, sewaktu
dia merasa putus asa sama sekali, tiba2 sekali dia
mendengar dalam lembah gunung itu ada suara tindakan
kaki orang yang ber-lari2 dengan kencang sekali, pada saat
itu dia sangat mengharapkan pertolongan. Suara tindakan
kaki itu kencang sekali datangnya, sebentar saja sudah
masuk kedalam lembah itu, kemudian disusul dengan
tampaknya seekor sapi jantan yang lari seperti sapi liar,
melihat hal itu dia menjadi putus asa kembali, karena dia
pikir sapi jantan itu ada apa faedahnya terhadapnya.
Sapi jantan itu ber-lari2 satu putaran dalam lembah itu,
kemudian secara langsung berlari kearah dimana dia
terbaring, dia tidak berdaya untuk menghindarkan dirinya,
sehingga sewaktu sapi jantan itu menginjak tubuhnya,
lantas dia rapatkan matanya. Justeru dalam waktu yang
singkat sekali dia rasakan jalan darah Ju-coan dan Him-
kienya seperti ada tenaga yang ribuan kati beratnya
memukulnya dua kali. Dia tahu bahwa itulah injakan kaki
dari sapi jantan tersebut. Tapi sungguh aneh sekali, sesudah
peristiwa itu berlalu, tiba2 dirasakannya tubuhnya sangat
segar, hawa dibadannya walaupun agak lemah dirasakannya, tapi ia sudah dapat berjalan dengan lancar,
semacam harapan untuk 'hidup' telah terlintas dikepalanya.
Pikirnya, asal dia dapat mengatur pernapasannya dengan
sempurna, keempat anggota badannya yaitu kaki dan
tangannya dengan sempurna, ia pasti dapat bergerak pula.
Dan bila demikian halnya, sekalipun lukanya lebih berat,
masakan dia tidak dapat menyembuhkannya " Oleh karena
itu, lalu dia gerakkan tangannya, benar saja dirasakannya
badannya sudah mempunyai tenaga pula, sekalipun
tenaganya ini jauh sekali kurangnya, bila dibandingkan
dengan dahulu. Tapi hal itu cukup menggirangkan baginya.
Sesudah itu cepat sekali sapi jantan itu balik kembali
ketempatnya berbaring tadi. Sekali ini dia tidak mendiadi
gugup lagi. Dia berpikir, sekalipun tenaga dalamnya sudah
hilang sebagian besar, tapi untuk menghadapi sapi ini ia
tidak kuatir, namun pikirannya ini justeru merupakan satu
kesalahan besar sekali. Sewaktu sapi jantan itu melewati dia
dengan menginjak tubuhnya, Bwee San Bin lalu
mengumpulkan seluruh kekuatannya ditangannya, begitu
dia rasakan sapi itu menginjak badannya, lantas
diangkatnya tangannya, badan sapi jantan yang begitu besar
itu ternyata kena terpukul dan terlempar keatas. Tapi
sesudah Bwee San Bin melakukan pukulannya itu, se-
konyong2 dia rasakan badannya menjadi sangat lelah
sekali, dimana perasaan tersebut ber-puluh2 tahun lamanya
belum pernah ia rasakan.
Patut diketahui tenaga-dalam Bwee San Bin ini sudah
mencapai taraf yang tertinggi, dimana orang banyak sukar
mencapainya, perkataan 'capai' ini selama hidupnya belum
pernah dia rasakan, kemudian sekarang dia rasakan seluruh
badannya sampai ke-tulang2nya begitu sakit, sedangkan
mulutnyapun menarik napas dengan lemahnya, se-akan2
dia seperti orang yang tidak mempunyai kepandaian silat
sama sekali, karena dia rasakan badannya sangat lelah
sekali seperti sudah dalam jangka waktu yang lama sekali,
barulah sekarang dapat dia rasakan hal itu.
Tentu saja Bwee San Bin dapat mengalami hal semacam
yang berarti seluruh tenaga dalamnya sudah lenyap, setelah
mengalami serangan dari luar dan didalam badannyapun
telah menderita luka2 begitu berat, dengan menjaga dirinya
se-baik2nya dia percaya yang tenaganya sukar pulih
kembali dengan sempurna dalam waktu yang singkat, tapi
hal itu tidak menjadikan dia berputus harapan. Setelah
mengalami pukulan yang hebat ini dari ahli waris tingkat
ketujuh dari partai Tiam-cong-pay, sekalipun dia mempunyai kepandaian yang tertinggi didunia ini, tapi
pada saat ini dia telah menjadi orang biasa kembali.
Dari seorang yang luar biasa menjadi orang yang biasa
kembali, perasaaannya ini sukar dilukiskan karena dia
merasa duka sekali, ditambah dengan susah-payah yang
telah mencapai tingkat yang tertinggi dalam ilmu tenaga-
dalam, sekarang ilmunya ini telah punah, dia menjadi sedih
bukan kepalang, hingga membuat Bwee San Bin ingin
melarikan diri saja dan cara yang paling baik untuk
melarikan diri itu ialah mati.
Begitu ingatan untuk 'mati' itu terlintas dikepalanya,
tiba2 hal itu telah diputuskan dengan secara se-konyong2
dari dalam lembah itu terdengar suara rintihan orang. Bwee
San Bin merasa aneh sekali, oleh karena itu, dengan tenaga
yang penghabisan yang dimilikinya, lalu dia berdiri.
Kemudian dia dapatkan Lie Siauw Hiong, sewaktu dia
menghampiri anak itu, dia lihat Lie Siauw Hiong dengan
samar2 lalu membuka matanya memandang kepadanya.
(Oo=dwkz=oO) Bwee San Bin yang sudah putus harapan mendengar
riwayat yang dituturkan oleh Lie Siauw Hiong begitu
menyedihkan dan menyayat hati, perasaan hatinya yang
ingin mati itu tiba2 hilang dan digantikan dengan perasaan
murka dan ingin membela ke-tidakadilan, dalam waktu
yang sekejap mata saja, Lie Siauw Hiong dapat
menentukan hidupnya kemudian hari, yaitu dia telah
menjumpai seorang tokoh nomor wahid dalam dunia rimba
persilatan ini, yang dibelakang hari namanya akan ditakuti
dan disegani oleh seluruh para pendekar kaum rimba


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar ( Bwee Hoa Kiam Hiap ) Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

persilatan. Bwee San Bin se-konyong2 berpikir : "Didunia ini
bagaimana ada kejadian yang begini aneh dan ajaib. Seekor
sapi jantan dapat mabur ketempat yang jarang ditempuh
manusia, mungkinkah ada orang yang mendalangi
perbuatan ini, untuk menipu aku, sekalipun tenaga dalamku
sudah hilang, tapi tipu2 yang masih ada padaku, tidak
semua orang dikalangan Kang-ouw dapat menandinginya."
Dengan susah-payah dia berusaha untuk bangun duduk,
sambil memandang pada Lie Siauw Hiong dia berkata :
"Apakah kau mengenal siapa aku ?"
Lie Siauw Hiong hanya meng-geleng2kan kepalanya,
mukanya yang tampak begitu wajar sekali sudah menarik
perhatian Bwee San Bin, Bwee San Bin ini adalah seorang
yang cerdik sekali, dari air muka Lie Siauw Hiong dia dapat
menerka, bahwa anak ini jujur sekali. Anak seperti ini akan
dapat menggantikannya dikemudian hari, harapannya
mulai timbul, sehingga dia girang sekali dan menyebabkan
dia tanpa terasa lagi lalu tertawa. Samba tertawa dan
memandang muka Lie Siauw Hiong dia berkata : "Nah
sekarang kau tentunya tidak mempunyai pamili yang dapat
dibuat senderan, apakah kau suka mengikutiku ?"
Lie Siauw Hiong lalu memandang pada orang yang
tampaknya begitu loyo dan tidak bertenaga ini. Dengan
suara yang pasti sekali dia menjawab :
"Baik, aku pasti mengikutimu, aku akan merawatmu
dengan baik2, kau jangan pandang sekarang aku tidak
mempunyai tenaga, asal saja aku sudah mengasoh cukup,
tenagaku luar biasa besarnya, apapun aku dapat
melakukannya."
Bwee San Bin tergerak sekali hatinya mendengar kata2
anak ini, oleh karena itu, sambil tertawa dan manggut2
dengan ber-ulang2 dia berkata : "Baik, baik, aku memang
membutuhkan perawatanmu. Bisakah kau berdiri, untuk
mendukungku keluar dari lembah ini ?"
Lie Siauw Hiong lalu memutar badannya sedikit,
dirasakannya kaki dan tangannya sakit dan kesemutan, tapi
perasaan menang dan tanggungjawab telah mengalahkan
perasaannya yang pertama. Dia mesti menguatkan
semangatnya. oleh karena itu, sambil menggertakkan
giginya, dia lalu bangun berdiri, kemudian memayang
tubuh Bwee San Bin dengan tindakan yang sempoyongan
untuk keluar dari lembah itu.
Gunung Ngo-hoa-san yang letaknya diluar kota Kun-
beng adalah suatu tempat tamasya yang sangat indah,
sekalipun ditempat tersebut jarang didatangi manusia, tapi
orang yang ingin mengunjungi gunung tersebut tetap saja
banyak. Belum lagi Bwee San Bin dan Lie Siauw Hiong
jauh berjalan, mereka sudah menjumpai orang2 yang
hendak bertamasya kesitu. Melihat keadaan mereka berdua
yang romannya morat-marit, orang2 agak ke-heran2an dan
menduga yang mereka tentu menemukan suatu hal yang
sangat pelik terjadi atas diri mereka. Atas pertanyaan orang
banyak, Bwee San Bin hanya menjawab secara serampangan saja. Kemudian setelah menemukan tukang
joli diatas gunung itu, mereka lalu menyewanya untuk pergi
kekota Kun-beng.
Sesampainya dikota, mereka lalu menyewa sebuah
kamar disalah satu penginapan yang paling baik, dimana
mereka makan dan minumpun semuanya adalah makanan
pilihan. Dan disamping itu Bwee San Bin pun tidak lupa
membelikan beberapa setel pakaian untuk Lie Siauw Hiong
dan keperluan2 yang lainnya.
Kota Kun-beng sendiri terkenal dengan hawanya yang
sepanjang empat musim tetap saja seperti juga dimusim
semi, hawa disana dengan didaerah pegunungan tentu saja
berbeda jauh sekali. Dikota itu selama empat musim itu
jarang terlihat salju turun. Diluar se-gala2nya yang
mengherankan Lie Siauw Hiong yang menjadi tanda tanya
baginya, ialah tanda yang tampak ditangan Bwee San Bin.
Pada hari keduanya Bwee San Bin menyewa satu kereta
besar. Dari kota Kun-beng kereta yang mereka tumpangi itu
berjalan amat lambat sekali. Hal itu bagi Bwee San Bin pun
tidak disadarinya.
Setelah melewati beberapa tempat. Lie Siauw Hiong
hanya merasa bahwa perjalanan mereka sudah sangat jauh
sekali. Dalam pada itu kesehatannyapun per-lahan2 sudah
mulai pulih kembali, tapi waktu ia melihat muka Bwee San
Bin tampaknya begitu lemah sekali. Perjalanan mereka
telah satu bulan lebih lamanya sampai pada saat itu, yaitu
saat musim semi. Ditengah jalan Lie Siauw Hiong melihat
pohon2 mulai menghijau kembali, tapi ia tidak tahu telah
sampai dimana perjalanan waktu itu.
Dalam perjalanannya itu Bwee San Bin entah sudah
menukar berapa kali kereta yang dinaikinya, hingga mereka
sampai disebuah kampung kecil. Kampung itu hanya lebih
besar sedikit dari kampung Lie-kee-cun. Sesampainya
dikampung itu, Bwee San Bin menyuruh tukang kereta
berhenti. Kemudian Bwee San Bin dengan Lie Siauw Hiong
lalu berjalan per-lahan2 kedalam kampung tersebut. Lie
Siauw Hiong dapat merasakan sendiri betapa Bwee San Bin
telah memperlakukannya begitu baik sekali. Sambil ber-
cakap2 dan ter-tawa2 mereka terus saja berjalan. Setelah
melewati kampung itu, berjalan lagi kira2 setengah lie
jauhnya, Bwee San Bin kelihatan sangat lelah sekali, tapi
semangatnya tampak begitu gembira. Perjalanan mereka
sampai disalah satu hutan yang tidak begitu lebat. Disitu
Lie Siauw Hiong melihat beberapa rumah. Bwee San Bin
sambil menunjuk kearah rumah2 tersebut lalu berkata :
"Kau tengoklah, ini adalah rumahku."
Diam2 Lie Siauw Hiong menyatakan keheranannya
dalam hatinya, mengapa rumah Bwee Siok-siok begitu jauh
sekali. Dia berpendapat bahwa tempat tersebut berada
didalam lembah gunung Ngo-hoa-san juga, tapi hal ini dia
tidak perduli. Setelah berjalan sampai didepan pintu rumah, Bwee San
Bin lalu dengan per-lahan2 mengetuk beberapa kali, lalu
pintunya yang berwarna hitam itu tampak terkuak. Orang
yang membukakan pintu itu adalah seorang yang kurus,
melihat usianya ia sudah setengah umur. Ketika melihat
kedatangan Bwee San Bin, dia lalu memberi hormat sambil
membungkukkan badannya dan berkata dengan suara yang
dalam : "Kau sudah kembali ?" Pada air mukanya tidak
tampak perubahan apa2.
Sebagai jawaban atas pertanyaan orang itu. Bwee San
Bin hanya meng-angguk2kan kepalanya saja sambil
tertawa, kemudian dia menarik tangan Lie Siauw Hiong
untuk diajak masuk. Lie Siauw Hiong melihat rumah ini
bersih sekali, perabot2 yang terdapat didalamnya teratur
rapih, tapi pada beberapa kamar tampak sepi saja se-akan2
tidak ada orang yang menghuninya. Orang kurus setengah
umur itu dengan matanya yang tajam lalu memandang
pada Lie Siauw Hiong. Bwee San Bin sambil me-nepok2
kepala Lie Siauw Hiong dengan per-lahan2 berkata kepada
orang itu : "Ia adalah muridku, kau lihat, baguskah dia ?"
Kemudian dia tertawa pula sambil melanjutkan perkataannya : "Apakah mereka semuanya pada baik2 saja
sepeninggalku ?"
Orang kurus setengah umur itu tampak ragu2 kemudian
menyahut : "Aku sudah mengusir pergi mereka."
Tampak muka Bwee San Bin berubah, dia lalu bertanya
lagi : "Semuanya sudah diusir ?"
Orang itu hanya menundukkan kepalanya lalu menyahut
: "Beberapa hari ini dikalangan Kang-ouw tersiar berita
yang kau telah menemui mara bahaya digunung Ngo-hoa-
san dipropinsi Hunlam, akibat keroyokan Li Gok dan
kawan2nya. Sesudah itu, orang2 dari partai Kay-pang
(partai pengemis) mengatakan
yang mereka telah menemukan mayatmu. Setelah aku berpikir dan mempertimbangkan masak2, aku lalu mengusir mereka satu
per satu, karena aku sangat sangsi, bahwa mereka nanti
mungkin menerbitkan onar, aku sudah ber-siap2 untuk
pergi kegunung Kong-tong untuk ...."
Bwee San Bin menarik napas panjang, sambil memotong
perkataan orang itu dia berkata :
"Kali ini memang benar aku telah berhasil hidup
kembali. Mereka ini benar telah melakukan satu
pertempuran yang seru sekali denganku. Kau tidak boleh
membiarkan mereka membuat sesuatu bahaya. Masih
adakah Biu Kiu Nio ?"
Orang kurus setengah umur itu tampak seperti
kehilangan semangat, dengan tetap tidak bergerak, lalu
berkata : "Kau legakanlah hatimu, aku tidak pernah membiarkan
mereka mengalami penderitaan sedikitpun. Tapi Biu Kiu
Nio, begitu mendengar kau dapat bahaya, lantas malam2
itu juga dia melarikan diri, sampai sekarang aku tidak tahu
kemana dia pergi."
Bwee San Bin manggut2 beberapa kali, dengan suara
yang tawar sekali dia lalu berkata :
"Bagus, bagus, begitupun baik juga."
Lie Siauw Hiong mendengar percakapan mereka
sedikitpun dia tidak mengerti apa maksudnya, dengan
melongo dia lihat Bwee San Bin. Bwee San Bin yang
menundukkan kepala melihatnya lalu menarik tangan
pemuda itu, sambil menunjuk kearah orang kurus setengah
umur itu dia berkata : "Dia ini adalah saudaraku,
selanjutnya baik kau panggil dia Hauw Jie-siok saja. Asal
saja dia merasa senang terhadapmu, dibelakang hari pasti
kau akan memperoleh kebaikan yang tidak kecil artinya."
Lie Siauw Hiong mengangkat mukanya memandang
pada orang kurus setengah umur itu sambil memanggilnya
dengan suara yang perlahan :
"Hauw Jie-siok."
Hauw Jie-siok hanya memandangnya dengan tajam.
Lie Siauw Hiong merasa yang Hauw Jie-siok ini
orangnya tidak. seramah Bwee Sari Bin, lekas2 dia
menundukkan kepalanya, sambil tersenyum Bwee San Bin
lalu meng-usap2 pundaknya dan berkata pada orang kurus
setengah umur itu :
"Kau tetap mengurus pekerjaanmu sendiri dan kau boleh
menyuruh Loo Jie menyediakan makanan. Bila kau tidak
mempunyai urusan yang sangat penting, kau pun jangan
pergi, aku kuatir yang aku beberapa tahun ini pasti tidak
dapat mengurus pekerjaan itu."
Orang kurus setengah umur itu menganggukkan
kepalanya mengiakan, tiba2 dia lalu memandang pada
Bwee San Bin dengan tajamnya, lalu berkata: "Aku melihat
kepulanganmu sekali ini, rasanya ada sesuatu yang tidak
beres, apakah gerangan barangkali ..". ?"
Bwee San Bin sekali lagi menarik napas panjang lalu
berkata : "Baiklah hal itu akan kututurkan per-lahan2,
kemudianpun kau akan mengetahuinya." Sehabis berkata
begitu, dia lalu mengajak Lie Siauw Hiong keruangan tamu,
sudah itu mereka balik lagi menuju kekamar buku yang
sangat bersih sekali, dengan menggunakan tangannya dia
lalu me-raba2 para2 buku yang agak dekat ketembok yang
disana terdapat gambar sekuntum bunga mawar. Para2
buku itu bergeser sedikit dan kemudian tampak sebuah
terowongan yang menjurus kebawah tanah, undak2kan
Han Bu Kong 7 Rahasia 180 Patung Mas Karya Gan Kl Kemelut Di Cakrabuana 2
^