Pencarian

Pertemuan Di Kotaraja 15

Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An Bagian 15


rindang, seorang burik menjual wedang teratai di situ.
Tempat teduh ketiga terlihat berada di kejauhan sana,
sebuah kedai yang menjual sau-pia (kue goreng) serta susu
kedelai, selain bisa menghilangkan dahaga, juga dapat
menangsal perut yang lapar.
Tampaknya si tauke penjual sau-pia merasa sangat tidak
puas ketika melihat ada tamu mendekati warung si burik, dari
kejauhan dia berteriak lantang, "He ... tetamu ... kalau ingin
menghilangkan dahaga, datanglah ke warung kami, susu
kedelai yang lembut tanggung membuat kau merasa puas,
jualan kami jauh lebih bersih dan sehat ketimbang wedang
teratai jualan si burik itu!"
Mendengar teriakan itu, si burik naik pitam, kuatir si Tanpa
perasaan berpindah ke warung orang hingga dia kehilangan
804 langganan, sambil menahan tandunya dia balas mengumpat,
"He penjual sau-pia, tutup mulut busukmu! Jangan kau
bandingkan susu kedelaimu yang diambil dari air pecomberan
dengan dagangan kami, berani amat kau berebut tamu
dengan aku!"
Meluap amarah si penjual sau-pia mendengar umpatan itu,
tiba-tiba dia berlari mendekat, lalu sambil menuding hidung si
burik umpatnya, "Kau anggap wedang terataimu bersih" Sama
saja, bekas binimu semalam juga kau campurkan ke situ
Secepat kilat si burik mencengkeram tangan si penjual saupia,
teriaknya, "Katakan sekali lagi, cepat katakan sekali lagi
Si penjual sau-pia membalikkan tangan seraya mendorong,
balasnya, "Kenapa aku tak berani bicara" Memangnya takut
kepadamu?"
Dengan sempoyongan si burik terjatuh ke samping tandu,
sekuat tenaga dia mencekal tangan si penjual sau-pia sambil
mencaci maki, "Kau si anak jadah
Selama dua orang itu saling dorong, si Tanpa perasaan
>ang berada di dalam tandu sama sekali tak bergerak,
bercak" pun tidak.
Tiba-tiba pertengkaran biasa seorang penjual wedang tera
tai melawan penjual sau-pia berubah jadi sebuah kejadian
yang luar biasa, saat itulah mendadak tubuh si burik
menyelinap masuk ke hadapan tandu kemudian kilatan cahaya
tajam me nyembul keluar dari balik tangannya.
Tak ada yang sempat melihat jelas benda apa yang dia
lontarkan, sebab gerakan itu dilakukan secepat kilat.
Bersamaan dengan berkelebatnya cahaya tajam itu masuk
ke balik tirai tandu, bergema suara dengusan tertahan, tiada
jerit kesakitan, tiada jeritan orang sekarat.
Sesosok bayangan putih tanpa kaki nampak melambung ke
udara dengan kecepatan tinggi.
"Sret!", sekali lagi cahaya tajam berkilauan muncul dari
balik tandu dan meluncur balik ke tangan si burik, ternyata
benda itu adalah sepasang gelang baja, pada gigi gelang
terselip hancuran kayu.
805 Ketika si Tanpa perasaan masih melambung di udara,
kembali terlihat sesosok bayangan manusia melambung pula
ke angkasa. Orang itu tak lain adalah si penjual sau-pia, entah sedari
kapan dalam genggamannya telah bertambah dengan sebuah
kipas, sewaktu kipas itu dibentangkan maka terbacalah empat
huruf besar di permukaan kipas itu, tulisannya adalah: "Siapa
menentang aku, mati!"
Baru saja tulisan itu terbaca jelas, paling tidak ada dua
puluh jenis senjata rahasia yang lembut kecil, ada yang
terbang lurus, ada pula yang berpusing, menghajar tubuh si
Tanpa perasaan yang masih melambung di udara.
Dari balik tubuh si Tanpa perasaan segera meluncur keluar
tujuh-delapan buah titik cahaya berwarna hitam.
Ketujuh-delapan titik cahaya hitam itu mula-mula
menghantam dulu senjata rahasia yang tiba duluan, begitu
terjadi tumbukan, senjata rahasia itu tidak lantas rontok tapi
menumbuk kembali senjata rahasia yang datang belakangan,
setelah membaur jadi satu, seluruh senjata rahasia itu
berguguran ke tanah.
Sebelum semua senjata rahasia itu rontok mencapai tanah,
si Tanpa perasaan telah melayang balik ke dalam tandunya.
Kembali si burik menggetarkan tangannya, "Wes!", cahaya
tajam lagi-lagi meluncur dari tangannya menyambar ke udara
dan "Duk!", menghajar ke tengah tandu.
Namun pada saat itulah selembar lempengan baja muncul
di depan tandu itu dan "Cring!", babatan senjata itupun
tertahan oleh lapisan baja itu.
Percikan bunga api segera menyebar ke empat penjuru,
tapi gara-gara benturan itu tenaga serangan pun bertambah
lemah, sapuan itu seketika melenceng ke samping.
Lekas si burik menyambar balik senjatanya, namun air
mukanya telah berubah jadi berat dan serius.
Dalam pada itu si penjual sau-pia telah berjumpalitan di
udara sembari membanting diri ke bawah, senjata kipasnya
806 langsung menghajar batok kepala orang yang berada di dalam
tandu. "Tring!", lagi-lagi muncul sebuah lempengan baja di atap
tandu, karena tidak menduga akan hal ini, serangan kipas pun
tak sempat ditarik balik, diiringi benturan nyaring, kipas itu
segera menyodok di atas lempengan itu.
Tampaknya kepandaian silat yang dimiliki penjual sau-pia
cukup tangguh, memanfaatkan tenaga pantulan yang terjadi,
ia melayang ke samping kemudian turun ke permukaan tanah.
Si burik segera tertawa dingin, serunya lantang, "Bagus,
kalau kau merasa punya kepandaian, ayo cepat keluar, jangan
bersembunyi terus macam kura-kura .... Kalau tidak juga
keluar dari situ, jangan salahkan kalau kudorong tandumu
hingga tercebur ke jurang."
Sembari berkata dia rentangkan sepasang tangannya dan
siap memdorong tandu itu.
"Hati-hati!" mendadak si penjual sau-pia memperingatkan.
Baru dia berteriak, dua desingan angin tajam sudah meluncur
keluar dari balik lempengan baja, dua batang anak panah kecil
melesat ke udara dengan kecepatan luar biasa.
Si burik terkesiap, waktu itu lengannya sudah direntangkan,
mau mundur juga tidak sempat lagi. Cahaya tajam segera
berkilauan, "Wes!", sebatang anak panah berhasil dihajar
hingga rontok, tapi sebatang yang lain segera menghajar
dadanya. Di saat yang kritis itulah terlihat bayangan manusia
berkelebat, dengan ibu jari dan jari telunjuknya si penjual saupia
menjepit anak panah itu.
Si burik benar-benar terperanjat bercampur ngeri, lekas dia
mundur hingga sejauh sepuluh kaki lebih.
Sementara si penjual sau-pia masih berdiri di hadapan
tandu berlapis baja itu dengan pandangan dingin, jari
tangannya masih menjepit anak panah itu.
"Auyang Kokcu, cepat amat gerak tubuhmu!" tiba-tiba
terdengar si Tanpa perasaan memuji dengan suara hambar.
807 Mula-mula si penjual sau-pia itu agak melengak, tapi
kemudian sahutnya sambil tertawa dingin, "Tidak berani!"
"Ilmu kipas sakti Yin-yang-sin-san milikmu kelewat
tangguh, kalau seorang penjual sau-pia bisa memiliki
kepandaian semacam ini, hm luar biasa namanya," ujar Tanpa
perasaan dingin.
Auyang Toa mengangkat bahunya, tiba-tiba ia tertawa
lebar. "Bagaimana pun seorang opas ampuh memang memiliki
ketajaman mata yang luar biasa, tak kusangka kau berhasil
membongkar penyamaran kami," katanya.
Kembali Tanpa perasaan mendengus dingin.
"Sam-sek-kiok sudah tersohor hampir belasan tahun
lamanya, kalau beberapa sobat lama yang bekerja di tempat
yang sama selama puluhan tahun pun masih ribut tiap hari
untuk memperebutkan tetamu, kejadian ini sangat aneh, bisa
jadi sudah sejak lama tak ada tamu yang berani berkunjung
kemari lagi."
"Oh, rupanya aku telah salah memperhitungkan hal ini,"
Auyang Toa berseru tertahan.
Kembali Tanpa perasaan berkata, "Biarpun kalian saling
dorong seperti anak kecil, namun setiap gerakan yang kalian
lakukan semuanya beraturan, jelas merupakan gerak dasar
seorang ahli silat. Sekilas pandang saja aku tahu kalau kalian
sengaja menyembunyikan kungfu asli dan pura-pura berlagak
untuk mengelabui orang."
Auyang Toa menggeleng kepalanya berulang kali, sekali
lagi dia bentang lebar kipasnya, kemudian sambil berkipas
katanya, "Percuma memiliki kungfu hebat, kenyataannya toh
kami tak mampu menjebol tandu milikmu itu."
Tanpa perasaan tidak mengomentari pernyataan itu, tibatiba
ujarnya, "Kalau aku tidak salah lihat, bukankah rekanmu
itu adalah jago golok nomor wahid wilayah Biau, Bu-to-siu si
kakek tanpa golok Leng Liu-peng?"
Semula si burik nampak kasar bercampur bengis, tapi
sekarang sikapnya telah berubah jadi dingin menggidikkan
808 hati, dengan pandangan tajam dia mengawasi tandu itu, lalu
ujarnya, "Betul, aku memang Leng Liu-peng. Kau berhasil
menghindari dua bacokan golokku, tapi aku nyaris terhajar
dua batang anak panahmu, kagum! Sungguh mengagumkan!"
Tampaknya si Tanpa perasaan yang berada dalam tandu
ikut bergetar hatinya, jelas ucapan itu merupakan
penghormatan seorang ahli terhadap ahli yang lain.
"Kau tak perlu merendah," ujarnya kemudian, "aku bisa
menghindari dua bacokan mautmu karena mengandalkan
kehebatan tandu ini, coba kalau tanpa tandu, belum tentu aku
sanggup menghadapinya. Apalagi serangan tanpa golokmu
belum kau gunakan, perkataanmu tadi kurang adil bagimu."
Perlu diketahui. Leng Liu-peng merupakan jago paling
ampuh di antara empat pengguna golok asal wilayah Biau.
Cahaya bangga terlintas di wajah Leng Liu-peng setelah
mendengar perkataan si Tanpa perasaan, ia hanya
membungkam diri tanpa bicara lagi.
Sedang Auyang Toa segera berkata, "Kami sudah
melancarkan serangan bokongan terhadapmu, kenapa kau
tidak melancarkan serangan balasan?"
Tanpa perasaan yang berada di dalam tandu tidak langsung
menjawab, setelah termenung beberapa saat dia baru
berkata, "Karena bokongan kalian tidak berhasil, maka aku
mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan
walau akhirnya berhasil dipunahkan kalian, sekarang bila aku
mesti menyerang kalian dengan berhadapan, jangan lagi mesti
menghadapi dua musuh tangguh sekaligus, kemungkinan
menang bagiku rasanya kecil sekali.'
Mendengar itu Auyang Toa segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... benar juga perkataanmu itu. Sebaliknya aku
pun ingin sekali melancarkan serangan lagi, tapi melihat kau
bersiaga penuh di dalam tandumu, aku rasa kami pun hanya
mempunyai kemungkinan empat bagian untuk meraih
kemenangan. Tanpa keyakinan yang melebihi enam bagian
biasanya aku tak akan melakukannya."
809 "Bagus," jengek Tanpa perasaan kemudian sambil tertawa
dingin, "kalau memang begitu, kenapa kalian masih belum
pergi juga dari sini?"
"Baik, kami akan pergi dari sini. Tapi sepanjang jalan kami
akan selalu berusaha mencari peluang untuk memancing kau
meninggalkan tandu, kemudian menyergapmu secara tibatiba,
jadi lebih baik kau bersikap lebih hati-hati."
"Terima kasih atas perhatianmu, aku akan bertindak lebih
hati-hati!" sahut Tanpa perasaan sambil mendengus dingin.
Kembali Auyang Toa terlawa tergelak.
"Hahaha ... aku segera akan pergi dari sini. Namun
sebelum berangkat, aku ingin mencoba dirimu sekali lagi."
"Mau mencoba dengan cara apa?"
"Aku mempunyai keyakinan delapan bagian atas percobaan
ini Tiba-tiba kipasnya dikebaskan ke muka, dua titik cahaya
tajam langsung melesat ke depan dan menerobos masuk
melalui lubang kecil di bawah tirai tandu itu, sebuah lubang
kecil yang tak gampang diketahui orang.
Dari lubang kecil itulah suara Tanpa perasaan
berkumandang keluar.
Sedemikian cepatnya perubahan itu membuat orang tidak
menyangka sama sekali, bahkan Leng Liu-peng sendiri pun
tidak menyadari akan hal itu, menanti ia sadar akan kejadian
itu, jarum beracun itu sudah menerobos masuk melalui lubang
kecil itu, tepat dan sama sekali tidak melenceng.
Jarum beracun itu adalah jarum beracun yang mematikan
begitu bertemu darah.
Dengusan tertahan segera berkumandang dari balik tandu.
Auyang Toa kegirangan setengah mati, teriaknya sambil
tertawa terbahak-bahak, "Roboh kau! Roboh kau!"
Mendadak lempengan baja yang melapisi tandu bagian
depan terbuka ke atas, menyusul tampak si Tanpa perasaan
melotot ke arahnya dengan mata mendelik, di antara getaran
sepasang tangannya, paling tidak ada dua-tiga puluh jenis
senjata rahasia segera beterbangan di angkasa.
810 Senjata rahasia itu ada yang menghajar ke depan, ada
yang ke belakang, ada yang ke sisi kiri dan ada pula yang ke
'sisi kanan, bahkan ada di antaranya yang berpusing menuju
ke belakang kemudian mengancam punggung lawan.
Begitu melihat si Tanpa perasaan menampakkan diri di
hadapannya tadi, Auyang Toa sudah terperanjat, lekas dia
melambung ke udara, kipasnya dibalik lalu dikebaskan ke
samping, dia memutar senjatanya sedemikian rupa
membentuk selapis jaring cahaya yang rapat dan sukar
tertembus air hujan sekalipun.
Leng Liu-peng yang menyaksikan kejadian itupun ikut
terkejut, segera dia membentak gusar, tangannya diayun ke
depan dan sekilas cahaya tajam segera menyambar ke muka.
"Krak!", diiringi suara nyaring, lempengan baja di pintu
depan randu itu menutup kembali, kilatan cahaya tajam itupun


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

segera berputar di tengah jalan dan kembali ke tangan Leng
Liu-peng. "Tring, tring, tring", dentingan nyaring bergema susul
menyusul, kedua-tiga puluh senjata rahasia itu segera
berguguran ke tanah, menyusul kemudian Auyang Toa
melayang turun ke permukaan tanah, namun bahunya
kelihatan sudah basah kuyup oleh cucuran darah.
"Kau tidak apa-apa bukan?" Leng Liu-peng segera
memburu maju sambil bertanya.
Auyang Toa menggeleng kepala berulang kali, setelah
tertawa paksa sahutnya, "Sungguh tak disangka, pada
akhirnya aku sendiri yang terkena jebakanmu. Aku lupa
kakimu cacad, aku rasa kedua batang jarum Kian-hiat-coatmia-
siu-hun-ciam (jarum pembetot sukma bertemu darah
merenggang nyawa) yang kusambit masuk melalui lubang
kecil itu hanya menghajar di atas bajumu bukan?"
Tanpa perasaan mendengus dingin dan tidak memberi
tanggapan. Auyang Toa kembali berkata, "Untung senjata rahasiamu
tak ada yang dipoles racun, kalau tidak, kali ini mungkin aku
sudah mendapat musibah besar."
811 "Selamanya senjata rahasiaku tak perlu dipoles racun,"
dengus Tanpa perasaan ketus.
Auyang Toa agak tertegun, tapi kemudian ia tertawa
tergelak, "Hahaha ... bagus, punya semangat! Kau memang
tak malu disebut jagoan senjata rahasia! Cuma kau mesti
ingat, kegagalanmu merobohkan aku pada hari ini tak nanti
akan terulang lagi di masa mendatang. Baik, selamat tinggal."
Dia lipat sejata kipasnya, lalu beranjak pergi dari situ
dengan langkah lebar.
Leng Liu-peng mengawasi pula tandu itu sekejap dengan
pandangan mendalam, kemudian katanya sebelum beranjak,
"Semoga di kemudian hari kau bisa keluar dari tandumu dan
beradu senjata rahasia melawan aku."
Di bawah teriknya matahari, tandu itu masih tetap tak
bergeser dari posisi semula.
Lewat lama sekali, matahari sudah berada di tengah
angkasa, ketika bayangan tandu makin mengecil, pintu depan
tandu itu baru pelahan-lahan terbuka dan muncullah wajah si
Tanpa perasaan yang murung.
Waktu itu dia pun sedang berpikir, "Siapa bilang aku tak
ingin menampilkan diri untuk berduel melawan Leng Liu-peng"
Tapi kalau aku harus satu melawan dua, jelas aku masih
bukan tandingan Auyang Toa berdua. Ai ... entah bagaimana
keadaan si Darah dingin yang mengejar Suma Huang-bong"
Bisa jadi kondisi mereka lebih banyak celaka daripada selamat
0oo0 "Banyak celaka daripada selamat?" bocah berpedang emas
mengedipkan mata berulang kali, setelah garuk-garuk kepala
dan tertawa, lanjutnya, "Mana mungkin" Ilmu pedang yang
dimiliki Su-susiok sangat tangguh, apalagi masih ada Suhu
yang membantu, tak nanti dia tertimpa musibah."
Pengejar nyawa tertawa hambar, kembali dia meneguk
araknya. Ketika para tamu warung melihat ada seorang lelaki terluka
yang dekil berduduk bersama empat orang bocah berbaju
812 hijau, tanpa terasa mereka berpaling dan memperhatikan
dengan sorot mata keheranan.
Pada saat itulah dari luar kedai terdengar seorang berseru
dengan suara merdu, "Tahu air ... tahu air
Sambil berteriak menawarkan barang dagangannya, orang
itu menyerbu masuk ke dalam ruang kedai.
Beberapa pelayan segera maju mengepung dan mengusii
nya keluar sembari memaki, "Perempuan sialan, masakah
berjualan sampai ke dalam kedai orang."
"Coba kalau bukan kulit tubuhmu putih mulus, sedari tadi
sudah kulempar tubuhmu keluar dari sini."
Teriakan itu segera menyadarkan beberapa berandal untuk
memanfaatkan kesempatan, beberapa orang segera tampil ke
depan seraya berseru, "Wah ... cantik juga gadis ini!"
"Benar, kita harus mencicipi 'tahu'nya!"
"Aku lihat tahunya pasti empuk, putih dan nikmat!" Sambil
menggoda mereka maju merubung, bahkan ada beberapa di
antaranya mulai usil dengan menjawil pantatnya.
Melihat tingkah laku kawanan berandal itu, keempat bocah
pedang mulai tak bisa menahan diri, dengan mata melotot dan
wajah merah padam, mereka siap turun tangan.
Tapi melihat si Pengejar nyawa tidak memberi izin, mereka
tak berani bertindak gegabah, beberapa saat kemudian,
paman guru mereka memanggutkan kepala, serentak mereka
melompat ke depan dengan wajah berseri.
Begitu tiba di belakang keenam orang berandal itu, si
bocah berpedang perak segera membentak, "He, kawanan
anjing, memangnya kalian anggap hukum tidak berlaku di
sini?" Mula-mula berandalan itu agak terkejut, tapi setelah
berpaling dan melihat mereka tak lebih hanya beberapa orang
bocah, seketika sambil tertawa menyeringai bentaknya keras,
"Maknya, sialan, aku kira siapa yang datang, ternyata hanya
beberapa orang anak jadah!"
813 "Hm, bocah ingusan sudah berani mengumpat tuanmu,
tampaknya kau memang sudah bosan hidup," seru seorang
lelaki berwajah garang gusar.
Sambil berseru dia segera merentangkan tangan sambil
melancarkan cengkeraman.
Tiba-tiba terdengar si bocah berpedang besi berteriak
keras, "Paman guru ketiga, buat seorang hidung belang yang
suka menganiaya seorang bocah, hukuman apa yang paling
pantas?" "Harus diganjar badan sakit semua!" jawab si Pengejar
nyawa setelah meneguk araknya.
Baru selesai ia berkata, empat cahaya pedang telah
berkelebat di angkasa dan keenam orang berandal itu tahutahu
sudah roboh terjungkal sambil mengaduh, ada yang
segera berjongkok minta ampun, ada pula yang jatuh pingsan
lantaran kesakitan. Dari keenam orang itu, dua orang
kehilangan jari tangan, satu kehilangan kaki, dan satu
tercongkel otot kakinya hingga tak mampu merangkak
bangun. Selama hidup belum pernah para tetamu warung
menyaksikan serangan pedang secepat itu, hampir semua
yang hadir jadi melongo dan berdiri tertegun.
Tampaknya si nona pun agak tertegun, tapi tak selang
lama ia sudah menangis tersedu-sedu, sambil menjura ke arah
keempat bocah pedang itu, ujarnya, "Siauya berempat, terima
kasih atas pertolonganmu, aku tak tahu bagaimana harus
membalas budi kebaikan ini
"Cici tak usah berlaku sungkan," sahut bocah berpedang
besi cepat, "lebih baik lain kali bertindak lebih hati-hati, sebab
nona secantik Cici memang paling gampang memancing
godaan dan tangan jahil"
Mendengar perkataan itu si nona segera tersenyum
kembali, katanya, "Sungguh tak kusangka dengan usia
semuda ini dan kungfu sehebat itu, kalian tidak gampang
kesemsem oleh kecantikan wajah seseorang."
814 "Nona cantik sekali, siapa bilang kami tak kesemsem?"
sahut bocah berpedang emas tertawa.
"Coba lihat lagak kalian," kata si nona sambil tertawa,
"dianggapnya kalian memang benar-benar tajam
penglihatan?"
Begitu selesai bicara, tahu-tahu dalam genggaman nona itu
telah bertambah dengan sepucuk Thiat-lian-hoa, bunga teratai
baja, secepat sambaran kilat senjata itu langsung menyodok
ke tubuh si bocah berpedang emas.
Melihat datangnya ancaman, ketiga orang bocah pedang
lainnya terperanjat, belum sempat mereka berbuat sesuatu,
mendadak melesat lewat kuncup bunga teratai dari balik
senjata lawan dan langsung menghajar tubuh bocah
berpedang perak hingga roboh terjengkang.
Baru saja bocah berpedang tembaga akan mencabut
pedangnya, sebuah totokan di dadanya membuat ia
terjungkal, sementara si bocah berpedang besi baru saja
melepaskan satu tusukan, mendadak dari balik senjata teratai
itu menyembur keluar segumpal asap merah, tak ampun
tubuhnya ikut roboh terkapar di atas tanah.
Perubahan ini terjadi sangat tiba-tiba, bukan saja semua
tamu dalam kedai dibuat terkesiap, termasuk kawanan
berandal itupun ikut dibuat tertegun saking kagetnya.
Paras muka si Pengejar nyawa berubah hebat, ketika ia
menyadari ada sesuatu yang tak beres dan baru saja akan
berteriak memperingatkan, pihak lawan telah turun tangan
terlebih dahulu.
Serangan ini sangat mendadak dan sama sekali di luar
dugaan, sedemikian cepatnya sampai keempat bocah pedang
yang mendapat didikan langsung dari si Tanpa perasaan dan
Cukat-sianseng pun tak mampu meloloskan diri.
Terdengar nona itu tertawa dingin, sepasang kakinya
melepaskan serangkaian tendangan berantai membuat dua
tong tahu mencelat ke udara kemudian mengguyur tubuh
keenam orang berandal yang masih tergeletak di tanah.
815 "Bukankah kalian ingin mencicipi tahuku" Sekarang
makanlah sepuasnya!" hardik nona itu dengan wajah hijau
mem-besi. Tak terkirakan rasa kaget dan takut keenam orang berandal
itu, hantaman tahu yang mengguyur dari balik tong membuat
tubuh mereka terluka parah, jerit kesakitan bergema tiada
hentinya, tak lama kemudian tampak tubuh mereka
mengejang keras lalu putuslah nyawa orang-orang itu.
Kematian kawanan berandal itu sama sekali tidak membuat
paras muka nona itu berubah, justru para penghuni kedai
lainnya yang berubah wajahnya.
Dengan pandangan sedingin es nona itu menyapu pandang
sekejap para tamu dan pelayan warung yang sudah mundur
ketakutan itu, kemudian ujarnya sambil tertawa dingin, "Kalian
pun jangan harap bisa hidup...."
"Tok-lian-hoa (bunga teratai beracun), kau akan
membantai mereka yang tidak bersalah?" mendadak terdengar
seorang menegur dengan suara ketus.
Bunga teratai beracun berpaling dan memandang si
Pengejar nyawa sekejap, lalu sahutnya seraya tertawa, "Nona
mu tak pernah membiarkan korbannya hidup, kalau mau
disalahkan, kalianlah yang mesti disalahkan karena sebagai
penyebab pembunuhan ini
"Oh, rupanya kedatanganmu memang khusus untuk
mencari gara-gara dengan diriku?"
Bunga teratai beracun tertawa genit.
"Kau tak usah berlagak pilon," jengeknya, "coba kalau kau
tidak terluka, terpaksa nona pun mesti takut kepadamu. Tapi
sekarang kau sudah terluka, keempat bocah cilik itupun sudah
kurobohkan, buat apa kau tertawa terus" Hati-hati, suara
tertawamu bisa membuat lukamu merekah lagi."
"Sudah kau apakan keempat bocah itu?"
"Tak usah kuatir, anggap saja keempat bocah itu memang
pintar, lantaran mereka telah memuji kecantikan nonamu
maka kali ini akan kuampuni jiwa mereka, sementara yang
lain..." 816 "Kau berani?" bentak Pengejar nyawa sambil melotot gusar.
Bunga teratai beracun tertawa lebar.
"Siapa bilang nona tak berani?"
Secepat kilat si Pengejar nyawa merangsek maju, dalam
waktu singkat dia melancarkan delapan belas buah tendangan
berantai ke tubuh nona itu.
Dengan sigap Bunga teratai beracun mengegos ke kiri
kanan sebanyak delapan belas kali, baru bisa lolos dari
ancamann dan siap melancarkan serangan balasan, lagi-lagi si
Pengejar nyawa melepaskan tiga puluh enam tendangan,
bukan saja lebih cepat daripada delapan belas tendangan
pertama, bahkan lebih dahsyat, lebih aneh dan lebih
mengerikan. Paras muka si Bunga teratai beracun berubah hebat,
tangannya digetarkan, segumpal asap merah kembali
menyembul keluar dari balik senjatanya.
Pengejar nyawa segera menutup pernapasannya sambil
membuang tubuhnya ke belakang, secara beruntun dia
berjum palitan tujuh delapan kali, lalu sambil menyambar
tubuh keempat bocah pedang dia menerjang dinding ruangan
dan melompat keluar dari situ.
Menanti dia berpaling, terlihat semua penghuni kedai itu
sudah roboh terjungkal ke tanah, ada yang masih berbatukbatuk,
ada pula yang sedang kejang.
Melihat si Bunga teratai beracun mengejar keluar ruangan,
si Pengejar nyawa segera membentak gusar, "Tu Lian,
persoalan ini merupakan perselisihan pribadi antara kau dan
aku, tapi sekarang kau telah melakukan pembantaian secara
sadis, ingat, suatu hari aku pasti akan menangkapmu dan
menjatuhi hukuman yang setimpal untukmu."
"Hm, untuk menyelamatkan diri sendiri saja masih susah,
buat apa kau mesti mengurus urusan orang lain. Nonamu
sudah melakukan tujuh buah kasus besar, tak terhitung
jumlah korban yang tewas di tanganku, mau menghukum
nonamu" Hehehe ... mesti dilihat dulu kemampuanmu untuk
berbuat begitu."
817 Pengejar nyawa tertawa dingin.
"Sungguh luar biasa organisasi yang menampung kalian
semua, bukan saja Kwan Hay-beng dari Kwangtong sudah di
tarik, bahkan Sebun-san-ceng, Lembah Auyang, Mo-sam Haha
dari Biau dan kau pun sudah bergabung jadi satu."
Tu Lian si Bunga teratai beracun kembali tertawa terkekeh.
"Kau tak perlu mengulur waktu sebab ketiga orang
rekanmu tak nanti bisa datang menolong dirimu," katanya, "si
Darah dingin sudah ditangkap Suma Huang-bong, Tanpa
perasaan mungkin sudah diantar rohnya ke langit barat oleh
Auyang Toa dan Leng Liu-peng. Sementara si Tangan besi ..."


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Hm, kalau si Monyet emas berlengan panjang Tok Ku-wi
sudah terjun sendiri ke arena, memangnya dia bisa berbuat
apa?" "Kalau begitu kau saja yang roboh duluan!" bentak si
Pengejar nyawa gusar.
Berbareng dengan selesainya bentakan itu, dia sudah
melepaskan tujuh puluh satu jurus serangan, begitu rapat dan
cepatnya serangan itu membuat Tu Lian harus menghadapi
dengan napas tersengal-sengal.
Baru saja si Pengejar nyawa siap menerjang dengan
sepenuh tenaga, tiba-tiba luka di bahunya terasa amat sakit,
pinggangnya jadi linu dan gerak kaki pun ikut melambat,
menggunakan peluang itu lekas Tu Lian berganti napas.
Si Pengejar nyawa segera membalik tangannya dan
mencengkeram gagang senjata lawan kuat-kuat.
Tapi dia segera merasakan telapak tangannya jadi kaku,
rupanya ujung senjata lawan telah dipasang beratus batang
duri yang amat tajam.
Si Pengejar nyawa sangat gusar, dia menghimpun segenap
tenaganya sambil mendesak ke depan, sekuat tenaga dia
lepaskan sebuah tendangan maut.
Dalam melancarkan serangannya kali ini, dia telah
menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki, bisa
dibayangkan betapa dahsyat dan hebatnya ancaman itu.
818 Berubah hebat paras muka Tu Lian, ia tahu akan
dahsyatnya serangan itu, dia pun sadar kemampuan vang
dimilikinya masih belum mampu untuk menyambut datangnya
ancaman itu. Pada saat itulah tiba-tiba ia menyaksikan sebuah titik
kelemahan yang terbuka di tubuh si Pengejar nyawa, bagian
tubuh yang tidak terlindung itu terbuka saat lawannya sedang
melambung di udara.
Tu Lian tak ingin kehilangan kesempatan baik itu, "Sret!"
sebatang senjata rahasia berwarna biru segera melesat ke
udara dan mengancam iga kanan si Pengejar nyawa, begitu
selesai me nyerang, cepat dia mundur ke belakang.
Pengejar nyawa tidak menyangka pihak lawan telah mene
mukan titik kelemahan pada pertahanan tubuhnya, baru saja
dia melambung ke udara, tubuhnya kembali roboh terjungkal
ke tanah. Dalam keadaan seperti ini dia tak bisa berbuat banyak
selain mengeluh sedih, "Coba kalau bukan gara-gara pukulan
Kwan-loyacu, tak nanti kau bisa lolos dari tendangan
mautku... "
Tandu yang ditumpangi si Tanpa perasaan berhenti di
sebuah pos pemberhentian, tiga puluh delapan li dari lembah
Auyang, sambil dahar ransum ia merasa sangat masgul dan
murung. Dia dapat merasakan begitu banyak musuh yang berada di
sekelilingnya, sementara nasib, si Darah dingin, si Tangan besi
dan si Pengejar nyawa masih belum jelas hingga kini.
Dia seolah-olah mendapat firasat mereka telah tertimpa
nasib malang. Kini dia berada di depan sebuah toko peti mati, suasana
dalam toko itu amat sepi, tidak nampak pegawai yang sedang
bekerja, juga tidak nampak ada langganan yang mampir di
toko itu. Tapi si Tanpa perasaan tahu, tak lama lagi pesanan akan
banyak mengalir ke toko peti mati ini, sebab ada banyak orang
mati yang membutuhkannya.
819 Mungkin para penyerang gelap yang membutuhkannya,
mungkin juga si Tanpa perasaan sendiri, tapi mungkin juga si
tauke penjual peti mati yang membutuhkan.
Sebab ia telah menemukan, walaupun ilmu menyaru muka
si tauke penjual peti mati amat sempurna, namun dengan
pengalaman Tanpa perasaan yang sudah belasan tahun
mengembara dalam dunia persilatan, dia dapat merasakan
orang itu sudah pasti bukan seorang tauke penjual peti mati
yang sederhana.
Selain itu ada satu hal lagi yang membuat telapak tangan si
Tanpa perasaan berkeringat dingin, biasanya pada pandangan
pertama paling tidak ia bisa menilai kemampuan serta
kehebatan lawannya.
Tapi terhadap orang ini, ternyata ia tak dapat melihat atau
menilai apapun, dia tak bisa menduga sehebat apa ilmu silat
yang dimiliki orang ini.
Diam-diam si Tanpa perasaan menghela napas panjang,
tandunya mulai digerakkan dan perlahan-lahan bergeser
menuju ke pintu depan toko peti mati itu.
Dia tahu musuh sudah menanti kedatangannya, dalam
keadaan begini percuma saja melarikan diri, daripada kabur
memang jauh lebih baik menghadapi tantangan itu secara
gagah berani. Pada saat itulah terlihat seorang yang berperawakan tinggi
besar, berlengan panjang muncul dari balik sebuah bangunan
sambil menyeret lengan seorang pincang.
Orang berlengan panjang tinggi besar itu mempunyai potongan
badan gemuk, gerak-geriknya seakan tidak leluasa
namun tenaganya luar biasa, si pincang yang ditelikung
olehnya sambil diseret keluar dari ruangan, mengumpat tiada
hentinya, "Hei, kau ... kau tahu aturan tidak" Aku toh hanya
berhutang duit kepadamu, mau ditagih juga duitnya, kenapa
mesti main pukul" Kau ... kau pakai aturan tidak?"
Sambil saling membetot kedua orang itu bergeser
mendekati tandu si Tanpa perasaan.
820 Dua orang yang lain, seorang berdandan sebagai
sastrawan, vang lain berdandan penjual jamu keliling dengan
membawa golok besar ikut berjalan mendekat, lagak mereka
seolah hendak melerai pertikaian itu.
Tampaknya keempat orang itu berasal dari dusun yang
sama, karena mereka seperti sudah saling mengenal satu
sama lain. Terdengar kakek yang membawa golok besar kwan-to itu
berseru, "Sudah, jangan berkelahi lagi, entar bisa merusak
tandu orang lain."
"Betul A Wi, kau jangan kelewatan terhadap Lopek!" bujuk
si sastrawan pula.
Kelihatannya orang berlengan panjang itu merasa jalan
lewatnya terhadang tandu hingga membuatnya tidak leluasa,
sambil berusaha mendorong tandu itu, teriaknya, "Apa
pedulinya dengan kalian?"
Si kakek bergolok besar naik pitam, serunya, "Kalau kau
berani mengganggu orang lagi, kubacok tengkukmu!" Sembari
berkata, goloknya langsung dibabatkan ke depan.
Tapi begitu serangan tiba di tengah jalan, tiba-tiba arah
bacokannya dialihkan ke atas tandu itu.
Golok itu sangat panjang, tenaga bacokannya kuat,
tampaknya dia hendak membelah tandu itu jadi dua bagian.
Tapi sayang, kedua kayu penggotong tandu yang ada di
depan tandu itu tidak terhitung pendek, ketika sang golok
hampir menyentuh tandu, kayu panjang itupun sudah berada
tak jauh dari tubuh kakek itu.
Selisihnya tidak terlalu jauh, hanya kurang lebih dua depa.
Pada saat itulah tiba-tiba dari ujung kedua kayu penandu
itu muncul dua bilah pisau yang sangat tajam.
Hampir seluruh tubuh pisau itu menghujam ke dalam perut
kakek itu. Bacokan golok terhenti seketika di tengah udara, terdengar
kakek itu membentak gusar, "Tanpa perasaan, kau
Tanpa perasaan mendengus dingin.
821 "Hm, It-to-toan-hun (golok sakti pemutus sukma) Oh Hui,
sudah bertahun-tahun si Tangan besi berusaha membekukmu,
hari ini biarlah aku yang mewakilinya membunuhmu!"
Oh Hui tak sempat berteriak lagi, tubuhnya roboh
terjungkal ke tanah.
Pada saat itulah si sastrawan, si lelaki berlengan panjang
dan lelaki pincang turun tangan bersama.
Sastrawan itu mengayunkan tangannya, tiga belas titik
cahaya bintang serentak meluncur keluar dan seakan
membungkus angkasa.
Gerakan tubuh si pincang jauh lebih cepat lagi, bagaikan
sambaran petir yang berkelebat tahu-tahu dia sudah
menyelinap ke belakang tandu, terlihat cahaya tajam
berkilauan dari tangannya, ia sudah menyerang dari arah
belakang. Si lengan panjang tak mau kalah dari rekan-rekannya, dia
mencabut keluar sebatang tombak emas lalu ditusukkan ke
dalam tandu. Gerak serangannya amat cepat bagaikan kilat, sedemikian
cepatnya hingga tiba terlebih dulu ketimbang datangnya
ketiga belas titik cahaya Am-gi.
Tanpa perasaan sendiri pun tak sempat melihat dengan
jelas bagaimana cahaya emas itu berkelebat, tahu-tahu ujung
tombak sudah menyambar lewat di sisi pipinya.
Begitu mendadak datangnya serangan itu membuat pintu
depan tandu tak sempat lagi diturunkan.
Lempengan baja paling hanya bisa digunakan untuk
membendung serangan senjata rahasia, tapi saat itu tombak
emas itu sudah telanjur menerobos masuk ke dalam ruang
tandu. Jangan kan lempengan baja tak sempat diturunkan, biar
sempat ditutup pun rasanya tidak mudah untuk membendung
tusukan maut ini.
Tanpa perasaan tidak berusaha menutup tandunya, dia pun
tidak berkelit, ujung bajunya tiba-tiba dikebaskan ke muka,
822 sekilas cahaya golok tahu-tahu sudah membabat keluar
dengan kecepatan luar biasa.
Pisau terbang itu langsung mengancam hulu hati Tok Kuwi.
Dalam keadaan begini, seandainya Tok Ku-wi melanjutkan
niatnya membunuh si Tanpa perasaan, maka dia sendiri pun
pasti akan tewas pula terhajar pisau terbang itu.
Tok Ku-wi membentak gusar, tombaknya diputar sambil
mencongkel, dia tangkis pisau terbang yang mengancam tiba
kemudian beringsut mundur ke belakang, setelah itu sambil
menyilangkan tombaknya di depan dada, ia berdiri tanpa
bereaksi lagi. Bila gagal dengan serangan pertama, segera mundur
sambil menanti kesempatan lain, itulah prinsip dari seorang
jagoan berpengalaman.
Ketika tiga belas titik cahaya tajam yang dilancarkan
sastrawan itu menerjang ke dalam tandu, mendadak tirai
mutiara yang tergantung di depan tandu bergoncang keras.
Diiringi dentingan nyaring, ketiga belas titik cahaya itu
segera terbendung oleh getaran mutiara di atas tirai dan
rontok ke tanah.
Ternyata sastrawan ini tak lain adalah Kwe Pin, jagoan
yang berhasil kabur dari cengkeraman si Tangan besi maupun
Pengejar nyawa.
Tidak seperti rekannya, Tok Ku-wi, ketika melihat
serangannya gagal, Kwe Pin segera menerjang maju lagi
menghantam tandu itu.
'Dia tahu kepandaian silat yang dimiliki si Tanpa perasaan
tidak lebih sama seperti orang biasa, opas ini hanya lihai
dalam penggunakan senjata rahasia dan ilmu meringankan
tubuh. Ruang tandu itu sempit, asal dia berhasil menerjang masuk
ke dalam tandu itu, maka Tanpa perasaan tak mungkin bisa
menggunakan senjata rahasia dan ilmu meringankan
tubuhnya, berarti dia punya kesempatan besar untuk
membekuk lawan.
823 Asal si Tanpa perasaan berhasil dibekuk, maka mereka bisa
menggunakan orang ini sebagai umpan untuk memancing si
Tangan besi datang menuntut balas.
Tubuh Kwe Pin sudah menerjang masuk ke dalam tandu.
Pada saat bersamaan si Tanpa perasaan harus menghadapi
ancaman tombak emas Tok Ku-wi, bokongan dari si pincang
dan ketiga belas titik cahaya tajam itu, tampaknya dia tak
sempat lagi mencegah Kwe Pin menerobos masuk ke dalam
tandu. Di saat kritis itulah mendadak atap tandu terbuka lebar, si
Tanpa perasaan dengan bajunya yang serba putih sudah
melambung ke udara.
Begitu tubuh Kwe Pin menerjang masuk ke dalam tandu,
lempengan baja di depan pintu tandu segera menutup, lalu
terdengar suara alat rahasia yang bergerak dan disusul
dengan suara dengusan tertahan.
Tanpa perasaan tertawa dingin, dengan cepat tubuhnya
melayang balik ke dalam ruang tandu.
Saat itulah si pincang yang sudah mengintai dari belakang
mulai bergerak melancarkan serangan.
"Wes!", cahaya tajam berkelebat, langsung membacok
punggung pemuda cacad itu.
Tanpa perasaan segera menyadari datangnya ancaman,
sebelum tubuhnya berbalik, tiga titik cahaya terang sudah
meluncur duluan, sementara badannya meluncur lebih cepat
lagi kembali ke dalam ruang tandu.
Ketiga titik cahaya tajam itu bukan diarahkan ke dalam
tandu, melainkan menghajar di atas kilatan cahaya tajam itu,
"Tring! Tring! Tring!", diiringi tiga kali dentingan nyaring,
cahaya tajam itu bergetar lalu terbang balik ke belakang.
Bercak merah terlihat pula di atas baju si Tanpa perasaan
yang putih bersih, namun tubuhnya sudah keburu meluncur
masuk ke dalam tandunya.
"Sret!", cahaya tajam itu kembali membelok satu
tingkungan sebelum akhirnya terbang kembali ke tangan si
pincang. 824 Saat itulah lempengan besi di depan pintu tandu terbuka
lebar, kemudian tubuh Kwe Pin kelihatan terlempar keluar,
seluruh tubuhnya tertancap berpuluh jenis senjata rahasia
hingga keadaannya seperti landak.
"Leng Liu-peng?" tegur Tanpa perasaan kemudian setelah
mendehem pelan.
Si pincang yang berada di belakang tandu mendengus


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dingin, tapi dia tak pernah mau berjalan keluar menuju depan
tandu. "Hebat, hebat" jengek Tanpa perasaan lagi dengan suara
hambar, "ternyata nama besar si golok paling cepat dari Biau
memang bukan nama kosong belaka."
Paras muka Leng Liu-peng berubah sebentar memerah
sebentar memucat, namun ia tetap membungkam diri.
"Tahukah kau, apa sebabnya aku bisa termakan oleh
sebuah bacokan golokmu?" Tanpa perasaan bertanya lagi.
Leng Liu-peng menggigit kencang ujung bibirnya, tapi
akhirnya dia berkata juga, "Kenapa?"
"Hahaha ... hal ini bukan dikarenakan serangan golokmu
kelewat cepat, tapi lantaran aku tidak percaya kalau manusia
macam Leng Liu-peng pun bisa melancarkan serangan
bokong-an!"
Berubah hebat paras muka Leng Liu-peng, tangannya yang
menggenggam gelang besi nampak menegang kencang
hingga otot-ototnya menonjol keluar.
Setelah tertawa tergelak, kembali Tanpa perasaan berkata,
"Aku rasa kita sudah tak perlu berduel satu lawan satu di luar
tandu lagi."
Paras muka Leng Liu-peng berubah jadi hijau membesi, ia
tetap membungkam.
Monyet emas berlengan panjang Tok Ku-wi tak bisa
menahan rasa ingin tahunya, setelah melirik rekannya
sekejap, tanyanya, "Kenapa?"
"Karena aku tidak senang," sahut Tanpa perasaan sambil
tertawa, "aku tak senang berduel melawan orang yang
825 sukanya membokong dengan senjata rahasia dari arah
belakang."
Sambil menarik muka Tok Ku-wi menegur, "Tanpa
perasaan, kau sudah berpikir bagaimana kondisimu saat ini?"
"Tentu saja, aku terluka dan sekarang sedang dikepung
orang." "Kau sudah tahu siapa saja yang telah mengepungmu saat
ini?" kembali Tok Ku-wi mengejek sambil tertawa
"Tok Ku-wi, si kakek tanpa golok, Leng Liu-peng serta
jagoan yang melemparkan tombak untukmu tadi ... Oh Hui
dan Kwe Pin sudah mampus, jadi tak masuk hitungan lagi,
ditambah seorang yang hingga kini belum kujumpai
kemunculannya."
"Betul sekali," Tok Ku-wi membenarkan, "tak perlu
menyinggung jagoan lain, memangnya kau sanggup
menghadapi serangan gabungan antara aku dan saudara
Leng?" "Ehm, kemungkinan untuk menang memang sangat kecil,"
jawaban dari Tanpa perasaan sangat tenang.
Leng Liu-peng yang selama ini tak pernah muncul ke
hadapan tandu mendadak berteriak keras, "Tanpa perasaan,
aku tidak peduli lagi dengan kejadian hari ini, bila kau berhasil
lolos dari musibah hari ini, aku tetap akan menantangmu
untuk berduel secara adil!"
24. Hutang budi harus dibayar.
Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, Leng Liu-peng
segera membalik tubuh dan beranjak pergi dengan langkah
lebar, dia pergi tanpa menengok lagi ke arah tandu itu, biar
sekejappun. "Saudara Leng, saudara Leng!" Tok Ku-wi segera berteriak
memanggil. "Ternyata Leng Liu-peng memang seorang lelaki sejati!"
puji Tanpa perasaan.
Tok Ku-wi kembali tertawa dingin.
826 "Tak kusangka hanya dengan beberapa patah kata kau
berhasil mengusir si tanpa golok dari tempat ini, mau tak mau
aku mesti menyatakan kekagumanku."
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, "Boleh aku
mengajukan satu pertanyaan?"
"Tanyakan saja."
"Darimana kau tahu kami sedang bermain sandiwara?"
Tanpa perasaan segera tertawa.
"Sebab kemarin aku baru mendengar suara Leng Liu-peng,
sekalipun raut mukanya telah berubah namun dia lupa
mengubah logat bicaranya."
"Oh, rupanya begitu, tak heran kau bisa tahu," seru Tok
Ku-wi seakan baru paham.
Mendadak terdengar seorang berseru sambil tertawa,
"Saudara Tanpa perasaan, kalau toh kau masih mengenali
suara Leng Liu-peng, tentunya kau pun masih ingat dengan
logat suaraku bukan?"
"Saudara Auyang?" Tanpa perasaan menyahut sambil
tertawa pula, "apakah lukamu masih terasa sakit" Tentu saja
logat bicara Kokcu pun tak akan kulupakan."
Sambil menggoyang kipasnya dan berjalan santai Auyang
Toa muncul dari sisi kanan tandu, kemudian berhenti di situ,
kain putih yang membalut bahunya terlihat bercak darah.
"Kelihatannya sih jauh lebih enteng ketimbang luka
bacokan yang saudara Tanpa perasaan terima hari ini."
"Ya, tampaknya memang begitu," Tanpa perasaan
mengakui sambil tertawa getir.
Tiba-tiba Tok Ku-wi menyela, "Kalau toh saudara Tanpa
perasaan sudah terluka
"Tidak seharusnya kita sia-siakan kesempatan emas yang
diberikan Thian kepada kita semua sambung Auyang Toa
cepat. "Karena itu untuk kedua kalinya terpaksa kita harus
melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan saudara
Tanpa perasaan..."kata Tok Ku-wi lagi.
827 Dengan suara lantang Auyang Toa segera menghardik,
"Tuan opas Tanpa perasaan, tolong berilah sedikit petunjuk
atas kemampuan Im-yang-sin-san milikku ini!"
Selesai berkata dia mengayun kipasnya lalu didorong
sejajar dada ke depan.
Segulung tenaga pukulan tanpa wujud seketika
menggulung keluar dari balik kipas, langsung menghantam sisi
kanan tandu itu.
Hampir pada saat bersamaan Tok Ku-wi menggetarkan pula
lengannya yang panjang, tombaknya disertai suara guntur
yang menggelegar langsung menusuk tandu dari sisi kiri.
Dua gulung tenaga maha dahsyat menjepit datang dari kiri
dan kanan, sedemikian dahsyatnya kekuatan itu membuat
tandu itu meski terbuat dari lempengan baja rasanya tak
sanggup menahan gempuran ini.
Tujuan utama mereka adalah memaksa si Tanpa perasaan
mau menampilkan diri dari balik tandu, namun mereka pun
sangat menguatirkan kehebatan senjata rahasia lawan, oleh
sebab itu mereka bertekad menghancurkan tandu itu terlebih
dulu sebelum mendesaknya lebih jauh
Tiba-tiba tandu yang ditunggangi Tanpa perasaan
menerjang maju, padahal di hadapannya adalah toko peti
mati, maka tandu bersama Tanpa perasaan langsung
menerjang masuk ke dalam toko peti mati itu.
Begitu serangan mengenai tempat kosong, tubuh Auyang
Toa dan Tok Ku-wi nyaris saling bertumbukan, lekas mereka
tarik balik serangannya sambil berusaha menghadang jalan
mundur tandu itu.
Saat itulah dari hadapan tandu menerjang masuk
seseorang, sambil menyerbu datang teriaknya keras, "Tanpa
perasaan, coba lihat siapakah aku!"
Dalam waktu singkat situasi arena jadi sangat kalut, Tanpa
perasaan dengan menggerakkan tandunya berusaha
menghindarkan diri dari serangan gabungan Auyang Toa dan
Tok Ku-wi, dengan menyerbu masuk ke dalam toko peti mati
828 sama halnya seluruh perhatian si Tanpa perasaan terpusat
pada tauke penjual peti mati itu.
Menghadapi perubahan yang tiba-tiba itu, si tauke penjual
peti mati tetap berdiri tenang, dia seakan tidak peduli dengan
kejadian itu. Saat itulah terdengar suara bentakan keras bergema di
udara, menyusul muncul seorang sambil melancarkan
bacokan. Tanpa perasaan segera tertegun, dua puluh tiga macam
alat rahasia yang terpasang dalam tandu tak satu pun yang
bisa digunakan lagi.
Dia memang tak bisa berbuat apa-apa, sebab orang yang
muncul secara tiba-tiba itu tak lain adalah si Darah dingin.
Darah dingin menerjang datang dengan kecepatan luar
biasa, Tanpa perasaan tak sempat lagi mengetahui lebih jelas
apa yang sedang terjadi, tapi ada satu hal dia tahu dengan
pasti, senjata rahasianya tak boleh menghajar di tubuh adik
seperguruannya itu.
Sementara dia masih gelagapan dan tidak tahu apa yang
mesti diperbuat. Darah dingin sudah menerjang masuk ke
dalam tandu. Baru saja Tanpa perasaan siap mengulurkan tangan
menyambut, mendadak ia temukan dua buah tangan lain
berada di bawah ketiak Darah dingin.
Tangan itu putih, halus dan kecil bentuknya, namun
dengan kecepatan bagaikan sambaran petir telah melancarkan
dua totokan maut ke atas jalan darah pentingnya.
Ketika ia menemukan kejanggalan itu, si Darah dingin
sudah berdiri persis di hadapannya, siapa pun tak bakal
menyangka kalau di belakang punggung Darah dingin ternyata
masih menempel seseorang.
Dalam keadaan seperti ini siapa pun jangan harap bisa
menghindarkan diri, apalagi si Tanpa perasaan yang tak
pandai bersilat.
829 Dalam situasi yang amat kritis, mendadak Tanpa perasaan
berpekik nyaring, tubuhnya menerjang ke udara dan nyaris
menghindarkan diri dari ancaman kedua buah tangan itu.
Setelah berjumpalitan beberapa kali di udara, dengan gaya
burung belibis membalik tubuh, dia melayang turun di tepi
sebuah peti mati.
Dalam keadaan seperti ini, memang mustahil baginya untuk
menerobos balik ke dalam ruang tandunya.
Sekali dia keluar meninggalkan tandu, orang lain tak akan
memberi kesempatan lagi baginya untuk balik kembali ke
tandu andalannya itu.
Kini dia merasa gusar, tapi juga merasa amat sedih.
Dapat dimaklumi bagaimana perasaannya saat ini, sebagai
seorang yang cacad kaki, memang tidak mudah baginya untuk
menghadapi sekian banyak jago tangguh yang buas bagaikan
serigala itu. Auyang Toa menggoyang kipasnya dan Tok Ku-wi
menenteng tombaknya langkah demi langkah berjalan
mendekat, lalu satu di kiri dan yang lain di kanan berdiri
berjaga di tepi tandu.
"Sun si pejalan bawah tanah?"
"Tajam amat pandangan matamu, benar, akulah Sun Putkiong,"
jawab orang dalam tandu sambil tertawa keras,
kemudian tirai disingkap dan seorang manusia cebol berwajah
coklat, bertangan putih dan memelihara kumis tikus
menampakkan diri.
Setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata, "Tandumu
sangat hebat, pajangannya tidak kalah dengan sebuah istana
berjalan."
Hawa napsu membunuh berkelebat dari balik mata si
Tanpa perasaan, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi
kemudian diurungkan.
Tok Ku-wi kembali berseru sambil tertawa, "Seandainya
Leng Liu-peng tahu kalau kau sudah keluar dari tandu,
mungkin dia segera akan balik kemari dan menantangmu
untuk berduel."
830 Dalam keadaan tak mampu berjalan, tenaga dalam pun
sangat cetek, terpaksa si Tanpa perasaan hanya bisa duduk
bersandar di tepi peti mati.
"Saudara Tanpa perasaan, bila kau tidak balik ke tandumu,
berdiri terus akan membuat kau lelah," jengek Auyang Toa
sambil tertawa.
Tanpa perasaan tertawa dingin, dia sama sekali tidak
menggubris sindiran itu, sebaliknya kepada si cebol hardiknya,
"Cebol Sun, kau sudah apakan si Darah dingin?"
"Diapakan?" Sun Put-kiong tertawa, "dia sendiri yang
datang mengejar kami, ketika aku muncul dari dalam tanah,
dia pun kutangkap."
Darah masih meleleh keluar dari baju Tanpa perasaan, tapi
badannya gemetar keras bukan lantaran rasa sakit lukanya,
luka di hati jauh lebih membuatnya tersiksa.
Tok Ku-wi yang melihat hal itu segera tertawa dingin.
"He, Sun tua, kau jangan menempel emas di wajah sendiri,
aku turut punya andil dalam membekuk si Darah dingin"
"Masih ada lagi aku si sepasang uang tembaga," seorang
dengan suara parau tak sedap didengar bergema dari suatu
tempat yang tak jelas letaknya, "kalian jangan mengangkangi
sendiri keberhasilan itu."
Begitu ucapan tadi selesai diutarakan, peti mati yang
berada di belakang Tanpa perasaan mendadak terbuka lebar,
sesosok mayat kaku melompat keluar dari dalam peti itu,
cahaya kuning berkelebat, sepasang sekop sudah menjepit ke
arah lengan Tanpa perasaan.
Orang itu masih berdiri di tepi peti mati, perawakannya
kurus lagi tinggi sehingga cenderung agak membungkuk, saat
itu sepasang sekopnya sudah menjepit sepasang lengan si
Tanpa perasaan dari arah belakang hingga memaksa pemuda
itu tak sanggup bergerak lagi.
Merah padam sepasang mata Tanpa perasaan saking
gusarnya, dengan penuh amarah dia membentak, "Suma
Huang-bong 831 Dengan langkah lebar Auyang Toa berjalan ke depan,
ujarnya sambil tertawa dan menggoyang kipasnya berulang
kali, "Saudara Tanpa perasaan, kali ini kau boleh mati dengan
mata meram, kau tahu, untuk membekukmu kali ini siapa saja
yang harus dihadirkan" Ada Leng Liu-peng dari Biau, ada
Suma-sianseng dari Cap-ji-Iian-huan-wu, ada dua orang murid


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kesayangan To-yu-sinkun (dewa sakti golok sukma) dari
Siang-san yaitu saudara Sun dan Tok Ku-wi, kemudian ada
pula aku si Auyang Toa. Wah, kau mesti berbangga karena
ada begitu banyak orang yang mesti ikut beraksi, hahaha
Sambil menenteng tombak emasnya, Tok Ku-wi ikut
mendekati si Tanpa perasaan selangkah demi selangkah,
ujarnya pula sambil tertawa, "Empat opas kenamaan dari
dunia persilatan ... hehehe ... saat ini kemungkinan besar si
Pengejar nyawa sudah mampus di tangan Tu Lian, sedang
kau..." "Masih ada lagi si Darah dingin, Lote," sambung si cebol
Sun sambil membanting tubuh Darah dingin ke atas tanah,
"kami telah berhasil memaksa si Tanpa perasaan keluar dari
sarangnya, berarti nilai penggunaanmu sudah habis
Berbicara sampai di situ, kelima jari tangannya segera dipentang
lebar, kemudian bagaikan cengkeraman kuku garuda
mencengkeram ke bawah.
Waktu itu si Darah dingin hanya bisa membelalakkan mata
lebar-lebar, sayang jalan darahnya sudah tertotok hingga dia
sama sekali tak mampu berkutik.
Tanpa perasaan sendiri pun tak mampu bergeser sedikitpun
karena dia berada dalam cengkeraman Suma Huangbong.
Cengkeraman si cebol Sun segera terhenti di tengah jalan
ketika melihat si Darah dingin tidak menunjukkan perasaan
takut, dengan heran kembali dia menegur, "Kau tidak takut
mati?" Darah dingin masih juga tidak menjawab, namun sorot
matanya dialihkan ke belakang si cebol dan menatapnya tanpa
berkedip. 832 Si cebol Sun terkesiap, tanpa sadar ia berpaling ke
belakang, mendadak seorang bagaikan hembusan angin topan
telah menerjang tiba, sebelum manusia cebol ini sempat
melakukan sesuatu tindakan, tahu-tahu badannya sudah kena
dirangkul lalu dibanting dengan kuat.
Tubuh si cebol yang kecil pendek itu seketika terlempar ke
belakang, langsung menumbuk di atas badan Tok Ku-wi.
Sambil membentak marah Tok Ku-wi menyambut lemparan
itu, kedua orang itu seketika saling bertumbukan hingga
mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Berbareng orang itu sudah meluncur ke arah Suma Huangbong
dan menerjang secara hebat.
Menghadapi perubahan yang sangat mendadak dan sama
sekali di luar dugaan ini Suma Huang-bong jadi gugup,
terpaksa dia tarik kembali senjata sekopnya untuk
menghadapi datangnya ancaman.
Auyang Toa tidak tinggal diam, dia memutar kipasnya
sambil maju menyongsong kedatangan orang itu.
Waktu itu manusia tadi sedang menerjang ke arah Suma
Huang-bong, mendadak di tengah jalan dia berputar arah,
kakinya langsung menjejak ujung lain dari peti mati itu.
Sungguh dahsyat jejakan itu, peti mati itu langsung
mencelat hingga miring ke samping, padahal waktu itu Suma
Huang-bong sedang berbalik badan, dia tak mengira
tempatnya berpijak tiba-tiba terguling ke samping, karena
tempat berpijaknya hilang, kakinya langsung terjerumus ke
dalam peti mati.
Dengan satu gerakan cepat orang itu menyambar penutup
peti mati, kemudian ditutupkan ke atas peti mati itu rapatrapat.
Sementara itu Auyang Toa sudah merangsek ke depan,
sebuah serangan langsung dilontarkan ke arah orang itu.
Pada saat itulah tampak cahaya tajam berkelebat langsung
menerjang ke tubuh Auyang Toa, menghadapi ancaman itu,
terpaksa dia kebaskan kipasnya sambil melompat mundur,
833 sebatang pisau terbang tersampuk hingga mencelat ke
samping. Ternyata orang yang melancarkan serangan senjata rahasia
itu adalah si Tanpa perasaan.
Ketika orang itu sudah selesai menutup kembali peti mati
itu, sebuah pukulan keras segera dilontarkan ke bawah.
Jangan dilihat kayu penutup peti mati itu sangat tebal lagi
kuat, jotosan itu ternyata berhasil menjebolnya hingga muncul
sebuah lubang besar, tangan orang itu bagaikan sebuah
jepitan baja langsung menerobos masuk melalui lubang itu
dan mencengkeram tenggorokan Suma Huang-bong.
Sebenarnya kepandaian silat Suma Huang-bong cukup
hebat, namun lantaran kakinya terpeleset hingga jatuh ke
dalam peti mati, semua kepandaiannya jadi terbelenggu
hingga tak mampu digunakan lagi.
Baru saja dia akan melompat bangun, tahu-tahu peti mati
ditutup orang, dalam paniknya dia berusaha meronta bangun.
Siapa tahu saat itulah peti mati dihajar orang hingga
berlubang, hancuran kayu langsung menghajar wajahnya
hingga terluka dan berdarah, belum sempat dia berbuat
sesuatu, tahu-tahu tenggorokannya sudah dijepit orang,
dalam keadaan begini dia pun mati kutu.
Tok Ku-wi meraung penuh amarah, setelah melempar
tubuh si cebol ke tanah ia siap menerjang ke depan.
Namun hatinya langsung terkesiap sambil menghentikan
langkah, ternyata seorang pemuda telah berdiri tegak persis di
hadapannya dan saat itu sedang mengawasinya dengan
pandangan dingin.
Orang itu adalah si Darah dingin, dalam genggamannya tak
ada pedang tapi sudah mencekal sebilah golok panjang yang
tadi digunakan si Tanpa perasaan untuk membidik Auyang
Toa, ujung golok sudah menempel di atas tenggorokannya.
Tok Ku-wi merasakan seolah kulit tenggorokannya mulai
merinding, tanpa sadar bulu kuduknya berdiri.
Saat Tanpa perasaan sedang mengawasi Auyang Toa
dengan pandangan dingin, Auyang Toa yang berdiri pada
834 jarak sepuluh langkah di hadapannya tak berani bertindak
gegabah lagi, dia hanya berdiri tertegun di situ.
Kemudian terdengarlah si Tanpa perasaan berkata, "Ji-sute,
terima kasih atas bantuanmu."
Ternyata manusia itu tak lain adalah si Tangan besi, opas
kedua dari empat opas, jagoan yang memiliki sebuah tangan
sakti dengan tenaga dalam yang amat sempurna.
Dan dia, ternyata tak lain adalah si tauke pemilik toko peti
mati itu. Waktu itu tangannya masih mencengkeram di atas
tenggorokan Suma Huang-bong, sahutnya sambil tertawa,
"Aku memang selalu menunggu datangnya kesempatan paling
baik!" Kemudian sorot matanya dialihkan ke atas luka di iga kiri
saudara seperguruannya itu.
"Aku tahu," kata Tanpa perasaan, "kami tak akan
menyalahkan dirimu, sedang mengenai lukaku ini tidak terlalu
me-nguatirkan, kau tak usah kuatir!"
Tindakan yang dilakukan si Tangan besi kali ini boleh
dibilang luar biasa sempurnanya, mula-mula dia melempar
dulu tubuh si cebol Sun hingga menumbuk Tok Ku-wi, akibat
tumbukan itu tombak panjangnya tak dapat menjangkau
tubuh si Tanpa perasaan, setelah itu dia menyingkirkan
Anyang Toa, kemudian baru menaklukkan Suma Huang-bong
di dalam peti mati, dengan terlepasnya si Tanpa perasaan dari
ancaman, ancaman Auyang Toa pun dapat diatasi sendiri oleh
saudara seperguruannya, setelah itu secepat kilat dia
bebaskan totokan si Darah dingin hingga kekuatan mereka
jadi bertambah.
Kini si Tanpa perasaan saling berhadapan dengan Auyang
Toa, si Tangan besi mencengkeram Suma Huang-bong, si
Darah dingin mengawasi gerak-gerik Tok Ku-wi dan si cebol
Sun. Suasana pun berubah jadi hening dan sepi. Beberapa saat
kemudian Auyang Toa baru menegur, "Kau adalah si Tangan
besi?" 835 "Benar," jawab Tangan besi sambil tertawa. "Hebat benar
kepandaian silatmu."
"Terlalu memuji. Tapi asal kau berani turun tangan, maka
aku pun bisa memberikan satu jaminan kepadamu."
"Jaminan apa?"
"Asal kau berani bergerak, Suma Huang-bong benar-benar
akan masuk kubur!"
"Oya?" paras muka Auyang Toa segera berubah jadi hijau
membesi. Tangan besi kembali tertawa.
"Sebenarnya sih aku tak ingin membunuh Suma Huangbong
aku hanya ingin menyeretnya ke pengadilan agar dia di
adili menurut hukum. Tapi seandainya kau turun tangan
terlebih dulu, terpaksa aku pun harus membantu Toasuhengku,
aku tak boleh membiarkan kau melukai saudara
seperguruanku itu. Terpaksa aku mesti menghabisi dulu
nyawa Suma-sianseng."
Beberapa kali paras muka Auyang Toa berubah hebat, tapi
akhirnya dia tak berani bergerak lagi.
Auyang Toa memang dapat melihat bagaimana darah
masih mengucur keluar dari luka si Tanpa perasaan, jika ingin
membunuh orang itu, sekaranglah saat yang paling tepat,
apalagi si Tanpa perasaan sudah meninggalkan tandunya.
Tapi beberapa patah kata si Tangan besi membuatnya mati
kutu, dia tahu bila dirinya bersikeras turun tangan, hal ini
sama artinya membiarkan Suma Huang-bong mati duluan,
padahal dia sendiri tidak yakin apakah serangannya akan
berhasil membunuh si Tanpa perasaan.
Karena Auyang Toa tidak menyerang, Tok Ku-wi terlebih
tak berani berkutik.
Dengan suara hambar kembali Tanpa perasaan berkata,
"Ji-sute, aku lihat ilmu menyaru mukamu makin sempurna,
tadi aku masih mengira kau adalah musuh."
Tangan besi tertawa.
836 "Bukan ilmu menyaru mukaku yang bertambah sempurna,
mungkin sejak lahir aku memang punya tampang jadi tauke
penjual peti mati."
Bicara sampai di sini ia segera berpaling ke arah Suma
Huang-bong dan tertawa.
Hampir meledak dada Suma Huang-bong saking
dongkolnya, namun ia tak berani bertindak gegabah, maka
tubuhnya sama sekali tak bergerak.
Selama hidupnya Suma Huang-bong paling senang
bergumul di antara barang-barang keperluan orang mati,
seperti kuburan, peti mati dan lain sebagainya, tapi dia justru
ditangkap musuh di dalam peti mati, bisa dibayangkan
bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Dengan pandangan ketus si Darah dingin mengawasi Tok
Ku-wi, lalu katanya, "Rupanya selain Si Ku-pei, Bu Seng-tang,
Bu Seng-say, Kwan-loyacu, Thio Si-au, Mo-sam Ha-ha dan
Sebun-kongcu bertujuh yang sudah mampus, kini tersisa
kalian berenam yaitu Tok Ku-wi, si cebol Sun, Auyang Toa,
Suma Huang-bong, Leng Liu-peng dan Tu Lian?"
Merah padam muka Tok Ku-wi lantaran mendongkol,
teriaknya gusar, "Mau apa kau menanyakan hal ini" Kau
sedang menanyai aku" Atas dasar apa aku mesti beritahu
padamu?" "Sayang bokonganmu di kuburan tempo hari tidak kena
sasaran, tusukan tombakmu kurang hebat," jengek si Darah
dingin ketus. "Kemarin malam pandanganku memang agak kabur hingga
tidak melihat jelas, tapi hari ini aku bisa melihat lebih tajam
lagi," sahut Tok Ku-wi sambil menarik kembali sinar matanya.
"Betul, hari ini kita berdua bisa melihat lebih jelas, ini baru
adil namanya," kata si Darah dingin lagi.
Sementara pembicaraan berlangsung, ujung tombak dan
mata golok telah dipersiapkan.
"Blam!", mendadak terdengar suara benturan keras,
menyusul tampak peti mati itu melambung ke udara.
837 Tangan besi terperanjat, tiba-tiba ia melihat sepasang
tangan muncul dari dalam tanah dan secepat kilat
mencengkeram sepasang kakinya.
Menghadapi ancaman seperti ini, mau.tak mau si Tangan
besi harus melejit ke udara, peti mati itupun langsung
bergeser ke samping.
Belum lagi peti mati itu menyentuh tanah, Suma Huangbong
sudah melompat keluar, sambil meraung kalap dia putar
sepasang sekopnya menghantam jalan darah Tay-hiang-hiat di
kening kiri dan kanan si Tangan besi.
Tentu saja peti mati itu tak bisa terbang sendiri, apalagi
Suma Huang-bong tidak memiliki kemampuan sehebat itu.
Peti mati itu didorong ke udara oleh seorang dari dalam
tanah, diangkat lalu dilempar ke angkasa.
Dan orang yang muncul dari dalam tanah itu tak lain adalah
si cebol yang memang ahli soal menggangsir tanah, Sun Putkiong.
Tentu saja bukan cuma kepalaya yang muncul dari dalam
tanah, masih.ada pula sepasang tangannya, tangan yang
langsung mencengkeram kaki si Tangan besi.
Dengan cara inilah Darah dingin tertangkap tempo hari.
Begitu peti mati mencelat ke udara, si Tangan besi baru
terperanjat, segera ia sadar apa yang telah terjadi, saat itulah
dia baru menyesal kenapa telah melupakan Sun Put-kiong.
Walaupun tadi dia sudah melemparkan tubuh si cebol,
namun tak sempat menotok jalan darahnya, padahal Sun Putkiong
menduduki posisi nomor satu di bawah bimbingan si
setan tua dari Kiu-yu, kedudukannya masih di atas Tok Ku-wi,
sudah barang tentu dia memiliki ilmu simpanan yang luar
biasa. Kepandaian yang paling diandalkan olehnya selama ini
adalah menggangsir tanah, seperti seekor trenggiling, dia bisa
menyusup ke dalam tanah lalu tiba-tiba muncul di atas
permukaan. Pada saat Tok Ku-wi mendorong badannya tadi, dia sudah
menyusup masuk ke dalam tanah lewat ujung peti mati, maka
838 begitu peti mati itu disundul dengan kepalanya hingga
mencelat ke udara, tangannya langsung menyergap kaki
lawan. Untung saja si Tangan besi segera menyadari akan hal itu,


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tepat pada saat terakhir tubuhnya melejit ke udara.
Namun dengan terjadinya peristiwa itu, Suma Huang-bong
pun berhasil meloloskan diri.
Di saat si cebol Sun muncul dari bawah tanah itulah tibatiba
si Tanpa perasaan melancarkan serangan, sepasang
tangannya diayunkan bersama, tujuh-delapan belas titik
cahaya hitam langsung menyergap ke tubuh Auyang Toa.
Serangan ini muncul secara mendadak dan di luar perkiraan
siapa pun, dengan perasaan terkejut Auyang Toa memutar
kipasnya berulang kali, dengan menepuk, menutul,
membentur dan menangkis dia hajar semua senjata rahasia
itu hingga mencelat ke samping.
Tapi pada saat itulah si Tanpa perasaan menepuk
tangannya ke tanah dan segera menyelinap masuk ke dalam
tandunya. Menanti Auyang Toa berusaha mencegah, keadaan sudah
terlambat. Sementara kejadian itu berlangsung, dua peristiwa besar
terjadi pada saat yang bersamaan. Seorang gadis tiba-tiba
muncul di depan pintu kedai, sedang yang lain adalah Suma
Huang-bong siap melancarkan serangan ke arah si Tangan
besi. "Semuanya berhenti!" Auyang Toa segera membentak.
Seketika suasana di dalam toko peti mati itu jadi hening,
sepi dan tak terdengar suara lagi.
Sesaat kemudian terdengar gadis itu berkata dengan
suaranya manja, "Aduh, kenapa begitu aku datang, kalian
semua malah berlaku sungkan?"
Tangan besi, Tanpa perasaan dan Darah dingin segera
berpaling, namun paras muka mereka seketika berubah hebat.
Tampak nona itu berjalan masuk dengan tangan kanan
memegang senjata berbentuk bunga teratai, sementara
839 tangan kirinya memayang seorang lelaki setengah umur dalam
keadaan tidak sadar.
"Jadi kau adalah si Bunga teratai beracun Tu Lian?" tegur si
Tangan besi gusar.
"Benar, memang aku si nona yang kau maksud," kata Tu
Lian tertawa. "Apa yang hendak kau perbuat terhadap si Pengejar
nyawa?" "Itu kan tergantung bagaimana kalian bersikap."
Sementara itu Auyang Toa sudah tertawa terbahak-bahak
sambil memuji, "Tu-hiangcu, hebat perbuatanmu, hebat
sekali!" Kemudian sambil berpaling ke arah para jago lainnya, ia
menambahkan, "Bagus sekali, sekarang nyawa si Pengejar
nyawa sudah berada dalam genggaman kami, bila kalian ingin
menyelamatkan jiwanya, datanglah ke lembah kami malam
nanti dan kita bersua di depan telaga Bu-tok-tham, selewat
malam ini, kami tidak tanggung keselamatan jiwanya."
Selesai berkata dia segera beranjak pergi dengan langkah
lebar, Tu Lian tertawa getir dan menyusul di belakangnya.
Suma Huang-bong, si cebol Sun dan Tok Ku-wi nampak
tertegun, tapi akhirnya mereka pun menyusul di belakangnya.
Dengan kening berkerut si Darah dingin siap melakukan
pengejaran, tapi segera dicegah si Tangan besi, sambil
menarik tangannya ia berbisik, "Jangan gegabah!"
Dengan langkah lebar Auyang Toa berjalan keluar dari toko
itu, baru mencapai jalan raya, Suma Huang-bong telah
menyusulnya, dengan perasaan tak habis mengerti Tu kian
segera menegur, "Sekarang kita berada di atas angin, apalagi
kita masih mempunyai sandera yang bisa digunakan sebagai
ancaman, kenapa bukannya bertempur habis-habisan kita
malah mundur?"
Auyang Toa hanya menggelengkan kepala sambil tertawa.
Dengan geram Suma Huang-bong mendepakkan kaki ke
tanah, lalu teriaknya sangat marah, "Hari ini kau mesti
840 memberi penjelasan kepadaku, kenapa kesempatan sebaik ini
kau buang begitu saja?"
Sambil melanjutkan langkahnya, jawab Auyang Toa,
"Sepintas tampaknya kita memang berada di atas angin, posisi
memang menguntungkan pihak kita, tapi aku ingin bertanya,
yakinkah kau bisa menangkan si Tangan besi?"
Suma Huang-bong tertegun, tapi segera sahutnya, "Kalau
mesti satu lawan satu, rasanya sulit untuk dikatakan, tapi jika
dibantu Sun-lotoa, aku rasa tidak sulit untuk membunuh
bajingan itu."
"Baiklah, anggap saja kau dan Sun-lotoa sanggup
menghadapi si Tangan besi, Tok Ku-wi l.oji menghadapi si
Darah dingin, sedang aku dan Tu-niocu belum tentu berhasil
menjebol tandu yang dihuni si Tanpa perasaan."
"Sangat masuk di akal, sangat masuk di akal," Tok Ku-wi wi
menimbrung, "sekalipun begitu, tidak seharusnya kau buang
kesempatan baik ini begitu saja, paling tidak kita masih punya
kesempatan untuk menang!"
Mendadak si cebol Sun berkata, "Aku pikir Auyang Toako
bukannya bermaksud melepas peluang ini, tapi dia ingin menciptakan
satu peluang lain yang jauh lebih besar."
"Oya?"
Auyang Toa seketika tertawa tergelak.
"Hahaha ... betul sekali, kelihatannya hanya Sun-lotoa yang
bisa menyelami jalan pikiranku."
Kemudian setelah berpaling ke arah Tok Ku-wi, lanjutnya,
"Jangan lupa si Pengejar nyawa masih berada di tangan kita,
malam ini mereka pasti akan datang menolong karena urusan
itu dianggap sangat penting, jadi menurut pendapatku mereka
akan mengerahkan segenap kekuatan yang dipunyai untuk
melakukan pertolongan, dalam keadaan tergesa-gesa tak
sempat lagi mereka untuk mengundang bala bantuan, asal
yang datang hanya tiga orang Auyang Toa tertawa seram, lalu
melanjutkan, "belum termasuk kekuatan kita semua, cukup
mengandalkan alat rahasia yang ada di lembah Auyang pun
841 sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawa mereka. Jadi
kau pilih mana?"
Suma Huang-bong tidak dapat bicara lagi, dia segera
terbungkam. "Apa yang kita lakukan jika malam nanti Cukat-sianseng
ikut datang?" tiba-tiba Sun Put-kiong bertanya.
Dengan cepat Auyang Toa menggeleng kepala berulang
kali, jawabnya sambil tertawa, "Kemungkinan besar sang
ketua sudah mulai bergerak saat ini, aku pikir sudah tak ada
waktu lagi bagi Cukat-sianseng untuk ikut mencampuri urusan
ini." "Betulkah alat rahasia yang terpasang di lembah Auyang
sangat tangguh seperti apa yang kau katakan?" tanya Tok Kuwi.
"Kalau soal itu kau tak usah kuatir" seru si cebol Sun sambil
tertawa dingin.
"Kenapa?"
"Sebab lembah Auyang merupakan jalan mundur yang
dipersiapkan sang ketua, seluruh alat rahasia dan jebakan
yang ada di sana dirancang, dipersiapkan dan dipasang sendiri
oleh sang ketua bersama guruku."
Setelah mendengar penuturan si cebol Sun, Suma Huangbong
pun tenang kembali.
Sampai dimana kehebatan ilmu silat dan kecerdasan yang
dimiliki sang ketua, semua orang sudah tahu dan merasa
sangat yakin, ilmu barisan Ngo-heng-tin dari Kiu-yu-sinkun
sang malaikat sakti dari Kiu-yu juga tak terbantahkan. Maka
komplotan Suma Huang-bong saat ini seolah sedang melihat
dan mendengar jerit kesakitan, teriakan minta tolong si Tanpa
perasaan, si Darah dingin dan si Tangan besi....
Suasana remang sudah mulai menyelimuti langit di luar
toko peti mati, bianglala senja membias di udara, burung
gagak mulai terbang kembali ke sarangnya, bayangan tubuh
rombongan Auyang Toa pun sudah lama lenyap di kejauhan
sana. 842 Saat itulah si Darah dingin bertanya, "Kenapa tidak kita
kejar?" Di balik senja yang mencekam, nada suaranya terdengar
begitu murung, begitu letih.
"Kau sudah terluka?" seru si Tangan besi.
"Tidak, karena mereka akan menggunakan diriku sebagai
umpan agar bisa memaksa Toa-suheng tinggalkan tandunya,
selain itu mereka pun menganggap aku serta Toa-suheng tak
bakal lolos dari cengkeraman mereka, maka selama ini aku tak
pernah dicelakai, walau begitu, totokan jalan darah semalam
suntuk cukup membuat tubuhku amat lelah."
"Syukurlah kalau tidak terluka," kata si Tanpa perasaan,
"kini si Pengejar nyawa sudah terjatuh ke tangan mereka,
apabila kita gunakan kekerasan untuk merebutnya sekarang,
bagaimana pun juga kemungkinan besar Sam-sute yang bakal
celaka." "Tapi kau sudah terluka dan kondisi badanku lemah,
padahal kita mesti berangkat ke lembah Auyang, tahukah kau
apa nama lain dari lembah itu?"
"Lembah penggaet sukma!"
"Jauh sebelum kita terjun ke dunia persilatan, tahukah kau
apa yang menyebabkan kematian Jian-li-sin-eng si elang sakti
ribuan li, si opas kenamaan dari Khong-ciu dan Sian-yan
Thianhong?" tanya si Darah dingin lebih jauh.
"Gara-gara mengejar seorang bajingan yang berkhianat
kepada kerajaan, Sian-yan Locianpwe mati karena menyentuh
alat perangkap."
"Dia mati dimana?"
"Dalam lembah Auyang."
"Sekarang kita harus menolong Sam-suheng di sana, bukan
saja harus menempuh perjalanan jauh, kondisi kita sendiri pun
sedang lemah, bukankah kepergian kita sama halnya dengan
mengantar kematian?"
"Siapa bilang kita baru akan turun tangan setibanya di
sana?" 843 "Benar," sambung si Tangan besi, "seharusnya tadi kita
segera berangkat untuk melakukan pengejaran, bila perlu kita
serang Auyang Toa habis-habisan. Tapi sekarang.."
"Sekarangpun kita bisa mengejar secara diam-diam," kata
si Darah dingin tergerak hatinya, "lalu kita tunggu kesempatan
baik baru turun tangan
"Ya. Meskipun pada akhirnya tidak menemukan
kesempatan seperti itu, paling tidak kita bisa membuntuti
mereka serta melewati setiap alat jebakan dengan lebih
aman," terus si Tangan besi sambil tertawa.
"Aku rasa persoalan ini tak bisa ditunda lagi, kita harus
segera menguntit mereka."
"Toa-suheng kurang leluasa ikut dalam penguntitan ini,
lebih baik dia menjadi penghubung saja."
Tanpa perasaan menundukkan kepala memperhatikan kaki
sendiri, lalu bisiknya, "Tentu saja aku tak bisa ikut, kalau
begitu biarlah kita berhubungan sepanjang jalan dengan
menggunakan kode rahasia."
"Baik," si Tangan besi segera menjura, "kami segera
berangkat, semoga Toa-suheng bisa baik-baik menjaga diri!"
Ketika berada dua puluh dua li dari lembah Auyang,
rombongan Auyang Toa yang telah menempuh perjalanan
jauh sedang bersiap untuk istirahat.
Saat itulah Tu Lian berkata, "Auyang-kokcu, dimana kau
akan mengurung si Pengejar nyawa?"
"Rawa Bu-tok-tham," sahut Auyang Toa sambil tertawa
keras, "hanya di tempat itu dengan gampang kita bisa
mengirim nyawa mereka terkubur di dasar Rawa."
"Menurut pendapatmu, apakah si Tanpa perasaan dan
lainnya pasti akan datang kemari?"
"Mereka adalah kawanan pendekar yang mengutamakan
kesetia kawanan, biar nyawa dijadikan taruhan juga mereka
pasti akan datang untuk menolong si Pengejar nyawa."
"Bila Tanpa perasaan, si Tangan besi dan si Darah dingin
pasti akan datang memenuhi janji, berarti si Pengejar nyawa
tidak mesti dalam keadaan hidup."
844 "Maksudmu..."
"Kita bunuh saja daripada meninggalkan bibit penyakit di
kemudian hari" seru Tu Lian dengan wajah hijau membesi.
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Jika si Pengejar nyawa sudah jadi mayat, Tanpa perasaan
dan lainnya pasti akan mengetahui hal ini, dan belum tentu
mereka mau mempertaruhkan nyawa untuk menyeberangi
rawa." "Selain itu," sambung si cebol Sun, "bila sekarang juga kita
bunuh si Pengejar nyawa, bisa jadi mereka yang menguntit
akan segera mengadu jiwa dengan kita."
"Mereka menguntit?" gumam Tok Ku-wi melengak.
"Benar. Paling tidak di antara si Tanpa perasaan, si Tangan
besi dan si Darah dingin, pasti ada dua orang yang menguntit
kita secara diam-diam."
"Kenapa aku tidak mendengar apa-apa?"
"Sebab ilmu meringankan tubuh mereka sangat hebat, aku
sendiri pun tidak mendengar apa-apa," kata si cebol Sun.
Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, "Tapi aku
dapat menebaknya."
Suma Huang-bong mendengus dingin.
"Kalau akan dibunuh, siapa pun yang datang juga percuma,
tak seorang pun dapat menyelamatkannya."
Sambil berkata, dengan ibu jari dan jari telunjuknya dia
melakukan sentilan ke udara.
"Betul" Tu Lian segera menyambung, "Sam-tiang-lenggong-
soh-ho-ci (ilmu jari tiga kaki menembus angkasa
mengunci tenggorokan) saudara Suma sangat hebat, si
Tangan besi mau mencegah pun tak ada gunanya.
Persoalannya adalah perlukah kita membunuhnya sekarang?"
"Asal setiap gempuran kita mendatangkan hasil, tidak ada
salahnya kita bunuh dulu si Pengejar nyawa, berarti kita kehiangan
seorang musuh tangguh, kemudian baru kita bantai
kedua orang penguntit itu," tiba-tiba si cebol Sun berkata.
845 "Betul," Suma Huang-bong mengerling sekejap ke arah


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Auyang Toa, "dengan demikian, kita pun tak usah
mengganggu alat jebakan yang ada di lembah Auyang lagi."
Auyang Toa tertawa getir.
"Baiklah kalau begitu," katanya, "jika aku tak setuju, kalian
bisa mencurigai aku punya maksud lain."
"Ucapan saudara Auyang kelewatan," ujar si cebol Sun
hambar, "selama ini ketua selalu menganggap Kokcu bagaikan
lengan kiri dan lengan kanannya, bahkan bertanggung jawab
untuk mengadakan kontak dengan kami, mana berani kami
menaruh curiga kepada Kokcu?"
Dalam pada itu Suma Huang-bong sudah merentangkan
kesepuluh jari tangannya, diiringi suara gemerutuk seperti
kayu yang dibelah, dia siap melancarkan serangan mematikan.
Pada saat itulah tampak sesosok tubuh manusia melayang
bagai seekor burung elang, tanpa menimbulkan sedikit suara
pun orang itu melayang turun persis di hadapan orang
banyak. Tanpa banyak pikir Tok Ku-wi segera menggetarkan
tombaknya, siap melancarkan tusukan.
"Jangan, yang datang adalah saudara Leng!" cegah si cebol
Sun segera. Leng Liu-peng tertawa hambar, dia tetap tidak berkatakata.
"Bagus sekali Leng si tanpa golok," Tok Ku-wi segera
mengumpat, "tadi kami harus bertarung mati-matian dalam
toko peti mati, sebaliknya kau pergi dengan santai, kau
memang hebat, kau memang luar biasa!"
Tadi sewaktu berada dalam toko peti mati, bila Leng Liupeng
tidak pergi meninggalkan tempat itu, dengan kekuatan
komplotan Auyang Toa, paling tidak mereka sudah punya
kesempatan untuk menangkan pertarungan itu, dan sejak tadi
pula Auyang Toa mungkin sudah turun tangan.
Leng Liu-peng tertawa hambar, katanya perlahan, "Itulah
sebabnya aku khusus kemari untuk menghaturkan permintaan
maaf, harap kalian jangan marah lagi."
846 Kakek tanpa golok Leng Liu-peng sudah terkenal karena
wataknya yang aneh, tapi ilmu goloknya sangat hebat dan
sudah mencapai tingkat sempurna, dia jarang mau tunduk
kepada orang, tapi kini, secara terbuka dia minta maaf, tentu
saja Tok Ku-wi sekalian jadi tak enak untuk memojokkannya
lebih jauh. Sambil tertawa Tu Lian segera berkata, "Saudara Leng tak
usah banyak adat, tak mau mengembut musuh dengan jumlah
banyak memang merupakan tindakan seorang ksatria, justru
kami yang merasa malu."
Nada suaranya penuh mengandung sindiran yang tak sedap
didengar. Padahal Leng Liu-peng sangat berangasan dan kasar,
biasanya dia gampang naik darah, tapi kali ini dia justru
bersikap amat tenang, dengan tenang katanya, "Aku datang
karena ingin meminjam orang."
"Pinjam orang?" Auyang Toa mulai merasakan gelagat tidak
beres. "Betul, mau pinjam seseorang," senyuman Leng Liu-peng
sangat tenang dan wajar, "asal aku masih hidup, hutang ini
pasti akan kubayar."
"Siapa yang hendak kau pinjam?" tanya si cebol Sun
keheranan. "Dia!" sambil menjawab Leng Liu-peng menuding ke
tempat jauh. Tanpa terasa si cebol Sun dan Auyang Toa berpaling,
namun hanya kegelapan malam yang nampak di situ, bukan
saja tak nampak seorang manusia pun, bayangan pun tidak
kelihatan. Pada saat itulah tubuh Leng Liu-peng sudah melambung ke
udara, di antara kilatan cahaya yang muncul dari balik
tangannya, dia serang Tok Ku-wi dengan tangan kanannya
sementara tangan kirinya menyerang Tu Lian.
Si Bunga teratai beracun tidak menyangka dirinya diserang,
karena tak sempat melawan dengan senjata teratai
847 beracunnya, terpaksa dia sambut datangnya serangan dengan
telapak tangan kirinya.
Siapa tahu tiga jurus serangan yang dilancarkan Leng Liupeng
mengandung tiga gerakan setiap jurusnya, berarti da
sudah melepaskan dua puluh enam jurus serangan.
Ketika Tu Lian selesai menyambut serangan kedua puluh
tujuh, tubuhnya sudah dipaksa mundur sejauh tujuh langkah.
Cahaya tajam yang muncul dari tangan kanan Leng Liupeng
langsung mengarah tenggorokan Tok Ku-wi, karena
tombaknya kelewat panjang, ia tak sempat menangkis
ancaman itu, lekas badannya berbongkok untuk
menghindarkan diri.
Menggunakan kesempatan itu, Leng Liu-peng segera
melepaskan tendangan mengarah punggung si Pengejar
nyawa. Berubah hebat paras muka Suma Huang-bong, bentaknya,
"Leng tanpa golok, kau cari mampus!"
Ilmu Sam-tiang-leng-gong-soh-ho-ci (tiga kaki menembus
angkasa mengunci tenggorokan) segera disentil ke depan, dua
gulung desingan angin tajam langsung melesat ke depan
menghajar tenggorokan lawan.
Ketika babatan golok Leng Liu-peng menyambar, Tok Ku-wi
segera menundukkan kepala menghindar, saat itulah Leng Liupeng
menendang punggung si Pengejar nyawa, sementara
tangan kirinya mendesak mundur Tu Lian, semua gerakan ini
dilakukan hampir pada saat bersamaan.
Ketika dua desingan angin tajam dari Suma Huang-bong
meluncur tiba, cahaya tajam kembali berkilat dari tangannya
dan meluncur ke udara menyongsong datangnya ancaman.
"Duk, duk!", desingan jari tangan segera terpapas kutung,
saat itulah Leng Liu-peng sudah menyambar tubuh si Pengejar
nyawa lalu melambung ke udara, setelah menghindar dari
sapuan kipas Auyang Toa, dia tarik kembali cahaya tajam
yang berkilat di udara dan melesat pergi dari situ.
Si cebol Sun membentak keras, secepat sambaran kilat dia
cengkeram sepasang kaki Leng Liu-peng.
848 "Kalian sudah tidak mau nyawa si Pengejar nyawa?" tibatiba
Leng Liu-peng mengancam.
Baru saja teriak itu bergema, mendadak dari atas sebatang
pohon meluncur datang sesosok bayangan manusia, sepasang
tinju bajanya langsung dihantamkan ke atas pergelangan
tangan si cebol.
Merasakan datangnya ancaman yang begitu hebat,
terpaksa si cebol Sun menarik kembali tangannya, mendadak
ia mencengkeram dada orang itu.
Sekali lagi orang itu berganti jurus, kali ini sepasang
tinjunya mengancam sepasang iga lawan, jelas jurus serangan
semacam ini merupakan jurus serangan mengadu jiwa.
Tentu saja si cebol Sun tak ingin mati konyol, terpaksa dia
tarik kembali ancamannya sambil melompat mundur
Menggunakan kesempatan itu, orang itu segera
membalikkan badan dan kabur dari situ.
Auyang Toa membentak gusar, tubuhnya melambung ke
udara, kipasnya langsung disodokkan ke jalan darah Tayyang-
hiat di kening orang itu.
Mendadak dari sisi lain berkelebat cahaya tajam, sinar
dingin itu langsung mengancam tenggorokannya.
Lekas Auyang Toa menarik kembali kipasnya sambil dipentang
lebar di depan lehernya, "Crit!", pedang itu langsung
menusuk di atas kipasnya.
Ternyata tusukan itu tidak berhasil menembus permukaan
kipas, sebaliknya Auyang Toa sendiri juga dipaksa mundur ke
belakang. Begitu musuhnya mundur, orang itu menarik kembali
pedangnya lalu balik badan dan kabur dari situ.
"Lihat serangan!" hampir bersamaan Tu Lian dan Tok Ku-wi
membentak keras.
Dari balik senjata bunga teratainya tampak berpuluh titik
cahaya biru menyembur ke depan dengan dahsyatnya.
Tapi gerakan tubuh kedua orang itu sangat cepat, hanya
dalam waktu singkat bayangan mereka sudah lenyap dari
pandangan mata.
849 Suma Huang-bong hendak mengejar, namun sudah
terlambat. Merah padam wajah Auyang Toa saking jengkelnya,
dengan penuh kebencian dia mengumpat, "Leng ... Liu ...
Peng ... kau si pengkhianat!"
Sementara Tok Ku-wi sedang mengawasi arah dimana
bayangan tadi lenyap dengan pandangan termangu,
gumamnya, "Ternyata Leng si tanpa golok sudah bergabung
dengan Cukat-sianseng ... ternyata mereka satu komplotan
...!" "Tidak mungkin, tidak mungkin," seru si Cebol Sun dengan
kening berkerut, "tampaknya mereka tidak mirip!"
"Betul, dua orang yang muncul terakhir memiliki kungfu
yang sangat hebat," sambung Tu Lian cepat.
Auyang Toa melotot sekejap ke arah perempuan itu,
kemudian ujarnya, "Walaupun gerakan tubuh orang pertama
sangat cepat, tapi aku masih dapat mengenalnya, dia adalah
si Tangan besi!"
"Benar, setelah diamati lebih teliti, aku pun merasa orang
kedua mirip dengan si Darah dingin!" sambung Tok Ku-wi.
Tu Lian tidak berkata apa-apa, dia berjalan ke muka dan
memungut senjata rahasianya satu per satu, setelah
termenung sejenak, dia mendongakkan kepala dan berkata,
"Ayo kita kejar mereka."
"Memangnya bisa disusul?"
"Tadi aku melepaskan dua puluh tiga jenis senjata rahasia,
satu di antaranya meledak secara otomatis di tengah jalan dan
menyemburkan tiga jenis senjata rahasia kecil, berarti jumlah
keseluruhan adalah dua puluh enam senjata rahasia."
Kemudian sambil memperlihatkan senjata rahasianya yang
lebih lembut dari bulu di atas telapak tangannya ia
melanjutkan, "Sekarang yang tersisa tinggal dua puluh lima
senjata rahasia, di antaranya dari tiga jenis Am-gi terkecil, ada
satu yang tidak ditemukan. Padahal yang kuserang si Tangan
besi, dia hanya menghindar dengan gerakan tubuhnya, sama
sekali tidak berusaha menangkapnya."
850 "Maksudmu si Tangan besi sudah terhajar oleh senjata
rahasiamu?" tanya si cebol Sun.
"Sekalipun sudah terhajar telak, memangnya senjata
rahasia sekecil itu bisa berbuat apa terhadapnya?" sambung
Suma Huang-bong.
Tu Lian segera menarik wajahnya, dengan ketus dia
berkata, "Suma-sianseng, tahukah kau apa yang
menyebabkan kema-tian keempat puluh dua jiwa di Huangho-
piau-kiok?"
"Memangnya?" Suma Huang-bong tertawa paksa.
Sambil menunjukkan jarum lembut yang berada di telapak
tangan kirinya, Tu Lian berkata, "Aku hanya melemparkan
sebatang jarum seperti ini ke dalam sumur mereka, akibatnya
mereka pun mampus semua."
Lalu sambil membuat angka empat dan dua dengan jari
tangannya, ia menambahkan, "Empat... puluh ... dua ... jiwa!"
Meskipun sepanjang hidupnya Suma Huang-bong sudah
terbiasa membunuh orang, tak urung hatinya bergidik juga
menyaksikan tingkah Tu Lian.
Terdengar perempuan kejam itu berkata lagi, "Aku sengaja
membunuh mereka karena Congpiautau perusahaan Huangho-
piau-kiok itu, Ui Jit-hay, pernah sesumbar dia tidak takut
dengan racunku si Bunga teratai beracun Tu Lian!"
Ucapan yang pertama bermaksud untuk membuktikan
kalau senjata rahasianya sangat beracun, tapi ucapannya yang
terakhir jelas sengaja ditujukan kepada Suma Huang-bong."
Lekas Auyang Toa melerai sambil tertawa tergelak, "Untung
saja nona Tu telah melepaskan senjata rahasia, mari kita
segera mengejar si Tangan besi."
"Betul!" sambung Tok Ku-wi sambil tertawa dingin, pelanpelan
dia menyeret tombaknya ke belakang, kemudian
terusnya, "mumpung mereka belum pergi terlalu jauh."
Di ujung mata tombaknya terlihat bercak darah yang belum
mengering. Si cebol sun segera bertanya, "Siapa yang telah kau tusuk
tadi?" 851 "Darah dingin!"
0oo0 Darah dingin! Sambil berlari kencang si Tangan besi memperhatikan
keadaan si Darah dingin, tiba-tiba ia berhenti berlari, sambil
me-mayang tubuh si Darah dingin tegurnya cemas, "Kau
terluka?" "Tidak!"
"Lantas darimana datangnya darah di tubuhmu?" Darah
dingin tertawa dingin.
"Tempo hari, ketika sedang mengejar Suma Huang-bong
aku pernah mencicipi kehebatan tombak panjang Tok Ku-wi."
Sambil berkata dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain
dari sakunya, kain itu penuh berlepotan darah, katanya lebih
jauh, "Tadi aku memang sengaja merobek kain ini lalu
memoleskan sedikit darah di ujung tombaknya, darah babi!"
"Ah, tak kusangka, dalam keadaan begini pun kau masih
sempat berbuat jahil" seru si Tangan besi.
"Bukan, aku tidak bermaksud jahil" bantah si Darah dingin
cepat, "aku memang sengaja berbuat begitu agar mereka
salah mengira kita sudah terluka, kemudian melakukan
pengejaran terhadap kita. Asal kita sebar bercak darah
dimana-mana, mereka pasti akan melacak terus jejak kita.
Dengan berbuat demikian Toa-suheng baru terhindar dari
kawanan bandit itu."
Setelah berhenti sejenak, mencorong sinar pembunuhan
dari balik matanya, lanjutnya, "Apalagi mereka mengira kita
sudah terluka, kewaspadaan mereka pasti mengendor, kita
bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh mereka
satu per satu "
Dengan pandangan dalam si Tangan besi mengawasi Darah


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dingin sekejap, kemudian serunya sambil tertawa tergelak,
"Hahaha ... Su-sute, tampaknya pengalamanmu maju pesat,
aku merasa ketinggalan darimu."
852 Baru saja si Darah dingin akan menyangkal, tiba-tiba
sekujur tubuhnya jadi kaku, serunya tertahan, "Kau sudah
terkena senjata rahasia beracun si Bunga teratai beracun?"
Tangan besi berpaling dan mengawasi lengan kiri sendiri,
betul juga, sebatang jarum kecil berwarna hijau pupus
menancap di tempat itu, dia segera mengerahkan tenaga
dalamnya, jarum lembut itu tergetar keras lalu mencelat dan
terjatuh ke tepi jalan. Seketika itu juga rerumputan di
sekeliling tempat itu berubah jadi kuning layu, seakan terbakar
oleh api. Melihat itu si Tangan besi berseru tertahan, "Wouw, jahat
benar racun senjata rahasia ini."
"Apakah kau keracunan?" tegur Darah dingin sangsi.
Kembali si Tangan besi tertawa tergelak, sambil
menggerakkan sepasang lengannya ia berseru, "Su-sute,
masih ingat dengan julukanku?"
"Sepasang lengan bagai tembaga, kebal racun kebal
senjata, mampu menghancurkan emas melumat cadas, kau
adalah si Tangan baja!"
"Itulah, biar racun yang dipoleskan di ujung senjata
rahasianya sepuluh kali lipat lebih jahat pun bagiku sama saja
... tak berguna ..."
Kemudian setelah menghela napas panjang, terusnya,
"Masih untung senjata rahasia itu mengenai lenganku, coba
kalau tidak..."
"Coba kalau aku yang terkena senjata rahasia itu, mungkin
saat ini aku sudah jadi mayat," sambung si Darah dingin, "aku
memang tidak memiliki tangan baja seperti yang dimiliki Jisuheng."
Si Tangan besi tertawa.
"Sebaliknya jika tusukan tombak Tok Ku-wi itu ditujukan
kepadaku," katanya, "tanpa pengalaman apapun dalam
menghadapi tusukan tombaknya, mungkin keadaanku saat ini
jauh lebih parah ketimbang terkena senjata rahasia si Bunga
teratai beracun!"
853 Bicara sampai di sini ia mulai menggerakkan tubuhnya lagi,
ujarnya, "Ayo kita lanjutkan pelarian ini, sebentar lagi
komplotan Auyang Toa pasti akan menyusul kemari."
Sambil berlari menyusul di samping rekannya, Darah dingin
berkata lagi, "Ji-suheng, menurut pendapatmu mengapa Leng
Liu-peng menyelamatkan Sam-suheng?"
"Aku sendiri pun tidak tahu apa alasannya. Menurut apa
yang kuketahui, selama ini Sam-sute tak pernah berhubungan
dengan Leng Liu-peng, jadi menurut perkiraanku, pertolongan
ini belum tentu didasari niat baik."
"Sekarang kita pun tak tahu harus menemukan Leng Liupeng
dimana!" "Tapi ada satu hal bisa dipastikan, paling tidak Sam-sute
jauh lebih baik terjatuh ke tangan Leng Liu-peng ketimbang
berada di tangan Auyang Toa."
"Sayang kita belum tahu apa maksud tujuan Leng Liupeng?"
"Ingat, Leng Liu-peng pernah membokong Toa-suheng!"
"Menurut dugaanku Leng Liu-peng tak bakal mengambil
jalan balik, dia pasti berusaha menghindari Toa-suheng, mari
kita mengejar dari arah sini saja, mungkin inilah arah yang
ditempuh Leng Liu-peng, di samping itu kita pun bisa
menghindari orang yang mengejar kita."
"Toa-suheng cerdas dan cekatan, sayang kondisi badannya
kurang baik, sepasang kakinya pun cacad, sedikit banyak dia
gampang menderita kerugian," gumam si Tangan besi.
Bukan hanya si Tanpa perasaan yang cerdas dan cekatan,
si Tangan besi dan Darah dingin pun termasuk jagoan yang
mahir dalam bun maupun bu.
Tapi sayang kali ini dugaan mereka keliru besar.
Dengan sekuat tenaga mereka berlari terus, sampai lama
sekali belum mereka temukan bayangan tubuh Leng Liu-peng,
menanti mereka sadar gelagat tidak menguntungkan, keadaan
sudah terlambat.
Leng Liu-peng berhasil menghadang si Tanpa perasaan.
854 "Siapa di situ?" hardik Tanpa perasaan dengan suara
dingin. Sepasang tangannya yang berada dalam tandu sudah
memegang tombol kedua puluh empat alat jebakannya,
senjata rahasia pun sudah dalam genggaman dan siap
dilancarkan, dalam keadaan demikian jangan kan manusia,
seekor lalat pun jangan harap bisa terbang lewat tempat itu
dengan selamat.
Ia bersikap begitu tegang karena dia tahu si pendatang
adalah seorang jago persilatan yang berilmu tinggi.
Sepanjang perjalanan dia bergerak dengan mengikuti kode
rahasia yang ditinggalkan si Tangan besi dan Darah dingin,
ketika tiba di tepi hutan dia segera menangkap suara langkah
kaki manusia yang sangat ringan, selain enteng juga sangat
cepat. Begitu mendengar suara langkah kaki itu, dia segera
menghentikan tandunya.
Tampaknya orang itupun sadar kalau jejaknya sudah
ketahuan, dia ikut menghentikan langkahnya dan sama sekali
tidak bersuara.
Menyusul terdengar ranting pohon yang berada puluhan
kaki jauhnya dari situ bergerak perlahan, sejenak kemudian
ranting pohon yang berada tujuh delapan kaki dari sana
kembali bergerak.
Tanpa perasaan tak boleh membiarkan si pendatang terlalu
dekat dengan tandunya, namun dia pun tak ingin membunuh
orang tanpa alasan.
Bila senjata rahasianya sudah dilontarkan keluar, maka
termasuk dia sendiri pun tak mampu mengendalikannya lagi.
Jika pihak lawan dapat menyambut serangan itu berarti dia
akan hidup, bila tak mampu menghadapinya maka biar dia
sendiri pun tak akan mampu menolongnya.
Senjata rahasianya memang sangat ampuh dan luar biasa,
tapi kehebatannya sama sekali tak ada sangkut-pautnya
dengan keberanian yang dia miliki.
855 Terdengar seorang berseru memuji, suara itu berasal dari
atas sebatang pohon pinus delapan belas langkah di sisi
tenggara. "Tajam amat pendengaranmu!"
Suaranya datar, sama sekali tak berperasaan.
"Leng Liu-peng?" sapa Tanpa perasaan dengan sorot mata
menyusut. Seorang melayang turun ke tanah tanpa menimbulkan
suara, sorot mata yang lebih tajam dari sembilu mengawasi
tandu di hadapannya tanpa berkedip.
"Aku datang untuk mengantar hadiah untukmu," katanya.
"Oya?"
"Nih, kuberikan padamu!" hardik Leng Liu-peng nyaring.
"Blam!", telapak tangannya menghantam ke atas sebatang
pohon pinus, ketika batang pohon itu bergetar keras, sesosok
tubuh manusia terjatuh dari ketinggian, jatuh persis di
samping tandu Jalan darah orang itu tertotok, lagi pula sedang menderita
luka cukup parah, kejatuhan dari tempat yang tinggi ini
seketika menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit
yang merasuk tulang sumsum, namun orang itu tetap
mengertak gigi, mengeluh pun tidak.
Suasana hening, kejadian ini tampaknya cukup
mengejutkan si Tanpa perasaan, sampai lama kemudian baru
menyapa, "Sam-sute?"
"Benar Toa-suheng" sahut si Pengejar nyawa sambil
tertawa paksa. Kembali suasana hening untuk beberapa saat, sejenak
kemudian baru ia berkata lagi, "Aku yang telah
mencelakaimu."
"Kenapa begitu?"
"Tidak seharusnya kubiarkan kau pulang seorang diri, aku
pun tidak seharusnya membiarkan Darah dingin mengejar
musuh sendirian, akibatnya kalian berdua harus menderita."
856 Mendengar itu si Pengejar nyawa tertawa tergelak,
walaupun akibatnya lukanya pecah kembali, namun paras
mukanya sama sekali tak berubah.
"Peduli amat," serunya, "prinsipku, selama gunung masih
menghijau, kenapa mesti takut kehabisan kayu bakar?"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata, "Toasuheng,
kau tak usah menguatirkan mati hidup kami, ingatlah
beribu-ribu jiwa rakyat di kotaraja, asal kau perhatikan
kesejahteraan orang banyak, aku pun akan merasa tenteram."
Maksud perkataan itu sangat jelas, dia minta si Tanpa
perasaan tidak menerima ancaman Leng Liu-peng gara-gara
menguatirkan keselamatan jiwanya.
Tanpa perasaan termenung lama sekali, kemudian
sahutnya setelah menghembuskan napas panjang, "Aku tahu!"
Suasana jadi hening, tak ada yang berbicara lagi.
Lama kemudian si Tanpa perasaan baru berseru, "Saudara
Leng!" "Ada apa?" suara Leng Liu-peng dingin bagaikan salju.
"Boleh tahu saudara Leng..."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Leng Liu-peng telah
menukas, "Karena menyelamatkan si Pengejar nyawa, aku
tidak mempunyai permintaan lain, aku hanya berharap kau
bersedia keluar dari tandumu dan berduel melawan aku."
"Soal ini..."Tanpa perasaan agak tertegun.
"Jangan kau anggap Leng Liu-peng adalah seorang
manusia yang lupa budi dan takut mati!" wajahnya mendadak
memerah, ototnya menongol keluar karena menahan gejolak
emosi, dengan susah payah akhirnya dia dapat mengendalikan
diri, lanjutnya, "Aku merasa sangat berterima kasih karena
sewaktu berada di Sam-sek-kiok (Tiga tempat pelepas lelah),
kau telah mengampuni aku, juga tidak membocorkan rahasia
itu, aku merasa berterima kasih sekali atas kebaikanmu itu."
Pagi itu, di tengah kota kecil, di depan toko peti mati, si
pincang ribut dengan lelaki gemuk.
Si pincang itu tak lain adalah Leng Liu-peng, sementara
lelaki gemuk itu adalah Tok Ku-wi.
857 Mereka bergebrak, waktu itu masih ada pula Kwe Pin dan
Oh Hui. Oh Hui belum sempat mendekati tandu, goloknya belum
sempat dibacokkan, dia sudah keburu mati.
Kwe Pin menyerang dengan senjata rahasia, menerjang
masuk ke dalam tandu, tapi akhirnya mampus juga.
Di saat Tanpa perasaan melambung ke udara, Leng Liupeng
ikut bergerak pula.
Tanpa perasaan melepaskan senjata rahasia untuk
menangkis sinar tajam, tapi akhirnya tetap terluka oleh
sambaran cahaya tajam itu.
Semua pengalaman itu bagi Leng Liu-peng bukan sesuatu
yang patut dibanggakan, sebaliknya justru dianggap sebuah
aib, suatu kejadian yang amat memalukan.
Selama hidup dia memang enggan melakukan perbuatan
yang memalukan.
Wataknya aneh karena sewaktu masih kecil dulu, seluruh
anggota keluarganya di wilayah Biau telah mati dibantai
orang, ketika musuh besarnya melihat dia berbakat bagus
maka ditangkaplah dia dan dibawa pulang, selama dalam itu
dia harus menerima berbagai siksaan dan hinaan, tapi dia
bersikukuh mempertahankan hidup, diam-diam mulai melatih
diri secara tekun dengan kesetiaan dan keringat bercampur
darah dia berusaha menarik simpati musuh hingga dapat
mempertahankan hidup.
Ketika ia menginjak dewasa, ilmu silat telah berhasil
dikuasainya, dia mulai menghabisi nyawa sanak saudara
musuh besarnya itu, kemudian mengejar musuhnya sejauh
delapan ratus li hingga gurun pasir.
Sampai akhirnya dia berhasil membantai musuhnya itu,
menguliti mayatnya dan memenggal kepalanya untuk dibawa
pulang ke wilayah Biau, Leng Liu-peng baru mulai
mengembara kian kemari sambil membunuh orang semau
hati. Dia masih teringat jelas dengan peristiwa yang terjadi
kemarin sore, waktu dia menyamar jadi si burik bersama
858 Auyang Toa yang menyamar sebagai penjual sau-pia,
berusaha membokong Tanpa perasaan di Sam-sek-kiok.
Waktu itu dia tak percaya tak mampu menjebol tandu itu
hingga mencoba mencongkelnya, siapa tahu serangan
sepasang anak panah membuatnya tak sempat
menghindarkan diri.
Waktu itu, sebatang anak panah di antaranya berhasil
disambut Auyang Toa, tapi sebatang yang lain tak sanggup
dia hadapi sehingga terpaksa harus ditangkis dengan gelang
bajanya. Ditinjau dari kekuatan serangan itu, jelas posisinya tidak
menguntungkan, seharusnya serangan itu tak mudah
dipatahkan, siapa tahu anak panah itu mendadak rontok
sendiri di tengah jalan.
Hal ini membuktikan Tanpa perasaan memang sama sekali
tak berminat untuk menghabisi nyawanya.
Padahal dia sudah dua kali berusaha membokong Tanpa
perasaan, tapi pada akhirnya Tanpa perasaan justru telah
mengampuni nyawanya, bukan begitu saja, malah rahasia itu
tak pernah dibocorkan pemuda itu.
Benarkah si Tanpa perasaan memang tak berperasaan"
Dia tak tahu, tapi baginya dia lebih suka mati ketimbang
menjadi Leng Liu-peng yang mirip kura-kura!
Senyuman mulai muncul dari balik mata Tanpa perasaan,
sapanya, "Saudara Leng.."
"Aku pernah menerima budi kebaikan sang ketua," tukas
Leng Liu-peng cepat, "aku pun telah mewarisi kepandaian
silatnya, aku tak boleh melakukan perbuatan yang
mengkhianati dirinya."
"Aku mengerti!"
"Itulah sebabnya aku harus membayar lunas budimu
terlebih dulu, kemudian baru menantangmu berduel."


Pertemuan Di Kotaraja Seri 4 Opas Karya Wen Rui An di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tanpa perasaan segera menekan tangannya di tempat
duduk dan melayang keluar dari tandunya, setelah duduk di
atas tanah, ujarnya, "Sekarang aku sudah keluar"
859 Ketika melihat Tanpa perasaan hanya bisa duduk dan tak
mungkin berdiri, kembali Leng Liu-peng berkata, "Aku tahu
cara seperti ini tidak adil karena tubuhmu sudah bersatu
dengan tandu itu, tapi aku tahu, bila kau tidak kusuruh keluar,
bila kau masih berada-di dalam tandu, maka kemungkinanku
untuk menang sama sekali tak ada."
"Tandu itu hanya barang luar, aku merasa cara seperti ini
sangat adil, tentu saja kecuali kau memandang enteng aku si
manusia cacad ini."
Perasaan hormat bercampur kagum memancar keluar dari
balik mata Leng Liu-peng, kembali ujarnya, "Aku memang
sengaja menotok jalan darah si Pengejar nyawa, karena aku
tak ingin dia mencampuri urusan ini, aku tak ingin dalam duel
nanti aku mesti memecah perhatian, begitu juga dengan
dirimu." Ketika dua jago sedang bertarung, menguatirkan
keselamatan seorang yang berada di luar arena memang
sangat mengganggu.
"Aku mengerti," Tanpa perasaan manggut-manggut.
Leng Liu-peng mulai mundur dua langkah ke belakang,
perlahan-lahan pakaian yang dia kenakan mulai
menggelembung besar, tampaknya dia sudah mulai
menghimpun tenaga dalamnya.
Tanpa perasaan menundukkan kepalanya, sorot matanya
yang tajam mengawasi terus jarum pohon pinus yang banyak
berserakan di tanah, dia duduk seakan seorang pendeta yang
sedang bersemedi, sorot matanya seolah tak pernah mau
bergeser dari situ.
Pelan-pelan Leng Liu-peng menarik tangannya ke belakang,
melolos gelang besinya, semua gerakan dilakukan amat
lamban, tegas, bertenaga dan tidak memberi peluang kepada
lawannya untuk menyergap, setelah itu ujarnya, "Orang bilang
Tanpa perasaan mempunyai empat keampuhan, keampuhan
pertama terletak pada tandunya, keampuhan kedua pada ilmu
senjata rahasianya, keampuhan ketiga pada ilmu meringankan
tubuh dan keampuhan terakhir pada bakat dan
860 kecerdasannya. Biarlah hari ini kujajal tiga keampuhanmu
yang terakhir."
Tanpa perasaan masih tetap memandang ke tanah, tapi
suara jawabannya aneh dan sangat berat, sahutnya, "Orang
bilang jagoan pengguna golok 'terhebat dan paling sempurna
dari wilayah Biau adalah Jit-ci-si-sin (dewa mampus dari Jit-ci)
Ho Thong, tapi kenyataan Ho Thong harus menelan kekalahan
di tangan 'tanpa golok' mu. Orang bilang ilmu golok tercepat,
tanpa titik kelemahan dan kokoh pertahanannya di wilayah
Biau adalah si golok sakti ribuan li Mo-sam Ha-ha, tapi
nyatanya Mo-sam Ha-ha sangat kagum dan takluk oleh 'tanpa
golok' milikmu Masih tetap mengawasi jarum pinus yang bertebaran di
tanah, dia menambahkan, "Terus terang, aku sendiri pun tidak
yakin dapat menjebol ilmu tanpa golokmu, oleh sebab itu
perasaan hatiku kini ... kau tahu, bagaimana perasaan hatiku
kini?" "Bagaimana?"
"Sangat gembira!" jawaban Tanpa perasaan tetap tenang,
tanpa gelombang.
Leng Liu-peng menarik kembali sorot matanya, kata demi
kata ujarnya, "Dalam dua puluh lima tahun ini, kaulah orang
pertama yang merasa gembira karena berduel melawanku."
"Ilmu silat adalah pekerjaan kita, bila kita tidak merasa
gembira ketika harus menghadiri sebuah pesta pertarungan
paling akbar, apakah pantas kita disebut seorang pesilat?"
Sesudah berhenti sejenak, kembali terusnya, "Apalagi
sewaktu menghadapi kau, seorang jagoan yang sangat ahli di
bidang senjata rahasia serta ilmu golok."
"Bila kita tidak mati lantaran pertarungan ini, aku pasti
akan bersahabat dengan kau!" mendadak Leng Liu-peng
berkata, kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya,
"selama hidup aku belum pernah memiliki seorang sahabat
sejati." 861 "Ya, tapi sayang begitu kita turun tangan, siapa pun tak
akan mampu mengendalikan nasib lawan," ucap Tanpa
perasaan sedih.
"Ada satu hal aku perlu memberitahu kepadamu lebih
dulu," mendadak Leng Liu-peng berbisik. "Katakan!"
"Bila aku telah selesai berkata nanti, kita segera akan turun
tangan, kalau tidak, mungkin kita tak bakal bertarung lagi."
Mereka berdua mulai saling menyayangi, mulai saling
simpati dan cocok, bila pertarungan tidak segera dilakukan,
pertarungan itu memang tak mungkin berlangsung.
Tapi mereka berada di pihak yang saling berseberangan,
mereka berada pada posisi saling bermusuhan, antara lurus
dan sesat, pertarungan semacam ini sulit untuk dihindari.
Bila pertarungan mulai dilakukan, seorang di antara mereka
mungkin harus berangkat menuju ke langit barat.
Angin gunung berhembus kencang, semakin banyak jarum
pohon pinus yang berguguran.
Tebing bukit yang curam berada tiga puluh kaki di belakang
Leng Liu-peng, dari situlah angin gunung berhembus datang.
Tempat apakah di seberang tebing curam itu" Tak ada
yang tahu. "Apapun yang bakal terjadi di antara kita, si Pengejar
nyawa tetap harus hidup," teriak Leng Liu-peng dengan suara
keras. Bila dia dapat membunuh Tanpa perasaan, maka ia bisa
pulang untuk memberikan pertanggung jawaban kepada sang
ketua. Dia sengaja mengucapkan perkataan yang lain, tujuannya
agar Tanpa perasaan tak usah menguatirkan nasib rekannya,
agar dia bisa memusatkan perhatian dalam pertarungan yang
segera akan berlangsung.
Tentu saja Tanpa perasaan mengetahui hal ini.
Itulah ucapan terakhir Leng Liu-peng sebelum pertarungan
berlangsung. "Terima kasih!" jawab Tanpa perasaan dengan keras.
862 Perkataan inipun merupakan perkataan terakhir Tanpa
perasaan sebelum berlangsungnya pertempuran.
Begitu kata "terima kasih" selesai diucapkan, Tanpa
perasaan melancarkan serangan lebih dulu daripada Leng Liupeng.
Meskipun pertarungan tetap harus dilangsungkan, namun
ucapan "terima kasih" tetap harus disampaikan.
Akan tetapi dia tak yakin mampu menghadapi serangan
'tanpa golok' lawan, terpaksa dia berebut melancarkan
serangan terlebih dulu.
Menyerang dulu, tangkap semua kesempatan yang ada dan
bendung semua kesempatan lawan untuk melancarkan
serangan balasan.
Baru saja Leng Liu-peng akan melancarkan serangan
dengan senjatanya yang gemerlapan, serangan senjata
rahasia Tanpa perasaan telah mengancam tiba.
Senjata rahasia jarum pohon pinus!
Biarpun jarum pohon pinus itu lembek namun setelah
disentil Tanpa perasaan dengan disertai tenaga yang kuat,
benda itu seketika menyebar ke angkasa bagaikan hujan
bunga, langsung mengancam tubuh Leng Liu-peng.
Dengan satu gerakan ringan Leng Liu-peng melejit ke
samping, serangan jarum pinus seketika mengenai tempat
kosong. Tapi baru saja serangan pertama gagal mengenai sasaran,
kembali muncul tiga belas titik cahaya tajam langsung
menghajar tubuh lawan.
Sekali lagi Leng Liu-peng melompat mundur, kali ini dia
mundur sejauh satu depa lebih.
Tanpa perasaan tidak tinggal diam, bagaikan burung
merpati dia melesat ke depan melakukan pengejaran, kembali
tangan kirinya diayunkan ke depan, sekilas cahaya putih
mengancam dada jagoan tanpa golok itu.
Leng Liu-peng menarik napas panjang, golok yang
sebenarnya sudah siap di balik baju terpaksa ditarik balik,
kembali tubuhnya melambung ke udara.
863 Sekali ini dia mundur sejauh sepuluh depa, dari situ dia
bersiap melancarkan serangan balasan.
Siapa sangka baru saja tubuhnya menyentuh tanah, si
Tanpa perasaan telah menghardik lagi, "Awas Am-gi!"
Serangkaian titik cahaya tajam membentuk satu rangkaian
cahaya kembali meluncur ke depan mengancam tubuh lawan.
Dengan gerakan burung belibis membalik badan, Leng Liupeng
berjumpalitan di udara, cahaya tajam menyambar, dia
babat rantai putih itu hingga putus jadi dua, tiba-tiba "Sret,
sret", kembali desingan tajam mendekati tubuhnya, delapan
biji timah berduri meluncur datang dengan kecepatan luar
biasa. Terpaksa Leng Liu-peng melompat mundur lagi.
Tanpa perasaan mengimbangi terus gerakan lawannya,
Persekutuan Tusuk Kundai Kumala 1 Pangeran Anggadipati Seri Kesatria Hutan Larangan Karya Saini K M Jago Kelana 2
^